Cerpen Remaja ‘FCMCSG’ Part 2

Cerpen
FCMCSG
Bagian 2

Cerpen FCSCMG karya Mia Mulyani bagian kedua. Monggo langsung di baca.

Star Night

Credit Gambar : www.desainkawanimut.com

cerpen

Begitu pak Retno melangkah keluar meninggal kan kelas, Feisya segera menghampiri meja Sarah. Tau tuh tu anak mo ngapain dari tadi saat belajar justru malah nge'sms buat berengan pulangnya.
"Ada apaan?" tanya Feisya to the point.
"Loe keluarnya bareng gue. Tunggu bentar. Gue beresin buku – buku gu dulu".
"Emang nya kita mau ke mana?" tanya feisya lagi.
"Ke parkiran bentar".
"Ha?. Mo ngapain?".
"Ada deh. Yuk" Kata Sarah sambil menarik tangan Feisya.
"Ih maen tarik aja. Emangnya kita mau ngapain si?" tanya Feisya lagi.
"Ada yang mau curhat sama kita?" balas Sarah cuek.
"Ha?" untuk kedua kalinya mulut Feisya mangap kaget.
Sejak kapan di kampusnya ada ajang curhat – curhatan?. Tapi dari pada mikir mending makan, Perut juga udah laper secara kan udah siang. Dikeluarkannya Kripik Singkong dari dalam tas, dan mulai memakannya dengan santai. Sarah menghentikan langkahnya untuk sejenak. Menatap heran sahabatnya yang satu ini. Udah jadi anak kuliahan kok isi dalam tasnya masih cemilan juga ya?. Ck ck ck.
"Emang nya mau curhat apa si?" tanya Feisya lagi.
"Nggak tau. Soal Cinta kali. Loe kan udah terkenal jadi pakar cinta".
Feisya mengertukan keningnya. Pakar cinta?. Dia?. Heh, Istilah yang didapat dari mana itu. dia aja di selingkuhin bagai mana bisa justru malah mendapat gelar gadungan yang nggak jelas gitu. Dan sebelum Ia kembali sempat protes, Sarah sudah terlebih dahulu meneriakan sebuh nama.
"Ariel!"
Pandangan Feisya segera tertuju kearah nama yang di teriakan Sarah.
"Hai faisya" sapa Ariel kearah feisya yang sedang menatapnya intens.
"Ehem… hai".
" Katanya loe mau curhat sama gue. Mau curhat apa emang?" tanya Feisya to the point.
"Gue mau minta pendapat sama loe".
"Soal?".
"E… Desi nembak gue. Menurut loe baiknya gue terima atau gue tolak?".
# kayaknya miani niat banget bikin Star Night kesek mouse #.
"Mau dia nembak loe kek, Senpang loe kek. Apa urusannya sama gue. Mau pake bom segala aja tetep nggak ngaruh juga" Gerus Feisya dalam hati. Tapi lain ceritanya ketika kata itu harus keluar dari mulu. Soalnya di mana – mana yang namanya norma kesopanan harus di utamakan bukan?.
"O… jadi Desi nembak loe?. Kok gue nggak yakin ya?. Loe bo'ong kali" balas Feisya kemudian.
"Ye ela, ngapain si gue harus bo'ong segala. Beneran lagi. Kalau kalian nggak percaya nie coba baca SMS dari dia" Kata Ariel sambi menunjukan sms desi yang memintanya untuk menjadi pacarnya.
Lagi – lagi Feisya mengerutkan keningnya. Antara bingung dan tak percaya. Bukan saja karena tulisan yang tertera tapi juga karena sejak kapan Acara tembak menembak bisa lewat Short Message Service. Ah ini orang nggak modal banget. Palingan juga Sms Gratis yang di pake. #plaks/Gapen banget.
"Gue kok kaya masih nggak percaya ya" Sarah ikutan nimbrung.
"Gue itu punya buktinya. Lagian apa untung nya coba kalau gue bohong".
"Ya kan kali aja loe mau ngerjain dia".
"Eh Gue serius nie. Dari pada kalian nebak – nebak yang sudah jelas salah. Mending langsung to the poin. Baiknya gue terima atau gue tolak".
"Ya terserah sama loe. Tapi kayaknya mendingan di terima deh, dari pada mubazir" sahut Sarah cerpet.
Dengan cepat Feisya mendaratkan sebuah jitakan di kepala Sarah. Ini anak Kalau ngomong suka asal njeplak sudah persis kayak si Sanah.
"Kok gue malah di jitak" Protes Sarah sambil mengusap – usap kepalanya.
"Tadi nya malah pengen langsung gue tendang" Sahut Feisya cepet. Mulut Sarah maju dua senti mendengarnya. Enak aja maen tendang. di kira bola apa?.
"Jadi menurut loe Feisya?" tanya Ariel.
Bukannya menjawab Feisya malah mendaratkan Sebuah jitakan di kepala Ariel. Sanah yang melihatnya langsung ngakak. Emang enak dapat giliran.
"Kok gue malah di jitak?" Gumam Ariel bingung.
"Berani loe terima, Beneran gue tendang loe" Balas Feisya menangancam.
"Yah kok gitu?" Sanah heran.
"Ya ampun sanah,…. Kalau sampe Ariel nerima si Desi, Terus si Laura mau di kemanain" Balas Feisya kesel.
"Nah justru itu yang bikin gue galau. Gue kan udah punya Laura sebagai pacar. Mana dia baik lagi".
"Lha itu tau. Ya udah so, tolak aja".
"Tapi kan kalau di tolak mubzir".
Dengan cepat sarah mendaratkan sebuah jitakan di kepala Ariel sambil tertawa puas. Saat Ariel menatapnya geram ia justru hanya membalas dengan senyum tiga jari andalannya.
"Gue kan cuma ngewakilin Feisya aja. Dari tadi dia terus yang jitak. Sekali – kali gue juga pengen" Sarah membela diri.
"Terus kenapa nggak nyoba njitak kepala loe ndiri aja" Sungut Ariel masih nggak terima.
"Sudah sudah sudah. Kok malah ngbahas jitak – jitakan si" Lerai Feisya menengahi. kali ini Ariel dan Sarah saling berpandangan sebelum kemudian menatap lurus ke arah Feisya.
"Kenapa?" Tanya Feisya was – was karena merasa tatapan keduanya terlihat aneh.
"Loe dari tadi makan sendiri".
"He?" Feisya heran tapi tak urung bernafas lega. Jadi cuma karena keripik to, kirain ada apa an.
"Oh ini" tanya Feisya sambil mengangat Bungkusan kripiknya yang tinggal sedikit.
"Loe mau, Beli ndiri deh. Udah abis soalnya. he he" sambung nya sambil nyengir kuda.
Sanah hanya mencibir mendengarnya.
"Ariel bentar. Ada bulu mata loe yang jatuh" kata Feisya sambil mengulurkan tanganya kearah wajah Ariel. Tanpa mereka sadari tak jauh di belakang mereka ada Dhamar, Mantan pacar Feisya yang baru di putusin kemaren sore.
"Ehem…".
"Damar?" Refleks, Feisya mendorong tubuh Ariel mejauh. Sebelah tanganya mengusap bibirnya yang sedikit berminyak karena keripik tadi. Sedikit kaget mendapati Dhamar yang lewat tiba – tiba dan malah telihat memaling kan wajah.
"Kenapa tu anak" Kata Ariel heran, Feisya juga angkat bahu nggak peduli. Beda dengan reaksi Sarah yang justru malah tertawa ngakak . Dasar nggak jelas.
"Hei, Loe kenapa?. Kesambet?" tanya Ariel menatap sarah heran.
Sarah Tidak menjawab, masih keasikan tertawa tanpa sebab.
"Sarah, loe kenapa si" Kata Feisya sambil menguncant bahu Sarah.
"Ehem, Coba kalian tebak, Kenapa tadi muka damar keliatan aneh?".
"Perasaan loe lebih aneh" Sindir Fesiya cepat.
"Hais, gue serius nie" Kata Sarah sambil berusah menahan diri agar tidak tertawa lagi.
"Gue nggak tau. Kenapa emang?" tanya Feisya walau terlihat tidak tertarik.
"Pasti dia mikir kalo kalian berdua abis ciuman".
"Uhuk uhuk uhuk "
Feisya langsung tersedak mendengarnya.
"Jangan ngarang loe" sambarnya beberapa saat kemudian.
Gantian Sarah yang angkat bahu. Ariel malah ngangguk – angguk membenarkan.
"Bodo ah. Nggak lucu
"Yang bilang gue ngelawak emang siapa?" serang Sarah balik.
"Eh riel, Urusan loe ke gue udah selesaikan. Kalau gitu geu cabut dulu" Kata Feisya ke arah Ariel yang dibalas anggukan.
"Yah… Gue di cuekin. Eh feisya. Tunggu" Kata Sarah sambil mengejar Feisya yang telah berlalu duluan.
Cerpen Terbaru FCSCMG
Jangan protes pendek. Penyakit malas ngetik Star Night beneran sedang kumat. Jadi harap maklum ya. Semoga saja cepet sembuhnya. AMIN!!!…. he he
Oh ya, Baca juga Cerpen Cinta Ketika cinta harus memilih.

Random Posts

  • Cerpen Teenlit “Dia {Nggak} Suka Aku?! ! ~ 1/2

    Lagi bingung nyari ide buat lanjutin cerpen part karena tetep nggak nemu. Yah seperti biasa, mencoba nyari ide selingan. Nulis cerpen yang di usahain bisa langsung end sekali ketik. Sebenernya emang langsung end si, tapi ternyata kepanjangan. So di jadin dua part deh. Cerpen teenlit "Dia {Nggak} suka aku?!" . Judulnya sesuatu yak, ala tebak tebakan. Soalnya phan pake tanda seru sama tanda tanya. Gimana sama cerpennya langsung simak ke bawah aja deh. Cekidots…Cerpen Teenlit "Dia {Nggak} Suka Aku?!Cerpen remaja Cinta "Dia {Ngggak} suka akuMeskipun nafasnya kini sudah ngos – ngosan, Rika tetap nekat berlari. Nggak tau ini memang harinya yang sedang sial atau apa. Yang jelas dari tadi pagi begitu banyak kejadian buruk melandanya. Mulai dari tidurnya tadi malam yang di hantui mimpi buruk, bangun pagi kesiangan. Harus ngantar adiknya, Chicy ke sekolah dulu karena motornya tiba – tiba bocor sehingga ia harus meminjam motor adiknya yang sekolahnya memang lebih deket dari rumah. Namun sialnya, ternyata saat memakai motor Cicy pun, tiba – tiba di jalan mogok juga. Dan ia tidak tau itu karena apa. Terpaksa ia dorong hingga sampai kebengkel. Karena tak ingin terlambat kesekolah, ia tinggal. Untung saja bengkelnya tidak jauh dari sekolah, sehingga ia memutuskan untuk jalan kaki saja. Sayangnya ia tetap harus berpacu dengan waktu. Lewat dari jam 07:00 gerbang sekolah akan di tutup. Jadi memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berlari.Saat melihat gerbang sekolah yang masih terbuka di kejauhan, senyum mengembang di bibir Rika. Walau keringat membasahi, ia tetap merasa gembira. Paling tidak, ia belum terlambat bukan? Lagipula selaku siswa teladan di sekolahnya, seumur hidup Rika memang belum pernah datang terlambat.Namun senyum di wajah Rika berlahan memudar sebelum kemudian benar – benar punah saat matanya menangkap sebuah senyum misterius milik seseorang yang berdiri di depan gerbang. Fadlan, rival seumur hidupnya kini tampak berdiri di sana sambil memegang gembok. Jangan bilang kalau pria itu akan mengunci pintu pagarnya. TIDAK!!!.Terlambat, saat kaki Rika tiba di sana, pintu gerbang sudah benar – benar di tutup. Membuat tenaga Rika yang sudah lemes semakin ngedrop. Matanya menatap kesel kearah Fadlan yang tampak tersenyum puas. “Fadlan. Bukain nggak!. Loe iseng banget si jadi orang!” bentak Rika kenceng.“Enggak,” balas Fadlan santai. “Ini kan udah jam 07:00. Emang sudah saatnya pintu pagar di tutup kale. Lagian salah sendiri, punya motor itu buat di tungangin. Bukan di dorong – dorong. Ha ha ha. Da da Rika, selama menikmati keterlambatannya ya. Gue masuk dulu. Bye bye,” kata Fadlan sambil melambaikan tanganya sebelum kemudian berlalu. Mengabaikan teriakan sumpa serapah Rika di belakangnya.Untunglah sepertinya Rika masih bernasip mujur. Karena beberapa saat kemudian, Pak Tarno, panjaga sekolahnya muncul. Karena ia sudah cukup di kenal di sekolah itu ia mendapat sedikit kemudahan. Sudah ia katakan bukan kalau selama ini ia selalu menjadi siswa teladan. Bahkan ketika ia menceritakan kronologi kejadianya, Pak Tarno hanya tertawa. Pria tua itu berkata, ia juga sempat heran kenapa tiba – tiba ada Fadlan menawarkan diri untuk menutup gerbangnya. Sepertinya pria itu sengaja melakukannya saat tak sengaja melihat dirinya waktu mendorong motornya yang mogok tadi. Sialan. Ketika Rika memasuki kelas, tatapan tajam segera ia arahkan kearah Fadlan yang tampak cengengesan dengan senyum tanpa dosanya. Membuat Rika yang sudah kesel semakin kesel. Dalam hati ia berjanji ia akan menyiapkan pembalasan yang setimpal untuk pria itu nantinya. Awas, liat saja. Waktu terus berlalu. Jam istirahat telah tiba. Walau kakinya terus melangkah, Rika tetap tidak berhenti mengerutu. Merasa kesel akan ulah gurunya. Ia tau kalau disekolahnya ia memang seorang yang layak di jadikan suri teladan karena sikap rajinnya. Dan jujur sebenernya ia juga merasa cukup bangga ketika guru selalu memberi perhatian lebih padannya. Sayangnya, perhatian yang di berikan kadang mencakup segala hal. Termasuk ia yang pertama sekali mendapat perhatian untuk membawa tumpukan tugas dari seisi kelas ke ruang gurunya. Ayolah, emangnya ia kacung gadungan. Mana bukunya berat. Banyak lagi. Sampai sampai itu hampir menutupi wajahnya. “Rika awas…”Tanpa sempat menyadari apa yang terjadi, yang Rika tau saat ini ia sudah duduk di lantai. Semua bukunya sudah bertebaran entah ke mana, sementara jidatnya sendiri benar – benar terasa berdenyut nyeri. Melihat bola yang mengelinding tak jauh darinya membuat ia bisa menebak apa yang terjadi. Begitu kepalanya menoleh, matanya langsung melotot tajam kearah Fadlan yang sedang berlari kearahnya..“Loe nggak papa?” tanya Fadlan dengan nafas yang masih ngos – ngosan. Sebelah tanganya terangkat mengusap keringat yang membasai dahinya dengan tatapan terjurus kearah Rika yang masih belum bergerak sama sekali.“Nggak papa gimana? Nggak liat ni jidat gue benjol gini?!”Fadlan terdiam. Kali ini matanya mengamati Rika dengan seksama. “Cuma dikit gitu. Manja banget sih?” kata Fadlan santai sembari berjalan kearah bola kaki yang tadi tidak sengaja ia tendang jauh saat bermain di lapangan samping sekolah yang justru nyasar kekepala Rika yang kebetulan lewat.Rika melongo. Bukan hanya karena sikap santai Fadlan tapi juga karena tiada iktikad bertangung jawab sama sekali dari makhluk itu. Terlebih saat ia melihat punggung Fadlan yang mulai berjalan meninggalkan dirinya begitu mendapatkan bolanya kembali.“Gue di bilang manja?” gumam Rika sendiri. “Eh busyed. Dasar cowok songong. Tidak bertanggung jawab. Minta maaf kek, bantuin beresin buku ini dulu kek. Dasar kurang ajar!” teriak Rika kesel, tapi Fadlan hanya membalas dengan lambaian tangan tampa menoleh sama sekali.Walau masih merasa sangat kesel, Rika akhirnya membereskan buku bukunya kembali. Merasa percuma berteriak – teriak memaki Fadlan yang sama sekali tidak perduli. Dalam hati ia terus menyumpahi makhluk itu agar celaka.Setelah menyelesaikan tugasnya, Rika segera menuju kearah kantin sekolah. Ia yakin ketiga temannya pasti sudah menunggu. Tak lupa, di belinya sebutir telur dari pemilik kantin untuk meredam benjolan di jidatnya.“Ya ampun Rika, jidat loe kenapa?” tanya Icha khawatir begitu melihat wujud Rika yang kini duduk di hadapannya. Tatapan Andriani dan Lauren juga menyiratkan rasa penasaran yang sama.“Kena bola” sahut Rika singkat.“Bola? Kok bisa?”“Ya bisa donk. Ini buktinya.”“Ye ditanya baik baik, jawabnya sewot gitu. Santai aja kali,” komentar Lauren, tapi Rika yang melongos.“Tunggu dulu. Jangan bilang kalau itu ulah Fadlan lagi?” tebak Andrani beberapa saat kemudian. Saat melihat raut kesel di wajah Rika bertambah langsung meyakinkannya kalau tebakannya benar.“Ha ha ha,” tawa koor langsung meluncu dari bibir Lauren, Andrean dan Icha. Benar – benar kontras dengan raut wajah Rika saat ini. “Nggak ada yang lucu,” gerut Rika kesel.“Ha ha ha, Beneran deh kita heran banget. Emang kali ini gimana lagi kronoligi kejadiannya. Secara seriusan tau, dari jaman dulu kala kenapa si loe nggak pernah akur sama cowok yang satu itu. Tiap hari pasti ada ada aja. Perasaan baru kemaren loe bilang loe ketabrak doi yang lagi belajar sepeda, tadi pagi loe dikunci diluar pagar sama dia, lah masa kali ini malah kena bola,” komentar Icha di sela tawanya.“Tau, tu cowok emang pembawa sial buat gue kali.”“Hush. Nggak boleh ngomong gitu tau. Entar kena batunya baru tau rasa.”“Kena batunya apaan. Orang yang gue omongin beneran juga. Sumpah ya, nggak ada orang lain di dunia ini yang gue benci selain tu cowok.”“Hati – hati sis, entar kena omongan sendiri lho. Inget, orang bilang benci sama cinta itu beda tipis. Soalnya sama sama selalu di pikiran. Entar tau tau loe jatuh cinta sama dia baru tau rasa,” kata Andini menasehati yang di balas cibiran sinis Rika. Jatuh cinta sama musuh bebuyutan? Dalam dunia mimpi juga mustahil.“Bener tuh apa yang Andini bilang. Yang kaya di Ftv atau di drama korea kan seringnya gitu. Loe yang demen nonton pasti juga nyadar itu kan Rik?” Lauren menambahkan. Icha juga tampak mengangguk angguk membenarkan. “Ngaco loe ya pada. Sembarangan aja kalau ngomong,” kesal Rika. “Lagian ni ya, walau dunia kebalik sekalipun. Itu nggak akan kejadian. Mustahil, imposible. Nggak akan pernah. NEVER!!!!” sambung Rika menegaskan. Tapi lagi lagi ketiga sahabatnya hanya tertawa. Selang waktu berlalu, seperti biasa. Setiap Pak Ivan yang masuk kekelas, Rika selalu kebagian tugas untuk mengumpulkan tugas dari teman – temannya baru kemudian membawanya keruang guru. Jika menurutkan hati, Rika ingin sekali protes. Tapi entah mengapa jika ia berhadapan langsung dengan wajah guru bahasa indonesianya itu, bibir nya selalu terkunci rapat. Bahkan biasanya senyum selalu mengambang. Ia yakin, itu pasti karena pengaruh dari wajah tampan yang di miliki Pak Ivan. Apalagi gurunya memang masih bujangan. Benar benar penganiaayan yang tidak termaafkan.Tepat saat di korirodor belokan kelasnya, dari arah yang berlawanan tampak seseorang yang belari dengan begitu kencang. Karena kemunculannya yang begitu tiba – tiba, Rika sama sekali tidak bisa menghindar sehingga tabrakan pun terjadi. Setumpuk buku yang ia bawa kini berserakan di lantai sementara ia sendiri sudah terlebih dahulu terduduk diam.“Sory … sory … sory… Gue nggak sengaja.”Mulut Rika yang terbuka untuk marah – marah terpakasa ia tahan saat melihat raut bersalah di wajah seseorang yang berjongkok di hadapannya sambil mengumpulkan buku – bukunya. Melihat dari penampilannya, sepertinya pria itu adalah adik kelasnya.“Kelvin, jangan lari loe!!”Secara refleks Rika menoleh. Hal yang sama dilakukan oleh sosok yang berada di hadapannya. Keduanya menatap kearah seorang gadis yang sedang berlari kearah mereka.“Mampus gue.”Rika mengernyit ketika mendengar gumaman lirih Kelvin. Selang beberapa saat kemudian gadis itu melongo saat mendapati buku yang telah di susun Kelvin kembali berhamburan. “Sory ya. Gue bukan nggak mau bantuin ataupun bertangung jawab. Tapi ini beneran urgen. Gue harus kabur sekarang. Beneran sory banget,” tanpa menunggu kalimat balasan sama sekali dari Rika, Kelvin langsung bangkit berdiri sebelum kemudian kabur menghilang entah kemana.“Tunggu dulu, maksutnya tu orang kabur tanpa bantuin gue sama sekali?” gumam Rika sendiri setelah sedari tadi hanya terdiam. Mungkin karena otaknya beberapa saat ini memang suka lola sehingga kali ini kurang tangkap dengan apa yang terjadi.“Akh, dasar rese. Sial banget sih gue,” gerutu Rika. Walau kesel tangannya mulai bergerak mengumpulkan buku – bukunya kembali.“Makanya kalau jalan itu hati – hati, liat kiri kanan juga.”Rika kembali menoleh. Matanya berkedap – kedip dengan mulut setengah terbuka tanpa kata. Pandangannya lurus kearah makhluk dihadapanya yang tidak menoleh sama sekali. Justru ia malah tampak sedang mengumpulkan buku milliknya. Rika tidak sedang bermimpikan? Fadlan sedang membantunya mengumpulkan buku. Fadlan?!“Lagian loe jadi cewek sok baik banget.Walaupun sesama cowok, oke gue akui kalau Pak Ivan itu keren, tapi emang harus segitunya juga ya. Mau – maunya aja loe di jadiin kacungnya.”“Yee.. apaan sih. Siapa yang di jadiin kacung. Lagian loe tumben – tumbenan perduli sama gue. Kesambet ya?” balas Rika judes.Fadlan hanya melirik sekilas sebelum kemudian bangkit berdiri. Berjalan meninggalkan Rika. Melihat Fadlan yang berlalu, Rika cepat – cepat melakukan hal yang sama. Tadinya tidak berniat untuk mengejar makhluk itu. Apalagi sampai harus mengekorinya di belakang. Tapi masalahnya, sebagian buku yang harusnya ia bawa ada pada Fadlan, terlebih arah yang Fadlan ikutin adalah jalan menuju ke ruangan guru.“Fadlan, loe mau kemana si? Buku nya kenapa loe bawa?” tanya Rika sambil berusaha mensejajarkan langkahnya. Tapi Fadlan tidak bergeming, kakinya terus melangkah. Dan tau tau mereka telah sampai. Setelah menyerahkan bukunya, pria itu segera berlalu. Kali ini, barulah Rika benar – benar berniat untuk mengejarnya. Tapi bukan karena ia naksir Fadlan ya, ia Cuma penasaran akan sikap aneh makhluk itu barusan. “Loe ngapain ngikutin gue?” tanya Fadlan risih.Rika tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit menatap kearah Fadlan. Berusaha menyelidiki maksut tersembunyi dari pria itu.“Tadi itu loe ngapain? Loe bantuin gue?” tanya Rika curiga..“Heh,” Fadlan sedikit mencibir sinis. Gadis itu bodoh atau apa. Sudah jelas – jelas tadi ia memang membantu, kenapa masih bertanya. Tanpa menjawab ia terus melangkah.“Jiah, gue di cuekin. Hei serius ini. Jawab donk. Tadi itu loe kenapa bantuin gue?” kejar Rika lagi.Tiada yang menduga, Fadlan yang sedari tadi melangkah tiba – tiba berhenti mendadak dan langsung berbalik. Rika yang tidak siap dengan kemungkinan itu langsung mengerem kakinya segera. Hingga kini hanya berjarak kurang dari dua centi, wajah Fadlan jelas berada tepat di hadapnnya. Membuat jantungnya terasa berhenti berdetak sebelum kemudian berdenyut dua kali lebih cepat dari biasanya. Akh, situasi ini….Cut.#Krik Krik Krik…. Bersambung…. Ha ha ha, #admin kurang kerjaan. Sory man ceman, tadinya mau di bikin oneshot, eh ternyata kepanjangan. Terpaksa deh, di potong dulu. Di jadiin dua part. Ide dadakan yang admin tulis pas kebingungan ngetik kelanjutan cerpen kenalkan aku pada cinta #gubrag.Oke, kira – kira ada yang bisa nebak {dengan benar} endingnya gimana? Kan kali aja ada yang demen berimaginasi bebas kayak admin. Xi xi xi⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ With love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • Cerpen Romantis: HADIAH TERINDAH (bagian kedua)

    Cerpen Romantis yang berjudul Hadiah Terindah ini merupakan bagian kedua dari cerpen sebelumnya dengan judul yang sama. Untuk lebih memahami bagian kedua ini, sebaiknya baca dulu bagian pertama cerpen Hadiah Terindah.HADIAH TERINDAHOleh: Rizki NoviantiSetelah perpisahan terakhir dengan randy saat itu perasaan ku memang terasa sedih tak ada lagi yang membuat ku tersenyum, tertawa, membuat ku menangis.. tapi ku bulatkan hati untuk berusaha tegar menghadapi kehidupanku kini tanpanya jauh, hati ku membulat aku pergi bukan untuk selamanya aku hanya ingin mencari bahagia.Sebulan berlanjut kita tak saling bertemu atau bertatap muka bahkan hanya sekedar pesan singkat pun tak ada darinya, menyedihkan memang terasa dalam hati rasa sepi kadang menyelimuti perasaan ku tak jarang aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri apa yang sedang dia lakukan saat ini ?? bagaimana dengan keadaannya kini?? Aku hanya bernapas panjang tanpa tahu dirinya disana.Tak harus selalu bersedih atau terus meratap karna berada jauh darinya, ku mencari-cari kesibukan ku agar tak selalu terfikirkan akan bayangnya. beminggu-minggu, berbulan-bulan akhirnya 1 tahun berlalu ku tak bersama dengan nya lagi, tak bisa melihat senyumnya, mendengar suaranya, menatap matanya, bercanda gurau dengannya tak ku rasa lagi dengan segudang pekerjaan ku di sekolah.Liburan sekolah telah tiba bingung kemana untuk mengisinya. Satu tahun dengan pekerjaan yang melelahkan, ku putuskan untuk melepas penat sejenak di kampung, ingin menikmati pemandangan yang indah, udara sejuk, dan suara-suara yang membuat hati terasa damai. sibuk mengepak pakaian dan membereskan rumah tiba-tiba terdengar suara sms masuk di handphone, ku lihat siapa yang mengirimkan pesan dan ternyata tak ku sangka itu randy. Aku tersenyum.Setelah satu tahun tak pernah ada kabar darinya ku kira dia sudah melupakan aku ternyata tidak masih ingat saja nomor handphone ku.. tak percaya randy ingin mengajaku jalan-jalan di kampung.“hhahaha.. masih ingat saja dikau” kata ku.Ku berjanji besok lusa sudah berangkat ke kampung tak sabar rasanya ingin cepat-cepat. Hari yang ku tunggu sudah tiba dengan mengendarai sepeda motor ku tancap gas agar cepat-cepat sampai di kampung dan bertemu randy di sana. sampainya ku di rumah ternyata hari tak memungkinkan untuk ku dapat menemuinya tetapi randy terus mengirimkan pesan ku berharap semoga hari dapat berganti cerah, ku susuri jalan dimana randy berada meski lelah randy pun seperti ku.Rintik hujan mulai turun satu persatu butiran mutiara terjatuh serempak ku mulai kesal, marah ingin rasanya aku menangis saja “dimana dia saat ini ??” dalam hatiku berkata. dengan perasaan kecewa ku kirimkan pesan pada randy menyuruh nya untuk pulang saja aku tak ingin dia sakit hanya karna kehujanan untuk menunggu ku..Setibanya di rumah badanku menggigil kedinginan dan pakaian ku basah kuyup karna hujan, ku tarik selimut dan bergegas tidur randy mengirimkan pesan untuk minta maaf, tak ku hiraukan.“bodoh nya aku ..” kesal ku hanya dalam hati. saat malam randy menelefon ku.“hallo..” terdengar suaranya di balik telepon“kenapa dy..?” tanya ku ketus“ky maaf ya.. dah ninggalin kamu kehujanan tadi siang.. tapi besok bisakan?” tanya randy“yaa ga apa-apa lah.. besok ku gak janji”“emang nya kenapa?”“besok ada latihan basket, mungkin lusa atau aku gak tau?”“oh ya sudahlah..” Randy langsung memutuskan teleponnya..“dasar cowok aneh..sampai kapan siih dia akan terus bersikap dingin seperti itu.. sejak smp dia gak pernah berubah apa yang ada di dalam fikirannya aku gak pernah tau.. tapi kenapa ya banyak cewek-cewek yang menyukainya padahalkan jelas-jelas dia seperti itu mungkin karna ahhhhhh entah lah memikirkannya membuat ku pusing..!” cerita ku di buku diary..Setiap kali ku tuliskan keinginan ku di buku kecil itu pasti akan terwujud, tak ayal hanya sebuah buku kecil yang di dalamnya banyak sekali tulisan-tulisan tangan tentang cita-cita dan harapan ku.Suatu saat ku tuliskan keinginan jika suatu saat ku bertemu randy aku tak akan menjadi cewek tomboy, aku akan bersikap manis seperti perempuan lainnya yang dia kenal. berubah hanya untuk seseorang yang tak bisa jadi harapan hanya sebatas khayalan dan angan-angan yang selalu ada dalam otak dan fikiran ku selama 3 tahun ini.***Hari rabu 29 juni 2011 skitar pukul 01.00 hari yang cerah tak ada hambatan lagi saat ku ingin menemuinya. ku berjalan menyusur, ku lihat dari kejauhan wajah yang tak asing bagi ku, tersenyum manis saat dirinya menyapa dengan sepeda motor khas anak muda. melihat dirinya saat ini terasa berbeda apa karna 1 tahun tak penah berjumpa, semakin dewasa ku melihatnya. pertama kali berjumpa dengannya lagi dia malah meledek ku katanya aku jadi jerawatan “aghhhhhhtr menyebalkan dasar aneh” ketusku. tak apalah aku sadar sendiri punya jerawat. lets gelegot on the way menuju tempat tujuan only berdua aku dan randy. Senang nya.Sepanjang perjalanan kita banyak mengobrol, bercerita tentang sekolah kita, masa smp, teman-teman sekolah, banyak membuat ku tertawa dan kembali tersenyum seperti dulu.“ ya tuhan apakah ini hadiah terindah yang kau berikan pada ku saat ini. terima kasih atas semuanya aku sangat bahagia bisa berada bersama seseorang ku lagi” pejamkan mata dan berdoa.Sampai di tempat tujuan.. randy mengajak ku ke tempat yang indah yang tak penah ku bayangkan sebelum nya di atas bukit ku bisa melihat apa saja pemandangan yang indah.Jalan berdua seperti adik dan kakak karna randy yang sedikit lebih pendek dari ku hanya beda beberapa cm saja. terus saja dia meledek ku sejak awal pertama bertemu, aku yang takut ketinggian di paksa harus turun bukit mana harus lepas sendal segala.“haduuuuuuh” kata ku, randy tertawa puas sudah mengerjai ku tahu saja dia kalau aku takut ketinggian..“wiiidiiiw.. akhirnya nyampe juga. good job i like it” kata randy.“sesuatu dy.. puas loe yaa??” jawab ku kesal sambil memasang sandal ku sendiri.Sesekali dia memandang dan tersenyum pada ku, genggeman tangan nya serasa bukan dia yang ada di sampingku. ku rasa kan detik demi detik bersamanya, randy hanya diam saja tak berkata apapun tentang sesuatu, ku berharap dia akan katakan itu satu kali lagi ku ingin dengar dari ucapnya namun sayangnya tak ada yang terucap..“mirip shinta” kata nya spontan saat melihat ku.“haah?? Shinta yang mana?? Jangan bilang shinta temen smp??” tanya ku penasaran dengan nada sedikit ketus padanya.“ahh… gak apa-apa kok” randy gelagapan.“ihh nyebelin bgt sii” kesal ku dengan wajah menekuk.Aku heran kenapa dia sebut nama itu padahal yang ada di sampingnya hanya ada aku dengan spontan dia menyebutkan nama “shinta”.. agak kesal memang tapi aku tak ingin melewat kan hari ini dengan rasa kesal ku saja, bingung harus berkata apa lagi aku diam saja tak bicara apa-apa.Percaya kah ini hanya 30 menit kita bersama 30 menit kita menikmati pemandangan indah?? “huuuuph sangat menyedihkan” kata ku dalam hati.. aku hanya menggerutu saja di fikiran tak ku lampiaskan lewat ucapan.. waktu semakin cepat berlalu kenangan indah kan terlewati begitu saja. akhirnya kita akan benar-benar mengakhiri hari ini, sepanjang perjalanan pulang ku nikmati saat-saat berharga itu. sesekali dia memukul kaki ku.“sakit tauuu gak usah mukul-mukul kurang kerjaan” kata ku.“wiidiiw marah.. sorry” randy meledek.“pegel ahh, dari tadi jalannya belok-belok mana jauh lagi” aku menggerutu.“tapi gak menyesalkan??” katanya“iya lah gak salah” aku menaikan halis dan tersenyum.Setengah jalan pulang aku diam saja tak enak badan randy bertanya padaku“kenapa ky sakit??”“gak tau nii udaranya dingin banget” keluh ku.“yaudah pegangan ajja ya. disini tuu emang dingin tapi udaranya sejuk gak kayak di bandung ‘polusi’ bener gak??”“hmmm” jawab ku singkat..Semakin sore semakin dingin tak sadar tangan ku sudah melingkar di perutnya, randy juga tak berkata apa-apa. hangatnya, tempat sandarannya, aroma tubuhnya mengingatkan aku pada seseorang yang selalu mengajaku main basket setiap minggu. Sampai juga di tempat terakhir dekat rumahku, tak ku sangka secepat ini ku rasakan. sebelum aku benar-benar pergi randy menggenggam tanganku eraaaaaat dan dia berkata.“maaf bila ini tak cukup untuk membuat mu tersenyum lagi, membuat mu tertawa, namun melihat mu saat ini membuat aku sangat bahagia. jujur saja aku tak ingin kau pergi lagi tapi ku tau hati mu keras dan aku tau kau tak akan pernah bisa untuk melupakan aku begitu pun dengan aku.. thankz untuk hari ini!”ucapnya penuh haru.“kamu tau aku pergi bukan untuk selamanya, aku pasti akan kembali suatu saat nanti. aku tak bisa mengatur hidup mu untuk ku. mungkin sakarang baik nya kita hanya berteman karna aku takut tak bisa bertahan. thankz juga untuk hari ini..” timpal ku.Janji kita berdua tak akan saling melupakan meskipun jauh jarak diantara kita, jauh yang terpisah kan oleh waktu, jauh diantara kita tentang rasa yang tertinggal namun bagi ku randy akan selalu dekat.. dekat.. dan akan selalu dekat di dalam hati ku tlah ku ukir namanya.***Beberapa minggu kemudian perasaan ku agak sedikit mengganjal tentang randy, ku coba lihat status facebooknya ternyata.. “hoalaaaaah.. dia udah punya pacar lagi jangan bilang sama yang nama nya shinta itu.. nasib..nasib ditinggal patah hati lagi daah…” gerutu-gerutu dan terus menggerutu…!!!***NAMA :RIZKI NOVIANTIALAMAT :JLN.SOMA2 NO.26 BANDUNGFB :rizki_ccc@yahoo.co.idE_MAIL :purnamarizki16@yahoo.co.id

  • Cerpen Remaja “Kala Cinta Menyapa ~ 10”

    Sempet males mo lanjutin ni cerpen Remaja kala cinta menyapa ini, tapi akhirnya di lanjutin juga. Alasannya, Hufh masih sama dengan yang sebelumnya. Kalau yang udah pernah baca, pasti langsung tau.Ah satu lagi, waktu ngetik ni cerpen kondisi beneran lagi nggak fit. So rada maklum lah yea…Dengan hati – hati Rani melangkah melewati pintu gerbang kampusnya. Matanya secara awas mengawasi sekeliling. Mencari tau keberadaan sosok erwin yang mendadak menjadi orang yang paling ia takuti terkait acara "tembak" langsungnya."Rani?".Rani langsung terlonjak kaget. Untuk sejenak terpaku saat mendapati orang yang sedari tadi ia hindari berdiri tak jauh darinya. Bahkan jelas – jelas memanggil namanya. Dan saat sosok itu melangkah mendekat mulutnya langsung terbuka untuk memperingatkan.sebagian

  • Cerpen benci jadi cinta Vanessa Vs ferly ~ 06

    Cerpen benci jadi cinta part 6. Untuk part sebelumnya bisa baca di cerpen benci jadi cinta Vanessa Vs ferly part 5. Happy reading….Credit cerpen : Mia MulyaniVanes tanpak mengerjab-ngerjabkan mata, dan melihat kesekeliling, mentari pagi telah masuk dari celah-celah jendela, sepertinya ia sudah merasa tak asing dengan tempat ini.“loe udah bangun?” tanya sebuah suara dari samping,Vanes menoleh ‘ferly’. Pantesan aja udah nggax asing orang ini kamarnya dirumah ferly, Vanes melihat baju yang gue kenakan, lho kok… baju ini kan bukan yang ia pakai tadi malam.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*