Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 13

Hufh, ide makin lama kenapa di cari makin susah aja yak? Ciuuuusss deh. Beneran. Makanya ntu adminya aja bingung tujuh keliling buat lanjutin cerpen kenalkan aku pada cinta part 13 ini. So, buat yang udah baca. Yang udah ngikuti jalan ceritannya dari awal sampe kini, bisa donk ngasih sarannya di kotak komentar bawah. Ini cerita bagusnya di bawa kemana. Yah itung – itung bisa jadi referensi buatu admin buat bikin endingnya. Ngono.
Nah, karena cerpen nya kebetulan juga udah lama nggak muncul – muncul, kali aja udah pada lupa sama jalan ceritannya so bisa di cek dulu pada cerita sebelumnya.

Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 13
“Akh, akhirnya. Ketemu juga. Ternyata kalian disini.”
Kepala Astri reflex menoleh bersamaan dengan kalimat yang baru saja di tangkap indra pendengarannya. Sebuah senyum mengambang di bibir saat melihat Alya dan Rendy yang menghampirinya. Dalam hati ia merasa lega atas kemunculan dua makhluk yang baru saja menyelamatkannya dari situasi yang sedikit membingungkan.
“Kok kalian nggak bilang si kalian disini, kita berdua kebingungan tau dari tadi nyariin,” sambung Alya lagi sembari duduk disamping Astri.
“Ya?” Astri menoleh kearah Alya sebelum kemudian matanya beralih menatap tajam kearah Andre yang justru malah membuang pandangan darinya.
“Kenapa?” Tanya Rendy tiba – tiba. Astri menoleh dan baru menyadari kalau kakaknya sedang memperhatikan dirinya.
“Nggak. Nggak kenapa – napa kok.”
“Aneh,” gumam Rendy lirih namun masih mampu di tangkap oleh indra pendengarannya tapi Astri lebih memilih pura pura tidak mendengarnya.
“Tapi ngomong – ngomong kok kalian berdua malah disini? Bukannya kita mau nonton ya? Memang filmnya diputar jam berapa?” Tanya Rendy lagi.
“Masih sekitar satu jam lagi. Cuma dari pada kelamaan nunggu, gue pikir bagusan kalau kita makan dulu,” kali ini barulah Andre buka mulut.
“Ide bagus,” sambar Rendy langsung. Kemudian dengan santai ia memanggil pelayan untuk memesan makanannya. Selang beberapa saat kemudian makanan sudah terhidang di meja.
“Oh ya, sebenernya kita mau nonton film apaan si? Bagus nggak?” Tanya Rendy disela makanan yang mulai di nikmatinya.
Film 99 Cahaya Dilangit Eropa. Katanya sih bagus,” jawab Alya.
“Tapi gue kan udah nonton. Gue nggak ikut ya,”
Semua mata langsung menoleh kearah Astri. Nggak ikut? Terus tu anak mau kemana?
“Loe udah nonton? Kapan? Sama siapa? Kok loe nggak ngajak – ngajak? Terus, kalau loe emang udah nonton ngapain loe ikut sama kita?”
Sungguh, Astri beneran berniat untuk menjitak kepala kakaknya saat itu juga jika bukan karena takut jadi adik durhaka. Secara sejak kapan ia ingin nonton harus laporan dulu sama kakaknya? Dan lagi, tadi yang maksain dia untuk ikut siapa? Dasar kakak durhaka, geramnya.
“Udah. Kemaren. Bareng sama Fajar. Gue aja diajak, ngapain gue ngajakin elo. Dan tadi yang maksain gue buat ikut siapa?” walau kesel, Astri tetap membalas pertanyaan kakaknya.
“Fajar? Kayak pernah denger namanya,” gumam Rendy sambil pasang tampang mikir.
“Fajar? Loe pergi sama dia?” Alya menimpali, Astri hanya mengangguk membenarkan. Tanpa menoleh ia mulai menikmati makanan di hadapannya.
“Loe kenal sama Fajar?” Tanya Rendy, kali ini pertanyaannya ia lontarkan kearah gadis yang duduk di hadapannya.
“Loe cakep cakep pikun juga ya. Tentu saja gue kenal. Dia kan yang kemaren datang kerumah loe waktu mau benerin laptopnya Astri. Gimana sih?”sahut Alya dengan nada menyela.
“Oh cowok yang itu. Yang katanya suka sama loe ya?” balas Rendy yang langsung mendapatkan tatapan tajam sebagai balasannya.
“Terus kalau loe nggak ikut nonton loe mau kemana? Atau kita ganti aja nonton film yang lain aja gimana?”
Astri mengeleng. “Nggak usah. Loe kan katanya pengen nonton tu film. Nonton aja, biar gue…”
“Biar loe jalan aja sama Andre. Alya sama gue aja. Lagian Andre nggak suka nonton film Indonesia. Doi kan sukanya film action atau pun film horror. Oke?” potong Rendy sebelum Astri sempat menyelesaikan ucapannya. Membuat gadis itu semakin merasa kesel. Punya kakak kok gini amat ya. Beneran bukan suri tauladan kakak yang baik and pantas di tiru.
“Kenapa harus sama Andre?” Tanya Alya terlihat keberatan. Tentu saja, secara gadis mana sih yang rela ketika melihat ada gadis lain yang berusaha di jodoh – jodohkan dengan pria yang di sukainya. Apalagi jelas jelas pria itu menyukai gadis tersebut. Rendy pastilah orang yang sangat bodoh jika tidak menyadari itu.
“Itu karena gue pengennya jalan sama loe,” balas Rendy polos.
Alya terdiam, matanya secara menyipit melirik kearah Rendy. Sementara yang di tatap langsung pasang pose memelas.
“Oke deh kalau gitu. Gue setuju.”
“Setuju?” gentian Astri yang kaget. Alya setuju buat jalan sama Rendy. Wah, gaswat. Jangan – jangan tu cewek sudah terkena pengaruh pesona kakaknya. Bisa – bisanya dia menyetujui ajakan playboy cap gayung itu.
“Iya. Dan kita perginya sekarang. Ayo Ren,” ajak Alya tanpa basa basi. Walau terlihat sedikit bingung Rendy manut. Apalagi Alya sudah terlebih dahulu meninggalkan kursinya. Hanya saja pria itu tidak mampu menahan diri untuk tidak merutuk dalam hati. Hei, makanan yang ia pesankan belum habis. Apa barusan itu bukan tindakan pemubazir.
“Jadi As, habis ini kita mau kemana?”
Astri menoleh dan segera menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian.
“Atau kalau loe emang keberatan buat jalan sama gue, gue siap nganterin loe pulang,” sambung Andre lagi.
Astri masih terdiam. Sedikit perasaan tak enak merambati hatinya, terlebih saat melihat raut kecewa diwajah Andre. Setelah menimbang – nimbang akhirnya mulutnya berujar.
“Loe suka baca buku nggak?”
“Ya?” Andre bingung. Tidak tau kemana arah pembicaraan ini akan di bawa.
“Kebetulan ada buku yang pengen gue cari. Jadi kalau loe nggak keberatan gimana kalau kita ke toko buku bentar. Nah, abis itu baru deh. Terserah kita mau kemana,” sambung Astri lagi.
Mendengar itu, senyum merekah di bibir Andre. “Tentu saja tidak. Kalau gitu, ayo kita pergi sekarang,” ajaknya bersemangat.
Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 13
“Jelasin ke gue apa yang terjadi tadi malam?”
Astri menoleh, setelah melihat siapa yang kini berada di hadapannya kepalanya kembali menunduk, menatap kearah buku yang ada di tangannya. Melanjutkan aktifitas membaca seperti sebelumnya. Bersikap seolah kalimat barusan bukan di tunjukan untuknya.
“Lah gue di kacangan,” gerut Alya sambil mendaratkan tubuhnya pada kursi di samping Astri sementara tangannya terulur menutupi buku yang Astri baca.
“Apaan sih loe? Masih pagi gini juga,” keluh Astri kesel.
“Justru karena masih pagi gue nanya. Mumpung dosen belom datang. Lagian loe tingal jawab aja apa susahnya sih,” cibir Alya. “Tadi malam itu loe kemana? Setelah nggak jadi nonton, kalian ngapain aja? Terus kenapa pake pulang nggak bilang – bilang?”
“Hufh,” kali ini Astri menutup bukunya. Yakin kalau ia tidak akan bisa berkonsentrasi lagi menghadapi bacaan selama gadis yang kini disampingnya belum mendapatkan jawaban yang di inginkan. “Ya kemaren kita makan. Loe kan liat sendiri.”
“Makan doank? Abis itu? Jangan bilang kalau loe langsung pulang?” kejar Alya lagi.
Astri terdiam, untuk sejenak angannya melayang ke kejadian kemaren.
“Jadi, loe suka baca ya?” tanya Andre sambil berjalan menemani Astri melewati rak – rak buku yang berjejer.
“Banget. Loe sendiri?” Astri balik bertanya.
“Buku apa yang loe suka?” tanya Andre lagi.
Astri mengernyit, pertanyaannya di kacangin. Namun tak urung mulutnya menjawab. “Gue suka baca Majalah, novel romantis, buku motivasi dan juga komik. Kenapa?”
“Terus selain baca loe suka apa lagi?”
“Emp… Nonton…” sahut Astri setengah bergumam.
“Kalau loe suka nonton, kenapa loe tadi menolak buat nonton bareng?”
“Gue bukan nolak. Tapi gue bilang, gue udah pernah nonton. Apa serunya coba nonton di ulang – ulang. Secara kita kan udah tau jalan ceritanya.”
“Kita kan bisa nonton film yang lain.”
“Sebenernya gue nggak suka nonton film Indonesia. Palingan hanya beberapa aja yang gue tonton. Itu juga kalau emang udah ada yang ngerekomendasikan dan setelah mengadakan riset soal filmnya ke sana sini. Gue juga nggak suka film Action, apalagi film horror. Secara gue kan orangnya penakut.”
“Terus maksut loe suka nonton itu apa?”
“Maksut gue, gue suka nonton itu di rumah. Nonton video koleksi downloadan gue sendiri. Ya gue emang anti banget sama sinetron sih, tapi gue itu ngefans berat sama drama. Baik itu drama jepang ataupun drama korea. Terlebih kalau ceritanya romantis, bisa lupa waktu deh kalau udah nonton. Kakak gue aja suka kesel liatnya. Bahkan gue sering di ledekin sama dia.”
“O… Jadi loe suka sesuatu yang romantis,” gumam Andre lirih.
“Ya?” Astri menoleh. Seolah baru menyadari kalau ia telah terlalu banyak bicara. Entah dari mana datangnya tiba – tiba ia merasa malu. “Ehem…. Ya begitulah. Tapi itukan dalam Novel, drama ataupun film,” sambungnya menambahkan.
“Kalau di dunia nyata?”
Ini kenapa Astri jadi merasa kalau ia sedang di introgasi ya? Saat matanya menoleh kearah Andre, ia mendapati kalau tatapan pria itu jelas tertuju kearahnya dan masih menantikan jawaban darinnya. Untuk sejenak, Astri merasa kalau pipinya terasa panas. Dengan segera di alihkannya tatapan kearah lain. Tidak tau harus menjawab apa.
“Ngomong – ngomong, sebenarnya loe mau cari buku apa si?”
Astri kembali menoleh. Dihembuskannya nafas lega ketika menyadari Andre kini tidak lagi menatapnya. Justru perhatian pria itu kini tertuju pada buku yand diambil secara acak dari rak yang ada dihadapannya. Sementara tangannya sediri sibuk membolak balikan lembar demi lembar halamannya.
“Gue mau cari buku…” Astri menoleh kesekeliling. Tiba – tiba merasa bingung. Sederetan judul daftar buku yang sangat ingin ia baca selama ini telah menguap entah kemana. Pikirannya mendadak terasa blank. Terlebih ketika menyadari kalau toko buku hanyalah tempat yang ia pilih secara serampangan tadi. Tempat yang ia gunakan untuk menyelamatkan diri dari perasaan tidak enak yang sempat melandannya. Jadi kini, sepertinya ia akan melakukan metode yang sama seperti sebelumnya. Tangannya dengan acak terulur meraih buku yang berada tepat di hadapannya.
“Ini.”
Andre tampak mengernyit ketika membaca judul buku yang tertera. “Mengenal virus pada computer?”
“He?” Astri segera manatap buku yang ada di tangannya. Astaga, buku apa yang ia ambil?
“Ehem, Iya. Gue emang lagi nyari buku soal computer. Soalnya, laptop gue kan emang sering eror. Gue emang sempat minta tolong sama Fajar sih kemaren buat benerinnya. Tapi kan nggak mungkin juga gue minta tolong terus sama dia. Sementara kalau sebentar – sebentar gue bawa keahlinya, yang ada entar gue di kira gaptek banget lagi. Ya udah, makanya gue pengen cari tau sendiri,” terang Astri menambahkan. Andre tampak mengangguk paham.
“Ya sudah, kalau gitu kita bayar dulu yuk,” ajak Astri lagi. Dan lagi – lagi Andre mengangguk sembari mengikuti langkah Astri menuju kearah kasir.
“Eh busyed, dia malah melamun. Ayam tetangga pada mati Woi”
Kalimat itu kembali mengantarkan Astri pada keadaannya semula. Matanya menatap ke Alya yang kini menatapnya kesel yang hanya di balas cibiran olehnya.
“Loe mau tau aja.”
“Ya iya donk. Jelas aja gue pengen tau. Secara loe kan jalan sama cowok yang gue suka.”
“Glek.”
Pas. Astri merasa kalimat itu ngena banget. Menghunjam tepat kearah hatinya. Kenapa ia bisa lupa dengan fakta itu ya? Kenapa ia bisa lupa kalau Alya suka sama Andre?
“Kak Andre cuma nemenin gue beli buku doank. Abis itu kita langsung pulang,” sahut Astri akhirnya.
“Toko buku?” Alya menegaskan, Astri hanya mengangguk tak bersemangat. Karena sepertinya semangatnya tiba – tiba raib entah kemana.
“Dan abis itu kalian langsung pulang?” sambung Alya lagi.
“Iya. Loe tenang aja. Gue nggak mungkin ngapa – ngapain sama kak Andre. Lagian gue tau kok, kalau loe suka sama dia,” jelas Astri lagi.
Alya terdiam. Matanya menatap Astri dengan tatapan menyelidik, tapi gadis itu justru malah mendorongnya menjauh, sembari memberi isarat padanya untuk menatap kedepan. Ternyata dosennya sudah ada di depan. Dan kelas pun akan segera di mulai. Jadi mau tidak mau mereka harus menunda pembicaraannya.
To Be Continue
Admin ~ Lovely Star Night

Random Posts

  • Cerpen Cinta Tentang Rasa End { Update }

    Star Night Sepertinya benar – benar sudah menjadi blog kumpulan cerpen. Nggak ada lagi ajang curhat – curhat nggak jelas. Hi hi hi…For all, thanks ya udah mau read my karya."Tidak Semua kisah bisa berakhir indah"Gresia, Anya dan Nanda tampak saling pandang. Mereka sama sekali tidak pernah menduga . Seorang Anggun yang menurut mereka Sering – sering suka rada – rada ternyata mampu berfikir dewasa.Tatapan ketiganya kemudain beralih kearah Alan yang sedari tadi masih belum melepaskan pandangannya dari sosok punggung anggun yang tampak mulai berjalan menjauh.sebagian

  • Cerpen: PESAN TERAKHIR

    PESAN TERAKHIRoleh: Mega SilfiaAtap yang begitu putih, membuat ku teringat dengan dia, bagaimana aku bisa bertemu dengan dia yang sudah tiada. Rasanya aku tidak bisa bernafas, setiap ku mengingat kebersamaan dengannya.“nanda, nanda kamu sudah sadar.” ucap ibu tiri ku dengan wajah panik dan bergegas mencari dokter di rumah sakit nanda di rawat.“nanda, kalo kamu dengar ucapan saya coba anggukan kepala kamu.” sambil melepaskan alat penafasan.Akupun menganggukan kepala, melihat kaki yang dibalut oleh perban, tak sengaja aku mencuri pembicaraan antara dokter dan ibu tiriku, yang ku dengar kaki kananku patah akan sembuh total selama enam bulan lagi dan menyuruh ku di bawa ke psikolog.“nah, nanda kamu jangan banyak bergerak dan tidur saja.”Tanpa mendengar perintah dokterpun aku akan tidur dan melupakan semuanya, ketika aku dan dia bertemu. Saat itu sore yang sedikit cerah memungkinkan ku untuk kabur dari rumah, dengan menggunakan tas ransel besar dan jaket tebal lalu kupluk untuk menutupi kepaku. Ayah ku menikah lagi dengan wanita yang sama-sama di tinggal oleh pasangannya. Ibuku meninggal saat melahirkanku, melihat sosok ibu aku tidak tau, aku kabur dari rumah karna aku tidak butuh ibu, mungkin aku cemburu. Apalagi wanita itu mempunyai anak laki-laki berumur 7 tahun. Membuat ayahku semakin senang. Sepucuk surat ku letakan di kamar yang berisi “aku pergi dan jangan menghawatirkan ku lagi, semoga kalian bahagia, NANDA.”Saat itu aku ingin semua itu berhasil dan sesuai rencana ku , mereka akan khawatir dan mencariku, entah mengapa pikiran ku saat itu kekanak-kanakan. Aku hanya ingin mereka melihatku. Semua berubah saat aku berhenti di sebuah rel kereta api. Di situ aku berfikir, aku akan kabur kemana? Dan bila tersesat bagaimana?. Jujur aku tidak mempunyai teman di sekolah, ini karna sifat pendiamku. Aku tidak pintar beriteraksi dengan orang lain. Yang ku bisa saat itu hanya duduk dan duduk di kursi tunggu kereta api. Entah mengapa aku mulai merasa curiga saat ada seorang anak laki-laki duduk di sebelahku dengan memakai topi dan tas ransel dia duduk dan melihati ku. Sedikit melirik, aku melihat dia, anak laki-laki yang ku rasa seumur dengan ku. Ku rasa dia bukan orang jahat, itu terlihat dari style dan jam tangan yang dia kenakan , bermerek mahal. Di kursi itu dia mulai mengeluarkan suaranya. “kamu kabur dari rumah juga ??” Tanya dia sambil tersenyum“bukan urusan kamu.” Ku jawab dengan nada datar dan dingin.“oh !”Tiba-tiba saja dia berdiri dan menarik tanganku, aku yang saat itu duduk terkejut dan berdiri, wajahnya tepat di depan wajahku. Mata yang coklat, wajah yang putih, bibir yang merah dan dari tubuhnya tercium bau yang hangat. Membuatku tidak dapat bergerak, namun aku mengelak. Dengan ransel yang ku pegang aku pergi meninggalkan dia. Di stasiun dia terus mengikuti ku, walau sudah ku peringatkan di tetap tersenyum dan mengikuti ku , akhirnya aku menyerah dan berhenti.“kenapa sih kamu ngikutin mulu? mau kamu apa sih?” Tanya ku “kabur bareng.” jawabnya sambil tersenyum ringan.Dengan suara kereta yang sangat bising, suaranya sedikit tersamar namun masih terdengar oleh telingaku, aku hanya terdiam dan berfikir, aku dan dia sama-sama kabur, dan apakah aku mempunyai tujuan untuk kabur, mungkin diapun sama, tidak punya tujuan. Aku menyerah dan kita kabur bersama. Dan aku bertanya siapa namanya.“nama kamu siapa.”“aku andre.”“aku nanda.”***Selama perjalanan dia tidak berhenti mengoceh, namun tak kudengar, hanya sedikit ku dengar, seperti dia takut dengan monyet, dia mengaku dia pernah di culik oleh monyet karna dia merebut pisang dari monyet tersebut, aku tidak percaya saat itu, karna yang kupikirkan dia pasti inggin melihat ku tertawa, namun aku tidak bisa karna ku tak terbiasa.“kita bakalan nginep dimana?”“aku tau tempat bagus untuk nginep.” jawab dia sambil memegang tanganku. Sempat ku berfikir dia akan membawaku kesebuah tempat penginapan, namun dia membawaku kesebuah taman dan berkata “disana ada kursi kamu tidur di situ aja, aku di atas rumput di selimuti oleh bintang.”“…….” Aku hanya bisa terdiam, dan mengikuti keinginannya.Pagi harinya dia bangun dengan bugar. Betapa beratnya bila kita kabur namun tak ada tujuan. Akupun terbangun dari kursi dan tak sengaja menginjak kakinya yang sedang santai sambil menghembuskan nafas. “aw, kenapa sih?”“kalo kaburnya kayak gini, mending aku kabur sendiri.”“15 kilo meter lagi kita sampai di tempat tujuan kok.”Di perjalanan dia menceritakan tempat tujuannya untuk kabur, yaitu sebuah rumah yang sudah lama tidak di tempati, itu adalah rumahnya namun sudah kosong. Dan akhirnya sampai di tempat tujuan. Rumah yang lumayan besar. Ada sebuah jendela besar di balik rumah tersebut dan kitapun masuk. Entah mengapa saat masuk aku melihat rumah itu seperti bukan rumah yang di tinggalkan oleh penghuninya, sangat bersih. Dia mulai duduk dan melemparkan tasnya lalu membuka topinya. Karna sinar matahari dari kaca, wajahnya terlihat sangat jelas saat itu. Di rumah itu dia melakukan aktifitas sesuai keinginannya, minum, membuat makanan, anehnya dari kulkas ada banyak perlengkapan makanan yang belum basi. Di sebuah meja makan aku bertanya kepadanya.“rumah ini kaya bukan rumah tanpa penghuni.”“yah emang, ada penjaga, yaitu setan berambut bule.”Entah mengapa aku tersenyum saat itu, tapi aku serius ingin tau, akhirnya dia menjawabnya, memang ada penjaga khusus untuk merawat rumah ini, dan dia menyuruh untuk berhenti sementara membersihkan tempat tersebut. ***Hari-hari ku lewati dengannya, aku lupa bahwa aku punya keluarga dan aku merasa nyaman saat dengannya, sedikit demi sedikit aku bisa terseyum karna banyolannya. Hingga di suatu malam aku memberanikan untuk menanyakan identitasnya. Ternyata dia masih sekolah. Dan satu yang membuatku penasaran. Kenapa dia kabur.“trus kenapa kamu kabur,kalo aku sih karna ibu tiri ku.” tanyaku sambil melihat bintang.“karna ingin melihat bintang, matahari, dan semua yang kadang-kadang ku lihat.”Saat aku mendengarnya entah mengapa dia seperti burung dalam sangkar. Dari matanya aku melihat sebuah penantian.“jawabanya gak etis.”sambil tersenyum dan menatap wajahnya“kenapa, apa keluargamu kacau, apa kau tak suka dengan ibu tirimu, apa karma kamu di perlakukan kaya upik abu?”“gak , hanya aku merasa tak bisa dekat dengan orang yang baru ku kenal.”“lalu, kenapa dengan ku kamu langsung dekat, cobalah tersenyum untuk seseorang yang sebenarnya kamu saying.”Dan malam itu mulai membuatku ingin menutupkan mata namun saat mulai sedikit menutupkan mata dia mengucapkan sesuatu “aku akan pergi jauh.” Namun aku sudah tertidur dan tidak ku hiraukan. Hingga suatu hari saat itu hujan sangat deras, ku melihat dia memandangi jendela, sambil meminum secangkir teh hangat dengan sweeter yang tebal tercium bau yang hangat di campur bau hujan. Dia pun melihatku yang turun dari tangga dan memberikan sebuah senyuman kepadaku dan aku bisa membalas senyumannya. Namun saat langkahku hampir berada dekat dengannya tiba-tiba saja dia memegang dadanya, dan menjatuhkan cangkir teh, aku pikir dia melakukan sebuah lelucon lagi, namun tidak. Dia mengeluarkan mata dan mengaung kesakitan. Aku yang panik tidak tau harus berbuat apa, saat itu aku mencari telepon genggamnya dan di daftar telepon tertulis jelas HOME. Akupun mulai menelepon dan di angkat oleh ibunya. Suaranya semakin keras, dia mengeluh kesakitan. Karna panik aku menelepon ayahku. Saat itu aku sangat ketakutan, ambulan mulai datang dan membawa andre ke rumah sakit, di dalam ambulan aku melihat ibunya menangis sambil memegang tanganya. Ayahnya terus menerus menenangkan sang ibu, telepon dari ayah berdering, dan aku mengirimkan sebuah pesan singkat bahwa aku akan pergi kerumah sakit. Aku hanya bisa melihatnya dan tidak ingin menangis seolah-olah dia akan pergi selamanya. Sesampainya di rumah sakit, dokter dan suster mulai sibuk membawa andre ke ruang UGD, dengan jaket tipis dan basah aku hanya diam di luar rumah sakit hingga dari kejauhan aku melihat ibu tiriku mengahampiri dan memelukku. Dengan badan yang lemas aku berfikir kenapa bukan ayah yang datang. ***Perasaan takut kehilangan dirinya mulai datang dalam hati ku, ketika aku datang untuk menjengungnya dan aku mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada ibunya , ada apa sebenarnya dengan andre. Dia pergi dari rumah dan meminta izin untuk mengahabiskan waktunya, beda dari perkataanya, dia bilang dia juga kabur dari rumah. Dan hal yang sangat membuatku syok, dia sakit parah yaitu kanker hati dan hidupnya memang tidak lama lagi. Itu bohongkan. Aku tidak menginginkan kenyataan ini, namun itu memang nyata. Dan dia dalam keadaan koma saat ini. Sehabis pulang sekolah aku berniat untuk kembali melihat kondisinya, di lorong rumah sakit, dari kejauhan terlihat ibu andre menangis keras sekali. Ayahnya hanya memeluk dan menahan tangisannya si balik kaca matanya. Dan mereka masuk ke tempat andre di rawat. Perasaanku tidak enak, aku berlari menuju mereka, dan menerima kenyataan. Andre sudah tiada. Apa artinya ini. Kenapa saatku merasakan kehadiran seorang yang berarti dia pergi dengan cepat. Pikiranku melayang. Yang ku pikirkan, bagamana cara ku menemuinya lagi. Dan aku melangkah sedikit demi sedikit sampai terhenti di depan tangga menuju atap rumah sakit. Langkah ku menuju tangga tak terhenti hingga sampai menuju atap. Langit saat itu cerah. Angin yang kencan mengibaskan pipiku. Seolah-olah mengusap air mataku. “dimana andre, apa andre ada di langit, di surga, aku ingin menemuinya.”ucapku saat pikiranku melayang. Aku pun berdiri di ujung atap. Betapa tingginya keberadaanku sekarang. Rasanya aku ingin loncat dan berada di tempat yang lebih tinggi. Tempat andre berada. Dan akupun lompat. Saat tersadar aku merasa mati rasa. Kaki dan tanganku di perban.***Pagi itu ayah dan ibu tiriku terus saja mengatakan bahwa aku akan sembuh. Lalu meminta maaf. Aku hanya bisa diam. Karna sebenarnya aku pun merasa bersalah. Aku merasa sudah melukai perasaan mereka. Pikiranku berkata maaf. Namun mulutku sulit mengucapkannya. Sedikit keberanian dan suara yang belum ku keluarkan. Aku berkata “maaf” dan respon mereka sangat luar biasa. Hari-hari ku sudah mulai membaik. Aku mencoba tersenyum untuk mengobati perasaan kehilangan ku. Pintu terbuka dan ada seorang wanita masuk dari balik pintu itu, dia ibu andre. Langkahnya mulai menghampiriku yang terbaring lemah. Dia menannyakan keadaanku. Dan bagaimana pertemuanku dengan andre, anaknya? Semua ku jawab. Dan dia menceritakan semua tentang andre. Andre yang tegar. Andre yang kuat. Dan andre yang sangat menyayangi keluarganya. Andre adalah kebalikan denganku. Dan ibu andre memberikan ku sebuah surat. Surat dari andre sebelum dia pergi untuk selamanya. Ibu andre pergi saat menyerahkan surat ini.“dear nanda, mungkin bila kamu membaca surat ini aku sudah tiada. Tuhan sudah memberikan ku banyak kebahagiaan dan kebahagiaan trakhir untuk hidupku adalah bertemu dengan mu, ini adalah salam trakhirku. Jadilah nanda yang tegar, nanda yang selalu tersenyum kepada semua orang. Karma nanda lebih cantik tersenyum dari pada menangis. Saat kau membaca surat ini pasti kau menangis. Maaf sudah membuatmu menangis. Tapi berjanjilah, ini adalah tangisan trakhir nanda. Pesan terakhir andre prawijaya muftian.”Aku menangis saat membaca surat itu. Aku akan menjadi nanda yang tegar. Nanda yang selalu tersenyum. Dan nanda yang tak akan mengangis lagi saat membaca surat ini. Ini janjiku. THE ENDNama : Mega silfiaFB : Mega Silfia S (mega_bakikuk@yahoo.co.id)Twitter : @megahwaitingBlog : http://megamyname.blogspot.comIni cerpennya original banget. Saya yang buat. pernah kirim ke majalah. tapi saya gak tau di prosese atau gak. jadi boleh silahkan di baca yaa ^_^

  • Terlukaku Karena Nama Indah itu

    Terlukaku Karena Nama Indah ituSebuah nama indah yang kukenal, dan pernah menjadi orang yang paling aku sayang. Hidupnya yang terlihat damai, dan tak pernah memunculkan pertanyaan sedih dalam menjalani hari dengan keluarganya. Meskipun dia memiliki salah satu saudara laki-laki pertamanya yang telah meninggal dunia sehari sebelum lebaran. Begitu mengejutkan, tapi dia lebih terpukul ketika dia memiliki seorang adik laki-laki yang meninggal dunia ketika berumur kurang dari 8 hari. Hingga dia menjerit meminta tuk menggalikan kubur adiknya dan menghidupkannya kembali. Bahkan dia terlihat begitu sedih saat dia menceritakan apa yang dia rasakan ketika itu. Tapi dia masih tetap tegar, karena itu adalah keinginan Sang Pencipta.Dirinya yang kukenal ketika bersamanya adalah seorang manusia apa adanya, penuh kasih, tak pernah menyiksa meskipun menjaili, bukan orang yang pelit dengan segala apa pun yang dia miliki, bahkan dia rela memberika benda yang paling dia sayang kepada orang lain meskipun itu satu-satunya. Dan kekurangannya pun tak pernah membuatku menyesal tuk bisa sedekat itu denganya. Aku tak punya alasan lain, selain ketulusan hati yang kumiliki.Banyak yang ku tau tentangnya, selain tanggal lahirnya. Dia menyukai warna merah, dia menyukai coca-cola di campur es batu, dia menyukai pop ice coklat, dia menyukai naruto, Sate, potato freeze, tak menyukai pedas, ayam kentucky, milo dingin, kacang koro, mayasi dan banyak lagi. Dia bukanlah orang yang sombong dengan semua yang dia miliki. Orang pertama yang kukenal tak pernah memamerkan dengan apa yang dia miliki.Ehmmm, mari aku ceritakan sedikit masa laluku waktu bersamanya dulu..hhehe, langsung saja ya.. Ketika aku masih kelas 1 SD, aku sakit parah dan harus di opname selama 2 hari. Dan ternyata aku sebelahan dengannya di puskesmas itu. Rupanya dia pun di opname selama 5 hari, karena dia sering m,akan mie mentah dan milo mentah. Hingga akhirnya ususnya sakit dan dia di inap. Karena ruang inap kami sebelahan, biasanya kami saling kunjung dan cerita bareng, hhehehe. Jadi, meskipun di inap di puskesmas tetap saja seru karena barengan.Guru di sekolahku sudah tak asing lagi dengan kedekatan kami, bahkan kepala sekolah. Itulah sebabnya kami sering duduk sebangku dan kalau ulangan nggak pernah duduk jauhan. Apalagi kalau kerja kelompok, kami nggak pernah di pisahkan.Suatu hari aku bertemu dengannya di sekolah, seperti biasa kami bercanda bersama. Waktu itu kami kelas 6 SD belajar pelajaran IPA mengenai “Tata Surya”. Dan kami diwajibkan untuk mengahapalkan nama-nama planet sesuai dengan urutannya. Begitu sulit terlaksana, lalu kami pun bernyanyi untuk sejenak menghilangkan kejenuhan dari tugas ini. Kami bernyanyi bersama lagu Samsons “Kenangan Terindah”.“Aku yang lemah tanpamu,aku yang rentan karena cinta yang tlah hilang darimuyang mampu menyanjungku.Selama mata terbuka,sampai jantung tak berdetak,selama itu pun aku mampu mengenagmu.Darimu kutemukan hidupkuBagiku kaulah cinta sejati.Bila yang tertulis untukkuAdalah yang terbaik untukmuKan kujadikan kau kenanganYang terindah dalam hidupkuNamun takkan mudah bagikuMeninggalkan jejak hidupmuYang tlah terukir abadiSebagai kenangan yang terindah”Dari lagu itu pula kami mendapat inspirasi untuk menghapalkan nama-nama planet tersebut untuk memudahkan. Sangat asik dan kami menjadi mudah menghapalkannya. Lalu kami bernyanyi bersama penuh senyum, tertawa dan teriak bersama karena mampu menghapalkan itu. Dan lagu itu berubah lirik menjadi…..“Bila merkurius, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, uranus, neptunus pluto……..”Hahaha, lucu tapi indah. Belajar sambil bernyanyi, sungguh tak pernah membosankan. Apalagi jika rame-rame bareng mereka. Letih belajar tak kan pernah terasa.Tak hanya itu saja, suatu hari kami pun seperti biasa bermain bersama disekolah. Jam istirahat kami lalui dengan makan bersama di dalam kelas, dan ngakak bareng yang lain. Setelah lonceng masuk bebunyi, seperti biasa kami pun bebaris. Karena dia yang begitu jail dan aku yang tak bisa diam, sekalipun bebaris kami selalu saja bercanda dan saling menjaili teman. Waktu itu dia mendorongku, aku pun terjatuh. Wajahku memerah seperti kepiting rebus saja. Semua teman-teman memperhatikan kami. Bagaimana tidak??? kami terjatuhnya bersama, karena dia terinjak kakiku. Parahnya lagi dia jatuh diatas badanku. Untungnya dia segara bangun dan berdiri. Meskipun sejenak kami terdiam saling bertatap mata kebingungan. Tawa dari teman-teman membuat kami berdua segera berdiri dan kembali ngakak bareng. Itu waktu kelas 5 SD dulu. Lucu bila teringat, meskipun memalukan.. hhhehehe ^_^Jika kami belajar bareng dirumahku, dia selalu menungguku hingga pulang aku ngaji dari masjid. Karena dia biasanya datang sekitar jam 4, sedangkan aku pulang ngaji jam 5. Bahkan dia rela datang kemasjid tempatku mengaji naik sepeda untuk menungguku dan menjemputku. Tak jarang dia pun ikut belajar ngaji bersama. Jika sudah saatnya pulang, dia pun menggoncengku naik sepeda untuk pulang kerumah lalu belajar bersama. Bahkan terkadang ketika pulang ngaji, biasanya kami pun membeli es merah dan meminumnya bersama.sambil naik sepeda goncengan, kami biasanya nyanyi bareng n ngakak di jalanan. Hahaha begitu indah kurasa memiliki sahabat seperti dirinya.Apalagi ketika bulan puasa, sangat banyak waktu kami habiskan untuk bersama. Entah itu untuk menyelesaikan tugas menumpuk dari guru, makan bareng, ngobrol, dengar musik, main sepeda, jalan-jalan, main kelereng, main layang-layang dan sebagainya. Saatnya terawih, kami selalu terawih di masjid Istiqomah. Setelah dia pulang 8 rakaat kerumahnya, dia kembali menungguku selesai terawih hingga 23 rakaat+witir. Saatnya selesai terawih, kami berdua pulang bareng kerumahku untuk belajar. Hhehe, biasanya kalau sudah pulang terawih adikku dan orang tuaku kerumah nenekku. Aku di tinggal di rumah berdua bersamanya. Meskipun aku perempuan dia laki-laki, kami tak pernah diragukan untuk tinggal berdua dalam rumah sekalipun pintu dikuncikan. Dan dia akan menemaniku sampai orang tuaku datang, walaupun waktu menunjukkan sudah larut malam dan mulut pun mulai menguap + mata yang semakin berair. Tapi dia masih tetap bisa tersenyum tuk menemaniku.Orang tuanya tak pernah mengkhawatirkannya jika dia berada dirumahku. Mungkin itu karena kepercayaan yang sudah ada. Palingan orang tuanya hanya tersenyum manis dan membelai rambut kami. Malah orang tuanya menyuruh kami untuk belajar di rumahku saja. Hhhehe, baik banget kan orang tuanya?. Orang tuanya pun akan memarahinya jika dia melihat anaknya menjailiku. Teman-temannya pun sudah mengerti akan kedekatan kami. Bahkan aku juga akrab dengan temannya itu. Semua masih pada lucu dan lugu banget.Aku selalu mengajarinya dengan ketulusan hati tanpa 1 pun harapan. Karena aku sangat menyayanginya. Sering dia memberiku benda-benda favoritnya. Dan jika dia tau benda yang ku inginkan beluk kumiliki, terkadang dia yang membelikan aku sembunyi-sembunyi. Hhhehe, baik sih.. Tapi, aku kan jadi merasa nggak enak kalau sering begitu.Meskipun kami sangat dekat, tapi kami pun serin kelahi. Entahlah karena apa. Tapi, dia akan bingung sendiri kalau aku sudah sedih begitu. Hhehe, dia jadi merasa serba salah. Karena dia sadar, dialah yang membuatku merasa kesal karena kelakuannya. Hhhhehe, tapi paling bentar juga kami baikan. Tak sekali pun kami kelahi hingga 1 hari. Dan jika kami ngomong tentang cita-cita, dia selalu bilang kalau dia tak memiliki satu pun cita-cita. Jika di tanya dia akan bilang kalau dia mau jadi tukang tambak seperti bisnis orang tuanya. Dia bilang nggak perlu belajar lagi, nggak kuliah lama dan pegang duit banyak kalau berhasil ketika panennya, mantaaaap kan cita-citanya..yang penting HALAL.Tak terasa jadwal ujian semakin dekat. Itu artinya, belum tentu kami akan tetap seperti ini. Karena ada teman kami juga yang tak lagi berada di bunyu alias ke luar daerah. Dan itu sama dengan perpisahan, karena belum tentu juga kami akan bertemu kembali dan bisa ngumpul bareng kayak gini. Sebenarnya kami masih ingin bersama, tapi waktu tak lagi memungkinkan. Dan memaksa kami untuk tetap bisa tetap menerima semua itu. Jika waktu masih dapat ditunda, kan ku tunda demi bersama mereka. Tapi semuanya tetap saja tak bisa terelakkan lagi.Untuk menghadapi ujian, sekolahku melaksanakan les mata pelajaran yang akan di ujikan. Paling seru kalau waktu makan sudah tiba, kelas menjadi haru makanan dan menjadi heboh penuh tawa yang seru. Biasanya aku, dia dan 2 sahabatku makan bareng dan duduk berhadap-hadapan. Tapi biasanya 2 sahabatku itu pulang makan dirumahnya masing-masing. Karena rumah mereka tak jauh dari sekolahan. Jadi aku dan dia makannya berdua ditambah dengan teman-teman yang ada di sekolah. Seperti biasa dia membawa ayam kentucky, potato freeze, snack dan minumnya coca cola + es batu di gelas tinggi. Hhehehe, kalau aku makannya ganti-ganti sih. Yang pasti aku nggak bawa nasi goreng, ikan, nasi kuning dan makanan yang repot makannya.Begitu juga kalau ada acara makan-makan, seperti Isra Mi’raj, Maulid kami di suruh bawa makanan dari rumah. Biasanya hanya aku dan dia yang nggak bawa nasi. Biasanya aku dan dia bawa snack dan minuman bekarbonat atau milo dingin..uuuuuhhh mantap deh!?kami punya selera makan sama, jadi guru udah nggak heran kalau kami nggak bawa nasi seperti teman-teman yang lain. Serulah pokoknya, makan sambil seru-seruan bareng.Saatnya ujian tiba. Banyak materi yang harus kami pelajari, dan kami semakin sering belajar bareng hingg tak kenal waktu karena takut tidak lulus. Sampailah pada waktu pengumuman hasil, kami lulus. Segera mengucap ‘Alhamdulillah’ ya Allah. Dia pun berlari mencariku, berteriak dan menggenggam tanganku menangis bersama bercampur tawa bahagia bareng 2 sahabtku lagi. Hati menjadi tenang karena kami lulus.Saatnya perpisahan, sekolah mengadakan acara dan mengundang orang tua serta guru-guru lain. Setelah acara nangis-nangis, salam-salaman, makan-makan, nyanyi bareng, kami murid yang baru lulus happy bareng sambil nyanyi dan makan. Bahkan kami sampi loncat-loncat girang bersama.Ketika acara selesai, saatnya pulang. Aku bingung pulang sama siapa, dan aku menunggu di bawah pohon ketapang. Berharap akan ada jemputan datang. Dia pun duduk disebelahku, dan berkata terima kasih. Lalu dia bertanya aku pulang sama siapa, aku menjawab aku bingung. Dia menawarkan untuk pulang barenga entahlah naik apa. Seaat setelah itu, seseorang menjemputnya menaiki motor soghun hijau. Aku tak punya pilihan, kami pulang bareng gonceng 3. Hhhehe, senangnya bisa pilang bareng. Malu sih, tapi daripada nggak pulang?hayoo, parah lagi kan?;pAkhirnya kami tak memakai seragam merah-putih lagi, hhhee. Saatnya memakai seragam putih-biru. Ketika pendaftaran, kami diwajibkan untuk mengikuti tes pembagian kelas. Aku dan dia belajar bersama, berharap kami nanti kan berada satu kelas. Tapi Allah tak mengijinkan, aku di terima tapi dia tidak. Entahlah apa yang terjadi. Dia sedih banget, sukurlah dia tajir. Jadi dia aman dan di terima. Tapi, aku di kelas 7-1 dan dia di kelas 7-3. Dia sedih tak 1 kelas denganku, begitu pula aku. Aku harus beradaptasi tanpanya di dalam kelasku dengan suasana baru. Tapi semakin lama dia pun mampu untuk menghadapi suasana baru itu. Bahkan dia mendapat banyak teman hingga kerabat dan sahabat. Beberapa dari teman barunya itu adalah teman SD kami juga dan teman TK ku dulu.Ketika ada tugas, PR maupun ulangan. Kami tetap saja belajar bareng. Dan kami masih sering pulang sekolah bareng teman-teman yang lain juga. Bahkan dia sering singgah dirumahku karena letih dan minum air sambil menunggu jemputannya datang. Hhehe, ap lagi kalau pas panas. Kalau hujan sih enak-enak aja. Maen hujan bareng di jalan.Kami naik ke kelas 8, tapi lagi-lagi Allah tak izinkan kami berada dalam 1 kelas. Aku kelas 8-1 tapi dia 8-2, meskipun kelas kami sebelahan. Aku pun mendapat teman yang banyak dan beberapa sahabat lagi. Seperti dirinya, dia sekelas dengan teman-teman barunya yang semakin akrab itu. Dan aku mulai sadar, dia berubah dan kami mulai jarang bersama. Termasuk belajar bareng seperti dulu. Justru dia semakin akrab dan dekat bersama temann-temannya itu.Suatu hari di pagi yang mendung, aku datang kesekolah SMPku yang masih sunyi dan hanya terdapat beberapa murid saja. Aku memang biasa datang pagi seperti ini, terasa begitu tenang dan berteman embun pagi. Saat itu dia datang kekelasku, lalu duduk di sebelahku dan merebahkan kepalanya diatas meja sebelahku. Saat itu kelasku tak ada satu pun siswa yang datang. Kami pun bercerita, dia bilang kami tak mungkin 1 kelas karena perbedaan kemampuan otak. Dia berpesan padaku untuk belajar dengan rajin. Masih ku ingat saat dia mengucapkan kalimat-kalimat lembut yang menjadi semangat untukku.Saat seleksi OSN di sekolahku tiba, malamnya sebelum besiknya aku tes dia datang. Dia bilang dia ingin belajar dan mengerjakan PR. Setumpuk buku yang berkaitan dengan biologi sebagai bahan tes besok terlihat olehnya di atas meja yang ada di depannya. Dia heran melihatnya dan bertanya padaku untuk apa semua buku-buku nitu, setelah aku jelasin, dia pun memberikanku dukungan agar bisa lolos dan ikut ketingkat kabupaten. Dia bilang semoga aku bisa ke Tanjung untuk mengikuti OSN tersebut, karena meskipun dia sudah pernah ke Jawa, Yogya, Sumatera tapi saat itu dia belum pernah ke Tanjung. Intinya dia menyemangati dan sangat mendukungku dalam hal ini. Meskipun pada akhirnya aku tak lolos, dia memberikanku senyum untuk tetap menyemangatiku.Semakin lama, dia tak pernah lagi kerumahku. Ketika aku bertemunya di sekolah aku katakan padanya dia sombong. Beberapa hari kemudian ketika dia sudah bisa mengendarai motor dia masih sering menegurku. Tapi tak lama setelah itu, dia kembali tak pernah menegurku dan tak lagi menginjakkan kakinya di rumahku. Aku heran, apa yang terjadi padanya???mengapa dia begini?ataukah aku yang berubah?Tanggal 22 Februari 2008 tiba, itu adalah peringatan hari ulang tahunnya. Sudah menjadi dalam persahabatan kami memberikan kado jika salah satu di antara kami ada yang ultah. Termasuk aku, dia dan 2 sahabatku lagi. Ketika itu aku dan 2 sahabatku itu ingin memberikan kado padanya. Tapi kami terheran-heran, dia menolaknya meskipun akhirnya dia terima dengan terpaksa. Ini pertama kalinya dia menolak hadiah dari kami dan merasa malu. Malah dia happy bareng teman-teman barunya itu.Padahal dia pernah bilang padaku untuk menjauhi orang itu, tapi justru dia pula yang dekat dengannya. Haha, dia termakan dengan omongannya sendiri. Entahlah apa yang terjadi dengan dirinya sekarang. Dan dia pun tak pernah lagi menegurku di sekolah meskipun berada di sampingku. 24 Mei 2008 tiba, itu adalah hari ulang tahunku. Aku membuat acara makan-makan di rumahku bersama sahabtku dan teman-temanku. Termasuk dirinya aku undang. Dia memang tak pernah tau kapan ultahku dan dia sangat jarang mengucapkan selamat. Tapi aku akan sangat senang jika ketika itu dia hadir. Malah sore hari ketika acara itu, dia lewat depan rumahku bersama temannya. Kayak nggak kenal aku pula tuh..ckkk kesel deh pokoknya..Tiga hari setelah acara ultahku, malam hari dia datang kerumahku. Seperti biasa dia belajar, dan ngobrol bareng. Aku bilang padanya, aku kecewa dia nggak datang padahal aku mengharapkannya. Dan dia bilang dia malu entah mengapa. Ehmmm, mungkin dia pikir ini tak penting juga untuknya, nggak ada artinya. Dia minta maaf, aku hanya tersenyum karena semua sudah berlalu. Dua hari kemudian dia datang untuk kembali belajar, dia seperti biasa membawa tas. Tapi kali ini di tambah dengan bag plastik yang besar berisi kotak berlapiskan kertas hijau indah mengkilat.Dia memberikan kotak hijau itu untukku, ternyata dia masih mengucapkan selamat untukku, minta maaf karena saat itu dia tidak hadir ketika acara. Aku tersenyum dan berterima kasih. Separuh malam itu aku habiskan dengan mengerjakan tugas bareng dan ngbrol dengannya. Ketika dia pulang, aku berlari ke dapur sambil tersenyum. Karena ini adalah kado pertama berupa benda darinya. Orang tuaku yang membukanya dan tersenyum mlihat isinya. Sebuh baju kaos pink, celana setengah tiang bewarna hijau tua dan sebuah tas sekolah warna hitam. Aku tau ini dari orang tuanya, tapi tetap saja aku tersenyum. Bukan karena isi hadiah itu, tapi karena pedulinya. Aku simpan dengan baik semua benda-benda itu. Hhehe, senangnya…^_^Tapi tetap saja aku sedih juga pada akhirnya, karena dia tak lagi menegurku maupun menyapaku. Tak lagi pernah datang kerumahku dan mencariku. Tak lagi pernah menelponku dan menghubungiku. Bahkan suatu hari ketika aku mengaji aku bertemu dia pulang dari belajar di rumah temanku sendiri, teman TK ku. Aku kecewa, ternyata dia tak lagi seperti dulu. Dan aku banyak melakukan hal-hal konyol karenanya termasuk datang pagi ke kelasnya. Lalu aku membuat selembar surat kaleng. Aku mengatakan dia jahat!!!. 3 bulan berturut-turut aku berbuat konyol sperti itu. Hahahahaha, bodoh bangetkan??..Dan masih banyak lagi hal konyol dan sangat bodoh lainnya yang aku kerjakan karenanya selain membuat surat kaleng gitu deh.Seperti memperhatikannya sekejap melalui celah kecil di pintu sambungan antara kelasku dan kelasnya. Itu biasa aku lakukan ketika guru tidak masuk dikelasku. Terkadang aku melihatnya sambil tersenyum sendiri bahkan ngomel-ngomel nggak jelas sendiri. Hhhehe, untunglah teman-teman sekelasku tak ada yang curiga, kalau nggak?mati aku!?!@#$%^&&**(/”-_,. Konyol banget kan aku…??? Aduuuh…^^Naik kelas 9, lagi, lagi dan lagi kami tak sekelas. Dia benar-benar tak pernah datang kerumahku sekali pun. Hingga akhirnya ujian berhasil kami lalui, aku lulus sedangkan dia harus mengikuti ujian ulang. Sebenarnya aku sangat sedih melihatnya begitu. Aku tak peduli dia akan berfikir apa pun. Hingga akhrnya dia tetap lulus. Aku bertanya kepadanya, dia peringkat berapa?.. Dia menjawabnya dan menanyakan hal yang sama. Dia bilang aku hebat, ternyata itu adalah terakhir kalinya percakapan kami dengan baik dan dia bicara dengan lembut padaku. Karena kami pun semakin jauh alias kami udah nggak sedekat dulu lagi.Aku semakin sadar karena kami nggak lagi sedekat dulu, keadaan pun berubah. Orang yang dia benci malah dekat dengannya. Orang yang dia bilang parah justru akrab dengannya sperti saudara. Ckkkk, aku merasa seperti kehilangannya. Aku takut dia terus-terusan kayak gini dan bakal lupain aku yang hanya sahabat lama untuknya. Sejenak aku termenung dan menangis karenannya. Tapi tak satu pun kepeduliannya dan rasa kehilangan ada padanya. Aku mulai merindukannya yang dulu, merindukan kalimatnya dan merindukan dirinya yang seperti dulu. Tapi sudahlah, mungkin dia lagi ingin sendiri. Aku coba tuk mengertinya.Di rumahku, aku merebahkan tubuhku dengan sejuta pertanyaan tentangnya. Memikirkan perubahannya yang buatku semakin khawatir. Kucoba tuk menyusuri mencari jawaban itu. Tapi tak satu pun ku temukan. Terlalu ku memikirkannya, hinggaku tak peduli yang di sekitarku. Ya Allah… apa yang terjadi padanya? Mengapa seperti ini?..berikan aku jawaban atas semua ini….Pendaftaran SMA di mulai, kesibukan siswa calon SMA pada sibuk mempersiapkan diri. Kami harus melewati MOS, wawancara, ini, itu, dan blablablablabla….pengumuman penerimaan tiba, kami di terima. Untuk ke sekian kalinya aku nggak 1 kelas lagi. Aku di X-A dan dia di X-D. Mau gimana lagi, itu sudah menjadi keputusan sekolah SMA. Di SMA aku mengikuti ekskul Marchink Band dan banyak kegiatan lainnya, sudah nggak asing lagi kalau dia tuh nggak ngikutin satu pun kegiatan sekolah selain yang diwajibkan. Itulah dia dan dirinya…Karena aku pun semakin dewasa, aku mulai mikir semuanya termasuk sahabat. Aku sadar aku tak lagi dekat dengannya, aku tau aku nggak ada lagi artinya untuk dia, dan aku tak bisa seperti yang lainnya. Dia benar-benar hilang begitu saja. Hingga pada suatu malam, aku merangkai puisi kecil untuknya.Waktu semakin berlaluTlah banyak cerita kita ukir di duniaBersamamu dan keindahan semestaTapi kau larut kedalam waktuYang tak dapat di hentikanDan aku semakin sadar kau tak seperti dulu lagiBukan sekedar ilusi perasaanTapi inilah kenyataan sesungguhnyaJika memang tiada lagi gunanya akuMaka jangan kau lukaiku sperti iniKehilangan seorang yang disayang bukan hal mudahSadarilah, aku masih butuh kamuIngin kuulang kembali memori indah ituBersamamu dan bersama waktuKumpulkan kembali serpihan masa lalu ituDan coba tuk merekatkannya kembaliTak kurasa air mata kembali jatuh kesekian kalinya karena mengingat kenangan waktu bersamanya dulu. Aku tak pernah menangis karenanya di depan sahabatku yang lain. Bahkan sudah SMA baru mereka tau aku memiliki luka dalam seperti ini. Karena aku tak ingin mereka memikirkan ini, mau tak mau harus kusampaikan juga. Meskipun sulit di percaya dan tak mungkinh. Karena aku tak ingin ini kembali kan terulang, karena sahabat berperan penting dalam hidupku.Sekarang pun aku masih memaksakan diriku untuk mampu melihatnya langsung seperti itu. Walaupun aku tak pernah sanggup untuk melihatnya dan membuat tubuhku lemah karenanya. Aihhh, entahlah.. kacauuuu.. aku pun bingung!?.. Ku putar lagu Ungu ‘Untukmu Selamanya’ karena teringat akan dirinya dan kurenungkan dalam hati..Tak pernah aku mengertiApa yang kini kurasakanKegelisahan hatiku saat iniKu masih merindukanmuWalaupun kini ku tlah bersamanyaTak pernah mampu kucoba lupakanmuSungguh tak bisa ku mnegganti dirimu dengan dirinyaSungguh tak sanggup aku berpaling darimuSungguh tak bisa kumencintainya tuk melupakanmuSungguh tak sanggup aku berpindah dari hatimu…..Hingga saat ini, aku masih berdoa semoga dia dikembalikan padaku oleh Tuhan. Meskipun aku sudah mencoba untuk melupakannya, menjauhinya, membencinya. Hatiku tetap saja tak sanggup, meskipun tak ku tunjukkan ke yang lainnya. Aku memang manusia biasa, tak sesempurna teman-teman yang lain meskipun setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Tapi ya udah lah, mau diapain lagi coba…Dan sebelum tidur hatiku pun bertanya-tanya dan berdoa pada Allah,…Ya Allah, mengapa dia tak seperti dulu lagi? Aku kah yang berubah? Tak satu pun alasan terucap darinya mengapa kami tak seperti dulu lagi? Mengapa dia tak pernah mencariku? Atau aku tak ada lagi artinya? Mengapa dia semakin hancur bersama orang-orang yang tak ku sukai itu? Apa maksud-Mu mengujiku seperti ini?Ya Allah, sakit rasanya kehilangan orang yang ku sayang sepertinya. Tunjukkan aku napa alasannya dia seperti itu? Ataukah karena dia sudah memiliki sahabat baru yang jauh lebih baik? Atau dia bahagia tanpaku lagi? Aku tak pernah sanggup seperti ini. Meskipun kuberusaha jalani dengan senyum. Berikan keselamatan padanya Ya Allah, jangan Engkau sesatkan dia, jangan Kau lukai dia, jangan Kau persulit hidupnya. Tapi bahagiakanlah dia meskipun tanpaku Ya Allah. Jaga dia baik-baik dan kirimkan malaikat indahmu untuk menjaganya sampai nanti. Amin…Karena itu aku jadi trauma dan takut milih sahabat, karena aku takut ini kan terulang. Aku taku kesakitan ini kembali terjadi. Dan aku pun takut sahabat dan teman yang kusayang dan kumiliki saat ini, bebuat sama sepertinya dsan mengulang kesalahan yang sama. Cukup sakit, dan kau tak kan pernah tau bagaimana rasanya jika kamu tak mengalaminya sendiri. Tapi aku harap, kesakitajn ini tak terjadi pada siapa pun selain aku. Cukuplah aku yang merasakan sakit itu. Dan kan kucoba tuk melupakannya, menjauhinya sperti yang dia lakukan meskipun butuh waktu yang tak singkat pula. Tak pernah kusesali dan kucoba tuk berhenti menyayanginya hingga mencoba berbalik menjadi benci. Maka jangan salahkan aku lagi.Kenangan indah itu yang mampu buatku tersenyum sekaligus sedih jika mengingatnya. Bukan karena kenangan itu terlalu indah, tapi karena aku tau bahwa kenangan indah itu takkan pernah terulang kembali. Dirinya yang dulu hadir dalam hidupku, buatku jalani hari penuh warna. Tapi kini aku harus sadar, bahwa dia tak lagi disisiku. Karena dia telah memiliki yang lain, yang kan jauh membuatnya lebih bahagia. Tapi satu hal yang tertanam dalam hatiku, aku masih sayang padanya dan masih merindukannya yang dulu. Kembali kutuliskan puisi untuknya. Meskipun sudah banyak puisi lainnya di buku biru ku itu..Bintang malam, katakan padanya aku butuh diaEmbun pagi, sampaikan padanya aku merindukannya yg duluIngin kurangkul kembali kisah indah ituTaukah kau?aku masih sayang..Meskipun aku belajar tuk membencimuDan berhenti tu menyayangimuMasihkah kau ukir namaku dalam hidupmu?Atau kau tlah hapus aku dalam hidupmu?Kucoba belajar tuk sendiri tanpamu lagiMeskipun aku merasa sepi tanpamuPergilah jika itu yang kan bahagiakanmuTapi jangan kembali jika hanya untuk mrngulang dustaKetika aku terlarut dalam lamunanku tentangnya, maka yang ada difikirku adalah semua masa lalu saat bersamanya dulu. Kami selalu tertawa bersama disekolah. Bercanda jika merasa bosan, beryanyi bersama saat jenuh, mengerjakan tugas bersama, makan di kantin sekolah bersama dan banyak lagi hal yang kami mlakukan bersama di sekolah kesayanganku itu. Dirinya yang begitu jail tak pernah membuatku tuk menjauh darinya. Mungkin itu karena rasa sayang yang telah tumbuh dalam hati kami masing-masing. Hahaha, sudahlah itu hanya masa lalu yang terlalu indah..biarlah kudengarkan lagu Peterpan ‘Tentang Kita’ seperti kisahku ini…Waktu terasa semakin berlaluTinggalkan cerita tentang kitaSeakan tiada lagi kini tawamuTuk hapuskan semua sepi dihatiAda cerita tentang aku dan diaDan kita bersama saat dulu kalaAda cerita tentang masa yang indahSaat kita berdukaSaat kita tertawaTeringat disaat kita tertawa bersamaCeritakan semua tentang kita….Kenangan indah itu yang mampu buatku tersenyum sekaligus sedih jika mengingatnya. Bukan karena kenangan itu terlalu indah, tapi karena aku tau bahwa kenangan indah itu takkan pernah terulang kembali. Dirinya yang dulu hadir dalam hidupku, buatku jalani hari penuh warna. Tapi kini aku harus sadar, bahwa dia tak lagi disisiku. Karena dia telah memiliki yang lain, yang kan jauh membuatnya lebih bahagia. Karena kisah ini aku dapat banyak pelajaran berarti, dan karena ini pula aku menjadi dewasa. Uh, meskipun harus sakit hati dan kecewa kayak gini sih..Tapi hingga saat ini, hatiku tak mampu menghapus bayang-bayangnya. Keindahan masa lalu saat bersamanya selalu teringat dalam benakku. Segala yang telah kami lakukan bersama, buatku merasa semakin rapuh. Aku berupaya melupakannya, tapi hasilnya??nihil…!?:( aku masih tak bisa melupakannya. Bahkan hinggaku menemukan orang yang kusayangi, aku masih tak mampu. Hingga ini masih menjadi lukaku yang belum pernah terobati. Kuhempaskan semua masa lalu dan tetap kan kucoba tuk menghapus semua tentangnya..Setelah semua itu tinggal kenangan, hatiku hancur meskipun dia tak lebih dari seorang sahabatku. Setelah dia tak lagi di sampingku, tiada lagi yang menjailiku sepertinya, tiada lagi yang bisa buatku ngakak meskipun aku sebenarnya sedang sedih, tiada lagi semangat darinya, tiada lagi yang mengajakku jalan subuh naik sepeda, tiada lagi temanku belajar setiap kali, tiada lagi kesetiaan seperti dulu, dan semua itu tlah lenyap. Aku benar-benar merasakan kehilangan orang yang kusayang, huhuhuuu. Dia lenyap tak berjejak bin hilang begitu saja.Hingga detik ini, hadiah ultahku darinya masih kusimpan dan baju yang warna pink itu belum pernah ku pakai. Meskipun tasnya sudah mulai buruk sih..hhehe saking sayangnya tuh..terus kalau celananya sih masih bagus-bagus aja. Kalau ingat itu, senengnya dapat hadiah dari dia..Ini adalah satu dari banyak kisah yang membuat kita mengerti akan hidup ini. Ini adalah pelajaran dalam kehidupan. Memang menyakitkan, tapi inilah hidup. Kita hanya bisa jalani saja semampu kita. Memang tak ada yang abadi. Meskipun aku juga bingung harus gimana, hhehe…dan aku pun tak tau bagaimana nanti penghujung kisahku ini. Entah tetap begini atau apa….hhhehe ^-^Sebenarnya masih banyak sih kisah masa laluku bareng dia. Tapi terlalu panjang dan mungkin tak kan ada habisnya jikaku mengulasnya. Jadi sampai disini saja deh..hhehe..intinya aku masih saaaayaaang banget sama dia..meskipun untuk bisa kayak dulu lagi itu tak pernah mungkin terjadi. Hanya Allah lah yang tau dan mengerti..ku serahkan pada-Mu ya Allah… *****

  • cerpen farhatul aini – Izinkan Aku Memilih

    Izinkan Aku MemilihOleh : Farhatul AiniIni perasasan hati tak pernah bisa ku bohongi, menyayangi kalian adalah kebahagiaan dan disayangi kalian adalah kebanggaan, akankan semuanya terus berjalan, seiring dengan kebohongan yang terus dilakukan, salahkah ini semuanya yang ku lakukan untuk membahagiakan diri semata.* * *Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang aku lakukan saat ini, menjadikan kedua laki-laki tak berdosa itu masuk ke dalam kehidupanku, dalam sekejap aku tidak menyadarinya, namun setelah mereka menyatakan perasaannya baru ku seperti terbangun dari mimpi, Kevin dan Yoga kedua laki-laki ini menyatakan cinta padaku dihari yang sama. Dan bodohnya aku tak bisa memilih mereka berdua, bodohnya aku menjadikan mereka sebagai kekasihku.Kevin adalah seorang laki-laki dewasa yang begitu mengerti akan semua keadaanku, saat aku sedang bosan, malas atau butuh kasih sayang diapun selalu ada. dan Yoga adalah kakak kelas ku yang begitu perhatian padaku, itu yang membuatku jatuh hati padanya.“Apa Wid lo pacaran sama dua-duanya?” sontak Adel saat aku ceritakan yang terjadi.“Gue ga ngerti Del, gue sayang sama mereka berdua.”“Tapi harusnya lo tuh bisa berpikir, ga jadi seperti ini, apa yang lo lakuin kalau diantara mereka tau?”Pertanyaan Adel terus membayangi pikiranku, apa yang harus aku lakukan ? apakah aku harus jujur kalau aku selingkuh? Apakah aku harus bilang aku mencintai mereka berdua? Apakah aku harus bilang jika ini kesalahanku yang tak bisa memilih? Entahlah aku harus berbuat apa, biarkan waktu yang mendesakku menjawab semuanya. Aku memutuskan untuk melanjutkan kisah ini, kisah yang terlarang namun begitu ku nikmati.* * *Hari ini adalah janji berkencan ku dengan Kevin, berjalan berdua di tengah keramayan sedikit membuatku gemetaran, jantungku selalu berdebar kencang apalagi saat Kevin menggenggam erat tangan ku serasa merasakan getaran yang berbeda dalam perasaan ini.tibalah kami disuatu taman yang indah, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan taman taman indah itu, enatah tempat apa ini, namun baru ku temui bersama orang yang ku sayang. Cuaca langit yang sedikit menghitam tampaknya mulai menyejukan suasana namun langit masih mau berbaik hati untuk tidak mengeluarkan benih-binih airnya. Tiba-tiba Kevin menarik kedua tanganku membalutnya dengan tangannya yang menjadikan sebuah kehangatan, disitu dia pun berkata. “Wid, aku begitu menyayangi kamu dengan tulus, apakah kamupun begitu?”“Tentu Vin, akupun sayang kamu.”lontaran kata-kata dan tatapan yang tulus membuatku semakin terjerat dalam situasi ini, aku semakin merasa bersalah dan takut bagaimana jika Kevin tau bahwa bukan hanya dia yang menjadi kekasihku saat ini, namun rasa sayang dan egois ku yang memaksaku melakukannya.”sampai acara kencan itu berakhir, suasana kebahagiaan masih terasa begitu melakat di hati.* * *Hari ini adalah hari istimewaku, bertambahnya usia dan berharap akan menambah pola pikir kedewasaanku, walaupun saat ini aku sedang terbelit dalam situasi yang dianggap tidak akan pernah dilakukan oleh orang yang bisa berfikir dewasa. Hari ini juga kepulangan Yoga dari Bandung, setelah berlibur sekitar 2 minggu akhirnya Yoga pulang ke Cirebon, ia tak sabar ingin bertemu dengan Widy kekasihnya itu, karena semenjak mereka bertemu malam itu saat yoga menyatakan cinta, mereka belum pernah dipertemukan kembali karena Yoga harus pergi berlibur bersama keluarganya di Bandung. Kini tibalah mereka bertemu, rasa gugup terpancar dari muka Widy.“Aku kangen kamu Widy sayang.” tiba-tiba Yoga berkata.“ J Aku juga kangen kamu Yoga.” Senyuman tipis terpancar dari wajah Widy.Widy benar-benar merasa gugup, kecanggungan terpancar dari sikap dan bahasa tubuhnya, Yoga pun melihatnya tak biasa.“Kamu kenapa sih Wid, seperti ga suka aku datang.”“Engga ko ga, aku senang.”kenapa saat bersama Yoga, aku selalu terfikirkan Kevin, aku terlalu takut menjalani ini, padahal ini sebuah keputusan yang aku ambil.* * *Percintaan ini benar-benar tidak membuat aku tenang dan bahagia, semuanya hanya menjadi pikiran dan bebanku saja.“Del gue besok mau jalan bareng Yoga.”“Asik dong Wid, pasti lo di ajak ke tempat yang romantisnya ga kalah sama pacar lo yang satu itu.”“Ko gue ga bisa lupain Kevin ya Del, saat gue jalan bareng Yoga, beda banget saat gue jalan bareng Kevin.”“Itu artinya lo lebih sayang Kevin, lo harusnya bisa memilih diantara mereka pasti ada yang terbaik.”“Gue butuh waktu , karna gue sayang mereka.”Berkencan dengan Yoga tak bisa melupakan bayangan Kevin, namun tak ingin ku tampakan. Ku yakin hari ini akan bisa senang bersama Yoga, Yoga membawaku ke sebuah Cafe tempat kami akan mengadakan diner. Suasana lilin yang menyala dengan indah, suasana dingin terasa membuat suasana romantisme tercipta.Saat di waktu sedang menunggu pesanan makanan yang belum datang kamipun berbincang seputar liburan Yoga di Bandung, namun ketika diapun menanyakan seputar liburanku disini aku langsung teringat pada Kevin karna banyak waktu liburanku yang kuluangkan bersama Kevin dan tak mungkin aku bercerita, dan sekali lagi akupun harus berpura-pura.Sampai waktunya akhir kencan serasa menambah kesempurnaan saat Yoga menarik ulur tanganku dan memakaikan cin cin di jari manisku, namun ku artikan itu hanyalah sebuah kado biasa yang biasanya orang berikan pada saat hari ulang tahun. Hatiku juga berkata ini semua bukan kebahagiaan yang aku inginkan.Yoga meluncur dengan mobil hitamnya, melaju menuju arah rumahku untuk mengantarku pulang, sampai di depan gerbang dibukakan pintu mobil mewah itu serasa aku menjadi permaisuri saja, saat ku ingin masuk Yogapun tak lupa mencium keningku, anehnya perasaanku tidak merasa nyaman dengan ini semua. Setelah Yoga mengijinkanku masuk ke dalam rumah, rupanya sosok tak asing bagiku telah menyaksikan drama cinta yang telah terjadi, ya Kevin berdiri disana seperti tak berdaya dengan bunga cantik dan sebuah bingkisan yang indah terjatuh dari genggamannya. aku sontak kaget dengan ini semua, begitupun Yoga yang tampak bingung dengan adanya Kevin.Tak bisa ku keluarkan kata-kata berderet pertanyaan dikeluarkan Yoga pada Kevin.“Siapa kamu, teman Widy? untuk apa datang kesini ? memberikan kado ya buat Widy? Kenalkan aku Yoga kekasih Widy”Ucapan Yoga membuatku gemetaran, semua kata tak bisa dikeluarkan dari mulutku padahal hati ini sudah menjerit tak tahan, matakupun tak bisa menahan benih-benih airnya.Kevin tak enggan untuk menjawab pertanyaan dan sapaan Yoga,“Aku Kevin, dan aku adalah kekasih Widy, aku kesini untuk memberikan ini pada Widy.”“Wid selamat ulang tahun, dan selamat bersenang-senang dengan kekasih baru kamu, terima kasih untuk semuanya.” Rasanya Kevin tak sedikitpun menampakan kesedihan, namun terlihat jelas kekecewaan dan kemarahan terpancar dari mukanya. Jawaban dan sorot mata yang tajam begitu menggores luka dihatiku, tak ada kesempatan yang bisa ku jelaskan, Kevinpun pergi dan meninggalkanku tanpa sepatah kata yang membuatku senang di hari ulang tahunku.Dan Yoga marah-marah meluapkan semua emosinya, aku tak tahan dengan sikapnya.“Okeh, sekarang kamu udah tau kalo aku selingkuh, buat apa kamu marah-marah kita akhiri saja semuanya.”“Wid kamu tau kan aku sayang kamu, kenapa kamu lakuin ini semua?”“Perasaanku yang membawaku dalam situasi ini, kalian begitu berharga buatku dan waktu tak pernah mengijinkan untuk memilih kamu atau dia.”“Baiklah kita akhiri saja semuanya, kamu terlalu beruntung Wid dicintai seseorang dengan tulus, tapi waktu berjalan Wid kamu tak bisa memanfaatkan waktu untuk memilih yang terbaik.”* * *Semuanya pergi luka yang paling menusuk datang dari Kevin tanpa sepatah kata dia mengakhiri semuanya, jika saja dia tau bahwa sekarang aku tersadar dengan cinta yang tulus diberikannya aku ingin dia kembali, berhari-hari ku terfikirkan akan Kevin, kencan yang indah di taman yang indah pula, kini kabarnya entah tak pernah ku dengar lagi. Namun hari ini ku benar-benar merindukannya ku datangi taman indah itu, suasana terpancar sama seperti ku datang dulu bersama Kevin namun kini langit benar-benar ingin menangis seperti hatiku. Kini aku mengerti betapa cinta tak ingin dikhianati, rasa sakitnya begitu tak bisa dirasakan pada seseorang yang mengkhianatinya, namun sangat menyakiti siapapun yang dikhianatinya. Aku juga mengerti tentang penyesalan yang selalu datang saat semuanya telah berakhir. Aku juga mengerti tentang waktu yang tak bisa berlama-lama untuk memilih suatu keadaan.==================================================================== facebook : Farhatul.aini@yahoo.comtwitter : @ainigonilblog : aini-gonilll.blogspot.comemail : ainibarnessa@yahoo.com==================================================================== Rating: 8.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*