Cerpen Cinta: YANG TERLEWATKAN

Yang Terlewatkanoleh: Nita Wahyu
“Iii, itu cowok ganteng banget siiihh” bisik seorang teman Nayla.
“Siapa sih, cowok yang mana ?” jawabku penasaran.
“loh, kamu ga tau ? Ada murid pindahan, cakep Nay” teman Nayla menjelaskan.
Dengan sifat jutek dan cuek, Nayla tidak memikirkan si murid baru itu bahkan Nayla enggan melihatnya. Nay diam di bangkunya sambil mencoret buku yang ada di hadapannya.
Bel pulang pun berbunyi, Nay bergegas keluar dari kelas yang panas tanpa AC. Dia duduk di kursi depan teras kelasnya, sambil menunggu teman yang lainnya keluar. Nay melihat seorang anak laki-laki melewat di hadapannya dengan dingin, Nay pun merasa heran karena dia baru melihatnya hari ini.
“gimana Nay, ganteng ga ?” goda temannya yang baru keluar kelas yang memperhatikan Nay sedang memperhatikan seorang cowok.
“lumayan sih, emang dia siapa ? perasaan gue baru liat deh” Tanya Nay ingin tau.
“looh, dia kan murid baru itu” jawab temannya yang juga termasuk ngfans sama murid baru itu.
***
Sampai dirumah, Nay pergi ke kamar dan mengganti bajunya dengan pakaian ala tomboynya dia. Tiba-tiba, saat dia sedang menatapi layar monitor di komputernya bayangan seorang cowok terlintas difikirannya.
“loh, ko gue jadi kepikiran sama cowok tadi yah. Janga nyampe deh gue suka sama tuh cowok, iiiyh!!”gerutu Nay sambil pegang pensil yang digigitnya. Ga lama kemudian, seorang teman Nay yang bernama Lusy masuk ke kamarnya membawa sejibun tugas yang harus di kerjakan secara kelompok.
“ehh, apaan loe masuk kamar tanpa permisi ?”Canda Nay pada temanya.
“ah, ngaapain permisi orang rumah ini rumah gue juga!”jawab temannya sambil duduk di damping Nay.
“Eh Nay, gue kesini sebenernya mau cerita sama loe. Tapi pleas ya, kali ini dengerin dan loe jangan terlalu cuek dengan apa yang gue bilang.”bujuk temannya yang menatap mata Nay dengan serius.
“Eh, biasa aja kali!! Gue takut liat mata loe tuh. Ia, gue dengerin ko. Apaan ?”jawab Nay cuek.
“loe tau yang namanya Ami kan ? yang anak sepuluh satu ? kemarin dia ngajakin ketemuan sama gue, dia bilang katanya dia suka sama loe”cerita Lusy.
“owh, terus gue harus ngapain ?”gelagat Nay yang kaya orang bego.
“yah, seengganya fikirin dulu deh. Dia baik, wajahnya juga lumayan, apalagi otaknya. Pas deh buat jadi guru loe hahaha!!”ejek lusy pada Nay.
Nay tidak terlalu memikirkan perasaan Ami yang suka pada dirinya. Karena Nay tidak begitu mengenal Ami, Nay pun tak menghiraukannya.
***
Pagi harinya, saat Nay tiba di sekolah. Nay bertemu dengan si murid baru yang juga agak cuek, Nay melihatnya sambil menggerutu di dalam hatinya “hmm, gue jadi penasaran juga sama tuh cowok”.
Tanpa sengaja, Nay bertemu dengan teman yang kenal dengan si murid baru tersebut. Dengan reflex, nay tiba-tiba menanyakan nomor hape si murid baru itu dan menanyakan siapa namanya.
“owh, namaya sandy yah..”kata Nay sambil senyum-senyum memegang hapenya yang baru dapat nomor hape si Sandy.
Nay pun mencoba ngirim sms sama si Sandy, tanpa di sangka tenyata Nay merasa nyaman sama si Sandy.
“eh, loe tau ga ? gue suka smsan loh sama si Sandy.. itu yang murid baru itu lhoo”curhat Nay pada Lusy sambil manas manasin.
“haha, ternyata loe juga suka sama Sandy.. haha ketauan loe. Tapi btw, gimana sama si Ami dia beneran suka loh sama loe!!”ujar Lusy yag ngebela Ami.
“ah, gue sih nunggu yang serius aja.. buktinya Ami juga ga pedekate sama gue” jawab nay enteng.
Sejak saat itu, sifat Ami berubah. Dia lebih sering mengahabiskan waktunya untuk ngedeketin si Nay. Keseriusan Ami pun mulai terlihat. Nampaknya, benih-benih cinta di hati nay mulai tumbuh. Tapi pada saat itu pula Nay sedang asik-asiknya smsan sama Sandy. Rasa suka pada sandipun masih ada, walaupun hanya sebatas smsan. Tetapi, walaupun begitu Nay tidak terlalu serius pada Sandy, karena Nay masih merasa asing dengan murid baru itu.
Lama terasa, perasaan nay pun mulai terkikis perlahan. Karena Nay merasa terlalu lama menanti Ami nembak Nay. Padahal, ami udah berhasil buat Nay suka padanya. Nay pun berfikir bawa Amy hanya sebatas menyukainya dan tidak menginginkan hubungan lebih. Padahal Nay sangat mengharapkan Ami.
***
Tepatnya malam Minggu, saat Nay mulai mengirimkan pesannya pada Sandy. Dengan rasa ingin tau, Nay bertanya pada Sandy tentang setatus hubungannya. Tetapi, sandy selalu mengelak. Seolah-olah tidak ada yang menginginkan status hubungannya di ketahui.
“san, sebenernya kamu udah punya paca ngga siih?”Tanya Nay penasaran.
“emang kenapa Nay, kalo ngga kenapa kalo udah kenapa?”Sandi menjawab berbelit-belit.
“aku cuma mau tau ajj, kalo udah aku ga mau ganggu cowok orang!!”ddengan perkataan sabar.
”lhoh, ko kamu ngomong gitu ? aku tenya deh, kamu suka sama aku yah?”kata Sandy yang kePeDean.
“ia sih, emang kenapa ?”lusy agak bingun dengan tongkahnya.
“ya, sebenernya aku juga suka sama kamu. Tapi hubungan kamu sama Ami gimana?”ujar sandi dengan tenang.
“aku sama Ami ga ada hubungan apa-apa?”jawab Nay yang agak kaget Sandy mengetahui hubungannya dengan Ami.
“ya udah, kalo kamu sama aku ga ada yang punya kita jadian aja!!”jawab Sandy spontan.
Sejak malam Minggu itu, Sandy dan Nay jadian. Mereka tidak mempublikasikannya, karena Nay yang orangnya cuek juga Sandy yang ga mau terekspos.
***
Dua hari setelah mereka jadian, tiba-tiba Nay menerima telfon dari Ami. Pada saat itu pula, Ami nembak Nay.Nay bigung, di satu sisi Nay memang menantikan Amy, akan tetapi disisi lain nay sudah bersama Sandy. Dengan perasaan bingung, Nay pun berusaha jujur dan bercerita bahwa Nay sudah bersama Sandy.
“maaf mi, aku memang suka sama kamu. Tapi cara kamu ngehadepin aku terlalu lama. Sampai aku berfikir kamu ga bakalan nembak aku, ss-sampai akhirnya aku jadian sama Sandi” jelas Nay pada Ami.
“…… Jadi gitu, aku Cuma nunggu waktu yang tepat buat nembak kamu. Tapi, ya .. kalo emang itu keputusan kamu. Aku Cuma doa’in buat kalian semoga bahagiaa.. “
…..Nay menutup telfon dan diam seketika.
“semuanya telah terjadi, aku tak dapat menyesali”..
Naypun akhirnya menjalani harinya dengan Sandy, sampai akhirnya hubungan mereeka berakhir. Nay tidakk mungkin dapat kembali mendapatkan Ami. Akhirnya nay memutuskan untuk sendiri dulu, dan membiarkan perasaannya pudar secara perlahan.
THE END

Random Posts

  • Cerpen Remaja The Prince ~ 04 Update

    Credit gambar : Ana merya"Hai, kok bengong?".Kevin menoleh, Seulas senyum tersunging di bibirnya begitu melihat sosok andre yang menepuk pundaknya sekaligus menyadarkan ia dari keasikan baca buku. Ralat, melamun tepatnya. Karena buku yang ada di tangannya hanya sekedar aksesoris belaka."Eh elo. Nggak kok. Gue kan lagi baca" kilah Kevin sambil menunjuk kan buku yang ada di tangganya. Tapi justrU Andre tertawa menanggapinya."Loe baca buku?. yang benar saja. Keajaiban dunia tu namanya. Kenapa?. Mau nyaingin pulau komodo?. ha ha ha" kata andre tertawa meledek.sebagian

  • Cerpen Lucu Mis. TULALIT part 1 {Update}

    Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulis berdasarkan dari pengalaman hidup keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Dan bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca Serial Mis Tulalit. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…Cerpen Lucu Mis TulalitCerpen Lucu Mis Tulalit ~ 01Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulid berdasarkan dari keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Soalnya bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…Dengan tergesa-gesa April masuk kelasnya. Untung saja bel belum berbunyi, jadi ia masih bisa selamat dunia ahirat dari semprotan Bu Murtafiah, guru akuntansi yang kebetulan masuk jam pertama dikelasnya. Selang lima menit kemudian, tu guru beneran masuk.“ Huh, untung saja,” gumam April lega.Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama karena begitu ia membuka tas ternyata buku akuntansinya tidak ada. Padahalkan hari ini ada PR. Bisa di tebak, pasti tu buku ketinggalan lagi dimeja belajar dirumah.“Semuanya kumpulkan PR kalian, dan ibu tidak mau ada yang tidak membuatnya,” suara Bu Murtafiah terdengar tegas.Tanpa perlu mendengar perintah untuk kedua kalinya, semua teman-teman April maju ke depan sementara April sendiri justru hanya duduk diam dengan hati was – was dan cemas.“April tugas kamu mana?” tanya Bu Murtafiah santai namun syarat ancaman.“Anu bu, bukunya ketinggalan,” sahut April takut – takut. Kepalanya menunduk dalam.“Apa?” tanya bu Murtafiah. “Ketinggalan? Lagi?”“Ia bu tadi malam sehabis ngisi, April taruh dimeja. Lupa masukkin kedalam tas,” terang April lagi. Masih tidak berani mengangkat wajahnya. “Hidung kamu kalau nggak lengket, pasti juga lupa untuk di bawa,” kata Bu Murtafiah, yang membuat seisi kelas di penuhi tawa seketika.“Kok hidung si buk, yang ketinggalan kan buku,” gerut April sambil mengusap hidungnya berlahan.“April sekarang ibu tanya sama kamu, udah berapa kali kamu lupa bawa buku PR-nya?” tanya Bu Murtafiah dengan tampang sabar yang di buat-buat.“Berapa ya bu….!? Tiga kali ya …..? eh… bukan empat atau lima ya?” sahut April mencoba mengingat – ingat.“Bukan lima April, tapi sembilan kali. Kamu sudah sampai sembilan kali tidak mengumpulkan tugas kamu…. Tau….!”“Aduh sembilan ya bu. Maaf April lupa,” kata April sambil menggaruk-garuk kepalanya yang emang banyak ketombenya. Kontan hal itu membuat teman-temanya makin tertawa lepas. Sementara Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi makhluk ajaib yang berstatus sebagai siswinya.“April… kesabaran ibu sudah habis. Ibu sudah tidak bisa mentoleri sifat kamu lagi, jadi ibu terpaksa harus menghukum kamu, bersihkan kamar mandi sekolah sekarang.”“Apa bu?” tanya April refleks. Tak yakin dengan perintah yang baru saja di dengarnya.“Ia. Bersihin kamar mandi sekolah.”“Sekarang bu?” April pasang tampang memelas. Membersihkan kamar mandi? Ya salam, tempat yang satu itu kan amit – amit banget. Terlalu horror untuk gadis yang sangat menyukai kebersihan seperti dirinya. Ciuuss.“Nggak, tahun depan. “Bentak bu Murtafiah“Alhamndulilah,” puji syukur April sambil duduk kembali pada kursinya.“Kok kamu malah duduk?” tanya Bu Murtafiah terlihat heran.“Ya…. Ibu bilangkan tahun depan, padahal satu bulan lagi sudah ujian akhir. Jadi kalau tahun depan mah April udah nggak sekolah disini lagi. Artinya hukumannya hangus dong,” terang April panjang lebar dengan wajah sok pinternya yang sumpah sama sekali tidak cocok.Detik itu juga tanduk Plus taring bu Murtafiah keluar . "April. Bersihkan kamar mandinya SE-KA-RANG!!!" Suara mengelegar Bu Murtafiah segera melenyapkan nyali April yang sebelumnya memang sudah menciut. Akhirnya dengan berat hati juga berat tenaga dan pikiran secara berlahan April bangkit berdiri.“Dasar bloon loe Pril,” sekilas April masih bisa menangkap suara ledekan dari mulut Isul yang duduk tepat di belakangnya.“Baik bu,” pamit April menunduk sambil berjalan keluar. Dan karena ia jalannya terus menunduk kebawah tanpa sadar ia menabrak daun pintu, yang tentu saja membuat tawa teman-temannya semakin riuh. Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala.Dengan telaten April mengepel lantai setiap kamar satu persatu. Begitu selesai satu kamar, ia harus membersihkan kamar yang lainnya, dan ketika ia masuk kesalah satu kamr mandi ia langsung berteriak kaget karena mendapati seorang seorang siswa perempuan tergeletak pingsan.“Astahfirulloh hal azzi,” lonjak April kaget dan langsung menghampiri sang gadis yang pingsan untuk menolongnya.“Tolong…….tolong……tolong.” April sambil memapah sang gadis yang masih tak sadarkan diri.Tentu saja teriakan April membuat guru dan siswa-siswi yang mendengarkannya heran, dan kontan berlari kearahnya. Langsung kaget ketika mendapati seseorang pingsan dikamar mandi, kemudian segera dibawa keruang UKS.“April. Sebenarnya apa yang terjadi sama Tina. Kok dia bisa pingsan?” tanya pak Rasid, guru favoritnya di sekolah. Ternyata gadis yang pingsan itu bernama Tina, dan dia adalah satu – satunya anak kepala Desa (????).“Nggak tau pak. Ps April liat, dia udah pingsan. Ya udah deh, terus April langsung teriak minta tolong,” terang April jujur.Pada saat yang bersamaan Tina pun sadarkan diri dari pingsan dan kaget ketika mendapati dirinya dirubungi banyak orang. Barulah sejenak kemudian ia ingat dan menceritakan kejadian tadi pagi kenapa ia pingsan. Ternyata kondisi tubuhnya belum fit, setelah sembuh dari sakit, ditambah lagi ia tadi pagi tidak sarapan. Dan akibat kejadian itu April tidak perlu melanjutkan hukumannya dan diizinkan untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya.“April tadi da kejadian apa sih ditoilet?” tanya Nia, temen sebangkunya pas istirahat.“Tadi ada anak cewek pingsan.”“Oh ya…..? Siapa….?” tambah Ijah ikut penasaran“Tina, anak kepdes.”“O…. emangnya kenapa kok dia pingsan?” Guntur yang sedari tadi mendengarkan ikut buka mulut, tapi hanya dibalas angkat bahu oleh April. Gadis itu justru tampak sibuk merapikan buku – bukunya. “Eh kekantin yuk,” ajak Jumi tiba – tiba.“Loe mau ntraktir kita nih?” todong April langsung. Jumi menatap April dengan pandangan mencibir. Namun beberapa detik kemudian sebuah senyuman tergambar di wajahnya. Disusul anggukan kepala dan jawaban singkat. “Bisa.”“Serius?” Nia menoleh kaget. Tumben amat ni anak baik. Padahal doi kan udah kadung mendapat gelar pelit nggak ketulungan #DihajarJumi.“Suer deh,” Jumi meyakin kan dengan mengankat kedua jarinya membentuk huruf ‘V’. Detik itu juga sorakan kegirangan terdengar sebelum pada detik berikutnya kembali hening dalam sepinya suasana hanya karena lanjutan kata dari mulut Jumi."Tapi entar kalau bokap gue udah jadi Presiden, jadi kalau sekarang…. Yah terpaksa bayar masing-masing dulu ya.”Gumpalan sobekan kertaspun segera berhamburan dan mendarat di kepala Jumi yang masih tertawa lebar.“Hu….. sialan loe, kirain beneran,” gerut Hambali.“Sampai lebaran Monyet juga bokap loe nggak bakalan deh jadi Presiden,” tambah Idah yang membuat Jumi makin tergelak.“Loe kenapa Pril?” tanya Sugeng heran, karena sedari tadi April hanya terdiam.“Gue lagi mikir aja,” jawab April dengan raut serius.“Mikir apa an….? “Ana ikutan ngeksis.“Gue heran, apa hubungannya lebaran Monyet dengan jadi Presiden. Lagian sejak kapan Monyet lebaran,” jelas April dengan tampang lugu nya.“Hu. Dasar Mis. Tulalit!!” sorakan seisi kelas sembari mengalihkan sasaran tembakan gumpalan kertas kearah April yang hanya melongo. Tidak tau apa salah dan dosanya. Hanya saja ia merasa kalau dirinya hanyalah seseorang yang menjadi korban penganiayaan.Begitu bel berbunyi tanda pelajaran telah berakhir semua siswa dan siswi langsung mengemasi buku-bukunya dan bersiap-siap untuk pulang. Tak terkecuali April. Tapi belum juga ia keluar dari kelasnya Hakim dan Sofa' mencegahnya untuk mengingatkan April agar membersihkan kelas terlebih dahulu, kebetulan besok pagi giliran piket mereka.Sebenarnya yang mendapat giliran piket enam orang, tapi karena dua orang temannya tidak hadir. Dan Nia yang kebetulan juga giliran piket bersamanya sudah tak tampak batang hidungnya sejak masuk istirahat kedua tadi. Jadi terpaksa tinggal mereka bertiga, begitu Hakim dan Sofa' selesai mengangkat bangku untuk diletakkan diatas meja agar mudahkan saat menyapu lantainya, mereka bersiap-siap untuk pulang.“Lho…. Kalian mau kemana….? “April menghentikan aktivitasnya begitu melihat Hakim dan Sofa' sudah menjinjing tas masing-masing.“Mau pulang dong, lagain sesuai perjanjian yang cowok mengangkat bangku dan yang cewek menyapu lantai. Jadi sekarang tugas kami sudah selesai, soo kita duluan,” sahut Sofa tanpa rasa bersalah.“Yah.. jangan dong, entar April jadi sendirian lagi.”“IDL,” balas Hakim santai.“IDL….? Apa an tuh?” tanya April dengan kening sedikit bekerut.“Itu Derita Loe,” balas Hakim dan Sofa' serentak, sambil tertawa dan langsung beranjak pergi meninggalkan April sendirian.“Aduh… ! gimana nih…? April sendirian lagi, mana lantainya kotor, entar kalau ada hantu gimana?” gumam April sendiri.Tiba-tiba bulu kuduknya merinding ketingan ingatannya tertuju pada film horror yang sering ia tonton tentang sekolah-sekolah yang berhantu.Pada saat April menyapu salah satu kolong meja dengan posisi membungkuk dan membelakangi pintu, samar-samar ia mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat kearahnya. Jantungnya jadi dig dug nggak karuan, dengan sedikit keberanian yang masih tersisa ia menoleh kebelakangnya dan……“Dor!!!”“Uwa…..Tolong……!!! Tolong…..!!! tolong…!!!” teriak April sekencang-kencangnya disusul tawa cekikikan seorang hantu wanita.“Ha…. Ha….. ha……. Kaget ya loe? ” terdengar suara tepat dibelakang April.“Kurang ajar, setan alas, babon kue,” maki April begitu tau kalau sosok dibelakangnya adalah Nia.“Kenapa…..? Loe pikir gue hantu?” tanya Nia di sela tawanya.“Ia….. April kira tadi kuntilanak yang datang, e….. nggak taunya malah kuntilemak,” umpat April masih shok.“Sembarangan!” damprat Nia sewot.“Lagian bukanya loe udah pulang ya?” tanya April heran.“Nggak ah tadi gue ada ditaman belakang, sengaja nggak masuk. Males banget gue belajar bahasa Arab, bikin pusing,” sahut Nia yang dengan tidak sopannya duduk diatas meja.“Cek cek cek. Sumpah parah loe,” kepala April mengeleng geleng sambil menatap Nia sinis. “Seharusnya kan…..”“Harusnya apa…? Gue nggak boleh bolos….? Gitu?!” potong Nia.“Harusnya kan loe ngajak-ngajak , April juga mau ikutan bolos kayak loe kali kalau tau da temennya, mumet masuk bahasa arab. Bikin ngantuk.”“hu…..! kirain loe mau ngomong apaan….? Ternyata dua kali lima aja ma gue,” gumam Nia sebel.“Udah deh, sekarang bantuin. Loe kan juga piket, enak aja nongkrong disitu.”“Nggak ah… males gue, kotor,” tolak Nia langsung.“Kotor pale loe, mau bantui nggak?!” ancam April sambil menghunuskan pedang sapunya kearah Nia.“Iya…..iya . Gue nyapu nih, bawel banget sih loe. Jadi nyesel gue kesini, kalau tau begini mendingan langsung pulang aja gue tadi,” gumam Nia sewot. Namun tak urung diraihnya sapu yang ada pintu, dan mulai menyapu membantu April.Keesokan harinya, terdengar gaduh sekali dikelas April. Pasalanya Azimisar, orang yang sudah libur beberapa hari sudah masuk kelas lagi, katanya sih liburan, dan ceritanya pagi ini. Dia bagi-bagi oleh-oleh, sambal kripik singkong. Masing-masing anak dapat jatah satu, tapi yang datang duluan ada yang ngambil dua, sehingga yang datang terlambat nggak kebagian deh. Salah sendiri ngapain telat.“Gimana Azimisar, liburan loe seru nggak?” tanya Dewi sambil mengunyah keripiknya yang tinggal setengah.“Wah gila coy, seru banget deh pokoknya, coba kalian ikut. PASTI minta langsung pulang,” cerita Azimisar terlihat semangat.“Lho….?! Katanya seru…. Kok kita malah minta pulang?” tanya Sugeng heran.“Ia… soalnya kalau kalian nggak mau pulang langsung aja gue usir. Enak aja, gue yang liburan kalian main nebeng sembarangan, modal donk!” sambut Azimisar yang membuat temen-temennya cemberut.“Udah dong Azimisar, lanjutin cerita loe. Emang kemarin loe liburan kemana sih…? “Tanya Anis nggak sabar..“Gue liburan kerumah Eyang gue. Ke Bokor,” sahut Azimisar bangga.“Ha….. Bogor….? Ya ampun jauh banget, pantesan loe bilang seru, pasti asyik banget ya?” komentar Razimah takjub.“Eh… cungkil tu upil ditelinga loe. Gue bilang Bokor bukan Bogor, pakek K bukan G, “ralat Azimisar sewot.“Bokor……???!!! Dimana tuh?” tanya Sogiran yang kebetulan duduk di samping Azimisar mewakili yang lain yang juga ingin menanyakan hal yang sama.“Iya, perasaan kita nggak pernah denger deh kota yang namanya Bokor?” sambung April, Mis Tulalit.“Atau jangan-jangan luar Negri y?” tambah Nia makin salut.“Luar Negri dari hongkong, lagian siapa yang bilang gue liburan keluar kota. Orang Bokor itu nama kampung eyang gue kok. Tepatnya Bokor Selatpanjang Riau Indonesia,” jelas Azimisar yang membuat teman-temannya tertawa.“Ha….. ha…… ha……. Liburan kok keudik,” ledek Khairia tak mampu menahan tawa.“Iya gue kirain Negara mana…? Ternyata keudik juga. Kha kha kha,” Isul ikut ikutan ngakak dengan tampang meledek.“Kalian jangan ngehina dulu. Walau keudiak, tapi eyang gue itu juragan di kampung gue. Beliau punya kebun Duren, rambutan, duku, mangga, cempedak, pokoknya banyak deh.”“Yang bener Azimisar?” Hambali yang sedari tadi hanya mendengarkan cerita tampak menelan menelan air liurnya sendiri. Ia kan paling doyan makan duren sama rambutan. Nggak kebayang deh gimana rasanya makan sepuasnya.“Ya seriuslah ngapain juga gue bohong,” sahut Azimisar puas.“Kalau gitu loe dapat makan sepuasnya dong?” Mustawa pasang tampang iri. Bahkan Guntur yang duduk di hadapannya tampak sedang melomoti (???) jempol nya sendiri. Persis seperti orang ngidam yang nggak keturutan. Kesian….“Mending gue bisa makan, pas gue datang tu pohon nggak ada satu pun yang berbuah. Cuma daun aja yang banyak. Emangnya gue kambing apa makan daun.”“Hu…..!!!” sorakan seisi kelas kembali terdengar.“Kasian deh loe,” ledek Izal sambil menatap Azimisar dengan raut meledek.“Jadi pas loe datang emang lagi pas nggak musim buah?” Uun memastikan. Azimisar hanya mengangguk, sebelum kemudian mulutnya meralat cepat.“Eh… gue inget kalau nggak salah waktu itu musim buah para, bisa dibilang tiap pohon berbuah. Banyak banget.”“Oh ya? Buah para? Buah apaan tuh? Perasaan gue nggak pernah denger?” tanya Nia heran.“Jadi kalian belum pernah denger apa itu buah para? Kasian, jadul banget sih” gentian Azimisar yang mencibir. Sepertinya pria itu berusah untuk membalas ledekan padanya tadi “Padahal itukan makanan spesial.”“Spesial? Spesial untuk apa?” Nia makin tidak sabar sabar.“Spesial buat…….,”Izal sengaja menggantungkan jawabanya. Ia ingin melihat ekspresi temen-temennya yang sudah tidak sabar “MONYET. Ha ha ha,” sambungnya langsung tertawa, jelas saja membuat teman-temannya sebel.“Sialan loe.”“Ia, bikin penasaran nggak taunya makanan monyet,” sambung Sofa cemberut, Azimisar justru makin ngakak.“Jadi Zal, dirumah Eyang loe banyak monyetnya ya?” tanya Sanah tiba – tiba. “Kalau dirumah Eyang gue nggak ada, kalau dikebunnya banyak,” sahut Azimisar meralat.“Trus loe pernah lihat nggak….? Kayak apa si?” tanya Sanah lagi. Seumur-umur Sanah memang belum pernah melihat monyet secara langsung, kecuali dulu di tipi yang jadi model iklan XL.“Ya pernahlah, kalau dilihat-lihat sih beda tipislah ama loe.”“Sembarangan,” Sanah sewot sambil menjitak kepala Azimisar yang hanya tertawa, begitu juga dengan yang lain.Tiba-tida bel berbunyi tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Semua segera menuju kekursi mereka masing-masing karena bu Anggi sudah tampak diambang pintu. Dengan wajah ceria masing-masing mengeluarkan buku bahasa inggrisnya, karena kebetulan hari ini pelajaran pertama bahasa inggris. Secara siapa yang tidak ceria, masih pagi-pagi sudah dapat kripik gratis. Tapi sayangnya keceriaan itu hanya berlangsung beberapa detik setelah kemunculan Bu Anggi dan segera berubah cemberut, begitu mendengar pengumuman dari bu Anggi kalau hari ini diadakan ulangan harian.“Yah, Ibu…. Kok dadakan sih?” Isul protes.“Ulangan dadakan…? why not ! Dangdut dadakan juga boleh,” sahut Bu Anggi menanggapi protesan Isul.“Itukan dangdut bu. Masa bahasa inggris di samain ma dangdut, itu sih nggak nyambung,” Izal menimpali.“Kalau gitu kalian pilih mana? Mau konser dangdut dilapangan atau ulangan bahasa inggris dikelas?” tanya Bu Anggi nggak tanggung – tanggung. Detik itu juga semua murid di kelas langsung mejudge kalau gurunya adalah salah satu dari sekian orang yang menjadi korbang ajang audisi pecarian bakat yang memang sedang marak – maraknya di siarkan di salah satu stasiun swasta Indonesia.Walaupun soalan yang diberikan hanya 10 dan itu pun pilihan ganda semua tetap saja membuat semuanya pusing tujuh keliling. Sudah ngasih ulangannya dadakan, close book lagi. Gimana nggak sebel. Bahkan Dewi sang juara kelas juga dibuat pusing tuju belas keliling.Ketika Dewi sedang konsentrasi mengisi soal nomor 8, tiba-tiba ada yang nimpuk kepalanya dari belakang pakek kertas. Saat menoleh, Dewi mendapati kalau ternyata Sugeng pelakunya. Terbukti dengan tingkah pria itu yang memberikan isarat padanya untuk segere mengambil ketras yang telah ia lemparkan tadi.Walau kesel tak urung Dewi membungkuk guna mengambilnya. Matanya melotot sempurna saat membaca tulisan yang tertera. “Gue minta jawaban nomor 7, 8, 9 dan 4, sama 3, 1 terus 10 buruan nggak pake lama!!!!”.Jelas saja Dewi sebel, sudah minta tolong, maksa. Ia aja baru selesai tiga soal, eh sekali minta tolong tujuh. Kenapa nggak semua aja sekalian, tapi tak urung ia balas juga disebaliknya dan segera ia lemparkan kearah Sugeng. Selesai membacanya Sugeng langsung cemberut dan membuang kertas tersebut secara sembarangan. Alhasi mendarat tepat dikepala April. April kaget tapi tetap diambil nya kertas tersebut. Tampak sebuah senyum yang merekah di bibirnya begitu membaca.Sugeng kemudian kembali menyobek kertas dan menulis“Awas Loe!!!” dan kembali ia lempar ke Dewi. Acara korespondensi dadakan pun terjadi karena Dewi langsung membalasnya segera laksanan SMS yang muncul di hanphonnya. Dengan santai di tulisnya kata di kertas sebalum kemudian kembali ia lemparkan ke arah Sugeng.“Tenang, entar kalau gue kesandung gue nggak akan minta tolong loe deh.”Tentu Saja surat balasan dari Dewi membuat Sugeng makin sewot. Kali ini ia menggunakan selembar kertas, dan mengambil stabilo kuning dari dalam tasnya. Sengaja ia tulis kalimat besar-besar, kemudian ia lemparkan ke Dewi. Tapi sayang karena terlalu bernafsu, lemparan itu mendarat dua meja didepan Dewi, tepat mengenai kepala bu Anggi yang dari tadi mondar-mandir seperti strkika demi untuk mengawasi siswanya. Golll!!!!!.UppsssBu Anggi clingak clinguk sebelum kemudian sedikit membungkuk, memungut kertasnya. Membuka dan kemudian membacanya, seketika mukanya merah“Siapa yang melemparkan surat kaleng ini?!” suara bu Anggi terdengar menggelegar laksana petir di siang bolong membuat Sugeng langsung mengkeret kayak Udang. Siswa yang lain hanya saling bertatapan heran, tidak tau apa yang terjadi.“Siapa yang berani melempar surat kaleng ini?” ulang Bu Anggi mengulang pertanyaannya kali ini suaranya terdengar sangat tegas, tapi semua siswa tetap terdiam. Dewi melirik kearah Sugeng yang tampak semakin pucat.“Jadi nggak ada yang mau ngaku ni?” ancam bu Anggi.Tiba-tiba April mengangkat tangannya. Kontan saja semua mata tertuju kearahnya. Berani banget tu anak, sudah bosan hidup ya atau punya nyawa selusin?.“Jadi kamu yang nimpuk ibu pakek surat kaleng ini April?” suara Bu Anggi sedikit terdengar lebih santai namun syarat ancaman.“Ya bukan lah buk. Ada-ada aja, masa April berani menganggu sing… ehem maksudnya menggangu ibu,” kata April, hampir aja ia keceplosan menyebut gurunya singa betina.T_T.“Kalau begitu kenapa kamu tunjuk tangan?” bu Anggi heran. Yang lainnya juga ikut penasaran.“Ya April Cuma mau bilang kalau April udah nyelesaiin tugas yang ibu kasih. Nih,” April maju kedepan dan menyerahkan kertas ulangannya. Ini anak pura-pura blo’on atau memang super blo’on sih. Nggak tau apa orang lagi marah.“Ha?! Serius loe pril?” bisik Nia kaget sebelum April benar – benar bangkit maju kedepan. Tapi April hanya mengangguk mantap.“Ia nih, gue aja baru tiga masa loe,Mrs. Tulalit kok sudah selesai. Yang benar sajalah,” tambah Dewi nggak percaya.“Bomat. Yang penting gue udah selesai. Nih buk,” balas April makin pede.Bu Anggi langsung mengambilnya, kemudian mengamati sejenak. Tapi dipikir kayak apa juga tetep nggak masuk akal karena jawabannya bener semua. Lho kok?! Baru sekilas melihat bisa langsung tau kalau jawabannya bener semua?.“Ini bener kamu sendiri yang ngisi?” tanya bu Anggi.“Ya ia lah buk. Abis mau minta tolong sama siapa?” April balik nanya.“Kok bener semua?”“Masa sih buk?” gantian April yang keheranan plus double girang.“Ia nih buk, masa Mrs. Tulalit bisa bener semua?” kata Hakim nggak terima.“Lagian baru sekali liat kok bisa yakin kalau jawabannya bener semua?” tambah Dewi.“Ya ia lah langsung tau. Lah wong jawabannya dari nomor satu sampai sepuluh A semua,” jawab bu Anggi. Tapi dalam hati. Habis kalau dijawab keras-keras bisa batal tuh ulangan.“Ya sudah. Mending kamu keluar dulu sana. Awas jangan sampai temen kamu ada yang nyontek,” kata bu Anggi kemudian.“Beres bu,” April berjalan keluar menuju pintu sambil pasang tanpang TP. Tau kan…?. ‘tebar pesona’. Bangga banget lah dalam hati. Jelas saja teman-temannya makin jealous.“Jangan-jangan dibantuin jin tu orang?” batin Nia yang jadi merinding membayangkan ucapanya sendiri.Tepat saat kaki April menginjakan pintu keluar, tiba tiba ia berhenti karena teringat sesuatu. Langsung balik kanan menatap bu Anggi yang masih berdiri bengong menatap kertas ulangan di tangannya.“Oh ya buk, hampir aja lupa. Tadi April mau nanya surat kaleng nya isinya apa sih. Jadi penasaran,” tanya April yang mengingatkan semuanya akan accident yang hampir terlupakan.Deg! Jantung Sugeng seperti mau copot.“Kurang ajar loe. Ngapain diingetin lagi sih. Padahal kan tadi udah lupa, dasar Mrs. Tulalit,” maki Sugeng dalam hati“Untung kamu ngingetin. Hampir aja ibu tadi lupa, ayo sekarang semuanya ngaku siapa tadi yang sudah nimpuk ibu pake surat kaleng ini?” tanya bu Anggi lagi.“Tenang dulu bu. Jangan marah marah. Percaya deh sama April bentar lagi ibu pasti bakal dapat kabar bagus,” saran April sok ngeramal. Yang lain heran, abis apa hubungannya?.“Maksud kamu?”“Gini buk, April juga pernah dapat surat kaleng kayak gitu. Dan setelah itu April langsung dapat kabar gembira. Suwer deh.”Sedetik setelah April menyelesaikan ucapanya, tiba-tiba Hp bu Anggi berdering. Setelah berbicara sejenak ia langsung mematikan telponnya dan mendekati April.“Ya ampun April. Ternyata kamu bener. Barusan ibu dapat kabar kalau ternyata keponakan ibu baru saja melahirkan anak nya dengan selamat. Terus kembar lagi.”“Yang bener bu?” “Sudah sekarang kumpulkan semua tugas kalian.”“Tapi buk, kita belom selesai,” kata Minda.“Nggak papa. Hari ini ibu kasih bonus, selesai nggak selesai kalian dapat nilai lapan semua. Kalau April 10. Oke!”“Ha…?!” Semua melongo, cengo dengan sikap ajaib gurunya. Tapi tak urung juga merasa girang. Gimana nggak? Secara nggak perlu mikir susah susah tapi dapat nilai 8. Blo’on banget kalau nggak mau.Tapi heran deh ni guru sama murid kok sama aja ya. Sama-sama tulalit. He he he.“Kalau begitu ibu pergi dulu. Oh ya April, mending surat kalengnya buat kamu saja. Siapa tau kamu dapat kabar bagus lagi,” selesai berkata bu Anggi langsung pergi meninggal kan siswanya yang kebingunggan.Dengan agak terburu-buru April membuka bundelan kertasnya. Kemudian membaca keras-keras agar teman-temannya yang juga penasaran bisa ikut mengetahuinya.“DASAR BABON KOE!!!. JEMBELENGAN…!!!”Kontan tawa seisi kelas meledak bahkan kelas sebelah yang tidak tau apa – apa juga heran mendengarnya. Kira-kira ada apa ya?.“Gila. Bener-bener deh. Siapa sih yang berani bikin tu surat terus ngelemparnya kekepala bu Anggi. Punya nyawa selusin ya?” kata Guntur yang duduk tepat didepan meja guru.“He’eh. Berani banget,” tambah Minah.“Tapi siapa?” tanya April.“Pasti elo. Ia kan Sugeng?” tuduh Dewi langsung.“What?! Yang bener saja lah kou,” logat batak campuran Majeni langsung keluar.“Ia. Masa sih elo Geng?” Nia menatap kearah Sugeng yang cengengesan sambil mengangguk membenarkan ucapan Dewi. Sofa' hanya bisa geleng-geleng kepala nggak tau lagi mau ngomong apa atau memang ia sudah tidak kebagian dialog. Entahlah.“Nekat loe. Masa bu Anggi loe bilang babon. Jembelengan lagi. Udah kebal loe?” timpal Razimah yang diam diam naksir pria itu.“Ya nggak lah. Lagian tu surat bukan buat Bu Anggi. Tadi itu cuma kesalahan teknis aja. Gara gara Dewi sih. Rese”“Maksud nya?”“Kita jadi bingung nih?”“Ia tadi itu gue mau ngelemparnya ke Dewi. Tapi yang kena malah bu Anggi.”“Untung aja nasib loe bagus. April tadi bisa nanganin. Coba kalau nggak?” ujar Nia.“Tapi hari ini April keren ya. Udah ulangannya selesai duluan, bener semua pula tu. Terus juga bisa nanganin bu Anggi bahkan kita bisa dikasih bonus nilai lagi. Kok bisa ya?” gumam Izal curiga.“Ia nih, atau jangan-jangan….?” timpal Nia dan tiba-tiba bulu kuduknya merinding membayang kan April dibantu oleh jin.“Jangan-jangan apa?” tanya Ria penasaran.“Jangan-jangan loe dibantuin jin ya?” tebak Nia langsung. Tentu saja semuanya kaget tapi tak urung membenarkan ucapan Nia.“Jin gundul mu. Sembarangan aja kalau ngomong,” bentak April sewot.“Kalau nggak loe bisa ngisi bener semua dari mana donk?” kejar Jumi.“Nih. Liat aja sendiri,” April menyerah kan sobekan kertas yang ia ambil dari dalam saku bajunya.“Lho, itu kan kertas yang gue buang tadi. Kok bisa ada sama loe?” Sugeng heran.“Tau. Tadi gue liat dibawah kolong meja gue. Karena penasaran ya udah gue ambil aja. E nggak taunya jawaban soal B. Inggris tadi,” jelas April polos.“Tunggu dulu, jadi tadi loe nyontek ini?” tanya Sofa' menegaskan..April mengangguk.“Maksudnya dari nomor satu sampai sepuluh jawabannya A semua?” tanya Dewi dan Sugeng serentak.“Iya,” balas April. Ia heran kok Dewi juga bisa tau.“Apa???!” .“Bruk…!”.Dewi tergeletak di lantai. Shok langsung pinsan. Padahal ia sudah meres otak buat nyari jawabannya, bahkan tadi saat membalas ia cuma ngasal aja. Tapi kok…Teman-temannya panik. Dan langsung membawa Dewi ke ruang UKS.“Ternyata bu Anggi beneran nggak beres ya. Masa jawaban dari satu sampai sepuluh A semua,” komentar Ina kemudian.“Ah dasar kaliannya aja yang dodol. Pakek ngatain bu Anggi nggak beres segala. Kayak kaliannya beres aja” balas April sambil pergi meninggalkan kelas dengan gaya princes dadakannya.To Be continueKita bersambung dulu ya. Lanjut baca ke Cerpen Lucu Mis Tulalit ~ 02. Ngomong – ngomong untung aja ya, temen – temen admin nggak ada yang demen baca. Coba aja mereka tau kalau image mereka di bikin ancur gini disini. Xi xi xi~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerita SMA Diera Diary End

    Setelah sekian lama akhirnya Cerita SMA Diera Diary bisa ketemu juga sama yang namanya ending. Secara udah pada penasaran donk gimana kelanjutan ceritanya. Terus di mana sebenernya diari gadis tersebut berada. Apa bener berada di tangan andreani atau justru ada orang lain yang telah menemukannya. So, buat yang mau tau jawabannya langsung simak ke bawah aja deh. Nah, biar lebih mudah, untuk part sebelumnya bisa di baca disiniDiera DiaryDiera pamit sama orang tua nya untuk makan malam di luar karena tadi Pasya memintanya untuk segera datang ke kaffe yang tak jauh dari rumahnya. Ia di tunggu di sana, ada yang mau ia sampein.Diera sempet menolak, besok aja. Tapi katanya penting. Harus malam ini juga. Ya udah Diera ngalah. Diera membuka tas sandangnya untuk mengambil hapenya buat ngabarin Pasya kalau sekarang ia udah ada di depan kaffe. Diera tersenyum melihat isi tas nya. Bukunya Rian tadi siang yang ketinggalan nggak sengaja ke bawa,Deringan bunyi ponsel mengaget kannya. Ternyata SMS balesan dari Pasya yang memintanya untuk langsung masuk aja.di tunggu di meja nomor 23. Dengan mantap Diera melangkah kan kaki ka meja 23 yang ada di pojok ruangan. Ia yakin sosok pria yang duduk membelakanginya adalah Pasya yang sudah menunggu nya sedari tadi. Sampai kemudian….“RIAN?!” Diera tertegun. Seolah masih nggak percaya sama pandangan di hadapannya.Rian menoleh sambil tersenyum. Duh manisnya… Diera saja sampai deg-deg an melihatnya…“Kok loe yang di sini? Bukannya Pasya?” Tanya Diera masih nggak percaya.“Jadi loe nggak suka. Ya udah gue pulang aja deh,” Rian pura-pura ngambek dan siap-siap untuk pergi.“Tunggu” Diera segera menarik tangannya. “Jangan datang dan pergi sesuka hati loe. Itu nggak baik.”Rian kaget karena Diera sengaja mengulang kata-katanya tadi siang untuk menarik perhatiannya. Sejenak Rian terdiam tapi kemudian ia kembali tersenyum.“duduk dulu yuk” ajak Rian sambil menarik kan kursi untuk Diera.“eh kita mau ngapain nie?” Tanya Diera setelah beberapa saat mereka saling terdiam “mana pake acara ada Lillyn segala lagi. loe ulang tahun ya?” sambung Diera sebelum Rian menjawab pertannyaan nya.“Bukan” Rian menggeleng.“jangan-jangan loe rabun senja ya? Tapi prasan tuh lampu udah terang deh…” tebak Diera ngasal.“apa an sih?” bantah Rian.“0 gue tau. Loe pake Lillyn pasti gara-gara loe mau ngerokok tapi nggak bawa korek. Ia kan?”“ah… loe. Jangan ngeledek gue terus deh” Rian gemes. Sementara Diera malah tertawa.“jadi kita kesini mau ngapain?” ulang Diera.Rian diem agak ragu. Ia mengatur napasnya sejenak. Matanya menatap tajam kearahnya yang kemudian di raihnya tangan Diera dan menggenggamnya.“Diera gue suka sama loe. Loe mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Rian.Diera terdiam ia masih kaget.“gi mana? Loe mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Rian lagi karena Diera masih belum memberikan jawaban.“nggak” balas Diera sesaat kemudian.“jadi gue di tolak lagi nie” Rian kecewa sambil melepas kan genggamannya.“nggak mungkin lah gue nolak jadi pacar cowok keren kayak loe” sambung Diera sambil tersenyum.“loe tu ya seneng banget ngerjain gue. Emang deh…” Rian gemes. Sementara Diera malah tertawa mendengarnya.“jadi mulai sekarang kita resmi jadian nih?” Rian memastikan.“menurut loe?”Rian tersenyum mendengarnya.“eh tau nggak sih, tadi nya gue sempet berfikir kalau loe sama kayak hanafi” kata Diera beberapa saat kemudian.“hanafi?!” Rian Heran. Diera membalas dengan anggukan kepala.“siapa dia?” Tanya Rian lagi.Dari suaranya aja jelas terkasan rasa nggak suka. Masa di awal jadian mereka justru yang di sebut malah nama cowok lain.Diera tidak menjawab. Sebaliknya ia malah mengeluarkan bukunya Rian dari dalam tasnya dan menyodorkannya ke pada pacar barunya. Rian segera meraihnya, sejenak ia terdiam melihat judulnya. Tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum menatap Diera.“emang loe mau jadi ‘ninda’ nya?”“kenapa nggak? Dia baik, cantik, soleha lagi” balas Diera mantap.“ya udah kalau gitu sekarang juga kita langsung ke rumah loe” ajak Rian.“HA?! Mau ngapain?” Diera kaget plus bungung.“katanya mau jadi ninda. Ya udah kita minta di nikahkan aja besok. Ha ha ha…”“sembarangan!!!” damprat Diera sewot karena Rian ngerjainnya. Sementara Rian makin ngakak.“eh tapi ngomong-ngomong Pasya nya mana ya?” Tanya Diera beberapa saat kemudian.“tuh kan… loe kok malah ngomongin cowok laen lagi sih” Rian sewot.“bukannya apa. Tadi kan dia yang mint ague kesini. Kok jadi loe yang datang gitu lho”“0 jadi nggak suka? Ya udah gue pulang aja deh” Rian mau beranjak pergi. Tapi buru-buru di tahan oleh Diera.“tunggu dulu. Bukan itu maksud gue. Loe jangan salah paham dulu. Gue Cuma…”“ia, gue tau kok. Gue tadi Cuma ber canda…” Rian kembali duduk di bangkunya “lagian tu orang palingan lagi kencan juga”“Ha?! Sama siapa?” Diera kaget.“Hera” balas Rian singkat.“Hera?! Kok bisa?”“ya bisa donk.tu orang kan udah lama naksir sama Hera”“kalau soal itu gue juga udah tau. Maksud gue kok mereka bisa kencan bareng, memang siapa yang nyomblangin?”“siapa lagi donk. Ya pasti gue lah”“elo?” Diera makin Heran.“memangnya kenapa?” Rian balik nanya.“sulit di percaya. Memangnya sejak kapan loe care sama temen-temen gue. Pa lagi Hera. Masa ia loe bisa nyomblangin mereka” Diera masih berfikir kalau Rian bercanda.“lho memangnya loe belom tau ya? Tiap 2X seminggu Hera kan datang ke rumah gue. Dia kan jadi guru private nya adek gue” terang Rian lagi.“What?!” Diera mendelik mendengarnya “tapi tu anak kok nggak pernah cerita ma gue kalau dia kerja di rumah loe?” sambung Diera.“tau” Rian angkat bahu “lagian gue juga nggak suka kalau cewek gue deket-deket sama cowok laen”“ketahuan… loe cemburu ya?” goda Diera.“nggak kok. Siapa juga yang cemburu. Orang gue Cuma nggak suka aja” bantah Rian.“alah jangan bohong… ngaku aja…” kejar Diera lagi.“terus kenapa emang kalau gue cemburu? Nggak boleh? Loe kan cewek gue. Jadi wajar donk” sahut Rian kemudian Diera langsung ngakak.“eh udah makin malam nie. Loe mau pesen apa? Gue juga udah laper dari tadi ngobrol terus” Rian mengalihkan pembicaraan.“E… spageti sama orange jus aja deh” sahut Diera sambil melihat daftar menunya.“nggak miso sama es rumput laut?” ledek Rian lirih.“maksudnya?” Diera Heran. Dari mana Rian tau makanan kesukaannya. Tapi Rian tidak mau membahas lebih lanjut, ia malah mengajak Diera angobrol hal laen. Tepat pukul Sembilan tiga puluh Rian mengantar Diera pulang kerumahnya.Cerita SMA Diera Diary End“apa?!!! Jadi sekarang loe udah beneran jadian sama Rian?” Narnia setengah berteriak nggak percaya waktu Diera curhat ma temen-temennya di kelas pas jam istirahat sekolah. Saat itu kebetulan kelas memang lagi sepi hanya ada mereka berlima di kelas sementara temen-temen yang laen sudah pada keluar.“kok bisa sih?” sambung anggun yang juga masih nggak percaya.“tapi kalau gue sih nggak Heran ya” komentar Hera.“kok githu?” Tanya Lilly.Diera diam saja mendengar tanggapan temen-temennya.“ya iyalah secara gue kan emang tau kalau dari dulu itu Diera emang naksir berat sama Rian. Sementara gue juga tau kalau Rian juga suka sama dia”“loe tau Rian naksir sama Diera?” Lilly kaget plus Heran.“gimana bisa?” tambah Narnia.“ya bisa lah. Kalian tau nggak sih, selama ini ternyata Hera kerja sambilan di rumah Rian, ia jadi gur private adeknya Rian. Jelas aja dia bisa tau. Pasti selama ini Rian udah sering cerita macem-macem sama dia” Diera yang menjawab.“ha?! Loe kok nggak pernah cerita ma kita?” Lilly makin kaget.“emang nih anak. Suka maen rahasia-rahasiaan sama kita. Salnya ni ya, biar gue tebak. Pasti dia juga nggak da cerita ma kalian kalau tadi malam itu dia kencan sama Pasya, ia kan?” terang Diera lagi. semuanya semakin melongo.“benarkan?” anggun nggak menduga sama sekali.“tapi bukannya Pasya selama ini deket sama loe ya?” Tanya Narnia.“emang sih. Tapi dia deket sama gue Cuma karena ada maunya” balas Diera sambil tersenyum melirik Hera.“jadi loe tadi malam beneran nge date sama Pasya ra?” Tanya Lilly ke Hera.“nggak kok. Gue Cuma jalan biasa aja. Diera emang suka ngarang tuh” elak Hera.“ngaku aja deh…” ledek Diera lagi.“nggak!!!” Hera ngotot.“alah Rian yang bilang ndiri kok sama gue, pasti selama ini kalian sering curhat-curhatan di belakang kita ia kan?” desak Diera lagi.“bukan. Tadi malam itu gue di kerjain sama Rian. Dia bilang gue di tunggu sama septia. Adeknya dia, eh nggak taunya pas gue datang malah Pasya yang nongol” terang Hera.“masa’ she…” Diera masih ingin menggoda sahabatnya yang satu ini.“sumpah deh” Hera mengangkat dua jarinya.Diera mencibir bibirnya “tapi loe senengkan…” ledeknya lagi.“ah loe tu emang ya…” Hera bête juga lama-lama “lagian siapa bilang gue sering curhat-curhatan sama Rian?”“kalau nggac dari mana donk loe bisa tau kalau Rian selama ini naksir sama Diera” ujar anggun.Kali ini Hera dapat ide untuk membalas ledekan Diera.“gue bisa tau kalau Rian itu suka sama Diera gara-gara adeknya nunjukin foto ini ke gue. Dia nanya ma gue, ne cewek siapa, kok fotonya ada di hape kakaknya. Gue kenal nggak” balas Diera sambil mengeluar kan hapenya. Narnia langsung merebutnya dengan antusias.“apaan nie? Diera lagi tidur?” Narnia bingung. Karena bingung Diera merebut hape tersebut.“ini kan waktu gue nyasar di hutan. Kok dia bisa punya foto gue sih?” guman Diera kaget.“emang. Cie… ehem ehem ehem… emang waktu di hutan kalian ngapai aja tuh. Patut di curigain deh kayaknya” gentian Hera yang ngeledek Diera.“bahkan di jadiin wallpaper hape nya lho” sambung Diera lagi sambil tersenyum mengejek.“awas tu orang” geram Diera malu sambil berlalu dari hadapan temen-temennya yang menyorakinya. Sementara Hera tertawa puas karena berhasil membalas ejekan Diera tadi.Dengan tergesa-gesa Diera melangkah kan kaki menuju ke belakang sekolah. Ia yakin Rian pasti saat ini ada di sana. Karena ia tadi sudah mencarinya ke mana-mana, ke perpus, kantine, bahkan ia juga sudah kekelasnya tapi tetep belum nemuin Rian.Ternyata bener dugaannya. Rian emang ada di sana. Lagi nongkrong di tempat biasa sambil baca buku. Dan Rian langsung kaget ketika mendapati Diera sudah berdiri di depannya sambil menatap tajam kearahnya.“lho kok loe di sini? Nggak di sana?” ledek Rian sambil menunjuk pohon bunga tempat Diera biasanya ngumpet.Diera diam saja tanpa melepas pandangannya sedikit pun.“apa karena sekarang loe udah jadi cewek gue makanya bebas, huu… dasar” sambung Rian sambil mencubit pipi Diera gemes.“mana hape loe?”“he?! Buat apa?” Tanya Rian bingung.“udah jangan bawel. Sini gue mau liat”“apaan sih. Apa karena sekarang loe udah jadi cewek gue makanya loe mau ngecek hape gue kali aja gue ada maen ma cewek laen?”“gue bilang sini in” Diera ngotot.“hei kalau pun cemburu jangan kebangetan deh. Gue nggak ada maen sama cewek laen” Rian mulai gusar.Diera sama sekali nggak menggubrisnya, malah ia nekat merebut hape Rian yang kebetulan lagi di pegangnya.“apaan sih loe” bentak Rian sambil berusaha merebut hapenya kembali tapi Diera menghalanginya.“ini apa?!” Diera menunjuk kan hape nya pada Rian.“he ada yang aneh?” Rian Heran.Rian mengambil hape nya kembali. Sementara Diera udah pasang tampang cemberut.“0 wallpaper nya?” Rian baru nyadar.“ia. Maksud loe apa jadiin foto gue sebagai wallpaper hape loe. Mana gue lagi berpose kayak gitu lagi”“lho emangnya ada yang salah? Yang gue pajang kan wajah pacar gue sendiri. Kalau cewek laen wajar loe marah” Rian membela diri.“tapi waktu itu kita kan belom jadian, kok loe udah punya foto gue sih? Mana gue lagi tidur lagi, pasti loe ngambil nya diem-diem kan?” Tanya Diera lagi, Rian kaget.“0… itu… karena…” Rian jadi salting“karena sebenernya loe udah lama naksir sama gue. Ia kan? Huu.. ngaku aja deh, tau gini mendingan kemaren waktu loe nembak gue, nggak usah langsung gue terima kali ya” gerutu Diera.“apaan tuh. Jadi loe nyesel jadi cewek gue” Rian protes.“ia, abisnya selama ini loe kan jutek banget sama gue. Eh nggak taunya. Ternyata diem-diem loe naksir juga sama gue” ledek Diera.“0h ya?… kayak loe nggak. Bukannya loe juga udah naksir sama gue . bahkan dari kelas satu ia kan?” balas Rian sambil tersenyum menang.Diera kaget nggak nyangka Rian bisa balas meledek nya. Bahkan dia juga udah tau rahasianya.“ahh nggak kok. Siapa yang bilang. Andreani?… tu anak loe dengerin” elak Diera.“kenapa gue harus percaya sama Andreani? Ya gue tau nya dari loe sendiri lah”“gue?” Diera bingung.“eh sini deh” Rian menarik Diera mendekat “gue mau nanya sama loe. Kira-kira kalau ada cewek terus dia naksir sama cowok, apa yang bakal dia lakuin?” Tanya Rian.“ya berusaha ngedeketinnya donk” balas Diera setelah mikir beberapa saat.“huu… salah” Rian mendorong Diera menjauh “yang bakal dia lakuin adalah memenuhi buku haRian nya sama nama cowok tersebut” sambung Rian sambil tertawa dan pergi meninggal kan Diera yang kebingungan.“tunggu dulu” gumannya lirih “jangan bilang kalau elo yang udah nemuin buku diary gue yang ilang?” Tanya Diera, Rian menoleh.“jadi loe baru nyadar?.. ha ha ha kemana aja loe selama ini…”“APA?! 0MG!!!” Diera shok.“eh Rian. Tunggu dulu” kejar Diera melihat Rian yang semakin menjauh/“balikin nggak!!!” teriak Diera sambil terus mengejar Rian yang terus tertawa menghindar dari kejarannya.“nggak…!!! Wuek….” Ejek Rian sambil terus berlari.“Rian balikin please…” kejar Diera.“pokok nya nggak”“ha ha ha…”EndSalam ~ Ana Merya ~Lanjut Baca : || ||

  • Cerpen Romantis: KENANGAN YANG HILANG

    Kenangan Yang HilangCerpen karya Natania Prima NastitiHujan turun saat aku sampai di Bandara Soekarno Hatta. Aku duduk di kursi tunggu, menunggu Papa menjemputku. Sekitar sejam lebih aku menunggu. Aku juga tampak bosan. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan keliling Bandara. Saat akan berdiri, tiba-tiba ada yang memegang pundakku. Aku langsung berbalik badan. Kulihat lelaki seumuran denganku tersenyum ramah kepadaku. “Mbak Vega ya?” tanyanya ramah. Kemudian aku mengangguk menjawab pertanyaan itu. “Saya supirnya Pak Broto, maaf lama menunggu, Jakarta macet, Mbak. Mari saya anter ke mobil” ucapnya lagi. Kemudian lelaki itu berjalan duluan kearah parkiran diikuti denganku.Sesampainya di rumah, Mama dan Papa menyambutku dengan gembira. Bukannya aku tidak senang, tapi kali ini aku benar-benar capek. Perjalanan Amerika-Jakarta cukup membuatku lelah. Duduk berjam-jam membuatku ingin segera berbaring di kamar. Mama dan Papa mengerti dan segera mengantarku ke kamar tidurku dulu. Kemudian mereka segera pergi dan menyuruhku istirahat penuh. Kulihat kamarku ini tidak berubah. Hanya sprainya saja yang berubah warna. Tiba-tiba, aku ingat lagi wajah lelaki yang mengaku supir Papa itu. Umurnya padahal sama denganku, tapi kenapa dia malah bekerja? Apa dia tidak kuliah? Tapi kenapa? Apa dia tidak punya uang?, aku terus bertanya-tanya dalam hati.Tiba-tiba saja aku melihat lelaki itu dari dalam kamar. dia sedang ada di halaman samping rumahku. Tawa lelaki itu… mengingatkanku pada seseorang saat kecil dulu. Tapi siapa? Apa mungkin aku saja yang terlalru berlebihan? Kenapa juga aku melihat lelaki itu? Tidak menarik sama sekali! Ucapku dalam hati. Kemudian aku menutup gorden jendela kamarku dan berbaring di kasurku yang empuk. Tiga bulan lagi aku akan kembali ke Amerika. Hemm, waktu itu terasa sangat singkat. Aku masih kangen sekali dengan Indonesia. Aku pun memejamkan mata dan tidur.Dua bulan berlalu dengan begitu cepat. Aku dan supirku, yang bernama Roni, kini juga semakin dekat. Ternyata Roni ini orang yang sangat asik untuk diajak ngobrol. Dia berilmu pengetahuan yang luas. Bahkan ada yang aku tidak tahu, tapi dia tau. Semakin lama aku mengenalnya, semakin nyaman aku ada disampingnya. Setiap dekat Roni, aku merasa memang sudah kenal dekat dengannya. Sampai akhirnya, aku tahu bahwa aku jatuh cinta pada supirku sendiri. Tapi aku merasa aku tidak salah menyukainya. Karena aku selalu merasa dekat dengannya dari dulu. Jauh sebelum aku di Amerika. Ada apa ini?Hingga malam itu, Roni pamit pulang kampung karena ibunya sakit keras. Karena bosan di rumah, akhirnya aku meminta orangtuaku mengijinkan aku ikut dengan Roni ke kampungnya. Aku ingin menikmatik pemandangan disana. Karena Roni bilang, di kampungnya masih banyak hamparan sawah. Tadinya Mama tidak mengijinkanku. Dia takut aku kenapa-napa. Tapi, setelah aku bilang Roni akan menjagaku, akhirnya Mama setuju. Aku pun akhirnya ikut Roni ke kampungnya., tapi akSekitar jam lima pagi aku sudah sampai dikampungnya Roni. Baru jam lima saja, banyak penduduk yang sudah beraktifitas. Kebanyakan petani sudah mulai turun ke sawah. Benar sekali. Kampung Roni benar-benar indah pemandangannya. Mataku ini disajikan pemandangan alam yang luar biasa. Tiba-tiba aku teringat, sepertinya dulu aku pernah melihat pemandangan seperti ini. Setelah kupikir-pikir, mungkin itu hanya bayanganku saja.Rumah Roni, sama dengan rumah penduduk lainnya. Tidak kecil dan tidak besar. Saat disuruh menemui ibunya, aku lebih memilih untuk duduk di teras rumahnya. Adik perempuan Roni segera membuatkan minuman untukku.“Mbak ini siapa?” tanya adik Roni itu. “Saya majikannya Roni”jawabku ramah. Adik Roni hanya berOh kemudian masuk ke dalam rumahnya. Roni bilang hanya seminggu kita disini. Sebenarnya, aku ingin sekali berlama-lama disini tapi, itu tidak mungkin. Roni tidak bisa meninggalkan kuliah dan pekerjaannya. Aku juga tidak mungkin meninggalkan Mama dan Papa. Tujuanku kembali ke Indonesia kan bukan untuk ini. tujuanku untuk oragtuaku. Tapi sekarang, aku malah meninggalkan mereka lagi. Tapi tidak apa-apa, walau begitu aku senang berada di kampung Roni ini.Setelah beberapa hari disini, aku jadi semakin akrab dengan Roni. Dia mengajakku bertani, mengambil air di sumur, memeras susu sapi dan lain-lain. Aku juga semakin terbiasa dengan pekerjaan itu. Melihat Roni.. aku kembali melihat masa kecilku yang.. aku juga sebenarnya tidak ingat dengan masa kecilku dulu. Tapi sepertinya, aku sudah tidak asing lagi dengan semua ini. Roni, ibunya, kampung ini, kegiatan-kegiatan ini.. benar-benar tidak asing bagiku. Aku sendiri juga bingung dengan apa yang kurasakan. Apa sebenarnya ini? tanyaku dalam hati.Sekarang adalah hari terakhirku dan Roni ada di kampung ini. malamnya, Roni mengajakku ke suatu tempat. Tempat itu.. juga tidak asing bagiku. Danau dengan berjuta kunang-kunang ini, sangat jarang ditemukan di Jakarta. Malah aku yakin, tidak ada tempat seindah ini di Jakarta. Kemudian Roni membawaku ke sebuah pohon yang besar. Pohonnya terlihat sudah berumur. Disana ada tulisan Roni Dan Vega Forever. Aku terkejut dengan ukiran tulisan itu. Aku tidak pernah mengukir nama itu di pohon. Sama sekali tidak pernah. Tapi, kenapa ada tulisan itu? Namaku dan Roni? Ada apa sebenarnya ini?Kemudian Roni mengajakku duduk di sebuah batu besar. Roni memulai percakapan.“Kamu tau kenapa ada tulisan nama kita di pohon itu?”tanyanya sambil menunjuk kearah pohon besar tadi. Aku hanya menggeleng bingung.“Dulu.. waktu kita kecil, kamu pernah tinggal disini. Pak Broto adalah juragan sawah disini. Sawah yang kamu liat itu.. sebenarnya kebanyakan punya kamu. Saat kamu SMA, kamu dan keluargamu pindah ke Jakarta. Mungkin Pak Broto ingin anak semata wayangnya ini sekolah sebaik mungkin. Makanya dia pndah ke Jakarta” jelas Roni. Aku semakin bingung dengan penjelasan Roni.“Waktu kita SMP, kita ngukir nama kita di pohon itu. Dan di tempat inilah pertama kita bertemu dan berpisah. Aku yakin, aku mikir kampung ini tidak asing lagi bagi kamu kan? Karena kamu pernah ada disini” sambung Roni. Aku hanya menganga kaget mendengar ucapan Roni.“Tapi, kenapa aku nggak bisa nginet masa kecil itu? Kampung ini emang nggak asing lagi bagi aku, tapi aku nggak bisa inget tempat ini, Ron” tanyaku bingung pada Roni. Roni tersenyum padaku.“Waktu kita kelas tiga SMP, sesuatu terjadi sama kamu. Kamu kecelakaan dan dokter bilang, kamu nggak bisa nginget masa yang udah dulu banget. Aku sedih banget, Ga. Karena aku itu kan masa lalu kamu dulu. Apalagi saat aku tau ternyata kamu sekolah di Amerika. Saat itu.. aku bener-bener ngerasa kehilangan kamu. Sampai akhirnya aku ke Jakarta dan kerja di rumah kamu. Disana aku selalu liat foto-foto kecil kamu. Mama kamu juga majang foto saat kita berdua. Kita berpelukan sambil tertawa. Kita bahagia waktu itu” jawab Roni tersenyum bahagia.Aku mulai ngerti dengan semua ini. roni.. pantes saja aku sudah tidak asing lagi dengannya. Ternyata.. dialah teman baikku sejak kecil. Kemudian aku tertawa. Mengingat betapa culunnya pasti aku saat mengukir tulisan di pohon itu. Kita berdua masih belum mengerti sama sekali apa arti tulisan itu.“Setelah pindah, aku juga ngerasa ada yang hilang, Ron. Sampe sekarang pun, aku nggak pernah pacaran sama orang lain. Karena aku belum nemuin cinta aku. Tapi… setelah dekat kamu, ternyata aku nyaman. Dan ternyata.. kamu cinta aku, Ron” ucapku malu-malu. Kemudian Roni memelukku. Pertama aku kaget dengan pelukan itu. Tapi, pelukan itu yang selama ini aku nantikan.Dua bulan lebih, aku berada di Jakarta. Setelah pulang dari kampung, aku menceritakan semuanya pada Mama dan Papa. Mereka berterima kasih pada Roni karena telah mengingat kembali masa yang telah hilang dari ingatanku. Akhirnya mereka bersedia menanggung biaya kuliah Roni dan menyuruh Roni fokus pada kuliahnya saja. Biaya berobat ibuya juga ditanggung denga orangtuaku. Aku dan Roni juga semakin dekat.Hingga akhirnya, aku harus kembali ke Amerika. Sedih hatiku meninggalkan semuanya termasuk Roni. Sahabat baikku dari kecil itu… aku harus meninggalkannya. Tiba-tiba aku merasa separuh hatiku hilang lagi. Meninggalkan Roni.. bukan ini yang ku mau. Tapi apa dayaku? Meninggalkannya memang sudah harus kulakukan. Aku sendiri yang meminta meneruskan study di Amerika.Roni dan kedua orangtuaku mengantar aku sampai Bandara Soekarno Hatta tempat pertama kali aku bertemu Roni dulu. Tangisan sudah pasti menghiasi suasana hari itu. Aku juga memeluk Roni. Aku benar-benar tidak ingin berpisah darinya. Tapi.. yasudahlah.“Nanti kita ketemu lagi kan?” tanyaku pada Roni.“Pasti! Aku janji sama kamu, aku nggak akan khianati cinta kita berdua” jawab Roni sambil membelai rambutku. Kemudian aku memeluk Roni lagi. Maaf Roni, untuk ingatan lupaku padamu dulu, ucapku dalam hati sambil menitikkan air mata.Dua tahun di Amerika, aku jadi benar-benar kangen sama Roni. Kira-kira sedang apa dia disana? Akhirnya aku putuskan untuk menulis surat padanya. Berharap dia akan cepat membalas surat kangenku ini padanya.Dear My Love,RoniKamu apa kabar disana? Aku harap kamu baik-baik aja ya.Ron, sumpah aku kangen banget sama kamu. Aku harus nunggu dua tahun lagi supaya bisa ketemu kamu, Ron. Kamu belum ingkarin janji kamu kan? Janji yang bilang kamu nggak akan khianati cinta kita. Aku disini akan selalu sabar nunggu waktunya tiba. walaupun, saat awan disini kelabu dan disana terang, aku pasti akan selalu ingat kamu. Dan walaupun tanah yang kita pijak berbeda, kita akan tetap bersama kan?I miss you so Roni. Jaga kedua orangtuaku ya.Love youVegaAnd II want to shareAll my love with youNo one else will do…And your eyesThey tell me how much you careYou will always beMy endless love..Glee-My Endless love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*