Cerpen Remaja Take My Heart ~ 11

Sempet males, tapi akhrinya nulis cerpen lagi juga. Padahal tadinya mau fokus di puisi ataupun artikel lain. Abis kadang suka bad mood si, udah jelas jelas padahal nulis itu cuma berdasarkan mood doank.
Tapi sudah lah, akhir kata happy reading aja. Untuk part sebelumnya silahkan baca :
-} Cerpen remaja Take My Heart ~ 10


Walau aku terluka, Tapi aku berjanji aku tidak akan pernah melukai.
Setelah mengunci pagar rumahnya, Vio mulai melangkah. Sejenak ia berhenti. Menoleh kesekeliling. Sebelah alisnya sedikit terangkat sementara mulutnya mengigit bibir bawah, kebiasaan yang ia lakukan saat mengamati sesuatu.
Tidak menemukan sosok yang di cari, Vio kembali melanjutkan tujuannya. Menuju kekampus.
Pertama sekali menginjakkan kaki di halaman kampus, pemandangan pertama yang ia dapat adalah sosok Ivan yang tampak berbicara akrab pada seseorang cewek yang entah siapa. Lagi – lagi kening Vio berkerut bingung dengan tatapn yang jelas tertuju kearah pasangan tersebut. Tanpa bisa di cegah sebuah senyuman sinis tersunging dibibirnya saat dengan jelas ia melihat tangan Ivan yang terulur, Menyelipkan anak rambut yang melambai di wajah sosok di hadapannya.
"Apa – apaan itu. Baru aja kemaren gue bilang buat bikin gue jatuh cinta, eh boro – boro. Ilfil si ia" Gerut Vio pada dirinya sendiri.
Mata Ivan sedikit melirik saat mendapati Vio yang berjalan melewatinya tampa menoleh sedikitpun. Entah Karena gadis itu tidak melihatnya, atau memang ia sama sekali tidak peduli. Yang jelas, baik yang pertama mau punyang kedua. Kemungkinan itu tetap memberikan efek yang sama bagi Ivan. Sama – sama menyebalkan, Karena itu artinya ia diabaikan. -,-
Dan saat Vio menghilang dari tingkungan Ivan langsung berpaling. Membuat sosok yang sedari tadi bercerita padanya menjadi bingung. Terlebih Ivan langsung meninggalkannya tanpa alasan.
"Ehem" Ivan sengaja berdehem sambil berusah mensejajarkan langkahnya bersama Vio.
Namun bukannya menoleh, Vio justru tampak mengangguk – anggukan kepalanya mengikuti irama musik dari headset yang memang bertenger di kedua telinganya. Membuat Ivan makin kesal . Tanpa bisa di cegah tangannya terulur, melepaskan salah satu headset itu. Membuat Vio langsung menoleh heran.
"Ivan?. Kenapa?" tanya Vio polos.
Bukannya menjawab Ivan justru malah memajukan mulutnya sebel, membuat Vio tak mampu menahan tawanya.
"Ha ha ha, Ah loe imut banget si kalau cemberut gitu. Mirip cewek" Komentar Vio membuat Ivan makin kesel.
"Nggak lucu" Sungutnya.
"Kenapa?" tanya Vio lagi setelah tawanya mereda.
"Kok loe tadi main nyelonong aja si?. Sama sekali nggak nyapa gue?" tanya Ivan langsung.
"He?" kening Vio berkerut tanda bingung, tapi bukannya menjelaskan Ivan justru hanya angkat bahu.
"Emang elo siapa gue?" tanya Vio terdengar menohok.
"Gue itu orang yang loe harapin bisa bikin loe jatuh cinta" Balas Ivan santai membuat Vio langsung menoleh.
"Dengan cara mengoda cewek lain?" Tanya Vio jelas meledek.
"Emangnya tadi loe nggak cemburu?" Ivan tampak penasaran.
Dan lagi lagi Vio tertawa.
"Ha ha ha. Loe ngelawak ya?. Eh, Kenapa gue harus cemburu. Jatuh cinta juga belom" Balas Vio di sela tawanya.
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Vio barusan kontan membuat Ivan terlihat sedikit salah tingkah. Tangannya segera ia masukan kedalam saku. Mendadak mati gaya.
"Kalau ternyata tadi itu loe ngoda cewek di hadapan gue dengan niat buat bikin gue cemburu, Denger ya. Itu sama sekali nggak berhasil. Gue jadi ilfil si ia. Lagian….".
"Lagian…?" kejar Ivan karena Vio tidak melanjutkan ucapannya. Justru gadis itu malah berdiri terpaku dengan tatapan tetap terjurus kedepan.
Sama sekali tiada reaksi dari Vio membuat Ivan memalingkan wajah. Mengikuti arah tatapan Vio. Ivan langsung mengangguk paham saat matanya menangkap hal yang telah menarik perhatian Vio. Terlebih saat mendapati Vio menghela nafas berat sambil mengerjapkan matanya.
Tak tau datangnya dari mana, Rasa kesel langsung mampir di hati Ivan. Bahkan rasa ini lebih mengesalkan dari pada saat Vio mengabaikannya tadi. Menyadari kalau Vio langsung berdiri terpaku saat mendapati pemandangan tak jauh darinya. Silvi dan Herry yang sepertinya baru muncul. Ditambah dengan perhatian Herry yang terlihat sedang membantu melepaskan Helm di kepala Silvi. Membuat Ivan langsung melangkah. Berdiri lurus tepat di depan Vio. Menghalangi gadis itu dari memandang pemandangan yang jelas menyakitkan baginya.
"Lagian gue bukan Herry" Pangkas Ivan lirih namun penuh penekanan.
Tatapan tajam Vio langsung terjurus pada Ivan. Apa maksut pria itu mengatakan kalimat barusan. Meledeknya?. Memangnya penderitaannya sebuah lelucon sehingga bisa di ledek sembarangan?.
"Tutup mulut loe".
"Apa yang gue bilang itu benerkan. Loe nggak cemburu saat melihat gue sama cewek lain, tapi loe langsung jadi patung bernyawa saat melihat perhatian Herry pada Silvi".
"Kalau ia terus kenapa?. Loe nggak harus memperjelasnya bukan?" Tantang Vio dengan tatapan terluka.
Membuat Ivan hanya mampu mengepalkan tangannya. Kesel, tapi ia tidak tau ia harus kesel pada siapa. Pada Vio yang terlihat rapuh atau pada dirinya yang tak mau mengerti.
"Vio, tunggu dulu" Tahan Ivan sambil meraih tangan Vio saat gadis itu berniat belalu meninggalkannya.
"Kenapa lagi?" Tanya Vio sambil menghempaskan tangannya. Membuat gengaman Ivan langsung terlepas.
"Maafin gue. Gue nggak bermaksut buat nyakitin loe" Pinta Ivan merasa bersalah.
"Loe nggak perlu minta maaf. Sebenernya omongan loe tadi ada benernya juga"Balas Vio membuat Ivan langsung menoleh bingung kearahnya.
"Justru gue yang mau minta maaf. Untuk hal yang minta kemaren, Gue pengen menarik kembali. Sepertinya gue juga sama sekali nggak butuh bantuan dari manusia kayak loe".
Selesai bekata Vio langsung melangkah. Meninggalkan Ivan dengan keterpakuannya.
Cerpen Remaja Take My Heart ~ 11
Setelah menutup buku dihadapannya, Sejenak Vio terdiam. Dihelanya nafas berat sebelum kemudian di hembuskan secara berlahan. Tangannya terangkat mengusap wajah dengan pikiran yang masih kusut.
"Loe kenapa?".
Refleks Vio menoleh. Mencoba tersenyum sambil mengeleng berlahan saat wajah cemas Silvi disampingnya.
"Loe lagi ada masalah ya?" Tanya Silvi lagi.
"Enggak kok" Sahut Vio berusaha meyakinkan.
"Tapi kenapa muka loe kusut gitu. Ditambah lagi sedari tadi gue perhatiin loe sama sekali nggak konsentrasi belajar. Malahan gue yakin banget kalau loe jelas melamun" Kejar Silvi membuat Vio bungkam.
"Apa ini ada hubungannya sama dia?".
Kali ini Vio menoleh. Menatap lurus kearah Silvi yang juga sedang menatapnya.
"Loe suka sama dia kan?".
"Apa?" Tanya Vio bingung atas pertanyaan yang berupa pernyataan yang barus saja keluar dari mulut Silvi.
"Astaga" keluh Silvi sambil memijit kepalanya yang mendadak merasa berdenyut nyeri. "Jujur aja gue nggak bisa percaya ini bisa terjadi, tapi kalau melihat loe sekarang. Sepertinya dugaan gue bener. Kalau loe suka sama dia. Iya kan?" Tambah Silvi penuh penekanan.
"Gue…".
Ucapan Vio mengantung dimulutnya. Bingung harus berkata apa. Rasa bersalah juga menghantui dirinya. Hei, bukannya dulu saat memutuskan untuk pindah kekampus ini ia sudah meyakinkan dirinya sendiri kalau ia telah melepaskan Herry. Harapannya untuk memiliki jelas pupus sudah. Tapi kenapa sebagian hatinya menolak dan masih merasa tidak rela. Bahkan sakit itu juga masih jelas terasa saat melihat kedekatan Herry pada gadis lain yang ternyata sahabatnya sendiri.
"Ayolah Vio, Dia itu playboy" Peringatan Silvi terlihat putus asa.
"Apa?".
Bukan hanya bingung, kali ini Vio juga kaget. Playboy?. Herry seorang playboy?. Nggak mungkin!.
"Iya. Bukannya loe sendiri tau sejak awal Dia itu seorang playboy. Bahkan jelas – jelas dia sendiri bilang kalau dia ndeketin loe itu cuma buat taruahan sama para sahabatnya. Karena itu jelas, Semua perhatianannya ke elo itu palsu. Loe nggak boleh jatuh cinta sama dia, karena elo pasti akan terluka".
Kali ini Vio terdiam. Mencoba mencerna kalimat yang ia dengar barusan.
"Tunggu dulu, maksut loe Ivan?".
"Siapa lagi?" Silvi balik bertanya.
"Ya ampun. Demi apa gue nggak akan pernah suka sama dia Silvi. Bahkan sampai dunia kebalik sekalipun, Gue nggak akan pernah jatuh cinta sama dia. Jadi elo, Jangan pernah sekali kali perpikir sampe kesana".
"Eh?" Kening Silvi sedikit berkerut bingung. "Jadi gue salah. Loe nggak suka sama ivan?".
"Tentu saja tidak" Balas Vio ketus.
"Kalau loe emang nggak jatuh cinta sama dia, terus kok tampang loe sekarang kayak orang yang lagi patah hati?" Tanya Selvi lagi.
"Apaan si, ngaco deh kalau ngomong" Ela Vio Cepat.
"Udah siang nie, kita pulang yuk" Sambung Vio lagi, memotong apapun kalimat yang akan keluar dari mulut Silvi. Bahkan Tangan Vio secara cekatan meraih tas nya sebelum kemudian bangkit berdiri. Bukti nyata kalau ia memang beneran berniat untuk pulang. Membuat Silvi mau tak mau mengikuti ulahnya. Setelah mengemasi semua barangnya, keduanya melangkah beriringan berlalu pulang.
To Be Continue…

Random Posts

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 01 {Update}

    Berhubung Cerita SMA Diary Diera adalah cerpen pertama yang di post di blog ‘Star Night’, maka Cerpen ini juga akan di jadikan cerpen pertama yang direhap ulang di blog ini. Kalau di pikir pikir sebenarnya ada hikmahnya juga insidet yang terjadi kemaren. Jadi admin punya kesempatan buat mengedit kembali tulisan admin sembari nunggu semangat nulis balik lagi. Okelah, berikut part pertamanya dari serial Diera Diary, yang tentu saja sudah lebih rapi di bandingkan versi sebelumnya. Buat yang mau baca lagi silahkan, buat yang enggak juga nggak papa. Yang jelas, Admin cuma berusaha untuk sedikit merapikan hasil karya seblumnya. Selamat membaca ya…Cerita SMA Diera Diary ~ 01 UpdateDiera menutup buku pelajaran yang baru saja di bacanya dan kembali menyimpan di antara tumpukan buku-buka yang ada di meja belajar. Perhatiannya ia alhikan kearah Hp yang tergeletak di samping. Segera di raihnya benda mungil tersebut, sambil rebahan di kasur di ia nyalakan mp3 dengan volume full untuk mendegarkan lagu-lagu kesukaannya.Ditariknya nafas dalam-dalam begitu pikirannya kembali melayang mengingat kejadian tadi siang di sekolah. Rasa kesel kali ini benar-benar memenuhi rongga hatinya. Bagaimana tidak, orang yang selama ini ia taksir alias di sukai diam-diam ternyata tidak lebih dari seorang yang sangat menyebalkan.Jadi ceritanya gini, saat itu ia baru saja selesai makan siang di kantin sekolah. Ia sebenarnya sudah siap-siap untuk langsung pergi tapi perhatiannya sudah terlebih dahulu teralih ke arah seseorang yang sedang berjalan masuk. Bukan hanya dia sih yang memperhatikan, tapi hampir seluruh penghuni kantin cewek menatap sosok tersebut sambil diam-diam membenahi dandanannya. Biasalah, CPCP alias curi pandang cari perhatian secara yang datang adalah Rian yang merupakan cowok yang menurut hampir seluruh siswi di sekolah termasuk dirinya, merupakan cowok paling cool. Bahkan jika Diera boleh jujur, ia sendiri sudah cukup lama naksir pada Rian. Terhitung sejak pertama sekali masuk sekolah. Hanya saja walau pun sekarng sudah hampir masuk tahun pelajaran terakhir, ia sama sekali belum pernah melakukan kontak sama Rian karena tu orang selalu saja di kelilingi cewek-cewek cantik yang berusaha menarik perhatiannya kebetulan mereka memang bukan rekan sekelas.Cerita berlanjut, kebetulan siang itu semua meja di kantin sudah penuh semua kecuali kursi yang ada di samping Diera karena teman-teman yang biasa bersamanya sedang mendapat kan 'hadiah' dari gurunya gara-gara kompak nggak bikin pr. Niatnya sih pengen seru – seruan, sayangnya nggak pilih pilih guru dan berakhirlah acara makan siang dengan tugas dihadapan.Berusaha memasang senyum paling manis, Diera berharap agar ‘pangeran’ itu berkenan untuk duduk disampingnya. Ntah mungkin karena memang malaikat lewat disampingnya sehingga doanya langsung terkabul atau memang itu hanya kebetulan saja, yang jelas Rian memang bener-benar berhenti tepat di hadapannya." Loe udah selesai makan ya?" tanya Rian kearahnya.Tak menyangka akan disapa duluan senyum Diera semakin mengembang. Dengan berlahan kepalanya mengangguk membenarkan. " Kok masih duduk di sini?" tanya Rian lagi.“Oh itu. Iya sih. Tapi nggak papa kok, lagian gue juga nggak keberatan kok kalau harus nemenin loe.”"Loe emang nggak. tapi gue yang keberatan soalnya selera makan gue bisa langsung hilang kalau di temenin cewek kayak loe.”Detik itu juga senyum di wajah Diera langsung lenyap tanpa. Cewek kayak loe? Maksutnya?"Mendingan loe buruan cabut deh sebelum selera makan gue beneran ilang" tambah Rian santai tanpa memperdulikan wajah shock gadis dihadapannya.Untuk beberapa saat Diera terdiam sebelum kemudian kesadarannya pulih. Tatapan tajam segera ia lemparkan kearah sosok dihadapannya. Tapi yang ditatap terlihat santai dan justru malah jelas jelas memasang tampang mengusir dirinya."Loe kok masih duduk sih. buruan, kaki gue udah pegel nih.”"Terus masalah buat gue,” balas Diera menantang.Mata Rian tampak berkedap – kedip. Seumur – umur baru kali ini ada cewek yang berani menantang dirinya. Dan lagi, Rian masih ingat kalau cewek yang berdiri dihadapannya beberapa saat yang lalu masih sempat memasang senyum cute di wajahnya."Kalau loe emang mau duduk ya duduk aja disana. Kalau loe emang nggk mau mendiangan loe cabut aja dari sini. nggak ngaurh jua ama gue" tambah Diera sambil gantian menlamabaikan tangannya tanda ngusir. Tanpa memperdulikan tatapam kesel Rian, Diera justru malah memesan es sirup rasa stroberi kepada pelayan yang ada di sana. Sambil menunggu pesanannya datang ia pura-pura asik membaca buku yang baru diamabil dari dalam tasnya. Namun, tanpa diduga buku tersebut langsung berpindah tangan."Mau loe apa sih?" tanya Rian." Justru mau loe yang apa. Pake ngambil buku gue segala. Balikin nggak !!!" bentak Diera sambil berusaha mengambil bukunya kembali yang justru malah diangakt lebih tinggi oleh Rian."Ih loe tu nyebelin banget sih,” gerut Diera setengah membentak.“Kadi loe mau buku loe balik?""ya ia lah. itu buku pr gue kali. Ntar mau di antar ke pak Ridwan. Jadi buruan balikin.”"Nih!" kata Rian sambil menyodorkan buku tersebut. Tapi sebelum Diera sempet meraihnya Rian sudah terlebih dahulu melepaskannya. Alhasil buku tersebut sukses mendarat di lantai."Elo….!" Tujuk Diera tepat di wajah Rian tapi tesangka masih hanya angkat bahu, membuat Diera semaikin sebel. Akhirnya dengan terpaksa Diera membungkuk untuk mengambil bukunya kembali. Diluar dugaan, pada saat yang sama air turun dari atas. Tepat menyiram kearah bukunya yang masih tergeletak dilanti."Ya Tuhan, buku gue…." "Ups… Sori. sengaja…" Diera mendongak, matanya menatap tak percaya kearah Andreani, teman sekelasnya yang kini berdiri tepat dihadapannya dengan sebuah botol minuman kosong ditangan. Bukti nyata kalau ia pelakunya."Elo apa-apaan sih,” bentak Diera tak mampu menahan diri."Itu akibatnya karena elo udah berani ganguin Rian," balas Andreani sambil mendoroang pundak Diera. Rian hanya menatapnya dengan kaget plus bingung dengan apa yang terjadi."HA!" Diera tampak bingung. Memang apa hubungannya?"Jadi mendingan sekarang juga loe buruan pergi deh. Atau loe mau tas loe mengalami nasib yang sama" tambah Angela sambil mengangakat botol aqua yang ada di tangannya tepat di atas tas Diera yang masih tergeletak di meja.Diera sebenernya ingin membalas tapi urung karena melihat sekeLillyngnnya. Kelima teman Andreani ada di sana. Jadi percuma juga ia melawan. Sudah pasti kalah lah dia. Dengan terpaksa di ambil tasnya dan segera berlalu dari hadapan mereka diikuti tatapan rian yang terus memperhatikannya sampai ia menghilang dari balik pintu kantin."Gimana Rian, sekarang udah nggak ada lagi yang nganguin loe kan? Jadi loe bisa makan dengan tengang," Angela tersenyum manis sambil menarikan kursi untuk Rian."Maksut kalian tadi apa sih?" tanya Rian tanpa memperdulikan perhatian Angela sama sekali."Memangnya kita kenapa?""Ya apa maksut kalian pake nyiram buku dia segala. Kasian tau.”“Ha ha ha, kasihan? Biarin sajalah. Itu emang pantes buat cewek kayak dia. Lagian ngapain sih loe mikirin Diera segala?""Diera? Siapa?" kening Rian tampak berkerut samar.“Ya cewek yang tadi lah. Udah deh, lupain aja. Mendingan sekarang loe duduk. Loe mau makan apaa? Biar sekalian gue pesenin buat loe" tawar Andreani lagi."Nggak usah. Gue udah nggak laper" balas Rian sambil pergi tanpa menoleh lagi."Huh…." Diera kembali menghembus kan nafas panjangnnya. Dilepasnya earphon dari terlinganya. Karena selain insiden yang terjadi di kantin tadi masih ada yang bikin ia tambah kesel yaitu ia terpaksa harus di hukum di luar kelas dan menyelesaikan kembali semua soal prnya karena ia tidak mengumpulkan tugas yang telah diberikan.Dengan berlahan ia bangit, diraihnya jam beker di meja, pukul sepuluh lewat seperempat. Akhirnya diputuskannya untuk tidur saja. Tidak lupa ia memasang alaram. karena besok ia masih harus datang pagi karena kebetulan besok ia mendapat giliran piket membersih kan kelas.Setelah beres, kembali di nyalakan mp3nya. Sambil rebahan di kasur ia mulai memjamkan matanya di iringi lagu D’bagindas, band Favoritnya. Bahkan buku hariannya penuh dengan lagu lagu tersebut yang akan mengantarnya ke alam mimpi. CintaBerapa kali… ku harus kata kan cintaBerapa lama… ku harus menunggu muDi ujung gelisah ini aku …Tak sedetik pun tak ingat kamuNamun dirimu masih begituAcuhkan ku tak mau tauluka luka luka yang ku rasakanbertubi tubi tubi engkau berikancinta ku bertepuk sebelah tangantapi aku balas senyum keindahaanbertahan satu cinta…bertahan satu c.i.n.t.a…bertahan satu cinta…Bertahan satu c.i.n.t.a….Cerita SMA Diera Diary ~ 01 Update“Gila, tu orang emang keren banget ya. Coba aja jadi cowok gue… u,,,, pasti gue seneng banget deh” kata Lilly pada teman-temannya sambil ngemil kripik singkong di taman.“DOR!!!” teriak Diera yang baru datang dari perpustakaan.“Eh dor pintu, doraemon” Lilly kumat latahnya.“Ha ha ha “ Diera malah tertawa dan segera mengambil kripik yang ada di tangan Lilly dan langsung memakannya.“Ih jahil banget sih loe. Bisa nggak sih sehari saja nggak ganguin gue!” bentak Lilly sambil merebut kembali kripik nya yang baru saja di rampok sahabatnya itu.“He he he…. Enggak!” balas Diera santai. “Abisnya ya kalau nggak ngerjain loe, kayak gimana gitu… ibarat sayur nie ya, nggak di kasih garam,. Hambar.”“Ia. Ngggak di kasih bawang, penyedap sama minyak sekalian” tambah Lilly sewot. Yang lain hanya tertawa mendengarnya.“Eh tapi lagi pada ngosipin apa sih. Kayak nya seru banget?” tanya Diera kemudian.“Siapa lagi kalau bukan tentang pangeran kita…. Rian ” sahut Narnia“Kita?…, kalian aja kali, gue nggak” ralat Diera lagi. “Masa sih? Yakin loe nggak naksir ma dia. Bukannya buku diary loe penuh nama dia ya. Gue udah baca lo…” ledek Hera sambil tertawa. Kontan Diera yang sedang mengunyah keripik di mulutnya langsung tersedak.“Ha?.. yang bener loe ra?” Lilly kaget. Hera mengangguk membenarkan.“Enggak kok. Hu,…. Ngasal aja loe kalo ngomong” bentak Diera malu. Teman-temannya yang lain lansung ikutan mengodanya.“Terus ra, emang dia nulis apa aja. Kok loe nggak cerita ma gue sih. Kapan loe bacanya,? Dimana?”Sebrondongan pertanyaan keluar dari mulut teman-temannya yang penasaran.“Ia. Waktu gue lagi jalan kerumahnya. Gue temuin di kamarnya dia. Loe mau tau gak apa aja yang di tulis….”Diera segera meraih kripik yang ada di tangan Anggun dan langsung memasukan semuanya ke dalam mulut Hera sebelum gadis itu sempat menyelesaikan ucapannya. Kontan Hera kaget.“ Ah, Gila ya loe. Mau bunuh gue?”“Ia, sekalian mau gue jadiin daging cincang,” geram Diera lagi.“Udah ra, loe lanjutin lagi,” kata Lilly yang sudah sangat penasaran sambil memegani Diera yang berusaha memberontak.“Awas loe. Berani ngomong sepatah kata aja beneran gue bunuh loe” ancam Diera yang kini sudah tidak berdaya karena bukan hanya Lilly yang memeganginya tapi juga Niken dan Anggun.“Ha ha ha…..” Hera malah ketawa sendiri melihatnya.“Udah cepetan ra, certain ma kita” desak Lilly tampak tak sabar.Hera memandang ke arah Diera yang terus memandangnya dengan tatapan memohon.“Kalian beneran mau tau?”“Ya ia lah. Makanya buruan cerita in. muter-muter mulu loe dari tadi.”“E, tapi sory ya. Mending kalian cari tau aja sendiri. Gue nggak mau berita gue di bunuh masuk ke Koran cuma gara gara ngebocorin rahasia sahabatnya. Jadi kalau emang kalian mau tau, cari tau aja ndiri. Palingan tu diary ada di dalam tas nya” terang Hera. Diera bersukur dalam hati. Rahasianya aman. Tapi beberapa saat kemudian ia memandang teman-temanya yang juga sedang menatap kearahnya. Jangan bilang kalau mereka…Benar saja dugaanya. Semuanya langsung berhamburan cepat-cepat sampai menuju kekelasnya. Untuk mengambil diary nya yang ada di dalam tas tentunya. Diera sudah berusaha mengeluarkan semua tenaganya untuk sampai duluan. Tapi tetap saja ia kalah cepat karena kini tas nya ada di tangan Anggun, sementara ia sendiri sudah tidak berdaya.“Pleasse donk. Kalian jangan jahat gitu deh ma gue” pintanya memohon pada Lilly yang masih memegangi tangannya.“Ah loe. Tenang aja. Lagian sejak kapan di antara kita semua pake ada rahasia-rahasiaan segala.”“Tuhan tolong gue….” pinta Diera dalam hati nya. Sementara itu teman-temannya sudah membongkar semua isi tasnya dengan sangat antusias, tapi…..Hasilnya nihil.Selain dari buku-buku tidak ada lagi benda berharga yang mereka cari. Rasa kecewa jelas tepancar dari wajah mereka. Sebaliknya Diera langsung merasa lega.“Yah kok nggak ada si….”“Sukurin. Abis kalian jahat sih ma gue,” kata Diera segera mengumpulkan kembali semua barang-barangnya yang berantakan di mejanya. Pada saat bersamaan bel tanda waktu istirahat selesai pun terdengar. Satu persatu dari teman-temannya masuk kekelas.Diera sedang konsentrasi mendengarkan penjelasan dari pak Agus tentang perkembang biakan pada mamalia. Sampai ada sesuatu yang mengusik ingatannya.“Tunggu dulu…. Kalau emang diary gue nggak ada di dalam tas. Terus sekarang di mana donk?” pertanyaan itu muncul dengan sendirinya yang membuatnya cemas. Bagaimana pun juga buku itu tidak boleh jatuh ke tangan orang lain.Diera mencoba mengingat-ingat kembali kapan terakhir ia benda itu ada di tangannya.Oh ya tadi malam, gue isi terus gue taruh dalam tas kemudian…. “ ia coba mengingat-ingat kemabali. “Tapi kalau emang gue taruh ke dalam tas kok nggak ada ya?” ia makin bingung and cemas.“YA TUHAN!!!” pekik nya sepontan sambil berdiri, kontan semua memandangnya karena kaget, apalagi saat itu pak Agus sedang menerang kan pelajarannya.“Diera ada apa?” tanya Pak Agus. Terlebih dilihatnya tampang Diera sudah pucat.“Loe kenapa, sakit?” tambah Lilly yang duduk di sampingnya merasa heran.“E… anu pak…nggak kok . E… cuma saya mau minta izin buat kekamar mandi sebentar” kata Diera gugup.Begitu keluar dari kelasnya Diera segera berlari ke perpustakaan kelasnya. Ia baru inggat kalau tadi sebelum ketaman ia ke perpus dulu untuk mengembalikan buku buku yang kemaren ia pinjam. Dan ia baru nyadar kalau waktu itu nggak sengaja diary ia juga ia bawa.Begitu sampai di perpus ia segera mencarinya ke tempat-tempat yang tadi ia datangi. Tapi walaupun ia sudah mondar-mandir ketempat-temapa tersebut hasil nya tetap nihil. Membuatnya semakin merasa panic.“Duh gue harus cari di mana lagi nih…?” gumamnya kebingungan. Ia sudah bertanya ke penjaga nya tapi tu orang bilang nggak tau. Dengan lemes Diera kemabli menuju kekelasnya.“Ra loe kenapa?” tanya Lilly saat mereka merapikan buku-bukunya karena udah waktunya pulang sementara temannya yang satu ini malah lemes begitu.“Loe beneran sakit. Kok pucet gitu muka nya?” sambung Anggun sambil menyentuh keningnya. Ia Heran karena tadi waktu istirahat Diera masih baik-baik aja.“Mati gue….”“Loe kenapa sih?” teman-temannya makin bingung.“Diary gue ilang.”“Ilang?” ulang Hera, Diera membalas dengan anggukan lemesnya.“Ha?! Kok bisa?”“Serius loe?”Diera menganguk bahkan ia sudah hampir menangis. Nggak kebayang gimana kalau sampi diary itu di baca sama orang-orang. Padahal isinya kan curhatan semua.“Coba deh loe inget-inget lagi. Palingan juga di rumah loe” Hera mencoba menenangkan.“Nggak. Gue itu inget banget. Tadi itu gue nggak sengaja ke bawa waktu ke perpus, trus waktu gue lagi milih-milih buku gue taruh gitu. Dan gue lupa ngambil lagi. Tadi juga udah gue cek, tapi nggak ada. Gimana donk."“Ya udah lah ra,… ayo kita temenin nyari lagi, kali aja keselip dimana gitu.”Akhirnya semuanya kembali ke perpus. Bahkan sampai perpus nya mau di tutup karena memang sudah waktunya pulang tuh diary masih juga nggak ketermu di mana wujudnya. Semuanya sepakat pulang dan akan kembali mencarinya besok.To Be Continue. Lanjut baca ke Cerita SMA Diera Diary ~ 02 untuk mengentahui kelanjutan ceritanya. ~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerpen Cinta: Bukan Cerita Biasa

    Bukan Cerita Biasaoleh Fahrial Jauvan TajwardhaniCinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta. ***Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.Begini ceritanya,Anatasha dan Reza, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.Meski Reza tau Anatasha tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan airmatanya manakala Anatasha memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 1 bulan lamanya menikmati dunia.Bukit berbunga, tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga, tempat yang penuh akan kenagan manis mereka.Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang. ***Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar Anastasha menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa. Tak sedikit air mata Reza yang tertumpah untuk Anatasha, manakala melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan. Tak kalah hebat cinta Anatasha untuk Reza, korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak terluka lagi dihatinya. Meski ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.T ak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di pipi. ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya berderai.“Kenapa Reza menangis.”“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.Reza hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Anastasha.“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.Airmata tulus mulai meleleh dari mata Anatasha. “Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.”“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.”“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?”“Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”Anatasha menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku menghilang.”“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.” “Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.”“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Anatasha mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat. Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.SELESAIProfil penulis:Nama Lengkap: Fahrial Jauvan TajwardhaniPanggilan : JauvanAgama : IslamJejaring sosial Facebook : Fahrial Jauvan TajwardhaniTwitter : @FahrialJauvan Cerpen lainnya: Izinkan Aku Hidup

  • Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05

    Berhubung belon ketemu sama yang namanya end cerita masih berlanjut ya man teman. Kali ini admin muncul dengan kelanjutan cerpen terbaru Si Ai En Ti E ~ 05. Wah, nggak terasa ya udah part 5 aja tapi ternyata masih belon masuk ke jalan cerita yang sebenernya (???) #gubrag.Okelah, biar adminnya nggak makin ngomong ngalor ngidul nggak jelas, mening kita langsung baca kelanjutan ceritanya aja yuks. And buat yang belum baca bagian sebelumnya bisa dilihat di sini.Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05Sepulang kuliah Acha sengaja tidak langsung pulang kerumah. Langkahnya ia belokan kearah kafe yang biasa ia kunjungi. Tapi kali ini bukan untuk makan ataupun duduk santai seperti biasanya. Justru ia datang untuk melamar pekerjaan. Karena berdasarkan dari info yang ia dapat dari salah satu temannya, kafe yang satu itu membutuhkan karyawan tambahan. Dan sukurlah ternyata itu benar.Bahkan ia sudah langsung bisa bekerja hari itu juga. Profesi sebagai kasir menjadi pilihannya.Jeli dan harus teliti menjadi hal utama yang ia punya untuk profesi yang di sandangnya saat ini. Terlebih pelangan kaffe tempatnya bekerja lumayan ramai pengunjung yang datang. Tak terasa hari sudah mulai malam. Barulah ia bisa pulang kerumah.Hari pertama yang lumayan melelahkan. Apalagi ini untuk pertama kalinya Acha mulai bekerja. Namun tak urung ia merasa senang. Paling tidak ia sudah bisa untuk mulai berusaha bersikap mandiri bukan?Setelah pamit pada teman sekerja juga bosnya Acha melangkah keluar dari kafe. Menuju kearah parkiran dimana motornya berada. Sekilas ia melirik kearah jam yang melingkar di tangannya. Pukul 09:30. Sudah cukup malam ternyata namun sepertinya jalanan masih ramai. Biasalah, namanya juga kota besar.Setelah duduk dengan pewe di atas jog motornya, Acha mulai mengendarai motornya secara berlahan. Belum juga sepertiga perjalanan, ia merasa ada yang aneh. Laju motornya terasa mulai berkurang sebelum kemudian benar – benar mogok di jalanan.“Ya ela, ni motor kenapa lagi?” gumam Acha sambil turun berlahan. Saat matanya melirik kearah kompas barulah ia menyadari apa yang terjadi. Ternyata ia lupa untuk mengisi benzinnya. Astaga…“Bensinnya abis lagi, masa gue harus ngedorong si?” gerut Acha kesel. Tapi tak tau harus merasa kesel pada siapa. Dan akhirnya dengan berat hati juga berat tenaga ia mulai melangkah sembari mendorong motornya.Malam sudah mulai larut, tiba – tiba ia merasa merinding. Hari memang tak sepenuhnya gelap, masih ada lampu jalan yang sedikit menerangi, namun kan tetap saja. Saat ini hari sudah malam. Dan ia seorang cewek, sendirian lagi. Tanpa bisa di cegah pikiran buruk mulai bermain di kepalanya. Membuat rasa takut di hatinya melonjak dua kali lipat.Walau sesekali ada beberapa mobil dan motor yang lewat. Tetap saja ia masih merasa takut. Bukan hanya pada hantu, ia juga takut gelap. Selain itu ia masih harus merasa takut pada perampok atau yang paling parah lagi pe…TeeeettttSuara klakson yang tiba – tiba terdengar nyaring tepat di belakangnya membuat Acha terlonjak kaget. Dengan segera kepala gadis itu menoleh kebelakang. Mulutnya sudah siap terbuka untuk memuntahkan sumpah serapah pada manusia kurang ajar yang berani – berani mengagetkannya. Namun sepertinya kalimat itu hanya terhenti sampai di kerongkongan ketika melihat siapa yang kini berada di belakangnya.Hantu? Oh tentu saja bukan. Walau ia percaya yang namanya hantu memang ada di dunia ini, namun Acha yakin kalau yang ada di belakangnya bukanlah makhluk dari alam berbeda darinya. Terlebih dengan helm dan motor dengan lampu yang tersorot padanya. Dugaannya sih langsung menebak kalau orang itu adalah orang jahat. “Motornya kenapa?” terdengar tanya yang terjurus kearahnya. Acha masih belum bisa melihat dengan jelas siapa pemilik suaranya. Terlebih dengan lampu yang tersorot padanya jelas membuat matanya merasa silau.“Loe siapa?” bukannya menjawab Acha justru malah balik bertanya sembari merasa was was.Orang itu tidak menjawab, justru ia malah mematikan motornya. Turun berlahan menghampiri Acha. Tangannya terangkat melepaskan helm di kepalanya sehingga Acha bisa melihat dengan jelas siapa yang kini berbicara kepadannya. Namun begitu, gadis itu tetap masih merasa cemas karena ternyata ia sama sekali tidak mengenali siapa pria itu.“Kelvin.”Satu kalimat diiringi tangan yang terulur kearahnya membuat Acha sejenak melongo. Maksutnya apa nih? Tu orang ngajak kenalan? “Kok loe diem aja. Nama loe siapa?” Kalimat selanjutnya segera menyadarkan Acha dari lamunannya. Matanya masih menatap curiga kearah sosok yang berdiri dihadapannya yang kini mengoyangkan tangannya. Menanti tangan Acha yang terulur untuk menyambutnya.“Loe ngajakin gue kenalan?” tanya Acha pada akhirnya. “Lah, kenapa heran. Bukannya tadi loe sendiri yang nanya siapa gue?” tanya sosok yang mengaku bernama Kelvin itu. Untuk sejenak Acha kembali terdiam. Ah, benar juga. Tadikan ia sendiri yang bertanya. Oo…“Acha,” sahut Acha akhirnya.“Acha, senang berkenalan denganmu,” sahut Kelvin sambil tersenyum yang mau tak mau membuat Acha ikut tersenyum. “Ngomong – ngomong, motor loe kenapa?” tanya Kelvin kemudian. Dengan nada bicaranya yang terdengar santai ditambah senyum samar diantara remangnya malam namun mampu membuat Acha sedikit demi sedikit mengilangkan syak wasangka di hati. Pendapatnya segera berubah, sepertinya Kelvin orang baik.“Tau nih, benzinnya abis deh kayanya,” jawab Acha kemudian. “Perlu gue bantuin?” tanya Kelvin terdngar tulus“Loe mau ngedorong motor gue?” Acha balik bertanya dengan nada heran.“Tentu saja tidak,” sahut Kelvin cepet, secepat Acha memajukan mulut saat mendengar jawabannya.“Oke, loe tunggu disini.”Tanpa menunggu kalimat balasan dari Acha, Kelvin segera berbalik kearah motornya sebelum kemudian melaju tanpa kata.Acha masih bingung, antara kembali melanjutkan motornya atau tetap berdiri disana. Menunggu seperti yang di instruksikan Kelvin padanya. Masalahnya ia tak tau apa yang harus ia tunggu. Lagipula Kelvin tidak pernah berkata bahwa ia akan kembali.Tepat saat Acha berniat untuk kembali mendorong motornya, Kelvin muncul dengan sebotol benzin ditangannya. Acha yang awalnya masih bingung berlahan mulai mengerti ketika Kelvin yang tampak mengoyangkan botol dihadapannya.“Ma kasih ya,” kata Acha terdengar tulus. Apalagi ketika menyadari kalau motornya sudah bisa kembali menyala normal. Kelvin hanya tersenyum sembari mengangguk.“Gue nggak tau gimana caranya gue bales kebaikan loe,” sambung Acha lagi. Dan jujur ia memang tidak tau. Lagi pula jarang jarang ada orang baik yang begitu kenal langsung mau bantuin.“Loe bisa traktir gue makan siang,” sahut Kelvin yang langsung membuat Acha menoleh sembari melotot kearahnya. “Kalau mau,” sambung Kelvin lagi. “Makan siang?” ulang Acha, Kelvin hanya mengangguk.“Nggak lebih mahal dari pada harga benzinnya kan?” tanya Acha lagi.Sejenak Kelvin terdiam. Kepalanya menoleh kearah Acha dengan kening sedikit berkerut. Dan kali ini pria itu sama sekali tidak mampu menahan tawa lepas dari bibirnya saat melihat ekspresi serius di wajah Acha.“Ada yang lucu?” tanya Acha polos ketika menyadari Kelvin masih berlum menghentikan tawanya.“Ehem” Kelvin tampak berdehem. “Harga benzin di tambah ongkos upah plus benzin gue yang di pake bolak balik juga, maka jawabannya ya. Gue yakin nggak akan lebih banyak dari itu.”Gantian Acha yang mengernyit sebelum kemudian ikutan tertawa. Ternyata pria itu mempunyai selera humor juga.“Baiklah, jadi kapan dan dimana gue harus ntraktir loe? Yah seperti yang loe liat sekarang udah malam. Gue harus pulang.”Kelvin lagi – lagi mengangguk. “Keffe delima jam 12 siang, besok. Gimana?”Acha tidak langsung menyetujuinya. Pikirnya terlebih dahulu melayang tentang agenda hari esok. Sepertinya itu bukan ide yang buruk. “Baiklah. Sampai bertemu besok siang.”Senyum Kelvin mengembang mendengarnya. Sebelum Acha benar benar berlalu mulutnya kembali terbuka untuk mengingatkan. “Pastikan loe besok datang.”Acha tidak menjawab, hanya kepalanya yang tampak mengangguk membenarkan sembari tangannya terangakat membentuk huruf ‘o’. Setelah itu barulah ia benar benar berlalu. To Be ContinueOke, sampe di sini kayaknya cukup deh tokoh tokohnya. Kalau kebanyakan entar susah buat 'nyikirin' nya lagi. Ha ha ha. Bener nggak. And semoga aja deh, penulisan kedepannya bisa lebih lancar dari sebelumnya. Amin..~ With love ~ Ana Merya~

  • Cerpen Kenangan Pahit di Putih Abu-Abu

    Kenangan Pahit di Putih Abu – AbuAdella Puspa Aprilia Ujian nasional telah berlalu seminggu yang lalu. Sementara itu Alifia terus menerus memandang bingkai foto yang di pegangnya sedari tadi. Di foto itu, tampak ia sedang tersenyum manis dan di sebelahnya ada .. Reza. Pacarnya saat ini, Reza satu sekolah dengan Alifia. Mereka sudah lama berpacaran. Sejak mereka kelas 10 dulu tepatnya.Rasa takut terus menghampiri Alifia. Ia takut ketika lulus nanti Reza memutuskan hubungan dengannya, atau kemungkinan lain yang mungkin bisa saja terjadi. Ia begitu menyayangi sosok Reza. Bahkan karnanya, Reza yang tadinya bernotaben anak nakal sekarang berubah menjadi anak yang lebih sopan dan lebih baik dari sebelumnya. Mereka berdua telah berjanji bila lulus nanti akan satu perguruan tinggi.Ringtone lagu Rihanna berjudul we found love berbunyi keras saat Alifia sedang asyik-asyiknya memandangi fotonya dan Reza. Di layar handphone tertulis REZA LOVE calling. Seketika itu wajah Alifia berubah menjadi wajah kebahagiaan."Halo?", sapa suara di seberang sana."Iya beb, ada apa?""Lagi apa kamu beb?""Lagi nyantai aja, kamunya?""Iya sama nih, ntar malem nonton yuk""Ayukk""Ntar aku jemput ya beb jam 7, dandan yang cantik. OK? Loveyou babe"KLIK! telfon dimatikan.Alifia tersenyum senang lalu berdiri, mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.30 menit kemudian …TAADAAAH!! Alifia tampak cantik mengenakan kaos pink di padukan dengan celana jeans 3/4 dan dibubuhi dengan sedikit lipgloss di bibirnya serta tatanan rambut dikucir buntut kuda. Perfecto!"Mamaaa gimana cocok gak?", Tanya Alifia"Cocok kok sayang, gaya nya anak muda dan sederhana banget. mama suka", Mama melihat anaknya kagum.TIN!! TIN!!Suara klakson motor Reza."Mama, aku berangkat dulu yaa", kata Alifia sambil mencium pipi Mamanya. Lalu segera beranjak dan pergi bersama Reza.Di perjalanan …"Za, kita mau nonton film apa sih?", tanya Alifia penasaran"Kita ga nonton film ko sayang, kita nonton pemandangan", jawab Reza datar."Hah?""Udah deh ntar kamu juga tau tempatnya"Setelah sampai .."Liat deh Vi, bagus kan pemandangan dari sini?" kata Reza sambil menggenggam lembut tangan Alifia."Iya Reza, terus kamu ngapain bawa aku ke sini?" tanya Alifia penasaran."Aku mau ngomong sesuatu ..""Apa?""Lulus SMA ini aku akan pindah ke Ausi Vi, karna Papa akan pindah kerja disana.."Hening."Vi..""Hem..""Kok diem?""Kamu mau ninggalin aku disini sendiri Za? kamu tega? hah! aku salah apa sih sama kamu! tega yaa kamu!" Alifia melepaskan genggaman Reza. Air matanya pecah menghujani pipinya. Perasaannya tak menentu kali ini."Bukan gitu Vi, aku sayang sama kamu. SELALU SAYANG KAMU! percaya sama aku please. Aku akan balik ke Indonesia setelah 5 tahun disana. Tunggu aku ya " Reza memeluk Alifia."Reza..""Iya sayang""I love you"Alifia merangkul leher Reza lalu mencium bibirnya lembut."Aku akan nunggu kamu Za. Entah itu 5 tahun 100 tahun bahkan 1000 tahun kamu akan aku tunggu"Reza tersenyum manis sekali, namun tidak semanis hati Alifia saat ini."Pulang yuk, udah malem""Yuk"Di tengah perjalanan..Alifia terus memeluk Reza. Ia tidak mau melepaskannya. Membuat konsentrasi Reza terganggu.TIIIINNNNNNNN!!!! BRAAAKKKKK!!Sebuah bus dari arah samping menabrak Alifia dan Reza. Mereka koma. Selama beberapa minggu lamanya.Sayang, nyawa Reza tidak tertolong. Ia mendahului Alifia yang sedang terbaring koma.Seminggu Kemudian …"Mmmhh" erangan kecil terdengar di telinga Mama Alifia."Alifia? Kamu udah sadar sayang? Dokterrr!!!" Panggil Mama.Dokter segera memeriksa keadaan Alifia."Bu, pasien sudah sadar saat ini, sejauh ini kami menemukan kemajuan pada pasien." kata dokter."Saya boleh masuk dok?" Tanya Mama."Silahkan"Mama masuk ruang rawat Alifia."Sayang, kamu udah sadar?""Reza mana ma? aku kangen dia. Aku mimpi Reza ninggalin aku. Itu ga bener kan?"Mama hanya menunduk sedih."Ma! jawab Reza manaa!! maaa!! jangan bilang kalo..""Reza udah ga ada Vi, dia meninggal""Gakkk!! gak mungkin!! Reza bilang dia ga bakal ninggalin aku!! Reza pasti bohong!! ga mungkinnnnn!!!!!!" Teriak Alifia. Cairan hangat ber air mengalir lembut di pipinya.*****Takkan pernah habis air matakuBila ku ingat tentang dirimuMungkin hanya kau yang tahuMengapa sampai saat ini ku masih sendiriAdakah disana kau rindu padakuMeski kita kini ada di dunia berbedaBila masih mungkin waktu berputarKan kutunggu dirimuBiarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sanaTenanglah diriku dalam kedamaianIngatlah cintaku kau tak terlihat lagiNamun cintamu abadi==============================================================PENULIS CERPEN : ADELLA PUSPA APRILIAFACEBOOK : Adella Puspa ApriliaTWITTER : @dellpussE-mail : dell_puss@yahoo.com==============================================================

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*