Cerpen Cinta Sedih: EVERLASTING

EVERLASTINGOleh Bella Danny Justice
Cerpen Cinta SedihSaat pertama kali gadis itu menginjakan kakinya dirumahku, aku sudah menyukainya. Tak peduli bahwa ia adik angkatku, aku sangat menyukainya. Wajah lugunya serta senyum polos yang selalu ia tunjukkan membuat perasaan ini semakin tidak karuan. Bertahun-tahun aku menahan perasaanku karena aku tau mama dan papaku tidak akan pernah mengizinkannya sampai kapanpun.Avia, gadis kecil yang dibawa orangtuaku dari sebuah panti asuhan itu kini tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan lembut. Dari awal, aku tidak pernah bersikap baik kepadanya, aku tidak pernah menjawab ketika ia bertanya, aku tidak pernah menunggunya untuk berangkat ke sekolah bersama, dan aku tidak pernah menghiraukan keberadaannya…aku lakukan semua itu supaya aku tidak merasa bersalah karna telah menyukai adik angkatku sendiri.Bahkan Raina, teman dekatku sejak SD menyalahkan perasaanku. Ia bilang bahwa aku rupayanya sudah gila. Ia bilang kenapa tidak orang lain dan kenapa harus adik angkatku. Aku hargai setiap perkataannya karena dia adalah teman baik ku, tapi aku bisa berkata apa? Inilah aku! Hatiku tidak akan berubah walau seluruh orang di dunia berkata cintaku ini mustahil!
“I’m sick of this life, i just wanna scream how could this happen to me…”Simple Plan – Untitled
“kakak! Ka Niko! Ditunggu mama sama papa untuk makan malam dibawah. Cepetan ya kak!” Seru Via yang membuyarkan lamunanku saat itu. Aku tidak menjawabnya, aku malah pergi ke rumah Raina dan makan malam disana. Orangtua Raina tidak keberatan harus semeja makan denganku karena mereka juga kenal dekat dengan keluargaku dan aku sering sekali berkunjung. Setiap hatiku sedang gundah gulana aku selalu menceritakannya pada Rai.“gue ga tau ko mau kasih nasehat ke elo kaya gimana lagi…” ucap Raina merebahkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan bantal.Aku mendekatinya dan menarik bantal itu dari wajahnya. “ayolah Rai! Gue mohon! Gue bener-bener suka sama Via. Gue juga ga tau kenapa Tuhan harus menakdirkan dia jadi ade angkat gue. Gue bingung banget Rai!”“ini nasehat terakhir ko. Ada 2 pilihan. Lo mau nyatain perasaan lo atau mundur dan merelakan semuanya.” Yang dikatakan Raina memang benar. Aku tidak punya pilihan lain. Menunggu terlalu lama membuatku jenuh dan lelah. Aku hanya punya 2 pilihan itu dan harus segera ku putuskan yang mana yang akan aku ambil.“gue nginep dirumah lo dulu ya Rai malam ini. Gue mau mikirin keputusannya.” Ujarku lalu menarik selimut dan bersiap tidur.Tiba-tiba Raina mendorong punggungku dengan kakinya hingga aku terjatuh dari tempat tidurnya. “lo gila ko?! Tidur dibawah! Yang bener aja masa tidur bareng sama gue!” omel gadis itu. Terkadang aku berfikir dia sangat lucu kalau sedang marah-marah seperti itu. Aku tertawa dalam hati dan menuruti perkataannya.“iya! Kejam banget sih lo kaya Belanda!” ledekku.“biarin aja! Daripada elo bodoh banget ga pernah nyadar!” setelah membalas ledekanku Raina langsung menutupi dirinya dengan selimut. Apa maksud dia? Ngga pernah nyadar? Apa dia ngeledek aku yang ga pernah nyadar kalau menyukai Via adalah suatu kemustahilan?Keesokannya aku berangkat sekolah bersama dengan Rai. Kami pergi dengan kendaraan umum. Menunggu lampu merah untuk menyebrang jalan raya yang dipenuhi mobil dan motor yang berlalu lalang. Aku menggandeng tangan Rai ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah dan menyebrang melalui zebra-cross. Namun Raina menghempaskan tanganku ke udara. Ia melepaskan genggamanku dan berlari. Saat aku akan mengejarnya lampu itu berubah warna, kulihat datang sebuah truk berwarna putih dengan kecepatan tinggi tapi Rai tidak menyadarinya sampai truk itu mengklaksoninya.Aku berteriak sekencang-kencangnya. “RAIINAAAAAA!!!”
“She’s lost in the darkness, fading away..I’m still around here screaming her name…”*Within Temptation – Lost*Syukurlah…syukurlah aku berhasil menariknya dan memeluknya sehingga tak terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Jika itu terjadi, aku tak tau harus berbuat apa. Dalam sekejap kaki dan tanganku membeku, aku masih terus mendekapnya erat. Dan aku bisa lihat ketakutan yang mendalam dimatanya. Ia menggigit kukunya dengan gemetaran, sedangkan orang-orang berkerumun mengelilingi kami.“udah Rai, udah ngga apa-apa. Gue berhasil menyelematkan lo. Lo ga perlu takut lagi Rai.” Ucapku sambil membelai rambutnya.“t-terimakasih Ko…terimakasih.” jawabnya terbata-bata. Raina memegang tanganku dengan kencang, dan ia menarik-narik seragamku. Untuk itu aku berinisiatif mengantarnya kerumah dan menyuruhnya beristirahat. Setelah kejadian itu aku merasa aneh pada diriku sendiri. Tapi aku tidak menghiraukannya. Yang sekarang aku prioritaskan adalah mengungkapkan perasaanku pada Avia. Malam harinya aku teringat akan nasihat Rai, bahwa aku mempunyai 2 pilihan. Dan disaat aku ingin mengutarakan perasaanku, kenapa sekarang aku merasa ragu akan hatiku, kenapa aku ragu dengan perasaan yang sudah lama aku pendam ini? Aku terus memikirkannya. Akhirnya ku putuskan untuk tetap mengatakannya pada Via. Kemudian aku pun mendatangi kamarnya.“ka Niko, ada apa? Tumben kakak ke kamar aku?” ujarnya yang sedang memegang buku pelajaran Biologi. Aku menghampirinya dan duduk disampingnya.“Via, tolong dengerin kakak…karna kakak gak akan mengulangnya.” Kataku tak berani menatap adik angkatku itu.“iya, Via pasti dengerin kakak. Kenapa ka? Ada apa?” jawabnya penuh rasa penasaran.Aku menarik nafas dalam-dalam dan menelan ludah. “aku sayang sama kamu Via.”“aku juga sayang kakak. Aku kira selama ini kakak benci sama aku. Tapi aku lega ternyata kakak sayang sama aku.” Avia menjawabnya dengan mudah sambil menorehkan senyum polos diwajah cantiknya kemudian memelukku.Aku kembali menarik nafas dan berusaha menjelaskan bahwa perasaanku ini lebih dari rasa sayang seorang adik-kakak. “kakak sayang kamu sebagai seorang wanita Via! Aku cinta kamu!” Tampak wajah Avia begitu kaget mendengar pernyataanku. Ia tak menjawab sepatah kata pun. Ia melepaskan pelukannya. Ia tidak menoleh ke arahku sama sekali. Meskipun aku telah ditolak, tapi aku merasa beban yang ku pikul selama ini telah sirna. Walaupun aku tidak langsung bisa melupakan perasaan yang sudah sangat lama ku pendam tapi aku yakin perlahan waktu akan mengembalikan keadaan seperti semula.
“Nobody said it was easy..no one ever said it would be this hard, Oh take me back to the start…”*Coldplay – Scientist*
Keseharianku berjalan seperti biasanya, untunglah ada Raina yang selalu bersama denganku. Sejak kejadian itu Via tidak berubah, ia tetap menegurku dengan senyum cerianya. Aku sungguh bersyukur dia tidak marah terhadapku dan kami pun perlahan menjalin hubungan selayaknya adik-kakak. Dan tahap demi tahap, perasaanku terhadapnya memudar. Mungkin kalau aku menceritakan kisah konyolku ini kepada semua orang mereka pasti akan berkata “yang kau alami itu Cinta Buta.” Jika kembali ke masa lalu aku jadi geli sendiri mengingat bagaimana bisa aku menyukai adik angkatku. Namun aku tak sependapat bahwa Cinta itu Buta. Cinta tetaplah cinta. Cinta itu suci. Terkadang manusia seperti akulah yang tidak pandai melihat ataupun menyadari yang sedang ku alami benar cinta atau hanya perasaan ingin memiliki semata. Karna jika berbicara tentang cinta, berarti kita juga membicarakan 2 orang yang memiliki perasaan yang sama. Aku cinta kamu, dan kamu cinta aku. Dan cinta yang pernah aku miliki dulu adalah “Aku cinta kamu, tetapi kamu tidak cinta aku.” “hayooo!! Ngelamun aja sih ko!” ternyata Raina yang mengagetkanku dari belakang. Tanpa rasa bersalah ia malah mencubit pipiku dan cengengesan. “awhh.. sakit tau Rai!” keluhku sambil mengusap pipiku yang merah karena dicubit gadis satu itu. “masih ada rasa yang tertinggal sama adik angkat?” ucapan Raina membuatku tak dapat bergeming. Keheningan menghiasi kami saat itu. Tapi tindakan Raina lebih-lebih membuatku terkejut. Ia mendekatiku dan memelukku. Aku…mataku seperti hampir mau copot karna saking kagetnya. Aku tak bisa begerak, tubuhku mati kukuh, namun aku merasakan sesuatu…suatu kehangatan yang mampu menenangkan hatiku… “jangan menderita karna dia, karna banyak orang lain yang berlomba untuk menyayangi elo Ko, termasuk gue…” setelah mengutarakan kalimat itu lalu ia pergi, sedangkan aku…aku tak dapat mengatakan apa pun…aku tak tau mengapa jika berada didekatnya aku hanya bisa terdiam. Ya, aku memang masih menyukai Avia. Tapi, aku kira seseorang baru saja menghapus perasaan itu. Seseorang yang tidak kuduga… bahwa ia mampu melakukan hal besar terhadap diriku. Aku tidak peka selama ini. Maafkan aku Rai…
Aku ingin kau selalu ada untukku…Yah, walaupun tanpa ku katakan kau pasti selalu menemaniku…Namun kali ini berbeda, aku sadar siapa yang sebenarnya aku sayangi…Aku tidak benar-benar menyukai Avia, dulu itu hanya perasaanku sesaat karna kau pergi meninggalkan aku tanpa kabar sedikitpun…
“How did we lose our way, how did we fall apart…”*All 4 One – Smile Like Monalisa*
“Rai! Rai mau kemana! Rai kan tau Niko ga punya temen selain Rai!” “maafin aku Ko, tapi aku harus tinggalin kamu lagi. Semua ini aku lakukan supaya kamu menyadari siapa yang benar-benar kamu cintai. Da-dah Niko…” Suara itu…wajah Raina…tapi mau pergi kemana lagi dia?! “jangan pergi lagi Raiiiii !!!” jeritku yang terbangun tengah malam dari mimpi yang begitu menyesakkan dadaku. Bagaimana bisa aku bermimpi seperti itu? Pikirku tak percaya. Ku tengok handphone yang saat itu bergetar. Ternyata sms dari Raina.
From : Raina DennieleHei, ko. Maaf membangunkanmu tengah malam, tapi aku hanya ingin menyampaikan satu hal. Tolong datanglah kerumahku nanti pagi, aku ingin mengucapkan satu permintaan.
Ketika aku membalas sms-nya, tidak ada laporan terkirim sama sekali. Berulang-ulang aku mengirimnya hasilnya tetap sama. Karena penasaran, akhirnya aku menelfonnya…tapi nomernya tidak aktif. Aku benar-benar bingung. Permainan apa lagi ini Rai?! Gumamku. Sial, semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak karna perempuan merepotkan itu. Aku terus menggerutu sepanjang perjalan kerumah Raina. Saat mengendarai mobil tiba-tiba melintas seekor kucing yang membuatku terhentak kaget dan aku langsung menginjak rem. Aku keluar dari mobil dan syukurlah aku tidak menabrak binatang itu, ketika berbalik menuju mobil aku kembali dibuat terkejut… Raina?! “Rai, kok lo bisa disini? Bikin gue kaget aja!” ucapku agak sedikit terkejut. “ah, kebetulan aja ko. Gue abis kerumah seseorang.” Tumben sekali dia tidak cerwet. Hari ini Rai kelihatan agak aneh. “ayo gue anter lo pulang Rai.” Kataku menggandeng tangan Raina. “jangan sekarang ko, gue mau pergi ke suatu tempat sama lo, boleh kan?” pintanya. “karna sekarang hari minggu kayanya boleh juga sekali-kali kita jalan, lagipula udah lama kita ga jalan bareng. Okedeh, lo mau kemana? Gue anter.” Tuturku yang memasuki mobil bersama Rai. “gue…mau ke taman hiburan ko.” “wah seru tuh! Gue juga udah lama ga kesana, terakhir kali sama lo pas kita umur 10 tahun hehe.” Lalu aku langsung menancap gas menuju salah satu taman hiburan di daerah Jakarta Utara. Kami menaiki semua wahan, mulai dari yang kekanak-kanakan seperti gajah terbang, bom-bom car, istana boneka, sampai yang menyeramkan seperti halilintar, tornado, dan kora-kora. Sudah lama sekali aku tidak ketempat ini, dan aku merasa sangat nyaman…nyaman berada di dekat Rai.
“All my agony fades away when you hold me in your embrace…”
*Within Temptation – All I Need* Wahana terakhir yang kami naiki adalah Bianglala. Jujur, sebenarnya aku paling takut naik wahan ini dari dulu. Tetapi aku bukan anak kecil lagi, jadi aku memberanikan diri agar Raina tidak menganggapku pengecut. “lo ga takut lagi ko?” “enggaklah! Gue kan udah gede! Emangnya gue masih anak-anak!” Raina tertawa kecil, lalu ia berkata. “baguslah kalau begitu. Hari ini gue seneng banget ko, terimakasih ya..” Ia menghampiriku dan memelukku. Namun sekarang aku tidak hanya terdiam, aku membalas pelukannya. Dengan erat aku mendekap gadis itu. Entah mengapa rasanya aku ingin menangis ketika ia melepas pelukannya. “lo masih inget kata-kata gue kan ko? Jangan menangis untuk orang yang gak benar-benar lo cintai. Jangan menderita karena seseorang yang lo cintai meninggalkan lo. Karena gue akan selalu ada untuk lo, sampai kapanpun…” Sungguh, aku tidak dapat menahan tetesan air mata yang hangat perlahan mengalir dipipiku. Aku merasa sedih saat Raina mengatakan hal itu. Kemudian ia kembali memelukku, lebih lama dan lebih dalam dari sebelumnya. Ini adalah momen yang tidak akan kulupakan. Setelah puas seharian jalan bersama Raina aku pun mengantarkannya pulang, tapi aku tidak sampai ke rumahnya, hanya di depan gapura perumahan karna aku sudah keburu cape dan ingin cepat-cepat berbaring ditempat tidur. Sesampainya dirumah aku mendapati orangtuaku dan Avia dengan wajah gelisah sedang duduk diruang keluarga. Begitu melihat aku sudah pulang, mama langsung menghampiriku. “ya ampun Niko! Kamu kemana aja sih dari pagi?! Mama telfonin tapi nomer kamu gak aktif! Kamu tuh habis dari mana?!” yang namanya mama kalo udah ngomong ga ada titik komanya. Aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu. “aku abis…” belum selesai menjawab Avia menyela pembicaraanku dengan mama. “kakak Rai meninggal kak. Dia kecelakaan tertabrak Truk tadi pagi.” Sela adikku. Gelap, dunia ini seakan berubah kelam bagiku. Bagaimana mungkin?! Tadi pagi, hah?! Sedangkan Raina baru saja menghabiskan waktu bersama denganku! Mereka pasti salah! Mereka pasti membohongiku! Aku jatuh tersungkur, membenamkan wajahku kedalam kedua telapak tanganku. Rai, mana mungkin…mana mungkin ini terjadi kepadamu, iya kan Rai?! Jawab aku Raina?!!!Tolong jangan tinggalkan aku Rai…
“Place and time always on my mind.. I have so much to say but you’re so far away…”*Avenged Sevenfold – So Far Away*
Keesokan paginya aku dan keluarga mendatangi rumah Raina yang terpampang bendera kuning. Banyak orang-orang yang berdatangan untuk memberikan doanya. Disamping peti kayu yang dingin itu aku melihat Om Johan dan Tante Lucy sedang menangisi anak mereka. Terutama Tante Lucy, ia tampak kehilangan dan Om Johan berusaha terlihat tegar sambil menyemangati istrinya. Kaki ku tidak mampu bergerak selangkah pun. Rasanya aku tidak sanggup harus melihatnya. Aku tidak berani menghadapi semua ini sendiri. Tapi Avia menggengam tanganku, ia tersenyum padaku seolah memberikan kekuatan kepadaku.
Melihatmu terbujur kaku berhiaskan gaun putih dan bunga yang kau pegang… kau sungguh cantik Rai.. benar-benar seperti malaikat. Setidaknya aku sangat senang karna sebelum kau pergi kau menemuiku lebih dahulu dan menghabiskan waktu bersama denganku..Tidak ada lagi yang dapat kukatakan Rai. Disatu sisi aku memang kehilanganmu tapi disisi lain aku ingat perkataanmu bahwa aku tidak boleh menderita jika orang yang ku cintai pergi meninggalkan aku, karena kau sebagai orang yang ku cintai akan selalu ada dihatiku.Tidurlah dengan damai, bawalah seluruh kenangan kita bersama kepergianmu. Jangan pernah lupakan aku dari hidupmu. Tetaplah berada dihatiku selamanya, karena aku tidak akan pernah menghapusmu dari ingatanku.Aku yakin Rai, seseorang yang mencintaiku telah menungguku diluar sana.. meskipun aku sekarang belum menemukannya, tapi satu yang pasti bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu…***Gadis itu memberikan kecupan lembut yang terakhir di pipi Niko tanpa sepengetahuannya. Ia menangis untuk yang terakhir kalinya dan terbang jauh menembus awan.“Ko, aku minta maaf karna aku tidak bisa berada disismu selamanya sampai kapanpun seperti perkataanku, tapi aku akan selalu mengawasimu dari atas sini ko…aku akan menyaksikan sendiri kau bersama orang yang benar-benar kau cintai hidup berdampingan…rasanya aku tidak sabar menunggu akan hal itu..selamat tinggal Niko…”
“I hope it's worth it, what's left behind me…I know you'll find your own way when I'm not with you…”*Avenged Sevenfold – Fiction*
DE ENDIni cerpen terakhir dari saya karna selama 1 bulan kedepan akan sibuk untuk persiapan kuliah. Tapi setelah semuanya selesai pasti saya akan kirim yang lainnya lagi.Hope you like it. Sincerely,BELLA.Fb : Bella JusticeTwitter : @bellajusticeeCerpen Bella yang lainnya: LOVE THAT I SHOULD HAVE, THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES, Kenangan yang Terlupakan

Random Posts

  • Cerpen Remaja “Tentang Rasa” ~ 07 {Update}

    Oke, Aku update lagi ni ya. Sebenernya Cerpen Remaja "Tentang Rasa" ~ 07 ini udah pernah di publis di blog ini dulu. Cuma, karena harus ku edit lagi, terpaksa ku kembalikan ke Draf.Oh ya satu lagi. Jangan meminta lebih sebelum berusaha lebih. Dibawah ada kotak komentar kan?. Silahkan diisi dengan unek – unek kalian. Tapi kalau cuma minta lanjutan, sory ya. Aku nulis itu cuma kalau ada waktu luang. Aku sudah memutuskan, kali ini aku nggak akan memaksakan diri lagi untuk rela – rela in nulis di angkot lewat hape cuma buat nulis lanjutan ceritanya.Like what i say before, Aku menilai suatu karya dari banyaknya like and komentarnya. Simpelnya, untuk meninggalkan jejak aja susah, apalagi mau bikin cerpennya. That is my opinion. Ha ha ha” Tawa anggun Langsung meledak mendengar cerita yang keluar dari Mulut Rian. Mantan tetangganya dulu saat tinggal di Rasbar. Tapi sejak ada bencana banjir yang melada tempat tinggal mereka , mereka sama – sama pindah. Nggak nyangka setelah hampir 4 tahun bisa bertemu lagi.sebagian

  • Cerpen Romantis: Mr. Ice Cream

    Ini sudah mangkuk es krim kedua yang aku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam duduk di kedai ini. Pelayan tua kedai itu kadang sesekali memalingkan tatapannya dari Koran pagi harinya kearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang waras, di cuaca sedingin ini dan sedang hujan deras diluar sana, ada gadis yang masih menikmati es krim sampai mangkuk kedua, tenang saja pak tua gumam ku dalam hati mungkin akan ada mangkuk yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Aku tak peduli.Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Me-rewind semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya. ***3 tahun yang lalu. Di kedai es krim yang samaWajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.“Gimana?” tatapnya penasaran, air mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan. “Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati. “Enaak !!” Seru ku.Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya.Ya, Dialah Keylan. Key dan Aku pertama kali bertemu di laboratorium praktikum kimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang tertinggal di laboratorium. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut dua tahun lebih tua dari umurku.Key mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalan nya Key sering mentaktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampus-lah pertemanan kami semakin akrab.Key dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilang terbalik, Key adalah cowok dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cewek dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial kartun Kapten Tsubatsa. Terbalik bukan?Mr. ice cream adalah panggilanku untuknya. Cowok berbadan kurus dan tinggi ini bisa di bilang addicted dengan es krim seperti sesuatu yang tak bisa di pisahkan. Karena hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu, Key mengambil Cooking Class khusus membuat pastry. Key termasuk golongan cowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang Key tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.Sore itu, Key dengan sengaja menculikku dari kampus, Key mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua. Key bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalo dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood. Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan atau ia ceritakan. “Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya lamat-lamat, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.“Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.“ini Enaaak, coba deh Key” sambil menyodorkan roti isi eskrim kepadanya sebagai upaya mengkamufalse salah tingkahku barusan. Key lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalo itu kombinasi yang enak. “yeee, enak kan, sekarang Key ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan key menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang. Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Key seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, tepatnya key punya pacar. Key berpacaran dengan Amerina. Mengenai Key dan Amerina aku tak tahu banyak karena Key jarang sekali bercerita tentang hubungan mereka, setahuku mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Amerina adalah gadis cantik, anggun, smart dan terlihat kalem, menurutku Amerina seperti Key versi cewek. Hanya itu yang ku tahu.“Pulang yuk ran, nanti ketinggalan jadwal nonton Tsubatsa ” ajak Key kepadaku sekaligus mengingatkan.“Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Key yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu. ***2 Tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama.Key tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya kali ini rambutnya terikat rapih.“Ta daaaa, Happy Birth Day” Key menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku tak menyangka. Sebuah surprise !!Malam itu di hari ke lima belas di bulan September, Key membuatkanku kue ulang tahun dengan motif bola dengan dominasi warna biru dan putih, seperti warna club kesukaanku, Chelsea. Lengkap dengan tulisan “Happy Birth Day Rana” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka kembar dua-puluh-dua. “Jangan lupa berdoa dan make wish ya” Key tersenyum Simpul lagi. Aku meniup lilin angka kembar itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Key dan es Krim tentunya.“Rio, belum telepon juga?” Key bertanya singkat.Rio? Kenapa Key nanya Rio lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Rio adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Rio dan Aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long Damn Realtionship, atau pacaran jarak jauh, Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Rio yang tidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai sepak bola. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.“Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.Puh, tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.“yang penting…” Ujar Key. Hening sejenak. Aku menunggu Key melanjutkan kalimatnya. “ Ayah dan Adik, sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum.Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting Key.Key selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang teman yang selalu ada untukku, diberikan surprise seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Key yang melakukannya. Teman? Lalu bagaimana dengan Amerina? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya? Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Key memperlakukan Amerina? Bukan kah sebelumnya aku tak pernah peduli?“Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Key membangunkan ku dari lamunan akibat pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.“Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.“Pelit” Key pura-pura ngambek.“Anyway Key, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.“Any time, Ran” balas Key. Tersenyum simpul.Malam itu diumur ku yang bertambah, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak. ***Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menadakan besarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dan gedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia. Dua jam yang lalu, aku dan Key duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah tak sepucat dan setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satu tahun yang lalu, Key terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum didalam air muka Key, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkuk dan cuaca di luar sana.“Kenapa gak ada kabar ran?” Key menatapku serius. Nada suaranya dingin.Aku tak sanggup memandang key, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya. “Aku sibuk Key” Aku berbohong. “Maaf Key, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.Setelah mendengar kata maaf itu Key langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Key pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Key terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Key yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Key yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakan nya.“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang.Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembali terbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Key sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Key selalu baik dan memaafkanku yang bertindak bodoh.“Lalu bagaimana denganmu Key?” ucapku terbata.Key tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan membingungkan bagi Key sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Key menyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demi sedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini pun mencair.***Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Key. Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebal dari kertas, berwarna merah, pemberian Key dua jam yang lalu.Entahlah sudah berapuluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah lah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagai teman ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpa perasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri? Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untuk mendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapat pemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Key kepadaku, dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Key terluka. Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur aduk dan terasa sesak.Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Key dan Amerina. aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini Key, dan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara, Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, bukan?-The End-By : Eka SuzieFb: Eka SuzieTwitter : @eksuzBlog : Mr-ice-cream.blogspot.com

  • Cerpen The Prince, The Princess, & Mis Cinderella ~ 10 {Update}

    Acara ngerpain blog. Yah terpaksa, sama seperti kata om mario barusan di Tv barusan. "Terpaksa kaya". So ya begini lah jadinya. Di update lagi. ^_^“Hufh”Untuk kesekian kalinya aku menghembuskan nafas berat sambil terus melangkah memasuki halaman kampus. Sebenarnya sejak tadi malam aku sudah berfikir untuk libur kuliah saja hari ini, tapi karena memikirkan tidak ada yang bisa ku lakukan di kostan, apalagi aku memang tinggal sendiri akhirnya aku nekat tetap datang. Bukannya apa, hari ini aku merasa ada firasat tidak enak. Aku takut kalau sampai kevin membuat rencana yang aneh – aneh. Apa lagi tingkahnya sejak beberapa hari ini memang sudah aneh.sebagian

  • Cerpen cinta “Dalam diam mencintaimu” End

    #EditVersion. Nah, ini adalah cerpen dalam diam mencintaimu bagian ending untuk versi editnya. Jalan cerita masih sama, secara adminnya kan cuma mau ngerapiin. Kalau masih ada yang ketinggalan bisa bantu ngoreksi juga nggak papa. Adminnya malah bilang ma kasih.Nah biar nyambung sama jalan ceritanya, bisa baca dulu bagian sebelumnya disini. Oke guys, happy reading.Dalam Diam Mencintaimu“Oh ya, kita mau kemana nie?” tanya Rey setelah Irma duduk dengan nyaman di belakang jok motornya.“Kemana aja deh. Yang penting hari ini kita seneng – seneng," balas Irma tanpa berpikir.“Gimana kalau kita nonton?” tanya Rey lagi.“Nonton itu enaknya kalau malam. Siang – siang gini mana seru," tolak Irma berserta alasannya.“E,… kalau ketaman hiburan gimana? Toh belum tutup juga. Masih ada sampe dua hari mendatang katanya," usul Rey lagi.Irma terdiam. Tiba – tiba ia jadi teringat acara jalan mereka yang gagal kemaren. Memang atas kebodohannya juga si. Tapi…“Jangan deh, di sana terlalu berisik. Loe kan tau gue abis sakit,” tolak Irma lagi. Membuat Rey terdiam sambil berpikir kemana tujuan mereka sekarang. Dan tau – tau motor mereka sudah terparkir di dekat kolam raja telaga bening. #adanya cuma di Selatpanjang lho. Kalau mau liad, ke sana aja. “Ya sudah kita duduk di sini aja,” ajak Rey sambil mengajak Irma duduk di bangku santai di bawah pohon beringin pas di pinggir kolam.Sejenak Irma menatap kesekeliling. Menikmati udara sore bersama seseorang yang di sukai di tempat sedamai ini sepertinya bukan sebuah ide yang buruk. Tanpa pikir panjang di darat kan pantatnya di bangku itu. Menghirup udara dalam dalam.“Irma, Maafin gue ya?”Refleks Irma menoleh. Menatap Rey yang duduk disampingnya.“Maaf? Memangnya loe punya salah apa sama gue?” tanya Irma heran.“Banyak…” ujar pria itu tanpa menoleh.“He?" kerutan di kening Irma semakin bertambah. Terlebih Rey juga sama sekali tidak menatapnya. Justru menunduk menatap kearah kolam. Memang si, dulu sepulang dari kursus di Widya Informatika Irma sangat suka memperhatikan ikan yang berseliweran kesana kemari di dalam kolam. Tapi kan, itu kesukaannya, bukan kesukaan Rey. Lagi pula ini kesannya kenapa justru seperti ikan ternyata lebih menarik ketimbang dirinya. -___________-“Misalnya?” tanya Irma karena Rey masih larut dalam lamunannya.“Gue lupa kalau loe hari ini ulang tahun."“O, soal itu,” Irma mengangguk – angguk paham “Tapi kan sekarang loe udah ingat. Ya udah lah, jangan di pikirin. Lagian ulang tahun gue kan belum berakhir itu artinya secara teknis loe nggak beneran lupa,” kata Irma sambil tersenyum.“Tapi gue nggak punya kado."“Bisa ngerayain bareng loe itu udah merupakan kado terindah bagi gue,” balas Irma lirih.“ya?” tanya Rey karena ucapan Irma terlalu lirih.“Nggak, maksud gue nggak usah terlalu di pikirin lagi,” ralat Irma cepat.“Gue juga mau minta maaf atas sikap gue beberapa hari ini,” sambung Rey masih dengan wajah menunduk.“Beberapa hari ini? Oh nggak papa. Gue bisa maklum,” balas Irma lagi. Tetap dengan senyuman di bibir.“Maklum?” ulang Rey dengan nada bertanya.Irma membalas dengan anggukan. Sejujurnya untuk saat ini ia sama sekali tidak ingin membahasnya karena ia menyadari kalau ujung – ujungnya hatinya pasti akan terasa sakit. Padahal tadi ia sudah memutuskan untuk bersenang – senang. Setidaknya sampai hari ini berakhir. Tapi melihat raut tanya di wajah Rey tak urung membuat mulut Irma kembali berujar.“Loe kan lagi deket saja Vhany jadi wajar saja kalau….”“Gue nggak deket sama dia,” potong Rey cepat.Irma menoleh, perasaannya saja atau nada ucapan Rey terdengar ketus.“Irma, apa gue boleh nanya sesuatu sama loe?” tanya Rey setelah beberapa saat keduanya sempat terdiam.“Sejak kapan loe mau nanya pake minta izin duluan?” balas Irma balik bertanya.“Kali ini gue serius."“Ehem,” Irma terdiam sejenak “Boleh, apa?” sambung Irma H2C.“Apa loe beneran berharap gue deket sama Vhany?”“Apa?” ulang Irma tak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.“Apa loe bahagia kalau melihat gue deket sama Vhany?” ulang Rey mempertegas.Irma kembali terdiam. Mencerna ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Rey. Bahagia? Astaga, sepertinya istilah ‘bunuh diri’ yang di ucapkan Fadly kemaren lebih tepat. Bagaimana mungkin ia bahagia jika harus kehilangan orang yang di sukai untuk bersama orang lain.“Bahagia?," ulang gadis itu dengan nada mengambang. "Mungkin tidak. Loe sahabat gue yang paling deket. Yang selama ini selalu bersama dan ngertiin gue. Jujur saja, gue nggak mau kehilangan sahabat terbaik seperti loe. Tapi, gue juga nggak bisa bersikap egois dengan menahan loe untuk terus disisi gue kan?” balas Irma panjang lebar. “Jadi itu artinya loe mendukung hubungan gue sama Vhany?" Rey mencoba menegaskan maksutnya.Irma terdiam. Dadanya terasa makin nyesek. Sepertinya harapan untuk menjadikan hari ini adalah hari yang menyenangkan untuknya gagal sudah.“Gue akan mendukung apapun keputusan loe."“Termasuk nggak mau lagi jadi sahabat loe?"“Apa?” tanya Irma kaget. Menoleh kearah Rey yang kini juga sedang menatapnya lurus.“Gue suka sama Vhany dan gue nggak mau lagi jadi sahabat loe. Karena gue mau pacaran sama dia. Jadi LOE GUE END! Kalau gitu selamat tinggal,” kata Rey tanpa basa basi sambil berlalu meninggalkan Irma sendirian.SepiHeningKemudian…End…Wkwkwkwk, Gimana Irma, puas loe? Emang gni kan yang seharusnya? Kisah mu memang menyedihkan #dihajar. He he he, tapi tunggu dulu. Aku gak sekejam itu kok. Kan aku udah bilang aku itu orangnya baik hati, tidak sombong , rajin menabung serta berbakti pada orang tua #Amin. Paragrap di atas kita ralat ya. Anggap aja gak ada. Abis kayaknya sifat jahil ku lagi kumat. ‘Peace’“Apa?” tanya Irma kaget. Menoleh kearah Rey yang kini juga sedang menatapnya lurus.Saat mendapati tiada kata yang keluar dari mulut Rey sebagai jawaban, Irma kembali mengalihkan tatapannya. Mengerjap – ngerjapkan mata yang tiba – tiba terasa panas. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak menangis. Dan itu benar – benar membutuhkan tenaga ekstra.“Apa loe tau kalau beberapa hari ini gue marah sama loe?” tanya Rey beberapa saat kemudian.“Gue memang merasa sikap loe sedikit berubah. Tapi….” Irma tidak mampu melanjutkan ucapannya. Tengorokannya benar – benar terasa tercegat. Tidak tau lagi apa yang harus ia katakan.“Gue suka sama loe,” kata Rey lirih. Berbanding balik dengan Irma yang justru terlihat kaget setengah hidup.“Dari dulu gue udah suka sama loe. Dan gue benar – benar merasa sangat kesal dan marah saat justru tau kalau loe malah terlihat berusaha menjodohkan gue sama sahabat loe. Kalau loe memang nggak suka sama gue oke, tapi nggak gini juga caranya,” sambung Rey lagi.Irma terpekur kaku. Ia tidak salah dengar kan. Atau mungkin ia sedang bermimpi sama seperti mimpinya tadi malam saat bertemu dengan pangeran Robert? Mustahil Rey menyukainya. Ia. Bener, Ini pasti hanya mimpi. Atau justru Rey hanya bercanda. Tapi, ini sama sekali tidak lucu.“Irma, kalau seandainya gue bilang gue mau persahabatan kita berakhir. Gue nggak mau lagi jadi sahabat loe, tapi gue berharap gue bisa jadi pacar loe. Apa tanggapan loe sekarang?” tanya Rey lagi.Mulut Irma terbuka. Tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari sana. Lidahnya tiba – tiba terasa kelu. Tanpa sadar air mata menetes dari wajahnya. Tentu saja itu bukan air mata duka. Malah sebaliknya. Ia menangis bahagia. Rey ternyata juga menyukainya. Ini benar – benar hal yang paling membahagiakan untuknya. Benar – benar kado terindah yang ia dapatkan di hari ulang tahunnya.Melihat air mata yang menetes di wajah Irma membuat hati Rey mencelos. Refleks tangannya terulur untuk menghapusnya. Menyadari hal itu sontak membuat Irma tersadar. Sengera di alihkan tatapannya yang entah sejak kapan ternyata sedari tadi menghadap kearah Rey. Dengan cepat di usapnya air mata dengan punggung tangannya. Sementara Rey sendiri terdiam terpaku. Merasakan penolakan dari sikap Irma barusan.“Gue….”Irma tak melanjutkan ucapnnya. Ia masih bingung dengan apa yang harus ia katakan selanjutnya.“Gue nggak berani berharap kalau loe juga punya rasa yang sama. Gue hanya ingin loe tau yang sebenarnya. Tapi gue mohon, walau loe tau hal ini please jangan menghindar ataupun benci sama gue. Gue nggak yakin gue siap kalau harus menjauh dari loe."“Kenapa?”“Apa?” tanya Rey bingung mendengar satu kata tanya yang keluar dari mulut Irma.“Kenapa loe baru ngomong sekarang?” Irma menghela nafas untuk sejenak. Tatapannya menerawang jauh. “Kenapa loe nggak ngomong dari dulu? Apa loe tau, membiarkan loe jalan bareng Vhany itu tindakan bunuh diri sebenernya."“Maksutnya?” tanya Rey lagi. Masih belum mengerti maksut dari ucapan sahabatnya itu.“Dasar bodoh. Apa loe tau kalau sebenernya selama ini gue juga suka sama loe?”“Ha?” kali ini Rey melongo. Terserah deh kalau wajahnya benar – benar terlihat seperti orang bodoh.Untuk sejenak Irma menarik nafas. Meyakinkan dirinya sendiri sebelum kemudian Menoleh kearah Rey yang kini sedang menatapnya dan berucap dengan nada tegas.“Rey, gue juga suka sama loe. Nggak, nggak. Maksut gue, gue Cinta sama loe."Untuk sejenak suasana hening. "Jadi loe juga suka sama gue?" ulang Rey lirih, yang mirip gumaman. Bukan saja untuk meyakinkan pendengarannya tapi juga hatinya. Ia hampir tidak percaya itu. Irma hanya menunduk malu.“Ehem. Oke, jadi mulai sekarang kita resmi pacaran kan?” tanya Rey menegaskan.Irma menoleh. Menatap kearah Rey yang kini menatapnya. Tatapan yang menenangkan. Tanpa sadar gadis itu mengangguk mantab.“Jatuh cinta sama sahabat….” gumam Rey lirih.“Ternyata bukan hal yang buruk,” sambung Irma melanjutkan ucapan Rey barusan. Kali ini senyuman bahagia benar – benar terlukis di wajah mereka.Nah, sekarang baru ending beneran…For Irma : Oma, Yang pentingkan HAPPY ENDING kan???!!!!!. Sekarang akuilah betapa baiknya diriku. Tidak seperti dirimu yang justru menciptakan cerpen ‘tragis’ untukku. Ha ha ha #Kabuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrr………..!!!!!!!!Oh iya lupa, mungkin ini terlalu cepet. Ehem sangat cepet malah. Tapi berhubung niat awalnya ini cerpen adalah kado ulang tahun untuk oma. Ku ucapkan duluan deh. Bukan kah lebih cepat itu lebih baik?.Selamat ulang tahun ya oma. Semoga panjang umur and sehat selalu. Detail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*