Cerpen Cinta Romantis | Kala cinta menyapa ~ 01 / 13

Oke guys, kali ini admin ngeshare sebuah cerbung rekuesan dari salah satu 'adek' dunia maya. Yups, Erwin. Tepatnya itu cerbung Kala Cinta Menyapa. Untuk yang penasaran gimana jalan ceritanya bisa simak langsung ke bawah. Oke guys? Happy reading ya….

Kala Cinta Menyapa
Kala Cinta Menyapa

“Erwin, mau kemana loe?” sapa Joni yang entah muncul dari mana langsung merangkul pundak erwin yang melangkah menuju kekelasnya.
Erwin tidak menjawab. Tangannya segera menyingkirkan tangan Joni dari pundaknya. Mencibir sinis kearah sahabatnya. Benar – benar sapaan basi.
“Hei, gue punya kabar bagus ni,” kata Joni mengabaikan reaksi Erwin yang dinilai sudah biasa.
“Kapan si loe bilang punya kabar jelek?” sindir Erwin sinis, Joni hanya nyengir.
“Tapi kali ini gue serius. Di kampus kita ada idola baru. Cewek. Cantik banget." Joni tampa excited ketika mengatakan kalimatnya itu.
“Kambing di bedakin aja menurut loe cantik, apa lagi beneran cewek."
Joni menahan diri untuk tidak langsung menjitak kepala Erwin. Kalau saja ia tidak menginggat sahabatnya yang satu itu selalu berjasa dalam hidupnya, sudah pasti dari kemaren – kemaren ini orang sudah ia tendang kelaut.
“Baik lah, karena sepertinya loe nggak tertarik. Gue nggak jadi cerita. Bisa beneran gondok gue deket – deket sama loe."
Selesai berkata, Joni segera berlalu, mendahului Erwin menuju kekelas. Sementar Erwin sendiri juga hanya angkat bahu. Sama sekali tidak merasa bersalah.
“Erwin, tunggu bentar."
Mendengar namanya di panggil Erwin segera menghentikan langkahnya tanpa berniat untuk menoleh padahal dari suaranya saja ia sudah tau kalau saat ini, Leila, idola di kampusnya yang kini berjalan kearahnya.
“Ada apa?” tanya Erwin.
“Loe mau langsung ke kelas?” tanya Leila sambil tersenyum manis.
“Kalau seandainya gue bilang gue mau nonton dulu loe percaya?"
Bukannya kesel atau marah mendengar balasan ketus dari mulut Erwin, Leila justru malah tersenyum manis. Peduli amat sifatnya nyebelin kalau pada nyatannya wajahnya terlalu mengiurkan untuk di jadikan pacar. Seperti kata pepatah, satu kelebihan biasanya mampu untuk menutupi sejuta kekurangan. ^_^
“Kalau seandainya loe bilang mau nonton gue pasti akan ikut."
Erwin mencibir. Sama sekali tidak merasa lucu mendengar candaan dari mulut Leila barusan. Tanpa pikir panjang ia segera berniat untuk berlalu, namun sepertinya Leila sudah paham akan sifatnya sehingga ia dengan cepat berdiri tepat di hadapannya. Membuat Erwin merengut kesel.
“Ada yang pengen gue omongin sama loe," kata gadis itu cepat.
“Penting nggak?”
“Tergantung. Penting tidaknya itu kan relatif. Tapi sepertinya ini penting."
Erwin sedikit mengernyitkan dahi mendengarnya. “Heh, Sepertinya…” gumam Erwin mencibir. “Apa soal hidup matinya seseorang?” tanya Erwin lagi.
Walau heran dan sama sekali tidak mengerti maksut ucapan Erwin barusan, leila tetap mengeleng.
“Kalau begitu nggak ada yang penting menurut gue,” selesai berkata Erwin segera melangkah. Menepis tangan Leila yang berusaha menahannya.
“Oke, gue suka sama loe. Gue mau loe jadi pacar gue,” kata Leila setengah berteriak.
Erwin menghentikan langkahnya. Beberapa mahasiswa yang kebetulan berada tak jauh dari mereka ikut menoleh. Memperhatikan keduanya dengan tatapan heran sekaligus kaget. Seorang Leila yang sudah dikenal sebagai idola di kampus mereka dan selalu menjadi incaran para mahasiswa karena terkenal dengan kecantikannya justru malah menyatakan cinta duluan? Apa kata dunia?
Dan mulut Leila terbuka tanpa suara saat melihat Erwin kembali melangkah sama sekali tidak menoleh kearahnya apalagi sampai berbalik.
“Sialan, gue udah banting harga dia justru malah melongos gitu aja,” geram Leila sambil mengepalkan tanggannya.
“Dasar cewek, dimana – mana sama aja,” gerut Erwin sambil terus melangkah.
Tepat di belokan kelasnya tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang membawa setumpuk buku-buku yang kini tampak berhamburan di lantai.
“Ih, kalau jalan pake mata donk,” kata cewek itu sambil berjongkok mengumpulkan buku – buku. Sementara Erwin sendiri tetap berdiri ditempat, tidak ada tanda tanda ia akan membantu.
“Dasar bodoh. Mana ada orang jalan pake mata. Anak TK juga tau kalau jalan itu pake kaki."
Mendengar kalimat pedes barusan cewek itu segera mendongak. Menatap tak percaya sosok yang kini berdiri di hadapannya. Sudah salah, tidak mau minta maaf pake ngatain bodoh segala lagi. Siapa yang nggak kesel coba. Namun sebelum mulutnya terbuka untuk protes, Erwin sudah terlebih dahulu melangkah pergi.
Kala Cinta Menyapa
“Bruk!”
Rani menoleh, menatap Irma, sahabatnya yang baru datang dengan tampang kusut. Mana pake menghempaskan buku – buku nya segala lagi.
“Kenapa loe?” tanya Rani sambil menutup buku yang sedari tadi di bacanya. Sedikit membenarkan letak kacamatanya agar lebih terasa nyaman di pake.
“Emosi gue."
“Oh ya? Kenapa?” tanya Rani lagi.
“Gila. Gue itu tadi lagi jalan. Terus ketabrak sama si Erwin. Eh bukannya minta maaf apa lagi bantuin dia malah pake ngatain gue bodoh. Mentang – mentang keren suka seenaknya."
"Erwin?" ulang Rani dengan kening berkerut, Irma hanya mengangguk.
“Siapa?” sambung gadis itu lagi. Kali ini raut kesel Irma berganti menjadi bingung.
“Erwin. Idola kampus kita. Jangan bilang loe nggak kenal. Loe kan bukan mahasiswi baru di kampus ini."
Rani menyengir sambil mengeleng. Irma yang melihatnya juga ikutan mengeleng. Bedanya kalau Rani mengeleng tidak tau, Sementara Irma mengeleng tak percaya. Sahabatnya yang satu ini beneran kuper. Nggak heran si, kesehariannya memang lebih sering di habiskan di perpus membaca sambil mendengarkan musik dari ipad’nya. Hobi gadis itu selain menfoto dengan kamera yang sering di bawanya kemana – mana.
"Sudahlah, nggak penting juga," tutup Irma tak ingin membahas siapa Erwin lebih lanjut. Terlebih dosennya juga kini sudah tiba di ambang pintu.
Sambil menunggu pelajaran selanjutnya yang baru akan di mulai sekitar setengah jam lagi, Irma segera menarik Rani kearah kantin. Perutnya benar – benar terasa lapar. Begitu sampai di kantin ia segera berjalan menuju kearah satu – satunya meja yang masih kosong. Merasa lega karena kebagian tempat duduk di saat suasana kantin yang memang sedang rame-ramenya. Namun senyuman itu segera raib saat matanya menemukan siapa sosok yang kini ada di meja seberang tak jauh darinya.
“Kenapa?” tanya Rani heran saat mendapati perubahan yang begitu ketara dari raut wajah Irma.
“Loe mau tau yang namanya Erwin ngga?” Irma sedikit berbisik.
“Mana?”.
Irma memberi isarat kearah Rani agar menoleh kearah meja seberang. Dimana tampak Erwin yang sedang menikmati soto pesanannya.
“Nah, dia itu orang songong. Yang sudah nabrak tapi bukannya minta maaf justru malah menghina orang nggak jelas,” terang Irma sengaja mengeraskan suaranya.
Merasa tersindir Erwin refleks menoleh. Mencibir sinis saat mendapati tatapan penuh minat Rani yang menatapnya intens dibalik kacamata yang ia kenakan.
Mendapati tatapan sahabatnya yang hampir tak berkedip kearah Erwin jelas membuat Irma merasa kesel. Diinjaknya kaki Rani dengan kekuatan ekstra sehingga gadis itu menjerit kesakitan dan memberikan tatapan protes padanya.
“Loe ngapain si ngeliatin dia sampe kayak gitu?” geram Irma memprotes.
“Gue lagi mikir aja, dia mirip siapa ya? Kok wajahnya familiar banget. Kayaknya gue pernah ketemu deh,” balas Rani sambil mengigit kuku jarinya. Kebiasaan yang sulit ia hilangkan jika sedang berpikir. Matanya kembali beralih kearah Erwin.
“Jangan bilang kalau loe juga menganggap kalau dia itu mirip Jang geun suk?” geram Irma memutar mata. Merasa makin kesel.
Hei dia kan sedang bercerita tentang makhluk yang menyebalkan, tapi kenapa raut wajah temannya justru seperti orang yang sedang terpesona? Memang susah kalau punya sahabat super polos.
“Aha,” Rani menjentikan jarinya. “Gue inget. Gue memang pernah ketemu sama dia."
Kali ini mata Irma mendelik. Beberapa detik yang lalu ia sempat melirik Erwin yang jelas – jelas mencibir.
“Hei, loe inget sama gue nggak? Loe kan yang……Aduh,” untuk kedua kalinya Rani menjerit kesakitan. Lagi – lagi kakinya di injek oleh Irma.
“Dasar cewek. Dimana aja sama. Sok kenal. Menyebalkan,” gerut Erwin membuat kuping Irma makin panas mendengarnya.
“Rani….!!!” panggil Irma lirih namun sarat ancaman.
“Tapi kan…” Rani berusaha membantah dengan mata tetap terarah lurus kearah Erwin.
“Diem nggak loe."
“Hufh…” Rani menghebuskan nafasnya sembari menunduk manut. Tapi mulutnya masih sempat bergumam lirih namun mampu membuat Erwin yang kebetulan sedang menyuapkan kuah sotonya sontak tersedak.
“Gue kan Cuma mau bilang kalau dia mirip sama orang yang jatuh kedalam got kemaren."
“Ha?” ulang Irma kaget. Tidak yakin dengan kalimat yang baru saja ia dengar.
Kepala Rani mengangguk. Dan sebelum mulutnya sempat terbuka untuk menjelaskan, tangannya sudah terlebih dahulu ditarik keluar kantin. Meninggalkan Semua wajah dengan tampang herannya. Bahkan meninggalkan Irma dengan tampang cengonya ketika melihat sahabatnnya di culik terang – terangan tepat dihadapannya. Sebelum Irma benar – benar menyadari apa yang terjadi, Rani sudah menghilang dari pandangan.
Begitu sampai di ujung koridor Erwin melepaskan gengaman tangannya. Matanya menatap lurus kearah sosok yang kini berdiri tepat di hadapannya dengan kepala yang menunduk takut. Ingatannya segera melayang ke kejadian kemaren sore.
Sepulang dari Rumah Joni, sahabatnya, Erwin segera pulang kerumah. Tepat saat sampai di tingkungan tiba – tiba ada seekor kucing yang lewat dan mengagetkannya padahal pada saat bersamaan di hadapa juga tampak sebuah bus yang melaju kencang. Tanpa banyak pikir ia segera membelokan stang motor tanpa sempat menginjak rem sehingga sukses membuatnya terdampar di pinggiran got. Untung saja luka yang ia alami tidak parah, hanya sedikit lecet di kaki dan ujung sikunya.
Saat itu lah kemudian muncul seorang cewek yang kebetulan sedang membersihkan halaman rumahnya. Kemudian segera membawanya duduk di bangku halaman depan rumah, bahkan sempat mengobati lukanya itu juga kalau memberikan obat merah dan sapu tangan termasuk kedalam katagori mengobati. Karena pada kenyataannya gadis itu sama sekali tidak menyentuh lukanya. Hanya saja waktu itu ceweknya cantik. Rambutnya terurai ditambah mata bening yang dimilikinya sehingga sukses membuat Erwin merasakan ‘love at first sight’ untuk pertama kali di dalam hidupnya.
Erwin juga ingat saat itu karena saking terpesonanya ia sampai tidak sempat untuk berkenalan karena keburu di potong oleh ramainya orang – orang yang sibuk bertanya – tanya. Karena Erwin memang membenci orang – orang yang terlalu banyak ingin tau masalah yang bukan menjadi urusannya makanya ia memilih untuk langsung pulang.
Cuma saat ini Erwin benar – benar tidak mempercayai kalau orang yang berdiri di depannya adalah orang yang sama dengan yang kemaren. Dari penampilannya yang pake kacamata di tambah rambutnya yang hanya di kucir dua benar – benar membuat nya merasa sangksi.
“Kenapa loe bawa gue kesini?”
Suara bernada tanya itu segera menyadarkan Erwin dari lamunannya.
“Loe?” Ttunjuk Erwin tepat kearah wajah Rani yang sontak membuat gadis itu sedikit melangkah mundur. Terlihat jelas raut ketakutan di wajahnya.
“Cewek yang kemaren?”
Walau takut Rani tetap mengangguk membenarkan.
“Rani,” terdengar terikan Irma di kejauhan yang sedang berlari kearahnya. Erwin dan Rani segera menoleh. Menyadari sesuatu Erwin segera mendekatkan wajahnya kerah wajah Rani, membisikan sesuatu yang membuat gadis itu bergidik ngeri.
“Berani loe cerita soal kejadian kemaren pada orang lain, mati loe."
Setelah memastikan gadis itu mengangguk mendengar ancamannya, Erwin segera berlalu. Tidak ingin menambah masalah dengan gadis yang tadi pagi di tabraknya. Tentang masalah rahasianya bisa ia urus belakangan. Melihat dari raut ketakutan barusan ia yakin semuanya aman.
Lanjut ke cerbung Kala Cinta menyapa bagian 2
Detail Cerpen

Lanjut Baca : || ||

Random Posts

  • Cerpen Remaja Tentang Aku & Dia part 2 {Update}

    Nah, Kalau sebelum nya penulis sudah mengadakan acara edit menedit , Update mengupdate cerpen remaja tentang aku dan dia part satu, Kali ini penulis lanjut ke part duannya . Asli beneran rempon deh.Tapi kalau di pikir – pikir lagi, gak papa juga si ada acara "tegur sapa" begini, Itung – itung bisa muncul wajah baru… #apa deh?…Ya sudah lah, gak usah ngebanyol kayak si unyil, Mending langsung ke cerpen remaja tentang aku dan dia-nya…Happy reading ya all…Credit Gambar: Ana Merya“Pst… kenapa tu orang?” bisik nanda sambil mencolek lengan anya yang sedang khusuk ( ? ) mencatat.“He?” Anya menoleh heran.“Itu?” tunjuk Nanda ke arah Gresia yang tampak senyum-senyum sendiri.“Waduh, kenapa tu anak senyum-senyum sendiri?”.“Ya ela, Gue nanya malah balik nanya” balas Nanda sebel.“Lagi kesambet Hantu penghuni pohon toge di belakang sekolah ( ? ) kali tu orang” .sebagian

  • Cerpen King Vs Queen Part 8

    Gak perlu basa – basi, so langsung ke cerpen aja deh,,, ^_^Dan pagi itu, hari minggu. Niken sudah rapi begitu juga dengan kakaknya, sambil menjinjit tasnya, Niken menuju meja makan, di mana mamanya sedang menyiapkan sarapan. Niken duduk di meja makan, di ikuti oleh mama dan kakaknya."kalian mau berangkat sekarang?" tanya mamanya."ia ma, sehabis sarapan ini" jawab Nino."beneran mau ngajakin adikmu?" tanya mamanya lagi sambil melirik Niken yang sedang aslik sarapan.sebagian

  • Cerpen Sedih: Bunga dan Derita

    Judul: Bunga dan DeritaKategori: Cerpen Sedih, Cerpen RemajaPenulis: Ray NurfatimahAku masih terpaku pada deretan bunga sepatu di hadapanku. Bunga yang telah terkatup layu seiring dengan telah lamanya aku menanti seorang pria yang mengajakku kencan di taman ini. Tiga puluh menit dari jadwal janjian, terasa tak jadi masalah saat dari kejauhan terdengar seseorang memanggilku. Namun saat kupalingkan wajahku, aku kecewa bukan main ternyata hanya kegaduhan orang-orang disebrang jalan.Kembali aku fokuskan perhatianku pada rangkaian bunga dihadapanku. Sesekali kulirik wajahku pada kaca mungil yang sengaja kubawa. Aku harus memastikan saat Dannis datang aku bisa terlihat lebih cantik. Soalnya dia adalah laki-laki pertama yang aku persilahkan untuk mengajak diriku berkencan, ya walau hanya di taman kota saja. Dannis adalah teman sekelasku yang dua tahun terakhir ini aku idam-idamkan tembakannya. Padahal sebelumnya waktu menginjak kelas satu SMA aku sangat tidak akur dengan cowok tengil itu. Tapi karena suatu moment saat aku cidera diperlombaan basket antar sekolah, dia dengan gagahnya membopong tubuhku. Dari kejadian itulah aku mulai mengalihkan fikiran jelekku kepadanya. Dari yang tadinya evil yang paling dihindari, kini jadi sosok pangeran penolong yang dinantikan kehadirannya.Jarum jam telah menunjuk angka sembilan.“Oh Dannis, setega itukah kamu? udah dua jam Nis hikss…..,” aku tejatuh dalam tangis. Anganku telah hancur lebur karena sebuah janji yang tidak ditepati.Padahal masih hangat di memoriku, tadi siang saat jam istirahat aku mendapati sepucuk surat beramplop merah jambu terselip di mejaku. Hi Asmi…..Malam ini aku haraf kita bisa ketemu….Ada beberapa hal yang perlu aku sampein ke loe Mi….Gw.. Eh aku ssssstunggu kamu jam tujuh di taman kota yaa….-Dannis-Ku ulang kembali hingga tiga kali, aku baca dengan super apik, terutama dibagian pengirim.“Oh Tuhan, Dannis?” suasana bahagia bercampur haru menyelimuti hatiku.Nuansa kelas menjadi indah dipenuhi bunga warna-warni. Hingga seseorang menepuk pundakku. Dan suasana kembali berubah menjadi kelas dua belas saat jam istirahat. Sepi, dan terkapar tak berdaya buku-buku yang dilempar majikannya.“Asmi….”“Ehhh….. Via, kenapa Vi?“Loe yang kenapa? Dari tadi Gw intip dari jendela Loe senyum-senyum sendiri….”Aku disuguhi pertanyaan yang membuat aku kikuk sendiri. Aku tidak bisa membayangkan seberapa merah wajahkun saat itu. Yang pasti saat itu aku benar-benar tertunduk.“Eng….ngak ko Vi, aku gak kenapa-napa”, sahutku gugup.“Ya udah Gw mau ke kantin aja, mau ikut gak Mi?”“Oh gak, maksih aku gak laper.”Aku segera membalikkan tubuhku, memburu kursi dipojokan kelas. Namun baru beberapa langkah, hartaku yang paling berharga disabet oleh orang dibelakangku.“ehhhh..”“Haaa… ternyata ini toh yang bikin Loe jadi gak laper? Hahhahah…”“Via kembaliin!” ku rebut kembali kertas berharga itu.“Yah Loe ini Mi, sekalipun Gw gak baca tapi Gw udah tahu isinya apaan.”“So tahu kamu!”“Ya Gw tahu, itu surat dari Dannis kan? Dia ngajak kencan? Soalnya nanti malam dia mau……” omongan Via tertahan dengan kedatangan seseorang yang dari tadi dibicarakan.“Dannis…..” sahut ku dan Via kaget.“Aduh hampir saja” bisik Via pelan.“Kenpa Vi?” tanyaku penasaran.“Ohh enggak! Gw kayaknya ngedadak gak mau kekantin deh!”“Lantas loe mau kemana Vi?” tanyaku semakin heran.“Ke WC ya Vi? ya udah sana!” tangkas Dannis plus kedipan kecil dimata kirinya.“Oh ya bener, hhehhe” Via telah berlalu, sekarang tinggal aku dan Dannis.“Gimana?” Tanya Dannis.“Gimana apanya Nis?”“Tuu…” tunjuknya ke arah kertas dijemariku.“Oh oke deh aku mau”“Ya udah Gw cabut dulu ya!” sahutnya salah tingkah.“Oh ya…” aku tak kalah salting.Perlahan Dannis meninggalkan kelas, namun sebelum dia benar-benar pergi dia memanggilku.“Hmmm…. Vi jangan ampe telat ya!”“Ok sipp!”“Awas loh”“Iya bawel”***Dengan berurai air mata dan kecewa, aku putuskan untuk pulang kerumah. Sesampainya dirumah aku semakin kacau dengan disuguhi omelan Bunda, yang malah bikin hatiku semakin hancur saja. Beribu pertanyaan Bunda menghujani aku.“Dari tadi kamu kemana saja?”Aku hanya terdiam kaku tanpa menjawab pertanyaan Bunda.“Jawab!” kali ini nada suara Bunda meninggi,”Kamu tahu? anak perawan gak baik keluyuran jam segini!” sambung Bunda.Aku masih tak memberikan respon apa-apa.Plakkk Sebuah tamparan menggores pipiku, “Oh Tuhan sakit sekali” bisikku dalam hati.“Bunda jahat!” aku segera masuk kekamar, kututup rapat pintu kamarku.Malam ini sungguh menjadi malam yang paling berat untukku. Ini adalah kali pertama Bunda menampar dan memarahiku. Belum lagi dengan perasaanku yang masih kecewa karena kencan pertamaku gagal, karena Dannis tak hadir diundangannya sendiri.“Oh Tuhan, semalang itukah nasib ku?”Aku kembali terhanyut dalam tangis, hingga akhirnya aku tertidur pulas.***Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Fikirku sudah matang, sesampainya disekolah akan ku beri tamparan mereka berdua.“Via sama Dannis itu dari mulai sekarang bukan temanku lagi, teman macam apa mereka? Berani ngerjain aku ampe separah itu!” gerutuku kesalKakiku masih mengayuh, menyusuri pinggiran jalan kota yang ramai. Namun saat aku melewati Taman Kota kakiku serasa tertahan, aku mengingat peristiwa tadi malam.“Cuihh….. aku bakalan balas semua rasa sakitku tadi malam!” aku kembali bergerutu kesal.Aku samakin kesal saat aku menyadari banyak kelopak bunga mawar berantakan diruas jalan.“Apa-apaan nih, mereka kira aku lagi jatuh cinta apa?” dunia pun seakan menertawakan rasa sakitku dengan menabur bunga di jalanan yang aku lewati ini.Aku berlari kencang meninggalkan keanehan yang membuat aku semakin gila. Tak membutuhkan waktu yang lama aku telah sampai disekolah.Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari dua orang biadab itu. Tiga puluh menit telah berlalu, aku sudah mengubek-ubek isi sekolah tapi hasilnya nihil, keduanya hilang bak ditelan bayang. Hingga bell masuk pun tiba, tapi keduanya tak kunjung masuk kelas. Sampai pelajaran dimulai, baru sepuluh menit seseorang mengetuk pintu kelas. Aku terperajat kaget “Aku haraf itu Dannis atau Via”. Tapi ternyata bukan, dia adalah Bu Jen, wali kelas kami.“Pagi anak-anak”“Pagi Bu……” jawab murid hamper serempak.“Pagi ini ibu dengan berat hati akan mengabarkan kabar duka kepada kalian”. Semua anak kelas dua belas terlihat tenang mendengar penjelasan Bu Jen.“Salah satu teman kita, Dannis. Semalam mendapat musibah, dia mengalami kecelakaan yang cukup parah, hingga nyawanya tidak dapat tertolong”. Suara Bu Jen semakin melemah.Suasana berubah menjadi pilu, tangisan mulai tumpah ruah dimana-mana. Aku sendiri terpasung dalam diam, jantungku berdegup dalam kisah sedih yang tak tertahankan.“Dannissssss!!!!!” Aku berteriak sekencang-kencangnya, aku berlari dan terus berlari. Hingga akhirnya aku telah bertepi di ruas jalan di dekat Taman, dimana aspal dipenuhi kelopak bunga yang telah layu diinjak pengguna jalan. “Oh Tuhan ternyata kelopak bunga ini dipenuhi cipratan darah”Diri ini semakin berguncang hebat, saat aku temui secarik kertas.Dear……Asmi (Calon Kekasihku)From : DannisKertas kotor bernoda darah itu aku peluk sekuat-kuatnya.“Dannis…..Hiks” kepala ini semakin tak tertahan, dan akhirnya aku terkapar dalam ketidaksadaran.***Mata ini pelan-pelan mulai menatap jelas orang-orang disekelilingku. Ku lihat dengan pasti wajah Bunda dan Via penuh dengan kehawatir dan penasaran.“Asmi kayaknya udah sadar Tant”“Iya”“Aku kenapa Bund?” tanyaku dengan nada berat.Bunda dan Via menatapku pilu. Aku mulai mengingat deretan kejadian sebelum aku terkapar dalam tempat tidur ini, “Dann….” Ucapanku terhenti karena sentuhan telunjuk Bunda di bibirku. Bunda menganggukkan kepalanya petanda mengiyakan setiap halus ucapanku, “Iya, kamu yang sabar ya nak”Lagi-lagi aku terpaku dalam diam, hanya linangan air mata yang mengalir deras dipipiku. Via memeluku erat,“Maafin Gw ya Mi, Hiks… Gw tahu, Gw gx mampu jaga Dannis buat Loe.”“Hiks…… Dannis” ***Satu minggu sudah aku mengurung diri dikamar, tanpa bicara dan tak ingin brtemu siapa-siapa.Tukk tukkkk…..Seseorang mengetuk pintu kamarku“Asmi , nih ada Nak Via pengen ketemu kamu.”“Pergi Kamu!!” bentakku kasar, dan lemparan bantal tepat mendarat diwajah Via saat Bunda membuka pintu kamarku.“Mi ini Gw, Via”“Pergi kamu!!! Kamu yang udah bikin Dannis meninggal!!!”“Ya Gw Mi, Gw yang udah nagsih buku Diary loe itu ke Dannis, yang membuat Dannis sadar tentang semua perasaan Loe ke dia. Tapi asal Loe tahu Diary Loe itu juga yang bikin Dannis sadar kalo cintanya gak bertepuk sebelah tangan!”“Jadi Dannis……..” ucapanku terhenti, perlahan aku mendekati wajah Via yang basah karena air mata, “Bohong!” bentakku bringas.“Gak Mi!”“Alah itu akal-akalan kamu aja, biar aku enggak ngerasa terhianati” sahutku sinis.“Gak Mi, Loe gak sadar waktu malam itu Dannis terlambat tiga puluh menit, dia terus manggin-manggil Loe, tapi Loe gak denger,” ucapannya terhenti, sesaat Via mengambil nafas panjang “Loe malah sibuk sama riasan Loe itu, sampai akhirnya dia tertabrak karena lari kearah Loe!”“Bohong!”“Tidak! Gw liat dngan mata kepala Gw sendiri, Gw yang anter Dannis ke Taman karena dia kelamaan milih bunga di toko bunga nyokap Gw.”“Dannis….Jadi”“Jadi gak ada yang terhianati disini, Dannis bener-bener cinta sama Loe Mi! Pliese Loe jalani hidup Loe lagi, buat Dannis Mi!”“Hiks…….” Aku menangis sejadi-jadinya, tapi itu akan menjadi tangisan terakhirku. Karena aku telah berjanji untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Karena aku mencintai Dannis, laki-laki yang mencintai aku.***The EndBy : Ray Nurfatimah

  • Cerpen Cinta: Kau yang Merubah Hatiku

    Awal dari sebuah rasa manis akan tetap manis jika kita pintar megolah rasa manis itu agar tetap manis. Cerita itu berawal pada sebuah hubungan antara cewek manis yang sering disapa Indi dengan cowok yang sering dipanggil Ihsan. Hubungan mereka yang telah berjalan hampir 9 bulan ini berawal mulus dan penuh dengan bahagia.Rasa pahit ini dimulai saat hari-hari sebelum ulang tahun aku diakhir bulan awal tahun ini. Sebuah perubahan terjadi pada Ihsan. Waktu yang tak pernah ada untukku membuatku sudah kehabisan kesabaran untuk selalu ngertiin Leo yang sibuk berkerja,hingga hari liburpun ia tetap bekerja. Hingga 2 minggu sebelum ulang tahunku,aku mengirim sebuah pesan panjang kepada Ihsan.To : (085643xxx890) Ihsan sayangAku tak tau knp km berubah. Km lupa dgn semua janji hubungn kita. Aku rasa ini puncak dari sebuah rsa sabarku. Aku ingin kita udahan aja,jalan ini mgkn yg terbaik. Maaf utk smua dan maksh untuk hari2 lalu. Aku bukn berhnti mencintai tpi aku ingin berhnti menyakiti hati. Dengan rasa berat hati dan meneteskan air mata,aku mengirim pesan itu ke dia. Namun seperti yang sudah aku duga,tak ada tanggapan dari Ihsan hingga satu minggu sebelum ulang tahun. Hari-hariku sangat berat saat ia sedang menghadapi ujian yang sedang berlangsung di kampusnya aku juga harus menghadapi masalah dengan Ihsan Saat aku berkeluh kesah dengan sahabat akrabnya yang suka dpanggil “Sipit” namun ia juga tak memberi respon bahkan saat aku memulai cerita, “pit,aku sebel deh ama Ihsan,aku dicuekin,sampe aku ngomong putus aja gak direspon,pokonya akau penegen putus dari Ihsan ………….” Belum selesai aku bercerita sipit langsung jawab dengan pernyataan juteknya dan muka jelek, “udah ah mb Indi,aku mau pulang,capek aku”,sambil dia meanarikku untuk pulang. Dengan rasa sedih aku menganggukkan untuk mengiyakan agar sipit pulang. Aku berjalan menuju tempat parkir motor sambil memikirkan,kenapa dengan Sipit. Otakku ini penuh banget,Sipit jadi berubah, Ihsan juga gak kalah berubah,ditambah ujian yang bakal dihadapi. Dalam hatiku cuma berucap “ ujian hidup dan ujian kampus kok berat banget”. Aku mencoba menghubungi Pit berulang kali namun jawaban dari operator selalu sama “nomor yang anda tuju sedang sibuk”. Aku mencoba sms Sipit..To : (085678901xxx) SipitPit,kok sekarang kmu berubah,saat ini kau butuh kamu pit Sambil menunggu balasan dari Sipit aku berpikir apa Sipit juga punya masalah jadinya gak mau dicurhatin. Tak berapa lama ada pesan masuk dihandphoneku,dalam hati inginnya leo yang sms aku. Tap aku yakin pasti Sipit yang balas.Jreng,,dengan terkejut …Dari : (085643xxx890) Ihsan sayangSayang aku lagi sibuk buat beberapa minggu ini.Setelah baca ini ada rasa lega tersendiri ternyata dia sibuk tapi makan hati juga kalau gini terus. Lalu tak berapa lama sipit menyusul membalas sms dariku.Dari : (085678901xxx) SipitMb Ndi,sorry aku lagi irit pulsa,gak bisa balas smsmu.Dengan rasa yang udah bercampur dihati sms mereka takku balas,dan membuang handphoneku dari hadapanku. Jam dinding di kamarku yang udah nunjukkin pukul 23.00 WIB tapi mata susah banget dipejamin. Udah beberapa hari ini aku tidur diatas jam 01.00 WIB. Tapi aku berusaha memejamkan mata namun handphone berdering,sebuah lagu menjadi lagu tanda panggilan masuk. Aku tak ingin melihat siapa yang menelpon malam gini,tapi telepon itu tidak berhenti berdering. Ku coba melirik handphone dan melihat sebuah nama yang taka sing,karena ternyata yang telepon itu adalah Ihsan. Dengan segera aku menganggat telepon.“Assalammualaikum, Ndi”. Sebuah salam yang terdengar dari seberang namun kali ini Ihsan berubah karena memanggilku Indi.“Walikumsalam,gimana ada apa?” dengan gaya biasa karena tetep aku jaga gengsi. Hehehe.. “kok belum tidur,Ndi”,dengan nada datar dan tanpa dosa.“belum aja,belum ngantuk. Kamu sendiri kenapa belum tidur juga?”“Kok panggilnya ‘kamu’ ?”. Ihsan ini paling gak suka kalau dipanggil ‘kamu’ walaupun lagi marahan.Aku juga Cuma jawab singkat,”kamu ja panggil aku Ndi”.Malam ini begitu dingin,sekalinya telepon seperti ini. Lama sekali kami terdiam,entah apa yang dipikirkan oleh Ihsan saat ini.“Em,tidur yuk,udah malam,nanti sakit.” sebuah ucapan manis dari Ihsan ini lumayan menyejukkan hati kalau dia masih perhatian denganku.Aku dengan sedikit menghilangkan gengsi,”ya udah tidur,besok kan kamu kerja juga”“ya udah,met malam ya”. Tuttt.. Tuttt..Tutttt …Tiba-tiba telepon itu terputus,aku belum sempat membalas ucapannya. Bahkan ucapan yang sering dilakukkan pun tiba-tiba hilang.Aku tetap tidak bisa tidur,aku berpikir terus “apa yang kamu mau sih Ihsan,putus gak dikasih jawaban,tapi masih perhatian”. Dengan gemasnya boneka beruang yang pernah ia berikanpun jadi sasaran kemarahanku. Aku coba mengajak bicara boneka itu,“apa sih mau mu Ihsan?”“aku ini masih pacaramu bukan?”“aku bingung ma kamu”. Sambil kupukul-pukul boneka itu,”jawab dong,diem aja kamu”.Tiba-tiba air mata ini menetes perlahan dan dengan rasa sayang aku memeluk boneka.Dengan lirih aku berucap, “Ihsan aku sayang ama kamu,tapi kamu bikin aku nagis terus.”Pelukanku keboneka menemaniku hingga aku terbangun dari tidurku. Pagi cerah ini dengan mata agak sedikit sembab mencoba untuk bersemangat ke kampus. Hari ini bakal jadi jadwal yang paling bosen,kuliah dan rapat organisasi hingga sore. Tapi aku berpikir ini mungkin cara menghilangkan rasa sedihku.Seperti biasa aku janjian dengan Sipit di kampus karena beberapa mata kuliah kami sama jadi kadang kami sekelas. Kami mendapat julukan “emak dan anak” karena tiap Sipit dating duluan yang ditanyain aku begitu juga sebaliknya.Dari belakang mencoba mengagetkan Sipit,“dor…Pit,,,”“yeee…mb Indi,kagetin aja. Gak sedih lagi ni?”“udah enggak dong,kan males mikir orang yang gak mikir aku”“kenapa Ndi mata kamu,dicium nyamuk apa semut cowok ni.hahahaha”. Dengan gaya khas ketawa sambil matany merem sipit mengejekku.“apaan sih kamu,Pit.. Ini mata sembab karena aku pompa,niatnya matanya biar belok dan gak Sipit kayak kamu”. Sambil aku membuka mata dengan jariku dan berlari karena aku ngejek Sipit.Seketika itu pikiranku tentang Ihsan hilang, ya walaupun Sipit gak dengerin ceritaku, setidaknya bisa bikin ketawa aku. Karena kami punya semboyan “Kita gak sedih lagi,gak nangis lagi”. Itu Cuma kalimat dari lirik lagu Smash tapi bisa bikin seneng.Hari-hari berikutnya terasa cepat sekali,sampai gak inget kalau besok udah hari ulang tahunku. Dan beberapa hari ini gak nyangka nama Ihsan hilang di pikiranku,kita sama-sama gak saling smsan atau telepon. Hari yang ditunggu namun bikin kecewa,semalaman aku tak tidur berharap Ihsan bakal jadi orang pertama yang mengucapkan ulang tahun ini. Tapi aku gak begitu peduliin itu,karena banyak sahabat,keluarga yang memberiku ucapan dan lebih special.Lebih malasnya lagi hari ini masuk kuliah,sesampainya disana. Sebuah kejutan kecil dari temen-temen.“happy bday to u,,,happy bday to u,,happy bday,happy bday,happy bday Indi…..”Sebuah donat kecil dan lilin diatasnya dibawa oleh Sipit untukku.“Tiup lilinya mb Ind,tapi,,,make a wish dulu ya…”Ku memejamkan mata dengan sebuah doa,dan saat ku buka mata ini ku meniup lilin. Donat kecil itu ku potong kecil-kecil agar semua temen ikut menikmati,walaupun dikit. Suapan pertama untuk sipit sambil cipika cipiki.“Happy bday mb Indi”“makasih sayangku”Dan hari ini waktu itu cepat sekali,kejutan dan ucapan tak henti-hentinya datang. Namun tak satu smspun dari Ihsan untuk mengucapkan ulang tahun. Sekalinya aku lihat jam udah jam 17.00 WIB. Dan saatnya pulang kerumah dengan rasa penuh kebahagiaan. Aku jadi mengerti arti sebuah persahabatan.“balik yuk,Pittttt,udah capek ni seharian dan aku juga udah bosan kalau ketemu kamu terus.heheheh..” sambil gemes ama pipinya yang chubby banget.Dengan jengekelnya Sipit menarik tanganku,”sakit tauuu…hehehehe. Serius ni bosan ma aku?hehehe”. “iya,untung aja kuliah itu gak 24 jam,coba 24 jam bisa mati konyol ketawa ma kamu terus.”“Agh,nyebelin mb Indi ni,”dengan muka manyunnya.“Tapi kalau ketawa sambil merem dan gak boleh manyun ntar tak tinggal pulang lho”“jangan,,nebeng sampe depan ya”,dengan muka melas dia dan senyum Sipitnya.Dengan sikap hormat,aku menjawab “siap laksanakan boss..sipitnya mana sipitnya”,aku mencoba masih menggodanya.Aku dan sipit menuju parkir kampus untuk mengambil motor . Saat menuju motorku aku heran kok ada sebuah kantong plastik yang tergantung dimotorku. “Pit,tu ada plastik punya sapa ya?”“Ya punya mb Indi dong,kan dimotor mb Indi”“Tapi aku tadi gak bawa apa-apa,jangan-jangan…………..”“jangan-jangan apa mb Indi?”“jangan-jangan Bom Pit,kaburrrrrr…………”,aku langsung berlari berniat ngerjain sipit yang kaget. Sipit juga ikut lari dan berterika,”Mb Indi tunggu”, dengan nada manja anak kecil.“mb Indi,liat aja yuk”Kami mencoba kembali ke motor kami dan melihat isi kantong yang ada di motorku itu.Jrenggg……jrenggg… coba tebak apa isinya… “Agh,flasdisk??”,aku dan sipit mengatakan hal yang sama.“tau gitu aku nitip kamu aja biar,masak ngomong aja kita barengan”“gak apa-apa mb Indi,kita itu emang ditakdirin bersama-sama”“udah-udah,,kamu ntar GR malah berabe.” Sambil ku lihat kantong itu barang kali ada yang lain,“maksudnya apa ya Pit ini?”“gak tahu,coba dicari ada tulisan dari pengirim gak”“Ini ada tulisan pit”,aku membaca sebuah memo kecil dari sang pengirim.‘Indi,ini flas ada sesuatunya, dilihat pas pukul 20.20. gak boleh dilanggar’Dari : pengirim flasdisk“mb In,jangan-jangan dalemnya ada Syahrininya,tu ada sesuatu”“Hahahaha,,,kamu itu aneh-aneh aja,mana muat Syahrini masuk flasdisk”Aku masih bingung dengan ini,maksud dan isi dari flas ini apa. Kulihat sipit mebolak balik kantong itu.“Kenapa pit,kok dibolak balik?”,anak satu ini aneh banget.“ya ini kantong nyebelin mb In,gede kantongnya isinya Cuma flas. Gak ada makanan atau apa gitu”Sambil gemesin pipinya,”kamu itu,makan mulu….udah kita pulang. Jadi gak sabar pengen liat isinya apa”Setelah sepanjang jalan memikirkan isi flas,tak terlintas akan pikiran tentang Ihsan. Seakan beberapa hari ini aku dibuat amnesia tentang Ihsan. Aku juga tak mengenali tulisan tangan dari si pengirim. Sebuah tanda tanya besar dipikiran ini belum terjawab.Malam sudah mulai larut,berulang mata ini melirik jam dinding namun seakan jam itu berputar sangat lambat. Sudah tek terhitung berapa kali mata ini melirik untuk menunggu pukul 20.20. rasanya tunggu sesuatu yang bikin penasaran itu sangat menyebalkan. Setelah menunggu beberapa saat sms masuk ke Hpku.Dari : (085678901xxx) SipitIsinya apa mb Ind?Aku segera mereplay sms sipit.To : (085678901xxx) SipitGak tau juga,ntar lagi aku buka.Waktu yang ditunggu sudah datang,seperti anak yang mendapatkan hadiah aku sangat begitu antusias untuk mengetahui isi flas itu apa. Langsung ku buka dilaptopku dan hanya ada sebuah file yang berformat video. Bergegas aku membuka video tersebut.Sebuah video ucapan selamat ulang tahun dari Ihsan. Disitu Ihsan menyanyikan lagu milik Ipang yang berjudul “Akhirnya Jatuh Cinta”,” Tak Ada gantinya”, “Tanpamu” yang merupakan lagu favorit kita. Didalam video Ihsan sambil bermain gitar menyanyikan lagu itu. Diakhir video itu Ihsan mengatakan sesuatu yang sangat menyentuh.“aku sekarang tau siapa yang harus aku perjuangkan,ternyata kau harus memeprjuangkan kamu,bila cintaku dan cintamu bersatu aku yakin cinta ini kekal dan abadi utnuk selamanya karena kamu semangat hidupku”Diakhir kata-kata dari Ihsan membuat aku menagis terharu dan senyum bahagia. Beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintu rumah,sambil aku menghapus air mata ini aku beranjak untuk membukakan pintu.Saat kubuka pintu,sebuah kejutan yang termanis yang aku terima.“Happy bday to u… Happy bday to u…..”Aku terkejut karena Ihsan datang bersama SIpit dan SIput. Biar jelas,siput ini adalah cowok Sipit,kita panggil Siput karena dia super karet dan lama kalau ada janjian jalan-jalan. Kalau janjian pergi bareng jam 08.00,dia bisa baru datang jam 10.00 karena kelamaan mandi.Aku lanjutin ceritanya, Ihsan dengan membawa kue ulang tahun menyanyikan lagu ulang tahun bersama Sipit dan Siput. Dengan segera aku memeluk Ihsan dan memukul Ihsan karena aku sebel dan aku bahagia. Ihsan juga membalas pelukku sambil membisikan “happy bday sayangku,”“makasih sayangku”, Ihsan juga mencium keningku.Dan aku kembali memeluknya.“Eehmmmmmmm….”,sipit ma siput mengagetkan kami.“Halooo…lilinya mau cair ni,mau ditiup gak ni?”,sipit langsung aja nerocos.“Iya dong,kan kueku,hahhahaa… tapi masuk dulu yuk,,”Setelah beberapa saat aku mentiup lilin ulang tahunku dengan sebuah doa dan ucapan terima kasih pada Allah karena udah ngembaliin Ihsan lagi. Untuk beberapa saat aku sedikit manyun ama Ihsan.“sayang itu nyebelin tau,cuekin aku”“jangan salahin aku aja,tu sipit ma siput juga. Mereka juga ikut andil dalam urusan ini”. Dengan segera aku menghampiri sipit m siput dan mencubit mereka.“dasar kalian berdua,sengkongkol ya”. Dengan muka tak berdosa mereka hanya tertawa. Dengan rasa kagen yang udah beberapa minggu gak manja-manjaan ma Ihsan. Aku mencubit karena aku masih sebel dikerjain.“aduh sayang,ampun,,,”,diraihnya aku dan dipeluk sama Ihsan.“maaf ya sayang buat kemarin-kemarin. Tapi aku gitu karena kau sayang. Love you sayang”Dengan nada manja aku menjawab,”iya sayang. Love you too sayangku”Untuk kedua kalinya,kami diganggu oleh sipit ma siput. “Hello,disini ada kami” siput bersuara untuk kali ini.“ayo mb Ind,dipotong kuenya,masak mau diliat aja”“dasar tukang makan,iya,iya,,tak potong ya”Dan lebih nyebelin lagi,kuenya ditulisin ‘happy bday Indi. Semoga cepat gemuk’. Mereka itu ada –ada aja. Selanjutnya aku memotong kue.Untuk potongan pertama aku memberikan kepada Ihsan. Dan sebuah kecupan manis dikening untukku dari Ihsan.Untuk potongan selanjutnya sipit dan siput. Kami bercanda sambil menikmati kue ulang tahun.“kok bisa kalian kerja sama,aku kasih tahu ceritanya dong”Secara bersama-sama mereka tertawa,karena sudah berhasil mengerjain aku.Cerita awal dimulai dari Ihsan, Ihsan mengajak siput dan sipit untuk ngerjain aku. Dan semua skenario sudah dirancang. Sipit selalu memberi informasi pada Ihsan tentang aku. “sayang waktu malam itu aku telepon karena denger dari sipit kamu sedih banget. Aku gak tega jadi aku telepon”“aghh,,nyebeliin sayang tu”“hahahahaaaaaaaaa….” Mereka menertawakan kebodohanku.“terus yang kasih flas dimotorku?kan syang kerja,sipit ma aku terus,mesti siput ya”,sambil tunjuk Siput.Dengan senyumnya siput mengakui,”iya aku yang kasih flas kemotormu dan itu tulisanku. Kan kamu belum pernah liat tulisanku”“aghh,,dasar siput,kamu itu”Dan semua kembali tertawa karena melihat kebodohanku. Aku Cuma cemberut dan ikut ketawa.Ternyata kejutan dari Ihsan belum berakhir.“tutup mata sayang,gak boleh ngintip lho..”“ada apa to?”“ya udah tutup mata dulu,nanti kan tau. Tapi berdiri dong”Aku mencoba menuruti semua kemauan dia dan aku penasaran apa yang akan diberikannya,karena flas dan kue sudah menjadi kejutan yang teka terlupakan.“udah belum sih,lama banget”,dengan sebel karena gak sabar pengen tahu.“ok,sekarang dibuka perlahan ya…”Sedetik kemudian aku membuka mata,sebuah kejutan yang manis. Ihsan memberikanku sebuah cincin dan ia sambil berkata “mau kah kau berjanji untuk selalu menjaga dan mempertahankan hubungan kita dalam keadaan apapun?”.Dia bertanya seperti itu karena kalau diajak nikah aku gak mau jadi gak mungkin kalimatanya “will you married me?” bakal langsung aku tolak,Dengan rasa yang bahagia dan tak mampu berucap,aku hanya menganggukan kepala sebagai isyarat aku mau. Dan Ihsan pun memakaikan cincin itu dijari manisku. Dan sebaliknya aku. Setelah cincin ini tersemat di jari kami, Ihsan memelukku dan mengatakan sesuatu padaku,“aku janji akan menjagamu.”Dengan rasa yang tak bisa ku ungkapkan aku menjawab dari ucapan dengan,”aku juga berjanji hati ini untukmu”Dan sipit mengagetkanku dengan ucapannya untuk siput,”sayang aku juga mau kayak gini”“hahahahhahah,,,”,kami semua tertawa dengan ucapan sipit.Malam kian larut dan tak terasa jam udah nunjukkin pukul 23.00. semua pamit untuk pulang. Namun aku sedih karena Ihsan juga pulang,aku masih pengen sama dia. Rasa kangenku sama dia belum terobati. Namun waktu yang bicara.Mereka akhirnya kembali kehabitat msing-masing(maksudku ke rumah masing-masing.)“mb Ind,kita pulang dulu ya”,sipit dan siput bersalaman denganku untuk pamit.“ok,,makasih ya buat kalian berdua”“sayang,aku pulang dulu ya,langsung bobo ja,udah malem,”“iya sayang,syang juga langsung bobo. Hati-hati ya,,”“iya sayang,love you sayang”,kecupan kening untukku.“love you sayang”“udah mb Ind,ntar gak selesai-selesai kalau cium peluk mulu,” sipit ngiri ni,hehehe“ya biarain,ni kan pacaraku,masak aku mau cium siput,boleh po?hahaha” aku menggoda sipit.“ya gak boleh kok”“sayang awas aja ya,” aku langsung dapet peringatan dari Leo dan Sipit.ahaahahahDan mereka pulang kerumah masing-masing. Malam ini bahagia yang tak terkira. Dan gak mungkin aku lupakan. Aku beruntung memiliki teman dan Ihsan yang menyayangiku.Aku juga lebih bisa memaknai arti sebuah persahabatan dan kasih sayang.Dan aku berharap harapan yang aku inginkan terkabul,sebuah harapan yang tak akan ku ucapkan jika belum terjadi. Di hari berikutnya kami kembali seperti biasa, Ihsan kembali normal. Hari terasa cepat hingga tak terasa sudah masuk bulan Mei. Dan yang paling aku senang karena 27 Mei adalah satu tahun kami berpacaran,aku ingin membuat suatu perayaan kecil dengan kejutan kecil dariku. Saat sebuah rencana manis aku susun rapi dengan penuh cinta. Sebuah kabar buruk yang menghancurkan sebuah rencana itu datang. Saat beberapa hari sebelum hari itu saat dia datang kerumah sudah larut malam dan gak biasanya dia datang selarut ini.“duduk dulu sayang,mau minum pa?”,aku mempersilakan dia duduk.“makasih sayang,gak usah minum. Aku Cuma pingin malam ini ama sayang”,dengan senyum dia mengatakan itu.Tersontak aku kaget dengan ucapannya.”Maksudnya apa?”“gini,aku besok bakal berangkat berlayar ke India untuk waktu yang cukup lama”. Dia menghela nafas setelah mengahkiri ucapannya.Aku hanya bisa diam saat mendengar itu semua. Aku tak dapat mengatakan apa-apa. Aku tak suka ini semua.“sayangg…..”. dia membuyarkan lamunanku.”kamu gak apa-apa kan??”“eh,,em,,sayng serius?sayng ini Cuma bercanda kan?”. Aku mencoba mencari jawaban kalau ini semua Cuma kebohongan dia. Karena dia sering sekali mengatakan itu.“kali ini benar”,sambil dia mengeluarakan surat-surat sebagai tanda kalau kali ini dia tak berbohoong.Aku memintanya danku teliti satu demi satu saurat-surat itu. Dan benar sebuah nama negara sebagai tujuan berlayar atas nama dia. Aku menaruh kembali surat itu dan bertanya,”berapa lama berlayar?” dalam hati ku pasti wkatu yang lama karena line/tujuannya jauh.“2 tahun sayang aku akan pergi”Aku tak tahu harus bagaimana lagi saat dia menjawab 2 tahun. Aku hanya terdiam,dia pun ikut terdiam karena dia tahu pasti aku gak bisa terima ini semua.“sayang bohong kan?sayang boong ya?”,aku masih mencoba tak percaya. Namun saat tangan ini digenggamnya untuk mencoba meyakinkanku.“sayng,aku bener besok bakal berlayar. Aku tau sayang bakal kesepian banget. Apalagi di sana nanti aku juga gak dapet sinyal. 2 tahun itu aku sebulannya hanya mendarat 2 hari sayang.”Aku benar-benar terdiam tanpa sebuah sedikitpun ucapan yang aku keluarkan dari bibir ini. Aku membayangkan rencana kecilku di hari jadian kita hancur. Tangannya tetap menggenggamku untuk menguatkanku.Sedetik kemudian air mata membasahi pipiku. Sebuah sentuhan manis darinya untuk menghapus air mata ini makin membuat aku menangis. Dan selanjutnya sebuah pelukan manis darinya. Aku menangis di dadanya dengan sebuah pelukan dan belaian dia dengan diciumnya keningku olehnya. Mungkin ini pelukan terakhirnya.“sudah sayang,jangan gini. Nanti aku nangis juga,jelek kalau nangis. Cantiknya mana..”. dia masih mencoba menghiburku dan menggodaku.Dengan perlahan aku lepas pelukan ini darinya.” Sayang,aku sayang banget ama kamu. Aku gak pengen jauh dari kamu. Tapi ini untuk masa depan,aku harus dukung kamu. Aku akan tunggu kamu di sini. Aku ingin kamu janji,2 tahun lagi kamu datang kerumahku”“aku janji sayang.” Dia kembali memelukku sambil berucap,”awas aja kalau sayang punya pacar lagi,hehehe”“agh,paling syang juga di sana”,mencoba gak mau kalah aku.“aku aja bakal di air terus. Di kapal juga cowok semua. Ada juga ibu-ibu. Lagipula aku kan punya sayang yang bakal selalu ada”“gombal sayang ki”“biarin,yang penting gak gembel..hehehhe”Kami kembali tertawa dan menikmati hari perpisahan ini hingga tengah malam.“besok anterin aku ya,mau kan?”“ok deh sayang,”“tapi gak boleh cengeng ya”“ya biarain kok,,masak pacar bakal pergi jauh gak boleh nangis”Perlahan dia berdiri dari kursinya dan meraih tanganku kembali,”sayang janji ya gak macem-macem kalau aku tinggal. Inget cincin ini jadi saksi hubungan kita”“Aku janji sayang”. Sambil ku tersenyum walaupun aku sedih.“sayng aku pulang dulu ya,udah malam. Sayng bobo ya…”“huem sayang,hati-hati ya”“sampa ketemu besok ya sayang”“ok sayang”. Dengan berat aku harus melepasnya pulang dan besok hari terakhirku bertemu dengannya.Air mata ini memang tak bisa membohongi kesedihan hati ini. Perlahan menentes kembali. Aku jadi makin sedih,saat ahri-hari esok air mata ini menetes kembali siapa yang akan mengusapnya. Semoga waktu 2tahun itu akan berjalan cepat dan hari-hariku tak berubah karena aku akan tetap menjaga hati ini untuknya. Untuk orang yang telah menyayangiku setulus hati.Sebuah lagu yang menjadi kenangan manis untuk kami adalah “Ipang-akhirnya jatuh cinta”.Semua terjadi tak ku sadari tak terpikir apalgi mimpi.Tapi ternyata kini ku tak lagi berdaya.Kau memang beda dari yang pernah ku rasakan.Hanya kau yang bisa merubah hatiku tk mungkin ada lagi yang mampu membuatku seperti ini.Semua berubah saat bersamamu tak mungkin ku dapat kalau tanpaumu,sangat ku nikmti mencitaimu bersamamu. Tapi ternyata kini aku sudah bersamamu…Karena kesedihanku ini hanya sementara,karena aku percaya lelah ini hanya sebentar dan aku tak boleh menyerah walaupun ini tak mudah. Aku akan selalu ingat pesan dia untuk selalu tersenyum biar semakin mudah karena kesedihan ini hanya sementara.Dan hari-hari sepiku akan terjadi. Semoga aku bisa jalani ini semua. Dan semoga 2 tahun lagi aka nada sebuah cerita manis yang berakhir dengan sebuah kebahagiaan.Kita tunggu cerita selanjutnya…. 2 athun lagi… see you next time… Tentang Penulis:Kenalin aku Ari Indiastuti. Aku dilahirkan di kota Semarang pada Januari 20 tahun lalu. Aku biasanya dipanggil Ari atau Indi oleh orang tua dan teman-temanku. Jika kalian semua pengen lebih kenal aku bisa cari aja di facebook di alamat ariindi2501@yahoo.com (Ari Indiastuti Weck Weck),bisa juga twitter di ariindi74@gmail.com (@ariindi_weck) bisa kirim email di ariindiastuti@rocketmail.com yang pasti aku baca,mungkin juga bisa tukar-tukar sesuatu di blog ku di ariindiastuti.blogspot.com. Aku sudah hobby nulis,beberapa ceritaku sebelumnya seperti Diantara 2 Hari dan Cinta Tak Berujung. Salam kenal ya buat semua,,kali ini aku ingin berbagi cerita tentang akhir dari cerita cinta seorang cewek. Yang merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya “Cinta Tak Berujung”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*