Cerpen Remaja Tentang aku dan dia ~09 {Update}

Cerpen RemajaTentang Aku dan Dia
Credit Gambar : Ana Merya
Dengan segenap tenaga yang ia punya, Gresia meluncur dari gerbang sekolah menuju ke kelas. Kebiasaan bangun telat kali ini benar – benar membuat nasibnya bagai telur di ujung tanduk. Tanpa mengurangi sedikit pun kecepatan larinya ia melirik jam yang melingkar di tangan. Tapi tepat di tingkungan tidak sengaja ia menabrak seseorang.
"Eh kalau jalan pake mata donk".
Gresia yang sedang jatuh terduduk segera menoleh ke arah bentakan berasal. Menyilaukan.Keren bo. Apalagi pake kacamata hitamnya. Bikin tambah wow. Tampang nya benar – benar oke, Tapi bentakan nya itu lho, langsung bikin ilfil. Dengan segera ia beranjak bangun tanpa mengalihkan tatapan pada makhluk di hadapannya.
"Di mana – mana orang kalau jalan pake kaki. Dan perlu di garis bawahi, Gue tadi lari bukan jalan" Balas Gresia balik membentak.
"Ih udah salah, Nyolot".
"Yo ben. Terus loe mau apa?".
"Mau bilang kalau loe sudah telat".
"He?" Gresia bingung. Tapi beberapa detik kemudian.
"OMZ"
Dengan segera Gresia meraih bukunya yang masih tergeletak di lantai sebelum akhirnya kembali meneruskan larinya. Tapi sebelum itu, ia seperti teringat sesuatu dan langsung berbalik.
"Dari mana loe tau gue udah telat?" Tanya Gresia Setengah berteriak.
"Ini sekolah, Bukan lapangan atau tempat pacuan kuda".
Gresia sebal si mendengarnya. Apalagi di ucapkan tanpa berbalik.Tapi tak urung ia berteriak.
"Ma kasih".
Cerpen Remaja Tentang aku dan dia
Siapa sangka insiden tadi pagi berlanjut pada insiden – insiden yang selanjutnya. Tapi justru karena itu Gresia jadi akrab dengan anak baru di sekolahnya yang lebih akrab di panggil Alan. Apalagi ternyata mereka satu jurusan di tambah kebetulan mendapat tugas bareng. Sehingga selama hampir seminggu keduanya terlihat akrab.
"Heh" keluh Gresia sambil duduk di samping Nanda dan anya, Sementara anggun sedang memesankan makanan untuk mereka.
"Kenapa?" Tanya Anya, Gresia hanya menggeleng.
Belum sempat ia menjawab, Ia sudah terlebih dahulu merasa kaget. Arga kini berada tepat di hadapannya. Memang si sejak kejadian di ruang kesehatan seminggu yang lalu ia sudah los kontak sama pria di hadapannya itu. Sumpah ia sakit hati banget. Apalagi ketika melihat Arga Dengan seenak jidatnya duduk di sampingnya.
"Mau ngapain lagi si loe?".
"Nemenin pacar gue makan. Mmemang nya salah" Balas arga Santai.
Kalau tidak mengingat membunuh itu dosa juga hukumannya terlalu berat untuk bisa di tanggung oleh nya, Saat ini pasti tanpa ragu sedikit pun Gresia sudah membunuh sosok yang ada di sampingnya.
"Apa loe bilang?".
"Loe Lupa, Loe kan pacar gue".
"Hanya untuk taruhan" Tambah Gresia geram.
"Dan taruhan itu belum berakhir. Seenggaknya kita masih punya sisa waktu 2 hari".
"Setelah apa yang udah loe lakukan, loe masih berani ngomong kayak gitu?".
*Backsound. Dragon Boys – Love you no more/ He he he. Soalnya Star Night ngetik sambil mendengar kan lagu ini. Beneran. Walaupun nggak ada hubungannya si sebenarnya*.
"Kenapa loe marah?" Tanya Arga heran.
Kali ini Gresia benar – benar merasa Gondok mendengar nya.
" Loe masih berani nanya kenapa?, Loe jadiin gue taruhan".
"Dan loe tau dengan pasti dari awal. Jadi loe nggak berhak marah atas perlakuan gue. Kecuali kalau loe udah beneran cinta sama gue".
"Jatuh cinta sama orang model kayak loe?. Gue tegaskan lagi. Tidak dan nggak akan!!!".
"Bagus deh kalau gitu. Jadi loe nggak keberatan kan nanti malam?".
"Maksudnya?" tanya Gresia bingung.
Acara Festival band di sekolah kita. Loe pergi bareng gue. Nanti malam gue jemput loe".
Dan tanpa perlu mendengar kan penolakan dari Gresia, Arga sudah terlebih dahulu meninggalkannya.
Cerpen Remaja Tentang aku dan dia
Walau sebesar apapun rasa sakit hati dan benci yang bertahan di dalam hati nya, Tetap saja pada akhirnya Gresia mengalah dan berakhir dengan Arga di sampingnya. Nggak tau kenapa Gresia merasa enggak tega melihat tampang arga yang tampak sedikit pucat. Di tambah catatan, Arga sama sekali tidak melepaskan gandengan tangannya barulah Sampai kemudian Arga di panggil naik ke atas panggung.
"Lagu ini khusus gue nyanyi kan untuk seseorang yang berarti banget buat gue".
" Perih rasa di hati
Saat ku melihat kamu
pergi tinggalkan aku
dengan memendam cinta yang lain
dengarlah lagu ku memanggil mu
kembali ke pelukan ku
berikan lah aku kesempatan
buktikan seluruh cintaku
sepi rasa di jiwa
saat kau tak di samping ku
cinta yang dulu ada
kini terhempas cinta yang lain
Dengarlah laguku memanggilmu
kembali ke pelukanku
berikan lah aku kesempatan
buktikan seluruh cintaku".
Beri kesempatan by kangen band
"Gresia, Di atas panggung ini, gue pengen ngungkapin perasaan gue sama loe . Kalau gue beneran suka sama loe"
Di luar Dugaan Arga Berlutut sambil mengengam tangan Gresia yang masih tampak shok.
"Loe nggak harus Jawab sekarang. Gue akan tunggu loe di atas gedung sekolah sampai besok pagi.Tepat di hari ke 30 jadian kita berakhir . Kalau loe juga cinta sama gue, gue harap loe akan datang sebelum jam 7".
"Dan kalau gue nggak datang?".
"maka gue akan mencintai loe sampai gue mati. Mereka saksinya" Balas Arga Tegas dan Tanpa ragu sambil menunjuk ke arah seluruh anak – anak sekolah yang hadir.
Cerpen Remaja Tentang aku dan dia
Gresia masih mondar – mandir di kamarnya. Galau?. Tentu saja!. Bingung?. Tepat!. Tadi ia nekad memilih pulang tanpa menemui arga yang 'katanya' akan menunggu di atas gedung Sekolah.
Jujur saja ia masih tidak percaya akan ucapan Arga. Tapi di satu sisi, Ucapan arga tadi terlihat benar – benar menyakinkannya. Sampai kemudian keputusan nya sudah bulat untuk memilih tidur ketika tiba – tiba hujan turun dari langit dengan deras nya. Hal itu ia lakukan bukan tanpa alasan. Ia masih ingat akan ucapan Arga kalau kisah cinta mereka bukan lah seperti di ff ataupun sinetron yang sering mereka tonton. Jadi menurut Gresia Arga tidak mungkin akan menunggunya, Karena di atas sekolah sama sekali tidak ada tempat untuk berteduh.
Pagi harinya saat Gresia menapak kan kaki di halaman Gedung sekolahnya. ia merasa lebih kaget ketika melihat hampir seluruh siswa dan siswi berkumpul di sana. Ternyata gosip sudah menyebar dengan begitu mudahnya.
Dengan langkah dag dig dug Gresia melangkah dari satu tangga ke tangga yang lain. Ia sudah merasa lega saat melihat Tempat itu kosong. Dengan sedikit kecewa Gresia bermaksud pergi. Tapi beberapa saat kemudian Sebuah teriakan menghentikan langkahnya ketika mendapati sesosok tubuh yang basah kuyup dan dingin terbaring tidak bergerak di sudut. Refleks, Gresia langsung berlari menghampiri nya.
"Arga" Teriak Gresia sambil mengguncang – guncang tubuh Arga yang tetap dingin dan diam tak bergerak.
Se tetes air mata yang membuat aliran sungai kecil di pipi gresia sama sekali tidak bisa di bendung ketika membaca selembar kertas yang ada di genggaman tangan Arga.
" Loe benar – benar hebat gres. Loe bisa nunjukin ke kita semua kalau loe sama sekali tidak terpengaruh sama pesona gue. Bahkan loe bisa bikin gue beneran jatuh cinta sama loe. Tapi Loe juga bisa nunjukin ke gue kalau loe bisa hidup tanpa gue. Kalau begitu Bisa kah loe ngelakukan ini setiap hari?".
End……..
gantung?…
Kayaknya sih…
Tapi biar lah, Secara Star Night benar – benar sedang Galau se galau galaunya. Bahkan melebihi ke galauwan Sapi sama kambing yang di potong waktu idul adha kemaren. Hiks hiks hiks.
Tapi tapi tapi, Star Night juga merasa puas karena dendam nya akibat di cuekin telah tebalaskan *nunjuk part 4*. he he he….

Random Posts

  • Cerpen benci jadi cinta Vanessa Vs Ferly 7

    Pagi ini Vanes berangkat sekolah dengan lesunya, Ia terus berjalan menuju sekolah Sambil melamun hingga ia dikagetkan dengan bunyi klakson motor, yang hampir menabraknya. untung aja si pengendara pinter, jadi ia masih bisa selamat.sebagian

  • Cerpen Romantis Sedih – Gabriel: Mencintaimu Cukup Bagiku

    Gabriel: Mencintaimu Cukup Bagikuoleh Nurul A. ErviningrumBiarkan aku menatap lirihSetiap keping kenanganku yang telah retakBiarkan aku tetap mendengarBisu kata dari semua yang pernah terucapIzinkan aku kembali melangkahSebelum lembar masa lalu berhasil menjamahAkanku hirup udara yang menyesakkanWalau nyata, tak dapat ku genggam anginSempatkan aku untuk tertundukMenyentuh kembali sakit yang terindah“Gabriel.. ayo!!.”Waktunya tiba, perempuan paruh baya itu sudah memanggilku. Aku tak punya alasan lagi untuk berkata ‘tidak’.Kupandangi pintu lobi itu, entah untuk yang keberapa kali. Disana ada seorang penjaga, masih dengan kesibukan yang sama.Perempuan paruh baya yang memanggilku tadi – yang tak lain adalah ibuku- ia mengecek barang-barang. Ia menenteng satu koper besar, bersiap menggeretnya.“iel, kamu bawa yang ini!!.” Perintahnya. Ia menyisakan sebuah tas besar penuh isi. Aku tak tahu apa isinya. Bukankah sejak awal aku tak tahu barang apa saja yang kami bawa. Mm.. bukan kami, dia tepatnya. Ibuku. Aku tak sedikitpun andil dalam mengemasi barang-barang, karena sejak awal pula, aku enggan pergi. Aku meraih tas besar yang dimaksud sebelum ibuku berteriak lagi. Suara yang berusaha keras untuk kuabaikan.Sudah kubilang padanya tak perlu membawa barang banyak-banyak. Tapi tetap saja, ia yang menang, apalagi alasan yang sungguh masuk akal. Kami akan pergi dan takkan kembali. Jadi wajar bukan jika membawa seluruh barang yang ada. Bagiku tetap saja berlebihan.“jangan sampai ada yang tertinggal!! Itu, koper kecil itu dibawa sekalian yel!. Isinya surat-surat sekolah kamu.” Ujarnya lagi.“ayoo!.” Ia sudah melangkah lebih dulu.Sekali lagi, aku menatap pintu lobi, berharap disana ada seorang gadis berdebat dengan petugas penjaga karena memaksa masuk seperti di film-film.Tapi mataku tak melihat apa-apa. Aku bahkan bisa menyebut tak melihat siapapun. Karna tak ada yang ingin kulihat saat ini kecuali gadis itu.“Gabriel….” Erang ibuku. Ia sudah berjarak 7 meter dariku. Aku bisa melihatnya kesal. Bisa saja ia kembali kesini dan menjewer salah satu telingaku agar aku ikut berjalan dengannya. Tapi ia tak mungkin melakukan itu, umurku 18 tahun. Apalagi kami sedang di bandara. Dan satu lagi kenapa ia tidak akan meluapkan kekesalannya dalam bentuk lain, karna toh aku sudah mau ikut pergi. Pergi meninggalkan kota ini. Negara ini dan gadis itu. Gadis yang bukan gadisku.Aku mengecek sekitaran tempat duduk. Sebenarnya aku juga tidak begitu peduli kalaupun ada yang tertinggal. Aku hanya sedang tidak ingin menambah situasi menjadi rumit.“gabriel, ayo! Nanti kita ketinggalan pesawat.” Ocehnya lagi.Aku menatapnya pasrah. Tak tega juga terus-terusan membuatnya mengomel begitu.Okkey,, aku pergi. Selamat bu, karena sekarang aku berada penuh dalam kendalimu.Aku melangkahkan kaki menuju dimana ibuku berdiri namun belum sempat aku sampai padanya, ia sudah berjalan lagi. Sepertinya ia tak tahan lagi menunggu langkahku. Yang penting dalam penglihatannya aku sudah mau berjalan. Langkahku terasa berat. Ada rantai dengan bola besi yang mengikat kakiku. Dan benda-benda itu tak kasat mata.Melihat reaksinya, aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Kepalaku tertunduk seolah merasakan aku telah kalah. Membuat ubin-ubin penyusun lantai ruangan ini terlihat jelas oleh mataku.Aku juga bisa menangkap kedua tanganku yang menenteng tas besar disebelah kanan serta koper berukuran sedang disebelah kiri. Pearasaan malasku semakin muncul, rasanya ingin sekali aku berbalik arah kemudian berlari kencang, melempar dua benda ditanganku ini tanpa memperdulikannya dan kabur dari tempat ini. Tapi tidak, aku tak melakukannya. Jika setahun bahkan seminggu yang lalu aku masih punya alasan untuk menolak ajakannya bahkan sekedar menunda bersekolah di pert dan berkumpul lagi dengan ayahku, sekarang aku tidak punya alasan lagi untuk melakukannya. Bahkan semua telah berbalik, mungkin sebaiknya memang aku pergi. Aku ingin pergi. Hmm,.. bukan aku tak ingin, tapi aku harus. Akhh.. entahlah aku sudah tak tahu lagi.“Gabriel.” Teriak seorang wanita lagi, cukup samar. Tapi aku tahu itu suara wanita.Aku hampir mengumpat tertahan. Kukira itu ibuku. Tapi sedetik kemudian aku tersadar, itu bukan suara ibuku. Aku mendongak, didepan sana kudapati ibuku masih berjalan, tampaknya ia tak mendengar ada yang menyebut namaku, atau bahkan memanggilku dengan sengaja.“Gabriel.”Lagi. Suara itu?Aku menoleh cepat. Belum sempat aku melempar pandangan, seseorang menubruk tubuhku dan melingkarkan kedua tangannya, memelukku erat. Aku hampir saja jatuh kebelakang, tapi tubuh orang ini tidak cukup untuk merobohkan pertahananku.Mataku bertemu pada dua buah kornea hitam didepan sana. Ia menatapku tajam, gerahamnya yang kuat seolah berperang dengan kendalinya sendiri. Detik berikutnya matanya berkedip, tatapannya berubah tak setajam tadi. Nafasnya berhembus kasar. Pria itu berdiri seolah memberi jarak. Tentu saja ia menunggu disana dihadapanku dan seseorang yang memelukku ini sekitar 5 meter. Ia membiarkan lalu lalang orang menghalangi pandangannya.Dengan menghiraukan tatapan pria itu, aku membalas pelukannya. Membiarkan rinduku bersemayam detik ini, dan aku berharap waktu berhenti sekarang juga.Siapapun, hentikan waktu sekarang juga!!!Ia membenamkan wajahnya didadaku dan aku membenamkan wajahku dilehernya. Posturku yang lebih tinggi membuatku memaksakan ini. Tak apa. Yang penting aku sangat nyaman.Biarkan saja orang-orang melihatku dengan tatapan aneh termasuk pria itu. Biarkan saja, ibuku mengomel lagi karna aku tak kunjung menyusulnya. Biarkan saja detak jantungku beradu dengan aliran darahku yang deras. Biarkan saja keringatku mengucur karna rasa gugupku yang terlalu hebat. Dan kumohon biarkan saja, gadis ini tetap memelukku seperti ini.***“vi, buruaann!!!.” Teriakku didepan gerbang rumah.“iya..” jawabnya.Sivia masih sibuk mengikat tali sepatunya diteras rumah. Sedangkan aku sudah gelisah menunggunya sambil sesekali melirik kearah matahari.Aku memang tidak suka memakai jam tangan dan dengan melihat bagaimana cahaya matahari saja aku sudah tahu jam berapa sekarang. Sivia berlari keluar gerbang rumahnya yang berjarak 3 langkah saja dari tempatku berdiri. Rumah kami memang bersebelahan tanpa penghalang apapun. Kecuali tembok tentunya.“ayook!!.” Aku menggamit lengannya.Kami mengambil langkah lebar menuju halte depan gapura kompleks. Aku masih menggandeng sivia, gadis ini akan semakin tertinggal kalau kulepaskan.“aduh iyel, kaki kamu panjang banget sih? Aku jadi lari-lari nih.” Eluh sivia. Ia tertinggal satu langkah dariku.“kalo ga gini nanti kita ketinggalan bis yang biasanya. Nah itu dia bisnya.” Ucapku.Aku melihat bis itu berhenti di halte. Beberapa anak berseragam smp maupun sma naik, dua orang berseragam rapi akan ke kantor juga ikut naik. Bis itu nampak akan segera berangkat lagi. Sialnya kami belum sampai di gapura apalagi menyebrang ke halte itu.“ ayo vi!.” Ajakku.Kini kami tidak berjalan lagi. Aku berlari dan sivia, ia semakin berlari ketika menyadari bis itu akan segera meninggalkan kami.“tunggu paakk!!.” Teriakku keras.Aku berharap sopir itu mendengarnya. Atau kalau tidak, kondekturnya, atau beberapa penumpanglah minimal.“pak stop pak.” Teriak sivia kali ini.kami masih berlari mengejar bis itu yang mulai berjalan lagi. Sivia dan aku sudah berhasil menyebrang, sayangnya bis itu sudah berjalan ketika kami sampai di halte.Aku menambah kecepatan berlari, tanpa sadar tanganku masih menggandeng sivia. Gadis itu bersusah payah mengikuti kecepatan lariku. Cara berlarinya membuatnya mulai kehilangan keseimbangan.Buuggg..Tanganku tertarik kebawah. Aku hampir saja terjatuh karena itu. Ketika aku menoleh, sivia sudah tersungkur dijalan aspal.“sivia..” pekikku menyadari gadis ini terjatuh.Posisinya parah sekali untuk dilihat. Apalagi sebelah tangannya yang masih kugenggam membuatnya tak bisa menahan tubuhnya agar tak terbentur aspal.“aduuhh..” erangnya. Ia duduk diatas aspal yang membuatnya mengerang kesakitan. Lutunya ditekuk, menampakkan sebuah luka lebar menganga disana. Mataku membelalak, darah merah mulai mengalir dari lukanya.“sakit yel.” LanjutnyaAku ikut berjongkok didepannya, awalnya aku bingung harus melakukan apa kecuali, aku membuka resleting tas ranselku. Syukurlah, ada sapu tanganku didalamnya.“pake ini dulu yah, nanti disekolah aku obatin.” Ucapku meyakinkan.Sivia mengangguk. Kubalutkan sapu tangan putihku di lututnya. Bercak merah mulai tampak disapu tanganku itu.“hey.. jadi naek nggak???” teriak seseorang dibalik punggungku. Aku menoleh kaget.Seorang kondektur berdiri disamping pintu belakang bis yang sedang berhenti. Seorang pria berseragam sekolah berjalan menghampiri.“jadi pak, tunggu sebentar.” Ucap pria itu sambil terus berjalan kearah kami.“iel?.” Ucapnya.“Alvin?.” Ucapku.“kalian gak pa-pa kan?” tanyanya kemudian setelah menyadari posisi kami yang terduduk dijalanan aspal.“ayok, keburu bisnya gak mau nunggu.” Ucapnya lagi.Aku menoleh pada sivia, ia masih meringis kesakitan. Aku bisa melihat sebenarnya ia hampir menangis. Tapi tak jadi, mungkin karna ada orang lain disini sekarang.“masih bisa kan vi?.” Tanya kuSivia mengangguk pasrah. Aku membantunya berdiri dan memapahnya menuju bis yang sopirnya sudah menekan klakson berkali-kali serta beberapa penumpang yang menunggu kami tak sabar.Bis ini cukup penuh, sudah tak ada tempat duduk yang tersisa. Bahkan sudah ada beberapa orang yang berdiri saat kami naik. Aku menatap sivia prihatin, peluh keluar dari dahi serta bagian kulit wajahnya yang halus. Sementara kakinya, ia pasti sangat kesakitan jika terus berdiri. Bagaimana mungkin aku tega melihatnya begini?Tiba-tiba alvin melepas ransel dari punggungnya lalu meletakkannya dilantai bis. Ia menepuk-nepuk ranselnya lalu memandang kearah sivia. Ia berjongkok didepan kami. Keningku mengerut melihatnya.Kami masih berada didekat pintu belakang. Sivia tak sanggup berjalan lagi untuk sekedar masuk ketengah-tengah bis.“duduk disini, isinya cuma buku aja kok.” Ucapnya yakin sedikit mendongak. Aku melongo cukup kaget atas perilakunya. Aku bahkan tak sampai berfikiran seperti itu. sivia menoleh kearahku ragu, aku mau tak mau mengangguk. Aku tak ingin membiarkannya semakin tersiksa dengan berdiri dalam keadaan lutut yang luka.Aku sempat merutuki diriku sendiri kenapa tak bisa berfikir sekreatif alvin. Tapi sudahlah yang terpenting sivia bisa duduk sekarang yah meskipun akan terlihat seperti dilantai bis. Aku berjongkok disampingnya.Hampir semua pandangan penumpang mengarah pada kami bertiga.“thanks ya vin.” Ucapku. Alvin mengangguk saja menimpali.“oh ya vi, kenalin ini alvin temen smpku dulu.” Ucapku. Sivia memandang alvin lama, alvin menunjukkan senyumnya.“alvin.” Ucap temanku itu sambil menyodorkan telapaknya.“sivia.” Ucap gadis ini menyambut jabatan tangan alvin.“makasih ya.” Tambah sivia.Alvin mengangguk seraya tersenyum lagi. Jabatan tangan itu masih terjadi. Entah kenapa tiba-tiba saja hatiku terasa sangat perih. Aku seperti merasa akan kehilangan.Sejak pertemuan di bis itu, sivia dan alvin semakin dekat. Awalnya aku tak mempermasalahkan hal itu. Aku cukup tau Alvin. Tiga tahun aku duduk sebangku dengan pria itu. Ia pria yang baik. Tapi aku sadar kedekatan mereka lebih. Bahkan hingga hari ketujuh setelah perkenalan mereka, aku tak tahu sedekat apalagi mereka. Aku sering melihat Alvin datang kemari, kerumah sebelah, tepatnya rumah sivia. Aku juga sempat melihat Alvin mengantar sivia pulang kemarin.Sivia mulai agak menjauh dariku. Mm..bukan. tapi jarak kami yang sedikit mulai menjauh. Aku memang masih berangkat bersamanya, tapi didalam bis, selalu sudah ada Alvin dan saat itulah aku seperti sulit untuk masuk dalam dunia sivia, dunia mereka. Keduanya sering tak sadar, aku berada didalam bis yang sama dengan mereka.Entah sejak kapan alvin jadi suka naik bis, karna seingatku dulu ia tak suka naik transportasi umum. Mungkin hari itu kebetulan alvin terpaksa naik bus dan mulai hari itu pula ia selalu naik bus hingga kami selalu bertemu. Tepatnya sivia dan alvin selalu bertemu. Aku tahu aku sudah merasakan rasa yang tak wajar. Perasaan yang tak baik untuk tetap ada. Aku merasakan iri melihat kedekatan mereka, aku merasa sakit hati melihat mereka berdua mengobrol, bercanda, tertawa bahkan alvin pernah menolong sivia yang hampir jatuh dari pintu bis yang belum sepernuhnya berhenti.Aku merasa posisiku dulu sudah tergantikan. Seperti saat ini, aku hendak mengajaknya pergi, dan kalian tahu sivia berkata apa? Gadis itu berkata…“hey vi. Mm… aku ada tanding futsal nih, kamu nonton yah?. Emm masih sparring aja sih sebenernya, tapi kamu mau nonton kan?” tanyakuIa berpakaian cukup rapi. Semoga saja ini waktu yang tepat untuk mengajaknya pergi agar kedekatan kami yang sempat merenggang selama seminggu ini bisa kembali seperti dulu.“mm… sorry yel, tapi aku ada janji mau nonton pertandingan basket Alvin. Kamu cuma sparring kan? Lain kali aja yah, kalo kamu tanding beneran aku bakal nonton kok. Ga pa-pa yah?.” Sivia menatapku tak enak hati.Begitulah jawaban ia menolak ajakanku. Sesungguhnya aku lebih memilih dia berbohong saja daripada berkata jujur begini. Sakit sekali rasanya mendengar ia akan pergi menonton pertandingan basket Alvin, orang yang baru dikenalnya sekitar seminggu ini daripada pertandinganku sahabatnya sejak tiga tahun lalu.“ngg.. yauda ga pa-apa kok.” Ucapku tak ikhlas.Mungkin benar istilah orang-orang yg berkataDibalik “cie” ada kecemburuanDibalik “gpp” ada masalahDibalij “terserah” ada keinginanDan dibalik “yaudah” ada kekecewaan. Benar!! aku tengah kecewa sekarang.“oke.. bye iyel.” PamitnyaAku memandang punggungnya bergerak melewati gerbang. Ternyata itu alasan ia berpakaian rapi sore ini. Dengan sadar aku berjalan kembali memasuki rumah.“loh kenapa balik yel?.” Tanya ibuku.“gak jadi pegi ma.” Ucapku malas.Aku duduk disofa ruang tengah, melempar asal tas berisi perlengkapan futsalku.“kok gitu, katanya mau tanding?.” Tanya beliau lagi.“pertandingannya gak penting kok.” Ucapku berusaha santai.Aku bisa melihat kening ibuku mengerut. Seolah berfikir aneh sekali dengan sikapku. Benar saja, aku tak pernah melewatkan satu latihanpun dari futsal, jadi bagaimana mungkin aku bisa dengan santai berkata ‘ pertandingan futsalku tidak penting’ itu sangat aneh menurut beliau pasti. Dan aku tidak memungkirinya.“trus gimana yel sama tawaran mama tadi? Kamu ikut kan? Sebentar lagi kenaikan kelas loh yel.”“aku uda bilang berapa kali sih sama mama. Aku gak mau pindah ke australia. Kalo mama mau pergi kesana ya kesana aja!. Iel ga apa-apa kok sendirian.” Jelasku.Perasaanku semakin bertambah buruk saja sekarang.“sendirian? Kamu pikir mama mau tinggalin kamu sendirian disini?.”“mama gak percaya sama aku? Aku bakal baik-baik aja kok. Aku uda gede. Aku tau mana yang baik dan enggak. Lagian disini juga ada…”“ada siapa? Sivia?” potong ibukuIa menatapku tajam. Aku membalas tatapannya enggan.“sampe kapan kamu mau ngandelin dia? Minta bantuan dia apa-apa kalo mama gak ada? Memangnya dia gak kerepotan apa?.” Tanya ibuku bertubi-tubi.Benarkah? Apa benar ucapan ibuku? Apa benar aku merepotkan sivia?Selama ini aku selalu mengandalkannya memang. Ia memasakkan makanan untukku ketika ibu harus pulang malam bekerja. Ia membantuku mmembersihkan rumah yang berantakan ketika aku sibuk bermain futsal. Ia? Benar, mungkin aku memang terlalu merepotkan.“iel ngerepotin sivia ya ma?” ucapku pelan.Hari ini, aku tidak berangkat dengan sivia. Aku masih kepikiran ucapan mama, apa benar aku merepotkan gadis itu?.Aku berangkat agak siang. Aku yakin sivia juga tak akan menungguku, toh didepan sana sudah ada alvin yang siap didalam bis langganan kami. Sudah ada pria yang menjaganya. Tapi apakah aku rela membiarkannya? Menggantikan posisiku menjaga sivia?. Aku bahkan memberinya ruang gerak pagi ini.Tidak!!!. Pria itu, alvin, ia tak pernah tahu bagaimana aku menjaga gadis itu selama ini. Ia tak pernah tahu bagaimana aku jatuh bangun mengejar sivia. Dan satu hal yang harus dia tau, semua tak akan mudah. aku tidak akan melepas sivia. Aku tak akan melepaskan sivia demi apapun. Kecuali sivia yang memintanya. Gadis itu yang belum menjadi gadisku.Aku beranjak dari sofa. Aku sudah selesai mengikat tali sepatu sejak tadi sebenarnya, tapi karna fikiran bodohku itu aku jadi melamun saja membiarkan waktu meninggalkanku sendiri tanpa sivia.Hari ini, tepat dua bulan setelah kejadian dalam bis itu. Hari ini juga pembagian rapor kenaikan kelas. Aku sudah menerima raporku sejak tadi. Setelah itu, Aku menunggu kedatangan sivia ditaman sekolah. Ingin sekali kutunjukkan padanya bahwa raporku semester ini amatlah sangat membanggakan. Aku tak peduli jika ibuku menungguku dirumah, menanti bagaimana hasil belajarku selama ini. Yang terpenting sekarang adalah aku ingin menunjukkannya dulu pada sivia. Dia gadis pertama yang ingin kuberi tahu.Dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri, aku akan menjadi yang terbaik dikelas. Dan ketika itu bisa terjadi, akan kuungkapkan perasaanku padanya. Akan kunyatakan rasa yang kumiliki ini. Akan kujelaskan betapa ia begitu berharga dalam hidupku. Dan inilah waktunya.Menunggu sivia membuatku jadi gugup sendiri, jantungku berdegup kencang. Sekalipun aku sudah menghembuskan nafas menenangkan berkali-kali tetap saja tak berhasil. Aku gusar, menantinya dan menanti ucapanku sendiri.Tak lama gadis itu datang, ia tersenyum. Senyum yang selalu kubayangkan kembali sebelum tertidur saat malam. Ia berjalan tenang, tapi bisa kulihat ia sangat senang sekali. mungkin ia mendapat nilai bagus atau kabar gembira yang lain. Semoga dengan pernyataanku nanti aku bisa menambah bahagianya hari ini.“hay fy… aku mau ngomong sama kamu.” Ucapku mengawali.Aku berusaha keras menyembunyikan rasa gugupku. Okeeh aku memang tidak berpengalaman, tapi kuharap aku bisa melakukannya.“aku juga mau ngomong sama kamu yel.” Ucapnya sangat sumringah. Sungguh dengan mata terpejamkupun aku bisa melihat kebahagiaan terpancar dimatanya.“oh yaudah kamu duluan deh yang ngomong. Ladies first.” Ucapku sok-sok’an. Sivia tertawa lebar.“oke, yang pertama nilaiku diatas 85 semua yel. Yeee…” ucapnya semangat. Ia sempat melompat-lompat kegirangan.“wahh… bagus tuh. Kayaknya aku bakal dapet traktiran deh.” Ucapku berbasa-basi. Ia berhenti melompat.“eumm.. gak itu aja. Itu masih biasa kok. Mmm kamu tau gak…apa yang bikin aku lebih seneng?.”Sivia menunjukkan ekspresi paling menggemaskan yang ia punya. Jantungku berdegup semakin cepat. Ya tuhan,, itulah salah satu alasan mengapa aku sangat merindukannya setiap detik. Aku menggeleng pelan.“alvin nembak aku yel, kita udah jadian tadi pagi. Yee…” ucapnya girang lagi.DEGG… Hening. Bukan,, bukan karna sivia tak bersuara lagi, sivia masih lompat kegirangan. Tapi telingaku, telingaku seolah baru saja tersambar petir sehingga membuatnya tak bisa mendengar apapun lagi. Aku sudah tak bisa merasakan apapun lagi. Jantungku berhenti berdetak mungkin. Darahku berhenti mengalir. Nafasku tercekat ditenggorokan.Mataku tak berkedip. Aku menatapnya nanar. Apa benar yang baru kudengar? Tuhan, silahkan ambil nyawaku sekarang.“kamu kenapa yel?. Gak seneng yah?.” Ucap sivia sedih menyadari aku yang tak bereaksi apa-apa.Aku menggeleng lemah. Aku masih bertahan dengan sisa nafas yang belum kuhembuskan sebelum sivia berucap tadi. Kubiarkan saja paru-paruku tak terisi oksigen. Biar, biar aku bisa merasakan sakit pada paru-paruku. Dengan begitu mungkin aku bisa menutupi rasa sakit pada hatiku.“yel?. Kamu kenapa?. Rapot kamu baguskan?. Kamu naik kelas kan?.”Aku mengangguk lemah. Sungguh, aku tak bermaksud untuk tak menjawab pertanyaannya. Tapi rasanya suaraku sudah diambil tuhan.“beneran yel?. Ato Kamu sakit yah? Muka kamu kok tiba-tiba pucet?.”Mataku menatapnya nanar lagi. Benarkah wajahku berubah pucat. Oh mungkin karna aku baru tersambar petir. Suaraku sudah diambil tuhan. Pendengaranku juga. Mungkin sebentar lagi nafasku. Jadi pantas saja kalau aku pucat.“aku anter kamu pulang deh ya. Makan-makannya lain kali aja.” Ucapnya.Kamu benar. Mana mungkin aku bisa makan. Bernafaspun aku sudah tak berniat. Aku mengurung diriku di kamar. Membenamkan wajahku pada tempat tidurku sendiri. Ibuku sempat panic melihatku yang pucat pasi. Setibanya tadi, ia langsung mengecek raporku, barangkali nilai disana yang membuatku begini. Andai aku bisa menjerit, bukan. Bukan itu.Hari sudah malam, aku bisa melihatnya lewat kaca jendela kamar yang masih terbuka tirainya. Tadi sebelum aku tertidur, aku berifikir sesuatu. Sesuatu yang mungkin terbaik dan membiarkan aku jadi seorang pengecut. tapi aku leih baik jadi pengecut daripada mengusik kebahagiannya.Aku turun menemui ibuku yang berada diruang tengah. Ia menyambutku hangat. Meski tak tahu apa yang sedang terjadi padaku.“kamu makan ya nak. Mama ambilin.” Ucapnya.“iel mau ngomong ma.”Ibuku berhenti melangkah, mendengar nada suaraku yang serius. Beliau duduk kembali.“apa?.”“ma, iel bersedia sekolah di australi.” Ucapku parau. Aku menghembuskan nafas berat. Susah sekali aku mengucapkan itu.“kenapa?.”“mama gak perlu tahu alasannya. Yang penting iel mau.” Ucapku“tapi?. Baiklah kalau begitu. Kapan?.” Wajahnya tak menegang lagi.“besok? Bisa?.” Tanyaku tak yakin.“secepat itu?.” Tanya ibuku tak percaya.Aku mengangguk. Iya lebih cepat lebih baik. Toh aku sudah kalah, sudah saatnya aku pulang. Pulang tanpa dendam akan kekalahanku atau berniat merebut gadis itu. Aku tidak akan melakukannya. Melihat gadis itu tersenyum seperti tadi pagi, sudah cukup untuk meyakinkanku Alvin bisa membuatnya bahagia. Bahkan lebih bahagia daripada saat bersamaku.“oke. Mama akan telfon papa. Kamu siap-siap yah!.” Perintah beliau.Aku mengangguk. Dengan berat hati kutinggalkan perempuan paruh baya yang duduk disofa itu. Aku tahu pasti tanda Tanya besar ada diotaknya sekarang. Mungkin pertanyaan macam ini. ‘bagaimana bisa? Ada apa?’ benar. Karna sebelumnya aku selalu menolaknya mentah-mentah.Tentu saja, untuk apa sekarang aku menolak lagi. Aku sudah tak punya alasan. Aku sudah tak berkewajiban lagi menjaga gadis itu. Gadis itu sudah mempunyai penjaganya sendiri. Bahkan juga penjaga hatinya.Aku melangkah menuju balkon rumah dengan menenteng sebuah gitar. Menikmati sejenak hembusan angin malam yang mungkin sudah tak kan kurasakan lagi esok ditempat ini. Malass sebenarnya aku bersenandung. Atau sekedar memetik senar-senar gitar ini. Tapi entah aku ingin mempersembahkan sesuatu pada langit kota ini untuk yang terakhir. Aku ingin mencurahkan perasaanku pada bintang malam.Semula ku tak yakinKau lakukan ini padakuMeski di hati merasaKau berubah saat kau mengenal diaReff:Bila cinta tak lagi untukkuBila hati tak lagi padakuMengapa harus dia yang merebut dirimuBila aku tak baik untukmuDan bila dia bahagia dirimuAku kan pergi meski hati tak akan rela* terkadang ku menyesalMengapa ku kenalkan dia padamu“aku cinta kamu vi. Aku cinta kamu.” Ucapku lirih pada wajah sivia yang terlukis dilangit.***“aku udah tau semuanya.” Ucapnya melepas pelukan hangat ini.Mataku membelalak lebarDarimana?“yah.. aku tahu. Alvin yang bilang. Kenapa kamu gak jujur aja sih?.”Alvin? Kamu tau dari Alvin. Lalu Alvin tau darimana?. Oh aku lupa kalo alvin laki-laki. Ia pasti tahu sekali bagaimana perasaanku padamu sivia. Tapi apa? Sudah tak ada gunanya juga bukan?.Lagipula, kenapa harus dia yang memberi tahumu vi? Kenapa bukan kamu sendiri yang bisa tau? Tak bisakah kamu membaca mataku? Tak bisakah kamu melihat perlakuanku? Tak bisakah kamu mendengar suara hatiku? Atau setidaknya bertanyalah pada langit dimana aku sempat berkata padanya dan kamu akan mendapat jawabannya?.“kenapa harus pergi sih yel?. Kamu gak mau yah temenan sama aku lagi gara-gara aku gak bisa bales perasaan kamu?.”Aku menggeleng keras.“bukan. Bukan itu. Bisa mencintai kamu aja itu udah cukup buat aku.” Ucapku tersenyum.“terus?.” Kening sivia mengerut.“aku harus meneruskan hidupku. Bukan begitu?. Aku tidak ingin mengganggu kalian.”Sivia sudah memasang wajah tak terima.“hey, sejak kapan kamu mengganggu?.”“banyak alasan yang gak bisa aku sebutin vi, aku harus pergi. Aku harap kamu ngerti keputusanku.” Timpalku.Sivia memasang wajah pasrah lagi. Gadis ini. Ya tuhan andai gadis ini tahu, setiap ekspresi wajahnya itu semakin memunculkan rasa cintaku dan mengeruknya semakin dalam.Sivia mengangguk mengerti. Aku menghembuskan nafas berat.“kamu harus raih cita-cita kamu disana. Dan kamu harus janji akan buka hati kamu untuk gadis lain. Hey gadis pert cantik-cantik loh.”“haha aku suka gadis Indonesia.” Ucapku basa-basi.“oh disana kan juga banyak pelajar indonesia.” Timpalnya“janji yah?.” Tagihnya.Aku berfikir sejenak.“mm.. okeh.” UcapkuDalam hati aku berkata ‘enggak, aku gak janji vi.’Sivia tersenyum lega. Ia lalu menoleh pada alvin. Alvin tersadar waktunya datang. Ia menghampiri kami.Dan inilah tiba saatnya waktu kami terbagi lagi. Dimana dunia kami menjadi bertiga lagi setelah sempat beberapa menit lalu aku merasa dunia ini hanya milikku dan sivia. Seperti duniaku sebelum kedatangan alvin dulu.“jaga sivia ya bro.” Ucapku sok-sok’an“pasti. Tanpa lo minta.” Ucapnya yakin.Aku mengangguk paham. Lalu berbalik arah hendak pergi.“iyel.”panggil alvin.“gue akan ngejaga sivia sebagaimana lo pernah jaga dia dulu. Thanks ya lo ada disaat garis takdir belum mempertemukan gue sama gadis yang gue cintai.” Ucapnya.Aku meneguk salivaku lalu mengangguk saja.“gabriel.” Teriak ibuku lagi. Ia merusak suasana ini.“aku pergi. Bye” ucapku lalu meninggalkan mereka.Samar-samar aku mendengar ketika langkahku menjauh.“kamu memang bukan orang yang aku cintai yel. Tapi kamu special.” Ucap gadis itu, gadis yang pernah kuimpikan jadi gadisku.* terkadang ku menyesalMengapa ku kenalkan dia padamuEND..

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 03″

    Masih lanjutan dari cerpen remaja Take My Heart yang kini sampe part 3. Secara kisah diantara mereka baru di mulai. Masih belum jelas juga konflik ceritanya mau di bawa kemana. So untuk yang udah penasaran, bisa langsung simak detailnya di bawah. Untuk reader baru, biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu part sebelumnya disini. Happy reading…Take My HeartCinta itu bukan tentang apa yang ku rasakan untukmu; Bukan pula tentang apa yang kau rasakan untuk ku ; Cinta yang ku inginkan adalah rasa yang sama yang dimiliki antara kau dan aku #Take my heartUntuk pertama kalinya setelah hampir tiga tahun menjalani hari – hari sebagai mahasiswa di kampus Amik, Ivan berjalan dengan wajah menunduk. Merasa risih akan tatapan dari seisi kelasnya. Walau sebenarnya di tatap oleh mereka itu sudah merupakan hal yang biasa. Namun kali ini ia merasa beda. Pasalnya, tatapan kali ini jelas tatapan penuh tanya.Dalam hati Ivan terus merutuki kejadian kemaren. Kalau saja bukan karena rasa penasarannya pada Vio, Gadis yang telah menyelamatkannya kemaren. Pasti saat ini ia lebih memilih untuk tetap berbaring di rumahnya dari pada harus berjalan di sepanjang koridor kampus dengan wajah pernuh lebam. Sial, Gumamnya."Hei Bro, Kenapa tampang loe?"Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulu Aldy yang baru sedetik yang lalu muncul di hadapannya disusul sosok Renold dan Andra yang mengekor di belakang."Gila, kok bisa bonyok gini?" tambah Renold sambil meraih wajah Ivan, Membuat sosok itu langsung menepis tangannya sambil meringis. Sudah tau bonyok, masih juga di sentuh."Memangnya loe berantem sama siapa?" tanya Andra kemudian."Gue nggak tau.""Ha? Maksut loe?" tanya Aldy."Gue nggak tau siapa yang menghajar gue kemaren. Tiba – tiba aja gue di hadang sama perman waktu pulang kuliah," terang Ivan terlihat tidak berminat."Kok bisa?""Mana gue tau," Ivan angkat bahu. Pada saat yang bersamaan matanya menangkap sosok yang melangkah masuk dari pintu gerbang kampus."Hei, loe mau kemana?" tahan Andra saat mendapati Ivan yang berbalik.Ivan tidak menjawab. Ia terus melangkah menghampiri Vio. Diikuti tatapan ketiga sahabatnya."Oh, ternyata dia benar – benar beniat untuk mendapakan sepuluh juta itu," kata Aldi sambil mengngguk – angguk paham."Maksut loe?" tanya Renold dan Andra secara bersamaan."Tuh. Walau udah bonyok gitu tetep aja dia masih ngejar cewek sepuluh jutanya," terang Aldy sambi memberi isarat kearah kedua sahabatnya tentang tujuan Ivan yang telah mengacuhkannya."O," kali ini Renold hanya beroh ria sementar Andra sendiri tampak mengernyit heran saat mendapati Ivan dan Vio yang tampak berbicara di kejauhan. Hebat juga tu orang. Padahal baru kemaren cewek itu terlihat ketus, eh hari ini sudah mau ngobrol bereng. Tak salah kalau sahabatnya yang satu itu di cap playboy, pikirnya dalam hati."Vio!"Merasa namanya di panggil, Vio menoleh. Mengernyit heran saat mendapati Ivan yang datang menghampirinya. Mau apa lagi dia?, pikirnya."Ada apa?" tanya Vio kemudian.Sejenak Ivan terdiam. Mulutnya tidak langsung menjawab karena kini matanya sibuk memperhatikan tampilan Vio hari ini. Rambut yang di gerai bebas dengan sebuah jepitan kecil yang tersemat di atas kepalanya di tambah setelan kemeja berwarna merah muda benar – benar merupakan perpaduan yang cocok. Kontras dengan wajahnya yang imut dengan matanya yang sipit. Ivan menduga pasti gadis ini mempunyai silsilah keturunan cina yang diwarisinya."Heloo," Vio melambaikan tangannya tepat didepan wajah Ivan."Eh, ehem," Ivan merasa sedikit salah tingkah. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Astaga, akibat di pukuli kemaren pasti otaknya sedikit bergeser. Kenapa ia jadi mendadak merasa paranoid begini ya?"Gue mau nanya soal kemaren," kata Ivan mencoba untuk kembali pada tujuan awalnya menghampiri gadis itu."Soal kemaren?" ulang Vio sambil berfikir sejenak. "O soal kemaren yang loe di pu…. Humph..".Ivan dengan cepat membekap mulut gadis yang ada di hadapannya itu dengan tangan. Astaga, apa gadis itu berniat untuk mempermalukannya di hadapan semua anak – anak kampus dengan berteriak sekenceng itu."Hmmm. Pfh.." Vio dengan cepat menyingkirkan tangan Ivan dari mulutnya. Menatap pria itu dengan tatapan sebel."Kenapa si?""Iya soal kemaren. Tapi nggak perlu di perjelas juga kali. Pake teriak segala. Kalau sampai anak – anak laen tau gimana?"Dan Ivan menyadari kalau ia salah bicara saat mendegar kalimat jawaban yang keluar dari mulut Vio."Kalau mereka semua pada tau memang apa urusannya sama gue?" serang Vio balik.Glek.Satu lagi hal yang baru Ivan sadari tentang gadis itu adalah, ternyata gadis itu sama sekali tidak terpengaruh akan pesonanya.-,-"Memang nggak ada urusannya sama loe, tapi itu ngaruh sama gue," Ivan meralat ucapannya. Membuat Vio mencibir menatapnya."Kembali ke topik pembicaraan kita. Soal masalah kemaren, loe tau dari mana? Jangan bilang kalau itu hanya kebetulan. Secara mustahil secara kebetulan loe bisa bicara soal balas dendam segala."Vio sejenak terdiam. Tak sengaja ekor matanya mendapati sosok gadis yang kalau ia tidak salah dengar bernama Laura sedang memperhatikan nya dari kejauhan."Emang itu bukan kebetulan. Yang bilang kebetulan siapa?" tanya Vio balik."Jadi?" kejar Ivan"Jadi?" ulang Vio."Jadi penjelasannya gimana?" tambah Ivan terlihat gemes."Nggak ada penjelasan karena gue nggak mau menjelaskan. Dasar playboy cap kodok, buaya cap kadal.""Ha?" Ivan melongo mendengar gelar aneh yang keluar dari mulut gadis itu. Namun bukan jawaban yang ia dapatkan, justru dengan santainya gadis itu malah melongos pergi.Vio sendiri juga merasa tidak perlu menjelaskan apapun pada Ivan. Selain karena ia tidak punya bukti bahwa Laura yang melakukannya, ia juga tidak ingin membuat masalah. Secara ia kan mahasiswa baru di kampus itu. Ia sama sekali tidak tau siapa Laura kecuali sebatas nama yang ia curi dengar kemaren. Selebih nya Nol. Kenyataan kalau gadis itu adalah korban dari ke Playboy'an Ivan sehingga membuatnya nekat untuk balas dendam dengan menyewa pereman benar – benar membuat Vio membuang jauh niat untuk mengadukannya."Sial" rutuk Vio dalam hati saat mendapati langkahnya menuju kekelas di halang oleh tiga orang yang hanya salah satunya yang ia tau kalau gadis itu bernama Laura."Siapa loe?" tanya Laura.Dari nadanya saja Vio sudah dapat merasakan kalau tiada aura persahabatan di sana. Sejenak Vio menarik nafas, mencoba menahan diri dan terlihat sesantai mungkin."Vio," balas Vio sambil mengulurkan tangan.Laura hanya melirik sekilas tanpa berniat untuk menyambut uluran tanggannya, membuat Vio menarik diri."Ada urusan apa loe sama Ivan?" tanya Laura langsung."Yang jelas bukan urusan loe," balas Vio terdengar sinis. Membuat Laura sedikit tersentak kaget, Sepertinya gadis itu berniat untuk melawan, pikirnya."Denger ya, siapapun yang berurusan sama Ivan menjadi urusan gue," kata Laura penuh penekanan."Oh ya?" Vio pura – pura pasang tampang kaget. "Termasuk para preman yang menghajar Ivan kemaren?""Apa?!" kali ini Laura sama sekali tidak mampu menyembunyikan raut kaget dari wajahnya. Vio sendiri hanya angkat bahu."Ehem…" Laura terlihat berdehem sebenetar. Tak ingin terpancing. "Apa maksut loe barusan?" sambungnya lagi.Sejenak Vio tersenyum sinis, membuat Laura jelas menatapnya kesel."Karena wajah tampan yang ia miliki, ia mengunakan kelebihan itu untuk menyakiti orang. Tak ada salahnya kalau gue memberi dia sedikit perlajaran bukan?" sambung Vio sambil menirukan gaya Laura, persis seperti apa yang gadis itu ucapkan kemaren saat ia diam – diam menguping pembicaraan mereka."Loe!!" tunjuk Laura tearah ke wajah Vio."Kenapa?" tanya Vio polos tapi justru malah terlihat menantang."Dari mana loe tau itu?" tanya Laura lagi. Vio hanya angkat bahu."Jadi sekarang loe berniat untuk ngancem gue.""Gue nggak yakin loe bisa di ancam, dan juga nggak ada untungnya gue ngancam loe.""Terus mau loe apa?""Berhenti mengganggu gue, dan please menyingkir sekarang juga. Gue mau lewat.""Wow, berani sekali dia. Huuu… Takut," ejek Laura meledek membuat Vio kembali menarik nafas kesel. Apa si maunya ni orang?"Eh denger ya? Loe pasti baru di sini, jadi loe belum tau siapa gue. Asal loe tau aja ya, Gue idola di sini. Jadi nggak akan ada yang percaya sama ucapan loe kalau orang yang kemaren mukuli Ivan adalah orang – orang suruhan gue. Lagi pula loe nggak punya bukti," kata Laura sambil mendorong tubuh Vio ke dinding."Huh," lagi – lagi Vio menghembuskan nafas kesel. Tak ingin terpancing emosi ia malah tersenyum anggun saat mendapati siluet seseorang yang ia kenal."Soal gue nggak punya bukti, loe salah. Waktu kejadian Ivan di hajar kemaren gue sempet mengabadikan beberapa momen nggak penting, tapi mungkin tidak untuk polisi yang pasti akan langsung melacaknya. So pasti mereka langsung bisa menemukan siapa dalang di sebaliknya. Dan kalau soal nggak percaya. Yups, gue mahasiswi baru disini. Jelas nggak akan percaya kalau gue yang ngomong kecuali kalau justru loe sendiri yang mengakuinya.""Loe bener – bener ngancam gue?" tanya Laura jelas terlihat marah."Bukan mengancam, hanya berusaha untuk melindungi diri sendiri. Buktinya gue nggak pernah tu bilang sama Ivan, Kalau dia bisa tau itu pasti karena ucapan loe sendiri?""Heh, menurut loe gue sebodoh itu akan memberitahukan apa yang gue lakukan itu kedia?""Karena loe nanya ke gue loe bodoh atau nggak, dan loe sendiri bilang kalau memberi tahu Ivan termasuk tindakan bodoh. Maka gue jawab, ya! Loe emang bodoh," Kata Vio tegas.Sebelum Laura sempat membalas, Vio sudah terlebih dahulu mengisaratkannya untuk berbalik. Dan begitu menoleh."Ivan?" tanya Laura kaget, bingung juga sedikit… takut?"Jadi para perman yang menghajar gue kemaren itu orang – orang suruhan loe?" tembak Ivan langsung.Glek.Laura hanya mampu menelan ludah. Mendadak serem saat mendapati tatapan tajam Ivan jelas terhunus padanya."Kenapa loe lakukan itu?" tanya Ivan lagi."Iya. Itu orang – orang suruhan gue. Yang sengaja gue bayar buat menghajar loe yang jelas – jelas sudah mencampakkan gue. Yang jadiin gue sebagai barang taruhan bodoh antara loe sama temen – temen loe. Yang udah mempermalukan gue di depan umum. Puas loe? Sekarang loe mau apa?" tantang Laura. Percuma ia menghindar, toh sudah tertangkap basah ini.Ivan terdiam. Vio juga masih terdiam. Matanya yang sipit tampak hanya berkedap – kedip menatap adegan drama satu babak menyambut hari pertama ia menginjakkan kaki sebagai mahasiswi baru di kampus itu."Loe…" tangan Ivan siap terangkat keudara sementara Laura langsung menutup matanya. Terkejut akan reaksi Ivan terhadapannya."Cuma cowok pengecut yang berani melakukan kekerasan fisik terhadap cewek."Mata Laura terbuka. Mendadak takjub menatap kearah Vio yang jelas – jelas sedang menahan tangan Ivan di udara. "Loe itu sebenernya belain gue apa dia si?" gumam Ivan frustasi sambil menarik kembali tangannya.Vio angkat bahu. "Gue nggak belain siapa – siapa. Toh nggak ada untungnya juga buat gue. Apapun masalah diantara kalian, itu jelas urusan kalian. Soal insident kemaren, Laura jelas punya alasan untuk melakukannya. Namun karena tindakan yang ia lakukan kemaren termasuk dalam tindakan kriminal. Makanya gue berusah untuk mencegahnya. Dan sekarang, loe yang marah sama dia. Terus berniat untuk melakukan kekerasan fisik juga, jelas aja gue tahan. Cukup Adil bukan?" terang Vio panjang lebar."So, sekarang. Silahkan lanjutkan urusan kalian. Dan sejak kecil gue sama sekali nggak pernah punya cita – cita buat jadi hakim atau apapun yang terkait dengan mendamaikan dan mencampuri urusan orang lain. Jadi gue pergi dulu."Selesai berkata Vio segera melongos pergi. Meninggalkan wajah – wajah yang melongo menatap tak percaya padanya. Bodo amat. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mefikirkannya lagi. Ia sudah terlanjur merasa kesel dan gondok hari pertamanya di kampus itu harus di warnai dengan aura permusuhan. Astaga, apa dosanya tuhan?."Hai".Vio menoleh saat merasakan pundaknya di tepuk dari belakang. Begitu menoleh ia yang saat itu sedang mengunyah bakso di dalam mulutnya kontan langsung tersedak."Uhuk uhuk uhuk.""Astaga… Sory sory sory," Kata Ivan sambil meraih air minum dan langsung menyodorkannya kearah Vio yang langsung di teguk habis. Sementara tangan Ivan sendiri tampak mengusap – usap punggung Vio."Loe, niat mau bunuh gue ya?" tuduh Vio langsung."Gue niat nyapa doank. Loe nya aja yang kagetnya lebay," balas Ivan sambil duduk di hadapan Vio tanpa permisi sama sekali.Vio tidak membalas. Tangannya sendiri meraih tisu, mengelap bibirnya yang basah. Matanya yang sipit makin menyipit saat melirik Ivan dengan tatapan mencibir."Oh ya, gue boleh ikutan gabung kan?" tanya Ivan mengalihkan pembicaraan."Kalau seandainya gue bilang enggak loe tetep duduk di situ kan?" Vio balik bertanya."Tentu saja," balas Ivan cepat membuat Vio lagi lagi mencibir kearahnya."Ngomong – ngomong kenapa si loe judes banget jadi cewek?" tanya Ivan.Sejenak Vio menarik nafas. Menghentikan aktifitasnya menikmati semangkuk bakso yang ada di hadapannya. Menatap lurus kearah Ivan yang berdasarkan kabar yang ia peroleh terkenal sebagai Playboy_cap kadal" menurutnya."Gue nggak judes kok," balas Vio, dan sebelum Ivan sempat membantah ia sudah terlebih dahulu menambahkan "Kecuali sama loe.""Kenapa?" "Ya sudah jelas. Karena loe itu Play_Boy," Sahut Vio penuh penekanan. Membuat Ivan kembali diam tak berkutik."Berbicara soal playboy. Loe duduk disini bukan buat merayu gue kan?" tanya Vio kembali melanjutkan aktifitasnya menikmati makanannya."Sebenernya emang itu niat gue," aku Ivan santai."Uhuk uhuk uhuk."Tak pelak ucapan Ivan barusan kontan membuat Vio kembali tesedak. Bahkan kali ini kondisinya lebih parah. Air yang ada di hadapanya sudah lenyap tak bersisa. Membuat Ivan dengan kalang kabut langsung bangkit berdiri. Dan beberapa saat kemdian muncul dengan sebotol air mineral di tangannya yang tampa permisi langsung di tengak oleh Vio.Begitu batuknya reda. Vio terdiam. Matanya menatap kearah mangkuk bakso yang ada di hadapannya yang hanya tersisa setengah. Mendadak merasa horor , makanan itu bisa saja membunuhnya.Dan begitu ia menoleh, matanya langsung bertatapan dengan wajah Ivan yang jelas jelas menatapannya khawatir. Vio lagi – lagi berfikir, kalau sosok yang ada di hadapannya tak kalah menyeramkan dari pada semangkuk bakso yang ada diatas meja. Kedua sama sama berpotensi untuk membunuh. Bukankah sosok itu adalah pernyebap kenapa memakan bakso itu menjadi berbahaya?"Gue nggak niat buat membunuh loe," Kata Ivan cepat saat mendapati mulut Vio akan terbuka."Gue cuma berniat buat jadiin loe itu pacar gue," sambung Ivan.Kali ini Vio melongo. Hei, apa itu artinya ia baru saja di tembak seseorang. Wah, ajaib. Baru sehari yang lalu ia memutuskan untuk pindah di kampus ini karena patah hati dan kali ini ia sudah di tembak sama seseorang yang tekenal dengan ke playboyannya. Astaga…Didorongnya mangkuk bakso itu sedikit kedepan. Ia benar – benar merasa trauma untuk mencicipi makanan tak berdosa itu. Di silangkannya kedua tangannya di atas meja. Menatap lurus kearah wajah Ivan."Pasti karena loe sedang bertaruh sama temen – temen loe kan?" tebak Vio ngasal.Kali ini Vio melongo untuk kedua kalinya saat tiada kata bantahan keluar dari mulut Ivan. Maksutnya itu bener? Ia adalah target taruhan Ivan selanjutnya?.Dan tanpa bisa di cegah tangannya langsung terangkat menjitak kepala Ivan. Membuat suara mengaduh keluar dari mulut pria tampan itu."Loe mikir apa si? Bisa – bisanya loe jadiin gue barang taruhan," geram Vio emosi."Ya bukan salah gue donk. Siapa suruh kemaren loe jadi orang pertama yang keluar dari ruangan dosen," kata Ivan membela diri."Maksut loe?" tanya Vio dengan kening berkerut."Iya kemaren itu gue memang di tantangin sama temen – temen gue buat menaklukkan hati siapapun yang pertama sekali keluar dari ruangan dosen. Dan ternyata orang itu elo."Vio terdiam. Mencoba mencerna penjelasan yang baru saja ia dengar. Sekarang ia mulai mengerti kenapa kemaren ia mendapatkan tatapan aneh dari Ivan dan ketiga temanya. Ternyata karena taruhan konyol itu. Tapi…"Tapi gimana kalau seandainya waktu itu orang yang pertama kali melewati pintu itu adalah dia?"Tatapan Ivan beralih mengikuti arah telunjuk Vio. Glek. Ia hanya mampu menelan ludah saat tau sosok yang di maksut adalah Pak Burhan."Ehem, Walau berat untuk mengakui. Sebenarnya sosok pertama yang melewati pintu itu memang dia," aku Ivan kecut.Vio melongo. "Kalau gitu loe harus macarin dia donk?""Tentu saja tidak," bantah Ivan cepat. Bahkan ia nyaris berteriak saat mengucapkannya."Maksut gue. Dia itu pengecualian. Gue masih normal mana mungkin gue mau memacari sesama cowok. Jadi peraturan di rubah kalau hanya yang berjenis kelamin cewek yang masuk hitungan.""Gue meragukan kalau loe normal. Secara mana ada manusia normal yang akan mempertaruhkan dosennya sendiri," cibir Vio sinis."Dan satu lagi, kalau dosen cowok bisa di jadikan pengecualian, harus nya gue juga donk," tambah Vio beberapa saat kemudian."Maksutnya?""Ya gue kan bukan dosen. Harusnya kalian itu hanya bertaruh untuk dosen yang melewati pintu itu. Sementara gue kan bukan.""Ah loe bener juga. Kenapa kita kemaren nggak kepikiran sampe kesitu?" kata Ivan mengangguk angguk membenarkan."Itu karena loe bodoh," geram Vio tak sabar.Ivan terdiam sambil menatap Vio kesel. Baru sehari ini ia kenal gadis itu kenapa begitu banyak tanggapan buruk yang ia dapatkan. Dan herannya kenapa ia tidak merasa marah. Benar – benar suatu hal yang harus ia pertanyakan."Jadi berapa nominal yang kalian pertaruhkan?"."Eh?" Ivan bingung. Gadis itu dengan mudah membelokan pembicaraan."Ehm… Sepuluh juta," balas Ivan lirih saat otaknya mampu menebak arah pertanyaan gadis itu."Apa?!" kali ini mata Vio yang sipit tampak membulat. Membuat Ivan berpikir gadis itu sama sekali tidak cocok untuk marah. Wajahnya sama sekali tidak terlihat menakutkan. Sepertinya raut imut sudah mendomain dalam wajahnya."Sepuluh juta?" ulang Vio tak percaya membuat Ivan menganguk tak bersemangat."Terus apa aturan mainnya?" tanya Vio lagi.Walau bingung juga ragu, namun tak urung Ivan menjawab "Gue harus berhasil macarin loe dalam kurun waktu kurang dari sebulan baru kemudian gue harus memutus loe di hadapan semua anak – anak."Asli kali ini Vio melongo. Tak tau bagaimana asalnya mendadak ia merasa menyesal. Menyesal kenapa dulu ia harus menyatakan cinta pada Harry. Menyesal kenapa ia ceroboh untuk pindah kampus segala. Dan yang terpenting ia menyesal kenapa tidak membiarkan para preman itu menghajar makluk di hadapannya itu habis – habisan kemaren."Bagus kalau begitu sekarang juga loe umumkan kalau kita saat ini pacaran. Dan besok siang, disini, loe bilang kita udah putus," kata Vio tiba – tiba. Membuat Ivan yang gantian melongo."Ha?"."Dan besok uang taruan itu bagi dua. Fivety fivety. Loe lima juta, gue lima juta," eambah Vio lagi."Leo serius?" tanya Ivan makin takjub."Dasar bodoh. Tentu saja bohong. Loe pikir gue cewek apa yang mau di jadikan taruhan begitu" Selesai berkata Vio langsung bangkit berdiri. Meninggalkan Ivan dengan rasa kesalnya. Kenapa Gadis itu suka sekali mengatainya bodoh? Kalau sampai ia bodoh beneran, apa dia mau bertanggung jawab?Next to Cerpen Take My Heart Part 04Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 07

    Halo All Reader. Berhubung penulis sedang belajar "ala Mellisa" yaitu selalu menilai sesuatu dari positifnya, Oke kali ini penulis mau manfaatin Galau. Maksutnya penulis lagi galau kuadrat, N than tu "galau" penulis salurkan kedalam bentuk Cerpen.So begini lah jadinya… Ha ha ha…Over All, Happy Reading yak… Part sebelumnya silahkan baca :- Cerpen terbaru take my heart part 6"Silvi, Entar Siang loe ada acara nggak?" Tanya Vio sambil mulai menikmati Mie Soo Pesanannya.Silvi tidak langsung menjawab. Angannya melayang mengingat agendanya hari ini. Sambil tersenyum ia balik bertanya."Kenapa?"."Nggak kenapa – napa si. Rencananya ntar siang gue pengen ngajak loe ke gramedia. Gue pengen nyari buku moslem millionaire Karya Ippho Santoso. Katanya udah muncul di Gramedia" Tambah Vio Menerangkan.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*