Cerpen Keluarga: DIA TETAP AYAHKU

DIA TETAP AYAHKU
oleh: Umi Kulsum
Nama ku Raka Putra Pratama ,Usiaku 17 tahun sekarang aku duduk di kelas 2 SMU, Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara.Aku memiliki adik perempuan namanya Raya Putri Pratama (Aya), usianya 16 tahun dan dia duduk di kelas 1 SMU. Kita bersekolah di tempat yang sama. Kami lahir dari keluarga yang cukup sederhana.Ayah dan Bunda ku adalah harta yang paling berharga yang aku miliki,karena dia selalu membawa keceriaan dalam hidup kami.
Pagi ini, Aku masih terlelap dalam tidurku terdengar suara Bunda memanggilku,“Raka..bangun ayo kita solat subuh berjama’ah”panggil Bunda dari balik pintu kamar ku“iya bun..nanti aku menyusul”jawabku dengan malasAku pun beranjak dari tempat tidurku. Solat subuh berjamaah bersama ayah,Bunda dan Raya adalah kewajiban yang selalu kami lakukan setiap pagi.Seusai solat kami semua bersiap untuk melakukan aktivitas masing-masing,Terlihat bunda yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk kami.“Pagi bun..”sapa ku “Pagi sayang, Ayah dan Aya mana kok belum turun”tanya bunda ketika melihat aku seorang diri duduk di meja makan“Masih di atas bun”jawabku“Huh..lama banget yah mereka”ucap bunda“Ya.bun padahal perutku udah keroncongan ni”ucapku protes“Sabar yah sayang ,tunggu mereka turun dulu,bentar lagi juga turun”jawab bunda sambil membelai lembut rambutkuTak lama Ayah dan Aya pun terlihat menuruni tangga“pagi bunda, pagi jagoan ayah “sapa ayah ketika melihat aku dan ibu yang sudah menunggu“Pagi yah,lama banget sih, cacing di perut aku dah pada demo ni”protes ku pada ayah“maaf sayang, ya udah ayo kita makan”ucap ayahDan Ayah pun memimpin do’a sebelum kita makan,Seusai makan ayah pun mengantarkan aku dan Aya untuk ke sekolah.“Oya..hari minggu kalian ada acara ga?”tanya ayah pada ku dan Raya sambil mengendarai mobilnya“ga ada yah,kenapa“jawab Raya“Ayah mau ajak kalian jalan-jalan”jawab ayah tersenyum “asiik ayo yah “sambar Raya dengan penuh semangat“minggu kemarin kan kita udah jalan-jalan yah, emang mau kemana lagi?Bosen ah yah”ucap ku protes “iihh kakak minggu kan emang waktunya buat weekend”protes Raya“rencananya ayah mau ngajak kalian ke panti asuhan, kenapa Raka ga bisa ikut?kalau raka ga ikut berarti ga jadi dong”ucap ayah dengan wajah kecewa“kenapa ke panti yah,mending kita ke taman cibodas yah”ucap Raya keberatan “Habis ayah bosen kalau jalan-jalan ke luar cuman buat weekend doang, ke panti lebih seru di sana banyak orang-orang yang bisa kita buat bahagia udah gitu dapet pahala pula”ujar ayah “ide bagus tuh yah, kan kita dah lama ga kesana, kalau kesana mah aku semangat yah”jawabku penuh semangat“yah ke panti, mau ga mau harus ikut”Jawab Aya tak lagi bersemangat“Sayang kan kita juga harus berbagi sama orang lain”jawab ayah sambil mengelus rambut aya“iya ayah”jawab raya penuh senyumTak terasa kami pun sampai di gerbang sekolah,Aku dan Raya pun berpamitan pada ayah dan keluar dari mobil.Waktu terus berjalan pelajaran terakhir di kelas XI IPA 2 yaitu bahasa indonesia, Di sisa waktu pelajaran kami semua di suruh Pak Wandi guru bahasa indonesia untuk membuat cerita tentang sosok seorang ayah bagi kami.Dengan penuh semangat dan tanpa ragu aku pun langsung menuliskan semua isi pikiran dan hati ku tentang seorang ayah.Tak terasa kini giliran aku harus maju ke depan tanpa ragu aku pun maju kedepan kelas“Saya akan menceritan sosok seorang Pratama Putra yaitu ayah saya. Dia adalah seorang ayah yang menjadi pelabuhan hati aku untuk mengadu, Segala perjuangan yang dia lakukan selama ini hanya untuk aku,adik ku dan bundaku.Dia adalah teladan bagi ku. Aku ingin seperti dia yang selalu membawa kebahagiaan,Canda dan tawa di sisi kami.Dia tak pernah gentar untuk menggoreskan senyuman di bibir kami. Tak pernah terbayang oleh ku bila dia harus pergi dalam hidupku.Mungkin lebih baik aku yang pergi terlebih dahulu agar aku tidak pernah merasakan betapa sakitnya kehilangan dia. Ayah kau segalanya untukku jangan pernah berubah sedikitpun dan tetap bersama kami di sini. anugrah terindah yang tuhan berikan padaku yaitu ketika aku terlahir di keluarga ini.Mempunyai ayah dan bunda yang begitu sempurna untuk ku.yang mengajarkan aku untuk menjadii yang terbaik untuk semua orang. Inilah sosok ayah bagiku terima kasih”Ucapku memaparkan tulisan yang telah ku buatSuasana kelaspun menjadi ramai karena sambutan tepuk tangan dari teman-temanku.Terlihat Pak Wandi yang tersenyum mendengar tulisan aku.Bel tanda usai pelajaran pun berbunyi. Aku bersiap untuk pulang ke rumah.Namun ketika aku hendak pergi melangkah keluar kelas. Terdengar suara pak Wandi memanggil ku. “Raka”panggil Pak WandiPanggilan pak Wandi menghentikan langkahku, Aku pun menghampiri Pak Wandi“Ada apa pak??”tanya ku pada pak wandi“Tulisan kamu tadi bagus sekali,Bapak ingin kamu membawakan tulisan kamu saat pembagian rapot, Kamu bisa menambahkan tulisan kamu lagi. Kamu mau kan?”ucap pak wandi penuh harapan“mm..gimana yah pak,Saya tidak terlalu percaya diri untuk membawakan tulisan ini,di depan orang banyak pak!”jajwab ku ragu“kenapa harus tidak percaya diri tulisan kamu itu bagus sekali. Bapak hanya ingin memberikan contoh pada teman-teman kamu yang lainnya agar mereka bisa menghargai kedua orang tua mereka,dan bapak juga ingin menunjukan pada orang tua wali nanti bahwa begitu berharganya mereka dan betapa pentingnya suport mereka bagi anak-anak mereka untuk bisa melangkah maju ke depan”jelas pak wandi meyakinkan kuAku hanya terdiam penuhkeraguan mendengar ucapan pak wandi tadi, Melihat diriku terdiam pak wandipun berkata”Bapak yakin kamu bisa,masa kamu ga yakin sama diri kamu sendiri! Tenang bapak akan mengajarkan kamu intonasi pembacaan tulisan ini, biar nanti ayah dan ibu mu tambah bangga melihat penampilan kamu, Karena bapak ingin kamu terlihat perfect di penampilan ini”“oke pak saya sanggup”jawabku penuh semangat“nah gitu dong, mulai besok kita latihan yah,sekarang kamu pulang kalau bisa tambahin tulisan kamu oke!!”ucap pak Wandi“Siap pak”ucapku sambil melangkah meninggalkan pak wandi dan berpamitanMalam ini selesai makan malam, Tanpa membuang waktu aku bergegas untuk menyelesaikan tulisanku yang akan ku tambahkan sesuai amanat pak wandi tadi.“Ka mau kemana semangat amat”tanya bunda ketika melihat aku begitu bersemangat melangkah meninggalkan meja makan“iya ni.. mau kemana jagoan ayah”sambar ayah mengulangi pertanyaan bunda“ehh.. aku mau ke kamar, mau ngerjain tugas “jawab ku tersenyum“Oo ..ya udah sana kerjain tugasnya”ucap ayah“oya ka jangan malem-malem yah tidurnya. Inget waktu”ucap bunda mengingatkan aku“oke bos”jawab ku sambil mengacungkan jempol ku, Aku pun bergegas menuju kamarku, Lalu ku goreskan penaku ke dalam kertas untuk menulis semua yang aku rasa kan dan aku pikirkan, Aku baca kembali dan tak kala akupun menghapus kata-kata yang kurang nyambung lalu ku ganti oleh kata-kata yang lebih pantas. Tanpa terasa jam di kamarku menunjukan pukul 10. Aku pun menghentikan tugas ku ,lalu tidur terdengar suara bunda membuka pintu kamar ku, Untuk memastikan aku telah selesai mengerjakan tugas ku.Ketika melihat ku yang sudah terbaring bunda menghampiriku dan mencium lembut kening ini,lalu mematikan lampu kamarku dan pergi meninggalkanku.Siang ini seusai pulang sekolah Pak wandi menunggu ku untuk berlatih, sebelum latihan aku pun memberitahukan pada Raya bahwa hari ini aku tak bisa ikut pulang dengannya karena ada urusan, Tak ada satupun yang tahu bahwa aku akan tampil nanti di acara pembagian rapot selain pak wandi karena aku ingin memberi kejutan pada ayah,bunda dan adikku. Aku ingin ini semua menjadi benar-benar sebuah kejutan.Hari berganti hari tanpa lelah aku terus berlatih, agar aku bisa menampilkan yang terbaik nanti karena aku ingin semua bangga terhadapku dan tanpa menggoreskan sedikitpun rasa kecewa terutama pada pak Wandi yang telah memberikan kepercayaan pada diriku.Biasanya aku selesai latihan pukul 5 sore,setelah sampai di rumah aku mandi, solat magrib,mengaji, makan malam, lalu solat isya, dan setelah itu aku belajar hingga aku tertidur dan terbangun menjelang pagi saat azan subuh berkumandang.Tanpa terasa kini aku sudah begitu jarang berkumpul dengan keluarga ku.Malam ini aku terbangun dari lelapnya tidurku, Aku melihat waker di kamarku menunjukan pukul 2 . namun rasa ingin ke kamar mandi tak dapat aku tahan, dengan rasa kantuk yang menggelayut dimataku, akupun beranjak dari tempat tidurku dan ku buka pintu kamar,Aku turuni anak tangga satu persatu untuk menuju kamar mandi yang berada di bawah. Namun langkahku terhenti ketika aku melihat sosok seorang wanita yang aku kenal sedang tertidur pulas di sofa ruang keluarga.Ku hampiri sosok itu.“Tumben banget bunda tidur di sofa,ayah kemana yah??”gumam ku dalam hati begitu bingung ketika melihat bunda yang tertidur pulas di sofa.Rasanya aku tak tega harus membangunkan bunda yang begitu pulas tertidur, tapi aku juga tak tega bila harus melihat dia tertidur di atas sofa ini.Tanpa ragu aku pun melangkah ke kamar bunda untuk mengambilkan selimut dan bantal untuknya dan memakaikan bantal dan selimut pada tubuh bunda, Akhirnya aku putuskan untuk menemani bunda tidur di sofa.Pagi ini bunda membangunkan aku yang tertidur lelap di sofa“sayang bangun”ucap bunda yang duduk di sampingku“ya bunda”jawabku “sayang kamu kenapa tidur di sofa”tanya bunda sambil mengelus rambutkuAku pun beranjak dari posisi tidurku dan berkata”iia.. bun semalem aku liat bunda tidur di sofa,jadi aku temenin deh bun abis aku ga tega liat bunda”Mendengar ucapan ku,bunda memeluk aku,lalu akupun melanjutkan ucapanku”bunda kenapa tidur di sofa??”Bunda hanya terdiam mendengar ucapan ku dan melepaskan pelukannya,sambil memegang tangan bunda aku pun berkata”bunda kenapa sih,kok diem aja!! Kan aku nanya sama bunda”“bunda ga apa-apa sayang,ya udah sekarang kamu ngambil wudhu kita solat subuh yah”ucap bunda sambil membelai rambutku dan pergi meninggalkan aku.Entah apa yang terjadi sama bunda,Namun aku tak bisa memaksa bunda untuk cerita padaku , Akupun langsung bangkit dan mengambil air wudhu. Pagi ini aku yang memimpin solat subuh seusai solat dan berdoa“bun ayah mana kok aku ga liat??”tanya aya yang heran karena pagi ini ayah tak ada“ayah ada urusan”jawab bunda singkat“urusan apa bun??ayah berangkat jam berapa atau malam ini ayah ga pulang”ucap ayaBunda hanya terdiam mendengar ucapan aya,Aku sangat menanti jawaban bunda karena hal itu yang menjadi salah satu pertanyaanku.“ayah pergi tadi pas kalian masih tidur,ayah ga sempet pamit sama kalian soalnya ada urusan mendadak”jawab bunda gugup“terus ayah semalem pulang jam berapa”tanya ayaSambil menatapku bunda lalu menjawab”jam 10 ayah udah pulang kan kamu udah tidur”Aku tau semua yang bunda ucapkan itu bohong,semalem aku ga liat ayah saat aku terbangun mengambilkan selimut untuk bunda di kamar bunda tak terlihat sosok ayah di sana,dan aku tau tatapan bunda tadi menyuruhku untuk bungkam tentang apa yang terjadi agar aya tidak berpikir apa-apa tentang ayah.Mendengar ucapan bunda aya pun percaya dan langsung pergi meninggalkan aku dan bunda“bunda”sapa ku menghentikan langkah bunda yang hendak pergi“kenapa sayang”jawab bunda begitu tenang“kenapa bunda lakuin ini semua??”tanya ku pada bunda“lakuin apa?”jawab bunda“kenapa bunda berbohong pada aya"ucapku menjelaskanBundapun terdiam sejenak dan berkata dengan lirih”cuman itu yang bisa bunda lakuin,soalnya bunda ga tau harus menjawab apa lagi kalau adikmu nanya tentang ayah”“bun cerita sama aku ada apa dengan ayah dan bunda, kenapa jadi kaya gini? Jangan bunda pendam sendiri,aku sudah dewasa bun, siapa tau aku bisa ngasih solusi atau membantu bunda menjawab pertanyaan Raya”ucapku “bunda ga tau harus cerita apa sama kamu, soalnya bunda juga ga tau apa penyebab ini semua. Nanti ketika bunda tau semuanya,Bunda janji aka cerita sama kamu,sekarang kamu siap-siap sana ke sekolah”jawab bunda“janji yah bun, buat cerita apa pun yang terjadi aku ga mau kalau bunda sedih”ucapku lalu ku peluk erat tubuh bundaSiang ini aku pulang seorang diri, Karena Raya meminta ijin padaku untuk pergi ke toko buku bersama temannya. Sesampai di depan gerbang terlihat mobil ayah terparkir di halaman rumah ku. Akupun mempercepat langkahku untuk melihat ayah.Karena memang beberapa hari ini aku tak bertemu ayah dan rasa rindu di hati ini sudah terlalu besar padanya. Ketika sampai di depan pintu, Ayah terlihat keluar dari dalam rumahku seorang diri“ayah”sapaku sambil mendekatinya“eh jagoan ayah sudah pulang,kok sendirian adikmu mana”tanya ayah ketika melihat aku seorang diri“dia tadi minta izin untuk ke toko buku”jawabku“maaf yah sayang ayah buru-buru,ayah pergi dulu yah”ucap ayah memeluk ku, lalu pergi meninggalkan aku“ayah mau kemana”tanya kuBelum sempat menjawab pertanyaanku,Ayah langsung mengendarai mobilnya.Dengan penuh rasa kecewa akupun masuk kedalam rumahku.“Assalamualaikum”sapakuBerkali-kali aku mengucapkan salam, Namun tak ada jawaban dari dalam rumah lalu aku pun memanggil bunda berkali-kali tapi sama saja tak ada jawaban.Aku langkahkan kakiku menuju kamar bunda.Ketika ku buka pintu kamar bunda. Aku melihat sosok seorang wanita yang sedang duduk tertunduk di pinggir tempat tidurnya“bunda”sapaku sambil menghampirinya“kamu udah pulang ka”jawab bunda dengan suara sendu dan berusaha mengusap air matanya“bunda kenapa?”tanya ku ketika melihat mata bunda yang sembab“ga apa-apa sayang,kamu sudah makan belum?”jawab bunda mengalihkan pertanyaanku“bunda jawab pertanyaan aku,bunda kenapa”tanya ku sekali lagi“bunda ga apa-apa sayang”jawab bunda“tadi pagi bunda janji mau cerita apa pun yang terjadi sama aku,tapi apa sekarang bunda sembunyiin semua ini”ucapku memohonBunda hanya terdiam,lalu aku pun meneruskan ucapanku”ayah yah bun??”Bunda pun memalingkan wajahnya dan menangis lirih, Melihat bunda akupun langsung memeluknya mencoba menenangkannya.“Apa yang ayah lakuin sampai bunda menangis begini”tanya ku kesal“ga ayah ga lakuin apa-apa,kami hanya bertengkar kecil kok. Sekarang kamu makan dulu yah,dan janji sama bunda jangan katakan hal ini sama Raya”ucap bunda berusaha menenangkan aku.Aku pun hanya mengngagukan kepalaku, dan pergi untuk makanMinggu pagi ini ketika usai solat subuh terlihat ayah terburu-buru hendak pergi entah kemana melihat itu semua Raya pun bertanya”ayah mau kemana kok buru-buru banget”“ayah ada urusan”jawab ayah singkat“ayah kan janji sama kita mau ke panti asuhan”ucap aya kecewa“ayah ga bisa ada urusan yang tak bisa ayah tinggalkan”jawab ayah“ayah urusannya besok aja,kan ayah udah janji sama aku mau jalan-jalan”ucap aya merengek“kamu tuh di bilang ayah banyak urusan berisik banget sih”jawab ayah dengan nada tinggiMendengar jawaban ayah Raya hanya tertunduk dan menangis. Dan ayah pun pergi begitu saja tanpa memperdulikan Raya bahkan tanpa berpamitan pada bunda.Melihat Raya menangis bunda pun menghampirinya untuk menenangkan dan memeluknya“bun kok ayah marah-marah sih”ucap raya lirih“ayah bukan marah-marah sayang, tapi ayah lagi pusing banyak kerjaan,Jadi kamu harus mengerti oke, sekarang hapus airmata kamu nanti kita jalan-jalan “ucap bunda menenangkan“aku udah ga mau jalan-jalan bun, aku pengen di rumah aja”ucap raya lalu pergi ke kamarnyaAku pun mendekati bunda yang duduk di sofa“Aku sekarang tau bun apa yang terjadi antara kalian?”ucapku sambil duduk di samping bunda“yah… kamu sudah cukup dewasa untuk memahami ini semua,jadi ga ada yang harus di sembunyiin lagi sama bunda”jawab bunda sambil memandang ku“ini kenapa bun?”tanya ku sambil ku pegang wajah cantik bunda yang memar“auw..”ucap bunda kesakitan“kenapa bun, kemarin aku lihat ga ada?ayah yah bun?”ucapku dengan nada khawatir“ga kok sayang, tadi pagi bunda ke jatuh di kamar mandi terus kebentur deh”ucap bunda“ga bohong kan bun?”ucap ku menegaskan“ga sayang”jawab bunda memelukkuHari ini adalah pembagian rapot, Hari yang sangat aku nantikan dan Aku berharap hari ini ayah dapat melihat penampilanku, Pagi ini ketika sarapan aku tak melihat sosok ayah ada di antara kita“bun ayah mana?”tanya ku“ayah ga pulang lagi sayang”jawab bunda begitu lirih“kemana bun?”tanyakuBelum sempat bunda menjawab pertanyaanku Raya telah menghampiri aku dan bunda“bun hari ini kita bagi rapot, bunda sama ayahk ke sekolah aku kan?”ucap Raya“mm…iya nanti bunda kesana”jawab bunda ragu-ragu“aku sama kakak berangkat duluan yah bun,soalnya kita mau prepare bun”ucap Raya“oke sayang”jawab bundaSetelah acara pembagian rapot selesai,Kini acara yang di nanti pun tiba.Saatnya penampilan aku. Ketika aku naik ke atas panggung terlihat bunda duduk seorang diri di kursi penonton, Rasa kecewa pun meliputi hati ku ini. Namun aku berusaha untuk tenang.“saya Raka Putra Pratama dari kelas XII IPA 1 akan membawakan puisi untuk semua ayah yang kami cintai”
Ayah . . .
Kaulah tempat yang menjadi pelabuhan hatiku untuk berkeluh kesah
Seorang pejuang yang tak pernah menyerah
Yang tak pernah merasa getar untuk menggoreskan senyuman di bibir kami
Dan tak pernah merasa lelah untuk memberikan yang terbaik untuk kami
Ayah . . .
Andai kau tau betapa berartinya dirimu bagiku
Betapa sangat berharganya dirimu bagi ku
Dan kehadiranmu yang selalu ku tunggu
Ayah. . . .
Temanilah aku hingga akhir hidupku
Janganlah pernah berubah sedikitpun
Jangan tinggalkan aku
Berjanjilah ayah
Tuhan. . .
Jagalah selalu ayah ku
Lindungi selalu ayahku
Dan selamatkan ia selalu
Tuhan . . .
Ijinkan aku untuk bisa membuatnya bahagia
Ijinkan aku untuk bisa membuatnya bangga
Ijinkan aku untuk bisa menggoreskan senyum kebahagian dan kebanggan di bibirnya
Tuhan . . .
Sampaikan padanya bahwa aku butuh dia
Bahwa aku mencintainya
Bahwa aku tak akan menjadi apa-apa tanpanya
Tuhan . . .
Sungguh ku berterima kasih padamu
Atas semua kebahagiaan ini
Atas semua anugrah terindah yang kau berikan ini
Dan terima kasih kau berikan aku ayah dan bunda yang luar biasa
Terima kasih untuk semuanya
Ayah . . .
Kau lah pahlawanku
Kau lah idola ku
Dan kau lah teladanku
Terima kasih ayah
Ucap cinta ku padamu
Sepanjang masa
Terlihat bunda yang menangis dari kursi penonton, Aku tau pasti bunda merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Moment yang aku tunggu hari ini datang juga walau aku berharap ayah hadir dan menyaksikan aku mengungkapkan semua isi hati ku ini. akupun turun dari panggung dengan sambutan tepuk tangan dari semua orang. Pak Wandi pun menyambutku dengan peluk hangat di bawah tangga dan berkata”kamu hebat raka,bapak yakin ayah kamu pasti bangga memiliki anak sepertimu”. Mendengar ucapan pak Wandi aku hanya bisa terdiam dalam pelukkannya.Sambil melepaskan pelukannya pak wandi pun berkata”Antarkan bapak pada Ayah mu”Dengan wajah tertunduk akupun menjawab”Ayah tak bisa hadir pak hari ini, Maka itulah yang membuat aku sangat kecewa pak, Hari yang saya nantikan, hal yang saya bayangkan akan begitu indah namun hanya menjadi bayangan dan tak mampu untuk menjadi sebuah kenyataan. Saya berharap ayahku yang menjemput aku saat turun dari atas panggung tersenyum bangga dan memelukku dengan penuh kebanggaan tapi itu semua..”ucapan ku lalu terdiam mendengar ucapan ku pak Wandi kembali memelukku“Kamu ga boleh sedih, mungkin memang ayahmu saat ini tak bisa datang,itu semua dia lakukan untuk bisa memberikan yang terbaik nantinya buat kamu,adikmu dan bundamu”ucap pak Wandi begitu bijakMendengar ucapan itu aku begitu tenang ku hapus airmataku, lalu ku hampiri bunda di kursi penonton,Melihat kedatanganku Bunda menyambutku dengan pelukan erat darinya dan berkata”bunda bangga sama kamu amat sangat bangga”Ucapan Bunda membuat aku tak lagi menangis dan membuat aku untuk semakin tegar hadapi semua ini karena aku harus menemani bunda dan tak boleh sedikitpun lengah menjaga bunda dan Raya.“kakak..”sapa Raya sambil memeluk aku lalu berkata lagi”kakak super hebat, aku bangga sama kakak 2 jempol buat kakak”sambil menunjukan kedua jemari jempolnya”bunda..gimana rapot kita?”tanya RayaBunda pun langsung mengangkat kedua jempolnya”anak bunda dua-duanya hebat,kalian berdua dapat rengking 1 dan kamu raya masuk kelas IPA”ucap bunda lalu memeluk aku dan ayaSetelah pembagian rapot kemarin, kini libur panjang pun datang, berbeda jauh dengan liburan kemarin, Aku dan Raya hanya berdiam diri di rumah. Tetapi semua tetap mengasikan walau tanpa ayah. Beberapa minggu ini ayah tak pulang sejak pertengkarannya dengan bunda.Aku dan Raya pun sudah mulai terbiasa tanpa kehadiraanya,bahkan aku merasa bahwa kami sejak dahulu memang tak memiliki ayah. Dan mungkin Raya sudah mulai bosan bertanya tentang ayah dan mendengar jawaban bunda yang selalu bilang ayah sibukLMalam ini aku terbangun dari lelapnya tidurku, karena keringnya tenggorokan ini, dengan rasa malas dan kantuk aku turuni anak tangga satu per satu. Namun langkahku terhenti , ketika aku mendengar suara gundah dari kamar bunda dan ayah.“Ayah sudah pulang”ucapku pelan ketika hendak melangkah pergi tiba-tiba aku mendengar suara bunda yang sedang marah, membuat aku mengurungkan niatku untuk pergi dan aku pun berdiam diri di depan pintu kamar mereka sambil menlihat dan mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi ,“Aku tau mas sekarang mas memiliki wanita lain selain aku.Tak ada yang harus di sembunyikan lagi mas aku tau itu semua” terdengar suara bunda dengan nada sedikit tinggi“bagus kalau kamu tau,jadi saya ga harus bersusah payah menjelaskan padamu lagi”jawab ayah begitu santai“inget mas sama anak-anak, Aku rela mas sakitin,aku rela mas pukul sampai aku memar begini. Tapi aku mohon mas jangan pernah tinggalkan anak-anak dan buat mereka kecewa”ucap bunda menurunkan nada bicaranya “mereka sudah besar pasti mereka semua akan lebih mengerti”ucap ayah“ga segampang itu mas buat mereka mengerti,mas enak-enakan selingkuh, tapi apa mas pernah tau kalau anak-anak mas di sini nanyain mas,sampai-sampai aku bingung buat jawabnya. Dan saat pembagian rapot, Mas tau ga kalau raka jagoan mas nyiapin puisi buat mas. Dia berlatih berhari-hari berharap ayahnya liat penampilannya. Tapi apa??mas ga punya waktu buat mereka sama sekali mas,mas membuat mereka kecewa ” jawab bunda dengan lirih“Aahh.. saya ga peduli. Itu urusan kamu”ucap ayah“seenaknya mas ngomong begitu,sekarang apa sih mau mas, jangan terlantarin kita kaya gini”ucap bunda menangis“Saya ga pernah terlantarin kalian,Saya tetap memberi kamu nafkah,memberimu uang untuk keperluan kamu dan anak-anak”jawab ayah“bukan uang yang kami butuhkan,saya dan anak-anak cuman butuh kamu yang dulu”ucap bunda“saya bukanlah yang dulu lagi,saat ini saya sudah menemukan wanita yang benar-benar saya butuhkan dan saya cari”ucap ayah dengan nada tinggi“apa mas?mas tau apa yang mas ucapkan tadi,aku istri mas ,sakit mas hati aku.. dan jagan pernah salahkan aku kalau nanti mereka membenci mas, karena sikap mas seperti ini”ucap bunda sangat lirih“yang saya mau saat ini hanya ingin hidup bersama wanita yang saya cintai dan saya ga perduli akan apa yang terjadi nanti”jawab ayah“maksud mas”tanya bunda“saya ingin menceraikanmu”jawab ayah“jangan mas,gimana anak-anak??cukup saya yang tersakiti kasihanilah mereka”ucap bunda lirih“saya ga perduli”jawab ayah“mas aku mohon,jangan tinggalin aku sama anak-anak,biarkanlah aku di madu asal anak-anak masih memiliki ayah”ucap bunda sambil tekuk di hadapan ayah“wanita itu tidak ingin cintanya terbagi,dia ingin memiliki saya seutuhnya”ucap ayah“jangan mas,jangan ceraikan aku…”jawab bunda dengan derai airmata di pipinya“kamu tuh di bilangin susah banget sih”jawab ayah“tapi mas”belum sempat bunda melanjutkan kata-katanya tamparan keras dari ayah telah mendarat di wajah cantik bunda hingga dia terjatuh ke lantai.Melihat kejadian itu aku langsung berteriak”Bunda…”dan menghampiri bunda lalu memeluknyaTerlihat wajah ayah yang terkejut melihat kehadiranku,“cukup yah..jangan sakitin bunda lagi. Dan bunda cukup ga perlu mohon-mohon lagi sama ayah. Kita udah terbiasa bun hidup tanpa ayah, kalau saat ini ayah mau pergi,pergilah yah tapi satu hal yang harus ayah tau jangan lagi datang dan menemui kita dan ayah ga perlu kirim-kirim uang untuk biaya aku dan raya karena aku yang akan menggantikan ayah. Sku akan mencari uang bantu bunda, semua aku lakuin karena aku tak ingin di biayai oleh laki-laki yang sudah mencampakan aku,adikku dan terutama bundaku”ucapku “sejak kapan kamu mulai kurang ajar”jawab ayah sambil mengangkat tangannya untuk memekul ku“jangan mas,cukup aku yang kamu lukai jangan sekali-kali kamu sentuh anakku”sambar bunda dan melindungi aku“kenapa ayah mau pukul aku. Pukul yah kalau ayah emang belum puas nyakitin kita.aku salah besar ternyata , dulu aku ingin seperti ayah,ayah adalah teladan aku,idola bagi aku, tapi ternyata aku salah ayah sama sekali tidak pantas untuk di teladani bahkan di idolakan. Pergilah yah dan aku yakin suatu saat nanti ayah akan menyesal,pegang janji aku yah dan jangan sekali-kali berharap bisa menyentuh adik dan bundaku atau menyakiti mereka”ucapku llirih“Ayah akan pergi dan tunggu saja surat cerai yang akan saya ajukan ke pengadilan”ucap ayah sambil melangkah pergiSeperginya ayah aku berusaha untuk menenangkan bunda.“jadi selama ini wajah bunda memar karena ayah”ucapku pada bunda sambil membelai lembut wajah cantik bundaBunda hanya menganggukan kepalanya“kenapa bunda berbohong padaku”ucapku“bunda ga mau kalian sedih dan membenci ayah kalian”jawab bunda lirih“bunda sungguh kami ga akan pernah sedih kehilangan ayah seperti dia,bahkan aku lebih sedih kalau bunda tetap sama ayah dan terus di sakiti. Aku ga mau itu terjadi”jawabku sambil memeluk erat bunda“kalian memang yang terbaik buat bunda”ucap bunda memeluk erat tubuh iniBulan demi bulan telah berlalu Ayah dan Bundapun telah berpisah dan Raya pun telah mengetahui semua yang terjadi antara ayah dan bunda bahkan dia lebih dewasa menerima ini semua di bandingkan apa yang aku dan bunda bayangkan.Siang ini ketika aku,Bunda dan Raya sedang asik duduk di depan televisi,Tiba terdengar suara ayah “Assalamualaikum”sapa ayahMendengar ucapan itu kami pun menoleh kebelakang,Sungguh terkejut aku, ketika aku melihat ayah bersama istri barunya bergandengan mesra di depan kami semua.Melihat semua itu aku pun jadi emosi seakan aku tak rela melihat semua ini”ngapain anda kesini lagi”“iya ngapain lagi ayah kesini”sambar Raya“Ooo..sabar anak-anak ayah,Ayah kesini cuman mau ngambil barang-barang ayah dan ayah juga mau ngingetin sama kalian kalau rumah ini akan di jual secepatnya”ucap ayah“Maaf andabukanlah ayah kami lagi,ambil saja barang-barang anda kami semua pun sudah tak sudi untuk menampungnya”jawab Raya begitu emosiAyahpun pergi membereskan semua barang-barangnya di bantu oleh istri barunya itu.Setelah selesai membereskan barangnya ayahpun pergi dan sebelum pergi dia berkata”sekali lagi ayah mau ngingetin kalau rumah ini akan di jual, jadi kalian harus segera pergi dari sini”“sabar bapak Pratama Putra kita semua juga bakal pergi tanpa membawa apapun dari sini, Dan kita akan pergi dari kota ini. Supaya kita tak lagi bertemu dengan orang seperti anda”jawabku ,Mendengaar ucapanku ayahpun pergi.Setelah kepergian ayah bunda merangkul aku dan Raya lalu menyuruh kami duduk dan berkata ”Kalian ga boleh seperti itu,Dia tetaplah ayah kalian,seperti apapun dia dan bagaimanapun dia,Namun di dalam darah kalian mengalir darah ayah yang selama ini selalu berjuang untuk kita dan memberikan pelajaran berharga untuk kita. Bahkan dia pula lah yang membuat kalian semakin dewasa.Bunda ga akan pernah melarang kalian untuk bertemu dengan ayah.Atau menghalangi ayah bertemu kalian” Setelah kejadian itu aku,Bunda dan Raya pun pindah ke Bandung. Kini aku bersekolah sambil kerja part time yah lumayan buat bantu-bantu bunda,walau awalnya dia tak mengizinkan karena saat ini aku ssudah kelas 3 dan sebentar lagi akan menghadapi ujian, Tapi aku bisa untuk meyakinkan bunda dan berjanji tak akan ada yang berubah pada nilai ku dan waktu belajar ku,dan bunda kini menjadi guru meneruskan pekerjaannya yang dahulu.Walau sekarang kami hanya bertiga namun kebahagiaan ini sama sekali tak berubah seperti dulu.Kini tak ada lagi airmata yang ada hanya canda dan tawa.Dan sekarang idola ku bukanlah ayah tapi bunda.Tapi ayah akan selalu menjadi ayahku seperti apapun diaseperti yang bunda ajarkan pada aku dan Raya
_Inilah keluarga yang selalu menjaga dan menghargai_
Dan inilah cinta ga perlu punya keluarga yang sempurna,Tapi kesempurnaan itu sendiri akan hadir, ketika kita bisa menghadapi semua masalah bersama-sama dan tidak membiarkan seseorang terus terluka demi kebahagian yang menjadi sebuah fatamorgana. Karena kebahagian tercipta dengan adanya rasa CINTA…
…WE LOVE YOU MOM …
……………………………………YOU ARE VERY EVERYTHING mom……………………………………………….

Random Posts

  • DEWIKU

    DEWIKUoleh: Ibnu Sinyalpagi buta saat semua anak dikelasnya sibuk menyalin pe-er dikelas ardhi tampak gelisah mondar mandir didepan kelas sesekali wajahnya menatap kearah pintu gerbang dan wajahnya pun kembali murung. wajah ardhi semakincemas saat matahari mulai meninggi.. dan wajahnya mulai cerah saat dia melihat seorang gadis manis dengan tasselempang berjalan kearahnya.. gadis itu zara gadis yang sedari pagi dia tunggu-tungu kehadiranya dengan mimiksumringah ardhi menyambutnya.. "hai kemana aja sih jam segini baru datang aku kan kuatir ntar kamu telat trus dihukum" koar ardhi begituzara ada didepannya. zara tampak bersikap dingin dan mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya , zara mengeluarkan buku tugaskimianya lalu menyerahkannya pada ardhi."udah gak usah basa-basi kamu nungguiin aku mau nyontek pe-er kan nich…" ujar zara dingin." hee hee tau aja kamu,, abis semalam aku ketiduran" bales ardhi cengengesan."ketiduran kok tiap hari bilang aja.. males buruan salin deh ntar keburu masuk lagi "" ya udah ku nyalin dulu ya makasih he..he""iya " ujar zara males karna udah hampir tiap hari ardhi selalu begitu, manis saat ada butuhnya..ardhi melesat pergi mencari tempat yang aman untuk menyalin tugas . sementar zara masuk kedalam kelas yang riuh oleh mahluk2 malas yangbelum mengerjakan pe-er . mereka duduk menbundar mengelilingi sebuah buku yg pe-ernya sudah dikerjakan. sambil sesekali melirik jamdinding lalu buru-buru kembali menyalin dengan raut muka yang pucat pasi takut bel keburu berbunyi .. sebelum mereka sempat menyalinsemua .. ditengah kapanikan teman 2nya yang saling tarik – buku catatan itu .. tiba2 ardhi muncul sambil menggedor-gedor papan tulis."to..tok huh gimana negara kita mau maju kalo terus-terusan begini.. pe-er dikerjakan dirumah hoi.." koar ardhi menambah panik seluruhsuasana yang langsung mendapat reaksi keras dari temen2nya yang kalang kabut menyalin tugas disisa-sisa waktu mereka."huuuuuh kayak lo ya nggak aja..!"Protes anak-anak sewot campur panikardhi berjalan penuh kemenangan diantara kerumunan temen_temannya yang panik bukan kepalang membayangkan seandainya tidak selesaimenyalin bakalan digantung MR . yon sebutan mereka untuk guru kimia mereka yang galaknya naudubilliah.. ia langsung menghampiri zarayang tersenyum geli melihat tingkah ardhi."huh makasih ya za atas pengertian lo..! nih bukunya " ujar ardhi yang menyalin lebih cepat karena bukunya gak rebutan dan emang sudahterbiasa nyalin pe-er dengan waktu yang singkat"perez lo kalo gini aja maniis banget ! coba kalo gak butuh pasti aku cuekin, dasar""ow-ow nggak akan dan mungkin ardhi nyuekin gadis multi talent kayak kamu za" koar ardhi dengan rayuan basinya, karna zara udah terlalusering digituin ."ugh ga ada yang lain apa""hee belum ngarang nich kasih ide donk..! " koar ardhi cengngesan."mmm dhii!" panggil zara malu-malu." apaa!"" aku bisa minta tolong nggak ? tapi kalo nggak bisa juga nggak papa koq" ucapnya ragu-ragu." ya ampun za.. ! kalo aku bisa pasti aku mau apaan sih" tanya ardhi penasaran ."bener nih"" yakin deh.. apasih yang nggak buat lo auww"tiba-tiba ardhi di cubit keraas sama zara." gombal.. lo..! mm ntar sore anterin ketoko bukunya bisa kan " pinta zara penuh harap." ntar sore" ardhi tampak mikir2 sementara zara berharap2 cemas.. " bisa ..! aku anterin" ujar ardhi mantap." bener loya awas lo..! jam tiga sore yaa"" siip! tapi beliin bensin ya lagi bokek nih hee hee!" ujar ardhi cengengesan."dasar pelit ! kalo buat cewek lain aja nggak bokek"——————– ———————– ———————————————dan benar sore hari ardhi menepati janjinya mengantarkan zara ketoko buku mereka berpisah zara sibuk dirak buku tentang sains sementaraardhi sibuk membaca komik sinchan yang sudah kebuka dasar nggak mau rugi ardhi membaca dengan asyiknya tanpa ada rencana buat beli.hinga akhirnya ada tangan lembut yang menyentuhnya."hei dhii balik yuk" ujar zara mengagetkan ardhi yang lagi asyik baca komik." eh udah selesai za nyari bukunya cepet amat"" ya aku kasian ma kamu pasti bosen nungunya""nggak koq' justru aku seneng jadi bisa baca komik gratis hee hee"zara tersenyum geli melihat ardhi yang udah gede ternyata masih suka baca sinchan."sukur deh nih aq ad sesuatu buat kamu.." ujar zara menyerahkan sebuah buku kumpulan rumus-rumus ipa.."oh makasih za. kebetulan aku juga nyari buku ini lo" ujar ardhi basa basi padahal baru liat sampulnya aja ardhi udah pusing2 belum menbacabisa meriang dia. tapi karena zara yang ngasih ardhi pura-pura suka." dhi aku ngasih ini berharap dengan ini kamu mulai mau ngerjain tugas-tugas kamu sendiri..! jangan ngandalin aku terus bentar lagi kan UAN..maaf ya dhi bukannya aku gak mau nyontekin kamu terus tapi aku pengen kamu sukses dhi..! karna aku nggak mungkin akan bantuain kamungerjain tugas terus" terang zara panjang lebar , membuat ardhi terdiam tak menyangka zara sebegitu memikirkanya, ardhi jadi merasa bersalah selama ini hanya memanfaatkan zara yang begitu baik padanya.ardhi masih terdiam tak bisa berkata-kata apa-apa lagi."dhi maaf kalo aku nyinggung kamu, kamu boleh koq nggak nerima ini,, dan nyegat aku tiap pagi buat nyontek pe-er" ucap zara merasa nggakenak hati melihat ardhi hanya terdiam."huuuh kamu bener za aku nggak bisa terus ngandalin kamu ! suatu saat aku harus berdri sendiri maksih atas bukunya .. kamu mau kan nganjari aku""pasti dhi……! asal ada uang privatnya aja hee hee" ujar zara cengengesan."dasar…!"—————— ————————— ————————————zara berjalan santai menuju kelasnya pagi iniardhi masih menyegat dia untuk nyontek pe-er tapi makin jarang-dan jarang ,sampai akhirnya tak pernah lagi menunggu didepan kelas untuknyalin pe-er lagi walau zara kadang merasa kehilangan tapi dia senang melihat ardhi bisa berubah.ardhi tiba-tiba menghampiri bangku zara sesuatu yang belakangan jarang dilakukannya."hai za"" ardhi tumben..! da perlu apa nih" ujar zara yang sebenarnya kangen semenjak ardhi bisa ngerjai semua sendiri ia jadi jarang nyamperin zaralagi."aku kesini gak pengen bicara soal pelajaran lagi .tapi pengen ngajak kamu nonton mau ya.. ya..!" ujar ardhi sambil mengedip-ngedipkan matakonyol."boleeh" jawab zara sanbil tersenyum super manis pada ardhi, ungkapan rasa kangen belakangan jarang berbincang….***PENULIS: IBNU SINYAL ALAMAT FACEBOOK : IBNU SINYAL ALMAGHRIBIALAMAT EMAIL : RADENSINYAL@GMAIL.COM…………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  • Gajebo : Edisi curhat

    Perasaan udah lama banget ya saia gak ada acara curhat mencurhat…#lu kate nie blog diari apa?. ~ Plaks…Tapi seriusan lho, beneran gak pake bo'ong. Kalo di pikir – pikir, hidup ini lama – lama jadi mebosankan yak?…Bangun tidur-kerja-online-pulang-online-tidur-terus bangun lagi….Begitu seterusnya #Emangnya saia robot yak?…Tapi kalau di pikir – pikir lagi, sebosan – bosannya hidup mungkin tidak hidup lebih membosankan kali ya?..Nah…Lho….Bingung phan, saia juga. Sekarang saia malah Bingung mencari definisi hidup yang sesungguhnya. Hei, hidup itu bukan hanya sekedar menarik dan menghembuskan nafas kan?….Hidup juga bukan hanya sekedar menjalani rutinitas.#Menyedihkan..Nah yang terakhir, Apa definisi hidup yang sesungguhnya menurut kalian?….

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 03″

    Masih lanjutan dari cerpen remaja Take My Heart yang kini sampe part 3. Secara kisah diantara mereka baru di mulai. Masih belum jelas juga konflik ceritanya mau di bawa kemana. So untuk yang udah penasaran, bisa langsung simak detailnya di bawah. Untuk reader baru, biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu part sebelumnya disini. Happy reading…Take My HeartCinta itu bukan tentang apa yang ku rasakan untukmu; Bukan pula tentang apa yang kau rasakan untuk ku ; Cinta yang ku inginkan adalah rasa yang sama yang dimiliki antara kau dan aku #Take my heartUntuk pertama kalinya setelah hampir tiga tahun menjalani hari – hari sebagai mahasiswa di kampus Amik, Ivan berjalan dengan wajah menunduk. Merasa risih akan tatapan dari seisi kelasnya. Walau sebenarnya di tatap oleh mereka itu sudah merupakan hal yang biasa. Namun kali ini ia merasa beda. Pasalnya, tatapan kali ini jelas tatapan penuh tanya.Dalam hati Ivan terus merutuki kejadian kemaren. Kalau saja bukan karena rasa penasarannya pada Vio, Gadis yang telah menyelamatkannya kemaren. Pasti saat ini ia lebih memilih untuk tetap berbaring di rumahnya dari pada harus berjalan di sepanjang koridor kampus dengan wajah pernuh lebam. Sial, Gumamnya."Hei Bro, Kenapa tampang loe?"Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulu Aldy yang baru sedetik yang lalu muncul di hadapannya disusul sosok Renold dan Andra yang mengekor di belakang."Gila, kok bisa bonyok gini?" tambah Renold sambil meraih wajah Ivan, Membuat sosok itu langsung menepis tangannya sambil meringis. Sudah tau bonyok, masih juga di sentuh."Memangnya loe berantem sama siapa?" tanya Andra kemudian."Gue nggak tau.""Ha? Maksut loe?" tanya Aldy."Gue nggak tau siapa yang menghajar gue kemaren. Tiba – tiba aja gue di hadang sama perman waktu pulang kuliah," terang Ivan terlihat tidak berminat."Kok bisa?""Mana gue tau," Ivan angkat bahu. Pada saat yang bersamaan matanya menangkap sosok yang melangkah masuk dari pintu gerbang kampus."Hei, loe mau kemana?" tahan Andra saat mendapati Ivan yang berbalik.Ivan tidak menjawab. Ia terus melangkah menghampiri Vio. Diikuti tatapan ketiga sahabatnya."Oh, ternyata dia benar – benar beniat untuk mendapakan sepuluh juta itu," kata Aldi sambil mengngguk – angguk paham."Maksut loe?" tanya Renold dan Andra secara bersamaan."Tuh. Walau udah bonyok gitu tetep aja dia masih ngejar cewek sepuluh jutanya," terang Aldy sambi memberi isarat kearah kedua sahabatnya tentang tujuan Ivan yang telah mengacuhkannya."O," kali ini Renold hanya beroh ria sementar Andra sendiri tampak mengernyit heran saat mendapati Ivan dan Vio yang tampak berbicara di kejauhan. Hebat juga tu orang. Padahal baru kemaren cewek itu terlihat ketus, eh hari ini sudah mau ngobrol bereng. Tak salah kalau sahabatnya yang satu itu di cap playboy, pikirnya dalam hati."Vio!"Merasa namanya di panggil, Vio menoleh. Mengernyit heran saat mendapati Ivan yang datang menghampirinya. Mau apa lagi dia?, pikirnya."Ada apa?" tanya Vio kemudian.Sejenak Ivan terdiam. Mulutnya tidak langsung menjawab karena kini matanya sibuk memperhatikan tampilan Vio hari ini. Rambut yang di gerai bebas dengan sebuah jepitan kecil yang tersemat di atas kepalanya di tambah setelan kemeja berwarna merah muda benar – benar merupakan perpaduan yang cocok. Kontras dengan wajahnya yang imut dengan matanya yang sipit. Ivan menduga pasti gadis ini mempunyai silsilah keturunan cina yang diwarisinya."Heloo," Vio melambaikan tangannya tepat didepan wajah Ivan."Eh, ehem," Ivan merasa sedikit salah tingkah. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Astaga, akibat di pukuli kemaren pasti otaknya sedikit bergeser. Kenapa ia jadi mendadak merasa paranoid begini ya?"Gue mau nanya soal kemaren," kata Ivan mencoba untuk kembali pada tujuan awalnya menghampiri gadis itu."Soal kemaren?" ulang Vio sambil berfikir sejenak. "O soal kemaren yang loe di pu…. Humph..".Ivan dengan cepat membekap mulut gadis yang ada di hadapannya itu dengan tangan. Astaga, apa gadis itu berniat untuk mempermalukannya di hadapan semua anak – anak kampus dengan berteriak sekenceng itu."Hmmm. Pfh.." Vio dengan cepat menyingkirkan tangan Ivan dari mulutnya. Menatap pria itu dengan tatapan sebel."Kenapa si?""Iya soal kemaren. Tapi nggak perlu di perjelas juga kali. Pake teriak segala. Kalau sampai anak – anak laen tau gimana?"Dan Ivan menyadari kalau ia salah bicara saat mendegar kalimat jawaban yang keluar dari mulut Vio."Kalau mereka semua pada tau memang apa urusannya sama gue?" serang Vio balik.Glek.Satu lagi hal yang baru Ivan sadari tentang gadis itu adalah, ternyata gadis itu sama sekali tidak terpengaruh akan pesonanya.-,-"Memang nggak ada urusannya sama loe, tapi itu ngaruh sama gue," Ivan meralat ucapannya. Membuat Vio mencibir menatapnya."Kembali ke topik pembicaraan kita. Soal masalah kemaren, loe tau dari mana? Jangan bilang kalau itu hanya kebetulan. Secara mustahil secara kebetulan loe bisa bicara soal balas dendam segala."Vio sejenak terdiam. Tak sengaja ekor matanya mendapati sosok gadis yang kalau ia tidak salah dengar bernama Laura sedang memperhatikan nya dari kejauhan."Emang itu bukan kebetulan. Yang bilang kebetulan siapa?" tanya Vio balik."Jadi?" kejar Ivan"Jadi?" ulang Vio."Jadi penjelasannya gimana?" tambah Ivan terlihat gemes."Nggak ada penjelasan karena gue nggak mau menjelaskan. Dasar playboy cap kodok, buaya cap kadal.""Ha?" Ivan melongo mendengar gelar aneh yang keluar dari mulut gadis itu. Namun bukan jawaban yang ia dapatkan, justru dengan santainya gadis itu malah melongos pergi.Vio sendiri juga merasa tidak perlu menjelaskan apapun pada Ivan. Selain karena ia tidak punya bukti bahwa Laura yang melakukannya, ia juga tidak ingin membuat masalah. Secara ia kan mahasiswa baru di kampus itu. Ia sama sekali tidak tau siapa Laura kecuali sebatas nama yang ia curi dengar kemaren. Selebih nya Nol. Kenyataan kalau gadis itu adalah korban dari ke Playboy'an Ivan sehingga membuatnya nekat untuk balas dendam dengan menyewa pereman benar – benar membuat Vio membuang jauh niat untuk mengadukannya."Sial" rutuk Vio dalam hati saat mendapati langkahnya menuju kekelas di halang oleh tiga orang yang hanya salah satunya yang ia tau kalau gadis itu bernama Laura."Siapa loe?" tanya Laura.Dari nadanya saja Vio sudah dapat merasakan kalau tiada aura persahabatan di sana. Sejenak Vio menarik nafas, mencoba menahan diri dan terlihat sesantai mungkin."Vio," balas Vio sambil mengulurkan tangan.Laura hanya melirik sekilas tanpa berniat untuk menyambut uluran tanggannya, membuat Vio menarik diri."Ada urusan apa loe sama Ivan?" tanya Laura langsung."Yang jelas bukan urusan loe," balas Vio terdengar sinis. Membuat Laura sedikit tersentak kaget, Sepertinya gadis itu berniat untuk melawan, pikirnya."Denger ya, siapapun yang berurusan sama Ivan menjadi urusan gue," kata Laura penuh penekanan."Oh ya?" Vio pura – pura pasang tampang kaget. "Termasuk para preman yang menghajar Ivan kemaren?""Apa?!" kali ini Laura sama sekali tidak mampu menyembunyikan raut kaget dari wajahnya. Vio sendiri hanya angkat bahu."Ehem…" Laura terlihat berdehem sebenetar. Tak ingin terpancing. "Apa maksut loe barusan?" sambungnya lagi.Sejenak Vio tersenyum sinis, membuat Laura jelas menatapnya kesel."Karena wajah tampan yang ia miliki, ia mengunakan kelebihan itu untuk menyakiti orang. Tak ada salahnya kalau gue memberi dia sedikit perlajaran bukan?" sambung Vio sambil menirukan gaya Laura, persis seperti apa yang gadis itu ucapkan kemaren saat ia diam – diam menguping pembicaraan mereka."Loe!!" tunjuk Laura tearah ke wajah Vio."Kenapa?" tanya Vio polos tapi justru malah terlihat menantang."Dari mana loe tau itu?" tanya Laura lagi. Vio hanya angkat bahu."Jadi sekarang loe berniat untuk ngancem gue.""Gue nggak yakin loe bisa di ancam, dan juga nggak ada untungnya gue ngancam loe.""Terus mau loe apa?""Berhenti mengganggu gue, dan please menyingkir sekarang juga. Gue mau lewat.""Wow, berani sekali dia. Huuu… Takut," ejek Laura meledek membuat Vio kembali menarik nafas kesel. Apa si maunya ni orang?"Eh denger ya? Loe pasti baru di sini, jadi loe belum tau siapa gue. Asal loe tau aja ya, Gue idola di sini. Jadi nggak akan ada yang percaya sama ucapan loe kalau orang yang kemaren mukuli Ivan adalah orang – orang suruhan gue. Lagi pula loe nggak punya bukti," kata Laura sambil mendorong tubuh Vio ke dinding."Huh," lagi – lagi Vio menghembuskan nafas kesel. Tak ingin terpancing emosi ia malah tersenyum anggun saat mendapati siluet seseorang yang ia kenal."Soal gue nggak punya bukti, loe salah. Waktu kejadian Ivan di hajar kemaren gue sempet mengabadikan beberapa momen nggak penting, tapi mungkin tidak untuk polisi yang pasti akan langsung melacaknya. So pasti mereka langsung bisa menemukan siapa dalang di sebaliknya. Dan kalau soal nggak percaya. Yups, gue mahasiswi baru disini. Jelas nggak akan percaya kalau gue yang ngomong kecuali kalau justru loe sendiri yang mengakuinya.""Loe bener – bener ngancam gue?" tanya Laura jelas terlihat marah."Bukan mengancam, hanya berusaha untuk melindungi diri sendiri. Buktinya gue nggak pernah tu bilang sama Ivan, Kalau dia bisa tau itu pasti karena ucapan loe sendiri?""Heh, menurut loe gue sebodoh itu akan memberitahukan apa yang gue lakukan itu kedia?""Karena loe nanya ke gue loe bodoh atau nggak, dan loe sendiri bilang kalau memberi tahu Ivan termasuk tindakan bodoh. Maka gue jawab, ya! Loe emang bodoh," Kata Vio tegas.Sebelum Laura sempat membalas, Vio sudah terlebih dahulu mengisaratkannya untuk berbalik. Dan begitu menoleh."Ivan?" tanya Laura kaget, bingung juga sedikit… takut?"Jadi para perman yang menghajar gue kemaren itu orang – orang suruhan loe?" tembak Ivan langsung.Glek.Laura hanya mampu menelan ludah. Mendadak serem saat mendapati tatapan tajam Ivan jelas terhunus padanya."Kenapa loe lakukan itu?" tanya Ivan lagi."Iya. Itu orang – orang suruhan gue. Yang sengaja gue bayar buat menghajar loe yang jelas – jelas sudah mencampakkan gue. Yang jadiin gue sebagai barang taruhan bodoh antara loe sama temen – temen loe. Yang udah mempermalukan gue di depan umum. Puas loe? Sekarang loe mau apa?" tantang Laura. Percuma ia menghindar, toh sudah tertangkap basah ini.Ivan terdiam. Vio juga masih terdiam. Matanya yang sipit tampak hanya berkedap – kedip menatap adegan drama satu babak menyambut hari pertama ia menginjakkan kaki sebagai mahasiswi baru di kampus itu."Loe…" tangan Ivan siap terangkat keudara sementara Laura langsung menutup matanya. Terkejut akan reaksi Ivan terhadapannya."Cuma cowok pengecut yang berani melakukan kekerasan fisik terhadap cewek."Mata Laura terbuka. Mendadak takjub menatap kearah Vio yang jelas – jelas sedang menahan tangan Ivan di udara. "Loe itu sebenernya belain gue apa dia si?" gumam Ivan frustasi sambil menarik kembali tangannya.Vio angkat bahu. "Gue nggak belain siapa – siapa. Toh nggak ada untungnya juga buat gue. Apapun masalah diantara kalian, itu jelas urusan kalian. Soal insident kemaren, Laura jelas punya alasan untuk melakukannya. Namun karena tindakan yang ia lakukan kemaren termasuk dalam tindakan kriminal. Makanya gue berusah untuk mencegahnya. Dan sekarang, loe yang marah sama dia. Terus berniat untuk melakukan kekerasan fisik juga, jelas aja gue tahan. Cukup Adil bukan?" terang Vio panjang lebar."So, sekarang. Silahkan lanjutkan urusan kalian. Dan sejak kecil gue sama sekali nggak pernah punya cita – cita buat jadi hakim atau apapun yang terkait dengan mendamaikan dan mencampuri urusan orang lain. Jadi gue pergi dulu."Selesai berkata Vio segera melongos pergi. Meninggalkan wajah – wajah yang melongo menatap tak percaya padanya. Bodo amat. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mefikirkannya lagi. Ia sudah terlanjur merasa kesel dan gondok hari pertamanya di kampus itu harus di warnai dengan aura permusuhan. Astaga, apa dosanya tuhan?."Hai".Vio menoleh saat merasakan pundaknya di tepuk dari belakang. Begitu menoleh ia yang saat itu sedang mengunyah bakso di dalam mulutnya kontan langsung tersedak."Uhuk uhuk uhuk.""Astaga… Sory sory sory," Kata Ivan sambil meraih air minum dan langsung menyodorkannya kearah Vio yang langsung di teguk habis. Sementara tangan Ivan sendiri tampak mengusap – usap punggung Vio."Loe, niat mau bunuh gue ya?" tuduh Vio langsung."Gue niat nyapa doank. Loe nya aja yang kagetnya lebay," balas Ivan sambil duduk di hadapan Vio tanpa permisi sama sekali.Vio tidak membalas. Tangannya sendiri meraih tisu, mengelap bibirnya yang basah. Matanya yang sipit makin menyipit saat melirik Ivan dengan tatapan mencibir."Oh ya, gue boleh ikutan gabung kan?" tanya Ivan mengalihkan pembicaraan."Kalau seandainya gue bilang enggak loe tetep duduk di situ kan?" Vio balik bertanya."Tentu saja," balas Ivan cepat membuat Vio lagi lagi mencibir kearahnya."Ngomong – ngomong kenapa si loe judes banget jadi cewek?" tanya Ivan.Sejenak Vio menarik nafas. Menghentikan aktifitasnya menikmati semangkuk bakso yang ada di hadapannya. Menatap lurus kearah Ivan yang berdasarkan kabar yang ia peroleh terkenal sebagai Playboy_cap kadal" menurutnya."Gue nggak judes kok," balas Vio, dan sebelum Ivan sempat membantah ia sudah terlebih dahulu menambahkan "Kecuali sama loe.""Kenapa?" "Ya sudah jelas. Karena loe itu Play_Boy," Sahut Vio penuh penekanan. Membuat Ivan kembali diam tak berkutik."Berbicara soal playboy. Loe duduk disini bukan buat merayu gue kan?" tanya Vio kembali melanjutkan aktifitasnya menikmati makanannya."Sebenernya emang itu niat gue," aku Ivan santai."Uhuk uhuk uhuk."Tak pelak ucapan Ivan barusan kontan membuat Vio kembali tesedak. Bahkan kali ini kondisinya lebih parah. Air yang ada di hadapanya sudah lenyap tak bersisa. Membuat Ivan dengan kalang kabut langsung bangkit berdiri. Dan beberapa saat kemdian muncul dengan sebotol air mineral di tangannya yang tampa permisi langsung di tengak oleh Vio.Begitu batuknya reda. Vio terdiam. Matanya menatap kearah mangkuk bakso yang ada di hadapannya yang hanya tersisa setengah. Mendadak merasa horor , makanan itu bisa saja membunuhnya.Dan begitu ia menoleh, matanya langsung bertatapan dengan wajah Ivan yang jelas jelas menatapannya khawatir. Vio lagi – lagi berfikir, kalau sosok yang ada di hadapannya tak kalah menyeramkan dari pada semangkuk bakso yang ada diatas meja. Kedua sama sama berpotensi untuk membunuh. Bukankah sosok itu adalah pernyebap kenapa memakan bakso itu menjadi berbahaya?"Gue nggak niat buat membunuh loe," Kata Ivan cepat saat mendapati mulut Vio akan terbuka."Gue cuma berniat buat jadiin loe itu pacar gue," sambung Ivan.Kali ini Vio melongo. Hei, apa itu artinya ia baru saja di tembak seseorang. Wah, ajaib. Baru sehari yang lalu ia memutuskan untuk pindah di kampus ini karena patah hati dan kali ini ia sudah di tembak sama seseorang yang tekenal dengan ke playboyannya. Astaga…Didorongnya mangkuk bakso itu sedikit kedepan. Ia benar – benar merasa trauma untuk mencicipi makanan tak berdosa itu. Di silangkannya kedua tangannya di atas meja. Menatap lurus kearah wajah Ivan."Pasti karena loe sedang bertaruh sama temen – temen loe kan?" tebak Vio ngasal.Kali ini Vio melongo untuk kedua kalinya saat tiada kata bantahan keluar dari mulut Ivan. Maksutnya itu bener? Ia adalah target taruhan Ivan selanjutnya?.Dan tanpa bisa di cegah tangannya langsung terangkat menjitak kepala Ivan. Membuat suara mengaduh keluar dari mulut pria tampan itu."Loe mikir apa si? Bisa – bisanya loe jadiin gue barang taruhan," geram Vio emosi."Ya bukan salah gue donk. Siapa suruh kemaren loe jadi orang pertama yang keluar dari ruangan dosen," kata Ivan membela diri."Maksut loe?" tanya Vio dengan kening berkerut."Iya kemaren itu gue memang di tantangin sama temen – temen gue buat menaklukkan hati siapapun yang pertama sekali keluar dari ruangan dosen. Dan ternyata orang itu elo."Vio terdiam. Mencoba mencerna penjelasan yang baru saja ia dengar. Sekarang ia mulai mengerti kenapa kemaren ia mendapatkan tatapan aneh dari Ivan dan ketiga temanya. Ternyata karena taruhan konyol itu. Tapi…"Tapi gimana kalau seandainya waktu itu orang yang pertama kali melewati pintu itu adalah dia?"Tatapan Ivan beralih mengikuti arah telunjuk Vio. Glek. Ia hanya mampu menelan ludah saat tau sosok yang di maksut adalah Pak Burhan."Ehem, Walau berat untuk mengakui. Sebenarnya sosok pertama yang melewati pintu itu memang dia," aku Ivan kecut.Vio melongo. "Kalau gitu loe harus macarin dia donk?""Tentu saja tidak," bantah Ivan cepat. Bahkan ia nyaris berteriak saat mengucapkannya."Maksut gue. Dia itu pengecualian. Gue masih normal mana mungkin gue mau memacari sesama cowok. Jadi peraturan di rubah kalau hanya yang berjenis kelamin cewek yang masuk hitungan.""Gue meragukan kalau loe normal. Secara mana ada manusia normal yang akan mempertaruhkan dosennya sendiri," cibir Vio sinis."Dan satu lagi, kalau dosen cowok bisa di jadikan pengecualian, harus nya gue juga donk," tambah Vio beberapa saat kemudian."Maksutnya?""Ya gue kan bukan dosen. Harusnya kalian itu hanya bertaruh untuk dosen yang melewati pintu itu. Sementara gue kan bukan.""Ah loe bener juga. Kenapa kita kemaren nggak kepikiran sampe kesitu?" kata Ivan mengangguk angguk membenarkan."Itu karena loe bodoh," geram Vio tak sabar.Ivan terdiam sambil menatap Vio kesel. Baru sehari ini ia kenal gadis itu kenapa begitu banyak tanggapan buruk yang ia dapatkan. Dan herannya kenapa ia tidak merasa marah. Benar – benar suatu hal yang harus ia pertanyakan."Jadi berapa nominal yang kalian pertaruhkan?"."Eh?" Ivan bingung. Gadis itu dengan mudah membelokan pembicaraan."Ehm… Sepuluh juta," balas Ivan lirih saat otaknya mampu menebak arah pertanyaan gadis itu."Apa?!" kali ini mata Vio yang sipit tampak membulat. Membuat Ivan berpikir gadis itu sama sekali tidak cocok untuk marah. Wajahnya sama sekali tidak terlihat menakutkan. Sepertinya raut imut sudah mendomain dalam wajahnya."Sepuluh juta?" ulang Vio tak percaya membuat Ivan menganguk tak bersemangat."Terus apa aturan mainnya?" tanya Vio lagi.Walau bingung juga ragu, namun tak urung Ivan menjawab "Gue harus berhasil macarin loe dalam kurun waktu kurang dari sebulan baru kemudian gue harus memutus loe di hadapan semua anak – anak."Asli kali ini Vio melongo. Tak tau bagaimana asalnya mendadak ia merasa menyesal. Menyesal kenapa dulu ia harus menyatakan cinta pada Harry. Menyesal kenapa ia ceroboh untuk pindah kampus segala. Dan yang terpenting ia menyesal kenapa tidak membiarkan para preman itu menghajar makluk di hadapannya itu habis – habisan kemaren."Bagus kalau begitu sekarang juga loe umumkan kalau kita saat ini pacaran. Dan besok siang, disini, loe bilang kita udah putus," kata Vio tiba – tiba. Membuat Ivan yang gantian melongo."Ha?"."Dan besok uang taruan itu bagi dua. Fivety fivety. Loe lima juta, gue lima juta," eambah Vio lagi."Leo serius?" tanya Ivan makin takjub."Dasar bodoh. Tentu saja bohong. Loe pikir gue cewek apa yang mau di jadikan taruhan begitu" Selesai berkata Vio langsung bangkit berdiri. Meninggalkan Ivan dengan rasa kesalnya. Kenapa Gadis itu suka sekali mengatainya bodoh? Kalau sampai ia bodoh beneran, apa dia mau bertanggung jawab?Next to Cerpen Take My Heart Part 04Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Cerpen Cinta: LITTLE AGATHA

    LITTLE AGATHAoleh: Efih Sudini AfrilyaCerpen Cinta “Agatha bukan cewek populer! Agatha gak cantik! Agatha juga gak putih! Tapi kenapa Fathan mempertahankan hubungan dengan Agatha?” Ungkap Agatha membelakangiku. Aku tahu, Agatha sedang menangis dan dia tidak ingin aku melihat butiran-butiran air mata yang menetes dari ujung matanya.Ini semua salahku. Jika aku tidak ikut-ikutan merayakan kemenangan Tim Basket ku. Agatha tidak akan menunggu ku hingga larut malam di Taman. Agatha tidak akan meminta putus dariku dan dia tidak akan menangis seperti ini.Jujur, dibanding Agatha, cewek-cewek yang mengidolakanku jauh lebih cantik. Meskipun tubuh Agatha mungil, kulitnya tak putih, tapi buatku Agatha sangat manis. Matanya yang bulat selalu memancarkan kebahagiaan, kepolosannya membuatku nyaman dan tidak meragukannya lagi, tingkahnya yang manja membuatku selalu ingin menjaganya.Aku dan Agatha satu kelas saat kami kelas 1 SMP. Dia sangat ceria dan baik hati, sifatnya yang polos dan seperti anak kecil selalu menjadi bahan lelucon buat teman-teman satu kelas. Tapi Agatha tidak pernah marah ataupun tersinggung. “Itu kan Cuma bercanda. Kalo Agatha sakit hati nanti Agatha gak gendut-gendut.” Ungkapnya ringan saat salah satu teman mendekatinya.Awalnya aku sama seperti anak-anak yang lain, aku ikut meledek Agatha dengan mengatainya “Dasar anak kecil!” setiap kali dia mendekatiku. Agatha berbeda dengan anak-anak cewek lainnya yang kebanyakan dari mereka terlalu memaksakan diri untuk menjadi dewasa, dandan berlebihan dan sebagian dari mereka bahkan genit padaku. Bahkan, karena aku terlalu sering mengatai Agatha Anak Kecil, Agatha merasa segan dan tidak berani mendekatiku lagi. Ditambah dengan banyaknya cewek-cewek kece yang selalu menggerubutiku.Suatu saat sepulang sekolah, aku melihat Agatha tengah menyebrangkan seorang nenek-nenek, aku hanya tersenyum melihatnya karena memang Agatha seorang yang baik. Saat tiba diseberang jalan Agatha berteriak memanggil-manggil namaku dan dia memintaku untuk menyebrangkannya, karena ternyata dia sendiri tidak bisa menyebrang. Saat itu, Agatha sangat konyol, dia hanya menunduk dan menyembunyikan pipi merahnya karena malu.“Sebenernya Agatha gak bisa nyebrang, tadi Cuma kasian aja sama nenek-neneknya.” Ungkapnya saat itu.“Terus kalo kamu ketabrak gimana?” Tanyaku.“Kalo mau nolong itu gak boleh takut. Sekarang kan Agatha udah di tolong sama Fathan. Makasih ya Fathan.” Jawab Agatha.“Dasar anak kecil!” Aku mengatainya lagi. Agatha hanya nyengir dan dibalik bibirnya yang tipis tampak barisan gigi kecil yang rapi dan bersih melengkapi kelucuannya. Kami pun berpisah saat itu, tapi entah kenapa tingkah Agatha siang itu selalu terbayang-banyang, membuatku senyum-senyum sendiri. Membayangkan saat dia memanggil-manggil namaku dan memohon padaku untuk menyebrangkannya, padahal sebelumya dia menjadi pahlawan buat nenek-nenek yang gak bisa nyebrang.Esoknya di sekolah, aku melihat ada kotak makan di atas mejaku. Isinya Nasi goreng berbentuk Hati dan dihiasi sayuran yang tersenyum pada siapapun yang melihatnya. Tanpa bertanya-tanya siapa yang memberikan Nasi goreng padaku, aku langsung menyantap habis Nasi goreng itu. Anak-anak cewek di kelasku berbisik-bisik, mungkin mereka penasaran dan sedikit cemburu pada Sipembuat Nasi goreng itu. “Nasi goreng dari siapa Fhat?” Tanya salah satu cewek yang menyukaiku.“Dari pahlawan kesiangan.” Jawabku. Aku tahu Nasi goreng itu pasti dari Agatha, karena dari tadi Agatha hanya duduk dan membenamkan kepalanya di antara kedua lengannya. Gak seperti biasanya, setiap pagi pasti dia loncat kesana-kemari menyapa teman-teman satu kelas. “Yang datang subuh kan Agatha! Dia pasti tau siapa yang naro tempat makan di mejaku.” Kataku membuat Agatha mengangkat kepalanya.“Agatha gak enak badan ko, jdi dari tadi bobo aja, gak tau apa-apa.” Ungkap Agatha sambil membenamkan kepalanya kembali.Semenjak kejadian itu, Agatha menjaga jarak denganku. Dia seolah-olah tidak mengenalku, padahal aku selalu mengingat-ngingat kekonyolannya. Saat kelas 2 SMP, kami berbeda kelas, aku tidak bisa melihat kekonyolannya lagi, bahkan nama Agatha seolah menghilang dari kehidupanku. Itu karena dia berubah menjadi seorang yang pemalu dan tidak terlalu aktif, tidak sepertiku yang mengikuti berbagai organisasi sekolah dan namaku semakin meroket dikalangan cewek-cewek penghuni sekolah.Siang itu secara tidak sengaja aku bertemu dengan Agatha di depan kelasnya, Agatha berlalu begitu saja meninggalkan aku. Tapi kali ini aku tidak bisa berpura-pura acuhkan dia.“Agatha!” Panggilku. Agatha menoleh padaku tanpa ekspresi. Aku menghampirinya, jujur aku ingin sekali mencubit pipinya yang kini agak cabi. “Makasih Nasi goreng yang waktu itu.” Ungkapku.“Nasi goreng?” Tanya Agatha sedikit lupa. “O, iya, makasi ya Fathan uda nolongin Agatha waktu itu.”“Selain gak bisa nyebrang, kamu pilon juga ya?” Godaku.“Iya, Agatha akhir-akhir ini memang sedikit pelupa. Maaf ya.”“Besok sore ada acara gak?” Tanyaku“Enggak, Agatha di rumah aja.”“Nonton pertandinganku ya! Pulang sekolah! Please!”Aku membujuk Agatha, dan akhirnya Agatha bersedia menonton pertandingan basketku.Pertandingan basketpun mulai berlangsung, tapi kedua mataku belum menemukan sosok Agatha. Yang kutemukan hanya teriakan cewek-cewek fansku yang tidak berhenti berteriak memanggil-manggil namaku. Aku mulai khawatir, aku takut Agatha tidak datang. Akupun kecewa, karena Agatha tidak kunjung datang hingga pertandingan usai. Saat diperjalanan pulang, Agatha menghampiriku, dia datang dengan membawa kotak makanan.“Agatha telat, tapi Agatha bawa nasi goreng sebagai tanda maaf karena Agatha udah telat dan gak nonton pertandingan Fathan.” Ungkap Agatha memohon maaf padaku. Awalnya aku memang kecewa dan marah padanya, tapi setelah melihat kepolosannya, aku berubah fikiran. Aku tidak ingin Agatha merasa bersalah karena dia tidak menonton pertandinganku, aku hanya ingin melihat senyum cerianya seperti dulu, dan tiba-tiba muncul perasaan aneh di dalam hatiku. Aku ingin menjaga Agatha, aku ingin menjadi pelindung Agatha.Saat itu juga aku mengungkapkan perasaanku pada Agatha. Aku menyukai kepolosannya dan tingkahnya yang seperti anak kecil. Memang sangat konyol, tapi aku ingin selalu bersama Agatha, menjaganya seperti adikku sendiri, melindunginya, menyayangi dan mencintainya.“Fathan ngigo! Masa mau jadi pacar Agatha!” Ungkapnya saat aku meminta dia menjadi kekasihku.“Aku serius, Agatha mau kan jadi pacar Aku?” Tanyaku memohon.“Kita kan masih kecil. Apalagi Fathan tau Agatha seperti apa, Agatha gak percaya kalo Fathan sayang sama Agatha. Fans Fathan kan cantik-cantik! Masa Fathan sayang sama Agatha?” Jelas Agatha.“Tapi aku beneran sayang sama kamu Tha! Aku suka kamu! Kamu perlu bukti apa agar percaya?”“Agatha bingung. Fathan terlalu sempurna buat Agatha. Apa kata orang-orang kalo tau kita pacaran.” Ucap Agatha sendu.“Aku gak peduli ucapan orang lain Tha! Memangnya kamu gak suka sama Aku?”“Agatha suka sama Fathan, tapi…” Agatha berhenti bicara. “Fathan terlalu tampan buat Agatha.” LanjutnyaAku hanya tertawa mendengar penjelasan Agatha saat itu, dia mengakui bahwa Aku tampan dan dia menyukaiku. Kami berpisah saat itu, dan sepanjang malam aku memikirkan cara untuk membuat Agatha percaya bahwa aku menyayanginya. Berhari-hari aku memikirkan cara yang tepat, hingga akhirnya saat hari senin tiba. Seusai upacara bendera, Aku dan Tim basket ku diberi kesempatan untuk menaiki podium dan menyampaikan sepatah duapatah kata karena Tim kami mejadi pemenang dalam pertandingan persahabatan antar sekolah. Aku sebagai kapten, diberi kesempatan pertama, dan kugunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan perasaanku pada Agatha.“Kemenangan ini sepenuhnya ku persembahkan untuk yang tersayang Agatha Shafira.” Dengan penuh rasa percaya diri aku menyampaikan kalimat itu di hadapan semua murid. Kontan, anak-anak cewek yang tengah berbaris itu berteriak, mereka seakan tidak percaya dengan apa yang telah ku ucapkan. Kupandang Agatha yang berdiri dibarisan paling depan, dia hanya menunduk. Dan Aku sangat khawatir Agatha akan marah, atau Agatha akan di labrak oleh cewek-cewek penggemarku.Saat jam istirahat, Aku menemui Agatha di kelasnya. Aku langsung menghampirinya, Aku siap jika Agatha marah padaku atau menamparku.“Agatha, Aku minta maaf. Kamu jangan marah sama Aku ya!” Pintaku.“Agatha gak marah sama Fathan. Agatha cuman malu aja sama temen-temen.”“Jadi?” Tanyaku.“Agatha……” Agatha terdiam dan mulai meneteskan air mata. “Agatha juga sayang sama Fathan.” Lanjutnya membuatku lega dan bahagia.“Agatha yakin? Agatha mau jadi pacar Fathan?”“Mau.” Ungkapnya malu-malu. Kuhapus air mata yang telah membasahi pipinya. Ku usap lembut rambutnya yang panjang. Agatha mengacungkan jari kelingkingnya padaku.“Fathan janji kan gak bakal nyakitin Agatha?” Tanya Agatha.“Janji.” Kataku melingkarkan jari kelingkingku ke jari kelingking Agatha.Sejak saat itu kami selalu bersama, kami saling melengkapi satu sama lain. Rasanya hidupku tak ada beban saat aku bersama Agatha, dia selalu membuatku tertawa, membuatku bahagia, aku benar-benar nyaman bersamanya. Agatha menerima segala kekuranganku, dia adalah wanita yang sangat bisa mengerti aku. Saat SMA, kita berbeda sekolah. Aku tetap menepati janjiku untuk tidak menyakiti Agatha. Jujur, awalnya aku takut jika Agatha mencintai cowok lain, atau dia berselingkuh dengan cowok lain, atau ada cowok lain yang mendekati Agatha di sekolahnya. Aku sangat ketakutan saat itu, tapi Aku tidak bisa mengekang atau mengatur-ngatur Agatha seenakku. Aku sangat takut kehilangan Agatha.Aku tidak peduli dengan olok-olokan teman SMA ku terhadap Agatha. Mereka berkata Agatha tidak sepadan dengan ku. Mereka memanas-manasiku untuk putus dari Agatha, bahkan mereka sengaja mendekatkan aku dengan seorang Wanita bernama Eliana. Eliana memang cantik, bertubuh tinggi dan langsing, siapapun yang melihatnya akan langsung tertarik padanya. Eliana baik hati, sama seperti Agatha, hanya saja Eliana lebih dewasa dari Agatha.Awalnya aku tidak tertarik sama sekali pada Eliana. Agatha tetap menjadi wanita pujaanku. Namun setelah Dua Tahun satu kelas dengan Eliana, aku semakin mengenal Eliana, dan perasaan itu tumbuh begitu saja. Entah setan apa yang merasuki fikiranku, aku merasa lebih nyaman bersama Eliana dan Aku lebih sering bersama Eliana.“El, kamu tahu semua tentang Aku kan? Tentang Agatha?” Tanyaku pada Eliana.“Tahu, aku tahu semua tentang kamu! Cintamu yang begitu besar untuk Agatha. Tapi apa Aku salah, mencinta kamu?” Jelas Eliana.“Gak ada yang salah El. Aku juga punya perasaan yang sama, aku mencintai kamu El! Tapi Aku gak bisa meninggalkan Agatha.”“Cintamu sama Agatha lebih besar. Aku bisa terima itu, tapi Aku gak bisa terima kalau kamu menghianati Agatha. Agatha gak pantes buat disakiti.”“Terus, gimana sama kita El?” Tanyaku“Than, Jangan pernah sakitin Agatha! Dia terlalu baik. Dan lupain perasaan yang kamu punya buat Aku.” Jelas Eliana yang membuatku tersadar, bahwa memang kenyataannya Aku lebih mencintai Agatha. Bahkan Eliana yang baru sekali bertemu dengan Agatha tidak ingin melukai ataupun menyakiti Agatha yang begitu baik dan polos. Aku sadar, sadar dari kekhilafanku, sadar telah mengacuhkan dan tidak memperhatikan Agatha akhir-akhir ini.Kini Aku dan Eliana hanya berteman biasa saja, aku lebih menjaga jarak dengan Eliana, karena Aku takut perasaan suka ku terhadapnya muncul lagi. Aku menyadari bahwa Aku salah, meskipun Agatha tidak tahu Aku pernah menyukai wanita lain. Bahkan Aku merasa malu ketika berada di hadapannya, ketika dia selalu jujur dan menceritakan semua yang terjadi di sekolahnya, tentang teman-teman cowoknya yang suka menggoda dan baik padanya. Bahkan kadang Aku merasa cemburu ketika Agatha menceritakan teman cowok yang menyukainya.“Kamu suka juga sama dia Tha?” Tanyaku saat Agatha menceritakan Teman Cowok yang Nembak dia.“Engga, dia kan temen Agatha. Lagian Agatha sayangnya cuman sama Fathan, jadi Fathan gak usah khawatir ya!” Jawabnya polos.Aku percaya pada Agatha, dia tidak mungkin menghianatiku. Dan akupun belajar jujur pada Agatha, kecuali tentang perasaanku pada Eliana, Aku tidak menceritakannya. Hubunganku dengan Agatha tidak pernah ada masalah, kami tidak pernah bertengkar.Tapi, saat ini untuk yang pertama kalinya, Aku telah membuat Agatha kecewa padaku. Aku lebih memilih berpesta dengan teman-temanku, bahkan Aku tidak memberitahu Agatha bahwa Aku tidak akan datang menemuinya di Taman. Agatha menungguku di Taman hingga malam, padahal Aku yang telah membuat janji dengannya, Aku yang meminta Agatha untuk datang ke Taman.“Agatha tahu! Fathan sebenernya suka sama Eliana kan?” Agatha tetap membelakangiku. Pertanyaan Agatha membuatku kaget dan bahkan Aku tidak bisa bicara apa-apa.“Fathan suka kan sama Eliana? Jujur!” Agatha berbalik menatapku dan Aku bisa melihat air mata yang membanjiri wajahnya dengan jelas.“Aku….aku….menyukai Eliana. Tapi sungguh, Aku gak pernah menghianati Kamu Tha! Aku lebih mencintai Kamu!” Jawabku Jujur.“Tapi tetap aja di hati Fathan gak cuman ada Agatha, ada Eliana juga. Fathan gak tahu, kalo selama ini Agatha cemburu sama Eliana kan?” Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan menunggu apa yang akan dibicarakan Agatha selanjutnya.“Fathan gak akan tahu! Karena Fathan sekarang udah berubah! Fathan lebih deket sama Eliana dan temen-temen Fathan yang sekarang!” Ungkap Agatha dengan Tangis yang lebih kencang. “Agatha sadar ko, dibanding Agatha, Eliana jauh lebih cantik. Fathan lebih cocok sama Eliana. Temen-temen Fathan juga lebih dukung Fathan sama Eliana kan?” Aku hanya bisa terdiam mendengarkn ucapan Agatha.“Agatha capek pacaran sama Aku?” Tanyaku.“Agatha kasian aja sama Fathan. Fathan punya pacar jelek kaya Agatha.” Jawabnya.“Siapa yang bilang Agatha jelek? Apa pernah Aku bilang Agatha jelek! Buat Aku, Kamu lebih dari sekedar cantik, hati kamu cantik Tha! Dan Aku sangat mencintai kamu! Aku gak mau kehilangan Kamu. Gak ada yang bisa misahin kita, Eliana atau teman-temanku gak bisa mengubah perasaan Aku sama Kamu!”“Tapi Fathan suka sama Eliana kan? Fathan sama Eliana aja!”“Tha!!!” Aku tidak sadar telah membentak Agatha. Kini Tangis Agatha lebih kencang, bahkan dia berlari meninggalkanku. Aku hanya bisa terdiam, Aku merasa tidak memiliki kekuatan untuk mengejarnya. Sesampainya di rumah fikiranku sangat kacau, aku tidak bisa berhenti memikirkan Agatha, juga memikirkan cara untuk membuat Agatha percaya lagi padaku. Semalaman Aku tidak bisa tidur, nomor Agatha bahkan tidak bisa dihubungi. Hingga pagi datang, saat Aku hendak pergi ke sekolah, tiba-tiba ponsel ku berdering dan itu telfon dari Ibu Agatha. Dengan fikiran yang tidak tenang, Aku langsung menuju Rumah Sakit.Kulihat tubuh mungil Agatha terkulai lemah di atas ranjang putih. Karena bertengkar dengan ku kemarin, Agatha tertabrak mobil ketika hendak menyebrang. Aku semakin merasa bersalah, ku kecup kening Agatha seraya mengatakan kata maaf. Meskipun Agatha terpejam, tapi kuharap ia bisa mendengarkan kata maafku. Aku menunggu Agatha terbangun, kududuk di samping Agatha yang terbaring, Aku terus berdo’a dan mengucapkan kata maaf di telinganya.“Agatha sangat mencintai Nak Fathan. Meskipun banyak teman cowoknya yang main ke rumah dan meminta Agatha menjadi pacarnya. Nak Fathan tetap jadi pilihannya.” Ungkap Ibu Agatha. Ia menceritakan kisah hidup Agatha dari kecil hingga saat ini. Sekarang Aku tahu kebiasaan dan hal-hal lain tentang Agatha yang tidak Agatha ceritakan padaku.Satu minggu berlalu, kini Agatha sudah bisa masuk sekolah. Sebelum Agatha pulang dari Rumah sakit, Aku berjanji akan menjaga Agatha, dan kejadian ini tidak akan terulang lagi. Aku sangat bersyukur, Agatha bisa memaafkan Aku dan percaya pada cintaku.“Fathan tetap sayang sama Agatha meskipun sekarang Agatha gak bisa jalan?” Ucapnya saat Aku menggandengnya berjalan melalui lorong menuju kelasnya. Selama Agatha belum bisa berjalan normal, Aku akan setia mengantarnya kemanapun ia pergi. Termasuk mengantarnya kesekolah hingga ia masuk kelas dan duduk di kursinya.“Aku sayang kamu. Dan perasaan ku gak akan berubah hanya karena kamu gak bisa jalan.” Jawabku“Sekalipun Agatha buta, tuli dan gak bisa ngomong?” Tanya nya lagi.“Sekalipun kamu berubah jadi gendut atau jadi monster pun Aku bakal selalu sayang sama Kamu. Karena Aku sayang dan mencintai apa yang ada dalam diri kamu.” Agatha tersenyum mendengar jawabanku.“Apa yang Fathan suka dari Agatha?”“Semuanya! Karena buat Aku, Kamu itu sempurna.”Kulihat Agatha tersipu malu dan itu nampak jelas dari pipinya yang memerah, sungguh ia begitu manis.*****By : Efih Sudini AfrilyaFacebook : Fiehsoed@gmail.comMakasiii….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*