Cerpen Kala Cinta menyapa part 9

Huwakakkaka….. kayaknya ini part paling pendek yang pernah tercipta deh. Tapi gak papa deh, namanya juga versi expres. Abis di tagih mulu si. Phan saia udah bilang saia udah sibuk di dunia nyata. So, kalau mau baca sialahkan. Gak mau ya suka suka kalian..
Oke?…. SYIP!
Ah satu lagi, tadi si lagi asik nulis. Eh ada yang ngajak chatingan. Ya sudah konsentrasi langsung buyar. So segini aja deh.


Credit gambar : ana Merya
"Ya ela, loe kenapa?. Kok mukanya sedari tadi di tekuk gitu?. Gantengnya ilang tau" Komen Joni sambil menatap prihatin sahabat yang duduk di sampingnya. Sementara tangannya dengan santai menyuapkan kuah bakso kedalam mulut.
"Diem loe. Gue lagi galau ni".
"Brus"…
"Sialan loe" Bentak Erwin sambil berdiri dan mengusap wajahnya yang terkena semburan ala dukun dari mulut Joni.
"Loe bilang apa barusan?. Galau?" tanya Joni tanpa rasa bersalah sedikitpun padahal Erwin sudah jelas – jelas sedang melotot menatapnya.
Tanpa menjawab dan berkata apapun Erwin langsung berdiri. Namun belum sempat kakinya melangkah, tangannya sudah terlebih dahulu di cekal oleh Joni.
"Loe mau kemana?".
"Kamar mandi" Balas Erwin ketus.
"Eh, tunggu dulu. Loe belom jawab pertanyaan gue. Loe galau kenapa?".
"Belum pernah lihat sendal melayang ya?" Tanya Erwin lirih namun cukup untuk membuat bulu roma Joni berdiri semua. Sumpah ia merinding. Apalagi saat tatapan mata keduanya beradu. Ah benar – benar aura kuburan yang menyebar. (???).
Begitu cekalaan terlepas, Erwin segera melesat kearah kamar mandi. Mencuci bersih wajahnya sambil tak henti merutuk dalam hati. Sial banget si nasipnya hari ini?.
Dari Kamar kecil Erwin terus melangkah. Tapi bukan kekantin karena arah yang di ambil jelas – jelas berbeda. Dan tanpa ia sadari ia sudah berhenti dan duduk dengan diam di taman belakang kampus.
Dan saat matanya menatap pot mawar yang ada tak jauh darinya sebuah senyuman bertenger di bibir. Tanpa di cegah atau di rencanakan kejadian beberapa waktu yang lalu kembali terlintas di benaknya saat mendapati Rani yang jatuh tersungkur dua kali. Bahkan saat itu ia dengan suka rela mengendong gadis itu ke ruang UKS kampusnya. Hal yang sepertinya mustahil ia lakukan.
Secepap ingatan itu terbayang secepat itu juga kesadarannya pulih. Dengan cepat ia bangkit berdiri sambil memukul – mukul kepalanya.
"Nggak nggak nggak, gue ngga mungkin suka sama dia" Ujar Erwin sambil mengeleng kepala dengan keras.
" Loe suka sama siapa emang?".
Mendengar suara yang tak diundang refleks Erwin langsung berbalik. Dan…
"Huwaaaaaaaaaaaaa…".
Tanpa di komando ia segera meloncat kesamping. Namun sepertinya nasipnya tidak terlalu mucur. Pot bunga yang masih belum di sekolahin (???) bertenger di sana. Membuat Erwin yang kehilangan keseimbangan karena tidak mampu memnahan gerakannya langsung sukses terdampar di rumput.
"Huwahahhaha….. Dia jatoh. Emang wajah gue segitu menyeramkan nya ya?. Padahal imut gini juga. Ayo sini gue bantuin. Kalau nggak salah dulu loe katanya pernah ngendong gue yang jatoh karena tu pot juga deh" kata sosok yang mengagetkan itu yang tak lain adalah Rani yang kini sedang mengulurkan tangan kearah Erwin yang masih 'Ndeprok' di rumput.
"Loe hantu ya?" Tunjuk Erwin lurus.
"Gue Rani " Balas Rani polos n santai.
"Kok muncul tiba – tiba".
"Bukan gue yang muncul tiba – tiba. Loe nya aja yang sedari tadi nggak nyadar. Mana tadi pake acara senyum – senyum sendiri lagi" Terang Rani lagi.
Erwin terdiam. Ingatannya mencoba untuk mencerna kejadian sebelumnya. Masa iya, ia tidak menyadari kehadiran Rani.
"Jangan – jangan tadi loe lagi ngelamunin cewek. Makanya loe senyum – senyum nggak jelas. Iya kan?" Pertanyaan Rani kembali mambawa Erwin ke waktu sekarang.
"Jangan ngasal" Bantah Erwin ketus sambil mencoba bangkit berdiri. Mengabaikan uluran tangan Rani yang masih terjurus kearahnya.
"Terus tadi ngapain pake bilang nggak mungkin suka segala. Hayo ngaku….." Kejar Rani lagi membuat Erwin asli mati gaya dan mendadak gugup. Astaga, ini bener – benar hal yang begitu memalukan baginya.
"Loe salah denger".
"Nggak mungkin" Bantah Rani cepat.
"Terus kalau gue suka sama cewek memang kenapa?. Masalah buat loe?" Serang Erwin balik.
"Iya juga ya?. Emang nggak masalah si" Rani tampang mengangguk – angguk membenarkan. Sementara Erwin hanya mencibir sinis.
"Asal jangan suka sama gue udah lah" Sambung Rani lirih sambil berbalik pergi.
Namun langkah Rani langsung terhenti. Merasa kaget saat mendapati tangannya berada dalam gengaman Erwin.
"Kenapa?" Tanya Rani dengan mata sedikit menyipit.
Erwin tidak langsung menjawab. Bingung juga mau berkata apa. Yang ia tau tangannya secara refleks bergerak sendiri. :p
"Kalau cewek yang gue suka itu beneran loe gimana?".
"Apa?".
"Kalau Gue beneran Suka sama loe gimana?" Ulang Erwin penuh penegasan.
"Tunggu dulu. Maksutnya, Loe. Erwin yang katanya seroang idola kampus, suka sama gue?" Tanya Rani bingung sekaligus tidak percaya.
Erwin membalas dengan anggukan.
"Huwahhaha…." Rani langsung ngakak.
"Memang nya ada yang lucu?" Tanya Erwin mulai gemes.
"Tentu saja. Ntu mah gak mungkin. Loe pasti mau ngerjain gue ya kan?. Ya donk!".
"Ha ha ha".
Dan tawa Rani langsung terhenti saat mendapati tiada reaksi dari Erwin. Justru tatapan tajam itu malah membuatnya mendadak merinding.
"Loe nggak serius suka sama gue kan?" tanya Rani hati – hati.
"Gue serius" Balas Erwin tegas.
Untuk sejenak Rani terdiam. Otaknya di paksa untuk berkerja secara cepat dan beberapa saat kemudian.
"Oke, tunggu bentar. Biar gue pikir dulu. Tapi sebelum itu loe bisa lepasin tangan gue dulu kan?" Pinta Rani lirih.
Seolah baru menyadari Erwin segera melepaskan genggaman tangannya. Sementara Rani terlihat menarik nafas lega.
"Erwin suka sama gue?" gumam Rani lirih. Membuat Erwin yang mendengarnya merasa sebel. Hei, dia kan idola. Tapi kenapa justru di tembak olehnya terlihat menyedihkan bagi Rani. Ini si jelas pencemaran nama baik namanya.
"TIDAK!!!!. MAK TOLONG SAIA!!!" Teriak Rani sambil Lari tunggang langgan pake jurus langkah seribu.
Sehingga dalam sekejap mata telah raib bin hilang dari pandangan Erwin yang melongo menatap kepergiannya.
Bersambung

Random Posts

  • Cerpen Tentang Aku dan Dia Part 7 {Update}

    Sekilas, penulis baca ulang cerpen tentang aku dan dia ini, wukokokoko. Kok berantakan gini yak?. Bentar sekolah bentar kampus. Hadeeeeh…Satu lagi bukti kalau penulis bener bener masih amatir dalam dunia tulis menulis. ho ho hoOke deh lanjut ke acara edit mengedit Cerpen tentang aku dan dia yang sejenak telah terlupakan.#Lebay…Credit Gambar imut : Ana MeryaTumben banget masih pagi gini suasananya cerah" kata anya sambil melirik yang asik mencoret coret buku nya. Biasa, ceritanya sih lagi belajar nulis cerpen."ho'oh. Nggak lagi pengen makan orang lagi kayak nya" sambung nanda.Sementara gresia tetap cuek menulis kan ide ide yg kebetulan beberapa hari ini berseliweran di otak-nya yang jelas pas – pasan. Ia lebih memilih diam dan pura – pura tak tau kalau kata – kata sindiran itu di tujukan untuknya.sebagian

  • Cerpen Cinta Sedih: Sebening Cinta Embun

    Sebening Cinta EmbunOleh: Novie An-Nuril KhiyarEmbun. Aku memanggilnya embun. Titik – titik air yg jatuh dari langit di malam hari dan berada di atas dedaunan hijau yang membuatku damai berada di taman ini, seperti damai nya hatiku saat berada disamping wanita yang sangat aku kagumi, embun.“ngapain diam di situ, ayo sini rei…” teriakan embun yang memecahkan lamunanku. Aku lalu menghampirinya, dan tersenyum manis dihadapan nya.“gimana kabarmu embun?”“seperti yang kamu lihat, tak ada kemajuan. Obat hanyalah media yang bertujuan memperparah keadaanku. Dan lihat saja saat ini, aku masih terbaring lemah dirumah sakit kan?”, Keluhnya.“obat bukan memperparah keadaanmu, tapi mencegah rasa sakitnya. Embun,, kamu harus optimis ya”.“hei rei, aku selalu optimis. Kamu nya aja yang cengeng. Kalo jenguk aku pasti kamu mau nangis,, iya kan? Udahlah rei,,, aku udah terima semua yang di takdirkan Tuhan,, dan saatnya aku untuk menjalaninya, kamu jgn khawatir, aku baik-baik aja kok”. Benar kata embun, aku selalu ingin menangis ketika melihat keadaannya. Lelaki setegar apapun, pasti akan sedih melihat keadaannya, termasuk aku.***Sudah 2 minggu tak kutemui senyum embun di sekolah. Sangat sepi yang aku rasakan. Orang yang aku cintai sedang bertaruh nyawa melawan kanker otak yang telah merusak sebagian hidupnya. Apa? Cinta? Apakah benar aku mencintainya??? Entahlah,, aku hanya merasakan sakit di saat melihat dia seperti ini. ya Tuhan, izinkan aku menggantikan posisinya. Aku tak ingin melihat wanita yang aku sayangi terbaring lemah di sana. Tolong izinkan aku.Seperti biasa, aku menyempatkan diri setelah pulang sekolah untuk pergi menjenguk embun di rumah sakit.“hai embun,, bagaimana kabarmu?”“sudah merasa lebih baik di bandingkan hari kemarin. Gimana keadaan sekolah kita?”“baik juga. Cuma… ada sedikit keganjalan.”“keganjalan apa rei?”“karena di sana tak kutemukan senyummu embun….”“ada ada aja kamu rei,,, hahaha. O iya, kata dokter, besok aku udah di izinin pulang lho. Aku senang banget. Kamu bisa kan jemput aku di sini”.“apa? Serius?” tanyaku kaget dan senang juga.“sejak kapan aku bisa bohong sama kamu. Aku serius reivan algibran. Hehehhe”.“gak perlu sebut nama lengkapku embun azzula,, aku percaya kok”. Senang sekali bisa melihat senyum dan tawamu embun,,, bathinku.***Waktu terasa cepat berlalu, karena sekarang aku sudah berada tepat di depan pintu kamar embun. Aku mengetuknya dan…” pagi embun,,”“pagi juga reivan,, gimana, kamu dah siapkan antar aku kemanapun aku mau…?”“siap tuan putri,, aku selalu siap mengantarmu kemanapun engkau mau. Heheheh”“ok,, sekarang aku pengen ke taman. Tempat kita pertama kali bertemu rei,, kamu bisa antar aku ke sana kan?”.“siip, berangkat”.Taman ini menjadi tempat favorit kami. Sedih, suka, marah akan kami lontarkan di tempat ini. Tempat yang penuh dengan bunga-bunga yang kami tanam dari nol. Ya, taman ini karya kami. Taman yg terletak tepat di belakang gedung sekolah. 1 petak tanah yg tak pernah tersentuh oleh tangan manusia, ntah apa alasan mereka. Tanah yg tandus, bunga yg layu telah kami sulap menjadi taman cinta yang begitu indah, yang di tumbuhi bunga2 kesukaan kami. Sejak embun di rawat di rumah sakit, aku tak pernah mengunjungi taman ini, walaupun dekat dengan sekolahku.“rei, kenapa semua bunga di sini layu,, apakah tak pernah kamu rawat?”. Tanyanya. Apa yang harus aku jawab,, aku tau, dia pasti marah.“mereka layu karena tak ada embun di sini”. jawabku seadanya.“embun? Bukannya tiap pagi selalu ada embun yg membasahinya?”“tak ada yg lebih berarti selain embun azzula bagi tanaman ini, termasuk aku”. Jelasku yg membuat dia terdiam sesaat.“maksud kamu?”, dia menatapku dalam.“tak ada,, mereka cuma butuh embun azzula yg merawatnya, bukan embun biasa dan aku. Mereka kesepian, karena sudah 2 minggu tak melihat senyum dan tawamu embun”.“ya, aku menyadarinya itu. Sahabat,,, maafin embun ya,,, maaf selama ini embun gak bisa merawat sahabat serutin kemarin. Itu karena kesehatan embun yg semakin berkurang. Dulu embun bisa berdiri sendiri, sekarang embun harus menggunakan tongkat, kursi roda dan bahkan teman. Teman seperti rei, yg bisa memapah embun. Thanks y rei..”“eh,, ii iya, iya embun, sama sama.”Sudah seharian kami di sini,, tanpa di sadari embun terlelap di pangkuanku. Menetes airmataku ketika melihat semua perubahan fisik yg terjadi padanya. Wajahnya yg pucat, tubuhnya yg semakin kurus, dan rambutnya yg semakin menipis, membuat aku kasihan. Kenapa harus embun yg mengalaminya? Tapi aku juga salut, tak pernah ada airmata di wajahnya. Dia sangat menghargai cobaan yg diberikan Tuhan kepadanya, dia selalu tersenyum, walaupun sebenarnya aku tau, ada kesedihan dibalik senyum itu.“rei…” desahnya“ia embun. Kamu dah bangun ya? Kita pulang sekarang yuk,,, “ ajakku ketika dia sadar dari mimpinya.“aku mau di sini terus rei,, kamu mau kan nemenin aku. Aku mau menunggu embun datang membasahi tubuhku. Sudah lama sekali aku tak merasakannya”.“tapi angin malam gak baik buat kesehatan kamu”.“aku tau, tapi untuk terakhir kali nya rei,,, pliss…”.“maksud kamu apa? Aku gak mau dengar kalimat itu lagi”.“gak ada maksud apa-apa,,, kita gak tau takdir kan. Dah ah,, kalo kamu gak mau nemenin aku, gak apa-apa. Aku bisa sendiri”.“gak mungkin aku gak nemenin kamu embun,, percayalah… aku akan selalu ada untukmu”.“ gitu dong,, itu baru sahabat aku.” Ucapnya sambil melihat bunga-bunga di sekelilingnya.“embun…”“ya,,,”“kamu suka dengan embun?”“sangat. Aku sangat menyukainya. Embun itu bening, sangat bening. Dan bening itu menyimpan sejuta kesucian. Aku ingin seperti embun, bening dan suci. Menurutmu bagaimana?”“aku juga mencintai embun. Mencintai embun sejak mengenal embun”.“rei, kamu tau… aku ingin seperti embun. Embun yang bisa hadir dan memberi suasana beda di pagi hari. Embun yg selalu di sambut kedatangannya oleh tumbuhan”.“kamu sudah menjadi embun yg kamu inginkan.”“maksudmu?”“tak ada”.Aku sengaja merahasiakan perasaanku terhadapnya. Karena aku tau, tak ada kata “ya” saat aku menyatakan perasaanku nanti. dia tak mau pacaran, dan dia benci seorang kekasih, ntah apa alasannya.Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Embun pun terlelap kelelahan di sampingku.“embun,,,, embun,,,,,, bangun embun,, sekarang sudah pagi. Katanya mau melihat embun, ayo bangun” pujukku,, tapi tak kudengarkan sahutan darinya.“ayolah embun, bangun. Jangan terlelap terlalu lama…” aku mulai resah, apa yg terjadi. Kurasakan dingin tubuhnya, tapi aku menepis fikiran negatif ku. Mungkin saja dingin ini berasal dari embun pagi.“embun sayang,, ayo bangun. Jangan buat aku khawatir”. Lagi lagi tak kudengarkan sahutannya. Tubuhnya pucat, dingin, kaku,,. Aku mencoba membawanya kerumah sakit dengan usahaku sendiri. Dan,,, “ kami sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Embun sudah menghadap sang pencipta” itulah kata-kata dokter yg memeriksa embun yg membuat aku bagai tersambar petir. Aku lemah, jatuh, dan merasa bersalah. Kalau tak karena aku yang mengajaknya ke taman, mungkin tak kan seperti ini. Ya Tuhan, kenapa ini terjadi… aku tak sanggup.***Beberapa bulan kemudian….Aku temui surat berwarna biru dan ada gambar embun di surat itu.Teruntuk reivan alghibranEmbun…Titik titik air bening yg jatuh dari langitDan membasahi kelopak bunga yg aku sukai.Aku ingin seperti embun, yg bisa hadir di hati orangYg menyayanginya. Tapi aku tak menemui siapa orang itu???Rei … makasih ya, dalam waktu terakhirku, kamu bisa menjadi embun di hatiku. Dan tak kan pernah aku lupakan itu. Rei,, maaf kalau sebenarnya aku suka sama kamu. Aku sengaja tak mengungkapkannya, karena aku tau.. sahabat lebih berharga di banding kekasih.O ia rei,,, tolong rawat taman kita ya,, aku gak mau dia layu karena tak ada yg memperhatikannya lagi. Karena taman itu adalah tempat pertemuan kita pertama dan terakhir kalinya.sekali lagi,, makasih dah jadi embun selama aku hidup dan tolong,, jadiin aku embun di hatimu ….salam manis… embun azzula.“Embun,,,kamu tau, pertama aku kenal kamu, kamu telah menjadi embun dihidupku, yang menyejukkan hatiku. Dan kamu adalah butiran bening yang selalu buat aku tersenyum, seperti embun yang selalu buatmu tersenyum.Taman ini, bukan aku yg akan merawatnya, tapi kita. Dan taman ini tak akan pernah mati, karena kamu selalu ada di sini, di sini rumah mu.” Kalimat terakhirku ketika meletakkan setangkai bunga mawar yg aku ambil dari taman di atas pusaranya. Pusara yg terletak di tengah-tengah taman embun. Dan kunamai taman itu dengan nama EMBUN. embun.. yang tak kan pernah mati…the endFb : Novie An-Nuril Khiyartwitt : @noviepurple19

  • ANTARA CINTA dan KELUARGA

    ANTARA CINTA dan KELUARGAoleh PURWATIHidup akan menjadi indah selama kita masih memiliki dan berada disamping orang –orang yang kita sayangi, seperti anita yang dimana dia masih memiliki kedua orang tua, adik dan kakak yang selalu mengingatkannya dikala dia melakukan suatu kesalahan, anita yang masih berumur 16 tahun dan duduk dibangku sekolah SMK yang dimana dia masih melewati masa-masa pubertas sama seperti yang dirasakan oleh remaja yang lain.Pada saat itu anita menyimpan perasaan sayang pada seorang cowok yang bernama “Andre”.tanpa dia sadari bahwa dari awal dia masuk dibangku sekolah SMK anita sudah dilarang oleh keluarganya untuk berpacaran,tetapi anita tetap saja menentang perintah orang tuanya itu,anita dan andre menjalani hubungan berpacaran sudah hampir dua tahun. Dia menjalani semua itu tanpa sepengetahuan dari orang tua anita,apakah ini kekonyolan dari sebuah cinta ? seperti ada pepatah kalau “ Cinta itu Buta “ yang bisa membutakan mata dan hati bagi insan yang merasakannya seperti “Anita”… Andre selalu ada disaat Anita membutuhkannya,disaat anita merasa sedih dan bahagia.mungkin itu yang membuat anita menganggap andre adalah segalanya dalam hidup anita,hari-harinya selalu dia jalani dengan andre meskipun mereka berpacaran dengan cara long distance,karena andre bekerja dan sudah jelas jauh dari anita,,tetapi anita tidak menyadari semua itu. Suatu ketika anita memasuki bangku perkuliahan,dari sinilah kedua orang tua dan kakaknya mengetahui tentang hubungannya dengan andre melalui seluler anita yang berisi sms-sms dari andre yang selama ini dia dan andre sembunyikan,dan tanpa sepengetahuan anita tiba-tiba andre berkunjung kerumah anita,andre tidak pernah mendapat respon baik dari keluarga anita karena sudah dari awal keluarga anita tidak menyukai dan menyetujui hubungan mereka.Pada saat itu keluarga anita marah besar sampai ayah dan ibu anita jatuh sakit mengetahui perbuatan anita yang selama ini menentang perintah mereka mulai saat itulah anita diberi pilihan antara keluarga, kuliah atau pacar.Pada suatu malam anita berada pada perasaan bingung dengan pilihan yang diberikan oleh orang tuanya,, dia tidak ingin melepaskan pacarnya tetapi dia juga tidak ingin melepaskan keluarga dan kuliahnya.tapi dia harus menentukan pilihan yang harus dia ambil, akhirnya anita memilih keluarga dan kuliahnya dia berjanji pada orang tuanya untuk tetap fokus pada kuliah dan masa depannya. Dia tidak akan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya.Akhirnya anita sekarang berusaha untuk mengembalikan rasa kepercayaan orang tuanya pada dirinya dan dia berkomitmen untuk selalu memandang masa depannya.>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> sekian <<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<Cinta yang sebenarnya itu ialah cinta yang nantinya akan diberikan oleh Tuhan pada kita,dan cinta yang tanpa restu dari kedua orang tua tidak akan pernah abadi untuk selamanya.Nama : PURWATIEmail : watikyupz@yahoo.com

  • Cerpen Cinta 2013 ‘Tentang Rasa ~ 06 {Update}

    Cerpen Cinta 2013 Tentang Rasa bagian ke 6. Apa ada yang bingung?, katanya kemaren end kok masih nyambung?. he he he. Itu end bo'ongan. Hasil imajinasi terjun bebasnya jhon jilid satu. Nah kalo yang nie baru Cerpen cinta tentang rasa Versinya Star Night. so cekidot….Part sebelumnya silahkan baca :-} Cerpen cinta Tentang Rasa Part 5 “ Al, gimana keadaan loe?” sapa Gresia sambil meletakan keranjang buah di meja samping.“Udah mendingan kok. Besok juga udah boleh pulang kok” sahut Alan sambil tersenyum dan berusaha bangkit duduk. Refleks Anya membantunya . Sedikit miris melihat kodisi alan dengan perban dikepala dam kakinya. Demi menyelamatkan Anggun justru malah ia yang terluka. Untung saja tidak terlalu parah. Namun tetap mampu untuk menahanya berdiam diri dirumah sakit.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*