Cerpen Kala Cinta menyapa part 9

Huwakakkaka….. kayaknya ini part paling pendek yang pernah tercipta deh. Tapi gak papa deh, namanya juga versi expres. Abis di tagih mulu si. Phan saia udah bilang saia udah sibuk di dunia nyata. So, kalau mau baca sialahkan. Gak mau ya suka suka kalian..
Oke?…. SYIP!
Ah satu lagi, tadi si lagi asik nulis. Eh ada yang ngajak chatingan. Ya sudah konsentrasi langsung buyar. So segini aja deh.


Credit gambar : ana Merya
"Ya ela, loe kenapa?. Kok mukanya sedari tadi di tekuk gitu?. Gantengnya ilang tau" Komen Joni sambil menatap prihatin sahabat yang duduk di sampingnya. Sementara tangannya dengan santai menyuapkan kuah bakso kedalam mulut.
"Diem loe. Gue lagi galau ni".
"Brus"…
"Sialan loe" Bentak Erwin sambil berdiri dan mengusap wajahnya yang terkena semburan ala dukun dari mulut Joni.
"Loe bilang apa barusan?. Galau?" tanya Joni tanpa rasa bersalah sedikitpun padahal Erwin sudah jelas – jelas sedang melotot menatapnya.
Tanpa menjawab dan berkata apapun Erwin langsung berdiri. Namun belum sempat kakinya melangkah, tangannya sudah terlebih dahulu di cekal oleh Joni.
"Loe mau kemana?".
"Kamar mandi" Balas Erwin ketus.
"Eh, tunggu dulu. Loe belom jawab pertanyaan gue. Loe galau kenapa?".
"Belum pernah lihat sendal melayang ya?" Tanya Erwin lirih namun cukup untuk membuat bulu roma Joni berdiri semua. Sumpah ia merinding. Apalagi saat tatapan mata keduanya beradu. Ah benar – benar aura kuburan yang menyebar. (???).
Begitu cekalaan terlepas, Erwin segera melesat kearah kamar mandi. Mencuci bersih wajahnya sambil tak henti merutuk dalam hati. Sial banget si nasipnya hari ini?.
Dari Kamar kecil Erwin terus melangkah. Tapi bukan kekantin karena arah yang di ambil jelas – jelas berbeda. Dan tanpa ia sadari ia sudah berhenti dan duduk dengan diam di taman belakang kampus.
Dan saat matanya menatap pot mawar yang ada tak jauh darinya sebuah senyuman bertenger di bibir. Tanpa di cegah atau di rencanakan kejadian beberapa waktu yang lalu kembali terlintas di benaknya saat mendapati Rani yang jatuh tersungkur dua kali. Bahkan saat itu ia dengan suka rela mengendong gadis itu ke ruang UKS kampusnya. Hal yang sepertinya mustahil ia lakukan.
Secepap ingatan itu terbayang secepat itu juga kesadarannya pulih. Dengan cepat ia bangkit berdiri sambil memukul – mukul kepalanya.
"Nggak nggak nggak, gue ngga mungkin suka sama dia" Ujar Erwin sambil mengeleng kepala dengan keras.
" Loe suka sama siapa emang?".
Mendengar suara yang tak diundang refleks Erwin langsung berbalik. Dan…
"Huwaaaaaaaaaaaaa…".
Tanpa di komando ia segera meloncat kesamping. Namun sepertinya nasipnya tidak terlalu mucur. Pot bunga yang masih belum di sekolahin (???) bertenger di sana. Membuat Erwin yang kehilangan keseimbangan karena tidak mampu memnahan gerakannya langsung sukses terdampar di rumput.
"Huwahahhaha….. Dia jatoh. Emang wajah gue segitu menyeramkan nya ya?. Padahal imut gini juga. Ayo sini gue bantuin. Kalau nggak salah dulu loe katanya pernah ngendong gue yang jatoh karena tu pot juga deh" kata sosok yang mengagetkan itu yang tak lain adalah Rani yang kini sedang mengulurkan tangan kearah Erwin yang masih 'Ndeprok' di rumput.
"Loe hantu ya?" Tunjuk Erwin lurus.
"Gue Rani " Balas Rani polos n santai.
"Kok muncul tiba – tiba".
"Bukan gue yang muncul tiba – tiba. Loe nya aja yang sedari tadi nggak nyadar. Mana tadi pake acara senyum – senyum sendiri lagi" Terang Rani lagi.
Erwin terdiam. Ingatannya mencoba untuk mencerna kejadian sebelumnya. Masa iya, ia tidak menyadari kehadiran Rani.
"Jangan – jangan tadi loe lagi ngelamunin cewek. Makanya loe senyum – senyum nggak jelas. Iya kan?" Pertanyaan Rani kembali mambawa Erwin ke waktu sekarang.
"Jangan ngasal" Bantah Erwin ketus sambil mencoba bangkit berdiri. Mengabaikan uluran tangan Rani yang masih terjurus kearahnya.
"Terus tadi ngapain pake bilang nggak mungkin suka segala. Hayo ngaku….." Kejar Rani lagi membuat Erwin asli mati gaya dan mendadak gugup. Astaga, ini bener – benar hal yang begitu memalukan baginya.
"Loe salah denger".
"Nggak mungkin" Bantah Rani cepat.
"Terus kalau gue suka sama cewek memang kenapa?. Masalah buat loe?" Serang Erwin balik.
"Iya juga ya?. Emang nggak masalah si" Rani tampang mengangguk – angguk membenarkan. Sementara Erwin hanya mencibir sinis.
"Asal jangan suka sama gue udah lah" Sambung Rani lirih sambil berbalik pergi.
Namun langkah Rani langsung terhenti. Merasa kaget saat mendapati tangannya berada dalam gengaman Erwin.
"Kenapa?" Tanya Rani dengan mata sedikit menyipit.
Erwin tidak langsung menjawab. Bingung juga mau berkata apa. Yang ia tau tangannya secara refleks bergerak sendiri. :p
"Kalau cewek yang gue suka itu beneran loe gimana?".
"Apa?".
"Kalau Gue beneran Suka sama loe gimana?" Ulang Erwin penuh penegasan.
"Tunggu dulu. Maksutnya, Loe. Erwin yang katanya seroang idola kampus, suka sama gue?" Tanya Rani bingung sekaligus tidak percaya.
Erwin membalas dengan anggukan.
"Huwahhaha…." Rani langsung ngakak.
"Memang nya ada yang lucu?" Tanya Erwin mulai gemes.
"Tentu saja. Ntu mah gak mungkin. Loe pasti mau ngerjain gue ya kan?. Ya donk!".
"Ha ha ha".
Dan tawa Rani langsung terhenti saat mendapati tiada reaksi dari Erwin. Justru tatapan tajam itu malah membuatnya mendadak merinding.
"Loe nggak serius suka sama gue kan?" tanya Rani hati – hati.
"Gue serius" Balas Erwin tegas.
Untuk sejenak Rani terdiam. Otaknya di paksa untuk berkerja secara cepat dan beberapa saat kemudian.
"Oke, tunggu bentar. Biar gue pikir dulu. Tapi sebelum itu loe bisa lepasin tangan gue dulu kan?" Pinta Rani lirih.
Seolah baru menyadari Erwin segera melepaskan genggaman tangannya. Sementara Rani terlihat menarik nafas lega.
"Erwin suka sama gue?" gumam Rani lirih. Membuat Erwin yang mendengarnya merasa sebel. Hei, dia kan idola. Tapi kenapa justru di tembak olehnya terlihat menyedihkan bagi Rani. Ini si jelas pencemaran nama baik namanya.
"TIDAK!!!!. MAK TOLONG SAIA!!!" Teriak Rani sambil Lari tunggang langgan pake jurus langkah seribu.
Sehingga dalam sekejap mata telah raib bin hilang dari pandangan Erwin yang melongo menatap kepergiannya.
Bersambung

Random Posts

  • Kirim Cerpen di Star Night

    OKE Deh….Berhubung Star Night udah nggak punya terlalu banyak waktu buat bikin cerpen ataupun lanjutin cerpen cerpen yang ada, kali ini +anna cayang mama selaku admin, pengen ngasi kesempatan buat reader yang pengen karyanya di post di persilahkan buat ngirim kesini.Syaratnya gampang kok :Yang pertama harus hasil karya pribadi. Say No To COPY_PASTE.Yang kedua Cerpen tersebut belum pernah di publikasikan di blog mana pun.Yang ketiga, saia +anna cayang mama selaku admin berhak untuk mengedit dikit dikit hasil karyanya.:pYang ke empat, Gak boleh melangar syara ya. Bahasanya yang sopan maksutnya.Yang kelima, Admin berhak mutlak untuk menentukan kapan cerpen nya akan di publisSyarat selanjutnya menyusul ^_^ Gimana cara ngirimnya?. Ikuti petunjuk berikut : ^_^Siapin dulu cerpennya *So jangan coba – coba ngirim cerpen kalau cerpennya belom di bikin… he he he #XDKirim dalam bentuk attacement ke email Anamerya17@gmail.comSertakan Biodata penulis yang mau di tempelkan di blog. Misalnya Email, Twiter, Ataupun Akun facebook. Yang terakhir, Kalau cerpen belum di publis bisa langsung hubungi admin diFacebook : Ana MeryaG Plus : +anna cayang mama Twiter : RianashinePin BB : 29E7BF03Nah, Segitu doank. Bagi yang berminat di persilahkan Untuk mengirimkan karyanya langsung ke sini. Kalau di tanya soal bayaran atau imbalan apapun itu. Hem, Maap gak pake imbalan ya. Kita cuma bikin buat seneng – seneng doank. ^_^Akhir kata : Selamat Berkarya….

  • TRUE LOVE

    TRUE LOVE Oleh : Cahya Nuraini – Kenapa harus kamu yang ada dihadapan aku sekarang ? kenapa bukan dia yg sudah ada di hati aku sejak dulu ? aku menyesal dulu telah membencimu, karna mungkin kini ini karma bagiku. Maafkan aku, tinggalkan aku, berikan aku cintanya yang dulu. Bukan dia tuhan…..Samar-samar telah ku buka mataku karna silau oleh pancaran matahari dari jendela. Ternyata si mbok sosok yang telah merawatku dari kecil. “selamat pagi non.” “pagi mbokk,,,” “nyonya sudah menunggu untuk sarapan non” “iia mbok, terima kasih”.. Namaku cicilia valentina nugraha , aku lahir tepat saat hari kasih sayang karna brhrap aku selalu mndapatkan kasih sayang dari semua orang. Memang benar, kehidupanku hampir sempurna. Aku anak yang lumayan pintar yah gak bego-bego amat lah istilah kasarnya. Mempunyai orang tua yang sayang aku, harta berlimpah, paras cantik, banyak teman, dan banyak cowok yang suka. Sekarang ini aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang, dia teman sekolahku namanya dani. Sejujurya aku tak terlalu sayang dia, tapi di anak populer di sekolah karna dia keren pastinya dan karna desakan dari teman-temanku untuk mau menerima dani menjadi pacarku, maka akupun menjalin hubungan dengannya, sudah hmpir 4 bulan dan sekarang aku sudah kelas 1 SMA.“pagi sayang,,” sapa mamaku di meja makan. “pagi ma, papa mana ?” “papamu ada meeting, jadi harus berangkat duluan.” “ohh..” berdua kami sarapan namun tak lama kemudian………. “pagi….!!!” sapa suara yg tak asing bagiku. Ya, si dani memang bak sopir pribadi bagiku. Kemanapun aku pergi dia siap sedia untuk mengantar. Bahkan tiap pagi dia rela mengantar jemput aku. “pagi sayang,” sahut mamaku. Dia pun mengecup kedua pipiku dan berslaman kepada mamaku. Mereka sudah cukup akrab, dan sudah tidak ada kata malu. Aku bahkan sampai takut jika harus melanjutkan hubungan bersama dani ke jenjang pernikahan krna aku tak benar mencintainya. “sayang hari ini ada ulangan, kita berangkat sekarang ya, soalnya aku belum belajar” sekaku sebelum dani ngobrol lebih banyak dengan mamaku. “oh, yaudah ayo. Salim sama mama gih” kamipun berangkat sekolah melaju dengan mobil bmw nya, dani memang anak orang berpunya sehingga dia menjadi anak terkeren dan paling di kagumi di sekolah. “sayang, kabarnya hari ini ada murid baru di kelasku.” “ohhh,,,” jawabku cuek, karna aku memang sedang malas ngobrol dengannya. “kamu kenapa ? sakit ?” tanyanya smbil berusaha membelai rambutku namun aku mengelak. “aku enggak apa-apa kok, Cuma sedikit pusing gara-gara begadang semalem”. “begadang ngapaen ? belajar ?” “bukan kok, orang aku nonton bola”. Jawabku untuk meredam suasana tegang dalam mobil.Akhirnya sampailah kami di sekolah.“sayang aku duluan ya, aku mau nyamperin anak-anak dulu” pintaku “iya”. Kamipun berpisah di jalan menuju parkir sekolah dan aku berjalan sendiri menuju kelas, untunglah aku bertemu teman-temanku. Rani,bella dan lia. “heyyy, tunggu” teriakku “ehhh, ini dia putri kita telah datang,” ledek si rani yang memang anaknya goookill abizzz. “ihh, apaan sihh” “eh-eh, tau gak, katanya ada anak baru lohh di kelas gue.katanya sih cowo dari jawa, moga-moga ajah cakep.” Sela si lia yang anaknya memang suka banget ngeliatin alias tukang nyeleksi cwok. Hampir semua cowok di sekolahan ini dia kenal bukan hanya teman satu angkatan tapi juga cowok-cowok kelas 2 & 3. “udah tau kok dari si dany” jawabku. “lia kalau cakep boleh tuh buat gue. Cilla, kita hari ini ulangan fisika kan ? udah belajar lo ?” tanya bella padaku. Belum sempat ku jawab namun sudah bel masuk dan akhirnya kami berlarian masuk ke kelas.Saat istirahat berbunyi tiba-tiba ada salah satu teman yang memberitahuku “cilla cilla, si dany berantem di belakang sekolah” fikirku biarkan saja, toh bonyok pun dia yang ngrasaen, dani memang anak sok jagoan. Gara-gara dia banyak teman dan seorang kakak kelas sehingga dia sering mencari masalah dengana anak kelas 1. Namun aku sebagai ceweknya, jadi paling tidak aku harus numpang absent dong ! akupun meluncur ke belakang sekolah. Setelah sampai mulanya aku biarkan saja, ingin melihat siapa yang di hajarnya kali ini dan saat aku tanya pada lia ternyata yang dihajar adalah anak baru. Ku perhatikan muka anak baru tersebut karna bagiku wajah itu tak asing dan baru sja ku sadari ternyata itu Ali, cinta pertamaku saat aku masih SD kelas 5. Meski di bilang masih kecil, tapi tetap tak ada yang menggantikan dia di hatiku. Tercengang, kaget namun bahagia. Langsung saja aku berlari dan berusaha memisahkan perkelahian ini. Jujur saja semua temanku kaget karna tak pernah aku seagresif ini untuk melerai pertikaian dany. “sudaaahh ! hentikan “ dengan memalingkan wajahku ke muka dany namun ternyata emosi dany belum turun sehigga akulah yang terkena tonjok mautnya, segera saja aku tersugkur jatuh. Dani sangat menyesali namun masih terperangah melihatku jatuh berbeda dengan ali yang langsung mendekapku untuk berusaha menolongku namun langsung di dorong dany jatuh dan menjauhkannya dariku. Aku pun pingsan dan tak ingat apa-apa lagi. Namun aku masih ingat jelas wajah tampan yang setengah kagetnya melihatku sama seperti aku kaget melihat dirinya.Setelah sadar ternyata aku telah di kamar. Dan semua temanku telah berkumpul, akupun memanggil lia dan meminta untuk menjelaskannya. “lia, sebenarnya tadi ada apa sih ?” “tadi itu si dany jengkel sama si ali anak baru itu, gara-gara menurutnya ali itu sok cool dan di gandrungi banyak cewek di kelas. Iya, gue rasa sih di dany mulai merasa kalah saing gitu deh, ali emang gak sekaya dany tapi banyak banget cewek yang minta nomernya.” “termasuk lo ?” sekaku “pastinya” “boleh gue minta ?” “buat apa ?” “minta maaf atas perlakuan dany” “ada sesuatu yang lo sembunyiin dari gue…” “belum saatnya gue cerita li, nanti pasti gue ceritain. Plisss jangan kasih tau ke dany ya !” “sip”Setelah lia memberikan nomer ali, liapun keluar dan dany masuk. Namun aku pura-pura lemas. Saat dany sudah mengutarakan penyesalan dan meminta maaf diapun aku suruh pulang. Saat semuanya sudah pulang akupun tak buang waktu dan langsung menelfon ali. Ragu-ragu ku pencet satu persatu nomer itu. Tuttttt tuuuttt tuuuutt bunyi sambungan telfon yang membuatku sedikit gemetar. “hallo!” suara yang sedari dulu tetap tak berubah di telingaku. Suara sosok yang penuh kasih syang di hatiku “hallo, ali” jawabku gemetar senang namun air mataku menetes. “ini siapa ?” “kamu tak mngenalku lagi ? ini aku” “cilla “ namun aku terdiam, mulut ini seperti tak bisa berkata-kata. “cilaa, cilla, jawab aku. Jangan diam cil, aku rindu suara kamu.” “aku juga al. Aku ingi bertemu denganmu. Besok di taman sekolah” setelah itu aku tutup telfon. Aku lega, ku bahagia dan aku menangis. Tuhannn terimakasih, aku tau kau sayang aku tuhan.Keesokan harinya akupun bertemu dengan ali dan di taman sudah ada sosok cowok yang ,menunggu. Bdannya tinggi tegap. “ali” panggilku lirih dan langsung duduk di sampingnya. Namun dia hanya menatapku dengan dalam. “kenapa kamu pandang aku seperti itu ?” “kecantikanmu tak berubah cilla.” “kamu gombal..” “tidak,” “kamu dingin al, “ “kepergianmu telah mengubah sikapku cil, tak sadarkah kamu. Kepergianmu membuatku hancur,, tanpa surat dan kabar” “aku tak bermaksut al, smpai sekarang pun aku masih sayank kamu, cintaku tak pernah berubah. Kedaan saat itu sedang sulit. Perusahaan papaku bangkrut. Aku harus pindah beberapa kali untuk mendukung ekonomi keluargaku. Aku juga sedih tak bisa lagi berkomunikasi denganmu”. Suasana hening menyelimuti siang itu. “mana cintamu al ? hilangkah itu ?”. “entahlah… bertahun-tahun kehilangan yang aku cari dan satu-satunya semangat yang aku miliki. Bagaimana menurutmu. Memang kita masih kecil, tapi persaan itu beda cil.” “aku tau al,tapi haruskah kau limpahkan keslahan itu padaku ? gadis kecil yang tak tau apa-apa !” tak terasa butiran bening itu tiba-tiba menetes, dan berlinang deras. “jangan menangis cil, aku tak bermaksud untuk membuatmu menangis. Aku selalu kalah dan luluh jika melihatmu menngis” dan ali langsung memelukku. Dia usapnya kristal bening di pipiku dengan jari-jarinya yang penuh kasih syang. Namun sepertinya memang hari sial kami, dany tiba-tiba muncul dan salah sangka. Tanpa panjang lebar dia menyuruh teman-temannya untuk memegang ali sedangkan dany memukulinya. Ku coba tahan tangan kekar itu semampuku namun naas tetap saja aku kalah tenaga. Dan dengan terpaksa ku peluk dany untuk meredam amarahnya. Dia pun luluh. Ku lihat ali kecewa berat. Dan langsung menundukan kepala. “dengar ya lo bangsat, jangan pernah lo deketin cewek gue lagi. Sekali lagi gue liat lo deketin cewek gue. Mampuss lo !” “kalau cewek lo yang deketin gue gimana ?” tersentak kaget aku bersma rombongan dany. Akupun kaget karna ali mampu berkata begitu, seolah dia tak berusaha melindungiku. “ahhhh, tahikk lo..” di hajarnya ali untuk yang kedua kalinya. “sayank, sudah, jangan di ladeni bocah pengecut ini !” sindirku sinis. Alipun seperti mennyesali perkataannya.Malam ini aku masih memikirkan ali, perkataan yang menurutku sangat-sangat menyakitkan. Namun tiba-tiba ada suara mengetuk pintu. “non ada tamu” “cwo apa cwe ?” “cowo non” Kufikir si dany tapi betapa terkejutnya aku karna ternyata yang datang ali. Bingung ingin kutemui apa tidak karna jujur saja aku masih marah dengannya. “ngobrol di taman aja al” kataku bete. Ku pimpim jalan duluan untuk menuju taman depan. Kamipun duduk di bangku panjang di tengah taman. Ku suruh si mbok mengambilkan minum untuknya. Sesaat terdiam namun ali berusha untuk memancing obrolan di antara kami. “masih marah ?” “masih” “aku mesti gimana “ “harusnya kamu gak biacara seperti itu.” “takut ?” “maksudnya ?” “cnta itu harusnya tak mengenal takut. Tak mengenal rasa sakit.” “aku bukn gadis tomboy yang masih berusia 9 th al. Aku ini remaja 15 th al. Aku sudah berubah” “aku tau, namun cintamu tidak kan ?” “selamanya hanya untukmu.” “masihkah kau smpan itu untukku ?” “hanya untuk kamu, dan selamanya untuk kamu” perlahan kami dekatkan kedua bibir kami, dan perlahan namun psti bibir kamipun menyentuh. Dengan lembut dia lumat bibir ini. Dan 1 kecupan di dahi. Sayangnya saat itu aku lupa, bahwa aku sudah punya janji kepada dany,lia,bella, dan rani. Mereka semua pun melihat kejadian itu. “bangsat lo !” baru dany ingin memukul ali, aku sudah berada di depanya dan lagi, aku terkena tonjok di kepalaku. Namun aku berusaha tak pingsan. “hentikan dan. Nyadar gak siih lo. Selama ini tuh gue cuek sama lo supaya lo mutusin gue. Gue gax mau mutusin lo karna gue takut lo sakit. Ali cinta pertama gue dan, karna itulah gue gak pernah nganggap semua pacar gue serius karna sebenrnya cinta gue Cuma buat ali dan. Plisss, ngertiin gue, dewasalah sedikit dan. Kalau lo sayang gue, relain gue” “ok, lo menang sob, gue gak bakal ganggu hubungan lo berdua lagi. Kita maen fair disini” berlalulah dany. “ciehhhh, akhirnya sang putri pun menemukan cinta sejatinya the true of love” gombal rani “ciehhh…ciehhh” teriak bella dan lia. Besok kenyang nieh…. Meriahlah suasana malam itu. Canda gelak tawa riang. Hepi kusnendang yah guys. Semoga saja hubunganku awet sampai kakek-kakek dan nenek-nenek sama si ali ku cayankk…. hehehee. ..Oleh : cahya nurainicahya noerainie

  • Cerpen Special Valentin “Sepotong coklat untuk nanda”

    Ceritanya si, ini cerpen spesial buat Valentin day yang ‘katanya’ tinggal beberapa hari lagi. Hayo, tunjuk kaki siapa yang pada ikut ngerayaain. Star Night nggak ikut – ikutan ya. Cuma ikutan bikin cerpen aja. Ho ho ho. So, cekidot…Credit Gambar : Ana MeryaCerpen Special valentin dayDengan langkah mantap nanda masuk kekelasnya, segera duduk di samping anggun, teman sebangkunya tanpa memperdulikan tatapan kagum yang tertuju padanya dari penhuni lawan jenis kampus itu.Kening nanda sedikit berkerut mendapati sekuntum mawar tergeletak di atas mejanya. Anggun hanya angkat bahu sebagai balasan tatapan heran nanda padanya.sebagian

  • Cerpen Sedih: Teddy Bear

    Teddy BearOleh Rai Inamas LeoniAku menatap kosong lembar jawaban matematika diatas mejaku. Semua rumus yang aku pelajari semalam menguap begitu saja. Kulirik jam dinding, tinggal sepuluh menit untuk menyelesaikan lima soal ini. Sementara beberapa siswa sudah selesai mengerjakan soal dan mulai meninggalkan bangku mereka. Kupandangi kertas jawabanku, tak ada yang berubah. Tetap kertas putih yang hanya tertulis lima soal tanpa jawaban. Aku tertunduk lesu lalu perlahan kupejamkan mataku. Berharap semua bisa berubah…***Prang!!!! Bunyi vas bunga terdengar nyaring menyentuh lantai . Otak ku segera memperoses apa yang terjadi. Aku tau suara vas berasal dari ruang tamu dan tentu saja Ayah pasti kalah judi sialan itu. Buru-buru aku mengunci pintu kamar rapat-rapat. Kupeluk kamus Bahasa Inggris ku, berharap benda ini dapat melindungiku dari sesuatu. Mengingat sebulan terakhir keadaan rumah tak ubahnya seperti neraka.“Dasar anak tak tau diri!! Sudah Ayah bilang untuk berhenti sekolah dan mulai mencari pekerjaan. Lihat kalau begini nasi pun tak ada!!” Teriak Ayah dari ruang tamu. Kudengar Ayah mulai membanting sesuatu lalu memaki segala jenis penghuni kebun binatang. “Dimana kamu Tasya?! Tasya!!!” Ayah mulai kehilangan kendali. Detik berikutnya pintu kamarku yang menjadi sasaran. Ayah mulai menggedor pintuku dan mulai meneriaki segala ancaman jika aku tidak membukakan pintu. Percuma Ayah, aku selalu berlajar dari pengalaman, aku tak mau teman-temanku melihat pipiku memar lagi. Ujarku dalam hati.Aku menghela nafas lalu berjalan menuju tempat tidurku yang terlihat kontras dengan boneka Teddy Bear milik ku. Teriakan Ayah kujadikan sebagai sebuah nyanyian gratis. Sejenak aku memandangi kamar kecil yang baru setahun kutempati.Beda sekali dengan kamarku yang dulu. Walau bukan dari keluarga kaya raya namun kamarku yang dulu berisi fasilitas lengkap seperti lemari, komputer, meja belajar bahkan TV walaupun 14 inci. Sedangkan kamar ini hanya terdapat ranjang kecil yang sudah kusam dan lemari tua di sudut ruangan.“Hidup yang kejam!” Tanpa sadar aku bergumam pada diri sendiri. Buru-buru aku menutup mulutku dengan boneka Teddy Bear. Rasanya Ayah mendengar ucapanku tadi.“Ayah tau kamu ada di dalam!! Buka pintunya!!” Ayah berteriak lagi. Namun teriakannya kali ini lebih mirip orang yang sedang mengigau. Rupanya hari ini Ayah terlalu banyak minum. “Tau begini aku tak akan mengadopsi anak brengsek ini. Dasar anak sialan!” Usai berkata demikian, Ayah mulai bernyanyi lagu-lagu yang tak pernah kudengar lalu beranjak pergi menuju ruang tamu. Sudah menjadi kebiasaan Ayah menyanyikan lagu-lagu yang aneh jika sedang mabuk berat. Dan kalimat terakhir yang diucapkan Ayah, juga karena efek alkohol bukan?“Karena anak sialan itu istriku kabur dengan lelaki lain, usaha yang kubangun susah payah juga bangkrut karenanya.” Sejenak Ayah tertawa. “Benar-benar anak pembawa sial. Pantas orang tua kandungnya tak mau mengasuhnya…” Ujar Ayah seolah-olah berbicara dengan orang lain.Aku membeku mendengar ucapan Ayah.Sakit rasanya mendengar hal yang selama ini tak ingin aku dengar.***Matahari sudah terbenam sekitar beberapa jam yang lalu ketika aku menyusuri sebuah gang kecil. Rumah ku yang baru terletak di ujung gang kecil ini, luas rumah itu hanya setengah dari luas rumahku yang dulu. Aku menendang kerikil yang ada di depanku.Rasanya dunia memusuhi ku akhir-akhir ini. Semua berawal dari usaha Ayah yang ditipu seseorang setahun yang lalu. Ayah mengalami kerugian yang besar hingga tak mampu membayar hutang di bank, yang awalnya digunakan untuk modal usaha. Lalu semua berjalan begitu saja seperti mimpi buruk. Rumah kami disita oleh pihak bank, Ayah membeli rumah kecil dengan uang tabungan yang tersisa, Ibu membuat kue kering dan menjual kepada tetangga sementara Ayah mencari pekerjaan baru. Aku tak tau apa yang terjadi dengan Ayah selanjutnya. Ayah yang dulu ku kenal ramah dan humoris berubah menjadi Ayah yang suka berjudi dan mabuk. Sering ku dengar Ayah dan Ibu bertengkar karena Ayah meminta uang untuk berjudi hingga berujung pada perceraian mereka. Setelah perceraian itu biaya sekolah hingga makan sehari-hari ditanggung Ibu yang sebulan sekali mengirimi aku uang. Sebenarnya Ibu sudah berkali-kali menyuruhku ikut dengannya, mengingat usaha kue Ibu berkembang pesat apalagi kini Ibu sudah menikah. Namun aku selalu menolak karena tak tega meninggalkan Ayah sendiri. Aku tersenyum pedih mengingat semua hal itu. Ayah? Ibu?“Mereka bukan orangtua ku!!”Teriak ku parau.Ya, aku bukan anak kandung mereka. Orangtua kandungku tega meninggalkan ku di panti asuhan ketika usia ku menginjak 3 bulan. Kemudian saat aku berumur 7 tahun, Ayah dan Ibu datang untuk mengadopsiku. Sejak saat itu aku menjadi anak mereka. Ayah sering membelikan boneka Teddy Bear untuk ku, mulai dari ukuran terkecil hingga yang paling besar. Sementara Ibu selalu menjadikanku sebagai asisten koki saat beliau membuat kue. Ayah dan Ibu sangat menyayangiku seolah-olah aku ini anak kandungnya. Kami benar-benar keluarga yang bahagia. Tapi itu dulu. Kini semua telah berubah.“Nak Tasya..” Panggil seseorang dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Pak Kino tersengal-sengal seperti dikejar setan. Saat itu aku baru menyadari bahwa aku sudah berada di depan rumahku.“Ada apa ya Pak Kino?” Tanyaku sopan.Pak Kino adalah pemilik rumah sebelah.“Anu.. Bapak baru saja..dari rumah sakit..” Ujar Pak Kino terbata-bata sambil mengatur nafas.“Bapakmu ada di rumah sakit.. Bapakmu dikeroyok penagih hutang..”Aku diam mendengarkan penjelasan Pak Kino?Penagih hutang?Pasti hutang judi.Bukankah lusa lalu penagih hutang sudah mengambil semua barang-barang di rumah?Radio, televisi, bahkan kursi pun juga diambil.Ragu-ragu aku menatap Pak Kino.“Rumah sakit mana?”Tanyaku lirih.Tanpa sadar mataku terpaku pada boneka yang bergelantung di tangan Pak Kino.***“Dokter pasti salah!! Ayah saya masih hidup!!” Teriakku memecah keheningan.Bibirku bergetar, pandanganku buram.Tangan kananku memegang boneka Teddy Bear berukuran kecil yang sudah terciprat darah.Namun bentuknya sudah tak karuan seperti sudah terinjak.Boneka ini ditemukan Pak Kino saat menyelamatkan Ayahku dari orang-orang suruhan Bandar judi.“Ayahku masih hidupkan, Pak Kino? Dokter ini pasti bercanda kan?” Tanyaku pada Pak Kino.Pak Kino menatapku nanar, seolah tak mampu berbicara padaku.“Maafkan saya, saya sudah berusaha semampunya. Namun Ayah anda terlalu banyak kehilangan darah. Terjadi pendarahan hebat di bagian otak beliau akibat terbentur benda tumpul.”Dokter berusaha menenangkanku.Tak kuhiraukan pandangan orang-orang yang menatapku dengan prihatin.Kaki ku dengan cepat menerobos masuk ruang UGD. Kulihat Ayah terbujur kaku diatas tempat tidur. Matanya terpejam damai walau wajahnya mengalami memar.“Ayah…” Ucapku lirih. “Ayah pasti sedang tidur kan? Besok pagi Ayah akan bangun lalu meminta uang kepadaku untuk judi sialan itu kan?” Tanyaku pelan.Dua suster menarikku untuk menjauh dari Ayah.Dengan kasar aku menepis tangan mereka kemudian berjalan menghampiri Ayah.“Ayah bangun!!!!” Teriak ku kesetanan.“Ayaaah!!!!”Aku mulai mengguncang-guncang tubuh Ayah.Tanpa sadar tanganku bersentuhan dengan lengan Ayah.Dingin. Aku tak mampu merasakan kehangatan yang dulu sering Ayah berikan. Saat aku berulang tahun, saat aku mendapatkan rangking, atau saat Ayah membelikanku sebuah boneka. Rasa hangat itu telah hilang, telah memudar.Sebuah teriakan menyadarkan ku.Entah sejak kapan Ibu ada disebelahku. Memeluk ku sambil menangis meneriaki nama Ayah. Di samping Ibu, aku melihat Oom Dharma yang tertunduk lesu.Oom Dharma adalah seseorang yang sudah menggantikan posisi Ayah di mata Ibuku.Aku merasa wajahku mulai memanas.“Ayaaaah… Jangan pergi…” Ujarku pelan lalu menangis sambil memeluk boneka Teddy Bear.***Aku membuka mata.Semua sudah berubah, ujarku dalam hati.Sebulan berlalu sejak kematian Ayah. Orang yang mengkeroyok Ayah sudah ditangani pihak berwajib. Aku memutuskan untuk menerima tawaran Ibu untuk tinggal bersamanya.Lagi pula Oom Dharma orang yang baik. Ayah pasti sedang tersenyum menatapku kini, tentu saja dari suatu tempat yang bernama surga. Aku tak peduli Ayah merupakan orang tua angkat ku. Bagiku Ayah ya Ayah. Seseorang yang selalu memberikan kehangatannya melalui boneka-boneka Teddy Bear, boneka favoritku dari kecil.Tak tau apa yang terjadi, dalam sekejap aku bisa mengingat semua rumus yang semalam aku pelajari. Dengan lincah tanganku menulis rumus, lalu memasukan angka-angka dan mulai menghitung. Aku baru menyelesaikan tiga soal ketika Bu Risna, guru matematika di SMA Bhineka, menyuruh semua siswa untuk mengumpulkan kertas ulangan. Kudengar nada-nada kecewa dari beberapa teman. Ternyata bukan hanya aku yang tidak berhasil menjawab semua soal. Tak sengaja aku menatap ke luar jendela. Langit pagi ini terlihat cerah. Aku tersenyum dan mulai beranjak meninggalkan bangku ku. Ayah, berjanji lah untuk bahagia disana. Bisikku dalam hati lalu berjalan menghampiri teman-temanku.SELESAIRai Inamas LeoniSMAN 7 Denpasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*