Cerpen Penyesalan

PENYESALAN

Angin malam berhembus kencang menerjang lapisan kulit setiap insan yang merasakan meski rembulan tampil dengan bulat sempurna meski bintang-bintang terang benderang menghiasi malam, namun pemandangan tersebut tak turut menghibur hati Jono yang sedang padam bagai tersiram air yang deras.Jono adalah seorang pria yang sedang berkepala lima akan tetapi satu persatu anaknya pergi meninggalkan Jono dan istrinya, mereka tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarganya. Jono termenung tak berdaya, pandangannya kosong yang di pikirnya hanya satu bagaimana ia mendapatkan uang dan tidur pulas di rumah bersama Tini istrinya dan Riko anaknya yang masih tersisa, ia tak berani pulang ke rumah dengan tangan hampa sebab jika pulang ia hanya mendapatkan cacian dari sang istri bahkan ia di suruh tidur di luar rumah, sebenarnya Jono tak tahan lagi atas perlakuan Tini, namun apa daya nasi telah menjadi bubur padahal sejak masih menjadi kekasihnya ,Ibu Jono melarang Jono berhubungan dengan Tini,Ibu Jono tidak suka dengan sikap Tini yang sombong dan tak sopan itu akan tetapi Jono memperdulikannya, ia hanya ingin menikah dan membangun keluarga baru bersama istrinya yang cantik yaitu Tini dan kini hanya ada penyesalan yang mendalam yang di rasakan seorang pria yang selalu memakai kaca mata minues, selain hidupnya sengsara,ia pun sudah di coret dalam buku harta warisan orang tuanya,bahkan ia menikah tanpa restu dan kehadiran sang Ibu yang dulu di sayangnya. Dua jam berlalu, Jono masih dalam posisinya, duduk dan memandangi bintang di langit berharap bintang itu jatuh kemudian ia dapat berdoa agar seseorang dapat membantu kesusahannya.Dua jam yang tak sia-sia tiba-tiba benda asing jatuh dari langit,melihat peristiwa tersebut sontak membuat Jono terkejut, ia beranggapan bahwa benda asing itu adalah sebuah bintang yang jatuh dari angkasa,tanpa pikir panjang Jono segera memanjatkan doanya. “wahai bintang yang jatuh bantu lah aku dari kesusahan ini, berilah jalan keluar untuk ku”,harapannya yang keluar dari mulut manisnya, meski ia masih percaya dengan Tuhan.Selang beberapa menit, suara handphone yang di ikat kuat menggunakan gelang karet di permukaannya berbunyi dengan nada yang beraturan, senyum lebar terpasang di bibirnya namun memori otaknya masih mengingat istri dan anaknya. “semoga saja ini berita baik untuk ku”,ucapnya dalam hati.Tangan kanannya yang semula memegang permukaan kursi kini beranjak naik merangkul benda kotak kecil itu di saku bajunya, sebuah pesan singkat dari seseorang yang tak asing dipikirannya. JONO TOLONG PULANG KE RUMAH, IBU MU SAKIT PARAHMelihat pesan tersebut ekpresi wajahnya mendadak berubah,aliran darahnhya seakan-akan tak mau mengalir,jantung terasa teriris belati tajam,tak terasa butir-butir air mata menetes,menetes,dan terus menetes hingga kini ia di banjiri tangisan,doanya yang sudah ia ucapkan berbalik menjadi bumerang untuk hidupnya. “wahai bintang !,mengapa kau kabulkan doa yang bukan aku harapkan,mengapa kau tega kepada ku?,menambah beban di hidup ku”,protesnya seraya membentangkan kedua tangannya,wajahnya menatap ke atas langit memberi ekpresi kesal, seolah tak terima dengan berita buruk yang telah ia dapatkan. Derai air mata yang pada saat itu terus mengalir membasahi pipinya,mengingatkannya saat ia membuat segores luka di hati ibu nya, mendorong sang ibu hingga terjatuh dan akhirnya Ayah mengusirnya bersama istrinya,mungkinkah ini balasan untuk ku ?, ataukah buah dari perbuatan ku selama ini kepada Ibu,pikirnya dalam hati.Akhirnya ia bergegas menuju rumah orang tuanya yang sangat membutuhkan kehadirannya,ia tak peduli nanti jika ibu nya tak menerima kedatangannya,asalkan ia bisa bertemu dengan ibu,dan ibu nya lah saja. Sepeda besi berkarat yang setia menemani kemana Jono pergi itu di kayuhnya,berkilo-kilo meter jarak yang ia tempuh,keringat terus mengguyur seluruh tubuhnya,lelah pun di rasakan oleh seorang anak yang merindukan sosok ibu, namun semua itu terbayar ketika ban kendaraan tak bermesin itu berhenti tepat di sebuah rumah yang sangat megah, rumah itu milik keluarga besar KURNIAWAN, rumah yang menemaninya hampir dua puluh tahun,pintu gerbang yang biasa ia lewati menuju rumah, ayunan yang sejak kecil ia pakai untuk bermain, kursi bercat putih yang tidak berubah tampilannya yang dulu ia pakai untuk sekedar duduk-duduk saja, kini membawanya ke dunia masa lalu, masa lalu yang indah dimana ia selalu di peluk oleh ibu,dimana ibu dan ayahnya selalu memberi senyuman indah untuknya.Dari balik pintu terlihat sosok manusia yang berbadan gemuk,berkaca mata,dan berambut pelontos melemparkan satu senyuman manis tepat mengenai Jono. “Ono kesini lah nak, ayah dan ibu merindukanmu”,rayu sang ayah seraya membentangkan tangannya berharap sang anak memeluk dirinya. “ayah,maafkan jono, jono menyesal telah berbuat seperti ini”,balasnya dengan nada yang tak jelas akibat isak tangis yang memburu kemudian memeluk tubuh ayahnya. “sudahlah jono jangan kau sesalkan perbuatan mu dulu karena itu sudah ayah lupakan,ayah dan ibu sudah memaafkan mu, ayah dan ibu juga meminta maaf karena sudah mengusir mu”,jawab ayah seraya mengelus punggungnya.Perbincangan ayah dan anak tersebut terdengar oleh seorang wanita tua yang tertutupi oleh uban di rambutnya. “ayah di luar ada siapa ?”,tanya ibu dengan suara serak sesekali ia batuk.Pandangan Jono tertuju ke arah Ayah, setelah pandangannya dan pendengarannya mengarah ke pintu rumah. “itu ibu nak,ayo lah masuk ke dalam, bertemu lah dengan ibu mu, ibu sangat merindukan mu”,ajak sang ayah kepadanya “nanti saja yah, Jono belum siap untuk bertemu ibu, mungkin besok Jono datang bersama keluarga”,ujar Jono seraya memegang tangan ayah. “baiklah,ayah mengerti ya sudah pulanglah nak,istri dan anak-anak mu mungkin mengkhawatirkan mu”,ucap ayah memberi satu lagi senyuman manis. Akhirnya Jono pulang dan kembali ke rumahnya dengan rasa senang,tenang dan nyaman meski Jono masih belum bertemu dengan ibunya setidaknya ayah masih menyambutnya dengan ramah. Ditengah perjalanan ia dikejutkan dengan temuan benda asing, benda asing yang berbentuk botol itu memaksa ban sepeda jono berhenti untuk kedua kalinya, rasa ingin tau nya muncul dipegangnya botol itu oleh jono kemudian penutup botol itu terbuka ketika jono memaksakan tangannya untuk membuka, tiba-tiba dari botol itu keluar asap tebal yang menutupi seluruh pandangannya, namun ketika asap itu sedikit demi sedikit menghilang pandangan jono tertuju pada sosok orang yang berpostur tinggi jenggotnya dipenuhi uban penampilannya pun sangat membingungkan jono. “siapa kau!.”ujar jono mengangkat telunjuknya kearah orang asing itu. “hahaha…,aku adalah jin dari timur tengah, karena tuan telah menyelamatkan hamba, hamba beri satu permintaan, apa saja yang tuan minta hamba akan kabulkan, hahaha… .”jawab jin itu puas.Mendengar penjelasan jin, jono seolah tak percaya namun apa salahnya jika mencoba, pikirnya. “baiklah jika kau bisa kabulkan permintaan ku aku akan percaya padamu jika tidak kau berarti hanya seorang pembual.” “memang apa permintaan mu wahai tuan ku?.” “aku ingin kembali ke dua puluh tahun lalu itu saja permintaan ku wahai mahluk halus.” “Wahai tuan ku !, maaf kan aku jika aku lancang, aku hanya ingin tahu dibalik permintaan mu itu, sungguh aku tak mengetahui maksud permintaan mu.” “wahai jin !,jika kau kabulkan permintaan ku nanti, di masa lalu itu aku ingin berubah dan lebih menghargai kedua orang tua ku termasuk ibuku.”Mendengar jawaban jono, jin itu menangis dan akhirnya permintaan jono itu dikabulkan olehnya dengan memberi satu pesan kepada jono. SESUNGGUHNYA PENYESALAN ITU AKAN DATANG SETELAH KITA BERBUAT SATU KESALAHAN, MAKA JANGAN LAH MELAKUKAN KEMBALI KESALAHAN ITU KARENA JIKA MELAKUKAN KEMBALI BERSIAPLAH UNTUK MENGHADAPI PENYESALAN.
THE END
Nama: Reka kurniawanAlamat: Rangkasbitung-Lebak-BantenTTL:Rangkasbitung, 20 juni 1995Sekolah: SMAN 3 RANGKASBITUNGAlamat facebook: ekha pinkboysz

Random Posts

  • Cerpen Sedih: CINTA DI AKHIR NADA

    CINTA DI AKHIR NADAOleh : Willy IrmawanMatahari mulai memanas dan keringat mengucur di dahiku. Masih empat lagu yang belum kubawakan , tapi ku tak sanggup lagi tuk berdiri. Akhirnya kupaksakan raga ini tuk menghibur ribuan orang. Dan akhirnya acara ini pun selesai sudah. Sampai di rumah , aku langsung terkulai lemas menunggu saat ku menutup mata . Akhirnya ku tertidur . Kicauan burung membangunkanku di pagi itu . Kurasakan cacing perutku berdemo ingin di beri makanan . Lalu ku berjalan selangkah demi selangkah menuju meja makan . Betapa terkejutnya aku melihat meja makan yang penuh dengan makanan . “Siapa yang memasaknya ?” tanyaku dalam hati . Tiba-tiba muncul sosok wanita berrambut panjang berbaju putih muncul di balik pintu dapur . Dan ternyata adalah kekasihku . Dia adalah Angel , wanita yang sangat kucintai . Penyabar , jujur , perhatian dan setia adalah sifatnya . Banyak lagu yang kuciptakan karena terinspirasi darinya . Dari bidadari yang hinggap dihatiku dan menjelma sebagai kekasih dalam hidupku .“ Sejak kapan kau disini ? ”, tanyaku“ Sejak kau masih tidur . ”, jawabnya dengan senyuman manis“ Mengapa kau tak bangunkanku ? ”, tanyaku“ Kulihat kau begitu lelah dan menikmati tidurmu . ”, jawabnyaKarena cacing perutku meronta-ronta , ku lahap roti keju yang ada di hadapanku . Angel melirikku dengan senyuman .“Lapar ya ?”, tanya Angel dengan nada manja .“Ho’oh”, jawabku dengan menganggukkan kepala . Sesaat kemudian , aku mendapat telepon dari produser untuk menghadiri meeting dengannya . Padahal di hari itu juga aku berjanji pada Angel untuk menemaninya pergi ke rumah orang tuanya di Bogor . Akhirnya rencana itu pun pupus sudah dan Angel tidak jadi pergi ke Bogor karena aku harus meeting dan menggarap project dengan produser . Aku pun berjanji pada Angel bahwa bulan depan aku akan menemaninya ke Bogor . Setiap malam aku menciptakan lagu untuk mempersiapkan album baruku yang akan dirilis bulan depan . Sehingga waktu luangku habis hanya untuk membuat lagu dan waktu untuk Angel menjadi terbengkelai . Setiap kali Angel mengajakku bertemu aku selalu mengelak dengan alasan pekerjaan . Tak terasa sudah tiga minggu aku tidak berjumpa dengan Angel . Rasa rindu tumbuh subur dihatiku . Tetapi saat aku bertemu dengan Angel , sifatnya sedikit agak berubah . Dia tampak pendiam dan lebih pasif . Tidak seperti biasanya yang periang dan murah senyum . Mungkin dia agak marah karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku . Hal itu tak kutanggapi dengan serius . Sehari sebelum launching album , produser mengadakan meeting dan diakhiri dengan check sound . Hari yang kutunggu akhirnya tiba . Aku berharap launching album ini berjalan seperti yang ku inginkan dan album yang ku garap meledak dipasaran . Di awal acara aku mendapat telepon dari Angel yang menagih janji untuk menemaninya pergi ke Bogor . Akhirnya kuputuskan agar Angel berangkat sendiri dan aku akan menyusulnya besok pagi . Tanpa jawaban , Angel langsung memutus telepon . Hal itu tak kutanggapi dengan serius . Dan acara ini pun berjalan sukses .Tiba-tiba ada kabar yang menyebutkan bahwa Angel telah mengalami kecelakaan lalu lintas . Aku pun langsung bergegas menuju rumah sakit . Tetapi kedatanganku sudah terlambat . Angel terlebih dahulu pergi sebelum aku datang . Air mataku jatuh terurai saat ku melihat sosok yang kucinta telah terbujur kaku di hadapanku . Wajahnya seolah tersenyum menyambut kedatanganku . Menyambut kedatangan orang yang tak punya mata hati . Kulihat secarik kertas di samping tubuh Angel yang ternyata adalah pesan terakhirnya . Dalam pesan itu Angel menulis tiga kata yang membuatku sangat menyesal . “ Kutunggu Kau Disana “ itulah pesan yang ditulis Angel sebelum ia pergi ke Bogor . Ternyata dia sudah merasakan apa yang akan dia alami .Mungkin , batu nisan pisahkan dunia kita , namun dirimu akan selalu ada di hidupku . Menemani dalam setiap detak jantung hingga merasuk dalam palung jiwa . Penyesalan yang selalu datang takkan membuatmu kembali . Namun kuyakin kau telah bahagia di singgasana surga . Maafkan aku Angel . *****========================================================Penulis : Willy IrmawanKelas : XI IPS 2 No Abs : 34========================================================

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 09 | Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih part 9. Oh ya All, admin sendiri juga bingung nih. Perasaan disetiap cerpennya admin selalu memulai dengan cuap cuap, tapi selalu aja setiap adminnya abis ngeposting ada inbox yang nanyain pertanyaan yang jawabannya jelas jelas dikasi tau duluan. Emang cuap cuapnya admin biasanya gak di baca yak? #tepokJidatAh satu lagi, pertanyaan yang sering muncul adalah. Kenapa postingan di sini gak langsung di post sekali lalu aja?. Ya ela, yang logis aja lah. Kalau di posting sekali lalu, Star Night otomatis nggak update lagi donk. Iya kan?Baiklah, berhubung cuap cuapnnya udah kebanyakan kita langsung ke cerpen aja ya. Untuk part sebelumnya bisa di cek disini.Ketika Cinta Harus Memilih“Cinta, loe kan belom jawab pertanyaan gue. Cisa itu siapa?. Kok dia bisa bareng sama Rangga sementara loe sendiri malah naik bus sendirian?” tanya kasih yang masih belum puas dengan jawaban atas pertanyaannya tadi.sebagian

  • Cerpen Romantis: HADIAH TERINDAH (bagian kedua)

    Cerpen Romantis yang berjudul Hadiah Terindah ini merupakan bagian kedua dari cerpen sebelumnya dengan judul yang sama. Untuk lebih memahami bagian kedua ini, sebaiknya baca dulu bagian pertama cerpen Hadiah Terindah.HADIAH TERINDAHOleh: Rizki NoviantiSetelah perpisahan terakhir dengan randy saat itu perasaan ku memang terasa sedih tak ada lagi yang membuat ku tersenyum, tertawa, membuat ku menangis.. tapi ku bulatkan hati untuk berusaha tegar menghadapi kehidupanku kini tanpanya jauh, hati ku membulat aku pergi bukan untuk selamanya aku hanya ingin mencari bahagia.Sebulan berlanjut kita tak saling bertemu atau bertatap muka bahkan hanya sekedar pesan singkat pun tak ada darinya, menyedihkan memang terasa dalam hati rasa sepi kadang menyelimuti perasaan ku tak jarang aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri apa yang sedang dia lakukan saat ini ?? bagaimana dengan keadaannya kini?? Aku hanya bernapas panjang tanpa tahu dirinya disana.Tak harus selalu bersedih atau terus meratap karna berada jauh darinya, ku mencari-cari kesibukan ku agar tak selalu terfikirkan akan bayangnya. beminggu-minggu, berbulan-bulan akhirnya 1 tahun berlalu ku tak bersama dengan nya lagi, tak bisa melihat senyumnya, mendengar suaranya, menatap matanya, bercanda gurau dengannya tak ku rasa lagi dengan segudang pekerjaan ku di sekolah.Liburan sekolah telah tiba bingung kemana untuk mengisinya. Satu tahun dengan pekerjaan yang melelahkan, ku putuskan untuk melepas penat sejenak di kampung, ingin menikmati pemandangan yang indah, udara sejuk, dan suara-suara yang membuat hati terasa damai. sibuk mengepak pakaian dan membereskan rumah tiba-tiba terdengar suara sms masuk di handphone, ku lihat siapa yang mengirimkan pesan dan ternyata tak ku sangka itu randy. Aku tersenyum.Setelah satu tahun tak pernah ada kabar darinya ku kira dia sudah melupakan aku ternyata tidak masih ingat saja nomor handphone ku.. tak percaya randy ingin mengajaku jalan-jalan di kampung.“hhahaha.. masih ingat saja dikau” kata ku.Ku berjanji besok lusa sudah berangkat ke kampung tak sabar rasanya ingin cepat-cepat. Hari yang ku tunggu sudah tiba dengan mengendarai sepeda motor ku tancap gas agar cepat-cepat sampai di kampung dan bertemu randy di sana. sampainya ku di rumah ternyata hari tak memungkinkan untuk ku dapat menemuinya tetapi randy terus mengirimkan pesan ku berharap semoga hari dapat berganti cerah, ku susuri jalan dimana randy berada meski lelah randy pun seperti ku.Rintik hujan mulai turun satu persatu butiran mutiara terjatuh serempak ku mulai kesal, marah ingin rasanya aku menangis saja “dimana dia saat ini ??” dalam hatiku berkata. dengan perasaan kecewa ku kirimkan pesan pada randy menyuruh nya untuk pulang saja aku tak ingin dia sakit hanya karna kehujanan untuk menunggu ku..Setibanya di rumah badanku menggigil kedinginan dan pakaian ku basah kuyup karna hujan, ku tarik selimut dan bergegas tidur randy mengirimkan pesan untuk minta maaf, tak ku hiraukan.“bodoh nya aku ..” kesal ku hanya dalam hati. saat malam randy menelefon ku.“hallo..” terdengar suaranya di balik telepon“kenapa dy..?” tanya ku ketus“ky maaf ya.. dah ninggalin kamu kehujanan tadi siang.. tapi besok bisakan?” tanya randy“yaa ga apa-apa lah.. besok ku gak janji”“emang nya kenapa?”“besok ada latihan basket, mungkin lusa atau aku gak tau?”“oh ya sudahlah..” Randy langsung memutuskan teleponnya..“dasar cowok aneh..sampai kapan siih dia akan terus bersikap dingin seperti itu.. sejak smp dia gak pernah berubah apa yang ada di dalam fikirannya aku gak pernah tau.. tapi kenapa ya banyak cewek-cewek yang menyukainya padahalkan jelas-jelas dia seperti itu mungkin karna ahhhhhh entah lah memikirkannya membuat ku pusing..!” cerita ku di buku diary..Setiap kali ku tuliskan keinginan ku di buku kecil itu pasti akan terwujud, tak ayal hanya sebuah buku kecil yang di dalamnya banyak sekali tulisan-tulisan tangan tentang cita-cita dan harapan ku.Suatu saat ku tuliskan keinginan jika suatu saat ku bertemu randy aku tak akan menjadi cewek tomboy, aku akan bersikap manis seperti perempuan lainnya yang dia kenal. berubah hanya untuk seseorang yang tak bisa jadi harapan hanya sebatas khayalan dan angan-angan yang selalu ada dalam otak dan fikiran ku selama 3 tahun ini.***Hari rabu 29 juni 2011 skitar pukul 01.00 hari yang cerah tak ada hambatan lagi saat ku ingin menemuinya. ku berjalan menyusur, ku lihat dari kejauhan wajah yang tak asing bagi ku, tersenyum manis saat dirinya menyapa dengan sepeda motor khas anak muda. melihat dirinya saat ini terasa berbeda apa karna 1 tahun tak penah berjumpa, semakin dewasa ku melihatnya. pertama kali berjumpa dengannya lagi dia malah meledek ku katanya aku jadi jerawatan “aghhhhhhtr menyebalkan dasar aneh” ketusku. tak apalah aku sadar sendiri punya jerawat. lets gelegot on the way menuju tempat tujuan only berdua aku dan randy. Senang nya.Sepanjang perjalanan kita banyak mengobrol, bercerita tentang sekolah kita, masa smp, teman-teman sekolah, banyak membuat ku tertawa dan kembali tersenyum seperti dulu.“ ya tuhan apakah ini hadiah terindah yang kau berikan pada ku saat ini. terima kasih atas semuanya aku sangat bahagia bisa berada bersama seseorang ku lagi” pejamkan mata dan berdoa.Sampai di tempat tujuan.. randy mengajak ku ke tempat yang indah yang tak penah ku bayangkan sebelum nya di atas bukit ku bisa melihat apa saja pemandangan yang indah.Jalan berdua seperti adik dan kakak karna randy yang sedikit lebih pendek dari ku hanya beda beberapa cm saja. terus saja dia meledek ku sejak awal pertama bertemu, aku yang takut ketinggian di paksa harus turun bukit mana harus lepas sendal segala.“haduuuuuuh” kata ku, randy tertawa puas sudah mengerjai ku tahu saja dia kalau aku takut ketinggian..“wiiidiiiw.. akhirnya nyampe juga. good job i like it” kata randy.“sesuatu dy.. puas loe yaa??” jawab ku kesal sambil memasang sandal ku sendiri.Sesekali dia memandang dan tersenyum pada ku, genggeman tangan nya serasa bukan dia yang ada di sampingku. ku rasa kan detik demi detik bersamanya, randy hanya diam saja tak berkata apapun tentang sesuatu, ku berharap dia akan katakan itu satu kali lagi ku ingin dengar dari ucapnya namun sayangnya tak ada yang terucap..“mirip shinta” kata nya spontan saat melihat ku.“haah?? Shinta yang mana?? Jangan bilang shinta temen smp??” tanya ku penasaran dengan nada sedikit ketus padanya.“ahh… gak apa-apa kok” randy gelagapan.“ihh nyebelin bgt sii” kesal ku dengan wajah menekuk.Aku heran kenapa dia sebut nama itu padahal yang ada di sampingnya hanya ada aku dengan spontan dia menyebutkan nama “shinta”.. agak kesal memang tapi aku tak ingin melewat kan hari ini dengan rasa kesal ku saja, bingung harus berkata apa lagi aku diam saja tak bicara apa-apa.Percaya kah ini hanya 30 menit kita bersama 30 menit kita menikmati pemandangan indah?? “huuuuph sangat menyedihkan” kata ku dalam hati.. aku hanya menggerutu saja di fikiran tak ku lampiaskan lewat ucapan.. waktu semakin cepat berlalu kenangan indah kan terlewati begitu saja. akhirnya kita akan benar-benar mengakhiri hari ini, sepanjang perjalanan pulang ku nikmati saat-saat berharga itu. sesekali dia memukul kaki ku.“sakit tauuu gak usah mukul-mukul kurang kerjaan” kata ku.“wiidiiw marah.. sorry” randy meledek.“pegel ahh, dari tadi jalannya belok-belok mana jauh lagi” aku menggerutu.“tapi gak menyesalkan??” katanya“iya lah gak salah” aku menaikan halis dan tersenyum.Setengah jalan pulang aku diam saja tak enak badan randy bertanya padaku“kenapa ky sakit??”“gak tau nii udaranya dingin banget” keluh ku.“yaudah pegangan ajja ya. disini tuu emang dingin tapi udaranya sejuk gak kayak di bandung ‘polusi’ bener gak??”“hmmm” jawab ku singkat..Semakin sore semakin dingin tak sadar tangan ku sudah melingkar di perutnya, randy juga tak berkata apa-apa. hangatnya, tempat sandarannya, aroma tubuhnya mengingatkan aku pada seseorang yang selalu mengajaku main basket setiap minggu. Sampai juga di tempat terakhir dekat rumahku, tak ku sangka secepat ini ku rasakan. sebelum aku benar-benar pergi randy menggenggam tanganku eraaaaaat dan dia berkata.“maaf bila ini tak cukup untuk membuat mu tersenyum lagi, membuat mu tertawa, namun melihat mu saat ini membuat aku sangat bahagia. jujur saja aku tak ingin kau pergi lagi tapi ku tau hati mu keras dan aku tau kau tak akan pernah bisa untuk melupakan aku begitu pun dengan aku.. thankz untuk hari ini!”ucapnya penuh haru.“kamu tau aku pergi bukan untuk selamanya, aku pasti akan kembali suatu saat nanti. aku tak bisa mengatur hidup mu untuk ku. mungkin sakarang baik nya kita hanya berteman karna aku takut tak bisa bertahan. thankz juga untuk hari ini..” timpal ku.Janji kita berdua tak akan saling melupakan meskipun jauh jarak diantara kita, jauh yang terpisah kan oleh waktu, jauh diantara kita tentang rasa yang tertinggal namun bagi ku randy akan selalu dekat.. dekat.. dan akan selalu dekat di dalam hati ku tlah ku ukir namanya.***Beberapa minggu kemudian perasaan ku agak sedikit mengganjal tentang randy, ku coba lihat status facebooknya ternyata.. “hoalaaaaah.. dia udah punya pacar lagi jangan bilang sama yang nama nya shinta itu.. nasib..nasib ditinggal patah hati lagi daah…” gerutu-gerutu dan terus menggerutu…!!!***NAMA :RIZKI NOVIANTIALAMAT :JLN.SOMA2 NO.26 BANDUNGFB :rizki_ccc@yahoo.co.idE_MAIL :purnamarizki16@yahoo.co.id

  • Cerpen Cinta Rasa Yang Tertinggal ~ 01 / 05

    Iseng lambai ke kamera sembari tebar senyuman. Ketemu lagi bareng admin. Kali ini muncul dengan cerpen cinta Rasa yang tertinggal. Cerpen kali ini terinspirasi dari salah satu lagu milik band indo yang emang admin suka lagu lagunya. Tepatnya Kangen band. Judul lagunya yang mana, yang mana aja boleh XD. So, biar nggak kebanyakan obrolan, kita langsung skip ke cerita aja ya. Happy reading.Credit Gambar : Ana Merya"Fan, loe mau kemana? langsung pulang kan?" tanya Alan masih dengan napas ngos – ngosan sehabis berlari. Begitu Pak budi meninggalkan kelas, ia memang langsung meluncur ke kelas Tifani. Sedikit kecewa begitu mendapati kelas sahabatnya itu telah kosong. Karena itu tanpa basa – basi ia langsung meluncur menuju keparkiran. Sesuai dugaan, temannya ada disana."Rencananya si gue pengen ngadain jumpa pers dulu. Ya maklum lah, gue kan artis yang lagi naik pohon," Tifani ngebanyol lengkap dengan gaya narsisnya. Lagian, hari gini orang emang kebanyakan suka gitu ya. Suka melemparkan pertanyaan padahal jawabannya sudah jelas."Lebay," cibir Alan sewot sambil menoyor kepala Tifani yang malah ngakak."Lagian loe, udah tau kalau gue biasanya juga langsung pulang ngapain si pake nanyain lagi?"Alan hanya nyegir mendengarnya. Sementara tangannya sibuk merogoh kedalam tas ransel, sibuk mencari -cari sesuatu. Seulas senyum terukir manis di sudut bibirnya ketika ia menemukan apa yang ia cari. Sebatang coklat yang langsung ia sodorkan tepat kewajah Tifany yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak geriknya."Buat gue?" tanya Tifany polos."Sembarangan," semprot Alan cepat. "Kayak nggak tau aja. Biasa. Ini tu titipan dari gue buat pujaan hati. Sekalian sampaikan padanya salam rindu penuh cinta Yang terbungkus dalam sebatang coklat," sambung Alan sok puitis. Tifany justru pasang pose mau muntah."Cinta kok cuma ngasi coklat. Bunga kek," cibirnya. Namun tak urung, coklat tersebut ia ambil juga."Memangnya Septia suka bunga?" tanya Alan yang tak sengaja mendengar cibirannya. Kalau di pikir Tifany bener juga. Cewek kan biasanya suka bunga. Tapi setelah searching di google, banyak juga yang suka coklat. Bahkan, gadis yang kini berdiri tepat di hadapannya adalah salah satunya."Yupz…." angguk Tifany mempertegas pendapatnya. "Apalagi bunga bank. Ah, Gue juga mau kalau gitu," sambungnya yang langsung di hadiahi jitakan di kepala."Sorry ya. Septia bukan loe, dia nggak matre," gerut Alan. "Dan asal loe tau aja dalam setiap batang coklat yang gue kirimkan selama ini terselipkan sejuta cinta yang gue punya," sambung pria itu dengan gaya nya yang khas. Khas lebay maksutnya.Mendengar itu Tifany. Sekaligus ia juga kesel karena kepalanya di jitak dengan semena – mena. Sambil mengusap – usap kepalanya mulutnya mengerutu "Tu coklat kan gue yang makan, pantesan aja gue makin cinta sama loe.""Apa?" tanya Alan karena Gumaman Tifany terlalu kecil untuk bisa ditangkap indra pendengaranya."Kereta Api yang udah lewat nggak bisa balik lagi," Tifany angkat bahu. Sementara Alan masih menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat."Lagian kalau loe emang naksir berat plus cinta hidup sama dia kenapa nggak ngomong langsung aja si?" tanya Tifany berusaha mengalihkan pembicaraan. Lagipula ia tidak berharap Alan mendengar gumamannya barusan. Toh, tidak ada gunanya. Tidak ada yang akan berubah.Kali ini Alan tersenyum. Matanya menatap kearah Tifany yang masih menantikan jawabannya. "Soalnya kalau kayak gini kan lebih romantis."Jawaban itu tak urung membuat Tifany kembali mencibir. "Wuek…. Loe bener – bener bikin gue mau muntah.""Ih, loe kok gitu si? Loe kan sahabat gue. Harus nya loe ngedukung gue donk buat dapatin dia. Secara gue udah bosen ngejomblo. Dan lagi…""Iya bawel. Udah deh, udah siang ini. Iya, ntar gue sampein. Sekarang gue cabut dulu," potong Tifani. Tanpa menunggu balasan ia segera mengayuh sepedanya menjauh, meninggalkan Alan yang masih berdiri di tempat.Sambil terus mengayuh, Tifany menghela nafas. Sebelah tangannya terangkat menyentuh dada kirinya yang terasa sesak. Sahabat?. Selalu begitu. Andaikan Alan tau rasa sakit yang selama ini Tifany rasakan ketika mendengar satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Karena sesungguhnya tifany menyukai Alan yang telah bersama dari semenjak 6 tahun yang lalu dan harus terpaksa menerima kenyataan kalau orang yang disukainya ternyata menyukai sahabatnya sendiri sejak dua bulan yang lalu. Septia. Seorang yang tidak sengaja ia kenalkan pada Alan saat Alan berkunjung ke kostannya.Dan ini lah rutinitasnya setiap hari. Kurir cokelat. Tapi Untunglah sampai saat ini rasa sakit itu masih bisa dan mampu ia tahan. Apalagi melihat rekasi cuek bin dingin Septia selama ini yang tidak pernah sekali pun menerima cokelat pemberian Alan sehingga selama ini selalu berakhir masuk kedalam perutnya.Setelah memarkir sepedanya, Tifany melangkah masuk kedalam rumah. Sepi, sepertinya penghuni kostan juga sedang pada keluar. Tangannya terulur memutar knop pintu nomor 7, tidak terkunci. Itu artinya, Septia, rekan sekamarnya ada di sana."Gue kan udah berulang – ulang – ulang – ulang kali bilang ke elo. Gue nggak mau coklat dari dia. Kenapa masih loe terima aja si?" gerut Septia penuh penekanan saat Tifani menyodorkan kiriman Alan tepat di depan wajahnya."Dan berulang – ulang kali juga gue bilang kalau Alan itu type orang yang sama sekali tidak menerima penolakan," balas Tifany tak kalah cuek.Septia memutar mata. Matanya masih menatap lurus kearah Tifany yang masih mengulurkan tangannya. "Ya udah, kalau gitu loe buang aja," saran Septia baru kemudian mengalihkan perhatiannya kearah novel yang sedari tadi ia baca sebelum kemuculan Tifany menganggu konsentrasinya."Jangan!!! Sayang donk," potong Tifany cepat."Hu…. Bilang aja kalau loe yang mau cokelatnya makanya loe nggak mau nolak pemberian Alan," cibir Septia. Diam diam gadis itu melirik kearah sahabatnya. "Bukan gitu. Gue cuma sayang aja kali. Makanan enak gini maen buang aja," Tifany membela diri."Sayang sama cokelatnya atau orangnya?" balas Septia sembari bergumam."Apa?" Tifany mengurungkan gerakan tangannya yang sedang meletakan mengantungkan tas ke dinding. Kepalanya menoleh kearah Septia. Tapi yang di tatap sama sekali tidak menoleh. Gadis itu malah terlihat tengelam dengan bacaannya. "Loe barusan ngomong apa Sep?" ulang Tifany lagi."No Ada bebek pake helm," Septia menjawab acuh tak acuh. Tatapan Tifany menyipit. Ia yakin tadi bukan itu kalimat yang Septia ucapkan."Oh ya, tadi gue ketemu kak Nara. Dia titip pesan sama gue, katanya kalau loe udah pulang loe di suruh kerumahnya," tambah Septia beberapa saat kemudian."Gue? Ada apa?" tanya Tifany sambil menunjuk wajahnya sendiri."Tau…" Septia angkat bahu. Ditutupnya buku yang ia baca. Matanya melirik kearah jam yang melingkar di tangan baru kemudian bangkit berdiri. Berjalan kearah meja rias di sudut kamar. Tangannya sibuk merapikan poni rambutnya yang sedikit berantakan. Tifany baru menyadari kalau penampilan gadis itu terlihat rapi. Siap mau keluar."Loe mau kemana?" Tanya Tifany heran."Ada deh. Mau tau aja. Udah gue cabut dulu ya. Da…" tanpa menunggu balasan dari Tifany, Septia sudah keburu menghilang di balik pintu. Meninggalkan sahabatnya yang masih heran dan penasaran akan rutinitanya setiap sore sejak dua minggu yang lalu."Hati – hati," teriak Tifany walau pun sosok sahabatnya sudah tidak terlihat. Tapi ia yakin suara cemprengnya masih mampu untuk ditangkap oleh indra pendengar Septia."Ia. Loe juga. Inget, mang Danang itu sudah punya istri. Jangan di godain aja. Ha ha ha," balasan Septia masih terdengar. Bahkan walau wujudnya sudah tidak terlihat, ia masih mampu melemparkan ledekan."Rese loe," balas Tifany sengaja berteriak. Sebagai balasan hanya suara tawa yang sama terdengar baru kemudian hilang. Kalau saja Septia masih ada di hadapannya pasti saat ini sendal sudah melayang kekepala. Heran, tuh anak suka iseng banget. Padahal ia juga sudah tau dengan pasti kalau Tifany hanya menyapa mang Danang, tukang kebun tetangga sebelah setiap pagi hanya karena kebetulan ia lewat pas disampingnya yang sedang menyiram bunga ataupun membersihkan kebun. Tapi tetap saja Septia selalu mengodanya. Emang dasar Kurang kerjaan tuh anak.Next to Cerpen cinta rasa yang tertinggal part 2.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_meryaPart : 01 Of 05Jumlah kata : 1. 179 WordsGenre : Remaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*