Cerpen Cinta Sedih: Sebening Cinta Embun

Sebening Cinta EmbunOleh: Novie An-Nuril Khiyar
Cerpen Cinta RomantisEmbun. Aku memanggilnya embun. Titik – titik air yg jatuh dari langit di malam hari dan berada di atas dedaunan hijau yang membuatku damai berada di taman ini, seperti damai nya hatiku saat berada disamping wanita yang sangat aku kagumi, embun.
“ngapain diam di situ, ayo sini rei…” teriakan embun yang memecahkan lamunanku. Aku lalu menghampirinya, dan tersenyum manis dihadapan nya.
“gimana kabarmu embun?”
“seperti yang kamu lihat, tak ada kemajuan. Obat hanyalah media yang bertujuan memperparah keadaanku. Dan lihat saja saat ini, aku masih terbaring lemah dirumah sakit kan?”, Keluhnya.
“obat bukan memperparah keadaanmu, tapi mencegah rasa sakitnya. Embun,, kamu harus optimis ya”.
“hei rei, aku selalu optimis. Kamu nya aja yang cengeng. Kalo jenguk aku pasti kamu mau nangis,, iya kan? Udahlah rei,,, aku udah terima semua yang di takdirkan Tuhan,, dan saatnya aku untuk menjalaninya, kamu jgn khawatir, aku baik-baik aja kok”. Benar kata embun, aku selalu ingin menangis ketika melihat keadaannya. Lelaki setegar apapun, pasti akan sedih melihat keadaannya, termasuk aku.
***
Sudah 2 minggu tak kutemui senyum embun di sekolah. Sangat sepi yang aku rasakan. Orang yang aku cintai sedang bertaruh nyawa melawan kanker otak yang telah merusak sebagian hidupnya. Apa? Cinta? Apakah benar aku mencintainya??? Entahlah,, aku hanya merasakan sakit di saat melihat dia seperti ini. ya Tuhan, izinkan aku menggantikan posisinya. Aku tak ingin melihat wanita yang aku sayangi terbaring lemah di sana. Tolong izinkan aku.
Seperti biasa, aku menyempatkan diri setelah pulang sekolah untuk pergi menjenguk embun di rumah sakit.
“hai embun,, bagaimana kabarmu?”
“sudah merasa lebih baik di bandingkan hari kemarin. Gimana keadaan sekolah kita?”
“baik juga. Cuma… ada sedikit keganjalan.”
“keganjalan apa rei?”
“karena di sana tak kutemukan senyummu embun….”
“ada ada aja kamu rei,,, hahaha. O iya, kata dokter, besok aku udah di izinin pulang lho. Aku senang banget. Kamu bisa kan jemput aku di sini”.
“apa? Serius?” tanyaku kaget dan senang juga.
“sejak kapan aku bisa bohong sama kamu. Aku serius reivan algibran. Hehehhe”.
“gak perlu sebut nama lengkapku embun azzula,, aku percaya kok”. Senang sekali bisa melihat senyum dan tawamu embun,,, bathinku.
***Waktu terasa cepat berlalu, karena sekarang aku sudah berada tepat di depan pintu kamar embun. Aku mengetuknya dan…” pagi embun,,”
“pagi juga reivan,, gimana, kamu dah siapkan antar aku kemanapun aku mau…?”
“siap tuan putri,, aku selalu siap mengantarmu kemanapun engkau mau. Heheheh”
“ok,, sekarang aku pengen ke taman. Tempat kita pertama kali bertemu rei,, kamu bisa antar aku ke sana kan?”.
“siip, berangkat”.
Taman ini menjadi tempat favorit kami. Sedih, suka, marah akan kami lontarkan di tempat ini. Tempat yang penuh dengan bunga-bunga yang kami tanam dari nol. Ya, taman ini karya kami. Taman yg terletak tepat di belakang gedung sekolah. 1 petak tanah yg tak pernah tersentuh oleh tangan manusia, ntah apa alasan mereka. Tanah yg tandus, bunga yg layu telah kami sulap menjadi taman cinta yang begitu indah, yang di tumbuhi bunga2 kesukaan kami. Sejak embun di rawat di rumah sakit, aku tak pernah mengunjungi taman ini, walaupun dekat dengan sekolahku.
“rei, kenapa semua bunga di sini layu,, apakah tak pernah kamu rawat?”. Tanyanya. Apa yang harus aku jawab,, aku tau, dia pasti marah.
“mereka layu karena tak ada embun di sini”. jawabku seadanya.
“embun? Bukannya tiap pagi selalu ada embun yg membasahinya?”
“tak ada yg lebih berarti selain embun azzula bagi tanaman ini, termasuk aku”. Jelasku yg membuat dia terdiam sesaat.
“maksud kamu?”, dia menatapku dalam.
“tak ada,, mereka cuma butuh embun azzula yg merawatnya, bukan embun biasa dan aku. Mereka kesepian, karena sudah 2 minggu tak melihat senyum dan tawamu embun”.
“ya, aku menyadarinya itu. Sahabat,,, maafin embun ya,,, maaf selama ini embun gak bisa merawat sahabat serutin kemarin. Itu karena kesehatan embun yg semakin berkurang. Dulu embun bisa berdiri sendiri, sekarang embun harus menggunakan tongkat, kursi roda dan bahkan teman. Teman seperti rei, yg bisa memapah embun. Thanks y rei..”
“eh,, ii iya, iya embun, sama sama.”
Sudah seharian kami di sini,, tanpa di sadari embun terlelap di pangkuanku. Menetes airmataku ketika melihat semua perubahan fisik yg terjadi padanya. Wajahnya yg pucat, tubuhnya yg semakin kurus, dan rambutnya yg semakin menipis, membuat aku kasihan. Kenapa harus embun yg mengalaminya? Tapi aku juga salut, tak pernah ada airmata di wajahnya. Dia sangat menghargai cobaan yg diberikan Tuhan kepadanya, dia selalu tersenyum, walaupun sebenarnya aku tau, ada kesedihan dibalik senyum itu.
“rei…” desahnya
“ia embun. Kamu dah bangun ya? Kita pulang sekarang yuk,,, “ ajakku ketika dia sadar dari mimpinya.
“aku mau di sini terus rei,, kamu mau kan nemenin aku. Aku mau menunggu embun datang membasahi tubuhku. Sudah lama sekali aku tak merasakannya”.
“tapi angin malam gak baik buat kesehatan kamu”.
“aku tau, tapi untuk terakhir kali nya rei,,, pliss…”.
“maksud kamu apa? Aku gak mau dengar kalimat itu lagi”.
“gak ada maksud apa-apa,,, kita gak tau takdir kan. Dah ah,, kalo kamu gak mau nemenin aku, gak apa-apa. Aku bisa sendiri”.
“gak mungkin aku gak nemenin kamu embun,, percayalah… aku akan selalu ada untukmu”.
“ gitu dong,, itu baru sahabat aku.” Ucapnya sambil melihat bunga-bunga di sekelilingnya.
“embun…”
“ya,,,”
“kamu suka dengan embun?”
“sangat. Aku sangat menyukainya. Embun itu bening, sangat bening. Dan bening itu menyimpan sejuta kesucian. Aku ingin seperti embun, bening dan suci. Menurutmu bagaimana?”
“aku juga mencintai embun. Mencintai embun sejak mengenal embun”.
“rei, kamu tau… aku ingin seperti embun. Embun yang bisa hadir dan memberi suasana beda di pagi hari. Embun yg selalu di sambut kedatangannya oleh tumbuhan”.
“kamu sudah menjadi embun yg kamu inginkan.”
“maksudmu?”
“tak ada”.
Aku sengaja merahasiakan perasaanku terhadapnya. Karena aku tau, tak ada kata “ya” saat aku menyatakan perasaanku nanti. dia tak mau pacaran, dan dia benci seorang kekasih, ntah apa alasannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Embun pun terlelap kelelahan di sampingku.
“embun,,,, embun,,,,,, bangun embun,, sekarang sudah pagi. Katanya mau melihat embun, ayo bangun” pujukku,, tapi tak kudengarkan sahutan darinya.
“ayolah embun, bangun. Jangan terlelap terlalu lama…” aku mulai resah, apa yg terjadi. Kurasakan dingin tubuhnya, tapi aku menepis fikiran negatif ku. Mungkin saja dingin ini berasal dari embun pagi.
“embun sayang,, ayo bangun. Jangan buat aku khawatir”. Lagi lagi tak kudengarkan sahutannya. Tubuhnya pucat, dingin, kaku,,. Aku mencoba membawanya kerumah sakit dengan usahaku sendiri. Dan,,, “ kami sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Embun sudah menghadap sang pencipta” itulah kata-kata dokter yg memeriksa embun yg membuat aku bagai tersambar petir. Aku lemah, jatuh, dan merasa bersalah. Kalau tak karena aku yang mengajaknya ke taman, mungkin tak kan seperti ini. Ya Tuhan, kenapa ini terjadi… aku tak sanggup.
***
Beberapa bulan kemudian….
Aku temui surat berwarna biru dan ada gambar embun di surat itu.

Teruntuk reivan alghibran
Embun…
Titik titik air bening yg jatuh dari langit
Dan membasahi kelopak bunga yg aku sukai.
Aku ingin seperti embun, yg bisa hadir di hati orang
Yg menyayanginya. Tapi aku tak menemui siapa orang itu???
Rei … makasih ya, dalam waktu terakhirku, kamu bisa menjadi embun di hatiku. Dan tak kan pernah aku lupakan itu. Rei,, maaf kalau sebenarnya aku suka sama kamu. Aku sengaja tak mengungkapkannya, karena aku tau.. sahabat lebih berharga di banding kekasih.
O ia rei,,, tolong rawat taman kita ya,, aku gak mau dia layu karena tak ada yg memperhatikannya lagi. Karena taman itu adalah tempat pertemuan kita pertama dan terakhir kalinya.
sekali lagi,, makasih dah jadi embun selama aku hidup dan tolong,, jadiin aku embun di hatimu ….
salam manis… embun azzula.

“Embun,,,kamu tau, pertama aku kenal kamu, kamu telah menjadi embun dihidupku, yang menyejukkan hatiku. Dan kamu adalah butiran bening yang selalu buat aku tersenyum, seperti embun yang selalu buatmu tersenyum.
Taman ini, bukan aku yg akan merawatnya, tapi kita. Dan taman ini tak akan pernah mati, karena kamu selalu ada di sini, di sini rumah mu.” Kalimat terakhirku ketika meletakkan setangkai bunga mawar yg aku ambil dari taman di atas pusaranya. Pusara yg terletak di tengah-tengah taman embun. Dan kunamai taman itu dengan nama EMBUN. embun.. yang tak kan pernah mati…
the end
Fb : Novie An-Nuril Khiyar
twitt : @noviepurple19

Random Posts

  • Cerpen Cinta | Rasa yang Tertinggal ~ 04 / 05

    Nah, satu part lagi sebelum cerpen cinta rasa yang tertinggal ini ending ya. Masih kisah seputar cinta terpendam Tifany. So buat yang penasaran sama kelanjutan kisah mereka bedua bisa langsung simak kebawah. Dan untuk yang baru mau baca, bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya biar nyambung yang bisa langsung klik disini.Rasa Yang Tertinggal“ DOOORR!!!”.Alan kaget mendengar teriakan barusan. Kaget yang benar benar kaget, karena kebetulan selain sedang melamun ia juga tidak menduga kalau orang yang sedang di lamunkan akan menyapanya. Tidak, setelah melihat sikap anehnya tadi malam. "Ehem, gue boleh duduk disini kan?" tanya Tifany sambil tersenyum kiku. Apalagi ketika melihat tatapan Alan yang hanya diam menatapnya. Mencoba untuk bersikap santai, gadis itu segera duduk di sampingnya. Pandanganya lurus kedepan. Memperhatikan jalanan depan kampus yang tampak sedang rame ramenya. “Oh ya, soal sikap gue tadi malam. Sorry ya," kata Tifany nyaris bergumam. Matanya masih menatap lurus kedepan walau ia yakin Alan pasti sedang menatapnya heran. Sama seperti reaksi Septia tadi pagi saat ia mengucapkan maaf padanya."Loe kok diem aja? Marah ya?" jengah karena merasa sedari tadi ia seperti sedang ngomong sendirian, Tifany menoleh kearah Alan. Pria itu tidak langsung menjawab. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Tifany sama sekali tidak bisa menebak."Gue nggak marah," akhirnya Alan buka mulut setelah beberapa saat kemudian. "Cuma jujur gue merasa heran. Loe nggak biasanya gitu. Loe emangya kenapa? Ada masalah?" sambung Alan hati – hati.Tifany tersenyum sembari angkat bahu. Kepalanya kembali menatap kearah jalan sembari mulutnya bergumam santai. "Sedikit, ceritanya tadi malam itu gue lagi patah hati.""Patah hati?" ulang Alan terkejut. Tifany membalas dengan anggukan.Kali ini Alan tidak tau harus berkomentar apa. Matanya masih tertuju kearah wajah gadis yang duduk tepat di sampingnya. Berharap bisa mendengar cerita lebih banyak. Terus terang, saat ini ia benar benar kaget."Kemaren gue baru tau, kalau orang yang selama ini gue suka, ternyata diam – diam sudah punya pacar dan menjalin hubungan dengan cewek lain.” terang Tifany masih tanpa menoleh. Pandangannya urus kedepan. Menatap kendaraan yang terus berlalu lalang. Seolah – olah hal itu sangat menarik untuknya.Alan masih terdiam. Ia menatap miris gadis di sampingnya. Tatapannya kosong. Tapi Alan dapat melihat matanya yang berkaca –kaca. Sungguh, Alan tau bagaimana perih luka yang di rasakan Tifany. Bahkan ia berani bersumpah demi apapun, saat ini ia tau dengan pasti bagaimana sakitnya. Saat orang yang dicintai ternyata mencintai orang lain.“Dia siapa? Kenapa loe nggak pernah cerita sama gue?” tanya Alan lirih yang lebih mirip jika di sebut gumaman.“He he," Tifany tertawa sumbang. "Gimana gue bisa cerita kalau sebelum gue cerita loe pasti udah nyerocos duluan soal Septia,” protes Tifany setengah bercanda tapi hal itu justru membuat Alan merasa lebih bersalah. Diam – diam di masukannya kembali sebuah kotak kecil yang sedari tadi ada ditangannya kedalam saku. Kemudian tangannya beralih mengengam tangan Tifany. Erat, Sangat Erat.“Fan, gue…"“Udahlah, loe tenang aja. Gue udah baikan kok. Lagian septia itu kan sahabat gue juga. Anaknya baik lagi. Gue bisa jamin loe nggak akan menyesal kalau bisa jadian sama dia,” potong Tifany yang lagi – lagi membuat Alan terdiam. Gadis itu menatap sahabatnya sambil tersenyum. Tapi gue yang pasti akan merasa menyesal karena udah kehilangan loe Al," sambungnya dalam hati.“Oh ya Al. Gue boleh nanya sesuatu sama loe nggak? Tapi loe harus jawab dengan jujur ya?" Tifany kembali buka mulut setelah lama keduanya terdiam hanyut dalam pikiran masing – masing.“Apa?" Untuk Sejenak Tifany menarik nafas dalam – dalam sembelum kata – kata itu meluncur mulus dari mulutnya.“Antara cinta dan sahabat. Loe pilih mana? Sahabat loe, atau orang yang loe cintai?”"Loe apa banget sih," Alan merasa terusik dengan pertanyaan itu. "Yee, gue kan cuma nanya," Tifany memajukan mulutnya kesel. "Lagian loe kan tinggal jawab apa susahnya coba. Loe tinggal pilih cinta atau sahabat?” "Tapi kenapa gue harus memilih?" Alan masih terlihat diak nyaman."Ya gue bilang kan ' Seandainya'. Udah, loe jawab aja. Buruan!"Lama Alan terdiam. Mungkin ia sedang memikirkan jawaban yang harus ia berikan. Setelah menghela nafas untuk sejenak, mulutnya menjawab dengan tegas. "“Gue akan memilih orang yang gue cintai."Lagi – lagi Tifany tersenyum. Senyum yang tak jelas apa maknanya. "Gue boleh tau alasannya?"“Gue punya dua alasan. Pertama, karena menurut gue seorang sahabat tidak mungkin akan meminta gue untuk memilih. Bahkan gue yakin tanpa diminta pun dia akan mendukung gue untuk mendapatkan orang yang gue cintai," balas Alan sambil membalas tatapan Tifany yang masih terkunci untuknya. Lagi – lagi Tifany tersenyum. Kepalanya perlahan mengangguk paham. Alan benar, seorang sahabat tidak punya hak untuk memintanya memilih. Ia merasa sangat konyol karena sebelumnya berharap Alan akan memberikan jawaban yang berlawanan. Namun begitu, tak urung dadanya kembali sesak. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan kehadapan.“Dan yang kedua…"Alan tidak sempat menyelesaikan ucapanya karean Tifany sudah terlebih dulu bangkit berdiri. Bahkan gadis itu langsung berteriak sembari berlari."Septia, awas!"Masih tidak mengerti, Alan mengalihkan pandangannya. Sosok yang sedari tadi duduk disampingnya kini berlari dengan cepat meninggalkannya. Untuk sejenak, Alan terpaku. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat mengetahui alasan Tifany melakukan hal itu. Tak jauh di depannya tampak Septia yang dengan santai menyeberang jalan dengan headset yang terpasang di telinga tanpa menyadari dari arah kanan tampak sebuah bus yang melaju dengan kencangnya."Brank!"Suara tabrakan disusul dengan suara teriakan orang orang di sekeliling segera terdengar. Sementara Alan malah terpaku. Ia tahu harusnya ia segera berlari untuk membantu, tapi sayang tubuhnya kini justru diam tak bergerak. Tatapannya kosong ketika dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan gadis yang di cintainya kini terbaring setelah sebelumnya terlempar jatuh dengan bersimpuh darah. Seorang gadis yang sangat ia cintai. Dan demi Tuhan, kali ini Alan benar – benar merasakan dunianya telah gelap.Next to last part cerpen cinta rasa yang tertinggal.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 04 Of 05Jumlah kata : 882 WordsGenre : Remaja

  • Cerpen Renungan: HITAM & PUTIH

    HITAM & PUTIHoleh: Alief Murobby“ Qul Huwallahu Ahad. Allahus Somad.”Suara alunan lembut bacaan Al-Qur’an mengalun merdu di tengah dinginnya malam, saat semua makhluk hidup tertidur, meringkuk dalam selimut masing-masing. Bacaan itu menghangatkan tiap hati yang mendengarnya, melawan sabetan dingin dari sabit sang malam. Suara itu menyelusup diantara daun pepohonan, kemudian terbang pergi terbawa angin.Hentakan musik dari turntable sang disc jockey memenuhi ruangan berukuran 7×6 meter itu. Asap dari bong1 dan sisha2 membumbung di tengah ruangan yang tidak berjendela itu. Delapan orang remaja, empat cowok dan empat cewek berpesta di dalamnya, tak menghiraukan malam yang terus menanjak naik.“ Ga, sini kek, ikutan nyabu. Nyedot sisha mulu,” panggil Feli pada Arga yang mojok sambil menghisap sisha. Cowok itu tidak mengindahkannya.“ Cerewet. Tuh, Sony sama Alice make out mulu kagak lo usik,” bantah Arga, seraya menunjuk pojokan dimana Sony dan Alice terus berciuman. Dia menghisap sisha-nya lagi. “ Lagian, nggak ada yang merek Ice, sih. Males gue.”“ Alah, alasan. Nih, ada Buddha Stick,” timpal Leon, pacar Feli, sambil menjulurkan salah satu jenis sabu-sabu. Tangan kirinya memegang bong, sementara tangan kanannya memeluk pinggang Feli. Sesekali, ia mengisap sabu-sabunya dengan penuh penghayatan. Sony dan Alice terus saja berpagutan di pojokan yang tadi ditunjuk Arga, tak memedulikan keadaan sekitarnya. Dunia serasa menjadi milik mereka berdua.“ Biarin aja, Fel. Arga kan banci,” celetuk Lucy, seraya menenggak segelas Silver Bullet yang dipegangnya. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama musik, alkohol perlahan-lahan mulai menguasai sistem kerja otaknya.“ Tambahan. Arga tuh impoten. Aku udah pernah lihat pe**snya dan ternyata nggak bisa ereksi. Ahahaha,” celoteh Mira tak kalah ngawur. Lebih parah dari Lucy, Mira telah menenggak berbotol-botol Bacardy3. Wajahnya sudah memerah, tapi sama sekali tak ada tanda ia bakalan berhenti. Zareo yang mendengar ocehan ngawur dari kedua cewek itu tertawa lepas. Kedua tangannya semakin erat memeluk pinggang Lucy dan Mira yang duduk di kanan-kirinya. Pikirannya sudah tak utuh lagi akibat satu gram Maryjane yang diisapnya tadi. Tak peduli dengan semua komentar teman-temannya, Arga tetap kukuh dengan sishanya.Dan pesta pun terus berlanjut tanpa ada interupsi dari pihak manapun.“ Tumben Om kesini. Ada apa sih?” tanya Mami, seraya ber-cipika cipiki dengan tamunya, seorang pria paro baya yang parlente. “ Kalo mau mesen kan bisa aja lewat telpon,” lanjutnya.“ Aku bosen lewat telpon terus. Pengennya sekarang hunting sendiri,” jawab pria itu. Matanya jelalatan melihat para gadis muda yang berlalu lalang disana. Gairahnya mulai merangkak naik.“ Yaudah, maunya Om yang gimana? Ada Lena, yang ahli banget dalam blow job4. Ada Elma, cewek 17 tahun tapi cup-nya 34 B. Ada juga kok yang masih ‘hijau’. Terserah Om pilih yang mana.” Mami menyebutkan beberapa produk unggulan dari “dagangan”nya. Si Om tidak kelihatan tertarik sama sekali.“ Aku udah pernah nyoba semua. Ada yang bisa nari striptease nggak?” tanya si Om.Mata Mami berbinar. “ Oh, ada kok. Wait a minutes, okey?” Mami segera pergi ke dalam. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan menggandeng seorang cewek cantik usia 18 tahun-an.“ Nih, Om. Namanya Sisca, ahli banget dalam urusan nari striptease,” ucap Mami, seraya menyodorkan Sisca yang tersenyum genit. Laki-laki itu mulai tertarik dengan cewek di depannya itu.“ Oke, deh. Aku bawa yang ini. Pembayarannya seperti biasa,” kata Om, sambil beranjak pergi dari tempat itu. Sisca menggelendot manja di tangannya. Mereka segera masuk ke dalam Honda Jazz hitam metalik milik si Om. Deru mobil terdengar menyalak, dan mobil itu melesat pergi meninggalkan kawasan hitam itu.Alto melenguh panjang saat dia ejakulasi, merontokkan stamina dan nafsunya yang tadi menggebu-gebu. Dia langsung ambruk di samping Karin yang wajahnya terlihat nanar. Pikirannya kalut. Dia merasakan pangkal pahanya sangat perih. “Sesuatu” telah pergi darinya tanpa permisi. “Sesuatu” yang ia jaga saat dirinya haid pertama kali waktu umur 13 tahun hingga kini tatkala umurnya 19 tahun, hilang sudah. Bau yang sangat menyengat menguak dalam ruangan kecil itu. Bau amis darah dan sperma.“ Harusnya kamu pakai kondom dulu tadi.” Karin melirik ke arah pacarnya yang masih terengah-engah. Alto terdiam, kemudian menarik cewek itu ke dalam pelukannya.“ Jangan takut. Aku akan selalu bersama kamu. Believe me,” kata Alto sambil mengecup kening pacarnya.“ Tapi nanti kalo aku…” Ucapan Karin terpotong karena bibirnya telah dibungkam oleh bibir Alto.“ Don’t say that, honey. I love you so much. I’ll be all that you want. I’ll never let you go, okey?” Alto kembali mengecup bibir merah Karin. Cewek itu menjadi agak tenang mendengar perkataan cowoknya itu. Pikiran-pikiran seperti takut hamil mulai tereduksi.Dan ia pun tertidur dalam pelukan pacarnya.Tanpa disadari oleh para manusia yang kotor dan hina, semua perbuatan mereka rupanya disaksikan oleh Alam. Alam menuliskannya dalam sejarah kelam manusia, mengingatnya, dan menyimpannya. Lama kelamaan, dia tak tahan juga terus menyaksikan ulah para manusia yang terus mengumbar hawa nafsunya. Dia pun berkeluh kesah pada Sang Penciptanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala.“ Ya Allah, Maha Suci Engkau yang telah menciptakanku dan seluruh benda yang ada di dalam dunia ini. Sudah lama aku melihat kelakuan manusia yang terus mengumbar auratnya, membebaskan hawa nafsunya, tanpa sekalipun mau mematuhi perintah-Mu. Kau terus menyuruhku bersabar, tapi aku hanya makhluk, bukan Dzat yang Maha Sabar seperti-Mu, ya Allah. Aku sudah tidak tahan lagi punggungku dipakai untuk maksiat. Aku sudah tidak tahan, Gusti,” ratap Alam sambil menangis tersedu-sedu, mengadukan seluruh penderitaannya yang selama ini terus dipendamnya.“ Ya sudah, Kuperintahkan kau untuk berguncang. Buatlah gempa yang dahsyat. Hukuman bagi mereka yang ingkar kepada-Ku, cobaan bagi mereka yang beriman pada-Ku.”Mendengarnya, Alam agak kaget tapi dengan cepat ia menguasai diri. Tanpa berniat menginterupsi, Alam menjawab dengan khidmat,” Sami’na wa ato’na5.”Hari itu, tanggal 27 Mei 2006, kota Yogyakarta diguncang oleh gempa dahsyat. Alam menumpahkan seluruh kepedihannya yang selama ini terus disimpannya. Dia mengamuk, meluluhlantakkan kota yang terkenal dengan julukan kota pendidikan itu. Bangunan-bangunan yang dulu berdiri pongah kini rata dengan tanah. Korban tewas terus bergelimpangan.“ Lam Yalid Wa Lam Yuulad. Wa Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad.”Suara itu terus mengalun diantara puing-puing reruntuhan bangunan, terus mengagungkan nama Allah. Allah Yang Maha Besar. Allah Yang Maha Esa. Allah Yang Maha Kuasa. Suara itu terus terbang terbawa angin. Terus menjauh. Jauh.***Keterangan:1. Bong: alumunium foil yang biasa digunakan untuk mengisap sabu-sabu2. Sisha: rokok Arab yang terdiri dari tabung penghasil asap dan 3-4 selang pengisap3. Bacardy: merek minuman keras jenis rum4. Blow job: oral seks5. Sami’na wa ato’na: saya mendengar dan saya menaati

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 04″

    Lanjut kisah dari cerpen Take My Heart yang kini udah sampe part 04. Secara ni cerita lumayan panjang, terdiri dari 20 part. So untuk yang udah kadung merasa penasaran tentang gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak kisahnya di bawah ini. Dan biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading guys….Cerpen Take My Heart"Dasar manusia gila, kurang kerjaan. Rese," gerut Vio.Sepanjang jalan menuju kekelasnya ia terus mengerutu tak jelas. Entah itu karena perlakuan Ivan padanya atau karena ia merasa nasip sial masih menyertainya. Mendadak ia merasa ragu kalau keputusannya pindah kampus untuk mengobati rasa patah hatinya atas penolakan Herry benar – benar merupakan hal yang benar. Secara kali ini ia menyadari kalau nasipnya di kampus baru ini juga tidak terlalu mujur.Entah karena keasikan mengerutu atau memang karena pikirannya sedang melayang – layang, yang jelas saat belokan koridor kampusnya tak sengaja ia malah menabrak seseorang. Membuat gadis itu _ yang ternyata sedang membawa banyak buku langsung berserakan di lantai."Sory sory sory, gue nggak sengaja," Vio segera berjongkok. Mengumpulkan kembali buku – buku itu. Hal yang sama juga di lakukan oleh gadis itu.Setelah buku – buku itu kembali tertata rapi barulah Vio berani mentap sosok yang di tabraknya yang kebetulan juga sedang menatapnya.Bulu matanya yang lentik serta kulit wajahnya yang halus tanpa jerawat langsung menjadi nilai plus dari Vio atas gadis itu. Apa lagi di tambah dengan bola matanya yang coklat serta bibir yang mungil. Benar – benar keindah paras tanpa cela."Eh sekali lagi maaf ya. Gue jalan nggak liat – liat," ulang Vio merasa bersalah."Nggak papa kok. Kayaknya tadi itu juga gue emang ceroboh," balas gadis itu sambil berdiri. Matanya masih memperhatikan Vio. Sepertinya gadis itu juga sedang memberikan penilaian atas dirinya."Vio," tampa di minta Vio langsung mengulurkan tangannya. Untuk sekian detik gadis itu terdiam. Mencoba mencerna maksut Vio. Baru lah pada detik berikutnya senyum mengembang di bibir sambil tangannya terulur menyambut uluran tangan Vio."Silvi."Kata pertama yang Vio dengar keluar dari mulut gadis mungil itu. Merdu. Membuat Vio kembali harus mengakui kelebihan barunya.Sejenak Vio kembali terdiam. Silvi? Kenapa ia merasa familiar dengan wajah itu ya? Sepertinya ia pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana ya?"E.. Mahasiswi baru ya?" pertanyaan Silvi sudah lebih dulu mendahuluinya."Kok tau?" akhirnya Vio lebih memilih untuk balik bertanya dari pada menjawab. Sebuah kebiasaan yang memang sering di lakukan oleh kebanyakan orang jika langsung benar dalam menebak sesuatu."Soalnya gue baru liat" Balas Silvi sambil tersenyum. Vio ikut tersenyum sambil mengangguk membenarkan."Oh ya, buru – buru memang mau kemana?" tanya Vio mengalihkan pembicaraan."Tadinya si pengen ke kantin, tapi karena waktu sepertinya sudah tidak memungkinkan mending gue langsung balik kekelas aja deh," salas Silvi setelah tadi sempat terdiam beberapa saat."Kalau boleh tau kelas mana emang?" tanya Vio lagi."Jurusan sastra, semester empat ruang 3C.""Kok sama?" tanya Vio kaget."Masa sih?" Silvi ikut – ikutan kaget."Tapi perasaan tadi gue nggak ada liat loe di kelas sebelumnya?" tanya Vio lagi."O… Gue baru datang.""Jam segini?" Vio tampak memelototi jam yang melingkar di tangannya."He he he," Silvi thanya nyengir polos. "Gue nggak harus masuk semua mata kuliah kan untuk bisa di akui sebagai mahasiswa di kampus ini?"Vio mengeleng tak percaya. Dengan tampang sepolos dan seimut dihadapannya ia tidak akan pernah menyangka kalau gadis itu mau membolos."Lagi pula gue selalu melakukan hal yang gue sukai kalau loe belom tau," tambah Silvi lagi. "Apapun!" sambungnya.Mendengar kalimat tegas di penghujung kata Silvi hanya mampu membuat Vio angkat bahu. Setiap orang bebas untuk berpendapat bukan, terlepas dari hal itu benar ataupun salah. Lagipula bukankah orang – orang selalu menganggap bahwa hidup ini pilihan?"Kalau gitu, bisa kita langsung kekelas bareng?" ajakan Silvi membuyarkan lamunan Vio. Tanpa kata ia kembali mengangguk. Berjalan beriringan menuju kekelasnya. Sivli, orang pertama yang ia kenal di kampus barunya itu.Baiklah, edisi ralat. Silvi, orang pertama yang bisa ia di jadikan sahabat di kampus baru itu walau bukan orang pertama yang ia kenal. Masih ada para dosen juga si Laura, musuh dadakannya. Ataupun si Ivan, cowok kurang ajar yang menjadikan ia sebagai sarana untuk mendapatkan sepuluh juta.Cerpen terbaru "Take My Heart""Oh ya Vi, ngomong – ngomong loe kenal Ivan nggak?" tanya Vio.Ini adalah hari keduanya di kampus Amik sebagai mahasiswi baru. Menghabiskan waktu pergantian mata kuliah di kantin sambil menikmati Mie Soo pesanannnya di temani Silvi yang duduk di hadapan sembari menikmati sepotong pisang goreng."Ivan? Maksut loe dia?" tanya Silvi sambil menunjuk ke luar melewati jendela kaca kantin itu.Gerak refleks mata Vio mengikuti arah yang di tunjuk Silvi. Beberapa detik kemudian kepalanya mengangguk membenarkan."Tentu saja. Siapa si yang nggak kenal sama playboy kelas kakap itu?" balas Silvi santai."Oh ya? Emang dia beneran playboy?" tanya Vio terlihat tertarik."Emm," Silvi mengangguk membenarkan. Mulutnya masih penuh dengan pisang goreng membuatnya agak sulit untuk berbicara. Vio hanya mangut – mangut membenarkan."Bahkan asal loe tau aja. Bukan cuma playboy tu orang juga kurang ajar banget. Dua hari yang lalu, di kantin ini, di hadapan semua orang dia mutusin si Laura. Cewek idola di kampus kita. Katanya dia jadian sama tu cewek cuma karena taruah. Astaga, Gue nggak akan percaya kalau saja waktu itu gue nggak ngeliat kejadiannya di depan mata kepala gue sendiri," tambah Silvi lagi.Vio kembali terdiam. Sekarang ia mengerti kenapa Laura begitu benci pada Ivan sampe – sampe harus menyewa preman segala. Sepertinya itu memang pembalasan yang pantas untuknya."Tapi dari mana loe bisa tau soal dia? Terus kenapa loe pake nanyain dia tiba – tiba?" tanya Silvi tiba – tiba membuat Vio kembali harus diingatkan akan nasip hidupnya."Dia jadiin gue target selanjutnya. Dia juga jadiin gue sebagai barang taruah sepuluh jutanya," balas Vio lirih berbanding balik dengan reaksi sosok di hadapannya."Apa?! Loe adalah target taruhan Ivan yang selanjutnya?!" Demi apapun Vio benar – benar menyesali apa yang ia katakan barusan. Teriakan yang di ucapkan Silvi beberapa saat yang lalu benar – benar telah berhasil menarik perhatian seisi kantin. Sama halnya seperti banjir yang melanda Jakarta namun mampu membuat heboh seluruh warga Indonesia. Membuat Vio hanya mampu mengangkat tangannya menutupi wajah karena malu walau ia tau itu percuma."Kenapa nggak sekalian aja loe minjem mic di kampus ataupun loe bikin iklan di koran tempo," gerut Vio kesel."Ups, sory gue kelapasan," bisik Silvi merasa bersalah."Loe barusan bilang apa? Loe target taruhan Ivan yang selanjutnya?" tanya seseorang yang duduk tak jauh dari meja mereka angkat bicara sambil bangkit menghampiri. Vio hanya mengernyit kesel. Kenal juga enggak kenapa langsung di tuding begitu. Benar – benar nggak sopan."Enggak, kalian salah denger," elak Vio yang ia juga tau itu hal percuma. Mereka bukan anak kecil yang bisa dengan gampang di bohongi."Kita nggak mungkin salah denger. Jadi bisa loe jalasin apa maksut ucapan loe tadi?".Telak, benarkan apa yang Vio pikirkan barusan. Membohongi mereka itu percuma."Baiklah, walaupun seandainya itu benar, gue nggak berkewajiban untuk memberitaukannya pada kalian kan?" balas Vio akhirnya."Loe salah. Apaun yang berurusan sama Ivan itu selalu menjadi urusan kita."Vio hanya mendengus mendengar kalimat barusan. Bukankah itu kalimat yang sama yang ia dengar dari mulut Laura beberapa saat yang lalu? Lagipula, astaga. Yang benar saja, ia baru dua hari di kampus ini. Kenapa begitu banyak masalah yang bermunculan? Kenapa nggak sekalian saja masalah patah hatinya di bawa kseini? geramnya."Jadi apa benar Ivan melakukan taruhan lagi?" tanya seorang lagi yang tak Vio ketahui siapa."Ya," akhirnya dengan berat hati Vio mengangguk membenarkan. Membuat bisikan sana sini samar-samar terdengar."Kok bisa? Gimana ceritanya?""Iya, loe juga nggak cantik – cantik amat tuh," sambung yang lain setengah menghina."Mana gue tau. Kalau kalian mau tau tanyain saja langsung sama si Ivan," gertak Vio.Kesabarannya habis. Dengan cepat ia bangkit berdiri. Berlalu melewati anak – anak yang jelas masih penasaran. Meninggalkan kantin dengan keselnya."Loe mau kemana?" tanya Silvi sambil mensejajarkan langkahnya bersama Vio. Tapi vio tetap terdiam."Maaf, tadi gue nggak sengaja," sambung Silvi lirih.Untuk sejenak Vio menghentikan langkahnya. Menatap kearah Silvi yang terlihat merasa bersalah. "Sudahlah, lupain aja. Gue tau kok tadi itu loe nggak sengaja," kata Vio akhirnya."Tapi…." Silvi tidak jadi melanjutkan ucapannya. Matanya lurus menatap kehadapan. Memuat Vio sejenak merasa heran, dan begitu menoleh."Halo Vio," sapaan lembut dari mulut Ivan sontak membuatnya mendadak merasa mual."Ya Tuhan…" gumam Vio frustasi sambil mengusap keningnya."Loe kenapa? Sakit?" tanya Ivan. Raut khawatir jelas tergambar di wajahnya."Diem loe," damprat Vio sewot. Kemudian tanpa kata segera berlalu."Kenapa tu anak? Lagi datang bulan ya?" tanya Ivan kearah Silvi yang masih berdiri di hadapannya."Jiah, pake nanya. Bukanya itu gara- gara loe ya?" cibir Silvi sinis."Gue?" tunjuk Ivan kearah wajahnya sendiri."Iya. Ngapain loe jadiin dia target taruhan loe selanjutnya. Emang nggak bisa mikir loe ya?""Kok loe tau?" tanya Ivan makin kaget."Bukan cuma gue. Tapi gue bisa jamin, sebentar lagi. Seluruh anak kampus juga bakal tau.""Ha?"Mulut Ivan hanya mampu melongo. Sementara Silvi sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan itu lebih lanjut. Ia lebih memilih mengejar Vio. Memastikan kondisi gadis itu sekarang. Astaga, ada ada saja.Next to Cerpen Take My Heart Part 05Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Catatan Tentang Dia – Oleh Farhatul Aini

    Oleh : Farhatul Aini – Mengenal kamu itu sesuatu yang indah tak pernah berfikir akan melewati masa yang panjang, berliku dan rumit. Kebahagian dan kesakitan melengkapi cerita kita namun sesuatu yang masih ku kenang saat ini dan entah akan hilang dan tak berbekas sampai kapan, biarlah waktu yang berjalan akan menjawabnya.Kisah cinta ku ini memang harus berakhir, walaupun hati benar-benar menolaknya, tidak ingin merasakannya, sakit hati ini terasa letih akankah kau tau itu? Kevin kakasih yang aku sayang begitu tulus, mengakhiri hubungan kita tanpa alasan yang jelas, berkali-kali ingin aku menolak kenyataan ini, tapi ini adalah sebuah perjalanan hidup yang mungkin harus ku lalui, mencintainya membuat aku sering melupakan sakit yang dia perbuat, kebaikannya masih ku rasakan seperti dia adalah kekasihku yang dulu, namun keadaan selalu menyadarkanku bahwa dia bukan miliku lagi.Tidak semua kebaikannya selalu membuatku bahagia, saat dia sedang berbaik hati menemaniku saat aku kesepian, dia seringkali bercerita tentang kehidupan percintaannya yang ia jalani, sebelumnya aku tak pernah tau, sontak saat dia bercerita rasanya perasaan ini berantakan, tapi memang aku harus tau mungkin untuk menyadarkan aku melupakannya, tapi dihatiku benar-benar tak pernah ingin tau dan lebih baik tidak pernah tau, hal itu tak ingin pernah ku dengar, tapi aku hanya mencoba menjadi pendengar yang baik, apapun ceritanya walaupun menyakitkan buat hatiku. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang ada saat dia butuhkan, walaupun mungkin dia tidak pernah membutuhkan aku.Pernah di suatu hari, pertemuan kita memang tak sering seperti mungkin pacarnya yang lalu. Dan saat bertemu dia adalah moment yang spesial, hari ini adalah pertemuanku pertama dari semenjak kita tidak terikat oleh ikatan cinta, rasa canggung dan gugup menatapnya dirasakan olehku, berjalan di tempat keramayan sedikit membuat jantungku gemetar, bingung mau berkata apa ? akankah sikapnya masih seperti yang dulu perhatian dan lembut kepadaku ? akankah dia berubah menjadi seorang yang dingin terhadapku ?Waktu telah menjawab semuanya, dan semua baik-baik saja tak ada perubahan dari semua yang telah berjalan, kebaikan dan keramahannya masih sama seperti yang dulu.Aku bahagia dan lega saat semua berjalan seperti yang terfikirkan, dipertemukan dengannya kembali membuat aku berharap akan bisa membangun sebuah hubungan kembali dengannya, namun kebaikannya hanya sebuah kesalahan yang aku artikan, aku berharap dan menunggu sampai hari kencan itu selesai, dan mungkin kita memang tak bisa disatukan lagil, semakin aku menyadari bahwa aku telah kehilangannya.Tidak mudah melupakan sesorang, apalagi jika kita benar-benar tulus mencintainya.***facebook : Farhatul.aini@yahoo.comTwitter : @ainigonilblog : aini-gonilll.blogspot.comE-mail : ainibarnessa@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*