Cerpen Remaja King Vs Queen~03

Cerpen
Terbaru

King vs
Quen Part 3

"Seriuz
loe?" tanya Olive saat di kantine keesokan harinya, Niken hanya mengangguk
sambil menikmati es rumput lautnya. "Cowok yang udah nabrak loe, and bikin
loe kesel itu… Temen deket kakak loe?" tanyanya lagi, Niken kembali
mengangguk "dan dia datang kerumah loe?"

"Ia
Olive" jawab Niken sambil menatap sahabatnya "Dia itu temen baik
kakak gue… Namanya Gilang dan lebih parahnya lagi. Gue yang harus minta maaf
sama dia, loe bisa bayangin nggax sih gimana perasaan gue".

King vs Queen

Credit Gambar : Star Night

"Yaaa
pasti berat banget buat loe. Loe yang sabar aja ea. Jadi, apa yang mau loe
lakuin sekarang? loe mau minta maaf sama Gilang"

"What?!
gue minta maaf? sorry ea, ini tu salahnya dia. Masa' gue yang harus minta maaf,
ogah banget lah" kata Niken.

"Ya
sudah kalau gitu, loe abaikan aja. Tapi by the way nasib loe sekarang lagi sama
banget, seperti sepupu gue" kata Olive.

"Sepupu?,
Sepupu loe yang mana?" tanya Niken.

"Putra"
jawab Olive singkat.

"Putra?,
Emang loe punya sepupu yang namanya Putra?"

"Ya
ada lah…"

"Kok
gue nggax kenal"

"Ya
ia lah, orang gue nggax pernah ngenalin…"

"Oh
ea. Emang kenapa sama dia?" tanya Niken.

"Dia
juga abis di tabrak sama orang, katanya itu cewek, Gue bilang aja kali aja itu
jodohnya dia. Ya sama lah Kaya elo, mungkin tuh cowok yang nabrak loe, jodoh
nya elo".

"Ha?!.
Jodoh?!. Loe ini suka ngasal ya kalau ngomong. Ya mana mungkin lah. Gue jodoh
sama tiang listrik itu…"

"Ah
elo. Ya kali aja, ini kan baru pertama kalinya gue ngelihat elo benci banget
sama orang, apa lagi dia itu cowok. Jadi kali aja dia juga yang bisa membuat elo suka
sama dia. Di antara cowok-cowok yang udah ngedeketin elo" cerita Olive.

"Eh
eh eh. Loe nie yaaaa kalau ngomong suka ngelantur, mana mungkin laaaah".

"Yah
elo, di omongin nggax percaya, eh gue kasi tau ea, kata nenek gue dulu, kalau
orang suka berantem terus, ujung-ujungnya pasti bakal suka. Percaya deh".

"Ya
itu kan kata nenek loe, bukan kata nenek gue"

"Ya
sama aja kali, yang penting itu kata orang tua dulu…"

"Sorry
ea, gue nggax percaya sama yang begituan. Dan gue bukan cuma nggax percaya, tapi
juga nggax mau percaya. Tapi, ada acara apa nenek loe sampai-sampai ngomong
gitu ke elo?" tanya Niken.

"Emang
kalau ngasi tau cucu nya, pake tunggu ada acara dulu ea?"

"Yaaa
kalau nggax gimana? masa' tiba-tiba nenek loe bilang gitu, tanpa ada hal-hal
tertentu".

"Dia
ngomongnya sama Putra, tapi saat itu gue ada di sana. Karena dia bilang dia itu
sebel banget sama cewek yang udah menabraknya, yang udah ia temui dua kali itu.
Makanya nenek ngomong gitu…"

"Oh,
jadi dia cerita sama nenek loe juga?"

"Yaaa
mau sama siapa lagi, orang dia tinggal nya sama nenek"

"Orang
tuanya?"

"Tante
udah meninggal, kalau om gue di luar kota, Putra di ajak nggax mau, dia lebih milih
di sini. Gue juga nggax tau kenapa…"

"Oh,
gitu ea. Tapi, ngapain sih kita ngomong orang yang gue nggax kenal, udah lah. Kelas
yuk" ajak Niken sambil beranjak dan melangkah meinggalkan kantin di ikuti
oleh Olive, dan tentu saja banyak cowok-cowok yang menyapanya dengan ramah.

"Oh
ya ken, loe ntar temenin gue ea…" kata Olive di perjalanan menuju
kelasnya.

"Kemana?"

"Gue
mau ke tempat peramal"

"Peramal?!"
Niken kaget, Olive langsung menutup mulut Niken dengan cepat, sebelum ada yang
mendengarnya.

"Ssst…
Loe itu apa-apaan sih, ngomong keras-keras gitu…"

"Ya
abis nya elo, Ngapain sih ke sana…"

"Itu,
Gue… mau nanyain siapa jodoh gue…"

"Jodoh?!"
Niken terlihat tak percaya, Olive menangguk. "kenapa pake acara ke tempat
peramal segala…"

"Yaaa
abis gue udah lama banget nggax dapat cowok, gue penasaran jodoh gue itu siapa.
Kalau gue tau sekarang kan gue bisa cepat mendapatkannya…"

"Emang
loe percaya sama yang begituan…"

"Apa
salahnya…"

"Hello,
sekarang itu udah tahun 2012 kale, jadi ngapain sih masih percaya sama yang
begituan. Lagian loe itu kan cantik, jangan jadi orang yang sepertinya nggax
laku gitu deh"

"Loe
ngomong gitu karena banyak yang ngejar elo. Sedangkan gue. Udah deh loe ikut
aja, emangnya loe nggax percaya?"

"Gue
itu nggax pernah percaya sama yang begituan. Peramal? apa lagi tuh… Sorry lah
ea…"

"Ya
udah kalau loe nggax percaya, loe temenin gue aja. Oke?".

“Ya
baik lah…" kata Niken akhirnya.

"Nah
gitu donk. He he he…" balas Olive sambil tersenyum, melangkah menuju kelas.

Cerpen
Terbaru King vs Quen

"Loe
yakin rumahnya di sini?" tanya Niken begitu tiba di rumah orang yang
katanya peramal itu, rumahnya tidak seperti rumah perama biasanya, jika
biasanya gelap, serem, dan terlihat kono, sekarang rumahnya itu. Sekali nggax
terlihat rumah peramal, karena rumahnya besar, mewah, cantik dan tidak ada
tanda-tanda mistik gitu.

"Ia.
Sudah yuk masuk" ajak Olive.

"Tapi
tunggu, ini tu kok seperti bukan rumah paranormal biasanya sih?" tanya
Niken nggax percaya.

"Ya
iya lah, kabarnya di sini lebih manjur. jadi loe tenang aja ikut yuk…"
ajak Olive, dengan hati-hati Niken mengikutinya masuk ke rumah mewah itu.

Begitu
tiba di depan rumah, Olive memencet bel, tak berapa lama kemudian ada yang
membuka kan pintunya, sepertinya seorang pembantu, lalu membawa mereka ke ruang
tengah. Setelah menunggu beberapa lama,
muncul lah seorang ibu-ibu menghampiri mereka.

"Siang
nek, eh mbah… Emmm…" Olive bingung mau manggil apa.

"Panggil
saja saya tante" kata ibu-ibu itu, sambil duduk di kursi.

"Emmm
tante. Disini benar tempat peramal jodoh?" tanya Olive.

"Ia
benar. Kenapa? Apa tidak yakin?" tanya tante itu.

"Bukan
gitu tante. Tapi, mana orang yang bisa meramal itu?"

"Saya
sendiri"

"Tante?"
Niken dan Olive seperti tidak percaya, karena tante di depannya ini sama sekali
tidak bisa di angap peramal karena penampilannya itu lebih tepat kalau di
bilang penjaga salon, masih cantik, lumayan muda, dan tidak ada tanda-tanda
peramal.

"Ia.
Saya sendiri? Kenapa? Apa tidak percaya…"

"Bmmm
bukan begitu tante. Tapi, tante ini…"

"Tidak
seperti peramal biasanya?" tanya tante itu yang seperti tau apa yang di
fikirkan Olive dan Niken, yang di tanya langsung menangguk.

"Saya
fikir orangnya…"

"Sudah
tua?" tanya Tante itu "Saya
tau, tapi saya tidak suka dengan dandanan seperti itu, jadi saya tidak mau. Kalau
tidak percaya, saya tidak akan memaksanya".

"Emmm
nggax kok tante. Saya percaya. Jadi, apa tante bisa tau siapa jodoh saya?"
tanya Olive.

"Ulurkan
tangan mu" pinta Tante itu, Olive mengulurkan tangannya. Tante peramal
menelitinya setelah itu memejamkan matanya sambil komat-kamit, nggax tau apa
yang di baca. Beberapa saat kemudian dia membuka matanya "sekarang ini
jodoh kamu. Tinggal beberapa hari lagi akan muncul di hadapan mu"
lanjutnya, Olive langsung terlihat senang.

"Beneran
tante. Dimana?. Siapa namanya?" tanya Olive.

"Sebentar"
kata Tante itu, Dan mengocok kartu yang ada di atas meja, lalu mengaturnya di
atas meja "Kamu pilih salah satu"

"Saya…
Mau yang ini" jawab Olive sambil menunjuk salah satu kartu, peramal itu
membukanya.

"Kamu
akan bertemu dia, dia yang akan datang kerumah kamu sendiri, dengan papa dan
mamanya, dan akan menginap di rumah kamu…"

"Beneran
tante. Kapan?"

"Tiga
hari dari sekarang"

"Ha?!
Waaah asyiiiik, Terima kasih tante…" kata Olive dengan senangnya "Lihat,
benerkan apa kata gue, di sini bisa meramal jodoh" bisik nya ke arah
Niken.

"Ia
lah, ya udah kalau gitu, selesaikan. Kita pulang sekarang" ajak Niken.

"Loe
nggax mau mencobanya?" tanya Olive.

"Gue?"
tunjuk Niken kearah wajahnya sendiri.

"Kamu
tidak percaya?" tanya Peramal itu tiba – tiba.

"Emmm,
saya…" Niken jadi gugup.

"Saya
tau. Kamu tidak pernah percaya dengan ramalan, dan hal yang berbau mistik
lainnya. Tapi, kamu juga sangat baik
hati, dan saya melihat kamu punya masa depan yang cerah…" kata tante
itu, Niken jadi kaget mendengarnya.

"Apa…
saya bisa mempercai tante?" tanya Niken.

"Itu
semau tergantung kamu sendiri, saya tidak memaksanya, kalau kamu percaya
silahkan, kalau nggax, ya terserah kamu sendiri…"

"Apa
yang bisa saya percayai tentang kebenarakn ucapan tante…"

"Tunggu,
Kamu" Peramal itu memejamkan matanya "Punya… Kakak cowok satu,
dan… Ibu. Tapi… Ayah mu… Sudah meninggal. Benar?" tanya Peramal itu
dan kembali membuka matanya, Niken jadi kaget, dan dengan hati-hati mengangguk.

"Tante…
Tau dari mana?".

"Saya
bisa membacanya. Kamu sekolah di SMU 'mawar putih', Banyak yang mengejar-ngejar
kamu. Dan kamu merasa risih dengan itu semua, kamu juga tidak membenci mereka, karena
sifat kamu yang pemaaf. Tapi, Tunggu, saya melihat ada yang membuat kamu kesel
beberapa hari ini".

"Waw,
semuanya tepat" kata Olive sambil tersenyum "Emmm kalau begitu tante,
siapa jodoh Niken?" tanya nya lagi sambil tersenyum.

"Sebentar…"
Peramal itu kembali mengocok kartunya, dan mengatur di atas meja "Pilih
lah salah satu…" lanjutnya.

"Ayo
ken, pilih salah satu. Gue mau lihat, siapa jodoh loe, Apa itu ada di antar cowok-cowok
yang mengejar loe?".

"Gue
nggax mau" bisik Niken.

"Ayo
donk, sekali ini aja. Kalau nggax bener juga nggax apa-apa kok, yang penting
loe coba dulu. Loe nggax usah percaya seratus persen, cukup loe tau aja"
rayu Olive.

"Tapi
liv…" Niken terlihat ragu.

"Please…"

"Ya
baik lah, gue mau yang ini" tunjuk
Niken sambil menunjuk satu kartu di depannya.

Peramal
itu mengambilnya, meneliti beberapa saat, tiba-tiba tante itu mengerutkan
keningnya.

"Kamu…
sudah pernah bertemu dengannya"

"He?!,
Siapa?" tanya Niken bingung.

"Dia
orang yang kamu temui beberapa hari ini, cowok berbaju putih dan bertopi. Kamu juga
telah bertemunya beberapa kali…"

"Apa
dia ada di SMU kita juga?" tanya Olive semangat. Peramal itu menggeleng.

"Tidak.
Dia orang yang beberapa tahun lebih tua, Dan kamu akan bertemu dia lagi, setiap harinya
akan makin sering… hingga cinta itu tumbuh tanpa kalian sadari… tapi, dia
jodoh kamu yang sebenarnya"

"He?!
Siapa ya?" fikir Niken.

"Bayangkan…"
pinta tante peramal "Pejamkan matamu, dan fikir siapa orang yang kamu
cintai tanpa kamu sadari…" lanjutnya, tiba-tiba muncul wajah seseorang
di benak Niken.

"Tunggu"
kata Niken dan kembali membuka matanya.

"Kenapa?"
tanya Olive.

"Tadi,
saya melihat wajah seseorang. Tapi, saya nggax bisa melihatnya dengan jelas,
dan dia langsung menghilang" jawab Niken. Peramal itu terlihat tersenyum
senang.

"Dia
jodoh mu.Tapi, kamu tenang saja. Kamu akan bertemu dengannya kembali, sore ini
di depan rumah mu. Sekitar jam tigaan, memakai baju hijau, pakai jaket hitam
dan… celana silver juga topi" kata tante itu.

"Oh
baiklah, terima kasih tante. Udah yuk liv, kita pulang" ajak Niken sambil
beranjak.

"Tapi
ken".

"Ayo!”.

"Baiklah,
Emmm terima kasih tante. Ini bayarannya" kata Olive sambil menyodor kan
amplop kearah tante itu "Kita pulang dulu" lanjutnya dan mengikuti
Niken keluar dari rumah tante itu.

"Kenapa
buru-buru banget sih?" tanya Olive begitu di dalam mobil di perjalanan
pulang.

"Kan
gue udah bilang sama loe, gue itu nggax percaya sama yang begituan… jadi buat
apa kita di sana lama-lama…" jawab Niken.

"Tapi.
Apa yang tante itu bilang semuanya bener kan…"

"Gue
tetap nggax percaya"

"Tapi
ken…"

"Udah
lah, ngapain sih ngomongin hal yang nggax penting gitu, gue bilang nggax
percaya ya nggax percaya, gue yakin kok jodoh gue bisa gue temui sendiri, nggax
perlu bantuan peramal-peramal segala"

"Ya
udah, terserah loe. Tapi loe harus kasi tau gue, siapa yang bertamu ke rumah
loe ntar sore, yang pake baju hijau, pake jaket hitam, dan celana silver juga
topi. Gue penasaran, siapa ya kira-kira tuh cowok…" kata Olive sambil
tersenyum.

"Kalau
loe mau tau lihat aja sendiri, gue nggax berminat"

"Kalau
gue bisa juga gue mau, Tapi, ntar sore gue mau ke rumah nenek, nemenin
mama…."

"Ya
udah kalau gitu, tunggu gue menikah besok saja”.

"Yaaah
Niken… tapi kan”.

"Kenapa?.
Gue nggax mau. Titik" kata Niken mengakhiri perdebatannya, Olive hanya
bisa cemberut, karena ia tau apa yang udah di bilang Niken nggax mungkin bisa
di belokin lagi, Ia sudah sangat hapal akan tabiat sahabatnya itu.

To be continue…

Ps: Jangan lupa add Penulisnya ya
>>> Mia Mulyani

Random Posts

  • Cerpen Remaja King Vs Queen~03

    Cerpen Terbaru King vs Quen Part 3"Seriuz loe?" tanya Olive saat di kantine keesokan harinya, Niken hanya mengangguk sambil menikmati es rumput lautnya. "Cowok yang udah nabrak loe, and bikin loe kesel itu… Temen deket kakak loe?" tanyanya lagi, Niken kembali mengangguk "dan dia datang kerumah loe?""Ia Olive" jawab Niken sambil menatap sahabatnya "Dia itu temen baik kakak gue… Namanya Gilang dan lebih parahnya lagi. Gue yang harus minta maaf sama dia, loe bisa bayangin nggax sih gimana perasaan gue".Credit Gambar : Star Night"Yaaa pasti berat banget buat loe. Loe yang sabar aja ea. Jadi, apa yang mau loe lakuin sekarang? loe mau minta maaf sama Gilang""What?! gue minta maaf? sorry ea, ini tu salahnya dia. Masa' gue yang harus minta maaf, ogah banget lah" kata Niken.sebagian

  • Cerpen Cinta dan Dongeng

    Cinta dan DongengCerpen oleh Maya Winandra nova“Kringggg…..!!!” “Assalamualaikum”. Pesan baru dari Handphone ku, tertulis salam dari pengguna nomor baru. Dan ku jawa “Waalaikumsalam….”.“Ini maya ya….?”, balasan sms pun datang menjawab salamku. Langsung ku balas “Iya. . .ini me, ne spa ya?”, pesan singkat ku lontarkan kembali kepada pemilik nomor baru dalam Handphoneku.Panggilan masuk pun berdering lewat Handphone ku dengan nomor baru itu. Ku jawab salamnya dan pembicaraan pun berlangsung dengan ku. Pemilik nomor baru itu adalah seorang pria yang bernama Andi. Dia mendapatkan nomor teleponku dari Abang angkat ku yang ku kenal baik selama ini. Perkenalan baru yang bermula lewat Handphone membawa aku dan dia akrab. Saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, bercanda bersama meski lewat Handphone. Pertemuan pun kami rencanakan di rumahku yang sederhana. Di malam yang cerah dia datang bersama seorang teman yang menemaninya.“Assalamualaikum. . . .?” terdengar dari luar pintu rumahku seseorang mengucap salam seraya mengetuk pintu rumahku.“Waalaikumsalam. . .” jawabku sambil ku buka pintu rumahku.Seraya tersenyum sopan, seorang pria berdiri di hadapanku sambil bertanya kepadaku, “Benarkah ini rumahnya Me?” tanyanya singkat.“Ya benar, , , Anda siapa dan ada perlu apa dengan saya?” ku jawab pertanyaannya sambil ku lontarkan pertanyaan balik kepadanya.“Saya Andi yang menelpon Kamu tadi” jawabnya singkat.“Oh. . . Bang Andi itu ya. . .?? hmmm. . . . ayo silahkan masuk, kirain siapa tadi.” Jawabku sambil menyuruh dia dan temannya masuk kedalam rumah.“Silahkan masuk dan silahkan duduk,” ku persilahkan lagi kepadanya.“Iya. . . terima kasih,” seraya berjalan masuk dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu rumah ku.“Sebentar ya. . .!!” jawabku sambil ku tinggalkan mereka sejenak di ruang tamu, ku bergegas pergi ke dapur dan membuatkan 2 gelas teh manis panas dan ku persilahkan kepada mereka.“Diminum tehnya, , , tapi masih panas sangat,” kataku basa-basi.“Iya terima kasih, , , “ jawab mereka.“Gimana. . . susah ya nyari alamat rumah Me?”, tanyaku membuka suasana yang hening.“Iya. . . sempet juga nyasar tadi, soalnya belum pernah main-main ke daerah sini,” balasnya.“Ya. . . begini lah keadaan rumah Me,”“Hmmm. . . sunyi ya disini, kemana semua keluarga Me?” tanya nya kepadaku.“hmmm…. kalau bapak sama mamak Me lagi di kamar lihat televisi, adik Me yang pertama lagi keluar latihan main Band, kalau adik Me yang kedua lagi lihat tv di ruang tengah, sedangkan kedua kakak Me udah berumah tangga mereka udah tinggal di rumah mereka masing-masing,” jawabku menjelaskan.“Oo. . . kirain pada pergi, soalnya sunyi sih rumahnya.” Katanya balik.Aku yang memang terkenal mudah bergaul dengan orang laen dengan mudah bisa membawa suasana menjadi ramai dan tidak terasa canggung dalam berbicara meskipun baru pertama kali bertemu. Pembicaran dan canda tawa di ruang tamu membawa kami lupa bahwa kami baru bertemu, seakan udah lama sangat berkenalan. Nah, , , itu lah sifat pribadi Me yang mudah membaur dengan orang laen. Tak terasa waktu udah menunjukkan jam 11 malam. Dia dan temannya permisi buat pamit pulang. “Berhubung sudah malam, kami pamit pulang dulu ya, laen waktu bolehkan kami main ke rumah Me lagi,? Tanyanya kepadaku .“Boleh saja atuh bang, , ,” jawabku dengan gaya bicaraku yang terbilang unik, yang mencampurkan bahasa daerah laen.“Ya udah kalo begitu, , , Assalamualaikum Meme?” kami pamit pulang, katanya kepadaku sambil bergegas pulang.“Waalaikumsalam bang, , ,” jawabku.Ku bersihkan ruang tamu ku yang tadi berantakan. Saat selesai ku bersihkan lalu ku rebahkan tubuhku di tempat tidur. Tak lama Handphoneku berdering. Sebuah panggilan masuk dari bang Andi. Ku perhatikan sejenak, lalu ku angkat segera teleponku.Mei :”Hallo Assalamualaikum Bang…..?” sapaku lewat Handphone.Bang Andi :”Waalaikumsalam Meme. . .” balasnya.Mei :”Ada apa bang, , ,? Apa ada yang tertinggal di rumah Me?” tanyaku heran, karena baru saja mereka beranjak pamit pulang, kemudian Handphoneku berdering.Bang Andi :”hmm. . . nggak ada apa-apa kok, Cuma pengen ngobrol aja neh sambil makan…”Mei :”Oo. . .kirain ada yang tertinggal di rumah Me, , eh rupanya. . .rupanya. . .”Bang Andi :”Heeee. . . nggak apa kan Mei, Bang nelepon neh?” Mei :”nggak apa atuh Bang. . .”Bang Andi :”Ternyata bener ya. . . nggak dari Handphone maupun jumpa langsung, Meme ananknya enak kalau di ajak ngomong gitu, mudah akrab orangnya,” Mei :”Heeee. . . begini lah Me, Bang, orangnya”Pembicaraan yang bisa di bilang ya. . . seperti orang-orang pada umumnya, membawa keramahan tersendiri bagi siapa yang mengenal diriku. Terkesan tomboy, tapi paling asyik jika diajak bicara. Semenjak perkenala itu, kami semakin akrab dan semakin sering bertemu. Hingga pada akhirnya membawaku untuk menemaninya menghadiri sebuah acara pernikahan temannya. Aku yang biasa tampil dengan gaya ku sendiri kini ku hadir dengan balutan gaun putih dengan rambut yang sengaja ku tata beda dengan high heel senada dengan gaun yang ku kenakan. Mungkin yang biasa melihat aku bergaya tomboy, sekarang bisa menjadi cewek feminim yang benar-benar beda di malam acara tersebut. Tak dipungkiri juga, dia yang biasa melihat aku langsung gak percaya saja melihat aku yang sekarang ini.Bang Andi :”Waw, , , , I like it’s. . .”Mei :”hmmm. . . apa sihh. . . Jangan diliatin terus, Me jadi gak PeDe atuh” jawabku dengan muka malu.Bang Andi :”Ngapain malu. . . beneran lo. . . I Like this. . . sumpah beda banget lo” jawabnya memujiku.Mei :”Udah ach. . . jangan komen terus, , ,buruan kita pergi ntar kemalaman “, pintaku.Bang Andi :”Ya udah yuk . . . tapi entar dulu, Bang pamitan dulu sama orang tua Me,”Mei :”Silahkan bang, , , tuh mama ada kok di ruang tengah”Dalam perjalananku menuju tempat dimana acara itu di gelar, banyak pembicaraan yang kami lontarkan. Tak khayal sebuah komentar perubahanku. Dari pertanyaan dan pertanyakan ku menjelaskan bagaimana diriku ini. Mei :”Ya, , , seperti bang lihat sekarang ini, Me yang biasanya tampil apa adanya dengan gaya tomboynya Me, sebenarnya Me bisa tampil dengan gaya feminim seperti saat ini, Cuma Me kadang-ladang aja kayak gini, bisa di bilang jika ada iven-iven kayak gini neh, Me kadang menyesuaikan keadaan sekitar Me, bagaimana berpakaian saat bekerja, di rumah, kumpul dengan teman, atau pun pergi ke pesta,” kata ku menjelaskan panjang lebar dengan nya.Bang Andi :”Tapi beneran. . .Bang jadi PeDe kalau seperi ini, beda banget lo Me malam ini, sungguh I Like it banget lo.”Mei :”Ya makasih bang.”Akhirnya tiba di tempat dimana kami tuju. Setiba di sana aku merasa nggak enak banget di lihati oleh para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut. Aku sampai berpikir kalau ada yang salah dengan diriku hingga banyak yang melihat aku di malam itu. Tapi dia menyakinkan k kalau gak ada yang salah dengan diriku, itu karena aku tampil beda dengan lainnya. Mendengar ucapannya kepadaku, aku berusaha nyantai membawa suasana seperti itu. Dan sukses juga acara menemani dia. Perkenalan yang singkat itu akhirnya menumbuhkan rasa di antara kami berdua. Tak bisa di tutupi lagi, cinta pun tumbuh diantara kami. Hari demi hari kami lalu, semakin lama semakin dekat. Walau kadang kami tidak sesering bertemu, percakapan lewat Handphone juga bisa mendekatkan kami jauh lebih dekat ketimbang terus bertemu muka.Saling mengerti, saling mengingatkan, saling percaya kami patokan dalam hubungan kami. Keterbukaan satu sama yang lain juga kami lakukan dengan sikap dewas. Hingga keseriusan di antara kami ada. Saat dia kerja, dan mengharuskan dia tak bisa bertemu denganku, ku menghargainya. Kami saling mengingatkan satu sama yang lain agar selalu dekat dengan Yang Maha Esa. Itu lah satu poin dimana aku bisa mencintainya, selain aku bisa deket dengan cintainya, aku juga bisa mendekatkan diri dengan Yang Maha Esa. Tapi di perjalanan cintaku selalu tak semulus dengan hari-hariku yang ku lewati dengan senyum ceria dan semangat. Aku harus merasakan rasa sakit hati kembali dengan yang namanya Cinta. Pertemuan dan hubunganku tak secerah awan dan ibarat umur, hanya seumur jagung. Tanpa alasan yang pasti, ku harus melepaskan cintaku yang telah bersamaku untuk orang laen. Sungguh cinta yang katanya indah, kini bagai dongeng di saat malam tiba, dimana yang katanya indah tidak bisa aku rasakan. Kini diriku tidak bisa berbuat banyak tentang hal ini, ku harus bisa menjadi aku sebelum atau pun sesudah nya, aku adalah aku. Semogga Allah selalu menuntunku dan memberikan ku kesabaran dalam menjalani kehidupan aku ini. By : Maya Winandra novae-mail :Mayawinandranova@yahoo.co.id

  • Cerpen Remaja “Kala Cinta Menyapa ~ 10”

    Sempet males mo lanjutin ni cerpen Remaja kala cinta menyapa ini, tapi akhirnya di lanjutin juga. Alasannya, Hufh masih sama dengan yang sebelumnya. Kalau yang udah pernah baca, pasti langsung tau.Ah satu lagi, waktu ngetik ni cerpen kondisi beneran lagi nggak fit. So rada maklum lah yea…Dengan hati – hati Rani melangkah melewati pintu gerbang kampusnya. Matanya secara awas mengawasi sekeliling. Mencari tau keberadaan sosok erwin yang mendadak menjadi orang yang paling ia takuti terkait acara "tembak" langsungnya."Rani?".Rani langsung terlonjak kaget. Untuk sejenak terpaku saat mendapati orang yang sedari tadi ia hindari berdiri tak jauh darinya. Bahkan jelas – jelas memanggil namanya. Dan saat sosok itu melangkah mendekat mulutnya langsung terbuka untuk memperingatkan.sebagian

  • Cerita SMA Diera Diary End

    Setelah sekian lama akhirnya Cerita SMA Diera Diary bisa ketemu juga sama yang namanya ending. Secara udah pada penasaran donk gimana kelanjutan ceritanya. Terus di mana sebenernya diari gadis tersebut berada. Apa bener berada di tangan andreani atau justru ada orang lain yang telah menemukannya. So, buat yang mau tau jawabannya langsung simak ke bawah aja deh. Nah, biar lebih mudah, untuk part sebelumnya bisa di baca disiniDiera DiaryDiera pamit sama orang tua nya untuk makan malam di luar karena tadi Pasya memintanya untuk segera datang ke kaffe yang tak jauh dari rumahnya. Ia di tunggu di sana, ada yang mau ia sampein.Diera sempet menolak, besok aja. Tapi katanya penting. Harus malam ini juga. Ya udah Diera ngalah. Diera membuka tas sandangnya untuk mengambil hapenya buat ngabarin Pasya kalau sekarang ia udah ada di depan kaffe. Diera tersenyum melihat isi tas nya. Bukunya Rian tadi siang yang ketinggalan nggak sengaja ke bawa,Deringan bunyi ponsel mengaget kannya. Ternyata SMS balesan dari Pasya yang memintanya untuk langsung masuk aja.di tunggu di meja nomor 23. Dengan mantap Diera melangkah kan kaki ka meja 23 yang ada di pojok ruangan. Ia yakin sosok pria yang duduk membelakanginya adalah Pasya yang sudah menunggu nya sedari tadi. Sampai kemudian….“RIAN?!” Diera tertegun. Seolah masih nggak percaya sama pandangan di hadapannya.Rian menoleh sambil tersenyum. Duh manisnya… Diera saja sampai deg-deg an melihatnya…“Kok loe yang di sini? Bukannya Pasya?” Tanya Diera masih nggak percaya.“Jadi loe nggak suka. Ya udah gue pulang aja deh,” Rian pura-pura ngambek dan siap-siap untuk pergi.“Tunggu” Diera segera menarik tangannya. “Jangan datang dan pergi sesuka hati loe. Itu nggak baik.”Rian kaget karena Diera sengaja mengulang kata-katanya tadi siang untuk menarik perhatiannya. Sejenak Rian terdiam tapi kemudian ia kembali tersenyum.“duduk dulu yuk” ajak Rian sambil menarik kan kursi untuk Diera.“eh kita mau ngapain nie?” Tanya Diera setelah beberapa saat mereka saling terdiam “mana pake acara ada Lillyn segala lagi. loe ulang tahun ya?” sambung Diera sebelum Rian menjawab pertannyaan nya.“Bukan” Rian menggeleng.“jangan-jangan loe rabun senja ya? Tapi prasan tuh lampu udah terang deh…” tebak Diera ngasal.“apa an sih?” bantah Rian.“0 gue tau. Loe pake Lillyn pasti gara-gara loe mau ngerokok tapi nggak bawa korek. Ia kan?”“ah… loe. Jangan ngeledek gue terus deh” Rian gemes. Sementara Diera malah tertawa.“jadi kita kesini mau ngapain?” ulang Diera.Rian diem agak ragu. Ia mengatur napasnya sejenak. Matanya menatap tajam kearahnya yang kemudian di raihnya tangan Diera dan menggenggamnya.“Diera gue suka sama loe. Loe mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Rian.Diera terdiam ia masih kaget.“gi mana? Loe mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Rian lagi karena Diera masih belum memberikan jawaban.“nggak” balas Diera sesaat kemudian.“jadi gue di tolak lagi nie” Rian kecewa sambil melepas kan genggamannya.“nggak mungkin lah gue nolak jadi pacar cowok keren kayak loe” sambung Diera sambil tersenyum.“loe tu ya seneng banget ngerjain gue. Emang deh…” Rian gemes. Sementara Diera malah tertawa mendengarnya.“jadi mulai sekarang kita resmi jadian nih?” Rian memastikan.“menurut loe?”Rian tersenyum mendengarnya.“eh tau nggak sih, tadi nya gue sempet berfikir kalau loe sama kayak hanafi” kata Diera beberapa saat kemudian.“hanafi?!” Rian Heran. Diera membalas dengan anggukan kepala.“siapa dia?” Tanya Rian lagi.Dari suaranya aja jelas terkasan rasa nggak suka. Masa di awal jadian mereka justru yang di sebut malah nama cowok lain.Diera tidak menjawab. Sebaliknya ia malah mengeluarkan bukunya Rian dari dalam tasnya dan menyodorkannya ke pada pacar barunya. Rian segera meraihnya, sejenak ia terdiam melihat judulnya. Tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum menatap Diera.“emang loe mau jadi ‘ninda’ nya?”“kenapa nggak? Dia baik, cantik, soleha lagi” balas Diera mantap.“ya udah kalau gitu sekarang juga kita langsung ke rumah loe” ajak Rian.“HA?! Mau ngapain?” Diera kaget plus bungung.“katanya mau jadi ninda. Ya udah kita minta di nikahkan aja besok. Ha ha ha…”“sembarangan!!!” damprat Diera sewot karena Rian ngerjainnya. Sementara Rian makin ngakak.“eh tapi ngomong-ngomong Pasya nya mana ya?” Tanya Diera beberapa saat kemudian.“tuh kan… loe kok malah ngomongin cowok laen lagi sih” Rian sewot.“bukannya apa. Tadi kan dia yang mint ague kesini. Kok jadi loe yang datang gitu lho”“0 jadi nggak suka? Ya udah gue pulang aja deh” Rian mau beranjak pergi. Tapi buru-buru di tahan oleh Diera.“tunggu dulu. Bukan itu maksud gue. Loe jangan salah paham dulu. Gue Cuma…”“ia, gue tau kok. Gue tadi Cuma ber canda…” Rian kembali duduk di bangkunya “lagian tu orang palingan lagi kencan juga”“Ha?! Sama siapa?” Diera kaget.“Hera” balas Rian singkat.“Hera?! Kok bisa?”“ya bisa donk.tu orang kan udah lama naksir sama Hera”“kalau soal itu gue juga udah tau. Maksud gue kok mereka bisa kencan bareng, memang siapa yang nyomblangin?”“siapa lagi donk. Ya pasti gue lah”“elo?” Diera makin Heran.“memangnya kenapa?” Rian balik nanya.“sulit di percaya. Memangnya sejak kapan loe care sama temen-temen gue. Pa lagi Hera. Masa ia loe bisa nyomblangin mereka” Diera masih berfikir kalau Rian bercanda.“lho memangnya loe belom tau ya? Tiap 2X seminggu Hera kan datang ke rumah gue. Dia kan jadi guru private nya adek gue” terang Rian lagi.“What?!” Diera mendelik mendengarnya “tapi tu anak kok nggak pernah cerita ma gue kalau dia kerja di rumah loe?” sambung Diera.“tau” Rian angkat bahu “lagian gue juga nggak suka kalau cewek gue deket-deket sama cowok laen”“ketahuan… loe cemburu ya?” goda Diera.“nggak kok. Siapa juga yang cemburu. Orang gue Cuma nggak suka aja” bantah Rian.“alah jangan bohong… ngaku aja…” kejar Diera lagi.“terus kenapa emang kalau gue cemburu? Nggak boleh? Loe kan cewek gue. Jadi wajar donk” sahut Rian kemudian Diera langsung ngakak.“eh udah makin malam nie. Loe mau pesen apa? Gue juga udah laper dari tadi ngobrol terus” Rian mengalihkan pembicaraan.“E… spageti sama orange jus aja deh” sahut Diera sambil melihat daftar menunya.“nggak miso sama es rumput laut?” ledek Rian lirih.“maksudnya?” Diera Heran. Dari mana Rian tau makanan kesukaannya. Tapi Rian tidak mau membahas lebih lanjut, ia malah mengajak Diera angobrol hal laen. Tepat pukul Sembilan tiga puluh Rian mengantar Diera pulang kerumahnya.Cerita SMA Diera Diary End“apa?!!! Jadi sekarang loe udah beneran jadian sama Rian?” Narnia setengah berteriak nggak percaya waktu Diera curhat ma temen-temennya di kelas pas jam istirahat sekolah. Saat itu kebetulan kelas memang lagi sepi hanya ada mereka berlima di kelas sementara temen-temen yang laen sudah pada keluar.“kok bisa sih?” sambung anggun yang juga masih nggak percaya.“tapi kalau gue sih nggak Heran ya” komentar Hera.“kok githu?” Tanya Lilly.Diera diam saja mendengar tanggapan temen-temennya.“ya iyalah secara gue kan emang tau kalau dari dulu itu Diera emang naksir berat sama Rian. Sementara gue juga tau kalau Rian juga suka sama dia”“loe tau Rian naksir sama Diera?” Lilly kaget plus Heran.“gimana bisa?” tambah Narnia.“ya bisa lah. Kalian tau nggak sih, selama ini ternyata Hera kerja sambilan di rumah Rian, ia jadi gur private adeknya Rian. Jelas aja dia bisa tau. Pasti selama ini Rian udah sering cerita macem-macem sama dia” Diera yang menjawab.“ha?! Loe kok nggak pernah cerita ma kita?” Lilly makin kaget.“emang nih anak. Suka maen rahasia-rahasiaan sama kita. Salnya ni ya, biar gue tebak. Pasti dia juga nggak da cerita ma kalian kalau tadi malam itu dia kencan sama Pasya, ia kan?” terang Diera lagi. semuanya semakin melongo.“benarkan?” anggun nggak menduga sama sekali.“tapi bukannya Pasya selama ini deket sama loe ya?” Tanya Narnia.“emang sih. Tapi dia deket sama gue Cuma karena ada maunya” balas Diera sambil tersenyum melirik Hera.“jadi loe tadi malam beneran nge date sama Pasya ra?” Tanya Lilly ke Hera.“nggak kok. Gue Cuma jalan biasa aja. Diera emang suka ngarang tuh” elak Hera.“ngaku aja deh…” ledek Diera lagi.“nggak!!!” Hera ngotot.“alah Rian yang bilang ndiri kok sama gue, pasti selama ini kalian sering curhat-curhatan di belakang kita ia kan?” desak Diera lagi.“bukan. Tadi malam itu gue di kerjain sama Rian. Dia bilang gue di tunggu sama septia. Adeknya dia, eh nggak taunya pas gue datang malah Pasya yang nongol” terang Hera.“masa’ she…” Diera masih ingin menggoda sahabatnya yang satu ini.“sumpah deh” Hera mengangkat dua jarinya.Diera mencibir bibirnya “tapi loe senengkan…” ledeknya lagi.“ah loe tu emang ya…” Hera bête juga lama-lama “lagian siapa bilang gue sering curhat-curhatan sama Rian?”“kalau nggac dari mana donk loe bisa tau kalau Rian selama ini naksir sama Diera” ujar anggun.Kali ini Hera dapat ide untuk membalas ledekan Diera.“gue bisa tau kalau Rian itu suka sama Diera gara-gara adeknya nunjukin foto ini ke gue. Dia nanya ma gue, ne cewek siapa, kok fotonya ada di hape kakaknya. Gue kenal nggak” balas Diera sambil mengeluar kan hapenya. Narnia langsung merebutnya dengan antusias.“apaan nie? Diera lagi tidur?” Narnia bingung. Karena bingung Diera merebut hape tersebut.“ini kan waktu gue nyasar di hutan. Kok dia bisa punya foto gue sih?” guman Diera kaget.“emang. Cie… ehem ehem ehem… emang waktu di hutan kalian ngapai aja tuh. Patut di curigain deh kayaknya” gentian Hera yang ngeledek Diera.“bahkan di jadiin wallpaper hape nya lho” sambung Diera lagi sambil tersenyum mengejek.“awas tu orang” geram Diera malu sambil berlalu dari hadapan temen-temennya yang menyorakinya. Sementara Hera tertawa puas karena berhasil membalas ejekan Diera tadi.Dengan tergesa-gesa Diera melangkah kan kaki menuju ke belakang sekolah. Ia yakin Rian pasti saat ini ada di sana. Karena ia tadi sudah mencarinya ke mana-mana, ke perpus, kantine, bahkan ia juga sudah kekelasnya tapi tetep belum nemuin Rian.Ternyata bener dugaannya. Rian emang ada di sana. Lagi nongkrong di tempat biasa sambil baca buku. Dan Rian langsung kaget ketika mendapati Diera sudah berdiri di depannya sambil menatap tajam kearahnya.“lho kok loe di sini? Nggak di sana?” ledek Rian sambil menunjuk pohon bunga tempat Diera biasanya ngumpet.Diera diam saja tanpa melepas pandangannya sedikit pun.“apa karena sekarang loe udah jadi cewek gue makanya bebas, huu… dasar” sambung Rian sambil mencubit pipi Diera gemes.“mana hape loe?”“he?! Buat apa?” Tanya Rian bingung.“udah jangan bawel. Sini gue mau liat”“apaan sih. Apa karena sekarang loe udah jadi cewek gue makanya loe mau ngecek hape gue kali aja gue ada maen ma cewek laen?”“gue bilang sini in” Diera ngotot.“hei kalau pun cemburu jangan kebangetan deh. Gue nggak ada maen sama cewek laen” Rian mulai gusar.Diera sama sekali nggak menggubrisnya, malah ia nekat merebut hape Rian yang kebetulan lagi di pegangnya.“apaan sih loe” bentak Rian sambil berusaha merebut hapenya kembali tapi Diera menghalanginya.“ini apa?!” Diera menunjuk kan hape nya pada Rian.“he ada yang aneh?” Rian Heran.Rian mengambil hape nya kembali. Sementara Diera udah pasang tampang cemberut.“0 wallpaper nya?” Rian baru nyadar.“ia. Maksud loe apa jadiin foto gue sebagai wallpaper hape loe. Mana gue lagi berpose kayak gitu lagi”“lho emangnya ada yang salah? Yang gue pajang kan wajah pacar gue sendiri. Kalau cewek laen wajar loe marah” Rian membela diri.“tapi waktu itu kita kan belom jadian, kok loe udah punya foto gue sih? Mana gue lagi tidur lagi, pasti loe ngambil nya diem-diem kan?” Tanya Diera lagi, Rian kaget.“0… itu… karena…” Rian jadi salting“karena sebenernya loe udah lama naksir sama gue. Ia kan? Huu.. ngaku aja deh, tau gini mendingan kemaren waktu loe nembak gue, nggak usah langsung gue terima kali ya” gerutu Diera.“apaan tuh. Jadi loe nyesel jadi cewek gue” Rian protes.“ia, abisnya selama ini loe kan jutek banget sama gue. Eh nggak taunya. Ternyata diem-diem loe naksir juga sama gue” ledek Diera.“0h ya?… kayak loe nggak. Bukannya loe juga udah naksir sama gue . bahkan dari kelas satu ia kan?” balas Rian sambil tersenyum menang.Diera kaget nggak nyangka Rian bisa balas meledek nya. Bahkan dia juga udah tau rahasianya.“ahh nggak kok. Siapa yang bilang. Andreani?… tu anak loe dengerin” elak Diera.“kenapa gue harus percaya sama Andreani? Ya gue tau nya dari loe sendiri lah”“gue?” Diera bingung.“eh sini deh” Rian menarik Diera mendekat “gue mau nanya sama loe. Kira-kira kalau ada cewek terus dia naksir sama cowok, apa yang bakal dia lakuin?” Tanya Rian.“ya berusaha ngedeketinnya donk” balas Diera setelah mikir beberapa saat.“huu… salah” Rian mendorong Diera menjauh “yang bakal dia lakuin adalah memenuhi buku haRian nya sama nama cowok tersebut” sambung Rian sambil tertawa dan pergi meninggal kan Diera yang kebingungan.“tunggu dulu” gumannya lirih “jangan bilang kalau elo yang udah nemuin buku diary gue yang ilang?” Tanya Diera, Rian menoleh.“jadi loe baru nyadar?.. ha ha ha kemana aja loe selama ini…”“APA?! 0MG!!!” Diera shok.“eh Rian. Tunggu dulu” kejar Diera melihat Rian yang semakin menjauh/“balikin nggak!!!” teriak Diera sambil terus mengejar Rian yang terus tertawa menghindar dari kejarannya.“nggak…!!! Wuek….” Ejek Rian sambil terus berlari.“Rian balikin please…” kejar Diera.“pokok nya nggak”“ha ha ha…”EndSalam ~ Ana Merya ~Lanjut Baca : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*