Cerpen Kala Cinta menyapa part 9

Huwakakkaka….. kayaknya ini part paling pendek yang pernah tercipta deh. Tapi gak papa deh, namanya juga versi expres. Abis di tagih mulu si. Phan saia udah bilang saia udah sibuk di dunia nyata. So, kalau mau baca sialahkan. Gak mau ya suka suka kalian..
Oke?…. SYIP!
Ah satu lagi, tadi si lagi asik nulis. Eh ada yang ngajak chatingan. Ya sudah konsentrasi langsung buyar. So segini aja deh.


Credit gambar : ana Merya
"Ya ela, loe kenapa?. Kok mukanya sedari tadi di tekuk gitu?. Gantengnya ilang tau" Komen Joni sambil menatap prihatin sahabat yang duduk di sampingnya. Sementara tangannya dengan santai menyuapkan kuah bakso kedalam mulut.
"Diem loe. Gue lagi galau ni".
"Brus"…
"Sialan loe" Bentak Erwin sambil berdiri dan mengusap wajahnya yang terkena semburan ala dukun dari mulut Joni.
"Loe bilang apa barusan?. Galau?" tanya Joni tanpa rasa bersalah sedikitpun padahal Erwin sudah jelas – jelas sedang melotot menatapnya.
Tanpa menjawab dan berkata apapun Erwin langsung berdiri. Namun belum sempat kakinya melangkah, tangannya sudah terlebih dahulu di cekal oleh Joni.
"Loe mau kemana?".
"Kamar mandi" Balas Erwin ketus.
"Eh, tunggu dulu. Loe belom jawab pertanyaan gue. Loe galau kenapa?".
"Belum pernah lihat sendal melayang ya?" Tanya Erwin lirih namun cukup untuk membuat bulu roma Joni berdiri semua. Sumpah ia merinding. Apalagi saat tatapan mata keduanya beradu. Ah benar – benar aura kuburan yang menyebar. (???).
Begitu cekalaan terlepas, Erwin segera melesat kearah kamar mandi. Mencuci bersih wajahnya sambil tak henti merutuk dalam hati. Sial banget si nasipnya hari ini?.
Dari Kamar kecil Erwin terus melangkah. Tapi bukan kekantin karena arah yang di ambil jelas – jelas berbeda. Dan tanpa ia sadari ia sudah berhenti dan duduk dengan diam di taman belakang kampus.
Dan saat matanya menatap pot mawar yang ada tak jauh darinya sebuah senyuman bertenger di bibir. Tanpa di cegah atau di rencanakan kejadian beberapa waktu yang lalu kembali terlintas di benaknya saat mendapati Rani yang jatuh tersungkur dua kali. Bahkan saat itu ia dengan suka rela mengendong gadis itu ke ruang UKS kampusnya. Hal yang sepertinya mustahil ia lakukan.
Secepap ingatan itu terbayang secepat itu juga kesadarannya pulih. Dengan cepat ia bangkit berdiri sambil memukul – mukul kepalanya.
"Nggak nggak nggak, gue ngga mungkin suka sama dia" Ujar Erwin sambil mengeleng kepala dengan keras.
" Loe suka sama siapa emang?".
Mendengar suara yang tak diundang refleks Erwin langsung berbalik. Dan…
"Huwaaaaaaaaaaaaa…".
Tanpa di komando ia segera meloncat kesamping. Namun sepertinya nasipnya tidak terlalu mucur. Pot bunga yang masih belum di sekolahin (???) bertenger di sana. Membuat Erwin yang kehilangan keseimbangan karena tidak mampu memnahan gerakannya langsung sukses terdampar di rumput.
"Huwahahhaha….. Dia jatoh. Emang wajah gue segitu menyeramkan nya ya?. Padahal imut gini juga. Ayo sini gue bantuin. Kalau nggak salah dulu loe katanya pernah ngendong gue yang jatoh karena tu pot juga deh" kata sosok yang mengagetkan itu yang tak lain adalah Rani yang kini sedang mengulurkan tangan kearah Erwin yang masih 'Ndeprok' di rumput.
"Loe hantu ya?" Tunjuk Erwin lurus.
"Gue Rani " Balas Rani polos n santai.
"Kok muncul tiba – tiba".
"Bukan gue yang muncul tiba – tiba. Loe nya aja yang sedari tadi nggak nyadar. Mana tadi pake acara senyum – senyum sendiri lagi" Terang Rani lagi.
Erwin terdiam. Ingatannya mencoba untuk mencerna kejadian sebelumnya. Masa iya, ia tidak menyadari kehadiran Rani.
"Jangan – jangan tadi loe lagi ngelamunin cewek. Makanya loe senyum – senyum nggak jelas. Iya kan?" Pertanyaan Rani kembali mambawa Erwin ke waktu sekarang.
"Jangan ngasal" Bantah Erwin ketus sambil mencoba bangkit berdiri. Mengabaikan uluran tangan Rani yang masih terjurus kearahnya.
"Terus tadi ngapain pake bilang nggak mungkin suka segala. Hayo ngaku….." Kejar Rani lagi membuat Erwin asli mati gaya dan mendadak gugup. Astaga, ini bener – benar hal yang begitu memalukan baginya.
"Loe salah denger".
"Nggak mungkin" Bantah Rani cepat.
"Terus kalau gue suka sama cewek memang kenapa?. Masalah buat loe?" Serang Erwin balik.
"Iya juga ya?. Emang nggak masalah si" Rani tampang mengangguk – angguk membenarkan. Sementara Erwin hanya mencibir sinis.
"Asal jangan suka sama gue udah lah" Sambung Rani lirih sambil berbalik pergi.
Namun langkah Rani langsung terhenti. Merasa kaget saat mendapati tangannya berada dalam gengaman Erwin.
"Kenapa?" Tanya Rani dengan mata sedikit menyipit.
Erwin tidak langsung menjawab. Bingung juga mau berkata apa. Yang ia tau tangannya secara refleks bergerak sendiri. :p
"Kalau cewek yang gue suka itu beneran loe gimana?".
"Apa?".
"Kalau Gue beneran Suka sama loe gimana?" Ulang Erwin penuh penegasan.
"Tunggu dulu. Maksutnya, Loe. Erwin yang katanya seroang idola kampus, suka sama gue?" Tanya Rani bingung sekaligus tidak percaya.
Erwin membalas dengan anggukan.
"Huwahhaha…." Rani langsung ngakak.
"Memang nya ada yang lucu?" Tanya Erwin mulai gemes.
"Tentu saja. Ntu mah gak mungkin. Loe pasti mau ngerjain gue ya kan?. Ya donk!".
"Ha ha ha".
Dan tawa Rani langsung terhenti saat mendapati tiada reaksi dari Erwin. Justru tatapan tajam itu malah membuatnya mendadak merinding.
"Loe nggak serius suka sama gue kan?" tanya Rani hati – hati.
"Gue serius" Balas Erwin tegas.
Untuk sejenak Rani terdiam. Otaknya di paksa untuk berkerja secara cepat dan beberapa saat kemudian.
"Oke, tunggu bentar. Biar gue pikir dulu. Tapi sebelum itu loe bisa lepasin tangan gue dulu kan?" Pinta Rani lirih.
Seolah baru menyadari Erwin segera melepaskan genggaman tangannya. Sementara Rani terlihat menarik nafas lega.
"Erwin suka sama gue?" gumam Rani lirih. Membuat Erwin yang mendengarnya merasa sebel. Hei, dia kan idola. Tapi kenapa justru di tembak olehnya terlihat menyedihkan bagi Rani. Ini si jelas pencemaran nama baik namanya.
"TIDAK!!!!. MAK TOLONG SAIA!!!" Teriak Rani sambil Lari tunggang langgan pake jurus langkah seribu.
Sehingga dalam sekejap mata telah raib bin hilang dari pandangan Erwin yang melongo menatap kepergiannya.
Bersambung

Random Posts

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 04 /13

    Masih lanjutan dari cerbung Kala Cinta menyapa Part 04. Kisah seputar hubungan antara Erwin dan Rani yang merupakan cerpen requesan. Yang penasaran gimana lanjutannya. Untuk yang baru nemu cerpen ini, biar nyambung bagusan baca dulu bagaian sebelum dalam cerpen kala cinta menyapa bagian 3. Yang jelas selamat membaca aja ya…Kala Cinta MenyapaSepulang kuliah, Rani segera melangkah pulang kerumah. Sambil menunggu bus tumpangannya ia duduk menunggu di halte sambil membaca komik serial cantik yang sengaja ia bawa ke kampus. Bodo amat deh kalau ada orang yang meliriknya heran saat melihat ia yang sudah segede itu masih dengan santai membaca komik. Toh ia tidak merasa menganggu orang lain.Setelah beberpa saat menunggu akhirnya bus yang di tunggu pun muncul. Tapi karena keasikan membaca komik, Rani sepertinya tidak menyadari. Dengan santai ia masih anteng dengan bacaanya sampai kemudian bus kembali berlalu.Begitu menamatkan komik yang ada di tangannya Rani tersenyum puas. Lagi – lagi ending komik jepang berakhir happy ending dengan sangat romantis. Membuatnya merasa sama sekali tidak pernah bosan untuk mengoleksinya. Dengan segera komik itu ia masukan kembali kedalam tas. Pandangannya segera ia arahkan ke sekeliling. Sepi. Kenapa tidak ada seorang pun. Segera di lirik jam yang melingkar di tangan. Pukul sembilan tepat. Keningnya semakin berkerut. Kepalanya segera mendongak keatas. Menatap matahari yang jelas – jelas sudah condong kearah barat. Sejak kapan di sore hari ada pukul sembilan? Beberapa saat kemudian ia kembali mengalihkan tatapan kearah jam. Ups, pantas saja ternyata jarumnya sama sekali tidak bergerak alias jam mati. Wajar saja si, secara itu jam memang ia beli di perempatan toko kaki lima Tiga tahun yang lalu.Akhirnya diambilnya hape dari dalam saku tas. Mencet – mencet tombol untuk sesaat. Saat menatap tanggal yang tertera, kening lagi-lagi berkerut. Dengan cepat tangannya kembali memencet satu satu tombol itu, kemudian seulas senyum terukir di bibirnya.“Alhamdullilah, untung saja gue ketinggalan bus di tambah jam gue mati jadinya gue bisa ngutak – atik note di hape. Hufh, kalau enggak hampir aja gue lupa. Ternyata bener, bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti ada hikmahnya,” gumam Rani pada dirinya sendiri.Segera ia bangkit dari duduknya. Menoleh kekanan kiri. Saat matanya menemukan angkutan umum yang kebetulan lewat tanpa pikir panjang segera di stopnya. Tepat di depan Ramayana Swalayan ia turun.Mulai dari bagian pernak – pernik, baju, sandal bahkan sampai ke aksesoris Rani terus berkeliaran. Tapi belum ada satu pun yang berhasil menarik perhatiannya. Akhirnya langkahnya di tujukan kearah pustaka. Begitu melihat novel sunshine become you milik nya Illana tan ia langsung tertarik. Di raihnya buku tersebut. Bukannya Irma sangat menyukai bacaan ya?. Sepertinya buku itu juga pas untuk di jadi kan kado.Begitu mendapatkan apa yang ia cari Rani segera berlalu. Melanjutkan niat awalnya untuk langsung pulang kerumah. Saat bersiap untuk menyeberang jalan matanya tanpa sengaja melihat anak kecil yang berjalan di jalan. Sepertinya anak kecil itu kebingungan. Mungkin juga karena terpisah dari orang tuanya. Rani juga tidak memikirkan lebih jauh karena ia justru malah langsung berlari menarik anak itu saat mendapati sebuah mobil melaju cukup kencang dari arah berlawanan.Saat mendapati wajah – wajah lega dari orang – orang di sekelilingnya yang kebetulan melihat kejadian tadi Rani segera bangkit berdiri karena tadi ia memang sempat jatuh terduduk saat berusah untuk menyelamatkan tu bocah. Sambil tersenyum Rani menatap kesekeliling. Namun ketika ia mau berjalan tiba – tiba ia merasa sedikit nyeri di kakinya. Begitu ia menoleh ternyata memang ada sedikit luka gores. Untuk sejenak Rani terdiam saat mendapati cairan merah yang ada dikakinya sampai beberapa saat kemudian ia kembali tergeletak. Satu – satunya yang masih mampu ia tangkap adalah suara teriakan panik di sekeliling sebelum kemudian ia benar – benar tak sadarkan diri.Saat kembali membuka matanya, hal pertama yang Rani lihat adalah langit – langit kamar yang berwarna putih polos. Kemudian perhatiannya teralihkan kearah samping. Walau terlihat sedikit kabur tapi Rani masih bisa mengenali dengan jelas siapa sosok yang kini berdiri di dekatnya dengan raut cemas.Tanpa perlu sok jaim atau pun sok jaga image, mulut Rani terbuka lebar. Mengabaikan raut bingung sekaligus kesel juga cemberut sosok yang ada di sampingnya yang pasti langsung mengira ia bukan sadar dari pingsan namun justru baru bangun dari tidur siang.“Eh, loe Erwin kan? Kok loe bisa ada di sini? Terus sekarang gue lagi ada di mana nie?” tanya Rani sambil mengucek – kucek matanya.Erwin terdiam. Bukannya menjawab justu ia malah menatap Rani dengan intens. Melihat wajah polos seperti anak kecil yang ada di hadapannya membuat nya merasa gemes. Dan sebelum sempat sebuah senyum bertenger di bibir kesadarannya keburu pulih.“Jangan sok lupa deh,” kata Erwin berusaha terdengar sinis.“Gue bukan sok. Tapi gue beneran lupa. Memangnya gue kenapa?” tanya Rani lagi sambil menatap keatas. Berusaha mengingat – ingat kejadian sebelumnya.“Oh gue inget. Tadi itu gue abis bantuin anak kecil. Terus kaki gue luka. Karena gue phobia darah. Makanya gue pingsan."“Syukur deh kalau loe inget. Makanya laen kali kalau mau pingsan liat – liat tempat dulu donk. Jangan sembarangan."Mendengar kalimat yang baru saja di dengarnya membuat Rani sontak menoleh. Gantian menatap sinis kearah Erwin.“Eh, dengar ya. Kalau gue bisa milih, mendingan gue nggak usah pingsan. Dasar, gini nih kalau orang udah kelewat pinter. Kalau ngomong memang suka asal njeplak,” balas Rani santai, sama sekali tak memperdulikan pelototan yang terarah kepadanya.“Tapi kok loe bisa ada di sini?” tanya Rani lagi setelah beberapa saat terdiam.Erwin terdiam. Tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Mulutnya terbuka tapi beberapa saat kemudian kembali tertutup. Ia bingung harus menjawab apa.“Perasaan tadi gue nggak ada liat loe deh. Apa mungkin gue lupa ya?” sambung Rani lagi, mencoba mengingat – ingat kejadian sebelumnya.“Sudahlah. Tidak perlu di bahas. Tadi itu gue hanya kebetulan lewat."“O…” Rani mengangguk – angguk sambil tersenyum simpul. Erwin yang kebetulan memergoki tingkahnya merasa heran.“Kenapa loe malah senyum – senyum sendiri?”Rani mengeleng “Eh, ternyata loe baik juga ya?”“Apa an si,” Erwin makin terlihat salah tingkah.“Ma kasih ya,” Sambung Rani sambil tersenyum tulus.“Ehem, ya sudah lah. Sepertinya loe juga baik – baik saja. Tidak ada terlihat luka yang menghawatirkan. Kalau begitu gue pulang dulu,” kata Erwin sambil berbalik.“Eits, tunggu dulu!” kalimat Rani yang nyaris disebut teriakan menghentikan langkah Erwin. Perlahan pria itu kembali berbalik.“Ada apa?”“Loe antarin gue donk."“Ha?” mulut Erwin terbuka. Tatapannya terarah lurus kearah wajah polos Rani. Ia yakin barusan ia salah dengar.“Gue kan cewek. Abis ketabrak lagi. Masa loe tega si ninggalin gue sendirian. Lagian loe kan sudah terlanjur bantuin gue. Jangan setengah – setengah donk harusnya."“Tapi…”.“Ya sudah lah kalau loe nggak mau. Gue pulang sendiri aja,” potong Rani sambil berusaha bangkit. Diraihnya tas di atas meja berserta kado yang ada di sampingnya sebelum kemudian berjalan melewati Erwin yang masih berdiri terpaku memperhatikan tingkahnya yang di rasa aneh. Bagaimana bisa ada orang seperti dia. Bisa berubah pikiran dalam sekejap.“Duh… Kok nggak ada taxsi atau angkot yang lewat si. Hu… mana kakinya masih sakit lagi,” gerut Rani sendiri sambil menoleh kekanan kiri jalanan.“Buruan, Ayo naik?”Rani menoleh. Merasa heran sekaligus bingung saat mendapati Erwin yang bertenger di atas motornya berhenti tak jauh darinya.“Jiah, dia malah bengong. Buruan."“Gue?” tunjuk Rani kearah Wajahnya sendiri. Erwin hanya memutar mata mendegaranya. Namun tak urung tangannya terulur menyodorkan helm.“Bukannya tadi loe bilang loe nggak mau nganterin gue ya?” tanya Rani saat motor yang di kendarai sudah mulai melaju.“Rumah loe dimana?” Erwin balik bertanya.“Komplek BTN Bumi Asih nomor 24,” balas Rani meyebutkan alamat rumahnya walau tak urung ia merasa heran. Erwin kan sudah tau rumahnya dimana saat jatuh di got dulu. Kenapa pria itu bertanya?Erwin terdiam sama sekali tidak berkomentar apa pun lagi. Sementar Rani yang semula berniat untuk bertanya kembali menutup mulut. Sepertinya Erwin bukan type orang yang enak di ajak ngobrol. -,-“Erwin, sekali lagi makasih ya,” kata Rani begitu mereka telah berhenti tepat di depan rumahnya.Lagi – lagi Erwin tidak menjawab. Hanya kepalanya yang terlihat mengangguk. Sementara kedua matanya justru malah menatap kearah rumah Rani yang terlihat sederhana namun sepertinya nyaman untuk di tempati.“Loe mau sekalian mampir?” ajak Rani kemudian.“Oh, Nggak usah. Makasih,” balas Erwin sambil pamit berlalu pergi. Rani hanya angkat bahu. Lagipula tadi ia hanya basa – basi. Setelah menyadari Erwin hilang dari pandangan Rani berbalik. Melangkah masuk kedalam rumah.To Be continue. Next to cerbung Kala Cinta menyapa bagian 5Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.693 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen Cinta Romantis “Take My Heart” ~ 16

    Wah, baru ngeh kalo ini tu udah part 16 tapi belom end juga. Ngalahin rekord nie kayaknya. Bahkan The prince, the princess and mis. cinderela juga kalah. But gak papa deh, selama masih mau nulis nulis aja lah. Sejujurnya saia sendiri juga gak tau, Ni cerpen satu bakal end di part berapa. Tapi di usahain nggak lebih dari 20.Oke lah happy reading ya. Buat yang belum baca part kemaren, Baca dulu gih di Cerpen Cinta Romantis Take my heart part 15. "Bukan kah sudah cukup jelas?".Dan kali ini Ivan yakin tebakannya benar. Ternyata gadis itu….."Kalau saat kita sedang berduaan, Memakan bakso itu bisa menyebapkan kematian"."Ha" Mulut Ivan melongo. Jelas Terlihat seperti orang bodoh. Ia tidak salah dengar kan?. Apa Kalimat barusan benar benar baru keluar dari mulut Vio?.sebagian

  • Cerpen The Prince, The Princess, & Mis Cinderella ~ 10 {Update}

    Acara ngerpain blog. Yah terpaksa, sama seperti kata om mario barusan di Tv barusan. "Terpaksa kaya". So ya begini lah jadinya. Di update lagi. ^_^“Hufh”Untuk kesekian kalinya aku menghembuskan nafas berat sambil terus melangkah memasuki halaman kampus. Sebenarnya sejak tadi malam aku sudah berfikir untuk libur kuliah saja hari ini, tapi karena memikirkan tidak ada yang bisa ku lakukan di kostan, apalagi aku memang tinggal sendiri akhirnya aku nekat tetap datang. Bukannya apa, hari ini aku merasa ada firasat tidak enak. Aku takut kalau sampai kevin membuat rencana yang aneh – aneh. Apa lagi tingkahnya sejak beberapa hari ini memang sudah aneh.sebagian

  • Cerpen Cinta | Rasa yang Tertinggal ~ 04 / 05

    Nah, satu part lagi sebelum cerpen cinta rasa yang tertinggal ini ending ya. Masih kisah seputar cinta terpendam Tifany. So buat yang penasaran sama kelanjutan kisah mereka bedua bisa langsung simak kebawah. Dan untuk yang baru mau baca, bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya biar nyambung yang bisa langsung klik disini.Rasa Yang Tertinggal“ DOOORR!!!”.Alan kaget mendengar teriakan barusan. Kaget yang benar benar kaget, karena kebetulan selain sedang melamun ia juga tidak menduga kalau orang yang sedang di lamunkan akan menyapanya. Tidak, setelah melihat sikap anehnya tadi malam. "Ehem, gue boleh duduk disini kan?" tanya Tifany sambil tersenyum kiku. Apalagi ketika melihat tatapan Alan yang hanya diam menatapnya. Mencoba untuk bersikap santai, gadis itu segera duduk di sampingnya. Pandanganya lurus kedepan. Memperhatikan jalanan depan kampus yang tampak sedang rame ramenya. “Oh ya, soal sikap gue tadi malam. Sorry ya," kata Tifany nyaris bergumam. Matanya masih menatap lurus kedepan walau ia yakin Alan pasti sedang menatapnya heran. Sama seperti reaksi Septia tadi pagi saat ia mengucapkan maaf padanya."Loe kok diem aja? Marah ya?" jengah karena merasa sedari tadi ia seperti sedang ngomong sendirian, Tifany menoleh kearah Alan. Pria itu tidak langsung menjawab. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Tifany sama sekali tidak bisa menebak."Gue nggak marah," akhirnya Alan buka mulut setelah beberapa saat kemudian. "Cuma jujur gue merasa heran. Loe nggak biasanya gitu. Loe emangya kenapa? Ada masalah?" sambung Alan hati – hati.Tifany tersenyum sembari angkat bahu. Kepalanya kembali menatap kearah jalan sembari mulutnya bergumam santai. "Sedikit, ceritanya tadi malam itu gue lagi patah hati.""Patah hati?" ulang Alan terkejut. Tifany membalas dengan anggukan.Kali ini Alan tidak tau harus berkomentar apa. Matanya masih tertuju kearah wajah gadis yang duduk tepat di sampingnya. Berharap bisa mendengar cerita lebih banyak. Terus terang, saat ini ia benar benar kaget."Kemaren gue baru tau, kalau orang yang selama ini gue suka, ternyata diam – diam sudah punya pacar dan menjalin hubungan dengan cewek lain.” terang Tifany masih tanpa menoleh. Pandangannya urus kedepan. Menatap kendaraan yang terus berlalu lalang. Seolah – olah hal itu sangat menarik untuknya.Alan masih terdiam. Ia menatap miris gadis di sampingnya. Tatapannya kosong. Tapi Alan dapat melihat matanya yang berkaca –kaca. Sungguh, Alan tau bagaimana perih luka yang di rasakan Tifany. Bahkan ia berani bersumpah demi apapun, saat ini ia tau dengan pasti bagaimana sakitnya. Saat orang yang dicintai ternyata mencintai orang lain.“Dia siapa? Kenapa loe nggak pernah cerita sama gue?” tanya Alan lirih yang lebih mirip jika di sebut gumaman.“He he," Tifany tertawa sumbang. "Gimana gue bisa cerita kalau sebelum gue cerita loe pasti udah nyerocos duluan soal Septia,” protes Tifany setengah bercanda tapi hal itu justru membuat Alan merasa lebih bersalah. Diam – diam di masukannya kembali sebuah kotak kecil yang sedari tadi ada ditangannya kedalam saku. Kemudian tangannya beralih mengengam tangan Tifany. Erat, Sangat Erat.“Fan, gue…"“Udahlah, loe tenang aja. Gue udah baikan kok. Lagian septia itu kan sahabat gue juga. Anaknya baik lagi. Gue bisa jamin loe nggak akan menyesal kalau bisa jadian sama dia,” potong Tifany yang lagi – lagi membuat Alan terdiam. Gadis itu menatap sahabatnya sambil tersenyum. Tapi gue yang pasti akan merasa menyesal karena udah kehilangan loe Al," sambungnya dalam hati.“Oh ya Al. Gue boleh nanya sesuatu sama loe nggak? Tapi loe harus jawab dengan jujur ya?" Tifany kembali buka mulut setelah lama keduanya terdiam hanyut dalam pikiran masing – masing.“Apa?" Untuk Sejenak Tifany menarik nafas dalam – dalam sembelum kata – kata itu meluncur mulus dari mulutnya.“Antara cinta dan sahabat. Loe pilih mana? Sahabat loe, atau orang yang loe cintai?”"Loe apa banget sih," Alan merasa terusik dengan pertanyaan itu. "Yee, gue kan cuma nanya," Tifany memajukan mulutnya kesel. "Lagian loe kan tinggal jawab apa susahnya coba. Loe tinggal pilih cinta atau sahabat?” "Tapi kenapa gue harus memilih?" Alan masih terlihat diak nyaman."Ya gue bilang kan ' Seandainya'. Udah, loe jawab aja. Buruan!"Lama Alan terdiam. Mungkin ia sedang memikirkan jawaban yang harus ia berikan. Setelah menghela nafas untuk sejenak, mulutnya menjawab dengan tegas. "“Gue akan memilih orang yang gue cintai."Lagi – lagi Tifany tersenyum. Senyum yang tak jelas apa maknanya. "Gue boleh tau alasannya?"“Gue punya dua alasan. Pertama, karena menurut gue seorang sahabat tidak mungkin akan meminta gue untuk memilih. Bahkan gue yakin tanpa diminta pun dia akan mendukung gue untuk mendapatkan orang yang gue cintai," balas Alan sambil membalas tatapan Tifany yang masih terkunci untuknya. Lagi – lagi Tifany tersenyum. Kepalanya perlahan mengangguk paham. Alan benar, seorang sahabat tidak punya hak untuk memintanya memilih. Ia merasa sangat konyol karena sebelumnya berharap Alan akan memberikan jawaban yang berlawanan. Namun begitu, tak urung dadanya kembali sesak. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan kehadapan.“Dan yang kedua…"Alan tidak sempat menyelesaikan ucapanya karean Tifany sudah terlebih dulu bangkit berdiri. Bahkan gadis itu langsung berteriak sembari berlari."Septia, awas!"Masih tidak mengerti, Alan mengalihkan pandangannya. Sosok yang sedari tadi duduk disampingnya kini berlari dengan cepat meninggalkannya. Untuk sejenak, Alan terpaku. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat mengetahui alasan Tifany melakukan hal itu. Tak jauh di depannya tampak Septia yang dengan santai menyeberang jalan dengan headset yang terpasang di telinga tanpa menyadari dari arah kanan tampak sebuah bus yang melaju dengan kencangnya."Brank!"Suara tabrakan disusul dengan suara teriakan orang orang di sekeliling segera terdengar. Sementara Alan malah terpaku. Ia tahu harusnya ia segera berlari untuk membantu, tapi sayang tubuhnya kini justru diam tak bergerak. Tatapannya kosong ketika dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan gadis yang di cintainya kini terbaring setelah sebelumnya terlempar jatuh dengan bersimpuh darah. Seorang gadis yang sangat ia cintai. Dan demi Tuhan, kali ini Alan benar – benar merasakan dunianya telah gelap.Next to last part cerpen cinta rasa yang tertinggal.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 04 Of 05Jumlah kata : 882 WordsGenre : Remaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*