cerpen King Vs Queen ~ 04

Ah lagi lagi saia telat, sama kayak tahun kemaren. Tapi gak papa deh, berhubung kemaren puasanya satu bulan, soo anggap aja lebarannya juga satu bulan (???),. Nah karena itu, saia sendiri Ana Merya selaku admin star night mengucapkan, Minal aidin wal fa izin, mohon maaf lahir dan batin…
Oke, kalau begitu lanjut……..
Sore itu Niken sedang menonton televisi di ruan tengah, tiba-tiba bel rumahnya terdengar, dengan sedikit lesu Niken malangkah mendekati pintu rumahnya. dan membuka pintunya, tampak di luar ada tiga orang cowok berada di depan rumahnya.
"Ada apa?" tanya Niken, dengan sedikit cuek tentunya, karena di depannya ada Gilang dan dua orang temannya yang nggax di kenal nya.

cerpen king vs Queen
"Yaaaah cewek jadi-jadian yang muncul" kata Gilang pada temen-temennya sambil membuka topi yang tadi di kenakannya, tentu saja Niken kaget mendengarnya.
"Eh apa loe bilang… berani ea…" kata Niken dengan sebelnya.
"Siapa dia? cantik banget?" tanya temen Gilang.
"Adiknya Nino" jawab Gilang "tapi sifatnya beda jauh banget dari Nino, yang ini nyebelin banget…" lanjutnya.
"Heh gue mendengarnya tau…" kata Niken.
"Eh kok seperti ada yang ngomong ea… emmm, siapa sih…" kata Gilang pasang wajah bego sambil cari-cari.
"Woy gue di sini, loe re-se banget sih jadi orang,…" kata Niken makin sewot.
"Oh di situ ada orang, gue fikir…" Gilang menggantungkan ucapannya "Tembok" lanjutnya yang membuat Niken kaget.
"Elo…" tunjuk Niken ke arah Gilang dengan sebelnya.
"Eh cukup, cukup, cukup…. Permisi ea dik… emmm…" Alan menengahi.
"Adek-adek. loe fikir gue adek loe apa…" balas Niken masih sewot.
"Emmm, ea maksud gue…" alan jadi serba salah.
"Kan gue udah bilang, nih anak aneh, dia itu cewek jadi-jadian. So, percuma deh ngomong sama dia…" kata Gilang dengan santainya.
"Eh cowok nggax jadi-jadi. jangan belagu loe ya…" bentak Niken, temen-temen Gilang langsung menahan tawanya mendengar kata-kata Niken.
"Elo berani ngatain gue…" Gilang nggax percaya.
"Kenapa nggax?" tanya Niken.
"Elo…" tunjuk Gilang dengan sebelnya.
"Apa?!" tantang Niken.
"Eh udah-udah-udah… Gilang, loe apa-apaan sih, jangan kayak anak kecil gitu deh… ssst…" kata Alan menenangkan Gilang "Nggax baik berantem gitu, sopan dikit ea, jangan sembarangan…" lanjutnya.
"Dia dulu tuh yang mulai…"
"Ya jangan di masukin ke hati… Di biarin aja, kayak anak kecil tau nggax" kata Alan, tentu saja Niken jadi tersinggung.
"Eh eh eeeeh… Maksudnya apa tuh? jadi… Ceritanya yang kayak anak kecil di sini itu gue? jangan sembarangan ea…" bentak Niken ke arah Alan, yang tentu jadi kaget, maksudnya kan nggax gitu.
"Nggax percaya sih" kata Gilang dengan santainya.
"Eh…" Niken mau marah lagi.
"Emmm maaf" kata temennya yang satu lagi kearah Niken, Niken langsung menatapnya "Gue radit, kita ini temennya Nino. Tadi dia minta kita ke sini. Apa sekarang Dia ada di rumah?" tanyanya sambil tersenyum dengan sopannya, Niken menatapnya.
"Ada" jawab Niken singkat.
"Boleh kita masuk?" tanya radit lagi.
"Yaaa silahkan…" jawab Niken mempersilahkan tamunya untuk masuk, yang lain tentu saja kaget, karena Niken jadi baik gitu.
"Terima kasih…" balas Radit "yuk" ajaknya ke arah Gilang dan Alan. melangkah memasuki rumah Niken.
"Duduk aja dulu, gue panggilin kak Nino bentar…" kata Niken ke arah tamunya, dan melangkah menuju kamar kakaknya, setelah mendapat anggukan dari radit.
"Punya ilmu apa loe?" tanya Alan ke arah Radit.
"Maksud loe?" tanya Radit bingung.
"Ia, kok bisa tuh anak nurut banget sama loe… padahal tadi itu galak banget… sampai serem gue lihatnya…" jawab Alan.
"Kalau maksud kita baik pasti dia ngerti kok" balas Radit.
"0 jadi maksud nya maksud kita tadi nggax baik gitu?" tanya Gilang.
"Gue nggax ngomong gitu lho,…" kata Radit "Tapi Lang, sejak kapan loe kenal sama adiknya Nino?" tanyanya.
"Panjang ceritanya" jawab Gilang "Tapi yang jelas, tuh anak nyebelin banget… pokoknya beda jauh deh sama kakaknya"
"Menurut gue nggax juga, dia baik kok sebenarnya. Tapi sepertinya suasana hatinya lagi nggax enak, atau… dia sepertinya nggax suka sama loe, jadi… apa pun yang loe lakuin itu salah, dan dia juga… cantik" kata Radit.
"Cantik? di lihat dari mananya? sebenernya mata kalian normal nggax sih? masa cewek jadi-jadian gitu di bilang cantik"
"Dari pada 'cowok nggax jadi-jadi' ha ha ha…" kata Alan mengingat julukan yang di berikan Niken untuk Gilang.
"Eh berani loe ea…" Gilang jadi sewot.
"He he he… bercanda. Gue kan cuma ngikutin adiknya Nino aja, tapi… Baru kali ini gue ngelihat elo benci banget sama cewek, kenapa?"
"Ya abis dia itu nyebelin banget, kalau bukan karena Nino, ogah gue ke sini lagi, udah kapok gue di kerjain sama tuh anak"
"Jangan terlalu membencinya gitu… Ntar jadi suka lagi…" kata Radit sambil melihat majalah yang tergeletak di atas meja.
"Suka?! sama Niken? ooooooh noooooooooo…" Gilang geleng-geleng kepala tanda nggax percaya.
"Niken?!" temen-temennya bingung.
"Ia Niken, nama adiknya Nino" kata Gilang.
"Waw, cantik juga…"
"Nora' tau nggax"
"Gilang… Niken… king… Queen… wah pas tuh…" kata Alan tiba-tiba, yang lain langsung kaget.
"Eh… itu… apaan sih loe…" kata Gilang jadi sebel.
"Cocok tau nggax"
"Sekali lagi loe ngomong hal yang mustahil gue tonjok nih…" kata Gilang kearah alan yang langsung menghindar.
"Hei, udah lama?" tanya Nino ke arah temen-temennya, yang baru datang bersama Niken.
"Emmm, belum kok…" jawab alan sambil membenarkan arah duduknya
"Emmm, makasih ea Queen…" lanjutnya ke arah Niken sambil tersenyum.
"apa loe bilang?" tanya Niken sebel.
"Queen. Loe itu cocok kok jadi Queen" jawab Alan sambil tersenyum tentu saja Niken dan yang lainnya kaget, Niken langsung mengalihkan tatapannya ke arah Gilang, yang jadi bingung.
"Awas loe yea…" kata Niken ke arah Gilang.
"Gue?!" Gilang jadi bingung.
"Udah, bikin minum gih" pinta Nino ke arah Niken sambil duduk di samping temen-temennya, Niken melangkah meninggalkan ruang tamu.
"Gue lagi deh yang kena…" kata Gilang sebel.
"Ada apa sih?" tanya Alan bingung.
"Tuh anak kan anti banget sama gue, nah elo malah bilang dia itu Queen, pasti makin buruk image gue di depannya" jawab Gilang.
"Apa hubungannya?" tanya alan makin bingung, begitu juga Nino dan radit.
"Ya iya lah, dia kan juga di panggil Queen di SMU nya, dan sepertinya dia nggax suka dengan julukan itu, di antara kita bertiga tadi cuma gue yang tau itu, jadi pasti dia mikir gue yang udah ngasi tau kalian… orang alan tadi memanggilnya Queen…" jelas Gilang sewot.
"0w… yaaa maaf, gue nggax tau. Tapi… gue bilang dia itu Queen kan lantaran dia itu cantik, cocok jadi Queen, bukan karena mau ngeledekin dia…" Alan bela diri.
"Yaaah gue juga tau, tapi tuh anak kan sedikit aneh gue rasa, jadi…" Gilang langsung menatap Nino "emm#m maksud gue… e sorry no,…" lanjutnya ke arah Nino.
"Lho, kenapa?" tanya Nino.
"Gue nggax bermaksud menghina adik loe…" Gilang merasa nggax enak "Cuma gue ngerasa pasti adik loe berfikir gue yang ngasi tau mereka kalau dia di panggil Queen di SMU nya, dan pastinya itu membuat dia makin membenci gue…" lanjutnya.
"Oooh… santai aja" balas Nino sambil tersenyum.
"Maaf ea Lang, gue nggax bermaksud gitu. Lagian gue nggax tau tadi…" alan jadi merasa bersalah.
"Udah lah, santai aja, tanpa itu gue juga udah buruk kok di depannya, jadi ngax masalah…" kata Gilang akhirnya, yang lain langsung terdiam.
"Iiih re-se. Pasti cowok nggax jadi-jadi itu yang bilang gue di panggil Queen di SMU gue, makanya tadi temennya bilang gitu. Bikin malu aja sih, gue yakin pasti dia ngelakin ini karena mau balas dendam sama gue. Awas aja, gue bales ntar…" kata Niken dengan sebelnya, sambil membuat minuman untuk tamunya.
Setelah selesai membuat minum, Niken membawa nya menggunakan nampan, dan sepiring cake yang tadi si buat mamanya. Niken meletakkan nampan di atas meja, dan memberikan air minum di depan tamu-tamunya. Sambil melirik Gilang dengan sebelnya saat meletakkan ari minum di depan Gilang, yang tentu membuat Gilang jadi curiga. Jangan-jangan minumannya di apa-apain lagi.
"Yuk di minum…" tawar Nino ke arah tamu-tamunya, Niken melangkah menuju kursinya tadi meninggalkan tamunya bersama Nino, dan melanjutkan nonton tv nya.
"i… iya, terima kasih…" jawab temen-temennya, dan langsung meminum minumannya, kecuali Gilang tentunya.
"Lang, kenapa?" tanya Nino, karena Gilang hanya diam saja.
"eh, e nggax kenapa-napa kok" jawab Gilang.
"Loe nggax mau minum?" tanya Nino.
"Gue… belum haus, ntar aja kalau gue haus…" jawab Gilang, sambil melirik minumannya, Niken yang mendengarnya jadi tersenyum sendiri. karena ia duduk membelakangi tamunya, jadi tidak ada yang tau apa yang di lakukannya.
"Loe takut kejadian kemaren terulang lagi ea?" tanya Nino, yang lain langsung kaget "loe tenang aja, gue jamin nggax bakal terualang lagi…"
"Emmm, bukan itu, tapi…" Gilang nggax meneruskan kata-katanya.
"Ya udah, agar loe percaya, nih loe minum air minum gue aja, gue yang minum minuman elo…" kata Nino sambil menukar gelas air minum Gilang dengan gelas minumannya.
"Emang kenapa?" tanya radit bingung, begitu juga sama alan.
"Emmm, nggax ada apa-apa kok…" jawab Gilang dan meminum minumannya yang udah di tukar sama Nino.
"Gimana?" tanya Nino.
"Biasa aja" jawab Gilang.
"Bagus deh…" Nino lega mendengarnya "Emmm, gue udah menunggu dua jam tau nggax, gue kira kalian nggax datang" lanjutnya.
"Mana mungkin lah… Tapi, ini semua gara-gara Alan tuh, lama banget…" kata Radit ke arah Alan.
"Yaaa maaf, gue lupa, jadi… Ketiduran" jawab Alan sambil cengengesan.
"Yeee,…" kata temen-temennya.
"Tapi kan belum kesorean, orang baru jam tiga juga…" Alan bela diri setelah melihat jam tangannya. Niken yang mendengarnya jadi kaget.
"Jam tiga?" tanya Niken sendiri "sepertinya… ada kejadian yang gue lupain. pada jam tiga… tapi.. apa yea?" lanjutnya sambil mengingat-ingat, lalu melirik temen-temen kakaknya yang ngobrol sambil sesekali tertawa bersama.
"Ah sepertinya… Cuma perasaan gue aja, mana mungkin lah…" kata Niken dan kembali melihat ke televisi.
"Eh gimana kalau kita foto?" tanya alan sambil mengambil ha-pe nya.
"Fhoto?!" tanya temen-temennya kaget.
"Ia, fhoto, jarang-jarang lho kita bisa bersama-sama seperti ini" kata alan sambil tersenyum.
"Emmm…." temen-temennya terlihat mempertimbangkan ide alan.
"Gimana?" tanya Alan ke arah temen-temennya.
"Nggax jelek-jelek amet…" jawab Radit.
"Yang lain?" tanya Alan, Nino dan Gilang mengangguk setelah mempertimbangkan nya "Nah gitu donk, sini semuanya…" lanjutnya sambil mengarahkan campera ke arah depan.
"Kirim donk, fhotonya…" pinta Nino sambil memencet-mencet ha-penya.
"Bentar ea…" kata Alan yang juga memencet-mencet ha-pe nya.
"Ke ha-pe gue juga ea…" kata radit sambil mengeluarkan ha-penya begitu juga sama Gilang.
"ih, nora'…" kata Niken saat melihat apa yang di lakukan temen-temen kakaknya "Kurang kerjaan banget" lanjutnya.
"Apa yea, yang gue lupakan… Ayo donk ingat…" kata Niken sambil mikir-mikir, dan melihat kearah televisinya yang udah nggax tau, apa yang ia tonton "emm tapi,…." lanjutnya beberapa saat, dan kembali melihat ke arah tamunya "oh ia…"
Tatapan Niken terhenti di depan Radit yang sedang ngobrol bareng yang lainnnya. Tentu saja Niken jadi kaget, karena saat itu Radit menggunakan baju warna hijau, jaket hitam, dan celana silver. Jangan-jangan…
"Radit?!" Niken kaget "Dia jodoh gue? Mana mungkin…" lanjutnya dan langsung melangkah meninggalkan ruang tengah, menuju kamarnya dengan buru-buru.Gilang yang menyadari itu terus menatap Niken hingga hilang dari pandangan, sementara temen-temen yang lain masih asyik ngelihatin fhoto yang tadi di ambil sambil tertawa-tawa.
"Ini pasti mustahil. Mana mungkin. Gue kan nggax pernah ketemu Radit sebelumnya… Gue nggax percaya… Ini pasti bohong. Gue sama Radit…. Nggax?!" kata Niken masih syok begitu tiba di kamarnya.
"Tapi… Kenapa Radit ke sini dengan menggunakan pakai-pakaian yang itu, kenapa di saat gue tau yang katanya jodoh gue itu, mengenakan pakai-pakaian itu, kenapa? nggax mungkin cuma kebetulan kan…"
"Aaahh… apa yang terjadi sama gue… gue nggax mau percaya… nggax mungkin, ini pasti cuma mimpi, ia, ini hanya mimpi. gue tidur saja kali ea, ntar setelah gue bangun, pasti gue tau kalau ini hanya mimpi" kata Niken dan langsung memejam kan matanya.
To Be Continue…..
Coment'Q >>>> Pada ngerasa gak si?, ini cerita kok dialog semua ya?. #hammer…..
PS : Jangan Lupa Add Penulisnya ya.. >>> Mia Mulyani

Random Posts

  • At The Romantic Paris

    Oleh Natania Prima Nastiti Selalu teringat dibenakku kejadian dua minggu yang lalu. Teringat akan senyuman tulus gadis itu juga kedua mata indahnya yang kugambarkan mirip dengan bulan terang di malam hari. Saat nyaris saja sebuah mobil menabrak gadis itu, dengan sigapnya aku menolong gadis yang tidak kuketahui namanya itu bak seorang pahlawan. Kejadian itu benar-benar membuatku gelisah sekarang. Ditambah pancaran sinar dari wajah cantik gadis itu yang membuatku tambah tak karuan. Bahkan hingga saat ini, aku masih saja terus gelisah memikirkan gadis cantik itu. Hingga saat ini, saat sesuatu yang tidak terduga datang lagi kepadaku..Kupotret bangunan-bangunan di Kota Tua sore itu, semua orang yang lewat, para pedangang yang menanti pembeli datang. Hingga sesuatu yang tidak terduga itu terjadi. Diantara banyak orang-orang lewat sambil tertawa ria, aku melihat sosok wajah yang familiar. Ya, gadis itu. Gadis yang kutolong dua minggu lalu. Dia juga sedang asik mengabadikan kejadian-kejadian menarik di Kota Tua sore itu. Kemudian terukir sebuah senyuman dibibirku, dan aku pun berlari menghampiri gadis itu. “Hey!” sapaku. Gadis itu menoleh sambil tersenyum indah dengan tampang agak sedikit bingung dan ragu. “Dua minggu lalu, kita ketemu saat kamu mau ketabrak mobil. Udah inget sama aku?” tanyaku menjawab tanda tanya dipikiran gadis itu. Gadis itu kemudian tertawa sambil menganggukkan kepalanya.“So, kamu seneng photograph juga, Sar?” tanyaku setelah kami berkenalan dan aku tau nama gadis itu adalah Sarah. “Iya. Dari SMA aku udah suka photograph. Seneng aja gitu bisa ngabadiin hal-hal menarik yang kadang nggak kita sadarin” jawabnya sambil tersenyum lembut ditambah sebuah lesung pipi di pipi kanannya. Aku mengangguk. “Emm, kapan-kapan boleh kali hunting bareng. Hehe” ucapku basa-basi. “Oh, boleh-boleh! Secepatnya deh direncanain tempatnya, soalnya baru-baru ini aku juga ada rencana mau hunting gitu deh” jawabnya bersemangat. “Oke deh, pasti diusahain cepet cari tempat huntingnya, Sar” sahutku sambil mengedipkan satu mata kearahnya. Sarah tertawa kemudian dia memotret seorang ibu yang sedang menggandeng kedua anak kembarnya. “Mau es krim?” tanyaku lagi. Sarah mengangguk.***Semakin lama, semakin dekat aku dengan Sarah. Takdir memang tidak kemana, pertemuanku dengan Sarah benar-benar takdir yang indah. Apalagi setelah kita berdua hunting bersama di sebuah wisata air terjun di Jawa Tengah, kita berdua menjadi semakin akrab lagi. Kita berdua sudah saling berbuka cerita satu sama lain. Berbagi inspirasi, cerita, pengalaman, trik-trik memotret yang baik dan lainnya. Sampai kuketahui ternyata kedua orangtua Sarah telah lama meninggal dan sekarang dia tinggal bersama tantenya dengan hidup yang sederhana. Kenang-kenangan dari kedua orangtuanya hanya sebuah kamera yang sekarang selalu berada disisinya juga keinginan orangtuanya yang selalu ada dipikiran Sarah. Mereka ingin sekali Sarah menjadi photografer handal, terkenal dan bisa melanjutkan studi di Paris. “Mereka mau banget aku bisa ke Paris, menjadi seorang mahasiswi dan seorang photografer yang handal, Zan. Jika suatu saat aku bisa memamerkan hasil foto-fotoku di Paris, mereka pasti akan bangga banget punya anak kayak aku. Makanya itu, sampe sakarang, aku terus berlatih jadi photografer yang handal supaya bisa dapet beasiswa ke Paris dari kampusku. I ever fail, but I always try it again and again”, jelas Sarah saat berbicara tentang keinginan orangtuanya. Dari situ aku mengerti, bahwa Sarah adalah seorang perempuan yang pantang menyerah demi keinginan orang yang disayanginya.Lima bulan telah berlalu dengan begitu cepat. Kedekatanku dengan Sarah semakin menjadi. Kehandalan Sarah dalam memotret suatu objek juga semakin mantap. Aku optimis, jika dia bisa mendapatkan beasiswa itu. Dengan berjalannya waktu dan kedekatan ini, timbul perasaan sayangku padanya yang lebih mendalam dari sebelum-sebelumnya. Aku semakin ingin menjaga Sarah sepenuh hatiku. Aku ingin sekali melindunginya dari apapun. Aku ingin selalu ada disampingnya selalu. Menemani harinya. Tapi, aku masih belum berani mengungkapkan perasaan sayang ini padanya. Mungkin aku memang cowok pengecut yang takut ditolak cintanya dengan Sarah jika aku mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya. Tapi, aku memang benar-benar takut. Sampai saat ini Sarah tidak pernah memperhatikanku sampai sedetail mungkin. Dia hanya memerhatikanku sebagai temannya, menurutku. Sampai malam itu, saat aku mengajaknya ke Puncak, malam yang sangat istimewa bagiku..“Dezan, kamu nggak mau ngomong sesuatu sama aku?” tanya Sarah tiba-tiba. seketika aku bingung menatap Sarah. Tapi Sarah membalas tatapan bingung itu dengan senyuman dan sebuah lesung pipi khasnya. “Emm, berbulan-bulan kita dekat, apa kamu nggak ngerasa sesuatu yang berubah dari hati kamu?” tanya Sarah lagi sambil memandang licik kearahku. Aku hanya menaikkan satu alisku keatas, bingung. “Oke, bukannya aku kepedean sih, but I think.. you like me”, ucapan singkat yang keluar dari mulut Sarah itu telah membuat sekujur tubuhku gemetaran. Aku rasa darahku berhenti mengalir. Kemudian aku menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan hingga tiga kali, baru kemudian kujawab ucapan Sarah tadi. “No I’m not. I don’t like you, but I love you, Sarah” jawabku kemudian. Sarah terlihat kaget sejenak, dan kemudian dia tersenyum indah sekali padaku. “Dari pertama insiden itu terjadi, aku udah tertarik sama kamu. Tadinya aku berpikir mustahil akan bertemu kamu lagi tapi ternyata takdir berkata lain. Kita berdua dipertemukan kembali di sebuah tempat indah dan saat suasana romantis tercipta. Sampai akhirnya kita semakin dekat dan semakin lama perasaan sayang itu terbentuk di hatiku untuk kamu, Sarah” ucapku. Tiba-tiba Sarah memelukku dengan erat, aku merasa bahuku basah. Sarah menangis. “I love you too, Dezan” ucapnya disela-sela isak tangisnya. Senyumku berkembang sambil membalas pelukan Sarah.***Malam itu dirumah Sarah sangat ramai. Bertahun-tahun Sarah menginginkan dan akhirnya hari itu juga dia telah mendapatkannya. Malam itu juga genap hubungan kami yang setahun. “Thanks for Jesus, Father from all of children, yang telah memberikan kasih sayangnya padaku, thanks for my friends, my belove’s aunt and thanks for my beloved, yang telah hadir disini. Aku mendapatkan beasiswa ini nggak luput dari peranan dan support dari kalian semua. Bertahun-tahun aku mengejarnya, ternyata pengejaran itu berakhir disini. Ditahun ke-6 kedua orangtuaku meninggal. Setelah nanti aku berada di paris, aku nggak akan pernah mengecewakan kalian semua terutama Tante Mira dan keluarga yang telah ngerawat aku setelah kepergian kedua orangtuaku. Aku benar-benar berterima kasih atas apa yang telah kalian lakukan padaku” ucap Sarah panjang lebar dihari kebahagiaannya malam itu. Pelukan dan ciuman hangat serta tangis haru beradu menjadi satu dimalam bahagia itu. Aku yakin, kedua orangtua Sarah juga pasti merasakan kebahagiaan di Surga sana.Setelah lama berbincang, kemudian Sarah pamit permisi sambil mengajakku keluar rumah. sarah memelukku kemudian mencium pipiku. Dikeluarkannya tiket pesawat keberangkatan menuju Paris besok dari dalam saku bajunya. “See it, Honey” ucapnya sambil tersenyum padaku. “Happy anniversary one year, Dezan” ucapnya lagi sambil meneteskan air mata. “Kenapa?” tanyaku sambil menghapus air matanya. “Walau nanti kita nggak ketemu, kita berbeda tempat, berbeda pijakan bumi dan hamparan langit, kita akan tetap saling mencintai kan? Kamu nggak akan ninggalin aku kan? Hati kita akan terus bersatu kan?” tanya Sarah semakin terisak. Aku tersenyum, “aku cinta sama kamu selama-lamanya, Sarah. Aku akan terus dan akan tetap mencintaimu sampai nanti kita akan kembali pada Tuhan. Only dead is over our”. “I wish, We can meet again and stay at the romantic place in this world, French. Paris. And at the heaven if we die” ucap Sarah sambil terus menangis. “Kita pasti akan bertemu di kota romastis sedunia ini, Paris dan di Surga jika kita mati nanti” sahutku mengikuti ucapan Sarah. Aku memeluk Sarah dan menciumi keningnya. Walau berat melepasnya, tapi aku rela demi kebahagiaannya… mungkin…Acara di rumah Sarah selesai sekitar pukul 01.00. semua teman-temannya sudah pulang dan aku pun pamit pulang pada Sarah dan keluarga Tantenya. Saat setengah perjalanan, tiba-tiba handphoneku bergetar. Kupinggirkan mobil di bahu jalan yang lumayan sepi itu. “Iya, Tante, ada ap..?” ucapanku terputus. Bulu kudukku berdiri, aku merasa jantungku akan berhenti saat itu juga. Apa ini? apa yang baru kudengar ini?! handphoneku terjatuh. Aku memandang kosong kearah jalanan yang sepi. Semua badanku kaku dan gemetaran. Ini pasti mimpi! Just dream! Just shit dream!!. Suara Tante Mira masih bisa kudengar saking sepinya jalanan itu. “Hallooo?! Dezan? Dezann?! Kamu dengar kan? Sarah kecelakaan! Kamu harus cepat ke rumah sakit!”.***“We can meet again and stay at the romantic place in this world, French. Paris. And at the heaven if we die”. Teringat ucapan Sarah yang masih terdengar jelas ditelingaku. Ternyata pelabuhan terakhir memanglah Surga bukan kota romantis sedunia seperti Paris. Kelu lidah ini melihat gadis bergaun putih, bersarung tangan putih dengan tataan rambut yang indah dan wajah yang cantik tertidur pulas disebuah peti yang berbalut kain putih dengan banyak bunga di dalamnya. Kota Paris, hanyalah sebuah kota megah yang hanya dapat dia impikan tanpa bisa diraihnya. “Setelah kamu pergi, Sarah berlari mengejar mobilmu dan meneriaki namamu, Dezan. Hingga tanpa aba-aba, terdengar decitan rem yang sangat nyaring dari sebuah mobil sedan. Dan tanpa bisa dihentikan lagi, badan logam mobil itu telah beradu dengan tulang yang berbalut daging milik Sarah hingga dia terpental jauh. Tante nggak kuat, Zan, kenapa Tante harus menyaksikan sendiri peristiwa itu? Menyaksikan sendiri keponakan yang sangat tante banggakan akhirnya harus merelakan semua impiannya sia-sia”, ucapan Tante Mira tadi membuat tangisku semakin menjadi. Semua teman menyemangatiku. “Yang kami temukan, sebuah tiket menuju Paris dan sebuah foto ini”, ucapan Inspektur polisi malam itu, membuat aku mengeluarkan foto yang terkena bercak darah dari dalam kantong plastik. Foto mesra kami berdua. Foto cantik Sarah dengan senyumannya yang selalu tulus dan kedua matanya yang indah. Sama persis ketika aku pertama kali melihatnya dulu. Tapi sekarang senyuman itu akan pudar selamanya dan kedua mata itu akan tertutup tidak akan pernah terbuka lagi. Maaf jika kali ini aku tidak bisa menolongmu, Sarah. Ku relakan engkau Sarah, walau berat bagiku melepasmu kembali ke Sisi Tuhan…

  • Cerita Pendek “mungkinkah”

    Santai sembari dengerin musik yang mengalun di youtube kadang emang bisa memberikan inspirasi tersendiri. Buktinya cerita pendek mungkinkah ini bisa tercipta. Yah walau sekilas terlihat kayak nggak mungkin banget bisa menjadi nyata. Tapi ya gimana lagi. Namanya juga cerpen bebas ya kan?So, buat yang udah penasaran sama cerpen ini mendingan langsung baca aja deh guys. And buat yang udah baca, jangan lupa ya tinggalin kritik sama sarannya. Biar kedepannya bisa nulis lebih baik gitu…. Mungkinkah?"Hoam….."Thalita segera merengangkan otot – otot tubuhnya. Dipandanginya sekeliling dengan kondisi kesadaran yang masih di bawah rata rata. Sejenak di kucek – kucek matanya, Kenapa rumput semua ya?. Mungkinkah ia sedang bermimpi. Otaknya segera ia paksa untuk berkerja dengan kekuatan penuh ala Jimmy Neutron. Setelah beberapa saat barulah ia ingat. Tadi ia kan emang sengaja bolos dan memilih menyendiri di taman belakang kampus karena matanya benar – benar ngantuk. Pasti karena tadi malam ia hanya sempat tidur kurang dari tiga jam demi untuk menyelesaikan membaca novel romantis favoritnya."Hoam…."Sekali lagi mulutnya terbuka lebar untuk menghilangkan sisa – sisa rasa mengantuknya. "Masa cewek dengan santai tidur di bawah pohon, juga menguap selebar itu.”Refleks Thalita menoleh. Tak jauh darinya tampak seorang anak manusia berjenis kelamin cowok duduk tak jauh darinya yang kini sedang menatapnya lurus. Dahi Thalita juga tampak berkerut tanda heran. Perasaan tadi tidak ada siapa – siapa. Jangan jangan….."SETAN!!!!!!" jerit Thalita sekenceng – kencengnya sebelum kemudian sebuah tangan membekap mulutnya rapat – rapat."Nggak ada setan di dunia ini yang sekeren gue.”Suasana hening. Sebenernya Thalita masih ingin menjerit tapi karena mulutnya masih di pikep (???) ia hanya mampu menjerit dalam hati. Kemudian dengan cepat ia majukan wajahnya sehingga kini wajah mereka hanya berjarak tak kurang dari sejengakal."Loe yakin loe keren?" tanya Thalita sambil memperhatikan sosok yang ada di depannya dengan seksama. "Tapi kalau di lihat dari deket gini kok kayak banyak jerawatnya ya?" sambung Thalita lagi tetap dengan memasang wajah 'polosnya.Bekapan mulutnya kontan terlepas. Cowok itu juga dengan cepat memundurkan wajahnya. Berusaha memperjauh jarak diantara mereka. Setelah beberapa saat terdiam, ia segera bangkit berdiri dan berlalu pergi. Tapi sebelum itu Thalita masih mampu mendengar gumaman lirihnya."Dasar cewek aneh.”Thalita hanya mencibir. Dalam hati membalas "Loe lebih aneh, udah muncul tiba – tiba. Sok – sokan narsis lagi. Huuu…”Begitu sang cowok hilang dari pandangan, Thalita segera bangkit berdiri. Matanya menatap kekanan dan kekiri. Sepi. Sepertinya kelas sudah berakhir. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk segera pulang kerumah.Keesokan harinya dengan mindik – mindik (???) Thalita mengintip kelasnya dari jendela. Hado….. Dosen kepala botaknya sudah nangkring di depan kelas. Itu artinya ia sudah jelas – jelas terlambat. Digigitnya ujung kuku jari telunjuk. Kebiasaan yang sulit ia hilangkan jika sedang berpikir. Akhirnya di putuskan, dari pada dimarahin karena terlambat mendingan nggak usah masuk sekalian. Saat ia berencana untuk berbalik pergi terdengar suara bisikan yang terdengar tak jauh dari telinganya."Hayo… Mau bolos lagi ya?"Thalita menoleh. Kedua matanya yang bulet dan bening itu tampak berkedip – kedip. Mulutnya masih terkunci. Antara kaget dan shock. Tapi beberapa saat kemudian."SETAN!!!!!"Jeritan yang ia lontarkan tidak hanya membuat sosok yang ada dihadapannya terlonjak kaget tapi juga seisi kelas yang langsung menoleh kearahnya. Dengan cepat sebuah tangan membekap mulutnya yang masih mengeluarkan suara yang berpotensi membuatt seseorang terpaksa berusuran dengan dokter THT."Gue pernah bilang, nggak ada Setan di dunia ini yang sekeren gue," kata Cowok di hadapanya yang tampak kesel akan rekasinya yang dinilai bener – benar berlebihan."Terus kenapa loe bisa muncul tiba – tiba?" tanya Thalita setelah berhasi melepaskan bekapan mulutnya."Bukan gue yang datang tiba – tiba, tapi elo yang selalu terlambat menyadarinya.”Mulut Thalita sudah terbuka, siap mau balas. Tapi suara si Master botak sudah terlebih dahulu menginteruspinya."Ehem… ehem… ehem….""Eh, Bapake theneng nang kene…?"Saking saltingnya bahasa nenek moyang keluar. Untuk sejenak Thalita terdiam mendapati kening orang – orang di sekelilingnya yang terlihat berkerut bingung. Dan ia hanya mampu tersenyum kaku tanpa ada niatan untuk menjelaskan arti ucapannya barusan."Thalita, kamu kenapa?""Oh tadi dia mau bolos pak. Untung ketahuan sama saya.”Thalita menoleh. Tatapan tajam setajam silet ia lemparkan, Tapi yang ia dapatkan hanya balasan senyum tiga jari ala kelinci. #Emang ada?"Enggak kok pak. Beneran saya nggak mau bolos. Sumpah jadi orang kaya saya ngomong jujur. Ini orang aja pak. Yang nggak tau siapa, dari mana datangnya, serta di ragukan wujudnya kalau ngomong suka ngasal," balas Thalita cepat. Saking cepatnya sampai mengucapkannya juga hanya dengan satu tarikan nafas. Hebat….."Apa benar begitu?"Kali ini Thalita hanya membalasnya dengan anggukan kepala."Bener pak, tadi itu saya cuma telat. Makanya rencananya saya malah nggak masuk sekalian. Eh malah ketauan," terang Thalita terdengar mengeluh.Untuk beberapa saat suasana hening sampai tiba – tiba cowok yang tadi memergokinya tertawa nggakak disusul oleh hampir seluruh penghuni kelasnya. Thalita masih terdiam sekaligus heran. Tapi begitu mendapati tatapan tajam dari makhluk botak dihadapannya baru lah ia menyadari ucapannya barusan. Dan ia hanya mampu memberikan senyum kaku sekaku kakunya. Dalam hati ia meratap."Emang menderita punya otak pas – pasan. Sama menderitanya seperti saat sampai di terminal, pas keretanya berangkat.”Cerita Pendek Mungkinkah?"Hufh…"Tanpa memikirkan rumput yang kotor, atau celana yang ia pakai akan terkena debu, Thalita mendaratkan tubuhnya dengan santai. Di usapnya keringat yang menempel di wajahnya hanya dengan ujung bajunya tanpa perlu repot – repot mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Cape?. Tentu saja!. Karena insident yang terjadi tapi pagi, saat ini ia harus berada di halaman kampusnya lengkap dengan sapu lidi di tangannya. Tentu saja bukan untuk tidur, melainkan harus menyapu daun – daun yang dengan kurang ajarnya berguguran mengotori halaman sebagai hukuman."Cape? Nih minum," sebuah potol pocari sweet tiba – tiba nongol di hadapannya. Tanpa komando mulutnya langsung terbuka untuk berteriak."SET……..!!!!""Harus berapa kali si gue bilang gue bukan setan," rutuk sosok yang tadi mengulurkan minuman itu sambil duduk di samping Thalita dengan santai. Nggak bisa di bilang santai juga si sebenernya. Karena kedua tangannya tampak sedang di gunakan. Yang satu untuk memegangi botol, dan yang satunya membekap mulut Thalita seperti biasa. "Kalau loe emang bukan setan kenapa loe selalu muncul di hadapan gue dengan tiba – tiba?" tanya Thalita kesel."Bukan gue yang tiba – tiba, tapi elo yang tidak pernah berusaha menyadarinya.”Thalita terdiam. Perasaannya aja atau memang kalimat itu punya arti yang lain. Arti yang lebih mendalam gitu. Apalagi kalimat itu di ucapkan dengan pandangan yang menerawang jauh. Seperti orang yang lagi sedih."Thalita, gue suka sama loe….”"Mustahil. Kita baru kenal. Ralat, gue nggak kenal sama loe," balas Thalita cepat. Secepat yang bisa ia lakukan tanpa perlu berpikir sama sekali. Lagian mana ada orang yang ngaku suka dengan ekpresi sesantai itu."Itu karena loe nggak mau kenal sama gue. Loe nggak tau kan kalau selama ini gue selalu di samping loe. Memperhatikan dan mengagumi, dan mengikuti dari jauh. Gue tau semua tentang loe. Apa yang loe suka, kebencian loe akan hujan. Bahkan gue tau kebiasaan loe yang suka menggigit kuku jari di saat bingung.”Mulut Thalita terbuka tanpa suara. Maksutnya…."Secret admirer," sebelum Thalita sempat menebaknya, cowok itu sudah terlebih dahulu mengungkapkannya."Gue emang pengemar rahasia loe. Maksut gue selama ini. karena kali ini gue pengen ngungkapin langsung," sambung pria itu yang makin membuat Thalita membatu. Ia tidak sedang bermimpikan?"Thalita, gue cinta sama loe. Loe mau kan jadi pacar gue?” Kata – kata yang di ucapkan dengan tegas itu seolah menghipnotisnya. Tanpa sadar Thalita mengangguk. Walau tak urung hatinya bergumam."Hei, Mungkin kah ada kisah seperti ini????"Ending….!!Detail CerpenJudul cerpen : MungkinkahPenulis : Ana MeryaPanjang cerita : 1166 kata

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 07 / 13

    Oke guys, masih dengan lanjutan dari cerpen Kala Cinta Menyapa yang kini udah sampe di part 07. Cerpen ini kebetulan end di part 13. So buat yang penasaran gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak detailnya di bawah. Untuk yang belum baca bagian sebelumnya bisa disimak disini. Happy reading….“Apa? Jadi loe jadian sama Rei? Gimana ceritanya?” tanya Rani antusias saat mendengar cerita Irma di taman belakang kampus. Seperti biasa, waktu istriahat mereka habiskan untuk santai di taman. Tadinya mau kekantin, tapi batal. Terlebih sepertinya cerita Irma kali ini adalah sesi curhat. Curhat tentang jadian dirinya dengan Rei tepatnya. Dan kalimat kaget Rani barusan hanya di balas anggukan oleh Irma dengan senyum bahagia.“Wah, selamat ya. Apa gue bilang, loe emang naksir sama tu orang. Kenapa kemaren pake sok sokan ngeles segala si?” tambah Rani Lagi. “Yah, abis gue kan malu. Lagian gue juga sama sekali gak pernah menduga kalau Rei ternyata selama ini juga suka sama gue,” terang Irma lirih.“Nah, untuk ngerayain gimana kalau sekarang kita kekantin. Loe traktir gue makan,” Usul Rani antusias.“Kenapa harus gue yang traktir?” protes Irma terlihat tidak setuju.“Masa Gue,” Rani sambil nunjuk Wajahnya sendiri.“Kalau gitu gimana kalau kita bayar masing – masing aja?” Usulan Irma tak urung membuat Rani mencibir sinis kearahnya. Sahabatnya yang satu ini selain matrai bermaterai ternyata juga pelit berperangko (???).“Ya sudahlah. Bayar masing – masing juga gak papa deh. Yang penting kita kekantin yuk sekarang. Asli gue laper banget. Loe sih tadi gue ajak curhatnya di kantin aja pake acara nolak segala,” Rani akhirnya mengalah sementara Irma tampak tersenyum simpul.Tepat saat mereka menginjakan kaki di lantai kantin pandangan keduanya segera terjurus kesekeliling. Rani tampak memberengut sebel saat mendapati tak ada satupun meja yang kosong. Kantin memang sedang rame – ramenya pada jam makan siang. Dan saat ia menoleh kearah Irma, gadis itu juga tampak angkat bahu.“Ya sudah lah . Kita kesini lagi entar. Mendingan kita ketaman aja lagi."“Tapi gue kan lapernya sekarang,” tahan Rani.“Abis gimana lagi. Loe mau duduk di lantai. Udahlah, kita keluar aja dulu. Lagian loe nggak akan mungkin mati kelaparan hanya karena menahan lapar untuk beberapa waktu kedepan,” tambah Irma sambil melangkah keluar kantin, membuat wajah Rani makin memberengut sebel. Tu orang ternyata beneran sadis. Namun tak urung kakinya melangkah mengikuti gadis itu keluar. Kembali ketaman belakang kampus.“Huwa,,,… Irma. Gue beneran laper. Cacing di perut gue udah pada demo semua. Gimana donk,” kata Rani mendrama keadaan begitu keduanya telah duduk dibangku taman. “Jangan lebay,” cibir Irma sinis. Kali ini Rani beneran yakin kalau sahabatnya itu adalah sahabat tersadis di dunia. # Gantian, siapa yang lebay coba.“Nih buat loe. Walau nggak bikin kenyang tapi lumayan bisa buat menganjal perut."Rani menoleh. Terlihat terkejut sekaligus heran. Tampang Irma juga terlihat tak jauh beda darinya saat mendapati entah sejak kapan dan datangnya darimana tau – tau kini tampak Erwin yang berdiri tepat di hadapanya sambil menyodorkan kantong plastik. Sekilas Rani mendapati bayangan Roti didalamnya.“Buat gue?” tanya Rani kearah wajahnya sediri.Erwin tidak menjawab, hanya tangannya sengaja mengoyang – goyangkan plasik yang ada di tangansebagai isarat agar Rani segera menambilnya.“Tumben loe baik?” selidik Irma dengan mata terlihat menyipit kearah Erwin. Kali ini jelas tatapan curiga.Begitu kantong plasik itu telah berpindah tangan tanpa banyak kata Erwin berbalik. Bersiap meninggalkan keduanya kalau saja Irma tidak terlebih dahulu menghadang langkahnya.“Loe belum jawab pertanyaan gue."“Dan gue gak tertarik untuk menjawabnya,” balas Erwin cuek sambil berlalu pergi. “Rani loe kok diam aja si?” tanya irma kearah Rani yang hanya menatap kepergian Erwin yang terus berlalu.Rani hanya angkat bahu tanpa menjawab. Kemudian dengan santai mulai menikmati makanan yang ada di tangaannya. Sepertinya efek lapar benar – benar sangat berpegaruh pada jalan kerja otaknya.“Loe mau nggak?” tanya Rani sambil menyodorkan sekeping roti kearah Irma dengan acuh tak acuh.Irma mengeleng. Bukan saja karena menolak pemberian Rani tapi juga karena tak habis fikir akan sikap sahabatnya yang satu tu. Akhirnya yang ia lakukan hanyalah menonton aktifitasnya. Dan lagi, Irma tidak punya cukup keberanian untuk memakan makanan dari orang yang jelas jelas punya masalah dengannya. Gimana kalau roti tersebut dikasih obat cuci perut atau apalah. Bisa jadi kan? Secara gimanapun ia pernah membuat pria tersebut sebagai bahan gosipannya.*****Begitu Pak Aldo melangkah meninggalkan kelas, Rani segera membereskan buku – bukunya. Beriringan bersama Irma melangkah melewati koridor kampus. Sambil melangkah keduanya sesekali bercanda. Tapat didepan gerbang mereka berpisah. Sejak dulu kan Irma pulang pergi bersama Rei, terlebih sekarang mereka sudah pacaran. Begitu Irma berlalu, Rani segera kembali melangkahkan kaki. Rencananya si mau langsung kehalte bus tumpangannya kalau saja tidak ada sebuah motor yang secara tiba – tiba menghentikan langkahnya. Dan begitu ia menoleh.“Erwin?”“Ayo naik," printah Erwin.“He?” kening Rani berkerut tanda bingung. Erwin ngomong nggak pake intro. Dan lagi, pria itu juga tidak terlihat tertarik untuk menjelaskan, hanya saja ia memberi isarat kearah Rani untuk duduk di belakangnya sembari tangannya menyodorkan sebuah helm.“O,” dengan kapasitas sistem kerja di otaknya, Rani hanya mengangguk paham. Tanpa bertanya lagi ia segera duduk dibelakang Erwin. Saat motor telah kembali melaju barulah mulutnya kembali terbuka untuk bertanya. “Memangnya kita mau kemana?."“Loe sendiri mau kemana?” bukannya menjawab, Erwin malah balik bertanya. Kebiasan kebanyakan orang memang begitu.“Ya pulang donk,” sahut Rani spontan.“Ya sudah kalau begitu. Terus ngapain loe nanya."Kalimat itu tak urung membuat Rani kesel mendengarnya. “Abis gue bingung. Kan kali aja loe mau bawa gue kemana gitu," sambungnya setengah bergumam.“Kalau loe emang bingung terus kenapa tadi nggak nanya. Malah main duduk aja."“Iya ya… bener juga. Kenapa tadi gue langsung nurut ya?” tanya Rani lebih tepat kalau di tujukan untuk dirinya sendiri.Erwin hanya terdiam sambil mengeleng pelan. Apa memang gadis itu polos atau dodol ya?. Entahlah, sepertinya ia yang dodol karena mau dengan suka rela mengantarnya.“Tapi Erwin, kok tumben si loe baik? Mau maunya gitu nganterin gue?” tanya Rani tiba – tiba.Erwin terlihat bingung, tidak tau harus menjawab apa. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tau, kenapa tiba – tiba ia berniat untuk mengantar gadis itu pulang kerumahnya. Yang jelas itu semua terjadi dengan sendirinya.“Pasti karena di suruh sama nyokap loe kan?” tanya Rani lagi.“Eh?”“Soal kemaren itu, gue beneran nggak tau kalau tante Sania itu nyokap loe. Gue itu kemaren memang nggak sengaja ngeliat nyokap loe pas keserempet mobil. Karena kebatulan pas kejadian gue memang ada di sana. Karena kelihatannya nyokap loe sendirian dan disana yang pada nolongin juga nggak ada yang kenal, ya sudah gue langsung bawa aja ke rumah sakit. Terus gue sekalian antar kerumah. Eh sekali tiba di rumah nggak taunya dia ternyata nyokap loe. Tapi walaupun begitu, loe nggak harus kok nganterin gue pulang kuliah segala. Secara nyokap loe kan kemaren juga udah bilang ma kasih,” cerocos Rani panjang lebar tanpa sempat memperhatikan reaksi Erwin sekalipun yang terlihat hanya diam sambil terus memandang kedepan. Memastikan motor yang mereka kendarai bisa mencapai tujuan dengan selamat.“Oh ya, tapi nyokap loe baik baik aja kan?” tanya Rani lagi.“Baik,” sahut Erwin singkat.“Syukurlah kalau begitu,” Rani terlihat lega. Namut sedetik kemudian semuanya berubah digantikan raut kebingungan saat mendapati arah motor Erwin yang membelok kesalah satu restoran bertuliskan “Sari Bumbu”.“Erwin, kita mau ngapain disini?” tanya Rani begitu turun dari motor.“Mau kerja."“HA!” Rani melotot kaget.“Ya mau makan lah. Loe laper kan?”"O," kali ini Rani mengangguk. Ngomong – ngomong soal makan, perutnya tiba – tiba terasa lapar . Terlebih lagi ia memang belum makan siang sementara jarum jam di tangannya sudah menunjukan pukul 2 siang. Sedari tadi perutnya hanya di isi sepotong roti dari Erwin. Gara – gara tadi keasikan ngegosip bersama Irma ia sampai lupa untuk kembali kekantin karena mata kuliah selanjutnya sudah harus di mulai.“Erwin, loe yakin mau makan di sini?” bisik Rani lirih begitu kakinya menginjakan lantai restoran berlabel ‘Sari Bumbu’ itu. Berbeda dari bangunan luar yang terlihat sederhana. Bagian dalamnya ternyata benar – benar di desain dengan elegan. Di mulai dengan barisan depan yang terdiri dari aneka jajan pasar sampai berbagi buah, aneka bubur lengkap dengan Es buahnya, ruangan bagian tengah penuh dengan gado – gado, sementara kiri dan kanan Makanan dengan aneka hidangan sepesial yang mengugah selera. Ada nasi, Lengkap dengan lauk pauknya yang di atur berjejer membentuk lingkaran. Sementara tamu yang datang bebas untuk memillih dan mengambil makanan sepuasnya. Sekilas Rani menoleh kesekeliling. Astaga, rata – rata tamu nya orang asing semua. Mulai dari orang cina, melayu, bule bahkan ada yang korea. Sepertinya mereka semua turis yang datang untuk makan siang. Sementara pelayanan nya juga terlihat ramah. Mana cowok – cowok keren lagi #Gubrak….. Benar – benar merasa seperti makan di hotel berbintang. ^_^“Kalau loe mau makan, silahkan ambil sepuasnya. Tapi kalau memang enggak dan begong aja mendingan loe tunggu di luar,” sahut Erwin sambil mulai menyendokan nasi kepiring yang ada di tangannya sebelum kemudian beralih kearah aneka masakan yang entah apa namanya. “Beneran nie, gue boleh ngambil apapun yang gue mau?” tanya Rani masih terlihat ragu.“Loe abisin semua makanan disini selama perut loe muat juga nggak masalah. Toh loe makan sedikit atau makan banyak bayarnya tetep sama per pax nya,” terang Erwin tanpa menoleh.Mendengar itu tanpa pikir panjang Rani segera meraih piring yang ada di dekatnya. Dan pada menit berikutnya, piring kosong itu kini sudah terisi penuh. Erwin terlihat sedikit bengong melihatnya. Ini cewek apa kingkong ya. Porsi makanya banyak amat. “Alhamduliah… Kenyang,” kata Rani sambil mengelap mulutnya dengan tisu.“Justru kalau loe bilang masih lapar gue nya yang heran,” balasan Erwin tak urung Rani memberengut sebel walau dalam hati ia tetap membenarkan ucapannya. Kalau sampai ia masih merasa lapar pasti lambungnya sedang bermasalah. Bagaimana bisa meja yang seharunya muat diisi untuk delapan orang kini di pake hanya oleh mereka berdua. Mulai dari piring nasi, mangkuk sup, ditambah dua mangkuk bubur, belum lagi mangkuk es campur, piring buah, dan piring aneka jajan pasar. Masih di tambah lagi gelas jus dan air mineral. Ck ck ck, Perutnya terbuat dari apa si?“Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang,” ajak Erwin sambil bangkit berdiri.“He he he, Makasih ya. Kapan – kapan kalau loe mau makan disini ajak gue lagi ya. Gue belum nyicipi tuh makanan di sebelah sana,” balas Rani ikut bangkit berdiri sambil matanya terus mengawasi menu yang tidak sempat di jamah olehnya. Erwin hanya mengeleng melihat ulahnya. Setelah membayar makanan di kasir, keduanya segera berlalu pulang.Next to Cerpen Cinta Romantis Kala Cinta Menyapa part 08Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.659 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen Cinta Romantis: AKU PASTI KEMBALI

    Aku Pasti Kembali Karya : putri ayu pasundan Namaku jelita, aku sekolah di sma vanderwaald. Aku duduk di kelas 1 sma. Aku termasuk siswa yang pandai, dan juga mudah bergaul. Aku mempunyai seorang sahabat dia bernama putra. Putra adalah sosok sahabat yang baik, perhatian, dan selalu mengerti keadaanku, dilain waktu saat aku bersedih, dia yang selalu menghiburku. Suatu ketika dia memendam perasaan yang sama dan aku juga merasakannya.“jelita..” panggil seseorang itu dari arah belakang. Dan itu sahabatku putra.“iya put..? ada apa?’’ tanyaku.“pulang sekolah , ikut aku ya.. aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.”“oke baik.”Setelah bel pulang sekolah berbunyi, putra langsung menghampiriku dia sudah berdiri tepat di ambang pintu kelasku. Dia memanggilku sambil tersenyum.“jelita.. ayok kita berangkat.”Putra tiba-tiba mengandeng tanganku , menuruni anak tangga, Dan segera menuju ke area parkir. Kelas kami berada di lantai 3 . Aku dan dia berbeda kelas . Sejak smp kita selalu bareng. Dan sampai SMA ini. Setelah kami tiba di area parkir, putra mengeluarkan motornya yang terparkir dekat pos satpam.“ayok naik.” Putra mempersilahkan aku untuk naik ke motornya, dan kini kami berangkat meninggalkan area parkir. Juga sekolah.“kita mau kemana?’’ tanyaku kepadanya.“ke suatu tempat. Dan kamu pasti suka.” Setelah beberapa menit di perjalanan , kami pun sampai di tempat tujuan. Ternyata putra mengajakku ke sebuah taman bermain. Di taman tersebut . terpampang air mancur yang begitu indah, banyak sekali bunga-bunga yang berwarna warni. Kami berdua duduk di kursi dekat taman.“jelita… “ panggil putra kepadaku, sorotan mata tajam nya yang takkan pernah ku lupakan sejak dulu . deg…. Jantungku berdebar-debar. Aku tak mengerti tentang perasaan ku padanya, sudah 5 tahun kami bersama.. saling melengkapi satu sama lain. Tapi, tak pernah aku mengerti hubunganku dengannya.. yang aku tau, aku dan dia bersahabat.“putra, kok nangis?’’ tanyaku padanya. Putra meneteskan air matanya perlahan demi perlahan . ku apus air matanya yang membasahi kedua pipinya..“aku gak nangis, aku Cuma bahagia aja punya sahabat kaya kamu.” Di usap rambutku dengan kelembutan tangannya. Putra memang sahabatku , dan juga kakak bagiku. karena itu aku tak mau kehilangannya.“jelita, suatu saat nanti, aku gak bisa terus berada di sisi kamu, kamu harus bisa nantinya tanpa aku. Aku gak mau terus-terusan jadi benalu yang selalu ada di hidupmu. Kamu harus bisa jalani hidup , dan mungkin tanpa aku. ingat janji kita dulu. Kalo kita akan selalu bersama.”“putra kok ngomongnya gitu, tanpa kamu hidup jelita ga mungkin seceria ini. Karna kamu, hidup jelita bahagia dan lebih berwarna. Kalaupun nantinya putra ninggalin jelita, jelita akan cari putra sampai kapanpun dan bakal nungguin putra sampai putra kembali. Entah beberapa lamanya”“tapi, inget. Kalo putra gak ada di samping kamu lagi. Kamu janji harus selalu tersenyum.”“iya, jelita janji… jelita akan selalu tersenyum untuk kamu.”Hari sudah semakin berlarut. Meninggalkan semua kisah yang ada. Taman tersebut menjadi ikatan janji mereka.***Keesokan harinya di sekolah, tepat pukul 06:15 menit.“jelita, ini ada surat untuk kamu.”dihampirinya jelita , Di kasihnya sepucuk surat itu untuknya yang terpampang besar siapa nama pengirim surat itu. yaitu “putra” .Deg…… hati jelita tiba-tiba gelisah tak menentu. Tak mengerti apa yang sedang iya rasakan saat ini. Di bukanya isi surat itu perlahan.“jelitaa… ini aku putra, maafin aku ya kemarin aku gak sempet berfikiran untuk ngomong ke kamu. Karna semua itu terlalu berat untukku. Aku gak sanggup ninggalin kamu disini. Mungkin, saat kamu baca surat ini aku sudah tiba di Kalimantan. Papaku dinas disana, dan terpaksa aku ikut dengannya. Maafin aku ya jelita. Inget janji kita. Kamu harus tetap tersenyum. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi.“Di akhirinya akhir surat itu. Jelita yang hanya bisa diam membisu dan pucat pasi di tempat duduknya. Perlahan iya menteskan air mata dan tidak percaya akan semuanya. Tak pernah iya mengerti akan semua perasaannya. Sedih, kecewa, semuanya yang iya alami saat ini. Tak sempat iya mengatakan tentang perasaannya yang sebenernya kepada putra. Cinta… mungkin ini yang aku rasakan. Perasaan itu tak pernah ku sadari sebelumnya, setelah kepergianmu baru aku menyadari.. cinta itu ada.***Setelah pulang sekolah, aku bergegas untuk pergi kerumah putra. Tetapi hasilnya nihil, tak ada satupun orang yang menjawab sapaanku. Rumah itu kosong. Jelita tak tau harus mencari putra kemana lagi. Akhirnya , aku memutuskan untuk pergi ke Taman kemarin, terakhir kali aku bertemu dengannya, bersamanya…. Taman itu sepi.. tak seperti biasanya, tak banyak orang yang lewat area taman bermain itu. dihampirinya kursi taman tempat aku duduk bersama putra waktu itu. Aku mengingat kembali perpisahan terakhirku dengannya. Aku meneteskan air mata.***Setelah 2 tahun aku menunggu, putra tak juga ada kabar. Selama itu aku tak pernah seceria dulu. Hanya kesedihan yang tampak di wajahku. Sesering kali aku mengingat kenangan itu, itu membuatku sakit. Sekalipun aku mencoba melupakannya, itu akan semakin sakit. Beberapa sering aku memutar lagu pasto’aku pasti kembali’ liriknya yang benar-benar menyentuh hatiku.Reff : aku hanya pergi tuk sementara..bukan tuk meninggalkanmu selamanya..aku pasti kan kembali, pada dirimu ..tapi kau jangan nakal.. aku pasti kembali…..selama 2 tahun, kenangan itu menghantui harii-hari ku . tang sanggup aku melupakannya. Kini aku benar-benar mencintainya. Cinta bukan lagi sekedar sahabat , tetapi perasaan yang lebih dari pada itu.hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 17 , sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 3 sma, sekalipun aku ingin pindah ke lain hati dan berpaling dari putra, aku masih takut. Karena luka yang ada di hatiku masih ada. Setelah malam kian tiba, putra tak juga mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal hanya sapaannya, dan ucapannya yang begitu berarti untukku..hari ini sweet seventeen ku. Dan mungkin itu semua tak ada artinya kalau putra tak ada di sampingku. Malam ini aku ingin sekali pergi ke taman itu. untuk menenangkan diri disana, mungkin hanya beberapa saat. Aku akhirnya memutuskann untuk pergi kesana dan meninnggalkan acara dan tamu undangan yang telah hadir di pesta ulang tahunku yang ke 17 itu. aku pergi ke sana dengan di temani supir papaku dan setelah beberapa menit di perjalanan, aku tiba di taman itu. aku tak menyangka.. begitu indah suasana taman tersebut dengan lampu lampion-lampion yang khas terpampang disana. Dekorasi lampu-lampu kecil di setiap pohon yang mengelilingi menambah indah suasana taman itu. aku duduk di kursi putih taman itu. tiba-tiba beberapa saat aku memejamkan kedua mataku dan membukanya kembali aku melihat sesosok putra di depan mataku. Dia tampak berbeda dari dahulu, aku tak percaya kini dia ada di depan mataku, atau mungkin ini hanya ilusiku.“happy birthday jelita.. aku nepatin janjiku kan , kita pasti bertemu kembali. Dan aku pasti kembali.”“ini benar kamu?’’ tanyaku tak percaya.“iya, ini aku. aku putra.”“kemana aja kamu, kamu gatau aku disini sedih mikirin kamu, kamu gak ada kabar dan hilang gitu aja.”“maafin aku, aku Cuma gak mau ganggu konsentrasi belajar kamu.”Putra menghampiriku dan memberiku sekotak bingkisan tanda ucapan ulang tahunku. Dan ternyata itu adalah sebuah kalung yang berukiran tulisan nama kita berdua. Gaun cantik yang aku kenakan malam itu saat ulang tahunku berwarna putih, dan juga putra, membawa bunga mawar merah kesukaaanku dan ia mengenakan jas kemeja putih.“aku janji gak akan ninggalin kamu lagi. Aku gak bisa tanpamu. Aku mencintaimu, aku sayang kamu jelita.” Kini dia menggutarakan isi hatinya, hanya itu kata yang aku tunggu selama ini dari mulutnya.“akupun begitu. Ini adalah hari terindahku. Kamu kembali, untuk menjadi sahabatku, juga kekasih bagiku…..”_The end_Biodata penulis : Putri ayu pasundanJakarta, 23 january 1997FB : Puteri pasundan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*