Cerpen Remaja : Tentang Aku dan Dia ~ End

Cerpen RemajaTentang Aku Dan diaPartEND!!!…
Mindik – mindik, Lirik kanan kiri, Nggak ada orang, AMAN!. He he he, Karena sepertinya kegalauan star night sudah menghilang, akhirnya di putuskan untuk melanjutkan Cerpen Remaja Tentang aku dan Dia. Yah walau pun kemaren sudah sempet end. Tapi kan belom ada tanda serunya (?????). Lagipula ending cerpen remaja tentang aku dan dia kemaren beneran bukan gaya Star Night Banget. Soo, ehem, dengan amat sangat suka rela, lanjut. Sinetron sinetron dah, Yang penting mak nyos…. he he he. Sudahlah, Nggak perlu banyak bacod, Langsung saja ke ceritanya. xixixixi………..

Pergi tanpa alasanaku mencintaimu bagaikan langit memeluk bintangaku lukiskan cinta di hati tak terbatas lagi
aku mencintaimu bagaikan langit memeluk bintang
aku lukiskan cinta di hati tak terbatas lagi
cinta yang dulu bersemi kini menjadi masa laluku
hatiku hancur tiada berkeping bagaikan segelintir debu
kepergianmu tanpa alasan yang pasti
kau buat hatiku kini lemah tak berdaya
semakin hancur hatiku ini tanpamu
ku tak bisa berdiri tegak dan bernafas lega
kepergianmu tanpa alasan yang pasti
kau buat hatiku kini lemah tak berdaya
semakin hancur hatiku ini tanpamu
ku tak bisa berdiri tegak dan bernafas legasemakin hancur hatiku ini tanpamu
ku tak bisa berdiri tegak dan bernafas legaBy: Eren
Gresia mengehela nafas. ' Eren, Pergi tanpa Alasan' benar – benar menginggatkannya pada seseorang. Untuk sejenak ditatapnya buku diary yang ada di tanggansebelum akhirnya ia kaget karena benda pink itu kini telah berpindah tangan."Hei balikin!" jerit Gresia Yang justru malah diangkat tinggi – tinggi."Emang loe nulis apaan?. jadi penasaran"."Oh my god" Keluh gresia ketika rangkaian kata – demi kata di buku itu meluncur mulus dari mulut sang 'perampok'." Arga, Mengenal mu bukan lah sebuah anugrah, tapi aku tau itu tidak bisa untuk dikatakan sebagai musibah. Bersamamu membuat ku mengerti akan indahnya kebersamaan dan betapa menyakitkan sebuah perpisahan. Tapi aku tau kalau jalan hidup ini masih panjang. Semua nya tidak akan berhenti hanya sampai disini. Masih begitu banyak yang harus di perjuangkan. Tapi kali ini aku rela kan kau pergi. Karena aku tau ini adalah yang terbaik".MALU!!. Satu kata yang gresia rasakan. Bagaimana bisa ungkapan hatinya di bacakan dengan kalimat selantang itu."So sweet"."Diem loe!" bentak Gresia sambil mengambil kembali benda miliknya."Gue nggak nyangka kalau seorang 'arga' bisa begitu berarti Buat loe".Gresia diam tidak membalas. "Tapi….. Gue kan masih hidup".Mau tidak mau protes dari arga barusan membuat Gresia tersenyum simpul."Siapa suruh loe dulu pura – pura mati segala" Balas Gresia cuek sambil memasukkan Buku diarinya kedalam tas."Ralat. Gue nggak pura – pura. Dasar loe nya aja yang lebay" Kata arga Sambil duduk di samping Gresia. "Kalau boleh jujur, Sumpah saat itu gue takut banget. Gue pikir loe beneran pergi" Ucap Gresia sambil menerawang mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat Arga di temukan tegeletak diatap gedung sekolah dalam keadaan tak sadarkan diri. Untunglah itu hanya akibat dari lemahnya kondisi fisik yang memang tidak terlalu fit. Ditambah semalaman ia benar – benar mengunggu Gresia. Hujan – hujanan lagi. Sangat wajar kalau ia bisa jatuh pingsan."Gue harap itu pertama – dan terakhir kali loe ngelakuin hal konyol" Tambah Gresia lirih."Nggak janji" Balas Arga sambil tersenyum."Tuh kan" Gresia pura – pura ngambek."Ya deh, nona manis".Gresia kembali tersipu malu mendengarnya. Oh ya, sekedar info saat ini mereka sudah resmi jadian."Kita jalan – jalan yuk. Anggap aja ini acara perpisahaan buat kita" ajak arga beberapa saat kemudian."Perpisahan?" gumam gresia lirih. Jujur, Walau hanya satu kata tapi itu mampu untuk membuat rongga dadanya terasa sesak."Gue cuma mau bersikap realistis saja. 4 tahun bukan waktu yang singkat. Segala hal bisa saja terjadi. Buktinya dalam satu bulan, Gue bukan cuma bisa membuat loe jatuh cinta sama gue, Tapi gue juga jadi jatuh cinta sama loe" ."Jadi loe bakal ngelupain gue?" Tembak Gresia Cepat."Ayo lah gres. Loe pernah bilang kan kalau kisah kita bukan seperti sinetron atau pun ff yang sering loe baca. Gue nggak pernah bilang kalau gue bakal ngelupain loe, atau loe yang bakal ngelupain gue. Hanya saja Gue nggak pengen mempersulit keadaan"." Mungkin loe bener. Nggak ada yang mustahil di dunia ini. Begitu juga seperti kisah cinta sederhana antara kita" Kata Gresia setelah lama terdiam."Jadi kita Break nie?" Gresia kembali menegaskan.Arga hanya mengangguk. "Loe juga nggak mau LDR kan?".Gantian Gresia yang mengangguk."Jadi kapan loe berangkat?"."Besok siang. Loe ngantar gue ke bandara kan?" Tanya Arga yang lagi – lagi di di balas anggukan gresia."Oh ya, Katanya tadi loe ngajak gue jalan – jalan. Berangkat yuk. Lagian besok loe juga sudah sudah berangkat ke Amerika. Karena loe sendiri yang memilih untuk meneruskan kuliah ke sana. Yah walaupun jujur saja gue kecewa secara di indonesia masih begitu banyak kampus – kampus yang tak kalah bagus"." Gres, gue…."."Loe nggak perlu mengulang – ulang alasan loe lagi. Gue kan sudah bilang kalau gue memakluminya. Lagian kalau gue jadi loe gue akan melakukan hal yang sama. kesempatan ini nggak akan gue sia – siakan. Beasiswa gartis kuliah di Amerika. Cuma orang bodoh yang akan menolak nya. Cuma gue ngerasa lucu aja. Kita baru jadian seminggu yang lalu, eh sekarang sudah harus putus. Bohong banget gue nggak kecewa". " Gue…"."Udah. Jalan yuks" Lagi – lagi Gresia memotong ucapan Arga. Dan tanpa basa – basi di raihnya tangan Arga meninggal kan taman kota. Sebuah taman yang akan mengingakan tentang akhir atau mungkin awal dari jalan sebuah kisah yang lebih panjang. Kisah Tentang aku dan dia.End…!!!.****Huahahahaha…… Gaje ya?.Berulang – ulang kali Star Night baca episode cerpen remaja Tentang aku dan dia ending bagian kemaren. Kok kayaknya nggak tega banget ya kalau harus di bikin sad ending gitu. Soalnya itu bisa meusak citera Star Night sebagi seorang yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung plus berbakti sama orang tua (???). He he he…Tapi kalau yang nie beneran end. Ehem,….. e…. Nggak tau deh kalau kedepannya da ide lagi *gubrak*. Hanya saja kalau sekarang memang menurut Star Night si sudah end. Memang nggak happy ending si, Tapi paling nggak kan nggak sad ending. Kalau ada yang bingung sama episode ini, ya resiko. Coba baca ulang lagi. Nanti pasti paham. Kalau masih belum paham juga biar Star Night kasih ringkasan. inti dari episode ini adalah, "Arga Masih hidup hanya saja ia tetap harus berpisah sama Gresia karena ia mendapatkan beasiswa ke amerika".Nah, sudah paham kan?. kalau masih belum paham, ya pura – pura aja paham *Diinjek*.Akhir kata Sudah lah, Star Night mau tidur dulu. Udah jam dua belas malam nie. hue he he….Da…….

Random Posts

  • Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 03

    Lanjut nulis cerpen lagi ah. Abis liad arsip disamping, kemunduran nulisnya keliatan banget. Ck ck ck. Nah, kali ini yang muncul lanjutan Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E aja ya. Kita masuk ke part 3 pula. Soalnya untuk cerpen kenalkan aku pada cinta lagi proses pengetikan. Yah, ide emang lagi mahal nih kayaknya. Susah banget di cari. Ciusss deh.So buat temen temen yang mau baca lanjutannya, monggo silahkan langsung aja. And biar nggak bingung bisa di baca part sebelumnya dalam cerpen terbaru Si Ai En Ti E part 2. Oke? Cekidot….Cerpen Terbaru Si Ai En Ti ETawa Malvin langsung lenyap. Digantikan tampang yang sulit untuk di gambarkan. Kaget juga, terkejut itu pasti. Namun tak urung ia juga merasa lega sekaligus senang saat mendapati kalau Grescy yang baru saja menyapannya. Emp, yang barusan bisa di sebut kalimat sapaan kan?“Eh, ada Grescy. Kok loe bisa ada disini?” Acha yang terlebih dahulu buka mulut. Sedikit merasa tak enak saat mendapati wajah marah pada gadis yang berdiri di hadapannya. Ya ampun, ada apa lagi ini?sebagian

  • PERSAHABATAN YANG HANCUR KARENA CINTA

    PERSAHABATAN YANG HANCUR KARENA CINTA – oleh: ARUM NADIA HAFIFICinta itu memang kadang membuat orang lupa akan segalanya. Karena cinta kita relakan apapun yang kita miliki. Bagi kaum wanita mencintai itu lebih baik daripada dicintai. Jangan terlalu mengharapkan sesorang yang belum tentu mencintai kita tapi terimalah orang yang sudah mencintai kita apa adanya. Mencintai tapi tak dicintai itu seperti olahraga lama-lama supaya kurus tapi hasilnya nggak kurus-kurus. Belajarlah mencintai diri sendiri sebelum anda mencintai orang lain.Gue Amel siswa kelas X. Dulu gue selalu menolak dan mengabaikan orang yang mencintai gue, tapi sekarang malah tebalik gue selalu diabaikan sama orang yang gue cintai.Gue suka sama teman sekelas gue dan plus dia itu teman dekat gue, udah lumayan lamalah. Cowok itu namanya Nino anak rohis. Gue suka sama dia berawal dari perkenalan terus berteman lama-lama dekat dan akhirnya gue jadi jatuh cinta gini.Oh iya gue punya temen namanya Arum, dia temen gue dari SMP. Arum gue dan Nino itu berteman dekat sejak masuk SMA.Suatu hari gue ngeliat Arum sama Nino itu bercanda bareng dan mereka akrab banget seperti orang pacaran. Jujur gue cemburu, tapi gue nyembunyiinn itu dari Arum.Lama-lama capek juga mendam rasa suka kayak gini. Akhirnya gue mutusin untuk cerita sama Arum.“Rummmm gue mau ngomong sesuatu, tapi jangan bilang siapa-siapa““Ngomong apa?“ tanya Arum“ Jujur gue suka sama Nino udah lama, dan gue cemburu kalo lo dekat sama Nino!“ Jawab Amel“ Lo suka Nino? Serius?“ Tanya Arum“ Iya, tapi lo jangan bilang Ninonya“ gertak Amel“ Iyaiya maaf ya kalo gue udah buat lo cemburu““ Okee “Amel makin lama makin dekat dan Amel susah untuk ngelupain Nino. Amel berfikir Nino nggak akan pernah jatuh cinta sama Amel. Walau Amel udah ngerasa seperti itu tapi dia tetap berjuang. Tanpa disadari Arum ternyata juga suka sama Nino.Amel mengetahui kalo Arum suka sama Nino. Nggak disengaja Amel membaca buku diary Arum. Disitu tertulis curhatan Arum tentang perasaannya kepada Nino.Setelah Amel membaca buku diary Arum, dia merasa kecewa karena temen sendiri juga suka sama cowok yang sama. Tapi Amel berfikir rasa suka itu datangnya tiba-tiba jadi siapa pun berhak untuk suka sama Nino. Amel tetap terus berjuang mengambil hati Nino, walau harapanya kecil.Di taman sekolah Amel melihat Arum dan Nino sedang berincang-bincang, tapi ini beda mereka terlihat serius. Amel penasaran dan akhirnya ia nguping dibalik pohon.“Ruummm gue suka sama lo, lo mau nggak jadi pacar gue?“ Tanya NinoArum kaget dia bingung harus jawab apa, tapi akhirnya Arum menerima Nino jadi pacarnya tanpa memikirkan perasaan Amel sahabatnya sendiri.“ Iya aku mau“ Jawab ArumAmel yang mendengar jawaban Arum dibalik pohon kaget, dia tak menyangka sahabatnya akan tega. Tanpa berfikir Amel keluar dari belakang pohon.“ Rumm lo pacaran sama Nino? Congrast ya lo udah bikin gue sakit hati“Arum dan Nino kaget tiba-tiba Amel muncul dari belakang pohon dan bilang sperti itu.“ Maafin gue Mell, tapi gue cinta sama Nino““ Yaudahlah “Amel langsung pergi meninggalkan Arum dan Nino. Perasaanya campur aduk nggak karuan, dia masih bingung kenapa temannya tega melakukan hal itu. Padahal Arum tau kalo Amel udah lama ngejar-ngejar Nino.Persahabatan bisa hancur begitu saja karena cinta. Utamakan sahabat mu daripada pacarmu karena orang yang bakal selalu ada disaat kamu senang dan susah itu sahabat. Persahabatn yang dijalin cukup lama bisa hancur seketika karena masalah cinta.KARYA: ARUM NADIA HAFIFI

  • Diary ku | Untuk mu yang merasa

    Diary kuUntuk mu yang merasaRasa Marah, Rasa Kesel, Rasa Seneng dan merasa sedih emang selalu datang tanpa permisi terlebih dahulu. Kalau lagi seneng mungkin kita nggak komplein, tapi gimana kalau yang muncul ke permukaan jusru rasa kesel kayak star night dalam beberapa hari ini.Ceritanya begini berhubung keseharian Star Night lebih sering di habis kan di dunia maya dari pada dunia nya jadi nggak heran kan kalau rasa kesel itu berasal dari dunia maya. Star Night ketemu orang yang ‘ Ehem…. Nyebelin banget. Sumpah deh. Untung aja kita nggak kenal, Dan Star Nigh udah mutusin gak mau kenal. Nggak lagi – lagi deh ngunjungi tu blog. Oke, karya nya bagus, Star Night akuin. Lima jempol atau sepuluh deh kalau perlu star night kasi nilai buat karya – karyanya. Tapi emangnya harus ya sesongong itu. Minta di hargai tapi nggak mau menghargai. Maksutnya apa coba. Bikin Star Night Merasa Esmosi aja. Kan jadi ilang semua ide buat nulis. Baiklah, kalimat terakhir yang barusan abaikan saja.Buat Star Night Blog itu kayak rumah, Dan reader sebagai tamunya. Bukankah Pepatah bilang menyambut tamu dengan baik sama dengan mendapat rezeki dengan bersukur. Nah lantas gimana rasa nya kalau sebelum Berkunjung udah di kasi Plang Pringatan Segede – Gedenya soal pantang larangan?. *Halah bahasanya*. Ya kalau sekedar ‘tata – tertib’ itu biasalah ya, Tapi pake bahasa yang sopan donk. Kalau kita merasa sakit hati, memang nya harus ya di balas dengan sakit hati juga. Childish banget si.Buat reader yang merasa postingan ini Cuma spam terserah. Yang jelas Star Night bukan termasuk orang yang pinter ‘Ngomong’ tapi udah biasa mengekspresikan sesuatu lewat tulisan. So karena title blog ini juga ada diary nya, nggak salah donk Star Night bikin coret – coretan di sini. Itung – itung berbagi rasa. He he he…..

  • Cerpen sahabat You Are My Everything

    All, pernah dengerin lagunya Fiona Fung yang judulnya u are my everything nggak?. Nah sambil ngetik cerpen ini nggak terhitung udah berapa puluh kali tu lagu di putar berulang ulang, intinya dari awal nulis sampe nge'end you are my everything di jadikan backsound. Eits, tapi jangan salah. Walaupun lagu tersebut yang di jadikan inspirasi, sesungguhnya saia sediri nggak ngerti sama sekali arti liriknya. Kecuali bagian "You Are My Everything" Ha ha ha. Yang jelas, nikmatin aja lah… :DYou Are My EverythingUntuk sebagian orang, kadang baru menyadari betapa berartinya seseorang setelah ia kehilangan,Dan untuk sebagiannya lagi, Bahkan tidak pernah menyadarinya…#URMyEverythingSetelah mematikan laptop dihadapannya, Erika merengangkan tubuh, meluruskan otot ototnya yang terasa kaku karena sedari tadi asik mengetik imaginasi yang sering bermain di ingatannya. Matanya juga sudah terasa berat. Wajar saja, jam yang berada di samping sudah menunjukan hampir tengah malam.Seiring dengan matanya yang melirik jam, tak sengaja pandangannya tertuju pada pigura yang bertenger di sampingnya. Seulas senyum tak mampu di cegah saat membaca tulisan yang melingkari pigura itu. "Tersenyumlah, saat kau meyakini semua akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja".Berlahan tangannya terulur meraih pigura itu, Kado dari Alex saat kelulusan SMAnya dua tahun yang lalu. Matanya menatap lekat sambil tangannya berlahan mengusap kaca tepat di wajah seseorang yang bersamanya di foto tersebut. Alex fernando, seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.Seseorang yang selalu menginspirasi dalam setiap tulisannya."Malam Alex, Aku tidur dulu ya," Kata Erika sambil mencium kaca pigura itu sebelum kemudian bangkit berdiri. Beranjak menuju kearah ranjangnya. Memeluk guling dan bersiap untuk terjun kedalam mimpi indahnya.***"Erika, buruan," kata Alek sambil berbalik. Menunggu sahabatnya yang tampak ngos ngosan sambil berlari kearahnya."Heh…Alex….aku….aku udah nggak bisa lari lagi. Cape…." kata Erika begitu berada tepat di depan sahabatnya.Jam sudah menunjukan pukul 7 : 30 lewat. Sementara kelasnya di mulai tepat pukul 07:00 tadi pagi. Gara gara ia yang bangun kesiangan menyebapkan ia harus berlarian setelah turun dari bus yang berhenti di halte tak jauh dari sekolah."Tapi kita sudah terlambat. Ntar kita bakal di marahin sama bu Desti," Alex mengingatkan."Kita bolos aja yuk," kata Erika setengah bergumam."Apa?" "Kita bolos aja yuk. Dari pada kita cape cape udah lari lari gini, tapi tetep aja terlambat dan ujung ujungnya pasti bakal di marahin. Gimana kalau kita bolos aja?" terang Erika kemudian.Alex tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus kearah Erika. Seolah masih tidak yakin akan ajakan gadis itu."Ah, kau benar juga. Kita udah cape lari, tapi entar juga bakal di marahin. Memang sepertinya lebih baik kita bolos saja."Gantian Erika yang menatap tanpa berkedip. Raut heran jelas tergambar di wajahnya. Sejujurnya tadi ia hanya asal berbicara. Tapi bagaimana bisa Alex langsung menyetujuinya."Kalau gitu ayo ikut aku. Sebelum kita ketahuan sama guru yang lain."Tanpa komando lagi Alex langsung menarik tangan Erika tanpa memberi kesempatan gadis itu untuk protes lagi. Bahkan tau tau mereka berdua sudah terdampar di atas gedung sekolahnya."Ah kau tau. Ini untuk pertama kalinya aku membolos sekolah sejak aku SD sampe sekarang SMA," kata Erika sambil menoleh kesekeliling, menghirup udara dalam dalam. Langit luas ada di hadapannya sementara Alex sudah lebih dulu mendaratkan tubuhnya di lantai."Benarkah?" Alex berujar santai. Setengah meledek tidak percaya, tapi Erika hanya membalas dengan anggukan."Wah, kalau begitu aku benar benar beruntung.""Beruntung?" ulang Erika dengan kening berkerut."Beruntung karena menjadi orang pertama yang menemanimu saat bolos sekolah. Ha ha ha."Dan jitakan pun mendarat telak di kepala Alex sebagai balasannya.Seiring berlalunya waktu Alex memang selalu bersama Erika. Mereka berkenalan saat pertama sekali menginjakan kaki di SMA. Saat MOS lebih tepatnya. Mereka tak sengaja dekat karena entah bagaimana caranya keduanya selalu menjadi target sasaran hukuman kakak kelasnya saat MOS berlangsung.Hingga tiba masa masa sekolah. Kebetulan berlanjut terjadi, karena nyatanya keduanya satu kelas. Bahkan keluarga Alex yang kebetulan baru pindah kekota itu ternyata menetap tepat di depan rumah Erika. Membuat hubungan keduanya semakin dekat."Alex, kau kok keliatannya santai sekali. Nggak takut ya kita ketahuan bolos, padahalkan kita sudah kelas 3. Bentar lagi juga UAN. Kalau sampai ketahuan bagaimana?""Kalau sampai ketahuan palingan juga kita dihukum."Lagi lagi jitakan mendarat di kepala Alex akan jawaban santai yang keluar dari mulutnya."Aduh. Tuhan menganugrahkkan kita mulut untuk bicara. Kenapa kau justru mengunakan tangan untuk mewakilinya," gerut Alex sambil mengusap usap kepalanya. Erika hanya mencibir membalasnya."Lagian kalau kau takut kenapa tadi malah mengajak aku untuk bolos segala?" sambung Alex lagi. Masih merasa sedikit tidak terima."Tadi kan aku hanya bercanda. Mana aku tau kalau kau langsung menyetujuinya dan langsung menarik tangan ku kesini," Erika mencoba membela diri.Sebelah alis Alex tampak mengernyit. Sesaat ia terdiam sebelum kemudian mendongak. Menatap Erika yang berdiri di sampingnya."Kalau gitu haruskah kita kembali ke kelas sekarang?" tanya Alex pasang tampang polos.Kali ini Alex beruntung. Tangannya cepat tanggap. Menahan sebelum kemudian mengenggam erat tangan Erika sebelum gadis itu sempat mendaratkan jitakan di kepalanya untuk jawaban yang ia lontarkan barusan.Untuk sejenak suasana hening. Hanya hembusan angin yang semilir menerpa. Kebisuan yang menenangkan.Sekilas Erika menoleh kearah tangannya. Hal yang sama juga di lakukan oleh Alex sebelum kemudian keduanya saling bertatapan. Dan Erika merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihat mata hitam itu memenjarakannya. Mereka memang selalu bertengkar tapi kali ini Erika yakin ada yang beda."Aku hanya takut kita ketahuan," gumam Erika lirih.Dan kejadian selanjutnya sama sekali tidak pernah Erika duga. Alex bukan melepaskan gengamannya justru malah menariknya. Membuat tubuhnya sukses mendarat dalam pelukannya. Belum sempat mulut Erika terbuka untuk memprotesnya Alex sudah terlebih dahulu membisikan kata padanya."Tenanglah. Aku di sampingmu, Aku janji aku akan selalu melindungimu dan tidak akan meninggalkanmu. Selama kau mempercayainya, semuanya pasti akan baik baik saja."Entah dapat keyakinan dari mana. Kepala Erika mengangguk berlahan. Sepertinya ia akan mempercayainya.Waktupun terus berlalu. Hari kelulusan telah tiba. Semua orang merayakannya. Dengan gaun cerah yang ia kenakan ditambah sebuah pita dengan warna senada menghiasi rambutnya Erika duduk diam disalah satu kaffe langanannya. Dadanya bergejolak tak menentu. Menanti kemunculan Alex yang berjanji akan menemuinya. Bahkan ini untuk pertama kalinya ia merias wajahnya. Walau ia tak menemukan alasannya. Karena Alex hanyalah sahabatnya.Satu jam lebih telah berlalu dari waktu yang mereka janjikan. Tapi Alex tak kunjung menunjukan wajahnya sementara Erika masih setia menunggu. Rasa kesel mulai merambati hatinya. Terlebih nomor Alex sama sekali tidak bisa dihubungi. Membuat gadis itu sibuk mengarang kalimat makian yang akan ia tujukan pada Alex jika muncul nantinya.Deringan ponsel membuyarkan lamunan Erika. Berniat langsung memaki saat melihat Id caller yang tertera di handphonnye Erika justru malah di buat terpaku. Suara di seberang terasa bagai mimpi buruk baginya. Tanpa bisa di cegah air mata menetes dari mata beningnya. Pikirannya kalut, ia masih diam terpaku bahkan setelah sambungan telpon itu telah di tutup.Barulah pada detik berikutnya. Saat pikirannya sudah mampu mencerna semuanya ia secepat kilat bangkit berdiri. Berlari melewati pintu kaffe tanpa menoleh lagi. Menyetop Taxsi yang lewat dan langsung membawanya ke rumah sakit "Harapan Bunda".Dengan langkah terseret seret Erika melewati lorong demi lorong. Langkahnya tercekat di depan sebuah pintu yang di tunjukan suster padanya. Tangannya gemeteran, jantung nya berdetak keras. Saking kerasnya ia yakin ia bisa mendengar debarannya sendiri. Rasa takut yang sangat mencekam menderanya. Rasa takut yang sungguh tidak ingin ia rasakan seumur hidupnya.Dan pemandangan di hadapannya melumpuhkan semua pertahanannya. Tante vera, mamanya Alex tampak menangis dihadapan seseorang yang terbujur kaku di hadapan dengan luka di sekujur tubuhnya. Kecelakaan yang terjadi di jalan besar depan rumah telah menewaskan anaknya. Membuat Erika dipaksa menyadari kalau sudah tiada lagi sahabat terbaik di sampingnya.Setelah acara pemakaman selesai, Erika masih duduk terpaku di hadapan gundukan tanah yang masih basah. Masih tidak mempercayai apa yang terjadi. Bagaimana bisa, sesorang yang selalu bersama dengannya bisa pergi begitu saja. Bahkan tanpa sepatah kata pesan untuknya. Sungguh, ia tidak bisa mempercayainya."Erika."Suara lirih Tante Vera menyadarkan Erika dari lamunannya. Kepalanya menoleh sambil tersenyum samar. "Untukmu," kata tante Vera sambil menyodorkan sebuah kotak kado padanya. Menimbulkan kerutan di kening Erika karena tidak mengerti apa maksutnya."Kado kelulusan dari Alex untuk mu. Hari itu, Alex pergi dengan terburu buru untuk menemui mu. Tapi setelah di tengah jalan sepertinya ia baru menyadari kalau ia telah melupakan kadonya. Makanya itu ia menelpon tante untuk menanyakannya. Dan siapa yang menduga saat ia berbalik kecelakaan itu terjadi dan menewaskannya" terang tante Vera dengan mata berkaca kaca. "Ma kasih tante." Hanya kata itu yang mampu melewati tengorokan Erika yang tercekat. Kenyataan kalau Alex pergi demi untuk menemuinya membuatnya semakin terpuruk."Yang sabar ya sayang. Kalau kau menyayanginya kau pasti akan menuruti perkataannya bukan?" kata tante Vera sebelum kemudian pamit pergi. Walau tidak mengerti maksutnya, kepala Erika tetap mengangguk sebagai jawaban.Setelah tante Vera benar benar pergi, dan hanya dirinya yang berada di area pemakaman itu barulah Erika membuka kadonya. Dan setetes air mata bening melewati pipinya saat melihat pigura dengan foto ia berdua di dalamnya."Tersenyumlah, Saat kau meyakini semua akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja".Kata yang menghiasi pigura itu membuat Erikat terpaku. Setelah lama terdiam akhirnya ia mengangguk. Dengan senyum yang masih mengiringi tangisannya ia bergumam lirih."Bailah, Aku akan mempercayaimu. Selamat jalan sahabat. Semoga kau tenang di sana"You Are My EverythingKriiiinngg kriiiing kriiiingSuara jam Baker yang berdering nyaring menyadarkan Erika dari tidur panjangnya. Masih dengan mata terpejam Erika menoleh, dan saat pertama sekali ia membuka mata pigura dengan foto ia bersama Alex langsung menyambutnya. Membuatnya tanpa sadar tersenyum. Senyum yang ia janjikan akan selalu menemani harinya.Seperti yang Alex katakan Selama ia meyakini semuanya akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja…End…..Detail CerpenJudul : You are My EverythingPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaGenre : Remaja, CerpenFanpage : Star nightLanjut Baca : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*