Cerpen Cinta Romantis “Take My Heart” ~ 16

Wah, baru ngeh kalo ini tu udah part 16 tapi belom end juga. Ngalahin rekord nie kayaknya. Bahkan The prince, the princess and mis. cinderela juga kalah. But gak papa deh, selama masih mau nulis nulis aja lah. Sejujurnya saia sendiri juga gak tau, Ni cerpen satu bakal end di part berapa. Tapi di usahain nggak lebih dari 20.
Oke lah happy reading ya. Buat yang belum baca part kemaren, Baca dulu gih di Cerpen Cinta Romantis Take my heart part 15.



"Bukan kah sudah cukup jelas?".
Dan kali ini Ivan yakin tebakannya benar. Ternyata gadis itu…..
"Kalau saat kita sedang berduaan, Memakan bakso itu bisa menyebapkan kematian".
"Ha" Mulut Ivan melongo. Jelas Terlihat seperti orang bodoh. Ia tidak salah dengar kan?. Apa Kalimat barusan benar benar baru keluar dari mulut Vio?.
"Bakso?" Ulang Ivan dengan kening berkerut yang langsung di sambut anggukan ringan oleh Vio yang terlihat mulai menikmati Mie Ayam pesanannya.
"Loe inget nggak waktu dulu, Pertama kali loe nyamperin gue. Loe berulang kali bikin gue tersedak gara – gara ucapan loe yang asal njeplak. Bahkan asal tau aja, Gue bahkan sampe trauma untuk memakan makanan yang satu ini. Padahal itu kan makanan faforit gue. Tapi demi keselamatan diri sendiri gue lebih rela makan mie ayam" Jelas Vio tampa sedikitpun terpengaruh dengan tampang melongo Ivan yang ada di hadapannya.
"Tunggu dulu, Jadi maksut loe. Kita lagi ngomongin…… Bakso?" tanya Ivan setelah otaknya kembali bisa mencerena semuanya.
Kepala Vio mengangguk berlahan. Untuk beberapa saat ia asik dengan suapannya sampai kemudian saat menoleh ia mendapati kalau mata Ivan sama sekali tidak terlepas dari wajahnya. Sekilas Vio melirik kearah makanan Ivan yang tampak masih utuh.
"Bakso loe kenapa nggak di makan?. Apa sekarang loe juga percaya kalau makanan itu berbahaya?".
Seolah baru tersadar Ivan mengeleng. "Omong kosong. Mana mungkin makanan ini berbahaya. Gue cuma masih nggak percaya kalau topik yang kita bicarakan sedari tadi adalah bakso" Sambung Ivan sambil mulai menyesap makannya.
"Atau loe lebih suka kalau kita ngobrolin Andra".
"Andra?" Lagi lagi Ivan mengernyit bingung. Memang apa hubungannya, Kenapa ia harus membicarakan sahabatnya, pikirnya.
"Eemm.." Angguk Kepala Vio. "Karena sepertinya gue menyukainya".
"Uhuk uhuk uhuk".
Untuk kedua kalinya Ivan tersedak. Bahkan kali ini lebih parah. Bakso yang belum ia kunyah justru malah langsung melesat melewati tenggorokannya. Diteguknya habis jus yang ia pesan. Setelah beberapa saat barulah batuknya mereda namun tangannya masih memukul mukul ringan dadanya yang terasa nyeri. Namun satu hal yang Ivan yakini pasti, Rasa sakit itu BUKAN karena bakso.
"Ha ha ha" bukannya bersimpati, Vio justru malah tertawa lepas. Membuat Ivan kembali terpaku. Rasa sakit itu mendadak hilang. Dan kesadaran baru muncul, Kalau ia selalu ingin melihat tawa itu.
"Jadi apa sekarang loe percaya, kalau bakso itu berbahaya?" Vio mengulang kembali pertanyannya.
"Loe" Tunjuk Ivan lurus. "Apa maksut ucapan loe tadi?".
"Eh?" Vio merasa bingung. Kenapa ia merasa reaksi Ivan jadi terlihat menyeramkan ya.
"Apa maksut loe dengan kata "sepertinya gue menyukainya?" Tambah Ivan menjelaskan.
"Ehem, Oh yang itu" Vio terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Iya, sepertinya gue menyukainya. Andra, Sekilas mirip dengan kata 'Andre'. Mr. Kacamata. Tapi, baiklah itu nggak ada hubungannya. Yang jelas gue suka liat tatapan tajam matanya. Lagi pula, Dia kelihatan pinter. Buktinya, tadi dia langsung tau kalau status kita cuma bohong bohongan. Terus tampangnya juga cakep. Dan nilai plus buat dia adalah dia bukan PLAY-BOY".
Ivan terdiam sambil menunduk dalam. Gantian Vio yang merasa heran. Kenapa Pria itu tidak membalasnya?. Apa jangan jangan dia marah. Apa ucapannya tadi cukup kasar. Berlahan rasa bersalah merambati hatinya. Mungkin ia kadang memang harus mengerem mulutnya agar tidak asal menjeplak lagi.
"Kalau seandainya…" Kata Ivan sambil matanya menerawang jauh. "Seandainya gue bukan Playboy, Apa ada kemungkinan loe akan suka sama gue?" sambung Ivan sambil menolehkan wajahnya, menatap lurus kearah Vio.
Vio tidak langsung menjawab. Mata itu,… tatapan tajam itu….. Vio tidak mungkin salah. Karena sepertinya ia mengenali arti dari tatapnnya. Vio cukup yakin kalau itu adalah jenis tatapan yang sama seperti tatapan yang selalu ia berikan pada Herry, dulu. Jangan jangan…
"Seandainya gue bukan Playboy, apa loe akan percaya ketika gue bilang kalau gue benar benar suka sama loe?".
Hening yang mencekam. Sepi namun menyakitkan. Seandainya….?.
"Seandainya?" Gumam Vio lirih.
"Loe tau, Dari sekian banyak kosa kata yang ada di dunia. Satu kata itu lah yang paling gue benci. Loe mau tau kenapa?. Karena kata itu pasti akan selalu mengingatkan ke gue, 'Seandainya herry juga suka sama gue" .
Mata Ivan tak berkedip menatapnya. Ia benar benar tak menyangka akan mendegar gumaman lirih Vio barusan. Tak bisa di cegah, Sebuah senyum sinis tersunging di bibirnya. Entah sinis ke pada Vio yang tak bisa move on, Atau justru sinis pada dirinya sendiri. Karena pada kenyataannya, Memang tidak semua gadis bisa tunduk kepadanya. Persis seperti yang Andra ucapkan dulu.
"Sudah sore, Ayo gue antar loe pulang".
Tanpa menoleh Ivan bangkit berdiri. Melangkah meninggalkan baksonya yang masih utuh bersama uang perbayarannya. Berjalan tanpa menoleh sama sekali. Bahkan untuk memastikan bahwa Vio mengikutinya ataupun tidak…
To Be Continue…..
Tau nggak sih, Sambil nulis lanjutan di part ini Full lagu yang di dengerin itu Just give me a reason miliknya p!nk yang terus di ulang ulang. Omigot, Bahasa inggris saia ancur. Satu satunya yang saia tangkap dari lagu yang satu ini adalah "Broken heart". And than, jadilah tema cerpen ini tentang patah hati. Saia ndiri aja bingung kenapa jadi gini apalagi kalian yang baca yak….
Wukakakka……
Sepertinya untuk next saia harus cari rekomendasi lagu lagu yang happy happy aja kali ya. Takutnya kalo dengerin yang melow melow, Ni cerpen satu malah berakhir sad ending lagi….
Terakhir, Sampai bertemu di next parts ya…..

Random Posts

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 04″

    Lanjut kisah dari cerpen Take My Heart yang kini udah sampe part 04. Secara ni cerita lumayan panjang, terdiri dari 20 part. So untuk yang udah kadung merasa penasaran tentang gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak kisahnya di bawah ini. Dan biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading guys….Cerpen Take My Heart"Dasar manusia gila, kurang kerjaan. Rese," gerut Vio.Sepanjang jalan menuju kekelasnya ia terus mengerutu tak jelas. Entah itu karena perlakuan Ivan padanya atau karena ia merasa nasip sial masih menyertainya. Mendadak ia merasa ragu kalau keputusannya pindah kampus untuk mengobati rasa patah hatinya atas penolakan Herry benar – benar merupakan hal yang benar. Secara kali ini ia menyadari kalau nasipnya di kampus baru ini juga tidak terlalu mujur.Entah karena keasikan mengerutu atau memang karena pikirannya sedang melayang – layang, yang jelas saat belokan koridor kampusnya tak sengaja ia malah menabrak seseorang. Membuat gadis itu _ yang ternyata sedang membawa banyak buku langsung berserakan di lantai."Sory sory sory, gue nggak sengaja," Vio segera berjongkok. Mengumpulkan kembali buku – buku itu. Hal yang sama juga di lakukan oleh gadis itu.Setelah buku – buku itu kembali tertata rapi barulah Vio berani mentap sosok yang di tabraknya yang kebetulan juga sedang menatapnya.Bulu matanya yang lentik serta kulit wajahnya yang halus tanpa jerawat langsung menjadi nilai plus dari Vio atas gadis itu. Apa lagi di tambah dengan bola matanya yang coklat serta bibir yang mungil. Benar – benar keindah paras tanpa cela."Eh sekali lagi maaf ya. Gue jalan nggak liat – liat," ulang Vio merasa bersalah."Nggak papa kok. Kayaknya tadi itu juga gue emang ceroboh," balas gadis itu sambil berdiri. Matanya masih memperhatikan Vio. Sepertinya gadis itu juga sedang memberikan penilaian atas dirinya."Vio," tampa di minta Vio langsung mengulurkan tangannya. Untuk sekian detik gadis itu terdiam. Mencoba mencerna maksut Vio. Baru lah pada detik berikutnya senyum mengembang di bibir sambil tangannya terulur menyambut uluran tangan Vio."Silvi."Kata pertama yang Vio dengar keluar dari mulut gadis mungil itu. Merdu. Membuat Vio kembali harus mengakui kelebihan barunya.Sejenak Vio kembali terdiam. Silvi? Kenapa ia merasa familiar dengan wajah itu ya? Sepertinya ia pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana ya?"E.. Mahasiswi baru ya?" pertanyaan Silvi sudah lebih dulu mendahuluinya."Kok tau?" akhirnya Vio lebih memilih untuk balik bertanya dari pada menjawab. Sebuah kebiasaan yang memang sering di lakukan oleh kebanyakan orang jika langsung benar dalam menebak sesuatu."Soalnya gue baru liat" Balas Silvi sambil tersenyum. Vio ikut tersenyum sambil mengangguk membenarkan."Oh ya, buru – buru memang mau kemana?" tanya Vio mengalihkan pembicaraan."Tadinya si pengen ke kantin, tapi karena waktu sepertinya sudah tidak memungkinkan mending gue langsung balik kekelas aja deh," salas Silvi setelah tadi sempat terdiam beberapa saat."Kalau boleh tau kelas mana emang?" tanya Vio lagi."Jurusan sastra, semester empat ruang 3C.""Kok sama?" tanya Vio kaget."Masa sih?" Silvi ikut – ikutan kaget."Tapi perasaan tadi gue nggak ada liat loe di kelas sebelumnya?" tanya Vio lagi."O… Gue baru datang.""Jam segini?" Vio tampak memelototi jam yang melingkar di tangannya."He he he," Silvi thanya nyengir polos. "Gue nggak harus masuk semua mata kuliah kan untuk bisa di akui sebagai mahasiswa di kampus ini?"Vio mengeleng tak percaya. Dengan tampang sepolos dan seimut dihadapannya ia tidak akan pernah menyangka kalau gadis itu mau membolos."Lagi pula gue selalu melakukan hal yang gue sukai kalau loe belom tau," tambah Silvi lagi. "Apapun!" sambungnya.Mendengar kalimat tegas di penghujung kata Silvi hanya mampu membuat Vio angkat bahu. Setiap orang bebas untuk berpendapat bukan, terlepas dari hal itu benar ataupun salah. Lagipula bukankah orang – orang selalu menganggap bahwa hidup ini pilihan?"Kalau gitu, bisa kita langsung kekelas bareng?" ajakan Silvi membuyarkan lamunan Vio. Tanpa kata ia kembali mengangguk. Berjalan beriringan menuju kekelasnya. Sivli, orang pertama yang ia kenal di kampus barunya itu.Baiklah, edisi ralat. Silvi, orang pertama yang bisa ia di jadikan sahabat di kampus baru itu walau bukan orang pertama yang ia kenal. Masih ada para dosen juga si Laura, musuh dadakannya. Ataupun si Ivan, cowok kurang ajar yang menjadikan ia sebagai sarana untuk mendapatkan sepuluh juta.Cerpen terbaru "Take My Heart""Oh ya Vi, ngomong – ngomong loe kenal Ivan nggak?" tanya Vio.Ini adalah hari keduanya di kampus Amik sebagai mahasiswi baru. Menghabiskan waktu pergantian mata kuliah di kantin sambil menikmati Mie Soo pesanannnya di temani Silvi yang duduk di hadapan sembari menikmati sepotong pisang goreng."Ivan? Maksut loe dia?" tanya Silvi sambil menunjuk ke luar melewati jendela kaca kantin itu.Gerak refleks mata Vio mengikuti arah yang di tunjuk Silvi. Beberapa detik kemudian kepalanya mengangguk membenarkan."Tentu saja. Siapa si yang nggak kenal sama playboy kelas kakap itu?" balas Silvi santai."Oh ya? Emang dia beneran playboy?" tanya Vio terlihat tertarik."Emm," Silvi mengangguk membenarkan. Mulutnya masih penuh dengan pisang goreng membuatnya agak sulit untuk berbicara. Vio hanya mangut – mangut membenarkan."Bahkan asal loe tau aja. Bukan cuma playboy tu orang juga kurang ajar banget. Dua hari yang lalu, di kantin ini, di hadapan semua orang dia mutusin si Laura. Cewek idola di kampus kita. Katanya dia jadian sama tu cewek cuma karena taruah. Astaga, Gue nggak akan percaya kalau saja waktu itu gue nggak ngeliat kejadiannya di depan mata kepala gue sendiri," tambah Silvi lagi.Vio kembali terdiam. Sekarang ia mengerti kenapa Laura begitu benci pada Ivan sampe – sampe harus menyewa preman segala. Sepertinya itu memang pembalasan yang pantas untuknya."Tapi dari mana loe bisa tau soal dia? Terus kenapa loe pake nanyain dia tiba – tiba?" tanya Silvi tiba – tiba membuat Vio kembali harus diingatkan akan nasip hidupnya."Dia jadiin gue target selanjutnya. Dia juga jadiin gue sebagai barang taruah sepuluh jutanya," balas Vio lirih berbanding balik dengan reaksi sosok di hadapannya."Apa?! Loe adalah target taruhan Ivan yang selanjutnya?!" Demi apapun Vio benar – benar menyesali apa yang ia katakan barusan. Teriakan yang di ucapkan Silvi beberapa saat yang lalu benar – benar telah berhasil menarik perhatian seisi kantin. Sama halnya seperti banjir yang melanda Jakarta namun mampu membuat heboh seluruh warga Indonesia. Membuat Vio hanya mampu mengangkat tangannya menutupi wajah karena malu walau ia tau itu percuma."Kenapa nggak sekalian aja loe minjem mic di kampus ataupun loe bikin iklan di koran tempo," gerut Vio kesel."Ups, sory gue kelapasan," bisik Silvi merasa bersalah."Loe barusan bilang apa? Loe target taruhan Ivan yang selanjutnya?" tanya seseorang yang duduk tak jauh dari meja mereka angkat bicara sambil bangkit menghampiri. Vio hanya mengernyit kesel. Kenal juga enggak kenapa langsung di tuding begitu. Benar – benar nggak sopan."Enggak, kalian salah denger," elak Vio yang ia juga tau itu hal percuma. Mereka bukan anak kecil yang bisa dengan gampang di bohongi."Kita nggak mungkin salah denger. Jadi bisa loe jalasin apa maksut ucapan loe tadi?".Telak, benarkan apa yang Vio pikirkan barusan. Membohongi mereka itu percuma."Baiklah, walaupun seandainya itu benar, gue nggak berkewajiban untuk memberitaukannya pada kalian kan?" balas Vio akhirnya."Loe salah. Apaun yang berurusan sama Ivan itu selalu menjadi urusan kita."Vio hanya mendengus mendengar kalimat barusan. Bukankah itu kalimat yang sama yang ia dengar dari mulut Laura beberapa saat yang lalu? Lagipula, astaga. Yang benar saja, ia baru dua hari di kampus ini. Kenapa begitu banyak masalah yang bermunculan? Kenapa nggak sekalian saja masalah patah hatinya di bawa kseini? geramnya."Jadi apa benar Ivan melakukan taruhan lagi?" tanya seorang lagi yang tak Vio ketahui siapa."Ya," akhirnya dengan berat hati Vio mengangguk membenarkan. Membuat bisikan sana sini samar-samar terdengar."Kok bisa? Gimana ceritanya?""Iya, loe juga nggak cantik – cantik amat tuh," sambung yang lain setengah menghina."Mana gue tau. Kalau kalian mau tau tanyain saja langsung sama si Ivan," gertak Vio.Kesabarannya habis. Dengan cepat ia bangkit berdiri. Berlalu melewati anak – anak yang jelas masih penasaran. Meninggalkan kantin dengan keselnya."Loe mau kemana?" tanya Silvi sambil mensejajarkan langkahnya bersama Vio. Tapi vio tetap terdiam."Maaf, tadi gue nggak sengaja," sambung Silvi lirih.Untuk sejenak Vio menghentikan langkahnya. Menatap kearah Silvi yang terlihat merasa bersalah. "Sudahlah, lupain aja. Gue tau kok tadi itu loe nggak sengaja," kata Vio akhirnya."Tapi…." Silvi tidak jadi melanjutkan ucapannya. Matanya lurus menatap kehadapan. Memuat Vio sejenak merasa heran, dan begitu menoleh."Halo Vio," sapaan lembut dari mulut Ivan sontak membuatnya mendadak merasa mual."Ya Tuhan…" gumam Vio frustasi sambil mengusap keningnya."Loe kenapa? Sakit?" tanya Ivan. Raut khawatir jelas tergambar di wajahnya."Diem loe," damprat Vio sewot. Kemudian tanpa kata segera berlalu."Kenapa tu anak? Lagi datang bulan ya?" tanya Ivan kearah Silvi yang masih berdiri di hadapannya."Jiah, pake nanya. Bukanya itu gara- gara loe ya?" cibir Silvi sinis."Gue?" tunjuk Ivan kearah wajahnya sendiri."Iya. Ngapain loe jadiin dia target taruhan loe selanjutnya. Emang nggak bisa mikir loe ya?""Kok loe tau?" tanya Ivan makin kaget."Bukan cuma gue. Tapi gue bisa jamin, sebentar lagi. Seluruh anak kampus juga bakal tau.""Ha?"Mulut Ivan hanya mampu melongo. Sementara Silvi sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan itu lebih lanjut. Ia lebih memilih mengejar Vio. Memastikan kondisi gadis itu sekarang. Astaga, ada ada saja.Next to Cerpen Take My Heart Part 05Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Cerpen Cinta Sedih: AKU MENCINTAIMU SAAT KAU PERGI

    AKU MENCINTAIMU SAAT KAU PERGIOleh: Mentari SenjaKenapa hidup ini sungguh tak bisa aku mengerti, sedikitpun tak kupahami. Yang seperti kebanyakan orang akan keindahan pernikahan tapi tak berlaku buatku, janggal sekali untukku menyambut hari dimana aku akan menjadi milik orang lain. Bukan sebuah kebahagaian melainkan kehampaan. Teringat lagi akan janji dimasa lalu tentang sebuah pernikahan indah, mengikat ikrar dalam bahtera rumah tangga, namun semua itu pupus sudah. Sebentar lagi aku akan menjadi milik orang lain bukan miliknya. “selamat ya ibu indah, akhirnya ibu punya mantu juga.”“terima kasih jeng rahmi, alhamdulillah yah..akhirnya si mentari menikah juga.”Terdengar ucapan selamat dari balik pintu kamarku, yang semakin membuatku tersayat pedih. Ibuku merasa bahagia sekali karena akhirnya aku akan menikah dengan laki-laki pilihannya, yang ibu bilang dia sangat cocok untukku dan pasti aku akan bahagia. Apakah itu benar ibu???tapi mengapa saat ini perasaanku benar-benar sedih, jangankan untuk bersanding dengannya, untuk mencoba mengenalnya saja aku sudah enggan. Entah apa yang ada dibenakku, namun aku belum bisa melupakan seseorang itu, seseorang yang berjanji akan menikahiku sepulang dari rantaunya. Maafkan aku cintaku, bukan maksud hati untuk mengkhianatimu tapi perjodohan ini tak mungkin aku tolak. Kedua orang tuaku dan orangtuanya ternyata sudah membuat kesepakatan akan pernikahan ini sebelum kami berdua mengerti tentang pernikahan. Sekali lagi aku belum bisa memahami ini semua, bagaimana mungkin aku bisa hidup bersama dengan orang yang tak ku cintai, bahkan bertemu saja tidak pernah. Pernikahan ini sungguh mendadak mengingat kondisi bunda Risma orang tua Fariz yang sudah semakin kritis, dan beliau menginginkan agar Fariz segera menikah denganku. Karena keeratan hubungan keluargaku dan keluarganya membuat ayah dan ibuku menyetujui pernikahan ini tanpa peduli dengan persetujuanku.“mentari sayang, cepat keluar acara akan segera dimulai”suara itu menyadarkanku dari lamunan panjang, segera ku hapus airmata yang semoat menetes. Aku tak ingin ibu melihat aku terlihat sedih di hari pernikahanku. Bagiku sekarang adalah kebahagiaan mereka, walau hati ini terlalu perih menanggung luka akan terpisahnya cintaku dan cinta satria, maafkan aku satria.***“Muhammad Yakup Al Fariz, saya nikahkan engkau dengan Mentari shifa az zahra binti Muhammad zaenudin dengan mahar seperangkat alat sholat dan uang sebesar seratus tiga puluh ribu, dibayar tunai.” ucap kiai Fatir“saya terima nikahnya Mentari shifa az zahra dengan mahar tersebut dibayar tunai.” Fariz dengan mantap mengucapkan ijab.“bagaimana sah??” tanya kiai Fatir kepada saksi dan semua orang“sah” serempak menjawab.“Barokallahu……” kiai Fatir memanjatkan doa, gaungan suara amin pun menyeruak diseluruh ruangan. Kebahagaian dan kelegaan terpancar dari raut-raut setiap orang yang menyaksikan acara sakral itu.Dan bagaimana dengan aku, detik ini aku telah resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang tak pernah aku kenal sebelumnya.***“ini mas Fariz kopinya,” ku letakan kopi sebagai pelengkap sarapan pagi yang telah kusiapkan di meja makan.“terima kasih dek.” ucap mas fariz lembut.Tak ada yang berubah dari perasaanku, walaupun aku telah menikah dengan mas Fariz tapi rasa cinta ini masih bersarang hanya untuk satria yang aku pun sendiri tak tau bagaimana keadaannya sekarang.Sebagai seorang istri aku berusaha untuk menjadi istri yang baik, walau belum sepenuhnya aku bisa. Namun aku belum bisa melaksanakan kewajibanku untuk memenuhi kebutuhan biologis mas fariz, tapi dengan penuh kesabaran mas Fariz memahami itu. Setiap malam kami tidur terpisah, sebagai seorang laki-laki mas Fariz tentu tidak ingin melihat seorang wanita tidur diluar kamar, maka dengan pengertiannya itu mas Fariz yang mengalah untuk tidur di sofa, kecuali pada saat-saat tertentu saja saat ibuku berkunjung dan menginap dirumah, tapi itupun mas fariz tetap tidur dibawah bukan satu ranjang denganku.Aku tau itu sangat salah,sebagai seorang istri aku tidak berhak bersikap seperti itu, pernah satu kali aku coba tepiskan perasaanku dan berfikir realitis bahwa sekarang aku telah menjadi milik mas Fariz. Saat itu aku siap untuk melayaninya, sengaja aku suruh maz fariz untuk tidur bersamaku dan mengijinkannya untuk melaksanakan kewajiban sebagai suami istri. Dengan perasaan yang tak menentu ku coba tenang, saat mas Fariz mendekat, ku coba untuk tersenyum walaupun itu selintas. Sungguh aku tak kuasa menahan matanya yang tajam, saat itu ingin rasanya aku menangis, airmata ini sungguh sudah meleleh mengingat satria, namun segera ku tahan.Dengan tatapannya yang lembut mas fariz menatapku, digenggamnya tanganku. Entah apa yang dia fikirkan saat itu, namun dia terlihat tersenyum manis. Tangannya yang tadi menggengam tanganku kini berganti meraih wajahku, diraihnya wajahku dan tiba-tiba dia mencium keningku seraya mengucapkan selamat malam, setelah itu dia beranjak pergi ketempat biasa dia tidur.Aku tak tau harus berbuat apa, sesaat setelah mas Fariz keluar airmata ini langsung tumpah. Entah apa yang aku rasa, bahagiakah aku atau sedih. Namun aku merasa sedikit lega.***Pernikahanku dengan maz Fariz berjalan baik-baik saja, tidak ada pertengkaran maupun perselisihan walaupun keadaannya kami belum bisa melaksanakan kewajiban sebagai suami istri yang sebenarnya.Entah terbuat dari apa hati mas fariz itu, hingga hatinya sangatlah lembut. Perhatian-perhatian yang dia curahkan padaku tak pernah ada habisnya. Kelembutan sikap serta santun tutur katanya mengisyaratkan kesabaran yang sungguh luar biasa, apalagi menghadapi sikapku. Dia tak pernah mengeluh padaku, dia tak pernah marah sekalipun kadang aku melakukan kesalahan. Dia selalu memberiku nasihat dengan sikap lembutnya yang tidak membuatku tersinggung. Tapi kenapa hatiku belum bisa menerima kehadiran mas Fariz di kehidupanku, kenapa aku belum bisa mencintainya. maafkan aku mas Fariz.***Ku gelar sajadah panjang, sepertiga malam bagi orang-orang yang merindukan kedekatan dengan Sang Maharaja. Di sepertiga malam itu pun ku panjatkan doa, ku haturkan dzikir serta ku curahkan segala perasaanku. Tak terasa ada rembesan air yang keluar dari kelopak mataku mengingat akan kekhilafanku. Kalam – kalam illahi mengantarkanku hingga menjelang shubuh. Dan kulanjutkan dengan sholat shubuh.Mentari di ufuk timur telah memacarkan rona kemerahannya, kicau burung mengantarkan angin kesejukan untuk insan manusia di dunia ini. Secercah harapan dan doa yang hanya Tuhan dan aku yang tau, berharap semua kan terwujud.***Mataku tertuju pada sesuatu yang janggal, merasa aneh dengan keadaan kamarku. Ada benda-benda yang tak mungkin bisa sendirinya ada di sini. Kulihat sekeliling kamar, begitu semua ada perubahan. Warna-warni bunga bertaburan di ranjangku, ada mawar putih yang membentuk hati di sekitar taburan mawar merah. Sungguh indah, bahkan sangat indah dan menakjubkan. Di sisi lain terpajang sketsa wajahku yang dibubuhi nama kecilku “RiRi”. Siapa yang melakukan ini, siapa yang membuat keajaiban ini. Sungguh luar biasa, tak pernah sekalipun kubayangkan tentang moment seperti ini. Mungkinkah mas Fariz…?????? Tapi dia bilang dia sedang ada rapat dan mungkin akan pulang terlambat hingga malam nanti, lalu siapa yang telah mempersiapkan ini.Di tengah –tengah hati buatan dari mawar putih itu tegeletak secarik kertas berwarna pink, entah kertas apa itu. Karena penasaran aku segera mengambilnya dan kubaca. Hanya satu kalimat yang aku belum tau apa maksudnya. Hanya tertulis sebuah kalimat “ pergi ke kebun belakang, aku menunggumu” secarik kertas itu lalu kutinggalkan.Subhanallah, kejutan apalagi ini. Cahaya lilin menghiasi rentetan jalan yang menuju pada satu titik. Mas Fariz dengan seikat bunga mawar merah menungguku di meja yang dihiasi lilin indah…sungguh kejutan yang membuatku tak bisa berkata-kata, hanya ulasan senyum yang selalu berkembang di bibirku ini. Perlahan kutelusuri jalan setapak yang indah ini.“happy brithday dek, selamat ulang tahun mentari.” seikat bunga itu pun dipersembahkan mas Fariz padaku seraya menyilahkan aku duduk.Kini aku hanya berdua dengan mas Fariz, ditemani temaram cahaya lilin dan sinar bulan. Perasaanku menjadi tak menentu, sebuah kebahagiaan yang baru kutemukan setelah sekian lama aku merindukannya. Ada secercah cahaya hangat yang menerobos masuk dalam relung hatiku saat kutatap wajah mas Fariz. Rasa apakah ini, setelah bertahun-tahun tak pernah ku rasakan lagi.“gimana dek, kamu senang dengan ini. Mas sengaja buat ini untuk hadiah ulang tahunmu. Maaf mas belum bisa memberikan yang lebih dari ini.”mas fariz menggenggam tanganku dan mengecup punggung tanganku.Setetes embun yang keluar dari mataku pun jatuh perlahan, dengan senyum yang masih berkembang ku ucapkan terimakasih.” Terima kasih mas, ini hadiah terindah yang pernah adek dapat. Dan ini sudah lebih dari apa pun. Terima kasih mas.”Malam ini adalah malam terindah yang pernah aku rasa, kebahagiaan yang dulu sempat hilang kini hadir kembali, dan perasaan itu ada yang berubah. Mungkinkah ini jawaban atas doa-doaku. Amien..semoga saja…!!!Kini hari-hariku terasa lain, sejak kejutan malam itu aku merasakan sesuatu yang lain pada diriku, apalagi saat aku berhadapan dengan mas Fariz. Dulu biasa saja saat aku melihat matanya, tapi kini sungguh lain. Hatiku berdebar-debar saat mas menggenggam tanganku, aku juga merasa grogi saat berhadapan langsung dengan mas Fariz. Kenapa ini ??? Ada apa denganku, mungkinkah aku jatuh cinta……????Tak tau pasti apa yang aku rasakan terhadap mas Fariz, namun yang pasti rasaku sudah tak seperti dulu lagi. Tak acuh lagi saat dia sibuk dengan kegiatannya, sangat mengkhawatirkannya saat dia pulang terlambat. Dan selalu menyiapkan apa yang mas Fariz butuhkan. Semua itu ku lakukan dengan senang hati, tak ada rasa beban lagi. Dan sejak malam itu, aku dan mas Fariz sudah melunasi kewajiban sebagai suami istri. Mungkinkah ini kebahagiaan menikah seperti yang kebanyakan orang katakan. Entahlah, tapi saat ini aku merasa begitu sangat bahagia dan nyaman.***Hari ini ulang tahun mas Fariz, dan aku akan memberikan kejutan yang luar biasa. Hadiah ini pasti akan membuat mas fariz bahagia. Karena hadiah ini adalah anugerah yang Allah berikan. Tiga bulan sudah usia kehamilanku, sengaja tak ku beritahu maz Fariz karena aku ingin memberikan kejutan pada hari ulang tahunnya. Buah cinta yang kami dambakan, setelah ku bisa mencintai mas Fariz dengan segenap hati. Ketulusan dan kesabaran mas Fariz telah merubah segalanya. Cintanya kini mengisi relung hatiku, penuh dengan untaian doa kebahagiaan.Semua pernak-pernik dan tetek bengek untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun mas Fariz sudah ku siapkan, sempurna semuanya perfect. Pasti mas fariz akan terkejut dan bahagia sekali saat melihat bukti test kehamilanku di kantung baju tidurnya. Setelah sebelumnya ku persiapkan kejutan lainnya, makan malam dengan masakan spesial kesukaan mas Fariz yang kini telah terhidang rapi di meja makan.Tak sabar aku menunggu kedatangan mas Fariz, sudah ku tanya dia kapan akan pulang dari kantor dan dia bilang sebentar lagi. Jantungku berdetak lebih kencang, menunggu kedatangan sang pujaan hati tiba.Namun selang sejam dari kabar yang dia beritahukan mas Fariz tak kunjung datang. Timbul perasaan was-was takut terjadi apa-apa. Tanpa berfikir panjang langsung kuraih ponsel yang ada di sakuku dan ku hubungi mas Fariz.“assalamualaikum mas Fariz.” suaraku menyapa mas Fariz“Waalaikum salam dek, “ terderang suara mas Fariz di seberang sana.“mas kenapa sampai malam gini mas belum juga pulang” tanyaku merasa khawatir.“maaf dek, tapi mas ada tugas tambahan dari bos dan belum sempat mengabari adek. Maaf ya dek. Hmm mungkin sebentar lagi pekerjaan ini selesai dan mas bisa pulang. Maaf ya dek sudah mengkhawatirkan adek.” lembut suara mas fariz menentramkanku, membuatku tenang akan keadaan mas Fariz. Rupanya pekerjaan yang membuatnya terhambat pulang dari kantor, semoga dia baik-baik saja.“oh ya sudah mas, adek kira mas kenapa-kenapa. Adek sempat khwatir banget sama mas. Tapi sekarang adek sudah bisa lega tau mas baik-baik saja. Ya sudah kalau gitu, selamat bekerja, hati-hati dan cepat pulang ada sesuatu yang ingin adek berikan. Assalamualaikum mas”kataku mengakhiri pembicaraan“waalaikum salam, jaga diri adek baik-baik” suara mas fariz menutup telepon.Terdengar sedikit aneh, tak biasa-biasanya mas fariz berbicara sedatar itu. Seperti tak ada gairah. Sempat berfikir aneh, tapi segera kusingkirkan fikiran itu karena aku tak ingin merusak suasana dan aku sebagai seorang istri harus bisa berprasangka baik terhadap suaminya.***“hallo bisa bicara dengan ibu mentari.” suara di seberang telpon itu membuatku penasaran.“iya benar, saya mentari. Ada apa ya pa…???? dan kenapa” tanyaku pada penelpon yang tidak ku kenal itu.“cepat segera ibu ke rumah sakit Medica, pa Fariz mengalami kecelakaan.”Deg. kenapa ini. Benarkah apa yang sudah aku dengar tadi. Mas Fariz, ada apakah engkau, kenapa engkau hingga seseorang mengabarkanku mas sudah di rumah sakit. Baru satu jam tadi kau berbicara padaku, berjanji akan segera pulang setelah pekerjaan itu selesai. Tapi kenapa sekarang aku yang harus menjemputmu, dan itu di rumah sakit… ada apa denganmu mas.***Kamar ICU itu terlihat lengah, senyap tak ada suara walau aku liat ada banyak orang di situ. Dan kenapa semua orang menatapku pilu, ada apa denganku. Salah satu rekan kerja mas Fariz yang kebetulan perempuan langsung memelukku erat, menangis di pelukkanku. Aku sungguh tak tau ada apa ini. Dengan suara yang masih terisak perempuan ini berbicara lirih. “ yang sabar ya mba mentari, mba harus bisa menerima ini semua.” Keadaan ini membuatku semakin tidak mengerti, sebenarnya ada apa.“ada apa ini.” tanyaku datar pada semua orang yang ada di situ. Ku tau perasaanku kini sudah tak menentu lagi. Namun semua hanya terdiam tak ada yang berani menatapku, semua hanya larut dalam kediamannya itu. “ada apa ini, cepat katakan”tanyaku sekali lagi dengan nada agak keras.“ada apa dengan mas Fariz, kenapa mas Fariz. Kenapa semua diam. Cepat katakan.” ku goyang-goyangkan kerah baju lelaki yang ku tau adalah rekan kerja mas fariz, namun sekali lagi lelaki itu hanya diam saja. “ hei…ada apa…kalian itu tuli ya…kenapa semua diam”aku semakin tak karuan, berteriak-teriak bertanya pada semua orang yang membisu terpatung. Dan lagi-lagi perempuan itu memelukku. ”sabar mba, coba tenang” diucapnya lirih.Seketika itu aku lihat seorang perawat keluar dari ruangan ICU dengan mendorong ranjang yang di atasnya terdapat sosok manusia tergeletak dengan tertutup selimut putih. Tepat di hadapanku, selimut itu tersingkap seolah ingin memberitahukan siapa yang sedang diselimutinya. Terlihat wajah teduh, dengan raut ketenangan tertutup matanya. Masih terukir jelas senyum di bibirnya. Akupun mendekati sosok manusia itu.“siapa ini pa…kenapa mirip sekali dengan suamiku. Kenapa dengannya. ”tanyaku dengan polos, walaupun setetes airmata tlah mulai tumpah.Perawat itu hanya bisa diam, namun perempuan tadi membisikiku lirih, “ itu mas Fariz mba. Dia telah tiada. Mba harus tabah ya…” aku hanya terdiam, dan kupandangi lagi lekat sosok lelaki itu. Semakin lekat hingga tumpahlah sudah airmata yang sedari tadi aku tahan. Sosok itu, terlihat teduh dengan senyuman yang menghiasi wajahnya adalah suamiku, mas fariz yang kata perempuan tadi telah tiada.Ya Allah, kenapa ini…apa maksud ini semua. Seolah tak percaya aku peluk mas Fariz, kuciumi keningnya berharap dia bangun kembali. Tapi semakin ku peluk sosok itu hanya terdiam membisu. Ya Allah…suamiku tercinta..ada apa ini mas…mas fariz…kenapa engkau pergi begitu cepat, kenapa engkau meninggalkanku dan buah cintamu tanpa kau tau sebelumnya. Kenapa mas.Bulir-bulir airmata ini terus tumpah menyeruak membahasi wajahku, aku tak berdaya. Tubuhku terasa begitu lemas, ingin rasanya aku berteriak, tapi aku begitu lemah. Untuk berkata saja aku sudah tak sanggup lagi.Hari ini kusaksikan kejutan lagi yang kau buat untukku, tapi bukan kejutan yang buatku bahagia seperti dulu lagi melainkan kesedihan yang mendalam kau tinggalkan.***Kecelakaan tragis yang membuat nyawamu tak bisa tertolong, membuatmu terpisah jauh denganku. Bagaimana bisa semua ini terjadi begitu cepat, padahal sebelumnya aku sempat berbicara denganmu. Kejutan ini, yang seharusnya kau tau tak sempat kuberikan. Buah cinta yanng kini ada dikandunganku semakin membesar, sama seperti perasaan rinduku terhapadmu yang semakin besar. Mas Fariz, kamu hadir saat ku tak punya cinta, tapi mengapa kau pergi saat ku mencintaimu. Selamat jalan Mas Fariz…hati ini akan selalu untukmu…dan akan kujaga buah cinta ini hingga kelak dia tau bahwa dia punya sosok seorang ayah yang sangat ibu cintai.The EndBaca cerpen-cerpen lainnya karya Mentari Senja dalam Tunggu Aku di Surga dan Sahabatku, Kekasihku.

  • Cerpen Remaja “The Prince ~ 08” {Update}

    Oke, sory ya baru sempet benerin. Kemaren lupa soalnya…Hufh. Jadi Jimmy sudah tau siapa aku sebenernya. Tapi untunglah tu anak masih bisa aku ajak kerja sama. Coba kalau nggak. Dia laporin aku ke kakek misalnya. Bisa – bisa aku langsung di seret pulang, terus di kawinin deh. Ih, nggak banget.Ehem, kalau di pikir – pikir aku mau sampai kapan ya kayak gini terus. Masa ia aku maen kucing – kucingan terus sama kakek. Tapi kalau langsung nyerah kan nggak etis juga. Secara udah terlanjur basah . Cuma ngomong – ngomong, gimana sama kabarnya my prince ya?. Apa mungkin kakek bisa nemuin dia?. Terus kalau seandainya kakek bisa nemuin dia, Apa aku siap di jodohin Ya kalau wajahnya keren plus imut kayak lee seung gi (???), Kalau malah jelek kayak pangeran kodok. Gimana donk?. Ah pusing.Belum lagi masalah Kevin selesai, eh malah di tambah masalah baru. Mending jangan di pikirin aja deh.sebagian

  • Cerita Remaja Cinta Buruan katakan cinta ~04 {Update}

    Dalam setiap kisah tertulis begitu banyak cerita. Kali ini akan kah tertulis kan kisah ku? * by Star Night*Oke, biar gak bingung n mumpung penulis sedang baik (??) untuk part sebelumnya bisa langsung di baca di Cerpen Romantis Buruan katakan cinta part 3.Happy Reading…Credit Gambar : Ana MeryaSetelah hampir seminggu ani tidak masuk kuliah dan tidak ada di rumahnya selama itu juga kevin udah seperti orang gila, kerjaan nya tidak ada lain, hanya menunggu hanponenya kali aja ani menelponenya tapi ternyata dugaannya salah ani tidak menelponenya sama sekali. kevin terus mencoba menghubungi ani tapi bukan hanya tidak diangkat tapi hanpone ani sekarang tidak aktif, dan kevin makin menjadi strez.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*