Cerpen Cinta Romantis ‘Kenalkan aku pada cinta” ~ 04

Setelah lama terbengkalai akhirnya cerpen cinta romantic kenalkan aku pada cinta bisa lanjut juga. Maap ya sodara sodara karena emang rada lamaan. Yah, namanya juga ngetik sesempetnya ya begini lah jadinya.
So Buat Temen temen yang udah nunggu dari kemaren soal lanjutannya, monggo silahkan di baca. Kalau bisa, Silahkan tinggalkan jejaknya di kolom komentar bawah ya.
Happy reading…

Saat Astri menoleh, Astri hanya mampu tersenyum kecut. Benar saja, Andre tampak sedang berbicara akrab pada Rendy. Mampus. Sekarang apa yang harus ia lakukan?.
"Kok loe malah bengong si. Mana kakak loe, katanya mau jemput loe?".
"Eh?"Pertanyaan Alya menyadarkan Astri dari lamunannya.
Dan belum sempat Astri menjawab sebuah teriakan menyebutkan namanya terdengar. Membuat Alya menoleh kaget kearahnya.
"Astri, Loe ngapain malah bengong disitu. Buruan kesini" Terdengar teriakan sekali lagi.
Lagi – lagi Astri hanya mampu tersenyum kecut, sambil secara berlahan melangkah menghampiri Rendy. Dan tanpa di komando, Alya juga mengikutinya.
"Lama amat si loe, Dari tadi juga udah gue tungguin" Rutuk Rendy santai tanpa memperdulikan tatapan orang – orang di sekelilingnya. Sementara Astri hanya mampu menggigit bibirnya. Kebiasaan yang sering ia lakukan saat dalam situasi yang menyulitkan.
"Sory. Tadi dosen nya yang lama. Masa gue harus cabut duluan".
Rendy hanya mencibir mendengarnya.
"Dia kakak loe?" Tanya Alya dengan telunjuk mengarah lurus kearah Rendy. Benar – benar tindakan yang nggak sopan.
"Eh?" Astri menoleh kearah Alya.
"Loe beneran Astri?" Kali ini kalimat bingung keluar dari mulut Andre yang sedari tadi ternyata terus memperhatikannya dengan tatapan tak percaya.
"He?" Gantian Andre yang mendapat tatapan bingung Astri.
"Tunggu dulu. Oh ya, Astri sama loe and" Kata Rendy seolah baru ngeh sambil menatap bergantian kearah adik dan sahabatnya "Gue baru sadar,. Jadi kalian berdua satu kampus?" Rendy ikutan takjup.
Diserang pertanyaan sekaligus berada dalam situasi membingungkan benar – benar membuat Astri mati gaya. Dia harus jawab apa sekarang.
Eh tapi tunggu dulu. Memangnya kenapa kalau mereka tau?. Toh selama ini dia kan tidak merasa sedang bersembunyi. Lagian itu semua salah mereka donk kenapa tidak menyadarinya.
"Ya begitulah" Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu meluncur dari mulut Astri kemudian.
"Huwahahahhaha" Tawa lepas dari raut Rendy mengalihkan perhatian semuanya.
"Kok malah ketawa si, emang ada yang lucu?" Tanya Astri kearah Rendy.
"Ehem " Rendy tampak berdehem sambil menoleh kearah Andre. "And, Jangan bilang kalau loe beneran nggak ngenalin adek gue?".
"Sebelum lima menit yang lalu, Sepertinya emang nggak. Bahkan kalau gue boleh jujur, kayaknya gue masih nggak percaya kalau cewek yang berdiri di hadapan gue beneran adek loe" Balas Andre tanpa mengalihkan tatapannya sedetik pun dari Astri yang tampak menduduk malu.
"Emangnya kak Andre kenal sama Astri?" Alya yang sedari tadi diem angkat bicara. "Tapi kok loe nggak pernah cerita As?".
Glek. Astri tampak menelan ludah. Ia tau kalau sahabatnya yang satu itu memang gampang penasaran. Tapi kan nggak harus menyulitkan posisinya juga.
"Ya itu karena loe nggak nanya".
Alya tampak mangut mangut membenarkan. Ia kan memang tidak pernah bertanya.
"Terus kenapa loe nggak nyapa gue?" gantian Andre yang bertanya.
"Kalau seandainya Astri nyapa kakak, emang kakak bakal kenal?" Astri balik nanya. Andre hanya membalas senyum simpul.
"Oh, Kalau gitu berhubung ini udah siang, kita pulang duluan ya. Da Alya, Good bye kak Andre" Sambung Astri sambil duduk di belakang Rendi sembari mengenakan helm di kepalanya.
"Kok malah bengong si kak, Ayo. Tadi katanya gue harus buruan" Ajak Astri ketika melihat kakaknya sama sekali tidak bergerak.
"Masa kita mau langsung pulang?".
"Lah, emangnya kita mau kemana?" Tanya Astri tak kalah heran.
"Kalau kita makan dulu gimana?".
Kerutan di kening Astri semakin bertambah. Tumben amat kakaknya baik. Pake ngajakin dia makan segala.
"Oke, Syip. Setuju!. Kalau gitu tunggu apa lagi. Ayooooo" Tak ingin tertalu memusingkan dirinya Astri langsung setuju. Lagi pula jarang jarang kakaknya baik.
"Ya udah ayo And, Loe juga Alya. Loe boncengan sama gue, Biar Astri bareng sama Andre".
"Eh?" Astri terpaku kaget mendengar kalimat yang keluar dari mulut kakaknya barusan. Apa – apaan itu.
"Kita?" Tanya Alya dan Andre hampir secara bersamaan.
"Iya. Kalian berdua. Biar sekalian".
"Terus kenapa gue harus bareng sama kak Andre?" Tanya Astri menyela.
"Itu karena loe adek gue. Apa enaknya jalan bareng loe yang cerewet. Lagian kan kasian kalau dia bareng sama Andre. Pasti canggung karena nggak saling kenal".
Astri hanya muter mata mendengarnya. Yakin tu orang nggak salah ngomong. Yang ada juga Alya itu nggak kenal sama kakaknya. Namun belum sempat mulutnya terbuka untuk membantah ucapan Andre sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Kalau emang Astri keberatan bareng sama gue, nggak papa kok. Kalian makan bareng aja. Biar gue duluan".
"Ya nggak bisa gitu juga donk. Terus Alya gimana?. Masa kami bonceng 3" bantah Rendy sambil melirik kearah Astri. Membuat gadis itu merasa sedikit serba salah.
"Ya udah kalau gitu. Gue nggak keberatan kok. Yuks, kita pergi" Astri akhirnya ngalah.
"Nah gitu donk. Ayo Alya, loe bareng gue" Ajak Rendy sambil menyalakan mesin motornya. Walau awalnya ragu, namun pada akhrinya Alya manut. Melangkah mengantikan posisi Astri sebelumnya.
"Oh ya, Loe tunggu di sini bentar ya. Gue ambil motor gue dulu" Kata Andre kearah Astri yang masih mengerutu dalam hati akan ulah kakaknya. Jelas – jelas dia datang kesini untuk menjemputnya, tapi kenapa sekarang ia malah di tinggalkan begitu saja. Emang dasar kakak tidak berpri'kekakaan, makinya dalam hati.
***
Setelah memarkirkan motornya, Astri berniat langsung menuju kekelas. Namun sebuah teriakan memanggilkan namanya menghentikan langkahnya. Saat menoleh keningnya sedikit berkerut ketika mendapati Andre yang menghampirinya.
"Baru datang ya?".
"Iya kak" Balas Astri sambil menunduk. Tangannya secara refleks membenarkan letak kacamata yang ia kenakan. Merasa sedikit cangung. Ini untuk pertama kalinya Andre menyapanya di kampus.
"Kenapa kak?" tanya Astri saat menyadari kalau Andre menatapnya intens.
"Enggak, cuma gue masih nggak ngerti aja. Dimana – mana juga cewek kan selalu berlomba – loma untuk tampil cantik, lah elo malah menyembunyikannya".
Astri hanya membalas dengan senyuman sambil mulutnya melemparkan candaan "Jadi maksut kakak, Astri jelek?".
"Ha ha ha, Nggak gitu juga si. Cuma…..Ya begitu lah" Balas Andre sambil tersenyum.
"Ah bilang aja jelek" Astri memonyongkan mulutnya membuat Andre tertawa lebar melihatnya.
"Astri".
Astri menghentkan langkahnya sambil berbalik saat merasa namanya di teriakan untuk kedua kalinya. Tampak Alya yang melangkah menghampirinya.
"Wah, gila loe. Dari depan tadi gue panggil panggil loe nggak noleh noleh" Tegur Alya setelah berada di samping sahabatnya.
"Masa sih?. Serius gue nggak denger".
"Lagian loe….Eh, ada kak Andre. Pagi kak…" Alya segera membelokan ucapannya ketika menyadari kehadiran orang ketiga diantara mereka berdua.
"Pagi".
"Kok tumben barengan. Jangan bilang kalian pacaran?" Tebak Alya langsung.
"Sembarangan" Semport Astri mendelik, Sementara Alya hanya menyengir tak bersalah.
"Nggak kok. Kebetulan tadi barengan dari depan" Jelas Andre membuat kepala Alya mengangguk membenarkan.
"Oh ya, kalau gitu gue duluan ya" Pamit Andre beberapa saat kemudian.
"Cie cie cie, Ehem ehem. Roman romannya ada 'Syahirini' nie?" Sindir Alya setelah Andre hilang dari pandangan.
"Apaan si" Gerut Astr.
"Udah ngaku aja. Sama gue ini. Loe pasti ada apa apanya kan sama kak Andre".
"Nggak usah ngaco deh ya".
"Terus kenapa tiba tiba pake ngobrol bareng. Kan nggak biasanya".
"Tau….".
"Tapi kan…".
"Bentar lagi kelas masuk, udah buruan" Potong Astri sambil menarik tangan Alya. Memaksa sahabatnya untuk bungkam.
***
Waktu sudah menunjukan tepat pukul 08:00 ketika Astri beranjak dari tempat tidurnya. Kebetulan hari ini memang hari minggu, Kuliahnya libur. Sengaja tidur lagi setelah solat subuh tadi pagi karena matanya memang masih terasa lengket. Terlebih tadi malam ia tidur cukup larut demi untuk menyelesaikan membaca beberapa koleksi Novel Romantisnya.
Setelah mandi Astri turun ke bawah. Membuat segelas kopi sambil menikmati sepotong roti. Agenda hari ini adalah bermalas malasan. Rumahnya sepi. Keduanya orang tuanya berserta kakaknya sedang melakukan one day tour at singapure dan kali ini ia tidak di ajak.
Sambil duduk diruang tamu, Astri menyalakan Tv di hadapannya. Mengonta ganti chanel mencari acara yang menarik. Sepertinya semuanya membosankan. Masih membahas seputar gosip yang tiada habisnya. Heran, Memangnya tu orang pada nggak takut dosa apa ngosipin orang mulu?.
Merasa tiada yang menarik, Akhirnya Astri lebih memilih mematikan Tv. Naik keatas dan turun lagi dengan membawa Novel yang belum sempat di selesaikannya. Setelah terlebih dahulu menyematkan headset di telinganya Astri kembali larut kedalam dunia imagi yang di ciptakan penulisnya.
Tak tau berapa lama waktu yang ia habiskan sampai akhirnya Astri menutup novelnya. Dilepaskannya headset di telinga. Suara bel yang berbunyi langsung tertangkap indra pendengarannya. Dengan segera ia beranjak, mengintip dari balik tirai jendela. Mencari tau siapa gerangan yang bertamu di hari minggu.
"Kak Andre?" Gumam Astri lirih. Dan dengan cepat ia berjalan kearah pintu saat matanya melihat Andre yang berbalik. Sepertinya ia akan pergi.
"Kak Andre" Teriak Astri kemudian membuat Andre kembali membalikan tubuhnya. Membatalkan niatnya untuk pulang.
"Eh Astri, Gue pikir nggak ada orangnya".
"Maaf kak, tadi nggak kedengeran bunyi bel".
Kening Andre mengernyit. Nggak kedengeran?. Yang benar saja, bahkan ia sudah lebih dari lima kali memencetnya. Apa jangan jangan gadis itu sedang tidur atau…
"Tadi lagi pake headset sambil baca buku" Terang Astri saat menyadari raut kebingungan di wajah Andre. membaut pria itu hanya mampu beroh ria.
"Oh ya, Lupa. Masuk dulu yuk kak" Ajak Astri kemudian.
"Ma kasih".
"Kok keliatan sepi. Rendi masih tidur ya?" Tanya Andre sambil melangkah mengikuti Astri kearah ruang tamu.
"Nggak kak. Kak Rendi ikut mama sama papa. Jalan jalan kesingapure".
"Singapure?. Serius" Andre terlihat kaget, Sementara Astri hanya membalas dengan anggukan sama sekali tidak terlihat antusias menjawabnya. Terlebih saat ia menyadari kalau ia tidak di ajak.
"Terus loe di rumah sendirian donk?".
"Ya begitu lah" Astri angkat bahu.
Untuk sejenak Andre terdiam. Astri juga bungkam. Suasana mendadak terasa cangung. Walau memang selama ini mereka sering ngobrol bareng tapi ini untuk pertama kalinya hanya mereka berdua. Biasanya kan kak Rendi ada diantara mereka.
"Jalan yuk".
"Eh?" Astri mengankat wajahnya. Menatap lurus kearah Andre. Seolah tidak yakin akan apa yang ia dengar barusan.
"Loe nggak ada kegiatan kan hari ini. Gimana kalau kita jalan. Tadinya si gue mau ngajak Rendi, tapi berhubung dia nggak ada, bareng sama loe juga boleh deh. Itu juga kalau loe nggak keberatan" ulang Andre mempertegas ajakannya.
Kali ini Astri terdiam. Tidak langsung mengiyakan ataupun menolak ajakan itu. Pikirnya melayangkan, sebelum beberapa menit kemudian kepalanya mengangguk sambil mulutnya berujar.
"Boleh deh".
Kali ini Sebuah senyuman jelas tergambar di wajah Andre mendengar jawaban yang memang ia inginkan.
To Be Continue…
Jujur aja ya pas Ngetik cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 4 , Admin beneran nggak dapat fellnya. So maaf deh kalau part ini rada aneh. Abis beneran lupa sama jalan ceritanya. Huwahaahhahha #kacau.
Tapi sudah lah, Terima kasih sudah mau membaca…..

Random Posts

  • Cerpen Terbaru The Prince Semi Ending

    Sengaja bikin judul begituan biar inget kalo part selanjutnya harus di endingin biar gak ada lagi yang menahan ide baru (???).Yang jelas happy reading. Satu lagi, Kali ini ana gak mau minta maap kalau lanjutannya lama. Soalnya, ana kan juga nggak tau kalau kalian {Reader} beneran ada.Titik…Credit gambar : ana merya"Lagi sedih ya?".Refleks aku menoleh sebelum kemudian kembali menunduk. Merasa sedikit malu saat mendapati sebuah senyum manis di wajah tampan itu. Berbanding balik dengan raut wajah ku yang jelas – jelas berurain air mata."Tadinya aku ingin menawarkan sapu tangan, Tapi sepertinya kau lebih membutuhkan bahuku untuk bersandar".Dan kali tangis ku pecah dan aku benar – benar menangis di bahu."Menangislah, Menangislah sepuasmu. Menangislah sampai kau merasa lega. Aku masih disini untuk membantumu menghapusnya".sebagian

  • Cerpen The Prince, The Princess, & Mis Cinderella ~ 10 {Update}

    Acara ngerpain blog. Yah terpaksa, sama seperti kata om mario barusan di Tv barusan. "Terpaksa kaya". So ya begini lah jadinya. Di update lagi. ^_^“Hufh”Untuk kesekian kalinya aku menghembuskan nafas berat sambil terus melangkah memasuki halaman kampus. Sebenarnya sejak tadi malam aku sudah berfikir untuk libur kuliah saja hari ini, tapi karena memikirkan tidak ada yang bisa ku lakukan di kostan, apalagi aku memang tinggal sendiri akhirnya aku nekat tetap datang. Bukannya apa, hari ini aku merasa ada firasat tidak enak. Aku takut kalau sampai kevin membuat rencana yang aneh – aneh. Apa lagi tingkahnya sejak beberapa hari ini memang sudah aneh.sebagian

  • Daftar Isi Blog Kumpulan Cerpen

    Daftar isi blog Cerpen ini dibuat untuk lebih memudahkan para pengunjung yang ingin melihat-lihat seluruh cerpen di blog ini dari cerpen yang paling lama sampai cerpen yang paling baru. Silahkan deh lihat dan pilih cerpen-cerpen di bawah ini untuk dibaca.Terima kasih sudah membaca koleksi cerpen di Gen22net ^^ Kalau Anda punya cerpen, silahkan kirim cerpen Anda.

  • Cerpen benci jadi cinta Vanessa VS Ferly ~ 01 / 08

    Mumpung dalam acara edit mengedit kenapa gak sekalian aja. Ha ha ha. Sekalian biar cerpennya juga rada rapi dikit. Ngomong ngomong, cerpen Vanessa Vs Ferly ini adalah cerpen karya dari adik admin sendiri. Yups, Mia Mulyani yang sekarang udah punya blog sendiri. Penasaran kisahnya? Simak langsung ke bawah aja ya…Vanessa vs FerlyHai, nama gue Vanes. Lengkapnya Vanessa Indri Pratiwi, gue anak baru satu tahun yang lalu, sekarang gue telah memduduki kelas II IPS B. Pertama gue masuk udah banyak yang naksir sama gue, tepat tiga bulan dikelas I, gue udah punya pacar yang keren.Tapi… baru 4 bulan jadian dia pergi menghilang, nggak pernah ngabarin gue dan udah sekitar 5 bulan yang lalu gue nggak pernah lagi berhubungan sama yang namanya ‘Joy’ dan sekarang gue juga nggak tau, apa gue masih punya hubungan sama Joy apa nggak, Cuma yang gue tau dia ninggalin gue tanpa kabar, dan sekarang hubungan gue ama dia sudah resmi berstatus pacaran tanpa hubungan. *Bukannya biasanya juga Hubungan Tanpa Status ya?*…Sejak saat itu gue udah nganggep kalau Joy udah mati, atau gue udah putus ama dia (walau sebenernya belom sih) dan sekarang gue udah bisa 100% ngelupain tuh anak. Gue harap gue nggak akan pernah ketemu lagi ama cowok brengsek itu.Di kelas baru ini gue punya 4 musuh besar, yang tak lain cowok banci bernama Ferly, Rafa, Radit, sama Galang. 4 cowok yang sok keren, sombong, nyebelin dan beberapa kata buruk buat mereka. Gue nggak tau awal musuhannya. Yang jelas mereka udah resmi jadi musuh gue sejak kelas I dulu, (kebetulan sekelas).Untung nya saat kelas II ini mereka terpisah kan, Rafa, Radit, sama Galang di kelas IPS C, sedang kan Ferly, di kelas II IPS B, sama kayak gue. Karna Ferly ketua geng nya, jadi gue bener-bener musuhan sama dia, karna sifatnya bener-bener nyebelin.Dulu waktu gue kelas I, gue di kerjain habis-habisan sama mereka. Secara 4 lawan 1 mana bisa menang, tapi gue jamin kalau satu lawan satu pasti gue bisa secara gue lihat si Ferly bener-bener kayak banci yang beraninya cuma sama cewek, keroyokan lagi. *Ha ha ha…. kalau dia tau gue cerita gini, pasti gue cuma bakal jadi sejarah. So… ssssttt…. ini biar jadi rahasia kita sja ya*…Dulu gue pernah di permaluin didepan anak-anak dengan cara nyiram gue pakai air, tambah tepung plus dilempari telor, *emang dikira gue mau dijadiin kueh apa??!!*. Ada juga kursi gue disangkutin di atas pohon jambu, buku pr gue hilang, dikasi kado berisi kodok, nyeburin gue kekolam renang belakang sekolah, dikonci dikamar mandi, hingga membocorkan ban mobil gue?!!? *Kurang apa coba deritanya*Nah rese banget kan??? Walau gue juga nggak tinggal diam, soalnya gue selalu membalas perbuatan mereka dengan cara coret-coret buku pr mereka, bikin motor mereka mogok, narok obat cuci perut di makanan mereka, narok lem di kursi dan membuat sesuatu yang paling nggak disukai mereka, tapi tetep aja gue masih bete..Gue heran kenapa sih mereka jahil banget sama gue? Perasan anak lain nggak pernah mendapat perlakuan kayak gue deh, apa karna gue imut, baek hati, tidak sombong n rajin menabung ya?.. *Plaks. Gak nyambung*. Ya mungkin karena gue nggak pernah ngalah sama mereka?? Makanya mereka pada mau ngelakuin dengan cara apapun agar gue minta maaf kemereka??? Ih sorry ya… mau mereka ngerjain gue kayak apa juga jangan harap gue mau minta maaf.Dan sekarang gue satu kelas sama ketua geng mereka ‘Ferly’ dan gue pasti ngebales semua perbuatan mereka kegue dulu, gue bakal bikin masa-masa kelas II Ferly berakhir nggak menyenangkan dan membuat dia nggak bisa ngelupain masa-masa kelas II SMU nya. *Ke ke ke/ Evil Smirk*Aduh, pengenalannya kepanjangan ya? Abis gue bete banget ama mereka, udah lah lihat aja apa yang bakal gue lakuin ke ketua geng itu, tunggu ‘PEMBALASAN’ gue!!!*** Vanessa VS Ferly ***Aduh!!! Vanesa bener-bener bingung nih, gimana caranya ngebales perbuatan 4 banci itu. Tuhan bantu donk… gimana caranya ngebales perbuatan mereka… tiba-tiba mata vanesa tertuju pada bunga mawar di meja guru… AHA!!! Ide Brilian nyangut di otaknya, ha, ha, ha, mampus loe, bakal kerjain loe dengan bunga mawar itu, tunggu aja.Saat jam pelajaran ke dua dimulai, Bu Vivid sedang asik menjelaskan materi hari ini, dan Vanesa sudah stand by untuk ngerjain Ferly yang duduk tepat didepannya. Terlebih Bu Vivid juga tampak sedang asik menulis dipapan tulis, sementara teman teman yang lain juga fokus pada bukunya. Hal itu tentu memberi kesempatan pada Vanessa untuk melancarkan aksinya tanpa ketahuan.Vanessa terus memperhatikan Ferly yang asik menulis tanpa menyadari bahaya yang sedang mengintai dirinya. Saat sedang asik menulis, ia tiba tiba menghentikan gegiatannya. Sepertinya pulpennya kehabisan tinta. Yang tidak Ferly ketahui adalah itu terjadi karena Vanessa baru saja menukar benda tersebut. Untuk melanjutkan aktifitasnya, Ferly mencari didalam tas dan kemudaian beralih kelaci meja, saat keluar tangannya memegang sekuntum mawar merah. Untuk sejenak, Ferly terlihat bingung, matanya mengamati sekuntum mawar ditangan dengan heran.“Mawar? Mawar siapa nih,” gumamnya pelan. Disaat bersamaan, Vanesa melancarkan aksinya. Ia segera melemparkan sebuat kertas yang sudah ia bentuk sedemikian rupa dan langsung melemparkan ke depat. Tepat mengenai kepala Bu Vivid. Yes berhasil!!!“Aduh!!!!” jerit Bu Vivid mengagetkan anak yang lain *lebay nie guru, Baru kena timpuk kertas aja udah nyeritnya sekenceng itu gimana kalau ketimpuk duren*. Refleks semua menatap kedepan karna kaget tak terkecuali Ferly, Bu Vivid memungut kertas kuelan itu dan mengangkatnya.“Siapa yang sudah melampar surat kaleng ini?” tanya Bu Vivid.Semua anak-anak pada diam sambil melihat kesekeliling mencari sesuatu."Aduh maaf ya buk bukan mau kurang ajar, tapi cuma mau ngerjain Ferly aja kok, maaf ya buk," batin Vanessa dalam hati.“Nggak ada yang mau ngaku?” tanyanya lagi, dan kelas kembali hening, Bu Vivid pun membuka kuelan surat kaleng itu dan membaca isinya dengan lantang.“Bu vivid tersayang, yang cantik jelita bagaikan bidadari yang turun dari kayangan *gombal. Mau muntah gue nulisnya*, saya mau bilang sesuatu sama ibuk, tapi saya harap ibuk nggak marah , kalau ibuk marah saya bakal sedih banget, saya Cuma mau bilang kalau saya, sebenernya… sayanaaaang banget sama ibuk. Tertanda yang mengagumi mu ‘mawar merah'" Bu vivid mengakhiri bacaannya. “Oh siapakan yang telah menulis surat ini. Romantiiis banget…” kata Bu vivid sambil pasang wajah ganjennya *idih… Malu-maluin banget nie guru*, dan anak-anak yang lain termasuk Vanessa tertawa secara Bu Vivid itukan tingkat ke PeDe an N tingkat kenarsisannya sudah memasuki tahap dewa ngalahin ‘bik surti’ di sinetron ‘putri yang ditukar’ yang sering muncul di salah satu stasiun swasta di Indonesia.Bu vivid pun segera melakukan penelitian sampai kemudian tatapannya terhenti dimeja Ferly yang masih memegangi bunga mawar merah *nie anak emang lola coneknya. Percis kayak modem My Brother*. Tampak wajah Bu vivid berseri-seri menatapnya yang membuat Ferly jadi panas dingin, Bu Vivid langsung menghampiri Ferly.“Aduh prasaan gue nggak enak nih,” kata Ferly sambil mengelap keringat dingin didahinya.“Kamu itu bener-bener romantis ya Fer…” kata Bu Vivid sambil senyum-senyum kearah Ferly.“ha!!! Ada… apa ya buk?” tanya Ferly“Alah udah nggak usah sembunyi kayak gitu, kamu kan yang udah nulis surat ini?” tanya Bu Vivid.“Ha!!! Bu… bu… bukan kok buk,” balas Ferly mendadak gagap.“Udah ngaku aja, ibu nggak keberatan kok ya…” balas Bu Vivid sambil senyum-senyum, sementara Ferly udah merinding secara ia bener-bener ilfeel sama guru yang satu ini.“Beneran Bu, ini tu bukan aku yang nulis, pasti ada yang mau ngerjain aku Bu.”“Kamu ini kok malu-malu begitu sih, kalau cinta itu nggak ada malu-malu kita. Harus jujur”. *Tapikan nggak harus malu-maluin juga kaleee…../ Betul????!!!!*.“Tapi itu beneran bukan aku yang ngelakuin buk, kali aja anak yang lain,” Ferly berusaha untuk membela diri sementara anak-anak yang lain udah tertawa terpingkal-pingkal apalagi Vanessa. ini mah beneran lawak gratis.“Sudah lah Fer, ngaku aja. Loe juga sering kan cerita ama gue kalau loe itu naksir ama Bu vivid, udah ngaku aja mumpung masih ada orang nya."Tampang FerlY sudah persis kayak orang yang habis ke selek biji kedondong mendengar omongan vanesa barusan. “Loe apa-apaan sih Van? Ini tu bukan gue!” bentak Ferly.“Lah itu buktinya ditangan loe,” Vanessa tak mau kalah untuk memperkisruh keadaan.“Ha!!! Maksud loe ini??” tanya nya sambil menunjukkn bunga mawar yang berada ditangannya.“Ia. Kan yang ngirim ‘mawar merah’ itu kamu kan?” kata Bu vivid.“Enggak buk, beneran deh ini tu aku temuin di laci meja dan… mawar merah ini bukan milik aku. Juga bukan aku yang nulis surat itu,” Ferly mencoba untuk menyakinkan..“Udah ngaku aja!”“Beneran bukan aku buk, sumpah deh jadi orang kaya *takutnya low sumpah disambar geledek entar disambar beneran lagi*. Tadi yang melempar itu dari belakang,” kata Ferly sambil menunjuk meja Vanessa “Haaa ia dari sini, pasti elo kan van yang udah ngelakuin ini!” tuduh Ferly langsung.“ha!!! Gue?? Yang bener saja lah, masa gue sih Fer. Elo tu jangan lempar tangan sembunyi batu ya, eh salah lempar batu sembunyi tangan ya,” kata Vanessa dan anak-anak langsung tertawa mendengarnya, aduh kok pakai acara kebalik segala sih,… bego, bego, bego..“Eh, loe tu jangan membalikkan fakta ya. Gue tu mana mungkin, pasti elo sengaja kan ngelakuin ini” tuduh Ferly.“ha!!! Enak aja loe, kalau gue yang ngelakuin ini, emang motif gue apa coba?” Vanesa tidak mau kalah..“Ya mau ngerjain gue lah, loe kan dendam banget ama gue karena sering gue kerjain,” balas Ferly.“Eh loe tu kalau mikir pakai dengkul donk, eh maksudnya jangan pakai dengkul donk. Itu sama aja gue ngerjain Bu vivid, mana mungkin lah, udah tinggal ngaku aja juga. Lagian ibu Juga barusan denger kan bu. Low dia tu sering banget ngerjain aku. Palingan kali ini dia juga mau ngerjain ibu," ucapan Vanessa makin membuat Ferly tidak bisa berkutik. Pria itu segera sadar kalau sepertinya ia telah masuk jebakan.“Bu… Bu… bukan gitu buk. Lagian buat apa aku ngerjain ibu. Mana mungkin lah."“Maling mana ada yang mau ngaku” ledek Vanessa.“ia iya lah kalau maling ngaku penjara penuh bego, tapi beneran buk bukan aku yang ngelakuin itu..” kata Ferly.“Loe tu ya…”“Apa!!!”“sudah, sudah, cukup!!! Kalian pikir ini hutan apa, teriak-teriak!! ini tu sekolah ya bukan hutan. Ya sudah sekarang Ferly kamu ikut ibk sekarang kekantor. Kamu harus jelasin ini semua,” tandas Bu vivid.Perintah itu tak urung membuat Vanessa tersenyum puas. Ha,ha,ha mampus loe..!!!“Ha??? Lho buk, tapi kan…”“Udah nggak ada tapi-tapian, ayo ikut” kata Bu Vivid.“Baik buk…” kata Ferly akhirnya mengalah. Sebelum pergi ia sempat menoleh kearah Vanesa. “Awas loe…” ancamnya sebelum benar benar berlalu.“Weeeek….” bukannya takut, Vanessa justru mlaha menjulurkan lidihnya, mengejek. Akhirnya 1 masalah Beres, mampus loe!!! Syukurin. Pasti loe nggak bakal bisa keluar dari ruangan guru centil itu, ha,ha, emang enak. Dan pastinya loe bakal di introgasi habis-habisan disana. Wek,wek,wek,wek…Oke, Next to Cerpen benci jadi cinta vanessa vs ferly part 2Detail CerpenJudul : Vanessa vs FerlyPenulis : Mia MulyaniPanjang : 1.707 WordsGenre : RemajaStatus : Complete

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*