Cerpen Lucu Mis. TULALIT part 2 {Update}

Inget cerita mis tulalit sebelumnya? Soalnya kali ini admin muncul dengan lanjutan Cerpen lucu mis tulalit part 2. Secara kalau di end gitu aja kan nggak asik. Ngomong – ngomong cerpen yang satu ini tokoh tokohnya semua admin ambil dari nama temen – temen sekolah Admin dulu lho. Wkwkwkwkwk, nggak papa lah, toh mereka nggak ada yang baca ini. #krik #krik
Nah, biar nggak kebanyakan bacod mendingan kita langsung baca aja yuk. Cekidot…

Cerpen lucu mis tulalit
Cerpen lucu Mis Tulalit

Letak rumah April memang tidak terlalu jauh dari sekolahnya, sehingga biasanya ia pulang-pergi hanya perlu berjalan kaki barengan sama Sri yang rumahnya tepat didepan rumah April. Sambil terus berjalan tak jarang mereka saling mengobrol dengan topic yang beraneka ragam. Dari hal yang penting sampe yang tidak penting sama sekali selalu berhasil menjadi pembahasan di antara mereka. Suatu hal yang tidak akan bisa mereka lakukan lagi sekiranya waktu telah berlalu dan masing – masing sudah melanjutkan jalan hidupnya sendiri sendiri. Saat – saat yang pasti akan mereka rindukan kelak nantinya.
“Oh ya, senin besok kan udah mulai tryout nih, gimana persiapan kalian?” tanya Minda. Kebetulan hari ini ia juga jalan kaki begitu juga Gia dan Nia. Lagi pula mereka memang tinggal dalam satu kompleks.
“Kalau gue sih udah siap luar dalam,” balas Sri yang memang terkenal kutu tumo, eh salah maksudnya kutu buku.
“Memangnya kamu nyiapin daleman buat apa?” tanya April heran.
“Kok daleman sih? Gila loe,” semprot Sri cepat. “Maksud gue itu luar dalem. Kalau luar misalnya pencil, penghapus, ruler sama peralatan ujian lain lah pokoknya. Sedangkan dalam maksudnya ngapal materi yang buat diujiankan. Bukannya pakaian dalam. Nggak nyambung banget sih loe.”
“O… kirain,” April mangut-mangut paham.
“Dasar Mrs. Tulalit,” ledek Gia ikutan nimbrung.
“Jadi loe udah nyiapin luar dalam juga nggak pril?” tanya Nia tiba – tiba.
“Kalau dalamnya sih adalah dikit-dikit tapi kalau luarnya udah belom ya?” April mencoba mengingat-ingat.
“Ah elo, ditanya malah balik nanya. Gimana sih,” Nia sewot.
“Memangnya loe kemaren udah beli peralatannya belom?” tanya Sri.
“Kalau nggak salah sih kemaren udah. Tapi gue taruh dimana ya?”.
“Ya Allah April. Ampun deh.”
“Lama-lama kayaknya sakit loe makin parah ya?” tambah Gia yang nggak habis pikir akan sifat lupa sahabat nya yang satu ini. Nia, Minda dan Sri juga hanya bisa menatap April miris, sementara yang di tatap justru malah tengelam dalam ingatannya sendiri. Ingatan yang ia harapkan bisa menemukan peralatan sekolahnya.
Begitu sampai dirumah, April langsung masuk ke kamar dan mencari peralatan sekolahnya. Pas ia mau membuka pintu lemari tempat ia menyimpan barang-barang, pintu tersebut terkunci rapat. Terpaksa ia harus mencari anak kuncinya terlebih dahulu karena ia lupa kemaran naruh dimana. Seingatnya sih di laci meja belajar, tapi kok nggak ada. Diatas pintu dan jendela yang biasa ia taruh sembarangan juga nggak ada. Bahkan dikolong meja, kursi, lemari sama tempat tidurnya juga hasilnya sama. Nihil!
Ditengah keputus asaannya akhirnya April menemukan benda mungil tersebut. Ternyata kuncinya ada di dalam Vas bunga meja belajarnya. April baru ingat kemaren waktu ia buru-buru mau keluar tu anak kunci memang ia selipin si situ.
“April sudah siang nih. Makan dulu!,” terdengar teriakan mamanya dari dapur.
“Ia ma, bentar. April mau ganti baju dulu!” sahut April balas berteriak.
Selang sepluluh menit kemudian, April melangkah keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian yang biasa ia kenakan saat di rumah. Dengan langkah ogah-ogahan ia berjalan menuju kedapur. Hatinya sudah bisa menebak apa yang terhidang di meja makan. Pasti tumis kangkung sama sambal kacang kalau nggak sama tempe goreng. Tiap hari kangkung kangkung kangkung. Mentang mentang tinggal ngambil dibelakang rumah. Memangnya kambing apa, gerut April dalam hati.
Setelah mengambil piring dan sendok April duduk dan menbuka tudung saji. Begitu melihat apa yang terhidang dihadapannya, ia langsung kaget. Dikucek-kucek matanya kali aja salah melihat, tapi enggak. Dicubit lengannya sendiri keras-keras
“Auww sakit,” jerita mengaduh keluar dari mulut April. Jadi dugaan kalau itu mimpi segera sirna.
Ia heran apa yang ada dihadapannya bukanlah seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Kini yang terhidang diatas meja adalah nasi dengan lauk rendang daging, gulai ayam, tumis mie dan tiga butir telor rebus. Ditambah acar mentimun, lengkap dengan kacang dan nenasnya, walaupun nggak ketinggalan tumis kangkung dan ikan asin goreng.
“Lho Pril, makanannya kok cuman dilihatin aja?” tanya mama yang baru muncul dari belakang, heran karena April bengong melototi makannya.
“Makanan segini banyak datangnya dari mana?” tanya April.
“O, itu. Tadi budemu yang mengantarkannya kesini. Kemarenkan anaknya baru nikah, jadi bikin acara kenduri walimah, dan kebetulan sisanya masih banyak banget. Makanya dibawa kesini,” terang mama kemudian.
“Coba aja ya ma, tiap hari kita makannya kayak gini! kan enak. Ini nggak asyik kangkung terus!” komentar April berandai – andai.
“Sudah jangan ngayal kamu, kan masih untung bisa makan pakek sayur, walau Cuma sama tumis kangkung dari pada hanya pekek garam,” sergah mama menasehati.
Mendengar ia April tidak berkomentar apa – apa lagi. Lagi pula apa yang mama katakan sepenuhnya benar. Sekiranya ia selalu mengharapkan sesuatu yang lebih tanpa meresapi apa yang ia punya kapan ia bisa belajar bersukur. Akhirnya disendokannya nasi dan mulai memakan makannya. Kali ini April makan dengan sangat lahap, bahkan ia sempat nambah. Selesai makan ia langsung menuju kekamarnya untuk kembali mencari peralatannya yang masih belum ia temukan.
“Ma, ada lihat penghabus April nggak?” teriak April dengan suara kenceng. Karena kebetulan ia sedang ada di kamar, sementara ibunya sendiri sedang berada dibelakang.
“Apa?” sang mama balas berteriak.
“Lihat karet penghapus April nggak…..???!!!!” kali ini suaranya lebih kenceng karena sepertinya mama masih nyuci dikamar mandi.
“Apa……? Ada tikus….!”
Dengan tergopoh-gopoh mama datang lengkap dengan sapu lidi ditangan
“Mana Pril…..! tikusnya…..?” tanya mama April kaget.
“Bukan tikus mama…! Tapi karet penghapus. Mama ada lihat karet penghapus April nggak?” terang April.
“Kamu ini. Mama kira ada tikus, nggak taunya karet penghapus.”
Lah ini kenapa malah April yang kena marah. Ia tadi kan hanya bertanya. Lagi pula siapa yang salah coba. Orang di bener ngomong penghapus. Kalau mama yang salah nangkep harus nya itu bukan salahnya donk.
“Yah mama. Kan mama yang nggak denger. Jadi gimana? Mama ada lihat nggak?” ulang April kesel. Pertanyaanya saja belum di jawab, eh ia malah di marahi.
“Nggak tuh. Digudang kali. Sudah cari sendiri aja, mama lagi nyuci, kamu ganggu aja,” jawab mama sambil berlalu meninggalkan April dengan tampang bingungnya.
“Ah mama, suka ngasal banget si. Hari gini nyari penghapus di gudang,” sungut April sembari melanjutkan pencariannya.
Tapi dicari bagai mana jugak tetap nggak ada, bahkan April telah membongkar tumpukan bukunya berkali-kali, siapa tau terselip, tetapi hasilnya tetap. Nihil!.
Saat sedang kebingungan, telinga April menangkap suara sumbang Bintang, adiknya yang sedang melantunkan lagu ‘Masih disini masih denganmu’ milik goliat band yang lagi ngetren di TV. Sepertinya adeknya baru pulang dari jalan-jalan.
“Bintang loe ada lihat karet penghapus kakak nggak?” tanya April langsung begitu ia melihat batang hidung adeknya.
“Karet penghapus?” Bintang balik bertanya.
“Ia….! mereknya Fabercastel. Warna putih, loe ada lihat nggak….??!!” tanya April lebih mendetail.
Bintang terdiam. Mencoba mengingat – ingat apa yang di ucapkan kakaknya barusan
“O…! Itu. Bintang pakek buat ngganjal meja belajar, habis tinggi sebelah. Jadi goyang-goyang. Kebetulan Bintang liat ada karet penghapus kakak yang nganggur. Ya sudah. Bintang pake deh,” terang Bintang dengan tampang watados alias wajah tanpa dosa sama sekali.
“Apa?!” April tampak kaget sekaligus tidak percaya.
“Ya…. Sory… Kirain nggak dipakek. Lagian Bintang temuin ada dikolong tempat tidur kakak. Ya udah Bintang ambil. Habisnya kalau pakek kertas, takut nanti malah ada kecoaknya. Hi…” terang Bintang sambil bergidik ngeri membayangkan apa yang terlintas dalam benaknya barusan.
“Dengkul mu ditaruk diotak ya…..???!! Eh salah otak loe ditaruk didengkul ya. Aneh-aneh aja kelakuannya, kenapa nggak sekalian buat ngeganjal rumah aja?!” omel April tidak kira – kira.
“Kekecilan kali kak. Lagian sejak kapan rumah kita bisa goyang-goyang…” balas Bintang santai.
“Udah sini balikin,” perintah April tidak sabar.
“Iya ,bentar. Bintang ambil dulu.”
Bintang langsung menuju kekamarnya. April hanya menunggu diluar dengan hati mayun.
“Nih,” kata Bintang sambil menyerahkan penghapusnya ketangan April.
April cengo ketika menatap benda mungil yang kini dalam gengamannya. Bintang benar benar makhluk yang tidak berperasaan. Penghapusnya kini telah berada dalam kondisi tragis. Selain sudah patah jadi dua persis kayak lagunya ‘alda’ karena tidak kuat menahan beban meja, Warnanya juga sudan nggak karu – karuan. Dari putih polos menjadi abu-abu dengan bintik-bintik hitam.
“Kok jadi gini sih?!” April nggak terima.
“Ya. Emang begitulah keadaannya,” sahut Bintang dengan logat drama.
“Nggak bisa! Pokoknya loe harus ganti.”
“Mau ganti pakek apa, Bintang aja nggak punya duit buat beli.”
“Kakak nggak mau tau pokoknya loe harus ganti,” April ngotot.
“Ada apa sih ni. Kok ribut-ribut,” tanya mama yang baru muncul karena mendengar suara gaduh.
“Bintang ni ma. Masa karet penghapus April di pakek ngeganjal meja belajar dia, terus dikembalikan kondisinya udah kayak gini,” April sambil menunjukkan karet penghapus yang ada ditangannya.
“Lho?! Kan malah jadi dua?” tanya mama heran.
“Mama gimana sih, ini kan jadi dua karena patah.”
“Tapikan masih bisa dipakek.”
“Dipakek gimana? La wong kotor gini. Banyak debunya, terus jadi item kayak mukanya dia,” kesel Arpil sambil menujuk lurus ke wajah adiknya. “Entar kalau dipakek, yang ada kertas ujian April malah rusak,” tambah April lagi.
“Ya sudah. Jangan marah-marah. Nggak enak di denger tetangga. Lagi pula kamukan bisa beli lagi. Lagian adikmu pasti nggak sengaja.”
“Bener ma,” timpal Bintang cepat. Merasa diatas angina karena ada yang belain.
“Mama kok jadi belain dia sih?! Jelas – jelas dia yang salah. Lagian Arpil uang dari mana coba?!”
“Kalo gitu pakek aja nih uang mama,” ujar mamanya sambil merogoh saku dan memberikan uang pada April.
“Seribu…..!!! Buat apaan…..??!! Mana cukuplah ma….!!”
“Mama adanya cuman segitu. Ya kamu tambahin aja, pakek uang jajan kamu. Udah mama mau kebelakang dulu, mau menyelesaikan cucian, jangan ribut-ribut lagi.”
Selesai berkata mama langsung meninggalkan mereka, Bintang juga langsung cabut entah kemana, takut disemprot lagi sama kakaknya. Dengan perasaan mayun April kembali masuk kekamar, langsung rebahkan kasur dan tertidur pulas.
Cerpen lucu mis tulalit ~ 02
Waktu baru menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit, tetapi suasana kelas April terdengar sangat gaduh sekali, hampir semua siswa sudah datang, maklum hari ini adalah hari pertama ujian try out.
“Nia kamu punya pencil berapa?” tanya April.
“Satu.”
“Kalau ruler…..?”
“Satu juga.”
“Kalau karet penghapus?” tanya April lagi.
“Sepuluh… “jawab Nia nyasal, habis temannya yang satu ini ada-ada saja pertanyaannya.
“Sepuluh?!” wajah April tampak sumeringah
“Ada apa sih? Heran gue, masih pagi ni. Jangan bikin yang aneh-aneh dulu deh.”
“Siapa yang aneh. Loe kali, masak cuman nanya karet penghapus doang nggak boleh. Tapi beneran loe punya karet penghapus sepuluh?”
“Ya enggak lah. Secara buat apaan. Satu aja nggak abis ngapain gue pake sepuluh coba.”
“Tu kan loe yang aneh, jadi orang plin-plan banget sih. Belum juga ada lima menit April nanya, udah bikin orang bingung. Sebenarnya yang pantas dipanggil Mis Tulalit tu siapa sih,” sungut April kesel.
“Bener – bener deh loe pri. Kayaknya ngomong sma loe harus lurus aja ya,” Nia geleng geleng kepala.
“Akh, dasar elonya aja yang kebanyakan belal – belok. Ditanya beneran juga. Loe itu punya karet penghappusnya satu atau sepuluh?”
“Satu,” balas Nia singkat dan padat.
“Tinggal jawab satu aja molornya kemana-mana. Nggak tau apa Time is money.”
“Time is Money. Heh, sok gaya banget sih loe," cibir Nia. “Tapi buat apa sih pagi-pagi loe nanyain peralatan segala?” tanya Nia heran.
“April nggak punya karet penghapus,” sahut April dengan raut sok sok an di buat lemes. Sengaja mencari simpati Nia yang kini menatapnya.
“Pensil ama ruler juga……??”
“Bolot juga ya loe. Sama kayak mama dirumah. Kan tadi April bilang cuman karet penghapus.”
“Kalau gitu ngapain tadi nanyain pensil sama ruller gue?” tanya Nia tidak mengerti.
“Sekedar basa-basi. Ya biasalah tradisi orang Indonesia. Loe belom tau ya? Makanya kalau baca tu koran sindo, jangan koran kiloan,” lagak April sok menasehati.
“Basa basi apaan. Ini tu basa-basi, tapi bahasa basi. Tadi bukannya sok time is money”
“Eh lupa..” April cengengesan.
“Kalian berdua kenapa sih…..? Pagi-pagi udah cek-cok, bukannya siap-siap buat try out, padahal kan udah bel, pasti bentar lagi pengawas datang,” sela Sugeng yang dari tadi hanya menonton ulah keduanya.
“Gara-gara Mrs. Tulalit nih…. Dodol,” ledek Nia.
“Heran, sama – sama dodol kok ngatain orang dodol,” gumam Izal santai tanpa memperduliakn Nia yang melotot padanya.
“Enak donk,” balas April tak kalah santai. Secarakan dodol makanan favoritnya. Apalagi kalau dodol Garut. Mak nyoss.
Nia sudah ingin buka mulut, tetapi terpaksa dibreack dikerongkongan dan kembali ditelan keperut, pasalnya dua orang pengawas sudah ada diambang pintu. Siap dengan setumpuk soal ditangan.
Suasana kelas langsung hening, persis dikuburan, masing-masing konsentrasi sama soalan bahasa indonesia, bahkan sangking heningnya sampai suara sayap nyamuk yang berterbangan pun terdengar. Baiklah, bercanda. Suara nyamuk berterbangan terdengar bukan karena suasana hening tapi karena kebetulan sekolahan mereka memang berada di dekat kebun karet (???).
Tepat pukul 09:30 WIB semuanya harus mengumpukan semua jawaban berserta soal. Selanjutnya istirahat setengah jam, baru nanti pukul sepuluh dilanjutkan dengan soalan bahasa inggris
“Bagaimana Pril, soalannya tadi. Susah nggak?” tanya Nia sambil duduk disampingnya. Selama ujian mereka memang duduk berjauhan karena pembagian kursi berdasakan abjad.
“Tengan aja. Pokoknya kalau sama April dijamin deh, semuanya pasti rebes,” sahut April tegas.
Nia hanya mencibir sambil mengelengkan kepala prihatin. Secara yang di maksut sahabatnya rebes, bukan beres.
“Tapi nggak papalah Pril, tenang aja inikan baru try out,” ujar Jumy menyemangati. Sementara sebelah tangannya dengan santai menyuapkan bakwan goreng yang di beli di warung mbak yem tadi pagi. Karena tak sempat sarapan di tambah tadi juga sudah langsung masuk kelas gadis itu memang sengaja menyembunyikan makanannya di dalam laci meja.
“Iye ke…” ledek Dedew sinis. Setelah mengemasi peralatan tulisnya ia bangkirt berdiri. “Eh keluar dulu yuk, cari angin segar dulu,” ajak Dedew sambil melangkah keluar disusul teman temannya yang mengekor di belakan.
Selang beberapa waktu kemudian detengan bel kembali terdengar tanda ujian selanjutnya segera di mulai. Masing masing siswa dan siswi kini sudah siap dihadapan meja masing masing. Dan April sendiri benar-benar dibuat pusing tujuh keliling, pasalnya dari 50 soal yang diberikan nggak ada satu pun yang nyangkut diotaknya. Abis bahasa inggris yang ia tau hanya ‘yes’ dan ‘no’ doank.
April ngelirik Izal, tapi Izal sama sekali tidak menoleh kearahnya. Begitu juga dengan zofa dan Idah. Mau minta tolong sama Nia, posisinya tidak memungkinkan banget. Apalagi ia duduk tepat dihadapan meja pengawas.
Apa akalnya? Apalagi jarum jam di dinding terus perbutar. Sampai kemudian April mendapatkan ide yang super brilian gila. Mau tau?. Nggak usah deh, soalnya rahasia. Ntar kalau dikasi tau pada niru kaya April semua. So untuk kebaikan kita semua, mending di sensor saja ya.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah menunjukkan pukul 11:00 lebih 30 menit, masih tersisa setengah jam lagi sebelum bel bertanda pulang terdengar . Tapi April tenang-tanang saja, duduk diam sambil memainkan tutup bulpennya, dibuka dipasang, dibuka lagi, trus dipasang. Kok bisa santai? Ya iyalah, secara ke 50 soal yang diberikan sudah terisi semua.
“Lho April, kok kamu santai – santai. Memangnya sudah selesai?” tanya pak Surasman. Kebetulan hari ini memang giliran beliau yang ngawas dikelas April barengan sama bu Murtafiah.
“Sudah Pak,” jawab April santai. Bu Murtafiah sedikit mengenyitkan alisnya tanda heran, begitu juga teman-temannya.
“Dia pakek ide gila apa lagi sekarang,” gumam Nia sendiri. Secara Nia kan tau betul dengan ulah ajaib sahabatnya yang satu ini.
“Selesai? Kamu yakin?” tanya Pak surasman mencoba menyakinkan.
“Yakin pak,” sahut April mantap.
“Coba dicek lagi, mungkin ada yang ragu,” saran Bu Murtafiah menasehati.
“Udah kok bu, sudah tiga kali malah. Lagian mau diulang sampai sepuluh kali pun hasilnya akan tetap sama. Kan kancingnya tetep tujuh,” terang April polos.
“Kancing? Maksut kamu,” Bu Murtafiah tampak makin curiga. April yang menyadari ada yang salah dengan apa yang ia katakan segera berusaha untuk meralat kembali ucapannya.
“Ehem. Anu bu…..April salah ngomong. Maksut April kunci bukan kancing. Iya kunci jawabannya lima, A, B, C, D dan E ya jawabannya kalau nggak A ya B, mungkin C atau malah D bahkan bisajadi jawabanya E. Jadi April tinggal milih salah satunya aja.”
“Tapikan nggak berarti bisa asal milih sembarang aja.”
“Siapa yang milih sembarangan, orang April pakek perhitungan juga kok.”
“Maksudnya?” Pak Surasman ikut ikutan curiga.
“Perhitungan apa?” kejar Bu Murtafiah.
“Perhitungan…… e …… perhitungan apa ya……?! pokoknya perhitungan lah,” sahut April gugup yang memuat dirinya semakin tampak mencurigakan. Ida dan Sofa’ sendiri tampak saling pandang. Sepertinya kedua orang itu juga merasakan hal yang sama.
“Jangan-jangan kamu nyontek ya?” tebak Bu Murtafiah tiba – tiba.
“Astahfirulloh hal azzim . Itu sih namanya pencemaran nama baik bu. Secara yak an. Seorang April, yang sudah terkenal baik hati, tidak sombong, rajin menabung serta berbakti pada orang tua. Jadi mana mungkinlah April nyontek. Dan kalau bapak sama ibu masih nggak percaya, silakan tanya sama teman-teman April. Atau kalau nggak ibu bisa periksa aja meja April.”
“Iya buk. Kami semua kenal April kok. Dia nggak mungkin nyontek,” sela Izal yang dari tadi hanya mendengarkan ikut angkat bicara. “Yah kecuali kalau memang ada kesempatan sih,” sambungnya bergumam lirih yang langsung di hadiahi pelototan tajam setajam silet dari si April.
“Benar buk. Dia emang rada-rada tulalit sih, tapi dia nggak mungkin bikin curang gitu kok,” tambah Guntur yang langsung mendapatkan lirikan dari si Minah. Wah tumben – tumbenan ni anak baik. Pasti ada udang di balik bakwan.
“Kalau mau bantui, ya sudah. Bantuin aja. Tapi nggak usah pake ngehina juga donk,” kata April sewot.
“Siapa yang menghina?” balas Guntur balik. Dalam hati pria itu pasti menyesal telah sempat berniat baik untuk membelanya.
“Elo tuh. Kalau nggak ngapain coba ngatain April tulalit kalau bukan menghina namanya?”
“O… itu,” Guntu mengangguk paham. “Itu bukan menghina April sayang, justru kalau gue bilang loe nya pinter baru menghina namanya. Sama fitnah juga,” sambung Guntur yang langsung di balas sorakan tawa seisi kelas yang mendengarnya.
“Sudah….. sudah jangan berantem, ibu percaya kok sama April. Kalau begitu, sini mana lembar jawabanya kamu,” lerai Bu Murtafiah akhirnya mengalah.
“Ini buk”
“Ya sudah, sekarang kamu boleh keluar. Biarkan teman-teman kamu menyelesaikan ujiannya dulu,” kata Pak Surasman menambahkan.
“Baiklah pak, permisi" balas April sambil berlalu, meninggalkan ruangannya masih diikuti tatapan heran seisi kelas.
Hari sabtu pagi April berjalan menuju kekelasnya setelah dari kantin. Sri sama Nia sudah menyingkir duluan, katanya sih tadi ada keperluan gitu, terpaksa April kembali kekelasnya sendirian. Rencananya sih selepas ini ia langsung pulang, karena hari ini memang tidak masuk pelajaran sekolah, hanya akan diperiksa pengumuman hasil ujian try out kemaren, tetapi berhubungan ada sedikit trouble terpaksa diundur, hingga Senin mendatang.
Begitu menginjak kaki tepat dipintu masuk. Tiba-tiba……..
Byuuuurrrrrrr…….. byuuuurrrrr
Dua ember air sukses membasahinya kontan saja April yang baru datang langsung kaget dan berteriak-teriak
“Tolong….. tolong ……… ada Tsunami.!!!!" teriak April sekencang-kencangnya. Disusul tawa terbahak-bahak seisi kelas.
April kaget, refleks memandang kesekeliling, ia baru nyadar kalau ia dikerjain sama teman-temannya.
Selamat
Ulang tahun, Kami ucapkan.
Selamat, Panjang umur!
Kita ’kan doakan.
Selamat… Sejahtera, sehat sentosa!!
Selamat panjang umur, dan bahagia!
Nyanyian teman-temannya serentak sambil bertepuk tangan. Rupanya mereka sengaja mempersiapkan ini semua sebagai kejutan untuknya, dan tampak Nia dan Sri datang sambil membawa kue lengkap dengan lilin berbentuk angka 17 diatasnya.
“Hiks…. hiks…. hiks," Tiba-tiba April menangis.
“April jangan menangis donk," Ria, tapi bukannya diam justru tangisannya makin kencang.
“Ia, loe pasti terharu dengan ini semua, benarkan," tambah Mustafa'
“Dan loe pasti nggak nyangka kalau kita segitu perhatiannya sama loe," sambung yang lain, tapi April tetap menangis.
“Tapi sudah dong Pril, jangan nangis terus. Buruan tiup lilinnya, terharunya nanti aja, dilanjutin kalau udah nyampai dirumah," tambah yang lain nggak sabar.
“Siapa yang terharu. April lagi nangisin Handphone April, tau," kata April disela tangisnya.
“Handphone loe kenapa?" tanya Izal heran plus kaget.
“Pasti jadi eror deh, gara-gara disiram air sama kalian," sahut April sambil merogoh saku roknya yang juga basah.
“Apa!?" kata Hakim setengah berteriak karena kaget dan langsung meraih Hp yang ada digenggaman April.
Benar saja benda mungil tersebut kini sudah tampak tidak bernyawa, layarnya juga tampak bures, karena kemasukan air yang disiram tadi. Hakim berniat untuk membuka casing dan mencopot batraynya, tapi dengan sigap dirampas oleh April.
“Handphone gue," ratap April sambil belinangan air mata *sumpahlebay*.
“Loe diem aja dulu, biar dioperasi sama Hakim. Biar gitu gitu, doi kan rada pinter sama yang begituan," kata Nia menenangkan April yang histeris.
“Loe sih kenapa nggak bilang kalau bawa handphone disaku loe," cela Izal, tadi kebetulan dia berdua yang menyiram sama sugeng.
“Kalian juga nggak bilang kalau mau nyiram April," balas April balik menyela.
“Kalau kita bilang udah bukan surprise donk," idah menimpali.
“Tapi kita minta maaf deh, beneran nggak sengaja," kata sugeng dengan tampang bersalah.
“Iya… entar kita patungan deh, buat beli Hp yang baru buat loe," tambah yang laen.
April langsung mengangkat mukanya jelas terlihat ceria.
“Beneran……?”
“Iya…," teman-temannya mengangguk tanpa semangat. Harus patungang?….. mana hapenya BB lagi.
“Satu sama… he….he…. he…." teriak April tiba-tiba, sambil tertawa lepas, jelas saja semanya heran kesambet ya nih orang.
“Maksud loe…..? “tanya Nia heran.
“Bentar ya”
April langsung berjalan kemejanya dan mengeluarkan sesuatu dari kantong tasnya. Ternya batu batray ABC. Kemudiannya ia membuka penutup handphone yang ada ditangan dan memasukkan batray tadi kedalamnya. Setelah ia pencet salah satu tombol secara sembarangan dan langsung terdengar lirik lagu ketauan milik mata band. Ternyata handphone yang ada ditangannya adalah handphone maianan yang biasanya dijual dipasar kaki lima dengan harga delapan ribuan.
“Dasar April…..! kuang ajar loe," bentak Guntur sewot, April hanya cengengesan.
“Bener-bener deh” sambung yang lain.
“Ia. Rencana mau ngerjain, eh nggak taunya kita yang dikerjain” timpal Sri.
“He he he. Mangnya Cuma kalian aja yang bisa ngerjain orang. April juga bisa kali” April menyombongkan diri.
“Kalau gitu buruan deh potong kuenya. Udah kepingin makan ni kita” kata Nia nggak sabar.
“Ia. Bentar. Nggak sabar banget sih” kata april kemudian.
“Tapi pril, kok loe bisa tau sih kalau loe hari ini bakal kita kerjain?” tanya Agus tiba-tiba.
“Ya ia lah. Secara ulang taun April ndiri masa lupa. Lagian kalian tau nggak sih, dewi fortuna kan selalu bersama april” sahut April santai.
“Oh ya?” ledek Sri.
Dan tiba-tiba Izal mengambil sisa air yang ada di ember dan langsung menyiramkannya ke April. Karena kaget april sama sekali tidak bisa menghindar.
“Makan tu dewi fortuna………!!!!!” ledek Izal.
Teman-temannya bengong sebentar, dan kemudian,
“Ha ha ha……………!!!!” tawa seisi kelas langsung meledak bersama.
End untuk season ini ya… Walau masih ada lanjutannya pada Cerpen lucu Mis Tulalit part 3. Pengen tau gimana ceritanya, lanjut baca aja deh…
With love ~ Ana Merya ~

Random Posts

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 07 / 13

    Oke guys, masih dengan lanjutan dari cerpen Kala Cinta Menyapa yang kini udah sampe di part 07. Cerpen ini kebetulan end di part 13. So buat yang penasaran gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak detailnya di bawah. Untuk yang belum baca bagian sebelumnya bisa disimak disini. Happy reading….“Apa? Jadi loe jadian sama Rei? Gimana ceritanya?” tanya Rani antusias saat mendengar cerita Irma di taman belakang kampus. Seperti biasa, waktu istriahat mereka habiskan untuk santai di taman. Tadinya mau kekantin, tapi batal. Terlebih sepertinya cerita Irma kali ini adalah sesi curhat. Curhat tentang jadian dirinya dengan Rei tepatnya. Dan kalimat kaget Rani barusan hanya di balas anggukan oleh Irma dengan senyum bahagia.“Wah, selamat ya. Apa gue bilang, loe emang naksir sama tu orang. Kenapa kemaren pake sok sokan ngeles segala si?” tambah Rani Lagi. “Yah, abis gue kan malu. Lagian gue juga sama sekali gak pernah menduga kalau Rei ternyata selama ini juga suka sama gue,” terang Irma lirih.“Nah, untuk ngerayain gimana kalau sekarang kita kekantin. Loe traktir gue makan,” Usul Rani antusias.“Kenapa harus gue yang traktir?” protes Irma terlihat tidak setuju.“Masa Gue,” Rani sambil nunjuk Wajahnya sendiri.“Kalau gitu gimana kalau kita bayar masing – masing aja?” Usulan Irma tak urung membuat Rani mencibir sinis kearahnya. Sahabatnya yang satu ini selain matrai bermaterai ternyata juga pelit berperangko (???).“Ya sudahlah. Bayar masing – masing juga gak papa deh. Yang penting kita kekantin yuk sekarang. Asli gue laper banget. Loe sih tadi gue ajak curhatnya di kantin aja pake acara nolak segala,” Rani akhirnya mengalah sementara Irma tampak tersenyum simpul.Tepat saat mereka menginjakan kaki di lantai kantin pandangan keduanya segera terjurus kesekeliling. Rani tampak memberengut sebel saat mendapati tak ada satupun meja yang kosong. Kantin memang sedang rame – ramenya pada jam makan siang. Dan saat ia menoleh kearah Irma, gadis itu juga tampak angkat bahu.“Ya sudah lah . Kita kesini lagi entar. Mendingan kita ketaman aja lagi."“Tapi gue kan lapernya sekarang,” tahan Rani.“Abis gimana lagi. Loe mau duduk di lantai. Udahlah, kita keluar aja dulu. Lagian loe nggak akan mungkin mati kelaparan hanya karena menahan lapar untuk beberapa waktu kedepan,” tambah Irma sambil melangkah keluar kantin, membuat wajah Rani makin memberengut sebel. Tu orang ternyata beneran sadis. Namun tak urung kakinya melangkah mengikuti gadis itu keluar. Kembali ketaman belakang kampus.“Huwa,,,… Irma. Gue beneran laper. Cacing di perut gue udah pada demo semua. Gimana donk,” kata Rani mendrama keadaan begitu keduanya telah duduk dibangku taman. “Jangan lebay,” cibir Irma sinis. Kali ini Rani beneran yakin kalau sahabatnya itu adalah sahabat tersadis di dunia. # Gantian, siapa yang lebay coba.“Nih buat loe. Walau nggak bikin kenyang tapi lumayan bisa buat menganjal perut."Rani menoleh. Terlihat terkejut sekaligus heran. Tampang Irma juga terlihat tak jauh beda darinya saat mendapati entah sejak kapan dan datangnya darimana tau – tau kini tampak Erwin yang berdiri tepat di hadapanya sambil menyodorkan kantong plastik. Sekilas Rani mendapati bayangan Roti didalamnya.“Buat gue?” tanya Rani kearah wajahnya sediri.Erwin tidak menjawab, hanya tangannya sengaja mengoyang – goyangkan plasik yang ada di tangansebagai isarat agar Rani segera menambilnya.“Tumben loe baik?” selidik Irma dengan mata terlihat menyipit kearah Erwin. Kali ini jelas tatapan curiga.Begitu kantong plasik itu telah berpindah tangan tanpa banyak kata Erwin berbalik. Bersiap meninggalkan keduanya kalau saja Irma tidak terlebih dahulu menghadang langkahnya.“Loe belum jawab pertanyaan gue."“Dan gue gak tertarik untuk menjawabnya,” balas Erwin cuek sambil berlalu pergi. “Rani loe kok diam aja si?” tanya irma kearah Rani yang hanya menatap kepergian Erwin yang terus berlalu.Rani hanya angkat bahu tanpa menjawab. Kemudian dengan santai mulai menikmati makanan yang ada di tangaannya. Sepertinya efek lapar benar – benar sangat berpegaruh pada jalan kerja otaknya.“Loe mau nggak?” tanya Rani sambil menyodorkan sekeping roti kearah Irma dengan acuh tak acuh.Irma mengeleng. Bukan saja karena menolak pemberian Rani tapi juga karena tak habis fikir akan sikap sahabatnya yang satu tu. Akhirnya yang ia lakukan hanyalah menonton aktifitasnya. Dan lagi, Irma tidak punya cukup keberanian untuk memakan makanan dari orang yang jelas jelas punya masalah dengannya. Gimana kalau roti tersebut dikasih obat cuci perut atau apalah. Bisa jadi kan? Secara gimanapun ia pernah membuat pria tersebut sebagai bahan gosipannya.*****Begitu Pak Aldo melangkah meninggalkan kelas, Rani segera membereskan buku – bukunya. Beriringan bersama Irma melangkah melewati koridor kampus. Sambil melangkah keduanya sesekali bercanda. Tapat didepan gerbang mereka berpisah. Sejak dulu kan Irma pulang pergi bersama Rei, terlebih sekarang mereka sudah pacaran. Begitu Irma berlalu, Rani segera kembali melangkahkan kaki. Rencananya si mau langsung kehalte bus tumpangannya kalau saja tidak ada sebuah motor yang secara tiba – tiba menghentikan langkahnya. Dan begitu ia menoleh.“Erwin?”“Ayo naik," printah Erwin.“He?” kening Rani berkerut tanda bingung. Erwin ngomong nggak pake intro. Dan lagi, pria itu juga tidak terlihat tertarik untuk menjelaskan, hanya saja ia memberi isarat kearah Rani untuk duduk di belakangnya sembari tangannya menyodorkan sebuah helm.“O,” dengan kapasitas sistem kerja di otaknya, Rani hanya mengangguk paham. Tanpa bertanya lagi ia segera duduk dibelakang Erwin. Saat motor telah kembali melaju barulah mulutnya kembali terbuka untuk bertanya. “Memangnya kita mau kemana?."“Loe sendiri mau kemana?” bukannya menjawab, Erwin malah balik bertanya. Kebiasan kebanyakan orang memang begitu.“Ya pulang donk,” sahut Rani spontan.“Ya sudah kalau begitu. Terus ngapain loe nanya."Kalimat itu tak urung membuat Rani kesel mendengarnya. “Abis gue bingung. Kan kali aja loe mau bawa gue kemana gitu," sambungnya setengah bergumam.“Kalau loe emang bingung terus kenapa tadi nggak nanya. Malah main duduk aja."“Iya ya… bener juga. Kenapa tadi gue langsung nurut ya?” tanya Rani lebih tepat kalau di tujukan untuk dirinya sendiri.Erwin hanya terdiam sambil mengeleng pelan. Apa memang gadis itu polos atau dodol ya?. Entahlah, sepertinya ia yang dodol karena mau dengan suka rela mengantarnya.“Tapi Erwin, kok tumben si loe baik? Mau maunya gitu nganterin gue?” tanya Rani tiba – tiba.Erwin terlihat bingung, tidak tau harus menjawab apa. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tau, kenapa tiba – tiba ia berniat untuk mengantar gadis itu pulang kerumahnya. Yang jelas itu semua terjadi dengan sendirinya.“Pasti karena di suruh sama nyokap loe kan?” tanya Rani lagi.“Eh?”“Soal kemaren itu, gue beneran nggak tau kalau tante Sania itu nyokap loe. Gue itu kemaren memang nggak sengaja ngeliat nyokap loe pas keserempet mobil. Karena kebatulan pas kejadian gue memang ada di sana. Karena kelihatannya nyokap loe sendirian dan disana yang pada nolongin juga nggak ada yang kenal, ya sudah gue langsung bawa aja ke rumah sakit. Terus gue sekalian antar kerumah. Eh sekali tiba di rumah nggak taunya dia ternyata nyokap loe. Tapi walaupun begitu, loe nggak harus kok nganterin gue pulang kuliah segala. Secara nyokap loe kan kemaren juga udah bilang ma kasih,” cerocos Rani panjang lebar tanpa sempat memperhatikan reaksi Erwin sekalipun yang terlihat hanya diam sambil terus memandang kedepan. Memastikan motor yang mereka kendarai bisa mencapai tujuan dengan selamat.“Oh ya, tapi nyokap loe baik baik aja kan?” tanya Rani lagi.“Baik,” sahut Erwin singkat.“Syukurlah kalau begitu,” Rani terlihat lega. Namut sedetik kemudian semuanya berubah digantikan raut kebingungan saat mendapati arah motor Erwin yang membelok kesalah satu restoran bertuliskan “Sari Bumbu”.“Erwin, kita mau ngapain disini?” tanya Rani begitu turun dari motor.“Mau kerja."“HA!” Rani melotot kaget.“Ya mau makan lah. Loe laper kan?”"O," kali ini Rani mengangguk. Ngomong – ngomong soal makan, perutnya tiba – tiba terasa lapar . Terlebih lagi ia memang belum makan siang sementara jarum jam di tangannya sudah menunjukan pukul 2 siang. Sedari tadi perutnya hanya di isi sepotong roti dari Erwin. Gara – gara tadi keasikan ngegosip bersama Irma ia sampai lupa untuk kembali kekantin karena mata kuliah selanjutnya sudah harus di mulai.“Erwin, loe yakin mau makan di sini?” bisik Rani lirih begitu kakinya menginjakan lantai restoran berlabel ‘Sari Bumbu’ itu. Berbeda dari bangunan luar yang terlihat sederhana. Bagian dalamnya ternyata benar – benar di desain dengan elegan. Di mulai dengan barisan depan yang terdiri dari aneka jajan pasar sampai berbagi buah, aneka bubur lengkap dengan Es buahnya, ruangan bagian tengah penuh dengan gado – gado, sementara kiri dan kanan Makanan dengan aneka hidangan sepesial yang mengugah selera. Ada nasi, Lengkap dengan lauk pauknya yang di atur berjejer membentuk lingkaran. Sementara tamu yang datang bebas untuk memillih dan mengambil makanan sepuasnya. Sekilas Rani menoleh kesekeliling. Astaga, rata – rata tamu nya orang asing semua. Mulai dari orang cina, melayu, bule bahkan ada yang korea. Sepertinya mereka semua turis yang datang untuk makan siang. Sementara pelayanan nya juga terlihat ramah. Mana cowok – cowok keren lagi #Gubrak….. Benar – benar merasa seperti makan di hotel berbintang. ^_^“Kalau loe mau makan, silahkan ambil sepuasnya. Tapi kalau memang enggak dan begong aja mendingan loe tunggu di luar,” sahut Erwin sambil mulai menyendokan nasi kepiring yang ada di tangannya sebelum kemudian beralih kearah aneka masakan yang entah apa namanya. “Beneran nie, gue boleh ngambil apapun yang gue mau?” tanya Rani masih terlihat ragu.“Loe abisin semua makanan disini selama perut loe muat juga nggak masalah. Toh loe makan sedikit atau makan banyak bayarnya tetep sama per pax nya,” terang Erwin tanpa menoleh.Mendengar itu tanpa pikir panjang Rani segera meraih piring yang ada di dekatnya. Dan pada menit berikutnya, piring kosong itu kini sudah terisi penuh. Erwin terlihat sedikit bengong melihatnya. Ini cewek apa kingkong ya. Porsi makanya banyak amat. “Alhamduliah… Kenyang,” kata Rani sambil mengelap mulutnya dengan tisu.“Justru kalau loe bilang masih lapar gue nya yang heran,” balasan Erwin tak urung Rani memberengut sebel walau dalam hati ia tetap membenarkan ucapannya. Kalau sampai ia masih merasa lapar pasti lambungnya sedang bermasalah. Bagaimana bisa meja yang seharunya muat diisi untuk delapan orang kini di pake hanya oleh mereka berdua. Mulai dari piring nasi, mangkuk sup, ditambah dua mangkuk bubur, belum lagi mangkuk es campur, piring buah, dan piring aneka jajan pasar. Masih di tambah lagi gelas jus dan air mineral. Ck ck ck, Perutnya terbuat dari apa si?“Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang,” ajak Erwin sambil bangkit berdiri.“He he he, Makasih ya. Kapan – kapan kalau loe mau makan disini ajak gue lagi ya. Gue belum nyicipi tuh makanan di sebelah sana,” balas Rani ikut bangkit berdiri sambil matanya terus mengawasi menu yang tidak sempat di jamah olehnya. Erwin hanya mengeleng melihat ulahnya. Setelah membayar makanan di kasir, keduanya segera berlalu pulang.Next to Cerpen Cinta Romantis Kala Cinta Menyapa part 08Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.659 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen terbaru Take My Heart ~ 06

    Take My Heart aka ambil hatiku. Cerpen dengan ide khayalan tingkat antah berantah yang penulis punya. Yang di ketik di antara sedikit waktu luang yang tersisa di antara tumpukan kerja. Bahkan tak urung di ketik diantara jarak Cendana to Sari Bumbu.Can All of you imagine it?…Part sebelumnya:-} Cerpen Terbaru Take My Heart part 5Turun dari bus, Vio melirik jam yang melingkar di tangannya. Baru pukul empat lewat seperempat. Masih terlalu cepet untuk bersantai di kostannya yang jelas – jelas hanya di teman laptopi. Akhrinya diputuskannya untuk membelokan langkah ke taman. Bersantai di bawah pohon sambil menatap langit sore. Hal yang paling ia sukai.sebagian

  • Cerpen Remaja “Kala Cinta Menyapa ~ 10”

    Sempet males mo lanjutin ni cerpen Remaja kala cinta menyapa ini, tapi akhirnya di lanjutin juga. Alasannya, Hufh masih sama dengan yang sebelumnya. Kalau yang udah pernah baca, pasti langsung tau.Ah satu lagi, waktu ngetik ni cerpen kondisi beneran lagi nggak fit. So rada maklum lah yea…Dengan hati – hati Rani melangkah melewati pintu gerbang kampusnya. Matanya secara awas mengawasi sekeliling. Mencari tau keberadaan sosok erwin yang mendadak menjadi orang yang paling ia takuti terkait acara "tembak" langsungnya."Rani?".Rani langsung terlonjak kaget. Untuk sejenak terpaku saat mendapati orang yang sedari tadi ia hindari berdiri tak jauh darinya. Bahkan jelas – jelas memanggil namanya. Dan saat sosok itu melangkah mendekat mulutnya langsung terbuka untuk memperingatkan.sebagian

  • Cerpen Galau “Buruan Katakan Cinta” ~ 06 {Update}

    Ternyata bukan Cuma orang yang bisa galau, Cerpen juga. He he he. Yah secara Star Night juga lagi ngegalau nie. Udah dari kemaren – kemaren si sebenernya. Gara – gara Suju si. Gak usah cerita pasti udah pada tau donk kenapa. He he.Nah karena itu, mending ngegalau rame – rame yuk sambil baca cerpen galau buruan katakan cinta. (-,-“).Oh ya lupa, untuk part sebelumnya bisa di baca di cerpen romantis Buruan katakan cinta part 5.Credit Gambar : Ana MeryaAni terus berjalan dan tiba-tiba ada sebuah mobil yang menghalangi jalannya, ani menjadi kaget, si pemilik mobil keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri ani yang berjalan sendirian."ikut gue…" kata kevin."nggax mau" balas ani sambil memalingkan wajahnya."loe mau gue ajak baik-baik atau gue paksa…""kalau gue bilang nggax mau ya nggax mau. ngerti nggax sich…".sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*