Cerpen King Vs Queen ~ 02

Cerpen Terbaru

'KING v.s. QUEEN'

Part 2

Cerpen
Terbaru King Vs Queen part 2. Cekidot.

"Iiih
sungguh menyebalkan…" kata Niken begitu ia tiba di kamarnya
"bener-bener re-se tuh cowok, awas aja… dia belum tau siapa gue… mana
kak Nino nyebelin banget lagi, pasti gara-gara dia berteman sama cowok nggax
jadi-jadi itu, makanya nular nyebelinnya" lanjutnya.

Credit Gambar : Star Night

"Mana
ternyata dia temen kak Nino lagi, udah gitu pake acara ngejelek-jelekin gue . Gitu
kok di bilang 'king'. King dari mananya coba?" tanyanya sambil
geleng-geleng kepala sendiri.

"Lagian
kak Nino nih ada-ada aja, masa' bilang gue di juluki 'Queen' sama temen-temen
di depan si Gilang sih, pasti dia bakal ngetawain gue… Mana bisa cewek
seperti gue jadi ratu. Dan gue juga nggax mengharapkannya kok… Iiiih
bener-bener sungguh menyebalkan…"

Terdengar
suara obrolan dan sesekali di selingi tawa di ruang tengah, itu pasti suaranya
Gilang dan kakaknya yang membuat Niken jadi makin sebel karena dia nggax bisa
tidur dengan tenang. Niken menutup telinga nya dengan bantal, tapi masih
terdengar juga suara-suara di ruang tengah.

"Memang
bener-bener deh, gue jadi nggax bisa tidur nih. Gimana gue bisa tidur kalau
suaranya berisik gitu. Awas aja yea tuh orang, gue bakal membalasnya, gara-gara
elo udah ngejelek-jelekin gue di depan mama and kakak gue…" geram Niken
dan beranjak menuju dapur.

Niken
membuat air minum tiga gelas, dan meletakkannya di nampan dengan sepiring
pisang goreng yang baru di goreng mamanya. Diam-diam tanpa sepengetahuan mama,
Niken sengaja memasuk kan garam dua sendok di satu pisang lalu menggorengnya.

Setelah
meletakkan pisang goreng yang pasti sangat asin itu di piring, Niken membawanya
ke meja. dengan hati-hati memasuk kan MSG di gelas minuman yang akan di
bawanya, Niken meletak kannya dua sendok penuh.

"Heh, mampus loe. Makanya jangan suka cari gara
– gara sama gue” kata Niken dalam hati sambil
tersenyum.

"lho
Nik, kok masih di sini, di tunggu sama tamunya tuh, masa nggax di kasi
apa-apa…" kata mamanya.

"Eh
e ia maaa…" balas Niken dan melangkah menuju keruang tamu. Dengan santai
Niken duduk di samping Gilang, sambil meletakkan nampan di atas meja.

"emmm,
Lang…."

"Lang?!"
Nino kaget "Dia ini kan lebih tua dari loe, seharusnya loe memanggilnya
kakak donk. Nggax sopan begitu…" lanjutnya memperingatkan adiknya.

"Kakak?!"
Niken nggax percaya "Yaaa baiklah… kak Gilang… Niken minta maaf yea
soal tadi." kata Niken ke arah Gilang.

"he?!"
Gilang dan Nino bingung melihat ulah Niken.

"Niken
minta maaf soal tadi, pasti kak Gilang berfikir Niken itu udah nggax sopan
banget, Niken tau kita baru kenal hari ini, tapi udah membuat kak Gilang jadi
seperti tadi, Niken jadi merasa bersalah…" kata Niken.

"Tuh
kan lang, gue bilang juga apa, adik gue ini, Meski kadang-kadang aneh and
nyebelin tapi dia itu sebenernya baik hati dan sangat pengertian…" kata
Nino ke arah Gilang.

"Kak
Gilang maafin Niken kan?" tanya Niken.

"wuaaah prasaan gue nggax enak nih…" kata Gilang dalam hati sambil menatap Niken
nggax percaya.

"Kak…"
kata Niken sambil tersenyum.

"Eh
e… ia gue maaf in elo kok, lagian kan kita baru ketemu and kenal sekarang,
jadi gue juga belum tau loe itu orangnya seperti apa, gue juga minta maaf kalau
gue udah salah sama loe" balas Gilang sambil berusaha untuk tersenyum.

"Nyadar pun loe…" kata
Niken dalam hati "Hemmm, dan sebagai tanda minta maaf Niken sama kakak,
Niken udah membuatkan pisang goreng yang special buat kakak nih…"
lanjutnya sambil mengambil piring berisi pisang goreng di atas meja.

"HE?!"
Gilang bingung.

"Nih
kakak ambil dulu, cobain gimana rasanya. Niken nggax tau deh kakak mau
makan-makanan buatan Niken atau nggax…" kata Niken dengan wajah sedih.

"Eh
emmm, gue mau kok, Biar di situ aja, ntar gue ambil sendiri"

"Nggax
mau ea…" Niken tampak cemberut.

"Bukan
gitu, ntar gue bisa ambil sendiri, jadi…"

"Lang,
loe nggax tau apa adek gue ini kan nggax suka penolakan, dia fikir kalau gitu
pasti orangnya nggax suka, jarang-jarang lho adek gue mau baik gini sama
temen-temen yang gue bawa, pasti elo orang yang sangat special, kan gue udah
bilang king…" puji Nino.

"Heeee,
ia lah. Bener tuh…" kata Niken sambil berusaha menyembunyi kan wajah
nggax sukanya.

"Emm
tapi gue…"

"Beneran
nggax mau ea?" tanya Niken sambil menyerahkan sepiring pisang goreng
kehadapan Gilang.

"Emm
ia deh, gue ambil satu ea, nih gue ambil.." kata Gilang sambil mengambil
satu pisang goreng di piring.

"Gue
kasi tau ea, pisang goreng buatan adek gue itu enak banget, pokoknya nggax ada
yang bisa nandingin deh… gue suka banget makan-makanan buatan adek gue
ini…" puji Nino.

"Ah
kak Nino ini terlalu memuji deh… Sebenernya Niken nggax segitu juga kok,
biasa aja…" kata Niken sambil menahan tawanya.

"hemm,
emmm ini gue makan yea…" kata Gilang sambil menggigit pisang gorengnya
dan mengunyahnya.

"satu… dua… ti… ga" hitung Niken
dalam hati.

"Uhuk…
uhuk…" Gilang langsung tersedak sambil mengipas-ngipas mulutnya.

"Eh
ada apa?" tanya Niken "Nih minum dulu deh…" lanjutnya sambil
memberikan segelas air minum jus orange ke arah Gilang, jus yang tadi udah di
beri MSG, Gilang menerimanya dan langsung meneguknya.

"Gimana?"
tanya Niken "udah agak mendingan?" tanyanya sambil menahan tawa,
sementara Gilang nggax bisa menjawab, ia hanya bisa memegang tenggorokannya
yang terasa sangat tidak bisa di bayangkan gimana rasanya.

"Emmm
kenapa? nggax enak ea?" tanya Niken.

"Emmm
nggax. bukan gitu, enak kok, enak banget malah… bener deh…" kata
Gilang setelah bisa ngomong sambil menatap sebel ke arah Niken yang tersenyum
penuh kemenangan.

"Emang
rasanya kenapa?" tanya Nino.

"Nggax
ada apa-apa kok, gue tadi cuma tersedak aja…"

"Awas
kalau loe macem-macem ea…" ancam Nino ke arah Niken, dan mengambil satu
pisang goreng di atas piring. lalu memakannya, Gilang menunggu reaksi Nino.

"Emmm,
gimana? ada yang salah sama pisang nya?" tanya Niken sambil menahan
senyum.

"Emmm
enggak, rasanya enak kok seperti biasanya…" jawab Nino, Niken langsung
tersenyum. Sementara Gilang jadi kaget.

"Tuh
kan… Niken nggax macem-macem kok, mana mungkin lah Niken sengaja ngerjain
temen terbaik kakak…" kata Niken sambil tersenyum.

"Iiih awas loe ea, loe pasti sengaja melakukan
ini ke gue…" kata Gilang dalam hati.

"E
makan lagi deh al, enak lho…" kata Nino karena pisang goreng masih ada
setengah di tangan Gilang.

"Emmm
heee… ia" balas Gilang sambil melirik pisang goreng ditangannya.

"Atau,…
nggax suka ea?" tanya Niken.

"Masa'
sih, padahal ini enak banget lho…" kata Nino sambil mengunyah pisang
yang ada tadi di makannya.

"Eh
e enggax kok, gue suka, nih gue makan ea…" kata Gilang sambil memakan
pisang goreng yang tadi tersisa, dengan sedikit menahan rasa masin yang amat
sangat.

"kalau
kakak mau minum nih minumannya…" tawar Niken sambil menyodorkan minuman
yang tadi di minum Gilang yang udah di beri MSG ke arah Gilang.

"ia,
ntar gue ambil sendiri…" kata Gilang sambil berusaha untuk tersenyum,
dan menahan rasa masin di tenggorokannya.

"he he he… kena loe… makanya jangan
macem-macem sama gue… tau sendirikan akibatnya… gue di lawan, nikeeen gitu
lho…" kata Niken dalam hati sambil tersenyum
dan meminum minumannya.

"iiiih awas loe ea, gue tau ini pasti kerjaan
nya elo, rasanya jadi aneh gini yang punya gue… pasti dia sengaja…
Brengsek… dasar cewek jadi-jadiaaan re-seeeee…."
maki Gilang dalam hati sambil menatap Niken sebel, sementara Niken pura-pura
tidak melihatnya, seneng banget lah bisa ngerjain and membalas perbuatan Gilang
kepadanya.

Cerpen Terbaru King Vs Queen

"Niken,
kok loe tega banget sih…" kata Nino begitu duduk di samping Niken yang
sedang asyik baca majalah di depan teras rumahnya.

"Tega?
emangnya apa yang udah Niken lakuin?" tanya Niken ke arah kakaknya, dengan
wajah tanpa dosa.

"Jangan
pura-pura bego gitu deh, wajah loe itu emang udah gitu… Jadi jangan di
tambah-tambah lagi, jadi makin jelek tau nggax…" kata Nino sambil
tersenyum dan duduk di samping adiknya.

"Kakak…Kok
ngomongnya gitu, orang cantik-cantik gini juga…" Niken jadi cemberut.

"He
he he bercanda… tapi, loe kan yang udah memasuk kan MSG ke dalam minumannya
Gilang kemaren?" tanya Nino.

"He?!
enggak kok…" kilah Niken.

"Jangan
pura-pura nggax tau deh, ayo ngaku, kalau bukan elo siapa lagi coba?"
tanya Nino.

"He
he he…"

"Jadi
bener?" Nino kaget, Niken mengangguk sambil cengengesan "tega banget sih,
kan kasihaaan…" lanjutnya.

"Biarin,…
Siapa suruh bikin Niken kesel, tanggung sendiri akibatnya, kenapa kakak bisa
tau, dia ngadu yea?" tanya Niken.

"Ya
nggax lah, mana mungkin dia mau bilang ke kakak, dia itu kan temen kakak yang
paling tertutup orangnya" kata Nino.

"Oh
yea…. kalau gitu,… kakak tau dari mana?" tanya Niken bingung.

"ya
tau lah, gara-gara itu dia nggax berhenti-berhentinya ke kamar mandi tau nggax.
dan nggax sengaja kakak membaca diarry nya yang kebetulan ada di kamarnya tadi
siang" cerita Nino.

"Cowok
nulis diary” Kening Niken terlihat sedikit berkerut. Tapi beberapa saat
kemudian “ Ha ha ha… Sukuriiiin, biar tau rasa tuh anak, macem-macem sih…. Belum
tau apa siapa Niken…" kata Niken dengan senengnya.

"Kok
loe tega gitu, kasihan tau,…. jangan bilang ini loe lakuin karena dia ngomong
cewek yang menabraknya itu cewek jadi-jadian itu…"

"Bukan
cuma itu aja kak"

"Trus
masalahnya apa?"

"Lho
katanya kakak lihat buku diarrynya, pasti tau donk, apa yang terjadi…"

"Sebenernya
kakak nggax lihat banyak, orang abis itu dia masuk ke kamarnya, tadinya kakak
lihat saat dia lagi di kamar mandi, yaaa dari pada ketahuan, kakak nggax lihat
lagi, tapi intinya kakak tetap tau ini semua pasti kerjaannya elo kan…"

"Wuaaah
ternyata kakak itu emang bukan temen yang baik juga yea…" kata Niken
sambil tersenyum-senyum menggoda kakaknya.

"Ah
loe apa-apa an sih, bukan gitu, itu kan cuma nggax sengaja, kakak itu
sebenernya temen yang sangat baik, tapi cuma… ya kadang-kadang suka jahil
dikit… he he he…"

"Oh
gitu…" Niken mengangguk-angguk.

"Jadi,
apa salahnya sampai-sampai elo ngerjain dia separah itu?" tanya Nino
sewot.

"Kakak
jangan marah-marah gitu donk, kalau kakak masih marah-marah gitu, Niken nggax
mau cerita…"

"Loe
berani ya…" kata Nino sambil menggelitiki Niken.

"Aaaa,
kakak… berhenti,…." kata Niken berusaha untuk menghindar, tapi Nino
tetap menggelitikinya "ia, ia, ia… Niken cerita…" katanya
akhirnya, Nino pun berhenti menggelitiki adiknya.

"Udah
ayo cerita…" kata Nino.

"Sebenernya
dia itu… cowok paling re-se yang pernah Niken kenal, dia nyebelin banget…
makanya Niken ngelakuin itu, biar dia nggax macem-macem lagi sama
Niken,…."

"Emangnya
apa yang udah dia lakuin sama loe, sampai-sampai elo membencinya seperti itu…"

"Sebenernya
Niken itu nggax membencinya kalau dia nggax mulai duluan, tapi gara-gara dia
Niken kena sial terus tau nggax"

"He?
kok bisa…"

"Ia,
pertama, gara-gara dia, Niken terlambat ke sekolah kemaren. kedua, gara-gara
dia, Niken jadi di hukum sama pak davit. ketiga, gara-gara dia juga, Niken jadi
harus menahan malu di hukum sama guru di depan anak-anak lainnya. dan terakhir,
dia udah membuat kakak membenci Niken tanpa kakak sadari…" cerita Niken
panjang lebar.

"Lho…
gimana ceritanya? bukannya kalian baru ketemu siang kemaren?" tanya Nino
bingung.

"Ya
nggax lah, Niken itu udah pernah ketemu sebelumnya, paginya Niken ketemu
dia…"

"Oh
yea?"

"Ia,
kakak tau nggax sih, si Gilang itu yang udah menabrak Niken duluan…"

"Pake
‘kakak’ Niken…" Nino memperingatkan.

"Kenapa
sih, nggax usah pake kakak-kakak an segala deh…"

"Dia
itu seumuran sama kakak, dan loe itu lebih muda dari pada dia, jadi loe harus
memanggilnya kakak…"

"Ia.
kak Gilang. puas?!" Niken jadi sebel "La wong dia dulu yang menabrak
Niken, udah gitu malah marah-marah, ngatain Niken jalan pake mata nggax pake
kaki, nyebelin, bikin kesel. re-se… Ah pokoknya dia yang salah deh, dan yang
lebih parahnya, dia udah membuat kakak membenci cewek yang katanya menabraknya
nggax tau apa kalau dia yang udah nabrak Niken…" Niken jadi sebel kalau
mengingat itu.

"Jadi…
cewek yang membuat Gilang luka itu… elo?!" tanya Nino kaget.

"Yeee
orang itu salahnya dia sendiri kok, mana ada salahnya Niken, dia yang nabrak
juga…"

"Pantesan
aja…"

"Kenapa?"

"Dia
sebel banget sama loe…"

"Lho,
seharusnya yang merasa sebel itu Niken donk, bukan nya dia…"

"Tapi
tetap saja, gara-gara itu dia terluka, udah gitu loe pake acara langsung pergi
lagi"

"Gimana
nggax, Niken itu udah terlambat banget, dan ini salahnya dia, seharusnya dia
minta maaf ke Niken… Tapi malah mengatai Niken yang nggax-nggax, bego lah,
cewek jadi-jadian lah, ini lah, itu lah… pokoknya bikin kesel deh…"

"Loe
harus minta maaf sama dia…"

"He?!
minta maaf? orang dia yang salah juga, masa Niken yang harus minta maaf,
ogah"

"Kalau
loe nggax minta maaf, loe bakal di musuhin sama fans nya Gilang"

"Fans?!"
Niken nggax percaya.

"Ia.
Kan kakak udah bilang dia itu idola campus, jadi banyak yang ngejar dia… Dan
pastinya karena dia luka banyak yang mengkhuatirkan dia, dan berniat mau
menuntut orang yang udah menabrak Gilang"

"What?!
menuntut? nggax salah nih, luka sedikit gitu aja juga, lebay banget, tapi
bukannya dia itu harusnya seneng ea, kan makin di perhatiin"

"Loe
jangan berfikiran gitu, ini tu malah membuat Gilang makin bermasalah tau
nggax"

"Maksudnya?"

"Ia,
dia itu kan nggax suka di perhatiin berlebihan seperti itu, biasanya aja dia
nggax bisa pergi dengan leluasa pasti adaaaa aja yang mendekatinya dan terus
mengikutinya, di tambah sekarang tau dia itu luka, pasti makin banyak yang
mendekatinya"

"Jadi…
Dia nggax suka juga di jadiin 'king' gitu?"

"Ya
iya lah, Gilang itu kan orangnya nggax mau orang yang berlebihan seperti itu,
dia merasa risih dan menganggap bakal ada yang ngetawain dia kalau tau dia di
panggil 'king' karena dia merasa dia itu nggax pantas, belum lagi
kemaren elo udah mengetawainya, pasti dia makin nggax mau deh… dia kan anti
banget…"

"Ha
ha ha…. jadi tuh orang juga nggax suka? Niken kira…"

"Apa?
pasti loe fikir dia itu orang yang egois
kan? kalau loe belum kenal pasti bakal bilang gitu, tapi kalau loe udah kenal
bakal mengetahui kalau dia itu baik banget… Jadi loe harus minta maaf sama
dia…"

"Nggax
mau…"

"Emangnya
loe mau di musuhin sama fans nya si Gilang?"

"Apa
urusannya, orang ini bukan salah Niken juga"

"Tapi…
Kalau mereka tau loe orangnya, pasti loe bakal di musuhin sama mereka…"

"Dan
Niken nggax perduli…" kata Niken sambil beranjak meninggalkan kakaknya
sendiri.

"Lho
ken, Niken… kakak belum selesai bicara,…."

"Kalau
mau membahas masalah tuh orang re-se lagi, percuma. Niken tetap nggax mau minta
maaf sama dia, karena ini salahnya dia. Titik" kata Niken tanpa menoleh
dan terus melangkah memasuki kamarnya. Nino hanya bisa geleng-geleng kepala
melihat tingkah adiknya.

Next
Part >>>>

Random Posts

  • Kumpulan Cerpen 2013 “Story About Us” ~ 01

    Halllloooo All Reader Star Night. Masih pada menunggu Lanjutan cerpen karya Ana Merya yak?. Bakalan lama tuh. Lagi sibuk kayanya tu orang ngejar target 10 point nya?. Gkgkgkgkgkkgk..Nah dari pada kelamaan nunggu, mending baca dulu cepen kiriman dari adek, Penulis Cerpen benci jadi cinta Vanessa Vs Verly, dan Cerpen remaja Buruan katakan cinta. Ehem, Karyanya dia sebenernya banyak kok yang udah di post di blog. Tapi di blog Remaja Xsis. Kalau mau baca aneka cerpen karyanya dia yang laen bisa langsung kunjungin tuh blog.Karena blog ini sebenernya blog khusus kumpulan cerpen karya Ana Merya si harusnya. Cuma kalau memang ada yang mau ngirim kesini kenapa enggak.Okelah dari pada kebanyakan Bacod mending lansung baca yok. PS: Judul Asli si "karma" tapi ku ganti jadi "Story About Us""kamu seriuz?!" tanya Vanna."ya seriuz lah, sorry ea, aku nggax ada pilihan laen, tapi kamu tenang aja, demi kamu, aku bakal balik lagi kesini, setelah urusan aku di sana selesai" kata Vanno."tapi van…""say… kamu dengerin aku,… aku nggax bakal lupain kamu, aku beneran sayang sama kamu, ini juga urusan pekerjaan kok. kamu harus ngertiin aku donk" kata Vanno.sebagian

  • Cerpen Remaja ‘FCMCSG’ Part 2

    CerpenFCMCSGBagian 2 Cerpen FCSCMG karya Mia Mulyani bagian kedua. Monggo langsung di baca. Credit Gambar : www.desainkawanimut.comcerpenBegitu pak Retno melangkah keluar meninggal kan kelas, Feisya segera menghampiri meja Sarah. Tau tuh tu anak mo ngapain dari tadi saat belajar justru malah nge'sms buat berengan pulangnya."Ada apaan?" tanya Feisya to the point."Loe keluarnya bareng gue. Tunggu bentar. Gue beresin buku – buku gu dulu"."Emang nya kita mau ke mana?" tanya feisya lagi."Ke parkiran bentar"."Ha?. Mo ngapain?".sebagian

  • Cerpen Romantis: Kenangan Yang Terlupakan

    Kenangan yang TerlupakanCerpen oleh Bella Danny Justice“sialaaaaann!!!!!” teriak perempuan itu dengan histeris.“eh kenapa sih kamu Jes?!” Tanya teman sebangkunya dengan pelan.“Julian sialaaaann!!!” seru perempuan itu lagi dengan mimik kesal dan pipi merah padam menahan sebal.“Jessica! Kamu kira pelajaran saya pelajaran seni musik apa?! berdiri dan angkat 1 kaki kamu di luar kelas!” hardik Ibu guru yang sedang menjelaskan pelajaran, dan merasa sangat terganggu oleh suara lantang dari Jessica.Dengan pasrah dan agak menyesal akhirnya Jessica meninggalkan tempat duduknya, dan menjalani hukuman dari Bu Priyati sang guru Matematika. Selama 2 jam pelajaran, Jessica yang hanya berdiri tegap itu terus memanyunkan bibirnya dan ngedumel dalam hati soal cowok bernama Julian. Entah kenapa Jessica sangat tidak menyukai cowok itu, padahal Julian adalah sepupunya! Julian sendiri sering datang kerumah Jessica untuk main, tapi kali ini dia sangat-sangat kesel terhadap saudaranya itu. Sesampainya dirumah, ia mendapati lagi Julian dirumahnya sedang bercakap-cakap diruang tamu bersama mamanya. Jessica tidak menghiraukan kehadiran saudaranya dan langsung berlenggang menuju kamarnya di lantai 2. Tapi saat ia baru mau menaiki anak tangga tiba-tiba suara itu datang..“Jessica, ini ada saudara datang ko ga dikasih salam malah langsung nyelonong gitu aja kaya bajaj?” sahut mama Jessica.“dia udah sering dateng jadi ngapain harus aku selalu kasih salam. Udah ah, aku mau ganti baju dulu ma.” Ujarnya ketus lalu melanjutkan lagi langkah kakinya menuju kamar.“maaf ya Ju, Jessica emang sifatnya keras kepala.” Kata mama Jessica yang menyampaikannya dengan sedikit ga enak hati pada Julian yang sedang meneguk sirup cocopandannya.“ngga papa tante. Itu juga aku udah tau, dari kecil dia emang kaya gitu sifatnya hehe. Aku mau langsung ke kamarnya aja ah. Permisi ya tan.” Ucap Julian yang memaklumi sifat Jessica. Ia pun langsung menuju ke lantai 2 ke kamar Jessica. Tanpa ragu-ragu Julian langsung membuka pintu kamar cewek itu dengan nada mengagetkan.Bersamaan dengan pintu yang terbuka. “WWOOOY!!!” didapatinya Jessica yang memakai tank top hitam sedang sibuk memilih baju rumah yang biasa ia pakai.“eh gilaaaa!!! Aku lagi ganti baju dodol! Sana pergi!!” seru Jessica yang kaget akan tingkah Julian.“lebay banget, kamu kan masih pake tank top ngga telanjang ini!” tuturnya enteng.“ihh dasar mesum!! Tutup lagiii pintunyaaaaaa sekaraaaanggggg!!!!” teriak Jessica dengan sekuat tenaga. Julian yang merasa gendang telinganya sebentar lagi akan pecah langsung menuruti perintah sepupunya itu.“eh Jes, gila ya?!! Kamu pengen bikin aku budek karena suara kamu yang cempreng dan nyaring itu?!” kata Julian.“iya! Aku pengen bikin kamu tuli! Jangan pernah dateng kerumah aku lagi! Aku ga suka sama kamu!” jawab Jessica tanpa ragu dari balik pintu kamarnya.Sejenak tidak ada suara balasan dari Julian, lalu suara itu muncul lagi dengan nada pelan. “Jes, dengerin dulu..aku mau ngomong sebentar.” Otak Jessica mulai berpikir, ada apa sih sama saudaranya itu?! Kenapa dia selalu datang kerumahnya dan ingin sekali dekat dengan dirinya? Apa Julian sudah gila? Setiap hari dia nerima aja omelan serta teriakan Jessica yang menolak untuk bertemu dengannya. Meskipun di marahin abis-abisan setiap ketemu tapi tetep aja Julian ga pernah absen dateng kerumah Jessica.“Julian, siapa sih dia?! Aku ga inget punya sepupu/saudara namanya Julian? Aku ga bisa inget siapa dia! Tapi kenapa nama itu bikin kepala aku pusing setiap kali memikirkannya?” ujarnya dalam hati. Julian…Julian…Julian… Pandangan Jessica mulai kabur, kepalanya pusing, entah kenapa badannya seperti tidak seimbang dan melayang-layang.“Jes, tolong buka pintunya sebentar..” ucap Julian yang mulai penasaran kenapa sedaritadi hanya hening yang ia dengar dari kamar Jessica, kemudian dengan hati-hati ia pun membuka pintu kamar Jessica, didapatinya perempuan itu pingsan!! Segera Julian dengan wajah panik menggendong Jessica ke tempat tidurnya dan memberitahu tante Christy tentang keadaan anaknya. Saat itu Julian benar-benar seperti orang kalap! Hanya melihat Jessica yang tergeletak pingsan saja membuatnya seperti ingin mati menyelamatkan cewek satu itu. Tante Christy yang memperhatikan gerak-gerik Julian pun berkata: “Ju, kamu tidak lelah dengan semua ini?”“jangan berkata seperti itu dulu tante, sekarang ngga tepat waktunya.” Kata Julian yang mengusapkan minyak kayu putih ke kening dan hidung Jessica.“aku pulang dulu, kalau Jessica sudah siuman jaga dia ya tante.” Ucap Julian.Setelah berpesan pada Tante Christy, Julian pun pergi dari tempat itu. Ia memang merasa sangat lelah dengan ini, tapi sekarang belum sempat baginya untuk menjelaskan. Sedangkan, Tante Christy yang setia menunggu anak semata wayangnya itu siuman sampai-sampai tertidur karena cukup lama Jessica tidak sadarkan diri.“ica, kamu jangan ikutan main bola ya! Nanti mama kamu marah sama aku kalo kamu kenapa-kenapa.”“gak papa ian!! Ica mau ikut main bola pokoknya!” ucap anak perempuan berumur 8 tahun itu.“kamu liatin aku aja ya. Ica kan cewek ga pantes main bola.” Kata Ian yang berusaha melarang Ica untuk ikut bermain bola.“iyauda, yang penting aku ikut Ian.” Senyum manis Ica pun langsung terpampang jelas di wajah lugunya. Ian sangat senang mempunyai teman kecil seperti Ica, Ica beda dengan anak cewek yang lainnya. Pasalnya, Ica ga cengeng seperti kebanyakan anak-anak cewek seusianya, Ica juga agak tomboy karena dia suka main sama anak-anak cowok terutama sama Ian. Hal itu membuat dua anak kecil ini tumbuh bersama-sama. Sampai masuk playgroup,TK, SD pun mereka tidak terpisahkan, dan sangat dekat. Tapi suatu hari kabar buruk pun datang untuk Ian.“Ian, Ica besok mau pindah rumah jadi kita ga bisa main sama-sama lagi deh.” Ujar Ica dengan isak tangisnya yang malu melihat wajah Ian.“Ica memangnya mau pergi kemana?” Tanya Ian.Dengan berderai air mata Ica berusaha berbicara. “Ica juga ngga tau Ian, tapi yang jelas pindahnya jauh. Kita jadi ga bisa ketemu lagi.”Sejenak anak cowok bernama Ian itu terdiam akan kabar yang sangat mengagetkan ini. Ia tidak tau harus berkata apa, tapi yang pasti hatinya sangat terpukul bahwa Ica akan pergi meninggalkannya. Akhirnya anak cowok itu pun membuka mulutnya “Ica, kamu tenang aja. Ian pasti akan temuin Ica, Ica jangan takut. Ica mau janji ngga sama aku?”“janji apa Ian?” Tanya Ica masih dengan tangisnya yang tak berhenti. “Ica janji ya akan tunggu Ian? Jangan lupa sama Ian.”“Ica ga mungkin lupa Ian! Ian temen Ica yang paling baik! Ica janji, tapi Ian harus ketemu Ica lagi.”“Ian…Ian…Ian…”Mama Jessica langsung terbangun saat mendengar anaknya bergurau nama Ian. Sang mama pun langsung menyadarkan Jessica dari gurauannya itu. Setelah diberi air putih oleh mamanya dan bersandar di punggung kasur beberapa saat, keadaan Jessica terlihat kembali normal dan ia pun membuka topic “ma, Ian itu siapa? Tadi aku mimpi tentang masa kecil aku sama cowok bernama Ian.” Ucap Jessica lemah.Mamanya kaget ketika Jessica bertanya seperti itu. “memangnya kamu ingin tau tentang dia?” Tanya mama yang membuat Jessica semakin penasaran di kondisinya yang masih limbung itu.“cepetan kasih tau aku ma siapa Ian itu!” kali ini Jessica berkata dengan sedikit menaikan intonasi pembicaraannya.“Ian adalah Julian…”Belum sempat melanjutkan penjelasan, Jessica langsung memotong perkataan mamanya dan tampak begitu kaget. Keadaan yang tadi lemah kini tiba-tiba entah bagaimana menghilang dari tubuh Jessica. “mama jangan bercanda!! Julian itu saudara aku!!”*** “Ica, apa kamu sudah benar-benar ngelupain aku? Tidak adakah sedikit sisa kenangan tentang aku di hatimu?” kata Julian sambil meraih foto waktu ia kecil bersama dengan Jessica dan terus memandanginya.“Julian..” suara yang tidak asing itu memasuki kamar Julian dan menghampiri dirinya.“papa?”“kamu sudah berusaha sangat keras terhadap Jessica, jadi bagaimana keputusan kamu? Kalau kamu merasa segalanya sudah tidak mungkin dapat kembali lagi, papa ingin kamu meneruskan sekolah ke luar negri.” Kata papa Julian yang memegang bahu putranya.Julian tidak berani memutuskan untuk pergi ke luar negri, walaupun semuanya terasa mustahil untuk diingat kembali tetapi ia tidak bisa meninggalkan Jessica. Janjinya dulu terhadap teman kecilnya itu membuatnya tak bisa pergi dari Jessica, meski Jessica tidak mengenal dirinya…“putuskanlah besok, papa tidak mau kamu terus terjebak dengan masa lalumu yang bahkan tidak dapat diingat oleh Jessica.”***I'll find you somewhereI'll keep on tryingUntil my dying dayI just need to knowWhatever has happenedThe truth will free my soulWherever you areI won't stop searchingWhatever it takes me to know(Within Temptation – Somewhere) Lagu dari band favorit Julian begitu melukiskan kisahnya akan Jessica. Hari ini adalah hari terakhirnya untuk bertemu teman kecilnya itu, dan hari ini juga akan dia putuskan untuk meneruskan sekolah diluar negri atau tetap melanjutkan perannya yang memilukan.Setibanya dirumah Tante Christy, Julian langsung disambut dengan hangat. Ia duduk diruang tamu dengan gelisah dan terus memikirkan perkataan papanya semalam untuk pergi sekolah ke luar negri.“sebentar ya Julian, tante tinggal dulu.”“iya ngga papa tante.”Menunggu, menunggu dan menunggu…beberapa puluh menit ia menunggu Tante Christy yang tak kunjung kembali, padahal ia ingin menyampaikan pesan kepada Jessica melalui Tante Christy untuk yang terakhir kalinya.“Julian..” terdengar suara perempuan yang tak salah lagi adalah…Jessica!!“oh, J, Jess..keadaan kamu udah membaik?” ucap Julian dengan terbata-bata dan terlihat seperti orang kikuk.“keadaan aku ternyata ga pernah baik selama ini, iya kan?” perkataan Jessica membuat Julian kebingungan atas apa yang ia bicarakan.“apa maksud kamu?” Tanya Julian singkat.Jessica tampak termenung, ia menundukan kepalanya menatap lurus lantai rumahnya. Julian yang kebingungan juga jadi ikut-ikutan terdiam tak bergeming. Hening kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan mereka. Tak ada yang berani membuka mulut lebih dahulu, Jessica pun belum menjawab pertanyaan Julian yang tak mengerti akan perkataannya. Namun, beberapat saat Jessica mulai kembali berbicara.“Ian…kenapa terus menunggu Ica? Padahal Ian udah temuin Ica, tapi kenapa Ian pengen Ica ngga kenal sama Ian? Mama udah ceritain semuanya.” Ucap Jessica yang memanggil Julian dengan sebutan masa kecilnya dulu, ia merasa sangat menyesal karena selalu bersikap kasar kepada Julian yang ternyata adalah Ian teman dekat waktu ia kecil dan bukan saudara/sepupunya!Kata-kata dari mulut Jessica yang memasuki telinga Julian membuat matanya terbelalak, ia melihat Jessica yang mulai meneteskan air mata dan terlihat begitu sedih karena merasa sudah dibohongi oleh dirinya. “aku ga pernah berniat membohongi kamu Ca, tapi kecelakaan yang membuat kamu hilang ingatanlah yang menjauhkan kita. Aku merasa percuma saja kalau aku mengatakan bahwa aku adalah Ian teman kecil kamu, sedangkan kamu tidak mengingat apa pun tentang aku. Jadi, aku putuskan untuk menunggu dan berpura-pura menjadi saudara kamu. Ini semua begitu menyakitkan bagi aku..melihat kamu setiap hari yang tidak mengenal aku..itu sangat menyakitkan.” Seketika itu Julian mulai meneteskan beberapa derai air mata yang mengalir di pipinya.“aku minta maaf. Aku nggak tau kalau kamu telah begitu menderita karna aku, aku memang ngga pantes jadi temen kamu.” Tangis Jessica meledak setelah mengucapkan kalimat itu, ia tidak tau bahwa selama ini Julian berusaha mencarinya dan menunggunya di balik kenangan yang terlupakan oleh Jessica.“kamu memang bukan hanya teman, tapi kamu adalah perempuan yang membuat aku bisa menunggu begitu lama dan itu membuat aku sangat menyukaimu. Aku suka sama kamu Ca, dari semasa kita kecil, kita berpisah, aku temuin kamu, aku berpura-pura, dan bahkan sampai saat ini.” Ujar Julian yang mengakui perasaannya yang terpendam selama ini. Setelah bertahun-tahun terpisah dan berpura-pura akhirnya ia dapat mengucapkan kata-kata yang tertahan sudah begitu lama di hatinya.“aku…aku juga menyukai kamu Ian, dari dulu..maaf aku pernah melupakan kamu.” Ujar Jessica dengan lirih.“oia, aku ga mau manggil Ian lagi, karena nama itu adalah masa laluku yang terlupakan, dan sekarang yang ada dihadapan aku itu Julian. Jadi kamu juga jangan panggil aku Ica lagi. Kalo kamu ngga panggil Jessica, aku ga jadi suka ah.” Kata Jessica yang tertawa kecil sambil menghapus tangis di pipinya yang sudah agak mengering.“habis nangis ketawa makan gula jawa nih ya?” goda Julian yang menyunggingkan senyum manisnya pada Jessica.“iiihhh!!!! Ngeselin!!!” ucap Jessica yang merasa kesal digodai padahal ia berkata serius.“ok, ok..Jessica I heart U.” goda Julian lagi.“iiih!! Apaan sih kamu! Aku tuh ngga suka sama Sm*sh!” serunya dengan nyaring.Kejadian yang tidak disangka ini pun terjadi. Julian yang mengira usahanya selama ini akan berhenti sia-sia juga masih tidak percaya bahwa hari seperti ini, hari yang ia dambakan datang padanya. Jessica yang 9 tahun sudah menghilang dan ia temukan kini dapat mengingat kembali dirinya. Rencana untuk meneruskan sekolah ke luar negri pun ia batalkan. Tante Christy yang menyaksikan dari jauh sangat senang melihat bahwa anaknya dapat mengingat kembali semua hal yang pernah terlupakan.“Jessica…ternyata aku memang tidak bisa meninggalkan kamu. Rasa sayangku terlalu besar dari keberanianku untuk berhenti menunggu saat seperti ini. Aku sangat menyayangimu.” Kata Julian dalam hati yang diiringi pelukan hangatnya dengan Jessica.Say my name, so I will know you're backYou're here again for a while..Oh, let us share the memories that only we can share together..Tell me about the days before I was born, how we were as children.. (Within Temptation – Say My Name)TAMATOleh : Bella Danny JusticeTwitter : @bellajusticeee-mail : alexa.bella14@yahoo.com

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart” ~ 01

    Salah satu kisah remaja yang admin tulis adalah cerpen remaja Take My Heart, kisah remaja yang merupakan lanjutan dari cerpen pendek pupus yang telah di posting sebelumnya. Secara cerpen yang satu itu kan sad end, so biar happy di tarik kesini. He he he. Nah, buat yang penasaran bisa langsung read ke bawah. Ini merupakan part awal, so silahkan simak detailnya. Jangan lupa RCL ya…Cerpen take my heartOrang bilang cinta itu sederhana, Cukup aku dan kamu, Yang lain cuma nonton. Tapi sayangnya, tidak semua orang menyukai kesederhanaan. Layaknya hidup yang menginginkan kemewahan…. #Take My Heart"Ah, Mereka benar – benar pasangan yang serasi ya?.""Ia. Yang satunya Prince, yang satunya lagi Princess.""Sulit di percaya, kedua idola di kampus kita bisa jadi pasangan."Laura terus melangkah sambil tersenyum bangga mendengar kalimat demi kalimat yang mampu di tangkap oleh indra pendengarnya. Sesekali matanya melirik sosok yang berjalan tepat disampingnya. Menuruti tawaran menjadi pacar Ivan, Idola kampusnya walau selama ini terkenal dengan Cap Playboy ternyata bukan ide yang buruk. Terbukti pamornya makin menanjak semenjak itu. Padahal baru terhitung seminggu mereka jadian."Sayang, kita ke kantin dulu yuk. Gue laper nih," ajak Laura terdengar manja, Ivan menoleh kearahnya. Mengangguk setuju sambil pasang senyum manis.Begitu mereka menginjakkan kaki di kantin, seperti biasa langsung menarik perhatian semuanya. Mulai terdengarlah suara suara berbisik yang membicarakan tentang keduanya."Kok kita duduk disini si?" bisik Laura lirih saat mendapati Ivan duduk santai di meja tengah bersama ke tiga teman karibnya. Biasanya kan bila mereka berdua mereka selalu duduk berdua di pojokan."Oh, itu karena gue punya kejutan buat loe. Bener gak guys?" tanya Ivan sambil tersenyum misterius kearah teman – temannya."Oh ya?" wajah Laura tampak bercahaya."Nggak yakin loe suka, tapi kalau kaget bisa jadi," Ivan menambahkan."Apa?" tanyanya sedikit mengernyikan dahi."Gue mau kita putus," kata Ivan singkat, padat dan jelas."Apa?!" kali ini Nada kaget yang keluar dari mulut Laura. Setelah terlebih dahulu terdiam sejenak ia menambahkan sambil tertawa. "He he he, loe bercanda kan?""Jadi menurut loe ini lucu?" bukannya menjawab Ivan malah balik melontarkan pertanyaan."Tadi ini nggak masuk akal. Kita baru seminggu jadian. And hubungan kita juga baik – baik aja. Seenggaknya sebelum…" Laura melirik jam tangannya "20 detik yang lalu.""Heh, nggak masuk akal?" Ivan tampak mencibir. "Loe nggak lupa kan kalau gue ini seorang play boy?""Apa?""Sebenarnya, gue males banget pacaran sama loe. Tapi temen – temen gue nantangi apa gue bisa naklukin elo dengan sekali tembak kemudian memutuskannya di hadapan umum. Ya sudah, kebetulan taruahannya lumayan gue si ikut aja. Terbukti kan gue yang menang?" kata Ivan sambil menadahkan tangan ke arah Renold, sahabatnya yang duduk tepat di hadapannya. Dan detik berikutnya lembaran uang ratusan sudah tertera di sana."Ma kasih ya, Sekarang loe boleh pergi".Refleks tangan Laura melayang. Namun belum sempat mendarat di wajah Ivan, tangannya sudah terlebih dahulu dicekal."Loe pikir siapa elo berani nantangin gue ha?" kata Ivan lirih namun penuh penekanan. "Asal loe tau aja, image loe sebagai cewek idola di kampus ini, yang selalu berhasil naklukin hati cowok ternyata cuma gosip murahan. Buktinya loe dengan gampangnya bertekuk lutut di hadapan gue," sambung Ivan lagi."Sialan loe. Dasar brengsek!" geram Laura sambil menghempaskan tangannya membuat cekalan Ivan langsung terlepas."Terima kasih atas pujiannya," senyum Ivan santai."Denger ya, gue akan pastikan loe akan menyesali apa yang loe lakukan saat ini sama gue. Inget, hukum karma itu berlaku. Loe pasti akan merasakan pembalasan yang lebih buruk dari apa yang loe lakuin ke gue," geram Laura dengan wajah memerah. Entah karena terlalu marah atau malu karena kini telah menjadi objek tontonan di kantin mereka."Kita liat aja nanti," Ivan cuek.Dengan kesel Laura berlalu membawa sejuta dendam dan sakit hati di hatinya. Sementara Ivan sendiri justru tertawa diikuti ke ketiga teman temannya."Wow, sulit di percaya. Loe benar – benar melakukannya," Komentar Renold sambil menggelengkan kepala kagum menyaksikan drama satu babak yang baru saja terjadi di hadapannya."Kenapa enggak. Lagipula ini cuma masalah kecil," sahut Ivan sambil menjentikan jarinya menyombongkan diri."Apa loe tertarik untuk melakukan taruhan lagi?" Andra angkat bicara.Ivan terdiam. Matanya melirik lembaran lembaran merah yang berada di tangannya. Setelah berpikir sejenak ia kembali berujur."Jika kalian siap untuk kalah lagi.""Wow, Pe-De sekali," cibir Renold."Jadi apa aturan mainnya?" tanya Ivan lagi.Andra tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit dengan sebuah senyuman misterius di wajahnya."Kita liat aja nanti".~ Take My Heart ~ "Apa yang mau kita lakukan di sini?" tanya Renold bingung saat Andra menghentikan langkahnya di koridor kampus."Tentu saja untuk melanjutkan rencana permain kita," terang Andra santai."Makstu loe?" tanya Ivan."Sebelum gue jawab, gue pengen nanya sekali lagi. Ivan, loe siap untuk ber'Main?" tanya Andra sambil menoleh kearah Ivan yang hanya di balas anggukan mantap."Apapun?" Andra menegaskan."Apapun selama itu masih terkait dengan ketenaran gue selaku playboy!" balas Ivan membuat temannya mencibir mendengarnya."Baiklah, taruahannya sepuluh juta. Deal?" tanya Andra lagi."Tunggu dulu, loe belum menentukan apa permainannya?" potong Ivan."Baiklah, kalian lihat pintu itu?" tunjuk Andra kearah ruangan dosen."Iya. Kenapa?" Renold masih terlihat bingung."Itu permainannya.""Maksut loe?" tanya Aldy yang sedari tadi diam memperhatikan tampang bingung. Tangannya terulur membenarkan letak kaca matanya."Loe," tunjuk Andra kearah Ivan. "Harus bisa menaklukkan siapapun yang pertama sekali keluar dari pintu itu.""Apa?!" secara koor ketiga orang itu berujar tak percaya."Bagaimana kalau yang pertama keluar dari pintu itu adalah pak Burhan?" celetuk Aldy.Semuanya terdiam untuk sejenak sambil membayangkan sosok yang di sebut Aldy barusan. Pak Burhan, pria gendut, berkepala botak lengkap dengan kacamata minus yang selalu bertenger di wajahnya. Di tambah dengan raut wajahnya yang jelas – jelas sangar sontak langsung membuat Ivan bergidik ngeri."Ivan loe tertarik untuk menunjukan pesona loe pada …. bapak – bapak?" tanya Andra sambil berusaha menahan tawa saat melihat tampang kecut Ivan."Ke laut aja loe," damprat Ivan kesel."Wukakkakak. Oke aturan main kita rubah dikit. Siapapun wanita yang pertama sekali keluar dari pintu itu, loe harus bisa naklukin dia dalam waktu satu bulan? Bagaimana?" tawar Andra lagi."Terus kalau Bu Susi yang pertama sekali keluar bagaimana?" gantian Renold angkat bicara menyebutkan salah satu dosen di kampusnya yang terkenal sangar."Ya itu resiko" Andra cuek bebek."Tapi dia kan sudah punya suami. Apa loe bermaksud menjadikang gue sebagai manusia perusak rumah tangga orang?" potong Ivan terlihat frustasi."Wukakkaka…. Loe takut memiliki image sebagai perusak rumah tangga orang atau loe sebenernya takut mereka adalah wanita – wanita setia pada suaminya?" tanya Andra balik."Lagian, ayolah. Kaliaankan dari tadi hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana kalau yang keluar dari sana adalah ibu Silvia?" tambah Andra lagi.Membuat ketiga temannya kembali berimaginasi membayangkan sosok Silvia. Dosen bahasa di kampus mereka. Selain masih single, dosen yang satu itu juga selalu bersikap ramah pada Ivan jika tidak ingin di katakan kalau dosen itu tertarik padanya. Terlebih parasnya juga cantik."Deal. Gue setuju," kata Ivan akhirnya."Loe serius?" Renold terlihat tak percaya."Ah ini beneran gila. Bermain – main sama dosen. Kalau ketauan apa nggak kita semua kena getahnya?" Aldy angkat bicara."Kalau loe takut, ya sudah loe maen kelereng aja sono," cibir Andra sinis membuat Aldy memberengut sebel."Oke deh, deal gue juga setuju" Renold menenggahi mau tak mau Aldy juga mengangguk setuju."Baiklah, permainan dimulai. Kita liat siapa yang beruntung," sahut Andra sambil menatap lurus kearah pintu ruangan dosen di kampus mereka.Satu menit, dua menit bahkan sampai lima menit pintu itu masih tertutup rapat. Tiada tanda – tanda akan ada yang keluar dari sana. Membuat keempat orang itu mendesah tak sabar. Barulah pada menit kesembilan lewat 37 detik pintu itu terbuka.Semuanya langsung pasang mata baik – baik sambil menahan nafas menanti siapa yang akan melewati pintu itu. Dan begitu melihat sosok tersebut melewatinya, mulut semuanya langsung terbuka tak percaya. Tapi di detik berikutnya…."wuakkakakakakka" Tawa langsung meledak dari bibir masing masing."Ternyata beneran pak Burhan. Ini si, beneran belum beruntung namanya," komentar Andra setelah tawannya mereda."Tampang loe jangan pucet gitu donk Van, loe kan nggak harus pacaran sama dia," tambah Renold berusaha menghibur walau jejak tawa geli masih ada di wajahnya."Iya nih. Kayak di kerupuk – kerupuk (??) kan masih ada istilah 'Coba Lagi'," Aldy menimpali.Belum sempat mulut Ivan terbuka, pintu keramat sudah kembali terbuka. Membuat keempat orang itu kembali menoleh. Bertatapan langsung dengan sosok yang baru melewati pintu keremat. Suasana hening, hepi. Hanya ada kebisuan yang mendadak menyelimuti…Sosok itu…………..Next to Cerpen Take My Heart Part 02Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*