Cerpen Remaja Take My Heart ~ 19

Take My Heart _ Lanjutan dari part sebelumnya. Masih seputar Kisah Vio sama Si Ivan. Khusus part ini, Adminya beneran udah bingung sendiri. Udah bolak balik edit, ujung ujungnya tetep aja. Sinteron. Wukakakakkacau.
Tapi nggak papa deh. Dari pada nggak di lanjutin. Udah bingung juga soalnya ni cerpen mau di kemanain. Just info aja ya, Next part ending….

Take My Heart
Awalnya Vio memang masih merasa ragu. Ia masih tidak yakin apa yang ia lakukan itu benar. Bukankan beberapa waktu ini apa yang ia lakukan selalu terlihat salah. Mulai dari menyatakan cintanya pada herry (Baca cerpen sedih "Pupus"), keputusannya pindah kampus, meminta bantuan pada Ivan, Semuanya berakhir kacau. Dan sekarang ia malah harus berurusan sama Andra.
Tapi pada akhirnya ia memantapkan hatinya. Bukankah lebih baik menyesal karena telah melakukan dari pada tidak menyesal karena tidak melakukan. setidaknya ia sudah berusaha. Bener kan?.
Tepat setelah ia menutup pintu pagar kostannya, senyum Andra sudah menyambutnya. Membuatnya mau tak mau membalas senyuman itu.
"Siap untuk pergi bareng gue?" Tanya Andra santai yang hanya di balasa anggukan dan senyum manis di bibir Vio.
Tepat setelah motor Andra melewati gerbang kampus, seperti yang di duga. Pemandangan Ivan dengan pasangan baru segera menyambutnya. Keduanya tampak sedang duduk di bangku halaman depan sambil tertawa. Dan lewat kaca spion motor Andra, Vio jelas melihat kalau tawa itu lenyap seiring kemunculannya. Digantikan dengan pandangan yang terus mengikuti arah motornya menuju keparkiran.
"Ma kasih ya karena loe udah jemput gue hari ini. Jadi gue nggak perlu lagi berdesak desakan di dalam bus kayak biasanya" Ujar Vio sambil berjalan beriringan bersama Andra.
"Oh santai saja. Gue juga seneng kok karena loe mau bareng sama gue" Balas Andra tak kalah. Dengan santai keduanya berjalan melewati Ivan sambil terus berbicara akrab.
"Ntar siang, loe pulang tetep bareng gue kan?".
"Kalau loe nggak keberatan, ya gue malah ma kasih banget".
"Sekalian deh kalau gitu, ntar siang biar gue yang traktir loe makan gimana?".
"Ah loe beneran baik banget. Sekali lagi ma kasih ya. Sampai ketemu nanti" Balas Vio sebelum kemudian keduanya berpisah di persimpangan koridor kampus. Secara kelas mereka kan memang berlainan.
"Jelasin ke gue atas apa yang baru gue liat barusan?!".
Andra menoleh kaget. Tapi hanya untuk beberapa detik awalnya saja karena beberapa saat kemudian ia sudah bisa memasang tampang biasa. Tersenyum kearah Ivan yang kini sedang menanti jawaban darinya.
"Eh elo Van, kenapa?. Tumben sendiri. Pacar baru loe mana?" Andra balik bertanya.
"Kenapa loe bisa bareng sama Vio?" Tanya Ivan lagi. Mengabaikan pertanyaan Andra padanya.
"Vio?" Andra sedikit mengernyit. "O, itu. Kebetulan kita tadi emang bareng".
"Rumah loe dan kostan dia jelas berlawanan. Dari mana datangnya kebetulan" Sambung Ivan lagi.
Glek, untuk sedetik Andra merasa kalau ia diintimidasi. Tatapan tajam Ivan benar benar membuatnya merasa sedikit gugup. Oh, ayolah. Memangnya ada alasan ia harus merasa takut?.
"Gue, sengaja jemput dia tadi pagi. Abis jalan kemaren gue emang janji mau pergi bareng".
"Jalan?. Kemaren?" ulang Ivan lagi. "Maksut loe kemaren loe jalan bareng Vio?".
Kali ini Andra hanya membalas dengan anggukan.
"Kenapa?".
"Ekh?"
"Kenapa harus Vio?" Ivan menegaskan karena Andra jelas terlihat bingung.
"Memangnya kenapa kalau Vio?" Pancing Andra. "Loe nggak punya hubungan apa – apa sama dia kan?. Lagian juga gue liat, loe enjoy aja bareng cewek – cewek baru loe sekarang. So harusnya nggak ada masalah donk".
Ivan terdiam. Tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus kearah Andra. Sebelum kemudian mengangguk.
"Loe bener. Nggak ada urusannya sama gue".
Selesai berkata Ivan langsung melangkah mendahului Andra yang tampak hanya tersenyum akan reaksinya. Benar – benar seperti yang diduga.
Seperti yang di janjikan, Andra benar benar mentraktir Vio makan siang di kantin. Bahkan Silvi juga hanya mampu pasang tampang cengo melihatnya. Tapi Vio hanya angkat bahu. Bahkan kini ketiganya tampak duduk dalam satu meja. Menikmati makan siang bersama.
"Ehem, eh gue boleh nanya nggak?" Silvi membuka pembicaran.
"Loe kan tinggal ngomong kalau mau tau. Kenapa pake nanya lagi?" Vio yang menjawab.
Silvi melirik sekilas, kemudian mengalihkan tatapannya pada Andra yang duduk tepat di hadapannya. Setelah menghembuskan nafasnya sejenak mulutnya berujar "Kalian punya hubungan apa? Kok kayaknya ada yang beda?".
Vio tersenyum. Tanpa melihat ia tau kalau selang beberapa meja di depannya. Dimana Ivan tampak bersama kedua temannya juga sedang melirik kearahnya. Sepertinya mereka juga penasaran akan jawabannya.
"Lebih dari temen, kurang dari pacar" Jawab Andra mantab.
"Uhuk uhuk uhuk" Ivan tampak tersedak membuat dada nya terasa sesak. Walau ia tidak yakin rasa sesak itu benar benar karena ia tersedak barusan.
"Maksutnya?" Tanya Sivli lagi.
"Emp…Sebenernya sih baru PeDeKaTe ya. Tapi loe nggak keberatan kan kalau seandainya nanti diantara kita ada apa – apanya. Yah, beneran pacaran misalnya" Sambung Andra lagi membuat Silvi terdiam.
Drrrtttt…
Terdengar bunyi kursi yang di geser dengan keras. Sebelum Vio sempat menoleh tangannya kini sudah lebih dahulu di tarik. Ivan kini jelas berada disampingnya, mengengam tangannya dengan erat. Bahkan saking eratnya sampai sampai ia merasa sakit.
"Lepasin. Apa – apaan si" Geram Vio mencoba memberontak, tapi Ivan sama sekali tak bergeming.
"Elo yang apa – apaan" bentak Ivan balik, membuat seisi kantin menatap kearah mereka.
"Maksut loe?".
"Apa maksut loe deket deket sama Andra?".
"Memangnya kenapa dia nggak boleh deket – deket sama gue?" Andra angkat bicara.
Kali ini Ivan menaglihkan tatapannya kearah Andra. Mencibir sinis sambil berujar "Jangan bilang dia juga minta bantuan sama loe?".
"Bantuan?" Kening Andra berkerut bingung. Namun tak urung ia mengakui "Gue emang berniat bantuin dia. Terus kenapa?. Apa ada yang salah?".
"Heh" Lagi lagi Ivan mencibir . Melepaskan cengkeramannya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap lurus kearah Andra. "Kali ini dia minta bantuan apa?. Buat pura – pura jadi pacarnya?. Atau buat ngelupain mantannya?. Jangan – jangan malah cuma buat ngelabuin mata sahabatnya supaya dia nggak ketauan kalau sebenernya dia naksir sama calon gebetannya".
"Plaks".
Semua menoleh kaget. Tidak menyangka akan melihat pemandangan itu. Dimana dengan jelas Vio mengayunkan tangannya. Menampar tepat di pipi Ivan.
"Kali ini loe bener – bener keterlaluan" Gumam Vio lirih.
Ivan terdiam. Tangannya menyentuh pipinya yang terasa perih. Sepertinya Vio menggunakan segenap tenaga saat menamparnya. Dan saat ia melihat kearah Vio, ia langsung menyadari. Kalau sakit di pipinya tidak lebih menyakitkan dari hatinya sendiri saat melihat mata Vio yang tampak berkaca – kaca melihatnya. Rasa kecewa jelas tergambar di sana. Astaga, kenapa Ivan merasa kalau ia telah berbuat salah padanya?.
Tanpa ada kata lagi, Vio segera berlalu. Disusul oleh langkah Silvi yang masih belum mengerti sepenuhnya namun jelas menghawatirkannya. Belum sempat Ivan melakukan hal yang sama, Tangan Andra sudah terlebih dahulu menahanya.
"Jujur gue nggak ngerti maksut ucapan loe sebelumnya. Tapi yang jelas, loe salah. Melihat betapa kecewanya Vio tadi, sepertinya loe harus segera minta maaf sama dia".
"Minta maaf?. Kenapa gue harus minta maaf?" Ivan masih bertahan pada egonya.
"Untuk sepengetahuan loe, Vio nggak pernah minta bantuan gue. Justru gue yang berjanji buat bantuin dia. Tapi bukan buat seperti yang loe tuduhkan tadi. Gue bilang kalo gue bakal bantuin dia buat bukitin kalau sebenernya loe serius suka sama dia. Loe deketin cewek cewek itu cuma agar dia cemburu and ngakuin kalau sebenernya dia juga suka sama loe. Seharusnya semua berjalan seperti yang di rencanakan. Iya, seharusnya. Karena kenyataanya loe nggak suka Vio deket sama cowok lain. Bahkan deket sama gue sekalipun. Cuma sayangnya, melihat betapa marahnya Vio tadi, sepertinya waullahu'alam deh kalian bakal balikan lagi. Kecuali ada keajaiban. Dan keajaiban itu hanyalah fakta jika Vio juga suka sama loe".
Kalimat penjelasn dari Andra yang begitu panjang lebar kembali terasa sebagai tamparan buat Ivan. Membuatnya semakin menyesali dan merasa kalau sepertinya ia memang sudah keterlaluan. Maaf, bukan 'sepertinya'. Tapi ia, jelas sudah sangat keterlaluan. Tanpa kata ia segera berbalik. Berlari mengejar Vio yang sekarang entah kemana.
Di cut dulu yak. Phan katanya ep 20 baru end…. Huwaahahhahahha #ketawa imud.

Random Posts

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 12 | Cerpen Cinta

    Oke lah all, cerita berlanjut. Masih seputar tentang Ketika cinta harus memilih yang kini memasuki part 12. Ngomong ngomong kemaren pas gak ada ide buat nulis cerita iseng ngacak acak postingan di blog Star Night ini. Mendadak mikir sendiri, ini blog kumpulan cerpen apa kumpulan cerbung si? wukakakkaOOkelah, udah kebanyakan bacod kayaknya. Mending langsung baca aja yuk. And untuk yang belum baca part sebelumnya bisa di baca di Ketika cinta harus memilih part 11.Ketika Cinta Harus MemilihSepulang dari kampus Rangga tidak langsung menuju kerumahnya. Ia justru malah membelokan arah motornya kerumah Fadly. “Gue lagi galau nie sob. Hibur gue donk” Ujar Rangga yang kontan membuat Fadly langsung tergelak.“Nggak lucu tau ngga si. Gila loe, temen lagi menderita bukannya di bantuin eh malah di ketawain” geram Rangga yang diam – diam merasa menyesal menemui sahabatnya yang tadinya di pikir bisa sedikit membantu memberikan solusi.sebagian

  • Cerpen cinta “Dalam diam mencintaimu” End

    #EditVersion. Nah, ini adalah cerpen dalam diam mencintaimu bagian ending untuk versi editnya. Jalan cerita masih sama, secara adminnya kan cuma mau ngerapiin. Kalau masih ada yang ketinggalan bisa bantu ngoreksi juga nggak papa. Adminnya malah bilang ma kasih.Nah biar nyambung sama jalan ceritanya, bisa baca dulu bagian sebelumnya disini. Oke guys, happy reading.Dalam Diam Mencintaimu“Oh ya, kita mau kemana nie?” tanya Rey setelah Irma duduk dengan nyaman di belakang jok motornya.“Kemana aja deh. Yang penting hari ini kita seneng – seneng," balas Irma tanpa berpikir.“Gimana kalau kita nonton?” tanya Rey lagi.“Nonton itu enaknya kalau malam. Siang – siang gini mana seru," tolak Irma berserta alasannya.“E,… kalau ketaman hiburan gimana? Toh belum tutup juga. Masih ada sampe dua hari mendatang katanya," usul Rey lagi.Irma terdiam. Tiba – tiba ia jadi teringat acara jalan mereka yang gagal kemaren. Memang atas kebodohannya juga si. Tapi…“Jangan deh, di sana terlalu berisik. Loe kan tau gue abis sakit,” tolak Irma lagi. Membuat Rey terdiam sambil berpikir kemana tujuan mereka sekarang. Dan tau – tau motor mereka sudah terparkir di dekat kolam raja telaga bening. #adanya cuma di Selatpanjang lho. Kalau mau liad, ke sana aja. “Ya sudah kita duduk di sini aja,” ajak Rey sambil mengajak Irma duduk di bangku santai di bawah pohon beringin pas di pinggir kolam.Sejenak Irma menatap kesekeliling. Menikmati udara sore bersama seseorang yang di sukai di tempat sedamai ini sepertinya bukan sebuah ide yang buruk. Tanpa pikir panjang di darat kan pantatnya di bangku itu. Menghirup udara dalam dalam.“Irma, Maafin gue ya?”Refleks Irma menoleh. Menatap Rey yang duduk disampingnya.“Maaf? Memangnya loe punya salah apa sama gue?” tanya Irma heran.“Banyak…” ujar pria itu tanpa menoleh.“He?" kerutan di kening Irma semakin bertambah. Terlebih Rey juga sama sekali tidak menatapnya. Justru menunduk menatap kearah kolam. Memang si, dulu sepulang dari kursus di Widya Informatika Irma sangat suka memperhatikan ikan yang berseliweran kesana kemari di dalam kolam. Tapi kan, itu kesukaannya, bukan kesukaan Rey. Lagi pula ini kesannya kenapa justru seperti ikan ternyata lebih menarik ketimbang dirinya. -___________-“Misalnya?” tanya Irma karena Rey masih larut dalam lamunannya.“Gue lupa kalau loe hari ini ulang tahun."“O, soal itu,” Irma mengangguk – angguk paham “Tapi kan sekarang loe udah ingat. Ya udah lah, jangan di pikirin. Lagian ulang tahun gue kan belum berakhir itu artinya secara teknis loe nggak beneran lupa,” kata Irma sambil tersenyum.“Tapi gue nggak punya kado."“Bisa ngerayain bareng loe itu udah merupakan kado terindah bagi gue,” balas Irma lirih.“ya?” tanya Rey karena ucapan Irma terlalu lirih.“Nggak, maksud gue nggak usah terlalu di pikirin lagi,” ralat Irma cepat.“Gue juga mau minta maaf atas sikap gue beberapa hari ini,” sambung Rey masih dengan wajah menunduk.“Beberapa hari ini? Oh nggak papa. Gue bisa maklum,” balas Irma lagi. Tetap dengan senyuman di bibir.“Maklum?” ulang Rey dengan nada bertanya.Irma membalas dengan anggukan. Sejujurnya untuk saat ini ia sama sekali tidak ingin membahasnya karena ia menyadari kalau ujung – ujungnya hatinya pasti akan terasa sakit. Padahal tadi ia sudah memutuskan untuk bersenang – senang. Setidaknya sampai hari ini berakhir. Tapi melihat raut tanya di wajah Rey tak urung membuat mulut Irma kembali berujar.“Loe kan lagi deket saja Vhany jadi wajar saja kalau….”“Gue nggak deket sama dia,” potong Rey cepat.Irma menoleh, perasaannya saja atau nada ucapan Rey terdengar ketus.“Irma, apa gue boleh nanya sesuatu sama loe?” tanya Rey setelah beberapa saat keduanya sempat terdiam.“Sejak kapan loe mau nanya pake minta izin duluan?” balas Irma balik bertanya.“Kali ini gue serius."“Ehem,” Irma terdiam sejenak “Boleh, apa?” sambung Irma H2C.“Apa loe beneran berharap gue deket sama Vhany?”“Apa?” ulang Irma tak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.“Apa loe bahagia kalau melihat gue deket sama Vhany?” ulang Rey mempertegas.Irma kembali terdiam. Mencerna ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Rey. Bahagia? Astaga, sepertinya istilah ‘bunuh diri’ yang di ucapkan Fadly kemaren lebih tepat. Bagaimana mungkin ia bahagia jika harus kehilangan orang yang di sukai untuk bersama orang lain.“Bahagia?," ulang gadis itu dengan nada mengambang. "Mungkin tidak. Loe sahabat gue yang paling deket. Yang selama ini selalu bersama dan ngertiin gue. Jujur saja, gue nggak mau kehilangan sahabat terbaik seperti loe. Tapi, gue juga nggak bisa bersikap egois dengan menahan loe untuk terus disisi gue kan?” balas Irma panjang lebar. “Jadi itu artinya loe mendukung hubungan gue sama Vhany?" Rey mencoba menegaskan maksutnya.Irma terdiam. Dadanya terasa makin nyesek. Sepertinya harapan untuk menjadikan hari ini adalah hari yang menyenangkan untuknya gagal sudah.“Gue akan mendukung apapun keputusan loe."“Termasuk nggak mau lagi jadi sahabat loe?"“Apa?” tanya Irma kaget. Menoleh kearah Rey yang kini juga sedang menatapnya lurus.“Gue suka sama Vhany dan gue nggak mau lagi jadi sahabat loe. Karena gue mau pacaran sama dia. Jadi LOE GUE END! Kalau gitu selamat tinggal,” kata Rey tanpa basa basi sambil berlalu meninggalkan Irma sendirian.SepiHeningKemudian…End…Wkwkwkwk, Gimana Irma, puas loe? Emang gni kan yang seharusnya? Kisah mu memang menyedihkan #dihajar. He he he, tapi tunggu dulu. Aku gak sekejam itu kok. Kan aku udah bilang aku itu orangnya baik hati, tidak sombong , rajin menabung serta berbakti pada orang tua #Amin. Paragrap di atas kita ralat ya. Anggap aja gak ada. Abis kayaknya sifat jahil ku lagi kumat. ‘Peace’“Apa?” tanya Irma kaget. Menoleh kearah Rey yang kini juga sedang menatapnya lurus.Saat mendapati tiada kata yang keluar dari mulut Rey sebagai jawaban, Irma kembali mengalihkan tatapannya. Mengerjap – ngerjapkan mata yang tiba – tiba terasa panas. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak menangis. Dan itu benar – benar membutuhkan tenaga ekstra.“Apa loe tau kalau beberapa hari ini gue marah sama loe?” tanya Rey beberapa saat kemudian.“Gue memang merasa sikap loe sedikit berubah. Tapi….” Irma tidak mampu melanjutkan ucapannya. Tengorokannya benar – benar terasa tercegat. Tidak tau lagi apa yang harus ia katakan.“Gue suka sama loe,” kata Rey lirih. Berbanding balik dengan Irma yang justru terlihat kaget setengah hidup.“Dari dulu gue udah suka sama loe. Dan gue benar – benar merasa sangat kesal dan marah saat justru tau kalau loe malah terlihat berusaha menjodohkan gue sama sahabat loe. Kalau loe memang nggak suka sama gue oke, tapi nggak gini juga caranya,” sambung Rey lagi.Irma terpekur kaku. Ia tidak salah dengar kan. Atau mungkin ia sedang bermimpi sama seperti mimpinya tadi malam saat bertemu dengan pangeran Robert? Mustahil Rey menyukainya. Ia. Bener, Ini pasti hanya mimpi. Atau justru Rey hanya bercanda. Tapi, ini sama sekali tidak lucu.“Irma, kalau seandainya gue bilang gue mau persahabatan kita berakhir. Gue nggak mau lagi jadi sahabat loe, tapi gue berharap gue bisa jadi pacar loe. Apa tanggapan loe sekarang?” tanya Rey lagi.Mulut Irma terbuka. Tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari sana. Lidahnya tiba – tiba terasa kelu. Tanpa sadar air mata menetes dari wajahnya. Tentu saja itu bukan air mata duka. Malah sebaliknya. Ia menangis bahagia. Rey ternyata juga menyukainya. Ini benar – benar hal yang paling membahagiakan untuknya. Benar – benar kado terindah yang ia dapatkan di hari ulang tahunnya.Melihat air mata yang menetes di wajah Irma membuat hati Rey mencelos. Refleks tangannya terulur untuk menghapusnya. Menyadari hal itu sontak membuat Irma tersadar. Sengera di alihkan tatapannya yang entah sejak kapan ternyata sedari tadi menghadap kearah Rey. Dengan cepat di usapnya air mata dengan punggung tangannya. Sementara Rey sendiri terdiam terpaku. Merasakan penolakan dari sikap Irma barusan.“Gue….”Irma tak melanjutkan ucapnnya. Ia masih bingung dengan apa yang harus ia katakan selanjutnya.“Gue nggak berani berharap kalau loe juga punya rasa yang sama. Gue hanya ingin loe tau yang sebenarnya. Tapi gue mohon, walau loe tau hal ini please jangan menghindar ataupun benci sama gue. Gue nggak yakin gue siap kalau harus menjauh dari loe."“Kenapa?”“Apa?” tanya Rey bingung mendengar satu kata tanya yang keluar dari mulut Irma.“Kenapa loe baru ngomong sekarang?” Irma menghela nafas untuk sejenak. Tatapannya menerawang jauh. “Kenapa loe nggak ngomong dari dulu? Apa loe tau, membiarkan loe jalan bareng Vhany itu tindakan bunuh diri sebenernya."“Maksutnya?” tanya Rey lagi. Masih belum mengerti maksut dari ucapan sahabatnya itu.“Dasar bodoh. Apa loe tau kalau sebenernya selama ini gue juga suka sama loe?”“Ha?” kali ini Rey melongo. Terserah deh kalau wajahnya benar – benar terlihat seperti orang bodoh.Untuk sejenak Irma menarik nafas. Meyakinkan dirinya sendiri sebelum kemudian Menoleh kearah Rey yang kini sedang menatapnya dan berucap dengan nada tegas.“Rey, gue juga suka sama loe. Nggak, nggak. Maksut gue, gue Cinta sama loe."Untuk sejenak suasana hening. "Jadi loe juga suka sama gue?" ulang Rey lirih, yang mirip gumaman. Bukan saja untuk meyakinkan pendengarannya tapi juga hatinya. Ia hampir tidak percaya itu. Irma hanya menunduk malu.“Ehem. Oke, jadi mulai sekarang kita resmi pacaran kan?” tanya Rey menegaskan.Irma menoleh. Menatap kearah Rey yang kini menatapnya. Tatapan yang menenangkan. Tanpa sadar gadis itu mengangguk mantab.“Jatuh cinta sama sahabat….” gumam Rey lirih.“Ternyata bukan hal yang buruk,” sambung Irma melanjutkan ucapan Rey barusan. Kali ini senyuman bahagia benar – benar terlukis di wajah mereka.Nah, sekarang baru ending beneran…For Irma : Oma, Yang pentingkan HAPPY ENDING kan???!!!!!. Sekarang akuilah betapa baiknya diriku. Tidak seperti dirimu yang justru menciptakan cerpen ‘tragis’ untukku. Ha ha ha #Kabuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrr………..!!!!!!!!Oh iya lupa, mungkin ini terlalu cepet. Ehem sangat cepet malah. Tapi berhubung niat awalnya ini cerpen adalah kado ulang tahun untuk oma. Ku ucapkan duluan deh. Bukan kah lebih cepat itu lebih baik?.Selamat ulang tahun ya oma. Semoga panjang umur and sehat selalu. Detail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

  • Cerpen Perpisahan: HARI TERLARANG

    HARI TERLARANG Cerpen karya Dita PuspitasariKringgg kringgg kringgg bel sekolah berbunyi, tenda masuk sekolah. Raisa yang emang lAngganan kesiangan masih santai-santai berjalan mendekati gerbang sekolah diantar oleh kakaknya.“Udah masuk ya Sa?” tanya Isar, kakak Raisa“Iyaaaa, pokokknya ade gak mau tau! Kakak harus ngasih alasan ke guru yang ada di kelas ade. Biar ade bisa belajar”“Yaaaaaaaaa. Kasian banget ya, baru juga minggu kemarin MOS, udah dapet point gara-gara kesiangan”Sesampainya di kelas Raisa, Isar memberikan penjelasan secara detail kepada guru yang sedang mengajar di kelas Raisa. Syukurnya Raisa tidak mendapatkan point tambahan dari guru tersebut.Itulah kegiatan Raisa selama pagi hari. Bangun pukul 05.00 dan pergi ke sekolah pukul 06.30 diantar oleh kakaknya. Emang sih Raisa kesiangan gara-gara diantar oleh kakanya. Tapi mau gimana lagi? rumah Raisa sangat jauh dari sekolahnya. Jadi gak ada ojej gratis lagi selain kakaknya. Meskipun harus selalu telat kalau datang ke sekolah. Tapi meskipin Isar adalah penyebab utamanya Raisa kesiangan, Isar adalah sosok kakak yang sangat perhatian sama Raisa. Isar selalu membantu PR Raisa, ngebuatin makan kalau di rumah gak ada siapa-siapa. Baik deh pokokknya. Raisa sendiri adalah remaja perempuan yang cinta banget sama musik. Raisa bisa memainkan berbagai macam alat musik. Yang luar biasanya lagi Raisa belajar sendiri alat musik itu. Wajar aja sih karena ibu dan bapaknya juga cinta sama musik. Dibalik semua itu ada juga yang Raisa benci. Perpisahan. Satu kata yang sangat dibenci oleh Raisa. Ia tidak menginginkan hal itu.Saat pulang sekolah, Raisa kaget melihat kakanya mengemas barang di kamarnya. Hal yang memang tidak biasa Isar kerjakan, karena menurut Raisa kakakya itu paling tidak bisa jika disuruh beres-beres. Ternyata Isar harus pergi kuliah ke Australia besok pagi, dan menetap di Australi selama 3 tahun.Dari Raisa pulang sekolah sampai pukul 23.00, Raisa dan Isar menghabiskan waktu bersama. Apapun yang mereka lakukan pada hari itu akan menjadi kenangan yang akan Raisa ingat. Ibunda mereka tidak marah ketika mengetahui anak-anaknya terjaga kurang lebih 12 jam. Karena kapan lagi kedua anaknya itu dapat seperti itu. Tiga tahun yag akan datang Raisa sudah lulus SMA, dan akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Dan mungkin Isar sudah sibuk dengan pelamaran kerja atau mungkin Isar sudah kerja.***Pagi-pagi sekali Raisa bersiap untuk mengantar kakaknya ke bandara, sebenarnya Raisa tidak mau melihat kakaknya pada pagi hari itu, tapi karena ini adalah pertemuan terakhir Raisa dengan kakaknya yang akan pergi kuliah selama 3 tahun, terpaksa Raisa ikut. Di bandara Isar memberikan jam tangannya kepada adiknya.“Sa, simpen ini yaaa. Jangan kangen deh. Terus jangan cengeng yaa adikku sayang. Jam tangan ini berputar gak akan kerasa kok. Tau-tau kakak lo ini udah ada di Indonesia lagi dan bisa main sama adiknya lagi” ucap Isar di bandara. Raisa hanya bisa menerima jam tangan tersebut tanpa berkata apapun. Setelah pesawat terbang, Raisa pergi ke sekolah dengan mata yang masih bengkak.“Baru aja perpisahan di SMP, masa kakak gue udah ninggalin gue ke Australi?” ucap Raisa kepada teman sebangkunya.“Sa, setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan. Tenang aja, raga lo sama kakak lo emang pisah, tapi jiwa lo dan kakak lo gak akan pisah Saaa. Percaya deh sama gue” kata Riri.Dari situ Raisa baru menyadari banwa sebenarnya perpisahan itu bukan ajang untuk menangisi keadaan, melainkan ajang untuk melatih kedekatan batin. Menurut Raisa perpisahan itu sangat terlarang tapi tetap saja meninggalkan kesan yang sangat dalam.*** TAMAT ***Biodata PenulisNama : Dita PuspitasariAlamat rumah : Perum Sarijadi Blok 13 No 13 RW 08 RT 02 Kecamatan Sukasari, 40151 BandungTTL : Bandung, 30 Januari 1997No telefon : 085659366311Sekolah : SMPN 12 BandungKelas : 9cEmail : dita.puspitasari_12@yahoo.com (fb dan y!m) ditaeyang00@yahoo.co.id

  • Catatan Tentang Dia – Oleh Farhatul Aini

    Oleh : Farhatul Aini – Mengenal kamu itu sesuatu yang indah tak pernah berfikir akan melewati masa yang panjang, berliku dan rumit. Kebahagian dan kesakitan melengkapi cerita kita namun sesuatu yang masih ku kenang saat ini dan entah akan hilang dan tak berbekas sampai kapan, biarlah waktu yang berjalan akan menjawabnya.Kisah cinta ku ini memang harus berakhir, walaupun hati benar-benar menolaknya, tidak ingin merasakannya, sakit hati ini terasa letih akankah kau tau itu? Kevin kakasih yang aku sayang begitu tulus, mengakhiri hubungan kita tanpa alasan yang jelas, berkali-kali ingin aku menolak kenyataan ini, tapi ini adalah sebuah perjalanan hidup yang mungkin harus ku lalui, mencintainya membuat aku sering melupakan sakit yang dia perbuat, kebaikannya masih ku rasakan seperti dia adalah kekasihku yang dulu, namun keadaan selalu menyadarkanku bahwa dia bukan miliku lagi.Tidak semua kebaikannya selalu membuatku bahagia, saat dia sedang berbaik hati menemaniku saat aku kesepian, dia seringkali bercerita tentang kehidupan percintaannya yang ia jalani, sebelumnya aku tak pernah tau, sontak saat dia bercerita rasanya perasaan ini berantakan, tapi memang aku harus tau mungkin untuk menyadarkan aku melupakannya, tapi dihatiku benar-benar tak pernah ingin tau dan lebih baik tidak pernah tau, hal itu tak ingin pernah ku dengar, tapi aku hanya mencoba menjadi pendengar yang baik, apapun ceritanya walaupun menyakitkan buat hatiku. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang ada saat dia butuhkan, walaupun mungkin dia tidak pernah membutuhkan aku.Pernah di suatu hari, pertemuan kita memang tak sering seperti mungkin pacarnya yang lalu. Dan saat bertemu dia adalah moment yang spesial, hari ini adalah pertemuanku pertama dari semenjak kita tidak terikat oleh ikatan cinta, rasa canggung dan gugup menatapnya dirasakan olehku, berjalan di tempat keramayan sedikit membuat jantungku gemetar, bingung mau berkata apa ? akankah sikapnya masih seperti yang dulu perhatian dan lembut kepadaku ? akankah dia berubah menjadi seorang yang dingin terhadapku ?Waktu telah menjawab semuanya, dan semua baik-baik saja tak ada perubahan dari semua yang telah berjalan, kebaikan dan keramahannya masih sama seperti yang dulu.Aku bahagia dan lega saat semua berjalan seperti yang terfikirkan, dipertemukan dengannya kembali membuat aku berharap akan bisa membangun sebuah hubungan kembali dengannya, namun kebaikannya hanya sebuah kesalahan yang aku artikan, aku berharap dan menunggu sampai hari kencan itu selesai, dan mungkin kita memang tak bisa disatukan lagil, semakin aku menyadari bahwa aku telah kehilangannya.Tidak mudah melupakan sesorang, apalagi jika kita benar-benar tulus mencintainya.***facebook : Farhatul.aini@yahoo.comTwitter : @ainigonilblog : aini-gonilll.blogspot.comE-mail : ainibarnessa@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*