Cerpen Cinta: Kaulah Sang Bidadariku

Kaulah Sang Bidadariku
Oleh: Rian sulaeman farhi
Mentari pagi pun mulai terbit aku harus segera bangun untuk bersiap-siap sekolah maklum lah masih anak sekolah jadi harus bangun pagi-pagi karna takut kesiangan.
Kegundahan pun di rumah begitu ramai oleh aktivitas keluarga ku,
Jam pun menunjukan pukul 06.30 wib saat nya aku harus berangkat sekolah karna perjalanan kesekolahan ku lumayan jauh dan memakan waktu.
Namun seperti biasa mama ku yang selalu perhatian pada ku menyuruh ku untuk sarapan dulu maklum anak paling kecil suka di manja,kadang-kadang aku merasa risih sich malu kan udah gede masih di manja ama mama.
Seperti bisa sarapan ku pagi ini NASI GORENG+TELOR DADAR . . . .
Setelah sarapan aku bersiap-siap buat berangkat sekolah aku pamitan sama mama yang sedang membersih kan ruangan rumah yang penuh debu . . . .
“mah,aku berangkat dulu udah siang nich. . . .?”
“iya,Hati-Hati di jalan nya. . . . .”
Setibanya aku di sekolahan,aku langsung bergegas masuk kelas karna jam masuk sebentar lagi berbunyi. Sebelum bel berbunyi aku dan kedua teman ku seperti biasa mengobrol tentang hal-jal apa aja yang kami lihat di pagi itu seperti suasana dan murid-murid sekolah kami . . .
Ooouuugghh,iya aku lupa meperkenal kan kedua sahabat ku itu nama nya AHMAD dan FAUZI mereka adalah sahabat ku dari kecil,
Bel pun mulai berbunyi tanda nya pelajaran akan segera di mulai,kegundahan di dalam ruang kelas itu kini telah menjadi ruangan yang sunyi tanpa ada suara satu pun . . . .
Pelajaran pun di mulai dan anak-anak semua mengikuti pelajaran hari itu,
Tak terasa jam pulang pun hampir mendekati dan tak lama kemudian bel pulang pun berbunyi,sorak soray anak-anak terdengar di setiap ruang kelas nya . . . .
Semua anak-anak pun berhamburan keluar kelas untuk pulang kerumah nya masing-masing dan aku pun mulai beranjak pergi dari dari ruangan kelas di mana aku mengikuti setiap mata pelajaran,ruangan yang sumpek dengan mata pelajaran yang sedikit aku mengerti . . . .
Sesampai nya aku di rumah mama telah menanti ku dengan makanan di meja makan . . . .
“akhirnya anak mama pulang juga” Kata-Kata manja itu yang selalu mama ucapkan .. . . . .
“ya,iya donk kan anak mama” Aku menjawab ucapan mama tadi . . .
Setelah makan siang aku duduk terdiam melamun kan seseorang entah siapa . . .?
Dan di mana dia berada . . .?
Hanya bayangan sosok wanita itu yang kini ada dalam benak ku saat itu . . .
Tak terasa nada panggilan Hp ku berbunyi dengan nada lagu ( BUTTERFLY ) “pelampiasan cinta mu”
Maklum lagu favorit ku . . . .
Saat aku lihat siapa yang menelepon ku ternyata No nya pun baru dan aku tak tau siapa itu . .
Saat aku angkat telefon nya . . .
“Hello,siapa ini . . . .”
“Hello juga,ayo siapa coba tebak . . .”
Terdengar suara bisik wanita di telinga ku . . .
Sempat aku terdiam memikir kan siapa yah . . . .?
“aku gak tau siapa kamu,soal nya number kamu nya juga baru . . . .? ciapa atuh.”
“aku seseorang yang dulu pernah ada di hati mu dan yang dulu pernah melukai mu . .”
“iya,siapa atuh aku da tau . . . .?”
“pokok nya orang yang dulu pernah nyia-nyian kamu . . “
Makin penasaran aku dengan siapa sich yang menelepon ku . . . .
30 menit pun berlalu kami terus mengobrol dan akhir nya aku tau siapa yang menelepon ku dia ternyata mantan aku ( ika ) . . . .
Saat itu kami pun berlanjut hari semakin hari kami pun terus kontek-kontek kan . . .
Beberapa hari berlalu dan aku pun bertemu dengan nya,banyak perubahan dari nya yang dulu aku kenal dia egois kini telah berubah menjadi tak egois lagi . . . .
Pertemuan itu aku gak sia-sia kan,aku pun mengobrol dengan nya . . . . .
di sebuah taman sekolah di dekat sekolahan kami . . . .
“Gimana kabar nya . . . .?”
aku pun membuka obrolan agar suasana tidak menjadi bosan dan jenuh . . .
“alhamdullilah,baik-baik aja . . .! ! ! !
kamu sendiri gimana kabar nya . . . ? ? ? “
“iya,seperti yang kamu lihat lah,aku baik-baik aja . . . .! ! !” kami pun terus berlanjut mengobrol dan bertukar cerita
Sedikit demi sedikit ternyata aku mulai merasa nyaman berada dengan nya,rasa cinta yang dulu pernah ada untuk nya kini seakan-akan mulai muncul kembali apalagi karna kami sering bertemu dan mengobrol berdua. Tak terasa waktu pun udah hampir sore jam udah menunjukan pukul 15.30 wib,
mungkin karna keasyikan ngobrol dengan nya sampai-sampai tak tau waktu,kami pun mulai beranjak pulang meninggal kan bekas tempat duduk di mana kami bertukar pikiran dan cerita . . . .
Malam pun tiba dengan cuaca yang begitu cerah dan terang. Bintang dan bulan saling memancarkan sinar nya seakan mereka tau apa yang sedang aku rasa kan? Kebahagian yang tak terhingga,
tak henti-henti aku selalu berbicara pada bulan dan bintang itu . . .
“apa mungkin dia adalah sang bidadari ku yang selama ini aku cari . . . . ?
Tak terasa jam pun menunjukan pukul 23.30 wib,aku belum juga bisa tidur karna memikir kan dia rindu, dengan suara nya dia ingin aku sebelum tidur mendengar kan suara nya dulu . . .
saat itu aku pun berniat dan memberani kan diri untuk menelepon nya walau aku tau ini udah larut malam. Namun akhir nya telefon ku pun di angkat dengan nada bahagia aku pun ngobrol dengan nya.
“assalamualikum . . . .”
“walaikum’salam . . . .”
“belum tidur nich . . .”
“belum gak bisa tidur . . .kamu sendiri belum tidur . . . .? “
“sama aku juga gak bisa tidur . . . .! ! ! kenapa kok gak bisa tidur . . . .?”
Begitu lah obrolan kami malam itu suara merdunya membuat ku tak sanggup menahan kebahagian dan kami pun terus berlanjut mengobrol . . . .
“gak tau ada yang lagi aku pikirin nich . . . . kamu sendiri kenapa . . . .?”
aku pun menjawab dengan suara jujur dan lantang . . . .
“mikirin apa atuh . . .? aku gak bisa tidur karna mikir kamu terus.kangen kamu tau . . . .”
“gak . ..! ! ! bohong kamu mah aaaakkkkhhh . . . . .”
“su’er aku mah serius ngapain juga bohong . . . .”
“iya dech aku percaya . . . .
Aku juga sama kok gak bisa tidur karna mikirin kamu,rindu suara mu . . .”
Kata-Kata itu yang dia uacapkan pada ku bahagia rasa nya mendengar dia juga sama merasakan apa yanga aku rasa. Seperti malam itu milik kita berdua saja. Malam pun semakin larut aku pun pamitan padanya.
“ekh, iya udah malem takut nya kamu mau istirahat+mau tidur . . . .? entar besok di sambung lagi yah . . . ? “
“iya,aku juga mulai ngantuk nich . . .”
“ya udah met tidur aja . . . mimpi indah. met ketemu besok . . .? assalamualikum . . .?”
“iya,met tidur juga . . . walaikumcalam . . .”
Aku pun langsung menutup telefon nya dan bergegas untuk tidur. Akhirnya setelah aku mendengar suara nya aku pun bisa tisu juga . . .
Pagi pun telah manyapaku saat aku terbangun terdengar suara sms dari Hp ku (ting ting ting ting), nada pesan masuk berbunyi. Saat aku buka dan aku baca ternyata pesan itu dari nya . . . .

“assalamualikum . . .
met pagi . . .?
udah bangun . . .?
ayo mandi . .
terus sarapan yah . . .?
jangan sampai telat berangkat sekolah nya . . .? “

Seperti itu lah kata-kata sms nya. Kini hari-hari ku pun mulai ceria dan penuh kebahagian dan aku terus berdoa semoga aja dia memang “BIDADARI” yang selama ini aku cari . . .amien . . .amien . . .
*****
Ini cerpen kedua ku . . .
ma’af yah bila cerpen nya kurang bagus maklum baru belajar bikin cerpen nich . . .?
============================================================
e-mail: kalongrian@ymail.com
facebook: rian yangkanslalucyang ikhaclamnya
twitter: @riankalong

Random Posts

  • Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 15

    Mumpung ada ide, mending langsung di tulis aja deh. And beneran admin udah males buat ngedit lagi. Secara cerpen kenalkan aku pada cinta beneran bikin pusing. Nulis lanjutannya selalu aja bikin bingung. Pengen langsung di end, tapi takutnya malah terkesan ‘maksa’. Pengen di ketik terus, eh busyed nie cerpen kenapa malah jadi molor kemana mana. Akh entahlah.Tapi tetep, kayak yang admin bilang sebelumnya. Cerpennya sudah mendekati ending kok. Lagian adminya udah bosen juga liatnya nggak end – end. And biar nggak kebanyakan bacod mending langsung baca aja yuk gimana ceritanya. Biar nyambung bisa baca bagian sebelumnya disini.Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 15Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada CintaSesekali Astri melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah lebih 15 menit ia menunggu, tapi Andre masih belum menjemputnya. Untung saja kakaknya hari ini ada urusan di luar, jadi ia tidak perlu mendengar celotehannya nanti sekiranya Andre muncul. Tapi herannya, kenapa tu orang nggak muncul muncul juga.Untunglah beberapa menit kemudian, bel depan rumahnya terdengar. Senyum Astri langsung merekah ketika mendapati Andre sudah berdiri gagah di hadapannya. Tanpa basa – basi keduanya segera berlalu meninggalkan rumah.“Kita mau kemana nih?” tanya Astri sambil duduk dibelakang Andre yang mengendarai motornya.“Hari ini taman pemainan di lapangan kerinci (???) baru buka. Loe nggak keberatan kan kalau kita jalan kesana?”“Taman bermain?” ulang Astri.Andre hanya membalas dengan anggukan.Lagi pula tidak asik kalau ngobrol diatas motor yang terus melayu. Selang beberapa menit kemudian keduanya telah tiba di tempat yang di tuju.Benar seperti yang Andre katakan. Hari ini taman bermain memang baru di buka. Begitu banyak wahana permainan yang ada disana. Bahkan entah beraneka ragam permainan mereka ikuti. Astri menatap kesekeliling dengan pandangan takjup. Senyum mengembang lebar dari wajahnya. Matanya mengamati sekeliling dengan tidak berkedip. Mulai dari naik wahana putar sampai bermain di rumah hantu segala. Ia benar – benar tak sabar untuk mencobanya satu persatu.Tubuh juga terasa mulai lelah dengan jantung yang berdebar cepat. Bukan, bukan berdebar karena romansa romantis di antara mereka, tapi lebih kepada efek permainannya. Astri takut ketinggian, dan saat berputar – putar di atas sana ia yakin ia akan mati. Kepalanya terasa pusing dan perutnya seperti di tusuk – tusuk. Mual nggak ketulungan.Astri juga merupakan gadis yang penakut. Saat memasuki rumah hantu, tak terhitung berapa puluh kali ia menyumpai orang – orang yang membuat ide gila tentang permainan itu. Menjadikan hantu sebagai permainan yang hanya bisa memberi kesan menyeramkan tanpa menghibur sama sekali. Jadi keseimpulannya, menjadikan taman pemainan sebagai tempat kencan sama sekali bukan ide yang bagus. Sangat jauh, jauh, jauuuuuuuh sekali dari bayangannya saat menyaksikan adegan yang sama yang sering muncul di drama ataupun anime romantis yang sering ia tonton. Ia jadi merasa sedikit heran, kenapa Andre mengajaknya ke sana ya.“Astri, loe nggak papa kan? Kok muka loe pucet gitu?” tanya Andre terlihat khawatir.Astri mencoba tersenyum. “Tadinya si gue pengen ngomong kalau gue baik – baik saja cuma buat nyenengin elo. Tapi kayaknya gue lebih milih jujur aja deh. Serius gue nggak baik baik aja,” aku Astri.Melihat tampang bersalah di wajah Andre membuat Astri langsung menyesali ucapannya. Walau bagaimanapun, tidak semua orang menyukai hal yang jujur walau menyakitkan.“Tapi paling nggak loe udah bantu gue buat ngerasain pengalaman yang nggak akan gue lupakan. Mulai sekarang kayaknya gue harus lebih hati – hati lagi deh dalam memilih dan memilah sesuatu yang gue tonton.”“Ya?” Andre tampak bingung, tapi Astri hanya tersenyum singkat.“Sory ya. Gue nggak tau. Gue pikir loe suka gue ajak kesini.”“Sama. Tadinya gue juga berfikir kalau disini akan menyenangkan,” gumam Astri lirih. Dan lagi lagi keduanya kembali terdiam.“Baiklah, gimana kalau sekarang kita makan aja gimana?” tanya Andre kemudian.Astri melirik jam yang melingkar di tanganya. Sudah cukup siang. Sepertinya memang sudah waktunya makan siang. Hanya saja, perutnya masih terasa sedikit mual karena permainan tadi. Akhirnya dengan ragu is mengeleng semari mulutnya menjawab.“Untuk sekarang kayaknya tengorokan gue belum bisa menelan makanan deh. Kalau kita istriahat aja dulu bentar gimana?”Andre tersenyum sembari mengangguk maklum. Diajaknya gadis itu untuk duduk di salah satu bangku yang ada di bawah pohon yang memang tumbuh terawat di beberapa pingiran lapangan. Tak lupa di belinya dua mangkus es buah. Sambil menikmati minumannya keduanya mengamati sekeliling. Menatap orang – orang yang tampak belalu lalang disekitarnya.“As, soal yang kemaren…” Andre tampak mengantungkan ucapannya. Jelas terlihat ragu, sementara Astri sendiri menatapnya dengan tatapan ingin tau. Gadis itu juga hanya mampu mengkangkat alis ketika Andre masih terdiam.“Kenapa?”“Enggak kok. Lupakan,” Andre mengeleng. “Nggak penting juga,” sambungnya lagi.Walau masih bingung juga sedikit penasaran, Astri hanya angkat bahu.“Oh ya, kita jalan – jalan lagi yuk,” ajak Andre beberapa saat kemudian. Astri hanya mengangguk. Terlebih sepertinya mereka sudah cukup lama duduk terdiam di sana. Namun berbeda dari yang sebelumnya, perjalanan kali ini terasa lebih menyenangkan karena Andre mengajaknya ketempat yang lebih tenang. Melihat pernak – pernik yang ada disana, berkunjung ke kuliner, bahkan pake acara foto bareng bersama. Setelah hari mulai sore, mereka baru menyadari kalau mereka telah menghabiskan waktu bersama seharian. Tiba saatnya untuk Andre mengantar Astri pulang.“Dari mana aja loe seharian baru pulang. Mentang – mentang mama sama papa nggak ada.”Astri yang berniat untuk langsung menuju kekamarnya sontak menghentikan langkahnya. Saat menoleh ia mendapati kakaknya sedang duduk diruang tamu dengan tatapan menyelidik kearahnya.“Ye, punya kakak usil banget sih. Pengen tau aja urusan orang,” balas Astri mengabaikan kakaknya. Kembali diteruskan langkahnya yang sempat tertunda.“Gue tadi liat Andre nganterin di depan. Loe abis jalan sama dia ya?”“His, kalau udah tau ngapain nanya.”“Kalian kemana aja? Terus kok loe bisa jalan sama dia? Kalian abis kencan ya?!” tanya Rendy sambil berjalan mengikuti di belakang Astri. Selangkah demi selangkah kakinya menaiki tangga satu persatu.“Please deh ya kak. Nggak usah kepo. Emangnya kalau gue jalan sama kak Andre terus kenapa? Nggak boleh?” tantang Astri sambil menatap kakaknya.Rendy tersenyum misterius. “Ups, jangan salah. Gue kan Cuma pengen tau aja. Kalau loe emang jalang sama Andre, nggak papa kok. Justru gue malah mendukung, lagian…”Astri menantap kakaknya curiga. Terlebih pria itu sendiri masih mengantungkan ucapannya. Bahkan tanpa perlu menyelesaikan lagi, ia malah berbalik. Tentu saja masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.“Lagian apaan si?” tanya Astri penasaran.Rendy tidak menjawab. Ia hanya angkat bahu sembari melambai tanpa menoleh. Walau sejujurnya Astri masih merasa sedikit penasaran, namun ia lebih memilih untuk mengabaikannya. Terlebih ia juga merasa cukup lelah, setelah seharian berjalan sepertinya ia ingin mandi berendam dulu biar segar. Dengan berlahan di bukanya pintu kamar. Namun belum sempat ia masuk sebuah teriakan bernada memerintah terdengar dari bawah. “As, buruan. Gue laper nih. Bikinin gue nasi goreng donk!”Tanpa membalas sama sekali Asrti menghilang dari balik pintu kamarnya yang tertutup rapat.⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ “Tok tok tok.”Astri yang sedang merapikan kepang an rambutnya menoleh kearah pintu kamar. Sedikit mengeryit ketika mendengar suara kakaknya. Matanya sekilas menoleh kearah jam diatas meja. Masih cukup pagi. Tumben ada yang ngetuk kamarnya. “As, buruan. Udah selesai belom. Udah di tunguin tuh.”Ditungguin? Sama siapa? Pikir Astri heran. “Apa kak?” tanya Astri seolah tak yakin dengan apa yang kakaknya katakan. Namun tiada jawaban yang terdengar. Bahkan sama ia merasa suara langkah kakaknya yang mejauh. Karena merasa sedikit penasaran, Astri segera menyelesaikan riasannya. “Kak, tadi ada apaan sih? Kok pake ketok ketok pintu segala. Katanya ada yang nungguin. Siapa?” tanya Astri sambil duduk dihadapan kakaknya yang sedang menikmati sarapan sendirian karena memang papa dan mama sedang tidak ada dirumah.Rendy melirik sekilas sembari mencibir tanpa menjawab sama sekali. Membuat Astri mengerutkan kening bingung. Dengan santai duduk dihadapan kakaknya. Tanganya terulur menyambar roti beserta selai kacang. “Jiah, dia malah duduk. Udah di bilang juga ada yang nungguin.”“Huf,” Astri menghembuskan nafas kesel. Tangannya yang sudah terulur ia Tarik kembali. Matanya menatap penuh tanya kearah kakaknya. Tapi pria itu hanya memberi isarat kearah Astri untuk langsung keluar rumah. Walau masih merasa tidak puas, Astri lebih memilih untuk menurutinya. Lagi pula rasa penasarannya juga cukup bersar mengenai hal itu. Secara siapa sih orang yang kurang kerjaan nunguin dia pagi – pagi gini.Rasa penasaran di wajah Astri langsung menghilang dan di gantikan rasa terkejut ketika mendapati sososk Andre yang suduh duduk di atas bangku teras rumahnya. “Kak Andre, ngapain loe disini?” tanya Astri tak mampu menyembunyikan rasa herannya.Andre tampak tersenyum kaku. Dengan ragu mulutnya menjawab. “Jemput loe.”“Gue?” ulang Astri makin bingung. Sejak kapan ia pake di jemput – jemputan. Lagi pula ia kan punya motor sendiri. Andre hanya mengangguk. “Tapi kan gue punya motor sendiri.”“Udah pergi aja.” Astrid an Andre refleks menoleh kearah sumber suara. Entah sejak kapan, Rendy sudah muncul di ambang pintu. “Lagian kasian tau, Andre udah jauh jauh muter ke sini, masa loe nggak mau barengan sama dia.”Astrid an Andre tampak saling pandang. Raut ragu jelas masih tergambar di wajah Astri. Namun belum sempat mulutnya terbuka, tubuhnya sudah terlebih dahulu terdorong kearah motor Andre yang kini terparkir di hadapnya.“Udah pergi aja sana loe. Pintu juga udah mau gue kunci,” kata Rendy. Tangannya dengan santai terulur meraih helm yang Andre bawa sebelum kemudian ia sodorkan kearah Adiknya. Saat berbalik ia telebih dahulu menatap kearah Andre sembari berujar. “Hei bro. Gue titip adek gue ya. Awas, jangan sampai lecet. Kalau sampai kenapa – kenapa. Loe berurusan sama gue. Ngerti?”“Oke Bos,” balas Andre tegas. Secercah senyum samar menghiasi bibirnya. “Kita bisa pergi sekarang Astri?” tanya Andre sambil berbalik.Astri yang sudah merasa cukup terpojok dengan situasi yang ada tak bisa melakukan hal apapun selain mengangguk. Tanpa kata ia segera duduk di belakang Andre. Beberapa saat kemudian motor pun mulai melaju meninggalkan rumahnya. Meninggalkan Rendy yang diam – diam mengintip dari balik jendela dengan senyum penuh arti. To Be Continue⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ With Love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣

  • Cerpen Keyakinan Cinta

    KEYAKINANoleh Raisya MarisdifaAku begitu bahagia dengan hari ini. Aku pulang dengan rasa puas dan lega. Hari ini, kelas ku bisa merebut juara pertama dalam acara Pagelaran Seni kelas 9 yang selalu ada setiap tahunnya. Rasa capek untuk latihan 1 bulan terakhir rasanya sirna begitu saja. Apalagi selalu ada dia di samping. Dia yang selalu menyemangatiku dan mendukungku. Dia yang selalu menjadi penghilang rasa letihku. Dia yang ku cinta dan ku sayang sepenuh hati. Dia adalah kekasihku. Kekasih yang begitu sempurna di mataku.Hp ku bergetar. Ini menandakan bahwa ada pesan masuk. Dan itu pesan dari Rio, kekasihku. Dengan penuh cinta dia bertanya kepadaku.“Sudah sampai di rumah sayangku?”“Sudah sayang.” Jawabku.“Kalau begitu harus mandi, terus makan, dan langsung istirahat ya sayang. Aku tau kamu pasti capek karena telah tampil dengan energik tadi.”Aku tersenyum melihat pesannya.“Iya sayang.” Balas ku.Perhatiannya selalu membuat ku bahagia, walau aku sendiri tahu dia selalu begitu setiap harinya. Semuanya tidak pernah membuatku bosan. Karena dia selalu memberikan perhatian, cinta dan kasih sayangnya tulus untuk ku. Aku bisa merasakan.Semua ketulusan itu selalu ku rasakan dari awal bersamanya. Namun ketika bulan itu, bulan dimana aku berulang tahun. Aku merasakan kehangatan yang dia berikan dan ketulusannya sudah mulai berkurang. Semua itu bermula ketika dia sering ikut papanya keluar kota. Awalnya aku mengerti. Tapi lama kelamaan, aku sudah tidak mengerti dan sudah tidak tahan dengan sikapnya. Dan dia juga sudah melupakan begitu saja hari ulang tahunku. Dia sudah tidak seperhatian dulu, semua ketulusannya hilang. Raib di telan bumi.Dan pada akhirnya, aku pun sampai pada puncak kemarahan. Aku mengiriminya pesan.“Aku sudah tidak tahan dengan sikap mu Rio, kamu berubah. Aku tersiksa seperti ini.”Dia pun membalas.“Terus aku harus bagaimana Ca?”“Kamu itu jahat banget sich, apa kamu tidak tahu bagaimana aku selama ini? Aku selalu bersabar menunggu kamu pulang dari luar kota. Aku mengerti kalau kamu tidak bisa mengirimi aku pesan setiap saat karena alasan tidak mendapatkan sinyal. Dan aku pun bersabar, karena kamu tidak ada pada hari ulang tahunku. Namun sekarang apa balsannya? Balasan atas kesabaran ku. Seakan- akan kamu sudah mencampakkan ku.” Balas ku dengan penuh emosi.“Maaf Ca, aku tau aku salah. Tapi aku juga tidak tahu kenapa aku bisa begini.” Jawabnya.Namun, karena aku sudah begitu emosi. Aku tidak bisa mengendalikan emosi. Dan aku juga lupa, kalau Rio sangat tidak suka di beda- bedakan.“Dulu kamu sangat perhatian sama aku, sekarang begitu cuek. Dulu kamu selalu ingin bercerita degan ku setiap malam, tapi sekarang boro- boro mau cerita. Ucapin selamat tidur aja gag. Selalu bangunin aku setiap pagi, nyuruh aku mandi, nyuruh aku makan. Tapi sekarang, itu tidak pernah kamu lakukan lagi. Kemana Rio ku yang dulu? Aku hanya ingin pacaran dengan Rio ku yang dulu.”“Aku janji akan berubah Ca. Maafin aku Ca.” Jawabnya singkat.Tapi entah bagaimana, aku tidak percaya dengan kata- katanya. Aku merasa ketidak tulusan darinya. Dan itu semua membuat ku mengabaikan semua perkataannya.Hari selanjutnya, dia sudah mulai perhatian lagi kepada ku. Namun anehnya aku masih saja marah. Dan itu semua juga membuatnya emosi dan muak. Emosi karena perkataanku dan muak karena ia merasa aku selalu menyalahkannya. Aku merasa tidak pernah menyalahkannya. Aku hanya mengatakan apa adanya.Mengatakan bagaimana sikapnya yang telah membuatku tersakiti. Aku hanya seorang wanita, wanita yang lemah dan ingin di mengerti. Tapi dia sudah tidak menyadari itu. Dan pada akhirnya, Rio memutuskan hubungan kami. Aku juga tidak tahu pasti apa alasannya memutuskan hubungan kami. Apa karena muak karena aku selalu menyampaikan bagaimana sikapnya yang selalu membuatku sakit hati atau karena sudah jenuh? Aku tidak pernah tau.Di telfon dia berbicara.“Aku butuh waktu Ca. Aku mau sendiri dulu. Aku juga gag tau, kenapa hatiku bisa kosong sekarang. Tolong beri aku waktu Ca. Aku janji akan mencari kamu suatu saat nanti. Kalau kita jodoh kita pasti akan ketemu lagi. Satu lagi, kamu harus bisa menggapai cita- cita mu.”“. . .” Hening.Telfon dimatikan.Di saat itu aku begitu sangat terpuruk. Dan itu menyebabkan aku tidak bisa menjawab perkataan Rio. semua benda- benda tajam serasa menghujam hatiku. Tak cukup dengan menangis melepaskan kesakitan itu. Aku tak percaya Rio seperti itu. Aku berharap dia bisa berubah demi aku, dengan mengatakannya kepadaku dengan tulus. Aku tak percaya janji setia selama ini yang dia umbar kepadaku, terbang dan hilang begitu saja.Aku juga sadar, aku begitu protektif kepadanya. Dan aku menyesali itu. Dalam hati aku hanya bisa meminta maaf atas kesalahan ku. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang tak luput dari kesalahan.Selama beberapa hari aku hanya bisa berteman dengan kesedihan. Namun beberapa hari kemudian, aku bisa menemukan dunia ku kembali. Aku bisa merebut ceria ku lagi. Hanya satu yang bisa membuat ku kuat lagi. Yaitu keyakinan. Yakin Rio akan menepati janjinya, yakin bisa menggapai cita- cita ku walaupun tidak ada Rio di sisiku,yang selalu ada dan menyemangatiku di kala putus asa. Dan itu semua akan ku jadikan sebagai kado spesial untuk pertemuan kami nanti. Pertemuan yang akan menyatukan hati dan cinta kami kembali. Yang bersifat abadi.

  • Ketika cinta harus memilih ~ 10 | Cerpen Cinta

    Ketika cinta harus memilih part 10. Masih tersisa 6 part lagi sebelum ketemu sama yang namanya part ending. ^_^ . Ayo silahkan pada maen tebak tebakan ni cerita mau di bawa kemana. He he heOkelah, adminnya juga lagi nggak napsu (???) ni buat ngeblog, so cuap cuapnnya segitu aja yak. Mending langsung di baca aja kelanjutannya ceritannya. And buat yang belum baca part sebelumnya bisa di cek disini.*** Ketika cinta harus memilih ***Silaunya sinar mentari yang masuk dari jendela menyadarkan Cinta dari tidurnya. Dikerjap –kerjapkan matanya untuk sejenak sebelum kemudian bangkit duduk. Matanya menatap kesekeliling. Merasa sedikit aneh menyadari bahwa ini bukan kamarnya.sebagian

  • Cerpen Cinta Romantis ‘Kenalkan aku pada cinta” ~ 04

    Setelah lama terbengkalai akhirnya cerpen cinta romantic kenalkan aku pada cinta bisa lanjut juga. Maap ya sodara sodara karena emang rada lamaan. Yah, namanya juga ngetik sesempetnya ya begini lah jadinya.So Buat Temen temen yang udah nunggu dari kemaren soal lanjutannya, monggo silahkan di baca. Kalau bisa, Silahkan tinggalkan jejaknya di kolom komentar bawah ya. Happy reading…Saat Astri menoleh, Astri hanya mampu tersenyum kecut. Benar saja, Andre tampak sedang berbicara akrab pada Rendy. Mampus. Sekarang apa yang harus ia lakukan?."Kok loe malah bengong si. Mana kakak loe, katanya mau jemput loe?"."Eh?"Pertanyaan Alya menyadarkan Astri dari lamunannya.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*