Cerpen Horor: The Secret of The Toilet

Cerpen HororJudul: The Secret of The Toilet
Kategori: Cerpen Misteri
Penulis: Ray Nurfatimah
Clakk….clakkk…clakkkkkk…..
Tetesan dari kran yang tidak tertutup rapat itu semakin menerorku yang hingga tengah malam ini sukar untuk tertidur. Kulirik bulatan putih didinding yang terhalang remang-remang malam.
“Huff….. mana baru jam sebelas empat lima lagi,” bisikku pelan.
Entah sudah berapa kali aku membolak-balikan bantal usang yang hampir tidak tersentuh sabun selama aku pindah kekosan Bu Alina. Maklum aku adalah seorang siswi kelas tiga SMA yang merangkap menjadi pelayan disebuah restoran siap saji.
Sebelumnya aku tinggal dikosan Bu Dian, tapi karena terbelit hutang kanan kiri, ya dengan terpaksa aku kabur. Padahal malam itu Kak Danar, putra bungsu bu Dian bersikeras menghalangi kepergianku. Aku harus pergi dari pada tiap hari kena omel bu Dian, belum lagi cibiran pedas dari penghuni kos lain tentang hutangku yang belum aku bayar.
Berbekal uang tiga ratus ribu rupiah, hasil penjualan ponsel lamaku . Aku memberanikan diri untuk tinggal dikosan baru dengan menjanjikan upahku sebagai pelayan restoran.
“Akhir bulan nanti segera cair, bu.” bujukku kepada bu Alina saat dia menolak rencanaku tinggal di kossannya.
“Bukan karena kondisi keuanganmu dek Mayang, tapi memang kamar kos disini sudah penuh.” Sahutnya lembut.
Ya memang benar, aku lihat rumah besar yang terdiri dari lima kamar dilantai satu telah penuh sesak diisi oleh sembilan orang penghuni kos dan satu asisten pribadi Bu Alina.
Tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya beliau menyerahkan kamar putri semata wayangnya yang tengah mengenyam pendidikan di Jepang kepadaku.
“Haduh betapa beruntungnya diriku ini.” Fikiriku sesaat setelah Bu Alina mengesahkan kamar kebanggaan putrinya kepadaku. Betapa tidak kamar ini begitu luas dan satu-satunya kamar yang memiliki toilet sendiri. Apalagi bu Alina dengan cuma-cuma meminjamkan kasur dan meja rias milik putrinya. Hanya saja dia dia tidak membolehkan aku menggunakan lemari besar dikamar itu, mungkin karena lemari itu telah diisi penuh oleh barang-barang milik putrinya.
Tapi untung saja dimeja rias menempel sebuah lemari kecil yang masih bisa aku gunakan untuk menyimpan pakaian ku, dan sebagian lagi bisa aku gantung di pegantungan di belakan pintu.
Kembali kulihat jam, kali ini tepat pukul dua belas malam dan aku aku masih terjaga. Tiba-tiba “Wwhuuuuussshh……..” sekebat angin kencang masuk kerongga kamarku, menyisakan sosok putih yang melambai-lambai didepanku. Seketika aku terkejut, “Sial aku hampir saja membiarkan jendela terbuka semalaman.” Gerutuku sambil menutup jendela dan membenarkan tirai putih yang tersapu angin.
Aku kembali merebahkan tubuh mungilku di kasur besar nan empuk ini. Pelan tapi pasti mata ini mulai menutup.
Byuuuuurrrrr…… Suara guyuran air mengagetkanku.
“Jam segini siapa yang mandi sih? Ganggu orang saja!” gerutuku kuesal
Otaku mulai berfikir waras “Tapi asal suaranya dari…….” Entah mengapa bibirku benar-banar tertahan. Kulirik pintu toilet, dan benar saja dari lubang kunci pintu toilet sesosok wanita berambut panjang tengah tertunduk kaku dibawah cipratan air shower.
“Apa mungkin dia putrinya bu Alin?” fikirku membuyarkan rasa takutku sendiri.
Tanpa berfikir panjang lagi, aku segera beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah menuju tempat tidur, suara tangisan memaksaku untuk kembali.
“Kkenapa Mbak? Mmbak ggak kenapa-napakan?” tanyaku sedikit gugup.
Dia tak kunjung menjawab pertanyaanku, malah tangisannya semakin menjadi.
“Hiks……hiks…… tolong aku hikksss….”
Suara tangisan itu menggema mendominasi kamarku. Aku benar-benar panik. Sekuat tenaga kucoba rubuhkan pintu berbahan plastik itu, dan hasilnya nihil. Tangisannya pelan-pelan meredup. Kulihat kembali dari lubang kunci, dan betapa kagetnya aku saat kulihat tubuh wanita misterius itu kini tak utuh lagi. Berdiri lesu sesosok tubuh tanpa kepala, lehernya dipenuhi daging yang berantakan. Dan cipratan darah segar menodai dinding-dinding toilet.
Tubuhku benar-benar terasa bergetar dan tak bisa mengatakan apa-apa. Saat ku alihkan mataku kearah lantai toilet, tergeletak sebuah kepala berambut panjang bersama sebilah gergaji di sampingnya. Aku semakin berguncang hebat, entah apa yang aku fikirkan saat itu. Rasanya aku ingin berlari ke kamar penghuni lain untuk meminta bantuan. Tapi aku sama sekali tak bisa bergerak, piyamaku terjepit engsel pintu.
“Haaaaaaaaa…… tolong!!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Dengan tergesa-gesa kugigit piyamaku. Dan Seeeeeetttt, bagian belakang piyamaku berhasil robek. Aku berlari sekencang-kencangnya memburu pintu keluar kamar.
Creek….creeeek…..
“Arrggght….. kenapa gak bisa dibuka? Aku semakin panik.
Segera ku ambil posisi kuda-kuda dan… Bruuukkkk…… tendanganku merobohkan sebilah pintu yang terbuat dari kayu.
Nafasku terasa sesak mencium bau anyir darah yang menusuk ke paru-paru. Tapi aku semakin menggila dan ketakutan saat kulihat pemandangan aneh dari balik pintu kamarku.
“Ttttoilet???” tanyaku bingung. Ternyata toilet yang sama, hanya saja yang membedakan tinggal kepala yang tergeletak dilantai.
Kepala berambut panjang itu pelan-pelan menoleh dan menyeringai kepadaku.
“Hyaaaaa…..!"
***
Creeeekkkkk
Seseorang membuka pintu kamarku, dia mnyeringai hangat dan mendekatiku.
“Rupanya kamu demam ya May?” sahut Bu Alina sambil menempelkan punduk tangannya di keningku.
“Syukurlah ternyata cuma mimpi,” bisiku pelan.
The End
By : Ray Nurfatimah

Random Posts

  • Cerpen Cinta: LITTLE AGATHA

    LITTLE AGATHAoleh: Efih Sudini AfrilyaCerpen Cinta “Agatha bukan cewek populer! Agatha gak cantik! Agatha juga gak putih! Tapi kenapa Fathan mempertahankan hubungan dengan Agatha?” Ungkap Agatha membelakangiku. Aku tahu, Agatha sedang menangis dan dia tidak ingin aku melihat butiran-butiran air mata yang menetes dari ujung matanya.Ini semua salahku. Jika aku tidak ikut-ikutan merayakan kemenangan Tim Basket ku. Agatha tidak akan menunggu ku hingga larut malam di Taman. Agatha tidak akan meminta putus dariku dan dia tidak akan menangis seperti ini.Jujur, dibanding Agatha, cewek-cewek yang mengidolakanku jauh lebih cantik. Meskipun tubuh Agatha mungil, kulitnya tak putih, tapi buatku Agatha sangat manis. Matanya yang bulat selalu memancarkan kebahagiaan, kepolosannya membuatku nyaman dan tidak meragukannya lagi, tingkahnya yang manja membuatku selalu ingin menjaganya.Aku dan Agatha satu kelas saat kami kelas 1 SMP. Dia sangat ceria dan baik hati, sifatnya yang polos dan seperti anak kecil selalu menjadi bahan lelucon buat teman-teman satu kelas. Tapi Agatha tidak pernah marah ataupun tersinggung. “Itu kan Cuma bercanda. Kalo Agatha sakit hati nanti Agatha gak gendut-gendut.” Ungkapnya ringan saat salah satu teman mendekatinya.Awalnya aku sama seperti anak-anak yang lain, aku ikut meledek Agatha dengan mengatainya “Dasar anak kecil!” setiap kali dia mendekatiku. Agatha berbeda dengan anak-anak cewek lainnya yang kebanyakan dari mereka terlalu memaksakan diri untuk menjadi dewasa, dandan berlebihan dan sebagian dari mereka bahkan genit padaku. Bahkan, karena aku terlalu sering mengatai Agatha Anak Kecil, Agatha merasa segan dan tidak berani mendekatiku lagi. Ditambah dengan banyaknya cewek-cewek kece yang selalu menggerubutiku.Suatu saat sepulang sekolah, aku melihat Agatha tengah menyebrangkan seorang nenek-nenek, aku hanya tersenyum melihatnya karena memang Agatha seorang yang baik. Saat tiba diseberang jalan Agatha berteriak memanggil-manggil namaku dan dia memintaku untuk menyebrangkannya, karena ternyata dia sendiri tidak bisa menyebrang. Saat itu, Agatha sangat konyol, dia hanya menunduk dan menyembunyikan pipi merahnya karena malu.“Sebenernya Agatha gak bisa nyebrang, tadi Cuma kasian aja sama nenek-neneknya.” Ungkapnya saat itu.“Terus kalo kamu ketabrak gimana?” Tanyaku.“Kalo mau nolong itu gak boleh takut. Sekarang kan Agatha udah di tolong sama Fathan. Makasih ya Fathan.” Jawab Agatha.“Dasar anak kecil!” Aku mengatainya lagi. Agatha hanya nyengir dan dibalik bibirnya yang tipis tampak barisan gigi kecil yang rapi dan bersih melengkapi kelucuannya. Kami pun berpisah saat itu, tapi entah kenapa tingkah Agatha siang itu selalu terbayang-banyang, membuatku senyum-senyum sendiri. Membayangkan saat dia memanggil-manggil namaku dan memohon padaku untuk menyebrangkannya, padahal sebelumya dia menjadi pahlawan buat nenek-nenek yang gak bisa nyebrang.Esoknya di sekolah, aku melihat ada kotak makan di atas mejaku. Isinya Nasi goreng berbentuk Hati dan dihiasi sayuran yang tersenyum pada siapapun yang melihatnya. Tanpa bertanya-tanya siapa yang memberikan Nasi goreng padaku, aku langsung menyantap habis Nasi goreng itu. Anak-anak cewek di kelasku berbisik-bisik, mungkin mereka penasaran dan sedikit cemburu pada Sipembuat Nasi goreng itu. “Nasi goreng dari siapa Fhat?” Tanya salah satu cewek yang menyukaiku.“Dari pahlawan kesiangan.” Jawabku. Aku tahu Nasi goreng itu pasti dari Agatha, karena dari tadi Agatha hanya duduk dan membenamkan kepalanya di antara kedua lengannya. Gak seperti biasanya, setiap pagi pasti dia loncat kesana-kemari menyapa teman-teman satu kelas. “Yang datang subuh kan Agatha! Dia pasti tau siapa yang naro tempat makan di mejaku.” Kataku membuat Agatha mengangkat kepalanya.“Agatha gak enak badan ko, jdi dari tadi bobo aja, gak tau apa-apa.” Ungkap Agatha sambil membenamkan kepalanya kembali.Semenjak kejadian itu, Agatha menjaga jarak denganku. Dia seolah-olah tidak mengenalku, padahal aku selalu mengingat-ngingat kekonyolannya. Saat kelas 2 SMP, kami berbeda kelas, aku tidak bisa melihat kekonyolannya lagi, bahkan nama Agatha seolah menghilang dari kehidupanku. Itu karena dia berubah menjadi seorang yang pemalu dan tidak terlalu aktif, tidak sepertiku yang mengikuti berbagai organisasi sekolah dan namaku semakin meroket dikalangan cewek-cewek penghuni sekolah.Siang itu secara tidak sengaja aku bertemu dengan Agatha di depan kelasnya, Agatha berlalu begitu saja meninggalkan aku. Tapi kali ini aku tidak bisa berpura-pura acuhkan dia.“Agatha!” Panggilku. Agatha menoleh padaku tanpa ekspresi. Aku menghampirinya, jujur aku ingin sekali mencubit pipinya yang kini agak cabi. “Makasih Nasi goreng yang waktu itu.” Ungkapku.“Nasi goreng?” Tanya Agatha sedikit lupa. “O, iya, makasi ya Fathan uda nolongin Agatha waktu itu.”“Selain gak bisa nyebrang, kamu pilon juga ya?” Godaku.“Iya, Agatha akhir-akhir ini memang sedikit pelupa. Maaf ya.”“Besok sore ada acara gak?” Tanyaku“Enggak, Agatha di rumah aja.”“Nonton pertandinganku ya! Pulang sekolah! Please!”Aku membujuk Agatha, dan akhirnya Agatha bersedia menonton pertandingan basketku.Pertandingan basketpun mulai berlangsung, tapi kedua mataku belum menemukan sosok Agatha. Yang kutemukan hanya teriakan cewek-cewek fansku yang tidak berhenti berteriak memanggil-manggil namaku. Aku mulai khawatir, aku takut Agatha tidak datang. Akupun kecewa, karena Agatha tidak kunjung datang hingga pertandingan usai. Saat diperjalanan pulang, Agatha menghampiriku, dia datang dengan membawa kotak makanan.“Agatha telat, tapi Agatha bawa nasi goreng sebagai tanda maaf karena Agatha udah telat dan gak nonton pertandingan Fathan.” Ungkap Agatha memohon maaf padaku. Awalnya aku memang kecewa dan marah padanya, tapi setelah melihat kepolosannya, aku berubah fikiran. Aku tidak ingin Agatha merasa bersalah karena dia tidak menonton pertandinganku, aku hanya ingin melihat senyum cerianya seperti dulu, dan tiba-tiba muncul perasaan aneh di dalam hatiku. Aku ingin menjaga Agatha, aku ingin menjadi pelindung Agatha.Saat itu juga aku mengungkapkan perasaanku pada Agatha. Aku menyukai kepolosannya dan tingkahnya yang seperti anak kecil. Memang sangat konyol, tapi aku ingin selalu bersama Agatha, menjaganya seperti adikku sendiri, melindunginya, menyayangi dan mencintainya.“Fathan ngigo! Masa mau jadi pacar Agatha!” Ungkapnya saat aku meminta dia menjadi kekasihku.“Aku serius, Agatha mau kan jadi pacar Aku?” Tanyaku memohon.“Kita kan masih kecil. Apalagi Fathan tau Agatha seperti apa, Agatha gak percaya kalo Fathan sayang sama Agatha. Fans Fathan kan cantik-cantik! Masa Fathan sayang sama Agatha?” Jelas Agatha.“Tapi aku beneran sayang sama kamu Tha! Aku suka kamu! Kamu perlu bukti apa agar percaya?”“Agatha bingung. Fathan terlalu sempurna buat Agatha. Apa kata orang-orang kalo tau kita pacaran.” Ucap Agatha sendu.“Aku gak peduli ucapan orang lain Tha! Memangnya kamu gak suka sama Aku?”“Agatha suka sama Fathan, tapi…” Agatha berhenti bicara. “Fathan terlalu tampan buat Agatha.” LanjutnyaAku hanya tertawa mendengar penjelasan Agatha saat itu, dia mengakui bahwa Aku tampan dan dia menyukaiku. Kami berpisah saat itu, dan sepanjang malam aku memikirkan cara untuk membuat Agatha percaya bahwa aku menyayanginya. Berhari-hari aku memikirkan cara yang tepat, hingga akhirnya saat hari senin tiba. Seusai upacara bendera, Aku dan Tim basket ku diberi kesempatan untuk menaiki podium dan menyampaikan sepatah duapatah kata karena Tim kami mejadi pemenang dalam pertandingan persahabatan antar sekolah. Aku sebagai kapten, diberi kesempatan pertama, dan kugunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan perasaanku pada Agatha.“Kemenangan ini sepenuhnya ku persembahkan untuk yang tersayang Agatha Shafira.” Dengan penuh rasa percaya diri aku menyampaikan kalimat itu di hadapan semua murid. Kontan, anak-anak cewek yang tengah berbaris itu berteriak, mereka seakan tidak percaya dengan apa yang telah ku ucapkan. Kupandang Agatha yang berdiri dibarisan paling depan, dia hanya menunduk. Dan Aku sangat khawatir Agatha akan marah, atau Agatha akan di labrak oleh cewek-cewek penggemarku.Saat jam istirahat, Aku menemui Agatha di kelasnya. Aku langsung menghampirinya, Aku siap jika Agatha marah padaku atau menamparku.“Agatha, Aku minta maaf. Kamu jangan marah sama Aku ya!” Pintaku.“Agatha gak marah sama Fathan. Agatha cuman malu aja sama temen-temen.”“Jadi?” Tanyaku.“Agatha……” Agatha terdiam dan mulai meneteskan air mata. “Agatha juga sayang sama Fathan.” Lanjutnya membuatku lega dan bahagia.“Agatha yakin? Agatha mau jadi pacar Fathan?”“Mau.” Ungkapnya malu-malu. Kuhapus air mata yang telah membasahi pipinya. Ku usap lembut rambutnya yang panjang. Agatha mengacungkan jari kelingkingnya padaku.“Fathan janji kan gak bakal nyakitin Agatha?” Tanya Agatha.“Janji.” Kataku melingkarkan jari kelingkingku ke jari kelingking Agatha.Sejak saat itu kami selalu bersama, kami saling melengkapi satu sama lain. Rasanya hidupku tak ada beban saat aku bersama Agatha, dia selalu membuatku tertawa, membuatku bahagia, aku benar-benar nyaman bersamanya. Agatha menerima segala kekuranganku, dia adalah wanita yang sangat bisa mengerti aku. Saat SMA, kita berbeda sekolah. Aku tetap menepati janjiku untuk tidak menyakiti Agatha. Jujur, awalnya aku takut jika Agatha mencintai cowok lain, atau dia berselingkuh dengan cowok lain, atau ada cowok lain yang mendekati Agatha di sekolahnya. Aku sangat ketakutan saat itu, tapi Aku tidak bisa mengekang atau mengatur-ngatur Agatha seenakku. Aku sangat takut kehilangan Agatha.Aku tidak peduli dengan olok-olokan teman SMA ku terhadap Agatha. Mereka berkata Agatha tidak sepadan dengan ku. Mereka memanas-manasiku untuk putus dari Agatha, bahkan mereka sengaja mendekatkan aku dengan seorang Wanita bernama Eliana. Eliana memang cantik, bertubuh tinggi dan langsing, siapapun yang melihatnya akan langsung tertarik padanya. Eliana baik hati, sama seperti Agatha, hanya saja Eliana lebih dewasa dari Agatha.Awalnya aku tidak tertarik sama sekali pada Eliana. Agatha tetap menjadi wanita pujaanku. Namun setelah Dua Tahun satu kelas dengan Eliana, aku semakin mengenal Eliana, dan perasaan itu tumbuh begitu saja. Entah setan apa yang merasuki fikiranku, aku merasa lebih nyaman bersama Eliana dan Aku lebih sering bersama Eliana.“El, kamu tahu semua tentang Aku kan? Tentang Agatha?” Tanyaku pada Eliana.“Tahu, aku tahu semua tentang kamu! Cintamu yang begitu besar untuk Agatha. Tapi apa Aku salah, mencinta kamu?” Jelas Eliana.“Gak ada yang salah El. Aku juga punya perasaan yang sama, aku mencintai kamu El! Tapi Aku gak bisa meninggalkan Agatha.”“Cintamu sama Agatha lebih besar. Aku bisa terima itu, tapi Aku gak bisa terima kalau kamu menghianati Agatha. Agatha gak pantes buat disakiti.”“Terus, gimana sama kita El?” Tanyaku“Than, Jangan pernah sakitin Agatha! Dia terlalu baik. Dan lupain perasaan yang kamu punya buat Aku.” Jelas Eliana yang membuatku tersadar, bahwa memang kenyataannya Aku lebih mencintai Agatha. Bahkan Eliana yang baru sekali bertemu dengan Agatha tidak ingin melukai ataupun menyakiti Agatha yang begitu baik dan polos. Aku sadar, sadar dari kekhilafanku, sadar telah mengacuhkan dan tidak memperhatikan Agatha akhir-akhir ini.Kini Aku dan Eliana hanya berteman biasa saja, aku lebih menjaga jarak dengan Eliana, karena Aku takut perasaan suka ku terhadapnya muncul lagi. Aku menyadari bahwa Aku salah, meskipun Agatha tidak tahu Aku pernah menyukai wanita lain. Bahkan Aku merasa malu ketika berada di hadapannya, ketika dia selalu jujur dan menceritakan semua yang terjadi di sekolahnya, tentang teman-teman cowoknya yang suka menggoda dan baik padanya. Bahkan kadang Aku merasa cemburu ketika Agatha menceritakan teman cowok yang menyukainya.“Kamu suka juga sama dia Tha?” Tanyaku saat Agatha menceritakan Teman Cowok yang Nembak dia.“Engga, dia kan temen Agatha. Lagian Agatha sayangnya cuman sama Fathan, jadi Fathan gak usah khawatir ya!” Jawabnya polos.Aku percaya pada Agatha, dia tidak mungkin menghianatiku. Dan akupun belajar jujur pada Agatha, kecuali tentang perasaanku pada Eliana, Aku tidak menceritakannya. Hubunganku dengan Agatha tidak pernah ada masalah, kami tidak pernah bertengkar.Tapi, saat ini untuk yang pertama kalinya, Aku telah membuat Agatha kecewa padaku. Aku lebih memilih berpesta dengan teman-temanku, bahkan Aku tidak memberitahu Agatha bahwa Aku tidak akan datang menemuinya di Taman. Agatha menungguku di Taman hingga malam, padahal Aku yang telah membuat janji dengannya, Aku yang meminta Agatha untuk datang ke Taman.“Agatha tahu! Fathan sebenernya suka sama Eliana kan?” Agatha tetap membelakangiku. Pertanyaan Agatha membuatku kaget dan bahkan Aku tidak bisa bicara apa-apa.“Fathan suka kan sama Eliana? Jujur!” Agatha berbalik menatapku dan Aku bisa melihat air mata yang membanjiri wajahnya dengan jelas.“Aku….aku….menyukai Eliana. Tapi sungguh, Aku gak pernah menghianati Kamu Tha! Aku lebih mencintai Kamu!” Jawabku Jujur.“Tapi tetap aja di hati Fathan gak cuman ada Agatha, ada Eliana juga. Fathan gak tahu, kalo selama ini Agatha cemburu sama Eliana kan?” Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan menunggu apa yang akan dibicarakan Agatha selanjutnya.“Fathan gak akan tahu! Karena Fathan sekarang udah berubah! Fathan lebih deket sama Eliana dan temen-temen Fathan yang sekarang!” Ungkap Agatha dengan Tangis yang lebih kencang. “Agatha sadar ko, dibanding Agatha, Eliana jauh lebih cantik. Fathan lebih cocok sama Eliana. Temen-temen Fathan juga lebih dukung Fathan sama Eliana kan?” Aku hanya bisa terdiam mendengarkn ucapan Agatha.“Agatha capek pacaran sama Aku?” Tanyaku.“Agatha kasian aja sama Fathan. Fathan punya pacar jelek kaya Agatha.” Jawabnya.“Siapa yang bilang Agatha jelek? Apa pernah Aku bilang Agatha jelek! Buat Aku, Kamu lebih dari sekedar cantik, hati kamu cantik Tha! Dan Aku sangat mencintai kamu! Aku gak mau kehilangan Kamu. Gak ada yang bisa misahin kita, Eliana atau teman-temanku gak bisa mengubah perasaan Aku sama Kamu!”“Tapi Fathan suka sama Eliana kan? Fathan sama Eliana aja!”“Tha!!!” Aku tidak sadar telah membentak Agatha. Kini Tangis Agatha lebih kencang, bahkan dia berlari meninggalkanku. Aku hanya bisa terdiam, Aku merasa tidak memiliki kekuatan untuk mengejarnya. Sesampainya di rumah fikiranku sangat kacau, aku tidak bisa berhenti memikirkan Agatha, juga memikirkan cara untuk membuat Agatha percaya lagi padaku. Semalaman Aku tidak bisa tidur, nomor Agatha bahkan tidak bisa dihubungi. Hingga pagi datang, saat Aku hendak pergi ke sekolah, tiba-tiba ponsel ku berdering dan itu telfon dari Ibu Agatha. Dengan fikiran yang tidak tenang, Aku langsung menuju Rumah Sakit.Kulihat tubuh mungil Agatha terkulai lemah di atas ranjang putih. Karena bertengkar dengan ku kemarin, Agatha tertabrak mobil ketika hendak menyebrang. Aku semakin merasa bersalah, ku kecup kening Agatha seraya mengatakan kata maaf. Meskipun Agatha terpejam, tapi kuharap ia bisa mendengarkan kata maafku. Aku menunggu Agatha terbangun, kududuk di samping Agatha yang terbaring, Aku terus berdo’a dan mengucapkan kata maaf di telinganya.“Agatha sangat mencintai Nak Fathan. Meskipun banyak teman cowoknya yang main ke rumah dan meminta Agatha menjadi pacarnya. Nak Fathan tetap jadi pilihannya.” Ungkap Ibu Agatha. Ia menceritakan kisah hidup Agatha dari kecil hingga saat ini. Sekarang Aku tahu kebiasaan dan hal-hal lain tentang Agatha yang tidak Agatha ceritakan padaku.Satu minggu berlalu, kini Agatha sudah bisa masuk sekolah. Sebelum Agatha pulang dari Rumah sakit, Aku berjanji akan menjaga Agatha, dan kejadian ini tidak akan terulang lagi. Aku sangat bersyukur, Agatha bisa memaafkan Aku dan percaya pada cintaku.“Fathan tetap sayang sama Agatha meskipun sekarang Agatha gak bisa jalan?” Ucapnya saat Aku menggandengnya berjalan melalui lorong menuju kelasnya. Selama Agatha belum bisa berjalan normal, Aku akan setia mengantarnya kemanapun ia pergi. Termasuk mengantarnya kesekolah hingga ia masuk kelas dan duduk di kursinya.“Aku sayang kamu. Dan perasaan ku gak akan berubah hanya karena kamu gak bisa jalan.” Jawabku“Sekalipun Agatha buta, tuli dan gak bisa ngomong?” Tanya nya lagi.“Sekalipun kamu berubah jadi gendut atau jadi monster pun Aku bakal selalu sayang sama Kamu. Karena Aku sayang dan mencintai apa yang ada dalam diri kamu.” Agatha tersenyum mendengar jawabanku.“Apa yang Fathan suka dari Agatha?”“Semuanya! Karena buat Aku, Kamu itu sempurna.”Kulihat Agatha tersipu malu dan itu nampak jelas dari pipinya yang memerah, sungguh ia begitu manis.*****By : Efih Sudini AfrilyaFacebook : Fiehsoed@gmail.comMakasiii….

  • Cerpen Persahabatan: Me and My Best Friend

    Oleh: Rai Inamas Leoni – Kembali aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin perasaanku saja, ujarku dalam hati. Ku lirik jam tangan ku yang menunjukan jam 4 sore, pantas keadaan parkiran sudah sepi. Hanya ada beberapa motor yang masih setia menunggu majikannya untuk pulang. Aku sendiri baru selesai dari ekskul ku yaitu jurnalistik. Sebenarnya belum selesai, hanya saja aku izin pulang lebih awal. Mood ku dari tadi pagi sedang tidak bagus, ditambah cuaca hari ini yang selalu mendung.Aku tersenyum ketika melihat motor kesayangan ku dari kejauhan. Waktunya pulang, batinku lirih. Kulangkahkan kaki menuju motor matic ku. Tak sampai 5 langkah, aku menghentikan langkah ku. Mereka benar-benar lupa… Rasanya aku ingin menangis saja. Kenapa mereka semua bisa lupa hari ulang tahun ku? Bahkan Agha pun juga tidak ingat. Aku sengaja tidak mengatakan apa-apa kepada mereka tadi pagi. Aku masih menunggu hingga mereka sadar, bahwa temannya yang satu ini sedang merayakan hari kelahirannya. Tapi, segitu buruk kah ingatan mereka? Ingin sekali aku berteriak di parkiran ini.Dengan kesal, aku berjalan secepat mungkin menuju motorku. Lebih baik pulang, tiduran di kamar sambil membaca novel. Lupakan hari ulang tahun ku!! Namun langkah itu mulai terdengar kembali. Siapa? Apakah penguntit? Tanpa sadar aku mulai sedikit berlari, dan langkah itu pun juga terdengar sedang berlari mengejarku. Tunggu. Kenapa aku mendengar langkah kaki banyak orang? Jangan-jangan aku akan dikeroyok. Oh tuhan, lindungilah aku.Karena penasaran, ku beranikan diriku untuk menoleh ke belakang secepat mungkin, melihat apa yang terjadi sebenarnya. Dan sedetik kemudian aku merasa butiran-butiran putih mengenai seluruh tubuhku. Lalu disusul dengan cairan kuning mengenai rambutku. “Happy Birthday Nara,” ujar mereka serempak lalu tertawa terbahak-bahak.Kulihat Nadya, Lunna, dan Dinda sedang membawa sisa-sisa tepung, yang tentu saja juga mengenai baju mereka walau tidak sebanyak aku. “Oh shiiitt.. Kalian gila apa?” teriakku kesal walau hati kecil ku merasa senang. Senang karena mereka ingat aku.“Ya ampun, gitu aja ngambek. Sini gue kasi lagi,” Tio lalu melemparkan telur ke kepala ku dan semua kembali tertawa. Aku hanya bisa menunduk, membiarkan cairan kuning itu jatuh ke tanah. Dan tidak lama kemudian aku melihat Rizky membawa seember air. Buru-buru aku lari, namun ditahan oleh Nadya dan Dinda. Dan jadilah kami bertiga terkena air.“Ya Rizky, kenapa gue jadi kena sih? Ini kan air bekas pel Pak Komar. Sialan lo!” rengek Nadya lalu melempar tepung yang tersisa kearah Rizky. Rizky pun mencoba untuk menghindar. Aku tertawa melihat mereka. Mereka bener-bener pasangan yang serasi.Dan entah dari mana, Lunna tiba-tiba membawa blackforest yang berisi angka 16 kehadapan ku. “Make a wish dulu donk, Ra.”Aku mulai memejamkan mata untuk berdoa. Ku buka mata secara perlahan sambil menatap satu persatu teman sekelas ku di XI IPA 2. Nadya, Rizky, Dinda, Lunna, Tio, dan.. “Agha mana?” tanya ku polos.Kulihat raut wajah mereka berubah. Lalu Dinda menyela, “Agha lagi nganter Putri ke toko buku. Lo tau lah Putri, ee.. dia anak baru,” Kulihat Dinda sejenak ragu-ragu. “Bu Siska tadi nyuruh Agha buat nemenin Putri beli buku pelajaran.”“Oh,” Hanya itu kata yang keluar dari mulut ku. Kupaksakan untuk tersenyum. Melihat perubahan ekspresiku, Tio yang memang terkenal jahil mulai melumuri wajahku dengan krim yang ada di kue, lalu disusul oleh Dinda. Tak mau kalah, aku langsung membalasnya. Selang beberapa menit, kami berenam sudah menjadi badut amatiran yang wajahnya dipenuhi krim.***Agha Daniswara. Nama yang sudah tak asing lagi di telinga ku. Selain letak rumah yang bersebelahan, kami juga selalu satu sekolah bahkan sekelas. Dimana ada Agha, selalu ada aku. Aku seperti menemukan sosok kakak di dalam diri Agha, karena aku sendiri anak tunggal. Menjadi anak tunggal memang mengasyikan. Semua perhatian Mama dan Papa tercurah untuk ku tanpa harus terbagi. Namun hidup sendiri tanpa saudara juga sangat menyedihkan malah membosankan. Kadang aku iri kepada mereka yang memiliki kakak atau adik. Tapi, selama ada Agha yang selalu disamping ku, hidup menjadi anak tunggal tidak masalah.Sejenak aku memejamkan mata, mencoba mengingat kejadian tadi sore. Yang terlintas dibenak ku hanya lah Putri. Murid pindahan yang seminggu terakhir mencuri perhatian teman-teman sekelas. Ya, dia cantik dan modis. Dan tak butuh waktu lama, aku yakin Putri akan menjadi salah satu deretan siswi populer di SMA Tunggadewi.Aku kembali membuka mata. Kulirik foto yang terpajang manis di meja belajarku. Foto dua anak SD yang sama-sama membawa balon. Aku masih ingat, saat itu hari ulang tahun Agha yang ke-10. Mama Agha atau biasa ku panggil Tante Mita ngotot untuk menggambil foto kita berdua. Untuk kenang-kenangan katanya.Alunan lagu Only Hope milik Mandy Moore terdengar dari meja belajarku. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidur. Siapa sih yang nelpon malam-malam? Dengan kesal ku tekan salah satu tombol di HP, tanpa melihat nama yang tertera di layar. “Halo,” sapaku enggan.“Akhirnya diangkat juga. Ra, buruan ke balkon sekarang.” ujar seseorang yang aku kenal. “Jangan lupa pakek jaket, dingin banget disini. Gue tunggu, Ra.”Belum sempat aku menjawab, telepon sudah di tutup. Sialan Agha. Aku yang masih binggung atas ucapanya buru-buru membuka lemari mencari jaket tebalku. Tak butuh waktu lama, aku sudah berdiri di balkon kamarku yang bersebelahan dengan balkon kamar Agha. Kamar ku dan kamar Agha sama-sama ada di lantai atas.“Lo belum tidurkan?” tanya Agha dari balkonnya. Ku lihat Agha menggunakan kemeja putih dan celana jeans hitam yang membalut tubuh atletisnya. Sepertinya ia baru pulang.“Belum lah, masih jam 9 juga. Lo sendiri baru pulang?”“Iya. Tadi gue nganter Putri beli buku. Capek banget, Ra. Nggak nyangka kalo si Putri suka baca novel sama kayak lo.“ Ku lihat Agha tersenyum gembira. Belum pernah aku melihat ia sebahagia ini. Lalu ia menceritakan kejadian-kejadian yang lucu di toko buku. Aku hanya menanggapi dengan kata-kata singkat seolah aku menyimak cerita Agha. Walau sebenarnya aku tidak mendengarkan apa-apa.Ada sesuatu yang mengganjal. Aku menerawang ke bawah melihat jalanan, yang tentu saja sepi. Jalan di kompleks perumahan kan tidak seramai jalan raya.“Ra? Halo… Nara? Naraaaa… Lo denger nggak sih?” Panggilan Agha membuyarkan lamunan ku.“Apa? Eh maksud gue, gue denger kok,” ucapku terbata-bata.Agha mendengus. “Gue tau lo nggak denger omongan gue. Lo lagi mikirin apa sih?“Kita balik ke setahun yang lalu ya?” ujarku tiba-tiba.Agha terlihat bingung.“Kita pacaran sampai sini aja. Lagian lo sama gue lebih cocok buat sahabatan. Entah kenapa gue rindu Agha yang dulu. Agha yang selalu ngejek gue jelek, Agha yang selalu bandingin gue sama cewek-cewek populer waktu SMP, sampai Agha yang selalu bangunin gue kalo gue telat bangun. Semenjak kita pacaran, rasanya ada yang berubah dalam diri kita.” Sejenak aku memejamkan mata untuk mengatur emosi. “Lo mau kan kalo kita sahabatan lagi?” tanya ku ragu.Ku lihat Agha terkejut mendengar ucapanku. Biarlah. Jujur, setelah aku dan Agha pacaran, aku melihat perubahan sikap diantara kami. Seolah-olah ada tembok besar disekitar kami. Kami tidak dapat tertawa lepas seperti dulu saat SMP. Selalu ada sesuatu yang mengikat, mengingatkan bahwa kita tidak hanya berteman. Suatu komitmen yang bernama pacaran. Tapi aku sadar semenjak Putri masuk ke kelasku, aku merasa Agha tertarik pada gadis itu. Dan itu membuat aku muak. Aku kangen sama Agha, teman kecil ku.“Kalo itu mau lo, gue terima. Asalkan kita bisa sahabatan lagi kayak dulu. Jangan gara-gara masalah ini, kita jadi diem-dieman.” ujar Agha lirih.“Ya udah, gue duluan balik ke kamar ya. Dingin banget disini.”Belum sempat aku melangkah, Agha sudah menahanku dan menyuruhku menangkap sesuatu yang dilemparnya. Untung kali ini aku bisa menangkapnya dengan tepat.“Happy birthday Nara. Maunya ngucapin satu tahunan kita jadian. Tapi kita kan baru aja putus. Gue doain semoga persahabatan kita langgeng sampai tua nanti.”Aku hanya tersenyum lalu buru-buru masuk ke kamar. Ku hempaskan diriku ke tempat tidur. Perlahan kubuka hadiah Agha yaitu sebuah kotak kecil bermotif strawberry, buah kesukaan ku. Dalam kotak terdapat kalung berbandul separuh hati dan sebuah kertas kecil.“Happy birthday peri kecilku dan happy 1st anniversary buat hubungan kita.PS : Moga lo seneng ama tu kalung Kurasakan butiran kristal jatuh dari pelupuk mataku, buru-buru aku hapus dengan tangan. Namun semakin aku berusaha, butiran itu semakin banyak. Ya Tuhan… Aku yakin akan keputusan ku. Tapi kenapa hati ku terasa perih?Malam semakin larut. Namun seseorang masih terpaku, terdiam di balkon kamarnya sambil menatap balkon yang baru saja di tinggal pergi oleh pemiliknya. Pemilik yang bernama Nara Angelina. Teman kecilnya.***“Naraaa……!”“Saya Pak! Saya Pak!” teriakku tak karuan. Mata ku mencoba melihat sekililing. Menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, ini kan kamarku? Lalu…“Ouch shittt! Gue kira apa. Gila lo, Ga. Ngapaen lo disini?” ujar ku kesal. Ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku. Berniat melanjutkan mimpi ku yang tertunda gara-gara teriakan mahluk aneh ini.Agha tertawa. “Ya ampun, dasar putri tidur. Buruan lo bangun, ini udah jam 10 pagi. Masa cewek males gini?” Agha menarik selimut ku lalu ditaruhnya di sofa.“Agha!! Selimut gue balikin. Lagian ngapain juga bangun pagi? Ini tuh masih LIBURAN. Tahun ini kita kelas tiga, pasti belajar mulu kerjaannya. Kasi donk gue nikmatin liburan gue.” Jelas ku panjang lebar. Ku dengar tawa Agha makin keras, seolah-olah mengganggu tidurku adalah hal terlucu di dunia ini. Aku hanya bisa pasrah. Beberapa bulan telah berlalu sejak hari itu. Hari dimana aku putus dengan Agha. Seperti yang kuduga, setelah kejadian itu hubungan kami kembali seperti SMP dulu. Dimana kami sering mengejek satu sama lain. Agha kembali pada hobby-nya yang senang melihat aku menderita. Dan aku kembali pada hobby lama ku, sering merecoki dia dengan kalimat panjang lebar.“Cerewet banget sih,” rutuk Agha. “Buruan lo mandi, kita ke toko buku sekarang. Hari ini terakhir diskon lho. Katanya mau cari novel?” Aku melirik sebal kepadanya. Agha menghampiri aku, lalu dengan gemas Agha mengacak-acak rambut ku. “Bilang aja lo mau beli komik. Pakek alasan gue beli novel lagi. Muna lo! Dari mana lo tau kalo diskonnya masih?” Kata ku sambil merapikan rambut ku yang berantakan.“Dinda yang ngasi tau. Terserah mau percaya atau nggak. Yang penting lo buruan mandi.” Lalu Agha pergi ke arah meja belajar untuk melihat koleksi novelku. Aku terkadang heran dengan Agha. Untuk ukuran cowok tinggi yang jago main basket, masa sih dia masih doyan baca komik. Apalagi komik favoritnya Detektif Conan. Benar-benar deh si Agha. “Agha cakep, dengerin gue ya. Gue sih udah dari tadi mau mandi. TAPI GIMANA CARANYA GUE MANDI KALO LO MASIH BERKELIARAN DI KAMAR GUE???” Dan tak butuh waktu lama, bantal-bantal di tempat tidurku sudah melayang ke wajah Agha. Kulihat Agha mencoba menghindar dari serangan bantal-bantal sambil tertawa, lalu keluar dari kamarku. Dilihat dari mana pun, kami memang hanya cocok untuk sahabatan. Setidaknya untuk saat ini. Aku tersenyum dan beranjak pergi dari tempat tidurku. Bersiap-siap untuk pergi ke tempat favorit kami. Dimana lagi kalo bukan toko buku. :D***By : Rai Inamas LeoniTTL : Denpasar, 08 Agustus 1995Sekolah : SMA Negeri 7 DenpasarBlog : raiinamas.blogspot.com

  • Cerpen Cinta: DI MALAM FESTIVAL

    DI MALAM FESTIVAL oleh Mina HaryonoCerpen.Gen22.net – Mami Nadia berteriak-teriak memanggil anaknya. Nadia keluar kamar. Ia baru saja menikmati tidur siang yang membuat kepalanya berdenyut. Matanya masih agak tertutup. “Ada, apa, Mi?”“Kamu ini bagaimana, sih? Kamu ‘kan harus menjemput Farah!” Kantuk Nadia langsung hilang. “Tiga puluh menit lagi kereta Farah sampai di statsiun.” Maminya geleng-geleng kepala melihat Nadia yang terburu-buru lari ke kamar untuk ganti baju dan mengambil dompet. “Hati-hati di jalan, Sayang. Mami mau arisan di tetangga sebelah.” Mami Nadia bergegas pergi.Nadia membuka pintu garasi sambil menggerutu. “Ini gara-gara kak Galih! Tiap hari pulang Maghrib melulu! Jadi aku yang harus menjemput Farah dan naik mobil tanpa SIM!”“Hei, kuantar, ya.” Nadia berteriak kaget. Ia mendapati tetangganya, Rendy, di muka garasi. Rendy tersenyum meminta maaf. Nadia menolaknya dengan sinis. Ia masuk ke mobil dan langsung menyalakan mesin mobil. Ia mundur sampai matanya bertatapan dengan Rendy. Nadia menatap sinis. Lalu Nadia memundurkan sedan metalik Ayahnya dengan lancar dan membawanya melesat di jalan raya.Setelah memarkir mobil dengan aman, Nadia langsung berlari tergesa-gesa. Ia menoleh kesana-kemari saat penumpang kereta sudah banyak yang turun, tetapi ia tidak menemukan Farah. Jangan-jangan Farah naik kereta yang salah, seperti saat es-em-pe kelas dua, dua tahun yang lalu? Nadia menggaruk kepalanya. Lalu ia melihat Farah. Hampir tergelincir Nadia, saat ia berlari menaiki kereta. Ia tersenyum lega melihat sepupunya itu sedang menurunkan tas besar dibantu seorang petugas yang masih muda. Farah terlihat hampir menangis sekaligus lega melihat Nadia. Nadia tersenyum geli. Ia mengucapkan terima kasih pada petugas yang membantu tadi, lalu merangkul Farah turun dari kereta. Saat ia menoleh ke kereta, ia melihat petugas tadi buru-buru membuang muka dan berlalu. Heee, jangan-jangan cowok tadi naksir Farah?Nadia membantu membawa tas hitam super besar Farah. Farah adalah sepupunya yang agak ceroboh. Tetapi ia mau menolong dan mempunyai sifat yang baik dan lembut. Ia belum punya pacar karena ia memang belum pernah jatuh cinta. Padahal cowok yang antri banyak, mereka semua menyukai kecerobohan Farah.“Ah!” Farah tiba-tiba berteriak dalam mobil. “Nadia, aku lupa bilang terima kasih pada petugas yang membantuku menurunkan tas tadi! Cowok itu baik sekali, walaupun ia sering membentakku. Pertama, saat aku tersandung di dekat pintu kereta. Lalu saat aku menumpahkan minumanku ke seragamnya. Tapi ia tetap membantuku menurunkan tasku meski sambil marah-marah.”Tadi Nadia memang sekilas melihat noda di bagian depan seragam petugas itu. Ia tersenyum membayangkan kecerobohan Nadia, dan bagaimana petugas tadi marah-marah. Sepertinya Farah tertarik pada petugas yang masih muda itu.Di rumah, Nadia langsung mengantar Farah ke kamar tamu, kamar yang dulu pernah ditempati Farah saat berkunjung. Karena kelelahan, Farah langsung tertidur lelap. Nadia menyelimutinya lalu meninggalkan kamar. “Selamat datang, sepupu.”*** Pukul setengah lima pagi Farah membangunkan Nadia dan mengajaknya lari pagi. Dengan mata masih mengantuk Nadia pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Mereka lari mengelilingi kompleks perumahan Nadia sampai pukul enam, lalu Farah mengajaknya untuk sarapan bubur di taman.Di taman, mereka bertemu dengan Rendy, lalu Rendy mentraktir mereka bubur. Sebenarnya Nadia tidak ingin dekat-dekat dengan Rendy dan ingin segera pulang. Tetapi Farah sangat ingin makan bubur, Jadi terpaksa Nadia menerima tawaran traktiran Rendy. Farah duduk di antara mereka berdua.Selama makan, Nadia menunduk terus dan tidak mau menatap Rendy. Ia makan dengan cepat, tidak bicara, walaupun Farah dan Rendy mengajaknya mengobrol. Setelah selesai makan, Nadia langsung buru-buru mengajak Farah pulang. Rendy berteriak memanggil Nadia namun Nadia diam saja. “Nadia, jangan lari, nanti keram perut! Kau ‘kan baru saja makan!”Farah sepertinya ingin bertanya kenapa Nadia tidak mengacuhkan Rendy, tapi ia mengurungkan niatnya, sampai Nadia sendiri mau bercerita.*** Nadia menghela napas. Ia menyandarkan tubuhnya ke bahu tempat tidur. Ia memandang langit-langit kamarnya dan bayangan masa lalu kembali memenuhi benaknya.Saat itu Nadia masih kelas dua SMP. Ia mendapatkan tetangga baru, Rendy. Rendy cowok periang, ramah, dan murah senyum. Tubuhnya tinggi, tegap, dan atletis. Rambutnya dipangkas pendek. Karena Rendy satu SMU dan satu kelas dengan Galih, Rendy sering main ke rumahnya. Kadang Nadia main ke rumah Rendy untuk mengantarkan makanan atau menanyakan PR (sebab Galih pelit meski pintar).Nadia jatuh cinta pada Rendy dan Nadia terang-terangan menunjukkan sikapnya. Tapi Rendy hanya menganggapnya adik, Nadia menerima hal itu. Hal yang membuatnya kesal adalah sebulan yang lalu Rendy mengenalkan Nadia pada temannya, Bayu. Kata Rendy, Bayu naksir Nadia. Sejak itu Nadia memutuskan untuk membenci Rendy.Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Farah memanggilnya untuk makan malam bersama keluarga Nadia. Setelah makan malam, Galih berbisik pada adiknya. “Kau ini kenapa akhir-akhir ini menghindar dari Rendy? Dulu kau senang bersamanya.” Mata Galih menyipit. “Rendy menunggumu di halaman belakang. Kau harus kesana!” Ia menghampiri Farah. “Farah, aku akan mengantarmu keliling kota. Nadia ada urusan. Ayo!” Galih merangkul Farah. Sorot matanya mengatakan bahwa Nadia harus menemui Rendy.Aku takkan datang! Nadia menjatuhkan diri ke sofa. Setelah setengah jam, Nadia melongok ke halaman belakang rumahnya. Ia melihat Rendy sedang membelakanginya, memandangi kolam renang persegi. Nadia membuka pintu, Rendy lansung berbalik. “Hai, kukira kau takkan datang.” Karena Rendy tampak kedinginan, Nadia mempersilahkannya masuk. “Terima kasih.” Rendy duduk di tepi keramik dapur. Nadia tidak menyalakan lampu karena ia tidak ingin Rendy melihat wajahnya. “Ada apa?”“Nadia….” Rendy menggosok hidungnya. Ia bersin beberapa kali karena kedinginan. “Aku hanya ingin tahu kenapa sikapmu belakangan ini berubah. Sepertinya kau menghindariku. Kau sudah seperti adikku, lalu tiba-tiba, Bum! Kau menghindariku.”Nadia menunduk. “Aku hanya tidak suka Kak Rendy menyodorkan aku pada Kak Bayu. Padahal sudah ada cowok yang kusukai.”“Oh? Benarkah? Aku minta maaf.” Rendy mendekati Nadia. “Maafkan aku, aku takkan mengulanginya lagi. Aku ingin kau kembali menyapaku. Kau mau ‘kan, Nadia?”“Aku…baiklah.” ujar Nadia lemah. Sayang sekali Nadia tidak melihat mata Rendy yang berkilat senang dalam kegelapan. Nadia menempelkan dahinya di kaca jendela dapur, memandangi Rendy yang berlari melompati pagar tembok pembatas rumahnya dan rumah Rendy. Lalu Nadia menangis karena ia sangat menyadari bahwa ia masih mencintai Rendy. Dan ia pun tahu, cukup sulit untuk membenci Rendy.*** Nadia merengek pada Galih agar ia dan Farah diberikan tiket khusus untuk datang ke festival tahunan di SMU Galih (acara lanjutan setelah acara kelulusan kelas tiga) yang tertutup untuk umum. Awalnya Galih menolak, namun karena ia pusing mendengar rengekan adiknya, akhirnya ia mengiyakan. “Baiklah, tapi kau dan Farah cari kostum sendiri. Aku akan meminta tiketnya pada ketua nanti. ”“Siap, Letnan! Terima kasih, ya!” Nadia mengecup kakaknya. Galih mengelap pipinya dan mengibas-kibaskan tangan menyuruhnya keluar dari kamarnya. Nadia langsung berlari menemui Farah. “Berhasil, kau tidak sia-sia berlibur di sini, Farah! Kita bisa menikmati festival tahunan dengan gratis di SMU Kak Galih! Ayo kita cari kostum!” Kemudian mereka mencari baju bekas di loteng dan bahan lain yang bisa ditemukan di loteng dengan penuh semangat.Nadia senang sekali bisa ikut pesta kelulusan kelas tiga sekaligus festival tahunan yang hanya ada di SMU Galih. Di pesta itu semua mengenakan kostum. Ada yang mengenakan kostum hantu, tokoh-tokoh Disney, dan tokoh idola. Tahun pertama di SMU, Galih mengenakan kostum Pinokio, dan tahun kedua mengenakan kostum Zero. Nadia belum tahu apa yang akan dikenakan kakaknya di festival nanti. Di festival itu semua berdansa sampai tengah malam (acara pesta kelulusan dimulai pukul 9 pagi sampai pukul 3 sore, dilanjutkan acara festival tahunan mulai pukul 7 malam sampai tengah malam). Setiap hari Galih pulang Maghrib karena ia panitia Seksi Dekorasi. Tapi Nadia tidak diberitahu setting festival kali ini seperti apa. Di pesta itu panitia tergabung dari kelas 1, 2, dan kelas 3 yang akan lulus. Rendy juga Seksi Dekorasi, tapi ia izin saat ada arisan RT di rumahnya beberapa hari yang lalu karena harus membantu ibunya menyiapkan arisan.Seminggu kemudian….“Ini benar-benar festival, Nadia!”“Ya, hmm….” Nadia terpesona menatap gerbang sekolah yang masing-masing tiang dihiasi kepala nenek sihir dan devil. Di tengah gerbang terbentang kain hitam dengan cat merah bertuliskan ‘WELCOME IN FESTIVAL’. “Farah, jangan melompat-lompat, nanti kau ja….” Nadia memijat dahinya melihat Farah dengan kostum kuda ─ yang lebih mirip kostum keledai ─ jatuh tersungkur ke tanah. Sebelum Nadia sempat menolong, seorang cowok berkostum Aladdin mengulurkan tangan pada Farah. Sepertinya aku kenal cowok itu tapi di mana ya? Nadia berlari menghampiri Farah. “Kau tak apa-apa?”“Ya, tapi lututku.” Farah melihat cowok Aladdin. “Ah, cowok pemarah!”“Cewek ceroboh! Kenapa ada di sini?” tanya cowok pemarah alias petugas statsiun. “Ini ‘kan tertutup untuk umum, kecuali kalian punya tiket khusus….”“Sepupuku panitia di sini, kelas 3, namanya Galih Prasetyo. Kau sendiri?”“Aku juga kelas 3 di SMU ini. Aku…Firman.”Nadia mundur perlahan. Oke, deh, dunia milik berdua! Nadia memperhatikan siswa-siswi yang berlalu-lalang. Mereka mengenakan kostum yang bagus, keren, dan indah. Ada Cinderella, Robin Hood, Wonder Woman, cewek koboi, dan tokoh terkenal lain. Ada juga yang mengenakan kostum Casper, Harry Potter, dan Frankeinstein.Nadia merinding melihat dekorasi yang dibuat. Setting festival tahun ini adalah Istana Hantu. Di kiri kanan pintu masuk aula pesta dansa yang sangat luas dipasang mumi dan manusia serigala yang dari moncongnya menetes darah. Di dalam aula sendiri didekor seperti Istana Hantu, hanya 8 nyala obor menerangi. Di langit-langit tergantung kelelawar karet, dan di sudut dibuat sarang laba-laba beserta laba-labanya. Suasana menakutkan sekaligus menyenangkan. Di aula sama ramainya dengan di luar. Siswa-siswi berkostum tengah asyik mengobrol, bercanda, ataupun berdansa dengan pasangannya. Di panggung ada yang nge-band diselingi musik dari piringan hitam.Nadia merasa diperhatikan seseorang. Saat ia menoleh, matanya bertatapan dengan seorang cowok berpakaian koboi, lengkap dengan topi koboi, sepatu bot, dan pistol di pinggang. Nadia mengenali Rendy, dan jantungnya langsung berdegup kencang. Malam ini Rendy sangat tampan. Beberapa perempuan mengelilinginya. Snow White, Tinker Bell, Ratu Salju, dan Madonna. Dengan sedih Nadia memalingkan wajah. Ia mencari-cari Galih dan menemukan kakaknya sedang menyesap minuman berwarna biru sambil memperhatikan sekeliling. Nadia menghampiri kakaknya itu. “Kau belum ganti kostum, Kak?”Galih terkekeh. “Kau tahu, idola yang paling kukagumi adalah diriku sendiri.” Galih mengaduh karena Nadia memukulnya. “Hai, Rendy, titip adikku, ya. Aku mau mencari Sisca. Kalian akur-akur, ya!” Galih langsung berlari dan menghilang di kerumunan orang-orang berkostum. Nadia tidak mengira bahwa Rendy telah berdiri di belakangnya sampai tadi Galih menyapanya. Ia tidak berani menoleh. Namun Rendy menarik sikunya dan mengajaknya ke luar aula, setelah sebelumnya Rendy mengambilkannya minuman bersoda dari meja minuman di dekat pintu keluar aula. Mereka mencari bangku yang kosong, dan menemukannya di bawah pohon pinus, di samping aula. “Kau terlihat cantik mengenakan kostum gipsy ini, Nadia.” Rendy tersenyum memandangnya.“Te-terima kasih. Oya, dekorasinya sangat bagus….” Nadia memperhatikan kelelawar karet yang menggantung di pepohonan di depannya.“Syukurlah.” Rendy tak lepas memandangnya, membuat Nadia rikuh dan ge-er. “Galih bekerja paling keras. Dari kelas satu ia ingin mewujudkan hal ini.” Akhirnya Rendy menatap kejauhan. “Rendy memberikan kostum yang telah ia jahit sendiri pada teman kami yang tidak mampu. Galih orang yang sangat baik.”Dengan perasaan bangga Nadia tersenyum. “Ya, tentu saja.” Nadia melihat siswa berkostum tengkorak lewat di depannya. “Mana pacar Kak Rendy?”“Sudah putus. Lucu juga, kami hanya berpacaran seminggu….” Rendy kembali menatapnya. Wajahnya tegang, tanpa senyum, namun tetap tampan. “Nadia, saat kau menjauh beberapa waktu lalu, aku baru menyadari perasaanku. Karena itu aku putus dengan Melly. Aku… jatuh cinta padamu, Nadia.”Nadia membelalak. “Kau ‘kan hanya menganggapku adik….”“Ya, mulanya aku menganggap begitu. Aku menyesal tentang Bayu. Saat kau menjauh, aku merasa kosong, rindu padamu. Oleh karena itu aku mengajak berdamai. Aku pengecut, tidak mengatakan alasan sebenarnya untuk berdamai. Aku pura-pura menjadi kakak yang kesepian. Tak usah panik, aku hanya ingin memberitahumu. Sebab ini hari kelulusanku. Aku akan kuliah di Purwokerto. Lagipula kau ‘kan punya cowok yang kausukai…waktu di dapur kau bilang begitu ‘kan….”“Orang yang kusukai itu Kak Rendy! Apakah tidak sadar? Aku terang-terangan menunjukkannya. Aku kesal Kak Rendy tidak peka dan malah menyodorkan Kak Bayu.”“Kau tidak mengada-ada ‘kan?” Rendy memegang bahu Nadia. Matanya berkilat senang dan ketegangan di wajahnya mencair, berubah menjadi sangat cerah. “Sudah kubilang aku menyesal soal Bayu.” Rendy memeluknya. “Aku cinta padamu, Nadia.” Rendy melepas pelukannya dan menatapnya penuh senyum. “Kau mau menjadi pacarku ‘kan?” Rendy menunggu sampai Nadia mengangguk, lalu berdiri dan mengajak Nadia kembali ke aula untuk berdansa sampai tengah malam. Di malam festival ini menjadi malam terindah bagi Nadia. Cintanya selama ini akhirnya tersampaikan.TAMATMina Haryonomina.haryono@yahoo.com

  • Cerpen Remaja: BULAN PENUH KECEWA

    BULAN PENUH KECEWAOleh Cha HfgRilyaApril…..Dalam hidup ini aku tidak pernah berpikir semua hal yang bernama kemunafikan atau hal yang membuat sakit hati. Hari ini tepat 1 tahun hari jadian kami, aku bahagia memiliki dia, orang yang selalu setia dan sabar dengan sikap ku yang super egois. Dan satu hal yang buat aku hari ini agak tampak lesu , aku berencana buat putus tepat di hari jadian kami. Sesuai rencana kami bertemu setelah aku pulang sekolah. Saat di gerbang sekolah aku sudah disambut oleh senyum manisnya.“capek ya?” sapa Rian“nggak kok kak, nggak kuliah hari ini?”berusaha untuk basa basi“kuliah cuman tadi jam9 udah pulang”“oke deh, pulang yuks , panes banget” aku mengibaskan tangan ku sambil menahan panas teriknya matahari.Diperjalanan pulang aku masih tetap diam, dia Nampak kebingungan dengan tingkah laku yang aku lakukan.“Lha, kamu gak enak badan ya? Kok diam aja dari tadi”“ehmbt gak juga, oh ya aku ada yang ingin di omongin”“ngomong aja”“aku tau kita akhir-akhir ini sering berantem , dan aku juga tau kakak selalu mengalah dengan semua masalah kita, tapi aku merasa berdosa kalo gak ngomongin ini ke kakak, kakak kenalkan sama Dion?”“oh dia itu kan selalu kamu cerita”“iya, dan sekaranga ku sama dia udah deket, dan kayaknya aku gak bisa ngelanjutin hubungan kita, maafin aku”“Lha hari ini seharusnya kita bahagia, kenapa harus ngeluarin kata-kata yang bikin hancur berantakan, aku tau kamu becanda” lau menghentikan motor ninja nya.“gak kak ini beneran, maaf”“udah nyampe Lha , aku pulang dulu, oh ya moga pilihan kamu itu tepat”Satu bulan ini aku benar-benar gak tau dengan kabar Rian, dia gak pernah telpon ataupun sms aku duluan, kalopun aku sms atau telpon dia gak pernah bales n ngangket, dan hubungan ku sama Dion sekarang resmi jadian, dia lucu buat aku gak kaku kalo berhadapan bersama dia beda sama Rian.dia juga senang bergaul sama sahabat aku, dan sahabat aku juga menyukainya.Kami bersahabat lima orang, Sinta, Intan,Aira, dan Melinda. Kami selalu kompak disekolah, kami udah bersahabatan mulai dari kecil dan sekarang ini kami kelas 3 SMA . dalam 2 bulan ini hubungan aku sama Dion baik-baik aja, bahkan bisa dibilang mengasyikkan. Dia nganterin aku, suka ngumpul bareng sahabat aku, dan juga dia akrab sama keluarga aku, itu yang aku suka, dan buat aku benar-benar ngelupain Rian.Sebenarnya awal perkenalan aku dengan Dion saat itu dia punya sepupu yang sekelas dengan aku, karena aku juga termasuk siswi yang smart d SMA itu maka aku suka koleksi buku paket, jadi dia minjem buku paket, karena ada tugas dari kampusnya. Sejak itu kami mulai dekat tapi gak langsung jadian karena aku lebih tertarik sama Rian yang kata-kata anak dia super pintar di kampusnya, dan akhirnya aku jadian sama Rian bukan Dion.September….Hari ini, sahabat aku ngajak ngmpul, aku juga gak tau kenapa dadakan sekali, katanya ada yang mau di omongin, sore itu mereka nyampe dirumah aku.“tumben banget ya dadakan banget, besok disekolahkan bisa cerita”“ohya Lha, gimana hubungan kamu sama kak Dion?”Intan memulai pembicaraan.“baik-baik aja, barusan juga baru telponan, kenapa?"“aku dan temen-temen gak suka kamu sama dia, mending kamu putusin aja kak Dion” ujar Intan semangat.“kenapa? Kok gitu? Emank ada salah apa?”“Lha, maafin aku yah, aku baru sekarang ngomong sama kamu , kak Dion dalam seminggu terakhir ini sering ngajak aku ketemuan, dan katanya hari ini akan putusin kamu demi aku, tapi aku bilang gak bisa, karena aku sayang kamu Lha. Dia gak pernah suka sama kamu, dia Cuma mau main-mainin kamu dan aku harus jujur sama kamu, kak Dion itu jahat Lha” Melinda sambil memelukku.“apa?” entah apa yang aku pikirkan yang pasti aku ngerasa dadaku sesak dan benar gak terasa air mata itu jatuh tanpa aku sadari ,“udah lah Lha, kenapa harus nangis harus yang sekarang kamu lakuin putusin dia, kamu mencintai orang yang selama ini nggak pernah suka sama kamu” Sinta berusaha untuk menegaskan.Aku mengambil handphone ku dan menelpon kak Dion, dan terdengar suara disana yang membuat aku sebenarnya enggan untuk bicara.“hallo, kenapa Lha?”“makasih ya kak, sayangnya aku nggak niat lagi kita pacaran , dan jangan lagi ganggu hidup aku, kita putus”Udah 2 hari ini aku gak pernah mau ketemu sama Dion, dia udah telpon berkali-kali aku gag pernah angkat , aku tau mungkin dia merasa bersalah dengan sikapnya yang begitu. Saat aku lagi tiduran dirumah , terdengar suara ketukan pintu, dan aku keluar yang aku lihat sosok Dion yang Nampak pucat.“kenapa? Apalagi?aku lagi sibuk buat tugas”“kakak pengen ngomong Lha, setelah kakak jelasin kita boleh berakhir”“masuk” dengan wajah bête“Lha, maafin kakak untuk itu, mungkin rasa suka kakak terhadap Melinda salah”“gak kok kak, itu udah hak kakak buat sama dia”“jujur awal kita pacaran kakak nggak pernah suka sama Lala, tapi saat saat kakak kehilangan Lala , kakak merasa menyia-nyiakan orang yang benar-benar sayang sama kakak, kakak butuh Lala, percaya ato gak, kakak pengen kita kayak dulu”“maaf kak, kayaknya aku nggak bisa, lebih baik kita akhiri saja, aku udah ikhlasin semua, jadi sekarang aku ingin kakak jalanin hidup kakak dan juga aku sebaliknya”“ makasih, tapi kakak masih berharap kita bisa seperti dulu, dan kakak benar2 ingin menebus dosa kakak”“gak ada yang salah”Sejak saat itu dalam pikiran ku benar-benar ingin melupakan semua hal terindah itu, karena saat setiap kali mengingat Dion yang ada rasa sakit karena dia berusaha mencintai ku hanya untuk buat aku tersenyum. Dalam kesendirian ku yang ada bayangan Rian sering muncul , dia yang benar-benar mencintai ku malah aku sia-siakan. Mungkin ini juga karma buatku.Dan aku akan menjadikan ini pelajaran, bahwa tidak selalu orang yang kita cintai itu baik untuk kita, maka itu aku tidak akan pernah menyianyikan orang mencintaiku hanya untuk orang yang aku cintai.THE ENDTentang PenulisNama : Cha AnisaE_mail : cha_hfgrilya@yahoo.comFB : hfgrilya_ca@yahoo.com ( Anysa HfgRilya )Twitter : @chastargeonBlog :Cewek Smart n Happy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*