Cerpen Lucu Mis. Tulalit Part 3 ~ Update

Berhubung masih napsu (??) buat edit mengedit postingan, pokoknya edit aja deh. He he he, Lagian daripada terlupakan….Bener gak?. Harusnya bener donk!!! * maksa modeon.
Tapi, ah andaii aja Takdir itu juga bisa diedit (^_^) *Mulai gak jelas.

Mis tulalitCredit Gambar : Ana Merya
Setelah ujian akhir nasional barlalu maka semua siswa di berikan kesempatan untuk berlibur, walau pun setulalit-tulalitnya april, alhamdulillah ia berhasil lulus juga. Emang si nilai pas-pasan, tapi dari pada kurang. ya nggak?… *PS: Yang setuju bilang ya berari orang yang nggak mau maju. secara masa dibandingkan sama yang lebih jelek*, rencananya ia mau ngelanjutin kuliahnya di AMIK, selat panjang.
Untuk mengisi waktu liburan. april berkunjung kerumah nenek nya yang ada di desa, (terpaksa soalnya di paksa nyokap), sebenernya sih april ingin liburan ke bali, eh sama mama malah ‘kon bali ngone mbahe’ . Cek cek cek…..kasihan deh april…
Hari pertama di rumah neneknya, april sudah merasa tidak betah, gimana nggax, walau pun PLN sudah masuk desa sih katanya, tapi tetap aja di rumah neneknya bergelap-gelapan dan hanya menggunakan cahaya lampu penerang yang pakai minyak tanah. Hengalah nyelangsane lah urip gara-gara mesin PLN nya rusak, dan masih dalam masa perbaikkan, kabarnya sih hanya dalam jangka waktu dua minggu tapi nyatanya sudah sebulan lebih masih juga belum nyala.
Dan malamnya april sama sekali nggax bisa tidur, selain karna nyamuknya banyak minta ampun padahal ia sudah membakar obat anti nyamuk, itu juga karna ia harus tidur sendirian, apalagi april memang penakut, dan ia paling takut sama yang namanya…. HANTU!!!
“gimana kalau nanti april lagi tidur, tiba-tiba ada kuntilanak yang ikut tidur bareng april, lagi pula kamar ini kan udah lama nggax di pake, trus april langsung di cekik… duh, siapa ntar yang nolongin” batin april yang tiba-tiba merinding.
Samar-samar dari luar rumah terdengar suara burung, april juga nggax tau burung apa, di ikuti suara anjing yang menyalak di kejauhan yang makin membuat april jadi panas dingin.
“ma… pa… tolongin april donk… masa april liburan kayak gini… liburan kok kerumah hantu…” guman april sedih.
“mama sama papa jahat, nggax sayang sama april, huu… huu….” april lama-lama nggax tahan dan mulai menangis. *Yang nie sumpah Lebay*…
Dan walau pun lirih, telinga april masih bisa menangkap suara berisik di dapur, di ikuti suara gemericik air, april memasang telinganya baik-baik, *memangnya tadi dilepas ya?*.
April juga mendengar derit suara papan yang di injak, maklum rumah desa. Biasalah lantai sama dindingnya masih terbuat dari papan, bahkan atapnya juga terbuat dari daun rumbia, hati nya curiga, jangan-jangan ada maling. Tapi mau maling apaan, di rumahnya sama sekali nggax ada barang berharga, apa lagi di dapur palingan ada nya Cuma perkakas masak. Memangnya mau maling piring sama sendok?
Dengan memberanikan diri april, berjalan mengendap-endap ke dapur, persis seperti kucing yang mengintai tikus, *walaupun sebenernya belom pernah lihat juga sih* lengkap dengan sapu di tangannya.
Begitu sampai di dapur, jantung april seperti mau copot, napasnya berhenti di tenggorokan, apa yang ada di hadapannya bukan lah seperti yang ia bayang kan tapi justru apa yang selama ini paling ia takuti.
Tidak sampai 4 meter didepannya, tampak sesosok perempuan tua, rambut putih semua dengan giginya yang ompong, sedang meneguk cairan hitam, dari dalam gelas. Apa lagi suasana cahaya nya remang-remang karena lampu damarnya, hanya ada di ruangan depan menambah suasana makin horor sehingga saking kagetnya april, sapu yang ada di tangannya, terlepas dari genggaman.
Begitu mendengar suara sapu yang terjatuh, sosok perempuan tersebut langsung menoleh kearahnya, april tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya, hanya rambut yang putih semua te urai sehingga membuat terlihat semakin meyeramkan. Saat ini yang ada dalam fikiran april hanya lah lari sejauh mungkin, tapi apa daya sepertinya itu mustahil karena seluruh tubuhnya seperti kaku, sama sekali tidak bisa di gerak kan lagi saking takutnya.
“to.. to.. to… tolong!” jerit april sebelum akhirnya tergeletak tidak sadarkan diri.
cerpen lucu mis tulalit
Keesokan hari april membuka matanya, badannya terasa pegel sekali, di kucek-kucek matanya yang terasa silau oleh sinar mentari yang muncul dari jendela yang terbuka lebar, ia memandang kesekeliling, pantas saja badannya terasa pegel, secara ia semalaman tidur di kursi.
“lho kok april bisa tidur di sini sih?” guman april heran, ia mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam kenapa ia bisa tidur di sofa.
“wes tangi sampean to nduk”
April langsung menoleh, ternyata nenek yang baru muncul dari dapur, dengan membawa napan berisi segelas teh dan sepiring pisang goreng.
“eh nenek, pagi…” kata april.
“pagi? Memangnya kamu pikir sekarang jam berapa to?” kata neneknya sambil meletakkan napan di atas meja, tepat di depan april.
“jam tujuh kali ya?” balas april.
“yah, itu sih tiga jam yang lalu nduk”
“apa?!” april kaget, sepontan ia melirik jam tangannya, ternyata waktu sudah menunjuk pukul 10:00 lebih 15 minit.
“astafirullah hal’azim, kok april bisa kesiangan gini sih”
“justru itu, nenek mau nanya, kamu kenapa tadi malam tidur di dapur?” tanya nenek lagi.
Pertanyaan neneknya langsung mengingatkan april akan kejadian tadi malam.
“ya ampun nek, tadi malam itu april bukan tidur nek, tapi pingsan”
“pingsan? Pantes nenek panggil nggax bangun-bangun juga sehingga terpaksa nenek bangunin kakek kamu buat mindahin ke sofa, tapi kenapa kamu bisa pinsan?”
“april ngeliat hantu!”
“hantu?” neneknya heran.
“ia. April liat hantu wewegombel, rambutnya putih semua, trus giginya ompong, waktu itu ia lagi minum cairan dari dalam gelas, pokoknya hii… serem deh” cerita april sambil bergidik.
Mendengar cerita april, kontan neneknya langsung tertawa terkekeh-kekeh.
“kok nenek malah ketawa sih?” april heran.
“oalah nduk-nduk, jadi sampean fikir, perempuan tadi malam itu hantu?”
“jadi nenek juga liat?”
“lha pie to nduk. Wong yang tadi malam kamu liat itu nenek yang lagi ke dapur buat minum”
“masa’ sih, kok kayak wewegombel beneran?”
“hus, kamu ini. Masa’ neneknya sendiri di bilang wewegombel. Sudah mending kamu cuci muka dulu trus sarapan, nenek mau nyusul kakek mu kekebun belakang, nanti kalau kamu udah selesai sarapan bisa ikut nyusul juga”
Selesai berkata nenek beranjak pergi meninggalkan april yang masih bingung sendiri.
“kek, kakek mau nanam apa sih?” tanya april ketika di liatnya sang kakek sedang mencangkul laut. Kok laut? Ya iya lah, secara nggax usah di kasi tau pasti udah pada ngerti kalau di kebun yang di cangkul jelas lah tanah.
“ini. Kakek mau nanam kangkung sama kacang”
“kangkung lagi, kangkung lagi” guman april lirih.
“memangnya kenapa? Kamu nggax suka sama kangkung?” tanya neneknya heran.
“bukannya april nggax suka nek, tapi bosen aja, nggax di rumah, nggax di sini ketemu juga sama yang namanya kangkung. Heran deh”
“jadi mama kamu juga sering nyayur kangkung?”
“ia kek, hari-hari malah, mentang-mentang tinggal ngambil di kebun belakang”
“mama sama papa kamu juga rajin berkebun ya? Padahal dulu waktu di sini mama kamu paling males kalau di suruh bertanam”
“sampai sekarang juga masih kok nek” balas april.
“trus siapa yang nanam? Dan bukannya di belakang rumah kamu juga ada perumahan lagi?” tanya neneknya heran.
“emang”
“jadi nanam nya dimana?”
Kakek sama nenek april makin bingung.
“di warung, pas di belakang rumah april kan, warungnya bu siti, Nah setiap hari mama datang kesana buat ngambil sayuran, tapi ya itu tadi tetap aja, kangkung-kangkung-kangkung”
“jadi mama kamu kalau nyayur ngambil disana?” tanya kakeknya, april hanya mengangguk.
“kalau begitu orangnya baik banget ya, soalnya mama kamu di izinin tinggal ngambil kok nggax marah ya”
“pasti boleh lah, orang di kasi duit sama mama”
“itu sih namanya beli. Pantesan boleh, kamu sih kalau ngomong nya muter-muter bikin nenek sama kakek bingung aja, nenek pikir malah tetangga kamu baik-baik banget”
“mata nenek rabun kali ya, sudah jelas-jelas dari tadi april duduk diam di sini, masa’ di bilang muter-muter, gara-gara udah tua kali ya, makanya pikun” batin april dalam hati.
Sehabis membantu nenek sama kakeknya berkebun april langsung pulang untuk menyiapkan makan siang, (ngebantu?! Gaya loe!! Dari tadi Cuma nonton doank kok, bilangnya sih takut sama cacing, padahal males tuh. Dasar)
April sedang menyiduk nasi kebaskom ketika terdengar suara orang di depan.
“tok..tok…tok…”
“assalamu’alaikum nenek!” terdengar suara perempuan dari pintu depan.
“wa’alaikum salam” balas april sambil menuju ke depan, dan segera membukakan pintu untuk tamunya.
“maaf cari siapa ya?” tanya april begitu berhadapan dengan tamunya seorang perempuan yang kira-kira seumuran dengannya.
“nenek walimah ada?”
“nggax. Nenek lagi di kebun, ngebantuin kakek, kalau boleh tau da perlu apa ya?” tanya april lagi.
“ini… aku di suruh sama ibu buat nganterin sedikit makanan buat nenek”
“gitu ya… ya udah biar april salinin makanannya dulu ya. Eh lupa, masuk dulu yuk” ajak april yang baru nyadar kalau dari tadi tamunya masih berdiri di depan pintu.
April langsung berjalan kedapur, gadis itu mengikuti di belakangnya, april segera menyalin makanannya dari rantang kedalam mangkuk.
“wah lumayan nih, baru sehari di sini udah makan gulai ayam sama sambel udang lagi, asyik…” batin april sendiri.
“anu, kalau boleh tau mbax ini siapa ya, kok bisa ada di rumahnya nenek walimah”
April menoleh, eh iya kan masih ada tamu.
“0, saya cucunya, kenalin…. april” april mengulurkan tanganya.
“putri andini nawang wulan sari, biasa di panggil sari” sahutnya sambil membalas uluran tangan april.
“panjang amat. Ntar kalau mau ijab kabul gimana ribetnya, kasihan deh calon suaminya” kata april dalam hati.
“kalau andininya dihilangkan trus nggax pake sari jadi istrinya jaka tarub loe” canda april.
“ah embak bisa aja” sari tersenyum.
“manggilnya april aja ya, abis kalau manggil embak trus A nya di ganti i, kan jadi kambing”
“ih embak lucu deh, anu maksudnya april lucu juga”
“lawak kali… lucu.”
Sari malah tertawa lepas mendengarnya.

Random Posts

  • LOGIKA CINTA

    SEKAPUR SIRIH Puji dan syukur kami panjatkan kepada Illahi Robbi. Karena dengan Rahmat-Nya lah kami dapat berkarya dengan penuh penghayatan dalam novel ini. Tak lupa kami berterimakasih kepada pihak yang telah membantu terciptanya novel ini.Cerita dalam novel ini bukan berdasarkan fakta, hanyalah fiktif belaka. Kami yang berimajinasi. Namun jika terjadi kemiripan dengan ceita ini yang terjadi di kehidupan sehari-hari, itu memang kenyataan. Tidak ada unsur rekayasa.Kami sadari bahwa novel ini jauh dari kesempurnaan. Banyak terjadi kekuarangan dan kesalahan di sana sini. Oleh karena itu, kami memerlukan kritik dan saran yang membangun. Penulis: Neng Fitri RahayuMalam yang indah ini, dua sejoli yang saling mencintai bersama dalam gemerlapnya pergantian tahun. Rafles dan Astrid pergi ke pantai untuk menyaksikan pesta kembang api acara tahun baruan. Ditengah keramaian, tiba-tiba Astrid ingin ke toilet.“Sayang, Astrid ke toilet dulu yach!” kata Astrid“Aku anter?” Tanya Rafles“Iya dong sayang” kata AstridMereka menuju toilet umum. Ketika Astrid berada di dalam ruangan, Rafles mendengar ada wanita yang berteriak minta tolong.“Tolong… tas saya dijambret” Teriak permpuan ituRafles langsung menghampiri perempuan itu.“Ada apa nona?” Tanya Rafles“Tas saya dijambret!” Perempuan itu panik“Biar saya yang kejar” kata RaflesRafles berhasil mengejar penjambret dan mengembalikan tas nona jelita itu.“Makasih banget yah! Kalo ga ada mas, tas saya melayang” perempuan itu tersipu maluRafles beranjak namun perempuan itu memanggil.“Mas…” teriak perempuan ituRafles menoleh.“Ini kartu nama saya. Jadi kalo ada perlu sama saya, hubungi saya. Saya siap membantu. Karena saya berhutang budi pada anda.” Kata perempuan itu“OK” kata RaflesSementara itu, Astrid mencari Rafles. Ia khawatir pada kekasih yang dicintainya itu. Maklum, mereka sudah menjalani hubungan itu selama 5 tahun. Tiba-tiba Rafles berada di depan matanya.“Ih, Rafles kemana aja sich… Astrid kan takut kehilangan kamu” kata Astrid“Tenang sayang, hati aku cuma ada buat kamu” kata Rafles merayu“Sebel deh. Dasar satria Gombal” kata Astrid“Ya udah, acara akan segera dimulai. Kesana yuk!” ajak RaflesPada acara itu, Astrid sepertinya memohon sesuatu. Yaitu pengharapan untuk tahun 2011.“Ya Tuhan, aku ingin….” Kata kata Astrid terpotong oleh ucapan Rafles“Rasfa Kania….” Kata Rafles membaca kartu nama perempuan yang ia tolong tadi.“Rafles, siapa Rasfa?” Tanya Astrid dengan wajah ketakutan.“Tadi aku nolong perempuan yang tasnya dijambret. Terus dia ngasih kartu nama ini.” Kata Rafles berusaha jujur.“Oh, kirain pacar baru kamu. Sayang tau ga? 6 bulan lagi Astrid mau di kuliahin sama bunda di Amerika.” Kata Astrid“Yach, jauh donk” kata Rafles“Kan ada telfon.” Kata Astrid.***Waktu bergulir begitu cepat secepat kecepatan cahaya. Hari ini Rafles mengantarkan Astrid ke Airport. Mereka sudah sepakat untuk saling setia dan menjaga cinta mereka agar tetap abadi sampai mereka menikah nanti.“Aku sayang kamu, cinta!” Kata Rafles“Aku juga” Kata RaflesMereka berdua meneteskan air mata. Betapa besar cinta mereka.Rafles pulang ke rumahnya. Namun karena pikiran yang kacau setelah menyaksikan perginya sang kekasih, ia menabrak seorang wanita yang sedang menyeberang. Perempuan itu dibawanya ke rumah sakit. Perempuan itu koma. Suatu ketika, Rafles menatap wajah yang menurutnya familiar.“Rasfa?” Rafles tersentak ketika melihat paras wanita molek yang terbaring koma di depannya.Setelah sembuh dari komanya, Rafles megantarkan Rasfa ke rumahnya dan menjelaskan kepada keluarganya. Semenjak itu, Rafles jadi sering mengunjungi rumah Rasfa untuk melihat keadaannya karena ia merasa bersalah. Kegiatan itu ia lakukan hampir seminggu sekali hingga tumbuhlah benih-benih cinta di hati mereka.Akhir-akhir ini, Astrid jarang memberi kabar. Hal ini membuat Rafles membagi posisi Astrid di hatinya dengan Rasfa. Semakin hari, makin besar pula harapan Rafles untuk memiliki Rasfa. Hingga suatu saat, ia sudah tak bisa memendam rasa cintanya lagi.“Fa, kamu tau ga di hati aku ada siapa?” tanya Rafles“Meneketehe… emangnya aku dukun?!” “Ada kamu!”“O..Ya, emang bisa?” “Bisa donk…” “Rafles…coba liat bunga warna pink itu…” kata Rasfa sambil menunjuk“Kamu mau, Fa?”Rasfa terdiam. Rafles mengerti apa keinginan cewek idamannya itu. Ia segera memetik bunga itu dan ia berikan kepada Rasfa.“Makasih… bagus banget yah, bunganya…” “Fa… aku mau ngomong” “Liat kelopaknya, lucu kan?” Rasfa tak menghiraukan“Fa… liat mata aku!” Rafles mengarahkan wajah Rasfa agar matanya menatap mata Rafles.Rasfa tersentak dan membisu.“Aku sayang kamu, Fa. Aku pengen kamu jadi bidadari di hati aku. Yang menyinari sudut gelap hati aku!” kata RaflesRasfa tetap diam.“Aku benar-benar cinta sama kamu. Kamu mau kan jadi cewek aku?” kata Rafles. Nada suaranya merendah.“Aku mau, karna aku juga sayang kamu. Dimataku, kamu tuh sosok cowok yang penuh tanggung jawab dan penyayang….” Kata RasfaRafles langsung memeluk Rasfa dan mereka resmi pacaran. Tapi hal ini tidak diketahui oleh orang tua masing-masing.***Seminggu mereka pacaran, mereka jalani dengan hari-hari bahagia. Hari ini, Rafles berulang tahun. Tepatnya, yang ke-24. Rasfa telah mempersiapkan kado terindah untuk pacarnya dan ia datang ke rumah Rafles, namun Rafles sedang tidak ada di rumah. Yang ada hanya Andika, kakaknya Rafles yang bekerja sebagai pilot.“Misi, Raflesnya ada?” tanya Rasfa pada Andika.Andika terpana seketika melihat keelokan paras wanita berumur 20 tahun itu.“Rafles sedang tak ada di rumah. Kamu temannya Rafles yah?” tanya Andika“Ia..” kata RasfaTiba-tiba Rafles datang dan menegur kekasihnya.“Sayang, udah lama kamu nunggu di sini?” tanya RaflesRasfa hanya tersenyum.“Ini buat kamu. Aku sengaja beli ini sebagai kado ultah kamu.” Kata Rasfa“Makasih ya sayang…” kata Rafles“Oh, jadi dia cewek lo? Rakus lo. Gue ga pernah nyangka lo sebejat itu. Kalo lo pacaran sama dia, Astrid lo kemanain?” bentak AndikaTiba-tiba Andika membentak dan menggantikan situasi yang romantis menjadi amarah.“Fles, bilang sama aku Astrid itu siapa?” Rasfa penasaranBibir Rafles bak terkunci karena kartu As-nya terbongkar oleh kakaknya sendiri.“Fles, jawab…!” kata Rasfa. Matanya berubah menjadi berkaca-kaca, namun Rafles tetap bungkam dengan wajahnya yang merah menyala.“Astrid itu pacarnya Rafles juga. Mereka dah pacaran bertahun-tahun, jadi kalo kamu mau jadi cewek cadangannya dia, berarti kamu cewek bego” kata AndikaRasfa tak tahan membendung air matanya. Kado yang ia bawapun, ia jatuhkan lalu ia lari sekencang-kencangnya disertai air mata yang mengalir deras bak air bah. Rafles pun mengejarnya dan berhasil menarik tangannya.“Fa, tunggu fa. Aku bisa jelasin semuanya!” kata Rafles“Kamu tega sakitin hati cewek. Kamu pikir aku ini bakalan sayang sama kamu lagi? Enggak, fles…” kata Rasfa“Bukan gitu, sayang….” Kata Rafles“Pokoknya, mulai detik ini hubungan kita berakhir..” kata Rasfa sambil tersedu-sedu.Rasfa berlari dengan hati yang telah remuk menjadi seribu bagian. Hancur sudah semuanya. Rafles tak bisa menyalahkan Rasfa karena jelas-jelas dia yang salah. Iapun berhenti mengejar perempuan yang baru saja memutuskan tali cinta dengannya.“Rasfa… maafkan aku!” kata Rafles.Ia kecewa pada dirunya sendiri. Jika Astrid sampai tahu hal ini, berarti dia tlah menyakiti hati dua orang perempuan yang mencintainya. Tapi… beginilah cinta. Tak bisa dipikirkan dengan logika.***Suatu hari, Rasfa terlihat sedang termenung. Entah apa yang ada dipikirannya. Gara-gara Rafles, Rasfa nambah kurus seperti tiang. Akhir-akhir ini Rasfa jarang makan. Pikirannya tersentak ketika pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Ia segera membukanya.“Rasfa…!” sapa AndikaRasfa menutup kembali pintu rumahnya. Karena ia tak mau berurusan dengan Rafles dan keluarganya.“Pergi…!!!” teriak Rasfa“Fa, dengerin Andika, Fa. Andika mau ngomong sesuatu. Ini bukan tentang Rafles..!” kata Andika meyakinkan.“Lantas, kamu mau apa? Mau marahin aku lagi?” Tanya Rasfa“Enggak. Makanya buka dulu.”Rasfa membuka pintunya.“Silakan duduk.” Dengan wajah cemberut“Gini, Fa. Astrid dah pulang dari Amerika. Ayah dan bundaku merayakan makan malam. Tapi mereka pengen aku bawa cewek juga. Jadi aku pengen kamu damping aku di makan malam itu. Pura-puranya kamu jadi calon istri aku, Fa!”“Calon istri? Pacar aja bukan” Rasfa ketus“Namanya juga pura-pura.”“Aku ga mau. Aku dah punya niat untuk melupakan Rafles, sekarang kamu malah ajakin aku makan malam. Aku ga mau liat wajah Rafles lagi, Dika!”“Please, tolongin aku.”“Emang cewek kamu ga bakalan marah?”“Ye, makanya aku nyuruh kamu pura-pura jadi cewek aku juga aku ga punya cewek kali”“Abis, kamu terlalu keras sich, jadi cewek-cewek pada ngeri. Mentang-mentang lulusan Sarjana Hukum..”“Ah dasar….”“Sory..sory, aku becanda” Rasfa mulai tersenyum“Gimana, mau gak?”“Iya deh, untuk kali ini aku mau… tapi sekali aja ya!”“Thanx…”***Malam itu, keluarga Fachreza makan malam bersama. Rasfa didandani Andika secantik mungkin dan rencana itu berhasil. Rafles sangat terpesona pada Rasfa.“Nah, sekarang kamu harus memperkenalkan calon istrimu itu pada kami nak!” kata ayah Rafles pada Andika.“Kenalin diri kamu sama mereka!” bisik Andika pada calon istri palsunya itu.“Selamat malam semua… Saya Rasfa Kania..” dengan gugup.“Sejak kapan kamu mengenal anak kami, nak?” Tanya Pa Fachreza pada Rasfa.“Sebulan yang lalu, om”“Sudah, jangan panggil om. Panggil aja ayah. Kan kamu mau nikah sama Andika. Oh ya, memangnya kamu siap jika satu bulan lagi menikah dengan Andika, putra kami?”Rasfa kaget dan bingung harus jawab apa, tapi Andika mencubit tangan Rasfa.“Aw….! Iya om, eh ayah..”“Yah, anak kita pinter-pinter milih calon istri yah?” Tanya Bu Ellia“Iya, bun. Astrid cantik… Rasfa juga ga kalah cantiknya koq…Anak-anak ayah yang ayah sayangi, ayah setuju jika Rafles menikah dengan Astrid dan Andika menikah dengan Rasfa. Yang harus duluan nikahnya adalah Andika dengan Rasfa !”Mendengar hal itu, pupil Rasfa makin mengecil. Ia bingung harus seperti apa jika ia harus menikah dengan Andika. Tak ada rasa cinta 1% pun di hatinya apalagi hasrat untuk menikah.Makan malam telah selesai. Waktunya untuk mengantarkan bidadari masing-masing.“Kak Rasfa….” Teriak Astrid“Ada apa Trid?”“Boleh gak kapan-kapan aku maen ke rumah kak Rasfa?” Tanya Astrid“Oh boleh…!”“Strid… ayo pulang!” teriak RaflesAstrid masuk mobil. Dua pasang mata berpandangan.“Masuk, Fa!” kata AndikaDi dalam mobil Andika, Rasfa memancarkan wajah gelisahnya.“Kenapa, Fa?” Tanya Andika“Ka, kayanya kita harus jujur sama ayah kamu deh”“Ah jangan. Dia punya asma. Aku takut asamanya kumat kalo kita jujur…”“Terus gimana lagi? Kita kan gak pacaran..”“Ga ada jalan lagi selain kita menikah, Fa”“Terus… gimana ka?”“Kita coba pacaran aja!” kata AndikaRasfa tak menjawab apa-apa.“Maafin aku yah, gara-gara aku, kamu jadi kebawa-bawa!” kata Andika.“Aku akan coba…” kata Rasfa“Bener Fa?”“Ya….!”Andika kegirangan dan memeluk Rasfa.“Dika….!!” Rasfa kaget“Sory… aku seneng banget. Makasih banget yah, fa!”Rasfa hanya tersenyum.Disanalah Andika merasakan sebuah perasaan yang berbeda pada Rasfa. Ternyata Andika jatuh cinta pada Rasfa, gadis polos yang dulu ia marahi.***Kini, hari-hari di hidup Andika sudah tak hampa lagi. Sudah terisi oleh Rasfa. Hari ini, Andika mengajak pacar barunya itu jalan-jalan pake mobilnya. Ketika sedang diperjalanan, Andika mengatakan sesuatu pada Rasfa.“Fa, boleh ga aku beneran sayang sama kamu?”Rasfa hanya tertunduk malu.Andika memandang wajah Rasfa. Ia makin yakin bahwa Rasfa begitu cantik dan polos. Hal itu membuat hati Andika tertarik untuk benar-benar memilikinya. Tiba-tiba Rafles ada ditengah jalan dan nyaris tertabrak oleh mobil Andika. Andika mengerem mobilnya seketika dan keluar dari mobilnya.“Lu apa-apaan lu? Cari mati?” bentak Andika sambil melotot.“Gue gak suka aja cewek gue lu ajak jalan-jalan tanpa izin gue!”“Apa lu bilang? Cewek lu? Heh, dia cewek gua. Dia nerima cinta gue tadi malem. Daripada lu duain ama si Astrid. Denger yah, mulai detik ini, lu gak punya hak apa-apa buat ngelarang-larang dia jalan sama siapapun. Gue pacarnya, sekaligus calon suaminya. Ngarti lu?!” kata AndikaBegitu Rafles mengetahui bahwa mantan pacarnya telah jadi milik kakaknya, Rafles seperi disambar petir di siang bolong. Wajahnya merah.“Tapi gue masih sayang dia!” teriak RaflesRasfa turun dari mobil dan menampar Rafles.“Sayang apaan? Sayang kalo ga diduain? Kamu jahat!!!” Rasfa meneteskan air matanya sambil tetap memandangi Rafles dengan penuh kebencian.“Maafin aku Fa. Tapi aku memang masih sayang kamu. Aku cinta banget sama kamu…” kedua tangan Rafles memegang kedua pangkal lengan Rasfa.Rasfa menepisnya disertai dengan isakan.“Lu kesini Cuma bikin dia sedih doang ya. Anjing lo!!!” mendorong Rafles sampai jatuh dan pergi bersama Rasfa dengan mobilnya.“Ah…. Sialan………..!!!” teriak Rafles.Sementara itu, di mobil Andika Rasfa menangis tersedu-sedu sambil melihat Rafles dari jauh seiring berjalannya mobil menjauhi Rafles.“Rasfa……………!!! Sampai matipun aku akan tetap cinta kamu!!!” teriak Rafles.Ia sadar, di hatinya masih terukir nama Rasfa yang mendalam beserta semua kenangan-kenangan.“Udah ya Fa, jangan nangis lagi…!” bujuk Andika“Aku bodoh ya Ka?” Tanya Rasfa memecahkan kesunyian.“Bodoh kenapa?”“Aku bodoh. Mau-maunya pacaran sama Rafles yang udah punya cewek! Aku bego banget!”“Itu bukan mutlak kesalahan kamu!” kata AndikaRasfa tak berhenti menangis.“Udah ya, aku gak mau liat kamu sedih..” Andika memeluk Rasfa sambil menyetir mobil.“Makasih ya, Dika. Kamu baek banget…!”Entah kenapa Rasfa kini merasa nyaman bila berada di dekat Andika meski hati kecilnya berkata bahwa ia masih sayang Rafles.***Hari berganti hari… benih cinta yang ada pada hati Rasfa tumbuh bersemi untuk Andika. Begitu pula dengan orang tua Andika. Mereka setuju dengan hubungan kedua insan itu. Hingga Pa Fachreza dan Bu Ellia sepakat untuk menetapkan hari pernikahan mereka.“Ha..nikah? Ga mungkin…. Rasfa harus nikah ma gue. Dia ga boleh nikah sama Andika. Gue ga setuju!!!” Teriak hati kecil Rafles ketika mendengar rencana pesta pernikahan kakaknya dengan gadis yang masih ia cintai.“Ini pasti mimpi buruk….” Kata Rafles“Bukannya bahagia kakakmu sudah mendapatkan jodohnya? Ini malah cemberut tak karuan” kata Pa Fachreza pada anak bungsunya.“Memangnya kapan yah pesta itu dirayakan?” Tanya Rafles“2 minggu lagi”Hati Rafles makin tak karuan. “Cobaan semacam apa ini… akankah ada jalan untuk keluar dari masalah yang terlalu berat ini?” hati Rafles berkata-kata.Malam itu, ia putuskan untuk menemui Rasfa sang pujaan hati. “Rasfa…!” Panggil Umi Salamah pada putri semata wayangnya.“Ia umi.. ada apa?” Tanya Rasfa“Ada nak Rafles ingin bertemu kamu!”“Mau apa dia kemari?”“Temui sajalah, nak. Apa susahnya?” kata umiRasfa ke ruang tamu.“Rasfa, sebaiknya kamu jangan menikah sama kakakku!”“Kenapa? Kamu tuh ga berhak yah atur-atur aku. Pacar aku aja bukan!”“Tapi kan seenggaknya kamu pernah jadi cewek aku…”“Ya terus kenapa? Pokoknya aku udah bullet untuk nikah sama Andika. Titik!!!”“Tapi Fa…”“Sekarang aku persilakan kamu keluar dari rumah ini!”“Baik.. aku akan pergi.. tapi jangan pernah menyesali apa yang telah kamu lakukan saat ini!!!” Rafles mengancam“Pergiiii…!” teriak Rasfa.Lalu umi Salamah menghampiri Rasfa.“Rasfa, apa benar kamu pernah pacaran sama nak Rafles?”Rasfa terdiam.“Jawab nak! Sebab jika benar, kehadiranmu akan menjadi masalah di keluarga mereka!”Rasfa tetap terdiam dengan waktu yang cukup lama.“Maafkan Rasfa, mi…. Maafkan Rasfa…. Hal itu memang benar, namun Rasfa sudah terlanjur mencintai Andika Tapi Rasfa juga masih mencintai Rafles” ia menangis dengan air mata yang deras.“Apa??? Jangan nak, pernikahan ini jangan sampai terjadi. Ini sama Artinya kamu menghancurkan sebuah kelurga dengan mencintai kakak beradik itu!”“Tapi Mi… Rasfa bersungguh-sungguh untuk membina sebuah keluarga dengan Andika dan Andika juga sangat mencintai Rasfa” Rasfa sedu sedan.“Jangan…! Umi mohon sama kamu nak, jangan!!! Demi umi…!” Umi ikut menangis“Umi, Rasfa sudah terlanjur mencintai Andika. Bahkan umi tau sendiri kan bahwa tanggal pernikahannya pun sudah ditetapkan. Kalau Umi sayang Rasfa, izinkan Rasfa menikah..!” Matanya memerah.“Umi izinkan kamu menikah, nak. Asal jangan dengan salah satu dari mereka!” Umi menangis.“Umi… jika Umi tak izinkan Rasfa menikah dengan Andika, berarti Umi ga sayang sama Rasfa…!”“Umi sangat sayang padamu, nak. Tapi percayalah pada umi. Pernikahanmu dengan Andika Akan jadi bencana….!!!” Kata Umi.“Umi jahat.. Umi tak mau mengerti perasaan Rasfa….!” Rasfa berlari ke kamar dan mengunci kamarnya rapat-rapat.“Rasfa, buka pintunya, sayang…!”“Enggak.. umi jahat!!!”“Nak.. pikirkan lagi. Rasfa kan sudah 20 tahun, jadi umi pikir kamu bisa menentukan pilihanmu!”“Umi…Pilihan Rasfa tuh Andika…!”“Rasfa Sayang…Putri Umi satu-satunya, toolong pikirkan dengan matang. Rasfa sudah dewasa… Abimu di sana pasti sedih bila mendengar keputusanmu ini… Umi beri kamu waktu. Jika kamu sudah tenang, tolong beritahu umi ya, nak!!!” Umi berfikir secara matang dan akhirnya ia memanggil anaknya.“Rasfa.. keluar sayang, Umi mau bicara.”Rasfa keluar sambil menunduk.“Umi izinkan kamu menikah dengan Nak Dika. Asal kamu bahagia dengan pilihan kamu itu dan Nak Dhika jangan sampai tahu tentang perasaanmu pada Nak Rafles. Umi khawatir, nanti….”“Tenang Umi, Rasfa tau..”Rasfa memeluk Umi Salamah.“Aku sayang Umi…”“Umi juga sayang kamu, Nak.. jadilah istri yang terbaik untuk Nak Dhika dan jadilah menantu yang taat pada Keluarga Pa Fachreza. Umi selalu mendoakanmu..”Akhirnya Umi mengalah demi kebahagiaan anaknya.***Hari itu, keluarga Pa Fachreza dan keluarga Umi Salamah sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan Putra dan Putrinya. Seminggu lagi Dika&Rasfa menikah. Segala biaya pernikahan Dika&Rasfa ditanggung oleh keluarga Pa Fachreza.Raut wajah mereka berdua begitu memancarkan kebahagiaan yang selama ini mereka inginkan.“Yank, kamu seneng?” tanya DikaRasfa hanya tersnyum. Keadaan ini berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Umi Salamah. Ia khawatir jika suatu saat nanti, putri tunggalnya dibuang dari keluarga Fachreza.“Umi qo murung? Seharusnya Umi bahagia liat putri Umi ini telah mendapatkan calon pendamping hidup…”Umi Cuma tersenyum pahit.“Maafin Rasfa, Mi.. Rasfa anak durhaka” air mata itu menetes sekali-sekali membasahi pipinya.“Ngga, nak. Anak Umi ga salah. Mungkin ini kebahagiaan kamu. Umi ga berhak menghalangi kebahagiaan putri Umi..”***Langit hari ini begitu ceria dihiasi awan yang putih seperti kapas. Rumah yang terdekorasi indah, kain yang melapisi tembok terlihat berwarna emas. Rangkaian bunga dihias dimana-mana dengan semerbaknya. Terutama di ruang pengantin. Andhika sudah siap-siap, tinggal menunggu Rasfa. Telah lama ia menunggu, ternyata Rasfa keluar juga dari ruang rias.Mata Andhika terbelalak ketika melihat calon istrinya yang begitu cantik dengan menggunakan gaun pengantin gold yang terkesan lux. Alisnya dpertebal dan sedikit dikerik. Pertanda ia telah dilamar seorang pria. Matanya yang bagai bintang timur menyorot penuh ke arah Andhika hingga membuat jantung Andhika berdebar lebih kencang..dan lebih kencang lagi. hidungnya yang mancung menambah keindahan wajahnya yang lonjong. Bibirnya yang indah, tampak seperti warna delima merekah ketika dioleskan lipstik yang menyala. Dagunya seperti sarang lebah bergantung. Kulitnya yang putih, bersih, makin membuat ia cantik seperti bidadari.“Woy…ngedip donk!” kata teman Andhika“Bener Men, gue ga salah milih Rasfa.. gue bahagia. Sebentar lagi, Bidadari tak bersayap itu akan menjadi hak milik gue seutuhnya..”“Sombong… lo… sombong.. mentang-mentang gue jomblo” kata temannya sambil becanda“Itu sih derita lo. Hahahaha..”Rasfa hanya tersenyum kecil.“Ayo, siap akad nikah?” kata Pak Penghulu“Siap..” kata Dhika.Ketika akad nikah akan dilaksanakan, Rafles baru datang sehabis menjemput Astrid. Iapun terpana melihat keelokan wajah mantannya. Rafles dan Rasfa saling pandang. Lalu Rasfa berhenti menatap Rafles dan memfokuskan matanya pada Pak Penghulu.Akad nikah dimulai…“Saudara Andhika Putra Fachreza bin Fachreza Yusuf, saya nikahkan dan kawinkan anda dengan saudari Rasfa Kania Angelin binti Indra Syahid (Alm). Dengan mas kawin sebesar emas 50gram, uang tunai 30juta beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai.”Lalu Andhika menjawab “Saya terima nikah dan kawinnya Rasfa Kania Angelin binti Indra Syahid (Alm) Dengan mas kawin sebesar emas 50gram, uang tunai 30juta beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai.”“Saksi sah?”“SAH….” teriak saksi serempak.Hati Rafles hancur seketika. Ingin rasanya ia teteskan kepedihan. Tapi rasanya terlalu dramatisasi. Ia bepikir dua kali untuk menangis, karna ia seorang pria yang tak pantas untuk secemen itu. Ia berusaha menghibur dengan hatinya dengan tersenyum, walau senyum pahit. Ternyata tersenyum dengan hati yangluka itu sangat menyakitkan. Mungkin, Rasfa tercipta bukan untuknya. Humph.. ya sudahlah…Setelah selesai acara, dilanjutkan dengan acara resepsi.“Yank, kamu ga nyesel kan pilih Dhika jadi pendamping hidupmu?”“Sama sekali ga menyesal. Karna Rasfa juga sayang sama kamu…”“Love U, Honey…. Love U so much..” Andhika mengecup dahi istrinya***Rasfa dengan Andhika menghabiskan bulan madu mereka di rumah Rasfa. Dua minggu pertama ia lalui dengan rasa aromanis. Minggu ketiga, Rasfa sering muntah pagi-pagi, sering punya keinginan aneh, ternyata ketika diperiksa oleh dokter, dalam perut Rasfa tertanam janin. Yaitu buah cintanya dengan suaminya. Rasfa dan Dhika sangat bahagia, tak lama lagi mereka akan menjadi orangtua. Ironisnya, cinta dan kasih sayang utuk Rafles belum juga usang termakan waktu. Belum juga rapuh meski ia telah bersuami. Ia benci itu.Sore itu, Rafles dan Astrid datang mengunjungi rumah Rasfa dan Dhika. Rafles hanya mengundang secara lisan pada Kakak dan Kakak Iparnya. Bahwa seminggu lagi, ia akan melangsungkan pertunangan dengan Astrid. Hati Rasfa kacau tak karuan. Tapi ia masih bisa menahan bau bakar hatinya. Sebenarnya, Rafles ga tega karna ia tau Rasfa seperti apa. Rasfa ga akan mungkin mudah melupakan orang yang pernah ia cintai. Hati Rafles menjerit.. sejadi-jadinya.“Maafkan aku, Rasfa…..” Rafles melihat mata Rasfa berkaca-kaca. Namun ia tetap menahannya.“Selamat yah, moga kalian bahagia. Aku akan selalu mendoakan kalian.” Kata RasfaYah.. mungkin cinta itu harus mengalah…***Pesta pertunangan itu, Rasfa terpaksa hadir. Ketika acara tukar cincin tiba, Rasfa hanya bisa meneteskan air mata sembunyi-sembunyi.“Cintaku terbuat dari kaca.. Tak bisa ku buat ia rontok ataupun rapuh. Tapi.. cintaku terhalang kaca yang tak bisa ku rapuhkan pula.” Hati Rasfa berbisik“Oh Tuhan, maafkan aku, . karena telah mencintai milik orang lain, Oh Tuhan, kuatkan aku., karena tanpamu, ku tak sanggup apa yang ku lihat kini… Sungguh tak sanggup.. Karena ku tak ingin menduakan cintaku untuk suamiku… Tolonglah aku..Tuhan….!”***Suatu hari, Dhika mendapat tugas yang cukup berat. Ia harus meninggalkan istrinya yang sedang mengandung 9 bulan demi melaksanakan tugasnya sebagai pilot selama 3minggu.”istriku, Dhika bingung. Kalo nanti Dhika pergi, terus siapa yang membantu kamu melahirkan. apa mungkin kamu tinggal di rumah ibumu atau ibuku aja?”“Ga mau Dhika… aku hanya ingin melahirkan di sini.. di tempat ini…”“Dhika tau, itu pasti bawaan si dede..”“Dhika pergi tugas aja. Rasfa ga apa-apa qo..”“Kenapa ya, aku ngerasa berat ninggalin kamu?”“Ah.. Cuma sugesti aja. Percayalah, aku dan anak kita akan baik-baik aja..”Akhirnya Dhika berangkat menjalankan tugasnya. Dengan berat hati ia tinggalkan istri yang sangat ia sayangi serta si kecil, si jantung hati.“hat-hati ya sayang…. doaku akan selalu menyertai dirimu…”Dhika mencium dahi istrinya. Lalu ia meneteskan air mata.“Dhika ga pernah pergi tugas dengan hati yang berat seberat ini. Dhika bener-bener sayang kamu…”Rasfapun menangis.“Sayang, jika suatu saat ku tak kembali di sisimu, kecuplah fotoku..”“Kamu jangan bikin aku sedih donk yank.. jahat akh!”“De, ayah mau pergi tugas dulu ya. Dede baik-baik sama bunda. Jangan nakal..” kata Dhika sambil mengelus-ngelus perut istrinya yang buncit dan menatapnya dengan penuh kasih sayang. Tak lama kemudian, Dhika menjauh perlahan dari penglihatan dan menghilang.“Love U forever… my husband…” air matanya kembali membanjiri pipinya.Sementara itu, beberapa hari lagi Rafles menikah dengan Astrid. Ia sengaja tak mengundang Rasfa, karena ia takut hal ini mengganggu kesehatan kandungannya. Ya, ia akan menikah tepatnya tanggal 17 Juli.***Tanggal 16 Juli pukul 20.00, Rasfa tampak sedang bercakap-cakap dengan sang suami via telfon.“Apa kabar sayang?”“Baik. Kamu sehat kan Bevs? Anakmu kangen. Dari kemarin nendang-nendang perut terus..”“Apa kabar anak ayah?”“Sehat ko sayang. Tapi kayanya ga lama lagi si Dede mau keluar..”“Besok aku pulang, sayang. Jangan khawatir. Aku naik Boeing 737”“Syukurlah. Aku hanya ingin melahirkan di sampingmu”“Manja ah..hahahaha”Rasfa tampak tenang mendengar berita itu. Ia ingin cepat-cepat esok hari agar dapat memeluk suaminya lagi.***Rafles sedang menjalankan akad nikah bersama Astrid. Tiba-tiba handphonenya berdering.“Haloo.. i.. ini.. Rafles?”“Ia, ada apa Dhik?”“Tolongin istri gue, firasat gue bilang dia melahirkan hari ini. Pesawat gue kecelakaan. Sebentar lagi gue meledak”“Wah, lo jangan becanda, gue lagi akad nikah ni!” Rafles marah“Gue serius. Kalo ga percaya, ntar liat di TV!”“Ok’..ok gue kesana!”Rasfa sedang menyiapkan makanan dan perayaan atas kedatangan suaminya. Segalanya ia lakukan sendiri. Tiba-tiba Rafles datang, tapi Rasfa masih baik-baik saja. Rasfa kaget karena yang ia lihat adalah mantannya yang mengenakan baju pengantin.“Fa, gawat. Dhika kecelakaan pesawat.”“Kamu jangan ngedoain Dhika kaya gitu donk..”“Aku serius, Fa. Kalo ga percaya, nih aku telfon”“Halo.. Dhika.. Kamu becanda kan sayang?”“Aku serius. Aku terjepit badan pesawat. Ga bisa keluar…”“Dhika.. Dhika kamu harus bertahan, sayang..”“Aw,,,” Dhika merasakan kesakitan yang teramat keras ketika ekor pesawat mulai terbakar.Rasfa menangis dengan kepanikan yang luar biasa.“Rasfa….istriku tercinta…” dengan suara yang lelah“Dhika….dhika kamu harus kuat, sayang. Aku dan anak kita menantimu..”“Aku.. Ak..akuuu say.. sayyang kam.. kamu se..lam..manya……” tiba-tiba Rasfa mendengar ledakan yang sangat keras.“Enggak, aku pasti mimpi,, aku pasti mimpi, Rafles..”Ia menyetel TV untuk membuktikan hal itu.“Selamat siang pemirsa. Jumpalagi dengan saya, Rosiana Silalahi dalam liputan SCTV. Pemirsa, pesawat Boeing 737 yang dikendarai oleh pilot bernama Andhika Putra Fachreza meledak beberapa saat setelah menabrak tebing. Pilot dan 15 awak dinyatakan tewas…” Rasfa kembali mematikan TV itu.“Dhikaaaaa……..suamiku………. kamu ga boleh pergi.. jangan pergi sayang…….” Rasfa berteriak histeris.Tiba-tiba Rafles melihat darah dan lendir berceceran.“Rasfa, air ketubanmu pecah..” teriak Rafles“Ah….sakit perut….”Rafles segera membopong Rasfa yang lemah. Ia membawanya ke Rumah Sakit dan memberi tahu semua keluarga dan mereka semua datang.Sementara itu di ruang bersalin…“Aduhhh…. Aku ga mau melahirkan tanpa ada Dhika..”“Ada aku, Fa…”“Ah….””Ayo mbak, keluarkan semua tenaganya” kata dokter“Ahhhhhhhhhhh…………..” belum juga keluar.“Ayo Rasfa…!!!”Rasfa memegang erat tangan Rafles.“Hua………..h….. hua……….. hhhh… ah……………..”Lahirlah seorang bayi mungil bejenis kelamin laki-laki dengan tangisan yang menggema di ruang bersalin.“Dia ganteng, kaya Dhika..”Rasfa menangis tersedu…“Sayang, anakmu lahir…. dia tampan sepertimu..”“Rasfa… yang tabah ya…”“Anakku yatim… maafkan bunda, nak..” “Kalo kamu mau, aku bisa jadi ayah dari anakmu. Karna aku masih sayang kamu. Sampai saat ini..”“Kamu ga mikir. Aku tau itu. Tapi kamu ga pantes bilang gini sama aku. Aku ga mau merusak hubungan lagi untuk yang kedua kalinya”Tiba-tiba Astrid datang.“Aku relakan Rafles untuk Kak Rasfa. Karena Kak Rasfa dengan bayi Kak Rasfa lebih membutuhkan Rafles daripada aku. Lagian, keluarga Astrid udah ngejodohin Astrid dengan seseorang. Jadi, yang Astrid mau kalian segera menikah. Demi kak Dhika yang telah pergi, dan demi bayi yang lahir dari rahim Kak Rasfa. Kak Dhika mengamanatkan ini jauh-jauh hari. Almarhum juga bilang bahwa ia sangat mencintai kak Rasfa.”Ia memberikan cincin perkawinannya pada Rasfa dan beberapa hari kemudian menikah dengan pilihan keluarganya. Beberapa hari kemudian, Rasfapun menikah dengan Rafles dan hidup bahagia. Dhika hanya tersenyum dan berkata.“Cinta memang ga punya logika dan Rasfa & Rafles adalah cinta sejati….”—————SELESAI—————Penulis: Neng Fitri Rahayuakun FB ku: veethry lupphlyakun twitter: veethry lupphly

  • Cerpen Remaja Tentang aku dan dia ~09 {Update}

    Cerpen RemajaTentang Aku dan DiaCredit Gambar : Ana MeryaDengan segenap tenaga yang ia punya, Gresia meluncur dari gerbang sekolah menuju ke kelas. Kebiasaan bangun telat kali ini benar – benar membuat nasibnya bagai telur di ujung tanduk. Tanpa mengurangi sedikit pun kecepatan larinya ia melirik jam yang melingkar di tangan. Tapi tepat di tingkungan tidak sengaja ia menabrak seseorang.sebagian

  • Hate The Rain

    Hate The Rainoleh: Farhatul AiniTetesan air dari langit yang datangnya tak pernah terduga, kadang dia datang begitu lama sampai seseorang menangis membutuhkannya, namun tidak dengan aku, terlalu banyak kenangan dan kesakitan yang tercipta karena hujan, dan kini aku benci hujan.Hari ini langit menghitam terlihat di pekarangan sekolahku, hal yang biasa karena sekarang sedang musim penghujan, tetesan benih airnya mulai turun dari atas langit kejauhan sana. Semua yang berada di luar kelas kini masuk ke dalam ruangan membuat kelaspun menjadi sempit dan ramai karena suara anak-anak yang tak bisa diam, itulah kebiasaan ketika belum ada guru pengajar masuk.mata pelajaran terakhir telah dimulai, walaupun pembelajaran agak terganggu dengan curah hujan, namun bu guru tetap melanjutkan belajar sampai bel pulang sekolah.Musim penghujan benar-benar menghambat aktivitasku, hujan tak berhenti sampai pulang sekolah tiba, kini aku harus berjalan ke depan halte sekolah, namun ketika kakiku baru melangkah keluar kelas tiba-tiba terlihat Kevin, kakak kelasku berdiri di luar seperti sedang menunggu seseorang. Dan dia menyapaku rupanya.“Ness, mau ga pulang bareng kakak ?” sapa kevin dengan tiba-tibaPerasaan tak diduga saat itu, aku memang sedang dekat dengan Kevin, tapi selama kedekatanku tak pernah ku berfikir dia akan seberani itu langsung mengajakku pulang bersamanya. “Tapi ka, sekarang hujan aku harus pulang sampai hujan berhenti.”“Gapapa Ness, kakak bakal tunggu kamu sampe hujan berhenti biar bisa pulang bareng kamu.”Beberapa kali aku menolak, namun Kevin tetap memaksa untuk menunggu.akhirnya aku menunggu hujan berhenti bersama Kevin. Lama sekali sampai suasana sekolah sepi mungkin hanya kita berdua disitu.Dikeadaan suasana yang sepi, romantis dan hanya kita berdua duduk di depan kelas dengan memandang hujan turun, tiba-tiba Kevin membalut tanganku dengan tangannya lalu tatapan tajam keluar dari matanya menatapku dengan keseriusan. “Ness kakak sayang kamu, mau ga kamu jadi pacar kakak ?"Tanpa berbasa-basi kevin menyatakan cinta padaku, aku sontak binTgung, kaget, dan tak pernah terfikirkan.“Tapi kak, kita kan baru kenal.”“Tapi kakak sayang sama kamu, mungkin terlalu cepat apa yang kakak katakan, jangan lihat seberapa lama waktu kita bertemu dan mengenal, lihatlah ketulusan kakak.”Melihat tatapan matanya terasa ada ketulusan, dan disitu aku benar-banar luluh dengan perkataannya.“Baiklah, sebenarnya aku juga sayang sama kakak.”“Jadi sekarang kita pacaran?” Dengan malu-malu Nessa menjawab.“Ya, kita pacaran.”Tanpa befikir panjang, Kevin langsung mencium kening Nessa dan memeluknya, pelukan hangat pertama yang Nessa rasakan dari seorang kasih yang amat ia sayang sekarang.Perbincangan yang cukup lama dan tidak membosankan membuat hari semakin sore dan gelap tanpa hujan berhenti aku dan Kevin memutuskan untuk pulang.masih terasa rintikan hujan yang tak henti motor kevin melaju kencang menuju arah rumahku, disaat perjalanan kevin menarik erat tanganku, membalutnya kelingkar pinggangnya, terasa sekali ada perasaan berbeda dihatiku. Getaran cinta yang terasa semakin yakin bahwa dia akan menjadi kekasih terindahku. Laju Kecepatan motor yang kencang, membuat tanganku semakin erat memegang lingkaran pinggang kekasihku, dan tanpa terasa seperti ada suara gesekan ban dengan aspal yang sangat keras, membuat telinga terasa sakit untuk mendengarnya, lontaran dan suara jeritan terdengar samar-samar lagi semuanya terasa gelap dan hilang, namun rasa sakit di tubuh ini sangat terasa.· ****Saat mata masih terpejam mata rapat, namun pikiranku terasa hidup kembali, membayangkan gesekan ban motor yang kencang lalu mengingatkanku pada kevin, ingin aku teriak dan memanggil namanya namun susah dan sakit sekali, pelahan ku membukakan mata dengan susah payah, ku lihat disekelilingku terdapat Ayah dan Bunda yang menggemgam erat tanganku, dan beberapa keluarga, teman dekat lainnya rupanya mereka sudah menanti kesadaranku namun hanya satu yang tak terlihat Kevin, dimana dia ? aku benar benar merindukannya ? ingin melihat wajahnya, semuanya tentang dia?Ayah dan Bundapun langsung menanyakan keadaanku.“Bagaimana keadaanmu sayang.”ku jawab dengan terpatah-patah“Sakit, pusing. Dimana kevin bun ?”namun Bunda diam saja, aku yakin mungkin Bunda belum mengenal Kevin karena kita baru jadian dan aku belum sempat mengenalkannya pada Bunda.Lalu Lala mendekat mengahampiriku, dia sahabat dekatku. Berkata sambil membelaiku penuh rasa kasihan.“Ness, kamu yang sabar yah.”“Ada apa si la, ayo critain apa yang terjadi ?” kepala ku mendadak pusing“Kevin sudah tenang disana, kamu gausah khawatir.”“Tenang dimana la, Kevin baik-baik saja kan ?”Tiba-tiba Bunda juga ikut membelaiku, Lala dan bunda ikut mengeluarkan air matanya.“Nessa, Kevin ga bisa selamat. Tapi Bunda bersyukur kamu masih bisa bertahan sayang.”Perkataan Bunda tadi serasa langsung menusuk paru-paruku, membuatku ingin berhenti bernafas saja, otakku tak bisa berfikir jernih lagi. membuatku ingin lari dan memeluk kevin. Pelahan-lahan semuanya kembali normal, dan ku keluarkan air mata yang sejak tadi rasanya ku tahan. * * *Kini ku lari dan ku lihat disana kevin sudah tak berdaya, tubuhnya memar dan bekas darah yang masih memerah terlihat disekujur tubuhnya, namun dia tetap kevinku yang aku sayang, dia tetap terindah untukku.Ingin ku menyalahkan diriku atas semua ini, rasanya benar-benar aku ingin sekali menolak takdir ini, dibalik semua itu aku terfikirkan jalan aspal yang licin dan gesekan ban yang kencang dan itu semua dibuat oleh hujan. Dan hujan telah menjadi saksi cintaku dengan Kevin, mengingatkanku pada semua tentang Kevin.—fb : Farhatul.aini@yahoo.comtwitter : @ainigonilblog : aini-gonilll.blogspot.comemail : ainibarnessa@yahoo.co.id

  • Cerpen Romantis: WANT YOU

    WANT YOU Oleh Bella Danny Justice“maafkan aku fi, aku menyukai Priscilla. Aku mendekatimu supaya aku bisa kenal dengannya. Maafkan aku…”Sudah 1 tahun berlalu tapi perkataan Jun masih teringat jelas dalam pikiranku. Setelah hubungan yang kami jalin selama 5 bulan, akhirnya ia mengaku bahwa ia berpacaran denganku hanya supaya ia bisa dekat dengan kakakku Priscilla. Pertama kali aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya aku memang merasa sangat jengkel. Aku seperti manusia bodoh, mudah di bohongi dan di sakiti.Namun sekarang aku bukan lagi seorang perempuan berseragam putih abu-abu yang terkenal labil. Aku sudah menjadi mahasiswi dan aku harus bangkit dari keterpurukanku dalam masalah percintaan. Sedangkan kakakku Priscilla kini tengah menjalani praktek di rumah sakit Kasih Bunda yang terkenal.Dari lahir aku tidak pernah akrab dengannya, apalagi karna masalah Jun aku jadi semakin membencinya. Dia selalu merebut pria yang dekat denganku sejak SMP. Tak terlukiskan rasa kekesalanku pada Kak Silla. Aku layaknya bom waktu yang dapat meledak kapan saja, terlebih jika menyangkut hal yang berurusan dengan kakakku.“Fi, tolong kasih bekal makan siang ini ke kakak kamu ya. Kampus kamu kan searah sama rumah sakit Kasih Bunda.” Mama menyodorkan rantang makanan itu kepadaku. Tapi aku tidak segera mengambilnya. Melihat rantangnya saja membuat hatiku panas, apalagi memberikannya pada nenek sihir itu.Aku melirik sekilas rantang makanan tak berdosa itu. “Ngga ah ma! Aku ga mau! Mama suruh mas Jono aja yang anterin ke kakak. Lagian aku nanti bisa telat masuk kelas kalau harus mampir dulu ke rumah sakit.” Sangkalku.“Gak bisa Fi, mas Jono mau servis mobil. Udah nih pokoknya mama ga mau tau kamu harus kasih ini sama kakak kamu, titik!” mama menarik tanganku dan menyangkutkan genggaman rantang itu kedalam telapak tanganku dengan paksa.Hahhh…benar-benar hari yang menyebalkan! Keluhku dalam hati.Sesampainya dirumah sakit aku langsung memasuki ruang praktek kerja kakakku tanpa permisi. Tapi beberapa saat aku mencari-cari sosoknya rupanya ia tidak ada. Yang aku lihat hanya seorang pasien sedang berbaring di ranjang dengan matanya yang diperban.Ia terbangun dari posisi rebahannya dan bersandar di punggu ranjang. “Dokter Silla, apa itu kau?” aksen bicaranya seperti orang barat, bahasa Indonesianya pun terdengar kurang fasih.“Mmm…ma-maaf aku bukan Dokter Prisicilla, aku kemari hanya ingin mengantarkan bekal makan siang ini untuknya. Maaf ya, aku permisi dulu.” Jawabku seperti orang salah tingkah. Aku meletakkan rantang itu dengan kasar dan bersiap pergi dari sana. “wait up!” sahutnya membuatku menghentikan langkahku yang tergesa-gesa.“what else?” aku menoleh ke arahnya dan menengok jam tangan dengan gelisah.“who are you?” tanyanya dengan nada datar dan dingin.“i’m Fioren, Priscil’s little sister. Sorry, i have to go now. Bye.” aku langsung mengaktifkan langkah seribu untuk mengejar waktu yang sangat mepet untuk sampai ke kampus.Oh My God! Bisa telat nih! ###Dengan selamat sentosa aku sampai kelas tepat waktu, tetapi selama jam kuliah berjalan hatiku tidak tenang. Aku gelisah dan terus memikirkan pasien laki-laki yang ada di kamar praktek kakakku itu. Konyol sekali, tapi aku ingin bertemunya lagi. Rasa penasaranku ini tak dapat terbendung, dengan nekat sepulang kuliah aku pun memutuskan untuk datang ke tempat kakakku.“eh Fi, mau kemana? Kita ga jadi nonton?” ujar Gisel. Ia memperhatikanku yang sedang merapihkan buku seperti orang kebakaran jenggot.“aduh..jangan sekarang deh Gis! Gue ada urusan nih, besok aja ya. Byee..” seruku seraya meninggalkan kelas dan melambaikan satu tangan pada temanku Gisel.Tiba-tiba.. BAAAMM!!“aduduh…awhh…” erangku kesakitan. Tubuhku jatuh terduduk ke lantai dan buku-buku yang ku pegang berhambur berantakan. Tak lama aku melihat guliran tangan yang seolah berkata “mari, aku bantu kau berdiri.”“maaf, aku tidak sengaja. Mari, aku bantu kau berdiri.” Aku meraih genggaman tangan itu lalu menyibakan debu yang menempel di celana panjangku.“sekali lagi aku minta maaf.” Katanya lagi. Pria ini tampan sekali… pujiku dalam hati.“ah, ya tidak apa-apa.” Ucapku sambil menorehkan senyum sekenannya. Aku baru ingat bahwa aku ingin ke tempat praktek kakakku. Ya ampun, kalau jam segini pasti ia sudah pulang. Dengan terpaksa aku mengurungkan niat untuk pergi kesana.“ini..” Laki-laki itu mengulurkanku buku-buku yang tadi berserakan kepadaku.Aku mengernyitkan dahi dan menatap matanya sepintas. “t-terimakasih, maaf aku sudah menabrakmu.” Pria ini…sepertinya aku mengenalnya? Aku kembali memperhatikan wajahnya dengan seksama. Memandang wajahnya-membuang pandanganku-memandang wajahnya-membuang pandanganku… Aku ingat orang ini!“oya, aku harus buru-buru pulang untuk menyiapkan makan malam. Bye.” Aku tau orang ini, karena itu aku mencari alasan ingin “menyiapkan makan malam” lalu segera pergi dari hadapannya. Ya, walaupun sebenenarnya aku tidak bisa memasak, tapi itu satu-satunya alasan yang melintas di otakku.Pria itu menahan aku. Ia menarik pergelangan tanganku. “jangan pergi Fioren, aku harus menjelaskan sesuatu padamu.”Jun, apa lagi yang kau inginkan dari diriku? Tidak puaskah kau telah menyakitiku? Kenangan masa lalu seakan muncul kembali ke permukaan. Aku sungguh tidak menginginkan ini terjadi. Tapi, tak kupungkiri aku masih menyimpan rasa terhadapnya. Kami pergi ke suatu restauran yang begitu asri dan indah pemandangannya. Aku tidak tau tempat apa ini. Aku tidak tau kemana ia membawaku. Yang aku tau sekarang aku berada di sebuah daerah pegunungan. Sudah 3 tahun aku tidak bertemu dengannya semenjak kelas 1 SMA karena aku meminta pada mamaku untuk pindah sekolah, dan selama itu juga aku bisa lihat penampilannya berubah dari yang dahulu.Sekarang ia terlihat lebih tinggi dan rambut spikenya kini berubah dengan poni menyamping yang menutupi sebagian keningnya. Tidak salah kalau aku pernah jatuh cinta padanya, meskipun ia hanya mempermainkanku tetapi aku tidak menyesal.“mm.. Fio, apa kau masih memendam kebencian padaku?” tuturnya membuka pembicaraan di tengah kesunyian kami.“hanya saat kau mengatakan bahwa kau menyukai kakakku.. hanya saat itu aku membencimu..” ucapku tanpa menatapnya dan melemparkan pandangannku pada pegunungan yang diselimuti kabut tebal.“aku datang menemuimu karna aku ingin mengatakan suatu hal yang dulu tidak sempat aku sampaikan..” wajahnya nampak pucat pasih karna gugup. Jun menelan ludahnya dan berusaha memandangku.“setelah aku menyatakan perasaanku pada kakakmu, ia menolakku. Dan ketika itu aku sadar bahwa aku benar-benar menyukaimu. Dulu aku tidak bersyukur telah mendapatkan wanita sepertimu. Karena itu, sekarang… aku sungguh minta maaf kepadamu Fi, aku ingin kau kembali menjadi wanita-ku.” Ia menatapku dengan wajah memelas dan kening yang berkerut sedih.Aku tidak peduli lagi. Aku sudah melupakannya. Aku meninggalkan Jun dari tempat makan itu. Aku tidak tahan mendengar kata-katanya. Aku ingin bersama dengannya, tapi entah mengapa ada sesuatu yang mendorongku untuk tidak menerimanya lagi.###Sepanjang malam aku hanya berbaring di atas tempat tidur dan membenamkan wajahku ke dalam bantal. Aku terus mengingat-ingat pria itu. Bukan Jun, tetapi pria yang ada di kamar praktek kakakku. Tapi sepertinya pria itu kenal dekat dengan kak Priscil? Karena hanya orang-orang tertentu saja yang memanggilnya dengan sebutan “Silla”. Yaa…mungkin itu pacarnya? Gumamku.Tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu yang membuyarkan andai-andaiku. “Ren, kakak boleh masuk?” seru suara itu. “Ren” adalah panggilan masa kecilku yang diberikan oleh Kak Silla.“ya.” Jawabku bermalasan-malasan. Kakaku yang paling tidak aku sukai mulai memasuki kamarku. Ia berjalan ke arahku dan duduk di sampingku. “Ren, kamu yang anter makan siang tadi ke tempat praktek kakak ya?”“iya.” Aku hanya menjawab sekenannya tanpa menoleh padanya.“mmm…terimakasih ya Ren. Ini ada sesuatu untuk kamu.” ia mengeluarkan sebungkus bingkisan dari belakang tangannya. Sebuah kotak kado berwarna pink bermotif love lengkap dengan pitanya yang juga berwarna pink. Aku berpikir ini tidak mungkin hadiah dari kak Silla. Kak Silla yang melihatku tanpa reaksi akhirnya menjelaskan asal-usul tentang hadiah itu. “ini dari seseorang untuk kamu Ren. Dia ingin memberika hadiah ini untuk kamu. Coba bukalah dulu.”Perlahan aku mulai melepas pitanya dan membuka tutup kado tersebut. Aku sungguh dibuat terkejut oleh hadiah dari orang itu! Sebuah kotak musik dengan lapisan warna emas dan putih yang berukuran sedang, serta terdapat seorang wanita dan pria yang berdansa dengan anggun di atasnya. Lalu aku memutar katup kotak musik itu… dan… melantunlah lagu klasik yang begitu indah. Lagu ini… aku kenal lagu ini! Lagu klasik favoritku! Atau bisa dibilang satu-satunya lagu klasih yang aku tau dan aku suka saat pertama kali mendengarkannya yaitu Nocturne no.2 in E-Flat Major, op.9 no.2 oleh Frédéric Chopin versi dari Vladimir Ashkenazy.Lantunan merdu denting piano yang keluar dari speaker kotak musik itu membawaku terhanyut ke dalamnya. Hatiku terasa tentram, seperti ada ketenangan di balik lagu ini. Lagu ini mampu membuatku tersenyum dan bersedih pada waktu yang bersamaan.“hadiah itu pemberian seseorang. Dia berharap kamu menyimpannya Ren.” Kalimat yang diucapkan kak Silla membuatku tersadar. Aku masih tidak mengerti apa maksud orang itu memberikan hadiah ini untukku, tapi yang pasti aku tidak akan menolak kado indah ini. “ya. Sampaikan terimakasihku kepadanya.” Hanya itu yang bisa aku katakan, untuk saat ini aku belum ingin tahu siapa yang memberikan bingkisan berharga ini.###Sesuai janjiku pada Gisel karna kemarin tidak bisa nonton dengannya, seusai jam kuliah kami pun pergi ke mall dan menonton film. Gisel mengajakku makan di American Grill tetapi sekarang aku sedang tidak selera makan makanan barat. Ketika kedua mataku menangkap keberadaan stand food yang menjual makanan Jepang sederahana kesukaanku Okonomiyaki, aku pun segera melesat ke sana dan membelinya.“enak kan Gis? Makanya jangan makan makanan barat melulu! Coba makan makanan dari kebudayaan lain juga dong, apalagi Okonomiyaki dari Jepang ini.” Pamerku pada Gisel sambil terus melahap makanan itu dengan sumplit yang begitu tipis dan sedikit membuatku kerepotan.“iya iya kali ini kamu menang Fi! Aku akuin ini enak banget.” Balas Gisel yang juga tidak berhenti memakan makan itu dan sesekali menyeruput Blue Iced-nya.Tanpa kami sadari seseorang telah berdiri di hadapan kami. Ia terus menatapku dan tiba-tiba ia menaruh sekotak Okonomiyaki lainnya di atas mejaku. “ini, makanlah yang banyak. Okonomiyaki adalah hidupmu, bukan? Bahkan dulu saat kecil kau pernah merengek kepada kakakmu dan memarahinya karna ia tidak membelikanmu makanan itu.” lalu pria itu melangkah pergi dengan santai sambil memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana panjangnya.Aku terbelalak dibuatnya. Bagaimana bisa orang asing seperti dia tau tentang masa kecilku?! Ketika aku terbangun dari lamunanku, aku langsung berlari mengejar ke arah pria itu tadi berjalan namun aku tidak menemukannya. Dia sepertinya sudah pergi.. tapi siapa dia? Ujarku dalam hati.Gisel yang mengejarku mati-matian akhirnya mendapatkanku. “heh Fi cepet banget sih larinya! Aku hampir kehabisan nafas nyusul kamu, tau?!”Siapa laki-laki tadi? Tapi sepertinya tidak asing…Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Aku ingin penjelasan! Setelah mengantar Gisel kerumahnya aku segera membalikan stir mobil ke arah tempat praktek kakak ku bekerja. Aku merasa dia tau akan hal ini. Aku merasa dia punya andil atas keanehan yang terjadi padaku belakangan ini.Dengan langkah berdebum aku menuju ke sana. Entah mengapa hatiku sekarang seperti air mendidih, aku takut emosiku meluap ketika mengetahui semuanya. Aku takut aku menyesal karena telah datang ke sini.Akhirnya aku tiba di depan pintu kamar praktek kakak ku. Aku menyentuh gagang daun pintu itu dan bersiap mengayunkanya ke bawah, tapi niatku terhenti saat mendengar percakapan yang sedang teruntai dari dalam ruangan.“aku sudah memberikan hadiah itu kepadanya. Ada lagi yang ingin kau sampaikan untuknya?” suara kak Silla begitu jelas terdengar. Apa hadiah yang dia maksud adalah kotak musik itu?!“tidak perlu. I just met her, dan itu sangat menyenangkan. I saw her face was full of questions of who i am saat aku memberikan Okonomiyaki kepadanya and mengatakan kejadian masa kecilnya dulu about that food.” Ujar orang itu sambil terkekeh. Apa?!“apa? Kau berani sekali! Why don’t you just tell the truth?” balas kak Prisicilla.“i don’t have such courage to say.” Kali ini suara pria itu melemah dan terdengar putus asa.“aku yakin adikku pasti akan menerimamu.” Aku tidak sabar lagi! Dengan perasaan yang kacau aku memasuki ruangan tersebut. Dan terpampanglah pemandangan yang tidak mengenakan kedua mataku. Kakaku sedang berpelukan dengan pria itu! Aku hanya berdiri mematung menyaksikannya. Air mataku bahkan tidak dapat keluar, tetapi di dalam, hatiku menjerit. Tenggorokanku tercekat sehingga tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku tidak tau mengapa kejadian yang ku liat ini begitu menyakitkan padahal aku tidak mengenal pria itu.Aku melangkah pergi dari sana dengan keadaan tubuh yang agak limbung dan kepala yang berkunang-kunang. Kaki ku melemah, seluruh syarafku seperti terhenti yang alhasil membuatku jatuh pingsan.seseorang sepertinya menggendongku? Aku bisa merasakan nafasnya yang tersengal-sengal, di dalam pelukannya aku merasa nyaman. Aku juga bisa mendengar denyut jantungnya yang berdetak cepat, ia nampaknya begitu khawatir dengan keadaanku. Aku ingin sekali melihat orang ini, tetapi mataku tidak dapat terbuka…###Aku tidak tau sudah pingsan selama berapa jam, tetapi yang pasti sekarang mataku seperti menempel dan aku kesulitan membuka kelopak mataku. Namun usahaku yang gigih membuahkan hasil yang manis. Ketika mataku sudah benar-benar terbuka, yang aku lihat hanya kak Prisicilla yang duduk di sisi kiri ranjang tempat aku terbaring dan seorang pria yang sedang terlelap di sisi satunya sambil… menggengam tanganku?!“Fioren, kamu sudah sadar?!” kak Priscil tersentak melihat aku yang sudah siuman. Ia langsung mengecek keadaanku secara seksama menggunakan stetoskopnya. “kamu baik-baik saja bukan? Maafkan kakak Ren,” sambung kakakku itu. Karena reaksi kak Priscil yang cukup menghebohkan pria itu pun terbangun dari tidurnya.“Fioren, you’re awake? are you all right?” cara pria itu mencemaskanku terasa tidak aneh bagiku. Aku justru merasa bahagia akan kekhawatirannya. Tapi, siapa dia?“siapa kau?” aku tidak yakin suaraku akan terdengar jelas karena kerongkonganku sedikit sakit ketika bersuara.“Fioren, dia Daniel… dia teman kakak saat di panti asuhan dulu.” Sela kak Priscill. Dia nampak pucat saat mengucapakan kata-kata itu.“panti asuhan? Apa maksudmu?!” aku sengaja menaikan intonasi pembicaraan. Jadi selama ini Priscilla adalah kakak angkatku?“mama dan papa berencana untuk tidak pernah mengatakan hal ini kepadamu, tetapi aku tidak bisa menyimpan rahasia akan siapa diriku selamanya karena kelak kau pasti menyadarinya.” Wanita yang kukenal sebagai kakak kandungku menghentikan kalimatnya sejenak, ia menghela nafas dan melanjutkannya. “saat dulu kau masih kecil sekitar umur 7 tahun kau dan orangtuamu datang ke panti asuhan untuk menjemput aku, tetapi kau begitu marah dan tidak setuju, kau berlari sampai ke tengah jalan dan sebuah mobil hampir menabrakmu, syukurlah itu tak terjadi. Dia… Daniel teman sebayaku yang menyelamatkanmu. Kau pingsan dan Daniel menggendongmu dengan tergopoh-gopoh, tapi Daniel tidak menyerah. Namun ketika kau sadar, kau menangis sangat keras begitu melihat Daniel. Sejak saat itu Daniel terpukul atas sikapmu. Ia me…” “let me tell the rest Silla. Aku menyukaimu Fioren, karena terlalu menyukaimu akhirnya aku memutuskan pergi dari kehidupanmu. Kebetulan aku juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah di Amerika dan aku mengambil kesempatan itu sekaligus untuk melupakanmu. Selama 11 tahun aku tinggal di sana tetapi tidak kunjung menemukan pengganti dirimu, setiap malam aku selalu terbayang wajahmu yang ketakutan saat melihatku… aku sangat merindukanmu dan ingin bertemu tapi aku tidak mau membuatmu menangis…” Daniel menghentikan ceritanya. Ia tertunduk lurus menghadap lantai rumah sakit. Aku bisa mendengar suaranya yang serak seakan tak sanggup melanjutkan cerita masa lampaunya yang memilukan.Tubuhku bergerak dengan sendirinya. Perlahan langkah kakiku menghampiri pria yang di sapa Daniel itu. Aku tidak lagi menangis ketika melihatnya, tetapi justru aku sangat bahagia. Aku tidak tau apa yang dulu telah terjadi sehingga aku bersikap begitu kejam terhadapnya. Aku tidak mengerti mengapa aku tidak bisa mengingatnya. Tapi kini semua sudah jelas. Inikah sebabnya mengapa aku sangat ingin bertemu dengannya sejak pertama kali bertemu dia? Maafkan aku Daniel…Aku menyentuh pundak laki-laki itu dan berkata. “maafkan aku Daniel… aku janji tidak akan menangis lagi karena melihatmu, justru sekarang aku sangat bahagia…”Daniel menengadahkan kepalanya dan menatapku tak percaya. Ia berdiri dan mendekapku ke dalam pelukannya. “thank you Fioren.”###Keesokan harinya mama dan papa menjelaskan bahwa dulu aku sempat menderita amnesia anterograde dan retrograde secara bersamaan. Aku tidak mampu mengingat kejadian sebelum hampir tertabrak mobil dan tidak dapat mengingat kejadian setelahnya karena trauma parah. Aku tercengang mendengarnya. Karena itu kah aku sampai melukai perasaan Daniel? Di tengah-tengah keheningan kamarku yang hanya dihiasi oleh lantunan musik klasik pemberian dari Daniel handphone-ku berdering dengan nyaringnya. Aku melirik layar hape itu dan melihat sebuah nomer yang tidak ku kenali. Aku menempelkan benda kecil itu ke telinga. “siapa ini?”“ini aku Jun, Fioren.. tolong jangan matikan telfonnya.” Pinta suara itu dari sebrang dengan nada lemah lembut.“ada apa lagi?” jawabku sekenannya.“aku ingin bertemu denganmu. Besok aku jemput sehabis jam kuliah.” Kemudian sambungan telfon itu terputus begitu saja. Dasar seenaknya! Kau pikir siapa dirimu?!Pria menyebalkan! Gerutuku dalam hati.Besok hari setelah jam kuliah berakhir aku bergegas meninggalkan ruangan supaya tidak bertemu Jun. Namun harapanku tampaknya tidak terkabul. Ia sudah menungguku di depan pintu dengan beberapa wanita yang kelihatan sedang mengaguminya. Dasar wanita-wanita bodoh! “aku cuma ingin bertemu denganmu untuk terakhir kalinya Fioren. Jadi aku mohon kau jangan kabur seperti waktu itu.” ucapnya kemudian menarik pergelangan tanganku dan memasuki mobil.“kita mau pergi kemana? Aku ada janji dengan seseorang jadi jangan lama-lama.” Ujarku ketus tanpa memandangnya.“tidak lama, aku juga ada janji dengan seseorang kok.” BalasnyaBeberapa saat kemudian tibalah kami di sebuah… Bandara?! Aku tidak tau apa yang sedang direncanakan oleh Jun. Tetapi aku rasa ini akan sangat mengejutkan.Tiba-tiba Jun menunjuk ke suatu arah sambil berkata. “ah itu dia! Ayo Fioren!” ia kembali menarik tanganku dengan cukup keras dan membuatku sedikit tidak nyaman namun aku tak dapat mengelaknya. Kami berjalan mendekati seseorang yang sedang berdiri tegap menghadap ke arah luar jendela transparan yang besar.“hai Daniel!” sahut Jun dengan semangatnya. Apa yang dia katakan barusan?! Daniel?! Pria yang di panggil Jun sebagai ‘Daniel’ itu pun membelokan badannya dan perlahan berhadapan dengan aku dan Jun. Ini benar-benar suatu surprise yang tak terduga! Aku tak dapat bergerak dan mematung di samping Jun. Bagaimana mungkin?! Apa dunia sesempit ini?! Jun mengenal Daniel?!“Fioren… k- kau? Kau kenal dengan Jun?” Daniel mengucapkan kalimatnya dengan sedikit terbata-bata. Aku rasa dia juga sama shocknya seperti aku.Jun tertawa terbahak-bahak melihat kekikukkan yang menimpa kami. Ia tertawa dengan lepasnya dan membuatku jengkel seolah ia meledekku! “kenapa kau tertawa?!” bentakku padanya yang seketika menghentikan tawanya.Jun meraih tangan kananku dan ia juga meraih tangan kiri Daniel. Ia meletakkan tangan Daniel di atas punggung tanganku dan menyatukannya. “tetaplah bersama sampai maut memisahkan kalian. Sudah waktunya aku untuk kembali ke Amerika. Daniel, jaga Fioren dengan baik! Itu perintahku. Selamat tinggal semuanya.” Jun, pria itu menyunggingkan seulas senyum manis sesaat sebelum meninggalkan kami berdua. Aku tidak percaya bahwa ini sungguh pertemuan terakhir antara aku dan dia. Aku berlari mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Ia menghentikan langkahnya dan membalas pelukanku. “terimakasih untuk semuanya Fioren. Aku senang bisa mengenalmu.” Jun memegang pundakku dan mengendurkan dekapannya. Ia terus berjalan sampai aku tak dapat lagi melihatnya.Aku rasa baru saja beberapa tetes air mata berjatuhan membasahi pipiku. Aku menghapusnya tetapi semakin banyak linangan air mata yang keluar. Lalu aku merasakan seseorang mengegam erat bahuku. Ia membelai rambutku dan menciumnya dengan lembut. “don’t cry, i’ll always be by your side ”###2 tahun kemudian…Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi keluargaku, terutama kakak angkatku yang sudah kuanggap seperti saudara kandung sendiri yaitu Kak Priscilla. Ia merayakan pesta pernikahannya dengan pasangan yang juga seorang dokter keturunan barat bernama Fritz, sedangkan aku menjadi pengiring pengantin untuk kakakku.Aku berharap suatu hari nanti aku dapat menyusul kakakku bersama Daniel. Tetapi aku rasa aku harus menundanya karena Daniel sekarang sedang melanjutkan study S2-nya di Amerika. Ia berjanji setelah semua urusannya selesai kami akan segera menikah dan aku menunggu akan hal itu. Seharusnya sejak 1 minggu yang lalu dia sudah kembali ke Indonesia, namun tidak ada kabar darinya. Aku sedikit kecewa dan cemas akan sikapnya belakangan ini. Aku takut ia memiliki wanita lain di sana dan membatalkan rencananya denganku.“hei, Fioren! Kenapa tidak ikut dengan yang lainnya untuk memperebutkan buket bunga pernikahan kakak!? Siapa tau kau yang mendapatkannya dan bisa segera menyusulku.” Ucapan kak Silla yang cukup kencang membuatku malu. Aku sebenarnya tidak ingin ikut berpartisipasi dalam hal ini, tapi yasudahlah…Saat kak Silla menghitung dari 1 sampai 3 ia langsung melemparkan buket bunga itu ke belakang tepat ke arah para undangan yang hadir dan berebutan untuk mendapatkannya.“will you marry me Fioren?” perkataan seseorang itu membuatku yang sedang meneguk segelas sirup stroberri tersentak.Aku menoleh ke arah suara itu. Aku melihatnya! Daniel datang! Ia dengan buket bunga yang dilempar tadi oleh kakakku! Ia berlutut dengan satu kaki dan mempersembahkan buket bunga itu. Tanpa ragu aku meraihnya dan berkata. “yes, of course!” aku melompat kegirangan lalu memeluk Daniel. Ia memberikan kejutan yang membuatku tak bisa berkata-kata sedikitpun.Dalam pelukan Daniel, dari kejauhan aku melihat sebuah mobil sedan hitam di depan gerbang rumah. Pria itu memakai kacamata hitam, ia tampak sedang memperhatikan kearah ku, sadar jika aku mengetahui keberadaannya ia lalu melajukan mobilnya dan pergi dari sana.Aku dan Daniel berdansa dengan diiringi musik klasik favoritku. Kami berdansa dengan anggun layaknya patung pria dan wanita di kotak musik pemberian Daniel.Jun, aku sangat bahagia…Aku harap kau juga merasakan kebahagian seperti aku…DE ENDTWITTER : @bellajusticeeFB : Bella JusticeGive a comment so i could write a better story ^_^ thank you for reading my work!Hope you all enjoy it! ;)Cerpen Bella yang lain: Everlasting, LOVE THAT I SHOULD HAVE, THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES, dan Kenangan yang Terlupakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*