Cerpen Cinta Sahabat: Cinta Selalu Ada

Cinta Selalu Ada….Oleh Leriani Buton

Cerpen Cinta dan Persahabatan

Cinta bukanlah sesuatu hal yang tabu lagi untuk dikenal
Banyak orang merasa bahagia karena cinta
Cinta akan menjadi sebuah kasih sayang…
Jika orang yang dicintai membalas cinta yang diberikan
Namun, cinta akan menjadi amarah….
Jika orang yang dicintai malah mendustainya….
Cinta takkan pernah mati
Melainkan akan tetap tumbuh disetiap
Pori-pori dan aliran darah umat manusia
Hingga akhir waktu…

Makassar benar-benar indah di kala pagi hari. Udaranya sejuk, suasananya damai dan terasa menyenangkan. Tanpa ku sadari setahun sudah aku berada di kota impianku. Hmmm,,,, semakin di pandang semakin terasa damai.
Pagi yang cerah ini aku dihadapakan dengan alam yang hijau dan langit yang cerah untuk menyambut datangnya sinar mentari pagi. Sesekali di arah timur, terlihat kemuning emas yang membahana, suara kendaraan yang berlalu lalang dan suara si jago merah yang selalu membangunkan seluruh umat di pagi hari. Meskipun semuanya terasa bising dan tak enak didengar. Namun bagiku itu semua adalah keterpaduan suara musik yang indah. Hembusan angin pun seolah tak mau kalah untuk memberikan nadanya sendiri. Hati, jiwa, dan perasaanku pun ikut terbawa dengan semua itu. Maha besar Allah yang telah menciptakan semua keindahan ini. Subhanallah….
Di awal tahun 2012 ini, semua harus berubah. Tentunya menjadi lebih baik. Hah,,, cerita di tahun 2012 akan segera di mulai. Dan yang pastinya bersiaplah untuk semua yang akan datang padamu. Tetap semangattttt……!!!!!!!
Hari kedua di tahun baru ini, aku menemukan teman baru yang begitu baik. Dia selalu mengajakku chering di setiap waktunya. Dia adalah arvian. Arvian adalah teman satu kampus dan satu fakultas denganku. Selama ini aku tak menyadarinya, karena dulu aku tergolong orang yang kurang bergaul dan juga pendiam. Kalaupun ada temanku, dia hanyalah Narnia dan jesica. Arvian adalah mahasiswa yang pintar namun terkadang tak pernah beruntung. Ada satu hal yang mesti diubah olehnya, sikap malasnya yang selalu menggerogoti dirinya.
Terkadang dia sering datang terlambat disaat jam kuliah sudah dimulai. Bahkan ada yang lebih parah dari itu, banyak tugas yang dia lalaikan. Aku tahu semua ini, karena ternyata Arvian cukup terkenal di kampus dengan julukan si malas. Dia hanya butuh motivasi. Entahlah apa yang membuat dia seperti itu. Akupun tak tahu. Aku tak berani menanyakannya, karena aku takut menyakiti persaannya. Terlalu sulit bagiku mencari teman yang bisa di percaya, itulah yang menyebabkanku berusaha untuk menjaga persahabatan ini.
Hari-hari baru menggelut dalam hidupku, Arvian teman baikku selalu hadir di setiap lembar hari-hariku. Semakin lama, aku merasa dia semakin berubah. Berubah menjadi anak yang manis. Sekarang dia sudah mulai belajar membuang rasa malasnya dengan selalu tepat waktu mengikuti jadwal kuliah dan selalu mengerjakan tugas-tugas kampus. Hah,,, aku bahagia dengan perubahannya itu. Hal itu membuatku semakin yakin akan sebuah perubahan. Akhirnya hal yang baik terjadi juga padanya. Memang benar apa yang sering di katakan oleh Guru SMA ku dulu, “selalu ada jalan untuk menuju ke arah yang lebih baik.” Namun, tak jarang jalan yang kita tempuhi itu selalu mulus. Tetapi ada cara untuk memuluskannya yaitu jangan pernah melupakan Tuhan di setiap hal apapun yang kita lakukan. Dan keyakinan untuk berubah harus lebih besar dari pada sebuah keegoisan. Yakinlah!!!! Tuhan selalu ada di setiap hal apapun yang kita lakukan. Dan yang pastinya Dia selalu mengawasi kita.
Hari yang cerah untuk jiwaku yang cerah saat ini. Entahlah apa yang tengah terjadi denganku. Aku merasa semuanya terasa menyenangkan bila bersama dengan Arvian. Ya Tuhan… aku takut, persaan ini adalah cinta? Aku takut menghancurkan persahabatan yang baik ini hanya karena keegoisanku untuk memilikinya.
Setiap kali bertemu dengan Arvian, pasti hatiku terasa deg-degkan. Namun, aku berusaha menyembunyikannya dan berusaha agar dia tidak tahu apapun yang aku rasakan terhadapnya. Kami selalu bertemu di perpustakaan untuk belajar bersama. Semua itu membuatku bahagia. Lambat laun perasaan ini menggerogoti hatiku. Hah,,, aku pasti bisa menanganinya. Ya, bisa!
Hingga di suatu hari, Arvian memanggilku. Dia ingin mengatakan sesuatu ke padaku.
“Vi, boleh nda’ aku nanya sesuatu ama kamu?” tanya Arvian serius.
“ hm… tentu saja” Jawabku.
“Kelihatannya kamu tidak suka menjalin suatu hubungan pacaran?”. Hahahahaha……. Aku tertawa lucu!
“Ternyata cuman ini yang ingin kamu tanyakan padaku? kamu benar-benar membuatku ingin tertawa.” Aku tetawa ngakak. Namun, semuanya terhenti ketika Arvian menatapku dengan serius. Sumpah,,. Bola matanya itu benar-benar indah. Matanya mencerminkan suatu ketulusan yang membuatku langsung terpaku menatapnya.
“Aku serius Vi. Kita kan sahabatan, jadi kamu bisa donk jawab pertanyaanku?” wajah berharap.
“Hm,,,, gimana yach harus mengatakannya? aku juga bingung ngejelasinnya. Intinya aku harus menyelesaikan semua studiku dulu baru dech aku bisa pacaran.” nada meyakinkan.
“Cuman itu doank?” Tanya Arvian padaku. Sebenarnya sich ada masa laluku yang suram and sorry aku ga’ bisa certain ke kamu. Maaf yach! ini bukan pelit, tapi ini rahasia. Hehehe…..” Wajah meyakinkan dariku.
“Ok, aku bisa engerti kok”. Akupun merasa penasaran dan balik bertanya kepada dia.
“Bdw, kenapa kamu tanyakan hal itu padaku?” tanyaku penasaran.
“tidak , cuman pengen tahu aja” jawab Arvian. Selepas itu, aku dan Arvian pun melupakan semuanya. Dan kami pun berpisah karena aku mesti melanjutkan jam kuliahku.
Di kost,,,,
Sambi menggoreskan tinta di atas kertas putih diaryku. “Apa sebenarnya yang dipikirkan Arvian?” Tanya hatiku. Hah, aku berharap dia hanya sekedar ingin tahu, bukan karena dia memiliki perasaan yang sama sepertiku.
Entah apa yang terjadi, aku mendengar kabar Arvian dan jesica kini sudah jadian. Ya Allah,,, mengapa hal seperti ini terulang lagi padaku? Ketika aku mulai mencintai seseorang, ternyata dia mencintai orang lain. Sulit bagiku melihat mereka berdua selalu bersama. Aku sebagai sahabat, hanya bisa ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua sahabatku. Namun, sebagai seorang wanita jauh didasar hatiku yang terdalam ada luka yang sulit untuk diobati.
Arvian kini jarang bersamaku. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama jesica. Kalaupun disaat aku membutuhkannya, dia selalu membuat banyak alasan untuk tidak bisa bertemu denganku. Hah,,, aku benar-benar kehilangan dia.
“Maafkan atas semua kebodohan, keegoisan, dan semua kesalahan yang ku perbuat. Aku hanya ingin kamu bicara padaku lagi. Jangan mendiami diriku seperti ini. Ini semua membuatku tersiksa”.
Lambat laun setelah semua yang kulalui, kini aku menikmati kesendirian ini dengan menata kehidupanku yang baru. Tak ada yang harus aku sesali. Aku hanya butuh sebuah keyakinan untuk bisa bangkit menjadi diriku Vianda Amryta renaldy kayak dulu lagi. Menjadi pribadi yang tegar tanpa harus menangisi kenyataan yang menimpaku. Dunia ini begitu luas, sehingga aku tak harus merasa sempit untuk hidup di dunia ini. Tak ada yang bisa membuatku jatuh lagi.
Hingga suatu hari, Arvian datang padaku. Dia ingin memulai semuanya seperti sebelum-sebelumya. Dan aku menerima dia lagi sebagai sahabatku. Rasa yang dulu pernah ada kini telah terkikis habis oleh sang waktu. Kalaupun masih tersisa itu mungkin 0,01%. Dan rasa 99,99% yang tersisa hanyalah persaan sebagai sahabat.
Ketika Arvian meminta maaf karena telah menelantarkan persahabatan kami selama ini. Dan berharap kami bisa menjadi sahabat kayak dulu lagi, aku menerimanya dengan tangan terbuka. Ada satu hal yang selalu tertanam di pikiranku. Menurutku, semakin banyak sahabat, semakin banyak rezeki yang bakalan datang. Hehehe….
Aku tak mungkin tidak menerima Arvian menjadi sahabataku lagi. Karena Aku hidup di dunia ini bukan hanya sendiri dan terlebih lagi aku tak ingin rasa benci mengalahkan kekuatan cinta persahabat kami selama ini. Selain itu aku tak ingin menyakiti dia dengan tidak menerimanya sebagai sahabataku lagi. Aku hidup di dunia ini bukan untuk menyakiti orang lain. Tapi, Aku hidup di dunia ini untuk menabur kebahagiaan di setiap lembar-lembar kehidupanku bersama orang-orang yang mencintaiku, dan orang yang aku cintai.
Semuanya akan berjalan dengan baik. Itulah kata yang selalu ku tanamkan di dalam hatiku agar bisa melegakan apapun yang aku lakukan. Tetap optimis dan membuat keyakinan bahwa semuanya akan berakhir dengan bahagia. Bahagia bukan berarti harus membuatnya selalu menjadi sempurna. Tapi bagaiman kita bisa membuat orang lain tersenyum tanpa harus membuat sesuatu terlihat istimewa.
Hm…. Awan hitam menutupi cerahnya langit sore di makassar. Mungkin sebentar lagi bakalan turun hujan. Di beranda kost, aku duduk sendiri sambil memegang buku diaryku. Akupun terdiam dan memikirkan semua yang telah terjadi. Sambil mengingat kembali semua kenangan-kenangan pahit maupun manis bersama semua sahabat-sahabatku. Setelah itu aku pun teringat Arvian, sahabatku. Sambil mengingat kenangan bersamanya, aku meggoreskan tinta hitam diatas kertas putih diaryku.
“Aku mencintainya bukan karena keegoisanku, tapi aku mencintainya karena dia adalah milik Yang Maha Kuasa. Aku tak harus menuntutnya untuk mengikuti semua apapun yang aku mau. Yang aku inginkan hanyalah kebersamaan di setiap langkah. Bila ternyata dia mempunyai rasa yang sama seperti yang aku miliki, aku yakin Allah akan memudahkan jalannya untuk bisa menemukan rasa itu. Tetaplah bahagia bersama jesica, walau itu membuatku sakit. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Mungkin ini adalah jalan terbaik untukku, dia dan jesica. Aku tak ingin menyakiti hati jesica dengan cara merampas semua perhatiannya. Bila aku tak mendapatkan hatinya sebagai pacar. Aku berharap, aku mendapatkan hatinya sebagai sahabat.”

Genggaman Cinta-Mu
Cinta adalah anugrah dari yang maha kuasa
Semua orang memilkinya
Dan berhak mendapatkannya
Cinta bukanlah suatu musuh yang harus di benci
Tapi dia adalah sahabat yang akan selalu menemani….
Menemani di kala suka maupun duka
Terimakasih Ya Tuhan….
Karena telah memberikan cinta-Mu padaku
Melalui sosok orang-orang yang menyayangiku
Aku berharap, Engkau takkan pernah meninggalkanku
Dan takkan pernah melepaskan genggaman cinta-Mu untukku…..
Hidup memang susah untuk di tebak. Semuanya berjalan seakan sebuah cerita. Cerita hidup yang harus kita jalani dan lalaui satu persatu. Aku berfikir, bila aku sudah melangkah kedepan, maka aku akan terus melangkah walau tekadang harus membuatku terjatuh. Namun, aku takkan pernah berhenti untuk terus melangkah. Aku akan menganggap di cerita hidup ini akulah yang jadi tokoh utamanya. Dan aku tak ingin digantikan menjadi peran pembantu di cerita hidupku sendiri. Tetap tersenyum dengan semua cobaan yang kuhadapi. Akan ku katakan pada setiap masalah yang kuhadapi, kalau aku tidak sendiri dan aku masih punya Tuhan yang selalu menyayangiku. Aku tahu disetiap serat lembar kehidupanku selalu ada cinta yang terselip untukku. Cinta itu datang dari Tuhanku, kedua orang tuaku, keluargaku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang yang menyayangiku. Semangat!!!! ^_^

THE END
“ Tak ada cinta yang lebih indah selain cinta yang diberikan Tuhan kepada kita. Jagalah cinta yang ada pada dirimu saat ini! Jangan nodai cintamu hanya karena sebuah keegoisan. Jika kamu salah memberi cinta, maka cinta itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”
Terimakasih Cinta…. ^_@

Random Posts

  • Cerpen sahabat You Are My Everything

    All, pernah dengerin lagunya Fiona Fung yang judulnya u are my everything nggak?. Nah sambil ngetik cerpen ini nggak terhitung udah berapa puluh kali tu lagu di putar berulang ulang, intinya dari awal nulis sampe nge'end you are my everything di jadikan backsound. Eits, tapi jangan salah. Walaupun lagu tersebut yang di jadikan inspirasi, sesungguhnya saia sediri nggak ngerti sama sekali arti liriknya. Kecuali bagian "You Are My Everything" Ha ha ha. Yang jelas, nikmatin aja lah… :DYou Are My EverythingUntuk sebagian orang, kadang baru menyadari betapa berartinya seseorang setelah ia kehilangan,Dan untuk sebagiannya lagi, Bahkan tidak pernah menyadarinya…#URMyEverythingSetelah mematikan laptop dihadapannya, Erika merengangkan tubuh, meluruskan otot ototnya yang terasa kaku karena sedari tadi asik mengetik imaginasi yang sering bermain di ingatannya. Matanya juga sudah terasa berat. Wajar saja, jam yang berada di samping sudah menunjukan hampir tengah malam.Seiring dengan matanya yang melirik jam, tak sengaja pandangannya tertuju pada pigura yang bertenger di sampingnya. Seulas senyum tak mampu di cegah saat membaca tulisan yang melingkari pigura itu. "Tersenyumlah, saat kau meyakini semua akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja".Berlahan tangannya terulur meraih pigura itu, Kado dari Alex saat kelulusan SMAnya dua tahun yang lalu. Matanya menatap lekat sambil tangannya berlahan mengusap kaca tepat di wajah seseorang yang bersamanya di foto tersebut. Alex fernando, seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.Seseorang yang selalu menginspirasi dalam setiap tulisannya."Malam Alex, Aku tidur dulu ya," Kata Erika sambil mencium kaca pigura itu sebelum kemudian bangkit berdiri. Beranjak menuju kearah ranjangnya. Memeluk guling dan bersiap untuk terjun kedalam mimpi indahnya.***"Erika, buruan," kata Alek sambil berbalik. Menunggu sahabatnya yang tampak ngos ngosan sambil berlari kearahnya."Heh…Alex….aku….aku udah nggak bisa lari lagi. Cape…." kata Erika begitu berada tepat di depan sahabatnya.Jam sudah menunjukan pukul 7 : 30 lewat. Sementara kelasnya di mulai tepat pukul 07:00 tadi pagi. Gara gara ia yang bangun kesiangan menyebapkan ia harus berlarian setelah turun dari bus yang berhenti di halte tak jauh dari sekolah."Tapi kita sudah terlambat. Ntar kita bakal di marahin sama bu Desti," Alex mengingatkan."Kita bolos aja yuk," kata Erika setengah bergumam."Apa?" "Kita bolos aja yuk. Dari pada kita cape cape udah lari lari gini, tapi tetep aja terlambat dan ujung ujungnya pasti bakal di marahin. Gimana kalau kita bolos aja?" terang Erika kemudian.Alex tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus kearah Erika. Seolah masih tidak yakin akan ajakan gadis itu."Ah, kau benar juga. Kita udah cape lari, tapi entar juga bakal di marahin. Memang sepertinya lebih baik kita bolos saja."Gantian Erika yang menatap tanpa berkedip. Raut heran jelas tergambar di wajahnya. Sejujurnya tadi ia hanya asal berbicara. Tapi bagaimana bisa Alex langsung menyetujuinya."Kalau gitu ayo ikut aku. Sebelum kita ketahuan sama guru yang lain."Tanpa komando lagi Alex langsung menarik tangan Erika tanpa memberi kesempatan gadis itu untuk protes lagi. Bahkan tau tau mereka berdua sudah terdampar di atas gedung sekolahnya."Ah kau tau. Ini untuk pertama kalinya aku membolos sekolah sejak aku SD sampe sekarang SMA," kata Erika sambil menoleh kesekeliling, menghirup udara dalam dalam. Langit luas ada di hadapannya sementara Alex sudah lebih dulu mendaratkan tubuhnya di lantai."Benarkah?" Alex berujar santai. Setengah meledek tidak percaya, tapi Erika hanya membalas dengan anggukan."Wah, kalau begitu aku benar benar beruntung.""Beruntung?" ulang Erika dengan kening berkerut."Beruntung karena menjadi orang pertama yang menemanimu saat bolos sekolah. Ha ha ha."Dan jitakan pun mendarat telak di kepala Alex sebagai balasannya.Seiring berlalunya waktu Alex memang selalu bersama Erika. Mereka berkenalan saat pertama sekali menginjakan kaki di SMA. Saat MOS lebih tepatnya. Mereka tak sengaja dekat karena entah bagaimana caranya keduanya selalu menjadi target sasaran hukuman kakak kelasnya saat MOS berlangsung.Hingga tiba masa masa sekolah. Kebetulan berlanjut terjadi, karena nyatanya keduanya satu kelas. Bahkan keluarga Alex yang kebetulan baru pindah kekota itu ternyata menetap tepat di depan rumah Erika. Membuat hubungan keduanya semakin dekat."Alex, kau kok keliatannya santai sekali. Nggak takut ya kita ketahuan bolos, padahalkan kita sudah kelas 3. Bentar lagi juga UAN. Kalau sampai ketahuan bagaimana?""Kalau sampai ketahuan palingan juga kita dihukum."Lagi lagi jitakan mendarat di kepala Alex akan jawaban santai yang keluar dari mulutnya."Aduh. Tuhan menganugrahkkan kita mulut untuk bicara. Kenapa kau justru mengunakan tangan untuk mewakilinya," gerut Alex sambil mengusap usap kepalanya. Erika hanya mencibir membalasnya."Lagian kalau kau takut kenapa tadi malah mengajak aku untuk bolos segala?" sambung Alex lagi. Masih merasa sedikit tidak terima."Tadi kan aku hanya bercanda. Mana aku tau kalau kau langsung menyetujuinya dan langsung menarik tangan ku kesini," Erika mencoba membela diri.Sebelah alis Alex tampak mengernyit. Sesaat ia terdiam sebelum kemudian mendongak. Menatap Erika yang berdiri di sampingnya."Kalau gitu haruskah kita kembali ke kelas sekarang?" tanya Alex pasang tampang polos.Kali ini Alex beruntung. Tangannya cepat tanggap. Menahan sebelum kemudian mengenggam erat tangan Erika sebelum gadis itu sempat mendaratkan jitakan di kepalanya untuk jawaban yang ia lontarkan barusan.Untuk sejenak suasana hening. Hanya hembusan angin yang semilir menerpa. Kebisuan yang menenangkan.Sekilas Erika menoleh kearah tangannya. Hal yang sama juga di lakukan oleh Alex sebelum kemudian keduanya saling bertatapan. Dan Erika merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihat mata hitam itu memenjarakannya. Mereka memang selalu bertengkar tapi kali ini Erika yakin ada yang beda."Aku hanya takut kita ketahuan," gumam Erika lirih.Dan kejadian selanjutnya sama sekali tidak pernah Erika duga. Alex bukan melepaskan gengamannya justru malah menariknya. Membuat tubuhnya sukses mendarat dalam pelukannya. Belum sempat mulut Erika terbuka untuk memprotesnya Alex sudah terlebih dahulu membisikan kata padanya."Tenanglah. Aku di sampingmu, Aku janji aku akan selalu melindungimu dan tidak akan meninggalkanmu. Selama kau mempercayainya, semuanya pasti akan baik baik saja."Entah dapat keyakinan dari mana. Kepala Erika mengangguk berlahan. Sepertinya ia akan mempercayainya.Waktupun terus berlalu. Hari kelulusan telah tiba. Semua orang merayakannya. Dengan gaun cerah yang ia kenakan ditambah sebuah pita dengan warna senada menghiasi rambutnya Erika duduk diam disalah satu kaffe langanannya. Dadanya bergejolak tak menentu. Menanti kemunculan Alex yang berjanji akan menemuinya. Bahkan ini untuk pertama kalinya ia merias wajahnya. Walau ia tak menemukan alasannya. Karena Alex hanyalah sahabatnya.Satu jam lebih telah berlalu dari waktu yang mereka janjikan. Tapi Alex tak kunjung menunjukan wajahnya sementara Erika masih setia menunggu. Rasa kesel mulai merambati hatinya. Terlebih nomor Alex sama sekali tidak bisa dihubungi. Membuat gadis itu sibuk mengarang kalimat makian yang akan ia tujukan pada Alex jika muncul nantinya.Deringan ponsel membuyarkan lamunan Erika. Berniat langsung memaki saat melihat Id caller yang tertera di handphonnye Erika justru malah di buat terpaku. Suara di seberang terasa bagai mimpi buruk baginya. Tanpa bisa di cegah air mata menetes dari mata beningnya. Pikirannya kalut, ia masih diam terpaku bahkan setelah sambungan telpon itu telah di tutup.Barulah pada detik berikutnya. Saat pikirannya sudah mampu mencerna semuanya ia secepat kilat bangkit berdiri. Berlari melewati pintu kaffe tanpa menoleh lagi. Menyetop Taxsi yang lewat dan langsung membawanya ke rumah sakit "Harapan Bunda".Dengan langkah terseret seret Erika melewati lorong demi lorong. Langkahnya tercekat di depan sebuah pintu yang di tunjukan suster padanya. Tangannya gemeteran, jantung nya berdetak keras. Saking kerasnya ia yakin ia bisa mendengar debarannya sendiri. Rasa takut yang sangat mencekam menderanya. Rasa takut yang sungguh tidak ingin ia rasakan seumur hidupnya.Dan pemandangan di hadapannya melumpuhkan semua pertahanannya. Tante vera, mamanya Alex tampak menangis dihadapan seseorang yang terbujur kaku di hadapan dengan luka di sekujur tubuhnya. Kecelakaan yang terjadi di jalan besar depan rumah telah menewaskan anaknya. Membuat Erika dipaksa menyadari kalau sudah tiada lagi sahabat terbaik di sampingnya.Setelah acara pemakaman selesai, Erika masih duduk terpaku di hadapan gundukan tanah yang masih basah. Masih tidak mempercayai apa yang terjadi. Bagaimana bisa, sesorang yang selalu bersama dengannya bisa pergi begitu saja. Bahkan tanpa sepatah kata pesan untuknya. Sungguh, ia tidak bisa mempercayainya."Erika."Suara lirih Tante Vera menyadarkan Erika dari lamunannya. Kepalanya menoleh sambil tersenyum samar. "Untukmu," kata tante Vera sambil menyodorkan sebuah kotak kado padanya. Menimbulkan kerutan di kening Erika karena tidak mengerti apa maksutnya."Kado kelulusan dari Alex untuk mu. Hari itu, Alex pergi dengan terburu buru untuk menemui mu. Tapi setelah di tengah jalan sepertinya ia baru menyadari kalau ia telah melupakan kadonya. Makanya itu ia menelpon tante untuk menanyakannya. Dan siapa yang menduga saat ia berbalik kecelakaan itu terjadi dan menewaskannya" terang tante Vera dengan mata berkaca kaca. "Ma kasih tante." Hanya kata itu yang mampu melewati tengorokan Erika yang tercekat. Kenyataan kalau Alex pergi demi untuk menemuinya membuatnya semakin terpuruk."Yang sabar ya sayang. Kalau kau menyayanginya kau pasti akan menuruti perkataannya bukan?" kata tante Vera sebelum kemudian pamit pergi. Walau tidak mengerti maksutnya, kepala Erika tetap mengangguk sebagai jawaban.Setelah tante Vera benar benar pergi, dan hanya dirinya yang berada di area pemakaman itu barulah Erika membuka kadonya. Dan setetes air mata bening melewati pipinya saat melihat pigura dengan foto ia berdua di dalamnya."Tersenyumlah, Saat kau meyakini semua akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja".Kata yang menghiasi pigura itu membuat Erikat terpaku. Setelah lama terdiam akhirnya ia mengangguk. Dengan senyum yang masih mengiringi tangisannya ia bergumam lirih."Bailah, Aku akan mempercayaimu. Selamat jalan sahabat. Semoga kau tenang di sana"You Are My EverythingKriiiinngg kriiiing kriiiingSuara jam Baker yang berdering nyaring menyadarkan Erika dari tidur panjangnya. Masih dengan mata terpejam Erika menoleh, dan saat pertama sekali ia membuka mata pigura dengan foto ia bersama Alex langsung menyambutnya. Membuatnya tanpa sadar tersenyum. Senyum yang ia janjikan akan selalu menemani harinya.Seperti yang Alex katakan Selama ia meyakini semuanya akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja…End…..Detail CerpenJudul : You are My EverythingPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaGenre : Remaja, CerpenFanpage : Star nightLanjut Baca : || ||

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 05 | Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih _ Part 05 . Masih kisah antara Cinta sama Rangga. Di part ini kayaknya udah mulai tumbuh benih – benih cinta di antara mereka berdua… ~Cieela, bahasanya.Tapi yah tetep. Perjalanan masih cukup jauh untuk sampai ke ending sodara – sodara. Soalnya Cerpen Ketika Cinta Harus Memilih ini terdiri dari 16 part. Ho ho ho, Panjang kan?. Makanya cape ngeditnya. #plaks.Okelah, dari pada kebanyakan bacod, mending langsung baca aja yuk kelanjutannya. Cekidots…..Ketika Cinta Harus MemilihBukannya langsung pulang, Aldi justru malah ntrakir Cinta makan. Sambil makan mereka tak henti mengobrol. Dan Cinta baru menyadari satu hal. Ternyata Aldi orang nya asik. Anaknya nyambung di ajak ngobrol. Beda banget sama Rangga yang biasanya hanya terlihat sopan jika ada orang lain di sekelilingnya.-,- sebagian

  • Cerpen benci jadi cinta Vanessa Vs Ferly 7

    Pagi ini Vanes berangkat sekolah dengan lesunya, Ia terus berjalan menuju sekolah Sambil melamun hingga ia dikagetkan dengan bunyi klakson motor, yang hampir menabraknya. untung aja si pengendara pinter, jadi ia masih bisa selamat.sebagian

  • Cerita Pendek “mungkinkah”

    Santai sembari dengerin musik yang mengalun di youtube kadang emang bisa memberikan inspirasi tersendiri. Buktinya cerita pendek mungkinkah ini bisa tercipta. Yah walau sekilas terlihat kayak nggak mungkin banget bisa menjadi nyata. Tapi ya gimana lagi. Namanya juga cerpen bebas ya kan?So, buat yang udah penasaran sama cerpen ini mendingan langsung baca aja deh guys. And buat yang udah baca, jangan lupa ya tinggalin kritik sama sarannya. Biar kedepannya bisa nulis lebih baik gitu…. Mungkinkah?"Hoam….."Thalita segera merengangkan otot – otot tubuhnya. Dipandanginya sekeliling dengan kondisi kesadaran yang masih di bawah rata rata. Sejenak di kucek – kucek matanya, Kenapa rumput semua ya?. Mungkinkah ia sedang bermimpi. Otaknya segera ia paksa untuk berkerja dengan kekuatan penuh ala Jimmy Neutron. Setelah beberapa saat barulah ia ingat. Tadi ia kan emang sengaja bolos dan memilih menyendiri di taman belakang kampus karena matanya benar – benar ngantuk. Pasti karena tadi malam ia hanya sempat tidur kurang dari tiga jam demi untuk menyelesaikan membaca novel romantis favoritnya."Hoam…."Sekali lagi mulutnya terbuka lebar untuk menghilangkan sisa – sisa rasa mengantuknya. "Masa cewek dengan santai tidur di bawah pohon, juga menguap selebar itu.”Refleks Thalita menoleh. Tak jauh darinya tampak seorang anak manusia berjenis kelamin cowok duduk tak jauh darinya yang kini sedang menatapnya lurus. Dahi Thalita juga tampak berkerut tanda heran. Perasaan tadi tidak ada siapa – siapa. Jangan jangan….."SETAN!!!!!!" jerit Thalita sekenceng – kencengnya sebelum kemudian sebuah tangan membekap mulutnya rapat – rapat."Nggak ada setan di dunia ini yang sekeren gue.”Suasana hening. Sebenernya Thalita masih ingin menjerit tapi karena mulutnya masih di pikep (???) ia hanya mampu menjerit dalam hati. Kemudian dengan cepat ia majukan wajahnya sehingga kini wajah mereka hanya berjarak tak kurang dari sejengakal."Loe yakin loe keren?" tanya Thalita sambil memperhatikan sosok yang ada di depannya dengan seksama. "Tapi kalau di lihat dari deket gini kok kayak banyak jerawatnya ya?" sambung Thalita lagi tetap dengan memasang wajah 'polosnya.Bekapan mulutnya kontan terlepas. Cowok itu juga dengan cepat memundurkan wajahnya. Berusaha memperjauh jarak diantara mereka. Setelah beberapa saat terdiam, ia segera bangkit berdiri dan berlalu pergi. Tapi sebelum itu Thalita masih mampu mendengar gumaman lirihnya."Dasar cewek aneh.”Thalita hanya mencibir. Dalam hati membalas "Loe lebih aneh, udah muncul tiba – tiba. Sok – sokan narsis lagi. Huuu…”Begitu sang cowok hilang dari pandangan, Thalita segera bangkit berdiri. Matanya menatap kekanan dan kekiri. Sepi. Sepertinya kelas sudah berakhir. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk segera pulang kerumah.Keesokan harinya dengan mindik – mindik (???) Thalita mengintip kelasnya dari jendela. Hado….. Dosen kepala botaknya sudah nangkring di depan kelas. Itu artinya ia sudah jelas – jelas terlambat. Digigitnya ujung kuku jari telunjuk. Kebiasaan yang sulit ia hilangkan jika sedang berpikir. Akhirnya di putuskan, dari pada dimarahin karena terlambat mendingan nggak usah masuk sekalian. Saat ia berencana untuk berbalik pergi terdengar suara bisikan yang terdengar tak jauh dari telinganya."Hayo… Mau bolos lagi ya?"Thalita menoleh. Kedua matanya yang bulet dan bening itu tampak berkedip – kedip. Mulutnya masih terkunci. Antara kaget dan shock. Tapi beberapa saat kemudian."SETAN!!!!!"Jeritan yang ia lontarkan tidak hanya membuat sosok yang ada dihadapannya terlonjak kaget tapi juga seisi kelas yang langsung menoleh kearahnya. Dengan cepat sebuah tangan membekap mulutnya yang masih mengeluarkan suara yang berpotensi membuatt seseorang terpaksa berusuran dengan dokter THT."Gue pernah bilang, nggak ada Setan di dunia ini yang sekeren gue," kata Cowok di hadapanya yang tampak kesel akan rekasinya yang dinilai bener – benar berlebihan."Terus kenapa loe bisa muncul tiba – tiba?" tanya Thalita setelah berhasi melepaskan bekapan mulutnya."Bukan gue yang datang tiba – tiba, tapi elo yang selalu terlambat menyadarinya.”Mulut Thalita sudah terbuka, siap mau balas. Tapi suara si Master botak sudah terlebih dahulu menginteruspinya."Ehem… ehem… ehem….""Eh, Bapake theneng nang kene…?"Saking saltingnya bahasa nenek moyang keluar. Untuk sejenak Thalita terdiam mendapati kening orang – orang di sekelilingnya yang terlihat berkerut bingung. Dan ia hanya mampu tersenyum kaku tanpa ada niatan untuk menjelaskan arti ucapannya barusan."Thalita, kamu kenapa?""Oh tadi dia mau bolos pak. Untung ketahuan sama saya.”Thalita menoleh. Tatapan tajam setajam silet ia lemparkan, Tapi yang ia dapatkan hanya balasan senyum tiga jari ala kelinci. #Emang ada?"Enggak kok pak. Beneran saya nggak mau bolos. Sumpah jadi orang kaya saya ngomong jujur. Ini orang aja pak. Yang nggak tau siapa, dari mana datangnya, serta di ragukan wujudnya kalau ngomong suka ngasal," balas Thalita cepat. Saking cepatnya sampai mengucapkannya juga hanya dengan satu tarikan nafas. Hebat….."Apa benar begitu?"Kali ini Thalita hanya membalasnya dengan anggukan kepala."Bener pak, tadi itu saya cuma telat. Makanya rencananya saya malah nggak masuk sekalian. Eh malah ketauan," terang Thalita terdengar mengeluh.Untuk beberapa saat suasana hening sampai tiba – tiba cowok yang tadi memergokinya tertawa nggakak disusul oleh hampir seluruh penghuni kelasnya. Thalita masih terdiam sekaligus heran. Tapi begitu mendapati tatapan tajam dari makhluk botak dihadapannya baru lah ia menyadari ucapannya barusan. Dan ia hanya mampu memberikan senyum kaku sekaku kakunya. Dalam hati ia meratap."Emang menderita punya otak pas – pasan. Sama menderitanya seperti saat sampai di terminal, pas keretanya berangkat.”Cerita Pendek Mungkinkah?"Hufh…"Tanpa memikirkan rumput yang kotor, atau celana yang ia pakai akan terkena debu, Thalita mendaratkan tubuhnya dengan santai. Di usapnya keringat yang menempel di wajahnya hanya dengan ujung bajunya tanpa perlu repot – repot mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Cape?. Tentu saja!. Karena insident yang terjadi tapi pagi, saat ini ia harus berada di halaman kampusnya lengkap dengan sapu lidi di tangannya. Tentu saja bukan untuk tidur, melainkan harus menyapu daun – daun yang dengan kurang ajarnya berguguran mengotori halaman sebagai hukuman."Cape? Nih minum," sebuah potol pocari sweet tiba – tiba nongol di hadapannya. Tanpa komando mulutnya langsung terbuka untuk berteriak."SET……..!!!!""Harus berapa kali si gue bilang gue bukan setan," rutuk sosok yang tadi mengulurkan minuman itu sambil duduk di samping Thalita dengan santai. Nggak bisa di bilang santai juga si sebenernya. Karena kedua tangannya tampak sedang di gunakan. Yang satu untuk memegangi botol, dan yang satunya membekap mulut Thalita seperti biasa. "Kalau loe emang bukan setan kenapa loe selalu muncul di hadapan gue dengan tiba – tiba?" tanya Thalita kesel."Bukan gue yang tiba – tiba, tapi elo yang tidak pernah berusaha menyadarinya.”Thalita terdiam. Perasaannya aja atau memang kalimat itu punya arti yang lain. Arti yang lebih mendalam gitu. Apalagi kalimat itu di ucapkan dengan pandangan yang menerawang jauh. Seperti orang yang lagi sedih."Thalita, gue suka sama loe….”"Mustahil. Kita baru kenal. Ralat, gue nggak kenal sama loe," balas Thalita cepat. Secepat yang bisa ia lakukan tanpa perlu berpikir sama sekali. Lagian mana ada orang yang ngaku suka dengan ekpresi sesantai itu."Itu karena loe nggak mau kenal sama gue. Loe nggak tau kan kalau selama ini gue selalu di samping loe. Memperhatikan dan mengagumi, dan mengikuti dari jauh. Gue tau semua tentang loe. Apa yang loe suka, kebencian loe akan hujan. Bahkan gue tau kebiasaan loe yang suka menggigit kuku jari di saat bingung.”Mulut Thalita terbuka tanpa suara. Maksutnya…."Secret admirer," sebelum Thalita sempat menebaknya, cowok itu sudah terlebih dahulu mengungkapkannya."Gue emang pengemar rahasia loe. Maksut gue selama ini. karena kali ini gue pengen ngungkapin langsung," sambung pria itu yang makin membuat Thalita membatu. Ia tidak sedang bermimpikan?"Thalita, gue cinta sama loe. Loe mau kan jadi pacar gue?” Kata – kata yang di ucapkan dengan tegas itu seolah menghipnotisnya. Tanpa sadar Thalita mengangguk. Walau tak urung hatinya bergumam."Hei, Mungkin kah ada kisah seperti ini????"Ending….!!Detail CerpenJudul cerpen : MungkinkahPenulis : Ana MeryaPanjang cerita : 1166 kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*