Cerpen Cinta: Kau yang Merubah Hatiku

Cerpen CintaAwal dari sebuah rasa manis akan tetap manis jika kita pintar megolah rasa manis itu agar tetap manis. Cerita itu berawal pada sebuah hubungan antara cewek manis yang sering disapa Indi dengan cowok yang sering dipanggil Ihsan. Hubungan mereka yang telah berjalan hampir 9 bulan ini berawal mulus dan penuh dengan bahagia.Rasa pahit ini dimulai saat hari-hari sebelum ulang tahun aku diakhir bulan awal tahun ini. Sebuah perubahan terjadi pada Ihsan. Waktu yang tak pernah ada untukku membuatku sudah kehabisan kesabaran untuk selalu ngertiin Leo yang sibuk berkerja,hingga hari liburpun ia tetap bekerja. Hingga 2 minggu sebelum ulang tahunku,aku mengirim sebuah pesan panjang kepada Ihsan.To : (085643xxx890) Ihsan sayangAku tak tau knp km berubah. Km lupa dgn semua janji hubungn kita. Aku rasa ini puncak dari sebuah rsa sabarku. Aku ingin kita udahan aja,jalan ini mgkn yg terbaik. Maaf utk smua dan maksh untuk hari2 lalu. Aku bukn berhnti mencintai tpi aku ingin berhnti menyakiti hati. Dengan rasa berat hati dan meneteskan air mata,aku mengirim pesan itu ke dia. Namun seperti yang sudah aku duga,tak ada tanggapan dari Ihsan hingga satu minggu sebelum ulang tahun. Hari-hariku sangat berat saat ia sedang menghadapi ujian yang sedang berlangsung di kampusnya aku juga harus menghadapi masalah dengan Ihsan Saat aku berkeluh kesah dengan sahabat akrabnya yang suka dpanggil “Sipit” namun ia juga tak memberi respon bahkan saat aku memulai cerita, “pit,aku sebel deh ama Ihsan,aku dicuekin,sampe aku ngomong putus aja gak direspon,pokonya akau penegen putus dari Ihsan ………….” Belum selesai aku bercerita sipit langsung jawab dengan pernyataan juteknya dan muka jelek, “udah ah mb Indi,aku mau pulang,capek aku”,sambil dia meanarikku untuk pulang. Dengan rasa sedih aku menganggukkan untuk mengiyakan agar sipit pulang. Aku berjalan menuju tempat parkir motor sambil memikirkan,kenapa dengan Sipit. Otakku ini penuh banget,Sipit jadi berubah, Ihsan juga gak kalah berubah,ditambah ujian yang bakal dihadapi. Dalam hatiku cuma berucap “ ujian hidup dan ujian kampus kok berat banget”. Aku mencoba menghubungi Pit berulang kali namun jawaban dari operator selalu sama “nomor yang anda tuju sedang sibuk”. Aku mencoba sms Sipit..To : (085678901xxx) SipitPit,kok sekarang kmu berubah,saat ini kau butuh kamu pit Sambil menunggu balasan dari Sipit aku berpikir apa Sipit juga punya masalah jadinya gak mau dicurhatin. Tak berapa lama ada pesan masuk dihandphoneku,dalam hati inginnya leo yang sms aku. Tap aku yakin pasti Sipit yang balas.Jreng,,dengan terkejut …Dari : (085643xxx890) Ihsan sayangSayang aku lagi sibuk buat beberapa minggu ini.Setelah baca ini ada rasa lega tersendiri ternyata dia sibuk tapi makan hati juga kalau gini terus. Lalu tak berapa lama sipit menyusul membalas sms dariku.Dari : (085678901xxx) SipitMb Ndi,sorry aku lagi irit pulsa,gak bisa balas smsmu.Dengan rasa yang udah bercampur dihati sms mereka takku balas,dan membuang handphoneku dari hadapanku. Jam dinding di kamarku yang udah nunjukkin pukul 23.00 WIB tapi mata susah banget dipejamin. Udah beberapa hari ini aku tidur diatas jam 01.00 WIB. Tapi aku berusaha memejamkan mata namun handphone berdering,sebuah lagu menjadi lagu tanda panggilan masuk. Aku tak ingin melihat siapa yang menelpon malam gini,tapi telepon itu tidak berhenti berdering. Ku coba melirik handphone dan melihat sebuah nama yang taka sing,karena ternyata yang telepon itu adalah Ihsan. Dengan segera aku menganggat telepon.“Assalammualaikum, Ndi”. Sebuah salam yang terdengar dari seberang namun kali ini Ihsan berubah karena memanggilku Indi.“Walikumsalam,gimana ada apa?” dengan gaya biasa karena tetep aku jaga gengsi. Hehehe.. “kok belum tidur,Ndi”,dengan nada datar dan tanpa dosa.“belum aja,belum ngantuk. Kamu sendiri kenapa belum tidur juga?”“Kok panggilnya ‘kamu’ ?”. Ihsan ini paling gak suka kalau dipanggil ‘kamu’ walaupun lagi marahan.Aku juga Cuma jawab singkat,”kamu ja panggil aku Ndi”.Malam ini begitu dingin,sekalinya telepon seperti ini. Lama sekali kami terdiam,entah apa yang dipikirkan oleh Ihsan saat ini.“Em,tidur yuk,udah malam,nanti sakit.” sebuah ucapan manis dari Ihsan ini lumayan menyejukkan hati kalau dia masih perhatian denganku.Aku dengan sedikit menghilangkan gengsi,”ya udah tidur,besok kan kamu kerja juga”“ya udah,met malam ya”. Tuttt.. Tuttt..Tutttt …Tiba-tiba telepon itu terputus,aku belum sempat membalas ucapannya. Bahkan ucapan yang sering dilakukkan pun tiba-tiba hilang.Aku tetap tidak bisa tidur,aku berpikir terus “apa yang kamu mau sih Ihsan,putus gak dikasih jawaban,tapi masih perhatian”. Dengan gemasnya boneka beruang yang pernah ia berikanpun jadi sasaran kemarahanku. Aku coba mengajak bicara boneka itu,“apa sih mau mu Ihsan?”“aku ini masih pacaramu bukan?”“aku bingung ma kamu”. Sambil kupukul-pukul boneka itu,”jawab dong,diem aja kamu”.Tiba-tiba air mata ini menetes perlahan dan dengan rasa sayang aku memeluk boneka.Dengan lirih aku berucap, “Ihsan aku sayang ama kamu,tapi kamu bikin aku nagis terus.”Pelukanku keboneka menemaniku hingga aku terbangun dari tidurku. Pagi cerah ini dengan mata agak sedikit sembab mencoba untuk bersemangat ke kampus. Hari ini bakal jadi jadwal yang paling bosen,kuliah dan rapat organisasi hingga sore. Tapi aku berpikir ini mungkin cara menghilangkan rasa sedihku.Seperti biasa aku janjian dengan Sipit di kampus karena beberapa mata kuliah kami sama jadi kadang kami sekelas. Kami mendapat julukan “emak dan anak” karena tiap Sipit dating duluan yang ditanyain aku begitu juga sebaliknya.Dari belakang mencoba mengagetkan Sipit,“dor…Pit,,,”“yeee…mb Indi,kagetin aja. Gak sedih lagi ni?”“udah enggak dong,kan males mikir orang yang gak mikir aku”“kenapa Ndi mata kamu,dicium nyamuk apa semut cowok ni.hahahaha”. Dengan gaya khas ketawa sambil matany merem sipit mengejekku.“apaan sih kamu,Pit.. Ini mata sembab karena aku pompa,niatnya matanya biar belok dan gak Sipit kayak kamu”. Sambil aku membuka mata dengan jariku dan berlari karena aku ngejek Sipit.Seketika itu pikiranku tentang Ihsan hilang, ya walaupun Sipit gak dengerin ceritaku, setidaknya bisa bikin ketawa aku. Karena kami punya semboyan “Kita gak sedih lagi,gak nangis lagi”. Itu Cuma kalimat dari lirik lagu Smash tapi bisa bikin seneng.Hari-hari berikutnya terasa cepat sekali,sampai gak inget kalau besok udah hari ulang tahunku. Dan beberapa hari ini gak nyangka nama Ihsan hilang di pikiranku,kita sama-sama gak saling smsan atau telepon. Hari yang ditunggu namun bikin kecewa,semalaman aku tak tidur berharap Ihsan bakal jadi orang pertama yang mengucapkan ulang tahun ini. Tapi aku gak begitu peduliin itu,karena banyak sahabat,keluarga yang memberiku ucapan dan lebih special.Lebih malasnya lagi hari ini masuk kuliah,sesampainya disana. Sebuah kejutan kecil dari temen-temen.“happy bday to u,,,happy bday to u,,happy bday,happy bday,happy bday Indi…..”Sebuah donat kecil dan lilin diatasnya dibawa oleh Sipit untukku.“Tiup lilinya mb Ind,tapi,,,make a wish dulu ya…”Ku memejamkan mata dengan sebuah doa,dan saat ku buka mata ini ku meniup lilin. Donat kecil itu ku potong kecil-kecil agar semua temen ikut menikmati,walaupun dikit. Suapan pertama untuk sipit sambil cipika cipiki.“Happy bday mb Indi”“makasih sayangku”Dan hari ini waktu itu cepat sekali,kejutan dan ucapan tak henti-hentinya datang. Namun tak satu smspun dari Ihsan untuk mengucapkan ulang tahun. Sekalinya aku lihat jam udah jam 17.00 WIB. Dan saatnya pulang kerumah dengan rasa penuh kebahagiaan. Aku jadi mengerti arti sebuah persahabatan.“balik yuk,Pittttt,udah capek ni seharian dan aku juga udah bosan kalau ketemu kamu terus.heheheh..” sambil gemes ama pipinya yang chubby banget.Dengan jengekelnya Sipit menarik tanganku,”sakit tauuu…hehehehe. Serius ni bosan ma aku?hehehe”. “iya,untung aja kuliah itu gak 24 jam,coba 24 jam bisa mati konyol ketawa ma kamu terus.”“Agh,nyebelin mb Indi ni,”dengan muka manyunnya.“Tapi kalau ketawa sambil merem dan gak boleh manyun ntar tak tinggal pulang lho”“jangan,,nebeng sampe depan ya”,dengan muka melas dia dan senyum Sipitnya.Dengan sikap hormat,aku menjawab “siap laksanakan boss..sipitnya mana sipitnya”,aku mencoba masih menggodanya.Aku dan sipit menuju parkir kampus untuk mengambil motor . Saat menuju motorku aku heran kok ada sebuah kantong plastik yang tergantung dimotorku. “Pit,tu ada plastik punya sapa ya?”“Ya punya mb Indi dong,kan dimotor mb Indi”“Tapi aku tadi gak bawa apa-apa,jangan-jangan…………..”“jangan-jangan apa mb Indi?”“jangan-jangan Bom Pit,kaburrrrrr…………”,aku langsung berlari berniat ngerjain sipit yang kaget. Sipit juga ikut lari dan berterika,”Mb Indi tunggu”, dengan nada manja anak kecil.“mb Indi,liat aja yuk”Kami mencoba kembali ke motor kami dan melihat isi kantong yang ada di motorku itu.Jrenggg……jrenggg… coba tebak apa isinya… “Agh,flasdisk??”,aku dan sipit mengatakan hal yang sama.“tau gitu aku nitip kamu aja biar,masak ngomong aja kita barengan”“gak apa-apa mb Indi,kita itu emang ditakdirin bersama-sama”“udah-udah,,kamu ntar GR malah berabe.” Sambil ku lihat kantong itu barang kali ada yang lain,“maksudnya apa ya Pit ini?”“gak tahu,coba dicari ada tulisan dari pengirim gak”“Ini ada tulisan pit”,aku membaca sebuah memo kecil dari sang pengirim.‘Indi,ini flas ada sesuatunya, dilihat pas pukul 20.20. gak boleh dilanggar’Dari : pengirim flasdisk“mb In,jangan-jangan dalemnya ada Syahrininya,tu ada sesuatu”“Hahahaha,,,kamu itu aneh-aneh aja,mana muat Syahrini masuk flasdisk”Aku masih bingung dengan ini,maksud dan isi dari flas ini apa. Kulihat sipit mebolak balik kantong itu.“Kenapa pit,kok dibolak balik?”,anak satu ini aneh banget.“ya ini kantong nyebelin mb In,gede kantongnya isinya Cuma flas. Gak ada makanan atau apa gitu”Sambil gemesin pipinya,”kamu itu,makan mulu….udah kita pulang. Jadi gak sabar pengen liat isinya apa”Setelah sepanjang jalan memikirkan isi flas,tak terlintas akan pikiran tentang Ihsan. Seakan beberapa hari ini aku dibuat amnesia tentang Ihsan. Aku juga tak mengenali tulisan tangan dari si pengirim. Sebuah tanda tanya besar dipikiran ini belum terjawab.Malam sudah mulai larut,berulang mata ini melirik jam dinding namun seakan jam itu berputar sangat lambat. Sudah tek terhitung berapa kali mata ini melirik untuk menunggu pukul 20.20. rasanya tunggu sesuatu yang bikin penasaran itu sangat menyebalkan. Setelah menunggu beberapa saat sms masuk ke Hpku.Dari : (085678901xxx) SipitIsinya apa mb Ind?Aku segera mereplay sms sipit.To : (085678901xxx) SipitGak tau juga,ntar lagi aku buka.Waktu yang ditunggu sudah datang,seperti anak yang mendapatkan hadiah aku sangat begitu antusias untuk mengetahui isi flas itu apa. Langsung ku buka dilaptopku dan hanya ada sebuah file yang berformat video. Bergegas aku membuka video tersebut.Sebuah video ucapan selamat ulang tahun dari Ihsan. Disitu Ihsan menyanyikan lagu milik Ipang yang berjudul “Akhirnya Jatuh Cinta”,” Tak Ada gantinya”, “Tanpamu” yang merupakan lagu favorit kita. Didalam video Ihsan sambil bermain gitar menyanyikan lagu itu. Diakhir video itu Ihsan mengatakan sesuatu yang sangat menyentuh.“aku sekarang tau siapa yang harus aku perjuangkan,ternyata kau harus memeprjuangkan kamu,bila cintaku dan cintamu bersatu aku yakin cinta ini kekal dan abadi utnuk selamanya karena kamu semangat hidupku”Diakhir kata-kata dari Ihsan membuat aku menagis terharu dan senyum bahagia. Beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintu rumah,sambil aku menghapus air mata ini aku beranjak untuk membukakan pintu.Saat kubuka pintu,sebuah kejutan yang termanis yang aku terima.“Happy bday to u… Happy bday to u…..”Aku terkejut karena Ihsan datang bersama SIpit dan SIput. Biar jelas,siput ini adalah cowok Sipit,kita panggil Siput karena dia super karet dan lama kalau ada janjian jalan-jalan. Kalau janjian pergi bareng jam 08.00,dia bisa baru datang jam 10.00 karena kelamaan mandi.Aku lanjutin ceritanya, Ihsan dengan membawa kue ulang tahun menyanyikan lagu ulang tahun bersama Sipit dan Siput. Dengan segera aku memeluk Ihsan dan memukul Ihsan karena aku sebel dan aku bahagia. Ihsan juga membalas pelukku sambil membisikan “happy bday sayangku,”“makasih sayangku”, Ihsan juga mencium keningku.Dan aku kembali memeluknya.“Eehmmmmmmm….”,sipit ma siput mengagetkan kami.“Halooo…lilinya mau cair ni,mau ditiup gak ni?”,sipit langsung aja nerocos.“Iya dong,kan kueku,hahhahaa… tapi masuk dulu yuk,,”Setelah beberapa saat aku mentiup lilin ulang tahunku dengan sebuah doa dan ucapan terima kasih pada Allah karena udah ngembaliin Ihsan lagi. Untuk beberapa saat aku sedikit manyun ama Ihsan.“sayang itu nyebelin tau,cuekin aku”“jangan salahin aku aja,tu sipit ma siput juga. Mereka juga ikut andil dalam urusan ini”. Dengan segera aku menghampiri sipit m siput dan mencubit mereka.“dasar kalian berdua,sengkongkol ya”. Dengan muka tak berdosa mereka hanya tertawa. Dengan rasa kagen yang udah beberapa minggu gak manja-manjaan ma Ihsan. Aku mencubit karena aku masih sebel dikerjain.“aduh sayang,ampun,,,”,diraihnya aku dan dipeluk sama Ihsan.“maaf ya sayang buat kemarin-kemarin. Tapi aku gitu karena kau sayang. Love you sayang”Dengan nada manja aku menjawab,”iya sayang. Love you too sayangku”Untuk kedua kalinya,kami diganggu oleh sipit ma siput. “Hello,disini ada kami” siput bersuara untuk kali ini.“ayo mb Ind,dipotong kuenya,masak mau diliat aja”“dasar tukang makan,iya,iya,,tak potong ya”Dan lebih nyebelin lagi,kuenya ditulisin ‘happy bday Indi. Semoga cepat gemuk’. Mereka itu ada –ada aja. Selanjutnya aku memotong kue.Untuk potongan pertama aku memberikan kepada Ihsan. Dan sebuah kecupan manis dikening untukku dari Ihsan.Untuk potongan selanjutnya sipit dan siput. Kami bercanda sambil menikmati kue ulang tahun.“kok bisa kalian kerja sama,aku kasih tahu ceritanya dong”Secara bersama-sama mereka tertawa,karena sudah berhasil mengerjain aku.Cerita awal dimulai dari Ihsan, Ihsan mengajak siput dan sipit untuk ngerjain aku. Dan semua skenario sudah dirancang. Sipit selalu memberi informasi pada Ihsan tentang aku. “sayang waktu malam itu aku telepon karena denger dari sipit kamu sedih banget. Aku gak tega jadi aku telepon”“aghh,,nyebeliin sayang tu”“hahahahaaaaaaaaa….” Mereka menertawakan kebodohanku.“terus yang kasih flas dimotorku?kan syang kerja,sipit ma aku terus,mesti siput ya”,sambil tunjuk Siput.Dengan senyumnya siput mengakui,”iya aku yang kasih flas kemotormu dan itu tulisanku. Kan kamu belum pernah liat tulisanku”“aghh,,dasar siput,kamu itu”Dan semua kembali tertawa karena melihat kebodohanku. Aku Cuma cemberut dan ikut ketawa.Ternyata kejutan dari Ihsan belum berakhir.“tutup mata sayang,gak boleh ngintip lho..”“ada apa to?”“ya udah tutup mata dulu,nanti kan tau. Tapi berdiri dong”Aku mencoba menuruti semua kemauan dia dan aku penasaran apa yang akan diberikannya,karena flas dan kue sudah menjadi kejutan yang teka terlupakan.“udah belum sih,lama banget”,dengan sebel karena gak sabar pengen tahu.“ok,sekarang dibuka perlahan ya…”Sedetik kemudian aku membuka mata,sebuah kejutan yang manis. Ihsan memberikanku sebuah cincin dan ia sambil berkata “mau kah kau berjanji untuk selalu menjaga dan mempertahankan hubungan kita dalam keadaan apapun?”.Dia bertanya seperti itu karena kalau diajak nikah aku gak mau jadi gak mungkin kalimatanya “will you married me?” bakal langsung aku tolak,Dengan rasa yang bahagia dan tak mampu berucap,aku hanya menganggukan kepala sebagai isyarat aku mau. Dan Ihsan pun memakaikan cincin itu dijari manisku. Dan sebaliknya aku. Setelah cincin ini tersemat di jari kami, Ihsan memelukku dan mengatakan sesuatu padaku,“aku janji akan menjagamu.”Dengan rasa yang tak bisa ku ungkapkan aku menjawab dari ucapan dengan,”aku juga berjanji hati ini untukmu”Dan sipit mengagetkanku dengan ucapannya untuk siput,”sayang aku juga mau kayak gini”“hahahahhahah,,,”,kami semua tertawa dengan ucapan sipit.Malam kian larut dan tak terasa jam udah nunjukkin pukul 23.00. semua pamit untuk pulang. Namun aku sedih karena Ihsan juga pulang,aku masih pengen sama dia. Rasa kangenku sama dia belum terobati. Namun waktu yang bicara.Mereka akhirnya kembali kehabitat msing-masing(maksudku ke rumah masing-masing.)“mb Ind,kita pulang dulu ya”,sipit dan siput bersalaman denganku untuk pamit.“ok,,makasih ya buat kalian berdua”“sayang,aku pulang dulu ya,langsung bobo ja,udah malem,”“iya sayang,syang juga langsung bobo. Hati-hati ya,,”“iya sayang,love you sayang”,kecupan kening untukku.“love you sayang”“udah mb Ind,ntar gak selesai-selesai kalau cium peluk mulu,” sipit ngiri ni,hehehe“ya biarain,ni kan pacaraku,masak aku mau cium siput,boleh po?hahaha” aku menggoda sipit.“ya gak boleh kok”“sayang awas aja ya,” aku langsung dapet peringatan dari Leo dan Sipit.ahaahahahDan mereka pulang kerumah masing-masing. Malam ini bahagia yang tak terkira. Dan gak mungkin aku lupakan. Aku beruntung memiliki teman dan Ihsan yang menyayangiku.Aku juga lebih bisa memaknai arti sebuah persahabatan dan kasih sayang.Dan aku berharap harapan yang aku inginkan terkabul,sebuah harapan yang tak akan ku ucapkan jika belum terjadi. Di hari berikutnya kami kembali seperti biasa, Ihsan kembali normal. Hari terasa cepat hingga tak terasa sudah masuk bulan Mei. Dan yang paling aku senang karena 27 Mei adalah satu tahun kami berpacaran,aku ingin membuat suatu perayaan kecil dengan kejutan kecil dariku. Saat sebuah rencana manis aku susun rapi dengan penuh cinta. Sebuah kabar buruk yang menghancurkan sebuah rencana itu datang. Saat beberapa hari sebelum hari itu saat dia datang kerumah sudah larut malam dan gak biasanya dia datang selarut ini.“duduk dulu sayang,mau minum pa?”,aku mempersilakan dia duduk.“makasih sayang,gak usah minum. Aku Cuma pingin malam ini ama sayang”,dengan senyum dia mengatakan itu.Tersontak aku kaget dengan ucapannya.”Maksudnya apa?”“gini,aku besok bakal berangkat berlayar ke India untuk waktu yang cukup lama”. Dia menghela nafas setelah mengahkiri ucapannya.Aku hanya bisa diam saat mendengar itu semua. Aku tak dapat mengatakan apa-apa. Aku tak suka ini semua.“sayangg…..”. dia membuyarkan lamunanku.”kamu gak apa-apa kan??”“eh,,em,,sayng serius?sayng ini Cuma bercanda kan?”. Aku mencoba mencari jawaban kalau ini semua Cuma kebohongan dia. Karena dia sering sekali mengatakan itu.“kali ini benar”,sambil dia mengeluarakan surat-surat sebagai tanda kalau kali ini dia tak berbohoong.Aku memintanya danku teliti satu demi satu saurat-surat itu. Dan benar sebuah nama negara sebagai tujuan berlayar atas nama dia. Aku menaruh kembali surat itu dan bertanya,”berapa lama berlayar?” dalam hati ku pasti wkatu yang lama karena line/tujuannya jauh.“2 tahun sayang aku akan pergi”Aku tak tahu harus bagaimana lagi saat dia menjawab 2 tahun. Aku hanya terdiam,dia pun ikut terdiam karena dia tahu pasti aku gak bisa terima ini semua.“sayang bohong kan?sayang boong ya?”,aku masih mencoba tak percaya. Namun saat tangan ini digenggamnya untuk mencoba meyakinkanku.“sayng,aku bener besok bakal berlayar. Aku tau sayang bakal kesepian banget. Apalagi di sana nanti aku juga gak dapet sinyal. 2 tahun itu aku sebulannya hanya mendarat 2 hari sayang.”Aku benar-benar terdiam tanpa sebuah sedikitpun ucapan yang aku keluarkan dari bibir ini. Aku membayangkan rencana kecilku di hari jadian kita hancur. Tangannya tetap menggenggamku untuk menguatkanku.Sedetik kemudian air mata membasahi pipiku. Sebuah sentuhan manis darinya untuk menghapus air mata ini makin membuat aku menangis. Dan selanjutnya sebuah pelukan manis darinya. Aku menangis di dadanya dengan sebuah pelukan dan belaian dia dengan diciumnya keningku olehnya. Mungkin ini pelukan terakhirnya.“sudah sayang,jangan gini. Nanti aku nangis juga,jelek kalau nangis. Cantiknya mana..”. dia masih mencoba menghiburku dan menggodaku.Dengan perlahan aku lepas pelukan ini darinya.” Sayang,aku sayang banget ama kamu. Aku gak pengen jauh dari kamu. Tapi ini untuk masa depan,aku harus dukung kamu. Aku akan tunggu kamu di sini. Aku ingin kamu janji,2 tahun lagi kamu datang kerumahku”“aku janji sayang.” Dia kembali memelukku sambil berucap,”awas aja kalau sayang punya pacar lagi,hehehe”“agh,paling syang juga di sana”,mencoba gak mau kalah aku.“aku aja bakal di air terus. Di kapal juga cowok semua. Ada juga ibu-ibu. Lagipula aku kan punya sayang yang bakal selalu ada”“gombal sayang ki”“biarin,yang penting gak gembel..hehehhe”Kami kembali tertawa dan menikmati hari perpisahan ini hingga tengah malam.“besok anterin aku ya,mau kan?”“ok deh sayang,”“tapi gak boleh cengeng ya”“ya biarain kok,,masak pacar bakal pergi jauh gak boleh nangis”Perlahan dia berdiri dari kursinya dan meraih tanganku kembali,”sayang janji ya gak macem-macem kalau aku tinggal. Inget cincin ini jadi saksi hubungan kita”“Aku janji sayang”. Sambil ku tersenyum walaupun aku sedih.“sayng aku pulang dulu ya,udah malam. Sayng bobo ya…”“huem sayang,hati-hati ya”“sampa ketemu besok ya sayang”“ok sayang”. Dengan berat aku harus melepasnya pulang dan besok hari terakhirku bertemu dengannya.Air mata ini memang tak bisa membohongi kesedihan hati ini. Perlahan menentes kembali. Aku jadi makin sedih,saat ahri-hari esok air mata ini menetes kembali siapa yang akan mengusapnya. Semoga waktu 2tahun itu akan berjalan cepat dan hari-hariku tak berubah karena aku akan tetap menjaga hati ini untuknya. Untuk orang yang telah menyayangiku setulus hati.Sebuah lagu yang menjadi kenangan manis untuk kami adalah “Ipang-akhirnya jatuh cinta”.Semua terjadi tak ku sadari tak terpikir apalgi mimpi.Tapi ternyata kini ku tak lagi berdaya.Kau memang beda dari yang pernah ku rasakan.Hanya kau yang bisa merubah hatiku tk mungkin ada lagi yang mampu membuatku seperti ini.Semua berubah saat bersamamu tak mungkin ku dapat kalau tanpaumu,sangat ku nikmti mencitaimu bersamamu. Tapi ternyata kini aku sudah bersamamu…Karena kesedihanku ini hanya sementara,karena aku percaya lelah ini hanya sebentar dan aku tak boleh menyerah walaupun ini tak mudah. Aku akan selalu ingat pesan dia untuk selalu tersenyum biar semakin mudah karena kesedihan ini hanya sementara.Dan hari-hari sepiku akan terjadi. Semoga aku bisa jalani ini semua. Dan semoga 2 tahun lagi aka nada sebuah cerita manis yang berakhir dengan sebuah kebahagiaan.
Kita tunggu cerita selanjutnya…. 2 athun lagi… see you next time… 
Tentang Penulis:

Kenalin aku Ari Indiastuti. Aku dilahirkan di kota Semarang pada Januari 20 tahun lalu. Aku biasanya dipanggil Ari atau Indi oleh orang tua dan teman-temanku. Jika kalian semua pengen lebih kenal aku bisa cari aja di facebook di alamat ariindi2501@yahoo.com (Ari Indiastuti Weck Weck),bisa juga twitter di ariindi74@gmail.com (@ariindi_weck) bisa kirim email di ariindiastuti@rocketmail.com yang pasti aku baca,mungkin juga bisa tukar-tukar sesuatu di blog ku di ariindiastuti.blogspot.com. Aku sudah hobby nulis,beberapa ceritaku sebelumnya seperti Diantara 2 Hari dan Cinta Tak Berujung. Salam kenal ya buat semua,,kali ini aku ingin berbagi cerita tentang akhir dari cerita cinta seorang cewek. Yang merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya “Cinta Tak Berujung”.

Random Posts

  • Cerpen Tentang Aku dan Dia Part 7 {Update}

    Sekilas, penulis baca ulang cerpen tentang aku dan dia ini, wukokokoko. Kok berantakan gini yak?. Bentar sekolah bentar kampus. Hadeeeeh…Satu lagi bukti kalau penulis bener bener masih amatir dalam dunia tulis menulis. ho ho hoOke deh lanjut ke acara edit mengedit Cerpen tentang aku dan dia yang sejenak telah terlupakan.#Lebay…Credit Gambar imut : Ana MeryaTumben banget masih pagi gini suasananya cerah" kata anya sambil melirik yang asik mencoret coret buku nya. Biasa, ceritanya sih lagi belajar nulis cerpen."ho'oh. Nggak lagi pengen makan orang lagi kayak nya" sambung nanda.Sementara gresia tetap cuek menulis kan ide ide yg kebetulan beberapa hari ini berseliweran di otak-nya yang jelas pas – pasan. Ia lebih memilih diam dan pura – pura tak tau kalau kata – kata sindiran itu di tujukan untuknya.sebagian

  • Cerpen Sahabat Sejati “Be The Best Of A Rival ~ 01 / 07

    Tara, ketemu lagi sama admin ya guys. Kali ini muncul dengan serial cerpen sahabat sejati, tepatnya cerpen Be the best of a Rival. Sekedar info sih, cerpen ini adalah cerpen pertama yang admin ketik pake 'komputer' yang dikarang pas masih SMA dulu. Buat yang penasaran sama jalan ceritanya, bisa langsung simak ke bawah. Happy reading…Hampir saja Farel manbrak Pak Satpam gara-gara ingin buru-buru masuk kekelasnya. Maklum saja, seperti biasa, selain karena datangnya telat, pr nya juga belum selesai ia kerjakan. Terlebih pr kali ini adalah pr bahasa inggris. Sialnya, pelajaran tersebut adalah pelajaran pertama. Bonus tambahan, guru bahasa inggrinya adalah Bu Alena, guru yang biasa lebih sering ia sebut sebagai bu "Alien". Gelaran yang ia berikan karena keseriang di beri hukuman oleh guru tersebut.Begitu tiba di mejanya, Farel segera mengeluarkan buku tugas. Kepalanya menoleh kearah Andika, teman sebangkunya yang selama ini selalu menjadi dewa penyelamat. Pria itu juga tampaknya sudah hapal dengan sikap sahabatnya. Makanya tanpa diminta ia segera mengeluarkan buku PR miliknya dan langsung menyodorkanya kearah Farel. Namun begitu, tak urung mulutnya berkomentar."Gila, loe kapan mau tobat sih Rel?" tanya Andika sambil meletakan bukunya tepat di hadapan Farel."Ngapain tobat. Kan ada elo sebagai dewa penyelamat gue," balas Farel polos. Tangannya dengan ligat memindahkan kata demi kata di buku Andika kearah bukunya. Tak perduli sama sekali jika itu benar atau salah.Andika hanya mengelengkan kepala melihat ulah sahabatnya. "Nggak gitu juga kali. Sekali kali ngerjain sendiri napa," sambungnya menasehati."Ssst… Diem aja deh loe. Kesannya nggak iklas banget gue contekin," komentar Farel. "Lagian nih ya bentar lagi Bu Alien datang. Ogah gue dihukum mulu sama tu orang. Udah beneran kayak Alien tau nggak sih.""Emangnya loe pernah ketemu Alien itu kayak gimana?" selidik Andika sama sekali tidak terpengaruh dengan permintaan sahabatnya untuk tutup mulut."Kalau Alien beneran emang belum sih. Tapi kalau Alien gadungan, sering. Bentar lagi bakalan datang," senyum Farel polos, Andika ngikik mendengarnya. "Eh tapi udah donk, diem aja loe. Ntar kita sambung lagi, oke," terang Farel yang merasa konsentrasinya terganggu akan obrolan mereka."Terserah loe aja deh," Andika kali ini hanya pasrah. Lima menit telah berlalu, bel masuk yang terdengar membuat Farel sedikit terlonjak kaget. Jantungnya mendadak dag dig dug. Jangankan mau kelar, setengahnya juga belum. Memang sih, soalnya cuma lima. Tapi iap soal ada anak soalnya lagi. Mana bahasa inggris lagi, susah untuk di tulis cepat. Sepertinya Farel harus menyerah. Mustahil ia akan menyelesaikan tugasnya itu.Seperti yang di duga, begitu Bu Alena masuk kekelas. Hal pertama yang ia minta adalah agara semua siswanya segera mengumpulkan tugas yang sudah di berikan. Bagi yang tidak menyelesaikan sebaiknya siap siap. Secara Bu Alena memang sudah terkenal galak. Walaupun sadar kalau tugasnya belum selesai, Farel tetap menyerahkan bukunya untuk di nilai sang guru. Menurut kebisaan, buku tersebut biasanya baru akan diperiksa saat jam istrihat di kantor.Sayangnya hari ini berbeda dari hari biasa. Bu Alena segera memeriksa buku tersebut. Dari empat puluh siswa di kelasnya, hanya Farel yang tidak menyelesaikan tugas yang di berikan. “Farel, kesini kamu!” perintah Bu Alena.“Saya bu?” tanya Farel sambil menatap sahabat karibnya seolah minta perlindungan. Namun tak urung ia maju ke depan. Paling juga di suruh berdiri di depan kelas seperti biasanya.“Kamu tau kenapa kamu saya panggil?” tanya Bu Alena.“Enggak. Memangnya kenapa ya Bi?” Farel pura-pura nanya.“Ini apa?” Bu Alena menunjukkan buku latihan milik Farel.“Itu tugas saya yang ibu minta buat di kerjain, memangnya kenapa By?” Farel masih pura-pura.“Terus kenapa belum selesai?” kejar Bu Alena lagi.“0 itu anu buk, sebenernya saya udah ngerjain buk. Tapi e…. tapi buku saya hilang. Jadi saya bikin lagi. Dan belum selesai sih emang. Ya abis gimana buk, dari pada nggak bikin,” alasan Farel ketara banget bohongnya.“Hilang?” ulang Bu Alena dengan kening berkerut.“Ia bu, kayaknya ada yang iseng deh. Tapi beneran kok bu, saya udah bikin,” Farel berusaha untuk meyakinkan sang guru.Bu Alena menatap tajam kearah matanya. Tapi Farel udah bersiap-siap dengan wajah Watadosnya atau kalau bahasa kerennya Innocent."Masa sih ibu nggak percaya sama saya?" ujar Farel memelas.Ibu Alena tidak lantas menjawab. Matanya masih mengamati raut anak didiknya dengan seksama. Setelah beberapa saat kemudian, kepalanya mengangguk. "Oh begitu, baiklah. Ibu percaya. Sekaran, kamu boleh duduk," perintahnya tak urung membaut Farel heran. Teman – temannya yang lain juga merasa aneh. Secara tumben tumbenan tu guru bisa di kibulin. Tak ingin memperdebatkan hal itu, Farel segera berbalik. Namun belum juga lima langkah, ucapan Bu Alena kontan membuatnya terkejut."Oh Farel, tunggu dulu," kata Bu Alena. Dengan was was Farel berbalik kembali menatap kewajah gurunya. "Tolong kamu tulis jawaban nomor tiga sampai nomor lima di papan."Kalimat perintah sang guru membuat Farel melongo. Seperti yang ia duga, akan aneh kalau ia bisa bebas begitu saja."Saya bu?""Iya," angguk Bu Alena. Tangannya terulur menyodorkan spidol kearah Farel. Hal yang jarang terlihat, guru nya tersebut bahkan melontarkan senyum kearahnya. Senyum manis yang membuat Farel merinding. Pria itu tau dengan pasti ada hal menyeramkan di balik senyuman itu. "Lho, harusnya nggak masalah donk. Kamu kan cuma tinggal mengingat ingat sedikit," sambung Bu Alena terdengar santai. Berbanding balik dengan reaksi Farel yang mulai panas dingin. Dengan perlahan Farel mengambil spidol yang terulur padanya baru kemudian berjalan kearah papan tulis. Diam diam ia melirik kearah Andika, berharap dewa penyelamatnya kali ini akan membantu. Tapi Andika hanya terdiam. Sahabatnya itu tau dengan pasti kalau gurunya kini sedang memperhatikan dirinya. "Lho, kok diem aja. Silahkan tulis jawabannya. Atau perlu ibu bacakan lagi soalannya?" tanya Bu Alena yang menyadari kalau Farel hanya berdiam diam di depan.Farel yang tau kalau gurunya hanya mengetes dirinya hanya bisa pasrah. Sepertinya kebohongannya sudah terbongkar."Kamu pikir ibu bodoh sehingga segitu gampangnya kamu bohongin?"Farel hanya menunduk diam. Percuma membantah, ia tau salah. "Chika, sekarang kamu yang tulis di depan," perintah Bu Alena kearah gadis yang duduk tepat di depan papan tulis. Walau terlihat ragu, gadis yang di panggil Chika bangkit berdiri. Sekilas ia menatap kearah Farel yang juga sedang menatapnya. Meminta spidol yang ada di tangannya. Entah apa yang di pikirkan gadis itu, Farel sama sekali tidak bisa menebak. “Silahkan," interuksi Bu Alena kembali terdengar.Dengan tenang Chika menuliskan jawabannya di papan. Bahkan tanpa melihat buku catatannya sama sekali. Sepertinya ia benar benar mengingat semua jawabnnya. Membuat seisi kelas menatapnya takjup, yang tak urung membuat Farel makin kehilangan muka. Secara Chika, selain anaknya rajin. Ia juga terkenal pintar. Sejak empat bulan yang lalu ia pindah ke sekolahnya, gadis itu sudah menujukan prestasinnya. Farel hanya mampu terus menunduk walau sekali-kali ia melihat ke arah Chika yang masih menulis, dan tidak sampai sepuluh menit Chika telah menyelesaikan semua yang di minta oleh Bu Alena.“Gimana Farel, jawaban kamu di buku yang katanya HILANG itu sama kayak yang di tulis sama Chika?” sindir Bu Alena begitu Chika menyelesaikan tugasnnya.Farel hanya menunduk, selain malu karena ketahuan bohong, ia juga malu pada Chika yang ternyata bisa menyawab semua pertanyaan yang di berikan.“Sekarang coba kamu lihat Chika. Dia masih baru empat bulan di sini tapi sudah menunjukkan prestasinya. Harusnya kamu bisa mencontohnmya. Bukan malah cari-cari alasan, sudah sering terlambat, jarang bikin Pr, masih juga ngeles. Jadi sekarang kamu berdiri di luar sampai ibu bilang selesai,” perintah Bu Alena tak urung membuat seisi kelas kaget. Tak terkecuali Chika yang kini menatap Farel dengan seksama."Baik buk," manut Farel sambil menunduk. Sama sekali tidak berani menoleh kearah gurunya. Apalagi menatap kearah Chika walau ia tau gadis itu kini sedang menatapnya. Terus terang ia merasa malu, tak hanya pada gurunya tapi juga pada Chika, sosok yang selama ini di anggap anak nggak gaul karena ke sehariannya selama di sekolah lebih sering di habiskan di perpustakaan dari pada ikutan ngegosip sepeti siswa- siswi yang lainnya.Tiba di luar, rasa malu Farel semakin berkali lipat. Apalagi selama ini ia dikenal sebagai siswa yang sangat berpengaruh. Ia anak orang kaya, ayahnya adalah businesman yang terkemuka, ibunya juga tak kalah tenarnya. Sementara ia, selain memiliki wajah yang tampan, Farel juga merupakan bintang basket sekolah. Apa lagi ia juga merupakan ketua genk yang paling dikenal di sekolah. Wajahnya yang keren membuatnya selalu di kejar-kejar oleh cewek hampir satu sekolahnya. Tapi sekarang masa harus berdiri di halaman sekolah hanya gara-gara tidak mengerjakan pr. Sumpah, nggak elit banget. Mau di taruh di mana mukanya. ????.Setelah sekian lama berdiri di tengah terik matahari, akhirnya bel berbunyi tanda waktu istirahat. Siswa dari kelas lain juga sudah pada keluar sehingga membuat Farel semakin malu. Apalagi sepertinya semau mata tertuju kearahnya. Masa orang yang selama ini paling berpengaruh di sekolah kini harus berdiri di halaman menghadap ke matahari dengan satu kaki. Sementara Bu Alena belum juga memanggilnya. Padahalkan bel sudah terdengar.Setelah hampir lima menit berlalu barulah Bu Alena berjalan kearahnya. Dan dengan suara lantang menasehatinya untuk tidak lagi lupa mengerjakan pr lagi. Barulah semua anak-anak yang tadi bertanya-tanya dalam hati kini tau kenapa Farel di hukum. Setelah Bu Alena meninggalkannya, Farel langsung menuju kekelasnya. Karena saat ini pasti ia sedang di bicarakan oleh seluruh siswa satu sekolahnya. Di ulang, mau di taruh dimana mukanya?Begitu duduk dibangku, ke empat sahabatnya, Andika, Dino, Alvin, dan Rio langsung mendekati ke arahnya.“Sorry bro, kita tadi nggak bisa bantu," kata Rio merasa bersalah.“Ia, kita juga. Sebab tadi Bu Alena memperhatikan kita terus,” sahabatnya yang lain menambahkan.“Udahlah nggak papa kok” sahut Farel sambil mengusap keringat di wajahnya dengan sapu tangan yang di ambil dari saku seragam. Kebetulan kelas sepi hanya ada mereka berlima karena begitu istirahat biasanya kelas memang kosong.Tapi tiba-tiba ada empat orang cewek masuk kekelas. Ternyata vivi dan ketiga temannya yang terkenal dengan genk BFF, *Boy Before Flowe?*. NO BESAR, tapi Best Freind Forever yang juga temen sekelas Farel datang sambil membawa minuman dan roti, dan langsung menyodorkan kearah Farel. Semua anak satu sekolah juga tau kalau vivi yang juga sang ketua genk menaruh simpati sama Farel. Cuma selama ini nggak terlalu di layan semua Farel. “Buat loe Rel. Pasti loe haus dan laparkan?” kata vivi.“Ma kasih,” kata Farel sambil mengambil minuman yang di berikan kepadanya. Apalagi ia memang haus banget.“Gila ya si Chika, kayaknya ia tadi sengaja deh,” ujar vivi.“Maksud loe?” tanya Farel heran begitu juga temen-temen yang lain.“Ia. Tadi pasti Chika sengaja bikin loe malu di depan semua anak-anak sekolah. Dan pasti sekarang dia lagi seneng banget ngelihat loe sekarang.” tambah vivi lagi."Apa banget sih loe," komentar Andika terlihat tidak setuju. "Jangan ngarang gitu deh," sambungnya."Siapa yang ngarang? Ana merya kali yang suka ngarang. Lagian emang bener kok, kalau tadi itu Chika pasti sengaja. Tu anak kan emang suka narik perhatian guru," Taysa ikutan buka mulut."Udah deh. Jangan nyebar fitnah gitu. Lagian semua anak kan ngelihat kalau Chika ke depan tadi juga karena di minta sama Bu Alena, jadi nggak mungkin dia sengaja” tambah alvin.“Tapi kan….” vivi belum menyelesaikan ucapannya karena ucapannya langsung di potong oleh Farel.“Apaan sih. Tadi tu jelas-jelas gue di hukum gara-gara nggak bikin pr. Jadi sama sekali nggak ada hubungannya sama Chika,” kata Farel “Udah ah, cabut yuk guys,” ajak Farel mengajak ke empat temennya pergi.“Eh kalian mau kemana?” tanya vivi heran. Tapi Farel dan temen-temennya diam sambil berlalu tanpa menolah lagi.“Sial!” geram vivi setelah Farel pergi dari hadapannya.Next to Cerpen Be the best of a Rival Part 02Detail Cerpen Judul Cerpen : Be the best of a RivalPenulis : Ana MeryaStatus : CompleteGenre : Remaja, CerbungTwitter : @ana_meryaFanpage : @LovelyStarNightPanjang cerita : 1.814 WordsLanjut Baca : ~ || ~ ~ || ~

  • Cerpen Cinta: Bukan Cerita Biasa

    Bukan Cerita Biasaoleh Fahrial Jauvan TajwardhaniCinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta. ***Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.Begini ceritanya,Anatasha dan Reza, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.Meski Reza tau Anatasha tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan airmatanya manakala Anatasha memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 1 bulan lamanya menikmati dunia.Bukit berbunga, tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga, tempat yang penuh akan kenagan manis mereka.Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang. ***Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar Anastasha menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa. Tak sedikit air mata Reza yang tertumpah untuk Anatasha, manakala melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan. Tak kalah hebat cinta Anatasha untuk Reza, korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak terluka lagi dihatinya. Meski ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.T ak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di pipi. ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya berderai.“Kenapa Reza menangis.”“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.Reza hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Anastasha.“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.Airmata tulus mulai meleleh dari mata Anatasha. “Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.”“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.”“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?”“Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”Anatasha menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku menghilang.”“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.” “Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.”“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Anatasha mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat. Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.SELESAIProfil penulis:Nama Lengkap: Fahrial Jauvan TajwardhaniPanggilan : JauvanAgama : IslamJejaring sosial Facebook : Fahrial Jauvan TajwardhaniTwitter : @FahrialJauvan Cerpen lainnya: Izinkan Aku Hidup

  • WAJAH BULEKU

    WAJAH BULEKUOleh: Sisca Viasari “He Bule! Ati-ati dong bawa motor!”Aku mendengus. Entah untuk yang berapa ratus kalinya, aku dipanggil “bule” oleh orang-orang sekitar. Tetangga, teman sekolah, orang yang baru kenal dan sekarang, orang tengil yang lagi nyetir ini. “Bu, kenapa sih wajahku kayak gini? Gak seperti A Yudi atau Dik Santi?” tanyaku menyebut kakak dan adik kandungku.“Sudahlah, Laras..harusnya kamu malah bersyukur punya wajah begini, yang lain aja kepingin tuh” jawab ibuku.“Ngomong-ngomong, siapa sih yang punya darah bule?”“Hmmm..” ibu berlagak mikir “Kayaknya ibunya eyangmu dari Ayah orang Belanda totok. Sudah cuma dia saja, kesini-sininya mah teu aya deui ”Oke, kembali ke jalan raya..“Siapa yang bule?? Lagian angkot lo tuh yang mepet aja ke gue!!” sentakku kesal. Baguuuus, pagi-pagi sudah berantem sama supir angkot. Mana jalanan di depan macet total karena demonstran dengan rajinnya jam setengah tujuh pagi begini sudah memenuhi ruas jalan Riau. Tahu tidak? Kini aku berada persis di depan gedung pengadilan, tempat Ariel Peterpan jam sepuluh nanti disidang. Perfect! Sempurna!“Lagian angkot butut begini aja, takut amat sih kegores. Kaga ngaruh tauuu!” kataku keras-keras, biar terdengar si supir.“Geuning tiasa bahasa Indonesia si bule ” komentar supir angkot. Seluruh penghuni angkotnya tertawa. Aku meringis.“Gue orang Garut, mau apa lo??”Se-angkot ketawa lagi. Sialan, emang percakapan antara aku dan supir angkot ini lucu apa?“Ya sudah, sesama orang Garut mah jangan saling mendahului atuuuh, apalagi saling menggores” komentar si supir lagi, membuat pertengkaran ini semakin tidak penting. Makanya, begitu ada celah karena mobil di depanku agak maju, aku langsung geber gas si Mio cantikku ini, meninggalkan sang supir dengan seluruh penghuni angkotnya yang tak berperasaaan itu.***“Ehh, ada Arumi Bachsin lewat” goda anak-anak kelas tiga IPA ketika aku melewati gerombolan mereka. Aku kesal. Salah sendiri, sudah tahu kalo pagi, koridor ini pasti penuh sama senior-senior itu. Apa boleh buat, kepalang tanggung.“Yang ini mah Arumi Bersin kaleeee. Hahaha!!” Pasti suara Tino, yang dua hari lalu cintanya aku tolak. Bukan si Tino aja disitu. Ada Doni, Yulis, Janu dan entah siapa lagi deh yang cintanya aku tolak-tolakin. Ya, mereka mengejekku karena kesal karena cinta gak kesampaian, mungkin? Kasian, deh!“Hehe, dia mah bulgar. Bule Garut. Palsu” komentar salah satu dari mereka yang tak sempat aku lihat wajahnya. Tawa mereka berderai-derai. So what?***“Laraaaasss…!!! Siniiii!!” Rita, cewek imut yang selama ini jadi teman satu bangku menyeretku menuju kerumunan cewek-cewek di kelas.“Apaan??”“Cepetan…!”“Naaah! Ini yang kita tunggu…”“Pokoknya dari sekolah kita harus ada yang jadi selebritis, dan….siapa lagi nih kandidatnya kalo bukan Larasati Dwi Kurnia Widiastuti….!!”“Maksudnyaa??” aku melongo. Weni menyuruhku duduk, lalu mulai menjamah rambut coklatku yang ikal gelombang sebahu. “Hm, tinggal di make over sedikit aja, trus kita kasih dia kaos kutung, rok Spartan dan sepatu boots hijau keren milik gue itu, sempurna deh!”“Gue punya bolero rajutan warna ijo pemberian tante gue dari Jepang. Matching, Wen” kata Gia. Aku semakin tidak mengerti.“Rambutnya, kita percayakan aja sama Mas Sunan, salon langganan gue. Dia biasa menangani Hair do-nya para selebriti Bandung” kata Kinanti. “STOP!!!” teriakku. Semua terdiam. “Kalian ini apa-apaan sih? Gue baru dateng udah pada nyembur semua! Udah, gue mau belajar Fisika dulu” “Ehh, duduk dulu Say, gini..gini..” Weni berdehem-dehem. “Besok, jam sepuluh, di Sabuga ITB, ada casting calon pemain film: ‘Begini-begini Aku Cinta Kamu, Lho! Pemain cowoknya, Irfan Bachdim”“Pemain bola itu !?” tanyaku. Semua membenarkan. “So?” “Sutradaranya keren,” lanjut Weni “PHnya bonafid, mereka lagi nyari talent baru buat pasangan si Irfan dan buat tokoh-tokoh lain. Nah, inilah kesempatan buat sekolah kita terkenal se-Indonesia, gara-gara ada salah seorang muridnya main di film itu!!”“Terus? Apa hubungannya sama gue??”“Iiih, cantik-cantik bego!” kata Kinan “Ya, elo harus ikutan casting ituuuuu!!”“Kenapa harus gue??”“Ya cuma lo yang memenuhi syarat. Wajah bule lagi laris, Ceu, apalagi buat disandingkan dengan Irfan Bachdim!”“NO WAYYYY”Aku teriak dan melarikan diri dari kerumunan teman-teman sekelas. Mereka gak peduli, terus mengejarku sampai di tikungan bertemu dengan pak Prana guru Fisika yang sedianya akan mengajar di kelas kami pagi ini. Aku gak peduli, aku terus lari menuju gerbang belakang sekolah, kabur, daripada jadi bulan-bulanan teman-temanku untuk ikutan casting konyol itu, mending aku bolos aja deh pelajaran Fisika pagi ini. Gak apalah sekali-kali..***Aku sudah di Sabuga ITB. Gedung megah milik Institut beken itu sudah ramai dengan orang-orang yang ingin mengadu peruntungan di blantika perfilman dan persinetronan Indonesia. Casting. Gak kebayang seperti apa sih suasana casting itu. Aku menyeret sepatu boots hijau yang kata Weni keren punya ini. Keren apaan? Bikin aku jadi seperti orang kebanjiran begini koq dibilang keren.“Ras, jangan diseret boots gue, ntar solnya habis. Mahal tuh beli di Belanda!”“Salah sendiri lo pinjemin ke gue!”“Laras, inget ya: Senyum. Kemarin gue udah ajarin tehnik akting sedikit kan? Optimis deh lo bakalan dapet peran utama ceweknya. Gue yakin banget!!” kata Gia, sambil memoleskan blush on lagi ke pipiku. Rita, Weni, Kinanti, dan Gia, menggiringku menuju pintu utama Sabuga. Aku risih. Diantara mereka aku memang yang paling jangkung sendiri, plus ditambah aku yang paling dandan sendiri. Aku rikuh ditengah tatapan puluhan orang-orang, ditambah perlakuan teman-teman yang berlebihan ini bikin aku seperti ondel-ondel yang mau manggung.“Nama?” tanya petugas pendaftaran.“Larasati Underwood” jawab Weni. Spontan aku menoleh heran. Melihat reaksiku, Weni senyum,“Sesuai wajah lo, gak pantes pake nama Larasati DK Widiastuti”“Hmm, jangan Mas, tulis namanya Larasati Fruitstone aja!” samber Gia, membuat si petugas mengerut alis. Aku menoleh ke Gia.“Kan sesuai tempat tinggal gue di Buah Batu. Fruit artinya buah, Stone artinya Batu. Ya kan??”“Underwood aja sesuai daerah rumah gue di Jatihandap. Jati itu kayu, handap itu bawah, jadi di Inggrisin Underwood!” Gia maradang.“Fruitstone aja biar sounding like Sharon Stone, Bego!!”“Pokoknya Underwood! Biar disangka turunan Clint Eastwood!!”“Fruitstone!”“Nona-nona, jadi saya musti tulis siapa nih namanya?” petugas pendaftaran mulai tidak sabar.“Larasati DK Widiastuti aja, Mas” jawabku. Teman-temanku mendelik tidak senang.“Kenapa? Irfan yang mukanya bule banget aja pake nama Indonesia, kan?” jawabku tenang.“Oke, silahkan masuk, Mbak. Pintu depan itu belok kiri” kata si Mas petugas.Aku bersorak ketika namaku tidak masuk dalam jajaran talent terpilih. Yang lebih membahagiakanku, calon pemeran wanita yang sedianya mendampingi Irfan Bachdim justru berwajah Indonesia banget. Setelah dapat bocoran sana sini, ternyata film ini akan berkisah tokoh utama pria yang seorang turis kesasar masuk ke hutan dan ditolong oleh wanita lokal. Haha! Aku puas memandangi wajah teman-temanku yang menyesal, kenapa bukan mereka sendiri saja yang ikutan casting. ***Sudah lama aku naksir dia. Ups, terlambat deh dibilang naksir. Mungkin diam-diam aku sudah jatuh cinta padanya. Namanya Nanda. Pekerjaannya, guru disc jockey di Gelanggang Generasi Muda Bandung. Aku mengenalnya setengah tahun lalu ketika aku mulai masuk kelas Wushu di GGM ini. Wajahnya sih ganteng standar, tapi kurasa seluruh tubuhnya terbuat dari magnet hingga begitu menarik perhatianku. Apalagi melihat gayanya kalau lagi nge-DJ. Aduuh gak kuat deh. Keren banget!!Matanya tidak bisa melihat. Menurut cerita sobatnya, itu bukan buta bawaan lahir. Dulu, Nanda sangat bandel, suka kebut-kebutan motor dan mobil. Ketika SMA dia kecelakaan mobil, dari situlah, perlahan fungsi indra penglihatannya berkurang dan kini tidak bisa melihat.“Kok gak operasi aja Mas?” tanyaku.“Mau. Tapi belum punya duit. Nanti ya ngumpulin dulu” jawabnya sambil tersenyum. Dadaku berdesir melihat senyumnya. Aku tidak tahu apakah dadanya juga berdesir jika berdekatan denganku seperti ini. Konon, fisik adalah hal pertama yang dilihat pria dari seorang wanita, yang kedua baru hatinya. Jika dia tidak bisa melihat fisikku, bisakah dia jatuh cinta padaku?***Suatu sore pulang dari latihan Wushu, aku sengaja menemui Nanda di studio DJ yang letaknya di lantai 2. Kelasnya baru saja selesai dan beberapa muridnya masih ngumpul untuk diskusi sesuatu. Ketika mulai sepi, aku mendekatinya. “Hm! Hm!”“Laras, ya?”“Iya, Mas. Udah beres?”Dia menyuruhku duduk di sebelahnya. Aku menyentuh tangannya.“Kalo udah beres, ke CCF yuk! Ada pianis dari Prancis manggung. Gratis lho!”“Ohya??”“He-eum!”“Oke, aku bersiap dulu ya!”Auditorium Centre Culturel de Français atau CCF Bandung sudah hampir penuh. Maklum pertunjukan gratis. Aku menuntun Nanda mencari tempat duduk dan aku bersyukur dapat tempat duduk yang strategis, bisa memandang langsung pianis muda berbakat dari negeri Eiffel itu. “Beethoven, Symphony Number Nine..” desisnya sambil memadang lurus ke depan. Aku kaget mendapati kalau ternyata dia tahu lagu yang sedang dibawakan si artis. Memang, dalam guide book yang sedang kupegang ini, lagu pertama yang dibawakan adalah lagu yang disebut Nanda tadi. Hebat!Aplaus panjang dari audiens membahana dan berhenti seiring lagu kedua mengalun.“Yang ini apa, Mas?” tanyaku mengetes, seperti pembawa acara kuis.“Bocherini, Minueto”Lagu ketiga,“Beethoven, Contredanses”“Kereeen..” desisku.***“Laras,” panggil Nanda ketika suatu sore kami berdua sengaja nongkrong ke Dago Pakar. Aku sih yang mengajak. Ya, sekedar menghirup udara segar dan jauh dari polusi kota Bandung yang makin menyesakkan.“Ya, Mas?”“Kenapa ya, lama-lama aku kok makin suka sama kamu?”“APA?” aku terhenyak“Kamu gak senang ya?”“Euuuh, bukan…bukan itu, aduuuhh” aku menggigit bibir. Ya Allah, tentu saja aku senang!“Tapi, Mas… sorry nih, Mas Nanda kan gak bisa lihat aku, masa sih, cowok bisa suka sama cewek tanpa melihat fisik dari si cewek itu?”Dia tergelak.“Ya ampun kamu naïf banget. Kamu SMA banget sih! Eh denger ya, buat orang seusia aku ini, fisik memang penting, tapi ya bukan yang utama. Apalagi, aku sadar aku juga punya kekurangan fisik..”“Ooh gitu ya?” aku garuk kepala.“Kalo kamu, suka juga gak, sama aku?”“APA? Eh ya, ya! Aku memang sayang kok sama Mas Nanda” Ups! Aku menutup mulutku. Kok jadi aku nih yang nyatain duluan? “Sayang? Kamu sayang sama aku, Laras?”“Yaaa, gitu deh..” pipiku memerah, “Gak apa-apa, kan Mas?”“Ya, gak apa-apa. Tapi Laras gak malu nih, jalan sama orang buta?”“Alhamdulillah enggak. Mas Nanda kali yang malu ya? Jalan sama orang yang mirip Mpok Ati kayak aku..”“Kamu kayak Mpok Ati? Asyik, berarti kamu cantik dong” Nanda tersenyum, dan meringis ketika aku meninju lengannya “Aku kan fansnya Mpok Ati, hehehe” lanjutnya dan kamipun tergelak bersama. “Laras, hatiku bilang kamu cantik sekali dan terlebih hatiku juga bilang kalau kamu sayang sama aku. Itu yang terpenting..”Aku tersenyum senang karena telah menemukan dia. Akhirnya, ada orang yang tidak melihat wajah buleku dengan matanya seperti cowok-cowok lain, tapi dengan hatinya. Seperti mas Nanda ini …***Sisca Viasari, lahir sebagai orang Jawa ditengah-tengah masyarakat multikultural Jakarta pada bulan Maret hari ke-22. Hobi yang juga jadi pekerjaannya sehari-hari adalah menulis dan mengelola toko fashion muslimnya di Bandung. Cerpen-cerpen dan novel-novelnya pernah dipublikasi di media lokal dan nasional dengan nama pena Chika Riki.Email/facebook : ecrivainchika@yahoo.co.idYM : ecrivainchika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*