Cerpen King Vs Queen Part Ending

HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!, Cape. Turun dari rumah jam lapan pagi Pukul 21:38 Baru nyampe rumah. Astaga….. #Backsound lagu Wali "Yang penting halal". ^_^
Begitu pulang langsung nyalain lepi n Tara….. Wifi Gak bisa conect #Gubrak.
N then, Ehem Keluarin "Galaxy", Searching ke google bentar. Tau deh apa yang di ping – ping, Pokoknya ikutin instruksi. N hasilnya. Alhamdulilah, Akhirnya bisa conect juga.
So, Oke deh kalau begitu, Sesuai janji Lanjutan Cerpen King Vs Queen part 10 aka ending di posting. Yang merasa nunggu, monggo langsung di baca.

Credit Gambar : Ana Merya
"Niken… bagaimana ke adaan kakak mu nak?" tanya mamanya yang baru tiba di rumah sakit, Niken langsung berdiri menghampiri mamanya.
"Niken nggax tau ma, dokter lagi memeriksanya. maafin Niken ya maa, Niken nggax bisa bantuin kak Nino saat kak Nino lagi butuh pertolongan Niken…" kata Niken dengan sedih.
"Tapi loe kan udah banyak membantunya ken" kata Gilang dari samping.
"Tapi tetap saja kakak gue terluka kan, itu berarti gue nggax bener-bener membantunya" balas Niken.
"sudah lah nak, ini bukan salahmu. mungkin kita lagi di uji aja. semoga aja kakak mu tidak apa-apa. mama yakin kamu udah berusaha sekuat tenaga kamu untuk membantu kakak mu…" kata mamanya sambil memeluk Niken, tak lama setelahnya dokter keluar.
"Bagaimana keadaan Nino dok?" tanya Gilang dan berjalan menuju dokter, begitu juga yang lain.
"Alhamdulillah, dia baik-baik saja. cuma luka memar di punggungnya, tapi bakal sembuh kok,… di biarkan istirahat beberapa hari saja, pasti bakal balik seperti semua" jawab dokter.
"Syukurlah…" jawab yang lain lega mendengar penjelasan dokter.
"Apa kita bisa melihatnya sekarang dok?" tanya Niken.
"0h, ya silahkan… tapi jangan terlalu mengganggunya, dan jangan berisik. dia harus banyak istirahat" saran dokter.
"ia dok, baiklah… terima kasih…" jawab Niken dan masuk ke kamar Nino di ikuti oleh mama dan temen-temennya yang lain "Kak Nino…" sapa Niken begitu tiba di samping Nino yang masih terbaring, Nino tersenyum.
"Niken… mama… hei…" sapa Nino ke arah yang lain.
"Bagaimana ke adaan kamu nak?" tanya mamanya.
"Nino nggax apa-apa kok ma, cuma sakit sedikit di sekitar punggung" jawab Nino ke arah mamanya.
"Kalau yang lain? nggax ada yang sakit kan kak?" tanya Niken.
"Nggak ken, kamu tenang aja. kakak itu orangya kan kuat. jadi pasti nggax apa-apa… Vin, trims ea, loe udah jagain adek gue…" kata Nino ke arah Gilang.
"biasa aja kali, lagian itu udah tugas gue … menjaga Niken. karena dia kan orang yang terpenting buat gue" jawab Gilang, yang lain langsung menatapnya heran termasuk Niken "maksud gue orang yang terpenting buat loe… gitu… gue salah ngomong tadi" ralat Gilang.
"0wh, ia… tapi gue juga tetap harus ngucapin makasih sama loe…" kata Nino ke arah Gilang, Gilang hanya menangguk tersenyum. tiba-tiba ada yang membuka pintu, semua menoleh.
"Niken… gue denger kakak loe masuk rumah sakit, gimana ke adaannya? parah nggax???" tanya Olive yang baru datang bersama seorang cowok yang tidak asing lagi di mata Niken karena dia adalah,… Dimas?!
"Olive… loe, kok bisa bareng sama dimas sih?" tanya Niken bingung.
"dia jodoh gue… dan ramalan itu bener…" bisik Olive ke arah Niken. yang lain bingung.
"Oh yea? seriuz loe?" tanya Niken nggax percaya dan menatap dimas, yang tersenyum ke arahnya. Olive tersenyum membenarkan "Waw, nggax nyangka banget" lanjutnya.
"Ada apa sih?" tanya Nino penasaran begitu juga yang lain.
"Top secret" jawab Niken dan Olive berbarengan dan ber high five.
"ada-ada aja…" balas mamanya Niken sambil tersenyum.
"Eh. tapi, kak putra ngapain di sini??" tanya Olive bingung ke arah Gilang, yang laen kaget.
"kakak kan temennya kakaknya Niken" jawab Gilang.
"0h yea??? kok bisa kebetulan banget sih, jadi kakak temennya kak Nino, kok kakak nggax ada ngasi tau Olive sih?" tanya Olive.
"yaaa abis loe nggax nanya, lagian mana kakak tau kalau loe kenal sama Nino dan Niken" jawab Gilang santai.
"0oo, wah nggax nyangka yaaa…" kata Olive sambil tersenyum.
"Eh, tunggu-tunggu-tunggu deh, loe bilang dia siapa???" tanya Niken ke arah Olive sambil menunjuk Gilang "kak putra?!" tanyanya kaget.
"Ia, dia kak putra. sepupu gue yang gue ceritain itu, inget?" tanya Olive ke arah Niken yang masih nggax percaya.
"Tapi dia… loe tau nggax siapa??" tanya Niken "Gilang" lanjutnya sambil berbisik ke arah Olive yang jelas langsung kaget.
"Seriuz loe?!" tanya Olive. Niken mengangguk "Cowok yang nabrak loe itu???" tanya Olive lagi, Niken kembali menangguk "Yang katanya sangat nyebelin itu???!!!"
"Iya Olive…." jawab Niken, tentu saja Gilang yang mendengarnya jadi kaget.
"What?! nabrak and nyebelin??!!!" Gilang nggax percaya.
"E itu…" Niken jadi gugup.
"Loe cerita apa aja tentang keburukan gue ke sepupu gue sendiri ha?!" tanya Gilang ke arah Niken sebel.
"Yaaa Maaf, mana gue tau dia sepupu loe… orang dia temen gue…" balas Niken.
"Loe itu ngeselin banget sih" Gilang jadi sewot.
"kok loe marah-marah sih, itu kan kenyataan kali, loe emang yang nabrak gue and nyebelin" Niken nggax mau kalah.
"Tapi bukan berarti loe boleh ngejelek-jelekin gue sama sepupu gue sendiri juga kan???"
"yaaa kan gue udah bilang, gue nggax tau. karena setau gue, Olive bilang sepupunya itu namanya kak putra, bukan kak Gilang, jadi mana gue tau. abis loe ngapain sih ganti-ganti nama?" balas Niken.
"Loe nyalahin gue?!"
"yaaa abis siapa lagi? yang ganti-ganti nama kan elo"
"siapa juga yang ganti-ganti nama"
"ya elo lah, sebentar kak putra, sebentar kak Gilang. nggax tau deh mana yang asli" kata Niken.
"Dua-duanya asli ken" Nino yang menjawab.
"He?! dua-duanya asli gimana maksudnya??? masa' sih satu orang punya dua nama, dasar aneh"
"namanya itu sebenernya Gilang saputra. jadi bisa di panggil putra, bisa di panggil Gilang" jawab radit ikut-ikutan.
"0oo, bagus yaaa bagus, kenapa nggax di tambah sarap aja sekalian"
"kok loe jadi sewot sih ken?" tanya Olive.
"Tau tuh, yang harusnya sebel itu kan gue, karena loe udah mencoreng nama baik gue di depan sepupu gue" balas Gilang.
"Yeee itu bukan urusan gue kali, weeeek" balas Niken.
"Loe berani sama gue?! dasar cewek jadi-jadian"
"Dari pada loe cowok nggax jadi-jadi" balas Niken sebel.
"iiiih loe tuh yaaaa… Tau deh!" Gilang sebel.
"Ya udah, Whatever!!!"
"Udah, udah… kalian tuh yaaa beranteeeem aja kerjanya. sekali-kali kek akrab jadi orang, jangan berantem terus" kata Nino sambil tersenyum dan geleng-geleng melihat ulah adik dan sahabatnya.
"tapi, siapa nih cowok live?" tanya Gilang ke arah Olive sambil menunjuk dimas di samping.
"0h, dia jodoh Olive kak, eh maksud Olive, dia pacar Olive gitu. kenali namanya Dimas…" Olive memperkenalkan pacarnya.
"0wh, hei gue Gilang kakak sepupunya Olive" kata Gilang sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum
"Dimas" jawab dimas sambil menjabat tangan Gilang "E kak Gilang… Dimas mau minta maaf ya sama kak Gilang, Dimas nggax tau kalau kak Gilang ini kakak sepupunya Olive" lanjutnya.
"minta maaf? untuk???" tanya Gilang bingung.
"kakak inget saat kakak di kroyok sama beberapa preman?" tanya dimas ke arah Gilang.
"Inget. tapi, dari mana loe bisa tau???" tanya Gilang.
"jangan bilang loe yang ngelakuin itu?" kata Niken "karena gue nggax bakal pernah memaafkannya" lanjutnya.
"Maaf, tapi… sebenernya dimas tau siapa yang ngelakuin"
"Siapa?!" tanya Niken "Ayo jawab!!!" lanjutnya.
"Be… Benny, e maksud Dimas, orang-orang suruhannya benny"
"What?! kurang ajar tuh orang" kata Niken sebel "Awas ya?!" lanjutnya dan langsung pergi yang lain tentu jadi kaget.
"Niken!!!" panggil Gilang, tapi Niken udah keburu pergi.
"Eh Niken mau kemana tuh?" tanya Nino.
"kalau firasat gue bener sih dia mau kerumah benny"
"lho mau ngapain???" tanya Gilang, Olive angkat bahu "wah ini nggax beres nih, gue harus menahannya" lanjutnya dan siap mengejar Niken tapi Tina menahannya.
"king, loe mau kemana???" tanyanya.
"Loe nggax denger apa dari tadi, gue itu mau ngejar Niken"
"Tapi gue…"
"Tina, please lah ya… loe jangan gangguin gue terus" kata Gilang.
"king, apa loe nggax pernah menghargain sedikit aja prasaan gue?"
"asal loe tau aja ya, nggax ada yang lebih penting dalam hidup gue, selain mementingkan prasaan Niken, jadi loe nggax boleh halangin gue…" kata Gilang dan melepas tangannya yang di tahan tina tadi, lalu berlari keluar mengejar Niken.
"King…" kata tina dan ikut mengejar Gilang keluar.
"Maafin gue ya live, gue bener-bener nggax tau, lagian kita ngelakuin itu nggax sengaja" kata dimas.
"udah lah, nggax apa-apa. gue tau loe nggax salah. makasih karena loe udah jujur sama gue, gue bangga punya pacar seperti elo"
"mama mau ngelihat Niken juga deh" kata mamanya.
"sebaiknya nggax usah ma…" tahan Nino "Nino yakin Niken nggax mungkin melakukan hal yang tidak di ingin kan" lanjutnya.
"tapi mama khawatir sama Niken…"
"Mama tenang aja, ada Gilang. Nino percaya Gilang bisa menenangkan Niken. Hemmmm ya udah, kalian semua pasti capek, kalian boleh istirahat di rumah kalian, gue juga mau istirahat nih. 0h ea, trims ea atas bantuannya" kata Nino ke arah temen-temennya yang lain.
"Begini lah gunanya temen, kawan…" balas radit dan alan sambil tersenyum. di ikuti yang lain.
Niken mempercepat langkahnya, dan siap membuka pintu mobilnya mau pergi, tapi tiba-tiba ada yang menutupnya, kaget! Niken langsung menoleh, ternyata Gilang.
"Loe mau kemana?" tanya Gilang.
"Gue mau ngasi perhitungan sama benny, emang loe fikir mau ngapain lagi, loe nggax tau apa. gara-gara dia loe jadi di babak belur seperti kemaren" jawab Niken kesel dan siap mem buka pintu mobil tapi Gilang menahannya "loe ngapain sih, biarin gue pergi" lanjutnya, Gilang tetap diam menahan pintu mobil "oke kalau gitu gue pergi sendiri" kata Niken dan siap mau pergi Gilang langsung menahan tangannya.
"Loe mau ngapain kesana? sebaiknya nggax usah" tahan Gilang.
"Apa loe bilang??" Niken berbalik ke arah Gilang "Nggax usah? enak banget loe ngomong? loe masih belum sadar apa kalau loe luka gara-gara siapa? jadi biarin gue pergi"
"Nggax. gue nggax bakal membiarkan loe pergi"
"lepasin tangan gue" kata Niken.
"Nggax akan pernah, tangan yang udah gue genggam nggax bakal pernah gue lepas kan begitu aja, bagitu juga sama orang yang udah gue rengkuh, gue nggax bakal pernah membiarkannya pergi begitu saja dari hidup gue, loe tau. nggax akan pernah!!!" tegas Gilang.
"Maksud loe?!" Niken jadi bingung.
"Loe nggax perlu susah-susah berkorban buat gue, gue nggax perlu pembelaan loe untuk membalas perbuatan benny, gue nggax masalah kok sama itu semua. lagian itu udah lewat juga kan??? dan gue udah melupakannya, jadi nggax usah di bahas lagi" kata Gilang.
"gampang banget loe ngomong udah ngelupain? Eh, benny itu udah sungguh keterlaluan banget, dia udah berani menyalahkan elo dan menggunakan kekerasan. padahal loe sama sekali nggax salah sama dia, dan gue tau masalahnya pasti cuma karena loe ngantarin gue pulang kemaren. gue yakin banget itu" kata Niken sebel.
"Apa? karena gue ngantarin loe pulang??? jadi maksud loe… dia… cemburu gitu?!" Gilang kaget.
"Mungkin. tuh anak kan kadang-kadang sarap. jadi gue nggax mau loe terluka lagi gara-gara gue, gue mau bikin perhitungan sama dia agar dia nggax macem-macem lagi sama loe" kata Niken.
"Apa manfaatnya buat loe?"
"manfaatnya buat gue… mungkin loe nggax perlu tau"
"Kenapa? kan itu menyangkut gue juga, kenapa gue nggax boleh tau?"
"Yaa karena… karena… setiap orang itu punya rahasia, ada kalanya orang lain tidak boleh mengetahuinya" jawab Niken gugup.
"0h yea??? apa loe juga nggax bakal ngasi tau gue?" tanya Gilang sambil menatap mata Niken yang juga menatapnya, Niken terdiam. lalu mengalihkan tatapannya "kenapa loe nggax berani natap mata gue?" tanya Gilang "apa loe suka sama gue???" tanyanya lagi, Niken langsung kaget.
"Gue…"
"Apa???" tanya Gilang.
"Tentu saja tidak" jawab Niken sambil membuang pandangannya.
"0h yea??? kalau gitu, kenapa loe sepertinya marah banget saat tau benny yang melukai gue? kenapa loe sepertinya nggax suka saat tina mendekati gue? kenapa loe nggax nolak saat gue memeluk loe? dan kenapa juga loe nggax marah saat gue menggenggam tangan loe, bahkan saat sekarang???" tanya Gilang, Niken tersadar dan siap melepas tangannya. tapi Gilang mengeratkan genggamannya. "kenapa? ayo jawab???"
"Gue… gue punya banyak alasan untuk itu?"
"Banyak? apa aja? atau… gue cuma minta satu aja alasan yang pasti dan dari kejujuran loe aja?" tanya Gilang "atau biar mudah, gue tanya satu kali lagi sama loe, apa alasannya itu… karena loe suka sama gue?"
"Nggax!!" jawab Niken sambil mengalihkan pandangannya dari tatapan Gilang yang terus menatapnya.
"loe beneran nggax suka sama gue? kalau gitu kasi alasan yang masuk akal kenapa loe melakukan semua yang gue tanya tadi?" balas Gilang "dan itu semua bener kan????" lanjutnya.
"kan gue udah bilang, setiap orang punya rahasia. dan nggax semua orang boleh mengetahui rahasia kita, gue nggax ada maksa loe mengatakan hal yang sejujurnya kemaren, karena gue tau rahasia milik pribadi orang lain nggax ada yang boleh tau" balas Niken "siapapun orangnya" tegasnya.
"0ooh, jadi maksud loe, jawaban dari pertanyaan gue tadi semuanya rahasia gitu???" tanya Gilang.
"ya, semuanya rahasia"
"dan gue nggax boleh tau?"
"Nggax"
"meskipun gue orang yang sangat mencintai elo?" tanya Gilang, Niken jelas kaget mendengarnya. ini nggax mimpi kan????
"Apa loe bilang???" tanya Niken masih kaget.
"Meskipun, gue, orang, yang, sangat, mencintai, elo???" ulang Gilang.
"Loe… suka sama gue???" Niken nggax percaya.
"Apa loe nggax pernah merasakan selama ini????" tanya Gilang.
"gue…"
"jadi menurut loe, kenapa gue mau ngejemput elo meski loe sangat menyebalkan? kenapa gue nggax membalas saat loe ngerjain gue sama makanan and minuman yang rasanya aneh itu? kenapa gue diem aja saat tau loe bakal ikut camping kemaren? kenapa gue begitu aja menyetujui di kasi tanggung jawab untuk menjaga loe? kenapa gue berbaik hari memberikan elo minum saat loe merasa kehausan? kenapa gue lebih milih duduk di samping loe saat bakar jagung meski loe selalu mengusir gue? kenapa gue diam aja saat loe berusaha menjauhkan tina dari gue? kenapa gue sangat mencemaskan elo saat loe pergi gitu aja untuk mencari Nino? kenapa gue lebih milih jalan sama loe dari pada tina? kenapa gue nggax pernah melepaskan tangan loe? dan kenapa…."
"Cukup!" Niken menutup mulut Gilang "loe udah banyak banget ngomong, dan loe nggax ada memberikan gue kesempatan untuk bicara… oke, gue ngaku salah. maaf gue nggax pernah menyadari itu semua. lagian loe juga selalu bisa ngeles setiap gue tanya kan??" lanjutnya.
"Apa loe nggax bisa sedikit aja membaca prasaan gue???"
"Gue… Maaf…" kata Niken sambil menunduk.
"apa loe beneran nggax suka sama gue???" tanya Gilang.
"gue…" Niken masih menunduk.
"Ayo, tatap mata gue dan bilang kalau loe nggax suka sama gue…" kata Gilang, Niken masih menunduk gugup "ayo Niken, angkat wajah loe… tatap gue… loe yakin sama prasaan loe? ayo kasi tau gue dengan jujur, loe tatap mata gue dan bilang kalau loe nggax suka sama gue" lanjutnya, sedikit dengan sedikit Niken mengangkat wajahnya, dan menatap mata Gilang yang menatapnya tak berkedip.
"Gue…" Niken manatapnya ragu "gue nggax bisa…"
"loe pasti bisa, tatap mata gue dan jangan berkedip, bilang sejujurnya apa yang sebenernya ada di dalam hati loe, kalau loe emang nggax suka sama gue, kasi tau gue sekarang…" kata Gilang. Niken menatapnya.
"Huuuffffh, 0ke kalau itu yang loe mau dan membuat loe percaya atas prasaan gue sama loe, loe mau denger gue ngomong kan… baik, loe denger ya…" Niken menatap mata Gilang tanpa berkedip "Gue… suka sama loe" lanjutnya dan langsung memeluk Gilang. untuk sepersekian detik Gilang terdiam nggax percaya.
"Niken… loe… beneran…"
"ia, gue… sejujurnya… sangat menyukai elo…." kata Niken dalam pelukan Gilang, dengan bangga Gilang membalas pelukan Niken.
"0h akhirnya… Niken bilang suka juga sama gue… padahal tadi gue udah sedih banget saat Niken bilang nggax suka sama gue… Tuhan, terima kasih…. Niken,… gue sangat menyukai elo…" kata Gilang dalam hati.
"tunggu, apa ramalannya salah yaaa…" kata Niken dalam hati "Tapi… sebentar,… pejamkan mata dan rasakan, siapa orang yang gue suka tanpa gue sadari" lanjutnya dalam hati, tiba-tiba muncul seorang cowok yang awalnya samar, lalu jelas dan akhirnya tampak cowok itu tersenyum ke arah Niken, dan dia adalah…. Gilang!!! "Tunggu, kenapa bukan kak radit, kalau nggax salah… orang yang gue temui beberapa hari sebelumnya menggunakan baju putih dan… bertopi! Oh iya!!!" Niken melepas pelukannya.
"lho kok di lepas sih ken???" tanya Gilang kaget.
"Gue mau tanya sama loe" kata Niken.
"Apa? kan loe udah tau prasaan gue sama loe. gue itu suka sama loe… jadi peluk lagi sini…" kata avlin.
"iiih apaan sih loe, bukan itu" jawab Niken.
"Bukan?! kalau nggax apa donk???" tanya Gilang.
"saat kita pertama kali bertemu…."
"0oo loe pasti mau bilang kan, kalau gue harus minta maaf sama loe kan, ia deh gue ngalah sama loe… gue minta maaf yaaa mungkin emang gue yang salah saat itu, nah udah kan peluk gue lagi donk" kata Gilang, Niken langsung memukul lengannya "Aduh, sakit!!! kok gue di pukul sih…"
"ya abis elo, gue belum selesai ngomong juga, pake acara di potong-potong segala, mana salah lagi jawabannya" Niken jadi sebel.
"Trus apa donk????" tanya Gilang.
"Saat kita bertemu pertama kali itu… loe pake baju apa???" tanya Niken, Gilang jadi bingung.
"Baju???? e seingat gue sih, gue pake bajuuuu putih" jawab Gilang, Niken tentu jadi kaget "emang kenapa sama baju gue???"
"apa loe juga pake topi???" tanya Niken dan kali ini tersenyum.
"ya iya lah,… ada apa sih???" tanya Gilang makin bingung.
"kalau saat loe kerumah gue???" tanya Niken lagi.
"He? yang kapan yaaa???" tanya Gilang sambil mengingat-ingat.
"yang kalian datang bareng-bareng kak alan ama kak radit itu"
"0oo, yang kita fhoto-fhoto itu yaaaa… kalau nggax salah, gue pake bajuuuu…" Gilang mengingat-ingat.
"Fhoto???" Niken juga mengingat-ingat "0h iya…" lanjutnya dan mengambil hapenya lalu melihat fhoto yang di kirim kakaknya kemaren, fhoto kakaknya, Gilang, alan dan radit. Jelas Niken langsung kaget, karena saat itu Gilang juga menggunakan baju hijau, celana silver sama jaket hitam.
"ada apaan sih???" tanya Gilang bingung.
"kenapa bisa sama yaaa???" Niken mengingat-ingat lagi, karena pakai-pakaian Gilang dan radit sama "sepertinya ada yang gue lupakan… sebentar… sebentar…" Niken kembali mengingat-ingat, dan saat itu. Niken ingat begitu tiba di rumahnya Gilang membuka topinya. "0h iya topi!!!"
"Ha?!! ada apa sama topi???" tanya Gilang bingung.
"saat itu, yang menggunakan topi siapa? loe atau kak radit?"
"ya gue lah, loe nggax lihat apa kalau gue yang make topinya, aduuuh sebenernya ada apa sih ini…" Gilang makin bingung.
"0h jadi semuanya bener?! ha ha ha ternyata gue aja yang salah pengertian… bego' slama ini gue udah melihat orang yang salah… nggax taunya orang yang bener-bener di depan gue, gue cuekin" kata Niken seneng dan tersenyum.
"Ada apaan sih, loe bikin gue penasaran aja"
"nggax ada apa-apa, ini rahasia gue…"
"Ha?! rahasia lagi????"
"ia, ini rahasia gue, dan nggax ada yang boleh tau, termasuk elo tentunya…" jawab Niken sambil tersenyum
"kok curang gitu sih?"
"Dikit, aaah gue seneng banget" kata Niken dan memeluk Gilang dengan bangga. nggax nyangka ternyata selama ini dia salah mengira jodohnya itu siapa.
"Sebenernya apa sih mau loe, tadi gue cuma minta akuin prasaan loe, loe tambahin dengan meluk gue, trus loe lepasin lagi, begitu gue minta loe meluk gue, loe nggax mau. nah sekarang gue diam aja, loe yang meluk gue. sebenernya apa sih yang loe ingin kan sebenernya????"
"0h jadi loe udah nggax mau?" tanya Niken dan melepaskan pelukannya "ya udah, maaf in gue. gue nggax bakal mau lagi deh" lanjutnya.
"0h tidak bisa…" kata Gilang dan langsung memeluk Niken "loe ya udah buat gue jadi serba salah malah bilang gitu yaaa…. gue kan udah bilang orang yang udah gue rengkuh nggax bakal pernah gue lepasin lagi, jadi orang yang udah di pelukan gue nggax bakal pernah gue lepasin lagi…" lanjutnya dan mengeratkan pelukan Niken, Niken tersenyum senang.
"nggax nyangka banget, ternyata jodoh gue… orang yang slama ini gue rasa musuh gue, Tapi… ternyata nggax salah percaya sama ramalan asal nggax usah di jadiin pedoman bener-bener, mungkin ramalannya bener cuma kita aja yang salah penafsirannya… seperti gue ini, gue kira cowok itu kak radit… nggax taunya nih cowok, nggax nyangka banget" kata Niken dalam hati.
"Nah, sekarang loe udah percaya kan kalau gue itu cowok??? bukan cowok nggax jadi-jadi lagi? sikarang gue udah bener-bener jadi cowok, karena gue mau ngakuin prasaan gue yang sejujurnya sama loe…" kata Gilang.
"ia, baik lah, Niken percaya sama kak Gilang. kalau kak Gilang itu sekarang udah bener-bener jadi cowok" jawab Niken.
"loe manggil gue apa??" tanya Gilang.
"kak Gilang? bener kan??? atau mau di panggil King???" canda Niken.
"King??? boleh juga, asal Loe Queennya" jawab Gilang.
"Boleh-boleh aja sih, tapi… jangan ada v.s nya ya…???" balas Niken.
"Tentu, dari pada king v.s Queen mending king love Queen, ia nggaax?" tanya Gilang sambil tersenyum.
"Prasan lebih baikan king v.s Queen deh, kan itu udah dari sononya…"
"Trus kita harus berantem terus gitu???" tanya Gilang.
"E nggax juga…"
"jadi????"
"AyamQ????"
"Pok pok pok…. 0ops keterussan, kok jadi itu sih, seriuz donk"
"ea lah, jadinya king v.s Queen/Gilang love Niken gitu…"
"Wah keren juga"
"ia donk. Niken gitu lho…."
"wah pantang di puji…" kata Gilang sambil mengacak-acak rambut Niken.
"Ha ha ha biarin donk…"
"Huuuuuu…."
"Ha ha ha….."
THE END!!!

Random Posts

  • Cerpen Pendek Mantanku Thank you

    Haloooo All, My Reader . Masih pada nungguin lanjutan Cerpen Cinta kala cinta menyapa sama cerpen remaja Take My Heart yak?… Sory ya, tu cerpen belom bisa di lanjutin. Penulis udah bilang kan kalau mendadak kehabisan ide buat nulis. ha ha hai, Ya wajarlah, namanya juga penulis amatir. ^_^Nah, sebagai gantinya penulis post cerpen kiriman ni. Dari Megawati yang ada di makasar sono. huuuu jauh kali. Salam kenal ya?. Sama ma kasih juga. Ceritanya bagus, dan penulis suka. Apalagi pas kalimat ini "Move on adalah caraku melampiaskan rasa sakit, tersenyum adalah caraku mengabaikan rasa benci, dan sukses adalah caraku membunuh rasa dendam". (y).Kutatap bulan yang tersenyum padaku malam itu. Hembusan angin membuat tubuhku terasa menciut. Di bawah pohon bambu yang begitu subur, terlihat kunang-kunang menari-nari memancarkan keindahan cahayanya, aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Malam itu sungguh indah, begitu indah. Menikmati keindahan malam bersama seorang yang kucinta membuatku sangat bahagia. Dialah, dialah Hedy, orang yang paling kucinta. Dia bagaikan kunang-kunang yang menyinari hatiku setiap saat. Dia menciptakan cinta dan ketulusan yang tak terhingga. Aku mencintai dan menyayanginya. Tepat jam 7 malam, kami meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju tempat makan. sebagian

  • Cerpen Cinta dan Dongeng

    Cinta dan DongengCerpen oleh Maya Winandra nova“Kringggg…..!!!” “Assalamualaikum”. Pesan baru dari Handphone ku, tertulis salam dari pengguna nomor baru. Dan ku jawa “Waalaikumsalam….”.“Ini maya ya….?”, balasan sms pun datang menjawab salamku. Langsung ku balas “Iya. . .ini me, ne spa ya?”, pesan singkat ku lontarkan kembali kepada pemilik nomor baru dalam Handphoneku.Panggilan masuk pun berdering lewat Handphone ku dengan nomor baru itu. Ku jawab salamnya dan pembicaraan pun berlangsung dengan ku. Pemilik nomor baru itu adalah seorang pria yang bernama Andi. Dia mendapatkan nomor teleponku dari Abang angkat ku yang ku kenal baik selama ini. Perkenalan baru yang bermula lewat Handphone membawa aku dan dia akrab. Saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, bercanda bersama meski lewat Handphone. Pertemuan pun kami rencanakan di rumahku yang sederhana. Di malam yang cerah dia datang bersama seorang teman yang menemaninya.“Assalamualaikum. . . .?” terdengar dari luar pintu rumahku seseorang mengucap salam seraya mengetuk pintu rumahku.“Waalaikumsalam. . .” jawabku sambil ku buka pintu rumahku.Seraya tersenyum sopan, seorang pria berdiri di hadapanku sambil bertanya kepadaku, “Benarkah ini rumahnya Me?” tanyanya singkat.“Ya benar, , , Anda siapa dan ada perlu apa dengan saya?” ku jawab pertanyaannya sambil ku lontarkan pertanyaan balik kepadanya.“Saya Andi yang menelpon Kamu tadi” jawabnya singkat.“Oh. . . Bang Andi itu ya. . .?? hmmm. . . . ayo silahkan masuk, kirain siapa tadi.” Jawabku sambil menyuruh dia dan temannya masuk kedalam rumah.“Silahkan masuk dan silahkan duduk,” ku persilahkan lagi kepadanya.“Iya. . . terima kasih,” seraya berjalan masuk dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu rumah ku.“Sebentar ya. . .!!” jawabku sambil ku tinggalkan mereka sejenak di ruang tamu, ku bergegas pergi ke dapur dan membuatkan 2 gelas teh manis panas dan ku persilahkan kepada mereka.“Diminum tehnya, , , tapi masih panas sangat,” kataku basa-basi.“Iya terima kasih, , , “ jawab mereka.“Gimana. . . susah ya nyari alamat rumah Me?”, tanyaku membuka suasana yang hening.“Iya. . . sempet juga nyasar tadi, soalnya belum pernah main-main ke daerah sini,” balasnya.“Ya. . . begini lah keadaan rumah Me,”“Hmmm. . . sunyi ya disini, kemana semua keluarga Me?” tanya nya kepadaku.“hmmm…. kalau bapak sama mamak Me lagi di kamar lihat televisi, adik Me yang pertama lagi keluar latihan main Band, kalau adik Me yang kedua lagi lihat tv di ruang tengah, sedangkan kedua kakak Me udah berumah tangga mereka udah tinggal di rumah mereka masing-masing,” jawabku menjelaskan.“Oo. . . kirain pada pergi, soalnya sunyi sih rumahnya.” Katanya balik.Aku yang memang terkenal mudah bergaul dengan orang laen dengan mudah bisa membawa suasana menjadi ramai dan tidak terasa canggung dalam berbicara meskipun baru pertama kali bertemu. Pembicaran dan canda tawa di ruang tamu membawa kami lupa bahwa kami baru bertemu, seakan udah lama sangat berkenalan. Nah, , , itu lah sifat pribadi Me yang mudah membaur dengan orang laen. Tak terasa waktu udah menunjukkan jam 11 malam. Dia dan temannya permisi buat pamit pulang. “Berhubung sudah malam, kami pamit pulang dulu ya, laen waktu bolehkan kami main ke rumah Me lagi,? Tanyanya kepadaku .“Boleh saja atuh bang, , ,” jawabku dengan gaya bicaraku yang terbilang unik, yang mencampurkan bahasa daerah laen.“Ya udah kalo begitu, , , Assalamualaikum Meme?” kami pamit pulang, katanya kepadaku sambil bergegas pulang.“Waalaikumsalam bang, , ,” jawabku.Ku bersihkan ruang tamu ku yang tadi berantakan. Saat selesai ku bersihkan lalu ku rebahkan tubuhku di tempat tidur. Tak lama Handphoneku berdering. Sebuah panggilan masuk dari bang Andi. Ku perhatikan sejenak, lalu ku angkat segera teleponku.Mei :”Hallo Assalamualaikum Bang…..?” sapaku lewat Handphone.Bang Andi :”Waalaikumsalam Meme. . .” balasnya.Mei :”Ada apa bang, , ,? Apa ada yang tertinggal di rumah Me?” tanyaku heran, karena baru saja mereka beranjak pamit pulang, kemudian Handphoneku berdering.Bang Andi :”hmm. . . nggak ada apa-apa kok, Cuma pengen ngobrol aja neh sambil makan…”Mei :”Oo. . .kirain ada yang tertinggal di rumah Me, , eh rupanya. . .rupanya. . .”Bang Andi :”Heeee. . . nggak apa kan Mei, Bang nelepon neh?” Mei :”nggak apa atuh Bang. . .”Bang Andi :”Ternyata bener ya. . . nggak dari Handphone maupun jumpa langsung, Meme ananknya enak kalau di ajak ngomong gitu, mudah akrab orangnya,” Mei :”Heeee. . . begini lah Me, Bang, orangnya”Pembicaraan yang bisa di bilang ya. . . seperti orang-orang pada umumnya, membawa keramahan tersendiri bagi siapa yang mengenal diriku. Terkesan tomboy, tapi paling asyik jika diajak bicara. Semenjak perkenala itu, kami semakin akrab dan semakin sering bertemu. Hingga pada akhirnya membawaku untuk menemaninya menghadiri sebuah acara pernikahan temannya. Aku yang biasa tampil dengan gaya ku sendiri kini ku hadir dengan balutan gaun putih dengan rambut yang sengaja ku tata beda dengan high heel senada dengan gaun yang ku kenakan. Mungkin yang biasa melihat aku bergaya tomboy, sekarang bisa menjadi cewek feminim yang benar-benar beda di malam acara tersebut. Tak dipungkiri juga, dia yang biasa melihat aku langsung gak percaya saja melihat aku yang sekarang ini.Bang Andi :”Waw, , , , I like it’s. . .”Mei :”hmmm. . . apa sihh. . . Jangan diliatin terus, Me jadi gak PeDe atuh” jawabku dengan muka malu.Bang Andi :”Ngapain malu. . . beneran lo. . . I Like this. . . sumpah beda banget lo” jawabnya memujiku.Mei :”Udah ach. . . jangan komen terus, , ,buruan kita pergi ntar kemalaman “, pintaku.Bang Andi :”Ya udah yuk . . . tapi entar dulu, Bang pamitan dulu sama orang tua Me,”Mei :”Silahkan bang, , , tuh mama ada kok di ruang tengah”Dalam perjalananku menuju tempat dimana acara itu di gelar, banyak pembicaraan yang kami lontarkan. Tak khayal sebuah komentar perubahanku. Dari pertanyaan dan pertanyakan ku menjelaskan bagaimana diriku ini. Mei :”Ya, , , seperti bang lihat sekarang ini, Me yang biasanya tampil apa adanya dengan gaya tomboynya Me, sebenarnya Me bisa tampil dengan gaya feminim seperti saat ini, Cuma Me kadang-ladang aja kayak gini, bisa di bilang jika ada iven-iven kayak gini neh, Me kadang menyesuaikan keadaan sekitar Me, bagaimana berpakaian saat bekerja, di rumah, kumpul dengan teman, atau pun pergi ke pesta,” kata ku menjelaskan panjang lebar dengan nya.Bang Andi :”Tapi beneran. . .Bang jadi PeDe kalau seperi ini, beda banget lo Me malam ini, sungguh I Like it banget lo.”Mei :”Ya makasih bang.”Akhirnya tiba di tempat dimana kami tuju. Setiba di sana aku merasa nggak enak banget di lihati oleh para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut. Aku sampai berpikir kalau ada yang salah dengan diriku hingga banyak yang melihat aku di malam itu. Tapi dia menyakinkan k kalau gak ada yang salah dengan diriku, itu karena aku tampil beda dengan lainnya. Mendengar ucapannya kepadaku, aku berusaha nyantai membawa suasana seperti itu. Dan sukses juga acara menemani dia. Perkenalan yang singkat itu akhirnya menumbuhkan rasa di antara kami berdua. Tak bisa di tutupi lagi, cinta pun tumbuh diantara kami. Hari demi hari kami lalu, semakin lama semakin dekat. Walau kadang kami tidak sesering bertemu, percakapan lewat Handphone juga bisa mendekatkan kami jauh lebih dekat ketimbang terus bertemu muka.Saling mengerti, saling mengingatkan, saling percaya kami patokan dalam hubungan kami. Keterbukaan satu sama yang lain juga kami lakukan dengan sikap dewas. Hingga keseriusan di antara kami ada. Saat dia kerja, dan mengharuskan dia tak bisa bertemu denganku, ku menghargainya. Kami saling mengingatkan satu sama yang lain agar selalu dekat dengan Yang Maha Esa. Itu lah satu poin dimana aku bisa mencintainya, selain aku bisa deket dengan cintainya, aku juga bisa mendekatkan diri dengan Yang Maha Esa. Tapi di perjalanan cintaku selalu tak semulus dengan hari-hariku yang ku lewati dengan senyum ceria dan semangat. Aku harus merasakan rasa sakit hati kembali dengan yang namanya Cinta. Pertemuan dan hubunganku tak secerah awan dan ibarat umur, hanya seumur jagung. Tanpa alasan yang pasti, ku harus melepaskan cintaku yang telah bersamaku untuk orang laen. Sungguh cinta yang katanya indah, kini bagai dongeng di saat malam tiba, dimana yang katanya indah tidak bisa aku rasakan. Kini diriku tidak bisa berbuat banyak tentang hal ini, ku harus bisa menjadi aku sebelum atau pun sesudah nya, aku adalah aku. Semogga Allah selalu menuntunku dan memberikan ku kesabaran dalam menjalani kehidupan aku ini. By : Maya Winandra novae-mail :Mayawinandranova@yahoo.co.id

  • Cerpen benci jadi cinta Vanessa Vs Ferly ~04

    Kita lanjut cari tau gimana lanjutan dari cerpen benci jadi cinta vanessa vs ferly yang belum sempet ketemu dengan ending. Tapi biar nyambung sama ceritanya sekaligus biar gampang bisa baca dulu bagian sebelumnya pada cerpen benci jadi cinta vanessa vs ferly part 3. Happy reading….Credit Gambar : Ana MeryaCredit Cerpen : Mia Mulyani"Huuufffh…. baru 4 bulan dikelas baru ini aja gue udah bete kayak gene dan ini semua gara-gara ferly sialan itu, heran ya bukannya yang mau ngerjain dia itu gue ea? Kok malah gue sih yang dikerjain terus? Mana kartu gue ada ama tuh anak lagi.. Iiiih apa yang musti gue lakuin?? Apa gue harus nurutin kemauan tuh anak ya buat jadi asisten pribadinya? Ya biar foto-foto itu nggax disebarin ke anak-anak lain… tapi, gue nggax boleh tinggal diam. Masa’ gue harus nurutin kemauan tuh anak gila sih, ogah!!1 oh god, I’am verrys dizzy..Tapi… kalau gue dikeluarin dari sekolah gue mau ngapain? Aaaah gara-gara si banci itu gue harus begini, dan gue nggax punya cara lain selain pasrah… ah brengsek, itu artinya gue harus mau jadi pembantu tuh anak brengsek? Ah nggax!!! " Umpat vanesa dalam hati.sebagian

  • Cerpen Persahabatan: Jatuh Cinta yang Salah

    Jatuh Cinta Yang SalahOleh Leriani ButonSahabat adalah serangkaian jalian kasihDikala jatuh dia akan datang untuk mengangkatknyadengan kedua tangannya.Selalu mengharapkan kebahagiaan yang teruraiDi setiap serat-serat persahabatanBagiku sahabat adalah sebagian nafas yang aku punyaWalau terkadang mereka sering pergi meninggalkanku…Tapi, mereka telah tergores di tinta jalan hidupku….Sahabat tak pernah terurai oleh massa…Dan tak kan pernah sirna hanya karena kebencianMeskipun kadang tak sependapatNamun selamanya akan tetap menjadi sahabat…. Dulu, aku memiliki kehidupan yang sangat suram di masa kecilku. Aku nyaris tak punya teman ketika aku duduk di bangku SD dulu. Setiap kali aku mencoba untuk mendekati mereka, mereka malah menjauhi dariku. Padahal aku berusaha untuk bisa berteman dengan mereka, dulu aku menekan rasa maluku untuk mendekati mereka. Namun, itu semua sia-sia. Mereka menganggap suaraku hanyalah gemuruh yang lewat dan akan menghilang setelah suasana menjadi cerah. Mereka bilang padaku, aku hanyalah anak yang jelek, cupu’, dekil yang hanya dianggap sampah. Aku akui aku jelek dan cupu’. Namun, aku ga’ dekil. Tapi itu adalah presepsi orang. Dan aku harus terima itu. Aku hanya tak ingin membuat masalah.Hingga di suatu ketika, ada seseorang yang datang di kehidupanku. Sahabat pertama yang kumilki, dialah Arlen. Dia sangat baik padaku. Setiap kali aku menagis karena ejekkan teman-temanku, dialah yang menenangkanku. Meskipun kami masih kecil pada saat itu dan masih di anggap anak ingusan, namun bagiku dia adalalah malaikat berwujud manusia yang akan selalu menjagaku. Katika aku bersamanya, akhirnya banyak teman-teman yang aku punya. Aku akui, ketampanan Arlenlah yang membuat mereka mau berteman denganku. Aku sangat bahagia. Arlen selalu mengatakan padaku untuk tidak menangis di kala aku di ejek dengan sebutan mata kodok. Dia selalu bilang mataku ini indah seperti mata bidadari.Hingga di suatu ketika, Arlen pergi meninggalkanku. Dia pindah di kota Ambon. Rasanya sulit bagiku menghadapi semua ini sendirian. Teman-teman yang sempat ada, kini menghilang sejak kepergiannya Arlen. Dan kini aku harus memulainya lagi dari awal .Hari berganti hari. Tanpa terasa tahun-tahun pun terlewatkan. Ternyata 8 tahun sudah aku dan Arlen tak pernah bertemu. Bahkan sejak kepergiannya di hari itu, dia serasa benar-benar menghilang tanpa ada sepatah katapun dan tanpa meninggalkan jejak. Aku hanya bisa menangis ketika tahu dia sudah tidak ada di sisiku lagi. Begitu sulit menghadapi teman-teman yang suka memilah-milah teman. Namun, aku tahu aku akan mendapatkan sahabat yang baik di suatu hari nanti. Dan aku tahu dengan kekuatan cinta yang aku milki, semuanya akan terlihat mudah untuk dihadapi.Ya,,,, ternyata semuanya telah terjawab, aku sekarang memilki banyak teman dan bahkan lebih dari yang aku bayangkan. Aku tahu Allah akan memberi jalan kepada orang yang mau berusaha untuk berubah. Dan itu terbukti di kehidupanku….Di tahun yang ke-8, di pertengahan tanggal bulan Desember lebih tepatnya 16 Desember 2008, Di kala itu aku masih duduk di bangku SMA. aku mendapatkan nomor ponselnya Arlen dari salah satu sahabatku Antoni. Kebetulan dia jalan-jalan ke ambon, dan bertemu dengan Arlen. Dari situlah Arlen menitipkan nomor ponselnya kepada Antoni untukku. tanggal 17 Desember 2008 aku menghubungi Arlen. Namun, dia tak pernah membals SMSku. Besoknya aku SMS dia lagi, namun tak ada sms balasan darinya. Sejak sat itu aku pun tidak menghubunginya lagi. Aku berfikir, Antoni cuman ingin mempermainkanku. Di hari yang ke-6, tepatnya tanggal 23 Desember 2008, aku di SMS sama Arlen. Itulah kali pertama aku dan Arlen berhubungan lewat komunikasi telpon.Ya Allah… betapa senangnya hatiku saat itu. Aku hanya bisa terdiam mendengar kelembutan suaranya. Suaranya masih terdengar seperti kami masih SD dulu, benar-benar lembut. Hingga disuatu hari aku ngirim sms ke dia, namun dia tak membalasnya tapi dibalas sama temannya yang bernama Alvin. Dari situlah akhirnya aku berteman dengan Alvin. Ternyata Arlen sengaja membiarkan temannya yang membalas SMSku. Dia ingin mendekatkanku dengan temannya Alvin. Sejujurnya hari itu aku agak kecewa, tapi ternyata Alvin adalah orang yang baik yang memilki banyak kesamaan denganku. Mulai dari aktivitas sampai dengan hal yang kami sukai. Dan itu membuatku tarasa nyambung dengannya.Semuanya masih berjalan dengan baik. Aku dan Alvin masih tetap berteman baik. Dia selalu mengirim SMS disaat waktu yang tepat. Sedangkan Arlen menghilang tanpa jejak. Aku sudah merasa nyaman dengan Alvin. Namun, di saat Alvin akan menyatakan persaanya padaku, malah aku menerima Arlen sebagai pacarku. Sungguh aku telah menyakiti persaan Alvin.Sejak saat itu, Alvin pun menghilang dari kehidupanku. SMS yang biasanya ku terima dari dia setiap hari, kini tak ada lagi. Mungkin dia marah padaku. Itulah awal persahabatnku hancur.Seiring berjalannya waktu, aku pun semakin mengenal Arlen. Dia tak seperti Arlen yang kumilki seperti dahulu. Lingkungan telah merubahnya. Setiap kali dia ketemu denganku, dia selalu menceritakan mantan-mantannya padaku. Yang lebih parahnya lagi dia bilang padaku kalau dia masih mencintai mantannya. Dan lebih kacaunya lagi dia menyukai sahabatku Regina. Ya ampun…. Aku tak bisa berkata apapun. Aku hanya bisa tersenyum ketika dia mengatakan hal itu padaku. Entahlah apa yang dia inginkan. Yang pastinya itu membuatku sakit mendengarnya. Dia tidak memikirkan persaanku yang saat itu masih menjadi pacarnya.Aku berusaha bersabar, setiap kali dia curhat tentang masa lalunya aku selalu merubah statusku yang tadinya pacar, menjadi sahabat setia yang akan mendengarkan semua yang ia katakan. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang punya perasaan. Aku tak kuat mendengar pacarku selalu mengungkit-ngungkit mantan pacar yang masih dicintainya. Kalaupun aku bertahan, entah sampai kapan aku bisa bertahan menyembunyikan persaanku yang hancur setiap kali dia menceritakan hal itu padaku?Ya Allah… aku tak kuat menerima semua ini. Rasanya sakiiiit sekali…. Hingga di suatu hari aku ngirim sms dia, namun nomor ponsel yang ku gunakan adalah nomor ponselku yang baru. Dia membalas SMS ku. Namun di beberapa bulan berikutnya, aku tak pernah mengSMSnya lagi. Dan dia juga tak pernah mengSMSku.Hingga di suatu hari, dia SMSan dengan fitria temanku, dan bertanya kepada fitria kenapa aku ga’ pernah lagi menghubunginya? Dan fitria menyampaikan hal itu padaku. Dua hari selepas itu, aku pun mengirim SMS padanya. Dan dia membalas SMS ku juga dengan bertanya siapa aku. Aku menyuruhnya menebak.Awalanya tebakannya membuatku GR setengah mati. Dia berkata kalau akau adalah pacarnya yang jauh namun dekat di hati. “hah,,,,melegakan, ternyata Arlen masih mengingatku,” pikirku dalam hati.Ternyata aku salah menduga, orang yang dia bilang pacar yang jauh namun dekat di hati adalah bukan aku tapi pacarnya yang lain Dea Yesika. Ya Ampun,,,, aku hanya berusa mengatur nafas untuk membuat air mataku tak boleh terjatuh. Namun apa daya, aku adalah manusia biasa yang punya persaan dan sore itu air mataku akhirnya jatuh juga. Ternyata selam ini, dia tak pernah save nomor baruku. Aku hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.Setelah mengetahui kebenarannya, aku pun mengSMSnya kalau yang dia tebak adalah salah. Ternyata dia tak pernah mengingatku. Mungkin selama ini aku keGRan dengan apapun yang dia katakan padaku di awal sebelum kami berdua berpacaran. Cinta telah membutakan mata hatiku. Sampai-sampai aku tak bisa melihat ketulusan dari orang yang menyayangiku. Dan Aku tak bisa membedakan yang mana kebohongan dan yang mana kebenaran.Setelah dia tahu kalau orang yang dia tebak adalah salah, dia pun mengirim SMS ke fitria dan meminta nomorku. Kamu tahu, setelah dia tahu kalau aku adalah orang yang SMSan dengan dia tadi, dia malah meminta maaf kepada fitria bukan padaku. Aku heran, dia tak bisa membedakan yang mana orang yang dia sakiti dan yang mana orang yang harusnya di mintai maaf.Tapi, tak apalah. Lagian aku bukan hakim yang harus menuntut dia untuk mengucapkan maaf padaku. Bagiku Arlen yang ku milki bukanlah Arlen yang ada padaku sekarang, tapi yang kumiliki hanyalah Arlen yang dulu ketika kita masih di bangku Sekolah Dasar. Aku tak membencinya, aku hanya kecewa dengan sikapnya yang sekarang. Waktu telah merubah dia menjadi orang lain. Aku tak bisa menyalahkan siapapun. Yang pastinya hidup ku akan terus berjalan meskipun tanpa Arlen.Mungkin benar sahabat akan selamaya menjadi sahabat. Namun, tak sedikit sahabat bisa menjadi cinta. Aku mengerti ini adalah kesalahanku dengan Arlen. karena di dalam hubungan yang kami jalani, ada seseorang yang kami sakiti. Dia adalah Alvin. “Maafkan aku sahabatku…!!!! Aku berharap kita bisa bertemu lagi dan bisa bersahabat seperti dahulu lagi.Cinta Is GreatSemua akan berakhir pada waktunyaTak akan ada yang tersisaSemua yang ku miliki akan hilangYang tersisa hanyalah cintaCinta,,,,,Entahlah itu benar ada atau tidak?Kalaupun banar ada, mengapa cepat sekali berubah?Ketika ku mencoba untuk percayaYang ada hanya dustaYa, dusta!Mungkinkah aku jatuh cinta pada orang yang salah?Atau mungkin aku yang terlau bodoh dalam mengenal cinta?Namun, bagiku semua itu tak begitu berartiCinta memang ada untuk orang yang bisa merasakannyaDan cinta juga bisa tak ada bagi orang yang tak pernah merasakannyaSemua orang bisa berubah karena cinta.Namun tak sedikit orang orang yang mendustainyaHah,,, cinta memang gila. Dan kini aku telah memaafkan semua yang telah terjadi. Aku tak bisa membencinya hanya karena dia pernah menyakiti hatiku. Dia sama sepertiku, dia hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Selama 10 tahun berakhir, di tahun yang ke-11 aku baru ketemu lagi dengan Arlen, ketika itu aku berencana pulang kampung. dulu kami pacaran jarak jauh. Ternyata fellingku benar, dia telah berubah menjadi Arlen yang tak ku kenal. Namun, dengan perubahnnya itu, tak kan membuatku menghapusnya menjadi sahabat pertamaku.Pertemuan kami terjadi begitu singkat. Ketika dia melihatku, dia hanya meminta maaf atas semua yang telah dilakukannya padaku di waktu dulu. Sebagai seorang sahabat, aku memaafkannya. Karena aku tahu sahabat takkan pernah terubah hanya karena kebencian. Sejak saat itu, aku pun membuka lembaran baru bersama Arlen dengan memulai persahabatan yang dulu sempat hilang. Aku memang menyayanginya, namun rasa sayang itu tak lebih dari rasa sayangku sebagai seorang sahabat. Kesalahan di waktu dulu takkan terulang kembali.Sejak saat itu, kami tak bertemu lagi. Karena aku harus melanjutkan studyku di Makassar. Namun, bukan berarti kami kehilangan komunikasi. Sesekali dia mengSMSku atapun sebaliknya. Aku akan menjalin persahabatan ini dengan rasa sayang, kesaling hormatian, dan Saling menasehati tanpa harus mendustainya. Aku tahu, bila aku memulai dengan kebohongan, maka semuanya akan berakhir dengan kepahitan. Aku berharap dia bisa mengerti dengan persahabatan yang kami jalani saat ini.THE END

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*