Cerpen horor “Bangku sekolah”

Hu, Udah jelas jels ini malam jumat. eh malah yang di share cerpen horor. Hiiiii…. Serem.
Tapi nggak papa deh. Itung itung juga biar lebih menghayati (???). Oh ya, Sekedar info. Cerpen ini tu kiriman dari Irma octa swifties. Tau nggak dia itu siapa?. Pasti nggak tau kan?. Abis dia tinggalnya di ujung kutub si… #di mutlisai sama irma.
Nah, berhubung admin baik hati, tidak sombong, rajin menabung serta berbakti pada orang tua (AMIN), admin kasi tau deh. Irma octa swifties adalah seorang….Jreng jreng jreng…. Cenayang!!!. Cenayang sodara sodara _Yang jujur saja sape saat ini Admin sendiri nggak tau cenayang itu apa. -,-
Oh ya, ada satu lagi fakta soal si irma, Selain cenayang nggak tau gimana ceritanya dia juga adalah orang yang sama yang jadi tokoh utama cewek di cerpen cinta Dalam diam mencintaimu. Atau cerpen kala cinta menyapa yang jadi sahabatnya Rani. Sepertinya Admin bener – bener terbukti baik hati sehingga mau memasukan namanya di situ #Bangga.
Oke deh, kayaknya udah kebanyakan bacod mending langsung aja yuks… Cekidot…


Kejadian ini saya alami di tahun 2009, sekitar 4 tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku kelas 2 MA (Madrasah Aliyah).
Saat itu saya dan kawan-kawan yang lain mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang di adakan oleh sekolah, English Zone. Kegiatan yang di harapkan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa, meski sampe sekarang kemampuan berbahasa Inggris saya masih di bawah rata-rata sih (ciyan)!
Kegiatan ini berlangsung selama 10 hari. Ya 10 hari! Itu artinya kami menginap di sekolah. Siswa laki-laki dan perempuan tidur di tempat yang terpisah tentunya (ya iyalah)! -,-
Hanya saja, jika siswa laki-laki menggunakan kamar mandi di lantai bawah, kami para siswa perempuan menggunakan kamar mandi di lantai atas, haha!
Ya, sekolah saya ini memang terdiri dari 2 tingkat. Tapi tidak luas, terkesan kecil malah. Bahkan, orang-orang yang melewati sekolah saya ini sepintas lalu akan menganggap bahwa itu adalah sebuah rumah bila ia tidak jeli melihat papan nama sekolah yang terpajang di halaman yang juga terkesan sempit. Dan ah! Ngomong-ngomong, sekolah saya ini Swasta. Yep, begitulah.
Well, ketika teman-teman SMP saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah mereka ke SMA Negeri, saya malah memilih sekolah ini. Kenapa? Karena sekolah ini punya kegiatan Marching Band, bahahaha. Dan saya harus bangga karena sudah beberapa kali ikut dalam perayaan HUT RI dengan menjadi anggota Marching Band, memainkan alat musik Belira dan Pianika! Dan sekedar informasi, saya selalu berada di barisan paling depan, jadi saya lah yang paling banyak di potret. :p
Oke back to topic, wkwkwk! Awal-awal mengikuti kegiatan ini, saya dan kawan-kawan merasa enjoy-enjoy saja. Seru malah, karena bukan hanya kami para siswa kelas 2 yang ikut berpartisipasi, tapi juga ada siswa kelas 1 dan kelas 3. Kakak kelas kece? Oh tentu saja mereka ada. Hahahaha XD
Hingga tiba saatnya… Aku pun melihat… (halakh malah nyanyi) >,< Hingga tibalah saat di mana kejadian itu berlangsung :O Well, proses belajar mengajar dalam kegiatan ekstrakulikuler kami ini memang berlangsung di lantai atas. Dan malam itu kami para siswa kelas 2 mendapat jadwal pemberian materi oleh Mr dan Ms pengajar. Kebetulan saat itu saya kebelet p*p*s (-,-)! Sialnya, air yang ada di bak kamar mandi lantai atas habis .
Akhirnya saya pun menarik tangan teman sebangku saya agar mau menemani saya untuk melaksanakan ‘panggilan alam’ ini di kamar mandi lantai bawah, muahahaha. Dengan sebelumnya telah meminta izin lebih dulu, kami pun segera bergegas. Dan oh, di tangga kami bertemu dengan kakak kelas kece (ehem)! :3 Di lantai bawah, kami melewati koridor dan perpustakaan sekolah yang sempat membuat bulu kuduk saya merinding, hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…. Selang beberapa menit kemudian, kami pun sampai di depan kamar mandi yang kami tuju tersebut,akhirnyaaa…:) Sebelum masuk, saya sempat mengancam teman saya tadi agar tidak meninggalkan saya sendirian nantinya (itu karena saya takut pemirsah)! -,- Dan belum sempat saya berbalik, tiba-tiba terdengar suara bangku yang di hentak-hentakkan dengan keras dari ruangan yang letaknya tidak jauh dari kamar mandi ini, ruangan yang pernah ada seorang siswa kesurupan di dalamnya! Dengan segera saya bertanya kepada teman saya tadi, “denger itu gak?” dia hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah yang nampak… pucat. Ketakutan sepertinya. Lalu kami berdua terdiam, mendadak suasana menjadi begitu mencekam (O,O)! Lalu?
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk…….” Kami berdua segera berlari ke lantai atas dengan panik. Akhirnya ‘panggilan alam’ saya pun terlupakan (-,-)! Keesokan paginya, kami menceritakan kejadian terrsebut kepada teman-teman yang lain, tapi tak ada satu pun yang mempercayainya. What the hell huh? ( >,<). Ya sudahlah, yang jelas kejadian ini benar-benar saya alami. Kalau tidak percaya silahkan bertanya kepada teman saya tadi. Eh tapi saya sudah lost contact dari dia, tau deh sekarang dia ada dimana. Bahahahahaha XD
Salam Horor, Bukan Irma Octa Swifties -_______-“
Biodata penulis :
Judul : Cerpen horor bangku sekolah
Penulis : Irma Octaviani
Facebook : Irma octa swifties
About irma :
Hai, aku Irma Octaviani line '92, manggil Irma boleh, manggil Octa juga boleh, manggil Luna Maya apalagi *pfffttt -___-
Sangat mencintai bakso dan tergila-gila sama benda-benda berwarna pink serta cowok ganteng! XD
Gak bisa diem dan hobby ngomong. Apalagi ngomongin orang *EEH
Paling seneng punya banyak teman, apalagi punya banyak DUIT *akwakakwakawks -__-
Pengen banget suatu saat bisa ke Verona, Itali *mustahil T_T
Koment admin : MANA HOHORNYA???….. Mentang mentang tampang lu nipu, lu nipu saia juga ya om…
ck ck ck, Terlalu. Gak serem sama sekali ni cerpen horor. Sungguh, lebih serem lagi kalo lo marah marah sambil bawa golok. Seriusan deh.
PS: Hei, membalas itu selalu lebih baik dari pada gak ada balasannya buka….. #senyum tiga jari ala kelinci…~ Kemudian lanjutin dengerin Miss You

Random Posts

  • Cerpen Sahabat Terbaik Be the Best Of A Rival ~ 04

    PS: Untung aja aku baru ngabisin baca novel yang sukses bikin aku berfikir positif… Kalau nggak, Nggak tau deh..Thanks to "Mellisa"…Part sebelumnya silahkan baca "Cerpen persahabatan be the best of a rival part 3".Credit Gambar : Ana MeryaKeesokan harinya, farel sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. langsung bersiap – siap untuk kesekolah. mamanya aja sampai heran. Biasanya kan farel baru bangun kalau udah di bangunin. itu juga harus pake olah raga suara alias teriak – teriak. la ini?. Selesai sarapan farel langsung tancap gas.sebagian

  • Cerpen Persahabatan: Me and My Best Friend

    Oleh: Rai Inamas Leoni – Kembali aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin perasaanku saja, ujarku dalam hati. Ku lirik jam tangan ku yang menunjukan jam 4 sore, pantas keadaan parkiran sudah sepi. Hanya ada beberapa motor yang masih setia menunggu majikannya untuk pulang. Aku sendiri baru selesai dari ekskul ku yaitu jurnalistik. Sebenarnya belum selesai, hanya saja aku izin pulang lebih awal. Mood ku dari tadi pagi sedang tidak bagus, ditambah cuaca hari ini yang selalu mendung.Aku tersenyum ketika melihat motor kesayangan ku dari kejauhan. Waktunya pulang, batinku lirih. Kulangkahkan kaki menuju motor matic ku. Tak sampai 5 langkah, aku menghentikan langkah ku. Mereka benar-benar lupa… Rasanya aku ingin menangis saja. Kenapa mereka semua bisa lupa hari ulang tahun ku? Bahkan Agha pun juga tidak ingat. Aku sengaja tidak mengatakan apa-apa kepada mereka tadi pagi. Aku masih menunggu hingga mereka sadar, bahwa temannya yang satu ini sedang merayakan hari kelahirannya. Tapi, segitu buruk kah ingatan mereka? Ingin sekali aku berteriak di parkiran ini.Dengan kesal, aku berjalan secepat mungkin menuju motorku. Lebih baik pulang, tiduran di kamar sambil membaca novel. Lupakan hari ulang tahun ku!! Namun langkah itu mulai terdengar kembali. Siapa? Apakah penguntit? Tanpa sadar aku mulai sedikit berlari, dan langkah itu pun juga terdengar sedang berlari mengejarku. Tunggu. Kenapa aku mendengar langkah kaki banyak orang? Jangan-jangan aku akan dikeroyok. Oh tuhan, lindungilah aku.Karena penasaran, ku beranikan diriku untuk menoleh ke belakang secepat mungkin, melihat apa yang terjadi sebenarnya. Dan sedetik kemudian aku merasa butiran-butiran putih mengenai seluruh tubuhku. Lalu disusul dengan cairan kuning mengenai rambutku. “Happy Birthday Nara,” ujar mereka serempak lalu tertawa terbahak-bahak.Kulihat Nadya, Lunna, dan Dinda sedang membawa sisa-sisa tepung, yang tentu saja juga mengenai baju mereka walau tidak sebanyak aku. “Oh shiiitt.. Kalian gila apa?” teriakku kesal walau hati kecil ku merasa senang. Senang karena mereka ingat aku.“Ya ampun, gitu aja ngambek. Sini gue kasi lagi,” Tio lalu melemparkan telur ke kepala ku dan semua kembali tertawa. Aku hanya bisa menunduk, membiarkan cairan kuning itu jatuh ke tanah. Dan tidak lama kemudian aku melihat Rizky membawa seember air. Buru-buru aku lari, namun ditahan oleh Nadya dan Dinda. Dan jadilah kami bertiga terkena air.“Ya Rizky, kenapa gue jadi kena sih? Ini kan air bekas pel Pak Komar. Sialan lo!” rengek Nadya lalu melempar tepung yang tersisa kearah Rizky. Rizky pun mencoba untuk menghindar. Aku tertawa melihat mereka. Mereka bener-bener pasangan yang serasi.Dan entah dari mana, Lunna tiba-tiba membawa blackforest yang berisi angka 16 kehadapan ku. “Make a wish dulu donk, Ra.”Aku mulai memejamkan mata untuk berdoa. Ku buka mata secara perlahan sambil menatap satu persatu teman sekelas ku di XI IPA 2. Nadya, Rizky, Dinda, Lunna, Tio, dan.. “Agha mana?” tanya ku polos.Kulihat raut wajah mereka berubah. Lalu Dinda menyela, “Agha lagi nganter Putri ke toko buku. Lo tau lah Putri, ee.. dia anak baru,” Kulihat Dinda sejenak ragu-ragu. “Bu Siska tadi nyuruh Agha buat nemenin Putri beli buku pelajaran.”“Oh,” Hanya itu kata yang keluar dari mulut ku. Kupaksakan untuk tersenyum. Melihat perubahan ekspresiku, Tio yang memang terkenal jahil mulai melumuri wajahku dengan krim yang ada di kue, lalu disusul oleh Dinda. Tak mau kalah, aku langsung membalasnya. Selang beberapa menit, kami berenam sudah menjadi badut amatiran yang wajahnya dipenuhi krim.***Agha Daniswara. Nama yang sudah tak asing lagi di telinga ku. Selain letak rumah yang bersebelahan, kami juga selalu satu sekolah bahkan sekelas. Dimana ada Agha, selalu ada aku. Aku seperti menemukan sosok kakak di dalam diri Agha, karena aku sendiri anak tunggal. Menjadi anak tunggal memang mengasyikan. Semua perhatian Mama dan Papa tercurah untuk ku tanpa harus terbagi. Namun hidup sendiri tanpa saudara juga sangat menyedihkan malah membosankan. Kadang aku iri kepada mereka yang memiliki kakak atau adik. Tapi, selama ada Agha yang selalu disamping ku, hidup menjadi anak tunggal tidak masalah.Sejenak aku memejamkan mata, mencoba mengingat kejadian tadi sore. Yang terlintas dibenak ku hanya lah Putri. Murid pindahan yang seminggu terakhir mencuri perhatian teman-teman sekelas. Ya, dia cantik dan modis. Dan tak butuh waktu lama, aku yakin Putri akan menjadi salah satu deretan siswi populer di SMA Tunggadewi.Aku kembali membuka mata. Kulirik foto yang terpajang manis di meja belajarku. Foto dua anak SD yang sama-sama membawa balon. Aku masih ingat, saat itu hari ulang tahun Agha yang ke-10. Mama Agha atau biasa ku panggil Tante Mita ngotot untuk menggambil foto kita berdua. Untuk kenang-kenangan katanya.Alunan lagu Only Hope milik Mandy Moore terdengar dari meja belajarku. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidur. Siapa sih yang nelpon malam-malam? Dengan kesal ku tekan salah satu tombol di HP, tanpa melihat nama yang tertera di layar. “Halo,” sapaku enggan.“Akhirnya diangkat juga. Ra, buruan ke balkon sekarang.” ujar seseorang yang aku kenal. “Jangan lupa pakek jaket, dingin banget disini. Gue tunggu, Ra.”Belum sempat aku menjawab, telepon sudah di tutup. Sialan Agha. Aku yang masih binggung atas ucapanya buru-buru membuka lemari mencari jaket tebalku. Tak butuh waktu lama, aku sudah berdiri di balkon kamarku yang bersebelahan dengan balkon kamar Agha. Kamar ku dan kamar Agha sama-sama ada di lantai atas.“Lo belum tidurkan?” tanya Agha dari balkonnya. Ku lihat Agha menggunakan kemeja putih dan celana jeans hitam yang membalut tubuh atletisnya. Sepertinya ia baru pulang.“Belum lah, masih jam 9 juga. Lo sendiri baru pulang?”“Iya. Tadi gue nganter Putri beli buku. Capek banget, Ra. Nggak nyangka kalo si Putri suka baca novel sama kayak lo.“ Ku lihat Agha tersenyum gembira. Belum pernah aku melihat ia sebahagia ini. Lalu ia menceritakan kejadian-kejadian yang lucu di toko buku. Aku hanya menanggapi dengan kata-kata singkat seolah aku menyimak cerita Agha. Walau sebenarnya aku tidak mendengarkan apa-apa.Ada sesuatu yang mengganjal. Aku menerawang ke bawah melihat jalanan, yang tentu saja sepi. Jalan di kompleks perumahan kan tidak seramai jalan raya.“Ra? Halo… Nara? Naraaaa… Lo denger nggak sih?” Panggilan Agha membuyarkan lamunan ku.“Apa? Eh maksud gue, gue denger kok,” ucapku terbata-bata.Agha mendengus. “Gue tau lo nggak denger omongan gue. Lo lagi mikirin apa sih?“Kita balik ke setahun yang lalu ya?” ujarku tiba-tiba.Agha terlihat bingung.“Kita pacaran sampai sini aja. Lagian lo sama gue lebih cocok buat sahabatan. Entah kenapa gue rindu Agha yang dulu. Agha yang selalu ngejek gue jelek, Agha yang selalu bandingin gue sama cewek-cewek populer waktu SMP, sampai Agha yang selalu bangunin gue kalo gue telat bangun. Semenjak kita pacaran, rasanya ada yang berubah dalam diri kita.” Sejenak aku memejamkan mata untuk mengatur emosi. “Lo mau kan kalo kita sahabatan lagi?” tanya ku ragu.Ku lihat Agha terkejut mendengar ucapanku. Biarlah. Jujur, setelah aku dan Agha pacaran, aku melihat perubahan sikap diantara kami. Seolah-olah ada tembok besar disekitar kami. Kami tidak dapat tertawa lepas seperti dulu saat SMP. Selalu ada sesuatu yang mengikat, mengingatkan bahwa kita tidak hanya berteman. Suatu komitmen yang bernama pacaran. Tapi aku sadar semenjak Putri masuk ke kelasku, aku merasa Agha tertarik pada gadis itu. Dan itu membuat aku muak. Aku kangen sama Agha, teman kecil ku.“Kalo itu mau lo, gue terima. Asalkan kita bisa sahabatan lagi kayak dulu. Jangan gara-gara masalah ini, kita jadi diem-dieman.” ujar Agha lirih.“Ya udah, gue duluan balik ke kamar ya. Dingin banget disini.”Belum sempat aku melangkah, Agha sudah menahanku dan menyuruhku menangkap sesuatu yang dilemparnya. Untung kali ini aku bisa menangkapnya dengan tepat.“Happy birthday Nara. Maunya ngucapin satu tahunan kita jadian. Tapi kita kan baru aja putus. Gue doain semoga persahabatan kita langgeng sampai tua nanti.”Aku hanya tersenyum lalu buru-buru masuk ke kamar. Ku hempaskan diriku ke tempat tidur. Perlahan kubuka hadiah Agha yaitu sebuah kotak kecil bermotif strawberry, buah kesukaan ku. Dalam kotak terdapat kalung berbandul separuh hati dan sebuah kertas kecil.“Happy birthday peri kecilku dan happy 1st anniversary buat hubungan kita.PS : Moga lo seneng ama tu kalung Kurasakan butiran kristal jatuh dari pelupuk mataku, buru-buru aku hapus dengan tangan. Namun semakin aku berusaha, butiran itu semakin banyak. Ya Tuhan… Aku yakin akan keputusan ku. Tapi kenapa hati ku terasa perih?Malam semakin larut. Namun seseorang masih terpaku, terdiam di balkon kamarnya sambil menatap balkon yang baru saja di tinggal pergi oleh pemiliknya. Pemilik yang bernama Nara Angelina. Teman kecilnya.***“Naraaa……!”“Saya Pak! Saya Pak!” teriakku tak karuan. Mata ku mencoba melihat sekililing. Menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, ini kan kamarku? Lalu…“Ouch shittt! Gue kira apa. Gila lo, Ga. Ngapaen lo disini?” ujar ku kesal. Ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku. Berniat melanjutkan mimpi ku yang tertunda gara-gara teriakan mahluk aneh ini.Agha tertawa. “Ya ampun, dasar putri tidur. Buruan lo bangun, ini udah jam 10 pagi. Masa cewek males gini?” Agha menarik selimut ku lalu ditaruhnya di sofa.“Agha!! Selimut gue balikin. Lagian ngapain juga bangun pagi? Ini tuh masih LIBURAN. Tahun ini kita kelas tiga, pasti belajar mulu kerjaannya. Kasi donk gue nikmatin liburan gue.” Jelas ku panjang lebar. Ku dengar tawa Agha makin keras, seolah-olah mengganggu tidurku adalah hal terlucu di dunia ini. Aku hanya bisa pasrah. Beberapa bulan telah berlalu sejak hari itu. Hari dimana aku putus dengan Agha. Seperti yang kuduga, setelah kejadian itu hubungan kami kembali seperti SMP dulu. Dimana kami sering mengejek satu sama lain. Agha kembali pada hobby-nya yang senang melihat aku menderita. Dan aku kembali pada hobby lama ku, sering merecoki dia dengan kalimat panjang lebar.“Cerewet banget sih,” rutuk Agha. “Buruan lo mandi, kita ke toko buku sekarang. Hari ini terakhir diskon lho. Katanya mau cari novel?” Aku melirik sebal kepadanya. Agha menghampiri aku, lalu dengan gemas Agha mengacak-acak rambut ku. “Bilang aja lo mau beli komik. Pakek alasan gue beli novel lagi. Muna lo! Dari mana lo tau kalo diskonnya masih?” Kata ku sambil merapikan rambut ku yang berantakan.“Dinda yang ngasi tau. Terserah mau percaya atau nggak. Yang penting lo buruan mandi.” Lalu Agha pergi ke arah meja belajar untuk melihat koleksi novelku. Aku terkadang heran dengan Agha. Untuk ukuran cowok tinggi yang jago main basket, masa sih dia masih doyan baca komik. Apalagi komik favoritnya Detektif Conan. Benar-benar deh si Agha. “Agha cakep, dengerin gue ya. Gue sih udah dari tadi mau mandi. TAPI GIMANA CARANYA GUE MANDI KALO LO MASIH BERKELIARAN DI KAMAR GUE???” Dan tak butuh waktu lama, bantal-bantal di tempat tidurku sudah melayang ke wajah Agha. Kulihat Agha mencoba menghindar dari serangan bantal-bantal sambil tertawa, lalu keluar dari kamarku. Dilihat dari mana pun, kami memang hanya cocok untuk sahabatan. Setidaknya untuk saat ini. Aku tersenyum dan beranjak pergi dari tempat tidurku. Bersiap-siap untuk pergi ke tempat favorit kami. Dimana lagi kalo bukan toko buku. :D***By : Rai Inamas LeoniTTL : Denpasar, 08 Agustus 1995Sekolah : SMA Negeri 7 DenpasarBlog : raiinamas.blogspot.com

  • Cerpen Pendek Mantanku Thank you

    Haloooo All, My Reader . Masih pada nungguin lanjutan Cerpen Cinta kala cinta menyapa sama cerpen remaja Take My Heart yak?… Sory ya, tu cerpen belom bisa di lanjutin. Penulis udah bilang kan kalau mendadak kehabisan ide buat nulis. ha ha hai, Ya wajarlah, namanya juga penulis amatir. ^_^Nah, sebagai gantinya penulis post cerpen kiriman ni. Dari Megawati yang ada di makasar sono. huuuu jauh kali. Salam kenal ya?. Sama ma kasih juga. Ceritanya bagus, dan penulis suka. Apalagi pas kalimat ini "Move on adalah caraku melampiaskan rasa sakit, tersenyum adalah caraku mengabaikan rasa benci, dan sukses adalah caraku membunuh rasa dendam". (y).Kutatap bulan yang tersenyum padaku malam itu. Hembusan angin membuat tubuhku terasa menciut. Di bawah pohon bambu yang begitu subur, terlihat kunang-kunang menari-nari memancarkan keindahan cahayanya, aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Malam itu sungguh indah, begitu indah. Menikmati keindahan malam bersama seorang yang kucinta membuatku sangat bahagia. Dialah, dialah Hedy, orang yang paling kucinta. Dia bagaikan kunang-kunang yang menyinari hatiku setiap saat. Dia menciptakan cinta dan ketulusan yang tak terhingga. Aku mencintai dan menyayanginya. Tepat jam 7 malam, kami meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju tempat makan. sebagian

  • Catatan Tentang Dia – Oleh Farhatul Aini

    Oleh : Farhatul Aini – Mengenal kamu itu sesuatu yang indah tak pernah berfikir akan melewati masa yang panjang, berliku dan rumit. Kebahagian dan kesakitan melengkapi cerita kita namun sesuatu yang masih ku kenang saat ini dan entah akan hilang dan tak berbekas sampai kapan, biarlah waktu yang berjalan akan menjawabnya.Kisah cinta ku ini memang harus berakhir, walaupun hati benar-benar menolaknya, tidak ingin merasakannya, sakit hati ini terasa letih akankah kau tau itu? Kevin kakasih yang aku sayang begitu tulus, mengakhiri hubungan kita tanpa alasan yang jelas, berkali-kali ingin aku menolak kenyataan ini, tapi ini adalah sebuah perjalanan hidup yang mungkin harus ku lalui, mencintainya membuat aku sering melupakan sakit yang dia perbuat, kebaikannya masih ku rasakan seperti dia adalah kekasihku yang dulu, namun keadaan selalu menyadarkanku bahwa dia bukan miliku lagi.Tidak semua kebaikannya selalu membuatku bahagia, saat dia sedang berbaik hati menemaniku saat aku kesepian, dia seringkali bercerita tentang kehidupan percintaannya yang ia jalani, sebelumnya aku tak pernah tau, sontak saat dia bercerita rasanya perasaan ini berantakan, tapi memang aku harus tau mungkin untuk menyadarkan aku melupakannya, tapi dihatiku benar-benar tak pernah ingin tau dan lebih baik tidak pernah tau, hal itu tak ingin pernah ku dengar, tapi aku hanya mencoba menjadi pendengar yang baik, apapun ceritanya walaupun menyakitkan buat hatiku. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang ada saat dia butuhkan, walaupun mungkin dia tidak pernah membutuhkan aku.Pernah di suatu hari, pertemuan kita memang tak sering seperti mungkin pacarnya yang lalu. Dan saat bertemu dia adalah moment yang spesial, hari ini adalah pertemuanku pertama dari semenjak kita tidak terikat oleh ikatan cinta, rasa canggung dan gugup menatapnya dirasakan olehku, berjalan di tempat keramayan sedikit membuat jantungku gemetar, bingung mau berkata apa ? akankah sikapnya masih seperti yang dulu perhatian dan lembut kepadaku ? akankah dia berubah menjadi seorang yang dingin terhadapku ?Waktu telah menjawab semuanya, dan semua baik-baik saja tak ada perubahan dari semua yang telah berjalan, kebaikan dan keramahannya masih sama seperti yang dulu.Aku bahagia dan lega saat semua berjalan seperti yang terfikirkan, dipertemukan dengannya kembali membuat aku berharap akan bisa membangun sebuah hubungan kembali dengannya, namun kebaikannya hanya sebuah kesalahan yang aku artikan, aku berharap dan menunggu sampai hari kencan itu selesai, dan mungkin kita memang tak bisa disatukan lagil, semakin aku menyadari bahwa aku telah kehilangannya.Tidak mudah melupakan sesorang, apalagi jika kita benar-benar tulus mencintainya.***facebook : Farhatul.aini@yahoo.comTwitter : @ainigonilblog : aini-gonilll.blogspot.comE-mail : ainibarnessa@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*