Cerpen Kala Cinta menyapa part 9

Huwakakkaka….. kayaknya ini part paling pendek yang pernah tercipta deh. Tapi gak papa deh, namanya juga versi expres. Abis di tagih mulu si. Phan saia udah bilang saia udah sibuk di dunia nyata. So, kalau mau baca sialahkan. Gak mau ya suka suka kalian..
Oke?…. SYIP!
Ah satu lagi, tadi si lagi asik nulis. Eh ada yang ngajak chatingan. Ya sudah konsentrasi langsung buyar. So segini aja deh.


Credit gambar : ana Merya
"Ya ela, loe kenapa?. Kok mukanya sedari tadi di tekuk gitu?. Gantengnya ilang tau" Komen Joni sambil menatap prihatin sahabat yang duduk di sampingnya. Sementara tangannya dengan santai menyuapkan kuah bakso kedalam mulut.
"Diem loe. Gue lagi galau ni".
"Brus"…
"Sialan loe" Bentak Erwin sambil berdiri dan mengusap wajahnya yang terkena semburan ala dukun dari mulut Joni.
"Loe bilang apa barusan?. Galau?" tanya Joni tanpa rasa bersalah sedikitpun padahal Erwin sudah jelas – jelas sedang melotot menatapnya.
Tanpa menjawab dan berkata apapun Erwin langsung berdiri. Namun belum sempat kakinya melangkah, tangannya sudah terlebih dahulu di cekal oleh Joni.
"Loe mau kemana?".
"Kamar mandi" Balas Erwin ketus.
"Eh, tunggu dulu. Loe belom jawab pertanyaan gue. Loe galau kenapa?".
"Belum pernah lihat sendal melayang ya?" Tanya Erwin lirih namun cukup untuk membuat bulu roma Joni berdiri semua. Sumpah ia merinding. Apalagi saat tatapan mata keduanya beradu. Ah benar – benar aura kuburan yang menyebar. (???).
Begitu cekalaan terlepas, Erwin segera melesat kearah kamar mandi. Mencuci bersih wajahnya sambil tak henti merutuk dalam hati. Sial banget si nasipnya hari ini?.
Dari Kamar kecil Erwin terus melangkah. Tapi bukan kekantin karena arah yang di ambil jelas – jelas berbeda. Dan tanpa ia sadari ia sudah berhenti dan duduk dengan diam di taman belakang kampus.
Dan saat matanya menatap pot mawar yang ada tak jauh darinya sebuah senyuman bertenger di bibir. Tanpa di cegah atau di rencanakan kejadian beberapa waktu yang lalu kembali terlintas di benaknya saat mendapati Rani yang jatuh tersungkur dua kali. Bahkan saat itu ia dengan suka rela mengendong gadis itu ke ruang UKS kampusnya. Hal yang sepertinya mustahil ia lakukan.
Secepap ingatan itu terbayang secepat itu juga kesadarannya pulih. Dengan cepat ia bangkit berdiri sambil memukul – mukul kepalanya.
"Nggak nggak nggak, gue ngga mungkin suka sama dia" Ujar Erwin sambil mengeleng kepala dengan keras.
" Loe suka sama siapa emang?".
Mendengar suara yang tak diundang refleks Erwin langsung berbalik. Dan…
"Huwaaaaaaaaaaaaa…".
Tanpa di komando ia segera meloncat kesamping. Namun sepertinya nasipnya tidak terlalu mucur. Pot bunga yang masih belum di sekolahin (???) bertenger di sana. Membuat Erwin yang kehilangan keseimbangan karena tidak mampu memnahan gerakannya langsung sukses terdampar di rumput.
"Huwahahhaha….. Dia jatoh. Emang wajah gue segitu menyeramkan nya ya?. Padahal imut gini juga. Ayo sini gue bantuin. Kalau nggak salah dulu loe katanya pernah ngendong gue yang jatoh karena tu pot juga deh" kata sosok yang mengagetkan itu yang tak lain adalah Rani yang kini sedang mengulurkan tangan kearah Erwin yang masih 'Ndeprok' di rumput.
"Loe hantu ya?" Tunjuk Erwin lurus.
"Gue Rani " Balas Rani polos n santai.
"Kok muncul tiba – tiba".
"Bukan gue yang muncul tiba – tiba. Loe nya aja yang sedari tadi nggak nyadar. Mana tadi pake acara senyum – senyum sendiri lagi" Terang Rani lagi.
Erwin terdiam. Ingatannya mencoba untuk mencerna kejadian sebelumnya. Masa iya, ia tidak menyadari kehadiran Rani.
"Jangan – jangan tadi loe lagi ngelamunin cewek. Makanya loe senyum – senyum nggak jelas. Iya kan?" Pertanyaan Rani kembali mambawa Erwin ke waktu sekarang.
"Jangan ngasal" Bantah Erwin ketus sambil mencoba bangkit berdiri. Mengabaikan uluran tangan Rani yang masih terjurus kearahnya.
"Terus tadi ngapain pake bilang nggak mungkin suka segala. Hayo ngaku….." Kejar Rani lagi membuat Erwin asli mati gaya dan mendadak gugup. Astaga, ini bener – benar hal yang begitu memalukan baginya.
"Loe salah denger".
"Nggak mungkin" Bantah Rani cepat.
"Terus kalau gue suka sama cewek memang kenapa?. Masalah buat loe?" Serang Erwin balik.
"Iya juga ya?. Emang nggak masalah si" Rani tampang mengangguk – angguk membenarkan. Sementara Erwin hanya mencibir sinis.
"Asal jangan suka sama gue udah lah" Sambung Rani lirih sambil berbalik pergi.
Namun langkah Rani langsung terhenti. Merasa kaget saat mendapati tangannya berada dalam gengaman Erwin.
"Kenapa?" Tanya Rani dengan mata sedikit menyipit.
Erwin tidak langsung menjawab. Bingung juga mau berkata apa. Yang ia tau tangannya secara refleks bergerak sendiri. :p
"Kalau cewek yang gue suka itu beneran loe gimana?".
"Apa?".
"Kalau Gue beneran Suka sama loe gimana?" Ulang Erwin penuh penegasan.
"Tunggu dulu. Maksutnya, Loe. Erwin yang katanya seroang idola kampus, suka sama gue?" Tanya Rani bingung sekaligus tidak percaya.
Erwin membalas dengan anggukan.
"Huwahhaha…." Rani langsung ngakak.
"Memang nya ada yang lucu?" Tanya Erwin mulai gemes.
"Tentu saja. Ntu mah gak mungkin. Loe pasti mau ngerjain gue ya kan?. Ya donk!".
"Ha ha ha".
Dan tawa Rani langsung terhenti saat mendapati tiada reaksi dari Erwin. Justru tatapan tajam itu malah membuatnya mendadak merinding.
"Loe nggak serius suka sama gue kan?" tanya Rani hati – hati.
"Gue serius" Balas Erwin tegas.
Untuk sejenak Rani terdiam. Otaknya di paksa untuk berkerja secara cepat dan beberapa saat kemudian.
"Oke, tunggu bentar. Biar gue pikir dulu. Tapi sebelum itu loe bisa lepasin tangan gue dulu kan?" Pinta Rani lirih.
Seolah baru menyadari Erwin segera melepaskan genggaman tangannya. Sementara Rani terlihat menarik nafas lega.
"Erwin suka sama gue?" gumam Rani lirih. Membuat Erwin yang mendengarnya merasa sebel. Hei, dia kan idola. Tapi kenapa justru di tembak olehnya terlihat menyedihkan bagi Rani. Ini si jelas pencemaran nama baik namanya.
"TIDAK!!!!. MAK TOLONG SAIA!!!" Teriak Rani sambil Lari tunggang langgan pake jurus langkah seribu.
Sehingga dalam sekejap mata telah raib bin hilang dari pandangan Erwin yang melongo menatap kepergiannya.
Bersambung

Random Posts

  • Cerpen Romantis Tentang Aku Dan Dia Part 3 {Update}

    "Alon alon asal kelakon", Pepatah yang di ajarkan 'Mak" dulu yang sekarang sedang di praktekan. Yups, Acara edit mengedit masih berlanjut maksutnya. Inget kan part sebelum nya di Cerpen remaja tentang aku kan dia part 2. Nah ini lanjutannya.Bagi yang sudah baca ya nggak papa. Namanya juga update yang dulu.Bagi yang belum, silahkan di baca dulu.Penulis lagi nggak mood bikin cerpen yang baru lagi ataupun lanjutin cerpen yang udah ada. Cerpen terbaru take my heart misalnya. Ini semua gara – gara copaser yang ngaku ngaku cerpen aku itu hasil karyanya dia. Huuuuu…Credit gambar : Ana Merya"Kenapa loe" Tanya Anya heran pas dilihatnya Gresia yang baru masuk kekelas dengan tampang super kusut."Gue Beneran lagi pengen makan orang nie" Sahut Gresia sambil merebahkan kepalanya di meja."WHAT?" Ujar Anya dan Nanda bersamaan."Mau jadi sumanto versi cewek loe" Ledek Anggun.sebagian

  • Cerpen Cinta Sedih: EVERLASTING

    EVERLASTINGOleh Bella Danny JusticeSaat pertama kali gadis itu menginjakan kakinya dirumahku, aku sudah menyukainya. Tak peduli bahwa ia adik angkatku, aku sangat menyukainya. Wajah lugunya serta senyum polos yang selalu ia tunjukkan membuat perasaan ini semakin tidak karuan. Bertahun-tahun aku menahan perasaanku karena aku tau mama dan papaku tidak akan pernah mengizinkannya sampai kapanpun.Avia, gadis kecil yang dibawa orangtuaku dari sebuah panti asuhan itu kini tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan lembut. Dari awal, aku tidak pernah bersikap baik kepadanya, aku tidak pernah menjawab ketika ia bertanya, aku tidak pernah menunggunya untuk berangkat ke sekolah bersama, dan aku tidak pernah menghiraukan keberadaannya…aku lakukan semua itu supaya aku tidak merasa bersalah karna telah menyukai adik angkatku sendiri.Bahkan Raina, teman dekatku sejak SD menyalahkan perasaanku. Ia bilang bahwa aku rupayanya sudah gila. Ia bilang kenapa tidak orang lain dan kenapa harus adik angkatku. Aku hargai setiap perkataannya karena dia adalah teman baik ku, tapi aku bisa berkata apa? Inilah aku! Hatiku tidak akan berubah walau seluruh orang di dunia berkata cintaku ini mustahil!“I’m sick of this life, i just wanna scream how could this happen to me…”Simple Plan – Untitled“kakak! Ka Niko! Ditunggu mama sama papa untuk makan malam dibawah. Cepetan ya kak!” Seru Via yang membuyarkan lamunanku saat itu. Aku tidak menjawabnya, aku malah pergi ke rumah Raina dan makan malam disana. Orangtua Raina tidak keberatan harus semeja makan denganku karena mereka juga kenal dekat dengan keluargaku dan aku sering sekali berkunjung. Setiap hatiku sedang gundah gulana aku selalu menceritakannya pada Rai.“gue ga tau ko mau kasih nasehat ke elo kaya gimana lagi…” ucap Raina merebahkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan bantal.Aku mendekatinya dan menarik bantal itu dari wajahnya. “ayolah Rai! Gue mohon! Gue bener-bener suka sama Via. Gue juga ga tau kenapa Tuhan harus menakdirkan dia jadi ade angkat gue. Gue bingung banget Rai!”“ini nasehat terakhir ko. Ada 2 pilihan. Lo mau nyatain perasaan lo atau mundur dan merelakan semuanya.” Yang dikatakan Raina memang benar. Aku tidak punya pilihan lain. Menunggu terlalu lama membuatku jenuh dan lelah. Aku hanya punya 2 pilihan itu dan harus segera ku putuskan yang mana yang akan aku ambil.“gue nginep dirumah lo dulu ya Rai malam ini. Gue mau mikirin keputusannya.” Ujarku lalu menarik selimut dan bersiap tidur.Tiba-tiba Raina mendorong punggungku dengan kakinya hingga aku terjatuh dari tempat tidurnya. “lo gila ko?! Tidur dibawah! Yang bener aja masa tidur bareng sama gue!” omel gadis itu. Terkadang aku berfikir dia sangat lucu kalau sedang marah-marah seperti itu. Aku tertawa dalam hati dan menuruti perkataannya.“iya! Kejam banget sih lo kaya Belanda!” ledekku.“biarin aja! Daripada elo bodoh banget ga pernah nyadar!” setelah membalas ledekanku Raina langsung menutupi dirinya dengan selimut. Apa maksud dia? Ngga pernah nyadar? Apa dia ngeledek aku yang ga pernah nyadar kalau menyukai Via adalah suatu kemustahilan?Keesokannya aku berangkat sekolah bersama dengan Rai. Kami pergi dengan kendaraan umum. Menunggu lampu merah untuk menyebrang jalan raya yang dipenuhi mobil dan motor yang berlalu lalang. Aku menggandeng tangan Rai ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah dan menyebrang melalui zebra-cross. Namun Raina menghempaskan tanganku ke udara. Ia melepaskan genggamanku dan berlari. Saat aku akan mengejarnya lampu itu berubah warna, kulihat datang sebuah truk berwarna putih dengan kecepatan tinggi tapi Rai tidak menyadarinya sampai truk itu mengklaksoninya.Aku berteriak sekencang-kencangnya. “RAIINAAAAAA!!!”“She’s lost in the darkness, fading away..I’m still around here screaming her name…”*Within Temptation – Lost*Syukurlah…syukurlah aku berhasil menariknya dan memeluknya sehingga tak terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Jika itu terjadi, aku tak tau harus berbuat apa. Dalam sekejap kaki dan tanganku membeku, aku masih terus mendekapnya erat. Dan aku bisa lihat ketakutan yang mendalam dimatanya. Ia menggigit kukunya dengan gemetaran, sedangkan orang-orang berkerumun mengelilingi kami.“udah Rai, udah ngga apa-apa. Gue berhasil menyelematkan lo. Lo ga perlu takut lagi Rai.” Ucapku sambil membelai rambutnya.“t-terimakasih Ko…terimakasih.” jawabnya terbata-bata. Raina memegang tanganku dengan kencang, dan ia menarik-narik seragamku. Untuk itu aku berinisiatif mengantarnya kerumah dan menyuruhnya beristirahat. Setelah kejadian itu aku merasa aneh pada diriku sendiri. Tapi aku tidak menghiraukannya. Yang sekarang aku prioritaskan adalah mengungkapkan perasaanku pada Avia. Malam harinya aku teringat akan nasihat Rai, bahwa aku mempunyai 2 pilihan. Dan disaat aku ingin mengutarakan perasaanku, kenapa sekarang aku merasa ragu akan hatiku, kenapa aku ragu dengan perasaan yang sudah lama aku pendam ini? Aku terus memikirkannya. Akhirnya ku putuskan untuk tetap mengatakannya pada Via. Kemudian aku pun mendatangi kamarnya.“ka Niko, ada apa? Tumben kakak ke kamar aku?” ujarnya yang sedang memegang buku pelajaran Biologi. Aku menghampirinya dan duduk disampingnya.“Via, tolong dengerin kakak…karna kakak gak akan mengulangnya.” Kataku tak berani menatap adik angkatku itu.“iya, Via pasti dengerin kakak. Kenapa ka? Ada apa?” jawabnya penuh rasa penasaran.Aku menarik nafas dalam-dalam dan menelan ludah. “aku sayang sama kamu Via.”“aku juga sayang kakak. Aku kira selama ini kakak benci sama aku. Tapi aku lega ternyata kakak sayang sama aku.” Avia menjawabnya dengan mudah sambil menorehkan senyum polos diwajah cantiknya kemudian memelukku.Aku kembali menarik nafas dan berusaha menjelaskan bahwa perasaanku ini lebih dari rasa sayang seorang adik-kakak. “kakak sayang kamu sebagai seorang wanita Via! Aku cinta kamu!” Tampak wajah Avia begitu kaget mendengar pernyataanku. Ia tak menjawab sepatah kata pun. Ia melepaskan pelukannya. Ia tidak menoleh ke arahku sama sekali. Meskipun aku telah ditolak, tapi aku merasa beban yang ku pikul selama ini telah sirna. Walaupun aku tidak langsung bisa melupakan perasaan yang sudah sangat lama ku pendam tapi aku yakin perlahan waktu akan mengembalikan keadaan seperti semula. “Nobody said it was easy..no one ever said it would be this hard, Oh take me back to the start…”*Coldplay – Scientist*Keseharianku berjalan seperti biasanya, untunglah ada Raina yang selalu bersama denganku. Sejak kejadian itu Via tidak berubah, ia tetap menegurku dengan senyum cerianya. Aku sungguh bersyukur dia tidak marah terhadapku dan kami pun perlahan menjalin hubungan selayaknya adik-kakak. Dan tahap demi tahap, perasaanku terhadapnya memudar. Mungkin kalau aku menceritakan kisah konyolku ini kepada semua orang mereka pasti akan berkata “yang kau alami itu Cinta Buta.” Jika kembali ke masa lalu aku jadi geli sendiri mengingat bagaimana bisa aku menyukai adik angkatku. Namun aku tak sependapat bahwa Cinta itu Buta. Cinta tetaplah cinta. Cinta itu suci. Terkadang manusia seperti akulah yang tidak pandai melihat ataupun menyadari yang sedang ku alami benar cinta atau hanya perasaan ingin memiliki semata. Karna jika berbicara tentang cinta, berarti kita juga membicarakan 2 orang yang memiliki perasaan yang sama. Aku cinta kamu, dan kamu cinta aku. Dan cinta yang pernah aku miliki dulu adalah “Aku cinta kamu, tetapi kamu tidak cinta aku.” “hayooo!! Ngelamun aja sih ko!” ternyata Raina yang mengagetkanku dari belakang. Tanpa rasa bersalah ia malah mencubit pipiku dan cengengesan. “awhh.. sakit tau Rai!” keluhku sambil mengusap pipiku yang merah karena dicubit gadis satu itu. “masih ada rasa yang tertinggal sama adik angkat?” ucapan Raina membuatku tak dapat bergeming. Keheningan menghiasi kami saat itu. Tapi tindakan Raina lebih-lebih membuatku terkejut. Ia mendekatiku dan memelukku. Aku…mataku seperti hampir mau copot karna saking kagetnya. Aku tak bisa begerak, tubuhku mati kukuh, namun aku merasakan sesuatu…suatu kehangatan yang mampu menenangkan hatiku… “jangan menderita karna dia, karna banyak orang lain yang berlomba untuk menyayangi elo Ko, termasuk gue…” setelah mengutarakan kalimat itu lalu ia pergi, sedangkan aku…aku tak dapat mengatakan apa pun…aku tak tau mengapa jika berada didekatnya aku hanya bisa terdiam. Ya, aku memang masih menyukai Avia. Tapi, aku kira seseorang baru saja menghapus perasaan itu. Seseorang yang tidak kuduga… bahwa ia mampu melakukan hal besar terhadap diriku. Aku tidak peka selama ini. Maafkan aku Rai…Aku ingin kau selalu ada untukku…Yah, walaupun tanpa ku katakan kau pasti selalu menemaniku…Namun kali ini berbeda, aku sadar siapa yang sebenarnya aku sayangi…Aku tidak benar-benar menyukai Avia, dulu itu hanya perasaanku sesaat karna kau pergi meninggalkan aku tanpa kabar sedikitpun…“How did we lose our way, how did we fall apart…”*All 4 One – Smile Like Monalisa*“Rai! Rai mau kemana! Rai kan tau Niko ga punya temen selain Rai!” “maafin aku Ko, tapi aku harus tinggalin kamu lagi. Semua ini aku lakukan supaya kamu menyadari siapa yang benar-benar kamu cintai. Da-dah Niko…” Suara itu…wajah Raina…tapi mau pergi kemana lagi dia?! “jangan pergi lagi Raiiiii !!!” jeritku yang terbangun tengah malam dari mimpi yang begitu menyesakkan dadaku. Bagaimana bisa aku bermimpi seperti itu? Pikirku tak percaya. Ku tengok handphone yang saat itu bergetar. Ternyata sms dari Raina.From : Raina DennieleHei, ko. Maaf membangunkanmu tengah malam, tapi aku hanya ingin menyampaikan satu hal. Tolong datanglah kerumahku nanti pagi, aku ingin mengucapkan satu permintaan.Ketika aku membalas sms-nya, tidak ada laporan terkirim sama sekali. Berulang-ulang aku mengirimnya hasilnya tetap sama. Karena penasaran, akhirnya aku menelfonnya…tapi nomernya tidak aktif. Aku benar-benar bingung. Permainan apa lagi ini Rai?! Gumamku. Sial, semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak karna perempuan merepotkan itu. Aku terus menggerutu sepanjang perjalan kerumah Raina. Saat mengendarai mobil tiba-tiba melintas seekor kucing yang membuatku terhentak kaget dan aku langsung menginjak rem. Aku keluar dari mobil dan syukurlah aku tidak menabrak binatang itu, ketika berbalik menuju mobil aku kembali dibuat terkejut… Raina?! “Rai, kok lo bisa disini? Bikin gue kaget aja!” ucapku agak sedikit terkejut. “ah, kebetulan aja ko. Gue abis kerumah seseorang.” Tumben sekali dia tidak cerwet. Hari ini Rai kelihatan agak aneh. “ayo gue anter lo pulang Rai.” Kataku menggandeng tangan Raina. “jangan sekarang ko, gue mau pergi ke suatu tempat sama lo, boleh kan?” pintanya. “karna sekarang hari minggu kayanya boleh juga sekali-kali kita jalan, lagipula udah lama kita ga jalan bareng. Okedeh, lo mau kemana? Gue anter.” Tuturku yang memasuki mobil bersama Rai. “gue…mau ke taman hiburan ko.” “wah seru tuh! Gue juga udah lama ga kesana, terakhir kali sama lo pas kita umur 10 tahun hehe.” Lalu aku langsung menancap gas menuju salah satu taman hiburan di daerah Jakarta Utara. Kami menaiki semua wahan, mulai dari yang kekanak-kanakan seperti gajah terbang, bom-bom car, istana boneka, sampai yang menyeramkan seperti halilintar, tornado, dan kora-kora. Sudah lama sekali aku tidak ketempat ini, dan aku merasa sangat nyaman…nyaman berada di dekat Rai.“All my agony fades away when you hold me in your embrace…”*Within Temptation – All I Need* Wahana terakhir yang kami naiki adalah Bianglala. Jujur, sebenarnya aku paling takut naik wahan ini dari dulu. Tetapi aku bukan anak kecil lagi, jadi aku memberanikan diri agar Raina tidak menganggapku pengecut. “lo ga takut lagi ko?” “enggaklah! Gue kan udah gede! Emangnya gue masih anak-anak!” Raina tertawa kecil, lalu ia berkata. “baguslah kalau begitu. Hari ini gue seneng banget ko, terimakasih ya..” Ia menghampiriku dan memelukku. Namun sekarang aku tidak hanya terdiam, aku membalas pelukannya. Dengan erat aku mendekap gadis itu. Entah mengapa rasanya aku ingin menangis ketika ia melepas pelukannya. “lo masih inget kata-kata gue kan ko? Jangan menangis untuk orang yang gak benar-benar lo cintai. Jangan menderita karena seseorang yang lo cintai meninggalkan lo. Karena gue akan selalu ada untuk lo, sampai kapanpun…” Sungguh, aku tidak dapat menahan tetesan air mata yang hangat perlahan mengalir dipipiku. Aku merasa sedih saat Raina mengatakan hal itu. Kemudian ia kembali memelukku, lebih lama dan lebih dalam dari sebelumnya. Ini adalah momen yang tidak akan kulupakan. Setelah puas seharian jalan bersama Raina aku pun mengantarkannya pulang, tapi aku tidak sampai ke rumahnya, hanya di depan gapura perumahan karna aku sudah keburu cape dan ingin cepat-cepat berbaring ditempat tidur. Sesampainya dirumah aku mendapati orangtuaku dan Avia dengan wajah gelisah sedang duduk diruang keluarga. Begitu melihat aku sudah pulang, mama langsung menghampiriku. “ya ampun Niko! Kamu kemana aja sih dari pagi?! Mama telfonin tapi nomer kamu gak aktif! Kamu tuh habis dari mana?!” yang namanya mama kalo udah ngomong ga ada titik komanya. Aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu. “aku abis…” belum selesai menjawab Avia menyela pembicaraanku dengan mama. “kakak Rai meninggal kak. Dia kecelakaan tertabrak Truk tadi pagi.” Sela adikku. Gelap, dunia ini seakan berubah kelam bagiku. Bagaimana mungkin?! Tadi pagi, hah?! Sedangkan Raina baru saja menghabiskan waktu bersama denganku! Mereka pasti salah! Mereka pasti membohongiku! Aku jatuh tersungkur, membenamkan wajahku kedalam kedua telapak tanganku. Rai, mana mungkin…mana mungkin ini terjadi kepadamu, iya kan Rai?! Jawab aku Raina?!!!Tolong jangan tinggalkan aku Rai…“Place and time always on my mind.. I have so much to say but you’re so far away…”*Avenged Sevenfold – So Far Away*Keesokan paginya aku dan keluarga mendatangi rumah Raina yang terpampang bendera kuning. Banyak orang-orang yang berdatangan untuk memberikan doanya. Disamping peti kayu yang dingin itu aku melihat Om Johan dan Tante Lucy sedang menangisi anak mereka. Terutama Tante Lucy, ia tampak kehilangan dan Om Johan berusaha terlihat tegar sambil menyemangati istrinya. Kaki ku tidak mampu bergerak selangkah pun. Rasanya aku tidak sanggup harus melihatnya. Aku tidak berani menghadapi semua ini sendiri. Tapi Avia menggengam tanganku, ia tersenyum padaku seolah memberikan kekuatan kepadaku.Melihatmu terbujur kaku berhiaskan gaun putih dan bunga yang kau pegang… kau sungguh cantik Rai.. benar-benar seperti malaikat. Setidaknya aku sangat senang karna sebelum kau pergi kau menemuiku lebih dahulu dan menghabiskan waktu bersama denganku..Tidak ada lagi yang dapat kukatakan Rai. Disatu sisi aku memang kehilanganmu tapi disisi lain aku ingat perkataanmu bahwa aku tidak boleh menderita jika orang yang ku cintai pergi meninggalkan aku, karena kau sebagai orang yang ku cintai akan selalu ada dihatiku.Tidurlah dengan damai, bawalah seluruh kenangan kita bersama kepergianmu. Jangan pernah lupakan aku dari hidupmu. Tetaplah berada dihatiku selamanya, karena aku tidak akan pernah menghapusmu dari ingatanku.Aku yakin Rai, seseorang yang mencintaiku telah menungguku diluar sana.. meskipun aku sekarang belum menemukannya, tapi satu yang pasti bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu…***Gadis itu memberikan kecupan lembut yang terakhir di pipi Niko tanpa sepengetahuannya. Ia menangis untuk yang terakhir kalinya dan terbang jauh menembus awan.“Ko, aku minta maaf karna aku tidak bisa berada disismu selamanya sampai kapanpun seperti perkataanku, tapi aku akan selalu mengawasimu dari atas sini ko…aku akan menyaksikan sendiri kau bersama orang yang benar-benar kau cintai hidup berdampingan…rasanya aku tidak sabar menunggu akan hal itu..selamat tinggal Niko…”“I hope it's worth it, what's left behind me…I know you'll find your own way when I'm not with you…”*Avenged Sevenfold – Fiction*DE ENDIni cerpen terakhir dari saya karna selama 1 bulan kedepan akan sibuk untuk persiapan kuliah. Tapi setelah semuanya selesai pasti saya akan kirim yang lainnya lagi.Hope you like it. Sincerely,BELLA.Fb : Bella JusticeTwitter : @bellajusticeeCerpen Bella yang lainnya: LOVE THAT I SHOULD HAVE, THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES, Kenangan yang Terlupakan

  • Cerpen romantis Buruan Katakan Cinta ~03 {Update}

    Untuk Cerita sebelumnya bisa di cek di cerpen romantis buruan katakan cinta part 2. Oke?…Happy reading…Credit gambar : Ana MeryaAni menangis seorang diri di taman belakang sambil menenang kan dirinya, hinaan dan cacian temen-temnnya bener-bener membuatnya tidak bisa berfikir dengan jerih, kadang-kadang ia sempat berfikir kalau kevin itu tidak mencintainya, tapi pemikiran itu di bantah mentah-mentah oleh hatinya, hatinya masih sangat percaya bahwa kevin itu menyukainya kalau tidak kenapa kevin tidak memutuskannya hingga saat ini, kalau seandainya kevin udah mempunyai seseorang yang di sukai pasti kevin akan memberi taunya.sebagian

  • Story About us ~ 03 | Cerpen terbaru

    Story About us _ Lagi lagi cerpen yang sempat terlupakan #GetokAdminnya. Thanks for Vhany karena udah ngingetin. Ah, sifat pelupaku sudah mendekati taraf dewa sepertinya. So tanpa perlu basa basi panjang lebar lagi, lanjut baca aja yuks. Oh ya, untuk part sebelumnya bisa klik di sini.Happy reading…!!..Story About usKeesokan harinya, Vanno dengan senangnya duduk di kursi samping tantenya untuk sarapan bareng, yang tentu membuat tante dan omnya bingung, kira-kira nih anak kesambet apa lagi ea? sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*