Cerpen Persahabatan: Me and My Best Friend

Oleh: Rai Inamas Leoni – Kembali aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin perasaanku saja, ujarku dalam hati. Ku lirik jam tangan ku yang menunjukan jam 4 sore, pantas keadaan parkiran sudah sepi. Hanya ada beberapa motor yang masih setia menunggu majikannya untuk pulang. Aku sendiri baru selesai dari ekskul ku yaitu jurnalistik. Sebenarnya belum selesai, hanya saja aku izin pulang lebih awal. Mood ku dari tadi pagi sedang tidak bagus, ditambah cuaca hari ini yang selalu mendung.
Aku tersenyum ketika melihat motor kesayangan ku dari kejauhan. Waktunya pulang, batinku lirih. Kulangkahkan kaki menuju motor matic ku. Tak sampai 5 langkah, aku menghentikan langkah ku. Mereka benar-benar lupa… Rasanya aku ingin menangis saja. Kenapa mereka semua bisa lupa hari ulang tahun ku? Bahkan Agha pun juga tidak ingat. Aku sengaja tidak mengatakan apa-apa kepada mereka tadi pagi. Aku masih menunggu hingga mereka sadar, bahwa temannya yang satu ini sedang merayakan hari kelahirannya. Tapi, segitu buruk kah ingatan mereka? Ingin sekali aku berteriak di parkiran ini.
Dengan kesal, aku berjalan secepat mungkin menuju motorku. Lebih baik pulang, tiduran di kamar sambil membaca novel. Lupakan hari ulang tahun ku!! Namun langkah itu mulai terdengar kembali. Siapa? Apakah penguntit? Tanpa sadar aku mulai sedikit berlari, dan langkah itu pun juga terdengar sedang berlari mengejarku. Tunggu. Kenapa aku mendengar langkah kaki banyak orang? Jangan-jangan aku akan dikeroyok. Oh tuhan, lindungilah aku.
Karena penasaran, ku beranikan diriku untuk menoleh ke belakang secepat mungkin, melihat apa yang terjadi sebenarnya. Dan sedetik kemudian aku merasa butiran-butiran putih mengenai seluruh tubuhku. Lalu disusul dengan cairan kuning mengenai rambutku. “Happy Birthday Nara,” ujar mereka serempak lalu tertawa terbahak-bahak.
Kulihat Nadya, Lunna, dan Dinda sedang membawa sisa-sisa tepung, yang tentu saja juga mengenai baju mereka walau tidak sebanyak aku. “Oh shiiitt.. Kalian gila apa?” teriakku kesal walau hati kecil ku merasa senang. Senang karena mereka ingat aku.
“Ya ampun, gitu aja ngambek. Sini gue kasi lagi,” Tio lalu melemparkan telur ke kepala ku dan semua kembali tertawa. Aku hanya bisa menunduk, membiarkan cairan kuning itu jatuh ke tanah. Dan tidak lama kemudian aku melihat Rizky membawa seember air. Buru-buru aku lari, namun ditahan oleh Nadya dan Dinda. Dan jadilah kami bertiga terkena air.
“Ya Rizky, kenapa gue jadi kena sih? Ini kan air bekas pel Pak Komar. Sialan lo!” rengek Nadya lalu melempar tepung yang tersisa kearah Rizky. Rizky pun mencoba untuk menghindar. Aku tertawa melihat mereka. Mereka bener-bener pasangan yang serasi.
Dan entah dari mana, Lunna tiba-tiba membawa blackforest yang berisi angka 16 kehadapan ku. “Make a wish dulu donk, Ra.”
Aku mulai memejamkan mata untuk berdoa. Ku buka mata secara perlahan sambil menatap satu persatu teman sekelas ku di XI IPA 2. Nadya, Rizky, Dinda, Lunna, Tio, dan.. “Agha mana?” tanya ku polos.
Kulihat raut wajah mereka berubah. Lalu Dinda menyela, “Agha lagi nganter Putri ke toko buku. Lo tau lah Putri, ee.. dia anak baru,” Kulihat Dinda sejenak ragu-ragu. “Bu Siska tadi nyuruh Agha buat nemenin Putri beli buku pelajaran.”
“Oh,” Hanya itu kata yang keluar dari mulut ku. Kupaksakan untuk tersenyum. Melihat perubahan ekspresiku, Tio yang memang terkenal jahil mulai melumuri wajahku dengan krim yang ada di kue, lalu disusul oleh Dinda. Tak mau kalah, aku langsung membalasnya. Selang beberapa menit, kami berenam sudah menjadi badut amatiran yang wajahnya dipenuhi krim.
***Agha Daniswara. Nama yang sudah tak asing lagi di telinga ku. Selain letak rumah yang bersebelahan, kami juga selalu satu sekolah bahkan sekelas. Dimana ada Agha, selalu ada aku. Aku seperti menemukan sosok kakak di dalam diri Agha, karena aku sendiri anak tunggal. Menjadi anak tunggal memang mengasyikan. Semua perhatian Mama dan Papa tercurah untuk ku tanpa harus terbagi. Namun hidup sendiri tanpa saudara juga sangat menyedihkan malah membosankan. Kadang aku iri kepada mereka yang memiliki kakak atau adik. Tapi, selama ada Agha yang selalu disamping ku, hidup menjadi anak tunggal tidak masalah.
Sejenak aku memejamkan mata, mencoba mengingat kejadian tadi sore. Yang terlintas dibenak ku hanya lah Putri. Murid pindahan yang seminggu terakhir mencuri perhatian teman-teman sekelas. Ya, dia cantik dan modis. Dan tak butuh waktu lama, aku yakin Putri akan menjadi salah satu deretan siswi populer di SMA Tunggadewi.
Aku kembali membuka mata. Kulirik foto yang terpajang manis di meja belajarku. Foto dua anak SD yang sama-sama membawa balon. Aku masih ingat, saat itu hari ulang tahun Agha yang ke-10. Mama Agha atau biasa ku panggil Tante Mita ngotot untuk menggambil foto kita berdua. Untuk kenang-kenangan katanya.
Alunan lagu Only Hope milik Mandy Moore terdengar dari meja belajarku. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidur. Siapa sih yang nelpon malam-malam? Dengan kesal ku tekan salah satu tombol di HP, tanpa melihat nama yang tertera di layar. “Halo,” sapaku enggan.
“Akhirnya diangkat juga. Ra, buruan ke balkon sekarang.” ujar seseorang yang aku kenal. “Jangan lupa pakek jaket, dingin banget disini. Gue tunggu, Ra.”
Belum sempat aku menjawab, telepon sudah di tutup. Sialan Agha. Aku yang masih binggung atas ucapanya buru-buru membuka lemari mencari jaket tebalku. Tak butuh waktu lama, aku sudah berdiri di balkon kamarku yang bersebelahan dengan balkon kamar Agha. Kamar ku dan kamar Agha sama-sama ada di lantai atas.
“Lo belum tidurkan?” tanya Agha dari balkonnya. Ku lihat Agha menggunakan kemeja putih dan celana jeans hitam yang membalut tubuh atletisnya. Sepertinya ia baru pulang.
“Belum lah, masih jam 9 juga. Lo sendiri baru pulang?”
“Iya. Tadi gue nganter Putri beli buku. Capek banget, Ra. Nggak nyangka kalo si Putri suka baca novel sama kayak lo.“ Ku lihat Agha tersenyum gembira. Belum pernah aku melihat ia sebahagia ini. Lalu ia menceritakan kejadian-kejadian yang lucu di toko buku. Aku hanya menanggapi dengan kata-kata singkat seolah aku menyimak cerita Agha. Walau sebenarnya aku tidak mendengarkan apa-apa.
Ada sesuatu yang mengganjal. Aku menerawang ke bawah melihat jalanan, yang tentu saja sepi. Jalan di kompleks perumahan kan tidak seramai jalan raya.
“Ra? Halo… Nara? Naraaaa… Lo denger nggak sih?” Panggilan Agha membuyarkan lamunan ku.
“Apa? Eh maksud gue, gue denger kok,” ucapku terbata-bata.
Agha mendengus. “Gue tau lo nggak denger omongan gue. Lo lagi mikirin apa sih?
“Kita balik ke setahun yang lalu ya?” ujarku tiba-tiba.
Agha terlihat bingung.
“Kita pacaran sampai sini aja. Lagian lo sama gue lebih cocok buat sahabatan. Entah kenapa gue rindu Agha yang dulu. Agha yang selalu ngejek gue jelek, Agha yang selalu bandingin gue sama cewek-cewek populer waktu SMP, sampai Agha yang selalu bangunin gue kalo gue telat bangun. Semenjak kita pacaran, rasanya ada yang berubah dalam diri kita.” Sejenak aku memejamkan mata untuk mengatur emosi. “Lo mau kan kalo kita sahabatan lagi?” tanya ku ragu.
Ku lihat Agha terkejut mendengar ucapanku. Biarlah. Jujur, setelah aku dan Agha pacaran, aku melihat perubahan sikap diantara kami. Seolah-olah ada tembok besar disekitar kami. Kami tidak dapat tertawa lepas seperti dulu saat SMP. Selalu ada sesuatu yang mengikat, mengingatkan bahwa kita tidak hanya berteman. Suatu komitmen yang bernama pacaran. Tapi aku sadar semenjak Putri masuk ke kelasku, aku merasa Agha tertarik pada gadis itu. Dan itu membuat aku muak. Aku kangen sama Agha, teman kecil ku.
“Kalo itu mau lo, gue terima. Asalkan kita bisa sahabatan lagi kayak dulu. Jangan gara-gara masalah ini, kita jadi diem-dieman.” ujar Agha lirih.
“Ya udah, gue duluan balik ke kamar ya. Dingin banget disini.”
Belum sempat aku melangkah, Agha sudah menahanku dan menyuruhku menangkap sesuatu yang dilemparnya. Untung kali ini aku bisa menangkapnya dengan tepat.
“Happy birthday Nara. Maunya ngucapin satu tahunan kita jadian. Tapi kita kan baru aja putus. Gue doain semoga persahabatan kita langgeng sampai tua nanti.”
Aku hanya tersenyum lalu buru-buru masuk ke kamar. Ku hempaskan diriku ke tempat tidur. Perlahan kubuka hadiah Agha yaitu sebuah kotak kecil bermotif strawberry, buah kesukaan ku. Dalam kotak terdapat kalung berbandul separuh hati dan sebuah kertas kecil.

“Happy birthday peri kecilku dan happy 1st anniversary buat hubungan kita.
PS : Moga lo seneng ama tu kalung

Kurasakan butiran kristal jatuh dari pelupuk mataku, buru-buru aku hapus dengan tangan. Namun semakin aku berusaha, butiran itu semakin banyak. Ya Tuhan… Aku yakin akan keputusan ku. Tapi kenapa hati ku terasa perih?
Malam semakin larut. Namun seseorang masih terpaku, terdiam di balkon kamarnya sambil menatap balkon yang baru saja di tinggal pergi oleh pemiliknya. Pemilik yang bernama Nara Angelina. Teman kecilnya.
***“Naraaa……!”
“Saya Pak! Saya Pak!” teriakku tak karuan. Mata ku mencoba melihat sekililing. Menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, ini kan kamarku? Lalu…
“Ouch shittt! Gue kira apa. Gila lo, Ga. Ngapaen lo disini?” ujar ku kesal. Ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku. Berniat melanjutkan mimpi ku yang tertunda gara-gara teriakan mahluk aneh ini.
Agha tertawa. “Ya ampun, dasar putri tidur. Buruan lo bangun, ini udah jam 10 pagi. Masa cewek males gini?” Agha menarik selimut ku lalu ditaruhnya di sofa.
“Agha!! Selimut gue balikin. Lagian ngapain juga bangun pagi? Ini tuh masih LIBURAN. Tahun ini kita kelas tiga, pasti belajar mulu kerjaannya. Kasi donk gue nikmatin liburan gue.” Jelas ku panjang lebar.
Ku dengar tawa Agha makin keras, seolah-olah mengganggu tidurku adalah hal terlucu di dunia ini. Aku hanya bisa pasrah. Beberapa bulan telah berlalu sejak hari itu. Hari dimana aku putus dengan Agha. Seperti yang kuduga, setelah kejadian itu hubungan kami kembali seperti SMP dulu. Dimana kami sering mengejek satu sama lain. Agha kembali pada hobby-nya yang senang melihat aku menderita. Dan aku kembali pada hobby lama ku, sering merecoki dia dengan kalimat panjang lebar.
“Cerewet banget sih,” rutuk Agha. “Buruan lo mandi, kita ke toko buku sekarang. Hari ini terakhir diskon lho. Katanya mau cari novel?” Aku melirik sebal kepadanya. Agha menghampiri aku, lalu dengan gemas Agha mengacak-acak rambut ku.
“Bilang aja lo mau beli komik. Pakek alasan gue beli novel lagi. Muna lo! Dari mana lo tau kalo diskonnya masih?” Kata ku sambil merapikan rambut ku yang berantakan.
“Dinda yang ngasi tau. Terserah mau percaya atau nggak. Yang penting lo buruan mandi.” Lalu Agha pergi ke arah meja belajar untuk melihat koleksi novelku. Aku terkadang heran dengan Agha. Untuk ukuran cowok tinggi yang jago main basket, masa sih dia masih doyan baca komik. Apalagi komik favoritnya Detektif Conan. Benar-benar deh si Agha.
“Agha cakep, dengerin gue ya. Gue sih udah dari tadi mau mandi. TAPI GIMANA CARANYA GUE MANDI KALO LO MASIH BERKELIARAN DI KAMAR GUE???” Dan tak butuh waktu lama, bantal-bantal di tempat tidurku sudah melayang ke wajah Agha. Kulihat Agha mencoba menghindar dari serangan bantal-bantal sambil tertawa, lalu keluar dari kamarku.
Dilihat dari mana pun, kami memang hanya cocok untuk sahabatan. Setidaknya untuk saat ini. Aku tersenyum dan beranjak pergi dari tempat tidurku. Bersiap-siap untuk pergi ke tempat favorit kami. Dimana lagi kalo bukan toko buku. 😀
***
By : Rai Inamas Leoni
TTL : Denpasar, 08 Agustus 1995
Sekolah : SMA Negeri 7 Denpasar
Blog : raiinamas.blogspot.com

Random Posts

  • Cerpen Keluarga: DIA TETAP AYAHKU

    DIA TETAP AYAHKUoleh: Umi KulsumNama ku Raka Putra Pratama ,Usiaku 17 tahun sekarang aku duduk di kelas 2 SMU, Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara.Aku memiliki adik perempuan namanya Raya Putri Pratama (Aya), usianya 16 tahun dan dia duduk di kelas 1 SMU. Kita bersekolah di tempat yang sama. Kami lahir dari keluarga yang cukup sederhana.Ayah dan Bunda ku adalah harta yang paling berharga yang aku miliki,karena dia selalu membawa keceriaan dalam hidup kami.Pagi ini, Aku masih terlelap dalam tidurku terdengar suara Bunda memanggilku,“Raka..bangun ayo kita solat subuh berjama’ah”panggil Bunda dari balik pintu kamar ku“iya bun..nanti aku menyusul”jawabku dengan malasAku pun beranjak dari tempat tidurku. Solat subuh berjamaah bersama ayah,Bunda dan Raya adalah kewajiban yang selalu kami lakukan setiap pagi.Seusai solat kami semua bersiap untuk melakukan aktivitas masing-masing,Terlihat bunda yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk kami.“Pagi bun..”sapa ku “Pagi sayang, Ayah dan Aya mana kok belum turun”tanya bunda ketika melihat aku seorang diri duduk di meja makan“Masih di atas bun”jawabku“Huh..lama banget yah mereka”ucap bunda“Ya.bun padahal perutku udah keroncongan ni”ucapku protes“Sabar yah sayang ,tunggu mereka turun dulu,bentar lagi juga turun”jawab bunda sambil membelai lembut rambutkuTak lama Ayah dan Aya pun terlihat menuruni tangga“pagi bunda, pagi jagoan ayah “sapa ayah ketika melihat aku dan ibu yang sudah menunggu“Pagi yah,lama banget sih, cacing di perut aku dah pada demo ni”protes ku pada ayah“maaf sayang, ya udah ayo kita makan”ucap ayahDan Ayah pun memimpin do’a sebelum kita makan,Seusai makan ayah pun mengantarkan aku dan Aya untuk ke sekolah.“Oya..hari minggu kalian ada acara ga?”tanya ayah pada ku dan Raya sambil mengendarai mobilnya“ga ada yah,kenapa“jawab Raya“Ayah mau ajak kalian jalan-jalan”jawab ayah tersenyum “asiik ayo yah “sambar Raya dengan penuh semangat“minggu kemarin kan kita udah jalan-jalan yah, emang mau kemana lagi?Bosen ah yah”ucap ku protes “iihh kakak minggu kan emang waktunya buat weekend”protes Raya“rencananya ayah mau ngajak kalian ke panti asuhan, kenapa Raka ga bisa ikut?kalau raka ga ikut berarti ga jadi dong”ucap ayah dengan wajah kecewa“kenapa ke panti yah,mending kita ke taman cibodas yah”ucap Raya keberatan “Habis ayah bosen kalau jalan-jalan ke luar cuman buat weekend doang, ke panti lebih seru di sana banyak orang-orang yang bisa kita buat bahagia udah gitu dapet pahala pula”ujar ayah “ide bagus tuh yah, kan kita dah lama ga kesana, kalau kesana mah aku semangat yah”jawabku penuh semangat“yah ke panti, mau ga mau harus ikut”Jawab Aya tak lagi bersemangat“Sayang kan kita juga harus berbagi sama orang lain”jawab ayah sambil mengelus rambut aya“iya ayah”jawab raya penuh senyumTak terasa kami pun sampai di gerbang sekolah,Aku dan Raya pun berpamitan pada ayah dan keluar dari mobil.Waktu terus berjalan pelajaran terakhir di kelas XI IPA 2 yaitu bahasa indonesia, Di sisa waktu pelajaran kami semua di suruh Pak Wandi guru bahasa indonesia untuk membuat cerita tentang sosok seorang ayah bagi kami.Dengan penuh semangat dan tanpa ragu aku pun langsung menuliskan semua isi pikiran dan hati ku tentang seorang ayah.Tak terasa kini giliran aku harus maju ke depan tanpa ragu aku pun maju kedepan kelas“Saya akan menceritan sosok seorang Pratama Putra yaitu ayah saya. Dia adalah seorang ayah yang menjadi pelabuhan hati aku untuk mengadu, Segala perjuangan yang dia lakukan selama ini hanya untuk aku,adik ku dan bundaku.Dia adalah teladan bagi ku. Aku ingin seperti dia yang selalu membawa kebahagiaan,Canda dan tawa di sisi kami.Dia tak pernah gentar untuk menggoreskan senyuman di bibir kami. Tak pernah terbayang oleh ku bila dia harus pergi dalam hidupku.Mungkin lebih baik aku yang pergi terlebih dahulu agar aku tidak pernah merasakan betapa sakitnya kehilangan dia. Ayah kau segalanya untukku jangan pernah berubah sedikitpun dan tetap bersama kami di sini. anugrah terindah yang tuhan berikan padaku yaitu ketika aku terlahir di keluarga ini.Mempunyai ayah dan bunda yang begitu sempurna untuk ku.yang mengajarkan aku untuk menjadii yang terbaik untuk semua orang. Inilah sosok ayah bagiku terima kasih”Ucapku memaparkan tulisan yang telah ku buatSuasana kelaspun menjadi ramai karena sambutan tepuk tangan dari teman-temanku.Terlihat Pak Wandi yang tersenyum mendengar tulisan aku.Bel tanda usai pelajaran pun berbunyi. Aku bersiap untuk pulang ke rumah.Namun ketika aku hendak pergi melangkah keluar kelas. Terdengar suara pak Wandi memanggil ku. “Raka”panggil Pak WandiPanggilan pak Wandi menghentikan langkahku, Aku pun menghampiri Pak Wandi“Ada apa pak??”tanya ku pada pak wandi“Tulisan kamu tadi bagus sekali,Bapak ingin kamu membawakan tulisan kamu saat pembagian rapot, Kamu bisa menambahkan tulisan kamu lagi. Kamu mau kan?”ucap pak wandi penuh harapan“mm..gimana yah pak,Saya tidak terlalu percaya diri untuk membawakan tulisan ini,di depan orang banyak pak!”jajwab ku ragu“kenapa harus tidak percaya diri tulisan kamu itu bagus sekali. Bapak hanya ingin memberikan contoh pada teman-teman kamu yang lainnya agar mereka bisa menghargai kedua orang tua mereka,dan bapak juga ingin menunjukan pada orang tua wali nanti bahwa begitu berharganya mereka dan betapa pentingnya suport mereka bagi anak-anak mereka untuk bisa melangkah maju ke depan”jelas pak wandi meyakinkan kuAku hanya terdiam penuhkeraguan mendengar ucapan pak wandi tadi, Melihat diriku terdiam pak wandipun berkata”Bapak yakin kamu bisa,masa kamu ga yakin sama diri kamu sendiri! Tenang bapak akan mengajarkan kamu intonasi pembacaan tulisan ini, biar nanti ayah dan ibu mu tambah bangga melihat penampilan kamu, Karena bapak ingin kamu terlihat perfect di penampilan ini”“oke pak saya sanggup”jawabku penuh semangat“nah gitu dong, mulai besok kita latihan yah,sekarang kamu pulang kalau bisa tambahin tulisan kamu oke!!”ucap pak Wandi“Siap pak”ucapku sambil melangkah meninggalkan pak wandi dan berpamitanMalam ini selesai makan malam, Tanpa membuang waktu aku bergegas untuk menyelesaikan tulisanku yang akan ku tambahkan sesuai amanat pak wandi tadi.“Ka mau kemana semangat amat”tanya bunda ketika melihat aku begitu bersemangat melangkah meninggalkan meja makan“iya ni.. mau kemana jagoan ayah”sambar ayah mengulangi pertanyaan bunda“ehh.. aku mau ke kamar, mau ngerjain tugas “jawab ku tersenyum“Oo ..ya udah sana kerjain tugasnya”ucap ayah“oya ka jangan malem-malem yah tidurnya. Inget waktu”ucap bunda mengingatkan aku“oke bos”jawab ku sambil mengacungkan jempol ku, Aku pun bergegas menuju kamarku, Lalu ku goreskan penaku ke dalam kertas untuk menulis semua yang aku rasa kan dan aku pikirkan, Aku baca kembali dan tak kala akupun menghapus kata-kata yang kurang nyambung lalu ku ganti oleh kata-kata yang lebih pantas. Tanpa terasa jam di kamarku menunjukan pukul 10. Aku pun menghentikan tugas ku ,lalu tidur terdengar suara bunda membuka pintu kamar ku, Untuk memastikan aku telah selesai mengerjakan tugas ku.Ketika melihat ku yang sudah terbaring bunda menghampiriku dan mencium lembut kening ini,lalu mematikan lampu kamarku dan pergi meninggalkanku.Siang ini seusai pulang sekolah Pak wandi menunggu ku untuk berlatih, sebelum latihan aku pun memberitahukan pada Raya bahwa hari ini aku tak bisa ikut pulang dengannya karena ada urusan, Tak ada satupun yang tahu bahwa aku akan tampil nanti di acara pembagian rapot selain pak wandi karena aku ingin memberi kejutan pada ayah,bunda dan adikku. Aku ingin ini semua menjadi benar-benar sebuah kejutan.Hari berganti hari tanpa lelah aku terus berlatih, agar aku bisa menampilkan yang terbaik nanti karena aku ingin semua bangga terhadapku dan tanpa menggoreskan sedikitpun rasa kecewa terutama pada pak Wandi yang telah memberikan kepercayaan pada diriku.Biasanya aku selesai latihan pukul 5 sore,setelah sampai di rumah aku mandi, solat magrib,mengaji, makan malam, lalu solat isya, dan setelah itu aku belajar hingga aku tertidur dan terbangun menjelang pagi saat azan subuh berkumandang.Tanpa terasa kini aku sudah begitu jarang berkumpul dengan keluarga ku.Malam ini aku terbangun dari lelapnya tidurku, Aku melihat waker di kamarku menunjukan pukul 2 . namun rasa ingin ke kamar mandi tak dapat aku tahan, dengan rasa kantuk yang menggelayut dimataku, akupun beranjak dari tempat tidurku dan ku buka pintu kamar,Aku turuni anak tangga satu persatu untuk menuju kamar mandi yang berada di bawah. Namun langkahku terhenti ketika aku melihat sosok seorang wanita yang aku kenal sedang tertidur pulas di sofa ruang keluarga.Ku hampiri sosok itu.“Tumben banget bunda tidur di sofa,ayah kemana yah??”gumam ku dalam hati begitu bingung ketika melihat bunda yang tertidur pulas di sofa.Rasanya aku tak tega harus membangunkan bunda yang begitu pulas tertidur, tapi aku juga tak tega bila harus melihat dia tertidur di atas sofa ini.Tanpa ragu aku pun melangkah ke kamar bunda untuk mengambilkan selimut dan bantal untuknya dan memakaikan bantal dan selimut pada tubuh bunda, Akhirnya aku putuskan untuk menemani bunda tidur di sofa.Pagi ini bunda membangunkan aku yang tertidur lelap di sofa“sayang bangun”ucap bunda yang duduk di sampingku“ya bunda”jawabku “sayang kamu kenapa tidur di sofa”tanya bunda sambil mengelus rambutkuAku pun beranjak dari posisi tidurku dan berkata”iia.. bun semalem aku liat bunda tidur di sofa,jadi aku temenin deh bun abis aku ga tega liat bunda”Mendengar ucapan ku,bunda memeluk aku,lalu akupun melanjutkan ucapanku”bunda kenapa tidur di sofa??”Bunda hanya terdiam mendengar ucapan ku dan melepaskan pelukannya,sambil memegang tangan bunda aku pun berkata”bunda kenapa sih,kok diem aja!! Kan aku nanya sama bunda”“bunda ga apa-apa sayang,ya udah sekarang kamu ngambil wudhu kita solat subuh yah”ucap bunda sambil membelai rambutku dan pergi meninggalkan aku.Entah apa yang terjadi sama bunda,Namun aku tak bisa memaksa bunda untuk cerita padaku , Akupun langsung bangkit dan mengambil air wudhu. Pagi ini aku yang memimpin solat subuh seusai solat dan berdoa“bun ayah mana kok aku ga liat??”tanya aya yang heran karena pagi ini ayah tak ada“ayah ada urusan”jawab bunda singkat“urusan apa bun??ayah berangkat jam berapa atau malam ini ayah ga pulang”ucap ayaBunda hanya terdiam mendengar ucapan aya,Aku sangat menanti jawaban bunda karena hal itu yang menjadi salah satu pertanyaanku.“ayah pergi tadi pas kalian masih tidur,ayah ga sempet pamit sama kalian soalnya ada urusan mendadak”jawab bunda gugup“terus ayah semalem pulang jam berapa”tanya ayaSambil menatapku bunda lalu menjawab”jam 10 ayah udah pulang kan kamu udah tidur”Aku tau semua yang bunda ucapkan itu bohong,semalem aku ga liat ayah saat aku terbangun mengambilkan selimut untuk bunda di kamar bunda tak terlihat sosok ayah di sana,dan aku tau tatapan bunda tadi menyuruhku untuk bungkam tentang apa yang terjadi agar aya tidak berpikir apa-apa tentang ayah.Mendengar ucapan bunda aya pun percaya dan langsung pergi meninggalkan aku dan bunda“bunda”sapa ku menghentikan langkah bunda yang hendak pergi“kenapa sayang”jawab bunda begitu tenang“kenapa bunda lakuin ini semua??”tanya ku pada bunda“lakuin apa?”jawab bunda“kenapa bunda berbohong pada aya"ucapku menjelaskanBundapun terdiam sejenak dan berkata dengan lirih”cuman itu yang bisa bunda lakuin,soalnya bunda ga tau harus menjawab apa lagi kalau adikmu nanya tentang ayah”“bun cerita sama aku ada apa dengan ayah dan bunda, kenapa jadi kaya gini? Jangan bunda pendam sendiri,aku sudah dewasa bun, siapa tau aku bisa ngasih solusi atau membantu bunda menjawab pertanyaan Raya”ucapku “bunda ga tau harus cerita apa sama kamu, soalnya bunda juga ga tau apa penyebab ini semua. Nanti ketika bunda tau semuanya,Bunda janji aka cerita sama kamu,sekarang kamu siap-siap sana ke sekolah”jawab bunda“janji yah bun, buat cerita apa pun yang terjadi aku ga mau kalau bunda sedih”ucapku lalu ku peluk erat tubuh bundaSiang ini aku pulang seorang diri, Karena Raya meminta ijin padaku untuk pergi ke toko buku bersama temannya. Sesampai di depan gerbang terlihat mobil ayah terparkir di halaman rumah ku. Akupun mempercepat langkahku untuk melihat ayah.Karena memang beberapa hari ini aku tak bertemu ayah dan rasa rindu di hati ini sudah terlalu besar padanya. Ketika sampai di depan pintu, Ayah terlihat keluar dari dalam rumahku seorang diri“ayah”sapaku sambil mendekatinya“eh jagoan ayah sudah pulang,kok sendirian adikmu mana”tanya ayah ketika melihat aku seorang diri“dia tadi minta izin untuk ke toko buku”jawabku“maaf yah sayang ayah buru-buru,ayah pergi dulu yah”ucap ayah memeluk ku, lalu pergi meninggalkan aku“ayah mau kemana”tanya kuBelum sempat menjawab pertanyaanku,Ayah langsung mengendarai mobilnya.Dengan penuh rasa kecewa akupun masuk kedalam rumahku.“Assalamualaikum”sapakuBerkali-kali aku mengucapkan salam, Namun tak ada jawaban dari dalam rumah lalu aku pun memanggil bunda berkali-kali tapi sama saja tak ada jawaban.Aku langkahkan kakiku menuju kamar bunda.Ketika ku buka pintu kamar bunda. Aku melihat sosok seorang wanita yang sedang duduk tertunduk di pinggir tempat tidurnya“bunda”sapaku sambil menghampirinya“kamu udah pulang ka”jawab bunda dengan suara sendu dan berusaha mengusap air matanya“bunda kenapa?”tanya ku ketika melihat mata bunda yang sembab“ga apa-apa sayang,kamu sudah makan belum?”jawab bunda mengalihkan pertanyaanku“bunda jawab pertanyaan aku,bunda kenapa”tanya ku sekali lagi“bunda ga apa-apa sayang”jawab bunda“tadi pagi bunda janji mau cerita apa pun yang terjadi sama aku,tapi apa sekarang bunda sembunyiin semua ini”ucapku memohonBunda hanya terdiam,lalu aku pun meneruskan ucapanku”ayah yah bun??”Bunda pun memalingkan wajahnya dan menangis lirih, Melihat bunda akupun langsung memeluknya mencoba menenangkannya.“Apa yang ayah lakuin sampai bunda menangis begini”tanya ku kesal“ga ayah ga lakuin apa-apa,kami hanya bertengkar kecil kok. Sekarang kamu makan dulu yah,dan janji sama bunda jangan katakan hal ini sama Raya”ucap bunda berusaha menenangkan aku.Aku pun hanya mengngagukan kepalaku, dan pergi untuk makanMinggu pagi ini ketika usai solat subuh terlihat ayah terburu-buru hendak pergi entah kemana melihat itu semua Raya pun bertanya”ayah mau kemana kok buru-buru banget”“ayah ada urusan”jawab ayah singkat“ayah kan janji sama kita mau ke panti asuhan”ucap aya kecewa“ayah ga bisa ada urusan yang tak bisa ayah tinggalkan”jawab ayah“ayah urusannya besok aja,kan ayah udah janji sama aku mau jalan-jalan”ucap aya merengek“kamu tuh di bilang ayah banyak urusan berisik banget sih”jawab ayah dengan nada tinggiMendengar jawaban ayah Raya hanya tertunduk dan menangis. Dan ayah pun pergi begitu saja tanpa memperdulikan Raya bahkan tanpa berpamitan pada bunda.Melihat Raya menangis bunda pun menghampirinya untuk menenangkan dan memeluknya“bun kok ayah marah-marah sih”ucap raya lirih“ayah bukan marah-marah sayang, tapi ayah lagi pusing banyak kerjaan,Jadi kamu harus mengerti oke, sekarang hapus airmata kamu nanti kita jalan-jalan “ucap bunda menenangkan“aku udah ga mau jalan-jalan bun, aku pengen di rumah aja”ucap raya lalu pergi ke kamarnyaAku pun mendekati bunda yang duduk di sofa“Aku sekarang tau bun apa yang terjadi antara kalian?”ucapku sambil duduk di samping bunda“yah… kamu sudah cukup dewasa untuk memahami ini semua,jadi ga ada yang harus di sembunyiin lagi sama bunda”jawab bunda sambil memandang ku“ini kenapa bun?”tanya ku sambil ku pegang wajah cantik bunda yang memar“auw..”ucap bunda kesakitan“kenapa bun, kemarin aku lihat ga ada?ayah yah bun?”ucapku dengan nada khawatir“ga kok sayang, tadi pagi bunda ke jatuh di kamar mandi terus kebentur deh”ucap bunda“ga bohong kan bun?”ucap ku menegaskan“ga sayang”jawab bunda memelukkuHari ini adalah pembagian rapot, Hari yang sangat aku nantikan dan Aku berharap hari ini ayah dapat melihat penampilanku, Pagi ini ketika sarapan aku tak melihat sosok ayah ada di antara kita“bun ayah mana?”tanya ku“ayah ga pulang lagi sayang”jawab bunda begitu lirih“kemana bun?”tanyakuBelum sempat bunda menjawab pertanyaanku Raya telah menghampiri aku dan bunda“bun hari ini kita bagi rapot, bunda sama ayahk ke sekolah aku kan?”ucap Raya“mm…iya nanti bunda kesana”jawab bunda ragu-ragu“aku sama kakak berangkat duluan yah bun,soalnya kita mau prepare bun”ucap Raya“oke sayang”jawab bundaSetelah acara pembagian rapot selesai,Kini acara yang di nanti pun tiba.Saatnya penampilan aku. Ketika aku naik ke atas panggung terlihat bunda duduk seorang diri di kursi penonton, Rasa kecewa pun meliputi hati ku ini. Namun aku berusaha untuk tenang.“saya Raka Putra Pratama dari kelas XII IPA 1 akan membawakan puisi untuk semua ayah yang kami cintai”Ayah . . .Kaulah tempat yang menjadi pelabuhan hatiku untuk berkeluh kesahSeorang pejuang yang tak pernah menyerahYang tak pernah merasa getar untuk menggoreskan senyuman di bibir kamiDan tak pernah merasa lelah untuk memberikan yang terbaik untuk kamiAyah . . .Andai kau tau betapa berartinya dirimu bagikuBetapa sangat berharganya dirimu bagi kuDan kehadiranmu yang selalu ku tungguAyah. . . .Temanilah aku hingga akhir hidupkuJanganlah pernah berubah sedikitpunJangan tinggalkan akuBerjanjilah ayahTuhan. . .Jagalah selalu ayah kuLindungi selalu ayahkuDan selamatkan ia selaluTuhan . . .Ijinkan aku untuk bisa membuatnya bahagiaIjinkan aku untuk bisa membuatnya banggaIjinkan aku untuk bisa menggoreskan senyum kebahagian dan kebanggan di bibirnyaTuhan . . .Sampaikan padanya bahwa aku butuh diaBahwa aku mencintainyaBahwa aku tak akan menjadi apa-apa tanpanyaTuhan . . .Sungguh ku berterima kasih padamuAtas semua kebahagiaan iniAtas semua anugrah terindah yang kau berikan iniDan terima kasih kau berikan aku ayah dan bunda yang luar biasaTerima kasih untuk semuanyaAyah . . .Kau lah pahlawankuKau lah idola kuDan kau lah teladankuTerima kasih ayahUcap cinta ku padamuSepanjang masaTerlihat bunda yang menangis dari kursi penonton, Aku tau pasti bunda merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Moment yang aku tunggu hari ini datang juga walau aku berharap ayah hadir dan menyaksikan aku mengungkapkan semua isi hati ku ini. akupun turun dari panggung dengan sambutan tepuk tangan dari semua orang. Pak Wandi pun menyambutku dengan peluk hangat di bawah tangga dan berkata”kamu hebat raka,bapak yakin ayah kamu pasti bangga memiliki anak sepertimu”. Mendengar ucapan pak Wandi aku hanya bisa terdiam dalam pelukkannya.Sambil melepaskan pelukannya pak wandi pun berkata”Antarkan bapak pada Ayah mu”Dengan wajah tertunduk akupun menjawab”Ayah tak bisa hadir pak hari ini, Maka itulah yang membuat aku sangat kecewa pak, Hari yang saya nantikan, hal yang saya bayangkan akan begitu indah namun hanya menjadi bayangan dan tak mampu untuk menjadi sebuah kenyataan. Saya berharap ayahku yang menjemput aku saat turun dari atas panggung tersenyum bangga dan memelukku dengan penuh kebanggaan tapi itu semua..”ucapan ku lalu terdiam mendengar ucapan ku pak Wandi kembali memelukku“Kamu ga boleh sedih, mungkin memang ayahmu saat ini tak bisa datang,itu semua dia lakukan untuk bisa memberikan yang terbaik nantinya buat kamu,adikmu dan bundamu”ucap pak Wandi begitu bijakMendengar ucapan itu aku begitu tenang ku hapus airmataku, lalu ku hampiri bunda di kursi penonton,Melihat kedatanganku Bunda menyambutku dengan pelukan erat darinya dan berkata”bunda bangga sama kamu amat sangat bangga”Ucapan Bunda membuat aku tak lagi menangis dan membuat aku untuk semakin tegar hadapi semua ini karena aku harus menemani bunda dan tak boleh sedikitpun lengah menjaga bunda dan Raya.“kakak..”sapa Raya sambil memeluk aku lalu berkata lagi”kakak super hebat, aku bangga sama kakak 2 jempol buat kakak”sambil menunjukan kedua jemari jempolnya”bunda..gimana rapot kita?”tanya RayaBunda pun langsung mengangkat kedua jempolnya”anak bunda dua-duanya hebat,kalian berdua dapat rengking 1 dan kamu raya masuk kelas IPA”ucap bunda lalu memeluk aku dan ayaSetelah pembagian rapot kemarin, kini libur panjang pun datang, berbeda jauh dengan liburan kemarin, Aku dan Raya hanya berdiam diri di rumah. Tetapi semua tetap mengasikan walau tanpa ayah. Beberapa minggu ini ayah tak pulang sejak pertengkarannya dengan bunda.Aku dan Raya pun sudah mulai terbiasa tanpa kehadiraanya,bahkan aku merasa bahwa kami sejak dahulu memang tak memiliki ayah. Dan mungkin Raya sudah mulai bosan bertanya tentang ayah dan mendengar jawaban bunda yang selalu bilang ayah sibukLMalam ini aku terbangun dari lelapnya tidurku, karena keringnya tenggorokan ini, dengan rasa malas dan kantuk aku turuni anak tangga satu per satu. Namun langkahku terhenti , ketika aku mendengar suara gundah dari kamar bunda dan ayah.“Ayah sudah pulang”ucapku pelan ketika hendak melangkah pergi tiba-tiba aku mendengar suara bunda yang sedang marah, membuat aku mengurungkan niatku untuk pergi dan aku pun berdiam diri di depan pintu kamar mereka sambil menlihat dan mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi ,“Aku tau mas sekarang mas memiliki wanita lain selain aku.Tak ada yang harus di sembunyikan lagi mas aku tau itu semua” terdengar suara bunda dengan nada sedikit tinggi“bagus kalau kamu tau,jadi saya ga harus bersusah payah menjelaskan padamu lagi”jawab ayah begitu santai“inget mas sama anak-anak, Aku rela mas sakitin,aku rela mas pukul sampai aku memar begini. Tapi aku mohon mas jangan pernah tinggalkan anak-anak dan buat mereka kecewa”ucap bunda menurunkan nada bicaranya “mereka sudah besar pasti mereka semua akan lebih mengerti”ucap ayah“ga segampang itu mas buat mereka mengerti,mas enak-enakan selingkuh, tapi apa mas pernah tau kalau anak-anak mas di sini nanyain mas,sampai-sampai aku bingung buat jawabnya. Dan saat pembagian rapot, Mas tau ga kalau raka jagoan mas nyiapin puisi buat mas. Dia berlatih berhari-hari berharap ayahnya liat penampilannya. Tapi apa??mas ga punya waktu buat mereka sama sekali mas,mas membuat mereka kecewa ” jawab bunda dengan lirih“Aahh.. saya ga peduli. Itu urusan kamu”ucap ayah“seenaknya mas ngomong begitu,sekarang apa sih mau mas, jangan terlantarin kita kaya gini”ucap bunda menangis“Saya ga pernah terlantarin kalian,Saya tetap memberi kamu nafkah,memberimu uang untuk keperluan kamu dan anak-anak”jawab ayah“bukan uang yang kami butuhkan,saya dan anak-anak cuman butuh kamu yang dulu”ucap bunda“saya bukanlah yang dulu lagi,saat ini saya sudah menemukan wanita yang benar-benar saya butuhkan dan saya cari”ucap ayah dengan nada tinggi“apa mas?mas tau apa yang mas ucapkan tadi,aku istri mas ,sakit mas hati aku.. dan jagan pernah salahkan aku kalau nanti mereka membenci mas, karena sikap mas seperti ini”ucap bunda sangat lirih“yang saya mau saat ini hanya ingin hidup bersama wanita yang saya cintai dan saya ga perduli akan apa yang terjadi nanti”jawab ayah“maksud mas”tanya bunda“saya ingin menceraikanmu”jawab ayah“jangan mas,gimana anak-anak??cukup saya yang tersakiti kasihanilah mereka”ucap bunda lirih“saya ga perduli”jawab ayah“mas aku mohon,jangan tinggalin aku sama anak-anak,biarkanlah aku di madu asal anak-anak masih memiliki ayah”ucap bunda sambil tekuk di hadapan ayah“wanita itu tidak ingin cintanya terbagi,dia ingin memiliki saya seutuhnya”ucap ayah“jangan mas,jangan ceraikan aku…”jawab bunda dengan derai airmata di pipinya“kamu tuh di bilangin susah banget sih”jawab ayah“tapi mas”belum sempat bunda melanjutkan kata-katanya tamparan keras dari ayah telah mendarat di wajah cantik bunda hingga dia terjatuh ke lantai.Melihat kejadian itu aku langsung berteriak”Bunda…”dan menghampiri bunda lalu memeluknyaTerlihat wajah ayah yang terkejut melihat kehadiranku,“cukup yah..jangan sakitin bunda lagi. Dan bunda cukup ga perlu mohon-mohon lagi sama ayah. Kita udah terbiasa bun hidup tanpa ayah, kalau saat ini ayah mau pergi,pergilah yah tapi satu hal yang harus ayah tau jangan lagi datang dan menemui kita dan ayah ga perlu kirim-kirim uang untuk biaya aku dan raya karena aku yang akan menggantikan ayah. Sku akan mencari uang bantu bunda, semua aku lakuin karena aku tak ingin di biayai oleh laki-laki yang sudah mencampakan aku,adikku dan terutama bundaku”ucapku “sejak kapan kamu mulai kurang ajar”jawab ayah sambil mengangkat tangannya untuk memekul ku“jangan mas,cukup aku yang kamu lukai jangan sekali-kali kamu sentuh anakku”sambar bunda dan melindungi aku“kenapa ayah mau pukul aku. Pukul yah kalau ayah emang belum puas nyakitin kita.aku salah besar ternyata , dulu aku ingin seperti ayah,ayah adalah teladan aku,idola bagi aku, tapi ternyata aku salah ayah sama sekali tidak pantas untuk di teladani bahkan di idolakan. Pergilah yah dan aku yakin suatu saat nanti ayah akan menyesal,pegang janji aku yah dan jangan sekali-kali berharap bisa menyentuh adik dan bundaku atau menyakiti mereka”ucapku llirih“Ayah akan pergi dan tunggu saja surat cerai yang akan saya ajukan ke pengadilan”ucap ayah sambil melangkah pergiSeperginya ayah aku berusaha untuk menenangkan bunda.“jadi selama ini wajah bunda memar karena ayah”ucapku pada bunda sambil membelai lembut wajah cantik bundaBunda hanya menganggukan kepalanya“kenapa bunda berbohong padaku”ucapku“bunda ga mau kalian sedih dan membenci ayah kalian”jawab bunda lirih“bunda sungguh kami ga akan pernah sedih kehilangan ayah seperti dia,bahkan aku lebih sedih kalau bunda tetap sama ayah dan terus di sakiti. Aku ga mau itu terjadi”jawabku sambil memeluk erat bunda“kalian memang yang terbaik buat bunda”ucap bunda memeluk erat tubuh iniBulan demi bulan telah berlalu Ayah dan Bundapun telah berpisah dan Raya pun telah mengetahui semua yang terjadi antara ayah dan bunda bahkan dia lebih dewasa menerima ini semua di bandingkan apa yang aku dan bunda bayangkan.Siang ini ketika aku,Bunda dan Raya sedang asik duduk di depan televisi,Tiba terdengar suara ayah “Assalamualaikum”sapa ayahMendengar ucapan itu kami pun menoleh kebelakang,Sungguh terkejut aku, ketika aku melihat ayah bersama istri barunya bergandengan mesra di depan kami semua.Melihat semua itu aku pun jadi emosi seakan aku tak rela melihat semua ini”ngapain anda kesini lagi”“iya ngapain lagi ayah kesini”sambar Raya“Ooo..sabar anak-anak ayah,Ayah kesini cuman mau ngambil barang-barang ayah dan ayah juga mau ngingetin sama kalian kalau rumah ini akan di jual secepatnya”ucap ayah“Maaf andabukanlah ayah kami lagi,ambil saja barang-barang anda kami semua pun sudah tak sudi untuk menampungnya”jawab Raya begitu emosiAyahpun pergi membereskan semua barang-barangnya di bantu oleh istri barunya itu.Setelah selesai membereskan barangnya ayahpun pergi dan sebelum pergi dia berkata”sekali lagi ayah mau ngingetin kalau rumah ini akan di jual, jadi kalian harus segera pergi dari sini”“sabar bapak Pratama Putra kita semua juga bakal pergi tanpa membawa apapun dari sini, Dan kita akan pergi dari kota ini. Supaya kita tak lagi bertemu dengan orang seperti anda”jawabku ,Mendengaar ucapanku ayahpun pergi.Setelah kepergian ayah bunda merangkul aku dan Raya lalu menyuruh kami duduk dan berkata ”Kalian ga boleh seperti itu,Dia tetaplah ayah kalian,seperti apapun dia dan bagaimanapun dia,Namun di dalam darah kalian mengalir darah ayah yang selama ini selalu berjuang untuk kita dan memberikan pelajaran berharga untuk kita. Bahkan dia pula lah yang membuat kalian semakin dewasa.Bunda ga akan pernah melarang kalian untuk bertemu dengan ayah.Atau menghalangi ayah bertemu kalian” Setelah kejadian itu aku,Bunda dan Raya pun pindah ke Bandung. Kini aku bersekolah sambil kerja part time yah lumayan buat bantu-bantu bunda,walau awalnya dia tak mengizinkan karena saat ini aku ssudah kelas 3 dan sebentar lagi akan menghadapi ujian, Tapi aku bisa untuk meyakinkan bunda dan berjanji tak akan ada yang berubah pada nilai ku dan waktu belajar ku,dan bunda kini menjadi guru meneruskan pekerjaannya yang dahulu.Walau sekarang kami hanya bertiga namun kebahagiaan ini sama sekali tak berubah seperti dulu.Kini tak ada lagi airmata yang ada hanya canda dan tawa.Dan sekarang idola ku bukanlah ayah tapi bunda.Tapi ayah akan selalu menjadi ayahku seperti apapun diaseperti yang bunda ajarkan pada aku dan Raya_Inilah keluarga yang selalu menjaga dan menghargai_Dan inilah cinta ga perlu punya keluarga yang sempurna,Tapi kesempurnaan itu sendiri akan hadir, ketika kita bisa menghadapi semua masalah bersama-sama dan tidak membiarkan seseorang terus terluka demi kebahagian yang menjadi sebuah fatamorgana. Karena kebahagian tercipta dengan adanya rasa CINTA……WE LOVE YOU MOM ………………………………………YOU ARE VERY EVERYTHING mom……………………………………………….

  • Cerpen Cinta Rasa Yang Tertinggal ~ 01 / 05

    Iseng lambai ke kamera sembari tebar senyuman. Ketemu lagi bareng admin. Kali ini muncul dengan cerpen cinta Rasa yang tertinggal. Cerpen kali ini terinspirasi dari salah satu lagu milik band indo yang emang admin suka lagu lagunya. Tepatnya Kangen band. Judul lagunya yang mana, yang mana aja boleh XD. So, biar nggak kebanyakan obrolan, kita langsung skip ke cerita aja ya. Happy reading.Credit Gambar : Ana Merya"Fan, loe mau kemana? langsung pulang kan?" tanya Alan masih dengan napas ngos – ngosan sehabis berlari. Begitu Pak budi meninggalkan kelas, ia memang langsung meluncur ke kelas Tifani. Sedikit kecewa begitu mendapati kelas sahabatnya itu telah kosong. Karena itu tanpa basa – basi ia langsung meluncur menuju keparkiran. Sesuai dugaan, temannya ada disana."Rencananya si gue pengen ngadain jumpa pers dulu. Ya maklum lah, gue kan artis yang lagi naik pohon," Tifani ngebanyol lengkap dengan gaya narsisnya. Lagian, hari gini orang emang kebanyakan suka gitu ya. Suka melemparkan pertanyaan padahal jawabannya sudah jelas."Lebay," cibir Alan sewot sambil menoyor kepala Tifani yang malah ngakak."Lagian loe, udah tau kalau gue biasanya juga langsung pulang ngapain si pake nanyain lagi?"Alan hanya nyegir mendengarnya. Sementara tangannya sibuk merogoh kedalam tas ransel, sibuk mencari -cari sesuatu. Seulas senyum terukir manis di sudut bibirnya ketika ia menemukan apa yang ia cari. Sebatang coklat yang langsung ia sodorkan tepat kewajah Tifany yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak geriknya."Buat gue?" tanya Tifany polos."Sembarangan," semprot Alan cepat. "Kayak nggak tau aja. Biasa. Ini tu titipan dari gue buat pujaan hati. Sekalian sampaikan padanya salam rindu penuh cinta Yang terbungkus dalam sebatang coklat," sambung Alan sok puitis. Tifany justru pasang pose mau muntah."Cinta kok cuma ngasi coklat. Bunga kek," cibirnya. Namun tak urung, coklat tersebut ia ambil juga."Memangnya Septia suka bunga?" tanya Alan yang tak sengaja mendengar cibirannya. Kalau di pikir Tifany bener juga. Cewek kan biasanya suka bunga. Tapi setelah searching di google, banyak juga yang suka coklat. Bahkan, gadis yang kini berdiri tepat di hadapannya adalah salah satunya."Yupz…." angguk Tifany mempertegas pendapatnya. "Apalagi bunga bank. Ah, Gue juga mau kalau gitu," sambungnya yang langsung di hadiahi jitakan di kepala."Sorry ya. Septia bukan loe, dia nggak matre," gerut Alan. "Dan asal loe tau aja dalam setiap batang coklat yang gue kirimkan selama ini terselipkan sejuta cinta yang gue punya," sambung pria itu dengan gaya nya yang khas. Khas lebay maksutnya.Mendengar itu Tifany. Sekaligus ia juga kesel karena kepalanya di jitak dengan semena – mena. Sambil mengusap – usap kepalanya mulutnya mengerutu "Tu coklat kan gue yang makan, pantesan aja gue makin cinta sama loe.""Apa?" tanya Alan karena Gumaman Tifany terlalu kecil untuk bisa ditangkap indra pendengaranya."Kereta Api yang udah lewat nggak bisa balik lagi," Tifany angkat bahu. Sementara Alan masih menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat."Lagian kalau loe emang naksir berat plus cinta hidup sama dia kenapa nggak ngomong langsung aja si?" tanya Tifany berusaha mengalihkan pembicaraan. Lagipula ia tidak berharap Alan mendengar gumamannya barusan. Toh, tidak ada gunanya. Tidak ada yang akan berubah.Kali ini Alan tersenyum. Matanya menatap kearah Tifany yang masih menantikan jawabannya. "Soalnya kalau kayak gini kan lebih romantis."Jawaban itu tak urung membuat Tifany kembali mencibir. "Wuek…. Loe bener – bener bikin gue mau muntah.""Ih, loe kok gitu si? Loe kan sahabat gue. Harus nya loe ngedukung gue donk buat dapatin dia. Secara gue udah bosen ngejomblo. Dan lagi…""Iya bawel. Udah deh, udah siang ini. Iya, ntar gue sampein. Sekarang gue cabut dulu," potong Tifani. Tanpa menunggu balasan ia segera mengayuh sepedanya menjauh, meninggalkan Alan yang masih berdiri di tempat.Sambil terus mengayuh, Tifany menghela nafas. Sebelah tangannya terangkat menyentuh dada kirinya yang terasa sesak. Sahabat?. Selalu begitu. Andaikan Alan tau rasa sakit yang selama ini Tifany rasakan ketika mendengar satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Karena sesungguhnya tifany menyukai Alan yang telah bersama dari semenjak 6 tahun yang lalu dan harus terpaksa menerima kenyataan kalau orang yang disukainya ternyata menyukai sahabatnya sendiri sejak dua bulan yang lalu. Septia. Seorang yang tidak sengaja ia kenalkan pada Alan saat Alan berkunjung ke kostannya.Dan ini lah rutinitasnya setiap hari. Kurir cokelat. Tapi Untunglah sampai saat ini rasa sakit itu masih bisa dan mampu ia tahan. Apalagi melihat rekasi cuek bin dingin Septia selama ini yang tidak pernah sekali pun menerima cokelat pemberian Alan sehingga selama ini selalu berakhir masuk kedalam perutnya.Setelah memarkir sepedanya, Tifany melangkah masuk kedalam rumah. Sepi, sepertinya penghuni kostan juga sedang pada keluar. Tangannya terulur memutar knop pintu nomor 7, tidak terkunci. Itu artinya, Septia, rekan sekamarnya ada di sana."Gue kan udah berulang – ulang – ulang – ulang kali bilang ke elo. Gue nggak mau coklat dari dia. Kenapa masih loe terima aja si?" gerut Septia penuh penekanan saat Tifani menyodorkan kiriman Alan tepat di depan wajahnya."Dan berulang – ulang kali juga gue bilang kalau Alan itu type orang yang sama sekali tidak menerima penolakan," balas Tifany tak kalah cuek.Septia memutar mata. Matanya masih menatap lurus kearah Tifany yang masih mengulurkan tangannya. "Ya udah, kalau gitu loe buang aja," saran Septia baru kemudian mengalihkan perhatiannya kearah novel yang sedari tadi ia baca sebelum kemuculan Tifany menganggu konsentrasinya."Jangan!!! Sayang donk," potong Tifany cepat."Hu…. Bilang aja kalau loe yang mau cokelatnya makanya loe nggak mau nolak pemberian Alan," cibir Septia. Diam diam gadis itu melirik kearah sahabatnya. "Bukan gitu. Gue cuma sayang aja kali. Makanan enak gini maen buang aja," Tifany membela diri."Sayang sama cokelatnya atau orangnya?" balas Septia sembari bergumam."Apa?" Tifany mengurungkan gerakan tangannya yang sedang meletakan mengantungkan tas ke dinding. Kepalanya menoleh kearah Septia. Tapi yang di tatap sama sekali tidak menoleh. Gadis itu malah terlihat tengelam dengan bacaannya. "Loe barusan ngomong apa Sep?" ulang Tifany lagi."No Ada bebek pake helm," Septia menjawab acuh tak acuh. Tatapan Tifany menyipit. Ia yakin tadi bukan itu kalimat yang Septia ucapkan."Oh ya, tadi gue ketemu kak Nara. Dia titip pesan sama gue, katanya kalau loe udah pulang loe di suruh kerumahnya," tambah Septia beberapa saat kemudian."Gue? Ada apa?" tanya Tifany sambil menunjuk wajahnya sendiri."Tau…" Septia angkat bahu. Ditutupnya buku yang ia baca. Matanya melirik kearah jam yang melingkar di tangan baru kemudian bangkit berdiri. Berjalan kearah meja rias di sudut kamar. Tangannya sibuk merapikan poni rambutnya yang sedikit berantakan. Tifany baru menyadari kalau penampilan gadis itu terlihat rapi. Siap mau keluar."Loe mau kemana?" Tanya Tifany heran."Ada deh. Mau tau aja. Udah gue cabut dulu ya. Da…" tanpa menunggu balasan dari Tifany, Septia sudah keburu menghilang di balik pintu. Meninggalkan sahabatnya yang masih heran dan penasaran akan rutinitanya setiap sore sejak dua minggu yang lalu."Hati – hati," teriak Tifany walau pun sosok sahabatnya sudah tidak terlihat. Tapi ia yakin suara cemprengnya masih mampu untuk ditangkap oleh indra pendengar Septia."Ia. Loe juga. Inget, mang Danang itu sudah punya istri. Jangan di godain aja. Ha ha ha," balasan Septia masih terdengar. Bahkan walau wujudnya sudah tidak terlihat, ia masih mampu melemparkan ledekan."Rese loe," balas Tifany sengaja berteriak. Sebagai balasan hanya suara tawa yang sama terdengar baru kemudian hilang. Kalau saja Septia masih ada di hadapannya pasti saat ini sendal sudah melayang kekepala. Heran, tuh anak suka iseng banget. Padahal ia juga sudah tau dengan pasti kalau Tifany hanya menyapa mang Danang, tukang kebun tetangga sebelah setiap pagi hanya karena kebetulan ia lewat pas disampingnya yang sedang menyiram bunga ataupun membersihkan kebun. Tapi tetap saja Septia selalu mengodanya. Emang dasar Kurang kerjaan tuh anak.Next to Cerpen cinta rasa yang tertinggal part 2.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_meryaPart : 01 Of 05Jumlah kata : 1. 179 WordsGenre : Remaja

  • ANTARA CINTA dan SAHABAT

    ANTARA CINTA dan SAHABATOleh : Eka OctavHidup akan indah bila kita masih memiliki seseorang yang kita sayangi, seperti via, via masih memiliki orang tua yang sayang dengannya dan saudara laki-lakinya yang sangat menggemaskan yang masih kelas 4 SD. Serta tak luput mempunyai seorang sahabat yang baik yang selalu bersama ketika dia duka, lara pun senang. Via mempunyai sahabat dia bernama Mia dan Rahma. Kemana-mana kami selalu bersama seperti layaknya besi dan magnet yang sulit dipisahkan. Mereka pertama kenal ketika pertama MOS dan memulai sekolah di SMA, Ketika itu Rahma duduk sendirian dan tak sengaja Via menghampirinya dan berkenalan. Setelah mereka berbincang-bincang cukup lama datanglah seorang anak perempuan cantik putih bertahi lalat di bawah bibir yang tipis. Tahi lalatnya itu membuat wajahnya menjadi manis dan disegani oleh kaum Adam.“Hai…. Rahma dah lama nunggunya yah???” kata perempuan itu“Ea… lama banget, kamu dari mana saja???? kata Rahma“Maaf yach aku berangkatnya siang, soalnya bangunnya kesiangan… hehehe” jawab Perempuan yang berbicara dengan Rahma sambil tersenyum.“Oa,untungnya ada Via yang menemani aku di sini, Mi kenalin ini Via teman sekelas kita juga lho. Oya vi kenalin ini teman satu bangku aku namanya Mia” kata Rahma sambil memperkenalkan temannya.“Kenalin aku Via, aku duduknya di samping tembok dekat pintu sama Ovie” kata Via memperkenalkan dirinya kepada Mia.“Aku Mia, low boleh tau lo tinggalnya dimana”?? Tanya Mia kepada Via.“Aku aslinya Banjarharjo, tapi di sini aku ngekost” jawab Via.“Kapan-kapan kita main ke kostnya Via, Gimana,?? Rahma lo juga ikut yach”?? Mia melontarkan pertanyaan kepada Rahma.“Itu ide yang bagus kita selalu kumpul-kumpul bareng di kosannya Via, Gimana kalau kita buat genk saja?” usul Rahma.“Aku setuju dengan pendapatmu. Nanti kita buat kaos yang sama, tapi dipikir-pikir nama genk nya apa yach”?? Mia menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal karena begitu bingungnya.“Tapi maaf teman-teman bukannya gw menolak, tapi aku bener-bener gak setuju dengan pendapat kalian, aku ingin bersahabat dengan kalian. Tapi aku gak suka buat genk-genk seperti itu, takutnya kalau kita buat genk, banyak teman-teman yang benci dan iri.” jelas Via.“Yah Vi, tapi……….”Sebelum Mia melanjutkan pembicaraannya bel sekolah pun berbunyi tanda peserta MOS kumpul di halaman sekolah untuk diberikan arahan dan himbauan dari kepala sekolah.Sungguh ribet dan susah kembali menjadi peserta MOS harus menggunakan kostum planet yang sungguh menyebalkan itu seperti pake kaos kaki yang berbeda,tasnya menggunakan kantong kresek,rambutnya di ikat lebih dari 10 buah,sungguh membosankan dan menyebalkan ketika dimoment-moment MOS seperti ini.Setelah kumpul di lapangan Rahma dan Mia senyum-senyum sendiri, dan aku bingung kenapa mereka senyum-senyum tanpa sebab. Adakah sumbernya kenapa mereka senyum-senyum sendiri. Setelah aku perhatikan ternyata mereka tersenyum ketika melihat kakak Osis. Dan kemudian aku bertanya kepada Rahma,”Rah, kamu dan Mia senyum kenapa??” Tanya Via dengan penasaran.“Asal kamu tau aja ya Vi, aku dan Mia itu ngefans banget sama anak kelas X-2 itu, terus gw jatuh cinta sama cowok itu katanya sih namanya Dana”. jawab Rahma.“Yang mana?” Tanyaku lagi.“Itu yang paling cakep sendiri, Oa aku juga ngefens banget ama kakak OSIS jangan bilang sama Mia yach kalo aku ngasih tau ke kamu, aku itu ngefans banget sama Ka’ Zaenal sedangkan Mia ngefens sama ka’ Adit”. jelas Rahma.“okey, tenang saja Rahma gw pasti gw bisa jaga rahasia ini kok, dijamin gak bakal bocor dech…….” kataku.“Aku percaya kok sama kamu….. halah kaya ember saja bocor… . hehehehe”. Rahma sambil ketawaKetika asyik berbicara ternyata banyak pengarahan yang diberikan oleh kepala sekolah, sungguh menyesal sekali ku ini tidak mendengarkannya. Padahal banyak manfaatnya bagi kita khususnya bagi pelajar. Setelah beberapa lama kemudian peserta MOS di bubarkan.Via sedang berfikir sepertinya enak sekali rasanya ketika menjadi anak SMA. Sama seperti yang Via rasakan saat ini Via ingin cepat-cepat menggunakan baju putih abu-abu dan agar cepat diresmikan menjadi murid SMA, rasanya lama sekali menunggunya waktu seperti itu. Apalagi, rumahnya sangat jauh dari sekolah sungguh enaknya jauh dari orang tua dan bebas untuk pergi-pergi kemanapun yang kita inginkan bersama teman-teman barunya. Tapi Via harus bisa mengendalikan diri dari pergaulan di zaman edan seperti ini, kalau kita mengikutinya maka kita akan masuk ke dalam jurang neraka yang isinya orang-orang berdosa.Kicauan burung menari-nari di angkasa, Sungguh indah bila ketika memandangnya. Embun pagi menyejukan hati Semerbak wangi mawar membuat segar perasaan kita. Indahya alam ciptaan tuhan yang maha esa, Tak ada yang bisa menandinginya,Karena tuhan adalah sang kholik pencipta alam semesta.Ricuhan murid-murid SMA bagaikan burung-burung yang sedang menyanyi-nyanyi. Murid-murid mulai berdatangan menuju sekolah untuk menuntut ilmu, walaupun ada yang niat sekolah hanya ingin mendapatkan uang jajan dan ingin memiliki banyak teman. Murid-murid berdatangan ada yang naik motor, sepeda, naik bus mini, angkot, diantar orang tuanya menggunakan mobil, adapun jalan kaki.Bel sekolah pun berbunyi sebagai tanda waktu pelajaran dimulai. Murid-murid dengan tenang belajar di sekolah. Hening sepi keadaan di sekolah bagaikan tak berhunikan makluk, Seperti di hutan sepi sunyi.Bel istirahat pun berbunyi, murid-murid bagaikan pasukan burung yang keluar dari sangkarnya menuju kantin gaul bu ijah. Perut mereka terjadi perang dunia ketiga mereka berebut makanan dan cepat-cepat mendahulukan mengambil makanan.Aku tak nafsu untuk pergi ke kantin dan aku beranikan diri pergi ke perpustakaan.Setelah lamanya aku diperpustakaan datanglah seorang cowok ganteng yang diidam-idamakan oleh Rahma sahabatku sendiri.“Hai…….vi kok sendirian saja disini.” kata cowok itu yang bernama Dana.“Yah…. teman-teman aku lagi ke kantin, padahal aku diajak kekantin sama mereka, tapi aku pengennya pergi ke perpustakaan……. hehehe” kataku pada Dana.“Oa…… kamu les di Prima Eta yach??” Tanya Dana.“Eah…..kok kamu tau sich…” jawabku.“Kan aku juga les disitu,terus gw juga sering merhatikan kamu lho!!” kata Dana.“Memang kamu kelas X apa?, kok gw gak pernah lihat kamu?”“Ruang X-B. oa,kamu ruang X-A ya?”“yapz……….”Aku tak ingin dekat-dekat dengan Dana, Tapi aku juga punya perasaan sama Dana aku bingung kalau aku berdekatan sama Dana nanti Rahma cemburu. Kemudian ku pamit sama Dana.“Dan aku mau ke kelas dulu” kataku pada Dana.“Owg…..eah Vi silahkan”Kemudian aku menuju ke kelas, sebelum masuk ke kelas, di jalan aku ketemu Rahma. Aku menyapa Rahma dengan senyuman. Tapi apa yang Rahma kasih padaku, Rahma bersikap sinis. Aku bingung kenapa Rahma bersikap seperti ini kepadaku, Kemudian aku mencari Mia. Aku ingin menanyakan kepada Mia. Tentang sikap Rahma kepadaku. Setelah kutemukan Mia, ku langsung menanyakan kepada Mia.“Mi,aku boleh nanya sesuatu kepadamu gak?” tak sengaja air mataku membanjiri wajahku yang lembut ini.“Nanya tentang apa?”“Tadi aku ketemu Rahma, aku nyapa dia, Tapi dia cuek, malah dia bersikap sinis kepadaku, Apa salahku Mi”.“Apa benar tadi kamu janjian sama Dana di perpustakaan, kok kamu bisa ngehianatin sahabat sendiri sich”.“Mi, tadi itu, aku gak sengaja ketemu Dana di perpustakaan, sumpah aku sebelumnya gak janjian, tolong bantuin aku, untuk jelasin ke Rahma Mi.”Aku memohon ke Mia agar dia bisa bantuin aku untuk jelasin ke Rahma.“yach udah….gimana kalau pulang sekolah gw temuin kalian berdua”“Terserah kamu Mi, yang penting Rahma tidak salah paham sama gw”Kemudian setelah pulang gw nungguin Mia dan Rahma di kantin gaul,setelah beberapa lama aku nungguin munculah mereka dari balik kelas.setelah aku melihat Rahma.Aku langsung peluk Rahma dan aku teteskan air mataku.kemudian aku memohon-mohon agar Rahma mempercayai penjelasin yang diberikan oleh aku padanya.“Rah, plis dengar penjelasan aku, aku gak ada hubungan apa-apa sama Dana, mana mungkin aku ngehianatin sahabat sendiri.”“terus kenapa tadi kalian berdua ketemuan di perpustakaan.” Tanya Rahma.“Aku gak sengaja ketemu di perpustakaan Rah, kalau kamu masih gak percaya, gimana kalau kamu nanya langsung sama Dananya?”“owg………..yach dech aku sekarang percaya kok sama kamu, masa aku percaya sama orang lain daripada sahabat sendiri, maafin aku juga yach Vi,,”.“Memangnya tadi siapa yang bilang sama kamu”.“Sudah, gak usah dibahas, gak penting”.Aku bingung kenapa Rahma langsung maafin aku, padahal aku baru sebentar jelasin kapada Rahma. leganya perasaanku ini.“Makasih Rah”.Kemudian kami pun saling berpelukan rasanya senang banget ketika kami baikan kembali. Setelah pulang sekolah, Aku seperti biasa membuka kembali buku pelajaran. Setelah ku membuka buku, tak sengaja ku temukan secarik kertas yang beramplop. Ku buka perlahan-lahan, tapi kenapa jantungku ikut berdetak lebih kencang. Kubaca perlahan-lahan.Dear Via…. Izinkan aku untuk berkata jujur padamu, Sebelumnya ku minta maaf kalau aku sudah lancang mengirim surat ini. Aku sadar, aku bukan apa-apanya kamu. Aku juga tak pantas memilikimu. Tapi semakin ku pendam perasaan itu, semakin sesak rasanya dadaku ini kalau tak segera ditumpahkan.Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Tapi tiap kali aku ingin melepaskan diri darimu, Tapi tiap kali itu aku ingin semakin kuat untuk memelukmu. Dan aku merasa heran mengapa perasaan ini hanya terjadi padamu, mengapa tak tumbuh pada gasdis-gadis yang lain, Bagi anak-anak lain mungkin menilainya, Mereka lebih cantik darimu?Tetapi ini perasaanku, Aku justru suka padamu tak hanya karena kecantikanmu, Tapi juga karena innerbeauty mu sungguh menarik bagiku. Aku tak ragu lagi memilih gadis semacam kamu. Kamu ini memang tak ada duanya di dunia ini. Sudah beberapa lama ku pendam perasaan ini tapi baru kali ini ku beranikan diri utuk menyatakan kalau aku “CINTA dan SAYANG”sama kamu. Maafkan aku kalau aku tak gentel seperti anak laki-laki lain yang mengutarakan langsung di depan wajah dan bertemu langsung empat mata. Tapi kalau kau mau agar aku langsung mengutarakannya aku akan mencoba, besok kita ketemu pulang sekolah di kelas X-9.Orang yang mencintaimuAdytia Pradana Putra Aku bingung,Aku tak tau harus berbuat apa. Aku bingung memilih salah satu ini CINTA atau SAHABAT. Kata-kata itu selalu menggoyang-goyang pikiranku. Aku punya persaan sama Dana dan aku juga gak mau menyakiti perasaan sahabatku. Kenapa bisa terjadi pada aku, kenapa tidak Mia??? Bukanya aku iri pada Mia, tapi karena perasaan bingung ini jadinya aku tak sadar menyalahkan Mia…. ya tuhan tolonglah diriku ini, aku harus berbuat apa?.Kemudian aku berfikir, aku sudah janji hidup dan matiku akan ku pertaruhkan demi sahabatku yang ku sayang. Aku relakan Dana untuk sahabatku Rahma. Aku tak ingn melihat sahabatku sedih.Aku sudah punya keputusan, aku gak akan terima Dana jadi pacarku, Tapi aku akan bersujud di depan Dana dan bermohon-mohon agar Dana mau jadi pacarnya Rahma. * * * * * * sekian * * * * * * * *cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya….cinta yang sebenarnya adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih tetap menunggunya dengan setia….cinta yang sebenarnya adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata "aku turut berbahagia untukmu wahai SAHABATKU"Nama : Eka OctavFB : saputri.ekaoktaviani@yahoo.comEmail : eka.oktavianisaputri@yahoo.comTwitter : @EccaNdulndul

  • Cerpen Cinta “Ketika Cinta Harus Memilih” ~ 14

    Cerpen Cinta "Ketika Cinta Harus Memilih" Part 14 kembali relase. Tinggal dua episode lagi. Kok rasanya lama amad ya? wkwkwkwkwk….Jadi mendadak bingung nih, kira kira kalau sampai cerpen cinta yang satu ini end, ni blog mau di update apa lagi ya? Secara adminnya udah nggak punya stok cerpen lagi buat di posting. Haruskan ni blog vakum beneran?… ck ck ckOke lah, daripada banyak bacod langsung aja yuks, kita simak kelanjutan ceritannya. Ketika Cinta Harus MemiliReferensi lagu : Tak Rela miliknya merpati band…..Sesungguhnya aku tak rela, melihat kau dengannyaSungguh hati terlukaCukup puas kau buat diriku, Merasakan cemburuKembalilah kepadakuRangga sedang sibuk membereskan kamarnya ketika Hape nya tiba – tiba bergetar. Dengan segera diraihnya benda mungil tersebut. Sedikit mengernyit heran saat membaca id callernya. Cisa?. Ada apa dia menelponnya?.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*