Cerpen Cinta: Kaulah Sang Bidadariku

Kaulah Sang Bidadariku
Oleh: Rian sulaeman farhi
Mentari pagi pun mulai terbit aku harus segera bangun untuk bersiap-siap sekolah maklum lah masih anak sekolah jadi harus bangun pagi-pagi karna takut kesiangan.
Kegundahan pun di rumah begitu ramai oleh aktivitas keluarga ku,
Jam pun menunjukan pukul 06.30 wib saat nya aku harus berangkat sekolah karna perjalanan kesekolahan ku lumayan jauh dan memakan waktu.
Namun seperti biasa mama ku yang selalu perhatian pada ku menyuruh ku untuk sarapan dulu maklum anak paling kecil suka di manja,kadang-kadang aku merasa risih sich malu kan udah gede masih di manja ama mama.
Seperti bisa sarapan ku pagi ini NASI GORENG+TELOR DADAR . . . .
Setelah sarapan aku bersiap-siap buat berangkat sekolah aku pamitan sama mama yang sedang membersih kan ruangan rumah yang penuh debu . . . .
“mah,aku berangkat dulu udah siang nich. . . .?”
“iya,Hati-Hati di jalan nya. . . . .”
Setibanya aku di sekolahan,aku langsung bergegas masuk kelas karna jam masuk sebentar lagi berbunyi. Sebelum bel berbunyi aku dan kedua teman ku seperti biasa mengobrol tentang hal-jal apa aja yang kami lihat di pagi itu seperti suasana dan murid-murid sekolah kami . . .
Ooouuugghh,iya aku lupa meperkenal kan kedua sahabat ku itu nama nya AHMAD dan FAUZI mereka adalah sahabat ku dari kecil,
Bel pun mulai berbunyi tanda nya pelajaran akan segera di mulai,kegundahan di dalam ruang kelas itu kini telah menjadi ruangan yang sunyi tanpa ada suara satu pun . . . .
Pelajaran pun di mulai dan anak-anak semua mengikuti pelajaran hari itu,
Tak terasa jam pulang pun hampir mendekati dan tak lama kemudian bel pulang pun berbunyi,sorak soray anak-anak terdengar di setiap ruang kelas nya . . . .
Semua anak-anak pun berhamburan keluar kelas untuk pulang kerumah nya masing-masing dan aku pun mulai beranjak pergi dari dari ruangan kelas di mana aku mengikuti setiap mata pelajaran,ruangan yang sumpek dengan mata pelajaran yang sedikit aku mengerti . . . .
Sesampai nya aku di rumah mama telah menanti ku dengan makanan di meja makan . . . .
“akhirnya anak mama pulang juga” Kata-Kata manja itu yang selalu mama ucapkan .. . . . .
“ya,iya donk kan anak mama” Aku menjawab ucapan mama tadi . . .
Setelah makan siang aku duduk terdiam melamun kan seseorang entah siapa . . .?
Dan di mana dia berada . . .?
Hanya bayangan sosok wanita itu yang kini ada dalam benak ku saat itu . . .
Tak terasa nada panggilan Hp ku berbunyi dengan nada lagu ( BUTTERFLY ) “pelampiasan cinta mu”
Maklum lagu favorit ku . . . .
Saat aku lihat siapa yang menelepon ku ternyata No nya pun baru dan aku tak tau siapa itu . .
Saat aku angkat telefon nya . . .
“Hello,siapa ini . . . .”
“Hello juga,ayo siapa coba tebak . . .”
Terdengar suara bisik wanita di telinga ku . . .
Sempat aku terdiam memikir kan siapa yah . . . .?
“aku gak tau siapa kamu,soal nya number kamu nya juga baru . . . .? ciapa atuh.”
“aku seseorang yang dulu pernah ada di hati mu dan yang dulu pernah melukai mu . .”
“iya,siapa atuh aku da tau . . . .?”
“pokok nya orang yang dulu pernah nyia-nyian kamu . . “
Makin penasaran aku dengan siapa sich yang menelepon ku . . . .
30 menit pun berlalu kami terus mengobrol dan akhir nya aku tau siapa yang menelepon ku dia ternyata mantan aku ( ika ) . . . .
Saat itu kami pun berlanjut hari semakin hari kami pun terus kontek-kontek kan . . .
Beberapa hari berlalu dan aku pun bertemu dengan nya,banyak perubahan dari nya yang dulu aku kenal dia egois kini telah berubah menjadi tak egois lagi . . . .
Pertemuan itu aku gak sia-sia kan,aku pun mengobrol dengan nya . . . . .
di sebuah taman sekolah di dekat sekolahan kami . . . .
“Gimana kabar nya . . . .?”
aku pun membuka obrolan agar suasana tidak menjadi bosan dan jenuh . . .
“alhamdullilah,baik-baik aja . . .! ! ! !
kamu sendiri gimana kabar nya . . . ? ? ? “
“iya,seperti yang kamu lihat lah,aku baik-baik aja . . . .! ! !” kami pun terus berlanjut mengobrol dan bertukar cerita
Sedikit demi sedikit ternyata aku mulai merasa nyaman berada dengan nya,rasa cinta yang dulu pernah ada untuk nya kini seakan-akan mulai muncul kembali apalagi karna kami sering bertemu dan mengobrol berdua. Tak terasa waktu pun udah hampir sore jam udah menunjukan pukul 15.30 wib,
mungkin karna keasyikan ngobrol dengan nya sampai-sampai tak tau waktu,kami pun mulai beranjak pulang meninggal kan bekas tempat duduk di mana kami bertukar pikiran dan cerita . . . .
Malam pun tiba dengan cuaca yang begitu cerah dan terang. Bintang dan bulan saling memancarkan sinar nya seakan mereka tau apa yang sedang aku rasa kan? Kebahagian yang tak terhingga,
tak henti-henti aku selalu berbicara pada bulan dan bintang itu . . .
“apa mungkin dia adalah sang bidadari ku yang selama ini aku cari . . . . ?
Tak terasa jam pun menunjukan pukul 23.30 wib,aku belum juga bisa tidur karna memikir kan dia rindu, dengan suara nya dia ingin aku sebelum tidur mendengar kan suara nya dulu . . .
saat itu aku pun berniat dan memberani kan diri untuk menelepon nya walau aku tau ini udah larut malam. Namun akhir nya telefon ku pun di angkat dengan nada bahagia aku pun ngobrol dengan nya.
“assalamualikum . . . .”
“walaikum’salam . . . .”
“belum tidur nich . . .”
“belum gak bisa tidur . . .kamu sendiri belum tidur . . . .? “
“sama aku juga gak bisa tidur . . . .! ! ! kenapa kok gak bisa tidur . . . .?”
Begitu lah obrolan kami malam itu suara merdunya membuat ku tak sanggup menahan kebahagian dan kami pun terus berlanjut mengobrol . . . .
“gak tau ada yang lagi aku pikirin nich . . . . kamu sendiri kenapa . . . .?”
aku pun menjawab dengan suara jujur dan lantang . . . .
“mikirin apa atuh . . .? aku gak bisa tidur karna mikir kamu terus.kangen kamu tau . . . .”
“gak . ..! ! ! bohong kamu mah aaaakkkkhhh . . . . .”
“su’er aku mah serius ngapain juga bohong . . . .”
“iya dech aku percaya . . . .
Aku juga sama kok gak bisa tidur karna mikirin kamu,rindu suara mu . . .”
Kata-Kata itu yang dia uacapkan pada ku bahagia rasa nya mendengar dia juga sama merasakan apa yanga aku rasa. Seperti malam itu milik kita berdua saja. Malam pun semakin larut aku pun pamitan padanya.
“ekh, iya udah malem takut nya kamu mau istirahat+mau tidur . . . .? entar besok di sambung lagi yah . . . ? “
“iya,aku juga mulai ngantuk nich . . .”
“ya udah met tidur aja . . . mimpi indah. met ketemu besok . . .? assalamualikum . . .?”
“iya,met tidur juga . . . walaikumcalam . . .”
Aku pun langsung menutup telefon nya dan bergegas untuk tidur. Akhirnya setelah aku mendengar suara nya aku pun bisa tisu juga . . .
Pagi pun telah manyapaku saat aku terbangun terdengar suara sms dari Hp ku (ting ting ting ting), nada pesan masuk berbunyi. Saat aku buka dan aku baca ternyata pesan itu dari nya . . . .

“assalamualikum . . .
met pagi . . .?
udah bangun . . .?
ayo mandi . .
terus sarapan yah . . .?
jangan sampai telat berangkat sekolah nya . . .? “

Seperti itu lah kata-kata sms nya. Kini hari-hari ku pun mulai ceria dan penuh kebahagian dan aku terus berdoa semoga aja dia memang “BIDADARI” yang selama ini aku cari . . .amien . . .amien . . .
*****
Ini cerpen kedua ku . . .
ma’af yah bila cerpen nya kurang bagus maklum baru belajar bikin cerpen nich . . .?
============================================================
e-mail: kalongrian@ymail.com
facebook: rian yangkanslalucyang ikhaclamnya
twitter: @riankalong

Random Posts

  • Cerpen Rindu: Sometimes and Always

    Sometimes and Always oleh: WulanaiSudah hampir berjam-jam aku duduk diatas pohon besar di halaman belakang rumahku. Tidak jelas pohon apa ini. Yang jelas pohon ini ukurannya besar dan sudah ada sejak pertama kali aku tinggal dirumah ini. aku memainkan harmonika pemberian nenek kemarin asal-asalan. Soalnya aku tidak tau cara memainkkanya. Dan aku heran kenapa nenek memberikannya pada ku.''Rey! ayo turun! Disuruh sama ibumu! Soalnya udah sore!''Aku menengok kebawah. Oh ternyata Sarah. Sepupuku yang setiap liburan musim panas, pasti akan berkunjung kemari. Dia pergi kemari bersama ibunya.''hah??'' ucapku pura2 tak dengar. ''turuuuuunn!!'' teriaknnya terdengar kesal. Aku terkikik geli. ''aku tidak bisa mendengarmu, sarah! Suara mu kecil sekali!''''Turunnnnnnn!! kamu tuli ya?!''''hah? Guruuunn??''''Rey!!!''''hahahaha iya iya'' aku turun dari pohon sambil tertawa-tawa. Saat kakiku sudah menginjak tanah, Sarah mencubit lenganku kuat. Aku berteriak kesakitan. ''Rasain!'' ucapnya jutek.''aku tuh capek tau manggil kamu, teriak-teriak kaya orang gila, tapi kamu malah pura2 ga dengar!''. Sarah ngerocos.''Terussss????'' ucapku gak peduli sambil berjalan memasuki rumah. Sarah mendengus kesal lalu ia mengekorku dibelakang.Dan tiba-tiba saja ide busukku kembali muncul. Aku mempercepat langkahku ke arah pintu belakang. Dan setelah sampai diambang pintu, aku malambaikan tanganku ke arah Sarah. kemudian aku menutup pintunya, lalu menguncinya.''REEEYYY!!''aku tersenyum penuh kemenangan.****Rey sialan. Aku terpaksa masuk kedalam melewati pintu depan. Kenapa sih dia selalu saja menjahiliku setiap aku datang kemari. Tingkahnya Tidak pernah berubah. Masih saja kaya anak kecil padahal umurnya kan sudah 16 tahun.Saat aku masuk kedalam rumah, aku melihat dia sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil memejamkan matanya. Karena masih kesal, aku mendatanginya diam-diam lalu menjewer telinganya.tapi belum sempat aku menjewer telinganya, dia sudah menepis tanganku duluan.''walaupun mataku tertutup, aku bisa membaca gerak gerikmu'' ucapnya sambil tersenyum sinis. Bagaimana dia bisa tau? Aku benar2 kesal dibuatnya. lalu akupun ikut2 merebahkan tubuhku disebelahnya. ''kau menyebalkan!''Dia terkekeh geli. ''kau mengesankan. Mengesankan untuk dijahili..'' aku mencubit perutnya lalu beranjak pergi kedalam kamar. Meninggalkan si anak menyebalkan itu mengumpat-ngumpat kesakitan sendirian.****Keesokan paginya, aku terbangun karena Sarah menyiramiku dengan air. Aku kaget dan langsung marah-marah karena kesal. katanya Sarah lelah membangunkanku tapi aku tidak bangun-bangun.''ngapain sih dibangunin?!'' tanyaku kesal''ibu kamu suruh!''''ibu kamu suruh''aku membeo.''selalu saja begitu! Kenapa coba mesti pake air?! Liat, kasurnya jadi ikutan basah, kan?''''aku udah-''ah terserah. Keluar aja deh kamu!''Aku mengusirnya. Lalu Sarahpun keluar dari kamarku diakhir dengan bantingan pintu yg cukup keras. Aku menutup mukaku dengan bantal.Selesai mandi, aku keluar dari kamar berjalan menuju ruang makan. Tidak ada siapa-siapa disana. Bahkan diseluruh penjuru rumah ini pun tidak ada orang. Yang ada hanya kucing persiaanya ibu sedang tergolek malas di atas sofa ruang tengah.Tidak tahu mau ngapain, aku pun pergi kehalaman belakang rumah. Memanjat pohon besar kesayangnku, dan duduk diatas dahannya yang kokoh.Tapi saat hampir saja aku ingin duduk didahannya, aku terkejut melihat sarah ada disana.''heh! Ngapain kamu disini?''. Sarah menoleh. ''eh ng… aku penasaran kenapa kamu suka duduk disini. Makanya aku coba manjat, Dan ternyata menyenangkan ya!'' ucapnya kaku.lalu aku naik, dan duduk disebelahnya.''maaf ya yang tadi pagi…''Aku melihat kearahnya. Wajahnya tertunduk dalam. ''soalnya kamu gak bangun-bangun sih…'' lanjutnya sambil sesekali melirikku. Aku tidak bicara. Hanya diam memandanginya saja.Sarah salah tingkah.''ngomong dong Rey.. Jangan diliatin aja''ucapnya terdengar seperti bisikan diakhir kalimat. Aku terkekeh. Lucu sekali. Baiklah, kali ini aku berniat untuk menggodanya.Aku menggeser tubuhku agar lebih dekat dengannya.''baik..aku memaafkanmu.. Tapi sebagai gantinya, aku meminta sebuah…….ciuman''Aku mendekatkan wajahku kearahnya. Sepertinya dia kaget setengah mati. Wajanya memerah seketika. semakin dekat dekat dan semakin dekat. Sarah makin salah tingkah. Mau menghindarpun kepalanya sudah mentok di batang pohon. Sebisa mungkin aku menahan agar aku tidak tertawa. Dan akhirnya saat benar2 sudah terlalu dekat…………………………………fuh! Aku meniup wajahnya. Lalu menjauhkan diriku dan tertawa terbahak bahak. Mulut Sarah menganga lebar. ''kena kau! Ha ha ha''****Aku malu setengah mati. Aku kira dia benar-benar akan menciumku. aku mengumpat pelan dan menutup wajahku dengan kedua tangan.''sudah jangan malu begitu…hahaha'' Katanya masih tertawa-tawa. Aku merasakan tangannya mengacak-ngacak rambutku. Langsung saja ku menepisnya.''kau benar2 menyebalkan!!''aku berteriak kesal lalu memuku-mukul lengannya sekuat yang aku bisa. Entah kenapa aku kesal sekali dengannya.Aku kesal karena dia menjahiliku sampai sebegitunya. Aku sampai ingin meanangis rasanya.''sudah!'' Rey berhasil menahan tanganku. ''Sakit tau! Mukulnya kira-kira dong''aku memasang muka jutek. Lalu berusaha menarik tanganku yang ditahan olehnya. Tapi dia menahannya terlalu erat.''kayanya marah banget. Minta dicium beneran nih?'' Rey tersenyum jahil, sambil menaikkan kedua alisnya. pertanyaan yang berhasil bikin jantungku serasa mau copot.''a..a..apa?!'' ucapku terbata-bata. ''eng…engak!''''hayoo ngaku…''. Rey terkikik geli.''Enggak kok!''''Bener…..'' Rey medekatkan wajahnya lagi ke arahku. Aku gelagapan. ''R…rey…''Rey semakin mendekatkan wajahnya ke arah ku. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya. Semakin dekat dan semakin dekat. Aku memejamkan mataku erat2. Kenapa aku tidak menolakanya? Aku tidak tau! Lalu…………………cup. Rey mencium…keningku?Aku membuka mataku dan melihat Rey yang jarak wajahnya sangat dekat denganku, dia tersenyum manis sekali. ''Selesai… Jangan marah lagi yaa…'' katanya sambil melepaskan tanganku yang sedari tadi digenggamnya. Lalu bergegas turun meninggalkanku sendirian disini.****Sejak kejadian itu, setiap saat aku jadi memikirkannya. Terkadang aku bahkan sampai tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Terkadang aku juga suka mencuri-curi pandang ke arah Rey. Dan merasa sangat membosankan jika Rey sedang tidak ada di rumah.Dan…. Sejak kejadian itu Rey berubah. Rey tidak suka menjahiliku lagi. Rey jadi sering tidak ada dirumah. Jika berpas-pasan denganku dia hanya sekedar menyapaku dengan wajah sok cerianya itu. Dia tidak mengajakku berbicara. hari berganti hari Rey tidak kunjung berubah seperti dulu. Aku mulai merindukannya. Merindukkan kejahilannya. Aku tidak tahu kenapa aku merindukannya. Kenapa aku lebih memilih dia menjahiliku dari pada tidak peduli denganku. Padahal dulu-nya aku sangat ingin dia berhenti mengangguku setiap aku pergi berlibur kemari. Besok aku akan pulang. Soalnya liburan musim panas akan berakhir. Dan kami akan kembali masuk sekolah. Untuk pertama kalinya aku merasakan musim panas kali ini terlalu singkat.***Aku menarik koperku berjalan keluar rumah. Berjalan mendekati ibuku, ibu Rey dan Rey yang sudah menungguku dari tadi didepan gerbang.''baiklah… Taksi yang akan mengantarkan kita ke stasiun kereta sudah sampai… Kami pamit dulu ya'' ucap ibuku sambil berpelukan dengan ibunya Rey. Lalu ibuku memeluk Rey. Dan aku memeluk ibunya Rey. Setelah itu, ibuku berjalan masuk kedalam taksi. Dan sekarang aku sedang berhadap-hadapan dengan Rey. Rey memelukku. Aku membalasnya. Tapi terlalu singkat. Soalnya Rey langsung melepaskannya. ''sampai jumpa diliburan musim panas berikutnya'' katanya lembut. Aku tersenyum tipis. Lalu merogoh saku celanaku dan memberikannya selembar kertas yang terlipat dua. Rey menerimanya ragu-ragu dan akupun beranjak masuk kedalam taksi. Setelah taksi berjalan pergi, sampai aku didalam kereta api dan sampai aku kembali kerumahku, yang aku fikirkan nya bagaimana reaksi Rey ketika ia sudah membaca surat itu?***''aku pulang!!''. Aku mengusap-usap kedua telapak tanganku karena kedinginan. Musim Dingin kali ini serasa lebih dingin dari pada musim dingin sebelumnya.aku berjalan menuju ruang tengah dan mendapati…….''Rey???''''hai sayang, kau sudah pulang? Lihat siapa yg datang, Rey berkunjung kerumah kita'' ucap ibu senang. ''tapi sayang ibunya tidak bisa datang''''oh baiklah, karena kau sudah pulang, kau saja yang menemani Rey. ibu mau pergi soalnya ada arisan. Ibu pergi dulu ya..''Lalu ibuku pergi meninggalkan aku dan Rey dalam keheningan. Lama aku hanya berdiri, akhirnya aku memutuskan untuk duduk dihadapannya. ''hai'' sapaku canggung. Dia tersenyum''Well, aku udah baca suratnya.. Maaf, dan teruma kasih..''ucapnya. Dan aku tidak mengerti.''oh begitu… Apa kabar?''ucapku mengalihkan pembicaraan.''tidak terlalu baik. kamu?''''kenapa? Aku baik''Lama rey hanya diam. Lalu dia berkata pelan ''karena kau tidak ada dirumah..''''apa?''''karena kau…ng…aku merindukanmu..'' mendengar itu Aku hampir saja mati kena serangan jatung.''kau sedang bercanda kan? aku tau itu. Itu kebiasaanmu'' kataku pura-pura tenang.''kali ini aku serius!''''lalu kenapa….''''karena waktu itu aku sedang kacau. Sejak kejadian itu, Aneh rasanya jika aku dekat2 denganmu..''''aneh?''''ya..''Lalu kehingan kembali menghantui kami. Lama sekali.Tiba2 saja Rey, menggenggam tanganku. Aku menatap kearahnya kaget.''I love you Sarah. I keep asking my self why it has to be you. it needs a long time to know that you the most beautiful thing in my life''''maaf kalo kamarin-kemarin aku hanya diam gak ngomong apa-apa sama kamu. Itu karena aku cuman terlalu takut..''aku merasa mataku mulai terasa panas.''kamu gak lagi becanda kan?'' ucpku hampir manangis sangking senangnya.Rey tertawa. Lalu menggeleng mantap. bangkit dari duduknya. Berjalan ke arahku dan memelukku erat.''I love you too'' ucapku didalam pelukannya.''haha aku tau.. kan kamu udah tulis di surat..''Aku mempererat pelukanku. Menghirup aroma rey dalam-dalam. Melepas kerinduan yang Sudah terpendam lama. Kau dan aku selamanya…The ENDNama : WulanaiAlamat email : wulanai62@yahoo.comTwitter : @itsKugySyid

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 09 | Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih part 9. Oh ya All, admin sendiri juga bingung nih. Perasaan disetiap cerpennya admin selalu memulai dengan cuap cuap, tapi selalu aja setiap adminnya abis ngeposting ada inbox yang nanyain pertanyaan yang jawabannya jelas jelas dikasi tau duluan. Emang cuap cuapnya admin biasanya gak di baca yak? #tepokJidatAh satu lagi, pertanyaan yang sering muncul adalah. Kenapa postingan di sini gak langsung di post sekali lalu aja?. Ya ela, yang logis aja lah. Kalau di posting sekali lalu, Star Night otomatis nggak update lagi donk. Iya kan?Baiklah, berhubung cuap cuapnnya udah kebanyakan kita langsung ke cerpen aja ya. Untuk part sebelumnya bisa di cek disini.Ketika Cinta Harus Memilih“Cinta, loe kan belom jawab pertanyaan gue. Cisa itu siapa?. Kok dia bisa bareng sama Rangga sementara loe sendiri malah naik bus sendirian?” tanya kasih yang masih belum puas dengan jawaban atas pertanyaannya tadi.sebagian

  • Cerpen Cinta Romantis Take my heart ~ 17

    Yuhuuuuu… Ide buat ending udah ada di kepala si sebenernya. Cuma waktu ngetiknya aja yang rada males, Ekh….Seriusan, Lagi males banget buat nulis.Berharap aja semoga endingnya gak keburu berubah so beneran bisa end di part 20. Abis udah beneran molor kayaknya ni cerpen satu. Gkgkgkgk…Oke lah, dari pada banyak bacod, mending langsung aja yuks, Cekidot…Part sebelumnya Cerpen Cinta Romantis Take my heart ~ 16Setelah memastikan Ivan tidak menjemputnya ke kostan, Vio berangkat ke kampus menggunakan Bus yang biasa ia tumpangi. Kali ini Vio yakin sepertinya Ivan benar benar marah pada nya walau ia sendiri bingung kenapa. Tapi mengingat kejadian kemaren ditambah dengan sikap Ivan yang sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun saat mengantarnya, sepertinya hubungan mereka telah berakhir. Baguslah jika begitu, jadi ia tidak perlu lagi berurusan dengan playboy cap kadal itu lagi.sebagian

  • Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 13

    Hufh, ide makin lama kenapa di cari makin susah aja yak? Ciuuuusss deh. Beneran. Makanya ntu adminya aja bingung tujuh keliling buat lanjutin cerpen kenalkan aku pada cinta part 13 ini. So, buat yang udah baca. Yang udah ngikuti jalan ceritannya dari awal sampe kini, bisa donk ngasih sarannya di kotak komentar bawah. Ini cerita bagusnya di bawa kemana. Yah itung – itung bisa jadi referensi buatu admin buat bikin endingnya. Ngono.Nah, karena cerpen nya kebetulan juga udah lama nggak muncul – muncul, kali aja udah pada lupa sama jalan ceritannya so bisa di cek dulu pada cerita sebelumnya. Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 13“Akh, akhirnya. Ketemu juga. Ternyata kalian disini.”Kepala Astri reflex menoleh bersamaan dengan kalimat yang baru saja di tangkap indra pendengarannya. Sebuah senyum mengambang di bibir saat melihat Alya dan Rendy yang menghampirinya. Dalam hati ia merasa lega atas kemunculan dua makhluk yang baru saja menyelamatkannya dari situasi yang sedikit membingungkan. “Kok kalian nggak bilang si kalian disini, kita berdua kebingungan tau dari tadi nyariin,” sambung Alya lagi sembari duduk disamping Astri.“Ya?” Astri menoleh kearah Alya sebelum kemudian matanya beralih menatap tajam kearah Andre yang justru malah membuang pandangan darinya. “Kenapa?” Tanya Rendy tiba – tiba. Astri menoleh dan baru menyadari kalau kakaknya sedang memperhatikan dirinya. “Nggak. Nggak kenapa – napa kok.”“Aneh,” gumam Rendy lirih namun masih mampu di tangkap oleh indra pendengarannya tapi Astri lebih memilih pura pura tidak mendengarnya.“Tapi ngomong – ngomong kok kalian berdua malah disini? Bukannya kita mau nonton ya? Memang filmnya diputar jam berapa?” Tanya Rendy lagi.“Masih sekitar satu jam lagi. Cuma dari pada kelamaan nunggu, gue pikir bagusan kalau kita makan dulu,” kali ini barulah Andre buka mulut.“Ide bagus,” sambar Rendy langsung. Kemudian dengan santai ia memanggil pelayan untuk memesan makanannya. Selang beberapa saat kemudian makanan sudah terhidang di meja.“Oh ya, sebenernya kita mau nonton film apaan si? Bagus nggak?” Tanya Rendy disela makanan yang mulai di nikmatinya.“Film 99 Cahaya Dilangit Eropa. Katanya sih bagus,” jawab Alya.“Tapi gue kan udah nonton. Gue nggak ikut ya,”Semua mata langsung menoleh kearah Astri. Nggak ikut? Terus tu anak mau kemana?“Loe udah nonton? Kapan? Sama siapa? Kok loe nggak ngajak – ngajak? Terus, kalau loe emang udah nonton ngapain loe ikut sama kita?”Sungguh, Astri beneran berniat untuk menjitak kepala kakaknya saat itu juga jika bukan karena takut jadi adik durhaka. Secara sejak kapan ia ingin nonton harus laporan dulu sama kakaknya? Dan lagi, tadi yang maksain dia untuk ikut siapa? Dasar kakak durhaka, geramnya.“Udah. Kemaren. Bareng sama Fajar. Gue aja diajak, ngapain gue ngajakin elo. Dan tadi yang maksain gue buat ikut siapa?” walau kesel, Astri tetap membalas pertanyaan kakaknya.“Fajar? Kayak pernah denger namanya,” gumam Rendy sambil pasang tampang mikir.“Fajar? Loe pergi sama dia?” Alya menimpali, Astri hanya mengangguk membenarkan. Tanpa menoleh ia mulai menikmati makanan di hadapannya.“Loe kenal sama Fajar?” Tanya Rendy, kali ini pertanyaannya ia lontarkan kearah gadis yang duduk di hadapannya.“Loe cakep cakep pikun juga ya. Tentu saja gue kenal. Dia kan yang kemaren datang kerumah loe waktu mau benerin laptopnya Astri. Gimana sih?”sahut Alya dengan nada menyela.“Oh cowok yang itu. Yang katanya suka sama loe ya?” balas Rendy yang langsung mendapatkan tatapan tajam sebagai balasannya.“Terus kalau loe nggak ikut nonton loe mau kemana? Atau kita ganti aja nonton film yang lain aja gimana?”Astri mengeleng. “Nggak usah. Loe kan katanya pengen nonton tu film. Nonton aja, biar gue…”“Biar loe jalan aja sama Andre. Alya sama gue aja. Lagian Andre nggak suka nonton film Indonesia. Doi kan sukanya film action atau pun film horror. Oke?” potong Rendy sebelum Astri sempat menyelesaikan ucapannya. Membuat gadis itu semakin merasa kesel. Punya kakak kok gini amat ya. Beneran bukan suri tauladan kakak yang baik and pantas di tiru.“Kenapa harus sama Andre?” Tanya Alya terlihat keberatan. Tentu saja, secara gadis mana sih yang rela ketika melihat ada gadis lain yang berusaha di jodoh – jodohkan dengan pria yang di sukainya. Apalagi jelas jelas pria itu menyukai gadis tersebut. Rendy pastilah orang yang sangat bodoh jika tidak menyadari itu.“Itu karena gue pengennya jalan sama loe,” balas Rendy polos.Alya terdiam, matanya secara menyipit melirik kearah Rendy. Sementara yang di tatap langsung pasang pose memelas.“Oke deh kalau gitu. Gue setuju.”“Setuju?” gentian Astri yang kaget. Alya setuju buat jalan sama Rendy. Wah, gaswat. Jangan – jangan tu cewek sudah terkena pengaruh pesona kakaknya. Bisa – bisanya dia menyetujui ajakan playboy cap gayung itu.“Iya. Dan kita perginya sekarang. Ayo Ren,” ajak Alya tanpa basa basi. Walau terlihat sedikit bingung Rendy manut. Apalagi Alya sudah terlebih dahulu meninggalkan kursinya. Hanya saja pria itu tidak mampu menahan diri untuk tidak merutuk dalam hati. Hei, makanan yang ia pesankan belum habis. Apa barusan itu bukan tindakan pemubazir.“Jadi As, habis ini kita mau kemana?”Astri menoleh dan segera menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian.“Atau kalau loe emang keberatan buat jalan sama gue, gue siap nganterin loe pulang,” sambung Andre lagi.Astri masih terdiam. Sedikit perasaan tak enak merambati hatinya, terlebih saat melihat raut kecewa diwajah Andre. Setelah menimbang – nimbang akhirnya mulutnya berujar.“Loe suka baca buku nggak?”“Ya?” Andre bingung. Tidak tau kemana arah pembicaraan ini akan di bawa.“Kebetulan ada buku yang pengen gue cari. Jadi kalau loe nggak keberatan gimana kalau kita ke toko buku bentar. Nah, abis itu baru deh. Terserah kita mau kemana,” sambung Astri lagi.Mendengar itu, senyum merekah di bibir Andre. “Tentu saja tidak. Kalau gitu, ayo kita pergi sekarang,” ajaknya bersemangat.Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 13“Jelasin ke gue apa yang terjadi tadi malam?”Astri menoleh, setelah melihat siapa yang kini berada di hadapannya kepalanya kembali menunduk, menatap kearah buku yang ada di tangannya. Melanjutkan aktifitas membaca seperti sebelumnya. Bersikap seolah kalimat barusan bukan di tunjukan untuknya.“Lah gue di kacangan,” gerut Alya sambil mendaratkan tubuhnya pada kursi di samping Astri sementara tangannya terulur menutupi buku yang Astri baca.“Apaan sih loe? Masih pagi gini juga,” keluh Astri kesel.“Justru karena masih pagi gue nanya. Mumpung dosen belom datang. Lagian loe tingal jawab aja apa susahnya sih,” cibir Alya. “Tadi malam itu loe kemana? Setelah nggak jadi nonton, kalian ngapain aja? Terus kenapa pake pulang nggak bilang – bilang?”“Hufh,” kali ini Astri menutup bukunya. Yakin kalau ia tidak akan bisa berkonsentrasi lagi menghadapi bacaan selama gadis yang kini disampingnya belum mendapatkan jawaban yang di inginkan. “Ya kemaren kita makan. Loe kan liat sendiri.”“Makan doank? Abis itu? Jangan bilang kalau loe langsung pulang?” kejar Alya lagi.Astri terdiam, untuk sejenak angannya melayang ke kejadian kemaren.“Jadi, loe suka baca ya?” tanya Andre sambil berjalan menemani Astri melewati rak – rak buku yang berjejer.“Banget. Loe sendiri?” Astri balik bertanya.“Buku apa yang loe suka?” tanya Andre lagi.Astri mengernyit, pertanyaannya di kacangin. Namun tak urung mulutnya menjawab. “Gue suka baca Majalah, novel romantis, buku motivasi dan juga komik. Kenapa?”“Terus selain baca loe suka apa lagi?”“Emp… Nonton…” sahut Astri setengah bergumam.“Kalau loe suka nonton, kenapa loe tadi menolak buat nonton bareng?”“Gue bukan nolak. Tapi gue bilang, gue udah pernah nonton. Apa serunya coba nonton di ulang – ulang. Secara kita kan udah tau jalan ceritanya.”“Kita kan bisa nonton film yang lain.”“Sebenernya gue nggak suka nonton film Indonesia. Palingan hanya beberapa aja yang gue tonton. Itu juga kalau emang udah ada yang ngerekomendasikan dan setelah mengadakan riset soal filmnya ke sana sini. Gue juga nggak suka film Action, apalagi film horror. Secara gue kan orangnya penakut.”“Terus maksut loe suka nonton itu apa?”“Maksut gue, gue suka nonton itu di rumah. Nonton video koleksi downloadan gue sendiri. Ya gue emang anti banget sama sinetron sih, tapi gue itu ngefans berat sama drama. Baik itu drama jepang ataupun drama korea. Terlebih kalau ceritanya romantis, bisa lupa waktu deh kalau udah nonton. Kakak gue aja suka kesel liatnya. Bahkan gue sering di ledekin sama dia.”“O… Jadi loe suka sesuatu yang romantis,” gumam Andre lirih.“Ya?” Astri menoleh. Seolah baru menyadari kalau ia telah terlalu banyak bicara. Entah dari mana datangnya tiba – tiba ia merasa malu. “Ehem…. Ya begitulah. Tapi itukan dalam Novel, drama ataupun film,” sambungnya menambahkan.“Kalau di dunia nyata?”Ini kenapa Astri jadi merasa kalau ia sedang di introgasi ya? Saat matanya menoleh kearah Andre, ia mendapati kalau tatapan pria itu jelas tertuju kearahnya dan masih menantikan jawaban darinnya. Untuk sejenak, Astri merasa kalau pipinya terasa panas. Dengan segera di alihkannya tatapan kearah lain. Tidak tau harus menjawab apa.“Ngomong – ngomong, sebenarnya loe mau cari buku apa si?”Astri kembali menoleh. Dihembuskannya nafas lega ketika menyadari Andre kini tidak lagi menatapnya. Justru perhatian pria itu kini tertuju pada buku yand diambil secara acak dari rak yang ada dihadapannya. Sementara tangannya sediri sibuk membolak balikan lembar demi lembar halamannya.“Gue mau cari buku…” Astri menoleh kesekeliling. Tiba – tiba merasa bingung. Sederetan judul daftar buku yang sangat ingin ia baca selama ini telah menguap entah kemana. Pikirannya mendadak terasa blank. Terlebih ketika menyadari kalau toko buku hanyalah tempat yang ia pilih secara serampangan tadi. Tempat yang ia gunakan untuk menyelamatkan diri dari perasaan tidak enak yang sempat melandannya. Jadi kini, sepertinya ia akan melakukan metode yang sama seperti sebelumnya. Tangannya dengan acak terulur meraih buku yang berada tepat di hadapannya.“Ini.”Andre tampak mengernyit ketika membaca judul buku yang tertera. “Mengenal virus pada computer?”“He?” Astri segera manatap buku yang ada di tangannya. Astaga, buku apa yang ia ambil? “Ehem, Iya. Gue emang lagi nyari buku soal computer. Soalnya, laptop gue kan emang sering eror. Gue emang sempat minta tolong sama Fajar sih kemaren buat benerinnya. Tapi kan nggak mungkin juga gue minta tolong terus sama dia. Sementara kalau sebentar – sebentar gue bawa keahlinya, yang ada entar gue di kira gaptek banget lagi. Ya udah, makanya gue pengen cari tau sendiri,” terang Astri menambahkan. Andre tampak mengangguk paham.“Ya sudah, kalau gitu kita bayar dulu yuk,” ajak Astri lagi. Dan lagi – lagi Andre mengangguk sembari mengikuti langkah Astri menuju kearah kasir.“Eh busyed, dia malah melamun. Ayam tetangga pada mati Woi” Kalimat itu kembali mengantarkan Astri pada keadaannya semula. Matanya menatap ke Alya yang kini menatapnya kesel yang hanya di balas cibiran olehnya.“Loe mau tau aja.”“Ya iya donk. Jelas aja gue pengen tau. Secara loe kan jalan sama cowok yang gue suka.”“Glek.”Pas. Astri merasa kalimat itu ngena banget. Menghunjam tepat kearah hatinya. Kenapa ia bisa lupa dengan fakta itu ya? Kenapa ia bisa lupa kalau Alya suka sama Andre?“Kak Andre cuma nemenin gue beli buku doank. Abis itu kita langsung pulang,” sahut Astri akhirnya.“Toko buku?” Alya menegaskan, Astri hanya mengangguk tak bersemangat. Karena sepertinya semangatnya tiba – tiba raib entah kemana.“Dan abis itu kalian langsung pulang?” sambung Alya lagi.“Iya. Loe tenang aja. Gue nggak mungkin ngapa – ngapain sama kak Andre. Lagian gue tau kok, kalau loe suka sama dia,” jelas Astri lagi.Alya terdiam. Matanya menatap Astri dengan tatapan menyelidik, tapi gadis itu justru malah mendorongnya menjauh, sembari memberi isarat padanya untuk menatap kedepan. Ternyata dosennya sudah ada di depan. Dan kelas pun akan segera di mulai. Jadi mau tidak mau mereka harus menunda pembicaraannya. To Be ContinueAdmin ~ Lovely Star Night

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*