Cerpen Cinta Romantis “Take My Heart” ~ 16

Wah, baru ngeh kalo ini tu udah part 16 tapi belom end juga. Ngalahin rekord nie kayaknya. Bahkan The prince, the princess and mis. cinderela juga kalah. But gak papa deh, selama masih mau nulis nulis aja lah. Sejujurnya saia sendiri juga gak tau, Ni cerpen satu bakal end di part berapa. Tapi di usahain nggak lebih dari 20.
Oke lah happy reading ya. Buat yang belum baca part kemaren, Baca dulu gih di Cerpen Cinta Romantis Take my heart part 15.



"Bukan kah sudah cukup jelas?".
Dan kali ini Ivan yakin tebakannya benar. Ternyata gadis itu…..
"Kalau saat kita sedang berduaan, Memakan bakso itu bisa menyebapkan kematian".
"Ha" Mulut Ivan melongo. Jelas Terlihat seperti orang bodoh. Ia tidak salah dengar kan?. Apa Kalimat barusan benar benar baru keluar dari mulut Vio?.
"Bakso?" Ulang Ivan dengan kening berkerut yang langsung di sambut anggukan ringan oleh Vio yang terlihat mulai menikmati Mie Ayam pesanannya.
"Loe inget nggak waktu dulu, Pertama kali loe nyamperin gue. Loe berulang kali bikin gue tersedak gara – gara ucapan loe yang asal njeplak. Bahkan asal tau aja, Gue bahkan sampe trauma untuk memakan makanan yang satu ini. Padahal itu kan makanan faforit gue. Tapi demi keselamatan diri sendiri gue lebih rela makan mie ayam" Jelas Vio tampa sedikitpun terpengaruh dengan tampang melongo Ivan yang ada di hadapannya.
"Tunggu dulu, Jadi maksut loe. Kita lagi ngomongin…… Bakso?" tanya Ivan setelah otaknya kembali bisa mencerena semuanya.
Kepala Vio mengangguk berlahan. Untuk beberapa saat ia asik dengan suapannya sampai kemudian saat menoleh ia mendapati kalau mata Ivan sama sekali tidak terlepas dari wajahnya. Sekilas Vio melirik kearah makanan Ivan yang tampak masih utuh.
"Bakso loe kenapa nggak di makan?. Apa sekarang loe juga percaya kalau makanan itu berbahaya?".
Seolah baru tersadar Ivan mengeleng. "Omong kosong. Mana mungkin makanan ini berbahaya. Gue cuma masih nggak percaya kalau topik yang kita bicarakan sedari tadi adalah bakso" Sambung Ivan sambil mulai menyesap makannya.
"Atau loe lebih suka kalau kita ngobrolin Andra".
"Andra?" Lagi lagi Ivan mengernyit bingung. Memang apa hubungannya, Kenapa ia harus membicarakan sahabatnya, pikirnya.
"Eemm.." Angguk Kepala Vio. "Karena sepertinya gue menyukainya".
"Uhuk uhuk uhuk".
Untuk kedua kalinya Ivan tersedak. Bahkan kali ini lebih parah. Bakso yang belum ia kunyah justru malah langsung melesat melewati tenggorokannya. Diteguknya habis jus yang ia pesan. Setelah beberapa saat barulah batuknya mereda namun tangannya masih memukul mukul ringan dadanya yang terasa nyeri. Namun satu hal yang Ivan yakini pasti, Rasa sakit itu BUKAN karena bakso.
"Ha ha ha" bukannya bersimpati, Vio justru malah tertawa lepas. Membuat Ivan kembali terpaku. Rasa sakit itu mendadak hilang. Dan kesadaran baru muncul, Kalau ia selalu ingin melihat tawa itu.
"Jadi apa sekarang loe percaya, kalau bakso itu berbahaya?" Vio mengulang kembali pertanyannya.
"Loe" Tunjuk Ivan lurus. "Apa maksut ucapan loe tadi?".
"Eh?" Vio merasa bingung. Kenapa ia merasa reaksi Ivan jadi terlihat menyeramkan ya.
"Apa maksut loe dengan kata "sepertinya gue menyukainya?" Tambah Ivan menjelaskan.
"Ehem, Oh yang itu" Vio terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Iya, sepertinya gue menyukainya. Andra, Sekilas mirip dengan kata 'Andre'. Mr. Kacamata. Tapi, baiklah itu nggak ada hubungannya. Yang jelas gue suka liat tatapan tajam matanya. Lagi pula, Dia kelihatan pinter. Buktinya, tadi dia langsung tau kalau status kita cuma bohong bohongan. Terus tampangnya juga cakep. Dan nilai plus buat dia adalah dia bukan PLAY-BOY".
Ivan terdiam sambil menunduk dalam. Gantian Vio yang merasa heran. Kenapa Pria itu tidak membalasnya?. Apa jangan jangan dia marah. Apa ucapannya tadi cukup kasar. Berlahan rasa bersalah merambati hatinya. Mungkin ia kadang memang harus mengerem mulutnya agar tidak asal menjeplak lagi.
"Kalau seandainya…" Kata Ivan sambil matanya menerawang jauh. "Seandainya gue bukan Playboy, Apa ada kemungkinan loe akan suka sama gue?" sambung Ivan sambil menolehkan wajahnya, menatap lurus kearah Vio.
Vio tidak langsung menjawab. Mata itu,… tatapan tajam itu….. Vio tidak mungkin salah. Karena sepertinya ia mengenali arti dari tatapnnya. Vio cukup yakin kalau itu adalah jenis tatapan yang sama seperti tatapan yang selalu ia berikan pada Herry, dulu. Jangan jangan…
"Seandainya gue bukan Playboy, apa loe akan percaya ketika gue bilang kalau gue benar benar suka sama loe?".
Hening yang mencekam. Sepi namun menyakitkan. Seandainya….?.
"Seandainya?" Gumam Vio lirih.
"Loe tau, Dari sekian banyak kosa kata yang ada di dunia. Satu kata itu lah yang paling gue benci. Loe mau tau kenapa?. Karena kata itu pasti akan selalu mengingatkan ke gue, 'Seandainya herry juga suka sama gue" .
Mata Ivan tak berkedip menatapnya. Ia benar benar tak menyangka akan mendegar gumaman lirih Vio barusan. Tak bisa di cegah, Sebuah senyum sinis tersunging di bibirnya. Entah sinis ke pada Vio yang tak bisa move on, Atau justru sinis pada dirinya sendiri. Karena pada kenyataannya, Memang tidak semua gadis bisa tunduk kepadanya. Persis seperti yang Andra ucapkan dulu.
"Sudah sore, Ayo gue antar loe pulang".
Tanpa menoleh Ivan bangkit berdiri. Melangkah meninggalkan baksonya yang masih utuh bersama uang perbayarannya. Berjalan tanpa menoleh sama sekali. Bahkan untuk memastikan bahwa Vio mengikutinya ataupun tidak…
To Be Continue…..
Tau nggak sih, Sambil nulis lanjutan di part ini Full lagu yang di dengerin itu Just give me a reason miliknya p!nk yang terus di ulang ulang. Omigot, Bahasa inggris saia ancur. Satu satunya yang saia tangkap dari lagu yang satu ini adalah "Broken heart". And than, jadilah tema cerpen ini tentang patah hati. Saia ndiri aja bingung kenapa jadi gini apalagi kalian yang baca yak….
Wukakakka……
Sepertinya untuk next saia harus cari rekomendasi lagu lagu yang happy happy aja kali ya. Takutnya kalo dengerin yang melow melow, Ni cerpen satu malah berakhir sad ending lagi….
Terakhir, Sampai bertemu di next parts ya…..

Random Posts

  • Di Dunia Maya, Ku Temukan Cinta

    Di Dunia Maya, Ku Temukan Cintaoleh: Yunietha Sari MangallaPagi hari Arief duduk di depan ruang kelasnya sendirian. Dia sibuk menatap layar hapenya dan senyum-senyum sendiri tak karuan. Beberapa orang yang lewat tidak heran dengan sikap Arief yang seperti itu. Seperti biasanya, Arief pasti sedang berchating ria. Arief adalah seorang maniak chating dan internet. Sudah beberapa kali dia dikeluarkan dari kelas, gara-gara ketahuan sedang chating saat pelajaran berlangsung. Namun, dia tidak pernah jera. Saat dikeluarkan dari kelas, dia memilih pergi ke kantin dan melanjutkan ritualnya yaitu chating.Pagi itu saat sedang asik-asiknya chating, tiba-tiba seorang cowok menghampirinya. “Woy Rief, chating lagi loe.” Kata Andre sambil menepuk pundak Arief, sehingga membuat Arief kaget.“Astaganaga.. Ya Allah..” Kata Arief kaget. “Ngapain sih loe, ngagetin gue aja.” Lanjutnya.“Sorry boy. Btw, loe chating apaan sih, gue lihat loe makin hari makin kayak orang gila tao nggak? Nggak jera loe ya, hampir tiap hari loe dikeluarin mulu dari kelas.” Komentar Andre“Seperti remaja pada umumnya, hal itu biasa saja dan sering terjadi di kota-kota besar. Hehe.. Chating di Mig33. Seru nih, loe kudu nyoba.” Ucap Arief“Apa serunya sih chating kayak begituan. Buang-buang waktu aja.”“Seru tao. Di sini loe bisa cari temen di daerah mana aja. Kalau ada yang cocok, bisa dapat jodoh. Hehehe.. Penggunanya kan banyak banget.”“Halah.. Loe kayak sales panci aja, promosi chating kayak gituan. Dasar MAON..!!!!!”“Apaan tuh maon? Bahasa planet jangan loe bawa-bawa kemari, gue ngggak ngerti.”“Manusia Online.” Teriak Andre di telinga Arief“Kira-kira donk loe, kayak gue budek aja.” Ucap Arief“Sorry boy. Hehehe..” Kata Andre cengengesan∞∞∞ Seperti biasanya, Arief berchating ria dengan teman-temannya di dunia maya. Tiba-tiba muncul tanda private chat di layar hapenya. Tanpa buang-buang waktu, Arief segera melihatnya.“Hai prince_god.. Boleh kenalan?” Sapa Orang tersebut. Dia memiliki nick gadis_dudul. Unik menurut Arief, segera Arief membalasnya“Boleh.. Nama gue Arief, loe??” Balas Arief“Gue Acha. Loe sekolah di mana?”“Gue sekolah di Smansa, loe?”“Oya? Gue juga sekolah di situ. Kelas berapa loe?”“XII IPS 3, loe?”“Gue XII IPA 5.”Obrolan mereka pun berlanjut sampai membicarakan hobby masing-masing. Tak terasa sudah larut malam, Arief pun off dari chating dan segera pergi tidur.∞∞∞ ..Krrrrrriiiiiiiinnnnnnngggggggg..Bel berbunyi menandakan waktu istirahat. Murid-murid keluar dari kelas dengan berdesak-desakan. Andre bergegas menuju kantin seorang diri. Seperti biasanya, Arief duduk di kursi depan ruang kelasnya untuk berchating ria. Tak berapa lama, Andre kembali dari kantin dengan membawa banyak makanan kecil dan dua kaleng minuman dingin. Dia pun segera menghampiri Arief.“nih pesanan loe.” Kata Andre sambil memberikan tiga snack dan satu minuman dingin“Thank’s ya sob.” Ucap Arief sambil membuka minumannya“Iya.. Gue ke toilet dulu bentar. Nitip ya, awas loe makan snack gue.”“Nggak percayaan amat sih loe ma teman sendiri. Saat loe kembali, makanan loe masih utuh kok.”“Iya.. Iya.. Gue percaya ama loe.” Kata Andre kemudian pergiArief pun melanjutkan berchating ria sambil memakan makanan yang tadi dibeli Andre untuknya. Saat melihat nick Acha online, Arief pun segera mengajak Acha untuk chat. Tak berapa lama, Acha kemudian membalas chatnya. Ternyata Acha anaknya asik untuk diajak ngobrol. Lama-lama Arief pun jatuh hati kepada Acha. Tanpa mereka berdua sadari, jarak mereka berdua tidak begitu jauh dari tempat mereka duduk. Arief meminta nomer hape Acha dan berinisiatif mengajak Acha kopdar (kopi darat) sabtu malam ini, Acha pun menerima ajakan Arief tersebut dan memberikan nomer hapenya kepada Arief. Dari kejauhan, terlihat Andre sedang berbicara dengan seorang cewek. Setelah selesai berbicara dengan cewek tersebut, Andre segera menghampiri Arief.“Barusan loe ngomong ma siapa , Ndre?” Tanya Arief“Ma Acha, ketua OSIS di sekolah kita. Biasa lah, masalah Osis” Jawab Andre“Hach?? Acha?? Ketua OSIS cewek??” Kata Arief kaget, minuman yang diminumnya tanpa sengaja muncrat ke wajah Andre.“Kalau kaget biasa aja donk, nggak usah lebay pake acara muncrat segala. Ntar hilang lagi aura kegantengan gue.” Kata Andre dengan pedenya.“Ganteng pala loe pitak. Haha.. Kalau dilihat dari sedotan mah, baru loe ganteng. Itu juga sedotannya dilihat dari menara Eifell.. Hahahah.. Kata Arief ngakak sehingga membuat Andre manyun semanyun-manyunnya.“Elu kalau nggak chating,, ngeledek mulu kerjaan nya.. huch!!”“Sorry sob. Hehehe.”“Oya, kenapa loe kaget dengar nama Acha? Ada apa nich?” Selidik Andre“Nggak apa-apa kok. Hehe.. Ada ya Ketua OSIS cewek.”“Elu haha hehe haha hehe dari tadi, bosen gue dengernya. Ada Lah, buktinya si Acha tuh. Makanya loe jangan chating mulu.” Komenter Andre“Iya bawel. Udah yuk masuk, udah bel nih.” Kata Arief.Mereka berdua pun masuk ke dalam kelas. Arief masih memikirkan Acha. Dalam batinnya bertanya-tanya, “apa mungkin Acha itu adalah Acha ketua OSIS di sekolah gue? Hmm, sabtu malam gue bakal tao ama dia.”∞∞∞ Malam yang dinanti pun tiba, Arief bersiap-siap untuk kopdar bersama Acha di tempat yang sudah mereka sepakati. Beberapa kali dia membaca sms Acha, “Ingat, Café Cinta. Loe pake baju hitam kan? Gue pake dress biru langit.” Arief tiba di café sepuluh menit lebih awal dari waktu yang telah di sepakati. Ternyata Acha telah duduk manis di tempat tersebut. Arief pun segera menghampirinya.“Acha kan?” Sapa Arief dengan ragu, takut salah orang. Karna saat itu Acha membelakanginya.“Iya. Loe Arief ya.” Kata Acha kemudian membalikkan badannya menghadap Arief. Arief terkejut, sepertinya dia pernah melihat Acha. Hampir saja dia terpesona akan kecantikan Acha.“Iya.. Hmm.. Loe bukannya yang kemaren ngobrol ma Andre di depan lapangan kan? Kalau nggak salah, loe ketua OSIS” Tanya Arief memastikan“Iya. Loe temennya Andre ya.”“Yups.. Andre sohib gue.”“Duduk Rief, nggak enak ngobrol sambil berdiri.”“Iya..” Jawab Arief grogiMereka berdua mengobrol dengan santai. Arief tak kuasa menahan perasaannya. Dia mencoba untuk tenang. Akhirnya Arief pun memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Acha.“Cha, gue mau ngomong sesuatu sama loe.” Kata Arief gugup“Ngomong aja lagi, nggak ada yang ngelarang kok.” Ucap Acha sambil tersenyum“Loe mau nggak Cha, jadi cewek gue? Walaupun kita baru ketemu ya, tapi gue ngerasa nyaman aja waktu chating sama loe. Gue bener-bener sayang sama loe, Cha. Gue jatuh cinta sama loe pada chating pertama.” Kata Arief“Gimana ya.” Kata Acha sambil berpikir“Loe mau kan Cha, jadi cewek gue. Gue butuh jawaban loe sekarang.” Kata Arief dengan sedikit memohon“Ya udah, gue mau jadi cewek loe.” Jawab Acha“Yes.. Makasih ya, Cha. Sekarang kita resmi jadian nih.” Kata Arief senang“Iya.” Jawab Acha“Gue sayang sama loe, Cha. Gue nggak bakal ngecewain loe.”“Gue juga sayang sama loe.”Akhirnya Arief pun menemukan cintanya. Arief sangat senang, begitupun dengan Acha. Andre terkejut dan tidak percaya mendengar kabar kalau Arief jadian dengan Acha. Tak berapa lama, Andre pun mengikuti jejak Arief menjadi maniak chating, dengan satu tujuan yaitu dapat jodoh. Arief hanya tertawa melihat tingkah Andre. Setelah dipikir-pikir, Arief masih tak menyangka dari sebuah chating dia bisa menemukan cinta.∞∞ The End ∞∞Nama : Yunietha Sari MangallaEmail : iechiegochocolate@ymail.comFB : yurievirca@yahoo.co.id (Yunietha Iechiego shiie’VircanKimbum)Twitter dan koprol : inyun_iechiegoPlurk : iechiegoBlog : yurieichigeky.blogspot.com

  • Marhaban Ya Ramadhan

    Marhaban Ya Ramadhan _Nggak terasa ya, Waktu cepet banget berlalu. Kayaknya baru kemaren aku melakukan one day tour at singapura (???), Eh tau tau bentar lagi sudah mau puasa.. #Gak da hubungannya.Oke, Jadi gini. Setelah melihat, menimbang dan memikirkan, Postingan kali ini bukan tentang lanjutan cerpen. Iya, Bukan!!. Tapi aku mau bagi bagi duid. Bisa di bilang si ini cuma postingan gaje. Tapi berhubung keterangan blog nya juga ada tulisan merupakan tempat buat aku menshare apapun yang aku suka. So… Ya begitu lah…Back to topik. Sebentar lagi kan aku jadi orang kaya #Amin, kita semua, Umat Islam khususnya. Baik itu islam KTP ataupun Islam yang belum punya KTP (??) akan menyambut yang namanya bulan Ramadhan. Bulan yang waktu aku kecil dulu paling di sukai, paling di tunggu – tunggu karena bulan yang satu ini cukup istimewa.sebagian

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 04″

    Lanjut kisah dari cerpen Take My Heart yang kini udah sampe part 04. Secara ni cerita lumayan panjang, terdiri dari 20 part. So untuk yang udah kadung merasa penasaran tentang gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak kisahnya di bawah ini. Dan biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading guys….Cerpen Take My Heart"Dasar manusia gila, kurang kerjaan. Rese," gerut Vio.Sepanjang jalan menuju kekelasnya ia terus mengerutu tak jelas. Entah itu karena perlakuan Ivan padanya atau karena ia merasa nasip sial masih menyertainya. Mendadak ia merasa ragu kalau keputusannya pindah kampus untuk mengobati rasa patah hatinya atas penolakan Herry benar – benar merupakan hal yang benar. Secara kali ini ia menyadari kalau nasipnya di kampus baru ini juga tidak terlalu mujur.Entah karena keasikan mengerutu atau memang karena pikirannya sedang melayang – layang, yang jelas saat belokan koridor kampusnya tak sengaja ia malah menabrak seseorang. Membuat gadis itu _ yang ternyata sedang membawa banyak buku langsung berserakan di lantai."Sory sory sory, gue nggak sengaja," Vio segera berjongkok. Mengumpulkan kembali buku – buku itu. Hal yang sama juga di lakukan oleh gadis itu.Setelah buku – buku itu kembali tertata rapi barulah Vio berani mentap sosok yang di tabraknya yang kebetulan juga sedang menatapnya.Bulu matanya yang lentik serta kulit wajahnya yang halus tanpa jerawat langsung menjadi nilai plus dari Vio atas gadis itu. Apa lagi di tambah dengan bola matanya yang coklat serta bibir yang mungil. Benar – benar keindah paras tanpa cela."Eh sekali lagi maaf ya. Gue jalan nggak liat – liat," ulang Vio merasa bersalah."Nggak papa kok. Kayaknya tadi itu juga gue emang ceroboh," balas gadis itu sambil berdiri. Matanya masih memperhatikan Vio. Sepertinya gadis itu juga sedang memberikan penilaian atas dirinya."Vio," tampa di minta Vio langsung mengulurkan tangannya. Untuk sekian detik gadis itu terdiam. Mencoba mencerna maksut Vio. Baru lah pada detik berikutnya senyum mengembang di bibir sambil tangannya terulur menyambut uluran tangan Vio."Silvi."Kata pertama yang Vio dengar keluar dari mulut gadis mungil itu. Merdu. Membuat Vio kembali harus mengakui kelebihan barunya.Sejenak Vio kembali terdiam. Silvi? Kenapa ia merasa familiar dengan wajah itu ya? Sepertinya ia pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana ya?"E.. Mahasiswi baru ya?" pertanyaan Silvi sudah lebih dulu mendahuluinya."Kok tau?" akhirnya Vio lebih memilih untuk balik bertanya dari pada menjawab. Sebuah kebiasaan yang memang sering di lakukan oleh kebanyakan orang jika langsung benar dalam menebak sesuatu."Soalnya gue baru liat" Balas Silvi sambil tersenyum. Vio ikut tersenyum sambil mengangguk membenarkan."Oh ya, buru – buru memang mau kemana?" tanya Vio mengalihkan pembicaraan."Tadinya si pengen ke kantin, tapi karena waktu sepertinya sudah tidak memungkinkan mending gue langsung balik kekelas aja deh," salas Silvi setelah tadi sempat terdiam beberapa saat."Kalau boleh tau kelas mana emang?" tanya Vio lagi."Jurusan sastra, semester empat ruang 3C.""Kok sama?" tanya Vio kaget."Masa sih?" Silvi ikut – ikutan kaget."Tapi perasaan tadi gue nggak ada liat loe di kelas sebelumnya?" tanya Vio lagi."O… Gue baru datang.""Jam segini?" Vio tampak memelototi jam yang melingkar di tangannya."He he he," Silvi thanya nyengir polos. "Gue nggak harus masuk semua mata kuliah kan untuk bisa di akui sebagai mahasiswa di kampus ini?"Vio mengeleng tak percaya. Dengan tampang sepolos dan seimut dihadapannya ia tidak akan pernah menyangka kalau gadis itu mau membolos."Lagi pula gue selalu melakukan hal yang gue sukai kalau loe belom tau," tambah Silvi lagi. "Apapun!" sambungnya.Mendengar kalimat tegas di penghujung kata Silvi hanya mampu membuat Vio angkat bahu. Setiap orang bebas untuk berpendapat bukan, terlepas dari hal itu benar ataupun salah. Lagipula bukankah orang – orang selalu menganggap bahwa hidup ini pilihan?"Kalau gitu, bisa kita langsung kekelas bareng?" ajakan Silvi membuyarkan lamunan Vio. Tanpa kata ia kembali mengangguk. Berjalan beriringan menuju kekelasnya. Sivli, orang pertama yang ia kenal di kampus barunya itu.Baiklah, edisi ralat. Silvi, orang pertama yang bisa ia di jadikan sahabat di kampus baru itu walau bukan orang pertama yang ia kenal. Masih ada para dosen juga si Laura, musuh dadakannya. Ataupun si Ivan, cowok kurang ajar yang menjadikan ia sebagai sarana untuk mendapatkan sepuluh juta.Cerpen terbaru "Take My Heart""Oh ya Vi, ngomong – ngomong loe kenal Ivan nggak?" tanya Vio.Ini adalah hari keduanya di kampus Amik sebagai mahasiswi baru. Menghabiskan waktu pergantian mata kuliah di kantin sambil menikmati Mie Soo pesanannnya di temani Silvi yang duduk di hadapan sembari menikmati sepotong pisang goreng."Ivan? Maksut loe dia?" tanya Silvi sambil menunjuk ke luar melewati jendela kaca kantin itu.Gerak refleks mata Vio mengikuti arah yang di tunjuk Silvi. Beberapa detik kemudian kepalanya mengangguk membenarkan."Tentu saja. Siapa si yang nggak kenal sama playboy kelas kakap itu?" balas Silvi santai."Oh ya? Emang dia beneran playboy?" tanya Vio terlihat tertarik."Emm," Silvi mengangguk membenarkan. Mulutnya masih penuh dengan pisang goreng membuatnya agak sulit untuk berbicara. Vio hanya mangut – mangut membenarkan."Bahkan asal loe tau aja. Bukan cuma playboy tu orang juga kurang ajar banget. Dua hari yang lalu, di kantin ini, di hadapan semua orang dia mutusin si Laura. Cewek idola di kampus kita. Katanya dia jadian sama tu cewek cuma karena taruah. Astaga, Gue nggak akan percaya kalau saja waktu itu gue nggak ngeliat kejadiannya di depan mata kepala gue sendiri," tambah Silvi lagi.Vio kembali terdiam. Sekarang ia mengerti kenapa Laura begitu benci pada Ivan sampe – sampe harus menyewa preman segala. Sepertinya itu memang pembalasan yang pantas untuknya."Tapi dari mana loe bisa tau soal dia? Terus kenapa loe pake nanyain dia tiba – tiba?" tanya Silvi tiba – tiba membuat Vio kembali harus diingatkan akan nasip hidupnya."Dia jadiin gue target selanjutnya. Dia juga jadiin gue sebagai barang taruah sepuluh jutanya," balas Vio lirih berbanding balik dengan reaksi sosok di hadapannya."Apa?! Loe adalah target taruhan Ivan yang selanjutnya?!" Demi apapun Vio benar – benar menyesali apa yang ia katakan barusan. Teriakan yang di ucapkan Silvi beberapa saat yang lalu benar – benar telah berhasil menarik perhatian seisi kantin. Sama halnya seperti banjir yang melanda Jakarta namun mampu membuat heboh seluruh warga Indonesia. Membuat Vio hanya mampu mengangkat tangannya menutupi wajah karena malu walau ia tau itu percuma."Kenapa nggak sekalian aja loe minjem mic di kampus ataupun loe bikin iklan di koran tempo," gerut Vio kesel."Ups, sory gue kelapasan," bisik Silvi merasa bersalah."Loe barusan bilang apa? Loe target taruhan Ivan yang selanjutnya?" tanya seseorang yang duduk tak jauh dari meja mereka angkat bicara sambil bangkit menghampiri. Vio hanya mengernyit kesel. Kenal juga enggak kenapa langsung di tuding begitu. Benar – benar nggak sopan."Enggak, kalian salah denger," elak Vio yang ia juga tau itu hal percuma. Mereka bukan anak kecil yang bisa dengan gampang di bohongi."Kita nggak mungkin salah denger. Jadi bisa loe jalasin apa maksut ucapan loe tadi?".Telak, benarkan apa yang Vio pikirkan barusan. Membohongi mereka itu percuma."Baiklah, walaupun seandainya itu benar, gue nggak berkewajiban untuk memberitaukannya pada kalian kan?" balas Vio akhirnya."Loe salah. Apaun yang berurusan sama Ivan itu selalu menjadi urusan kita."Vio hanya mendengus mendengar kalimat barusan. Bukankah itu kalimat yang sama yang ia dengar dari mulut Laura beberapa saat yang lalu? Lagipula, astaga. Yang benar saja, ia baru dua hari di kampus ini. Kenapa begitu banyak masalah yang bermunculan? Kenapa nggak sekalian saja masalah patah hatinya di bawa kseini? geramnya."Jadi apa benar Ivan melakukan taruhan lagi?" tanya seorang lagi yang tak Vio ketahui siapa."Ya," akhirnya dengan berat hati Vio mengangguk membenarkan. Membuat bisikan sana sini samar-samar terdengar."Kok bisa? Gimana ceritanya?""Iya, loe juga nggak cantik – cantik amat tuh," sambung yang lain setengah menghina."Mana gue tau. Kalau kalian mau tau tanyain saja langsung sama si Ivan," gertak Vio.Kesabarannya habis. Dengan cepat ia bangkit berdiri. Berlalu melewati anak – anak yang jelas masih penasaran. Meninggalkan kantin dengan keselnya."Loe mau kemana?" tanya Silvi sambil mensejajarkan langkahnya bersama Vio. Tapi vio tetap terdiam."Maaf, tadi gue nggak sengaja," sambung Silvi lirih.Untuk sejenak Vio menghentikan langkahnya. Menatap kearah Silvi yang terlihat merasa bersalah. "Sudahlah, lupain aja. Gue tau kok tadi itu loe nggak sengaja," kata Vio akhirnya."Tapi…." Silvi tidak jadi melanjutkan ucapannya. Matanya lurus menatap kehadapan. Memuat Vio sejenak merasa heran, dan begitu menoleh."Halo Vio," sapaan lembut dari mulut Ivan sontak membuatnya mendadak merasa mual."Ya Tuhan…" gumam Vio frustasi sambil mengusap keningnya."Loe kenapa? Sakit?" tanya Ivan. Raut khawatir jelas tergambar di wajahnya."Diem loe," damprat Vio sewot. Kemudian tanpa kata segera berlalu."Kenapa tu anak? Lagi datang bulan ya?" tanya Ivan kearah Silvi yang masih berdiri di hadapannya."Jiah, pake nanya. Bukanya itu gara- gara loe ya?" cibir Silvi sinis."Gue?" tunjuk Ivan kearah wajahnya sendiri."Iya. Ngapain loe jadiin dia target taruhan loe selanjutnya. Emang nggak bisa mikir loe ya?""Kok loe tau?" tanya Ivan makin kaget."Bukan cuma gue. Tapi gue bisa jamin, sebentar lagi. Seluruh anak kampus juga bakal tau.""Ha?"Mulut Ivan hanya mampu melongo. Sementara Silvi sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan itu lebih lanjut. Ia lebih memilih mengejar Vio. Memastikan kondisi gadis itu sekarang. Astaga, ada ada saja.Next to Cerpen Take My Heart Part 05Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Cerpen cinta Ketika cinta harus memilih ~ 13

    Ketika cinta harus memilih part 13 _ yah masih seputar kisah cinta antara Rangga dan Cinta sih. Secara kisah ini kan emang kisahnya mereka berdua. Bener nggak?Tinggal 3 part lagi baru kemudian end. Soal akhrinya happy or sad buat yang udah pernah baca di postingan sebelumnya pasti udah tau donk jawabannya. Ya kan? #Iyakan aja lah.Okelah, berhubung admin ngepostnya juga nyolong waktu kerja, so nggak usah kebanyakan bacod. Langsung aja cekidot…Ketika cinta harus memilihSemalaman Rangga tidak bisa tidur. Matanya benar – benar tidak mau untuk di ajak kerja sama. Pikirannya juga saat ini melantur entah kemana. Sibuk mencerna ucapan – ucapan sahabatnya tadi siang.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*