Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 06 / 13

Lanjutan dari cerpen cinta Kala Cinta Menyapa bagian ke 6 udah muncul ya guys. So buat yang masih penasaran dengan kalanjutan hubungan antara Rani dan Erwin bisa langsung simak kisahnya di bawah. Sama sekalian, buat reader baru biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading ya. Jangan lupa RCL…
Kala Cinta Menyapa
Sambil menunggu bus tumpangannya muncul, seperti biasa Rani segera mengeluarkan komik dari dalam tas. Siap – siap untuk terjun kedunia animasi ketika sebuah suara yang menyapa mengusik ketenangannya.
“Ehem.”
“Eh,” Rani menoleh, mendapati Erwin yang kini duduk tepat disampingnya. Untuk sejenak Rani terdiam, perhatiannya terjurus kearah Erwin yang juga diam.
“Loe mau kemana?” tanya Rani memberanikan diri untuk bertanya.
“Pulang,” balas Erwin singkat.
“Kok di sini?” tanya Rani lagi.
“Nggak liat apa gue lagi nungguin bus,” tambah Erwin masih tak menoleh.
“Bukannya biasanya pake motor ya?”
“Rusak."
Rani terdiam sambil mengangguk – angguk paham. Perhatiannya segera beralih kembali kearah komik yang tadi sempat terabaikan. Sepuluh menit berlalu suasana hening. Sepertinya Rani juga sudah tengelam dalam dunia barunya.
“Jadi loe juga suka sama dia?”
“Ha ha ha."
Erwin menoleh. Menatap kearah Rani dengan pandangan aneh, memangnya pertanyaannya barusan itu lucu ya? Namun saat mendapati Rani yang sama sekali tak menoleh kearahnya dan justru malah asik membolak balik lembar demi lembar komik yang ada di tangan, barulah ia menyadari kalau gadis itu bukan menertawakan ucapannya.
“Loe dengar pertanyaan gue barusan kan?” tambah Erwin lagi. Rani masih tak menoleh.
“Rani, gue ngomong sama loe,” sambung Erwin lebih keras.
“Eh… Kenapa?” tanya Rani heran. Matanya yang bening tampak berkedap kedip menatap kearah Erwin.
“Sudahlah… lupakan…” kesel Erwin mengibaskan tangannya. Membuat Rani memberenggut sebel. Merasa kesel karena aktifitas membacanya diganggu oleh sesuatu yang sama sekali nggak penting.
“Jadi loe benar – benar di tolak. Ck, Kesian sekali."
Rani menutup komik yang ada di tangan. Perhatiannya kembali teralih kearah Erwin.
“Loe sebenernya ngomong sama siapa si?” tanya Rani setelah sebelumnya menoleh kesekeliling dan menyadari kalau hanya ada ia berdua yang duduk di halte.
“Memangnya di sini ada siapa lagi?” bukannya menjawab Erwin malah balik bertanya.
“Nah justru itu yang bikin gue heran. Disini kan cuma ada kita berdua. La Loe ngomong sama siapa?”
“Tentu saja gue ngomong sama loe,” geram Erwin. Terlebih ketika dengan jelas ia melihat raut heran tergambar di wajah Rani. Jangan bilang kalau gadis itu benar-benar tidak menyadari keberadaan dirinya.
“O…" kepala Rani mengangguk angguk yang nggak jelas apa maknanya. “Memangnya loe mau ngomong apaan?” sambungnya lagi.
“Ha…” Erwin melongo mendapati tatapan polos Rani padanya. Asli, sedari tadi gadis itu ternyata benar benar tidak menganggap keberadaan dirinya.
“Kalau nggak salah denger tadi loe bilang suka sama di tolak. Memangnya loe abis di tolak cewek ya? Ck ck ck, kesian banget loe ya,” sambung Rani sambil menatap Erwin dengan tampang memelas. Benar – benar membuat Erwin asli mati gaya. Yang di tolak siapa, yang di kasiani siapa.
“Jangan tatap gue seperti itu,” kesel Erwin.
“Tapi loe kan pantas di kasiani. Bayangin aja, di tolak oleh orang yang kita sukai. Tentu saja itu menyedihkan. Temen gue, si Irma. Belum di tolak si, tapi gue tau kalau dia itu mencintai seseorang secara diam – diam aja terlihat menyedihkan. La apa lagi elo,” terang Rani sambil menerawang jauh.
“Eh yang bilang gue di tolak siapa?”
“Lho emangnya enggak. La terus kita ngomongin siapa donk?” tanya Rani bingung.
“Kita kan lagi ngomongin elo”."
“Gue?” tunjuk Rani kearah dirinya sendiri, Erwin hanya mencibir sinis kearahnya.
“Memangnya gue di tolak sama siapa?” sambung Rani sambil mencoba mengingat – ingat.
“Situ yang di tolak, kok situ yang nanya,” gumam Erwin lirih namun masih mampu Rani tanggkap. Membuat gadis itu memicingkan mata menatapnya.
“Kenapa loe malah menatap gue seperti itu si?” tanya Erwin risih.
“Cek cek cek, loe cowok kok demen gosip.".
“Ha?” Erwin melongo mendengarnya. Dia? Mengosip? Astaga, yang benar saja.
“Menyebarkan kabar yang jelas – jelas gak bener kalau bukan gosip apa donk?" sambung Rani lagi.
Erwin menghela nafas. Sepertinya ada yang salah dengan gadis disampingnya. “Gue nggak ngosip. Tapi tadi gue memang liat sendiri dengan mata kepala gue kalau loe di tolak sama siapa tu namanya, Rei? Cih, kayak nggak ada cowok laen aja."
“Tuh kan ngosip lagi. Kapan juga gue di tolak sama si Rei?" bantah Rani tak terima.
“Nggak usah di tutupin lagi. Gue juga sudah tau kok."
“Loe nggak tau tapi sok tau. Sama nyebar gosip juga," kali ini Rani membalas sewot.
“Apa loe bilang. Gue nyebar gosip? Enak aja. Tadi itu gue emang liat loe yang sedang memberikan kado kearah Rei. Tapi di tolak. Gue juga sempat melihat raut kesel di wajah loe. Terus loe mau ngelak apa lagi,” terang Erwin antusias.
Kali ini Rani tidak langsung membalas. Mencoba untuk mengingat – ingat maksud ucapan Erwin.
“oh, maksut loe ini?” tanya Rani sambil menunjukan bungkusan kado di sampingnya. Melihat itu Erwin langsung mengangguk membenarkan.
“Huwahahahaha."
Erwin melongo menatap Rani yang tertawa lepas. Memangnnya ada yang lucu ya?.
“Ya ela. Makanya jadi orang jangan suka seuzon sama orang. Udah lah salah, ngotot lagi. Sifat copaser kok di tiru (???),” tuding Rani sok berfilasafat. “Tapi…" Rani tampak berpikir baru kemudian melanjutkan ucapanya. "Kalau di pikir – pikir tadi itu gue emang di tolak si,” sambung Rani setelah terdiam untuk beberapa saat. Kalimat itu tak urung membuat Erwin benar – benar berniat untuk langsung menjitak kepalanya.
“Gue juga heran, padahal gue tadi Cuma mau nitip nie kado buat ulang tahun Irma, tapi kok Rei gak mau ya?” gumam Rani lagi.
“Tunggu dulu” Potong Erwin. “Kado buat irma? Maksutnya?”
“Iya. Hari ini kan Irma ulang tahun. Tapi dia malah sakit. Jadi gue nggak bisa langsung ngasi kado ini ke dia. Nah, karena gue tau tu anak deket sama Irma makanya rencanannya gue mau nitip aja. Eh malah di tolak sama dia."
“Jadi maksut loe itu kado buat Irma?” Erwin mencoba menegaskan dugaannya.
“Ya iya lah. Masa ia ini kado buat si Rei. Emang dia siapa gue?” balas Rani. Erwin tampak mengangguk – angguk membenarkan.
“Tapi yang gue heran, ini kan gak ada hubungannya sama loe. Kok loe tertarik pengen tau si?. Jangan – jangan loe naksir sama gue lagi."
“Sembarangan” Damprat Erwin sewot.
“La terus?. Atau jangan – jangan…”
“Jangan – jangan kenapa?” tanya Erwin antusias saat melihat Rani yang terlihat mengantungkan ucapannya.
“Jangan – jangan bener lagi loe emang rencana pengen nyebar gosip,” tuduh Rani langsung.
“Pletak."
Kali ini Erwin tidak mampu menahan tangannya untuk tidak mendaratkan jitakan di kepala Rani atas tebakan ngawurnya.
“Bukannya yang demen nyebar gosip itu elo ya?” cibir Erwin sinis.
“Gue?” tunjuk Rani ke arah wajahnya sendiri. Lagi – lagi Erwin membalas dengan tatapan sinis.
“O maksutnya masalah gosip yang katanya loe jatuh dalam got itu ya?”
“Ya maaf, suwer itu bukan kerjaan gue. Itu kerjaannya si Irma. Dia emang demen ngesosip. Secara loe tau nggak. Dia kan udah kadung mendapat julukan ‘Penasaran girl’. Jadi kalau ada apa – apa pasti bawaannya pengen tau aja. ck ck ck… Benar – benar ember bocor kayaknya,” terang Rani geleng – geleng kepala.
“Tapi tu anak nggak mungkin tau dan nyebarin gosip yang enggak – enggak kalau bukan karena loe."
“Yee… kok jadi gue si yang salah?” Rani tidak terima.
“Terus kalau nggak dia tau dari mana coba?”
“Terus gue harus bilang ‘WOW’ gitu,” tanya Rani ikut – ikutan sok pake bahasa yang memang lagi ngetrend. “Salah… Maksut gue, ini kan emang salah loe. Siapa suruh jatuh dalam got,” balas Rani balik.
Mendengar kalimat yang di ucapkan dengan santai oleh Rani barusan sontak membuat Erwin langsung melemparkan tatapan tajam kearahnya. Tapi yang di tatap cuek bebek saja. Bersikap seolah – olah tiada kejadian. Sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun. Dan belum sempat mulutnya terbuka untuk membalas, Rani sudah terlebih dahulu bangit berdiri. Ternyata bus yang sedari tadi mereka tunggu kini telah tiba di hadapannya. Dan tanpa sepatah katapun gadis itu segera melangkah masuk kedalam. Meninggalkan Erwin terpaku dengan tampang cengonya. Bahkan tak memberi kesempatan sedikitpun untuk Erwin menyadari bahwa bus yang sedari tadi ditunggu sudah mulai berlalu meninggalkannya.
Cerpen Kala Cinta Menyapa
Suara berisik dari ruang tengah menyadarkan Erwin dari tidur siangnnya. Dengan ogah – ogahan ia melangkah keluar. Untuk mengecek ada apa gerangan. Keningnya sedikit berkerut saat mendapati mamanya yang duduk dengan kaki di perban, sementara tepat di hadapannya tampak siluet seseorang yang berdiri dihadapannya. Tanpa sempat berfikir siapa orang tersebut Erwin segera menghambur menghampiri.
“Mama kenapa?” tanya Erwin langsung. Dari nadanya bertanya jelas ia merasa khawatir.
“Oh, mama nggak kenapa-napa kok. hanya tadi sempat terserempet mobil,” terang sang mama mencoba tersenyum.
“Hanya kok sampai di perban gini? Gimana ceritanya?” Erwin masih terlihat panik.
“Tapi ini sudah mendingan kok. Sudah di bawa kedokter juga. Tadi itu mama memang kurang hati – hati saat menyeberang, terus ada mobil yang juga sedang melaju kencang. Akhirnya keserempet deh. Untung saja ada Rani yang bantuin mama,” terang mama lagi sambil menujuk sosok yang berada tepat di hadapannya. Dan pada saat itu lah Erwin kembali menyadari kalau masih ada orang lain di antara mereka.
“Rani?” gumam Erwin setengah tak percaya.
“Erwin?” sosok yang di panggil Rani juga terlihat heran plus kaget.
“Loe ngapain ada disini?” tanya mereka secara bersamaan.
“Lho kalian sudah saling kenal?” Mama ikut – ikutan heran.
Untuk sejenak suasana hening sampai kemudian Erwin mengangguk membenarkan.
“Dia temen kampus Erwin, ma."
“Oh, benarkah? Wah kebetulan sekali,” ujar mama terlihat gembira. Rani hanya menunduk sambil tersenyum kaku.
“Maaf tante. Tapi sebenarnya Rani masih ada urusan. Nah karena tante juga sudah sampai dirumah dengan selamat, jadi Rani mau permisi dulu."
“Kenapa buru – buru sekali. Tunggu sebentar, biar bik Inah membuatkan minuman untuk mu dulu."
“Nggak usah tante, lain kali saja. Soalnya Rani beneran harus pulang sekarang. Rani tadi juga di suruh membeli barang sama mama. Jadi saat ini pasti sudah di tungguin dirumah."
“Baiklah kalau begitu. Maaf ya sudah merepotkanmu. Dan sekali lagi terima kasih karena sudah bantuin tante."
“Nggak papa kok tante. Rani permisi dulu,” pamit Rani sambil tersenyum tulus.
“Tunggu dulu, kalau gitu biar Erwin yang mengantar kamu."
“Apa? Oh nggak usah tante. Ngerepotin aja. lagian Rani bisa pulang sendiri kok,” tolak Rani cepat. Erwin juga terlihat menatap mama nya dengan tatapan memprotes.
“Sudahlah. Nggak papa. Nggak repot sama sekali kok,” balas Mama Erwin sambil tersenyum. “Lagi pula Erwin juga sama sekali tidak keberatan. Kan kalian juga sudah saling kenal. Iya kan?”
Erwin terpaksa mengangguk membenarkan sambil mencoba tersenyum paksa.
“Ayo Rani, gue antar loe,” ajak Erwin sambil melangkah keluar. Tak lupa disambarnya kunci motor diatas meja.
Mau tak mau Rani mengangguk membenarkan. Setelah terlebih dahulu pamit pada mama Erwin Rani melangkah keluar. Mengikutin Erwin yang sudah berjalan duluan.
Next to Kala Cinta Menyapa Part 7
Detail Cerpen

Lanjut Baca : || ||

Random Posts

  • Cerpen Cinta | Rasa Yang Tertinggal Ending

    Akhirnya cerpen Rasa yang tertinggal bisa ending juga. Ngomong ngomong, walaupun sudah ending cerpen ini bisa juga di jadikan sebagai kisah before story untuk karya selanjutnya lho. Tepatnya itu cerpen tentang rasa yang kebetulan emang gabungan dari cerpen ini dan cerpen tentang aku dan dia. Untuk jelasnya baca sendiri aja. Oh iya, hampir aja lupa. Untuk yang belum baca bagian sebelumnya mendingan baca dulu. Biar nyambung sama jalan ceritanya gitu. Biar gampang bisa langsung lewat sini. Rasa Yang TertinggalCeritakan tentang seorang wanita yang ditinggalkan kekasihnyaDan dia menangis dalam pelukanku, kusadar dia bukan miliku.Dia bercerita tentang kekasihnya, yang telah pergi meninggalkannyaDia bercerita tentang kekasihnya, yang telah pergi menutup mata.Kekasihnya telah pergi meninggal kan dia.Tinggal deraian air mata.Sesungguhnya ku tak rela melihat dia terlukaJadikan aku pengantinya.________ By _ kangen band*** Cerpen Cinta | Rasa yang tertinggal ***Sepi. sepi, tenang dan sunyi. Hanya ada hembusan angin yang berhembus pelan. Seolah ikut merasakan kepediahn sepasang anak manusia yang masih terisak di depan gundukan tanah yang masih basah di sebuah area pemakaman.“Udah Al, ayo kita pulang. Relain dia pergi dengan tenang,” walaupun sesungguhnya rasa sakit masih sangat ia rasakan tapi ia tau. Ia tidak boleh terlalu terhanyut kedalamnya karena ia sadar saat ini Alan pasti merasakan berkali – kali lipat sakitnya.“Kenapa harus dia yang pergi?” tanya Alan yang lebih tepat jika disebut rintihan.“Al, maafin gue…" hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Walau tak urung ia juga merasakan pertanyaan yang sama. Kenapa harus sahabatnya yang pergi? Kenapa gadis itu harus menyelamatkanya yang justru malah mencelakakan dirinya sendiri?“Kenapa? Kenapa harus dia yang pergi? Kenapa dia harus pergi tanpa mendengarkan alasan gue. Alasan kenapa gue lebih memilih orang yang gue cintai?" rentetan kata keluar dari mulut Alan. Septia, yang sedari tadi menemaninya bahkan setelah para pengunjung lain pergi hanya mampu menutup mulutnya. Meredakan tangis yang sedari tadi ia bendung."Gue milih orang yang gue cintai adalah karena orang itu adalah sahabat gue sendiri. Tapi kenapa dia harus pergi tanpa tau kalau orang yang gue cintai itu dia? Kenapa Tifany harus pergi tanpa tau kalau gue mencintainya," isak Alan menumpahkan kepedihan dan penyesalannya. “Al, Please jangan kayak gini…" Septia ikut berlutut di samping Alan yang masih duduk terisak.“Gue cuma pengen dia tau Sep. Dan gue juga ingin tau, gimana perasaan dia selama ini?” rintih pria itu tak bertenaga.Septia terisak. Sebelah tanganya ia gunakan untuk menyeka air mata sementara tangan yang lain ia gunakan untuk membuka tas. Mengeluarkan sebuah buku berwarna pink dari dalam baru kemudian ia sodorkan kearah Alan sembari mulutnya berujar. "Dia cinta sama loe Al."Kalimat itu tak urung membuat Alan menoleh. Tak mengerti dengan maksut ucapannya. Lebih heran lagi ketika melihat diary yang Septia tujukan untuknya."Tifany suka sama loe. Dia beneran suka sama loe. Dia ingin loe bahagia karena dia pikir loe beneran suka sama gue. Al, maafin gue… Gue… Hiks hiks hiks," Septia tidak sangup menyelesakan ucapannya. Akhirnya ia memilih meraih tangan Alan, meletakan buku itu tepat di tangannya. Saat itulah Alan mulai mengerti. Cover diari itu bertuliskan nama Tifany. Dengan tangan bergetar di raihnya benda tersebut. Membuka satu demi satu lembarannya. Kata yang tertera membuat penyesalanya makin terasa berkali kali lipat. “Ayo Al. Kita pulang,” bujuk septia lagi.Kali ini Alan mengalah. Dengan berat hati ia beranjak dari duduk dengan bantuan Septia yang memapahnya. Tenaganya terkuras habis. Namun sebelum benar benar berlalu, dikeluarkannya sebuah kotak kecil dari dalam saku baru kemudian di buka dengan perlahan. Sebuah lionti bintang kini ada di tangan. Dengan hati – hati ia letakan benda tersebut di atas batu nisan. Batu nisan yang dengan ukiran nama Tifany di atasnya. Lengkap dengan tanggal lahir dan wafatnya. Untuk sejenak ingatannya kembali ke saat ia bersama Tifany beberapa waktu yang lalu. Saat ia menanyakan alasan kenapa Tifany menganggap kalau liontin itu menarik.“Karena liontin ini berbandul bintang. Bintang yang akan mengingatkan pada seseorang. Bahwa walaupun jauh, ia tetap bercahaya. Walaupun kadang menghilang, ia selalu ada. Tak mungkin di miliki, Tapi tak bisa di lupakan. Dan akan selalu ada didalam hati kita."'Seperti sahabat', dua buah kata yang Alan temukan sebagai tambahan di akhir buku diary Tifany.“Sahabat. Bahkan sampai akhir status kita tetap sebagai sahabat. Tapi gue tetep pengen minta maaf sama loe. Sebuah kata maaf yang tidak sempat gue ucapkan ketika loe masih hidup. Maafin gue Fan, yang terlalu bodoh telah nyaitin elo."“Cukup Al, ayo kita pulang,” ajak Septia sambil menarik tangan Alan. Atau menyeret lebih tepatnya. Ia sudah tidak tahan. Hatinya terlalu sakit bila terus berada di sana. Berjuta penyesalan ia rasakan. Menyesali kebodohannya dan Alan akan permainan mereka selama ini. Dari awal ia dan Alan memang sengaja melakukan kebodohan ‘ cokelat ‘ hanya untuk mencari tau tentang perasaan Tifany yang sesungguhnya. Namun sayangnya, saat mereka sudah menemukan jawabannya, Tifany sudah terlanjur pergi. Terlanjur pergi meninggal kan sebuah rasa. ‘Rasa Yang Tertinggal'.Ending…Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 05 Of 05Jumlah kata : 665 WordsGenre : Remaja

  • Cerpen Remaja “The Prince ~ 08” {Update}

    Oke, sory ya baru sempet benerin. Kemaren lupa soalnya…Hufh. Jadi Jimmy sudah tau siapa aku sebenernya. Tapi untunglah tu anak masih bisa aku ajak kerja sama. Coba kalau nggak. Dia laporin aku ke kakek misalnya. Bisa – bisa aku langsung di seret pulang, terus di kawinin deh. Ih, nggak banget.Ehem, kalau di pikir – pikir aku mau sampai kapan ya kayak gini terus. Masa ia aku maen kucing – kucingan terus sama kakek. Tapi kalau langsung nyerah kan nggak etis juga. Secara udah terlanjur basah . Cuma ngomong – ngomong, gimana sama kabarnya my prince ya?. Apa mungkin kakek bisa nemuin dia?. Terus kalau seandainya kakek bisa nemuin dia, Apa aku siap di jodohin Ya kalau wajahnya keren plus imut kayak lee seung gi (???), Kalau malah jelek kayak pangeran kodok. Gimana donk?. Ah pusing.Belum lagi masalah Kevin selesai, eh malah di tambah masalah baru. Mending jangan di pikirin aja deh.sebagian

  • Cerpen Cinta: DIRIMU ABADI

    Dirimu AbadiOleh : Asmi Tiovi Lasmatia Syariani“Diri ini tak pernah bisa mengerti mengapa harus begini jalannya. Saat waktu tak lagi jadi penghalang, saat restu bukanlah rintangan, tapi 1 hal yang tidak pernah terpikir akan terjadi. Tapi tenanglah, tak akan ada yang bisa menghapusmu…!!!”“Cheese!” *jepretAdinda Karenia & Indra Mahardika! Ku sisipkan nama kami berdua di foto itu beserta latar yang kupilih berwarna biru muda karena aku sangat menyukai warna itu. Sungguh lucu gaya yang kami tampilkan saat berfoto di photobox tadi. Setelah selesai, kami membayar dan melanjutkan perjalanan kami di salah satu mall ternama di kotaku. Kuamati foto itu sebentar lalu ku berikan satu untuknya dan satu untuk ku simpan di dalam dompetku.Setiap weekend aku dan Indra selalu menyempatkan jalan bersama untuk sekedar nonton atau cuma muter-muter gak jelas di dalam mall, karena kalo bukan weekend kami cuma ketemuan atau ngobrol di rumah aja. Yaa paling tidak untuk melepas stress dan mempererat hubungan kami. Aku dan Indra sudah dua tahun pacaran. Bisa dibilang jalan 3 tahun. Kami berpacaran sejak kelas 1 dan sekarang kami sudah kelas 3 SMA.“Bem, makan yuk!” ajaknya.“Yuk, aku juga udah lapar nih ko,” balasku.Indra selalu manggil aku Bem alias tembem dari awal kenal. Mungkin karena pipi aku yang memang chubby kayak bakpow, dan sampai sekarang itu jadi panggilan kesayangan dia buat aku. Aku juga punya pangilan kesayangan buat dia yaitu koko karena mata di yang hampir gak keliatan kalo lagi senyum alias sipit karena emang ada keturunan tionghoa dari papahnya.Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk pulang karena emang udah malam dan capek juga seharian muter-muter mulu. Sampai di depan rumah aku, Indra nganterin aku sampai ketemu kedua ortu aku. Katanya gak baik kalo cuma nganter cewek mpe depan pagar trus gak dibalikin lagi sama kedua orang tuanya. Kebetuan papah sama mamah aku lagi ngobrol di teras depan.“Om, Tante. Dindanya saya balikin dengan selamat Om, maaf lama pulangnya,” sapa Indra sambil sedikit bercanda gurau dengan kedua orang tuaku.“Haha, gak apa-apa. Asal anak Om masih tidak kurang suatu apapun, Om masih ijinkan kamu berhubungan dengan Dinda. Gak masuk dulu nak Indra?”“Oh, makasih Om. Kayaknya sudah malam dan Dinda juga perlu istirahat. Saya Cuma antar pulang aja. Kalau begitu saya pamit pulang Om, Tante.”“Iya, hati-hati Indra,”sahut mamaku.“Bem, aku pulang ya,” pamitnya padaku sebelum pulang dan mengelus kepalaku.“Iya, hati-hati ko!” sahutku.Setelah ku lihat mobil Indra menghilang di ujung jalan, akupun masuk ke dalam rumah. Kedua orang tuaku masih mengobrol di teras depan. Karena gak ada kerjaan lagi aku masuk ke dalam kamar. Menjadi anak tunggal membuatku sepi berada di rumah, apalagi saat kedua orang tuaku sedang dinas di luar kota. Hanya Indra dan beberapa temanku yang datang ke rumah dan menemaniku lewat SMS. Karena kecapean, akupun terlelap tidur.***Pagi ini hari begitu cerah, menambah semangatku untuk bertemu teman-temanku dan juga koko pastinya. Ku samberi kelasnya, tapi tidak ku temui Indra di sana.“Din, nyari Indra ya? Tuh lagi di lapangan.” Sahut salah satu teman sekelas Indra padaku.“Oh, makasih ya.”Akupun menyusuri koridor sekolah menuju lapangan basket. Indra memang salah satu pemain di tim basket sekolahku. Mungkin boleh di bilang bukan cuma jadi pemain, tapi dia juga kapten basket di timnya. Tidak heran ia jadi cukup terkenal di sekolah dan di gandrungi banyak fans cewek.Baru saja aku sampai di sekitar lapangan, riuh suara cewek-cewek sudah terdengar memanggil nama Indra.“Indra, Indra, Indraaa…”Aku sudah terbiasa mendengarnya. Bahkan selama dua tahun ini menjadi hal yang selalu ku dengar saat menonton Indra tanding basket. Kalo dibilang cemburu, awal-awalnya sih iya. Tapi ke sini-sini udah kebiasa. Yaah… udah jadi angin lalu lah istilahnya. Emang harus berani nerima resiko kayak gini kalo jadi pacar orang yang diidolain banyak cewek. Selama Indra gak macem-macem di belakang gue, all it’s fine!“Eh Din, udah dateng loe?” sapa Dela, sahabat ku yang paling ku sayangi.“Iya, baru aja. Udah lama ya Indra latihan?” tanyaku.“Hmm, lumayan sih. Bentar lagi juga paling selesai. Emang loe tadi berangkat gak bareng Indra?”“Emm, kebetulan enggak. Gue tadi nemenin nyokap dulu ngambil pesanan kue, besok kan ultah gue. Eh nanti temenin gue nyebarin undangan ya ke temen-temen yang lain!”“Sip deeh… eh, tu Indra udah selese latihan!” ujar Dela sambil menunjuk pemain-pemain basket yang duduk beristirahat di sisi lain lapangan.“Oh, gue ke sana dulu ya Del, mau nyamperin Indra.”“Oke! Gue tunggu di kelas ya!”Kusamperin Indra dan memberikannya sebotol air mineral dan handuk kecil.“Makasih Bem! Eh, udah belum nyebarin undangan buat besok?”“Belum Ko, ntar aja pas istirahat bareng Dela. Kamu mau ikut?” tanyaku.“Istirahat ya? Aduh maaf, aku ada ulangan susulan sama Pak Fandy ngambil jam istirahat. Maaf ya Bem gak bisa nemenin,” jawabnya dengan wajah beersalah.“Iya, gak apa-apa kok. Ganti baju dulu sana, udah basah gitu. Nanti gak konsen lagi belajarnya.”“Iya, iya Bem. Kamu ke kelas gih, nanti Pak Bagus keburu masuk, kamu gak dibolehin masuk kelas lagi.”“Oh iya! Duluan ya Ko. Sukses nanti ulangannya, oke! Dadaah..”Setelah melewati pelajaran Matematika Pak Bagus yang super killer itu, bel istirahat berbunyi. Aku dan Dela segera berkeliling mendatangi setiap kelas yang akan kubagikan undangan ulang tahunku.Jam sekolahpun selesai. Aku menunggu Indra mengambil mobilnya di gerbang sekolah. Aku berencana pulang bersama Indra. Di dalam mobil aku dan Indra berbincang-bincang masalah persiapan ulang tahunku besok.“Bem, kue udah di ambil?” tanyanya.“Udah Ko tadi sama mama. Tinggal dekor aja besok,”jawabku.“Oh, bagus deh. Jadi nanti gak gelabakan. Bem, mau minta hadiah apa dari aku?”“Iiih, gak so sweet banget sih, masa hadiah aku yang request. Gak surprise lagi kan jadinya,” balasku dengan wajah cemberut.“Hehee, iya Bem. Aku bercanda kok. Besok tunggu aja hadiah dari aku, oke! Jangan gitu dong mukanya, kaya bebek tau, hahaa..” “Gak lucu tau Ko!”“Yee, bisa juga ya ngambek ternyata. Entar kita cari ice cream deh. Ya, ya?”Yang namanya Adinda pasti luluh kalo udah ditawarin ice cream. Gak jadi deh adegan ngambeknya. Habis nyari ice cream, Indra ngantar aku pulang. Kebetulan papa sama mama masih di kantor jadi Indra nganter aku sampai depan pagar aja.Habis ganti baju, sholat trus makan, aku kembali ke kamarku dan menghidupkan laptopku. Aku menyelesaikan beberapa tugas sekolahku yang belum rampung sambil membalas pesan singkat dari Indra. Tiba-tiba pikiranku melayang membayangkan kado apa yang bakal Indra kasih buat aku. Dulu ulang tahun aku yang ke-15 dia kasih boneka loli and stich yang super gede. Ulang tahun yang ke-16 dia ngasih album yang isinya foto-foto aku semua yang dia potret tanpa sadar. Aku lagi makan di kantin lah, duduk di taman, lagi jogging, pokoknya dia foto aku tanpa aku sadari. Dan kali ini untuk sweet seventeen dia ngasih apa ya?Lamunanku buyar mendengar suara mama dari bawah yang menyuruhku mandi. Udah berapa jam ya aku ngelamun? Ku lihat jam menunjukkan jam 6 sore. Pasti mama dan papa baru pulang kantor. Setelah mandi dan berpakaian, akupun turun dan menuju meja makan. Ku lihat mama dan papa sudah siap di meja makan.“Din, undangan kamu buat besok udah dibagiin?” tanya mama padaku.“Udah Ma, tenang aja…” jawabku meyakinkan mama.“Oh, iya jangan lupa undang mama papanya Indra juga ya Din! Trus pulang sekolah besok kamu harus langsung pulang, bantuin Mama nyiapin semuanya,” tambah papa.“Oke Pa,” balasku.***Keesokan harinya, sepulang sekolah aku ke rumah Indra untuk mengundang kedua orang tuanya untuk turut hadir di pesta ulang tahunku. Aku pulang sendiri karena Indra ada jadwal latihan basket yang tidak bisa ia tinggalkan. Tapi dia berjanji akan datang di acaraku tepat waktu. Setelah ngobrol beberapa waktu dengan kedua orang tua Indra aku pamitan pulang karena masih harus membantu Mama menyiapkan segala keperluan di rumah.Waktu menunjukkan hampir jam 7 malam. Ku lirik keadaan diruang tengah dari pintu kamarku, banyak yang sudah datang. Lega hatiku ketika diantara tamu yang datang ada Indra bersama mama dan papanya. Lalu mama menggilku untuk turun. Akupun menuruni tangga. Serasa jadi putri semalam, apalagi aku memakai long dress berwarna putih.Acara tiup lilin Mama menyuruhku meniup lilin bersama Indra. Kamipun make a wish bersama lalu meniup lilin. Potongan kue pertama ku berikan kepada Mama dan Papaku. Yang kedua tentu kuberikan kepada Indra. Yang ketiga ku berikan kepada kedua orang tua Indra lalu kepada Dela.“Sweet seventeen ya Dindaa,” peluk Dela lalu memberikan kado padaku.“Makasih ya Del,” senyumku terharu.Ku lihat seluruh teman-temanku sedang mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Mama dan Papa Indra juga sedang asik berbincang dengan kedua orangtuaku. Lalu Indra menghampiriku.“Bem, selamat ulang tahun ya. Ucapannya semua udah aku ucapin panjang lebar kan di telpon malam tadi. Naah, sekarang giliran kadonya,” Indra mengulurkan tangannya yang memegang sebuah amplop. Kuambil amplop itu dengan perasaan bingung akan isinya.“Iya, makasih yaa Ko. Tapi ini apa? Aku buka ya?” tanyaku masih dengan perasaan bingung.“Eeh tunggu, tunggu! Bukanya nanti aja,” cegahnya.“Loh, kenapa? Masa masih harus nunggu lagi!” jawabku dengan nada kecewa.“Pokoknya bukanya nanti aja ya. Pas kita lulusan, oke!” bujuknya.“Hmm, iyadeh.”Malam sweet seventeenku berjalan dengan lancar. Aku mendapatkan banyak sekali kado dari teman-temanku. Tapi perasaan kecewa, bingung dan penasaran masih menyelimuti pikiranku. Apa sebenarnya isi amplop yang diberikan Indra? Ingin sekali rasanya ku buka. Tapi… lebih baik jangan! Aku sudah berjanji untuk membukanya saat lulusan. Hmm, gak apa-apalah, lagian cuma 3 bulan lagi.***Hari berganti hari. Gak kerasa masa-masaku dibangku SMA akan segera berakhir. Les tambahan setiap harinya untuk kelas 3 sedang kami alami. Soal-soal latihan untuk persiapan UN kami latih sesuai jurusan masing-masing. Kegiatan sekolahpun mulai dikurangi. Tapi masih ada 1 pertandingan basket antar pelajar yang harus Indra ikuti. Untuk itulah jadwalnya kurang bisa di atur. Sering kecapen pulang les langsung latihan dan malamnya langsung tidur. Komunikasi kami jadi jarang. Tapi tak apalah, aku mengerti kondisinya. Lagipula aku juga masih bertemu dengan Indra di sekolah dan mensupportnya setiap latihan.Sore itu aku menonton Indra tanding. Pertandingan persahabatan antar SMA yang akan bertanding di kejuaraan kabupaten. Aku duduk di kursi penonton, sama seperti yang lainnya. Pertandingan mendekati menit-menit akhir. Skor tim Indra ketinggalan 1 point, dan tembakan Indra inilah menjadi penentunya. Indra pun me-shoot dan ternyata bola itu tidak masuk ke ring. Bel akhir pertandingan berbunyi dan pertandingan dimenangkan oleh sekolah lain.Ku lihat semua teman-teman Indra kecewa. Ku hampiri mereka. Lalu terjadi adu mulut antara Indra dan Raka, salah satu pemain basket dan juga teman dekat Indra.“Dra, apa-apaan sih cara main loe? Yang serius dong. Kita udah mau kejuaraan nih. Masa bola gitu aja loe gak bisa masukin! Udah berapa lama loe main basket, hah? Kenapa jadi cupu gitu mainnya tadi? Gimana kejuaraan mau menang kalo shooting gitu aja loe gak bisa. Percuma loe jadi kapten!” sahut Raka dengan emosi.Indra hanya bisa terdiam. Akupun tak bisa berkata apa-apa. Aku juga tidak mau ikut campur terlalu dalam, karena jika ku angkat bicara sekarang pasti suasana akan lebih rumit. Ditambah lagi emosi mereka yang masih kurang stabil. Raka dan yang lainnya pun meninggalkan Indra yang masih terduduk lemas menyesali kesalahannya.“Ko, kamu gak apa-apa kan?” tanyaku.“Gak apa-apa kok. Yuk kita pulang,” Indra berdiri, tersenyum padaku dan menggenggam tanganku menuju mobilnya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Indrapun mengantarku pulang.“Ko, kamu beneran gaka apa-apa? Kamu ada masalah? Kalo ada cerita aja sama aku,” aku mengajaknya berbicara di dalam mobil.“Aku gak ada masalah apa-apa,” lagi-lagi ia tersenyum padaku.“Loh, kita mau kemana Ko?”“Ngantar kamu pulang lah, mau kemana lagi emangnya?”“Tapi jalan pulang ke rumahku kan belokan yang tadi Ko, kok kita lurus?”“Astaga! Maafin aku, mungkin aku ngelamun.”“Kamu beneran gak ada masalah apa-apa Ko? Tadi Pak Fandy ngomong sama aku kalau tugas kamu dan nilai-nilai ulangan kamu belakangan ini turun drastis. Kamu kan paling seneng sama pelajaran Bahasa Inggrisnya Pak Fandi, dan selalu topscore. Kalau ada masalah cerita deh sama aku,” bujukku lagi padanya.“Percaya deh sama aku, aku bener-bener gak ada masalah apa-apa Din,” jawabnya.Aku kaget. Untuk pertama kalinya ia memanggil namaku saat kami berbicara. Aku semakin bingung. Nilai-nilainya yang anjlok. Kemampuan basketnya yang menurun. Dan sekarang…. aku terdiam. Aku tidak bertanya apapun lagi kepada Indra. Aku berkecamuk dengan pikiranku sendiri. Saat sampai di depan rumahku, ia membukakan pintu mobilnya untukku lalu berpamitan pulang. Dia tidak mengantarku sampai bertemu orang tuaku?Setelah kuucapkan untuk segera pulang dan menyuruhnya beristirahat, ia melaju dengan mobilnya. Kumasuki rumahku dan membaringkan tubuhku. Beberapa saat terdiam, aku berpikir ingin menelpon Mama Indra untuk menanyakan apakah Indra mempunyai masalah yang tidak diceritakannya padaku. Kutekan nomor teleponnya dan sebuah suara di sana menyambut panggilanku.“Halo, ini Dinda ya? Ada apa Dinda?” tanya Mama Indra.“Begini Tante, maaf mengganggu malam-malam begini. Saya mau bertanya sesuatu tentang Indra. Apa Indra punya masalah Tante?”“Masalah? Setahu Tante gak ada Din. Kenapa kamu gak tanya sama Indranya sendiri? Kamu kan lagi sama Indra.”“Loh? Dinda udah dari tadi di antar Indra pulang Tante, memangnya Indra belum sampai rumah Te?” tanyaku cemas.“Masa? Belum Din, dia belum sampai rumah. Coba Tante hubungin dia dulu. Nanti Tante beritahu kamu kalau Indra udah pulang atau kalau memang Indra ada masalah.”“Baik Tante,” jawabku mengakhiri pembicaraan.Indra belum pulang? Kemana lagi dia? Bukannya tadi aku suruh dia langsung pulang. SMS ku juga gak dia balas. Ada apa sebenarnya dengan kamu Indra?***Keesokan harinya, aku mencari keberadaan Indra di sekolah. Ku cari di kelasnya, kata teman-temannya dia belum datang. Ku lihat di lapangan basket cuma ada Raka dan teman-teman se-timnya Indra yang sedang latihan. Ku telpon nomornya, gak aktif. Ku SMS juga gak di balas. Bahkan nomor Mamanya Indra juga ikut-ikutan gak aktif.Sepulang sekolah aku mengajak Dela menemaniku ke rumah Indra. Tapi sesampainya di rumah Indra, rumah itu kosong. Ku panggil beberapa kali tidak ada sahutan. Kemana mereka semua? Kenapa kayak ditelan bumi gini?“Din, kita pulang aja yuk. Pasti pikiran kamu lagi gak karuan sekarang.”“Tapi Del, Indra gak ada. Orang tuanya gak ada. Semuanya gak ada Del, gak ada!” tangisku tak tertahan lagi, dan Dela merangkulku, membawaku pulang kerumah.Seminggu sudah tak ada kabar tentang Indra begitu juga tentang kedua orangtuanya. Ku tanya Raka dan semua teman-teman yang mungkin mengetahui keberadaan Indra tapi hasilnya nihil. Mereka juga mencari keberadaan Indra untuk menghadapi kejuaraan. Kedua orangtuaku pun mulai menanyakan tentang Indra yang tidak pernah ke rumah lagi dan tidak pernah mengajakku jalan lagi. Aku hanya bisa menjawab kesibukan kami menjelang UN dan jadwal basket Indra yang padat membuat kami terpaksa jarang bersama. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak mungkin bilang kalau Indra dan keluarganya hilang entah kemana.Siang itu, saat aku sedang menangis memeluk boneka lilo and stich pemberian Indra, handphoneku berbunyi. Ku lihat nama yang tertera di Hp-ku, ‘Tante Dara’. Itu, itu Mama Indra!“Halo, halo Tante! Tante dimana? Indra dimana sekarang?” tanyaku langsung masih dengan isakan tangis.“Dinda, kamu bisa tenang dulu. Kamu bisa ke rumah Tante sekarang Din?”“Bisa, bisa Tante,” jawabku cepat.“Tapi kamu datang sendiri aja ya Din. Tante tunggu!”Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil kunci mobil dan bergegas ke rumah Indra. Setelah 1 minggu tidak ada kabar sama sekali tiba-tiba Tante Dara meneleponku tanpa penjelasan apapun. Dan setelah sampai di rumah Indra akupun sudah tidak dapat menahan rasa khawatirku.“Tante, Indra mana Tante? Tante dan Indra kemana aja selama ini?” tanyaku.“Ayo kita ke kamar Indra, Din. Nanti kamu akan tahu,” jawab Tante Dara.Sesampainya di pintu kamar Indra, Tante Dara menyuruhku masuk. Entah mengapa aku merasa tidak siap saat itu. Tapi Tante Dara menatapku, memberiku keberanian untuk masuk. Kubuka pintu kamar Indra, kulihat dia sedang duduk di sudut kamar sedang memegang sebuah kertas yang tidak terlihat olehku dari sini.“Ko, ini aku Dinda,” kataku pelan.“Dinda? Dinda, jangan ke sini, pergi! Jangan mendekat! Pergi! Pergi!,”“Tapi Ko, ini aku. Aku pengen ketemu kamu.”“Pergi!Pergi!” teriaknya.Aku tak dapat menahan air mata yang mulai membasahi pipiku. Apa yang terjadi dengan Indra? Segera aku keluar dari kamarnya. Di luar Tante Dara melihatku dan menghampiriku.“Dinda, apa kamu sudah bicara dengan Indra?”“Tante, sebenarnya apa yang terjadi dengan Indra? Kenapa dia jadi kayak gitu? Tante, tolong jelasin sama Dinda, selama ini Tante sama Indra kemana? Kenapa Indra jadi gitu?” tangisku melebur jadi satu dengan semua pertanyaanku.“Din, Indra menderita penyakit alzeimer. Penyakit yang lama kelamaan akan menghapus ingatan si penderita. Maafkan Tante Din, tidak memberi kabar padamu. Ini permintaan Indra. Malam itu setelah mengantar kamu pulang, Indra tersesat mencari jalan pulang. Untung handphonenya aktif dan dia bilang di ada di depan sekolah SD nya dulu, Tante dan Om pun menyusulnya ke sana. Dia bahkan tidak ingat telah mengantarmu pulang. Saat sampai di rumah, dia bahkan lupa di mana kamarnya. Penyakit itu memang akan menghapus ingatan-ingatan terbaru dahulu. Untuk sesaat ia bisa mengingat tapi perlahan-lahan ia lupa banyak hal. Ia lupa untuk berangkat sekolah besok harinya, ia lupa untuk makan. Tante memberitahunya satu-persatu agar dia ingat. Tapi itu bertahan sementara. Ia semakin frustasi mengetahui dirinya semakin bodoh akan banyak hal. Tapi yang dia minta saat itu sama Tante, “Ma, jangan bilang Dinda kalau Indra seperti ini. Sembuhin Indra Ma, Indra gak mau kelihatan kayak gini di depan Dinda!’. Yang masih dia ingat jelas cuma kamu Dinda, cuma kamu! Akhirnya Om dan Tante pergi untuk mengobatinya. ”Air mataku semakin tak terhenti.“Lalu bagaimana keadaan Indra sekarang Tante?”“Ia sulit untuk disembuhkan. Ia memang sangat ingin sembuh untuk kamu. Tapi ia selalu memberontak saat di terapi. Ia selalu tidak karuan. Tante tidak tahan melihatnya seperti itu, akhirnya Om dan Tante memutuskan untuk membawanya pulang saja. Dan lihat sekarang ia tenang seperti itu di kamar. Tapi entah mengapa dia berteriak saat bertemu kamu. Tante kira dia sangat ingin bertemu kamu.”Alzeimer? Kenapa penyakit itu harus datang kepada Indra? Kenapa harus Indra?Tante Dara menyuruhku pulang untuk menenangkan diri dulu. Melihat aku pulang dengan kedua mataku sembab dan tubuhku yang lemas, Papa dan Mama pun bertanya padaku. Aku menceritakan semuanya. Semua tentang hilangnya Indra dan keluarganya. Dan sekarang telah kembali dengan keadaan seperti ini. Kedua orang tuaku menenangkanku dan memberitahukanku bahwa semua akan baik-baik saja.***Aku, Papa dan Mama berlari menyusuri koridor Rumah Sakit. Setelah mendapat telepon dari Tante Dara kalau Indra sedang kritis di Rumah Sakit. Apa karena penyakit Alzeimernya itu?“Tante, Indra kenapa?”“Tadi pagi, Tante dan Om mencarinya di kamar tapi tidak ada. Saat Tante lihat di kamar mandinya, dia sudah tergeletak penuh darah di kepalanya Din. Dia membenturkan kepalanya ke cermin,” jelas Tante Dara sambil memelukku.“La.. lalu sekarang In.. Indra gimana Tante?”“Dia sedang di UGD Din, Tante gak tau dia gimana sekarang Din. Tapi tadi saat membawa Indra ke Rumah Sakit, ia menggenggam buku ini,” Tante Dara memberikan sebuah buku yang sedikit basah dan bernoda darah.“Tante tidak tau buku apa itu. Tapi tadi suster mengambil buku itu sesaat sebelum Indra dimasukkan UGDdan di berikan kepada Tante.”Aku duduk di kursi di depan ruang UGD. Ku buka halaman pertama buku itu. Tertempel fotoku yang sedang memakai pakaian MOS dengan banyak pita warna warni di kepalaku. Sejak saat itukah Indra memotretku diam-diam? Ada tulisan di bawahnya. ‘Gadis Lucu yang Pertama Kali Ku Potret’. Ku buka lagi halaman demi halaman. “8 Oktober 2009 ‘I Get Her Heart’. Itu tanggal kami jadian! Ku buka lagi halaman-halaman berikutnya. Ada fotonya dengan boneka stich yang diberikannya untuk hadiah ulang tahunku ke-16, “aku sempetin foto sama boneka yang bakal aku kasih ke Mbem, Happy Birthday sayaang.. 08.03.2010”.Air mataku menetes, namun kulanjutkan membaca buku itu. Ku buka halaman demi halaman.“08.03.2012, sweet seventeen Bem. Aku ngasih dia hadiah yang dia mau selama ini. Kami akan pergi ke Bangkok setelah lulusan. Aku udah beli’in 2 tiket buat kami. Oh iya, dia cantik banget malam ini!”.Jadi Indra telah menyiapkan hal istimewa itu buatku? Ku buka lagi lembaran-lembaran terakhir buku itu. Kubaca betul-betul apa yang tertulis di sana.“12.04.2012, Mama bilang itu tanggal hari ini. Mama juga bilang kalau kemaren aku lupa jalan pulang bahkan lupa mengantar Dinda. Itulah mengapa alasan kami ada disini. Kedua orang tuaku bilang, kami lagi di Singapura. Barusan mereka bilang kalau aku terkena penyakit Alzeimer. Entah penyakit apa itu. Tadi mereka telah menjelaskannya padaku, tapi aku tidak ingat apa yang mereka katakan. Aku sangat kangen dengan Dinda. Aku ingin pulang, entah dimana itu yang pasti disana ada Dinda. Aku bingung sedang apa aku di tempat ini”.“Kata kedua orang tuaku, kami sudah pulang ke rumah. Tadi Dinda datang, tapi aku takut melihatnya. Aku takut tak mengenalinya. Aku selalu menggenggam foto kami yang entah di ambil di mana saat itu”.“Aku tadi meminta Mama mengajariku cara membaca lagi, juga cara menulis lagi. Ku lihat tulisanku yang dulu dan sekarang sangat berbeda. Mengapa aku sampai lupa dengan segala hal itu?”“Tadi aku mendengar kedua orang tuaku membicarakan penyakitku. Ternyata aku lama-lama akan melupakan apa yang pernah terjadi di hidupku. Aku memutuskan untuk mengambil jalan ini. Maafkan aku Dinda karena sampai saat ini aku belum berani bertemu denganmu. Tapi kamu tidak perlu khawatir, hanya kamu yang masih bisa ku ingat jelas sampai saat ini. Aku terlalu lelah untuk belajar membaca dan menulis lagi. Tapi aku tidak perlu belajar untuk mmengingatmu. Aku hanya memikirkanmu. Aku hanya mengingatmu. Aku tidak ingin melupakanmu, dan pasti tidak! Aku berusaha keras untuk kembali seperti dulu untukmu. Aku takut ingatanku hilang lagi. Sebelum aku melupakannya, aku ingin mengatakan semuanya padamu. Aku mencintaimu. Sekali lagi maafkan aku. aku bersyukur kepada Tuhan karena aku tak harus bersusah payah mengingatmu, karena kau adalah bagian dari hidupku. Aku tidak ingin hidup jika harus melupakanmu. Aku berharap Tuhan mengambil nyawaku setelah aku melakukan hal ini. Aku ingin pergi di saat aku masih bisa mengingatmu. Dan kau akan menjadi yang abadi di ingatanku…”***“Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi nyawa Indra tidak bisa di selamatkan…” jawab dokter yang keluar dari ruang UGD tempat dimana Indra berada. Buku Indra terjatuh dari tanganku, dan tiba-tiba semua menjadi gelap di penglihatanku…………..

  • curcol

    Bosaaaaaaaaaaaaaaaan……. hem, aku heran deh ma diriku sendiri. dulu waktu nggak kerja bosan di rumah terus. lha sekarang udah kerja, bosan juga. padahal kan di sini enak. bisa nerusin hobi yang paling aku suka *yupz, berselancar di dunia maya*, nyantai, di bayar lagi…. tapi…….. tetep aja yang nama nya bosan ya akan datang melanda. heh… kayak gini enaknya ngapainya… punya blog kosong. mendingan aku isi apa aja yang aku suka aja deh… bodo amat mau nyampah kek, apa kek… suka-suka. kan punya aku ini… he he he…..sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*