Cerpen Ketika Cinta Harus Memilih End

Dan pada akhirnya Cerpen Cinta Ketika Cinta Harus Memilih ketemu juga sama yang namanya part ending. Dan setelah ini nggak tau apa yang terjadi selanjutnya karena sepertinya sang admin tidak bisa merdeka lagi dalam hal beronline ria karena admin akan segera kembali kekampung halaman tercinta. Yang jelas, gak bisa internetan disana. Singnal hape aja susah, bbman pending mulu. Kalo gak percaya langsung aja datang ke Bokor – Selatpangaj, Kab. Kepulauan Meranti – Riau – Indonesia. Wkwkwkwkwk….
So, sebagai persembahan terakhir selama di pulau batam ini, Part end sebagai penutup. Buat yang penasaran sama ep sebelumnya bisa di cek pada cerpen cinta ketika cinta harus memilih part 15. Selamat membaca…

Ketika Cinta Harus Memilih
Sambil menikmati jus nya sesekali kasih mencuri pandang kearah cinta yang kini ada di hadapnya tampak menikmati makanannya. Saat itu sehabis pulang mereka memang tidak langsung pulang. Kasih sengaja mengajak cinta untuk makan bareng di salah satu kaffe langganan mereka.
“Cinta, apa rencana loe sekarang?” tanya kasih.
“He?” cinta mengangkat wajahnya. Menatap heran.
“Loe kan udah ketemu sama kakak loe. Terus rencana loe selanjutnya apa?”.
“O..” cinta mengangguk paham. “Kakak ngajak gue buat tinggal bareng sama dia. Yah seperti yang udah gue ceritain sama loe. Loe taukan gimana kondisi keluarga gue”.
“Terus…”.
“Ya gue setuju aja. Lagian sekarang kakak kan udah kerja. Dan dia sudah menyanggupi buat gurus semua keperluan loe. Dan besok dia akan keparis.
Kasih menoleh kaget.
“Paris?”.
“Iya . Urusan kerjaan” balas cinta sambil tersenyum.
Sementara kasih justru terpaku. Cinta setuju untuk tinggal bersama kakaknya. Dan kakaknya akan kerparis. Jadi maksutnya…..?.
“Maksut loe?. Jadi….” tanya kasih bingung.
Cinta hanya angkat bahu dengan senyum yang masih mengambang di bibirnya.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Dengan perasaan kesel Rangga memarkirkan motornya. Bukan langsung kekelas justru ia malah duduk terdiam sambil sekali – kali melirik kearah pintu gerbang. Tadi pagi ia sengaja menjemput cinta kerumahnya, tapi lagi – lagi gadis itu tidak pulang. Dan ia sudah memastikan kalau cinta tidak bersama Kasih. Mungkin ia bersama kakaknya, namun sialnya ia sama sekali tidak memiliki alamat nya.
Setelah beberapa saat menunggu matanya mengkap sosok kasih yang melangkah sedirian. Tanpa pikir panjang segera dihampirinya gadis itu.
“Kasih”.
Merasa namanya dipanggil kasih menoleh. Heran saat mendapati Rangga yang melangkah kearahnya.
“Ada apa?”.
“Gue boleh nanya sesuatu sama loe?”.
“Silahkan, tapi gue gak yang yakin gue mau jawab” Balas Kasih dengan santai.
“Loe tau di mana cinta”.
“Untuk apa loe nanyain dia. Gue denger loe udah putus sama dia”.
Rangga terlihat bingung untuk menjawab.
“Apa karena loe sudah di campakan oleh Cisa makanya loe nyari dia”.
“Apa?” Rangga kaget. Kenapa kasih bicara seperti itu.
“Makut loe?”.
“Setelah Cisa balikan lagi sama pacarnya loe berniat buat ndeketin cinta lagi kan?. Denger ya Rangga, cinta itu bukan barang atau mainan yang bisa loe ambil ketika loe mau ataupun justru loe buang ketika loe sudah tidak membutuhkan”.
“Itu nggak bener. Gue nggak pernah menganggap cinta seperti itu”.
“Tapi itu kenyataannya. Disaat dia terpuruk loe malah mutusin dia”.
“Kenapa si selalu gue yang di salahin. Sudah gue bilang yang di putusin itu gue. Kenapa kesannya malah gue yang salah” Rangga memprotes.
“Cinta nggak mungkin mutusin loe kalau nggak ada alasannya”.
“Loe salah, menurut cinta tidak semua hal harus ada alasannya”.
“Baik. Itu menurut cinta. Bukan menurut gue atau elo kan?”.
“Maksut loe?” tanya Rangga bingung.
“Apa alasan loe pengen ketemu cinta” Tanya Kasih langsung. “Dan dia itu sahabat gue. Jadi tentu saja itu urusan gue” Sambung Kasih lagi sebelum Rangga sempat bicara. “Gue tanya sekali lagi. Apa alasan loe menemui cinta”.
“Gue mau minta maaf sama dia…”.
“Dan ada yang pengen gue sampein kedia” Sambung Rangga lagi. Kasih menunduk. Terlihat berpikir untuk beberapa saat.
“Apa loe suka sama cinta?”.
“Apa?” tanya Rangga tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.
“Gue nggak tau. Maksut gue, gue masih belum yakin. Apa yang gue rasain ke dia itu beneran cinta atau Cuma perasan sesaat saja” balas Rangga terlihat bingung.
Mulut kasih terbuka tanpa suara. Ini orang benar – benar perlu di kasi pelajaran kayaknya.
“Baiklah. Kalau gitu anggap aja itu hanya perasaan sesaat” Balas kasih kesel dan segera bersiap untuk langsung berlalu. Tapi dengan cepat Rangga menahannya.
“Tunggu dulu. Loe kan belum jawab pertanyaan gue”.
Kali ini kasih berbalik menatap lurus kearah Rangga.
“Rangga, loe tau. Hidup cinta sudah cukup menderita. Sejak dulu nyokap bokapnya selalu berantem. Yang dia punya hanya kakaknya. Tapi….”.
“Gue tau…” Potong Rangga. “Maksut gue, gue udah tau soal keluarganya” Sambung Rangga menjelaskan Sebelum Kasih salah paham.
“Oh ya?. Kalau gitu loe pasti juga sudah tau donk. Kalau cinta sudah memutuskan untuk tinggal bersama kakak nya. Dan setau gue kakaknya hari ini berangkat ke paris”.
“Apa?”.
“Dan gue nggak yakin loe masih bisa ketemu dia lagi. Soalnya tadi gue SMS dia katanya sudah di bandara. Jadi mungkin saja sekarang dia…”.
Rangga sama sekali tidak mendegar ucpan kasih selanjutnya. dengan cepat ia segera melajukan motornya. Cinta akan pergi?. Meninggalkannya?. Ya Tuhan…. Kenapa Gadis sama sekali itu tidak pernah mau menunggunya. Bahkan hanya untuk menunggunya menyadari perasaannya.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Sambil terus berlari Rangga memandang kesekeliling. Bandara terlalu ramai. Matanya sibuk Mencari sosok cinta di antara begitu banyak orang. Dalam hati ia terus berdoa. Semoga ia masih di beri kesempatan untuk bertemu dengan gadis itu.
“Rangga?. Gue nggak salah lihat kan?. Loe ngapain di sini?”.
Rangga menoleh kaget, Mendapati Fadly yang kini menatapnya heran.
“Fadly loe harus bantuin gue”.
“Loe kenapa si?. Kok kayaknya panik gitu. Bantuin apa?”.
“Tolong bantuin gue cari cinta”.
“Cinta?. Disini?” Kening Fadly semakin berkerut heran.
“Gue harus nemuin dia sebelum dia pergi. Jadi loe harus bantuin gue sekarang”.
“Tunggu dulu. Loe kalau ngomong satu – satu. Gue nggak ngerti. Kenapa kita harus mencari cinta di bandara. Memang nya dia mau kemana?”.
“Dia akan ikut sama kakaknya. Dan gue nggak bisa biarin dia pergi gitu aja” Sahut Rangga terlihat lelah.
“Maksut loe?”.
“Karena nyokap sama bokapnya masih sering berantem, cinta memutuskan untuk ikut sama kakaknya. Dan sekarang mereka akan keparis”.
“Apa?”.
“Ah loe terlalu banyak nanya. Kalau loe memang nggak mau bantuin gue nyari dia, lebih baik gue cari sendiri” Kata Rangga kesel. Namun sebelum sempat Rangga berbalik.
“Oke sob. Gue bantuin loe. Kita cari cinta bareng – bareng. Lebih baik kita cari tau di bagian keberangkatan. Memangnya cinta akan kemana” Kata Fadly berusaha menenangkan.
“Menurut kasih, dia akan ke paris”.
“Paris?” Fadly menghentikan langkahnya.
“Rangga, tunggu dulu” Tahan Fadly menghadang langkah Rangga.
“Apa lagi”.
“Kalau memang cinta mau keparis, loe nggak usah mencarinya lagi” Sahut Fadly sambil menunduk.
“Apa?. Kenapa?. Apa loe nggak percaya sama gue?. Oke, mungkin agak terlambat tapi gue sudah menemukan jawabnya. Ternyata gue beneran suka sama dia. Dan gue nggak mau dia pergi” Balas Rangga sambil menunduk membuat Fadly merasa tidak tega melihatnya.
“Bukan, gue bukan nggak percaya. Hanya saja….”.
“Hanya apa?” Tanya Rangga tak sabar.
“Pesawat tujuan Paris hari ini sudah berangkat setengah jam yang lalu. Gue tau karena gue kesini juga untuk mengantar temen gue yang juga akan terbang ke paris”.
“Apa?” Rangga mengeleng tak percaya. Tiba – tiba ia merasa sama sekali tak bertenaga. Dengan santai tubuhnya merosot turun, untung Fadly cepat tanggap dan segera menahannya.
Setelah beberapa saat Rangga melepaskan tanggan Fadly. Dengan langkah terhuyung ia melangkah meninggalkan bandara. Tatapannya kosong. Dalam hati ia terus merutuki dirinya sendiri.
“Ternyata dia memang sama sekali tidak mau menunggu…” Gumam Rangga lirih. “Harusnya gue tau itu sehingga gue bisa menyadarinya lebih cepat. Cinta maafin gue”.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Sama sekali tak bersemangat Rangga tetap nekat kekampus. Paling tidak ia tidak ingin terlihat terlalu menyedihkan. Setelah memarkirkan motornya di tempat biasa ia melangkah menuju kekelasnya. Sebentar – sebentar ia menghembuskan nafas berat. Tiba – tiba dadanya terasa sesak saat menyadari bahwa ia tidak akan menemukan lagi gadis itu dikampusnya karena……..
“Cinta?” Rangga mengucek – ucek matanya. Apa mungkin ia berhalusinasi. Kenapa ia bisa melihat gadis itu yang tampak sedang melangkah sambil tak henti bercerita pada kasih sementara baru kemaren pagi ia mendengar kabar bahwa gadis itu pergi.
Cinta menghentikan langkahnya saat matanya menemukan sosok Rangga yang berdiri terpaku dihadapannya dengan tatapan terjurus kearahnya. Mencoba mengabaikan hal itu, cinta segera berniat untuk berlalu. Namun Tangannya sudah lebih tertahan oleh gengaman. Dan cinta bisa memastikan kalau tanggan itu milik Rangga.
“Cinta, Kenapa loe masih di sini?”.
“Apa loe benar – benar berharap gue menghilang?” Cinta balik bertanya dengan pandangan lelah.
Melihat Rangga yang hanya terdiam Cinta berniat untuk berlalu. Namun bukannya benar – benar berlalu tubuhnya justru terasa kaku saat mendapati Rangga yang menariknya, memeluknya dengan erat.
“Janggan pergi” Bisik Rangga.
Cinta masih terdiam. Sama sekali tidak bereaksi atau mungkin ia tidak tau harus bereaksi seperti apa.
“Tetap lah disini. Tolong jangan pernah pergi lagi cinta” Kata Rangga lagi. Kali ini ia melepaskan pelukannya. Menatap lurus kearah mata cinta.
“Ma… maksut loe?”
“Gue tau loe nggak pernah menunggu gue karena gue nggak pernah memintannya. Maka dari itu, Kali ini gue minta dengan sangat tolong tetap di sini. Disamping gue”.
Cinta kembali terdiam. Memberik kesempatan kepada Rangga untuk melanjutkan ucapannya. Tapi sepertinya Rangga malah kembali terdiam.
“Gue masih nggak ngerti” Sahut Cinta dengan raut bingung.
Untuk sejenak Rangga menghela nafas.
“Cinta, Gue suka sama loe”.
“Ha?” Kali ini bukan hanya cinta yang kaget tapi juga kasih dan beberapa orang yang kebetulan berada di sekitarnya.
“Loe suka sama gue?. Nggak salah?” Tanya Cinta sangksi.
“Tentu saja tidak. Walaupun sedikit lambat, tapi gue tau perasaan gue sendiri”.
“Bagaimana dengan Cisa. Apa loe ngelakuin ini karena benar – benar suka sama gue tau justru hanya pelarian”.
“Apa?”.
Gantian Rangga yang kaget. Menanti penjelasan lebih lanjut dari cinta. Pelarian?. Maksutnya apa?. Tapi cinta sendiri sepertinya tidak tertarik untuk menerangkan lebih jelas maksut dari ucapannya. Terbukti dengan tubuhnya yang bersiap berbalik jika saja Rangga tidak lebih cepat untuk menahannya.
“Apa maksut ucapan loe?”.
“Apa masih harus gue jawab?” cinta balik bertanya. “Loe suka sama dia, Tapi setelah loe tau kalau dia balikan lagi sama pacaranya loe justru….”
Cinta tidak melanjutkan ucapannya. Entah mengapa tiba – tiba dadanya terasa nyesek membayangkan kalau ia tidak lebih hanya di jadikan pelampiasan cinta Rangga yang sepertinya tidak berbalas.
“Gue memang suka sama Cisa”.
Cinta mengangkat wajahnya. Menatap lurus kearah wajah Rangga. Merasa tak percaya mendengar apa yang baru saja di dengarnya. Rangga sendiri mengakui kalau ia mencintai gadis lain tapi justru dengan santai memintanya untuk kembali?.
“Gue memang suka sama Cisa, Tapi itu dulu. Sebelum gue kenal sama loe. Sebelum loe datang dan mengantikan posisinya di hati gue” Rangga melanjutkan ucapannya yang membuat cinta kembali terdiam terpaku.
“Karena itu cinta” Rangga sengaja menghentikan ucapannya untuk menarik nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan “Mau kah loe kembali mengulang kisah kita. Kali ini gue janji gue akan melakukan semua yang terbaik yang bisa gue lakukan asal loe janji loe nggak akan pergi ninggalin gue?”.
Cinta masih terdiam. Mencoba mencerna apa yang terjadi. Rangga?. Menyukainya?. Ini pasti hanya mimpi.
“Loe mau kan jadi pacar gue sekali lagi?”.
Cinta benar – benar tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia juga sama sekali tidak menyadari kepalanya yang mengangguk berlahan. Bahkan ia tidak menyadari suara riuh di sekeliling saat mendapati untuk kedua kalinya tubuhnya berada dalam pelukan Rangga kalau saja Kasih tidak mengingatkannya bawa saat itu mereka masih berada di halaman kampus.
“Jadi, mulai sekarang kita resmi pacaran lagi kan?” Tanya Rangga setelah melepaskan pelukannya. Lagi – lagi cinta hanya membalas dengan anggukan. Sementara kasih juga hanya tersenyum melihatnya, Namun senyum itu langsung memudar saat mendegar kalimat lanjutan dari mulut Rangga.
“Kalau gitu loe bisa menjelaskan kenapa loe nggak jadi keparis padahal gue sudah sangat panik waktu mencari loe di bandara kemaren?”.
“Paris?” Kening cinta berkerut heran.
“Iya, soalnya kasih bilang…” Rangga tidak jadi melanjutkan ucapannya. Matanya sedikit menyipit menatap kasih yang terlihat gelisah.
“Cinta, Sory ya. Gue duluan” Pamit Kasih tiba – tiba tapi langsung terhenti karena Rangga sudah menghadang jalannya.
“L…loe kenapa liatin gue kayak gitu” Kasih terlihat keki, sementara cinta hanya mengernyit heran.
“Loe ngerjain gue ya” Tembak Rangga langsung.
“Ha…. Nge… Ngerjain apa?” Kasih terlihat gugup.
“Cinta” Rangga mengalihkan tatapannya kearah cinta. “Semalam loe nggak masuk kuliah kemana?” tanya Rangga.
Walau sedikit bingung cinta tetap menjawab. “Semalam gue nggak masuk?. Siapa yang bilang?. Gue datang kok semalam. Emang agak terlambat dikit si. Memangnya kenapa”.
“Kasih……” Suara Rangga terdengar menyeramkan, kasih saja sampai merasa merinding. Mencium gelagat buruk ia segera bersiap untuk kabur tapi tangan Rangga sudah terlebih dahulu menahannya.
“Mau kemana loe?”.
“Mampus gue….” Keluh Kasih dalam hati.
“Lepasin tangan loe dari cewek gue”.
“He….?” Rangga, cinta dan Kasih serentak menoleh. Menatap kearah Erwin yang kini menatap tajam kearah Rangga.
“Cewek loe?” tanya Rangga dan cinta bersamaan.
“Iya, dia cewek gue. Jadi jangan berani – berani loe ganggu dia lagi” kata Erwin sambil menarik tangan Kasih mendekat kearahnya.
“Eh tunggu dulu. Sejak kapan gue jadi cewek loe?” Tanya Kasih heran.
“Sejak detik ini juga. Dulu gue pernah keduluan Rangga waktu ngedeketin cinta. Gue nggak mau kali ini gue keduluan temennya dia” tunjuk Erwin tepat kearah wajah Rangga yang masih terpaku. “Yang gue tau mulai PDKT ke elo”.
“Ha?” Mulut kasih terbuka tanpa suara.
“Ya sudah, ayo gue antar loe kekelas. Maaf cinta, kita duluan” Pamit Erwin sambil mengandeng tangan Kasih. Menggenggamnya erat menuju kekelas. Mengabaikan sekeliling yang menatap mereka heran. Bahkan juga mengabaikan tatapan shock kasih.
Melihat tingkah sepasang temannya barusan Cinta dan Rangga reflek saling pandang. Kening cinta sedikit berkerut saat melihat senyum di wajah Rangga yang mulai melebar.
“Hei, mungkin kan kisah kita akan terulang kembali?” Bisik Rangga lirih.
Cinta terdiam tampak tersenyum. Sedikit mengangguk membenarkan dan mulutnya berujar.
“Untuk yang satu itu, biarkan waktu yang menjawabnya”.
End …
Akhir kata, Sayonara Batam… 26 Agustus 2012 s/d 22 Desember 2013.
Admin LovelyStarNight……

Random Posts

  • Cerpen Spesial Valentine ‘Karena yang gue suka itu, Elo!!!’

    Halo sahabat Star Night, bentar lagi katanya valentine day ya?. Bukan berarti admin ikut merayakan makanya admin bikin posting beginian. Hanya saja, sayang aja kalau moment setahun sekali ini di lupakan gitu aja. So seperti beberapa tahun kebelakang, admin selalu bikin cerpen special valentinnya. Yang pertama “Sepotong choklat untuk Nanda” dan tahun kemaren ada “ Cinta ku berawal dari facebook”, Nah kali ini “Karena yang gue suka itu, elo”. Ide dadakan yang benar – benar di ketik secara mendadak. Penasaran? Check this out….cerpen spesial valentineWalau mata Kharisya menatap lurus kedepan, namun pikirannya kali ini jelas bercabang – cabang entah kemana. Sesekali tangannya terangkat memijit kepalanya yang tak jarang malah ia ketuk – ketuk (???) dengan menggunakan pena. Hal yang ia lakukan kalau pikirannya sedang kusut.Gumpalan kertas yang mengenai kepala sebelum kemudian mendarat diatas meja sontak membuat kepala Kharisya menoleh. Matanya terhenti pada mata Arvin yang duduk selang beberapa meja di belakang yang kini sedang menatap kearahnya. Menjadi petunjuk kalau ia adalah pelakunya. “Kenapa?” Tanya Kharisya dengan gerak bibir, namun Arvin tetap diam. Hanya memberi isyarat kepada gadis itu untuk mengambil kertas yang ia lemparkan.‘Gue tau loe itu emang udah Oon dari sononya, tapi kalo loe terus – terusan mukulin kepala loe, gue jamin, loe pasti makin Oon. Jadi selaku sahabat yang baik and pinter, mending loe cerita ada apaan. Kali aja gue bisa nambahin.’Kharisya tak mampu menahan diri untuk tidak memutar mata ketika menyelesaikan membaca kalimat yang tertera. Dengan kesal di remasnya kertas tersebut, dan langsung ia lemparkan kekepala Arvin tanpa perlu membalas kalimatnya."Loe kenapa si? Kusut banget tu muka kaya belon di strika?" tanya Arvin sambil berusaha mengejar Kharisya yang sudah duluan melangkah pulang tanpa memperdulikan dirinya."Ya ela, masih marah karena tulisan gue tadi. Sory deh, gue cuma bercanda. Loe kan tau gimana gue, masa gitu aja loe marah.""Ya ampun Arvin, beneran mati deh gue sekarang.""YA?" Arvin melotot kaget. Bukan kaget karena ucapan Kharisya barusan, tapi kaget karena Kharisya tiba tiba berhenti melangkah dan langsung berbalik padanya. Membuatnya hampir saja menubruk tubuh gadis itu jika tidak segera mengerem kakinya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Hanya mata yang saling bertatapan sampai kemudian Kharisya buka mulut."Dan kenapa muka loe bisa tepat didepan muka gue, loe mau nyium gue?"Dan jitakan pun mendarat dikepala Kharisya sebagai jawaban."Semabarangan," damprat Arvin sambil menarik diri. "Lagian kan loe yang salah, ngapain sih loe pake berhenti tiba tiba?""Oh iya ya, gue yang salah," gumam Kharisya sendiri sembari berbalik melanjutkan langkahnya. Sama sekali tidak menyadari reaksi sahabatnya atas tindakannya barusan."Ehem, tapi ngomong ngomong loe mati kenapa?" tanya Arvin.Lagi lagi Kharisya menghentikan langkahnya. Untunglah kali ini Arvin sudah berjalan disampingnya. Matanya menatap kearah Arvin dengan tampang memelas, dan kemudian muluncurlah cerita itu dari mulutnya. Tadi siang ia bertemu dengan Abel, anak kelas Ipa yang telah sekian lama menjadi saingannya. Kharisya sendiri tidak tau, kenapa selama ini gadis itu selalu mencari gara gara dengannya, sampai kemudian tadi siang ia menemukan jawabannya. Ternyata gadis itu menyukai Arvin, seseorang yang selama ini berstatus sahabat karibnya. Dan karena kedekatan mereka selama ini membuat Abel sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendekati orang yang disukainya.Demi untuk membantah tuduhan bahwa ia menyukai sahabatnya, Abel menantang Kharisya untuk membuktikan. Bahwa tepat pada hari Valentine besok, Kharisya harus sudah bisa menunjukan siapa kekasihnya. Dan sebagai taruhannya, jika Kharisya menang, maka Abel tidak boleh menganggu dirinya. Sebaliknya, bila Kharisya kalah, ia harus menjauhi Arvin. Memberi kesempatan pria itu untuk bisa dekat dengan gadis lainnya. Karena nyatanya, selama ini Arvin memang hanya dekat dengan dirinya. Sebagai tambahan, siapapun yang kalah harus lari mengelilingi lapangan bola kaki sekolahnya sebanyak 50 kali. Namun yang jadi masalahnya, Valentine hanya kurang dari semingu lagi. Pacar seperti apa yang bisa didapatkan dalam seminggu?"Ini konyol. Keterlaluan," desis Arvin lirih."Iya, gue tau. Ini konyol. Abel emang keterlaluan. Masa gue harus dapatin pacar selama seminggu, udah 17 tahun gue hidup aja gue masih jomblo. belom punya pacar. Ini kan lagi kalau…""Bukan Abel. Yang gue maksut itu loe," potong Arvin sebelum Kharisya menyelesaikan ucapannya."Ya?" tatap Kharisya heran. Dan saat melihat tatapan tajam Arvin, Kharisya baru menyadari kalau pria itu terlihat marah."Loe nyadar nggak sih? Loe baru aja jadiin persahabatan kita sebagai taruhannya?""O… Soal itu… Emp…. Maaf," gumam Kharisya sambil menundukan wajah. Merasa bersalah karenanya.Arvin tampak mengembuskan nafas lelah, lelah dengan tingkah gadis yang berdiri dihadapannya. Kemudian tampa kata, ia segera berbalik. Berjalan meninggalkan Kharisya sendirian."Please donk Arvin. Iya deh, gue ngaku gue salah. Tapi please, jangan marah sama gue ya?" pinta Kharisya sambil mengejar Arvin."Kalo gitu loe harus batalin taruhanya," kata Arvin tegas.Mata bulat Kharisya menatap Arvin lekat. Setelah lama terdiam, kepalanya menggeleng berlahan."Gue nggak bisa.""Kenapa?" tanya Arvin. Rasa kecewa jelas tergambar dari nada bicaranya."Loe tau sendirikan, setelah segede gini. Gue masih belom pernah punya pacar. Gue kan pengen sekali kali kayak cewek lainnya. Apalagi bentar lagi Valentine. Gue pengen ngerasain gimana sih dapat coklat dari orang yang kita suka. Ngabisin malam jalan jalan bareng, bukan cuma jalan sama loe doank.""Jadi selama ini loe nggak suka jalan sama gue?" lagi lagai Arvin berasumsi. "Bukan itu. Loe jangan salah paham," potong Kharisya cepat. "Hanya saja…""Udah deh Kharisya, terserah loe aja," potong Arvin. Kali ini pria itu benar – benar berlalu meninggalkan gadis itu sendirian."Hanya saja gue berfikir, Abel ada benarnya. Loe nggak akan bisa deket sama cewek lain kalau loe terus terusan deket sama gue," gumam Kharisya lirih. Selirih kalimat yang hanya bisa di dengar hanya oleh dirinya.Dua hari telah berlalu sejak taruhan yang Kharisya katakan, Arvin sama sekali tidak mau berbicara dengannya. Setiap didekati, pria itu selalu menghindar. Bahkan, siang itu. Yang biasanya Arvin selalu makan siang bersamanya, kali ini pria itu malah terlihat makan siang bersama Abel. Mebuat Kharisya benar – benar kesel karenanya. Ho ho ho, Bukan. Bukan karena cemburu. Tapi ia kesel karena jika Arvin tidak suka dengan taruhannya, harusnya Arvin juga menghindari Abel. Bukan hanya dirinya. Toh, yang bertaruh mereka berdua. Kenapa Arvin jadi pilih kasih begitu.Karena merasa cukup kesel, Kharisya membatalkan niatnya untuk makan. Memilih meninggalkan kantin diikuti lirikan Arvin diam – diam."Dasar Arvin rese. Emangnya temen cuma loe doank. Lagian kalo emang mau deket – deket sama Abel kenapa nggak nunggu seminggu lagi aja sih. Toh, gue belom tentu juga menang. Huh, bikin kesel aja," geritu Kharisya sepanjang perjalanan. Dan karena keasikan melamun, tak sadar ia malah menabrak seseorang yang berjalan dihadapannya yang kebetulan sedang membawa tumpukan buku ditangannya. Membuat buku – buku itu berserakan dilantai. Dengan cepat Kharisya berjongkok, membantu mengumpulkan buku bukunya. Tepat saat Kharisya ingin mengambil buku bersampul merah jambu, sebuah tangan juga secara bersamaan mengambilnya. Dan akibat kontak fisik itu, Kharisya menoleh. Kurang dari sejengkal, wajah pria tampan ada dihadapannya.Sesak napas, itu rasanya. Jantung berdebar keras, melanda dadanya. Kharisya sama sekali tak mampu mengalihkan tatapan darinya. Dan untuk pertama kalinya Kharisya percaya kalau 'Love At First Sight' benar ada.Cerpen Spesial Valentine“Arvin, tunggu,” Kharisya nekat merentangkan kedua tangannya. Berdiri tepat di hadapan Arvin yang sedang duduk di atas motornya.“Kali ini loe harus dengerin gue. Loe nggak boleh menghindar lagi. Karena gue punya kabar bagus buat loe.”“Apa?” tanya Arvin.“Soal taruhan itu…”“Loe membatalkannya?” potong Arvin cepat.Kepala Kharisya mengeleng berlahan sembari mulutnya menjawab. “Bukan. Tapi gue udah nemuin orang yang bisa gue jadiin pacar. Namanya Revan, malaikat penyelamat gue. Orangnya tinggi, baik, keren, cakep. Dan dia…”“Loe bilang itu berita bagus?” lagi – lagi Arvin memotong kalimat Kharisya sebelum gadis itu sempat menyelesaikan ucapannya.“Tentu saja,” angguk Kharisya cepat walau dengan raut bingung. Ia benarkan? Tentu saja itu kabar gembira. Bukankah Arvin marah karena persahabatan mereka akan terancam. Kalau sekiranya ia kalah taruhan, maka ia harus meninggalkan pria itu. Tapi tentu lain ceritanya jika ia berhasil menang.“Minggir,”“Eh,” bahkan Kharisya sama sekali tidak di beri kesempatan untuk menyadari apa yang terjadi. Yang jelas jika terlambat sedetik saja dia untuk menyingkir, sudah di pastikan motor Arvin akan langsung menabraknya. Dan saat Karisya menyadari apa yang terjadi, Arvin sudah jauh meningglakannya. Membuat Kharisya menatap melongo karenanya. Apa yang barusan itu bukan termasuk dalam kategori percobaan pembunuhan?Sehari sebelum Valentin tiba, Kharisya kembali menemui Arvin. Kali ini pria itu sedang duduk sendirian di taman belakang sekolah sambil membaca buku di tangannya. Membuat Kharisya sedikit heran. Ini untuk pertama kalinya Arvin sendirian. Biasanya kan ia selalu bersama Abel. Dan saat Kharisya menghampiri, Arvin hanya meliriknya sekilas.“Gue nggak tau kenapa sampe sekarang loe menghindari gue. Tapi gue tetep akan ngasih tau loe, kalau nanti malam. Gue akan nembak Revan.”Hening, sepi, Arvin tampak masih larut dalam bacaannya. Tidak memberikan reaksi yang berarti. Sementara Kharisya masih berdiri dengan keterpakuannya.“Okelah, gue cuma mau ngomong itu doank,” selesai berkata Kharisya berbalik. “Bruk,” terdengar suara buku yang di tutup dengan keras. Sebelum Kharisya menyadari apa yang telah terjadi, Arvin kini sudah berdiri tepat dihadapannya dengan tatapan tajam yang terjurus kearahnya.“Loe? Apa loe yakin mau melakukan ini?”Yakin? Kharisya mengeleng. “Enggak, tapi gue harus!”“Kenapa?”“Karena setidaknya harus ada yang berakhir bahagia bukan?”Arvin mengernyit bingung. Tidak mengerti akan maksut kalimat yang di dengarnya barusan. Tapi Kharisya hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tanpa ada niat untuk menjelaskannya lebih lanjut. Dan tanpa kata gadis itu segera berlalu meninggalkan Arvin dengan keterpakuannya.cerpen spesial valentine“Ma kasih ya Van, untuk malam ini. Dan ma kasih juga, karena loe udah ngantarin gue pulang,” kata Kharisya sambil melepaskan helm yang di kenakannya dan segera menyodorkannya pada Revan.“Sama sama, dan soal yang tadi…”“Santai aja. Nggak usah di fikirin,” potong Kharisya sambil tersenyum. “Mau masuk dulu?”“Nggak usah deh. Ini sudah malam,” tolak Revan sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir pukul sepuluh tiga puluh.“Ya sudah. Kalau gitu gue pulang dulu ya.”“Iya. Hati – hati,” balas Kharisya sambil mengantar kepergian Revan dengan tatapannya.“Astafirullah,” refleks Kharisya mundur selangkah ketika ia berbalik dan menyadari entah sejak kapan Arvin sudah berada di belakangnya.“Arvin, loe ngapain disini malam – malam?” tanya Kharisya langsung, tapi Arvin tidak segera menjawab. Pria itu diam saja, hanya tatapannya yang tidak pernah lepas dari wajah Kharisya.“Loe udah jadian sama dia?” “Ya?”“Jawab gue, apa loe udah jadian sama dia?” tanya Arvin mengulang pertanyaannya. Dan Kharisya sama sekali tidak menyadari raut kecewa yang begitu mendalam di wajah Arvin saat melihat sebuah senyum yang diiberikannya.“Atau loe bisa tidak menjawabnya,” sambung Arvin lagi. Mendadak ia merasa ragu. Ragu untuk mendengar jawaban itu. “Sory, ganggu loe. Gue pulang sekarang,” selesai berkata Arvin segera berbalik.“Gue pasti kelihatan konyol banget ya kan?”Langkah Arvin terhenti, tapi ia belum memutuskan untuk berbalik.“Tadinya gue menerima tawaran itu cuma buat seru seruan. Sekalian gue pengen nyari jawaban atas pertanyaan yang nggak pernah sanggup gue lontarkan,” untuk sejenak Kharisya berhenti. Setelah terlebih dahulu menghela nafas mulutnya kembali berujar. “Apa artinya gue buat loe. Dan kenapa sampe sekarang, loe nggak pernah deket sama cewek manapun. Dan seandainya gue nggak ada di sisi loe, apa yang akan loe lakukan?”“Maksut loe?” tanya Arvin. Kali ini ia telah berbalik dan menatap bingung kearah Kharisya.“Yang gue suka itu elo.”Arvin melongo. Tidak tau harus menajawab apa. Sejujurnya ia sendiri masih tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan.“Tapi loe tenang aja. Loe bisa tetep deket sama Abel kok. Kayak yang gue bilang tadi siang, setidaknya ada yang bahagia bukan? Gue nggak akan menghalangi loe kalau loe emang suka sama Abel. Lagian gue nggak jadian sama Revan, secara siapa juga yang mau langsung pacaran ketika baru kenal belum juga seminggu. Tapi tetep, itu artinya gue kalah taruhan, dan gue akan tetep penuhi peraturannya. Oke.”“Bodoh!”“Ya?”“Loe cewek paling bodoh yang pernah gue kenal!”“Ha?! Gue? ” kali ini Kharisya membentak sebal sambil menujuk wajahnya sendiri.Bodoh? Mengaku perasaannya pada orang yang di sukainya dan bahkan merelakan pria itu untuk bersama dengan cewek lain diangap bodoh? Sialan. Tapi tunggu dulu, itu beneran tindakan bodoh bukan si? Tapi kan yang di drama drama korea biasanya gitu? Baiklah, itu pendapat nggak penting. Lupakan.“Kalau emang yang gue suka itu Abel, kenapa sekarang gue disini?”“Ah iya. Bener. Tadi kan itu yang gue tanyain. Loe ngapain kesini?” tanya Kharisya seolah baru sadar.Bukannya menjawab, Arvin justru malah mengulurkan tangan yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Dan kini sebuah kotak berukuran sedang kini terulur di hadapan Kharisya.“Ini apa?”“Buka aja,” kata Arvin sambil tersenyum.“Choklat?” gumam Kharisya setelah membuka kotaknya. Matanya menatap Arvin, menuntut penjelasan darinya.“Loe bilang, loe pengen ngerayain valentin bareng orang yang loe suka. Loe juga bilang loe pengen dapatin choklat. Jadi….”“Terus Abel? Bukannya loe suka itu dia? Kenapa choklatnya malah loe kasih ke gue?”“Karena yang gue suka itu elo”Lebih dari sekedar sejak nafas, lebih dari sekedar jantung yang berdebar. Kali Kharisya malah merasa kalau ia telah terbang ke awang – awang. Melang tingi setinggi angannya selama ini. Orang yang ia suka ternyata juga menyukainya?“Jadi maksut loe…?” Kharisya masih terlihat tidak percaya.“Maksut gue, gue juga suka sama loe. Dan kita,…”“Gue menang taruahan,” potong Kharisya dengan raut wajah berbinar.Arvin terdiam. Matanya mengamati Kharisya dengan kening berkerut. Tunggu dulu jangan bilang kalau gadis itu….“Jadi loe seneng karena loe menang taruhan?”“Tentu saja. Untung gue nggak nurutin saran loe buat ngebatalin. Gue ngerasa sekarang itu kayak dapat durian runtuh tau nggak sih. Gue menang taruhan,loe tau itu artinya apa? Gue nggak harus ngejauhin loe, Abel nggak akan ngerecokin gue lagi. Dan besok dia harus ngelilingi lapangan bola kaki 50 kali. Ha ha ha, tepar – tepar deh tuh anak,” senyum Kharisya membayangkan apa yang kini ia dapatkan. Bahkan ekpresinya sama sekali tidak terpengaruh dengan pelototan kesel Arvin padanya.“Dan diatas semua itu. Sekarang gue udah punya kekasih baru,” mata Kharisya menatap lekat kearah Arvin sambil tersenyum, senyum yang menular. Karena Arvin kini juga tersenyum, saat itulah Kharisya menambahkan kalimatnnya“Kekasih ku, sahabatku. Sweet happy valentine day.”Ending……~ Admin Lovely Star Night ~

  • Cerpen: PESAN TERAKHIR

    PESAN TERAKHIRoleh: Mega SilfiaAtap yang begitu putih, membuat ku teringat dengan dia, bagaimana aku bisa bertemu dengan dia yang sudah tiada. Rasanya aku tidak bisa bernafas, setiap ku mengingat kebersamaan dengannya.“nanda, nanda kamu sudah sadar.” ucap ibu tiri ku dengan wajah panik dan bergegas mencari dokter di rumah sakit nanda di rawat.“nanda, kalo kamu dengar ucapan saya coba anggukan kepala kamu.” sambil melepaskan alat penafasan.Akupun menganggukan kepala, melihat kaki yang dibalut oleh perban, tak sengaja aku mencuri pembicaraan antara dokter dan ibu tiriku, yang ku dengar kaki kananku patah akan sembuh total selama enam bulan lagi dan menyuruh ku di bawa ke psikolog.“nah, nanda kamu jangan banyak bergerak dan tidur saja.”Tanpa mendengar perintah dokterpun aku akan tidur dan melupakan semuanya, ketika aku dan dia bertemu. Saat itu sore yang sedikit cerah memungkinkan ku untuk kabur dari rumah, dengan menggunakan tas ransel besar dan jaket tebal lalu kupluk untuk menutupi kepaku. Ayah ku menikah lagi dengan wanita yang sama-sama di tinggal oleh pasangannya. Ibuku meninggal saat melahirkanku, melihat sosok ibu aku tidak tau, aku kabur dari rumah karna aku tidak butuh ibu, mungkin aku cemburu. Apalagi wanita itu mempunyai anak laki-laki berumur 7 tahun. Membuat ayahku semakin senang. Sepucuk surat ku letakan di kamar yang berisi “aku pergi dan jangan menghawatirkan ku lagi, semoga kalian bahagia, NANDA.”Saat itu aku ingin semua itu berhasil dan sesuai rencana ku , mereka akan khawatir dan mencariku, entah mengapa pikiran ku saat itu kekanak-kanakan. Aku hanya ingin mereka melihatku. Semua berubah saat aku berhenti di sebuah rel kereta api. Di situ aku berfikir, aku akan kabur kemana? Dan bila tersesat bagaimana?. Jujur aku tidak mempunyai teman di sekolah, ini karna sifat pendiamku. Aku tidak pintar beriteraksi dengan orang lain. Yang ku bisa saat itu hanya duduk dan duduk di kursi tunggu kereta api. Entah mengapa aku mulai merasa curiga saat ada seorang anak laki-laki duduk di sebelahku dengan memakai topi dan tas ransel dia duduk dan melihati ku. Sedikit melirik, aku melihat dia, anak laki-laki yang ku rasa seumur dengan ku. Ku rasa dia bukan orang jahat, itu terlihat dari style dan jam tangan yang dia kenakan , bermerek mahal. Di kursi itu dia mulai mengeluarkan suaranya. “kamu kabur dari rumah juga ??” Tanya dia sambil tersenyum“bukan urusan kamu.” Ku jawab dengan nada datar dan dingin.“oh !”Tiba-tiba saja dia berdiri dan menarik tanganku, aku yang saat itu duduk terkejut dan berdiri, wajahnya tepat di depan wajahku. Mata yang coklat, wajah yang putih, bibir yang merah dan dari tubuhnya tercium bau yang hangat. Membuatku tidak dapat bergerak, namun aku mengelak. Dengan ransel yang ku pegang aku pergi meninggalkan dia. Di stasiun dia terus mengikuti ku, walau sudah ku peringatkan di tetap tersenyum dan mengikuti ku , akhirnya aku menyerah dan berhenti.“kenapa sih kamu ngikutin mulu? mau kamu apa sih?” Tanya ku “kabur bareng.” jawabnya sambil tersenyum ringan.Dengan suara kereta yang sangat bising, suaranya sedikit tersamar namun masih terdengar oleh telingaku, aku hanya terdiam dan berfikir, aku dan dia sama-sama kabur, dan apakah aku mempunyai tujuan untuk kabur, mungkin diapun sama, tidak punya tujuan. Aku menyerah dan kita kabur bersama. Dan aku bertanya siapa namanya.“nama kamu siapa.”“aku andre.”“aku nanda.”***Selama perjalanan dia tidak berhenti mengoceh, namun tak kudengar, hanya sedikit ku dengar, seperti dia takut dengan monyet, dia mengaku dia pernah di culik oleh monyet karna dia merebut pisang dari monyet tersebut, aku tidak percaya saat itu, karna yang kupikirkan dia pasti inggin melihat ku tertawa, namun aku tidak bisa karna ku tak terbiasa.“kita bakalan nginep dimana?”“aku tau tempat bagus untuk nginep.” jawab dia sambil memegang tanganku. Sempat ku berfikir dia akan membawaku kesebuah tempat penginapan, namun dia membawaku kesebuah taman dan berkata “disana ada kursi kamu tidur di situ aja, aku di atas rumput di selimuti oleh bintang.”“…….” Aku hanya bisa terdiam, dan mengikuti keinginannya.Pagi harinya dia bangun dengan bugar. Betapa beratnya bila kita kabur namun tak ada tujuan. Akupun terbangun dari kursi dan tak sengaja menginjak kakinya yang sedang santai sambil menghembuskan nafas. “aw, kenapa sih?”“kalo kaburnya kayak gini, mending aku kabur sendiri.”“15 kilo meter lagi kita sampai di tempat tujuan kok.”Di perjalanan dia menceritakan tempat tujuannya untuk kabur, yaitu sebuah rumah yang sudah lama tidak di tempati, itu adalah rumahnya namun sudah kosong. Dan akhirnya sampai di tempat tujuan. Rumah yang lumayan besar. Ada sebuah jendela besar di balik rumah tersebut dan kitapun masuk. Entah mengapa saat masuk aku melihat rumah itu seperti bukan rumah yang di tinggalkan oleh penghuninya, sangat bersih. Dia mulai duduk dan melemparkan tasnya lalu membuka topinya. Karna sinar matahari dari kaca, wajahnya terlihat sangat jelas saat itu. Di rumah itu dia melakukan aktifitas sesuai keinginannya, minum, membuat makanan, anehnya dari kulkas ada banyak perlengkapan makanan yang belum basi. Di sebuah meja makan aku bertanya kepadanya.“rumah ini kaya bukan rumah tanpa penghuni.”“yah emang, ada penjaga, yaitu setan berambut bule.”Entah mengapa aku tersenyum saat itu, tapi aku serius ingin tau, akhirnya dia menjawabnya, memang ada penjaga khusus untuk merawat rumah ini, dan dia menyuruh untuk berhenti sementara membersihkan tempat tersebut. ***Hari-hari ku lewati dengannya, aku lupa bahwa aku punya keluarga dan aku merasa nyaman saat dengannya, sedikit demi sedikit aku bisa terseyum karna banyolannya. Hingga di suatu malam aku memberanikan untuk menanyakan identitasnya. Ternyata dia masih sekolah. Dan satu yang membuatku penasaran. Kenapa dia kabur.“trus kenapa kamu kabur,kalo aku sih karna ibu tiri ku.” tanyaku sambil melihat bintang.“karna ingin melihat bintang, matahari, dan semua yang kadang-kadang ku lihat.”Saat aku mendengarnya entah mengapa dia seperti burung dalam sangkar. Dari matanya aku melihat sebuah penantian.“jawabanya gak etis.”sambil tersenyum dan menatap wajahnya“kenapa, apa keluargamu kacau, apa kau tak suka dengan ibu tirimu, apa karma kamu di perlakukan kaya upik abu?”“gak , hanya aku merasa tak bisa dekat dengan orang yang baru ku kenal.”“lalu, kenapa dengan ku kamu langsung dekat, cobalah tersenyum untuk seseorang yang sebenarnya kamu saying.”Dan malam itu mulai membuatku ingin menutupkan mata namun saat mulai sedikit menutupkan mata dia mengucapkan sesuatu “aku akan pergi jauh.” Namun aku sudah tertidur dan tidak ku hiraukan. Hingga suatu hari saat itu hujan sangat deras, ku melihat dia memandangi jendela, sambil meminum secangkir teh hangat dengan sweeter yang tebal tercium bau yang hangat di campur bau hujan. Dia pun melihatku yang turun dari tangga dan memberikan sebuah senyuman kepadaku dan aku bisa membalas senyumannya. Namun saat langkahku hampir berada dekat dengannya tiba-tiba saja dia memegang dadanya, dan menjatuhkan cangkir teh, aku pikir dia melakukan sebuah lelucon lagi, namun tidak. Dia mengeluarkan mata dan mengaung kesakitan. Aku yang panik tidak tau harus berbuat apa, saat itu aku mencari telepon genggamnya dan di daftar telepon tertulis jelas HOME. Akupun mulai menelepon dan di angkat oleh ibunya. Suaranya semakin keras, dia mengeluh kesakitan. Karna panik aku menelepon ayahku. Saat itu aku sangat ketakutan, ambulan mulai datang dan membawa andre ke rumah sakit, di dalam ambulan aku melihat ibunya menangis sambil memegang tanganya. Ayahnya terus menerus menenangkan sang ibu, telepon dari ayah berdering, dan aku mengirimkan sebuah pesan singkat bahwa aku akan pergi kerumah sakit. Aku hanya bisa melihatnya dan tidak ingin menangis seolah-olah dia akan pergi selamanya. Sesampainya di rumah sakit, dokter dan suster mulai sibuk membawa andre ke ruang UGD, dengan jaket tipis dan basah aku hanya diam di luar rumah sakit hingga dari kejauhan aku melihat ibu tiriku mengahampiri dan memelukku. Dengan badan yang lemas aku berfikir kenapa bukan ayah yang datang. ***Perasaan takut kehilangan dirinya mulai datang dalam hati ku, ketika aku datang untuk menjengungnya dan aku mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada ibunya , ada apa sebenarnya dengan andre. Dia pergi dari rumah dan meminta izin untuk mengahabiskan waktunya, beda dari perkataanya, dia bilang dia juga kabur dari rumah. Dan hal yang sangat membuatku syok, dia sakit parah yaitu kanker hati dan hidupnya memang tidak lama lagi. Itu bohongkan. Aku tidak menginginkan kenyataan ini, namun itu memang nyata. Dan dia dalam keadaan koma saat ini. Sehabis pulang sekolah aku berniat untuk kembali melihat kondisinya, di lorong rumah sakit, dari kejauhan terlihat ibu andre menangis keras sekali. Ayahnya hanya memeluk dan menahan tangisannya si balik kaca matanya. Dan mereka masuk ke tempat andre di rawat. Perasaanku tidak enak, aku berlari menuju mereka, dan menerima kenyataan. Andre sudah tiada. Apa artinya ini. Kenapa saatku merasakan kehadiran seorang yang berarti dia pergi dengan cepat. Pikiranku melayang. Yang ku pikirkan, bagamana cara ku menemuinya lagi. Dan aku melangkah sedikit demi sedikit sampai terhenti di depan tangga menuju atap rumah sakit. Langkah ku menuju tangga tak terhenti hingga sampai menuju atap. Langit saat itu cerah. Angin yang kencan mengibaskan pipiku. Seolah-olah mengusap air mataku. “dimana andre, apa andre ada di langit, di surga, aku ingin menemuinya.”ucapku saat pikiranku melayang. Aku pun berdiri di ujung atap. Betapa tingginya keberadaanku sekarang. Rasanya aku ingin loncat dan berada di tempat yang lebih tinggi. Tempat andre berada. Dan akupun lompat. Saat tersadar aku merasa mati rasa. Kaki dan tanganku di perban.***Pagi itu ayah dan ibu tiriku terus saja mengatakan bahwa aku akan sembuh. Lalu meminta maaf. Aku hanya bisa diam. Karna sebenarnya aku pun merasa bersalah. Aku merasa sudah melukai perasaan mereka. Pikiranku berkata maaf. Namun mulutku sulit mengucapkannya. Sedikit keberanian dan suara yang belum ku keluarkan. Aku berkata “maaf” dan respon mereka sangat luar biasa. Hari-hari ku sudah mulai membaik. Aku mencoba tersenyum untuk mengobati perasaan kehilangan ku. Pintu terbuka dan ada seorang wanita masuk dari balik pintu itu, dia ibu andre. Langkahnya mulai menghampiriku yang terbaring lemah. Dia menannyakan keadaanku. Dan bagaimana pertemuanku dengan andre, anaknya? Semua ku jawab. Dan dia menceritakan semua tentang andre. Andre yang tegar. Andre yang kuat. Dan andre yang sangat menyayangi keluarganya. Andre adalah kebalikan denganku. Dan ibu andre memberikan ku sebuah surat. Surat dari andre sebelum dia pergi untuk selamanya. Ibu andre pergi saat menyerahkan surat ini.“dear nanda, mungkin bila kamu membaca surat ini aku sudah tiada. Tuhan sudah memberikan ku banyak kebahagiaan dan kebahagiaan trakhir untuk hidupku adalah bertemu dengan mu, ini adalah salam trakhirku. Jadilah nanda yang tegar, nanda yang selalu tersenyum kepada semua orang. Karma nanda lebih cantik tersenyum dari pada menangis. Saat kau membaca surat ini pasti kau menangis. Maaf sudah membuatmu menangis. Tapi berjanjilah, ini adalah tangisan trakhir nanda. Pesan terakhir andre prawijaya muftian.”Aku menangis saat membaca surat itu. Aku akan menjadi nanda yang tegar. Nanda yang selalu tersenyum. Dan nanda yang tak akan mengangis lagi saat membaca surat ini. Ini janjiku. THE ENDNama : Mega silfiaFB : Mega Silfia S (mega_bakikuk@yahoo.co.id)Twitter : @megahwaitingBlog : http://megamyname.blogspot.comIni cerpennya original banget. Saya yang buat. pernah kirim ke majalah. tapi saya gak tau di prosese atau gak. jadi boleh silahkan di baca yaa ^_^

  • Cerpen Lucu Mis. TULALIT part 1 {Update}

    Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulis berdasarkan dari pengalaman hidup keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Dan bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca Serial Mis Tulalit. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…Cerpen Lucu Mis TulalitCerpen Lucu Mis Tulalit ~ 01Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulid berdasarkan dari keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Soalnya bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…Dengan tergesa-gesa April masuk kelasnya. Untung saja bel belum berbunyi, jadi ia masih bisa selamat dunia ahirat dari semprotan Bu Murtafiah, guru akuntansi yang kebetulan masuk jam pertama dikelasnya. Selang lima menit kemudian, tu guru beneran masuk.“ Huh, untung saja,” gumam April lega.Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama karena begitu ia membuka tas ternyata buku akuntansinya tidak ada. Padahalkan hari ini ada PR. Bisa di tebak, pasti tu buku ketinggalan lagi dimeja belajar dirumah.“Semuanya kumpulkan PR kalian, dan ibu tidak mau ada yang tidak membuatnya,” suara Bu Murtafiah terdengar tegas.Tanpa perlu mendengar perintah untuk kedua kalinya, semua teman-teman April maju ke depan sementara April sendiri justru hanya duduk diam dengan hati was – was dan cemas.“April tugas kamu mana?” tanya Bu Murtafiah santai namun syarat ancaman.“Anu bu, bukunya ketinggalan,” sahut April takut – takut. Kepalanya menunduk dalam.“Apa?” tanya bu Murtafiah. “Ketinggalan? Lagi?”“Ia bu tadi malam sehabis ngisi, April taruh dimeja. Lupa masukkin kedalam tas,” terang April lagi. Masih tidak berani mengangkat wajahnya. “Hidung kamu kalau nggak lengket, pasti juga lupa untuk di bawa,” kata Bu Murtafiah, yang membuat seisi kelas di penuhi tawa seketika.“Kok hidung si buk, yang ketinggalan kan buku,” gerut April sambil mengusap hidungnya berlahan.“April sekarang ibu tanya sama kamu, udah berapa kali kamu lupa bawa buku PR-nya?” tanya Bu Murtafiah dengan tampang sabar yang di buat-buat.“Berapa ya bu….!? Tiga kali ya …..? eh… bukan empat atau lima ya?” sahut April mencoba mengingat – ingat.“Bukan lima April, tapi sembilan kali. Kamu sudah sampai sembilan kali tidak mengumpulkan tugas kamu…. Tau….!”“Aduh sembilan ya bu. Maaf April lupa,” kata April sambil menggaruk-garuk kepalanya yang emang banyak ketombenya. Kontan hal itu membuat teman-temanya makin tertawa lepas. Sementara Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi makhluk ajaib yang berstatus sebagai siswinya.“April… kesabaran ibu sudah habis. Ibu sudah tidak bisa mentoleri sifat kamu lagi, jadi ibu terpaksa harus menghukum kamu, bersihkan kamar mandi sekolah sekarang.”“Apa bu?” tanya April refleks. Tak yakin dengan perintah yang baru saja di dengarnya.“Ia. Bersihin kamar mandi sekolah.”“Sekarang bu?” April pasang tampang memelas. Membersihkan kamar mandi? Ya salam, tempat yang satu itu kan amit – amit banget. Terlalu horror untuk gadis yang sangat menyukai kebersihan seperti dirinya. Ciuuss.“Nggak, tahun depan. “Bentak bu Murtafiah“Alhamndulilah,” puji syukur April sambil duduk kembali pada kursinya.“Kok kamu malah duduk?” tanya Bu Murtafiah terlihat heran.“Ya…. Ibu bilangkan tahun depan, padahal satu bulan lagi sudah ujian akhir. Jadi kalau tahun depan mah April udah nggak sekolah disini lagi. Artinya hukumannya hangus dong,” terang April panjang lebar dengan wajah sok pinternya yang sumpah sama sekali tidak cocok.Detik itu juga tanduk Plus taring bu Murtafiah keluar . "April. Bersihkan kamar mandinya SE-KA-RANG!!!" Suara mengelegar Bu Murtafiah segera melenyapkan nyali April yang sebelumnya memang sudah menciut. Akhirnya dengan berat hati juga berat tenaga dan pikiran secara berlahan April bangkit berdiri.“Dasar bloon loe Pril,” sekilas April masih bisa menangkap suara ledekan dari mulut Isul yang duduk tepat di belakangnya.“Baik bu,” pamit April menunduk sambil berjalan keluar. Dan karena ia jalannya terus menunduk kebawah tanpa sadar ia menabrak daun pintu, yang tentu saja membuat tawa teman-temannya semakin riuh. Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala.Dengan telaten April mengepel lantai setiap kamar satu persatu. Begitu selesai satu kamar, ia harus membersihkan kamar yang lainnya, dan ketika ia masuk kesalah satu kamr mandi ia langsung berteriak kaget karena mendapati seorang seorang siswa perempuan tergeletak pingsan.“Astahfirulloh hal azzi,” lonjak April kaget dan langsung menghampiri sang gadis yang pingsan untuk menolongnya.“Tolong…….tolong……tolong.” April sambil memapah sang gadis yang masih tak sadarkan diri.Tentu saja teriakan April membuat guru dan siswa-siswi yang mendengarkannya heran, dan kontan berlari kearahnya. Langsung kaget ketika mendapati seseorang pingsan dikamar mandi, kemudian segera dibawa keruang UKS.“April. Sebenarnya apa yang terjadi sama Tina. Kok dia bisa pingsan?” tanya pak Rasid, guru favoritnya di sekolah. Ternyata gadis yang pingsan itu bernama Tina, dan dia adalah satu – satunya anak kepala Desa (????).“Nggak tau pak. Ps April liat, dia udah pingsan. Ya udah deh, terus April langsung teriak minta tolong,” terang April jujur.Pada saat yang bersamaan Tina pun sadarkan diri dari pingsan dan kaget ketika mendapati dirinya dirubungi banyak orang. Barulah sejenak kemudian ia ingat dan menceritakan kejadian tadi pagi kenapa ia pingsan. Ternyata kondisi tubuhnya belum fit, setelah sembuh dari sakit, ditambah lagi ia tadi pagi tidak sarapan. Dan akibat kejadian itu April tidak perlu melanjutkan hukumannya dan diizinkan untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya.“April tadi da kejadian apa sih ditoilet?” tanya Nia, temen sebangkunya pas istirahat.“Tadi ada anak cewek pingsan.”“Oh ya…..? Siapa….?” tambah Ijah ikut penasaran“Tina, anak kepdes.”“O…. emangnya kenapa kok dia pingsan?” Guntur yang sedari tadi mendengarkan ikut buka mulut, tapi hanya dibalas angkat bahu oleh April. Gadis itu justru tampak sibuk merapikan buku – bukunya. “Eh kekantin yuk,” ajak Jumi tiba – tiba.“Loe mau ntraktir kita nih?” todong April langsung. Jumi menatap April dengan pandangan mencibir. Namun beberapa detik kemudian sebuah senyuman tergambar di wajahnya. Disusul anggukan kepala dan jawaban singkat. “Bisa.”“Serius?” Nia menoleh kaget. Tumben amat ni anak baik. Padahal doi kan udah kadung mendapat gelar pelit nggak ketulungan #DihajarJumi.“Suer deh,” Jumi meyakin kan dengan mengankat kedua jarinya membentuk huruf ‘V’. Detik itu juga sorakan kegirangan terdengar sebelum pada detik berikutnya kembali hening dalam sepinya suasana hanya karena lanjutan kata dari mulut Jumi."Tapi entar kalau bokap gue udah jadi Presiden, jadi kalau sekarang…. Yah terpaksa bayar masing-masing dulu ya.”Gumpalan sobekan kertaspun segera berhamburan dan mendarat di kepala Jumi yang masih tertawa lebar.“Hu….. sialan loe, kirain beneran,” gerut Hambali.“Sampai lebaran Monyet juga bokap loe nggak bakalan deh jadi Presiden,” tambah Idah yang membuat Jumi makin tergelak.“Loe kenapa Pril?” tanya Sugeng heran, karena sedari tadi April hanya terdiam.“Gue lagi mikir aja,” jawab April dengan raut serius.“Mikir apa an….? “Ana ikutan ngeksis.“Gue heran, apa hubungannya lebaran Monyet dengan jadi Presiden. Lagian sejak kapan Monyet lebaran,” jelas April dengan tampang lugu nya.“Hu. Dasar Mis. Tulalit!!” sorakan seisi kelas sembari mengalihkan sasaran tembakan gumpalan kertas kearah April yang hanya melongo. Tidak tau apa salah dan dosanya. Hanya saja ia merasa kalau dirinya hanyalah seseorang yang menjadi korban penganiayaan.Begitu bel berbunyi tanda pelajaran telah berakhir semua siswa dan siswi langsung mengemasi buku-bukunya dan bersiap-siap untuk pulang. Tak terkecuali April. Tapi belum juga ia keluar dari kelasnya Hakim dan Sofa' mencegahnya untuk mengingatkan April agar membersihkan kelas terlebih dahulu, kebetulan besok pagi giliran piket mereka.Sebenarnya yang mendapat giliran piket enam orang, tapi karena dua orang temannya tidak hadir. Dan Nia yang kebetulan juga giliran piket bersamanya sudah tak tampak batang hidungnya sejak masuk istirahat kedua tadi. Jadi terpaksa tinggal mereka bertiga, begitu Hakim dan Sofa' selesai mengangkat bangku untuk diletakkan diatas meja agar mudahkan saat menyapu lantainya, mereka bersiap-siap untuk pulang.“Lho…. Kalian mau kemana….? “April menghentikan aktivitasnya begitu melihat Hakim dan Sofa' sudah menjinjing tas masing-masing.“Mau pulang dong, lagain sesuai perjanjian yang cowok mengangkat bangku dan yang cewek menyapu lantai. Jadi sekarang tugas kami sudah selesai, soo kita duluan,” sahut Sofa tanpa rasa bersalah.“Yah.. jangan dong, entar April jadi sendirian lagi.”“IDL,” balas Hakim santai.“IDL….? Apa an tuh?” tanya April dengan kening sedikit bekerut.“Itu Derita Loe,” balas Hakim dan Sofa' serentak, sambil tertawa dan langsung beranjak pergi meninggalkan April sendirian.“Aduh… ! gimana nih…? April sendirian lagi, mana lantainya kotor, entar kalau ada hantu gimana?” gumam April sendiri.Tiba-tiba bulu kuduknya merinding ketingan ingatannya tertuju pada film horror yang sering ia tonton tentang sekolah-sekolah yang berhantu.Pada saat April menyapu salah satu kolong meja dengan posisi membungkuk dan membelakangi pintu, samar-samar ia mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat kearahnya. Jantungnya jadi dig dug nggak karuan, dengan sedikit keberanian yang masih tersisa ia menoleh kebelakangnya dan……“Dor!!!”“Uwa…..Tolong……!!! Tolong…..!!! tolong…!!!” teriak April sekencang-kencangnya disusul tawa cekikikan seorang hantu wanita.“Ha…. Ha….. ha……. Kaget ya loe? ” terdengar suara tepat dibelakang April.“Kurang ajar, setan alas, babon kue,” maki April begitu tau kalau sosok dibelakangnya adalah Nia.“Kenapa…..? Loe pikir gue hantu?” tanya Nia di sela tawanya.“Ia….. April kira tadi kuntilanak yang datang, e….. nggak taunya malah kuntilemak,” umpat April masih shok.“Sembarangan!” damprat Nia sewot.“Lagian bukanya loe udah pulang ya?” tanya April heran.“Nggak ah tadi gue ada ditaman belakang, sengaja nggak masuk. Males banget gue belajar bahasa Arab, bikin pusing,” sahut Nia yang dengan tidak sopannya duduk diatas meja.“Cek cek cek. Sumpah parah loe,” kepala April mengeleng geleng sambil menatap Nia sinis. “Seharusnya kan…..”“Harusnya apa…? Gue nggak boleh bolos….? Gitu?!” potong Nia.“Harusnya kan loe ngajak-ngajak , April juga mau ikutan bolos kayak loe kali kalau tau da temennya, mumet masuk bahasa arab. Bikin ngantuk.”“hu…..! kirain loe mau ngomong apaan….? Ternyata dua kali lima aja ma gue,” gumam Nia sebel.“Udah deh, sekarang bantuin. Loe kan juga piket, enak aja nongkrong disitu.”“Nggak ah… males gue, kotor,” tolak Nia langsung.“Kotor pale loe, mau bantui nggak?!” ancam April sambil menghunuskan pedang sapunya kearah Nia.“Iya…..iya . Gue nyapu nih, bawel banget sih loe. Jadi nyesel gue kesini, kalau tau begini mendingan langsung pulang aja gue tadi,” gumam Nia sewot. Namun tak urung diraihnya sapu yang ada pintu, dan mulai menyapu membantu April.Keesokan harinya, terdengar gaduh sekali dikelas April. Pasalanya Azimisar, orang yang sudah libur beberapa hari sudah masuk kelas lagi, katanya sih liburan, dan ceritanya pagi ini. Dia bagi-bagi oleh-oleh, sambal kripik singkong. Masing-masing anak dapat jatah satu, tapi yang datang duluan ada yang ngambil dua, sehingga yang datang terlambat nggak kebagian deh. Salah sendiri ngapain telat.“Gimana Azimisar, liburan loe seru nggak?” tanya Dewi sambil mengunyah keripiknya yang tinggal setengah.“Wah gila coy, seru banget deh pokoknya, coba kalian ikut. PASTI minta langsung pulang,” cerita Azimisar terlihat semangat.“Lho….?! Katanya seru…. Kok kita malah minta pulang?” tanya Sugeng heran.“Ia… soalnya kalau kalian nggak mau pulang langsung aja gue usir. Enak aja, gue yang liburan kalian main nebeng sembarangan, modal donk!” sambut Azimisar yang membuat temen-temennya cemberut.“Udah dong Azimisar, lanjutin cerita loe. Emang kemarin loe liburan kemana sih…? “Tanya Anis nggak sabar..“Gue liburan kerumah Eyang gue. Ke Bokor,” sahut Azimisar bangga.“Ha….. Bogor….? Ya ampun jauh banget, pantesan loe bilang seru, pasti asyik banget ya?” komentar Razimah takjub.“Eh… cungkil tu upil ditelinga loe. Gue bilang Bokor bukan Bogor, pakek K bukan G, “ralat Azimisar sewot.“Bokor……???!!! Dimana tuh?” tanya Sogiran yang kebetulan duduk di samping Azimisar mewakili yang lain yang juga ingin menanyakan hal yang sama.“Iya, perasaan kita nggak pernah denger deh kota yang namanya Bokor?” sambung April, Mis Tulalit.“Atau jangan-jangan luar Negri y?” tambah Nia makin salut.“Luar Negri dari hongkong, lagian siapa yang bilang gue liburan keluar kota. Orang Bokor itu nama kampung eyang gue kok. Tepatnya Bokor Selatpanjang Riau Indonesia,” jelas Azimisar yang membuat teman-temannya tertawa.“Ha….. ha…… ha……. Liburan kok keudik,” ledek Khairia tak mampu menahan tawa.“Iya gue kirain Negara mana…? Ternyata keudik juga. Kha kha kha,” Isul ikut ikutan ngakak dengan tampang meledek.“Kalian jangan ngehina dulu. Walau keudiak, tapi eyang gue itu juragan di kampung gue. Beliau punya kebun Duren, rambutan, duku, mangga, cempedak, pokoknya banyak deh.”“Yang bener Azimisar?” Hambali yang sedari tadi hanya mendengarkan cerita tampak menelan menelan air liurnya sendiri. Ia kan paling doyan makan duren sama rambutan. Nggak kebayang deh gimana rasanya makan sepuasnya.“Ya seriuslah ngapain juga gue bohong,” sahut Azimisar puas.“Kalau gitu loe dapat makan sepuasnya dong?” Mustawa pasang tampang iri. Bahkan Guntur yang duduk di hadapannya tampak sedang melomoti (???) jempol nya sendiri. Persis seperti orang ngidam yang nggak keturutan. Kesian….“Mending gue bisa makan, pas gue datang tu pohon nggak ada satu pun yang berbuah. Cuma daun aja yang banyak. Emangnya gue kambing apa makan daun.”“Hu…..!!!” sorakan seisi kelas kembali terdengar.“Kasian deh loe,” ledek Izal sambil menatap Azimisar dengan raut meledek.“Jadi pas loe datang emang lagi pas nggak musim buah?” Uun memastikan. Azimisar hanya mengangguk, sebelum kemudian mulutnya meralat cepat.“Eh… gue inget kalau nggak salah waktu itu musim buah para, bisa dibilang tiap pohon berbuah. Banyak banget.”“Oh ya? Buah para? Buah apaan tuh? Perasaan gue nggak pernah denger?” tanya Nia heran.“Jadi kalian belum pernah denger apa itu buah para? Kasian, jadul banget sih” gentian Azimisar yang mencibir. Sepertinya pria itu berusah untuk membalas ledekan padanya tadi “Padahal itukan makanan spesial.”“Spesial? Spesial untuk apa?” Nia makin tidak sabar sabar.“Spesial buat…….,”Izal sengaja menggantungkan jawabanya. Ia ingin melihat ekspresi temen-temennya yang sudah tidak sabar “MONYET. Ha ha ha,” sambungnya langsung tertawa, jelas saja membuat teman-temannya sebel.“Sialan loe.”“Ia, bikin penasaran nggak taunya makanan monyet,” sambung Sofa cemberut, Azimisar justru makin ngakak.“Jadi Zal, dirumah Eyang loe banyak monyetnya ya?” tanya Sanah tiba – tiba. “Kalau dirumah Eyang gue nggak ada, kalau dikebunnya banyak,” sahut Azimisar meralat.“Trus loe pernah lihat nggak….? Kayak apa si?” tanya Sanah lagi. Seumur-umur Sanah memang belum pernah melihat monyet secara langsung, kecuali dulu di tipi yang jadi model iklan XL.“Ya pernahlah, kalau dilihat-lihat sih beda tipislah ama loe.”“Sembarangan,” Sanah sewot sambil menjitak kepala Azimisar yang hanya tertawa, begitu juga dengan yang lain.Tiba-tida bel berbunyi tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Semua segera menuju kekursi mereka masing-masing karena bu Anggi sudah tampak diambang pintu. Dengan wajah ceria masing-masing mengeluarkan buku bahasa inggrisnya, karena kebetulan hari ini pelajaran pertama bahasa inggris. Secara siapa yang tidak ceria, masih pagi-pagi sudah dapat kripik gratis. Tapi sayangnya keceriaan itu hanya berlangsung beberapa detik setelah kemunculan Bu Anggi dan segera berubah cemberut, begitu mendengar pengumuman dari bu Anggi kalau hari ini diadakan ulangan harian.“Yah, Ibu…. Kok dadakan sih?” Isul protes.“Ulangan dadakan…? why not ! Dangdut dadakan juga boleh,” sahut Bu Anggi menanggapi protesan Isul.“Itukan dangdut bu. Masa bahasa inggris di samain ma dangdut, itu sih nggak nyambung,” Izal menimpali.“Kalau gitu kalian pilih mana? Mau konser dangdut dilapangan atau ulangan bahasa inggris dikelas?” tanya Bu Anggi nggak tanggung – tanggung. Detik itu juga semua murid di kelas langsung mejudge kalau gurunya adalah salah satu dari sekian orang yang menjadi korbang ajang audisi pecarian bakat yang memang sedang marak – maraknya di siarkan di salah satu stasiun swasta Indonesia.Walaupun soalan yang diberikan hanya 10 dan itu pun pilihan ganda semua tetap saja membuat semuanya pusing tujuh keliling. Sudah ngasih ulangannya dadakan, close book lagi. Gimana nggak sebel. Bahkan Dewi sang juara kelas juga dibuat pusing tuju belas keliling.Ketika Dewi sedang konsentrasi mengisi soal nomor 8, tiba-tiba ada yang nimpuk kepalanya dari belakang pakek kertas. Saat menoleh, Dewi mendapati kalau ternyata Sugeng pelakunya. Terbukti dengan tingkah pria itu yang memberikan isarat padanya untuk segere mengambil ketras yang telah ia lemparkan tadi.Walau kesel tak urung Dewi membungkuk guna mengambilnya. Matanya melotot sempurna saat membaca tulisan yang tertera. “Gue minta jawaban nomor 7, 8, 9 dan 4, sama 3, 1 terus 10 buruan nggak pake lama!!!!”.Jelas saja Dewi sebel, sudah minta tolong, maksa. Ia aja baru selesai tiga soal, eh sekali minta tolong tujuh. Kenapa nggak semua aja sekalian, tapi tak urung ia balas juga disebaliknya dan segera ia lemparkan kearah Sugeng. Selesai membacanya Sugeng langsung cemberut dan membuang kertas tersebut secara sembarangan. Alhasi mendarat tepat dikepala April. April kaget tapi tetap diambil nya kertas tersebut. Tampak sebuah senyum yang merekah di bibirnya begitu membaca.Sugeng kemudian kembali menyobek kertas dan menulis“Awas Loe!!!” dan kembali ia lempar ke Dewi. Acara korespondensi dadakan pun terjadi karena Dewi langsung membalasnya segera laksanan SMS yang muncul di hanphonnya. Dengan santai di tulisnya kata di kertas sebalum kemudian kembali ia lemparkan ke arah Sugeng.“Tenang, entar kalau gue kesandung gue nggak akan minta tolong loe deh.”Tentu Saja surat balasan dari Dewi membuat Sugeng makin sewot. Kali ini ia menggunakan selembar kertas, dan mengambil stabilo kuning dari dalam tasnya. Sengaja ia tulis kalimat besar-besar, kemudian ia lemparkan ke Dewi. Tapi sayang karena terlalu bernafsu, lemparan itu mendarat dua meja didepan Dewi, tepat mengenai kepala bu Anggi yang dari tadi mondar-mandir seperti strkika demi untuk mengawasi siswanya. Golll!!!!!.UppsssBu Anggi clingak clinguk sebelum kemudian sedikit membungkuk, memungut kertasnya. Membuka dan kemudian membacanya, seketika mukanya merah“Siapa yang melemparkan surat kaleng ini?!” suara bu Anggi terdengar menggelegar laksana petir di siang bolong membuat Sugeng langsung mengkeret kayak Udang. Siswa yang lain hanya saling bertatapan heran, tidak tau apa yang terjadi.“Siapa yang berani melempar surat kaleng ini?” ulang Bu Anggi mengulang pertanyaannya kali ini suaranya terdengar sangat tegas, tapi semua siswa tetap terdiam. Dewi melirik kearah Sugeng yang tampak semakin pucat.“Jadi nggak ada yang mau ngaku ni?” ancam bu Anggi.Tiba-tiba April mengangkat tangannya. Kontan saja semua mata tertuju kearahnya. Berani banget tu anak, sudah bosan hidup ya atau punya nyawa selusin?.“Jadi kamu yang nimpuk ibu pakek surat kaleng ini April?” suara Bu Anggi sedikit terdengar lebih santai namun syarat ancaman.“Ya bukan lah buk. Ada-ada aja, masa April berani menganggu sing… ehem maksudnya menggangu ibu,” kata April, hampir aja ia keceplosan menyebut gurunya singa betina.T_T.“Kalau begitu kenapa kamu tunjuk tangan?” bu Anggi heran. Yang lainnya juga ikut penasaran.“Ya April Cuma mau bilang kalau April udah nyelesaiin tugas yang ibu kasih. Nih,” April maju kedepan dan menyerahkan kertas ulangannya. Ini anak pura-pura blo’on atau memang super blo’on sih. Nggak tau apa orang lagi marah.“Ha?! Serius loe pril?” bisik Nia kaget sebelum April benar – benar bangkit maju kedepan. Tapi April hanya mengangguk mantap.“Ia nih, gue aja baru tiga masa loe,Mrs. Tulalit kok sudah selesai. Yang benar sajalah,” tambah Dewi nggak percaya.“Bomat. Yang penting gue udah selesai. Nih buk,” balas April makin pede.Bu Anggi langsung mengambilnya, kemudian mengamati sejenak. Tapi dipikir kayak apa juga tetep nggak masuk akal karena jawabannya bener semua. Lho kok?! Baru sekilas melihat bisa langsung tau kalau jawabannya bener semua?.“Ini bener kamu sendiri yang ngisi?” tanya bu Anggi.“Ya ia lah buk. Abis mau minta tolong sama siapa?” April balik nanya.“Kok bener semua?”“Masa sih buk?” gantian April yang keheranan plus double girang.“Ia nih buk, masa Mrs. Tulalit bisa bener semua?” kata Hakim nggak terima.“Lagian baru sekali liat kok bisa yakin kalau jawabannya bener semua?” tambah Dewi.“Ya ia lah langsung tau. Lah wong jawabannya dari nomor satu sampai sepuluh A semua,” jawab bu Anggi. Tapi dalam hati. Habis kalau dijawab keras-keras bisa batal tuh ulangan.“Ya sudah. Mending kamu keluar dulu sana. Awas jangan sampai temen kamu ada yang nyontek,” kata bu Anggi kemudian.“Beres bu,” April berjalan keluar menuju pintu sambil pasang tanpang TP. Tau kan…?. ‘tebar pesona’. Bangga banget lah dalam hati. Jelas saja teman-temannya makin jealous.“Jangan-jangan dibantuin jin tu orang?” batin Nia yang jadi merinding membayangkan ucapanya sendiri.Tepat saat kaki April menginjakan pintu keluar, tiba tiba ia berhenti karena teringat sesuatu. Langsung balik kanan menatap bu Anggi yang masih berdiri bengong menatap kertas ulangan di tangannya.“Oh ya buk, hampir aja lupa. Tadi April mau nanya surat kaleng nya isinya apa sih. Jadi penasaran,” tanya April yang mengingatkan semuanya akan accident yang hampir terlupakan.Deg! Jantung Sugeng seperti mau copot.“Kurang ajar loe. Ngapain diingetin lagi sih. Padahal kan tadi udah lupa, dasar Mrs. Tulalit,” maki Sugeng dalam hati“Untung kamu ngingetin. Hampir aja ibu tadi lupa, ayo sekarang semuanya ngaku siapa tadi yang sudah nimpuk ibu pake surat kaleng ini?” tanya bu Anggi lagi.“Tenang dulu bu. Jangan marah marah. Percaya deh sama April bentar lagi ibu pasti bakal dapat kabar bagus,” saran April sok ngeramal. Yang lain heran, abis apa hubungannya?.“Maksud kamu?”“Gini buk, April juga pernah dapat surat kaleng kayak gitu. Dan setelah itu April langsung dapat kabar gembira. Suwer deh.”Sedetik setelah April menyelesaikan ucapanya, tiba-tiba Hp bu Anggi berdering. Setelah berbicara sejenak ia langsung mematikan telponnya dan mendekati April.“Ya ampun April. Ternyata kamu bener. Barusan ibu dapat kabar kalau ternyata keponakan ibu baru saja melahirkan anak nya dengan selamat. Terus kembar lagi.”“Yang bener bu?” “Sudah sekarang kumpulkan semua tugas kalian.”“Tapi buk, kita belom selesai,” kata Minda.“Nggak papa. Hari ini ibu kasih bonus, selesai nggak selesai kalian dapat nilai lapan semua. Kalau April 10. Oke!”“Ha…?!” Semua melongo, cengo dengan sikap ajaib gurunya. Tapi tak urung juga merasa girang. Gimana nggak? Secara nggak perlu mikir susah susah tapi dapat nilai 8. Blo’on banget kalau nggak mau.Tapi heran deh ni guru sama murid kok sama aja ya. Sama-sama tulalit. He he he.“Kalau begitu ibu pergi dulu. Oh ya April, mending surat kalengnya buat kamu saja. Siapa tau kamu dapat kabar bagus lagi,” selesai berkata bu Anggi langsung pergi meninggal kan siswanya yang kebingunggan.Dengan agak terburu-buru April membuka bundelan kertasnya. Kemudian membaca keras-keras agar teman-temannya yang juga penasaran bisa ikut mengetahuinya.“DASAR BABON KOE!!!. JEMBELENGAN…!!!”Kontan tawa seisi kelas meledak bahkan kelas sebelah yang tidak tau apa – apa juga heran mendengarnya. Kira-kira ada apa ya?.“Gila. Bener-bener deh. Siapa sih yang berani bikin tu surat terus ngelemparnya kekepala bu Anggi. Punya nyawa selusin ya?” kata Guntur yang duduk tepat didepan meja guru.“He’eh. Berani banget,” tambah Minah.“Tapi siapa?” tanya April.“Pasti elo. Ia kan Sugeng?” tuduh Dewi langsung.“What?! Yang bener saja lah kou,” logat batak campuran Majeni langsung keluar.“Ia. Masa sih elo Geng?” Nia menatap kearah Sugeng yang cengengesan sambil mengangguk membenarkan ucapan Dewi. Sofa' hanya bisa geleng-geleng kepala nggak tau lagi mau ngomong apa atau memang ia sudah tidak kebagian dialog. Entahlah.“Nekat loe. Masa bu Anggi loe bilang babon. Jembelengan lagi. Udah kebal loe?” timpal Razimah yang diam diam naksir pria itu.“Ya nggak lah. Lagian tu surat bukan buat Bu Anggi. Tadi itu cuma kesalahan teknis aja. Gara gara Dewi sih. Rese”“Maksud nya?”“Kita jadi bingung nih?”“Ia tadi itu gue mau ngelemparnya ke Dewi. Tapi yang kena malah bu Anggi.”“Untung aja nasib loe bagus. April tadi bisa nanganin. Coba kalau nggak?” ujar Nia.“Tapi hari ini April keren ya. Udah ulangannya selesai duluan, bener semua pula tu. Terus juga bisa nanganin bu Anggi bahkan kita bisa dikasih bonus nilai lagi. Kok bisa ya?” gumam Izal curiga.“Ia nih, atau jangan-jangan….?” timpal Nia dan tiba-tiba bulu kuduknya merinding membayang kan April dibantu oleh jin.“Jangan-jangan apa?” tanya Ria penasaran.“Jangan-jangan loe dibantuin jin ya?” tebak Nia langsung. Tentu saja semuanya kaget tapi tak urung membenarkan ucapan Nia.“Jin gundul mu. Sembarangan aja kalau ngomong,” bentak April sewot.“Kalau nggak loe bisa ngisi bener semua dari mana donk?” kejar Jumi.“Nih. Liat aja sendiri,” April menyerah kan sobekan kertas yang ia ambil dari dalam saku bajunya.“Lho, itu kan kertas yang gue buang tadi. Kok bisa ada sama loe?” Sugeng heran.“Tau. Tadi gue liat dibawah kolong meja gue. Karena penasaran ya udah gue ambil aja. E nggak taunya jawaban soal B. Inggris tadi,” jelas April polos.“Tunggu dulu, jadi tadi loe nyontek ini?” tanya Sofa' menegaskan..April mengangguk.“Maksudnya dari nomor satu sampai sepuluh jawabannya A semua?” tanya Dewi dan Sugeng serentak.“Iya,” balas April. Ia heran kok Dewi juga bisa tau.“Apa???!” .“Bruk…!”.Dewi tergeletak di lantai. Shok langsung pinsan. Padahal ia sudah meres otak buat nyari jawabannya, bahkan tadi saat membalas ia cuma ngasal aja. Tapi kok…Teman-temannya panik. Dan langsung membawa Dewi ke ruang UKS.“Ternyata bu Anggi beneran nggak beres ya. Masa jawaban dari satu sampai sepuluh A semua,” komentar Ina kemudian.“Ah dasar kaliannya aja yang dodol. Pakek ngatain bu Anggi nggak beres segala. Kayak kaliannya beres aja” balas April sambil pergi meninggalkan kelas dengan gaya princes dadakannya.To Be continueKita bersambung dulu ya. Lanjut baca ke Cerpen Lucu Mis Tulalit ~ 02. Ngomong – ngomong untung aja ya, temen – temen admin nggak ada yang demen baca. Coba aja mereka tau kalau image mereka di bikin ancur gini disini. Xi xi xi~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 04 | Cerpen Cinta

    Halo semuanya, ketemu lagi nih sama Admin tentunya dengan kelanjutan Ketika Cinta Harus Memilih Part 4. Masih tentang kisah Cinta sama Rangga ya. Kira kira gimana sih kelanjutan hubungan mereka. Bakal happy ending atau justru malah sad ending.Untuk yang dulunya sudah pernah membaca, baca ulang lagi juga boleh kok. Secara cepen ketika cinta harus memilih ini kan udah di edit lagi. Walau inti ceritanya masih sama si sebenertnya. Akhir kata, happy reading aja deh….Ketika Cinta Harus Memilih"Jadi ini rumah loe?" tanya Rangga setelah beberapa detik yang lalu motornya diberhentikan atas interupsi dari Cinta yang sedari tadi duduk di belakangnya.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*