Cerpen Remaja Take My Heart ~ 11

Sempet males, tapi akhrinya nulis cerpen lagi juga. Padahal tadinya mau fokus di puisi ataupun artikel lain. Abis kadang suka bad mood si, udah jelas jelas padahal nulis itu cuma berdasarkan mood doank.
Tapi sudah lah, akhir kata happy reading aja. Untuk part sebelumnya silahkan baca :
-} Cerpen remaja Take My Heart ~ 10


Walau aku terluka, Tapi aku berjanji aku tidak akan pernah melukai.
Setelah mengunci pagar rumahnya, Vio mulai melangkah. Sejenak ia berhenti. Menoleh kesekeliling. Sebelah alisnya sedikit terangkat sementara mulutnya mengigit bibir bawah, kebiasaan yang ia lakukan saat mengamati sesuatu.
Tidak menemukan sosok yang di cari, Vio kembali melanjutkan tujuannya. Menuju kekampus.
Pertama sekali menginjakkan kaki di halaman kampus, pemandangan pertama yang ia dapat adalah sosok Ivan yang tampak berbicara akrab pada seseorang cewek yang entah siapa. Lagi – lagi kening Vio berkerut bingung dengan tatapn yang jelas tertuju kearah pasangan tersebut. Tanpa bisa di cegah sebuah senyuman sinis tersunging dibibirnya saat dengan jelas ia melihat tangan Ivan yang terulur, Menyelipkan anak rambut yang melambai di wajah sosok di hadapannya.
"Apa – apaan itu. Baru aja kemaren gue bilang buat bikin gue jatuh cinta, eh boro – boro. Ilfil si ia" Gerut Vio pada dirinya sendiri.
Mata Ivan sedikit melirik saat mendapati Vio yang berjalan melewatinya tampa menoleh sedikitpun. Entah Karena gadis itu tidak melihatnya, atau memang ia sama sekali tidak peduli. Yang jelas, baik yang pertama mau punyang kedua. Kemungkinan itu tetap memberikan efek yang sama bagi Ivan. Sama – sama menyebalkan, Karena itu artinya ia diabaikan. -,-
Dan saat Vio menghilang dari tingkungan Ivan langsung berpaling. Membuat sosok yang sedari tadi bercerita padanya menjadi bingung. Terlebih Ivan langsung meninggalkannya tanpa alasan.
"Ehem" Ivan sengaja berdehem sambil berusah mensejajarkan langkahnya bersama Vio.
Namun bukannya menoleh, Vio justru tampak mengangguk – anggukan kepalanya mengikuti irama musik dari headset yang memang bertenger di kedua telinganya. Membuat Ivan makin kesal . Tanpa bisa di cegah tangannya terulur, melepaskan salah satu headset itu. Membuat Vio langsung menoleh heran.
"Ivan?. Kenapa?" tanya Vio polos.
Bukannya menjawab Ivan justru malah memajukan mulutnya sebel, membuat Vio tak mampu menahan tawanya.
"Ha ha ha, Ah loe imut banget si kalau cemberut gitu. Mirip cewek" Komentar Vio membuat Ivan makin kesel.
"Nggak lucu" Sungutnya.
"Kenapa?" tanya Vio lagi setelah tawanya mereda.
"Kok loe tadi main nyelonong aja si?. Sama sekali nggak nyapa gue?" tanya Ivan langsung.
"He?" kening Vio berkerut tanda bingung, tapi bukannya menjelaskan Ivan justru hanya angkat bahu.
"Emang elo siapa gue?" tanya Vio terdengar menohok.
"Gue itu orang yang loe harapin bisa bikin loe jatuh cinta" Balas Ivan santai membuat Vio langsung menoleh.
"Dengan cara mengoda cewek lain?" Tanya Vio jelas meledek.
"Emangnya tadi loe nggak cemburu?" Ivan tampak penasaran.
Dan lagi lagi Vio tertawa.
"Ha ha ha. Loe ngelawak ya?. Eh, Kenapa gue harus cemburu. Jatuh cinta juga belom" Balas Vio di sela tawanya.
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Vio barusan kontan membuat Ivan terlihat sedikit salah tingkah. Tangannya segera ia masukan kedalam saku. Mendadak mati gaya.
"Kalau ternyata tadi itu loe ngoda cewek di hadapan gue dengan niat buat bikin gue cemburu, Denger ya. Itu sama sekali nggak berhasil. Gue jadi ilfil si ia. Lagian….".
"Lagian…?" kejar Ivan karena Vio tidak melanjutkan ucapannya. Justru gadis itu malah berdiri terpaku dengan tatapan tetap terjurus kedepan.
Sama sekali tiada reaksi dari Vio membuat Ivan memalingkan wajah. Mengikuti arah tatapan Vio. Ivan langsung mengangguk paham saat matanya menangkap hal yang telah menarik perhatian Vio. Terlebih saat mendapati Vio menghela nafas berat sambil mengerjapkan matanya.
Tak tau datangnya dari mana, Rasa kesel langsung mampir di hati Ivan. Bahkan rasa ini lebih mengesalkan dari pada saat Vio mengabaikannya tadi. Menyadari kalau Vio langsung berdiri terpaku saat mendapati pemandangan tak jauh darinya. Silvi dan Herry yang sepertinya baru muncul. Ditambah dengan perhatian Herry yang terlihat sedang membantu melepaskan Helm di kepala Silvi. Membuat Ivan langsung melangkah. Berdiri lurus tepat di depan Vio. Menghalangi gadis itu dari memandang pemandangan yang jelas menyakitkan baginya.
"Lagian gue bukan Herry" Pangkas Ivan lirih namun penuh penekanan.
Tatapan tajam Vio langsung terjurus pada Ivan. Apa maksut pria itu mengatakan kalimat barusan. Meledeknya?. Memangnya penderitaannya sebuah lelucon sehingga bisa di ledek sembarangan?.
"Tutup mulut loe".
"Apa yang gue bilang itu benerkan. Loe nggak cemburu saat melihat gue sama cewek lain, tapi loe langsung jadi patung bernyawa saat melihat perhatian Herry pada Silvi".
"Kalau ia terus kenapa?. Loe nggak harus memperjelasnya bukan?" Tantang Vio dengan tatapan terluka.
Membuat Ivan hanya mampu mengepalkan tangannya. Kesel, tapi ia tidak tau ia harus kesel pada siapa. Pada Vio yang terlihat rapuh atau pada dirinya yang tak mau mengerti.
"Vio, tunggu dulu" Tahan Ivan sambil meraih tangan Vio saat gadis itu berniat belalu meninggalkannya.
"Kenapa lagi?" Tanya Vio sambil menghempaskan tangannya. Membuat gengaman Ivan langsung terlepas.
"Maafin gue. Gue nggak bermaksut buat nyakitin loe" Pinta Ivan merasa bersalah.
"Loe nggak perlu minta maaf. Sebenernya omongan loe tadi ada benernya juga"Balas Vio membuat Ivan langsung menoleh bingung kearahnya.
"Justru gue yang mau minta maaf. Untuk hal yang minta kemaren, Gue pengen menarik kembali. Sepertinya gue juga sama sekali nggak butuh bantuan dari manusia kayak loe".
Selesai bekata Vio langsung melangkah. Meninggalkan Ivan dengan keterpakuannya.
Cerpen Remaja Take My Heart ~ 11
Setelah menutup buku dihadapannya, Sejenak Vio terdiam. Dihelanya nafas berat sebelum kemudian di hembuskan secara berlahan. Tangannya terangkat mengusap wajah dengan pikiran yang masih kusut.
"Loe kenapa?".
Refleks Vio menoleh. Mencoba tersenyum sambil mengeleng berlahan saat wajah cemas Silvi disampingnya.
"Loe lagi ada masalah ya?" Tanya Silvi lagi.
"Enggak kok" Sahut Vio berusaha meyakinkan.
"Tapi kenapa muka loe kusut gitu. Ditambah lagi sedari tadi gue perhatiin loe sama sekali nggak konsentrasi belajar. Malahan gue yakin banget kalau loe jelas melamun" Kejar Silvi membuat Vio bungkam.
"Apa ini ada hubungannya sama dia?".
Kali ini Vio menoleh. Menatap lurus kearah Silvi yang juga sedang menatapnya.
"Loe suka sama dia kan?".
"Apa?" Tanya Vio bingung atas pertanyaan yang berupa pernyataan yang barus saja keluar dari mulut Silvi.
"Astaga" keluh Silvi sambil memijit kepalanya yang mendadak merasa berdenyut nyeri. "Jujur aja gue nggak bisa percaya ini bisa terjadi, tapi kalau melihat loe sekarang. Sepertinya dugaan gue bener. Kalau loe suka sama dia. Iya kan?" Tambah Silvi penuh penekanan.
"Gue…".
Ucapan Vio mengantung dimulutnya. Bingung harus berkata apa. Rasa bersalah juga menghantui dirinya. Hei, bukannya dulu saat memutuskan untuk pindah kekampus ini ia sudah meyakinkan dirinya sendiri kalau ia telah melepaskan Herry. Harapannya untuk memiliki jelas pupus sudah. Tapi kenapa sebagian hatinya menolak dan masih merasa tidak rela. Bahkan sakit itu juga masih jelas terasa saat melihat kedekatan Herry pada gadis lain yang ternyata sahabatnya sendiri.
"Ayolah Vio, Dia itu playboy" Peringatan Silvi terlihat putus asa.
"Apa?".
Bukan hanya bingung, kali ini Vio juga kaget. Playboy?. Herry seorang playboy?. Nggak mungkin!.
"Iya. Bukannya loe sendiri tau sejak awal Dia itu seorang playboy. Bahkan jelas – jelas dia sendiri bilang kalau dia ndeketin loe itu cuma buat taruahan sama para sahabatnya. Karena itu jelas, Semua perhatianannya ke elo itu palsu. Loe nggak boleh jatuh cinta sama dia, karena elo pasti akan terluka".
Kali ini Vio terdiam. Mencoba mencerna kalimat yang ia dengar barusan.
"Tunggu dulu, maksut loe Ivan?".
"Siapa lagi?" Silvi balik bertanya.
"Ya ampun. Demi apa gue nggak akan pernah suka sama dia Silvi. Bahkan sampai dunia kebalik sekalipun, Gue nggak akan pernah jatuh cinta sama dia. Jadi elo, Jangan pernah sekali kali perpikir sampe kesana".
"Eh?" Kening Silvi sedikit berkerut bingung. "Jadi gue salah. Loe nggak suka sama ivan?".
"Tentu saja tidak" Balas Vio ketus.
"Kalau loe emang nggak jatuh cinta sama dia, terus kok tampang loe sekarang kayak orang yang lagi patah hati?" Tanya Selvi lagi.
"Apaan si, ngaco deh kalau ngomong" Ela Vio Cepat.
"Udah siang nie, kita pulang yuk" Sambung Vio lagi, memotong apapun kalimat yang akan keluar dari mulut Silvi. Bahkan Tangan Vio secara cekatan meraih tas nya sebelum kemudian bangkit berdiri. Bukti nyata kalau ia memang beneran berniat untuk pulang. Membuat Silvi mau tak mau mengikuti ulahnya. Setelah mengemasi semua barangnya, keduanya melangkah beriringan berlalu pulang.
To Be Continue…

Random Posts

  • Cerpen Persahabatan: RINDUKU KENANGANKU

    RINDUKU KENANGANKUoleh: Rica Okta YunarwetiCahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat hidupku lebih berarti. Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran. “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.* * *Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat. Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.“Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?“Aku mencarimu! Kata Diana“Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”“Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.“Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal DianaDengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya dunia di laut lepas. * * * Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan beristirahat.* * * Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.“Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku kan? Kejut Lintang“Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan sikap mereka itu.“Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_“Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..“Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)“Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)“Aku sakit apa? Mana ayah?”“Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”“Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”“Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”“Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”“Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”“Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”“Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"* * * Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.“Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran“Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”“Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran“Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”“Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”“Thengs.. siapa namamu?”“Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.(Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun segera menghampirinya.“Diana, kenapa kamu?”“Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”“Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”“Ii..ia bu.”“Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’“Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya parah.”“Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari“Ibu mau menjenguknya? ““Iya,, nggak apa-apa kan?”“I..ya. nggak masalah.” Semangat DianaIbu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.“Hai, belum pulang?" Sapa Diana“Hmmn. Belum Diana’“Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari“Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana“Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”“Ohh, namamu Lizy ya?”“Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”“Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”“Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit nih..” ajak Lizy“Hhhhaha….” Sambung Diana* * * Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.“Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy“Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil menunduk.Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya“Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”“Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”“Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana“a..ku, sakit Leukimia..”Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan dasinya..“Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian kecewa”“Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva“Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah semuanya membeku.“Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”“Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.“Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari“walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”Suasana berubah menjadi hening kembali..“Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)“Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik mencari uang.“Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang“Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”“ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku stabil”“Cepat sembuh, ya”……* * *Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.Malam ku sepi..Tak sanggup ku mengungkapkanAir mata membendung di kelopak mataku..Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya tersenyum. Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…Kamu_sahabat_TerbaikkuIa simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….3 hari kemudian…Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil bernyanyi.Waktu terasa semakin berlaluTinggalkan cerita tentang kitaAkan tiada lagi kini tawamuTuk hapuskan semua sepi di hatiTeringat di saat kita tertawa bersamaCeritakan semua tentang kitaAda cerita tentang aku dan diaDan kita bersama saat duu kalaAda cerita tentang masa yang indahSaat kitaberduka saat kita tertawaKetika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.“Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”“Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang melukis.”“waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”“Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.“Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus LintangDiana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.“Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana“Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang“Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana“Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”“Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy“Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva“Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha“hhuuhh…”Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.* * * Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual. Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, akhirnya ikut membantu juga.Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak semata wayang orang tuanya. Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.* * * Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.“Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)“Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana“Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas LizyBunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone, suara di seberang membawa berita buruk.Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.* * *“Tak sempat ku berikan Tak sempat ku sampaikan”_LiDiZyVa_ Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.Waktu terasa semakin berlaluTinggalkan cerita tentang kitaAkan tiada lagi kini tawamuTuk hapuskan semua sepi di hatiBelum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan membacanya seperti sedang lomba baca puisi.Sahabatku impiankuCita-citaku imajinasikuBukan hal yang salah memiliki mimpiBukan hal yang salah mempunyai tujuanTujuan seperti sinarKesana lah kita berlariDan untuk itulsh kita hidupTapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukanMembuat kita sulit melihatSehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhentiUntuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri“Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya. “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.“Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai” “Waahh..keren.!”Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.SELESAIKarya : Rica Okta YunarwetiAlamat Fb : Richa Oktaae-mail : icaotana@yahoo.co.id

  • Cerpen Cinta Remaja: MOVE ON!

    MOVE ON !Oleh: Lelie LianaKriiinggg “Halloo..“… “Hallo, bisa bicara dengan Jenny?”… “Hallo, ini Bobby, bisa bicara dengan Jenny?”… Klekkk! Tuttt tutt tutttPagi itu mendadak muka Jenny masam semasam-masamnya yang dia bisa. Dina aja sampe bingung ada apa gerangan.“Kenapa loe Jen?““Ga kenapa – kenapa““Yakin loe? Loe mandi kan pagi ini ?”“Apa – apaan sih loe Din? Ya iyalah gue mandi!““Ups sorry, abisnya muka loe kusut banget. Kenapa sih?“"Daripada loe ngurusin urusan gue mending loe urusin deh PR dari Pak Burhan.““Hah?? Emang ada PR ya?““Ada, halaman 204 bagian C dan D, essay semua tuh, 15 menit lagi masuk.“Jenny berjalan melenggang melewati Dina, sementara Dina langsung ngacir menuju kelas.Teetttt tettt tettttttt, bel masuk. Jenny yang pagi – pagi udah galau aja di kantin langsung menuju kelas. Di kelas dilihatnya muka Dina menekuk kesel.“Jen loe usil banget sih. Tega – teganya loe ngerjain gue. Dengan susah payah gue ngerjain tuh soal, untung si Budi bilang nggak ada PR, jahat loe!““Lagian loe suka banget ngabisin waktu loe buat urusin urusan orang lain.““Yaaa sorry, abisnya gue kesel aja liat muka loe. Pagi – pagi udah kusut banget persis orang seminggu ga mandi.““Gue lagi galau.““What?? Masih labil ya loe.“ Dina cengengesan.“Hellooo Din, wajar dong gue labil. Umur gue aja belom 20 tahun. Sepupu gue noh, udah 21 masih aja suka galau and labil. Loe jangan mojokin gue dong. Kayak loe ga pernah galau aja.““Iya iya, sorry. Sensitiv banget sih loe. Galau kenapa loe? Bobby lagi?”“Iya. Tadi pagi dia nelpon gue. Sulit Din buat lupain dia, meskipun dia udah ga satu tempat lagi sama gue, tetep aja gue masih sakit hati nginget dia. Denger suaranya aja bikin nyeri uloe hati gue Din.““Hmmm, kayaknya loe perloe ke psikolog deh Jen, masa loe masih beloem bisa loepain orang yang udah nyakitin loe, udah ninggalin loe, udah ga mikirin loe lagi, dan yang pastinya udah jauh banget dari loe. Ayolah Jen, itu udah setahun yang lalu, masa sih loe ga bisa lupain dia.““Din, loe ga ngerti karna loe ga di posisi gue. Coba kalo loe di posisi gue. Susah Din.““Hmmm, bukannya gue sok ngajarin sih Jen, tapi loe cantik, dan banyak yang suka sama loe, masa sih loe mau dan masih menyia – nyiakan waktu yang loe punya cuman buat orang yang hanya sepintas di hisup loe. Jen, dengerin gue ya, semua orang pasti pernah sakit hati, semua orang pasti pernah galau, tapi ga semua orang bisa mengatasinya Jen. Masa depan …”“Udah ah Din, gue ngomong sama loe juga kayanya percuma.““Ok Jen, maybe loe cuman butuh waktu.“ Dina balik lagi fokus ke bukunya, dan menghentikan bisik – bisik dengan Jenny. Sementara Jenny pura – pura dengerin Pak Burhan yang sejak jam pertama tadi sebenernya Jenny ga ngerti membahas tentang apa. Beruntung hari ini Dina dan Jenny duduk di kursi paling belakang, jadi kecil kemungkinan ketahuan Pak Burhan kalo mereka lagi ngobrol bisik – bisik.Kalo dipikir – pikir Dina bener banget ya. Masa gue mau galau terus. Tapi sulit banget buat ngelupain Bobby. Hmmm, ntar istirahat gue tanya Igha deh, kayaknya dia lebih tau.“Jen!!!!““Dina! Loe bisa nggak sih klo ga usah teriak – teriak gitu?““hehe, loe gue panggil daritadi ga nyahut““loh? Pak Burhan mana Din?““Bel istirahat udah daritadi nonaaaa, yok kantin yok, gue laper nih““ehhhmm, loe duluan aja deh, gue mau ke kelasnya Igha dulu““yakin loe? sekalian cuci tuh muka, kusut banget…““Iya iya! ngeselin banget loe“Dina melenggang, sementara Jenny langsung menuju ke kelasnya Igha.“Dina bener banget Jen, loe harusnya mulai ngebuka hati loe. Gue bingung, kerjaan loe setahun ini galau mulu, kapan loe move on nya? Ingat Jen bentar lagi kita ujian, lulus, kuliah, trus misah deh. Masa loe mau terus – terusan jomblo en galau, sementara banyak cowok cakep yang ngantri mau jadi pacar loe. Contoh tuh kak Andre udah cakep, pinter, lulusan terbaik lagi. Udah gitu pacaran sama cewek terpintar di angkatannya. Ayo dong Jen move on. Lagian elo ga bisa juga kan balikin Bobby buat jadi milik loe lagi. Gue saranin deh, buka kembali otak loe tuh, buang jauh – jauh Bobby. Lama – lama gue juga kesel denger tentang tuh cowok“ Igha bernasihat panjang lebar.Jenny terdiam. Sampai pelajaran berakhir, entah ada angin apa, kali ini dia udah ngerasa terbuka otaknya. Dina bener, dia ga mungkin terus – terusan menyesali dan menginginkan waktu kembali lagi. Begitu banyak, bahkan ribuan menit dan detik ia habiskan utnuk memikirkan Bobby yang bahkan Jenny pun ga pernah tau kabarnya lagi. Jenny juga udah bosan dengan semua kegalauannya. Jenny udah bosan bertahan dengan semua sakit hatinya. Lama – lama bisa tua dari umur gue kalo sedih terus. Igha dan Dina bener. Hidup gue masih panjang. Mungkin Bobby salah satu orang yang dititipkan sebentar untuk memberi warna di hidup gue. Gue harus berhenti.Malamnya Jenny membuang semua yang berhubungan dengan Bobby. Semua kontak dan barang – barang yang ingetin dia sama Bobby. Semua foto – foto dia sama Bobby, dia hapus permanent dari semua gadgetnya. Tak terkecuali semua foto print out yang tertempel di dinding kamarnya. SEMUA. Semua kenangan liburan di Bali, foto – foto pas ulang tahun Jenny Bobby kasih surprise, dan yang paling nyakitin, foto – foto Bobby bersama Jenny, Kak Andre, pacarnya kak Andre, Mamah, dan Papah. Semakin Jenny ngeliatin foto – foto itu semakin nyeri di hati Jenny. Dia sangat menyadari, bahkan sesadar – sadarnya. Bobby tetap tersimpan dihatinya, entah sampai kapan. Tapi semakin yakin juga Jenny bahwa semuanya ga akan kembali, seperti kata Dina, Jenny harus bisa mengatasi sakit hatinya.Setelah semua barang – barang itu terkunci rapat di peti, Jenny memasukkan peti tiu ke gudang. Jenny membuka laptopnya lagi, membuka semua catatannya selama setahun. Jenny membuka document baru, disana ia mengetik.“Jika aku menyayangimu, itu bukan sepenuhnya salahmu. Tapi itu salahku yang tak pernah mengerti bahwa waktu bisa merubah segalanya. Jika aku tetap menyayangimu, itu juga bukan sepenuhnya salahmu, itu hanya salahku yang tak bisa mengerti keadaan. Hanya saja, ternyata waktu kemudia mampu membuatku mengerti keadaan. Beribu waktu, menit, jam, bahkan tak terhitung hari kuhahabiskan pikiran dan sedihku untuk mencintaimu. Aku tak pernah berhenti, hanya saja aku beristirahat , mencoba lebih memahami waktu.“Even you are not be the part of me anymore, I am the lucky one that had have you in my life. I have to move on even my heart stil doesn’t understand what my mind’s sugestion. You are the colors of my life that gave me a pain part and beautiful part. Thats why I have to move on. Jenny turn off laptopnya, mencoba memejamkan mata. Berharap besok akan ada waktu untuknya menebus kembali waktu yang terbuang. *****Email : Leelieliana@yahoo.co.idTwitter : @lelielianaFb : Lelie LianaBaca juga cerpen karya Lelie Luana yang lain dalam Jarak dan Kita serta Damaiku Bersamamu, Flora.

  • Cerpen Kenangan Pahit di Putih Abu-Abu

    Kenangan Pahit di Putih Abu – AbuAdella Puspa Aprilia Ujian nasional telah berlalu seminggu yang lalu. Sementara itu Alifia terus menerus memandang bingkai foto yang di pegangnya sedari tadi. Di foto itu, tampak ia sedang tersenyum manis dan di sebelahnya ada .. Reza. Pacarnya saat ini, Reza satu sekolah dengan Alifia. Mereka sudah lama berpacaran. Sejak mereka kelas 10 dulu tepatnya.Rasa takut terus menghampiri Alifia. Ia takut ketika lulus nanti Reza memutuskan hubungan dengannya, atau kemungkinan lain yang mungkin bisa saja terjadi. Ia begitu menyayangi sosok Reza. Bahkan karnanya, Reza yang tadinya bernotaben anak nakal sekarang berubah menjadi anak yang lebih sopan dan lebih baik dari sebelumnya. Mereka berdua telah berjanji bila lulus nanti akan satu perguruan tinggi.Ringtone lagu Rihanna berjudul we found love berbunyi keras saat Alifia sedang asyik-asyiknya memandangi fotonya dan Reza. Di layar handphone tertulis REZA LOVE calling. Seketika itu wajah Alifia berubah menjadi wajah kebahagiaan."Halo?", sapa suara di seberang sana."Iya beb, ada apa?""Lagi apa kamu beb?""Lagi nyantai aja, kamunya?""Iya sama nih, ntar malem nonton yuk""Ayukk""Ntar aku jemput ya beb jam 7, dandan yang cantik. OK? Loveyou babe"KLIK! telfon dimatikan.Alifia tersenyum senang lalu berdiri, mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.30 menit kemudian …TAADAAAH!! Alifia tampak cantik mengenakan kaos pink di padukan dengan celana jeans 3/4 dan dibubuhi dengan sedikit lipgloss di bibirnya serta tatanan rambut dikucir buntut kuda. Perfecto!"Mamaaa gimana cocok gak?", Tanya Alifia"Cocok kok sayang, gaya nya anak muda dan sederhana banget. mama suka", Mama melihat anaknya kagum.TIN!! TIN!!Suara klakson motor Reza."Mama, aku berangkat dulu yaa", kata Alifia sambil mencium pipi Mamanya. Lalu segera beranjak dan pergi bersama Reza.Di perjalanan …"Za, kita mau nonton film apa sih?", tanya Alifia penasaran"Kita ga nonton film ko sayang, kita nonton pemandangan", jawab Reza datar."Hah?""Udah deh ntar kamu juga tau tempatnya"Setelah sampai .."Liat deh Vi, bagus kan pemandangan dari sini?" kata Reza sambil menggenggam lembut tangan Alifia."Iya Reza, terus kamu ngapain bawa aku ke sini?" tanya Alifia penasaran."Aku mau ngomong sesuatu ..""Apa?""Lulus SMA ini aku akan pindah ke Ausi Vi, karna Papa akan pindah kerja disana.."Hening."Vi..""Hem..""Kok diem?""Kamu mau ninggalin aku disini sendiri Za? kamu tega? hah! aku salah apa sih sama kamu! tega yaa kamu!" Alifia melepaskan genggaman Reza. Air matanya pecah menghujani pipinya. Perasaannya tak menentu kali ini."Bukan gitu Vi, aku sayang sama kamu. SELALU SAYANG KAMU! percaya sama aku please. Aku akan balik ke Indonesia setelah 5 tahun disana. Tunggu aku ya " Reza memeluk Alifia."Reza..""Iya sayang""I love you"Alifia merangkul leher Reza lalu mencium bibirnya lembut."Aku akan nunggu kamu Za. Entah itu 5 tahun 100 tahun bahkan 1000 tahun kamu akan aku tunggu"Reza tersenyum manis sekali, namun tidak semanis hati Alifia saat ini."Pulang yuk, udah malem""Yuk"Di tengah perjalanan..Alifia terus memeluk Reza. Ia tidak mau melepaskannya. Membuat konsentrasi Reza terganggu.TIIIINNNNNNNN!!!! BRAAAKKKKK!!Sebuah bus dari arah samping menabrak Alifia dan Reza. Mereka koma. Selama beberapa minggu lamanya.Sayang, nyawa Reza tidak tertolong. Ia mendahului Alifia yang sedang terbaring koma.Seminggu Kemudian …"Mmmhh" erangan kecil terdengar di telinga Mama Alifia."Alifia? Kamu udah sadar sayang? Dokterrr!!!" Panggil Mama.Dokter segera memeriksa keadaan Alifia."Bu, pasien sudah sadar saat ini, sejauh ini kami menemukan kemajuan pada pasien." kata dokter."Saya boleh masuk dok?" Tanya Mama."Silahkan"Mama masuk ruang rawat Alifia."Sayang, kamu udah sadar?""Reza mana ma? aku kangen dia. Aku mimpi Reza ninggalin aku. Itu ga bener kan?"Mama hanya menunduk sedih."Ma! jawab Reza manaa!! maaa!! jangan bilang kalo..""Reza udah ga ada Vi, dia meninggal""Gakkk!! gak mungkin!! Reza bilang dia ga bakal ninggalin aku!! Reza pasti bohong!! ga mungkinnnnn!!!!!!" Teriak Alifia. Cairan hangat ber air mengalir lembut di pipinya.*****Takkan pernah habis air matakuBila ku ingat tentang dirimuMungkin hanya kau yang tahuMengapa sampai saat ini ku masih sendiriAdakah disana kau rindu padakuMeski kita kini ada di dunia berbedaBila masih mungkin waktu berputarKan kutunggu dirimuBiarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sanaTenanglah diriku dalam kedamaianIngatlah cintaku kau tak terlihat lagiNamun cintamu abadi==============================================================PENULIS CERPEN : ADELLA PUSPA APRILIAFACEBOOK : Adella Puspa ApriliaTWITTER : @dellpussE-mail : dell_puss@yahoo.com==============================================================

  • CERPEN PENYESALAN CINTA

    PENYESALAN CINTAcerpen karya Nina YusufCinta ada karena terbiasa. Mungkin kata-kata itu yang paling tepat untukku. Namaku Nina, aku duduk di bangku XII SMA. Aku punya seorang tetangga cowok yang saat ini sedang kuliah tingkat 1, namanya Ade. Aku bertetanggaan sama dia sejak dari lahir. Boleh dibilang dia sudah seperti kakakku sendiri. Dia sangat perhatian padaku. Dia baik dan humoris. Aku sangat menyukainya. Awalnya rasa ini cuma sebatas rasa senang karena diperhatikan seperti seorang adik, tapi lama kelamaan rasa ini tumbuh menjadi benih-benih cinta di hatiku. Dulu waktu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku juga pernah suka sama dia. Ku pikir itu hanya dampak dari masa puber ku. dia suka menyanjungku, karena itulah aku sempat berpikir dia mencintaiku. maklumlah aku baru lepas dari masa anak-anak.Saat ini rasa itu kembali hadir. Aku kembali merindukannya. Entah dari mana awalnya, namun perlahan-lahan rindu itu semakin menyiksa. Saat dia kembali ke tempat kuliah, aku merasa sangat jauh darinya. Tapi saat dia di rumah, aku bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa padaku. Sebenarnya aku sudah mencoba tuk ngilangin perasaan ini. Aku tau, gak mungkin bagiku tuk bisa menjadi kekasihnya. Dia sudah menganggapku sama seperti adiknya, dan apa kata orang tua kami jika kami berpacaran. Aku malu sama perasaanku ini. Aku bingung harus bagaimana. Aku terus berusaha memendamnya.***Hari ini hari minggu. Saat yang tepat bagiku untuk bermalas-malasan. Seharian ini aku cuma duduk di depan tv. Saat sedang asyik-asyiknya nonton FTV, ponselku berdering. Ku raih dengan malasnya. Ku lihat ada 1 panggilan masuk dari nomor tak di kenal.“halo…”“ya halo.. Nina ya??”“iya, bener.. ne siapa??”“ne kakak, dek..”, jawab suara di seberang sana.“kakak siapa??”“kak Ade.. masa’ dek gak ngenalin suara kakak seh?? Ge apa sekarang dek??”Kak Ade?? Jantung ku hampir copot ketika dia nyebutin namanya. Aku gak percaya kalo yang nelfon ini kak Ade. “Aku mimpi gak yach??”, batinku. Ku cubit lenganku tuk mastiinnya. Owh, sakit. Ternyata aku gak mimpi.“lho dek, ditanya kok bengong??”“o..o..eee.. ma..maaf kak…”, aku tergagap.“hahaha… lucu dech.. o ya dah dulu ya dek, kapan-kapan kita sambung lagi. Kak ada keperluan. Bye..”“iya kak, bye..”Klik. Telfon teputus. Aku masih bengong. Gak percaya sama apa yang barusan terjadi. “kak Ade nelfon aku. Oh my God pertanda apa ini??” seru ku dalam hati.Itulah awal dari kedekatan kami. Sejak saat itu dia sering menelfon ku. Dia cerita pengalaman-pengalaman kuliahnya. Aku juga banyak curhat sama dia. Hatiku semakin berbunga-bunga. Aku semakin yakin mimpi ku akan jadi nyata.Dua bulan berlalu. Masa pedekate ku telah berakhir. Hari ini aku resmi menjadi pacarnya. Tadi malam, tepatnya malam minggu dia mengutarakan isi hatinya. Dia berjanji akan selalu ada untukku. Aku sangat bahagia. Ternyata cintaku gak bertepuk sebelah tangan.***Hari demi hari berlalu begitu cepat. Kurasakan cintanya kini telah memudar. Dia tak seperti pertama jadian dulu. Dia hanya menghubungiku di saat dia kesepian. Aku mencoba bertahan dengan semua ini. Aku yakin suatu saat dia pasti akan kembali seperti dulu.Semakin lama penantian ini, semakin hampa ku rasa. Dia tak kunjung berubah, bahkan dia semakin menjadi-jadi. Sekarang dia sering berbohong padaku. Dia gak pernah lagi menepati janji. Dia gak membutuhkan ku lagi. Aku sedih, luka di hati ini semakin dalam. Aku menjerit dalam hati “apa salahku, sehingga kamu bersikap begini padaku?? Tolong beri penjelasan tentang hubungan ini.” Aku gak kuat lagi. Ku coba menghubungi teman dekatnya yang juga temanku. Ku cari nomornya di ponsel. Langsung saat itu juga ku telfon dia.“halo.. kak Iwan..”“iya Na.. pa kabar?? Tumben nelfon kakak..”“kak, Na mau minta tolong. Na gak sanggup lagi sama sikap kak Ade. Tolong tanyain ma dia kejelasan tentang hubungan kami.”, “lho.. kok gak Nina sendiri yang tanya??”, katanya heran.“udah kak, tapi dia gak mau jawab. Dia cuma bilang lagi sibuk banyak tugas, jadi gak sempat hubungin Nina..”, jawab ku lirih.“ya udah gini aja, kalo kak sendiri yang nanyain, pasti Na gak bakalan percaya sama jawabannya. Kita sambung 3 neh telfon, tapi Na gak usah bicara, Na denger aja apa yang dia bilang. Satu lagi, apapun yang dia katakan Na gak boleh bersuara sedikit pun.. Biar kak yang telfon. Ok..”“ok kak..” telfon ku tutup.Gak lama setelah itu, kak Iwan pun nelfon. Setelah ku angkat, dia langsung nelfon pacarku. Awalnya mereka ngobrol seperti biasa. Kak Iwan sedikit berbasa-basi. Setelah beberapa menit kak Iwan langsung ke pokok permasalahan. Terdengar di seberang sana kak Ade agak kaget mendengarnya.“lo apain Nina?? Kok dia nangis-nangis ma gue??”“maksud lo?? Gue gak ngerti. Kenapa tiba-tiba lo bertanya kek gini??”“kemaren Nina nelfon gue, dia nangis. Dia bilang gak kuat lagi ma sikap lo. Lo seakan-akan gak butuh dia lagi..”“O… jadi dia ngadu sama lo?? Dasar tuch cewek, cengeng banget jadi orang. Gue gak apa-apain dia. Gue Cuma jenuh aja sama sikap dia yang kekanak-kanakan. Gue gak tahan sama cewek kek gitu. Gue bosen ma dia..!!”, nada suaranya meninggi.“kalo lo bosen ma dia dan pengen mutusin dia, lo bilang donk baik-baik. Bukan kek gini caranya. Gak ada hak lo nyakitin anak gadis orang..!!”“gue udah gak mood ngomong ma dia. Kalo lo care ma dia, lo aja yang ngasih tau dia. Gua gak butuh cewek kek gitu. Dan mulai sekarang gue gak bakalan ganggu dia lagi!!”Klik. telfon ku matiin. Tetes demi tetes air mata ini mulai berjatuhan. Aku gak tertarik mendengar ending dari percakapan ini. Aku udah bisa menebak akhir dari semua ini. Kesabaranku selama ini berbuah kesia-siaan. Penantianku selama 1,5 tahun ini gak berarti apa-apa. Dia tidak ingin berubah seperti dulu lagi, malah dia mencampakkan ku. Dia diam bukan untuk introspeksi diri, dia hanya memikirkan bagaimana caranya agar bisa putus dari ku. dia tega berbuat seperti ini padaku. Aku kecewa, aku menyesal telah menjadikan dia bagian dari hidup ku.*****by : Nina Yusuffacebook : ninayusuf22@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*