Cerpen Remaja Tentang Aku dan Dia Part 1 {Update }

Oke guys. Sejak pertama bikin blog, cerpen remaja tentang aku dan dia adalah cerpen pertama yang di posting disini. Yah, namanya juga perdana. Selain masih belajar ngeblog, nulis juga masih suka asal asalan. Makanya cerita dan EYD berantakan. Nah karena itu, kalau pas ada waktu luang biasanya mampir kesini sambil ngedit satu satu.
Oke deh, biar nggak banyakan curcol bisa langsung simak jalan ceritanya ke bawah. Happy reading….
Credit Gambar : Ana Merya
“Gres, kok makanannya di liatin aja sih?” aanya Anya yang melihat ulah sahabatnya yang dari tadi hanya mengaduk aduk bakso di mangkunya tanpa sedikit pun mencicipinya.
“Gresia?” ujar Nanda yang heran karena sahabatnya yang satu itu tidak merespon sama sekali.
“Hoi!!” kali ini Anggun mengucapkannya dengan keras sambil mengunang-guncang tubuh temannya.
“Eh… apa?” Gresia tampak kaget.
"Nah, ketahuan kan, lagi melamun ini pasti," komentar Nanda dengan tatapan menyipit.
Gresia mencibir. "Nggak kok, siapa yang melamun coba?"
"Ya elo lah. Masa nenek gue," tuduh Anya sewot.
"Hem, tapi ngomong – ngomong loe ngelamunin apa sih? Perasaan jauh banget?" Anggun pasang raut penasaran. Anya dan Nanda kompak mengangguk setuju.
“Udah di bilang gue nggak ngelamun juga."
“Terus dari tadi bengong apa donk namanya?”
“He he he… lha wong gue Cuma lagi mikir kok. Cuma keasikan," balas Gresia sambil nyengir.
Nanda memutar mata. Itu mah sama aja. "Emangnya yang loe pikirin itu apa?"
"Ada aja."
Pletak.
Pletak.
“Gila loe, sakit tau," Gresia meringis sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit karena sebuah jitakan yang mulus mendarat di kepalanya. Bahkan tanpa permisi sama sekali.
“Makanya cerita. Masa ia sama kita aja loe pake rahasia-rahasiaan segala sih," paksa Nanda lagi.
“Kalau gue nggak mau cerita terus kenapa?”
Pletak pletak.
Kali ini dua jitakan mendarat dengan serentak di kepalanya.
“Astaga, kalian mau bunuh gue ya?”
Anggun mencibir. “Jangan lebai, nggak ada orang yang mati cuma gara-gara kepalanya di jitak."
“Udah buruan cerita!” sambung Anya yang sedari tadi terdiam.
“Ia, gue cerita," Gresia terpaksa mengalah, terlebih ketika tatapan membunuh dari teman-temannya. Dalam hati ia berpikir, kok dia bisa berteman sama mereka ya padahal sadis begitu.
“E, sebenarnya," Gresia mengantungkan ucapannya. Sejujurnya ia tidak yakin jika menceritakan permasalahannya saat ini adalah keputusan yang tepat. Terlebih ketika ia sudah cukup mengenal ketiga orang yang kini ada di dekatnya. Ia bisa menebak reaksi mereka begitu mendengar kabar yang akan di sampaikannya.
"Apa sih? Nggak usah sok bikin penasaran gitu deh," Nanda mulai gusar.
"Gue di jodohin," gumam Gresia nyaris tak terdengar.
Hening. Seolah-olah begitu berat mencerna kabar yang baru di dengarnya. Tapi tak berapa lama kemudian.
"Ha ha ha, nggak lucu!" potong Anggun tak percaya. Anya dan Nanda juga berpendapat sama. Hari gini mau di kibulin. Nggak mempan. Tapi saat melihat raut Gresia yang terlihat serius Nanda kembali bertanya.
"Loe serius?".
Gresia membalas dengan anggukan. Membuat ketika temannya saling pandang baru kemudian tanpa di komandani serentak ngakak. Untuk kali ini Gresia setuju dengan kalimat kalau "penyesalan selalu di akhir. Buktinya, sekarang ia nyesel cerita.
“Elo di jodohin?!” ujar Anya memastikan.
“Itu pertanyaan atau pernyataan," gerut Gresia sebel. Sementara Nanda dan Anggun masih belum bisa menghentikan tawanya.
“Please deh, nggak ada yang lucu di sini," geram Gresia kesel.
“Abis ada ada aja. Di kira ini masih jaman Siti Nurbaya kali ya,” ujar Nanda di sela tawanya.
“Tapi ngomong-ngomong loe di jodohin sama siapa? Keren nggak? Kalau keren mah nggak papa donk. Lagian loe kan jomblo,” tanya Nanda kembali.
Gresia menatap wajah temannya satu persatu. Kali ini ia ragu. Apa menceritakannya merupakan keputusan yang tepat. Ia sangat tau tabiat sahabatnya yang satu itu. Ia paling tidak suka mengetahui segala sesuatunya hanya setengah-setengah.
“Arga,” akhirnya Gresia buka mulut dengan suara lirih yang nyaris tidak terdengar.
“Uhuk uhuk,” Anggun yang kebetulan sedang mengunyah baksonya langsung tersedak.
“Loe bilang siapa?” tanya Anggun kemudian.
“Arga? Si kentang goreng itu?” tanya Nanda lagi. Gresia hanya mengangguk.
“Maksut loe si playboy cap ikan hiu itu?” tambah Anya. Lagi lagi Gresia hanya mengangguk.
“Yang pacarnya Lila itu?” sambung Anggun yang masih tidak percaya.
“Udah di bilang ia juga."
“OMG,” jerit ketiganya serentak.
“Loe beruntung banget,” gumam Nanda lagi.
“Loe lagi muji atau ngeledek?” geram Gresia.
“He he he,” Nanda cuma nyengir. Jelas saja itu ledekan. Beruntung dari mana pacaran sama playboy.
“Tapi kok bisa sih? Gimana ceritanya?" Anya tampak antusias.
"Ceritanya panjang."
“Ya udah pendekkin. Gitu aja kok repot,” Nanda angkat bahu.
Kemabli menatap wajah ketiga temannya, Gresai terdiam. Belum sempat mulutnya terbuka, suara bel tanda waktu istriahat berakhir terdengar.
“Lain kali aja deh, udah bel tuh. Mending kita masuk kelas aja lagi,” ujarnya merasa lega.
“Yah," serentak Nanda, Anya dan Nanda pasang raut kecewa. Sebaliknya Gresia justru malah tersenyum.
“Tapi inggat loe harus cerita sama kita,” ancam Nanda sebelum Gresia beranjak pergi dari tempat duduknya.
“Nggak janji,” sahut Gresia santai sambil meloyor pergi di ikuti oleh teman-temannya yang masih merasa kecewa.
Selama pelajaran berlangsung, Gresia sama sekali tidak bisa konsentrasi mengikuti nya. Pikirannya masih melayang mengingat kejadian tadi malam. Bagaimana bisa kedua orang tuanya merencanakan perjodohan yang menurutnya teramat sangat konyol dan sama sekali tidak masuk di akal. Masih mending kalau ia di jodohin sama Dirga _ Cowok yang selama ini diam-diam ditaksirnya. Tapi ini malah sama si Arga. Cowok yang terkenal playboy, suka mainin cewek plus udah punya pacar lagi. Kurang ngenes apa lagi coba.
Saat istirahat kedua, Gresia dengan cepat ngacir meninggalkan kelas sebelum teman – temannya sempat menginterogasi. Ia bahkan memilih ke perpus sebagai tempat persembunyian.
“Gue mau ngomong sama loe."
Gresia yang sedang asik membaca langsung menoleh ke asal suara yang ada di samping nya. Ia celingak clinguk menoleh ke kanan dan kekiri. Masih tidak yakin kalau orang yang entah sejak kapan duduk disampingnya sedang berbicara kepadanya.
”Loe ngomong sama gue?” tanya Gresia setelah yakin kalau tidak ada orang lain selain dirinya.
“Loe pikir gue ngomong sama tembok? Udah gila apa?” balas Arga ketus.
“Yee, siapa tau. Lagian loe kan emang aneh,” gumam Gresia lirih.
“Apa loe bilang barusan?" tanya Arga menaikan alisnya.
“He he he. Nggak ada apa-apa kok,” elak Gresia cepet.
“Awas loe kalau sampai berani bilang gue aneh."
Bukannya takut Gresia justru malah tersenyum. Dengan polosnya ia bertanya. “Lho jadi loe denger?”
“Loe pikir gue budek."
“Kali aja," gadis itu angkat bahu.
“Wah bener-bener loe, tadi undah ngatain gue aneh, sekarang ngataing gue budeg. Berani loe sama gue?” ujar Arga penuh penekanan. Refleks Gresia langsung mengeleng-geleng.
“Udah deh, gitu aja di ributin. Tadi Loe bilang ada urusan sama gue. Ya udah ngomong aja."
“Nggak di sini. Loe ikut gue,” tanpa ba bi bu Arga meraih tangan Gresia dan menariknya keluar dari perpus.
“STOP!” bentak Gresia Kontan Arga menghentikan langkahnya.
“Kenapa?” tanya Arga dengan tampang Bete.
“Nggak usah pegang-pegang gue segala deh."
“WHAT?!”.
Gresia hanya memanyunkan mulutnya sambil melirik tajam Kearah Arga.
“Loe pikir gue tertarik sama loe?”
“Ye siapa tau, loe kan playboy. Kambing di bedakin aja doyan, apa lagi gue yang cantik gini."
Arga segera berbalik. Kali ini ia memandang Gresia intens dari kepala sampai kaki. Gresia saja sampai salting di lihatin seperti itu.
“Tertarik sama makhluk yang model kayak gini? Ih amit-amit deh,” sahutnya kemudian sambil bergidik.
“Maksut loe?!” Gresia merasa tersindir.
“Mendingan loe ngaca deh. Rata gitu,” cibir Arga sambil tersenyum mengejek. Tapi sedetik kemudian.
“ADUH!” jeritnya.
“Mampus loe,” geram Gresia sambil berlalu pergi meninggal kan Arga yang masih kesakitan karena kakinya di injek sekenceng-kencengnya.
“Dasar cewek gila. Sarap,” maki Arga sambil terus mengusap-usap kakinya yang masih sakit, sementara Gresia sudah jauh pergi meninggalkannya.
“Sial! Tadi gue manggil dia kan buat nomongin masalah kita. Kok malah gue di tinggalin gini. Sambil kesakitan lagi. Awas loe. Tunggu aja pembalasan gue. Argh!"

Cerpen Remaja Tentang Aku dan Dia

Brugh.
“Aduh sory sory sory, gue nggak sengaja."
Tanpa melihat siapa yang ditabrak, Gresia segera berjongkok untuk mengumpulkan kertas – kertas ulangan yang berserakan di lantai. Karena sikap ceroboh yang dimilik tanpa sengaja ia menabrak orang.
Tepat saat ia berusaha mengambil kertas yang ada di hadapannya, secara bersamaan sebuah tangan juga melakukan hal yang sama. Refleks Gresia menoleh.
Deg.
Sepertinya lapisan ozon bener-bener sudah menipis dan telah terjadi pemanasan global di mana-mana yang menyebapkan berkurangnya oksigen ( ???) karena kali ini Gresia mendadak merasa sulit untuk bernapas. Matanya terasa silau menatap makhluk yang ada di hadapannya yang tidak lain adalah Dirga. Cowok yang diam-diam di taksirnya.
“Dirga?"
Lagi-lagi Gresia merasa kesulitan untuk bernafas begitu melihat sebuah senyuman manis yang di lontarkan makhluk di hadapannya.
“Aduh sori ya, tadi gue beneran nggak sengaja,” tambah Gresia kemudian setelah berhasil mengatasi gejolak di dadanya.
“Nggak papa kok. Kayanya gue tadi juga salah. Soal nya gue jalan tadi nggak liat-liat."
Tuh kan siapa coba yang nggak akan jatuh cinta. Dirga itu selain keren, punya senyum yang manis, juga orangnya sopan.
“Ya udah gue duluan ya,” pamit Dirga beberapa saat kemudian. Gresia hanya mengangguk sambil terus memandangi punbggung pria itu yang terus berjalan menjauh sampai kemudian hilang dari pandangan.
To Be Continue….
Next : Cerpen Remaja Tentang aku dan dia part 02
Detail cerpen

Random Posts

  • Cerpen Sahabat Terbaik Be the Best Of A Rival ~ 04

    PS: Untung aja aku baru ngabisin baca novel yang sukses bikin aku berfikir positif… Kalau nggak, Nggak tau deh..Thanks to "Mellisa"…Part sebelumnya silahkan baca "Cerpen persahabatan be the best of a rival part 3".Credit Gambar : Ana MeryaKeesokan harinya, farel sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. langsung bersiap – siap untuk kesekolah. mamanya aja sampai heran. Biasanya kan farel baru bangun kalau udah di bangunin. itu juga harus pake olah raga suara alias teriak – teriak. la ini?. Selesai sarapan farel langsung tancap gas.sebagian

  • Surat Cinta Untuk Para Sobatku, ASKAR

    Surat Cinta Untuk Para Sobatku, ASKARoleh: Luthfiah Fadlun MuhammadAwalnya kita tak pernah mengenal, tak pernah tahu masing-masing pribadi. Namun, aku tahu Allah sayang kita. Allah selalu tahu apa yang ada di balik tabir kehidupan ini. Hingga kita dipertemukan di suatu tempat yang luar biasa, sederhana, namun takkan pernah terlupakan. Ehm… sekolah islam berasrama yang penuh anak-anak luar biasa, penuh kesabaran, tetap tersenyum walau problematika hidup berkeliaran di sekelilingnya. Tiga tahun melangkah bersama, bergandengan tangan, hadapi hari suka dan duka bersama. Kami rajut persaudaraan indah ini dengan nano kehidupan. Aku simpan kenangan indah bersama orang-orang luar biasa seperti kalian, sobatku. Sebuah kebahagiaan dan kebanggaan bagiku bisa bersama kalian. Hidup di tengah-tengah kalian.Namun, kini aku harus siap. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku tahu itu. Air mata ini tak dapat kutahan lagi malam itu. Mataku tak bisa terpejam dan tidur nyenyak. Aroma kamar Palestine, kamarku dan ASKAR penuh desah keharuan. Basah oleh air mata kami. Bulir kata-kata indah terkirim untukku. Dari sahabat-sahabat berjuta rasa, ASKAR. Aku menangis sedih membacanya. Aku harus siap hadapi hari esok. Wisuda Qur’an dan Haflatul Wada’ (pertemuan terakhir = perpisahan).Pagi ini nafsu makanku hilang seketika. Begitu pula para sobatku, ASKAR. Sarapan pagi istimewa buatan bibi tetap tak menggugah selera makan kami. Tapi kami harus makan. Aku ambil sepiring sarapan. Kususun rapi-rapi agar tampak menarik. Aku masuk ke kamar. Aku tarik nafas dalam-dalam.“ Ayo Ukhti Fillah…. kita sarapan dulu!” teriakku di depan pintu kamar. Semua menoleh ke arahku dan menggeleng. Aku yakin akan hal ini pasti terjadi. Tapi pliss satu suap saja…. aku yang suapkan…. Aku keliling kamar menyuapkan satu per satu sahabatku. Aku pandang jelas wajah-wajah mereka. Senyum dan tawa mereka tak se-renyah kemarin. Bukan karena jilbab abu-abu yang kami pakai begitu licin, membuat kami sibuk merapikannya kembali. Tapi karena…ah!…. Kami tak sanggup berpisah dengan ikatan ukhuwah yang begitu menyegarkan hati, yang selalu menjaga perasaan saudaranya, yang selalu menyemangati saudaranya ketika turun, yang selalu…ah! aku tak bisa ungkapkan lagi. Takkan bisa walau dengan kata-kata indah sekalipun…. sekalipun.Segala persiapan untuk acara kami telah disiapkan guru-guru dan adik-adik kelas kami. Insya Allah lebih baik daripada tahun lalu. Puluhan kata sayang menyerbu kami hari ini. Air mata kami tetap tertahan, karena memang sudah janji kami. Tidak boleh menangis di depan adik-adik kelas dan guru-guru kami. Kami tak mau hancurkan hari ini yang telah mereka siapkan se-baik mungkin. Ratusan senyuman menyambut kedatangan kami. Angkatan terbaik penuh se-abrek prestasi dengan nyanyian tola’al badru dari tim marawis. Kamera-kamera berebutan mengabadikan kami unuk menjadi kenangan terindah. Angkatan pembangkit sekolah. SECOND GRADUATION (ASKAR dan AMOEBA). Kami berjalan berbaris memasuki lapangan kecil sekolah yang sekarang berdirinya sebuah panggung kecil dan tenda untuk tamu-tamu yang hadir. Kami terus menyusuri kursi-kursi tamu dan segera duduk di kursi wisudawan- wisudawati. Tanganku mulai dingin, detak jantungku bertambah kencang, rasa gugup mulai menyerangku. Aku coba tenangkan dengan memurojaah hafalanku. Buncah. Rasanya hafalanku menari-nari menertawaiku. Aku tarik nafas mencoba tenang mendengarkan sambutan dari kepala sekolah tercinta, Bapak Edi Nasirun. Hingga… dua orang guru akhwat yang menjadi motivasi kami selama di sini naik ke atas panggung. Aku pandangi wajah-wajah tegang di sekelilingku. Aku mencoba tersenyum. Getir. “Kepada wisudawan-wisudawati diharapkan naik ke atas panggung. “ Diam. Aku dan teman-temanku mulai bangkit dan berjalan pelan ke arah panggung. Kami naik satu per satu. Aku duduk di belakang bersebelahan dengan Sarah. Aku menunduk. Lantunan ayat suci nan merdu itu mengheningkan suasana. Semua memperhatikan kami. Rasa tegang kompak menyergap kami. Rasanya ingin menangis, mempertanggungjawabkan hafalanku ini. Aku belum siap. Aku terus berdoa dalam hati. Sesi tanya jawab dibuka. Pertanyaan-pertanyaan bergulir. Satu per satu pertanyaan dijawab oleh kami. Kami bertambah tegang ketika ketua yayasan kami, Ustadz Bukhori Yusuf bangkit dari tempat duduknya dan mengambil mikrofon. Pertanyaan penutup yang sempurna disambut jawaban yang mengalir sempurna. Alhamdulillah…..Prosesi Wisuda Qur’an berjalan sukses. Kami turun dari panggung. Rasa lega dan puas tampak jelas pada wajah ASKAR dan AMOEBA. Dan nama-nama kami mulai dibacakan, sesuai dengan tingkatan hafalan. Satu per satu ASKAR dan AMOEBA naik ke atas panggung. Sisa tinggal kami berenam. Sarah, Aku, Wardah, Nida, Syadza dan Fakhirah. “……..Selanjutnya Sarah Fauziyyah dengan hafalan sebanyak 4 ¾ juz dengan kualitas hafalan jayyid jiddan…….” Ucap dua guru akhwat yang memimpin prosesi Wisuda Qur’an kami. Sarah pun naik ke pangung. Tinggal kami berlima.“……..Selanjutnya Luthfiah Fadlun Muhammad denga hafalan sebanyak 4 ¾ juz dengan kualitas hafalan jayyid jiddan. Siswi ini meraih prestasi sebagai Juara 1 Speech Contest Dahsyatnya Ramadhan RCTI, Juara 2 Story Telling Pada Munas PKS ke-2, Juara 1 Story Telling Mipa and English Competition Baitul Maal Expo…….” Panggil dua guru akhwat lagi. Aku maju pelan-pelan. Malu. Pandanganku beralih ke arah para hadirin. Ummi dan abi. Satu kalimat jelas yang kutangkap dari mata kedua orang tuaku. Selamat, sayang. Terima kasih! Aku tersenyum lebar. Medali Wisuda Qur’an dikalungkan dan sertifikat Qur’an kudapatkan. Aku berdiri diantara sobat-sobatku itu. Aku genggam tangan mereka. Ehm… sebentar lagi. Kami turun dan langsung memeluk orangtua kami.Acara selanjutnya, pidato terakhir 3 bahasa dari perwakilan angkatan kami. Sarah dengan pidato bahasa arab, Farha dengan pidato bahasa inggris, dan Afif dengan pidato bahasa indonesia. Aku duduk bersama ASKAR di belakang. Kami tertawa berderai, berpose manis saat difoto, dan menceritakan perasaan saat di panggung tadi. Ah! Kapan lagi kami bisa begini…?“Persembahan terakhir dari ASKAR, kepada kelas Aisyah Binti Abu Bakar (ASKAR) dipersilahkan naik ke atas panggung. “ Kami bersiap, berbaris, dan mulai naik. Sebuah nasyid Edcoustic “Sebiru Hari Ini” diiringi gendangan khas dari salah seorang sobatku, Fatimah. Manis. Dan sebuah nasyid yang menemani kami dari awal saling mengenal hingga ikatan ukhuwah ini begitu erat dan hangat, “Untukmu Teman”. Aku tersenyum memandangi satu per satu sahabatku. Air mata yang kami kira akan meluncur saat ini tak juga muncul. Tangan kami saling berpegang erat. Saling menguatkan. Senyum terakhir kami di sini… Di sebuah sekolah luar biasa, SMPIT Insan Mubarak Boarding School….^_^Kami turun dari panggung. Beberapa sahabatku mulai menangis. Aku masih terdiam di atas panggung, menunggu antrian turun. Aku pandangi sahabat-sahabtku. Aku tak bisa menangis. Tak bisa. Tak bisa. Namun… Aku langsung berlari ke arah salah satu sahabatku, Fakhirah. Sahabat yang begitu berkesan bagiku. Sahabat yang selalu menjadi semangatku di sini. Sahabat yang menggugah diriku untuk tetap semangat berjalan beriringan hingga saat ini. Aku memeluknya dan sekejap air mataku meluncur deras. Aku sedih. Ruang dan jarak akan begitu saja memisahkan kami. Kacamataku sudah basah. Lautan airmata tumpah seketika di lapangan kecil itu. Aku menatap wajahnya lagi. Ia menghapus airmataku.” Jaga dirimu ya! Hammasah Ukhti!…” Aku mengangguk.“Syukron Ukhti, Sukses! Allah always be with us…” Kami saling berpelukan satu sama lain. Airmata kami rasanya tak bisa tertahan lagi. Deras.Lantunan nasyd “Doa Rabithah” menemani desahan tangis kami. Semua orang yang tahu tentang perjalanan kami menyatukan ukhuwah ini, menangis. Suasana menjadi haru. Adik kelas kami menyerbu kami dan dan langsung memeluk kami. Menangis. Aku tak dapat ungkapkan kata-kata lagi. Kelu. Terlalu indah. Aku sedih…..*******Percakapan seminggu yang lalu….“Apa rencana kalian ke depan?” Tanya wali kelas kami di tengah pelajaran matematika yang asyik dan menyenangkan. Kelas menjadi gaduh. Semua berebutan menghamburkan jawaban. Sebuah teriakan menghentikan kami.“….. Haflatul wada’ di Mekkah dan…. Kita reunia-an di Surga….” Teriak seseorang dari kursi belakang.“ Amiiin… ALLAHU AKBAR….!” Teriak kami bersamaan. Perkataan itu jadi janji kami sejak itu. Doakan kami ya……………..!*******Kini, aku berada di sebuah sekolah yang lebih dikenal dengan sebutan “Kampus Peradaban”. Rasa rindu akan hadirnya mereka kembali takkan bisa terlukiskan. Hanya satu kata untuk kalian sobat-sobatku. I Love You All Coz Allah….Aku berlayar menyebrangi samudera tanpa tujuanmengetas dugaan yang belum tentu tampak jalanansayup-sayup desahan keagungan menyerumput kerinduanberperang perasaan melawan kesedihan aku datang, temanmenembus karang hancurkan badanmelawan badai ombak korbankan anganmenjemput sebuah panji persaudaraanyang telah lama tak tersandang290211==================================================================Biografi penulisNama : Luthfiah Fadlun MuhammadNama Pena: Syakira El AskarullahEmail ; luthfiyah15@gmail.comFacebook. :Luthfiah Fadlun Nylifana

  • ANTARA CINTA dan KELUARGA

    ANTARA CINTA dan KELUARGAoleh PURWATIHidup akan menjadi indah selama kita masih memiliki dan berada disamping orang –orang yang kita sayangi, seperti anita yang dimana dia masih memiliki kedua orang tua, adik dan kakak yang selalu mengingatkannya dikala dia melakukan suatu kesalahan, anita yang masih berumur 16 tahun dan duduk dibangku sekolah SMK yang dimana dia masih melewati masa-masa pubertas sama seperti yang dirasakan oleh remaja yang lain.Pada saat itu anita menyimpan perasaan sayang pada seorang cowok yang bernama “Andre”.tanpa dia sadari bahwa dari awal dia masuk dibangku sekolah SMK anita sudah dilarang oleh keluarganya untuk berpacaran,tetapi anita tetap saja menentang perintah orang tuanya itu,anita dan andre menjalani hubungan berpacaran sudah hampir dua tahun. Dia menjalani semua itu tanpa sepengetahuan dari orang tua anita,apakah ini kekonyolan dari sebuah cinta ? seperti ada pepatah kalau “ Cinta itu Buta “ yang bisa membutakan mata dan hati bagi insan yang merasakannya seperti “Anita”… Andre selalu ada disaat Anita membutuhkannya,disaat anita merasa sedih dan bahagia.mungkin itu yang membuat anita menganggap andre adalah segalanya dalam hidup anita,hari-harinya selalu dia jalani dengan andre meskipun mereka berpacaran dengan cara long distance,karena andre bekerja dan sudah jelas jauh dari anita,,tetapi anita tidak menyadari semua itu. Suatu ketika anita memasuki bangku perkuliahan,dari sinilah kedua orang tua dan kakaknya mengetahui tentang hubungannya dengan andre melalui seluler anita yang berisi sms-sms dari andre yang selama ini dia dan andre sembunyikan,dan tanpa sepengetahuan anita tiba-tiba andre berkunjung kerumah anita,andre tidak pernah mendapat respon baik dari keluarga anita karena sudah dari awal keluarga anita tidak menyukai dan menyetujui hubungan mereka.Pada saat itu keluarga anita marah besar sampai ayah dan ibu anita jatuh sakit mengetahui perbuatan anita yang selama ini menentang perintah mereka mulai saat itulah anita diberi pilihan antara keluarga, kuliah atau pacar.Pada suatu malam anita berada pada perasaan bingung dengan pilihan yang diberikan oleh orang tuanya,, dia tidak ingin melepaskan pacarnya tetapi dia juga tidak ingin melepaskan keluarga dan kuliahnya.tapi dia harus menentukan pilihan yang harus dia ambil, akhirnya anita memilih keluarga dan kuliahnya dia berjanji pada orang tuanya untuk tetap fokus pada kuliah dan masa depannya. Dia tidak akan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya.Akhirnya anita sekarang berusaha untuk mengembalikan rasa kepercayaan orang tuanya pada dirinya dan dia berkomitmen untuk selalu memandang masa depannya.>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> sekian <<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<Cinta yang sebenarnya itu ialah cinta yang nantinya akan diberikan oleh Tuhan pada kita,dan cinta yang tanpa restu dari kedua orang tua tidak akan pernah abadi untuk selamanya.Nama : PURWATIEmail : watikyupz@yahoo.com

  • Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 08 | Cerpen cinta

    Adminnya pusing ni cerita mau di bawa kemana ala Armada. Pasalnya selain sosok Fajar, ternyata muncul sosok Defrin yang mendadak mengacaukan suasana. Penambahan tokoh lagi itu mustahil, tapi feel terhadap fajar mendadak menghilang Sementara posisi Andre jelas sudah tergantikan. (?????).He he he, Reader bingung gak sama kalimat pembukaanya. Yups, tips nulis biar fell nya dapat itu sebenarnya gampang. Cukup bayangin aja tokoh tokoh pelaku nya dengan orang – orang nyata di sekitar anda. Kelebihannya, nulis jadi gampang. Kekurangannya, ketika doi udah nggak menarik perhatian lagi, biasanya ide juga ikut ngilang. Iya…Biasanya sih gitu…. #DihajarMassaOkelah, kita lanjut aja ya sama Kenalkan aku pada cinta part 8 nya, untuk part sebelumnya silahkan di cek disini.Kenalkan Aku Pada Cinta Menatap indahnya senyuman di wajahmumembuatku terdiam dan terpakumengerti akan hadirmu di tempat yang terindahsaat kau peluk mesra tubuhku… "Banyak kata yang….."Mulut Astri yang ikut bersenandung kecil terhenti seiring dengan berhentinya musik yang mengalun dari radio yang ia stel di meja makan di dapurnya. Kepalanya menoleh, menatap penuh tanya sekaligus kesal kearah Rendy yang kini sedang menatapnya. Sepertinya kakaknya baru pulang.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*