Cerpen Cinta Romantis ‘Kenalkan aku pada cinta” ~ 04

Setelah lama terbengkalai akhirnya cerpen cinta romantic kenalkan aku pada cinta bisa lanjut juga. Maap ya sodara sodara karena emang rada lamaan. Yah, namanya juga ngetik sesempetnya ya begini lah jadinya.
So Buat Temen temen yang udah nunggu dari kemaren soal lanjutannya, monggo silahkan di baca. Kalau bisa, Silahkan tinggalkan jejaknya di kolom komentar bawah ya.
Happy reading…

Saat Astri menoleh, Astri hanya mampu tersenyum kecut. Benar saja, Andre tampak sedang berbicara akrab pada Rendy. Mampus. Sekarang apa yang harus ia lakukan?.
"Kok loe malah bengong si. Mana kakak loe, katanya mau jemput loe?".
"Eh?"Pertanyaan Alya menyadarkan Astri dari lamunannya.
Dan belum sempat Astri menjawab sebuah teriakan menyebutkan namanya terdengar. Membuat Alya menoleh kaget kearahnya.
"Astri, Loe ngapain malah bengong disitu. Buruan kesini" Terdengar teriakan sekali lagi.
Lagi – lagi Astri hanya mampu tersenyum kecut, sambil secara berlahan melangkah menghampiri Rendy. Dan tanpa di komando, Alya juga mengikutinya.
"Lama amat si loe, Dari tadi juga udah gue tungguin" Rutuk Rendy santai tanpa memperdulikan tatapan orang – orang di sekelilingnya. Sementara Astri hanya mampu menggigit bibirnya. Kebiasaan yang sering ia lakukan saat dalam situasi yang menyulitkan.
"Sory. Tadi dosen nya yang lama. Masa gue harus cabut duluan".
Rendy hanya mencibir mendengarnya.
"Dia kakak loe?" Tanya Alya dengan telunjuk mengarah lurus kearah Rendy. Benar – benar tindakan yang nggak sopan.
"Eh?" Astri menoleh kearah Alya.
"Loe beneran Astri?" Kali ini kalimat bingung keluar dari mulut Andre yang sedari tadi ternyata terus memperhatikannya dengan tatapan tak percaya.
"He?" Gantian Andre yang mendapat tatapan bingung Astri.
"Tunggu dulu. Oh ya, Astri sama loe and" Kata Rendy seolah baru ngeh sambil menatap bergantian kearah adik dan sahabatnya "Gue baru sadar,. Jadi kalian berdua satu kampus?" Rendy ikutan takjup.
Diserang pertanyaan sekaligus berada dalam situasi membingungkan benar – benar membuat Astri mati gaya. Dia harus jawab apa sekarang.
Eh tapi tunggu dulu. Memangnya kenapa kalau mereka tau?. Toh selama ini dia kan tidak merasa sedang bersembunyi. Lagian itu semua salah mereka donk kenapa tidak menyadarinya.
"Ya begitulah" Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu meluncur dari mulut Astri kemudian.
"Huwahahahhaha" Tawa lepas dari raut Rendy mengalihkan perhatian semuanya.
"Kok malah ketawa si, emang ada yang lucu?" Tanya Astri kearah Rendy.
"Ehem " Rendy tampak berdehem sambil menoleh kearah Andre. "And, Jangan bilang kalau loe beneran nggak ngenalin adek gue?".
"Sebelum lima menit yang lalu, Sepertinya emang nggak. Bahkan kalau gue boleh jujur, kayaknya gue masih nggak percaya kalau cewek yang berdiri di hadapan gue beneran adek loe" Balas Andre tanpa mengalihkan tatapannya sedetik pun dari Astri yang tampak menduduk malu.
"Emangnya kak Andre kenal sama Astri?" Alya yang sedari tadi diem angkat bicara. "Tapi kok loe nggak pernah cerita As?".
Glek. Astri tampak menelan ludah. Ia tau kalau sahabatnya yang satu itu memang gampang penasaran. Tapi kan nggak harus menyulitkan posisinya juga.
"Ya itu karena loe nggak nanya".
Alya tampak mangut mangut membenarkan. Ia kan memang tidak pernah bertanya.
"Terus kenapa loe nggak nyapa gue?" gantian Andre yang bertanya.
"Kalau seandainya Astri nyapa kakak, emang kakak bakal kenal?" Astri balik nanya. Andre hanya membalas senyum simpul.
"Oh, Kalau gitu berhubung ini udah siang, kita pulang duluan ya. Da Alya, Good bye kak Andre" Sambung Astri sambil duduk di belakang Rendi sembari mengenakan helm di kepalanya.
"Kok malah bengong si kak, Ayo. Tadi katanya gue harus buruan" Ajak Astri ketika melihat kakaknya sama sekali tidak bergerak.
"Masa kita mau langsung pulang?".
"Lah, emangnya kita mau kemana?" Tanya Astri tak kalah heran.
"Kalau kita makan dulu gimana?".
Kerutan di kening Astri semakin bertambah. Tumben amat kakaknya baik. Pake ngajakin dia makan segala.
"Oke, Syip. Setuju!. Kalau gitu tunggu apa lagi. Ayooooo" Tak ingin tertalu memusingkan dirinya Astri langsung setuju. Lagi pula jarang jarang kakaknya baik.
"Ya udah ayo And, Loe juga Alya. Loe boncengan sama gue, Biar Astri bareng sama Andre".
"Eh?" Astri terpaku kaget mendengar kalimat yang keluar dari mulut kakaknya barusan. Apa – apaan itu.
"Kita?" Tanya Alya dan Andre hampir secara bersamaan.
"Iya. Kalian berdua. Biar sekalian".
"Terus kenapa gue harus bareng sama kak Andre?" Tanya Astri menyela.
"Itu karena loe adek gue. Apa enaknya jalan bareng loe yang cerewet. Lagian kan kasian kalau dia bareng sama Andre. Pasti canggung karena nggak saling kenal".
Astri hanya muter mata mendengarnya. Yakin tu orang nggak salah ngomong. Yang ada juga Alya itu nggak kenal sama kakaknya. Namun belum sempat mulutnya terbuka untuk membantah ucapan Andre sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Kalau emang Astri keberatan bareng sama gue, nggak papa kok. Kalian makan bareng aja. Biar gue duluan".
"Ya nggak bisa gitu juga donk. Terus Alya gimana?. Masa kami bonceng 3" bantah Rendy sambil melirik kearah Astri. Membuat gadis itu merasa sedikit serba salah.
"Ya udah kalau gitu. Gue nggak keberatan kok. Yuks, kita pergi" Astri akhirnya ngalah.
"Nah gitu donk. Ayo Alya, loe bareng gue" Ajak Rendy sambil menyalakan mesin motornya. Walau awalnya ragu, namun pada akhrinya Alya manut. Melangkah mengantikan posisi Astri sebelumnya.
"Oh ya, Loe tunggu di sini bentar ya. Gue ambil motor gue dulu" Kata Andre kearah Astri yang masih mengerutu dalam hati akan ulah kakaknya. Jelas – jelas dia datang kesini untuk menjemputnya, tapi kenapa sekarang ia malah di tinggalkan begitu saja. Emang dasar kakak tidak berpri'kekakaan, makinya dalam hati.
***
Setelah memarkirkan motornya, Astri berniat langsung menuju kekelas. Namun sebuah teriakan memanggilkan namanya menghentikan langkahnya. Saat menoleh keningnya sedikit berkerut ketika mendapati Andre yang menghampirinya.
"Baru datang ya?".
"Iya kak" Balas Astri sambil menunduk. Tangannya secara refleks membenarkan letak kacamata yang ia kenakan. Merasa sedikit cangung. Ini untuk pertama kalinya Andre menyapanya di kampus.
"Kenapa kak?" tanya Astri saat menyadari kalau Andre menatapnya intens.
"Enggak, cuma gue masih nggak ngerti aja. Dimana – mana juga cewek kan selalu berlomba – loma untuk tampil cantik, lah elo malah menyembunyikannya".
Astri hanya membalas dengan senyuman sambil mulutnya melemparkan candaan "Jadi maksut kakak, Astri jelek?".
"Ha ha ha, Nggak gitu juga si. Cuma…..Ya begitu lah" Balas Andre sambil tersenyum.
"Ah bilang aja jelek" Astri memonyongkan mulutnya membuat Andre tertawa lebar melihatnya.
"Astri".
Astri menghentkan langkahnya sambil berbalik saat merasa namanya di teriakan untuk kedua kalinya. Tampak Alya yang melangkah menghampirinya.
"Wah, gila loe. Dari depan tadi gue panggil panggil loe nggak noleh noleh" Tegur Alya setelah berada di samping sahabatnya.
"Masa sih?. Serius gue nggak denger".
"Lagian loe….Eh, ada kak Andre. Pagi kak…" Alya segera membelokan ucapannya ketika menyadari kehadiran orang ketiga diantara mereka berdua.
"Pagi".
"Kok tumben barengan. Jangan bilang kalian pacaran?" Tebak Alya langsung.
"Sembarangan" Semport Astri mendelik, Sementara Alya hanya menyengir tak bersalah.
"Nggak kok. Kebetulan tadi barengan dari depan" Jelas Andre membuat kepala Alya mengangguk membenarkan.
"Oh ya, kalau gitu gue duluan ya" Pamit Andre beberapa saat kemudian.
"Cie cie cie, Ehem ehem. Roman romannya ada 'Syahirini' nie?" Sindir Alya setelah Andre hilang dari pandangan.
"Apaan si" Gerut Astr.
"Udah ngaku aja. Sama gue ini. Loe pasti ada apa apanya kan sama kak Andre".
"Nggak usah ngaco deh ya".
"Terus kenapa tiba tiba pake ngobrol bareng. Kan nggak biasanya".
"Tau….".
"Tapi kan…".
"Bentar lagi kelas masuk, udah buruan" Potong Astri sambil menarik tangan Alya. Memaksa sahabatnya untuk bungkam.
***
Waktu sudah menunjukan tepat pukul 08:00 ketika Astri beranjak dari tempat tidurnya. Kebetulan hari ini memang hari minggu, Kuliahnya libur. Sengaja tidur lagi setelah solat subuh tadi pagi karena matanya memang masih terasa lengket. Terlebih tadi malam ia tidur cukup larut demi untuk menyelesaikan membaca beberapa koleksi Novel Romantisnya.
Setelah mandi Astri turun ke bawah. Membuat segelas kopi sambil menikmati sepotong roti. Agenda hari ini adalah bermalas malasan. Rumahnya sepi. Keduanya orang tuanya berserta kakaknya sedang melakukan one day tour at singapure dan kali ini ia tidak di ajak.
Sambil duduk diruang tamu, Astri menyalakan Tv di hadapannya. Mengonta ganti chanel mencari acara yang menarik. Sepertinya semuanya membosankan. Masih membahas seputar gosip yang tiada habisnya. Heran, Memangnya tu orang pada nggak takut dosa apa ngosipin orang mulu?.
Merasa tiada yang menarik, Akhirnya Astri lebih memilih mematikan Tv. Naik keatas dan turun lagi dengan membawa Novel yang belum sempat di selesaikannya. Setelah terlebih dahulu menyematkan headset di telinganya Astri kembali larut kedalam dunia imagi yang di ciptakan penulisnya.
Tak tau berapa lama waktu yang ia habiskan sampai akhirnya Astri menutup novelnya. Dilepaskannya headset di telinga. Suara bel yang berbunyi langsung tertangkap indra pendengarannya. Dengan segera ia beranjak, mengintip dari balik tirai jendela. Mencari tau siapa gerangan yang bertamu di hari minggu.
"Kak Andre?" Gumam Astri lirih. Dan dengan cepat ia berjalan kearah pintu saat matanya melihat Andre yang berbalik. Sepertinya ia akan pergi.
"Kak Andre" Teriak Astri kemudian membuat Andre kembali membalikan tubuhnya. Membatalkan niatnya untuk pulang.
"Eh Astri, Gue pikir nggak ada orangnya".
"Maaf kak, tadi nggak kedengeran bunyi bel".
Kening Andre mengernyit. Nggak kedengeran?. Yang benar saja, bahkan ia sudah lebih dari lima kali memencetnya. Apa jangan jangan gadis itu sedang tidur atau…
"Tadi lagi pake headset sambil baca buku" Terang Astri saat menyadari raut kebingungan di wajah Andre. membaut pria itu hanya mampu beroh ria.
"Oh ya, Lupa. Masuk dulu yuk kak" Ajak Astri kemudian.
"Ma kasih".
"Kok keliatan sepi. Rendi masih tidur ya?" Tanya Andre sambil melangkah mengikuti Astri kearah ruang tamu.
"Nggak kak. Kak Rendi ikut mama sama papa. Jalan jalan kesingapure".
"Singapure?. Serius" Andre terlihat kaget, Sementara Astri hanya membalas dengan anggukan sama sekali tidak terlihat antusias menjawabnya. Terlebih saat ia menyadari kalau ia tidak di ajak.
"Terus loe di rumah sendirian donk?".
"Ya begitu lah" Astri angkat bahu.
Untuk sejenak Andre terdiam. Astri juga bungkam. Suasana mendadak terasa cangung. Walau memang selama ini mereka sering ngobrol bareng tapi ini untuk pertama kalinya hanya mereka berdua. Biasanya kan kak Rendi ada diantara mereka.
"Jalan yuk".
"Eh?" Astri mengankat wajahnya. Menatap lurus kearah Andre. Seolah tidak yakin akan apa yang ia dengar barusan.
"Loe nggak ada kegiatan kan hari ini. Gimana kalau kita jalan. Tadinya si gue mau ngajak Rendi, tapi berhubung dia nggak ada, bareng sama loe juga boleh deh. Itu juga kalau loe nggak keberatan" ulang Andre mempertegas ajakannya.
Kali ini Astri terdiam. Tidak langsung mengiyakan ataupun menolak ajakan itu. Pikirnya melayangkan, sebelum beberapa menit kemudian kepalanya mengangguk sambil mulutnya berujar.
"Boleh deh".
Kali ini Sebuah senyuman jelas tergambar di wajah Andre mendengar jawaban yang memang ia inginkan.
To Be Continue…
Jujur aja ya pas Ngetik cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 4 , Admin beneran nggak dapat fellnya. So maaf deh kalau part ini rada aneh. Abis beneran lupa sama jalan ceritanya. Huwahaahhahha #kacau.
Tapi sudah lah, Terima kasih sudah mau membaca…..

Random Posts

  • Cerpen Kala cinta Menyapa part 8

    Gak mau basa – basi, yang merasa dari maren nungguin lanjutan nie cerita _Walau aku ragu ada yang nunggu_Monggo, silahkan langsung di baca. Happy reading ya………….Credit Gambar : Ana Merya“Rani, loe punya hubungan apa sama erwin?” Selidik irma sambil memperhatikan Ulah Rani yang masih asik membolak balikan halaman demi halaman komik yang ada ditanganya tampa memperdulikan keributan teman – temannya yang rata – rata pada ngegsosip sambil menunggu dosen mereka masuk kekelas.“Nggak ada” Balas Rani tanpa menoleh.sebagian

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart” ~ 01

    Salah satu kisah remaja yang admin tulis adalah cerpen remaja Take My Heart, kisah remaja yang merupakan lanjutan dari cerpen pendek pupus yang telah di posting sebelumnya. Secara cerpen yang satu itu kan sad end, so biar happy di tarik kesini. He he he. Nah, buat yang penasaran bisa langsung read ke bawah. Ini merupakan part awal, so silahkan simak detailnya. Jangan lupa RCL ya…Cerpen take my heartOrang bilang cinta itu sederhana, Cukup aku dan kamu, Yang lain cuma nonton. Tapi sayangnya, tidak semua orang menyukai kesederhanaan. Layaknya hidup yang menginginkan kemewahan…. #Take My Heart"Ah, Mereka benar – benar pasangan yang serasi ya?.""Ia. Yang satunya Prince, yang satunya lagi Princess.""Sulit di percaya, kedua idola di kampus kita bisa jadi pasangan."Laura terus melangkah sambil tersenyum bangga mendengar kalimat demi kalimat yang mampu di tangkap oleh indra pendengarnya. Sesekali matanya melirik sosok yang berjalan tepat disampingnya. Menuruti tawaran menjadi pacar Ivan, Idola kampusnya walau selama ini terkenal dengan Cap Playboy ternyata bukan ide yang buruk. Terbukti pamornya makin menanjak semenjak itu. Padahal baru terhitung seminggu mereka jadian."Sayang, kita ke kantin dulu yuk. Gue laper nih," ajak Laura terdengar manja, Ivan menoleh kearahnya. Mengangguk setuju sambil pasang senyum manis.Begitu mereka menginjakkan kaki di kantin, seperti biasa langsung menarik perhatian semuanya. Mulai terdengarlah suara suara berbisik yang membicarakan tentang keduanya."Kok kita duduk disini si?" bisik Laura lirih saat mendapati Ivan duduk santai di meja tengah bersama ke tiga teman karibnya. Biasanya kan bila mereka berdua mereka selalu duduk berdua di pojokan."Oh, itu karena gue punya kejutan buat loe. Bener gak guys?" tanya Ivan sambil tersenyum misterius kearah teman – temannya."Oh ya?" wajah Laura tampak bercahaya."Nggak yakin loe suka, tapi kalau kaget bisa jadi," Ivan menambahkan."Apa?" tanyanya sedikit mengernyikan dahi."Gue mau kita putus," kata Ivan singkat, padat dan jelas."Apa?!" kali ini Nada kaget yang keluar dari mulut Laura. Setelah terlebih dahulu terdiam sejenak ia menambahkan sambil tertawa. "He he he, loe bercanda kan?""Jadi menurut loe ini lucu?" bukannya menjawab Ivan malah balik melontarkan pertanyaan."Tadi ini nggak masuk akal. Kita baru seminggu jadian. And hubungan kita juga baik – baik aja. Seenggaknya sebelum…" Laura melirik jam tangannya "20 detik yang lalu.""Heh, nggak masuk akal?" Ivan tampak mencibir. "Loe nggak lupa kan kalau gue ini seorang play boy?""Apa?""Sebenarnya, gue males banget pacaran sama loe. Tapi temen – temen gue nantangi apa gue bisa naklukin elo dengan sekali tembak kemudian memutuskannya di hadapan umum. Ya sudah, kebetulan taruahannya lumayan gue si ikut aja. Terbukti kan gue yang menang?" kata Ivan sambil menadahkan tangan ke arah Renold, sahabatnya yang duduk tepat di hadapannya. Dan detik berikutnya lembaran uang ratusan sudah tertera di sana."Ma kasih ya, Sekarang loe boleh pergi".Refleks tangan Laura melayang. Namun belum sempat mendarat di wajah Ivan, tangannya sudah terlebih dahulu dicekal."Loe pikir siapa elo berani nantangin gue ha?" kata Ivan lirih namun penuh penekanan. "Asal loe tau aja, image loe sebagai cewek idola di kampus ini, yang selalu berhasil naklukin hati cowok ternyata cuma gosip murahan. Buktinya loe dengan gampangnya bertekuk lutut di hadapan gue," sambung Ivan lagi."Sialan loe. Dasar brengsek!" geram Laura sambil menghempaskan tangannya membuat cekalan Ivan langsung terlepas."Terima kasih atas pujiannya," senyum Ivan santai."Denger ya, gue akan pastikan loe akan menyesali apa yang loe lakukan saat ini sama gue. Inget, hukum karma itu berlaku. Loe pasti akan merasakan pembalasan yang lebih buruk dari apa yang loe lakuin ke gue," geram Laura dengan wajah memerah. Entah karena terlalu marah atau malu karena kini telah menjadi objek tontonan di kantin mereka."Kita liat aja nanti," Ivan cuek.Dengan kesel Laura berlalu membawa sejuta dendam dan sakit hati di hatinya. Sementara Ivan sendiri justru tertawa diikuti ke ketiga teman temannya."Wow, sulit di percaya. Loe benar – benar melakukannya," Komentar Renold sambil menggelengkan kepala kagum menyaksikan drama satu babak yang baru saja terjadi di hadapannya."Kenapa enggak. Lagipula ini cuma masalah kecil," sahut Ivan sambil menjentikan jarinya menyombongkan diri."Apa loe tertarik untuk melakukan taruhan lagi?" Andra angkat bicara.Ivan terdiam. Matanya melirik lembaran lembaran merah yang berada di tangannya. Setelah berpikir sejenak ia kembali berujur."Jika kalian siap untuk kalah lagi.""Wow, Pe-De sekali," cibir Renold."Jadi apa aturan mainnya?" tanya Ivan lagi.Andra tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit dengan sebuah senyuman misterius di wajahnya."Kita liat aja nanti".~ Take My Heart ~ "Apa yang mau kita lakukan di sini?" tanya Renold bingung saat Andra menghentikan langkahnya di koridor kampus."Tentu saja untuk melanjutkan rencana permain kita," terang Andra santai."Makstu loe?" tanya Ivan."Sebelum gue jawab, gue pengen nanya sekali lagi. Ivan, loe siap untuk ber'Main?" tanya Andra sambil menoleh kearah Ivan yang hanya di balas anggukan mantap."Apapun?" Andra menegaskan."Apapun selama itu masih terkait dengan ketenaran gue selaku playboy!" balas Ivan membuat temannya mencibir mendengarnya."Baiklah, taruahannya sepuluh juta. Deal?" tanya Andra lagi."Tunggu dulu, loe belum menentukan apa permainannya?" potong Ivan."Baiklah, kalian lihat pintu itu?" tunjuk Andra kearah ruangan dosen."Iya. Kenapa?" Renold masih terlihat bingung."Itu permainannya.""Maksut loe?" tanya Aldy yang sedari tadi diam memperhatikan tampang bingung. Tangannya terulur membenarkan letak kaca matanya."Loe," tunjuk Andra kearah Ivan. "Harus bisa menaklukkan siapapun yang pertama sekali keluar dari pintu itu.""Apa?!" secara koor ketiga orang itu berujar tak percaya."Bagaimana kalau yang pertama keluar dari pintu itu adalah pak Burhan?" celetuk Aldy.Semuanya terdiam untuk sejenak sambil membayangkan sosok yang di sebut Aldy barusan. Pak Burhan, pria gendut, berkepala botak lengkap dengan kacamata minus yang selalu bertenger di wajahnya. Di tambah dengan raut wajahnya yang jelas – jelas sangar sontak langsung membuat Ivan bergidik ngeri."Ivan loe tertarik untuk menunjukan pesona loe pada …. bapak – bapak?" tanya Andra sambil berusaha menahan tawa saat melihat tampang kecut Ivan."Ke laut aja loe," damprat Ivan kesel."Wukakkakak. Oke aturan main kita rubah dikit. Siapapun wanita yang pertama sekali keluar dari pintu itu, loe harus bisa naklukin dia dalam waktu satu bulan? Bagaimana?" tawar Andra lagi."Terus kalau Bu Susi yang pertama sekali keluar bagaimana?" gantian Renold angkat bicara menyebutkan salah satu dosen di kampusnya yang terkenal sangar."Ya itu resiko" Andra cuek bebek."Tapi dia kan sudah punya suami. Apa loe bermaksud menjadikang gue sebagai manusia perusak rumah tangga orang?" potong Ivan terlihat frustasi."Wukakkaka…. Loe takut memiliki image sebagai perusak rumah tangga orang atau loe sebenernya takut mereka adalah wanita – wanita setia pada suaminya?" tanya Andra balik."Lagian, ayolah. Kaliaankan dari tadi hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana kalau yang keluar dari sana adalah ibu Silvia?" tambah Andra lagi.Membuat ketiga temannya kembali berimaginasi membayangkan sosok Silvia. Dosen bahasa di kampus mereka. Selain masih single, dosen yang satu itu juga selalu bersikap ramah pada Ivan jika tidak ingin di katakan kalau dosen itu tertarik padanya. Terlebih parasnya juga cantik."Deal. Gue setuju," kata Ivan akhirnya."Loe serius?" Renold terlihat tak percaya."Ah ini beneran gila. Bermain – main sama dosen. Kalau ketauan apa nggak kita semua kena getahnya?" Aldy angkat bicara."Kalau loe takut, ya sudah loe maen kelereng aja sono," cibir Andra sinis membuat Aldy memberengut sebel."Oke deh, deal gue juga setuju" Renold menenggahi mau tak mau Aldy juga mengangguk setuju."Baiklah, permainan dimulai. Kita liat siapa yang beruntung," sahut Andra sambil menatap lurus kearah pintu ruangan dosen di kampus mereka.Satu menit, dua menit bahkan sampai lima menit pintu itu masih tertutup rapat. Tiada tanda – tanda akan ada yang keluar dari sana. Membuat keempat orang itu mendesah tak sabar. Barulah pada menit kesembilan lewat 37 detik pintu itu terbuka.Semuanya langsung pasang mata baik – baik sambil menahan nafas menanti siapa yang akan melewati pintu itu. Dan begitu melihat sosok tersebut melewatinya, mulut semuanya langsung terbuka tak percaya. Tapi di detik berikutnya…."wuakkakakakakka" Tawa langsung meledak dari bibir masing masing."Ternyata beneran pak Burhan. Ini si, beneran belum beruntung namanya," komentar Andra setelah tawannya mereda."Tampang loe jangan pucet gitu donk Van, loe kan nggak harus pacaran sama dia," tambah Renold berusaha menghibur walau jejak tawa geli masih ada di wajahnya."Iya nih. Kayak di kerupuk – kerupuk (??) kan masih ada istilah 'Coba Lagi'," Aldy menimpali.Belum sempat mulut Ivan terbuka, pintu keramat sudah kembali terbuka. Membuat keempat orang itu kembali menoleh. Bertatapan langsung dengan sosok yang baru melewati pintu keremat. Suasana hening, hepi. Hanya ada kebisuan yang mendadak menyelimuti…Sosok itu…………..Next to Cerpen Take My Heart Part 02Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Cerpen: PESAN TERAKHIR

    PESAN TERAKHIRoleh: Mega SilfiaAtap yang begitu putih, membuat ku teringat dengan dia, bagaimana aku bisa bertemu dengan dia yang sudah tiada. Rasanya aku tidak bisa bernafas, setiap ku mengingat kebersamaan dengannya.“nanda, nanda kamu sudah sadar.” ucap ibu tiri ku dengan wajah panik dan bergegas mencari dokter di rumah sakit nanda di rawat.“nanda, kalo kamu dengar ucapan saya coba anggukan kepala kamu.” sambil melepaskan alat penafasan.Akupun menganggukan kepala, melihat kaki yang dibalut oleh perban, tak sengaja aku mencuri pembicaraan antara dokter dan ibu tiriku, yang ku dengar kaki kananku patah akan sembuh total selama enam bulan lagi dan menyuruh ku di bawa ke psikolog.“nah, nanda kamu jangan banyak bergerak dan tidur saja.”Tanpa mendengar perintah dokterpun aku akan tidur dan melupakan semuanya, ketika aku dan dia bertemu. Saat itu sore yang sedikit cerah memungkinkan ku untuk kabur dari rumah, dengan menggunakan tas ransel besar dan jaket tebal lalu kupluk untuk menutupi kepaku. Ayah ku menikah lagi dengan wanita yang sama-sama di tinggal oleh pasangannya. Ibuku meninggal saat melahirkanku, melihat sosok ibu aku tidak tau, aku kabur dari rumah karna aku tidak butuh ibu, mungkin aku cemburu. Apalagi wanita itu mempunyai anak laki-laki berumur 7 tahun. Membuat ayahku semakin senang. Sepucuk surat ku letakan di kamar yang berisi “aku pergi dan jangan menghawatirkan ku lagi, semoga kalian bahagia, NANDA.”Saat itu aku ingin semua itu berhasil dan sesuai rencana ku , mereka akan khawatir dan mencariku, entah mengapa pikiran ku saat itu kekanak-kanakan. Aku hanya ingin mereka melihatku. Semua berubah saat aku berhenti di sebuah rel kereta api. Di situ aku berfikir, aku akan kabur kemana? Dan bila tersesat bagaimana?. Jujur aku tidak mempunyai teman di sekolah, ini karna sifat pendiamku. Aku tidak pintar beriteraksi dengan orang lain. Yang ku bisa saat itu hanya duduk dan duduk di kursi tunggu kereta api. Entah mengapa aku mulai merasa curiga saat ada seorang anak laki-laki duduk di sebelahku dengan memakai topi dan tas ransel dia duduk dan melihati ku. Sedikit melirik, aku melihat dia, anak laki-laki yang ku rasa seumur dengan ku. Ku rasa dia bukan orang jahat, itu terlihat dari style dan jam tangan yang dia kenakan , bermerek mahal. Di kursi itu dia mulai mengeluarkan suaranya. “kamu kabur dari rumah juga ??” Tanya dia sambil tersenyum“bukan urusan kamu.” Ku jawab dengan nada datar dan dingin.“oh !”Tiba-tiba saja dia berdiri dan menarik tanganku, aku yang saat itu duduk terkejut dan berdiri, wajahnya tepat di depan wajahku. Mata yang coklat, wajah yang putih, bibir yang merah dan dari tubuhnya tercium bau yang hangat. Membuatku tidak dapat bergerak, namun aku mengelak. Dengan ransel yang ku pegang aku pergi meninggalkan dia. Di stasiun dia terus mengikuti ku, walau sudah ku peringatkan di tetap tersenyum dan mengikuti ku , akhirnya aku menyerah dan berhenti.“kenapa sih kamu ngikutin mulu? mau kamu apa sih?” Tanya ku “kabur bareng.” jawabnya sambil tersenyum ringan.Dengan suara kereta yang sangat bising, suaranya sedikit tersamar namun masih terdengar oleh telingaku, aku hanya terdiam dan berfikir, aku dan dia sama-sama kabur, dan apakah aku mempunyai tujuan untuk kabur, mungkin diapun sama, tidak punya tujuan. Aku menyerah dan kita kabur bersama. Dan aku bertanya siapa namanya.“nama kamu siapa.”“aku andre.”“aku nanda.”***Selama perjalanan dia tidak berhenti mengoceh, namun tak kudengar, hanya sedikit ku dengar, seperti dia takut dengan monyet, dia mengaku dia pernah di culik oleh monyet karna dia merebut pisang dari monyet tersebut, aku tidak percaya saat itu, karna yang kupikirkan dia pasti inggin melihat ku tertawa, namun aku tidak bisa karna ku tak terbiasa.“kita bakalan nginep dimana?”“aku tau tempat bagus untuk nginep.” jawab dia sambil memegang tanganku. Sempat ku berfikir dia akan membawaku kesebuah tempat penginapan, namun dia membawaku kesebuah taman dan berkata “disana ada kursi kamu tidur di situ aja, aku di atas rumput di selimuti oleh bintang.”“…….” Aku hanya bisa terdiam, dan mengikuti keinginannya.Pagi harinya dia bangun dengan bugar. Betapa beratnya bila kita kabur namun tak ada tujuan. Akupun terbangun dari kursi dan tak sengaja menginjak kakinya yang sedang santai sambil menghembuskan nafas. “aw, kenapa sih?”“kalo kaburnya kayak gini, mending aku kabur sendiri.”“15 kilo meter lagi kita sampai di tempat tujuan kok.”Di perjalanan dia menceritakan tempat tujuannya untuk kabur, yaitu sebuah rumah yang sudah lama tidak di tempati, itu adalah rumahnya namun sudah kosong. Dan akhirnya sampai di tempat tujuan. Rumah yang lumayan besar. Ada sebuah jendela besar di balik rumah tersebut dan kitapun masuk. Entah mengapa saat masuk aku melihat rumah itu seperti bukan rumah yang di tinggalkan oleh penghuninya, sangat bersih. Dia mulai duduk dan melemparkan tasnya lalu membuka topinya. Karna sinar matahari dari kaca, wajahnya terlihat sangat jelas saat itu. Di rumah itu dia melakukan aktifitas sesuai keinginannya, minum, membuat makanan, anehnya dari kulkas ada banyak perlengkapan makanan yang belum basi. Di sebuah meja makan aku bertanya kepadanya.“rumah ini kaya bukan rumah tanpa penghuni.”“yah emang, ada penjaga, yaitu setan berambut bule.”Entah mengapa aku tersenyum saat itu, tapi aku serius ingin tau, akhirnya dia menjawabnya, memang ada penjaga khusus untuk merawat rumah ini, dan dia menyuruh untuk berhenti sementara membersihkan tempat tersebut. ***Hari-hari ku lewati dengannya, aku lupa bahwa aku punya keluarga dan aku merasa nyaman saat dengannya, sedikit demi sedikit aku bisa terseyum karna banyolannya. Hingga di suatu malam aku memberanikan untuk menanyakan identitasnya. Ternyata dia masih sekolah. Dan satu yang membuatku penasaran. Kenapa dia kabur.“trus kenapa kamu kabur,kalo aku sih karna ibu tiri ku.” tanyaku sambil melihat bintang.“karna ingin melihat bintang, matahari, dan semua yang kadang-kadang ku lihat.”Saat aku mendengarnya entah mengapa dia seperti burung dalam sangkar. Dari matanya aku melihat sebuah penantian.“jawabanya gak etis.”sambil tersenyum dan menatap wajahnya“kenapa, apa keluargamu kacau, apa kau tak suka dengan ibu tirimu, apa karma kamu di perlakukan kaya upik abu?”“gak , hanya aku merasa tak bisa dekat dengan orang yang baru ku kenal.”“lalu, kenapa dengan ku kamu langsung dekat, cobalah tersenyum untuk seseorang yang sebenarnya kamu saying.”Dan malam itu mulai membuatku ingin menutupkan mata namun saat mulai sedikit menutupkan mata dia mengucapkan sesuatu “aku akan pergi jauh.” Namun aku sudah tertidur dan tidak ku hiraukan. Hingga suatu hari saat itu hujan sangat deras, ku melihat dia memandangi jendela, sambil meminum secangkir teh hangat dengan sweeter yang tebal tercium bau yang hangat di campur bau hujan. Dia pun melihatku yang turun dari tangga dan memberikan sebuah senyuman kepadaku dan aku bisa membalas senyumannya. Namun saat langkahku hampir berada dekat dengannya tiba-tiba saja dia memegang dadanya, dan menjatuhkan cangkir teh, aku pikir dia melakukan sebuah lelucon lagi, namun tidak. Dia mengeluarkan mata dan mengaung kesakitan. Aku yang panik tidak tau harus berbuat apa, saat itu aku mencari telepon genggamnya dan di daftar telepon tertulis jelas HOME. Akupun mulai menelepon dan di angkat oleh ibunya. Suaranya semakin keras, dia mengeluh kesakitan. Karna panik aku menelepon ayahku. Saat itu aku sangat ketakutan, ambulan mulai datang dan membawa andre ke rumah sakit, di dalam ambulan aku melihat ibunya menangis sambil memegang tanganya. Ayahnya terus menerus menenangkan sang ibu, telepon dari ayah berdering, dan aku mengirimkan sebuah pesan singkat bahwa aku akan pergi kerumah sakit. Aku hanya bisa melihatnya dan tidak ingin menangis seolah-olah dia akan pergi selamanya. Sesampainya di rumah sakit, dokter dan suster mulai sibuk membawa andre ke ruang UGD, dengan jaket tipis dan basah aku hanya diam di luar rumah sakit hingga dari kejauhan aku melihat ibu tiriku mengahampiri dan memelukku. Dengan badan yang lemas aku berfikir kenapa bukan ayah yang datang. ***Perasaan takut kehilangan dirinya mulai datang dalam hati ku, ketika aku datang untuk menjengungnya dan aku mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada ibunya , ada apa sebenarnya dengan andre. Dia pergi dari rumah dan meminta izin untuk mengahabiskan waktunya, beda dari perkataanya, dia bilang dia juga kabur dari rumah. Dan hal yang sangat membuatku syok, dia sakit parah yaitu kanker hati dan hidupnya memang tidak lama lagi. Itu bohongkan. Aku tidak menginginkan kenyataan ini, namun itu memang nyata. Dan dia dalam keadaan koma saat ini. Sehabis pulang sekolah aku berniat untuk kembali melihat kondisinya, di lorong rumah sakit, dari kejauhan terlihat ibu andre menangis keras sekali. Ayahnya hanya memeluk dan menahan tangisannya si balik kaca matanya. Dan mereka masuk ke tempat andre di rawat. Perasaanku tidak enak, aku berlari menuju mereka, dan menerima kenyataan. Andre sudah tiada. Apa artinya ini. Kenapa saatku merasakan kehadiran seorang yang berarti dia pergi dengan cepat. Pikiranku melayang. Yang ku pikirkan, bagamana cara ku menemuinya lagi. Dan aku melangkah sedikit demi sedikit sampai terhenti di depan tangga menuju atap rumah sakit. Langkah ku menuju tangga tak terhenti hingga sampai menuju atap. Langit saat itu cerah. Angin yang kencan mengibaskan pipiku. Seolah-olah mengusap air mataku. “dimana andre, apa andre ada di langit, di surga, aku ingin menemuinya.”ucapku saat pikiranku melayang. Aku pun berdiri di ujung atap. Betapa tingginya keberadaanku sekarang. Rasanya aku ingin loncat dan berada di tempat yang lebih tinggi. Tempat andre berada. Dan akupun lompat. Saat tersadar aku merasa mati rasa. Kaki dan tanganku di perban.***Pagi itu ayah dan ibu tiriku terus saja mengatakan bahwa aku akan sembuh. Lalu meminta maaf. Aku hanya bisa diam. Karna sebenarnya aku pun merasa bersalah. Aku merasa sudah melukai perasaan mereka. Pikiranku berkata maaf. Namun mulutku sulit mengucapkannya. Sedikit keberanian dan suara yang belum ku keluarkan. Aku berkata “maaf” dan respon mereka sangat luar biasa. Hari-hari ku sudah mulai membaik. Aku mencoba tersenyum untuk mengobati perasaan kehilangan ku. Pintu terbuka dan ada seorang wanita masuk dari balik pintu itu, dia ibu andre. Langkahnya mulai menghampiriku yang terbaring lemah. Dia menannyakan keadaanku. Dan bagaimana pertemuanku dengan andre, anaknya? Semua ku jawab. Dan dia menceritakan semua tentang andre. Andre yang tegar. Andre yang kuat. Dan andre yang sangat menyayangi keluarganya. Andre adalah kebalikan denganku. Dan ibu andre memberikan ku sebuah surat. Surat dari andre sebelum dia pergi untuk selamanya. Ibu andre pergi saat menyerahkan surat ini.“dear nanda, mungkin bila kamu membaca surat ini aku sudah tiada. Tuhan sudah memberikan ku banyak kebahagiaan dan kebahagiaan trakhir untuk hidupku adalah bertemu dengan mu, ini adalah salam trakhirku. Jadilah nanda yang tegar, nanda yang selalu tersenyum kepada semua orang. Karma nanda lebih cantik tersenyum dari pada menangis. Saat kau membaca surat ini pasti kau menangis. Maaf sudah membuatmu menangis. Tapi berjanjilah, ini adalah tangisan trakhir nanda. Pesan terakhir andre prawijaya muftian.”Aku menangis saat membaca surat itu. Aku akan menjadi nanda yang tegar. Nanda yang selalu tersenyum. Dan nanda yang tak akan mengangis lagi saat membaca surat ini. Ini janjiku. THE ENDNama : Mega silfiaFB : Mega Silfia S (mega_bakikuk@yahoo.co.id)Twitter : @megahwaitingBlog : http://megamyname.blogspot.comIni cerpennya original banget. Saya yang buat. pernah kirim ke majalah. tapi saya gak tau di prosese atau gak. jadi boleh silahkan di baca yaa ^_^

  • Cerpen Sahabat Sejati “Be The Best Of A Rival ~ 01 / 07

    Tara, ketemu lagi sama admin ya guys. Kali ini muncul dengan serial cerpen sahabat sejati, tepatnya cerpen Be the best of a Rival. Sekedar info sih, cerpen ini adalah cerpen pertama yang admin ketik pake 'komputer' yang dikarang pas masih SMA dulu. Buat yang penasaran sama jalan ceritanya, bisa langsung simak ke bawah. Happy reading…Hampir saja Farel manbrak Pak Satpam gara-gara ingin buru-buru masuk kekelasnya. Maklum saja, seperti biasa, selain karena datangnya telat, pr nya juga belum selesai ia kerjakan. Terlebih pr kali ini adalah pr bahasa inggris. Sialnya, pelajaran tersebut adalah pelajaran pertama. Bonus tambahan, guru bahasa inggrinya adalah Bu Alena, guru yang biasa lebih sering ia sebut sebagai bu "Alien". Gelaran yang ia berikan karena keseriang di beri hukuman oleh guru tersebut.Begitu tiba di mejanya, Farel segera mengeluarkan buku tugas. Kepalanya menoleh kearah Andika, teman sebangkunya yang selama ini selalu menjadi dewa penyelamat. Pria itu juga tampaknya sudah hapal dengan sikap sahabatnya. Makanya tanpa diminta ia segera mengeluarkan buku PR miliknya dan langsung menyodorkanya kearah Farel. Namun begitu, tak urung mulutnya berkomentar."Gila, loe kapan mau tobat sih Rel?" tanya Andika sambil meletakan bukunya tepat di hadapan Farel."Ngapain tobat. Kan ada elo sebagai dewa penyelamat gue," balas Farel polos. Tangannya dengan ligat memindahkan kata demi kata di buku Andika kearah bukunya. Tak perduli sama sekali jika itu benar atau salah.Andika hanya mengelengkan kepala melihat ulah sahabatnya. "Nggak gitu juga kali. Sekali kali ngerjain sendiri napa," sambungnya menasehati."Ssst… Diem aja deh loe. Kesannya nggak iklas banget gue contekin," komentar Farel. "Lagian nih ya bentar lagi Bu Alien datang. Ogah gue dihukum mulu sama tu orang. Udah beneran kayak Alien tau nggak sih.""Emangnya loe pernah ketemu Alien itu kayak gimana?" selidik Andika sama sekali tidak terpengaruh dengan permintaan sahabatnya untuk tutup mulut."Kalau Alien beneran emang belum sih. Tapi kalau Alien gadungan, sering. Bentar lagi bakalan datang," senyum Farel polos, Andika ngikik mendengarnya. "Eh tapi udah donk, diem aja loe. Ntar kita sambung lagi, oke," terang Farel yang merasa konsentrasinya terganggu akan obrolan mereka."Terserah loe aja deh," Andika kali ini hanya pasrah. Lima menit telah berlalu, bel masuk yang terdengar membuat Farel sedikit terlonjak kaget. Jantungnya mendadak dag dig dug. Jangankan mau kelar, setengahnya juga belum. Memang sih, soalnya cuma lima. Tapi iap soal ada anak soalnya lagi. Mana bahasa inggris lagi, susah untuk di tulis cepat. Sepertinya Farel harus menyerah. Mustahil ia akan menyelesaikan tugasnya itu.Seperti yang di duga, begitu Bu Alena masuk kekelas. Hal pertama yang ia minta adalah agara semua siswanya segera mengumpulkan tugas yang sudah di berikan. Bagi yang tidak menyelesaikan sebaiknya siap siap. Secara Bu Alena memang sudah terkenal galak. Walaupun sadar kalau tugasnya belum selesai, Farel tetap menyerahkan bukunya untuk di nilai sang guru. Menurut kebisaan, buku tersebut biasanya baru akan diperiksa saat jam istrihat di kantor.Sayangnya hari ini berbeda dari hari biasa. Bu Alena segera memeriksa buku tersebut. Dari empat puluh siswa di kelasnya, hanya Farel yang tidak menyelesaikan tugas yang di berikan. “Farel, kesini kamu!” perintah Bu Alena.“Saya bu?” tanya Farel sambil menatap sahabat karibnya seolah minta perlindungan. Namun tak urung ia maju ke depan. Paling juga di suruh berdiri di depan kelas seperti biasanya.“Kamu tau kenapa kamu saya panggil?” tanya Bu Alena.“Enggak. Memangnya kenapa ya Bi?” Farel pura-pura nanya.“Ini apa?” Bu Alena menunjukkan buku latihan milik Farel.“Itu tugas saya yang ibu minta buat di kerjain, memangnya kenapa By?” Farel masih pura-pura.“Terus kenapa belum selesai?” kejar Bu Alena lagi.“0 itu anu buk, sebenernya saya udah ngerjain buk. Tapi e…. tapi buku saya hilang. Jadi saya bikin lagi. Dan belum selesai sih emang. Ya abis gimana buk, dari pada nggak bikin,” alasan Farel ketara banget bohongnya.“Hilang?” ulang Bu Alena dengan kening berkerut.“Ia bu, kayaknya ada yang iseng deh. Tapi beneran kok bu, saya udah bikin,” Farel berusaha untuk meyakinkan sang guru.Bu Alena menatap tajam kearah matanya. Tapi Farel udah bersiap-siap dengan wajah Watadosnya atau kalau bahasa kerennya Innocent."Masa sih ibu nggak percaya sama saya?" ujar Farel memelas.Ibu Alena tidak lantas menjawab. Matanya masih mengamati raut anak didiknya dengan seksama. Setelah beberapa saat kemudian, kepalanya mengangguk. "Oh begitu, baiklah. Ibu percaya. Sekaran, kamu boleh duduk," perintahnya tak urung membaut Farel heran. Teman – temannya yang lain juga merasa aneh. Secara tumben tumbenan tu guru bisa di kibulin. Tak ingin memperdebatkan hal itu, Farel segera berbalik. Namun belum juga lima langkah, ucapan Bu Alena kontan membuatnya terkejut."Oh Farel, tunggu dulu," kata Bu Alena. Dengan was was Farel berbalik kembali menatap kewajah gurunya. "Tolong kamu tulis jawaban nomor tiga sampai nomor lima di papan."Kalimat perintah sang guru membuat Farel melongo. Seperti yang ia duga, akan aneh kalau ia bisa bebas begitu saja."Saya bu?""Iya," angguk Bu Alena. Tangannya terulur menyodorkan spidol kearah Farel. Hal yang jarang terlihat, guru nya tersebut bahkan melontarkan senyum kearahnya. Senyum manis yang membuat Farel merinding. Pria itu tau dengan pasti ada hal menyeramkan di balik senyuman itu. "Lho, harusnya nggak masalah donk. Kamu kan cuma tinggal mengingat ingat sedikit," sambung Bu Alena terdengar santai. Berbanding balik dengan reaksi Farel yang mulai panas dingin. Dengan perlahan Farel mengambil spidol yang terulur padanya baru kemudian berjalan kearah papan tulis. Diam diam ia melirik kearah Andika, berharap dewa penyelamatnya kali ini akan membantu. Tapi Andika hanya terdiam. Sahabatnya itu tau dengan pasti kalau gurunya kini sedang memperhatikan dirinya. "Lho, kok diem aja. Silahkan tulis jawabannya. Atau perlu ibu bacakan lagi soalannya?" tanya Bu Alena yang menyadari kalau Farel hanya berdiam diam di depan.Farel yang tau kalau gurunya hanya mengetes dirinya hanya bisa pasrah. Sepertinya kebohongannya sudah terbongkar."Kamu pikir ibu bodoh sehingga segitu gampangnya kamu bohongin?"Farel hanya menunduk diam. Percuma membantah, ia tau salah. "Chika, sekarang kamu yang tulis di depan," perintah Bu Alena kearah gadis yang duduk tepat di depan papan tulis. Walau terlihat ragu, gadis yang di panggil Chika bangkit berdiri. Sekilas ia menatap kearah Farel yang juga sedang menatapnya. Meminta spidol yang ada di tangannya. Entah apa yang di pikirkan gadis itu, Farel sama sekali tidak bisa menebak. “Silahkan," interuksi Bu Alena kembali terdengar.Dengan tenang Chika menuliskan jawabannya di papan. Bahkan tanpa melihat buku catatannya sama sekali. Sepertinya ia benar benar mengingat semua jawabnnya. Membuat seisi kelas menatapnya takjup, yang tak urung membuat Farel makin kehilangan muka. Secara Chika, selain anaknya rajin. Ia juga terkenal pintar. Sejak empat bulan yang lalu ia pindah ke sekolahnya, gadis itu sudah menujukan prestasinnya. Farel hanya mampu terus menunduk walau sekali-kali ia melihat ke arah Chika yang masih menulis, dan tidak sampai sepuluh menit Chika telah menyelesaikan semua yang di minta oleh Bu Alena.“Gimana Farel, jawaban kamu di buku yang katanya HILANG itu sama kayak yang di tulis sama Chika?” sindir Bu Alena begitu Chika menyelesaikan tugasnnya.Farel hanya menunduk, selain malu karena ketahuan bohong, ia juga malu pada Chika yang ternyata bisa menyawab semua pertanyaan yang di berikan.“Sekarang coba kamu lihat Chika. Dia masih baru empat bulan di sini tapi sudah menunjukkan prestasinya. Harusnya kamu bisa mencontohnmya. Bukan malah cari-cari alasan, sudah sering terlambat, jarang bikin Pr, masih juga ngeles. Jadi sekarang kamu berdiri di luar sampai ibu bilang selesai,” perintah Bu Alena tak urung membuat seisi kelas kaget. Tak terkecuali Chika yang kini menatap Farel dengan seksama."Baik buk," manut Farel sambil menunduk. Sama sekali tidak berani menoleh kearah gurunya. Apalagi menatap kearah Chika walau ia tau gadis itu kini sedang menatapnya. Terus terang ia merasa malu, tak hanya pada gurunya tapi juga pada Chika, sosok yang selama ini di anggap anak nggak gaul karena ke sehariannya selama di sekolah lebih sering di habiskan di perpustakaan dari pada ikutan ngegosip sepeti siswa- siswi yang lainnya.Tiba di luar, rasa malu Farel semakin berkali lipat. Apalagi selama ini ia dikenal sebagai siswa yang sangat berpengaruh. Ia anak orang kaya, ayahnya adalah businesman yang terkemuka, ibunya juga tak kalah tenarnya. Sementara ia, selain memiliki wajah yang tampan, Farel juga merupakan bintang basket sekolah. Apa lagi ia juga merupakan ketua genk yang paling dikenal di sekolah. Wajahnya yang keren membuatnya selalu di kejar-kejar oleh cewek hampir satu sekolahnya. Tapi sekarang masa harus berdiri di halaman sekolah hanya gara-gara tidak mengerjakan pr. Sumpah, nggak elit banget. Mau di taruh di mana mukanya. ????.Setelah sekian lama berdiri di tengah terik matahari, akhirnya bel berbunyi tanda waktu istirahat. Siswa dari kelas lain juga sudah pada keluar sehingga membuat Farel semakin malu. Apalagi sepertinya semau mata tertuju kearahnya. Masa orang yang selama ini paling berpengaruh di sekolah kini harus berdiri di halaman menghadap ke matahari dengan satu kaki. Sementara Bu Alena belum juga memanggilnya. Padahalkan bel sudah terdengar.Setelah hampir lima menit berlalu barulah Bu Alena berjalan kearahnya. Dan dengan suara lantang menasehatinya untuk tidak lagi lupa mengerjakan pr lagi. Barulah semua anak-anak yang tadi bertanya-tanya dalam hati kini tau kenapa Farel di hukum. Setelah Bu Alena meninggalkannya, Farel langsung menuju kekelasnya. Karena saat ini pasti ia sedang di bicarakan oleh seluruh siswa satu sekolahnya. Di ulang, mau di taruh dimana mukanya?Begitu duduk dibangku, ke empat sahabatnya, Andika, Dino, Alvin, dan Rio langsung mendekati ke arahnya.“Sorry bro, kita tadi nggak bisa bantu," kata Rio merasa bersalah.“Ia, kita juga. Sebab tadi Bu Alena memperhatikan kita terus,” sahabatnya yang lain menambahkan.“Udahlah nggak papa kok” sahut Farel sambil mengusap keringat di wajahnya dengan sapu tangan yang di ambil dari saku seragam. Kebetulan kelas sepi hanya ada mereka berlima karena begitu istirahat biasanya kelas memang kosong.Tapi tiba-tiba ada empat orang cewek masuk kekelas. Ternyata vivi dan ketiga temannya yang terkenal dengan genk BFF, *Boy Before Flowe?*. NO BESAR, tapi Best Freind Forever yang juga temen sekelas Farel datang sambil membawa minuman dan roti, dan langsung menyodorkan kearah Farel. Semua anak satu sekolah juga tau kalau vivi yang juga sang ketua genk menaruh simpati sama Farel. Cuma selama ini nggak terlalu di layan semua Farel. “Buat loe Rel. Pasti loe haus dan laparkan?” kata vivi.“Ma kasih,” kata Farel sambil mengambil minuman yang di berikan kepadanya. Apalagi ia memang haus banget.“Gila ya si Chika, kayaknya ia tadi sengaja deh,” ujar vivi.“Maksud loe?” tanya Farel heran begitu juga temen-temen yang lain.“Ia. Tadi pasti Chika sengaja bikin loe malu di depan semua anak-anak sekolah. Dan pasti sekarang dia lagi seneng banget ngelihat loe sekarang.” tambah vivi lagi."Apa banget sih loe," komentar Andika terlihat tidak setuju. "Jangan ngarang gitu deh," sambungnya."Siapa yang ngarang? Ana merya kali yang suka ngarang. Lagian emang bener kok, kalau tadi itu Chika pasti sengaja. Tu anak kan emang suka narik perhatian guru," Taysa ikutan buka mulut."Udah deh. Jangan nyebar fitnah gitu. Lagian semua anak kan ngelihat kalau Chika ke depan tadi juga karena di minta sama Bu Alena, jadi nggak mungkin dia sengaja” tambah alvin.“Tapi kan….” vivi belum menyelesaikan ucapannya karena ucapannya langsung di potong oleh Farel.“Apaan sih. Tadi tu jelas-jelas gue di hukum gara-gara nggak bikin pr. Jadi sama sekali nggak ada hubungannya sama Chika,” kata Farel “Udah ah, cabut yuk guys,” ajak Farel mengajak ke empat temennya pergi.“Eh kalian mau kemana?” tanya vivi heran. Tapi Farel dan temen-temennya diam sambil berlalu tanpa menolah lagi.“Sial!” geram vivi setelah Farel pergi dari hadapannya.Next to Cerpen Be the best of a Rival Part 02Detail Cerpen Judul Cerpen : Be the best of a RivalPenulis : Ana MeryaStatus : CompleteGenre : Remaja, CerbungTwitter : @ana_meryaFanpage : @LovelyStarNightPanjang cerita : 1.814 WordsLanjut Baca : ~ || ~ ~ || ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*