Cerpen King Vs Queen ~ 02

Cerpen Terbaru

'KING v.s. QUEEN'

Part 2

Cerpen
Terbaru King Vs Queen part 2. Cekidot.

"Iiih
sungguh menyebalkan…" kata Niken begitu ia tiba di kamarnya
"bener-bener re-se tuh cowok, awas aja… dia belum tau siapa gue… mana
kak Nino nyebelin banget lagi, pasti gara-gara dia berteman sama cowok nggax
jadi-jadi itu, makanya nular nyebelinnya" lanjutnya.

Credit Gambar : Star Night

"Mana
ternyata dia temen kak Nino lagi, udah gitu pake acara ngejelek-jelekin gue . Gitu
kok di bilang 'king'. King dari mananya coba?" tanyanya sambil
geleng-geleng kepala sendiri.

"Lagian
kak Nino nih ada-ada aja, masa' bilang gue di juluki 'Queen' sama temen-temen
di depan si Gilang sih, pasti dia bakal ngetawain gue… Mana bisa cewek
seperti gue jadi ratu. Dan gue juga nggax mengharapkannya kok… Iiiih
bener-bener sungguh menyebalkan…"

Terdengar
suara obrolan dan sesekali di selingi tawa di ruang tengah, itu pasti suaranya
Gilang dan kakaknya yang membuat Niken jadi makin sebel karena dia nggax bisa
tidur dengan tenang. Niken menutup telinga nya dengan bantal, tapi masih
terdengar juga suara-suara di ruang tengah.

"Memang
bener-bener deh, gue jadi nggax bisa tidur nih. Gimana gue bisa tidur kalau
suaranya berisik gitu. Awas aja yea tuh orang, gue bakal membalasnya, gara-gara
elo udah ngejelek-jelekin gue di depan mama and kakak gue…" geram Niken
dan beranjak menuju dapur.

Niken
membuat air minum tiga gelas, dan meletakkannya di nampan dengan sepiring
pisang goreng yang baru di goreng mamanya. Diam-diam tanpa sepengetahuan mama,
Niken sengaja memasuk kan garam dua sendok di satu pisang lalu menggorengnya.

Setelah
meletakkan pisang goreng yang pasti sangat asin itu di piring, Niken membawanya
ke meja. dengan hati-hati memasuk kan MSG di gelas minuman yang akan di
bawanya, Niken meletak kannya dua sendok penuh.

"Heh, mampus loe. Makanya jangan suka cari gara
– gara sama gue” kata Niken dalam hati sambil
tersenyum.

"lho
Nik, kok masih di sini, di tunggu sama tamunya tuh, masa nggax di kasi
apa-apa…" kata mamanya.

"Eh
e ia maaa…" balas Niken dan melangkah menuju keruang tamu. Dengan santai
Niken duduk di samping Gilang, sambil meletakkan nampan di atas meja.

"emmm,
Lang…."

"Lang?!"
Nino kaget "Dia ini kan lebih tua dari loe, seharusnya loe memanggilnya
kakak donk. Nggax sopan begitu…" lanjutnya memperingatkan adiknya.

"Kakak?!"
Niken nggax percaya "Yaaa baiklah… kak Gilang… Niken minta maaf yea
soal tadi." kata Niken ke arah Gilang.

"he?!"
Gilang dan Nino bingung melihat ulah Niken.

"Niken
minta maaf soal tadi, pasti kak Gilang berfikir Niken itu udah nggax sopan
banget, Niken tau kita baru kenal hari ini, tapi udah membuat kak Gilang jadi
seperti tadi, Niken jadi merasa bersalah…" kata Niken.

"Tuh
kan lang, gue bilang juga apa, adik gue ini, Meski kadang-kadang aneh and
nyebelin tapi dia itu sebenernya baik hati dan sangat pengertian…" kata
Nino ke arah Gilang.

"Kak
Gilang maafin Niken kan?" tanya Niken.

"wuaaah prasaan gue nggax enak nih…" kata Gilang dalam hati sambil menatap Niken
nggax percaya.

"Kak…"
kata Niken sambil tersenyum.

"Eh
e… ia gue maaf in elo kok, lagian kan kita baru ketemu and kenal sekarang,
jadi gue juga belum tau loe itu orangnya seperti apa, gue juga minta maaf kalau
gue udah salah sama loe" balas Gilang sambil berusaha untuk tersenyum.

"Nyadar pun loe…" kata
Niken dalam hati "Hemmm, dan sebagai tanda minta maaf Niken sama kakak,
Niken udah membuatkan pisang goreng yang special buat kakak nih…"
lanjutnya sambil mengambil piring berisi pisang goreng di atas meja.

"HE?!"
Gilang bingung.

"Nih
kakak ambil dulu, cobain gimana rasanya. Niken nggax tau deh kakak mau
makan-makanan buatan Niken atau nggax…" kata Niken dengan wajah sedih.

"Eh
emmm, gue mau kok, Biar di situ aja, ntar gue ambil sendiri"

"Nggax
mau ea…" Niken tampak cemberut.

"Bukan
gitu, ntar gue bisa ambil sendiri, jadi…"

"Lang,
loe nggax tau apa adek gue ini kan nggax suka penolakan, dia fikir kalau gitu
pasti orangnya nggax suka, jarang-jarang lho adek gue mau baik gini sama
temen-temen yang gue bawa, pasti elo orang yang sangat special, kan gue udah
bilang king…" puji Nino.

"Heeee,
ia lah. Bener tuh…" kata Niken sambil berusaha menyembunyi kan wajah
nggax sukanya.

"Emm
tapi gue…"

"Beneran
nggax mau ea?" tanya Niken sambil menyerahkan sepiring pisang goreng
kehadapan Gilang.

"Emm
ia deh, gue ambil satu ea, nih gue ambil.." kata Gilang sambil mengambil
satu pisang goreng di piring.

"Gue
kasi tau ea, pisang goreng buatan adek gue itu enak banget, pokoknya nggax ada
yang bisa nandingin deh… gue suka banget makan-makanan buatan adek gue
ini…" puji Nino.

"Ah
kak Nino ini terlalu memuji deh… Sebenernya Niken nggax segitu juga kok,
biasa aja…" kata Niken sambil menahan tawanya.

"hemm,
emmm ini gue makan yea…" kata Gilang sambil menggigit pisang gorengnya
dan mengunyahnya.

"satu… dua… ti… ga" hitung Niken
dalam hati.

"Uhuk…
uhuk…" Gilang langsung tersedak sambil mengipas-ngipas mulutnya.

"Eh
ada apa?" tanya Niken "Nih minum dulu deh…" lanjutnya sambil
memberikan segelas air minum jus orange ke arah Gilang, jus yang tadi udah di
beri MSG, Gilang menerimanya dan langsung meneguknya.

"Gimana?"
tanya Niken "udah agak mendingan?" tanyanya sambil menahan tawa,
sementara Gilang nggax bisa menjawab, ia hanya bisa memegang tenggorokannya
yang terasa sangat tidak bisa di bayangkan gimana rasanya.

"Emmm
kenapa? nggax enak ea?" tanya Niken.

"Emmm
nggax. bukan gitu, enak kok, enak banget malah… bener deh…" kata
Gilang setelah bisa ngomong sambil menatap sebel ke arah Niken yang tersenyum
penuh kemenangan.

"Emang
rasanya kenapa?" tanya Nino.

"Nggax
ada apa-apa kok, gue tadi cuma tersedak aja…"

"Awas
kalau loe macem-macem ea…" ancam Nino ke arah Niken, dan mengambil satu
pisang goreng di atas piring. lalu memakannya, Gilang menunggu reaksi Nino.

"Emmm,
gimana? ada yang salah sama pisang nya?" tanya Niken sambil menahan
senyum.

"Emmm
enggak, rasanya enak kok seperti biasanya…" jawab Nino, Niken langsung
tersenyum. Sementara Gilang jadi kaget.

"Tuh
kan… Niken nggax macem-macem kok, mana mungkin lah Niken sengaja ngerjain
temen terbaik kakak…" kata Niken sambil tersenyum.

"Iiih awas loe ea, loe pasti sengaja melakukan
ini ke gue…" kata Gilang dalam hati.

"E
makan lagi deh al, enak lho…" kata Nino karena pisang goreng masih ada
setengah di tangan Gilang.

"Emmm
heee… ia" balas Gilang sambil melirik pisang goreng ditangannya.

"Atau,…
nggax suka ea?" tanya Niken.

"Masa'
sih, padahal ini enak banget lho…" kata Nino sambil mengunyah pisang
yang ada tadi di makannya.

"Eh
e enggax kok, gue suka, nih gue makan ea…" kata Gilang sambil memakan
pisang goreng yang tadi tersisa, dengan sedikit menahan rasa masin yang amat
sangat.

"kalau
kakak mau minum nih minumannya…" tawar Niken sambil menyodorkan minuman
yang tadi di minum Gilang yang udah di beri MSG ke arah Gilang.

"ia,
ntar gue ambil sendiri…" kata Gilang sambil berusaha untuk tersenyum,
dan menahan rasa masin di tenggorokannya.

"he he he… kena loe… makanya jangan
macem-macem sama gue… tau sendirikan akibatnya… gue di lawan, nikeeen gitu
lho…" kata Niken dalam hati sambil tersenyum
dan meminum minumannya.

"iiiih awas loe ea, gue tau ini pasti kerjaan
nya elo, rasanya jadi aneh gini yang punya gue… pasti dia sengaja…
Brengsek… dasar cewek jadi-jadiaaan re-seeeee…."
maki Gilang dalam hati sambil menatap Niken sebel, sementara Niken pura-pura
tidak melihatnya, seneng banget lah bisa ngerjain and membalas perbuatan Gilang
kepadanya.

Cerpen Terbaru King Vs Queen

"Niken,
kok loe tega banget sih…" kata Nino begitu duduk di samping Niken yang
sedang asyik baca majalah di depan teras rumahnya.

"Tega?
emangnya apa yang udah Niken lakuin?" tanya Niken ke arah kakaknya, dengan
wajah tanpa dosa.

"Jangan
pura-pura bego gitu deh, wajah loe itu emang udah gitu… Jadi jangan di
tambah-tambah lagi, jadi makin jelek tau nggax…" kata Nino sambil
tersenyum dan duduk di samping adiknya.

"Kakak…Kok
ngomongnya gitu, orang cantik-cantik gini juga…" Niken jadi cemberut.

"He
he he bercanda… tapi, loe kan yang udah memasuk kan MSG ke dalam minumannya
Gilang kemaren?" tanya Nino.

"He?!
enggak kok…" kilah Niken.

"Jangan
pura-pura nggax tau deh, ayo ngaku, kalau bukan elo siapa lagi coba?"
tanya Nino.

"He
he he…"

"Jadi
bener?" Nino kaget, Niken mengangguk sambil cengengesan "tega banget sih,
kan kasihaaan…" lanjutnya.

"Biarin,…
Siapa suruh bikin Niken kesel, tanggung sendiri akibatnya, kenapa kakak bisa
tau, dia ngadu yea?" tanya Niken.

"Ya
nggax lah, mana mungkin dia mau bilang ke kakak, dia itu kan temen kakak yang
paling tertutup orangnya" kata Nino.

"Oh
yea…. kalau gitu,… kakak tau dari mana?" tanya Niken bingung.

"ya
tau lah, gara-gara itu dia nggax berhenti-berhentinya ke kamar mandi tau nggax.
dan nggax sengaja kakak membaca diarry nya yang kebetulan ada di kamarnya tadi
siang" cerita Nino.

"Cowok
nulis diary” Kening Niken terlihat sedikit berkerut. Tapi beberapa saat
kemudian “ Ha ha ha… Sukuriiiin, biar tau rasa tuh anak, macem-macem sih…. Belum
tau apa siapa Niken…" kata Niken dengan senengnya.

"Kok
loe tega gitu, kasihan tau,…. jangan bilang ini loe lakuin karena dia ngomong
cewek yang menabraknya itu cewek jadi-jadian itu…"

"Bukan
cuma itu aja kak"

"Trus
masalahnya apa?"

"Lho
katanya kakak lihat buku diarrynya, pasti tau donk, apa yang terjadi…"

"Sebenernya
kakak nggax lihat banyak, orang abis itu dia masuk ke kamarnya, tadinya kakak
lihat saat dia lagi di kamar mandi, yaaa dari pada ketahuan, kakak nggax lihat
lagi, tapi intinya kakak tetap tau ini semua pasti kerjaannya elo kan…"

"Wuaaah
ternyata kakak itu emang bukan temen yang baik juga yea…" kata Niken
sambil tersenyum-senyum menggoda kakaknya.

"Ah
loe apa-apa an sih, bukan gitu, itu kan cuma nggax sengaja, kakak itu
sebenernya temen yang sangat baik, tapi cuma… ya kadang-kadang suka jahil
dikit… he he he…"

"Oh
gitu…" Niken mengangguk-angguk.

"Jadi,
apa salahnya sampai-sampai elo ngerjain dia separah itu?" tanya Nino
sewot.

"Kakak
jangan marah-marah gitu donk, kalau kakak masih marah-marah gitu, Niken nggax
mau cerita…"

"Loe
berani ya…" kata Nino sambil menggelitiki Niken.

"Aaaa,
kakak… berhenti,…." kata Niken berusaha untuk menghindar, tapi Nino
tetap menggelitikinya "ia, ia, ia… Niken cerita…" katanya
akhirnya, Nino pun berhenti menggelitiki adiknya.

"Udah
ayo cerita…" kata Nino.

"Sebenernya
dia itu… cowok paling re-se yang pernah Niken kenal, dia nyebelin banget…
makanya Niken ngelakuin itu, biar dia nggax macem-macem lagi sama
Niken,…."

"Emangnya
apa yang udah dia lakuin sama loe, sampai-sampai elo membencinya seperti itu…"

"Sebenernya
Niken itu nggax membencinya kalau dia nggax mulai duluan, tapi gara-gara dia
Niken kena sial terus tau nggax"

"He?
kok bisa…"

"Ia,
pertama, gara-gara dia, Niken terlambat ke sekolah kemaren. kedua, gara-gara
dia, Niken jadi di hukum sama pak davit. ketiga, gara-gara dia juga, Niken jadi
harus menahan malu di hukum sama guru di depan anak-anak lainnya. dan terakhir,
dia udah membuat kakak membenci Niken tanpa kakak sadari…" cerita Niken
panjang lebar.

"Lho…
gimana ceritanya? bukannya kalian baru ketemu siang kemaren?" tanya Nino
bingung.

"Ya
nggax lah, Niken itu udah pernah ketemu sebelumnya, paginya Niken ketemu
dia…"

"Oh
yea?"

"Ia,
kakak tau nggax sih, si Gilang itu yang udah menabrak Niken duluan…"

"Pake
‘kakak’ Niken…" Nino memperingatkan.

"Kenapa
sih, nggax usah pake kakak-kakak an segala deh…"

"Dia
itu seumuran sama kakak, dan loe itu lebih muda dari pada dia, jadi loe harus
memanggilnya kakak…"

"Ia.
kak Gilang. puas?!" Niken jadi sebel "La wong dia dulu yang menabrak
Niken, udah gitu malah marah-marah, ngatain Niken jalan pake mata nggax pake
kaki, nyebelin, bikin kesel. re-se… Ah pokoknya dia yang salah deh, dan yang
lebih parahnya, dia udah membuat kakak membenci cewek yang katanya menabraknya
nggax tau apa kalau dia yang udah nabrak Niken…" Niken jadi sebel kalau
mengingat itu.

"Jadi…
cewek yang membuat Gilang luka itu… elo?!" tanya Nino kaget.

"Yeee
orang itu salahnya dia sendiri kok, mana ada salahnya Niken, dia yang nabrak
juga…"

"Pantesan
aja…"

"Kenapa?"

"Dia
sebel banget sama loe…"

"Lho,
seharusnya yang merasa sebel itu Niken donk, bukan nya dia…"

"Tapi
tetap saja, gara-gara itu dia terluka, udah gitu loe pake acara langsung pergi
lagi"

"Gimana
nggax, Niken itu udah terlambat banget, dan ini salahnya dia, seharusnya dia
minta maaf ke Niken… Tapi malah mengatai Niken yang nggax-nggax, bego lah,
cewek jadi-jadian lah, ini lah, itu lah… pokoknya bikin kesel deh…"

"Loe
harus minta maaf sama dia…"

"He?!
minta maaf? orang dia yang salah juga, masa Niken yang harus minta maaf,
ogah"

"Kalau
loe nggax minta maaf, loe bakal di musuhin sama fans nya Gilang"

"Fans?!"
Niken nggax percaya.

"Ia.
Kan kakak udah bilang dia itu idola campus, jadi banyak yang ngejar dia… Dan
pastinya karena dia luka banyak yang mengkhuatirkan dia, dan berniat mau
menuntut orang yang udah menabrak Gilang"

"What?!
menuntut? nggax salah nih, luka sedikit gitu aja juga, lebay banget, tapi
bukannya dia itu harusnya seneng ea, kan makin di perhatiin"

"Loe
jangan berfikiran gitu, ini tu malah membuat Gilang makin bermasalah tau
nggax"

"Maksudnya?"

"Ia,
dia itu kan nggax suka di perhatiin berlebihan seperti itu, biasanya aja dia
nggax bisa pergi dengan leluasa pasti adaaaa aja yang mendekatinya dan terus
mengikutinya, di tambah sekarang tau dia itu luka, pasti makin banyak yang
mendekatinya"

"Jadi…
Dia nggax suka juga di jadiin 'king' gitu?"

"Ya
iya lah, Gilang itu kan orangnya nggax mau orang yang berlebihan seperti itu,
dia merasa risih dan menganggap bakal ada yang ngetawain dia kalau tau dia di
panggil 'king' karena dia merasa dia itu nggax pantas, belum lagi
kemaren elo udah mengetawainya, pasti dia makin nggax mau deh… dia kan anti
banget…"

"Ha
ha ha…. jadi tuh orang juga nggax suka? Niken kira…"

"Apa?
pasti loe fikir dia itu orang yang egois
kan? kalau loe belum kenal pasti bakal bilang gitu, tapi kalau loe udah kenal
bakal mengetahui kalau dia itu baik banget… Jadi loe harus minta maaf sama
dia…"

"Nggax
mau…"

"Emangnya
loe mau di musuhin sama fans nya si Gilang?"

"Apa
urusannya, orang ini bukan salah Niken juga"

"Tapi…
Kalau mereka tau loe orangnya, pasti loe bakal di musuhin sama mereka…"

"Dan
Niken nggax perduli…" kata Niken sambil beranjak meninggalkan kakaknya
sendiri.

"Lho
ken, Niken… kakak belum selesai bicara,…."

"Kalau
mau membahas masalah tuh orang re-se lagi, percuma. Niken tetap nggax mau minta
maaf sama dia, karena ini salahnya dia. Titik" kata Niken tanpa menoleh
dan terus melangkah memasuki kamarnya. Nino hanya bisa geleng-geleng kepala
melihat tingkah adiknya.

Next
Part >>>>

Random Posts

  • Cerpen Keluarga | Dari Ibu Dengan Cinta

    Dari Ibu, Dengan CintaOleh, Dea AspasiaHalo All Reader. Padahal baru semalam posting, eh hari ini posting lagi. Tapi Kali ini lagi – lagi cerpen kiriman dari Reader star Night. Ini cerpen kedua nya dia lho setelah sebelumnya pernah ngirim juga yang judulnya ‘Cerita SMA’. Oh ya, Waktu baca cerpen ini, Star Night jadi keinget sama mama. Beneran bikin terharu deh sama ceritanya. Buat Dea, Makasih ya. Terus kalau seandainya ada dari reader yang pengen cerpennya nangkrin di star night juga bisa ikutan ngirim kok. Entar pasti di pulis dengan catatan cerpen itu beneran milik pribadi dan belum pernah di post di blog manapun. Karena ini blog Star Night, Yang di pake juga gaya ala star night donk. Bahwa cerpen yang sudah di post disini nggak boleh lagi di post di blog mana pun. Seperti beberapa cerpen yang juga star night kirim ke blog lain tapi nggak star night post di blog ini. Diantaranya Cerpen cinta dadakan yang star night post di ‘Ilmuini’, Cerpen jatuh yang star night post di ‘serba – serbi’ serta cerpen she is my beiby? OMG!!! yang star night post di blog Remajaxsis. Kalau kalian memang tertarik untuk membaca silahkan kalian baca di blog masing – masing. Oke…!.Banyakan bacod kayaknya, ya sudah mending langsung ke cerita.Penulis : Dea AspasiaFan Page : cerpencerpenTeeNageMinta, itulah nama seorang anak gadis remaja yang ingin meneruskan pendidikan kuliahnya. Tapi, lantaran karena papanya menginginkan Minta untuk berlibur bersama mereka terlebih dahulu, maka Minta menunda sekolahnya. sebagian

  • Cerpen romantis “Buruan katakan cinta” ~ 5 {Update}

    Cerpen Romantis buruan katakan cinta part 5. Untuk cerita sebelumnya silahkan di cek di cerpan cinta terbaru Buruan katakan cinta part 4.Credit Gambar : Ana MeryaAni menjatuhkan tubuhnya di kasur saat malam telah tiba, ia menatap langit-langit kamarnya, sambil memikir kan kejadian tadi saat di campus, sepertinya ia terlalu kasar terhadap kevin."apa gue terlalu kasar ya… kasihan juga kevin, dia kan nggax tau apa-apa… tapi sikap nya bener-bener menyebalkan, dia selalu aja nyalahin vano, apa dia nggax tau kalau vano itu cowok yang baik" kata ani sendiri medadak merasa galau.sebagian

  • Cerpen romantis Buruan Katakan Cinta ~03 {Update}

    Untuk Cerita sebelumnya bisa di cek di cerpen romantis buruan katakan cinta part 2. Oke?…Happy reading…Credit gambar : Ana MeryaAni menangis seorang diri di taman belakang sambil menenang kan dirinya, hinaan dan cacian temen-temnnya bener-bener membuatnya tidak bisa berfikir dengan jerih, kadang-kadang ia sempat berfikir kalau kevin itu tidak mencintainya, tapi pemikiran itu di bantah mentah-mentah oleh hatinya, hatinya masih sangat percaya bahwa kevin itu menyukainya kalau tidak kenapa kevin tidak memutuskannya hingga saat ini, kalau seandainya kevin udah mempunyai seseorang yang di sukai pasti kevin akan memberi taunya.sebagian

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 02″

    All, udah baca cerpen pupus belom?. Kalau belom baca dulu gih di cerita pendek "Pupus" . Bukan apa cuma sebagai pengingat aja, Vionica disini adalah orang yang sama. So, buat yang penasaran gimana kelanjutan dari cerpen Take My heart bagian kedua ini, bisa langsung baca ke bawah. Sama satu lagi dink, kali aja ada yang belum baca, part satunya ada disini. Happy reading….Cerpen take my heart"Hufh…"Untuk kesekian kalinya Vio menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Menatap gedung yang menjulang di hadapannya dengan tatapan gamang. Merasa dirinya benar – benar pengecut. Demi menjauhi dan menghilangkan rasa pada Harry, ia nekat pindah kampus. Konyol!Tapi memangnya siapa yang bisa mendustai hati? Berpura – pura tegar atau sok tertawa padahal hati terluka? Dia tidak sekuat itu! Menurutnya menghindar bukan hal yang buruk untuk di lakukan. Setelah memantapkan hati ia segera melangkah masuk halaman kampus. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya ia sampai di ruangan dosen. Ya biasalah, harus menjalani prosedur sebagai formalitas mahasiswi baru. Begitu selesai ia segera melangkah keluar. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Ternyata semuanya tidak sesulit yang ia bayangkan. Mulai besok ia sudah bisa melakukan kegiatan belajar mengajar di fakultas itu.Begitu keluar Ruangan dosen, langkah Vio terhenti. Matanya terpaku pada keempat mahasiswa yang tak jauh darinya yang kini juga sedang menatapnya. Ayolah, memangnya penampilannya aneh ya? Atau terdapat jerawat di wajahnya? Kenapa mereka sampai menatapnya seintens itu?"Ehem." sedikit berdehem, Vio segera melangkah melewati mereka. Makin salting saat tau pria yang tidak ia ketahui namanya masih terus menatapnya tanpa berkedip. Astaga, keluhnya dalam hati."Hai..""He?" kening Vio berkerut, sama sekali tidak menyangka akan di sapa mereka."Kali ini loe benar – benar beruntung Van. Tapi kita liat aja ntar, apa keberuntungan itu akan terus berpihak sama loe."Walau lirih, samar Vio masih mampu menangkap suara bisikan oleh seseorang yang tidak ia ketahui namanya pada seseorang lagi yang juga masih tidak ia ketahui namanya."Boleh kenalan nggak? Gue Ivan," kata cowok yang katanya bernama Ivan itu sambil menyodorkan tangannya. Vio hanya melirik sekilas. Mendadak merasa takut. Ayolah, secara di tv – tv kan banyak tuh kabar heboh soal berandalan di kampus."Kalau Gue Renold.""Gue Andra.""Aldy."Vio hanya mengedipkan mata bingung. Sementara Ivan melirik kesel kearah teman – temannya. Uluran tangannya aja belum di sambut kenapa mereka ikut – ikutan. Lagi pula, yang mau taruhan siapa si? Gerutnya sebel."Loe mahasiswi baru ya?" tanya Ivan lagi sambil menarik kembali uluran tangannya karena vio hanya menatap tanpa terlihat tanda tanda akan menyambutnya."O.. Jadi loe mahasiswa lama?" balas Vio lirih."Bhuahaummm… .." Andre cepat – cepat menoleh kearah lain. Mencoba menahan diri untuk tidak langsung ngakak di tempat. Mahasiswa lama? Kenapa kedengarannya janggal sekali ya?"Ehem.." Ivan sedikit berdehem. Mendadak mati gaya. "Oh ya, Loe belom nyebutin nama loe," Ivan mengingatkan."Dan gue sama sekali tidak tertarik untuk menyebutkannya. Maaf, kalau gitu gue permisi dulu," balas Vio ringan sebelum kemudian berbalik pergi tanpa menoleh lagi.Untuk sejenak Ivan bengong. Seumur hidupnya ini untuk pertama kali ia di cuekin. Seumur – umur baru kali ini ada orang yang menolak untuk di ajak kenalan dengannya. Dan begitu menoleh."Kenapa kalian mandangin gue kayak gitu?" tanya Ivan heran saat mendapati tatapan aneh ketiga temannya."Gue mendadak ragu kalau loe beneran playboy," Kata Renold."Dan gue nggak yakin kalau loe bisa naklukin dia," tambah Aldy."Kali ini gue optimis kita bakal menang dan loe pasti kalah," Andre menimpali."Eits, tunggu dulu. Ini terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Kita liat saja nanti. Yang jelas belum ada sejarahnya seorang Ivan kalah taruhan," tandas Ivan penuh penekanan. Kali ini ketiga temannya hanya angkat bahu.Cerpen Remaja Terbaru " Take My Heart ~ 02""Dasar Ivan Brengsek."Langkah Vio mendadak terhenti mendengar teriakan yang baru saja hinggap di telinganya. Ivan? Kenapa nama itu seperti tidak asing ya. Tidak bermaksud menguping hanya saja merasa mendadak penasaran Vio menoleh. Berjalan kearah asal suara. Mengintip dari balik tembok yang menghadap ke pekarangan kampus dimana tampak tiga orang cewek yang tidak ia ketahui siapa sedang duduk disana."Sudahlah Laura. Lupakan saja makhluk tak bertanggung jawab itu."Cewek yang di panggil Laura menoleh. Sekilas Vio melihat raut sembab di wajahnya."Lupakan? Tidak akan semudah itu!""Terus loe mau ngapain?""Gue nggak akan membiarkan diri gue di permainkan seperti ini. Kalian bayangin. Gue, Idola di kampus kita di jadikan bahan taruhan oleh si playboy brengsek itu. Dipermalukan didepan semua anak – anak. Loe pikir gue akan diam aja? Nggak! Gue akan pastikan dia terima akibatnya," dendam Laura."Maksut loe?"Dan kalimat yang meluncur dari mulut gadis yang di pangil Laura selanjutnya benar – benar membuat Vio terlonjak kaget. Mendadak menyesal telah mencuri dengar pembicaraan yang bukan menjadi urusannya. Dengan hati – hati takut kehadirannya di ketahui oleh ketiga makhluk itu, selangkah demi selangkah Vio bergerak mundur.Begitu kelas berakhir, dengan angkuhnya Ivan melangkah keluar kelas diikuti ketiga sahabat karibnya. Tatapan dan decakan kagum serta tatapan penuh minat dari lawan jenis masih saja ia temui mengikuti jejak kakinya melangkah. Walau imagenya benar – benar buruk. Terkenal sebagai playboy kelas kakap namun tetap saja fansnya bejibun. Tak heran si, dengan ketampanan serta kekayaan diatas rata – rata yang di miliknya sepertinya sudah lebih dari cukup untuk menutupi sejuta kekurangannya.Sampai di pelataran parkir Ivan segera mengenakan helm di kepalanya. Tak lupa bertos ria bersama sahabatnya sebelum kemudian melesat pergi mengendarai motor kesayangannya. Melaju pulang kerumah.Tepat di tikungan yang kebetulan sepi, secara mendadak Ivan mengerem motornya. Tepat di hadapan tampak beberapa orang bertampang sangar yang sepertinya sengaja menghadangnya. Tanpa sempat memikirkan bahaya yang mengancam jiwanya Ivan sudah terlebih dahulu menyadari sebuah pukulan yang mendarat di kepalanya. Membuatnya jatuh terlempar sementara motornya juga langsung ambruk ditengah jalan."Mau apa kalian."Sebuah pukulan kembali mendarat secara bertubi – tubi kearah tubuh Ivan sebagai jawaban. Walau sebenarnya Ivan juga sedikit jago bela diri. Namun saat di haruskan berhadapan langsung dengan serangan mendadak dari lawan yang tidak sedikit jelas mampu membuat Ivan tak berdaya.Disaat yang benar – benar kritis itulah Ivan mendengar tepuk tangan disusul suara tawa seorang wanita yang berjalan kearahnya."Wow, kasian sekali loe."Para preman itu serentak berhenti melakukan aktifitasnya memukuli Ivan dan menoleh kesumber suara. Walau setengah sadar Ivan masih mampu mengenali sosok itu. Dia kan…. Gadis sepuluh jutanya? Apa yang di lakukan dia disini?."Hei, siapa Kau. Apa yang Kau lakukan disini?" tanya salah satu Preman itu terdengar sangar yang membuat Vio, sosok gadis yang baru muncul itu sedikit bergidik ngeri. Mendadak merasa ragu dengan apa yang telah ia rencanakan."Ehem," ditariknya napas dalam – dalam sebelum mulutnya menjawab. "Bukan siapa – siapa kok pak. Cuma orang yang kebetulan lewat disini terus melihat orang yang lagi berantem. Kayaknya seru nih buat dijadiin tontonan."Bukan hanya para preman itu yang heran, tapi mata Ivan juga melotot kaget. Sama sekali tak percaya saat menatap wajah polos dan santai Vio. Apa gadis itu sudah gila, pikirnya."Udah pak, silahkan di lanjutkan. Anggap aja saya nggak ada. Lagian saya disini cuma sebentar kok. Cuma nungguin orang, palingan juga bentar lagi dia datang," tambah Vio lagi."Menunggu seseorang?" tanya salah satu preman itu."Iya pak. Saya lagi nungguin Pak Polisi. Tadi si sudah saya telpon. Saya bilang disini ada orang yang lagi di pukulin preman. Terus Pak Polisinya bilang mau langsung kesini," terang Vio tang kontan membuat para preman itu terlonjak kaget."Yah paling juga bentar lagi nyampe," tambah Vio sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. "Em mungkin sekitar satu atau dua menit lagi lah paling lama. Soalnya…"Sepertinya para preman itu sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui kalimat lanjutan yang akan keluar dari mulut Vio. Terbukti dengan cepatnya mereka berlari tunggang langgang menuju kearah motor mereka yang memang di parkir tak jauh dari tempat kejadian. Sambil mengumpat tak jelas mereka segera berlalu meninggalkan Vio dan Ivan sendirian.Setelah mengetahui tiada lagi bayangan para preman itu barulah Vio bisa menghembuskan nafas lega. Tangannya sudah terasa panas dingin. Ia benar – benar tidak mempercayai kalau ia bisa beracting semeyakinkan ini."Mau apa loe?"Refleks Vio menoleh. Baru menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian. Dengan segera di hampirinya tubuh Ivan yang masih tergeletak di jalan. Berlahan di bantunya untuk bangkit berdiri dan duduk di pinggiran."Loe kenapa bisa ada di sini? Dan apa yang sudah loe lakuin?" tanya Ivan lagi.Sejenak Vio terdiam. Mulutnya sedikit maju kedepan tanda cemberut. Lagipula sudah di bantuin juga bukannya bilang terima kasih malah ngebawel."Masih nanya lagi, jelas – jelas gue disini bantuin loe. Bilang ma kasih dulu kek," balas Vio sewot."Bantuin gue?" kening Ivan berkerut bingung."Terus loe pikir tu para preman kabur tunggang langang karena keinginan suka rela?""Mereka kabur karena mereka takut sama polisi," balas Ivan sewot."Polisi mana memangnya yang mau nyasar kesini. La wong jelas – jelas sepi gini juga?" tanya Vio."Tunggu dulu, bukannya loe bilang loe sudah nelpon polisi untuk datang kesini ya?" tanya Ivan lagi. Kali ini raut bingung jelas tergambar di wajahnya.Bukannya langsung menjawab Vio justru malah tertawa lepas. Tanpa beban. Dan sungguh, sumpah demi apapun. Ini untuk pertama kalinya Ivan melihat tawa yang seindah itu. Sebuah tawa yang mampu membuat rasa sakit yang beberapa saat lalu menguasai hatinya mendadak menguap begitu saja. Ya Tuhan, ini benar – benar tidak masuk di akal baginya."Ke..ke… Kenapa loe menatap gue seperti itu?" tanya Vio mendadak horror saat mendapati raut perubahan di wajah Ivan yang seolah baru tersadar dari lamunannya segera mengalihkan tatapannya."Ehem, Terus polisinya mana?" tanya Ivan mengalihkan perhatian."Ha ha ha….. Sebenernya loe itu memang bego atau stupid si? Mau aja di kibulin kaya tu preman. Ya ela, emang gue bisa punya nomor telpon polisi dari mana?"."Maksutnya?" Ivan kembali bingung."Tentu saja yang tadi itu bo'ong. Nggak ada polisi yang akan kesini. Tadi itu cuma akal – akalan gue buat ngusir tu perman. Nggak nyangka tu orang – orang pada gampang banget di kibulin," terang Vio lagi.Untuk sejenak Ivan terdiam. Mencoba mencerna kembali apa yang telah terjadi. Tunggu dulu, jadi…."Jadi loe nekat boongin para preman itu tadi?" tanya Ivan langsung. Vio hanya membalas dengan anggukan."Terus kalau sampai preman itu tadi tidak percaya bagaimana?"Vio terdiam. Mendadak cemas sekaligus kaget. Benar juga, kalau sampai preman itu tadi tidak percaya bagaimana? Ah, kenapa tadi ia sampai lupa memikirkan resiko itu ya?."Inget, jangan pernah sekalipun loe mengulangi hal seperti ini nona manis. Tindakan ini benar – benar berbahaya loe tau," tandas Ivan penuh penekanan.Lagi – lagi Vio terdiam mendengarnya. Tapi beberapa detik kemudian."Nona manis? Siapa yang loe maksut nona manis. Enak aja, gue punya nama. Nama gue Vio tau," geram Vio sewot.Melihat raut cemberut Vio dengan mulut yang sedikit maju kedepan tak mampu membuat Ivan menahan senyumnya. Raut wajah gadis itu kali ini benar – benar terlihat imut menurutnya. Hal yang aneh untuk diakui."O, Jadi nama loe vio. Tapi Kalau gue nggak salah inget, Bukannya tadi siang ada yang bilang untuk tidak tertarik mengucapakan namanya ya?"Pertanyaan yang jelas – jelas menyindir itu kontan membuat Vio mengangkat tangannya secara refleks dan mendaratkannya di kepala Ivan. Bukannya marah karena di jitak secara mendadak, Ivan justru malah tertawa ngakak."Baiklah, karena sepertinya loe udah bisa ketawa , gue udah bisa pergi sekarang. Bye bye," Vio bangkit berdiri, bersiap untuk berlalu tapi cekalan di tangan menghentikan langkahnya."Tunggu dulu. Loe belom menjelaskan kenapa loe bisa berada disini pada saat dan waktu yang tepat?""Oh, itu karena gue sepertinya sedang sial. Kenapa juga gue harus ketemu sama orang yang berniat untuk bales dendam pada seorang playboy kelas kakap seperti loe yang emang pantesnya itu di buang kelaut," balas Vio cuek."Playboy? Balas dendam? Dibuang kelaut?" ulang Ivan mendadak pusing."Iya! Puas loe?" balas Vio. "Ah satu lagi, Keliatannya loe juga cuma lebam – lebam doank. Dan berhubung loe nggak pake rok alias cowok, so gue nggak perlu nganterin juga kali ya? Loe bisa pulang sendirikan? Oke, bye bye."Selesai berkata Vio segera belalu. Menyetop taxsi yang kebetulan lewat. Segera berlalu meninggalkan Ivan yang masih membisu di tempatnya.Next to Cerpen Take My Heart Part 03Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*