Cerpen cinta Tantang Aku dan Dia part 6 {Update}

Next to part 6 Cerpen cinta tentang aku dan dia. Acara edit mengedit kan baru bisa selesai di part ending. So lanjut aja deh…
Tetep "alon alon asal kelakon". XD
Oh ya, yang belum baca part sebelumnya bisa baca dulu gih di cerpen romantis tentang aku dan dia part 5.

Credit gambar : Ana Merya
“Lho Gres, Loe mau kemana?” Tanya Arga heran.
“Ya mau pulang donk” Sahut gresia cuek sambil terus melangkah.
"Kan dari kemaren gue udah bilang, loe kalau pulang dan pergi harus bareng sama gue" Ujar Arga sambil berusaha mensejajarkan langkahnya.
"Ogah".
"Harus" Arga Tidak mau kalah.
"Ye…. kok gitu?. Mang kenapa?".
"Karena loe pacar gue. Apa harus gue tulis di jidat loe biar leo inget".
"Astafirullahal'azim. Please donk ga, gue itu bukan pacar loe".
"Terserah apa kata loe deh. Yang jelas menurut gue, loe itu pacar gue sekarang. Seenggaknya sampai satu bulan kedepan.Terlepas dari kata cinta atau enggak. Ya udah jangan banyak protes. Mending loe ikut gue sekarang?".
HA?. emangnnya kita mau kemana?".
"Hari ini gue ikut pertandiangan sepak bola. Jadi loe harus nonton. Lagian loe gitu aja harus di kasih tau. Padahal hampir semua anak sekolah juga udah pada ngerti. Bener – bener pacar yang nggak pengertian deh".
"Gue bukan Pacar loe" Tandas Gresia cepat.
"Whatever…" Tanpa basa basi Arga langsung mengiringnya masuk ke dalam mobil.
Cerpen cinta Tantang Aku dan Dia
Suasana Pertandingan benar – benar ramai. Penontonnya membludak.Membuat Gresia kesel. Secara dia yang notebane nya seorang yang anti buat nonton bola di paksa duduk bertahan selama 90 menit hanya untuk memperhatikan orang – orang yang menurutnya bodoh karena memperebutkan sebiji bola, sementara begitu dapat eh malah di tendang. Dasar orang kurang kerjaan batinnya.Padahal kalau mau di pasar juga banyak (????)…..
Sisa waktu pertandingan hanya tinggal 3 menit sementara kedudukan masih sama. Dan tampak lah Arga yang kebetulan sedang mengiring bola berusaha mencetak gol. Semua nya berusaha menyaksikan dengan hati berdebar – debar dan penuh harap. Sampai kemudian Arga sudah hampir tiba di depan gawang dan siap mengambil ancang – ancang untuk menendangnya sekuat tenaga. Bisa di pastikan 90% kali ini pasti gol.
1
2
3
Dan….
Gubrak *anggap aja bunyi nya gitu*
Semuanya shok, kaget, Panik begitu melihat apa yang terjadi. Disana, Arga sukses…*'Eits, jangan salah, bukan sukses goalnya ya*. Di ulang, Disana Arga sukses tergeletak pingsan alias tidak sadarkan diri.Why?…. gitu lah kira – kira pertannyaannya.
Tanpa ba bi bu, Semuannya berhamburan untuk membantu . Membawanya keruang UKS Sekolah.
Begitu membuka mata, Gresia adalah orang pertama yang Arga lihat, Baru nyusul wajah teman- tamnnya yang lain. Yah walau pun tampang tu anak, Ehem, nyeremin. Ada rasa Marah, kesel, khawatir, bingung jadi satu. Tapi juga ada raut lega disana.
"Arga, Syukurlah loe sadar juga" Kata Kevin lega.
"Emang nya gue kenapa?" Tanya Arga.
"Loe tu tadi pingsan. Makanya langsung kita bawa ke sini" sahut Andre.
Arga mencoba menginggat – ingat apa yang terjadi.
"Duh sory ya, Karena udah bikin kalian khawatir" Ujang Aarga dengan tampang bersalah.
"Nyantai aja lagi. Yang penting loe kan gak papa".
"Terus bagai mana dengan pertandingannya?" tanya Arga kemudian.
"Nggak usah di pikirin. Itu kan cuma pertandiangan persahabatan biasa. Mo ada yang menang atau kalah juga nggak ngaruh. Yang kita khawatirin itu loe, kenapa bisa tiba – tiba pinsan gitu?".
"Oh itu, Gue juga nggak tau. Beberapa hari ini kepala gue emang sering sakti".
"Udah loe cek ke dokter?" tanya Aldo lagi. Sementara Gresia hanya diam saja.
"Belom sih. Lagian gue pikir palingan cuma sakit kepala biasa".
"Ya jangan gitu donk. Mending loe cek ke rumah sakit kali aja ada apa-apanya" Saran Kevi.
"Hem, Ya deh besok".
"Oh ya, kita pamit dulu ya. Lagian loe kan udah ada Gresia yang jagain. Kita masih ada urusan yang harus di selesaikan" Ujar Aldo beberapa saat kemudian.
"O… silahkan. Ma kasih ya,Maaf udah ngerepoti".
"Santai aja men. Yuk gres" Pamit Kevin, Gresia hanya mengangguk kikuk.
"Dasar Payah" Gumam Gresia lirih setelah semuanya pergi.
"Loe ngomongin gue?" tanya Arga heran.
"Siapa lagi. Masa gitu aja pingsan. Mana timing nya nggak pas banget lagi. Padahal tadi kan kita udah hampir menang. Dikit lagi… Tapi loe nggak seru baget. Kan jadi sia – sia gue nonton".
"Leo kok gitu si?. Sebagai pacar Harusnya itu loe ngehawatirin gue, bukannya malah nyalahin" Protes Arga.
"Gue bukan…".
"Pulang yuks" Potong Arga Sebelum Gresia sempat menyelesaikan ucapannya.
Soalnya ia sudah bisa menebak apa yang akan keluar dari mulut gadis di depannya itu.
"Sekarang?" tanya Gresia.
"Memang nya loe betah di sini?".
"Bukan gitu. Loe yakin udah baikan?" Tanya Gresia tanpak khawatir.
"Ehem, Loe khawatir sama gue ya?. Atau jangan – jangan loe udah mulai cinta lagi" Arga balik bertanya dengan nada meledek.
"Ih amit – amit deh. Siapa juga yang ngehawatirin loe" Bantah Gresia cepat.
"Terus….?".
"Kalau loe pingsan lagi kan bakal gue ya repot".
"Gitu ya?… heh, Sepertinya loe benar- benar tidak menghawatirkan gue sama sekali" Ujar Arga dengan raut wajah kecewa, dan entah mengapa hal ini membuat Gresia merasa tidak enak.
"Ehm… Gimana jadi pulang nggak nie?" Tanya Gresia berusaha mengalihkan perhatian sambil beranjak dari tempat duduknya.
Refleks Gresia segera menahan tubuh Arga yang oleng *????* saat berusaha berdiri.
"Loe yakin loe baik – baik aja?".
"Tuh kan loe khawatir. Lagian kalau gue beneran sakit, kan ada loe yang jagain".
"Please deh ga, Gue serius nie".
"Udah tenang aja. Gue baik – baik aja kok " Balas Arga Sambil tersenyum.
"Sukurlah kalau emang kayak gitu. Tapi Mana kunci mobil nya. Biar gue yang nyetir".
"Biar Gue aja. Lagian gue baik – baik aja kok" tolak Arga.
"Gue Belom mau mati muda. Apalagi bareng sama loe. Kalau loe yang mati duluan si terserah. Jangan ngajak – ngajak gue" Kata Gresia sambil mengulurkan tangannya.
"Ah, Bahasa loe nggak ngenakin banget si di denger. Kesannya kaya ngarepin banget gue mati" Gerut Arga.
"Emang. Loe kan nyusahin gue banget" Balas Gresia cuek yang membuat Arga makin cemberut. Tapi tak urung di berikannya juga kunci mobil pada Gresia. Ia yakin sebenernya gresia juga menghawatikannya hanya saja ia gengsi untuk mengakui.
Cerpen cinta Tantang Aku dan Dia
Pendek????????…………..
Sangat!!!!!!…..
Sebenernya aku nggak niat bikin cerpen pendek – pendek kayak gini. Tapi mau gi mana lagi.
Ini benar – benar karena keterbatasan waktu. Jadi harap maklum aja ya.
For next bisa langsung di baca di cerpen tentang aku dan dia part 7.

Random Posts

  • Cerpen cinta Love is mocca last Part

    Cerpen cinta love is mocca part end. Sory ya All, cuma tinggal ngepost aja lama apa lagi bikin. he he he….Oy ya, Cerpen cinta love is mocca ini adalah cerpen kiriman reader star night. Untuk part sebelumnya kalian bisa baca di sini…-} Cerpen cinta love is mocca part 1-} Cerpen Cinta love is mocca part 2Happy reading ya…Harus aku akui bahwa aku hadir menjadi perusak dalam hubungannya dengan Vhiand, lelaki yang mampu membuat Ocha jatuh cinta, membuat Ocha melupakan sejenak tentang aku. Aku memang belum pernah bertemu langsung dengannya tapi aku sering melihatnya menjemput Ocha, sehingga membuatku mengiringi kepulangan Ocha dengan tatapan tak rela dan cemburu sedangkan aku hanya mampu menghela napas panjang. Aku melihat bagaimana cara Vhiand memandang Ocha dengan sarat ketulusan, ya cinta yang tulus dan menjanjikan kebahagian. Ya aku tau itulah yang membuat Ocha luluh dan menerimanya.sebagian

  • Cerpen Horor: The Secret of The Toilet

    Judul: The Secret of The ToiletKategori: Cerpen MisteriPenulis: Ray Nurfatimah Clakk….clakkk…clakkkkkk…..Tetesan dari kran yang tidak tertutup rapat itu semakin menerorku yang hingga tengah malam ini sukar untuk tertidur. Kulirik bulatan putih didinding yang terhalang remang-remang malam.“Huff….. mana baru jam sebelas empat lima lagi,” bisikku pelan.Entah sudah berapa kali aku membolak-balikan bantal usang yang hampir tidak tersentuh sabun selama aku pindah kekosan Bu Alina. Maklum aku adalah seorang siswi kelas tiga SMA yang merangkap menjadi pelayan disebuah restoran siap saji.Sebelumnya aku tinggal dikosan Bu Dian, tapi karena terbelit hutang kanan kiri, ya dengan terpaksa aku kabur. Padahal malam itu Kak Danar, putra bungsu bu Dian bersikeras menghalangi kepergianku. Aku harus pergi dari pada tiap hari kena omel bu Dian, belum lagi cibiran pedas dari penghuni kos lain tentang hutangku yang belum aku bayar.Berbekal uang tiga ratus ribu rupiah, hasil penjualan ponsel lamaku . Aku memberanikan diri untuk tinggal dikosan baru dengan menjanjikan upahku sebagai pelayan restoran.“Akhir bulan nanti segera cair, bu.” bujukku kepada bu Alina saat dia menolak rencanaku tinggal di kossannya.“Bukan karena kondisi keuanganmu dek Mayang, tapi memang kamar kos disini sudah penuh.” Sahutnya lembut.Ya memang benar, aku lihat rumah besar yang terdiri dari lima kamar dilantai satu telah penuh sesak diisi oleh sembilan orang penghuni kos dan satu asisten pribadi Bu Alina.Tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya beliau menyerahkan kamar putri semata wayangnya yang tengah mengenyam pendidikan di Jepang kepadaku.“Haduh betapa beruntungnya diriku ini.” Fikiriku sesaat setelah Bu Alina mengesahkan kamar kebanggaan putrinya kepadaku. Betapa tidak kamar ini begitu luas dan satu-satunya kamar yang memiliki toilet sendiri. Apalagi bu Alina dengan cuma-cuma meminjamkan kasur dan meja rias milik putrinya. Hanya saja dia dia tidak membolehkan aku menggunakan lemari besar dikamar itu, mungkin karena lemari itu telah diisi penuh oleh barang-barang milik putrinya.Tapi untung saja dimeja rias menempel sebuah lemari kecil yang masih bisa aku gunakan untuk menyimpan pakaian ku, dan sebagian lagi bisa aku gantung di pegantungan di belakan pintu.Kembali kulihat jam, kali ini tepat pukul dua belas malam dan aku aku masih terjaga. Tiba-tiba “Wwhuuuuussshh……..” sekebat angin kencang masuk kerongga kamarku, menyisakan sosok putih yang melambai-lambai didepanku. Seketika aku terkejut, “Sial aku hampir saja membiarkan jendela terbuka semalaman.” Gerutuku sambil menutup jendela dan membenarkan tirai putih yang tersapu angin.Aku kembali merebahkan tubuh mungilku di kasur besar nan empuk ini. Pelan tapi pasti mata ini mulai menutup.Byuuuuurrrrr…… Suara guyuran air mengagetkanku.“Jam segini siapa yang mandi sih? Ganggu orang saja!” gerutuku kuesalOtaku mulai berfikir waras “Tapi asal suaranya dari…….” Entah mengapa bibirku benar-banar tertahan. Kulirik pintu toilet, dan benar saja dari lubang kunci pintu toilet sesosok wanita berambut panjang tengah tertunduk kaku dibawah cipratan air shower.“Apa mungkin dia putrinya bu Alin?” fikirku membuyarkan rasa takutku sendiri.Tanpa berfikir panjang lagi, aku segera beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah menuju tempat tidur, suara tangisan memaksaku untuk kembali.“Kkenapa Mbak? Mmbak ggak kenapa-napakan?” tanyaku sedikit gugup.Dia tak kunjung menjawab pertanyaanku, malah tangisannya semakin menjadi.“Hiks……hiks…… tolong aku hikksss….”Suara tangisan itu menggema mendominasi kamarku. Aku benar-benar panik. Sekuat tenaga kucoba rubuhkan pintu berbahan plastik itu, dan hasilnya nihil. Tangisannya pelan-pelan meredup. Kulihat kembali dari lubang kunci, dan betapa kagetnya aku saat kulihat tubuh wanita misterius itu kini tak utuh lagi. Berdiri lesu sesosok tubuh tanpa kepala, lehernya dipenuhi daging yang berantakan. Dan cipratan darah segar menodai dinding-dinding toilet.Tubuhku benar-benar terasa bergetar dan tak bisa mengatakan apa-apa. Saat ku alihkan mataku kearah lantai toilet, tergeletak sebuah kepala berambut panjang bersama sebilah gergaji di sampingnya. Aku semakin berguncang hebat, entah apa yang aku fikirkan saat itu. Rasanya aku ingin berlari ke kamar penghuni lain untuk meminta bantuan. Tapi aku sama sekali tak bisa bergerak, piyamaku terjepit engsel pintu.“Haaaaaaaaa…… tolong!!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Dengan tergesa-gesa kugigit piyamaku. Dan Seeeeeetttt, bagian belakang piyamaku berhasil robek. Aku berlari sekencang-kencangnya memburu pintu keluar kamar.Creek….creeeek…..“Arrggght….. kenapa gak bisa dibuka? Aku semakin panik.Segera ku ambil posisi kuda-kuda dan… Bruuukkkk…… tendanganku merobohkan sebilah pintu yang terbuat dari kayu.Nafasku terasa sesak mencium bau anyir darah yang menusuk ke paru-paru. Tapi aku semakin menggila dan ketakutan saat kulihat pemandangan aneh dari balik pintu kamarku.“Ttttoilet???” tanyaku bingung. Ternyata toilet yang sama, hanya saja yang membedakan tinggal kepala yang tergeletak dilantai.Kepala berambut panjang itu pelan-pelan menoleh dan menyeringai kepadaku.“Hyaaaaa…..!"***CreeeekkkkkSeseorang membuka pintu kamarku, dia mnyeringai hangat dan mendekatiku.“Rupanya kamu demam ya May?” sahut Bu Alina sambil menempelkan punduk tangannya di keningku.“Syukurlah ternyata cuma mimpi,” bisiku pelan.The EndBy : Ray Nurfatimah

  • Cerpen Cinta “Dalam Diam Mencintaimu” 03/04

    #EditVersion. Untuk yang belum tau. Tokoh utama sebelumnya adalah Irma dan Doni. Tapi admin edit jadi Irama ~ Rey. Nggak ada alasan khusus. Cuma pengen ngedit aja cerpen dalam diam mencintaimu ini. Tapi secara keseluruhan ceritanya nggak ada yang berubah. Cuma beberapa penulisannya aja yang di perbaiki. Oh iya, as always. Biar gampang sekalian nyambung sama jalan ceritanya. Buat yang belum baca bagian sebelumnya bisa baca dulu ya. Biar lebih mudah bisa langsung klik disini.Dalam diam mencintaimuSambil terus melangkah kearah parkiran, Irma tak henti memukul – mukul kepalanya. Tadi pagi Rey tidak sengaja mendengar pembicaraanya dengan Vieta. Saat ia dengan tegas mengatakan pada sahabatnya itu kalau ia tidak pernah menyukai Rey. Tambahan lagi ia mengucapkannya dengan tegas. Dan kini, hatinya jadi merasa tak tentu arah. Merasa tidak enak. Jujur ia sangat tidak ingin kalau sampai Rey salah paham. Bukan maksudnya untuk berkata bahwa ia tidak menyukai Sahabatnya itu, hanya saja ia juga bingung harus berkata apa. {Untuk lebih jelasnya baca cerpen kala cinta menyapa part 3}Ketika ia masiht terus berpikir tentang apa yang harus ia lakukan, matanya mendapati sosok Rey yang melangkah mendekat. Niatnya untuk menghampiri langsung ia batalkan dan justru malah bersembunyi saat tau kalau Rey tidak sendirian. Di sampingnya tampak Vhany yang berjalan beriringan. Dan Irma hanya mampu menghela nafas, dadanya kembali terasa sesak saat melihat Vhany duduk di jok belakang motor Rey. Sepertinya mereka akan pulang bareng. Setelah keduanya benar – benar berlalu barulah Irma keluar dari persembunyiannya. Dengan langkah gontai ia berjalan pulang.*** Dalam diam mencintaimu ***Setelah memarkirkan motornya di halaman rumah, Rey tidak lantas masuk kedalam. Ia sengaja duduk di bangku depan rumah sambil sesekali melongok kearah jalan ataupun melirik jam yang melingkar di tangannya. Tadi ia sudah memastikan kalau Irma sama sekali belum sampai di rumahnya. Kemana perginya anak itu? Jujur saja ia sangat mencemaskannya. Yah walaupun tadi Irma sudah bilang kalau ia akan pergi dengan sahabatnya sih.Setelah hampir satu jam Rey menunggu, matanya menangkap mobil silver yang memasuki halaman depan rumah tetangganya. Ia berani menjamin kalau itu bukan mobil ayah Irma. Pertanyaannya, itu mobil siapa?Rey mengernyit heran saat matanya menangkap sosok seorang pria yang tak di kenalnya keluar dari pintu mobil itu. Lebih heran lagi ketika melihat Irma menyusulnya. Hatinya mencelos. Lagi – lagi ia merutuki diri sendiri kenapa harus memikirkan gadis itu yang jelas hal yang sia – sia. Dengan kesel ia melangkah masuk kedalam rumah tanpa menoleh kearah ‘tetangga’nya sama sekali.“Oh Jadi besok loe ulang tahun. Gimana? Mau dirayain nggak?” tanya Fadly sambil melangkah beriringan masuk kedalam rumah Irma.Tadi Irma menelponnya. Memaksanya untuk menjemput ke kampus. Mana pake acara ancaman putus persaudaraan lagi kalau sekiranya Fadly berani menolak. Nah karena itu lah kini Fadly bisa berada di depan rumah sepupunya. “Iya, tapi nggak perlu pake acara – acara segala. Dari dulu juga nggak pernah di rayain, toh gue nggak suka. Gue bisa bersama dengan orang – orang yang gue sayangi itu sudah lebih dari cukup."Fadly yang mendengar hanya mengangguk – angguk membenarkan. Namun tak selang beberapa menit kemudian keningnya berkerut tanda bingung saat mendapati tangan Irma yang nyadong di depan wajahnya.“Kenapa?”“Kadonya mana?” tanya Irma pasang tampang sok polos.“Busyet, ulang taon loe kan besok. Bukan sekarang masa kadonya duluan,” protes Fadly dan Irma hanya membalas dengan cengiran tak bersalahnya. #Oma, nie Di sindir terang – terangan lho ^_^“Om sama tante mana Ir? Kok tumben kayaknya nie rumah sepi amat,” Fadly mengalihkan pembicaraan sambil duduk dengan santai di sofa. Tangannya meraih majalah yang tergeletak di meja sementara Irma sendiri melangkah kekamarnya. Sekedar untuk menyimpan peralatan kampusnya.“Loe kayak nggak kenal nyokap sama bokap gue aja. Jam segini tentu aja masih di kantor,” balas Irma yang baru muncul di balik pintu kamarnya namun bukan segera menghampiri sepupunya justru ia malah kedapur. Dan muncul kembali dengan napan berisi dua gelas minuman kaleng.“O…,” kali ini Fadly hanya ber’O’ ria.Selang beberpa saat kemudian keduanya asik bercanda tawa. Saling bertukar cerita sampai tak terasa hari sudah sore dan Fadly juga sudah harus mengundurkan diri pulang. Tak lupa Irma mengantarnya kedepan pintu gerbang. Dan baru kembali masuk kedalam rumah setelah mobil Fadly menghilang dari pandangan.*** Dalam diam mencintaimu *** “Rey!”Merasa namanya di panggil Rey yang berniat langsung pulang berbalik, keningnya berkerut heran saat mendapati gadis berkacamata yang kini berlari kearahnya.“Loe beneran Rey kan, yang biasanya bareng sama Irma?”Masih belum mengerti arah tujuan pembicaraan mereka, Rey memilih membalas dengan anggukan. "Gue Vieta, temen deketnya," kata gadis itu memperkenalkan diri sembari menyodorkan kado tepat ke wajahnya. “Buat gue?” tanya Rey dengan kening berkerut.“Tentu saja bukan, emangnya siapa elo. Kenal juga kagak. ini itu kado buat Irma. Hari ini kan dia ulang tahun. Tadinya mau langsung gue kasi kedia. Eh , waktu gue SMS dia bilang malah dia sakit. Ya udah, gue belom sempet mampir ke sana. Makanya, karena katanya loe itu tetanggaan sama dia gue titip sama loe aja ya?”“Irma? Sakit? Terus hari ini dia juga ulang tahun?” tanya Rey kaget. Melihat wajah kaget sekaligus bingung yang tergambar dari wajah Rey membuat Vieta kembali menarik kotak kado yang ia sodorkan.“Oh, gue salah orang ya? Maaf, gue pikir loe itu sahabatnya Irma yang biasanya sering pulang – pergi bareng. Jadi bukan ya?” gumam Vieta bingung sambil mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.“Bukan," Rey mengeleng. Vieta makin merasa bersalah karena menduga kalau ia salah orang. Untuk itulah Rey kembali meralat. "Maksud gue bener. Gue memang sahabatnya Irma."“La kalau loe memang sahabatnya dia masa loe nggak tau kalau hari ini dia ulang tahun. Mana katanya lagi sakit lagi. Jangan – jangan…”Vieta tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Rey sudah terlebih dahulu berlari pergi meninggalkannya. Matanya terus menatap kepergian Rey dengan bingung sekaligus kecewa. Kenapa hanya sekedar di titipin kado saja tu orang nggak mau. Akhirnya dengan langkah gontai Vieta melanjutkan niatnya untuk langsung pulang saja. Soal kado, sepertinya ia baru bisa memberikan setelah ia bertemu Irma langsung. Dari kampus, Rey langsung melajukan motornya kearah rumah Irma. Pikiran pria itu kini benar – benar kusut. Dalam hati ia terus merutuk. Tadi pagi ia sengaja tidak menjemput gadis itu karena dilihatnya rumah Irma terlihat sepi. Ia menduga Irma telah berangkat kuliah duluan. Terlebih biasanya gadis itu pasti sudah menunggunya jika ingin berangkat bareng.Tepat saat tangan Rey terangkat untuk mengetuk pintu rumah Irma, pintu itu sudah terlebih dahulu terbuka disusul sosok seorang yang juga kebetulan akan keluar. Kening Rey berkerut. Matanya menatap tajam kearah sosok yang kini juga sedang menatapnya, sementara di belakangnya tampak Irma yang berdiri dengan raut wajah tak kalah bingung.“Rey?” mulut irma yang pertama sekali terbuka menyuarakan isi hatinya.Rey hanya membalas dengan senyuman salah tingkahnya. Tiba – tiba saja ia merasa mati gaya saat di hadapkan dengan situasi yang sangat tidak biasa ini. Apalagi saat ia menyadari kalau orang_yang_tidak_diketahui_identitasnya itu jalas – jelas sedang mengawasinya. “Loe ngapain di sini?”Pertanyaan yang keluar dari mulut Irma selanjutnya benar – benar membuat hati Rey mencelos. Wajahnya menatap lurus kearah irma seolah tak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya. Sejak kapan ia harus punya alasan yang jelas untuk menemui gadis itu?“Jadi loe yang namanya Rey?”Pertanyaan selanjutnya mengalihkan perhatian Rey. Ia kembali menunduk dengan senyuman janggal yang benar – benar ia paksakan. Sungguh ia tidak pernah berpikir akan berada dalam situasi seperti ini.“Oh, kenalin gue Fadly, sepupunya Irma,” kata orang itu yang mengaku bernama Fadly sambil mengulurkan tangan mengajak berjabatan kearah Rey. Walau rasa heran, kaget sekaligus bingung masih jelas tergambar di wajah Rey namun tak urung ia menyambut uluran tangan itu. Tapi kali ini di sertai sebuah senyuman lega di bibirnya.“Rey,” Rey gantian menyebutkan namanya. “Oh, jadi loe Fadly sepupunya Irma," sambung pria itu menegaskan.“Yups,” Fadly mengangguk membenarkan. “Loe nggak berpikir kalau gue itu pacarnya kan?”“Ha?” secara serentak mulut Irma dan Rey terbuka. Sementara Fadly hanya angkat bahu.“Ya sudah Ir, gue pulang dulu ya. Gue masih harus kekantor soalnya. Biasalah bantuin bokap. Rey, sory ya gue duluan,” ujar Fadly malah pamit mengundurkan diri.Kali ini Rey hanya membalas anggukan.“Hati – hati. Entar kalau jatuh, bangun sendiri,” balas Irma yang langsung mendapat cibiran dari mulut Fadly.“Loe juga no. Jangan lupa makan obatnya. Kalau sakit berlanjut jangan hubungi gue. Hubungi dokter aja," Fadly balas meledek.Mendengar kalimat balasan dari sepupunya itu membuat wajah Irma gantian memberengut sebel. “Loe sakit apa?” pertanyaan Rey yang ada disampiingnya sontak menyadarkan Irma yang sedari tadi masih menatap kepergian Fadly yang bahkan sudah menghilang dari pandangan.“Gue? Oh, enggak kok. Cuma kayaknya maag gue tadi kumat. Makanya hari ini nggak masuk. Tapi sekarang gue udah baikan kok,” terang Irma sambil tersenyum.Rey ikutan tersenyum walau masih terlihat khwatir.“Eh masuk yuk,” ajak Irma yang baru menyadari kalau mereka sedari tadi mengobrol di beranda rumah.“Oh ya Rey, bukannya kemaren loe bilang loe hari ini masuk tiga mata kuliah ya? Kok jam segini sudah pulang?” tanya Irma sambil melangkah masuk, Rey hanya ngekor di belakang.“Ehem… itu, e… gue bolos,” aku Rey.Irma terdiam sambil mengangguk – angguk. Nggak tau deh apa maksutnya.“Nah berhubung loe bolos gimana kalau kita sekalian jalan aja," ajak Irma tiba – tiba.“Ha?"“Itu juga cuma kalau loe nggak keberatan sih,” sambung Irma angkat bahu.“Bukannya loe masih sakit?” tanya Rey.“Tentu saja tidak,” balas Irma cepat. “Ehem, maksut gue, gue sekarang udah merasa baikan kok,” sambung Irma meralat ucapannya barusan yang di rasa terlalu antusias.“Ya sudah kalau gitu. Kita pergi sekarang?” angguk Rey setuju.Gantian Irma yang heran. Menatap kearah Rey. Sebuah senyuman tak mampu ia tahan saat melihat kepala Rey yang mengangguk. Segera di tariknya tangan Rey melangkah keluar. Hari ini ia sangat ingin bersenang-senang. Terlebih bisa bersama Rey yang notebenenya orang yang ia suka. Peduli amat kalau nantinya ia akan terluka, yang penting hari ini hari bahagianya. Anggap saja sebagai kado ulang tahun untuknya. *.*Next To Cerpen Dalam Diam Mencintaimu EndingDetail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

  • Cerpen Cinta “Dalam Diam Mencintaimu” 02/04

    #EditVersion. Oke guys, acara edit mengedit masih berlanjut. Masih seputar kisah cinta si Irma bareng si Rey yang di bungkus dalam cerpen dalam diam mencintaimu. Semoga aja kalian pada suka. Sekedar info, selain cerpen Requesan, cerpen ini juga kado ulang tahun untuk tu cewek. :D. Okelah, untuk yang penasaran sama kelanjutannya bisa langsung cek ke bawah. Untuk yang penasaran sama cerita sebelumnya bisa dicek disini.Dalam Diam MencintaimuSetelah hampir separuh jalan menuju kampus, Rey menghentikan motornya. Lagi – lagi ia menghembuskan nafas berat. Setelah berpikir untuk sejenak, ia kembali membalikan arah motornya. Tujuannya pasti. Halte bus yang tak jauh dari rumah. Walau kesel namun ia sadar, seumur – umur ia tidak pernah membiarkan Irma pergi kekampus sendirian.Sampai di halte Rey merasa makin kesel sekaligus kecewa karena ternyata bis sudah berlalu. Memang belum jauh si, tapi mustahil ia mengejarnya hanya untuk meminta Irma agar pergi bersamanya. Memang alasan apa yang bisa ia pakai jika gadis itu menanyakannya. Akhirnya ia kembali melajukan motor kearah kampus, sengaja mengebut untuk mendahului bus itu. Perduli amat dengan Vhany, toh kemaren juga hanya basa – basi doank. Tadi juga ia hanya berniat untuk mengetes reaksi Irma saja.Sesampainya di kampus, Rey segera melangkah kearah gerbang sambil terus berpikir. Kira – kira nanti ia harus menjawab apa jika Irma bertanya tentang Vhany. Dan belum sempat ia menemukan jawabannya, bus yang ditunggu muncul dihadapan.Sampai bus kembali berjalan Rey masih tak menemukan sosok Irma diantara para penumpangnya. Tiba – tiba ia merasakan firasat buruk. Dengan cepat di keluarkannya hape dari saku. Menekan tombol nomor 1, panggilan cepat yang sengaja ia seting untuk gadis itu.“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau…..”Rey segera menekan tombol merah saat mendengar suara operator sebagai balasannya. Pikirannya makin kusut. Ya tuhan, kemana perginya anak itu?.*** Dalam diam mencintaimu ***Tak tau mau kemana, akhirnya Irma menghentikan langkahnya. Pikirannya kusut, sampai kemudian sebuah ide terlintas di kepala. Tanpa pikir panjang lagi segera di keluarkannya hanphond dari dalam saku. Begitu melihat id yang di cari, ia langsung menekan tombol calling. Semenit kemudian ia mematikan panggilan dan langsung menghentikan taksi yang lewat. Namun bukannya kekampus, taman kota menjadi pilihannya.“Kenapa si gue harus berurusan lagi sama masalah ‘cinta’ yang bikin ribet?”“Lagi? Maksut loe?” tanya Irma saat mendengar nada mengeluh dari mulut Fadly. Sepupu nya yang sengaja ia ‘paksa’ untuk menghibur hati yang galau.Fady tidak langsung menjawab. Namun kepalanya mengangguk membenarkan. Tangan dengan santai memainkan ‘kembang sepatu’ yang ia petik sembarangan dari pohon yang tumbuh terawat di taman kota. Tempat yang kini di jadikan ajang curhat oleh Irma yang nekat bolos kuliah.“Kemaren temen gue waktu masih SMA juga bingung soal kisah cintanya. Namanya Rangga, udah jelas – jelas dia cinta sama pacarnya. Eh malah kerena mantan cewek yang di suka muncul lagi dia jadi galau. Untung aja kisahnya happy ending. La sekarang loe juga sama. Udah jelas – jelas loe katanya suka sama sahabat sekaligus tetangga loe, eh malah di ‘jodohin’ sama temen loe sendiri. Kalau memang niat bunuh diri kenapa gak loncat dari tebing aja si?”“Sialan loe,” gerut Irma kesel. “Yang bilang gue pengen bunuh diri siapa? Lagian nie ya, masa ia harus gue yang ngomong duluan kalau gue suka. Mending kalau dia juga suka ma gue, la kalau enggak? Yang ada nie ya, bukannya malah happy ending justru hubungan kita malah jadi berantakan. Hu. Ogah deh."“Terus sekarang maunya apa?” tanya Fadly lagi.“Tau… hibur gue donk. Lagi galau nie. Kira – kira obat galau apa ya?” tanya Irma lagi.“Baygon cair." #Ini Beneran Saran dari oma kan?. -,-'“Pletak”Sebuah jitakan mendarat telak di kepala Fadly atas balasan saran ngawurnya.“Iya. Kalau minum baygon, galau memang menghilang, tapi nyawa juga melayang."“Ha ha ha, itu pinter….” Fadly tergelak. “Lagian loe pake galau segala. Kayak manusia aja,” sambung Fadly terdengar mengerutu.“Gue emang manusia,” geram Irma makin gondok.Emosi bener deh ngadepin nie anak satu. Tiba – tiba ia jadi merasa menyesal minta di temani dia. Tau gini mendingan ia minta temenin Vieta aja kali ya. Walau tu anak polosnya udah kebangetan tapi paling nggak dia kalau ngomong gak nyelekit.“Kalau loe emang manusia berlakulah layaknya manusia," nasehat Fadly lirih.“ Maksudnya?”“Dengar Irma. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, itu memang bener. Tapi paling nggak berusahalah untuk mendapatkannya. Jangan terlalu cepat mengalah, apa lagi terburu – buru menentukan akhirnya yang jelas – jelas belum kita ketahui,” terang Fadly, kali ini dengan tampang serius. Irma terdiam. Mencoba mencerna maksud dari ucapan sepupunya barusan. “Tumben loe pinter."“Pletak”“Membalas itu selalu lebih baik dari pada tidak ada balasannya,” kata Fadly cepat sebelum Irma sempat protes karena jitakan yang mendarat di kepalanya.“Ya…. sekali-kali ngalah sama cewek kenapa si. Astaga, loe kan cowok."“Gue emang cowok. Yang bilang gue banci kan cuma elo. So, kalo sama loe gue belaga jadi banci aja deh,” balas Fadly dengan santainya. Membuat Irma hanya mampu melongo tanpa bersuara. Ini orang beneran ajaib."Oh ya, loe katanya galau kan? Ya sudah, hari ini gue jadi sepupu yang baik deh. Kita jalan – jalan yuk. Suntuk juga disini mulu. Lagian gue juga udah lama nggak balik kesini. Kangen juga sama suasananya," ajak Fadly beberapa saat kemudian.Sejenak Irma berpikir. Sepertinya itu ide bagus. Terlebih juga ia sudah kadung membolos. Akhirnya tanpa pikir panjang ia segera menyetujui saran Fadly barusan. Setelah puas jalan – jalan, tau – tau hari sudah sore. Saatnya Fadly untuk segera mengantarnya kerumah.Begitu Fadly pergi, Irma berniat untuk segera melangkah masuk kerumah. Sedikit banyak pikirannya sudah mulai plong. Ternyata pada akhirnya Fadly memang bisa menghibur. Namun belum juga kakinya menginjakan beranda rumah, sebuah teriakan menghentikan langkahnya.“Rey? Kenapa?” tanya Irma heran saat mendapati Rey yang berdiri di depan gerbang. Tangannya segera mengisaratkan pria itu untuk mendekat.“Loe kemana aja? Kenapa hari ini bolos? Terus tadi yang nganterin loe siapa?” pertanyaan memberondong meluncur dari mulut Rey.Untuk sejenak Irma terdiam. Kejadian tadi pagi kembali membayang di ingatannya. Apalagi saat ia tau kalau Rey dan Vhany… entah lah, tiba – tiba moodnya kembali down. Setelah terlebih dahulu menghela nafas ia berujar singkat.“Bukan urusan loe kan?"Selesai berkata Irma langsung berniat melangkah masuk, tapi tangan Rey sudah terlebih dahulu mencekalnya. Irma berusaha untuk melepaskan, tapi sepertinya tenaganya tidak sampai setengahnya dibandingkan tenaga Rey. Akhirnya Irma lebih memutuskan untuk menyerah.“Loe kenapa si?” tanya Irma dengan nada lelah.“Justru elo yang kenapa?” balas Rey balik.“Oke, kayaknya gue kecapean setelah seharian ini abis jalan – jalan. Jadi sekarang gue pengen istirahat dulu. Jadi gue harap loe bisa ngerti kan?"Mendengar ucapan dingin Irma barusan, gengaman Rey langsung terlepas. Memanfaatkan moment tersebut, Irma segera berlalu. Setelah terdiam untuk sejenak Rey langsung berbalik ke rumahnya. Tiba – tiba saja ia merasa sangat ingin marah. Setelah seharian penuh ia mencemaskan gadis itu dengan pikiran – pikiran konyolnya ternyata dia justru saat itu sedang bersenang – senang. Astaga. Ternyata ia benar – benar bodoh.Sementara Irma sendiri menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Menyesal dalam hati atas apa yang sudah ia lakukan barusan. Kenapa ia bisa bersikap dingin seperti itu? Setelah berpikir untuk sejenak ia segera melangkah keluar. Ia harus meminta maaf pada Rey. Ia benar – benar tidak ingin hubungan mereka semakin memburuk. Namun sayang, saat ia keluar ia sudah tidak mendapati sosok sahabatnya di situ. Akhirnya dengan lemas ia kembali melangkah masuk kerumah.Keesokan harinya, Irma segaja bersiap – siap lebih pagi dari biasanya. Setelah yakin kalau penampilannya oke, gadis itu duduk di bawah jambu depan rumah, tempat biasa dimana ia menunggu kemunculan Rey di depannya. Sekali – kali Irma melirik jam yang melingkar di tangannya. Motor Rey masih terparkir di halaman. Itu artinya tu anak belom pergi. Tapi masalahnya, hari ini dia menjemput Vhany lagi nggak ya? Semoga saja tidak. Saat ia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri pintu gerbang depan rumahnya terbuka. Tampaklah Rey dengan motornya yang melangkah keluar dan berhenti tepat di hadapannya. “Rey, hari ini kita pergi bareng nggak? Atau loe mau menjemput….”“Gue nggak bareng sama siapa – siapa. Kalau loe memang mau bareng sama gue, ya sudah ayo naik,” potong Rey cepat.Walau merasa serba salah saat mendapati nada bicara Rey yang terasa aneh dalam pendengarannya namun tak urung Irma manut. Segera duduk di belakang Rey sebelum kemudian motor itu kembali melaju.“Ehem, Van. Loe besok ada acara nggak?” tanya Irma mencoba membuka pembicaraan.“Belum tau,” balas Rey singkat.Irma kembali terdiam. Mulutnya terbuka untuk berkata namun kembali tertutup. Tiba – tiba ia merasa ragu.“Kenapa?” tanya Rey beberapa saat kemudian.“O…. Nggak kok. Gue Cuma nanya aja."Rey juga diam. Sesekali ia melirik kearah Irma dari kaca spion. Dalam diam ia juga merasa bersalah. Ada apa dengan mereka , kenapa jadi terasa seperti orang asing begini?“Oh ya, entar siang loe pulang bareng gue nggak?” tanya Rey begitu mereka sampai di halaman Kampus.“Entar siang, kayaknya loe bisa pulang duluan deh. Soalnya gue ada urusan dikit sama si Vieta."“Vieta?” tanya Rey dengan kening berkerut.“Iya, temen gue. Yang pake kacamata itu. Masa loe nggak tau."“O…. Dia, gue tau kok. Ya udah kalau gitu. Gue duluan,” pamit Rey sambil melangkah ke kelasnya.“E… Van!”Rey segera berbalik. Menatap heran kearah Irma.“Besok loe masuk berapa mata kuliah?” tanya Irma lagi.“Tiga, kenapa?”“O…. Nggak papa kok. Cuma nanya aja. Ya sudah, loe duluan deh."Rey hanya mampu angkat bahu. Walau sedikit heran tapi ia tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut. Moodnya belum seratus persen balik. Sementara Irma sendiri juga segera berbalik menunju kekelasnya. Saat melihat segerombolan (???) teman – temannya yang sedang mengosip ria, tiba – tiba saja sebuah ide jahil terlintas di kepalanya. Sembuah senyum samar terukir di bibirnya saat mengingat kejadian di ruang kesehatan kemaren. Kayaknya ini saat yang tepat untuk melakukan pembalasan. Dengan mantap di hampirinya anak-anak itu. Sepuluh menit kemudian barulah ia benar – benar berlalu pergi menunju kekelas dengan senyum puas. Erwin, MAMPUS LOE!!!. Next To Cerpen Dalam Diam Mencintaimu Part 03Detail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*