Cerpen Remaja Take My Heart ~ 11

Sempet males, tapi akhrinya nulis cerpen lagi juga. Padahal tadinya mau fokus di puisi ataupun artikel lain. Abis kadang suka bad mood si, udah jelas jelas padahal nulis itu cuma berdasarkan mood doank.
Tapi sudah lah, akhir kata happy reading aja. Untuk part sebelumnya silahkan baca :
-} Cerpen remaja Take My Heart ~ 10


Walau aku terluka, Tapi aku berjanji aku tidak akan pernah melukai.
Setelah mengunci pagar rumahnya, Vio mulai melangkah. Sejenak ia berhenti. Menoleh kesekeliling. Sebelah alisnya sedikit terangkat sementara mulutnya mengigit bibir bawah, kebiasaan yang ia lakukan saat mengamati sesuatu.
Tidak menemukan sosok yang di cari, Vio kembali melanjutkan tujuannya. Menuju kekampus.
Pertama sekali menginjakkan kaki di halaman kampus, pemandangan pertama yang ia dapat adalah sosok Ivan yang tampak berbicara akrab pada seseorang cewek yang entah siapa. Lagi – lagi kening Vio berkerut bingung dengan tatapn yang jelas tertuju kearah pasangan tersebut. Tanpa bisa di cegah sebuah senyuman sinis tersunging dibibirnya saat dengan jelas ia melihat tangan Ivan yang terulur, Menyelipkan anak rambut yang melambai di wajah sosok di hadapannya.
"Apa – apaan itu. Baru aja kemaren gue bilang buat bikin gue jatuh cinta, eh boro – boro. Ilfil si ia" Gerut Vio pada dirinya sendiri.
Mata Ivan sedikit melirik saat mendapati Vio yang berjalan melewatinya tampa menoleh sedikitpun. Entah Karena gadis itu tidak melihatnya, atau memang ia sama sekali tidak peduli. Yang jelas, baik yang pertama mau punyang kedua. Kemungkinan itu tetap memberikan efek yang sama bagi Ivan. Sama – sama menyebalkan, Karena itu artinya ia diabaikan. -,-
Dan saat Vio menghilang dari tingkungan Ivan langsung berpaling. Membuat sosok yang sedari tadi bercerita padanya menjadi bingung. Terlebih Ivan langsung meninggalkannya tanpa alasan.
"Ehem" Ivan sengaja berdehem sambil berusah mensejajarkan langkahnya bersama Vio.
Namun bukannya menoleh, Vio justru tampak mengangguk – anggukan kepalanya mengikuti irama musik dari headset yang memang bertenger di kedua telinganya. Membuat Ivan makin kesal . Tanpa bisa di cegah tangannya terulur, melepaskan salah satu headset itu. Membuat Vio langsung menoleh heran.
"Ivan?. Kenapa?" tanya Vio polos.
Bukannya menjawab Ivan justru malah memajukan mulutnya sebel, membuat Vio tak mampu menahan tawanya.
"Ha ha ha, Ah loe imut banget si kalau cemberut gitu. Mirip cewek" Komentar Vio membuat Ivan makin kesel.
"Nggak lucu" Sungutnya.
"Kenapa?" tanya Vio lagi setelah tawanya mereda.
"Kok loe tadi main nyelonong aja si?. Sama sekali nggak nyapa gue?" tanya Ivan langsung.
"He?" kening Vio berkerut tanda bingung, tapi bukannya menjelaskan Ivan justru hanya angkat bahu.
"Emang elo siapa gue?" tanya Vio terdengar menohok.
"Gue itu orang yang loe harapin bisa bikin loe jatuh cinta" Balas Ivan santai membuat Vio langsung menoleh.
"Dengan cara mengoda cewek lain?" Tanya Vio jelas meledek.
"Emangnya tadi loe nggak cemburu?" Ivan tampak penasaran.
Dan lagi lagi Vio tertawa.
"Ha ha ha. Loe ngelawak ya?. Eh, Kenapa gue harus cemburu. Jatuh cinta juga belom" Balas Vio di sela tawanya.
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Vio barusan kontan membuat Ivan terlihat sedikit salah tingkah. Tangannya segera ia masukan kedalam saku. Mendadak mati gaya.
"Kalau ternyata tadi itu loe ngoda cewek di hadapan gue dengan niat buat bikin gue cemburu, Denger ya. Itu sama sekali nggak berhasil. Gue jadi ilfil si ia. Lagian….".
"Lagian…?" kejar Ivan karena Vio tidak melanjutkan ucapannya. Justru gadis itu malah berdiri terpaku dengan tatapan tetap terjurus kedepan.
Sama sekali tiada reaksi dari Vio membuat Ivan memalingkan wajah. Mengikuti arah tatapan Vio. Ivan langsung mengangguk paham saat matanya menangkap hal yang telah menarik perhatian Vio. Terlebih saat mendapati Vio menghela nafas berat sambil mengerjapkan matanya.
Tak tau datangnya dari mana, Rasa kesel langsung mampir di hati Ivan. Bahkan rasa ini lebih mengesalkan dari pada saat Vio mengabaikannya tadi. Menyadari kalau Vio langsung berdiri terpaku saat mendapati pemandangan tak jauh darinya. Silvi dan Herry yang sepertinya baru muncul. Ditambah dengan perhatian Herry yang terlihat sedang membantu melepaskan Helm di kepala Silvi. Membuat Ivan langsung melangkah. Berdiri lurus tepat di depan Vio. Menghalangi gadis itu dari memandang pemandangan yang jelas menyakitkan baginya.
"Lagian gue bukan Herry" Pangkas Ivan lirih namun penuh penekanan.
Tatapan tajam Vio langsung terjurus pada Ivan. Apa maksut pria itu mengatakan kalimat barusan. Meledeknya?. Memangnya penderitaannya sebuah lelucon sehingga bisa di ledek sembarangan?.
"Tutup mulut loe".
"Apa yang gue bilang itu benerkan. Loe nggak cemburu saat melihat gue sama cewek lain, tapi loe langsung jadi patung bernyawa saat melihat perhatian Herry pada Silvi".
"Kalau ia terus kenapa?. Loe nggak harus memperjelasnya bukan?" Tantang Vio dengan tatapan terluka.
Membuat Ivan hanya mampu mengepalkan tangannya. Kesel, tapi ia tidak tau ia harus kesel pada siapa. Pada Vio yang terlihat rapuh atau pada dirinya yang tak mau mengerti.
"Vio, tunggu dulu" Tahan Ivan sambil meraih tangan Vio saat gadis itu berniat belalu meninggalkannya.
"Kenapa lagi?" Tanya Vio sambil menghempaskan tangannya. Membuat gengaman Ivan langsung terlepas.
"Maafin gue. Gue nggak bermaksut buat nyakitin loe" Pinta Ivan merasa bersalah.
"Loe nggak perlu minta maaf. Sebenernya omongan loe tadi ada benernya juga"Balas Vio membuat Ivan langsung menoleh bingung kearahnya.
"Justru gue yang mau minta maaf. Untuk hal yang minta kemaren, Gue pengen menarik kembali. Sepertinya gue juga sama sekali nggak butuh bantuan dari manusia kayak loe".
Selesai bekata Vio langsung melangkah. Meninggalkan Ivan dengan keterpakuannya.
Cerpen Remaja Take My Heart ~ 11
Setelah menutup buku dihadapannya, Sejenak Vio terdiam. Dihelanya nafas berat sebelum kemudian di hembuskan secara berlahan. Tangannya terangkat mengusap wajah dengan pikiran yang masih kusut.
"Loe kenapa?".
Refleks Vio menoleh. Mencoba tersenyum sambil mengeleng berlahan saat wajah cemas Silvi disampingnya.
"Loe lagi ada masalah ya?" Tanya Silvi lagi.
"Enggak kok" Sahut Vio berusaha meyakinkan.
"Tapi kenapa muka loe kusut gitu. Ditambah lagi sedari tadi gue perhatiin loe sama sekali nggak konsentrasi belajar. Malahan gue yakin banget kalau loe jelas melamun" Kejar Silvi membuat Vio bungkam.
"Apa ini ada hubungannya sama dia?".
Kali ini Vio menoleh. Menatap lurus kearah Silvi yang juga sedang menatapnya.
"Loe suka sama dia kan?".
"Apa?" Tanya Vio bingung atas pertanyaan yang berupa pernyataan yang barus saja keluar dari mulut Silvi.
"Astaga" keluh Silvi sambil memijit kepalanya yang mendadak merasa berdenyut nyeri. "Jujur aja gue nggak bisa percaya ini bisa terjadi, tapi kalau melihat loe sekarang. Sepertinya dugaan gue bener. Kalau loe suka sama dia. Iya kan?" Tambah Silvi penuh penekanan.
"Gue…".
Ucapan Vio mengantung dimulutnya. Bingung harus berkata apa. Rasa bersalah juga menghantui dirinya. Hei, bukannya dulu saat memutuskan untuk pindah kekampus ini ia sudah meyakinkan dirinya sendiri kalau ia telah melepaskan Herry. Harapannya untuk memiliki jelas pupus sudah. Tapi kenapa sebagian hatinya menolak dan masih merasa tidak rela. Bahkan sakit itu juga masih jelas terasa saat melihat kedekatan Herry pada gadis lain yang ternyata sahabatnya sendiri.
"Ayolah Vio, Dia itu playboy" Peringatan Silvi terlihat putus asa.
"Apa?".
Bukan hanya bingung, kali ini Vio juga kaget. Playboy?. Herry seorang playboy?. Nggak mungkin!.
"Iya. Bukannya loe sendiri tau sejak awal Dia itu seorang playboy. Bahkan jelas – jelas dia sendiri bilang kalau dia ndeketin loe itu cuma buat taruahan sama para sahabatnya. Karena itu jelas, Semua perhatianannya ke elo itu palsu. Loe nggak boleh jatuh cinta sama dia, karena elo pasti akan terluka".
Kali ini Vio terdiam. Mencoba mencerna kalimat yang ia dengar barusan.
"Tunggu dulu, maksut loe Ivan?".
"Siapa lagi?" Silvi balik bertanya.
"Ya ampun. Demi apa gue nggak akan pernah suka sama dia Silvi. Bahkan sampai dunia kebalik sekalipun, Gue nggak akan pernah jatuh cinta sama dia. Jadi elo, Jangan pernah sekali kali perpikir sampe kesana".
"Eh?" Kening Silvi sedikit berkerut bingung. "Jadi gue salah. Loe nggak suka sama ivan?".
"Tentu saja tidak" Balas Vio ketus.
"Kalau loe emang nggak jatuh cinta sama dia, terus kok tampang loe sekarang kayak orang yang lagi patah hati?" Tanya Selvi lagi.
"Apaan si, ngaco deh kalau ngomong" Ela Vio Cepat.
"Udah siang nie, kita pulang yuk" Sambung Vio lagi, memotong apapun kalimat yang akan keluar dari mulut Silvi. Bahkan Tangan Vio secara cekatan meraih tas nya sebelum kemudian bangkit berdiri. Bukti nyata kalau ia memang beneran berniat untuk pulang. Membuat Silvi mau tak mau mengikuti ulahnya. Setelah mengemasi semua barangnya, keduanya melangkah beriringan berlalu pulang.
To Be Continue…

Random Posts

  • cerpen King Vs Queen ~ 04

    Ah lagi lagi saia telat, sama kayak tahun kemaren. Tapi gak papa deh, berhubung kemaren puasanya satu bulan, soo anggap aja lebarannya juga satu bulan (???),. Nah karena itu, saia sendiri Ana Merya selaku admin star night mengucapkan, Minal aidin wal fa izin, mohon maaf lahir dan batin…Oke, kalau begitu lanjut……..Sore itu Niken sedang menonton televisi di ruan tengah, tiba-tiba bel rumahnya terdengar, dengan sedikit lesu Niken malangkah mendekati pintu rumahnya. dan membuka pintunya, tampak di luar ada tiga orang cowok berada di depan rumahnya."Ada apa?" tanya Niken, dengan sedikit cuek tentunya, karena di depannya ada Gilang dan dua orang temannya yang nggax di kenal nya."Yaaaah cewek jadi-jadian yang muncul" kata Gilang pada temen-temennya sambil membuka topi yang tadi di kenakannya, tentu saja Niken kaget mendengarnya."Eh apa loe bilang… berani ea…" kata Niken dengan sebelnya."Siapa dia? cantik banget?" tanya temen Gilang.sebagian

  • Cerpen Galau The Prince part 12

    Ehem, Tes tes tes.. satu dua tiga…. Baiklah sound systemnya sepertinya oke. #diinjek.Oke All, Aku minta di hajar ya?. Ah sepertinya si begitu. #kipasin muka.Secara banyak banget yang kompline kenapa cerpennya banyak yang gantung?. Atau lanjutannya lama?. Ah sebodo amad deh. Aku juga gak protes saat cinta ku di gantungin n happy ku belom di lanjutin (????) #Ora nyambung. -______________________-Oke, aku juga udah cape jelasin kalau sebenernya aku sekarang udah sibuk di dunia nyata. SUNGGUH!!!!!. #Yah… Walau sesibuk – sibuknya aku di dunia nyata aku masih tetep nulis. ^_^Tapi dari pada aku cuap – cuap yang jelas kagak nyambung mendingan langsung ke part selanjutanya aja deh…. #Jangan tanya endingnya sampe part berapa karena aku juga nggak tau *Lempar penulis sampe keselatpanjang #NGAREP!!!!…Akhir kata … Happy reading ya?…Credit Gambar : Ana MeryaSepi, hening dan sunyi. Aku terus menunduk dalam. Sama sekali tidak berani menatap kearah kevin yang ku tau pasti saat ini jelas sedang menatap tajam kearah ku. Sementara Revan juga terdiam. Ia juga sama sekali tidak membantah saat kevin men’gusir’ pelayan yang menanyakan makanan apa yang akan kami pesan. Yups, saat ini kami bertiga memang sedang berada di kaffe depan toko buku tempat ku berkerja. Kevin dengan seenak jidatnya telah menarik Revan keluar dari arena kerjanya. Memaksa kami untuk menjelaskan apa yang tidak bisa ku jelaskan. (???).sebagian

  • Cerpen Sedih: Maaf Ku Harus Pergi dari Cintamu

    Indahnya cinta kurasa , tetapi tak seindah yang kukira . malam semakin malam, tanpa ada dirimu disisi. ku mohon pada dirimu jangan dustai hati dan cintaku. Kasihku hanyalah dirimu , kasihku aku cinta padamu .Lembut nya embun pagi menyapa hati dan cintaku , seolah tak berhenti berharap akan cintamu. Manisnya cintamu dan indah senyum bibirmu menambah rasa cintaku kepada dirimu . dunia maya adalah awal cerita kita yang tak pernah kulupa sepanjang hidupku . perkenalan ku dengan dirinya membawa arti kebahagian dalam hidupku. Perbedaan pendapat membawa kita pada jurang kehancuran.Maaf ini sudah menjadi keputusan ku dan harus pergi untuk kesekian kalinya , dan aku pun tak bisa berbuat apa – apa hanya kata maaf ku bisa ku ucapkan padamu.Jujur ,kau telah melukai hati perasaanku , sehingga hidup ku kehilangan arah tujuan dan membuat suram hidupku. En, kenapa kau membohongi ku, apa kau tidak iba akan diriku. Maafin aku? Janji- janjimu semua palsu .Aku sedih melihat kamu tak setia pada ku .Walau rasa sayangku begitu besar kepada mu. tapi itu percuma ,kamu seakan tak menghiraukan aku lagi.Malam Tahun baru 2011 adalah malam begita saklar .makna pergantian tahun . karna,ini juga termasuk sangat bermakna dalam hubungan kita bina selama ini .semua serba baru .Kamu dimana ? loh ko , kenapa kamu pulang ke Depok sih . oya udah , kalau kamu mau malam tahun baruan bersama keponakanmu.Bergegas aku mencoba mengecek ketempat kost an mu di bilangan Rawamangun .apa benar dia pulang ke depok atau membohongiku.Aku gak yakin Eni pulang ke depok , rasa bimbang dan gak yakin tercurah dalam perasaan ku ini.loh ko, ternyata dia membohongi ku , ku melihat sendalnya berada ditempat kerjanya .tanpa berpikir panjang aku ketuk pintu kantornya , dia tampak kaget memandang diriku .hubungan yang terjalin selama 4 tahun dirusak oleh dia sendiri. membina hubungan begitu lama, akhirnya dia berkhianat tertangkap basah dengan rekan kerjanya sedang berdua an dalam kantor. Keluar kamu, dia tampak bingung memandang ku dan penuh rasa bersalah karna telah berbohong.“Ayo, kita jalan ?“Bergegas keluar dan meninggalkan kantor ?“Pucat terlihat dalam raut wajahnya?Sadar dia telah berbohong , pembicaraan selalu dialihkan .kamu kenapa bohong? Jujur ini terasa mimpi , dibohongi pasangan adalah sesuatu paling najis . Masih terasa luka oleh perilaku dia semalam , ternyata aku belum percaya 100%.Walau pun diriku sedang libur , aku coba menyatroni tempat kost an untuk kali ke dua.rasa kepercayaan ku mulai luntur , tak kala dia tertangkap basah lagi . rekan kerjanya yang juga kenal denganku , Nampak datang ke tempat kost nya . aku gak tinggal diam, 500 menit ku mengawasi .akhirnya ku datangi kost an nya terjadi keributan , sayang tangan ku dipegang nya sehingga tak terjadi perkelahian antara hasim dan aku . merasa tertangkap basah untuk kali ke dua , dia nampak pucat terlihat diwajahnya.Jujur dengan kejadian itu , aku benar gak bisa memaafkan dia ? rasa kepercayaan ku hilang seketika dan larut dalam kekecewaan .Meski pun sudah hilang rasa cintaku . tetapi aku memandang dia , mungkin itu semua sesuatu ke khilaf an dan bisa diperbaiki kembali. Aku pun mencoba mengunjungi dia ke kost an nya dengan maksud main dan sekalian meminta maaf atas sikap ku yang arogan .sayang , maksud baik ku ga direspon dengan baik ,aku ditinggal sendiri di teras kost an nya.Ku telpon ponselnya selalu di matikan ? Ku sms ga ada balasan?Hingga akhirnya , mungkin aku harus pergi dari hati dan cintanya selamanya dan menatap esok hari yang lebih cerah. Pergi dengan perasaan galau terasa dalam hati ku . tak ada keindahan yang tercipta dunia seakan gelap menjadi gurita .Mendengar ku tidak ada di Jakarta . dia pun mencoba menghubungi diriku “hallo, kamu dimana ?Maaf , aku sudah berada di luar kota sekarang?“eh , kenapa kamu pergi ? segera balik , saya tunggu kamu di kost an sekarang.“maaf ga bisa , aku sudah di Jawa ?“oya , udah kalau itu mau kamu sih?Kegagalan dalam bercinta bukan berarti kiamat , akan tetapi kegagalan adalah sebuah pengalaman dan harus dicarikan solusinya. Hari – hari yang indah kini telah hilang. Ku coba menjalani kehidupanku dengan rasa tegar walau terkadang rasa kesepian hinggap dan selalu menghantui pikiranku.Gambaran cerita ini mungkin sedikit dari sekian banyak cerita hidup yangbisa di jadikan renungan.sehingga kita dapat belajar tentang arti sebuah cinta .karna, setiap manusia tidak ingin gagal dalam menjalin hubungan asmara.semoga kita lebih mawas diri dan menjaga hubungan jalinan kasih dengan pasangan kita.Sekarang antara aku dan dia tidak ada kontek ?mungkin dia sekarang sudah menjalin cinta dengan yang lain dan menghasilkan Buah cinta yang menhasilkan kasih sayang*******By : SUGI ALWIN REY facebook: Sugi Alwin reyThanks sob udah mau baca

  • Cerpen Cinta: MIRACLE OF LOVE

    Miracle of loveOleh: Zora thalib“Kate, mengapa kau tidak memakan sandwichmu?” tanya Alexa sambil menopang dagu. Kate menatap Alexa tak bergairah, lalu tersenyum tipis. Alexa mengangkat alis, lalu bergumam tak jelas, “Whatever”.“Honey!!!” panggil seorang cowok dari kejauhan. Alexa mencari sumber suara, dan mendapati James Shady, pacar Kate yang saat itu sedang berjalan menghampiri meja mereka. Alexa tersenyum, dan James membalas senyumnya.“Jadi, ada apa denganmu Kate?” tanya James lembut, sambil menarik kursi dan duduk. Kate menggeleng, “Tidak ada”.“Kau yakin?”, Kate mengangguk. James menatap Alexa, seolah minta penjelasan, ada apa dengan Katenya? Tapi, Alexa mengangkat bahu.“Kau tidak bisa bilang ‘tidak ada apa-apa’, jika wajahmu seperti itu.” James sengaja menekankan kalimat ‘tidak ada apa-apa’. Alexa yang melihat James dan Kate hanya tersenyum.“Aku hanya lelah..” akhirnya, Kate angkat bicara.“Kalau begitu, kau perlu istirahat. Kau mau makan sandwichmu dulu, atau aku langsung kita langsung pulang ke apartement?” ujar James sambil beranjak dari duduknya.“Aku tak ingin makan apapun.” Kate menatap James malas.“Oke, tapi kau harus makan sesuatu di apartementmu, atau aku akan memaksamu untuk makan. Ayo Kate, kita pulang” ucap James sambil menggandeng tangan Kate.“Aku dan Kate duluan, Lex” pamit James.“Ya, hati-hati” Alexa berkata lirih, lalu ia merapikan rambutnya, dan juga beranjak pergi.*****Saat ini, Alexa sedang berada di Delicio Cafe. Dia sedang mengaduk jus jeruknya. Dia tidak pernah menyukai bir, wiski atau semacamnya. Menurutnya, seseorang tidak harus minum bir agar terlihat dewasa.“Kau Alexa?” ucap seseorang dengan tiba-tiba sambil menepuk bahunya pelan. Kate menoleh, dan mendapati seorang cowok dengan rambut pirang berantakan sedang tersenyum lebar. Dia mencoba menebak cowok didepannya. Tapi, dia tak mendapati jawabannya.“Memangnya, kau siapa?” akhirnya, Kate bersuara.“Ya ampun Kate! Kau tidak mungkin melupakan sahabat kecilmu yang berjanji akan menemuimu begitu kau kembali dari Paris kan?”“Oh My God! Kau Dylan?” mata biru Alexa berbinar. Cowok di depannya tertawa, lalu menarik kursi dan duduk di hadapan Alexa.“Kau apa kabar?” tanya Dylan.“Baik, kau bagaimana? Kau mau pesan sesuatu?”“Aku merasa lebih baik setelah bertemu denganmu. Aku sudah cukup kenyang melihatmu.”“Benarkah?”“Kau tahu, aku selalu mempunyai energi lebih jika melihatmu.” Alexa tersipu.“Kau selalu seperti itu…” Dylan tersenyum lebar.*****“Alex, aku dengar kamu akan pindah? Benarkah?” Dylan kecil bertanya pada Alexa kecil. Saat itu, umur mereka 8 tahun. Alexa kecil terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. Matanya terlihat sedih.“Jadi, aku tak akan bertemu dengan kamu lagi?”“Padahal, Alex ingin selalu bersama Dylan.”“Dengar Lex, apapun yang terjadi, saat kau kembali lagi kesini, aku akan menemuimu. Aku janji. Karena, aku menyukaimu. Dan aku janji aku hanya akan menikah denganmu. Maukah kau berjanji hanya akan menikah denganku?” Dylan berkata malu-malu.“Alex juga suka Dylan. Alex janji hanya akan menikah dengan Dylan.” Ucap Alexa sambil mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Dylan. Alexa dan Dylan sama-sama tersenyum. *****“Kau sekarang tinggal dimana?” tanya Alexa, masih di Delicio Cafe.“Setelah kau pergi, aku pindah ke New York”“Bisa aku minta alamatmu?”“Untuk apa?”“Kalau-kalau suatu saat aku membutuhkan tumpangan ketika di New York. Aku tidak perlu repot-repot menyewa apartemen kan?” Dylan tertawa, lalu memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamatnya.“Terimakasih.”“Ya, sama-sama. Ehm, Lex, apakah kau pernah berkencan dengan seorang pria?” “Tidak, aku tidak mungkin berkencan dengan seorang pria, ketika aku masih mempunyai janji hanya akan menikah dengan seseorang.” Alexa tertawa.“Bagus, karena akupun tidak pernah kencan dengan gadis manapun. Aku masih menunggu seseorang yang akan kembali dari Paris.” Kali ini, Dylan tersenyum.*****“Halo Kate!” ucap Alexa ditelepon“Hi! Ada apa?”“Apa kau sudah baikan?”“Aku tidak apa-apa.”“Tapi, kau lelah.”“Tidak lagi. bagaimana mungkin, James memaksaku untuk beristirahat, dan dia tak membiarkanku pergi kemanapun.”“Dia sayang padamu.”“Ya, aku tahu.”“Apa dia sedang bersamamu?”“Ya, dan dia sedang mengawasiku. Kau mau berbicara dengannya?”“Tidak perlu.”“Jadi, kenapa kau meneleponku?”“Aku bertemu dengan Dylan.”“Kapan?”“Saat aku sedang di Delicio Cafe. Dan aku baru saja pulang dari sana.”“Dylan itu siapa?”“Sahabat kecilku yang pernah berjanji akan menemuiku saat aku kembali dari Paris.”“Oh ya?”“Saat kecil dulu, dia juga berjanji hanya akan menikah denganku.”“Dia manis.”“Ya, begitulah.”“Alex, sampai kapan kau akan menelepon Kate?” ucap James di telepon. Alexa tertawa.“Oke, oke James. Aku tak akan mengganggumu. Night.” Alexa memutuskan sambungan telepon.*****“Hmm… jadi, Dylan yang membuatmu tak berkencan? Karena kau sudah janji dengannya?” tanya Kate. Saat itu Alexa sedang berkunjung ke apartement Kate.“Ya, begitulah.”“Kukira kau tidak normal.” Sambung James.“James, ini urusan wanita. Kau tidak perlu mengatakan pendapatmu.” Alexa berkata tajam. James tertawa.“Oke, oke sebaiknya aku menghindarimu. Kalau tidak, mungkin kau akan memakanku.” James berkata mengejek. Alexa mengambil bantal, lalu melemparkannya pada James. James tertawa.“Sudahlah Lex, James memang suka seperti itu. Dia akan senang kalau melihatmu marah-marah.” Ucap Kate.“Oke, oke.”“Mungkin, kapan-kapan aku bisa berkenalan dengan Dylan?”“Yeah, tentu.”*****Dua bulan kemudian….“Alex, kau sedang dimana?” tanya Kate ditelepon.“Di taman, depan apartement.”“Dengan siapa?”“Kau tahu jawabannya.”“Dylan?”“Yeah, benar. Jam 7 malam, dia mendatangi apartementku dan mengajakku duduk-duduk di bangku taman.”“Aku akan menyusulmu. Kau harus mengenalkan Dylan padaku.”“Tentu, Kau bersama James?”“Ya, dan kita akan kencan ganda.”“Kate, aku belum resmi berkencan dengannya.”“Tapi, dia berjanji akan menikahimu, dan itu lebih dari sekedar kencan.” Lalu, Kate memutuskan telepon. Alexa menatap ponselnya kesal.“Siapa Lex?”tanya Dylan.“Kate, temanku.”Beberapa menit kemudian….“Alex, apa kau saat ini bersama Dylan?”“Yeah, ada apa? Kau dimana?”“Tidak ada apa-apa. Kau yakin sedang bersama Dylan?”“Yakin, Kaaatee, kau belum menjawab pertanyaanku, kau dimana?”“Aku sudah di taman, dan aku sudah melihatmu. Sebentar lagi, aku akan menyusulmu. Apakah Dylan duduk disebelahmu?”“Ya ampun Kate, haruskah aku mengupload fotonya yang sedang duduk disebelahku?”“Tidak, tidak perlu.” Lalu, Kate memutuskan sambunngan.“Siapa?” tanya Dylan lagi.“Kate.”“Apakah dia akan menemuimu?”“Tentu, bukan hanya menemuiku, juga menemuimu. Dia bilang, dia ingin berkenalan denganmu.”“Tidak! Dengarkan aku Alexa, kau ingat janjiku dulu?”“Janji apa?”“Janjiku menikahimu”“Ya, aku ingat.”“Aku akan tetap menikahimu, apapun yang terjadi. Walau harus dalam jiwa yang berbeda.” Mata Dylan terlihat sedih “Maksudmu?”“Berjanjilah, kau akan menungguku?”. Alexa mengangguk.“Sampai jumpa Alexa, aku mencintaimu.” Dylan berkata sambil mencium kening Alexa, lalu berlari pergi. “Aku juga mencintaimu.” Ucap Alexa lirih. Dia termenung, ciuman Dylan di keningnya terasa dingin. “Alex!!”. Alexa menoleh, dan mendapati Kate dan James sedang bergegas kearahnya.“Mana Dylan?” tanya James, begitu dia sampai di depan Alexa.“Dia pergi, dan sebelumnya dia mengatak sesuatu yang aneh.”“Apa?” tanya Kate dan James bersamaan.“Katanya, dia akan tetap menikahiku, walau dalam jiwa yang berbeda, apa maksudnya?”“Mmm… sebenarnya, saat aku meneleponmu tadi. Aku hanya melihatmu sendiri, tanpa Dylan. Makanya, aku bertanya padamu, apakah Dylan sedang duduk bersamamu?”“Benarkah? Apa kalian tidak bohong?”“Tidak!!” ucap Kate dan James lagi- lagi bersamaan.“Jadi, kalian hanya melihatku duduk sendirian disini?”“Yeah, kau tahu jawabannya.” Ucap Kate.“Jadi, maksudmu, Dylan hanya bisa dilihat olehku?”“Mungkin.” Sahut James.“So, Dylan itu apa?”“Kami tak tahu.” Alexa terduduk lemas, “Bisakah aku kembali ke apartementku sekarang? Aku butuh waktu untuk berfikir.” Kate dan Jmes sama-sama mengangguk. Alexa berjalan lesu menuju apartementnya.“Alex! Kalau ada apa-apa kau bisa meneleponku.” Alexa sama sekali tak menoleh, dia hanya mengangguk samar.*****Sesampainya di apartement, Alexa melempar sepatu dan tasnya begitu saja, lalu menjatuhkan dirinya ke sofa. Dia benar-benar bingung dengan kejadian barusan. Ada apa dengan Dylan? Alexa tiba-tiba berdiri, dia ingat, dia menyimpan alamat Dylan, mungkin ada nomer teleponnya. Alexa bergegas menuju kamarnya dan mengobrak-abrik laci meja riasnya. Dan dia menemukan kertas alamat Dylan. St.Wallace 159, New York009-67455562Alexa membawa kertas itu ke sofa, lalu mengambil ponselnya. Tidak terlalu larut, untuk menelepon seseorang. Dia menekan nomer Dylan dan terdengar sambungan di ujung sana.“Maaf, apakah saya bisa bicara dengan Dylan?”“Anda siapa?”“Saya Alexa, teman kecilnya.”“Ooh… Alexa? Sudah lama tak berjumpa denganmu Alexa.”“Iya, Mrs.Wein. Apa kabar?”“Baik. Saya bahagia bisa berbicara dengan salah satu sahabat kecil Dylan.”“Maaf, Dylannya ada?”“………..”’“Maaf.”“Dylan sudah lama meninggal. Dia meninggal saat kau pindah. Dia berlari kencang dari sekolah saat tahu kau akan pindah hari itu, bukan esoknya. Sebelum sampai ke rumahmu. Saat menyebrang, dia tertabrak school bus.” Mrs. Wein berkata dengan pelan. Dari nadanya, kelihatannya dia sedang menahan tangis. Alexa terduduk lemas, ponselnya meluncur dari tangannya ke lantai. Pelupuk matanya basah. Dia menangis. Jadi, selama ini siapa yang bersamanya?“Alex! Apa kau tidak apa-apa?” tanya Kate yang tiba-tiba berhamburan ke dalam apartement Alexa. Kate bersama James. Alexa tak bergeming. Dia tetap menangis. James mengambil ponsel di lantai, dan menaruhnya di sofa.“Alex, ada apa?” tanya Kate sambil merangkul Alexa. Alexa tetap diam. “Alexa, kau tak bisa terus diam begini, kau harus menceritakannya pada kami.” bujuk James.“Dylan….”“Iya, ada apa dengan Dylan?” ucap Kate tak sabar.“Dia… dia sudah meninggal, saat hari aku pindah.” Jelas Alexa sesenggukan. Kate memeluk Alexa tambah erat.“Dia jahat! Dia bilang akan menikah denganku! Dia sudah janji!” teriak Alexa terisak. Kate mengusap bahu Alexa, “Sabar Lex, bukankah dia berjanji akan menikahimu, walau dalam jiwa yang berbeda?” ucap Kate menyadarkan Alexa.“Dan kurasa, dia akan menepati janjinya, entah kapan.” Tambah James. Terdengar dari nadanya, James sendiri kurang yakin dengan perkataannya.“Aku akan menunggunya….” tekad Alexa dengan mata menerawang.*****Tiga tahun kemudian…..“James Shady, akankah kau menerima Kate dalam suka dan duka?” tanya pendeta. Hari ini, James dan Kate menikah.“Ya.”Alexa menahan tangis. Saat ini, umurnya 23 tahun. Dan dia belum menikah. Dia masih tetap menunggu Dylan datang. Beberapa lelaki mengajaknya menikah, tapi dia tak tertarik. Dia masih terikat janji hanya akan menikah dengan Dylan.“Kate Allincton, akankah kau menerima James dalam suka dan duka?” tanya pendeta lagi.“Ya.”“Akankah kalian berdua berjanji bersama selamanya? Sampai hayat memisahkan kalian?”“Ya.” jawab James dan Kate bersama.Alexa tersenyum. Dia cukup bahagia menjadi pendamping wanita Kate. Mungkin, suatu saat Kate akan menjadi pendamping wanitanya.Saat pelemparan bunga……Seorang lelaki bertuksedo hitam mendekatinya, Alexa mengamatinya. Cowok itu tersenyum ramah. Alexa memalingkan wajahnya. Sepertinya dia kenal senyuman itu, dan mata biru lelaki itu yang berbinar hangat. Saat dia berbalik untuk menatap lelaki itu, lelaki itu sudah mendapatkan buket bunga yang dilempar James dan Kate.“Alexa….” lelaki itu menghadap kearahnya dan menatapnya tepat dimata.“Kau tahu namaku?” Alexa bertanya, matanya memancarkan kebingungan.“Namaku Nathan Wayn, dan aku kesini untuk menepati janjiku.” Lelaki itu berkata lembut. Seketika air mata Alexa mengalir.“Alexa Georgia, will you marry me?” Nathan tersenyum, dan memberikan buket bunganya pada Alexa. Alexa menerima buket bunga itu dengan air mata mengalir di pipinya.“Yes, i will.” Jawab Alexa pelan. Nathan tersenyum, lalu memeluk Alexa erat.“Mengapa kau menangis saat kau bisa bertemu lagi denganku?” Nathan berkata lembut, lalu memeluk Alexa lebih erat. Alexa tak menjawab. Dia sudah cukup bahagia bertemu dengan Dylan “versi” barunya. Mungkinkah ini keajaiban cinta? SELESAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*