Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 03 / 13

Masih kelanjutan dari cerpen kala cinta menyapa yang kini udah sampe part 3. Ngomong – ngomong kali ini cerpen versi edit ya. Ya nggak banyak yang berubah, hanya berusaha untuk sedikit merapikan aja. Nah, buat yang baru nemu kisah ini biar nyambung mendingan baca dulu bagian sebelumnya pada Kala cinta menyapa bagian 2. Selamat membaca ya….

Kala Cinta Meyapa
Kala Cinta Meyapa

“Apa. Si Erwin jatuh kedalam got? Loe dapat gosip itu dari mana?”
Langkah Erwin yang berniat untuk kekelasnya langsung terhenti saat telinganya mendengar bisik – bisik teman – temannya. Begitu wajahnya menoleh ia melihat segerombolan teman – temanya yang sepertinya sedang bergosip ria tanpa menyadari kehadirannya.
“Ia, katanya si gitu. Katanya lagi nie ya, yang bantuin dia itu si siapa tu anak sastra yang pake kacamata. Haduh gue sampe lupa namanya?”
“Yang mana nie?” tanya beberapa yang lain.
“Itu lho. Yang biasa bereng sama Irma."
“O… yang itu. Gue tau. Kalau nggak salah namanya Rani. Iya bener deh kayaknya. Jadi dia yang bantuin. Tapi gimana ceritanya."
“Gosip yang beredar si katanya gini. Waktu itu si Erwin mapok terus tetep nekat pake motor. Makanya nabrak. Untung aja nggak mati. Nah waktu itu kebetulan kejadiannya pas didekat rumahnya Rani. Makanya langsung Rani bantuin."
“Ih, masa si Erwin doyan minum? Sampe mabok segala?” tanya yang lain tampak tak percaya.
“Cek cek cek. Kalau gue si percaya aja. Toh tu anak kan memang selama ini terlihat misterius."
Sementara yang lainnya hanya mengangguk – angguk membenarkan. Tanpa menyadari Erwin yang sedari tadi menguping terbuka tanpa suara. Tangannya terkepal dengan erat. Emosinya benar – benar naik saat ini. Gadis itu?… benar – benar sulit di percaya.
Tampangnya aja yang terlihat lugu dan polos. Tapi ternyata. Dengan kesal di pukulnya dinding membuat orang – orang yang sedari tadi mengosip langsung menoleh. Merasa terkejut sekaligus ketakutan ketika melihat yang sedang di gosipkan muncul dengan tiba – tiba. Dan semuanya hanya mampu menunduk terpaku saat Erwin melangkah melewatinya sekali gus merasa lega karena ternyata Erwin tidak melakukan apa – apa. Kalau sampai Erwin beneran ngamuk kan bahaya.
Tepat di belokan kelas Erwin berpapasan dengan Rani yang kebetulan juga lewat dari hadapannya. Tanpa menyadari ada bahaya sedikit pun, dengan santai Rani terus melangkah. Jantung nya terasa mau copot saat tiba – tiba tangannya di tarik, dan Rani merasa lebih kaget lagi saat mendapati wajah Erwin yang menatap seolah – olah akan melahapnya hidup – hidup.
“A… A…. Ada apa?” tanya Rani terbata.
Erwin tidak langsung menjawab. Matanya menyipit membuat Rani makin panas dingin. Ya ampun ini kan masih pagi.
“Loe….” tunjuk Erwin lurus ke arah Rani. Saking merasa keselnya ia sendiri sampai tidak tau harus ngomong apa.“Lepasin temen gue!” terdengar sebuah suara di susul dorangan tubuh yang di rasakan Erwin. Rasa kesel nya makin meningkat saat mendapati wajah sangar Irma di belakangnya.
“Loe lagi. Mau apa loe? Ini tu bukan urusan loe!” geram Erwin setengah membentak.
“Ho ho ho, belum tau ya? Rani ini sahabat gue. Dan siapa pun yang berusaha nyakitin dia akan jadi urusan gue."
“Heh…” cibir Erwin Sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap sinis kearah Irma. “Jadi loe seorang bodyguard ternyata."
Dan sedetik setelah kata itu terucap dari mulut Erwin…
“Aduh,” jeritan kesakitan terdengar. Erwin melihat kearah kakinya yang masih berdenyut sakit karena di injak sekeras – kerasnya oleh Irma yang kini tampak tersenyum puas.
“Ha ha ha, rasain loe. Makanya kalau ngomong jangan asal nyeplak. Enak aja gue secantik ini di bilang bodyguard, yang ada gue itu pengawal pribadi. Ups, salah maksudnya gue itu sahabat terbaik yang pantes di jadiin teladan semua orang."
“Dasar cewek sarap,” geram Erwin berusaha menahan emosinya.
“Tunggu dulu, kok kalian berdua malah berantem?”
Erwin dan Irma kontan langsung menoleh kearah Rani secara bersamaan. Menatap gadis itu yang terlihat heran sekaligus tidak percaya.
“Dan itu karena elo!” tuding Erwin langsung.
“Gue?” tunjuk Rani kearah wajahnya sendiri. Pikirnya segera melayang. Ia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Bukannya ia sudah tutup mulut soal Accident yang terjadi pada Erwin kemaren.
“Jangan sok polos,” sambung Erwin lagi. “Loe kan yang nyebarin gosip yang tidak – tidak soal gue?”
“Gosip?” ulang Rani makin bingung.
“Ha ha ha. Yang tidak – tidak? Nggak salah tuh. Bukannya yang iya – iya ya?” potong Irma disela tawanya.
“Diem loe!” bentak Erwin kearah Irma yang masih tertawa. Mata Erwin sedikit menyipit kearah Irma. Sebuah pemikiran baru terlintas di benaknya.
“Jangan bilang ini ulah loe?”
“Tentu saja,” aku Irama nggak tanggung – tanggung. “Loe pikir gadis sepolos Rani mau melakukannya?”
Mulut Erwin terbuka tanpa suara. Sementara Rani justru terlihat makin bingung. Kenapa dia di bawa – bawa?
“Loe….” tunjuk Erwin kearah Irma, Eh bukannya takut Irma justru malah mendekat ke arah Erwin. Jelas terlihat menantang.
“Makanya, jangan pernah berusaha mencari gara – gara sama gue,” balas Irma sebelum kemudian menarik tangan Rani. Mengajaknya berlalu meninggalkan Erwin dengan tampang bodohnya.
“Eh tunggu dulu,” tahan Rani menghentikan langkahnya. Membuat Irma merasa heran. Dan lebih heran lagi saat melihat Rani berbalik, kembali menuju kearah Erwin yang masih diam terpaku.
“Gue lupa mo bilang. Soal kemaren katanya loe yang bantuin gue waktu pingsan. Gue kan belum bilang ma kasih. Ma Kasih ya…” kata Rani sambil tersenyum namun justru malah membuat Erwin makin kesel. Dan sebelum Erwin sempat buka mulut, Irma sudah terlebih dahulu menarik tangan Rani dan membawanya pergi.
“Loe bego apa dodol si? Kenapa loe malah bilang terima kasih sama tu anak?” geram Irma sambil menarik Rani menuju kekelasnya.
“Lho, memangnya ada yang salah? Toh kan loe sendiri yang bilang kalau kemaren itu Erwin yang nolongin gue. Dan dari kecil itu nyokap bokap gue udah ngajarin tentang tatakrama. Nah karena dia yang udah bantuin gue, ya udah seharusnya donk gue bilang ma kasih."
“Terserah loe aja deh,” Irma tak mau ambil pusing.
“Oh ya, gue juga heran. Kenapa loe kemaren nggak masuk? Kasian tau, Rei kemaren nyariin loe,” jelas Rani.
“Rei? Nyariin gue?” tanya Irma heran. Rani hanya membalas dengan anggukan.
“Terus loe bilang apa?”
“Ya gue bilang aja nggak tau. La kan gue emang nggak tau. Tapi abis itu dia ngobrol gitu sama Nandini. Tau deh ngomong apa an. Bukan urusan gue ini."
“Sama Nandini?"
Rani kembali mengangguk. “Tapi gue heran deh, kok loe biarin aja dia deket – deket sama Nandini. Entar kalau mereka jadian beneran apa loe nggak patah hati?”
Mendengar pertanyaan Rani barusan sontak langkah Irma langsung terhenti. Mata Rani juga hanya berkedip – kedip heran menatapnya.
“Kenapa?” tanya Rani lagi.
“Loe bilang apa. Gue patah hati? Kenapa gue harus patah hati?"
“Ya ela, loe kan cinta sama Rei. La nanti kalau Rei jadian Sama Nandini apa loe nggak jadi patah hati."
“Yang bilang gue suka sama Rei siapa?”
“Nggak ada si. Gue nebak aja. Memang nya salah ya?” tanya Rani membuat Irma jadi sedikit salah tingkah.
“Tentu saja salah."
“Jadi loe nggak suka sama Rei donk?” tanya Rani lagi.
“Tentu saja tidak,” balas Irma cepat. Sedikit takut kalau Rani bertanya lebih lanjut. Bukannya apa, ia tau kalau temannya yang satu ini memang bukan ember, tapi ia juga sangat tau kalau mulutnya sangat gampang keceplosan. Bukitnya Erwin aja kena dampaknya.
“Eh, itu bukannya Rei ya?”
Refleks Irma langsung berbalik menatap kearah pandangan Rani. Jantung Irma terasa berhenti berdetak saat mendapati tatapan tajam Rei yang terarah lurus kearahnya sebelum kemudian berlalu pergi tanpa menyapanya sedikit pun. Sementara Rani sendiri hanya angkat bahu dan kembali melanjutkan langkahnya ke kelas.
(Note : Untuk kisah Irma dan Rei bisa di baca selengkapnya dalam serial Dalam Diam Mencintaimu)
Oke guys, bersambung dulu ya. Untuk kelanjutan kisah Rani dan Erwin lanjut ke cerbung Kala Cinta menyapa bagian 4
Detail Cerpen

Lanjut Baca : || ||

Random Posts

  • Cerpen Cinta: TAK SECANTIK CINDERELLA

    TAK SECANTIK CINDERELLAOleh: Nining Suarsini JuhryKu tatap wajahku di depan cermin sambil memperhatikannya lekat-lekat. Sungguh ironis aku memang cewek antik seperti halnya yang di katakan teman-teman kampusku. Kacamata besar plus minus tebal di tambah lagi behel serta dandanan ku juga yang amat sangat biasa, hanya jeans dan kaos oblong yang agak kebesaran dan tak lupa tas ransel. Sungguh tidak ada yang bisa menarik hati kaum adam. Soal penampilan aku memang sangat cuek, aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Tapi soal pelajaran aku jagonya di tambah lagi soal radio. Yapp di singgung soal radio, aku adalah penyiar radio, menurut rekan kerjaku sesama penyiar, aku termasuk penyiar yang memiliki banyak fans. Bukan karena wajah dan penampilanku, melainkan suaraku yang merdu, kata mereka suaraku sangat merdu dan setiap cowok-cowok yang dengar bisa klepek-klepek dan membayangkan kalau aku ini wanita cantik bak cinderella. Seminggu yang lalu ada seorang cowok yang mengajakku diner, cowok itu adalah salah satu penelfon setia di radio ku. Dia sangat penasaran dengan diriku. Sampai-sampai dia bela-belain minta nomor handpone ku di semua kru radio. Berkat saran dari sahabatku keyko akhirnya nomor handpone ku akhirnya ku berikan juga. Menurut keyko “apa salahnya menjalin pertemanan dengan fans, kan nggak ada salahnya. Siapa tau orangnya cakep kan kamu bisa dapat ke untungan dari situ, lagian kamu juga kan jomblo”. Keyko memang benar, aku sudah sangat lama menjomblo. Tapi kadang-kadang aku ragu dengan diriku sendiri apakah ada laki-laki yang mau menerimahku apa adanya ?? teman-teman kampus bahkan kru radio saja tidak ada yang tertarik dennganku.Handphone ku tiba-tiba berdering dan menyadarkanku dari lamunanku. Ku perhatikan layar hp ku, ternyata “rangga” yang menelfon. Hari ini kami janjian bertemu di sebuah cafe. Dia mengajakku diner. Hari ini aku sudah tidak bisa lagi menolak karena ini ajakan yang ke tiga kalinya setelah aku menolak ajakannya karena alasan tertentu. Aku malu bertemu dengannya dengan kondisiku yang seperti ini. Aku takut kecewa dan mengecewakannya. Menurutku dia sangat baik meskipun baru seminggu berkenalan lewat via hp. Mau tidak mau aku harus pergi. Tepat jam 08.00 aku berangkat kesana. Aku mengenangkan baju biru sesuai janji agar dapat saling mengenali. Ketika sampai disana, aku melihat seorang cowok yang dari tadi menunggu. Aku yakin dia rangga karena baju yang dia kenakan sama seperti warna bajuku. Sungguh tidak di sangkah, sosok yang duduk di sana sangat sempurnah, dia cakep, putih, dan memakai kacamata. Kakiku terasa berat melangkah untuk menemuinya, aku tidak pantas untuknya, dia terlalu sempurna untukku . Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, tapi terlambat dia sudah terlanjur melihatku. Langkahku pun semakin ku percepat dan buru-buru mengambil taksi. Ku dengar dia berteriak memanggil namaku tetapi tetap saja tidak ku hiraukan. Maafkan aku rangga ucapku dalam hati.Seminggu setelah insiden itu, aku tidak lagi berkomunikasi dengannya, tak ada lagi deringan sms atau telfonnya di hp ku bahkan dia sama sekali tidak pernah menyapa di radio. Mungkin dia kecewa atau tidak ingin lagi mengenalku. Ada sedikit perasaan sedih yang ku rasakan, seakan-akan ada yang hilang dari diriku. Entah itu apa. Apakah mungkin aku munyukainya ?? andrea…andrea kamu jangan gila dong, kamu jangan cinta sama orang yang tidak mungkin mencintaimu. Batin ku berbicara.Sehabis siaran ku putuskan untuk pulang cepat. Hari ini aku sangat bad mood sekaligus capek. Padahal hari ini keyko mengajak ku makan di luar tapi ku tolak. Keyko mengerti dengan apa yang ku alami sekarang. Dia Cuma memberikanku motivasi dan saran.Malam itu aku kedatangan tamu, awalnya aku sangat penasaran karena baru kali ini aku kedatangan tamu cowok jam segini. Aku hanya tertegun sekaligus penasaran di buatnya. Aku langsung buru-buru menemuinya. Bagaikan petir di siang bolong. Ternyata cowok yang datang adalah rangga, OMG mimpi apa aku semalam. Hari ini dia tampak cool, ekpresinya biasa-biasa saja melihatku tidak sedikitpun ada rasa risih.Dia menyapaku dengan senyuman dan tatapan yang tulus. Dia sama sekali tidak heran melihatku. Ku balik menyapanya dan membalas senyumannya. Semuanya terasa kaku, aku sangat grogi di buatnya.“ngga maafin aku ya”. Ucapku memuali pembicaraan sambil menunduk. Dia hanya tersenyum sambil mengangguk. “aku udah ngecewaiin kamu, tidak seharusnya aku pergi malam itu. Tapi asal kamu tau aku bertindak seperti itu karena ada alasan. Aku nggak mau kamu kecewa melihat penampilanku yang seperti ini. Suaraku tidak secantik wajah dan penampilanku. Bahkan aku juga tidak secantik cinderella seperti yang lain katakan”. Ucapku panjang lebar. Dia hanya menatapku sambil tersenyum.“rea, aku tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak pernah menilai orang dari penampilan dan fisiknya”. Ucapnya dengan serius. Justru aku salut dengan kamu. Kamu adalah perempuan hebat”. Aku jadi semakin heran dan tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan rangga. Ada sedikit ketenangan yang ku rasakan.Pembicaraan semakin panjang dan tak terasa dia akhirnya berpamitan untuk pulang. Tapi sebelum pulang dia sempat berkata. “kecantikan seseorang itu tidak bisa di nilai. Kecantikan hatilah yang paling utama. Jangan selalu menganggap dirimu buruk, biarkanlah orang-orang berkata apa, mereka hanya iri karena tidak bisa memiliki seperti apa yang kau miliki yaitu prestasi, karier dan ketulusan hatimu”. Kata-katanya itu membuatku sadar. Ini menjadi pelajaran besar buatku. Meskipun tak secantik cinderella paling tidak kecantikan hatinya sama seperti yang aku miliki sekarang.**** nama : nining suarsini juhryfb : niningning23@yahoo.com

  • Cerpen Cinta: Semuanya Tinggal Kenangan

    Semuanya Tinggal KenanganOleh : Nadia RahmiAku tidak pernah menginginkan semuanya begini, walau yang terjadi hanya kebohongan dan kepalsuan yang kau berikan padaku. Dan sekarang kau tinggalkan aku, meninggalkan luka dan perih yang sangat mendalam di hatiku. Kau telah pergi meninggalkan aku, meninggalkanku untuk selamanya dan tak akan pernah mungkin kembali lagi. Tapi, apalah dayaku, semuanya sudah ditakdirkan oleh sang Maha Pencipta.****Ceritanya berawạl saat aku duduk di kelas IX SMP. Aku mempunyai seorang cowok yang bernama Rian, dia adalah cinta pertamaku. Aku mengenalnya melalui Facebook. Pada awalnya kami hanya berteman, malah kami jarang sekali menyapa, paling-paling kami chattingan ketika ada yang penting untuk kami bahas. Tapi seiring berjalannya waktu hubungan kami pun semakin akrab, malah bisa dibilang sangat akrab. Aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi, meskipun ada penghalang bagi kami, yaitu jarak antara kami berdua cukup jauh, aku tinggal di Aceh dan dia di Jakarta.Ouchhhhh iya, aku lupa mengenalkan identitasku, namaku Nara, tepatnya Nara Agustina, aku tinggal di Aceh, sekarang aku bersekolah di sebuah sekolah Negeri di kotaku. aku baru kelas IX SMP, memang masih telalu dini untuk mengenal "Cinta", tapi itulah kenyaataannya. "hehehe"… Kita lanjut lagi yokk ceritanya…Walaupun jarak kami cukup jauh tapi kami tetap bisa berkenalan melalui "facebook" atau "smsan"…,, Sudah 1 bulan hari-hari kulewati bersama Rian, dan aku mulai ada rasa padanya, "entah rasa apa itu, pedas, asin, manis, atauuuu aku tidak tahulah.??!!.". Tapi apapun yang sedang aku lakukan aku selalu mengingatnya, kayak lagu Duo Maya aja…Aku mau makan ku ingat kamuAku mau tidur juga ingat kamuAku mau pergi ku ingat kamuOh cintaInikah bilaku jatuh, jatuh cinta.,,yachh kira-kira seperti itulah perasaanku sekarang ini. "Oh Tuhan, apakah ini yang dinamakan jatuh CINTA..???"gumamku.Aku memang tidak pernah merasakan perasaan seperti ini selama aku hidup..:) Sepertinya aku mulai menyukai Rian, dan aku pun mulai menyayanginya. Tapi, apakah perasaan Rian padaku sama dengan perasaanku padanya?? ingin rasanya aku mengungkapkan padanya, bahwa aku sangat mencintainya, aku sangat menyayanginya. Tapi aku tidak punya keberanian sedikitpun untuk hal itu, aku malu, karena aku hanya seorang cewek, dan masih terlalu gengsi untuk menyatakan cinta pada seorang cowok seperti Rian, walaupun sebenarnya aku sangat menyayanginya.Yang bisa aku lakukan sekarang adalah menunggu, siapa tahu, suatu saat nanti Rian juga akan memiliki perasaan yang sama denganku.. "Yachh semoga saja.:)" harapku.****Malam hari, ketika aku sedang membaca novel, ya memang membaca novel adalah salah satu hobiku, karena suatu saat nanti aku ingin menjadi seorang penulis yang terkenal keseluruh penjuru dunia. "semoga saja terwujud..doain aku yachh.. hehe :)"..kembali lagi kecerita kita sebelumnya,,Tiba-tiba ponselku berbunyi, tanda ada pesan masuk, dan ternyata pesan itu dari Rian, sahabat yang aku cintai..cepat-cepat aku mengambil ponselku dan segera membaca pesan darinya.Rian : "Hai Ra, aku boleh nanya sesuatu nggak?"Nara : "Hai juga, boleh. memangnya mau tanya apa?"Rian : "Tapi jawab yang jujur ya, Kamu dah punya cowok belum?"Nara : "Haghh,??!! Nara nggak punya cowok"Rian : "Sama donk,."Nara : "hahaha…jomblo-jomblo sejati kita yach"Rian : "Nara, kamu mau ga jadi cwek aku??"Nara : "???? ga usah becanda lah ka!!"Rian : "Aku serius Ra, Jujur, seiring waktu berlalu aku dah mulai sayang sama kamu, Apakah kamu memiliki perasaan yang sama denganku??"Nara : "Gimana yachhh?_?"Rian : "Kamu mau nggak jadi cewek aku??"Nara : "kalo Nara boleh jujur sihh, sebenarnya…."Rian : "…???" Rian penasaran sekali.Nara : "Nara juga sayang sama kakak.,"Rian : "SERIUS???!!"Nara : "*_~"Rian : "=_=, jadi sekarang kita…"Nara : "iya"Rian : "Makasih ya sayang, kamu udah mau nerima cinta aku, Love you.. :*"Betapa senangnya aku malam ini, ternyata tidak sia-sia penantianku selama ini. Aku langsung menelpon Mira, sahabatku sekaligus dia juga sahabatnya Rian, dan kuceritakan semua padanya bahwa aku telah jadiah sama Rian.****Waktupun kian berlalu, aku semakin sayang sama Rian, aku merasakan kenyamanan yang luar biasa saat aku bersamanya..Setiap malam setelah belajar aku tidak pernah lupa mengirim sms padanya,,.. dan pada saat aku mau tidur, Rian juga tidak pernah lupa mengucapkan kata "I Love You Nara" padaku, dan aku langsung membalas "I Love You too Rian". Itu membuktikan kalau dia benar-benar sayang kepadaku. akupun tidak pernah curiga sama sekali padanya. Tapi yang membuatku penasaran adalah knapa setiap aku smsan sama dia, dia selalu bilang lagi minum obat, saat itu aku tidak bertanya padanya, obat apa yang dia minum, karena aku pikir mungkin dia hanya sakit biasa, atau hanya minum vitamin…****Sampai suatu hari, dia mengirim sms kepadaku,From : My first love Rian"Ass. wr. wb. De, maafin aku ya, kayaknya lebih baik kita putus aja, aku tidak mau membuatmu kecewa dan sakit hati padaku nantinya. Sekali lagi maafin aku, aku tidak pernah bermaksud menyakiti hatimu."Seketika air mataku menetes , aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, rasanya mulutku keluh untuk berucap.. lalu aku membalas pesannya.To : My first love Rian"Apakah ini yang kau sebut tidak akan mengecewakanku, Aku benar-benar kecewa sama kamu. Kamu tega mempermainkan aku seperti ini..Baiklah, jika ini memang keputusanmu, aku akan berusaha menerimanya,.Aku akan merelakanmu. Tapi, adakah kesempatan untukku, untuk menjadi sahabatmu seperti dulu lagi. Aku tahu, itu sangat susah untuk ku lakukan, tapi aku akan mencobanya..!"From : My first love Rian"Maafkan aku ya Ra.Tentu, aku sangat senang jika kamu masih mau bersahabat denganku, aku sangat berterimaksih.Dan.. aku punya 1 permintaan padamu..bolehkah aku memintanya??."To : My first love Rian"Boleh, asalkan itu tidak menyakitiku."From : My first love Rian"Aku mau kamu tidak akan pernah membenciku karena hari ini aku telah menyakitimu?!"To : My first love Rian"Iya, aku tidak akan pernah membencimu, karena aku sangat menyayangimu, sampai kapanpun rasa itu akan tetap ku jaga, walaupun kita tidak bersama lagi."From : My first love Rian"Terima kasih ya Ra.,"To : My first love Rian"Ya, sama-sama kak."Sejak saat itu hubunganku dengan Rian masih baik-baik saja. Walaupun kami hanya bersahabat, aku sudah cukup senang untuk itu.****Pada suatu hari, entah kenapa Rian mengajakku balikan lagi, Rian bilang dia masih sayang sama aku, sulit sekali untuk melupakan kenangan-kenangan indah bersamaku. Dan tanpa berpikir panjang aku langsung menyetujuinya. Karena memang aku masih sangat mencintainya.Tapi…setelah 1 minggu kita balikan, entah kenapa dia tidak pernah menghubungiku lagi, malahan dia tidak pernah mengirimkan 1 sms pun untukku, untuk menegurku saja dia tidak pernah. Aku mencoba menghubunginya, sudah berkali2 ku sms dy, tapi tidak ada balasan, lalu aku telpon, dy pun tidak mengangkatnya.Aku semakin gelisah, apakah yang telah terjari padanya, pikiranku tidak karuan, tapi aku tidak boleh berpikiran negatif, aku harus tetap berpikiran positif. Aku harus bersabar, mungkin saja dia sedang sibuk dengan sekolahnya, karena pada saat itu dia sudah kelas XII SMA.****Hari demi hari kulalui tanpa kabar sedikitpun darinya. Lalu terpikir dalam benakku, "kenapa aku tidak buka facebook aja? mungkin dari sana aku bisa mendapatkan informasi tentangnya,, ". Setelah ku buka fb, aku langsung masuk ke wall nya, aku lihat disana tidak ada aktifitas sama sekali. aku semakin gelisah, tanpa sadar aku meneteskan air mata. Tapi aku tidak boleh menyerah, aku harus terus berusaha mencari informaai tentangnya.Aku teringat kepada temannya Rian yang bernama Alvin,"kenapa aku tidak coba tanya sama dia aja, mgkin saja dia tahu"pikirku. Aku langsung mengrim pesan kepadanya, aku tanya tentang Rian kepadanya. Dan setelah Alvin menceritakan semuanya padaku, aku kaget sekali. dia bilang "Rian sudah pergi ke Seoul, Korea seminggu yang lalu untuk berobat, penyakitnya sudah parah sekali"jawabnya. Tapi dia tidak mau menyebutkan nama penyakit Rian, Alvin bilang ini adalah rahasia keluarga Rian. Tapi yang sangat menyakiti perasaanku adalah, kenapa Rian tidak pernah bercerita tentang penyakitnya kepadaku? semestinya jika dia memang mencintai aku,dia ceritakan semuanya padaku, agar aku tidak menderita seperti ini. Dan yang paling membuatku sedih adalah ketika dia pergi ke Korea, dia tidak memberitahuku. Lalu aku teringat pada ucapan Rian ketika dia memutuskan aku pertama kali, dia bilang dia tidak mau membuatku sakit hati, apakah ini yang Rian maksud??!! Aku bingung sekali.Setelah aku tahu hal itu, tidak pernah telewatkan hari-hariku untuk selalu memanjatkan doa kepada Allah agar Rian segera sembuh dan dia bisa menepati janjinya padaku, yaitu dia akan selalu menjagaku sampai maut memisahkan kita.****Sampai pada suatu hari, aku begitu shock saat aku mendapat telepon dari sahabatku Nadia, dia bilang "Ra, yang sabar ya ra,, aku terpaksa memberitahukan hal ini padamu, aku nggak mau kamu sedih. Tapi inilah kenyataannya ka Rian sudah pergi meninggalkan kita, pergi menghadap Allah S.W.T. Dan sekarang jenazahnya lagi dalam perjalanan pulang ke Indonesia, Jg nangis ya Ra, aku juga ikut sedih kalo kamu sedih, aku sayang kamu Ra, aku nggak mau kamu knpa2." ceritanya panjang lebar.Setelah mendengar kabar itu, air mataku langsung jatuh membasahi pipiku, badanku terasa menggigil hingga aku tidak bisa berkata2 apa2 lagi. Sekarang yang bisa aku lakukan adalah menangis dan menangis, hidupku terasa hancur, seperti ada yang kehilangan dari diriku. Sulit sekali untukku mempercayai kenyataan ini. Butuh waktu lama untuk menerima semua ini.Sudah berhari-hari aku terlarut dalam kesedihan. Kepergiannya begitu mendadak bagiku, sulit untukku menerimanya, tapi ini semua telah terjadi, dia meninggalkanku. Aku harus tabah, karena ini sudah takdir dari yang Maha Kuasa."Ka Iyan, aku akan selalu mendoakanmu, supaya kakak ditempatkan diantara orang-orang yang beriman. Walaupun kk telah tiada, cintaku tidak akan pernah pudar untukmu, NARA SAYANG KA IYAN sekarang dan selamanya. Semoga kelak nanti kita akan dipertemukan di alam sana. Amin ya Rabbal Alamin"****Sekarang aku harus semangat menjalani hidupku, aku harus tetap tersenyum, aku tidak mau Rian sedih karena melihatku menangis karenanya. Dan aku tahu, aku tidak sendiri, aku masih mempunyai sahabat yang selalu ada untukku dalam suka maupun duka, dalam tangis maupun tawa. Mereka yang selalu menghiburku saat aku sedang sedih karena teringat sama Rian. Aku tidak mau kehilangan mereka, karena aku sangat menyayangi mereka.Sekarang, yang harus aku lakukan adalah menggapai cita-citaku setinggi mungkin, yaitu menjadi seorang penulis yang terkenal. Aku akan membuat semua orang bangga kepadaku. Terutama orang tuaku, saudara-saudaraku dan sahabat-sahabatku.»NEVER GIVE UP MY FRIEND«*THE END*Ini adalah cerpen pertama yang aku tulis, jadi, maklumlah kalo masih banyak kesalahan. Cerita ini aku ambil dari kisah cinta sahabatku. Aku juga butuh kritik dan saran dari kalian semua agar aku bisa lebih baik lagi kedepannya. Terima Kasih sudah mau membaca cerpenku.Profil Penulis :Nama lengkap: Nadia RahmiPanggilan : NadiaTTL : Geundot, 28 Maret 1998Alamat : Jln.Jangka /Ds. Geundot, kecamatan Jangka, Matangglumpangdua, Aceh. 24261Pekerjaan : Pelajar di SMP Negeri 1 PeusanganHobi : Membaca, menulis, dan mendengarkan musik.Minat : Menjadi dokter, menjadi penulis yang karyanya bisa dibaca banyak orang, dan membahagiakan orang tua tentunya.Email : Nadiarahmi28@yahoo.comFacebook : http://m.facebook.com/nadia.belieberforever atau Nadiyeaa Gadiezz Yg-lebayAndnarsisTwitter : @Nadia_Rahmi98

  • CINTA YANG RUMIT

    Cinta yang Rumitoleh: Aulia Putri Ambarwati – Aku Sherovina Ramadhanty si gadis yang terkenal dengan sifat leletnya. Kini aku duduk di bangku SMA kelas 11. Aku mempunyai seorang pacar yang menurutku dia sangatlah baik. Dia seorang kakak kelas satu tahun di atasku. Namanya Raffi. Dia orang yang baik, perhatian dan sangat memperdulikan aku. sudah 13 bulan aku menjalani hubungan dengannya. Aku sangat sayang kepadanya. Dia pun begitu padaku. Sehingga hubunganku dengannya selalu baik-baik saja. Tidak pernah ada pertikaian yang terjadi di antara kita. Tapi menjelang kelulusannya mulai ada gejolak-gejolak yang timbul. “Hai fi, nanti kamu mau kuliah kemana apa langsung kerja?” Tanya aku kepadanya. “InsyaAllah mau kuliah dulu, mau coba ke UGM”, “Ha? Jauh dong, terus nanti aku gimana? Kesepian dong gak ada kamu?” aku pun terkejut. “iya begitulah, mungkin kita bisa ketemu di waktu luang”. Setelah aku tahu bahwa dia akan berkuliah di tempat yang jauh, hatiku pun sedih. Aku memikirkan resiko yang akan timbul nantinya. Pasti aku akan jarang bertemu dengannya. Aku takut saat nanti aku tidak bersamanya lagi aku akan tergoda dengan lelaki lain. Pengumuman kelulusan pun berlangsung. Aku bertanya kepadanya “gimana fi? Lulus kan pasti? Hehe”, “iyadong lulus haha”, “emang NEMnya berapa?” aku kembali bertanya. “32 Sher”, “ha? Serius?”, “iya bener” Raffi menjawab. Aku pun sedikit terkejut karena NEMnya begitu tinggi dari teman-teman yang lainnya. Beberapa bulan kemudian dia pun meninggalkan sekolah menengah atas untuk melanjutkan ke jenjang sekola yang lebih tinggi. Dia masuk ke universitas yang dia inginkan. Aku pun naik tingkat ke kelas 12. Semenjak kepergiannya aku sering diam di sekolah. Aku tak semangat bersekolah seperti dulu. Nilaiku pun perlahan turun. Aku ingin sekali seperti dulu, bertemu dengannya setiap hari. Tapi sepertinya itu hanya khayalan semata. Satu bulan berlalu tanpa kehadirannya disisiku. Sepi sendiri ku jalani hari-hariku di sekolah. Sudah 15 bulan hubunganku terjalin. Tapi semenjak kepergiannya sudah tidak ada lagi yang spesial di hubunganku dengannya. Aku merasa sangat bosan. Aku pun jarang sekali bertemu dengannya. Bahkan bisa dibilang tidak pernah. Tapi aku yakin dia disana akan selalu setia kepadaku meski jarak memisahkan kita. Dua bulan berlalu. Kini hubunganku dengannya bisa dibilang seperti teman saja. Lalu di saat keadaan yang seperti ini ada seseorang yang begitu dekat padaku datang. Dia seorang yang sangat menjengkelkan tapi walaupun seperti itu dia perhatian kepadaku. Dia adalah Aldi. Teman sekelasku. Dia juga dulu mantan pacarku waktu aku kelas 10. Tempat dudukku berdekatan dengan tempat duduknya, sehingga sering kita bercanda bersama. Seiring berjalannya waktu. Aldi semakin perhatian kepadaku. Hatiku terasa tergoyah akan perhatiannya. Sampai pada suatu hari dia menyatakan bahwa dia sayang kepadaku. aku terkejut, karena dia pun telah memiliki kekasih juga. Lalu aku pun bertanya kepadanya “lu kan udah punya pacar Di kenapa mesti sayang ke gue?” dia pun menjawab “iya Sher gue tau, tapi perasaan gue ke elu muncul lagi tiba-tiba. Gue udah gak ada perasaan lagi sama dia. Tapi adanya sama elu”. Aku terkejut mendengar jawabannya itu. Hari demi hari telah terlewati. Tanpa ku sadar aku mempunyai rasa yang sama dengan Aldi. Aku juga sayang kepadanya. hatiku bertanya-tanya “mengapa perasaan ini muncul? Lalu bagaimana hubunganku dengan Raffi nantinya”. Pertikaian pun mulai terjadi. Ternyata kedekatan ku dengan Aldi di kelas itu di mata-matai oleh teman sekelasku yang dekat dengan pacarnya. Pacarnya bernama Raisa. Dia menyuruh temannya itu untuk memata-matai kami berdua. Menurutku sikap dia kepadaku biasa saja, dan sebaliknya sikapku kepadanya juga biasa. Tapi Raisa dan temannya menganggap sikap kami berdua berlebihan, seperti orang yang berpacaran. Aku dan Aldi selalu di fitnah yang tidak-tidak. Akibat masalah ini nilaiku di sekolah pun turun drastis. Masalah ini membuatku pusing. Membuat bathinku tersiksa. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar Tuhan memberi yang terbaik bagiku. Perasaanku kepadanya semakin kuat. Sampai-sampai aku menjadi lebih sayang kepada Aldi dari pada ke Rafi. Sampai pada suatu hari aku memberi sedikit saran kepada Aldi. “udah Di, kalo lo lebih milih dia gapapa kok, gue bisa terima walaupun sebenernya hati gue sakit. Tapi gapapa gue juga masih ada Raffi. Gue Cuma bisa ngasih tau jujur sama perasaan lo sendiri. Jangan maksain perasaan lo karena akan lebih sakit nantinya, tapi semua is up to you aja.” Aldi menjawab “iya Sher gue bakalan mikirin ini semua mateng-mateng kok” Kini aku pun memikirkan yang terbaik. Aku sangat bingung, aku tidak mau ada yang tersakiti karenaku. Tapi tidak mungkin juga aku memilih dua-duanya. Hatiku sangat bimbang. Aku memikirkan ini berminggu-minggu, Setelah aku memikirkan secara matang, aku putuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Raffi. Aku hanya ingin jujur kepada perasaanku sendiri. Aku pikir “percuma saja sekarang aku berhubungan dengannya jika aku sudah tidak mempunyai rasa apa-apa seperti dulu. Bertemu pun jarang. Bahkan sekarang dia sangat sibuk dengan sekolahnya, dari pada aku membuat beban di hidupnya, lebih baik aku akhiri saja”. Aku mulai berbicara dengannya, “Fi aku mau ngomong sesuatu tapi kamu jangan kaget ya”, “haaaaa?? Apaaa???” dia bersenda gurau, “beloom Raffiiii, ett dah. Jadi gini aku pengen kita putus, aku punya perasaan sama yang lain, aku punya pacar buat motivasi aku supaya semangat belajar Fi. Tapi sekarang kamu gak ada lagi. Jadi mungkin kita lebih baik putus. Kamu juga kan lagi sibuk sekolah? Udah urusin dulu aja ya sekolah kamu. Kejar dulu cita-cita kamu. Aku juga mau ngurusin sekolah aku dulu. Karena sebentar lagi UN aku mau fokus sama pelajaran dulu. Dan hanya seorang yang ada di samping aku yang bisa motivasi untuk buat aku semangat belajar. Maaf aku begini, aku gak mau nyakitin kamu lebih dalem lagi”. Dia pun hanya bisa bersedih dan terkejut mendengar perkataanku. Seperti masih tidak percaya akan pernyataanku. Aku yang dulu di percayainya akan selalu setia. Kini kepercayaannya telah hancur karena ku. Aku pun sebenarnya tidak mau menyakiti hatinya seperti ini. Tapi aku terpaksa melakukan ini semua. Aku hanya ingin jujur akan perasaanku. Masalah ku dengan Raffi pun sudah terselesaikan. Aku hanya mengaggap dia sebagai temanku. Selama 17 bulan waktu yang sangat berarti untukku karena kehadirannya. Kini aku hanya bisa mengenang masa-masa indahku saat bersamanya. Tidak lama aku putus dengannya. Aku mendengar kabar bahwa Aldi telah putus juga dengan Raisa. Aku terkejut mendengar itu. Tidak ku sangka dia mengakhiri hubungannya juga. “kenapa putus Di?” aku bertanya. “percuma juga Sher gue udah gak ada rasa lagi sama dia. Gue gak suka sama sikapnya dia yang begitu ke gue. Gue mau jomblo dulu aja. Pusing gue pacaran kalo begini terus” Pertikaian kami pun lama-lama terselesaikan. Aku mencoba kembali untuk bangkit dan tidak memikirkan hal-hal itu. Karena itu semua hanya mengganggu proses belajarku saja. Teman-temanku yaitu Priska, Medina dll. mendukung agar aku kembali menjalani hubungan dengan Aldi. Teman-teman Aldi pun yaitu Rizky, Nael, Chandra, Ray ikut mendukungnya. Akhirnya pada tanggal 04 November 2011, Aldi mengajakku untuk kembali bersamanya. Saat itu aku sedang berada di Balkon Sekolah.”Sherovina Ramadhanty, maukah kau kembali padaku?” dia berteriak di depan banyak orang. Banyak orang yang melihat. Hatiku terasa bergetar. Aku sangat deg-degkan mendengar itu semua. lalu aku berpikir sejenak, lalu aku memutuskan untuk menerimanya. “Revaldi, aku mau kembali padamu”. Orang-orang di sekitarku banyak yang berteriak “ciyee-ciyee”. Perasaanku sangat senang saat itu. Raisa dan temannya tidak bisa menerima ini semua. tapi seiring berjalannya waktu, kini mereka bisa menerima hubunganku dengan Aldi. Dan pada akhirnya kini aku dapat berbahagia menjalani cinta dan kasih bersamanya kembali. ~THE END~Your comments are very meaningful for me :)Penulis : Aulia Putri Ambarwatiemail : Lovelly_girlz27@yahoo.comadd on facebook : http://www.facebook.com/#!/Auliuwwzzfollow on twitter : http://twitter.com/#!/AmbarwatyAul:

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 12 | Cerpen Cinta

    Oke lah all, cerita berlanjut. Masih seputar tentang Ketika cinta harus memilih yang kini memasuki part 12. Ngomong ngomong kemaren pas gak ada ide buat nulis cerita iseng ngacak acak postingan di blog Star Night ini. Mendadak mikir sendiri, ini blog kumpulan cerpen apa kumpulan cerbung si? wukakakkaOOkelah, udah kebanyakan bacod kayaknya. Mending langsung baca aja yuk. And untuk yang belum baca part sebelumnya bisa di baca di Ketika cinta harus memilih part 11.Ketika Cinta Harus MemilihSepulang dari kampus Rangga tidak langsung menuju kerumahnya. Ia justru malah membelokan arah motornya kerumah Fadly. “Gue lagi galau nie sob. Hibur gue donk” Ujar Rangga yang kontan membuat Fadly langsung tergelak.“Nggak lucu tau ngga si. Gila loe, temen lagi menderita bukannya di bantuin eh malah di ketawain” geram Rangga yang diam – diam merasa menyesal menemui sahabatnya yang tadinya di pikir bisa sedikit membantu memberikan solusi.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*