Cerpen cinta Love is mocca last Part

Cerpen cinta love is mocca part end. Sory ya All, cuma tinggal ngepost aja lama apa lagi bikin. he he he….
Oy ya, Cerpen cinta love is mocca ini adalah cerpen kiriman reader star night.
Untuk part sebelumnya kalian bisa baca di sini…
-} Cerpen cinta love is mocca part 1
-} Cerpen Cinta love is mocca part 2
Happy reading ya…
Harus aku akui bahwa aku hadir menjadi perusak dalam hubungannya dengan Vhiand, lelaki yang mampu membuat Ocha jatuh cinta, membuat Ocha melupakan sejenak tentang aku. Aku memang belum pernah bertemu langsung dengannya tapi aku sering melihatnya menjemput Ocha, sehingga membuatku mengiringi kepulangan Ocha dengan tatapan tak rela dan cemburu sedangkan aku hanya mampu menghela napas panjang. Aku melihat bagaimana cara Vhiand memandang Ocha dengan sarat ketulusan, ya cinta yang tulus dan menjanjikan kebahagian. Ya aku tau itulah yang membuat Ocha luluh dan menerimanya.
Aku sendiri juga belum mengerti bagaimana perasaan Ocha sebenarnya kepadanya dan juga kepadaku. Tapi aku hanyalah orang dari masa lalunya, orang yang telah menghilang bertahun-tahun, aku takut persaan yang dia miliki untukku hanya sebuah fatamorgana yang ketika pudar malah membuatku hancur. Aku juga ga bisa terus-terusan disamping Ocha meskipun aku sangat ingin.
Aku cukup sadar dengan apa yang aku rasakan saat ini, ya harus aku akui bahwa aku benar-benar mencintainya. Memandangnya setiap hari membuatku perih karena tak bisa memilikinya dan hanya bisa memandang tanpa menyentuhnya. Ya terkadang aku menciptakan jarak dengan dia, ternyata malah menyakitiku sendiri. Dasar bodohh…teriakku dalam hati setiap kali aku melihat matanya mengernyitkan tanda Tanya ketika aku menjauh atau menghindar, matanya menunjukan keterlukaannya dan membuatku mengutuk diriku sendiri karna kebodohan aku menciptakan luka baginya.
“Ojjjjjiiiiiiiiiiiiii!!!!!” sebuah teriakan yang membuatku kaget dan menutup telingaku karna saking kencangnya suaranya. Oh My God aku lupa kalo aku lagi sama Ocha.
“Ya ampun Ocha lo mau bikin gue budeg yaa??” tanyaku sambil mengelus dada. Sedangkan dia hanya menunjukkan wajah cemberutnya.
“Lagian kamu dari tadi Cuma bengong aja bahkan ga dengerin aku ngomong! Aku kan kesel dikacangin, ditinggal bengong! Hufft tau gitu aku tinggal pulang ta CUUPZZ!!”langsung kukecup bibirnya dan membuatnya langsung terdiam. Pasti dia bakal panjang kali lebar luasnya. Terlepas dari keterkejuttannya perlahan wajahnya mulai meremang dan memerah, sangat merah seperti tomat. Lucu banget ya ampun. Aku Cuma bisa tersenyum sambil menahan tawa yang siap meledak kapan saja.
“Ozzy itu first kiss gue. Kamu curang nyolong ihhh!!”semburnya sambil menahan malu. Wahhh ternyata itu first kiss dia, hahaha aku beruntung banget.
“Wah sama donk Cha, mau lagi nggak biar ada second kiss, third kiss..!!” godaku yang semakin membuatnya memerah.
“Ozzy, genittt ihh!!” ucapnya sambil memukuli badanku dengan tangannya.
“Hahaha berarti mau lagi donk, sini donk, sayankku!!!”tiba-tiba dia langsung memencet hidungku tanda gemes. Aku Cuma bisa tertawa sambil memegang tangannya yang masih tetap memegang hidungku dan memencetnya semakin keras membuatku kesulitan bernapas.
“Ampun-ampun Cha, iya nanti aku minta ijin dulu deh kalo mau ngasih second kiss!!!”sahutku kemudian.
“Kamu tu genit banget sih?? Emang udah berapa cewek yang udah pernah kamu cium di Surabaya dulu!” ucapnya mulai terdengar serius bahkan ia melepaskan hidungku, dan aku kembali bisa bernafas dengan bebas. Entah mengapa aku mendengar seperti nada cemburu dalam pertanyaannya.
“Ada Cha 1 cewek yang sering aku cium, yang aku sayang juga. Aku ketemu ma dia hampir tiap hari, dia juga malaikat penolong aku!”sahutku sambil memperhatikan wajahnya yg mulai keruh menandakan kesedihannya. Membuatku ingin kembali tertawa mengingat bahwa sosok yang aku ceritain adalah mama yang berarti bundanya dia juga.
“Pasti dia cantik banget ya, dia cewe yang sempurna pastinya?”terdengar nada menggantung dari ucapannya.
“iya dia cantik dan sempurna banget dalam hidupku!”jawabku sambil menegaskan. Kulihat matanya mulai terlihat berkaca-kaca. “Emangnya kamu gak ingin tau siapa orangnya??”tanyaku kemudian
“Walaupun aku Tanya aku pasti juga gak akan kenal!”ucapnya mulai menunduk.
“Namanya Alida, tapi aku manggil dia Mama dan kamu manggil dia Bunda!!”sejenak kulihat dia mengernyit menunjukan tanda Tanya yg khas yang selalu ia lakukan, dan mukanya berubah merah aku langsung tertawa ngakak. “Kayaknya ada yang cemburu tuu sama mama!!” godaku yang langsung berdiri dan berjalan meninggalkannya sambil tertawa.
“Ojjiii kamu ngerjain aku ya???” teriak Ocha sambil menyusul dan berlari mengejarku.
“Hahahaha, baru nyadar kamu???wkwkkwkwk!!”aku berlari mundur sambil menunggunya. Karena focus berlari bahkan dia menginjak tali sepatunya sehingga ia jatuh diatasku dan cup, yess aku dapat second kissnya.
“Bruugghhh !!” Kita terjatuh diatas rumput, dan ciuman ini terasa lebih lama dan manis.
Wajahnya merah padam ketika dia mengangkat wajahnya.
“Lho katanya tadi ga mau lagi??”godaku sambil memeluk lehernya agar dia tak kemana-mana. Tapi dia tak menjawab apa malah dia hanya menatap mataku, aku sudah ga tau udah berapa lama jantung berdetak lebih kencang dan aku juga bisa merasakan hembusan napasnya, aku terpaku memandang wajahnya kecantikannya seperti membiusku agar tidak berpaling menatap yang lain, mata coklat itu, hidung bangirnya, bibir pinknya yang merekah, pipinya yang cubby. Astaga kenapa aku baru sadar dia secantik ini sekarang. Semua terlihat lebih indah ketika dilihat dari dekat.
Wuusssshh” Tiba-tiba dia meniup mataku, dan membuatku mengerjap dan terkejut atas tingkahnya.
“Kena Kau?”ucapnya sambil terkikik dan bangun,”Baru sadar ya kalau aku cantik ya!” godanya seakan-akan dia tahu apa yang aku fikirkan. Dan aku merasa wajahku yang memerah karena malu.
“1 sama ya beib??”dia tertawa renyah dan membuatku ingin mencubitnya karna saking gemesnya.
#OCha@
Hahahaha emangnya Cuma kamu doank yang bisa ngerjain aku. Aku memang ga bisa bohongin diri aku sendiri bahwa jantungku selalu berdetak lebih kencang ketika berada didekatnya letupan-letupan itu rasanya selalu menjadi bom waktu. Dan hufffttt my first kiss dia yang mendapatkan, dulu Ka Viand selalu ingin melakukannya tapi aku selalu menolak, dan sekarang first kiss ku diambil Oji. Jantungku serasa akan melompat ketika bibirnya menyentuh bibirku. Membuatku speechless dengan tindakannya. Hal yang ternyata menyenangkan sekali,,,merasakan tangannya melingkar dileherku, selalu membuatku merasa nyaman dan aman. Manik matanya yang berwarna hitam, pesonanya memang selalu memancar tak heran dia menjadi idola sekolah menyaingi Igo. Dan kepiawaiannya bermain basket dan futsal tak diragukan lagi. Belum lagi bakatnya di music, dari vocal, drum, piano dan gitar semua dia kuasai. Ya multi talent.
Aku merasakannya ketika ia mulai menjauhiku, aku mengerti akan posisinya. Aku sampai saat ini memang belum memutuskan Kak Viand tapi aku harus menjelaskan semuanya, siapa Oji kenapa aku sering banget pergi bareng Oji. Kenapa aku mulai sering mengabaikan Kak Vhiand. Mungkin hari ini aku harus menjelaskan semuanya, aku memang menyayanginya tapi rasa cinta yang kumiliki untuk Kak Vhiand memang tak sebesar perasaan yang kumiliki untuk Oji.
@Vhiand@#
Aku menyadari perubahan sikapnya semenjak aku mengajaknya ke taman itu. Sikapnya yang berusaha menjauh menciptakan jarak antar kami. Hingga kemudian hadir seseorang bernama Oji yang ku tahu hanyalah dia teman sekelasnya. Tanpa ada penjelasan apa pun dari Ocha dia perlahan menghilang, pijar mata bersinar ketika bertemu dulu sekarang berubah menjadi pijar kesedihan. Aku ga bisa membaca pikirannya atau pun mengerti isi hatinya. Rentangan jarak yang ia buat memang tak selebar lautan luas Samudra Atlantik tapi rentangan itu cukup untuk menghancurkan aku.
Cinta yang aku pupuk lebih dari 2 tahun seolah tidak bermakna lagi dimatanya. Perhatian-perhatian yang aku berikan kini terasa tak berarti dimatanya, bahkan ajakanku untuk menjemputnya pulang sekolah selalu diabaikan. Dengan alasan aku pulang bareng Oji. Siapa sebenernya Oji itu?? Itu yang selalu membuatku bertanya-tanya.
Drrttt drrrttt! Siapa ya yang telp?
My Little Moccha calling. Hah panjang umur dia baru juga difikirin dia udah telp. Hufftt betapa aku merindukannya.
“Hallo Cha,”jawabku lembut.
“Kak ada yang pengen Ocha bicarain sama kakak. Aku tunggu kakak di Rainbow Café ya 1 jam dari sekarang.”jawabnya kemudian.
“Kamu mau aku jemput Cha?tanyaku kemudian. Entah mengapa jantungku berasa berdebar lebih kencang. Ada perasaan takut terjadi sesuatu yang menyelinap perih mendengar cara bicaranya yang terdengar serius. Tidak seperti Ocha biasanya yang terdengar santai dan manja.
“Gak usah kak, kita ketemuan disana aja ya!”jelasnya singkat.
“Ya udah sampai ketemu nanti ya My little Mocha, miss you.!”jawabku dan langsung dimatiin olehnya. Sakit rasanya ketika ia tiba-tiba memutuskan telepon begitu saja.
1 jam kemudian.
Kulihat dia sudah duduk gelisah disamping kaca yang menghadap ke jalan, ya tempat favoritnya. Tapi ga bisa menutupi kegelisahan di wajahnya. Dan kulangkahkan kakiku ke arahnya.
“Cha udah lama, datangnya?”sapaku dan langsung duduk di depannya. Dia kaget melihat aku udah berada dihadapannya.
“Duduk kak!”jawabnya dan kulihat di depannya Cuma ada juss apel yang masih utuh, tidak ada rainbow cake yang biasanya ia pesan atau cupcake kesukaannya. Kenapa kamu sebenarnya Cha. Aku langsung duduk di depannya. Dia hanya terdiam, aku pun juga tak bersuara. Aku merasa asing dengannya, rasanya seperti ketika bertemu dengannya pertama kali. Dan kali ini aku sadar dia telah mencabut tunas cinta yang pernah aku tanam dihatinya.
“Maafkan aku kak!” ucapan lirih itu keluar dari bibirnya membuatku luruh seketika.
“Kenapa kamu minta maaf?”
“Aku mau jelasin ke kakak semuanya hari ini, aku gak mau terlalu jauh bikin kakak kecewa sama aku. aku yakin kakak ngerti bagaimana perasaan aku ke kakak selama ini sebesar apa. Kakaklah orang yang pertama yang mampu mengalihkan fikiranku dari dia kepada kakak, kakak yang begitu gigih ngeyakinin aku dan mampu membuatku luluh dengan semua perhatian dan cinta yang kakak berikan, aku ucapin terima kasih. Kakak telah mengisi hari-hari sepiku dengan tawa bahagia dengan penuh kejutan-kejutan kecil yang selalu kakak berikan.” Kemudian dia mengambil jeda seakan memberiku kesempatan untuk memahami apa yang dia katakana.
“Siapa Oji Cha??” tanyaku tanpa menunggu lama lagi.
“Dia cinta pertamaku dari aku umur 7 tahun dan kami berpisah selama 10 tahun. Dia adalah orang yang selama ini aku tunggu selama 10 tahun hingga kaka datang membuatku sejenak melupakannya. Hanya melupakannya sebentar. Dan ternyata cinta itu hanya tersembunyi rapat dalam hatiku, hingga ketika ia datang dia dengan perkasa tumbuh begitu cepat dan membuat tunas yang baru tumbuh itu layu begitu saja. Aku yakin kakak udah tau soal masa lalu itu.” Kulihat tatap matanya yang mulai berkaca-kaca dan menetes kan air matanya.
“Aku mengerti Cha, aku terima semua keputusan kamu! Kalaupun kita harus berpisah sampai disini, aku cukup bahagia karna bisa mengenalmu. Aku bahagia karna mencintaimu. Dan aku akan lebih bahagia lagi kalau kamu bisa bahagia dengannya, cinta yang begitu besar yang selama ini kamu pupuk hingga 10 tahun. Aku ga pernah nyangka ada sedemikian cinta yang hebat yang bisa kamu pertahanin 10 tahun.!” Jawabku sambil tersenyum. Ya aku sangat terkejut mendengar semua penuturannya, dia benar-benar wanita yang hebat, belum pernah ada cewe yang kukenal sehebat dia, cinta yang begitu tulus dan begitu besar.
“Kakak juga hebat kok.! Kakak adalah orang terbaik yang pernah aku kenal. Kakak sangat baik, pasti suatu hari nanti akan datang bidadari yang akan datang buat ngasih cintanya buat kakak.!”
“hahhaahah, jaman sekarang mana ada bidadari Cha?”sambutku sambil mengacak-acak rambutnya.
“Ada kok, ne buktinya salah satunya ada di depan kaka bidadari Mocca!” ucapnya sambil mengedipkan matanya. Dan aku langsung tertawa menatapnya.
“Kalo kamu ma devil kale..!”sahutku sambil tertawa. Dia memang hebat sanggup mempengaruhi suasana hati orang. Aku bahagia pernah menjadikanmu bagian dari hatiku Cha. ILOVE YOU CHA!!
### OCHA###
Yeah akhirnya , akhirnya aku dapat ngomong sama Ka Vhiand, rasanya lega banget dan ga diliputi rasa bersalah lagi. Apa kata Ozy ya kalau dia tau aku udah cerita sama ka Vhiand, hehehe pengen banget ngasih surprise buat dia. Kira-kira apa ya. Aku bikin rainbow cake ahh, trus aku nanti langsung kerumahnya.
Akhirnya jadi juga rainbow cake buatanku. Aku segera ke jalan untuk naik taxi, aku lagi males bawa mobil sendiri. 15 menit aku nyampe disana, ko tumben pintu pagar dan pintu rumahnya ke buka. Aku berjalan perlahan sambil menenteng cakenya. Begitu aku masuk,
DEGGG!! Hatiku rasanya sakit banget seperti layaknya dihujam ribuan jarum tajam, pemandangan yang seketika membuat mataku berkaca-kaca. Kulihat dia tengah memeluk seorang cewe dan mencium kening cewe itu. Cewe yang ga aku kenal.
PRaaakkk!! Tanpa sengaja aku menjatuhkan cake yang kubawa tadi, air mataku sudah berjatuhan. Siapa gadis itu, kenapa wajah Ozy terlihat bahagia banget. Apakah dia kekasih yang dia tinggalin di Surabaya. Dan kulihat mereka serentak menoleh ke arahku secara bersamaan, kulihat wajah terkejut dan berganti wajah ceria. Dengan segera aku menghapus air mataku.
“Maaf aku ga tau kalau sedang ada tamu!” ucapku sambil mengambil rainbow cake yang tadi tanpa sengaja aku jatuhkan.
“OCHA!!” jerit kecilnya, lalu menghampiriku dan berjongkok disampingku membantu mengambil cakenya. “Kamu kok ga bilang mau kesini, aku kan bisa jemput kamu!”ucapnya dengan innoncent.
“Gapapa, maaf aku gatau kalau kamu lagi ada tamu! Aku pulang aja!” ucapku langsung berdiri dan hendak berbalik badan tapi tanganku di pegang olehnya.
“Kok pulang sih, sini dulu aku mau kenalin kamu sama seseorang!” ucapnya ceria, dia itu bego atau gimana sih ga tau apa aku udah cemburu gini malah mau dikenalin ke aku.
“Kak Rena sini!”panggilnya kepada gadis tadi. Hah siapa tadi dia bilang Ka Rena, itu kan Kakaknya Ozy, ya ampun kok aku bisa lupa sih dia punya kakak Cewek.
“Siapa Zy?”Tanya Ka Rena pada Ozy sambil berjalan menuju arah kamu, waahhh tiba-tiba wajahku seakan memanas aduh please jangan merah dulu. Ahh ne wajah ga bisa di control ne.
“Ini Ocha Kak, Cha ini Kak Rena masih ingetkan?”tanyanya sambil memandangku. Dan dia menyadari perubahan warna wajahku, ya dia tau aku malu.
“Kok wajah kamu merah Cha? Jangan bilang kamu tadi cemburu sama Ka Rena Cha” tebakannya benar 100 persen. Wajahku bertambah merah. Dan aku pun langsung memeluknya dan menyembunyikan wajahku di dadanya yg bidang.
“Ya ampun Ocha, kamu udah segini gedenya?”ucap Ka Rena sedangkan Ozy masih tertawa. Aku menarik wajahku dari dadanya dan dia sendiri masih tergelak menertawaiku.
“Iya Kak, maaf ya Kak aku ga tau kalau kakak disini! Hehehe!” ucapku sambil meringis.
“Udah sih Zy ketawanya, kasian Ocha tuh, mukanya udah merah begitu! Hei kamu bawa apa Cha?” ucapnya sambil menarik tanganku dan menjauh dari Ozy yang masih ketawa.
“Aku bawa rainbow cake ni, kak. Buatan aku sendiri tapi!”jawabku kemudian.
“Wah pasti enak banget ya, buat Ka Rena semua ya?? Ozy gak usah dibagi ya!”ucapnya sambil mengeraskan suaranya agar Ozy mendengar perkataannya.
“Ka Rena itu kan buat gue! Enak aja!”teriak Ozy yang langsung menyusul ke sofa.
Dan aku cuma bisa tersenyum kecil melihat tingkahnya. Hufftt aku fikir gadis itu, ahh aku merasa malu sendiri jika mengingatnya.
“Ya udah Cha kakak kedalam dulu ya, pengen istirahat kakak baru sampai dari Melbourne!” dan ku jawab dengan anggukan kepala. Tak lama kemudian Ka Rena beranjak naik ke lantai atas. Sedangkan Ozy memfokuskan pandangannya ke arahku.
“Kamu kenapa ko tumben ga ngabarin aku dulu?apa ada masalah?”tanyanya mulai merubah arah pembicaraan kami agar lebih serius.
“Aku udah putus, Zy!”ucapku perlahan namun aku yakin dia mendengarnya dengan jelas.
“Ka kamu putus sama Vhiand??”tanyanya dengan wajah yang berubah keruh. Terlihat rasa bersalah itu timbul juga dari wajahnya, aku tak mengerti apa yang dipikirkannya. Kenapa dia malah sedih? Bukankan seharusnya dia malah bahagia? Apa keputusan aku salah?
“Iya aku udah putus ama Ka Vhiand, aku udah jelasin semua ke dia, semua yang terjadi diantara kita!”jelasku kemudian.
“Aku gak tau aku musti seneng atau gimana, tapi yang pasti aku merasa bersalah sama Vhiand. Aku ngerasa seolah-olah aku ngrebut kamu dari dia!” dia hanya menunduk. Aku terdiam, merasa bodoh. Tapi aku melakukannya karna aku mau jujur sama diri aku sendiri.
“Aku Cuma mau cerita sama kamu, tapi kalau itu salah dan malah bikin kamu merasa bersalah! Aku minta maaf, bukan aku yang mutusin dia tapi kami sepakat buat ga sama-sama lagi.!” Dadaku rasanya sesak sekali melihat reaksinya, apakah mungkin dia emang udah ga cinta sama aku lagi. “Ya udah aku pulang dulu!” ya aku ga nyangka reaksi dia sedatar ini. Aku beranjak bangun dan menuju pintu, dan kutoleh dia. Tapi dia tetap tak bergeming.
Tiba-tiba kurasakan dekapan hangat memelukku.
‘Jangan pergi gitu aja, aku gak mau kehilangan kamu lagi! Maafin sikap aku tadi yah Cha!!”ucapnya perlahan. Aku berbalik dan melepaskan pelukannya.
“Emang siapa yang mau pergi, aku Cuma mau cari angin aja kok!” jawabku sambil cengengsan dan menatap matanya.
Cup!!” tiba-tiba dia mencium bibirku dan berkata perlahan “I Love you!”. Terasa sangat manis dan indah.Tiba-tiba aku melihat kilatan blitz,
“Cie cie romantis bangett dahh!” ucap Ka Rena yang tentu saja membuatku malu.
“Iya donk Kak!” jawab Ozy sambil merangkul pundakku.
“Udah resmi ni kak!”sahutnya lagi sambil menarikku ke luar. “Aku anter dia pulang dulu ya Kak! Daagghh!” aku benar-benar kaget dengan semua yang baru saja terjadi. Langsung saja kucubit pinggangnya.
“Aduuuuhhh Sakitt beib!Kok dicubit sih?” ucapnya sambil mengelus pinggangnya.
“Kamu sih genit, cium-cium aku sembarangan!”ucapku kesal sambil cemberut.
“Hahaha biarin, kamunya juga mau kok!”godanya lagi. Beneran ini anak pengen di jitak kayaknya. Tetapi malam ini aku bahagia banget.
End….
Biodata penulis :
Nama : Veronicha WH
Fb : JL Vheo Nicha
Twitter : @vheo_nicha

Random Posts

  • Cerpen Perpisahan: HARI TERLARANG

    HARI TERLARANG Cerpen karya Dita PuspitasariKringgg kringgg kringgg bel sekolah berbunyi, tenda masuk sekolah. Raisa yang emang lAngganan kesiangan masih santai-santai berjalan mendekati gerbang sekolah diantar oleh kakaknya.“Udah masuk ya Sa?” tanya Isar, kakak Raisa“Iyaaaa, pokokknya ade gak mau tau! Kakak harus ngasih alasan ke guru yang ada di kelas ade. Biar ade bisa belajar”“Yaaaaaaaaa. Kasian banget ya, baru juga minggu kemarin MOS, udah dapet point gara-gara kesiangan”Sesampainya di kelas Raisa, Isar memberikan penjelasan secara detail kepada guru yang sedang mengajar di kelas Raisa. Syukurnya Raisa tidak mendapatkan point tambahan dari guru tersebut.Itulah kegiatan Raisa selama pagi hari. Bangun pukul 05.00 dan pergi ke sekolah pukul 06.30 diantar oleh kakaknya. Emang sih Raisa kesiangan gara-gara diantar oleh kakanya. Tapi mau gimana lagi? rumah Raisa sangat jauh dari sekolahnya. Jadi gak ada ojej gratis lagi selain kakaknya. Meskipun harus selalu telat kalau datang ke sekolah. Tapi meskipin Isar adalah penyebab utamanya Raisa kesiangan, Isar adalah sosok kakak yang sangat perhatian sama Raisa. Isar selalu membantu PR Raisa, ngebuatin makan kalau di rumah gak ada siapa-siapa. Baik deh pokokknya. Raisa sendiri adalah remaja perempuan yang cinta banget sama musik. Raisa bisa memainkan berbagai macam alat musik. Yang luar biasanya lagi Raisa belajar sendiri alat musik itu. Wajar aja sih karena ibu dan bapaknya juga cinta sama musik. Dibalik semua itu ada juga yang Raisa benci. Perpisahan. Satu kata yang sangat dibenci oleh Raisa. Ia tidak menginginkan hal itu.Saat pulang sekolah, Raisa kaget melihat kakanya mengemas barang di kamarnya. Hal yang memang tidak biasa Isar kerjakan, karena menurut Raisa kakakya itu paling tidak bisa jika disuruh beres-beres. Ternyata Isar harus pergi kuliah ke Australia besok pagi, dan menetap di Australi selama 3 tahun.Dari Raisa pulang sekolah sampai pukul 23.00, Raisa dan Isar menghabiskan waktu bersama. Apapun yang mereka lakukan pada hari itu akan menjadi kenangan yang akan Raisa ingat. Ibunda mereka tidak marah ketika mengetahui anak-anaknya terjaga kurang lebih 12 jam. Karena kapan lagi kedua anaknya itu dapat seperti itu. Tiga tahun yag akan datang Raisa sudah lulus SMA, dan akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Dan mungkin Isar sudah sibuk dengan pelamaran kerja atau mungkin Isar sudah kerja.***Pagi-pagi sekali Raisa bersiap untuk mengantar kakaknya ke bandara, sebenarnya Raisa tidak mau melihat kakaknya pada pagi hari itu, tapi karena ini adalah pertemuan terakhir Raisa dengan kakaknya yang akan pergi kuliah selama 3 tahun, terpaksa Raisa ikut. Di bandara Isar memberikan jam tangannya kepada adiknya.“Sa, simpen ini yaaa. Jangan kangen deh. Terus jangan cengeng yaa adikku sayang. Jam tangan ini berputar gak akan kerasa kok. Tau-tau kakak lo ini udah ada di Indonesia lagi dan bisa main sama adiknya lagi” ucap Isar di bandara. Raisa hanya bisa menerima jam tangan tersebut tanpa berkata apapun. Setelah pesawat terbang, Raisa pergi ke sekolah dengan mata yang masih bengkak.“Baru aja perpisahan di SMP, masa kakak gue udah ninggalin gue ke Australi?” ucap Raisa kepada teman sebangkunya.“Sa, setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan. Tenang aja, raga lo sama kakak lo emang pisah, tapi jiwa lo dan kakak lo gak akan pisah Saaa. Percaya deh sama gue” kata Riri.Dari situ Raisa baru menyadari banwa sebenarnya perpisahan itu bukan ajang untuk menangisi keadaan, melainkan ajang untuk melatih kedekatan batin. Menurut Raisa perpisahan itu sangat terlarang tapi tetap saja meninggalkan kesan yang sangat dalam.*** TAMAT ***Biodata PenulisNama : Dita PuspitasariAlamat rumah : Perum Sarijadi Blok 13 No 13 RW 08 RT 02 Kecamatan Sukasari, 40151 BandungTTL : Bandung, 30 Januari 1997No telefon : 085659366311Sekolah : SMPN 12 BandungKelas : 9cEmail : dita.puspitasari_12@yahoo.com (fb dan y!m) ditaeyang00@yahoo.co.id

  • Kenalkan Aku pada Cinta 05 ~ Cerpen terbaru

    Ada yang menunggu lanjutan cerpen Kenalkan aku pada cinta?, nah, kali ini lanjutannya muncul nih. Oh ya, buat reader semua, buat yang ikutan baca sekalian donk. Tinggalin kritik sama sarannya. Supaya kedepannya tulisan aku bisa lebih baik lagi. ^_^And akhir kata, Happy reading All!!!!!….Kenalkan Aku Pada CintaSelama ini Astri tidak pernah tau, kalau menghabiskan waktu bersama Kak Andre ternyata bisa menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan. Berbeda dengan saat ia sedang berjalan bersama kakaknya yang sering menjahilinya. Ataupun jalan bareng Alya yang taunya hanya berbelanja.sebagian

  • Cerpen sahabat You Are My Everything

    All, pernah dengerin lagunya Fiona Fung yang judulnya u are my everything nggak?. Nah sambil ngetik cerpen ini nggak terhitung udah berapa puluh kali tu lagu di putar berulang ulang, intinya dari awal nulis sampe nge'end you are my everything di jadikan backsound. Eits, tapi jangan salah. Walaupun lagu tersebut yang di jadikan inspirasi, sesungguhnya saia sediri nggak ngerti sama sekali arti liriknya. Kecuali bagian "You Are My Everything" Ha ha ha. Yang jelas, nikmatin aja lah… :DYou Are My EverythingUntuk sebagian orang, kadang baru menyadari betapa berartinya seseorang setelah ia kehilangan,Dan untuk sebagiannya lagi, Bahkan tidak pernah menyadarinya…#URMyEverythingSetelah mematikan laptop dihadapannya, Erika merengangkan tubuh, meluruskan otot ototnya yang terasa kaku karena sedari tadi asik mengetik imaginasi yang sering bermain di ingatannya. Matanya juga sudah terasa berat. Wajar saja, jam yang berada di samping sudah menunjukan hampir tengah malam.Seiring dengan matanya yang melirik jam, tak sengaja pandangannya tertuju pada pigura yang bertenger di sampingnya. Seulas senyum tak mampu di cegah saat membaca tulisan yang melingkari pigura itu. "Tersenyumlah, saat kau meyakini semua akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja".Berlahan tangannya terulur meraih pigura itu, Kado dari Alex saat kelulusan SMAnya dua tahun yang lalu. Matanya menatap lekat sambil tangannya berlahan mengusap kaca tepat di wajah seseorang yang bersamanya di foto tersebut. Alex fernando, seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.Seseorang yang selalu menginspirasi dalam setiap tulisannya."Malam Alex, Aku tidur dulu ya," Kata Erika sambil mencium kaca pigura itu sebelum kemudian bangkit berdiri. Beranjak menuju kearah ranjangnya. Memeluk guling dan bersiap untuk terjun kedalam mimpi indahnya.***"Erika, buruan," kata Alek sambil berbalik. Menunggu sahabatnya yang tampak ngos ngosan sambil berlari kearahnya."Heh…Alex….aku….aku udah nggak bisa lari lagi. Cape…." kata Erika begitu berada tepat di depan sahabatnya.Jam sudah menunjukan pukul 7 : 30 lewat. Sementara kelasnya di mulai tepat pukul 07:00 tadi pagi. Gara gara ia yang bangun kesiangan menyebapkan ia harus berlarian setelah turun dari bus yang berhenti di halte tak jauh dari sekolah."Tapi kita sudah terlambat. Ntar kita bakal di marahin sama bu Desti," Alex mengingatkan."Kita bolos aja yuk," kata Erika setengah bergumam."Apa?" "Kita bolos aja yuk. Dari pada kita cape cape udah lari lari gini, tapi tetep aja terlambat dan ujung ujungnya pasti bakal di marahin. Gimana kalau kita bolos aja?" terang Erika kemudian.Alex tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus kearah Erika. Seolah masih tidak yakin akan ajakan gadis itu."Ah, kau benar juga. Kita udah cape lari, tapi entar juga bakal di marahin. Memang sepertinya lebih baik kita bolos saja."Gantian Erika yang menatap tanpa berkedip. Raut heran jelas tergambar di wajahnya. Sejujurnya tadi ia hanya asal berbicara. Tapi bagaimana bisa Alex langsung menyetujuinya."Kalau gitu ayo ikut aku. Sebelum kita ketahuan sama guru yang lain."Tanpa komando lagi Alex langsung menarik tangan Erika tanpa memberi kesempatan gadis itu untuk protes lagi. Bahkan tau tau mereka berdua sudah terdampar di atas gedung sekolahnya."Ah kau tau. Ini untuk pertama kalinya aku membolos sekolah sejak aku SD sampe sekarang SMA," kata Erika sambil menoleh kesekeliling, menghirup udara dalam dalam. Langit luas ada di hadapannya sementara Alex sudah lebih dulu mendaratkan tubuhnya di lantai."Benarkah?" Alex berujar santai. Setengah meledek tidak percaya, tapi Erika hanya membalas dengan anggukan."Wah, kalau begitu aku benar benar beruntung.""Beruntung?" ulang Erika dengan kening berkerut."Beruntung karena menjadi orang pertama yang menemanimu saat bolos sekolah. Ha ha ha."Dan jitakan pun mendarat telak di kepala Alex sebagai balasannya.Seiring berlalunya waktu Alex memang selalu bersama Erika. Mereka berkenalan saat pertama sekali menginjakan kaki di SMA. Saat MOS lebih tepatnya. Mereka tak sengaja dekat karena entah bagaimana caranya keduanya selalu menjadi target sasaran hukuman kakak kelasnya saat MOS berlangsung.Hingga tiba masa masa sekolah. Kebetulan berlanjut terjadi, karena nyatanya keduanya satu kelas. Bahkan keluarga Alex yang kebetulan baru pindah kekota itu ternyata menetap tepat di depan rumah Erika. Membuat hubungan keduanya semakin dekat."Alex, kau kok keliatannya santai sekali. Nggak takut ya kita ketahuan bolos, padahalkan kita sudah kelas 3. Bentar lagi juga UAN. Kalau sampai ketahuan bagaimana?""Kalau sampai ketahuan palingan juga kita dihukum."Lagi lagi jitakan mendarat di kepala Alex akan jawaban santai yang keluar dari mulutnya."Aduh. Tuhan menganugrahkkan kita mulut untuk bicara. Kenapa kau justru mengunakan tangan untuk mewakilinya," gerut Alex sambil mengusap usap kepalanya. Erika hanya mencibir membalasnya."Lagian kalau kau takut kenapa tadi malah mengajak aku untuk bolos segala?" sambung Alex lagi. Masih merasa sedikit tidak terima."Tadi kan aku hanya bercanda. Mana aku tau kalau kau langsung menyetujuinya dan langsung menarik tangan ku kesini," Erika mencoba membela diri.Sebelah alis Alex tampak mengernyit. Sesaat ia terdiam sebelum kemudian mendongak. Menatap Erika yang berdiri di sampingnya."Kalau gitu haruskah kita kembali ke kelas sekarang?" tanya Alex pasang tampang polos.Kali ini Alex beruntung. Tangannya cepat tanggap. Menahan sebelum kemudian mengenggam erat tangan Erika sebelum gadis itu sempat mendaratkan jitakan di kepalanya untuk jawaban yang ia lontarkan barusan.Untuk sejenak suasana hening. Hanya hembusan angin yang semilir menerpa. Kebisuan yang menenangkan.Sekilas Erika menoleh kearah tangannya. Hal yang sama juga di lakukan oleh Alex sebelum kemudian keduanya saling bertatapan. Dan Erika merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihat mata hitam itu memenjarakannya. Mereka memang selalu bertengkar tapi kali ini Erika yakin ada yang beda."Aku hanya takut kita ketahuan," gumam Erika lirih.Dan kejadian selanjutnya sama sekali tidak pernah Erika duga. Alex bukan melepaskan gengamannya justru malah menariknya. Membuat tubuhnya sukses mendarat dalam pelukannya. Belum sempat mulut Erika terbuka untuk memprotesnya Alex sudah terlebih dahulu membisikan kata padanya."Tenanglah. Aku di sampingmu, Aku janji aku akan selalu melindungimu dan tidak akan meninggalkanmu. Selama kau mempercayainya, semuanya pasti akan baik baik saja."Entah dapat keyakinan dari mana. Kepala Erika mengangguk berlahan. Sepertinya ia akan mempercayainya.Waktupun terus berlalu. Hari kelulusan telah tiba. Semua orang merayakannya. Dengan gaun cerah yang ia kenakan ditambah sebuah pita dengan warna senada menghiasi rambutnya Erika duduk diam disalah satu kaffe langanannya. Dadanya bergejolak tak menentu. Menanti kemunculan Alex yang berjanji akan menemuinya. Bahkan ini untuk pertama kalinya ia merias wajahnya. Walau ia tak menemukan alasannya. Karena Alex hanyalah sahabatnya.Satu jam lebih telah berlalu dari waktu yang mereka janjikan. Tapi Alex tak kunjung menunjukan wajahnya sementara Erika masih setia menunggu. Rasa kesel mulai merambati hatinya. Terlebih nomor Alex sama sekali tidak bisa dihubungi. Membuat gadis itu sibuk mengarang kalimat makian yang akan ia tujukan pada Alex jika muncul nantinya.Deringan ponsel membuyarkan lamunan Erika. Berniat langsung memaki saat melihat Id caller yang tertera di handphonnye Erika justru malah di buat terpaku. Suara di seberang terasa bagai mimpi buruk baginya. Tanpa bisa di cegah air mata menetes dari mata beningnya. Pikirannya kalut, ia masih diam terpaku bahkan setelah sambungan telpon itu telah di tutup.Barulah pada detik berikutnya. Saat pikirannya sudah mampu mencerna semuanya ia secepat kilat bangkit berdiri. Berlari melewati pintu kaffe tanpa menoleh lagi. Menyetop Taxsi yang lewat dan langsung membawanya ke rumah sakit "Harapan Bunda".Dengan langkah terseret seret Erika melewati lorong demi lorong. Langkahnya tercekat di depan sebuah pintu yang di tunjukan suster padanya. Tangannya gemeteran, jantung nya berdetak keras. Saking kerasnya ia yakin ia bisa mendengar debarannya sendiri. Rasa takut yang sangat mencekam menderanya. Rasa takut yang sungguh tidak ingin ia rasakan seumur hidupnya.Dan pemandangan di hadapannya melumpuhkan semua pertahanannya. Tante vera, mamanya Alex tampak menangis dihadapan seseorang yang terbujur kaku di hadapan dengan luka di sekujur tubuhnya. Kecelakaan yang terjadi di jalan besar depan rumah telah menewaskan anaknya. Membuat Erika dipaksa menyadari kalau sudah tiada lagi sahabat terbaik di sampingnya.Setelah acara pemakaman selesai, Erika masih duduk terpaku di hadapan gundukan tanah yang masih basah. Masih tidak mempercayai apa yang terjadi. Bagaimana bisa, sesorang yang selalu bersama dengannya bisa pergi begitu saja. Bahkan tanpa sepatah kata pesan untuknya. Sungguh, ia tidak bisa mempercayainya."Erika."Suara lirih Tante Vera menyadarkan Erika dari lamunannya. Kepalanya menoleh sambil tersenyum samar. "Untukmu," kata tante Vera sambil menyodorkan sebuah kotak kado padanya. Menimbulkan kerutan di kening Erika karena tidak mengerti apa maksutnya."Kado kelulusan dari Alex untuk mu. Hari itu, Alex pergi dengan terburu buru untuk menemui mu. Tapi setelah di tengah jalan sepertinya ia baru menyadari kalau ia telah melupakan kadonya. Makanya itu ia menelpon tante untuk menanyakannya. Dan siapa yang menduga saat ia berbalik kecelakaan itu terjadi dan menewaskannya" terang tante Vera dengan mata berkaca kaca. "Ma kasih tante." Hanya kata itu yang mampu melewati tengorokan Erika yang tercekat. Kenyataan kalau Alex pergi demi untuk menemuinya membuatnya semakin terpuruk."Yang sabar ya sayang. Kalau kau menyayanginya kau pasti akan menuruti perkataannya bukan?" kata tante Vera sebelum kemudian pamit pergi. Walau tidak mengerti maksutnya, kepala Erika tetap mengangguk sebagai jawaban.Setelah tante Vera benar benar pergi, dan hanya dirinya yang berada di area pemakaman itu barulah Erika membuka kadonya. Dan setetes air mata bening melewati pipinya saat melihat pigura dengan foto ia berdua di dalamnya."Tersenyumlah, Saat kau meyakini semua akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja".Kata yang menghiasi pigura itu membuat Erikat terpaku. Setelah lama terdiam akhirnya ia mengangguk. Dengan senyum yang masih mengiringi tangisannya ia bergumam lirih."Bailah, Aku akan mempercayaimu. Selamat jalan sahabat. Semoga kau tenang di sana"You Are My EverythingKriiiinngg kriiiing kriiiingSuara jam Baker yang berdering nyaring menyadarkan Erika dari tidur panjangnya. Masih dengan mata terpejam Erika menoleh, dan saat pertama sekali ia membuka mata pigura dengan foto ia bersama Alex langsung menyambutnya. Membuatnya tanpa sadar tersenyum. Senyum yang ia janjikan akan selalu menemani harinya.Seperti yang Alex katakan Selama ia meyakini semuanya akan baik baik saja, maka semuanya pasti akan baik baik saja…End…..Detail CerpenJudul : You are My EverythingPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaGenre : Remaja, CerpenFanpage : Star nightLanjut Baca : || ||

  • Ketika cinta harus memilih ~ 11 | Cerpen Cinta

    Setelah lama gak update akhirnya admin bisa muncul ke permukaan lagi. Hufh, dunia nyata kadang emang terlalu. And buat yang udah baca diary online admin, pasti tau donk alasannya kenapa?. Argh, stress.Okelah, dari pada kebanyakan bacod yang nggak penting, mending kita langsung lanjut ke Ketika cinta harus memilih ~ 11 nya aja ya. Untuk yang belum baca part sebelumnya silahkan klik disini. Ketika cinta harus memilih Bukannya langsung pulang. Cinta justru malah meminta sang sopir untuk mengantar nya ketaman kota. Sepertinya ia butuh suasana tenang untuk memberinya waktu berpikir sejenak. Dan ia yakin ia tidak akan memilikinya seandainya ia langsung pulang kerumah.Sambil duduk diam diatas kursi taman sendirian pandangan cinta terarah lurus kedepan. Kosong. Ia juga bingung dengan apa yang ia rasakan sekaligus apa yang harus ia lakukan. Ingatannya melayang entah kemana. sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*