Cerpen Persahabatan: Me and My Best Friend

Oleh: Rai Inamas Leoni – Kembali aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin perasaanku saja, ujarku dalam hati. Ku lirik jam tangan ku yang menunjukan jam 4 sore, pantas keadaan parkiran sudah sepi. Hanya ada beberapa motor yang masih setia menunggu majikannya untuk pulang. Aku sendiri baru selesai dari ekskul ku yaitu jurnalistik. Sebenarnya belum selesai, hanya saja aku izin pulang lebih awal. Mood ku dari tadi pagi sedang tidak bagus, ditambah cuaca hari ini yang selalu mendung.
Aku tersenyum ketika melihat motor kesayangan ku dari kejauhan. Waktunya pulang, batinku lirih. Kulangkahkan kaki menuju motor matic ku. Tak sampai 5 langkah, aku menghentikan langkah ku. Mereka benar-benar lupa… Rasanya aku ingin menangis saja. Kenapa mereka semua bisa lupa hari ulang tahun ku? Bahkan Agha pun juga tidak ingat. Aku sengaja tidak mengatakan apa-apa kepada mereka tadi pagi. Aku masih menunggu hingga mereka sadar, bahwa temannya yang satu ini sedang merayakan hari kelahirannya. Tapi, segitu buruk kah ingatan mereka? Ingin sekali aku berteriak di parkiran ini.
Dengan kesal, aku berjalan secepat mungkin menuju motorku. Lebih baik pulang, tiduran di kamar sambil membaca novel. Lupakan hari ulang tahun ku!! Namun langkah itu mulai terdengar kembali. Siapa? Apakah penguntit? Tanpa sadar aku mulai sedikit berlari, dan langkah itu pun juga terdengar sedang berlari mengejarku. Tunggu. Kenapa aku mendengar langkah kaki banyak orang? Jangan-jangan aku akan dikeroyok. Oh tuhan, lindungilah aku.
Karena penasaran, ku beranikan diriku untuk menoleh ke belakang secepat mungkin, melihat apa yang terjadi sebenarnya. Dan sedetik kemudian aku merasa butiran-butiran putih mengenai seluruh tubuhku. Lalu disusul dengan cairan kuning mengenai rambutku. “Happy Birthday Nara,” ujar mereka serempak lalu tertawa terbahak-bahak.
Kulihat Nadya, Lunna, dan Dinda sedang membawa sisa-sisa tepung, yang tentu saja juga mengenai baju mereka walau tidak sebanyak aku. “Oh shiiitt.. Kalian gila apa?” teriakku kesal walau hati kecil ku merasa senang. Senang karena mereka ingat aku.
“Ya ampun, gitu aja ngambek. Sini gue kasi lagi,” Tio lalu melemparkan telur ke kepala ku dan semua kembali tertawa. Aku hanya bisa menunduk, membiarkan cairan kuning itu jatuh ke tanah. Dan tidak lama kemudian aku melihat Rizky membawa seember air. Buru-buru aku lari, namun ditahan oleh Nadya dan Dinda. Dan jadilah kami bertiga terkena air.
“Ya Rizky, kenapa gue jadi kena sih? Ini kan air bekas pel Pak Komar. Sialan lo!” rengek Nadya lalu melempar tepung yang tersisa kearah Rizky. Rizky pun mencoba untuk menghindar. Aku tertawa melihat mereka. Mereka bener-bener pasangan yang serasi.
Dan entah dari mana, Lunna tiba-tiba membawa blackforest yang berisi angka 16 kehadapan ku. “Make a wish dulu donk, Ra.”
Aku mulai memejamkan mata untuk berdoa. Ku buka mata secara perlahan sambil menatap satu persatu teman sekelas ku di XI IPA 2. Nadya, Rizky, Dinda, Lunna, Tio, dan.. “Agha mana?” tanya ku polos.
Kulihat raut wajah mereka berubah. Lalu Dinda menyela, “Agha lagi nganter Putri ke toko buku. Lo tau lah Putri, ee.. dia anak baru,” Kulihat Dinda sejenak ragu-ragu. “Bu Siska tadi nyuruh Agha buat nemenin Putri beli buku pelajaran.”
“Oh,” Hanya itu kata yang keluar dari mulut ku. Kupaksakan untuk tersenyum. Melihat perubahan ekspresiku, Tio yang memang terkenal jahil mulai melumuri wajahku dengan krim yang ada di kue, lalu disusul oleh Dinda. Tak mau kalah, aku langsung membalasnya. Selang beberapa menit, kami berenam sudah menjadi badut amatiran yang wajahnya dipenuhi krim.
***Agha Daniswara. Nama yang sudah tak asing lagi di telinga ku. Selain letak rumah yang bersebelahan, kami juga selalu satu sekolah bahkan sekelas. Dimana ada Agha, selalu ada aku. Aku seperti menemukan sosok kakak di dalam diri Agha, karena aku sendiri anak tunggal. Menjadi anak tunggal memang mengasyikan. Semua perhatian Mama dan Papa tercurah untuk ku tanpa harus terbagi. Namun hidup sendiri tanpa saudara juga sangat menyedihkan malah membosankan. Kadang aku iri kepada mereka yang memiliki kakak atau adik. Tapi, selama ada Agha yang selalu disamping ku, hidup menjadi anak tunggal tidak masalah.
Sejenak aku memejamkan mata, mencoba mengingat kejadian tadi sore. Yang terlintas dibenak ku hanya lah Putri. Murid pindahan yang seminggu terakhir mencuri perhatian teman-teman sekelas. Ya, dia cantik dan modis. Dan tak butuh waktu lama, aku yakin Putri akan menjadi salah satu deretan siswi populer di SMA Tunggadewi.
Aku kembali membuka mata. Kulirik foto yang terpajang manis di meja belajarku. Foto dua anak SD yang sama-sama membawa balon. Aku masih ingat, saat itu hari ulang tahun Agha yang ke-10. Mama Agha atau biasa ku panggil Tante Mita ngotot untuk menggambil foto kita berdua. Untuk kenang-kenangan katanya.
Alunan lagu Only Hope milik Mandy Moore terdengar dari meja belajarku. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidur. Siapa sih yang nelpon malam-malam? Dengan kesal ku tekan salah satu tombol di HP, tanpa melihat nama yang tertera di layar. “Halo,” sapaku enggan.
“Akhirnya diangkat juga. Ra, buruan ke balkon sekarang.” ujar seseorang yang aku kenal. “Jangan lupa pakek jaket, dingin banget disini. Gue tunggu, Ra.”
Belum sempat aku menjawab, telepon sudah di tutup. Sialan Agha. Aku yang masih binggung atas ucapanya buru-buru membuka lemari mencari jaket tebalku. Tak butuh waktu lama, aku sudah berdiri di balkon kamarku yang bersebelahan dengan balkon kamar Agha. Kamar ku dan kamar Agha sama-sama ada di lantai atas.
“Lo belum tidurkan?” tanya Agha dari balkonnya. Ku lihat Agha menggunakan kemeja putih dan celana jeans hitam yang membalut tubuh atletisnya. Sepertinya ia baru pulang.
“Belum lah, masih jam 9 juga. Lo sendiri baru pulang?”
“Iya. Tadi gue nganter Putri beli buku. Capek banget, Ra. Nggak nyangka kalo si Putri suka baca novel sama kayak lo.“ Ku lihat Agha tersenyum gembira. Belum pernah aku melihat ia sebahagia ini. Lalu ia menceritakan kejadian-kejadian yang lucu di toko buku. Aku hanya menanggapi dengan kata-kata singkat seolah aku menyimak cerita Agha. Walau sebenarnya aku tidak mendengarkan apa-apa.
Ada sesuatu yang mengganjal. Aku menerawang ke bawah melihat jalanan, yang tentu saja sepi. Jalan di kompleks perumahan kan tidak seramai jalan raya.
“Ra? Halo… Nara? Naraaaa… Lo denger nggak sih?” Panggilan Agha membuyarkan lamunan ku.
“Apa? Eh maksud gue, gue denger kok,” ucapku terbata-bata.
Agha mendengus. “Gue tau lo nggak denger omongan gue. Lo lagi mikirin apa sih?
“Kita balik ke setahun yang lalu ya?” ujarku tiba-tiba.
Agha terlihat bingung.
“Kita pacaran sampai sini aja. Lagian lo sama gue lebih cocok buat sahabatan. Entah kenapa gue rindu Agha yang dulu. Agha yang selalu ngejek gue jelek, Agha yang selalu bandingin gue sama cewek-cewek populer waktu SMP, sampai Agha yang selalu bangunin gue kalo gue telat bangun. Semenjak kita pacaran, rasanya ada yang berubah dalam diri kita.” Sejenak aku memejamkan mata untuk mengatur emosi. “Lo mau kan kalo kita sahabatan lagi?” tanya ku ragu.
Ku lihat Agha terkejut mendengar ucapanku. Biarlah. Jujur, setelah aku dan Agha pacaran, aku melihat perubahan sikap diantara kami. Seolah-olah ada tembok besar disekitar kami. Kami tidak dapat tertawa lepas seperti dulu saat SMP. Selalu ada sesuatu yang mengikat, mengingatkan bahwa kita tidak hanya berteman. Suatu komitmen yang bernama pacaran. Tapi aku sadar semenjak Putri masuk ke kelasku, aku merasa Agha tertarik pada gadis itu. Dan itu membuat aku muak. Aku kangen sama Agha, teman kecil ku.
“Kalo itu mau lo, gue terima. Asalkan kita bisa sahabatan lagi kayak dulu. Jangan gara-gara masalah ini, kita jadi diem-dieman.” ujar Agha lirih.
“Ya udah, gue duluan balik ke kamar ya. Dingin banget disini.”
Belum sempat aku melangkah, Agha sudah menahanku dan menyuruhku menangkap sesuatu yang dilemparnya. Untung kali ini aku bisa menangkapnya dengan tepat.
“Happy birthday Nara. Maunya ngucapin satu tahunan kita jadian. Tapi kita kan baru aja putus. Gue doain semoga persahabatan kita langgeng sampai tua nanti.”
Aku hanya tersenyum lalu buru-buru masuk ke kamar. Ku hempaskan diriku ke tempat tidur. Perlahan kubuka hadiah Agha yaitu sebuah kotak kecil bermotif strawberry, buah kesukaan ku. Dalam kotak terdapat kalung berbandul separuh hati dan sebuah kertas kecil.

“Happy birthday peri kecilku dan happy 1st anniversary buat hubungan kita.
PS : Moga lo seneng ama tu kalung

Kurasakan butiran kristal jatuh dari pelupuk mataku, buru-buru aku hapus dengan tangan. Namun semakin aku berusaha, butiran itu semakin banyak. Ya Tuhan… Aku yakin akan keputusan ku. Tapi kenapa hati ku terasa perih?
Malam semakin larut. Namun seseorang masih terpaku, terdiam di balkon kamarnya sambil menatap balkon yang baru saja di tinggal pergi oleh pemiliknya. Pemilik yang bernama Nara Angelina. Teman kecilnya.
***“Naraaa……!”
“Saya Pak! Saya Pak!” teriakku tak karuan. Mata ku mencoba melihat sekililing. Menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, ini kan kamarku? Lalu…
“Ouch shittt! Gue kira apa. Gila lo, Ga. Ngapaen lo disini?” ujar ku kesal. Ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku. Berniat melanjutkan mimpi ku yang tertunda gara-gara teriakan mahluk aneh ini.
Agha tertawa. “Ya ampun, dasar putri tidur. Buruan lo bangun, ini udah jam 10 pagi. Masa cewek males gini?” Agha menarik selimut ku lalu ditaruhnya di sofa.
“Agha!! Selimut gue balikin. Lagian ngapain juga bangun pagi? Ini tuh masih LIBURAN. Tahun ini kita kelas tiga, pasti belajar mulu kerjaannya. Kasi donk gue nikmatin liburan gue.” Jelas ku panjang lebar.
Ku dengar tawa Agha makin keras, seolah-olah mengganggu tidurku adalah hal terlucu di dunia ini. Aku hanya bisa pasrah. Beberapa bulan telah berlalu sejak hari itu. Hari dimana aku putus dengan Agha. Seperti yang kuduga, setelah kejadian itu hubungan kami kembali seperti SMP dulu. Dimana kami sering mengejek satu sama lain. Agha kembali pada hobby-nya yang senang melihat aku menderita. Dan aku kembali pada hobby lama ku, sering merecoki dia dengan kalimat panjang lebar.
“Cerewet banget sih,” rutuk Agha. “Buruan lo mandi, kita ke toko buku sekarang. Hari ini terakhir diskon lho. Katanya mau cari novel?” Aku melirik sebal kepadanya. Agha menghampiri aku, lalu dengan gemas Agha mengacak-acak rambut ku.
“Bilang aja lo mau beli komik. Pakek alasan gue beli novel lagi. Muna lo! Dari mana lo tau kalo diskonnya masih?” Kata ku sambil merapikan rambut ku yang berantakan.
“Dinda yang ngasi tau. Terserah mau percaya atau nggak. Yang penting lo buruan mandi.” Lalu Agha pergi ke arah meja belajar untuk melihat koleksi novelku. Aku terkadang heran dengan Agha. Untuk ukuran cowok tinggi yang jago main basket, masa sih dia masih doyan baca komik. Apalagi komik favoritnya Detektif Conan. Benar-benar deh si Agha.
“Agha cakep, dengerin gue ya. Gue sih udah dari tadi mau mandi. TAPI GIMANA CARANYA GUE MANDI KALO LO MASIH BERKELIARAN DI KAMAR GUE???” Dan tak butuh waktu lama, bantal-bantal di tempat tidurku sudah melayang ke wajah Agha. Kulihat Agha mencoba menghindar dari serangan bantal-bantal sambil tertawa, lalu keluar dari kamarku.
Dilihat dari mana pun, kami memang hanya cocok untuk sahabatan. Setidaknya untuk saat ini. Aku tersenyum dan beranjak pergi dari tempat tidurku. Bersiap-siap untuk pergi ke tempat favorit kami. Dimana lagi kalo bukan toko buku. 😀
***
By : Rai Inamas Leoni
TTL : Denpasar, 08 Agustus 1995
Sekolah : SMA Negeri 7 Denpasar
Blog : raiinamas.blogspot.com

Random Posts

  • Cerita SMA “Be The Firs & The Last”

    Hallo Reader Star Night. Star Night datang lagi ni. Kali ini dengan Cerita SMA , Cerpen Kiriman dari Salah satu Reader Star Night. Gimana ya Ceritanya?. Langsung sama – sama kita cek yuks. Lets Go…..Credit gambar: Ana MeryaCerita SMASophia, terkenal sebagai cewek palinnngggg jutek di sekolah SMP 1. Dia sebetulnya baik, tapi dia tidak suka ama yang namanya ‘cowok’. Kejadiannya, dia pernah diputuskan oleh mantan pacarnya dengan alas an yang sangat tidak masuk akal. Coba aja pikirkan, masa alasannya karena, Tony (mantan pacar Sophia) sudah bosan dengan Sophia. Jelas saja Sophia langsung pergi dengan hati remuk. Rasa marah, sakit hati, kesal bercampur aduk jadi satu. Vanes dan Dila, BFFnya Sophia mencoba untuk menghibur Sophia. Yang malah jadinya, Sophia tambah marah dan mulai bersikap super jutek. Di hadapan cewek-cewek, Sophia adalah orang terbaik dan tersabar di dunia. Di hadapan cowok-cowok, dia bagaikan iblis dibalik malaikat.sebagian

  • Diary ku | Untuk mu yang merasa

    Diary kuUntuk mu yang merasaRasa Marah, Rasa Kesel, Rasa Seneng dan merasa sedih emang selalu datang tanpa permisi terlebih dahulu. Kalau lagi seneng mungkin kita nggak komplein, tapi gimana kalau yang muncul ke permukaan jusru rasa kesel kayak star night dalam beberapa hari ini.Ceritanya begini berhubung keseharian Star Night lebih sering di habis kan di dunia maya dari pada dunia nya jadi nggak heran kan kalau rasa kesel itu berasal dari dunia maya. Star Night ketemu orang yang ‘ Ehem…. Nyebelin banget. Sumpah deh. Untung aja kita nggak kenal, Dan Star Nigh udah mutusin gak mau kenal. Nggak lagi – lagi deh ngunjungi tu blog. Oke, karya nya bagus, Star Night akuin. Lima jempol atau sepuluh deh kalau perlu star night kasi nilai buat karya – karyanya. Tapi emangnya harus ya sesongong itu. Minta di hargai tapi nggak mau menghargai. Maksutnya apa coba. Bikin Star Night Merasa Esmosi aja. Kan jadi ilang semua ide buat nulis. Baiklah, kalimat terakhir yang barusan abaikan saja.Buat Star Night Blog itu kayak rumah, Dan reader sebagai tamunya. Bukankah Pepatah bilang menyambut tamu dengan baik sama dengan mendapat rezeki dengan bersukur. Nah lantas gimana rasa nya kalau sebelum Berkunjung udah di kasi Plang Pringatan Segede – Gedenya soal pantang larangan?. *Halah bahasanya*. Ya kalau sekedar ‘tata – tertib’ itu biasalah ya, Tapi pake bahasa yang sopan donk. Kalau kita merasa sakit hati, memang nya harus ya di balas dengan sakit hati juga. Childish banget si.Buat reader yang merasa postingan ini Cuma spam terserah. Yang jelas Star Night bukan termasuk orang yang pinter ‘Ngomong’ tapi udah biasa mengekspresikan sesuatu lewat tulisan. So karena title blog ini juga ada diary nya, nggak salah donk Star Night bikin coret – coretan di sini. Itung – itung berbagi rasa. He he he…..

  • Cerpen Persahabatan: SENYUMMU ADALAH HIDUPKU

    Cerpen persahabatan berjudul Senyummu adalah Hidupku ini dikirim oleh Sarah Aulia.oleh: Sarah Aulia – Langkahku terhenti di depan sebuah toko buku. Teringat buku yang harus aku beli, akupun memasukki toko buku itu.“Ini dia…” katakku sambil mengambil sebuah buku yang bersampul biru, kemudian membaca isinya sebentar.“Maaf ya… maaf…” seorang pria tiba-tiba tidak di kenal datang dan langsung memelukku tanpa alasa yang jelas.Beberapa detik berlalu. Aku sempat bingung. Karena tidak segera melepaskan pelukannya akupun mendorongnya dengan kasar. “Apa-apaan sih lo?” katakku kasar“Aduh… maaf banget ya… tadi aku lagi di kejar-kejar orang. Makasih ya mau bantuin aku.” Katanya kemudian tersenyum kepadakku.“Orang stress.” Katakku kemudian meninggalkannya kemudian membawa bukuku ke kasir.“Eh La… lo dari mana aja?” Tanya Dina menghampiriku.“Ada orang stress, tiba-tiba meluk gue nggak jelas gitu. Katanya lagi di kejar-kejar sama orang.” Katakku kemudian menunjuk orang yang tadi memelukku.“Demi apa? Lo di peluk sama dia? OMG… beruntung banget sih lo La, bisa di peluk sama dia.”“Beruntung? Yang ada gue mandi kembang tujuh rupa abis ini.” Katakku ketus.“Lo tau nggak dia siapa?” tanyanya. Aku menggeleng tanpa dosa. “Dia itu Landry. RAFAEL LANDRY TANUBRATA. Mantan vokalis band Cola float, sumpah ternyata dia keren banget.” Katanya kemudian histeris“Cola float? Apaan tuh? Kayak nama minuman?” katakku polos.“Cola float? Masa lo nggak tau? Itu loh, band yang judul lagunya Aku Sayang Kamu. Yang sering gue nyanyiin. Sumpah lagunya enak banget.”“Terserah lo deh. Mau cola float kek. Mau coca cola kek. Gue nggak perduli. Balik yuk!!!” ajakku kepada sahabatku itu.“Ah nggak seru lo… yaudah ayo balik.” Dina kemudian menggandeng tanganku dan kamipun keluar dari mall itu.***Hari berganti. Sekarang aku sudah mengenakan kemeja putih dan rok abu-abu selututku. Akupun bersiap untuk segera berangkat ke sekolah.“Kamu udah bangun La?” seorang wanita yang tak lain mamaku menyapku dengan ramah. “Tadi ada orang yang nganterin bunga. Katanya buat kamu.”“Dari siapa ma?”“Nggak tau. Itu bunganya ada di ruang tamu.” Akupun segera mengambil kiriman bunga itu. kemudian memperhatikannya, sebuah mawar merah dan sekotak cokelat kesukaanku. Dan ada sebuah amplop berwarna biru yang berisi sebuah note. Kata-katanya sederhana, tapi menurutku itu cukup berkesan.Cinta yang tumbuh dari sebuah perasaan yang sederhana.***Aku sampai di sekolah. “Pagi Lala. Sendiri aja?” seseorang mengagetkanku dari belakang.“Eh, Ilham? Keliatannya?” katakku kepada seorang pria yang berada di belakangku yang ternyata Ilham, sahabatku.“Sendiran. Biasanya sama Pramudina? Sohib lo?” “Apasih? Gajelo ham. Emang lo bukan sohib gue?” “Sejak kapan kita sohiban?” tanyanya menggoda. “Becanda-becanda. Eh ngomong-ngomong, gimana peluncuran buku kedua lo kemarin?”“Baik. Lo kok nggak dateng sih? Jadikan gue Cuma berdua sama Dina.” Katakku sedih.“Sorry deh. Gue ada acara, jadi nggak bisa dateng…” “Oh yaudah. Eh ngomong-ngomong kemarin lo rekaman buat band lo ya? Apa kabarnya tuh band?”“Boy Band.”“Ia deh apakatalo.”“Baik lah. Emang kenapa?” “Nggak. Soalnya masa ada band yang mau nerima orang kayak lo?” candakku. “Maksud gue emang nggak ada orang lain yang lebih waras untuk jadi personil band, selain lo?”“Buktinya? Gue waras. Kalau nggak waras mana bisa gue break dance sambil nyanyi.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. “Udahlah ayo kita masuk kelas! Nanti telat, diomelin Pak Effendi loh…” Ilham kemudian menarik tanganku menuju kelas. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang ketika Ilham menarik tanganku. Oh tuhan… apa yang terjadi padakku? Kenapa rasanya jantung ini tidak bisa berhenti berdegup kencang. Apakah aku suka sama Ilham? Nggak mungkin. Aku, dia, dan Pramudina sudah bersahabat sejak kecil. Masa aku mengingkari persahabatan demi cinta sesaat?***“Bisa gila gue lama-lama….” Jeritku ketika aku melihat sebuah karangan bunga lagi di meja belajarku.“Kenapa lo La?” Tanya Dina yang sedang bermain di rumahku. Tepatnya sekarang dia berada di kamarku.“Itu!” katakku menunjuk sebuah karangan bunga yang di letakkan di meja belajarku.“So? Apa yang salah? Bunganya bagus.” Kata Dina enteng, sambil mengambil mawar merah dan sekotak cokelat yang ada di meja belajarku.“Bagus sih bagus. Tapi ini terror namanya. Udah hampir satu bulan tiap hari gue bisa dapet 3 kiriman bunga sama cokelat kayak gitu. Emangnya rumah gue taman bunga apa? Sehari di kirimin 3 karangan bunga, udah kayak minum obat aja.” Katakku emosi“Terus?”“Nggak ada nama pengirimnya pula. Ditambah note-note itu!!!” katakku sambil menunjuk beberapa buah amplop yang berada di samping kotak cokelat. “Bisa gila gue lama-lama!!” jeritku lagi.“Melihat dirimu tersenyum kepadakku, bagaikan melihat seluruh dunia tersenyum kepadakku. Wah… wah… kata-katannya bagus. Dapet darimana lo, La?”“Dapet dari mana? Ya dari semua kiriman nggak jelas itu lah….”“Itu berarti lo punya pengagum rahasia.”“Apa? Pengagum rahasia gue? Darimana?”“Ya wajar lah lo dapet karangan bunga sama note kayak gitu kayak gitu tiap hari. Lo kan novelis? Dan buku lo juga cukup terkenal. Jadi wajar lah kalau ada yang ngefans sama lo samapai kayak gitu. Kalau gue tuh baru nggak wajar. Gue siapa? Nggak ada yang kenal. Paling satpam depan sekolah yang kenal sama gue.”“Huh…” akupun hanya bisa menghela nafas. Sesaat ku menatap mata sahabat baikku itu. Mungkin Dina benar. Tapi kenapa dia melakukan hal itu kepadaku? Kenapa dia tidak mencantumkan namanya di setiap kirimannya? Apakah dia benar-benar pengagum rahasiaku? Atau dia orang yang senang meneror kehidupan orang lain.***“Hai La… Din.” Seseorang menepuk pundakku.“Eh lo Ham….” Sapaku kepada Ilham.“Gue cariin lo berdua di kelas nggak ada, taunya ada di kantin.”“Tumben lo nyariin kita? Kenapa nih… pasti ada udang di balik batu?” Tanya Dina. Memang benar jika Ilham mencari aku dan Dina pasti ada sesuatu yang dia inginkan.“Tau aja…” kata Ilham sambil menunjukkan senyum beribu arti.“Oke. To the point aja. Lo maunya apa? Kalo duit gue nggak punya, tanggung bulan nih…” kata Dina.“Nggak kok. Gue Cuma mau ngajak lo ke peluncuran Single boy band gue. Mau ya….” Ilham memohon.“Kapan?” Tanyaku.“Hari minggu. Please dateng ya….” Katanya memohon.“Oke deh Ham. Gue usahain.” katakku.“Kok usahaiin sih… lo berdua harus dateng, nggak mau tau.”“Ia deh… gue sama Lala dateng. Kita balik ke kelas dulu ya. Udah bel tuh.” Kata Dina. Kemudian bel sekolah berdering dua kali, itu tandanya jam istirahat sudah habis. Dan aku sudah harus kembali ke kelas.***Sesuai janjiku yang kemarin, aku dan Pramudina datang ke acara peluncuran single terbarunya Ilham. Di sana rencananya Ilham akan mengenalkanku pada personel Boy bandnya.“Hei!!!” seseorang memanggil kami dari kejauhan. Dan aku tahu dia pasti Ilham. Kemudian dia menghampiri kami. “Gue kira kalian nggak datang.”“Eh Ham… Gue kan udah janji kemarin. Janji kan harus di tepati.” Katakku.“Yaudah ayo masuk. Nanti gue kenalin sama teman-teman gue.” Katanya mengajakku masuk ke dalam.Di dalam aku melihat enam orang lainnya. “Guys, ini teman-teman gue.” Kata Ilham kepada teman-temannya. “Ini namanya Morgan, Kakak gue Reza, Dicky, Bisma, Rangga, dan yang di tuakan Rafael.” Katanya menjelaskan satu per satu.“Elo…” katakku begitu melihat seorang yang seakan tidak asing.Dia kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Seakan tidak mengenaliku. Detik kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah. “Kamu Lala , novelis terkenal itu kan?” tanyanya.“Elo bukannya yang waktu itu meluk gue di mall kan?” katakku.“Kaaakkk Landry…..” Tiba-tiba Dina langsung memeluk orang itu.“Lo udah kenal dia?” Tanya Ilham kepadakku begitu melihat ekspressi wajahku melihat orang itu.“Belum. Tapi gue pernah ketemu dia di toko buku. dan nggak tau kenapa, tau-tau dia meluk gue. Katanya lagi dikejar-kejar orang.”“Haha… ada-ada aja. Tapi lo tau nggak, sebenarnya Rafael itu ngefans banget sama lo?”“Gue? Kok bisa?”“Dia itu hobi banget baca buku. Apalagi kayak novel yang lo buat.” Kata Ilham menjelaskan semuanya.“Masa sih, novel gue bisa sesukses itu?” kataku tak percaya.“Kelihatnnya?” Ilham menatap matakku, benar-benar lekat. Tidak seperti tatapannya yang biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Rasannya ada perasaan lain yang menyelimuti hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?Bangun Lala , Ilham itu sahabat lo. Nggak mungkinkan lo suka sama dia. Mau lo apain persahabatan lo, kalau lo suka sama dia. Inget dong, Dina juga suka sama Ilham. Jangan nyoba-nyoba ngancurin persahabatan yang udah ada selama bertahun-tahun ini demi cinta sesaat.***Tok… tokTerdengar pintu rumahku di ketuk. Hari ini mamaku pergi, jadi aku hanya sendirian di rumah. “Sebentar…” teriakku dari dalam.“Elo?” katakku terkejut dengan mulut yang mengangga membentuk huruf O, ketika melihat siapa yang berada di balik pintu depan rumahku.“Boleh masuk?” katannya, iapun tersenyum manis kepadakku.“Silahkan.” Katakku ragu-ragu, kemudian membukakan pintu untuknya. Aku memersilahkannya duduk di ruang tamu rumahku. “Lo Rafael kan? Temennya Ilham? Dan yang waktu itu ada di toko buku?”“Ia. Sorry ganggu. Dan gue juga mau minta maaf soal yang di toko buku.” katannya menjawab satu per satu pertanyaan yang aku lontarkan secara beruntun. “Oh iya, gue juga mau minta maaf. Gara-gara gue lo ngerasa di terror selama satu bulan ini. Sorry ya?” katannya lagi“Maksud lo?”“Jadi gini…” katanya kemudian mengeluarkan sebuah mawar merah dari balik punggungnya. “Gue yang ngirim ini kerumah lo selama sebulan ini. Sorry kalau lo ngerasa ke terror.”Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti. “Jadi maksud lo? Lo yang udah ngirim semua bunga itu ke gue?”“Yup… bisa dibilang begitu.”“Sama cokelat dan note itu?” katakku lagi.“Cokelat? Gue nggak nggak pernah ngirim cokelat, apalagi note.”“Jadi yang ngirim cokelat sama note itu bukan lo?”Rafael menampilkan tatapan bingungnya ke arahku. Tiba-tiba hand phone ku berbunyi. Sebuah pesan singkat, dari Ilham.LA, LO DIMANA? CEPET KERUMAH SAKIT, PENYAKITNYA DINA KAMBUH LAGI.Pikiranku langsung melayang begitu membaca SMS dari Ilham. Penyakitnya Dina kambuh lagi? Kok bisa? Pasti ada sesuatu yang bikin dia kaget, jadinya penyakitnya kambuh lagi.“Kamu mau kemana?” tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku baru ingat kalau sedang ada tamu di rumahku.“Dina, sahabat gue. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sekarang dia ada di rumah sakit. Lo mau ikut?” Rafael menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga aku dan dia menuju rumah sakit. ***“Kok bisa penyakit jantungnya Dina kambuh? Emangnya kenapa?” tanyaku kepada Ilham yang sedang berada di ruang tunggu.“Jadi begini….”“Ham, akhir-akhir ini kok sekarang lo jadi sering banget beli cokelat sih? Setahu gue lo nggak suka cokelat.” Tanya Reza kakanya Ilham“Emang kenapa? Mau tau aja. Suka-suka gue dong….”“Lo kan adek gue. Jadi, apapun yang lo lakukan gue harus tau. Termasuk sifat lo yang tiba-tiba berubah gini.”“Jadi sebenarnya…” Ilham diam sejenak. “Gue ngirim ini semua buat Lala. Sebenarnya gue udah suka sama dia dari dulu. Tapi, nggak pernah gue ungkapin. Gue takut di tolak sama dia kak.”Tanpa di sengaja, Dina mendengar percakapan Ilham dengan Kakaknya. Tiba-tiba, nafasnya langsung tidak teratur, dan seketika itu juga dia pingsan.“Jadi… lo suka sama gue?” Ilham mengangguk. “Lo juga yang ngirimin cokelat ke rumah gue?” Ia kembali mengangguk. “Dan Dina tau.” Ilham kembali mengangguk. “Ya ampun, Ham… lo tau nggak? Dina itu suka sama lo dari dulu. Dari pertama kali kita sahabatan. Dia bilang dia naksir berat sama lo. Tapi lo nya malah kayak gitu. Gimana nggak penyakit jantungnya kumat lagi?”“Sorry, La… gue nggak tau.” Ilham terlihat menyesal.“Udahlah, lo nggak usah minta maaf kayak gitu. Tapi, thanks yang buat semua cokelatnya.” Aku tersenyum kepadanya Ilham pun tersenyum kepadakku. Senyumnya itu benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Jadi inget lirik lagunya SM*SH, kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu. Ahahah… Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamarnya Dina. “Siapa yang di sini namanya Ilham sama Lala?”“Kami pak…” aku dan Ilham berdiri secara bersamaan. “Saudari Dina ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kalian.”“Maksud dokter?” tanyaku.“Kondisi saudari Dina sudah tidak dapat di tolong lagi. Penyakit jantungnya sudah tidak bisa di tolong. Mungkin hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Dan tadi dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kalian dengannya.” Kata dokter itu.Tubuhku lemas mendengarnya. Rasanya kaki ini membeku, tidak dapat bergerak. Tapi Ilham menggenggam tanganku, kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Bagaikan api yang benyambar sebongkahan es batu kakiku yang tadi membaku bagaikan es batu yang baru saja mencair.“Ayo kita selesaikan ini semua.” Katanya, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan UGD tempat Dina di rawat.“Dina…” kata kami bersamaan, begitu melihat kondisi Dina yang terbaring sangat lemas dengan berbagai alat rumah sakit menempel di badannya.“Lala, Ilham.” Katanya lemas, sambil mencoba tersenyum kepada kami.“Din, sorry ya… gara-gara gue, lo jadi… jadi… ya… jadi begini.” Kata Ilham, memang kata-katanya terkadang suka nggak jelas apa maksudnya.“Gue juga minta maaf ya…” katakku kepada Dina“Gue yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya gue jadi jarak diantara kalian berdua. Gue bagaikan kutu yang ada di rambut tau.”“Maksud lo apa din? Ada juga gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama kita.”“Gue tau…” katanya samba tersenyum kemudian menggenggam tanganku, dan menyatukannya dengan tangannya Ilham. “Gue tau, lo suka sama Ilham kan, La? Dan Ham, lo suka sama Lala kan? Jadi kenapa kalian nggak jadian aja.”“Tapi kan…” aku melepaskan genggaman tanganku dengan Ilham.“Anggep aja gue nggak ada. Sebentar lagi gue juga mati kok. Jadi kalian bisa pacaran dengan tenang. Tanpa ada lagi kutu di rambut kalian. Hehe…” katanya sambil sedikit bergurau, kemdian kembali menyatukan tanganku dengan tangannya Ilham.Sesaat aku menggengam tangannya Ilham. Benar-benar hangat, rasanya nyaman dan tentaram di hati. Tapi kenapa tiba-tiba tangannya berubah menjadi dingin, dan beku. Bagaikan tidak ada setetespun darah yang mengalir di tubuhnya. Apa jangan-jangan…Brak….Nitt…..Aku terkejut. Ketika melihat Ilham sudah terkapar di lantai, dengan wajah yang pucat dau sudah tidak bernafas lagi. Ditambah lagi alat pendetkesi detak jantung yang terpasang di tubuh Dina juga membentuk sebuah garis lurus.Aku tertunduk menyesal. Aku benar-benar telah mengorbankan persahabatan kami demi cinta sesaat. Kini, aku benar-benar kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Dan juga semua persahabatan yang telah kami jalin yang benar-benar indah. Tamat

  • Cerpen Cinta: Kaulah Sang Bidadariku

    Kaulah Sang BidadarikuOleh: Rian sulaeman farhiMentari pagi pun mulai terbit aku harus segera bangun untuk bersiap-siap sekolah maklum lah masih anak sekolah jadi harus bangun pagi-pagi karna takut kesiangan. Kegundahan pun di rumah begitu ramai oleh aktivitas keluarga ku,Jam pun menunjukan pukul 06.30 wib saat nya aku harus berangkat sekolah karna perjalanan kesekolahan ku lumayan jauh dan memakan waktu.Namun seperti biasa mama ku yang selalu perhatian pada ku menyuruh ku untuk sarapan dulu maklum anak paling kecil suka di manja,kadang-kadang aku merasa risih sich malu kan udah gede masih di manja ama mama.Seperti bisa sarapan ku pagi ini NASI GORENG+TELOR DADAR . . . .Setelah sarapan aku bersiap-siap buat berangkat sekolah aku pamitan sama mama yang sedang membersih kan ruangan rumah yang penuh debu . . . .“mah,aku berangkat dulu udah siang nich. . . .?”“iya,Hati-Hati di jalan nya. . . . .”Setibanya aku di sekolahan,aku langsung bergegas masuk kelas karna jam masuk sebentar lagi berbunyi. Sebelum bel berbunyi aku dan kedua teman ku seperti biasa mengobrol tentang hal-jal apa aja yang kami lihat di pagi itu seperti suasana dan murid-murid sekolah kami . . .Ooouuugghh,iya aku lupa meperkenal kan kedua sahabat ku itu nama nya AHMAD dan FAUZI mereka adalah sahabat ku dari kecil,Bel pun mulai berbunyi tanda nya pelajaran akan segera di mulai,kegundahan di dalam ruang kelas itu kini telah menjadi ruangan yang sunyi tanpa ada suara satu pun . . . .Pelajaran pun di mulai dan anak-anak semua mengikuti pelajaran hari itu,Tak terasa jam pulang pun hampir mendekati dan tak lama kemudian bel pulang pun berbunyi,sorak soray anak-anak terdengar di setiap ruang kelas nya . . . . Semua anak-anak pun berhamburan keluar kelas untuk pulang kerumah nya masing-masing dan aku pun mulai beranjak pergi dari dari ruangan kelas di mana aku mengikuti setiap mata pelajaran,ruangan yang sumpek dengan mata pelajaran yang sedikit aku mengerti . . . .Sesampai nya aku di rumah mama telah menanti ku dengan makanan di meja makan . . . .“akhirnya anak mama pulang juga” Kata-Kata manja itu yang selalu mama ucapkan .. . . . . “ya,iya donk kan anak mama” Aku menjawab ucapan mama tadi . . .Setelah makan siang aku duduk terdiam melamun kan seseorang entah siapa . . .? Dan di mana dia berada . . .? Hanya bayangan sosok wanita itu yang kini ada dalam benak ku saat itu . . .Tak terasa nada panggilan Hp ku berbunyi dengan nada lagu ( BUTTERFLY ) “pelampiasan cinta mu”Maklum lagu favorit ku . . . .Saat aku lihat siapa yang menelepon ku ternyata No nya pun baru dan aku tak tau siapa itu . . Saat aku angkat telefon nya . . .“Hello,siapa ini . . . .”“Hello juga,ayo siapa coba tebak . . .”Terdengar suara bisik wanita di telinga ku . . .Sempat aku terdiam memikir kan siapa yah . . . .?“aku gak tau siapa kamu,soal nya number kamu nya juga baru . . . .? ciapa atuh.”“aku seseorang yang dulu pernah ada di hati mu dan yang dulu pernah melukai mu . .”“iya,siapa atuh aku da tau . . . .?”“pokok nya orang yang dulu pernah nyia-nyian kamu . . “Makin penasaran aku dengan siapa sich yang menelepon ku . . . .30 menit pun berlalu kami terus mengobrol dan akhir nya aku tau siapa yang menelepon ku dia ternyata mantan aku ( ika ) . . . .Saat itu kami pun berlanjut hari semakin hari kami pun terus kontek-kontek kan . . .Beberapa hari berlalu dan aku pun bertemu dengan nya,banyak perubahan dari nya yang dulu aku kenal dia egois kini telah berubah menjadi tak egois lagi . . . .Pertemuan itu aku gak sia-sia kan,aku pun mengobrol dengan nya . . . . .di sebuah taman sekolah di dekat sekolahan kami . . . .“Gimana kabar nya . . . .?”aku pun membuka obrolan agar suasana tidak menjadi bosan dan jenuh . . .“alhamdullilah,baik-baik aja . . .! ! ! ! kamu sendiri gimana kabar nya . . . ? ? ? “ “iya,seperti yang kamu lihat lah,aku baik-baik aja . . . .! ! !” kami pun terus berlanjut mengobrol dan bertukar cerita Sedikit demi sedikit ternyata aku mulai merasa nyaman berada dengan nya,rasa cinta yang dulu pernah ada untuk nya kini seakan-akan mulai muncul kembali apalagi karna kami sering bertemu dan mengobrol berdua. Tak terasa waktu pun udah hampir sore jam udah menunjukan pukul 15.30 wib,mungkin karna keasyikan ngobrol dengan nya sampai-sampai tak tau waktu,kami pun mulai beranjak pulang meninggal kan bekas tempat duduk di mana kami bertukar pikiran dan cerita . . . .Malam pun tiba dengan cuaca yang begitu cerah dan terang. Bintang dan bulan saling memancarkan sinar nya seakan mereka tau apa yang sedang aku rasa kan? Kebahagian yang tak terhingga,tak henti-henti aku selalu berbicara pada bulan dan bintang itu . . .“apa mungkin dia adalah sang bidadari ku yang selama ini aku cari . . . . ?Tak terasa jam pun menunjukan pukul 23.30 wib,aku belum juga bisa tidur karna memikir kan dia rindu, dengan suara nya dia ingin aku sebelum tidur mendengar kan suara nya dulu . . .saat itu aku pun berniat dan memberani kan diri untuk menelepon nya walau aku tau ini udah larut malam. Namun akhir nya telefon ku pun di angkat dengan nada bahagia aku pun ngobrol dengan nya. “assalamualikum . . . .”“walaikum’salam . . . .”“belum tidur nich . . .”“belum gak bisa tidur . . .kamu sendiri belum tidur . . . .? ““sama aku juga gak bisa tidur . . . .! ! ! kenapa kok gak bisa tidur . . . .?”Begitu lah obrolan kami malam itu suara merdunya membuat ku tak sanggup menahan kebahagian dan kami pun terus berlanjut mengobrol . . . .“gak tau ada yang lagi aku pikirin nich . . . . kamu sendiri kenapa . . . .?” aku pun menjawab dengan suara jujur dan lantang . . . .“mikirin apa atuh . . .? aku gak bisa tidur karna mikir kamu terus.kangen kamu tau . . . .”“gak . ..! ! ! bohong kamu mah aaaakkkkhhh . . . . .” “su’er aku mah serius ngapain juga bohong . . . .” “iya dech aku percaya . . . .Aku juga sama kok gak bisa tidur karna mikirin kamu,rindu suara mu . . .”Kata-Kata itu yang dia uacapkan pada ku bahagia rasa nya mendengar dia juga sama merasakan apa yanga aku rasa. Seperti malam itu milik kita berdua saja. Malam pun semakin larut aku pun pamitan padanya. “ekh, iya udah malem takut nya kamu mau istirahat+mau tidur . . . .? entar besok di sambung lagi yah . . . ? ““iya,aku juga mulai ngantuk nich . . .”“ya udah met tidur aja . . . mimpi indah. met ketemu besok . . .? assalamualikum . . .?”“iya,met tidur juga . . . walaikumcalam . . .”Aku pun langsung menutup telefon nya dan bergegas untuk tidur. Akhirnya setelah aku mendengar suara nya aku pun bisa tisu juga . . .Pagi pun telah manyapaku saat aku terbangun terdengar suara sms dari Hp ku (ting ting ting ting), nada pesan masuk berbunyi. Saat aku buka dan aku baca ternyata pesan itu dari nya . . . .“assalamualikum . . .met pagi . . .? udah bangun . . .? ayo mandi . . terus sarapan yah . . .? jangan sampai telat berangkat sekolah nya . . .? “ Seperti itu lah kata-kata sms nya. Kini hari-hari ku pun mulai ceria dan penuh kebahagian dan aku terus berdoa semoga aja dia memang “BIDADARI” yang selama ini aku cari . . .amien . . .amien . . .*****Ini cerpen kedua ku . . .ma’af yah bila cerpen nya kurang bagus maklum baru belajar bikin cerpen nich . . .? ============================================================e-mail: kalongrian@ymail.com facebook: rian yangkanslalucyang ikhaclamnya twitter: @riankalong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*