Cerpen Lucu Mis tulalit Part 5

Nulis berdasarkan pengalaman hidup itu emang lebih gampang. Selain bebas dari unsur plagiat, kita juga lebih bisa mendalamin sistem penulisannya.
Nah, karena alasan itu lah Cerpen Mis. Tulalit ini bisa tercipta. Ngandalkan hal konyol yang pernah di lakukan dulu di iringi imagi yang kemudian di kembangkan. Hasilnya, Taraaaaaa…. Baca langsung aja deh.

Mis tulalit
Liburan telah berlalu. April juga sudah kemabli pulang kerumannya. liburan di kampung neneknya benar-benar masih membekas di hati. Padahal Cuma dua minggu. Tapi eits, jangan salah. Itu Bukan karena indahnya, Tapi lebih mendekat pada ‘kesengsaraannya’.
Bayangkan, Hari hari awal di habiskan disawah membantu Nenek dan kakeknya Panen padi dengan berpanas ria. Terus tiga hari di rumah bibinya harus ikut memetik biji kopi dengan catatan digigit nyamuk, semut plus harus manjat-manjat udah persis kayak monyet. Dilajutkan dengan berpetualangan ke rumah pamannya dan diajak buat motong karet. Nah di sini baru ketemu monyet beneran. Soal deritanya jangan di tanya. Reader pasti sudah hapalkan. Sayang nya itu masih belum cukup. Masih harus di lanjutkan ke hutan mencari kayu bakar. Wukakaka…. Kebayang nggak seorang April yang imut, manis, Baek hati harus terjebak di hutan. Mending jangan di bayangin deh….
Untuk itu cerita April berlanjut ke petualangan yang selanjutnya. *sih bahasanya…*.
April juga sudah bersiap-siap mau bobo namun sebelum itu ia kembali memeriksa peralatan untuk 0PPS besok, karena besok hari pertama masuk kuliah, tapi ngax jadi di AMIK, April masuk ke Widya Informatika Selat Panjang aja.
Sepertinya sudah lengkap semua , untunglah tidak terlalu extrim. Topi dari karton warna abu-abu yang tingginya 25 cm berbentuk tabung plus kepangan raffia di tengahnya sebagai rambut, gelang tangan dan kaki yang juga dari tali raffia yang di belah tipis-tipis, potongan kain warna hitam, di tambah tali raffia sepanjang 2 m, yang di guna kan sebagai ikat pinggang juga sekalian sebagai gantungan cawan plastic yang harus ikut di bawa. 0h ya ada lagi yaitu 4 lembar kertas HVS, pena dan sebutir telur rebus yang di ukir sebagus mungkin. Tidak ketinggalan almameter yang di beri tali agar bisa di kalungkan di lehernya.
“Apa lagi ya?” April mencoba mengingat-ingat.
Kan nggax lucu kalau sampai ada yang lupa pada hal kan sudah di persiapkan dari seminggu yang lalu kecuali telur yang baru ia rebus tadi sore.
Setelah yakin semuanya sudah lengkap ia merebahkan tubuhnya di kasur. matanya menerawang langit-langit kamar. Angan nya melayang membayangkan kira-kira acara besok gimana ya??
Tiba-tiba April bangkit dari tempat tidurnya. Hampir saja ia lupa. Masih ada satu lagi yang balum ada. Yups, surat cinta buat kakak Pembina. He. He. He. Ada-ada saja.
April membuka bag tangannya dan mengambil sepucuk surat cinta yang masih kosong. Sedari tadi ia bingung mau ngisi apa. Padahal tadi siang ia sudah berkunjung ke rumah tetangga barunya, mbak Erni yang sekitar 4 tahun di atasnya buat minta tolong. Tapi bukannya di bantuin eh malah di ketawain. Mana waktu itu keluarganya lagi ngumpul semua. Bahkan ada adiknya mbak Erni yang cowok seumuran April yang selama liburan ini pulang ke rumah. Kebetulan dia sekolah nya di kota lain. April kan jadi malu.
Bukan hanya itu mbak erni bahkan malah minta April buat minta tolong langsung saja sama orang tua nya. Dia bilang kalau korespondensi kan sudah jadul, itu masa orang tua nya dulu jadi mereka pasti lebih berpengalaman. Kalau sekarang mah udah nggax jaman nya pake surat. Tapi pake SMS atau telepon. Bisa juga nemu nyatain cinta lewat facebook. Kalau nggax malah main tembak aja langsung. Bener kan?
Hal itu tentu saja membuat April cemberut. Masa orang tua suruh bikin surat cintanya. Udah nggak bantuin malah malu – maluin.
Tiba-tiba HP April berdering, terdengar lirik lagu ‘suka sama kamu’ nya d'bagindas yang membuyarkan lamunan April. Segera di raihnya ternyata dari Dewi yang mengingat kannya untuk pergi bareng besok di tunggu di dekat kolam raja telaga bening. Lagi pula April juga nggax tau di mana gedung tempat OPPS besok. Secara acaranya besok numpang di gedung SMA 2 yang halaman nya lebih luas.
Satu lagi April dan Dewi sudah nggax tetanggaan lagi, April sekeluarga pindah rumah, bahkan untuk menuju ke kampusnya harus nyebrang laut pake ‘pompong’.
April masih bingung tentang surat cintanya, sampai HP nya kembali berdering setelah di cek ternyata SMS yang sama. Mentang-mentang pake kartu AS dapat gratis 1000 SMS main send aja tuh anak, gerut April dalam hati.
Memang sih tu SMS belum di bales secara lagi nggax ada pulsanya nih, hanya tinggal 22 rupiah, rencananya besok mau di isi, maklum lah musim hujan….
Dan untuk ke tiga kalinya HP April kembali berdering dan ternyata masih SMS yang sama, jelas saja April kesel. Nggax tau apa orang lagi pusing bikin surat cinta, eh malah di gangguin mentang-mentang gratis. Saat SMS ke empat masuk, April diam kan saja bahkan sampai deringannya selesai, tiba-tiba ia dapat ide dari pada susah-susah ngarang surat cinta kenapa nggax lirik lagu itu aja yang ia tulis. He he he
April segera mengambil surat cintanya dan mengeluarkan pulpen dari dalam tasnya, diraih ponsel di mainkan lagu lewat media playernya dan ia pun mulai menulis.
Suka sama kamu
Hatiku berkata ingin katakana cinta
Namun aku malu untuk mengawalinya
Jantungku berdebar saat kau menatapku
Jadi salah tingkah bicara sama kamu
Bibirku terbungkam melihat senyummu
Aku tak kuasa saat di dekatmu
Sebenarnya aku ingin mengungkapkan rasa
Tapi mengapa aku selalu tak bisa
Bagaimana caranya agar dirimu bisa tau
Kalau aku suka-suka-suka
Suka sama kamu
April tersenyum sendiri.
“Akhirnya selesai juga” gumannya lirih. Di bagian akhir ia tidak menulis kan namanya. Ia hanya menggunakan inisial ‘A’.
Setelah malipat suratnya April bingung. Besok ni surat mau di tujukan kesiapa ya? Setelah mikir beberapa saat ia meraih kembali pulpennya dan menulis di amplopnya.
‘To kak harry Poter’
Sebenarnya April berniat memberi kan surat itu pada Pembina yang satunya. Yang menurutnya paling keren, apa lagi April ingat banget, waktu pertama kali datang ke WIDIYA untuk mendaftar, pembina yang satu ini yang paling ramah dengannya. Bahkan mengajaknya ngobrol. Pokoknya asyik deh.
Sayang April lupa nama samarannya di OPPS besok. Bahkan jujur saja nama aslinya dia juga nggax tau. Tapi bodo amet ah, yang penting surat cintanya kan udah selesai dan ia bisa segera merebahkan dirinya di kamar dengan tenang.
Eits tunggu dulu. Kok surat cinta nya buat kak harry potter? Apa karena dia bener naksir sama tu orang? Oh tentu saja tidak.
Alasannya: Pertama karena tu orang satu-satunya yang masih dia inggat namanya. Eh, Mbax nia juga ingat sih. Tapi kan dia cewek. Masa cewek ngasih suratnya ke cewek juga sih?
Ke dua : Karena Harry Potter itu film hollywood favorit Penulis . Bahkan penulis pernah uring – uringan gara – gara Batal nonton tu film padahal udah di tunggu selama seminggu. Giliran pas di tayangin di tv, Eh malah PLN mati. *Plaks/Malah curhat*.
Tepat pukul 04:00 April sudah di bangunkan oleh mamanya karena ia memang harus berangkat pagi. Setelah mencuci mukanya di kran, April kedapur menyalakan kompor untuk masak air buat merebus mie instan. Setelah semuanya selesai , April melirik jam tangannya. Baru jam empat lewat sedikit. Ia bengong yang membuat ayam tetangga pada mati.Mau tidur lagi nanggung, mau ngobor (???) ih males banget mana dingin lagi trus ntar OPPS . Cape kali bo…
Akhirnya April menyalakan TV sambil nunggu subuh , tadinya mau ol sih, tapi lagi nggax ada pulsa. Rau kan tinggal 22 rupiah, mau beli modem. Percuma di'bokor' jaringan nggak da. Lagipula nggak ada duit. ahahihihi…
Lagi asyik nonton terdengar suara mamanya yang mengingatkannya untuk mandi katanya mau berangkat jam lima, April mematikan TV dan segera menuju ke kamar mandi, beneran mandi jam 04:30 lho… untung lah airnya lagi nggax bercampur sama es batu. Biasanya kan dinging bangeet.
Selesai mandi langsung solat subuh, do’a bentar minta sama Allah biar hari ini nggax di kasi Pembina yang sadis . Selesai sholat langsung siap-siap baju putih, celana hitam, pake sepatu. Rambut?? Ia ikat ekor kuda di kasi pita warna pink (permintaan pembinannya bukan sponsor) Kemudian April mengambil semua prabotannya yang harus ia bawa.
Tidak lupa ia menyambar mukena dan memasukkannya kedalam tas. Sementara sang mama sudah berkicau memintanya untuk lekas karena hari ini mama yang akan mengantarkannya.
April melirik jam tangannya, belum juga ada jam lima.
“Pril buruan donk” teriakan mama terdengar lagi dan ini adalah teriakan kelima di pagi ini.
“Oa ma, lagi pake sepatu” balas April “Bawel banget” gumannya lagi.
“Lelet amet sih. Keburu siang nih, mama kan masih mau norget(???)”
“Ia ma, ini udah beres” April muncul di ambang pintu, udah rapi pastinya. Wangi juga.
Ini pertama kalinya April pergi di bagi buta, di perjalanan HP nya kembali berdering tanda telp masuk. Ternyata dari Sanah, temennya yang juga dari seberang yang bilang kalau dia harusnya bareng terpaksa pergi duluan karena ada peralatan yang masih harus ia cari, jelas April kalang kabut secara dia nggax tau nanti dia harus naik pompong yang mana. Mana belom pernah, trus sendirian lagi cape bo…
Tapi Sanah bilang nggax usah khawatir bin cemas, nanti tinggal beli tiketnya trus ikuti petunjuknya. Di kira mau regisrasi kartu kali ya!?
Iya deh, April terpaksa manut, habis mau gi mana lagi. Begitu sampai ia langsung menuju loket untuk beli tiket, harganya 3. 500 perak, uang lima ribu di kembalikan 1. 500 langsung ia masuk kan ke dalam sakunya.
Setelah tiket di tangannya, April duduk di bangku kosong yang sudah di sediakan. Tangan nya merogoh sakunya, mencari HP , beberapa menit telah berlalu. April malah keasyikan main game sampai ada yang orang yang mengagetkannya dengan mengatakan kalau pompong nya sudah mau berangkat.
What!?.
Tanpa Ba… Bi… Bu… April langsung meraih tasnya, wah gila ternyata beneran. Talinya udah di lepas, Itu artinya pompong sudah siap mau berangkat. April lari mengejarnya sambil teriak-teriak nggax kenceng alias lirih. Abiskan malu juga kalau harus treak kenceng – kenceng.
Hobi nonton Filem korea nggak. Atau pernah nonton BBF Pas jandi ngejar – ngerjar jun pyo?. Atau baca ff i'm not cinderelanya ocha syamsuri waktu kyuhyun mengejar Eunhye?. Atau waktu donghae mengejar Gaeul di ff nya haega story?. *Maklum, Penulisnya lagi demam sama sesuatu yang berbau korea. *Plak/curhat lagi*
Tapi apa hubunggannya??? Jadi gini, Ni scean udah persis kayak yang diatas cuma bedanya. Low yang tadi di ceritain itu kan pelakon utama mengejar mengerjar sang kekasih hidup-hidupan. La ini April. Asli yang di kejar pompongnya. (ha ha ha kasihan deh loe…. Lebay)
Sialnya lagi, April harus melewati empat pompong yang antri di sana baru bisa sampai. Akhirnya dengan segenap pengorbanan yang berdarah-darah (cie elah segitunya…) April bisa juga melewatinya… Cuma agak telat dan akibatnya, ya itu tadi, tu pompong udah terlanjur berangkat. Oh no… hiks hiks
April mulai panik. Sms dari Dedew alias Dewi juga datang. Dia bilang dia sudah sampai di kolam raja telaga bening. April harus buruan kalau mau ikutan nebeng secara ntar kenadaraannya juga mau di pakai sama bokapnya. Bahkan saat ini Dewi juga di antar oleh kakaknya.
April Be-Te gimana bisa cepet mang nya harus berenang apa?. Ia buru-buru meraih ponselnya kembali. Mencet-mencet tombol, begitu ketemu nomor Sanah, langsung kirim call me, Wuakakakak.
“San, gimana donk, pompongnya udah keburu berangkat nih” April langsung nyolot begitu Sanah menelponnya.
“Yah, kok bisa?”
“Tau, terus gimana donk?” April makin panik mana udah semakin siang lagi.
“Loe tenang aja, jangan panik dulu. Ya udah mending loe naik bout aja. Abis kalau nunggu trip selanjutnya bisa sejam loe nunggu” terang Sanah.
“Ha?!” April kaget “Naik bout?”
Itu artinya ia harus kembali melewati keempat pompong yang antri itu lagi. Tapi bukan Cuma itu masalahnya kalau naik bout itu artinya ia harus bayar lagi, lima ribu pula tu. Argh, nggak rela!.
Untunglah tak lama kemudian ada pompong seribu-seribu. Maksudnya kalau mau numpang harus nambah seribu. Nggax papalah, tekor seribu yang penting selamat yang 4000. Ahihihihi.
Kali ini April tidak perlu perjuangan lagi karena kebetulan pompong yang mau berangkat adalah yang lagi di dudukinya begitu pompong mulai berjalan, April sudah bisa tersenyum lega. Tapi itu tidak berlangsung lama begitu ia melihat ponselnya yang kembali berdering. Ternyata SMS dari Dewi yang masuk.
“April, buruan, mana sih kok belom nongol juga”
April panik setelah selesai membaca tulisan dilayar. Tapi bukan SMS itu yang bikin ia panik malainkan jam yang terletak di sudut layar sudah menunjukkan ke setengah tujuh habis kelamaan nunggu pompong sih tadi.
“Duh gimana donk…? bisa-bisa telat nih April nyampenya” gumannya lirih.
HP April kembali berdering kali ini bukan Cuma SMS tapi langsung telp. Sebel juga kali tu anak SMS dari kemaren di cuekin mulu.
“Pril loe dimana sih?” tanya Dewi begitu April ngomong ‘hallo’
“Masih di tengah laut nih” balas April.
“Ha?! Ikan donk” ledek Dewi kaget.
“Ia. Putri duyung malah” April sewot.
“Gue seriuz nih”
“Dikira April lagi bercanda kali ya? Beneran ini tu udah di tengah laut. Soalnya dari tadi nungguin pompong lama banget” terang April.
“Bilang kek dari tadi. Pantesan berisik banget. Lagian kenapa sih SMS gue nggax di bales-bales?”
“He he he… sorry coy, lagi boke’ nie, 0h ya kakak loe masih jualan pulsa kan? Bilang donk ma dia, tolong isikan ke no April, ntar April bayarnya sama loe aja”
“Gila. Miskin banget sih loe?” ledek Dewi.
“Biarin”
“Terus gimana nih loe masih lama ya? Kakak gue udah mulai bawel nih. Soalnya habis ini dia masih harus kekantor.”
“Ya lumayan nih.”
“Jadi gimana donk?” Dewi serba salah.
“Ya udah lah gini aja, mending loe berangkat aja dulu ma kakak loe. Ntar biar April nyusul belakangan aja” April ngalah.
“Beneran nih loe nggax papa gue tinggal?”
“Keberatan sih sebenernya, tapi ya udah lah nggax papa. Ntar biar April naik becak aja”
“Sorry banget ya, gue duluan.”
“It's 0k” April tersenyum kecut.
Akhirnya April sedikit berbaik hati. Ia menyuruh temannya untuk berangkat duluan biar nanti kalau telat, April doang yang kena hukum (tumben nie anak baik…) padahalkan dia sendiri nggax tau gudang SMA 2 nya terletak dimana. HAdeeee
Begitu naik dari pompong, April langsung calling Sanah. Habis dia bingung mau kemana. Eh ternyata si Sanah udah sampai di aula. Kelupaan kalau April masih di belakang.
“Jadi gue harus gimana donk?” April mulai panik padahalkan sekarang sudah jam 06: 52, masuk kan jam 07:00.
“Kalau gitu loe harus naik becak biar cepet. Sorry tadi gue kelupaan kalau loe masih di belakang”
“Dasar tega ya loe. Mentang-mentang badan April kecil”
“Ya sekali lagi sorry pril. Tadi gue beneran lupa” Sanah marasa bersalah.
Aduh… April beneran bingung, dia bener-bener panik . Tanya orang juga pada nggax tau. Aneh deh, kayaknya banyak orang awam.
Waktu lagi mau nyari becak, sepasang matanya nggax sengaja nemu orang yang pakaiannya sama kayak dia. Item, putih. Dia juga kayaknya lagi buru-buru.
Akhirnya tanpa pikir panjang, April langsung menghampirinya.
“Mbak, mau OPPS di SMA juga ya? Bareng ya mbak?”
Yang di tanya hanya menoleh kearah April “Boleh…” balasnya kemudian.
“0kelah, bagus. April sekarang ada temennya. Telat dikit juga nggax papalah ” batin April dalam hati.
Tuh Embak embak dan temennya ternyata nunggu di ‘halte’ (istilah lain buat tempat parkir bis sembarangan) lho?! April jadi bingung bukannya kata Sanah bilang naik becak ya? Tapi kok…? 0h, mungkin naik bis bisa lebih cepet sampai kali ya??.
Di ‘halte’ ternyata udah ada beberapa anak yang berpakaian serupa. Bedannya Cuma April doank yang pake pita pink di rambutnya. Mereka lagi ngobrol dengan santai sambil nungguin bis.
April heran “Tapi kayaknya di sini Cuma April deh yang panik. Mereka kayaknya santai-santai aja. Apa Cuma perasaan April doank?”
Akhirnya April ngomong sama si mbak-mbak yang tidak ia ketahui namanya.
“Mbak, bukannya nanti kalau kita telat bakal di hukum ya?”
Eh si embak bukannya mawas diri, malah nyengir doank. Trus dia ngasi tau informasi April ketemennya
“Tenang, nyantai aja lagi. Baru juga jam segini” ujar nya sambil melirik jam tangannya. Pukul tujuh kurang lima menit.
Huh, aneh deh mereka nggax da paniknya dikit. Padahal April udah seperti kambing kebakaran jenggot.
Tak lama kemudain dari arah berlawanan. Lewatlah sebuah bis warna putih. Si mbak langsung nunjuk.
“Tuh, bisnya kosong. Kenapa nggax muter aja kesini?”.
Mungkin dia ngomong ma a’a nya kali ya, tapi karena April ikutan denger langsung aja dia nyolot.
“Mbak, naik bis bayarnya berapa?”
Tau nih April, suka ganggu aja deh. Udah tau orang lagi berduaan dia main ngikutin sembarangan. Pake sok-sokan ngajak ngobrol segala lagi.
“Nggax bayar kok, gratis” si mbak nya menjawab.
April langsung seneng donk. Dalam hati ia berguman “Wah di daerah ini bis pun gratis. Salut deh”
Tak lama kemudian si mbak mulai nanya “Emangnya nggax pernah naik bis itu ya?”
“Enggak. Kan ini baru mau pertama kali ke SMA, kemaren kan ndaftarnya di kampus” terang April.
“0…0h, emang biasanya lewat mana?” tanya si mbak lagi.
“Biasanya sih lewat Jl. Tengku Umar”
“He?!…” si mbak bingung “emang bisa ya? Naik apa?” sambungnya lagi.
Karena biasanya bis yang biasa di tumpangin khusus di sediakan oleh pihak kampus Cuma parkir di sini nggax jauh dari pelabuhan, kalau nggax ya di taman atau kolam raja telaga bening. Selain dari ketiga tempat itu mana ada ‘halte-halte’ nyasar lagi.
“Jalan kaki. Lagian kan nggax jauh. Cuma deket kok” balas April.
Si mbak terlihat makin bingung. Tapi dia nggax comment apa-apa lagi.
Pembicaraan berhenti sejenak. April masih ngeliatin ujung jalan. Nungguin tu bis yang belum nongol. Sampai kemudian si mbak nanya lagi “Emang ngambil jurusan apa?”
“Akutansi, kalau mbak?” April balik nanya. Kebiasaan deh.
“0. Kalau gue ngambil jurusan TK”
“TK?” April kaget.
“Teknik komputer” terang nya. Mungkin dia nyadar kekagetan April. Di kira TK ‘taman kanak-kanak’ lagi.
“Teknik komputer… kirain…” gumannya lirih tapi kemudian “Tunggu dulu, TK? emang ada jurusan itu ya. Bukannya ‘IK’ alias ilmu komputer?” kata April lagi setelah mikir-mikir beberapa saat.
“Ya adalah. Kok LK sih, beneran TK kok. Ia kan Kak? “ ujar si embak sambil melirik cowok yang di sampingnya minta penegasan.
“He’eh” balasnya sambil menganggukan kepala.
Lalu terjadilah pembicaraan yang mulai menyadarkan April, ada yang aneh. Iya, bener.
Karena adanya keanehan itu, April nanya lagi “Embak ngambil jurusan TK emang di kampus mana?”.
Dan si embak menjawab “Gue ngambil jurusan TK di kampus AMIK”
HAAAAAAAAAH!!!.Kampus AMIK?? Jadi dari tadi April ngekorin anak AMIK???
MAMMPUSSS…!!!!!!!!!
To Be Continue…
Sambil ngetik cerpen Mis Tulalit ini sambil bayangin masa lalu. Ya ela, ternyata dulu itu konyol bangets ya. Sama kacau juga. Ck ck ck
Oke lah, lanjut di part selanjutnya aja. Oh ya, sekedar info, untuk updatean selanjutnya bisa di ikuti dari sini.

Random Posts

  • Cerpen Cinta Sedih: Sebening Cinta Embun

    Sebening Cinta EmbunOleh: Novie An-Nuril KhiyarEmbun. Aku memanggilnya embun. Titik – titik air yg jatuh dari langit di malam hari dan berada di atas dedaunan hijau yang membuatku damai berada di taman ini, seperti damai nya hatiku saat berada disamping wanita yang sangat aku kagumi, embun.“ngapain diam di situ, ayo sini rei…” teriakan embun yang memecahkan lamunanku. Aku lalu menghampirinya, dan tersenyum manis dihadapan nya.“gimana kabarmu embun?”“seperti yang kamu lihat, tak ada kemajuan. Obat hanyalah media yang bertujuan memperparah keadaanku. Dan lihat saja saat ini, aku masih terbaring lemah dirumah sakit kan?”, Keluhnya.“obat bukan memperparah keadaanmu, tapi mencegah rasa sakitnya. Embun,, kamu harus optimis ya”.“hei rei, aku selalu optimis. Kamu nya aja yang cengeng. Kalo jenguk aku pasti kamu mau nangis,, iya kan? Udahlah rei,,, aku udah terima semua yang di takdirkan Tuhan,, dan saatnya aku untuk menjalaninya, kamu jgn khawatir, aku baik-baik aja kok”. Benar kata embun, aku selalu ingin menangis ketika melihat keadaannya. Lelaki setegar apapun, pasti akan sedih melihat keadaannya, termasuk aku.***Sudah 2 minggu tak kutemui senyum embun di sekolah. Sangat sepi yang aku rasakan. Orang yang aku cintai sedang bertaruh nyawa melawan kanker otak yang telah merusak sebagian hidupnya. Apa? Cinta? Apakah benar aku mencintainya??? Entahlah,, aku hanya merasakan sakit di saat melihat dia seperti ini. ya Tuhan, izinkan aku menggantikan posisinya. Aku tak ingin melihat wanita yang aku sayangi terbaring lemah di sana. Tolong izinkan aku.Seperti biasa, aku menyempatkan diri setelah pulang sekolah untuk pergi menjenguk embun di rumah sakit.“hai embun,, bagaimana kabarmu?”“sudah merasa lebih baik di bandingkan hari kemarin. Gimana keadaan sekolah kita?”“baik juga. Cuma… ada sedikit keganjalan.”“keganjalan apa rei?”“karena di sana tak kutemukan senyummu embun….”“ada ada aja kamu rei,,, hahaha. O iya, kata dokter, besok aku udah di izinin pulang lho. Aku senang banget. Kamu bisa kan jemput aku di sini”.“apa? Serius?” tanyaku kaget dan senang juga.“sejak kapan aku bisa bohong sama kamu. Aku serius reivan algibran. Hehehhe”.“gak perlu sebut nama lengkapku embun azzula,, aku percaya kok”. Senang sekali bisa melihat senyum dan tawamu embun,,, bathinku.***Waktu terasa cepat berlalu, karena sekarang aku sudah berada tepat di depan pintu kamar embun. Aku mengetuknya dan…” pagi embun,,”“pagi juga reivan,, gimana, kamu dah siapkan antar aku kemanapun aku mau…?”“siap tuan putri,, aku selalu siap mengantarmu kemanapun engkau mau. Heheheh”“ok,, sekarang aku pengen ke taman. Tempat kita pertama kali bertemu rei,, kamu bisa antar aku ke sana kan?”.“siip, berangkat”.Taman ini menjadi tempat favorit kami. Sedih, suka, marah akan kami lontarkan di tempat ini. Tempat yang penuh dengan bunga-bunga yang kami tanam dari nol. Ya, taman ini karya kami. Taman yg terletak tepat di belakang gedung sekolah. 1 petak tanah yg tak pernah tersentuh oleh tangan manusia, ntah apa alasan mereka. Tanah yg tandus, bunga yg layu telah kami sulap menjadi taman cinta yang begitu indah, yang di tumbuhi bunga2 kesukaan kami. Sejak embun di rawat di rumah sakit, aku tak pernah mengunjungi taman ini, walaupun dekat dengan sekolahku.“rei, kenapa semua bunga di sini layu,, apakah tak pernah kamu rawat?”. Tanyanya. Apa yang harus aku jawab,, aku tau, dia pasti marah.“mereka layu karena tak ada embun di sini”. jawabku seadanya.“embun? Bukannya tiap pagi selalu ada embun yg membasahinya?”“tak ada yg lebih berarti selain embun azzula bagi tanaman ini, termasuk aku”. Jelasku yg membuat dia terdiam sesaat.“maksud kamu?”, dia menatapku dalam.“tak ada,, mereka cuma butuh embun azzula yg merawatnya, bukan embun biasa dan aku. Mereka kesepian, karena sudah 2 minggu tak melihat senyum dan tawamu embun”.“ya, aku menyadarinya itu. Sahabat,,, maafin embun ya,,, maaf selama ini embun gak bisa merawat sahabat serutin kemarin. Itu karena kesehatan embun yg semakin berkurang. Dulu embun bisa berdiri sendiri, sekarang embun harus menggunakan tongkat, kursi roda dan bahkan teman. Teman seperti rei, yg bisa memapah embun. Thanks y rei..”“eh,, ii iya, iya embun, sama sama.”Sudah seharian kami di sini,, tanpa di sadari embun terlelap di pangkuanku. Menetes airmataku ketika melihat semua perubahan fisik yg terjadi padanya. Wajahnya yg pucat, tubuhnya yg semakin kurus, dan rambutnya yg semakin menipis, membuat aku kasihan. Kenapa harus embun yg mengalaminya? Tapi aku juga salut, tak pernah ada airmata di wajahnya. Dia sangat menghargai cobaan yg diberikan Tuhan kepadanya, dia selalu tersenyum, walaupun sebenarnya aku tau, ada kesedihan dibalik senyum itu.“rei…” desahnya“ia embun. Kamu dah bangun ya? Kita pulang sekarang yuk,,, “ ajakku ketika dia sadar dari mimpinya.“aku mau di sini terus rei,, kamu mau kan nemenin aku. Aku mau menunggu embun datang membasahi tubuhku. Sudah lama sekali aku tak merasakannya”.“tapi angin malam gak baik buat kesehatan kamu”.“aku tau, tapi untuk terakhir kali nya rei,,, pliss…”.“maksud kamu apa? Aku gak mau dengar kalimat itu lagi”.“gak ada maksud apa-apa,,, kita gak tau takdir kan. Dah ah,, kalo kamu gak mau nemenin aku, gak apa-apa. Aku bisa sendiri”.“gak mungkin aku gak nemenin kamu embun,, percayalah… aku akan selalu ada untukmu”.“ gitu dong,, itu baru sahabat aku.” Ucapnya sambil melihat bunga-bunga di sekelilingnya.“embun…”“ya,,,”“kamu suka dengan embun?”“sangat. Aku sangat menyukainya. Embun itu bening, sangat bening. Dan bening itu menyimpan sejuta kesucian. Aku ingin seperti embun, bening dan suci. Menurutmu bagaimana?”“aku juga mencintai embun. Mencintai embun sejak mengenal embun”.“rei, kamu tau… aku ingin seperti embun. Embun yang bisa hadir dan memberi suasana beda di pagi hari. Embun yg selalu di sambut kedatangannya oleh tumbuhan”.“kamu sudah menjadi embun yg kamu inginkan.”“maksudmu?”“tak ada”.Aku sengaja merahasiakan perasaanku terhadapnya. Karena aku tau, tak ada kata “ya” saat aku menyatakan perasaanku nanti. dia tak mau pacaran, dan dia benci seorang kekasih, ntah apa alasannya.Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Embun pun terlelap kelelahan di sampingku.“embun,,,, embun,,,,,, bangun embun,, sekarang sudah pagi. Katanya mau melihat embun, ayo bangun” pujukku,, tapi tak kudengarkan sahutan darinya.“ayolah embun, bangun. Jangan terlelap terlalu lama…” aku mulai resah, apa yg terjadi. Kurasakan dingin tubuhnya, tapi aku menepis fikiran negatif ku. Mungkin saja dingin ini berasal dari embun pagi.“embun sayang,, ayo bangun. Jangan buat aku khawatir”. Lagi lagi tak kudengarkan sahutannya. Tubuhnya pucat, dingin, kaku,,. Aku mencoba membawanya kerumah sakit dengan usahaku sendiri. Dan,,, “ kami sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Embun sudah menghadap sang pencipta” itulah kata-kata dokter yg memeriksa embun yg membuat aku bagai tersambar petir. Aku lemah, jatuh, dan merasa bersalah. Kalau tak karena aku yang mengajaknya ke taman, mungkin tak kan seperti ini. Ya Tuhan, kenapa ini terjadi… aku tak sanggup.***Beberapa bulan kemudian….Aku temui surat berwarna biru dan ada gambar embun di surat itu.Teruntuk reivan alghibranEmbun…Titik titik air bening yg jatuh dari langitDan membasahi kelopak bunga yg aku sukai.Aku ingin seperti embun, yg bisa hadir di hati orangYg menyayanginya. Tapi aku tak menemui siapa orang itu???Rei … makasih ya, dalam waktu terakhirku, kamu bisa menjadi embun di hatiku. Dan tak kan pernah aku lupakan itu. Rei,, maaf kalau sebenarnya aku suka sama kamu. Aku sengaja tak mengungkapkannya, karena aku tau.. sahabat lebih berharga di banding kekasih.O ia rei,,, tolong rawat taman kita ya,, aku gak mau dia layu karena tak ada yg memperhatikannya lagi. Karena taman itu adalah tempat pertemuan kita pertama dan terakhir kalinya.sekali lagi,, makasih dah jadi embun selama aku hidup dan tolong,, jadiin aku embun di hatimu ….salam manis… embun azzula.“Embun,,,kamu tau, pertama aku kenal kamu, kamu telah menjadi embun dihidupku, yang menyejukkan hatiku. Dan kamu adalah butiran bening yang selalu buat aku tersenyum, seperti embun yang selalu buatmu tersenyum.Taman ini, bukan aku yg akan merawatnya, tapi kita. Dan taman ini tak akan pernah mati, karena kamu selalu ada di sini, di sini rumah mu.” Kalimat terakhirku ketika meletakkan setangkai bunga mawar yg aku ambil dari taman di atas pusaranya. Pusara yg terletak di tengah-tengah taman embun. Dan kunamai taman itu dengan nama EMBUN. embun.. yang tak kan pernah mati…the endFb : Novie An-Nuril Khiyartwitt : @noviepurple19

  • Ketika cinta harus memilih ~ 10 | Cerpen Cinta

    Ketika cinta harus memilih part 10. Masih tersisa 6 part lagi sebelum ketemu sama yang namanya part ending. ^_^ . Ayo silahkan pada maen tebak tebakan ni cerita mau di bawa kemana. He he heOkelah, adminnya juga lagi nggak napsu (???) ni buat ngeblog, so cuap cuapnnya segitu aja yak. Mending langsung di baca aja kelanjutannya ceritannya. And buat yang belum baca part sebelumnya bisa di cek disini.*** Ketika cinta harus memilih ***Silaunya sinar mentari yang masuk dari jendela menyadarkan Cinta dari tidurnya. Dikerjap –kerjapkan matanya untuk sejenak sebelum kemudian bangkit duduk. Matanya menatap kesekeliling. Merasa sedikit aneh menyadari bahwa ini bukan kamarnya.sebagian

  • LOGIKA CINTA

    SEKAPUR SIRIH Puji dan syukur kami panjatkan kepada Illahi Robbi. Karena dengan Rahmat-Nya lah kami dapat berkarya dengan penuh penghayatan dalam novel ini. Tak lupa kami berterimakasih kepada pihak yang telah membantu terciptanya novel ini.Cerita dalam novel ini bukan berdasarkan fakta, hanyalah fiktif belaka. Kami yang berimajinasi. Namun jika terjadi kemiripan dengan ceita ini yang terjadi di kehidupan sehari-hari, itu memang kenyataan. Tidak ada unsur rekayasa.Kami sadari bahwa novel ini jauh dari kesempurnaan. Banyak terjadi kekuarangan dan kesalahan di sana sini. Oleh karena itu, kami memerlukan kritik dan saran yang membangun. Penulis: Neng Fitri RahayuMalam yang indah ini, dua sejoli yang saling mencintai bersama dalam gemerlapnya pergantian tahun. Rafles dan Astrid pergi ke pantai untuk menyaksikan pesta kembang api acara tahun baruan. Ditengah keramaian, tiba-tiba Astrid ingin ke toilet.“Sayang, Astrid ke toilet dulu yach!” kata Astrid“Aku anter?” Tanya Rafles“Iya dong sayang” kata AstridMereka menuju toilet umum. Ketika Astrid berada di dalam ruangan, Rafles mendengar ada wanita yang berteriak minta tolong.“Tolong… tas saya dijambret” Teriak permpuan ituRafles langsung menghampiri perempuan itu.“Ada apa nona?” Tanya Rafles“Tas saya dijambret!” Perempuan itu panik“Biar saya yang kejar” kata RaflesRafles berhasil mengejar penjambret dan mengembalikan tas nona jelita itu.“Makasih banget yah! Kalo ga ada mas, tas saya melayang” perempuan itu tersipu maluRafles beranjak namun perempuan itu memanggil.“Mas…” teriak perempuan ituRafles menoleh.“Ini kartu nama saya. Jadi kalo ada perlu sama saya, hubungi saya. Saya siap membantu. Karena saya berhutang budi pada anda.” Kata perempuan itu“OK” kata RaflesSementara itu, Astrid mencari Rafles. Ia khawatir pada kekasih yang dicintainya itu. Maklum, mereka sudah menjalani hubungan itu selama 5 tahun. Tiba-tiba Rafles berada di depan matanya.“Ih, Rafles kemana aja sich… Astrid kan takut kehilangan kamu” kata Astrid“Tenang sayang, hati aku cuma ada buat kamu” kata Rafles merayu“Sebel deh. Dasar satria Gombal” kata Astrid“Ya udah, acara akan segera dimulai. Kesana yuk!” ajak RaflesPada acara itu, Astrid sepertinya memohon sesuatu. Yaitu pengharapan untuk tahun 2011.“Ya Tuhan, aku ingin….” Kata kata Astrid terpotong oleh ucapan Rafles“Rasfa Kania….” Kata Rafles membaca kartu nama perempuan yang ia tolong tadi.“Rafles, siapa Rasfa?” Tanya Astrid dengan wajah ketakutan.“Tadi aku nolong perempuan yang tasnya dijambret. Terus dia ngasih kartu nama ini.” Kata Rafles berusaha jujur.“Oh, kirain pacar baru kamu. Sayang tau ga? 6 bulan lagi Astrid mau di kuliahin sama bunda di Amerika.” Kata Astrid“Yach, jauh donk” kata Rafles“Kan ada telfon.” Kata Astrid.***Waktu bergulir begitu cepat secepat kecepatan cahaya. Hari ini Rafles mengantarkan Astrid ke Airport. Mereka sudah sepakat untuk saling setia dan menjaga cinta mereka agar tetap abadi sampai mereka menikah nanti.“Aku sayang kamu, cinta!” Kata Rafles“Aku juga” Kata RaflesMereka berdua meneteskan air mata. Betapa besar cinta mereka.Rafles pulang ke rumahnya. Namun karena pikiran yang kacau setelah menyaksikan perginya sang kekasih, ia menabrak seorang wanita yang sedang menyeberang. Perempuan itu dibawanya ke rumah sakit. Perempuan itu koma. Suatu ketika, Rafles menatap wajah yang menurutnya familiar.“Rasfa?” Rafles tersentak ketika melihat paras wanita molek yang terbaring koma di depannya.Setelah sembuh dari komanya, Rafles megantarkan Rasfa ke rumahnya dan menjelaskan kepada keluarganya. Semenjak itu, Rafles jadi sering mengunjungi rumah Rasfa untuk melihat keadaannya karena ia merasa bersalah. Kegiatan itu ia lakukan hampir seminggu sekali hingga tumbuhlah benih-benih cinta di hati mereka.Akhir-akhir ini, Astrid jarang memberi kabar. Hal ini membuat Rafles membagi posisi Astrid di hatinya dengan Rasfa. Semakin hari, makin besar pula harapan Rafles untuk memiliki Rasfa. Hingga suatu saat, ia sudah tak bisa memendam rasa cintanya lagi.“Fa, kamu tau ga di hati aku ada siapa?” tanya Rafles“Meneketehe… emangnya aku dukun?!” “Ada kamu!”“O..Ya, emang bisa?” “Bisa donk…” “Rafles…coba liat bunga warna pink itu…” kata Rasfa sambil menunjuk“Kamu mau, Fa?”Rasfa terdiam. Rafles mengerti apa keinginan cewek idamannya itu. Ia segera memetik bunga itu dan ia berikan kepada Rasfa.“Makasih… bagus banget yah, bunganya…” “Fa… aku mau ngomong” “Liat kelopaknya, lucu kan?” Rasfa tak menghiraukan“Fa… liat mata aku!” Rafles mengarahkan wajah Rasfa agar matanya menatap mata Rafles.Rasfa tersentak dan membisu.“Aku sayang kamu, Fa. Aku pengen kamu jadi bidadari di hati aku. Yang menyinari sudut gelap hati aku!” kata RaflesRasfa tetap diam.“Aku benar-benar cinta sama kamu. Kamu mau kan jadi cewek aku?” kata Rafles. Nada suaranya merendah.“Aku mau, karna aku juga sayang kamu. Dimataku, kamu tuh sosok cowok yang penuh tanggung jawab dan penyayang….” Kata RasfaRafles langsung memeluk Rasfa dan mereka resmi pacaran. Tapi hal ini tidak diketahui oleh orang tua masing-masing.***Seminggu mereka pacaran, mereka jalani dengan hari-hari bahagia. Hari ini, Rafles berulang tahun. Tepatnya, yang ke-24. Rasfa telah mempersiapkan kado terindah untuk pacarnya dan ia datang ke rumah Rafles, namun Rafles sedang tidak ada di rumah. Yang ada hanya Andika, kakaknya Rafles yang bekerja sebagai pilot.“Misi, Raflesnya ada?” tanya Rasfa pada Andika.Andika terpana seketika melihat keelokan paras wanita berumur 20 tahun itu.“Rafles sedang tak ada di rumah. Kamu temannya Rafles yah?” tanya Andika“Ia..” kata RasfaTiba-tiba Rafles datang dan menegur kekasihnya.“Sayang, udah lama kamu nunggu di sini?” tanya RaflesRasfa hanya tersenyum.“Ini buat kamu. Aku sengaja beli ini sebagai kado ultah kamu.” Kata Rasfa“Makasih ya sayang…” kata Rafles“Oh, jadi dia cewek lo? Rakus lo. Gue ga pernah nyangka lo sebejat itu. Kalo lo pacaran sama dia, Astrid lo kemanain?” bentak AndikaTiba-tiba Andika membentak dan menggantikan situasi yang romantis menjadi amarah.“Fles, bilang sama aku Astrid itu siapa?” Rasfa penasaranBibir Rafles bak terkunci karena kartu As-nya terbongkar oleh kakaknya sendiri.“Fles, jawab…!” kata Rasfa. Matanya berubah menjadi berkaca-kaca, namun Rafles tetap bungkam dengan wajahnya yang merah menyala.“Astrid itu pacarnya Rafles juga. Mereka dah pacaran bertahun-tahun, jadi kalo kamu mau jadi cewek cadangannya dia, berarti kamu cewek bego” kata AndikaRasfa tak tahan membendung air matanya. Kado yang ia bawapun, ia jatuhkan lalu ia lari sekencang-kencangnya disertai air mata yang mengalir deras bak air bah. Rafles pun mengejarnya dan berhasil menarik tangannya.“Fa, tunggu fa. Aku bisa jelasin semuanya!” kata Rafles“Kamu tega sakitin hati cewek. Kamu pikir aku ini bakalan sayang sama kamu lagi? Enggak, fles…” kata Rasfa“Bukan gitu, sayang….” Kata Rafles“Pokoknya, mulai detik ini hubungan kita berakhir..” kata Rasfa sambil tersedu-sedu.Rasfa berlari dengan hati yang telah remuk menjadi seribu bagian. Hancur sudah semuanya. Rafles tak bisa menyalahkan Rasfa karena jelas-jelas dia yang salah. Iapun berhenti mengejar perempuan yang baru saja memutuskan tali cinta dengannya.“Rasfa… maafkan aku!” kata Rafles.Ia kecewa pada dirunya sendiri. Jika Astrid sampai tahu hal ini, berarti dia tlah menyakiti hati dua orang perempuan yang mencintainya. Tapi… beginilah cinta. Tak bisa dipikirkan dengan logika.***Suatu hari, Rasfa terlihat sedang termenung. Entah apa yang ada dipikirannya. Gara-gara Rafles, Rasfa nambah kurus seperti tiang. Akhir-akhir ini Rasfa jarang makan. Pikirannya tersentak ketika pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Ia segera membukanya.“Rasfa…!” sapa AndikaRasfa menutup kembali pintu rumahnya. Karena ia tak mau berurusan dengan Rafles dan keluarganya.“Pergi…!!!” teriak Rasfa“Fa, dengerin Andika, Fa. Andika mau ngomong sesuatu. Ini bukan tentang Rafles..!” kata Andika meyakinkan.“Lantas, kamu mau apa? Mau marahin aku lagi?” Tanya Rasfa“Enggak. Makanya buka dulu.”Rasfa membuka pintunya.“Silakan duduk.” Dengan wajah cemberut“Gini, Fa. Astrid dah pulang dari Amerika. Ayah dan bundaku merayakan makan malam. Tapi mereka pengen aku bawa cewek juga. Jadi aku pengen kamu damping aku di makan malam itu. Pura-puranya kamu jadi calon istri aku, Fa!”“Calon istri? Pacar aja bukan” Rasfa ketus“Namanya juga pura-pura.”“Aku ga mau. Aku dah punya niat untuk melupakan Rafles, sekarang kamu malah ajakin aku makan malam. Aku ga mau liat wajah Rafles lagi, Dika!”“Please, tolongin aku.”“Emang cewek kamu ga bakalan marah?”“Ye, makanya aku nyuruh kamu pura-pura jadi cewek aku juga aku ga punya cewek kali”“Abis, kamu terlalu keras sich, jadi cewek-cewek pada ngeri. Mentang-mentang lulusan Sarjana Hukum..”“Ah dasar….”“Sory..sory, aku becanda” Rasfa mulai tersenyum“Gimana, mau gak?”“Iya deh, untuk kali ini aku mau… tapi sekali aja ya!”“Thanx…”***Malam itu, keluarga Fachreza makan malam bersama. Rasfa didandani Andika secantik mungkin dan rencana itu berhasil. Rafles sangat terpesona pada Rasfa.“Nah, sekarang kamu harus memperkenalkan calon istrimu itu pada kami nak!” kata ayah Rafles pada Andika.“Kenalin diri kamu sama mereka!” bisik Andika pada calon istri palsunya itu.“Selamat malam semua… Saya Rasfa Kania..” dengan gugup.“Sejak kapan kamu mengenal anak kami, nak?” Tanya Pa Fachreza pada Rasfa.“Sebulan yang lalu, om”“Sudah, jangan panggil om. Panggil aja ayah. Kan kamu mau nikah sama Andika. Oh ya, memangnya kamu siap jika satu bulan lagi menikah dengan Andika, putra kami?”Rasfa kaget dan bingung harus jawab apa, tapi Andika mencubit tangan Rasfa.“Aw….! Iya om, eh ayah..”“Yah, anak kita pinter-pinter milih calon istri yah?” Tanya Bu Ellia“Iya, bun. Astrid cantik… Rasfa juga ga kalah cantiknya koq…Anak-anak ayah yang ayah sayangi, ayah setuju jika Rafles menikah dengan Astrid dan Andika menikah dengan Rasfa. Yang harus duluan nikahnya adalah Andika dengan Rasfa !”Mendengar hal itu, pupil Rasfa makin mengecil. Ia bingung harus seperti apa jika ia harus menikah dengan Andika. Tak ada rasa cinta 1% pun di hatinya apalagi hasrat untuk menikah.Makan malam telah selesai. Waktunya untuk mengantarkan bidadari masing-masing.“Kak Rasfa….” Teriak Astrid“Ada apa Trid?”“Boleh gak kapan-kapan aku maen ke rumah kak Rasfa?” Tanya Astrid“Oh boleh…!”“Strid… ayo pulang!” teriak RaflesAstrid masuk mobil. Dua pasang mata berpandangan.“Masuk, Fa!” kata AndikaDi dalam mobil Andika, Rasfa memancarkan wajah gelisahnya.“Kenapa, Fa?” Tanya Andika“Ka, kayanya kita harus jujur sama ayah kamu deh”“Ah jangan. Dia punya asma. Aku takut asamanya kumat kalo kita jujur…”“Terus gimana lagi? Kita kan gak pacaran..”“Ga ada jalan lagi selain kita menikah, Fa”“Terus… gimana ka?”“Kita coba pacaran aja!” kata AndikaRasfa tak menjawab apa-apa.“Maafin aku yah, gara-gara aku, kamu jadi kebawa-bawa!” kata Andika.“Aku akan coba…” kata Rasfa“Bener Fa?”“Ya….!”Andika kegirangan dan memeluk Rasfa.“Dika….!!” Rasfa kaget“Sory… aku seneng banget. Makasih banget yah, fa!”Rasfa hanya tersenyum.Disanalah Andika merasakan sebuah perasaan yang berbeda pada Rasfa. Ternyata Andika jatuh cinta pada Rasfa, gadis polos yang dulu ia marahi.***Kini, hari-hari di hidup Andika sudah tak hampa lagi. Sudah terisi oleh Rasfa. Hari ini, Andika mengajak pacar barunya itu jalan-jalan pake mobilnya. Ketika sedang diperjalanan, Andika mengatakan sesuatu pada Rasfa.“Fa, boleh ga aku beneran sayang sama kamu?”Rasfa hanya tertunduk malu.Andika memandang wajah Rasfa. Ia makin yakin bahwa Rasfa begitu cantik dan polos. Hal itu membuat hati Andika tertarik untuk benar-benar memilikinya. Tiba-tiba Rafles ada ditengah jalan dan nyaris tertabrak oleh mobil Andika. Andika mengerem mobilnya seketika dan keluar dari mobilnya.“Lu apa-apaan lu? Cari mati?” bentak Andika sambil melotot.“Gue gak suka aja cewek gue lu ajak jalan-jalan tanpa izin gue!”“Apa lu bilang? Cewek lu? Heh, dia cewek gua. Dia nerima cinta gue tadi malem. Daripada lu duain ama si Astrid. Denger yah, mulai detik ini, lu gak punya hak apa-apa buat ngelarang-larang dia jalan sama siapapun. Gue pacarnya, sekaligus calon suaminya. Ngarti lu?!” kata AndikaBegitu Rafles mengetahui bahwa mantan pacarnya telah jadi milik kakaknya, Rafles seperi disambar petir di siang bolong. Wajahnya merah.“Tapi gue masih sayang dia!” teriak RaflesRasfa turun dari mobil dan menampar Rafles.“Sayang apaan? Sayang kalo ga diduain? Kamu jahat!!!” Rasfa meneteskan air matanya sambil tetap memandangi Rafles dengan penuh kebencian.“Maafin aku Fa. Tapi aku memang masih sayang kamu. Aku cinta banget sama kamu…” kedua tangan Rafles memegang kedua pangkal lengan Rasfa.Rasfa menepisnya disertai dengan isakan.“Lu kesini Cuma bikin dia sedih doang ya. Anjing lo!!!” mendorong Rafles sampai jatuh dan pergi bersama Rasfa dengan mobilnya.“Ah…. Sialan………..!!!” teriak Rafles.Sementara itu, di mobil Andika Rasfa menangis tersedu-sedu sambil melihat Rafles dari jauh seiring berjalannya mobil menjauhi Rafles.“Rasfa……………!!! Sampai matipun aku akan tetap cinta kamu!!!” teriak Rafles.Ia sadar, di hatinya masih terukir nama Rasfa yang mendalam beserta semua kenangan-kenangan.“Udah ya Fa, jangan nangis lagi…!” bujuk Andika“Aku bodoh ya Ka?” Tanya Rasfa memecahkan kesunyian.“Bodoh kenapa?”“Aku bodoh. Mau-maunya pacaran sama Rafles yang udah punya cewek! Aku bego banget!”“Itu bukan mutlak kesalahan kamu!” kata AndikaRasfa tak berhenti menangis.“Udah ya, aku gak mau liat kamu sedih..” Andika memeluk Rasfa sambil menyetir mobil.“Makasih ya, Dika. Kamu baek banget…!”Entah kenapa Rasfa kini merasa nyaman bila berada di dekat Andika meski hati kecilnya berkata bahwa ia masih sayang Rafles.***Hari berganti hari… benih cinta yang ada pada hati Rasfa tumbuh bersemi untuk Andika. Begitu pula dengan orang tua Andika. Mereka setuju dengan hubungan kedua insan itu. Hingga Pa Fachreza dan Bu Ellia sepakat untuk menetapkan hari pernikahan mereka.“Ha..nikah? Ga mungkin…. Rasfa harus nikah ma gue. Dia ga boleh nikah sama Andika. Gue ga setuju!!!” Teriak hati kecil Rafles ketika mendengar rencana pesta pernikahan kakaknya dengan gadis yang masih ia cintai.“Ini pasti mimpi buruk….” Kata Rafles“Bukannya bahagia kakakmu sudah mendapatkan jodohnya? Ini malah cemberut tak karuan” kata Pa Fachreza pada anak bungsunya.“Memangnya kapan yah pesta itu dirayakan?” Tanya Rafles“2 minggu lagi”Hati Rafles makin tak karuan. “Cobaan semacam apa ini… akankah ada jalan untuk keluar dari masalah yang terlalu berat ini?” hati Rafles berkata-kata.Malam itu, ia putuskan untuk menemui Rasfa sang pujaan hati. “Rasfa…!” Panggil Umi Salamah pada putri semata wayangnya.“Ia umi.. ada apa?” Tanya Rasfa“Ada nak Rafles ingin bertemu kamu!”“Mau apa dia kemari?”“Temui sajalah, nak. Apa susahnya?” kata umiRasfa ke ruang tamu.“Rasfa, sebaiknya kamu jangan menikah sama kakakku!”“Kenapa? Kamu tuh ga berhak yah atur-atur aku. Pacar aku aja bukan!”“Tapi kan seenggaknya kamu pernah jadi cewek aku…”“Ya terus kenapa? Pokoknya aku udah bullet untuk nikah sama Andika. Titik!!!”“Tapi Fa…”“Sekarang aku persilakan kamu keluar dari rumah ini!”“Baik.. aku akan pergi.. tapi jangan pernah menyesali apa yang telah kamu lakukan saat ini!!!” Rafles mengancam“Pergiiii…!” teriak Rasfa.Lalu umi Salamah menghampiri Rasfa.“Rasfa, apa benar kamu pernah pacaran sama nak Rafles?”Rasfa terdiam.“Jawab nak! Sebab jika benar, kehadiranmu akan menjadi masalah di keluarga mereka!”Rasfa tetap terdiam dengan waktu yang cukup lama.“Maafkan Rasfa, mi…. Maafkan Rasfa…. Hal itu memang benar, namun Rasfa sudah terlanjur mencintai Andika Tapi Rasfa juga masih mencintai Rafles” ia menangis dengan air mata yang deras.“Apa??? Jangan nak, pernikahan ini jangan sampai terjadi. Ini sama Artinya kamu menghancurkan sebuah kelurga dengan mencintai kakak beradik itu!”“Tapi Mi… Rasfa bersungguh-sungguh untuk membina sebuah keluarga dengan Andika dan Andika juga sangat mencintai Rasfa” Rasfa sedu sedan.“Jangan…! Umi mohon sama kamu nak, jangan!!! Demi umi…!” Umi ikut menangis“Umi, Rasfa sudah terlanjur mencintai Andika. Bahkan umi tau sendiri kan bahwa tanggal pernikahannya pun sudah ditetapkan. Kalau Umi sayang Rasfa, izinkan Rasfa menikah..!” Matanya memerah.“Umi izinkan kamu menikah, nak. Asal jangan dengan salah satu dari mereka!” Umi menangis.“Umi… jika Umi tak izinkan Rasfa menikah dengan Andika, berarti Umi ga sayang sama Rasfa…!”“Umi sangat sayang padamu, nak. Tapi percayalah pada umi. Pernikahanmu dengan Andika Akan jadi bencana….!!!” Kata Umi.“Umi jahat.. Umi tak mau mengerti perasaan Rasfa….!” Rasfa berlari ke kamar dan mengunci kamarnya rapat-rapat.“Rasfa, buka pintunya, sayang…!”“Enggak.. umi jahat!!!”“Nak.. pikirkan lagi. Rasfa kan sudah 20 tahun, jadi umi pikir kamu bisa menentukan pilihanmu!”“Umi…Pilihan Rasfa tuh Andika…!”“Rasfa Sayang…Putri Umi satu-satunya, toolong pikirkan dengan matang. Rasfa sudah dewasa… Abimu di sana pasti sedih bila mendengar keputusanmu ini… Umi beri kamu waktu. Jika kamu sudah tenang, tolong beritahu umi ya, nak!!!” Umi berfikir secara matang dan akhirnya ia memanggil anaknya.“Rasfa.. keluar sayang, Umi mau bicara.”Rasfa keluar sambil menunduk.“Umi izinkan kamu menikah dengan Nak Dika. Asal kamu bahagia dengan pilihan kamu itu dan Nak Dhika jangan sampai tahu tentang perasaanmu pada Nak Rafles. Umi khawatir, nanti….”“Tenang Umi, Rasfa tau..”Rasfa memeluk Umi Salamah.“Aku sayang Umi…”“Umi juga sayang kamu, Nak.. jadilah istri yang terbaik untuk Nak Dhika dan jadilah menantu yang taat pada Keluarga Pa Fachreza. Umi selalu mendoakanmu..”Akhirnya Umi mengalah demi kebahagiaan anaknya.***Hari itu, keluarga Pa Fachreza dan keluarga Umi Salamah sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan Putra dan Putrinya. Seminggu lagi Dika&Rasfa menikah. Segala biaya pernikahan Dika&Rasfa ditanggung oleh keluarga Pa Fachreza.Raut wajah mereka berdua begitu memancarkan kebahagiaan yang selama ini mereka inginkan.“Yank, kamu seneng?” tanya DikaRasfa hanya tersnyum. Keadaan ini berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Umi Salamah. Ia khawatir jika suatu saat nanti, putri tunggalnya dibuang dari keluarga Fachreza.“Umi qo murung? Seharusnya Umi bahagia liat putri Umi ini telah mendapatkan calon pendamping hidup…”Umi Cuma tersenyum pahit.“Maafin Rasfa, Mi.. Rasfa anak durhaka” air mata itu menetes sekali-sekali membasahi pipinya.“Ngga, nak. Anak Umi ga salah. Mungkin ini kebahagiaan kamu. Umi ga berhak menghalangi kebahagiaan putri Umi..”***Langit hari ini begitu ceria dihiasi awan yang putih seperti kapas. Rumah yang terdekorasi indah, kain yang melapisi tembok terlihat berwarna emas. Rangkaian bunga dihias dimana-mana dengan semerbaknya. Terutama di ruang pengantin. Andhika sudah siap-siap, tinggal menunggu Rasfa. Telah lama ia menunggu, ternyata Rasfa keluar juga dari ruang rias.Mata Andhika terbelalak ketika melihat calon istrinya yang begitu cantik dengan menggunakan gaun pengantin gold yang terkesan lux. Alisnya dpertebal dan sedikit dikerik. Pertanda ia telah dilamar seorang pria. Matanya yang bagai bintang timur menyorot penuh ke arah Andhika hingga membuat jantung Andhika berdebar lebih kencang..dan lebih kencang lagi. hidungnya yang mancung menambah keindahan wajahnya yang lonjong. Bibirnya yang indah, tampak seperti warna delima merekah ketika dioleskan lipstik yang menyala. Dagunya seperti sarang lebah bergantung. Kulitnya yang putih, bersih, makin membuat ia cantik seperti bidadari.“Woy…ngedip donk!” kata teman Andhika“Bener Men, gue ga salah milih Rasfa.. gue bahagia. Sebentar lagi, Bidadari tak bersayap itu akan menjadi hak milik gue seutuhnya..”“Sombong… lo… sombong.. mentang-mentang gue jomblo” kata temannya sambil becanda“Itu sih derita lo. Hahahaha..”Rasfa hanya tersenyum kecil.“Ayo, siap akad nikah?” kata Pak Penghulu“Siap..” kata Dhika.Ketika akad nikah akan dilaksanakan, Rafles baru datang sehabis menjemput Astrid. Iapun terpana melihat keelokan wajah mantannya. Rafles dan Rasfa saling pandang. Lalu Rasfa berhenti menatap Rafles dan memfokuskan matanya pada Pak Penghulu.Akad nikah dimulai…“Saudara Andhika Putra Fachreza bin Fachreza Yusuf, saya nikahkan dan kawinkan anda dengan saudari Rasfa Kania Angelin binti Indra Syahid (Alm). Dengan mas kawin sebesar emas 50gram, uang tunai 30juta beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai.”Lalu Andhika menjawab “Saya terima nikah dan kawinnya Rasfa Kania Angelin binti Indra Syahid (Alm) Dengan mas kawin sebesar emas 50gram, uang tunai 30juta beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai.”“Saksi sah?”“SAH….” teriak saksi serempak.Hati Rafles hancur seketika. Ingin rasanya ia teteskan kepedihan. Tapi rasanya terlalu dramatisasi. Ia bepikir dua kali untuk menangis, karna ia seorang pria yang tak pantas untuk secemen itu. Ia berusaha menghibur dengan hatinya dengan tersenyum, walau senyum pahit. Ternyata tersenyum dengan hati yangluka itu sangat menyakitkan. Mungkin, Rasfa tercipta bukan untuknya. Humph.. ya sudahlah…Setelah selesai acara, dilanjutkan dengan acara resepsi.“Yank, kamu ga nyesel kan pilih Dhika jadi pendamping hidupmu?”“Sama sekali ga menyesal. Karna Rasfa juga sayang sama kamu…”“Love U, Honey…. Love U so much..” Andhika mengecup dahi istrinya***Rasfa dengan Andhika menghabiskan bulan madu mereka di rumah Rasfa. Dua minggu pertama ia lalui dengan rasa aromanis. Minggu ketiga, Rasfa sering muntah pagi-pagi, sering punya keinginan aneh, ternyata ketika diperiksa oleh dokter, dalam perut Rasfa tertanam janin. Yaitu buah cintanya dengan suaminya. Rasfa dan Dhika sangat bahagia, tak lama lagi mereka akan menjadi orangtua. Ironisnya, cinta dan kasih sayang utuk Rafles belum juga usang termakan waktu. Belum juga rapuh meski ia telah bersuami. Ia benci itu.Sore itu, Rafles dan Astrid datang mengunjungi rumah Rasfa dan Dhika. Rafles hanya mengundang secara lisan pada Kakak dan Kakak Iparnya. Bahwa seminggu lagi, ia akan melangsungkan pertunangan dengan Astrid. Hati Rasfa kacau tak karuan. Tapi ia masih bisa menahan bau bakar hatinya. Sebenarnya, Rafles ga tega karna ia tau Rasfa seperti apa. Rasfa ga akan mungkin mudah melupakan orang yang pernah ia cintai. Hati Rafles menjerit.. sejadi-jadinya.“Maafkan aku, Rasfa…..” Rafles melihat mata Rasfa berkaca-kaca. Namun ia tetap menahannya.“Selamat yah, moga kalian bahagia. Aku akan selalu mendoakan kalian.” Kata RasfaYah.. mungkin cinta itu harus mengalah…***Pesta pertunangan itu, Rasfa terpaksa hadir. Ketika acara tukar cincin tiba, Rasfa hanya bisa meneteskan air mata sembunyi-sembunyi.“Cintaku terbuat dari kaca.. Tak bisa ku buat ia rontok ataupun rapuh. Tapi.. cintaku terhalang kaca yang tak bisa ku rapuhkan pula.” Hati Rasfa berbisik“Oh Tuhan, maafkan aku, . karena telah mencintai milik orang lain, Oh Tuhan, kuatkan aku., karena tanpamu, ku tak sanggup apa yang ku lihat kini… Sungguh tak sanggup.. Karena ku tak ingin menduakan cintaku untuk suamiku… Tolonglah aku..Tuhan….!”***Suatu hari, Dhika mendapat tugas yang cukup berat. Ia harus meninggalkan istrinya yang sedang mengandung 9 bulan demi melaksanakan tugasnya sebagai pilot selama 3minggu.”istriku, Dhika bingung. Kalo nanti Dhika pergi, terus siapa yang membantu kamu melahirkan. apa mungkin kamu tinggal di rumah ibumu atau ibuku aja?”“Ga mau Dhika… aku hanya ingin melahirkan di sini.. di tempat ini…”“Dhika tau, itu pasti bawaan si dede..”“Dhika pergi tugas aja. Rasfa ga apa-apa qo..”“Kenapa ya, aku ngerasa berat ninggalin kamu?”“Ah.. Cuma sugesti aja. Percayalah, aku dan anak kita akan baik-baik aja..”Akhirnya Dhika berangkat menjalankan tugasnya. Dengan berat hati ia tinggalkan istri yang sangat ia sayangi serta si kecil, si jantung hati.“hat-hati ya sayang…. doaku akan selalu menyertai dirimu…”Dhika mencium dahi istrinya. Lalu ia meneteskan air mata.“Dhika ga pernah pergi tugas dengan hati yang berat seberat ini. Dhika bener-bener sayang kamu…”Rasfapun menangis.“Sayang, jika suatu saat ku tak kembali di sisimu, kecuplah fotoku..”“Kamu jangan bikin aku sedih donk yank.. jahat akh!”“De, ayah mau pergi tugas dulu ya. Dede baik-baik sama bunda. Jangan nakal..” kata Dhika sambil mengelus-ngelus perut istrinya yang buncit dan menatapnya dengan penuh kasih sayang. Tak lama kemudian, Dhika menjauh perlahan dari penglihatan dan menghilang.“Love U forever… my husband…” air matanya kembali membanjiri pipinya.Sementara itu, beberapa hari lagi Rafles menikah dengan Astrid. Ia sengaja tak mengundang Rasfa, karena ia takut hal ini mengganggu kesehatan kandungannya. Ya, ia akan menikah tepatnya tanggal 17 Juli.***Tanggal 16 Juli pukul 20.00, Rasfa tampak sedang bercakap-cakap dengan sang suami via telfon.“Apa kabar sayang?”“Baik. Kamu sehat kan Bevs? Anakmu kangen. Dari kemarin nendang-nendang perut terus..”“Apa kabar anak ayah?”“Sehat ko sayang. Tapi kayanya ga lama lagi si Dede mau keluar..”“Besok aku pulang, sayang. Jangan khawatir. Aku naik Boeing 737”“Syukurlah. Aku hanya ingin melahirkan di sampingmu”“Manja ah..hahahaha”Rasfa tampak tenang mendengar berita itu. Ia ingin cepat-cepat esok hari agar dapat memeluk suaminya lagi.***Rafles sedang menjalankan akad nikah bersama Astrid. Tiba-tiba handphonenya berdering.“Haloo.. i.. ini.. Rafles?”“Ia, ada apa Dhik?”“Tolongin istri gue, firasat gue bilang dia melahirkan hari ini. Pesawat gue kecelakaan. Sebentar lagi gue meledak”“Wah, lo jangan becanda, gue lagi akad nikah ni!” Rafles marah“Gue serius. Kalo ga percaya, ntar liat di TV!”“Ok’..ok gue kesana!”Rasfa sedang menyiapkan makanan dan perayaan atas kedatangan suaminya. Segalanya ia lakukan sendiri. Tiba-tiba Rafles datang, tapi Rasfa masih baik-baik saja. Rasfa kaget karena yang ia lihat adalah mantannya yang mengenakan baju pengantin.“Fa, gawat. Dhika kecelakaan pesawat.”“Kamu jangan ngedoain Dhika kaya gitu donk..”“Aku serius, Fa. Kalo ga percaya, nih aku telfon”“Halo.. Dhika.. Kamu becanda kan sayang?”“Aku serius. Aku terjepit badan pesawat. Ga bisa keluar…”“Dhika.. Dhika kamu harus bertahan, sayang..”“Aw,,,” Dhika merasakan kesakitan yang teramat keras ketika ekor pesawat mulai terbakar.Rasfa menangis dengan kepanikan yang luar biasa.“Rasfa….istriku tercinta…” dengan suara yang lelah“Dhika….dhika kamu harus kuat, sayang. Aku dan anak kita menantimu..”“Aku.. Ak..akuuu say.. sayyang kam.. kamu se..lam..manya……” tiba-tiba Rasfa mendengar ledakan yang sangat keras.“Enggak, aku pasti mimpi,, aku pasti mimpi, Rafles..”Ia menyetel TV untuk membuktikan hal itu.“Selamat siang pemirsa. Jumpalagi dengan saya, Rosiana Silalahi dalam liputan SCTV. Pemirsa, pesawat Boeing 737 yang dikendarai oleh pilot bernama Andhika Putra Fachreza meledak beberapa saat setelah menabrak tebing. Pilot dan 15 awak dinyatakan tewas…” Rasfa kembali mematikan TV itu.“Dhikaaaaa……..suamiku………. kamu ga boleh pergi.. jangan pergi sayang…….” Rasfa berteriak histeris.Tiba-tiba Rafles melihat darah dan lendir berceceran.“Rasfa, air ketubanmu pecah..” teriak Rafles“Ah….sakit perut….”Rafles segera membopong Rasfa yang lemah. Ia membawanya ke Rumah Sakit dan memberi tahu semua keluarga dan mereka semua datang.Sementara itu di ruang bersalin…“Aduhhh…. Aku ga mau melahirkan tanpa ada Dhika..”“Ada aku, Fa…”“Ah….””Ayo mbak, keluarkan semua tenaganya” kata dokter“Ahhhhhhhhhhh…………..” belum juga keluar.“Ayo Rasfa…!!!”Rasfa memegang erat tangan Rafles.“Hua………..h….. hua……….. hhhh… ah……………..”Lahirlah seorang bayi mungil bejenis kelamin laki-laki dengan tangisan yang menggema di ruang bersalin.“Dia ganteng, kaya Dhika..”Rasfa menangis tersedu…“Sayang, anakmu lahir…. dia tampan sepertimu..”“Rasfa… yang tabah ya…”“Anakku yatim… maafkan bunda, nak..” “Kalo kamu mau, aku bisa jadi ayah dari anakmu. Karna aku masih sayang kamu. Sampai saat ini..”“Kamu ga mikir. Aku tau itu. Tapi kamu ga pantes bilang gini sama aku. Aku ga mau merusak hubungan lagi untuk yang kedua kalinya”Tiba-tiba Astrid datang.“Aku relakan Rafles untuk Kak Rasfa. Karena Kak Rasfa dengan bayi Kak Rasfa lebih membutuhkan Rafles daripada aku. Lagian, keluarga Astrid udah ngejodohin Astrid dengan seseorang. Jadi, yang Astrid mau kalian segera menikah. Demi kak Dhika yang telah pergi, dan demi bayi yang lahir dari rahim Kak Rasfa. Kak Dhika mengamanatkan ini jauh-jauh hari. Almarhum juga bilang bahwa ia sangat mencintai kak Rasfa.”Ia memberikan cincin perkawinannya pada Rasfa dan beberapa hari kemudian menikah dengan pilihan keluarganya. Beberapa hari kemudian, Rasfapun menikah dengan Rafles dan hidup bahagia. Dhika hanya tersenyum dan berkata.“Cinta memang ga punya logika dan Rasfa & Rafles adalah cinta sejati….”—————SELESAI—————Penulis: Neng Fitri Rahayuakun FB ku: veethry lupphlyakun twitter: veethry lupphly

  • Tertutup Rapih Dalam Balutan Seragam Kepolisian

    Tertutup Rapih Dalam Balutan Seragam KepolisianKarya : Abimanyu Putra PratamaHari itu sabtu siang di bulan Juni tahun 2009, saya diajak oleh saudara saya untuk membantu persiapan khitanan, ( saudara saya mau sunat saya dijemput dan diajak kesana duluan sedangkang orang tua saya menyusul nanti ). Sabtu siang itu terasa sangat panas hingga menusuk sampai ketulang ( hahahahahah terlalu LEBAY ) setelah 2 jam perjalanan ( maklum jakarta macet, dan saya sudah muntah sampai satu kantong plastik ). Akhirnya kami tiba juga di Jakarta Timur, saya tiba disana pukul 02:00. Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan saya pun memutuskan untuk tidur.Setelah melepas penak dengan tidur ( memang banyak orang memilih tidur untuk menghilangkan penak ) saya bermain bersama saudara-saudara saya. Setelah puas bermain saya pulang, mandi, sholat, dan nonton tv. Tiba-tiba pas saya sedang asyik nonton spongebob squerpants ( maklum masih anak kecil  ) adzan magrib bun berkumandang. Walaupun sedang asyik nonton spongebob saya pun memutuskan untuk shalat dulu, setelah selesai sholat dan makan. Lalu saya diajak mas Topik untuk mengisi bensin.NAH DISINILAH CERITA DIMULAI “THE STORY WILL BEGIN” Jadi ceritanya tuh pas lagi mau isi bensin, ada dua rute. Rute via jalan raya ( banyak polisi ), rute jalan kampung ( banyak polisi tiduran ). kami memilih rute jalan raya, setelah tiba dijalan raya mas Topik mengila PART 1. Dia gaya gaya mau jadi Valentino Rossi, setiap mobil diasalip dan pas saya sedang menengok ke belakang saya melihat motor vega-R mengikuti kami dari gang depan rumah saudara saya. Saya tidak begitu ambil pusing, nah pas kami sedang menyalip mobil avanza tiba-tiba motor RX King bermaksud menyalip mobil tersebut. Mas Topik pun kaget dan motor pun menyerempet mobil avanza, setelah berhasil menyalip mobil avanza kami tiba-tiba dijegat oleh orang yang naik motor vega-R. Dia dateng-dateng langsung nyenter plat nomor, lantas kami pun panik dan memutuskan untuk kabur, setelah berhasil kabur, dan pikir panjang. Kami memutuskan untuk berhenti (bukan karena takut sama polisi tapi karena bensin dah sakaratul maut alias ABIS wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk 😀 ) Akhirnya saya tertangkap / BUSTED, kunci motor langsung diambil kami langsung dimarahin.“kamu ini naik motor gaya-gaya banget masih kecil aja belagu” bentak pa polisi.Saya dan mas Topik langsung tertunduk diam alis KICEP ABC. Setelah diceramahin cukup lama akhirnya saya dan mas Topik dibawa ke sebuah pemancingan di daerah Klender. Setelah tiba di pemancingan mas topik disuruh untuk menelpon orang tuanya dan pas saat itu lagi ga bawa hp ( apes banget ), yaaaaaaaaa suuuuuuuudahlah terpaksa dia harus ke wartel, sedangkang saya ditinggal sendirian di pemancingan. Dan pas saat itu entah kenapa saat itu saya ingin sekali menanyakan sesuatu.“pa, bapak sebenarnya polisi atau bukan? Kalau bapak polisi bapak tolong tunjukan tanda pengenal bapak, dan buka helm bapak.” Ujar sayaTiba tiba saya tangan polisi itu melayang ke muka saya, dan dia berkata “kamu tuh masih anak kecil diam aja”Saya melihat kejanggalan karna bapak saya seorang tentara ( jiahhh pamer dulu ahhhh ) jadi saya ya sedikit tau mana yang asli sama yang palsu.Saya pun terus mendesak setelah cukup lama saya mendesak, akhirnya polisinya jengkel juga kali ya sama saya, dia pun memutuskan pergi untuk membeli rokok and aqua gelas,,,,,,, dia kembali menghampiri saya. Setelah cukup lama akhirnya mas Topik pun kembali, setelah mas Topik kembali“saya sita motor kalian karena kalian tidak bisa menyerahkan surat-surat motor” kata pa PolisiKami pun mengiyakan saja, polisi itu pun langsung membawa motor kami. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu, menghampiri kami, “Dek,dek kelihatanaya kamu sudah ketipu deh.” Kata si Ibu“Hah???????, maksud Ibu?” sahut mas Topik“iya soalnya gelagatnya dan bajunya tidak meyakinkan.” Ujar si Ibu“Ahhh yang bener Bu.” Kata mas Topik“Iya soalnya daerah klender banyak sekali POLISI GADUNGAN.” Kata Ibu “Apa GADUNGAN GADUNGAN GADUNGAN (sengaja diulang biar lebih mantep) sontak saya dan mas Topik Saya diam, mas Topik diam Ibu pun diam, SULE pun diam. Kami pun PANIK MODE ON setelah mondar mandir sana sini. Akhirnya bapaknya mas topik pun datang. Kami pun langsung bergegas ke kantor polisi di daerah klender, setelah kami tiba di sana kami langsung menanyakan ada tidak Polisi yang bernama Briptu Norman ( maaf saya lupa namanya hehehhehehehehehehe : D ) setelah dicek tenyata tidak ada. APA APA APA APA APA ( sengaja di ulang ) kami pun panik. Tanpa pikir panjang kami pun langsung balik ke TKP untuk mencari motor kami, di tengah perjalanan kami bertemu dengan tukang ojek lalu dia mengatakan bahwa motor bapak ada sama temen saya. Tanpa pikir panjang kami langsung CABUT KALANG KABUT LEKAS PERGI, setelah tiba disana alhamdulilah motor selamat hanya tergores sedikit. Jadi ceritanya tuh setelah kami di tinggal di pemancinga Polisi GADUNGAN itu kabur membawa motor yang bensinya sakaratul maut dan ditengah keasyikan pa polisi itu tiba-tiba bensinya abis NGEK NGOK. Dia pun panik dan langsung pindah ke motor temanya yang ada di sebelahnya tanpa menghentikan motornya ( kata saksi ) sontak motor pun jatuh dan koncinya langsung di bawa kabur. Setelah tiba di TKP kami pun langsung menghampiri rumah itu, dan ALHAMDULILLAH BANGET YA motor masih ada. Kami pun disuruh untuk menebus motor dan menunjukan STNK, BPKB dan membawa kunci motor.INI CERITA KU APA CERITA MU  Yang membuat saya sampai binggung hingga saat ini : a. Bagaimana cara polisi itu berpindah tempat dari motor yang ia tumpangi ke motor temenya yang sedang melaju kencang???????????b. Kenapa ada SULE di Cerpen sayac. Dan masih ada aja Polisi yang mau nyolong motor orang yang bensin abis WKWKWKKWKWKWKWKWKWKW POLISI GADUNGAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*