Cerpen Horor: The Secret of The Toilet

Cerpen HororJudul: The Secret of The Toilet
Kategori: Cerpen Misteri
Penulis: Ray Nurfatimah
Clakk….clakkk…clakkkkkk…..
Tetesan dari kran yang tidak tertutup rapat itu semakin menerorku yang hingga tengah malam ini sukar untuk tertidur. Kulirik bulatan putih didinding yang terhalang remang-remang malam.
“Huff….. mana baru jam sebelas empat lima lagi,” bisikku pelan.
Entah sudah berapa kali aku membolak-balikan bantal usang yang hampir tidak tersentuh sabun selama aku pindah kekosan Bu Alina. Maklum aku adalah seorang siswi kelas tiga SMA yang merangkap menjadi pelayan disebuah restoran siap saji.
Sebelumnya aku tinggal dikosan Bu Dian, tapi karena terbelit hutang kanan kiri, ya dengan terpaksa aku kabur. Padahal malam itu Kak Danar, putra bungsu bu Dian bersikeras menghalangi kepergianku. Aku harus pergi dari pada tiap hari kena omel bu Dian, belum lagi cibiran pedas dari penghuni kos lain tentang hutangku yang belum aku bayar.
Berbekal uang tiga ratus ribu rupiah, hasil penjualan ponsel lamaku . Aku memberanikan diri untuk tinggal dikosan baru dengan menjanjikan upahku sebagai pelayan restoran.
“Akhir bulan nanti segera cair, bu.” bujukku kepada bu Alina saat dia menolak rencanaku tinggal di kossannya.
“Bukan karena kondisi keuanganmu dek Mayang, tapi memang kamar kos disini sudah penuh.” Sahutnya lembut.
Ya memang benar, aku lihat rumah besar yang terdiri dari lima kamar dilantai satu telah penuh sesak diisi oleh sembilan orang penghuni kos dan satu asisten pribadi Bu Alina.
Tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya beliau menyerahkan kamar putri semata wayangnya yang tengah mengenyam pendidikan di Jepang kepadaku.
“Haduh betapa beruntungnya diriku ini.” Fikiriku sesaat setelah Bu Alina mengesahkan kamar kebanggaan putrinya kepadaku. Betapa tidak kamar ini begitu luas dan satu-satunya kamar yang memiliki toilet sendiri. Apalagi bu Alina dengan cuma-cuma meminjamkan kasur dan meja rias milik putrinya. Hanya saja dia dia tidak membolehkan aku menggunakan lemari besar dikamar itu, mungkin karena lemari itu telah diisi penuh oleh barang-barang milik putrinya.
Tapi untung saja dimeja rias menempel sebuah lemari kecil yang masih bisa aku gunakan untuk menyimpan pakaian ku, dan sebagian lagi bisa aku gantung di pegantungan di belakan pintu.
Kembali kulihat jam, kali ini tepat pukul dua belas malam dan aku aku masih terjaga. Tiba-tiba “Wwhuuuuussshh……..” sekebat angin kencang masuk kerongga kamarku, menyisakan sosok putih yang melambai-lambai didepanku. Seketika aku terkejut, “Sial aku hampir saja membiarkan jendela terbuka semalaman.” Gerutuku sambil menutup jendela dan membenarkan tirai putih yang tersapu angin.
Aku kembali merebahkan tubuh mungilku di kasur besar nan empuk ini. Pelan tapi pasti mata ini mulai menutup.
Byuuuuurrrrr…… Suara guyuran air mengagetkanku.
“Jam segini siapa yang mandi sih? Ganggu orang saja!” gerutuku kuesal
Otaku mulai berfikir waras “Tapi asal suaranya dari…….” Entah mengapa bibirku benar-banar tertahan. Kulirik pintu toilet, dan benar saja dari lubang kunci pintu toilet sesosok wanita berambut panjang tengah tertunduk kaku dibawah cipratan air shower.
“Apa mungkin dia putrinya bu Alin?” fikirku membuyarkan rasa takutku sendiri.
Tanpa berfikir panjang lagi, aku segera beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah menuju tempat tidur, suara tangisan memaksaku untuk kembali.
“Kkenapa Mbak? Mmbak ggak kenapa-napakan?” tanyaku sedikit gugup.
Dia tak kunjung menjawab pertanyaanku, malah tangisannya semakin menjadi.
“Hiks……hiks…… tolong aku hikksss….”
Suara tangisan itu menggema mendominasi kamarku. Aku benar-benar panik. Sekuat tenaga kucoba rubuhkan pintu berbahan plastik itu, dan hasilnya nihil. Tangisannya pelan-pelan meredup. Kulihat kembali dari lubang kunci, dan betapa kagetnya aku saat kulihat tubuh wanita misterius itu kini tak utuh lagi. Berdiri lesu sesosok tubuh tanpa kepala, lehernya dipenuhi daging yang berantakan. Dan cipratan darah segar menodai dinding-dinding toilet.
Tubuhku benar-benar terasa bergetar dan tak bisa mengatakan apa-apa. Saat ku alihkan mataku kearah lantai toilet, tergeletak sebuah kepala berambut panjang bersama sebilah gergaji di sampingnya. Aku semakin berguncang hebat, entah apa yang aku fikirkan saat itu. Rasanya aku ingin berlari ke kamar penghuni lain untuk meminta bantuan. Tapi aku sama sekali tak bisa bergerak, piyamaku terjepit engsel pintu.
“Haaaaaaaaa…… tolong!!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Dengan tergesa-gesa kugigit piyamaku. Dan Seeeeeetttt, bagian belakang piyamaku berhasil robek. Aku berlari sekencang-kencangnya memburu pintu keluar kamar.
Creek….creeeek…..
“Arrggght….. kenapa gak bisa dibuka? Aku semakin panik.
Segera ku ambil posisi kuda-kuda dan… Bruuukkkk…… tendanganku merobohkan sebilah pintu yang terbuat dari kayu.
Nafasku terasa sesak mencium bau anyir darah yang menusuk ke paru-paru. Tapi aku semakin menggila dan ketakutan saat kulihat pemandangan aneh dari balik pintu kamarku.
“Ttttoilet???” tanyaku bingung. Ternyata toilet yang sama, hanya saja yang membedakan tinggal kepala yang tergeletak dilantai.
Kepala berambut panjang itu pelan-pelan menoleh dan menyeringai kepadaku.
“Hyaaaaa…..!"
***
Creeeekkkkk
Seseorang membuka pintu kamarku, dia mnyeringai hangat dan mendekatiku.
“Rupanya kamu demam ya May?” sahut Bu Alina sambil menempelkan punduk tangannya di keningku.
“Syukurlah ternyata cuma mimpi,” bisiku pelan.
The End
By : Ray Nurfatimah

Random Posts

  • Cerpen Persahabatan: SEBUAH JANJI

    Sebuah JanjiOleh: Rai Inamas Leoni“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”***Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Wina harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Wina jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya…” rutuk Wina. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Wina merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemoh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Wina berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencemohnya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Wina benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Wina nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Wina mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Wina terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring. “Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemohan atau pun ejekan. “Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Wina yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Wina mulai mengayunkan kaki kanannya kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras.“Adooooww” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.“Makan tuh sakit!!” ejek Wina sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Wina pakek kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi kurus tersebut.***“Wina….”Wina menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Amel teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Wina membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Wina emang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Amel malah menjitak kepalanya dari belakang.“Woe non, budeg ya? Nggak denger teriakan gue. Temen macem apaan yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas cewek putih tersebut kalo lagi ngambek.“Sori deh Mel. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”“Bad mood? Jelas-jelas lo tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok ampe tuh cowok permisi pulang, nggak minta maaf lagi.” jelas Amel panjang lebar.“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Wina benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati.“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Alex lho.”“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Wina membela diri.Sejenak Amel terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis. “Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP. Dulu banget. ” ujar Amel polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalo Alex nggak suka sama gue.”“Tau ah gelap!” ***Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah. Wina sendiri sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan Amel masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh ke papan tulis.“Makanya kalo nulis jangan kayak kura-kura.” Dengan gemas Wina menjitak kepala Amel. “Duluan ya, Mel. Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Amel hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanya.Saat Wina membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar. “Eh, sori..” ucap Wina kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Wina langsung ngasi tampang jutek kepada orang itu. “Ngapaen lo kesini? Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin biar kemaren pulang cepet? Hah? Jadi cowok kok banci baget!!!”Jujur Alex udah bosen kayak gini terus sama Wina. Dia pengen hubungannya dengan Wina bisa kembali seperti dulu. “Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Amel.” ucap Alex dingin sambil celingak celinguk mencari Amel. “Hey Mel!” ucap Alex riang begitu orang yang dicarinya nongol.“Hey juga. Jadi nih sekarang?” Amel sejenak melirik Wina. Lalu dilihatnya Alex mengangguk bertanda mengiyakan. “Win, kita duluan ya,” ujar Amel singkat.Wina hanya benggong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Amel dan Alex yang kian jauh. Entah kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ tubuhnya. Biasanya Alex selalu mencari masalah dengannya. Namun kini berbeda. Alex tidak menggodanya dengan cemohan atau ejekan khasnya. Alex juga tidak menatapnya saat ia bicara. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya.***Byuuurr.. Fanta rasa stowberry menggalir deras dari rambut Wina hingga menetes ke kemeja putihnya. Wina nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi.“Maksud lo apa?” bentak Wina menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.“Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambut Wina. “Tha, mana fanta jeruk yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambut Wina. Thata langsung memberi satu botol fanta jeruk yang sudah terbuka.“Lo mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau berbasah ria dengan fanta stroberry atau pun jeruk? Teriak Wina dalam hati. Ia tau kalau cewek di depannya ini bernama Linda. Linda terkenal sesaentro sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Wina diem aja. Ia juga tau kalo Linda satu kelas dengan Alex. Wait, wait.. Alex??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Lex, sampe gue tau lo biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo!“Gue rasa, gue nggak ada masalah ama lo.” teriak Wina sambil mendorong Linda dengan sadisnya. Wina benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu dikasi pelajaran.Kedua teman Linda, Thata dan Mayang dengan sigap mencoba menahan Wina. Tapi Wina malah memberontak. “Buruan Lin, ntar kita ketahuan.” kata Mayang si cewek sawo mateng.Selang beberapa detik, Linda kembali mengguyur Wina dengan fanta jeruk. “Jauhin Alex. Gue tau lo berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Alex. Tapi kenapa lo sekarang nggak mau ngelepas Alex?!!”“Maksud lo?” ledek Wina sinis. “Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Alex. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi Wina. “Tapi lo seneng kan?” teriak Linda tepat disebelah kuping Wina. Kesabaran Wina akhirnya sampai di level terbawah.Buuugg! Tonjokan Wina mengenai tepat di hidung Linda. Linda yang marah makin meledak. Perang dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Wina kalah. Tak perlu lama, Wina sudah jatuh terduduk lemas. Rambutnya sudah basah dan sakit karena dijambak, pjpinya sakit kena tamparan. Kepalanya terasa pening.“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu, Wina juga ingin, tapi tertutup oleh Linda. Dari suaranya Wina sudah tau. Tapi Ia nggak tau bener apa salah.“Pergi lo semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat. Samar-samar Wina melihat geng labrak pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiri Wina dan membantunya untuk berdiri. “Lo nggak apa-apa kan, Win?”“Nggak apa-apa dari hongkong!?” ***Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Wina dan Alex berada di ruang UKS. Wina membaringkan diri tempat tidur yang tersedia di UKS. Alex memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Wina. Wina lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Alex nyentuh pipinya sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.“Ntar lo pulang gimana?” tanya Alex polos.“Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawab Wina jutek. Rasanya Wina makin benci sama yang namanya Alex. Gara-gara Alex dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Alex nggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.“Tadi itu cewek lo ya?” ucap Wina dengan wajah jengkel.“Nggak.”“Trus kok dia malah ngelabrak gue? Isi nyuruh jauhin lo segala. Emang dia siapa? “ rutuk Wina kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue nggak mau jauh-jauh ama Alex. Aduuuhh…Alex sejenak tersenyum. “Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo” ucap Alex sambil menunjuk Wina.Wina diam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Alex menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. “Ntar bisa pulang sendiri kan?” tanya Alex.“Bisalah. Emang lo mau nganter gue pulang?”“Emang lo kira gue udah lupa sama rumah lo? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupaen segala sesuatu tentang diri lo. Gue masih paham bener tentang diri lo. Malah perasaan gue masi sama kayak dulu.” jelas Alex sejelas-selasnya. Alex pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.“Lo ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat lo!” ancam Wina. Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala puyeng, malah dikasi obrolan yang makin puyeng.“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal lo tau, gue selalu cari gara-gara ama lo itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas lo nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa lo malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin lo berantem.” Sejenak Alex menanrik nafas. “Lo mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.”Hening sejenak diantara mereka berdua. “Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap Wina sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Wina, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapaen. Dulu ia nolak Alex karena Amel juga suka Alex. Tapi sekarang?“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Alex berbicara tepat saat Wina sudah berada di ambang pintu UKS.Wina diam tak sanggup berkata-kata. Dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Alex yang termenung sendiri. ***Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Amel belum datang. Wina sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Wina nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Alex selalu terbesit di benaknya. Apa benar Alex pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Alex mau pindah apa nggak, batin Wina. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”“Mikirin Alex maksud lo?” ucap Amel tiba-tiba udah ada disamping Wina. “Nih hadiah dari pangeran lo.” Dilihatnya Amel mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Wina membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Wina dan Alex saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.Dear wina, Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu lo nangis gara-gara di hukum ama osis. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. kidding. Lo dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga lo seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke lo gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat lo ga mau jadi pacar gue. “Kenapa lo nggak mau nerima dia? Gue tau lo suka Alex tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Amel tersenyum. “Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Alex. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.”“Thanks Mel. Lo emang sahabat terbaik gue.” ucap Wina tulus. “Tapi gue tetap pada prinsip gue.”Amel terlihat menerawang. “Jujur, waktu gue tau Alex suka sama lo dan cuma nganggep gue sebagai temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia nggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya. “Dan lo harus janji sama gue kalo lo bakal jujur tentang persaan lo sama Alex. Janji?” lanjut Amel sambil mengangkat jari kelingkingnya.Ingin rasanya Wina menolak. Amel terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Amel belum sepenuhnya melupakan Alex. Tapi Wina juga tak ingin mengecewakan Amel. Berlahan diangkatnya jari kelingkingnya.“Janji..” gumam Wina lirih.***By : Rai Inamas LeoniTTL : Denpasar, 08 Agustus 1995Sekolah : SMA Negeri 7 DenpasarBlog : raiinamas.blogspot.com

  • Antara Za dan…

    Antara Za dan dusta ini..Antara Za dan perasaan ini..Antara Za dan… dan.Setiap tokoh yang kuciptakan dalam kisahku kini mulai beranjak dari dunianya mengarungi nyata, menciptakan dusta, sebagai pengharapan akan termilikinya rasa yang tulus.yah, mungkin aku gila, tak ada batas antara nyata dan khayal dalam duniaku. Nyataku adalah khayalku, dan khayalku adalah nyataku…Za, aku bertemu dengannya dalam dunia yang kukehendaki, hadirnya mampu menghilangkan kesepian ini meskipun teriring kalimat kalimat dusta bagi hati yang berarti.Za, sosok yang tercipta atas izin Tuhan dalam kehendak hati yang bersanding dengan ketulusan doa.Aku yang berhati rapuh, yang telah terjebak oleh kata kata sang penyair logika, mulai bangkit dan beranjak dari keterpurukan sejak kehadiran Za. dan Za tak hadir tanpa peran yang penting, Ia mempersembahkan ketulusan itu kepadaku, dan aku yang tak berdaya ini hanya mampu berharap mimpi di puncak bintang yang pasti siapapun tak akan mampu mewujudkan itu."Na lagi ngapain??" suara Za tiba tiba mengagetkanku, tanpa kusadari Ia telah berdiri dibelakangku. Aku segera menutup buku harianku."ih Za ngagetin Na aja!!" jawabku kesal."Maaf, Za kan cuma pengen tau Na lagi ngapain?" jawab Za."Udah liat kalau Na lagi nulis, masih aja nanya!" jawabku marah."Iya iya, lagi nulis apaan sih?? ngeditnya udah selesai?" tanya Za kepadaku, Za adalah rekan kerjaku di kantor, namun Ia hanya bekerja setengah hari karna Za juga kuliah. Za kerja pada jam malam, sehingga aku hanya bisa bertemu dengan Za ketika aku lembur, dan kenyataannya aku memang selalu lembur."Udah" jawabku singkat."Udah ada jawaban??" tanya Za dengan serius, pertanyaan yang ingin kuhindari, pertanyaan yang kumau tak pernah ada diantara Za dan aku, dan kini, pertanyaan itu mengharuskanku menjawab yang tak pernah kutau jawabannya.Dua minggu yang lalu, Za mengungkapkan perasaannya kalau ia menyukaiku, aku terkejut karna aku sama sekali tak pernah berharap akan hal itu.Za bagiku adalah seorang kakak yang baik. perhatian dan pengertiannya yang tulus selalu kurasakan setiap aku bersamanya, dan itu membuatku nyaman, namun satu pertanyaan itu telah merubah semua keadaan baik itu menjadi perasaan canggung setiap aku bertemu dengan Za."Jangan sekarang yah, Na belum siap.." jawabku memelas."Tapi Za udah siap menerima apapun jawaban dari Na, Za butuh kepastian sekarang juga…" pinta Za dengan serius." Tapi Za,… Za kan tau gimana perasaan Na.., kalau aja Za datang lebih dulu dalam hidup Na, pasti Na tak akan ragu buat milih Za, sekarang Na bingung Antara Za dan…" belum sempat kuselesaikan kalimat itu Za sudah memotong ucapanku."Za ngerti kok, tapi Za ikhlas kalau Na belum bisa lupain masa lalu Na, Za akan sabar nunggu sampai hati Na seutuhnya jadi milik Za, yang penting sekarang ini adalah jawaban Na, bukan perasaan Na…" jelas Za kepadaku yang semakin membuatku bingung.Aku tak mau menyakiti Za hanya demi sebuah kata Ya, meskipun Za bilang ikhlas, tapi pasti ada luka dihatinya, dan aku tak mau itu.Aku dan hatiku, telah memilih satu hati yang tak memilihku, Aku memang bodoh telah meragukan ketulusan Za demi hati yang telah termiliki, entah kenapa aku terjebak dalam rangkaian kata yang sebenarnya tak begitu indah itu, mungkin ini karena aku adalah penyair yang telah dirapuhkan oleh keadaan hidup yang terlalu sulit untuk ku terima, sehingga tanpa kendali aku memasuki dunia syairnya yang tak berbalas.Dan Za hadir ketika perasaanku terluka karena rangkaian syair dalam bait bait tanpa rasa sebagai jawaban atas perasaanku terhadapnya." Na pulang ke kost dulu, dah capek!" jawabku pada Za yang tengah serius menunggu balasan atas perasaannya terhadapku. Aku lalu melangkah pergi meninggalkan Za yang tampak kecewa.Aku berjalan dalam keramaian malam kota Solo, ada beberapa tetes air yang kubiarkan keluar dari mataku, keramaian ini tak sedikitpun mampu memberikan suara untuk meramaikan hatiku agar aku tak sendiri..Aku tak segera menuju kost, langkah ini terhenti pada sebuah bangku kosong di taman kota. Aku duduk terdiam disana. Kukeluarkan selembar kertas putih dan sebuah pena dari dalam tasku." Antara Za dan dusta ini, kuciptakan kisah ini untuk hati yang tak mau berbagi hati, memang aku tak berhak memaksakan terbalasnya perasaan ini, namun aku adalah penyair rapuh yang tak berdaya ketika telah terlanjur larut dalam bait bait sederhananya…. Dan kehadiran Za adalah pelarian yang kuciptakan untuk menutupi perih ini agar tak ada perasaan bersalah dan mengkasihani luka ini…Antara Za dan perasaan ini, ada luka yang tak mungkin kan terobati meski kata maaf dan memaafkan telah terucap. Sesuatu yang telah berlalu tak akan pernah hadir kembali dalam rasa yang sama meski status kawan masih terjalin rapi, keindahan itu hanya ada di matanya yang jauh dariku, cerita cintanya yang selalu ia kisahkan adalah sebagian kecil dari luka yang kuberikan, namun tak pernah sedetikpun kubiarkan ia melihat air mata ini, dan tulisan senyum beserta dukungan atas kebahagiaannyalah yang senantiasa kubalaskan untuk menjawab curahannya kepadaku, kawannya. Aku tak bisa membencinya, dan kehadiran Za adalah masalah yang kuciptakan sebagai kewajiban untuknya mendengar kisahku yang selalu mendengarkan kisahnya.Antara Za dan… dan."Belum sempat kulanjutkan satu huruf terakhir, hujan tiba-tiba hadir dan memaksaku untuk segera berlari mencari tempat berteduh. Kulihat di seberang jalan Za melambaikan tangannya kepadaku, ada satu hal yang aneh disana, ada awan putih yang tampak dekat diatas Za dan melindunginya dari derasnya air hujan, Za terus melambaikan tangannya mengajakku untuk berteduh disampingnya.Akupun segera berlari menerobos sorotan lampu-lampu mobil yang salah satunya tak terkendali dan membawaku ke tempat yang lebih teduh, bukan disamping Za, namun disamping-Nya.-THE END-NB: Kisah ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, tokoh, dan peran itu hanya kebetulan semata.Profil pengirim:Nama: Triana Aurora WinchesterAlamat FB: aurora_broadcast@yahoo.com

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 01 {Update}

    Berhubung Cerita SMA Diary Diera adalah cerpen pertama yang di post di blog ‘Star Night’, maka Cerpen ini juga akan di jadikan cerpen pertama yang direhap ulang di blog ini. Kalau di pikir pikir sebenarnya ada hikmahnya juga insidet yang terjadi kemaren. Jadi admin punya kesempatan buat mengedit kembali tulisan admin sembari nunggu semangat nulis balik lagi. Okelah, berikut part pertamanya dari serial Diera Diary, yang tentu saja sudah lebih rapi di bandingkan versi sebelumnya. Buat yang mau baca lagi silahkan, buat yang enggak juga nggak papa. Yang jelas, Admin cuma berusaha untuk sedikit merapikan hasil karya seblumnya. Selamat membaca ya…Cerita SMA Diera Diary ~ 01 UpdateDiera menutup buku pelajaran yang baru saja di bacanya dan kembali menyimpan di antara tumpukan buku-buka yang ada di meja belajar. Perhatiannya ia alhikan kearah Hp yang tergeletak di samping. Segera di raihnya benda mungil tersebut, sambil rebahan di kasur di ia nyalakan mp3 dengan volume full untuk mendegarkan lagu-lagu kesukaannya.Ditariknya nafas dalam-dalam begitu pikirannya kembali melayang mengingat kejadian tadi siang di sekolah. Rasa kesel kali ini benar-benar memenuhi rongga hatinya. Bagaimana tidak, orang yang selama ini ia taksir alias di sukai diam-diam ternyata tidak lebih dari seorang yang sangat menyebalkan.Jadi ceritanya gini, saat itu ia baru saja selesai makan siang di kantin sekolah. Ia sebenarnya sudah siap-siap untuk langsung pergi tapi perhatiannya sudah terlebih dahulu teralih ke arah seseorang yang sedang berjalan masuk. Bukan hanya dia sih yang memperhatikan, tapi hampir seluruh penghuni kantin cewek menatap sosok tersebut sambil diam-diam membenahi dandanannya. Biasalah, CPCP alias curi pandang cari perhatian secara yang datang adalah Rian yang merupakan cowok yang menurut hampir seluruh siswi di sekolah termasuk dirinya, merupakan cowok paling cool. Bahkan jika Diera boleh jujur, ia sendiri sudah cukup lama naksir pada Rian. Terhitung sejak pertama sekali masuk sekolah. Hanya saja walau pun sekarng sudah hampir masuk tahun pelajaran terakhir, ia sama sekali belum pernah melakukan kontak sama Rian karena tu orang selalu saja di kelilingi cewek-cewek cantik yang berusaha menarik perhatiannya kebetulan mereka memang bukan rekan sekelas.Cerita berlanjut, kebetulan siang itu semua meja di kantin sudah penuh semua kecuali kursi yang ada di samping Diera karena teman-teman yang biasa bersamanya sedang mendapat kan 'hadiah' dari gurunya gara-gara kompak nggak bikin pr. Niatnya sih pengen seru – seruan, sayangnya nggak pilih pilih guru dan berakhirlah acara makan siang dengan tugas dihadapan.Berusaha memasang senyum paling manis, Diera berharap agar ‘pangeran’ itu berkenan untuk duduk disampingnya. Ntah mungkin karena memang malaikat lewat disampingnya sehingga doanya langsung terkabul atau memang itu hanya kebetulan saja, yang jelas Rian memang bener-benar berhenti tepat di hadapannya." Loe udah selesai makan ya?" tanya Rian kearahnya.Tak menyangka akan disapa duluan senyum Diera semakin mengembang. Dengan berlahan kepalanya mengangguk membenarkan. " Kok masih duduk di sini?" tanya Rian lagi.“Oh itu. Iya sih. Tapi nggak papa kok, lagian gue juga nggak keberatan kok kalau harus nemenin loe.”"Loe emang nggak. tapi gue yang keberatan soalnya selera makan gue bisa langsung hilang kalau di temenin cewek kayak loe.”Detik itu juga senyum di wajah Diera langsung lenyap tanpa. Cewek kayak loe? Maksutnya?"Mendingan loe buruan cabut deh sebelum selera makan gue beneran ilang" tambah Rian santai tanpa memperdulikan wajah shock gadis dihadapannya.Untuk beberapa saat Diera terdiam sebelum kemudian kesadarannya pulih. Tatapan tajam segera ia lemparkan kearah sosok dihadapannya. Tapi yang ditatap terlihat santai dan justru malah jelas jelas memasang tampang mengusir dirinya."Loe kok masih duduk sih. buruan, kaki gue udah pegel nih.”"Terus masalah buat gue,” balas Diera menantang.Mata Rian tampak berkedap – kedip. Seumur – umur baru kali ini ada cewek yang berani menantang dirinya. Dan lagi, Rian masih ingat kalau cewek yang berdiri dihadapannya beberapa saat yang lalu masih sempat memasang senyum cute di wajahnya."Kalau loe emang mau duduk ya duduk aja disana. Kalau loe emang nggk mau mendiangan loe cabut aja dari sini. nggak ngaurh jua ama gue" tambah Diera sambil gantian menlamabaikan tangannya tanda ngusir. Tanpa memperdulikan tatapam kesel Rian, Diera justru malah memesan es sirup rasa stroberi kepada pelayan yang ada di sana. Sambil menunggu pesanannya datang ia pura-pura asik membaca buku yang baru diamabil dari dalam tasnya. Namun, tanpa diduga buku tersebut langsung berpindah tangan."Mau loe apa sih?" tanya Rian." Justru mau loe yang apa. Pake ngambil buku gue segala. Balikin nggak !!!" bentak Diera sambil berusaha mengambil bukunya kembali yang justru malah diangakt lebih tinggi oleh Rian."Ih loe tu nyebelin banget sih,” gerut Diera setengah membentak.“Kadi loe mau buku loe balik?""ya ia lah. itu buku pr gue kali. Ntar mau di antar ke pak Ridwan. Jadi buruan balikin.”"Nih!" kata Rian sambil menyodorkan buku tersebut. Tapi sebelum Diera sempet meraihnya Rian sudah terlebih dahulu melepaskannya. Alhasil buku tersebut sukses mendarat di lantai."Elo….!" Tujuk Diera tepat di wajah Rian tapi tesangka masih hanya angkat bahu, membuat Diera semaikin sebel. Akhirnya dengan terpaksa Diera membungkuk untuk mengambil bukunya kembali. Diluar dugaan, pada saat yang sama air turun dari atas. Tepat menyiram kearah bukunya yang masih tergeletak dilanti."Ya Tuhan, buku gue…." "Ups… Sori. sengaja…" Diera mendongak, matanya menatap tak percaya kearah Andreani, teman sekelasnya yang kini berdiri tepat dihadapannya dengan sebuah botol minuman kosong ditangan. Bukti nyata kalau ia pelakunya."Elo apa-apaan sih,” bentak Diera tak mampu menahan diri."Itu akibatnya karena elo udah berani ganguin Rian," balas Andreani sambil mendoroang pundak Diera. Rian hanya menatapnya dengan kaget plus bingung dengan apa yang terjadi."HA!" Diera tampak bingung. Memang apa hubungannya?"Jadi mendingan sekarang juga loe buruan pergi deh. Atau loe mau tas loe mengalami nasib yang sama" tambah Angela sambil mengangakat botol aqua yang ada di tangannya tepat di atas tas Diera yang masih tergeletak di meja.Diera sebenernya ingin membalas tapi urung karena melihat sekeLillyngnnya. Kelima teman Andreani ada di sana. Jadi percuma juga ia melawan. Sudah pasti kalah lah dia. Dengan terpaksa di ambil tasnya dan segera berlalu dari hadapan mereka diikuti tatapan rian yang terus memperhatikannya sampai ia menghilang dari balik pintu kantin."Gimana Rian, sekarang udah nggak ada lagi yang nganguin loe kan? Jadi loe bisa makan dengan tengang," Angela tersenyum manis sambil menarikan kursi untuk Rian."Maksut kalian tadi apa sih?" tanya Rian tanpa memperdulikan perhatian Angela sama sekali."Memangnya kita kenapa?""Ya apa maksut kalian pake nyiram buku dia segala. Kasian tau.”“Ha ha ha, kasihan? Biarin sajalah. Itu emang pantes buat cewek kayak dia. Lagian ngapain sih loe mikirin Diera segala?""Diera? Siapa?" kening Rian tampak berkerut samar.“Ya cewek yang tadi lah. Udah deh, lupain aja. Mendingan sekarang loe duduk. Loe mau makan apaa? Biar sekalian gue pesenin buat loe" tawar Andreani lagi."Nggak usah. Gue udah nggak laper" balas Rian sambil pergi tanpa menoleh lagi."Huh…." Diera kembali menghembus kan nafas panjangnnya. Dilepasnya earphon dari terlinganya. Karena selain insiden yang terjadi di kantin tadi masih ada yang bikin ia tambah kesel yaitu ia terpaksa harus di hukum di luar kelas dan menyelesaikan kembali semua soal prnya karena ia tidak mengumpulkan tugas yang telah diberikan.Dengan berlahan ia bangit, diraihnya jam beker di meja, pukul sepuluh lewat seperempat. Akhirnya diputuskannya untuk tidur saja. Tidak lupa ia memasang alaram. karena besok ia masih harus datang pagi karena kebetulan besok ia mendapat giliran piket membersih kan kelas.Setelah beres, kembali di nyalakan mp3nya. Sambil rebahan di kasur ia mulai memjamkan matanya di iringi lagu D’bagindas, band Favoritnya. Bahkan buku hariannya penuh dengan lagu lagu tersebut yang akan mengantarnya ke alam mimpi. CintaBerapa kali… ku harus kata kan cintaBerapa lama… ku harus menunggu muDi ujung gelisah ini aku …Tak sedetik pun tak ingat kamuNamun dirimu masih begituAcuhkan ku tak mau tauluka luka luka yang ku rasakanbertubi tubi tubi engkau berikancinta ku bertepuk sebelah tangantapi aku balas senyum keindahaanbertahan satu cinta…bertahan satu c.i.n.t.a…bertahan satu cinta…Bertahan satu c.i.n.t.a….Cerita SMA Diera Diary ~ 01 Update“Gila, tu orang emang keren banget ya. Coba aja jadi cowok gue… u,,,, pasti gue seneng banget deh” kata Lilly pada teman-temannya sambil ngemil kripik singkong di taman.“DOR!!!” teriak Diera yang baru datang dari perpustakaan.“Eh dor pintu, doraemon” Lilly kumat latahnya.“Ha ha ha “ Diera malah tertawa dan segera mengambil kripik yang ada di tangan Lilly dan langsung memakannya.“Ih jahil banget sih loe. Bisa nggak sih sehari saja nggak ganguin gue!” bentak Lilly sambil merebut kembali kripik nya yang baru saja di rampok sahabatnya itu.“He he he…. Enggak!” balas Diera santai. “Abisnya ya kalau nggak ngerjain loe, kayak gimana gitu… ibarat sayur nie ya, nggak di kasih garam,. Hambar.”“Ia. Ngggak di kasih bawang, penyedap sama minyak sekalian” tambah Lilly sewot. Yang lain hanya tertawa mendengarnya.“Eh tapi lagi pada ngosipin apa sih. Kayak nya seru banget?” tanya Diera kemudian.“Siapa lagi kalau bukan tentang pangeran kita…. Rian ” sahut Narnia“Kita?…, kalian aja kali, gue nggak” ralat Diera lagi. “Masa sih? Yakin loe nggak naksir ma dia. Bukannya buku diary loe penuh nama dia ya. Gue udah baca lo…” ledek Hera sambil tertawa. Kontan Diera yang sedang mengunyah keripik di mulutnya langsung tersedak.“Ha?.. yang bener loe ra?” Lilly kaget. Hera mengangguk membenarkan.“Enggak kok. Hu,…. Ngasal aja loe kalo ngomong” bentak Diera malu. Teman-temannya yang lain lansung ikutan mengodanya.“Terus ra, emang dia nulis apa aja. Kok loe nggak cerita ma gue sih. Kapan loe bacanya,? Dimana?”Sebrondongan pertanyaan keluar dari mulut teman-temannya yang penasaran.“Ia. Waktu gue lagi jalan kerumahnya. Gue temuin di kamarnya dia. Loe mau tau gak apa aja yang di tulis….”Diera segera meraih kripik yang ada di tangan Anggun dan langsung memasukan semuanya ke dalam mulut Hera sebelum gadis itu sempat menyelesaikan ucapannya. Kontan Hera kaget.“ Ah, Gila ya loe. Mau bunuh gue?”“Ia, sekalian mau gue jadiin daging cincang,” geram Diera lagi.“Udah ra, loe lanjutin lagi,” kata Lilly yang sudah sangat penasaran sambil memegani Diera yang berusaha memberontak.“Awas loe. Berani ngomong sepatah kata aja beneran gue bunuh loe” ancam Diera yang kini sudah tidak berdaya karena bukan hanya Lilly yang memeganginya tapi juga Niken dan Anggun.“Ha ha ha…..” Hera malah ketawa sendiri melihatnya.“Udah cepetan ra, certain ma kita” desak Lilly tampak tak sabar.Hera memandang ke arah Diera yang terus memandangnya dengan tatapan memohon.“Kalian beneran mau tau?”“Ya ia lah. Makanya buruan cerita in. muter-muter mulu loe dari tadi.”“E, tapi sory ya. Mending kalian cari tau aja sendiri. Gue nggak mau berita gue di bunuh masuk ke Koran cuma gara gara ngebocorin rahasia sahabatnya. Jadi kalau emang kalian mau tau, cari tau aja ndiri. Palingan tu diary ada di dalam tas nya” terang Hera. Diera bersukur dalam hati. Rahasianya aman. Tapi beberapa saat kemudian ia memandang teman-temanya yang juga sedang menatap kearahnya. Jangan bilang kalau mereka…Benar saja dugaanya. Semuanya langsung berhamburan cepat-cepat sampai menuju kekelasnya. Untuk mengambil diary nya yang ada di dalam tas tentunya. Diera sudah berusaha mengeluarkan semua tenaganya untuk sampai duluan. Tapi tetap saja ia kalah cepat karena kini tas nya ada di tangan Anggun, sementara ia sendiri sudah tidak berdaya.“Pleasse donk. Kalian jangan jahat gitu deh ma gue” pintanya memohon pada Lilly yang masih memegangi tangannya.“Ah loe. Tenang aja. Lagian sejak kapan di antara kita semua pake ada rahasia-rahasiaan segala.”“Tuhan tolong gue….” pinta Diera dalam hati nya. Sementara itu teman-temannya sudah membongkar semua isi tasnya dengan sangat antusias, tapi…..Hasilnya nihil.Selain dari buku-buku tidak ada lagi benda berharga yang mereka cari. Rasa kecewa jelas tepancar dari wajah mereka. Sebaliknya Diera langsung merasa lega.“Yah kok nggak ada si….”“Sukurin. Abis kalian jahat sih ma gue,” kata Diera segera mengumpulkan kembali semua barang-barangnya yang berantakan di mejanya. Pada saat bersamaan bel tanda waktu istirahat selesai pun terdengar. Satu persatu dari teman-temannya masuk kekelas.Diera sedang konsentrasi mendengarkan penjelasan dari pak Agus tentang perkembang biakan pada mamalia. Sampai ada sesuatu yang mengusik ingatannya.“Tunggu dulu…. Kalau emang diary gue nggak ada di dalam tas. Terus sekarang di mana donk?” pertanyaan itu muncul dengan sendirinya yang membuatnya cemas. Bagaimana pun juga buku itu tidak boleh jatuh ke tangan orang lain.Diera mencoba mengingat-ingat kembali kapan terakhir ia benda itu ada di tangannya.Oh ya tadi malam, gue isi terus gue taruh dalam tas kemudian…. “ ia coba mengingat-ingat kemabali. “Tapi kalau emang gue taruh ke dalam tas kok nggak ada ya?” ia makin bingung and cemas.“YA TUHAN!!!” pekik nya sepontan sambil berdiri, kontan semua memandangnya karena kaget, apalagi saat itu pak Agus sedang menerang kan pelajarannya.“Diera ada apa?” tanya Pak Agus. Terlebih dilihatnya tampang Diera sudah pucat.“Loe kenapa, sakit?” tambah Lilly yang duduk di sampingnya merasa heran.“E… anu pak…nggak kok . E… cuma saya mau minta izin buat kekamar mandi sebentar” kata Diera gugup.Begitu keluar dari kelasnya Diera segera berlari ke perpustakaan kelasnya. Ia baru inggat kalau tadi sebelum ketaman ia ke perpus dulu untuk mengembalikan buku buku yang kemaren ia pinjam. Dan ia baru nyadar kalau waktu itu nggak sengaja diary ia juga ia bawa.Begitu sampai di perpus ia segera mencarinya ke tempat-tempat yang tadi ia datangi. Tapi walaupun ia sudah mondar-mandir ketempat-temapa tersebut hasil nya tetap nihil. Membuatnya semakin merasa panic.“Duh gue harus cari di mana lagi nih…?” gumamnya kebingungan. Ia sudah bertanya ke penjaga nya tapi tu orang bilang nggak tau. Dengan lemes Diera kemabli menuju kekelasnya.“Ra loe kenapa?” tanya Lilly saat mereka merapikan buku-bukunya karena udah waktunya pulang sementara temannya yang satu ini malah lemes begitu.“Loe beneran sakit. Kok pucet gitu muka nya?” sambung Anggun sambil menyentuh keningnya. Ia Heran karena tadi waktu istirahat Diera masih baik-baik aja.“Mati gue….”“Loe kenapa sih?” teman-temannya makin bingung.“Diary gue ilang.”“Ilang?” ulang Hera, Diera membalas dengan anggukan lemesnya.“Ha?! Kok bisa?”“Serius loe?”Diera menganguk bahkan ia sudah hampir menangis. Nggak kebayang gimana kalau sampi diary itu di baca sama orang-orang. Padahal isinya kan curhatan semua.“Coba deh loe inget-inget lagi. Palingan juga di rumah loe” Hera mencoba menenangkan.“Nggak. Gue itu inget banget. Tadi itu gue nggak sengaja ke bawa waktu ke perpus, trus waktu gue lagi milih-milih buku gue taruh gitu. Dan gue lupa ngambil lagi. Tadi juga udah gue cek, tapi nggak ada. Gimana donk."“Ya udah lah ra,… ayo kita temenin nyari lagi, kali aja keselip dimana gitu.”Akhirnya semuanya kembali ke perpus. Bahkan sampai perpus nya mau di tutup karena memang sudah waktunya pulang tuh diary masih juga nggak ketermu di mana wujudnya. Semuanya sepakat pulang dan akan kembali mencarinya besok.To Be Continue. Lanjut baca ke Cerita SMA Diera Diary ~ 02 untuk mengentahui kelanjutan ceritanya. ~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Bismillah……

    Mulakan dengan bismilah…. baru ntar kita pikirkan apa yang mau di isi. right??…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*