Cerpen Lucu Mis. TULALIT part 2 {Update}

Inget cerita mis tulalit sebelumnya? Soalnya kali ini admin muncul dengan lanjutan Cerpen lucu mis tulalit part 2. Secara kalau di end gitu aja kan nggak asik. Ngomong – ngomong cerpen yang satu ini tokoh tokohnya semua admin ambil dari nama temen – temen sekolah Admin dulu lho. Wkwkwkwkwk, nggak papa lah, toh mereka nggak ada yang baca ini. #krik #krik
Nah, biar nggak kebanyakan bacod mendingan kita langsung baca aja yuk. Cekidot…

Cerpen lucu mis tulalit
Cerpen lucu Mis Tulalit

Letak rumah April memang tidak terlalu jauh dari sekolahnya, sehingga biasanya ia pulang-pergi hanya perlu berjalan kaki barengan sama Sri yang rumahnya tepat didepan rumah April. Sambil terus berjalan tak jarang mereka saling mengobrol dengan topic yang beraneka ragam. Dari hal yang penting sampe yang tidak penting sama sekali selalu berhasil menjadi pembahasan di antara mereka. Suatu hal yang tidak akan bisa mereka lakukan lagi sekiranya waktu telah berlalu dan masing – masing sudah melanjutkan jalan hidupnya sendiri sendiri. Saat – saat yang pasti akan mereka rindukan kelak nantinya.
“Oh ya, senin besok kan udah mulai tryout nih, gimana persiapan kalian?” tanya Minda. Kebetulan hari ini ia juga jalan kaki begitu juga Gia dan Nia. Lagi pula mereka memang tinggal dalam satu kompleks.
“Kalau gue sih udah siap luar dalam,” balas Sri yang memang terkenal kutu tumo, eh salah maksudnya kutu buku.
“Memangnya kamu nyiapin daleman buat apa?” tanya April heran.
“Kok daleman sih? Gila loe,” semprot Sri cepat. “Maksud gue itu luar dalem. Kalau luar misalnya pencil, penghapus, ruler sama peralatan ujian lain lah pokoknya. Sedangkan dalam maksudnya ngapal materi yang buat diujiankan. Bukannya pakaian dalam. Nggak nyambung banget sih loe.”
“O… kirain,” April mangut-mangut paham.
“Dasar Mrs. Tulalit,” ledek Gia ikutan nimbrung.
“Jadi loe udah nyiapin luar dalam juga nggak pril?” tanya Nia tiba – tiba.
“Kalau dalamnya sih adalah dikit-dikit tapi kalau luarnya udah belom ya?” April mencoba mengingat-ingat.
“Ah elo, ditanya malah balik nanya. Gimana sih,” Nia sewot.
“Memangnya loe kemaren udah beli peralatannya belom?” tanya Sri.
“Kalau nggak salah sih kemaren udah. Tapi gue taruh dimana ya?”.
“Ya Allah April. Ampun deh.”
“Lama-lama kayaknya sakit loe makin parah ya?” tambah Gia yang nggak habis pikir akan sifat lupa sahabat nya yang satu ini. Nia, Minda dan Sri juga hanya bisa menatap April miris, sementara yang di tatap justru malah tengelam dalam ingatannya sendiri. Ingatan yang ia harapkan bisa menemukan peralatan sekolahnya.
Begitu sampai dirumah, April langsung masuk ke kamar dan mencari peralatan sekolahnya. Pas ia mau membuka pintu lemari tempat ia menyimpan barang-barang, pintu tersebut terkunci rapat. Terpaksa ia harus mencari anak kuncinya terlebih dahulu karena ia lupa kemaran naruh dimana. Seingatnya sih di laci meja belajar, tapi kok nggak ada. Diatas pintu dan jendela yang biasa ia taruh sembarangan juga nggak ada. Bahkan dikolong meja, kursi, lemari sama tempat tidurnya juga hasilnya sama. Nihil!
Ditengah keputus asaannya akhirnya April menemukan benda mungil tersebut. Ternyata kuncinya ada di dalam Vas bunga meja belajarnya. April baru ingat kemaren waktu ia buru-buru mau keluar tu anak kunci memang ia selipin si situ.
“April sudah siang nih. Makan dulu!,” terdengar teriakan mamanya dari dapur.
“Ia ma, bentar. April mau ganti baju dulu!” sahut April balas berteriak.
Selang sepluluh menit kemudian, April melangkah keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian yang biasa ia kenakan saat di rumah. Dengan langkah ogah-ogahan ia berjalan menuju kedapur. Hatinya sudah bisa menebak apa yang terhidang di meja makan. Pasti tumis kangkung sama sambal kacang kalau nggak sama tempe goreng. Tiap hari kangkung kangkung kangkung. Mentang mentang tinggal ngambil dibelakang rumah. Memangnya kambing apa, gerut April dalam hati.
Setelah mengambil piring dan sendok April duduk dan menbuka tudung saji. Begitu melihat apa yang terhidang dihadapannya, ia langsung kaget. Dikucek-kucek matanya kali aja salah melihat, tapi enggak. Dicubit lengannya sendiri keras-keras
“Auww sakit,” jerita mengaduh keluar dari mulut April. Jadi dugaan kalau itu mimpi segera sirna.
Ia heran apa yang ada dihadapannya bukanlah seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Kini yang terhidang diatas meja adalah nasi dengan lauk rendang daging, gulai ayam, tumis mie dan tiga butir telor rebus. Ditambah acar mentimun, lengkap dengan kacang dan nenasnya, walaupun nggak ketinggalan tumis kangkung dan ikan asin goreng.
“Lho Pril, makanannya kok cuman dilihatin aja?” tanya mama yang baru muncul dari belakang, heran karena April bengong melototi makannya.
“Makanan segini banyak datangnya dari mana?” tanya April.
“O, itu. Tadi budemu yang mengantarkannya kesini. Kemarenkan anaknya baru nikah, jadi bikin acara kenduri walimah, dan kebetulan sisanya masih banyak banget. Makanya dibawa kesini,” terang mama kemudian.
“Coba aja ya ma, tiap hari kita makannya kayak gini! kan enak. Ini nggak asyik kangkung terus!” komentar April berandai – andai.
“Sudah jangan ngayal kamu, kan masih untung bisa makan pakek sayur, walau Cuma sama tumis kangkung dari pada hanya pekek garam,” sergah mama menasehati.
Mendengar ia April tidak berkomentar apa – apa lagi. Lagi pula apa yang mama katakan sepenuhnya benar. Sekiranya ia selalu mengharapkan sesuatu yang lebih tanpa meresapi apa yang ia punya kapan ia bisa belajar bersukur. Akhirnya disendokannya nasi dan mulai memakan makannya. Kali ini April makan dengan sangat lahap, bahkan ia sempat nambah. Selesai makan ia langsung menuju kekamarnya untuk kembali mencari peralatannya yang masih belum ia temukan.
“Ma, ada lihat penghabus April nggak?” teriak April dengan suara kenceng. Karena kebetulan ia sedang ada di kamar, sementara ibunya sendiri sedang berada dibelakang.
“Apa?” sang mama balas berteriak.
“Lihat karet penghapus April nggak…..???!!!!” kali ini suaranya lebih kenceng karena sepertinya mama masih nyuci dikamar mandi.
“Apa……? Ada tikus….!”
Dengan tergopoh-gopoh mama datang lengkap dengan sapu lidi ditangan
“Mana Pril…..! tikusnya…..?” tanya mama April kaget.
“Bukan tikus mama…! Tapi karet penghapus. Mama ada lihat karet penghapus April nggak?” terang April.
“Kamu ini. Mama kira ada tikus, nggak taunya karet penghapus.”
Lah ini kenapa malah April yang kena marah. Ia tadi kan hanya bertanya. Lagi pula siapa yang salah coba. Orang di bener ngomong penghapus. Kalau mama yang salah nangkep harus nya itu bukan salahnya donk.
“Yah mama. Kan mama yang nggak denger. Jadi gimana? Mama ada lihat nggak?” ulang April kesel. Pertanyaanya saja belum di jawab, eh ia malah di marahi.
“Nggak tuh. Digudang kali. Sudah cari sendiri aja, mama lagi nyuci, kamu ganggu aja,” jawab mama sambil berlalu meninggalkan April dengan tampang bingungnya.
“Ah mama, suka ngasal banget si. Hari gini nyari penghapus di gudang,” sungut April sembari melanjutkan pencariannya.
Tapi dicari bagai mana jugak tetap nggak ada, bahkan April telah membongkar tumpukan bukunya berkali-kali, siapa tau terselip, tetapi hasilnya tetap. Nihil!.
Saat sedang kebingungan, telinga April menangkap suara sumbang Bintang, adiknya yang sedang melantunkan lagu ‘Masih disini masih denganmu’ milik goliat band yang lagi ngetren di TV. Sepertinya adeknya baru pulang dari jalan-jalan.
“Bintang loe ada lihat karet penghapus kakak nggak?” tanya April langsung begitu ia melihat batang hidung adeknya.
“Karet penghapus?” Bintang balik bertanya.
“Ia….! mereknya Fabercastel. Warna putih, loe ada lihat nggak….??!!” tanya April lebih mendetail.
Bintang terdiam. Mencoba mengingat – ingat apa yang di ucapkan kakaknya barusan
“O…! Itu. Bintang pakek buat ngganjal meja belajar, habis tinggi sebelah. Jadi goyang-goyang. Kebetulan Bintang liat ada karet penghapus kakak yang nganggur. Ya sudah. Bintang pake deh,” terang Bintang dengan tampang watados alias wajah tanpa dosa sama sekali.
“Apa?!” April tampak kaget sekaligus tidak percaya.
“Ya…. Sory… Kirain nggak dipakek. Lagian Bintang temuin ada dikolong tempat tidur kakak. Ya udah Bintang ambil. Habisnya kalau pakek kertas, takut nanti malah ada kecoaknya. Hi…” terang Bintang sambil bergidik ngeri membayangkan apa yang terlintas dalam benaknya barusan.
“Dengkul mu ditaruk diotak ya…..???!! Eh salah otak loe ditaruk didengkul ya. Aneh-aneh aja kelakuannya, kenapa nggak sekalian buat ngeganjal rumah aja?!” omel April tidak kira – kira.
“Kekecilan kali kak. Lagian sejak kapan rumah kita bisa goyang-goyang…” balas Bintang santai.
“Udah sini balikin,” perintah April tidak sabar.
“Iya ,bentar. Bintang ambil dulu.”
Bintang langsung menuju kekamarnya. April hanya menunggu diluar dengan hati mayun.
“Nih,” kata Bintang sambil menyerahkan penghapusnya ketangan April.
April cengo ketika menatap benda mungil yang kini dalam gengamannya. Bintang benar benar makhluk yang tidak berperasaan. Penghapusnya kini telah berada dalam kondisi tragis. Selain sudah patah jadi dua persis kayak lagunya ‘alda’ karena tidak kuat menahan beban meja, Warnanya juga sudan nggak karu – karuan. Dari putih polos menjadi abu-abu dengan bintik-bintik hitam.
“Kok jadi gini sih?!” April nggak terima.
“Ya. Emang begitulah keadaannya,” sahut Bintang dengan logat drama.
“Nggak bisa! Pokoknya loe harus ganti.”
“Mau ganti pakek apa, Bintang aja nggak punya duit buat beli.”
“Kakak nggak mau tau pokoknya loe harus ganti,” April ngotot.
“Ada apa sih ni. Kok ribut-ribut,” tanya mama yang baru muncul karena mendengar suara gaduh.
“Bintang ni ma. Masa karet penghapus April di pakek ngeganjal meja belajar dia, terus dikembalikan kondisinya udah kayak gini,” April sambil menunjukkan karet penghapus yang ada ditangannya.
“Lho?! Kan malah jadi dua?” tanya mama heran.
“Mama gimana sih, ini kan jadi dua karena patah.”
“Tapikan masih bisa dipakek.”
“Dipakek gimana? La wong kotor gini. Banyak debunya, terus jadi item kayak mukanya dia,” kesel Arpil sambil menujuk lurus ke wajah adiknya. “Entar kalau dipakek, yang ada kertas ujian April malah rusak,” tambah April lagi.
“Ya sudah. Jangan marah-marah. Nggak enak di denger tetangga. Lagi pula kamukan bisa beli lagi. Lagian adikmu pasti nggak sengaja.”
“Bener ma,” timpal Bintang cepat. Merasa diatas angina karena ada yang belain.
“Mama kok jadi belain dia sih?! Jelas – jelas dia yang salah. Lagian Arpil uang dari mana coba?!”
“Kalo gitu pakek aja nih uang mama,” ujar mamanya sambil merogoh saku dan memberikan uang pada April.
“Seribu…..!!! Buat apaan…..??!! Mana cukuplah ma….!!”
“Mama adanya cuman segitu. Ya kamu tambahin aja, pakek uang jajan kamu. Udah mama mau kebelakang dulu, mau menyelesaikan cucian, jangan ribut-ribut lagi.”
Selesai berkata mama langsung meninggalkan mereka, Bintang juga langsung cabut entah kemana, takut disemprot lagi sama kakaknya. Dengan perasaan mayun April kembali masuk kekamar, langsung rebahkan kasur dan tertidur pulas.
Cerpen lucu mis tulalit ~ 02
Waktu baru menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit, tetapi suasana kelas April terdengar sangat gaduh sekali, hampir semua siswa sudah datang, maklum hari ini adalah hari pertama ujian try out.
“Nia kamu punya pencil berapa?” tanya April.
“Satu.”
“Kalau ruler…..?”
“Satu juga.”
“Kalau karet penghapus?” tanya April lagi.
“Sepuluh… “jawab Nia nyasal, habis temannya yang satu ini ada-ada saja pertanyaannya.
“Sepuluh?!” wajah April tampak sumeringah
“Ada apa sih? Heran gue, masih pagi ni. Jangan bikin yang aneh-aneh dulu deh.”
“Siapa yang aneh. Loe kali, masak cuman nanya karet penghapus doang nggak boleh. Tapi beneran loe punya karet penghapus sepuluh?”
“Ya enggak lah. Secara buat apaan. Satu aja nggak abis ngapain gue pake sepuluh coba.”
“Tu kan loe yang aneh, jadi orang plin-plan banget sih. Belum juga ada lima menit April nanya, udah bikin orang bingung. Sebenarnya yang pantas dipanggil Mis Tulalit tu siapa sih,” sungut April kesel.
“Bener – bener deh loe pri. Kayaknya ngomong sma loe harus lurus aja ya,” Nia geleng geleng kepala.
“Akh, dasar elonya aja yang kebanyakan belal – belok. Ditanya beneran juga. Loe itu punya karet penghappusnya satu atau sepuluh?”
“Satu,” balas Nia singkat dan padat.
“Tinggal jawab satu aja molornya kemana-mana. Nggak tau apa Time is money.”
“Time is Money. Heh, sok gaya banget sih loe," cibir Nia. “Tapi buat apa sih pagi-pagi loe nanyain peralatan segala?” tanya Nia heran.
“April nggak punya karet penghapus,” sahut April dengan raut sok sok an di buat lemes. Sengaja mencari simpati Nia yang kini menatapnya.
“Pensil ama ruler juga……??”
“Bolot juga ya loe. Sama kayak mama dirumah. Kan tadi April bilang cuman karet penghapus.”
“Kalau gitu ngapain tadi nanyain pensil sama ruller gue?” tanya Nia tidak mengerti.
“Sekedar basa-basi. Ya biasalah tradisi orang Indonesia. Loe belom tau ya? Makanya kalau baca tu koran sindo, jangan koran kiloan,” lagak April sok menasehati.
“Basa basi apaan. Ini tu basa-basi, tapi bahasa basi. Tadi bukannya sok time is money”
“Eh lupa..” April cengengesan.
“Kalian berdua kenapa sih…..? Pagi-pagi udah cek-cok, bukannya siap-siap buat try out, padahal kan udah bel, pasti bentar lagi pengawas datang,” sela Sugeng yang dari tadi hanya menonton ulah keduanya.
“Gara-gara Mrs. Tulalit nih…. Dodol,” ledek Nia.
“Heran, sama – sama dodol kok ngatain orang dodol,” gumam Izal santai tanpa memperduliakn Nia yang melotot padanya.
“Enak donk,” balas April tak kalah santai. Secarakan dodol makanan favoritnya. Apalagi kalau dodol Garut. Mak nyoss.
Nia sudah ingin buka mulut, tetapi terpaksa dibreack dikerongkongan dan kembali ditelan keperut, pasalnya dua orang pengawas sudah ada diambang pintu. Siap dengan setumpuk soal ditangan.
Suasana kelas langsung hening, persis dikuburan, masing-masing konsentrasi sama soalan bahasa indonesia, bahkan sangking heningnya sampai suara sayap nyamuk yang berterbangan pun terdengar. Baiklah, bercanda. Suara nyamuk berterbangan terdengar bukan karena suasana hening tapi karena kebetulan sekolahan mereka memang berada di dekat kebun karet (???).
Tepat pukul 09:30 WIB semuanya harus mengumpukan semua jawaban berserta soal. Selanjutnya istirahat setengah jam, baru nanti pukul sepuluh dilanjutkan dengan soalan bahasa inggris
“Bagaimana Pril, soalannya tadi. Susah nggak?” tanya Nia sambil duduk disampingnya. Selama ujian mereka memang duduk berjauhan karena pembagian kursi berdasakan abjad.
“Tengan aja. Pokoknya kalau sama April dijamin deh, semuanya pasti rebes,” sahut April tegas.
Nia hanya mencibir sambil mengelengkan kepala prihatin. Secara yang di maksut sahabatnya rebes, bukan beres.
“Tapi nggak papalah Pril, tenang aja inikan baru try out,” ujar Jumy menyemangati. Sementara sebelah tangannya dengan santai menyuapkan bakwan goreng yang di beli di warung mbak yem tadi pagi. Karena tak sempat sarapan di tambah tadi juga sudah langsung masuk kelas gadis itu memang sengaja menyembunyikan makanannya di dalam laci meja.
“Iye ke…” ledek Dedew sinis. Setelah mengemasi peralatan tulisnya ia bangkirt berdiri. “Eh keluar dulu yuk, cari angin segar dulu,” ajak Dedew sambil melangkah keluar disusul teman temannya yang mengekor di belakan.
Selang beberapa waktu kemudian detengan bel kembali terdengar tanda ujian selanjutnya segera di mulai. Masing masing siswa dan siswi kini sudah siap dihadapan meja masing masing. Dan April sendiri benar-benar dibuat pusing tujuh keliling, pasalnya dari 50 soal yang diberikan nggak ada satu pun yang nyangkut diotaknya. Abis bahasa inggris yang ia tau hanya ‘yes’ dan ‘no’ doank.
April ngelirik Izal, tapi Izal sama sekali tidak menoleh kearahnya. Begitu juga dengan zofa dan Idah. Mau minta tolong sama Nia, posisinya tidak memungkinkan banget. Apalagi ia duduk tepat dihadapan meja pengawas.
Apa akalnya? Apalagi jarum jam di dinding terus perbutar. Sampai kemudian April mendapatkan ide yang super brilian gila. Mau tau?. Nggak usah deh, soalnya rahasia. Ntar kalau dikasi tau pada niru kaya April semua. So untuk kebaikan kita semua, mending di sensor saja ya.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah menunjukkan pukul 11:00 lebih 30 menit, masih tersisa setengah jam lagi sebelum bel bertanda pulang terdengar . Tapi April tenang-tanang saja, duduk diam sambil memainkan tutup bulpennya, dibuka dipasang, dibuka lagi, trus dipasang. Kok bisa santai? Ya iyalah, secara ke 50 soal yang diberikan sudah terisi semua.
“Lho April, kok kamu santai – santai. Memangnya sudah selesai?” tanya pak Surasman. Kebetulan hari ini memang giliran beliau yang ngawas dikelas April barengan sama bu Murtafiah.
“Sudah Pak,” jawab April santai. Bu Murtafiah sedikit mengenyitkan alisnya tanda heran, begitu juga teman-temannya.
“Dia pakek ide gila apa lagi sekarang,” gumam Nia sendiri. Secara Nia kan tau betul dengan ulah ajaib sahabatnya yang satu ini.
“Selesai? Kamu yakin?” tanya Pak surasman mencoba menyakinkan.
“Yakin pak,” sahut April mantap.
“Coba dicek lagi, mungkin ada yang ragu,” saran Bu Murtafiah menasehati.
“Udah kok bu, sudah tiga kali malah. Lagian mau diulang sampai sepuluh kali pun hasilnya akan tetap sama. Kan kancingnya tetep tujuh,” terang April polos.
“Kancing? Maksut kamu,” Bu Murtafiah tampak makin curiga. April yang menyadari ada yang salah dengan apa yang ia katakan segera berusaha untuk meralat kembali ucapannya.
“Ehem. Anu bu…..April salah ngomong. Maksut April kunci bukan kancing. Iya kunci jawabannya lima, A, B, C, D dan E ya jawabannya kalau nggak A ya B, mungkin C atau malah D bahkan bisajadi jawabanya E. Jadi April tinggal milih salah satunya aja.”
“Tapikan nggak berarti bisa asal milih sembarang aja.”
“Siapa yang milih sembarangan, orang April pakek perhitungan juga kok.”
“Maksudnya?” Pak Surasman ikut ikutan curiga.
“Perhitungan apa?” kejar Bu Murtafiah.
“Perhitungan…… e …… perhitungan apa ya……?! pokoknya perhitungan lah,” sahut April gugup yang memuat dirinya semakin tampak mencurigakan. Ida dan Sofa’ sendiri tampak saling pandang. Sepertinya kedua orang itu juga merasakan hal yang sama.
“Jangan-jangan kamu nyontek ya?” tebak Bu Murtafiah tiba – tiba.
“Astahfirulloh hal azzim . Itu sih namanya pencemaran nama baik bu. Secara yak an. Seorang April, yang sudah terkenal baik hati, tidak sombong, rajin menabung serta berbakti pada orang tua. Jadi mana mungkinlah April nyontek. Dan kalau bapak sama ibu masih nggak percaya, silakan tanya sama teman-teman April. Atau kalau nggak ibu bisa periksa aja meja April.”
“Iya buk. Kami semua kenal April kok. Dia nggak mungkin nyontek,” sela Izal yang dari tadi hanya mendengarkan ikut angkat bicara. “Yah kecuali kalau memang ada kesempatan sih,” sambungnya bergumam lirih yang langsung di hadiahi pelototan tajam setajam silet dari si April.
“Benar buk. Dia emang rada-rada tulalit sih, tapi dia nggak mungkin bikin curang gitu kok,” tambah Guntur yang langsung mendapatkan lirikan dari si Minah. Wah tumben – tumbenan ni anak baik. Pasti ada udang di balik bakwan.
“Kalau mau bantui, ya sudah. Bantuin aja. Tapi nggak usah pake ngehina juga donk,” kata April sewot.
“Siapa yang menghina?” balas Guntur balik. Dalam hati pria itu pasti menyesal telah sempat berniat baik untuk membelanya.
“Elo tuh. Kalau nggak ngapain coba ngatain April tulalit kalau bukan menghina namanya?”
“O… itu,” Guntu mengangguk paham. “Itu bukan menghina April sayang, justru kalau gue bilang loe nya pinter baru menghina namanya. Sama fitnah juga,” sambung Guntur yang langsung di balas sorakan tawa seisi kelas yang mendengarnya.
“Sudah….. sudah jangan berantem, ibu percaya kok sama April. Kalau begitu, sini mana lembar jawabanya kamu,” lerai Bu Murtafiah akhirnya mengalah.
“Ini buk”
“Ya sudah, sekarang kamu boleh keluar. Biarkan teman-teman kamu menyelesaikan ujiannya dulu,” kata Pak Surasman menambahkan.
“Baiklah pak, permisi" balas April sambil berlalu, meninggalkan ruangannya masih diikuti tatapan heran seisi kelas.
Hari sabtu pagi April berjalan menuju kekelasnya setelah dari kantin. Sri sama Nia sudah menyingkir duluan, katanya sih tadi ada keperluan gitu, terpaksa April kembali kekelasnya sendirian. Rencananya sih selepas ini ia langsung pulang, karena hari ini memang tidak masuk pelajaran sekolah, hanya akan diperiksa pengumuman hasil ujian try out kemaren, tetapi berhubungan ada sedikit trouble terpaksa diundur, hingga Senin mendatang.
Begitu menginjak kaki tepat dipintu masuk. Tiba-tiba……..
Byuuuurrrrrrr…….. byuuuurrrrr
Dua ember air sukses membasahinya kontan saja April yang baru datang langsung kaget dan berteriak-teriak
“Tolong….. tolong ……… ada Tsunami.!!!!" teriak April sekencang-kencangnya. Disusul tawa terbahak-bahak seisi kelas.
April kaget, refleks memandang kesekeliling, ia baru nyadar kalau ia dikerjain sama teman-temannya.
Selamat
Ulang tahun, Kami ucapkan.
Selamat, Panjang umur!
Kita ’kan doakan.
Selamat… Sejahtera, sehat sentosa!!
Selamat panjang umur, dan bahagia!
Nyanyian teman-temannya serentak sambil bertepuk tangan. Rupanya mereka sengaja mempersiapkan ini semua sebagai kejutan untuknya, dan tampak Nia dan Sri datang sambil membawa kue lengkap dengan lilin berbentuk angka 17 diatasnya.
“Hiks…. hiks…. hiks," Tiba-tiba April menangis.
“April jangan menangis donk," Ria, tapi bukannya diam justru tangisannya makin kencang.
“Ia, loe pasti terharu dengan ini semua, benarkan," tambah Mustafa'
“Dan loe pasti nggak nyangka kalau kita segitu perhatiannya sama loe," sambung yang lain, tapi April tetap menangis.
“Tapi sudah dong Pril, jangan nangis terus. Buruan tiup lilinnya, terharunya nanti aja, dilanjutin kalau udah nyampai dirumah," tambah yang lain nggak sabar.
“Siapa yang terharu. April lagi nangisin Handphone April, tau," kata April disela tangisnya.
“Handphone loe kenapa?" tanya Izal heran plus kaget.
“Pasti jadi eror deh, gara-gara disiram air sama kalian," sahut April sambil merogoh saku roknya yang juga basah.
“Apa!?" kata Hakim setengah berteriak karena kaget dan langsung meraih Hp yang ada digenggaman April.
Benar saja benda mungil tersebut kini sudah tampak tidak bernyawa, layarnya juga tampak bures, karena kemasukan air yang disiram tadi. Hakim berniat untuk membuka casing dan mencopot batraynya, tapi dengan sigap dirampas oleh April.
“Handphone gue," ratap April sambil belinangan air mata *sumpahlebay*.
“Loe diem aja dulu, biar dioperasi sama Hakim. Biar gitu gitu, doi kan rada pinter sama yang begituan," kata Nia menenangkan April yang histeris.
“Loe sih kenapa nggak bilang kalau bawa handphone disaku loe," cela Izal, tadi kebetulan dia berdua yang menyiram sama sugeng.
“Kalian juga nggak bilang kalau mau nyiram April," balas April balik menyela.
“Kalau kita bilang udah bukan surprise donk," idah menimpali.
“Tapi kita minta maaf deh, beneran nggak sengaja," kata sugeng dengan tampang bersalah.
“Iya… entar kita patungan deh, buat beli Hp yang baru buat loe," tambah yang laen.
April langsung mengangkat mukanya jelas terlihat ceria.
“Beneran……?”
“Iya…," teman-temannya mengangguk tanpa semangat. Harus patungang?….. mana hapenya BB lagi.
“Satu sama… he….he…. he…." teriak April tiba-tiba, sambil tertawa lepas, jelas saja semanya heran kesambet ya nih orang.
“Maksud loe…..? “tanya Nia heran.
“Bentar ya”
April langsung berjalan kemejanya dan mengeluarkan sesuatu dari kantong tasnya. Ternya batu batray ABC. Kemudiannya ia membuka penutup handphone yang ada ditangan dan memasukkan batray tadi kedalamnya. Setelah ia pencet salah satu tombol secara sembarangan dan langsung terdengar lirik lagu ketauan milik mata band. Ternyata handphone yang ada ditangannya adalah handphone maianan yang biasanya dijual dipasar kaki lima dengan harga delapan ribuan.
“Dasar April…..! kuang ajar loe," bentak Guntur sewot, April hanya cengengesan.
“Bener-bener deh” sambung yang lain.
“Ia. Rencana mau ngerjain, eh nggak taunya kita yang dikerjain” timpal Sri.
“He he he. Mangnya Cuma kalian aja yang bisa ngerjain orang. April juga bisa kali” April menyombongkan diri.
“Kalau gitu buruan deh potong kuenya. Udah kepingin makan ni kita” kata Nia nggak sabar.
“Ia. Bentar. Nggak sabar banget sih” kata april kemudian.
“Tapi pril, kok loe bisa tau sih kalau loe hari ini bakal kita kerjain?” tanya Agus tiba-tiba.
“Ya ia lah. Secara ulang taun April ndiri masa lupa. Lagian kalian tau nggak sih, dewi fortuna kan selalu bersama april” sahut April santai.
“Oh ya?” ledek Sri.
Dan tiba-tiba Izal mengambil sisa air yang ada di ember dan langsung menyiramkannya ke April. Karena kaget april sama sekali tidak bisa menghindar.
“Makan tu dewi fortuna………!!!!!” ledek Izal.
Teman-temannya bengong sebentar, dan kemudian,
“Ha ha ha……………!!!!” tawa seisi kelas langsung meledak bersama.
End untuk season ini ya… Walau masih ada lanjutannya pada Cerpen lucu Mis Tulalit part 3. Pengen tau gimana ceritanya, lanjut baca aja deh…
With love ~ Ana Merya ~

Random Posts

  • Slamet dan Kawannya

    Slamet dan KawannyaBy. Deny Fadjar SuryamanGedubrakkkkk.. “aduuuhhh, siaalllll” lagi – lagi Slamet jatuh dari kasur yang seakan – akan itu telah menjadi tanda alarm yang slalu membuatnya terbangun dari tidurnya. Aneh, yah memang aneh, dulu waktu dia pertama kali lahir dari lobang ibunya (ingat lobang yang di bawah bukan lobang hidung ibunya) bapaknya kasih dia nama ‘Slamet’ itu karena bapaknya berharap dia tumbuh jadi anak yang beruntung, tapi entah aura apa yang slalu menaunginya sampai dia untuk bangun dari tidur aja slalu sial ‘Hahahahaa’. Pagi itu setelah dia terjatuh dari tempat tidurnya, dia langsung beranjak ke kamar mandi. Di tempat yang kata anak muda zaman sekarang itu tempat bergalau karena di kamar mandi terdapat shower sebuah alat paten yang biasa digunakan anak muda untuk mengobati rasa galaunya itu Slamet hanya melakukan kebiasaannya setiap kali dia mandi, yaitu: hanya bergosok gigi dan membersihkan muka dengan pembersih muka saja. Dia slalu beranggapan bahwa mandinya seorang lelaki itu yah cuma gosok gigi dan membersihkan muka saja, jadi yah apa bedanya dengan kebiasaan yang slalu dia lakukan, menurut dia hanya yang membedakannya adalah dia tidak membasuh badannya dengan air. Menurut pendapatnya dia gak terbiasa membasuh badannya dengan air.“heeh Slamet” sentak bokapnya yang datang tiba – tiba.Slamet yang merasa kaget dengan reflex dia berkata “aduh jantung gue copot”“tumben kamu jam segini mandi? Biasanya kan kamu mandinya nunggu matahari ada di atas ubun – ubun (baca, siang)”“biasa pak hari minggu, mau main sama temen” balas Slamet.Hari ini Slamet dan empat kawan ingin pergi bermain ke kota Jakarta, sekedar ingin bermain ke tempat yang ramai di kunjungi orang (setau geu sih Jakarta emang udah rame?? =_=” ). Dia dan empat temannya yang bernama Sopyan, Haris, Dadang, dan Budi (ini bukan Budi yang biasa anak SD sebut kalau lagi belajar baca, yaah!!!) pergi dengan menggunakan jasa kereta api.“hei, sob kenapa kita gak pergi naik bus aja daripada naik kereta?” sahut Haris.“heeh ris, naik kereta itu banyak seninya. Didalam loe bisa ngobrol sama penumpang, loe bisa godain mbak – mbak yang jualan, dan kalau loe beruntung bisa cari cewek didalam kereta. Gak kaya naik bus, cuma bisa duduk rapih, yang ada gue malah tidur. Jadi, gak ada seninya sob” terang Slamet.“bener noh ris, udah lah naik kereta aja” sambung Dadang.Dan akhirnya mereka berlima pun pergi dengan menggunakan kereta yang menuju Jakarta.Didalam kereta sudah penuh sesak dengan penumpang yang ingin beraktivitas, baik yang ingin pergi beraktivitas ke kota Jakarta maupun hanya sekedar bermain sama seperti yang mereka lakukan. “sob mending berdiri di sambungan aja, percuma masuk kedalam gerbong gak akan dapet tempat duduk” ajak Slamet pada teman yang lainnya. Mereka berlima pun memenuhi sambungan kereta yang secara tidak langsung merupakan jalan lalu lintas para penumpang lain yang ingin berpindah gerbong ke gerbong yang lainnya.Sesaat setelah kereta melalui beberapa stasiun, Sopyan yang berdiri tepat berhadapan dengan Dadang merasa gelisah. “sumpah, gue udah kaya orag pacaran aja sama si Dadang. Liat posisi gue (berdiri berhadapan seperti pasangan yang sedang bersiap untuk ciuman) gak gue banget”.“najis loe yan, emang gue nafsu sama loe?” bantah Dadang.“udah – udah liat Slamet sama Budi, anteng bener dengan posisi mesra gtu” Haris menyelah.“kekes bud. Hahahahaaa” tambahnya.Budi yang merasa posisinya dengan Slamet keliat aneh langsung menghentakan tangan Slamet yang bertopang pada dinding kereta yang tepat di bahunya sambil berkata “anjiir loe met”.Slamet yang merasa kaget tanpa sengaja bibirnya menyentuh pipi mbak – mbak yang jualan nasi merah yang berdiri tepat di sebelah dia dan Budi. “astaghfirullah..” reflex Slamet, “maaf mbak gak sengaja”. “sengaja juga gak apa – apa kok” jawab mbak penjual.“pindah – pindah sob, jangan disini berdirinya. Sumpah, gak aman posisinya” tambah Slamet pada temannya.Mereka pun pindah mencari tempat yang lain.Dan akhirnya mereka memutuskan berpisah, Haris dan Sopyan memilih berdiri didekat pintu kereta, Budi dan Dadang memilih masuk agak kedalam gerbong, dan Slamet hanya berdiri didepan pintu kamar mandi. Dan akhirnya mereka sampai di stasiun Serpong, yang artinya cuma beberapa stasiun lagi mereka sampai pada tujuan.“ris liat tuh ada cewek di atas gedung, lagi liat kesini. Pasti dia lagi manggil bokapnya trus bilang ‘ayah – ayah ada orang ganteng tuh di kereta’ “. Terang Sopyan.“wew, paling juga bokapnya bilang ‘aah, salah liat kali’ ”. Jawab Haris.Tanpa disadari Haris, Dadang, Budi, dan Sopyan, ternyata Slamet yang sudah pindah berdiri di seberang pintu kamar mandi ternyata di hampiri seorang cewek cantik yang baru naik ketika di stasiun Serpong tadi.“khhmmm, hajar met” teriak Budi yang meliat posisi Slamet sangat menguntungkan, bagai dapat durian runtuh.Slamet yang lugu dan polos itu pun hanya terdiam dan bergetar karena posisinya yang berpulukkan dengan cewek itu, yang hanya dibatasi tas yang di gendongnya.Dan akhirnya cewek itu pun turun di stasiun berikutnya.“woy cah, awas kaki loe tuh, jangan keluar pintu” sahut polisi yang bertugas menjaga di dalam kereta pada Haris.“liat ris, awas wooyyy!!!” teriak Sopyan.‘Wwwusssshhhhtttttttttttttt’“selamet, selamet, hampir aja kaki gue putus nih yan”“itu kan namaaaa guee rissss” teriak Slamet.Akhirnya mereka pun tiba di stasiun kota di Jakarta. Dan bergegas turun dari kereta yang memberikan berbagai macam seni didalamnya.“sumpah, lain kali gue gak bakal naik kereta lagi. Hampir aja kaki gue putus” kata terakhir yang di lontarkan Haris yang kecewa dengan kejadian di kereta saat di stasiun.The EndFb : denyfajarsuryaman@rocketmail.comTwitter : @denyfadjarDenyfadjarsuryaman.blogspot.com

  • Cerpen Kasih Sayang: OH, BUNDA!

    OH, BUNDA!oleh: Alief MurobbyRintik-rintik hujan akhirnya mulai turun, membasahi kota Jogja. Mendung yang sedari tadi menggelayut, kini mulai memuntahkan isinya. Beberapa pengendara motor mulai menepikan kuda besi mereka untuk sekedar berteduh ataupun memakai jas hujan. Dinginnya air hujan rupanya tak mampu mendinginkan panasnya hati Ava. Tanpa memedulikan tangannya yang mulai kebas akibat sengatan hawa dingin dan bajunya yang basah kuyup, Ava terus menggeber Astrea Grand-nya menuju kearah barat daya, tepatnya menuju kearah alun-alun utara keraton. Ditebasnya jalanan dengan sangat lincah, tak peduli dengan orang-orang yang mengumpat saat terkena cipratan air dari motornya. Pikirannya sangat kalut. Lalu tanpa diinginkannya, Ava kembali mengingat peristiwa yang membuat hatinya sangat marah itu.***“ Bun, uang buat bayar kuliah semester ini mana?” tanya Ava pada ibunya yang sedang menghitung uang hasil penjualan nasi pecel yang dijualnya tiap fajar di stasiun Lempuyangan. Raut muka ibunya langsung berubah. Gelisah.“ Bunda cuma dapet segini, Le,” ucap Bunda seraya menyerahkan seluruh uang yang tadi dihitungnya. Ava agak kaget begitu menghitungnya kembali. Cuma dua ratus ribu lebih sedikit.“ Bunda ini gimana sih? Kan aku udah minta sejak seminggu yang lalu, masak cuma segini? Kalau cuma segini, jelas nggak akan cukup.” Nada suara Ava mulai meninggi. Warna wajahnya pun mulai memerah, pertanda emosinya mulai tersulut. Bunda tahu persis hal itu. Insting seorang ibu, mungkin.“ Tapi Bunda hanya punya uang segini, Le. Nanti kalau dagangan Bunda laris, uangnya buat kamu semua. Bu Nugroho, tetangga kita yang kaya itu, juga bersedia meminjami ibumu ini uang. Ndak usah kuatir,” ucap Bunda dengan logat khas Jogja, sembari mengelus kepala anak laki-lakinya itu, berusaha meredam emosinya. Dengan kasar, Ava menyentakkan tangan ibunya, lalu berteriak marah.“ Bunda yang cuma tamat SMP tau apa?! Kalo besok aku nggak bayar biaya kuliah semester ini, aku bisa di-DO tau!” bentak Ava keras. Saking kerasnya, Nina adiknya, sampai keluar dari kamarnya.“ Kakak apa-apaan sih?” tanya Nina.Ava menjawabnya dengan ketus,” Diem kamu, anak kecil!”“ Kakak tuh yang diem!” Emosi Nina ikut tersulut. “ Bicara sama orangtua tuh yang sopan. Malah dibentak-bentak. Dasar durhaka!”Plak! Sebuah tamparan melayang ke pipi Nina.“ Jaga mulutmu!” teriak Ava.“ Kakak tuh yang jaga mulut!” Nina langsung membalas sambil memegangi pipi kirinya yang memerah akibat tamparan Ava. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sang Bunda langsung memeluk anak perempuannya. Dia juga mulai menangis.“ Udah, udah. Jangan berantem,” kata Bunda lirih. Ava langsung beranjak pergi meninggalkan kedua perempuan itu. Sang Bunda hanya berucap pelan, berulang-ulang.“ Astaghfirullah.”Tak terasa, Ava telah sampai di alun-alun utara. Suasana sore itu tak terlalu ramai, hanya ada beberapa lapak pedagang yang buka. Ava memilih duduk di salah satu bangku yang kosong, tepat dibawah pohon mahoni untuk mengeringkan pakaiannya yang basah dan menghilangkan sisa-sisa kejengkelan yang masih mengndap di dasar hatinya. Beberapa pengamen jalanan memainkan alat musik mereka. Ada gitar, harmonika, kendang, dan biola. Sederhana namun tetap nikmat untuk didengar. Tiba-tiba seorang violin jalanan duduk disampingnya. Kulitnya hitam, tapi raut wajahnya jenaka.“ Mau request lagu, Mas? Cuma seribu per lagu,” tawar si violin. Ava merogoh sakunya dan menemukan uang dua ribu rupiah. Disodorkannya uang itu pada si violin.“ Maen lagu apa aja, yang penting enak di telinga. Kembaliannya ambil aja.”Si violin langsung bersiap mengambil nada awal. Saat biola mulai digesek, Ava kaget. Dia tahu persis lagu itu. Tak disangka, violin itu memainkan lagu bunda karya Melly Goeslaw. Tanpa sadar, Ava ikut bernyanyi mengiringi alunan lagu.Kata mereka diriku slalu dimanjaKata mereka diriku slalu ditimangAir mata Ava keluar tanpa mampu ditahannya. Ia terus menangis hingga si violin selesai membawakan lagunya.“ Kenapa, Mas? Terharu, ya? Lha wong keturunan Mozart, je! Hehehe,” canda si violin.“ Mas sih enak masih punya motor,” lanjutnya. “ Punya rumah, punya keluarga. Pasti enak. Nggak kayak saya. Hidup pindah-pindah. Rumah nggak punya. Orangtua nggak tau dimana.”Violin itu terdiam sejenak. “ Tapi walaupun gitu, saya tetap bersyukur kok. Syukur masih bisa makan. Syukur masih bisa maen biola. Syukur masih bisa hidup.”Perkataan pengamen itu membuat Ava tersadar. Apa yang telah kulakukakan? batin Ava. Padahal Bunda telah bersusah payah menghidupiku, tapi aku malah membentaknya. Aku bahkan tega menampar adikku sendiri! Dasar bodoh! Ava merutuki kebodohannya. Dia menyesal, sangat menyesal telah mengasari ibunya dan menampar adik satu-satunya.Violin itu berkata lagi,” Saya pernah didawuhi seorang Kyai. Beliau berkata,’ Untuk urusan dunia, jangan lihat ke atas, tapi lihatlah ke bawah. Lihatlah orang yang hidupnya lebih susah dari kita, supaya kita bersyukur sudah diberi nikmat lebih daripada orang lain.’ Gitu, Mas. Lho, lho, Mas. Mau kemana? Pulang?” tanyanya begitu melihat Ava bergegas menyalakan motornya. Ava ingin segera pulang ke rumah. Ke pelukan bunda.Si violin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan. “ Apa aku salah bicara, ya?”Saat Ava telah sampai dirumahnya yang berada di kawasan Danurejan, dilihatnya sang Bunda sedang duduk di beranda. Nina duduk disamping ibunya dengan muka ketus. Begitu melihat ank laki-lakinya pulang, wanita itu segera beranjak mendekatinya. Senyum terpatri di wajah keibuannya.“ Alhamdulillah Le, kamu sudah pulang. Udah Bunda bilang, soal biaya kuliah, kamu nggak usah kuatir.” Sambil bicara, Bunda merogoh kantong bajunya lalu menarik sebuah kalung emas. Bunda tersenyum lagi.“ Nanti kalung ini akan Bunda gadaikan. Uangnya buat kamu semua.”Mendengarnya, Ava semakin merasa dirinya adalah anak yang sangat durhaka. Kalung itu adalah mas kawin yang diberikan ayahnya saat menikahi ibunya dulu. Kalung yang sangat disayangi ibunya. Ia sering melihat ibunya menangis sambil memeluk kalung itu, mungkin karena teringat pada ayah yang telah lama meninggal.“ Bunda, pokoknya jangan pernah menjual kalung ini. Soal biaya kuliah, biar nanti Ava cari sendiri.” Ava berkata sambil menahan air matanya. Bunda menatapnya dengan bingung.“ Lho kok…” Tanpa memberi kesempatan pada Bunda untuk bertanya, Ava memeluknya dengan sangat erat.“ Maafin Ava, Bunda,” ucap Ava lirih, lalu ia menangis dalam pelukan ibunya. Bunda hanya tersenyum kecil, lalu berujar sambil mengelus kepala Ava.“ Ndak papa, ndak papa. Kamu ndak pernah punya salah sama Bunda. Yang penting, minta maaf dulu sama adekmu. Tadi dia nangis terus.” Ava melepaskan diri dari sang bunda, lalu berjalan menuju Nina yang terus menatapnya. Ava berlutut di depan adiknya.“ Maafin kakak, ya?” Nina memandang kedua bola mata Ava dengan lekat, lalu tersenyum.“ Apologies accepted,” jawab Nina, memaafkan kakaknya. Ava lalu meraih Nina ke dalam pelukannya. Sang Bunda lalu memeluk kedua anaknya dengan sayang. Saat itu Ava bersumpah, dia takkan pernah lagi membiarkan ibu dan adiknya menangis. Dia akan membahagiakan mereka, apapun yang terjadi. Tak ada yang dapat menghentikannya. Tak ada!*****

  • Cerpen The Prince, The Princess & Mis. Cinderella~11 {Update}

    Oke, Next acara Edit mengedit. Kalo bisa si Cerpen The Prince, The Princess & Mis. Cinderella bisa finish malam ini. Ah, semoga saja.Oh ya, ngomong – ngomong soal edit, penulis lagi belajar ngedit video nie. Mau liat gak?. Klik aja Trouble is a friend ~ Lenka ~ Ana Merya Sudah hampir tiga jam aku sedari tadi hanya berbolak – balik di kasur tanpa bisa terlelap sama sekali. Ku lirik jam yang tertera di atas meja, pukul dua dini hari. Astaga, kalau begini ceritanya aku bisa stres beneran. Bukan hanya sekedar stres tembangan le seung gi di king 2 heart (???).Sudah hampir dua mingu aku menjadi ‘pacar’ Si kevin. Dan tingkah lakunya benar – benar. Aku berani jamin seribu persen, kalau sampai dia tetap bersikap seperti itu selama satu bulan kedepan aku sudah pasti jatuh cinta beneran padanya. sebagian

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 03 { Update }

    Baiklah, cerita berlanjut man ceman. Tapi gue ngepostingnya ansuran ya. Nggak sekali lalu. Jadi sekarang giliran Cerita SMA Diary diera part 3. Busyed, baru ngeh gue kalau ternyata postingan di blog Star Night ternyata ada ratusan. Pegel juga tau tangannya ngedit tulisan mulu. Baru mo nyelesein Serial Diera Diary aja rasanya udah tepar. Tapi tetep, kali ini tulisannya udah mulai rada rapi kan? Nggak amburadul lagi kayak kemaren. Jadi lebih enak di bacanya. Soal kelanjutan cerpennya kemaren. Waullahu’alam deh. Gue juga nggak tau kapan gue mau lanjutin. Gue masih mau pindahin postingan blog gue kesini aja udah cukup untung. Sebelum lanjut part sebelumnya bisa di cek sini.Cerita SMA Diera Diary ~ 03Cerita SMA Diera Diary ~ 03Akhirnya saat saat yang dinantikan pun tiba. Semua yang ikutan camping bener-bener gembira. Sambil nyanyi-nyanyi bareng mereka masuk ke hutan. Rencana nya camping akan di lakukan selama dua hari.Pokok nya acaranya seru deh, selain untuk seneng-seneng mereka juga mengadakan penelitian tentang keadaan alam sekitar. Dan pada malam harinya. Semuanya berkumpul bareng di depan kemah-kemah mengeLillyngi api ungun yang mereka buat.Semua cewek langsung pada seneng karena karena meliahat idola merka yang tidak hanya keren. Tapi juga pinter main gitar bahkan suaranya bagus lagi. Waktu itu ia lagi nyanyiin lagu ku menunggunya d’bagindas band. Emang sih tu lagu lagi ngertern banget di radio radio atau tivi tivi.Semuanya asik mendengarkan sambil ikutan nyanyi bareng. Diera begitu menikmatinya. Dan tanpa ia sadari sebenarnya dari tadi Rian juga sekali-kali menatap kearahnya.Pada keesokan harinya, semuanya sudah bersiap-sipap. Karena agendanya hari ini mereka akan menjelajajahi hutannya. Sebelum itu Pembina memberika pengarahan. Pukul sembilan tepat semuanya berangkat. Diera berjalan paling belakang dengan mengendong tas yang lumayan berat. Kesel banget dia sama Rian. Kayak nya tu anak emang sengaja ngerjain dia deh. Mana Rian seendiri dikeLillyngi cewek mulu lagi.Tak berapa lama kemudian sang Pembina memberi pemberitauhan untuk istirahat sejenak sambil makan siang. Diera langsung duduk diatas rumput, cape hati men, jiwa raga juga. Mana teman-temannya nggak satu regu sama dia lagi…. Huh bener-bener camping yang menyebalkan deh menurutnya.Ia yang sedang minum langsung tersedak karena ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Begitu menoleh ternyata ada seseorang di sampingnya. Kalau nggak salah sih dia teman sekelasnya Rian.“Upss… sory sory sory. Gue ngagetin loe ya?”“Eh nggak papa kok. Emang sempet kaget dikit sih” sahut Diera sambil mengelap mulutnya.“Aduh beneran sory ya. Gue nggak sengaja.”Diera hanya tersenyum.“Kayaknya loe capek banget.”“Lumayan sih.”“Oh ya, kita belom kenalan. Nama gue Pasya. Loe Diera kan?” katanya sambil mengulurkan tangan.Diera menganguk membenarkan sambil membalas uluran tangan Pasya.“Kok tau?”“Siapa sih yang nggak kenal sama cewek cantik kaya loe.”“Ah loe bisa aja,” balas Diera malu.Ya mereka terus berbicara dengan akrap, kayak udah lama kenal gitu. Ya lumayan lah bisa ngilangin rasa keselanya Diera gara-gara ulah Rian.Tak terasa waktu istirahat sudah habis, dan perjalanna harus di lanjutkan. Dan ternyata Pasya anaknya baik juga, dia bahkan membantu Diera membawakan tas nya yang lumayan berat. Membuat Diera merasa semakin dekat padanya tanpa menyadari sedari tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan ulahnya dengan donkol.Mereka terus berjalan, karena kurang melihat kanan dan kiri tiba-tiba Diera tergelincir dan hampir jatuh ke dalam jurang. Untunglah Pasya yang ada di sampingnya melihatnya. Dan berusaha keras memegangi tangannya. Rian yang tidak jauh dari sampingnya melihat dan langsung membantunya.Semuanya merasa lega karena Diera sudah bisa sampai di atas, sampai tiba-tiba tanah yang di injek Rian runtuh, spontan ia mencari pegangan orang yang di samping nya yang tak lain adalah Diera yang masih shock. Tentu saja di nggak siap sama kejadian kayak gitu. Alhasil. Mereka berdua masuk ke jurang. UpsSemunya langsung teriak kaget. Sementara kedua orang itu terus mengelinding kebawah. Untung lah mereka tidak benar-benar jatuh ke dalam jurang yang dalam. Mereka terhalang oleh pohon yang tumbuh disekitarnya. Tapi dalam keadaan tak sadarkan diri.Setelah beberapa lama, akhirnya Diera sadarkan diri. Dia coba mengingat-ingat kejadianya dialaminya. Seluruh tubuhnya teras ngilu. Ia baru sadar dan melihat-lihat sekelilingnya mencari-cari Rian. Tampaklah Rian yang tidak jauh darinya masih tergeletak pinsan. Dengan tergesa-gesa di hampirinya.“Rian… Rian bangun donk,” katanya cemas sambil mengoyang-goyangkan tubuh Rian.“Ian, loe jangan mati donk. Takut ni gue….” tambah Diera lagi. Tak terasa air mata menetes di pipinya.Tak berapa lama kemudian barulah Rian sadar. Dia merasa seluruh tulang-tulang nya seperti remuk. Ngilu semua. Dia melihat ke sekelilingnya dan kaget melihat Diera yang ada di sampingnya menunduk sambil nangis.“Loe kenapa?”Diera kaget, langsung menoleh.“Sukurlah loe masih hidup. Gue pikir loe udah mati….” Kata Diera lega sambil menyeka air matanya.“Mati?!…. enak aja. Gue masih hidup kali” balas Rian sewot dan berusaha berdiri. Diera jadi sebel.“Rian kita di mana nih?” tanya Diera setelah beberapa saat.“Ya di hutan lah. Dikira lagi di mall. Loe nggak bisa liat sekeLillyng apa. Pohon semua. Pake nanya lagi.”“Elo tu ya…. Nggak bisa apa ngomong baik-baik. Nyebelin banget. Manusia bukan sih?” balas Diera. Rian menatap sinis mendengarnya. “ huh… sial banget sih nasib gue. Kenapa juga harus terjebak di hutan gini bareng sama loe.”“Aduh!” kata Rian tiba-tiba langsung terduduk.“Eh Rian, loe kenapa?” Diera kaget dan langsung menghampirinya.“Kaki gue sakit. Aw…..” “Ha. Mana?. Kenapa? “ Diera panic.Dan tiba-tiba Rian tertawa. Ha ha ha. Emang enak dikerjain. Jelas saja Diera gerem banget dan lagsung melemparkan tasnya ke arah Rian.“Kayaknya loe kwatir banget sama gue. Ha ha ha. Jangan – jangan loe suka ya sama gue?” kata Rian.“Ya nggak lah. Udah gila apa gue bisa sampai naksir sama loe. Gue masih punya mata kali buat mbedain orang.”“Masa?”.Rian sengaja ingin mengoda Diera. Ia menatap tajam kearah nya. Kontan Diera langsung merasa deg degan. Secara dia emang beneran naksir sama tu orang. Sampai kemudian Rian kembali tertawa karena melihat Diera yang salah tingkah. Diera jelas malu banget. Dan mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Rian untuk segera mencari jalan pulang. Karena sepertinya mereka beneran nyasar deh. Mana tidak ada tanda-tanda keberadaan teman-temannya lagi. Apalagi ia juga nggak tau seluk beluk hutan itu dan hari juga sudah semakin sore.Rian berjalan dengan cepat. Diera begitu lelah mengejarnya.“Huh…. Dia benar-benar manusia yang tidak punya perasaan” gerutnya lirih.Rian yang mendengarnya berhenti dan memandang tajam kearahnya. Diera langsung tersenyum melihatnya. Takut Rian marah mendengar omongannya tadi.Saat mereka sedang berjalan, sayup terdengar suara seperti binatang apa gitu. Mereka juga nggak tau. Diera langsung berlari ketakutan sambil memegangi tangan Rian.“Rian suara apa tuh. Jangan-jangan harimau lagi.”“Nggak usah ngasal deh. Sok takut segala. lagian Mana ada harimau di hutan ini. Bilang aja loe pengen meluk gue. Ia kan?”Diera kesel mendengarnya, dengan segera di lepaskannya gengaman tangannya.“Siapa juga yang pengen meluk loe. Gue beneran takut kali. Lagian kalau Kalau bukan harimau. Terus apa donk. Jangan-jangan babi hutan lagi.”Rian kaget, sepertinya di juga takut tapi pura pura berani saja Dan lagsung memintanya untuk cepetan dan berjalan didepan saja. Diera terpaksa manut.Tiba-tiba terdengar suara ranting pohon yang jatuh dari belakang. Diera berbalik. Tampak lah Rian yang terduduk sambil mengerang kesakitan.“Aduh. Diera tunggu. Kaki gue sakit,” teriak Rian. Diera memandang wajahnya dengan tatapan curiga.“Eh loe pikir. Loe bisa ngerjain gue lagi. Sory ya…. Nggak akan” selesai berkata Diera kembali melanjutkan perjalanan.Diera terus berjalan. Tapi dia Heran karena Rian tidak juga menyusulnya. Akhirnya dia balik lagi dan melihat Rian masih duduk di tempat tadi sambil memegangi kakinya.“Udah deh Rian, nggak usah acting lagi deh. Buruan yuk udah sore nih.”Tapi Rian diam saja. Diera pun memutuskan menghampirinya. Dan dia kaget karena kaki Rian merah oleh darah. Kayaknya luka akhibat kejatuhan ranting pohon tadi deh.“Ya ampun Rian. Ini beneran ya” kata Diera sambil duduk tepat disamping Rian. “Sory, gue pikir tadi loe bercanda.” Sambungnya lagi sambil membatunya. Di keluarkannya sapu tangan dari saku celana panjangnya untuk membalut luka tersebut. Untung lah lukanya nya tidak terlalu dalam hingga tidak terlalu berbahaya.“Mendingan kita berhenti aja dulu. Tunggu luka loe agak baikan dikit. Kita istirahat di sini aja. Lagian ini juga udah hampir malam. Gue ngumpuin ranting buat api ungun dulu bentar.”“Nggak. Kita jalan aja terus. Gue nggak papa kok” tolak Rian sambil mencoba berdiri.“Loe tu emang mau menang sendiri aja ya. Sekali-kali ngalah kenapa sih.”“Kan gue udah bilang kalau gue nggak kenapa-napa,” Rian tetap ngotot.“Oke, loe emang nggak kenapa-napa. Tapi loe mikir nggak sih. Gue tu cape. Gue mau istirahat. Kalau loe emang mau jalan. Jalan aja sediri. Gue mau tetep di sini. Titik!” tanpa menunggu jawaban dari Rian, ia mengumpulkan rerantingan pohon yang kering dan mengongokannya.“Loe punya korek api nggak?” tanya Diera. Saat itu hari memang sudah mulai gelap. Tanpa berkata apapun Rian mengeluarkan korek api dari sakunya dan memberikannya pada Diera.Diera duduk sambil memandangi api ungunnya. Matanya mentap ke langit malam, melihat taburan bintang disana. Dan di sampingnya, Rian juga melakukan hal yang sama. Diera lebih memilih diam dari pada ngajakin ngomong yang malah bikin kesel. Apalagi ia juga merasa sangat kedinginan. Mana jaketnya ada ditas yang di bawain sama Pasya lagi.“Nih pake” kata Rian sambil memberikan jaket yang tadi di pakenya. Diera nggak percaya. Tumben banget ni anak baik.“Ma kasih aja deh, buat loe aja” tolak Diera.“Jangan ge’er dulu. Gue Cuma nggak mau loe sakit gara-gara kedinginan. Karena loe bakal nyusaih gue kalau sakit. Gue nggak mau ngendong loe. Berat tau.” sambungnya kemudian. “Jadi buruan pake” .Diera sebel sih dengernya. Tapi tak urung di pakenya juga jacket tersebut, apalagi dia merasa tubuhnya seperti mau beku. Mana dia juga laper lagi.Diera teringat pembicaraan nya bersama teman-temannya beberapa hari yang lalu, kalau di camping ini mereka nggak bakal kelaparan karena Lilly menjadi seksi konsumsi. Tapi sekarang, bahkan ia sendiri yang menjadi seksi konsumsinya, nasibnya malah kayak gini. BerlahanDiera meraih tasnya, kali aja ada sesuatu yang bisa di makan. Apalagi di kan paling doyang ngemil. Dan ia bersukur, Untung lah kemaren ia tidak mendengarkan ledekan kakaknya yang menertawainya karena membawa jajan yang ada di dalam kulkas yang ada di dapurnya sehingga ia bisa menemukan sesuatu yang memang sedang di butuhkannya. Walau pun hanya terdiri dari berbagai macam snack dan permen juga beberapa potong coklat juga roti lengkap dengan keju nya. Ditambah satu botol pocariswet yang rencananya mau ia makan bersama teman-temannya. Tapi lumayanlah bisa buat menganjal perut saat ini.“Maka yuk…” ajak Diera sambil menumpahkan semua makanan yang ada di dalam tasnya kedepan mereka.Rian melongo “Gila…. Makanan semua. Kayak anak kecil banget sih loe. Bukannya biasanya cewek kemana-mana yang di bawa itu make up ya?. Dasar cewek aneh.”“Biarin. Suka-suka gue donk. Tapi Loe lebih aneh, karena lidah loe bahkan tidak bisa mengucapkan kata ‘terima kasih’ dengan benar. Lagian emangnya kalau gue kasih kosmetik loe mau makan,” balas Diera sambil mengambil sepotong coklat dan langsung melahapnya.“Loe beneran nggak laper?” Tanya Diera karena Rian diam saja.“Ya udah terserah loe deh” ujarnya lagi sambil angkat bahu. Kemudian ia sengaja memakannya dengan sangat lahap karena ia tau Rian pasti juga laper. Hanya gengsinya itu lho….. selangit.Sepotong cokelat sudah habis di lahapnya. Kali ini perhatiannya beralih keroti dan kejunya. Diambilnya sepotong kemudian dengan hati-hati di oleskannya keju di atasnya.“Gue tau kok. Loe pasti juga laperkan?. Ya udah ni buat loe” katanya sambil menyodorkan roti tersebut kearah Rian. Tapi Rian mengabaikannya dan malah mengambil coklat yang ada di sampingnya.Diera menarik kembali roti yang tadi di sodorkannya ke Rian dan lagsung memakannya. Namun diam-diam ia tersenyum. Karena walau pun Rian menolak roti yang ia tawarkan toh pada akhirnya ia juga memakan coklat yang ia bawa. Rian mengucek-ngucek matanya. Ia baru sadar kalau hari sudah pagi. Ia kaget menyadari posisi tidurnya yang saling menyandar pada pundak Diera . Sejenak di perhatikan wajah Diera yang masih tertidur pulas di sampingnya. Rian tersenyum. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Lalu dengan hati-hati di keluarkannya ponsel dari dalam sakunya. Sudah mati, karena dari kemaren sudah nggak discharge. Tapi untunglah ia masih punya battery cadangan di dalam tasnya. Begitu benda mungil itu menyala kembali dengan diam diam di fotonya wajah Diera yang masih tertidur.Rian memperhatikan beberapa hasil jepretannya. Lucu. Tapi tiba-tiba Diera mengeliat. Karena takut ketahuan, Refleks ia langsung berdiri. Otomatis Diera jatuh karena kehilangan sandaran.“Aduh” kata Diera yang kesakitan.“Eh udah pagi nih… loe masih keenakan tidur. Dasar….”Diera memandang kesekitarnya. Kesadarannya mulai pulih. Sejenak ditatapnya Rian.“Gue baru juga buka mata. Omongan loe udah nggak ngenakin hati, bisa nggak si loe ngomong pake kata kata yang enak didenger di telinga. ‘mat pagi kek’, atau apa lah” gerut Diera sambil berdiri untuk membereskan tasnya. Mengumpulkan kembali beberapa bungkus snack yang tidak habis di makan tadi malam. Rian hanya terdiam mendengarnya.Setelah semuanya beres. Mereka kembali melanjutkan perjalannanya mencari teman-temannya yang lain. Sambil sesekali berteriak kencang. Tapi sampai siang mereka masih belum juga bisa keluar dari hutan tersebut. Bahakan mereka sama sekali belum menemuka jejak teman mereka sama sekali.“Rian loe nggak papa?” tanya Diera karena dilihatnya muka Rian agak pucet. Apalagi dia berjalan dengan berpincang-pincang akibat luka kemaren.“Nggak, gue nggak papa kok.”“Perlu gue bantuin nggak?” tanya Diera lagi.“Nggak usah. Udah jalan aja terus,” balasnya lagi.Diera menatapnya kwatir. Apalagi kaki Rian sepertinya terlihat agak bengkak, mungkin gara-gara kemaren tidak di bersihkan dengan benar, karena memang tidak ada air dan waktu itu hanya mengunakan sisa air minum yang ada di botolnya.Tiba-tiba Rian hampir tejatuh. Otomatis Diera langsung menahanya.“Ya udah kita istirahat dulu. Ntar kita lanjutin lagi. Jangan di paksain gitu.”Rian mau ngomong tapi langsung di potong sama Diera.“Gue minta kali ini aja loe nurut sama omongan gue. Jangan ngebantah.”Ditatapnya mata Rian tanpa berkedip. Akhirnya Rian ngalah dan setuju untuk istirahat dulu. Diera segera mengeluarkan pocarisweet yang ada didalam tasnya. Setelah di bukanya langsung di sodorkannya pada Rian. Karena itu satu satu nya minuman yang masih tersisa.“Minum nih. Loe haus kan.”Rian mengambil nya dan langsung meneguk nya. Diliriknya Diera yang lagi jongkok di sampingnya sambil mengikat kemabli tali sepatunya yang lepas. Jujur dalam hati ia kagum sama nie cewek karena walaupun selama ini ia selalu bersikap jutek, tapi tu anak tetap bersikap baik kepadannya.“Eh loe udah belom sih?”Pertanyaan Diera membuyarkan lamunannya.“He? Apanya?” Rian bingung. “Lho bukannya tadi loe sendiri ya yang minta kita buat istirahat dulu bentar” sambungnnya.“Bukan soal istirahatnya. Tapi tuh” tunjuk Diera ke arah botol minuman yang ada di tangan Rian.“Ini?” Rian mengangkat tangannya Heran.Diera menganguk “ Ia. Udah selesai belom minumnya. Kalau udah kesini donk, gue juga mau” tambahnya lagi.“O…. kirain tadi buat gue semua” balas Rian. Tapi tak urung tuh minuman ia berikan pada Diera.“Hu……… enak aja, gue juga haus kali…”Setelah rasa hausnya hilang, Diera mengeluarkan sebungkus coklat dari dalam tasnya dan langsung memakannya dengan lahap.“Kok loe makan sendiri, buat gue mana?” tanya Rian.“Loe kan nggak suka. Makanya nggak gue kasih. Lagian ni kan tinggal satu satuny,a” balas Diera santai sambil terus memakan coklatnya yang kini tinggal separuh. Tiba-tiba Rian menarik tangannya dan merebut coklat tersebut dan langsung memakannya. Diera jelas kaget.“Siapa bilang gue nggak suka. Gue juga mau kali” ujar Rian sambil memasukan semua potongan coklat tersebut ke dalam mulutnya.“Yah… kok di abisin. Gue kan masih laper” gerut Diera cemberut.“Jadi loe nggak terima. Ya udah ni ambil lagi deh,” Rian membuka mulutnya yang penuh dengan coklat sambil mendekat kearah Diera.“Nggak mau….. ih… gila, jorok banget sih loe” jerit Diera sambil berlari menghindar.Rian tertawa menlihatnya yang ketakutan begitu.“Udah siang nih, kita jalan lagi yuk” ajak Rian setelah bebrapa saat lama mereka istirahat.“Yuk” Diera sudah siap mau jalan, tapi tiba-tiba Rian mengaduh kesakitan dan hampir jatuh. Untunglah Diera cepat menahannya.“Yan, kayaknya kaki loe agak mulai bengkak deh, loe yakin loe bisa jalan” ujar Diera cemas.“Tenang aja, gue kan cowok. Udah deh mendingan loe buruan jalan aja depan sana.” Bantah Rian sambil mulai melangkah melanjutkan perjalanannya. Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 04~ With Love ~ Ana Merya ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*