Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 15

Mumpung ada ide, mending langsung di tulis aja deh. And beneran admin udah males buat ngedit lagi. Secara cerpen kenalkan aku pada cinta beneran bikin pusing. Nulis lanjutannya selalu aja bikin bingung. Pengen langsung di end, tapi takutnya malah terkesan ‘maksa’. Pengen di ketik terus, eh busyed nie cerpen kenapa malah jadi molor kemana mana. Akh entahlah.
Tapi tetep, kayak yang admin bilang sebelumnya. Cerpennya sudah mendekati ending kok. Lagian adminya udah bosen juga liatnya nggak end – end. And biar nggak kebanyakan bacod mending langsung baca aja yuk gimana ceritanya. Biar nyambung bisa baca bagian sebelumnya disini.

Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 15

Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta
Sesekali Astri melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah lebih 15 menit ia menunggu, tapi Andre masih belum menjemputnya. Untung saja kakaknya hari ini ada urusan di luar, jadi ia tidak perlu mendengar celotehannya nanti sekiranya Andre muncul. Tapi herannya, kenapa tu orang nggak muncul muncul juga.
Untunglah beberapa menit kemudian, bel depan rumahnya terdengar. Senyum Astri langsung merekah ketika mendapati Andre sudah berdiri gagah di hadapannya. Tanpa basa – basi keduanya segera berlalu meninggalkan rumah.
“Kita mau kemana nih?” tanya Astri sambil duduk dibelakang Andre yang mengendarai motornya.
“Hari ini taman pemainan di lapangan kerinci (???) baru buka. Loe nggak keberatan kan kalau kita jalan kesana?”
“Taman bermain?” ulang Astri.
Andre hanya membalas dengan anggukan.Lagi pula tidak asik kalau ngobrol diatas motor yang terus melayu. Selang beberapa menit kemudian keduanya telah tiba di tempat yang di tuju.
Benar seperti yang Andre katakan. Hari ini taman bermain memang baru di buka. Begitu banyak wahana permainan yang ada disana. Bahkan entah beraneka ragam permainan mereka ikuti. Astri menatap kesekeliling dengan pandangan takjup. Senyum mengembang lebar dari wajahnya. Matanya mengamati sekeliling dengan tidak berkedip. Mulai dari naik wahana putar sampai bermain di rumah hantu segala. Ia benar – benar tak sabar untuk mencobanya satu persatu.
Tubuh juga terasa mulai lelah dengan jantung yang berdebar cepat. Bukan, bukan berdebar karena romansa romantis di antara mereka, tapi lebih kepada efek permainannya. Astri takut ketinggian, dan saat berputar – putar di atas sana ia yakin ia akan mati. Kepalanya terasa pusing dan perutnya seperti di tusuk – tusuk. Mual nggak ketulungan.
Astri juga merupakan gadis yang penakut. Saat memasuki rumah hantu, tak terhitung berapa puluh kali ia menyumpai orang – orang yang membuat ide gila tentang permainan itu. Menjadikan hantu sebagai permainan yang hanya bisa memberi kesan menyeramkan tanpa menghibur sama sekali. Jadi keseimpulannya, menjadikan taman pemainan sebagai tempat kencan sama sekali bukan ide yang bagus. Sangat jauh, jauh, jauuuuuuuh sekali dari bayangannya saat menyaksikan adegan yang sama yang sering muncul di drama ataupun anime romantis yang sering ia tonton. Ia jadi merasa sedikit heran, kenapa Andre mengajaknya ke sana ya.
“Astri, loe nggak papa kan? Kok muka loe pucet gitu?” tanya Andre terlihat khawatir.
Astri mencoba tersenyum. “Tadinya si gue pengen ngomong kalau gue baik – baik saja cuma buat nyenengin elo. Tapi kayaknya gue lebih milih jujur aja deh. Serius gue nggak baik baik aja,” aku Astri.
Melihat tampang bersalah di wajah Andre membuat Astri langsung menyesali ucapannya. Walau bagaimanapun, tidak semua orang menyukai hal yang jujur walau menyakitkan.
“Tapi paling nggak loe udah bantu gue buat ngerasain pengalaman yang nggak akan gue lupakan. Mulai sekarang kayaknya gue harus lebih hati – hati lagi deh dalam memilih dan memilah sesuatu yang gue tonton.”
“Ya?” Andre tampak bingung, tapi Astri hanya tersenyum singkat.
“Sory ya. Gue nggak tau. Gue pikir loe suka gue ajak kesini.”
“Sama. Tadinya gue juga berfikir kalau disini akan menyenangkan,” gumam Astri lirih.
Dan lagi lagi keduanya kembali terdiam.
“Baiklah, gimana kalau sekarang kita makan aja gimana?” tanya Andre kemudian.
Astri melirik jam yang melingkar di tanganya. Sudah cukup siang. Sepertinya memang sudah waktunya makan siang. Hanya saja, perutnya masih terasa sedikit mual karena permainan tadi. Akhirnya dengan ragu is mengeleng semari mulutnya menjawab.
“Untuk sekarang kayaknya tengorokan gue belum bisa menelan makanan deh. Kalau kita istriahat aja dulu bentar gimana?”
Andre tersenyum sembari mengangguk maklum. Diajaknya gadis itu untuk duduk di salah satu bangku yang ada di bawah pohon yang memang tumbuh terawat di beberapa pingiran lapangan. Tak lupa di belinya dua mangkus es buah. Sambil menikmati minumannya keduanya mengamati sekeliling. Menatap orang – orang yang tampak belalu lalang disekitarnya.
“As, soal yang kemaren…” Andre tampak mengantungkan ucapannya. Jelas terlihat ragu, sementara Astri sendiri menatapnya dengan tatapan ingin tau. Gadis itu juga hanya mampu mengkangkat alis ketika Andre masih terdiam.
“Kenapa?”
“Enggak kok. Lupakan,” Andre mengeleng. “Nggak penting juga,” sambungnya lagi.
Walau masih bingung juga sedikit penasaran, Astri hanya angkat bahu.
“Oh ya, kita jalan – jalan lagi yuk,” ajak Andre beberapa saat kemudian. Astri hanya mengangguk. Terlebih sepertinya mereka sudah cukup lama duduk terdiam di sana. Namun berbeda dari yang sebelumnya, perjalanan kali ini terasa lebih menyenangkan karena Andre mengajaknya ketempat yang lebih tenang. Melihat pernak – pernik yang ada disana, berkunjung ke kuliner, bahkan pake acara foto bareng bersama. Setelah hari mulai sore, mereka baru menyadari kalau mereka telah menghabiskan waktu bersama seharian. Tiba saatnya untuk Andre mengantar Astri pulang.
“Dari mana aja loe seharian baru pulang. Mentang – mentang mama sama papa nggak ada.”
Astri yang berniat untuk langsung menuju kekamarnya sontak menghentikan langkahnya. Saat menoleh ia mendapati kakaknya sedang duduk diruang tamu dengan tatapan menyelidik kearahnya.
“Ye, punya kakak usil banget sih. Pengen tau aja urusan orang,” balas Astri mengabaikan kakaknya. Kembali diteruskan langkahnya yang sempat tertunda.
“Gue tadi liat Andre nganterin di depan. Loe abis jalan sama dia ya?”
“His, kalau udah tau ngapain nanya.”
“Kalian kemana aja? Terus kok loe bisa jalan sama dia? Kalian abis kencan ya?!” tanya Rendy sambil berjalan mengikuti di belakang Astri. Selangkah demi selangkah kakinya menaiki tangga satu persatu.
“Please deh ya kak. Nggak usah kepo. Emangnya kalau gue jalan sama kak Andre terus kenapa? Nggak boleh?” tantang Astri sambil menatap kakaknya.
Rendy tersenyum misterius. “Ups, jangan salah. Gue kan Cuma pengen tau aja. Kalau loe emang jalang sama Andre, nggak papa kok. Justru gue malah mendukung, lagian…”
Astri menantap kakaknya curiga. Terlebih pria itu sendiri masih mengantungkan ucapannya. Bahkan tanpa perlu menyelesaikan lagi, ia malah berbalik. Tentu saja masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Lagian apaan si?” tanya Astri penasaran.
Rendy tidak menjawab. Ia hanya angkat bahu sembari melambai tanpa menoleh. Walau sejujurnya Astri masih merasa sedikit penasaran, namun ia lebih memilih untuk mengabaikannya. Terlebih ia juga merasa cukup lelah, setelah seharian berjalan sepertinya ia ingin mandi berendam dulu biar segar. Dengan berlahan di bukanya pintu kamar. Namun belum sempat ia masuk sebuah teriakan bernada memerintah terdengar dari bawah.
“As, buruan. Gue laper nih. Bikinin gue nasi goreng donk!”
Tanpa membalas sama sekali Asrti menghilang dari balik pintu kamarnya yang tertutup rapat.
⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣
“Tok tok tok.”
Astri yang sedang merapikan kepang an rambutnya menoleh kearah pintu kamar. Sedikit mengeryit ketika mendengar suara kakaknya. Matanya sekilas menoleh kearah jam diatas meja. Masih cukup pagi. Tumben ada yang ngetuk kamarnya.
“As, buruan. Udah selesai belom. Udah di tunguin tuh.”
Ditungguin? Sama siapa? Pikir Astri heran.
“Apa kak?” tanya Astri seolah tak yakin dengan apa yang kakaknya katakan. Namun tiada jawaban yang terdengar. Bahkan sama ia merasa suara langkah kakaknya yang mejauh. Karena merasa sedikit penasaran, Astri segera menyelesaikan riasannya.
“Kak, tadi ada apaan sih? Kok pake ketok ketok pintu segala. Katanya ada yang nungguin. Siapa?” tanya Astri sambil duduk dihadapan kakaknya yang sedang menikmati sarapan sendirian karena memang papa dan mama sedang tidak ada dirumah.
Rendy melirik sekilas sembari mencibir tanpa menjawab sama sekali. Membuat Astri mengerutkan kening bingung. Dengan santai duduk dihadapan kakaknya. Tanganya terulur menyambar roti beserta selai kacang.
“Jiah, dia malah duduk. Udah di bilang juga ada yang nungguin.”
“Huf,” Astri menghembuskan nafas kesel. Tangannya yang sudah terulur ia Tarik kembali. Matanya menatap penuh tanya kearah kakaknya. Tapi pria itu hanya memberi isarat kearah Astri untuk langsung keluar rumah. Walau masih merasa tidak puas, Astri lebih memilih untuk menurutinya. Lagi pula rasa penasarannya juga cukup bersar mengenai hal itu. Secara siapa sih orang yang kurang kerjaan nunguin dia pagi – pagi gini.
Rasa penasaran di wajah Astri langsung menghilang dan di gantikan rasa terkejut ketika mendapati sososk Andre yang suduh duduk di atas bangku teras rumahnya.
“Kak Andre, ngapain loe disini?” tanya Astri tak mampu menyembunyikan rasa herannya.
Andre tampak tersenyum kaku. Dengan ragu mulutnya menjawab. “Jemput loe.”
“Gue?” ulang Astri makin bingung. Sejak kapan ia pake di jemput – jemputan. Lagi pula ia kan punya motor sendiri. Andre hanya mengangguk.
“Tapi kan gue punya motor sendiri.”
“Udah pergi aja.” Astrid an Andre refleks menoleh kearah sumber suara. Entah sejak kapan, Rendy sudah muncul di ambang pintu. “Lagian kasian tau, Andre udah jauh jauh muter ke sini, masa loe nggak mau barengan sama dia.”
Astrid an Andre tampak saling pandang. Raut ragu jelas masih tergambar di wajah Astri. Namun belum sempat mulutnya terbuka, tubuhnya sudah terlebih dahulu terdorong kearah motor Andre yang kini terparkir di hadapnya.
“Udah pergi aja sana loe. Pintu juga udah mau gue kunci,” kata Rendy. Tangannya dengan santai terulur meraih helm yang Andre bawa sebelum kemudian ia sodorkan kearah Adiknya. Saat berbalik ia telebih dahulu menatap kearah Andre sembari berujar. “Hei bro. Gue titip adek gue ya. Awas, jangan sampai lecet. Kalau sampai kenapa – kenapa. Loe berurusan sama gue. Ngerti?”
“Oke Bos,” balas Andre tegas. Secercah senyum samar menghiasi bibirnya. “Kita bisa pergi sekarang Astri?” tanya Andre sambil berbalik.
Astri yang sudah merasa cukup terpojok dengan situasi yang ada tak bisa melakukan hal apapun selain mengangguk. Tanpa kata ia segera duduk di belakang Andre. Beberapa saat kemudian motor pun mulai melaju meninggalkan rumahnya. Meninggalkan Rendy yang diam – diam mengintip dari balik jendela dengan senyum penuh arti.
To Be Continue
⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ With Love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣

Random Posts

  • Cerpen Cinta Romantis ‘Kenalkan aku pada cinta” ~ 04

    Setelah lama terbengkalai akhirnya cerpen cinta romantic kenalkan aku pada cinta bisa lanjut juga. Maap ya sodara sodara karena emang rada lamaan. Yah, namanya juga ngetik sesempetnya ya begini lah jadinya.So Buat Temen temen yang udah nunggu dari kemaren soal lanjutannya, monggo silahkan di baca. Kalau bisa, Silahkan tinggalkan jejaknya di kolom komentar bawah ya. Happy reading…Saat Astri menoleh, Astri hanya mampu tersenyum kecut. Benar saja, Andre tampak sedang berbicara akrab pada Rendy. Mampus. Sekarang apa yang harus ia lakukan?."Kok loe malah bengong si. Mana kakak loe, katanya mau jemput loe?"."Eh?"Pertanyaan Alya menyadarkan Astri dari lamunannya.sebagian

  • Cerpen Pengalaman Hidup “Tragedi Cinta”

    Setiap kisah kadang memang tak selalu berakhir indah, Setidaknya tidak seindah dunia cerpen yang bisa di karang sesuai imaginasi, Namun tidak semua yang tak indah selamanya menyakitkan, Terlebih ketika engkau berani untuk menuliskan.Dan Satu hal yang harus di garis bawahi, Ini cara ku meninggalkan jejak hidupku….Lantas bagai mana dengan mu….Cerpen Tragedi CintaHappy reading…..“Pagi,ana”. “Pagi” Balas Ana terlihat sama sekali tak bersemangat. Membuat Vieta, Johny dan Irma saling pandang.“Kenapa loe, Baru datang udah lemes gitu?” Selidik Johny sambil berjalan menghampri meja Ana yang baru muncul. Duduk tepat di meja hadapannya.sebagian

  • CERPEN PERSAHABATAN TERLARANG

    PERSAHABATAN TERLARANGKarya Siti KhoiriahSejak pertemuan itu, aku dan Devan mulai bersahabat. Kami bertemu tanpa sengaja mencoba akrab satu sama lain, saling mengerti dan menjalani hari-hari penuh makna. Pesahabatan dengan jarak yang begitu dekat itu membuat kami semakin mengenal pentingnya hubungan ini.Tak lama kemudian, aku harus pergi meninggalkannya. Sesungguhnya hatiku sangat berat untuk ini, tapi apa boleh buat. Pertemuan terakhirku berlangsung sangat haru, tatapan penuh canda itu mulai sirna dibalut dengan duka mendalam.“Van maafkan aku atas semua kesalahan yang pernah ku lakukan, ya.” Kataku saat ia berdiri pas di depanku.“kamu gak pernah salah Citra, semua yang udah kamu lakukan buat aku itu lebih dari cukup.”“pleace, tolong jangan lupain aku, Van”“ok, kamu nggak usah khawatir.” Sesaat kemudian mobilku melaju perlahan meninggalkan sesosok makhluk manis itu.Ku lihat dari dalam tempatku duduk terasa pedih sangat kehilangan. Jika nanti kami dipertemukan kembali ingin ku curahkan semua rasa rinduku padanya. Itu janji yang akan selalu ku ingat. Suara manis terakhir yang memberi aku harapan.Awalnya persahabatan kami berjalan dengan lancar, walau kami telah berjauh tempat tinggal. Pada suatu ketika, ibu bertanya tentang sahabat baruku itu.“siapa gerangan makhluk yang membuatmu begitu bahagia, Citra?” tanya ibu saat aku sedang asyik chatingan dengan Devan.“ini, ma. Namanya Devan. Kami berkenalan saat liburan panjang kemarin.”“seganteng apa sich sampai buat anak mama jadi kayak gini?”“gak tahu juga sih ma, pastinya keren banget deh, tapi nggak papah kan, Ma aku berteman sama dia.?”“Apa maksud kamu ngomong kayak gitu?”“kami berbeda agama, Ma”“hah??,” sesaat mama terkejut mendengar cerita ku. Tapi beliau mencoba menutupi rasa resahnya. Aku tahu betul apa yang ada di fikiran mama, pasti dia sangat tidak menyetujui jalinan ini. Tapi aku mencoba memberi alasan yang jelas terhadapnya.Sehari setelah percakapan itu, tak ku temui lagi kabar dari Devan, aku sempat berfikir apa dia tahu masalah ini,,? Ku coba awali perbincangan lewat SMS..“sudah lama ya nggak bertemu? Gimana kabarnya nech,,? “Pesan itu tertuju kepadanya, aku masih ingat banget saat laporan penerimaan itu. Berjam-jam ku tunggu balasan darinya. Tapi tak ku lihat Hp ku berdering hingga aku tertidur di buatnya. Tak kusangka dia tak membalas SMS ku lagi.Tak kusangka ternyata mama selalu melihat penampilan ku yang semakin hari semakin layu.“citra, maafkan mama ya, tapi ini perlu kamu ketahui. Jauhi anak itu, tak usah kamu ladeni lagi.” Suara mama sungguh mengagetkan ku saat itu. Ku coba tangkap maknanya. Tapi sungguh pahit ku rasa.“apa maksud mama?”“kamu boleh kok berteman dengan dia, tapi kamu harus ingat pesan mama. Jaga jarak ya, jangan terlalu dekat. Mama takut kamu akan kecewa.”“mama ngomong paan sih,? Aku semakin gak mengerti.”“suatu saat kamu pasti bisa mengerti ucapan mama” mamapun pergi meninggalkan ku sendiri.. Aku coba berfikir tenteng ucapan itu. Saat ku tahu jiwa ini langsung kaget di buatnya.. tak terasa tangispun semakin menjadi-jadi dan mengalir deras di kedua pipiku. Mama benar kami berbeda agama dan nggak selayaknya bersatu kayak gini. tapi aku semakin ingat kenangan saat kita masih bersama.Satu tahun telaj berlalu, bayangan tentangnya masih teikat jelas di haitku. Aku belum bisa melupakannya. Mungkin suatu saat nanti dia kan sadar betapa berharganya aku nutuknya.Satu harapan dari hatiku yang paling dalam adalah bertemu dengannya dan memohon alasannya mengapa ia pergi dari hidupku secepat itu tanpa memberi tahu kesalahanku hingga membuat aku terluka.Pernah aku menyesali pertemuan itu. Tapi aku menyadari betapa berartinya ia di hidupku. Canda tawa yang tinggal sejarah itu masih terlihat jelas di benakku dan akan selalu ku kenang menjadi bumbu dalam kisah hidupku.Devan, kau adalah sahabat yang paling ku banggakan. Aku menunggu cerita-ceritamu lagi. Sampai kapanpun aku akan setia menunggu. Hingga kau kembali lagi menjalani kisah-kisah kita berdua.TAMAT

  • Cerpen Cinta Remaja: MOVE ON!

    MOVE ON !Oleh: Lelie LianaKriiinggg “Halloo..“… “Hallo, bisa bicara dengan Jenny?”… “Hallo, ini Bobby, bisa bicara dengan Jenny?”… Klekkk! Tuttt tutt tutttPagi itu mendadak muka Jenny masam semasam-masamnya yang dia bisa. Dina aja sampe bingung ada apa gerangan.“Kenapa loe Jen?““Ga kenapa – kenapa““Yakin loe? Loe mandi kan pagi ini ?”“Apa – apaan sih loe Din? Ya iyalah gue mandi!““Ups sorry, abisnya muka loe kusut banget. Kenapa sih?“"Daripada loe ngurusin urusan gue mending loe urusin deh PR dari Pak Burhan.““Hah?? Emang ada PR ya?““Ada, halaman 204 bagian C dan D, essay semua tuh, 15 menit lagi masuk.“Jenny berjalan melenggang melewati Dina, sementara Dina langsung ngacir menuju kelas.Teetttt tettt tettttttt, bel masuk. Jenny yang pagi – pagi udah galau aja di kantin langsung menuju kelas. Di kelas dilihatnya muka Dina menekuk kesel.“Jen loe usil banget sih. Tega – teganya loe ngerjain gue. Dengan susah payah gue ngerjain tuh soal, untung si Budi bilang nggak ada PR, jahat loe!““Lagian loe suka banget ngabisin waktu loe buat urusin urusan orang lain.““Yaaa sorry, abisnya gue kesel aja liat muka loe. Pagi – pagi udah kusut banget persis orang seminggu ga mandi.““Gue lagi galau.““What?? Masih labil ya loe.“ Dina cengengesan.“Hellooo Din, wajar dong gue labil. Umur gue aja belom 20 tahun. Sepupu gue noh, udah 21 masih aja suka galau and labil. Loe jangan mojokin gue dong. Kayak loe ga pernah galau aja.““Iya iya, sorry. Sensitiv banget sih loe. Galau kenapa loe? Bobby lagi?”“Iya. Tadi pagi dia nelpon gue. Sulit Din buat lupain dia, meskipun dia udah ga satu tempat lagi sama gue, tetep aja gue masih sakit hati nginget dia. Denger suaranya aja bikin nyeri uloe hati gue Din.““Hmmm, kayaknya loe perloe ke psikolog deh Jen, masa loe masih beloem bisa loepain orang yang udah nyakitin loe, udah ninggalin loe, udah ga mikirin loe lagi, dan yang pastinya udah jauh banget dari loe. Ayolah Jen, itu udah setahun yang lalu, masa sih loe ga bisa lupain dia.““Din, loe ga ngerti karna loe ga di posisi gue. Coba kalo loe di posisi gue. Susah Din.““Hmmm, bukannya gue sok ngajarin sih Jen, tapi loe cantik, dan banyak yang suka sama loe, masa sih loe mau dan masih menyia – nyiakan waktu yang loe punya cuman buat orang yang hanya sepintas di hisup loe. Jen, dengerin gue ya, semua orang pasti pernah sakit hati, semua orang pasti pernah galau, tapi ga semua orang bisa mengatasinya Jen. Masa depan …”“Udah ah Din, gue ngomong sama loe juga kayanya percuma.““Ok Jen, maybe loe cuman butuh waktu.“ Dina balik lagi fokus ke bukunya, dan menghentikan bisik – bisik dengan Jenny. Sementara Jenny pura – pura dengerin Pak Burhan yang sejak jam pertama tadi sebenernya Jenny ga ngerti membahas tentang apa. Beruntung hari ini Dina dan Jenny duduk di kursi paling belakang, jadi kecil kemungkinan ketahuan Pak Burhan kalo mereka lagi ngobrol bisik – bisik.Kalo dipikir – pikir Dina bener banget ya. Masa gue mau galau terus. Tapi sulit banget buat ngelupain Bobby. Hmmm, ntar istirahat gue tanya Igha deh, kayaknya dia lebih tau.“Jen!!!!““Dina! Loe bisa nggak sih klo ga usah teriak – teriak gitu?““hehe, loe gue panggil daritadi ga nyahut““loh? Pak Burhan mana Din?““Bel istirahat udah daritadi nonaaaa, yok kantin yok, gue laper nih““ehhhmm, loe duluan aja deh, gue mau ke kelasnya Igha dulu““yakin loe? sekalian cuci tuh muka, kusut banget…““Iya iya! ngeselin banget loe“Dina melenggang, sementara Jenny langsung menuju ke kelasnya Igha.“Dina bener banget Jen, loe harusnya mulai ngebuka hati loe. Gue bingung, kerjaan loe setahun ini galau mulu, kapan loe move on nya? Ingat Jen bentar lagi kita ujian, lulus, kuliah, trus misah deh. Masa loe mau terus – terusan jomblo en galau, sementara banyak cowok cakep yang ngantri mau jadi pacar loe. Contoh tuh kak Andre udah cakep, pinter, lulusan terbaik lagi. Udah gitu pacaran sama cewek terpintar di angkatannya. Ayo dong Jen move on. Lagian elo ga bisa juga kan balikin Bobby buat jadi milik loe lagi. Gue saranin deh, buka kembali otak loe tuh, buang jauh – jauh Bobby. Lama – lama gue juga kesel denger tentang tuh cowok“ Igha bernasihat panjang lebar.Jenny terdiam. Sampai pelajaran berakhir, entah ada angin apa, kali ini dia udah ngerasa terbuka otaknya. Dina bener, dia ga mungkin terus – terusan menyesali dan menginginkan waktu kembali lagi. Begitu banyak, bahkan ribuan menit dan detik ia habiskan utnuk memikirkan Bobby yang bahkan Jenny pun ga pernah tau kabarnya lagi. Jenny juga udah bosan dengan semua kegalauannya. Jenny udah bosan bertahan dengan semua sakit hatinya. Lama – lama bisa tua dari umur gue kalo sedih terus. Igha dan Dina bener. Hidup gue masih panjang. Mungkin Bobby salah satu orang yang dititipkan sebentar untuk memberi warna di hidup gue. Gue harus berhenti.Malamnya Jenny membuang semua yang berhubungan dengan Bobby. Semua kontak dan barang – barang yang ingetin dia sama Bobby. Semua foto – foto dia sama Bobby, dia hapus permanent dari semua gadgetnya. Tak terkecuali semua foto print out yang tertempel di dinding kamarnya. SEMUA. Semua kenangan liburan di Bali, foto – foto pas ulang tahun Jenny Bobby kasih surprise, dan yang paling nyakitin, foto – foto Bobby bersama Jenny, Kak Andre, pacarnya kak Andre, Mamah, dan Papah. Semakin Jenny ngeliatin foto – foto itu semakin nyeri di hati Jenny. Dia sangat menyadari, bahkan sesadar – sadarnya. Bobby tetap tersimpan dihatinya, entah sampai kapan. Tapi semakin yakin juga Jenny bahwa semuanya ga akan kembali, seperti kata Dina, Jenny harus bisa mengatasi sakit hatinya.Setelah semua barang – barang itu terkunci rapat di peti, Jenny memasukkan peti tiu ke gudang. Jenny membuka laptopnya lagi, membuka semua catatannya selama setahun. Jenny membuka document baru, disana ia mengetik.“Jika aku menyayangimu, itu bukan sepenuhnya salahmu. Tapi itu salahku yang tak pernah mengerti bahwa waktu bisa merubah segalanya. Jika aku tetap menyayangimu, itu juga bukan sepenuhnya salahmu, itu hanya salahku yang tak bisa mengerti keadaan. Hanya saja, ternyata waktu kemudia mampu membuatku mengerti keadaan. Beribu waktu, menit, jam, bahkan tak terhitung hari kuhahabiskan pikiran dan sedihku untuk mencintaimu. Aku tak pernah berhenti, hanya saja aku beristirahat , mencoba lebih memahami waktu.“Even you are not be the part of me anymore, I am the lucky one that had have you in my life. I have to move on even my heart stil doesn’t understand what my mind’s sugestion. You are the colors of my life that gave me a pain part and beautiful part. Thats why I have to move on. Jenny turn off laptopnya, mencoba memejamkan mata. Berharap besok akan ada waktu untuknya menebus kembali waktu yang terbuang. *****Email : Leelieliana@yahoo.co.idTwitter : @lelielianaFb : Lelie LianaBaca juga cerpen karya Lelie Luana yang lain dalam Jarak dan Kita serta Damaiku Bersamamu, Flora.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*