Cerpen Cinta “Ketika Cinta Harus Memilih” ~ 14

Cerpen Cinta "Ketika Cinta Harus Memilih" Part 14 kembali relase. Tinggal dua episode lagi. Kok rasanya lama amad ya? wkwkwkwkwk….
Jadi mendadak bingung nih, kira kira kalau sampai cerpen cinta yang satu ini end, ni blog mau di update apa lagi ya? Secara adminnya udah nggak punya stok cerpen lagi buat di posting. Haruskan ni blog vakum beneran?… ck ck ck
Oke lah, daripada banyak bacod langsung aja yuks, kita simak kelanjutan ceritannya.

Ketika Cinta Harus Memili
Referensi lagu : Tak Rela miliknya merpati band…..
Sesungguhnya aku tak rela, melihat kau dengannya
Sungguh hati terluka
Cukup puas kau buat diriku, Merasakan cemburu
Kembalilah kepadaku
Rangga sedang sibuk membereskan kamarnya ketika Hape nya tiba – tiba bergetar. Dengan segera diraihnya benda mungil tersebut. Sedikit mengernyit heran saat membaca id callernya. Cisa?. Ada apa dia menelponnya?.
Tak ingin bermain – main dengan argumennya sendiri Rangga segera menekan tombol hijau.
“Halo?……. Oh iya. Lagi di rumah nie…… Nggak ngapa – ngapain kok, kenapa?…… Ketemuan?, Sekarang?…… baiklah. SMS alamatnya. Lima menit lagi kakak sampe kesana."
Setelah mematikan panggilannya, Rangga terdiam sejenak. Cisa memintanya untuk bertemu? Kenapa?. Tapi, Kalau di pikir – pikir ia juga sebenernya berniat untuk menemui gadis itu. Ia harus memastikan perasaannya. Ia tidak ingin menjadi seperti yang Fadly katakan. Baru menyadari betapa berartinya seseorang justru setelah kehilangan.
Rangga segera berganti baju, Tak lupa tangannya menyambar kunci yang tergeletak di meja. Setelah di rasa penampilannya sudah oke ia segera melangkah keluar Rumah. Mengendarai motornya kearah Kaffe lestari. Tempat yang di SMS Cisa untuk bertemu dengannya.
Begitu sampai di tempat yang di tuju Rangga segera memarkirkan motornya. Dengan cepat ia melangkah masuk dan langsung menuju ke bangku nomor 13 ketika matanya telah menemukan sosok Cisa yang sedang melambaikan tangan. Sebagai isarat agar ia segera menghampiri.
“Sorry ya. Nunggu lama."
“Nggak kok. Ya udah kakak duduk dulu. Sekalian kakak mau pesan apa?” Kata Cisa mempersilahkan.
“Jus Alpukat aja deh” kata Rangga kearah pelayan Kaffe yang berdiri disampingnya.
Setelah basa – basi untuk beberapa saat akhirnya Cisa berniat untuk langsung mengatakan alasannya kenapa ia meminta Rangga untuk menemuinya.
“Oh ya, kak Rangga. E… Cisa sengaja minta kakak kesini soalnya ada yang pengen Cisa ceritain sama kakak."
“Apa?” Tanya Rangga sambil mengaduk – aduk jusnya.
“Cisa mau bilang ma kasih sama kakak karena kakak udah mau menghibur Cisa waktu kemaren Cisa sedih karena harus putus sama pacar Cisa."
“Oh soal itu?. Nyantai aja lagi” balas Rangga Sambil tersenyum tulus.
“Tapi kak…?”
“Tapi?” kening Rangga berkerut karena Cisa tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Karena kakak telah berjasa menghibur Cisa kemaren makanya Cisa mau kakak juga jadi orang pertama yang mendengar berita ini."
Rangga tidak menjawab. Ia masih terdiam. Di hentikannya aktivitas mengaduk – aduk minuman. Menantikan kelanjutan dari ucapan gadis itu.
“Berita Apa?” tanya Rangga Karena Cisa sepertinya benar – benar tidak yakin.
“Alvin datang kerumah. Dan dia ngajak balikan."
Mendengar itu Rangga langsung mengangkat wajahnya. Merasa tidak percaya akan kalimat yang baru saja di dengarnya. Matanya menatap lurus kearah Cisa yang kini tersenyum kearahnya. Rangga mencoba mengingat nama itu dengan cepat. Alvin?. Kalau tidak salah dia kan mantannya Cisa.
“Maksut loe?” tanya Rangga mencoba menjaga nada bicaranya agar terdengar datar.
“Ehem… Sebenarnya gini. Kemaren Alvin datang kerumah. Dan dia minta kita balikan. Dia ngeyakinin Cisa untuk tetap jadi pacarnya. Dia juga nggak masalah kalau harus LDR-an."
“Terus loe jawab apa?” tanya Rangga langsung.
“Jujur aja kak, Cisa merasa sedih waktu kemaren harus putus hanya karena masalah jarak. Cisa takut, waktu Cisa nggak ada disampingnya dia akan berpindah kelain hati. Makanya Cisa nggak terlalu banyak berharap dan justru memilih putus."
“Tapi ketika melihat kesungguhan kevin yang menyusul Cisa bahkan sampai kesini. Dan mendengar semua yang dia katakan kemaren. Sepertinya hati Cisa mulai goyah. Dan Cisa percaya sama dia kalau dia tulus cinta sama Cisa."
“Jadi?”
“Cisa masih cinta banget sama dia kak. Karena itu Cisa mau balikan lagi."
Rangga menunduk. Mencoba memahami kalimat – demi kalimat yang keluar dari mulut Cisa. Harusnya ia merasa sakit hati mendengarnya. Bukan kah ini kesannya seperti ia dipermainkan oleh Cisa. Seolah – olah Cisa hanya memanfaatkannya padahal Cisa sudah tau sedari dulu kalau ia menyukainya. Tapi kenapa sekarang ia merasa justru biasa – biasa saja. Apa mungkin rasa itu telah hilang?.
“Kak, Kakak baik – baik aja kan?” tanya Cisa ketika mendapati Rangga yang terus terdiam.
Setelah terlebih dahulu menghembuskan nafas, Rangga mendongak. Menatap Cisa sambil tersenyum. Senyum yang benar – benar tulus. Kali ini ia yakin bahwa sepertinya ia sudah menemukan jawaban yang ia cari selama ini.
“Tentu saja kakak baik – baik saja. Kakak turut seneng kalau seandainya Cisa bisa bahagia. Tadinya kakak hanya khawatir kalau Cisa nantinya sampai tersakiti?”
“Benarkah?” tanya Cisa penuh harap. Rangga membalasnya dengan anggukan mantab.
“Ma kasih kak” kata Cisa balas tersenyum.
Merasa lega sekaligus gembira mendengarnya. Tadinya ia khawatir kalau Rangga akan merasa sedih karena munkin pria itu masih menyukainya. Tapi sepertinya rasa itu mustahil melihat Rangga yang kini tersenyum dihadapannya.
“Ya sudah. Sekarang ayo habisin makan nya. Ntar kakak antar pulang?. Oke?.
“Syip…” balas Cisa mengangkat tangannya membentuk huruf ‘O’.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Setengah berlari cinta memasuki halaman kampusnya. Bukan, tentu saja bukan karena terlambat. Ia berlari karena ia sudah merasa tak sabar untuk bertemu dengan pak Alvino. Ada yang ingin ia tanyakan pada dosennya yang satu itu.
Tepat di belokan koridor tak sengaja cinta bertabrakan dengan seseorang yang membuat buku – bukunya jatuh berserakan. Tanpa memeperdulikan siapa yang di tabraknya cinta segera berjongkok untuk mengumbul kan buku – buku itu.
“Cinta?”
Reflek cinta mengangkat wajahnya. Kaget saat mendapati wajah Rangga yang berjarak tidak lebih dari sejengkal dari wajahnya. Matanya yang bening itu untuk sejenak hanya tampak berkedap – kedip.
“Cinta!”
Pangilan bernada cempreng ini seolah berhasil menyadarkan cinta. Dengan cepat ia menoleh. Tampak Kasih yang melambai sambil berlari kearahnya.
“Cinta, loe lagi ngapa……in” pertanyaan Kasih melemah ketika menyadari Rangga yang kini tampak di hadapan cinta.
“Oh, gue nggak ngapa – napain kok. Cuma ini tadi buku gue jatuh. Tapi sekarang udah sama gue lagi kok. Ya udah ayo kita pergi sekarang” ajak cinta sambil bangkit berdiri. Menarik tangan Kasih untuk segera berlalu.
Rangga mengatupkan kembali mulutnya yang tadi sudah terbuka. Membatalkan niatnya untuk menahan cinta. Ia masih bingung apa yang harus di katakan pada gadis itu walau sejujurnya sangat banyak yang ingin ia ceritakan. Tapi sepertinya ia masih bisa menundanya. Masih banyak kesempatan untuknya menjelaskan semuanya. Toh cinta tidak mungkin kemana-mana bukan?. Akhirnya dengan ringan ia langkahkan kakiknya menuju kekelasnya sendiri.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Setelah membereskan buku – buku nya cinta segera bangkit berdiri. Ia ingin cepat – cepat keluar untuk menemui pak Alvino. Ada yang ingin ia tanyakan pada dosen yang satu itu. Tadi pagi ia mambatalkan niatnya untuk langsung menemui karena ada kasih.
“Cinta, loe mau kemana?. Kita pulang bareng yuk” ajak Kasih Sambil membereskan buku – bukunya.
“e…. Loe pulang sendiri aja ya. Gue masih ada urusan” balas Cinta menolak.
“Ya udah gue duluan. Dah….” sambung Cinta lagi cepat – cepat berlalu. Selain tak ingin kasih bertanya – tanya lagi ia juga takut kalau pak Alvino keburu pulang duluan.
Begitu sampai di depan ruang pak Alvino tangan cinta terangkat untuk mengetuk pintu. Tapi sebelum tangan itu menyentuh didingnya, Pintu sudah terlebih dahulu terbuka. Sama – sama kaget karena tiba – tiba mendapati seseorang di depan pintu keduannya sama – sama tersenyum.
“Maaf pak” kata cinta sambil menunduk hormat.
“Nggak pa-pa. Ada apa?. Mencari saya?” tanya pak Alvino. Cinta mengangguk membenarkan.
“O… ya sudah kalau gitu. Ayo masuk dulu” Pak Alvino membatalkan niatnya untuk pulang. Kembali melangkah kearah mejanya. Dan cinta hanya mengekor di belakang.
“Bapak sudah mau pulang?” tanya cinta berbasa – basi.
“Tadinya. Tapi sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan sama saya?” tanya pak alvino menebak.
“Iya pak. Saya cinta dari jurusan sastra,” Cinta mengenalkan dirinya.
Gantian pak Alvino yang mengangguk. Menanti kelanjutan ucapan cinta.
“Dan saya kesini karena ada yang ingin saya tanya kan sama bapak."
“Oh ya? Apa soal sastra?” tanya Pak Alvino yang memang mengajar di bidang itu.
“Bukan pak” balas cinta sambil menggeleng cepat.
“Kalau begitu, soal apa?”
Cinta mendunduk. Sejenak merasa Ragu. Tapi ia tidak mungkin membatalkan niatnya.
“Tenang saja. Saya tidak mengigit kok” canda pak Alvino.
“Ini soal temen bapak kemaren” sahut cinta lirih.
Mendengar ucapan lirih cinta barusan pak Alvino langsung tersenyum paham. Dalam hati ia memuji sahabatnya itu. Ternyata pesonanya sangat luar biasa. Setelah tiga hari berturut – turut ia diantar olehnya sudah tak terhitung berapa banyak mahasiswinya yang datang hanya untuk menitip salam padanya. Benar – benar menakjupkan. Membuat ia pagi ini lebih memilih untuk mengunakan mobilnya sendiri dari pada diantar olehnya.
“Memang nya kenapa sama teman saya. Kamu juga mau titip salam padanya?” tanya pak Alvino sambil menahan nada bicaranya agar tetap terdengar datar.
“Saya ingin bertemu dengannya. Bisakah bapak membantunya?”
“Ya?”
Pak Alvino tampak kaget. Biasanya mahasiswinya hanya titip salam atau bertanya – tanya. Tidak ada yang senekat itu untuk langsung minta ketemuan. Namun ia merasa lebih kaget lagi ketika mendengar kelanjutan ucapan cinta yang menjelaskan alasannya. Jadi cinta itu…..
“Ya sudah kalau begitu, Kita pergi sekarang. Kebetulan hari ini saya bawa mobil sendiri. Lagi pula selama ini dia juga sudah lama sekali mencari mu. Dia pasti sangat gembira bertemu dengan mu. Saat dia mengunjungi rumahmu katanya kalian sekeluarga sudah pindah."
Cinta mengangguk membenarkan. Kemudian melangkah mengekor di belakang pak alvino sambil tersenyum samar. Hanya tinggal menunggu saatnya ia akan bertemu dengan orang yang di carinya. Terima kasih tuhan, puji syukurnya dalam hati.
*** Ketika cinta harus memilih ***
Sambil sesekali melirik jam yang melingkar di tangannya Rangga menatap kearah depan kampusnya. Menanti kemunculan cinta. Sudah hampir satu jam ia menunggu di parkiran tapi gadis itu masih belum muncul padahal tadi ia sudah melihat Kasih keluar sendirian. Jadi dugaannya Cinta mungkin masih di belakang. Tapi setelah menunggu telalu lama kali ini dugaannya berubah. Jangan – jangan cinta bukan terlambat pulang tapi justru pulang duluan?.
Ketika pemikirannya sibuk menebak – nebak matanya menangkap sosok yang di cari berjalan melewati koridor. Niat nya untuk segera menghampiri langsung dibatalkan saat mendapati cinta yang berjalan beriringan sambil berbicara akrab pada Pak Alvino. Dan dengan cepat ia bersembunyi saat kedua orang itu berjalan melewatinya menuju kearah mobil pak Alvino yang memang di parkir tak jauh darinya.
Dan mulut Rangga hanya mampu terbuka tanpa suara saat melihat pak Avlino yang membukakan pintu di samping kemudi. Membiarkan cinta masuk duluan sambi tersenyum sebelum kemudian ia sendiri berjalan memutar menuju kearah bangku belakang setir. Kemudian berlalu pergi meninggalkan kampusnya. Meninggal kan sebuah tanda tanya besar dikepala Rangga. Tidak hanya Rangga sebenarnya. Tapi juga di hampir seluruh mahasiswa lainnya yang melihat keduanya dengan heran.
Setelah mobil pak Alvino beneran hilang dari pandangan Rangga melangkah keluar dari persembunyiannya. Dengan rasa kesel yang tiba – tiba memenuhi rongga dadanya ia mengendarai motornya berlalu pulang. Sepanjang jalan pikirannya di penuhi dengan satu nama berjuta tanya. All About Cinta!. Ada apa dengan gadis itu?. Kenapa ia bisa bersama Pak Alvino?. Terus apa hubungan mereka?. Kenapa mereka terlihat akrab?.
Dan Rangga semakin merasa kesel saat sadar kalau tiada satu pun dari pertanyaan yang memenuhi pikirannya itu terjawab. Dengan emosi di kebutnya motor itu dengan kecepatan penuh.
To be continue
Admin ~ Lovely Star Night ~

Random Posts

  • Cerpen Cinta dan Persahabatan: Dari Sebuah Diary Hati

    Dari Sebuah Diary HatiCerpen karya Andri Rusly“Tak Kan Pernah Ada” masih mengalun dari MP3-nya Andre. Mulutnya ikut komat-kamit mengikuti irama lagunya Geisha. Hmm, kelihatannya Andre begitu menjiwainya. Kenapa nih anak jadi termehak-mehek begini ya? Memang ada yang lain dalam diri Andre. Setelah setahun persahabatannya dengan Rere berjalan. Susah senang dilaluinya bersama. Rere memang sahabat yang baik dan manis. Mang begitu kok kenyataannya. Bukannya Andre berlebihan dalam menilainya. Sahabat yang di saat duka selalu menghibur dan di saat suka selalu hadir tuk berbagi tawa. Rere pernah bilang kalo semua saran Andre selalu diturutin dan begitupun sebaliknya. Pokoknya di mana ada Andre di situ ada Rere. Begitulah hampir setiap ada kesempatan mereka selalu pergi bersama-sama. Gak ada pikiran yang “aneh”. Gak ada perasaan apa-apa termasuk cinta!.Tapi kenapa Rere sampai saat ini belum juga punya cowok ? Padahal kalo dipikir-pikir Rere gak sulit untuk mendapatkan cowok. Mang sih Rere adalah tipe cewek yang sulit jatuh cinta. Gak sembarangan Rere menilai seorang cowok. Ya memang, inilah yang membuat Andre takut. Takut perasaannya hanya akan menjadi permainan waktu semata. Waktu yang entah sampai kapan akan membuat Andre terombang-ambing oleh cinta. Apakah ini cinta? Ya, ini adalah cinta. It must have been love kata Roxette. Ah, Andre terus memendam perasaannya. Sampai-sampai suatu ketika Andre dikecam oleh perasaan cemburu. Perasaan yang dulu gak pernah ada kini muncul. Cemburu saat Rere menceritakan kalo ada cowok yang naksir padanya. Apakah cemburu pertanda cinta? Kata orang cemburu tidak mencerminkan rasa cinta tapi mencerminkan kegelisahan. Aduh, Andre makin ketar-ketir aja dibuatnya. Andre benar-benar gelisah. Lama-lama tersiksa juga batinnya. Ada keinginan yang harus diutarakan. Tentang masalah perasaan Andre yang gak karuan tentang Rere. Cuma gak ada keberanian. Andre takut kalo Rere membencinya. Ini gak boleh terjadi.Kemudian akhirnya Andre berusaha untuk melupakannya tapi gak bisa, malah rasa sayang yang semakin membara. Apakah salah kalo Andre ingin menjalin hubungan yang lebih hangat bukan hanya sebagai seorang sahabat? Hmm, Andre harus berani. Harus berani ambil segala resikonya.“Rere, aku mencintaimu” kata Andre akhirnya setelah sekian lama dipendamnya. “Aku akan serius ma kamu dan mau menyayangimu seutuhnya”.Ia pandangi wajah Rere. Gak ada amarah di wajahnya yang ada hanya tangis. Ups, Rere menangis. Andre makin bertanya-tanya. Baru kali ini Andre melihat Rere menangis.“Kenapa Re? Apa kata-kata ku nyakitin perasaan kamu?”Rere menggeleng. Sambil masih terisak ia coba menjelaskan ke Andre. Andre siap mendengarkan jawaban Rere. Apapun itu meskipun kata “tidak” sekalipun. Dan benar juga, kata tidak yang terlontar dari mulutnya. Ya, Andre harus menerimanya. Sepeti kata Eric Segal dalam bukunya, “Cinta berarti kamu takkan sekali saja melafalkan kata sesal”. Rasanya dada terasa mau jebol, gerimis serasa hujan badai. Sepinya malam itu terasa lebih sunyi seolah hanya mereka berdua saja di alam ini. Tak ada suara hewan atau serangga yang meramaikan bumi.“Maafin aku ya, Ndre?” tangan Rere menggenggam jemari Andre. Andre terdiam. “Kamu pasti kecewa ma jawabanku, ya? Tapi itu bukan berarti aku gak ada ‘rasa’ ma kamu. Aku hanya takut perasaan ini hanya ilusi aja”.“Re, Jika cinta ini beban biarkan aku menghilang. Jika cinta ini kesalahan biarkan aku memohon maaf. Jika cinta ini hutang biarkan aku melunasinya. Tapi jika cinta ini suatu anugerah maka biarkanlah aku mencintai dan menyayangimu sampai nafas terakhirku” Andre tetap gak yakin akan perasaannya. Andre merasa Rere akan meninggalkannya selamanya. Kemudian dipeluknya Rere erat-erat. Dibelainya rambutnya dengan penuh kasih sayang.“Aku gak mau kehilangan sahabat yang begitu baik” kata Rere masih dalam pelukan Andre. “Biarlah hubungan kita tetap terjalin bebas tanpa terbatas ruang dan waktu. Lagipula perjalanan cinta kita nantinya bakal abadi, atau malah putus di tengah jalan? Persahabatan bisa jadi awal percintaan tapi akhir dari suatu percintaan kadang malah menjadi permusuhan. Dan aku gak mau itu terjadi pada kita, Ndre”Andre mulai merenungi kata-kata Rere. Dilepaskannya pelukannya kemudian dipandanginya wajah Rere dalam-dalam. Ternyata Andre masih bisa menikmati senyum manis Rere. Masih bisa merasakan sejuknya tatapan Rere. Ia gak mau kehilangan semuanya itu.“Aku rela menjadi lilin walau sinarnya redup tapi gak habis dimakan api bisa memberi cahaya dan menerangi hatimu” kata Andre sambil menyeka air mata di pipi Rere.“Iya, Ndre. Soalnya hati hanya dapat mencintai sekejap. Kaki cuma bisa melangkah jauh dan lelah. Busana tak selamanya indah dalam tubuh. Tapi memiliki sahabat sepertimu adalah keabadian yang tak mungkin kulupakan” begitu pinta Rere disambut senyum Andre. Mereka saling berpelukan lagi. Tanpa beban tanpa terbatas ruang dan waktu. Hmm… apa bisa Andre menyimpan rapat-rapat perasaannya berlama-lama ? Only time will tell…*****

  • Short Story Arti Sebuah Senyuman

    All, masih inget Short Story be friends forever nggak?. Itu lho, yang kisahnya si Natasya sama si Arya. Nah, Arti sebuah senyuman ini masih lanjutannya cerpen yang itu. Rencananya sih mau di jadiin series kalau pas ada kejadian yang membekas di hati aja. Iya… Rencananya sih gitu…Nah, gimana ceritanya yuks kita cek bareng. Oh ya, berhubung lepi Admin rada eror, gak bisa pake photoshop. covernya pake foto adminnya aja ya. Ha ha ha, Narsis dikit gak papa lah ya. XD Ana MeryaEntah berapa lama Natasa duduk diam seperti itu, ia sendiri juga tidak tau. Yang jelas ice cream yang ada dimangkuk dihadapannya sudah mencair semua. Bahkan tampa ia cicipi sedikit pun. Yang ia lakukan sedari tadi hanyalah mengaduk aduknya sembari melamun.sebagian

  • Cerpen Cinta: Setelah Kepergianmu

    Setelah KepergianmuCerpen karya Rani Dwi AnggraeniKu selalu mengingatmu, meski ku tahu itu menyakitkan..Ku buka handphone ku, tak ada lagi kamu yang selalu memenuhi inbox-ku, tak ada lagi ucapan selamat pagi dan selamat tidur untukku. Tak ada lagi canda tawamu yang selalu mengiriku dalam kebahagiaan, tak ada lagi leluconmu yang membuatku tartawa. Tak ada lagi tatapan yang membuat jantungku berdebar dan menyejukkan hati. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang selalu membuatku kuat akan setiap masalah yang menghampiriku. Tak ada lagi pelukanmu yang membuatku tentram dan merasa aman dekat denganmu. Kini, sekarang ada sesuatu yang hilang, tak sama seperti dulu.Aku berharap hari-hariku bisa berjalan dengan mulus seperti biasanya., walau tak ada kamu disampingku. Kini, aku mencoba menjalani semua aktivitasku seperti biasa. Dan aku bisa menjalani itu semua walau hatiku terasa kosong, hampa tanpa ada dirimu yang menemaniku setiap harinya. Tapi, aku harus tetap tegar dengan semua ini. Setelah kepergianmu, aku menyadari betapa aku mencintaimu. Setelah kepergianmu, kamu merampas semua cinta dan kebahagiaan yang kupunya, melarikan ke tempat asing yang justru tak tahu dimana keberadaannya. Siksaanmu begitu besar untukku, dan aku terlalu lemah untuk mendapatkan cobaan ini, aku begitu lemah untuk mendapatkan goresan luka di benakku yang semakin hari semakin bertambah.Kini ku tersadar, bukan dia yang begitu tulus menyayangiku, tetapi kamulah yang menyayangiku dan mencintaiku dengan tulus tanpa adanya kebohongan. Jujur, aku menyesal setelah kamu benar-benar pergi meninggalkanku disini bersama bayanganmu. Aku menyesal telah membuatmu kecewa, padahal aku tak bermaksud mengecewakanmu. Aku menyesal lebih memilih dia di banding kamu yang jelas-jelas kekasihku. Sudah jelas dia itu playboy dan sudah menyakitiku berulang-ulang kali dengan kebohongannya dan semua janji palsunya, tapi kamu berbeda, kamu begitu menjagaku, menyayangiku, dan aku sia-siakan begitu saja. Mengapa aku sebodoh ini?Aku tak pernah membalas semua kebaikanmu padaku, dan aku tak pernah menyayangimu seperti kamu yang selalu menyayangiku. Bahkan aku selalu melampiaskan semua amarahku padamu, dan anehnya kamu yang meminta maaf padaku. Seringkali aku membohongimu seringkali aku berkencan bersama dia tanpa sepengetahuan kamu, dan itu berarti aku sedang bermain di belakangmu. Setiap kamu ingin bertemu denganku, aku sering menolak. Tapi mengapa aku tak bisa menolak dia setiap dia ingin bertemu denganku? Bahkan jika kamu mengajaku pulang bersama, aku tak mau dan menolakmu. Aku lebih memilih pulang bersama teman-temanku. Aku sadar itu semua salah, tapi mengapa aku terus mengulangnya kembali? Kamu pernah berkata kalau aku itu egois, aku tak menerima kamu berbicara seperti itu kepadaku, dan aku marah. Aku baru tersadar aku memang egois, benar katamu.Dia selalu melaksanakan apa kemauanku, tapi aku tak pernah melakukan apa yang kamu mau. Hingga beberapa minggu kemudian kamu menjauhiku, kamu menghilang dari kehidupanku, kamu tak mengirimku kabar sama sekali. Hal itu membuatku marah dan aku berfikir kamu memutuskan ku secara sepihak, tanpa tahu permasalahannya apa. Kemudian, kamu menghubungiku di hari jadianku bersama kamu. Entah mengapa aku menjadi benci padamu, mungkin karena kamu menghilang beberapa minggu ini. Kamu mengajaku kencan di malam minggu ini, tapi aku menolak karena kamu bukan pacarku lagi. Aku berkata kepada kamu, lebih baik kamu pergi dari kehidupanku jangan pernah menghubungiku lagi, cari wanita lain di luar sana yang lebih baik dariku. Tapi nyatanya kamu malah meminta maaf padaku atas kesalahan kemarin telah menjauhiku. Kamu bilang kamu hanya ingin mengetesku. Tapi ini bukan cara yang benar. Aku tak bisa memaafkanmu, aku tak akan memberikanmu kesempatan lagi. Dan itu artinya sekarang kamu dan aku hanya sebatas teman biasa. Padahal sebenarnya aku benci dengan perpisahan ini.Entah mengapa jika aku mengingat itu semua, beribu-ribu penyesalan selalu menghampiriku. Apakah kamu terluka karena ku?Kita itu seperti saling menyakiti, seperti saling mendendam tanpa tahu apa permasalahan yang sebenarnya.Aku menangis sejadi-jadinya di dalam heningnya malam, atas dasar bahwa aku memang benar mencintaimu. Aku merasa kehilangan sosok pahlawanku. Sementara aku selalu melihatmu dekat dengan wanita lain, dan mengapa wanita itu harus temanku sendiri? Kamu tak pernah tahu bahwa aku di sini menangis melihatmu bersamanya, aku cemburu..Aku marah pada diriku sendiri, mengapa aku sulit untuk melupakanmu? Sedangkan kamu disana dengan mudahnya melupakanku.Tuhan..sungguh ini tak adil bagiku. Ingin rasanya aku hilang ingatan, agar aku tak mengenalimu dan kenangan dulu bisa terhapus di dalam memori otakku. Itulah jalan satu-satunya untuk saat ini. Hari berganti hari, aku terus menjalani hidupku tanpa dirimu. Dan aku merasa semakin hari aku selalu menyesali kesalahanku padamu. Apakah kamu disana sudah mendapatkan pengganti diriku? Aku harap kamu masih mengharapkanku, karena ku disini selalu mengharapkan kehadiranmu dihidupku lagi. Apakah kamu disana selalu memikirkanku?seperti aku yang selalu memikirkanmu. Aku hanya ingin tahu isi hatimu saat ini. Apa kamu tak pernah berpikir tentang isi hatiku saat ini? yang semakin hari semakin mendung karena tak ada lagi yang menyinari hatiku. Di dalam mimpiku kamu selalu ada untukku, dan kamu milikku. Tapi ternyata, di dalam kehidupan nyata, kau hanyalah mimpi untukku dan aku sulit menggapaimu kembali. Tak ada hal yang mampu ku perjuangkan selain membiarkanmu pergi dan merelakanmu untuk orang lain yang pantas menapatkanmu. Aku berusaha menikmati kesedihanku, kesakitanku hingga ku terbiasa akan semua hal itu. Aku selalu meneteskan air mata untukmu, padahal setiap butiran air mata yang jatuh itu semakin aku merindukanmu dan sulit untuk melupakanmu. Kini aku merasa jatuh cinta padamu yang bukan milikku lagi.Tapi aku punya Tuhan, punya keluarga dan sahabat, yang selalu ada untukku. Aku percaya Tuhan..Tuhan pasti sedang menguji kesabaranku saat ini, dan pasti ada jalan keluar di balik ini semua. Mungkin di mataku kamu yang terbaik untukku, tapi belum tentu kata Tuhan kamu yang terbaik untukku. Aku percaya dan yakin bahwa skenario Tuhan adalah yang paling indah.SelesaiNama : Rani Dwi AnggraeniMy facebook : ranianggraeni1@gmail.comTwitter : @ranidwianggra

  • Cerpen cinta “Dalam diam mencintaimu” End

    #EditVersion. Nah, ini adalah cerpen dalam diam mencintaimu bagian ending untuk versi editnya. Jalan cerita masih sama, secara adminnya kan cuma mau ngerapiin. Kalau masih ada yang ketinggalan bisa bantu ngoreksi juga nggak papa. Adminnya malah bilang ma kasih.Nah biar nyambung sama jalan ceritanya, bisa baca dulu bagian sebelumnya disini. Oke guys, happy reading.Dalam Diam Mencintaimu“Oh ya, kita mau kemana nie?” tanya Rey setelah Irma duduk dengan nyaman di belakang jok motornya.“Kemana aja deh. Yang penting hari ini kita seneng – seneng," balas Irma tanpa berpikir.“Gimana kalau kita nonton?” tanya Rey lagi.“Nonton itu enaknya kalau malam. Siang – siang gini mana seru," tolak Irma berserta alasannya.“E,… kalau ketaman hiburan gimana? Toh belum tutup juga. Masih ada sampe dua hari mendatang katanya," usul Rey lagi.Irma terdiam. Tiba – tiba ia jadi teringat acara jalan mereka yang gagal kemaren. Memang atas kebodohannya juga si. Tapi…“Jangan deh, di sana terlalu berisik. Loe kan tau gue abis sakit,” tolak Irma lagi. Membuat Rey terdiam sambil berpikir kemana tujuan mereka sekarang. Dan tau – tau motor mereka sudah terparkir di dekat kolam raja telaga bening. #adanya cuma di Selatpanjang lho. Kalau mau liad, ke sana aja. “Ya sudah kita duduk di sini aja,” ajak Rey sambil mengajak Irma duduk di bangku santai di bawah pohon beringin pas di pinggir kolam.Sejenak Irma menatap kesekeliling. Menikmati udara sore bersama seseorang yang di sukai di tempat sedamai ini sepertinya bukan sebuah ide yang buruk. Tanpa pikir panjang di darat kan pantatnya di bangku itu. Menghirup udara dalam dalam.“Irma, Maafin gue ya?”Refleks Irma menoleh. Menatap Rey yang duduk disampingnya.“Maaf? Memangnya loe punya salah apa sama gue?” tanya Irma heran.“Banyak…” ujar pria itu tanpa menoleh.“He?" kerutan di kening Irma semakin bertambah. Terlebih Rey juga sama sekali tidak menatapnya. Justru menunduk menatap kearah kolam. Memang si, dulu sepulang dari kursus di Widya Informatika Irma sangat suka memperhatikan ikan yang berseliweran kesana kemari di dalam kolam. Tapi kan, itu kesukaannya, bukan kesukaan Rey. Lagi pula ini kesannya kenapa justru seperti ikan ternyata lebih menarik ketimbang dirinya. -___________-“Misalnya?” tanya Irma karena Rey masih larut dalam lamunannya.“Gue lupa kalau loe hari ini ulang tahun."“O, soal itu,” Irma mengangguk – angguk paham “Tapi kan sekarang loe udah ingat. Ya udah lah, jangan di pikirin. Lagian ulang tahun gue kan belum berakhir itu artinya secara teknis loe nggak beneran lupa,” kata Irma sambil tersenyum.“Tapi gue nggak punya kado."“Bisa ngerayain bareng loe itu udah merupakan kado terindah bagi gue,” balas Irma lirih.“ya?” tanya Rey karena ucapan Irma terlalu lirih.“Nggak, maksud gue nggak usah terlalu di pikirin lagi,” ralat Irma cepat.“Gue juga mau minta maaf atas sikap gue beberapa hari ini,” sambung Rey masih dengan wajah menunduk.“Beberapa hari ini? Oh nggak papa. Gue bisa maklum,” balas Irma lagi. Tetap dengan senyuman di bibir.“Maklum?” ulang Rey dengan nada bertanya.Irma membalas dengan anggukan. Sejujurnya untuk saat ini ia sama sekali tidak ingin membahasnya karena ia menyadari kalau ujung – ujungnya hatinya pasti akan terasa sakit. Padahal tadi ia sudah memutuskan untuk bersenang – senang. Setidaknya sampai hari ini berakhir. Tapi melihat raut tanya di wajah Rey tak urung membuat mulut Irma kembali berujar.“Loe kan lagi deket saja Vhany jadi wajar saja kalau….”“Gue nggak deket sama dia,” potong Rey cepat.Irma menoleh, perasaannya saja atau nada ucapan Rey terdengar ketus.“Irma, apa gue boleh nanya sesuatu sama loe?” tanya Rey setelah beberapa saat keduanya sempat terdiam.“Sejak kapan loe mau nanya pake minta izin duluan?” balas Irma balik bertanya.“Kali ini gue serius."“Ehem,” Irma terdiam sejenak “Boleh, apa?” sambung Irma H2C.“Apa loe beneran berharap gue deket sama Vhany?”“Apa?” ulang Irma tak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.“Apa loe bahagia kalau melihat gue deket sama Vhany?” ulang Rey mempertegas.Irma kembali terdiam. Mencerna ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Rey. Bahagia? Astaga, sepertinya istilah ‘bunuh diri’ yang di ucapkan Fadly kemaren lebih tepat. Bagaimana mungkin ia bahagia jika harus kehilangan orang yang di sukai untuk bersama orang lain.“Bahagia?," ulang gadis itu dengan nada mengambang. "Mungkin tidak. Loe sahabat gue yang paling deket. Yang selama ini selalu bersama dan ngertiin gue. Jujur saja, gue nggak mau kehilangan sahabat terbaik seperti loe. Tapi, gue juga nggak bisa bersikap egois dengan menahan loe untuk terus disisi gue kan?” balas Irma panjang lebar. “Jadi itu artinya loe mendukung hubungan gue sama Vhany?" Rey mencoba menegaskan maksutnya.Irma terdiam. Dadanya terasa makin nyesek. Sepertinya harapan untuk menjadikan hari ini adalah hari yang menyenangkan untuknya gagal sudah.“Gue akan mendukung apapun keputusan loe."“Termasuk nggak mau lagi jadi sahabat loe?"“Apa?” tanya Irma kaget. Menoleh kearah Rey yang kini juga sedang menatapnya lurus.“Gue suka sama Vhany dan gue nggak mau lagi jadi sahabat loe. Karena gue mau pacaran sama dia. Jadi LOE GUE END! Kalau gitu selamat tinggal,” kata Rey tanpa basa basi sambil berlalu meninggalkan Irma sendirian.SepiHeningKemudian…End…Wkwkwkwk, Gimana Irma, puas loe? Emang gni kan yang seharusnya? Kisah mu memang menyedihkan #dihajar. He he he, tapi tunggu dulu. Aku gak sekejam itu kok. Kan aku udah bilang aku itu orangnya baik hati, tidak sombong , rajin menabung serta berbakti pada orang tua #Amin. Paragrap di atas kita ralat ya. Anggap aja gak ada. Abis kayaknya sifat jahil ku lagi kumat. ‘Peace’“Apa?” tanya Irma kaget. Menoleh kearah Rey yang kini juga sedang menatapnya lurus.Saat mendapati tiada kata yang keluar dari mulut Rey sebagai jawaban, Irma kembali mengalihkan tatapannya. Mengerjap – ngerjapkan mata yang tiba – tiba terasa panas. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak menangis. Dan itu benar – benar membutuhkan tenaga ekstra.“Apa loe tau kalau beberapa hari ini gue marah sama loe?” tanya Rey beberapa saat kemudian.“Gue memang merasa sikap loe sedikit berubah. Tapi….” Irma tidak mampu melanjutkan ucapannya. Tengorokannya benar – benar terasa tercegat. Tidak tau lagi apa yang harus ia katakan.“Gue suka sama loe,” kata Rey lirih. Berbanding balik dengan Irma yang justru terlihat kaget setengah hidup.“Dari dulu gue udah suka sama loe. Dan gue benar – benar merasa sangat kesal dan marah saat justru tau kalau loe malah terlihat berusaha menjodohkan gue sama sahabat loe. Kalau loe memang nggak suka sama gue oke, tapi nggak gini juga caranya,” sambung Rey lagi.Irma terpekur kaku. Ia tidak salah dengar kan. Atau mungkin ia sedang bermimpi sama seperti mimpinya tadi malam saat bertemu dengan pangeran Robert? Mustahil Rey menyukainya. Ia. Bener, Ini pasti hanya mimpi. Atau justru Rey hanya bercanda. Tapi, ini sama sekali tidak lucu.“Irma, kalau seandainya gue bilang gue mau persahabatan kita berakhir. Gue nggak mau lagi jadi sahabat loe, tapi gue berharap gue bisa jadi pacar loe. Apa tanggapan loe sekarang?” tanya Rey lagi.Mulut Irma terbuka. Tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari sana. Lidahnya tiba – tiba terasa kelu. Tanpa sadar air mata menetes dari wajahnya. Tentu saja itu bukan air mata duka. Malah sebaliknya. Ia menangis bahagia. Rey ternyata juga menyukainya. Ini benar – benar hal yang paling membahagiakan untuknya. Benar – benar kado terindah yang ia dapatkan di hari ulang tahunnya.Melihat air mata yang menetes di wajah Irma membuat hati Rey mencelos. Refleks tangannya terulur untuk menghapusnya. Menyadari hal itu sontak membuat Irma tersadar. Sengera di alihkan tatapannya yang entah sejak kapan ternyata sedari tadi menghadap kearah Rey. Dengan cepat di usapnya air mata dengan punggung tangannya. Sementara Rey sendiri terdiam terpaku. Merasakan penolakan dari sikap Irma barusan.“Gue….”Irma tak melanjutkan ucapnnya. Ia masih bingung dengan apa yang harus ia katakan selanjutnya.“Gue nggak berani berharap kalau loe juga punya rasa yang sama. Gue hanya ingin loe tau yang sebenarnya. Tapi gue mohon, walau loe tau hal ini please jangan menghindar ataupun benci sama gue. Gue nggak yakin gue siap kalau harus menjauh dari loe."“Kenapa?”“Apa?” tanya Rey bingung mendengar satu kata tanya yang keluar dari mulut Irma.“Kenapa loe baru ngomong sekarang?” Irma menghela nafas untuk sejenak. Tatapannya menerawang jauh. “Kenapa loe nggak ngomong dari dulu? Apa loe tau, membiarkan loe jalan bareng Vhany itu tindakan bunuh diri sebenernya."“Maksutnya?” tanya Rey lagi. Masih belum mengerti maksut dari ucapan sahabatnya itu.“Dasar bodoh. Apa loe tau kalau sebenernya selama ini gue juga suka sama loe?”“Ha?” kali ini Rey melongo. Terserah deh kalau wajahnya benar – benar terlihat seperti orang bodoh.Untuk sejenak Irma menarik nafas. Meyakinkan dirinya sendiri sebelum kemudian Menoleh kearah Rey yang kini sedang menatapnya dan berucap dengan nada tegas.“Rey, gue juga suka sama loe. Nggak, nggak. Maksut gue, gue Cinta sama loe."Untuk sejenak suasana hening. "Jadi loe juga suka sama gue?" ulang Rey lirih, yang mirip gumaman. Bukan saja untuk meyakinkan pendengarannya tapi juga hatinya. Ia hampir tidak percaya itu. Irma hanya menunduk malu.“Ehem. Oke, jadi mulai sekarang kita resmi pacaran kan?” tanya Rey menegaskan.Irma menoleh. Menatap kearah Rey yang kini menatapnya. Tatapan yang menenangkan. Tanpa sadar gadis itu mengangguk mantab.“Jatuh cinta sama sahabat….” gumam Rey lirih.“Ternyata bukan hal yang buruk,” sambung Irma melanjutkan ucapan Rey barusan. Kali ini senyuman bahagia benar – benar terlukis di wajah mereka.Nah, sekarang baru ending beneran…For Irma : Oma, Yang pentingkan HAPPY ENDING kan???!!!!!. Sekarang akuilah betapa baiknya diriku. Tidak seperti dirimu yang justru menciptakan cerpen ‘tragis’ untukku. Ha ha ha #Kabuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrr………..!!!!!!!!Oh iya lupa, mungkin ini terlalu cepet. Ehem sangat cepet malah. Tapi berhubung niat awalnya ini cerpen adalah kado ulang tahun untuk oma. Ku ucapkan duluan deh. Bukan kah lebih cepat itu lebih baik?.Selamat ulang tahun ya oma. Semoga panjang umur and sehat selalu. Detail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*