Cerpen Cinta Romantis ‘Kenalkan aku pada cinta” ~ 04

Setelah lama terbengkalai akhirnya cerpen cinta romantic kenalkan aku pada cinta bisa lanjut juga. Maap ya sodara sodara karena emang rada lamaan. Yah, namanya juga ngetik sesempetnya ya begini lah jadinya.
So Buat Temen temen yang udah nunggu dari kemaren soal lanjutannya, monggo silahkan di baca. Kalau bisa, Silahkan tinggalkan jejaknya di kolom komentar bawah ya.
Happy reading…

Saat Astri menoleh, Astri hanya mampu tersenyum kecut. Benar saja, Andre tampak sedang berbicara akrab pada Rendy. Mampus. Sekarang apa yang harus ia lakukan?.
"Kok loe malah bengong si. Mana kakak loe, katanya mau jemput loe?".
"Eh?"Pertanyaan Alya menyadarkan Astri dari lamunannya.
Dan belum sempat Astri menjawab sebuah teriakan menyebutkan namanya terdengar. Membuat Alya menoleh kaget kearahnya.
"Astri, Loe ngapain malah bengong disitu. Buruan kesini" Terdengar teriakan sekali lagi.
Lagi – lagi Astri hanya mampu tersenyum kecut, sambil secara berlahan melangkah menghampiri Rendy. Dan tanpa di komando, Alya juga mengikutinya.
"Lama amat si loe, Dari tadi juga udah gue tungguin" Rutuk Rendy santai tanpa memperdulikan tatapan orang – orang di sekelilingnya. Sementara Astri hanya mampu menggigit bibirnya. Kebiasaan yang sering ia lakukan saat dalam situasi yang menyulitkan.
"Sory. Tadi dosen nya yang lama. Masa gue harus cabut duluan".
Rendy hanya mencibir mendengarnya.
"Dia kakak loe?" Tanya Alya dengan telunjuk mengarah lurus kearah Rendy. Benar – benar tindakan yang nggak sopan.
"Eh?" Astri menoleh kearah Alya.
"Loe beneran Astri?" Kali ini kalimat bingung keluar dari mulut Andre yang sedari tadi ternyata terus memperhatikannya dengan tatapan tak percaya.
"He?" Gantian Andre yang mendapat tatapan bingung Astri.
"Tunggu dulu. Oh ya, Astri sama loe and" Kata Rendy seolah baru ngeh sambil menatap bergantian kearah adik dan sahabatnya "Gue baru sadar,. Jadi kalian berdua satu kampus?" Rendy ikutan takjup.
Diserang pertanyaan sekaligus berada dalam situasi membingungkan benar – benar membuat Astri mati gaya. Dia harus jawab apa sekarang.
Eh tapi tunggu dulu. Memangnya kenapa kalau mereka tau?. Toh selama ini dia kan tidak merasa sedang bersembunyi. Lagian itu semua salah mereka donk kenapa tidak menyadarinya.
"Ya begitulah" Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu meluncur dari mulut Astri kemudian.
"Huwahahahhaha" Tawa lepas dari raut Rendy mengalihkan perhatian semuanya.
"Kok malah ketawa si, emang ada yang lucu?" Tanya Astri kearah Rendy.
"Ehem " Rendy tampak berdehem sambil menoleh kearah Andre. "And, Jangan bilang kalau loe beneran nggak ngenalin adek gue?".
"Sebelum lima menit yang lalu, Sepertinya emang nggak. Bahkan kalau gue boleh jujur, kayaknya gue masih nggak percaya kalau cewek yang berdiri di hadapan gue beneran adek loe" Balas Andre tanpa mengalihkan tatapannya sedetik pun dari Astri yang tampak menduduk malu.
"Emangnya kak Andre kenal sama Astri?" Alya yang sedari tadi diem angkat bicara. "Tapi kok loe nggak pernah cerita As?".
Glek. Astri tampak menelan ludah. Ia tau kalau sahabatnya yang satu itu memang gampang penasaran. Tapi kan nggak harus menyulitkan posisinya juga.
"Ya itu karena loe nggak nanya".
Alya tampak mangut mangut membenarkan. Ia kan memang tidak pernah bertanya.
"Terus kenapa loe nggak nyapa gue?" gantian Andre yang bertanya.
"Kalau seandainya Astri nyapa kakak, emang kakak bakal kenal?" Astri balik nanya. Andre hanya membalas senyum simpul.
"Oh, Kalau gitu berhubung ini udah siang, kita pulang duluan ya. Da Alya, Good bye kak Andre" Sambung Astri sambil duduk di belakang Rendi sembari mengenakan helm di kepalanya.
"Kok malah bengong si kak, Ayo. Tadi katanya gue harus buruan" Ajak Astri ketika melihat kakaknya sama sekali tidak bergerak.
"Masa kita mau langsung pulang?".
"Lah, emangnya kita mau kemana?" Tanya Astri tak kalah heran.
"Kalau kita makan dulu gimana?".
Kerutan di kening Astri semakin bertambah. Tumben amat kakaknya baik. Pake ngajakin dia makan segala.
"Oke, Syip. Setuju!. Kalau gitu tunggu apa lagi. Ayooooo" Tak ingin tertalu memusingkan dirinya Astri langsung setuju. Lagi pula jarang jarang kakaknya baik.
"Ya udah ayo And, Loe juga Alya. Loe boncengan sama gue, Biar Astri bareng sama Andre".
"Eh?" Astri terpaku kaget mendengar kalimat yang keluar dari mulut kakaknya barusan. Apa – apaan itu.
"Kita?" Tanya Alya dan Andre hampir secara bersamaan.
"Iya. Kalian berdua. Biar sekalian".
"Terus kenapa gue harus bareng sama kak Andre?" Tanya Astri menyela.
"Itu karena loe adek gue. Apa enaknya jalan bareng loe yang cerewet. Lagian kan kasian kalau dia bareng sama Andre. Pasti canggung karena nggak saling kenal".
Astri hanya muter mata mendengarnya. Yakin tu orang nggak salah ngomong. Yang ada juga Alya itu nggak kenal sama kakaknya. Namun belum sempat mulutnya terbuka untuk membantah ucapan Andre sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Kalau emang Astri keberatan bareng sama gue, nggak papa kok. Kalian makan bareng aja. Biar gue duluan".
"Ya nggak bisa gitu juga donk. Terus Alya gimana?. Masa kami bonceng 3" bantah Rendy sambil melirik kearah Astri. Membuat gadis itu merasa sedikit serba salah.
"Ya udah kalau gitu. Gue nggak keberatan kok. Yuks, kita pergi" Astri akhirnya ngalah.
"Nah gitu donk. Ayo Alya, loe bareng gue" Ajak Rendy sambil menyalakan mesin motornya. Walau awalnya ragu, namun pada akhrinya Alya manut. Melangkah mengantikan posisi Astri sebelumnya.
"Oh ya, Loe tunggu di sini bentar ya. Gue ambil motor gue dulu" Kata Andre kearah Astri yang masih mengerutu dalam hati akan ulah kakaknya. Jelas – jelas dia datang kesini untuk menjemputnya, tapi kenapa sekarang ia malah di tinggalkan begitu saja. Emang dasar kakak tidak berpri'kekakaan, makinya dalam hati.
***
Setelah memarkirkan motornya, Astri berniat langsung menuju kekelas. Namun sebuah teriakan memanggilkan namanya menghentikan langkahnya. Saat menoleh keningnya sedikit berkerut ketika mendapati Andre yang menghampirinya.
"Baru datang ya?".
"Iya kak" Balas Astri sambil menunduk. Tangannya secara refleks membenarkan letak kacamata yang ia kenakan. Merasa sedikit cangung. Ini untuk pertama kalinya Andre menyapanya di kampus.
"Kenapa kak?" tanya Astri saat menyadari kalau Andre menatapnya intens.
"Enggak, cuma gue masih nggak ngerti aja. Dimana – mana juga cewek kan selalu berlomba – loma untuk tampil cantik, lah elo malah menyembunyikannya".
Astri hanya membalas dengan senyuman sambil mulutnya melemparkan candaan "Jadi maksut kakak, Astri jelek?".
"Ha ha ha, Nggak gitu juga si. Cuma…..Ya begitu lah" Balas Andre sambil tersenyum.
"Ah bilang aja jelek" Astri memonyongkan mulutnya membuat Andre tertawa lebar melihatnya.
"Astri".
Astri menghentkan langkahnya sambil berbalik saat merasa namanya di teriakan untuk kedua kalinya. Tampak Alya yang melangkah menghampirinya.
"Wah, gila loe. Dari depan tadi gue panggil panggil loe nggak noleh noleh" Tegur Alya setelah berada di samping sahabatnya.
"Masa sih?. Serius gue nggak denger".
"Lagian loe….Eh, ada kak Andre. Pagi kak…" Alya segera membelokan ucapannya ketika menyadari kehadiran orang ketiga diantara mereka berdua.
"Pagi".
"Kok tumben barengan. Jangan bilang kalian pacaran?" Tebak Alya langsung.
"Sembarangan" Semport Astri mendelik, Sementara Alya hanya menyengir tak bersalah.
"Nggak kok. Kebetulan tadi barengan dari depan" Jelas Andre membuat kepala Alya mengangguk membenarkan.
"Oh ya, kalau gitu gue duluan ya" Pamit Andre beberapa saat kemudian.
"Cie cie cie, Ehem ehem. Roman romannya ada 'Syahirini' nie?" Sindir Alya setelah Andre hilang dari pandangan.
"Apaan si" Gerut Astr.
"Udah ngaku aja. Sama gue ini. Loe pasti ada apa apanya kan sama kak Andre".
"Nggak usah ngaco deh ya".
"Terus kenapa tiba tiba pake ngobrol bareng. Kan nggak biasanya".
"Tau….".
"Tapi kan…".
"Bentar lagi kelas masuk, udah buruan" Potong Astri sambil menarik tangan Alya. Memaksa sahabatnya untuk bungkam.
***
Waktu sudah menunjukan tepat pukul 08:00 ketika Astri beranjak dari tempat tidurnya. Kebetulan hari ini memang hari minggu, Kuliahnya libur. Sengaja tidur lagi setelah solat subuh tadi pagi karena matanya memang masih terasa lengket. Terlebih tadi malam ia tidur cukup larut demi untuk menyelesaikan membaca beberapa koleksi Novel Romantisnya.
Setelah mandi Astri turun ke bawah. Membuat segelas kopi sambil menikmati sepotong roti. Agenda hari ini adalah bermalas malasan. Rumahnya sepi. Keduanya orang tuanya berserta kakaknya sedang melakukan one day tour at singapure dan kali ini ia tidak di ajak.
Sambil duduk diruang tamu, Astri menyalakan Tv di hadapannya. Mengonta ganti chanel mencari acara yang menarik. Sepertinya semuanya membosankan. Masih membahas seputar gosip yang tiada habisnya. Heran, Memangnya tu orang pada nggak takut dosa apa ngosipin orang mulu?.
Merasa tiada yang menarik, Akhirnya Astri lebih memilih mematikan Tv. Naik keatas dan turun lagi dengan membawa Novel yang belum sempat di selesaikannya. Setelah terlebih dahulu menyematkan headset di telinganya Astri kembali larut kedalam dunia imagi yang di ciptakan penulisnya.
Tak tau berapa lama waktu yang ia habiskan sampai akhirnya Astri menutup novelnya. Dilepaskannya headset di telinga. Suara bel yang berbunyi langsung tertangkap indra pendengarannya. Dengan segera ia beranjak, mengintip dari balik tirai jendela. Mencari tau siapa gerangan yang bertamu di hari minggu.
"Kak Andre?" Gumam Astri lirih. Dan dengan cepat ia berjalan kearah pintu saat matanya melihat Andre yang berbalik. Sepertinya ia akan pergi.
"Kak Andre" Teriak Astri kemudian membuat Andre kembali membalikan tubuhnya. Membatalkan niatnya untuk pulang.
"Eh Astri, Gue pikir nggak ada orangnya".
"Maaf kak, tadi nggak kedengeran bunyi bel".
Kening Andre mengernyit. Nggak kedengeran?. Yang benar saja, bahkan ia sudah lebih dari lima kali memencetnya. Apa jangan jangan gadis itu sedang tidur atau…
"Tadi lagi pake headset sambil baca buku" Terang Astri saat menyadari raut kebingungan di wajah Andre. membaut pria itu hanya mampu beroh ria.
"Oh ya, Lupa. Masuk dulu yuk kak" Ajak Astri kemudian.
"Ma kasih".
"Kok keliatan sepi. Rendi masih tidur ya?" Tanya Andre sambil melangkah mengikuti Astri kearah ruang tamu.
"Nggak kak. Kak Rendi ikut mama sama papa. Jalan jalan kesingapure".
"Singapure?. Serius" Andre terlihat kaget, Sementara Astri hanya membalas dengan anggukan sama sekali tidak terlihat antusias menjawabnya. Terlebih saat ia menyadari kalau ia tidak di ajak.
"Terus loe di rumah sendirian donk?".
"Ya begitu lah" Astri angkat bahu.
Untuk sejenak Andre terdiam. Astri juga bungkam. Suasana mendadak terasa cangung. Walau memang selama ini mereka sering ngobrol bareng tapi ini untuk pertama kalinya hanya mereka berdua. Biasanya kan kak Rendi ada diantara mereka.
"Jalan yuk".
"Eh?" Astri mengankat wajahnya. Menatap lurus kearah Andre. Seolah tidak yakin akan apa yang ia dengar barusan.
"Loe nggak ada kegiatan kan hari ini. Gimana kalau kita jalan. Tadinya si gue mau ngajak Rendi, tapi berhubung dia nggak ada, bareng sama loe juga boleh deh. Itu juga kalau loe nggak keberatan" ulang Andre mempertegas ajakannya.
Kali ini Astri terdiam. Tidak langsung mengiyakan ataupun menolak ajakan itu. Pikirnya melayangkan, sebelum beberapa menit kemudian kepalanya mengangguk sambil mulutnya berujar.
"Boleh deh".
Kali ini Sebuah senyuman jelas tergambar di wajah Andre mendengar jawaban yang memang ia inginkan.
To Be Continue…
Jujur aja ya pas Ngetik cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 4 , Admin beneran nggak dapat fellnya. So maaf deh kalau part ini rada aneh. Abis beneran lupa sama jalan ceritanya. Huwahaahhahha #kacau.
Tapi sudah lah, Terima kasih sudah mau membaca…..

Random Posts

  • Cerpen Lucu: Pelet Tu In Wan

    Pelet Tu in Wanoleh Andri RuslyLebaran sebentar lagi. Tapi Andre belum juga punya cewek. Aduh, padahal udah tiga kali Lebaran. Hampir semua resep udah Andre coba tapi hasilnya…..tetep gak punya cewek. Sampe Didot datang memberikan strategi buat gaet cewek. Dikasihnya Andre Pengasih 2 in 1 alias Pelet. Wah, aromanya menyengat hidung. Melebihi minyak wangi murahan. Tapi daripada Lebaran manyun mendingan usaha dulu deh. Kebetulan banget Andre sedang mengincar Tiara. Siapa tau dia yang nyantol. Ih, malangnya nasib Andre. Akhirnya Andre terima juga Pengasih-nya Didot yang pake 2 in 1 segala.“Koq pake 2 in 1 segala Dot, maksudnya apa?” tanya Andre“Maksudnya elu bisa dapetin cewek 2 orang dalam 1 langkah. Hehehe…, hebat kan Pelet gue?”“Wah, hebat banget Dot, jadi gue bisa dapetin 2 cewek sekaligus dalam satu langkah?”“Iya, Ndre, dan elu gak bakal jomblo lagi seumur hidup elu…hahaha…”“Brengsek lu Dot! Masak musti seumur hidup gue gak punya cewek. Lebay!”Dan malam itu. Andre sengaja gak tidur meskipun matanya dah mau copot dan berair tetep ditahannya. Demi cewek idamannya, Tiara. Dan waktu yang dinantinya segera tiba. Tepat jam nol nol Andre mulai beraksi. Harus berhasil usaha yang satu ini. Malu dong ma Nino anak kemarin sore dah punya pacar. Wah, mau ditaruh dimana muka Andre….(tuh di pojok lemari aja, Ndre !hehehe…).Langsung Andre praktekin pa-pa yang diajarkan ma Didot. Suruh ini-itu dilakuinnya sampe-sampe Andre disuruh telanjang bulat alias bugil!. Tapi tetap dilakukannya juga. Suasana kamar gelap gulita. Tengok sana tengok sini….gak ada orang. Oke saja dimulailah Andre semedi sambil komat-kamit baca mantera. Wah, aroma rokok kemenyan menyebar keseluruh ruang kamarnya. Semedi sudah berjalan 15 menit sementara rokok kemenyan habis 3 batang tapi badan Andre sudah menggigil. “Hiiiy dinginnya” bisik hati Andre. Baru kali ini Andre gak pake selembar benangpun. (Wah, kalo ketauan FPI bisa dipancung tuh Andre, terbukti pornografi dan porno aksi).Tapi di tengah semedinya ada saja gangguan. Andre kepingin pipis. Aduh, Andre… terpaksa deh ia menunduk-nunduk pelan-pelan keluar kamar. Telanjang bulat…. (Ihh… malu…diliat pembaca tuh). Soalnya tanggung mau pakai baju. Tiba-tiba terdengar suara, “Klotek!”“Hah, suara apa itu?” bisik hati Andre. Tapi Andre terus aja ke kamar mandi untuk pipis. Dan yang ini suaranya melebihi yang tadi. Lebih kencang dan bisa membuat seluruh penduduk dunia terbangun.“Aaaa…..!” suara jeritan seorang perempuan sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.“Gila, bi Inah yang keluar dari kamar mandi. Gawat nih!” Andre kebingungan. Buru-buru Andre berlari masuk kamar mumpung orang rumah belum pada bangun dan langsung berpakaian terus keluar kamar.“Ada apa sih kok malam-malam teriak-teriakan?” tanya Andre berpura-pura. Dikedipinnya bi Inanh. Dan terpaksa juga isi dompet keluar supaya bi Inah gak buka mulut.“Itu …anu…..tadi ada tikus lewat …” kata bi Inah tergagap sambil melirik kearah Andre.“Oo….cuma tikus…..” jawab orang tua Andre yang terbangun karena kaget mendengar suara jeritan bi Inah lalu melangkah kembali ke kamarnya.“Wah, bisa gagal nih misi gue ngedapetin Tiara” bisik Andre dalam hati. “Masak gue gak punya cewek lagi nih di Lebaran nanti. Tapi moga-moga semedi yang dah berjalan setengah tadi bisa ampuh” Andre berharap.Esokan harinya Andre dah Dress for Success. Bolehlah penampilan. Wajah baru. Tapi cewek belum punya (hihihi…hari gini…). Ia langsung menuju ke rumah Tiara. Tapi yang dicari gak ada di tempat. Jangan-jangan pulang ke kampung tuh anak. Andre mencoba nongkrong di Kota Tua. Kali aja Tiara ada di situ. Soalnya itu tempat favoritnya Tiara. Sambil menunggu Tiara dia coba-coba dengan beberapa cewek yang kebetulan melintas atau duduk sendirian. Tapi gak ampuh. Atau karena baru semedi setengah jalan jadi gak ampuh? Uh, Andre pusing dibuatnya. Tambah lagi Tiara gak ada disitu. Kemudian dicobanya kembali kali ini Andre berpindah tempat. Ia ke arah Monas. Ah, cape juga rupanya. Andre beristirahat. Hari sudah semakin sore. Dalam istirahatnya mata Andre menangkap sosok cewek duduk sendirian di kursi taman.“Wah, ada cewek duduk sendirian tuh, mudah-mudahan berhasil” Andre bangkit dari duduknya. Dihampirinya. Dilihat dari belakang tuh cewek sudah tampak anggun. Rambutnya panjang. Roknya mini (hmm…sambil nelan ludah…glek!). Kulitnya putih mulus. Hmm….bikin Andre makin penasaran saja.Kemudian dimulailah aksi Andre. Dengan membaca mantera aneh yang diajarkan Didot sambil matanya tertuju ke cewek tersebut. Itu yang diajarkan Didot. Dan benar gak lama kemudian tuh cewek menoleh kearah Andre. Dada Andre berdebar kencang. Ternyata ampuh. Cewek itu mendekat sambil tersenyum, tapi Andre kaget waktu dilihatnya ada jakun besar bertengger gagah di leher tuh cewek.“Hah, Waria..!” jerit Andre sambil mempersiapkan langkah seribunya Andre menepis tangan si waria.“Hai cowok…kamu ganteng banget. Sendirian …?” kata si waria. Andre langsung berlari tunggang langgang secepat kilat. Huh, mandi keringat lebih bagus daripada kena cium waria. (Terus lari, Ndre……ambil langkah 1999 …hehehe….).Setelah jauh berlari dan merasa tidak dikejar lagi, Andre sengaja beristirahat disamping markas Satpol PP. Biar aman. Lalu disekanya keringat yang bercucuran deras membanjiri tubuhnya dengan sapu tangannya.“Sial Didot, ramuan elu cuma ampuh buat kalangan waria” Dibuangnya Pelet dari Didot ke selokan. Dan Andre bakal manyun lagi di Lebaran tahun ini.“Tiara…sudah tiga kali Lebaran gue gagal lagi ngedapetin elu. Dah berapa banyak cara gue coba tapi bikin pikiran kusam dan kusut. Ah, jomblo aja deh….” Pikir Andre sambil melangkah pulang dengan tangan hampa….Makanya, Ndre Jangan mau mengikuti seorang pemimpin sampai kamu tahu siapa yang diikutinya.SELESAI

  • Cerpen Sedih “Akhir Rasa Ini”

    Guys, cerpen sedih akhir rasa ini edit version. Nggak tau sih ada yang ngeh atau nggak kalau karya karya di sini mulai di edit lagi satu persatu. Tapi yang jelas admin lagi berusaha. Soalnya suka malu sendiri kalau baca ulang. Baru ngeh kalau ternyata EYD banyak yang ancur, typo bertebaran di mana – mana. Ck ck ck. Sekedar info, cerpen sedih yang satu ini adalah awal untuk cerbung ketika cinta harus memilih. Maksutnya sebelum baca cerita yang itu bagusan baca cerita yang ini dulu.*** Setiap kisah kadang memang tak selalu berakhir indah. Tapi bukan kan dalam setiap kisah kita selalu berharap hal yang indah…****** Kita tidak dapat hidup 'hanya' dengan harapan saja, tapi percayalah, kita juga tidak dapat hidup 'tanpa' harapan. ***Dengan langkah tegap Rangga berjalan melewati sepanjang koridor sekolah. Sebuah senyuman manis tak pernah lepas dari wajah. Sepertinya suasana hatinya sedang benar – benar bagus. Angannya melayang Entah kemana. Yang jelas masih tetap seputar 'Cisa'. Mengingat tentang pertemuan pertama mereka.Sebenernya pertemuan itu hanya sebuah pertemuan sederhana. Pertemuan tak sengaja yang terjadi di toko buku beberapa waktu dulu. Saat itu ia sedang mencari buku. Tepat saat tangannya terulur untuk meraih sebuah novel Twilight karya Stephenie Meyer, tak di duga sebuah tangan yang lain juga sedang berusaha untuk mengambil objek yang sama. Dan saat pandangannya berbalik, ia benar – benar merasa jantung nya seakan berhenti berdetak. Saat itu ia berharap agar waktu untuk sejenak terhenti. Tatapannya sama sekali tidak bisa teralihkan dari sosok imut yang ada di hadapannya. Seolah pemilik mata bening tersebut telah menghipnotisnya. Rangga langsung yakin kalau itu adalah cinta pandang pertama."Eh, kak Rangga?"Teguran itu segera menyadarkannya. Dan ia hanya mampu tersenyum malu sambil mengaruk kepala yang tidak gatal saat mendapati gadis itu menatapnya bingung."Ehem, eh Cisa. Lagi nyari buku juga ya?" tanya Ranga terlihat sedikit salah tingkah."Iya nih. Kakak sendiri? Nyari buku juga ya?" Tanya Cisa sambil mengalihkan tatapnnya kearah tangan Rangga dimana karya Stephenie Meyer berada."Ya gitu deh.""Memangnya kakak suka baca novel juga?""He?" kening Rangga sedikit berkerut mendengarnya. Ia kan paling anti baca novel. Lagi pula dari pada baca novel mendingan juga cari tutorial SEO (????). Tapi ia segera paham maksutnya saat melihat tatapan Cisa yang terarah pada buku yang ada di tangannya."Oh ini?" kata Rangga sambil menunjukkan tangannya. Cisa hanya mengangguk membenarkan."Yupz. Twilight. Kisah cinta Romantis antara manusia dan Vampir," ujar gadis itu menegaskan."Memangnya Cisa udah baca?"."Udah donk. Coba aja deh kakak baca. Pasti nanti ketagihan," terang Cisa meyakinkan.Dan itu lah pertemuan pertama mereka. Di susul pertemuan pertemuan yang selanjutnya Yang tanpa di sangka berhasil membuat Rangga semakin jatuh hati padanya. Namun sayang, disaat cinta itu mulai tumbuh bersemi, di saat yang sama ia juga harus di paksa menerima kenyataan kalau ternyata Cisa sudah memiliki pacar yang tak lain adalah teman sekelasnya sendiri. Tapi selama janur kuning masih belum belum melengkung semuanya masih sah sah saja kan? he he he. Lagi pula selama ini hubungan mereka tetap masih lancar – lancar saja tanpa gangguan. Bukankah kesannya ia masih memiliki harapan untuk memenangkan hati gadis itu?."Dooor"."Wua…!!!" jerit Rangga segera membalikan tubuhnya sambil mengayunkan kepalan tangannya dengan sekuat tenaga. Bisa di pastikan siapapun yang bernasip sial menjadi sasaran bogem mentahnya, minimal pasti akan terbaring di rumah sakit selama seminggu. O,o"Hu…. Loe kalo kaget gerak refleksnya benar – benar menyeramkan," kata Fadhly. Sahabat karibnya yang kini sedang berjongkok tepat dibelakangnya. Sepertinya ia sudah mengantisipasi diri akan kemungkinan yang menimpanya jika mengagetkan makluk satu itu."Salah sendiri main kaget – kagetin sembarangan. Sayang tadi nggak kena," balas Rangga tanpa rasa bersalah sedikitpun karena telah membuat sahabatnya sempat berada dalam bahaya. Fadhly hanya membalas dengan cibiran. Tanpa banyak komentar lagi, pria itu kembali melanjutkan langkahnya menuju kekelas.Namun, langkah Rangga tiba – tiba berhenti tanpa komando. Secara otomatis, Fadly yang berjalan di balakang menabrak punggungnya. Belum sempat pertanyaan bernada protes meluncur dari mulutnya, mata Fadly sudah terlebih dahulu menemukan objek yang membuat langkah Rangga tadi sempat terhenti. Untuk sejenak di tariknya nafas dalam – dalam sebelum kemudian tangannya terulur kearah pundak Rangga."Cisa lagi. Sudah lah sob. Dia kan sudah punya pacar. Mendingan loe cari cewek laen aja. Secara di dunia ini masih banyak kok cewek yang lebih baik dari dia," Kata Fadly berusaha menasehati."Ngomong itu memang gampang, karena bukan loe yang ngerasain. Masalahnya, gue itu udah terlanjur suka sama dia. Mana mungkin gue bisa dengan mudahnya ngelupain dia. Apa lagi jelas dia itu terlihat selalu memberi harapan. Dia nggak pernah nolak gue atau pun berusaha untuk menghindar dari gue.""Tapi loe nggak bisa terus seperti ini. Ini namanya loe nyakitin diri loe sendiri. Sebagai sahabat gue coba ngasih saran sama loe. Terserah mau loe pake atau nggak. Mending loe tegasin hubungan loe sama dia itu kayak apa. Dari pada semuanya semakin terlanjur."Selesai berkata Fadly segera berlalu meninggalkan Rangga yang tampak masih berdiri terpaku. Sepertinya pria itu sedang berusaha untuk mencerna ucapannya barusan.Atas saran dari Fadly yang terus bermain di kepalanya, akhirnya Rangga memantapkan hati. Setelah terlebih dahulu menghela nafas, Rangga mengklik tombol 'send' dari hanphondnya. Jantungnya berdetak cepat menadti balasan dari apa yang baru saja di ketiknya."Cisa, sebenernya bagaimana si perasaan mu selama ini. Cisa Cinta nggak si sama kakak? Terus sampai kapan kakak harus menunggu yang tak pasti."Satu detik, dua detik bahkan sampai sepuluh menit berlalu. Masih hening. Membuat Rangga semakin gelisah karenanya. Barulah pada menit ke lima belas, hanphond bergetar tanda ada pesan masuk. Dengan jantung dag dig dug di lihatnya id pengirim. Nama 'Cisa' yang tertera di layar. Dengan amat berlahan di bukanya pesan tersebut. Di bacanya dengan hati – hati untaian demi untain kata yang tertera. Bagai difonis mati dari sang hakim di pengadilan saat ia menyelesaikan bacaannya. Lututnya terasa goyah seolah tak mampu menahan berat tubuhnya. Tak Disangka penantianya selama ini berakhir sia – sia. Cintanya benar – benar bertepuk sebelah tangan. Segera di rebahkan tubuh keatas kasur kamarnya. Anganya menerawang tinggi. Berharap semua ini hanya mimpi. Namun kata – demi kata yang baru saja di baca kembali terus berputar di kepalanya dengan jelas. Menyadarkannya bahwa ini semua adalah nyata."Maaf kak, sebenarnya Cisa juga bingung akan perasaan Cisa sendiri.Deket kakak memang membuat nyaman, namun tidak lebih dari itu.Jadi sebaiknya kakak jangan berharap dan meunggu lagi ya, karena nyatanya Cisa sudah punya pacar.Dan kalau memang kakak sayang sama cisa, silahkan cari cewek lain yang lebih pantas.Lagi pula bukankah pepatah bilang "Kalau memang jodoh kita pasti ketemu lagi".Ending…Judulnya aja cerpen sedih, jadi jelas donk endingnya nggak bahagia. Tapi seperti yang admin katakan sebelumnya, ini hanyalah awal dari kisah yang lebih panjang. Jelasnya langsung simak Ketika cinta harus memilih yang kebetulan juga memang sudah end. Oke?Detail CeritaJudul cerpen : Akhir rasa ini / Akhir kisah iniPenulis : Ana MeryaPanjang : 1.002 kataIde cerita : Lagunya papinka 'dimana hatimu', 'betapa' miliknya Sheila on 7, 'super girl' nya super junior and pengalaman temen di campur ide acak lainnya.Genre : RemajaNext : || ||

  • Cerpen Cinta Romantis Kenalkan aku pada cinta ~ 02

    Abis baca baca koment, baik yang di fb, di blog, Di BB bahkan yang di inbox juga. Ternyata kebanyakan sudah jadi korban sinetron akan drama #menatap miris. Masih mending juga saia, cuma korban komik #gubrak.Baiklah, sesuai janji di part dua adalah jawabnnya. Happy reading…-} Kenalkan aku pada Cinta ~ 01 "Jatuh cinta itu mudahYang sulit adalah bagaimana untuk mempertahankannya"..Mata Astri terus bergerak dari kanan kekiri seiring lembar demi lembar komik di tangannya yang terus ia balik. Tanpa sadar ia tersenyum – senyum sendiri. Sepertinya imaginya benar – benar mengikuti alur yang di ciptakan oleh sang pembuat komik. Sementara mulutnya tak henti mengunyah Coklat yang ada di sebelah tangannya. Dan sebelum Potongan terakhir itu masuk kedalam mulutnya, Benda coklat itu sudah terlebih dahulu berpindah tangan. Membuat Astri reflek menoleh. Mulutnya maju dua senti saat mendapati wajah tak bersalah seseorang yang telah merampok coklatnya kini dengan santai duduk di sampingnya sambil meraih remot di meja. Menyalakan TV yang ada di hadapan.sebagian

  • Cerpen Remaja Tentang Aku dan Dia Part 1 {Update }

    Oke guys. Sejak pertama bikin blog, cerpen remaja tentang aku dan dia adalah cerpen pertama yang di posting disini. Yah, namanya juga perdana. Selain masih belajar ngeblog, nulis juga masih suka asal asalan. Makanya cerita dan EYD berantakan. Nah karena itu, kalau pas ada waktu luang biasanya mampir kesini sambil ngedit satu satu. Oke deh, biar nggak banyakan curcol bisa langsung simak jalan ceritanya ke bawah. Happy reading….Credit Gambar : Ana Merya“Gres, kok makanannya di liatin aja sih?” aanya Anya yang melihat ulah sahabatnya yang dari tadi hanya mengaduk aduk bakso di mangkunya tanpa sedikit pun mencicipinya.“Gresia?” ujar Nanda yang heran karena sahabatnya yang satu itu tidak merespon sama sekali.“Hoi!!” kali ini Anggun mengucapkannya dengan keras sambil mengunang-guncang tubuh temannya.“Eh… apa?” Gresia tampak kaget."Nah, ketahuan kan, lagi melamun ini pasti," komentar Nanda dengan tatapan menyipit.Gresia mencibir. "Nggak kok, siapa yang melamun coba?""Ya elo lah. Masa nenek gue," tuduh Anya sewot. "Hem, tapi ngomong – ngomong loe ngelamunin apa sih? Perasaan jauh banget?" Anggun pasang raut penasaran. Anya dan Nanda kompak mengangguk setuju. “Udah di bilang gue nggak ngelamun juga."“Terus dari tadi bengong apa donk namanya?”“He he he… lha wong gue Cuma lagi mikir kok. Cuma keasikan," balas Gresia sambil nyengir.Nanda memutar mata. Itu mah sama aja. "Emangnya yang loe pikirin itu apa?""Ada aja."Pletak.Pletak.“Gila loe, sakit tau," Gresia meringis sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit karena sebuah jitakan yang mulus mendarat di kepalanya. Bahkan tanpa permisi sama sekali. “Makanya cerita. Masa ia sama kita aja loe pake rahasia-rahasiaan segala sih," paksa Nanda lagi.“Kalau gue nggak mau cerita terus kenapa?”Pletak pletak.Kali ini dua jitakan mendarat dengan serentak di kepalanya.“Astaga, kalian mau bunuh gue ya?”Anggun mencibir. “Jangan lebai, nggak ada orang yang mati cuma gara-gara kepalanya di jitak."“Udah buruan cerita!” sambung Anya yang sedari tadi terdiam.“Ia, gue cerita," Gresia terpaksa mengalah, terlebih ketika tatapan membunuh dari teman-temannya. Dalam hati ia berpikir, kok dia bisa berteman sama mereka ya padahal sadis begitu.“E, sebenarnya," Gresia mengantungkan ucapannya. Sejujurnya ia tidak yakin jika menceritakan permasalahannya saat ini adalah keputusan yang tepat. Terlebih ketika ia sudah cukup mengenal ketiga orang yang kini ada di dekatnya. Ia bisa menebak reaksi mereka begitu mendengar kabar yang akan di sampaikannya."Apa sih? Nggak usah sok bikin penasaran gitu deh," Nanda mulai gusar. "Gue di jodohin," gumam Gresia nyaris tak terdengar.Hening. Seolah-olah begitu berat mencerna kabar yang baru di dengarnya. Tapi tak berapa lama kemudian."Ha ha ha, nggak lucu!" potong Anggun tak percaya. Anya dan Nanda juga berpendapat sama. Hari gini mau di kibulin. Nggak mempan. Tapi saat melihat raut Gresia yang terlihat serius Nanda kembali bertanya."Loe serius?". Gresia membalas dengan anggukan. Membuat ketika temannya saling pandang baru kemudian tanpa di komandani serentak ngakak. Untuk kali ini Gresia setuju dengan kalimat kalau "penyesalan selalu di akhir. Buktinya, sekarang ia nyesel cerita.“Elo di jodohin?!” ujar Anya memastikan.“Itu pertanyaan atau pernyataan," gerut Gresia sebel. Sementara Nanda dan Anggun masih belum bisa menghentikan tawanya.“Please deh, nggak ada yang lucu di sini," geram Gresia kesel.“Abis ada ada aja. Di kira ini masih jaman Siti Nurbaya kali ya,” ujar Nanda di sela tawanya.“Tapi ngomong-ngomong loe di jodohin sama siapa? Keren nggak? Kalau keren mah nggak papa donk. Lagian loe kan jomblo,” tanya Nanda kembali.Gresia menatap wajah temannya satu persatu. Kali ini ia ragu. Apa menceritakannya merupakan keputusan yang tepat. Ia sangat tau tabiat sahabatnya yang satu itu. Ia paling tidak suka mengetahui segala sesuatunya hanya setengah-setengah.“Arga,” akhirnya Gresia buka mulut dengan suara lirih yang nyaris tidak terdengar.“Uhuk uhuk,” Anggun yang kebetulan sedang mengunyah baksonya langsung tersedak.“Loe bilang siapa?” tanya Anggun kemudian.“Arga? Si kentang goreng itu?” tanya Nanda lagi. Gresia hanya mengangguk.“Maksut loe si playboy cap ikan hiu itu?” tambah Anya. Lagi lagi Gresia hanya mengangguk.“Yang pacarnya Lila itu?” sambung Anggun yang masih tidak percaya.“Udah di bilang ia juga."“OMG,” jerit ketiganya serentak.“Loe beruntung banget,” gumam Nanda lagi.“Loe lagi muji atau ngeledek?” geram Gresia.“He he he,” Nanda cuma nyengir. Jelas saja itu ledekan. Beruntung dari mana pacaran sama playboy.“Tapi kok bisa sih? Gimana ceritanya?" Anya tampak antusias. "Ceritanya panjang."“Ya udah pendekkin. Gitu aja kok repot,” Nanda angkat bahu.Kemabli menatap wajah ketiga temannya, Gresai terdiam. Belum sempat mulutnya terbuka, suara bel tanda waktu istriahat berakhir terdengar. “Lain kali aja deh, udah bel tuh. Mending kita masuk kelas aja lagi,” ujarnya merasa lega.“Yah," serentak Nanda, Anya dan Nanda pasang raut kecewa. Sebaliknya Gresia justru malah tersenyum.“Tapi inggat loe harus cerita sama kita,” ancam Nanda sebelum Gresia beranjak pergi dari tempat duduknya.“Nggak janji,” sahut Gresia santai sambil meloyor pergi di ikuti oleh teman-temannya yang masih merasa kecewa.Selama pelajaran berlangsung, Gresia sama sekali tidak bisa konsentrasi mengikuti nya. Pikirannya masih melayang mengingat kejadian tadi malam. Bagaimana bisa kedua orang tuanya merencanakan perjodohan yang menurutnya teramat sangat konyol dan sama sekali tidak masuk di akal. Masih mending kalau ia di jodohin sama Dirga _ Cowok yang selama ini diam-diam ditaksirnya. Tapi ini malah sama si Arga. Cowok yang terkenal playboy, suka mainin cewek plus udah punya pacar lagi. Kurang ngenes apa lagi coba. Saat istirahat kedua, Gresia dengan cepat ngacir meninggalkan kelas sebelum teman – temannya sempat menginterogasi. Ia bahkan memilih ke perpus sebagai tempat persembunyian.“Gue mau ngomong sama loe."Gresia yang sedang asik membaca langsung menoleh ke asal suara yang ada di samping nya. Ia celingak clinguk menoleh ke kanan dan kekiri. Masih tidak yakin kalau orang yang entah sejak kapan duduk disampingnya sedang berbicara kepadanya.”Loe ngomong sama gue?” tanya Gresia setelah yakin kalau tidak ada orang lain selain dirinya.“Loe pikir gue ngomong sama tembok? Udah gila apa?” balas Arga ketus.“Yee, siapa tau. Lagian loe kan emang aneh,” gumam Gresia lirih.“Apa loe bilang barusan?" tanya Arga menaikan alisnya.“He he he. Nggak ada apa-apa kok,” elak Gresia cepet.“Awas loe kalau sampai berani bilang gue aneh."Bukannya takut Gresia justru malah tersenyum. Dengan polosnya ia bertanya. “Lho jadi loe denger?”“Loe pikir gue budek."“Kali aja," gadis itu angkat bahu.“Wah bener-bener loe, tadi undah ngatain gue aneh, sekarang ngataing gue budeg. Berani loe sama gue?” ujar Arga penuh penekanan. Refleks Gresia langsung mengeleng-geleng.“Udah deh, gitu aja di ributin. Tadi Loe bilang ada urusan sama gue. Ya udah ngomong aja."“Nggak di sini. Loe ikut gue,” tanpa ba bi bu Arga meraih tangan Gresia dan menariknya keluar dari perpus.“STOP!” bentak Gresia Kontan Arga menghentikan langkahnya.“Kenapa?” tanya Arga dengan tampang Bete.“Nggak usah pegang-pegang gue segala deh."“WHAT?!”.Gresia hanya memanyunkan mulutnya sambil melirik tajam Kearah Arga.“Loe pikir gue tertarik sama loe?”“Ye siapa tau, loe kan playboy. Kambing di bedakin aja doyan, apa lagi gue yang cantik gini."Arga segera berbalik. Kali ini ia memandang Gresia intens dari kepala sampai kaki. Gresia saja sampai salting di lihatin seperti itu.“Tertarik sama makhluk yang model kayak gini? Ih amit-amit deh,” sahutnya kemudian sambil bergidik.“Maksut loe?!” Gresia merasa tersindir.“Mendingan loe ngaca deh. Rata gitu,” cibir Arga sambil tersenyum mengejek. Tapi sedetik kemudian.“ADUH!” jeritnya.“Mampus loe,” geram Gresia sambil berlalu pergi meninggal kan Arga yang masih kesakitan karena kakinya di injek sekenceng-kencengnya.“Dasar cewek gila. Sarap,” maki Arga sambil terus mengusap-usap kakinya yang masih sakit, sementara Gresia sudah jauh pergi meninggalkannya.“Sial! Tadi gue manggil dia kan buat nomongin masalah kita. Kok malah gue di tinggalin gini. Sambil kesakitan lagi. Awas loe. Tunggu aja pembalasan gue. Argh!"Cerpen Remaja Tentang Aku dan DiaBrugh.“Aduh sory sory sory, gue nggak sengaja."Tanpa melihat siapa yang ditabrak, Gresia segera berjongkok untuk mengumpulkan kertas – kertas ulangan yang berserakan di lantai. Karena sikap ceroboh yang dimilik tanpa sengaja ia menabrak orang.Tepat saat ia berusaha mengambil kertas yang ada di hadapannya, secara bersamaan sebuah tangan juga melakukan hal yang sama. Refleks Gresia menoleh.Deg.Sepertinya lapisan ozon bener-bener sudah menipis dan telah terjadi pemanasan global di mana-mana yang menyebapkan berkurangnya oksigen ( ???) karena kali ini Gresia mendadak merasa sulit untuk bernapas. Matanya terasa silau menatap makhluk yang ada di hadapannya yang tidak lain adalah Dirga. Cowok yang diam-diam di taksirnya.“Dirga?"Lagi-lagi Gresia merasa kesulitan untuk bernafas begitu melihat sebuah senyuman manis yang di lontarkan makhluk di hadapannya.“Aduh sori ya, tadi gue beneran nggak sengaja,” tambah Gresia kemudian setelah berhasil mengatasi gejolak di dadanya.“Nggak papa kok. Kayanya gue tadi juga salah. Soal nya gue jalan tadi nggak liat-liat."Tuh kan siapa coba yang nggak akan jatuh cinta. Dirga itu selain keren, punya senyum yang manis, juga orangnya sopan. “Ya udah gue duluan ya,” pamit Dirga beberapa saat kemudian. Gresia hanya mengangguk sambil terus memandangi punbggung pria itu yang terus berjalan menjauh sampai kemudian hilang dari pandangan.To Be Continue….Next : Cerpen Remaja Tentang aku dan dia part 02Detail cerpenJudul Cerpen : Tentang Aku dan dia ! 01Penulis : Ana MeryaTwitter : @CerpenStarnightPanjang cerita : 1. 387 WordsGenre : RemajaStatus : Complete

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*