Cerpen Horor: The Secret of The Toilet

Cerpen HororJudul: The Secret of The Toilet
Kategori: Cerpen Misteri
Penulis: Ray Nurfatimah
Clakk….clakkk…clakkkkkk…..
Tetesan dari kran yang tidak tertutup rapat itu semakin menerorku yang hingga tengah malam ini sukar untuk tertidur. Kulirik bulatan putih didinding yang terhalang remang-remang malam.
“Huff….. mana baru jam sebelas empat lima lagi,” bisikku pelan.
Entah sudah berapa kali aku membolak-balikan bantal usang yang hampir tidak tersentuh sabun selama aku pindah kekosan Bu Alina. Maklum aku adalah seorang siswi kelas tiga SMA yang merangkap menjadi pelayan disebuah restoran siap saji.
Sebelumnya aku tinggal dikosan Bu Dian, tapi karena terbelit hutang kanan kiri, ya dengan terpaksa aku kabur. Padahal malam itu Kak Danar, putra bungsu bu Dian bersikeras menghalangi kepergianku. Aku harus pergi dari pada tiap hari kena omel bu Dian, belum lagi cibiran pedas dari penghuni kos lain tentang hutangku yang belum aku bayar.
Berbekal uang tiga ratus ribu rupiah, hasil penjualan ponsel lamaku . Aku memberanikan diri untuk tinggal dikosan baru dengan menjanjikan upahku sebagai pelayan restoran.
“Akhir bulan nanti segera cair, bu.” bujukku kepada bu Alina saat dia menolak rencanaku tinggal di kossannya.
“Bukan karena kondisi keuanganmu dek Mayang, tapi memang kamar kos disini sudah penuh.” Sahutnya lembut.
Ya memang benar, aku lihat rumah besar yang terdiri dari lima kamar dilantai satu telah penuh sesak diisi oleh sembilan orang penghuni kos dan satu asisten pribadi Bu Alina.
Tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya beliau menyerahkan kamar putri semata wayangnya yang tengah mengenyam pendidikan di Jepang kepadaku.
“Haduh betapa beruntungnya diriku ini.” Fikiriku sesaat setelah Bu Alina mengesahkan kamar kebanggaan putrinya kepadaku. Betapa tidak kamar ini begitu luas dan satu-satunya kamar yang memiliki toilet sendiri. Apalagi bu Alina dengan cuma-cuma meminjamkan kasur dan meja rias milik putrinya. Hanya saja dia dia tidak membolehkan aku menggunakan lemari besar dikamar itu, mungkin karena lemari itu telah diisi penuh oleh barang-barang milik putrinya.
Tapi untung saja dimeja rias menempel sebuah lemari kecil yang masih bisa aku gunakan untuk menyimpan pakaian ku, dan sebagian lagi bisa aku gantung di pegantungan di belakan pintu.
Kembali kulihat jam, kali ini tepat pukul dua belas malam dan aku aku masih terjaga. Tiba-tiba “Wwhuuuuussshh……..” sekebat angin kencang masuk kerongga kamarku, menyisakan sosok putih yang melambai-lambai didepanku. Seketika aku terkejut, “Sial aku hampir saja membiarkan jendela terbuka semalaman.” Gerutuku sambil menutup jendela dan membenarkan tirai putih yang tersapu angin.
Aku kembali merebahkan tubuh mungilku di kasur besar nan empuk ini. Pelan tapi pasti mata ini mulai menutup.
Byuuuuurrrrr…… Suara guyuran air mengagetkanku.
“Jam segini siapa yang mandi sih? Ganggu orang saja!” gerutuku kuesal
Otaku mulai berfikir waras “Tapi asal suaranya dari…….” Entah mengapa bibirku benar-banar tertahan. Kulirik pintu toilet, dan benar saja dari lubang kunci pintu toilet sesosok wanita berambut panjang tengah tertunduk kaku dibawah cipratan air shower.
“Apa mungkin dia putrinya bu Alin?” fikirku membuyarkan rasa takutku sendiri.
Tanpa berfikir panjang lagi, aku segera beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah menuju tempat tidur, suara tangisan memaksaku untuk kembali.
“Kkenapa Mbak? Mmbak ggak kenapa-napakan?” tanyaku sedikit gugup.
Dia tak kunjung menjawab pertanyaanku, malah tangisannya semakin menjadi.
“Hiks……hiks…… tolong aku hikksss….”
Suara tangisan itu menggema mendominasi kamarku. Aku benar-benar panik. Sekuat tenaga kucoba rubuhkan pintu berbahan plastik itu, dan hasilnya nihil. Tangisannya pelan-pelan meredup. Kulihat kembali dari lubang kunci, dan betapa kagetnya aku saat kulihat tubuh wanita misterius itu kini tak utuh lagi. Berdiri lesu sesosok tubuh tanpa kepala, lehernya dipenuhi daging yang berantakan. Dan cipratan darah segar menodai dinding-dinding toilet.
Tubuhku benar-benar terasa bergetar dan tak bisa mengatakan apa-apa. Saat ku alihkan mataku kearah lantai toilet, tergeletak sebuah kepala berambut panjang bersama sebilah gergaji di sampingnya. Aku semakin berguncang hebat, entah apa yang aku fikirkan saat itu. Rasanya aku ingin berlari ke kamar penghuni lain untuk meminta bantuan. Tapi aku sama sekali tak bisa bergerak, piyamaku terjepit engsel pintu.
“Haaaaaaaaa…… tolong!!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Dengan tergesa-gesa kugigit piyamaku. Dan Seeeeeetttt, bagian belakang piyamaku berhasil robek. Aku berlari sekencang-kencangnya memburu pintu keluar kamar.
Creek….creeeek…..
“Arrggght….. kenapa gak bisa dibuka? Aku semakin panik.
Segera ku ambil posisi kuda-kuda dan… Bruuukkkk…… tendanganku merobohkan sebilah pintu yang terbuat dari kayu.
Nafasku terasa sesak mencium bau anyir darah yang menusuk ke paru-paru. Tapi aku semakin menggila dan ketakutan saat kulihat pemandangan aneh dari balik pintu kamarku.
“Ttttoilet???” tanyaku bingung. Ternyata toilet yang sama, hanya saja yang membedakan tinggal kepala yang tergeletak dilantai.
Kepala berambut panjang itu pelan-pelan menoleh dan menyeringai kepadaku.
“Hyaaaaa…..!"
***
Creeeekkkkk
Seseorang membuka pintu kamarku, dia mnyeringai hangat dan mendekatiku.
“Rupanya kamu demam ya May?” sahut Bu Alina sambil menempelkan punduk tangannya di keningku.
“Syukurlah ternyata cuma mimpi,” bisiku pelan.
The End
By : Ray Nurfatimah

Random Posts

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 04 {Update}

    cerita soal Serial Diera Diary kita lanjut ya teman – teman. Secara ceritakan emang belum ketemu sama yang namanya ending. Kali ini giliran Cerita SMA Diera Diary ~ 04. Gimana sama kelanjutan hubungan Diera dan Rian bisa kita simak di bawah ini.And as always, seperti biasanya. Untuk mempermudah sekaligus supaya nggak ketinggalan cerita, sebaiknya baca dulu cerita sebelumnya disini. Cerita SMA Diera Diary ~ 04Cerita SMA Diera Diary ~ 04Diera terus melangkah dibelakang Rian. Dalam hati ia mengerutu akan sikap keras kepala makhluk yang berjalan di hadapannya. Tapi untuk ketiga kalinya, Rian kehilangnan keseimbangan nya dan mau jatuh, namun kali ini Diera tidak sempat menolongnya karena tadi Rian. Alhasil, Rian beneran jatuh dan langsung menjerit kesakitan karena kakinya ketindih dia sendiri. Diera buru-buru membantunya.“Tadi gue bilang juga apa. Elo sih ngeyel. Gue bantuin nggak mau. Liat sendirikan akibatnya. Jadi malah makin parah nih. Darahnya keluar lagi tuh,” omel Diera sambil memeriksa lukanya Rian. Rian hanya bisa meringgis menahan sakit.“Loe punya sapu tangan nggak” Tanya Diera beberapa saat kemudian“Ada, tuh didalam saku tas gue.”Diera segera mengambilnya dan mengunakannya untuk memebalut luka tersebut agar darahnya tidak keluar lagi.“Aw pelan-pelan donk… sakit tau” jerit Rian.“Oh ea?…. masa sih gitu aja sakit. Loe kan cowok “ ledek Diera membuat Rian bungkam.“Nah sekarang udah bereskan. Makanya kalau di omongin sama orang tu di dengerin. Huh… nyusain gue aja loe.”Rian mencoba berdiri dan siap mau jalan lagi, tapi Diera segera meraih tangannya dan melingkarkan di pundaknya. Siap untuk memapahnya, awalnya sih Rian tetap menolak, tapi akhirnya ia ngalah karena Diera terus ngotot. Dan mereka pun melanjutkan perjalanannya.“Ada apa?” Tanya Rian Heran karena Diera tiba-tiba berhenti.“Coba liat itu deh” tunjuk Diera tepat keatas mereka. Rian mendongakan kepalanya. Ternyata tepat diatas mereka ada pohon mangga hutan yang kebetulan sedang berbuah.“Gue laper nih. Kita ambil mangga itu dulu yuks. Kan lumayan,” ajak Diera. “Tapi gimana cara ngambilnya?”Diera bingung karena tuh pohon lumayan tinggi. Memanjatnya, rasanya nggak mungkin. Diera mencoba menjoloknya pake kayu tapi nggak ada kayu yang panjang, jadi nggak nyampe. Ia mencoba memetiknya dengan melemparinya pake ranting kayu , tapi nggak ada satu pun dari lemparannya yang mengenai sasaran. Akhirnya ia nyerah. Sampai ada sebiji buah mangga yang jatuh tepat di sampingnnya. Ia seneng dan langsung memungutnya. Saat menatap kesekeliling, tatapannya terhenti ke arah Rian yang sedang memegang ranting kayu kecil dan siap kembali melempar. Kali ini bukan Cuma satu tapi dua biji mangga yang jatuh. Diera tentu saja kagum melihatnya. Rian terus melempar, dan setiap lemparannnya selalu tepat sasaran. Diera benar – benar tidak percaya pada penglihatannya walau pun selama ini ia juga tau kalau Rian sanggat terkenal di sekolahnya akan keahliannya dalam bermain basket.Setelah tampak buah mangga yang lumayan banyak di tanah, Diera bilang cukup. Ia pun mengumpul kan semua mangga tersebut di depan Rian. Setelah itu ia pun duduk di sampingnya.Rian mencoba mengambil sebiji dan mengigitnya. Tapi buru-buru ia muntahkan lagi karena rasanya sanga masam, maklumlah magga tersebut memang masih mentah.“ Ya ampun. Ini manga atau asem sih. Kok rasannya kecut banget” ujarnya. Ia Heran karena Diera santai saja dan terus memakan mangga tersebut dengan santai. Bahkan keliatannya Diera malah suka.“Namanya juga masih mentah. Ya emang kayak gini rasanya. Loe pikir ni madu apa. Manis…..” balas Diera cuek.“Gue bisa sakit perut kalau makan ginian.”“Ya udah terserah loe. Tapi menurut gue ya masih mending sakit perut dari pada mati kelaparan.”“Tapi kok loe kayaknya nggak kekecutan sih?” Rian Heran.“He he he…. Gue kan emang suka. Tau nggak sih, bahkan mangga depan rumah gue nggak sempet mateng. Cuma biasnya gue makannya bareng sama garam.”Rian benar-benar tidak percaya mendengarnya. Walaupun rasanya bener-bener kecut, Rian akhinya memakannya juga. Bahkan sampai merem-merem segala. Diera memasukkan beberapa butir mangga yang belum mereka makan kedalam tasnya. Karena mereka masih harus menemukan jalan keluar dari hutan tersebut atau paling nggak bisa ketemu sama teman-teman mereka kembali.Hari sudah hampir malam lagi. Barulah sayup sayup Diera mendengar suara teriak-teriakan. Awalnnya ia pikir itu suara binatang hutan . tapi untung lah bukan karena ternyata itu suara teman-teman mereka yang terus mencarinya.Anggun, Narnia dan Hera langsung memeluk nya begitu melihat batang hidun Diera. Selama ini mereka bener-bener cemas akan nasib sahabatnya yang satu ini. Makannya mereka terus ikut dalam mencari mereka. Sementara itu para cewek-cewek yang lain sibuk ngerubungi Rian. Tapi mereka langsung pada cemberut karena anderani and teman-temanya langsung mengusirnya. Cerita SMA Diera Diary ~ 04“Eh entar sore kita pada jadikan buat main ke rumah Diera?” Tanya Hera sambil mengcampur aduk saus kedalam mangkuk baksonnya.“Ia donk, sebenernya kemaren sore gue udah kesana. Tapi dia masih belum bangun dari tenpat tidur” balas Lilly.“Kasihan…. Jadi dia sakit beneran habis pulang dari camping kemaren.”“Yo’a… apalagi kemaren kan dia sempet nyasar” Lilly menganguk. Nggak sengaja matanya tertuju ke sosok seseorang yang mau masuk ke kantin.“Pst…. Coba liat deh siapa yang datang,” Lilly memberi kode ke teman-temannya.“Eh kita samperin yuk” ajak Narnia begitu dilihatnya Rian sudah duduk.“Mo ngapain?” Anggun heran.“Ya mau kasih tau soal Diera lah. Masa mau nanyain dia mau makan apa, emang kita pelayan. Lagipula kemaren Diera kan nyasarnya bareng sama dia. Kali aja dia mau njenguk bareng kita,” sambung Narnia lagi.“Mustahil,” komentar Lilly santai.“Kok gitu?” Anggun Heran.“Kalau loe nggak percaya coba aja samperin. Gue sih ogeh.”Akhirnya semuannya sepakat. Anggun dan Narnia yang nyampering Rian. Lilly hanya tersenyum mengejek melihatnya. Dan terus memperhatikan kedua temannya yang bebicara kepada Rian.Lima menit kemudian Anggun dan Narnia balik lagi dengan tampang kusut. Lilly sudah bisa menebak kira-kira apa yang terjadi.“Gimana?” Tanya Hera penasaran.“Huh…. Benar-benar menyebalkan.”“Sumpah, nyesel deh kita nyamperin dia,” tambah Anggun.“Gue bilang juga apa.”“Ada apa sih?” Hera makin bingung.“Dia nggak mau ikut?” sambung Hera lagi.“Mending kalau Cuma nggak mau. Tau nggak sih dia malah ngomong yang bikin kuping gue panasss banget.”“Betul banget. Swer pengen gue jadiin bakso tu orang biar bisa langsung gue telen bullet-bulet. Sumpah deh.”“Udah mending kalian minum nih es biar adam dulu” Lilly menyodorkan es sirupnya ke kedua temannya sambil tersenyum. Anggun langsung menyerobotnya mendahului Narnia yang juga mau.Hera tentu makin kesel karena kedua temannya makin uring-uringan sementara di Tanya malah nggak jelas gitu. Akhirnnya dia yang memutuskan untuk menghampiri Rian langsung.“Mendinggan nggak usah deh,” cegah ketiga temannya serentak.“Kalian tenang aja. Gue bisa ngatasin ini kok. Kalian liat ya.”Tanpa menunggu balasan dari temannyannya Hera segera beranjak dari tempat duduknya dan menghapiri Rian dengan pedenya.Teman-temannya terus memperhatikan gerak-gerik Hera dengan heran. Apalagi dilihatnya Hera malah duduk bersama Rian sambil ngobrol santai gitu. Sambil nyodorin hape nya segala lagi. Masa sih Rian minta no hape nya dia. Kok bisa. Pikir mereka.“Ya udah gue pergi dulu ya” kata Hera meninggalkan Rian yang terus menatap pungungnya.“Ra gimana?” tanya Anggun penasaran.“Ia. Kok kayaknya kalian ngobrol akrab gitu” tambah Lilly.“Mana tadi Rian judes banget lagi sama kita” sambung Narnia.“Terus kenapa loe tadi nyodorin hape loe segala. Emang Rian minta no hape loe?”“He’eh” sahut Hera santai.“Ha…. Kok gitu. Cerita donk.”“Ya soalnya kan biar gampang ntar dia ngehubungin gue. Soalnya dia ntar ikut sama kita buat ngejenguk Diera.”“What?!” biji mata Lilly kayak mau keluar mendengarnya.“Ceritain donk. Loe pake jurus apa sih?” Narnia bener-bener penasaran.“Ada aja……” Hera tersenyum misterius.Salah sendiri, tadi dia nanya dicuekin, sekarang gantian donk.“Kok gitu sih….” Lilly bete.“Eh udah bel tuh. Buruan kekelas yuks…” ajaknya mengalihkan pembicaraan. Sambil berjalan meninggalkan kantin. Ketiga cecunguk itu terus mengejarnya untuk minta penjelasan. Tapi Hera Cuma angkat bahu sambil terus tertawa.Cerita SMA Diera Diary ~ 04Lilly mengucek-ngucek matanya, kali aja salah liat sementara Narnia malah mencubit tangannya sendiri siapa tau mimpi, Anggun?…. bengong. Mereka benar-benar tidak percaya siapa yang datang berboncengan dengan motor bersama Hera. Yups….. RIAN!!!.“Kalian udah dari tadi ya. Kok belum masuk?” Tanya Hera ke teman-temannya yang masih melototin Rian.“Hei… “ jerit Hera lagi karena mereka masih diam terus. Rian pura-pura ngebenerin riselting jacketnya. Salah tinggkah juga dia di lihatin kayak gitu.“Gue nggak mimpi kan nia” bisik Lilly lirih.“Kayaknya nggak deh, soalnya tangan gue sakit nih gue cubit” balas Narnia.“Hei kalian kok bengong gitu sih. Udah ayo masuk” ajak Hera.“Tapi dia?” tahan Anggun sambil tangan nya menunjuk ke arah Rian.“Ya dia ikut. Memang nya nggak boleh?” Hera balik nanya.“Bukannya waktu di kantin tadi kita ajak loe sendiri bilangnya nggak penting and kurang kerjaan ya?” Narnia tidak dapat menahan rasa penasarannya.“Kalau nggak terpaksa gue juga ogak kali” balas Rian ketus.“Apa?” Hera pertanya dengan nada mengancam.“Gue bilang sampai kapan kita mau berdiri di sini. Jadi ngejenguk temen loe nggak sih?”.ujar Rian kemudian.Diam diam Hera tersenyum mendengarnya.“Inget ya loe harus bersikap manis nanti di dalem. Kalau nggak…”Hera belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika tiba tiba ada yang menyapa mereka. Ternyata mamanya Diera yang baru keluar karena tadi ia seperti mendengar suara motor yang memasuki halaman rumahnya.Reaksi Diera tidak beda jauh dengan reaksi Anggun, Lilly dan Narnia waktu pertama kali melihat Rian muncul didepan pintu kamarnya. Pandangan nya beralih ke Lilly dengan sorot ‘ kok-dia-ada-di-sini’. Lilly hanaya membalasnya ‘aku-anak-polos-nggak-tau-apa-apa’.Suasana sedikit janggal karena kehadiran Rian disana. Semua merasa canggung mau ngomong apa. Sampai Hera buka mulut mencoba untuk mencairkan suasana.“Diera gimana keadaan loe?”“Gue udah agak mendingan kok,” balas Diera sambil mencoba untuk duduk dari tempat tidurnya.“Kita semua ngehawatirin loe lho…” tambah Hera lagi.“Oh ya?. Ma kasih. Tapi sori ya kalau udah bikin kalian cemas gitu. Tapi gue beneran udah mendingan kok. Besok gue juga udah bisa sekolah. Udah kangen gue sama sekolah.”“Kalau loe emang belom baikan mending istirahat dulu….” Saran Lilly.“Dasar cewek…. Gitu aja sakit” gumam Rian lirih. Hera langsung melotot mendengarnya tapi Rian pura pura nggak melihat nya.Tiba-tiba pintu terbuka.“Eh ada temen-temennya kak Diera” sapa Cycie yang baru masuk. Adinya Diera yang baru berumur 6 tahunan.“Ia nih. Terus Cycie yang imut abis dari mana nih. Kok baru nongol” balas Hera sambil tersenyum gemes.“Abis maen ma temen-temen Cycie” balas Cycie sambil matanya tak lepas dari Rian yang tak jauh darinya.“Nah kalau yang itu namanya kak Rian” terang Hera yang menyadari rasa keingin tahuan bocah kecil itu.“O.. kalau aku Cycie. Adek nya kak Diera” dengan ramah Cycie mendekati Rian sambil mengulurkan tangannya, Rian pun tersenyum membalasnya.“Kakak pasti pacarnya kak Diera ya?” Tanya Cycie tiba-tiba yang membuat semuannya yang mendengar nya kaget nggak menyangka akan mendengar pertannyaan yang di lotarkan bocah cilik itu.“Hus Cycie!… apa apaan sih loe. Sembarangan aja kalau ngomong. Udah mending keluar sana loe” Bentak Diera mengusir adiknya karena merasa malu.“Gitu aja marah. Cycie kan Cuma nanya. Abisnya Cycie penasaran sih. Soalnya temen-temen Cycie bilang anak cowok nggak boleh maen ke kamar cewek kecuali kalau pacarnya. Gitu,” Cycie polos.“Ya nggak lah. Kakak Cuma temen kok. Lagian kalau pun pacar juga nggak boleh masuk kekamar cewek,” balas Rian kemudian.“Terus kenapa kakak masuk ke kamar kak Diera. Kak Diera kan cewek?” Tanya Cycie lagi yang membuat Rian makin bingung menjelaskannya.“Kalau kak Rian ke sini itu buat ngejenguk kak Diera yang lagi sakit” Lilly ngebantu menjelaskannya.“O…. gitu ya. Jadi kalau ceweknya yang sakit baru cowoknya boleh masuk yaa?”“Cycie!…”bentak Diera. “Keluar nggak!”.Cycie manatap kakak nya sambil memonyongkan mulutnya. Diera balas menatap tajam kearahnya. Cycie ngalah dan memilih keluar karena ia merasa takut kalau kakak nya beneran marah sama dia.“Sory ya yan ama omongan adek gue tadi” kata Diera ke Rian.“Nggak papa kok.”Cerita SMA Diera Diary ~ 04Diera melirik jam tangnnya. Ia Heran teman-temannya kok belum nongol juga. Padahal tadi ia sudah pesen sama Lilly kalau udah kelar ngisi soal ulangnnya langsung nyusul nya ke kantin. Tapi mereka kok belum nongol-nongol juga ya. Bel juga istirahat juga barusan udah kedengeran.Diera memicingkan matanya seolah kurang yakin dengan peglihatnnya melihat Rian yang dengan santai duduk di kursi di depannya sambil memesankan dua mangkuk mi so dan dua gelas es rumput laut.“Kenapa loe liatin gue kayak gitu?” Tanya Rian Heran.“Loe salah makan ya tadi malam. Atau emang lagi ngelindur?” Diera balik nanya.Rian melongo mendengarnya. Nggak ngerti apa maksut Diera ngomong kayak gitu.“Kenapa emang?”“Ya kok tumben banget loe mau duduk di samping gue. Nggak takut kehilangan selera?”Rian diam saja mendengarnya. Tidak komentar apapun. Malah mengeluarkan hape dari sakunya. Dan sok mencet-mencet tombolnya. Mengabaikan Diera yang masih menanti jawaban darinya.Pelayan kantin datang sambil membawakan pesanan mereka. Rian kembali memasukkan hapenya kedalam sakunya. Dan meraih mangkuk mi so nya. MenCyciepinya sedikit. Kemudian mendambahkan sedikit saus dan kecap kedalamnya.Bete di cuekin begitu. Diera bediri dan siap pergi meninggalkan mejanya sampai tiba tiba Rian menarik tangannya utuk kembali duduk sehinga membuatnya kaget.“Duduk."Kali ini gantian Diera yang menyentuh kening Rian. Kali aja tu anak yang sakit.“Bukannya yang baru sakit itu elo ya?” sindir Rian.“Kali aja pindah ke elo” balas Diera santai.Sembarangan. Udah makan tuh.”“Tapi ian gue masih Heran deh kok loe tiba-tiba mau nraktir gue sih. Atau jangan-jangan.”“Nggak usah nebak yang aneh-aneh. Udah makan aja. Anggap aja nie ucapan terima kasih yang kemaren. Kemaren kan loe bilang nya gue nggak tau berterima kasih” potong Rian sebelum Diera menyelesaikan ucapannya.“Biarin gue sekali-kali Ge-er kenapa sih….” gerut Diera cemberut tapi tak urung di seruputnya juga makanan yang ada di hadapannya.“Kenapa?” Tanya Rian heran karena dari tadi Diera masih terus mempehatikannya.“Enggak knapa-napa” balas Diera sambil terus memperhatikan Rian.Tiba-tiba Rian berdiri dan siap beranjak pergi yang membuat Diera heran dan segera menahannya.“Loe mau kemana sih. Tadi katanya mau makan bareng. Kok sekarang gue di tinggal gitu aja?”“Gue kan udah selesai.”“Tapi gue kan belom” balas Diera.“Kan bisa makan sendiri. Emangnya harus gue suapin?” balas Rian ketus.“Emang loe mau nyuapin gue?” Tanya Diera serius.“Hu… Maunya…….” Ledek Rian siap berbalik tapi lagi-lagi di cegah sama Diera.“Tunggu…” tahan Diera.“Apa lagi. Dasar cewek lemot. Jadi ngomong sama loe harus lurus aja ya. Nggak ngerti juga kalau pake bahasa orang gede…. Gue-nggak-mau-nyuapin-elo. Puas.”“Ye……. Siapa juga yang minta di suapin sama loe. Ngasal kalau ngomong” Diera sewot.“Terus?”“Bayar tuh makanan. Enak aja main ngacir. Tadikan loe yang pesen. Emang sih gue juga makan. Tapi kan loe yang minta gimana sih?”Rian baru nyadar. Dan segera di rogohnya uang dari dalam sakunya dan di berikan pada pelayannya. Kemudian segera berlalu tanpa ngomong sepatah kata pun pada Diera. Ia ingin buru-buru pergi karena sekilas tadi ia melihat bayangan teman-temannya Diera yang akan masuk kekantin.“Hu…. Kenapa tu orang. Dasar orang aneh,” gumam Diera sendiri sambil kembali menghabiskan mi so nya yang masih tersisa.“DOR”.Diera tersedak. Lilly menepuk pungungnya tepat saat ia sedang makan mi nya yang pedes banget. Dan hasil nya……Emang dasar tu orang. Ngagetin nggak pake kira-kira. Nggak lihat situasi. Umpat Diera dalam hati.“Ups….. sory….” Lilly merasa bersalah sambil menugsap-usap pungung Diera karena Diera nggak berhenti-henti batuknya.“Gila loe… loe mau bunuh gue ya. Bisa mati keselek gue….”“Ya sori. Abisnya gue kesel si sama loe. Udah tadi waktu ulangan nggak bagi-bagi jawabannya. Di bikin jadi pudding kita sama pak bastian. Terus giliran kita kesini eh loe malah enak-enakan makan miso sendirian. Bahkan sampai abis dua mangkuk. Siapa yang nggak kesel coba. Dasar nggak setia kawan.”“Bukan gue nggak mau ngasih tapi kan tadi kalian sendiri tadi nggak minta,” Diera bela diri.“Giamana kita mau minta tolong ma loe. Lha wong loe langsung ngacir begitu udah selesai,” balas Anggun.“Ha ha ha” Diera tertawa mendengarnya.“Tapi ra, loe rakus juga ya. Sampai abis dua mangkuk mi so. Apa gara-gara loe sakit kemaren. Makannya sekarang loe mau bales dendam?” Tanya Narnia sambil duduk di sampingnya yang terlebih dahulu memesan bakso sama pelayan kantinya.“YA nggak lah. Gue makan semangkuk ini aja belom abis dari tadi.”“Terus ni mangkuk siapa donk?”Tanya Hera sambil menunjuk mangkuk mi so yang sudah kosong.“Coba tebak…” Diera bales nanya.“Pasti Pasya kan?” ujar Anggun dan Lilly bersamaan. Diera mengeleng.“Kok Pasya sih. Lagian kenapa juga di harus nraktir gue?”“Alah kayak kita nggak tau apa. Tu anak kan naksir sama loe. Kemaren aja waktu loe nggak datang ke sekolah tu orang terus nanyain keadaan loe” goda Narnia.“Apaan sih….” Diera tersipu malu.“Tapi kalau bukan Pasya siapa donk. Nggak mungkin Rian kan…” tebak Lilly ngasal.“Emang dia…” balas Diera nyantai. Lilly melotot menatapnya. Seolah nggak percaya sama pendengarannya.“Loe bercanda kan?” tambah Narnia yang juga nggak percaya. Diera mengeleng. Cuma Hera yang diam diam tersenyum.“Kenapa dia harus nraktir loe. Terus di mana dia sekarang?” Tanya anggun antusias.“Tau….” Diera hanya angkat bahu.“Kayaknya kelakuan tu anak makin aneh deh….” Gumam Lilly sebelum kemudian mengalihkan perhatiannye kearah makanan yang terhidang di hadapannya.Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 05~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerpen Horor: Misteri Rumah Baru

    Misteri Rumah Baruoleh Novie An-Nuril KhiyarHari ini adalah hari pertama aku pindah dari kontrakan ku yang dulu. Di karenakan jauh dari kampus, akhirnya aku memilih untuk menyewa rumah baru. Dengan pendapatan yg pas-pasan, aku lebih memilih menyewa rumah yg terlihat tak terurus. Kebetulan sewa rumah itu jauh lebih murah di banding harga sewa rumah ku yg kemarin. Hanya berbekal uang 500 ribu aku bisa mendapatkan rumah yg tergolong mewah, walaupun sedikit tak terurus dan berantakan. Aku saja heran, mengapa rumah ini terlalu murah utk di sewakan,,bukankah rumah ini besar dan luas??. Tapi aku akan tetap tnggal di sini berdua.. Ya,,selama ini aku tinggal berdua dengan teman sekampusku. Kami dari kampung yg merantau kekota hanya sekedar mencari ilmu dan mimpi.“rumah ini sepertinya lama di tinggalkan, bukti nya tak ada 1 barang pun yg terlihat layak utk di pakai”.ujar sherry temanku. Aku hanya terdiam dan tak menggubris omongan sherry, karena ku fikir emang benar. Tak ada 1 barangpun yg terlihat sempurna. Semuanya lapuk,,dan benar2 tak bisa di pakai.Setelah membereskan ruang tamu , aku langsung menuju ruang tengah dan segera membersihkan nya, sementara sherry membersihkan ruang dapur. Kami emang terlihat kompak dalam hal seperti ini. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, kami dapat beristirahat di rumah ini. Untuk sementara rumah yg kami tempati saat ini adalah milik kami.Jam menunjukkan pukul 11.00 pagi, waktunya kami pergi bekerja. Aku bekerja sebagai penjaga buku di salah satu toko buku yg terkenal di kota ini, sementara sherry bekerja di café sebagai pelayan café. Dikarenakan hari ini sherry masuk malam, jadi aku pulang kerja langsung kuliah dan pulang ke rumah. Cukup menyeramkan tinggal dan mendapatkan suasana baru di sini, di rumah baruku. Tapi karena aku termasuk orang yg pemberani, (walaupun sebenarnya ada hal yg aku takuti) aku tetap memberanikan diri untuk tinggal sendiri malam ini sampai pukul 22.00 malam.Karena belum ada persiapan untuk pindah, jadi aku hanya punya barang seadanya utk hari ini. Seperti alat2 memasak dan peralatan utk tidur serta pakaian. Jadi malam ini aku hanya bisa baca buku utk menghabiskan malam. Di dalam kamar yg luas,,aku merasa aneh di situ. Aku seakan melihat sinar di pojok ruang itu, tepatnya di dalam lemari yg berumur sekitar 20 tahun, karena di situ terdapat tahun, yg aku rasa adlh tahun di mana lemari itu baru di beli. Aku langsung menghampiri lemari itu dan membuka setiap laci yg ada. Dan aku melihat satu buku yg terlihat usang. Buku apa itu? Dengan rasa penasaran, aku mengambil buku itu dan membacanya. Halaman per halaman dapat aku baca dengan sempurna. Di saat aku membaca halaman yg ke 14, aku mendengar suara keributan seperti pertentangan antara anak dan orang tua. Ya,,seperti buku yg aku baca saat ini,, buku pada halaman ke 13,,yg isinya perdebatan hebat antara anak dan orangtua. Dengan rasa yg campur aduk, Aku langsung keluar kamar dan menghampiri ruangan yg bersumber keributan itu. Tapi apa yg aku dapatkan? Hanyalah keheningan. Lalu apa yg aku dengar tadi?.. entahlah…aku sendiri saja bingung. Sambil menunggu jam 10 malam, akupun tertidur dengan buku yg masih ku pegang.Dengan berjalannya waktu,, tak terasa aku sudah 2 minggu tinggal di rumah ini. Tak ad keanehan yg di rasakan Sherry. Tapi aku? Selalu saja keanehan yg aku rasakan di rumah ini. Rutinitas berjalan seperti biasa, kerja, kuliah dan pulang ke rumah. Itu aktivitas aku dan sherry. Sampai akhirnya aku lupa menceritakan hal aneh yg aku rasakan di hari pertama kami tinggal. Dan seperti biasa, hal aneh terjadi lagi saat aku membaca buku itu. Yg lebih aneh,,setiap halaman yg aku baca, seolah ada kehidupan yg ada di hadapan ku sekarang dan cerita nya sama persis dengan kisah yg aku baca di buku ini. Dengan rasa penasaran, aku mencoba menonton apa yg aku lihat. Dan dia,,siapa dia? Wanita itu ? apa yg aku lihat saat ini? Dia yg seperti bayangan menyerupai wanita yg aku sayangi, sherry? Ya,, itu benar sherry. Apa yg aku lihat saat ini. Pertanda apa ini? Apakah benar wanita yg ada di hadapan aku sekarang adalah sherry?? Aku selalu bertanya dengan orang yg ada di hadapanku, tapi mereka tidak memperdulikanku, seakan2 tidak melihatku. Apa ini? Aku langsung terdiam ketika aku mendengar dialog “ aku tak akan pernah bisa berhentimencintainya yah,, walaupun aku tlah mati”. Kata2 itu selalu aku ingat,, kata2 yg membuat aku bingung dan penasaran. Pandangan di sekililingku kembali normal saat aku menutup buku itu. Aku benar2 tidak mengerti dengan buku yg ada di tanganku sekarang. Sangat misteri.Hari ini aku terpaksa bolos kerja dan kuliah hanya untuk melihat kejadian yg ada di buku itu. Dengan semaksimal mungkin, aku berfikir keras. Apakah ada hubungannya dengan rumah, waktu dan sherry. Aku akan mencoba mengungkap misteri ini dari awal.Beberapa waktu lalu, sherry mengajak aku pindah rumah secara paksa. Walaupun dengan alasan tepat, tapi aku tetap aja curiga dengan dia. Tanggal ,,, aku mengenal sherry lavida tepat tanggal 13 maret, 1 tahun yg lalu. Dimana tanggal itu adalah tanggal terakhirnya cerita di buku diary yg aku temukan itu. 13..adalah angka yg benar2 sering muncul di buku itu,,,apalagi yg menyakin kan aku adalh saat pertama aku melihat kejadian aneh itu di saat bacaanku terhenti di halaman ke 13. apa artinya ini?Pikiranku terhenti saat ponselku berdering, dan kulihat pesan di ponselku, ternyata dari sherry. Pesan itu berisi “van, mungkin hari ini aku pulangnya agak malam ya, aku lembur. Ok.”,, itu pesan yg aku baca dari sherry. Malam ini aku sendiri,,karena rasa penasaran aku yg begitu kuat, aku rela malam ini gak tidur untuk menyaksikan kejadian beberapa tahun yg lalu di rumah ini.Aku mulai membaca dari halaman 14, halaman yg kemarin sempat terhenti.“hari ini aku bertemu lagi dengan nya di suatu tempat. Aku senang karena masih bisa bertemu dengan nya, walaupun pertemuan itu berakhir dengan pertengkaran yg amat hebat dengan kedua orangtuaku. Orangtua yg tak pernah merestui hubunganku,, orangtua yg egois…dan orangtua yang……” aku berhenti membaca ketika aku melihat bayangan sherry ada di hadapanku. Dan apa yang aku lihat,, sosok orangtua yg sangat marah dengan anaknya, anaknya itu adalah sherry.“ayah tidak melarang kau mencintai lelaki,, tapi jangan dia?” kata2 yg dpt aku dengar dengan jelas, setelah itu semuanya samar terdengar. Aku mencoba membaca kelanjutan bacaan ku tadi…“…sangat keras. apakah aku pantas membenci ayah dan ibu karena mereka menentang cinta kami. Cinta yg kami jalani 2 tahun lama nya, apakah harus berakhir dengan kematian?”Waktu yg lama, fikirku. Aku melanjutkan bacaan ku ke halaman berikutnya,, tapi sebelum aku melanjutkan, aku merasa kaki ku sangat berat, kakiku seolah2 ingin melangkah tanpa aku suruh. Aku mencoba melemaskan kaki ini dan melangkah kearah yg ingin di tuju. Dan apa yg aku lihat sekarang,,, darah. Ya, darah lah yg aku lihat tepat di bawah kaki ku. Aku ambil darah itu, aku cium, ternyata darah itu masih segar, seprtinya belum lama,, bau amis yg aku cium sangat menyakinkan kan bahwa cairan merah itu benar2 darah. Petunjuk apalagi ini? Aku benar2 bingung, dan aku tak aku tau apa yang harus aku lakukan sekarang.Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku masih saja membaca buku itu sampai halaman terakhir. Aneh,, aku tak menemukan halaman yg ke 20,, aku mencari halaman itu,,, di lemari, di lantai, di dalam buku dan sampai di ruang tamu,, tapi aku tak menemukan nya. Akhirnya aku menyerah, mungkin halaman itu memang tak di tulis. Aku hanya membaca halaman terakhir saja yg isinya seperti ini …“ayah, maafkan shelly. Shelly sangat mencintainya, seperti ayah mencintai ibu. Tolong izinkan shelly untuk memilikinya yah,,”Shelly?? Jadi nama perempuan itu shelly?Aku kembali berfikir, Cuma beda tipis antara “SHELLY” dan “SHERRY”.Di tengah2 keheningan malam, tiba2 aku mendengar tangisan yg begitu pilu dan sangat menyayat hati. Di saat mendengar tangisan itu, aku langsung menangis,,, menangis dan menangis. Setelah tangisanku terhenti, aku langsung mencari asal dari tangisan perempuan itu. Tapi sebelum mendapatkan apa yg aku inginkan,, aku kembali melihat darah yg begitu banyak dan seolah2 darah itu berjalan menuju kakiku. Aku mencoba berlari,, namun kaki ku benar2 terasa berat, bahkan tak bisa di gerakkan.Tangisan itu terhenti,, kembali hening. Darah yg ada pun hilang,, aku kembali duduk di ruang tamu sambil mendengar pembicaraan yg terdengar samar. Pembicaraan itu sepertinya tidak asing bagiku…ya,,ternyata apa yg aku dengar adalah pembicaraan antara shelly dan ayahnya. Saat itu ayahnya benar2 sangat marah,, sampai2 memukul2kn meja. Semakin sadis yg aku lihat, lelaki itu membentak2 selly, dan….”baiklah ayah, , ayah tak pernah merestui hubungan kami, lebih baik ayah bunuh shelly, shelly rela yah mati di tangan ayah” itu adalah kata2 yg kluar dari mulut shelly. Dan seperti yg aku lihat, lelaki itu berkata yg membuat aku benar2 tak percaya “ baiklah,, jika itu yang kamu ingin kan…aku akan membunuhmu.” Itulah kata2 yg membuat aku takut melihat kejadian nya. Apa yg aku lihat sekarang, semuanya seperti nyata. Lelaki itu langsung membunuh shelly dengan cara yg begitu sadis… darah yg aku injak,,terasa masih segar dan itu adlh darahnya shelly. Aku tak sanggup melihatnya, ,selly mati di tangan ayah nya…sungguh sulit tuk di percaya. Lelaki itu membunuh dan mengubur shelly di rumah ini,, tepat di ruang yg aku injak adlah ruang yg di dlm tanahnya terdapat jasad shelly.Malam ini aku merasa malam yg panjang. Aku bisa melihat kehidupan shelly beberapa tahun lalu. Sunggu tragis.Hari ini aku kembali melakukan aktifitas seperti biasa. Namun pas aku buka pintu kamar, aku mendapati selembar kertas yg berisi “tolong bongkar tempat ini !!!” hanya kalimat itu. Kalimat yg tintanya seperti dari darah. Aku kaget, tapi penasaran juga. Akhirnya aku memutuskan untuk membongkar ruang itu, walau tanpa sepengetahuan sherry.Aku mencoba membongkar tempat itu bersama teman2 kampus ku yg lain. Betapa kagetnya aku, aku mendapati tulang belulang yg terbungkus dengan plastik hitam. Apakah benar tulang belulang itu adalah kepunyaan shelly? Aku langsung memanggil ustadz dan warga sekitar untuk melihat apa yg aku temukan hari ini. Kami langsung mengubur tulang2 itu dengan selayak nya menguburkan jenazah yg masih utuh. Rumah itupun di evakuasi, tuk sementara aku tinggal di rumah teman ku. Tapi ada yg aneh dgn hal ini,, sejak aku merasakan hal aneh di rumah,, selalu saja tanpa hadirnya sherry. Apa maksudnya?“sherry? Apa kau melihat sherry?” tanyaku dengan teman2ku yg lain.“sherry siapa van?”“sherry teman kampus kita, teman aku, yang tinggal di sini bersama aku”“van, selama ini kau hanya tinggal sendiri”“apa?….ucapku heran.“tinggal sendiri” jadi siapa sherry yg aku kenal itu. Di saat aku bingung seperti ini,,ponsel ku berbunyi. Aku mendapati pesan,, dan pesan itu dari sherry…“Van,, aku shelly. Shelly adalah sherry. Terimakasih ya van, kamu udah Bantu aku. Mungkin kamu tak mengerti apa konflik yg aku rasakan beberapa tahun yg lalu, karena aku tak pernah menceritakannya padamu. Dia lah van,, dia adalah lelaki yg sangat aku sayangi, ayahku sangat membencinya karena dia adalah anak dari musuh ayahku. Cinta kami di tentang,,bahkan sampai detik terakhirku. Aku tak rela dia menjadi korban pembalasan dendam dari ayahku, makanya aku berani mati saat aku membela dia.Sekali lagi, terimakasih ya vanny,, kamu udah membuat aku tenang di surga. Aku tak meminta lebih dari perkenalan kita setahun lalu, aku hanya ingin kamu mengungkapkan penyebab kematian ku dan dapat mengubur ku dengan layak…..”SHELLY LAVIDHA”.”Setelah selesai aku membaca pesan itu, aku langsung melihat cahaya putih yg menyerupai sherry. Dia tersenyum padaku“Selamat jalan teman,, semoga kau tenang di sana”the end)* mohon komentar nya,, maklum,, saya masih newbie.Fb : Novie An-Nuril Khiyartwitt : @noviepurple19

  • Kisah Cinta Ihsan dan Rubby

    Kisah Cinta Ihsan dan Rubbyoleh: Mentari SenjaMentari pagi ini tak begitu cerah, mendung menyelimuti awan sepertinya hujan akan segera turun. Pagi ini bukan pagi yang menguntungkan bagi Ihsan, pemuda berwajah manis itu hanya dapat memandang nanar langit gelap. Ini hari kedua Ihsan tidak dapat keluar mencari secuil rezeki untuknya dapat bertahan hidup setelah beberapa hari terakhir ini hujan mengguyur desa Slawi, tempat dimana dia tinggal. Kehidupan Ihsan memang serba kekurangan apalagi setelah sang ayah tega meninggalkan dia dan ibunya. Segala kebutuhan hidup dia dan ibunya menjadi tanggung jawabnya.“maaf mas… maaf.. jangan tinggalkan aku.. tolong… mas… tolong jangan tinggalkan aku dan ihsan…. akkkhhhhh…. tiiidaaaakkk…!! mas….” Rindu berteriak-teriak, segala macam barang yang ada didepannya langsung dia hancurkan.“ mas…jangan…jangaan…”“ibu… ada apa bu.. tenanglah bu… istigfar…” Ihsan memeluk ibunya, mencoba menenangkan. “ sudahlah bu, ikhlaskan saja ayah pergi, ayah tidak pantas untuk ibu sebut.”“tidakk.. tidakk… mas…” Rindu terdiam lemas, sekarang berganti tangis penyesalan.“bu, ibu jangan menangis lagi. Ihsan tidak ingin melihat ibu seperti ini. Ibu harus kuat. Ibu harus lupakan ayah “ Ihsan memandang ibunya dengan raut kesedihan, batinya teriris melihat keadaan ibunya yang tak kunjung sembuh. Rindu, ibu ihsan telah lama menderita depresi berat setelah sang suami pergi meninggalkannya demi perempuan lain. Saat itu Ihsan masih berumur 6 tahun, sang ayah diketahui telah berpaling dari ibunya. Tak diketahui sebab musababnya, dan pertengkaran itu dimulai ketika Rinto, ayah Ihsan terang-terangan meminta cerai kepada Rindu.“kenapa mas, apa salah saya hingga mas Rinto tega ingin meceraikan saya.”“hmm… kamu masih tanya kenapa. Kamu fikir aku tidak tau dengan perbuatanmu. Selama ini kamu telah membohongi saya. Dan saya tidak bisa terima ini.”“apa maksud mas, coba jelaskan.”“sudahlah, apa perlu aku bongkar semua kebusukanmu. Biar ihsan juga tau siapa sebenarnya ayah kandungnya.“jadi mas sudah tau yang sebenarnya, maaf mas… aku khilaf.. aku bisa jelasin itu semua mas.!” Rindu coba menjelaskan.“ahh sudahlah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, semuanya sudah jelas. Pokoknya saya ingin cerai dari kamu. Besok aku kirim surat gugatan cerai, dan kamu tinggal menandatangani saja.”“mas…tolong mas, jangan ceraikan saya. Aku bisa jelaskan semuanya. Mas..tolong jangan tinggalkan aku dan Ihsan. Ihsan masih butuh kamu” ditarik lengannya Rinto, mencoba membujuknya.Kejadian itu tak diketahui Ihsan, Ihsan yang saat itu masih berada di rumah neneknya tidak mengetahui bahwa orangtuanya terancam bercerai. Lama sudah ihsan mencari kebenarannya namun tak kunjung dapat.*****“hai Rubb, mau kemana kamu.” Tanya Shinta sahabat Rubby.“ hai shin, iya neh aku mau balik dulu, jadwal kuliahku sudah habis. Dan kebetulan bunda nyuruh aku buat belanja di supermarket. Jadi maaf ya, aku ga bisa pulang bareng kamu”“hmnm okelah kalo gitu, hati-hati dijalan ya Rubb.”seperti biasanya sebelum berpisah Rubby dan Shinta berpelukan. Persahabatan mereka sudah terjalin lama, sejak mereka berdua sama-sama kuliah di kampus yang sama.Rubby segera pergi meninggalkan Shinta, dengan motor maticnya dia melaju menuju supermarket terdekat untuk membeli titipan bundanya. Dalam balutan gamis warna biru muda dan jilbab yang serasi dengan gamis membuat wajah Rubby semakin terlihat cantik. Lesung pipitnya menambah keayuan senyumnya. Tak lama berselang Rubby telah sampai di supermarket itu.“alhamdulillah akhirnya sampai juga,” Rubby segera memasuki pintu supermarket.Dengan cekatan Rubby memilih barang-barang yang dibutuhkan, Rubby sengaja tidak ingin berlama-lama berbelanja dia hanya membeli barang yang dibutuhkan saja. Karena setelah ini masih banyak kegiatan Rubby yang harus dia lakukan. Selain kuliah, Rubby juga aktif dalam kegiatan sosial. Di lingkungan rumahnya Rubby terkenal dengan jiwa sosialnya, sikapnya yang lemah lembut serta ramah tamah membuat orang merasa simpati. Rubby hidup dalam lingkungan keluarga yang begitu kental dengan nuansa religi. Abah Rubby merupakan tokoh agama di lingkungannya, beliau aktif dalam kegiatan keagamaan. Selain mengajar ngaji di masjid beliau juga kerap kali menjadi penceramah disetiap acara-acara penting. Keluarga Rubby merupakan keluarga yang sangat dikagumi.“berapa mba, semua belanjaan saya” tanya Rubby pada kasir.“jadi total semuanya 150 ribu mba.”si kasir menyerahkan belanjaannya.“ini mba uangnya, terima kasih.”“iya mba sama-sama, terima kasih telah mengunjungi supermarket kami” kasir menyerahkan nota belanja itu kepada Rubby.Dengan langkah mantap Rubby keluar dari supermarket itu, dan langsung menuju ke tempat parkir. Namun belum sampai di tempat parkir tiba-tiba handphone Rubby berdering, belum tau siapa yang menelponya. Saat Rubby hendak mengambil handphone yang ada di tas Rubby secara kilat ada orang yang tak dikenal langsung mengambil tas Rubby dengan seluruh isinya. Sontak Rubby berteriak, meminta tolong. Rupanya sudah dari tadi gerak gerik Rubby diintai, ada orang jahat yang ingin mengambil tas Rubby yang diketahui banyak barang-barang berharga.“tolong…tolong…pak..tolong ada rampok…tolong pak…”Rubby berteriak meminta pertolongan.Saat Rubby sedang meminta tolong, terlihat sudah ada sosok pemuda yang sedang mengejar perampok itu. Dikerjanya perampok itu, tanpa peduli ada orang didepannya.Ya Allah, mudah-mudahan perampok itu tertangkap dan pemuda itu baik-baik saja terlintas dalam benak Rubby doa agar perampok itu segera tertangkap. Dengan gelisah Rubby menunggu apakah pemuda itu berhasil mengambil tasnya dari perampok.Selang 30 menit pemuda itu kembali dengan tas hitam ditangan kanannya, wajahnya terlihat lelah. Keringat bercucuran membasahi pelipisnya. Dengan segera pemuda itu mengembalikan tas Rubby.“terima kasih mas, mas sudah menolong saya” Rubby menerima tas yang diberikan pemuda itu seraya mengucapkan terima kasih.“iya mba, sama-sama. Makanya kalo bawa tas itu ati-ati jangan sembrono kaya gitu. Dasar cewe. Jangan Cuma penampilan yang di urusin” pemuda itu langsung berlalu dari Rubby.“gimana bang, rampoknya ketangkep ga?” tanya bocah cilik yang sedari tadi menunggunya dibelakang.”“udah gue kasih pelajaran, lagian macem-macem aja tuh orang operasi diwilayah gue.” Pemuda itu pun berlalu dari hadapan Rubby.Sedang Rubby hanya terdiam termenung, dia begitu tercengang dengan tingkah laku pemuda itu. Pengamen jalanan yang dengan dandanan amburadul tapi telah menolongnya, tanpa mau minta imbalan. Gaya super cueknya juga membuat Rubby heran.Sejak kejadian itu Rubby tak henti-hentinya memikirkan siapa pemuda itu sebenarnya. Fikirannya tak henti untuk segera mengetahui siapa dia. Timbul sedikit penyesalan kenapa saat itu dia tidak menanyakan nama sang pemuda.*******Matanya yang tajam, wajahnya yang manis dan……“aduh apaan sih aku, ko jadi nglamunin dia.“ Rubby menghapus lamunannya segera, dia tidak ingin larut dalam bayang-bayang pemuda itu.Rubby hanya tersenyum jika membayangkan kejadian itu, seolah tak percaya tapi kejadian itu telah membuat Rubby tidak bisa lupa akan sosok pemuda yang telah membuatnya penasaran. Dan hal ini adalah sesuatu yang tak biasa bagi Rubby, baru kali ini dia merasa sangat penasaran dengan seseorang apalagi laki-laki. Dengan wajah cantiknya, tidak sedikit kaum adam yang tergila-gila dengannya, namun kebanyakan dari mereka segan untuk mendekati Rubby karena merasa tidak sesuai. Apalagi selama ini sikap Rubby terlalu biasa untuk soal itu, dia belum tertarik untuk membangun suatu hubungan yang halal dengan seorang laki-laki. Kegiatan sosialnya dan kuliah sudah menyita banyak waktunya kalau hanya untuk sekedar mencari calon pendamping hidup. Terlebih lagi selama ini Rubby belum merasa ada ketertarikan terhadap sekian banyak kaum adam yang setia menunggunya.Namun kini berbeda, Rubby begitu tertarik terhadap seorang pemuda yang belum diketahui jelas siapa dia sebenarnya. Pemuda yang hanya sekilas saja ada di hadapannya, pemuda yang telah menolongnya saat tas Rubby dirampok orang. Ya..pemuda itu telah menyihir rubby, membuat Rubby selalu memikirkannya.Rubby merasa ada ketertarikan tersendiri dibalik baju kumel sang pemuda itu, sekilas saat Rubby menatap matanya ada perasaan lain dihatinya tak tau jelas apa yang sedang Rubby rasakan. Walaupun petemuan itu sangat singkat namun pertemuan itu begitu berharga, pertemuan yang membuat Rubby saat ini selalu termenung.**********“ibu makan ya… nanti ibu sakit kalau ibu terus-terusan ga makan.” Ihsan mencoba menyuapi ibunya. Namun ibunya hanya bergeleng, sang ibu hanya terdiam dengan pandangan kosong jauh menerawang entah kemana. Raganya memang ada disini namun jiwanya entah kemana.“ibu jangan seperti ini terus, ibu tau ga ihsan sedih banget ngeliat ibu kaya gini. Ihsan ngerasa sendiri bu. Ihsan pengen hidup seperti orang normal lainnya. bisa Selalu cerita sama ibunya, bisa manja-manjaan. Ihsan pengin ibu juga seperti ibu-ibu yang lain.” Hanya airmata yang terus menetes di pipi ihsan, walaupun beribu ungkapan ihsan lontarkan kepada ibunya namun ibunya tetap saja diam.Sejak ditinggal ayahnya ihsan hidup terlantar, kehidupannya sekarang sangat erat denga hidup dijalanan. Tanpa kasih sayang dari ibunya itu ihsan harus bertahan hidup. Namun walaupun keadaan ibu ihsan seperti itu, ihsan selalu menyanyangi ibunya. Dengan segenap hati dia selalu merawat ibunya dengan tulus, tak ada guratan kelelahan saat dia harus terjaga di malam hari untuk mememani ibunya yang sewaktu-waktu bisa saja menangis. Saat siang dia berusaha mencari rezeki untuk sesuap nasi baginya dan ibunya. Dari pengamen jalanan, sampai tukang parkir dia lakoni. Itu semua dia lakukan demi sang ibu, dia tidak rela jika sang ibu yang dia miliki satu-satunya terjadi apa-apa.“mas…jangan tinggalkan aku mas..tolong…mas..huhuuhuhu”kembali sang ibu terisak meratapi kejadian lampau. Dipeluknya tubuh ibunya, mencoba menenangkan walaupun dengan deraian airmata ihsan mencoba menghibur sang ibu.“sudah bu, ihsan disini… jangan sedih lagi.” dekapan seorang anak yang merindukan ibunya kembali normal seperti sediakala.***********Mentari pagi ini begitu cerah, secerah wajah Rubby yang berbalut hijab coklat. Gamis anggun yang dikenakan Rubby begitu cantik dipandang. Hari ini Rubby beserta kawan-kawannya akan mengadakan bakti sosial. Sudah banyak yang telah Rubby persiapkan, dari sembako hingga pakaian yang masih layak pakai Rubby kumpulkan, kesemuanya itu Rubby satukan untuk diberikan pada anak-anak yatim dan anak-anak jalanan. Kebetulan di kota itu terdapat sebuah desa yang berpenghuni warga kurang mampu. Di desa itulah Rubby dan kawan-kawannya mengadakan bakti sosial.“hai Rubby, wah..cantiknya hari ini, kamu begitu anggun” puji Shinta sahabat karib Rubby“ah kamu ni Shin berlebihan deh, kamu juga cantik ko apalagi kalau mau pake jilbab” Rubby tersenyum kecil menggoda Shinta“hmmm iya deh bu ustad…belum dikasih hidayah sama Allah.” Shinta menimpali“lakukan segera jangan tunggu nanti.”“iyaaaaa ibu ustad… insya Allah.. udah akh ayo kita berangkat” shinta langsung mengajak Rubby kedalam mobil rombongan para relawan dan donatur.“oke..”jawab Rubby singkatSementara didalam mobil Shinta sibuk membereskan perlengkapan, rubby kembali melamun, fikirannya jauh menerawang. Rindangnya pohon akasia di pinggir jalan menambah deretan keindahan alam yang Tuhan ciptakan, hawa sejuk pagi hari membuat suasana begitu nyaman. Nyaman juga untuk Rubby kembali memikirkan sosok pemuda misterius itu.“hai non…nglamun aja. Bukannya bantuin aku malah asik bengong.”tiba-tiba shinta telah duduk disebelahnya.“eh shin…ga ko, aku ga ngalumin apa-apa..aku Cuma lagi ngeliatin pemandangan aja, bagus ya.”Rubby kembali memandang keluar jendela dengan tersenyum.“ih ngaco deh, perasaan hampir tiap hari kamu lewat jalan ini dan kamu juga ga kaya gini banget. Pasti ada apa- apa deh, ayo ngaku…ada apa sih…cerita dong sama aku.”shinta mendesak Rubby.“loh bener ko ga ada apa-apa, kamu kali yang ada apa-apa.”jawab Rubby sambil tersenyum.“Ihh Rubby, apaan sih ko senyum-senyum gitu, ayo cerita dong…cerita ga…kalo ga aku kelitikin neh…ayo cerita…”dikelitikinnya Rubby hingga dia tertawa tak henti, dan keduanya saling bergurau sepanjang perjalanan.Satu jam perjalanan telah mengantarkan mereka, para rombongan relawan dan donatur ke tempat warga kurang mampu. Masing-masing dari mereka mengerjakan tugasnya sendiri-sendiri. Untuk relawan dan donatur laki-laki bertugas mengeluarkan barang-barang yang siap untuk disumbangkan sedang kaum hawa berbenah barangbarang yang telah diangkut didalam posko.Didalam posko, Rubby dan Shinta sibuk memilah-milah barang untuk dibagikan. Mereka mengelompokkan menurut jenisnya. Tugas Shinta mencatat berapa banyak sumbangan yang telah dikumpulkan.*********“terima kasih pak atas sambutannya, saya disini mewakili teman-reman relawan dan donatur ingin memberi sedikit sumbangsi terhadap desa bapak ini. Dan semoga apa yang kami beri bermanfaat bagi semuanya. Mungkin tidak banyak yang dapat kami berikan, hanya sekedar pelengkap kebutuhan dan tentunya doa dari kami agar warga disini terus dilindungi Allah SWT. Amien….”begitulah penutup atas sambutan ketua rombongan relawan, setelah tadi membagikan sumbangan kini rombongan ini segera pamit untuk pulang.“terima kasih bapa-bapa, ibu-ibu semua, kami disini sangat senang atas kedatangan kalian. Apa yang telah kalian berikan sangatlah bermanfaat bagi kami semua.sekali lagi terima kasih banyak” sambut perwakilan warga disini.Rombongan pun segera berlalu, semua relawan memasuki mobil. Namun sebelum Rubby hendak naik kedalam mobil tiba-tiba Rubby melihat ada sosok pemuda melintas. Dengan gaya yang tak asing lagi buat Rubby, sorot mata yang tajam serta wajahnya yang manis sangatlah meyakinkan Rubby bahwa dia lah pemuda yang selama ini mengganggu fikirannya, Dilihatnya dia baru saja datang dengan membawa gitar, yang roman-romannya habis mengamen. Sontak Rubby langsung mendatangi pemuda itu tanpa peduli kawan-kawan yang lainnya sudah hendak berangkat.“hai rubb, mau kemana kamu.mobilnya sudah mau jalan.”teriak Shinta saat melihat Rubby berlari kearah pemuda itu.“sebentar shin, aku mau ada urusan dulu”timpal Rubby tanpa memperdulikan Shinta.Dengan setengah berlari Rubby mengejar pemuda itu, sebelum terlambat dia menghilang. Akhirnya Rubby dapat berjumpa lagi dengan sosok pemuda yang telah membuatnya penasaran.“hei…tunggu…kamu yang bawa gitar…tunggu.” Rubby memanggil pemuda itu dengan nafas tersengal-sengal.Pemuda itu pun berhenti dan menoleh kearah shinta.“hmm iya ada apa..???” tanya pemuda itu kepada Rubby.“sebentar..” Rubby mencoba mengatur nafas. ”hmm…kamu masih kenal saya.” tanya RubbySepertinya pemuda itu kurang ingat dengan Rubby, terlihat dari wajahnya yang terlihat bingung. “siapa ya… maaf aku ga kenal.” jawab pemuda itu enteng.“Aku rubby, cewe yang dulu pernah kamu tolong itu. Waktu tas aku dirampok orang dan kamu berhasil mengambilnya lagi. Masih ingat.” Rubby mencoba mengingatkan pemuda itu.“hmmm…sebentar..” terdiam sejenak. “oh…kamu cewe ceroboh itu ya…ya aku inget. Ada apa lagi, kamu kerampokan lagi” jawab pemuda itu sekenanya saja.“oh bukan… aku ga kerampokan lagi ko, aku Cuma mau ngembaliin ini. Sapu tangan kamu terjatuh waktu kamu nolongin aku. Waktu itu mau aku kembaliin tapi kamu keburu pergi. Dan mungkin baru sempet kali ini aja aku kembaliin.” Rubby menyerahkan sapu tangan putih yang ditepinya terukir inisial ‘i’…“hmm kalau boleh tau nama kamu siapa, di sapu tangan kamu terukir inisial ‘i’” tanya Rubby“aku Ihsan…makasih ya.” ihsan langsung berlalu meninggalkan Rubby setelah mengucapkan terima kasih“eh.. ihsan.. sebentar jangan pergi dulu.” Rubby mencoba mencegah ihsan“apa lagi…….”“hmm ga apa-apa, ngomong-ngomng kamu tinggal disini ya” tanya Rubby dengan wajah sedikit tersipu“iya, kenapa” jawab ihsan santaiDan belum sempat Rubby mengobrol banyak, Shinta sudah keburu datang untuk mengajaknya pergi.“Rubby ayo cepat pulang, sedang apa kamu disini. Ayo pulang” shinta menarik lengan Rubby karena tidak ingin ketinggalan rombongan.“aduh Shinta sebentar,” menoleh ke arah ihsan, ”hei ihsan boleh kapan-kapan aku berkunjung ke tempatmu” tanya Rubby dari kejauhan.“ya boleh….”Inilah pertemuan kedua Rubby dengan pemuda itu, setelah pertemuan pertama yang tak terduga. Ada sedikit kelegaan dihati Rubby setelah mengetahui siapa nama pemuda itu, terlebih lagi Rubby kini telah tau dimana ia tinggal. Mungkinkah ada pertemuan ketiga, ke empat atau pertemuan-pertemuan berikutnya. Rubby tak tau pasti, tapi didalam hati kecilnya Rubby berharap agar dia bisa berjumpa kembali. Entah apa yang membuat Rubby seperti itu, yang pasti semenjak kejadian itu perasaan Rubby berubah, ada ketertarikan yang Rubby rasa terhadap sosok ihsan.Dalam renungan malam Rubby selalu berdoa agar pertemuan itu menjadi pertemuan yang akan bermakna nantinya.*****

  • ANTARA PERSAHABATAN DAN CINTA

    ANTARA PERSAHABATAN & CINTAKarya oleh :“ D’aNgeL oF RizVia ”SMP Nusa Bangsa yang semula terkesan damai dan syahdu, tiba-tiba pecah oleh hiruk pikuk para siswa. Semua pintu kelas telah terbuka lebar untuk siswa-siswi yang akan kembali ke rumah. Mereka tampak saling berebutan menuju halaman sekolah. Di halaman sekolah, Livia, Zizy, A’yun, dan Qory sedang menunggu sahabat2 mereka yang lain, yaitu Arsya, Fian, Romi, Marvel, dan Nuri. Setelah kelima cowok itu datang, mereka segera pulang ke rumah bersama-sama. Itulah yang mereka lakukan setiap hari, berangkat sekolah, istirahat di kantin, bahkan pulang sekolah pun mereka bersama-sama, karena mereka semua bersahabat sejak kecil. Tapi lain bagi Arsya dan Marvel, karena Arsya adalah murid pindahan dari Indramayu, Jawa Barat. Sedangkan Marvel adalah mantan pacar Livia. Meski begitu, mereka tetap menjalin persahabatan dengan keduanya. Yah,, persahabatan sejak kecil, sekarang dan mungkin untuk selamanya.Suatu hari di bulan April 2010, Livia mendapat masalah dengan pacarnya yaitu Arinal. Karena Arinal sudah tidak pernah menghubungi Livia lagi, dan itu yang membuat Livia menjadi sedih, Livia berpikir bahwa Arinal sudah tidak mencintai dia lagi, sudah berkali-kali Livia meminta pendapat pada ketiga sahabatnya, yaitu Zizy, A’yun, dan Qory, tapi mereka selalu meminta Livia untuk memutuskan hubungan dengannya dan mencari cowok yang lebih baik lagi, karena memang sudah sejak awal mereka tidak pernah menyetujui hubungan Livia dengan Arinal. Hingga Livia meminta pendapat pada sahabatnya yang lain, yaitu Arsya, Fian, dan Romi, tetapi jawaban mereka sama saja, Livia bingung dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Tetapi Arsya selalu menghiburnya, dia selalu memberikan motivasi kepada Livia, hingga sedikit demi sedikit hubungan mereka semakin dekat dan semakin akrab, dan kini Arsya lah yang menggantikan Arinal dalam inbox sms di hp-nya Livia. Dan lambat laun pula, timbul chemistry dalam hati mereka berdua.Pada suatu hari, terjadilah pertengkaran antara Livia dengan Arsya, awalnya Arsya marah kepada Livia karena suatu hal, dan Livia sudah meminta maaf, tetapi Arsya berat untuk memaafkannya, hingga Livia nekat membohongi Arsya dengan cara menyamar menjadi seseorang yang bernama Vina agar dia bersedia memaafkan Livia. Awalnya Arsya percaya, dan pada suatu sore setelah pulang sekolah, hari itu hujan deras, Arsya meminta pada Livia untuk menemuinya di kebun belakang rumah, walau saat itu hujan deras, tapi Livia tetap datang dan dengan tubuh basah kuyup, disitulah Arsya memaafkan Livia. Setelah kejadian itu, hubungan mereka berdua kembali membaik seperti semula, hingga pada suatu hari, kebohongan Livia terbongkar, Arsya tahu bahwa selama ini Vina itu adalah Livia sendiri, dan Arsya berpikir bahwa Livia membohongi dirinya agar bisa memanfaatkannya untuk bisa memaafkan Livia, akhirnya terjadilah pertengkaran besar antara Arsya dan Livia, berkali-kali Livia meminta maaf pada Arsya tetapi Arsya menolak, hingga Livia pun menyerah dan dia membiarkan Arsya melampiaskan kekesalannya dengan cara menjauhi Livia dan berhenti menghubungi Livia. Sudah 1 minggu berlalu, Arsya masih tetap belum memaafkan Livia, dan pada suatu malam, Livia merenung sendiri di luar rumah, dia sedih karena sampai saat itu Arsya belum juga memaafkannya, dia juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggu keputusan Arsya untuk mau memaafkannya, tanpa tersadar dia menangis, sambil menatap bintang2 di langit malam, dia berdo’a kepada tuhan agar Arsya mau memaafkannya, tiba-tiba Livia mendapat sms dari Fitri, temannya yang 1 rumah dengannya, Romi, dan juga Arsya. Dalam sms itu, Fitri bertanya2 tentang Arsya, setelah mengetahui kejadian yang di alami oleh Livia dan Arsya, Fitri menyuruhnya untuk menghubungi Arsya lewat sms, tetapi Livia menolak karena dia tahu bahwa Arsya tidak akan membalasnya, dan dia takut Arsya akan marah padanya. Tapi Fitri terus mendesaknya. Akhirnya Livia memberanikan diri untuk menghubungi Arsya kembali, dan tidak disangka, Arsya membalas sms Livia, dan pada malam itulah Arsya kembali memaafkan Livia, dan pada saat itulah Livia tahu bahwa Arsya lah yang mendesaknya untuk menghubunginya dengan berpura2 menjadi Fitri. Sejak kejadian itu, Arsya semakin tahu dan mengenal siapa Livia sebenarnya, Arsya mengetahui semua sifat luar dan sifat dalam Livia. Dan sejak kejadian itu pula, Livia semakin merasa bahwa dia punya perasaan dengan sahabatnya, Arsya.Di bulan Juni 2010, saat liburan akhir semester, Arsya pulang ke kota asalnya, yaitu Indramayu, walaupun Arsya dan Livia berjauhan, tetapi mereka tetap berhubungan lewat sms, dan pada suatu hari Livia menyatakan perasaannya kepada Arsya, Dia berterus terang bahwa dia mulai jatuh cinta padanya sejak kejadian pertengkaran itu, Livia berkata bahwa dia tidak bisa menahan lagi perasaannya, dia pikir perasaannya pada Arsya begitu kuat, dan ternyata Arsya membalas pernyataan cinta Livia, tak disangka bahwa Arsya pun mencintai Livia, tetapi sayangnya, cinta mereka tidak bisa bersatu, karena mereka berdua sama2 sudah ada yang punya, mereka berdua sama2 sudah mempunyai kekasih, dan mereka berdua juga tahu akan hal itu, akhirnya Arsya terpaksa memutuskan untuk tetap menjalin cinta dengan Livia tanpa status, dan tetap menjalani hubungan dengan kekasih masing2, dan Livia pun menyetujuinya karena sudah tidak ada cara lagi untuk mereka berdua, sedangkan mereka berdua sendiri tidak bisa mengakhiri cinta mereka begitu saja. Hal yang lain terjadi pada A’yun dan Fian, pada saat yang sama, Fian menyatakan cintanya kepada A’yun, tak disangka bahwa Fian sudah lama menyimpan perasaan cintanya itu selama 5 tahun, dan akhirnya A’yun pun menerimanya dan mereka resmi menjalin hubungan.Yah, cinta yang berawal dari sebuah persahabatan. Dan hari-hari baru pun mulai mereka jalani bersama2. Sahabat2 mereka pun sudah mengetahui semua yang terjadi antara Livia dan Arsya dan mereka mendukungnya.Seiring dengan berjalannya hubungan Livia dg Arsya, hubungan Livia dan Arinal tidak pula membaik, hubungan mereka semakin renggang, dan Livia pun semakin yakin bahwa yang dulu pernah dikatakan oleh ketiga sahabatnya itu adalah benar. Livia juga semakin yakin untuk memutuskan hubungannya dengan Arinal, tetapi Arsya selalu mencegahnya. Arsya tidak ingin Livia putus dengan Arinal yang disebabkan oleh kehadiran dirinya di tengah-tengah hubungan mereka berdua. Tetapi Livia tetap pada keputusannya. Awalnya Arsya mencegahnya, tetapi Livia meyakinkan Arsya bahwa keputusannya itu bukan semata-mata disebabkan oleh kehadiran Arsya dalam hidupnya, melainkan karena Livia memang sudah tidak lagi mencintai Arinal lagi, dan dia sudah terlanjur sakit hati karenanya. Akhirnya Arsya pun percaya dan mau menerima keputusan Livia dan sejak itu, status Livia menjadi single kembali.Pada bulan Agustus 2010, Arsya pun mendapat masalah yang sama dengan kekasihnya Sella, hubungan mereka pun putus di tengah jalan, dikarenakan Sella terpaut hati dengan yang lain. Arsya sangat terpukul, dia sangat sedih dan kecewa dengan keputusan Sella, Arsya bingung harus bagaimana, dia pun menghubungi Livia dan menceritakan semua yang terjadi padanya, dalam hati Livia senang juga sedih, dia senang karena sudah tidak ada lagi yang memiliki Arsya dan itu memudahkannya untuk mendapatkan Arsya, tapi di lain hati dia juga sedih melihat Arsya yang sedih dan terpukul karenanya, Livia tak sampai hati melihat Arsya terpuruk dalam kesedihan seperti itu, Livia pun bingung harus berbuat apa, dia hanya bisa menghibur Arsya lewat sms, karena saat itu Arsya tak lagi bersamanya, Arsya kembali ke Indramayu, berkali-kali dan berhari-hari Livia terus menghibur Arsya, hingga Livia pikir Arsya mampu melupakan Sella begitu juga dengan kenang2annya. Tapi ternyata, tak semudah itu bagi Arsya untuk menjauhi Sella, bahkan melupakannya. Sudah 4 bulan berlalu sejak tragedi cinta Arsya di bulan ramadhan, hubungan Livia dengan Arsya pun semakin dekat, semakin membaik, dan semakin serius, tetapi Arsya masih belum bisa untuk menjadi milik Livia sepenuhnya, Livia pun hanya bisa pasrah menerima keadaan cintanya saat ini, karena dia tak mau terlalu memaksa Arsya untuk menjadi milik dia sepenuhnya. Pada bulan November 2010, Livia, Arsya, Fian dan semua sahabatnya merayakan hari ultah A’yun di rumahnya. 2 hari sebelum hari H, Livia dan sahabatnya yang lain merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan pada A’yun, dan ternyata kejutan itu pun sukses besar, hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan untuk A’yun dan Fian, Livia dan Arsya, dan juga sahabat2nya yang lain. Dan pada bulan ini juga, menjadi bulan yang sangat membahagiakan bagi Livia dan Arsya, karena di bulan ini, hubungan mereka semakin tumbuh harum mewangi, Arsya semakin menyayangi Livia, dari hari ke hari, sikap Arsya pada Livia pun semakin mesra dan romantic, begitu juga dengan Livia. Tetapi sayangnya, keadaan itu tidak bertahan lama, mulai memasuki bulan Januari 2011, hubungan mereka pun renggang dikarenakan Livia mendengar kabar bahwa Arsya kembali dekat dengan mantan pacarnya, yaitu Sella. Kabar tersebut membuat Livia sangat kesal, bahkan Arsya pernah berduaan dengan Sella di depan kelas Livia, dan Livia melihatnya ketika kelas bubar, hingga Livia tidak mau keluar dan itu membuat teman-temannya keheranan.“Kenapa kamu Liv..? koq nggak jadi keluar.. padahal kan kamu tadi bersemangat banget pengen pulang..” Kata Bella. “Tuh, liat aja sendiri, ada pemandangan yang bikin sakit hati.!!” Kata Livia kesal. Lalu Bella pun keluar dan melihat Arsya berduaan dengan Sella, dan menyindir mereka, “Ehm2, pacaran koq di sekolahan sich.. Inget2, ini sekolah, bukan tempat pacaran..!!” Sindir Bella. Dan mereka berdua pun pergi. Saat sampai di rumah, Arsya mendekati dan menggoda Livia, tetapi Livia malah menampakkan wajah kesalnya, hingga membuat Arsya terheran-heran dan bertanya pada Livia.“Dek, kenapa sich..?? koq cuek gitu,,,” Tanya Arsya.“Tau dech, pikir aja sendiri,,!!” Kata Livia kesal.“Iiicch, marah ya.. Ada apa sich emangnya..??” Tanya Arsya bingung.“Huh, udah puas ya tadi berduaan di depan kelas..!! Nggak tau malu banget sich..!! Bikin sakit hati aja..!!” Kata Livia marah.“Berduaan..?? Ya ampun.. Jadi gara2 itu.. Gitu aja koq marah sich..” Kata Arsya.“Kamu ini gimana sich, gimana nggak marah coba,! Aku pikir kamu udah bisa lupain si Sella, tapi ternyata ini malah berduaan, di depan kelas aku lagi,,!! Gila kamu ya..!!” Kata Livia yang semakin marah.“Ya udah, aku minta maaf dech,, nggak akan ngulangin yang kayak gitu lagi,, maafin aku ya dek..” Kata Arsya meminta maaf.“Tau ah..!! Udahlah, males aku ngomong sama kamu..!!” Kata Livia berlalu.”Tunggu2.. Jangan gitu donk,, aku kan udah minta maaf, iya2 aku janji, maaafin aku ya My Princess..” Bujuk Arsya.“Ya udah iya, aku maafin, tapi bener ya jangan di ulangin lagi, janji..!!” Kata Livia sambil mengacungkan jari kelingkingnya.“Iya, aku janji adekku tersayang..” Kata Arsya membalas. “Nah, sekarang senyum donk.. jangan cemberut gitu, jelek tau..” Kata Arsya lagi sambil mencubit pipi Livia.“Hufft, iya sayang…” Kata Livia tersenyum senang.Setelah kejadian itu, hubungan mereka pun kembali normal. Dan dari kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa mereka berdua saling menyayangi, dan cinta mereka berdua begitu kuat, dan tak bisa terpisahkan. Dan mereka pun menjalani hari-hari indah seperti biasanya. Pada bulan Februari 2011, terjadi pertengkaran kembali antara Livia dan Arsya, karena Arsya melihat dan mengetahui bahwa Livia kembali berkomunikasi dengan mantan pacarnya yaitu Marvel, Arsya cemburu begitu melihat Livia SMS_an dengan Marvel, Livia yang mengetahuinya segera meminta maaf pada Arsya, tetapi Arsya diam saja, seakan-akan dia tak mau memaafkan Livia, 5 hari Livia menjalani hari tanpa Arsya di sampingnya, Livia sedih dan meminta maaf kembali pada Arsya, bahkan Livia berkata bahwa dia tidak akan berhubungan lagi dengan Marvel, tak akan membalas sms Marvel lagi, dan bahkan akan menghapus nomer Marvel dari kontak HPnya, setelah mendengar pernyataan Livia itu, Arsya pun akhirnya mau memaafkan Livia. Dan pada bulan ini, LPP (Language Progress Program) di sekolah mereka mengadakan tour di Jogjakarta untuk menyelesaikan tugas terakhir mereka yaitu conversation dengan turis2 yang ada disana. Tetapi kini, hanya Livia dan Qory yang ikut, karena A’yun dan Zizy sudah sejak awal tidak mengikuti LPP. Saat berada dalam bis, Livia menghubungi Arsya, dia meminta maaf karena tidak sempat berpamitan dengan Arsya tadi saat di rumah, dan disitulah Livia berpamitan dengan Arsya, sekaligus meminta do’a agar selamat sampai tujuan juga selamat sampai di rumah dan agar lancar dalam menjalankan tugasnya saat disana. Setelah itu mereka melanjutkan SMS_annya, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa dalam bis itu dia sangat kedinginan, sedangkan sweaternya ada di dalam tas dan Livia tak bisa mengambilnya karena sweater itu ada di dasar tas, Arsya pun memberikan perhatiannya pada Livia dengan menyuruhnya untuk mengambil sweater itu meskipun ada di dasar tas, demi Livia agar tidak kedinginan lagi, dan selama dalam perjalanan tour itu Arsya selalu memberikan perhatian pada Livia hingga Livia kembali. Livia juga tidak lupa untuk memberi Arsya dan sahabat2nya oleh-oleh dari Jogja. Saat di Malioboro, Livia membelikan kaos hitam Jack Daniel dan souvenir berupa gantungan segitiga yang di dalamnya terdapat miniatur candi borobudur untuk Arsya. Begitu juga dengan sahabat2nya. Livia juga membelikan oleh-oleh berupa bakpia untuk sahabatnya juga untuk keluarganya, Livia pun sampai di rumah kembali pada pagi harinya.Dan pada bulan Maret 2011, tepatnya pada tanggal 4 dan 5, Livia, Zizy dan A’yun pergi ke Malang untuk mengikuti Tes Penerimaan Siswa Unggulan Baru di MAN 3 MALANG, sebelum pergi, Livia menyempatkan untuk berpamitan dengan Arsya dan meminta dukungannya sekaligus do’a untuknya, begitu juga dengan A’yun dengan Fian, mereka juga meminta dukungan dan do’a kepada semua teman dan sahabatnya. Dan pada tanggal 10, Livia melihat pengumuman kelulusan tes tersebut, tapi ternyata, Livia, Zizy dan A’yun tidak lulus, Livia pun membicarakan hal itu dengan Arsya lewat sms, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa mereka bertiga tidak lulus dan Livia sangat sedih, lalu Arsya pun menghiburnya dengan berkata bahwa tidak semuanya yang kita inginkan bisa tercapai, dan itu semua membutuhkan proses, Arsya mengakui bahwa Livia adalah cewek yang pintar dan cerdas, dan Arsya yakin bahwa Livia dan yang lainnya pasti bisa diterima pada tes regulernya, Arsya berkata bahwa dia bangga bisa mempunyai cewek seperti Livia yang pintar, karena dia tahu kalau Malang itu adalah tempat sekolahnya anak-anak yang pintar,, mendengar hal itu, Livia menjadi semangat dan tidak bersedih lagi, Livia pun berterima kasih pada Arsya karena sudah memberinya dukungan dan semangat.Pada tanggal 23 Maret, Livia merayakan ultahnya bersama dengan Arsya, A’yun, Fian, Romi, Bella, dan Ana. Dua hari sebelumnya tepatnya tanggal 21 Maret, A’yun mempunyai rencana untuk ngerjain Livia habis2an, saat malamnya, Livia mengirim SMS pada Arsya, tetapi Arsya tidak membalasnya, setelah agak lama, Arsya membalas dan meminta maaf karena dia telat, Arsya berkata bahwa dia keasyikan SMSan dengan Lia, cewek Indramayu tetangganya, Livia pun kesal dan marah pada Arsya, dan saat itu juga, A’yun sms Livia, dia berkata bahwa dia sangat marah sekali dengan Arsya karena siang tadi Arsya mencubit pipinya di depan Fian, dan sekarang A’yun bertengkar dengan Fian, A’yun pun meminta tolong pada Livia agar Livia mau membantunya membicarakan masalah ini dengan Arsya, Livia pun bingung harus bagaimana, karena saat itu Livia juga sedang bermasalah dengan Arsya. Keesokan paginya, Livia bertemu dengan A’yun di sekolah, A’yun marah2 pada Livia karena perbuatan Arsya kemarin, Akhirnya Livia berjanji untuk membantunya, saat itu juga, Arsya ngerjain Livia lagi, sehingga membuat Livia makin sedih, dan malam harinya, Livia berkata pada Arsya lewat SMS tentang masalah A’yun itu, lalu Arsya meminta nomer A’yun untuk meminta maaf, setelah agak lama, Livia merasa sudah mengantuk dan dia ketiduran, tapi Arsya membangunkan Livia, Arsya melarang Livia tidur karena Arsya kesepian dan tak bisa tidur, Arsya meminta Livia untuk tetap menemaninya malam itu, Livia pun terpaksa menyetujuinya. Pada pukul 12.00 malam tepat, Hp Livia berdering, seseorang menelponnya, dia memakai privat number, Livia pun mengangkatnya, “Surprise..!!!” Ternyata itu adalah Arsya, Arsya mengucapkan met ultah pada Livia, Livia sangat bahagia sekali, Arsya bercerita bahwa Lia, dan masalah A’yun dan Fian itu adalah bagian dari sandiwara mereka untuk memberikan surprise ini padanya, Arsya juga berkata bahwa dia menelponnya karena dia ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan met ultah ke Livia. Pada keesokan harinya tepatnya tanggal 23 Maret, setelah pulang sekolah, Livia, Ana, Bella, dan teman2 lainnya yang tergabung dalam kelompok dance Livia mengadakan latihan di rumahnya, saat perjalanan menuju rumah Livia, Ana menyiram Livia dengan air yang dibawa oleh Ana dari rumah, Livia sangat terkejut, tapi Livia tak bisa lari, setelah sampai di rumah, Ana menariknya sampai di kamar mandi dan menyiram Livia kembali, Livia sangat malu, karena disitu ada Arsya dan Fian. Setelah itu Livia mengganti bajunya dan mulai latihan kembali. Tiba2 A’yun datang, dan langsung menuju ke atas menemui Fian pacarnya, Arsya dan Romi, setelah itu dia turun lagi menemui Ana dan meminta Ana untuk menemaninya ke atas. Setelah agak lama, Ana kembali turun memanggil Livia dan mengajaknya ke atas juga, saat di atas, Ana mengajak Livia untuk membicarakan sesuatu tentang kelompok dancenya di luar, tiba2 dari belakang Arsya menyiramnya, disusul dengan siraman dari A’yun, Fian, Romi, Ana dan Bella, Livia sangat terkejut juga bahagia, setelah penyiraman selesai, tiba2 Arsya datang di hadapan Livia dengan membawa sebuah kado di tangannya. Arsya mengucapkan met ultah sekali lagi pada Livia, dan memberikan kado tersebut padanya, dan Arsya menyuruh Livia untuk membukanya. Dan ternyata isinya adalah sebuah jam tangan dan di dalamnya terdapat surat, Livia pun membacanya, dan Arsya meminta Livia untuk segera memakai jam tangan itu, tetapi Livia menolaknya karena jam tangan itu terlalu besar untuk ukuran tangan Livia, tetapi Livia berjanji akan segera memakainya, setelah itu A’yun dan Fian yang memberinya kado, isinya adalah 1 boneka semut besar, 1 boneka teddy kecil dan gantungan. Setelah semua teman2 Livia sudah pulang, Marvel , mantan pacar Livia datang untuk mengucapkan met ultah pada Livia. Setelah agak lama mengobrol, akhirnya Marvel pun pulang. Malam harinya saat SMSan, Arsya berkata bahwa dia sangat bahagia karena bisa merayakan hari ultah Livia, dia berkata bahwa dia sangat bahagia ketika melihat Livia tersenyum dan tertawa bahagia seperti tadi dan berharap bahwa hari bahagia itu akan selalu terjadi, sehingga Arsya selalu bisa melihat Livia tersenyum selalu. Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan buat Livia, Arsya, dan sahabat2nya.Pada akhir bulan Maret 2011 itu, Livia dan Arsya juga semua sahabat2nya mengikuti ujian Try out UN. Dan pada tanggal 9 April, Livia mengajak Fian untuk ikut memberikan surprise di hari ultah Arsya, pada pukul 10.00, Livia naik keatas untuk menemui dan memberikan kejutan itu untuk Arsya, dengan membawa kue ultah buatannya sendiri, disertai dengan nyanyian ultah ala Livia, membuat Arsya terkejut dan tersentuh hatinya, setelah itu Livia menyuruh Arsya untuk meniup lilinnya dan memakan kuenya, tetapi Arsya malah memberikan potongan kue pertamanya tersebut pada Livia dan menyuapinya, setelah itu baru Arsya meminta Livia untuk balik menyuapinya, Livia sangat bahagia, begitu juga Arsya yang merasa bahagia dengan adanya surprise dari Livia. Setelah agak lama, tiba2 Fian datang dan langsung melempar tepung yang ada di genggamannya pada Arsya, belum puas dengan lemparan tepung itu, Fian pun melemparkan tepung itu juga pada Livia, hingga mereka berdua sama-sama belepotan karena lemparan tepung itu, saat melihat Livia yang wajahnya penuh dengan tepung, Arsya pun tertawa dan mengusap wajah Livia dengan tangannya, membersihkan tepung itu dari wajahnya, begitu juga Livia, dia pun mengusapkan tangannya pada wajah Arsya yang penuh dengan tepung. Setelah selesai membersihkan wajah masing-masing, Arsya menggenggam tangan Livia dan berterima kasih pada Livia karena telah memberikan surprise itu padanya, dia berkata bahwa dia sangat bahagia sekali hari itu, lalu Arsya mencium kedua tangan Livia hingga membuat Livia tersipu malu. Dan pada awal bulan Mei, Arsya meminta izin pada Livia untuk pergi, pulang ke rumah asalnya di Indramayu. Awalnya Livia berpikir untuk tidak mengizinkan Arsya pergi, tetapi Livia memikirkan kebahagiaan Arsya juga, Livia berpikir bahwa Arsya butuh istirahat di rumah asalnya, dan akhirnya Livia pun mengizinkannya. Dan Arsya pun berterima kasih pada Livia dan mencium pipi Livia. Livia tersipu malu dan merasa bahagia. Tepat di hari perginya Arsya, Livia diminta oleh sahabatnya Fian untuk menemani dia mengantar kepergian Arsya ke stasiun. Awalnya Livia ragu2 karena pada saat itu adik Livia sakit keras dan Livia diminta untuk menjaga adiknya itu di rumah sakit. Karena Livia tidak ingin melewatkan kesempatan indah itu, akhirnya Livia meminta izin pada kedua orang tuanya dengan alasan reuni alumni, dan Livia pun ikut mengantar kepergian Arsya ke stasiun bersama dengan Fian. Sebenarnya Arsya tidak mengizinkan Fian untuk mengajak Livia ikut serta mengantarnya karena dia takut akan terjadi sesuatu yang buruk padanya saat di jalan nanti, tetapi Fian tetap bersikeras untuk mengajak Livia dan dia berkata bahwa tidak akan terjadi apapun pada Livia dan dia juga berjanji untuk menjaga Livia saat di jalan nanti, dan akhirnya Arsya pun menyetujuinya dengan terpaksa. Saat tiba di stasiun, Arsya pun mengucapkan kata terakhirnya sebelum meninggalkan Livia pergi. Dia berpesan pada Livia untuk selalu menjaga kesehatannya selama tak ada Arsya disampingnya, dan selalu mengingat Arsya dimanapun dan kapanpun, dan akan selalu menjaga hati dan cintanya hanya untuk Arsya sampai saatnya Arsya kembali. Livia pun menyetujuinya dan berjanji akan melakukan semua yang diminta oleh Arsya. Begitupun sebaliknya dengan Arsya. Kemudian Arsya pun mencium pipi dan kening Livia dan mengucapkan salam perpisahan padanya. Dan setelah itu Arsya pergi meninggalkan Livia dan Fian menuju kedalam peron. Setelah Arsya masuk, Livia dan Fian pun pulang.Satu minggu berlalu Livia jalani hari-harinya tanpa Arsya, tapi walaupun mereka berjauhan, mereka tetap saling memberi kabar, saling sms_an, saling merindu, dan masih tetap saling menjaga perasaan masing-masing. Tetapi, kebahagiaan yang Livia rasakan tidak bertahan lama, sampai suatu hari ada sebuah kejadian yang membuat hubungan mereka hancur berkeping-keping.Satu minggu sudah Livia menanti kabar dari Arsya yang tak kunjung membalas satupun sms dari Livia. Livia sangat sedih dan tak hentinya memikirkan Arsya. Sampai suatu hari, Livia mengirim sms pada Arsya yang berisi bahwa Livia sudah tidak kuat lagi menahan semua penderitaan yang sudah dia alami, Dia berkata bahwa lebih baik Livia pergi dari hidup ini dan tak kembali untuk selama-lamanya, dan Livia pikir Arsya akan tetap bahagia dan mungkin akan lebih bahagia jika melihat dan mendengar bahwa dirinya sudah tiada, dan tidak akan ada lagi yang mengganggu kehidupannya, dan terakhir Livia mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya pada Arsya. Disertai dengan tangisan dan keputus-asaan, Livia mengirimkan sms itu pada Arsya dan mulai mengambil sebuah cutter yang digunakan untuk melukai lengannya sendiri. Tapi sayangnya, Arsya tidak menggubris sms Livia, Livia semakin sedih dan semakin menggores lengannya. Sahabatnya, A’yun dan Fian yang mengetahui hal itu langsung mengirim sms pada Livia dan bertanya apa yang terjadi padanya. Tapi Livia tidak menjawabnya, A’yun dan Fian semakin takut jika terjadi hal yang buruk yang menimpa Livia. Esok paginya, A’yun dan Fian datang ke rumah Livia untuk memastikan keadaan Livia, saat A’yun masuk ke kamar Livia, A’yun menemukan Livia tergeletak dengan lengan penuh darah, A’yun terkejut dan menjerit hingga Fian datang menyusul ke kamar, begitupun dengan Fian, dia sangat terkejut melihat Livia tergeletak lemas disana. Lalu tanpa pikir panjang, A’yun segera menyuruh Fian untuk mengangkatnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Livia pun dirawat dan dokter berkata bahwa Livia kehilangan banyak darah, hingga dia harus melakukan transfusi darah dan sayangnya, persediaan darah di rumah sakit sedang kosong. A’yun dan Fian terkejut, mereka sangat sedih dengan apa yang menimpa sahabatnya, Livia. Mereka semakin sedih saat tahu bahwa darah mereka tidak ada yang cocok untuk di donorkan pada Livia dan satu-satunya orang yang darahnya cocok untuk di donorkan darahnya hanyalah Arsya. Fian pun bertanya pada dokter sampai kapan Livia bisa bertahan menunggu adanya donor darah tersebut, dan dokter pun menjawab bahwa Livia masih bisa bertahan selama 3 jam. Mendengar pernyataan dari dokter, Fian segera menelpon Arsya dan memberi kabar padanya tentang keadaan Livia yang kritis saat ini. Setelah berbicara panjang lebar, Fian kembali dengan tangan kosong, tanpa hasil, Arsya tidak bisa datang saat itu juga karena sibuk, dan meminta maaf pada mereka karena tidak bisa menolong Livia. Fian sangat kecewa dan sangat marah pada Arsya, tetapi A’yun menenangkannya dan mengajak Fian untuk tetap mencari donor darah untuk Livia. Saat A’yun dan Fian sudah hampir menyerah dan waktu sudah hampir habis, tiba2 Marvel datang dan berkata bahwa darahnya cocok dengan Livia dan dia bersedia untuk mendonorkan darahnya pada Livia. A’yun dan Fian sangat senang dan meminta Marvel untuk menemui dokter. Setelah tranfusi darah selesai dilakukan, dokter berkata bahwa keadaan Livia berangsung-angsur membaik. Mereka bertiga pun senang dan bersyukur bahwa sahabatnya akan sembuh, A’yun dan Fian juga berterima kasih pada Marvel telah membantu mereka juga Livia. Dan mereka pun bergantian menjaga Livia di rumah sakit. 3 hari sudah Livia jalani hari-hari buruknya di rumah sakit dan kini dia sudah kembali ke rumah. A’yun pun bertanya pada Livia apa yang terjadi padanya, dan mengapa Livia menggoreskan cutter tajam ke lengannya sendiri. Livia pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan Arsya. Mendengar cerita Livia, Fian jadi semakin marah pada Arsya, tiba2 Livia menerima sms dari Arsya, dalam sms itu, Arsya marah2 pada Livia karena sms Livia dulu, dia berkata bahwa saat itu Arsya pergi jalan2 dengan teman2nya disana dan dia tidak membawa hp, hp nya dia tinggalkan di rumah dan sms Livia saat itu di buka dan dibaca oleh orang tua Arsya, hingga saat Arsya pulang, orang tuanya memarahi Arsya. Livia sangat sedih dengan sms Arsya, dia sedih kenapa Arsya tidak bisa memahami keadaan Livia dan malah memarahinya saat dia baru saja melewati masa-masa buruknya. Setelah perdebatan yang panjang dengan Livia, akhirnya Arsya berkata pada Livia bahwa lebih baik hubungan mereka hanya sebatas teman biasa saja, tidak lebih karena Arsya menyadari bahwa dirinya tidak bisa membahagiakan Livia dan malah membuatnya terluka, Livia pun tidak setuju dengan pernyataan Arsya dan berkata bahwa selama ini Livia tidak pernah merasa dilukai oleh Arsya dan semua yang terjadi padanya itu bukan semata-mata karena Arsya, tetapi karena kesalahan dirinya sendiri. Livia juga meminta maaf pada Arsya karena telah membuat dia dimarahi oleh orang tuanya dan meminta Arsya untuk menarik kata-katanya tadi. Livia juga menjelaskan bahwa jika Arsya merubah hubungan mereka menjadi sebatas teman biasa saja, Livia akan semakin sedih dan terluka, Livia akan lebih bahagia jika masih tetap bisa bersama dengan Arsya hingga sampai tiba saatnya nanti mereka harus berpisah. Arsya bingung dan tak bisa memutuskan hari itu juga, dan Arsya pun mohon diri pada Livia untuk mengakhiri sms tersebut. Dan diakhir sms, Arsya masih memberikan kiss bye nya untuk Livia. 1 hari setelah kejadian itu, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan Livia sangat bersyukur karena Arsya masih mau membalas sms nya, dan Arsya masih mau memaafkan Livia dan tetap mengizinkan Livia untuk memanggilnya dengan sebutan “Maz”. Dan 2 hari setelah itu, Livia dan Fian mengikuti rekreasi ArSemA(Arek Sembilan A) ke Malang dengan tujuan ke beberapa tempat, yaitu Masjid Turen, Wendit, Pasar Lawang dan terakhir adalah Wisata makam Sunan Ampel di Surabaya. Awalnya Livia pergi dengan perasaan bahagia, karena dia bisa pergi bersenang-senang dengan teman2 dan sahabat2nya. Saat perjalanan pulang, dia mencoba untuk menghubungi Arsya karena saat itu dia sangat merindukan Arsya. Tetapi ternyata Arsya menjawab sms itu dengan jawaban yang tidak pernah diharapkan oleh Livia, di sms itu dia malah memarahi Livia karena dia masih memanggil namanya dengan sebutan “Maz”, dan Arsya meminta pada Livia untuk tidak memanggilnya dengan sebutan itu lagi, Livia sangat sedih dan meminta maaf pada Arsya dan mencoba untuk menjelaskannya tetapi Arsya tidak peduli dan malah mengakhiri sms itu. Livia benar2 sedih dan menceritakan kejadian itu pada sahabatnya, Fian. Fian terkejut dan mencoba untuk membantu Livia karena dia merasa kasihan dengannya, Fian mencoba untuk menghubungi Arsya tetapi semuanya sia-sia, karena Arsya sama sekali tidak menggubris mereka. Livia semakin sedih, melihat hal itu, Fian segera menghubungi A’yun untuk datang menghibur Livia, tetapi semua itu juga sia-sia. Berkali-kali Livia mencoba menghubungi Arsya, tetapi Arsya benar-benar tidak memperhatikannya, bahkan Livia sempat berpikir bahwa Arsya sudah tidak mencintainya lagi, dia berpikir bahwa Arsya sudah memiliki kekasih hati yang baru, yang membuat Livia semakin sedih, hancur dan terluka. Pada malam harinya, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan akhirnya Arsya mau mengangkatnya, dan disitu Livia meminta maaf pada Arsya atas semua kesalahan yang telah dia perbuat selama ini, dan menanyakan sebab Arsya tidak mengizinkannya lagi memanggil dengan sebutan “Maz”. Tetapi Livia malah mendapatkan jawaban yang tidak pernah diinginkan olehnya. Arsya memaafkan tetapi dia tidak mau memberikan alasan kenapa dia tidak lagi mengizinkan Livia memanggilnya dengan sebutan “Maz” lagi, Arsya hanya berkata bahwa lebih baik hubungan mereka berdua hanya sebatas teman biasa saja, dan tak bisa melanjutkannya lagi, dan mengenai alasan, Arsya tidak mau menjawabnya, dia hanya diam saja. Livia sangat sedih dan mencoba membujuk Arsya, Livia berusaha untuk membuat Arsya merubah keputusannya, tetapi Arsya tidak peduli dan tetap pada keputusannya. Hal itu membuat Livia meneteskan airmatanya, dan menangis memohon2 pada Arsya, tetapi sayangnya Arsya tidak bisa merubah keputusannya itu, dan Arsya pun mengakhiri pembicaraan itu. Sepeninggal Arsya, Livia terus meneteskan airmatanya hingga membuat matanya bengkak. Livia sangat sedih dan terpukul saat mendengar langsung keputusan Arsya untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah terlanjur mereka jalani dengan hati yang tulus dan suci.Esok paginya, Livia menceritakan semua kejadian yang telah dia alami pada sahabat2nya, mereka semua sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang Livia ceritakan. Fian, Marvel, A’yun dan Qory geram pada Arsya atas apa yang sudah dia lakukan pada Livia. Dulu, mereka sangat mempercayai Arsya untuk menjadi pengganti Arinal, untuk menjadi kekasih hati Livia, mereka sangat mendukung Arsya, tetapi sekarang, mereka benar2 geram pada Arsya dan merasa menyesal telah mempercayakan semua itu pada Arsya. Fian dan Marvel adalah orang yang pertama kali merasa kecewa dan marah pada Arsya, karena Fian mewakili ke-4 sahabat Livia pernah memberikan kepercayaan seutuhnya pada Arsya untuk selalu menjaga Livia, menjaga hati juga cintanya, tetapi semua itu malah di salah gunakan oleh Arsya dan mengkhianati Livia. Sedangkan Marvel, sebagai cinta pertama Livia dan orang yang pernah mengisi relung hati Livia yang juga telah memberikan kepercayaan pada Arsya untuk selalu menjaga dan mencintai Livia sepenuh hatinya, dan memberikan janji untuk tidak menyakiti hati Livia dan mengkhianatinya. Kemudian, mereka mencoba untuk menghibur Livia dan berkata untuk tidak terlalu terpuruk dalam kesedihannya, karena mereka yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Arsya itu demi kebahagiaan Livia juga. Akhirnya Livia pun mendengarkan nasihat sahabat2nya dan mencoba untuk menerima semua takdir yang telah diberikan untuknya dan Livia juga akan selalu menanti kedatangan Arsya kembali.2 Minggu kemudian, terdengar kabar bahwa Arsya telah kembali dan hal itu membuat Livia senang, tetapi Livia kembali teringat dengan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua, hingga membuat Livia kembali bersedih dan mencoba untuk menjaga jarak dengan Arsya. Saat itu, adalah hari2 terakhir Livia bisa berkumpul dan bertemu dengan teman2nya, yaitu Romi dan terutama dengan Arsya, karena 3 hari setelah itu, akan diadakan acara wisuda tahun 2010/2011 di sekolah Livia. Sebenarnya Livia ingin menciptakan lebih banyak kenangan manis lagi dengan sahabat2nya, begitu pula dengan Arsya, tetapi hal itu sangat tidak mungkin, mengingat hal yang sudah terjadi antara Livia dan Arsya, hingga Livia pun menyerah dan tak mau memaksakan kehendak Arsya, walaupun begitu dia juga harus tetap bersyukur karena pernah diberikan kesempatan yang sangat tak ternilai harganya dan tak terhitung banyaknya untuk bisa menciptakan kenangan manis itu berdua dengan Arsya.Tibalah saatnya untuk Livia berpisah dengan semua sahabat2nya setelah acara prosesi wisuda selesai. Saat di pertengahan acara, Livia sempat menangis sesenggukan karena mengingat banyaknya kenangan manis yang telah mereka buat bersama yang saat itu juga harus dia tinggalkan. Dan pada akhir acara, Livia tak mau kehilangan kesempatan untuk berfoto ria bersama sahabat2nya, bercanda dengan mereka untuk yang ke terakhir kalinya sebelum mereka semua pergi meninggalkannya begitu juga sebaliknya. Tetapi hanya 1 orang yang menolak untuk foto dengannya saat itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Arsya sendiri, padahal Fian, Romi, Marvel, dan Nuri mau memberikan kesempatan pada Livia untuk foto bersama diri mereka secara bergantian, setelah Arsya dibujuk rayu dan akhirnya dia tetap menolak ajakan itu, Livia pun menyerah dan membiarkan Arsya dalam kesenangannya sendiri. Dari jauh Livia menangis melepaskan kepergian Arsya dan dari jauh pula Livia mengucapkan selamat tinggal pada Arsya untuk selama-lamanya.===== THE END =====Nama : Azimatul AlifiyahStatus masih pelajar kelas 10 (X-A)Alamat : Jl. Bandung 7 Malang (Ma'had al-Qalam Man 3 Malang)Minat : Nulis cerpen, novel, dengerin musik, baca cerpen n novel..Alamat FB : stewart_pattinson@ymail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*