Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 06 / 13

Lanjutan dari cerpen cinta Kala Cinta Menyapa bagian ke 6 udah muncul ya guys. So buat yang masih penasaran dengan kalanjutan hubungan antara Rani dan Erwin bisa langsung simak kisahnya di bawah. Sama sekalian, buat reader baru biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading ya. Jangan lupa RCL…
Kala Cinta Menyapa
Sambil menunggu bus tumpangannya muncul, seperti biasa Rani segera mengeluarkan komik dari dalam tas. Siap – siap untuk terjun kedunia animasi ketika sebuah suara yang menyapa mengusik ketenangannya.
“Ehem.”
“Eh,” Rani menoleh, mendapati Erwin yang kini duduk tepat disampingnya. Untuk sejenak Rani terdiam, perhatiannya terjurus kearah Erwin yang juga diam.
“Loe mau kemana?” tanya Rani memberanikan diri untuk bertanya.
“Pulang,” balas Erwin singkat.
“Kok di sini?” tanya Rani lagi.
“Nggak liat apa gue lagi nungguin bus,” tambah Erwin masih tak menoleh.
“Bukannya biasanya pake motor ya?”
“Rusak."
Rani terdiam sambil mengangguk – angguk paham. Perhatiannya segera beralih kembali kearah komik yang tadi sempat terabaikan. Sepuluh menit berlalu suasana hening. Sepertinya Rani juga sudah tengelam dalam dunia barunya.
“Jadi loe juga suka sama dia?”
“Ha ha ha."
Erwin menoleh. Menatap kearah Rani dengan pandangan aneh, memangnya pertanyaannya barusan itu lucu ya? Namun saat mendapati Rani yang sama sekali tak menoleh kearahnya dan justru malah asik membolak balik lembar demi lembar komik yang ada di tangan, barulah ia menyadari kalau gadis itu bukan menertawakan ucapannya.
“Loe dengar pertanyaan gue barusan kan?” tambah Erwin lagi. Rani masih tak menoleh.
“Rani, gue ngomong sama loe,” sambung Erwin lebih keras.
“Eh… Kenapa?” tanya Rani heran. Matanya yang bening tampak berkedap kedip menatap kearah Erwin.
“Sudahlah… lupakan…” kesel Erwin mengibaskan tangannya. Membuat Rani memberenggut sebel. Merasa kesel karena aktifitas membacanya diganggu oleh sesuatu yang sama sekali nggak penting.
“Jadi loe benar – benar di tolak. Ck, Kesian sekali."
Rani menutup komik yang ada di tangan. Perhatiannya kembali teralih kearah Erwin.
“Loe sebenernya ngomong sama siapa si?” tanya Rani setelah sebelumnya menoleh kesekeliling dan menyadari kalau hanya ada ia berdua yang duduk di halte.
“Memangnya di sini ada siapa lagi?” bukannya menjawab Erwin malah balik bertanya.
“Nah justru itu yang bikin gue heran. Disini kan cuma ada kita berdua. La Loe ngomong sama siapa?”
“Tentu saja gue ngomong sama loe,” geram Erwin. Terlebih ketika dengan jelas ia melihat raut heran tergambar di wajah Rani. Jangan bilang kalau gadis itu benar-benar tidak menyadari keberadaan dirinya.
“O…" kepala Rani mengangguk angguk yang nggak jelas apa maknanya. “Memangnya loe mau ngomong apaan?” sambungnya lagi.
“Ha…” Erwin melongo mendapati tatapan polos Rani padanya. Asli, sedari tadi gadis itu ternyata benar benar tidak menganggap keberadaan dirinya.
“Kalau nggak salah denger tadi loe bilang suka sama di tolak. Memangnya loe abis di tolak cewek ya? Ck ck ck, kesian banget loe ya,” sambung Rani sambil menatap Erwin dengan tampang memelas. Benar – benar membuat Erwin asli mati gaya. Yang di tolak siapa, yang di kasiani siapa.
“Jangan tatap gue seperti itu,” kesel Erwin.
“Tapi loe kan pantas di kasiani. Bayangin aja, di tolak oleh orang yang kita sukai. Tentu saja itu menyedihkan. Temen gue, si Irma. Belum di tolak si, tapi gue tau kalau dia itu mencintai seseorang secara diam – diam aja terlihat menyedihkan. La apa lagi elo,” terang Rani sambil menerawang jauh.
“Eh yang bilang gue di tolak siapa?”
“Lho emangnya enggak. La terus kita ngomongin siapa donk?” tanya Rani bingung.
“Kita kan lagi ngomongin elo”."
“Gue?” tunjuk Rani kearah dirinya sendiri, Erwin hanya mencibir sinis kearahnya.
“Memangnya gue di tolak sama siapa?” sambung Rani sambil mencoba mengingat – ingat.
“Situ yang di tolak, kok situ yang nanya,” gumam Erwin lirih namun masih mampu Rani tanggkap. Membuat gadis itu memicingkan mata menatapnya.
“Kenapa loe malah menatap gue seperti itu si?” tanya Erwin risih.
“Cek cek cek, loe cowok kok demen gosip.".
“Ha?” Erwin melongo mendengarnya. Dia? Mengosip? Astaga, yang benar saja.
“Menyebarkan kabar yang jelas – jelas gak bener kalau bukan gosip apa donk?" sambung Rani lagi.
Erwin menghela nafas. Sepertinya ada yang salah dengan gadis disampingnya. “Gue nggak ngosip. Tapi tadi gue memang liat sendiri dengan mata kepala gue kalau loe di tolak sama siapa tu namanya, Rei? Cih, kayak nggak ada cowok laen aja."
“Tuh kan ngosip lagi. Kapan juga gue di tolak sama si Rei?" bantah Rani tak terima.
“Nggak usah di tutupin lagi. Gue juga sudah tau kok."
“Loe nggak tau tapi sok tau. Sama nyebar gosip juga," kali ini Rani membalas sewot.
“Apa loe bilang. Gue nyebar gosip? Enak aja. Tadi itu gue emang liat loe yang sedang memberikan kado kearah Rei. Tapi di tolak. Gue juga sempat melihat raut kesel di wajah loe. Terus loe mau ngelak apa lagi,” terang Erwin antusias.
Kali ini Rani tidak langsung membalas. Mencoba untuk mengingat – ingat maksud ucapan Erwin.
“oh, maksut loe ini?” tanya Rani sambil menunjukan bungkusan kado di sampingnya. Melihat itu Erwin langsung mengangguk membenarkan.
“Huwahahahaha."
Erwin melongo menatap Rani yang tertawa lepas. Memangnnya ada yang lucu ya?.
“Ya ela. Makanya jadi orang jangan suka seuzon sama orang. Udah lah salah, ngotot lagi. Sifat copaser kok di tiru (???),” tuding Rani sok berfilasafat. “Tapi…" Rani tampak berpikir baru kemudian melanjutkan ucapanya. "Kalau di pikir – pikir tadi itu gue emang di tolak si,” sambung Rani setelah terdiam untuk beberapa saat. Kalimat itu tak urung membuat Erwin benar – benar berniat untuk langsung menjitak kepalanya.
“Gue juga heran, padahal gue tadi Cuma mau nitip nie kado buat ulang tahun Irma, tapi kok Rei gak mau ya?” gumam Rani lagi.
“Tunggu dulu” Potong Erwin. “Kado buat irma? Maksutnya?”
“Iya. Hari ini kan Irma ulang tahun. Tapi dia malah sakit. Jadi gue nggak bisa langsung ngasi kado ini ke dia. Nah, karena gue tau tu anak deket sama Irma makanya rencanannya gue mau nitip aja. Eh malah di tolak sama dia."
“Jadi maksut loe itu kado buat Irma?” Erwin mencoba menegaskan dugaannya.
“Ya iya lah. Masa ia ini kado buat si Rei. Emang dia siapa gue?” balas Rani. Erwin tampak mengangguk – angguk membenarkan.
“Tapi yang gue heran, ini kan gak ada hubungannya sama loe. Kok loe tertarik pengen tau si?. Jangan – jangan loe naksir sama gue lagi."
“Sembarangan” Damprat Erwin sewot.
“La terus?. Atau jangan – jangan…”
“Jangan – jangan kenapa?” tanya Erwin antusias saat melihat Rani yang terlihat mengantungkan ucapannya.
“Jangan – jangan bener lagi loe emang rencana pengen nyebar gosip,” tuduh Rani langsung.
“Pletak."
Kali ini Erwin tidak mampu menahan tangannya untuk tidak mendaratkan jitakan di kepala Rani atas tebakan ngawurnya.
“Bukannya yang demen nyebar gosip itu elo ya?” cibir Erwin sinis.
“Gue?” tunjuk Rani ke arah wajahnya sendiri. Lagi – lagi Erwin membalas dengan tatapan sinis.
“O maksutnya masalah gosip yang katanya loe jatuh dalam got itu ya?”
“Ya maaf, suwer itu bukan kerjaan gue. Itu kerjaannya si Irma. Dia emang demen ngesosip. Secara loe tau nggak. Dia kan udah kadung mendapat julukan ‘Penasaran girl’. Jadi kalau ada apa – apa pasti bawaannya pengen tau aja. ck ck ck… Benar – benar ember bocor kayaknya,” terang Rani geleng – geleng kepala.
“Tapi tu anak nggak mungkin tau dan nyebarin gosip yang enggak – enggak kalau bukan karena loe."
“Yee… kok jadi gue si yang salah?” Rani tidak terima.
“Terus kalau nggak dia tau dari mana coba?”
“Terus gue harus bilang ‘WOW’ gitu,” tanya Rani ikut – ikutan sok pake bahasa yang memang lagi ngetrend. “Salah… Maksut gue, ini kan emang salah loe. Siapa suruh jatuh dalam got,” balas Rani balik.
Mendengar kalimat yang di ucapkan dengan santai oleh Rani barusan sontak membuat Erwin langsung melemparkan tatapan tajam kearahnya. Tapi yang di tatap cuek bebek saja. Bersikap seolah – olah tiada kejadian. Sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun. Dan belum sempat mulutnya terbuka untuk membalas, Rani sudah terlebih dahulu bangit berdiri. Ternyata bus yang sedari tadi mereka tunggu kini telah tiba di hadapannya. Dan tanpa sepatah katapun gadis itu segera melangkah masuk kedalam. Meninggalkan Erwin terpaku dengan tampang cengonya. Bahkan tak memberi kesempatan sedikitpun untuk Erwin menyadari bahwa bus yang sedari tadi ditunggu sudah mulai berlalu meninggalkannya.
Cerpen Kala Cinta Menyapa
Suara berisik dari ruang tengah menyadarkan Erwin dari tidur siangnnya. Dengan ogah – ogahan ia melangkah keluar. Untuk mengecek ada apa gerangan. Keningnya sedikit berkerut saat mendapati mamanya yang duduk dengan kaki di perban, sementara tepat di hadapannya tampak siluet seseorang yang berdiri dihadapannya. Tanpa sempat berfikir siapa orang tersebut Erwin segera menghambur menghampiri.
“Mama kenapa?” tanya Erwin langsung. Dari nadanya bertanya jelas ia merasa khawatir.
“Oh, mama nggak kenapa-napa kok. hanya tadi sempat terserempet mobil,” terang sang mama mencoba tersenyum.
“Hanya kok sampai di perban gini? Gimana ceritanya?” Erwin masih terlihat panik.
“Tapi ini sudah mendingan kok. Sudah di bawa kedokter juga. Tadi itu mama memang kurang hati – hati saat menyeberang, terus ada mobil yang juga sedang melaju kencang. Akhirnya keserempet deh. Untung saja ada Rani yang bantuin mama,” terang mama lagi sambil menujuk sosok yang berada tepat di hadapannya. Dan pada saat itu lah Erwin kembali menyadari kalau masih ada orang lain di antara mereka.
“Rani?” gumam Erwin setengah tak percaya.
“Erwin?” sosok yang di panggil Rani juga terlihat heran plus kaget.
“Loe ngapain ada disini?” tanya mereka secara bersamaan.
“Lho kalian sudah saling kenal?” Mama ikut – ikutan heran.
Untuk sejenak suasana hening sampai kemudian Erwin mengangguk membenarkan.
“Dia temen kampus Erwin, ma."
“Oh, benarkah? Wah kebetulan sekali,” ujar mama terlihat gembira. Rani hanya menunduk sambil tersenyum kaku.
“Maaf tante. Tapi sebenarnya Rani masih ada urusan. Nah karena tante juga sudah sampai dirumah dengan selamat, jadi Rani mau permisi dulu."
“Kenapa buru – buru sekali. Tunggu sebentar, biar bik Inah membuatkan minuman untuk mu dulu."
“Nggak usah tante, lain kali saja. Soalnya Rani beneran harus pulang sekarang. Rani tadi juga di suruh membeli barang sama mama. Jadi saat ini pasti sudah di tungguin dirumah."
“Baiklah kalau begitu. Maaf ya sudah merepotkanmu. Dan sekali lagi terima kasih karena sudah bantuin tante."
“Nggak papa kok tante. Rani permisi dulu,” pamit Rani sambil tersenyum tulus.
“Tunggu dulu, kalau gitu biar Erwin yang mengantar kamu."
“Apa? Oh nggak usah tante. Ngerepotin aja. lagian Rani bisa pulang sendiri kok,” tolak Rani cepat. Erwin juga terlihat menatap mama nya dengan tatapan memprotes.
“Sudahlah. Nggak papa. Nggak repot sama sekali kok,” balas Mama Erwin sambil tersenyum. “Lagi pula Erwin juga sama sekali tidak keberatan. Kan kalian juga sudah saling kenal. Iya kan?”
Erwin terpaksa mengangguk membenarkan sambil mencoba tersenyum paksa.
“Ayo Rani, gue antar loe,” ajak Erwin sambil melangkah keluar. Tak lupa disambarnya kunci motor diatas meja.
Mau tak mau Rani mengangguk membenarkan. Setelah terlebih dahulu pamit pada mama Erwin Rani melangkah keluar. Mengikutin Erwin yang sudah berjalan duluan.
Next to Kala Cinta Menyapa Part 7
Detail Cerpen

Lanjut Baca : || ||

Random Posts

  • Mis Tulalit Part 7

    Lanjut…………… Acara hari ini bermacam-macam banget, ya di bikin kayak pertandingan gitu deh… kayak tanding baris berbaris, bikin yel-yel, bahakan tanding make up segala.Lucunya lagi, yang jadi modelnya cowok, terus yang jadi tukang riasnya cewek tapi waktu lagi ngerias nggax boleh liat wajah yang lagi dirias. Main raba-raba gitu. Jadi kebayang donk gimana ‘ayu’ nya ha ha..Da lagi lomba tebak kata, yang kayak di ANTV gitu yang ‘katakan katamu’ regu April yang jadi juaranya lho.Pokoknya banyak banget deh, lomba bakiak juga. Waktu lomba ngisi air dalam botol, April ikutan. Sambil lari-lari sekenceng-kencengnya April and ketiga temennya bawa air pake cangkir yang di kumpulakn akhirnya kelompok nya yang berhasil paling cepet ngisi tu botol sampe penuh.Tentu saja April dan temen-temennya girang banget sampai panitia mengumumkan pake speaker siapa yang paling sedikir ngumpulin airnya, maka regu itu yang menang.sebagian

  • Cerpen Persahabatan: SENYUMMU ADALAH HIDUPKU

    Cerpen persahabatan berjudul Senyummu adalah Hidupku ini dikirim oleh Sarah Aulia.oleh: Sarah Aulia – Langkahku terhenti di depan sebuah toko buku. Teringat buku yang harus aku beli, akupun memasukki toko buku itu.“Ini dia…” katakku sambil mengambil sebuah buku yang bersampul biru, kemudian membaca isinya sebentar.“Maaf ya… maaf…” seorang pria tiba-tiba tidak di kenal datang dan langsung memelukku tanpa alasa yang jelas.Beberapa detik berlalu. Aku sempat bingung. Karena tidak segera melepaskan pelukannya akupun mendorongnya dengan kasar. “Apa-apaan sih lo?” katakku kasar“Aduh… maaf banget ya… tadi aku lagi di kejar-kejar orang. Makasih ya mau bantuin aku.” Katanya kemudian tersenyum kepadakku.“Orang stress.” Katakku kemudian meninggalkannya kemudian membawa bukuku ke kasir.“Eh La… lo dari mana aja?” Tanya Dina menghampiriku.“Ada orang stress, tiba-tiba meluk gue nggak jelas gitu. Katanya lagi di kejar-kejar sama orang.” Katakku kemudian menunjuk orang yang tadi memelukku.“Demi apa? Lo di peluk sama dia? OMG… beruntung banget sih lo La, bisa di peluk sama dia.”“Beruntung? Yang ada gue mandi kembang tujuh rupa abis ini.” Katakku ketus.“Lo tau nggak dia siapa?” tanyanya. Aku menggeleng tanpa dosa. “Dia itu Landry. RAFAEL LANDRY TANUBRATA. Mantan vokalis band Cola float, sumpah ternyata dia keren banget.” Katanya kemudian histeris“Cola float? Apaan tuh? Kayak nama minuman?” katakku polos.“Cola float? Masa lo nggak tau? Itu loh, band yang judul lagunya Aku Sayang Kamu. Yang sering gue nyanyiin. Sumpah lagunya enak banget.”“Terserah lo deh. Mau cola float kek. Mau coca cola kek. Gue nggak perduli. Balik yuk!!!” ajakku kepada sahabatku itu.“Ah nggak seru lo… yaudah ayo balik.” Dina kemudian menggandeng tanganku dan kamipun keluar dari mall itu.***Hari berganti. Sekarang aku sudah mengenakan kemeja putih dan rok abu-abu selututku. Akupun bersiap untuk segera berangkat ke sekolah.“Kamu udah bangun La?” seorang wanita yang tak lain mamaku menyapku dengan ramah. “Tadi ada orang yang nganterin bunga. Katanya buat kamu.”“Dari siapa ma?”“Nggak tau. Itu bunganya ada di ruang tamu.” Akupun segera mengambil kiriman bunga itu. kemudian memperhatikannya, sebuah mawar merah dan sekotak cokelat kesukaanku. Dan ada sebuah amplop berwarna biru yang berisi sebuah note. Kata-katanya sederhana, tapi menurutku itu cukup berkesan.Cinta yang tumbuh dari sebuah perasaan yang sederhana.***Aku sampai di sekolah. “Pagi Lala. Sendiri aja?” seseorang mengagetkanku dari belakang.“Eh, Ilham? Keliatannya?” katakku kepada seorang pria yang berada di belakangku yang ternyata Ilham, sahabatku.“Sendiran. Biasanya sama Pramudina? Sohib lo?” “Apasih? Gajelo ham. Emang lo bukan sohib gue?” “Sejak kapan kita sohiban?” tanyanya menggoda. “Becanda-becanda. Eh ngomong-ngomong, gimana peluncuran buku kedua lo kemarin?”“Baik. Lo kok nggak dateng sih? Jadikan gue Cuma berdua sama Dina.” Katakku sedih.“Sorry deh. Gue ada acara, jadi nggak bisa dateng…” “Oh yaudah. Eh ngomong-ngomong kemarin lo rekaman buat band lo ya? Apa kabarnya tuh band?”“Boy Band.”“Ia deh apakatalo.”“Baik lah. Emang kenapa?” “Nggak. Soalnya masa ada band yang mau nerima orang kayak lo?” candakku. “Maksud gue emang nggak ada orang lain yang lebih waras untuk jadi personil band, selain lo?”“Buktinya? Gue waras. Kalau nggak waras mana bisa gue break dance sambil nyanyi.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. “Udahlah ayo kita masuk kelas! Nanti telat, diomelin Pak Effendi loh…” Ilham kemudian menarik tanganku menuju kelas. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang ketika Ilham menarik tanganku. Oh tuhan… apa yang terjadi padakku? Kenapa rasanya jantung ini tidak bisa berhenti berdegup kencang. Apakah aku suka sama Ilham? Nggak mungkin. Aku, dia, dan Pramudina sudah bersahabat sejak kecil. Masa aku mengingkari persahabatan demi cinta sesaat?***“Bisa gila gue lama-lama….” Jeritku ketika aku melihat sebuah karangan bunga lagi di meja belajarku.“Kenapa lo La?” Tanya Dina yang sedang bermain di rumahku. Tepatnya sekarang dia berada di kamarku.“Itu!” katakku menunjuk sebuah karangan bunga yang di letakkan di meja belajarku.“So? Apa yang salah? Bunganya bagus.” Kata Dina enteng, sambil mengambil mawar merah dan sekotak cokelat yang ada di meja belajarku.“Bagus sih bagus. Tapi ini terror namanya. Udah hampir satu bulan tiap hari gue bisa dapet 3 kiriman bunga sama cokelat kayak gitu. Emangnya rumah gue taman bunga apa? Sehari di kirimin 3 karangan bunga, udah kayak minum obat aja.” Katakku emosi“Terus?”“Nggak ada nama pengirimnya pula. Ditambah note-note itu!!!” katakku sambil menunjuk beberapa buah amplop yang berada di samping kotak cokelat. “Bisa gila gue lama-lama!!” jeritku lagi.“Melihat dirimu tersenyum kepadakku, bagaikan melihat seluruh dunia tersenyum kepadakku. Wah… wah… kata-katannya bagus. Dapet darimana lo, La?”“Dapet dari mana? Ya dari semua kiriman nggak jelas itu lah….”“Itu berarti lo punya pengagum rahasia.”“Apa? Pengagum rahasia gue? Darimana?”“Ya wajar lah lo dapet karangan bunga sama note kayak gitu kayak gitu tiap hari. Lo kan novelis? Dan buku lo juga cukup terkenal. Jadi wajar lah kalau ada yang ngefans sama lo samapai kayak gitu. Kalau gue tuh baru nggak wajar. Gue siapa? Nggak ada yang kenal. Paling satpam depan sekolah yang kenal sama gue.”“Huh…” akupun hanya bisa menghela nafas. Sesaat ku menatap mata sahabat baikku itu. Mungkin Dina benar. Tapi kenapa dia melakukan hal itu kepadaku? Kenapa dia tidak mencantumkan namanya di setiap kirimannya? Apakah dia benar-benar pengagum rahasiaku? Atau dia orang yang senang meneror kehidupan orang lain.***“Hai La… Din.” Seseorang menepuk pundakku.“Eh lo Ham….” Sapaku kepada Ilham.“Gue cariin lo berdua di kelas nggak ada, taunya ada di kantin.”“Tumben lo nyariin kita? Kenapa nih… pasti ada udang di balik batu?” Tanya Dina. Memang benar jika Ilham mencari aku dan Dina pasti ada sesuatu yang dia inginkan.“Tau aja…” kata Ilham sambil menunjukkan senyum beribu arti.“Oke. To the point aja. Lo maunya apa? Kalo duit gue nggak punya, tanggung bulan nih…” kata Dina.“Nggak kok. Gue Cuma mau ngajak lo ke peluncuran Single boy band gue. Mau ya….” Ilham memohon.“Kapan?” Tanyaku.“Hari minggu. Please dateng ya….” Katanya memohon.“Oke deh Ham. Gue usahain.” katakku.“Kok usahaiin sih… lo berdua harus dateng, nggak mau tau.”“Ia deh… gue sama Lala dateng. Kita balik ke kelas dulu ya. Udah bel tuh.” Kata Dina. Kemudian bel sekolah berdering dua kali, itu tandanya jam istirahat sudah habis. Dan aku sudah harus kembali ke kelas.***Sesuai janjiku yang kemarin, aku dan Pramudina datang ke acara peluncuran single terbarunya Ilham. Di sana rencananya Ilham akan mengenalkanku pada personel Boy bandnya.“Hei!!!” seseorang memanggil kami dari kejauhan. Dan aku tahu dia pasti Ilham. Kemudian dia menghampiri kami. “Gue kira kalian nggak datang.”“Eh Ham… Gue kan udah janji kemarin. Janji kan harus di tepati.” Katakku.“Yaudah ayo masuk. Nanti gue kenalin sama teman-teman gue.” Katanya mengajakku masuk ke dalam.Di dalam aku melihat enam orang lainnya. “Guys, ini teman-teman gue.” Kata Ilham kepada teman-temannya. “Ini namanya Morgan, Kakak gue Reza, Dicky, Bisma, Rangga, dan yang di tuakan Rafael.” Katanya menjelaskan satu per satu.“Elo…” katakku begitu melihat seorang yang seakan tidak asing.Dia kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Seakan tidak mengenaliku. Detik kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah. “Kamu Lala , novelis terkenal itu kan?” tanyanya.“Elo bukannya yang waktu itu meluk gue di mall kan?” katakku.“Kaaakkk Landry…..” Tiba-tiba Dina langsung memeluk orang itu.“Lo udah kenal dia?” Tanya Ilham kepadakku begitu melihat ekspressi wajahku melihat orang itu.“Belum. Tapi gue pernah ketemu dia di toko buku. dan nggak tau kenapa, tau-tau dia meluk gue. Katanya lagi dikejar-kejar orang.”“Haha… ada-ada aja. Tapi lo tau nggak, sebenarnya Rafael itu ngefans banget sama lo?”“Gue? Kok bisa?”“Dia itu hobi banget baca buku. Apalagi kayak novel yang lo buat.” Kata Ilham menjelaskan semuanya.“Masa sih, novel gue bisa sesukses itu?” kataku tak percaya.“Kelihatnnya?” Ilham menatap matakku, benar-benar lekat. Tidak seperti tatapannya yang biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Rasannya ada perasaan lain yang menyelimuti hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?Bangun Lala , Ilham itu sahabat lo. Nggak mungkinkan lo suka sama dia. Mau lo apain persahabatan lo, kalau lo suka sama dia. Inget dong, Dina juga suka sama Ilham. Jangan nyoba-nyoba ngancurin persahabatan yang udah ada selama bertahun-tahun ini demi cinta sesaat.***Tok… tokTerdengar pintu rumahku di ketuk. Hari ini mamaku pergi, jadi aku hanya sendirian di rumah. “Sebentar…” teriakku dari dalam.“Elo?” katakku terkejut dengan mulut yang mengangga membentuk huruf O, ketika melihat siapa yang berada di balik pintu depan rumahku.“Boleh masuk?” katannya, iapun tersenyum manis kepadakku.“Silahkan.” Katakku ragu-ragu, kemudian membukakan pintu untuknya. Aku memersilahkannya duduk di ruang tamu rumahku. “Lo Rafael kan? Temennya Ilham? Dan yang waktu itu ada di toko buku?”“Ia. Sorry ganggu. Dan gue juga mau minta maaf soal yang di toko buku.” katannya menjawab satu per satu pertanyaan yang aku lontarkan secara beruntun. “Oh iya, gue juga mau minta maaf. Gara-gara gue lo ngerasa di terror selama satu bulan ini. Sorry ya?” katannya lagi“Maksud lo?”“Jadi gini…” katanya kemudian mengeluarkan sebuah mawar merah dari balik punggungnya. “Gue yang ngirim ini kerumah lo selama sebulan ini. Sorry kalau lo ngerasa ke terror.”Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti. “Jadi maksud lo? Lo yang udah ngirim semua bunga itu ke gue?”“Yup… bisa dibilang begitu.”“Sama cokelat dan note itu?” katakku lagi.“Cokelat? Gue nggak nggak pernah ngirim cokelat, apalagi note.”“Jadi yang ngirim cokelat sama note itu bukan lo?”Rafael menampilkan tatapan bingungnya ke arahku. Tiba-tiba hand phone ku berbunyi. Sebuah pesan singkat, dari Ilham.LA, LO DIMANA? CEPET KERUMAH SAKIT, PENYAKITNYA DINA KAMBUH LAGI.Pikiranku langsung melayang begitu membaca SMS dari Ilham. Penyakitnya Dina kambuh lagi? Kok bisa? Pasti ada sesuatu yang bikin dia kaget, jadinya penyakitnya kambuh lagi.“Kamu mau kemana?” tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku baru ingat kalau sedang ada tamu di rumahku.“Dina, sahabat gue. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sekarang dia ada di rumah sakit. Lo mau ikut?” Rafael menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga aku dan dia menuju rumah sakit. ***“Kok bisa penyakit jantungnya Dina kambuh? Emangnya kenapa?” tanyaku kepada Ilham yang sedang berada di ruang tunggu.“Jadi begini….”“Ham, akhir-akhir ini kok sekarang lo jadi sering banget beli cokelat sih? Setahu gue lo nggak suka cokelat.” Tanya Reza kakanya Ilham“Emang kenapa? Mau tau aja. Suka-suka gue dong….”“Lo kan adek gue. Jadi, apapun yang lo lakukan gue harus tau. Termasuk sifat lo yang tiba-tiba berubah gini.”“Jadi sebenarnya…” Ilham diam sejenak. “Gue ngirim ini semua buat Lala. Sebenarnya gue udah suka sama dia dari dulu. Tapi, nggak pernah gue ungkapin. Gue takut di tolak sama dia kak.”Tanpa di sengaja, Dina mendengar percakapan Ilham dengan Kakaknya. Tiba-tiba, nafasnya langsung tidak teratur, dan seketika itu juga dia pingsan.“Jadi… lo suka sama gue?” Ilham mengangguk. “Lo juga yang ngirimin cokelat ke rumah gue?” Ia kembali mengangguk. “Dan Dina tau.” Ilham kembali mengangguk. “Ya ampun, Ham… lo tau nggak? Dina itu suka sama lo dari dulu. Dari pertama kali kita sahabatan. Dia bilang dia naksir berat sama lo. Tapi lo nya malah kayak gitu. Gimana nggak penyakit jantungnya kumat lagi?”“Sorry, La… gue nggak tau.” Ilham terlihat menyesal.“Udahlah, lo nggak usah minta maaf kayak gitu. Tapi, thanks yang buat semua cokelatnya.” Aku tersenyum kepadanya Ilham pun tersenyum kepadakku. Senyumnya itu benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Jadi inget lirik lagunya SM*SH, kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu. Ahahah… Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamarnya Dina. “Siapa yang di sini namanya Ilham sama Lala?”“Kami pak…” aku dan Ilham berdiri secara bersamaan. “Saudari Dina ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kalian.”“Maksud dokter?” tanyaku.“Kondisi saudari Dina sudah tidak dapat di tolong lagi. Penyakit jantungnya sudah tidak bisa di tolong. Mungkin hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Dan tadi dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kalian dengannya.” Kata dokter itu.Tubuhku lemas mendengarnya. Rasanya kaki ini membeku, tidak dapat bergerak. Tapi Ilham menggenggam tanganku, kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Bagaikan api yang benyambar sebongkahan es batu kakiku yang tadi membaku bagaikan es batu yang baru saja mencair.“Ayo kita selesaikan ini semua.” Katanya, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan UGD tempat Dina di rawat.“Dina…” kata kami bersamaan, begitu melihat kondisi Dina yang terbaring sangat lemas dengan berbagai alat rumah sakit menempel di badannya.“Lala, Ilham.” Katanya lemas, sambil mencoba tersenyum kepada kami.“Din, sorry ya… gara-gara gue, lo jadi… jadi… ya… jadi begini.” Kata Ilham, memang kata-katanya terkadang suka nggak jelas apa maksudnya.“Gue juga minta maaf ya…” katakku kepada Dina“Gue yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya gue jadi jarak diantara kalian berdua. Gue bagaikan kutu yang ada di rambut tau.”“Maksud lo apa din? Ada juga gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama kita.”“Gue tau…” katanya samba tersenyum kemudian menggenggam tanganku, dan menyatukannya dengan tangannya Ilham. “Gue tau, lo suka sama Ilham kan, La? Dan Ham, lo suka sama Lala kan? Jadi kenapa kalian nggak jadian aja.”“Tapi kan…” aku melepaskan genggaman tanganku dengan Ilham.“Anggep aja gue nggak ada. Sebentar lagi gue juga mati kok. Jadi kalian bisa pacaran dengan tenang. Tanpa ada lagi kutu di rambut kalian. Hehe…” katanya sambil sedikit bergurau, kemdian kembali menyatukan tanganku dengan tangannya Ilham.Sesaat aku menggengam tangannya Ilham. Benar-benar hangat, rasanya nyaman dan tentaram di hati. Tapi kenapa tiba-tiba tangannya berubah menjadi dingin, dan beku. Bagaikan tidak ada setetespun darah yang mengalir di tubuhnya. Apa jangan-jangan…Brak….Nitt…..Aku terkejut. Ketika melihat Ilham sudah terkapar di lantai, dengan wajah yang pucat dau sudah tidak bernafas lagi. Ditambah lagi alat pendetkesi detak jantung yang terpasang di tubuh Dina juga membentuk sebuah garis lurus.Aku tertunduk menyesal. Aku benar-benar telah mengorbankan persahabatan kami demi cinta sesaat. Kini, aku benar-benar kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Dan juga semua persahabatan yang telah kami jalin yang benar-benar indah. Tamat

  • Cerpen King Vs Queen Part 8

    Gak perlu basa – basi, so langsung ke cerpen aja deh,,, ^_^Dan pagi itu, hari minggu. Niken sudah rapi begitu juga dengan kakaknya, sambil menjinjit tasnya, Niken menuju meja makan, di mana mamanya sedang menyiapkan sarapan. Niken duduk di meja makan, di ikuti oleh mama dan kakaknya."kalian mau berangkat sekarang?" tanya mamanya."ia ma, sehabis sarapan ini" jawab Nino."beneran mau ngajakin adikmu?" tanya mamanya lagi sambil melirik Niken yang sedang aslik sarapan.sebagian

  • Cerita Hati ( ketika hati tak mampu mengungkapkan)

    Cerita Hati ( ketika hati tak mampu mengungkapkan)Oleh: Deny fadjar suryaman – `Sesungguhnya ku tak menginginkan semuanya begini, walau semua yang terjadi hanya kebohongan dan kepalsuan saja yang kau berikan kepadaku..Tapi sejujurnya itu semua sudah cukup bagi ku tuk dekat denganmu walau hanya bisa membayangkan dan mengharapkan kelak kau akan datang kepadaku dengan kejujuran dan ketulusan hati pada diriku..`tak ku harapkan lebih atas kehadiranmu. .`tak ku harapkan kejujuran itu datang. .`tak ku harapkan kau menganggap ku ada. .`dan jika itu semua dapat di wujudkan oleh dirimu, Tapi mengapa seperti ini yang terjadi…???‘Mungkin ini sebuah perasaan yang bodoh yang pernah kualami selama hidup. Selama ini, aku hanya bisa membayangkan dan mengharapkan namun tidak untuk mengatakannya. Ini menjadi sebuah ketidakpastian bertindak yang kulakukan. Sehingga aku hanya bisa memandang dan melihatnya ketika mimpi.’Itu kahayalan dari seseorang yang berharap cinta ini nyata ketika semua tidak mampu diungkapkannya. Sebuah khayalan yang membuat hidupnya dipenuhi kegelisahan dan kebimbangan.ini semua berawal dari hobi barunya berselancar didunia maya. Suatu ketika dia sedang memainkan khayalannya didunia maya. Dia melihat sebuah profil seorang wanita yang membuatnya terpikat seketika. Secara naluriah dia langsung mengirim sebuah permintaan pertemanan kepada wanita itu. (mungkin lebih pastinya karna dia baru dengan hal ini, jadi ingin punya lebih banyak teman).***Hari pun terus berlalu dia pun tak peduli dengan sebuah profil wanita tersebut. Karna dia selalu asyik dengan obrolan teman-teman facebook-nya yang lain. Namun, hari ini dia melihat dalam beranda sebuah obrolan antara temannya dan wanita yang beberapa hari yang lalu dia add. Disinilah mulai perbincangan antara dia dan wanita dimulai. Nama ku brian atau lebih sering di panggil rian, yah bisa dibilang manusia yang sederhana senang dengan hal-hal yang berbau traveling. Tapi dalam urusan cinta aku sangat pendiam dan terkadang membiarkan perasaan cintanya berlalu begitu saja. Dalam obrolan antara teman aku dan wanita itu, teman aku menyebut-nyebut nama aku untuk dijadikan motif dia berkenalan dengan wanita itu.Yah, mungkin karna wanita itu tinggal di daerah yang berdekatan dengan ku. Itu sebabnya aku dijadikan motif teman aku untuk berkenalan. Mungkin karna itu juga yang membuat mataku terfokus pada tulisan di beranda facebook-ku. Akhirnya pun aku ikut tergabung dalam obrolan itu. Dan mulai menulis sebuah komentar didalamnya.“weh man, apa maksudnya tuh bawa-bawa nama gw. Kalo mau kenalan sama cewe jangan bawa-bawa nama gw geh”. Dengan kata “geh” yang mencirikan logat bahasa di daerah ku. Hahahaaa.. cukup lucu sih kalo di denger satu kata yang aneh itu. Mungkin hanya orang-orang d daerahku yang mengerti apa maksud dari kata itu. Temen aku yang ini namanya iman, yah ketika kita SMA dulu, dia memang dia terkenal playboy-nya, sampai-sampai banyak teman yang udah men-cap-nya seperti itu. Di saat yang bersamaan wanita itu pun membalas komentar dan mulai-lah awal perbincangan ku dengan wanita itu. Namanya aini yang ternyata dia juga alumni SMA yang sama dengan aku dan temanku. Tapi entah mengapa aku dan temanku tak sadar. Sebenernya aku sudah tau kalau dia bersekolah yang sama dengan aku dan temanku, namun walau rumahku satu daerah dengannya tapi aku tak tau siapa namanya, hanya saja aku sering liat dia lewat depan rumahku waktu sekalo dulu. Disini awal ketertarikanku untuk mengenalnya lebih dekat lagi. Namun itu hanya ketertarikan naluriah seorang wanita, dan seperti biasanya aku pun tak berani mencari tau lebih banyak lagi tentang waktu itu, yah karna sifat aku yang tak berani memulai suatu hubungan. Dan akhirnya dia pun mengconfirmasi prmintaan pertemanan aku. Akhirnya kita pun sering berinteraksi di dunia maya. Kita saling bertanya satu sama lain tentang diri masing-masing. Yah dari mulai hal-hal yang sepele untuk di perbincangkan sampai hal-hal yang menyangkut tentang pribadi masing-masing. Yah dari perbincangan itu bisa di simpulkan bahwa dia wanita yang cukup asyik, menarik, dan nyambung untuk di ajak berbincang.Setelah sekian lama kita sering wall-to-wall, nge-chat, sampai coment-coment d facebook, akhirnya dia pun bilang kalau dia udah mulai jarang untuk berselancar di dunia maya. Sampai akhirnya dia pun mengajak aku untuk berbincang lewat handphone saja. “hey ian, aku udah jarang buka fb nih. Gimana kalau smsan saja” seru dia di wall. “yah, tapi kan gw gak tau nomor hape lho” aku pun membalas wall dia. “nih nomor ku……”. ***Waktu pun kian berlalu membawa aku dan aini saling kenal lebih jauh lagi. Dan akhirnya kita pun sepakat untuk pergi nonton berdua, ini awal pertemuan tatap muka kita yang pertama. Yah walau sedikit aneh sih, walaupun rumah kita satu daerah dan pernah satu sekolah tapi kita belum pernah berbincang secara langsung.Hari itu matahari bersinar sedikit agak panas, yah walau sedikit agak panas tapi aku dan aini tetap berjanjian untuk pergi nonton bersama. Kami pun pergi berangkat menuju bioskop, dalam perjalanan kami pun banyak berbincang soal keanehan mengapa kita tak pernah berbicara langsung seperti ini sejak dulu. Disinilah awal dari aku timbul rasa suka sama aini, atau lebih tepatnya sayang. Saat itu hati aku sulit untuk dikendalikan, yah karna memang perasaan ini sulit untuk di ajak kompromi. Namun lagi-lagi aku sulit untuk mengatakannya. Sampai-sampai sejenak keadaan menjadi hening karna tak ada satu patah kata pun yang keluar dari kita. Dan akhirnya kita pun memutuskan untuk langsung pulang saja, tanpa ada pertemuan yang lebih panjang lagi.***Hari ini aku hanya duduk d hamparan teras alam yang beralaskan rerumputan yang hijau yang tersinari cahaya senja. Yah hari ini memang sudah sore, saat ketika matahari mulai meredupkan sinarnya, saat dimana sang gereja kecil mulai kembali ke sarangnya, dimana saat langit biru mulai memudar menjadi jingga.dan saat dimana aku sering menikmati keindahan senja. Disini aku sering sekali mencurahkan semua yang ada di hati dan perasaanku. Disini juga aku sering membuat tulisan-tulisan baik tengtang perasaan maupun tentang keadaan yang ada di sekeliling aku. Sampai akhirnya hari ini aku menulis sebuah puisi tentang sore itu.“Pesona jingganya”Di kala cahayanya mulai terbenamBukan berarti keindahannya menghilangNamun terpancar dalam lukisan jingganyaYang tergores indah dalam bentangan langitSisi demi sisi terlihat begitu mempesonaBerpadu satu dengan awan putih yang mulai berubah jinggaYang mulaia menghanyutkan suasana dalam hatiYang terbawa oleh hembusan anginJika jingganya tak mampu kau rasakanCobalah tuk mencarinya dalam heningJika itu tak mampu kau temukan juaJangan pernah berhenti berharap untuk esok hari datang kembaliAku sering menghabiskan waktu ku disini itu karna ada sebabnya, yah sebuah penyakit yang selalu menghampiriku disaat-saat tak tentu. Mungkin ini juga yang membuatku untuk sulit menyatakan cinta yang ada dihatiku, karna aku terlalu takut meninggalkannya di saat yang tak tepat. Jangtungku yang lemah telah mencapai pada masa yang kronis, sehingga membuat sang dokter memfonis aku tak punya waktu lama untuk dapat menikmati hidup yang indah ini. Itu sebabnya aku sering menghabiskan waktu di tempat yang indah ini, terkadang aku pun mengajak aini ke tempat ini. Yah saat ini pun aku mengajaknya, namun dia telat untuk datang ke sini.“hay rian” suara lembut terdengar ditelingaku yang juga membuyarkan khayalanku sore itu. Dengan tatapan yang masih kosong aku pun menjawab “yah, hay juga aini”. “map aku telat datang yah” sambung aini. “yah gapapa, aku juga baru datang kok” sahutku.Aini pun duduk di sampingku seraya dia pun terlarut dalam suasana sore yang berikan keindahan ini. “kamu sedang nulis puisi atau cerpen yah?” aini membuka percakapan kita. “yah aku baru menyelesaikan sebuah puisi”. “mana coba aku liat” sambil merebut buku yang ku pegang. Akhirnya kami pun terlarut dalam obrolan yang mengasyikan di tempat itu.***Di dunia ini hanya aku dan keluarga saja yang tau tentang penyakit ini, bahkan aini pun tak mengetahuinya. Dia hanya tau aku yang suka humor, suka buat tulisan, dan membaca novel. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sejak perasaan aneh ini merasuki hatiku, aku ingin jika aini tau semua perasaanku namun aku pun tak mau membuat hatinya bersedih ketika aku harus meninggalkan dia di saat yang tak tepat. Setelah sekian lama perkenalan diantara kita, kita pun telah melalui semua bersama-sama, karna sejak perkenalan kita pertama kali kita jadi lebih sering bermain bersama. Sampai saat ini aku hanya bisa menyembunyikan semua perasaanku padanya. Sampai pada akhirnya akupun di larikan ke rumah sakit karna jantungku yang terasa berhenti berdetak. Aku pun hanya bisa pasrah semoga tuhan masih beri aku waktu untuk tetap bisa menikmati hidup setidaknya sampai aku punya keberanian untuk mengatakan semua isi hatiku pada aini.Aini yang tak tau keadaan ku yang menghilang tanpa jejak beberapa hari belakangan mulai bertanya-tanya pada hatinya kemana aku sampai tak menghubunginya beberapa hari belakangan ini. Sampai pada akhirnya jantungku pun tak mau untuk mendenyutkan dan berdetak kembali seperti biasa. Yah, kali ini aku telah di panggil sang kuasa. Karna dia tak mengizinkanku untuk bisa hidup lebih lama lagi. Aini yang mengetahui kabar bahwa aku telah tiada merasa kesedihan yang besar. Dia pun merasa sangat terpukul atas kepergianku.Mungkin satu hal yang aku sesali, ini bukan hanya isi hatiku yang tak bisa menyampaikannya kepada aini, tapi aku memang sama sekali tak bisa menyampaikanya kepada aini sampai kapanpun, karna tuhan tak mengizinkanya.The endPenulis: Deny fadjar suryamanFb : denyfajarsuryaman@rocketmail.comTwitter : @denyfadjarDenyfadjarsuryaman.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*