Cerpen King Vs Queen ~ 02

Cerpen Terbaru

'KING v.s. QUEEN'

Part 2

Cerpen
Terbaru King Vs Queen part 2. Cekidot.

"Iiih
sungguh menyebalkan…" kata Niken begitu ia tiba di kamarnya
"bener-bener re-se tuh cowok, awas aja… dia belum tau siapa gue… mana
kak Nino nyebelin banget lagi, pasti gara-gara dia berteman sama cowok nggax
jadi-jadi itu, makanya nular nyebelinnya" lanjutnya.

Credit Gambar : Star Night

"Mana
ternyata dia temen kak Nino lagi, udah gitu pake acara ngejelek-jelekin gue . Gitu
kok di bilang 'king'. King dari mananya coba?" tanyanya sambil
geleng-geleng kepala sendiri.

"Lagian
kak Nino nih ada-ada aja, masa' bilang gue di juluki 'Queen' sama temen-temen
di depan si Gilang sih, pasti dia bakal ngetawain gue… Mana bisa cewek
seperti gue jadi ratu. Dan gue juga nggax mengharapkannya kok… Iiiih
bener-bener sungguh menyebalkan…"

Terdengar
suara obrolan dan sesekali di selingi tawa di ruang tengah, itu pasti suaranya
Gilang dan kakaknya yang membuat Niken jadi makin sebel karena dia nggax bisa
tidur dengan tenang. Niken menutup telinga nya dengan bantal, tapi masih
terdengar juga suara-suara di ruang tengah.

"Memang
bener-bener deh, gue jadi nggax bisa tidur nih. Gimana gue bisa tidur kalau
suaranya berisik gitu. Awas aja yea tuh orang, gue bakal membalasnya, gara-gara
elo udah ngejelek-jelekin gue di depan mama and kakak gue…" geram Niken
dan beranjak menuju dapur.

Niken
membuat air minum tiga gelas, dan meletakkannya di nampan dengan sepiring
pisang goreng yang baru di goreng mamanya. Diam-diam tanpa sepengetahuan mama,
Niken sengaja memasuk kan garam dua sendok di satu pisang lalu menggorengnya.

Setelah
meletakkan pisang goreng yang pasti sangat asin itu di piring, Niken membawanya
ke meja. dengan hati-hati memasuk kan MSG di gelas minuman yang akan di
bawanya, Niken meletak kannya dua sendok penuh.

"Heh, mampus loe. Makanya jangan suka cari gara
– gara sama gue” kata Niken dalam hati sambil
tersenyum.

"lho
Nik, kok masih di sini, di tunggu sama tamunya tuh, masa nggax di kasi
apa-apa…" kata mamanya.

"Eh
e ia maaa…" balas Niken dan melangkah menuju keruang tamu. Dengan santai
Niken duduk di samping Gilang, sambil meletakkan nampan di atas meja.

"emmm,
Lang…."

"Lang?!"
Nino kaget "Dia ini kan lebih tua dari loe, seharusnya loe memanggilnya
kakak donk. Nggax sopan begitu…" lanjutnya memperingatkan adiknya.

"Kakak?!"
Niken nggax percaya "Yaaa baiklah… kak Gilang… Niken minta maaf yea
soal tadi." kata Niken ke arah Gilang.

"he?!"
Gilang dan Nino bingung melihat ulah Niken.

"Niken
minta maaf soal tadi, pasti kak Gilang berfikir Niken itu udah nggax sopan
banget, Niken tau kita baru kenal hari ini, tapi udah membuat kak Gilang jadi
seperti tadi, Niken jadi merasa bersalah…" kata Niken.

"Tuh
kan lang, gue bilang juga apa, adik gue ini, Meski kadang-kadang aneh and
nyebelin tapi dia itu sebenernya baik hati dan sangat pengertian…" kata
Nino ke arah Gilang.

"Kak
Gilang maafin Niken kan?" tanya Niken.

"wuaaah prasaan gue nggax enak nih…" kata Gilang dalam hati sambil menatap Niken
nggax percaya.

"Kak…"
kata Niken sambil tersenyum.

"Eh
e… ia gue maaf in elo kok, lagian kan kita baru ketemu and kenal sekarang,
jadi gue juga belum tau loe itu orangnya seperti apa, gue juga minta maaf kalau
gue udah salah sama loe" balas Gilang sambil berusaha untuk tersenyum.

"Nyadar pun loe…" kata
Niken dalam hati "Hemmm, dan sebagai tanda minta maaf Niken sama kakak,
Niken udah membuatkan pisang goreng yang special buat kakak nih…"
lanjutnya sambil mengambil piring berisi pisang goreng di atas meja.

"HE?!"
Gilang bingung.

"Nih
kakak ambil dulu, cobain gimana rasanya. Niken nggax tau deh kakak mau
makan-makanan buatan Niken atau nggax…" kata Niken dengan wajah sedih.

"Eh
emmm, gue mau kok, Biar di situ aja, ntar gue ambil sendiri"

"Nggax
mau ea…" Niken tampak cemberut.

"Bukan
gitu, ntar gue bisa ambil sendiri, jadi…"

"Lang,
loe nggax tau apa adek gue ini kan nggax suka penolakan, dia fikir kalau gitu
pasti orangnya nggax suka, jarang-jarang lho adek gue mau baik gini sama
temen-temen yang gue bawa, pasti elo orang yang sangat special, kan gue udah
bilang king…" puji Nino.

"Heeee,
ia lah. Bener tuh…" kata Niken sambil berusaha menyembunyi kan wajah
nggax sukanya.

"Emm
tapi gue…"

"Beneran
nggax mau ea?" tanya Niken sambil menyerahkan sepiring pisang goreng
kehadapan Gilang.

"Emm
ia deh, gue ambil satu ea, nih gue ambil.." kata Gilang sambil mengambil
satu pisang goreng di piring.

"Gue
kasi tau ea, pisang goreng buatan adek gue itu enak banget, pokoknya nggax ada
yang bisa nandingin deh… gue suka banget makan-makanan buatan adek gue
ini…" puji Nino.

"Ah
kak Nino ini terlalu memuji deh… Sebenernya Niken nggax segitu juga kok,
biasa aja…" kata Niken sambil menahan tawanya.

"hemm,
emmm ini gue makan yea…" kata Gilang sambil menggigit pisang gorengnya
dan mengunyahnya.

"satu… dua… ti… ga" hitung Niken
dalam hati.

"Uhuk…
uhuk…" Gilang langsung tersedak sambil mengipas-ngipas mulutnya.

"Eh
ada apa?" tanya Niken "Nih minum dulu deh…" lanjutnya sambil
memberikan segelas air minum jus orange ke arah Gilang, jus yang tadi udah di
beri MSG, Gilang menerimanya dan langsung meneguknya.

"Gimana?"
tanya Niken "udah agak mendingan?" tanyanya sambil menahan tawa,
sementara Gilang nggax bisa menjawab, ia hanya bisa memegang tenggorokannya
yang terasa sangat tidak bisa di bayangkan gimana rasanya.

"Emmm
kenapa? nggax enak ea?" tanya Niken.

"Emmm
nggax. bukan gitu, enak kok, enak banget malah… bener deh…" kata
Gilang setelah bisa ngomong sambil menatap sebel ke arah Niken yang tersenyum
penuh kemenangan.

"Emang
rasanya kenapa?" tanya Nino.

"Nggax
ada apa-apa kok, gue tadi cuma tersedak aja…"

"Awas
kalau loe macem-macem ea…" ancam Nino ke arah Niken, dan mengambil satu
pisang goreng di atas piring. lalu memakannya, Gilang menunggu reaksi Nino.

"Emmm,
gimana? ada yang salah sama pisang nya?" tanya Niken sambil menahan
senyum.

"Emmm
enggak, rasanya enak kok seperti biasanya…" jawab Nino, Niken langsung
tersenyum. Sementara Gilang jadi kaget.

"Tuh
kan… Niken nggax macem-macem kok, mana mungkin lah Niken sengaja ngerjain
temen terbaik kakak…" kata Niken sambil tersenyum.

"Iiih awas loe ea, loe pasti sengaja melakukan
ini ke gue…" kata Gilang dalam hati.

"E
makan lagi deh al, enak lho…" kata Nino karena pisang goreng masih ada
setengah di tangan Gilang.

"Emmm
heee… ia" balas Gilang sambil melirik pisang goreng ditangannya.

"Atau,…
nggax suka ea?" tanya Niken.

"Masa'
sih, padahal ini enak banget lho…" kata Nino sambil mengunyah pisang
yang ada tadi di makannya.

"Eh
e enggax kok, gue suka, nih gue makan ea…" kata Gilang sambil memakan
pisang goreng yang tadi tersisa, dengan sedikit menahan rasa masin yang amat
sangat.

"kalau
kakak mau minum nih minumannya…" tawar Niken sambil menyodorkan minuman
yang tadi di minum Gilang yang udah di beri MSG ke arah Gilang.

"ia,
ntar gue ambil sendiri…" kata Gilang sambil berusaha untuk tersenyum,
dan menahan rasa masin di tenggorokannya.

"he he he… kena loe… makanya jangan
macem-macem sama gue… tau sendirikan akibatnya… gue di lawan, nikeeen gitu
lho…" kata Niken dalam hati sambil tersenyum
dan meminum minumannya.

"iiiih awas loe ea, gue tau ini pasti kerjaan
nya elo, rasanya jadi aneh gini yang punya gue… pasti dia sengaja…
Brengsek… dasar cewek jadi-jadiaaan re-seeeee…."
maki Gilang dalam hati sambil menatap Niken sebel, sementara Niken pura-pura
tidak melihatnya, seneng banget lah bisa ngerjain and membalas perbuatan Gilang
kepadanya.

Cerpen Terbaru King Vs Queen

"Niken,
kok loe tega banget sih…" kata Nino begitu duduk di samping Niken yang
sedang asyik baca majalah di depan teras rumahnya.

"Tega?
emangnya apa yang udah Niken lakuin?" tanya Niken ke arah kakaknya, dengan
wajah tanpa dosa.

"Jangan
pura-pura bego gitu deh, wajah loe itu emang udah gitu… Jadi jangan di
tambah-tambah lagi, jadi makin jelek tau nggax…" kata Nino sambil
tersenyum dan duduk di samping adiknya.

"Kakak…Kok
ngomongnya gitu, orang cantik-cantik gini juga…" Niken jadi cemberut.

"He
he he bercanda… tapi, loe kan yang udah memasuk kan MSG ke dalam minumannya
Gilang kemaren?" tanya Nino.

"He?!
enggak kok…" kilah Niken.

"Jangan
pura-pura nggax tau deh, ayo ngaku, kalau bukan elo siapa lagi coba?"
tanya Nino.

"He
he he…"

"Jadi
bener?" Nino kaget, Niken mengangguk sambil cengengesan "tega banget sih,
kan kasihaaan…" lanjutnya.

"Biarin,…
Siapa suruh bikin Niken kesel, tanggung sendiri akibatnya, kenapa kakak bisa
tau, dia ngadu yea?" tanya Niken.

"Ya
nggax lah, mana mungkin dia mau bilang ke kakak, dia itu kan temen kakak yang
paling tertutup orangnya" kata Nino.

"Oh
yea…. kalau gitu,… kakak tau dari mana?" tanya Niken bingung.

"ya
tau lah, gara-gara itu dia nggax berhenti-berhentinya ke kamar mandi tau nggax.
dan nggax sengaja kakak membaca diarry nya yang kebetulan ada di kamarnya tadi
siang" cerita Nino.

"Cowok
nulis diary” Kening Niken terlihat sedikit berkerut. Tapi beberapa saat
kemudian “ Ha ha ha… Sukuriiiin, biar tau rasa tuh anak, macem-macem sih…. Belum
tau apa siapa Niken…" kata Niken dengan senengnya.

"Kok
loe tega gitu, kasihan tau,…. jangan bilang ini loe lakuin karena dia ngomong
cewek yang menabraknya itu cewek jadi-jadian itu…"

"Bukan
cuma itu aja kak"

"Trus
masalahnya apa?"

"Lho
katanya kakak lihat buku diarrynya, pasti tau donk, apa yang terjadi…"

"Sebenernya
kakak nggax lihat banyak, orang abis itu dia masuk ke kamarnya, tadinya kakak
lihat saat dia lagi di kamar mandi, yaaa dari pada ketahuan, kakak nggax lihat
lagi, tapi intinya kakak tetap tau ini semua pasti kerjaannya elo kan…"

"Wuaaah
ternyata kakak itu emang bukan temen yang baik juga yea…" kata Niken
sambil tersenyum-senyum menggoda kakaknya.

"Ah
loe apa-apa an sih, bukan gitu, itu kan cuma nggax sengaja, kakak itu
sebenernya temen yang sangat baik, tapi cuma… ya kadang-kadang suka jahil
dikit… he he he…"

"Oh
gitu…" Niken mengangguk-angguk.

"Jadi,
apa salahnya sampai-sampai elo ngerjain dia separah itu?" tanya Nino
sewot.

"Kakak
jangan marah-marah gitu donk, kalau kakak masih marah-marah gitu, Niken nggax
mau cerita…"

"Loe
berani ya…" kata Nino sambil menggelitiki Niken.

"Aaaa,
kakak… berhenti,…." kata Niken berusaha untuk menghindar, tapi Nino
tetap menggelitikinya "ia, ia, ia… Niken cerita…" katanya
akhirnya, Nino pun berhenti menggelitiki adiknya.

"Udah
ayo cerita…" kata Nino.

"Sebenernya
dia itu… cowok paling re-se yang pernah Niken kenal, dia nyebelin banget…
makanya Niken ngelakuin itu, biar dia nggax macem-macem lagi sama
Niken,…."

"Emangnya
apa yang udah dia lakuin sama loe, sampai-sampai elo membencinya seperti itu…"

"Sebenernya
Niken itu nggax membencinya kalau dia nggax mulai duluan, tapi gara-gara dia
Niken kena sial terus tau nggax"

"He?
kok bisa…"

"Ia,
pertama, gara-gara dia, Niken terlambat ke sekolah kemaren. kedua, gara-gara
dia, Niken jadi di hukum sama pak davit. ketiga, gara-gara dia juga, Niken jadi
harus menahan malu di hukum sama guru di depan anak-anak lainnya. dan terakhir,
dia udah membuat kakak membenci Niken tanpa kakak sadari…" cerita Niken
panjang lebar.

"Lho…
gimana ceritanya? bukannya kalian baru ketemu siang kemaren?" tanya Nino
bingung.

"Ya
nggax lah, Niken itu udah pernah ketemu sebelumnya, paginya Niken ketemu
dia…"

"Oh
yea?"

"Ia,
kakak tau nggax sih, si Gilang itu yang udah menabrak Niken duluan…"

"Pake
‘kakak’ Niken…" Nino memperingatkan.

"Kenapa
sih, nggax usah pake kakak-kakak an segala deh…"

"Dia
itu seumuran sama kakak, dan loe itu lebih muda dari pada dia, jadi loe harus
memanggilnya kakak…"

"Ia.
kak Gilang. puas?!" Niken jadi sebel "La wong dia dulu yang menabrak
Niken, udah gitu malah marah-marah, ngatain Niken jalan pake mata nggax pake
kaki, nyebelin, bikin kesel. re-se… Ah pokoknya dia yang salah deh, dan yang
lebih parahnya, dia udah membuat kakak membenci cewek yang katanya menabraknya
nggax tau apa kalau dia yang udah nabrak Niken…" Niken jadi sebel kalau
mengingat itu.

"Jadi…
cewek yang membuat Gilang luka itu… elo?!" tanya Nino kaget.

"Yeee
orang itu salahnya dia sendiri kok, mana ada salahnya Niken, dia yang nabrak
juga…"

"Pantesan
aja…"

"Kenapa?"

"Dia
sebel banget sama loe…"

"Lho,
seharusnya yang merasa sebel itu Niken donk, bukan nya dia…"

"Tapi
tetap saja, gara-gara itu dia terluka, udah gitu loe pake acara langsung pergi
lagi"

"Gimana
nggax, Niken itu udah terlambat banget, dan ini salahnya dia, seharusnya dia
minta maaf ke Niken… Tapi malah mengatai Niken yang nggax-nggax, bego lah,
cewek jadi-jadian lah, ini lah, itu lah… pokoknya bikin kesel deh…"

"Loe
harus minta maaf sama dia…"

"He?!
minta maaf? orang dia yang salah juga, masa Niken yang harus minta maaf,
ogah"

"Kalau
loe nggax minta maaf, loe bakal di musuhin sama fans nya Gilang"

"Fans?!"
Niken nggax percaya.

"Ia.
Kan kakak udah bilang dia itu idola campus, jadi banyak yang ngejar dia… Dan
pastinya karena dia luka banyak yang mengkhuatirkan dia, dan berniat mau
menuntut orang yang udah menabrak Gilang"

"What?!
menuntut? nggax salah nih, luka sedikit gitu aja juga, lebay banget, tapi
bukannya dia itu harusnya seneng ea, kan makin di perhatiin"

"Loe
jangan berfikiran gitu, ini tu malah membuat Gilang makin bermasalah tau
nggax"

"Maksudnya?"

"Ia,
dia itu kan nggax suka di perhatiin berlebihan seperti itu, biasanya aja dia
nggax bisa pergi dengan leluasa pasti adaaaa aja yang mendekatinya dan terus
mengikutinya, di tambah sekarang tau dia itu luka, pasti makin banyak yang
mendekatinya"

"Jadi…
Dia nggax suka juga di jadiin 'king' gitu?"

"Ya
iya lah, Gilang itu kan orangnya nggax mau orang yang berlebihan seperti itu,
dia merasa risih dan menganggap bakal ada yang ngetawain dia kalau tau dia di
panggil 'king' karena dia merasa dia itu nggax pantas, belum lagi
kemaren elo udah mengetawainya, pasti dia makin nggax mau deh… dia kan anti
banget…"

"Ha
ha ha…. jadi tuh orang juga nggax suka? Niken kira…"

"Apa?
pasti loe fikir dia itu orang yang egois
kan? kalau loe belum kenal pasti bakal bilang gitu, tapi kalau loe udah kenal
bakal mengetahui kalau dia itu baik banget… Jadi loe harus minta maaf sama
dia…"

"Nggax
mau…"

"Emangnya
loe mau di musuhin sama fans nya si Gilang?"

"Apa
urusannya, orang ini bukan salah Niken juga"

"Tapi…
Kalau mereka tau loe orangnya, pasti loe bakal di musuhin sama mereka…"

"Dan
Niken nggax perduli…" kata Niken sambil beranjak meninggalkan kakaknya
sendiri.

"Lho
ken, Niken… kakak belum selesai bicara,…."

"Kalau
mau membahas masalah tuh orang re-se lagi, percuma. Niken tetap nggax mau minta
maaf sama dia, karena ini salahnya dia. Titik" kata Niken tanpa menoleh
dan terus melangkah memasuki kamarnya. Nino hanya bisa geleng-geleng kepala
melihat tingkah adiknya.

Next
Part >>>>

Random Posts

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 04 {Update}

    cerita soal Serial Diera Diary kita lanjut ya teman – teman. Secara ceritakan emang belum ketemu sama yang namanya ending. Kali ini giliran Cerita SMA Diera Diary ~ 04. Gimana sama kelanjutan hubungan Diera dan Rian bisa kita simak di bawah ini.And as always, seperti biasanya. Untuk mempermudah sekaligus supaya nggak ketinggalan cerita, sebaiknya baca dulu cerita sebelumnya disini. Cerita SMA Diera Diary ~ 04Cerita SMA Diera Diary ~ 04Diera terus melangkah dibelakang Rian. Dalam hati ia mengerutu akan sikap keras kepala makhluk yang berjalan di hadapannya. Tapi untuk ketiga kalinya, Rian kehilangnan keseimbangan nya dan mau jatuh, namun kali ini Diera tidak sempat menolongnya karena tadi Rian. Alhasil, Rian beneran jatuh dan langsung menjerit kesakitan karena kakinya ketindih dia sendiri. Diera buru-buru membantunya.“Tadi gue bilang juga apa. Elo sih ngeyel. Gue bantuin nggak mau. Liat sendirikan akibatnya. Jadi malah makin parah nih. Darahnya keluar lagi tuh,” omel Diera sambil memeriksa lukanya Rian. Rian hanya bisa meringgis menahan sakit.“Loe punya sapu tangan nggak” Tanya Diera beberapa saat kemudian“Ada, tuh didalam saku tas gue.”Diera segera mengambilnya dan mengunakannya untuk memebalut luka tersebut agar darahnya tidak keluar lagi.“Aw pelan-pelan donk… sakit tau” jerit Rian.“Oh ea?…. masa sih gitu aja sakit. Loe kan cowok “ ledek Diera membuat Rian bungkam.“Nah sekarang udah bereskan. Makanya kalau di omongin sama orang tu di dengerin. Huh… nyusain gue aja loe.”Rian mencoba berdiri dan siap mau jalan lagi, tapi Diera segera meraih tangannya dan melingkarkan di pundaknya. Siap untuk memapahnya, awalnya sih Rian tetap menolak, tapi akhirnya ia ngalah karena Diera terus ngotot. Dan mereka pun melanjutkan perjalanannya.“Ada apa?” Tanya Rian Heran karena Diera tiba-tiba berhenti.“Coba liat itu deh” tunjuk Diera tepat keatas mereka. Rian mendongakan kepalanya. Ternyata tepat diatas mereka ada pohon mangga hutan yang kebetulan sedang berbuah.“Gue laper nih. Kita ambil mangga itu dulu yuks. Kan lumayan,” ajak Diera. “Tapi gimana cara ngambilnya?”Diera bingung karena tuh pohon lumayan tinggi. Memanjatnya, rasanya nggak mungkin. Diera mencoba menjoloknya pake kayu tapi nggak ada kayu yang panjang, jadi nggak nyampe. Ia mencoba memetiknya dengan melemparinya pake ranting kayu , tapi nggak ada satu pun dari lemparannya yang mengenai sasaran. Akhirnya ia nyerah. Sampai ada sebiji buah mangga yang jatuh tepat di sampingnnya. Ia seneng dan langsung memungutnya. Saat menatap kesekeliling, tatapannya terhenti ke arah Rian yang sedang memegang ranting kayu kecil dan siap kembali melempar. Kali ini bukan Cuma satu tapi dua biji mangga yang jatuh. Diera tentu saja kagum melihatnya. Rian terus melempar, dan setiap lemparannnya selalu tepat sasaran. Diera benar – benar tidak percaya pada penglihatannya walau pun selama ini ia juga tau kalau Rian sanggat terkenal di sekolahnya akan keahliannya dalam bermain basket.Setelah tampak buah mangga yang lumayan banyak di tanah, Diera bilang cukup. Ia pun mengumpul kan semua mangga tersebut di depan Rian. Setelah itu ia pun duduk di sampingnya.Rian mencoba mengambil sebiji dan mengigitnya. Tapi buru-buru ia muntahkan lagi karena rasanya sanga masam, maklumlah magga tersebut memang masih mentah.“ Ya ampun. Ini manga atau asem sih. Kok rasannya kecut banget” ujarnya. Ia Heran karena Diera santai saja dan terus memakan mangga tersebut dengan santai. Bahkan keliatannya Diera malah suka.“Namanya juga masih mentah. Ya emang kayak gini rasanya. Loe pikir ni madu apa. Manis…..” balas Diera cuek.“Gue bisa sakit perut kalau makan ginian.”“Ya udah terserah loe. Tapi menurut gue ya masih mending sakit perut dari pada mati kelaparan.”“Tapi kok loe kayaknya nggak kekecutan sih?” Rian Heran.“He he he…. Gue kan emang suka. Tau nggak sih, bahkan mangga depan rumah gue nggak sempet mateng. Cuma biasnya gue makannya bareng sama garam.”Rian benar-benar tidak percaya mendengarnya. Walaupun rasanya bener-bener kecut, Rian akhinya memakannya juga. Bahkan sampai merem-merem segala. Diera memasukkan beberapa butir mangga yang belum mereka makan kedalam tasnya. Karena mereka masih harus menemukan jalan keluar dari hutan tersebut atau paling nggak bisa ketemu sama teman-teman mereka kembali.Hari sudah hampir malam lagi. Barulah sayup sayup Diera mendengar suara teriak-teriakan. Awalnnya ia pikir itu suara binatang hutan . tapi untung lah bukan karena ternyata itu suara teman-teman mereka yang terus mencarinya.Anggun, Narnia dan Hera langsung memeluk nya begitu melihat batang hidun Diera. Selama ini mereka bener-bener cemas akan nasib sahabatnya yang satu ini. Makannya mereka terus ikut dalam mencari mereka. Sementara itu para cewek-cewek yang lain sibuk ngerubungi Rian. Tapi mereka langsung pada cemberut karena anderani and teman-temanya langsung mengusirnya. Cerita SMA Diera Diary ~ 04“Eh entar sore kita pada jadikan buat main ke rumah Diera?” Tanya Hera sambil mengcampur aduk saus kedalam mangkuk baksonnya.“Ia donk, sebenernya kemaren sore gue udah kesana. Tapi dia masih belum bangun dari tenpat tidur” balas Lilly.“Kasihan…. Jadi dia sakit beneran habis pulang dari camping kemaren.”“Yo’a… apalagi kemaren kan dia sempet nyasar” Lilly menganguk. Nggak sengaja matanya tertuju ke sosok seseorang yang mau masuk ke kantin.“Pst…. Coba liat deh siapa yang datang,” Lilly memberi kode ke teman-temannya.“Eh kita samperin yuk” ajak Narnia begitu dilihatnya Rian sudah duduk.“Mo ngapain?” Anggun heran.“Ya mau kasih tau soal Diera lah. Masa mau nanyain dia mau makan apa, emang kita pelayan. Lagipula kemaren Diera kan nyasarnya bareng sama dia. Kali aja dia mau njenguk bareng kita,” sambung Narnia lagi.“Mustahil,” komentar Lilly santai.“Kok gitu?” Anggun Heran.“Kalau loe nggak percaya coba aja samperin. Gue sih ogeh.”Akhirnya semuannya sepakat. Anggun dan Narnia yang nyampering Rian. Lilly hanya tersenyum mengejek melihatnya. Dan terus memperhatikan kedua temannya yang bebicara kepada Rian.Lima menit kemudian Anggun dan Narnia balik lagi dengan tampang kusut. Lilly sudah bisa menebak kira-kira apa yang terjadi.“Gimana?” Tanya Hera penasaran.“Huh…. Benar-benar menyebalkan.”“Sumpah, nyesel deh kita nyamperin dia,” tambah Anggun.“Gue bilang juga apa.”“Ada apa sih?” Hera makin bingung.“Dia nggak mau ikut?” sambung Hera lagi.“Mending kalau Cuma nggak mau. Tau nggak sih dia malah ngomong yang bikin kuping gue panasss banget.”“Betul banget. Swer pengen gue jadiin bakso tu orang biar bisa langsung gue telen bullet-bulet. Sumpah deh.”“Udah mending kalian minum nih es biar adam dulu” Lilly menyodorkan es sirupnya ke kedua temannya sambil tersenyum. Anggun langsung menyerobotnya mendahului Narnia yang juga mau.Hera tentu makin kesel karena kedua temannya makin uring-uringan sementara di Tanya malah nggak jelas gitu. Akhirnnya dia yang memutuskan untuk menghampiri Rian langsung.“Mendinggan nggak usah deh,” cegah ketiga temannya serentak.“Kalian tenang aja. Gue bisa ngatasin ini kok. Kalian liat ya.”Tanpa menunggu balasan dari temannyannya Hera segera beranjak dari tempat duduknya dan menghapiri Rian dengan pedenya.Teman-temannya terus memperhatikan gerak-gerik Hera dengan heran. Apalagi dilihatnya Hera malah duduk bersama Rian sambil ngobrol santai gitu. Sambil nyodorin hape nya segala lagi. Masa sih Rian minta no hape nya dia. Kok bisa. Pikir mereka.“Ya udah gue pergi dulu ya” kata Hera meninggalkan Rian yang terus menatap pungungnya.“Ra gimana?” tanya Anggun penasaran.“Ia. Kok kayaknya kalian ngobrol akrab gitu” tambah Lilly.“Mana tadi Rian judes banget lagi sama kita” sambung Narnia.“Terus kenapa loe tadi nyodorin hape loe segala. Emang Rian minta no hape loe?”“He’eh” sahut Hera santai.“Ha…. Kok gitu. Cerita donk.”“Ya soalnya kan biar gampang ntar dia ngehubungin gue. Soalnya dia ntar ikut sama kita buat ngejenguk Diera.”“What?!” biji mata Lilly kayak mau keluar mendengarnya.“Ceritain donk. Loe pake jurus apa sih?” Narnia bener-bener penasaran.“Ada aja……” Hera tersenyum misterius.Salah sendiri, tadi dia nanya dicuekin, sekarang gantian donk.“Kok gitu sih….” Lilly bete.“Eh udah bel tuh. Buruan kekelas yuks…” ajaknya mengalihkan pembicaraan. Sambil berjalan meninggalkan kantin. Ketiga cecunguk itu terus mengejarnya untuk minta penjelasan. Tapi Hera Cuma angkat bahu sambil terus tertawa.Cerita SMA Diera Diary ~ 04Lilly mengucek-ngucek matanya, kali aja salah liat sementara Narnia malah mencubit tangannya sendiri siapa tau mimpi, Anggun?…. bengong. Mereka benar-benar tidak percaya siapa yang datang berboncengan dengan motor bersama Hera. Yups….. RIAN!!!.“Kalian udah dari tadi ya. Kok belum masuk?” Tanya Hera ke teman-temannya yang masih melototin Rian.“Hei… “ jerit Hera lagi karena mereka masih diam terus. Rian pura-pura ngebenerin riselting jacketnya. Salah tinggkah juga dia di lihatin kayak gitu.“Gue nggak mimpi kan nia” bisik Lilly lirih.“Kayaknya nggak deh, soalnya tangan gue sakit nih gue cubit” balas Narnia.“Hei kalian kok bengong gitu sih. Udah ayo masuk” ajak Hera.“Tapi dia?” tahan Anggun sambil tangan nya menunjuk ke arah Rian.“Ya dia ikut. Memang nya nggak boleh?” Hera balik nanya.“Bukannya waktu di kantin tadi kita ajak loe sendiri bilangnya nggak penting and kurang kerjaan ya?” Narnia tidak dapat menahan rasa penasarannya.“Kalau nggak terpaksa gue juga ogak kali” balas Rian ketus.“Apa?” Hera pertanya dengan nada mengancam.“Gue bilang sampai kapan kita mau berdiri di sini. Jadi ngejenguk temen loe nggak sih?”.ujar Rian kemudian.Diam diam Hera tersenyum mendengarnya.“Inget ya loe harus bersikap manis nanti di dalem. Kalau nggak…”Hera belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika tiba tiba ada yang menyapa mereka. Ternyata mamanya Diera yang baru keluar karena tadi ia seperti mendengar suara motor yang memasuki halaman rumahnya.Reaksi Diera tidak beda jauh dengan reaksi Anggun, Lilly dan Narnia waktu pertama kali melihat Rian muncul didepan pintu kamarnya. Pandangan nya beralih ke Lilly dengan sorot ‘ kok-dia-ada-di-sini’. Lilly hanaya membalasnya ‘aku-anak-polos-nggak-tau-apa-apa’.Suasana sedikit janggal karena kehadiran Rian disana. Semua merasa canggung mau ngomong apa. Sampai Hera buka mulut mencoba untuk mencairkan suasana.“Diera gimana keadaan loe?”“Gue udah agak mendingan kok,” balas Diera sambil mencoba untuk duduk dari tempat tidurnya.“Kita semua ngehawatirin loe lho…” tambah Hera lagi.“Oh ya?. Ma kasih. Tapi sori ya kalau udah bikin kalian cemas gitu. Tapi gue beneran udah mendingan kok. Besok gue juga udah bisa sekolah. Udah kangen gue sama sekolah.”“Kalau loe emang belom baikan mending istirahat dulu….” Saran Lilly.“Dasar cewek…. Gitu aja sakit” gumam Rian lirih. Hera langsung melotot mendengarnya tapi Rian pura pura nggak melihat nya.Tiba-tiba pintu terbuka.“Eh ada temen-temennya kak Diera” sapa Cycie yang baru masuk. Adinya Diera yang baru berumur 6 tahunan.“Ia nih. Terus Cycie yang imut abis dari mana nih. Kok baru nongol” balas Hera sambil tersenyum gemes.“Abis maen ma temen-temen Cycie” balas Cycie sambil matanya tak lepas dari Rian yang tak jauh darinya.“Nah kalau yang itu namanya kak Rian” terang Hera yang menyadari rasa keingin tahuan bocah kecil itu.“O.. kalau aku Cycie. Adek nya kak Diera” dengan ramah Cycie mendekati Rian sambil mengulurkan tangannya, Rian pun tersenyum membalasnya.“Kakak pasti pacarnya kak Diera ya?” Tanya Cycie tiba-tiba yang membuat semuannya yang mendengar nya kaget nggak menyangka akan mendengar pertannyaan yang di lotarkan bocah cilik itu.“Hus Cycie!… apa apaan sih loe. Sembarangan aja kalau ngomong. Udah mending keluar sana loe” Bentak Diera mengusir adiknya karena merasa malu.“Gitu aja marah. Cycie kan Cuma nanya. Abisnya Cycie penasaran sih. Soalnya temen-temen Cycie bilang anak cowok nggak boleh maen ke kamar cewek kecuali kalau pacarnya. Gitu,” Cycie polos.“Ya nggak lah. Kakak Cuma temen kok. Lagian kalau pun pacar juga nggak boleh masuk kekamar cewek,” balas Rian kemudian.“Terus kenapa kakak masuk ke kamar kak Diera. Kak Diera kan cewek?” Tanya Cycie lagi yang membuat Rian makin bingung menjelaskannya.“Kalau kak Rian ke sini itu buat ngejenguk kak Diera yang lagi sakit” Lilly ngebantu menjelaskannya.“O…. gitu ya. Jadi kalau ceweknya yang sakit baru cowoknya boleh masuk yaa?”“Cycie!…”bentak Diera. “Keluar nggak!”.Cycie manatap kakak nya sambil memonyongkan mulutnya. Diera balas menatap tajam kearahnya. Cycie ngalah dan memilih keluar karena ia merasa takut kalau kakak nya beneran marah sama dia.“Sory ya yan ama omongan adek gue tadi” kata Diera ke Rian.“Nggak papa kok.”Cerita SMA Diera Diary ~ 04Diera melirik jam tangnnya. Ia Heran teman-temannya kok belum nongol juga. Padahal tadi ia sudah pesen sama Lilly kalau udah kelar ngisi soal ulangnnya langsung nyusul nya ke kantin. Tapi mereka kok belum nongol-nongol juga ya. Bel juga istirahat juga barusan udah kedengeran.Diera memicingkan matanya seolah kurang yakin dengan peglihatnnya melihat Rian yang dengan santai duduk di kursi di depannya sambil memesankan dua mangkuk mi so dan dua gelas es rumput laut.“Kenapa loe liatin gue kayak gitu?” Tanya Rian Heran.“Loe salah makan ya tadi malam. Atau emang lagi ngelindur?” Diera balik nanya.Rian melongo mendengarnya. Nggak ngerti apa maksut Diera ngomong kayak gitu.“Kenapa emang?”“Ya kok tumben banget loe mau duduk di samping gue. Nggak takut kehilangan selera?”Rian diam saja mendengarnya. Tidak komentar apapun. Malah mengeluarkan hape dari sakunya. Dan sok mencet-mencet tombolnya. Mengabaikan Diera yang masih menanti jawaban darinya.Pelayan kantin datang sambil membawakan pesanan mereka. Rian kembali memasukkan hapenya kedalam sakunya. Dan meraih mangkuk mi so nya. MenCyciepinya sedikit. Kemudian mendambahkan sedikit saus dan kecap kedalamnya.Bete di cuekin begitu. Diera bediri dan siap pergi meninggalkan mejanya sampai tiba tiba Rian menarik tangannya utuk kembali duduk sehinga membuatnya kaget.“Duduk."Kali ini gantian Diera yang menyentuh kening Rian. Kali aja tu anak yang sakit.“Bukannya yang baru sakit itu elo ya?” sindir Rian.“Kali aja pindah ke elo” balas Diera santai.Sembarangan. Udah makan tuh.”“Tapi ian gue masih Heran deh kok loe tiba-tiba mau nraktir gue sih. Atau jangan-jangan.”“Nggak usah nebak yang aneh-aneh. Udah makan aja. Anggap aja nie ucapan terima kasih yang kemaren. Kemaren kan loe bilang nya gue nggak tau berterima kasih” potong Rian sebelum Diera menyelesaikan ucapannya.“Biarin gue sekali-kali Ge-er kenapa sih….” gerut Diera cemberut tapi tak urung di seruputnya juga makanan yang ada di hadapannya.“Kenapa?” Tanya Rian heran karena dari tadi Diera masih terus mempehatikannya.“Enggak knapa-napa” balas Diera sambil terus memperhatikan Rian.Tiba-tiba Rian berdiri dan siap beranjak pergi yang membuat Diera heran dan segera menahannya.“Loe mau kemana sih. Tadi katanya mau makan bareng. Kok sekarang gue di tinggal gitu aja?”“Gue kan udah selesai.”“Tapi gue kan belom” balas Diera.“Kan bisa makan sendiri. Emangnya harus gue suapin?” balas Rian ketus.“Emang loe mau nyuapin gue?” Tanya Diera serius.“Hu… Maunya…….” Ledek Rian siap berbalik tapi lagi-lagi di cegah sama Diera.“Tunggu…” tahan Diera.“Apa lagi. Dasar cewek lemot. Jadi ngomong sama loe harus lurus aja ya. Nggak ngerti juga kalau pake bahasa orang gede…. Gue-nggak-mau-nyuapin-elo. Puas.”“Ye……. Siapa juga yang minta di suapin sama loe. Ngasal kalau ngomong” Diera sewot.“Terus?”“Bayar tuh makanan. Enak aja main ngacir. Tadikan loe yang pesen. Emang sih gue juga makan. Tapi kan loe yang minta gimana sih?”Rian baru nyadar. Dan segera di rogohnya uang dari dalam sakunya dan di berikan pada pelayannya. Kemudian segera berlalu tanpa ngomong sepatah kata pun pada Diera. Ia ingin buru-buru pergi karena sekilas tadi ia melihat bayangan teman-temannya Diera yang akan masuk kekantin.“Hu…. Kenapa tu orang. Dasar orang aneh,” gumam Diera sendiri sambil kembali menghabiskan mi so nya yang masih tersisa.“DOR”.Diera tersedak. Lilly menepuk pungungnya tepat saat ia sedang makan mi nya yang pedes banget. Dan hasil nya……Emang dasar tu orang. Ngagetin nggak pake kira-kira. Nggak lihat situasi. Umpat Diera dalam hati.“Ups….. sory….” Lilly merasa bersalah sambil menugsap-usap pungung Diera karena Diera nggak berhenti-henti batuknya.“Gila loe… loe mau bunuh gue ya. Bisa mati keselek gue….”“Ya sori. Abisnya gue kesel si sama loe. Udah tadi waktu ulangan nggak bagi-bagi jawabannya. Di bikin jadi pudding kita sama pak bastian. Terus giliran kita kesini eh loe malah enak-enakan makan miso sendirian. Bahkan sampai abis dua mangkuk. Siapa yang nggak kesel coba. Dasar nggak setia kawan.”“Bukan gue nggak mau ngasih tapi kan tadi kalian sendiri tadi nggak minta,” Diera bela diri.“Giamana kita mau minta tolong ma loe. Lha wong loe langsung ngacir begitu udah selesai,” balas Anggun.“Ha ha ha” Diera tertawa mendengarnya.“Tapi ra, loe rakus juga ya. Sampai abis dua mangkuk mi so. Apa gara-gara loe sakit kemaren. Makannya sekarang loe mau bales dendam?” Tanya Narnia sambil duduk di sampingnya yang terlebih dahulu memesan bakso sama pelayan kantinya.“YA nggak lah. Gue makan semangkuk ini aja belom abis dari tadi.”“Terus ni mangkuk siapa donk?”Tanya Hera sambil menunjuk mangkuk mi so yang sudah kosong.“Coba tebak…” Diera bales nanya.“Pasti Pasya kan?” ujar Anggun dan Lilly bersamaan. Diera mengeleng.“Kok Pasya sih. Lagian kenapa juga di harus nraktir gue?”“Alah kayak kita nggak tau apa. Tu anak kan naksir sama loe. Kemaren aja waktu loe nggak datang ke sekolah tu orang terus nanyain keadaan loe” goda Narnia.“Apaan sih….” Diera tersipu malu.“Tapi kalau bukan Pasya siapa donk. Nggak mungkin Rian kan…” tebak Lilly ngasal.“Emang dia…” balas Diera nyantai. Lilly melotot menatapnya. Seolah nggak percaya sama pendengarannya.“Loe bercanda kan?” tambah Narnia yang juga nggak percaya. Diera mengeleng. Cuma Hera yang diam diam tersenyum.“Kenapa dia harus nraktir loe. Terus di mana dia sekarang?” Tanya anggun antusias.“Tau….” Diera hanya angkat bahu.“Kayaknya kelakuan tu anak makin aneh deh….” Gumam Lilly sebelum kemudian mengalihkan perhatiannye kearah makanan yang terhidang di hadapannya.Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 05~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerpen Cinta Sahabat: Cinta Selalu Ada

    Cinta Selalu Ada….Oleh Leriani ButonCerpen Cinta dan PersahabatanCinta bukanlah sesuatu hal yang tabu lagi untuk dikenalBanyak orang merasa bahagia karena cintaCinta akan menjadi sebuah kasih sayang…Jika orang yang dicintai membalas cinta yang diberikanNamun, cinta akan menjadi amarah….Jika orang yang dicintai malah mendustainya….Cinta takkan pernah matiMelainkan akan tetap tumbuh disetiapPori-pori dan aliran darah umat manusiaHingga akhir waktu…Makassar benar-benar indah di kala pagi hari. Udaranya sejuk, suasananya damai dan terasa menyenangkan. Tanpa ku sadari setahun sudah aku berada di kota impianku. Hmmm,,,, semakin di pandang semakin terasa damai.Pagi yang cerah ini aku dihadapakan dengan alam yang hijau dan langit yang cerah untuk menyambut datangnya sinar mentari pagi. Sesekali di arah timur, terlihat kemuning emas yang membahana, suara kendaraan yang berlalu lalang dan suara si jago merah yang selalu membangunkan seluruh umat di pagi hari. Meskipun semuanya terasa bising dan tak enak didengar. Namun bagiku itu semua adalah keterpaduan suara musik yang indah. Hembusan angin pun seolah tak mau kalah untuk memberikan nadanya sendiri. Hati, jiwa, dan perasaanku pun ikut terbawa dengan semua itu. Maha besar Allah yang telah menciptakan semua keindahan ini. Subhanallah….Di awal tahun 2012 ini, semua harus berubah. Tentunya menjadi lebih baik. Hah,,, cerita di tahun 2012 akan segera di mulai. Dan yang pastinya bersiaplah untuk semua yang akan datang padamu. Tetap semangattttt……!!!!!!!Hari kedua di tahun baru ini, aku menemukan teman baru yang begitu baik. Dia selalu mengajakku chering di setiap waktunya. Dia adalah arvian. Arvian adalah teman satu kampus dan satu fakultas denganku. Selama ini aku tak menyadarinya, karena dulu aku tergolong orang yang kurang bergaul dan juga pendiam. Kalaupun ada temanku, dia hanyalah Narnia dan jesica. Arvian adalah mahasiswa yang pintar namun terkadang tak pernah beruntung. Ada satu hal yang mesti diubah olehnya, sikap malasnya yang selalu menggerogoti dirinya.Terkadang dia sering datang terlambat disaat jam kuliah sudah dimulai. Bahkan ada yang lebih parah dari itu, banyak tugas yang dia lalaikan. Aku tahu semua ini, karena ternyata Arvian cukup terkenal di kampus dengan julukan si malas. Dia hanya butuh motivasi. Entahlah apa yang membuat dia seperti itu. Akupun tak tahu. Aku tak berani menanyakannya, karena aku takut menyakiti persaannya. Terlalu sulit bagiku mencari teman yang bisa di percaya, itulah yang menyebabkanku berusaha untuk menjaga persahabatan ini.Hari-hari baru menggelut dalam hidupku, Arvian teman baikku selalu hadir di setiap lembar hari-hariku. Semakin lama, aku merasa dia semakin berubah. Berubah menjadi anak yang manis. Sekarang dia sudah mulai belajar membuang rasa malasnya dengan selalu tepat waktu mengikuti jadwal kuliah dan selalu mengerjakan tugas-tugas kampus. Hah,,, aku bahagia dengan perubahannya itu. Hal itu membuatku semakin yakin akan sebuah perubahan. Akhirnya hal yang baik terjadi juga padanya. Memang benar apa yang sering di katakan oleh Guru SMA ku dulu, “selalu ada jalan untuk menuju ke arah yang lebih baik.” Namun, tak jarang jalan yang kita tempuhi itu selalu mulus. Tetapi ada cara untuk memuluskannya yaitu jangan pernah melupakan Tuhan di setiap hal apapun yang kita lakukan. Dan keyakinan untuk berubah harus lebih besar dari pada sebuah keegoisan. Yakinlah!!!! Tuhan selalu ada di setiap hal apapun yang kita lakukan. Dan yang pastinya Dia selalu mengawasi kita.Hari yang cerah untuk jiwaku yang cerah saat ini. Entahlah apa yang tengah terjadi denganku. Aku merasa semuanya terasa menyenangkan bila bersama dengan Arvian. Ya Tuhan… aku takut, persaan ini adalah cinta? Aku takut menghancurkan persahabatan yang baik ini hanya karena keegoisanku untuk memilikinya.Setiap kali bertemu dengan Arvian, pasti hatiku terasa deg-degkan. Namun, aku berusaha menyembunyikannya dan berusaha agar dia tidak tahu apapun yang aku rasakan terhadapnya. Kami selalu bertemu di perpustakaan untuk belajar bersama. Semua itu membuatku bahagia. Lambat laun perasaan ini menggerogoti hatiku. Hah,,, aku pasti bisa menanganinya. Ya, bisa!Hingga di suatu hari, Arvian memanggilku. Dia ingin mengatakan sesuatu ke padaku. “Vi, boleh nda’ aku nanya sesuatu ama kamu?” tanya Arvian serius. “ hm… tentu saja” Jawabku. “Kelihatannya kamu tidak suka menjalin suatu hubungan pacaran?”. Hahahahaha……. Aku tertawa lucu! “Ternyata cuman ini yang ingin kamu tanyakan padaku? kamu benar-benar membuatku ingin tertawa.” Aku tetawa ngakak. Namun, semuanya terhenti ketika Arvian menatapku dengan serius. Sumpah,,. Bola matanya itu benar-benar indah. Matanya mencerminkan suatu ketulusan yang membuatku langsung terpaku menatapnya. “Aku serius Vi. Kita kan sahabatan, jadi kamu bisa donk jawab pertanyaanku?” wajah berharap.“Hm,,,, gimana yach harus mengatakannya? aku juga bingung ngejelasinnya. Intinya aku harus menyelesaikan semua studiku dulu baru dech aku bisa pacaran.” nada meyakinkan. “Cuman itu doank?” Tanya Arvian padaku. Sebenarnya sich ada masa laluku yang suram and sorry aku ga’ bisa certain ke kamu. Maaf yach! ini bukan pelit, tapi ini rahasia. Hehehe…..” Wajah meyakinkan dariku. “Ok, aku bisa engerti kok”. Akupun merasa penasaran dan balik bertanya kepada dia. “Bdw, kenapa kamu tanyakan hal itu padaku?” tanyaku penasaran. “tidak , cuman pengen tahu aja” jawab Arvian. Selepas itu, aku dan Arvian pun melupakan semuanya. Dan kami pun berpisah karena aku mesti melanjutkan jam kuliahku.Di kost,,,,Sambi menggoreskan tinta di atas kertas putih diaryku. “Apa sebenarnya yang dipikirkan Arvian?” Tanya hatiku. Hah, aku berharap dia hanya sekedar ingin tahu, bukan karena dia memiliki perasaan yang sama sepertiku.Entah apa yang terjadi, aku mendengar kabar Arvian dan jesica kini sudah jadian. Ya Allah,,, mengapa hal seperti ini terulang lagi padaku? Ketika aku mulai mencintai seseorang, ternyata dia mencintai orang lain. Sulit bagiku melihat mereka berdua selalu bersama. Aku sebagai sahabat, hanya bisa ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua sahabatku. Namun, sebagai seorang wanita jauh didasar hatiku yang terdalam ada luka yang sulit untuk diobati.Arvian kini jarang bersamaku. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama jesica. Kalaupun disaat aku membutuhkannya, dia selalu membuat banyak alasan untuk tidak bisa bertemu denganku. Hah,,, aku benar-benar kehilangan dia.“Maafkan atas semua kebodohan, keegoisan, dan semua kesalahan yang ku perbuat. Aku hanya ingin kamu bicara padaku lagi. Jangan mendiami diriku seperti ini. Ini semua membuatku tersiksa”.Lambat laun setelah semua yang kulalui, kini aku menikmati kesendirian ini dengan menata kehidupanku yang baru. Tak ada yang harus aku sesali. Aku hanya butuh sebuah keyakinan untuk bisa bangkit menjadi diriku Vianda Amryta renaldy kayak dulu lagi. Menjadi pribadi yang tegar tanpa harus menangisi kenyataan yang menimpaku. Dunia ini begitu luas, sehingga aku tak harus merasa sempit untuk hidup di dunia ini. Tak ada yang bisa membuatku jatuh lagi.Hingga suatu hari, Arvian datang padaku. Dia ingin memulai semuanya seperti sebelum-sebelumya. Dan aku menerima dia lagi sebagai sahabatku. Rasa yang dulu pernah ada kini telah terkikis habis oleh sang waktu. Kalaupun masih tersisa itu mungkin 0,01%. Dan rasa 99,99% yang tersisa hanyalah persaan sebagai sahabat.Ketika Arvian meminta maaf karena telah menelantarkan persahabatan kami selama ini. Dan berharap kami bisa menjadi sahabat kayak dulu lagi, aku menerimanya dengan tangan terbuka. Ada satu hal yang selalu tertanam di pikiranku. Menurutku, semakin banyak sahabat, semakin banyak rezeki yang bakalan datang. Hehehe….Aku tak mungkin tidak menerima Arvian menjadi sahabataku lagi. Karena Aku hidup di dunia ini bukan hanya sendiri dan terlebih lagi aku tak ingin rasa benci mengalahkan kekuatan cinta persahabat kami selama ini. Selain itu aku tak ingin menyakiti dia dengan tidak menerimanya sebagai sahabataku lagi. Aku hidup di dunia ini bukan untuk menyakiti orang lain. Tapi, Aku hidup di dunia ini untuk menabur kebahagiaan di setiap lembar-lembar kehidupanku bersama orang-orang yang mencintaiku, dan orang yang aku cintai.Semuanya akan berjalan dengan baik. Itulah kata yang selalu ku tanamkan di dalam hatiku agar bisa melegakan apapun yang aku lakukan. Tetap optimis dan membuat keyakinan bahwa semuanya akan berakhir dengan bahagia. Bahagia bukan berarti harus membuatnya selalu menjadi sempurna. Tapi bagaiman kita bisa membuat orang lain tersenyum tanpa harus membuat sesuatu terlihat istimewa.Hm…. Awan hitam menutupi cerahnya langit sore di makassar. Mungkin sebentar lagi bakalan turun hujan. Di beranda kost, aku duduk sendiri sambil memegang buku diaryku. Akupun terdiam dan memikirkan semua yang telah terjadi. Sambil mengingat kembali semua kenangan-kenangan pahit maupun manis bersama semua sahabat-sahabatku. Setelah itu aku pun teringat Arvian, sahabatku. Sambil mengingat kenangan bersamanya, aku meggoreskan tinta hitam diatas kertas putih diaryku.“Aku mencintainya bukan karena keegoisanku, tapi aku mencintainya karena dia adalah milik Yang Maha Kuasa. Aku tak harus menuntutnya untuk mengikuti semua apapun yang aku mau. Yang aku inginkan hanyalah kebersamaan di setiap langkah. Bila ternyata dia mempunyai rasa yang sama seperti yang aku miliki, aku yakin Allah akan memudahkan jalannya untuk bisa menemukan rasa itu. Tetaplah bahagia bersama jesica, walau itu membuatku sakit. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Mungkin ini adalah jalan terbaik untukku, dia dan jesica. Aku tak ingin menyakiti hati jesica dengan cara merampas semua perhatiannya. Bila aku tak mendapatkan hatinya sebagai pacar. Aku berharap, aku mendapatkan hatinya sebagai sahabat.”Genggaman Cinta-MuCinta adalah anugrah dari yang maha kuasaSemua orang memilkinyaDan berhak mendapatkannyaCinta bukanlah suatu musuh yang harus di benciTapi dia adalah sahabat yang akan selalu menemani….Menemani di kala suka maupun dukaTerimakasih Ya Tuhan….Karena telah memberikan cinta-Mu padakuMelalui sosok orang-orang yang menyayangikuAku berharap, Engkau takkan pernah meninggalkankuDan takkan pernah melepaskan genggaman cinta-Mu untukku…..Hidup memang susah untuk di tebak. Semuanya berjalan seakan sebuah cerita. Cerita hidup yang harus kita jalani dan lalaui satu persatu. Aku berfikir, bila aku sudah melangkah kedepan, maka aku akan terus melangkah walau tekadang harus membuatku terjatuh. Namun, aku takkan pernah berhenti untuk terus melangkah. Aku akan menganggap di cerita hidup ini akulah yang jadi tokoh utamanya. Dan aku tak ingin digantikan menjadi peran pembantu di cerita hidupku sendiri. Tetap tersenyum dengan semua cobaan yang kuhadapi. Akan ku katakan pada setiap masalah yang kuhadapi, kalau aku tidak sendiri dan aku masih punya Tuhan yang selalu menyayangiku. Aku tahu disetiap serat lembar kehidupanku selalu ada cinta yang terselip untukku. Cinta itu datang dari Tuhanku, kedua orang tuaku, keluargaku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang yang menyayangiku. Semangat!!!! ^_^THE END“ Tak ada cinta yang lebih indah selain cinta yang diberikan Tuhan kepada kita. Jagalah cinta yang ada pada dirimu saat ini! Jangan nodai cintamu hanya karena sebuah keegoisan. Jika kamu salah memberi cinta, maka cinta itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”Terimakasih Cinta…. ^_@

  • Cerpen Kenangan: PUPUS

    “Pupus”oleh: Zahrina OktavianaHari itu aku keterima di SMA favorit pilihanku. Seneng saat itu ku rasakan, aku jadi tak sabar ingin rasanya aku ingin menginjakan kakiku di kelas yang baru dengan suasana baru.Senin 08 Juli 2011, hari pertama aku masuk sebagai siswa berseragam putih abu-abu. Aku kira dikelas yang baru ini aku akan mendapatkan sesuatu yang baru, tapi ternyata sama saja, menurutku lebih enak jadi siswa smp kalau begini jadinya. Huh, hari-hariku jadi bosan dan bosan. Tapi dengan hal tersebut aku jadi berpikir bahwa aku harus menjadi seseorang yang menyenangkan agar bisa bergaul dengan teman-teman baruku disini. Alhasil aku pun berhasil, aku sekarang udah punya banyak teman , gak seperti dulu yang membuatku merasa bosan dengan masa SMA. Hari berganti hari aku semakin akrab dengn teman-teman semua. Kecuali satu orang cowok namanya Tian. Mungkin di kontakku hanya nama Tian yang tidak tercantum. Huh, lagian jadi cowok kok aneh banget, kalau dibilang pendiem sih enggak, tapi aneh aja gitu. Senangnya menyendiri.### “aduh, ulangan sosiologi bab berapa aja sih ya?’’ kataku sambil membolak balik buku “oh ya, kok aku gak kepikiran sms si Ade sih” lalu aku mengambil hp ku dan mengetik beberapa kata buat si ade. Tak lama kemudian ringtone hp ku berbunyi dan tandanya ada sms masuk”tanya Tian aja, dia yang tahu, kan dia yang disuruh nyebarin, ni tak kasih nomernya 08976718###”Yah terpaksa aku harus tanya dia, hitung-hitung juga buat nyimpen nomer dia dihapeku. Ternyata dia anaknya asyik juga yah, sampai sampai kita smsn berlarur-larut. Padahal besok ulangan sosiologi tapi malah smsn gak jelas sama Tian. Hahaha Keesokan harinya , waktu ulangan kita berdua saling mencontek. Soalnya kita berdua sama-sama gak belajar. Hahaha. Sejak saat itu Tian yang awalnya aku kira cowok aneh sekarang semakin akrab denganku. Dia itu caper banget sama aku seolah-olah ingin mencuri perhatianku. Setiap aku ingin jalan selalu dia menghalangi dengan tingkah-tingkah konyolnya. Gak penting banget pokoknya.Aku merasa berbada dengan kelakuannya. Kelakuannya itu kadang membuat aku sebel tapi kelakuannya itu juga ngangenin. Lama-kelamaan timbul rasa yang berbeda ketika aku menatap matanya. Aku juga merasa berbada ketika dia menatap mataku. Apa mungkin aku menyimpan sasuatu sama dia?### “ciye, ihir jadian ya sama Tian, makan-makannya mana?” goda Ade kepadaku “jadian? Ngaco kamu deh”“alah via, kamu jangan bohong deh, sekelas juga udah pada dengaer gosip itu. Asyik ni ye tiap hari ketemu terus” What? Gosip? Gawat ni ternyata kedekatan aku ama Tian muncul gossip seperti itu. Tapi no problem aku malah seneng digosipin pacaran sama Tian tapi kalau Tian entahlah. ### Aku semakin yakin, bahwa rasa ini bukan rasa biasa. Aku selalu menanggap kalau Tian juga suka sama aku. Mungkin benar, bahwa aku benar-benar suka sama si Tian. Tian dan Tian yang ada di pikiranku.“Ar, ari kayaknya Tian suka deh sama aku” aku curhat pada Ari“emang kamu yakin, belum tentu lho, dia kan playboy” jawab Ari“beneran kok, buktinya dia caper banget sama aku. Eh Ar, jujur aku suka Tian walaupun Tian gak tahu bagaimana perasaanku padanya, tapi aku selalu berpikir kalau aku bisa bersamanya”“ aduh, ciye semangat banget kamu vi, iyadeh aku dukung kamu”### Hampir 1 tahun aku sekelas sama dia, dan sampai sekarang dia gak tahu perasaanku yang sebenarnya ke dia. Bentar lagi kenaikan kelas, otomatis kita berdua akan pisah kelas. Jadi aku berharap kelakuan Tian yang nggemesin itu gak berubah. Ternyata benar kita berdua pisah kelas, dia di 11a dan aku di 11b. Tapi gakpapa selagi masih berdekatan. Aku kan bisa modus ngeliat dia setiap saat, hehe. Dia sekelas sama Ari, yah kalau boleh tukeran kelas sih, aku mau tukeran sama Ari. Makin lama kelakuan capernya makin bnzertambah ke aku, aku tentunya seneng dong. Kita berdua itu deket banget. Dia sering nyamperin aku ke kelas, Ngirim sms ke aku, wall to wall di facebook, sampai hal konyol di sekolahan. Pernah saat itu aku di isengin di kelas, dia sengaja mendorongku ke tempat sampah sampai hamper terjatuh, tapi tanganku dipegangin dia. Oh so sweet banget. Walaupun rasa ini masih terpendam. Gak masalah deh, walaupun rasa ini masih terpendam dan mungkin dia gak akan pernah tau selamanya, tapi aku masih sengeng setiap ngeliat dia tersenyum. ### “Tian diluar gak ya, biasanya dia sama Kevin dan bagus diluar, coba ah modus aja” Ketika aku keluar kelas, ternyata benar dia diluar kelas. Tapi yang aku lihat dia lagi bareng Ari, keliatan akrab banget. Entah kenapa saat itu aku cemburu banget, ketika aku akan menjauhi mereka terdengar suara memanggilku.“Via, bentar. Kata Ari kamu suka sama aku. Kata dia kamu sering cerita aku ke dia. Katanya kamu suka sama aku?” pertanyaan yang seolah-olah sangat menusuk di dadaku.Waktu itu aku tak bisa berkata apa-apa, aku serasa benci dan benci banget sama Ari. Mengapa dia tega menceritakan semuanya pada Tian. Ku kira dia sahabat, tapi sekarang dia berkhianat. Hah, ingin ku refresh otak ini, dan lupakan semua tentang Tiaaaaann. Tapi sayangnya itu sia-sia.Sakit sakit dan sangat sakit, mengapa Tian harus tahu dengan cara seperti ini. Akhirnya aku akan putuskan untuk mencoba melupakan Tian.“TIAAAN, AKU GAK PERNAH SUKA SAMA KAMU, ARI BOHONG, AKU GAK PERNAH SUKAA” aku mencoba bilang sama Tian, walaupun sebenarnya kata-kata itu beda jauh sama perasaanku. Aku terpaksa bohong sama dia, dan itu sangat sakit kurasakan.### Sejak saat itu aku mencoba melupakan Tian, aku cuek banget sama dia. Sampai akhirnya Tian punya pacar baru, dan aku mencoba sabar. Mencoba menerima walau hati ini menangis. Mungkin kenangan dulu hanya akan menjadi debu yang terbang ditiup angin. Tapi entah mengapa saya sering memimpikannya.Aku mencoba tersenyum dihati yang luka ini. Lebih parah lagi, Ari sahabatku sekarang ingin membuat aku cemburu. Setiap aku buka beranda atau timeline, selalu dia dan Tian wall to wall dan saling mention bareng, apalagi mereka berdua seperti pacar yang sedang dimabuk cinta. Tentunya hal itu membuat aku cemburu. Aku tahu si Ari hanya pura-pura. Belum lagi Ari mengupload fotonya bersama Tian di facebook sebagai foto profilnya, begitupun dengan Tian. sampai saat ini Tian belum tahu perasaanku, dan mungkin akan tersimpan selamanya. Aku menyesal dulu telah bilang bohong ke Tian. Sekarang sudah Pupus harapanku. Cintaku ini hanya bertepuk sebelah tangan. Tian aku sayang kamu, aku kangen kenangan kita dulu.Mungkin benar kata orang “jika mencintai orang lain secara diam-diam, pada akhirnya hanya akan mendoakannya serta akan merelakannya”. *****Nama : zahrina oktavianaFb : Zahrina OktavianaTwitter : @oktavianaarin

  • Short story “Kebetulan yang kebetulan berlanjut”

    I'm Back…!!. With short story series again. He he he. Kan adminya kemaren udah bilang, khusus cerpen yang ini nggak di bikin part satu or dua nya. Langsung di end tapi kalau ada sesuatu yang menarik minat lagi, tetep di lanjutin. Makannya di kasih 'label' series. Masih inget urutannya kan? Kalau lupa Admin ingetin lagi deh. Yang pertama ada Short story be friend forever, terus lanjut dengan Arti sebuah senyuman. Dan kali ini, Kebetulan yang kebetulan berlanjut. Judulnya sesuatu yak?. #plaksUntuk cover admin lagi males ngeditnya. Kita pake fotonya temen admin aja ya. Namanya Zofa. Sekalian ini tu foto di TKP. Cantikkan?….ZofaYang namanya takdir kadang emang nggak bisa di tebak. Karena kenyataannya, hanya menyusun rencana yang bisa kita lakukan. Namun, apapun yang terjadi nantinya, pastikan senyuman selalu menyertaimu. Oke?sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*