Cerpen King Vs Queen Part Ending

HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!, Cape. Turun dari rumah jam lapan pagi Pukul 21:38 Baru nyampe rumah. Astaga….. #Backsound lagu Wali "Yang penting halal". ^_^
Begitu pulang langsung nyalain lepi n Tara….. Wifi Gak bisa conect #Gubrak.
N then, Ehem Keluarin "Galaxy", Searching ke google bentar. Tau deh apa yang di ping – ping, Pokoknya ikutin instruksi. N hasilnya. Alhamdulilah, Akhirnya bisa conect juga.
So, Oke deh kalau begitu, Sesuai janji Lanjutan Cerpen King Vs Queen part 10 aka ending di posting. Yang merasa nunggu, monggo langsung di baca.

Credit Gambar : Ana Merya
"Niken… bagaimana ke adaan kakak mu nak?" tanya mamanya yang baru tiba di rumah sakit, Niken langsung berdiri menghampiri mamanya.
"Niken nggax tau ma, dokter lagi memeriksanya. maafin Niken ya maa, Niken nggax bisa bantuin kak Nino saat kak Nino lagi butuh pertolongan Niken…" kata Niken dengan sedih.
"Tapi loe kan udah banyak membantunya ken" kata Gilang dari samping.
"Tapi tetap saja kakak gue terluka kan, itu berarti gue nggax bener-bener membantunya" balas Niken.
"sudah lah nak, ini bukan salahmu. mungkin kita lagi di uji aja. semoga aja kakak mu tidak apa-apa. mama yakin kamu udah berusaha sekuat tenaga kamu untuk membantu kakak mu…" kata mamanya sambil memeluk Niken, tak lama setelahnya dokter keluar.
"Bagaimana keadaan Nino dok?" tanya Gilang dan berjalan menuju dokter, begitu juga yang lain.
"Alhamdulillah, dia baik-baik saja. cuma luka memar di punggungnya, tapi bakal sembuh kok,… di biarkan istirahat beberapa hari saja, pasti bakal balik seperti semua" jawab dokter.
"Syukurlah…" jawab yang lain lega mendengar penjelasan dokter.
"Apa kita bisa melihatnya sekarang dok?" tanya Niken.
"0h, ya silahkan… tapi jangan terlalu mengganggunya, dan jangan berisik. dia harus banyak istirahat" saran dokter.
"ia dok, baiklah… terima kasih…" jawab Niken dan masuk ke kamar Nino di ikuti oleh mama dan temen-temennya yang lain "Kak Nino…" sapa Niken begitu tiba di samping Nino yang masih terbaring, Nino tersenyum.
"Niken… mama… hei…" sapa Nino ke arah yang lain.
"Bagaimana ke adaan kamu nak?" tanya mamanya.
"Nino nggax apa-apa kok ma, cuma sakit sedikit di sekitar punggung" jawab Nino ke arah mamanya.
"Kalau yang lain? nggax ada yang sakit kan kak?" tanya Niken.
"Nggak ken, kamu tenang aja. kakak itu orangya kan kuat. jadi pasti nggax apa-apa… Vin, trims ea, loe udah jagain adek gue…" kata Nino ke arah Gilang.
"biasa aja kali, lagian itu udah tugas gue … menjaga Niken. karena dia kan orang yang terpenting buat gue" jawab Gilang, yang lain langsung menatapnya heran termasuk Niken "maksud gue orang yang terpenting buat loe… gitu… gue salah ngomong tadi" ralat Gilang.
"0wh, ia… tapi gue juga tetap harus ngucapin makasih sama loe…" kata Nino ke arah Gilang, Gilang hanya menangguk tersenyum. tiba-tiba ada yang membuka pintu, semua menoleh.
"Niken… gue denger kakak loe masuk rumah sakit, gimana ke adaannya? parah nggax???" tanya Olive yang baru datang bersama seorang cowok yang tidak asing lagi di mata Niken karena dia adalah,… Dimas?!
"Olive… loe, kok bisa bareng sama dimas sih?" tanya Niken bingung.
"dia jodoh gue… dan ramalan itu bener…" bisik Olive ke arah Niken. yang lain bingung.
"Oh yea? seriuz loe?" tanya Niken nggax percaya dan menatap dimas, yang tersenyum ke arahnya. Olive tersenyum membenarkan "Waw, nggax nyangka banget" lanjutnya.
"Ada apa sih?" tanya Nino penasaran begitu juga yang lain.
"Top secret" jawab Niken dan Olive berbarengan dan ber high five.
"ada-ada aja…" balas mamanya Niken sambil tersenyum.
"Eh. tapi, kak putra ngapain di sini??" tanya Olive bingung ke arah Gilang, yang laen kaget.
"kakak kan temennya kakaknya Niken" jawab Gilang.
"0h yea??? kok bisa kebetulan banget sih, jadi kakak temennya kak Nino, kok kakak nggax ada ngasi tau Olive sih?" tanya Olive.
"yaaa abis loe nggax nanya, lagian mana kakak tau kalau loe kenal sama Nino dan Niken" jawab Gilang santai.
"0oo, wah nggax nyangka yaaa…" kata Olive sambil tersenyum.
"Eh, tunggu-tunggu-tunggu deh, loe bilang dia siapa???" tanya Niken ke arah Olive sambil menunjuk Gilang "kak putra?!" tanyanya kaget.
"Ia, dia kak putra. sepupu gue yang gue ceritain itu, inget?" tanya Olive ke arah Niken yang masih nggax percaya.
"Tapi dia… loe tau nggax siapa??" tanya Niken "Gilang" lanjutnya sambil berbisik ke arah Olive yang jelas langsung kaget.
"Seriuz loe?!" tanya Olive. Niken mengangguk "Cowok yang nabrak loe itu???" tanya Olive lagi, Niken kembali menangguk "Yang katanya sangat nyebelin itu???!!!"
"Iya Olive…." jawab Niken, tentu saja Gilang yang mendengarnya jadi kaget.
"What?! nabrak and nyebelin??!!!" Gilang nggax percaya.
"E itu…" Niken jadi gugup.
"Loe cerita apa aja tentang keburukan gue ke sepupu gue sendiri ha?!" tanya Gilang ke arah Niken sebel.
"Yaaa Maaf, mana gue tau dia sepupu loe… orang dia temen gue…" balas Niken.
"Loe itu ngeselin banget sih" Gilang jadi sewot.
"kok loe marah-marah sih, itu kan kenyataan kali, loe emang yang nabrak gue and nyebelin" Niken nggax mau kalah.
"Tapi bukan berarti loe boleh ngejelek-jelekin gue sama sepupu gue sendiri juga kan???"
"yaaa kan gue udah bilang, gue nggax tau. karena setau gue, Olive bilang sepupunya itu namanya kak putra, bukan kak Gilang, jadi mana gue tau. abis loe ngapain sih ganti-ganti nama?" balas Niken.
"Loe nyalahin gue?!"
"yaaa abis siapa lagi? yang ganti-ganti nama kan elo"
"siapa juga yang ganti-ganti nama"
"ya elo lah, sebentar kak putra, sebentar kak Gilang. nggax tau deh mana yang asli" kata Niken.
"Dua-duanya asli ken" Nino yang menjawab.
"He?! dua-duanya asli gimana maksudnya??? masa' sih satu orang punya dua nama, dasar aneh"
"namanya itu sebenernya Gilang saputra. jadi bisa di panggil putra, bisa di panggil Gilang" jawab radit ikut-ikutan.
"0oo, bagus yaaa bagus, kenapa nggax di tambah sarap aja sekalian"
"kok loe jadi sewot sih ken?" tanya Olive.
"Tau tuh, yang harusnya sebel itu kan gue, karena loe udah mencoreng nama baik gue di depan sepupu gue" balas Gilang.
"Yeee itu bukan urusan gue kali, weeeek" balas Niken.
"Loe berani sama gue?! dasar cewek jadi-jadian"
"Dari pada loe cowok nggax jadi-jadi" balas Niken sebel.
"iiiih loe tuh yaaaa… Tau deh!" Gilang sebel.
"Ya udah, Whatever!!!"
"Udah, udah… kalian tuh yaaa beranteeeem aja kerjanya. sekali-kali kek akrab jadi orang, jangan berantem terus" kata Nino sambil tersenyum dan geleng-geleng melihat ulah adik dan sahabatnya.
"tapi, siapa nih cowok live?" tanya Gilang ke arah Olive sambil menunjuk dimas di samping.
"0h, dia jodoh Olive kak, eh maksud Olive, dia pacar Olive gitu. kenali namanya Dimas…" Olive memperkenalkan pacarnya.
"0wh, hei gue Gilang kakak sepupunya Olive" kata Gilang sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum
"Dimas" jawab dimas sambil menjabat tangan Gilang "E kak Gilang… Dimas mau minta maaf ya sama kak Gilang, Dimas nggax tau kalau kak Gilang ini kakak sepupunya Olive" lanjutnya.
"minta maaf? untuk???" tanya Gilang bingung.
"kakak inget saat kakak di kroyok sama beberapa preman?" tanya dimas ke arah Gilang.
"Inget. tapi, dari mana loe bisa tau???" tanya Gilang.
"jangan bilang loe yang ngelakuin itu?" kata Niken "karena gue nggax bakal pernah memaafkannya" lanjutnya.
"Maaf, tapi… sebenernya dimas tau siapa yang ngelakuin"
"Siapa?!" tanya Niken "Ayo jawab!!!" lanjutnya.
"Be… Benny, e maksud Dimas, orang-orang suruhannya benny"
"What?! kurang ajar tuh orang" kata Niken sebel "Awas ya?!" lanjutnya dan langsung pergi yang lain tentu jadi kaget.
"Niken!!!" panggil Gilang, tapi Niken udah keburu pergi.
"Eh Niken mau kemana tuh?" tanya Nino.
"kalau firasat gue bener sih dia mau kerumah benny"
"lho mau ngapain???" tanya Gilang, Olive angkat bahu "wah ini nggax beres nih, gue harus menahannya" lanjutnya dan siap mengejar Niken tapi Tina menahannya.
"king, loe mau kemana???" tanyanya.
"Loe nggax denger apa dari tadi, gue itu mau ngejar Niken"
"Tapi gue…"
"Tina, please lah ya… loe jangan gangguin gue terus" kata Gilang.
"king, apa loe nggax pernah menghargain sedikit aja prasaan gue?"
"asal loe tau aja ya, nggax ada yang lebih penting dalam hidup gue, selain mementingkan prasaan Niken, jadi loe nggax boleh halangin gue…" kata Gilang dan melepas tangannya yang di tahan tina tadi, lalu berlari keluar mengejar Niken.
"King…" kata tina dan ikut mengejar Gilang keluar.
"Maafin gue ya live, gue bener-bener nggax tau, lagian kita ngelakuin itu nggax sengaja" kata dimas.
"udah lah, nggax apa-apa. gue tau loe nggax salah. makasih karena loe udah jujur sama gue, gue bangga punya pacar seperti elo"
"mama mau ngelihat Niken juga deh" kata mamanya.
"sebaiknya nggax usah ma…" tahan Nino "Nino yakin Niken nggax mungkin melakukan hal yang tidak di ingin kan" lanjutnya.
"tapi mama khawatir sama Niken…"
"Mama tenang aja, ada Gilang. Nino percaya Gilang bisa menenangkan Niken. Hemmmm ya udah, kalian semua pasti capek, kalian boleh istirahat di rumah kalian, gue juga mau istirahat nih. 0h ea, trims ea atas bantuannya" kata Nino ke arah temen-temennya yang lain.
"Begini lah gunanya temen, kawan…" balas radit dan alan sambil tersenyum. di ikuti yang lain.
Niken mempercepat langkahnya, dan siap membuka pintu mobilnya mau pergi, tapi tiba-tiba ada yang menutupnya, kaget! Niken langsung menoleh, ternyata Gilang.
"Loe mau kemana?" tanya Gilang.
"Gue mau ngasi perhitungan sama benny, emang loe fikir mau ngapain lagi, loe nggax tau apa. gara-gara dia loe jadi di babak belur seperti kemaren" jawab Niken kesel dan siap mem buka pintu mobil tapi Gilang menahannya "loe ngapain sih, biarin gue pergi" lanjutnya, Gilang tetap diam menahan pintu mobil "oke kalau gitu gue pergi sendiri" kata Niken dan siap mau pergi Gilang langsung menahan tangannya.
"Loe mau ngapain kesana? sebaiknya nggax usah" tahan Gilang.
"Apa loe bilang??" Niken berbalik ke arah Gilang "Nggax usah? enak banget loe ngomong? loe masih belum sadar apa kalau loe luka gara-gara siapa? jadi biarin gue pergi"
"Nggax. gue nggax bakal membiarkan loe pergi"
"lepasin tangan gue" kata Niken.
"Nggax akan pernah, tangan yang udah gue genggam nggax bakal pernah gue lepas kan begitu aja, bagitu juga sama orang yang udah gue rengkuh, gue nggax bakal pernah membiarkannya pergi begitu saja dari hidup gue, loe tau. nggax akan pernah!!!" tegas Gilang.
"Maksud loe?!" Niken jadi bingung.
"Loe nggax perlu susah-susah berkorban buat gue, gue nggax perlu pembelaan loe untuk membalas perbuatan benny, gue nggax masalah kok sama itu semua. lagian itu udah lewat juga kan??? dan gue udah melupakannya, jadi nggax usah di bahas lagi" kata Gilang.
"gampang banget loe ngomong udah ngelupain? Eh, benny itu udah sungguh keterlaluan banget, dia udah berani menyalahkan elo dan menggunakan kekerasan. padahal loe sama sekali nggax salah sama dia, dan gue tau masalahnya pasti cuma karena loe ngantarin gue pulang kemaren. gue yakin banget itu" kata Niken sebel.
"Apa? karena gue ngantarin loe pulang??? jadi maksud loe… dia… cemburu gitu?!" Gilang kaget.
"Mungkin. tuh anak kan kadang-kadang sarap. jadi gue nggax mau loe terluka lagi gara-gara gue, gue mau bikin perhitungan sama dia agar dia nggax macem-macem lagi sama loe" kata Niken.
"Apa manfaatnya buat loe?"
"manfaatnya buat gue… mungkin loe nggax perlu tau"
"Kenapa? kan itu menyangkut gue juga, kenapa gue nggax boleh tau?"
"Yaa karena… karena… setiap orang itu punya rahasia, ada kalanya orang lain tidak boleh mengetahuinya" jawab Niken gugup.
"0h yea??? apa loe juga nggax bakal ngasi tau gue?" tanya Gilang sambil menatap mata Niken yang juga menatapnya, Niken terdiam. lalu mengalihkan tatapannya "kenapa loe nggax berani natap mata gue?" tanya Gilang "apa loe suka sama gue???" tanyanya lagi, Niken langsung kaget.
"Gue…"
"Apa???" tanya Gilang.
"Tentu saja tidak" jawab Niken sambil membuang pandangannya.
"0h yea??? kalau gitu, kenapa loe sepertinya marah banget saat tau benny yang melukai gue? kenapa loe sepertinya nggax suka saat tina mendekati gue? kenapa loe nggax nolak saat gue memeluk loe? dan kenapa juga loe nggax marah saat gue menggenggam tangan loe, bahkan saat sekarang???" tanya Gilang, Niken tersadar dan siap melepas tangannya. tapi Gilang mengeratkan genggamannya. "kenapa? ayo jawab???"
"Gue… gue punya banyak alasan untuk itu?"
"Banyak? apa aja? atau… gue cuma minta satu aja alasan yang pasti dan dari kejujuran loe aja?" tanya Gilang "atau biar mudah, gue tanya satu kali lagi sama loe, apa alasannya itu… karena loe suka sama gue?"
"Nggax!!" jawab Niken sambil mengalihkan pandangannya dari tatapan Gilang yang terus menatapnya.
"loe beneran nggax suka sama gue? kalau gitu kasi alasan yang masuk akal kenapa loe melakukan semua yang gue tanya tadi?" balas Gilang "dan itu semua bener kan????" lanjutnya.
"kan gue udah bilang, setiap orang punya rahasia. dan nggax semua orang boleh mengetahui rahasia kita, gue nggax ada maksa loe mengatakan hal yang sejujurnya kemaren, karena gue tau rahasia milik pribadi orang lain nggax ada yang boleh tau" balas Niken "siapapun orangnya" tegasnya.
"0ooh, jadi maksud loe, jawaban dari pertanyaan gue tadi semuanya rahasia gitu???" tanya Gilang.
"ya, semuanya rahasia"
"dan gue nggax boleh tau?"
"Nggax"
"meskipun gue orang yang sangat mencintai elo?" tanya Gilang, Niken jelas kaget mendengarnya. ini nggax mimpi kan????
"Apa loe bilang???" tanya Niken masih kaget.
"Meskipun, gue, orang, yang, sangat, mencintai, elo???" ulang Gilang.
"Loe… suka sama gue???" Niken nggax percaya.
"Apa loe nggax pernah merasakan selama ini????" tanya Gilang.
"gue…"
"jadi menurut loe, kenapa gue mau ngejemput elo meski loe sangat menyebalkan? kenapa gue nggax membalas saat loe ngerjain gue sama makanan and minuman yang rasanya aneh itu? kenapa gue diem aja saat tau loe bakal ikut camping kemaren? kenapa gue begitu aja menyetujui di kasi tanggung jawab untuk menjaga loe? kenapa gue berbaik hari memberikan elo minum saat loe merasa kehausan? kenapa gue lebih milih duduk di samping loe saat bakar jagung meski loe selalu mengusir gue? kenapa gue diam aja saat loe berusaha menjauhkan tina dari gue? kenapa gue sangat mencemaskan elo saat loe pergi gitu aja untuk mencari Nino? kenapa gue lebih milih jalan sama loe dari pada tina? kenapa gue nggax pernah melepaskan tangan loe? dan kenapa…."
"Cukup!" Niken menutup mulut Gilang "loe udah banyak banget ngomong, dan loe nggax ada memberikan gue kesempatan untuk bicara… oke, gue ngaku salah. maaf gue nggax pernah menyadari itu semua. lagian loe juga selalu bisa ngeles setiap gue tanya kan??" lanjutnya.
"Apa loe nggax bisa sedikit aja membaca prasaan gue???"
"Gue… Maaf…" kata Niken sambil menunduk.
"apa loe beneran nggax suka sama gue???" tanya Gilang.
"gue…" Niken masih menunduk.
"Ayo, tatap mata gue dan bilang kalau loe nggax suka sama gue…" kata Gilang, Niken masih menunduk gugup "ayo Niken, angkat wajah loe… tatap gue… loe yakin sama prasaan loe? ayo kasi tau gue dengan jujur, loe tatap mata gue dan bilang kalau loe nggax suka sama gue" lanjutnya, sedikit dengan sedikit Niken mengangkat wajahnya, dan menatap mata Gilang yang menatapnya tak berkedip.
"Gue…" Niken manatapnya ragu "gue nggax bisa…"
"loe pasti bisa, tatap mata gue dan jangan berkedip, bilang sejujurnya apa yang sebenernya ada di dalam hati loe, kalau loe emang nggax suka sama gue, kasi tau gue sekarang…" kata Gilang. Niken menatapnya.
"Huuuffffh, 0ke kalau itu yang loe mau dan membuat loe percaya atas prasaan gue sama loe, loe mau denger gue ngomong kan… baik, loe denger ya…" Niken menatap mata Gilang tanpa berkedip "Gue… suka sama loe" lanjutnya dan langsung memeluk Gilang. untuk sepersekian detik Gilang terdiam nggax percaya.
"Niken… loe… beneran…"
"ia, gue… sejujurnya… sangat menyukai elo…." kata Niken dalam pelukan Gilang, dengan bangga Gilang membalas pelukan Niken.
"0h akhirnya… Niken bilang suka juga sama gue… padahal tadi gue udah sedih banget saat Niken bilang nggax suka sama gue… Tuhan, terima kasih…. Niken,… gue sangat menyukai elo…" kata Gilang dalam hati.
"tunggu, apa ramalannya salah yaaa…" kata Niken dalam hati "Tapi… sebentar,… pejamkan mata dan rasakan, siapa orang yang gue suka tanpa gue sadari" lanjutnya dalam hati, tiba-tiba muncul seorang cowok yang awalnya samar, lalu jelas dan akhirnya tampak cowok itu tersenyum ke arah Niken, dan dia adalah…. Gilang!!! "Tunggu, kenapa bukan kak radit, kalau nggax salah… orang yang gue temui beberapa hari sebelumnya menggunakan baju putih dan… bertopi! Oh iya!!!" Niken melepas pelukannya.
"lho kok di lepas sih ken???" tanya Gilang kaget.
"Gue mau tanya sama loe" kata Niken.
"Apa? kan loe udah tau prasaan gue sama loe. gue itu suka sama loe… jadi peluk lagi sini…" kata avlin.
"iiih apaan sih loe, bukan itu" jawab Niken.
"Bukan?! kalau nggax apa donk???" tanya Gilang.
"saat kita pertama kali bertemu…."
"0oo loe pasti mau bilang kan, kalau gue harus minta maaf sama loe kan, ia deh gue ngalah sama loe… gue minta maaf yaaa mungkin emang gue yang salah saat itu, nah udah kan peluk gue lagi donk" kata Gilang, Niken langsung memukul lengannya "Aduh, sakit!!! kok gue di pukul sih…"
"ya abis elo, gue belum selesai ngomong juga, pake acara di potong-potong segala, mana salah lagi jawabannya" Niken jadi sebel.
"Trus apa donk????" tanya Gilang.
"Saat kita bertemu pertama kali itu… loe pake baju apa???" tanya Niken, Gilang jadi bingung.
"Baju???? e seingat gue sih, gue pake bajuuuu putih" jawab Gilang, Niken tentu jadi kaget "emang kenapa sama baju gue???"
"apa loe juga pake topi???" tanya Niken dan kali ini tersenyum.
"ya iya lah,… ada apa sih???" tanya Gilang makin bingung.
"kalau saat loe kerumah gue???" tanya Niken lagi.
"He? yang kapan yaaa???" tanya Gilang sambil mengingat-ingat.
"yang kalian datang bareng-bareng kak alan ama kak radit itu"
"0oo, yang kita fhoto-fhoto itu yaaaa… kalau nggax salah, gue pake bajuuuu…" Gilang mengingat-ingat.
"Fhoto???" Niken juga mengingat-ingat "0h iya…" lanjutnya dan mengambil hapenya lalu melihat fhoto yang di kirim kakaknya kemaren, fhoto kakaknya, Gilang, alan dan radit. Jelas Niken langsung kaget, karena saat itu Gilang juga menggunakan baju hijau, celana silver sama jaket hitam.
"ada apaan sih???" tanya Gilang bingung.
"kenapa bisa sama yaaa???" Niken mengingat-ingat lagi, karena pakai-pakaian Gilang dan radit sama "sepertinya ada yang gue lupakan… sebentar… sebentar…" Niken kembali mengingat-ingat, dan saat itu. Niken ingat begitu tiba di rumahnya Gilang membuka topinya. "0h iya topi!!!"
"Ha?!! ada apa sama topi???" tanya Gilang bingung.
"saat itu, yang menggunakan topi siapa? loe atau kak radit?"
"ya gue lah, loe nggax lihat apa kalau gue yang make topinya, aduuuh sebenernya ada apa sih ini…" Gilang makin bingung.
"0h jadi semuanya bener?! ha ha ha ternyata gue aja yang salah pengertian… bego' slama ini gue udah melihat orang yang salah… nggax taunya orang yang bener-bener di depan gue, gue cuekin" kata Niken seneng dan tersenyum.
"Ada apaan sih, loe bikin gue penasaran aja"
"nggax ada apa-apa, ini rahasia gue…"
"Ha?! rahasia lagi????"
"ia, ini rahasia gue, dan nggax ada yang boleh tau, termasuk elo tentunya…" jawab Niken sambil tersenyum
"kok curang gitu sih?"
"Dikit, aaah gue seneng banget" kata Niken dan memeluk Gilang dengan bangga. nggax nyangka ternyata selama ini dia salah mengira jodohnya itu siapa.
"Sebenernya apa sih mau loe, tadi gue cuma minta akuin prasaan loe, loe tambahin dengan meluk gue, trus loe lepasin lagi, begitu gue minta loe meluk gue, loe nggax mau. nah sekarang gue diam aja, loe yang meluk gue. sebenernya apa sih yang loe ingin kan sebenernya????"
"0h jadi loe udah nggax mau?" tanya Niken dan melepaskan pelukannya "ya udah, maaf in gue. gue nggax bakal mau lagi deh" lanjutnya.
"0h tidak bisa…" kata Gilang dan langsung memeluk Niken "loe ya udah buat gue jadi serba salah malah bilang gitu yaaa…. gue kan udah bilang orang yang udah gue rengkuh nggax bakal pernah gue lepasin lagi, jadi orang yang udah di pelukan gue nggax bakal pernah gue lepasin lagi…" lanjutnya dan mengeratkan pelukan Niken, Niken tersenyum senang.
"nggax nyangka banget, ternyata jodoh gue… orang yang slama ini gue rasa musuh gue, Tapi… ternyata nggax salah percaya sama ramalan asal nggax usah di jadiin pedoman bener-bener, mungkin ramalannya bener cuma kita aja yang salah penafsirannya… seperti gue ini, gue kira cowok itu kak radit… nggax taunya nih cowok, nggax nyangka banget" kata Niken dalam hati.
"Nah, sekarang loe udah percaya kan kalau gue itu cowok??? bukan cowok nggax jadi-jadi lagi? sikarang gue udah bener-bener jadi cowok, karena gue mau ngakuin prasaan gue yang sejujurnya sama loe…" kata Gilang.
"ia, baik lah, Niken percaya sama kak Gilang. kalau kak Gilang itu sekarang udah bener-bener jadi cowok" jawab Niken.
"loe manggil gue apa??" tanya Gilang.
"kak Gilang? bener kan??? atau mau di panggil King???" canda Niken.
"King??? boleh juga, asal Loe Queennya" jawab Gilang.
"Boleh-boleh aja sih, tapi… jangan ada v.s nya ya…???" balas Niken.
"Tentu, dari pada king v.s Queen mending king love Queen, ia nggaax?" tanya Gilang sambil tersenyum.
"Prasan lebih baikan king v.s Queen deh, kan itu udah dari sononya…"
"Trus kita harus berantem terus gitu???" tanya Gilang.
"E nggax juga…"
"jadi????"
"AyamQ????"
"Pok pok pok…. 0ops keterussan, kok jadi itu sih, seriuz donk"
"ea lah, jadinya king v.s Queen/Gilang love Niken gitu…"
"Wah keren juga"
"ia donk. Niken gitu lho…."
"wah pantang di puji…" kata Gilang sambil mengacak-acak rambut Niken.
"Ha ha ha biarin donk…"
"Huuuuuu…."
"Ha ha ha….."
THE END!!!

Random Posts

  • Cerpen Cinta | Rasa yang tertinggal ~ 03 / 05

    Okelah felas, ayo kita kemon melanjutkan lagi cerpen cinta rasa yang tertinggal yang kali ini udah sampe ke bagian ke tiga. Kebetulan cerbungnya juga nggak panjang amat kok. 5 part doank. But, tetep, cbiar nggak bingung sama jalan ceritanya mending baca dulu part sebelumnya di cerpen cinta rasa yang tertinggal bagian sebelumnya. Yang jelas, happy reading.Rasa yang tertinggalTifany sedang asik tidur tiduran sembari pikirannya melayang kemana mana. Terutama tentang kejadian hari ini. Ia tidak menduga kalau Alan benar benar mengajak jalan dirinya. Terus terang hari ini sangat menyenangkan, tapi di lain sisi ia juga merasa bersalah. Membuat pikirannya semakin melayang – layang entah kemana. Gadis itu bahkan hampir tidak menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian. “Hei, katanya tadi siang abis jalan – jalan, masa mukanya kusut gini."Tifany mengerjapkan mata, sedikit terkejut ketika mendapati Septia yang kini sedang ikut rebahan di sampingnya. Sahabatnya itu bahkan sengaja memiringkan tubuh menghadapnya.“Apaan sih. Biasa aja lagi," elak Tifany mencoba tersenyum.“Emangnya tadi siang loe jalan sama siapa?” tanya Septia lagi sambil membolak – balik komik serial cantik yang baru saja ia sambar dari atas meja, koleksi bacaan milik Tifany. Kadang septia sering merasa heran sama sahabatnya yang satu ini. Untuk apa ia mengoleksi komik – komik sebanyak itu. “Temen,” sahut Tifany singkat. Tidak berani menatap kearah Septia. Berharap Septia tidak akan bertanya lebih banyak. Saat ini ia ragu untuk menyebutkan nama Alan adalah pilihan yang tepat. Walau mungkin sebenarnya Septia sudah bisa menebak.“Ehem, temen atau demen,” goda Septia lagi. “Apaan si, udah ah, gue mau tidur. Udah ngantuk, cape lagi. Mending loe lanjut baca aja."Selesai berkata, Tifany membalikan tubuh membelakangi sahabatnya. Matanya ia paksan untuk terpejam sementara guling dengan erat. Melihat ulah sahabatnya yang terasa aneh, Septia hanya menoleh sekilas. Walau ia masih tidak puas, namun tak urung ia tetap bungkam. Mengikuti saran Tifany, ia lanjutkan acara membaca.Keesokan harinya seperti biasa Tifany berangkat kuliah. Seharian ia sengaja kucing kucingan dari Alan. Memastikan kalau ia tidak akan bertemu dengan pria yang satu itu. Dan sepertinya itu berhasil. Hari ini ia sama sekali tidak melihat wujud pria itu. Makanya begitu kelas berakhir, ia segera bergegas menuju kearah parkiran.“Halo cinta ku , manis ku, sayang ku”.Tifany menoleh, terkejut melihat seseorang yang menepuk pundaknya dan kini berjalan beriringan di sampingnya. Sejenak Tifany menghela nafas. Upaya untuk menghindar sepertinya percuma.“Ada apa?” balas Tifany datar yang mau tak mau membuat Alan mengerutkan kening. Secara nggak biasanya Tifany bersikap dingin begitu.“Hei, loe kenapa?” bukannya menjawab Alan malah balik bertanya.Tifany menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke samping. Ditatapnya wajah Alan yang masih tampak bingung. Lagi, dihembuskannya nafas secara berlahan sebelum melanjutkan ucapannya.“Loe mau ngomong apa?”“Tadinya si gue mau nitip cokelat. Tapi…"“Gue nggak bisa,” potong Tifany cepat sebelum Alan sempat menyelesaikan ucapnnya.“Fan, Loe kenapa si?” Tifany menyadari kalau Alan terlihat bingung dengan perubahan sikapnya. Tapi mau gimana lagi? Ia sudah tidak bisa terus begini. Sudah cukup ia menyiksa dirinya sendiri. Kalau memang ia tidak bisa bersama dengan Alan, mungkin sebaiknya ia menghindar saja.“Gue fine – fine aja. Gue Cuma mau ngasi tau sama loe kalau mulai sekarang loe harus bersikap tegas. Kalau loe emang suka sama Septia, leo ngomong langsung sama dia. Karena mulai sekarang gue nggak bisa lagi jadi kurir cokelat loe."“Jadi menurut loe gue ngomong langsung sama dia?”Pertanyaan Alan tak urung membuat dada Tifany makin terasa sesak. Karena itu ia merasa ia harus segera berlalu. Di tatapnya wajah pria dihadapannya dalam dalam baru kemudian mulutnya berujar. "“Ia, harus!" Tifany yakin ia nanti akan menyesali ucapannya barusan. Ralat, bukan nanti. Bahkan saat ini ia sudah merasa menyesal. Bagaimana kalau Alan benar benar menggungkapkan perasaanya pada Septia? Tidak, ia tidak ingin memikirkan itu lebih jauh. Karena itu ia segera menambahkan. "Oh ya, sory ya, gue masih ada urusan. Jadi gue duluan,” selesai berkata Tifany dengan cepat berlalu. Sama ia masih mendeger sahabatnya itu begumam."Dia kenapa sih?"Walaupun Tifany sudah hilang dari pandangan, Alan masih berdiri di tempatnya. Setelah berpikir sejenak, segera di keluarkannya handphond dari dalam saku celana. Beberapa saat kemudian di pencetnya tombol panggil pada id kontak yang sudah sangat ia hapal. Alan menunggu sejenak, dan begitu terdengan sambungan dari seberang tanpa basa basi mulutnya langsung berujar.“Gue butuh bantu loe. Bisa kita ketemu sekarang di tempat biasa”.*** Cerpen Cinta | Rasa Yang Tertinggal ***Sakit, itu yang selama ini Tifany rasakan saat Alan selalu bersamanya tapi tetap Septia yang menjadi topic dan tujuan utamanya. Sakit, saat Alan selalu menitipkan coklet hanya untuk sahabat tanpa tau kalau ia menyukainya. Tapi ini bahkan lebih sakit lagi, saat ia melihat kedua sahabatnya, Alan dan Septia yang tampak bercanda akrab tidak jauh dari hadapannya. Berniat untuk sedikit mendinginkan kepala, Tifany sengaja tidak langsung pulang kerumahnya. Setelah berjalan tak tentu arah, akhirnya ia membelokan sepedanya kearah Kafe ceriaaaa, sengaja memilih meja di pojok ruangan agar tidak terlalu menarik perhatian umum sekiranya ia melamun. Namun siapa yang menduga dengan kedatangan dua orang tamu yang baru muncul dan duduk didekat pintu masuk. Dua orang yang ia kenal sebagai teman baiknya.Memang, apa yang mereka katakan tidak mampu ditangkap oleh indra pendengar nya, Tapi apa yang kini terpampang di hadapannya sudah lebih dari cukup untuk mengambarkan dengan jelas, sangat jelas malah, Kalau sepasang anak manusia itu sudah cukup akrab. Terbukti dengan wajah Ceria bahkan di selingi tawa di antara keduanya.Dengan segera Tifany meraih tisu yang ada di samping nya ketika tampa terasa setitik air menetes dari mata indahnya. Tidak, ia tidak boleh menangis sekarang.“Pedih rasa di hatiSaat ku melihat Kamu,Pergi tinggal kan aku….Dengan memendam cinta yang lain…”* Kengen band_ Pergi tanpa alasan *Tak tau berapa lama waktu yang Tifany habiskan untuk tetap duduk di tempatnya. Yang gadis itu tau, waktu itu terlalu lama. Detik bahkan terasa tidak bergerak, sementara hatinya bagai di cabik – cabik. Mungkin sebaiknya sedari tadi ia harus pergi dari pada terus menyiksa diri dengan pemandangan di hadapan. Namun, Tifany urung melakukan itu. Ia tidak akan bisa pergi dari sana tanpa di ketahui oleh keduanya. Disaat yang sama ia tidak ingin mereka tau keberadaanya.Tifany melirik jam yang melingkar di tanganya, tepat pukul setengah lima, kedua orang yang sedari tadi menjadi objek tatapanya tampak berdiri. Dengan cepat Tifany menyambar buku menu di meja untuk sekedar menutupi wajahnya. Setelah keduanya berlalu barulah gadis itu bisa kembali bernapas. Kepalanya hanya mengangguk sembari tersenyum sebelum kemudian buru buru berlalu ketika melihat mbak mbak penjaga kasir yang heran melihatnya. Tentu saja mbak itu keheranan. Secara ia sudah menghabiskan waktu hampir dua jam hanya untuk duduk sendirian.Tiba di jalanan, barulah Tifany membiarkan air mata menetes di pipi mulusnya. Kakinya terus mengayuh tanpa tujuan. Pikirannya benar benar kosong. Ia tidak tau harus kemana? Ia tidak tau harus bagaimana? Satu satunya yang ia tau adalah, dadanya benar benar terasa sakit.Dengan tampang super kusut, Tifany melangkah memasuki halaman kostannya. Belum juga masuk kedalam rumah ia sudah disambut tatapan khawatir dan cemas Septia yang sudah sedari tadi menunggunya. Bisa dimaklumi sih, karena sekarang waktu sudah menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Ditambah selama ini Tifany sama sekali tidak pernah keluar setelah makhrip kecuali bersamanya. Tapi yang membuat Tifany lebih kaget lagi adalah Ternyata Septia tidak sendirian. Alan berdiri tepat di sampingnya. Pemandangan itu tak urung menorehkan kembali luka didadanya.“Ya ampun Fan, loe dari mana aja? Kita berdua khawatir sama loe. Dari tadi nomor loe juga di hubungi nggak aktif – aktif. Kenapa jam segini baru pulang? Dan loe….." pertanyaan tanpa rem dari Septia terhenti dengan sendirinya. Gadis itu mengamati raut sahabatnya dengan seksama. "Loe abis nangis?”"Bukan urusan loe," selesai berkata Tifany berniat untuk segera melangkah masuk kedalam rumahnya. Tapi langkahnya terhenti dengan ulah Alan yang tiba tiba berdiri menghalangi."Fan, loe kenapa?" Tifany bukan tidak menyadari kalau pria yang kini berada tepat di hadapanya sedang menatapnya khawatir. Namun sekarang, ia tidak sedang dalam kondisi siap dan terima dengan kekhawatiran itu. Toh semuanya percuma. Percuma Alan khawatir pada dirinya kalau pada kenyataanya toh dialah yang paling menyakitinya."Nggak usah sok peduli sama gue," Tifany tidak berniat untuk mengucapkan kalimat dingin itu. Tapi rasa sakit yang ia terima saat ini benar benar membekukan jalan pikirannya. Saat ini ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Perasaan karena di hianati sekaligus di permainkan membuatnya merasa muak. "Bukannya malah bagus kalau gue nggak ada. Jadi kalian berdua kan lebih merasa bebas untuk berduaan."Tak hanya Alan, Septia juga merasa tersentak dengan kalimat sinis sahabatnya. Tifany tidak pernah seperti itu. Membuat keduanya saling pandang. “Fan.." ujar Alan lirih. Tanganya terulur untuk meraih tangan Tifany tapi dengan segera di tepisnya.“Sory, Tapi gue cape. Gue pengen istirahat”.Tanpa memperdulikan reaksi Alan dan septia, Tifany segera melangkah masuk menuju kedalam. Setelah meleparkan tasnya dengan sembarangan ia segera melangkah kekamar mandi. Membiarkan dinginya air shower membasahi tubuhnya mengiringi air mata yang kembali mengalir dari pipinya.Next to cerpen cinta rasa yang tertinggal part 4.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 02 Of 05Jumlah kata : 1. 408 WordsGenre : Remaja

  • Cerpen Remaja: Diantara Dua Hari

    Kenalin aku Ari Indiastuti. Aku dilahirkan di kota Semarang pada Januari 19 tahun lalu. Aku biasanya dipanggil Ari atau Indi oleh orang tua dan teman-temanku. Jika kalian semua pengen lebih kenal aku bisa cari aja di fecabook di alamat ariindi2501@yahoo.com(Ari Indiastuti Weck Weck),bisa juga twitter di mania.crazy@live.com(@indi_weck),atau bisa kirim email di ariindiastuti@rocketmail.com yang pasti aku baca,mungkin juga bisa tukar-tukar sesuatu di blog ku di ariindiastuti.blogspot.com. aku sudah hobby nulis,beberapa ceritaku dan puisi juga beberapa dimuat di majalah Semarang,Magelang. Salam kenal ya buat semua,,kali ini aku ingin berbagi cerita tentang 2 hari yang pasti dilewatin sama kalian semua…Selamat membaca!Diantara 2 Harioleh: Ari IndiastutiAda 2 hari yang kubenci setiap tahun. Aku berharap tidak pernah ada hari itu setiap tahunnya. Sehingga aku tak perlu mengingat masa laluku. Masa lalu yang membuatku terpuruk. Ya… sangat terpuruk.Dua hari itu adalah hari ulang tahunku dan hari dimana tahun baru datang. Aku benci dua hari itu. Ya… sangat membencinya.Hari ulang tahun. Dimana setiap anak akan bahagia ketika hari ulang tahunnya tiba. Tapi tidak bagiku. Aku selalu merasa takut ketika hari itu tiba. Karena di hari itu, aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Tanpa setitikpun kasih sayang. Tanpa setitikpun pengertian.Aku ingat saat itu. Saat aku masih kecil. Aku tak bisa ingat saat itu berapa umurku. Pagi-pagi sekali ibu sudah berkutat di dapurnya.“Ibu, ibu sedang apa?”, tanyaku. Saat itu aku baru saja bangun tidur. Dan mendengar suara-suara di dapur.“Hai… Sayang, kau lupa? Hari ini hari ulang tahunmu!”, kata wanita yang kupanggil ibu itu. “Selamat ulang tahun sayang.”,tambahnya.“Eh..oh… iya aku lupa!”, kataku disertai cengiran khas milikku.Ibuku hanya mengacak-acak rambutku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Hatiku benar-benar bahagia.“Sekarang, mandi dan pergi sekolah ya!”, kata ibuku lembut sekali.“Tapi bu…”,aku mulai merajuk agar tidak berangkat sekolah hari ini.“Tidak bisa Indi, kau harus tetap berangkat sekolah hari ini.”,itu suara kakakku. Terkadang dia membuatku menangis. Tapi menurutku itu bentuk kasih sayangnya. Daripada tak disapa sama sekali. Oh iya kakakku itu sudah anak kuliah semester 4 lho.“Kaaaakkk…”“…”,kakakku hanya menggeleng tanpa mengucapkan 1 katapun.“Uh! Baik.. baik..”, kataku dan langsung ngeloyor ke kamar mandi.Disekolah memang tak ada yang tau ulang tahunku. Dan aku tak berharap ucapan dari mereka. Yang ada dalam pikiranku hanya makan bersama keluargaku. Ayah, ibu, kakak dan aku. Memang hanya sepotong nasi kuning. Tapi yang lebih berarti bagiku adalah kebersamaan kami. Dan dengan itu artinya mereka mengakuiku karena mengingat ulang tahunku.Malampun tiba. Tibalah ritual makan malam kami dengan satu hal yang special. Ulang tahunku. Kami tertawa bersama. Dan aku masih ingat saking bahagianya aku sampai salah makan cabe. Tapi karena kebahagian itu cabepun rasa gula.hhehehe,,,Oh iya aku ingat itu hari ulang tahunku yang ke-10. Dan seingatku itulah hari terakhir ibuku ingat ulang tahunku. Bahkan ayah tak mau mengingatnya. Dan aku masih ingat hari itu hari terakhirku tersenyum dengan hati.Ya… setelah itu semua berubah. Ibu sibuk dengan dirinya. Ayah sibuk dengan pekerjaannya. Sementara kakak harus fokus pada studynya.Setiap tahun barupun begitu. Aku tak pernah mengenal tahun baru. Karna bagiku mengingat tahun baru sama saja membuka luka lama yang belum kering di hatiku.Bahkan tahun ini. Tahun ini adalah ulang tahun ke 17. Yang kudapatkan tahun ini hanya kosong. Detik-detik menuju denting jam di 00.00 hanya kuisi dengan tangis. Aku menangis dalam diam. Karena kakakku satu-satunya sedang tidur disampingku. Aku hanya meniup lilin sendirian. Berharap semua berubah. Tak ada canda tawa. Tak ada pula salah makan cabe.Yang ada hanya pilu. Ya… aku terus menangis dalam diam. Aku tak mau topengku retak. Aku tak mau orang tau seperti apa aku jika tanpa topeng ini. Meski itu didepan kakakku sendiri. Aku tak mau terlihat rapuh.Ya… selama 11 tahun aku terus menggunakan topeng kokohku. Aku tersenyum pada semua orang. Aku berakting seolah-olah aku bahagia. Seolah-olah tak memiliki masalah. Aku tau aku munafik. Tapi biarlah. Rasa sakit ini, rasa kesepian ini terlalu sulit kubagi. Indi yang mereka kenal bukanlah Indi. Indi adalah sosok yang tak mereka tau.Aku lebih nyaman menangis sendirian. Aku lebih menyukai menangis tanpa suara. Mungkin memang lebih menyayat. Tapi lebih melegakan.“Air matamu bisa habis jika kau menangis terus, Indi!”, itu kata kakakku. Tapi itu dulu. Indi yang sekarang bukanlah orang yang akan tertipu dengan kata-kata penghibur seperti itu.Memang sempat terlintas dibenakku. Ingin rasanya ketika aku menangis ada yang memelukku. Ada yang merelakan pundaknya untuk tempat ku bersandar. Ada yang menyediakan tangannya untuk merengkuhku dalam pelukannya dan membiarkanku menangis disana.Tapi mana mungkin. Aku terlalu tertutup. Tak mudah bagiku membagi ceritaku pada orang lain. Aku menutupi itu semua dengan sok peduli pada orang lain. Padahal aku tak pernah memperdulikan diriku sendiri.Hari tahun barupun terkena imbasnya. Seingatku saat itu aku kelas 1 SMP ketika aku mulai mengenal apa itu malam tahun baru. Ketika teman-temanku bercerita apa yang akan mereka lakukan bersama keluarga mereka. Aku hanya bisa diam.“Indi.. Indi kau tahu nggak?”, tanya Rinda padaku.“Nggak”, jawabku dengan nada ketus karena saat itu masih pelajaran dan gurunya mengerikan.Kulihat temanku kecewa atas jawabanku. Aku sungguh merasa bersalah. Bagiku cukup aku saja yang terus merasakan rasa sakit dan kecewa. Aku tak mau temanku juga kecewa.“Nanti saja ceritanya. Kamu mau kena marah?”, kataku dengan nada santai berharap kata-kata itu bisa mengobati kekecewaannya.Bingo! Itu berhasil. Rinda tersenyum padaku. Sepertinya dia mengerti maksudku. Rinda itu sahabatku. Aku memang baru mengenalnya. Tapi aku merasa nyaman dengannya. Dan dia tahu aku paling tidak suka membuat masalah dengan guru. Karena orangtua itu merepotkan.Bel istirahat tiba. Saatnya aku mendengarkan ocehan panjang dari cerita Rinda.“Indi … kamu mau kemana malam tahun baru nanti?”, tanyanya.Glek!!!! Aku menghentikan acara menulisku dan menatapnya. Lalu menelan ludah dengan terpaksa. Aku hanya menggeleng tanpa memasang ekspresi apa-apa. Lalu meneruskan acara mencatatku. Karena yang kutahu malam tahun baru hanya tidur selama 1 tahun.“Tidak kemana-mana ya.”, seolah dia sedih mengetahui jawabanku. “Bagaimana kalau kerumahku”, tambahnya.“Aku mendengarkan.”, kataku lalu berhenti menulis.“Begini. Setiap tahun jika malam tahun baru aku dan keluargaku selalu bakar jagung atau apapun. Kadang bakar daging ayam, sapi. Apapun yang kami beli. Oh iya jangan lupakan kembang apinya. Jadi sambil bakar-bakar kami menyalakan kembang api.”, jelasnya panjang lebar.“Ooooo”, hanya itulah yang keluar dari mulutku.“Tadi katamu kan kau tidak kemana-mana jadi menginap di rumahku saja. Kita menghabiskan malam tahun baru bersama.”, ajaknya padaku.Aku tersenyum mendengar ajakannya. Kemudian aku berpikir. Rasanya pasti senang sekali bisa menghabiskan malam tahun baru dengan keluarga Rinda. Keluarga Rinda juga baik padaku. Tapi jika aku membicarakannya pada ibu. Pasti yang kudapat hanya kata tidak dari mulut ibu. Dan ceramah panjang yang sangat tidak penting dari ayah. Kak Upi’ tidak pulang minggu ini, karena ada tugas yang harus diselesaikan. Seandainya ada kak Upi’. Sayangnya dia harus kuliah di luar kota.“Sepertinya tidak bisa.”, jawabku . “Sebenarnya aku ingin. Tapi… itu akan membuat masalah baru kurasa.”, jawabku seadanya. Rinda sudah tau bagaimana keluargaku. Meskipun dia tidak tau apa yang kurasakan. Tapi dia tau bagaimana aku dan bagaimana keluargaku. Walau yang dia tau adalah topengku. Tapi aku tak pernah menceritakan padanya. Baru sekali aku mengajaknya maen kerumah. Dan dia langsung tau bagaimana keluargaku. Rinda memang luar biasa.“Baiklah, tak apa-apa.”, katanya sambil merangkulku. Tak terlihat raut kekecewaan diwajahnya.Ya… dan malam tahun baru hanya yang kesekian kalinya hanya kulewatkan dengan tidur. Karena jika aku membuka mataku. Aku akan mengingat semua luka yang tergores di hatiku. Aku akan menyadari bahwa aku kesepian. Aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Itu membuatku marah. Biasanya saat seperti itu kulampiaskan pada tembok atau apalah.Aku tau itu menyebabkan luka di tubuhku. Tapi siapa peduli. Luka-luka ditubuhku lebih nyata dan akan sembuh lalu menghilang bekasnya setelah beberapa hari. Tapi luka dihatiku entah akan sembuh atau tidak aku tak tau.Seandainya 2 hari itu tak pernah ada. Tapi mana mungkin. Hari itu akan tetap ada dan tetap menciptakan luka.Harapanku sekarang hanyalah semoga ada orang yang mau menyembuhkan dan menghapuskan luka ini. Sehingga aku tak perlu lagi bertopeng seperti ini.Hari ulang tahunku yang tak jauh dengan tahun baru telah terlewatkan. Biasa saja ditagun ini,yang katanya umur 17 itu “sweet seventeen” tapi apalah, itu hanya untuk orang yang bahagia, sedang aku, gadis pendiam, lugu, tak atahu apa-apa. Pikiran itu selalu ada.“Dorrrrrr…”, suara Rinda mengagetkanku yang sedang meratapinasib gadis malang ini, ”nglamun aja non, ntar kalau ada setan lewat gimana?” Rinda itu teman baik yang lucu sekali, dia hibur kalau aku diam.“ya kalau setannya cewek aku jadikan saudaraku, kalau cowok aku jadikan,,,,, pacar,, hahhaah”, aku mencoba buat banyolan lucu.“Emang sayembara, sama setan kok mau. Udah, kantin yuk, laper,,”, aku pikir sejenak, karena malas sekali untuk jalan kekantin ujung. ”Udah, aku traktir deh,”.Sepanjang jalan kekantin Rinda hanya berceloteh dengan rencana tahun baru yang buat aku iri, tapi aku tetap dengarkan cerita itu sih.“Ndi, ayolah ikut. Ntar aku ngomong sama orangruamu,sekali-kali kan boleh. Udah besar kita itu”, sambil ngrengek-ngrengek dia.“Ya, ayo kerumah, kamu yang ngomong ya,”, sambil aku tersentum,dan berdoa semoga dapat ijin lah.“Siap bos.”, Rinda girang banget.Aku dan Rinda coba bilang ke ibuku agar dapat ijin untuk merrayakan tahun baru bersama.“Ibu, aku diajak Rinda untuk tahun baru dirumahnya, boleh ya,” sedikit melas agar dibolehin sama ibu.“Iya tante, boleh ya. Mumpung tahun baru tante, setaun sekali lho tante,” coba meyakinkan ibuku. Raut muka ibu yang gak pasti buat ku deg-degan ni. Tapi, mulut ibu mulai membuka.“baiklah, ibu ijinkan, asal satu syarat,”, belum selesai ibu ngomong aku udah nyambung.“apa aja syaratnya, Indi lakukkan ibu”.“Dengan syarat kamu gak boleh merepotkan di sana, jangan bikin malu ibu,” denagan jawaban itu aku loncat kegirangan.“Ok ibu ku manis, janji gak macem-macem,” sambil aku hormat sama ketawa.“Iya tante, Indi itu baik kok, jadi gak merepotkan,” Rinda menimpali kalimat yang buat ibu tersenyum.Aku tiap malam udah mimpiin dan gak sabar dengan tahun baru yang akan ku alami ini. Dan yang aku tunggu datang. Aku menginap ditempat Rinda, aku sangat dekat dengan keluarga dia, begitupun sebaliknya. Aku udah tidak sabar dengan waktu yang berputar serasa lambat sekali untuk mencapai 00.00. Kami menikmati diatas sebuah gasebo yang nyaman ini.Waktu tinggal beberapa detik lagi, aku dan keluarga Rinda hitung mundur.“Kita hitung mundur yuk,” kata dari ayah Rinda yang tidak sabar dengan tahun baru ini juga.“10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1,” kitaa ucapkan bersama-sama.dan tahun baru saat puku l 00.00. Suara terompet kita bersaut-sautan.“Selamat tahu baru”, semua berteriak.“Selamat tahun baru, Rin”, sambil memeluk aku.“Selamat thaun baru juga ya, Ndi. Semoga ditahun baru ini kita tambah baik”, aku hampir saja meneteskan air mata, baru kali ini aku merasakan tahun baru waalupun tidak dengan keluarga. Rinda dan keluarganya juga saling memeluk dan ucapkan selamat tahun baru. Aku juga ikut dipeluknya, jadi iri dengan keluarga Rinda.Tiba-tiba dari belakang,“Dor,,,”, suara kakaku yang katanya lagi sibuk studynya kok tiba-tiba ada didepanku.“Selmat ulang tahun sayangku”, ucapan manis dari seorang wanita yang membawa kue ulang tahun yang jelas karena namaku ada disana yang ditemani oleh seorang lelaki paruh baya. Ya, dia orang tuaku yang merawatku dari lahir hingga sebesar ini.Mereka bernyanyi selamat ulang tahun untukku, ternyata keluargaku dan keluarga Rinda yang merecanakan ini semua. Aku merasakan senang sekali. Ibu meminta meniup lilin 17 ini, dan diminta aku memohon doa.Aku menutup mata ini sambil berdoa. Ya ALLAH aku minta agar dapat seperti keluarga lain yang damai, seneng. Aku juga makasih sudah diberi teman yang baik seperti Rinda, semoga umurku ini aku makin baik. Aminnnnn..“buffff,,,bufff” aku tiup lilin itu dan mereka memberi selamt untukku dan menciumiku.“Indi, semoga kamu jadi anak yang lebih baik diumurmu yang semakin dewasa”, kata dari ibuku sambil aku dipeluknya. ”maaf, ibu baru merayakannya”.“iya bu, tak apa.” sambil mencoba mengusap air mata ibu yang jatuh.“Ndi, jadilah anak yang membanggakan untuk orangtuamu ini ya”, ayah yang tak pernah berucap begitu, aku begitu terharu. Tak lupa kakakku.“Adikku paling manis, udah gede kudu pinter-pinter mana yang bener ama tidak ya, mmmmmuuuuaaaaccchh”, aku merasa terharu dengan kakak ku ini.“Indi, selamat ulang tahun, sweetseventeen moga dapat pacar, hhehheh”, dia mencoba bercanda. Aku dan semua hanya tartawa dengan kalimat Rinda.”Kami akhirnya menikmati malam tahun baru dan ulang tahunku yang ke 17 dengan manis. Tak pernah aku bayangkan akan seindah ini yang jauh dari pikiranku. Aku bersyukur diberikan keluarga yang sayang denganku, teman yang selalu temani aku disaat sedih dan menghibur.Ku melamun sendiri memandang mereka yang asyik menikmati malam di gasebo dekat kolam renang. Aku tersenyum sendiri, betapa beruntungnya aku ini dilahirkan, dibesarkan. Aku tak perlu menuntun apa-apa, semua ada, hanya kasih sayang kurang untukku tapi aku merasa senang. Aku tahu kedua orangtuaku bekerja untukku. Kebahagiaan memang tak pernah dapat dinilai, hanya dapat dirasakan. Karena makna kebahagiaan akan datang dengan sendirinya seperti kita memaknai hidup ini.Aku sadar 2 hari yang tak pernah aku senangi ini berbuah manis di tahun baru dan ulang tahunku ini. Aku tak akan melupakan hari ini.Karena asyik melamun aku tak tahu kalau didekatku ada Rinda yang tiba-tiba mengagetkannku. Dan aku didorong ke kolam renang. Huft,, sial,,, aku hanya tertawa dan yang lain ikut tertawa.hahahah,,

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 04 {Update}

    cerita soal Serial Diera Diary kita lanjut ya teman – teman. Secara ceritakan emang belum ketemu sama yang namanya ending. Kali ini giliran Cerita SMA Diera Diary ~ 04. Gimana sama kelanjutan hubungan Diera dan Rian bisa kita simak di bawah ini.And as always, seperti biasanya. Untuk mempermudah sekaligus supaya nggak ketinggalan cerita, sebaiknya baca dulu cerita sebelumnya disini. Cerita SMA Diera Diary ~ 04Cerita SMA Diera Diary ~ 04Diera terus melangkah dibelakang Rian. Dalam hati ia mengerutu akan sikap keras kepala makhluk yang berjalan di hadapannya. Tapi untuk ketiga kalinya, Rian kehilangnan keseimbangan nya dan mau jatuh, namun kali ini Diera tidak sempat menolongnya karena tadi Rian. Alhasil, Rian beneran jatuh dan langsung menjerit kesakitan karena kakinya ketindih dia sendiri. Diera buru-buru membantunya.“Tadi gue bilang juga apa. Elo sih ngeyel. Gue bantuin nggak mau. Liat sendirikan akibatnya. Jadi malah makin parah nih. Darahnya keluar lagi tuh,” omel Diera sambil memeriksa lukanya Rian. Rian hanya bisa meringgis menahan sakit.“Loe punya sapu tangan nggak” Tanya Diera beberapa saat kemudian“Ada, tuh didalam saku tas gue.”Diera segera mengambilnya dan mengunakannya untuk memebalut luka tersebut agar darahnya tidak keluar lagi.“Aw pelan-pelan donk… sakit tau” jerit Rian.“Oh ea?…. masa sih gitu aja sakit. Loe kan cowok “ ledek Diera membuat Rian bungkam.“Nah sekarang udah bereskan. Makanya kalau di omongin sama orang tu di dengerin. Huh… nyusain gue aja loe.”Rian mencoba berdiri dan siap mau jalan lagi, tapi Diera segera meraih tangannya dan melingkarkan di pundaknya. Siap untuk memapahnya, awalnya sih Rian tetap menolak, tapi akhirnya ia ngalah karena Diera terus ngotot. Dan mereka pun melanjutkan perjalanannya.“Ada apa?” Tanya Rian Heran karena Diera tiba-tiba berhenti.“Coba liat itu deh” tunjuk Diera tepat keatas mereka. Rian mendongakan kepalanya. Ternyata tepat diatas mereka ada pohon mangga hutan yang kebetulan sedang berbuah.“Gue laper nih. Kita ambil mangga itu dulu yuks. Kan lumayan,” ajak Diera. “Tapi gimana cara ngambilnya?”Diera bingung karena tuh pohon lumayan tinggi. Memanjatnya, rasanya nggak mungkin. Diera mencoba menjoloknya pake kayu tapi nggak ada kayu yang panjang, jadi nggak nyampe. Ia mencoba memetiknya dengan melemparinya pake ranting kayu , tapi nggak ada satu pun dari lemparannya yang mengenai sasaran. Akhirnya ia nyerah. Sampai ada sebiji buah mangga yang jatuh tepat di sampingnnya. Ia seneng dan langsung memungutnya. Saat menatap kesekeliling, tatapannya terhenti ke arah Rian yang sedang memegang ranting kayu kecil dan siap kembali melempar. Kali ini bukan Cuma satu tapi dua biji mangga yang jatuh. Diera tentu saja kagum melihatnya. Rian terus melempar, dan setiap lemparannnya selalu tepat sasaran. Diera benar – benar tidak percaya pada penglihatannya walau pun selama ini ia juga tau kalau Rian sanggat terkenal di sekolahnya akan keahliannya dalam bermain basket.Setelah tampak buah mangga yang lumayan banyak di tanah, Diera bilang cukup. Ia pun mengumpul kan semua mangga tersebut di depan Rian. Setelah itu ia pun duduk di sampingnya.Rian mencoba mengambil sebiji dan mengigitnya. Tapi buru-buru ia muntahkan lagi karena rasanya sanga masam, maklumlah magga tersebut memang masih mentah.“ Ya ampun. Ini manga atau asem sih. Kok rasannya kecut banget” ujarnya. Ia Heran karena Diera santai saja dan terus memakan mangga tersebut dengan santai. Bahkan keliatannya Diera malah suka.“Namanya juga masih mentah. Ya emang kayak gini rasanya. Loe pikir ni madu apa. Manis…..” balas Diera cuek.“Gue bisa sakit perut kalau makan ginian.”“Ya udah terserah loe. Tapi menurut gue ya masih mending sakit perut dari pada mati kelaparan.”“Tapi kok loe kayaknya nggak kekecutan sih?” Rian Heran.“He he he…. Gue kan emang suka. Tau nggak sih, bahkan mangga depan rumah gue nggak sempet mateng. Cuma biasnya gue makannya bareng sama garam.”Rian benar-benar tidak percaya mendengarnya. Walaupun rasanya bener-bener kecut, Rian akhinya memakannya juga. Bahkan sampai merem-merem segala. Diera memasukkan beberapa butir mangga yang belum mereka makan kedalam tasnya. Karena mereka masih harus menemukan jalan keluar dari hutan tersebut atau paling nggak bisa ketemu sama teman-teman mereka kembali.Hari sudah hampir malam lagi. Barulah sayup sayup Diera mendengar suara teriak-teriakan. Awalnnya ia pikir itu suara binatang hutan . tapi untung lah bukan karena ternyata itu suara teman-teman mereka yang terus mencarinya.Anggun, Narnia dan Hera langsung memeluk nya begitu melihat batang hidun Diera. Selama ini mereka bener-bener cemas akan nasib sahabatnya yang satu ini. Makannya mereka terus ikut dalam mencari mereka. Sementara itu para cewek-cewek yang lain sibuk ngerubungi Rian. Tapi mereka langsung pada cemberut karena anderani and teman-temanya langsung mengusirnya. Cerita SMA Diera Diary ~ 04“Eh entar sore kita pada jadikan buat main ke rumah Diera?” Tanya Hera sambil mengcampur aduk saus kedalam mangkuk baksonnya.“Ia donk, sebenernya kemaren sore gue udah kesana. Tapi dia masih belum bangun dari tenpat tidur” balas Lilly.“Kasihan…. Jadi dia sakit beneran habis pulang dari camping kemaren.”“Yo’a… apalagi kemaren kan dia sempet nyasar” Lilly menganguk. Nggak sengaja matanya tertuju ke sosok seseorang yang mau masuk ke kantin.“Pst…. Coba liat deh siapa yang datang,” Lilly memberi kode ke teman-temannya.“Eh kita samperin yuk” ajak Narnia begitu dilihatnya Rian sudah duduk.“Mo ngapain?” Anggun heran.“Ya mau kasih tau soal Diera lah. Masa mau nanyain dia mau makan apa, emang kita pelayan. Lagipula kemaren Diera kan nyasarnya bareng sama dia. Kali aja dia mau njenguk bareng kita,” sambung Narnia lagi.“Mustahil,” komentar Lilly santai.“Kok gitu?” Anggun Heran.“Kalau loe nggak percaya coba aja samperin. Gue sih ogeh.”Akhirnya semuannya sepakat. Anggun dan Narnia yang nyampering Rian. Lilly hanya tersenyum mengejek melihatnya. Dan terus memperhatikan kedua temannya yang bebicara kepada Rian.Lima menit kemudian Anggun dan Narnia balik lagi dengan tampang kusut. Lilly sudah bisa menebak kira-kira apa yang terjadi.“Gimana?” Tanya Hera penasaran.“Huh…. Benar-benar menyebalkan.”“Sumpah, nyesel deh kita nyamperin dia,” tambah Anggun.“Gue bilang juga apa.”“Ada apa sih?” Hera makin bingung.“Dia nggak mau ikut?” sambung Hera lagi.“Mending kalau Cuma nggak mau. Tau nggak sih dia malah ngomong yang bikin kuping gue panasss banget.”“Betul banget. Swer pengen gue jadiin bakso tu orang biar bisa langsung gue telen bullet-bulet. Sumpah deh.”“Udah mending kalian minum nih es biar adam dulu” Lilly menyodorkan es sirupnya ke kedua temannya sambil tersenyum. Anggun langsung menyerobotnya mendahului Narnia yang juga mau.Hera tentu makin kesel karena kedua temannya makin uring-uringan sementara di Tanya malah nggak jelas gitu. Akhirnnya dia yang memutuskan untuk menghampiri Rian langsung.“Mendinggan nggak usah deh,” cegah ketiga temannya serentak.“Kalian tenang aja. Gue bisa ngatasin ini kok. Kalian liat ya.”Tanpa menunggu balasan dari temannyannya Hera segera beranjak dari tempat duduknya dan menghapiri Rian dengan pedenya.Teman-temannya terus memperhatikan gerak-gerik Hera dengan heran. Apalagi dilihatnya Hera malah duduk bersama Rian sambil ngobrol santai gitu. Sambil nyodorin hape nya segala lagi. Masa sih Rian minta no hape nya dia. Kok bisa. Pikir mereka.“Ya udah gue pergi dulu ya” kata Hera meninggalkan Rian yang terus menatap pungungnya.“Ra gimana?” tanya Anggun penasaran.“Ia. Kok kayaknya kalian ngobrol akrab gitu” tambah Lilly.“Mana tadi Rian judes banget lagi sama kita” sambung Narnia.“Terus kenapa loe tadi nyodorin hape loe segala. Emang Rian minta no hape loe?”“He’eh” sahut Hera santai.“Ha…. Kok gitu. Cerita donk.”“Ya soalnya kan biar gampang ntar dia ngehubungin gue. Soalnya dia ntar ikut sama kita buat ngejenguk Diera.”“What?!” biji mata Lilly kayak mau keluar mendengarnya.“Ceritain donk. Loe pake jurus apa sih?” Narnia bener-bener penasaran.“Ada aja……” Hera tersenyum misterius.Salah sendiri, tadi dia nanya dicuekin, sekarang gantian donk.“Kok gitu sih….” Lilly bete.“Eh udah bel tuh. Buruan kekelas yuks…” ajaknya mengalihkan pembicaraan. Sambil berjalan meninggalkan kantin. Ketiga cecunguk itu terus mengejarnya untuk minta penjelasan. Tapi Hera Cuma angkat bahu sambil terus tertawa.Cerita SMA Diera Diary ~ 04Lilly mengucek-ngucek matanya, kali aja salah liat sementara Narnia malah mencubit tangannya sendiri siapa tau mimpi, Anggun?…. bengong. Mereka benar-benar tidak percaya siapa yang datang berboncengan dengan motor bersama Hera. Yups….. RIAN!!!.“Kalian udah dari tadi ya. Kok belum masuk?” Tanya Hera ke teman-temannya yang masih melototin Rian.“Hei… “ jerit Hera lagi karena mereka masih diam terus. Rian pura-pura ngebenerin riselting jacketnya. Salah tinggkah juga dia di lihatin kayak gitu.“Gue nggak mimpi kan nia” bisik Lilly lirih.“Kayaknya nggak deh, soalnya tangan gue sakit nih gue cubit” balas Narnia.“Hei kalian kok bengong gitu sih. Udah ayo masuk” ajak Hera.“Tapi dia?” tahan Anggun sambil tangan nya menunjuk ke arah Rian.“Ya dia ikut. Memang nya nggak boleh?” Hera balik nanya.“Bukannya waktu di kantin tadi kita ajak loe sendiri bilangnya nggak penting and kurang kerjaan ya?” Narnia tidak dapat menahan rasa penasarannya.“Kalau nggak terpaksa gue juga ogak kali” balas Rian ketus.“Apa?” Hera pertanya dengan nada mengancam.“Gue bilang sampai kapan kita mau berdiri di sini. Jadi ngejenguk temen loe nggak sih?”.ujar Rian kemudian.Diam diam Hera tersenyum mendengarnya.“Inget ya loe harus bersikap manis nanti di dalem. Kalau nggak…”Hera belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika tiba tiba ada yang menyapa mereka. Ternyata mamanya Diera yang baru keluar karena tadi ia seperti mendengar suara motor yang memasuki halaman rumahnya.Reaksi Diera tidak beda jauh dengan reaksi Anggun, Lilly dan Narnia waktu pertama kali melihat Rian muncul didepan pintu kamarnya. Pandangan nya beralih ke Lilly dengan sorot ‘ kok-dia-ada-di-sini’. Lilly hanaya membalasnya ‘aku-anak-polos-nggak-tau-apa-apa’.Suasana sedikit janggal karena kehadiran Rian disana. Semua merasa canggung mau ngomong apa. Sampai Hera buka mulut mencoba untuk mencairkan suasana.“Diera gimana keadaan loe?”“Gue udah agak mendingan kok,” balas Diera sambil mencoba untuk duduk dari tempat tidurnya.“Kita semua ngehawatirin loe lho…” tambah Hera lagi.“Oh ya?. Ma kasih. Tapi sori ya kalau udah bikin kalian cemas gitu. Tapi gue beneran udah mendingan kok. Besok gue juga udah bisa sekolah. Udah kangen gue sama sekolah.”“Kalau loe emang belom baikan mending istirahat dulu….” Saran Lilly.“Dasar cewek…. Gitu aja sakit” gumam Rian lirih. Hera langsung melotot mendengarnya tapi Rian pura pura nggak melihat nya.Tiba-tiba pintu terbuka.“Eh ada temen-temennya kak Diera” sapa Cycie yang baru masuk. Adinya Diera yang baru berumur 6 tahunan.“Ia nih. Terus Cycie yang imut abis dari mana nih. Kok baru nongol” balas Hera sambil tersenyum gemes.“Abis maen ma temen-temen Cycie” balas Cycie sambil matanya tak lepas dari Rian yang tak jauh darinya.“Nah kalau yang itu namanya kak Rian” terang Hera yang menyadari rasa keingin tahuan bocah kecil itu.“O.. kalau aku Cycie. Adek nya kak Diera” dengan ramah Cycie mendekati Rian sambil mengulurkan tangannya, Rian pun tersenyum membalasnya.“Kakak pasti pacarnya kak Diera ya?” Tanya Cycie tiba-tiba yang membuat semuannya yang mendengar nya kaget nggak menyangka akan mendengar pertannyaan yang di lotarkan bocah cilik itu.“Hus Cycie!… apa apaan sih loe. Sembarangan aja kalau ngomong. Udah mending keluar sana loe” Bentak Diera mengusir adiknya karena merasa malu.“Gitu aja marah. Cycie kan Cuma nanya. Abisnya Cycie penasaran sih. Soalnya temen-temen Cycie bilang anak cowok nggak boleh maen ke kamar cewek kecuali kalau pacarnya. Gitu,” Cycie polos.“Ya nggak lah. Kakak Cuma temen kok. Lagian kalau pun pacar juga nggak boleh masuk kekamar cewek,” balas Rian kemudian.“Terus kenapa kakak masuk ke kamar kak Diera. Kak Diera kan cewek?” Tanya Cycie lagi yang membuat Rian makin bingung menjelaskannya.“Kalau kak Rian ke sini itu buat ngejenguk kak Diera yang lagi sakit” Lilly ngebantu menjelaskannya.“O…. gitu ya. Jadi kalau ceweknya yang sakit baru cowoknya boleh masuk yaa?”“Cycie!…”bentak Diera. “Keluar nggak!”.Cycie manatap kakak nya sambil memonyongkan mulutnya. Diera balas menatap tajam kearahnya. Cycie ngalah dan memilih keluar karena ia merasa takut kalau kakak nya beneran marah sama dia.“Sory ya yan ama omongan adek gue tadi” kata Diera ke Rian.“Nggak papa kok.”Cerita SMA Diera Diary ~ 04Diera melirik jam tangnnya. Ia Heran teman-temannya kok belum nongol juga. Padahal tadi ia sudah pesen sama Lilly kalau udah kelar ngisi soal ulangnnya langsung nyusul nya ke kantin. Tapi mereka kok belum nongol-nongol juga ya. Bel juga istirahat juga barusan udah kedengeran.Diera memicingkan matanya seolah kurang yakin dengan peglihatnnya melihat Rian yang dengan santai duduk di kursi di depannya sambil memesankan dua mangkuk mi so dan dua gelas es rumput laut.“Kenapa loe liatin gue kayak gitu?” Tanya Rian Heran.“Loe salah makan ya tadi malam. Atau emang lagi ngelindur?” Diera balik nanya.Rian melongo mendengarnya. Nggak ngerti apa maksut Diera ngomong kayak gitu.“Kenapa emang?”“Ya kok tumben banget loe mau duduk di samping gue. Nggak takut kehilangan selera?”Rian diam saja mendengarnya. Tidak komentar apapun. Malah mengeluarkan hape dari sakunya. Dan sok mencet-mencet tombolnya. Mengabaikan Diera yang masih menanti jawaban darinya.Pelayan kantin datang sambil membawakan pesanan mereka. Rian kembali memasukkan hapenya kedalam sakunya. Dan meraih mangkuk mi so nya. MenCyciepinya sedikit. Kemudian mendambahkan sedikit saus dan kecap kedalamnya.Bete di cuekin begitu. Diera bediri dan siap pergi meninggalkan mejanya sampai tiba tiba Rian menarik tangannya utuk kembali duduk sehinga membuatnya kaget.“Duduk."Kali ini gantian Diera yang menyentuh kening Rian. Kali aja tu anak yang sakit.“Bukannya yang baru sakit itu elo ya?” sindir Rian.“Kali aja pindah ke elo” balas Diera santai.Sembarangan. Udah makan tuh.”“Tapi ian gue masih Heran deh kok loe tiba-tiba mau nraktir gue sih. Atau jangan-jangan.”“Nggak usah nebak yang aneh-aneh. Udah makan aja. Anggap aja nie ucapan terima kasih yang kemaren. Kemaren kan loe bilang nya gue nggak tau berterima kasih” potong Rian sebelum Diera menyelesaikan ucapannya.“Biarin gue sekali-kali Ge-er kenapa sih….” gerut Diera cemberut tapi tak urung di seruputnya juga makanan yang ada di hadapannya.“Kenapa?” Tanya Rian heran karena dari tadi Diera masih terus mempehatikannya.“Enggak knapa-napa” balas Diera sambil terus memperhatikan Rian.Tiba-tiba Rian berdiri dan siap beranjak pergi yang membuat Diera heran dan segera menahannya.“Loe mau kemana sih. Tadi katanya mau makan bareng. Kok sekarang gue di tinggal gitu aja?”“Gue kan udah selesai.”“Tapi gue kan belom” balas Diera.“Kan bisa makan sendiri. Emangnya harus gue suapin?” balas Rian ketus.“Emang loe mau nyuapin gue?” Tanya Diera serius.“Hu… Maunya…….” Ledek Rian siap berbalik tapi lagi-lagi di cegah sama Diera.“Tunggu…” tahan Diera.“Apa lagi. Dasar cewek lemot. Jadi ngomong sama loe harus lurus aja ya. Nggak ngerti juga kalau pake bahasa orang gede…. Gue-nggak-mau-nyuapin-elo. Puas.”“Ye……. Siapa juga yang minta di suapin sama loe. Ngasal kalau ngomong” Diera sewot.“Terus?”“Bayar tuh makanan. Enak aja main ngacir. Tadikan loe yang pesen. Emang sih gue juga makan. Tapi kan loe yang minta gimana sih?”Rian baru nyadar. Dan segera di rogohnya uang dari dalam sakunya dan di berikan pada pelayannya. Kemudian segera berlalu tanpa ngomong sepatah kata pun pada Diera. Ia ingin buru-buru pergi karena sekilas tadi ia melihat bayangan teman-temannya Diera yang akan masuk kekantin.“Hu…. Kenapa tu orang. Dasar orang aneh,” gumam Diera sendiri sambil kembali menghabiskan mi so nya yang masih tersisa.“DOR”.Diera tersedak. Lilly menepuk pungungnya tepat saat ia sedang makan mi nya yang pedes banget. Dan hasil nya……Emang dasar tu orang. Ngagetin nggak pake kira-kira. Nggak lihat situasi. Umpat Diera dalam hati.“Ups….. sory….” Lilly merasa bersalah sambil menugsap-usap pungung Diera karena Diera nggak berhenti-henti batuknya.“Gila loe… loe mau bunuh gue ya. Bisa mati keselek gue….”“Ya sori. Abisnya gue kesel si sama loe. Udah tadi waktu ulangan nggak bagi-bagi jawabannya. Di bikin jadi pudding kita sama pak bastian. Terus giliran kita kesini eh loe malah enak-enakan makan miso sendirian. Bahkan sampai abis dua mangkuk. Siapa yang nggak kesel coba. Dasar nggak setia kawan.”“Bukan gue nggak mau ngasih tapi kan tadi kalian sendiri tadi nggak minta,” Diera bela diri.“Giamana kita mau minta tolong ma loe. Lha wong loe langsung ngacir begitu udah selesai,” balas Anggun.“Ha ha ha” Diera tertawa mendengarnya.“Tapi ra, loe rakus juga ya. Sampai abis dua mangkuk mi so. Apa gara-gara loe sakit kemaren. Makannya sekarang loe mau bales dendam?” Tanya Narnia sambil duduk di sampingnya yang terlebih dahulu memesan bakso sama pelayan kantinya.“YA nggak lah. Gue makan semangkuk ini aja belom abis dari tadi.”“Terus ni mangkuk siapa donk?”Tanya Hera sambil menunjuk mangkuk mi so yang sudah kosong.“Coba tebak…” Diera bales nanya.“Pasti Pasya kan?” ujar Anggun dan Lilly bersamaan. Diera mengeleng.“Kok Pasya sih. Lagian kenapa juga di harus nraktir gue?”“Alah kayak kita nggak tau apa. Tu anak kan naksir sama loe. Kemaren aja waktu loe nggak datang ke sekolah tu orang terus nanyain keadaan loe” goda Narnia.“Apaan sih….” Diera tersipu malu.“Tapi kalau bukan Pasya siapa donk. Nggak mungkin Rian kan…” tebak Lilly ngasal.“Emang dia…” balas Diera nyantai. Lilly melotot menatapnya. Seolah nggak percaya sama pendengarannya.“Loe bercanda kan?” tambah Narnia yang juga nggak percaya. Diera mengeleng. Cuma Hera yang diam diam tersenyum.“Kenapa dia harus nraktir loe. Terus di mana dia sekarang?” Tanya anggun antusias.“Tau….” Diera hanya angkat bahu.“Kayaknya kelakuan tu anak makin aneh deh….” Gumam Lilly sebelum kemudian mengalihkan perhatiannye kearah makanan yang terhidang di hadapannya.Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 05~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?

    Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?oleh: Diah Novianti“Fio, tunggu…!”, langkahku langsung terhenti kala Denis memanggilku. “Ada apa ?” ” Ini, buku latihanmu ketinggalan.”kata Denis. “Makasi” jawabku sambil tersenyum. Denis membalas senyumku, senyum manis yang memberikan arti bahwa ia adalah sosok anak muda yang ramah dan baik hati.Ya, dialah Denis. Siswa SMA 46 Jakarta yang cukup banyak punya penggemar. Aku pun sudah lama memendam rasa kepadanya. Aku dan dia memang sudah kenal sejak lama karena dari sekolah dasar aku sudah sekelas dengannya. Awalnya, tak ada kedekatan apapun di antara kami, hingga suatu hari Denis mengajakku pulang bersama. “Mau pulang sama aku nggak ?” tanyanya sambil tersenyum. Senyum yang dapat membuat siapa saja melayang karnanya. “Bole aja”, tanpa basa basi aku langsung mengiyakan ajakan itu. Dari sana, aku mulai dekat dengannya. Dan akhirnya, saat itu pun tiba. Denis memintaku untuk menjadi pacarnya. Tak perlu banyak waktu untuk menjawab semua itu karna memang itulah mimpiku sejak SMP.Kini, hari-hariku pun sudah ditemani oleh Denis. Semua terasa sangat menyenangkan. Dan ternyata, itu hanya awalnya saja. Ketika hubunganku dengannya memasuki usia ke-3 bulan, saat itulah mimpi burukku datang.“Fio, sini, aku mau ngomong sesuatu.”kata Denis. Aku langsung menelan ludah, tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. “Aku mau kita temenan aja.”lanjut Denis.Taaarr ! Seakan ada ribuan cambuk yang mengenai hatiku. Aku langsung menitikkan air mata, tetapi segera kuhapus tanpa sepengetahuan Denis. Aku tak ingin lemah di hadapannya. Aku hanya diam.“Fio, maafin aku…” Aku langsung berlari sejauh mungkin, tak peduli walau langit sedang menangis seakan tahu apa yang kini tengah aku rasakan. Aku berlari di tengah derasnya hujan, tak ada tanda-tanda kalau Denis akan mengejarku. Biarlah, kataku dalam hati.Keesokan harinya, tak sengaja aku bertemu Denis di sebuah pusat perbelanjaan. Ia bersama seorang perempuan cantik, berkulit putih, manis, tinggi pula. Ideal sekali untuk ukuran seorang wanita sempurna. Oh Tuhan, ironis. Satu kata yang dapat mewakilkan keadaanku saat ini setelah aku berusaha untuk mempertahankan semuanya. Kini, hancur sudah semuanya karena orang yang kusayangi.Aku ingin sematkan bintang di dahinya, agar ia tahu betapa besar rasa sayangku padanya. Tuhan, masih bisakah hari itu terulang ? Hari dimana aku dan Denis masih bersama .*****Facebook : Diah NoviantiTwitter : @novidiahnovi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*