Cerpen Remaja Take My Heart ~ 11

Sempet males, tapi akhrinya nulis cerpen lagi juga. Padahal tadinya mau fokus di puisi ataupun artikel lain. Abis kadang suka bad mood si, udah jelas jelas padahal nulis itu cuma berdasarkan mood doank.
Tapi sudah lah, akhir kata happy reading aja. Untuk part sebelumnya silahkan baca :
-} Cerpen remaja Take My Heart ~ 10


Walau aku terluka, Tapi aku berjanji aku tidak akan pernah melukai.
Setelah mengunci pagar rumahnya, Vio mulai melangkah. Sejenak ia berhenti. Menoleh kesekeliling. Sebelah alisnya sedikit terangkat sementara mulutnya mengigit bibir bawah, kebiasaan yang ia lakukan saat mengamati sesuatu.
Tidak menemukan sosok yang di cari, Vio kembali melanjutkan tujuannya. Menuju kekampus.
Pertama sekali menginjakkan kaki di halaman kampus, pemandangan pertama yang ia dapat adalah sosok Ivan yang tampak berbicara akrab pada seseorang cewek yang entah siapa. Lagi – lagi kening Vio berkerut bingung dengan tatapn yang jelas tertuju kearah pasangan tersebut. Tanpa bisa di cegah sebuah senyuman sinis tersunging dibibirnya saat dengan jelas ia melihat tangan Ivan yang terulur, Menyelipkan anak rambut yang melambai di wajah sosok di hadapannya.
"Apa – apaan itu. Baru aja kemaren gue bilang buat bikin gue jatuh cinta, eh boro – boro. Ilfil si ia" Gerut Vio pada dirinya sendiri.
Mata Ivan sedikit melirik saat mendapati Vio yang berjalan melewatinya tampa menoleh sedikitpun. Entah Karena gadis itu tidak melihatnya, atau memang ia sama sekali tidak peduli. Yang jelas, baik yang pertama mau punyang kedua. Kemungkinan itu tetap memberikan efek yang sama bagi Ivan. Sama – sama menyebalkan, Karena itu artinya ia diabaikan. -,-
Dan saat Vio menghilang dari tingkungan Ivan langsung berpaling. Membuat sosok yang sedari tadi bercerita padanya menjadi bingung. Terlebih Ivan langsung meninggalkannya tanpa alasan.
"Ehem" Ivan sengaja berdehem sambil berusah mensejajarkan langkahnya bersama Vio.
Namun bukannya menoleh, Vio justru tampak mengangguk – anggukan kepalanya mengikuti irama musik dari headset yang memang bertenger di kedua telinganya. Membuat Ivan makin kesal . Tanpa bisa di cegah tangannya terulur, melepaskan salah satu headset itu. Membuat Vio langsung menoleh heran.
"Ivan?. Kenapa?" tanya Vio polos.
Bukannya menjawab Ivan justru malah memajukan mulutnya sebel, membuat Vio tak mampu menahan tawanya.
"Ha ha ha, Ah loe imut banget si kalau cemberut gitu. Mirip cewek" Komentar Vio membuat Ivan makin kesel.
"Nggak lucu" Sungutnya.
"Kenapa?" tanya Vio lagi setelah tawanya mereda.
"Kok loe tadi main nyelonong aja si?. Sama sekali nggak nyapa gue?" tanya Ivan langsung.
"He?" kening Vio berkerut tanda bingung, tapi bukannya menjelaskan Ivan justru hanya angkat bahu.
"Emang elo siapa gue?" tanya Vio terdengar menohok.
"Gue itu orang yang loe harapin bisa bikin loe jatuh cinta" Balas Ivan santai membuat Vio langsung menoleh.
"Dengan cara mengoda cewek lain?" Tanya Vio jelas meledek.
"Emangnya tadi loe nggak cemburu?" Ivan tampak penasaran.
Dan lagi lagi Vio tertawa.
"Ha ha ha. Loe ngelawak ya?. Eh, Kenapa gue harus cemburu. Jatuh cinta juga belom" Balas Vio di sela tawanya.
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Vio barusan kontan membuat Ivan terlihat sedikit salah tingkah. Tangannya segera ia masukan kedalam saku. Mendadak mati gaya.
"Kalau ternyata tadi itu loe ngoda cewek di hadapan gue dengan niat buat bikin gue cemburu, Denger ya. Itu sama sekali nggak berhasil. Gue jadi ilfil si ia. Lagian….".
"Lagian…?" kejar Ivan karena Vio tidak melanjutkan ucapannya. Justru gadis itu malah berdiri terpaku dengan tatapan tetap terjurus kedepan.
Sama sekali tiada reaksi dari Vio membuat Ivan memalingkan wajah. Mengikuti arah tatapan Vio. Ivan langsung mengangguk paham saat matanya menangkap hal yang telah menarik perhatian Vio. Terlebih saat mendapati Vio menghela nafas berat sambil mengerjapkan matanya.
Tak tau datangnya dari mana, Rasa kesel langsung mampir di hati Ivan. Bahkan rasa ini lebih mengesalkan dari pada saat Vio mengabaikannya tadi. Menyadari kalau Vio langsung berdiri terpaku saat mendapati pemandangan tak jauh darinya. Silvi dan Herry yang sepertinya baru muncul. Ditambah dengan perhatian Herry yang terlihat sedang membantu melepaskan Helm di kepala Silvi. Membuat Ivan langsung melangkah. Berdiri lurus tepat di depan Vio. Menghalangi gadis itu dari memandang pemandangan yang jelas menyakitkan baginya.
"Lagian gue bukan Herry" Pangkas Ivan lirih namun penuh penekanan.
Tatapan tajam Vio langsung terjurus pada Ivan. Apa maksut pria itu mengatakan kalimat barusan. Meledeknya?. Memangnya penderitaannya sebuah lelucon sehingga bisa di ledek sembarangan?.
"Tutup mulut loe".
"Apa yang gue bilang itu benerkan. Loe nggak cemburu saat melihat gue sama cewek lain, tapi loe langsung jadi patung bernyawa saat melihat perhatian Herry pada Silvi".
"Kalau ia terus kenapa?. Loe nggak harus memperjelasnya bukan?" Tantang Vio dengan tatapan terluka.
Membuat Ivan hanya mampu mengepalkan tangannya. Kesel, tapi ia tidak tau ia harus kesel pada siapa. Pada Vio yang terlihat rapuh atau pada dirinya yang tak mau mengerti.
"Vio, tunggu dulu" Tahan Ivan sambil meraih tangan Vio saat gadis itu berniat belalu meninggalkannya.
"Kenapa lagi?" Tanya Vio sambil menghempaskan tangannya. Membuat gengaman Ivan langsung terlepas.
"Maafin gue. Gue nggak bermaksut buat nyakitin loe" Pinta Ivan merasa bersalah.
"Loe nggak perlu minta maaf. Sebenernya omongan loe tadi ada benernya juga"Balas Vio membuat Ivan langsung menoleh bingung kearahnya.
"Justru gue yang mau minta maaf. Untuk hal yang minta kemaren, Gue pengen menarik kembali. Sepertinya gue juga sama sekali nggak butuh bantuan dari manusia kayak loe".
Selesai bekata Vio langsung melangkah. Meninggalkan Ivan dengan keterpakuannya.
Cerpen Remaja Take My Heart ~ 11
Setelah menutup buku dihadapannya, Sejenak Vio terdiam. Dihelanya nafas berat sebelum kemudian di hembuskan secara berlahan. Tangannya terangkat mengusap wajah dengan pikiran yang masih kusut.
"Loe kenapa?".
Refleks Vio menoleh. Mencoba tersenyum sambil mengeleng berlahan saat wajah cemas Silvi disampingnya.
"Loe lagi ada masalah ya?" Tanya Silvi lagi.
"Enggak kok" Sahut Vio berusaha meyakinkan.
"Tapi kenapa muka loe kusut gitu. Ditambah lagi sedari tadi gue perhatiin loe sama sekali nggak konsentrasi belajar. Malahan gue yakin banget kalau loe jelas melamun" Kejar Silvi membuat Vio bungkam.
"Apa ini ada hubungannya sama dia?".
Kali ini Vio menoleh. Menatap lurus kearah Silvi yang juga sedang menatapnya.
"Loe suka sama dia kan?".
"Apa?" Tanya Vio bingung atas pertanyaan yang berupa pernyataan yang barus saja keluar dari mulut Silvi.
"Astaga" keluh Silvi sambil memijit kepalanya yang mendadak merasa berdenyut nyeri. "Jujur aja gue nggak bisa percaya ini bisa terjadi, tapi kalau melihat loe sekarang. Sepertinya dugaan gue bener. Kalau loe suka sama dia. Iya kan?" Tambah Silvi penuh penekanan.
"Gue…".
Ucapan Vio mengantung dimulutnya. Bingung harus berkata apa. Rasa bersalah juga menghantui dirinya. Hei, bukannya dulu saat memutuskan untuk pindah kekampus ini ia sudah meyakinkan dirinya sendiri kalau ia telah melepaskan Herry. Harapannya untuk memiliki jelas pupus sudah. Tapi kenapa sebagian hatinya menolak dan masih merasa tidak rela. Bahkan sakit itu juga masih jelas terasa saat melihat kedekatan Herry pada gadis lain yang ternyata sahabatnya sendiri.
"Ayolah Vio, Dia itu playboy" Peringatan Silvi terlihat putus asa.
"Apa?".
Bukan hanya bingung, kali ini Vio juga kaget. Playboy?. Herry seorang playboy?. Nggak mungkin!.
"Iya. Bukannya loe sendiri tau sejak awal Dia itu seorang playboy. Bahkan jelas – jelas dia sendiri bilang kalau dia ndeketin loe itu cuma buat taruahan sama para sahabatnya. Karena itu jelas, Semua perhatianannya ke elo itu palsu. Loe nggak boleh jatuh cinta sama dia, karena elo pasti akan terluka".
Kali ini Vio terdiam. Mencoba mencerna kalimat yang ia dengar barusan.
"Tunggu dulu, maksut loe Ivan?".
"Siapa lagi?" Silvi balik bertanya.
"Ya ampun. Demi apa gue nggak akan pernah suka sama dia Silvi. Bahkan sampai dunia kebalik sekalipun, Gue nggak akan pernah jatuh cinta sama dia. Jadi elo, Jangan pernah sekali kali perpikir sampe kesana".
"Eh?" Kening Silvi sedikit berkerut bingung. "Jadi gue salah. Loe nggak suka sama ivan?".
"Tentu saja tidak" Balas Vio ketus.
"Kalau loe emang nggak jatuh cinta sama dia, terus kok tampang loe sekarang kayak orang yang lagi patah hati?" Tanya Selvi lagi.
"Apaan si, ngaco deh kalau ngomong" Ela Vio Cepat.
"Udah siang nie, kita pulang yuk" Sambung Vio lagi, memotong apapun kalimat yang akan keluar dari mulut Silvi. Bahkan Tangan Vio secara cekatan meraih tas nya sebelum kemudian bangkit berdiri. Bukti nyata kalau ia memang beneran berniat untuk pulang. Membuat Silvi mau tak mau mengikuti ulahnya. Setelah mengemasi semua barangnya, keduanya melangkah beriringan berlalu pulang.
To Be Continue…

Random Posts

  • Mis Tulalit part 6

    Lanjutan part 5 kemaren……Langsung cek aja ya…..April kaget, Bahkan tiada kata mampu terucap *seh…Bahasanya*. Akhirnya ia hanya bisa bergumam “O….. Jadi ini mau ke AMIK?… Salah donk kalau begitu”“ia. Lho… emangnya loe kuliah di mana?” tu mbak ikutan kaget.“WIDIYA. Tapi bukannya mbak tadi bilang mau ospek di SMA juga?”“iya. Kita emang mau ospek di SMA 1. Ntar jam 07:30 mulai”Lebay-lebay. Ternyata maksud si embak kumpulnya di SMA 1. Sedangkan April di SMA 2. Tanpa permisi April langsung ngibrit nyari becak yang di usulin Dewi pertama kali (ih nggax sopan)Nggax lama April lari dengan panik (sedah persis banget kayak orang ilang) April ketemu orang pake baju sama.tapi kali ini bener anak widya (???) secara rambutnya juga di kucir dua dan di kasi pita pink juga. Sama kayak dia. Dan yang harus di garis bawahi ini BUKAN anak AMIK lagi. Oke?….Alhasil, April berangkat bareng sama dia.sebagian

  • Cerpen Romantis: KENANGAN YANG HILANG

    Kenangan Yang HilangCerpen karya Natania Prima NastitiHujan turun saat aku sampai di Bandara Soekarno Hatta. Aku duduk di kursi tunggu, menunggu Papa menjemputku. Sekitar sejam lebih aku menunggu. Aku juga tampak bosan. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan keliling Bandara. Saat akan berdiri, tiba-tiba ada yang memegang pundakku. Aku langsung berbalik badan. Kulihat lelaki seumuran denganku tersenyum ramah kepadaku. “Mbak Vega ya?” tanyanya ramah. Kemudian aku mengangguk menjawab pertanyaan itu. “Saya supirnya Pak Broto, maaf lama menunggu, Jakarta macet, Mbak. Mari saya anter ke mobil” ucapnya lagi. Kemudian lelaki itu berjalan duluan kearah parkiran diikuti denganku.Sesampainya di rumah, Mama dan Papa menyambutku dengan gembira. Bukannya aku tidak senang, tapi kali ini aku benar-benar capek. Perjalanan Amerika-Jakarta cukup membuatku lelah. Duduk berjam-jam membuatku ingin segera berbaring di kamar. Mama dan Papa mengerti dan segera mengantarku ke kamar tidurku dulu. Kemudian mereka segera pergi dan menyuruhku istirahat penuh. Kulihat kamarku ini tidak berubah. Hanya sprainya saja yang berubah warna. Tiba-tiba, aku ingat lagi wajah lelaki yang mengaku supir Papa itu. Umurnya padahal sama denganku, tapi kenapa dia malah bekerja? Apa dia tidak kuliah? Tapi kenapa? Apa dia tidak punya uang?, aku terus bertanya-tanya dalam hati.Tiba-tiba saja aku melihat lelaki itu dari dalam kamar. dia sedang ada di halaman samping rumahku. Tawa lelaki itu… mengingatkanku pada seseorang saat kecil dulu. Tapi siapa? Apa mungkin aku saja yang terlalru berlebihan? Kenapa juga aku melihat lelaki itu? Tidak menarik sama sekali! Ucapku dalam hati. Kemudian aku menutup gorden jendela kamarku dan berbaring di kasurku yang empuk. Tiga bulan lagi aku akan kembali ke Amerika. Hemm, waktu itu terasa sangat singkat. Aku masih kangen sekali dengan Indonesia. Aku pun memejamkan mata dan tidur.Dua bulan berlalu dengan begitu cepat. Aku dan supirku, yang bernama Roni, kini juga semakin dekat. Ternyata Roni ini orang yang sangat asik untuk diajak ngobrol. Dia berilmu pengetahuan yang luas. Bahkan ada yang aku tidak tahu, tapi dia tau. Semakin lama aku mengenalnya, semakin nyaman aku ada disampingnya. Setiap dekat Roni, aku merasa memang sudah kenal dekat dengannya. Sampai akhirnya, aku tahu bahwa aku jatuh cinta pada supirku sendiri. Tapi aku merasa aku tidak salah menyukainya. Karena aku selalu merasa dekat dengannya dari dulu. Jauh sebelum aku di Amerika. Ada apa ini?Hingga malam itu, Roni pamit pulang kampung karena ibunya sakit keras. Karena bosan di rumah, akhirnya aku meminta orangtuaku mengijinkan aku ikut dengan Roni ke kampungnya. Aku ingin menikmatik pemandangan disana. Karena Roni bilang, di kampungnya masih banyak hamparan sawah. Tadinya Mama tidak mengijinkanku. Dia takut aku kenapa-napa. Tapi, setelah aku bilang Roni akan menjagaku, akhirnya Mama setuju. Aku pun akhirnya ikut Roni ke kampungnya., tapi akSekitar jam lima pagi aku sudah sampai dikampungnya Roni. Baru jam lima saja, banyak penduduk yang sudah beraktifitas. Kebanyakan petani sudah mulai turun ke sawah. Benar sekali. Kampung Roni benar-benar indah pemandangannya. Mataku ini disajikan pemandangan alam yang luar biasa. Tiba-tiba aku teringat, sepertinya dulu aku pernah melihat pemandangan seperti ini. Setelah kupikir-pikir, mungkin itu hanya bayanganku saja.Rumah Roni, sama dengan rumah penduduk lainnya. Tidak kecil dan tidak besar. Saat disuruh menemui ibunya, aku lebih memilih untuk duduk di teras rumahnya. Adik perempuan Roni segera membuatkan minuman untukku.“Mbak ini siapa?” tanya adik Roni itu. “Saya majikannya Roni”jawabku ramah. Adik Roni hanya berOh kemudian masuk ke dalam rumahnya. Roni bilang hanya seminggu kita disini. Sebenarnya, aku ingin sekali berlama-lama disini tapi, itu tidak mungkin. Roni tidak bisa meninggalkan kuliah dan pekerjaannya. Aku juga tidak mungkin meninggalkan Mama dan Papa. Tujuanku kembali ke Indonesia kan bukan untuk ini. tujuanku untuk oragtuaku. Tapi sekarang, aku malah meninggalkan mereka lagi. Tapi tidak apa-apa, walau begitu aku senang berada di kampung Roni ini.Setelah beberapa hari disini, aku jadi semakin akrab dengan Roni. Dia mengajakku bertani, mengambil air di sumur, memeras susu sapi dan lain-lain. Aku juga semakin terbiasa dengan pekerjaan itu. Melihat Roni.. aku kembali melihat masa kecilku yang.. aku juga sebenarnya tidak ingat dengan masa kecilku dulu. Tapi sepertinya, aku sudah tidak asing lagi dengan semua ini. Roni, ibunya, kampung ini, kegiatan-kegiatan ini.. benar-benar tidak asing bagiku. Aku sendiri juga bingung dengan apa yang kurasakan. Apa sebenarnya ini? tanyaku dalam hati.Sekarang adalah hari terakhirku dan Roni ada di kampung ini. malamnya, Roni mengajakku ke suatu tempat. Tempat itu.. juga tidak asing bagiku. Danau dengan berjuta kunang-kunang ini, sangat jarang ditemukan di Jakarta. Malah aku yakin, tidak ada tempat seindah ini di Jakarta. Kemudian Roni membawaku ke sebuah pohon yang besar. Pohonnya terlihat sudah berumur. Disana ada tulisan Roni Dan Vega Forever. Aku terkejut dengan ukiran tulisan itu. Aku tidak pernah mengukir nama itu di pohon. Sama sekali tidak pernah. Tapi, kenapa ada tulisan itu? Namaku dan Roni? Ada apa sebenarnya ini?Kemudian Roni mengajakku duduk di sebuah batu besar. Roni memulai percakapan.“Kamu tau kenapa ada tulisan nama kita di pohon itu?”tanyanya sambil menunjuk kearah pohon besar tadi. Aku hanya menggeleng bingung.“Dulu.. waktu kita kecil, kamu pernah tinggal disini. Pak Broto adalah juragan sawah disini. Sawah yang kamu liat itu.. sebenarnya kebanyakan punya kamu. Saat kamu SMA, kamu dan keluargamu pindah ke Jakarta. Mungkin Pak Broto ingin anak semata wayangnya ini sekolah sebaik mungkin. Makanya dia pndah ke Jakarta” jelas Roni. Aku semakin bingung dengan penjelasan Roni.“Waktu kita SMP, kita ngukir nama kita di pohon itu. Dan di tempat inilah pertama kita bertemu dan berpisah. Aku yakin, aku mikir kampung ini tidak asing lagi bagi kamu kan? Karena kamu pernah ada disini” sambung Roni. Aku hanya menganga kaget mendengar ucapan Roni.“Tapi, kenapa aku nggak bisa nginet masa kecil itu? Kampung ini emang nggak asing lagi bagi aku, tapi aku nggak bisa inget tempat ini, Ron” tanyaku bingung pada Roni. Roni tersenyum padaku.“Waktu kita kelas tiga SMP, sesuatu terjadi sama kamu. Kamu kecelakaan dan dokter bilang, kamu nggak bisa nginget masa yang udah dulu banget. Aku sedih banget, Ga. Karena aku itu kan masa lalu kamu dulu. Apalagi saat aku tau ternyata kamu sekolah di Amerika. Saat itu.. aku bener-bener ngerasa kehilangan kamu. Sampai akhirnya aku ke Jakarta dan kerja di rumah kamu. Disana aku selalu liat foto-foto kecil kamu. Mama kamu juga majang foto saat kita berdua. Kita berpelukan sambil tertawa. Kita bahagia waktu itu” jawab Roni tersenyum bahagia.Aku mulai ngerti dengan semua ini. roni.. pantes saja aku sudah tidak asing lagi dengannya. Ternyata.. dialah teman baikku sejak kecil. Kemudian aku tertawa. Mengingat betapa culunnya pasti aku saat mengukir tulisan di pohon itu. Kita berdua masih belum mengerti sama sekali apa arti tulisan itu.“Setelah pindah, aku juga ngerasa ada yang hilang, Ron. Sampe sekarang pun, aku nggak pernah pacaran sama orang lain. Karena aku belum nemuin cinta aku. Tapi… setelah dekat kamu, ternyata aku nyaman. Dan ternyata.. kamu cinta aku, Ron” ucapku malu-malu. Kemudian Roni memelukku. Pertama aku kaget dengan pelukan itu. Tapi, pelukan itu yang selama ini aku nantikan.Dua bulan lebih, aku berada di Jakarta. Setelah pulang dari kampung, aku menceritakan semuanya pada Mama dan Papa. Mereka berterima kasih pada Roni karena telah mengingat kembali masa yang telah hilang dari ingatanku. Akhirnya mereka bersedia menanggung biaya kuliah Roni dan menyuruh Roni fokus pada kuliahnya saja. Biaya berobat ibuya juga ditanggung denga orangtuaku. Aku dan Roni juga semakin dekat.Hingga akhirnya, aku harus kembali ke Amerika. Sedih hatiku meninggalkan semuanya termasuk Roni. Sahabat baikku dari kecil itu… aku harus meninggalkannya. Tiba-tiba aku merasa separuh hatiku hilang lagi. Meninggalkan Roni.. bukan ini yang ku mau. Tapi apa dayaku? Meninggalkannya memang sudah harus kulakukan. Aku sendiri yang meminta meneruskan study di Amerika.Roni dan kedua orangtuaku mengantar aku sampai Bandara Soekarno Hatta tempat pertama kali aku bertemu Roni dulu. Tangisan sudah pasti menghiasi suasana hari itu. Aku juga memeluk Roni. Aku benar-benar tidak ingin berpisah darinya. Tapi.. yasudahlah.“Nanti kita ketemu lagi kan?” tanyaku pada Roni.“Pasti! Aku janji sama kamu, aku nggak akan khianati cinta kita berdua” jawab Roni sambil membelai rambutku. Kemudian aku memeluk Roni lagi. Maaf Roni, untuk ingatan lupaku padamu dulu, ucapku dalam hati sambil menitikkan air mata.Dua tahun di Amerika, aku jadi benar-benar kangen sama Roni. Kira-kira sedang apa dia disana? Akhirnya aku putuskan untuk menulis surat padanya. Berharap dia akan cepat membalas surat kangenku ini padanya.Dear My Love,RoniKamu apa kabar disana? Aku harap kamu baik-baik aja ya.Ron, sumpah aku kangen banget sama kamu. Aku harus nunggu dua tahun lagi supaya bisa ketemu kamu, Ron. Kamu belum ingkarin janji kamu kan? Janji yang bilang kamu nggak akan khianati cinta kita. Aku disini akan selalu sabar nunggu waktunya tiba. walaupun, saat awan disini kelabu dan disana terang, aku pasti akan selalu ingat kamu. Dan walaupun tanah yang kita pijak berbeda, kita akan tetap bersama kan?I miss you so Roni. Jaga kedua orangtuaku ya.Love youVegaAnd II want to shareAll my love with youNo one else will do…And your eyesThey tell me how much you careYou will always beMy endless love..Glee-My Endless love

  • Cerpen Lucu: Pelet Tu In Wan

    Pelet Tu in Wanoleh Andri RuslyLebaran sebentar lagi. Tapi Andre belum juga punya cewek. Aduh, padahal udah tiga kali Lebaran. Hampir semua resep udah Andre coba tapi hasilnya…..tetep gak punya cewek. Sampe Didot datang memberikan strategi buat gaet cewek. Dikasihnya Andre Pengasih 2 in 1 alias Pelet. Wah, aromanya menyengat hidung. Melebihi minyak wangi murahan. Tapi daripada Lebaran manyun mendingan usaha dulu deh. Kebetulan banget Andre sedang mengincar Tiara. Siapa tau dia yang nyantol. Ih, malangnya nasib Andre. Akhirnya Andre terima juga Pengasih-nya Didot yang pake 2 in 1 segala.“Koq pake 2 in 1 segala Dot, maksudnya apa?” tanya Andre“Maksudnya elu bisa dapetin cewek 2 orang dalam 1 langkah. Hehehe…, hebat kan Pelet gue?”“Wah, hebat banget Dot, jadi gue bisa dapetin 2 cewek sekaligus dalam satu langkah?”“Iya, Ndre, dan elu gak bakal jomblo lagi seumur hidup elu…hahaha…”“Brengsek lu Dot! Masak musti seumur hidup gue gak punya cewek. Lebay!”Dan malam itu. Andre sengaja gak tidur meskipun matanya dah mau copot dan berair tetep ditahannya. Demi cewek idamannya, Tiara. Dan waktu yang dinantinya segera tiba. Tepat jam nol nol Andre mulai beraksi. Harus berhasil usaha yang satu ini. Malu dong ma Nino anak kemarin sore dah punya pacar. Wah, mau ditaruh dimana muka Andre….(tuh di pojok lemari aja, Ndre !hehehe…).Langsung Andre praktekin pa-pa yang diajarkan ma Didot. Suruh ini-itu dilakuinnya sampe-sampe Andre disuruh telanjang bulat alias bugil!. Tapi tetap dilakukannya juga. Suasana kamar gelap gulita. Tengok sana tengok sini….gak ada orang. Oke saja dimulailah Andre semedi sambil komat-kamit baca mantera. Wah, aroma rokok kemenyan menyebar keseluruh ruang kamarnya. Semedi sudah berjalan 15 menit sementara rokok kemenyan habis 3 batang tapi badan Andre sudah menggigil. “Hiiiy dinginnya” bisik hati Andre. Baru kali ini Andre gak pake selembar benangpun. (Wah, kalo ketauan FPI bisa dipancung tuh Andre, terbukti pornografi dan porno aksi).Tapi di tengah semedinya ada saja gangguan. Andre kepingin pipis. Aduh, Andre… terpaksa deh ia menunduk-nunduk pelan-pelan keluar kamar. Telanjang bulat…. (Ihh… malu…diliat pembaca tuh). Soalnya tanggung mau pakai baju. Tiba-tiba terdengar suara, “Klotek!”“Hah, suara apa itu?” bisik hati Andre. Tapi Andre terus aja ke kamar mandi untuk pipis. Dan yang ini suaranya melebihi yang tadi. Lebih kencang dan bisa membuat seluruh penduduk dunia terbangun.“Aaaa…..!” suara jeritan seorang perempuan sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.“Gila, bi Inah yang keluar dari kamar mandi. Gawat nih!” Andre kebingungan. Buru-buru Andre berlari masuk kamar mumpung orang rumah belum pada bangun dan langsung berpakaian terus keluar kamar.“Ada apa sih kok malam-malam teriak-teriakan?” tanya Andre berpura-pura. Dikedipinnya bi Inanh. Dan terpaksa juga isi dompet keluar supaya bi Inah gak buka mulut.“Itu …anu…..tadi ada tikus lewat …” kata bi Inah tergagap sambil melirik kearah Andre.“Oo….cuma tikus…..” jawab orang tua Andre yang terbangun karena kaget mendengar suara jeritan bi Inah lalu melangkah kembali ke kamarnya.“Wah, bisa gagal nih misi gue ngedapetin Tiara” bisik Andre dalam hati. “Masak gue gak punya cewek lagi nih di Lebaran nanti. Tapi moga-moga semedi yang dah berjalan setengah tadi bisa ampuh” Andre berharap.Esokan harinya Andre dah Dress for Success. Bolehlah penampilan. Wajah baru. Tapi cewek belum punya (hihihi…hari gini…). Ia langsung menuju ke rumah Tiara. Tapi yang dicari gak ada di tempat. Jangan-jangan pulang ke kampung tuh anak. Andre mencoba nongkrong di Kota Tua. Kali aja Tiara ada di situ. Soalnya itu tempat favoritnya Tiara. Sambil menunggu Tiara dia coba-coba dengan beberapa cewek yang kebetulan melintas atau duduk sendirian. Tapi gak ampuh. Atau karena baru semedi setengah jalan jadi gak ampuh? Uh, Andre pusing dibuatnya. Tambah lagi Tiara gak ada disitu. Kemudian dicobanya kembali kali ini Andre berpindah tempat. Ia ke arah Monas. Ah, cape juga rupanya. Andre beristirahat. Hari sudah semakin sore. Dalam istirahatnya mata Andre menangkap sosok cewek duduk sendirian di kursi taman.“Wah, ada cewek duduk sendirian tuh, mudah-mudahan berhasil” Andre bangkit dari duduknya. Dihampirinya. Dilihat dari belakang tuh cewek sudah tampak anggun. Rambutnya panjang. Roknya mini (hmm…sambil nelan ludah…glek!). Kulitnya putih mulus. Hmm….bikin Andre makin penasaran saja.Kemudian dimulailah aksi Andre. Dengan membaca mantera aneh yang diajarkan Didot sambil matanya tertuju ke cewek tersebut. Itu yang diajarkan Didot. Dan benar gak lama kemudian tuh cewek menoleh kearah Andre. Dada Andre berdebar kencang. Ternyata ampuh. Cewek itu mendekat sambil tersenyum, tapi Andre kaget waktu dilihatnya ada jakun besar bertengger gagah di leher tuh cewek.“Hah, Waria..!” jerit Andre sambil mempersiapkan langkah seribunya Andre menepis tangan si waria.“Hai cowok…kamu ganteng banget. Sendirian …?” kata si waria. Andre langsung berlari tunggang langgang secepat kilat. Huh, mandi keringat lebih bagus daripada kena cium waria. (Terus lari, Ndre……ambil langkah 1999 …hehehe….).Setelah jauh berlari dan merasa tidak dikejar lagi, Andre sengaja beristirahat disamping markas Satpol PP. Biar aman. Lalu disekanya keringat yang bercucuran deras membanjiri tubuhnya dengan sapu tangannya.“Sial Didot, ramuan elu cuma ampuh buat kalangan waria” Dibuangnya Pelet dari Didot ke selokan. Dan Andre bakal manyun lagi di Lebaran tahun ini.“Tiara…sudah tiga kali Lebaran gue gagal lagi ngedapetin elu. Dah berapa banyak cara gue coba tapi bikin pikiran kusam dan kusut. Ah, jomblo aja deh….” Pikir Andre sambil melangkah pulang dengan tangan hampa….Makanya, Ndre Jangan mau mengikuti seorang pemimpin sampai kamu tahu siapa yang diikutinya.SELESAI

  • Ketika cinta harus memilih ~ 11 | Cerpen Cinta

    Setelah lama gak update akhirnya admin bisa muncul ke permukaan lagi. Hufh, dunia nyata kadang emang terlalu. And buat yang udah baca diary online admin, pasti tau donk alasannya kenapa?. Argh, stress.Okelah, dari pada kebanyakan bacod yang nggak penting, mending kita langsung lanjut ke Ketika cinta harus memilih ~ 11 nya aja ya. Untuk yang belum baca part sebelumnya silahkan klik disini. Ketika cinta harus memilih Bukannya langsung pulang. Cinta justru malah meminta sang sopir untuk mengantar nya ketaman kota. Sepertinya ia butuh suasana tenang untuk memberinya waktu berpikir sejenak. Dan ia yakin ia tidak akan memilikinya seandainya ia langsung pulang kerumah.Sambil duduk diam diatas kursi taman sendirian pandangan cinta terarah lurus kedepan. Kosong. Ia juga bingung dengan apa yang ia rasakan sekaligus apa yang harus ia lakukan. Ingatannya melayang entah kemana. sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*