Cerpen cinta Tantang Aku dan Dia part 6 {Update}

Next to part 6 Cerpen cinta tentang aku dan dia. Acara edit mengedit kan baru bisa selesai di part ending. So lanjut aja deh…
Tetep "alon alon asal kelakon". XD
Oh ya, yang belum baca part sebelumnya bisa baca dulu gih di cerpen romantis tentang aku dan dia part 5.

Credit gambar : Ana Merya
“Lho Gres, Loe mau kemana?” Tanya Arga heran.
“Ya mau pulang donk” Sahut gresia cuek sambil terus melangkah.
"Kan dari kemaren gue udah bilang, loe kalau pulang dan pergi harus bareng sama gue" Ujar Arga sambil berusaha mensejajarkan langkahnya.
"Ogah".
"Harus" Arga Tidak mau kalah.
"Ye…. kok gitu?. Mang kenapa?".
"Karena loe pacar gue. Apa harus gue tulis di jidat loe biar leo inget".
"Astafirullahal'azim. Please donk ga, gue itu bukan pacar loe".
"Terserah apa kata loe deh. Yang jelas menurut gue, loe itu pacar gue sekarang. Seenggaknya sampai satu bulan kedepan.Terlepas dari kata cinta atau enggak. Ya udah jangan banyak protes. Mending loe ikut gue sekarang?".
HA?. emangnnya kita mau kemana?".
"Hari ini gue ikut pertandiangan sepak bola. Jadi loe harus nonton. Lagian loe gitu aja harus di kasih tau. Padahal hampir semua anak sekolah juga udah pada ngerti. Bener – bener pacar yang nggak pengertian deh".
"Gue bukan Pacar loe" Tandas Gresia cepat.
"Whatever…" Tanpa basa basi Arga langsung mengiringnya masuk ke dalam mobil.
Cerpen cinta Tantang Aku dan Dia
Suasana Pertandingan benar – benar ramai. Penontonnya membludak.Membuat Gresia kesel. Secara dia yang notebane nya seorang yang anti buat nonton bola di paksa duduk bertahan selama 90 menit hanya untuk memperhatikan orang – orang yang menurutnya bodoh karena memperebutkan sebiji bola, sementara begitu dapat eh malah di tendang. Dasar orang kurang kerjaan batinnya.Padahal kalau mau di pasar juga banyak (????)…..
Sisa waktu pertandingan hanya tinggal 3 menit sementara kedudukan masih sama. Dan tampak lah Arga yang kebetulan sedang mengiring bola berusaha mencetak gol. Semua nya berusaha menyaksikan dengan hati berdebar – debar dan penuh harap. Sampai kemudian Arga sudah hampir tiba di depan gawang dan siap mengambil ancang – ancang untuk menendangnya sekuat tenaga. Bisa di pastikan 90% kali ini pasti gol.
1
2
3
Dan….
Gubrak *anggap aja bunyi nya gitu*
Semuanya shok, kaget, Panik begitu melihat apa yang terjadi. Disana, Arga sukses…*'Eits, jangan salah, bukan sukses goalnya ya*. Di ulang, Disana Arga sukses tergeletak pingsan alias tidak sadarkan diri.Why?…. gitu lah kira – kira pertannyaannya.
Tanpa ba bi bu, Semuannya berhamburan untuk membantu . Membawanya keruang UKS Sekolah.
Begitu membuka mata, Gresia adalah orang pertama yang Arga lihat, Baru nyusul wajah teman- tamnnya yang lain. Yah walau pun tampang tu anak, Ehem, nyeremin. Ada rasa Marah, kesel, khawatir, bingung jadi satu. Tapi juga ada raut lega disana.
"Arga, Syukurlah loe sadar juga" Kata Kevin lega.
"Emang nya gue kenapa?" Tanya Arga.
"Loe tu tadi pingsan. Makanya langsung kita bawa ke sini" sahut Andre.
Arga mencoba menginggat – ingat apa yang terjadi.
"Duh sory ya, Karena udah bikin kalian khawatir" Ujang Aarga dengan tampang bersalah.
"Nyantai aja lagi. Yang penting loe kan gak papa".
"Terus bagai mana dengan pertandingannya?" tanya Arga kemudian.
"Nggak usah di pikirin. Itu kan cuma pertandiangan persahabatan biasa. Mo ada yang menang atau kalah juga nggak ngaruh. Yang kita khawatirin itu loe, kenapa bisa tiba – tiba pinsan gitu?".
"Oh itu, Gue juga nggak tau. Beberapa hari ini kepala gue emang sering sakti".
"Udah loe cek ke dokter?" tanya Aldo lagi. Sementara Gresia hanya diam saja.
"Belom sih. Lagian gue pikir palingan cuma sakit kepala biasa".
"Ya jangan gitu donk. Mending loe cek ke rumah sakit kali aja ada apa-apanya" Saran Kevi.
"Hem, Ya deh besok".
"Oh ya, kita pamit dulu ya. Lagian loe kan udah ada Gresia yang jagain. Kita masih ada urusan yang harus di selesaikan" Ujar Aldo beberapa saat kemudian.
"O… silahkan. Ma kasih ya,Maaf udah ngerepoti".
"Santai aja men. Yuk gres" Pamit Kevin, Gresia hanya mengangguk kikuk.
"Dasar Payah" Gumam Gresia lirih setelah semuanya pergi.
"Loe ngomongin gue?" tanya Arga heran.
"Siapa lagi. Masa gitu aja pingsan. Mana timing nya nggak pas banget lagi. Padahal tadi kan kita udah hampir menang. Dikit lagi… Tapi loe nggak seru baget. Kan jadi sia – sia gue nonton".
"Leo kok gitu si?. Sebagai pacar Harusnya itu loe ngehawatirin gue, bukannya malah nyalahin" Protes Arga.
"Gue bukan…".
"Pulang yuks" Potong Arga Sebelum Gresia sempat menyelesaikan ucapannya.
Soalnya ia sudah bisa menebak apa yang akan keluar dari mulut gadis di depannya itu.
"Sekarang?" tanya Gresia.
"Memang nya loe betah di sini?".
"Bukan gitu. Loe yakin udah baikan?" Tanya Gresia tanpak khawatir.
"Ehem, Loe khawatir sama gue ya?. Atau jangan – jangan loe udah mulai cinta lagi" Arga balik bertanya dengan nada meledek.
"Ih amit – amit deh. Siapa juga yang ngehawatirin loe" Bantah Gresia cepat.
"Terus….?".
"Kalau loe pingsan lagi kan bakal gue ya repot".
"Gitu ya?… heh, Sepertinya loe benar- benar tidak menghawatirkan gue sama sekali" Ujar Arga dengan raut wajah kecewa, dan entah mengapa hal ini membuat Gresia merasa tidak enak.
"Ehm… Gimana jadi pulang nggak nie?" Tanya Gresia berusaha mengalihkan perhatian sambil beranjak dari tempat duduknya.
Refleks Gresia segera menahan tubuh Arga yang oleng *????* saat berusaha berdiri.
"Loe yakin loe baik – baik aja?".
"Tuh kan loe khawatir. Lagian kalau gue beneran sakit, kan ada loe yang jagain".
"Please deh ga, Gue serius nie".
"Udah tenang aja. Gue baik – baik aja kok " Balas Arga Sambil tersenyum.
"Sukurlah kalau emang kayak gitu. Tapi Mana kunci mobil nya. Biar gue yang nyetir".
"Biar Gue aja. Lagian gue baik – baik aja kok" tolak Arga.
"Gue Belom mau mati muda. Apalagi bareng sama loe. Kalau loe yang mati duluan si terserah. Jangan ngajak – ngajak gue" Kata Gresia sambil mengulurkan tangannya.
"Ah, Bahasa loe nggak ngenakin banget si di denger. Kesannya kaya ngarepin banget gue mati" Gerut Arga.
"Emang. Loe kan nyusahin gue banget" Balas Gresia cuek yang membuat Arga makin cemberut. Tapi tak urung di berikannya juga kunci mobil pada Gresia. Ia yakin sebenernya gresia juga menghawatikannya hanya saja ia gengsi untuk mengakui.
Cerpen cinta Tantang Aku dan Dia
Pendek????????…………..
Sangat!!!!!!…..
Sebenernya aku nggak niat bikin cerpen pendek – pendek kayak gini. Tapi mau gi mana lagi.
Ini benar – benar karena keterbatasan waktu. Jadi harap maklum aja ya.
For next bisa langsung di baca di cerpen tentang aku dan dia part 7.

Random Posts

  • Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 03

    Lanjut nulis cerpen lagi ah. Abis liad arsip disamping, kemunduran nulisnya keliatan banget. Ck ck ck. Nah, kali ini yang muncul lanjutan Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E aja ya. Kita masuk ke part 3 pula. Soalnya untuk cerpen kenalkan aku pada cinta lagi proses pengetikan. Yah, ide emang lagi mahal nih kayaknya. Susah banget di cari. Ciusss deh.So buat temen temen yang mau baca lanjutannya, monggo silahkan langsung aja. And biar nggak bingung bisa di baca part sebelumnya dalam cerpen terbaru Si Ai En Ti E part 2. Oke? Cekidot….Cerpen Terbaru Si Ai En Ti ETawa Malvin langsung lenyap. Digantikan tampang yang sulit untuk di gambarkan. Kaget juga, terkejut itu pasti. Namun tak urung ia juga merasa lega sekaligus senang saat mendapati kalau Grescy yang baru saja menyapannya. Emp, yang barusan bisa di sebut kalimat sapaan kan?“Eh, ada Grescy. Kok loe bisa ada disini?” Acha yang terlebih dahulu buka mulut. Sedikit merasa tak enak saat mendapati wajah marah pada gadis yang berdiri di hadapannya. Ya ampun, ada apa lagi ini?sebagian

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 06 / 13

    Lanjutan dari cerpen cinta Kala Cinta Menyapa bagian ke 6 udah muncul ya guys. So buat yang masih penasaran dengan kalanjutan hubungan antara Rani dan Erwin bisa langsung simak kisahnya di bawah. Sama sekalian, buat reader baru biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading ya. Jangan lupa RCL…Sambil menunggu bus tumpangannya muncul, seperti biasa Rani segera mengeluarkan komik dari dalam tas. Siap – siap untuk terjun kedunia animasi ketika sebuah suara yang menyapa mengusik ketenangannya. “Ehem.”“Eh,” Rani menoleh, mendapati Erwin yang kini duduk tepat disampingnya. Untuk sejenak Rani terdiam, perhatiannya terjurus kearah Erwin yang juga diam. “Loe mau kemana?” tanya Rani memberanikan diri untuk bertanya.“Pulang,” balas Erwin singkat.“Kok di sini?” tanya Rani lagi.“Nggak liat apa gue lagi nungguin bus,” tambah Erwin masih tak menoleh.“Bukannya biasanya pake motor ya?”“Rusak."Rani terdiam sambil mengangguk – angguk paham. Perhatiannya segera beralih kembali kearah komik yang tadi sempat terabaikan. Sepuluh menit berlalu suasana hening. Sepertinya Rani juga sudah tengelam dalam dunia barunya.“Jadi loe juga suka sama dia?”“Ha ha ha."Erwin menoleh. Menatap kearah Rani dengan pandangan aneh, memangnya pertanyaannya barusan itu lucu ya? Namun saat mendapati Rani yang sama sekali tak menoleh kearahnya dan justru malah asik membolak balik lembar demi lembar komik yang ada di tangan, barulah ia menyadari kalau gadis itu bukan menertawakan ucapannya.“Loe dengar pertanyaan gue barusan kan?” tambah Erwin lagi. Rani masih tak menoleh.“Rani, gue ngomong sama loe,” sambung Erwin lebih keras.“Eh… Kenapa?” tanya Rani heran. Matanya yang bening tampak berkedap kedip menatap kearah Erwin.“Sudahlah… lupakan…” kesel Erwin mengibaskan tangannya. Membuat Rani memberenggut sebel. Merasa kesel karena aktifitas membacanya diganggu oleh sesuatu yang sama sekali nggak penting.“Jadi loe benar – benar di tolak. Ck, Kesian sekali."Rani menutup komik yang ada di tangan. Perhatiannya kembali teralih kearah Erwin.“Loe sebenernya ngomong sama siapa si?” tanya Rani setelah sebelumnya menoleh kesekeliling dan menyadari kalau hanya ada ia berdua yang duduk di halte.“Memangnya di sini ada siapa lagi?” bukannya menjawab Erwin malah balik bertanya.“Nah justru itu yang bikin gue heran. Disini kan cuma ada kita berdua. La Loe ngomong sama siapa?” “Tentu saja gue ngomong sama loe,” geram Erwin. Terlebih ketika dengan jelas ia melihat raut heran tergambar di wajah Rani. Jangan bilang kalau gadis itu benar-benar tidak menyadari keberadaan dirinya.“O…" kepala Rani mengangguk angguk yang nggak jelas apa maknanya. “Memangnya loe mau ngomong apaan?” sambungnya lagi.“Ha…” Erwin melongo mendapati tatapan polos Rani padanya. Asli, sedari tadi gadis itu ternyata benar benar tidak menganggap keberadaan dirinya.“Kalau nggak salah denger tadi loe bilang suka sama di tolak. Memangnya loe abis di tolak cewek ya? Ck ck ck, kesian banget loe ya,” sambung Rani sambil menatap Erwin dengan tampang memelas. Benar – benar membuat Erwin asli mati gaya. Yang di tolak siapa, yang di kasiani siapa.“Jangan tatap gue seperti itu,” kesel Erwin.“Tapi loe kan pantas di kasiani. Bayangin aja, di tolak oleh orang yang kita sukai. Tentu saja itu menyedihkan. Temen gue, si Irma. Belum di tolak si, tapi gue tau kalau dia itu mencintai seseorang secara diam – diam aja terlihat menyedihkan. La apa lagi elo,” terang Rani sambil menerawang jauh.“Eh yang bilang gue di tolak siapa?”“Lho emangnya enggak. La terus kita ngomongin siapa donk?” tanya Rani bingung.“Kita kan lagi ngomongin elo”."“Gue?” tunjuk Rani kearah dirinya sendiri, Erwin hanya mencibir sinis kearahnya.“Memangnya gue di tolak sama siapa?” sambung Rani sambil mencoba mengingat – ingat. “Situ yang di tolak, kok situ yang nanya,” gumam Erwin lirih namun masih mampu Rani tanggkap. Membuat gadis itu memicingkan mata menatapnya.“Kenapa loe malah menatap gue seperti itu si?” tanya Erwin risih.“Cek cek cek, loe cowok kok demen gosip.".“Ha?” Erwin melongo mendengarnya. Dia? Mengosip? Astaga, yang benar saja.“Menyebarkan kabar yang jelas – jelas gak bener kalau bukan gosip apa donk?" sambung Rani lagi.Erwin menghela nafas. Sepertinya ada yang salah dengan gadis disampingnya. “Gue nggak ngosip. Tapi tadi gue memang liat sendiri dengan mata kepala gue kalau loe di tolak sama siapa tu namanya, Rei? Cih, kayak nggak ada cowok laen aja."“Tuh kan ngosip lagi. Kapan juga gue di tolak sama si Rei?" bantah Rani tak terima.“Nggak usah di tutupin lagi. Gue juga sudah tau kok."“Loe nggak tau tapi sok tau. Sama nyebar gosip juga," kali ini Rani membalas sewot.“Apa loe bilang. Gue nyebar gosip? Enak aja. Tadi itu gue emang liat loe yang sedang memberikan kado kearah Rei. Tapi di tolak. Gue juga sempat melihat raut kesel di wajah loe. Terus loe mau ngelak apa lagi,” terang Erwin antusias.Kali ini Rani tidak langsung membalas. Mencoba untuk mengingat – ingat maksud ucapan Erwin. “oh, maksut loe ini?” tanya Rani sambil menunjukan bungkusan kado di sampingnya. Melihat itu Erwin langsung mengangguk membenarkan.“Huwahahahaha."Erwin melongo menatap Rani yang tertawa lepas. Memangnnya ada yang lucu ya?.“Ya ela. Makanya jadi orang jangan suka seuzon sama orang. Udah lah salah, ngotot lagi. Sifat copaser kok di tiru (???),” tuding Rani sok berfilasafat. “Tapi…" Rani tampak berpikir baru kemudian melanjutkan ucapanya. "Kalau di pikir – pikir tadi itu gue emang di tolak si,” sambung Rani setelah terdiam untuk beberapa saat. Kalimat itu tak urung membuat Erwin benar – benar berniat untuk langsung menjitak kepalanya.“Gue juga heran, padahal gue tadi Cuma mau nitip nie kado buat ulang tahun Irma, tapi kok Rei gak mau ya?” gumam Rani lagi.“Tunggu dulu” Potong Erwin. “Kado buat irma? Maksutnya?”“Iya. Hari ini kan Irma ulang tahun. Tapi dia malah sakit. Jadi gue nggak bisa langsung ngasi kado ini ke dia. Nah, karena gue tau tu anak deket sama Irma makanya rencanannya gue mau nitip aja. Eh malah di tolak sama dia."“Jadi maksut loe itu kado buat Irma?” Erwin mencoba menegaskan dugaannya.“Ya iya lah. Masa ia ini kado buat si Rei. Emang dia siapa gue?” balas Rani. Erwin tampak mengangguk – angguk membenarkan.“Tapi yang gue heran, ini kan gak ada hubungannya sama loe. Kok loe tertarik pengen tau si?. Jangan – jangan loe naksir sama gue lagi."“Sembarangan” Damprat Erwin sewot.“La terus?. Atau jangan – jangan…”“Jangan – jangan kenapa?” tanya Erwin antusias saat melihat Rani yang terlihat mengantungkan ucapannya.“Jangan – jangan bener lagi loe emang rencana pengen nyebar gosip,” tuduh Rani langsung.“Pletak."Kali ini Erwin tidak mampu menahan tangannya untuk tidak mendaratkan jitakan di kepala Rani atas tebakan ngawurnya.“Bukannya yang demen nyebar gosip itu elo ya?” cibir Erwin sinis.“Gue?” tunjuk Rani ke arah wajahnya sendiri. Lagi – lagi Erwin membalas dengan tatapan sinis.“O maksutnya masalah gosip yang katanya loe jatuh dalam got itu ya?”“Ya maaf, suwer itu bukan kerjaan gue. Itu kerjaannya si Irma. Dia emang demen ngesosip. Secara loe tau nggak. Dia kan udah kadung mendapat julukan ‘Penasaran girl’. Jadi kalau ada apa – apa pasti bawaannya pengen tau aja. ck ck ck… Benar – benar ember bocor kayaknya,” terang Rani geleng – geleng kepala.“Tapi tu anak nggak mungkin tau dan nyebarin gosip yang enggak – enggak kalau bukan karena loe."“Yee… kok jadi gue si yang salah?” Rani tidak terima.“Terus kalau nggak dia tau dari mana coba?”“Terus gue harus bilang ‘WOW’ gitu,” tanya Rani ikut – ikutan sok pake bahasa yang memang lagi ngetrend. “Salah… Maksut gue, ini kan emang salah loe. Siapa suruh jatuh dalam got,” balas Rani balik.Mendengar kalimat yang di ucapkan dengan santai oleh Rani barusan sontak membuat Erwin langsung melemparkan tatapan tajam kearahnya. Tapi yang di tatap cuek bebek saja. Bersikap seolah – olah tiada kejadian. Sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun. Dan belum sempat mulutnya terbuka untuk membalas, Rani sudah terlebih dahulu bangit berdiri. Ternyata bus yang sedari tadi mereka tunggu kini telah tiba di hadapannya. Dan tanpa sepatah katapun gadis itu segera melangkah masuk kedalam. Meninggalkan Erwin terpaku dengan tampang cengonya. Bahkan tak memberi kesempatan sedikitpun untuk Erwin menyadari bahwa bus yang sedari tadi ditunggu sudah mulai berlalu meninggalkannya.Cerpen Kala Cinta MenyapaSuara berisik dari ruang tengah menyadarkan Erwin dari tidur siangnnya. Dengan ogah – ogahan ia melangkah keluar. Untuk mengecek ada apa gerangan. Keningnya sedikit berkerut saat mendapati mamanya yang duduk dengan kaki di perban, sementara tepat di hadapannya tampak siluet seseorang yang berdiri dihadapannya. Tanpa sempat berfikir siapa orang tersebut Erwin segera menghambur menghampiri.“Mama kenapa?” tanya Erwin langsung. Dari nadanya bertanya jelas ia merasa khawatir.“Oh, mama nggak kenapa-napa kok. hanya tadi sempat terserempet mobil,” terang sang mama mencoba tersenyum.“Hanya kok sampai di perban gini? Gimana ceritanya?” Erwin masih terlihat panik.“Tapi ini sudah mendingan kok. Sudah di bawa kedokter juga. Tadi itu mama memang kurang hati – hati saat menyeberang, terus ada mobil yang juga sedang melaju kencang. Akhirnya keserempet deh. Untung saja ada Rani yang bantuin mama,” terang mama lagi sambil menujuk sosok yang berada tepat di hadapannya. Dan pada saat itu lah Erwin kembali menyadari kalau masih ada orang lain di antara mereka.“Rani?” gumam Erwin setengah tak percaya.“Erwin?” sosok yang di panggil Rani juga terlihat heran plus kaget.“Loe ngapain ada disini?” tanya mereka secara bersamaan.“Lho kalian sudah saling kenal?” Mama ikut – ikutan heran. Untuk sejenak suasana hening sampai kemudian Erwin mengangguk membenarkan.“Dia temen kampus Erwin, ma."“Oh, benarkah? Wah kebetulan sekali,” ujar mama terlihat gembira. Rani hanya menunduk sambil tersenyum kaku. “Maaf tante. Tapi sebenarnya Rani masih ada urusan. Nah karena tante juga sudah sampai dirumah dengan selamat, jadi Rani mau permisi dulu."“Kenapa buru – buru sekali. Tunggu sebentar, biar bik Inah membuatkan minuman untuk mu dulu."“Nggak usah tante, lain kali saja. Soalnya Rani beneran harus pulang sekarang. Rani tadi juga di suruh membeli barang sama mama. Jadi saat ini pasti sudah di tungguin dirumah."“Baiklah kalau begitu. Maaf ya sudah merepotkanmu. Dan sekali lagi terima kasih karena sudah bantuin tante."“Nggak papa kok tante. Rani permisi dulu,” pamit Rani sambil tersenyum tulus.“Tunggu dulu, kalau gitu biar Erwin yang mengantar kamu."“Apa? Oh nggak usah tante. Ngerepotin aja. lagian Rani bisa pulang sendiri kok,” tolak Rani cepat. Erwin juga terlihat menatap mama nya dengan tatapan memprotes.“Sudahlah. Nggak papa. Nggak repot sama sekali kok,” balas Mama Erwin sambil tersenyum. “Lagi pula Erwin juga sama sekali tidak keberatan. Kan kalian juga sudah saling kenal. Iya kan?”Erwin terpaksa mengangguk membenarkan sambil mencoba tersenyum paksa.“Ayo Rani, gue antar loe,” ajak Erwin sambil melangkah keluar. Tak lupa disambarnya kunci motor diatas meja.Mau tak mau Rani mengangguk membenarkan. Setelah terlebih dahulu pamit pada mama Erwin Rani melangkah keluar. Mengikutin Erwin yang sudah berjalan duluan.Next to Kala Cinta Menyapa Part 7Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.701 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen Lucu: Pelet Tu In Wan

    Pelet Tu in Wanoleh Andri RuslyLebaran sebentar lagi. Tapi Andre belum juga punya cewek. Aduh, padahal udah tiga kali Lebaran. Hampir semua resep udah Andre coba tapi hasilnya…..tetep gak punya cewek. Sampe Didot datang memberikan strategi buat gaet cewek. Dikasihnya Andre Pengasih 2 in 1 alias Pelet. Wah, aromanya menyengat hidung. Melebihi minyak wangi murahan. Tapi daripada Lebaran manyun mendingan usaha dulu deh. Kebetulan banget Andre sedang mengincar Tiara. Siapa tau dia yang nyantol. Ih, malangnya nasib Andre. Akhirnya Andre terima juga Pengasih-nya Didot yang pake 2 in 1 segala.“Koq pake 2 in 1 segala Dot, maksudnya apa?” tanya Andre“Maksudnya elu bisa dapetin cewek 2 orang dalam 1 langkah. Hehehe…, hebat kan Pelet gue?”“Wah, hebat banget Dot, jadi gue bisa dapetin 2 cewek sekaligus dalam satu langkah?”“Iya, Ndre, dan elu gak bakal jomblo lagi seumur hidup elu…hahaha…”“Brengsek lu Dot! Masak musti seumur hidup gue gak punya cewek. Lebay!”Dan malam itu. Andre sengaja gak tidur meskipun matanya dah mau copot dan berair tetep ditahannya. Demi cewek idamannya, Tiara. Dan waktu yang dinantinya segera tiba. Tepat jam nol nol Andre mulai beraksi. Harus berhasil usaha yang satu ini. Malu dong ma Nino anak kemarin sore dah punya pacar. Wah, mau ditaruh dimana muka Andre….(tuh di pojok lemari aja, Ndre !hehehe…).Langsung Andre praktekin pa-pa yang diajarkan ma Didot. Suruh ini-itu dilakuinnya sampe-sampe Andre disuruh telanjang bulat alias bugil!. Tapi tetap dilakukannya juga. Suasana kamar gelap gulita. Tengok sana tengok sini….gak ada orang. Oke saja dimulailah Andre semedi sambil komat-kamit baca mantera. Wah, aroma rokok kemenyan menyebar keseluruh ruang kamarnya. Semedi sudah berjalan 15 menit sementara rokok kemenyan habis 3 batang tapi badan Andre sudah menggigil. “Hiiiy dinginnya” bisik hati Andre. Baru kali ini Andre gak pake selembar benangpun. (Wah, kalo ketauan FPI bisa dipancung tuh Andre, terbukti pornografi dan porno aksi).Tapi di tengah semedinya ada saja gangguan. Andre kepingin pipis. Aduh, Andre… terpaksa deh ia menunduk-nunduk pelan-pelan keluar kamar. Telanjang bulat…. (Ihh… malu…diliat pembaca tuh). Soalnya tanggung mau pakai baju. Tiba-tiba terdengar suara, “Klotek!”“Hah, suara apa itu?” bisik hati Andre. Tapi Andre terus aja ke kamar mandi untuk pipis. Dan yang ini suaranya melebihi yang tadi. Lebih kencang dan bisa membuat seluruh penduduk dunia terbangun.“Aaaa…..!” suara jeritan seorang perempuan sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.“Gila, bi Inah yang keluar dari kamar mandi. Gawat nih!” Andre kebingungan. Buru-buru Andre berlari masuk kamar mumpung orang rumah belum pada bangun dan langsung berpakaian terus keluar kamar.“Ada apa sih kok malam-malam teriak-teriakan?” tanya Andre berpura-pura. Dikedipinnya bi Inanh. Dan terpaksa juga isi dompet keluar supaya bi Inah gak buka mulut.“Itu …anu…..tadi ada tikus lewat …” kata bi Inah tergagap sambil melirik kearah Andre.“Oo….cuma tikus…..” jawab orang tua Andre yang terbangun karena kaget mendengar suara jeritan bi Inah lalu melangkah kembali ke kamarnya.“Wah, bisa gagal nih misi gue ngedapetin Tiara” bisik Andre dalam hati. “Masak gue gak punya cewek lagi nih di Lebaran nanti. Tapi moga-moga semedi yang dah berjalan setengah tadi bisa ampuh” Andre berharap.Esokan harinya Andre dah Dress for Success. Bolehlah penampilan. Wajah baru. Tapi cewek belum punya (hihihi…hari gini…). Ia langsung menuju ke rumah Tiara. Tapi yang dicari gak ada di tempat. Jangan-jangan pulang ke kampung tuh anak. Andre mencoba nongkrong di Kota Tua. Kali aja Tiara ada di situ. Soalnya itu tempat favoritnya Tiara. Sambil menunggu Tiara dia coba-coba dengan beberapa cewek yang kebetulan melintas atau duduk sendirian. Tapi gak ampuh. Atau karena baru semedi setengah jalan jadi gak ampuh? Uh, Andre pusing dibuatnya. Tambah lagi Tiara gak ada disitu. Kemudian dicobanya kembali kali ini Andre berpindah tempat. Ia ke arah Monas. Ah, cape juga rupanya. Andre beristirahat. Hari sudah semakin sore. Dalam istirahatnya mata Andre menangkap sosok cewek duduk sendirian di kursi taman.“Wah, ada cewek duduk sendirian tuh, mudah-mudahan berhasil” Andre bangkit dari duduknya. Dihampirinya. Dilihat dari belakang tuh cewek sudah tampak anggun. Rambutnya panjang. Roknya mini (hmm…sambil nelan ludah…glek!). Kulitnya putih mulus. Hmm….bikin Andre makin penasaran saja.Kemudian dimulailah aksi Andre. Dengan membaca mantera aneh yang diajarkan Didot sambil matanya tertuju ke cewek tersebut. Itu yang diajarkan Didot. Dan benar gak lama kemudian tuh cewek menoleh kearah Andre. Dada Andre berdebar kencang. Ternyata ampuh. Cewek itu mendekat sambil tersenyum, tapi Andre kaget waktu dilihatnya ada jakun besar bertengger gagah di leher tuh cewek.“Hah, Waria..!” jerit Andre sambil mempersiapkan langkah seribunya Andre menepis tangan si waria.“Hai cowok…kamu ganteng banget. Sendirian …?” kata si waria. Andre langsung berlari tunggang langgang secepat kilat. Huh, mandi keringat lebih bagus daripada kena cium waria. (Terus lari, Ndre……ambil langkah 1999 …hehehe….).Setelah jauh berlari dan merasa tidak dikejar lagi, Andre sengaja beristirahat disamping markas Satpol PP. Biar aman. Lalu disekanya keringat yang bercucuran deras membanjiri tubuhnya dengan sapu tangannya.“Sial Didot, ramuan elu cuma ampuh buat kalangan waria” Dibuangnya Pelet dari Didot ke selokan. Dan Andre bakal manyun lagi di Lebaran tahun ini.“Tiara…sudah tiga kali Lebaran gue gagal lagi ngedapetin elu. Dah berapa banyak cara gue coba tapi bikin pikiran kusam dan kusut. Ah, jomblo aja deh….” Pikir Andre sambil melangkah pulang dengan tangan hampa….Makanya, Ndre Jangan mau mengikuti seorang pemimpin sampai kamu tahu siapa yang diikutinya.SELESAI

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala cinta menyapa ~ 01 / 13

    Oke guys, kali ini admin ngeshare sebuah cerbung rekuesan dari salah satu 'adek' dunia maya. Yups, Erwin. Tepatnya itu cerbung Kala Cinta Menyapa. Untuk yang penasaran gimana jalan ceritanya bisa simak langsung ke bawah. Oke guys? Happy reading ya….Kala Cinta Menyapa“Erwin, mau kemana loe?” sapa Joni yang entah muncul dari mana langsung merangkul pundak erwin yang melangkah menuju kekelasnya.Erwin tidak menjawab. Tangannya segera menyingkirkan tangan Joni dari pundaknya. Mencibir sinis kearah sahabatnya. Benar – benar sapaan basi.“Hei, gue punya kabar bagus ni,” kata Joni mengabaikan reaksi Erwin yang dinilai sudah biasa.“Kapan si loe bilang punya kabar jelek?” sindir Erwin sinis, Joni hanya nyengir.“Tapi kali ini gue serius. Di kampus kita ada idola baru. Cewek. Cantik banget." Joni tampa excited ketika mengatakan kalimatnya itu.“Kambing di bedakin aja menurut loe cantik, apa lagi beneran cewek."Joni menahan diri untuk tidak langsung menjitak kepala Erwin. Kalau saja ia tidak menginggat sahabatnya yang satu itu selalu berjasa dalam hidupnya, sudah pasti dari kemaren – kemaren ini orang sudah ia tendang kelaut.“Baik lah, karena sepertinya loe nggak tertarik. Gue nggak jadi cerita. Bisa beneran gondok gue deket – deket sama loe."Selesai berkata, Joni segera berlalu, mendahului Erwin menuju kekelas. Sementar Erwin sendiri juga hanya angkat bahu. Sama sekali tidak merasa bersalah.“Erwin, tunggu bentar."Mendengar namanya di panggil Erwin segera menghentikan langkahnya tanpa berniat untuk menoleh padahal dari suaranya saja ia sudah tau kalau saat ini, Leila, idola di kampusnya yang kini berjalan kearahnya.“Ada apa?” tanya Erwin.“Loe mau langsung ke kelas?” tanya Leila sambil tersenyum manis.“Kalau seandainya gue bilang gue mau nonton dulu loe percaya?"Bukannya kesel atau marah mendengar balasan ketus dari mulut Erwin, Leila justru malah tersenyum manis. Peduli amat sifatnya nyebelin kalau pada nyatannya wajahnya terlalu mengiurkan untuk di jadikan pacar. Seperti kata pepatah, satu kelebihan biasanya mampu untuk menutupi sejuta kekurangan. ^_^“Kalau seandainya loe bilang mau nonton gue pasti akan ikut."Erwin mencibir. Sama sekali tidak merasa lucu mendengar candaan dari mulut Leila barusan. Tanpa pikir panjang ia segera berniat untuk berlalu, namun sepertinya Leila sudah paham akan sifatnya sehingga ia dengan cepat berdiri tepat di hadapannya. Membuat Erwin merengut kesel.“Ada yang pengen gue omongin sama loe," kata gadis itu cepat.“Penting nggak?”“Tergantung. Penting tidaknya itu kan relatif. Tapi sepertinya ini penting."Erwin sedikit mengernyitkan dahi mendengarnya. “Heh, Sepertinya…” gumam Erwin mencibir. “Apa soal hidup matinya seseorang?” tanya Erwin lagi.Walau heran dan sama sekali tidak mengerti maksut ucapan Erwin barusan, leila tetap mengeleng.“Kalau begitu nggak ada yang penting menurut gue,” selesai berkata Erwin segera melangkah. Menepis tangan Leila yang berusaha menahannya.“Oke, gue suka sama loe. Gue mau loe jadi pacar gue,” kata Leila setengah berteriak.Erwin menghentikan langkahnya. Beberapa mahasiswa yang kebetulan berada tak jauh dari mereka ikut menoleh. Memperhatikan keduanya dengan tatapan heran sekaligus kaget. Seorang Leila yang sudah dikenal sebagai idola di kampus mereka dan selalu menjadi incaran para mahasiswa karena terkenal dengan kecantikannya justru malah menyatakan cinta duluan? Apa kata dunia?Dan mulut Leila terbuka tanpa suara saat melihat Erwin kembali melangkah sama sekali tidak menoleh kearahnya apalagi sampai berbalik.“Sialan, gue udah banting harga dia justru malah melongos gitu aja,” geram Leila sambil mengepalkan tanggannya.“Dasar cewek, dimana – mana sama aja,” gerut Erwin sambil terus melangkah.Tepat di belokan kelasnya tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang membawa setumpuk buku-buku yang kini tampak berhamburan di lantai.“Ih, kalau jalan pake mata donk,” kata cewek itu sambil berjongkok mengumpulkan buku – buku. Sementara Erwin sendiri tetap berdiri ditempat, tidak ada tanda tanda ia akan membantu.“Dasar bodoh. Mana ada orang jalan pake mata. Anak TK juga tau kalau jalan itu pake kaki."Mendengar kalimat pedes barusan cewek itu segera mendongak. Menatap tak percaya sosok yang kini berdiri di hadapannya. Sudah salah, tidak mau minta maaf pake ngatain bodoh segala lagi. Siapa yang nggak kesel coba. Namun sebelum mulutnya terbuka untuk protes, Erwin sudah terlebih dahulu melangkah pergi.Kala Cinta Menyapa “Bruk!”Rani menoleh, menatap Irma, sahabatnya yang baru datang dengan tampang kusut. Mana pake menghempaskan buku – buku nya segala lagi.“Kenapa loe?” tanya Rani sambil menutup buku yang sedari tadi di bacanya. Sedikit membenarkan letak kacamatanya agar lebih terasa nyaman di pake.“Emosi gue."“Oh ya? Kenapa?” tanya Rani lagi.“Gila. Gue itu tadi lagi jalan. Terus ketabrak sama si Erwin. Eh bukannya minta maaf apa lagi bantuin dia malah pake ngatain gue bodoh. Mentang – mentang keren suka seenaknya.""Erwin?" ulang Rani dengan kening berkerut, Irma hanya mengangguk.“Siapa?” sambung gadis itu lagi. Kali ini raut kesel Irma berganti menjadi bingung.“Erwin. Idola kampus kita. Jangan bilang loe nggak kenal. Loe kan bukan mahasiswi baru di kampus ini."Rani menyengir sambil mengeleng. Irma yang melihatnya juga ikutan mengeleng. Bedanya kalau Rani mengeleng tidak tau, Sementara Irma mengeleng tak percaya. Sahabatnya yang satu ini beneran kuper. Nggak heran si, kesehariannya memang lebih sering di habiskan di perpus membaca sambil mendengarkan musik dari ipad’nya. Hobi gadis itu selain menfoto dengan kamera yang sering di bawanya kemana – mana."Sudahlah, nggak penting juga," tutup Irma tak ingin membahas siapa Erwin lebih lanjut. Terlebih dosennya juga kini sudah tiba di ambang pintu.Sambil menunggu pelajaran selanjutnya yang baru akan di mulai sekitar setengah jam lagi, Irma segera menarik Rani kearah kantin. Perutnya benar – benar terasa lapar. Begitu sampai di kantin ia segera berjalan menuju kearah satu – satunya meja yang masih kosong. Merasa lega karena kebagian tempat duduk di saat suasana kantin yang memang sedang rame-ramenya. Namun senyuman itu segera raib saat matanya menemukan siapa sosok yang kini ada di meja seberang tak jauh darinya.“Kenapa?” tanya Rani heran saat mendapati perubahan yang begitu ketara dari raut wajah Irma.“Loe mau tau yang namanya Erwin ngga?” Irma sedikit berbisik.“Mana?”.Irma memberi isarat kearah Rani agar menoleh kearah meja seberang. Dimana tampak Erwin yang sedang menikmati soto pesanannya.“Nah, dia itu orang songong. Yang sudah nabrak tapi bukannya minta maaf justru malah menghina orang nggak jelas,” terang Irma sengaja mengeraskan suaranya.Merasa tersindir Erwin refleks menoleh. Mencibir sinis saat mendapati tatapan penuh minat Rani yang menatapnya intens dibalik kacamata yang ia kenakan.Mendapati tatapan sahabatnya yang hampir tak berkedip kearah Erwin jelas membuat Irma merasa kesel. Diinjaknya kaki Rani dengan kekuatan ekstra sehingga gadis itu menjerit kesakitan dan memberikan tatapan protes padanya.“Loe ngapain si ngeliatin dia sampe kayak gitu?” geram Irma memprotes.“Gue lagi mikir aja, dia mirip siapa ya? Kok wajahnya familiar banget. Kayaknya gue pernah ketemu deh,” balas Rani sambil mengigit kuku jarinya. Kebiasaan yang sulit ia hilangkan jika sedang berpikir. Matanya kembali beralih kearah Erwin.“Jangan bilang kalau loe juga menganggap kalau dia itu mirip Jang geun suk?” geram Irma memutar mata. Merasa makin kesel.Hei dia kan sedang bercerita tentang makhluk yang menyebalkan, tapi kenapa raut wajah temannya justru seperti orang yang sedang terpesona? Memang susah kalau punya sahabat super polos.“Aha,” Rani menjentikan jarinya. “Gue inget. Gue memang pernah ketemu sama dia."Kali ini mata Irma mendelik. Beberapa detik yang lalu ia sempat melirik Erwin yang jelas – jelas mencibir.“Hei, loe inget sama gue nggak? Loe kan yang……Aduh,” untuk kedua kalinya Rani menjerit kesakitan. Lagi – lagi kakinya di injek oleh Irma.“Dasar cewek. Dimana aja sama. Sok kenal. Menyebalkan,” gerut Erwin membuat kuping Irma makin panas mendengarnya.“Rani….!!!” panggil Irma lirih namun sarat ancaman.“Tapi kan…” Rani berusaha membantah dengan mata tetap terarah lurus kearah Erwin.“Diem nggak loe."“Hufh…” Rani menghebuskan nafasnya sembari menunduk manut. Tapi mulutnya masih sempat bergumam lirih namun mampu membuat Erwin yang kebetulan sedang menyuapkan kuah sotonya sontak tersedak.“Gue kan Cuma mau bilang kalau dia mirip sama orang yang jatuh kedalam got kemaren."“Ha?” ulang Irma kaget. Tidak yakin dengan kalimat yang baru saja ia dengar.Kepala Rani mengangguk. Dan sebelum mulutnya sempat terbuka untuk menjelaskan, tangannya sudah terlebih dahulu ditarik keluar kantin. Meninggalkan Semua wajah dengan tampang herannya. Bahkan meninggalkan Irma dengan tampang cengonya ketika melihat sahabatnnya di culik terang – terangan tepat dihadapannya. Sebelum Irma benar – benar menyadari apa yang terjadi, Rani sudah menghilang dari pandangan.Begitu sampai di ujung koridor Erwin melepaskan gengaman tangannya. Matanya menatap lurus kearah sosok yang kini berdiri tepat di hadapannya dengan kepala yang menunduk takut. Ingatannya segera melayang ke kejadian kemaren sore.Sepulang dari Rumah Joni, sahabatnya, Erwin segera pulang kerumah. Tepat saat sampai di tingkungan tiba – tiba ada seekor kucing yang lewat dan mengagetkannya padahal pada saat bersamaan di hadapa juga tampak sebuah bus yang melaju kencang. Tanpa banyak pikir ia segera membelokan stang motor tanpa sempat menginjak rem sehingga sukses membuatnya terdampar di pinggiran got. Untung saja luka yang ia alami tidak parah, hanya sedikit lecet di kaki dan ujung sikunya.Saat itu lah kemudian muncul seorang cewek yang kebetulan sedang membersihkan halaman rumahnya. Kemudian segera membawanya duduk di bangku halaman depan rumah, bahkan sempat mengobati lukanya itu juga kalau memberikan obat merah dan sapu tangan termasuk kedalam katagori mengobati. Karena pada kenyataannya gadis itu sama sekali tidak menyentuh lukanya. Hanya saja waktu itu ceweknya cantik. Rambutnya terurai ditambah mata bening yang dimilikinya sehingga sukses membuat Erwin merasakan ‘love at first sight’ untuk pertama kali di dalam hidupnya.Erwin juga ingat saat itu karena saking terpesonanya ia sampai tidak sempat untuk berkenalan karena keburu di potong oleh ramainya orang – orang yang sibuk bertanya – tanya. Karena Erwin memang membenci orang – orang yang terlalu banyak ingin tau masalah yang bukan menjadi urusannya makanya ia memilih untuk langsung pulang.Cuma saat ini Erwin benar – benar tidak mempercayai kalau orang yang berdiri di depannya adalah orang yang sama dengan yang kemaren. Dari penampilannya yang pake kacamata di tambah rambutnya yang hanya di kucir dua benar – benar membuat nya merasa sangksi.“Kenapa loe bawa gue kesini?”Suara bernada tanya itu segera menyadarkan Erwin dari lamunannya.“Loe?” Ttunjuk Erwin tepat kearah wajah Rani yang sontak membuat gadis itu sedikit melangkah mundur. Terlihat jelas raut ketakutan di wajahnya.“Cewek yang kemaren?”Walau takut Rani tetap mengangguk membenarkan.“Rani,” terdengar terikan Irma di kejauhan yang sedang berlari kearahnya. Erwin dan Rani segera menoleh. Menyadari sesuatu Erwin segera mendekatkan wajahnya kerah wajah Rani, membisikan sesuatu yang membuat gadis itu bergidik ngeri.“Berani loe cerita soal kejadian kemaren pada orang lain, mati loe."Setelah memastikan gadis itu mengangguk mendengar ancamannya, Erwin segera berlalu. Tidak ingin menambah masalah dengan gadis yang tadi pagi di tabraknya. Tentang masalah rahasianya bisa ia urus belakangan. Melihat dari raut ketakutan barusan ia yakin semuanya aman.Lanjut ke cerbung Kala Cinta menyapa bagian 2Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomantisPanjang : 1.689 WordsLanjut Baca : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*