Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 06 / 13

Lanjutan dari cerpen cinta Kala Cinta Menyapa bagian ke 6 udah muncul ya guys. So buat yang masih penasaran dengan kalanjutan hubungan antara Rani dan Erwin bisa langsung simak kisahnya di bawah. Sama sekalian, buat reader baru biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading ya. Jangan lupa RCL…
Kala Cinta Menyapa
Sambil menunggu bus tumpangannya muncul, seperti biasa Rani segera mengeluarkan komik dari dalam tas. Siap – siap untuk terjun kedunia animasi ketika sebuah suara yang menyapa mengusik ketenangannya.
“Ehem.”
“Eh,” Rani menoleh, mendapati Erwin yang kini duduk tepat disampingnya. Untuk sejenak Rani terdiam, perhatiannya terjurus kearah Erwin yang juga diam.
“Loe mau kemana?” tanya Rani memberanikan diri untuk bertanya.
“Pulang,” balas Erwin singkat.
“Kok di sini?” tanya Rani lagi.
“Nggak liat apa gue lagi nungguin bus,” tambah Erwin masih tak menoleh.
“Bukannya biasanya pake motor ya?”
“Rusak."
Rani terdiam sambil mengangguk – angguk paham. Perhatiannya segera beralih kembali kearah komik yang tadi sempat terabaikan. Sepuluh menit berlalu suasana hening. Sepertinya Rani juga sudah tengelam dalam dunia barunya.
“Jadi loe juga suka sama dia?”
“Ha ha ha."
Erwin menoleh. Menatap kearah Rani dengan pandangan aneh, memangnya pertanyaannya barusan itu lucu ya? Namun saat mendapati Rani yang sama sekali tak menoleh kearahnya dan justru malah asik membolak balik lembar demi lembar komik yang ada di tangan, barulah ia menyadari kalau gadis itu bukan menertawakan ucapannya.
“Loe dengar pertanyaan gue barusan kan?” tambah Erwin lagi. Rani masih tak menoleh.
“Rani, gue ngomong sama loe,” sambung Erwin lebih keras.
“Eh… Kenapa?” tanya Rani heran. Matanya yang bening tampak berkedap kedip menatap kearah Erwin.
“Sudahlah… lupakan…” kesel Erwin mengibaskan tangannya. Membuat Rani memberenggut sebel. Merasa kesel karena aktifitas membacanya diganggu oleh sesuatu yang sama sekali nggak penting.
“Jadi loe benar – benar di tolak. Ck, Kesian sekali."
Rani menutup komik yang ada di tangan. Perhatiannya kembali teralih kearah Erwin.
“Loe sebenernya ngomong sama siapa si?” tanya Rani setelah sebelumnya menoleh kesekeliling dan menyadari kalau hanya ada ia berdua yang duduk di halte.
“Memangnya di sini ada siapa lagi?” bukannya menjawab Erwin malah balik bertanya.
“Nah justru itu yang bikin gue heran. Disini kan cuma ada kita berdua. La Loe ngomong sama siapa?”
“Tentu saja gue ngomong sama loe,” geram Erwin. Terlebih ketika dengan jelas ia melihat raut heran tergambar di wajah Rani. Jangan bilang kalau gadis itu benar-benar tidak menyadari keberadaan dirinya.
“O…" kepala Rani mengangguk angguk yang nggak jelas apa maknanya. “Memangnya loe mau ngomong apaan?” sambungnya lagi.
“Ha…” Erwin melongo mendapati tatapan polos Rani padanya. Asli, sedari tadi gadis itu ternyata benar benar tidak menganggap keberadaan dirinya.
“Kalau nggak salah denger tadi loe bilang suka sama di tolak. Memangnya loe abis di tolak cewek ya? Ck ck ck, kesian banget loe ya,” sambung Rani sambil menatap Erwin dengan tampang memelas. Benar – benar membuat Erwin asli mati gaya. Yang di tolak siapa, yang di kasiani siapa.
“Jangan tatap gue seperti itu,” kesel Erwin.
“Tapi loe kan pantas di kasiani. Bayangin aja, di tolak oleh orang yang kita sukai. Tentu saja itu menyedihkan. Temen gue, si Irma. Belum di tolak si, tapi gue tau kalau dia itu mencintai seseorang secara diam – diam aja terlihat menyedihkan. La apa lagi elo,” terang Rani sambil menerawang jauh.
“Eh yang bilang gue di tolak siapa?”
“Lho emangnya enggak. La terus kita ngomongin siapa donk?” tanya Rani bingung.
“Kita kan lagi ngomongin elo”."
“Gue?” tunjuk Rani kearah dirinya sendiri, Erwin hanya mencibir sinis kearahnya.
“Memangnya gue di tolak sama siapa?” sambung Rani sambil mencoba mengingat – ingat.
“Situ yang di tolak, kok situ yang nanya,” gumam Erwin lirih namun masih mampu Rani tanggkap. Membuat gadis itu memicingkan mata menatapnya.
“Kenapa loe malah menatap gue seperti itu si?” tanya Erwin risih.
“Cek cek cek, loe cowok kok demen gosip.".
“Ha?” Erwin melongo mendengarnya. Dia? Mengosip? Astaga, yang benar saja.
“Menyebarkan kabar yang jelas – jelas gak bener kalau bukan gosip apa donk?" sambung Rani lagi.
Erwin menghela nafas. Sepertinya ada yang salah dengan gadis disampingnya. “Gue nggak ngosip. Tapi tadi gue memang liat sendiri dengan mata kepala gue kalau loe di tolak sama siapa tu namanya, Rei? Cih, kayak nggak ada cowok laen aja."
“Tuh kan ngosip lagi. Kapan juga gue di tolak sama si Rei?" bantah Rani tak terima.
“Nggak usah di tutupin lagi. Gue juga sudah tau kok."
“Loe nggak tau tapi sok tau. Sama nyebar gosip juga," kali ini Rani membalas sewot.
“Apa loe bilang. Gue nyebar gosip? Enak aja. Tadi itu gue emang liat loe yang sedang memberikan kado kearah Rei. Tapi di tolak. Gue juga sempat melihat raut kesel di wajah loe. Terus loe mau ngelak apa lagi,” terang Erwin antusias.
Kali ini Rani tidak langsung membalas. Mencoba untuk mengingat – ingat maksud ucapan Erwin.
“oh, maksut loe ini?” tanya Rani sambil menunjukan bungkusan kado di sampingnya. Melihat itu Erwin langsung mengangguk membenarkan.
“Huwahahahaha."
Erwin melongo menatap Rani yang tertawa lepas. Memangnnya ada yang lucu ya?.
“Ya ela. Makanya jadi orang jangan suka seuzon sama orang. Udah lah salah, ngotot lagi. Sifat copaser kok di tiru (???),” tuding Rani sok berfilasafat. “Tapi…" Rani tampak berpikir baru kemudian melanjutkan ucapanya. "Kalau di pikir – pikir tadi itu gue emang di tolak si,” sambung Rani setelah terdiam untuk beberapa saat. Kalimat itu tak urung membuat Erwin benar – benar berniat untuk langsung menjitak kepalanya.
“Gue juga heran, padahal gue tadi Cuma mau nitip nie kado buat ulang tahun Irma, tapi kok Rei gak mau ya?” gumam Rani lagi.
“Tunggu dulu” Potong Erwin. “Kado buat irma? Maksutnya?”
“Iya. Hari ini kan Irma ulang tahun. Tapi dia malah sakit. Jadi gue nggak bisa langsung ngasi kado ini ke dia. Nah, karena gue tau tu anak deket sama Irma makanya rencanannya gue mau nitip aja. Eh malah di tolak sama dia."
“Jadi maksut loe itu kado buat Irma?” Erwin mencoba menegaskan dugaannya.
“Ya iya lah. Masa ia ini kado buat si Rei. Emang dia siapa gue?” balas Rani. Erwin tampak mengangguk – angguk membenarkan.
“Tapi yang gue heran, ini kan gak ada hubungannya sama loe. Kok loe tertarik pengen tau si?. Jangan – jangan loe naksir sama gue lagi."
“Sembarangan” Damprat Erwin sewot.
“La terus?. Atau jangan – jangan…”
“Jangan – jangan kenapa?” tanya Erwin antusias saat melihat Rani yang terlihat mengantungkan ucapannya.
“Jangan – jangan bener lagi loe emang rencana pengen nyebar gosip,” tuduh Rani langsung.
“Pletak."
Kali ini Erwin tidak mampu menahan tangannya untuk tidak mendaratkan jitakan di kepala Rani atas tebakan ngawurnya.
“Bukannya yang demen nyebar gosip itu elo ya?” cibir Erwin sinis.
“Gue?” tunjuk Rani ke arah wajahnya sendiri. Lagi – lagi Erwin membalas dengan tatapan sinis.
“O maksutnya masalah gosip yang katanya loe jatuh dalam got itu ya?”
“Ya maaf, suwer itu bukan kerjaan gue. Itu kerjaannya si Irma. Dia emang demen ngesosip. Secara loe tau nggak. Dia kan udah kadung mendapat julukan ‘Penasaran girl’. Jadi kalau ada apa – apa pasti bawaannya pengen tau aja. ck ck ck… Benar – benar ember bocor kayaknya,” terang Rani geleng – geleng kepala.
“Tapi tu anak nggak mungkin tau dan nyebarin gosip yang enggak – enggak kalau bukan karena loe."
“Yee… kok jadi gue si yang salah?” Rani tidak terima.
“Terus kalau nggak dia tau dari mana coba?”
“Terus gue harus bilang ‘WOW’ gitu,” tanya Rani ikut – ikutan sok pake bahasa yang memang lagi ngetrend. “Salah… Maksut gue, ini kan emang salah loe. Siapa suruh jatuh dalam got,” balas Rani balik.
Mendengar kalimat yang di ucapkan dengan santai oleh Rani barusan sontak membuat Erwin langsung melemparkan tatapan tajam kearahnya. Tapi yang di tatap cuek bebek saja. Bersikap seolah – olah tiada kejadian. Sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun. Dan belum sempat mulutnya terbuka untuk membalas, Rani sudah terlebih dahulu bangit berdiri. Ternyata bus yang sedari tadi mereka tunggu kini telah tiba di hadapannya. Dan tanpa sepatah katapun gadis itu segera melangkah masuk kedalam. Meninggalkan Erwin terpaku dengan tampang cengonya. Bahkan tak memberi kesempatan sedikitpun untuk Erwin menyadari bahwa bus yang sedari tadi ditunggu sudah mulai berlalu meninggalkannya.
Cerpen Kala Cinta Menyapa
Suara berisik dari ruang tengah menyadarkan Erwin dari tidur siangnnya. Dengan ogah – ogahan ia melangkah keluar. Untuk mengecek ada apa gerangan. Keningnya sedikit berkerut saat mendapati mamanya yang duduk dengan kaki di perban, sementara tepat di hadapannya tampak siluet seseorang yang berdiri dihadapannya. Tanpa sempat berfikir siapa orang tersebut Erwin segera menghambur menghampiri.
“Mama kenapa?” tanya Erwin langsung. Dari nadanya bertanya jelas ia merasa khawatir.
“Oh, mama nggak kenapa-napa kok. hanya tadi sempat terserempet mobil,” terang sang mama mencoba tersenyum.
“Hanya kok sampai di perban gini? Gimana ceritanya?” Erwin masih terlihat panik.
“Tapi ini sudah mendingan kok. Sudah di bawa kedokter juga. Tadi itu mama memang kurang hati – hati saat menyeberang, terus ada mobil yang juga sedang melaju kencang. Akhirnya keserempet deh. Untung saja ada Rani yang bantuin mama,” terang mama lagi sambil menujuk sosok yang berada tepat di hadapannya. Dan pada saat itu lah Erwin kembali menyadari kalau masih ada orang lain di antara mereka.
“Rani?” gumam Erwin setengah tak percaya.
“Erwin?” sosok yang di panggil Rani juga terlihat heran plus kaget.
“Loe ngapain ada disini?” tanya mereka secara bersamaan.
“Lho kalian sudah saling kenal?” Mama ikut – ikutan heran.
Untuk sejenak suasana hening sampai kemudian Erwin mengangguk membenarkan.
“Dia temen kampus Erwin, ma."
“Oh, benarkah? Wah kebetulan sekali,” ujar mama terlihat gembira. Rani hanya menunduk sambil tersenyum kaku.
“Maaf tante. Tapi sebenarnya Rani masih ada urusan. Nah karena tante juga sudah sampai dirumah dengan selamat, jadi Rani mau permisi dulu."
“Kenapa buru – buru sekali. Tunggu sebentar, biar bik Inah membuatkan minuman untuk mu dulu."
“Nggak usah tante, lain kali saja. Soalnya Rani beneran harus pulang sekarang. Rani tadi juga di suruh membeli barang sama mama. Jadi saat ini pasti sudah di tungguin dirumah."
“Baiklah kalau begitu. Maaf ya sudah merepotkanmu. Dan sekali lagi terima kasih karena sudah bantuin tante."
“Nggak papa kok tante. Rani permisi dulu,” pamit Rani sambil tersenyum tulus.
“Tunggu dulu, kalau gitu biar Erwin yang mengantar kamu."
“Apa? Oh nggak usah tante. Ngerepotin aja. lagian Rani bisa pulang sendiri kok,” tolak Rani cepat. Erwin juga terlihat menatap mama nya dengan tatapan memprotes.
“Sudahlah. Nggak papa. Nggak repot sama sekali kok,” balas Mama Erwin sambil tersenyum. “Lagi pula Erwin juga sama sekali tidak keberatan. Kan kalian juga sudah saling kenal. Iya kan?”
Erwin terpaksa mengangguk membenarkan sambil mencoba tersenyum paksa.
“Ayo Rani, gue antar loe,” ajak Erwin sambil melangkah keluar. Tak lupa disambarnya kunci motor diatas meja.
Mau tak mau Rani mengangguk membenarkan. Setelah terlebih dahulu pamit pada mama Erwin Rani melangkah keluar. Mengikutin Erwin yang sudah berjalan duluan.
Next to Kala Cinta Menyapa Part 7
Detail Cerpen

Lanjut Baca : || ||

Random Posts

  • Cerpen Remaja: Kebahagiaan Cinta

    Kebahagiaan Cintaoleh Natania Prima NastitiSekitar jam setengah satu pagi, aku tidak bisa tidur. Aku masih heran dengan ucapan Rangga tadi. Tiba-tiba Rangga datang ke rumahku dan menyatakan perasaannya. Rangga, cowok populer satu itu kenapa bisa menyatakan perasaannya padaku? Pada cewek yang terisolasi dari sekolahannya ini? pada cewek yang tidak pernah dianggap ada di sekolahannya ini?. Aku terus memikirkan itu.Besoknya tiba-tiba Rangga menhapiriku di kelas. Dia memang mengobrol dengan teman-temannya tapi, matanya itu… selalu tertuju padaku. Dan itu membuat aku.. gugup. Khanza, sahabatku pun, menenangkanku. Kemudian Rangga menghampiriku. “Jawabannya udah, Res?” tanya Rangga. Aku diam menatapnya. Kemudian aku menundukkan kepalaku, takut.“Mau ya, Res? Fares?” tanya Rangga lagi. Khanza menyenggol-nyenggolku. Aku bingung kemudian aku berdiri dan bilang pada Rangga, “tunggu nanti di taman sekolah. Udah sono lo pergi!”. Kemudian Rangga pergi sambil menyunggingkan senyuman dibibirnya.Pulang sekolah aku dan Khanza pergi ke taman menemui Rangga. Kulihat Rangga sudah duduk menungguku. Aku semakin gugup. Kemudian aku menghampiri Rangga.“Kenapa lo nembak gue?” tanyaku gugup,“Karna gue suka sama lo”, aku menatap kaget Rangga. Kaget dengan jawaban Rangga itu. Kulihat Rangga hanya tersenyum padaku.“Gue kan nggak populer, Ga. Masih banyak cewek-cewek cantik yang suka sama lo” ucapku lagi. Khanza mengiyakan.“Tapi gue sukanya sama lo dan gue mau lo jadi pacar gue!” sahut Rangga tegas. Entah mengapa aku begitu bodoh kala itu. Tiba-tiba saja aku bilang iya pada Rangga. Apa mungkin karena aku ketakutan sampai bertindak bodoh seperti ini? padahal aku tau, menjadi pacar Rangga, sama saja menjadi putri bagi pangeran. Pasti banyak cewek-cewek yang akan mencabik-cabikku.Benar saja dugaanku, ternyata berita aku pacaran dengan rangga sudah tersebar seantero sekolahan. Cewek-cewek memandang sinis kearahku. Aku pun tidak berani keluar kelas karena itu. Padahal, di dalam kelas pun aku sudah muak mendengar sindiran teman-temanku. Ingin rasanya aku keluar dari sekolah ini.Tiba-tiba geng Black Devil, geng yang anggotanya cewek-cewek cantik nan seksi itu menghampiriku. Bunga, ketua geng itu menggebuk mejaku. “Dasar cewek nggak tau diri! Udah jelek belagu lagi! Lo kan tau siapa yang berhak dapetin Rangga! Lo pasti mandi kembang empatbelas rupa buat nyihir Rangga kan! Lo pasti main dukun! Cuihh!” bentaknya sambil meludah. Aku tidak terima dengan bentakan itu. Kemudian tanpa kusadari, aku menggebuk meja juga. Daripada malu karena sudah menggebuk meja, akhirnya aku membentak Bunga ganti.“Gue nggak pernah ke dukun ya! Rangga yang nyatain perasaannya ke gue duluan! Gue juga nggak percaya dengan apa yang dilakuin tuh orang! Dan gue sebenernya nggak tertarik dengan ucapan Rangga karena gue tau cuma lo yang bisa dapetin Rangga! Tapi gue pikir, its time for chage! So, gue terima dia” bentakku ganti dan pergi meninggalkan kelas. Aku yakin pasti Khanza kaget dengan ucapanku.Saat akan keluar kelas, aku melihat Rangga menatapku dalam. Kubalas tatapan Rangga dengan tatapan sebal dan benci. Dasar cowok! Kenapa dia nggak ngebantu gue ngadepin Bunga?! Ucapku dalam hati.Keluar toilet, tiba-tiba Aldo, salah satu teman Rangga mendatangiku.“Gue surprise banget sama ucapan lo tadi waktu ngebentak bunga. Semoga nantinya lo kuat saat tau yang sebenernya ya” ucap Aldo tersenyum kemudian pergi meninggalkanku. Aku diam dengan tanda tanya besar dikepala. Apa maksud perkataan Aldo itu?Setelah tiga bulan berpacaran dengan Rangga, aku semakin terbiasa dengan keadaan. Cewek-cewek juga terlihat sudah cuek dengan hubunganku dengan Rangga. Walaupun masih ada yang suka menyindirku, tapi Rangga bilang cuek saja dengan hal itu. Black Devil juga sudah tidak pernah menyindirku lagi. Yah, walaupun mereka terutama Bunga masih suka deketin Rangga, tapi biarlah. Rangga memang cowok populer yang pantas dideketin sama cewek populer juga.Malam itu, Rangga datang ke rumahku. Aku yang sedang belajar, kaget saat Mama bilang ada Rangga. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan baju bergambar doraemon, buru-buru aku turun kebawah, ke ruang tamu. Kemudianku sapa Rangga yang sedang duduk. Rangga menatapku sejenak, kemudian disapanya aku balik. “Pergi yuk! Gue lagi suntuk nih” ucap Rangga. Aku menggeleng dengan alasan ingin belajar. “Udahlah, belajar kan bisa entar-entar. Gue tunggu empat puluh lima menit dari sekarang! Cepet!” ucap Rangga kemudian dan menyuruhku ganti baju. Aku pun akhirnya menuruti.Sesuai janji, empat puluh lima menit kemudian aku turun dari kamar dengan menggunakan dress berwarna krem ungu seatas dengkul tapi tetap dengan sepatu kets unguku. Sebenarnya bajuku ini ku sesuaikan dengan baju dalaman Rangga yang berwarna krem dan blazer coklatnya Rangga. Kemudian kuhampiri Rangga yang menatap padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia menatapku seperti itu. Ku goyang-goyangkan tanganku kekanan dan kekiri tepat didepan wajah Rangga. Kemudian Rangga sadar dan bilang, “lo cantik, Fares. Kenapa gue nggak dari dulu sadar ya? Hehe. Ayo!”. Kemudian aku dan Rangga pergi dinner malam itu.Setelah dinner Rangga mengajakku ke tempat seperti sebuah taman. Tapi kulihat jarang ada orang di taman itu. Kemudian Ranga menyuruhku duduk dibangku dekat lampu taman. Remang-remang aku melihat wajah Rangga yang terlihat gugup. Kenapa dia? Tanyaku dalam hati.Kemudian saat kami berdua sedang mengobrol, tiba-tiba Rangga menggenggam tanganku. Aku sudah pasti gugup. Jantungku berdetak cepat dari biasanya. Kami berdua saling pandang. Kemudian Rangga semakin mendekat denganku. Dipeluknya tubuhku ini. aku juga bisa merasakan detak jantung Rangga. Jantung itu sama sepertiku, berdetak dengan cepat. Setelah memelukku, kemudian Rangga mencium keningku. Seumur-umur aku belum pernah dilakukan seperti ini. rangga adalah cowok pertamaku. Cowok pertama yang menciumku. Kemudian didekatkannya wajah Rangga ke telingaku. Lalu dia berkata, “gue suka sama lo, Res. Lebih dari suka bahkan”, Rangga kemudian tersenyum dan memelukku lagi. Aku kaget tak percaya.Ucapan Rangga tadi malem benar-benar buat aku jadi senyum-senyum sendiri. Aku seperti orang gila! Apa mungkin aku mulai jatuh cinta? Sama Rangga? Cowok populer itu? Apa mungkin ucapannya tadi malam sungguhan? Tanyaku dalam hati. Khanza tiba-tiba bertanya, “lo kenapa sih, Res? Dari tadi gue perhatiin… senyum-senyum sendiri?”. “Gue lagi jatuh cinta, Za” jawabku sambil senyum-senyum. “Sama Rangga? Nggak mungkin! Dia Cuma mainin elo doang tau! Sadarrr!!!!!” teriak Khanza kemudian. Teman-teman yang lainnya lantas menatap kesal kearah aku dan Khanza.Kutarik Khanza keluar kelas. Kami pun ke kantin. Disana aku mulai menjelaskan semuanya. “Pertamanya gue juga mikir Rangga cuma main-main, Za. Tapi liat, udah tiga bulan lebih gue sama dia sekarang. Gue kira pasti cuma dua hari gitu. Kejadian tadi malem, bener-bener buat gue yakin kalo Rangga beneran sama gue, Za. Dia pasti serius sama gue” ucapku panjang-lebar. Khanza kemudian menarik nafas. “Terserah lo deh, Res. Mungkin menurut lo ini yang terbaik. Yah, semoga aja pemikiran lo itu bener. Rangga serius dengan lo! Eh tapi, kalo kenyataannya sebaliknya, lo nggak boleh down dan harus terima semuanya, oke?” sahut Khanza kemudian. Aku mengangguk menjawab sahutan Khanza. Kemudian aku memeluk senang sahabatku itu.Seminggu kemudian, aku dan Rangga semakin dekat dan semakin sering keluar. Sekedar ke toko buku atau jalan-jalan. Hingga pada pagi itu, sekitar jam 10 pagi, aku kebelet buang air kecil. Aku pun berlari secepat mungkin agar cepat sampai ke toilet. Terdengar suara Rangga di salah satu kelas. Aku pun berhenti berari dan melihat Rangga dan teman-temannya.“Ga, lo udah berhasil naklukin Fares selama tiga bulan! Lo juga udah dapet duit imbalan kan? Enak jadi lo, Ga! Tapi kenapa lo mau terus-terus deket sama dia? Sama cewek jelek kayak dia! Ini Cuma taruhan, Ga! Dan lo udah menangin taruhan itu. Masih banyak kan cewek cantik lainnya dari pada dia? Bunga contohnya, yang udah bener-bener ngejar lo gitu. Kenapa pake acara seminggu lo deket sama dia, Ga? Sedeng lo!” ucap salah satu temannya Rangga saat itu. Aku lihat ada Aldo juga disana. Aku benar-benar terkejut dengan ucapan itu. Taruhan?! Aku hanya dijadikan taruhan oleh Rangga dan teman-temannya?! Dasar! Semuanya biadap! Teriakku dalam hati.Kemudian aku berlari balik ke dalam kelas dan mengambil tasku. Tidak peduli ada guru saat itu juga. Air mata sudah mengalir dipipiku. Hatiku benar-benar sakit. Omongan Khanza benar, Rangga tidak akan pernah suka padaku. Kenapa aku bodoh begini?! Cinta benar-benar membuat orang gila! Ucapku dalam hati.Dua hari ini aku tidak berangkat kesekolah. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Mama, jadi Mama pun memaklumi. Kemarin Khanza juga sudah datang ke rumah. Menanyakan kenapa aku nekad mengambil tas lalu pulang padahal masih ada guru. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Khanza. Khanza hanya menyemangatiku. Aku tidak bisa memegang janjiku pada Khanza. Aku tidak bisa kalau tidak down begini. Hatiku benar-benar sakit mendengar dengan kuping sendiri kalau aku hanya dijadikan permainan orang-orang saja. Aku sedih dan terpuruk.Malamnya tiba-tiba saja Mama bilang ada yang mencariku. Tadinya aku tidak mau turun dan menumuin orang itu, tapi karna Mama memaksa, akhirnya aku turun dengan mata bengkak karena menangis. Lelaki itu membelakangiku. Saat kusapa, ternyata… Aldo?“Ngapain kesini?!” tanyaku ketus. “Gue kesini nggak disuruh Rangga kok. Gue kesini ya mau jelasin semuanya ke elo, Res. Gue tau kalo lo udah tau semuanya” jawab Aldo tenang. “Tau kalo gue cuma jadi bahan taruhan?” tanya gue kemudian. Aldo hanya mengangguk malu. Ingin sekali aku mencekik cowok di depanku ini. karena bagaimanapun juga, dia ikut andil dalam taruhan ini. karena kulihat saat itu, dia ada disana.“Kita emang jadiin lo bahan taruhan, Res. Kita semua minta maap karena itu. Kita jadiin lo bahan taruhan ya.. karna lo itu lugu. Jadi pasti gampang mengaruhinya, Res. Tiga bulan, Res. Cuma tiga bulan kita nyuruh Rangga deketin elo tapi.. lo tau sendiri kan? Tiga bulan lebih Rangga malah deketin lo terus. Ya, walau belum dapet penjelasan dari Rangga.. tapi gue yakin dia mulai suka sama lo, Res. Dia suka serius sama lo!” jelas Aldo menatapku. Aku terdiam. Memikirkan ucapan Aldo itu.“Nggak! Gue udah nggak yakin lagi! Gue nggak percaya ucapan lo, Do! Lo sama aja kayak cowok lainnya dan Rangga! Gue nggak bisa percaya elo!” teriakku kemudian berlari ke kamar dan meninggalkan Aldo.Besoknya pun aku kembali ke sekolah. Sebelum sampai kelas, tiba-tiba geng Black Devil menghampiriku. Mereka semua kemudian tertawa. “nggak mungkin Rangga beneran suka sama lo, kampung!” ucap Bunga kemudian pergi diikuti teman-temannya. Aku langsung berlari ke kelas. Aku terus menahan air mata yang mulai menetes, tapi usahaku gagal. Air mata itu menetes juga. Aku benar-benar bodoh!Pulang sekolah, entah kenapa langkah kakiku malah pergi ke taman dulu Rangga mengajakku. Aku hanya ingin sendiri. Dan kurasa, taman ini cocok untuk hatiku. Tempat yang tenang dan damai. Aku juga duduk di bangku yang sama seperti dulu saat aku berdua dengan Rangga. Tiba-tiba teringat hari itu lagi. Dimana saat Rangga mengucapkan kata itu. Sekarang semua sirna. Ternyata ucapan itu hanya pura-pura. Rangga, cowok itu… harusnya aku sadar…Sampai sore aku hanya duduk dibangku dekat lampu taman. Memandang kosong ke depan. “Bukan maksud gue begitu, Res”, tiba-tiba ucapan itu membuyarkan lamunanku. Aku pun menengok kesamping. Kulihat Rangga duduk disampingku sambil memandang kearah depan juga. Kemudian aku ikut memandang kearah depan juga. Air mataku mulai menetes. Ingat perkataan temannya Rangga waktu itu. Saat aku hanya dijadikan bahan taruhan.“Kenapa lo jahat banget sih, Ga! Gue tau, gue emang cewek lugu yang nggak ngerti apa-apa malah lo itu pacar pertama gue! Tapi.. seenggaknya lo mikir perasaan gue dong! Kata-kata sayang itu.. kata-kata itu.. ternyata hanyalah kiasan! Ternyata lo nggak bener suka apalagi sayang sama gue. Tapi thanks karna dengan itu.. gue belajar buat nggak cepet kemakan dengan ucapan bullshit cowok!” ucapku. Rangga kemudian menggenggam tanganku. Dihadapkannya aku pada dirinya.“Gue salah, Res. Malah karna taruhan itu.. emm.. gue.. gue.. beneran suka.. sama.. sama.. lo. Ini sungguhan, Res! Ini perasaan gue sama lo! Karena taruhan itu gue su.. gue suka sama lo! Maap karena kebodohan gue udah bohongin lo, Res. Gue bener-bener minta maap tentang taruhan itu, Res. Sekarang.. gue bener-bener jatuh cinta sama lo” jelas Rangga. Aku hanya melihat wajah cowok itu. Kali ini aku yakin, Rangga benar-benar mengucapkan dari hati. Aku melihat ketulusan di wajah tampan Rangga itu.“Fares, gue sayang sama lo” ucap Rangg lagi kemudian memelukku. Memeluk eratku seakan tidak mau melepaskannya. Entah kenapa, aku merasa nyaman dengan pelukan itu. Tiba-tiba aku membalas pelukan itu. Aku benar-benar yakin.. Rangga menyayangiku sebagai pacarnya. Aku juga sayang sama kamu, Ga. Ucapku dalam hati kemudian tersenyum.No matter how far the journey,No matter how dark the days,No matter how long the time,I know,I always know,You’ll love me till the end…Nama : Natania Prima NastitiAlamat facebook : athananonano@rocketmail.comNama facebook : Natania Prima NastitiAlamat twitter : athananonano@rocketmail.comNama facebook : @NataniaAPAlamat blog : athananonano@rocketmail.com

  • Cerpen pendek Sang Idola

    Tau nggak si guys, cerpen pendek sang idola adalah cerpen perdana yang tanpa part atau bagian yang berhasil admin ketik. Makanya itu, penulisan dan ceritanya kacau banget. Pas baca ulang, serius adminnya jadi malu sendiri. :dNah karena itu. Sekalian latihan nulis sama menghargai karya pribadi, admin memutuskan untuk mulai mengedit satu persatu. Istilahnya alon – alon asal kelakon. Oke…Sang Idola“Kalian serius?” Merry masih tidak percaya. Salsa dan keempat temannya baru saja memberi tahu kalau ‘Sagu band’, band idola mereka akan mengadakan konser tepat jam 13:00 siang ini di Taman Cik Puan, Selatpanjang. Masalahnya, jam pulang sekolah adalah jam 12:30 tepat. Itu juga karena ini hari sabtu makanya rada cepet. Biasanya juga pulang jam 14:00an. Tapi masalahnya saat ini keempat temannya malah serentak berencana untuk membolos. Pulang sebelum waktunya.“Ya iya lah,” sahut keempat temennya serentak.“Lagian buat ‘Sagu band’, apa sih yang enggak,” Salsa menambahkan.“Tapi kan konser mulainya jam 13:00 siang, dan kita pulang sekolah juga masih sempet, nggak perlu pake acara bolos segalakan?” Merry masih berusaha menahan.“Sempet gimana? Kita pulangnya aja jam 12:30. Waktu setengah jam mana sempet non buat siap-siap. Pokoknya sekarang kita semua mau pergi. Kalau loe emang nggak mau ikut ya udah. Ayo guys lets go,” ajak Ria kearah ketiga temen-temennya.“Eh tunggu dulu donk, gue kan belum selesai ngomong."“Simpen ja dulu buat besok!” potong Salsa. Tanpa basa-basi lagi mereka meninggalkan Merry yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah temen-temennya.Keesokan harinya, Salsa, Anya, Sisil dan Ria sengaja datang lebih pagi dari biasanya. Merry yang melihat keempat temannya sudah ngumpul tak mampu menahan rasa heran. Tumen – tumbenan. Berlahan ia hampiri, dan lima menit kemudian ia langsung tau alasan mereka datang pagi. Apalagi kalau bukan untuk mendengarkan pengalaman yang mereka dapatkan kemaren saat menonton konser. “Suer Merry, tu cowok pokoknya ganteng banget deh. Coba aja kemaren loe ikut ama kita-kita, pasti loe nggak akan nyesel,” terang Anya semangat banget.“Ia. Anya bener mer, lagian sekali-kali bolos nggak da ruginya kan. Toh selama ini kita semua on time terus,” Salsa tak mau kalah. “0h ya?” cibir Merry.“Sekarang loe bisa nggak percaya gitu. Soalnya loe belum ketemu ma dia.”“Ih nggak banget deh, secara gue udah punya pacar,” kilah Merry cepat.“Dari dulu loe bilang udah punya pacar tapi nyatanya sampai sekarang kita belum kenal,” Anya menimpali.“Ya sorry, secara gue belum punya waktu. Kalian kan tau sendiri pulang sekolah gue harus kerja buat biaya sekolah gue, nggak kayak kalian.”“Iya deh Mer, sorry. Tapi begitu ada waktu loe kenalin sama kita ya,” kata Sisil.“Pasti,” sahut Merry. "Terus kalian pasti tau donk identintas idola kalian. Paling nggak namanya."Anya menggeleng, Ria pasang raut kecewa, sementara Salsa tanpa di minta langsung menjelaskan. "Justru itu Merry, kita belum tau. Soalnya kemaren doi di minta naik kepanggung, trus ikutan nyanyi bareng 'Sagu band’. Suaranya bagus banget, dia emang nggak ngasi tau namanya, tapi dia bilang kalau dia anak kuliahan."“0h ya. Kuliah dimana?” tanya Merry lagi.“Di. . .aduh di mana ya. Kalau nggak salah STIE atau AMIK ya? Gue lupa, soalnya waktu itu pada heboh,” kali ini Sisil yang menjawab.“Tapi itu gampang kok, kita bakal cari tau dimana dia berada. Seperti kata pepatah 'banyak jalan menuju roma', ya nggak friend?” kata Ria meminta dukungan pada teman – temannya yang langsung di balas anggukan kompak tanda setuju.“Terserah kalian aja deh,” Merry angkat bahu. Belum sempat mulutnya menambahkan, bel masuk pun terdengar. Ia segera mengajak semua temen-temennya untuk kembali ketempat duduknya masing – masing. Secara dari tadi mereka ngobrol tepat di depan mejanya. 10 detik setelah kemunculan gurunya, Salsa cs di buat kaget saat dapat pengumuman kalau hari ini di adakan ulangan harian. Mereka bener-bener pusing tujuh keliling, pasalnya mereka nggak ada baca buku sedikit pun mana soalnya sulit banget lagi. Merry juga nggak mau bantuin, yang makin membuat mereka semakin bingung.Setelah bel istirahat terdengar semua temen-temennya datang menghampiri Merry untuk meminta pertanggungjawabanya, karena ia tidak memberi tau mereka kalau hari ini ada ulangan.“Lho bukannya kalian sendiri yang bilang kalau nggak ada ruginya nggak sekolah satu hari?” Merry bela diri.“Ia sih, tapi nggak kayak gini juga. Pasti ancur deh nilai ulangan gue kali ini, mana loe nggak da ngasi jawabannya ma kita lagi,” kesel Salsa.“Iya deh sorry. Gimana kalau sebagai tanda minta maaf gue, kalian gue traktir makan di kantin. Mau nggak?” tanya Merry karena kebetulan ia baru gajian. Tentu saja langsung di setujui sama temen-temennya yang lain, secara jarang-jarang kan ada yang nraktir.“Kalian mau mesen apa?” tanya Sisil begitu mereka tiba di kantin.“Bakso sama es campur aja deh,” jawab Merry.“Kalian?” tanya Sisil kepada temen-temennya yang lain.“Sama," suara kompak setelah sebelumnya saling pandang. Sekedar bahasa isarat yang langsung di tau apa maksutnya.“Jadi, gimana sama idola kalian itu?” tanya Merry sambil menikmati pisang goreng yang ia ambil dari piring di hadapannya sembari menunggu pesanannya datang.“Gimana apa nya?” Salsa mengernyit.“Ya gimana kelanjutanya. Masa kalian semua mau jadi pacar idola kalian. Mau berbagi itu?” terang gadis itu lagi.“Ta nggak lah sembarangan aja, gini-gini kita masih punya harga diri ya,” bantah Ria. Yang lain menangguk membenarkan.“Terus?” tanya Merry.“Gimana ya. Kita juga bingung nih, ntar deh gue mikir dulu buat nyari solusinya,” Salsa ikut-ikutan bingungSementara sang pelayan sudah menghidangkan pesanan mereka di atas meja. Mereka semua makan sambil terus mencari ide.“Gue punya ide,” kta Sisil setelah lama terdiam.“0h ya? Apa?” temen-temennya terlihat diak sabar.“Dengerin ya. Kita semua kan sudah terlanjur naksir sama si doi jadi….”“Kita? Kalian aja kali, gue nggak,” potong Merry meralat.“Ia deh, kami aja. Loe nggak,” Sisil sebel karena ucapannya di potong duluan padahal ia kan belum selesai ngomong.“Udah deh, tadi ide nya apa?” Salsa masih penasaran.“Apa ya? Gara-gara Merry nih jadi lupa,” Sisil garuk-garuk kepalanya yang emang ketombean. “0h ya gini, gimana kalu kita taruhan aja siapa dulu yang bisa menggaet dia jadi pacar salah seorang dari kita. Tapi, permainannya harus sehat nggak boleh pake cara kotor. Terus yang menang harus nraktir kita semua makan gratis kayak sekarang. Gimana setuju nggak?" sambungnya.“Kok yang menang yang nraktir?” Anya terlihat bingung.“Ya iya lah, secara dia kan udah dapetin si doi. Gimana setuju nggak?” jelas Sisil menerangkan.“0 gitu, gue setuju,” sahut Ria tanpa berpikir lagi“Gue juga,” sambung Salsa sama Anya.“Tapi gue nggak setuju. Enak aja anak orang di jadiin taruhan. Ntar kena batunya baru tau rasa loe. Coba gimana kalau ternyata si doi udah punya pacar?” Merry keberatan.“Terus loe punya ide lain? Lagian kalau emang dia punya pacar masa ke konser nggak ngajak pacarnya?” tanya Sisil.Sementara yang di tanya hanya diam, karena ia sama sekali nggak punya ide yang lebih baik."Nah, nggak ada kan, jadi setuju aja deh,” desak Anya.“Ia. Sekalian loe jadi jurinya, secara loe kan yang paling netral,” tambah Ria.“Terserah kalian aja deh” Merry akhirnya nyerah.Sejak saat itu mereka sibuk mencari informasi tentang'sang idola'. Kebetulan Anya nggak sengaja pernah ketemu sama tu cowok di halte yang biasa mereka tumpangi waktu pulang dari jalan jalan. Hanya saja waktu itu nggak sempet kenalan karen tu bus sudah keburu berangkat. Sejak saat itu mereka sering iseng jalan ke sana.Dua minggu telah berlalu, tapi hasil nya tetap nihil karena walau di tunggu sampai hampir malam tetap juga nggak nongol-nongol sehingga mereka hampir saja putus asa.Sore minggu kebetulan Merry libur bersama keempat temannya ngumpul bareng di salah satu kaffe yang sering mereka datangi. Rencananya ia akan memperkenalkan pacarnya pada temen-temennya.Sambil menunggu pacarnya Merry datang mereka asyik ngobrol.“Eh tau nggak sih, ternyata doi itu kuliah dari sore sampai malam. Dan kenapa selama dua minggu ini kita nggak bisa ketemu sama dia? Ternyata itu gara-gara sekarang ini dia lagi libur habis ujian semester,” kata Salsa memulai obrolannya.“0h ya. Loe tau dari mana?” tanya Anya heran.“Dari sopir bus yang biasa ia tumpangi. Abis nya gue penasaran,” jelas Salsa. “Dan katanya besok sore ia sudah masuk lagi, jadi gue pikir itu waktu yang pas buat kira kenalan sama dia,” sambungnya lagi.“Ide bagus tuh. Loe kali ini bisa ikut kan Merry?” tanya Ria.“Yah sayang banget, gue nggak bisa. Gue kan harus kerja. Lain kali aja ya,” sahut Merry merasa tidak enak.“Ya udah lah nggak papa. Toh besok kalau dia sudah jadi pacar salah seorang dari kita pasti di kenalin sama loe kok,” kata Ria.“Tapi ngomong-ngomong pacar loe jam segini kok belum datang ya?” Anya melirik jam tangannya. "Jadi datang kan?"“Tau nih, bentar ya gue telpon dulu. Kali aja dia lagi kebingungan nyari kita. Emang sih tadi gue udah kasih tau tempatnya, tapi kok belum datang juga. Jangan-jangan nyasar lagi,” Merry beranjak dari dari kursinya menjauh dari temennya.Sebelum Merry berhasil meng'calling pacarnya, HP nya bergetar terlebih dahulu. Ternyata SMS dari Allan, pacarnya. Yang mengabarkan kalau ia sudah berada di depan kaffe tersebut.“Eh temen-temen, dia udah ada di depan tuh. Gue jemput dia dulu ya,” pamit Merry, temen-temennya hanya membalas dengan anggukan.“Kira-kira pacarnya Merry kayak gimana ya?” ujar Salsa setelah Merry pergi.“Tenang aja sa, bentar lagi kita semua juga tau kok,” balas Sisil.Tak lama kemudian Merry datang menghampiri mereka bersama seorang pria di sampingnya.“Temen-temen, kenalin ini pacar gue. Namanya Allan, Allan ini temen-temen gue yang pengen gue kenalin ke elo, ini Salsa, Anya, sisil, sama Ria,” kata Merry memperkenalkan pacarnya kepada temen-temennya satu persatu.Untuk sepersekian detik temen-temennya hanya terdiam terpaku. Bahkan Sisil yang kebetulan sedang menyeruput es sirupnya langsung tersedak saking kagetnya seolah nggak percaya akan sosok yang kini berada tepat di hadapannya yang tersenyum manis sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.“Ya tuhan. Dia kan…. 'SANG IDOLA” pekik batin mereka masing-masing.End….Namanya juga cerpen perdana, jadi di maklumi aja deh kalau endingnya masih gaje banget. Terus bahasa sama kosa katanya juga agak gimana gitu. Tapi ya begitulah. Bagaimanapun terima kasih sudah membaca. 😀 Detail CerpenJudul Cerpen : Sang IdolaPenulis : Ana MeryaGenre : RemajaPanjang : 1543 kataStatus : Cerpen Pendek

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 02 / 13

    Lanjutan dari Cerpen Kala Cinta menyapa bagian 2, yang masih merupakan kisah antara Erwin dan Rani. Seperti yang admin katakan sebelumnya, ini merupakan cerpen requesan. Nah, biar nyambung sama jalan ceritanya lebih baik kalau baca dulu kala cinta menyapa bagian 1. Akhir kata, happy reading. Kalau bisa RCL ya…..:DKala Cinta MenyapaSetengah berlari Irma melangkah keluar dari kantin. Matanya menatap ke seluruh penjuru. Mencari sosok sahabatnya yang di culik terang – terangan. Saat menatap keujung koridor ia mendapati siluet Rani yang tampak menunduk. Jelas terlihat ketakutan. Tanpa pikir panjang Irma segera menghampirinya. Merasa heran saat mendapati Erwin yang justru malah berlalu begitu melihat kehadirannya. Mencurigakan.“Rani sebenernya ada apa? Kenapa dengan cecunguk satu itu? Kayaknya penting amat. Sampe narik – narik loe segala?” selidik Irma kearah Rani yang masih berdiri terpaku.“Hei, di tanyain malah bengong,” tambah Irma mengagetkan Rani yang tetap bungkam.“Eh, ha, Kenapa?” tanya Rani gugup.“Erwin kenapa nyariin loe. Katanya loe nggak kenal sama dia?”“Nggak tau,” Rani mengeleng cepat.Mata Irma menyipit. Memperhatikan raut wajah Rani dengan seksama. Ia yakin ada yang nggak beres. “Jangan bo’ong sama gue. Inget, Bohong itu dosa tau."“Salah. Yang bener itu bohong kalau ngomong nggak jujur," ralat Rani cepat.“Ha?” Irma yakin kalau ia tidak salah dengar. Sementara Rani tidak membalas lagi. Gadis itu segera cepat – cepat berlalu. Terserah mau kemanapun. Yang jelas menghindar dari Irma. Ia tau kalau sahabatnya yang satu itu paling susah untuk di bohongi. Tapi mana mungkin ia menceritakan kejadian kemaren. Mengingat ancaman Erwin tadi sudah lebih dari cukup membuat sekujur tubuhnya merinding. Benar – benar menyeramkan.“Hufh…”Rani menhembuskan nafas lega. Diaturnya nafas yang masih terasa ngos – nogsan. Demi menghindari pertanyaan dari Irma tadi ia segaja berlari entah kemana. Sadar – sadar saat itu ia sudah berada di taman belakang kampus.“Ehem…”“Huwa!!” jerit Rani kaget saat mendapati Erwin yang duduk santai tak jauh darinya.Parah, sudah jauh – jauh ia lari menghidar dari singa eh malah sekarang nyasar ke mulut buaya. (???). Reflek Rani melangkah mundur. Tapi sayang tenyata yang namanya batu memang nggak pernah di ajarain tata krama. Dengan santai nangkring di belakang Rani yang mebuat kaki gadis itu tersandung sehingga sukses membuatnya jatuh mendarat dengan sempurna di tanah. Bahkan masih di tambah sedikit luka goresan di sikunya sebagai bonus. Benar – benar sudah bernasip seperti pepatah. Sudah jatuh tertimpa tangga. Artinya, kalau mau nggak kejatuhan tangga, bikin rumah jangan ada tangganya …… (???).“Jangan mendekat,” teriak Rani cepat sambil mengacungkan tangannya. Membuat langkah Erwin yang berniat menuju kearahnya langsung terhenti.“Gue bisa bangun sendiri,” tambah Rani lagi sambil bangkit berdiri. Mengibas – ibaskan unjung roknya yang terlihat sedikit berdebu akibat jatuh tadi.“Gue juga nggak niat bantuin,” balas Erwin santai sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Matanya menatap sosok yang ada di hadapannya dari kepala sampai kaki. Membuat Rani beneran mati gaya di perhatikan seperti itu. Selangkah demi selangkah kakinya melangkah mundur.“Oh…. Gitu ya. Ya sudah kalau begitu gue langsung pergi. Da…” pamit Rani sambil membalikan badan tanpa menyadari kalau dibelakangnya terdapat vas bunga yang berjejer. Alhasil, tayang ulang terjadi terjadi. Tubuhnya untuk kedua kali sukses mendarat di tanah.“Ha ha ha….” melihat apa yang terjadi di hadapannya barusan benar – benar membuat Erwin tak mampu menahan tawanya.Rani mendongak. Menatap sebel kearah Erwin yang tampak sedang memegangi perutnya menahan tawa. Benar – benar membuat Rani merasa kesel. Ia segera berniat untuk bangkit berdiri namun kakinya benar – benar terasa sakit. Saat ia periksa ternyata lututnya luka, sepertinya tergores duri – duri bunga mawar yang memang tadi ia tabrak.“Darah?”Satu detik…Dua detik….Tiga detik…“Huwa….”“BruK”.Tawa di wajah Erwin langsung raib sama sekali tak berbekas digantikan dengan raut cemas saat mendapati Rani yang kini terbaring pingsan di hadapannya. “Hei, bangun. Loe nggak papa kan? Masa gitu aja pingsan?” tanya Erwin sambil mengoyang – goyangkan tubuh Rani. Tapi hasilnya nihil. Gadis itu sudah telanjur KO.“Hufh… menyusahkan sekali si,” gerut Erwin kesel.Di pandanginya sekeliling yang kebetulan sepi. Untuk sejenak Erwin terdiam. Bingung apa yang harus di lakukannya. Setelah menarik nafas perlahan akhirnya ia bangkit berdiri. Di gendongnya gadis itu. Untung saja tubuhnya kurus sehingga ia masih kuat mengendongnya.Sepanjang perjalan menuju ke ruang kesehatan ia sudah menjadi tontonan semua mahasiswa yang menatapnya dengan mata yang melotot atau mulut yang mengangga. Berusaha tetap terlihat cuek, Erwin mempercepat langkahnya. Setelah sampai di ruang kesehatan barulah ia bisa benapas lega. Di sekanya keringat yang membanjiri di keningnya setelah terlebih dahulu membaringkan Rani.Hening. Suasana ruang kesehatan memang terlihat sepi. Tidak ada seorang pun disana. Untuk sejenak Erwin terdiam. Di pandanginya wajah Rani yang masih terbaring tak berdaya. Tanpa sadar bibir Erwin sedikit tertarik membentuk sebuah lengkungan saat mendapati wajah polos dengan nafas teratur itu.Namun beberapa menit kemudian Erwin segera mengalikan tatapannya. Tangannya terangkat memukul – mukul kepalanya sendiri sambil mengeleng pelan.“Nggak – nggak, gue nggak mungkin suka sama dia. Kalau sampe gue beneran suka sama dia pasti otak gue sudah gila. Nggak mungkin. Mustahil."Dengan cepat Erwin berbalik. Melangkah keluar meninggalkan Rani tergeletak sendirian. Ia sudah memutuskan tidak mau lagi berurusan dengan gadis itu yang bahkan sama sekali tidak ia ketahui namanya. Ini benar – benar menyeramkan, gumamnya lirih.Kala Cinta Menyapa Sambil merengangkan sedikit otot-otot tubuhnya Rani beranjak bangung. Merasa asing dengan sekeliling. Saat ia menolah wajahnya langsung berhadapan dengan wajah Irma yang menatapnya khawatir sekaligus lega.“Syukur lah loe udah sadar."“He? Memangnya gue kenapa?” tanya Rani heran.“Justru itu yang pengen gue tanyain. Loe kenapa? Kok bisa sampe pingsan gitu. Tadi itu banyak anak – anak yang pada bilang katanya ngeliat loe yang pingsan di gendongan Erwin ke ruang Kesehatan. Karena gue panik, gue langsung aja kesini. Eh loe beneran pingsan ternyata. Mana sendirian nggak ada yang ngobatin kaki loe lagi."“Oh ya, kaki gue,” Rani segera memeriksa kakinya yang tampak terbalut plaster.“Loe diapain sama tu anak sampe pingsan gitu?”“He? Kenapa? Siapa?” tanya Rani dengan kening berkerut.“Ya Erwin lah, masa ia gue bilang si Arya."“O… Dia. Nggak ada. Kenapa?” tanya Rani balik.“Kalau nggak di apa – apain kenapa loe sampe pingsan."“Loe kan tau gue phobia sama darah. Waktu itu gue jatuh kesandung. Jatuhnya dua kali si sebenernya. Yang pertama gue kesandung batu. Eh, abis itu gue malah ngelangar pot. Jatuh lagi, kaki gue luka. Pingsan deh,” terang Rani sambil mengingat – ingat.“Terus hubungannya sama Erwin apa. Kok loe sampe di gendong segala?” selidik Irma lagi.“Kebetulan waktu itu dia emang lagi ada disana. Jadi begitu gue pingsan tentu saja dia……. Tunggu dulu, loe bilang apa tadi? Erwin gendong gue?” kata Rani dengan raut kaget.“Katanya si gitu. Gue kan nggak liat,” balas Irma sambil angkat bahu.“Ha, Mati gue,” keluh Rani panik.“Loe kenapa si? Kayak kambing kebakaran jengot aja."“Gue itu bukan kambing. Jadi gue nggak punya jengot. Yang ada gue takut sama kambing."Irma mengernyit. Ini temannya polos apa bego ya?“Oh ya, gue baru inget. Tadi urusan kita belom selesai. Kenapa Erwin menarik loe keluar kantin?”Rani dengan cepat menggeleng sambil menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Waspada diri, mulutnya kadang memang suka asal nyeplos.“Rani, Ada apa?”“Nggak ada apa – apa kok,” lagi – lagi Rani mengeleng.“Ya udah kalau loe nggak mau cerita. Loe gue End,” ancam Irma dengan gaya iklan di tipi – tipi yang memang lagi ngetren. Membuat Rani merasa andilau. Antara Dilema dan Galau. Kalau ia cerita ia mati di tangan Erwin walau ia tidak yakin Erwin berani membunuhnya. Tapi kalau ia nggak cerita Irma akan memutuskannya. Yang jadi pertanyaan kenapa Irma memutuskannya. Mereka kan nggak pernah pacaran. ^,^“Jadi loe beneran nggak mau cerita nie?” tanya Irma sambil bangkit berdiri.“Gue bukan nggak mau cerita tapi nggak boleh,” balas Rani sambil menunduk kan kepala.Melihat mata Rani yang mulai berkaca – kaca Irma hanya mampu menghela nafas. Astaga, sahabatnya itu bukan anak TK , tapi kenapa sikapnya polos sekali. Bahkan hanya di ancam olehnya saja sampe harus mau menangis.“Ya udah, loe nggak usah cerita lagi. Gue nggak akan maksa oke,” Irma akhirnya mengalah. Rani mengangkat wajahnya. Ikutan tersenyum saat mendapati Irama yang juga tersenyum padanya.“Ma kasih ya? Loe emang sahabat gue yang terbaik,” kata Rani sambil memeluk temannya. Irma hanya mengangguk. Terima nasip punya temen lebay.“Maafing gue ya, gue itu bukan nggak mau cerita. Tapi Erwin ngencem gue. Kalau sampe gue cerita sama orang soal dia yang jatuh ke got kemaren dia bakal bunuh gue,” kata Rani merasa bersalah.Irma terdiam. Sebuah senyuman penuh makna terukir di bibirnya mendengar permintaan maaf Rani barusan. Dilepaskannya pelukan gadis itu.“ Ya udah. Tenang aja. Gue nggak akan maksa loe buat cerita lagi. Gue janji. Sekarang mending kita pulang aja yuk. Udah jam pulang nie,” ajak Irma sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.Rani mengangguk manut. Kemudian dengan berdampingan mereka melangkah keluar. Meninggalkan kampus menuju ke rumah masing – masing.Lanjut ke cerbung Kala Cinta menyapa bagian 3Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.412 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen Romantis “Take My Heart ~ 09”

    Sambil menyelesaikan laporan bulanan di kostan, iseng nyalain Mp3. Pas di lagunya Jang geun suk ~ Love Rain. Konsentrasi langsung pecah.Memang ya, musik itu selalu bisa jadi inspirasi paling ampuh disaat hati lagi jenuh. Nggak terhitung berapa kali ku ulang – ulang ni lagu, tau – tau, Cerpen Romantis "Take My Heart ~ 09" udah tercipta. Ha ha ha-} Cerpen Terbaru Take My Heart Part 8 Sallang sallang sallang deullye oneun bissoriDugeun dugeun dugeun dugeun tteollye oneun nae gaseumSallang sallang sallang dugeun dugeun dugeunUsansori bissori nae gaseum soriSarang biga naeryeo oneoyo….Nan sarange ppajyeotneI love rain… I love youLalalalalala…PS: Padahal Aku babarblas gak tau artinya lho kecuali baris terakhir. Ha ha ha hasebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*