Cerpen Cinta Romantis ‘Kenalkan aku pada cinta” ~ 04

Setelah lama terbengkalai akhirnya cerpen cinta romantic kenalkan aku pada cinta bisa lanjut juga. Maap ya sodara sodara karena emang rada lamaan. Yah, namanya juga ngetik sesempetnya ya begini lah jadinya.
So Buat Temen temen yang udah nunggu dari kemaren soal lanjutannya, monggo silahkan di baca. Kalau bisa, Silahkan tinggalkan jejaknya di kolom komentar bawah ya.
Happy reading…

Saat Astri menoleh, Astri hanya mampu tersenyum kecut. Benar saja, Andre tampak sedang berbicara akrab pada Rendy. Mampus. Sekarang apa yang harus ia lakukan?.
"Kok loe malah bengong si. Mana kakak loe, katanya mau jemput loe?".
"Eh?"Pertanyaan Alya menyadarkan Astri dari lamunannya.
Dan belum sempat Astri menjawab sebuah teriakan menyebutkan namanya terdengar. Membuat Alya menoleh kaget kearahnya.
"Astri, Loe ngapain malah bengong disitu. Buruan kesini" Terdengar teriakan sekali lagi.
Lagi – lagi Astri hanya mampu tersenyum kecut, sambil secara berlahan melangkah menghampiri Rendy. Dan tanpa di komando, Alya juga mengikutinya.
"Lama amat si loe, Dari tadi juga udah gue tungguin" Rutuk Rendy santai tanpa memperdulikan tatapan orang – orang di sekelilingnya. Sementara Astri hanya mampu menggigit bibirnya. Kebiasaan yang sering ia lakukan saat dalam situasi yang menyulitkan.
"Sory. Tadi dosen nya yang lama. Masa gue harus cabut duluan".
Rendy hanya mencibir mendengarnya.
"Dia kakak loe?" Tanya Alya dengan telunjuk mengarah lurus kearah Rendy. Benar – benar tindakan yang nggak sopan.
"Eh?" Astri menoleh kearah Alya.
"Loe beneran Astri?" Kali ini kalimat bingung keluar dari mulut Andre yang sedari tadi ternyata terus memperhatikannya dengan tatapan tak percaya.
"He?" Gantian Andre yang mendapat tatapan bingung Astri.
"Tunggu dulu. Oh ya, Astri sama loe and" Kata Rendy seolah baru ngeh sambil menatap bergantian kearah adik dan sahabatnya "Gue baru sadar,. Jadi kalian berdua satu kampus?" Rendy ikutan takjup.
Diserang pertanyaan sekaligus berada dalam situasi membingungkan benar – benar membuat Astri mati gaya. Dia harus jawab apa sekarang.
Eh tapi tunggu dulu. Memangnya kenapa kalau mereka tau?. Toh selama ini dia kan tidak merasa sedang bersembunyi. Lagian itu semua salah mereka donk kenapa tidak menyadarinya.
"Ya begitulah" Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu meluncur dari mulut Astri kemudian.
"Huwahahahhaha" Tawa lepas dari raut Rendy mengalihkan perhatian semuanya.
"Kok malah ketawa si, emang ada yang lucu?" Tanya Astri kearah Rendy.
"Ehem " Rendy tampak berdehem sambil menoleh kearah Andre. "And, Jangan bilang kalau loe beneran nggak ngenalin adek gue?".
"Sebelum lima menit yang lalu, Sepertinya emang nggak. Bahkan kalau gue boleh jujur, kayaknya gue masih nggak percaya kalau cewek yang berdiri di hadapan gue beneran adek loe" Balas Andre tanpa mengalihkan tatapannya sedetik pun dari Astri yang tampak menduduk malu.
"Emangnya kak Andre kenal sama Astri?" Alya yang sedari tadi diem angkat bicara. "Tapi kok loe nggak pernah cerita As?".
Glek. Astri tampak menelan ludah. Ia tau kalau sahabatnya yang satu itu memang gampang penasaran. Tapi kan nggak harus menyulitkan posisinya juga.
"Ya itu karena loe nggak nanya".
Alya tampak mangut mangut membenarkan. Ia kan memang tidak pernah bertanya.
"Terus kenapa loe nggak nyapa gue?" gantian Andre yang bertanya.
"Kalau seandainya Astri nyapa kakak, emang kakak bakal kenal?" Astri balik nanya. Andre hanya membalas senyum simpul.
"Oh, Kalau gitu berhubung ini udah siang, kita pulang duluan ya. Da Alya, Good bye kak Andre" Sambung Astri sambil duduk di belakang Rendi sembari mengenakan helm di kepalanya.
"Kok malah bengong si kak, Ayo. Tadi katanya gue harus buruan" Ajak Astri ketika melihat kakaknya sama sekali tidak bergerak.
"Masa kita mau langsung pulang?".
"Lah, emangnya kita mau kemana?" Tanya Astri tak kalah heran.
"Kalau kita makan dulu gimana?".
Kerutan di kening Astri semakin bertambah. Tumben amat kakaknya baik. Pake ngajakin dia makan segala.
"Oke, Syip. Setuju!. Kalau gitu tunggu apa lagi. Ayooooo" Tak ingin tertalu memusingkan dirinya Astri langsung setuju. Lagi pula jarang jarang kakaknya baik.
"Ya udah ayo And, Loe juga Alya. Loe boncengan sama gue, Biar Astri bareng sama Andre".
"Eh?" Astri terpaku kaget mendengar kalimat yang keluar dari mulut kakaknya barusan. Apa – apaan itu.
"Kita?" Tanya Alya dan Andre hampir secara bersamaan.
"Iya. Kalian berdua. Biar sekalian".
"Terus kenapa gue harus bareng sama kak Andre?" Tanya Astri menyela.
"Itu karena loe adek gue. Apa enaknya jalan bareng loe yang cerewet. Lagian kan kasian kalau dia bareng sama Andre. Pasti canggung karena nggak saling kenal".
Astri hanya muter mata mendengarnya. Yakin tu orang nggak salah ngomong. Yang ada juga Alya itu nggak kenal sama kakaknya. Namun belum sempat mulutnya terbuka untuk membantah ucapan Andre sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Kalau emang Astri keberatan bareng sama gue, nggak papa kok. Kalian makan bareng aja. Biar gue duluan".
"Ya nggak bisa gitu juga donk. Terus Alya gimana?. Masa kami bonceng 3" bantah Rendy sambil melirik kearah Astri. Membuat gadis itu merasa sedikit serba salah.
"Ya udah kalau gitu. Gue nggak keberatan kok. Yuks, kita pergi" Astri akhirnya ngalah.
"Nah gitu donk. Ayo Alya, loe bareng gue" Ajak Rendy sambil menyalakan mesin motornya. Walau awalnya ragu, namun pada akhrinya Alya manut. Melangkah mengantikan posisi Astri sebelumnya.
"Oh ya, Loe tunggu di sini bentar ya. Gue ambil motor gue dulu" Kata Andre kearah Astri yang masih mengerutu dalam hati akan ulah kakaknya. Jelas – jelas dia datang kesini untuk menjemputnya, tapi kenapa sekarang ia malah di tinggalkan begitu saja. Emang dasar kakak tidak berpri'kekakaan, makinya dalam hati.
***
Setelah memarkirkan motornya, Astri berniat langsung menuju kekelas. Namun sebuah teriakan memanggilkan namanya menghentikan langkahnya. Saat menoleh keningnya sedikit berkerut ketika mendapati Andre yang menghampirinya.
"Baru datang ya?".
"Iya kak" Balas Astri sambil menunduk. Tangannya secara refleks membenarkan letak kacamata yang ia kenakan. Merasa sedikit cangung. Ini untuk pertama kalinya Andre menyapanya di kampus.
"Kenapa kak?" tanya Astri saat menyadari kalau Andre menatapnya intens.
"Enggak, cuma gue masih nggak ngerti aja. Dimana – mana juga cewek kan selalu berlomba – loma untuk tampil cantik, lah elo malah menyembunyikannya".
Astri hanya membalas dengan senyuman sambil mulutnya melemparkan candaan "Jadi maksut kakak, Astri jelek?".
"Ha ha ha, Nggak gitu juga si. Cuma…..Ya begitu lah" Balas Andre sambil tersenyum.
"Ah bilang aja jelek" Astri memonyongkan mulutnya membuat Andre tertawa lebar melihatnya.
"Astri".
Astri menghentkan langkahnya sambil berbalik saat merasa namanya di teriakan untuk kedua kalinya. Tampak Alya yang melangkah menghampirinya.
"Wah, gila loe. Dari depan tadi gue panggil panggil loe nggak noleh noleh" Tegur Alya setelah berada di samping sahabatnya.
"Masa sih?. Serius gue nggak denger".
"Lagian loe….Eh, ada kak Andre. Pagi kak…" Alya segera membelokan ucapannya ketika menyadari kehadiran orang ketiga diantara mereka berdua.
"Pagi".
"Kok tumben barengan. Jangan bilang kalian pacaran?" Tebak Alya langsung.
"Sembarangan" Semport Astri mendelik, Sementara Alya hanya menyengir tak bersalah.
"Nggak kok. Kebetulan tadi barengan dari depan" Jelas Andre membuat kepala Alya mengangguk membenarkan.
"Oh ya, kalau gitu gue duluan ya" Pamit Andre beberapa saat kemudian.
"Cie cie cie, Ehem ehem. Roman romannya ada 'Syahirini' nie?" Sindir Alya setelah Andre hilang dari pandangan.
"Apaan si" Gerut Astr.
"Udah ngaku aja. Sama gue ini. Loe pasti ada apa apanya kan sama kak Andre".
"Nggak usah ngaco deh ya".
"Terus kenapa tiba tiba pake ngobrol bareng. Kan nggak biasanya".
"Tau….".
"Tapi kan…".
"Bentar lagi kelas masuk, udah buruan" Potong Astri sambil menarik tangan Alya. Memaksa sahabatnya untuk bungkam.
***
Waktu sudah menunjukan tepat pukul 08:00 ketika Astri beranjak dari tempat tidurnya. Kebetulan hari ini memang hari minggu, Kuliahnya libur. Sengaja tidur lagi setelah solat subuh tadi pagi karena matanya memang masih terasa lengket. Terlebih tadi malam ia tidur cukup larut demi untuk menyelesaikan membaca beberapa koleksi Novel Romantisnya.
Setelah mandi Astri turun ke bawah. Membuat segelas kopi sambil menikmati sepotong roti. Agenda hari ini adalah bermalas malasan. Rumahnya sepi. Keduanya orang tuanya berserta kakaknya sedang melakukan one day tour at singapure dan kali ini ia tidak di ajak.
Sambil duduk diruang tamu, Astri menyalakan Tv di hadapannya. Mengonta ganti chanel mencari acara yang menarik. Sepertinya semuanya membosankan. Masih membahas seputar gosip yang tiada habisnya. Heran, Memangnya tu orang pada nggak takut dosa apa ngosipin orang mulu?.
Merasa tiada yang menarik, Akhirnya Astri lebih memilih mematikan Tv. Naik keatas dan turun lagi dengan membawa Novel yang belum sempat di selesaikannya. Setelah terlebih dahulu menyematkan headset di telinganya Astri kembali larut kedalam dunia imagi yang di ciptakan penulisnya.
Tak tau berapa lama waktu yang ia habiskan sampai akhirnya Astri menutup novelnya. Dilepaskannya headset di telinga. Suara bel yang berbunyi langsung tertangkap indra pendengarannya. Dengan segera ia beranjak, mengintip dari balik tirai jendela. Mencari tau siapa gerangan yang bertamu di hari minggu.
"Kak Andre?" Gumam Astri lirih. Dan dengan cepat ia berjalan kearah pintu saat matanya melihat Andre yang berbalik. Sepertinya ia akan pergi.
"Kak Andre" Teriak Astri kemudian membuat Andre kembali membalikan tubuhnya. Membatalkan niatnya untuk pulang.
"Eh Astri, Gue pikir nggak ada orangnya".
"Maaf kak, tadi nggak kedengeran bunyi bel".
Kening Andre mengernyit. Nggak kedengeran?. Yang benar saja, bahkan ia sudah lebih dari lima kali memencetnya. Apa jangan jangan gadis itu sedang tidur atau…
"Tadi lagi pake headset sambil baca buku" Terang Astri saat menyadari raut kebingungan di wajah Andre. membaut pria itu hanya mampu beroh ria.
"Oh ya, Lupa. Masuk dulu yuk kak" Ajak Astri kemudian.
"Ma kasih".
"Kok keliatan sepi. Rendi masih tidur ya?" Tanya Andre sambil melangkah mengikuti Astri kearah ruang tamu.
"Nggak kak. Kak Rendi ikut mama sama papa. Jalan jalan kesingapure".
"Singapure?. Serius" Andre terlihat kaget, Sementara Astri hanya membalas dengan anggukan sama sekali tidak terlihat antusias menjawabnya. Terlebih saat ia menyadari kalau ia tidak di ajak.
"Terus loe di rumah sendirian donk?".
"Ya begitu lah" Astri angkat bahu.
Untuk sejenak Andre terdiam. Astri juga bungkam. Suasana mendadak terasa cangung. Walau memang selama ini mereka sering ngobrol bareng tapi ini untuk pertama kalinya hanya mereka berdua. Biasanya kan kak Rendi ada diantara mereka.
"Jalan yuk".
"Eh?" Astri mengankat wajahnya. Menatap lurus kearah Andre. Seolah tidak yakin akan apa yang ia dengar barusan.
"Loe nggak ada kegiatan kan hari ini. Gimana kalau kita jalan. Tadinya si gue mau ngajak Rendi, tapi berhubung dia nggak ada, bareng sama loe juga boleh deh. Itu juga kalau loe nggak keberatan" ulang Andre mempertegas ajakannya.
Kali ini Astri terdiam. Tidak langsung mengiyakan ataupun menolak ajakan itu. Pikirnya melayangkan, sebelum beberapa menit kemudian kepalanya mengangguk sambil mulutnya berujar.
"Boleh deh".
Kali ini Sebuah senyuman jelas tergambar di wajah Andre mendengar jawaban yang memang ia inginkan.
To Be Continue…
Jujur aja ya pas Ngetik cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 4 , Admin beneran nggak dapat fellnya. So maaf deh kalau part ini rada aneh. Abis beneran lupa sama jalan ceritanya. Huwahaahhahha #kacau.
Tapi sudah lah, Terima kasih sudah mau membaca…..

Random Posts

  • Cerpen Cinta | Rasa yang tertinggal ~ 03 / 05

    Okelah felas, ayo kita kemon melanjutkan lagi cerpen cinta rasa yang tertinggal yang kali ini udah sampe ke bagian ke tiga. Kebetulan cerbungnya juga nggak panjang amat kok. 5 part doank. But, tetep, cbiar nggak bingung sama jalan ceritanya mending baca dulu part sebelumnya di cerpen cinta rasa yang tertinggal bagian sebelumnya. Yang jelas, happy reading.Rasa yang tertinggalTifany sedang asik tidur tiduran sembari pikirannya melayang kemana mana. Terutama tentang kejadian hari ini. Ia tidak menduga kalau Alan benar benar mengajak jalan dirinya. Terus terang hari ini sangat menyenangkan, tapi di lain sisi ia juga merasa bersalah. Membuat pikirannya semakin melayang – layang entah kemana. Gadis itu bahkan hampir tidak menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian. “Hei, katanya tadi siang abis jalan – jalan, masa mukanya kusut gini."Tifany mengerjapkan mata, sedikit terkejut ketika mendapati Septia yang kini sedang ikut rebahan di sampingnya. Sahabatnya itu bahkan sengaja memiringkan tubuh menghadapnya.“Apaan sih. Biasa aja lagi," elak Tifany mencoba tersenyum.“Emangnya tadi siang loe jalan sama siapa?” tanya Septia lagi sambil membolak – balik komik serial cantik yang baru saja ia sambar dari atas meja, koleksi bacaan milik Tifany. Kadang septia sering merasa heran sama sahabatnya yang satu ini. Untuk apa ia mengoleksi komik – komik sebanyak itu. “Temen,” sahut Tifany singkat. Tidak berani menatap kearah Septia. Berharap Septia tidak akan bertanya lebih banyak. Saat ini ia ragu untuk menyebutkan nama Alan adalah pilihan yang tepat. Walau mungkin sebenarnya Septia sudah bisa menebak.“Ehem, temen atau demen,” goda Septia lagi. “Apaan si, udah ah, gue mau tidur. Udah ngantuk, cape lagi. Mending loe lanjut baca aja."Selesai berkata, Tifany membalikan tubuh membelakangi sahabatnya. Matanya ia paksan untuk terpejam sementara guling dengan erat. Melihat ulah sahabatnya yang terasa aneh, Septia hanya menoleh sekilas. Walau ia masih tidak puas, namun tak urung ia tetap bungkam. Mengikuti saran Tifany, ia lanjutkan acara membaca.Keesokan harinya seperti biasa Tifany berangkat kuliah. Seharian ia sengaja kucing kucingan dari Alan. Memastikan kalau ia tidak akan bertemu dengan pria yang satu itu. Dan sepertinya itu berhasil. Hari ini ia sama sekali tidak melihat wujud pria itu. Makanya begitu kelas berakhir, ia segera bergegas menuju kearah parkiran.“Halo cinta ku , manis ku, sayang ku”.Tifany menoleh, terkejut melihat seseorang yang menepuk pundaknya dan kini berjalan beriringan di sampingnya. Sejenak Tifany menghela nafas. Upaya untuk menghindar sepertinya percuma.“Ada apa?” balas Tifany datar yang mau tak mau membuat Alan mengerutkan kening. Secara nggak biasanya Tifany bersikap dingin begitu.“Hei, loe kenapa?” bukannya menjawab Alan malah balik bertanya.Tifany menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke samping. Ditatapnya wajah Alan yang masih tampak bingung. Lagi, dihembuskannya nafas secara berlahan sebelum melanjutkan ucapannya.“Loe mau ngomong apa?”“Tadinya si gue mau nitip cokelat. Tapi…"“Gue nggak bisa,” potong Tifany cepat sebelum Alan sempat menyelesaikan ucapnnya.“Fan, Loe kenapa si?” Tifany menyadari kalau Alan terlihat bingung dengan perubahan sikapnya. Tapi mau gimana lagi? Ia sudah tidak bisa terus begini. Sudah cukup ia menyiksa dirinya sendiri. Kalau memang ia tidak bisa bersama dengan Alan, mungkin sebaiknya ia menghindar saja.“Gue fine – fine aja. Gue Cuma mau ngasi tau sama loe kalau mulai sekarang loe harus bersikap tegas. Kalau loe emang suka sama Septia, leo ngomong langsung sama dia. Karena mulai sekarang gue nggak bisa lagi jadi kurir cokelat loe."“Jadi menurut loe gue ngomong langsung sama dia?”Pertanyaan Alan tak urung membuat dada Tifany makin terasa sesak. Karena itu ia merasa ia harus segera berlalu. Di tatapnya wajah pria dihadapannya dalam dalam baru kemudian mulutnya berujar. "“Ia, harus!" Tifany yakin ia nanti akan menyesali ucapannya barusan. Ralat, bukan nanti. Bahkan saat ini ia sudah merasa menyesal. Bagaimana kalau Alan benar benar menggungkapkan perasaanya pada Septia? Tidak, ia tidak ingin memikirkan itu lebih jauh. Karena itu ia segera menambahkan. "Oh ya, sory ya, gue masih ada urusan. Jadi gue duluan,” selesai berkata Tifany dengan cepat berlalu. Sama ia masih mendeger sahabatnya itu begumam."Dia kenapa sih?"Walaupun Tifany sudah hilang dari pandangan, Alan masih berdiri di tempatnya. Setelah berpikir sejenak, segera di keluarkannya handphond dari dalam saku celana. Beberapa saat kemudian di pencetnya tombol panggil pada id kontak yang sudah sangat ia hapal. Alan menunggu sejenak, dan begitu terdengan sambungan dari seberang tanpa basa basi mulutnya langsung berujar.“Gue butuh bantu loe. Bisa kita ketemu sekarang di tempat biasa”.*** Cerpen Cinta | Rasa Yang Tertinggal ***Sakit, itu yang selama ini Tifany rasakan saat Alan selalu bersamanya tapi tetap Septia yang menjadi topic dan tujuan utamanya. Sakit, saat Alan selalu menitipkan coklet hanya untuk sahabat tanpa tau kalau ia menyukainya. Tapi ini bahkan lebih sakit lagi, saat ia melihat kedua sahabatnya, Alan dan Septia yang tampak bercanda akrab tidak jauh dari hadapannya. Berniat untuk sedikit mendinginkan kepala, Tifany sengaja tidak langsung pulang kerumahnya. Setelah berjalan tak tentu arah, akhirnya ia membelokan sepedanya kearah Kafe ceriaaaa, sengaja memilih meja di pojok ruangan agar tidak terlalu menarik perhatian umum sekiranya ia melamun. Namun siapa yang menduga dengan kedatangan dua orang tamu yang baru muncul dan duduk didekat pintu masuk. Dua orang yang ia kenal sebagai teman baiknya.Memang, apa yang mereka katakan tidak mampu ditangkap oleh indra pendengar nya, Tapi apa yang kini terpampang di hadapannya sudah lebih dari cukup untuk mengambarkan dengan jelas, sangat jelas malah, Kalau sepasang anak manusia itu sudah cukup akrab. Terbukti dengan wajah Ceria bahkan di selingi tawa di antara keduanya.Dengan segera Tifany meraih tisu yang ada di samping nya ketika tampa terasa setitik air menetes dari mata indahnya. Tidak, ia tidak boleh menangis sekarang.“Pedih rasa di hatiSaat ku melihat Kamu,Pergi tinggal kan aku….Dengan memendam cinta yang lain…”* Kengen band_ Pergi tanpa alasan *Tak tau berapa lama waktu yang Tifany habiskan untuk tetap duduk di tempatnya. Yang gadis itu tau, waktu itu terlalu lama. Detik bahkan terasa tidak bergerak, sementara hatinya bagai di cabik – cabik. Mungkin sebaiknya sedari tadi ia harus pergi dari pada terus menyiksa diri dengan pemandangan di hadapan. Namun, Tifany urung melakukan itu. Ia tidak akan bisa pergi dari sana tanpa di ketahui oleh keduanya. Disaat yang sama ia tidak ingin mereka tau keberadaanya.Tifany melirik jam yang melingkar di tanganya, tepat pukul setengah lima, kedua orang yang sedari tadi menjadi objek tatapanya tampak berdiri. Dengan cepat Tifany menyambar buku menu di meja untuk sekedar menutupi wajahnya. Setelah keduanya berlalu barulah gadis itu bisa kembali bernapas. Kepalanya hanya mengangguk sembari tersenyum sebelum kemudian buru buru berlalu ketika melihat mbak mbak penjaga kasir yang heran melihatnya. Tentu saja mbak itu keheranan. Secara ia sudah menghabiskan waktu hampir dua jam hanya untuk duduk sendirian.Tiba di jalanan, barulah Tifany membiarkan air mata menetes di pipi mulusnya. Kakinya terus mengayuh tanpa tujuan. Pikirannya benar benar kosong. Ia tidak tau harus kemana? Ia tidak tau harus bagaimana? Satu satunya yang ia tau adalah, dadanya benar benar terasa sakit.Dengan tampang super kusut, Tifany melangkah memasuki halaman kostannya. Belum juga masuk kedalam rumah ia sudah disambut tatapan khawatir dan cemas Septia yang sudah sedari tadi menunggunya. Bisa dimaklumi sih, karena sekarang waktu sudah menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Ditambah selama ini Tifany sama sekali tidak pernah keluar setelah makhrip kecuali bersamanya. Tapi yang membuat Tifany lebih kaget lagi adalah Ternyata Septia tidak sendirian. Alan berdiri tepat di sampingnya. Pemandangan itu tak urung menorehkan kembali luka didadanya.“Ya ampun Fan, loe dari mana aja? Kita berdua khawatir sama loe. Dari tadi nomor loe juga di hubungi nggak aktif – aktif. Kenapa jam segini baru pulang? Dan loe….." pertanyaan tanpa rem dari Septia terhenti dengan sendirinya. Gadis itu mengamati raut sahabatnya dengan seksama. "Loe abis nangis?”"Bukan urusan loe," selesai berkata Tifany berniat untuk segera melangkah masuk kedalam rumahnya. Tapi langkahnya terhenti dengan ulah Alan yang tiba tiba berdiri menghalangi."Fan, loe kenapa?" Tifany bukan tidak menyadari kalau pria yang kini berada tepat di hadapanya sedang menatapnya khawatir. Namun sekarang, ia tidak sedang dalam kondisi siap dan terima dengan kekhawatiran itu. Toh semuanya percuma. Percuma Alan khawatir pada dirinya kalau pada kenyataanya toh dialah yang paling menyakitinya."Nggak usah sok peduli sama gue," Tifany tidak berniat untuk mengucapkan kalimat dingin itu. Tapi rasa sakit yang ia terima saat ini benar benar membekukan jalan pikirannya. Saat ini ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Perasaan karena di hianati sekaligus di permainkan membuatnya merasa muak. "Bukannya malah bagus kalau gue nggak ada. Jadi kalian berdua kan lebih merasa bebas untuk berduaan."Tak hanya Alan, Septia juga merasa tersentak dengan kalimat sinis sahabatnya. Tifany tidak pernah seperti itu. Membuat keduanya saling pandang. “Fan.." ujar Alan lirih. Tanganya terulur untuk meraih tangan Tifany tapi dengan segera di tepisnya.“Sory, Tapi gue cape. Gue pengen istirahat”.Tanpa memperdulikan reaksi Alan dan septia, Tifany segera melangkah masuk menuju kedalam. Setelah meleparkan tasnya dengan sembarangan ia segera melangkah kekamar mandi. Membiarkan dinginya air shower membasahi tubuhnya mengiringi air mata yang kembali mengalir dari pipinya.Next to cerpen cinta rasa yang tertinggal part 4.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 02 Of 05Jumlah kata : 1. 408 WordsGenre : Remaja

  • Cerpen Romantis: KENANGAN YANG HILANG

    Kenangan Yang HilangCerpen karya Natania Prima NastitiHujan turun saat aku sampai di Bandara Soekarno Hatta. Aku duduk di kursi tunggu, menunggu Papa menjemputku. Sekitar sejam lebih aku menunggu. Aku juga tampak bosan. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan keliling Bandara. Saat akan berdiri, tiba-tiba ada yang memegang pundakku. Aku langsung berbalik badan. Kulihat lelaki seumuran denganku tersenyum ramah kepadaku. “Mbak Vega ya?” tanyanya ramah. Kemudian aku mengangguk menjawab pertanyaan itu. “Saya supirnya Pak Broto, maaf lama menunggu, Jakarta macet, Mbak. Mari saya anter ke mobil” ucapnya lagi. Kemudian lelaki itu berjalan duluan kearah parkiran diikuti denganku.Sesampainya di rumah, Mama dan Papa menyambutku dengan gembira. Bukannya aku tidak senang, tapi kali ini aku benar-benar capek. Perjalanan Amerika-Jakarta cukup membuatku lelah. Duduk berjam-jam membuatku ingin segera berbaring di kamar. Mama dan Papa mengerti dan segera mengantarku ke kamar tidurku dulu. Kemudian mereka segera pergi dan menyuruhku istirahat penuh. Kulihat kamarku ini tidak berubah. Hanya sprainya saja yang berubah warna. Tiba-tiba, aku ingat lagi wajah lelaki yang mengaku supir Papa itu. Umurnya padahal sama denganku, tapi kenapa dia malah bekerja? Apa dia tidak kuliah? Tapi kenapa? Apa dia tidak punya uang?, aku terus bertanya-tanya dalam hati.Tiba-tiba saja aku melihat lelaki itu dari dalam kamar. dia sedang ada di halaman samping rumahku. Tawa lelaki itu… mengingatkanku pada seseorang saat kecil dulu. Tapi siapa? Apa mungkin aku saja yang terlalru berlebihan? Kenapa juga aku melihat lelaki itu? Tidak menarik sama sekali! Ucapku dalam hati. Kemudian aku menutup gorden jendela kamarku dan berbaring di kasurku yang empuk. Tiga bulan lagi aku akan kembali ke Amerika. Hemm, waktu itu terasa sangat singkat. Aku masih kangen sekali dengan Indonesia. Aku pun memejamkan mata dan tidur.Dua bulan berlalu dengan begitu cepat. Aku dan supirku, yang bernama Roni, kini juga semakin dekat. Ternyata Roni ini orang yang sangat asik untuk diajak ngobrol. Dia berilmu pengetahuan yang luas. Bahkan ada yang aku tidak tahu, tapi dia tau. Semakin lama aku mengenalnya, semakin nyaman aku ada disampingnya. Setiap dekat Roni, aku merasa memang sudah kenal dekat dengannya. Sampai akhirnya, aku tahu bahwa aku jatuh cinta pada supirku sendiri. Tapi aku merasa aku tidak salah menyukainya. Karena aku selalu merasa dekat dengannya dari dulu. Jauh sebelum aku di Amerika. Ada apa ini?Hingga malam itu, Roni pamit pulang kampung karena ibunya sakit keras. Karena bosan di rumah, akhirnya aku meminta orangtuaku mengijinkan aku ikut dengan Roni ke kampungnya. Aku ingin menikmatik pemandangan disana. Karena Roni bilang, di kampungnya masih banyak hamparan sawah. Tadinya Mama tidak mengijinkanku. Dia takut aku kenapa-napa. Tapi, setelah aku bilang Roni akan menjagaku, akhirnya Mama setuju. Aku pun akhirnya ikut Roni ke kampungnya., tapi akSekitar jam lima pagi aku sudah sampai dikampungnya Roni. Baru jam lima saja, banyak penduduk yang sudah beraktifitas. Kebanyakan petani sudah mulai turun ke sawah. Benar sekali. Kampung Roni benar-benar indah pemandangannya. Mataku ini disajikan pemandangan alam yang luar biasa. Tiba-tiba aku teringat, sepertinya dulu aku pernah melihat pemandangan seperti ini. Setelah kupikir-pikir, mungkin itu hanya bayanganku saja.Rumah Roni, sama dengan rumah penduduk lainnya. Tidak kecil dan tidak besar. Saat disuruh menemui ibunya, aku lebih memilih untuk duduk di teras rumahnya. Adik perempuan Roni segera membuatkan minuman untukku.“Mbak ini siapa?” tanya adik Roni itu. “Saya majikannya Roni”jawabku ramah. Adik Roni hanya berOh kemudian masuk ke dalam rumahnya. Roni bilang hanya seminggu kita disini. Sebenarnya, aku ingin sekali berlama-lama disini tapi, itu tidak mungkin. Roni tidak bisa meninggalkan kuliah dan pekerjaannya. Aku juga tidak mungkin meninggalkan Mama dan Papa. Tujuanku kembali ke Indonesia kan bukan untuk ini. tujuanku untuk oragtuaku. Tapi sekarang, aku malah meninggalkan mereka lagi. Tapi tidak apa-apa, walau begitu aku senang berada di kampung Roni ini.Setelah beberapa hari disini, aku jadi semakin akrab dengan Roni. Dia mengajakku bertani, mengambil air di sumur, memeras susu sapi dan lain-lain. Aku juga semakin terbiasa dengan pekerjaan itu. Melihat Roni.. aku kembali melihat masa kecilku yang.. aku juga sebenarnya tidak ingat dengan masa kecilku dulu. Tapi sepertinya, aku sudah tidak asing lagi dengan semua ini. Roni, ibunya, kampung ini, kegiatan-kegiatan ini.. benar-benar tidak asing bagiku. Aku sendiri juga bingung dengan apa yang kurasakan. Apa sebenarnya ini? tanyaku dalam hati.Sekarang adalah hari terakhirku dan Roni ada di kampung ini. malamnya, Roni mengajakku ke suatu tempat. Tempat itu.. juga tidak asing bagiku. Danau dengan berjuta kunang-kunang ini, sangat jarang ditemukan di Jakarta. Malah aku yakin, tidak ada tempat seindah ini di Jakarta. Kemudian Roni membawaku ke sebuah pohon yang besar. Pohonnya terlihat sudah berumur. Disana ada tulisan Roni Dan Vega Forever. Aku terkejut dengan ukiran tulisan itu. Aku tidak pernah mengukir nama itu di pohon. Sama sekali tidak pernah. Tapi, kenapa ada tulisan itu? Namaku dan Roni? Ada apa sebenarnya ini?Kemudian Roni mengajakku duduk di sebuah batu besar. Roni memulai percakapan.“Kamu tau kenapa ada tulisan nama kita di pohon itu?”tanyanya sambil menunjuk kearah pohon besar tadi. Aku hanya menggeleng bingung.“Dulu.. waktu kita kecil, kamu pernah tinggal disini. Pak Broto adalah juragan sawah disini. Sawah yang kamu liat itu.. sebenarnya kebanyakan punya kamu. Saat kamu SMA, kamu dan keluargamu pindah ke Jakarta. Mungkin Pak Broto ingin anak semata wayangnya ini sekolah sebaik mungkin. Makanya dia pndah ke Jakarta” jelas Roni. Aku semakin bingung dengan penjelasan Roni.“Waktu kita SMP, kita ngukir nama kita di pohon itu. Dan di tempat inilah pertama kita bertemu dan berpisah. Aku yakin, aku mikir kampung ini tidak asing lagi bagi kamu kan? Karena kamu pernah ada disini” sambung Roni. Aku hanya menganga kaget mendengar ucapan Roni.“Tapi, kenapa aku nggak bisa nginet masa kecil itu? Kampung ini emang nggak asing lagi bagi aku, tapi aku nggak bisa inget tempat ini, Ron” tanyaku bingung pada Roni. Roni tersenyum padaku.“Waktu kita kelas tiga SMP, sesuatu terjadi sama kamu. Kamu kecelakaan dan dokter bilang, kamu nggak bisa nginget masa yang udah dulu banget. Aku sedih banget, Ga. Karena aku itu kan masa lalu kamu dulu. Apalagi saat aku tau ternyata kamu sekolah di Amerika. Saat itu.. aku bener-bener ngerasa kehilangan kamu. Sampai akhirnya aku ke Jakarta dan kerja di rumah kamu. Disana aku selalu liat foto-foto kecil kamu. Mama kamu juga majang foto saat kita berdua. Kita berpelukan sambil tertawa. Kita bahagia waktu itu” jawab Roni tersenyum bahagia.Aku mulai ngerti dengan semua ini. roni.. pantes saja aku sudah tidak asing lagi dengannya. Ternyata.. dialah teman baikku sejak kecil. Kemudian aku tertawa. Mengingat betapa culunnya pasti aku saat mengukir tulisan di pohon itu. Kita berdua masih belum mengerti sama sekali apa arti tulisan itu.“Setelah pindah, aku juga ngerasa ada yang hilang, Ron. Sampe sekarang pun, aku nggak pernah pacaran sama orang lain. Karena aku belum nemuin cinta aku. Tapi… setelah dekat kamu, ternyata aku nyaman. Dan ternyata.. kamu cinta aku, Ron” ucapku malu-malu. Kemudian Roni memelukku. Pertama aku kaget dengan pelukan itu. Tapi, pelukan itu yang selama ini aku nantikan.Dua bulan lebih, aku berada di Jakarta. Setelah pulang dari kampung, aku menceritakan semuanya pada Mama dan Papa. Mereka berterima kasih pada Roni karena telah mengingat kembali masa yang telah hilang dari ingatanku. Akhirnya mereka bersedia menanggung biaya kuliah Roni dan menyuruh Roni fokus pada kuliahnya saja. Biaya berobat ibuya juga ditanggung denga orangtuaku. Aku dan Roni juga semakin dekat.Hingga akhirnya, aku harus kembali ke Amerika. Sedih hatiku meninggalkan semuanya termasuk Roni. Sahabat baikku dari kecil itu… aku harus meninggalkannya. Tiba-tiba aku merasa separuh hatiku hilang lagi. Meninggalkan Roni.. bukan ini yang ku mau. Tapi apa dayaku? Meninggalkannya memang sudah harus kulakukan. Aku sendiri yang meminta meneruskan study di Amerika.Roni dan kedua orangtuaku mengantar aku sampai Bandara Soekarno Hatta tempat pertama kali aku bertemu Roni dulu. Tangisan sudah pasti menghiasi suasana hari itu. Aku juga memeluk Roni. Aku benar-benar tidak ingin berpisah darinya. Tapi.. yasudahlah.“Nanti kita ketemu lagi kan?” tanyaku pada Roni.“Pasti! Aku janji sama kamu, aku nggak akan khianati cinta kita berdua” jawab Roni sambil membelai rambutku. Kemudian aku memeluk Roni lagi. Maaf Roni, untuk ingatan lupaku padamu dulu, ucapku dalam hati sambil menitikkan air mata.Dua tahun di Amerika, aku jadi benar-benar kangen sama Roni. Kira-kira sedang apa dia disana? Akhirnya aku putuskan untuk menulis surat padanya. Berharap dia akan cepat membalas surat kangenku ini padanya.Dear My Love,RoniKamu apa kabar disana? Aku harap kamu baik-baik aja ya.Ron, sumpah aku kangen banget sama kamu. Aku harus nunggu dua tahun lagi supaya bisa ketemu kamu, Ron. Kamu belum ingkarin janji kamu kan? Janji yang bilang kamu nggak akan khianati cinta kita. Aku disini akan selalu sabar nunggu waktunya tiba. walaupun, saat awan disini kelabu dan disana terang, aku pasti akan selalu ingat kamu. Dan walaupun tanah yang kita pijak berbeda, kita akan tetap bersama kan?I miss you so Roni. Jaga kedua orangtuaku ya.Love youVegaAnd II want to shareAll my love with youNo one else will do…And your eyesThey tell me how much you careYou will always beMy endless love..Glee-My Endless love

  • Cerpen Cinta “Dalam Diam Mencintaimu” 02/04

    #EditVersion. Oke guys, acara edit mengedit masih berlanjut. Masih seputar kisah cinta si Irma bareng si Rey yang di bungkus dalam cerpen dalam diam mencintaimu. Semoga aja kalian pada suka. Sekedar info, selain cerpen Requesan, cerpen ini juga kado ulang tahun untuk tu cewek. :D. Okelah, untuk yang penasaran sama kelanjutannya bisa langsung cek ke bawah. Untuk yang penasaran sama cerita sebelumnya bisa dicek disini.Dalam Diam MencintaimuSetelah hampir separuh jalan menuju kampus, Rey menghentikan motornya. Lagi – lagi ia menghembuskan nafas berat. Setelah berpikir untuk sejenak, ia kembali membalikan arah motornya. Tujuannya pasti. Halte bus yang tak jauh dari rumah. Walau kesel namun ia sadar, seumur – umur ia tidak pernah membiarkan Irma pergi kekampus sendirian.Sampai di halte Rey merasa makin kesel sekaligus kecewa karena ternyata bis sudah berlalu. Memang belum jauh si, tapi mustahil ia mengejarnya hanya untuk meminta Irma agar pergi bersamanya. Memang alasan apa yang bisa ia pakai jika gadis itu menanyakannya. Akhirnya ia kembali melajukan motor kearah kampus, sengaja mengebut untuk mendahului bus itu. Perduli amat dengan Vhany, toh kemaren juga hanya basa – basi doank. Tadi juga ia hanya berniat untuk mengetes reaksi Irma saja.Sesampainya di kampus, Rey segera melangkah kearah gerbang sambil terus berpikir. Kira – kira nanti ia harus menjawab apa jika Irma bertanya tentang Vhany. Dan belum sempat ia menemukan jawabannya, bus yang ditunggu muncul dihadapan.Sampai bus kembali berjalan Rey masih tak menemukan sosok Irma diantara para penumpangnya. Tiba – tiba ia merasakan firasat buruk. Dengan cepat di keluarkannya hape dari saku. Menekan tombol nomor 1, panggilan cepat yang sengaja ia seting untuk gadis itu.“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau…..”Rey segera menekan tombol merah saat mendengar suara operator sebagai balasannya. Pikirannya makin kusut. Ya tuhan, kemana perginya anak itu?.*** Dalam diam mencintaimu ***Tak tau mau kemana, akhirnya Irma menghentikan langkahnya. Pikirannya kusut, sampai kemudian sebuah ide terlintas di kepala. Tanpa pikir panjang lagi segera di keluarkannya hanphond dari dalam saku. Begitu melihat id yang di cari, ia langsung menekan tombol calling. Semenit kemudian ia mematikan panggilan dan langsung menghentikan taksi yang lewat. Namun bukannya kekampus, taman kota menjadi pilihannya.“Kenapa si gue harus berurusan lagi sama masalah ‘cinta’ yang bikin ribet?”“Lagi? Maksut loe?” tanya Irma saat mendengar nada mengeluh dari mulut Fadly. Sepupu nya yang sengaja ia ‘paksa’ untuk menghibur hati yang galau.Fady tidak langsung menjawab. Namun kepalanya mengangguk membenarkan. Tangan dengan santai memainkan ‘kembang sepatu’ yang ia petik sembarangan dari pohon yang tumbuh terawat di taman kota. Tempat yang kini di jadikan ajang curhat oleh Irma yang nekat bolos kuliah.“Kemaren temen gue waktu masih SMA juga bingung soal kisah cintanya. Namanya Rangga, udah jelas – jelas dia cinta sama pacarnya. Eh malah kerena mantan cewek yang di suka muncul lagi dia jadi galau. Untung aja kisahnya happy ending. La sekarang loe juga sama. Udah jelas – jelas loe katanya suka sama sahabat sekaligus tetangga loe, eh malah di ‘jodohin’ sama temen loe sendiri. Kalau memang niat bunuh diri kenapa gak loncat dari tebing aja si?”“Sialan loe,” gerut Irma kesel. “Yang bilang gue pengen bunuh diri siapa? Lagian nie ya, masa ia harus gue yang ngomong duluan kalau gue suka. Mending kalau dia juga suka ma gue, la kalau enggak? Yang ada nie ya, bukannya malah happy ending justru hubungan kita malah jadi berantakan. Hu. Ogah deh."“Terus sekarang maunya apa?” tanya Fadly lagi.“Tau… hibur gue donk. Lagi galau nie. Kira – kira obat galau apa ya?” tanya Irma lagi.“Baygon cair." #Ini Beneran Saran dari oma kan?. -,-'“Pletak”Sebuah jitakan mendarat telak di kepala Fadly atas balasan saran ngawurnya.“Iya. Kalau minum baygon, galau memang menghilang, tapi nyawa juga melayang."“Ha ha ha, itu pinter….” Fadly tergelak. “Lagian loe pake galau segala. Kayak manusia aja,” sambung Fadly terdengar mengerutu.“Gue emang manusia,” geram Irma makin gondok.Emosi bener deh ngadepin nie anak satu. Tiba – tiba ia jadi merasa menyesal minta di temani dia. Tau gini mendingan ia minta temenin Vieta aja kali ya. Walau tu anak polosnya udah kebangetan tapi paling nggak dia kalau ngomong gak nyelekit.“Kalau loe emang manusia berlakulah layaknya manusia," nasehat Fadly lirih.“ Maksudnya?”“Dengar Irma. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, itu memang bener. Tapi paling nggak berusahalah untuk mendapatkannya. Jangan terlalu cepat mengalah, apa lagi terburu – buru menentukan akhirnya yang jelas – jelas belum kita ketahui,” terang Fadly, kali ini dengan tampang serius. Irma terdiam. Mencoba mencerna maksud dari ucapan sepupunya barusan. “Tumben loe pinter."“Pletak”“Membalas itu selalu lebih baik dari pada tidak ada balasannya,” kata Fadly cepat sebelum Irma sempat protes karena jitakan yang mendarat di kepalanya.“Ya…. sekali-kali ngalah sama cewek kenapa si. Astaga, loe kan cowok."“Gue emang cowok. Yang bilang gue banci kan cuma elo. So, kalo sama loe gue belaga jadi banci aja deh,” balas Fadly dengan santainya. Membuat Irma hanya mampu melongo tanpa bersuara. Ini orang beneran ajaib."Oh ya, loe katanya galau kan? Ya sudah, hari ini gue jadi sepupu yang baik deh. Kita jalan – jalan yuk. Suntuk juga disini mulu. Lagian gue juga udah lama nggak balik kesini. Kangen juga sama suasananya," ajak Fadly beberapa saat kemudian.Sejenak Irma berpikir. Sepertinya itu ide bagus. Terlebih juga ia sudah kadung membolos. Akhirnya tanpa pikir panjang ia segera menyetujui saran Fadly barusan. Setelah puas jalan – jalan, tau – tau hari sudah sore. Saatnya Fadly untuk segera mengantarnya kerumah.Begitu Fadly pergi, Irma berniat untuk segera melangkah masuk kerumah. Sedikit banyak pikirannya sudah mulai plong. Ternyata pada akhirnya Fadly memang bisa menghibur. Namun belum juga kakinya menginjakan beranda rumah, sebuah teriakan menghentikan langkahnya.“Rey? Kenapa?” tanya Irma heran saat mendapati Rey yang berdiri di depan gerbang. Tangannya segera mengisaratkan pria itu untuk mendekat.“Loe kemana aja? Kenapa hari ini bolos? Terus tadi yang nganterin loe siapa?” pertanyaan memberondong meluncur dari mulut Rey.Untuk sejenak Irma terdiam. Kejadian tadi pagi kembali membayang di ingatannya. Apalagi saat ia tau kalau Rey dan Vhany… entah lah, tiba – tiba moodnya kembali down. Setelah terlebih dahulu menghela nafas ia berujar singkat.“Bukan urusan loe kan?"Selesai berkata Irma langsung berniat melangkah masuk, tapi tangan Rey sudah terlebih dahulu mencekalnya. Irma berusaha untuk melepaskan, tapi sepertinya tenaganya tidak sampai setengahnya dibandingkan tenaga Rey. Akhirnya Irma lebih memutuskan untuk menyerah.“Loe kenapa si?” tanya Irma dengan nada lelah.“Justru elo yang kenapa?” balas Rey balik.“Oke, kayaknya gue kecapean setelah seharian ini abis jalan – jalan. Jadi sekarang gue pengen istirahat dulu. Jadi gue harap loe bisa ngerti kan?"Mendengar ucapan dingin Irma barusan, gengaman Rey langsung terlepas. Memanfaatkan moment tersebut, Irma segera berlalu. Setelah terdiam untuk sejenak Rey langsung berbalik ke rumahnya. Tiba – tiba saja ia merasa sangat ingin marah. Setelah seharian penuh ia mencemaskan gadis itu dengan pikiran – pikiran konyolnya ternyata dia justru saat itu sedang bersenang – senang. Astaga. Ternyata ia benar – benar bodoh.Sementara Irma sendiri menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Menyesal dalam hati atas apa yang sudah ia lakukan barusan. Kenapa ia bisa bersikap dingin seperti itu? Setelah berpikir untuk sejenak ia segera melangkah keluar. Ia harus meminta maaf pada Rey. Ia benar – benar tidak ingin hubungan mereka semakin memburuk. Namun sayang, saat ia keluar ia sudah tidak mendapati sosok sahabatnya di situ. Akhirnya dengan lemas ia kembali melangkah masuk kerumah.Keesokan harinya, Irma segaja bersiap – siap lebih pagi dari biasanya. Setelah yakin kalau penampilannya oke, gadis itu duduk di bawah jambu depan rumah, tempat biasa dimana ia menunggu kemunculan Rey di depannya. Sekali – kali Irma melirik jam yang melingkar di tangannya. Motor Rey masih terparkir di halaman. Itu artinya tu anak belom pergi. Tapi masalahnya, hari ini dia menjemput Vhany lagi nggak ya? Semoga saja tidak. Saat ia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri pintu gerbang depan rumahnya terbuka. Tampaklah Rey dengan motornya yang melangkah keluar dan berhenti tepat di hadapannya. “Rey, hari ini kita pergi bareng nggak? Atau loe mau menjemput….”“Gue nggak bareng sama siapa – siapa. Kalau loe memang mau bareng sama gue, ya sudah ayo naik,” potong Rey cepat.Walau merasa serba salah saat mendapati nada bicara Rey yang terasa aneh dalam pendengarannya namun tak urung Irma manut. Segera duduk di belakang Rey sebelum kemudian motor itu kembali melaju.“Ehem, Van. Loe besok ada acara nggak?” tanya Irma mencoba membuka pembicaraan.“Belum tau,” balas Rey singkat.Irma kembali terdiam. Mulutnya terbuka untuk berkata namun kembali tertutup. Tiba – tiba ia merasa ragu.“Kenapa?” tanya Rey beberapa saat kemudian.“O…. Nggak kok. Gue Cuma nanya aja."Rey juga diam. Sesekali ia melirik kearah Irma dari kaca spion. Dalam diam ia juga merasa bersalah. Ada apa dengan mereka , kenapa jadi terasa seperti orang asing begini?“Oh ya, entar siang loe pulang bareng gue nggak?” tanya Rey begitu mereka sampai di halaman Kampus.“Entar siang, kayaknya loe bisa pulang duluan deh. Soalnya gue ada urusan dikit sama si Vieta."“Vieta?” tanya Rey dengan kening berkerut.“Iya, temen gue. Yang pake kacamata itu. Masa loe nggak tau."“O…. Dia, gue tau kok. Ya udah kalau gitu. Gue duluan,” pamit Rey sambil melangkah ke kelasnya.“E… Van!”Rey segera berbalik. Menatap heran kearah Irma.“Besok loe masuk berapa mata kuliah?” tanya Irma lagi.“Tiga, kenapa?”“O…. Nggak papa kok. Cuma nanya aja. Ya sudah, loe duluan deh."Rey hanya mampu angkat bahu. Walau sedikit heran tapi ia tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut. Moodnya belum seratus persen balik. Sementara Irma sendiri juga segera berbalik menunju kekelasnya. Saat melihat segerombolan (???) teman – temannya yang sedang mengosip ria, tiba – tiba saja sebuah ide jahil terlintas di kepalanya. Sembuah senyum samar terukir di bibirnya saat mengingat kejadian di ruang kesehatan kemaren. Kayaknya ini saat yang tepat untuk melakukan pembalasan. Dengan mantap di hampirinya anak-anak itu. Sepuluh menit kemudian barulah ia benar – benar berlalu pergi menunju kekelas dengan senyum puas. Erwin, MAMPUS LOE!!!. Next To Cerpen Dalam Diam Mencintaimu Part 03Detail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

  • Cerpen Remaja ‘FCMCSG’ Part 2

    CerpenFCMCSGBagian 2 Cerpen FCSCMG karya Mia Mulyani bagian kedua. Monggo langsung di baca. Credit Gambar : www.desainkawanimut.comcerpenBegitu pak Retno melangkah keluar meninggal kan kelas, Feisya segera menghampiri meja Sarah. Tau tuh tu anak mo ngapain dari tadi saat belajar justru malah nge'sms buat berengan pulangnya."Ada apaan?" tanya Feisya to the point."Loe keluarnya bareng gue. Tunggu bentar. Gue beresin buku – buku gu dulu"."Emang nya kita mau ke mana?" tanya feisya lagi."Ke parkiran bentar"."Ha?. Mo ngapain?".sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*