Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 03 / 13

Masih kelanjutan dari cerpen kala cinta menyapa yang kini udah sampe part 3. Ngomong – ngomong kali ini cerpen versi edit ya. Ya nggak banyak yang berubah, hanya berusaha untuk sedikit merapikan aja. Nah, buat yang baru nemu kisah ini biar nyambung mendingan baca dulu bagian sebelumnya pada Kala cinta menyapa bagian 2. Selamat membaca ya….

Kala Cinta Meyapa
Kala Cinta Meyapa

“Apa. Si Erwin jatuh kedalam got? Loe dapat gosip itu dari mana?”
Langkah Erwin yang berniat untuk kekelasnya langsung terhenti saat telinganya mendengar bisik – bisik teman – temannya. Begitu wajahnya menoleh ia melihat segerombolan teman – temanya yang sepertinya sedang bergosip ria tanpa menyadari kehadirannya.
“Ia, katanya si gitu. Katanya lagi nie ya, yang bantuin dia itu si siapa tu anak sastra yang pake kacamata. Haduh gue sampe lupa namanya?”
“Yang mana nie?” tanya beberapa yang lain.
“Itu lho. Yang biasa bereng sama Irma."
“O… yang itu. Gue tau. Kalau nggak salah namanya Rani. Iya bener deh kayaknya. Jadi dia yang bantuin. Tapi gimana ceritanya."
“Gosip yang beredar si katanya gini. Waktu itu si Erwin mapok terus tetep nekat pake motor. Makanya nabrak. Untung aja nggak mati. Nah waktu itu kebetulan kejadiannya pas didekat rumahnya Rani. Makanya langsung Rani bantuin."
“Ih, masa si Erwin doyan minum? Sampe mabok segala?” tanya yang lain tampak tak percaya.
“Cek cek cek. Kalau gue si percaya aja. Toh tu anak kan memang selama ini terlihat misterius."
Sementara yang lainnya hanya mengangguk – angguk membenarkan. Tanpa menyadari Erwin yang sedari tadi menguping terbuka tanpa suara. Tangannya terkepal dengan erat. Emosinya benar – benar naik saat ini. Gadis itu?… benar – benar sulit di percaya.
Tampangnya aja yang terlihat lugu dan polos. Tapi ternyata. Dengan kesal di pukulnya dinding membuat orang – orang yang sedari tadi mengosip langsung menoleh. Merasa terkejut sekaligus ketakutan ketika melihat yang sedang di gosipkan muncul dengan tiba – tiba. Dan semuanya hanya mampu menunduk terpaku saat Erwin melangkah melewatinya sekali gus merasa lega karena ternyata Erwin tidak melakukan apa – apa. Kalau sampai Erwin beneran ngamuk kan bahaya.
Tepat di belokan kelas Erwin berpapasan dengan Rani yang kebetulan juga lewat dari hadapannya. Tanpa menyadari ada bahaya sedikit pun, dengan santai Rani terus melangkah. Jantung nya terasa mau copot saat tiba – tiba tangannya di tarik, dan Rani merasa lebih kaget lagi saat mendapati wajah Erwin yang menatap seolah – olah akan melahapnya hidup – hidup.
“A… A…. Ada apa?” tanya Rani terbata.
Erwin tidak langsung menjawab. Matanya menyipit membuat Rani makin panas dingin. Ya ampun ini kan masih pagi.
“Loe….” tunjuk Erwin lurus ke arah Rani. Saking merasa keselnya ia sendiri sampai tidak tau harus ngomong apa.“Lepasin temen gue!” terdengar sebuah suara di susul dorangan tubuh yang di rasakan Erwin. Rasa kesel nya makin meningkat saat mendapati wajah sangar Irma di belakangnya.
“Loe lagi. Mau apa loe? Ini tu bukan urusan loe!” geram Erwin setengah membentak.
“Ho ho ho, belum tau ya? Rani ini sahabat gue. Dan siapa pun yang berusaha nyakitin dia akan jadi urusan gue."
“Heh…” cibir Erwin Sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap sinis kearah Irma. “Jadi loe seorang bodyguard ternyata."
Dan sedetik setelah kata itu terucap dari mulut Erwin…
“Aduh,” jeritan kesakitan terdengar. Erwin melihat kearah kakinya yang masih berdenyut sakit karena di injak sekeras – kerasnya oleh Irma yang kini tampak tersenyum puas.
“Ha ha ha, rasain loe. Makanya kalau ngomong jangan asal nyeplak. Enak aja gue secantik ini di bilang bodyguard, yang ada gue itu pengawal pribadi. Ups, salah maksudnya gue itu sahabat terbaik yang pantes di jadiin teladan semua orang."
“Dasar cewek sarap,” geram Erwin berusaha menahan emosinya.
“Tunggu dulu, kok kalian berdua malah berantem?”
Erwin dan Irma kontan langsung menoleh kearah Rani secara bersamaan. Menatap gadis itu yang terlihat heran sekaligus tidak percaya.
“Dan itu karena elo!” tuding Erwin langsung.
“Gue?” tunjuk Rani kearah wajahnya sendiri. Pikirnya segera melayang. Ia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Bukannya ia sudah tutup mulut soal Accident yang terjadi pada Erwin kemaren.
“Jangan sok polos,” sambung Erwin lagi. “Loe kan yang nyebarin gosip yang tidak – tidak soal gue?”
“Gosip?” ulang Rani makin bingung.
“Ha ha ha. Yang tidak – tidak? Nggak salah tuh. Bukannya yang iya – iya ya?” potong Irma disela tawanya.
“Diem loe!” bentak Erwin kearah Irma yang masih tertawa. Mata Erwin sedikit menyipit kearah Irma. Sebuah pemikiran baru terlintas di benaknya.
“Jangan bilang ini ulah loe?”
“Tentu saja,” aku Irama nggak tanggung – tanggung. “Loe pikir gadis sepolos Rani mau melakukannya?”
Mulut Erwin terbuka tanpa suara. Sementara Rani justru terlihat makin bingung. Kenapa dia di bawa – bawa?
“Loe….” tunjuk Erwin kearah Irma, Eh bukannya takut Irma justru malah mendekat ke arah Erwin. Jelas terlihat menantang.
“Makanya, jangan pernah berusaha mencari gara – gara sama gue,” balas Irma sebelum kemudian menarik tangan Rani. Mengajaknya berlalu meninggalkan Erwin dengan tampang bodohnya.
“Eh tunggu dulu,” tahan Rani menghentikan langkahnya. Membuat Irma merasa heran. Dan lebih heran lagi saat melihat Rani berbalik, kembali menuju kearah Erwin yang masih diam terpaku.
“Gue lupa mo bilang. Soal kemaren katanya loe yang bantuin gue waktu pingsan. Gue kan belum bilang ma kasih. Ma Kasih ya…” kata Rani sambil tersenyum namun justru malah membuat Erwin makin kesel. Dan sebelum Erwin sempat buka mulut, Irma sudah terlebih dahulu menarik tangan Rani dan membawanya pergi.
“Loe bego apa dodol si? Kenapa loe malah bilang terima kasih sama tu anak?” geram Irma sambil menarik Rani menuju kekelasnya.
“Lho, memangnya ada yang salah? Toh kan loe sendiri yang bilang kalau kemaren itu Erwin yang nolongin gue. Dan dari kecil itu nyokap bokap gue udah ngajarin tentang tatakrama. Nah karena dia yang udah bantuin gue, ya udah seharusnya donk gue bilang ma kasih."
“Terserah loe aja deh,” Irma tak mau ambil pusing.
“Oh ya, gue juga heran. Kenapa loe kemaren nggak masuk? Kasian tau, Rei kemaren nyariin loe,” jelas Rani.
“Rei? Nyariin gue?” tanya Irma heran. Rani hanya membalas dengan anggukan.
“Terus loe bilang apa?”
“Ya gue bilang aja nggak tau. La kan gue emang nggak tau. Tapi abis itu dia ngobrol gitu sama Nandini. Tau deh ngomong apa an. Bukan urusan gue ini."
“Sama Nandini?"
Rani kembali mengangguk. “Tapi gue heran deh, kok loe biarin aja dia deket – deket sama Nandini. Entar kalau mereka jadian beneran apa loe nggak patah hati?”
Mendengar pertanyaan Rani barusan sontak langkah Irma langsung terhenti. Mata Rani juga hanya berkedip – kedip heran menatapnya.
“Kenapa?” tanya Rani lagi.
“Loe bilang apa. Gue patah hati? Kenapa gue harus patah hati?"
“Ya ela, loe kan cinta sama Rei. La nanti kalau Rei jadian Sama Nandini apa loe nggak jadi patah hati."
“Yang bilang gue suka sama Rei siapa?”
“Nggak ada si. Gue nebak aja. Memang nya salah ya?” tanya Rani membuat Irma jadi sedikit salah tingkah.
“Tentu saja salah."
“Jadi loe nggak suka sama Rei donk?” tanya Rani lagi.
“Tentu saja tidak,” balas Irma cepat. Sedikit takut kalau Rani bertanya lebih lanjut. Bukannya apa, ia tau kalau temannya yang satu ini memang bukan ember, tapi ia juga sangat tau kalau mulutnya sangat gampang keceplosan. Bukitnya Erwin aja kena dampaknya.
“Eh, itu bukannya Rei ya?”
Refleks Irma langsung berbalik menatap kearah pandangan Rani. Jantung Irma terasa berhenti berdetak saat mendapati tatapan tajam Rei yang terarah lurus kearahnya sebelum kemudian berlalu pergi tanpa menyapanya sedikit pun. Sementara Rani sendiri hanya angkat bahu dan kembali melanjutkan langkahnya ke kelas.
(Note : Untuk kisah Irma dan Rei bisa di baca selengkapnya dalam serial Dalam Diam Mencintaimu)
Oke guys, bersambung dulu ya. Untuk kelanjutan kisah Rani dan Erwin lanjut ke cerbung Kala Cinta menyapa bagian 4
Detail Cerpen

Lanjut Baca : || ||

Random Posts

  • Cerpen pendek Sang Idola

    Tau nggak si guys, cerpen pendek sang idola adalah cerpen perdana yang tanpa part atau bagian yang berhasil admin ketik. Makanya itu, penulisan dan ceritanya kacau banget. Pas baca ulang, serius adminnya jadi malu sendiri. :dNah karena itu. Sekalian latihan nulis sama menghargai karya pribadi, admin memutuskan untuk mulai mengedit satu persatu. Istilahnya alon – alon asal kelakon. Oke…Sang Idola“Kalian serius?” Merry masih tidak percaya. Salsa dan keempat temannya baru saja memberi tahu kalau ‘Sagu band’, band idola mereka akan mengadakan konser tepat jam 13:00 siang ini di Taman Cik Puan, Selatpanjang. Masalahnya, jam pulang sekolah adalah jam 12:30 tepat. Itu juga karena ini hari sabtu makanya rada cepet. Biasanya juga pulang jam 14:00an. Tapi masalahnya saat ini keempat temannya malah serentak berencana untuk membolos. Pulang sebelum waktunya.“Ya iya lah,” sahut keempat temennya serentak.“Lagian buat ‘Sagu band’, apa sih yang enggak,” Salsa menambahkan.“Tapi kan konser mulainya jam 13:00 siang, dan kita pulang sekolah juga masih sempet, nggak perlu pake acara bolos segalakan?” Merry masih berusaha menahan.“Sempet gimana? Kita pulangnya aja jam 12:30. Waktu setengah jam mana sempet non buat siap-siap. Pokoknya sekarang kita semua mau pergi. Kalau loe emang nggak mau ikut ya udah. Ayo guys lets go,” ajak Ria kearah ketiga temen-temennya.“Eh tunggu dulu donk, gue kan belum selesai ngomong."“Simpen ja dulu buat besok!” potong Salsa. Tanpa basa-basi lagi mereka meninggalkan Merry yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah temen-temennya.Keesokan harinya, Salsa, Anya, Sisil dan Ria sengaja datang lebih pagi dari biasanya. Merry yang melihat keempat temannya sudah ngumpul tak mampu menahan rasa heran. Tumen – tumbenan. Berlahan ia hampiri, dan lima menit kemudian ia langsung tau alasan mereka datang pagi. Apalagi kalau bukan untuk mendengarkan pengalaman yang mereka dapatkan kemaren saat menonton konser. “Suer Merry, tu cowok pokoknya ganteng banget deh. Coba aja kemaren loe ikut ama kita-kita, pasti loe nggak akan nyesel,” terang Anya semangat banget.“Ia. Anya bener mer, lagian sekali-kali bolos nggak da ruginya kan. Toh selama ini kita semua on time terus,” Salsa tak mau kalah. “0h ya?” cibir Merry.“Sekarang loe bisa nggak percaya gitu. Soalnya loe belum ketemu ma dia.”“Ih nggak banget deh, secara gue udah punya pacar,” kilah Merry cepat.“Dari dulu loe bilang udah punya pacar tapi nyatanya sampai sekarang kita belum kenal,” Anya menimpali.“Ya sorry, secara gue belum punya waktu. Kalian kan tau sendiri pulang sekolah gue harus kerja buat biaya sekolah gue, nggak kayak kalian.”“Iya deh Mer, sorry. Tapi begitu ada waktu loe kenalin sama kita ya,” kata Sisil.“Pasti,” sahut Merry. "Terus kalian pasti tau donk identintas idola kalian. Paling nggak namanya."Anya menggeleng, Ria pasang raut kecewa, sementara Salsa tanpa di minta langsung menjelaskan. "Justru itu Merry, kita belum tau. Soalnya kemaren doi di minta naik kepanggung, trus ikutan nyanyi bareng 'Sagu band’. Suaranya bagus banget, dia emang nggak ngasi tau namanya, tapi dia bilang kalau dia anak kuliahan."“0h ya. Kuliah dimana?” tanya Merry lagi.“Di. . .aduh di mana ya. Kalau nggak salah STIE atau AMIK ya? Gue lupa, soalnya waktu itu pada heboh,” kali ini Sisil yang menjawab.“Tapi itu gampang kok, kita bakal cari tau dimana dia berada. Seperti kata pepatah 'banyak jalan menuju roma', ya nggak friend?” kata Ria meminta dukungan pada teman – temannya yang langsung di balas anggukan kompak tanda setuju.“Terserah kalian aja deh,” Merry angkat bahu. Belum sempat mulutnya menambahkan, bel masuk pun terdengar. Ia segera mengajak semua temen-temennya untuk kembali ketempat duduknya masing – masing. Secara dari tadi mereka ngobrol tepat di depan mejanya. 10 detik setelah kemunculan gurunya, Salsa cs di buat kaget saat dapat pengumuman kalau hari ini di adakan ulangan harian. Mereka bener-bener pusing tujuh keliling, pasalnya mereka nggak ada baca buku sedikit pun mana soalnya sulit banget lagi. Merry juga nggak mau bantuin, yang makin membuat mereka semakin bingung.Setelah bel istirahat terdengar semua temen-temennya datang menghampiri Merry untuk meminta pertanggungjawabanya, karena ia tidak memberi tau mereka kalau hari ini ada ulangan.“Lho bukannya kalian sendiri yang bilang kalau nggak ada ruginya nggak sekolah satu hari?” Merry bela diri.“Ia sih, tapi nggak kayak gini juga. Pasti ancur deh nilai ulangan gue kali ini, mana loe nggak da ngasi jawabannya ma kita lagi,” kesel Salsa.“Iya deh sorry. Gimana kalau sebagai tanda minta maaf gue, kalian gue traktir makan di kantin. Mau nggak?” tanya Merry karena kebetulan ia baru gajian. Tentu saja langsung di setujui sama temen-temennya yang lain, secara jarang-jarang kan ada yang nraktir.“Kalian mau mesen apa?” tanya Sisil begitu mereka tiba di kantin.“Bakso sama es campur aja deh,” jawab Merry.“Kalian?” tanya Sisil kepada temen-temennya yang lain.“Sama," suara kompak setelah sebelumnya saling pandang. Sekedar bahasa isarat yang langsung di tau apa maksutnya.“Jadi, gimana sama idola kalian itu?” tanya Merry sambil menikmati pisang goreng yang ia ambil dari piring di hadapannya sembari menunggu pesanannya datang.“Gimana apa nya?” Salsa mengernyit.“Ya gimana kelanjutanya. Masa kalian semua mau jadi pacar idola kalian. Mau berbagi itu?” terang gadis itu lagi.“Ta nggak lah sembarangan aja, gini-gini kita masih punya harga diri ya,” bantah Ria. Yang lain menangguk membenarkan.“Terus?” tanya Merry.“Gimana ya. Kita juga bingung nih, ntar deh gue mikir dulu buat nyari solusinya,” Salsa ikut-ikutan bingungSementara sang pelayan sudah menghidangkan pesanan mereka di atas meja. Mereka semua makan sambil terus mencari ide.“Gue punya ide,” kta Sisil setelah lama terdiam.“0h ya? Apa?” temen-temennya terlihat diak sabar.“Dengerin ya. Kita semua kan sudah terlanjur naksir sama si doi jadi….”“Kita? Kalian aja kali, gue nggak,” potong Merry meralat.“Ia deh, kami aja. Loe nggak,” Sisil sebel karena ucapannya di potong duluan padahal ia kan belum selesai ngomong.“Udah deh, tadi ide nya apa?” Salsa masih penasaran.“Apa ya? Gara-gara Merry nih jadi lupa,” Sisil garuk-garuk kepalanya yang emang ketombean. “0h ya gini, gimana kalu kita taruhan aja siapa dulu yang bisa menggaet dia jadi pacar salah seorang dari kita. Tapi, permainannya harus sehat nggak boleh pake cara kotor. Terus yang menang harus nraktir kita semua makan gratis kayak sekarang. Gimana setuju nggak?" sambungnya.“Kok yang menang yang nraktir?” Anya terlihat bingung.“Ya iya lah, secara dia kan udah dapetin si doi. Gimana setuju nggak?” jelas Sisil menerangkan.“0 gitu, gue setuju,” sahut Ria tanpa berpikir lagi“Gue juga,” sambung Salsa sama Anya.“Tapi gue nggak setuju. Enak aja anak orang di jadiin taruhan. Ntar kena batunya baru tau rasa loe. Coba gimana kalau ternyata si doi udah punya pacar?” Merry keberatan.“Terus loe punya ide lain? Lagian kalau emang dia punya pacar masa ke konser nggak ngajak pacarnya?” tanya Sisil.Sementara yang di tanya hanya diam, karena ia sama sekali nggak punya ide yang lebih baik."Nah, nggak ada kan, jadi setuju aja deh,” desak Anya.“Ia. Sekalian loe jadi jurinya, secara loe kan yang paling netral,” tambah Ria.“Terserah kalian aja deh” Merry akhirnya nyerah.Sejak saat itu mereka sibuk mencari informasi tentang'sang idola'. Kebetulan Anya nggak sengaja pernah ketemu sama tu cowok di halte yang biasa mereka tumpangi waktu pulang dari jalan jalan. Hanya saja waktu itu nggak sempet kenalan karen tu bus sudah keburu berangkat. Sejak saat itu mereka sering iseng jalan ke sana.Dua minggu telah berlalu, tapi hasil nya tetap nihil karena walau di tunggu sampai hampir malam tetap juga nggak nongol-nongol sehingga mereka hampir saja putus asa.Sore minggu kebetulan Merry libur bersama keempat temannya ngumpul bareng di salah satu kaffe yang sering mereka datangi. Rencananya ia akan memperkenalkan pacarnya pada temen-temennya.Sambil menunggu pacarnya Merry datang mereka asyik ngobrol.“Eh tau nggak sih, ternyata doi itu kuliah dari sore sampai malam. Dan kenapa selama dua minggu ini kita nggak bisa ketemu sama dia? Ternyata itu gara-gara sekarang ini dia lagi libur habis ujian semester,” kata Salsa memulai obrolannya.“0h ya. Loe tau dari mana?” tanya Anya heran.“Dari sopir bus yang biasa ia tumpangi. Abis nya gue penasaran,” jelas Salsa. “Dan katanya besok sore ia sudah masuk lagi, jadi gue pikir itu waktu yang pas buat kira kenalan sama dia,” sambungnya lagi.“Ide bagus tuh. Loe kali ini bisa ikut kan Merry?” tanya Ria.“Yah sayang banget, gue nggak bisa. Gue kan harus kerja. Lain kali aja ya,” sahut Merry merasa tidak enak.“Ya udah lah nggak papa. Toh besok kalau dia sudah jadi pacar salah seorang dari kita pasti di kenalin sama loe kok,” kata Ria.“Tapi ngomong-ngomong pacar loe jam segini kok belum datang ya?” Anya melirik jam tangannya. "Jadi datang kan?"“Tau nih, bentar ya gue telpon dulu. Kali aja dia lagi kebingungan nyari kita. Emang sih tadi gue udah kasih tau tempatnya, tapi kok belum datang juga. Jangan-jangan nyasar lagi,” Merry beranjak dari dari kursinya menjauh dari temennya.Sebelum Merry berhasil meng'calling pacarnya, HP nya bergetar terlebih dahulu. Ternyata SMS dari Allan, pacarnya. Yang mengabarkan kalau ia sudah berada di depan kaffe tersebut.“Eh temen-temen, dia udah ada di depan tuh. Gue jemput dia dulu ya,” pamit Merry, temen-temennya hanya membalas dengan anggukan.“Kira-kira pacarnya Merry kayak gimana ya?” ujar Salsa setelah Merry pergi.“Tenang aja sa, bentar lagi kita semua juga tau kok,” balas Sisil.Tak lama kemudian Merry datang menghampiri mereka bersama seorang pria di sampingnya.“Temen-temen, kenalin ini pacar gue. Namanya Allan, Allan ini temen-temen gue yang pengen gue kenalin ke elo, ini Salsa, Anya, sisil, sama Ria,” kata Merry memperkenalkan pacarnya kepada temen-temennya satu persatu.Untuk sepersekian detik temen-temennya hanya terdiam terpaku. Bahkan Sisil yang kebetulan sedang menyeruput es sirupnya langsung tersedak saking kagetnya seolah nggak percaya akan sosok yang kini berada tepat di hadapannya yang tersenyum manis sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.“Ya tuhan. Dia kan…. 'SANG IDOLA” pekik batin mereka masing-masing.End….Namanya juga cerpen perdana, jadi di maklumi aja deh kalau endingnya masih gaje banget. Terus bahasa sama kosa katanya juga agak gimana gitu. Tapi ya begitulah. Bagaimanapun terima kasih sudah membaca. 😀 Detail CerpenJudul Cerpen : Sang IdolaPenulis : Ana MeryaGenre : RemajaPanjang : 1543 kataStatus : Cerpen Pendek

  • Senyum Termanis yang Kini Menjadi Tangis

    Senyum Termanis yang kini Menjadi Tangisoleh: FatkuryatiCINTA adalah perasaan yang sakral, tak habis kata untuk mengartikan lima huruf yang berjejer indah. Cinta selalu menjadi topik hangat di seantreo dunia, keberadaannya selalu menjadi teka-teki dan misteri hati. Kalau saja kita tak pernah dilahirkan ke dunia, mungkin kita tak kan pernah mengenal arti cinta, tak kan pernah merasa dicintai atau mencintai, juga tak kan pernah menjadi pencinta yang tulus.Siang itu adalah hari sabtu,, pertemuan pertamaku dengannya setelah menjadi sepasang kekasih.. Aku teramat bahagia untuk itu,, aku berusaha untuk tampil istimewa di depannya,, memilih baju, sandal, tas, jeans dan jilbab yang matching untuk ku kenakan pada pertemuan itu.. Aku seolah menjadi wanita paling bahagia di seantreo dunia,, karena bisa menjadi wanita terpilih dari sekian banyak wanita yang menyukainya.Usia kita terpaut 3 tahun,, dia 3 tahun lebih tua dariku.. Ia tampan, supel, pintar, dewasa, baik, bijaksana dan romantis.. Itulah yang membuatku merasa menjadi gadis paling beruntung.. Satu paket dari banyaknya karakter positif yang aku suka darinya adalah karena dia mengenakan kacamata.. Entah kenapa aku lebih senang dengan pria berkacamata,, bisa jadi karena aku adalah fans fanatiknya Afgan Syahreza yang menamakan diri sebagai Afganisme.. jadi secara tidak langsung, sebenarnya aku menginginkan Afgan Syahreza yang menjadi partner hidupku,, tapi karena itu adalah bagian dari hal mustahil,, so selain Afgan pun tak jadi masalah, asalkan dia berkacamata.. Seperti pepatah ini “Tak Ada Rotan Akarpun Jadi”,, heheeee,,, konyol memang,, tapi yaaa inilah aku.. Sii gadis penyuka pria berkacamata.* * *Ting-ting-ting (tanda pesan masuk),, ponselku berdering pertanda ada pesan masuk,, ternyata itu adalah pesan singkat dari sii beybbii,,, ku buka pesan singkat itu dengan senyum yang tak pernah henti menghiasi bibir mungilku.“Ayy,, kita ketemu jam 1 aja yaa,, di depan halte kampusku,, biar waktunya agak lama’an,, nanti kita langsung jalan,, kamu yang pilih tempatnya,, terserah kamu dehh mau ke mana.. miss U beeyy…” ^^ Setelah selesai membacanya,, tanpa pikir panjang aku langsung menekan tombol replay di ponselku.“Okkeii,, setelah sholat dzuhur aku langsung meluncur ke kampusmu,,, jangan telat yaahh… miss U too,,” ^^ Haaaa,,, saat itu dunia serasa berhenti berputar,, seolah hanya ada aku dan kamu yang menghuni bumi ini.. Tak ada makhluk lain,, hanya KITA.. ^^ aku jadi tak sabar menunggu jarum jam menuju ke arah pukul satu.. Memang saat itulah yang menjadi penantianku,, karena rindu yang dia rasakan sama manisnya dengan rindu yang menggantung dalam sukmaku.. Kehadirannya memang mampu buatku lupa akan cerita indah masa laluku bersama sang mantan yang belakangan ini telah menjadi mantan yang paling berkarat di hatiku.. Sedikit demi sedikit aku mulai berhasil meninggalkan bayangnya dalam masa laluku,, dan semua itu karena DIA,, sii pria yang kini menjadi Super Heroku.. Dulu aku memang merasa teramat sulit untuk tak memikirkan mantanku itu,, tapi syukurlah hal itu kini tak terjadi lagi.. Aku berusaha relakan dia pupus bersama sang waktu,, karena ku pikir telah ada sang Super Hero yang kini berperan mewarnai hari-hariku kembali..* * *Ketika jarum jam menunjukan pukul 12.30 WIB,, aku langsung bergegas menuju lokasi yang telah dijanjikan.. sebelum berangkat pastinya aku telah menunaikan sholat dzuhur terlebih dahulu, karena hal itu memang selalu di ajarkan bunda kepadaku. Angkutan umum warna biru adalah tujuan terakhirku untuk segera sampai ke kampusnya.. Tepat di pukul 13.07 WIB aku telah sampai di depan kampusnya.“Kiri bang,, ucapku penuh semangat memberhentikan angkutan umum yang sedari tadi ku tumpangi”.. Setelah aku selesai membayar dan mengambil kembalian,, aku langsung memposisikan diriku untuk duduk di halte.. Dug-dug-dug,,, jantungku terasa lebih kencang berdetak,, seperti ada sensasi halilintar di DUFAN imajiku… Aku mencoba menormalkan kembali detak jantungku dengan cara menarik nafas panjang sambil memegang dadaku dan mengebuskannya pelan-pelan,, berharap semoga hal ini dapat membantu jantungku untuk berdetak dengan normal kembali.. Setelah dirasa cukup baikan,, akupun bermaksud hendak mengiriminya pesan singkat untuk menanyakan keberadaannya.. Bersamaan dengan aku mengambil ponsel di saku celanaku,, tiba-tiba ponselku berdering tanda pesan masuk.. Hmmm,,, ternyata untuk urusan pesan singkatpun kita sehati.. Dengan waktu yang hampir bersamaan,, kita hendak menanyakan hal yang serupa.“Ayy,, kamu udah nyampe mana?? Aku udah di kampus nii,, di sekret.. Hmmmpp,, aku langsung ke halte ajah kali yah..”Akupun langsung membalas pesannya:“Aku udah di depan kampus kamu beyy,, baru ajah nyampe.. yaudah kamu ke sini yaa,, aku nya sendirian nii…”Tak lama waktu berselang,, tanpa kusadari wajah tampan dengan senyum khasnya telah ku dapati,, wangi tubuhnya pun mulai tercium.. Kulihat Ia sedang berjalan mendekat ke arahku sambil melambaikan tangan.“Heyy ayy,, belum lama nunggu kan??,, tanyanya sambil mengelus kepalaku”“Iya aku belum lama ko,, hanya baru beberapa menit, jawabku sambil melempar senyum manisku ke arahnya”Sejak saat itu,, kami mulai meluncur ke Alun-alun kota Serang,, tempat yang asyik untuk santai bersama sang pujaan hati.. Setidaknya kami bisa bersenda gurau, saling melempar senyum, saling memuji, saling melirik dengan malu, dan di tengah candaan itu sesekali ia mencubit pipiku.. Tanpa harus ku bilang bahagiapun sepertinya ia tahu bahwa aku sangat bahagia bersamaanya,, semua itu mungkin dapat terlihat dari senyum yang tak pernah henti menghiasi bibir mungilku dan dari bola mataku yang tak pernah jera dari binar.“Oohh Tuhan,, jangan biarkan waktu ini berlalu begitu cepat,, saat ini aku hanya sedang ingin menikmati kebersamaanku dengannya,, ucapku dalam hati”Ketika aku sedang setengah terdiam,, dia memintaku memejamkan mata,, dimulai setelah ia selesai menghitung hingga angka tiga.. Saat itu aku mulai merasa penasaran, sebenarnya akan ada hal indah apa yang dilakukannya untukku.. Secara diam-diam ternyata dia mencoba untuk membuatku semakin cinta dengan kejutannya.. dari arah yang berlainan bisa didapati bahwa ada tiga pria yang membawa 3 benda yang berbeda,, tiga pria itu adalah kurir dari toko boneka, toko coklat dan toko bunga yang dari beberapa hari lalu telah dipesannya.“Hmmpp,,, satu dua tiga… ayyoooo buka matamu ayy,, Surpriseeeeeeeeeeeeee,, ucapnya sambil melebarkan tangannya bergaya ala pangeran di negri dongeng”Dan ketika aku mulai membuka mata,, telah kudapati tiga benda lambang cinta berada persis di depanku.. Lima batang coklat Catt Burry,, satu boneka Mickey Mouse berukuran jumbo,, dan dua belas tangkai Bunga Mawar yang disatukan dalam buket yang indah… Aku bisa langsung mengerti bahwa jumlah angka dari setiap bendanya mewakili makna dari moment tak terlupakan 10 hari yang lalu. Lima batang coklat Catt Burry menandakan tanggal jadian kami, sedangkan satu boneka Mickey Mouse menandakan bulan jadian kami,, dan dua belas tangkai Bunga Mawar menandakan tahun jadian kami.. 5 Januari 2012,, itulah moment indahku 10 hari yang lalu bersamanya,, dan itu tak kan pernah terlupakan.“iiiihhhh so sweet dehh,, aku suka ini,, makasih ya beeyy,, dapat ku pastikan bahwa moment ini juga tak kan kulupakan,, ucapku dengan mata berbinar bahagia”.“Sama-sama sayang,, aku juga senang melakukan ini untukmu,, ini sebagai bukti betapa aku mencintaimu,, kamu adalah satu-satunya wanita yang kuharapkan untuk mendampingiku sampai nanti Tuhan akan memanggilku,, aku sayang kamu,, ucapnya sambil memegang tanganku dengan jari-jemarinya yang lembut”.“Kamu bisa lihatkan betapa bahagianya aku saat ini,, itu tanda bahwa aku bersyukur memiliki pria sepertimu,, aku juga sayang kamu beeyy,, seruku sambil balik memegang tanganya dengan erat”..* * *Sore itu adalah sore bahagiaku,, hari terbahagia kedua setelah 10 hari yang lalu, hari dimana dia memintaku menjadi kekasihnya.. Bedanya,, sabtu sore ini waktu seolah berjalan dengan sangat cepat.. Beberapa jam yang terlewat hanya terasa seperti beberapa menit.. Aku bahkan tak tahu,, kenapa jika kita sedang menikmati kebersamaan dengan orang yang terkasih, waktu serasa tak berpihak.. Ia berjalan dengan sangat cepat,, padahal kebersamaan itu masih dirasa kurang cukup lama,, rindu yang terasa saja belum benar-benar terobati.. Sabtu sore ini mungkin pertemuan kami cukuplah hanya hingga pukul 16.00 WIB,, bunda tidak mengizinkanku pulang larut malam,, jadi aku lebih memilih untuk pulang sebelum waktu magrib tiba.Tepat pada pukul 16.00 WIB ia mengantarkanku pulang.. Ketika mengendarai sepeda motor,, Ia benar-benar memperhatikan keselamatanku.. Ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan yang normal,, padahal berpacu dengan kecepatan tinggi adalah hal yang biasa dilakukannya,, tapi kini hal itu tak dilakukannya.. Ia mencoba melindungiku dengan caranya.. Aku termasuk anak yang polos,, untuk hal melingkarkan lengan ke pinggangnya pun aku masih merasa malu. Tapi sepertinya ia merasa risih,, ia takut akan terjadi apa-apa denganku,, memang tak ada yang kujadika pegangan saat itu.. kemudian dengan sangat tiba-tiba,, ia menarik kedua tanganku, mencoba menggapainya dan memposisikan lenganku melingkar di pinggangnya.. Posisi tubuhku menjadi sangat dekat dengan punggungnya.. Mungkin detak jantungku yang kini ritmenya mulai bertambahpun bisa dirasakan olehnya.. saat itu pula ia menoleh ke arahku dan mengatakan kalimat pendek yang bermakna dalam,, “Aku Sayang Kamu”.. Tapi aku tak menjawabnya,, suara bising kendaraan kujadikan alasan untuk berpura-pura tak mendengar ucapannya.. karena aku takut ia dapat membaca kegugupanku..Sesampainya di rumahku,, ia langsung pamit untuk pulang.. Tak menyempatkan sedikit waktu pun untuk sekedar mengistirahatkan diri.. Sekitar pukul 17.30 WIB,, ia mengirimiku sebuah pesan singkat yang menyatakan bahwa dirinya telah sampai di rumah tanpa kurang suatu apapun.. Inilah pesan singkatnya yang ia kirim saat senja tiba..“Ayy,, aku udah nyampe rumah nii,, makasih yaa atas sabtu terindahnya”.. * * *Sejak saat itu,, haripun seolah berlalu dengan sangat lambat,, tak kudapati sedikitpun kabar darinya.. tapi aku masih bisa untuk berpikir positif bahwa ia memang sedang disibukan dengan tugas akhirnya (skripsi),, disamping itu aku tahu bahwa dia memang sering menjadi pembicara di berbagai acara seminar.. Aku mencoba untuk tak melemaprinya dengan pikiran-pikiran negatif,, karena bagaimanapun juga aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa apaun aktifitasnya, selagi itu membuatnya nyaman,, aku akan selalu mendukungnya.. Tapi entahlah,, beberapa hari belakangan ini aku merasa ia menjadi amat berbeda,, bahkan komunikasi itu nyatanya telah benar-benar putus,, nomor ponselnya tak pernah aktif.. Aku teramat kesulitan untuk mengetahui kabarnya,, bahkan sejak saat itu,, akun facebooknya sama sekali tak terlihah ada aktifitas. Aku mulai merasa bahwa ia memang sengaja menghindariku.. Jika memang ia,, sebenarnya apa yang menjadi alasannya untuk melakukan itu,, padahal sebelumnya ia masih bersikap sangat manis kepadaku,, bahkan ia berani membuat kejutan yang ia susun selama satu minggu lamanya.Jutaan detik,, ribuan menit,, ratusan jam dan puluhan hari telah berlalu.. tak terasa ini adalah hari kesebelas ia menghilang dariku tanpa kabar.. Tapi aku tak pernah henti untuk mencoba menghubunginya via sms dan telfon.. Namun sepertinya itu teramat sia-sia,, lagi-lagi yang kudapati hanya suara operator yang menyatakan bahwa nomornya sedang tidak aktif dan berada diluar jangkauan.. Aku mulai tak mengerti dengan semua yang terjadi saat ini,, apakah memang dia sengaja mengganti nomor ponselnya dengan nomor yang baru?? lantas apa artinya kejutan yang ia buat beberapa hari yang lalu,, jika pada akhirnya ia melukaiku dengan cara seperti ini.Aku mulai dilanda ketakutan yang tak berujung,, aku takut moment menyakitkan tiga setengah tahun silam, semasa aku duduk di bangku SMA terulang kembali dalam fase hidupku.. saat dimana aku diperlakukan dengan cara yang serupa dengan ini,, aku ditinggal pergi oleh pria yang ku sayangi dengan cara yang menurutku teramat bodoh. Cara yang menunjukan sisi ketidakjantanananya,, padahal,, bukankah ada banyak cara yang jauh lebih baik dari ini.Saat itu aku mulai tak kuasa untuk menahan air mata,, perlahan mataku menjadi sayu dan tak lagi berbinar.. Aku harus menelan semua ini sendiri dan menerima kenyataan pahit kembali.Kenapa harus kau ciptakan senyum termanis,, jika pada akhirnya kau buatku menangis.. Kenapa kau buat mataku berbinar bahagia,, jika pada akhirnya kau buat mataku nanar karna air mata…. Aku tak pernah menginginkan hal ini terjadi,, Peristiwa tiga setengah tahun silam yang paling aku benci ternyata harus kembali terulang dengan orang yang berbeda.Tak seorangpun tahu kalau saat ini aku sedang terluka,, aku memang memilih untuk tidak menceritakannya pada siapapun, termasuk keluarga dan sahabat-sahabatku.. Aku memilih untuk tetap terlihat tegar di depan mereka,, tawa dan senyum indahku adalah hal yang biasa aku tunjukan untuk menutupi lukaku.. Aku tak ingin ketika air mata ini jatuh mereka menjadi teramat mengkhawatirkanku. Biarlah kusimpan semuanya sendiri,, biarlah aku mencoba mengibur diriku sendiri,, biarlah aku menguatkan diriku sendiri dan biarlah aku memulihkan hatiku kembali dengan caraku sendiri.. Aku tak ingin melibatkan siapapun untuk dukaku ini.Luka,, !!!! yaaa aku memang merasa terluka dengan semua ini.Kenapa harus ada ucapan sayang bila akhirnya kamu menyia-nyiakan aku… Bahkan hingga detik ini aku masih bertanya-tanya,, apa salahku??? Kenapa dengan tiba-tiba kamu menghilang dan pergi tanpa kabar,,, sungguh aku tak mengerti dengan ini. Jika setiap yang terjadi harus ku artikan,,, maka untuk yang ini,, aku belum bisa mengartikannya.Mungkin jika masa itu tak pernah ada,, barangkali aku tak perlu repot untuk mencari jawaban dari pertanyaanku.Jika dulu aku tahu bahwa semuanya akan menjadi seperti ini,, aku akan lebih memilih di tanggal 5 Januari kemaren tidak pernah ada momen spesial,, tidak pernah ada ucapan sayang dan tidak pernah ada permintaan untuk menjadikanku kekasihmu.Kenapa semua ini terjadi secara tiba-tiba,, sabtu siang di pertemuan pertama setelah menjadi kekasih, kita masih baik-baik saja,, kamu masih memperhatikanku,, masih tersenyum bersama,, masih bersenda gurau bersama,, masih minum bersama,, masih duduk bersebelahan,, masih mencoba membuat cintaku semakin besar dengan kejutan itu,, bahkan kamu masih sempat memegang tangganku dan mengantarkanku pulang.. setelah itu kamu pun masih sempat mengirimiku pesan singkat untuk bilang bahwa kamu telah sampai di rumah.Yang aku sedihkan,, ternyata itu adalah pesan singkat terakhirmu untukku.. kau MENGHILANG dan tak izinkan aku untuk tahu alasannya… Tahukah kamu,,, tak pernah terlewat seharipun untuk aku mencoba menghubungi nomor ponselmu,, tapi ternyata semuanya sia-sia,,, tak kudapati sedikit kabar darimu.APA SALAHKU??????Jika kamu memang tak sayang lagi,,, aku malah lebih ingin kamu langsung katakan itu ke aku,, bukan dengan cara konyol seperti ini… kamu cukup dewasa,, bijaksana dan lembut,, itu yang aku suka darimu.. tapi kenapa untuk yang ini kamu tidak bisa melakukannya dengan caramu yang bijaksana.Jujur,, sampai detik ini aku masih sayang,, aku masih berharap bahwa ada masanya nanti kamu akan menghubungiku kembali dan memberi kabar,,, aku bahkan berharap bahwa kamu menghilang ini bukan untuk sengaja melukaiku,, tapi karena kamu sedang berusaha untuk membuatku tersenyum dengan kejutan yang kamu buat seperti 11 hari yang lalu.Jika bagimu merindukanku adalah hal yang berat, harusnya kamu belajar dari caraku merindukanmu.. Kau adalah mentari yang hangatkan pagiku, dan bulan yang terangi malamku.Tak bosan aku menyebutmu dalam do’aku,, mencoba mengetuk hati sang pencipta surya agar berbaik hati mengirimkanmu lagi untukku.Tak perlu kamu tahu berapa banyak air mata yang membasahi bantal saat khayalku terbawa dalam kenangan tentangmu,, dan aku pun tak ingin kamu ikut sedih ketika tahu betapa dinginnya hari-hariku tanpa senyummu.Entahlah,,,,, sepertinya memang hati dan pikiranku harus bekerja keras untuk melupakanmu dan membuang jauh bayangmu hingga langit ke tujuh.Aku memang menyadari bahwa kehidupan ini terkadang mengharuskan kita menerima apa yang tidak kita harapkan dan tidak mendapatkan apa yang kita harapkan.. Maka aku akan tetap berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku harus tetap ikhlas untuk menerima apa adanya.Terimakasih,, karena kamu sempat berperan mewarnai hari-hariku meskipun dengan waktu yang teramat singkat… Ku coba untuk tegaskan pada diriku sendiri bahwa “ketika kita berencana maka biarkanlah Tuhan yang menjadi penghapusnya dan menggantikannya dengan yang lebih baik”.* * *Personal DataNama : FatkuryatiNama Panggilan: IfatTTL : Serang, 15 Juli 1991Motto : Bahagia adalah hak semua orang,, mari jemput bahagia itu…Alamat : Jln. Ciptayasa Kp/Ds. Linduk rt 07 Rw 01 kecamatan Pontang, Serang-Banten.Pekerjaan : Mahasiswi Hobi : Merangkai kata-kata puitis, Mendengarkan musik, bersepeda, travelling.Minat : Menjadi seorang penulis yang karyanya bisa dibaca banyak orang, menjadi tenaga pendidik, serta menjadi wanita sukses dunia dan akhirat.E-mail : siibungsuifat@yahoo.co.idFacebook : Ifat_91@yahoo.com atau Ifat sii princessbungsuTwitter : @IfatSiiprincess

  • Cerpen Benci jadi cinta Vanessa Vs Ferly End

    Hufh… Akhirnya bisa sampe ending juga. Tapi full no edit. Ya mau kek mana lagi. Udah capek woi. Oke deh, happy reading ae lah“vanes… gimana sama ferly??” tanya sebuah suara dari samping reflex Vanes menoleh.“radit… ferly masih didalam lagi ditangani sama dokter…” balas vanes sambil mengusap air mata yang menetes dipipi, radit dan yang lain pun duduk di ruang tunggu rumah sakit.“loe yang sabar ya…” kata radit.“ini semua salah gue… gara-gara gue, ferly jadi kayak gini…” .sebagian

  • THE SILENCER

    THE SILENCERBerbaring… Duduk… Berdiri… Dan berbaring kembali. Hanya itu yang bisa dilakukan Soni di kamarnya. Entah kenapa mendung di pagi itu membuatnya begitu diam, tanpa sedikit katapun terucap dari mulutnya. Sesekali ia memutar beberapa lagu di mp3 playernya untuk sekedar memecah kemuraman pagi itu, namun usaha itu tidak cukup berhasil membuka gembok mulutnya yang terus tertutup rapat. Pikirannya sedang kalut. Hatinya masih mencari pembenaran atas apa yang dia yakini terhadap rasa sayangnya pada beberapa gadis yang ia kenal.Ia lelah…Soni kemudian kembali berbaring. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Tatapannya lurus menatap atap kamarnya yang putih. Polos. Dalam kepolosan atapnya itu ia membayangkan sedang melukis sebuah wajah dengan cat hitam. Wajah seorang gadis dengan sedikit lesung pipi. Wajah itu ia kenal dari sebuah pertemuan di salah satu kegiatan kampus. Dia tidak mengelak bahwa wajah itu sangat cantik. Namun kecantikannya hanya sebatas menembus matanya, tidak sampai pada organ penting dalam tubuhnya, hati. Mulutnya nampak seperti sedang menyebutkan sebuah nama, tanpa bersuara.Kemudian Soni duduk. Matanya kembali mendapati sebuah kanvas polos, tembok kamarnya. Ia ingin mengecat tembok hijau polosnya itu dengan warna kesukaan seorang gadis lain yang tidak kalah cantiknya, warna merah menyala. Tapi ia sadar tidak ada cat warna merah itu di rumahnya. Dia tidak ingin bersengaja keluar rumah hanya untuk membeli sekaleng cat warna merah menyala. Akhirnya dia kembali membayangkan dirinya sedang mengecat tembok kamarnya. Wajah gadis itu begitu jelas terpampang di depan matanya. Alisnya sedikit tebal, matanya sedikit sipit dihiasi bulu mata yang lentik. Hal itu semakin membuat Soni ingin mengecat tembok kamarnya itu dengan puasnya. Tapi anehnya, setiap kali dia menggoreskan koas dengan lumuran cat merah menyala di tembok itu, matanya hanya melihat warna lain, hitam. Mulutnya kembali menyebut sebuah nama, dan tetap tanpa suara.Nampaknya usahanya menenangkan diri belum begitu berhasil. Soni bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati jendela. Langkahnya tertahan saat dia melihat sekeliling kamarnya. Soni mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mendapati semua benda di kamarnya tak ubahnya seperti dirinya, bisu. Dia selalu membandingkan dirinya dengan benda benda itu. Sepertinya kebisuannya pun tak akan pernah berujung. Pembenaran yang dia cari cari masih tetap menemui jalan buntu. Masih tetap melihat warna yang sama, hitam. Apakah hanya warna itu saja yang mampu dia lihat? Kemana warna warna lainnya? Dia merindukan warna putih, hijau, kuning dan warna lainnya. Selama ini warna warna itu hanya terlihat dari kejauhan dan tampak buram. Jauh dan semakin jauh.Soni kembali melangkah. Pelan dan sedikit dipaksakan…Matanya mendapati sesuatu di luar sana. Sesuatu yang indah. "Hey, apa itu?" Benaknya bertanya. Melalui jendelanya ia mendapati seorang gadis yang sedang duduk manis di sebuah kursi di beranda rumah gadis itu. Saat ia melihat gadis itu matanya menangkap warna warni dengan begitu jelas. Tidak ada sedikitpun warna yang pudar dalam pandangannya. Gadis itu begitu berwarna dan begitu terang. Satu hal yang tidak dia temui dari gadis-gadis lainnya. Seketika senyum Soni merekah, mengisyaratkannya terbebas dari kemuramannya.Kebisuannya berakhir. Dengan jelas Soni menyebut sebuah nama yang ia sebut sebut dari tadi…"Dira…"Dira memalingkan wajahnya ke arah Soni. Cahaya warna warninya berpendaran menghiasi seluruh tubuhnya. Ia membalas senyuman Soni dengan senyuman yang begitu lepas dan indah. Sesaat dia merasakan sedang berada di suatu tempat yang indah. Suatu tempat dengan langit cerah berhiaskan pelangi memanjang di sekitarnya. Sebidang tanah dengan rumputnya yang hijau bersih. Ia bahkan bisa mendengar suara gemericik air mengalir dari sungai kecil yang tidak jauh dari sana. Airnya begitu segar dan jernih. Begitupun dengan udaranya. Tidak jauh dari sana, Dira sedang berdiri menatap Soni dengan senyumannya. Sesaat lamanya Soni merasa damai, tenang dan tanpa beban. Tidak ada kekalutan sedikitpun terselip dalam dirinya. Kehadiran sosok Dira dalam bayangannya selama ini selalu membuatnya merasa demikian. Dia tidak akan melupakan Dira, setidaknya untuk saat ini. Bayangannya terpatri kuat dalam hatinya. Semua warna warninya akan tetap terlihat dengan jelas dan terang. Semua kata-katanya akan melekat kuat dalam memorinya.Dalam bayanganya, Soni memegang tangannya dan meletakkan telapak tangannya di dada Soni.Kemudian dengan lembut Soni berbisik pada Dira…"Dira…""Semoga engkau selalu tenang di alam sana. Tetaplah sinari hariku dengan warna dan senyummu".***(Hasanuddin. Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung Semester 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*