Cerpen Lucu Mis. TULALIT part 1 {Update}

Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulis berdasarkan dari pengalaman hidup keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Dan bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca Serial Mis Tulalit. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.
Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…

Cerpen Lucu Mis Tulalit

Cerpen Lucu Mis Tulalit ~ 01
Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulid berdasarkan dari keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Soalnya bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.
Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…
Dengan tergesa-gesa April masuk kelasnya. Untung saja bel belum berbunyi, jadi ia masih bisa selamat dunia ahirat dari semprotan Bu Murtafiah, guru akuntansi yang kebetulan masuk jam pertama dikelasnya. Selang lima menit kemudian, tu guru beneran masuk.
“ Huh, untung saja,” gumam April lega.
Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama karena begitu ia membuka tas ternyata buku akuntansinya tidak ada. Padahalkan hari ini ada PR. Bisa di tebak, pasti tu buku ketinggalan lagi dimeja belajar dirumah.
“Semuanya kumpulkan PR kalian, dan ibu tidak mau ada yang tidak membuatnya,” suara Bu Murtafiah terdengar tegas.
Tanpa perlu mendengar perintah untuk kedua kalinya, semua teman-teman April maju ke depan sementara April sendiri justru hanya duduk diam dengan hati was – was dan cemas.
“April tugas kamu mana?” tanya Bu Murtafiah santai namun syarat ancaman.
“Anu bu, bukunya ketinggalan,” sahut April takut – takut. Kepalanya menunduk dalam.
“Apa?” tanya bu Murtafiah. “Ketinggalan? Lagi?”
“Ia bu tadi malam sehabis ngisi, April taruh dimeja. Lupa masukkin kedalam tas,” terang April lagi. Masih tidak berani mengangkat wajahnya.
“Hidung kamu kalau nggak lengket, pasti juga lupa untuk di bawa,” kata Bu Murtafiah, yang membuat seisi kelas di penuhi tawa seketika.
“Kok hidung si buk, yang ketinggalan kan buku,” gerut April sambil mengusap hidungnya berlahan.
“April sekarang ibu tanya sama kamu, udah berapa kali kamu lupa bawa buku PR-nya?” tanya Bu Murtafiah dengan tampang sabar yang di buat-buat.
“Berapa ya bu….!? Tiga kali ya …..? eh… bukan empat atau lima ya?” sahut April mencoba mengingat – ingat.
“Bukan lima April, tapi sembilan kali. Kamu sudah sampai sembilan kali tidak mengumpulkan tugas kamu…. Tau….!”
“Aduh sembilan ya bu. Maaf April lupa,” kata April sambil menggaruk-garuk kepalanya yang emang banyak ketombenya. Kontan hal itu membuat teman-temanya makin tertawa lepas. Sementara Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi makhluk ajaib yang berstatus sebagai siswinya.
“April… kesabaran ibu sudah habis. Ibu sudah tidak bisa mentoleri sifat kamu lagi, jadi ibu terpaksa harus menghukum kamu, bersihkan kamar mandi sekolah sekarang.”
“Apa bu?” tanya April refleks. Tak yakin dengan perintah yang baru saja di dengarnya.
“Ia. Bersihin kamar mandi sekolah.”
“Sekarang bu?” April pasang tampang memelas. Membersihkan kamar mandi? Ya salam, tempat yang satu itu kan amit – amit banget. Terlalu horror untuk gadis yang sangat menyukai kebersihan seperti dirinya. Ciuuss.
“Nggak, tahun depan. “Bentak bu Murtafiah
“Alhamndulilah,” puji syukur April sambil duduk kembali pada kursinya.
“Kok kamu malah duduk?” tanya Bu Murtafiah terlihat heran.
“Ya…. Ibu bilangkan tahun depan, padahal satu bulan lagi sudah ujian akhir. Jadi kalau tahun depan mah April udah nggak sekolah disini lagi. Artinya hukumannya hangus dong,” terang April panjang lebar dengan wajah sok pinternya yang sumpah sama sekali tidak cocok.
Detik itu juga tanduk Plus taring bu Murtafiah keluar .
"April. Bersihkan kamar mandinya SE-KA-RANG!!!"
Suara mengelegar Bu Murtafiah segera melenyapkan nyali April yang sebelumnya memang sudah menciut. Akhirnya dengan berat hati juga berat tenaga dan pikiran secara berlahan April bangkit berdiri.
“Dasar bloon loe Pril,” sekilas April masih bisa menangkap suara ledekan dari mulut Isul yang duduk tepat di belakangnya.
“Baik bu,” pamit April menunduk sambil berjalan keluar. Dan karena ia jalannya terus menunduk kebawah tanpa sadar ia menabrak daun pintu, yang tentu saja membuat tawa teman-temannya semakin riuh. Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala.
Dengan telaten April mengepel lantai setiap kamar satu persatu. Begitu selesai satu kamar, ia harus membersihkan kamar yang lainnya, dan ketika ia masuk kesalah satu kamr mandi ia langsung berteriak kaget karena mendapati seorang seorang siswa perempuan tergeletak pingsan.
“Astahfirulloh hal azzi,” lonjak April kaget dan langsung menghampiri sang gadis yang pingsan untuk menolongnya.
“Tolong…….tolong……tolong.” April sambil memapah sang gadis yang masih tak sadarkan diri.
Tentu saja teriakan April membuat guru dan siswa-siswi yang mendengarkannya heran, dan kontan berlari kearahnya. Langsung kaget ketika mendapati seseorang pingsan dikamar mandi, kemudian segera dibawa keruang UKS.
“April. Sebenarnya apa yang terjadi sama Tina. Kok dia bisa pingsan?” tanya pak Rasid, guru favoritnya di sekolah.
Ternyata gadis yang pingsan itu bernama Tina, dan dia adalah satu – satunya anak kepala Desa (????).
“Nggak tau pak. Ps April liat, dia udah pingsan. Ya udah deh, terus April langsung teriak minta tolong,” terang April jujur.
Pada saat yang bersamaan Tina pun sadarkan diri dari pingsan dan kaget ketika mendapati dirinya dirubungi banyak orang. Barulah sejenak kemudian ia ingat dan menceritakan kejadian tadi pagi kenapa ia pingsan. Ternyata kondisi tubuhnya belum fit, setelah sembuh dari sakit, ditambah lagi ia tadi pagi tidak sarapan. Dan akibat kejadian itu April tidak perlu melanjutkan hukumannya dan diizinkan untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya.
“April tadi da kejadian apa sih ditoilet?” tanya Nia, temen sebangkunya pas istirahat.
“Tadi ada anak cewek pingsan.”
“Oh ya…..? Siapa….?” tambah Ijah ikut penasaran
“Tina, anak kepdes.”
“O…. emangnya kenapa kok dia pingsan?” Guntur yang sedari tadi mendengarkan ikut buka mulut, tapi hanya dibalas angkat bahu oleh April. Gadis itu justru tampak sibuk merapikan buku – bukunya.
“Eh kekantin yuk,” ajak Jumi tiba – tiba.
“Loe mau ntraktir kita nih?” todong April langsung.
Jumi menatap April dengan pandangan mencibir. Namun beberapa detik kemudian sebuah senyuman tergambar di wajahnya. Disusul anggukan kepala dan jawaban singkat. “Bisa.”
“Serius?” Nia menoleh kaget. Tumben amat ni anak baik. Padahal doi kan udah kadung mendapat gelar pelit nggak ketulungan #DihajarJumi.
“Suer deh,” Jumi meyakin kan dengan mengankat kedua jarinya membentuk huruf ‘V’. Detik itu juga sorakan kegirangan terdengar sebelum pada detik berikutnya kembali hening dalam sepinya suasana hanya karena lanjutan kata dari mulut Jumi.
"Tapi entar kalau bokap gue udah jadi Presiden, jadi kalau sekarang…. Yah terpaksa bayar masing-masing dulu ya.”
Gumpalan sobekan kertaspun segera berhamburan dan mendarat di kepala Jumi yang masih tertawa lebar.
“Hu….. sialan loe, kirain beneran,” gerut Hambali.
“Sampai lebaran Monyet juga bokap loe nggak bakalan deh jadi Presiden,” tambah Idah yang membuat Jumi makin tergelak.
“Loe kenapa Pril?” tanya Sugeng heran, karena sedari tadi April hanya terdiam.
“Gue lagi mikir aja,” jawab April dengan raut serius.
“Mikir apa an….? “Ana ikutan ngeksis.
“Gue heran, apa hubungannya lebaran Monyet dengan jadi Presiden. Lagian sejak kapan Monyet lebaran,” jelas April dengan tampang lugu nya.
“Hu. Dasar Mis. Tulalit!!” sorakan seisi kelas sembari mengalihkan sasaran tembakan gumpalan kertas kearah April yang hanya melongo. Tidak tau apa salah dan dosanya. Hanya saja ia merasa kalau dirinya hanyalah seseorang yang menjadi korban penganiayaan.
Begitu bel berbunyi tanda pelajaran telah berakhir semua siswa dan siswi langsung mengemasi buku-bukunya dan bersiap-siap untuk pulang. Tak terkecuali April. Tapi belum juga ia keluar dari kelasnya Hakim dan Sofa' mencegahnya untuk mengingatkan April agar membersihkan kelas terlebih dahulu, kebetulan besok pagi giliran piket mereka.
Sebenarnya yang mendapat giliran piket enam orang, tapi karena dua orang temannya tidak hadir. Dan Nia yang kebetulan juga giliran piket bersamanya sudah tak tampak batang hidungnya sejak masuk istirahat kedua tadi. Jadi terpaksa tinggal mereka bertiga, begitu Hakim dan Sofa' selesai mengangkat bangku untuk diletakkan diatas meja agar mudahkan saat menyapu lantainya, mereka bersiap-siap untuk pulang.
“Lho…. Kalian mau kemana….? “April menghentikan aktivitasnya begitu melihat Hakim dan Sofa' sudah menjinjing tas masing-masing.
“Mau pulang dong, lagain sesuai perjanjian yang cowok mengangkat bangku dan yang cewek menyapu lantai. Jadi sekarang tugas kami sudah selesai, soo kita duluan,” sahut Sofa tanpa rasa bersalah.
“Yah.. jangan dong, entar April jadi sendirian lagi.”
“IDL,” balas Hakim santai.
“IDL….? Apa an tuh?” tanya April dengan kening sedikit bekerut.
“Itu Derita Loe,” balas Hakim dan Sofa' serentak, sambil tertawa dan langsung beranjak pergi meninggalkan April sendirian.
“Aduh… ! gimana nih…? April sendirian lagi, mana lantainya kotor, entar kalau ada hantu gimana?” gumam April sendiri.
Tiba-tiba bulu kuduknya merinding ketingan ingatannya tertuju pada film horror yang sering ia tonton tentang sekolah-sekolah yang berhantu.
Pada saat April menyapu salah satu kolong meja dengan posisi membungkuk dan membelakangi pintu, samar-samar ia mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat kearahnya. Jantungnya jadi dig dug nggak karuan, dengan sedikit keberanian yang masih tersisa ia menoleh kebelakangnya dan……
“Dor!!!”
“Uwa…..Tolong……!!! Tolong…..!!! tolong…!!!” teriak April sekencang-kencangnya disusul tawa cekikikan seorang hantu wanita.
“Ha…. Ha….. ha……. Kaget ya loe? ” terdengar suara tepat dibelakang April.
“Kurang ajar, setan alas, babon kue,” maki April begitu tau kalau sosok dibelakangnya adalah Nia.
“Kenapa…..? Loe pikir gue hantu?” tanya Nia di sela tawanya.
“Ia….. April kira tadi kuntilanak yang datang, e….. nggak taunya malah kuntilemak,” umpat April masih shok.
“Sembarangan!” damprat Nia sewot.
“Lagian bukanya loe udah pulang ya?” tanya April heran.
“Nggak ah tadi gue ada ditaman belakang, sengaja nggak masuk. Males banget gue belajar bahasa Arab, bikin pusing,” sahut Nia yang dengan tidak sopannya duduk diatas meja.
“Cek cek cek. Sumpah parah loe,” kepala April mengeleng geleng sambil menatap Nia sinis. “Seharusnya kan…..”
“Harusnya apa…? Gue nggak boleh bolos….? Gitu?!” potong Nia.
“Harusnya kan loe ngajak-ngajak , April juga mau ikutan bolos kayak loe kali kalau tau da temennya, mumet masuk bahasa arab. Bikin ngantuk.”
“hu…..! kirain loe mau ngomong apaan….? Ternyata dua kali lima aja ma gue,” gumam Nia sebel.
“Udah deh, sekarang bantuin. Loe kan juga piket, enak aja nongkrong disitu.”
“Nggak ah… males gue, kotor,” tolak Nia langsung.
“Kotor pale loe, mau bantui nggak?!” ancam April sambil menghunuskan pedang sapunya kearah Nia.
“Iya…..iya . Gue nyapu nih, bawel banget sih loe. Jadi nyesel gue kesini, kalau tau begini mendingan langsung pulang aja gue tadi,” gumam Nia sewot. Namun tak urung diraihnya sapu yang ada pintu, dan mulai menyapu membantu April.
Keesokan harinya, terdengar gaduh sekali dikelas April. Pasalanya Azimisar, orang yang sudah libur beberapa hari sudah masuk kelas lagi, katanya sih liburan, dan ceritanya pagi ini. Dia bagi-bagi oleh-oleh, sambal kripik singkong. Masing-masing anak dapat jatah satu, tapi yang datang duluan ada yang ngambil dua, sehingga yang datang terlambat nggak kebagian deh. Salah sendiri ngapain telat.
“Gimana Azimisar, liburan loe seru nggak?” tanya Dewi sambil mengunyah keripiknya yang tinggal setengah.
“Wah gila coy, seru banget deh pokoknya, coba kalian ikut. PASTI minta langsung pulang,” cerita Azimisar terlihat semangat.
“Lho….?! Katanya seru…. Kok kita malah minta pulang?” tanya Sugeng heran.
“Ia… soalnya kalau kalian nggak mau pulang langsung aja gue usir. Enak aja, gue yang liburan kalian main nebeng sembarangan, modal donk!” sambut Azimisar yang membuat temen-temennya cemberut.
“Udah dong Azimisar, lanjutin cerita loe. Emang kemarin loe liburan kemana sih…? “Tanya Anis nggak sabar..
“Gue liburan kerumah Eyang gue. Ke Bokor,” sahut Azimisar bangga.
“Ha….. Bogor….? Ya ampun jauh banget, pantesan loe bilang seru, pasti asyik banget ya?” komentar Razimah takjub.
“Eh… cungkil tu upil ditelinga loe. Gue bilang Bokor bukan Bogor, pakek K bukan G, “ralat Azimisar sewot.
“Bokor……???!!! Dimana tuh?” tanya Sogiran yang kebetulan duduk di samping Azimisar mewakili yang lain yang juga ingin menanyakan hal yang sama.
“Iya, perasaan kita nggak pernah denger deh kota yang namanya Bokor?” sambung April, Mis Tulalit.
“Atau jangan-jangan luar Negri y?” tambah Nia makin salut.
“Luar Negri dari hongkong, lagian siapa yang bilang gue liburan keluar kota. Orang Bokor itu nama kampung eyang gue kok. Tepatnya Bokor Selatpanjang Riau Indonesia,” jelas Azimisar yang membuat teman-temannya tertawa.
“Ha….. ha…… ha……. Liburan kok keudik,” ledek Khairia tak mampu menahan tawa.
“Iya gue kirain Negara mana…? Ternyata keudik juga. Kha kha kha,” Isul ikut ikutan ngakak dengan tampang meledek.
“Kalian jangan ngehina dulu. Walau keudiak, tapi eyang gue itu juragan di kampung gue. Beliau punya kebun Duren, rambutan, duku, mangga, cempedak, pokoknya banyak deh.”
“Yang bener Azimisar?” Hambali yang sedari tadi hanya mendengarkan cerita tampak menelan menelan air liurnya sendiri. Ia kan paling doyan makan duren sama rambutan. Nggak kebayang deh gimana rasanya makan sepuasnya.
“Ya seriuslah ngapain juga gue bohong,” sahut Azimisar puas.
“Kalau gitu loe dapat makan sepuasnya dong?” Mustawa pasang tampang iri. Bahkan Guntur yang duduk di hadapannya tampak sedang melomoti (???) jempol nya sendiri. Persis seperti orang ngidam yang nggak keturutan. Kesian….
“Mending gue bisa makan, pas gue datang tu pohon nggak ada satu pun yang berbuah. Cuma daun aja yang banyak. Emangnya gue kambing apa makan daun.”
“Hu…..!!!” sorakan seisi kelas kembali terdengar.
“Kasian deh loe,” ledek Izal sambil menatap Azimisar dengan raut meledek.
“Jadi pas loe datang emang lagi pas nggak musim buah?” Uun memastikan. Azimisar hanya mengangguk, sebelum kemudian mulutnya meralat cepat.
“Eh… gue inget kalau nggak salah waktu itu musim buah para, bisa dibilang tiap pohon berbuah. Banyak banget.”
“Oh ya? Buah para? Buah apaan tuh? Perasaan gue nggak pernah denger?” tanya Nia heran.
“Jadi kalian belum pernah denger apa itu buah para? Kasian, jadul banget sih” gentian Azimisar yang mencibir. Sepertinya pria itu berusah untuk membalas ledekan padanya tadi “Padahal itukan makanan spesial.”
“Spesial? Spesial untuk apa?” Nia makin tidak sabar sabar.
“Spesial buat…….,”Izal sengaja menggantungkan jawabanya. Ia ingin melihat ekspresi temen-temennya yang sudah tidak sabar “MONYET. Ha ha ha,” sambungnya langsung tertawa, jelas saja membuat teman-temannya sebel.
“Sialan loe.”
“Ia, bikin penasaran nggak taunya makanan monyet,” sambung Sofa cemberut, Azimisar justru makin ngakak.
“Jadi Zal, dirumah Eyang loe banyak monyetnya ya?” tanya Sanah tiba – tiba.
“Kalau dirumah Eyang gue nggak ada, kalau dikebunnya banyak,” sahut Azimisar meralat.
“Trus loe pernah lihat nggak….? Kayak apa si?” tanya Sanah lagi. Seumur-umur Sanah memang belum pernah melihat monyet secara langsung, kecuali dulu di tipi yang jadi model iklan XL.
“Ya pernahlah, kalau dilihat-lihat sih beda tipislah ama loe.”
“Sembarangan,” Sanah sewot sambil menjitak kepala Azimisar yang hanya tertawa, begitu juga dengan yang lain.
Tiba-tida bel berbunyi tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Semua segera menuju kekursi mereka masing-masing karena bu Anggi sudah tampak diambang pintu. Dengan wajah ceria masing-masing mengeluarkan buku bahasa inggrisnya, karena kebetulan hari ini pelajaran pertama bahasa inggris. Secara siapa yang tidak ceria, masih pagi-pagi sudah dapat kripik gratis. Tapi sayangnya keceriaan itu hanya berlangsung beberapa detik setelah kemunculan Bu Anggi dan segera berubah cemberut, begitu mendengar pengumuman dari bu Anggi kalau hari ini diadakan ulangan harian.
“Yah, Ibu…. Kok dadakan sih?” Isul protes.
“Ulangan dadakan…? why not ! Dangdut dadakan juga boleh,” sahut Bu Anggi menanggapi protesan Isul.
“Itukan dangdut bu. Masa bahasa inggris di samain ma dangdut, itu sih nggak nyambung,” Izal menimpali.
“Kalau gitu kalian pilih mana? Mau konser dangdut dilapangan atau ulangan bahasa inggris dikelas?” tanya Bu Anggi nggak tanggung – tanggung. Detik itu juga semua murid di kelas langsung mejudge kalau gurunya adalah salah satu dari sekian orang yang menjadi korbang ajang audisi pecarian bakat yang memang sedang marak – maraknya di siarkan di salah satu stasiun swasta Indonesia.
Walaupun soalan yang diberikan hanya 10 dan itu pun pilihan ganda semua tetap saja membuat semuanya pusing tujuh keliling. Sudah ngasih ulangannya dadakan, close book lagi. Gimana nggak sebel. Bahkan Dewi sang juara kelas juga dibuat pusing tuju belas keliling.
Ketika Dewi sedang konsentrasi mengisi soal nomor 8, tiba-tiba ada yang nimpuk kepalanya dari belakang pakek kertas. Saat menoleh, Dewi mendapati kalau ternyata Sugeng pelakunya. Terbukti dengan tingkah pria itu yang memberikan isarat padanya untuk segere mengambil ketras yang telah ia lemparkan tadi.
Walau kesel tak urung Dewi membungkuk guna mengambilnya. Matanya melotot sempurna saat membaca tulisan yang tertera.
“Gue minta jawaban nomor 7, 8, 9 dan 4, sama 3, 1 terus 10 buruan nggak pake lama!!!!”.
Jelas saja Dewi sebel, sudah minta tolong, maksa. Ia aja baru selesai tiga soal, eh sekali minta tolong tujuh. Kenapa nggak semua aja sekalian, tapi tak urung ia balas juga disebaliknya dan segera ia lemparkan kearah Sugeng. Selesai membacanya Sugeng langsung cemberut dan membuang kertas tersebut secara sembarangan. Alhasi mendarat tepat dikepala April. April kaget tapi tetap diambil nya kertas tersebut. Tampak sebuah senyum yang merekah di bibirnya begitu membaca.
Sugeng kemudian kembali menyobek kertas dan menulis
“Awas Loe!!!” dan kembali ia lempar ke Dewi.
Acara korespondensi dadakan pun terjadi karena Dewi langsung membalasnya segera laksanan SMS yang muncul di hanphonnya. Dengan santai di tulisnya kata di kertas sebalum kemudian kembali ia lemparkan ke arah Sugeng.
“Tenang, entar kalau gue kesandung gue nggak akan minta tolong loe deh.”
Tentu Saja surat balasan dari Dewi membuat Sugeng makin sewot. Kali ini ia menggunakan selembar kertas, dan mengambil stabilo kuning dari dalam tasnya. Sengaja ia tulis kalimat besar-besar, kemudian ia lemparkan ke Dewi. Tapi sayang karena terlalu bernafsu, lemparan itu mendarat dua meja didepan Dewi, tepat mengenai kepala bu Anggi yang dari tadi mondar-mandir seperti strkika demi untuk mengawasi siswanya.
Golll!!!!!.
Uppsss
Bu Anggi clingak clinguk sebelum kemudian sedikit membungkuk, memungut kertasnya. Membuka dan kemudian membacanya, seketika mukanya merah
“Siapa yang melemparkan surat kaleng ini?!” suara bu Anggi terdengar menggelegar laksana petir di siang bolong membuat Sugeng langsung mengkeret kayak Udang. Siswa yang lain hanya saling bertatapan heran, tidak tau apa yang terjadi.
“Siapa yang berani melempar surat kaleng ini?” ulang Bu Anggi mengulang pertanyaannya kali ini suaranya terdengar sangat tegas, tapi semua siswa tetap terdiam. Dewi melirik kearah Sugeng yang tampak semakin pucat.
“Jadi nggak ada yang mau ngaku ni?” ancam bu Anggi.
Tiba-tiba April mengangkat tangannya. Kontan saja semua mata tertuju kearahnya. Berani banget tu anak, sudah bosan hidup ya atau punya nyawa selusin?.
“Jadi kamu yang nimpuk ibu pakek surat kaleng ini April?” suara Bu Anggi sedikit terdengar lebih santai namun syarat ancaman.
“Ya bukan lah buk. Ada-ada aja, masa April berani menganggu sing… ehem maksudnya menggangu ibu,” kata April, hampir aja ia keceplosan menyebut gurunya singa betina.T_T.
“Kalau begitu kenapa kamu tunjuk tangan?” bu Anggi heran. Yang lainnya juga ikut penasaran.
“Ya April Cuma mau bilang kalau April udah nyelesaiin tugas yang ibu kasih. Nih,” April maju kedepan dan menyerahkan kertas ulangannya.
Ini anak pura-pura blo’on atau memang super blo’on sih. Nggak tau apa orang lagi marah.
“Ha?! Serius loe pril?” bisik Nia kaget sebelum April benar – benar bangkit maju kedepan. Tapi April hanya mengangguk mantap.
“Ia nih, gue aja baru tiga masa loe,Mrs. Tulalit kok sudah selesai. Yang benar sajalah,” tambah Dewi nggak percaya.
“Bomat. Yang penting gue udah selesai. Nih buk,” balas April makin pede.
Bu Anggi langsung mengambilnya, kemudian mengamati sejenak. Tapi dipikir kayak apa juga tetep nggak masuk akal karena jawabannya bener semua. Lho kok?! Baru sekilas melihat bisa langsung tau kalau jawabannya bener semua?.
“Ini bener kamu sendiri yang ngisi?” tanya bu Anggi.
“Ya ia lah buk. Abis mau minta tolong sama siapa?” April balik nanya.
“Kok bener semua?”
“Masa sih buk?” gantian April yang keheranan plus double girang.
“Ia nih buk, masa Mrs. Tulalit bisa bener semua?” kata Hakim nggak terima.
“Lagian baru sekali liat kok bisa yakin kalau jawabannya bener semua?” tambah Dewi.
“Ya ia lah langsung tau. Lah wong jawabannya dari nomor satu sampai sepuluh A semua,” jawab bu Anggi. Tapi dalam hati. Habis kalau dijawab keras-keras bisa batal tuh ulangan.
“Ya sudah. Mending kamu keluar dulu sana. Awas jangan sampai temen kamu ada yang nyontek,” kata bu Anggi kemudian.
“Beres bu,” April berjalan keluar menuju pintu sambil pasang tanpang TP. Tau kan…?. ‘tebar pesona’. Bangga banget lah dalam hati. Jelas saja teman-temannya makin jealous.
“Jangan-jangan dibantuin jin tu orang?” batin Nia yang jadi merinding membayangkan ucapanya sendiri.
Tepat saat kaki April menginjakan pintu keluar, tiba tiba ia berhenti karena teringat sesuatu. Langsung balik kanan menatap bu Anggi yang masih berdiri bengong menatap kertas ulangan di tangannya.
“Oh ya buk, hampir aja lupa. Tadi April mau nanya surat kaleng nya isinya apa sih. Jadi penasaran,” tanya April yang mengingatkan semuanya akan accident yang hampir terlupakan.
Deg! Jantung Sugeng seperti mau copot.
“Kurang ajar loe. Ngapain diingetin lagi sih. Padahal kan tadi udah lupa, dasar Mrs. Tulalit,” maki Sugeng dalam hati
“Untung kamu ngingetin. Hampir aja ibu tadi lupa, ayo sekarang semuanya ngaku siapa tadi yang sudah nimpuk ibu pake surat kaleng ini?” tanya bu Anggi lagi.
“Tenang dulu bu. Jangan marah marah. Percaya deh sama April bentar lagi ibu pasti bakal dapat kabar bagus,” saran April sok ngeramal. Yang lain heran, abis apa hubungannya?.
“Maksud kamu?”
“Gini buk, April juga pernah dapat surat kaleng kayak gitu. Dan setelah itu April langsung dapat kabar gembira. Suwer deh.”
Sedetik setelah April menyelesaikan ucapanya, tiba-tiba Hp bu Anggi berdering. Setelah berbicara sejenak ia langsung mematikan telponnya dan mendekati April.
“Ya ampun April. Ternyata kamu bener. Barusan ibu dapat kabar kalau ternyata keponakan ibu baru saja melahirkan anak nya dengan selamat. Terus kembar lagi.”
“Yang bener bu?”
“Sudah sekarang kumpulkan semua tugas kalian.”
“Tapi buk, kita belom selesai,” kata Minda.
“Nggak papa. Hari ini ibu kasih bonus, selesai nggak selesai kalian dapat nilai lapan semua. Kalau April 10. Oke!”
“Ha…?!”
Semua melongo, cengo dengan sikap ajaib gurunya. Tapi tak urung juga merasa girang. Gimana nggak? Secara nggak perlu mikir susah susah tapi dapat nilai 8. Blo’on banget kalau nggak mau.
Tapi heran deh ni guru sama murid kok sama aja ya. Sama-sama tulalit. He he he.
“Kalau begitu ibu pergi dulu. Oh ya April, mending surat kalengnya buat kamu saja. Siapa tau kamu dapat kabar bagus lagi,” selesai berkata bu Anggi langsung pergi meninggal kan siswanya yang kebingunggan.
Dengan agak terburu-buru April membuka bundelan kertasnya. Kemudian membaca keras-keras agar teman-temannya yang juga penasaran bisa ikut mengetahuinya.
“DASAR BABON KOE!!!. JEMBELENGAN…!!!”
Kontan tawa seisi kelas meledak bahkan kelas sebelah yang tidak tau apa – apa juga heran mendengarnya. Kira-kira ada apa ya?.
“Gila. Bener-bener deh. Siapa sih yang berani bikin tu surat terus ngelemparnya kekepala bu Anggi. Punya nyawa selusin ya?” kata Guntur yang duduk tepat didepan meja guru.
“He’eh. Berani banget,” tambah Minah.
“Tapi siapa?” tanya April.
“Pasti elo. Ia kan Sugeng?” tuduh Dewi langsung.
“What?! Yang bener saja lah kou,” logat batak campuran Majeni langsung keluar.
“Ia. Masa sih elo Geng?” Nia menatap kearah Sugeng yang cengengesan sambil mengangguk membenarkan ucapan Dewi. Sofa' hanya bisa geleng-geleng kepala nggak tau lagi mau ngomong apa atau memang ia sudah tidak kebagian dialog. Entahlah.
“Nekat loe. Masa bu Anggi loe bilang babon. Jembelengan lagi. Udah kebal loe?” timpal Razimah yang diam diam naksir pria itu.
“Ya nggak lah. Lagian tu surat bukan buat Bu Anggi. Tadi itu cuma kesalahan teknis aja. Gara gara Dewi sih. Rese”
“Maksud nya?”
“Kita jadi bingung nih?”
“Ia tadi itu gue mau ngelemparnya ke Dewi. Tapi yang kena malah bu Anggi.”
“Untung aja nasib loe bagus. April tadi bisa nanganin. Coba kalau nggak?” ujar Nia.
“Tapi hari ini April keren ya. Udah ulangannya selesai duluan, bener semua pula tu. Terus juga bisa nanganin bu Anggi bahkan kita bisa dikasih bonus nilai lagi. Kok bisa ya?” gumam Izal curiga.
“Ia nih, atau jangan-jangan….?” timpal Nia dan tiba-tiba bulu kuduknya merinding membayang kan April dibantu oleh jin.
“Jangan-jangan apa?” tanya Ria penasaran.
“Jangan-jangan loe dibantuin jin ya?” tebak Nia langsung. Tentu saja semuanya kaget tapi tak urung membenarkan ucapan Nia.
“Jin gundul mu. Sembarangan aja kalau ngomong,” bentak April sewot.
“Kalau nggak loe bisa ngisi bener semua dari mana donk?” kejar Jumi.
“Nih. Liat aja sendiri,” April menyerah kan sobekan kertas yang ia ambil dari dalam saku bajunya.
“Lho, itu kan kertas yang gue buang tadi. Kok bisa ada sama loe?” Sugeng heran.
“Tau. Tadi gue liat dibawah kolong meja gue. Karena penasaran ya udah gue ambil aja. E nggak taunya jawaban soal B. Inggris tadi,” jelas April polos.
“Tunggu dulu, jadi tadi loe nyontek ini?” tanya Sofa' menegaskan..
April mengangguk.
“Maksudnya dari nomor satu sampai sepuluh jawabannya A semua?” tanya Dewi dan Sugeng serentak.
“Iya,” balas April. Ia heran kok Dewi juga bisa tau.
“Apa???!” .
“Bruk…!”.
Dewi tergeletak di lantai. Shok langsung pinsan. Padahal ia sudah meres otak buat nyari jawabannya, bahkan tadi saat membalas ia cuma ngasal aja. Tapi kok…
Teman-temannya panik. Dan langsung membawa Dewi ke ruang UKS.
“Ternyata bu Anggi beneran nggak beres ya. Masa jawaban dari satu sampai sepuluh A semua,” komentar Ina kemudian.
“Ah dasar kaliannya aja yang dodol. Pakek ngatain bu Anggi nggak beres segala. Kayak kaliannya beres aja” balas April sambil pergi meninggalkan kelas dengan gaya princes dadakannya.
To Be continue
Kita bersambung dulu ya. Lanjut baca ke Cerpen Lucu Mis Tulalit ~ 02. Ngomong – ngomong untung aja ya, temen – temen admin nggak ada yang demen baca. Coba aja mereka tau kalau image mereka di bikin ancur gini disini. Xi xi xi
~ With Love ~ Ana Merya ~

Random Posts

  • Mutiara Kata

    MUTIARA KATAAloha……. Apa kabar semuanya. Hem, kali ini Star Nightpengen ngeshare kata – kata bijak atau Mutiara kata dikit. Ya Cuma buat di baca – baca aja. Sukur – sukur si bisa di hayati maknanya dan bisa sedikit banyak jadi motaivasi buat kita semua. Ya udah lah langsung aja. Cekidot….sebagian

  • Cerpen Cinta: THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES

    THERE’S SOMETHING IN YOUR EYESOleh: Bella Danny JusticeYang benar saja? Aku tidak mungkin jatuh cinta pada orang seperti dia! Kalau saja aku dapat menentukan jalan hidupku, aku lebih baik bersama dengannya. Walau harapanku ini mustahil, tapi aku ingin untuk tidak mencintai orang itu. Dia bukanlah pria yang baik. Aku menyesal karena aku terlalu bodoh dan terbuai sikap lembutnya. Pada awalnya aku kira dia hanya bersikap seperti itu kepada diriku, tetapi aku salah. Dia memperlakukan semua perempuan sama seperti aku. Aku sungguh tidak terima. Aku ingin pergi sejauh mungkin supaya aku tidak dapat melihat wajahnya yang memuakkan itu. Tetapi kenyataan berkehendak lain, kini aku justru satu kelas dengan pria itu. “Keiko, ayo aku antar kan kau pulang.” Ucapnya yang berdiri dihadapanku. Segera ku masukan semua buku yang ada diatas meja dan bergegas untuk pulang. “maaf, aku ada urusan. Kau pulang sendiri saja.” Kataku ketus. Lalu aku meninggalkan Souta dikelas sendiri. Namun ia mengejarku dan menarik pergelangan tanganku. “Keiko, ada apa denganmu?! Kenapa kau begitu berubah terhadapku?! Katakan padaku apa yang mengganjal dihatimu!” perkataan Souta benar-benar membuatku ingin meledak. Berani sekali dia bertanya seperti itu padaku setelah ia berpacaran dengan sahabatku lalu ia meninggalkannya hanya dalam waktu 1 bulan. Karena dia, sahabatku Miruka sampai pindah sekolah dan sekarang aku tidak punya siapa-siapa. Aku menatap lurus matanya penuh dengan kekesalan. “jangan pernah kau tunjukan wajahmu dihadapanku Sou.”*** Aku tau aku telah bersikap keterlaluan kepadanya. Tapi inilah yang bisa kulakuan untuk mengubur perasaanku terhadapnya. Aku tidak ingin berakhir seperti Miruka. Aku masih ingat betul saat itu. Malam hari saat aku sedang belajar untuk ulangan Fisika tiba-tiba bel rumahku berbunyi. Ternyata Miruka yang datang kerumahku. Aku mengajaknya masuk tetapi ia tidak mau. Ia tidak mendengarkan ucapanku. Badannya basah kuyup dan wajahnya pucat, bibirnya pun membiru karna kedinginan. Ia menerjang hujan lebat sampai seperti ini. Sekali lagi aku mengajaknya untuk masuk kedalam, tetapi ia menolaknya mentah-mentah. Miruka justru menepis tanganku yang berusaha membantunya untuk berdiri. “kenapa…kenapa Keiko, kenapa ini terjadi kepadaku??!!!” serunya penuh dengan tatapan yang berlinang air mata. Aku tidak mengerti maksud sahabatku itu. Tiba-tiba ia datang dan menyalahkanku, seolah aku telah melukai perasaannya. “apa maksudmu Miruka? Aku tidak mengerti. Masuklah dulu, biar kau jelaskan semuanya. Kalau tidak, kau akan jatuh sakit.” Aku mengajaknya untuk masuk tapi ia tetap tidak mau. Ia sungguh membuatku penasaran akan apa yang terjadi. “maaf Keiko, aku rasa…aku tidak bisa lagi menjadi sahabatmu.” Setelah mengucapkan itu lalu ia pergi. Ia berlari menjauh. Sampai aku tak dapat lagi melihatnya. Sampai detik ini aku belum mengetahui maksud perkataan Miruka. Keesokan harinya ia sudah pindah sekolah dan aku melihat Souta bersama dengan perempuan lain. Walaupun aku menyukainya, tapi aku tidak terima kalau ia menyakiti hati Miruka. Aku yang tadinya berteman akrab dengan Souta perlahan mulai menjauhinya dan beruntunglah karena kami tidak sekelas. Akan tetapi keberuntunganku tidak bertahan lama. Ketika kenaikan kelas diumumkan, aku terkejut karena kami berada dikelas yang sama. Kelas 3-1. Aku memilih tempat duduk sejauh mungkin darinya untuk menghindari kontak dengannya. 2 bulan berlalu sudah semenjak aku menempati bangku di kelas 3 ini. Aku bisa merasakan Souta yang dulu telah berubah. Ia tidak lagi suka bermain-main dengan perempuan. Ia terlihat lebih rajin. Tapi aku tetap belum bisa melupakan kejadian Miruka dan hatiku pun belum berubah, aku masih menyukainya.*** Malam ini hujan turun dengan lebat dan disertai angin kencang. Aku memandang keluar jendela kamarku dan mengikuti arah titik-titik air yang berjatuhan ke bumi. Malam ini seperti waktu Miruka datang kerumahku, aku merasa hampa. Entah sampai kapan aku menjadi pecundang hanya karena sahabatku. Aku tidak bisa mengakui perasaanku sendiri kepada orang yang aku sukai karena sahabatku adalah mantan pacarnya. Bel rumahku berbunyi terus menerus tak henti-hentinya. Aku menghampiri dan membuka pintu rumahku dan berharap itu bukan Miruka. “Ka, Kazuo? Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?” ternyata yang bertamu adalah tetanggaku Kazuo. Ia seorang mahasiswa perguruan tinggi negri. Ia berbeda hanya 1 tahun denganku. Konyol sekali aku sempat berfikir semoga yang datang bukanlah Miruka. Rasanya ingin aku menertawakan diriku. “mm..Ke-ke..keiko…” ucapnya terbata-bata. “ada apa Kazuo? Katakan saja. Aku kan temanmu.” Kataku sambil menyunggingkan senyum dengan mataku yang disipitkan.“a-aku…aku hanya ingin minta gula. Aku ingin membuat teh tapi ibuku sepertinya kehabisan gula. Hehe.” Gaya Kazuo kaku sekali. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku langsung mengajaknya masuk dan mengambilkan toples kaca berisi gula seperti yang ia pinta. “t-terimakasih Keiko, nanti aku segera kembalikan.” “ya, tidak apa-apa” ujarku terkekeh. Kazuo memang orang yang unik. Bahasa tubuhnya membuatku tertawa. Ia bukan tipe yang suka melucu, tetapi perilakunya sungguh membuatku terhibur. Aku selalu tertawa geli jika melihatnya. Ia pria yang sangat baik dan berhati mulia. Aku mengenalnya sejak pindah kerumah ini 5 tahun lalu. Sebagai tetangga yang kedatangan penghuni rumah baru, ia membantuku mengangkat barang-barang. Sejak saat itu kami mulai akrab dan berteman. Aku sering sekali berkunjung kerumahnya untuk bermain bersama. Orangtua kami bahkan sempat berfikir untuk menjodohkan kami, tetapi aku dan Kazuo menolaknya sehingga batal lah rencana perjodohan tersebut dan aku sangat lega. Keesokan harinya aku melangkahkan kakiku dengan semangat untuk pergi ke sekolah. Tanpa sengaja aku bertemu Kazuo di tengah jalan. Aku mendekatinya dan mengagetkannya. Aku menepuk bahunya agak kencang dan berkata nyaring. “HAAAIIII Kazuoooo! Selamat pagi! Hehe.” Ekspresinya lucu sekali. Aku hampir mati tertawa saat melihat wajahnya yang terkejut bukan main. Kazuo mengelus-elus dadanya lalu menarik nafas untuk berbicara. “Keiko, aku benar-benar kaget. Kau itu keterlaluan! Jantungku rasanya mau copot, kau tau?” Aku masih tertawa geli sambil berusaha menahan tawaku untuk berhenti. “maaf maaf hehe habisnya kau lucu sih, aku jadi ga tahan ingin menggodamu terus.” Kazuo memalingkan wajahnya, ia mempercepat langkahnya dan melambaikan tangannya tanpa menengok kearahku. “maaf Keiko, aku duluan ya.”*** Lagi-lagi Souta menghampiri ku. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku tidak menggubris setiap perkataan yang keluar dari bibirnya. “Keiko, aku ingin bicara denganmu sebentar. Aku mohon..” ucapnya dengan muka memelas. Baiklah, mungkin sekali ini aku akan mendengarkannya. Setelah itu aku tidak mau lagi berurusan dengannya. Souta mengajakku ke sebuah taman. Taman yang indah dan sangat terkenal ketika musim semi menyambut. Taman Maruyama terletak di daerah Kyoto. Taman ini dipenuhi oleh bunga ceri yang bermekaran dan berwarna pink. Sungguh menyejukan mata dan hatiku. Baunya begitu harum, seperti menghipnotisku. Souta pun membuka pembicaraan. “Keiko, apa kau tau yang sedang ku pikirkan sekarang?” tanyanya dengan nada serius. Laki-laki aneh pikirku. Mana mungkin aku tau! “tidak. Kalau pun kau ingin mengatakannya aku tidak ingin tau.” Balasku cuek. Souta tertawa masam. “kau memang beda dari yang lain. Dirimu yang seperti ini lah yang membuatku tertarik.” Kini ia menatapku, ia memandangi bola mataku yang berwarna coklat. Aku segera memalingkan wajahku dari tatapan lembutnya yang membuatku luluh. “sudahlah, aku pulang dulu.” Aku beranjak dari tempat itu tapi Souta menghentikanku. Ia menarik tanganku dengan tegas sehingga aku kembali dalam posisi duduk. Pria itu mengunci tanganku. Ia menggenggamnya sangat erat dan membuatku tak dapat bergerak. “aku tidak berbohong! Aku menyukaimu Keiko…dan aku tau kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku.” Souta mengatakannya dengan lancar. Apa selama ini dia tau kalau aku menyukainya? Aku tidak tau harus senang atau sedih. Mendengar pengakuan cintanya, tak bisa kupungkiri hatiku meloncat kegirangan. Aku hanya diam tak membalas ucapannya. “aku telah berubah sejak pertama kali mengenalmu Keiko. Kau tidak perlu takut aku akan memperlakukanmu seperti yang kulakukan kepada temanmu Miruka.” Hati yang penuh luapan kebahagiaan berubah menjadi kemarahan. Kata-katanya menyakiti hati sahabatku seolah Miruka tak ada artinya sama sekali bagi dia. “jangan sebut nama Miruka seakan-akan ia tak berarti apa-apa untuk dirimu. Biar bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Kenapa dulu kau menghianatinya?” amarahku terhadap Souta semakin memuncak sehingga aku tidak dapat berteriak dan melampiaskannya. Hanya suaraku yang terdengar rendah dan dingin. “semua aku lakukan hanya untukmu.” Katanya. Tubuhku gemetar. Aku sangat bingung. Apa aku berani menerimanya? “tolong tinggalkan aku sendiri Sou. Aku butuh waktu untuk berfikir.”***3 tahun kemudian…. Setelah pengakuan Souta, aku merasa aku tidak akan sanggup hidup di Jepang jika selalu bertemu denganya. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Inggris dan tinggal disana bersama Bibiku, Rose. Tadinya kedua orangtuaku tidak mengizinkannya, tapi aku terus merengek dan terpaksa mereka pun mengizinkan aku untuk pergi. 3 tahun aku lalui tanpa hadirnya Souta. Aku cukup bahagia tinggal disini. Sekarang aku sudah menjadi seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran di sebuah universitas terkenal yaitu Oxford University. “Keiko, ada seseorang yang mencarimu.” Sahut Bibi Rose dari lantai bawah. “alright, wait a second.” Balasku dengan nyaring. Aku sungguh terkejut saat mendapati orang yang mencariku. Kazuo?! Bagaimana bisa ia tau tempat tinggal Bibi Rose? Dan untuk apa dia kesini? Banyak sekali pertanyaan yang muncul di otakku. Benar-benar sebuah surprise yang tak terduga. Aku memperhatikan Kazuo dari kepala hingga ujung kaki. Ia terlihat berbeda dengan ia yang dulu. Kazuo bertambah tampan! Namun, sorot matanya…seperti berbeda. Aku bergidik menatap sorot mata itu. “hai, Keiko. Lama sekali kita tidak berjumpa.” Nada suaranya kini terdengar riang dan tidak kaku seperti dulu. Kazuo benar-benar berubah semakin dewasa. Aku mempersilahkannya masuk dan kami duduk diruang tamu. “aku senang sekali bertemu denganmu. Apa yang membawamu kemari? Aku penasaran.” Ujarku yang diakhiri dengan seulas senyum manis. “apa kau tidak mengenalinya Keiko?” nada bicara Kazuo mendadak serius. Aku mengernyitkan dahi. “apa maksudmu? Mengenalinya?” “mata ini…apa kau sudah melupakannya?” katanya yg menyuruhku untuk menebak. Aku tidak mengerti dengan ucapan Kazuo. Apa yang terjadi? Ia tidak hanya berubah menjadi semakin tampan dan dewasa, tapi juga misterius. “katakan padaku yang sebenarnya Kazuo!” pintaku dengan sedikit memaksa. Aku sangat penasaran. Pasti sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang besar…ya sesuatu yang tidak ingin kudengar.*** Aku tidak percaya dengan ceritanya! Tidak mungkin itu terjadi! Souta mendonorkan korneanya untuk Kazuo yang tertimpa kecelakaan dan kehilangan penglihatannya. Apa maksud Souta seperti itu? kenapa ia harus pergi dengan cara seperti ini? Kenapa ia tidak pernah mengatakan padaku bahwa ia juga memiliki penyakit kanker yang kronis?! Kau sungguh egois Sou! Kau ingin bertemu denganku dengan cara hidup pada mata Kazuo. Aku tidak bisa menahan tangisku. Saat aku berziarah ke pemakaman Souta, aku melihat seseorang ada disana lebih dahulu. “orang itu…” gumamku yang menahan isak tangis. “sudah lama sekali ya, Keiko…” sapanya lembut. Tampaknya ia juga sedang menangisi nisan Souta. Aku terkejut bisa bertemu lagi dengannya, terlebih ditempat seperti ini. “kita mencintai orang yang sama dan menangisinya juga bersama-sama. Ironis sekali bukan hidup ini?” “tidak. Dari awal Souta hanya menyukaiku, bukan dirimu Miruka. Dan kepergiannya tidak ada hubungannya dengan hidupku atau hidupmu. Kita menjalani hidup yang berbeda. Dari dulu aku ingin mengatakan ini padamu, tapi baru sekarang aku bisa mengucapkannya. Aku sangat lega karna aku tidak lagi menjadi pecundang.” “aku senang kau bertambah dewasa. Sudahlah, tak ada gunanya kita bertengkar. Lagipula, besok aku akan melangsungkan pertunanganku dengan pria yang kucintai. Aku harap kau dan Kazuo bisa menghadirinya.” “aku pasti datang.” Sekarang aku sadar bahwa sebenarnya yang ku inginkan adalah Kazuo. Cintaku memang untuk Souta, tapi sejak dulu yang ada untukku selalu adalah Kazuo. Dari awal, hanya Kazuo lah yang berada disisiku. Tapi aku tidak mungkin bisa melupakan orang yang ku cintai. Sebuah pelajaran yang sangat berarti bagiku. Lagipula, Souta…kau bisa selalu melihatku melalui Kazuo, bukan? Ucapku dalam hati. Aku tersenyum cerah menatap langit dan berharap kau mendengar yang kukatakan Sou.*** “Souta Hakazami!! Cepat habiskan makananmu! Atau ibu akan marah besar.” “iya, iya…Ibu cerewet sekali sih.” “Kazuo, sebaiknya kau ajarkan Souta untuk bersikap disiplin!” “jangan marah-marah terus nanti kau keriput Keiko. Bukankah Souta mengambil sifat seperti itu dari Ibunya? Hehe..” “Kazuo kau mati hah?!” Kehidupanku berubah drastis. Keluargaku dengan Kazuo adalah nafas kehidupan bagiku. Aku sangat bahagia menjalaninya. Kami memiliki seorang anak yang ku namai sama seperti dia, “Souta”, sebagai sebuah kenangan dan agar aku dapat selalu mengingatmu…. aku yakin kau pasti tertawa geli diatas sana melihat kelakuan Souta kecil-ku.. Aku sangat bertrimakasih padamu Sou… Tanpa pengorbananmu, tidak mungkin aku bisa merasakan kebahagian yang luar biasa seperti ini…The sweetest thought..I had it all,Cause I did let you go..All our moments,Keep me warm..When you're gone….(Within Temptation – Bittersweet)ENDNama : Bella Danny JusticeTwitter : @bellajusticeeFb : Bella JusticeCerpen Bella yang lainnya: Kenangan yang Terlupakan dan Love That I Should Have.

  • Cerpen Keyakinan Cinta

    KEYAKINANoleh Raisya MarisdifaAku begitu bahagia dengan hari ini. Aku pulang dengan rasa puas dan lega. Hari ini, kelas ku bisa merebut juara pertama dalam acara Pagelaran Seni kelas 9 yang selalu ada setiap tahunnya. Rasa capek untuk latihan 1 bulan terakhir rasanya sirna begitu saja. Apalagi selalu ada dia di samping. Dia yang selalu menyemangatiku dan mendukungku. Dia yang selalu menjadi penghilang rasa letihku. Dia yang ku cinta dan ku sayang sepenuh hati. Dia adalah kekasihku. Kekasih yang begitu sempurna di mataku.Hp ku bergetar. Ini menandakan bahwa ada pesan masuk. Dan itu pesan dari Rio, kekasihku. Dengan penuh cinta dia bertanya kepadaku.“Sudah sampai di rumah sayangku?”“Sudah sayang.” Jawabku.“Kalau begitu harus mandi, terus makan, dan langsung istirahat ya sayang. Aku tau kamu pasti capek karena telah tampil dengan energik tadi.”Aku tersenyum melihat pesannya.“Iya sayang.” Balas ku.Perhatiannya selalu membuat ku bahagia, walau aku sendiri tahu dia selalu begitu setiap harinya. Semuanya tidak pernah membuatku bosan. Karena dia selalu memberikan perhatian, cinta dan kasih sayangnya tulus untuk ku. Aku bisa merasakan.Semua ketulusan itu selalu ku rasakan dari awal bersamanya. Namun ketika bulan itu, bulan dimana aku berulang tahun. Aku merasakan kehangatan yang dia berikan dan ketulusannya sudah mulai berkurang. Semua itu bermula ketika dia sering ikut papanya keluar kota. Awalnya aku mengerti. Tapi lama kelamaan, aku sudah tidak mengerti dan sudah tidak tahan dengan sikapnya. Dan dia juga sudah melupakan begitu saja hari ulang tahunku. Dia sudah tidak seperhatian dulu, semua ketulusannya hilang. Raib di telan bumi.Dan pada akhirnya, aku pun sampai pada puncak kemarahan. Aku mengiriminya pesan.“Aku sudah tidak tahan dengan sikap mu Rio, kamu berubah. Aku tersiksa seperti ini.”Dia pun membalas.“Terus aku harus bagaimana Ca?”“Kamu itu jahat banget sich, apa kamu tidak tahu bagaimana aku selama ini? Aku selalu bersabar menunggu kamu pulang dari luar kota. Aku mengerti kalau kamu tidak bisa mengirimi aku pesan setiap saat karena alasan tidak mendapatkan sinyal. Dan aku pun bersabar, karena kamu tidak ada pada hari ulang tahunku. Namun sekarang apa balsannya? Balasan atas kesabaran ku. Seakan- akan kamu sudah mencampakkan ku.” Balas ku dengan penuh emosi.“Maaf Ca, aku tau aku salah. Tapi aku juga tidak tahu kenapa aku bisa begini.” Jawabnya.Namun, karena aku sudah begitu emosi. Aku tidak bisa mengendalikan emosi. Dan aku juga lupa, kalau Rio sangat tidak suka di beda- bedakan.“Dulu kamu sangat perhatian sama aku, sekarang begitu cuek. Dulu kamu selalu ingin bercerita degan ku setiap malam, tapi sekarang boro- boro mau cerita. Ucapin selamat tidur aja gag. Selalu bangunin aku setiap pagi, nyuruh aku mandi, nyuruh aku makan. Tapi sekarang, itu tidak pernah kamu lakukan lagi. Kemana Rio ku yang dulu? Aku hanya ingin pacaran dengan Rio ku yang dulu.”“Aku janji akan berubah Ca. Maafin aku Ca.” Jawabnya singkat.Tapi entah bagaimana, aku tidak percaya dengan kata- katanya. Aku merasa ketidak tulusan darinya. Dan itu semua membuat ku mengabaikan semua perkataannya.Hari selanjutnya, dia sudah mulai perhatian lagi kepada ku. Namun anehnya aku masih saja marah. Dan itu semua juga membuatnya emosi dan muak. Emosi karena perkataanku dan muak karena ia merasa aku selalu menyalahkannya. Aku merasa tidak pernah menyalahkannya. Aku hanya mengatakan apa adanya.Mengatakan bagaimana sikapnya yang telah membuatku tersakiti. Aku hanya seorang wanita, wanita yang lemah dan ingin di mengerti. Tapi dia sudah tidak menyadari itu. Dan pada akhirnya, Rio memutuskan hubungan kami. Aku juga tidak tahu pasti apa alasannya memutuskan hubungan kami. Apa karena muak karena aku selalu menyampaikan bagaimana sikapnya yang selalu membuatku sakit hati atau karena sudah jenuh? Aku tidak pernah tau.Di telfon dia berbicara.“Aku butuh waktu Ca. Aku mau sendiri dulu. Aku juga gag tau, kenapa hatiku bisa kosong sekarang. Tolong beri aku waktu Ca. Aku janji akan mencari kamu suatu saat nanti. Kalau kita jodoh kita pasti akan ketemu lagi. Satu lagi, kamu harus bisa menggapai cita- cita mu.”“. . .” Hening.Telfon dimatikan.Di saat itu aku begitu sangat terpuruk. Dan itu menyebabkan aku tidak bisa menjawab perkataan Rio. semua benda- benda tajam serasa menghujam hatiku. Tak cukup dengan menangis melepaskan kesakitan itu. Aku tak percaya Rio seperti itu. Aku berharap dia bisa berubah demi aku, dengan mengatakannya kepadaku dengan tulus. Aku tak percaya janji setia selama ini yang dia umbar kepadaku, terbang dan hilang begitu saja.Aku juga sadar, aku begitu protektif kepadanya. Dan aku menyesali itu. Dalam hati aku hanya bisa meminta maaf atas kesalahan ku. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang tak luput dari kesalahan.Selama beberapa hari aku hanya bisa berteman dengan kesedihan. Namun beberapa hari kemudian, aku bisa menemukan dunia ku kembali. Aku bisa merebut ceria ku lagi. Hanya satu yang bisa membuat ku kuat lagi. Yaitu keyakinan. Yakin Rio akan menepati janjinya, yakin bisa menggapai cita- cita ku walaupun tidak ada Rio di sisiku,yang selalu ada dan menyemangatiku di kala putus asa. Dan itu semua akan ku jadikan sebagai kado spesial untuk pertemuan kami nanti. Pertemuan yang akan menyatukan hati dan cinta kami kembali. Yang bersifat abadi.

  • Cerpen cinta “Kala cinta menyapa” ~ 12

    Sebelum kecerpen penulis pengen cuap – cuap dolo ya. Tau nggak, hari ini tu sebenernya ngeselin banget. Saking ngeselinnya sampe – sampe penulis bikin status di pejbuk "Hari yang begitu menyebalkan". Nggak perlu di jelasin kenapa, karena intinya tetep sama. Me-Nye-Bal_Kan.Salah satunya, CPU Resto bermasalah. Alamat gak bisa online seharian. Terus minta tolong dah sama "kakak" gadungan, Pinjem Laptopnya dia. Alasannya si buat nyelesein laporan kantor, Tapi sambilannyanya tentu saja O-N-L-I-N-E. ^_^Giliran laptop di tangan, Nggak ada hal menyenangkan yang bisa penulis lakukan. Jaringan nggak bersahabat, so nggak bisa main ke youtube atupun goodrama. Kemudian, cek buka draf email deh. Sambil nungguin CPU yang katanya baru di antar jam 5 sore, jari ini menari di atas Keyboard. Nggak nyangka juga jadi lanjutan cerpen Kala Cinta Menyapa yang telah lama bertapa. Hei, Segala sesuatu di dunia ini tu emang ada hikmahnya kan?.Berhubung udah kebanyakan bacot, Cekidot…"Rani, loe baik baik aja kan?" tanya Irma prihatin saat melihat tampang kusut Rani yang selama beberapa hari ini tidak pernah hilang dari wajahnya."Kalau loe berharap gue jawab bohong. Iya gue baik baik aja. Tapi kalau gue harus menjawab jujur. Tentu saja tidak. Gue nggak lagi baik baik aja. Apa lagi melihat mereka" Terang Rani dengan telunjuk mengarah lurus kearah Erwin yang tampak sedang berbicara akrap dengan syintia.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*