Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 10

Buat temen temen semua yang pada nungguin lanjutannya, kali ini udah muncul nih cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 10. Soal ending? Kayaknya masih lama deh. Di usahain nggak sampe lebih dari part 15 walau nggak janji juga sih. Secara, jujur aja deh, kelanjutan cerpennya belom di ketik. Baru di pikirin ni cerita mau di bawa kemana…. #Backsound lagu Armada.
Oh ya, biar nggak bingung sama jalan ceritanya, sebaiknya baca dulu episode sebelumnya dalam cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 09. Happy reading…..

Kenalkan Aku Pada Cinta
Setelah sebelumnya Astri sempat merasa uring – uringan karena motornya yang pagi itu mendadak mogok, namun pada akhrinya gadis justru itu malah mensukurinya. Bukan, bukan menyukuri motornya, tapi mensyukuri dirinya yang ternyata memiliki seorang kakak. Walau mereka sering berantem, tapi sepertinya pria itu masih bisa di manfaatkan. Yah, jadi tukang ojek dadakan misalnya.
Dan begitu kakaknya telah menghilang dari hadapan setelah menurukanya tepat di halaman depan kampus, dengan santai Astri terus melangkah menuju kekelasnya. Hari masih cukup pagi. Hanya beberapa mahasiswa yang tampak bergerombol. Sepertinya sedang asik mengosip bersama.
Begitu tiba di kelasnya, kepala Astri menoleh kesekeliling. Sedikit mengernyit ketika mendapati Alya sudah duduk manis di bangku samping mejanya. Tumben gadis itu mau datang sepagi ini. Dan kenapa juga ia tidak menduduki kurisnya sendiri?
“Pagi Al,” sapa Astri sambil duduk di bangkunya. Tepat di samping Alya.
“Pagi,” balas Alya singkat.
“Tumben jam segini udah datang,” gumam Astri mengutarakan pendapatnya.
“Soalnya gue udah nggak sabar. Ada yang pengen gue tanyain sama loe.”
“Gue?” tanya Astri sambil menunjuk wajahnya sendiri. Kepala Alya langsung mengangguk membenarkan.
“Apa?”
"Loe serius nggak naksir sama Fajar?"
Astri memutar mata mendengarnya. Jadi Alya bela – belain datang pagi Cuma buat nanyain begituan.
"Enggak" balas Astri kemudian ketika menyadari kalau Alya masih menantikan jawabannya. Dengan berlahan diletakannya tas keatas meja. Sementara tangannya sibuk mengeluarkan barang – barang dari dalamnya. Ada pulpen, buku, novel dan beberapa bungkus kulit permen dan tisu bekas. Selain itu masih ada beberapa bundelan kertas yang sudah cukup lusuh. Keningnya sedikit mengernyit sembari bergumam dalam hati, sejak kapan tasnya sudah ia sulap menjadi tong sampah?
"Dan loe juga nggak naksir sama kak Andre?" tanya Alya lagi.
"Enggak," balas Astri masih tanpa minat.
"Loe yakin loe nggak akan patah hati?"
Kali ini Astri tidak langsung menjawab. Kedua tangannya ia lipat diatas meja dengan tatapan menyamping kearah Alya yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa gue harus patah hati?" Astri balik bertanya.
"Karena gue naksir sama kak Andre. Dan gue pikir kalau seandainya gue jadian sama dia, loe bakal sedih."
"Yang ada juga, loe kali yang patah hati kalo gue jadian sama dia," balas Astri santai.
"Ah, bener juga," gumam Alya sendiri sambil mengangguk – angguk membenarkan. Astri hanya melirik sekilas.
"Tapi As, tadinya gue pikir loe naksir sama kak Andre lho."
"Loe nebak gue naksir sama Fajar" Astri meralat sembari mengingatkan sahabatnya tentang kejadian yang terjadi di kantin kemaren.
Alya menoleh sebelum kemudian nyengir kuda. Harus ia akui kalau masalah bersilat lidah sepertinya Astri memang jagonya.
"Ya sudah deh kalau emang gitu. Gue tadinya cuma mau mastiin itu aja," gumam Alya sambil berbalik. Berjalan menuju kearah mejanya sendiri. Terlebih sebentar lagi juga pelajaran di mulai.
Tak terasa waktu terus berlalu, saatnya pulang telah tiba. Niat Astri untuk menghampiri Alya guna pulang bersamannya terpaksa ia batalkan. Pasalnya gadis itu telah keburu raib tak tau dkemana rimbanya. Walau heran, namun ia tidak merasa tertarik sedikitpun untuk mencarinya. Yang ia lakukan justru malah mengotak – atik handpondnya. Mencari id caller atas nama 'Rendy'. Sepertinya ia harus membuat kakaknya kembali menjemput kali ini karena berhubung Alya sudah menghilang duluan, ia jadi malas untuk naik bus sendirian.
Namun sayangnya, sudah lebih dari tiga kali Astri mencoba menghubungi kakaknya, masih tiada jawaban. Membuat gadis itu memberengut sebel. Kemana sih perginya kakaknya itu? Terlebih kini ia sudah berdiri di depan kampusnya. Kan panas.
Suara klakson motor yang terdengar tak jauh darinya membuat Astri refleks menoleh. Sedikit mengernyit ketika menyadari kini Andre sudah berada di sampingnya. Yang tentu saja sedang duduk diatas motornya.
"Udah mau pulang As?" tanya Andre.
Kepala Astri mengangguk sembari tangannya terangkat menaikan kacamatanya yang sedikit turun.
"Motor loe mana?" tanya Andre lagi.
"Dirumah. Tadi pagi mogok," balas Astri kali ini bersuara.
"Jadi loe pulang pake apa?"
Kali ini kepala Astri menggeleng. "Nggak tau nih, kayaknya naik bus aja deh."
"Rendy nggak jemput loe?" tanya Andre lagi.
"Gue telpon nggak di angkat," balas Astri membuat Andre terdiam untuk beberapa saat.
"Ya sudah deh kak, kalau gitu gue duluan ya," pamit Astri berniat untuk berlalu. Namun langkahnya segera terhenti ketika mendengar kalimat balasan dari Andre.
"Gue anterin aja yuk."
"Ya?" Astri pasang tampang heran. Seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Kalau loe nggak keberatan, gue anterin aja yuk," ulang Andre mempertegas ucapannya.
"Nggak usah deh kak. Ma kasih aja. Gue nggak mau ngerepotin," tolak Astri halus.
"Gue sama sekali nggak ngerasa di repotin kok. Udah, ayo," tambah Andre lagi.
Tangannya terulur menyodorkan helm kearah Astri yang masih terdiam. Sibuk menimbang apa yang harus ia lakukan. Karena merasa tak enak untuk menolak dengan alasan yang tak jelas akhirnya tangannya terulur menyambut helm yang di sodorkan padanya. Beberapa saat kemudian keduanya sudah melaju di antara jalan raya.
"Oh ya, loe udah makan siang?"
Kepala Astri mengeleng. Namun saat menyadari kalau Andre tidak mungkin melihatnya, akhrinya mulutnya berujar. "Belom sih. Entar di rumah aja."
"Kalau gitu kita makan dulu yuk. Kebetulan gue juga belum makan. Lagian ini juga udah lewat jam makan siang," kata Andre.
Astri berniat untuk menolak, namun pada akhinya ia hanya terdiam. Terlebih Andre sudah terlebih dahulu membelokan arah motornya kesalah satu resoran yang mereka lewati. Dan tidak sampai 10 menit kemudian keduanya sudah duduk santai dengan hidangan yang kini sudah tersaji tepat dihadapan mereka.
"Ayo, silahkan dinikamati," Andre mempersilahkan saat melihat Astri yang sedari tadi hanya diam.
Kepala Astri menganggu sembari mengikuti ulah Andre yang kini sudah mulai menyendokan makanan kedalam mulutnya. Entah kenapa Astri tiba – tiba merasa cangung dengan situasi mereka saat ini.
"Loe kenapa si? Kok diem aja. Makananya nggak enak ya?" tanya Andre beberapa saat kemudian.
"Enggak kok. Makanannya enak," bantah Astri sambil mencoba tersenyum. Dengan berlahan ia kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Astri,"
Merasa namanya di panggil Astri menoleh. Mengalihkan tatapannya dari makanan yang sedari ia nikmati dalam diam. Dan ketika pandangannya tertumpu pada wajah Andre, gadis itu baru menyadari kalau pria itu sama sekali tak mengalihkan tatapan darinya.
"Soal yang kemaren, jangan terlalu di pikirin ya?" sambung Andre lagi.
Astri sedikit mengernyit mendengarnya. Pikirnya mengulang kalimat Andre barusan. Jangan terlalu di pikirkan? Heh, tu orang pura bego atau gimana ya? Gimana bisa ia tidak memikirkan ketika orang yang di sukai sahabatnya sendiri justru malah berkata kalau ia menyukainya.
"Lagian hanya karena gue suka sama loe, bukan berarti loe juga harus suka sama gue kan?"
Masih kalimat yang keluar dari mulut Andre karena sepertinya Astri masih tengelam dalam pemikirannya sendiri.
"Loe kenapa diem aja?" kali ini Andre melontarkan tanya. Berharap Astri mau membuka mulutnya.
"Enggak, gue cuma nggak ngerti aja," sahut Astri lirih gantian membuat Andre yang mengernyit bingung. Namun ia lebih memilih bungkam, memberi kesempatan pada Astri untuk melanjutkan ucapannya.
"Sebenarnya definisi 'cinta' itu menurut kalian apa sih?" tanya Astri membuat kerutan di kening Andre bertambah.
"Jujur aja gue heran sekaligus bingung. Kenapa kalian kayaknya gampang banget buat bilang suka sama orang. Dan ketika ternyata orang itu juga sama sama suka, terus jadian. Namun, sekiranya selama pacaran ternyata merasa ada yang nggak cocok, tinggal putus. Kemudian cari yang lain terus jadian lagi, dan kalau masih nggak cocok, yah tinggal putus lagi."
"Maksut loe Rendy?" tanya Andre mencoba menyimpulkan ucapan Astri barusan.
Astri mengeleng berlahan. "Bukan cuma kak Rendi, tapi kakak, Alya, dan Fajar juga. Bahkan mungkin anak – anak yang lain yang melakukan hal yang sama."
Sedikit demi sedikit kerutan diwajah Andre menghilang, di gantikan senyuman samar. Matanya masih terjurus kearah Astri yang juga menatapnya. "Loe mikir terlalu jauh. Kita kan masih mudah, jadi itu semua wajar aja tau."
"Maksut kakak hal yang wajar kalau cinta itu sama dengan percobaan?" tanya Astri lagi.
"Oke, sekarang gini deh," kata Andre sambil sedikit mengeser mangkuk makanannya yang kini sudah kosong baru kemudian kedua tangannya di lipat di atas meja. "Kalau menurut loe sendiri, apa sih definisi 'cinta' itu?"
Astri mengernyit, kenapa pertanyaan itu jadi balik di lemparkan pada dirinya ya?
"Gue nggak tau," balas Astri akhrinya.
"Ya?"
"Gue nggak tau. Sampai saat ini belum pernah tuh ada orang yang berhasil narik perhatian gue buat jatuh cinta sama dia," sambung Astri dengan kosa kata yang lebih banyak dari sebelumnya.
"Ya?!" kali ini ekspresi heran di wajah Andre makin ketara. "Maksut loe, loe nggak pernah jatuh cinta orang?"
Astri hanya membalas dengan anggukan.
"Jadi loe nggak pernah pacaran?"
Lagi – lagi Astri mengangguk.
"Sampe segede ini?"
Kali ini Astri mengernyit, emangnya itu hal yang aneh banget ya?
"Gue emang pernah denger sebelumnya, tapi gue nggak percaya kalau ternyata itu memang bener," gumam Andre lirih.
"Maksutnya?" gantian Astri yang pasang tampang heran.
"Nggak kok. Bukan apa-apa," Andre cepat cepat mengeleng sambil tersenyum. Membuat Astri semakin curiga padanya. Tapi gadis itu tidak berkomentar apa apa karena ucapan Andre selanjutnya sukses membuatnya membulat kan mata.
"Kalau gitu, loe mau nggak gue kenalkan sama yang namanya 'cinta'?"
"Ha?" kerutan di kening Astri bertamah.
Sementara Andre justru tersenyum. Benar – benar tersenyum. Sebelum kemudian mulutnya bergumam yang membuat Astri langsung membeku.
"Karena mulai detik ini, gue akan pastikan kalau loe, jatuh cinta sama gue."
To be continue… Wkwkwkwkwkwkkkkkk…
Oke All, sudah di putuskan kalau adminnya nggak jadi vakum tapi mungkin muncul cerpennya rada lamaan. Jadi buat yang udah nggak sabar sama jalan ceritanya, yah di maklumi aja lah. Seperti halnya admin yang nulis cuma suka suka, buat yang baca admin persilahkan untuk melakukan hal yang sama. Kalau suka, silahkan baca. Kalau nggak suka yang terserah anda. Adil kan?
Ah satu lagi, karena cerpen cinta ketika cinta harus memilih yang jelas akan mucul setelah postingan ini menjadi part terakhir, maka diputuskan kalau admin mau bikin rencana cerpen baru lagi aja. Secara sejak jaman dulu kala (????), cerpen yang muncul harus selang seling bukan?…..
Admin ~ Lovely Star Night ~

Random Posts

  • Cerpen Remaja Kala Cinta Menyapa ~ 11

    Jejak hidupku adalah untain kata yang tersemat di blog. Yang kurangkai semauku untuk mengisi waktu luang. Hanya untuk menunjukan bahwa aku pernah ada.So, For All. Aku harap kalian juga melakukan hal yang sama. Tinggalkan lah jejaknya supaya aku juga tau, kalau "reader" itu beneran ada. Untuk part sebelumnya silahkan baca "-} Cerpen remaja kala cinta menyapa Part 10Dengan langkah lunglai Rani berlalu dari hadapan Erwin dan Syintia. Angannya melayang ke masa – masa yang telah lalu. Akan kedekatannya dan Erwin . Tanpa sadar di helanya nafas berat. Rasa sesak melingkupi hatinya saat dengan berat hati ia harus mengakui kalau ia benar – benar telah jatuh cinta pada cowok itu.sebagian

  • CINTA YANG RUMIT

    Cinta yang Rumitoleh: Aulia Putri Ambarwati – Aku Sherovina Ramadhanty si gadis yang terkenal dengan sifat leletnya. Kini aku duduk di bangku SMA kelas 11. Aku mempunyai seorang pacar yang menurutku dia sangatlah baik. Dia seorang kakak kelas satu tahun di atasku. Namanya Raffi. Dia orang yang baik, perhatian dan sangat memperdulikan aku. sudah 13 bulan aku menjalani hubungan dengannya. Aku sangat sayang kepadanya. Dia pun begitu padaku. Sehingga hubunganku dengannya selalu baik-baik saja. Tidak pernah ada pertikaian yang terjadi di antara kita. Tapi menjelang kelulusannya mulai ada gejolak-gejolak yang timbul. “Hai fi, nanti kamu mau kuliah kemana apa langsung kerja?” Tanya aku kepadanya. “InsyaAllah mau kuliah dulu, mau coba ke UGM”, “Ha? Jauh dong, terus nanti aku gimana? Kesepian dong gak ada kamu?” aku pun terkejut. “iya begitulah, mungkin kita bisa ketemu di waktu luang”. Setelah aku tahu bahwa dia akan berkuliah di tempat yang jauh, hatiku pun sedih. Aku memikirkan resiko yang akan timbul nantinya. Pasti aku akan jarang bertemu dengannya. Aku takut saat nanti aku tidak bersamanya lagi aku akan tergoda dengan lelaki lain. Pengumuman kelulusan pun berlangsung. Aku bertanya kepadanya “gimana fi? Lulus kan pasti? Hehe”, “iyadong lulus haha”, “emang NEMnya berapa?” aku kembali bertanya. “32 Sher”, “ha? Serius?”, “iya bener” Raffi menjawab. Aku pun sedikit terkejut karena NEMnya begitu tinggi dari teman-teman yang lainnya. Beberapa bulan kemudian dia pun meninggalkan sekolah menengah atas untuk melanjutkan ke jenjang sekola yang lebih tinggi. Dia masuk ke universitas yang dia inginkan. Aku pun naik tingkat ke kelas 12. Semenjak kepergiannya aku sering diam di sekolah. Aku tak semangat bersekolah seperti dulu. Nilaiku pun perlahan turun. Aku ingin sekali seperti dulu, bertemu dengannya setiap hari. Tapi sepertinya itu hanya khayalan semata. Satu bulan berlalu tanpa kehadirannya disisiku. Sepi sendiri ku jalani hari-hariku di sekolah. Sudah 15 bulan hubunganku terjalin. Tapi semenjak kepergiannya sudah tidak ada lagi yang spesial di hubunganku dengannya. Aku merasa sangat bosan. Aku pun jarang sekali bertemu dengannya. Bahkan bisa dibilang tidak pernah. Tapi aku yakin dia disana akan selalu setia kepadaku meski jarak memisahkan kita. Dua bulan berlalu. Kini hubunganku dengannya bisa dibilang seperti teman saja. Lalu di saat keadaan yang seperti ini ada seseorang yang begitu dekat padaku datang. Dia seorang yang sangat menjengkelkan tapi walaupun seperti itu dia perhatian kepadaku. Dia adalah Aldi. Teman sekelasku. Dia juga dulu mantan pacarku waktu aku kelas 10. Tempat dudukku berdekatan dengan tempat duduknya, sehingga sering kita bercanda bersama. Seiring berjalannya waktu. Aldi semakin perhatian kepadaku. Hatiku terasa tergoyah akan perhatiannya. Sampai pada suatu hari dia menyatakan bahwa dia sayang kepadaku. aku terkejut, karena dia pun telah memiliki kekasih juga. Lalu aku pun bertanya kepadanya “lu kan udah punya pacar Di kenapa mesti sayang ke gue?” dia pun menjawab “iya Sher gue tau, tapi perasaan gue ke elu muncul lagi tiba-tiba. Gue udah gak ada perasaan lagi sama dia. Tapi adanya sama elu”. Aku terkejut mendengar jawabannya itu. Hari demi hari telah terlewati. Tanpa ku sadar aku mempunyai rasa yang sama dengan Aldi. Aku juga sayang kepadanya. hatiku bertanya-tanya “mengapa perasaan ini muncul? Lalu bagaimana hubunganku dengan Raffi nantinya”. Pertikaian pun mulai terjadi. Ternyata kedekatan ku dengan Aldi di kelas itu di mata-matai oleh teman sekelasku yang dekat dengan pacarnya. Pacarnya bernama Raisa. Dia menyuruh temannya itu untuk memata-matai kami berdua. Menurutku sikap dia kepadaku biasa saja, dan sebaliknya sikapku kepadanya juga biasa. Tapi Raisa dan temannya menganggap sikap kami berdua berlebihan, seperti orang yang berpacaran. Aku dan Aldi selalu di fitnah yang tidak-tidak. Akibat masalah ini nilaiku di sekolah pun turun drastis. Masalah ini membuatku pusing. Membuat bathinku tersiksa. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar Tuhan memberi yang terbaik bagiku. Perasaanku kepadanya semakin kuat. Sampai-sampai aku menjadi lebih sayang kepada Aldi dari pada ke Rafi. Sampai pada suatu hari aku memberi sedikit saran kepada Aldi. “udah Di, kalo lo lebih milih dia gapapa kok, gue bisa terima walaupun sebenernya hati gue sakit. Tapi gapapa gue juga masih ada Raffi. Gue Cuma bisa ngasih tau jujur sama perasaan lo sendiri. Jangan maksain perasaan lo karena akan lebih sakit nantinya, tapi semua is up to you aja.” Aldi menjawab “iya Sher gue bakalan mikirin ini semua mateng-mateng kok” Kini aku pun memikirkan yang terbaik. Aku sangat bingung, aku tidak mau ada yang tersakiti karenaku. Tapi tidak mungkin juga aku memilih dua-duanya. Hatiku sangat bimbang. Aku memikirkan ini berminggu-minggu, Setelah aku memikirkan secara matang, aku putuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Raffi. Aku hanya ingin jujur kepada perasaanku sendiri. Aku pikir “percuma saja sekarang aku berhubungan dengannya jika aku sudah tidak mempunyai rasa apa-apa seperti dulu. Bertemu pun jarang. Bahkan sekarang dia sangat sibuk dengan sekolahnya, dari pada aku membuat beban di hidupnya, lebih baik aku akhiri saja”. Aku mulai berbicara dengannya, “Fi aku mau ngomong sesuatu tapi kamu jangan kaget ya”, “haaaaa?? Apaaa???” dia bersenda gurau, “beloom Raffiiii, ett dah. Jadi gini aku pengen kita putus, aku punya perasaan sama yang lain, aku punya pacar buat motivasi aku supaya semangat belajar Fi. Tapi sekarang kamu gak ada lagi. Jadi mungkin kita lebih baik putus. Kamu juga kan lagi sibuk sekolah? Udah urusin dulu aja ya sekolah kamu. Kejar dulu cita-cita kamu. Aku juga mau ngurusin sekolah aku dulu. Karena sebentar lagi UN aku mau fokus sama pelajaran dulu. Dan hanya seorang yang ada di samping aku yang bisa motivasi untuk buat aku semangat belajar. Maaf aku begini, aku gak mau nyakitin kamu lebih dalem lagi”. Dia pun hanya bisa bersedih dan terkejut mendengar perkataanku. Seperti masih tidak percaya akan pernyataanku. Aku yang dulu di percayainya akan selalu setia. Kini kepercayaannya telah hancur karena ku. Aku pun sebenarnya tidak mau menyakiti hatinya seperti ini. Tapi aku terpaksa melakukan ini semua. Aku hanya ingin jujur akan perasaanku. Masalah ku dengan Raffi pun sudah terselesaikan. Aku hanya mengaggap dia sebagai temanku. Selama 17 bulan waktu yang sangat berarti untukku karena kehadirannya. Kini aku hanya bisa mengenang masa-masa indahku saat bersamanya. Tidak lama aku putus dengannya. Aku mendengar kabar bahwa Aldi telah putus juga dengan Raisa. Aku terkejut mendengar itu. Tidak ku sangka dia mengakhiri hubungannya juga. “kenapa putus Di?” aku bertanya. “percuma juga Sher gue udah gak ada rasa lagi sama dia. Gue gak suka sama sikapnya dia yang begitu ke gue. Gue mau jomblo dulu aja. Pusing gue pacaran kalo begini terus” Pertikaian kami pun lama-lama terselesaikan. Aku mencoba kembali untuk bangkit dan tidak memikirkan hal-hal itu. Karena itu semua hanya mengganggu proses belajarku saja. Teman-temanku yaitu Priska, Medina dll. mendukung agar aku kembali menjalani hubungan dengan Aldi. Teman-teman Aldi pun yaitu Rizky, Nael, Chandra, Ray ikut mendukungnya. Akhirnya pada tanggal 04 November 2011, Aldi mengajakku untuk kembali bersamanya. Saat itu aku sedang berada di Balkon Sekolah.”Sherovina Ramadhanty, maukah kau kembali padaku?” dia berteriak di depan banyak orang. Banyak orang yang melihat. Hatiku terasa bergetar. Aku sangat deg-degkan mendengar itu semua. lalu aku berpikir sejenak, lalu aku memutuskan untuk menerimanya. “Revaldi, aku mau kembali padamu”. Orang-orang di sekitarku banyak yang berteriak “ciyee-ciyee”. Perasaanku sangat senang saat itu. Raisa dan temannya tidak bisa menerima ini semua. tapi seiring berjalannya waktu, kini mereka bisa menerima hubunganku dengan Aldi. Dan pada akhirnya kini aku dapat berbahagia menjalani cinta dan kasih bersamanya kembali. ~THE END~Your comments are very meaningful for me :)Penulis : Aulia Putri Ambarwatiemail : Lovelly_girlz27@yahoo.comadd on facebook : http://www.facebook.com/#!/Auliuwwzzfollow on twitter : http://twitter.com/#!/AmbarwatyAul:

  • Cerpen: PENGORBANAN AYAH

    Pengorbanan Ayaholeh: Natania Prima NastitiAku terus melihat ayah dengan sebal saat dia melambaikan tangannya pagi itu untuk berangkat berdagang sayuran di pasar. Aku benar-benar menyesal telah dilahirkan dari rahim seorang wanita berkeluarga miskin. Sekitar lima bulang lalu, ibu pergi untuk selama-lamanya. Saat kepergian ibu, sama sekali tidak ada air mata yang menetes dari mataku. Aku benar-benar benci keluarga miskin ini! ucapku dalam hati. Setelah ayah sudah berbelok, aku langsung berangkat sekolah. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin terlihat bareng dengan pedagang sayur itu.Di sekolah seperti biasanya. Saat istirahat aku hanya duduk diam di kelas. Aku sama sekali tidak dikasih uang jajan. Penghasilan ayah yang pas-pasan setiap harinya, hanya bisa untuk beli makan untuk di rumah saja. Bekal pun tidak ada. Aku rasa Tuhan tidak adil! Aku benar-benar muak dengan hidupku sekarang! Ingin sekali rasanya aku kabur dari rumah dan mencari keluarga baru yang kaya raya. Tapi aku rasa itu tidak mungkin. Ongkos untuk kabur pun aku tidak punya.Saat pulang sekolah, ayah sudah pulang duluan. Kulihat ayah memandangi foto ibu yang telah usang. “Dia itu udah mati! Percuma kalo foto diliatin gitu juga nggak bakal ngebuat dia hidup lagi!” teriakku kemudian langsung masuk ke kamar dan membanting pintu kesal. Terdengar suara tangisan ayah. Tapi aku sudah tidak peduli lagi. Aku kemudian tidur sambil menutup kepalaku dengan bantal gepeng yang usang.***“Dasar anak tukang sayur! Udah miskin sok ngatur-ngatur lagi lo! Pergi lo dari kelompok gue!” teriak Metha, salah satu temanku, dia memang anak orang kaya. Kemudian aku pergi dari mejanya. Percuma juga jika aku meladeni bentakannya itu, yang ada teman-teman pasti akan menertawaiku karena ucapan Metha yang menjelek-jelekkanku. Aku pun tidak akan menangis dengan ucapan Metha tadi. Ucapan-ucapan seperti tadi sudah menjadi makanan sehari-hariku. Yah, beginilah kehidupanku. Penuh dengan ejekan. Semua ini karena keluargaku yang miskin! Aku benar-benar stress karena kemiskinan!“Heh! Ganti pekerjaan kek, Bapak! Aku malu denger semua ocehan temen-temen! Mereka selalu bilang kalo aku anak tukang sayur! Aku malu, Pak! Malu!” teriakku pada ayah sepulang sekolah.“May, udah sepuluh tahun Bapak kerja seperti ini. ini memang sudah pekerjaan Bapak, May. Mana mungkin bapak menggeluti pekerjaan lain. Bapak juga tidak punya keahlian, May. Maafkan Bapak” sahut ayah sambil menangis. Aku benci ucapan ayah itu! Bukan itu yang aku mau!“Bodo amat! Pokoknya Bapak nggak boleh jadi tukang sayur lagi!” bentakku kemudian masuk ke kamar dan membanting pintu. Di kamar aku menangis. Meratapi nasibku ini. Kenapa buruk nasibku ini? aku benci! Aku benci semuanya!Paginya kulihat ayah duduk di depan. Dia tidak pergi ke pasar hari ini. “Pak? Nggak jualan?” tanyaku. Ayah kemudian tersenyum padaku. “Bapak udah nggak jualan sayur, May. Kamaren kan kamu yang bilang supaya Bapak nggak jualan sayur. Sekarang Bapak jualan koran. Dan sebentar lagi juga Bapak berangkat” ucap ayah kemudian. “Ish, dasar! Maksud gue nggak usah jualan sayur, ya jangan jualan koran! Jadi insinyur kek! Biar kita kaya! Kaya raya, Pak!” bentakku kemudian. Ayah menundukkan kepalanya. Sebal melihat ayah, aku langsung pergi untuk berangkat sekolah. Kemudian ayah memegang pundakku dan menyodorkan tangannya. Aku sudah kesal dengan ayah bego itu! Aku tetap pergi tanpa salim padanya. Aku benci dia!***Tiga bulan kemudian, ayah berganti pekerjaan sebagai tukang koran. Sama saja! Hidupku tidak berubah sama sekali. Sama seperti dulu. Tidak dapat uang jajan, jarang makan dan tidak ada uang untuk kabur dari rumah! aku benar-benar stress ada di rumah! mau pergi juga pergi kemana? Aku sama sekali tidak ada uang. Bosan sekali aku di rumah ini!Ayah pulang kemudian duduk di kursi sambil mengelap mukanya yang bercucuran peluh. “May, tolong ambilin Bapak minum. Bapak capek sekali, May” ucap ayah kemudian. “Heh! Enak aja nyuruh-nyuruh lo! Kalo haus, ya ambil minum sendiri! Punya kaki kan? Kalo Bapak nggak punya kaki, baru aku ambilin!” teriakku kemudian pergi meninggalkan ayah sendiri. Kemudian aku pergi keluar rumah. Aku duduk duduk di kursi depan. Sebal rasanya aku dengan ayah. Sudah miskin, sok jadi raja lagi! Minum saja minta ambilin! Punya kaki kenapa harus minta ambilin?! Dasar ayah tidak berguna! Ucapku dalam hati dengan kesalnya.Besoknya tiba-tiba ayah pulang dengan babak belur. Ayah meringis kesakitan sambil memegang lukanya. Kemudian aku menghampirinya dan bertanya, “kenapa, Pak?”. “Bapak tadi berantem, May. Ada orang yang mengambil barang berharga punya Bapak” jawab ayah sambil meringis kesakitan. “Ish! Ngapain coba pake berantem segala?! Kayak anak kecil aja! rebutan barang lagi! Anak kecil banget tau nggak!” bentakku benar-benar sebal. Dasar orang tua! Sudah tua bukannya banyak nyari uang, malah berantem kayak anak kecil! Bentakku dalam hati. Ih! Aku benar-benar kesal dengan ayah! Sudah tua, miskin, kerjanya hanya merepotkan saja! Rasanya aku ingin cepat kabur dari rumah ini! Rumah gubug ini!Malam harinya, terbelesit pikiran nakalku. Aku tau bagaimana cara kabur dari rumah kali ini. aku berjinjit masuk pelan ke kamar ayah. Kulihat ayah sedang duduk di kursi depan. Saat di kamar ayah, aku langsung mengobrak-abrik lemari baju ayah. Kucari-cari sesuatu itu. Dan akhirnya… ya! Aku berhasil mendapatkannya! Uang itu, uang untuk kabur itu. Aku berhasil mendapatkannya. Selamat tinggal miskin! Ucapku dalam hati sambil tertawa tidak bersuara. Kemudian kumasukan uang itu ke dalam saku baju. Aku bergegas keluar dari kamar ayah. Saat hendak keluar, tiba-tiba ayah sudah ada di depanku. Aku terkejut melihatnya.“Kamu kenapa ke kamar Bapak?” tanya ayah padaku. Aku memikir-mikir alasan apa yang masuk akal.“Emangnya nggak boleh apa ke kamar Bapak?! Miskin aja pake rahasia-rahasian segala! Dasar miskin!” bentakku kemudian. Aku segera masuk ke dalam kamar.Ku hitung-hitung, uangnya berjumlah empat puluh lima ribu. Untuk apa ayah menyimpan uang sebanyak ini? dasar!. Aku berencana, nanti pagi-pagi sekali pergi dari rumah ini. niatku sudah mantab! Aku akan pergi dari kemiskinan ini! pergi dari ayah yang tidak berguna itu! Ucapku dalam hati dengan mantabnya.Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap. Saat hendak keluar kamar, tiba-tiba ada perasaan tidak enak. Aku tidak tau kenapa begitu. Hatiku ini, seperti bilang jangan pergi. Aku takut jika nanti terjadi apa-apa dengan diriku. Setelah lama dilema, akhirnya aku putuskan untuk tidak jadi pergi dari rumah. uang ini, lebih baik aku simpan sendiri saja. Cukup untukku membeli baju. Apalagi.. sebenatar lagi hari ulangtahunku. Aku juga ingin bersenang-senang di hari ulangtahunku. Akhirnya aku menyimpan kembali uang itu. Dan tidak jadi pergi dari rumah. sangat kusesali juga. Tapi.. yasudahlah, mungkin memang ini belum waktunya untuk kabur dari rumah.***Seminggu kemudian, tepat di hari ulangtahunku, aku berdandan serapih mungkin. Hari ini aku akan pergi ke pasar untuk membeli baju dengan memakai uang yang ku simpan itu. Saat di perjalanan, tiba-tiba salah seorang tetanggaku menghampiriku dan berkata, “May, May tunggu! Jangan pergi dulu! Emm.. heh.. emm.. anu… Bapakmu.. heh.. Bapakmu.. kec.. kecelakaan!”. Aku terkejut dengan ucapan itu. Entah kenapa aku sedih dengan ucapan tetanggaku itu. Seharusnya aku senang karena ayah kecelakaan! Jadi tidak ada yang merepotkanku lagi. Tidak ada wajah yang menjengkelkan aku lagi. Tapi kali ini.. aku malah sedih. Saat diajak menengok ayah pun aku mengikuti. Kenapa ini? tanyaku pada diri sendiri.Air mataku menetes saat melihat ayah terbaring di kasur rumah sakit. Lukanya ada dimana-mana. Diselimutnya, masih terbekas darah segar bekas darah ayah. Aku langsung menghampiri ayah. Air mataku terus mengalir sedih. Entah mengapa, aku kasian melihat ayah terbaring seperti ini. Memeluknya.. aku malu sekali melakukan itu. Padahal aku sangat ingin melakukan itu.Sejam kemudian, ayah sadar. Kemudian dipanggil-panggilnya namaku. Aku pun segera menghampiri ayah. “May, coba tolong liatin kaki Bapak. Bapak merasa tidak nyaman, May. Bapak bener-bener minta tolong kali ini” pinta ayah kepadaku. Kemudian, kubuka selimut ayah dan betapa terkejutnya aku. Kaki ayah.. kaki ayah.. kaki ayah hanya tinggal sedengkul. Kaki ayah ternyata diamputasi. Ayah tidak punya kaki lagi sekarang. Air mataku kembali mengalir saat melihat keadaan kaki ayah sekarang. Tanpa malu, aku langsung memeluk ayah. Sakit hati ini memeluknya. Mengingat perlakuanku kepadanya dulu.“May, Bapak haus. Tolong ambilkan minum untuk Bapakmu ini, Nak. Kamu sendiri yang bilang kan, jika Bapak tidak punya kaki, kamu yang akan mengambilkan minum untuk Bapak. Sekarang.. Bapak tidak punya kaki lagi, May. Tolong ambilkan minum untuk Bapak, Nak” ucap ayah menangis. Melihat ayah menangis, aku pun jadi ikut menangis. Kemudian kuambilkan minum ke meja. Hatiku kembali sakit mendengar perkataan ayah barusan. Ayah benar. Dulu aku memang pernah berkata seperti itu. Sekarang, aku benar-benar sedih mengingat kata-kataku dulu itu pada ayah.Ayah kemudian memegang tanganku erat. Kemudian disuruhnya aku mengambil sesuatu di bawah tempat tidur ayah. Saat kulihat, ada baju disana.“Untuk siapa ini, Pak?” tanyaku kemudian bingung.“Itu.. untuk..mu, May. Se.. selamat ulangta… hun ya, May. Maaf se… kali karena Bapak hanya bi.. bisa memberi itu untuk… mu” jawab ayah terbata-bata. Aku kembali menangis mendengar ucapan ayah. Kemudian aku peluk ayah dengan erat. Kuucapkan terima kasih pada yah.“Se.. sebenarnya, uang ya.. ng kamu ambil wak… tu it.. tu, mau Bapak ku.. pulkan un.. untuk membeli kado un.. untukmu, Nak. Bapak ta..u karena saat Bapak li… at lemari, u… uang itu sudah ti.. tidak ada” ucap ayah lagi. Kemudian aku merasa bersalah dengan ayah.“Maapin aku, Pak. Aku nggak tau kalo uang itu untuk beli kado buat ulangtahunku. Maap, Pak” ucapku malu. Ayah hanya tersenyum padaku. Kemudian dipeluknya aku. Aku sangat merasa bersalah pada ayah. Kenapa aku.. bisa dengan gampangnya berlaku tidak sopan pada ayah dulu? Kelakuanku.. sama saja dengan setan! Aku pun mengumpat diriku sendiri.Setelah beberapa jam di rumah sakit, kemudian ayah memanggilku lagi. Aku segera berdiri dari kursi tunggu dan mendekati ayah. Kemudian ayah berkata.“Jaga dirimu baik-baik, May. Maaf karena Bapak tidak bisa menemanimu selamanya. Untuk kedepannya, Bapak akan menemani ibumu disana, May. Di tempat yang jauh itu. Bapak sudah memaafkan semua kesalahanmu. Semua kata-kata kasar darimu, May. Karena Bapak tau, kamu bersikap begitu karena Bapak juga yang hidup miskin begini. Sekarang, kamu bisa tenang tanpa Bapak, May. Bapak sangat menyayangimu. Semoga nantinya kamu bisa tumbuh sebagai wanita yang soleha, May”. Setelah berucap kemudian ayah tersenyum padaku. Sebelum akhirnya… dia memejamkan matanya dengan kedamaian.“Bapakk!!!! Bapak!!! Jangan tinggalin May, Pak!!! Bangun, Pak!!!! May takut sendirian, Pak!!! May minta maap dengan semua kata-kata May, Pak!!!!! Bapak bangun!!!!! Bapakkkk!!!!!!” teriakku sambil menggoyang-goyangkan tubuh ayah. Tapi ayah sudah tidak mendengar teriakanku lagi. Dia tetap tertidur. Dia diam tidak bergeming. Aku menangis. Kemudian teringat kembali saat aku mengatakan kata-kata kasar kepada ayah. Ayah yang selama ini ternyata selalu menyayangiku. Ini ulangtahun terakhirku bagi ayah. Dan dihari ulangtahun ini, terakhir kalinya aku melihat ayah. Kado terakhir ini… akan aku kenang sampai aku mati. Bapak, maafkan aku, ucapku dalam hati. Tak kuasa aku menahan tangis ini. Ayah sudah tidur untuk selama-lamanya.Pertama mendengar suara tangisanmu, sujud sukurku pada-Nya..Pertama kali menggendongmu, hati ini begitu terasa senang..Pertama kali melihatmu tumbuh, aku berdoa pada-Nya..Berdoa semoga kau jadi anak yang berguna, Nak..Semua akan ku korbankan demi dirimu..Walau nyawaku sekalipun, akan kukorbankan untukmu..Untuk membuatmu senang..Melihat senyummu, sangat membuat hidupku berarti..Melihat air matamu, membuat duniaku ikut bersedih..Nak, isilah hari-harimu dengan senyum dan tawa..Aku menyayangimu, anakku…Selamanya akan tetap menyayangi dirimu..

  • Cerpen Terbaru Take My Heart ~ 08

    Huwaaaaaa!!!. Kok cerpen terbaru take my heart nya ini jadi begini yak?. Ck ck ck, makin kacau bo'. Gara – gara siapa maren yang bilang, lupa saia. Pake nyuruh acara berantem segala. Hade….Over all, ya sudah lah. Lanjutkan saja. ^_^Untuk part sebelumnya bisa bace :-} Cerpen terbaru Take My Heart part 7Bus melaju dalam keheningan. Keduanya masih sibuk dengan jalan pikirannya masing masing. Bahkan tak terasa bus sudah berhenti di tempat tujuan. Dengan berlahan Vio melangkah turun. Di belakangnya Ivan masih setia mengikuti.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*