Cerpen persahabatan Be The Best Of A Rival ~ 03

Sahabat sejati itu bagaikan bintang di langit. Walau jauh, ia tetap bercahaya, walau kadang menghilang ia selalu ada. Tak mungkin di miliki tapi tak bisa di lupakan. Dan selalu ada di hati kita untuk selamanya.
Untuk part sebelumnya silahkan baca Cerpen sahabat be the best of a rival part 2

Credit gambar : Ana Merya
Cerpen persahabatan
Begitu sampai di rumah, farel langsung merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya. pikirannya masih menerawang ke kejadian tadi pagi, ia masih nggax habis fikir dengan sikap chika yang seperti tau kalau tugas yang di berikan oleh gurunya itu bukan hasil jerih payahnya.
"apa mungkin sih chika tau, kayaknya nggax deh. mungkin dia cuma nebak aja kali ya. tapi masa sich ia kenal sama niken" gumannya sendiri.
"tapi masa sich dia bisa nebak tepat gitu" pikirnya lagi.
farel semakin larut sama pikirannya sendiri. ia masih terus menduga-duga, sampai terdengar teriakan dari mamanya yang mengingatkannya untuk makan siang. barulah farel bergegas mengganti pakaian sekolahnya dengan kaos oblong dan celana pendek yang biasa di kenakannya kalau di rumah.
Selesai makan farel langsung kembali kekamarnya. setelah lama-lama berfikir ia segera bangkit. ia mau memastikan dari mana chika tau. setelah ganti baju ia langsung pamit sama ibunya untuk keluar.
Dengan mengendarai motor kesayangannya, farel meninggalkan rumahnya menuju jl. Budaya. tempat tinggal niken, ketika sampai di rumah niken, hari sudah menunjukkan pukul enam belas lebih lima menit. rumah sepupunya itu terlihat sepi. karena biasanya jam segini di rumah niken sendirian karena bokap sama nyokapnya pasti masih di kantor. maklum manusia karir.
Setelah menekan bel beberapa kali, farel diam menunggu pintu di buka, ia tau kalau niken ada di rumah karena sebelum pergi farel sudah meng-sms niken kalau hari ini ia mau datang. dan niken juga sudah membalasnya, kalau ia nggax akan kemana-mana.
Setelah hampir semenit menunggu, terdengar suara langkah mendekati pintu. dan begitu pintu ddi buka tampaklah seorang gadis kira-kira seumuran sama farel berdiri tepat di hadapannya.
"hei, what happen men? kok tumben loe ngotot mau kesini?" neken langsung nyerocos "atau loe pasti mau ngucapin makasih kan sama gue, karena pastinya pr bahasa inggrisnya bener semuanya kan?" sambungnya.
"lho kok diem?" tanya niken karena farel hanya terdiam mematung "atau jangan-jangan ada yang salah ya?"
"bukan. emang bener semua sich. tapi ada yang pengen gue tanyaain" sahut farel.
"apa?" niken penasaran.
"masa ngomongnya disini. tawarin gue masuk dulu kek"
"eh iya. lupa. masuk yuk, sekalian gue mau ngenalin sama sahabat gue yang kebetulan jalan ke sini. kemaren dia juga bantuin gue ngisi soal yang loe kasi. abis rumit sich" niken mempersilahkan tamunya masuk.
"0h ya, siapa?" tanya farel penasaran.
"ada deh, masuk dulu yuk. loe duduk dulu. gue panggil dia, dia lagi di kamar gue, tadi gue lagi nonton film sama dia. tapi gue tinggalin karena ada bel. gue panggil dia dulu ya" selesai berkata niken langsung berjalan menuju kekamarnya untuk memanggil temennya, sementara farel duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Sambil menunggu niken, farel membuka-buka majalan yang tergeletak di meja. ketika farel sedang asyik membuka lembar demi lembar majalahnya, saat itulah niken datang bersama sahabatnya yang tentu saja membuat farel kaget. bukan karena niken tiba-tiba ada di hadapannya tapi karena temen yang di kenalkan kepadanya. ternyata……..
"chika?" katanya kaget.
"farel?" chika yang ternyata temen yang ingin niken kenalkan padanya juga kaget nggax nyangka kalau farel beneran ada di hadapannya.
"lho kalian kok udah kenal?" tanya niken heran sambil melihat kearah farel dan chika bergantian.
"ya iya lah. kita sekelas lagi" akhirnya chika angkat bicara karena farel diam saja. syok kali ya.
"0 gitu ya. kok bisa sih? kebetulan banget. jadi gue nggax perlu ngenalin lagi. ya udah kalau gitu kalian duduk dulu ya. gue ambilin minum. kalian ngobrol aja"
"gue nggax udah nik. sebab gue udah mau pulang" tahan chika.
"lho… kok?" niken heran, farek juga, ia menatap chika tapi saat itu chika sedang menatap kearah niken.
"ia, ini kan udah sore. lagian gue udah dari tadi di sini. motornya juga ntar mau di pake sama kak nino buat pergi main bola" chika melanjutkan ucapannya.
"0 ya udah kalau gitu. tapi lain kali datang lagi ya. sekalian salam ya sama kakak loe yang keren itu, he he he" kata niken.
"ia non. 0h ya, gue permisi dulu ya farel. sorry gue duluan"
"ia" farel mengangguk kan kepalanya. abis ia nggax tau mau ngomong apaan. ia hanya duduk diam. sementara niken mengantarkan chika sampai pintu depan.
Cerpen persahabatan
"ah re-se loe. suwer deh!" kata farel begitu suara motornya chika tidak terdengar lagi.
"ye. kenapa sih. kesambet loe" niken heran.
"kok loe nggax bilang sih kelau loe kanal sama chika?" tanya farel kesel.
"emang loe pernah nanya?" niken balik nanya sambil duduk di samping farel.
"enggak sih" sahut farel setelah mikir beberapa saat.
"tuh kan bukan salah gue donk. lagian gue temenan sama chika tu udah lama banget kaleee. emangnya kenapa?" niken heran.
"loe lupa ya dia bilang apa?"
"apa ya? 0h ya tadi dia bilang kalau kalian sekelas" sahut niken santai.
"jadi?!" farel melototkan matanya ke arah niken karena tu anak masih nggax sadar-sadar juga. niken masih mikir-mikir sementara farel udah sewot banget.
"ya ampun. 0h my god!!! tugas bahasa inggrisnya. jadi dia tau donk kalau itu bukan loe yang ngerjain?" niken menepuk jidatnya.
"parah loe. sekarang mau di taruh mana muka gue" maki farel.
"ia ya. mendingan di umpetin deh. sebab loe tau nggax sih, kemaren itu sebenernya dia yang ngisi. bukan gue?" aku niken yang membuat farel makin kaget.
"what?!"
"ia. walaupun bukan semuanya sih, tapi emang lebih banyak dia yang nyari jawabannya. ceritanya gini waktu gue lagi ribet ngisi tu soal, dia jalan kesini. ya udah gue minta tolongin ama dia aja. dia kan jagoannya bahasa inggris" terang niken.
Mendengar itu farel langsung lemes. ia segera menyandarkan punggungnya di kursi sofa. skarang ia tau kenapa chika bisa tau.
"ya sorry. abis gue mana tau kalau kalian satu kelas. lagian chika nggax ngomong apa-apa waktu ngisi tu soal. dia cuma nanya punya siapa, ya gue jawab punya sepupu, trus dia nggax ada komentar apa-apa lagi" niken merasa bersalah.
"terus sekarang gue harus gimana? malu banget lah gue sama tuh anak. mana gue udah terlanjur sombong lagi sama dia"
"maksud loe?" niken nggax ngerti.
farel segera menceritakan kejadian tadi pagi. begitu farel selesai cerita. niken langsung tertawa. tentu aja membuat farel makin kesel.
"kok loe malah ngetawain gue sich?"
"ya iya lah, gimana nggax lucu. loe sok pamer sama orang yang udah ngasi contekan sama loe. gimana nggax gila coba. ha ha ha"
"semua ini kan gara-gara loe"
"kok gara-gara gue sich?" tanya niken heran.
"gara-gara loe lah, gue kan minta tolongnya sama loe, kok loe malah minta tolong sama orang laen sich? gimana kalau dia nyeritain ini sama temen-temen gue?"
"ia deh salah gue. sekali lagi gue minta maaf, tapi loe tenang aja. gue kenal chika udah lama kok, dia nggax mungkin ngebarin masalah ini ke orang-orang. percaya deh" kata niken.
"gimana loe bisa yakin. buktinya tadi pagi dia…."
"ia. tapi menurut cerita loe kan loe sama temen-temen loe sendiri yang mulai.malah kalau gue jadi dia nih, pasti gue langsung bongkar nih kedok loe" potong niken.
"kok gitu?"
"ia donk. kalian rese' sih. maunya menang mulu. untung loe berurusannya sama chika. orang yang nggax mau punya masalah sama orang lain"
"maksud loe?" farel jadi bingung.
"chika tu barukan jadi temen sekolah loe? palingan sekitar 4 bulanan" tanya niken. farel mengangguk.
"ia. kok loe tau?"
"ya tau lah. kan sebelumnya dia satu sekolah sama gue. sekelas malah"
"terus kenapa dia pindah?" selidik farel.
"ceritanya gini. chika kan baik, sopan, pinter,lagi. makanya semua guru tu suka sama dia. temen-temen juga sama. tapi tetap aja ada orang yang sirik sama dia. hampir tiap hari ada aja yang ngerjain dia. apalagi sejak dia dekat sama dirga. yang menjabat sebagai ketua OSIS, yang keren banget. yang manjadi incaran para cewek di sekolah. makin menjadi tuch dia di kerjainnya. makanya pernah dia di kunci di gudang sekolah sama april and temen-temennya. gara-gara yoga nggax mau sama dia, abis dia re-se sih, sama kayak loe. waktu itu kita nemuin dia pingsan. itu juga setelah kita nyari dia kemana-mana. sejak itu chika sama orang tuanya di suruh pindah sekolah aja. chika nurut aja, dari pada cari musuh, nahkan dia juga yang minta agar april sama temen-temennya jangan dikeluarin. dia bilang kalau itu bukan kerjaannya april, selamat deh tu orang. sebenernya gue sebel banget sama tuh anak, tapi mau gimana lagi, dan sekarang eh nggax taunya dia sekelas sama loe" terang niken panjang lebar.
"emangnya gue rese ya?" tanya farel bloon.
"banget! makanya rubah tu sifat. sekali-kali jadi orang baik kek. jangan maunya menang sendiri. hargain donk orang lain, masa guru sendiri di bilang alien" nasehat niken.
farel terdiam. selama ini ia emang selalu dekat sama sepupunya yang satu ini. karena firman, papanya niken adalah adik kandung papa farel. selama ini hubungan farel sama niken memang akrab. mereka juga kalau ngomong suka blak-blakan. kalau ada yang nggax di sukai langsung aja di omongin. nggax pake di umpetin. itu yang membuat farel suka cerita sama niken. sebab walau pun blak-blakan niken bisa di percaya. ia juga kalau ngomong apa adanya aja.
"kok loe diem? marah ya. atau gue salah ngomong? aduh sorry banget ya" kata niken karena farel diam saja.
"nggax kok. justru sebaliknya. gue mau ngucapin terima kasih sama loe. karena mau ngingetin gue" sahut farel.
"tapi loe nggax tersinggung kan?" niken memastikan.
"nggax" sahut farel sambil tersenyum.
"beneran?"
"ia"
"nggax bohong?" tanya niken lagi.
"huuu…" farel mengacak-acak rambut niken. lalu mereka tertawa bareng.
"eh udah sore nih. gue mau pulang deh" farel melirik jam tangannya.
"nggax nginep sini aja?" tawar niken.
"ya nggax lah" farel segera berdiri dan beranjak keluar mau pulang. niken berjalan di balakangnya. ketika farel sampai di teras depan pada saat itulah bokap sama nyokap nya niken pulang.
"sore om, tante…" sapa farel.
"sore. lho farel. kapan datangnya. kok udah mau pulang?" sahut tante erna, mamanya niken.
"udah dari tadi tante" balas farel.
"lho kok nggax nginep di sini aja" tawar om firman.
"nggax deh om. lain kali aja. abis besok harus sekolah om"
"oh. ya udah nggax papa, tapi lain kali jalan lagi kesini. tapi nginep. om juga udah lama nggax ngobrol-ngobrol sama kamu"
"ia om. pastinya. tapi sekarang saya pulang dulu ya om, tante…" farel pamit mengunduur kan diri.
"0h ya. silahkan, jangan lupa salam sama papa dan mama mu di rumah" kata tante erna.
"ia tante"
Read next part in Cerpen sahabat terbaik be the best of a rival part 4.

Random Posts

  • Cerpen Cinta Sedih: I LOVE YOU, GOODBYE

    I LOVE YOU, GOODBYE…Oleh Bella Danny JusticeAku memandangi foto tersebut beberapa saat. “Hanna, i’ll keep you on my mind… we will meet again someday. Goodbye…” Ucapku dengan memegang erat selembar foto di tangan kanan lalu menempalkannya di dada.“Hanna!!” mimpi itu lagi! sudah beberapa kali aku bermimpi seperti itu.“aku tidak tau mengenai Hanna semenjak kepindahannya. Lagipula, kenapa kau baru mencarinya sekarang? Terakhir kali aku bertemu Hanna 2 tahun yang lalu, ia bercerita kepadaku bahwa keluargamu tidak menyetujui hubungan kalian. Karena itu kah kau meninggalkan Hanna ke Paris ?” Celotehan Irina membuatku benar-benar merasa bersalah. Saat ini aku membutuhkan dukungan, bukan nasehat-nasehat yang memojokkan posisiku. Pergi ke Paris juga bukanlah keinginanku. Tetapi, jika aku tidak melakukannya aku akan lebih melukai Hanna.“Irina, aku datang kepadamu untuk menanyakan keberadaan Hanna, bukan untuk mendengarkan ocehanmu! Kau tidak tau apa pun mengenai aku, jadi jangan pernah berkata seolah-olah aku yang paling bersalah dalam hal ini!” bentakku padanya. Irina menghampiriku, kemudian aku merasa cairan bening mengalir dari atas membasahi kepalaku. Wanita itu menyiramku dengan segelas air putih! “apa-apaan kau Irina?!”Ia tersenyum sinis. Matanya menatapku tajam penuh rasa kebencian. “kenapa kau hanya mencintainya Evan?! Aku menyukaimu lebih dari Hanna!! Kalau wanita yang kau puja-puja itu memang mencintaimu, mengapa dia pergi?! Mengapa dia tidak tetap diam menunggmu seperti yang aku lakukan selama ini?! Aku bisa memberikanmu kasih sayang yang tidak pernah Hanna berikan kepadamu Evan!” ucapan Irina membuatku bergidik. Wanita itu sungguh menakutkan. Ia terlalu terobsesi terhadapku yang tidak pernah menyukainya sedikitpun. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil langkah seribu meninggalkan rumahnya.Tampaknya datang pada Irina adalah keputusan yang salah. Tapi hanya dia satu-satunya yang tersisa. Semua orang yang dekat atau pernah dekat dengan Hanna sudah aku kunjungi rumahnya satu per satu, namun mereka juga tidak mengetahui keberadaan wanita yang sangat ku cintai itu.Aku mulai putus asa. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa dan pergi kemana untuk mencarinya. Akhirnya aku memutuskan untuk menenangkan diri ke tempat aku dan Hanna biasa berkunjung. Duduk di tepi pantai dan menatap lautan luas adalah kegemaran kami. Namun rasanya kini tidak sama seperti dulu. Sekarang Hanna tidak ada di sampingku, ia pergi entah kemana tanpa meninggalkan jejak.Langit biru yang cerah mulai berubah warna menjadi oranye kekuningan. Tidak terasa aku sudah berjam-jam duduk di tepi pantai ini. Aku seperti orang bodoh. Menunggu dan berharap Hanna akan datang dan tersenyum kepadaku. Hanna, aku harus menjelaskan padamu alasan aku meninggalkanmu dan memintamu untuk menunggu tanpa waktu yang jelas, tapi di mana dirimu saat ini?Ckrek!Tiba-tiba saja aku melihat kilatan lampu flash. Tampaknya seseorang telah mengambil fotoku dari belakang tanpa sepengetahuanku. Aku membelokkan badanku dan ternyata dugaanku benar! “apa yang kau lakukan?! Aku tidak suka seseorang memotretku tanpa izin!” wanita itu tidak memedulikanku dan masih menatapi kamera DSLR-nya.“ah, oh, maaf, aku tidak sengaja memotretmu. Hanya saja kau terlihat begitu menyatu dengan objek sekitar. Kalau kau keberatan kau boleh menghapusnya.” Ia perlahan menghampiriku. Ia menyodorkan kameranya ke arahku. “ini, hapuslah sendiri fotomu.” Ujarnya.Entah perasaan apa yang menghinggapiku. Aku tidak suka seseorang mengambil fotoku tanpa izin terlebih dengan orang yang tidak ku kenal. Tetapi kali ini berbeda. Aku ingin mengambil kamera itu dan menghapusnya tapi aku tidak bisa. Hatiku berkata untuk tidak menghapusnya. “tidak perlu. Kau bisa menyimpannya.” Kataku berusaha bersikap acuh.“sungguh?! Terimakasih! Oya, siapa namamu?” wanita itu tersenyum riang.Tanpa sadar aku bersama dengannya sepanjang sore. Kami berbincang-berbincang tentang banyak hal hingga larut. Dan selama itu aku tidak memikirkan Hanna. Kehadiran wanita bernama Kelly yang mempunyai hobby fotografi itu telah membuatku merasa semakin bersalah terhadap Hanna. Bisa-bisanya aku bersama wanita lain dan melupakannya. Aku tidak tau, sungguh… semua mengalir begitu saja. Hanna, aku harap kau tidak marah padaku jika kau mengetahui ini. Aku hanya mencintaimu seorang.“jadi kau pergi meninggalkannya karena terpaksa? Kalau kau tetap bersama dengannya apa yang akan terjadi?” baru 2 hari aku mengenal wanita ini, tapi aku merasa sangat dekat dengan dirinya. Kelly adalah tipe yang periang. Setiap aku menatap matanya yang berkilat-kilat, aku merasa ia memberikan aku semangat untuk tetap menjalani hidup walau perih.“jika aku tetap bersamanya… ibu ku akan melukainya dengan cara memperkenalkan Hanna dengan Christie.” Aku tak mampu meneruskan ceritaku. Aku tertunduk berusaha tegar. Namun beberapa saat terdiam aku kembali mengangkat kepalaku yang terasa berat dan menatap Kelly untuk melanjutkan ceritaku. “Christie adalah wanita asal Paris yang di jodohkan denganku. Semua itu adalah ulah ibu ku, maksudku ibu tiriku. Ia ingin menyingkirkan aku dari rumah dan menguasai harta almarhum Papaku. 3 tahun aku menetap disana sampai pada saat acara pertunanganku dan Christie diselenggarakan, tiba-tiba ibu tiriku mengalami serangan jantung dan ia meninggal di tempat. Aku berfikir bahwa ini adalah kesempatan bagiku untuk kembali ke Indonesia dan menemui Hanna. Tapi aku masih belum dapat bertemu dengannya. Aku takut sesuatu terjadi kepadanya.”Wanita itu memegang bahuku dengan kedua tangannya. Ia menarikku ke dalam pelukannya. “kau laki-laki yang sangat baik Evan. Mendengar ceritamu aku jadi merasa iri terhadap Hanna. Ia beruntung sekali mendapati dirimu. Aku akan membantu mencarinya.”“terimakasih Kelly.” Ucapku pelan karena sedikit terkejut.“sebaiknya kita pulang sekarang, langit sudah gelap. Bye Evan.” Lagi –lagi gadis itu memamerkan senyum lebarnya yang indah. Aku seperti terhipnotis olehnya. Aku tidak boleh begini. Aku harus sadar dan memikirkan Hanna.Langkah kakiknya semakin menjauh, sosoknya pun samar-samar tak terlihat lagi oleh kedua mataku yang mempunyai minus 2. Kini hanya aku yang berada di tepi pantai ini. Ketika aku bersiap pergi dari sana tiba-tiba terdengar suara seperti bisikan angin:“Evan, selamat tinggal… aku harap kau bahagia bersama dengannya. Terimakasih untuk semua cinta yang pernah kau berikan.”Suara itu lembut dan sangat pelan. Tetapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Aku rasa ini hanya halusinasiku saja karena belakangan ini aku selalu berkunjung ke tempat aku dan Hanna biasa bersama. Aku begitu rindu terhadapnya sehingga aku sampai mendengar suara-suara aneh di telingaku.Jam menunjukkan angka 8 dan aku langsung melesat ke parkiran mobil dan menginjak gas untuk pergi dari tempat itu. Di tengah perjalanan aku teringat kembali akan semacam suara atau bisikan di telingaku tadi saat di pantai. Hanna, dimana dirimu? Aku rasa aku sedang frustasi sampai-sampai mengira suara itu adalah suaramu.Ciiiittttttt…Hampir saja aku menabrak wanita tersebut! Untunglah aku segera menginjak pedal rem. Ketidakkonsentrasianku ini cukup untuk menyeretku ke penjara. Aku melepas seat belt dan berniat menghampirinya. Tetapi ketika aku keluar mobil aku tidak melihat siapapun. Kemana wanita itu pergi? Tanyaku dalam hati penasaran.“Hei! Evan! Apa yang kau lakukan di jalanan sepi seperti ini?” seruan itu.. aku rasa aku mengenal suara itu.“K- Kelly?” kataku sedikit gugup tak percaya. Suatu kebetulan yang luar biasa menurutku.Selangkah, dua langah, tiga langakah ia berjalan mendekatiku. Sekarang ia tepat di depan wajahku. Kelly terdiam tertunduk menatap aspal jalanan beberapa saat, lalu kemudian dengan secepat kilat ia merangkulku, ia merangkulku dengan erat seperti orang yang sudah sangat lama tidak bertemu dan meluapkan kerinduannya yang membuncah. Dan pelukannya kali ini berbeda jauh dengan yang sebelumnya.“h-hei, Kelly, ada apa denganmu?” tanyaku agak terbata-bata karena kelakuan wanita satu ini. Entah mengapa aku merasa gugup, aku tidak nyaman ia memelukku. Aku merasakan hal yang aneh dan di lain sisi aku juga tidak enak dengan Hanna.“jangan merasa tidak enak. Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja Evan.” Nadanya begitu lembut dan membuat aku luluh. Aku membalas pelukan Kelly dan membiarkan ia juga memelukku.“Evan, kemana lagi kita harus mencari Hanna? Kita sudah mengunjungi rumah tempat ia tinggal dulu dan menanyakan kepada tetangga sekitar namun tidak ada yang tahu dimana keberadaan ia atau keluarganya saat ini.” aku mendengar suara Kelly yang sedang menyetir mobil. Aku tau ia bertanya padaku. Tetapi aku tidak menjawabnya. Aku diam membisu karena aku masih teringat akan kejadian semalam. Entahlah, tetapi dari nada bicara Kelly ia seperti tidak pernah melakukan hal itu.“Aku tau Evan, kau ingin pergi ke pantai itu lagi dan menghabiskan waktu disana saja, bukan? Baiklah, aku akan menemanimu.” Ujarnya.Sesampainya kami disana, seperti hari-hari yang lalu aku dan Kelly duduk di atas pasir putih tepi pantai tersebut dan memandangi lautan biru luas yang indah serta gumpalan awan cerah yang berbentuk seperti gulali.“Hanna, ah maksudku Kelly… boleh aku tau dimana kau kemarin jam 8 malam?” senatural mungkin aku bertanya pada Kelly agar ia tidak curiga. Entah mengapa aku ingin menanyakan hal ini.“ah, jam 8 kalau tidak salah aku menelfonmu tetapi handphone-mu sepertinya tidak aktif. Memangnya ada apa Evan?” wanita itu menjawab pertanyaanku sambil memotret objek-objek di sekitarnya.Apa?! Lalu siapa yang memelukku kemarin malam?! “t-tidak, tidak ada apa-apa.” ucapku berharap Kelly tidak menyadari keterkejutanku.Ia berdiri dan menghempaskan pasir dari celana panjang. “Evan, tolong pegang dulu kameraku, aku mau ke kamar kecil.”“baiklah.” Kataku sekenannya.Melihat kamera itu hatiku seperti tertarik untuk melihat foto-foto yang ada di dalamnya. Aku mulai menelusuri satu persatu foto demi foto yang diambil oleh Kelly. Dia memang wanita yang berbakat. Semua hasil potretannya bagiku begitu memukau.“hei, kau sedang apa? melihat-lihat foto ya?” sahut seseorang yang sudah pasti Kelly. Rupanya ia kembali dalam waktu yang sangat singkat, padahal aku belum menemukan fotoku karena terlalu banyak tertimpa oleh foto lainnya.Aku mengulurkan kamera itu padanya. “ya, hanya sekedar melihat-lihat. Kau memang fotografer yang handal menurutku.”“haha Evan kau pandai sekali memuji. Tapi aku masih amatir dan harus banyak belajar lagi.” Ia tertawa lepas dan tersenyum lalu kembali mengambil gambar di sekitarnya.“Evan, bagaimana kalau kita foto bersama? Kau mau tidak?” tanya gadis itu dengan mimik yang berharap aku akan mengiyakannya.“baiklah, terserah kau saja.”Ckrek!“waaah Evan, lihat!” Kelly menunjukan hasil foto di layar LCD kamera itu kepadaku. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke wajahku. “kau tampan sekali, kalau teman-temanku melihatnya mereka pasti akan berebutan untuk berkenalan denganmu haha.”“sepertinya virusku tertular. Sekarang kau jadi pandai memuji Kelly.” Sindirku diiringi sedikit gelak tawa.“mungkin saja haha.” Wanita itu tertawa renyah sampai matanya benar-benar menyipit.Bersama dengannya aku merasa hal yang berbeda. Apa ini adalah rencana Tuhan untukku? Apa aku harus melupakan Hanna dan memulai kehidupan yang baru dengan orang yang baru juga? Entahlah, sempat terlintas difikiranku seperti itu tetapi aku belum berani mengambil tindakan nyata. Aku takut keputusan yang ku pilih malah akan memperburuk keadaan.Bagaimana jika ketika aku sudah memilih Kelly, tiba-tiba Hanna muncul dan kembali? Aku tidak tau harus menjelaskan padanya mulai dari mana. Aku tidak ingin melukai hatinya lagi.“Evan, aku akan bahagia jika kau bersama Kelly. Dia wanita yang baik. Kau tidak perlu ragu.”Suara bisikan itu lagi! “Kelly, kau dengar suara itu?” tanyaku padanya seperti orang paranoid.“suara apa Evan? Aku tidak mendengar apa pun, dan tidak ada suara lain selain desiran ombak di sini.”“sudahlah, lupakan saja.” Ini membuatku gila. Suara itu kembali muncul dan membuat bulu kudukku berdiri. Apa maksud semua ini??Nada dering handphoneku berbunyi cukup keras dan berhasil membangunkanku yang masih terlelap. Aku menekan tombol ‘jawab’ tanpa melihat siapa yang menelfon karena mataku menempel dan aku kesulitan membukanya.“hallo..” sapaku dengan suara berat dan sedikit serak khas orang bangun tidur.“astaga Evan, kau baru bangun tidur? Ini sudah jam 8, kau tau?!” omelan dengan intonasi yang cukup tinggi serta suara yang agak cempreng ini tidak salah lagi adalah milik Kelly.“ah Kelly, berhenti mengomel. Telingaku sakit, kau tau? Ada apa menelfon pagi-pagi? Tidak biasanya kau begini.” Akhirnya setelah usaha yang cukup keras mataku bisa terbuka dan aku langsung melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka sambil masih menempelkan benda kecil itu di telingaku.“aku sedang di tempat cetak foto. Aku ingin mencuci fotomu yang pertama kali aku ambil dan foto kita kemarin.” Ucapnya terkekeh. “setelah selesai aku akan kerumahmu untuk memberikannya. Jadi aku harap kau segera mandi karena aku tidak mau kebauan ketika berada didekatmu nanti haha.”“ok ok, baiklah. Aku tunggu.”“Evan, Kelly is here.” Aunty Clarice memasuki kamarku, ia adalah wanita asal Australia, ia juga istri dari kakakku satu-satunya yaitu James. Tetapi berhubung kakakku sedang mengurus cabang perusahaan keluarga di Jerman, ia meninggalkan istrinya dirumah bersama denganku dan sekaligus untuk menemaniku.Ia berjalan ke arahku yang sedang duduk di atas kasur sambil membaca buku. “i’m happy you already moved on from Hanna.”“i’ve never tried to do that Aunty. Hanna will always be in my mind.” Ujarku menutup buku itu lalu turun ke lantai bawah untuk menemui Kelly.“Don’t deny Evan. Don’t ignore your heart cause your mind won’t be able to feel it.” Seru Aunty Clarice.Perkataan Aunty-ku memang benar. Tetapi saat ini aku belum tau apa yang aku rasakan dan apa yang harus kulakukan serta kuputuskan.“hei Kelly, sudah lama menunggu?” sahutku dari lantas atas lalu menuruni anak tangga satu persatu.“oh h-hai Evan, tidak juga.” Suara Kelly terdengar gugup dan aneh. Seperti ada seseuatu yang ia sembunyikan dariku.Aku baru ingat bahwa ia kemari karena ingin memberikan hasil fotonya. Aku pun menagih janji itu. “oya, boleh aku lihat foto yang sudah kau cetak? Pasti hasilnya sangat bagus.” Ucapku dengan menorehkan senyum kepadanya.“ah i-itu.. iya hampir saja aku lupa.” Kelly langsung merogoh-rogoh ke dalam tas warna coklatnya mencari benda tersebut, tetapi tampaknya foto itu tidak ada. “mmm.. maaf Evan, aku rasa aku meninggalkannya di tempat cuci foto tadi. Aku akan mengambilnya dan segera kembali.” Aku bisa melihat dari bahasa tubuh Kelly yang canggung dan bersikap tidak seperti biasanya. Aku tau ada sesuatu yang terjadi dan ia tidak ingin aku mengetahuinya.“tidak perlu Kelly!” pekikku cukup keras karena wanita itu sudah berada di ambang pintu dan bersiap pergi. “sini, duduklah dulu.” Kataku sambil menepuk-nepuk sofa.Ia berjalan kaku menghampiriku dan duduk di sampingku. Aku memperhatikan air mukanya yang gusar dan agak pucat. “Kelly, tatap aku!” perintahku. Dengan terpaksa ia memutar kepalanya 90© dan berusaha memandangku. “Ada apa sebenarnya? Apa yang kau sembunyikan dariku?” tanyaku mendalam.Gadis itu mengalihkan tatapannya dan tertunduk. Aku bisa mendengar dengan jelas bahwa ia sekarang tengah menangis sesenggukan. “aku berbohong Evan. Ambilah di dalam tasku dan lihatlah sendiri.”Aku mengikuti perkataannya. Tapi untuk apa Kelly berbohong? Ini hanyalah foto. Batinku terus bertanya seperti itu sampai akhirnya aku mendapatkan benda yang kucari.Terdapat 2 lembar foto dan foto yang pertama kulihat adalah foto aku dan Kelly saat di pantai kemarin. Kelly terlihat cantik dan begitu ceria di foto tersebut. Hal apa yang harus ia khawatirkan sampai-sampai ia berbohong padaku? Aneh sekali pikirku.Foto selanjutnya… mungkin ini adalah alasan Kelly bersikap begitu. Aku tidak percaya melihatnya. Aku benar-benar shock. Jantungku berhenti berdetak dan seluruh syarafku mati selama beberapa saat. Aku tidak tau apakah ini editan semata atau foto asli sungguhan.“Kelly, tolong jelaskan padaku. Kau yang mengedit fotoku, iya kan Kelly?!” aku menaikkan nada bicaraku terhadapnya karena foto ini memang sulit dipercaya.“tidak Evan. Aku tidak mengeditnya. Aku juga tidak tau kenapa hasilnya bisa seperti itu.” suara parau dan tangisnya yang tak henti membuatku merasa bersalah. Aku telah menuduhnya melakukan itu. Aku telah bersikap kelewatan kepada wanita ini.Aku memeluknya dalam sekejap. Aku tak mengerti mengapa aku bertindak seperti ini. Mungkin perkataan Aunty Clarice benar. Aku tidak boleh menyangkalnya. Aku tidak boleh mengabaikan hatiku karena pikiranku tak akan mampu merasakan kebenaran yang dirasakan oleh hatiku.“maafkan aku Kelly. Aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku… aku hanya… ini sulit sekali dipercaya. Tapi aku harus mengatakan ini padamu.” Aku melepaskan pelukanku perlahan lalu menggengam tangannya dan memandang matanya lekat-lekat. “aku menyukaimu Kelly. Sungguh. Ini nyata perasaanku yang sebenarnya. Kau pasti meragukannya, tapi aku mohon kali ini percayalah. Sejak pertama berkenalan denganmu aku mulai merasa bayangan Hanna memudar dan perlahan kau menggantikan posisinya dihatiku. Senyumanmu memberikanku semangat. Tawamu telah merubah aku yang dulu selalu menyalahkan diri sendiri karena meninggalkan Hanna. Aku jujur dengan ucapanku Kelly.”Ia berhenti menangis dan menatapku. Tatapan matanya tampak sedang mencari-cari kejujuran didalam mataku. Tiba-tiba saja wanita itu merangkulku erat sekali.“akhirnya kau bisa mencintai orang lain. Aku sangat bahagia Evan. Maaf aku menggunakan tubuh Kelly untuk berbicara denganmu. Kau begitu serasi dengannya. Satu saja permintaanku Evan, aku ingin kau dan Kelly datang ke tempatku.” Suara itu! Aku ingat sekarang. Ini adalah suara Hanna!“tidak, Hanna, jangan pergi!” aku semakin mempererat pelukanku.“Evan, aku tidak punya banyak waktu. Aku harus pergi setelah aku dapat berbicara denganmu. Terimakasih untuk semua cinta yang pernah kau berikan. Kau adalah pria yang istimewa bagiku.” Aku meneteskan air mata mendengar perkataan Hanna. Bagaimana bisa ia meninggal? Apa yang telah terjadi?“tunggu! Hanna, apa yang telah terjadi padamu?” dengan cepat aku melepaskan dekapanku dari tubuh Kelly yang berisikan roh Hanna.“a-aku… meminta keluargaku untuk pindah kuliah ke Bali. Aku berharap bisa melupakanmu di sana. Tetapi aku salah, aku justru semakin merindukanmu yang tak kunjung datang. Nilaiku juga menurun drastis, dan aku tidak ada orang yang mau dekat denganku karena mereka berfikir aku wanita yang aneh dan selalu menyendiri. Mereka menjauhi aku dan memandangku sinis. Karena aku tidak tahan akan cobaan ini, akhirnya aku menjatuhkan diri dari lantai 5 gedung asramaku. Evan, aku malu sebenarnya menceritakannya padamu. Aku wanita yang lemah, tapi kau harus tau. Aku tidak ingin membuatmu terus bertanya-tanya dan mencari aku yang bahkan sudah tiada.” Kelly, melalui dirimu aku dapat melihat tatapan sedih Hanna. Aku bisa merasakannya.“Hanna, kemana aku harus pergi?” tanyaku polos.“aku akan menyampaikannya pada Kelly. Aku harus pergi Evan. I love you, goobye…” setelah mengucapkan kalimat terakhirnya tubuh Kelly kemudian terkulai lemas, pingsan di atas sofa.Jumat, 11 November 2011 – Denpasar, BaliAku dan Kelly saat ini berada di tempat, di mana Hanna dimakamkan. Ternyata setelah meninggalnya Hanna, orangtuanya kembali ke kampung halamannya di Manado. Aku tak dapat bersua. Aku masih belum menyangka nisan di hadapanku ini benar-benar miliknya. Meskipun tertulis jelas dan lengkap nama “Hanna Isabel Maria” namun di dalam hatiku, aku berharap ini adalah Hanna Isabel Maria yang lain, bukan Hanna yang ku cintai.“Evan, cepat letakkan bunga melati putih itu. Hanna pasti sudah menunggu momen ini. Aku yakin dia bahagia di atas sana.”ujar Kelly yang berdiri di sampingku yang sudah lebih dahulu menaruh bunga di atas makam Hanna.Tanganku gemetar ketika akan menaruh bunga tersebut. Aku seakan tak mampu menghadapi kenyataan ini. Tetapi Kelly menggengam tanganku. Ia membantuku dengan senyum ikhlasnya. Tak terlihat sama sekali kecemburuan di wajahnya walau ia tau masih ada sebagian dari Hanna yang tertinggal di dalam diriku.Aku mengeluarkan selembar foto dari dompetku dan menaruhnya di dekat bunga melati putih itu. Ya, foto yang ku taruh adalah hasil jepretan Kelly yang membuatku tersentak kaget. Foto itu adalah fotoku saat pertama kali aku dan Kelly bertemu. Ia memotretku dari belakang, dan ternyata terdapat sosok bayangan Hanna yang cukup jelas di dalam foto tersebut setelah dicetak. Ia terlihat sedang duduk di sampingku, dan yang membuatku lebih terkejut yaitu ia tampak seperti mencium pipiku. Saat pertama kali melihatnya aku meneteskan air mata karena begitu tak percaya. Namun, biar bagaimanapun itu adalah kenyataannya.“Kelly, tetaplah bersamaku dan jangan pernah meninggalkan aku. Karena apa pun yang terjadi aku tidak akan pergi darimu.” aku memeluknya dengan erat. Aku tidak akan lagi menyia-nyiakan wanita yang berharga dalam hidupku. Cukup sekali aku berbuat kesalahan dan tak akan aku mengulanginya.“Evan, thank you for loving me.” Bisiknya di telingaku.Hanna, you never really left. I’ll always remember you. I can’t forget you or erase you from my heart. I’m able to get my happiness with Kelly, and i hope you’re smiling seeing us from up there.I will watch you through these nights..Rest your head and go to sleep..This is not our farewell..(Within Temptation – Our Farewell)DE ENDTwitter : @bellajusticeeFb : Bella Justice

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 06 | Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih part 06 _ seperti yang sudah di katakan sebelumnya kalau benih benih cinta sudah ada di antara keduanya. Hanya saja yah, masih menolak untuk mengakui. Hi hi hiTapi tunggu dulu, cerita ini kok kesannya datar kali ya?. Nggak ada konfliknya?. Nggak seru donk?. Ehem ehem, kayaknya untuk next part perlu di kasi 'gangguan' nih #EvilSmirkUntuk part sebelumnya biar nggak bingung bisa baca di sini.Ketika Cinta Harus MemilihSambil menguap dengan mata yang masih terpejam, tangan cinta bergerak memijit – mijit tengkuknya yang terasa pegel. Sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka. Mencoba untuk beradaptasi dengan suasana yang begitu terang di sekitarnya.sebagian

  • Tertutup Rapih Dalam Balutan Seragam Kepolisian

    Tertutup Rapih Dalam Balutan Seragam KepolisianKarya : Abimanyu Putra PratamaHari itu sabtu siang di bulan Juni tahun 2009, saya diajak oleh saudara saya untuk membantu persiapan khitanan, ( saudara saya mau sunat saya dijemput dan diajak kesana duluan sedangkang orang tua saya menyusul nanti ). Sabtu siang itu terasa sangat panas hingga menusuk sampai ketulang ( hahahahahah terlalu LEBAY ) setelah 2 jam perjalanan ( maklum jakarta macet, dan saya sudah muntah sampai satu kantong plastik ). Akhirnya kami tiba juga di Jakarta Timur, saya tiba disana pukul 02:00. Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan saya pun memutuskan untuk tidur.Setelah melepas penak dengan tidur ( memang banyak orang memilih tidur untuk menghilangkan penak ) saya bermain bersama saudara-saudara saya. Setelah puas bermain saya pulang, mandi, sholat, dan nonton tv. Tiba-tiba pas saya sedang asyik nonton spongebob squerpants ( maklum masih anak kecil  ) adzan magrib bun berkumandang. Walaupun sedang asyik nonton spongebob saya pun memutuskan untuk shalat dulu, setelah selesai sholat dan makan. Lalu saya diajak mas Topik untuk mengisi bensin.NAH DISINILAH CERITA DIMULAI “THE STORY WILL BEGIN” Jadi ceritanya tuh pas lagi mau isi bensin, ada dua rute. Rute via jalan raya ( banyak polisi ), rute jalan kampung ( banyak polisi tiduran ). kami memilih rute jalan raya, setelah tiba dijalan raya mas Topik mengila PART 1. Dia gaya gaya mau jadi Valentino Rossi, setiap mobil diasalip dan pas saya sedang menengok ke belakang saya melihat motor vega-R mengikuti kami dari gang depan rumah saudara saya. Saya tidak begitu ambil pusing, nah pas kami sedang menyalip mobil avanza tiba-tiba motor RX King bermaksud menyalip mobil tersebut. Mas Topik pun kaget dan motor pun menyerempet mobil avanza, setelah berhasil menyalip mobil avanza kami tiba-tiba dijegat oleh orang yang naik motor vega-R. Dia dateng-dateng langsung nyenter plat nomor, lantas kami pun panik dan memutuskan untuk kabur, setelah berhasil kabur, dan pikir panjang. Kami memutuskan untuk berhenti (bukan karena takut sama polisi tapi karena bensin dah sakaratul maut alias ABIS wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk 😀 ) Akhirnya saya tertangkap / BUSTED, kunci motor langsung diambil kami langsung dimarahin.“kamu ini naik motor gaya-gaya banget masih kecil aja belagu” bentak pa polisi.Saya dan mas Topik langsung tertunduk diam alis KICEP ABC. Setelah diceramahin cukup lama akhirnya saya dan mas Topik dibawa ke sebuah pemancingan di daerah Klender. Setelah tiba di pemancingan mas topik disuruh untuk menelpon orang tuanya dan pas saat itu lagi ga bawa hp ( apes banget ), yaaaaaaaaa suuuuuuuudahlah terpaksa dia harus ke wartel, sedangkang saya ditinggal sendirian di pemancingan. Dan pas saat itu entah kenapa saat itu saya ingin sekali menanyakan sesuatu.“pa, bapak sebenarnya polisi atau bukan? Kalau bapak polisi bapak tolong tunjukan tanda pengenal bapak, dan buka helm bapak.” Ujar sayaTiba tiba saya tangan polisi itu melayang ke muka saya, dan dia berkata “kamu tuh masih anak kecil diam aja”Saya melihat kejanggalan karna bapak saya seorang tentara ( jiahhh pamer dulu ahhhh ) jadi saya ya sedikit tau mana yang asli sama yang palsu.Saya pun terus mendesak setelah cukup lama saya mendesak, akhirnya polisinya jengkel juga kali ya sama saya, dia pun memutuskan pergi untuk membeli rokok and aqua gelas,,,,,,, dia kembali menghampiri saya. Setelah cukup lama akhirnya mas Topik pun kembali, setelah mas Topik kembali“saya sita motor kalian karena kalian tidak bisa menyerahkan surat-surat motor” kata pa PolisiKami pun mengiyakan saja, polisi itu pun langsung membawa motor kami. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu, menghampiri kami, “Dek,dek kelihatanaya kamu sudah ketipu deh.” Kata si Ibu“Hah???????, maksud Ibu?” sahut mas Topik“iya soalnya gelagatnya dan bajunya tidak meyakinkan.” Ujar si Ibu“Ahhh yang bener Bu.” Kata mas Topik“Iya soalnya daerah klender banyak sekali POLISI GADUNGAN.” Kata Ibu “Apa GADUNGAN GADUNGAN GADUNGAN (sengaja diulang biar lebih mantep) sontak saya dan mas Topik Saya diam, mas Topik diam Ibu pun diam, SULE pun diam. Kami pun PANIK MODE ON setelah mondar mandir sana sini. Akhirnya bapaknya mas topik pun datang. Kami pun langsung bergegas ke kantor polisi di daerah klender, setelah kami tiba di sana kami langsung menanyakan ada tidak Polisi yang bernama Briptu Norman ( maaf saya lupa namanya hehehhehehehehehehe : D ) setelah dicek tenyata tidak ada. APA APA APA APA APA ( sengaja di ulang ) kami pun panik. Tanpa pikir panjang kami pun langsung balik ke TKP untuk mencari motor kami, di tengah perjalanan kami bertemu dengan tukang ojek lalu dia mengatakan bahwa motor bapak ada sama temen saya. Tanpa pikir panjang kami langsung CABUT KALANG KABUT LEKAS PERGI, setelah tiba disana alhamdulilah motor selamat hanya tergores sedikit. Jadi ceritanya tuh setelah kami di tinggal di pemancinga Polisi GADUNGAN itu kabur membawa motor yang bensinya sakaratul maut dan ditengah keasyikan pa polisi itu tiba-tiba bensinya abis NGEK NGOK. Dia pun panik dan langsung pindah ke motor temanya yang ada di sebelahnya tanpa menghentikan motornya ( kata saksi ) sontak motor pun jatuh dan koncinya langsung di bawa kabur. Setelah tiba di TKP kami pun langsung menghampiri rumah itu, dan ALHAMDULILLAH BANGET YA motor masih ada. Kami pun disuruh untuk menebus motor dan menunjukan STNK, BPKB dan membawa kunci motor.INI CERITA KU APA CERITA MU  Yang membuat saya sampai binggung hingga saat ini : a. Bagaimana cara polisi itu berpindah tempat dari motor yang ia tumpangi ke motor temenya yang sedang melaju kencang???????????b. Kenapa ada SULE di Cerpen sayac. Dan masih ada aja Polisi yang mau nyolong motor orang yang bensin abis WKWKWKKWKWKWKWKWKWKW POLISI GADUNGAN

  • Cerpen Cinta: DI BALIK MATA INI

    Oleh: Nining Suarsini Juhry – Riana duduk di sebuah taman di depan rumahnya sambil memainkan biolanya. Nada-nada indah mengalun dengan merdu. Siapa saja yang mendengarnya pasti akan tersentuh. Meskipun buta riana termasuk perempuan yang sangat berbakat. Dia tergolong dalam orang-orang cacat yang memiliki kelebihan.Sepuluh tahun yang lalu, saat riana duduk di bangku SD, dia mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Saat itu di tengah bermain kejar-kejaran bersama teman kecilnya yang bernama satria. Pada saat yang sama satria berlari menuju kejalan raya, tanpa di sangka mobil melintas ke arahnya, riana yang melihat kejadian itu langsung berlari ke arah satria dan mencoba menariknya agar terhindar dari mobil itu. Alhasil satria terbebas dari mobil itu tetapi malah dirinya yang tertabrak. Inilah penyebab kebutaannya. Melihat hal itu satria terus-terus saja di hantui rasa bersalah yang amat mendalam sampai sekarang ini. Dia rela melakukan apa saja demi menebus rasa bersalahnya terhadap riana bahkan dia rela mendonorkan matanya tetapi riana menolaknya. Hingga pada akhirnya satria mengikuti orang tuanya ke luar negri.Hari-hari riana di isi dengan kegelapan. Dia tidak pernah merasa putus asa maupun mengeluh. Dia tetap saja menikmati hari-harinya dengan senyuman. Dia tidak pernah menjadikan kebutaannya ini sebagai alasan untuk terpuruk. Justru dia merasa beruntung karena masih di beri kesempatan untuk hidup dan menjalani hari-hari.Kadang-kadang riana diliputi rasa rindu dengan satria sahabatnya. Sudah tiga tahun mereka tidak pernah bertemu. Meskipun kehilangan satria riana memiliki teman baru yoga namanya. Mereka bertemu di tempat les biola. Yoga adalah laki-laki yang baik, meskipun belum lama berkenalan tetapi dia sangat baik dan perhatian terhadap riana. Entah mengapa setiap berada di dekat goya riana selalu merasakan sesuatu yang aneh. Dia selalu merasa kalau yoga seperti tidak asing baginya dan terasa sudah lama mengenal yoga. Tapi siapa pun dia, riana sangat berterimah kasih karena sudah baik padanya dan selalu membuat dia bahagia.Sebulan pun telah berlalu, yoga dan riana makin akrab saja. Suatu hari riana menangis karena rindu akan sahabatnya yang telah lama meninggalkannya. Yoga yang tidak tega melihat riana menangis akhirnya menghiburnya dan mengembalikan senyum cerianya kembali. Dia selalu membuat hari-hari riana penuh dengan keceriaan dan selalu ada disaat riana butuh dimana pun dan kapan pun. Riana sangat berharap suatu hari nanti ketika keajaiban datang menghampirinya dan dia sudah dapat melihat lagi, orang yang akan ia temui pertama kali adalah yoga, dia ingin menatap wajah yoga dan membelainya, sekaligus ingin berterimah kasih karena sudah baik padanya.Kebersamaan mereka yang di rajut untuk beberapa bulan saja akhirnya kandas di tengah jalan. Entah mengapa yoga tiba-tiba menghilang dan sulit sekali untuk di hubungi. Lagi-lagi riana harus ditinggalkan oleh orang-orang ia sayangi. Dia sangat sedih karena harus menerimah kenyataan itu dan lebih menyedihkan lagi, di saat dia akan melihat lagi dia harus kehilangan yoga. Padahal selama ini dia selalu mengimpikan akan melihat yoga dan berbagi kebahagiaan dengannya. Setelah sekian lama menunggu donor mata, akhirnya ada juga pendonor mata yang datang. Entah siapa pendonor mata ini, identitasnya sangat di rahasiakan. Menurut dokter belum saatnya kamu mengetahui siapa pendonor mata ini, nanti setelah kamu melihat baru bisa mengetahuinya. Hatinya begitu galau mendengar pernyataan dokter karena dia ingin sekali berterimah kasih pada sang pendonor mata.Seminggu setelah operasi mata berjalan. Akhirnya riana sudah bisa melihat indahnya dunia ini. Apa-apa saja yang dulu ia tidak bisa liat akhirnya dia bisa melihat, menyentuh dan merasakannya. Bahkan wajahnya pun akhirnya sudah bisa ia lihat di depan cermin. Dia sangat bahagia.Tak ada kata-kata yang ia dapat ucapkan selain beryukur kepada yang di atas. Diam-diam dia meneteskan air matanya. “andaikan yoga dan satria ada di sini”. Ucapnya lirih. Tiba-tiba saja dia di kagetkan oleh panggilan mamanya, dia lalu buru-buru menghapus air matanya. Dia kaget dan sedikit heran ketika mamanya memberikannya sebuah surat. Buru-buru ia membacanya. Setelah membaca isi surat, tak kuasa ia menangis dan berteriak sekeras-kerasnya. Ternyata pendonor matanya adalah satria alias yoga. Selama ini orang yang bernama yoga adalah satria, di memberikan matanya karena dia ingin melihat riana bahagia dan sebagai wujud rasa bersalahnya di masa lalu. Riana tak kuat lagi, dia terus-terus saja menagis. Dan lebih membuat hatinya hancur adalah pendonor matanya adalah sahabatnya sendiri. Entah apa yang harus ia lakukan, dia belum sempat berrterimah kasih karena tiga hari setelah operasi satria sudah berangkat ke luar negri.Ini merupakan kejadian yang amat tidak bisa di lupakan riana, karena di balik matanya terdapat mata satria. Mata riana adalah mata satria, begitupun sebaliknya. “jaga mataku baik-baik riana, aku sangat bahagia bisa melihatmu bisa melihat lagi. Senyum mu adalah bahagiaku”. Begitulah pesan terakhir di isi surat satria.Mata adalah ciptaan terindah yang di berikan oleh allah. Salah satu hadiah yang sangat luar biasa yang diberikan oleh allah adalah penglihatan.Penulis : nining suarsini juhryfb : niningning23@yahoo.comtwitter : @niningsuarsiniCerpen lainnya bisa dilihat dalam Pertemuan Singkat dan Apalah Arti Menunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*