Cerpen Cinta Romantis “Take My Heart” ~ 13

Buat yang udah nungguin lanjutan Take My Heart silahkan di baca. Lanjutannya udah muncul nih. Silahkan tinggalkan kritik dan sarannya buat lanjutan kedepannya yang masih belum tau kapan munculnya.
Kalau ada waktu buat ngetik sama modnya bagus mudah – mudahan lanjutannya bisa cepet. Abisnya jujur aja ya, sekarang jadi males banget buat nulis cerpen. Abisnya endnya udah jelas si. Ujung ujungnya paling cuma nanyain lanjutannya doank. Sama sekali nggak ada masukan buat nulis lagi.
Tapi yah, berhubung Drama jepang Itazura na kiss – Love In Tokyo yang sedari kemaren kemaren penulis tunggu udah muncul, yah walaupun cuma "Makeing" doank nggak papa deh, kayaknya bikin mod nulis balik. Lanjutan Cerpen Cinta Romantis "Take My Heart" ~ 13 bisa tercipta juga.
PS: Gini lah nasipnya kalau baca karya penulis amatiran. Sama sekali nggak profesional #Ngomong sama cermin.



Mulut Vio terbuka tanpa suara. Saat menoleh kesamping, Ivan sama sekali tidak menoleh kearahnya. Bahkan dengan santai melangkah meninggalkannya. Duduk santai di bawah pohon sambil memandang lautan lepas. Pertanyaannya sejak kapan kampusnya berubah jadi pantai?.
Merasa percuma untuk protes, terlebih tempatnya memang bagus. Tanpa kata Vio ikut melangkah. Menghampiri Ivan dan dengan santai duduk di sampingnya.
Kali ini gantian kening ivan yang mengkerut bingung saat melihat Vio yang tampak memjamkan mata. Menghirup nafas dalam dalam. Sepertinya gadis itu benar – benar menikmati suasana damai saat itu.
"Nggak usah liatin gue sampe segitunya. Yang ada entar loe jatuh cinta lagi sama gue" Mulut vio terbuka walau matanya masih terpejam.
Ivan hanya mencibir sinis. Kemudian kembali mengalihkan tatapannya kearah laut.
"Loe itu ternyata bener – bener sesuatu ya?".
"Maksutnya?" Ivan menoleh. Menatap lurus kearah mata Vio yang kini sedang menatapnya.
"Em" Kepala Vio mengangguk membenarkan. "Tau nggak si, sejak kenal sama loe hidup gue mulai terasa berubah. Masa selaku mahasiswi baru gue sering banget bolos" Sambung Vio sambil menegakan duduknya.
"Tapi loe menikmatinya kan?".
"Sedikit" Aku Vio jujur. Yang mau tak mau membuat Ivan tersenyum samar.
"Sepertinya loe bisa memberikan pengaruh buruk sama gue".
"Jiah, Kalimat apa itu. Gue ngajak loe kesini karena…. e…. Karena.." Ivan sendiri tampak bingung dengan kalimat apa yang akan ia ucapkan.
"Karena loe pengen ngambil hati gue supaya gue bisa jatuh cinta sama loe kan?" Tembak Vio langsung.
"Tapi baiklah, Sepertinya kali ini usaha loe sedikit berhasil. Gue suka laut, Gue juga suka udara bebas, gue suka suasana damai ini sambil Menatap birunya langit di bawah pohon. Ma kasih ya".
Mulut Ivan yang siap terbuka untuk protes kembali mingkem mendengar kalimat yang keluar dari mulut Vio barusan. Ah, Gadis itu.
"Jadi gimana sama tawaran loe kemaren. Masih berlaku kan?".
"Maksutnya?" Tanya Vio tidak mengerti.
"Tentang loe yang pengen jatuh cinta sama gue".
"Ha ha ha" Vio tak mampu menahan tawanya. Terlebih saat melihat raut serius di wajah Ivan.
"Loe masih tertarik?".
"Tentu saja" Balas Ivan Cepat.
"Kenapa?" Tanya Vio menyelidik.
Ivan tidak langsung menjawab. Kenapa?. Entah lah ia juga bingung. Yang ia tau ia ingin gadis itu selalu berada di sampingnya. Terlebih tawaran itu menarik untuknya. Selain itu ia juga tidak menyukai kenyataan kalau Vio menyukai calon pacar sahabatnya. Namun belum sempat ia mengutarakan alasannya mulut Vio sudah terlebih dahulu terbuka.
"Tentu saja karena loe nggak mau gelar playboy yang loe punya sirna. Terlebih taruahannya lumayan juga".
"Eh" Ivan menoleh. Ah benar juga. Soal taruhan itu. Kenapa ia sampai lupa ya?.
"Tapi baiklah. Berhubung dalam hal ini gue juga di untungkan. Oke, tu tawaran masih berlaku".
"Di untungkan?. Maksut loe masalah herry?" Tanya Ivan terlihat tak suka.
Vio hanya angkat bahu sebagai jawabannya. Bukannya itu sudah jelas ya?. Jadi kenapa masih harus di tanyakan lagi?.
"Terus gimana kalau seandainya loe beneran jatuh cinta sama gue, Terus gue tinggalin gitu aja. Loe nggak takut loe bakal sakit hati nantinya?" Tanya Ivan lagi.
"Kan gue udah bilang kalau loe yang ninggalin gue mungkin rasa sakitnya nggak akan seperti saat ini. Secara dari awal gue emang udah tau kalau gue bakal tersakit. Lain ceritanya kalau loe itu cowok baik – baik".
"Seperti Herry?" Tanya Ivan terdengar sinis.
"Bisa nggak si, loe nggak usah nyebut nyebut nama dia?".
Ivan terdiam sambil angkat bahu. Terlihat cuek atas tatapan tegas Vio padanya.
Cerpen Cinta Romantis "Take My Heart" ~ 13

Tak hanya mata yang melotot, namun juga mulut yang terbuka. Melongo sebelum kemudian saling berbisik bisik sesama mereka. Tapi Vio tetap santai. Ralat, Mencoba bersikap santai. Ia tidak yakin kalau apa yang ia lakukan itu benar. Tapi sungguh, ia tidak mau kalau harus di salahkan.
Saat Vio melirik kesamping, Senyum Ivan langsung menyambutnya. Semakin erat mengengam tangannya. Sebagai penegasan kalau semuanya akan baik baik saja.
"Oke, Kita sudah sampai. Jangan lupa ntar siang gue jemput loe disini. Kita pulang bareng. Oke".
Vio hanya mengangguk sebagai balasan. Setelah melihat Ivan benar – benar berlalu dari hadapannya ia segera melangkah ke kelasnya. Walau terlihat santai, jantungnya justru berdetak keras. Apalagi tatapan seisi kelas tertuju padanya. Menjadi sorotan orang – orang ternyata bukan hal yang menyenangkan.
"Katakan kalau semua yang gue denger itu bohong!".
Refleks Vio menoleh. Sedikit mengernyit bingung ketika mendapati pertanyaan sahabat nya yang baru muncul. Lagian mana ia tau kabar apa yang di dengar Silvi.
"Maksut gue Ivan. Anak anak pada heboh. Katanya tadi pagi kalian berdua datang bareng. Bahkan gandengan tangan segala. Itu nggak bener kan?" Terang Silvi seolah mengerti arti raut di wajah Vio.
"O… soal itu" Vio kembali mengalihkan tatapannya kearah buku yang ia baca sedari tadi. "Tu kabar bener kok. Gue tadi emang bareng sama dia".
"What the hell".
Raut kesel jelas tergambar di wajah keduannya. Bedanya Silvi kesel karena Vio cuek, sementara Vio kesel karena Silvi dengan santai merebut buku bacaannya. Omigot, Ini masih pagi. Emang harus yang diawali dengan ribut ribut.
"Ya ampun Silvi. Please deh jangan lebai".
"Lebai apanya. Astaga Vio. Kepala gue sakit ni. Tolong deh ya. Loe tau dengan pasti Ivan itu gimana. Dia itu playboy. So kasi gue alasan yang masuk akal kenapa loe mau jalan bereng dia".
"Kita pacaran. So wajar donk kalau kita barengan".
Kali ini bukan teriakan tapi mulut Silvi jelas melongo. Yakin kalau pendengarannya tidak salah, namun tidak yakin apa yang ia dengar itu masuk akal.
"Kenapa?".
Vio terdiam. Tidak langsung menjawab. Secara mustahilkan ia bilang kalau ia mau jadian untuk melupakan Herry yang jelas jelas sudah jadi gebetan sahabatnya. Tapi untuk berbohong, Sungguh itu bukan gayanya. Akhirnya ia hanya memilih angkat bahu. Membuat Silvi semakin kesel di buatnya.
"Tapi loe tenang aja. Gue janji gue akan baik baik saja. Lagi pula gue tau kok apa yang gue lakukan. Oke".
Bukan karena setuju akan pendapat Vio kepala Silvi mengangguk. Tapi ia mengangguk karena ia tau kalau ia tiada pilihan lain selain percaya padanya. Lagi pula tugas seorang sahabat itu hanya mengingatkan, bukan mengatur. So mungkin benar, Vio tau apa yang ia lakukan.
"Baiklah jika emang itu pilihan loe. Gue berharap loe akan baik baik saja".
Kali ini Vio hanya membalas dengan senyuman.
Cerpen Cinta Romantis "Take My Heart" ~ 13

“Loe nggak sekalian nawarin gue masuk” Tanya Ivan sambil meraih helm yang Vio sodorkan padanya. Saat itu mereka berdua telah sampai di depan rumah Vio. Sesuai janjinya tadi pagi, Ivan akan mengantar kepulangannya.
“Tentu saja tidak. Gue kan Cewek. Mana di kost tinggal sendirian lagi. Ntar apa coba kata tetangga kalau gue sembarangan bawa cowok keluar masuk kostan”.
“Cowok Sembarangan?” Tanya Ivan mengulang kalimat Vio yang menurutnya terdengar janggal. “Gue kan pacar loe sekarang”.
“Terus kalau kita pacaran kenapa?. Memangnya mereka bakal tau. Kan nggak ada tulisannya di jidat loe. Lagian kalau pun mereka tau juga itu nggak akan membantu banyak. Yang ada mereka mungkin justru akan berfikir kalau kita malah melakukan hal yang ‘iya – iya’ lagi”.
“Ha ha ha” Ivan tak mampu menahan tawanya saat mendengar penjelasan panjang lebar yang keluar dari mulut gadis di hadapannya.
“Itu mah dasar pikiran elo nya aja yang ngeres. Bilang aja loe takut kalau sebenernya loe yang malah akan tergoda karena berdekatan sama gue” Tambah Ivan lagi sambil mengacak acak kepala Vio. Membuat gadis itu memberengut sebel karena kini tatanan rambutnya terlihat berantakan.
“Oke deh, Kalau gitu gue pulang dulu ya. Hati hati loe di rumah” Pami Ivan kemudian. Kepala Vio hanya mengangguk mengiyakan. Begitu Ivan hilang dari pandangan ia segera melangkah kaki masuk kedalam rumahnya.
Cerpen Cinta Romantis "Take My Heart" ~ 13

“Wah, Kayaknya mulai ada perkembangan pesat nih” Kata Andra sambil melirik kearah Ivan yang duduk di sampingnya sambil membolak balikan daftar menu yang ada di hadapannya. Bersikap cuek.
“Iya di luar dugaan banget” Tambah Renold.
“Ternyata loe beneran playboy Van. Masa baru seminggu Vio langsung takluk. Ah tu cewek tidak sehebat yang gue kira sebelumnya ternyata. Tetep aja payah. Masa dia juga mempan sama jurus pesona loe” Aldy menambahkan sambil menepuk nepuk pundak Ivan.
“Gue yang payah atau sebenernya kalian yang takut kalah?”.
“Eh”.
Empat sekawan itu reflex langsung menoleh kearah sumber suara. Tersenyum salah tingkah saat mendapati tatapan santai Vio yang entah sejak kapan sudah muncul di samping mejanya.
“Gue boleh ikutan gabung nggak. Hari ini Selvi nggak masuk. Dan makan sendirian itu nggak asik” Tambah Vio lagi.
“Oh.., Tentu saja boleh” Sahut Renold terlihat sedikit gugup. Tanpa di komando ia segera mengeser tempat duduknya. Memberikan kesempatan untuk Vio mengantikan posisinya sebelum kemudian ia beralih kearah kursi yang ada di belahan lainya.
Awalnya Vio merasa heran, namun tak urung ia mengangguk saat melihat Ivan yang menatapnya. Yang menduduki kursi tepat di sampingnya.
“Loe mau makan apa?” Tanya Ivan beberapa saat kemudian.
Vio segera menyebutkan pesanannya. Begitu juga dengan yang lain. Tak menunggu lama, semua yang mereka pesan sudah terhidang di atas meja.
“Oh ya tadi itu kalian lagi ngegosipin gue ya?”.
“Uhuk uhuk uhuk” Aldy yang sedang menyeruput kuah bakso pesanannya kontan langsung tersedak. Mengalihkan tatapannya kearah Vio yang terlihat santai mengaduk aduk mie Ayam pesannya. Terlihat sama sekali tidat terpengaruh.
“Bukan mengosip kita hanya mengobrol, karena yang identik dengan gossip itu biasanya cewek” ujar Andra meralat.
Vio menghentikan aktifitasnya, mengalihkan tatapan keaarah Andra yang juga sedang menatapnya. Untuk beberapa saat mata mereka saling beradu. Tak urung membuat Aldy, Renold dan Ivan saling menoleh heran.
“O” mulut Vio sedikit maju sebelum kemudian melepaskan kontak mata dengan Andra. Kembali beralih kearah Mangkuk makanannya. Mencicipi sedikit demi sedikit. Tangannya terulur meraih botol kecap yang ada di hadapannya. Menambahkan sedikit rasa manis untuk Mie ayam kesukaannya.
Mata Ivan tak lepas dari semua gerak gerik Vio. Keningnya sedikit berkerut bingung akan ulang gadis itu. Sementara Andre terlihat tersenyum misterius.
“Sudah gue duga” Gumam Andre dalam hati. Sebelum kemudian mulutnya berujar.
“Jadi Vio, Bisa loe jalasin ke kita kenapa loe mau membantu Ivan?”.
Pertanyaan Andra sukses menarik perhatian semuanya. Menatapnya penuh Tanya. Sementara yang di tatap justru tidak melepaskan pandangannya dari Vio. Merasa menjadi sorot perhatian Vio melepaskan sendoknya. Melipat kedua tanganya di meja sembari membalas tatapan Andra sambil tersenyum.
Hanya tersenyum…
To Be Continue
Next to Part selanjutanya aja ya…..

Random Posts

  • Cerpen “Say No To Galau”

    Galau lagi, galau lagi. Sebenernya obat galau tu apa si?. Udah keliling – keliling ngobrak abrik google masih juga belom nemu obatnya. -_______-Tapi okelah, seperti kata salah satu reader blog ana merya, mari coba ambil hikmahnya aja. Yah salah satunya dengan menuangkannya dalam bentuk cerpen misalnya. And than, jadilah cerpen say no to galau.Gimana sama cerpen hasil mengalaunya? Cekidot….Say no to galau"Hufh, akhirnya selesai juga," Tasya menghembuskan nafas lega, begitu juga Ardi, Dion, Yuli, Vano dan Lilian yang tampak sedang ikut mengumpulkan tumpukan buku yang berserakan di meja. Tak terasa sudah hampir 4 jam mereka dipaksa berkutat pada tumpuk – tumpukan buku sastra di perpustakaan kampus hanya untuk menyelesaikan tugas yang di berikan dosen 'Killer'."Iya nih, badan gue juga udah pegel semua," sahut Vano Sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku."Oh ya, Seila. Udah pukul berapa sekarang?" tanya Yuli kearah Seila sambil terus menumpuk buku – bukunya."Enam kurang lima menit," balas Seila sambil melirik jam yang melingkar di tangannya."Nggak terasa udah sesore ini. Untung aja semuanya beres. Ya udah mending kita pulang yuk," Kata Vano sambil beranjak dari duduknya yang langsung diikuti oleh yang lain."Seila, loe pulang bareng siapa?" tanya Dion sambil berusaha untuk mensejajarkan langkahnya."Biasalah, nunggu jemputan sama kakak gue. Nie gue lagi mo sms dia," balas Seila tanpa mengalihkan tatapannya dari handphone yang ada di tangan. Jari – jarinya dengan lancar mengetikan kata demi kata."Ya udah, kalo loe nggak keberatan mending pulangnya bareng gue aja. Biar gue yang nganterin," Dion menawarkan diri. Untuk sejenak langkah Seila terhenti. Menoleh kearah Dion yang juga sedang menatapnya."E… Nggak deh. Ntar ngerepotin lagi. Lagian rumah kita kan nggak searah," tolak Seila sopan."Udah Seila, nggak usah nolak. Apalagi ini juga kan udah sore. Lagian kalau cowok itu emang tugasnya buat di repotin kok," kata Vano sambil melirik Lilian, pacarnya. Yang di lirik hanya mencibir kesel karena merasa sedang di sindir terang – terangan.Sejenak Seila menunduk. Menimbang – nimbang tawaran itu. Sejujurnya ia merasa sangat senang. Secara selama ini sebenarnya dia diam – diam mengagumi makluk satu itu. Hanya saja tidak mungkin kan ia yang mengungkapkan duluan walau pun dalam kesehariannya hubungan mereka berdua terlihat akrab. Ehem, sangat akrab malah. Wajahnya kembali ia toleh kan kearah Dion yang menatapnya teduh sambil tersenyum tulus. Dengan perlahan tapi pasti akhirnya Seila mengangguk. Kembali melangkahkan kaki menuju parkiran."Ma kasih ya, karena udah nganterin gue," kata seila begitu tiba didepan rumahnya."Sama -sama. Ya udah gue pulang dulu ya," pamit Dion."Nggak mampir dulu?" tawar Seila berbasa basi."Makasih. Lain kali aja. Udah hampir malam solanya," tolak Dion sopan sambil pamit berlalu dengan diantar senyuman yang tak lepas dari bibir seila.Cerpen Say no to galauDengan kekuatan penuh, Seila berlari disepanjang koridor kampusnya. Tatapan heran dari penghuni kampus lainya sama sekali tidak ia indahkan. Saat ini yang ada di benaknya hanya satu. Jika dalam wakut kurang dari lima menit ia masih belum mencapai kelasnya, maka bisa di pastikan nasipnya akan berakhir di tiang gantungan akibah ulah dari dosen 'KILLER' nya. # Lebay…."Hufh… untung saja," gumam Seilla bernapas lega sambil duduk di bangkunya. Sejenak ia melirik kanan kiri. Tatapannya berhenti di ambang pintu dimana sang dosen telah menunjukan batang hidungnya. Dalam hati ia bergumam, 'neraka dimulai'.@Kantin"Seila, tadi pagi tumben banget loe telat?" tanya Lilian sambil menikmati es sirupnya."Bangun kesiangan," balas seila cuek. Vano geleng – geleng kepala melihatnya."Oh ya, hari ini Dion nggak masuk ya?" Ardi mulai membuka percakapan.Mendengar nama Dion di sebut Seila langsung mendongakkan wajahnya. Menatap lurus ke arah Ardi. Dengan cepat diputarnya ingatannya. Kepalanya mengangguk membenarkan. Karena telat tadi ia jadi tidak menyadarinya."Ia. Hari ini dia ada acara penting gitu katanya. Nggak tau deh acara apaan," balas Vano."Eh, bukannya hari ini dia ulang tahun ya?" kata Yuli tiba – tiba mengingtkan."HA? Masa sih?" tanya Seila kaget. Ah sepertinya otaknya benar – benar blank sampe – sampe melupakan hari ulang tahun orang yang di sukainya."Oh iya. Kok gue bisa lupa ya?" Ardi membenarkan."Eh gimana kalau kita bikin acara kejutan buat dia?" kata lilian sambil menjentikan jari."Kejutan?" ulang Vano. Lili langsung mengangguk. Yang lain juga ikutan setuju."Tapi apa?""Gimana kalau kita bilang sama dia bahwa Seila kecelakaan?""Ha? Kok gue?. Nggak bisa," bantah seila cepet sebelum yang lain sempat mengomentari usul Vano barusan."Bener juga tuh," Ardi langsung menyetujui tanpa memperdulikan penolakan Seila sama sekali."Gue juga," Yuli, Lilian dan Vano kompakan mengangguk."Tapi gue kan nggak setuju," bantah Seila cepat. "Lagian kenapa harus gue si?""Soalnya lili kan pacar gue. Jadi nggak ngaruh – ngaruh amat. Kalau yuli la dia kan pacarnya Ardi," terang Vano."Terus, apa hubungannya?" kejar Seila."Ehem, nggak ada si. Cuma mau bilang aja kan cuma loe yang nganggur."Dengan cepat sebuah jitakan mendarat di kepala Vano sebagai balasan atas mulutnya yang asal njeplak."Loe pikir gue apa. Ngganggur, sembarangan aja kalau ngomong," Seila terlihat sewot."Ya deh. Sorry," kata Vano terlihat tak iklas sambil mengusap – usap kepalanya yang terasa berdenyut – denyut secara jitakan yang Seila berikan lumayan keras."Baiklah, intinya loe setuju kan?" tanya lili mencari penegasan. Dengan berat hati mau tak mau Seila terpaksa mengangguk.Cerpen Say no to galauDengan napas yang masih ngos – ngosan Dion berlari memasuki ruangan rumah sakit. Raut khawatir terlihat jelas di wajahnya begitu membuka salah satu ruangannya. Darahnya terasa seperti berhenti mengalir saat mendapati ke empat teman nya yang berdiri di samping tubuh yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan terselubung kain. sama sekali tak terlihat wajahnya."Seila kenapa?" tanya Dion kearah Vano."Dia kecelakaan ion. Tadi ketabrak mobil waktu pulang dari kampus," terang Ardi. Sementara Lili dan Yuli malah sudah berlinangan air mata."Heh, kalian bercanda kan?" tanya Dion tak percaya, walau justru air mata malah jelas menetes dari mata beningnya."Kita nggak bercanda Dion. Ini beneran," terang Vano dengan mata merahnya.Dengan lemas Dion jatuh terduduk. Air mata yang sedari tadi di tahan tak mampu ia bendung."Ini mustahil. Kalian pasti bercanda. Bagaimana bisa, semalam saja dia masih baik – baik saja.""Tadinya kita memang mau bercanda. Kita mau bikin acara kejutan di hari ulang tahun loe dengan membuat Seila pura – pura kecelakaan. Tapi…." Lili tidak sangup melanjutkan ucapnya justru ia malah terisak."Tapi apa…" kata Dion tanpa tenaga."Tapi dia malah ketabrak beneran," Ardi yang menjawab.Dion terdiam. Begitu juga dengan yang lainya. Suasan untuk sejenak hening sebelum kemudian Dion bangkit berdiri mendekat kearah tubuh seila yang tertutup selimut."Ion" Ardi memegang pundak Dion seolah memberinya kekuatan saat tangan Dion terulur untuk membuka kain penutup. Setelah menarik napas untuk sejenak untuk sekedar memantapkan hati. Dion membuka nya.Dan….Suasana kembali hening sampai tiba – tiba."Huwahahahaha,…." tawa keempat temanya serentak meledak saat mendapati raut bingung Dion saat menemukan hanya tumpukan bantal guling yang ada di atas ranjang."Ini maksutnya apa? Seila mana?" tanya Dion terlihat linglung."Surprize…" kata Seila yang baru muncul dari pintu dengan Sebuah cake coklat di tangannya. Lengkap dengan lilin diatasnya. "Kalian….." Dion kehabisan kata-kata. Benar – benar merasa andilau. Antara dilema dan galau. Ingin marah karena di kerjain dengan hal yang nggak lucu sama sekali atau malah harus bersukur karena semuanya baik – baik saja. Entah lah…"He he he… Jangan marah donk.. kita kan sengaja bikin kejutan buat loe. ya ya ya…." pinta Seila dengan puppy eyes andalannya. Mau tak mau Dion tersenyum. Tapi sumpah ia juga benar – benar merasa lega."Gila, sumpah beneran. Ini tu nggak lucu.""Ia dan nyiksa banget. Mata gue aja sampe sekarang masih pedes gara – gara ngasi balsem kebanyakan," tambah lili disusul anggukan Yuli yang membenarkan ucapannya sehinggak mau tak mau membuat Dion ngakak mendengarnya."Tapi please, lain kali jangan di ulangi ya. Memberi kejutan itu boleh saja, tapi kalau terlalu mengejutkan juga nggak enak rasanya?" pinta Dion kemudian."Syip…."."Ha ha ha, tapi hebat loe sampe nangis beneran gak perlu 'alat tambahan" puji yuli yang merasa matanya masih kepedesan. "Tentu saja. Seila kan sahabat gue yang terbaik," terang Dion. Seila langsung menoleh. Sahabat? Hanya Sahabat?"Oke sekarang tiup lilinya," Ardi mengingatkan."Eh, tunggu dulu" tahan Dion."Kenapa?" tanya Seila."Kalau gue ngajak seorang lagi buat ikutan gabung boleh nggak?" tanya Dion."Boleh aja si. Tapi siapa?" tanya tanya Lili."Ada deh. Tunggu bentar."Tanpa menunggu jawaban lagi Dion segera berlalu keluar. Selang sepuluh menit kemudian ia kembali muncul dengan seorang cewek di sampingnya."Oh ya, gue pengen kenalkan pada kalian. Ini Prisillia. Tunangan gue."JEDER…Rasanya tu Seperti ada petir di siang bolong saat hari sedang cerah – cerahnya. Teramat sangat mengagetkan sekaligus menakutkan bagi Seila. Hei, yang rencananya ingin memberi kejutan kan dia, kenapa malah dia yang terkejut?"Tunangan?" ulang Ardi ragu. Dion mengangguk cepat sambil mengenggam tangan cewek di sampingnya."Ia. Cantik nggak?" tanya Dion yang langsung meringis kesakitan karena mendapat cubitan di pinggang dari gadis di sampingnya yang tampak tersenyum malu – malu."Cantik si. Tapi kan…" Lilian tidak melanjutkan ucapannya. Sekilas ekor matanya menatap kearah Seila yang masih berdiri terpaku tanpa suara."Tapi?" Kejar Dion dengan kening berkerut yang sumpah mati Yuli benar – benar berniat untuk menjitaknya."Ehem…. Tapi kenapa selama ini loe nggak cerita sama kita?" potong Seila terlihat ceria. Ralat, pura – pura ceria maksutnya. "Yah, rencananya gue kan pengen ngasih kejutan ke kalian.""Oh gitu ya? Kita terkejut kok. Terkejut banget malah. Tapi nggak papa deh. Selamat ya?" kata Seila lagi sambil mengulurkan tangan dengan senyum tak lepas dari bibirnya."Ma kasih," balas Prisilia juga tersenyum."Kalau gitu kita bisa mulai potong kue nya kan?" lili berusaha mengalihkan pembicaraan."Bener juga. Sebelum itu gue pengen mekuis dulu ya?""Loe mau minta apa emang?""Gue harap hubungan gua dan Prisilia berjalan langgeng. Dan sahabat gue yang satu ini," Kata Dion sambil menarik Seila mendekat " Dapat segera mendapatkan pasangan hidupnya juga."Seila hanya tersenyum miris mendengarnya. No comen.Tepat saat lilin selesai di tiup, tiba – tiba handphone Seila berdering. Tanpa melihat id caller nya Seila langsung mengangat. "Hallo, Oh iya ma…..e….. iya,….. Aku pulang sekarang," tidak sampai 5 menit Seila segera mematikan telfonnya. Segera di hampiri teman – temnanya yang kini menatapnya heran karena mendegar obrolannya di telfon barusan."Sorry ya guys. Gue nggak bisa ikutan bareng ngerayaain ulang tahun Dion. Nyokap gue barusan nelpon. Gua harus pulang sekarang. Ada urusan penting gitu.""Yah… tapi kan…""Lain kali gue traktir loe ya. Tapi gue harus pergi sekarang. Da," pamit Seila cepat – cepat memotong ucapan Dion Barusan. Segera berlalu keluar meninggalkan teman – temannya dengan wajah bingungnya. Begitu keluar dari pintu air mata yang sedari tadi ditahanya langsung menetes. Dengan kasar ia mencoba menghapusnya. Tak mau telihat konyol dengan menangis di sepanjang koridor rumah sakit.Begitu sampai di pelataran, ia mendongak menatap langit. Hujan? Hal yang paling ia benci tapi kali ini sangat ia syukuri kehadirannya. Dengan santai ia melangkah menerobosnya. Membiarkah rintikan hujan itu membasahi tubuhnya. Untuk sedikit menyamarkan air mata. Walau tidak dengan hatinya. Rasa sakit itu akan tetap terasa. Karena hujan tidak akan semudah itu untuk menghapusnya.END!!!!!.Detail Cerpen Judul Cerpen : Say No To GalauPenulis : Ana MeryaPanjang : 1.782 WordsStatus : Cerpen PendekGenre : Remaja

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 07 / 13

    Oke guys, masih dengan lanjutan dari cerpen Kala Cinta Menyapa yang kini udah sampe di part 07. Cerpen ini kebetulan end di part 13. So buat yang penasaran gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak detailnya di bawah. Untuk yang belum baca bagian sebelumnya bisa disimak disini. Happy reading….“Apa? Jadi loe jadian sama Rei? Gimana ceritanya?” tanya Rani antusias saat mendengar cerita Irma di taman belakang kampus. Seperti biasa, waktu istriahat mereka habiskan untuk santai di taman. Tadinya mau kekantin, tapi batal. Terlebih sepertinya cerita Irma kali ini adalah sesi curhat. Curhat tentang jadian dirinya dengan Rei tepatnya. Dan kalimat kaget Rani barusan hanya di balas anggukan oleh Irma dengan senyum bahagia.“Wah, selamat ya. Apa gue bilang, loe emang naksir sama tu orang. Kenapa kemaren pake sok sokan ngeles segala si?” tambah Rani Lagi. “Yah, abis gue kan malu. Lagian gue juga sama sekali gak pernah menduga kalau Rei ternyata selama ini juga suka sama gue,” terang Irma lirih.“Nah, untuk ngerayain gimana kalau sekarang kita kekantin. Loe traktir gue makan,” Usul Rani antusias.“Kenapa harus gue yang traktir?” protes Irma terlihat tidak setuju.“Masa Gue,” Rani sambil nunjuk Wajahnya sendiri.“Kalau gitu gimana kalau kita bayar masing – masing aja?” Usulan Irma tak urung membuat Rani mencibir sinis kearahnya. Sahabatnya yang satu ini selain matrai bermaterai ternyata juga pelit berperangko (???).“Ya sudahlah. Bayar masing – masing juga gak papa deh. Yang penting kita kekantin yuk sekarang. Asli gue laper banget. Loe sih tadi gue ajak curhatnya di kantin aja pake acara nolak segala,” Rani akhirnya mengalah sementara Irma tampak tersenyum simpul.Tepat saat mereka menginjakan kaki di lantai kantin pandangan keduanya segera terjurus kesekeliling. Rani tampak memberengut sebel saat mendapati tak ada satupun meja yang kosong. Kantin memang sedang rame – ramenya pada jam makan siang. Dan saat ia menoleh kearah Irma, gadis itu juga tampak angkat bahu.“Ya sudah lah . Kita kesini lagi entar. Mendingan kita ketaman aja lagi."“Tapi gue kan lapernya sekarang,” tahan Rani.“Abis gimana lagi. Loe mau duduk di lantai. Udahlah, kita keluar aja dulu. Lagian loe nggak akan mungkin mati kelaparan hanya karena menahan lapar untuk beberapa waktu kedepan,” tambah Irma sambil melangkah keluar kantin, membuat wajah Rani makin memberengut sebel. Tu orang ternyata beneran sadis. Namun tak urung kakinya melangkah mengikuti gadis itu keluar. Kembali ketaman belakang kampus.“Huwa,,,… Irma. Gue beneran laper. Cacing di perut gue udah pada demo semua. Gimana donk,” kata Rani mendrama keadaan begitu keduanya telah duduk dibangku taman. “Jangan lebay,” cibir Irma sinis. Kali ini Rani beneran yakin kalau sahabatnya itu adalah sahabat tersadis di dunia. # Gantian, siapa yang lebay coba.“Nih buat loe. Walau nggak bikin kenyang tapi lumayan bisa buat menganjal perut."Rani menoleh. Terlihat terkejut sekaligus heran. Tampang Irma juga terlihat tak jauh beda darinya saat mendapati entah sejak kapan dan datangnya darimana tau – tau kini tampak Erwin yang berdiri tepat di hadapanya sambil menyodorkan kantong plastik. Sekilas Rani mendapati bayangan Roti didalamnya.“Buat gue?” tanya Rani kearah wajahnya sediri.Erwin tidak menjawab, hanya tangannya sengaja mengoyang – goyangkan plasik yang ada di tangansebagai isarat agar Rani segera menambilnya.“Tumben loe baik?” selidik Irma dengan mata terlihat menyipit kearah Erwin. Kali ini jelas tatapan curiga.Begitu kantong plasik itu telah berpindah tangan tanpa banyak kata Erwin berbalik. Bersiap meninggalkan keduanya kalau saja Irma tidak terlebih dahulu menghadang langkahnya.“Loe belum jawab pertanyaan gue."“Dan gue gak tertarik untuk menjawabnya,” balas Erwin cuek sambil berlalu pergi. “Rani loe kok diam aja si?” tanya irma kearah Rani yang hanya menatap kepergian Erwin yang terus berlalu.Rani hanya angkat bahu tanpa menjawab. Kemudian dengan santai mulai menikmati makanan yang ada di tangaannya. Sepertinya efek lapar benar – benar sangat berpegaruh pada jalan kerja otaknya.“Loe mau nggak?” tanya Rani sambil menyodorkan sekeping roti kearah Irma dengan acuh tak acuh.Irma mengeleng. Bukan saja karena menolak pemberian Rani tapi juga karena tak habis fikir akan sikap sahabatnya yang satu tu. Akhirnya yang ia lakukan hanyalah menonton aktifitasnya. Dan lagi, Irma tidak punya cukup keberanian untuk memakan makanan dari orang yang jelas jelas punya masalah dengannya. Gimana kalau roti tersebut dikasih obat cuci perut atau apalah. Bisa jadi kan? Secara gimanapun ia pernah membuat pria tersebut sebagai bahan gosipannya.*****Begitu Pak Aldo melangkah meninggalkan kelas, Rani segera membereskan buku – bukunya. Beriringan bersama Irma melangkah melewati koridor kampus. Sambil melangkah keduanya sesekali bercanda. Tapat didepan gerbang mereka berpisah. Sejak dulu kan Irma pulang pergi bersama Rei, terlebih sekarang mereka sudah pacaran. Begitu Irma berlalu, Rani segera kembali melangkahkan kaki. Rencananya si mau langsung kehalte bus tumpangannya kalau saja tidak ada sebuah motor yang secara tiba – tiba menghentikan langkahnya. Dan begitu ia menoleh.“Erwin?”“Ayo naik," printah Erwin.“He?” kening Rani berkerut tanda bingung. Erwin ngomong nggak pake intro. Dan lagi, pria itu juga tidak terlihat tertarik untuk menjelaskan, hanya saja ia memberi isarat kearah Rani untuk duduk di belakangnya sembari tangannya menyodorkan sebuah helm.“O,” dengan kapasitas sistem kerja di otaknya, Rani hanya mengangguk paham. Tanpa bertanya lagi ia segera duduk dibelakang Erwin. Saat motor telah kembali melaju barulah mulutnya kembali terbuka untuk bertanya. “Memangnya kita mau kemana?."“Loe sendiri mau kemana?” bukannya menjawab, Erwin malah balik bertanya. Kebiasan kebanyakan orang memang begitu.“Ya pulang donk,” sahut Rani spontan.“Ya sudah kalau begitu. Terus ngapain loe nanya."Kalimat itu tak urung membuat Rani kesel mendengarnya. “Abis gue bingung. Kan kali aja loe mau bawa gue kemana gitu," sambungnya setengah bergumam.“Kalau loe emang bingung terus kenapa tadi nggak nanya. Malah main duduk aja."“Iya ya… bener juga. Kenapa tadi gue langsung nurut ya?” tanya Rani lebih tepat kalau di tujukan untuk dirinya sendiri.Erwin hanya terdiam sambil mengeleng pelan. Apa memang gadis itu polos atau dodol ya?. Entahlah, sepertinya ia yang dodol karena mau dengan suka rela mengantarnya.“Tapi Erwin, kok tumben si loe baik? Mau maunya gitu nganterin gue?” tanya Rani tiba – tiba.Erwin terlihat bingung, tidak tau harus menjawab apa. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tau, kenapa tiba – tiba ia berniat untuk mengantar gadis itu pulang kerumahnya. Yang jelas itu semua terjadi dengan sendirinya.“Pasti karena di suruh sama nyokap loe kan?” tanya Rani lagi.“Eh?”“Soal kemaren itu, gue beneran nggak tau kalau tante Sania itu nyokap loe. Gue itu kemaren memang nggak sengaja ngeliat nyokap loe pas keserempet mobil. Karena kebatulan pas kejadian gue memang ada di sana. Karena kelihatannya nyokap loe sendirian dan disana yang pada nolongin juga nggak ada yang kenal, ya sudah gue langsung bawa aja ke rumah sakit. Terus gue sekalian antar kerumah. Eh sekali tiba di rumah nggak taunya dia ternyata nyokap loe. Tapi walaupun begitu, loe nggak harus kok nganterin gue pulang kuliah segala. Secara nyokap loe kan kemaren juga udah bilang ma kasih,” cerocos Rani panjang lebar tanpa sempat memperhatikan reaksi Erwin sekalipun yang terlihat hanya diam sambil terus memandang kedepan. Memastikan motor yang mereka kendarai bisa mencapai tujuan dengan selamat.“Oh ya, tapi nyokap loe baik baik aja kan?” tanya Rani lagi.“Baik,” sahut Erwin singkat.“Syukurlah kalau begitu,” Rani terlihat lega. Namut sedetik kemudian semuanya berubah digantikan raut kebingungan saat mendapati arah motor Erwin yang membelok kesalah satu restoran bertuliskan “Sari Bumbu”.“Erwin, kita mau ngapain disini?” tanya Rani begitu turun dari motor.“Mau kerja."“HA!” Rani melotot kaget.“Ya mau makan lah. Loe laper kan?”"O," kali ini Rani mengangguk. Ngomong – ngomong soal makan, perutnya tiba – tiba terasa lapar . Terlebih lagi ia memang belum makan siang sementara jarum jam di tangannya sudah menunjukan pukul 2 siang. Sedari tadi perutnya hanya di isi sepotong roti dari Erwin. Gara – gara tadi keasikan ngegosip bersama Irma ia sampai lupa untuk kembali kekantin karena mata kuliah selanjutnya sudah harus di mulai.“Erwin, loe yakin mau makan di sini?” bisik Rani lirih begitu kakinya menginjakan lantai restoran berlabel ‘Sari Bumbu’ itu. Berbeda dari bangunan luar yang terlihat sederhana. Bagian dalamnya ternyata benar – benar di desain dengan elegan. Di mulai dengan barisan depan yang terdiri dari aneka jajan pasar sampai berbagi buah, aneka bubur lengkap dengan Es buahnya, ruangan bagian tengah penuh dengan gado – gado, sementara kiri dan kanan Makanan dengan aneka hidangan sepesial yang mengugah selera. Ada nasi, Lengkap dengan lauk pauknya yang di atur berjejer membentuk lingkaran. Sementara tamu yang datang bebas untuk memillih dan mengambil makanan sepuasnya. Sekilas Rani menoleh kesekeliling. Astaga, rata – rata tamu nya orang asing semua. Mulai dari orang cina, melayu, bule bahkan ada yang korea. Sepertinya mereka semua turis yang datang untuk makan siang. Sementara pelayanan nya juga terlihat ramah. Mana cowok – cowok keren lagi #Gubrak….. Benar – benar merasa seperti makan di hotel berbintang. ^_^“Kalau loe mau makan, silahkan ambil sepuasnya. Tapi kalau memang enggak dan begong aja mendingan loe tunggu di luar,” sahut Erwin sambil mulai menyendokan nasi kepiring yang ada di tangannya sebelum kemudian beralih kearah aneka masakan yang entah apa namanya. “Beneran nie, gue boleh ngambil apapun yang gue mau?” tanya Rani masih terlihat ragu.“Loe abisin semua makanan disini selama perut loe muat juga nggak masalah. Toh loe makan sedikit atau makan banyak bayarnya tetep sama per pax nya,” terang Erwin tanpa menoleh.Mendengar itu tanpa pikir panjang Rani segera meraih piring yang ada di dekatnya. Dan pada menit berikutnya, piring kosong itu kini sudah terisi penuh. Erwin terlihat sedikit bengong melihatnya. Ini cewek apa kingkong ya. Porsi makanya banyak amat. “Alhamduliah… Kenyang,” kata Rani sambil mengelap mulutnya dengan tisu.“Justru kalau loe bilang masih lapar gue nya yang heran,” balasan Erwin tak urung Rani memberengut sebel walau dalam hati ia tetap membenarkan ucapannya. Kalau sampai ia masih merasa lapar pasti lambungnya sedang bermasalah. Bagaimana bisa meja yang seharunya muat diisi untuk delapan orang kini di pake hanya oleh mereka berdua. Mulai dari piring nasi, mangkuk sup, ditambah dua mangkuk bubur, belum lagi mangkuk es campur, piring buah, dan piring aneka jajan pasar. Masih di tambah lagi gelas jus dan air mineral. Ck ck ck, Perutnya terbuat dari apa si?“Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang,” ajak Erwin sambil bangkit berdiri.“He he he, Makasih ya. Kapan – kapan kalau loe mau makan disini ajak gue lagi ya. Gue belum nyicipi tuh makanan di sebelah sana,” balas Rani ikut bangkit berdiri sambil matanya terus mengawasi menu yang tidak sempat di jamah olehnya. Erwin hanya mengeleng melihat ulahnya. Setelah membayar makanan di kasir, keduanya segera berlalu pulang.Next to Cerpen Cinta Romantis Kala Cinta Menyapa part 08Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.659 WordsLanjut Baca : || ||

  • Kumpulan Cerpen 2013 “Story About Us” ~ 01

    Halllloooo All Reader Star Night. Masih pada menunggu Lanjutan cerpen karya Ana Merya yak?. Bakalan lama tuh. Lagi sibuk kayanya tu orang ngejar target 10 point nya?. Gkgkgkgkgkkgk..Nah dari pada kelamaan nunggu, mending baca dulu cepen kiriman dari adek, Penulis Cerpen benci jadi cinta Vanessa Vs Verly, dan Cerpen remaja Buruan katakan cinta. Ehem, Karyanya dia sebenernya banyak kok yang udah di post di blog. Tapi di blog Remaja Xsis. Kalau mau baca aneka cerpen karyanya dia yang laen bisa langsung kunjungin tuh blog.Karena blog ini sebenernya blog khusus kumpulan cerpen karya Ana Merya si harusnya. Cuma kalau memang ada yang mau ngirim kesini kenapa enggak.Okelah dari pada kebanyakan Bacod mending lansung baca yok. PS: Judul Asli si "karma" tapi ku ganti jadi "Story About Us""kamu seriuz?!" tanya Vanna."ya seriuz lah, sorry ea, aku nggax ada pilihan laen, tapi kamu tenang aja, demi kamu, aku bakal balik lagi kesini, setelah urusan aku di sana selesai" kata Vanno."tapi van…""say… kamu dengerin aku,… aku nggax bakal lupain kamu, aku beneran sayang sama kamu, ini juga urusan pekerjaan kok. kamu harus ngertiin aku donk" kata Vanno.sebagian

  • Cerpen Remaja “Kala Cinta Menyapa ~ 10”

    Sempet males mo lanjutin ni cerpen Remaja kala cinta menyapa ini, tapi akhirnya di lanjutin juga. Alasannya, Hufh masih sama dengan yang sebelumnya. Kalau yang udah pernah baca, pasti langsung tau.Ah satu lagi, waktu ngetik ni cerpen kondisi beneran lagi nggak fit. So rada maklum lah yea…Dengan hati – hati Rani melangkah melewati pintu gerbang kampusnya. Matanya secara awas mengawasi sekeliling. Mencari tau keberadaan sosok erwin yang mendadak menjadi orang yang paling ia takuti terkait acara "tembak" langsungnya."Rani?".Rani langsung terlonjak kaget. Untuk sejenak terpaku saat mendapati orang yang sedari tadi ia hindari berdiri tak jauh darinya. Bahkan jelas – jelas memanggil namanya. Dan saat sosok itu melangkah mendekat mulutnya langsung terbuka untuk memperingatkan.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*