Cerpen Penyesalan

PENYESALAN

Angin malam berhembus kencang menerjang lapisan kulit setiap insan yang merasakan meski rembulan tampil dengan bulat sempurna meski bintang-bintang terang benderang menghiasi malam, namun pemandangan tersebut tak turut menghibur hati Jono yang sedang padam bagai tersiram air yang deras.Jono adalah seorang pria yang sedang berkepala lima akan tetapi satu persatu anaknya pergi meninggalkan Jono dan istrinya, mereka tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarganya. Jono termenung tak berdaya, pandangannya kosong yang di pikirnya hanya satu bagaimana ia mendapatkan uang dan tidur pulas di rumah bersama Tini istrinya dan Riko anaknya yang masih tersisa, ia tak berani pulang ke rumah dengan tangan hampa sebab jika pulang ia hanya mendapatkan cacian dari sang istri bahkan ia di suruh tidur di luar rumah, sebenarnya Jono tak tahan lagi atas perlakuan Tini, namun apa daya nasi telah menjadi bubur padahal sejak masih menjadi kekasihnya ,Ibu Jono melarang Jono berhubungan dengan Tini,Ibu Jono tidak suka dengan sikap Tini yang sombong dan tak sopan itu akan tetapi Jono memperdulikannya, ia hanya ingin menikah dan membangun keluarga baru bersama istrinya yang cantik yaitu Tini dan kini hanya ada penyesalan yang mendalam yang di rasakan seorang pria yang selalu memakai kaca mata minues, selain hidupnya sengsara,ia pun sudah di coret dalam buku harta warisan orang tuanya,bahkan ia menikah tanpa restu dan kehadiran sang Ibu yang dulu di sayangnya. Dua jam berlalu, Jono masih dalam posisinya, duduk dan memandangi bintang di langit berharap bintang itu jatuh kemudian ia dapat berdoa agar seseorang dapat membantu kesusahannya.Dua jam yang tak sia-sia tiba-tiba benda asing jatuh dari langit,melihat peristiwa tersebut sontak membuat Jono terkejut, ia beranggapan bahwa benda asing itu adalah sebuah bintang yang jatuh dari angkasa,tanpa pikir panjang Jono segera memanjatkan doanya. “wahai bintang yang jatuh bantu lah aku dari kesusahan ini, berilah jalan keluar untuk ku”,harapannya yang keluar dari mulut manisnya, meski ia masih percaya dengan Tuhan.Selang beberapa menit, suara handphone yang di ikat kuat menggunakan gelang karet di permukaannya berbunyi dengan nada yang beraturan, senyum lebar terpasang di bibirnya namun memori otaknya masih mengingat istri dan anaknya. “semoga saja ini berita baik untuk ku”,ucapnya dalam hati.Tangan kanannya yang semula memegang permukaan kursi kini beranjak naik merangkul benda kotak kecil itu di saku bajunya, sebuah pesan singkat dari seseorang yang tak asing dipikirannya. JONO TOLONG PULANG KE RUMAH, IBU MU SAKIT PARAHMelihat pesan tersebut ekpresi wajahnya mendadak berubah,aliran darahnhya seakan-akan tak mau mengalir,jantung terasa teriris belati tajam,tak terasa butir-butir air mata menetes,menetes,dan terus menetes hingga kini ia di banjiri tangisan,doanya yang sudah ia ucapkan berbalik menjadi bumerang untuk hidupnya. “wahai bintang !,mengapa kau kabulkan doa yang bukan aku harapkan,mengapa kau tega kepada ku?,menambah beban di hidup ku”,protesnya seraya membentangkan kedua tangannya,wajahnya menatap ke atas langit memberi ekpresi kesal, seolah tak terima dengan berita buruk yang telah ia dapatkan. Derai air mata yang pada saat itu terus mengalir membasahi pipinya,mengingatkannya saat ia membuat segores luka di hati ibu nya, mendorong sang ibu hingga terjatuh dan akhirnya Ayah mengusirnya bersama istrinya,mungkinkah ini balasan untuk ku ?, ataukah buah dari perbuatan ku selama ini kepada Ibu,pikirnya dalam hati.Akhirnya ia bergegas menuju rumah orang tuanya yang sangat membutuhkan kehadirannya,ia tak peduli nanti jika ibu nya tak menerima kedatangannya,asalkan ia bisa bertemu dengan ibu,dan ibu nya lah saja. Sepeda besi berkarat yang setia menemani kemana Jono pergi itu di kayuhnya,berkilo-kilo meter jarak yang ia tempuh,keringat terus mengguyur seluruh tubuhnya,lelah pun di rasakan oleh seorang anak yang merindukan sosok ibu, namun semua itu terbayar ketika ban kendaraan tak bermesin itu berhenti tepat di sebuah rumah yang sangat megah, rumah itu milik keluarga besar KURNIAWAN, rumah yang menemaninya hampir dua puluh tahun,pintu gerbang yang biasa ia lewati menuju rumah, ayunan yang sejak kecil ia pakai untuk bermain, kursi bercat putih yang tidak berubah tampilannya yang dulu ia pakai untuk sekedar duduk-duduk saja, kini membawanya ke dunia masa lalu, masa lalu yang indah dimana ia selalu di peluk oleh ibu,dimana ibu dan ayahnya selalu memberi senyuman indah untuknya.Dari balik pintu terlihat sosok manusia yang berbadan gemuk,berkaca mata,dan berambut pelontos melemparkan satu senyuman manis tepat mengenai Jono. “Ono kesini lah nak, ayah dan ibu merindukanmu”,rayu sang ayah seraya membentangkan tangannya berharap sang anak memeluk dirinya. “ayah,maafkan jono, jono menyesal telah berbuat seperti ini”,balasnya dengan nada yang tak jelas akibat isak tangis yang memburu kemudian memeluk tubuh ayahnya. “sudahlah jono jangan kau sesalkan perbuatan mu dulu karena itu sudah ayah lupakan,ayah dan ibu sudah memaafkan mu, ayah dan ibu juga meminta maaf karena sudah mengusir mu”,jawab ayah seraya mengelus punggungnya.Perbincangan ayah dan anak tersebut terdengar oleh seorang wanita tua yang tertutupi oleh uban di rambutnya. “ayah di luar ada siapa ?”,tanya ibu dengan suara serak sesekali ia batuk.Pandangan Jono tertuju ke arah Ayah, setelah pandangannya dan pendengarannya mengarah ke pintu rumah. “itu ibu nak,ayo lah masuk ke dalam, bertemu lah dengan ibu mu, ibu sangat merindukan mu”,ajak sang ayah kepadanya “nanti saja yah, Jono belum siap untuk bertemu ibu, mungkin besok Jono datang bersama keluarga”,ujar Jono seraya memegang tangan ayah. “baiklah,ayah mengerti ya sudah pulanglah nak,istri dan anak-anak mu mungkin mengkhawatirkan mu”,ucap ayah memberi satu lagi senyuman manis. Akhirnya Jono pulang dan kembali ke rumahnya dengan rasa senang,tenang dan nyaman meski Jono masih belum bertemu dengan ibunya setidaknya ayah masih menyambutnya dengan ramah. Ditengah perjalanan ia dikejutkan dengan temuan benda asing, benda asing yang berbentuk botol itu memaksa ban sepeda jono berhenti untuk kedua kalinya, rasa ingin tau nya muncul dipegangnya botol itu oleh jono kemudian penutup botol itu terbuka ketika jono memaksakan tangannya untuk membuka, tiba-tiba dari botol itu keluar asap tebal yang menutupi seluruh pandangannya, namun ketika asap itu sedikit demi sedikit menghilang pandangan jono tertuju pada sosok orang yang berpostur tinggi jenggotnya dipenuhi uban penampilannya pun sangat membingungkan jono. “siapa kau!.”ujar jono mengangkat telunjuknya kearah orang asing itu. “hahaha…,aku adalah jin dari timur tengah, karena tuan telah menyelamatkan hamba, hamba beri satu permintaan, apa saja yang tuan minta hamba akan kabulkan, hahaha… .”jawab jin itu puas.Mendengar penjelasan jin, jono seolah tak percaya namun apa salahnya jika mencoba, pikirnya. “baiklah jika kau bisa kabulkan permintaan ku aku akan percaya padamu jika tidak kau berarti hanya seorang pembual.” “memang apa permintaan mu wahai tuan ku?.” “aku ingin kembali ke dua puluh tahun lalu itu saja permintaan ku wahai mahluk halus.” “Wahai tuan ku !, maaf kan aku jika aku lancang, aku hanya ingin tahu dibalik permintaan mu itu, sungguh aku tak mengetahui maksud permintaan mu.” “wahai jin !,jika kau kabulkan permintaan ku nanti, di masa lalu itu aku ingin berubah dan lebih menghargai kedua orang tua ku termasuk ibuku.”Mendengar jawaban jono, jin itu menangis dan akhirnya permintaan jono itu dikabulkan olehnya dengan memberi satu pesan kepada jono. SESUNGGUHNYA PENYESALAN ITU AKAN DATANG SETELAH KITA BERBUAT SATU KESALAHAN, MAKA JANGAN LAH MELAKUKAN KEMBALI KESALAHAN ITU KARENA JIKA MELAKUKAN KEMBALI BERSIAPLAH UNTUK MENGHADAPI PENYESALAN.
THE END
Nama: Reka kurniawanAlamat: Rangkasbitung-Lebak-BantenTTL:Rangkasbitung, 20 juni 1995Sekolah: SMAN 3 RANGKASBITUNGAlamat facebook: ekha pinkboysz

Random Posts

  • Cerpen Tahun baru 2013 “Love like choklat”

    Ah, Berhubung bosen bikin cerpen berpart – part yang susah mau ngelanjutin. Halangannya banyak banget si. Salah satunya pas lagi punya ide buat nulis, waktu gak ada. Giliran ada waktu, mood nya udah kabur. Hadeeee…. Medingan juga bikin cerpen ide dadakan ala 'otak pas-pasan' Ana Merya. Maksutnya, 'pas' lagi pengen nulis 'pas' idenya muncul. Ghito lho…. Xi xi xi.Oke deh, gimana cerpenya langsung baca aja yuk. Ceritanya cerpen 'Love like choklat' ini cepern spesial nyambut tahun baru 2013 lho. :PPS: Judulnya gak nyambung ya?… Ya suka-suka saia. La wong saia yang bikin #dihajar.N for Mr. Kacamata. Thank for your inspiration n for all you give to me. Ha ha ha.For all : Happy reading ya…..Credit Gambar : Ana MeryaCinta itu seperti coklat.Pahit pahit manis…. ^_^"Huf… Udah mau tahun baru 2013 tapi masih aja belom punya pacar" Gumam Naraya sambil merebahkan kepalanya di atas meja."Loe si kebanyakan milih. Cowok yang nembak dari maren loe tolak mulu" Kata Alda yang duduk disampingya.sebagian

  • Cerita Remaja Cinta Buruan katakan cinta ~04 {Update}

    Dalam setiap kisah tertulis begitu banyak cerita. Kali ini akan kah tertulis kan kisah ku? * by Star Night*Oke, biar gak bingung n mumpung penulis sedang baik (??) untuk part sebelumnya bisa langsung di baca di Cerpen Romantis Buruan katakan cinta part 3.Happy Reading…Credit Gambar : Ana MeryaSetelah hampir seminggu ani tidak masuk kuliah dan tidak ada di rumahnya selama itu juga kevin udah seperti orang gila, kerjaan nya tidak ada lain, hanya menunggu hanponenya kali aja ani menelponenya tapi ternyata dugaannya salah ani tidak menelponenya sama sekali. kevin terus mencoba menghubungi ani tapi bukan hanya tidak diangkat tapi hanpone ani sekarang tidak aktif, dan kevin makin menjadi strez.sebagian

  • Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 15

    Mumpung ada ide, mending langsung di tulis aja deh. And beneran admin udah males buat ngedit lagi. Secara cerpen kenalkan aku pada cinta beneran bikin pusing. Nulis lanjutannya selalu aja bikin bingung. Pengen langsung di end, tapi takutnya malah terkesan ‘maksa’. Pengen di ketik terus, eh busyed nie cerpen kenapa malah jadi molor kemana mana. Akh entahlah.Tapi tetep, kayak yang admin bilang sebelumnya. Cerpennya sudah mendekati ending kok. Lagian adminya udah bosen juga liatnya nggak end – end. And biar nggak kebanyakan bacod mending langsung baca aja yuk gimana ceritanya. Biar nyambung bisa baca bagian sebelumnya disini.Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 15Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada CintaSesekali Astri melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah lebih 15 menit ia menunggu, tapi Andre masih belum menjemputnya. Untung saja kakaknya hari ini ada urusan di luar, jadi ia tidak perlu mendengar celotehannya nanti sekiranya Andre muncul. Tapi herannya, kenapa tu orang nggak muncul muncul juga.Untunglah beberapa menit kemudian, bel depan rumahnya terdengar. Senyum Astri langsung merekah ketika mendapati Andre sudah berdiri gagah di hadapannya. Tanpa basa – basi keduanya segera berlalu meninggalkan rumah.“Kita mau kemana nih?” tanya Astri sambil duduk dibelakang Andre yang mengendarai motornya.“Hari ini taman pemainan di lapangan kerinci (???) baru buka. Loe nggak keberatan kan kalau kita jalan kesana?”“Taman bermain?” ulang Astri.Andre hanya membalas dengan anggukan.Lagi pula tidak asik kalau ngobrol diatas motor yang terus melayu. Selang beberapa menit kemudian keduanya telah tiba di tempat yang di tuju.Benar seperti yang Andre katakan. Hari ini taman bermain memang baru di buka. Begitu banyak wahana permainan yang ada disana. Bahkan entah beraneka ragam permainan mereka ikuti. Astri menatap kesekeliling dengan pandangan takjup. Senyum mengembang lebar dari wajahnya. Matanya mengamati sekeliling dengan tidak berkedip. Mulai dari naik wahana putar sampai bermain di rumah hantu segala. Ia benar – benar tak sabar untuk mencobanya satu persatu.Tubuh juga terasa mulai lelah dengan jantung yang berdebar cepat. Bukan, bukan berdebar karena romansa romantis di antara mereka, tapi lebih kepada efek permainannya. Astri takut ketinggian, dan saat berputar – putar di atas sana ia yakin ia akan mati. Kepalanya terasa pusing dan perutnya seperti di tusuk – tusuk. Mual nggak ketulungan.Astri juga merupakan gadis yang penakut. Saat memasuki rumah hantu, tak terhitung berapa puluh kali ia menyumpai orang – orang yang membuat ide gila tentang permainan itu. Menjadikan hantu sebagai permainan yang hanya bisa memberi kesan menyeramkan tanpa menghibur sama sekali. Jadi keseimpulannya, menjadikan taman pemainan sebagai tempat kencan sama sekali bukan ide yang bagus. Sangat jauh, jauh, jauuuuuuuh sekali dari bayangannya saat menyaksikan adegan yang sama yang sering muncul di drama ataupun anime romantis yang sering ia tonton. Ia jadi merasa sedikit heran, kenapa Andre mengajaknya ke sana ya.“Astri, loe nggak papa kan? Kok muka loe pucet gitu?” tanya Andre terlihat khawatir.Astri mencoba tersenyum. “Tadinya si gue pengen ngomong kalau gue baik – baik saja cuma buat nyenengin elo. Tapi kayaknya gue lebih milih jujur aja deh. Serius gue nggak baik baik aja,” aku Astri.Melihat tampang bersalah di wajah Andre membuat Astri langsung menyesali ucapannya. Walau bagaimanapun, tidak semua orang menyukai hal yang jujur walau menyakitkan.“Tapi paling nggak loe udah bantu gue buat ngerasain pengalaman yang nggak akan gue lupakan. Mulai sekarang kayaknya gue harus lebih hati – hati lagi deh dalam memilih dan memilah sesuatu yang gue tonton.”“Ya?” Andre tampak bingung, tapi Astri hanya tersenyum singkat.“Sory ya. Gue nggak tau. Gue pikir loe suka gue ajak kesini.”“Sama. Tadinya gue juga berfikir kalau disini akan menyenangkan,” gumam Astri lirih. Dan lagi lagi keduanya kembali terdiam.“Baiklah, gimana kalau sekarang kita makan aja gimana?” tanya Andre kemudian.Astri melirik jam yang melingkar di tanganya. Sudah cukup siang. Sepertinya memang sudah waktunya makan siang. Hanya saja, perutnya masih terasa sedikit mual karena permainan tadi. Akhirnya dengan ragu is mengeleng semari mulutnya menjawab.“Untuk sekarang kayaknya tengorokan gue belum bisa menelan makanan deh. Kalau kita istriahat aja dulu bentar gimana?”Andre tersenyum sembari mengangguk maklum. Diajaknya gadis itu untuk duduk di salah satu bangku yang ada di bawah pohon yang memang tumbuh terawat di beberapa pingiran lapangan. Tak lupa di belinya dua mangkus es buah. Sambil menikmati minumannya keduanya mengamati sekeliling. Menatap orang – orang yang tampak belalu lalang disekitarnya.“As, soal yang kemaren…” Andre tampak mengantungkan ucapannya. Jelas terlihat ragu, sementara Astri sendiri menatapnya dengan tatapan ingin tau. Gadis itu juga hanya mampu mengkangkat alis ketika Andre masih terdiam.“Kenapa?”“Enggak kok. Lupakan,” Andre mengeleng. “Nggak penting juga,” sambungnya lagi.Walau masih bingung juga sedikit penasaran, Astri hanya angkat bahu.“Oh ya, kita jalan – jalan lagi yuk,” ajak Andre beberapa saat kemudian. Astri hanya mengangguk. Terlebih sepertinya mereka sudah cukup lama duduk terdiam di sana. Namun berbeda dari yang sebelumnya, perjalanan kali ini terasa lebih menyenangkan karena Andre mengajaknya ketempat yang lebih tenang. Melihat pernak – pernik yang ada disana, berkunjung ke kuliner, bahkan pake acara foto bareng bersama. Setelah hari mulai sore, mereka baru menyadari kalau mereka telah menghabiskan waktu bersama seharian. Tiba saatnya untuk Andre mengantar Astri pulang.“Dari mana aja loe seharian baru pulang. Mentang – mentang mama sama papa nggak ada.”Astri yang berniat untuk langsung menuju kekamarnya sontak menghentikan langkahnya. Saat menoleh ia mendapati kakaknya sedang duduk diruang tamu dengan tatapan menyelidik kearahnya.“Ye, punya kakak usil banget sih. Pengen tau aja urusan orang,” balas Astri mengabaikan kakaknya. Kembali diteruskan langkahnya yang sempat tertunda.“Gue tadi liat Andre nganterin di depan. Loe abis jalan sama dia ya?”“His, kalau udah tau ngapain nanya.”“Kalian kemana aja? Terus kok loe bisa jalan sama dia? Kalian abis kencan ya?!” tanya Rendy sambil berjalan mengikuti di belakang Astri. Selangkah demi selangkah kakinya menaiki tangga satu persatu.“Please deh ya kak. Nggak usah kepo. Emangnya kalau gue jalan sama kak Andre terus kenapa? Nggak boleh?” tantang Astri sambil menatap kakaknya.Rendy tersenyum misterius. “Ups, jangan salah. Gue kan Cuma pengen tau aja. Kalau loe emang jalang sama Andre, nggak papa kok. Justru gue malah mendukung, lagian…”Astri menantap kakaknya curiga. Terlebih pria itu sendiri masih mengantungkan ucapannya. Bahkan tanpa perlu menyelesaikan lagi, ia malah berbalik. Tentu saja masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.“Lagian apaan si?” tanya Astri penasaran.Rendy tidak menjawab. Ia hanya angkat bahu sembari melambai tanpa menoleh. Walau sejujurnya Astri masih merasa sedikit penasaran, namun ia lebih memilih untuk mengabaikannya. Terlebih ia juga merasa cukup lelah, setelah seharian berjalan sepertinya ia ingin mandi berendam dulu biar segar. Dengan berlahan di bukanya pintu kamar. Namun belum sempat ia masuk sebuah teriakan bernada memerintah terdengar dari bawah. “As, buruan. Gue laper nih. Bikinin gue nasi goreng donk!”Tanpa membalas sama sekali Asrti menghilang dari balik pintu kamarnya yang tertutup rapat.⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ “Tok tok tok.”Astri yang sedang merapikan kepang an rambutnya menoleh kearah pintu kamar. Sedikit mengeryit ketika mendengar suara kakaknya. Matanya sekilas menoleh kearah jam diatas meja. Masih cukup pagi. Tumben ada yang ngetuk kamarnya. “As, buruan. Udah selesai belom. Udah di tunguin tuh.”Ditungguin? Sama siapa? Pikir Astri heran. “Apa kak?” tanya Astri seolah tak yakin dengan apa yang kakaknya katakan. Namun tiada jawaban yang terdengar. Bahkan sama ia merasa suara langkah kakaknya yang mejauh. Karena merasa sedikit penasaran, Astri segera menyelesaikan riasannya. “Kak, tadi ada apaan sih? Kok pake ketok ketok pintu segala. Katanya ada yang nungguin. Siapa?” tanya Astri sambil duduk dihadapan kakaknya yang sedang menikmati sarapan sendirian karena memang papa dan mama sedang tidak ada dirumah.Rendy melirik sekilas sembari mencibir tanpa menjawab sama sekali. Membuat Astri mengerutkan kening bingung. Dengan santai duduk dihadapan kakaknya. Tanganya terulur menyambar roti beserta selai kacang. “Jiah, dia malah duduk. Udah di bilang juga ada yang nungguin.”“Huf,” Astri menghembuskan nafas kesel. Tangannya yang sudah terulur ia Tarik kembali. Matanya menatap penuh tanya kearah kakaknya. Tapi pria itu hanya memberi isarat kearah Astri untuk langsung keluar rumah. Walau masih merasa tidak puas, Astri lebih memilih untuk menurutinya. Lagi pula rasa penasarannya juga cukup bersar mengenai hal itu. Secara siapa sih orang yang kurang kerjaan nunguin dia pagi – pagi gini.Rasa penasaran di wajah Astri langsung menghilang dan di gantikan rasa terkejut ketika mendapati sososk Andre yang suduh duduk di atas bangku teras rumahnya. “Kak Andre, ngapain loe disini?” tanya Astri tak mampu menyembunyikan rasa herannya.Andre tampak tersenyum kaku. Dengan ragu mulutnya menjawab. “Jemput loe.”“Gue?” ulang Astri makin bingung. Sejak kapan ia pake di jemput – jemputan. Lagi pula ia kan punya motor sendiri. Andre hanya mengangguk. “Tapi kan gue punya motor sendiri.”“Udah pergi aja.” Astrid an Andre refleks menoleh kearah sumber suara. Entah sejak kapan, Rendy sudah muncul di ambang pintu. “Lagian kasian tau, Andre udah jauh jauh muter ke sini, masa loe nggak mau barengan sama dia.”Astrid an Andre tampak saling pandang. Raut ragu jelas masih tergambar di wajah Astri. Namun belum sempat mulutnya terbuka, tubuhnya sudah terlebih dahulu terdorong kearah motor Andre yang kini terparkir di hadapnya.“Udah pergi aja sana loe. Pintu juga udah mau gue kunci,” kata Rendy. Tangannya dengan santai terulur meraih helm yang Andre bawa sebelum kemudian ia sodorkan kearah Adiknya. Saat berbalik ia telebih dahulu menatap kearah Andre sembari berujar. “Hei bro. Gue titip adek gue ya. Awas, jangan sampai lecet. Kalau sampai kenapa – kenapa. Loe berurusan sama gue. Ngerti?”“Oke Bos,” balas Andre tegas. Secercah senyum samar menghiasi bibirnya. “Kita bisa pergi sekarang Astri?” tanya Andre sambil berbalik.Astri yang sudah merasa cukup terpojok dengan situasi yang ada tak bisa melakukan hal apapun selain mengangguk. Tanpa kata ia segera duduk di belakang Andre. Beberapa saat kemudian motor pun mulai melaju meninggalkan rumahnya. Meninggalkan Rendy yang diam – diam mengintip dari balik jendela dengan senyum penuh arti. To Be Continue⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ With Love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣

  • Cerita Pendek “Cintaku salah sasaran”

    Baiklah, kalau lagi buntu ide soal cerpen cerpen part yang jelas masih bertebaran (???) penulis emang demen bikin cerpen ide dadakan. Emang si kebayakan endingnya rada gak jelas, tapi anggap aja itu ciri khas #ngeles mode on.Nah, begitu juga cerpen yang satu ini. "Cintaku salah sasaran". Ide dadakan yang muncul waktu duduk diam antara cendana – sari bumbu resto. Di temani BB kreditan akhirnya terciptalah cerpen berikut. Soal ending, nggak jauh beda nasipnya seperti cerpen cintaku nemu di warnet ataupun cintaku berawal dari facebook.Over All, Happy reading ae lah….Menunggu itu menyebalkan. Terlebih jika yang kau tunggu itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak bermutu. Nungguin angkot lewat misalnya."Hufh" tanpa sadar Alexsa menghembuskan napas lega saat akhirnya angkot berwarna pink berhenti tepat dihadapannya. Tanpa kata ia segera melangkah masuk.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*