Cerpen Cinta: YANG TERLEWATKAN

Yang Terlewatkanoleh: Nita Wahyu
“Iii, itu cowok ganteng banget siiihh” bisik seorang teman Nayla.
“Siapa sih, cowok yang mana ?” jawabku penasaran.
“loh, kamu ga tau ? Ada murid pindahan, cakep Nay” teman Nayla menjelaskan.
Dengan sifat jutek dan cuek, Nayla tidak memikirkan si murid baru itu bahkan Nayla enggan melihatnya. Nay diam di bangkunya sambil mencoret buku yang ada di hadapannya.
Bel pulang pun berbunyi, Nay bergegas keluar dari kelas yang panas tanpa AC. Dia duduk di kursi depan teras kelasnya, sambil menunggu teman yang lainnya keluar. Nay melihat seorang anak laki-laki melewat di hadapannya dengan dingin, Nay pun merasa heran karena dia baru melihatnya hari ini.
“gimana Nay, ganteng ga ?” goda temannya yang baru keluar kelas yang memperhatikan Nay sedang memperhatikan seorang cowok.
“lumayan sih, emang dia siapa ? perasaan gue baru liat deh” Tanya Nay ingin tau.
“looh, dia kan murid baru itu” jawab temannya yang juga termasuk ngfans sama murid baru itu.
***
Sampai dirumah, Nay pergi ke kamar dan mengganti bajunya dengan pakaian ala tomboynya dia. Tiba-tiba, saat dia sedang menatapi layar monitor di komputernya bayangan seorang cowok terlintas difikirannya.
“loh, ko gue jadi kepikiran sama cowok tadi yah. Janga nyampe deh gue suka sama tuh cowok, iiiyh!!”gerutu Nay sambil pegang pensil yang digigitnya. Ga lama kemudian, seorang teman Nay yang bernama Lusy masuk ke kamarnya membawa sejibun tugas yang harus di kerjakan secara kelompok.
“ehh, apaan loe masuk kamar tanpa permisi ?”Canda Nay pada temanya.
“ah, ngaapain permisi orang rumah ini rumah gue juga!”jawab temannya sambil duduk di damping Nay.
“Eh Nay, gue kesini sebenernya mau cerita sama loe. Tapi pleas ya, kali ini dengerin dan loe jangan terlalu cuek dengan apa yang gue bilang.”bujuk temannya yang menatap mata Nay dengan serius.
“Eh, biasa aja kali!! Gue takut liat mata loe tuh. Ia, gue dengerin ko. Apaan ?”jawab Nay cuek.
“loe tau yang namanya Ami kan ? yang anak sepuluh satu ? kemarin dia ngajakin ketemuan sama gue, dia bilang katanya dia suka sama loe”cerita Lusy.
“owh, terus gue harus ngapain ?”gelagat Nay yang kaya orang bego.
“yah, seengganya fikirin dulu deh. Dia baik, wajahnya juga lumayan, apalagi otaknya. Pas deh buat jadi guru loe hahaha!!”ejek lusy pada Nay.
Nay tidak terlalu memikirkan perasaan Ami yang suka pada dirinya. Karena Nay tidak begitu mengenal Ami, Nay pun tak menghiraukannya.
***
Pagi harinya, saat Nay tiba di sekolah. Nay bertemu dengan si murid baru yang juga agak cuek, Nay melihatnya sambil menggerutu di dalam hatinya “hmm, gue jadi penasaran juga sama tuh cowok”.
Tanpa sengaja, Nay bertemu dengan teman yang kenal dengan si murid baru tersebut. Dengan reflex, nay tiba-tiba menanyakan nomor hape si murid baru itu dan menanyakan siapa namanya.
“owh, namaya sandy yah..”kata Nay sambil senyum-senyum memegang hapenya yang baru dapat nomor hape si Sandy.
Nay pun mencoba ngirim sms sama si Sandy, tanpa di sangka tenyata Nay merasa nyaman sama si Sandy.
“eh, loe tau ga ? gue suka smsan loh sama si Sandy.. itu yang murid baru itu lhoo”curhat Nay pada Lusy sambil manas manasin.
“haha, ternyata loe juga suka sama Sandy.. haha ketauan loe. Tapi btw, gimana sama si Ami dia beneran suka loh sama loe!!”ujar Lusy yag ngebela Ami.
“ah, gue sih nunggu yang serius aja.. buktinya Ami juga ga pedekate sama gue” jawab nay enteng.
Sejak saat itu, sifat Ami berubah. Dia lebih sering mengahabiskan waktunya untuk ngedeketin si Nay. Keseriusan Ami pun mulai terlihat. Nampaknya, benih-benih cinta di hati nay mulai tumbuh. Tapi pada saat itu pula Nay sedang asik-asiknya smsan sama Sandy. Rasa suka pada sandipun masih ada, walaupun hanya sebatas smsan. Tetapi, walaupun begitu Nay tidak terlalu serius pada Sandy, karena Nay masih merasa asing dengan murid baru itu.
Lama terasa, perasaan nay pun mulai terkikis perlahan. Karena Nay merasa terlalu lama menanti Ami nembak Nay. Padahal, ami udah berhasil buat Nay suka padanya. Nay pun berfikir bawa Amy hanya sebatas menyukainya dan tidak menginginkan hubungan lebih. Padahal Nay sangat mengharapkan Ami.
***
Tepatnya malam Minggu, saat Nay mulai mengirimkan pesannya pada Sandy. Dengan rasa ingin tau, Nay bertanya pada Sandy tentang setatus hubungannya. Tetapi, sandy selalu mengelak. Seolah-olah tidak ada yang menginginkan status hubungannya di ketahui.
“san, sebenernya kamu udah punya paca ngga siih?”Tanya Nay penasaran.
“emang kenapa Nay, kalo ngga kenapa kalo udah kenapa?”Sandi menjawab berbelit-belit.
“aku cuma mau tau ajj, kalo udah aku ga mau ganggu cowok orang!!”ddengan perkataan sabar.
”lhoh, ko kamu ngomong gitu ? aku tenya deh, kamu suka sama aku yah?”kata Sandy yang kePeDean.
“ia sih, emang kenapa ?”lusy agak bingun dengan tongkahnya.
“ya, sebenernya aku juga suka sama kamu. Tapi hubungan kamu sama Ami gimana?”ujar sandi dengan tenang.
“aku sama Ami ga ada hubungan apa-apa?”jawab Nay yang agak kaget Sandy mengetahui hubungannya dengan Ami.
“ya udah, kalo kamu sama aku ga ada yang punya kita jadian aja!!”jawab Sandy spontan.
Sejak malam Minggu itu, Sandy dan Nay jadian. Mereka tidak mempublikasikannya, karena Nay yang orangnya cuek juga Sandy yang ga mau terekspos.
***
Dua hari setelah mereka jadian, tiba-tiba Nay menerima telfon dari Ami. Pada saat itu pula, Ami nembak Nay.Nay bigung, di satu sisi Nay memang menantikan Amy, akan tetapi disisi lain nay sudah bersama Sandy. Dengan perasaan bingung, Nay pun berusaha jujur dan bercerita bahwa Nay sudah bersama Sandy.
“maaf mi, aku memang suka sama kamu. Tapi cara kamu ngehadepin aku terlalu lama. Sampai aku berfikir kamu ga bakalan nembak aku, ss-sampai akhirnya aku jadian sama Sandi” jelas Nay pada Ami.
“…… Jadi gitu, aku Cuma nunggu waktu yang tepat buat nembak kamu. Tapi, ya .. kalo emang itu keputusan kamu. Aku Cuma doa’in buat kalian semoga bahagiaa.. “
…..Nay menutup telfon dan diam seketika.
“semuanya telah terjadi, aku tak dapat menyesali”..
Naypun akhirnya menjalani harinya dengan Sandy, sampai akhirnya hubungan mereeka berakhir. Nay tidakk mungkin dapat kembali mendapatkan Ami. Akhirnya nay memutuskan untuk sendiri dulu, dan membiarkan perasaannya pudar secara perlahan.
THE END

Random Posts

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 05 | Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih _ Part 05 . Masih kisah antara Cinta sama Rangga. Di part ini kayaknya udah mulai tumbuh benih – benih cinta di antara mereka berdua… ~Cieela, bahasanya.Tapi yah tetep. Perjalanan masih cukup jauh untuk sampai ke ending sodara – sodara. Soalnya Cerpen Ketika Cinta Harus Memilih ini terdiri dari 16 part. Ho ho ho, Panjang kan?. Makanya cape ngeditnya. #plaks.Okelah, dari pada kebanyakan bacod, mending langsung baca aja yuk kelanjutannya. Cekidots…..Ketika Cinta Harus MemilihBukannya langsung pulang, Aldi justru malah ntrakir Cinta makan. Sambil makan mereka tak henti mengobrol. Dan Cinta baru menyadari satu hal. Ternyata Aldi orang nya asik. Anaknya nyambung di ajak ngobrol. Beda banget sama Rangga yang biasanya hanya terlihat sopan jika ada orang lain di sekelilingnya.-,- sebagian

  • BIKANG ENDANG

    BIKANG ENDANG oleh: Kharisma Hawa D.“Tante Rini, ini kue bikangnya, masih hangat lho, keluar dari oven langsung saya bawa kesini.” “Makasih Endang, ayo masuk dulu ke rumah.”“Lain kali saja tante saya mampir ke rumah, saya masih harus keliling komplek untuk berjualan, mumpung ini masih hangat”“Ya sudah, besok pagi kesini lagi ya..” Ucap Ibu sambil menutup pembicaraan.Aku memandang sebungkus kue bikang yang diletakkan di atas meja makan, pasti Ibu yang membeli kue bikang ini dari Endang, dan menyuruhku untuk membawanya ke sekolah, gumamku dalam hati. Benar saja, “Rena sayang, kamu bawa bikang ini ke sekolah ya, nanti di makan bareng temen-temen kamu.” Aku mengeluh dalam hati, kenapa sih Ibu ini? Hampir setiap hari selalu menyuruhku membawa sebungkus kue mekar dan mengembang ini, jujur aku merasa malu pada teman temanku, mereka pasti berfikir itu pasti jajanan kampung yang sering dijual di pasar, sekali waktu aku juga ingin membawa kue yang sedikit ‘elite’ di mata mereka, sebut saja brownies, sandwich, pancake, pie atau semacamnyalah. Tapi Ibu selalu membekaliku dengan bikang hangat yang di beli dari Endang. Ya sudahlah, lagipula bukan aku juga yang memakan bikang itu, ada Rani, teman sebangkuku yang menghabiskan kue itu. **** Seperti biasa, di Minggu pagi, keluargaku selalu menyempatkan untuk olahraga bersama. Aku memilih bersepeda keliling kompleks perumahan. Sedangkan, Ayah, Ibu, dan Rangga berjalan jalan di Pasar Minggu pagi yang berada di sekitar Stadion. Tumben, hari ini aku tak mendengar ‘kicauan’ si Endang yang menjajakan bikang hangatnya. Kemana dia? Bukannya aku rindu dengan jajanan pasarnya itu. Tetapi, mendengar suara Endang setiap pagi merupakan rutinitasku sebelum berangkat sekolah. Aku pun penasaran, kemana Endang pagi ini? Aku segera menuju ke Panti Asuhan Cahaya Hati, tempat tinggal Endang saat ini yang tak jauh dari komplek perumahan. Aku bertanya pada salah seorang penghuni Panti Asuhan. “Endang pulang ke Jombang, dia pulang kampung karena ingin melanjutkan pengobatan alternatif disana.” Ucapnya dan lantas kembali masuk ke halaman Panti, aku diam dan berusaha mencerna perkataan tadi. Pulang? Sakit? Pengobatan alternatif? Karena diburu rasa penasaran, aku segera pulang ke rumah dan bertanya pada Ibu.**** Aku memarkir sepedaku di garasi, tak sengaja aku mendengar Ayah dan Ibu sedang berbicara serius di Ruang Tamu. Aku tetap berada di garasi dan berusaha mendekatkan telingaku ke daun pintu ruang tamu. “Kasihan Endang itu, ia terpaksa kembali ke kampung untuk menjalani pengobatan alternatif. Ibu merasa bersalah pada Almarhumah Anik karena Ibu tak dapat merawat darah dagingnya dengan baik. Bahkan, Ibu tak dapat membujuk Endang untuk tinggal di sini dan bersekolah bersama Rena.“ Aku melihat Ibu mulai menitikkan air mata.“Ayah tahu dan Ayah juga merasakan hal yang sama dengan Ibu, kita juga tidak sempat menyembuhkan Tuberculosis Endang. Tapi setidaknya kita sudah membeli kue buatan Endang. Paling tidak, Endang sudah dapat penghasilan sendiri dan membiayai hidupnya sendiri sejak orang tuanya meninggal setahun lalu.” Ayah mencoba menenangkan Ibu. Perkataan kedua orang tuaku membuatku tercekat. Aku berusaha mencerna perkataan itu. Ternyata selama ini Endang adalah anak sahabat Ibu yang di titipkan pada Ibu sejak setahun yang lalu. Pantas saja, Ibu selalu membeli jajanan buatan Endang dan memaksaku membawanya ke sekolah. Sepengetahuanku, Ayah juga jarang memakan bikang itu ketika di rumah dan lebih sering membawa kue itu ke kantor. Jadi ini sebabnya. Aku hanya bisa mendoakan agar Endang cepat sembuh dan kembali kesini. Aku pun tak keberatan jika suatu saat nanti Endang tinggal bersama kami bahkan satu sekolah denganku. Cepat sembuh Endang Aku merindukan bikang hangatmu.. JAWA POS. Kamis, 7 Juli 2011 KHARISMA HAWA D.Facebook : Kharisma Hawa D.Twitter : @kharismahawaHeello : @kharismahawaEmail : kharismahawa@yahoo.co.id

  • Simphoni Cinta Bumi

    Simphoni Cinta BumiOleh:Riani Dian AlmaidaMentari baru aja kasih sinyal buat ke bumi. Tapi aku sudah harus mengenakan seragam smp. Dengan kepangan yang bikin aku agak cupu. Jadi wajah ku yang imut ini gak akan ternikmati oleh setiap para penjantan tangguh diluar sana. Dianter dengan pak min ke sekolah baruku. Hari ini adalah hari pertama aku MOS jadi aku harus berangkat lebih awal. Udara pagi menyapa tubuhku dalam perjalanan. Tas karungku melambai kena terpaan angin. Dan mulai menyibakan rokku yang pendek. Panitia yang gila pangilan kakak, mulai membentakku agar aku lekas masuk ke dalam sekolah itu. Aku mulai berlari. Tapi apa mau dikata aku emang udah telat koq. Disebelahku ada anak dengan rambut yang bikin bu lita menyukur habis rambutnya. Dengan santai dia mengisap amunisinya. Dia mulai melirikku. Dia menawariku amunisinya. Dengan otomatis aku menolaknya. Dia mulai kembali santai dengan amunisinya. Dan gak butuh waktu lama buat masukin dia dalam daftar orang terlarang buat aku deketin. “Monyet…!!!” panggil kak aflahal. Aku tau dia manggil pake nama papan. Dan aku mau liat siapa yang bakalan dikerjain abis-abisan ama kakak yang galak ini. Tapi kenapa semua pada ngeliatin aku yah? Dude sial sekali ternyata itu namaku sendiri.Dengan males aku berjalan kearah kak al. “kamu sebutin nama lengkap kamu?” ucap kak al. Aku meliriknya buat mastiin apa yang tadi dia tanyain. Dia bbalik menatapku. “ak..aku Karaya Dion AM.” Ucapku lancar. Huft…untung deh Cuma pertanyaan kaya gitu doang. “AM nya apa tuh?” Tanya kak diya panitia yang paling galak menurut temen-temen baruku. Ada sahutan lain dari jaman es di sudut lapangan. “anak monyet kali kak!” sahut cowo jelek dan dekil itu. Aku Cuma bisa diem aja. Buliran air mataku mungkin sudah sampai pos penjagaanku. Aku beranikan diri menjawab ocehan yang sama sekali tidak ada gunanya. “bu…bukan tapi alisya maharani kak.” Jawabku lancar. Alhamdullilah yah akhirnya lega juga. “emang kamu pikir kamu siapa seenaknya ngomong hah?” Tanya kang lucky kepada cowo tadi. Dan dalam sedetik pula aku mendengar tamparan kerasyang mendarat ke pipi cowo tadi. Cowo itu Cuma tenang dan diem aja. Mengelus pipinya yang kuning bersih tanpa jerawat. Dan dalam persekian detik aku menyaksikan tragedy berdarah saat itu juga. Aku hanya diam gak mampu buat melerai mereka berdua. Kakak yang ada disitu membawaku. Aku gak tau apa yang bakalan terjadi ama cowo itu.Setelah kejadian kemarin rasanya aku ingin sampai ke sekolah. Aku ingin tau cowo itu baik-baik aja atau gak. Meski burung hantu belum tidur aku udah mulai prepare. Ku turuni tangga kulihat ayah sibuk menyiapkan makananku. Setelah bunda meninggal ayah yang ngurusin semua yang aku butuhkan meski dia sibuk dengan pekerjaannya. Cepat-cepat aku lahap nasi goreng buatan mbok min. Ayah menatapku dengan kening mengkerut seperti buah persik menurut bunda. “kamu ayah anterin yah sayang?” Tanya ayah. Aku mengganguk otomatis. Ayah dan aku selalu bercerita karena kami tau gak ada waktu untuk sekedar berdua liburan. Setelah menjemput Debbie, kita semua ke sekolah. Disana ada kakak panitia yang sibuk nyiapin peserta MOP. Teman-teman ku yang lain sudah pada datang tapi hanya cowo itu yang aku cari. Batang jidatnya aja gak keliatan apalagi idungnya. Aku mulai mengikuti acara-acara MOS. Siangnya cowo itu juga belum ada. Aku juga udah Tanya ke kak al tapi tuh cowo botak binti nyebelin malah nyuruh aku ke lapangan yang katanya mau ada promo exskul atau apa lah. Aku, Debbie, dan ima lagi ngeliatin promo exskul gitu. Pas pencinta alam, aku ngeliat sosok yang aku cari. Ima dan Debbie menoleh padaku. “nah sekarang kita akan melakukan revling.” Ucap kak dilfi yang katanya ketua gitu. “yang akan melakukan revling adalah kak bumi.” Ucapnya lagi. Damn kena bom kaya tempat dudukku. Dude ternyata dia bukan satu kelas ama aku tapi dia itu kakak kelas aku. Kayanya mau deh masukin muka ke plastic. Huhuuu….malu kali aku ini.Bumi tersenyum samar. Dengan cekatan dia melakukan revling. Tapi aku gak peduli ama tuh cowo. Dengan muka merah merona karena malu aku berjalan lesu. Masuk ke dalem ruangan ngambil baju pramuka. Dengan gontai aku ikuti langkah kaki ima dan Debbie ke mushola buat ganti baju. Setelah ganti baju, aku bengong di teras mushola. Disemak deket mushola ada suara gemerisik. Lamunan ku hilang dalam sekejap. Aku mulai melangkah kea rah semak siapa tau ada negri dongeng di baliknya. Tapi yang aku liat Cuma cowo nyebelin tadi yang lagi ngisep amunisinya. Dia melirik ke arahku. Tapi sikapnya langsung berubah gak peduli lagi. Aku duduk disebelahnya. Aku mengamatinya dengan seksama. Dan dalam tempo sesingkat-singkatnya dia balik menatapku. “gue boleh minta amunisi lo gak? Gue pengen tau rasanya ngisep amunisi itu kaya gimana.” Sindirku. Dia menatap ku lagi. “kalo mau nyoba jangan di deket gue. Amunisi bokap lo aja ambil.” Ucapnya dengan perlahan beranjak dari tempatnya. Aku mengikutinya dengan pandangan. Dia menoleh kembali. “thanks yah udah khawatir ama gue dion.” Ucpanya datar. Dia melangkah jauh dan aku Cuma bisa liat punggungnya. Acara pramuka di mulai. Dari mulai permainan sandi, ampe acara seni yang diisi ama anak baru atau panitia.Selama acara berlangsung aku Coba buat ngelupain tuh cowo nyebelin. Debbie dan ima lagi sibuk ngeliat kak indra yang ganteng (menurut cewe yang laennya loh). Ada sosok yang mendekat ke kami. Dari reaksinya Debbie pasti yang dateng kak indra. Yups… benerkan kak indra mendekat. “dion yah? Boleh minta tolong ga?” Tanya kak indra. Aku melirik Debbie yang udah mau ngeces gitu. “minta tolong apa kak?” Tanyaku polos. “kasihin kue ini ke bumi yah. Dia lagi ulangtahun hari ini.” Ucapnya. Aku langsung minta pendapat ke Debbie dan bingungnya dia langsung mengganggukan kepalanya. “yah kak.” Jawabku sambil menerima kue yang mungil banget. Kayanya enak deh kuenya. Tiba-tiba aku denger suara petikan gitar dan suara indah dari cowo nyebelin itu. “ Tercipta Untukmu” nya ungu jadi lebih indah ditelingku. Tiba-tiba ada tangan yang kokoh mengulur di depan wajahku, aku mengapainya dan berdiri disebelah cowo yang nyebelin ini.“jangan terlalu percaya ama orang lain itu pasal pertama” bisiknya di telingku. Dan sejujurnya aku gak ngerti.“maksudnya?” Tanyaku. “gue ga ultah hari ini !” Jawab Bumi.“hah…” kataku kaget. Emang yah kalo cewe cantik itu jadi pusat perhatian tapi ga dikerjain juga kali pikirku.Tapi aku lebih kaget lagi cowo nyebelin ini malah ngasih aku kalung dari stik gitar. Dan mampu membuat anak-anak baru dan panitia bersorak ria melihat kemesraan gratis. Dan aku langsung dapat menyimpulkan bahwa dia bukan Cuma nyebelin tapi gila juga.Aku langsung kembali duduk setelah lagunya selesai. Malam makin larut dan kami langsung diwajibin buat tidur. Pas mau ke kamar mandi ditemenin ama ima juga Debbie. Aku ngeliat bumi berdiri di deket pintu. “buat lo.” Sambil ngasihin kue yang tadi. Dengan bengong aku menerimanya. Dia pergi ninggalin aku dan yang laennya. Diruangan aku mikirin sambil megang kalungnya. Dan ternyata mikirin dia bikin kantuk itu nyerang mataku. Paginya aku pulang dengan dijemput ama ayah. Huft…sambil baca buku aku mikirin bumi. Cowo aneh itu keren sih. Dan untungnya ayah ngajak aku pergi jalan-jalan dari pada bengong pentingan jalan-jalan kan.Sudah seminggu lebih aku sekolah. Tapi selama seminggu juga aku gak ngeliat cowo aneh itu. Aku menatap kalung dari bumi. Detik kemudian bel sekolah bunyi. Hari ini belajar udah efektif. Dan sekarang pelajaran seni music bu mitha ngajarin kita nyanyi gitu. Minggu kemaren udah di ajarin nyanyi ama bu mitha orangnya baik banget. Kami semua nunggu kedatengannya. Langkah sepatunya sampai ke depan kelas. Bu mitha dengan tenang masuk ke kelasku yang rame banget. Tapi dibelakangnya ada cowo tinggi yang aku kenal. Oh my god kak bumi koq ikut sih. Mulai saat ini aku mulai biasain diri buat manggil dia kakak. Meski nyebelin banget. Bumi dengan mukanya yang putih mulus bersih. Muncul di hadapanku. Tepatnya di hadapan kami. “maaf yah anak-anak hari ini ibu gak bisa ngajar dulu. Tapi kalian tenang aja ada kak bumi yang bakalan ngantiin ibu hari ini.” Dan selama pelajaran berlangsung perasaanku jadi berubah. Kagum,keren dan takjub jadi satu tentang dia. Dua minggu telah berlalu setelah kejadian bumi ngajar nyanyi di kelasku. Hari ini anak Pencinta alam mau ngadain pengenalan alam. Nah ima ngajak aku ama Debbie buat ikutan. Males sih udah ada cowo nyebelin itu. Dan aku juga denger kalo ima ama dia udah jadian gitu. Emang sih aku gak tau itu bener apa gak. Tapi akhirnya aku ikut aja. Pengen tau alam itu kaya mana. Seminggu kemudian Mereka semua siap-siap buat berangkat. Make truck yang agak kecil. Kita menuju ke Padarincang, disebuah curug. Aku, Debbie dan Ima berdiri dideket badan truck. Debbie dan Ima emang bisa liat pemandangan, tapi aku agak susah buat liat pemandangan karena aku lebih pendek daripada Ima yang tinggi dan langsing. Atau Debbie yang agak tambun tapi tetep tinggi. Sedangkan aku lebih pendek dan lebih kecil dari mereka. Ada sesuatu yang memohok kakinya. aku menoleh kebelakang. Siapa sih yang memohok kaki gue? Demen amat ama kaki gue. Ternyata Bumi berdiri dibelakangku. “dah lo naik ke kaki gue. Daripada jinjit gitu.” Ucap Bumi. “ga makasih.” Jawabku ketus. Turun gengsi dong harus berantem ama temen barunya Cuma gara-gara cowo gak banget. “dah lo naik ke kakinya Bumi aja. Makanya jangan kebanyakan minum susu jadi pendek kan.” Sahut Ima diikuti cekikikan dari Debbie dan Ima. Awas yah pulang ini gue cundacuki tar lo berdua. Dengan perlahan aku naik ke kaki Bumi. Aku bisa liat pemandangan dengan cara itu. Tapi aku juga bisa mencium wangi yang cowo banget dari badannya Bumi. Malahan aku dapet yang plus-plusnya. Yup bisa kelindung dengan pundak Bumi yang bidang banget. Suasana tambah jadi lebih indah dengan sunset didepan mata kami. Coba aja Bumi gak jadian ama Ima gue pasti dah deketin. Pikirku konyol. Hari udah agak lewat maghrib. Aku baru turun dari kaki Bumi. Aku menghadap kebelakang dan dapat menatap dada Bumi yang kayanya kuat banget. “hmm…sorri lo pasti cape. Lo mau duduk.?” Tanyaku sambil mempersilahkan Bumi duduk disamping Ima. Tanpa jawaban Bumi udah duduk dideket Ima. Dan dengan hati-hati aku juga duduk dideket Bumi. Aku bisa liat Bumi memegang tangan Ima. Aduh…bikin hati hancur lagi. Kayanya sekarang lagunya olga yang “hancur hatiku” udah bergema ditelinga ini. Aku hanya menunduk. Ampe tidur. Dan gak sadar kepalanya udah nyender dipundak Bumi. Bumi hanya membenarkan kepalaku pada pundaknya. Kak Dilfi berjalan mendekati Bumi dan memberikan Bumi minuman mineral. Kak Dilfi cuma senyum dan menyentuh tangan Ima dan Ima dengan gerakan cepat membuka mata, Ima cuma senyum canda pas ke bumi. Truck berhenti pas bedug isya baru aja selesai. Aku terbangun dan menatap Bumi malu-malu saat mengetahui posisinya. Bumi mengajakku turun. Kak dilfi bikin barisan karena kita udah pada mau berangkat. Aku berdiri di tengah antara ima dan Debbie. Beberapa kali Bumi lewat disampingku. Tapi aku BT ama Bumi. Tadi aja dia manis sekarang dia emang manis tapi malah ngisep amunisinya tanpa dosa dihadapan wajah manisku ini. Aku mulai ada niat buat istirahat meski aku tau kalo Debbie ama Ima udah jauh. Aku mulai ngincer batu yang ada dihadapanku.Aku mulai jalan buru-buru tapi untung tak dapatku raih. Kakiku nyandung batu aku mulai semponyongan badanku oleng kearah jurang dan mulai menggelinding. Bumi yang melihatnya langsung turun ke jurang pake modal nekat. Bumi gak bisa jaga keseimbangannya badannya juga oleng, Bumi tergelincir dan mulai menggelinding kearah sungai. Dipinggir sungai kepala Bumi kebentur ama batu. Bumi ampe gak sadarkan diri. Sedangkan aku mulai ngerasain perutku penuh air. Dan untungnya ada batu besar yang menahanku. Tapi aku udah gak sadar. Bumi mulai sadar dari pingsannya. Bumi memegang kepalanya ada sedikit darah yang mengucur, tapi darahnya udah beku karena hawa dingin yang ada. Bumi mulai menyisiri sungai. Meski jalannya tertatih-tatih Bumi tetep nekat buat nyari aku. Bumi menginjak sarung tangan yang dipake aku tadi. Bumi langsung mencariku disekitarnya. Bumi langsung kaget pas liat aku ngambang diantara batu sungai yang gede banget. Bumi langsung nyebur dan jalan didalam sungai buat nyampe dibatu. Ampe akhirnya Bumi nyampe ke batu itu. Tangannya mengenggam erat tanganku.“Dion bangun…bangun ion….” Ucap Bumi berusaha menyadarkanku dari pingsan. “buka mata lo ion…bangun please…bangun ion.” Ucapnya lagi. Ampe akhirnya aku mulai membuka mataku pelan-pelan. Aku menatap Bumi dengan tatapan yang haru. Bumi menggendongku ke pinggir sungai. Aku Cuma bisa pasrah saat Bumi menggendong tubuhku yang mungil. Bumi menyiapkan api untukku dan dia. Bumi gak ngijinin aku buat bantuin dia. Aku menatapnya. “kenapa?” Tanyanya singkat. Aku hanya menggeleng otomatis.“makasih yah udah nolongin gue” ucapku padanya. Dia hanya mengangguk pelan. “kalungnya masih lo pake kan?” Tanyanya spontan. Aku langsung meraba leherku dan aku baru tau kalo kalung itu udah gak ada di tempatnya. Aku memandang sedih bumi. Bumi senyum. Senumnya keren banget.“udah gak papa tar gue bikini lagi” ucapnya macho. “gak…gak usah gue takut ima tar marah” jawabku tanpa pikir panjang. “kenapa adik gue kudu marah?” tanyanya. Oh my god ternyata ima bukan pacarnya. “bukan pacar lo yah.?” Tanyaku. Dia menggeleng dengan senyuman. Siang makin beranjak bumi mengendongku sampai ke pasar. Aduh dapet bagian lagi deh. “lo tau gak kenapa gue selalu seneng di alam?” tanyanya. Aku menggeleng. “karena alam selalu ngajarin music yang indah setiap ketemu gue.” Jawabnya. “emang bumi bisa nyanyi?” tanyaku polos. “bumi yang mana? Kalo gue mah kayanya bisa tapi lebih hebat nyanyiannya bumi alam.” jawabnya. Gak kerasa aku makin memeluknya dengan erat. Udah nyampe dipasar kita nyari mobil tumpangan. Untungnya kita dapet mobil nyampe ke cilegon. Aku duduk disebelah bumi. Lama-lama ngantuk juga. Ada tangan yang menyentuh badanku. Aku memang panas tinggi dan saat itu juga bumi bawa aku ke rumah sakit. Dia juga gak lupa buat ngasih info ke ayah ama pak andrian tentang keadaan kami. Ayah khawatir banget.Mentari menyapa bumi. Memberi kehangatan pada kami. Aku mulai membuka mata. Kulihat bumi terlelap disampingku. Aku menyentuh tangannya. Dia terbangun. Dia menatapku dengan rasa syukur. “cepet sembuh yah.” Ucapnya. Aku langsung menggeleng. Tubuhku bergetar karena satu rasa yang hangat. “gak mau.” Ucapku dengan senyuman penuh arti. “koq gitu?” tanyanya gak ngerti. “aku baru mau sembuh kalo kamu mau jadiin aku nada dalam simphoni nya bumi.” Bumi tersenyum tenang dan tangannya menyentuh keningku.Dengarkan setiap nada dari alamDan saat itu juga manusia Tau cara menyayangi alam.Jangan lagi rusak alam kami.Penulis : Riani Dian AlmaidaAlamat : Jln Ir sutami No. 02 Kec. Citangkil, Cilegon, Banten.Tanggal Lahir : Serang,14 juni 1995No.Tlp : 087808339649Email : dianayi@rocketmail.comStatus : PelajarSekolah : SMKN 1 CilegonHobi : Baca buku cerita apa aja,traveling, makan dan dengerin music pastinya.Cita-cita : Masuk sekolah Perfilman dan jadi penulis naskah sekaligus sutradara hebat amin

  • Cerpen Remaja The Prince ~ 04 Update

    Credit gambar : Ana merya"Hai, kok bengong?".Kevin menoleh, Seulas senyum tersunging di bibirnya begitu melihat sosok andre yang menepuk pundaknya sekaligus menyadarkan ia dari keasikan baca buku. Ralat, melamun tepatnya. Karena buku yang ada di tangannya hanya sekedar aksesoris belaka."Eh elo. Nggak kok. Gue kan lagi baca" kilah Kevin sambil menunjuk kan buku yang ada di tangganya. Tapi justrU Andre tertawa menanggapinya."Loe baca buku?. yang benar saja. Keajaiban dunia tu namanya. Kenapa?. Mau nyaingin pulau komodo?. ha ha ha" kata andre tertawa meledek.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*