Cerpen Cinta: MENANTI DIRIMU

MENANTI DIRIMU Oleh : Rahmawati Dewi
Cerpen Cinta Menanti DirimuCinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi kau masih peduli kepadanya. Ketika dia meninggalkanmu kau masih setia menunggunya.
Sudah 6 tahun kujalani hari-hariku bersama dia. Suka, duka, canda tawa dan tangis aku slalu bersamanya. Harris adalah sosok yang sangat berharga bagiku dan tak bisa tergantikan. Dia slalu menjaga, mencintai dan menyanyangiku sepenuh hati dan slalu menemaniku dengan senyuman manisnya itu. Dia slalu ada untukku, kapanpun dan dimanapun aku berada.
Harris adalah sosok yang ulet, rajin dan cerdas. Tidak heran dia mendapatkan beasiswa di luar negeri. Harris memilih Amerika Serikat sebagai tempat untuk melanjutkan studinya. Mau tidak mau Harris akan meninggalkan aku sendiri dengan cinta kita berdua. Aku tidak bisa sesering lagi melihat senyumannya yang biasa menghiasi setiap waktuku.
Hari ini adalah waktu keberangkatan Harris. Disinilah keutuhan dan kekuatan cinta kami di uji. Waktu dan jarak akan menjadi saksi. Di dalam taksi aku mengantarkan Harris ke bandara. Aku hanya terdiam membisu. Perasaan sedih dan takut menghantuiku. Selama ini aku tak pernah jauh sama dia namun aku harus di pisahkan oleh ruang dan waktu.
Detik-detik perpisahan sudah semakin dekat. Aku tak dapat membendung air mataku dan perasaanku menjadi tidak menentu. Aku yakin Harris juga merasakan hal yang sama. Dengan kehangatannya dia menenangkan,menguatkanku agar dapat menerima semua kenyataan ini. Dan juga dia menyakinkanku bahwa jarak dan waktu bukanlah masalah, melainkan kesetian cinta diantara kami berdua yang harus tetap kokoh dan kuat.
“Berjanjilah untukku bahwa kau akan setia menjaga cinta kita ini.”Ucap Harris sambil mengusap air mataku yang sejak perjalanan tadi tidak berhenti.
“Aku janji, dan aku akan setia menunggumu.”Ucapku singkat sambil memeluknya. Dan tangisku pecah. Semua terasa berat, seakan ini tak adil bagi kami berdua. Di belainya rambutku seraya agar aku tetap tenang dan tegar.
Ia pun menggenggam kedua tanganku dan menatapku dan berkata :
“Aku janji akan menjaga semua ini, dan aku akan kembali seperti sekarang ini dan membawa kembali cinta kita berdua.”Kata Harris padaku.
Sejenak kami berdua diam, membiarkan hati kami berbicara. Perlahan aku mulai melepaskan genggamannya dan dikecupnya keningku dengan penuh cinta olehnya.
“I Love you”,” I love you too”. Kata singkat yang hanya dapat mewakili semua perasaan kami berdua. Dia pun melangkah dan mulai meninggalkanku.
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam membisu dan sesekali air mataku berlinang.
********************<<<<<<>>>>>>***********************
Waktu bergulir dengan cepatnya. Tak terasa sudah 1 tahun 5 bulan, hubungan kami berjalan dengan baik tanpa ada rintangan. Hanya saja perasaan rindu yang slalu menyiksa hati ini. Tapi tidak sama halnya dengan Harris tak tahu mengapa suatu hari ia menyuruhku untuk melupakannya dan mencari penggantinya.
Sebenarnya tak ada masalah diantara kami berdua. Ia menyuruhku mencari penggantinya karena takut kalau aku kesepian dan ternyata ia telah membagi cintanya dengan teman kuliahnya di Negeri Paman Sam itu.
“Ra, maafin aku telah membagi cintaku kepada orang lain dan tolong lupakan aku karena aku telah mengkhianatimu.”Ucap Harris di telfon.
Aku tak dapat berkata, hati sakit teriris oleh luka yang ia beri padaku. Harris yang aku kenal dulu kini telah berubah. Harris dulu sangat sayang dan slalu menjagaku tidak pernah membuat hatiku sakit, kini ia telah berbeda. Sekarang aku berdiri tanpa pegangan dan aku bersandar tanpa sandaran.
Waktu terus berlalu, tidak ada sama sekali kabar dari Harris. Semenjak pernyataan itu ia tidak mau lagi mendengarkan kata-kataku lagi dan tak pernah lagi ia menjawab sms, e-mail bahkan pesan di facebook. Aku merasa sangat sedih dan kecewa. Aku sama sekali tidak bisa melupakannya dari kehidupanku. Dan aku meninggalkan pesan terakhir di e-mailnya :
“ Ris, cintaku padamu tidak akan pernah berubah dan aku akan setia menunggumu sampai saat ini dan jika nanti memang kau bukan milikku baru aku akan rela melepaskanmu untuk bahagiamu.
Setelah itu kuputuskan untuk tidak mengganggunya dan menghubungi dia lagi walau ada rasa kerinduaan di hati ini. Aku sibukkan diriku agar dapat sejenak melupakan Harris. Banyak teman cowokku yang mendekatiku namun sosok Harris sulit digantikan oleh orang lain.
Waktu terus berputar tanpa ku sadari sudah 3 tahun aku telah berpisah dengannya. Aku gelisah ingin sekali ku mendengar suaranya, melihat senyuman dan mengetahui kabar beritanya. Kapan dia akan kembali kepadaku dan apa ia masih berhubungan dengan gadis itu ? Entahlah aku tak dapat berbuat banyak, yang hanya dapat ku lakukan hanyalah setia menunggunya.
Dan suatu hari tiba-tiba….
“Drreettt…..drrreettt….”Hpku bordering tanda sms masuk.
Kubuka perlahan membuka pesan itu dan ternyata itu sms dari Harris. Ingin rasanya ku menangis dan kubaca ulang pesan itu baik-baik untuk menyakinkan. Aku merasa seperti bermimpi.
“Ra….. Apa kabar..”sms singkat Harris.
Rasanya ku ingin berteriak pada dunia agar dunia tahu aku sangat bahagia. Dan cepat ku membalas sms itu.
“Ris… aku baik-baik ajha. Kamu bagaimana ? Kapan pulang ? Aku kangen banget sama kamu. Aku akan tetap menunggumu sampai kamu pulang.
Ku tunggu balasan darinya, namun ia tak membalas. Aku kian gelisah dan air mata selalu mengurai semua perasaan yang kurasakan.
Hingga suatu hari ku memberanikan diri untuk menelfonnya. Aku sudah bertekad untuk mendapat semua penjelasan darinya.
“Ris..” Hanya kata itu yang terucap dari bibirku.
“Ra, maafin aku, karena aku sudah mengkhiatimu dan menghancurkan cinta kita berdua. Maafin aku.”Ucap Harris padaku.
Kata-kata itu membuatku terharu dan meneteskan air mata. Hingga ku tidak bisa berkata-kata.
“Dan satu hal lagi sayang… aku sudah tidak bersama gadis yang aku pilih itu. Dia malah balik mengkhianatiku dan pergi bersama laki-laki lain. Jadi, sekarang aku baru merasakan hal yang sama waktu aku memutuskanmu dulu. Maafin aku, mungkin ini sudah terlambat.” Ujarnya.
“Ris.. aku masih seperti dulu yang masih setia menunggumu dan tidak ada yang bisa menggantikanmu.”Kataku.
Sejak saat itu kuputuskan untuk menjalin lagi hubungan cinta bersamanya yang dulu pernah kandas di tengah jalan. Dan dia berjanji tidak akan meninggalkanku lagi. Aku sangat senang dan merasa bahagia. Tinggal 3 bulan lagi kedatangan Harris dan kami berdua akan melangsungkan pernikahan.
Akhirnya penantianku berbuah manis. Pernikahan ? menikah dengan orang yang kucintai. Rasanya seperti mimpi.
Hari ini adalah hari kepulangan Harris dari Amerika Serikat. Aku dan kedua orang tua serta adik Harris menuju bandara untuk menyambut kedatangan Harris. Sebelum berangkat Harris sempat smsan sama aku.
“Yank… aku senang akhirnya aku bisa pulang dan bisa melihatmu lagi jika di beri kesempatan, aku cinta kamu.”Ucap Harris menutup hpnya karena pesawat akan lepas landas.
Perasaan gembira menjadi duka dimana saat petugas bandara memberitahukan pesawat penerbangan AS-INA dinyatakan hilang. Teriak tangis memenuhi ruang tunggu.
Aku sontak kaget karena itu adalah pesawat yang ditumpangi Harris. Aku tak dapat membendung air mataku, badanku lemas bagai di sambar petir dan aku tak sadarkan diri.
Saat ku siuman ternyata aku sudah ada di rumah sakit. Aku hanya dapat meratapi kejadian ini
“Ya Tuhan, mengapa kau buat aku begini ? Dan mengapa kau ambil dia dari sisiku ? Kenapa bukan aku saja ?”Ucapku sambil menangis.
Ibu dan adik Harris memelukku agar aku bisa tenang dan tabah menerima semua ini.
Sudah 1 minggu bangkai pesawat yang ditumpangi belum ditemukan sampai sekarang. Hal itu membuatku tidak mampu menghadapi semua ini serasa aku ingin mengakhiri hidup ini. Apa aku bias hidup tanpamu ? Tak pernah terfikir olehku kau akan pergi tinggalkan ku sendiri. Semua tinggal kenangan yang hanya bisa ku kenang.
Aku berharap mudah-mudahan kau tenang di sana.
“Selamat Jalan Kasihku Harris, aku yakin kau bahagia di sana.”
Tamat
Penulis Cerpen RahmawatiPenulis : Rahmawati D
Sekolah : SMP N 03Manokwari
E-mail : dewy_1997@yahoo.com
FB : Rahmawati Dewi
Motto : Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini.

Random Posts

  • Cerpen Remaja Tentang Aku dan Dia Part 1 {Update }

    Oke guys. Sejak pertama bikin blog, cerpen remaja tentang aku dan dia adalah cerpen pertama yang di posting disini. Yah, namanya juga perdana. Selain masih belajar ngeblog, nulis juga masih suka asal asalan. Makanya cerita dan EYD berantakan. Nah karena itu, kalau pas ada waktu luang biasanya mampir kesini sambil ngedit satu satu. Oke deh, biar nggak banyakan curcol bisa langsung simak jalan ceritanya ke bawah. Happy reading….Credit Gambar : Ana Merya“Gres, kok makanannya di liatin aja sih?” aanya Anya yang melihat ulah sahabatnya yang dari tadi hanya mengaduk aduk bakso di mangkunya tanpa sedikit pun mencicipinya.“Gresia?” ujar Nanda yang heran karena sahabatnya yang satu itu tidak merespon sama sekali.“Hoi!!” kali ini Anggun mengucapkannya dengan keras sambil mengunang-guncang tubuh temannya.“Eh… apa?” Gresia tampak kaget."Nah, ketahuan kan, lagi melamun ini pasti," komentar Nanda dengan tatapan menyipit.Gresia mencibir. "Nggak kok, siapa yang melamun coba?""Ya elo lah. Masa nenek gue," tuduh Anya sewot. "Hem, tapi ngomong – ngomong loe ngelamunin apa sih? Perasaan jauh banget?" Anggun pasang raut penasaran. Anya dan Nanda kompak mengangguk setuju. “Udah di bilang gue nggak ngelamun juga."“Terus dari tadi bengong apa donk namanya?”“He he he… lha wong gue Cuma lagi mikir kok. Cuma keasikan," balas Gresia sambil nyengir.Nanda memutar mata. Itu mah sama aja. "Emangnya yang loe pikirin itu apa?""Ada aja."Pletak.Pletak.“Gila loe, sakit tau," Gresia meringis sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit karena sebuah jitakan yang mulus mendarat di kepalanya. Bahkan tanpa permisi sama sekali. “Makanya cerita. Masa ia sama kita aja loe pake rahasia-rahasiaan segala sih," paksa Nanda lagi.“Kalau gue nggak mau cerita terus kenapa?”Pletak pletak.Kali ini dua jitakan mendarat dengan serentak di kepalanya.“Astaga, kalian mau bunuh gue ya?”Anggun mencibir. “Jangan lebai, nggak ada orang yang mati cuma gara-gara kepalanya di jitak."“Udah buruan cerita!” sambung Anya yang sedari tadi terdiam.“Ia, gue cerita," Gresia terpaksa mengalah, terlebih ketika tatapan membunuh dari teman-temannya. Dalam hati ia berpikir, kok dia bisa berteman sama mereka ya padahal sadis begitu.“E, sebenarnya," Gresia mengantungkan ucapannya. Sejujurnya ia tidak yakin jika menceritakan permasalahannya saat ini adalah keputusan yang tepat. Terlebih ketika ia sudah cukup mengenal ketiga orang yang kini ada di dekatnya. Ia bisa menebak reaksi mereka begitu mendengar kabar yang akan di sampaikannya."Apa sih? Nggak usah sok bikin penasaran gitu deh," Nanda mulai gusar. "Gue di jodohin," gumam Gresia nyaris tak terdengar.Hening. Seolah-olah begitu berat mencerna kabar yang baru di dengarnya. Tapi tak berapa lama kemudian."Ha ha ha, nggak lucu!" potong Anggun tak percaya. Anya dan Nanda juga berpendapat sama. Hari gini mau di kibulin. Nggak mempan. Tapi saat melihat raut Gresia yang terlihat serius Nanda kembali bertanya."Loe serius?". Gresia membalas dengan anggukan. Membuat ketika temannya saling pandang baru kemudian tanpa di komandani serentak ngakak. Untuk kali ini Gresia setuju dengan kalimat kalau "penyesalan selalu di akhir. Buktinya, sekarang ia nyesel cerita.“Elo di jodohin?!” ujar Anya memastikan.“Itu pertanyaan atau pernyataan," gerut Gresia sebel. Sementara Nanda dan Anggun masih belum bisa menghentikan tawanya.“Please deh, nggak ada yang lucu di sini," geram Gresia kesel.“Abis ada ada aja. Di kira ini masih jaman Siti Nurbaya kali ya,” ujar Nanda di sela tawanya.“Tapi ngomong-ngomong loe di jodohin sama siapa? Keren nggak? Kalau keren mah nggak papa donk. Lagian loe kan jomblo,” tanya Nanda kembali.Gresia menatap wajah temannya satu persatu. Kali ini ia ragu. Apa menceritakannya merupakan keputusan yang tepat. Ia sangat tau tabiat sahabatnya yang satu itu. Ia paling tidak suka mengetahui segala sesuatunya hanya setengah-setengah.“Arga,” akhirnya Gresia buka mulut dengan suara lirih yang nyaris tidak terdengar.“Uhuk uhuk,” Anggun yang kebetulan sedang mengunyah baksonya langsung tersedak.“Loe bilang siapa?” tanya Anggun kemudian.“Arga? Si kentang goreng itu?” tanya Nanda lagi. Gresia hanya mengangguk.“Maksut loe si playboy cap ikan hiu itu?” tambah Anya. Lagi lagi Gresia hanya mengangguk.“Yang pacarnya Lila itu?” sambung Anggun yang masih tidak percaya.“Udah di bilang ia juga."“OMG,” jerit ketiganya serentak.“Loe beruntung banget,” gumam Nanda lagi.“Loe lagi muji atau ngeledek?” geram Gresia.“He he he,” Nanda cuma nyengir. Jelas saja itu ledekan. Beruntung dari mana pacaran sama playboy.“Tapi kok bisa sih? Gimana ceritanya?" Anya tampak antusias. "Ceritanya panjang."“Ya udah pendekkin. Gitu aja kok repot,” Nanda angkat bahu.Kemabli menatap wajah ketiga temannya, Gresai terdiam. Belum sempat mulutnya terbuka, suara bel tanda waktu istriahat berakhir terdengar. “Lain kali aja deh, udah bel tuh. Mending kita masuk kelas aja lagi,” ujarnya merasa lega.“Yah," serentak Nanda, Anya dan Nanda pasang raut kecewa. Sebaliknya Gresia justru malah tersenyum.“Tapi inggat loe harus cerita sama kita,” ancam Nanda sebelum Gresia beranjak pergi dari tempat duduknya.“Nggak janji,” sahut Gresia santai sambil meloyor pergi di ikuti oleh teman-temannya yang masih merasa kecewa.Selama pelajaran berlangsung, Gresia sama sekali tidak bisa konsentrasi mengikuti nya. Pikirannya masih melayang mengingat kejadian tadi malam. Bagaimana bisa kedua orang tuanya merencanakan perjodohan yang menurutnya teramat sangat konyol dan sama sekali tidak masuk di akal. Masih mending kalau ia di jodohin sama Dirga _ Cowok yang selama ini diam-diam ditaksirnya. Tapi ini malah sama si Arga. Cowok yang terkenal playboy, suka mainin cewek plus udah punya pacar lagi. Kurang ngenes apa lagi coba. Saat istirahat kedua, Gresia dengan cepat ngacir meninggalkan kelas sebelum teman – temannya sempat menginterogasi. Ia bahkan memilih ke perpus sebagai tempat persembunyian.“Gue mau ngomong sama loe."Gresia yang sedang asik membaca langsung menoleh ke asal suara yang ada di samping nya. Ia celingak clinguk menoleh ke kanan dan kekiri. Masih tidak yakin kalau orang yang entah sejak kapan duduk disampingnya sedang berbicara kepadanya.”Loe ngomong sama gue?” tanya Gresia setelah yakin kalau tidak ada orang lain selain dirinya.“Loe pikir gue ngomong sama tembok? Udah gila apa?” balas Arga ketus.“Yee, siapa tau. Lagian loe kan emang aneh,” gumam Gresia lirih.“Apa loe bilang barusan?" tanya Arga menaikan alisnya.“He he he. Nggak ada apa-apa kok,” elak Gresia cepet.“Awas loe kalau sampai berani bilang gue aneh."Bukannya takut Gresia justru malah tersenyum. Dengan polosnya ia bertanya. “Lho jadi loe denger?”“Loe pikir gue budek."“Kali aja," gadis itu angkat bahu.“Wah bener-bener loe, tadi undah ngatain gue aneh, sekarang ngataing gue budeg. Berani loe sama gue?” ujar Arga penuh penekanan. Refleks Gresia langsung mengeleng-geleng.“Udah deh, gitu aja di ributin. Tadi Loe bilang ada urusan sama gue. Ya udah ngomong aja."“Nggak di sini. Loe ikut gue,” tanpa ba bi bu Arga meraih tangan Gresia dan menariknya keluar dari perpus.“STOP!” bentak Gresia Kontan Arga menghentikan langkahnya.“Kenapa?” tanya Arga dengan tampang Bete.“Nggak usah pegang-pegang gue segala deh."“WHAT?!”.Gresia hanya memanyunkan mulutnya sambil melirik tajam Kearah Arga.“Loe pikir gue tertarik sama loe?”“Ye siapa tau, loe kan playboy. Kambing di bedakin aja doyan, apa lagi gue yang cantik gini."Arga segera berbalik. Kali ini ia memandang Gresia intens dari kepala sampai kaki. Gresia saja sampai salting di lihatin seperti itu.“Tertarik sama makhluk yang model kayak gini? Ih amit-amit deh,” sahutnya kemudian sambil bergidik.“Maksut loe?!” Gresia merasa tersindir.“Mendingan loe ngaca deh. Rata gitu,” cibir Arga sambil tersenyum mengejek. Tapi sedetik kemudian.“ADUH!” jeritnya.“Mampus loe,” geram Gresia sambil berlalu pergi meninggal kan Arga yang masih kesakitan karena kakinya di injek sekenceng-kencengnya.“Dasar cewek gila. Sarap,” maki Arga sambil terus mengusap-usap kakinya yang masih sakit, sementara Gresia sudah jauh pergi meninggalkannya.“Sial! Tadi gue manggil dia kan buat nomongin masalah kita. Kok malah gue di tinggalin gini. Sambil kesakitan lagi. Awas loe. Tunggu aja pembalasan gue. Argh!"Cerpen Remaja Tentang Aku dan DiaBrugh.“Aduh sory sory sory, gue nggak sengaja."Tanpa melihat siapa yang ditabrak, Gresia segera berjongkok untuk mengumpulkan kertas – kertas ulangan yang berserakan di lantai. Karena sikap ceroboh yang dimilik tanpa sengaja ia menabrak orang.Tepat saat ia berusaha mengambil kertas yang ada di hadapannya, secara bersamaan sebuah tangan juga melakukan hal yang sama. Refleks Gresia menoleh.Deg.Sepertinya lapisan ozon bener-bener sudah menipis dan telah terjadi pemanasan global di mana-mana yang menyebapkan berkurangnya oksigen ( ???) karena kali ini Gresia mendadak merasa sulit untuk bernapas. Matanya terasa silau menatap makhluk yang ada di hadapannya yang tidak lain adalah Dirga. Cowok yang diam-diam di taksirnya.“Dirga?"Lagi-lagi Gresia merasa kesulitan untuk bernafas begitu melihat sebuah senyuman manis yang di lontarkan makhluk di hadapannya.“Aduh sori ya, tadi gue beneran nggak sengaja,” tambah Gresia kemudian setelah berhasil mengatasi gejolak di dadanya.“Nggak papa kok. Kayanya gue tadi juga salah. Soal nya gue jalan tadi nggak liat-liat."Tuh kan siapa coba yang nggak akan jatuh cinta. Dirga itu selain keren, punya senyum yang manis, juga orangnya sopan. “Ya udah gue duluan ya,” pamit Dirga beberapa saat kemudian. Gresia hanya mengangguk sambil terus memandangi punbggung pria itu yang terus berjalan menjauh sampai kemudian hilang dari pandangan.To Be Continue….Next : Cerpen Remaja Tentang aku dan dia part 02Detail cerpenJudul Cerpen : Tentang Aku dan dia ! 01Penulis : Ana MeryaTwitter : @CerpenStarnightPanjang cerita : 1. 387 WordsGenre : RemajaStatus : Complete

  • Cerpen Persahabatan: RINDUKU KENANGANKU

    RINDUKU KENANGANKUoleh: Rica Okta YunarwetiCahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat hidupku lebih berarti. Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran. “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.* * *Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat. Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.“Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?“Aku mencarimu! Kata Diana“Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”“Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.“Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal DianaDengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya dunia di laut lepas. * * * Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan beristirahat.* * * Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.“Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku kan? Kejut Lintang“Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan sikap mereka itu.“Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_“Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..“Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)“Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)“Aku sakit apa? Mana ayah?”“Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”“Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”“Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”“Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”“Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”“Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”“Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"* * * Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.“Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran“Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”“Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran“Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”“Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”“Thengs.. siapa namamu?”“Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.(Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun segera menghampirinya.“Diana, kenapa kamu?”“Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”“Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”“Ii..ia bu.”“Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’“Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya parah.”“Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari“Ibu mau menjenguknya? ““Iya,, nggak apa-apa kan?”“I..ya. nggak masalah.” Semangat DianaIbu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.“Hai, belum pulang?" Sapa Diana“Hmmn. Belum Diana’“Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari“Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana“Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”“Ohh, namamu Lizy ya?”“Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”“Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”“Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit nih..” ajak Lizy“Hhhhaha….” Sambung Diana* * * Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.“Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy“Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil menunduk.Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya“Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”“Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”“Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana“a..ku, sakit Leukimia..”Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan dasinya..“Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian kecewa”“Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva“Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah semuanya membeku.“Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”“Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.“Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari“walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”Suasana berubah menjadi hening kembali..“Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)“Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik mencari uang.“Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang“Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”“ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku stabil”“Cepat sembuh, ya”……* * *Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.Malam ku sepi..Tak sanggup ku mengungkapkanAir mata membendung di kelopak mataku..Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya tersenyum. Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…Kamu_sahabat_TerbaikkuIa simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….3 hari kemudian…Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil bernyanyi.Waktu terasa semakin berlaluTinggalkan cerita tentang kitaAkan tiada lagi kini tawamuTuk hapuskan semua sepi di hatiTeringat di saat kita tertawa bersamaCeritakan semua tentang kitaAda cerita tentang aku dan diaDan kita bersama saat duu kalaAda cerita tentang masa yang indahSaat kitaberduka saat kita tertawaKetika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.“Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”“Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang melukis.”“waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”“Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.“Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus LintangDiana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.“Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana“Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang“Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana“Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”“Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy“Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva“Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha“hhuuhh…”Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.* * * Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual. Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, akhirnya ikut membantu juga.Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak semata wayang orang tuanya. Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.* * * Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.“Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)“Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana“Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas LizyBunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone, suara di seberang membawa berita buruk.Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.* * *“Tak sempat ku berikan Tak sempat ku sampaikan”_LiDiZyVa_ Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.Waktu terasa semakin berlaluTinggalkan cerita tentang kitaAkan tiada lagi kini tawamuTuk hapuskan semua sepi di hatiBelum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan membacanya seperti sedang lomba baca puisi.Sahabatku impiankuCita-citaku imajinasikuBukan hal yang salah memiliki mimpiBukan hal yang salah mempunyai tujuanTujuan seperti sinarKesana lah kita berlariDan untuk itulsh kita hidupTapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukanMembuat kita sulit melihatSehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhentiUntuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri“Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya. “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.“Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai” “Waahh..keren.!”Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.SELESAIKarya : Rica Okta YunarwetiAlamat Fb : Richa Oktaae-mail : icaotana@yahoo.co.id

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 07 / 13

    Oke guys, masih dengan lanjutan dari cerpen Kala Cinta Menyapa yang kini udah sampe di part 07. Cerpen ini kebetulan end di part 13. So buat yang penasaran gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak detailnya di bawah. Untuk yang belum baca bagian sebelumnya bisa disimak disini. Happy reading….“Apa? Jadi loe jadian sama Rei? Gimana ceritanya?” tanya Rani antusias saat mendengar cerita Irma di taman belakang kampus. Seperti biasa, waktu istriahat mereka habiskan untuk santai di taman. Tadinya mau kekantin, tapi batal. Terlebih sepertinya cerita Irma kali ini adalah sesi curhat. Curhat tentang jadian dirinya dengan Rei tepatnya. Dan kalimat kaget Rani barusan hanya di balas anggukan oleh Irma dengan senyum bahagia.“Wah, selamat ya. Apa gue bilang, loe emang naksir sama tu orang. Kenapa kemaren pake sok sokan ngeles segala si?” tambah Rani Lagi. “Yah, abis gue kan malu. Lagian gue juga sama sekali gak pernah menduga kalau Rei ternyata selama ini juga suka sama gue,” terang Irma lirih.“Nah, untuk ngerayain gimana kalau sekarang kita kekantin. Loe traktir gue makan,” Usul Rani antusias.“Kenapa harus gue yang traktir?” protes Irma terlihat tidak setuju.“Masa Gue,” Rani sambil nunjuk Wajahnya sendiri.“Kalau gitu gimana kalau kita bayar masing – masing aja?” Usulan Irma tak urung membuat Rani mencibir sinis kearahnya. Sahabatnya yang satu ini selain matrai bermaterai ternyata juga pelit berperangko (???).“Ya sudahlah. Bayar masing – masing juga gak papa deh. Yang penting kita kekantin yuk sekarang. Asli gue laper banget. Loe sih tadi gue ajak curhatnya di kantin aja pake acara nolak segala,” Rani akhirnya mengalah sementara Irma tampak tersenyum simpul.Tepat saat mereka menginjakan kaki di lantai kantin pandangan keduanya segera terjurus kesekeliling. Rani tampak memberengut sebel saat mendapati tak ada satupun meja yang kosong. Kantin memang sedang rame – ramenya pada jam makan siang. Dan saat ia menoleh kearah Irma, gadis itu juga tampak angkat bahu.“Ya sudah lah . Kita kesini lagi entar. Mendingan kita ketaman aja lagi."“Tapi gue kan lapernya sekarang,” tahan Rani.“Abis gimana lagi. Loe mau duduk di lantai. Udahlah, kita keluar aja dulu. Lagian loe nggak akan mungkin mati kelaparan hanya karena menahan lapar untuk beberapa waktu kedepan,” tambah Irma sambil melangkah keluar kantin, membuat wajah Rani makin memberengut sebel. Tu orang ternyata beneran sadis. Namun tak urung kakinya melangkah mengikuti gadis itu keluar. Kembali ketaman belakang kampus.“Huwa,,,… Irma. Gue beneran laper. Cacing di perut gue udah pada demo semua. Gimana donk,” kata Rani mendrama keadaan begitu keduanya telah duduk dibangku taman. “Jangan lebay,” cibir Irma sinis. Kali ini Rani beneran yakin kalau sahabatnya itu adalah sahabat tersadis di dunia. # Gantian, siapa yang lebay coba.“Nih buat loe. Walau nggak bikin kenyang tapi lumayan bisa buat menganjal perut."Rani menoleh. Terlihat terkejut sekaligus heran. Tampang Irma juga terlihat tak jauh beda darinya saat mendapati entah sejak kapan dan datangnya darimana tau – tau kini tampak Erwin yang berdiri tepat di hadapanya sambil menyodorkan kantong plastik. Sekilas Rani mendapati bayangan Roti didalamnya.“Buat gue?” tanya Rani kearah wajahnya sediri.Erwin tidak menjawab, hanya tangannya sengaja mengoyang – goyangkan plasik yang ada di tangansebagai isarat agar Rani segera menambilnya.“Tumben loe baik?” selidik Irma dengan mata terlihat menyipit kearah Erwin. Kali ini jelas tatapan curiga.Begitu kantong plasik itu telah berpindah tangan tanpa banyak kata Erwin berbalik. Bersiap meninggalkan keduanya kalau saja Irma tidak terlebih dahulu menghadang langkahnya.“Loe belum jawab pertanyaan gue."“Dan gue gak tertarik untuk menjawabnya,” balas Erwin cuek sambil berlalu pergi. “Rani loe kok diam aja si?” tanya irma kearah Rani yang hanya menatap kepergian Erwin yang terus berlalu.Rani hanya angkat bahu tanpa menjawab. Kemudian dengan santai mulai menikmati makanan yang ada di tangaannya. Sepertinya efek lapar benar – benar sangat berpegaruh pada jalan kerja otaknya.“Loe mau nggak?” tanya Rani sambil menyodorkan sekeping roti kearah Irma dengan acuh tak acuh.Irma mengeleng. Bukan saja karena menolak pemberian Rani tapi juga karena tak habis fikir akan sikap sahabatnya yang satu tu. Akhirnya yang ia lakukan hanyalah menonton aktifitasnya. Dan lagi, Irma tidak punya cukup keberanian untuk memakan makanan dari orang yang jelas jelas punya masalah dengannya. Gimana kalau roti tersebut dikasih obat cuci perut atau apalah. Bisa jadi kan? Secara gimanapun ia pernah membuat pria tersebut sebagai bahan gosipannya.*****Begitu Pak Aldo melangkah meninggalkan kelas, Rani segera membereskan buku – bukunya. Beriringan bersama Irma melangkah melewati koridor kampus. Sambil melangkah keduanya sesekali bercanda. Tapat didepan gerbang mereka berpisah. Sejak dulu kan Irma pulang pergi bersama Rei, terlebih sekarang mereka sudah pacaran. Begitu Irma berlalu, Rani segera kembali melangkahkan kaki. Rencananya si mau langsung kehalte bus tumpangannya kalau saja tidak ada sebuah motor yang secara tiba – tiba menghentikan langkahnya. Dan begitu ia menoleh.“Erwin?”“Ayo naik," printah Erwin.“He?” kening Rani berkerut tanda bingung. Erwin ngomong nggak pake intro. Dan lagi, pria itu juga tidak terlihat tertarik untuk menjelaskan, hanya saja ia memberi isarat kearah Rani untuk duduk di belakangnya sembari tangannya menyodorkan sebuah helm.“O,” dengan kapasitas sistem kerja di otaknya, Rani hanya mengangguk paham. Tanpa bertanya lagi ia segera duduk dibelakang Erwin. Saat motor telah kembali melaju barulah mulutnya kembali terbuka untuk bertanya. “Memangnya kita mau kemana?."“Loe sendiri mau kemana?” bukannya menjawab, Erwin malah balik bertanya. Kebiasan kebanyakan orang memang begitu.“Ya pulang donk,” sahut Rani spontan.“Ya sudah kalau begitu. Terus ngapain loe nanya."Kalimat itu tak urung membuat Rani kesel mendengarnya. “Abis gue bingung. Kan kali aja loe mau bawa gue kemana gitu," sambungnya setengah bergumam.“Kalau loe emang bingung terus kenapa tadi nggak nanya. Malah main duduk aja."“Iya ya… bener juga. Kenapa tadi gue langsung nurut ya?” tanya Rani lebih tepat kalau di tujukan untuk dirinya sendiri.Erwin hanya terdiam sambil mengeleng pelan. Apa memang gadis itu polos atau dodol ya?. Entahlah, sepertinya ia yang dodol karena mau dengan suka rela mengantarnya.“Tapi Erwin, kok tumben si loe baik? Mau maunya gitu nganterin gue?” tanya Rani tiba – tiba.Erwin terlihat bingung, tidak tau harus menjawab apa. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tau, kenapa tiba – tiba ia berniat untuk mengantar gadis itu pulang kerumahnya. Yang jelas itu semua terjadi dengan sendirinya.“Pasti karena di suruh sama nyokap loe kan?” tanya Rani lagi.“Eh?”“Soal kemaren itu, gue beneran nggak tau kalau tante Sania itu nyokap loe. Gue itu kemaren memang nggak sengaja ngeliat nyokap loe pas keserempet mobil. Karena kebatulan pas kejadian gue memang ada di sana. Karena kelihatannya nyokap loe sendirian dan disana yang pada nolongin juga nggak ada yang kenal, ya sudah gue langsung bawa aja ke rumah sakit. Terus gue sekalian antar kerumah. Eh sekali tiba di rumah nggak taunya dia ternyata nyokap loe. Tapi walaupun begitu, loe nggak harus kok nganterin gue pulang kuliah segala. Secara nyokap loe kan kemaren juga udah bilang ma kasih,” cerocos Rani panjang lebar tanpa sempat memperhatikan reaksi Erwin sekalipun yang terlihat hanya diam sambil terus memandang kedepan. Memastikan motor yang mereka kendarai bisa mencapai tujuan dengan selamat.“Oh ya, tapi nyokap loe baik baik aja kan?” tanya Rani lagi.“Baik,” sahut Erwin singkat.“Syukurlah kalau begitu,” Rani terlihat lega. Namut sedetik kemudian semuanya berubah digantikan raut kebingungan saat mendapati arah motor Erwin yang membelok kesalah satu restoran bertuliskan “Sari Bumbu”.“Erwin, kita mau ngapain disini?” tanya Rani begitu turun dari motor.“Mau kerja."“HA!” Rani melotot kaget.“Ya mau makan lah. Loe laper kan?”"O," kali ini Rani mengangguk. Ngomong – ngomong soal makan, perutnya tiba – tiba terasa lapar . Terlebih lagi ia memang belum makan siang sementara jarum jam di tangannya sudah menunjukan pukul 2 siang. Sedari tadi perutnya hanya di isi sepotong roti dari Erwin. Gara – gara tadi keasikan ngegosip bersama Irma ia sampai lupa untuk kembali kekantin karena mata kuliah selanjutnya sudah harus di mulai.“Erwin, loe yakin mau makan di sini?” bisik Rani lirih begitu kakinya menginjakan lantai restoran berlabel ‘Sari Bumbu’ itu. Berbeda dari bangunan luar yang terlihat sederhana. Bagian dalamnya ternyata benar – benar di desain dengan elegan. Di mulai dengan barisan depan yang terdiri dari aneka jajan pasar sampai berbagi buah, aneka bubur lengkap dengan Es buahnya, ruangan bagian tengah penuh dengan gado – gado, sementara kiri dan kanan Makanan dengan aneka hidangan sepesial yang mengugah selera. Ada nasi, Lengkap dengan lauk pauknya yang di atur berjejer membentuk lingkaran. Sementara tamu yang datang bebas untuk memillih dan mengambil makanan sepuasnya. Sekilas Rani menoleh kesekeliling. Astaga, rata – rata tamu nya orang asing semua. Mulai dari orang cina, melayu, bule bahkan ada yang korea. Sepertinya mereka semua turis yang datang untuk makan siang. Sementara pelayanan nya juga terlihat ramah. Mana cowok – cowok keren lagi #Gubrak….. Benar – benar merasa seperti makan di hotel berbintang. ^_^“Kalau loe mau makan, silahkan ambil sepuasnya. Tapi kalau memang enggak dan begong aja mendingan loe tunggu di luar,” sahut Erwin sambil mulai menyendokan nasi kepiring yang ada di tangannya sebelum kemudian beralih kearah aneka masakan yang entah apa namanya. “Beneran nie, gue boleh ngambil apapun yang gue mau?” tanya Rani masih terlihat ragu.“Loe abisin semua makanan disini selama perut loe muat juga nggak masalah. Toh loe makan sedikit atau makan banyak bayarnya tetep sama per pax nya,” terang Erwin tanpa menoleh.Mendengar itu tanpa pikir panjang Rani segera meraih piring yang ada di dekatnya. Dan pada menit berikutnya, piring kosong itu kini sudah terisi penuh. Erwin terlihat sedikit bengong melihatnya. Ini cewek apa kingkong ya. Porsi makanya banyak amat. “Alhamduliah… Kenyang,” kata Rani sambil mengelap mulutnya dengan tisu.“Justru kalau loe bilang masih lapar gue nya yang heran,” balasan Erwin tak urung Rani memberengut sebel walau dalam hati ia tetap membenarkan ucapannya. Kalau sampai ia masih merasa lapar pasti lambungnya sedang bermasalah. Bagaimana bisa meja yang seharunya muat diisi untuk delapan orang kini di pake hanya oleh mereka berdua. Mulai dari piring nasi, mangkuk sup, ditambah dua mangkuk bubur, belum lagi mangkuk es campur, piring buah, dan piring aneka jajan pasar. Masih di tambah lagi gelas jus dan air mineral. Ck ck ck, Perutnya terbuat dari apa si?“Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang,” ajak Erwin sambil bangkit berdiri.“He he he, Makasih ya. Kapan – kapan kalau loe mau makan disini ajak gue lagi ya. Gue belum nyicipi tuh makanan di sebelah sana,” balas Rani ikut bangkit berdiri sambil matanya terus mengawasi menu yang tidak sempat di jamah olehnya. Erwin hanya mengeleng melihat ulahnya. Setelah membayar makanan di kasir, keduanya segera berlalu pulang.Next to Cerpen Cinta Romantis Kala Cinta Menyapa part 08Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.659 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen Kenangan: PUPUS

    “Pupus”oleh: Zahrina OktavianaHari itu aku keterima di SMA favorit pilihanku. Seneng saat itu ku rasakan, aku jadi tak sabar ingin rasanya aku ingin menginjakan kakiku di kelas yang baru dengan suasana baru.Senin 08 Juli 2011, hari pertama aku masuk sebagai siswa berseragam putih abu-abu. Aku kira dikelas yang baru ini aku akan mendapatkan sesuatu yang baru, tapi ternyata sama saja, menurutku lebih enak jadi siswa smp kalau begini jadinya. Huh, hari-hariku jadi bosan dan bosan. Tapi dengan hal tersebut aku jadi berpikir bahwa aku harus menjadi seseorang yang menyenangkan agar bisa bergaul dengan teman-teman baruku disini. Alhasil aku pun berhasil, aku sekarang udah punya banyak teman , gak seperti dulu yang membuatku merasa bosan dengan masa SMA. Hari berganti hari aku semakin akrab dengn teman-teman semua. Kecuali satu orang cowok namanya Tian. Mungkin di kontakku hanya nama Tian yang tidak tercantum. Huh, lagian jadi cowok kok aneh banget, kalau dibilang pendiem sih enggak, tapi aneh aja gitu. Senangnya menyendiri.### “aduh, ulangan sosiologi bab berapa aja sih ya?’’ kataku sambil membolak balik buku “oh ya, kok aku gak kepikiran sms si Ade sih” lalu aku mengambil hp ku dan mengetik beberapa kata buat si ade. Tak lama kemudian ringtone hp ku berbunyi dan tandanya ada sms masuk”tanya Tian aja, dia yang tahu, kan dia yang disuruh nyebarin, ni tak kasih nomernya 08976718###”Yah terpaksa aku harus tanya dia, hitung-hitung juga buat nyimpen nomer dia dihapeku. Ternyata dia anaknya asyik juga yah, sampai sampai kita smsn berlarur-larut. Padahal besok ulangan sosiologi tapi malah smsn gak jelas sama Tian. Hahaha Keesokan harinya , waktu ulangan kita berdua saling mencontek. Soalnya kita berdua sama-sama gak belajar. Hahaha. Sejak saat itu Tian yang awalnya aku kira cowok aneh sekarang semakin akrab denganku. Dia itu caper banget sama aku seolah-olah ingin mencuri perhatianku. Setiap aku ingin jalan selalu dia menghalangi dengan tingkah-tingkah konyolnya. Gak penting banget pokoknya.Aku merasa berbada dengan kelakuannya. Kelakuannya itu kadang membuat aku sebel tapi kelakuannya itu juga ngangenin. Lama-kelamaan timbul rasa yang berbeda ketika aku menatap matanya. Aku juga merasa berbada ketika dia menatap mataku. Apa mungkin aku menyimpan sasuatu sama dia?### “ciye, ihir jadian ya sama Tian, makan-makannya mana?” goda Ade kepadaku “jadian? Ngaco kamu deh”“alah via, kamu jangan bohong deh, sekelas juga udah pada dengaer gosip itu. Asyik ni ye tiap hari ketemu terus” What? Gosip? Gawat ni ternyata kedekatan aku ama Tian muncul gossip seperti itu. Tapi no problem aku malah seneng digosipin pacaran sama Tian tapi kalau Tian entahlah. ### Aku semakin yakin, bahwa rasa ini bukan rasa biasa. Aku selalu menanggap kalau Tian juga suka sama aku. Mungkin benar, bahwa aku benar-benar suka sama si Tian. Tian dan Tian yang ada di pikiranku.“Ar, ari kayaknya Tian suka deh sama aku” aku curhat pada Ari“emang kamu yakin, belum tentu lho, dia kan playboy” jawab Ari“beneran kok, buktinya dia caper banget sama aku. Eh Ar, jujur aku suka Tian walaupun Tian gak tahu bagaimana perasaanku padanya, tapi aku selalu berpikir kalau aku bisa bersamanya”“ aduh, ciye semangat banget kamu vi, iyadeh aku dukung kamu”### Hampir 1 tahun aku sekelas sama dia, dan sampai sekarang dia gak tahu perasaanku yang sebenarnya ke dia. Bentar lagi kenaikan kelas, otomatis kita berdua akan pisah kelas. Jadi aku berharap kelakuan Tian yang nggemesin itu gak berubah. Ternyata benar kita berdua pisah kelas, dia di 11a dan aku di 11b. Tapi gakpapa selagi masih berdekatan. Aku kan bisa modus ngeliat dia setiap saat, hehe. Dia sekelas sama Ari, yah kalau boleh tukeran kelas sih, aku mau tukeran sama Ari. Makin lama kelakuan capernya makin bnzertambah ke aku, aku tentunya seneng dong. Kita berdua itu deket banget. Dia sering nyamperin aku ke kelas, Ngirim sms ke aku, wall to wall di facebook, sampai hal konyol di sekolahan. Pernah saat itu aku di isengin di kelas, dia sengaja mendorongku ke tempat sampah sampai hamper terjatuh, tapi tanganku dipegangin dia. Oh so sweet banget. Walaupun rasa ini masih terpendam. Gak masalah deh, walaupun rasa ini masih terpendam dan mungkin dia gak akan pernah tau selamanya, tapi aku masih sengeng setiap ngeliat dia tersenyum. ### “Tian diluar gak ya, biasanya dia sama Kevin dan bagus diluar, coba ah modus aja” Ketika aku keluar kelas, ternyata benar dia diluar kelas. Tapi yang aku lihat dia lagi bareng Ari, keliatan akrab banget. Entah kenapa saat itu aku cemburu banget, ketika aku akan menjauhi mereka terdengar suara memanggilku.“Via, bentar. Kata Ari kamu suka sama aku. Kata dia kamu sering cerita aku ke dia. Katanya kamu suka sama aku?” pertanyaan yang seolah-olah sangat menusuk di dadaku.Waktu itu aku tak bisa berkata apa-apa, aku serasa benci dan benci banget sama Ari. Mengapa dia tega menceritakan semuanya pada Tian. Ku kira dia sahabat, tapi sekarang dia berkhianat. Hah, ingin ku refresh otak ini, dan lupakan semua tentang Tiaaaaann. Tapi sayangnya itu sia-sia.Sakit sakit dan sangat sakit, mengapa Tian harus tahu dengan cara seperti ini. Akhirnya aku akan putuskan untuk mencoba melupakan Tian.“TIAAAN, AKU GAK PERNAH SUKA SAMA KAMU, ARI BOHONG, AKU GAK PERNAH SUKAA” aku mencoba bilang sama Tian, walaupun sebenarnya kata-kata itu beda jauh sama perasaanku. Aku terpaksa bohong sama dia, dan itu sangat sakit kurasakan.### Sejak saat itu aku mencoba melupakan Tian, aku cuek banget sama dia. Sampai akhirnya Tian punya pacar baru, dan aku mencoba sabar. Mencoba menerima walau hati ini menangis. Mungkin kenangan dulu hanya akan menjadi debu yang terbang ditiup angin. Tapi entah mengapa saya sering memimpikannya.Aku mencoba tersenyum dihati yang luka ini. Lebih parah lagi, Ari sahabatku sekarang ingin membuat aku cemburu. Setiap aku buka beranda atau timeline, selalu dia dan Tian wall to wall dan saling mention bareng, apalagi mereka berdua seperti pacar yang sedang dimabuk cinta. Tentunya hal itu membuat aku cemburu. Aku tahu si Ari hanya pura-pura. Belum lagi Ari mengupload fotonya bersama Tian di facebook sebagai foto profilnya, begitupun dengan Tian. sampai saat ini Tian belum tahu perasaanku, dan mungkin akan tersimpan selamanya. Aku menyesal dulu telah bilang bohong ke Tian. Sekarang sudah Pupus harapanku. Cintaku ini hanya bertepuk sebelah tangan. Tian aku sayang kamu, aku kangen kenangan kita dulu.Mungkin benar kata orang “jika mencintai orang lain secara diam-diam, pada akhirnya hanya akan mendoakannya serta akan merelakannya”. *****Nama : zahrina oktavianaFb : Zahrina OktavianaTwitter : @oktavianaarin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*