Cerpen Cinta Romantis “Take My Heart” ~ 15

Walau sempet blank akhirnya Cerpen Cinta Romantis "Take My Heart" di lanjutin lagi. Untuk part selanjutnya, tenang aja. Lagi di ketik, Moga aja ide nggak macet lagi. Ha ha ha, Derita penulis amatiran.
Oh ya, buat yang sering nanya tentang urutan cerpen yang bikin bingung, ku kasih petunjuk deh. Klik aja tulisan Daftar isi di atas, Di situ udah lengkap di kelompokan berdasar kan label. Semoga saja nggak kebingungan lagi.
Akhir kata, Happy reading ya..
} Cerpen Cinta Romantis "Take My Heart" ~ 14



"Rasa ini mungkin bukan cinta,
Namun, jika bukan cinta lantas apa namanya"…

Setelah mengemasi barang barangnya, Vio melirik jam yang melingkar di tangannya. Masih cukup siang untuk langsung mendekam di kostan sendirian. Apa sebaiknya ia mampir ketoko buku dulu ya. Mencari komik atau pun novel romantis yang bisa ia jadikan bahan bacaan.
Ah, tapi cucian kotor di rumahnya banyak. Sepertinya lebih baik kalau ia beres beres saja. Mumpung kali ini bisa pulang cepet gara gara dosen selanjutnya nggak masuk. Dengan berlahan ia beranjak bangun meninggalkan kelasnya. Melangkah menuju ke halte bus.
"Vio".
Merasa ada yang memanggil namanya Vio menoleh. Membatalkan niatnya untuk langsung masuk kedalam bus yang kini berhenti tepat dihadapannya. Keningnya sedikit berkerut saat melihat raut lelah Ivan yang tampak ngos ngosan. Sepertinya efek berlari.
"Ada apa?".
"Loe…." Ivan berhenti sejenak. Mencoba untuk menetralkan kembali detak jantungnya sebelum kembali melanjutkan.
"Mau kemana?".
"Pulang" Balas Vio santai. Lagian kenapa Ivan menanyakan sesuatu yang sudah jelas.
"Pulang?".
Vio memasang tampang yang sama seperti Ivan. Sama sama keheranan.
"Iya. Pulang. Memangnya kenapa?" Tanya Vio kemudian.
"Terus kenapa loe nggak nungguin gue?".
"La emangnya kenapa gue haru nungguin elo?" Vio balik melemparkan pertanyaan.
"Heh" Ivan tampak mencibir. "Loe nggak lupa kan kalau sekarang kita pacaran?".
"Eh?".
Oh ya, Jujur saja kalau Vio lupa bahwa sekarang ia sudah punya pacar. Tapi tunggu dulu, Memangnya sekarang ia masih punya?. Bukannya itu sudah berakhir ya?.
"Emangnya kita masih pacaran ya?" Tanya Vio terlihat oon saat Ivan yang sedari tadi hanya terdiam menatapnya.
"Gue nggak merasa pernah mutusin ataupun diputusini sama loe. Jadi… Ya kita masih pacaran".
"Eits, tunggu dulu. Kayanya ada yang harus kita bicarakan deh disini".
"Disini?" Ulang Ivan menegaskan.
Mata Vio menoleh kesekeliling. Bus yang sedari tadi ia tunggu sudah pergi. Sekelilingnya memang juga sudah sepi. Tapi mengobrol sambil berdiri di depan halte bus sepertinya bukan ide yang bagus.
"Atau loe bisa nawarin gue nongkrong di kaffe sambil minum jus mungkin. Dan jika tidak keberatan sekalian semangkuk mie ayam, gue juga nggak nolak" sahut Vio beberapa saat kemudian.
Ivan tak langsung menjawab. Sedikit mencibir sambil tersenyum samar. Namun tak urung kepalanya mengangguk.
"Jadi loe ngajakin gue kencan?. Oke, baiklah. Ayo kita pergi".
"Eh" Vio berujar.
Sungguh bukan itu maksutnya. Ia ingin menjelaskan tapi nggak jadi. Karena Ivan dengan santai telah meninggalkannya. Kembali kearah parkiran kampus, dimana motornya masih ia tinggalkan karena mengejar Vio tadi.
"Kenapa malah bengong. Ayo buruan".
Teriakan Ivan menyadarkan Vio dari lamunanya. Dengan bergegas ia beranjak mengejar Ivan. Mensejajarkan langkahnya dengan pria itu sebelum kemudian membawanya melaju bersama motornya. Dan baru berhenti tepat di depan sepuah kaffe yang terlihat tidak terlalu ramai. Hanya tampak beberapa orang yang duduk duduk santai di sana. Sepertinya menghabiskan waktu sore sambil ngongkorng bareng.
"Jadi loe mau ngomong apaan?" Tanya Ivan setelah keduanya duduk santai dengan pesanan diatas meja masing masing.
"Ini soal hubungan kita".
"Emang hubungan kita ada masalah?" Tanya IVan lagi.
"Ayo lah Van. Loe nggak da niatan buat pacaran beneran sama gue kan?".
"Gue nggak pernah bilang kalau gua pacaran sama loe itu bo'ong -bo'ongan" balas Ivan santai namun terdengar tegas.
"Maksut loe?".
Lagi lagi ivan hanya angkat bahu sambil mulai menikmati makannya. Diseruputnya es jeruk yang ada di hadapannya. Terasa segar membasahi tengorokannya yang terasa kering.
"Jangan bilang kalau loe jatuh cinta sama gue?" Tanya Vio sambil menyipitkan matanya. Menantikan reaksi dari Ivan yang tampak menghentikan suapan makanannya. Menatap lurus kearah Vio.
"Kalau gue bilang gue beneran cinta loe pasti nggak percaya kan?" Ivan balik bertanya.
"Tentu saja tidak" Balas Vio cepet. Secepat yang bisa ia lakukan.
Kali ini Ivan tersenyum. Malah terlihat berusaha menahan tawanya sementara Vio jelas yakin kalau tidak ada yang lucu.
"Sebenernya gue juga nggak percaya si kalau gue bisa suka sama loe" Sahut Ivan kemudian sambil mengalihkan tatapannya dari wajah Vio, kembali beralih kearah makannya. "Tapi sepertinya memang begitu kenyatannya".
"Apa?" Tanya Vio tak mampu menyembunyikan rasa shcoknya.
"Rasa ini mungkin bukan cinta, Namun jika bukan cinta lantas apa namanya? ".
Kalimat itu memang pertanyaan, Tapi Vio tidak yakin kalau ia bisa memberikan jawaban untuknya. Memangnya jawaban apa yang bisa ia berikan?.
Hal yang bisa Vio lakukan hanyalah teridam sembari menatap lurus kearah Ivan, Mencari tau apa maksut dari pertanyaannya. Untuk beberapa saat keduanya saling adu tatapan. Sebelum kemudian Vio mengalah. Menghembuskan nafas berlahan sambil mulai mencicipi makannya.
Melihat sepertinya tiada tanggapan yang cukup berarti dari gadis yang ada di hadapanya, Ivan pun kembali melakukan hal yang sama. Menyeruput kuah bakso yang ia pesan. Sedikit mengernyit saat merasakan rasa pedas di lidahnya. Karena tidak konsentrasi saat berbicara pada Vio tadi, sepertinya tanpa sengaja ia menambahkan begitu banyak cabe. Akhirnya tangannya terulur meraih botol kecap.
Setelah mengaduknya, ia kembali berniat untuk mencicipi kuahnya bertepatan dengan kalimat lirih yang keluar dari mulut Vio.
"Tapi sepertinya Gue malah suka sama Andra".
"Uhuk uhuk uhuk"
Tak bisa di cegah, Ivan tersedak. Dengan cepat di teguknya jus yang ada di sampingnya. Setelah reda ia segera melemparkan tatapan tajam kearah Vio. Apa maksut gadis itu?.
"Sekarang loe udah tau kan gimana rasanya?".
Sebelum mulut Ivan terbuka, Vio sudah terlebih dahulu mendahuluinya.
"Apa?" Ivan terlihat bingung.
Pikirnya langsung melayang. Mencerna kalimat Vio barusan. Jangan – jangan maksut gadis itu adalah tentang apa yang ia lakukan selama ini. Tentang bagai mana rasanya dikecewakan.
Atau jangan jangan gadis itu memang sengaja membuatnya jatuh cinta, kemudian meninggalkannya begitu saja. Sebuah tindakan balas dendam akan ke playboayannya selama ini.
Tidak. Secepat pikiran itu muncul, secepat itu pula ia membantahnya. Vio bukan gadis seperti itu, Mustahil ia melakukannya di saat ia sendiri mengerti dengan pasti rasanya di kecewakan.
Tapi bukankah gadis itu sulit di tebak?. Jadi apa mustahilnya jika ia memang melakukan itu?. Terlebih ia juga pernah menyakitinya. Melakukan taruhan konyol misalnya.
"Apa maksut loe dengan ucapan loe barusan. Rasa apa yang harus gue tau?".
Tak ingin terlalu larut dengan tebakan tebakan liarnya, Ivan lebih memilih menanyakan langsung kearah Vio.
Vio tidak langsung menjawab. Hanya bibirnya yang tampak menarik sebuah senyum samar. Sebelum berujar lirih.
"Bukan kah sudah cukup jelas?".
Dan kali ini Ivan yakin tebakannya benar. Ternyata gadis itu…..
To Be continue…
Wukakkakakakka, Gak tau kenapa sekarang kok jadi demen main putus putus di waktu dan saat yang nggak tepat…… Ah, Sepertinya Efek galau sodara sodara. #Diinjek.
Ehem, Bijimana kalau kali ini kita maen tebak tebakan lagi. Belajar berfikir ala Ana Merya. Kira kira menurut kalian kalimat apa yang akan keluar dari mulut Vio selanjutnya?.
Oke?. Di tunggu jawabannya…. ^_^

Random Posts

  • Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05

    Berhubung belon ketemu sama yang namanya end cerita masih berlanjut ya man teman. Kali ini admin muncul dengan kelanjutan cerpen terbaru Si Ai En Ti E ~ 05. Wah, nggak terasa ya udah part 5 aja tapi ternyata masih belon masuk ke jalan cerita yang sebenernya (???) #gubrag.Okelah, biar adminnya nggak makin ngomong ngalor ngidul nggak jelas, mening kita langsung baca kelanjutan ceritanya aja yuks. And buat yang belum baca bagian sebelumnya bisa dilihat di sini.Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 05Sepulang kuliah Acha sengaja tidak langsung pulang kerumah. Langkahnya ia belokan kearah kafe yang biasa ia kunjungi. Tapi kali ini bukan untuk makan ataupun duduk santai seperti biasanya. Justru ia datang untuk melamar pekerjaan. Karena berdasarkan dari info yang ia dapat dari salah satu temannya, kafe yang satu itu membutuhkan karyawan tambahan. Dan sukurlah ternyata itu benar.Bahkan ia sudah langsung bisa bekerja hari itu juga. Profesi sebagai kasir menjadi pilihannya.Jeli dan harus teliti menjadi hal utama yang ia punya untuk profesi yang di sandangnya saat ini. Terlebih pelangan kaffe tempatnya bekerja lumayan ramai pengunjung yang datang. Tak terasa hari sudah mulai malam. Barulah ia bisa pulang kerumah.Hari pertama yang lumayan melelahkan. Apalagi ini untuk pertama kalinya Acha mulai bekerja. Namun tak urung ia merasa senang. Paling tidak ia sudah bisa untuk mulai berusaha bersikap mandiri bukan?Setelah pamit pada teman sekerja juga bosnya Acha melangkah keluar dari kafe. Menuju kearah parkiran dimana motornya berada. Sekilas ia melirik kearah jam yang melingkar di tangannya. Pukul 09:30. Sudah cukup malam ternyata namun sepertinya jalanan masih ramai. Biasalah, namanya juga kota besar.Setelah duduk dengan pewe di atas jog motornya, Acha mulai mengendarai motornya secara berlahan. Belum juga sepertiga perjalanan, ia merasa ada yang aneh. Laju motornya terasa mulai berkurang sebelum kemudian benar – benar mogok di jalanan.“Ya ela, ni motor kenapa lagi?” gumam Acha sambil turun berlahan. Saat matanya melirik kearah kompas barulah ia menyadari apa yang terjadi. Ternyata ia lupa untuk mengisi benzinnya. Astaga…“Bensinnya abis lagi, masa gue harus ngedorong si?” gerut Acha kesel. Tapi tak tau harus merasa kesel pada siapa. Dan akhirnya dengan berat hati juga berat tenaga ia mulai melangkah sembari mendorong motornya.Malam sudah mulai larut, tiba – tiba ia merasa merinding. Hari memang tak sepenuhnya gelap, masih ada lampu jalan yang sedikit menerangi, namun kan tetap saja. Saat ini hari sudah malam. Dan ia seorang cewek, sendirian lagi. Tanpa bisa di cegah pikiran buruk mulai bermain di kepalanya. Membuat rasa takut di hatinya melonjak dua kali lipat.Walau sesekali ada beberapa mobil dan motor yang lewat. Tetap saja ia masih merasa takut. Bukan hanya pada hantu, ia juga takut gelap. Selain itu ia masih harus merasa takut pada perampok atau yang paling parah lagi pe…TeeeettttSuara klakson yang tiba – tiba terdengar nyaring tepat di belakangnya membuat Acha terlonjak kaget. Dengan segera kepala gadis itu menoleh kebelakang. Mulutnya sudah siap terbuka untuk memuntahkan sumpah serapah pada manusia kurang ajar yang berani – berani mengagetkannya. Namun sepertinya kalimat itu hanya terhenti sampai di kerongkongan ketika melihat siapa yang kini berada di belakangnya.Hantu? Oh tentu saja bukan. Walau ia percaya yang namanya hantu memang ada di dunia ini, namun Acha yakin kalau yang ada di belakangnya bukanlah makhluk dari alam berbeda darinya. Terlebih dengan helm dan motor dengan lampu yang tersorot padanya. Dugaannya sih langsung menebak kalau orang itu adalah orang jahat. “Motornya kenapa?” terdengar tanya yang terjurus kearahnya. Acha masih belum bisa melihat dengan jelas siapa pemilik suaranya. Terlebih dengan lampu yang tersorot padanya jelas membuat matanya merasa silau.“Loe siapa?” bukannya menjawab Acha justru malah balik bertanya sembari merasa was was.Orang itu tidak menjawab, justru ia malah mematikan motornya. Turun berlahan menghampiri Acha. Tangannya terangkat melepaskan helm di kepalanya sehingga Acha bisa melihat dengan jelas siapa yang kini berbicara kepadannya. Namun begitu, gadis itu tetap masih merasa cemas karena ternyata ia sama sekali tidak mengenali siapa pria itu.“Kelvin.”Satu kalimat diiringi tangan yang terulur kearahnya membuat Acha sejenak melongo. Maksutnya apa nih? Tu orang ngajak kenalan? “Kok loe diem aja. Nama loe siapa?” Kalimat selanjutnya segera menyadarkan Acha dari lamunannya. Matanya masih menatap curiga kearah sosok yang berdiri dihadapannya yang kini mengoyangkan tangannya. Menanti tangan Acha yang terulur untuk menyambutnya.“Loe ngajakin gue kenalan?” tanya Acha pada akhirnya. “Lah, kenapa heran. Bukannya tadi loe sendiri yang nanya siapa gue?” tanya sosok yang mengaku bernama Kelvin itu. Untuk sejenak Acha kembali terdiam. Ah, benar juga. Tadikan ia sendiri yang bertanya. Oo…“Acha,” sahut Acha akhirnya.“Acha, senang berkenalan denganmu,” sahut Kelvin sambil tersenyum yang mau tak mau membuat Acha ikut tersenyum. “Ngomong – ngomong, motor loe kenapa?” tanya Kelvin kemudian. Dengan nada bicaranya yang terdengar santai ditambah senyum samar diantara remangnya malam namun mampu membuat Acha sedikit demi sedikit mengilangkan syak wasangka di hati. Pendapatnya segera berubah, sepertinya Kelvin orang baik.“Tau nih, benzinnya abis deh kayanya,” jawab Acha kemudian. “Perlu gue bantuin?” tanya Kelvin terdngar tulus“Loe mau ngedorong motor gue?” Acha balik bertanya dengan nada heran.“Tentu saja tidak,” sahut Kelvin cepet, secepat Acha memajukan mulut saat mendengar jawabannya.“Oke, loe tunggu disini.”Tanpa menunggu kalimat balasan dari Acha, Kelvin segera berbalik kearah motornya sebelum kemudian melaju tanpa kata.Acha masih bingung, antara kembali melanjutkan motornya atau tetap berdiri disana. Menunggu seperti yang di instruksikan Kelvin padanya. Masalahnya ia tak tau apa yang harus ia tunggu. Lagipula Kelvin tidak pernah berkata bahwa ia akan kembali.Tepat saat Acha berniat untuk kembali mendorong motornya, Kelvin muncul dengan sebotol benzin ditangannya. Acha yang awalnya masih bingung berlahan mulai mengerti ketika Kelvin yang tampak mengoyangkan botol dihadapannya.“Ma kasih ya,” kata Acha terdengar tulus. Apalagi ketika menyadari kalau motornya sudah bisa kembali menyala normal. Kelvin hanya tersenyum sembari mengangguk.“Gue nggak tau gimana caranya gue bales kebaikan loe,” sambung Acha lagi. Dan jujur ia memang tidak tau. Lagi pula jarang jarang ada orang baik yang begitu kenal langsung mau bantuin.“Loe bisa traktir gue makan siang,” sahut Kelvin yang langsung membuat Acha menoleh sembari melotot kearahnya. “Kalau mau,” sambung Kelvin lagi. “Makan siang?” ulang Acha, Kelvin hanya mengangguk.“Nggak lebih mahal dari pada harga benzinnya kan?” tanya Acha lagi.Sejenak Kelvin terdiam. Kepalanya menoleh kearah Acha dengan kening sedikit berkerut. Dan kali ini pria itu sama sekali tidak mampu menahan tawa lepas dari bibirnya saat melihat ekspresi serius di wajah Acha.“Ada yang lucu?” tanya Acha polos ketika menyadari Kelvin masih berlum menghentikan tawanya.“Ehem” Kelvin tampak berdehem. “Harga benzin di tambah ongkos upah plus benzin gue yang di pake bolak balik juga, maka jawabannya ya. Gue yakin nggak akan lebih banyak dari itu.”Gantian Acha yang mengernyit sebelum kemudian ikutan tertawa. Ternyata pria itu mempunyai selera humor juga.“Baiklah, jadi kapan dan dimana gue harus ntraktir loe? Yah seperti yang loe liat sekarang udah malam. Gue harus pulang.”Kelvin lagi – lagi mengangguk. “Keffe delima jam 12 siang, besok. Gimana?”Acha tidak langsung menyetujuinya. Pikirnya terlebih dahulu melayang tentang agenda hari esok. Sepertinya itu bukan ide yang buruk. “Baiklah. Sampai bertemu besok siang.”Senyum Kelvin mengembang mendengarnya. Sebelum Acha benar benar berlalu mulutnya kembali terbuka untuk mengingatkan. “Pastikan loe besok datang.”Acha tidak menjawab, hanya kepalanya yang tampak mengangguk membenarkan sembari tangannya terangakat membentuk huruf ‘o’. Setelah itu barulah ia benar benar berlalu. To Be ContinueOke, sampe di sini kayaknya cukup deh tokoh tokohnya. Kalau kebanyakan entar susah buat 'nyikirin' nya lagi. Ha ha ha. Bener nggak. And semoga aja deh, penulisan kedepannya bisa lebih lancar dari sebelumnya. Amin..~ With love ~ Ana Merya~

  • Cerpen Cinta Remaja: Rasa Yang Takkan Mungkin Pudar

    Rasa Yang Tak Kan Mungkin Pudaroleh: Novia Wahyuana TriawatiSeorang perempuan berumur 17 tahun telah menyukai seorang laki-laki yang sangat kebetulan adalah temannya dikala ia masih kecil. Perempuan ini bernama Via, parasnya sangat cantik sekali dengan rambut terurai tebal lembut sekali. Sedangkan laki-laki bernama Adi, penampilannya rapi meskipun tampangnya biasa-biasa aja. Dahulu mereka sering bertengkar, entah rambutnya via yang terkulai bebas tersebut dijambak oleh adi. Yaa..mereka berdua tidak bisa disatukan lagi bahkan guru pendampingnya pun menyerah menghadapi tingkah adi dan via yang semakin membabi buta. Emang sih masa-masa itu adalah masa anak-anak yang ingin bermain dan bertengkar.Sering dengan pergantian waktu, hari, bahkan bulan mereka berdua tumbuh remaja. Namun ketika duduk dibangku SMA mereka terpisahkan. Adi pergi jauh sekolah ke luar negeri, dia mengikuti ayahnya yang bekerja disana. Perpisahan mereka tidak dilakukan, hal ini dikarenakan kepergian adi terlalu cepat sehingga tidak bisa berpamitan dengan via. 3 tahun sudah berlalu, via selalu menunggu kedatangan sahabat terbaiknya “adi” sepanjang masa. Sungguh keterlaluan adi tidak memberikan sedikit kabar tentang dirinya kepada via. Bahkan seolah-olah adi sudah melupakan kedekatannya dengan via sewaktu kecil.Suatu ketika via duduk di tepi sungai dengan merenung berharap setelah dia menoleh ke belakang ada Adi sedang berdiri di belakangnya. “via…via..” panggilan itu sangat keras sekali perasaan via tidak karuan senangnya tetapi setelah menoleh kebelakang ternyat sofi teman sebangkunya. “kamu ngapain disini vi?” tanya sofi. Via hanya diam terpaku begitu saja. Meskipun via tidak menjawabnya sofi pun tahu kalu dia sedang menunggu cinta monyetnya. Hehehe.. sofi menyebut kisah dari via ini dengan cinta monyet. Dengan penuh rasa sayang saofi mendekati teman sebangkunya itu, “sudahlah vi, adi itu temanmu di waktu kecil jadi wajarlah kalau dia disana pasti sudah punya teman-teman baru lagi”. Dengan raut wajah yang sedih, via membenarkan perkataan sofi. Walaupun sangat sulit untuk melupakan adi dia akan berusaha demi hidupnya yang harus berjalan terus menerus.Semuanya telah dilakukan sangat baik oleh via, dia benar-benar sudah melupakan sahabatnya. Disaat dia sudah melupakannya adi sahabat karibnya pulang ke Indonesia, memang benar semua yang di katakan sofi dia lupa akan dirinya. Via mengira kepulangan sahabatnya itu bersama dengan perempuan asing dari luar negeri, ternyata dugaanku semua itu tidak benar. Adi pergi bersama sofi teman sebangku via. Tega sungguh sangat tega, meskipun sudah diperlakukan demikian via masih saja berpikiran positif dia masih bersikap baik sama adi dan sofi. Yang membuat via sagat sedih dan menyesal adalah pernah mengan adi dan sofi yang sangat begitu baik kepadanya, tidak itu saja adi selama ini tidak menyadari keberadaanku dan perubahan sikapku ke dia. Sudahlah, mungkin ini semua memang takdir dan sudah jalan dari yang Kuasa.Via akan selalu mengenang kebersamaan sewaktu kecil meskipun mereka berdua sering saja bertengkar tapi pertengkaran itu malah yang membuat via mulai jatuh cinta pada pandangan pertama.***** Profil Penulis:Nama: Novia Wahyuana TriawatiUmur: 21 tahunHobi: menulis dan mendengarkan musikUniversitas Brawijaya

  • Cerpen Sedih: Bunga dan Derita

    Judul: Bunga dan DeritaKategori: Cerpen Sedih, Cerpen RemajaPenulis: Ray NurfatimahAku masih terpaku pada deretan bunga sepatu di hadapanku. Bunga yang telah terkatup layu seiring dengan telah lamanya aku menanti seorang pria yang mengajakku kencan di taman ini. Tiga puluh menit dari jadwal janjian, terasa tak jadi masalah saat dari kejauhan terdengar seseorang memanggilku. Namun saat kupalingkan wajahku, aku kecewa bukan main ternyata hanya kegaduhan orang-orang disebrang jalan.Kembali aku fokuskan perhatianku pada rangkaian bunga dihadapanku. Sesekali kulirik wajahku pada kaca mungil yang sengaja kubawa. Aku harus memastikan saat Dannis datang aku bisa terlihat lebih cantik. Soalnya dia adalah laki-laki pertama yang aku persilahkan untuk mengajak diriku berkencan, ya walau hanya di taman kota saja. Dannis adalah teman sekelasku yang dua tahun terakhir ini aku idam-idamkan tembakannya. Padahal sebelumnya waktu menginjak kelas satu SMA aku sangat tidak akur dengan cowok tengil itu. Tapi karena suatu moment saat aku cidera diperlombaan basket antar sekolah, dia dengan gagahnya membopong tubuhku. Dari kejadian itulah aku mulai mengalihkan fikiran jelekku kepadanya. Dari yang tadinya evil yang paling dihindari, kini jadi sosok pangeran penolong yang dinantikan kehadirannya.Jarum jam telah menunjuk angka sembilan.“Oh Dannis, setega itukah kamu? udah dua jam Nis hikss…..,” aku tejatuh dalam tangis. Anganku telah hancur lebur karena sebuah janji yang tidak ditepati.Padahal masih hangat di memoriku, tadi siang saat jam istirahat aku mendapati sepucuk surat beramplop merah jambu terselip di mejaku. Hi Asmi…..Malam ini aku haraf kita bisa ketemu….Ada beberapa hal yang perlu aku sampein ke loe Mi….Gw.. Eh aku ssssstunggu kamu jam tujuh di taman kota yaa….-Dannis-Ku ulang kembali hingga tiga kali, aku baca dengan super apik, terutama dibagian pengirim.“Oh Tuhan, Dannis?” suasana bahagia bercampur haru menyelimuti hatiku.Nuansa kelas menjadi indah dipenuhi bunga warna-warni. Hingga seseorang menepuk pundakku. Dan suasana kembali berubah menjadi kelas dua belas saat jam istirahat. Sepi, dan terkapar tak berdaya buku-buku yang dilempar majikannya.“Asmi….”“Ehhh….. Via, kenapa Vi?“Loe yang kenapa? Dari tadi Gw intip dari jendela Loe senyum-senyum sendiri….”Aku disuguhi pertanyaan yang membuat aku kikuk sendiri. Aku tidak bisa membayangkan seberapa merah wajahkun saat itu. Yang pasti saat itu aku benar-benar tertunduk.“Eng….ngak ko Vi, aku gak kenapa-napa”, sahutku gugup.“Ya udah Gw mau ke kantin aja, mau ikut gak Mi?”“Oh gak, maksih aku gak laper.”Aku segera membalikkan tubuhku, memburu kursi dipojokan kelas. Namun baru beberapa langkah, hartaku yang paling berharga disabet oleh orang dibelakangku.“ehhhh..”“Haaa… ternyata ini toh yang bikin Loe jadi gak laper? Hahhahah…”“Via kembaliin!” ku rebut kembali kertas berharga itu.“Yah Loe ini Mi, sekalipun Gw gak baca tapi Gw udah tahu isinya apaan.”“So tahu kamu!”“Ya Gw tahu, itu surat dari Dannis kan? Dia ngajak kencan? Soalnya nanti malam dia mau……” omongan Via tertahan dengan kedatangan seseorang yang dari tadi dibicarakan.“Dannis…..” sahut ku dan Via kaget.“Aduh hampir saja” bisik Via pelan.“Kenpa Vi?” tanyaku penasaran.“Ohh enggak! Gw kayaknya ngedadak gak mau kekantin deh!”“Lantas loe mau kemana Vi?” tanyaku semakin heran.“Ke WC ya Vi? ya udah sana!” tangkas Dannis plus kedipan kecil dimata kirinya.“Oh ya bener, hhehhe” Via telah berlalu, sekarang tinggal aku dan Dannis.“Gimana?” Tanya Dannis.“Gimana apanya Nis?”“Tuu…” tunjuknya ke arah kertas dijemariku.“Oh oke deh aku mau”“Ya udah Gw cabut dulu ya!” sahutnya salah tingkah.“Oh ya…” aku tak kalah salting.Perlahan Dannis meninggalkan kelas, namun sebelum dia benar-benar pergi dia memanggilku.“Hmmm…. Vi jangan ampe telat ya!”“Ok sipp!”“Awas loh”“Iya bawel”***Dengan berurai air mata dan kecewa, aku putuskan untuk pulang kerumah. Sesampainya dirumah aku semakin kacau dengan disuguhi omelan Bunda, yang malah bikin hatiku semakin hancur saja. Beribu pertanyaan Bunda menghujani aku.“Dari tadi kamu kemana saja?”Aku hanya terdiam kaku tanpa menjawab pertanyaan Bunda.“Jawab!” kali ini nada suara Bunda meninggi,”Kamu tahu? anak perawan gak baik keluyuran jam segini!” sambung Bunda.Aku masih tak memberikan respon apa-apa.Plakkk Sebuah tamparan menggores pipiku, “Oh Tuhan sakit sekali” bisikku dalam hati.“Bunda jahat!” aku segera masuk kekamar, kututup rapat pintu kamarku.Malam ini sungguh menjadi malam yang paling berat untukku. Ini adalah kali pertama Bunda menampar dan memarahiku. Belum lagi dengan perasaanku yang masih kecewa karena kencan pertamaku gagal, karena Dannis tak hadir diundangannya sendiri.“Oh Tuhan, semalang itukah nasib ku?”Aku kembali terhanyut dalam tangis, hingga akhirnya aku tertidur pulas.***Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Fikirku sudah matang, sesampainya disekolah akan ku beri tamparan mereka berdua.“Via sama Dannis itu dari mulai sekarang bukan temanku lagi, teman macam apa mereka? Berani ngerjain aku ampe separah itu!” gerutuku kesalKakiku masih mengayuh, menyusuri pinggiran jalan kota yang ramai. Namun saat aku melewati Taman Kota kakiku serasa tertahan, aku mengingat peristiwa tadi malam.“Cuihh….. aku bakalan balas semua rasa sakitku tadi malam!” aku kembali bergerutu kesal.Aku samakin kesal saat aku menyadari banyak kelopak bunga mawar berantakan diruas jalan.“Apa-apaan nih, mereka kira aku lagi jatuh cinta apa?” dunia pun seakan menertawakan rasa sakitku dengan menabur bunga di jalanan yang aku lewati ini.Aku berlari kencang meninggalkan keanehan yang membuat aku semakin gila. Tak membutuhkan waktu yang lama aku telah sampai disekolah.Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari dua orang biadab itu. Tiga puluh menit telah berlalu, aku sudah mengubek-ubek isi sekolah tapi hasilnya nihil, keduanya hilang bak ditelan bayang. Hingga bell masuk pun tiba, tapi keduanya tak kunjung masuk kelas. Sampai pelajaran dimulai, baru sepuluh menit seseorang mengetuk pintu kelas. Aku terperajat kaget “Aku haraf itu Dannis atau Via”. Tapi ternyata bukan, dia adalah Bu Jen, wali kelas kami.“Pagi anak-anak”“Pagi Bu……” jawab murid hamper serempak.“Pagi ini ibu dengan berat hati akan mengabarkan kabar duka kepada kalian”. Semua anak kelas dua belas terlihat tenang mendengar penjelasan Bu Jen.“Salah satu teman kita, Dannis. Semalam mendapat musibah, dia mengalami kecelakaan yang cukup parah, hingga nyawanya tidak dapat tertolong”. Suara Bu Jen semakin melemah.Suasana berubah menjadi pilu, tangisan mulai tumpah ruah dimana-mana. Aku sendiri terpasung dalam diam, jantungku berdegup dalam kisah sedih yang tak tertahankan.“Dannissssss!!!!!” Aku berteriak sekencang-kencangnya, aku berlari dan terus berlari. Hingga akhirnya aku telah bertepi di ruas jalan di dekat Taman, dimana aspal dipenuhi kelopak bunga yang telah layu diinjak pengguna jalan. “Oh Tuhan ternyata kelopak bunga ini dipenuhi cipratan darah”Diri ini semakin berguncang hebat, saat aku temui secarik kertas.Dear……Asmi (Calon Kekasihku)From : DannisKertas kotor bernoda darah itu aku peluk sekuat-kuatnya.“Dannis…..Hiks” kepala ini semakin tak tertahan, dan akhirnya aku terkapar dalam ketidaksadaran.***Mata ini pelan-pelan mulai menatap jelas orang-orang disekelilingku. Ku lihat dengan pasti wajah Bunda dan Via penuh dengan kehawatir dan penasaran.“Asmi kayaknya udah sadar Tant”“Iya”“Aku kenapa Bund?” tanyaku dengan nada berat.Bunda dan Via menatapku pilu. Aku mulai mengingat deretan kejadian sebelum aku terkapar dalam tempat tidur ini, “Dann….” Ucapanku terhenti karena sentuhan telunjuk Bunda di bibirku. Bunda menganggukkan kepalanya petanda mengiyakan setiap halus ucapanku, “Iya, kamu yang sabar ya nak”Lagi-lagi aku terpaku dalam diam, hanya linangan air mata yang mengalir deras dipipiku. Via memeluku erat,“Maafin Gw ya Mi, Hiks… Gw tahu, Gw gx mampu jaga Dannis buat Loe.”“Hiks…… Dannis” ***Satu minggu sudah aku mengurung diri dikamar, tanpa bicara dan tak ingin brtemu siapa-siapa.Tukk tukkkk…..Seseorang mengetuk pintu kamarku“Asmi , nih ada Nak Via pengen ketemu kamu.”“Pergi Kamu!!” bentakku kasar, dan lemparan bantal tepat mendarat diwajah Via saat Bunda membuka pintu kamarku.“Mi ini Gw, Via”“Pergi kamu!!! Kamu yang udah bikin Dannis meninggal!!!”“Ya Gw Mi, Gw yang udah nagsih buku Diary loe itu ke Dannis, yang membuat Dannis sadar tentang semua perasaan Loe ke dia. Tapi asal Loe tahu Diary Loe itu juga yang bikin Dannis sadar kalo cintanya gak bertepuk sebelah tangan!”“Jadi Dannis……..” ucapanku terhenti, perlahan aku mendekati wajah Via yang basah karena air mata, “Bohong!” bentakku bringas.“Gak Mi!”“Alah itu akal-akalan kamu aja, biar aku enggak ngerasa terhianati” sahutku sinis.“Gak Mi, Loe gak sadar waktu malam itu Dannis terlambat tiga puluh menit, dia terus manggin-manggil Loe, tapi Loe gak denger,” ucapannya terhenti, sesaat Via mengambil nafas panjang “Loe malah sibuk sama riasan Loe itu, sampai akhirnya dia tertabrak karena lari kearah Loe!”“Bohong!”“Tidak! Gw liat dngan mata kepala Gw sendiri, Gw yang anter Dannis ke Taman karena dia kelamaan milih bunga di toko bunga nyokap Gw.”“Dannis….Jadi”“Jadi gak ada yang terhianati disini, Dannis bener-bener cinta sama Loe Mi! Pliese Loe jalani hidup Loe lagi, buat Dannis Mi!”“Hiks…….” Aku menangis sejadi-jadinya, tapi itu akan menjadi tangisan terakhirku. Karena aku telah berjanji untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Karena aku mencintai Dannis, laki-laki yang mencintai aku.***The EndBy : Ray Nurfatimah

  • Cerpen Cinta Romantis Take my heart ~ 17

    Yuhuuuuu… Ide buat ending udah ada di kepala si sebenernya. Cuma waktu ngetiknya aja yang rada males, Ekh….Seriusan, Lagi males banget buat nulis.Berharap aja semoga endingnya gak keburu berubah so beneran bisa end di part 20. Abis udah beneran molor kayaknya ni cerpen satu. Gkgkgkgk…Oke lah, dari pada banyak bacod, mending langsung aja yuks, Cekidot…Part sebelumnya Cerpen Cinta Romantis Take my heart ~ 16Setelah memastikan Ivan tidak menjemputnya ke kostan, Vio berangkat ke kampus menggunakan Bus yang biasa ia tumpangi. Kali ini Vio yakin sepertinya Ivan benar benar marah pada nya walau ia sendiri bingung kenapa. Tapi mengingat kejadian kemaren ditambah dengan sikap Ivan yang sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun saat mengantarnya, sepertinya hubungan mereka telah berakhir. Baguslah jika begitu, jadi ia tidak perlu lagi berurusan dengan playboy cap kadal itu lagi.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*