Cerpen Remaja : Tentang Aku dan Dia ~ End

Cerpen RemajaTentang Aku Dan diaPartEND!!!…
Mindik – mindik, Lirik kanan kiri, Nggak ada orang, AMAN!. He he he, Karena sepertinya kegalauan star night sudah menghilang, akhirnya di putuskan untuk melanjutkan Cerpen Remaja Tentang aku dan Dia. Yah walau pun kemaren sudah sempet end. Tapi kan belom ada tanda serunya (?????). Lagipula ending cerpen remaja tentang aku dan dia kemaren beneran bukan gaya Star Night Banget. Soo, ehem, dengan amat sangat suka rela, lanjut. Sinetron sinetron dah, Yang penting mak nyos…. he he he. Sudahlah, Nggak perlu banyak bacod, Langsung saja ke ceritanya. xixixixi………..

Pergi tanpa alasanaku mencintaimu bagaikan langit memeluk bintangaku lukiskan cinta di hati tak terbatas lagi
aku mencintaimu bagaikan langit memeluk bintang
aku lukiskan cinta di hati tak terbatas lagi
cinta yang dulu bersemi kini menjadi masa laluku
hatiku hancur tiada berkeping bagaikan segelintir debu
kepergianmu tanpa alasan yang pasti
kau buat hatiku kini lemah tak berdaya
semakin hancur hatiku ini tanpamu
ku tak bisa berdiri tegak dan bernafas lega
kepergianmu tanpa alasan yang pasti
kau buat hatiku kini lemah tak berdaya
semakin hancur hatiku ini tanpamu
ku tak bisa berdiri tegak dan bernafas legasemakin hancur hatiku ini tanpamu
ku tak bisa berdiri tegak dan bernafas legaBy: Eren
Gresia mengehela nafas. ' Eren, Pergi tanpa Alasan' benar – benar menginggatkannya pada seseorang. Untuk sejenak ditatapnya buku diary yang ada di tanggansebelum akhirnya ia kaget karena benda pink itu kini telah berpindah tangan."Hei balikin!" jerit Gresia Yang justru malah diangkat tinggi – tinggi."Emang loe nulis apaan?. jadi penasaran"."Oh my god" Keluh gresia ketika rangkaian kata – demi kata di buku itu meluncur mulus dari mulut sang 'perampok'." Arga, Mengenal mu bukan lah sebuah anugrah, tapi aku tau itu tidak bisa untuk dikatakan sebagai musibah. Bersamamu membuat ku mengerti akan indahnya kebersamaan dan betapa menyakitkan sebuah perpisahan. Tapi aku tau kalau jalan hidup ini masih panjang. Semua nya tidak akan berhenti hanya sampai disini. Masih begitu banyak yang harus di perjuangkan. Tapi kali ini aku rela kan kau pergi. Karena aku tau ini adalah yang terbaik".MALU!!. Satu kata yang gresia rasakan. Bagaimana bisa ungkapan hatinya di bacakan dengan kalimat selantang itu."So sweet"."Diem loe!" bentak Gresia sambil mengambil kembali benda miliknya."Gue nggak nyangka kalau seorang 'arga' bisa begitu berarti Buat loe".Gresia diam tidak membalas. "Tapi….. Gue kan masih hidup".Mau tidak mau protes dari arga barusan membuat Gresia tersenyum simpul."Siapa suruh loe dulu pura – pura mati segala" Balas Gresia cuek sambil memasukkan Buku diarinya kedalam tas."Ralat. Gue nggak pura – pura. Dasar loe nya aja yang lebay" Kata arga Sambil duduk di samping Gresia. "Kalau boleh jujur, Sumpah saat itu gue takut banget. Gue pikir loe beneran pergi" Ucap Gresia sambil menerawang mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat Arga di temukan tegeletak diatap gedung sekolah dalam keadaan tak sadarkan diri. Untunglah itu hanya akibat dari lemahnya kondisi fisik yang memang tidak terlalu fit. Ditambah semalaman ia benar – benar mengunggu Gresia. Hujan – hujanan lagi. Sangat wajar kalau ia bisa jatuh pingsan."Gue harap itu pertama – dan terakhir kali loe ngelakuin hal konyol" Tambah Gresia lirih."Nggak janji" Balas Arga sambil tersenyum."Tuh kan" Gresia pura – pura ngambek."Ya deh, nona manis".Gresia kembali tersipu malu mendengarnya. Oh ya, sekedar info saat ini mereka sudah resmi jadian."Kita jalan – jalan yuk. Anggap aja ini acara perpisahaan buat kita" ajak arga beberapa saat kemudian."Perpisahan?" gumam gresia lirih. Jujur, Walau hanya satu kata tapi itu mampu untuk membuat rongga dadanya terasa sesak."Gue cuma mau bersikap realistis saja. 4 tahun bukan waktu yang singkat. Segala hal bisa saja terjadi. Buktinya dalam satu bulan, Gue bukan cuma bisa membuat loe jatuh cinta sama gue, Tapi gue juga jadi jatuh cinta sama loe" ."Jadi loe bakal ngelupain gue?" Tembak Gresia Cepat."Ayo lah gres. Loe pernah bilang kan kalau kisah kita bukan seperti sinetron atau pun ff yang sering loe baca. Gue nggak pernah bilang kalau gue bakal ngelupain loe, atau loe yang bakal ngelupain gue. Hanya saja Gue nggak pengen mempersulit keadaan"." Mungkin loe bener. Nggak ada yang mustahil di dunia ini. Begitu juga seperti kisah cinta sederhana antara kita" Kata Gresia setelah lama terdiam."Jadi kita Break nie?" Gresia kembali menegaskan.Arga hanya mengangguk. "Loe juga nggak mau LDR kan?".Gantian Gresia yang mengangguk."Jadi kapan loe berangkat?"."Besok siang. Loe ngantar gue ke bandara kan?" Tanya Arga yang lagi – lagi di di balas anggukan gresia."Oh ya, Katanya tadi loe ngajak gue jalan – jalan. Berangkat yuk. Lagian besok loe juga sudah sudah berangkat ke Amerika. Karena loe sendiri yang memilih untuk meneruskan kuliah ke sana. Yah walaupun jujur saja gue kecewa secara di indonesia masih begitu banyak kampus – kampus yang tak kalah bagus"." Gres, gue…."."Loe nggak perlu mengulang – ulang alasan loe lagi. Gue kan sudah bilang kalau gue memakluminya. Lagian kalau gue jadi loe gue akan melakukan hal yang sama. kesempatan ini nggak akan gue sia – siakan. Beasiswa gartis kuliah di Amerika. Cuma orang bodoh yang akan menolak nya. Cuma gue ngerasa lucu aja. Kita baru jadian seminggu yang lalu, eh sekarang sudah harus putus. Bohong banget gue nggak kecewa". " Gue…"."Udah. Jalan yuks" Lagi – lagi Gresia memotong ucapan Arga. Dan tanpa basa – basi di raihnya tangan Arga meninggal kan taman kota. Sebuah taman yang akan mengingakan tentang akhir atau mungkin awal dari jalan sebuah kisah yang lebih panjang. Kisah Tentang aku dan dia.End…!!!.****Huahahahaha…… Gaje ya?.Berulang – ulang kali Star Night baca episode cerpen remaja Tentang aku dan dia ending bagian kemaren. Kok kayaknya nggak tega banget ya kalau harus di bikin sad ending gitu. Soalnya itu bisa meusak citera Star Night sebagi seorang yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung plus berbakti sama orang tua (???). He he he…Tapi kalau yang nie beneran end. Ehem,….. e…. Nggak tau deh kalau kedepannya da ide lagi *gubrak*. Hanya saja kalau sekarang memang menurut Star Night si sudah end. Memang nggak happy ending si, Tapi paling nggak kan nggak sad ending. Kalau ada yang bingung sama episode ini, ya resiko. Coba baca ulang lagi. Nanti pasti paham. Kalau masih belum paham juga biar Star Night kasih ringkasan. inti dari episode ini adalah, "Arga Masih hidup hanya saja ia tetap harus berpisah sama Gresia karena ia mendapatkan beasiswa ke amerika".Nah, sudah paham kan?. kalau masih belum paham, ya pura – pura aja paham *Diinjek*.Akhir kata Sudah lah, Star Night mau tidur dulu. Udah jam dua belas malam nie. hue he he….Da…….

Random Posts

  • Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?

    Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?oleh: Diah Novianti“Fio, tunggu…!”, langkahku langsung terhenti kala Denis memanggilku. “Ada apa ?” ” Ini, buku latihanmu ketinggalan.”kata Denis. “Makasi” jawabku sambil tersenyum. Denis membalas senyumku, senyum manis yang memberikan arti bahwa ia adalah sosok anak muda yang ramah dan baik hati.Ya, dialah Denis. Siswa SMA 46 Jakarta yang cukup banyak punya penggemar. Aku pun sudah lama memendam rasa kepadanya. Aku dan dia memang sudah kenal sejak lama karena dari sekolah dasar aku sudah sekelas dengannya. Awalnya, tak ada kedekatan apapun di antara kami, hingga suatu hari Denis mengajakku pulang bersama. “Mau pulang sama aku nggak ?” tanyanya sambil tersenyum. Senyum yang dapat membuat siapa saja melayang karnanya. “Bole aja”, tanpa basa basi aku langsung mengiyakan ajakan itu. Dari sana, aku mulai dekat dengannya. Dan akhirnya, saat itu pun tiba. Denis memintaku untuk menjadi pacarnya. Tak perlu banyak waktu untuk menjawab semua itu karna memang itulah mimpiku sejak SMP.Kini, hari-hariku pun sudah ditemani oleh Denis. Semua terasa sangat menyenangkan. Dan ternyata, itu hanya awalnya saja. Ketika hubunganku dengannya memasuki usia ke-3 bulan, saat itulah mimpi burukku datang.“Fio, sini, aku mau ngomong sesuatu.”kata Denis. Aku langsung menelan ludah, tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. “Aku mau kita temenan aja.”lanjut Denis.Taaarr ! Seakan ada ribuan cambuk yang mengenai hatiku. Aku langsung menitikkan air mata, tetapi segera kuhapus tanpa sepengetahuan Denis. Aku tak ingin lemah di hadapannya. Aku hanya diam.“Fio, maafin aku…” Aku langsung berlari sejauh mungkin, tak peduli walau langit sedang menangis seakan tahu apa yang kini tengah aku rasakan. Aku berlari di tengah derasnya hujan, tak ada tanda-tanda kalau Denis akan mengejarku. Biarlah, kataku dalam hati.Keesokan harinya, tak sengaja aku bertemu Denis di sebuah pusat perbelanjaan. Ia bersama seorang perempuan cantik, berkulit putih, manis, tinggi pula. Ideal sekali untuk ukuran seorang wanita sempurna. Oh Tuhan, ironis. Satu kata yang dapat mewakilkan keadaanku saat ini setelah aku berusaha untuk mempertahankan semuanya. Kini, hancur sudah semuanya karena orang yang kusayangi.Aku ingin sematkan bintang di dahinya, agar ia tahu betapa besar rasa sayangku padanya. Tuhan, masih bisakah hari itu terulang ? Hari dimana aku dan Denis masih bersama .*****Facebook : Diah NoviantiTwitter : @novidiahnovi

  • Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 14

    Lama nggak ngetik cerpen, jadi cangung sama lanjutannya. Apalagi untuk cerpen cinta kenalkan aku pada cinta. Busyed banget dah, ni cerpen udah dari sekian lama kenapa nggak ending – ending juga yak? Ribet amat kayaknya. Ide kerasa mahal pisan euy. Sampe sampe admin jadi bingun sendiri. #CiuuusssAnd then, kalo emang nggak ada aral melintang (???) kayaknya, cerpen yang satu ini hanya tinggal 2 atau 3 part lagi nemu ending deh. Pake voting yuks, kalau di bikin sad ending gimana? Secara lamaaaaaaa bangets adminnya nggak bikin cerpen yang sad sad. Bener nggak sih? Ke ke. Eh, biar nggak kebanyakan bacod langsung baca lajutannya aja yuks. And untuk part sebelumnya bisa di baca disini.Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada CintaAstri sesekali melirik jam yang melingkar di tangannya sembari matanya melirik kearah pintu kantin, menanti sosok kemunculan sahabatnya. Sudah lebih dari 15 menit ia menunggu, tapi gadis itu masih belum menunjukan batang hidung nya. Padahal tadi katanya hanya sebentar. Ia kan paling malas kalau harus makan sendirian.“Kok sendirian?”Astri menoleh. Wajah Andre langsung menyambutnya. Ia sendiri heran, kapan pria itu muncul? Kenapa ia tidak menyadari kehadirannya?“Alya mana?” pertanyaan selanjutnya menyadarkan Astri dari lamunannya. Entah kenapa ia merasa sedikit kesel mendengar pertanyaan itu. Ia tau, ia memang bersahabat cukup erat dengan Alya, tapi mendengar nama gadis itu yang keluar dari mulut Andre membuatnya merasa sedikit terganggu. Jangan di tanya kenapa, karena ia juga tidak tau.“Ehem, Alya. Nggak tau, tadi katanya ada urusan sama dosen,” balas Astri datar. Perhatiannya kembali ia alihkan kearah minuman pesanannya, mengaduk – aduknya dengan berlahan.“O…” Andre tampak mengangguk. “Gue boleh duduk disini bentar nggak?”Astri hanya mengangguk. Untuk beberapa saat keduannya terdiam.“Oh ya As, ngomong – ngomong besok kan hari minggu. Kita libur. Loe ada acara nggak?”Astri menoleh dengan tatapan menyelidik. Sibuk menebak kearah mana pembicaraan ini akan di bawa. Setelah mikir beberapa saat kepalanya mengeleng sembari mulutnya bergumam “Enggak ada. Emang kenapa?”Andre tidak langsung menjawap, hanya bibirnya yang tampak melengkung membentuk senyuman indah. “Kalau gue ajak jalan loe mau nggak?”“Jalan?” ulang Astri seolah tak yakin dengan kalimat yang baru saja di dengarnnya. Andre mengangguk mantap sebagai jawaban. “Tapi cuma kita berdua. Nggak ada Alya apalagi Rendy,” sambung Andre lagi.Astri makin bungkam. Diajak jalan saja ia sudah merasa heran, apalagi tanpa Rendi dan Alya. Merasa sedikit salah tingkah, tangan Astri terulur meraih pipet minumannya. Menyeruput jus jeruk yang sedari tadi hanya ia aduk aduk. Kepalanya kembali menelaah tawaran Andre barusan. Jalan – jalan? Hanya berdua? Jangan bilang kalau Andre mengajak ia untuk ken…“Kita kencan,” sambung Andre seolah mampu membaca pikiran Astri.“Uhuk – uhuk,” kalau biasanya orang tersedak karena bakos, kali ini Astri tersedak minumannya sendiri. Ketika batuknya reda, matanya langsung menatap lurus kearah Andre yang ternyata juga sedang menatapnya. Menanti jawaban lebih tepatnya.“Loe mau kan?”“Tentu saja tidak,” itu adalah jawab yang seharusnya dan ingin Astri lontarkan. Ayolah, ia tau pasti kalau sosok yang mengajaknya itu adalah orang yang di taksir sahabatnya sendiri. Tapi…. Entah bagaimana ceritanya, ia merasa kalimat itu terlalu berat untuk di lontarkan. Bahkan seolah itu belum cukup, tubuhnya juga memberikan reaksi yang berbeda. Kepalanya mengangguk berlahan, sembari mulutnya bergumam lirih. “Boleh.”“Ya?” gantian Andre yang tampak heran. Seolah tak yakin dengan jawaban yang di dapatkannya. Matanya menatap lurus kearah Astri, menanti kalimat lanjutan. Tapi gadis itu hanya terdiam tanpa berani menoleh kearah dirinya. Tanpa bisa di cegah, senyum kembali mengembang di bibir Andre.“Baiklah, kalau gitu besok gue jemput loe jam 08:00 pagi. Gimana?”“Ya sudah kalau gitu. Sekarang gue pergi dulu ya. Kebetulan gue ada urusan. Jangan lupa besok gue jemput loe. Oke,” kata Andre sambil bangkit berdiri. Astri menoleh. Walau sejujurnya ia bingung, tapi mulutnya tetap bungkam. Hanya anggukan kepala yang lagi lagi ia berikan sebagai jawaban. Mengantakan kepergian Andre yang berlalu meninggalkannya.Setelah Andre benar – benar berlalu, Astri terdiam sediri. Sibuk mencerna apa yang baru saja di lakukannya. Mendadak ia merasa ragu. Bahkan tak urung sedikit merasa bersalah pada sahabatnya. Apa yang telah ia lakukan? Kenapa ia menyetujui ajakan itu?“Ngelamun aja loe. Nggak bakal kaya tau.”Astri terlonjak seiring dengan kalimat sapaan yang mampir di gendang telingannya. Terlebih tambahan kontak fisik pada tepukan pundaknya. Saat menoleh, Alya sudah berdiri disampingnya. Tanpa kata, gadis itu segera duduk di hadapannya. Mengantikan tempat Andre sebelumnya.“Apaan sih loe. Ngagetin aja,” gerut Astri. Secara refleks ia menoleh kekanan kiri. Memastikan tiada bayangan Andre di sekitarnnya.“Yee… gitu aja kaget. Makanya jangan ngelamun aja. Ayam tetangga pada mati tau,” nasehat Alya yang hanya di balas cibiran.“Ngomong – ngomong loe lama banget sih. Emang ada urusan apaan?”“Gue kan tadi udah bilang, gue keruangan dosen. Gue mau minta izin. Soalnya gue mau libur seminggu kedepan.”“HA? Kenapa?” Astri jelas kaget mendengarnnya.“Biasalah. Gue ada urusan keluarga gitu. Gue, sama nyokap gue mau keluar kota. Ada acara gitu di tempat kerabat gue. Karena bokap gue nggak bisa ikut, yah terpaksa deh gue yang gantiin temenin nyokap buat kesana.”“Tapi kok harus seminggu segala. Lama amat?”“Itu karena acarannya bukan cuma di luar kota. Tapi udah luar provinsi juga. Jauh. Kalau cuma sebentar, sayang di ongkos. Lagian, nyokap gue udah lama banget nggak kesana. Jadi, gitu deh.”“Dimana? Emang sejauh apa sih?” tanya Astri lagi.“Bokor ~ Selatpanjang ~ Riau ~ Indonesi. Sebenernya gue ngerasa percuma aja sih gue ngasih tau. Loe juga nggak bakal tau. Secara daerahnya nggak ada di peta,” sahut Alya ngasal, Astri sedikit mengernyit mendengarnya. Dan sebelum mulutnya kembali terlontar untuk melemparkan pertanyaan, Alya sudah terlebih dahulu mendahuluinya.“Nah, karena itu. Besok loe temenin gue ya. Gue mau cari oleh – oleh buat di bawa kesana. Loe bisa kan?”“Ya?” “Tampangnya biasa aja kali. Nggak usah kaget segala.”Astri terdiam. Merasa bingung dengan apa yang akan di lakukannya. Bagaimana donk, ia kan sudah berjanji pada Andre untuk jalan bersama. “Aduh, gimana ya? Besok kayaknya gue nggak bisa.”“Nggak bisa? Kenapa?” tanya Alya heran.“Besok gue udah ada janji soalnya.”“Janji? Sama siapa ? Nggak bisa di batalin ya?”Lagi – lagi Astri terdiam. Nggak mungkin kan ia harus bilang kalau ia mau jalan sama Andre. Apa nanti tangapan Alya padanya? Tapi kalau nggak di kasih tau, ia mau pake alasan apa?“Sama temen.”Alya menyipitkan matanya. Menatap penuh selidik kearah Astri. Merasa kalau ada yang aneh dengan tingkah sahabatnya itu. Tidak biasanya Astri begitu. Sepertinya ada yang di sembunyikan darinya. “Ya udah. Gimana kalau kita nyari oleh – olehnya hari ini aja. Abis pulang kuliah kita langsung pergi. Oke?” tawar Astri cepat. Tak memberi kesempatan pada Alya untuk bertanya lebih lanjut.Untuk sejenak Alya tampak memikirkan tawaran sahabatnya itu. Dan beberapa saat kemudian kepalanya mengangguk berlahan. Isarat bahwa ia setuju. Lagipula kalau di pikir – pikir siang ini ia tidak acara. Besok juga ia masih harus paking barang. Di tambah lagi, ia juga malas kalau besok harus keluar sendirian. “Oke deh kalau gitu. Abis ini kita langsung pergi.”Astri tersenyum mendengarnya. Walau tak urung ia merasa sedikit bersalah karena telah membohongi sahabatnya, namun sebagian hatinya justru merasa lega dan senang. Karena sepertinya Alya sudah tidak mempermasalahkan alasannya. Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada CintaKeesokan harinya, Astri tampak sibuk merapikan diri. Walau ia sudah mati – matian meyakinkan dirinya sendiri kalau itu bukan kencan tapi hanya untuk memenuhi undangan jalan sekaligus mengisi hari liburnya, tapi tetap saja ia berdandan. Bahkan kacamata yang biasa menemani hari harinya di kampus kini telah digantikan dengan kontak lens. Rambutnya juga sengaja ia gerai bebas. Tak lupa polesan sedikit make up di wajahnya yang di padukan dengan gaun yang baru ia beli minggu kemaren.“Eh busyed, cantik banget loe. Mau kemana?”Tak tau datangnya dari mana, alih – alih Rendy tampak melangkah menghampiri dengan raut heran plus kagum dengan penampilannya.“Kakak apaan sih. Kalau mau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu. Kebiasaan deh.”Langkah Rendy langsung terhenti dengan tatapan menatap lurus kearah bayangan Astri pada cermin. Wajahnya menampilkan sosok seseorang yang sedang berfikir, kemudian tanpa kata ia segera berbalik. Tepat di daun pintu yang masih terbuka, tangannya terulur mengetuk tiga kali baru kemudian kembali melangkah menghampiri Astri yang terlihat cengo memperhatikan ulahnya.“Nggak gitu juga kali. Maksut gue itu ketuk pintu sebelum masuk. Bukan setelah ataupun pake tayang ulang segala.”“Akh bawel loe. Yang penting kan gue udah ketuk pintu,” balas Rendy. “Tapi ngomong – ngomong loe mau kemana si?” tanya Rendy mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.“Jalan,” sahut Astri singkat.“Sama siapa?” tanya Rendy lagi dengan tampang menyelidik.“Yee, gue mau jalan sama siapa suka – suka gue donk. Lagian sejak kapan coba gue mau jalan harus laporan dulu,” elak Astri.“Emang nggak harus sih. Tapi paling nggak kan gue kakak loe. Entar kalau sampe ada apa – apa sama loe siapa coba yang repot. Gue juga…”Astri mencibir sinis mendengarnya. Sejak kapan kakaknya perhatian gitu. Akh, ia jadi merasa curiga.“Ekh, tapi ngomong – ngomong. Loe mau kencan ya? Sama siapa? Soalnya bukan cuma cantik, tapi wangi banget kayaknya?” tanya Rendy lagi sambil mendendus endus bau dengan hidunnya.“Nggak usah kepo deh ya. Mau kencan kek, sama siapa kek, cantik kek, wangi kek. Suka – suka gue donk.”“Lah, sejak kapan adik gue jadi galak gini? Wah, ada yang nggak beres nih. Pasti loe mau kencan sama orang yang nggak jelas,” komentar Rendy.“Loe yang nggak beres. Sama nggak jelas juga. Udah keluar sana. Ini kan kamar cewek,” balas Astri sambil mendorong tubuh kakaknya keluar melewati pintu kamarnya sebelum kemudian ia kunci dari dalam. Tak ingin mendapatkan gangguan lebih dari makhluk itu. Lagipula tumben tu orang jam segini sudah bangun. Padahal kan ini hari libur. Biasanya juga masih keasikan molor.Setelah kakaknya keluar Astri kembali menautkan dirinya pada cermin di hadapan. Memastikan kalau dandananya tidak terlalu berlebihan. Setelah yakin semuanya oke, Astri melirik jam di tangan, tinggal menunggu kedatangan Andre yang menjemputnya, dan ia bisa langsung pergi sesuai yang di rencanakan.Memenuhi ajakan _kencan_ Andre.To Be Continue…With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerpen Romantis: Kenangan Yang Terlupakan

    Kenangan yang TerlupakanCerpen oleh Bella Danny Justice“sialaaaaann!!!!!” teriak perempuan itu dengan histeris.“eh kenapa sih kamu Jes?!” Tanya teman sebangkunya dengan pelan.“Julian sialaaaann!!!” seru perempuan itu lagi dengan mimik kesal dan pipi merah padam menahan sebal.“Jessica! Kamu kira pelajaran saya pelajaran seni musik apa?! berdiri dan angkat 1 kaki kamu di luar kelas!” hardik Ibu guru yang sedang menjelaskan pelajaran, dan merasa sangat terganggu oleh suara lantang dari Jessica.Dengan pasrah dan agak menyesal akhirnya Jessica meninggalkan tempat duduknya, dan menjalani hukuman dari Bu Priyati sang guru Matematika. Selama 2 jam pelajaran, Jessica yang hanya berdiri tegap itu terus memanyunkan bibirnya dan ngedumel dalam hati soal cowok bernama Julian. Entah kenapa Jessica sangat tidak menyukai cowok itu, padahal Julian adalah sepupunya! Julian sendiri sering datang kerumah Jessica untuk main, tapi kali ini dia sangat-sangat kesel terhadap saudaranya itu. Sesampainya dirumah, ia mendapati lagi Julian dirumahnya sedang bercakap-cakap diruang tamu bersama mamanya. Jessica tidak menghiraukan kehadiran saudaranya dan langsung berlenggang menuju kamarnya di lantai 2. Tapi saat ia baru mau menaiki anak tangga tiba-tiba suara itu datang..“Jessica, ini ada saudara datang ko ga dikasih salam malah langsung nyelonong gitu aja kaya bajaj?” sahut mama Jessica.“dia udah sering dateng jadi ngapain harus aku selalu kasih salam. Udah ah, aku mau ganti baju dulu ma.” Ujarnya ketus lalu melanjutkan lagi langkah kakinya menuju kamar.“maaf ya Ju, Jessica emang sifatnya keras kepala.” Kata mama Jessica yang menyampaikannya dengan sedikit ga enak hati pada Julian yang sedang meneguk sirup cocopandannya.“ngga papa tante. Itu juga aku udah tau, dari kecil dia emang kaya gitu sifatnya hehe. Aku mau langsung ke kamarnya aja ah. Permisi ya tan.” Ucap Julian yang memaklumi sifat Jessica. Ia pun langsung menuju ke lantai 2 ke kamar Jessica. Tanpa ragu-ragu Julian langsung membuka pintu kamar cewek itu dengan nada mengagetkan.Bersamaan dengan pintu yang terbuka. “WWOOOY!!!” didapatinya Jessica yang memakai tank top hitam sedang sibuk memilih baju rumah yang biasa ia pakai.“eh gilaaaa!!! Aku lagi ganti baju dodol! Sana pergi!!” seru Jessica yang kaget akan tingkah Julian.“lebay banget, kamu kan masih pake tank top ngga telanjang ini!” tuturnya enteng.“ihh dasar mesum!! Tutup lagiii pintunyaaaaaa sekaraaaanggggg!!!!” teriak Jessica dengan sekuat tenaga. Julian yang merasa gendang telinganya sebentar lagi akan pecah langsung menuruti perintah sepupunya itu.“eh Jes, gila ya?!! Kamu pengen bikin aku budek karena suara kamu yang cempreng dan nyaring itu?!” kata Julian.“iya! Aku pengen bikin kamu tuli! Jangan pernah dateng kerumah aku lagi! Aku ga suka sama kamu!” jawab Jessica tanpa ragu dari balik pintu kamarnya.Sejenak tidak ada suara balasan dari Julian, lalu suara itu muncul lagi dengan nada pelan. “Jes, dengerin dulu..aku mau ngomong sebentar.” Otak Jessica mulai berpikir, ada apa sih sama saudaranya itu?! Kenapa dia selalu datang kerumahnya dan ingin sekali dekat dengan dirinya? Apa Julian sudah gila? Setiap hari dia nerima aja omelan serta teriakan Jessica yang menolak untuk bertemu dengannya. Meskipun di marahin abis-abisan setiap ketemu tapi tetep aja Julian ga pernah absen dateng kerumah Jessica.“Julian, siapa sih dia?! Aku ga inget punya sepupu/saudara namanya Julian? Aku ga bisa inget siapa dia! Tapi kenapa nama itu bikin kepala aku pusing setiap kali memikirkannya?” ujarnya dalam hati. Julian…Julian…Julian… Pandangan Jessica mulai kabur, kepalanya pusing, entah kenapa badannya seperti tidak seimbang dan melayang-layang.“Jes, tolong buka pintunya sebentar..” ucap Julian yang mulai penasaran kenapa sedaritadi hanya hening yang ia dengar dari kamar Jessica, kemudian dengan hati-hati ia pun membuka pintu kamar Jessica, didapatinya perempuan itu pingsan!! Segera Julian dengan wajah panik menggendong Jessica ke tempat tidurnya dan memberitahu tante Christy tentang keadaan anaknya. Saat itu Julian benar-benar seperti orang kalap! Hanya melihat Jessica yang tergeletak pingsan saja membuatnya seperti ingin mati menyelamatkan cewek satu itu. Tante Christy yang memperhatikan gerak-gerik Julian pun berkata: “Ju, kamu tidak lelah dengan semua ini?”“jangan berkata seperti itu dulu tante, sekarang ngga tepat waktunya.” Kata Julian yang mengusapkan minyak kayu putih ke kening dan hidung Jessica.“aku pulang dulu, kalau Jessica sudah siuman jaga dia ya tante.” Ucap Julian.Setelah berpesan pada Tante Christy, Julian pun pergi dari tempat itu. Ia memang merasa sangat lelah dengan ini, tapi sekarang belum sempat baginya untuk menjelaskan. Sedangkan, Tante Christy yang setia menunggu anak semata wayangnya itu siuman sampai-sampai tertidur karena cukup lama Jessica tidak sadarkan diri.“ica, kamu jangan ikutan main bola ya! Nanti mama kamu marah sama aku kalo kamu kenapa-kenapa.”“gak papa ian!! Ica mau ikut main bola pokoknya!” ucap anak perempuan berumur 8 tahun itu.“kamu liatin aku aja ya. Ica kan cewek ga pantes main bola.” Kata Ian yang berusaha melarang Ica untuk ikut bermain bola.“iyauda, yang penting aku ikut Ian.” Senyum manis Ica pun langsung terpampang jelas di wajah lugunya. Ian sangat senang mempunyai teman kecil seperti Ica, Ica beda dengan anak cewek yang lainnya. Pasalnya, Ica ga cengeng seperti kebanyakan anak-anak cewek seusianya, Ica juga agak tomboy karena dia suka main sama anak-anak cowok terutama sama Ian. Hal itu membuat dua anak kecil ini tumbuh bersama-sama. Sampai masuk playgroup,TK, SD pun mereka tidak terpisahkan, dan sangat dekat. Tapi suatu hari kabar buruk pun datang untuk Ian.“Ian, Ica besok mau pindah rumah jadi kita ga bisa main sama-sama lagi deh.” Ujar Ica dengan isak tangisnya yang malu melihat wajah Ian.“Ica memangnya mau pergi kemana?” Tanya Ian.Dengan berderai air mata Ica berusaha berbicara. “Ica juga ngga tau Ian, tapi yang jelas pindahnya jauh. Kita jadi ga bisa ketemu lagi.”Sejenak anak cowok bernama Ian itu terdiam akan kabar yang sangat mengagetkan ini. Ia tidak tau harus berkata apa, tapi yang pasti hatinya sangat terpukul bahwa Ica akan pergi meninggalkannya. Akhirnya anak cowok itu pun membuka mulutnya “Ica, kamu tenang aja. Ian pasti akan temuin Ica, Ica jangan takut. Ica mau janji ngga sama aku?”“janji apa Ian?” Tanya Ica masih dengan tangisnya yang tak berhenti. “Ica janji ya akan tunggu Ian? Jangan lupa sama Ian.”“Ica ga mungkin lupa Ian! Ian temen Ica yang paling baik! Ica janji, tapi Ian harus ketemu Ica lagi.”“Ian…Ian…Ian…”Mama Jessica langsung terbangun saat mendengar anaknya bergurau nama Ian. Sang mama pun langsung menyadarkan Jessica dari gurauannya itu. Setelah diberi air putih oleh mamanya dan bersandar di punggung kasur beberapa saat, keadaan Jessica terlihat kembali normal dan ia pun membuka topic “ma, Ian itu siapa? Tadi aku mimpi tentang masa kecil aku sama cowok bernama Ian.” Ucap Jessica lemah.Mamanya kaget ketika Jessica bertanya seperti itu. “memangnya kamu ingin tau tentang dia?” Tanya mama yang membuat Jessica semakin penasaran di kondisinya yang masih limbung itu.“cepetan kasih tau aku ma siapa Ian itu!” kali ini Jessica berkata dengan sedikit menaikan intonasi pembicaraannya.“Ian adalah Julian…”Belum sempat melanjutkan penjelasan, Jessica langsung memotong perkataan mamanya dan tampak begitu kaget. Keadaan yang tadi lemah kini tiba-tiba entah bagaimana menghilang dari tubuh Jessica. “mama jangan bercanda!! Julian itu saudara aku!!”*** “Ica, apa kamu sudah benar-benar ngelupain aku? Tidak adakah sedikit sisa kenangan tentang aku di hatimu?” kata Julian sambil meraih foto waktu ia kecil bersama dengan Jessica dan terus memandanginya.“Julian..” suara yang tidak asing itu memasuki kamar Julian dan menghampiri dirinya.“papa?”“kamu sudah berusaha sangat keras terhadap Jessica, jadi bagaimana keputusan kamu? Kalau kamu merasa segalanya sudah tidak mungkin dapat kembali lagi, papa ingin kamu meneruskan sekolah ke luar negri.” Kata papa Julian yang memegang bahu putranya.Julian tidak berani memutuskan untuk pergi ke luar negri, walaupun semuanya terasa mustahil untuk diingat kembali tetapi ia tidak bisa meninggalkan Jessica. Janjinya dulu terhadap teman kecilnya itu membuatnya tak bisa pergi dari Jessica, meski Jessica tidak mengenal dirinya…“putuskanlah besok, papa tidak mau kamu terus terjebak dengan masa lalumu yang bahkan tidak dapat diingat oleh Jessica.”***I'll find you somewhereI'll keep on tryingUntil my dying dayI just need to knowWhatever has happenedThe truth will free my soulWherever you areI won't stop searchingWhatever it takes me to know(Within Temptation – Somewhere) Lagu dari band favorit Julian begitu melukiskan kisahnya akan Jessica. Hari ini adalah hari terakhirnya untuk bertemu teman kecilnya itu, dan hari ini juga akan dia putuskan untuk meneruskan sekolah diluar negri atau tetap melanjutkan perannya yang memilukan.Setibanya dirumah Tante Christy, Julian langsung disambut dengan hangat. Ia duduk diruang tamu dengan gelisah dan terus memikirkan perkataan papanya semalam untuk pergi sekolah ke luar negri.“sebentar ya Julian, tante tinggal dulu.”“iya ngga papa tante.”Menunggu, menunggu dan menunggu…beberapa puluh menit ia menunggu Tante Christy yang tak kunjung kembali, padahal ia ingin menyampaikan pesan kepada Jessica melalui Tante Christy untuk yang terakhir kalinya.“Julian..” terdengar suara perempuan yang tak salah lagi adalah…Jessica!!“oh, J, Jess..keadaan kamu udah membaik?” ucap Julian dengan terbata-bata dan terlihat seperti orang kikuk.“keadaan aku ternyata ga pernah baik selama ini, iya kan?” perkataan Jessica membuat Julian kebingungan atas apa yang ia bicarakan.“apa maksud kamu?” Tanya Julian singkat.Jessica tampak termenung, ia menundukan kepalanya menatap lurus lantai rumahnya. Julian yang kebingungan juga jadi ikut-ikutan terdiam tak bergeming. Hening kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan mereka. Tak ada yang berani membuka mulut lebih dahulu, Jessica pun belum menjawab pertanyaan Julian yang tak mengerti akan perkataannya. Namun, beberapat saat Jessica mulai kembali berbicara.“Ian…kenapa terus menunggu Ica? Padahal Ian udah temuin Ica, tapi kenapa Ian pengen Ica ngga kenal sama Ian? Mama udah ceritain semuanya.” Ucap Jessica yang memanggil Julian dengan sebutan masa kecilnya dulu, ia merasa sangat menyesal karena selalu bersikap kasar kepada Julian yang ternyata adalah Ian teman dekat waktu ia kecil dan bukan saudara/sepupunya!Kata-kata dari mulut Jessica yang memasuki telinga Julian membuat matanya terbelalak, ia melihat Jessica yang mulai meneteskan air mata dan terlihat begitu sedih karena merasa sudah dibohongi oleh dirinya. “aku ga pernah berniat membohongi kamu Ca, tapi kecelakaan yang membuat kamu hilang ingatanlah yang menjauhkan kita. Aku merasa percuma saja kalau aku mengatakan bahwa aku adalah Ian teman kecil kamu, sedangkan kamu tidak mengingat apa pun tentang aku. Jadi, aku putuskan untuk menunggu dan berpura-pura menjadi saudara kamu. Ini semua begitu menyakitkan bagi aku..melihat kamu setiap hari yang tidak mengenal aku..itu sangat menyakitkan.” Seketika itu Julian mulai meneteskan beberapa derai air mata yang mengalir di pipinya.“aku minta maaf. Aku nggak tau kalau kamu telah begitu menderita karna aku, aku memang ngga pantes jadi temen kamu.” Tangis Jessica meledak setelah mengucapkan kalimat itu, ia tidak tau bahwa selama ini Julian berusaha mencarinya dan menunggunya di balik kenangan yang terlupakan oleh Jessica.“kamu memang bukan hanya teman, tapi kamu adalah perempuan yang membuat aku bisa menunggu begitu lama dan itu membuat aku sangat menyukaimu. Aku suka sama kamu Ca, dari semasa kita kecil, kita berpisah, aku temuin kamu, aku berpura-pura, dan bahkan sampai saat ini.” Ujar Julian yang mengakui perasaannya yang terpendam selama ini. Setelah bertahun-tahun terpisah dan berpura-pura akhirnya ia dapat mengucapkan kata-kata yang tertahan sudah begitu lama di hatinya.“aku…aku juga menyukai kamu Ian, dari dulu..maaf aku pernah melupakan kamu.” Ujar Jessica dengan lirih.“oia, aku ga mau manggil Ian lagi, karena nama itu adalah masa laluku yang terlupakan, dan sekarang yang ada dihadapan aku itu Julian. Jadi kamu juga jangan panggil aku Ica lagi. Kalo kamu ngga panggil Jessica, aku ga jadi suka ah.” Kata Jessica yang tertawa kecil sambil menghapus tangis di pipinya yang sudah agak mengering.“habis nangis ketawa makan gula jawa nih ya?” goda Julian yang menyunggingkan senyum manisnya pada Jessica.“iiihhh!!!! Ngeselin!!!” ucap Jessica yang merasa kesal digodai padahal ia berkata serius.“ok, ok..Jessica I heart U.” goda Julian lagi.“iiih!! Apaan sih kamu! Aku tuh ngga suka sama Sm*sh!” serunya dengan nyaring.Kejadian yang tidak disangka ini pun terjadi. Julian yang mengira usahanya selama ini akan berhenti sia-sia juga masih tidak percaya bahwa hari seperti ini, hari yang ia dambakan datang padanya. Jessica yang 9 tahun sudah menghilang dan ia temukan kini dapat mengingat kembali dirinya. Rencana untuk meneruskan sekolah ke luar negri pun ia batalkan. Tante Christy yang menyaksikan dari jauh sangat senang melihat bahwa anaknya dapat mengingat kembali semua hal yang pernah terlupakan.“Jessica…ternyata aku memang tidak bisa meninggalkan kamu. Rasa sayangku terlalu besar dari keberanianku untuk berhenti menunggu saat seperti ini. Aku sangat menyayangimu.” Kata Julian dalam hati yang diiringi pelukan hangatnya dengan Jessica.Say my name, so I will know you're backYou're here again for a while..Oh, let us share the memories that only we can share together..Tell me about the days before I was born, how we were as children.. (Within Temptation – Say My Name)TAMATOleh : Bella Danny JusticeTwitter : @bellajusticeee-mail : alexa.bella14@yahoo.com

  • Akhir Kisah Kita

    Akhir Kisah KitaOleh: Sania DewantiPagi ini matahari baru muncul dari ufuk Timur. Kaca jendela rumahku masih basah oleh embun, suasana dingin menyergapku sampai menusuk tulang. Pagi ini rasanya malas sekali keluar dari tempat tidurku dan pergi ke sekolah. Kalau tidak dibangun paksa ibu,aku pasti bakalan kebablasan bangun sampai siang. Seperti biasanya ayah mengantarku ke SMA 123 yang cukup terkenal di Bandung. Sesampainya di gerbang cepat-cepat aku berlari menuju kelas. Aku mengumpat “Huh,masih harus naik 2 anak tangga lagi,bakalan terlambat nih!”. Sesampainya di pintu kelas,ternyata bu Murni sudah mengabsen muridnya dari tadi. Bu Murni yang melihatku diluar kelas langsung menutup pintu dan tidak memperbolehkanku masuk. Dengan langkah lunglai aku duduk di bangku depan kelasku dan menunggu sampai pelajaran Biology selesai. “Aduh,sial banget sih aku hari ini!Harusnya tadi gak usah pake acara sarapan dulu dirumah”,aku memaki diriku sendiri.Tak lama kemudian dari kejauhan aku melihat seorang anak laki” berlari lari. Kutajamkan penglihatanku. “Astaga! Itu kan Kemal! Jadi dia telat juga”,teriakku. Kemal adalah teman yang paling pintar dikelasku. Dia itu orangnya nyebelin sekaligus cowok yang kusukai semenjak aku duduk didepannya. Sekarang dia udah berada di depanku. “Bu Murni udah masuk kelas ya?” tanyanya dingin. Aku mengangguk. “Dasar! Mau nanya aja sikapnya udah angkuh begitu”pikirku dalam hati. Dia pun duduk di bangku sebelahku dan menunggu sampai bel pelajaran pertama usai. 10 menit kami diam tanpa bicara. Akhirnya aku ngajak dia ngobrol,sekaligus nanya soal mtk. Dia kan emang paling jago mtk dikelasku. “Eh,kamu udah ngerjain tugas Mtk belum?Boleh nanya gak?”tanyaku. “Sudah, lo mau nanya?Sorry ya gue lagi sibuk!” katanya masih bernada dingin. Aku jadi diam. “Huh,sibuk apanya?!Dari tadi juga main hp. Bilang aja gak mau bantuin.”kataku dalam hati. Kami masih duduk sampai bel pelajaran pertama usai.Kriiiiiiiiiiiing. Bu Marni pun keluar dari kelas. Aku dan Kemal segera masuk dan duduk ditempat duduk kami. Saat pelajaran Mtk pun di juga nyebelin setengah mati.”Sssst,Kemal. Tunjukkin rumus yang nomor 2 dong”,kataku sambil memohon. “Nomor 2? Masa nomor 2 aja lo gak tau sih.Pasti lo gak merhatiin guru nerangin tadi ya?Lo cari aja di buku!Salah lo sendiri gak merhatiin”,bukannya ngasih tau,dia malah marah-marah.Aku udah kesel banget. Sampai saat bel jam pulang pun aku masih kesal dengan Kemal. Saat jalan kaki menuju rumahku,aku marah” gak jelas. “Ih,salah apa sih aku sama Kemal!Kok dia jahat amat sih.Aku doa’in dia dapat musibah”,kutukku. Eh,gak taunya malah aku yang jatuh. Gara gara marah marah aku sampai gak ngeliat parit yang cukup dalam didepanku. Duh!Rasanya sakit banget.Gak kuat berdiri. Mana gak ada orang lagi buat dimintai tolong. “Heh!Mau berapa lama lo diem disitu”,kulihat arah sura itu berasal.Ternyata……Kemal! “Bisa berdiri gak?”,tanyanya. Berusaha kugerakkan kakiku,rasanya sakit sekali.Ternyata dia mengerti keadaanku langsung memapah tubuhku dan menggendongku ke belakang. Aku kaget,baru kali ini aku digendong,sama cowok pula!Dan cowok yang kusukai lagi. Mimpi apa aku semalam,meskipun dia nyebelin,tapi gak pernah ngurangi rasa sukaku dengannya.Aku jadi tersenyum sendiri. “Eh,rumah lo dimana sih? Dideket sini ya?,tannyanya. “Iya,diperumahan sana belok kiri,terus dipertigaan belok kanan.Nyampe deh”,ujarku. “Oh,terus kenapa lo bisa jatoh tadi?dasar bego!”katanya. “Gak kok,tadi cuma kepeleset aja”kataku berbohong.Gak mungkinkan aku jawab kalo aku jatuh karena mikirin dia. “Kemal,aku mau nanya,kok kamu sentimen sih sama aku tadi di sekolah. Aku kan cuma nannya baik baik,jawabnya malah ketus begitu. Kan kita bisa jadi temen”kataku. “Soal yang itu gue minta maaf deh.Abis lo sih!Gue tu lagi serius ngerjain soal malah lo ganggu”katanya “Serius nih?Berarti kita udah temenan kan?”ujarku berseri seri. “Terserah apa kata lo deh. Nih udah nyampe.Badan lo kecil tapi beratnya minta ampun”. Aku pun nyengir dan cuma bilang makasih dengannya. Dengan jalan terpincang pincang aku masuk kerumah. Hari ini seneng banget!Semenjak kejadian itu sikap Kemal kepadaku berubah.Kami jadi akrab.Main bareng bareng,jajan bareng bareng,belajar bareng bareng,tidurpun bareng bareng(haha,gak mungkin lah). Tapi semenjak sebulan terakhir,Kemal menghindariku dan gak mau main denganku. Sampai suatu hari aku melihatnya bergandengan tangan dengan seorang cewek berkulit putih dan cantik didepan gereja seusai dia berdo’a. Hatiku saat itu remuk. Malamnya aku berdoa, “Ya Allah,salahkah bila aku tulus mencintainya? Aku tau kami berbeda keyakinan. Tapi aku tak bisa bohong kalau selama ini rasa sayang ini semakin bertambah. Aku mencintainya hanya karenaMu ya Allah. Jikalau kami berjodoh nanti,maka dekatkanlah kami”,aku berdo’a khusyuk sekali. Seminggu berlalu Kemal tidak masuk sekolah.Kudengar kalau dia masuk rumah sakit. Sorenya langsung ketumui dia di rumah sakit. Aku terkejut melihat kepalanya yang sedikit botak “Kemal,kamu kok sebulan ini ngehindari aku sih?Terus kok bisa dirawat dirumah sakit?Sakit apa?”,tanyaku cemas.Kemudian dia memegang tanganku.Aku kaget,tapi tidak kutolak tangannya memegang tanganku. “La,gue pengen ngomong jujur ke elo.Sebenarnya gue ngehindarin lo biar bisa ngilangin perasaan suka gue ke elo.Gue sayang sama elo!”. Aku kaget bukan main.Jantungku berdegup kencang.Kemal?Suka sama aku? Impossible! “Ah,kamu.Jangan bercanda?Udah sakit masih sempat sempatnya bercanda”,kataku masih tak percaya. “Gak,gue gak sedang bercanda.Gue suka sama elo La. Gue ngehindari lo karena kita berbeda keyakinan.Dan gue tau itu salah.Tapi gue gak bisa bohong dan nutupi rasa sayang gue ke elo. Dan juga sekarang gue kena penyakit Kanker otak semenjak gue sd. Gue gak mau nyusahin elo karena penyakit gue ini”katanya. Apa!Kemal kena kanker? Rasanya aku ingin sekali menangis. “Mal,aku tau kita gak seiman.Aku meyakini Allah S.W.T sebagai Tuhanku dan kamu meyakini Isa Al-Masih sebagai Tuhanmu.Tapi hendaknya jikalau kita berjodoh,Tuhan gak bakalan misahain kita dengan penyakitmu ini”,kataku sesegukan. “La,udah jangan nangis.Gue gak suka liat lo nangis.”katanya sembari ngusapin air mataku. “Makanya jangan buat aku nangis dong,kamu harus kuat.Kemal yang kukenal adalah cowok yang kuat dan gak pernah mau kalah”,kataku berusaha tersenyum. “La,kamu mau gak nurutun permintaan ku. Satuuuu aja”,pintanya. Aku mengangguk,ini kali pertamanya di bicara menggunakan aku-kamu. “Tolong kamu ajari aku sholat,aku tau kita pasti bisa bersama jika kita satu keyakinan. Sekarang umurku udah 18 tahun.Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri.Mama Papa pasti ngijinin aku masuk Islam.Dan aku mencintaimu hanya karena Allah”katanya lemah. Aku terkejut karena disaat keadaannya seperti itu dia malah minta diajarin sholat dan ingin masuk islam. Aku pun membantunya berdiri dan membantunya berwudhu. Lalu mengajarinya sholat. Setelah itu sayup sayup kudengar dia mengucapkan “asyhadu an-laa ilaaha illallaa, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Aku kaget bukan main.Ternyata dia hafal 2 kalimat syahadat tanpa kuketahui sebelumnya. Dan disaat itu pula nafasnya berhenti dan meninggalkanku selamanya. Aku menangis sejadi jadinya. Tapi aku tau,ini sudah takdir Allah. Aku tak boleh menyesalinya. Kemal….adalah cowok pertama yang mengenalkanku apa artinya cinta dan kasih sayang dan kewajibanku sebagai seorang MuslimTAMATNama: Sania DewantiAlamat E-mail: setan.cantik@rocketmail.comFB: Sania Dewanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*