Cerpen Cinta: Kata Cinta Yang Kedua

Kata Cinta Yang Kedua
Oleh: Farhatul Aini
Awal aku masuk kuliah selama beberapa hari menjalani penyiksaan yang begitu pahit oleh senior yang kejam dan jahat. Dengan berkendaraan bus yang penuh sesak, ku masuki bus itu dengan sedikit hati hati, ku duduk di sebuah tempat dekat jalan, yang kurasa agar tidak terlalu sulit jika aku turun nanti, ku duduk dengan manisnya, sambil melihat orang di sekitarku. Rasanya ada yang aneh dengan gerombolan 6 orang yang duduk paling belakang itu. Rupanya aku kenal salah satu dari mereka tapi aku tidak tau namanya, ya.. teman satu jurusanku namun kita sama sekali tidak bertegur sapa, mungkin karna aku terlalu pendiam, mungkin juga dia tidak mengenaliku. Namun ada seseorang salah satu dari mereka yang agaknya terlalu memperhatikanku, dan saat aku melihatnya ke belakang untuk melihat keadaan, rupanya dia sedang melihatku , tatapan kami terhenti di salah satu sudut. Karena dia yang terlebih dulu melihatku, dia pula yang melempar senyum terlebih dulu kepadaku, tanpa canggung aku pun membalas senyumnya.
Cerpen Cinta: Kata Cinta Yang KeduaKu buka kembali Diary lamaku saat aku pertama kali bertemu dengan Kevin. Rasanya tak pernah terfikirkan olehku akan melewati masa sesulit ini ketika telah mengenalnya.
“hayooo ngelamunin Kevin ya?” tiba-tiba Adel datang ke kamar.
“apaan si lo, sok tau.”
“eh apaan tuh liat dong, lucu gitu bukunya, ada foto kamu sama Kevin lagi.” Sambil merebut buku yang di tangan Widy.
“eh jangan itu Diary gue” balik Widy merebutnya, tapi tak berhasil.
“ah biarin gue pengen tau.”
Akhirnya Widy menyerah membiarkan Adel membaca buku Diarynya itu. Setelah lama Adel membaca halaman pertama buku itu diapun berkata.
“jadi rupanya lo tuh suka pada pandangan pertama nih.”
“eh engga ya, dia dulu yang ngelempar senyum ke gue, terus minta nomer gue ke Raka, temen satu jurusan gue itu yang satu bus sama gue waktu itu. smsin gue, ngajak jalan, sampe deket kaya gini, dan tiba-tiba dia pacaran sama Nuna.” Menceritakannya dengan emosi, lalu Widy mengeluarkan air matanya.
“sabar ya wid, gue rasa Kevin tuh ga bermaksud nyakitin elo, dia kan ga tau kalo Noumi itu kakak lo.”
“dia tuh kakak tiri gue, dan kalo emang seorang kakak dia gak mungkin sejahat ngerebut orang yang gue suka.”
“tapi lo gak pernah bilangkan orang yang lo suka itu Kevin, mana dia tau kalo dia yang lo suka.”
“udahlah Del ga usah bahas dia lagi, mulai sekarang gue benci sama Kevin dan Noumi!”
Noumi, dialah yang sudah menghancurkan semuanya, aku terbiasa memanggilnya Nuna(sebutan kakak perempuan dalam bahasa Korea),dia adalah kakak tiri aku yang kuliah dan tinggal di Korea , dia tinggal disana bersama Paman Lian yang membuka usaha restaurant khas Korea, aku yang tidak suka dengan musim dingin hanya tinggal di Jakarta bersama Papah dan Mamah tiriku. Noumi ternyata teman sewaktu SMA Kevin, yang pernah disukai Kevin dulu tapi kenapa harus Noumi? dia orang yang terdekat denganku, dan kenapa aku harus tau sekarang, ketika aku sudah benar-benar menyayanginya.
Beberapa minggu lalu Kevin pernah menyatakan cinta padaku, tepatya saat aku pulang kuliah, tanpa ragu dia menyatakan kata-kata cinta itu dengan lancar, sampai aku seperti terhipnotis tak sadar melihat tingkah dan deretan kata-kata itu. Namun karna aku bingung dan ragu aku menjanjikannya akan menjawab pada saat malam minggu di Cafe tempat biasa kita makan bersama.
Memang waktu belum mengijinkan kita, pada saat itu banyaknya tugas yang datang mengahampiri membuat aku lupa akan hal itu. Berjam-jam ternyata dia menunggu di Cafe, dan aku memang benar-benar lupa. Seperti penyesalan yang amat mendalam, dia mengira aku tak datang menemuinya karna aku menolak cintanya, beberapa kali aku jelaskan aku lupa untuk datang ke Cafe itu, tapi Kevin hanya menjawab “lupakan saja Wid, anggap saja itu tak pernah terjadi.” dan aku sangat tau Kevin, sesekali ia dikecewakan, dia takan pernah memberikan kesempatan untuk orang yang pernah mengecewakannya. Dan aku menunggu dia menyatakan cinta itu lagi, karna aku takan menyia-nyiakannya untuk kedua kali, karna aku mencintainya. Tapi kemana dia, cinta itu tak pernah keluar dari mulutnya lagi sampai pada akhirnya dia menemukan Noumi, sahabatnya dulu yang pernah disukainya. Sampai pada akhirnya aku memutuskan, untuk merelakan semuanya. Bahwa Kevin kini telah menjadi milik Noumi.
Malam ini sengaja aku duduk ditaman rumah, malam inikan malam ulang tahunku tapi semuanya nampak sepi, Papah Mamah yang sedang berkunjung ke Korea menjenguk Paman Lian yang sedang sakit, tidak kunjung pulang sampai hari esok tiba. Headset yang tertempel ditelinga seperti melekat, aku menikmati alunan musik yang bertema galau, pas sekali dengan apa yang ku rasakan. Tiba-tiba Pemandangan yang tidak menyenangkan, oh Noumi dan Kevin, inikah kado terburuk yang pernah kudapatkan dihari ulangtahun ku besok, kemesraan yang tampaknya mereka pamerkan membuatku iri, harusnya aku yang sedang tertawa mesra bersama Kevin disana. Tak biasa mereka pulang semalam ini tepatnya jam 10 malam, pasti mereka habis makan di Cafe, nonton, semua hal yang mengasikan.
Saat mereka lewat didepanku, akupun sengaja menutup mata, agar tidak menambah beban pikiranku, dan diam-diam saat mataku terpejam, rasanya pipiku sudah basah terbanjiri air mata.
“kenapa malam-malam kamu masih diluar Wid?” tanya Kevin.
Rupanya alunan musik yang terdengar ditelinga Widy, membuatnya tidak mendengarkan ada suara apapun selain lagu lagu yang didengarnya.
“hei widy.” Sapa Kevin sambil menyentuh tangan Widy, agar Widy merasakan bahwa disana ada orang yang mengajaknya berbicara.
Mata Widypun terbuka dan dengan kagetnya, sampai gelas lemon tea didekatknya terjatuh.
“eh, eh Kevin.”
Entah apa yang harus aku lakukan pada saat itu, suara pecahan gelas membuatku makin panik dan aku memunguti pecahan-pecahan gelas itu. Sebenarnya jika situasi sedang normal aku tidak akan melakukan hal itu, aku akan mengusir Kevin jauh-jauh dan menyuruhnya pergi. Dengan tergesa-gesa membereskannya membuat beling pecahan gelas itu, melukai tanganku. Kevin hanya terdiam melihat tingkahku. Dan ketika ia tersadar iapun langsung membantuku, mengeluarkan sapu tangan, dan membalutkannya ke tanganku yang luka.
“kamu tuh kenapa si, ga biasanya banget?” tanya Kevin.
“habisnya kamu tuh dateng tiba-tiba, bukannya tadi kamu bersama Nuna masuk kedalam eh tiba-tiba kamu ada disini.”
“ya gapapa dong sekali-kali akukan pengen sama kamu.”
Kata-katanya membuat aku benar-benar kesal, kamipun duduk berdua diatas ayunan panjang itu. Diam sejenak tanpa ada yang berkata-kata.
“sebaiknya kamu panggil Nuna sanah, dan aku mau istirahat.”
Diam itu saat bersama Kevin itu, membuat kenyamananku terganggu, aku putuskan untuk kembali ke Kamar.
“eh Wid, disini aja. Noumi sedang mandi katanya dan kamu harus menemani aku.”
“kenapa begitu”
“karna akukan tamu, masa tamu dibiarkan sendiri, ayolah yah yah…” mintanya dengan manja.
“engga!” Widy lari menuju rumah, dan Kevinpun mengejarnya
“kenapa kamu jadi seperti ini si Wid? Kamu tidak seperti kamu yang dulu dan aku tidak suka.”
“dan kamu pikir aku suka kamu dekat dengan Nuna, lalu melupakan aku begitu saja?”
“apa wid, jadi kamu tidak suka aku dekat Noumi?”
“eh bukan itu maksud aku.” Widy berusaha mengelak.
“wid sekarang aku tau perasaan kamu, akhirnya kamu menjawab semua rasa penasaran yang aku rasakan selama ini.”
“maksudnya?”
“sebenarnya aku tidak pernah pacaran bersama Noumi, akupun tidak pernahkan bilang kalo aku pacaran sama Naomi bukan, tapi kamu sendiri yang menganggap semua itu.”jelas Kevin.
“ah sudahlah lepaskan, aku tidak mau lagi mendengar semua itu.”
Widypun lari ke dalam rumah, dan berhenti ketika melihat Noumi sedang membuat kue ulang tahun, ah pasti itu buat Kevin, hari ini kan dia juga ulang tahun. Pasti mereka bakalan ngerayain bareng diatas penderitaan gue.
Kevinpun ikut lari ke dalam rumah.
“Widy, kenapa kamu masuk ke dalam, harusnya kamukan menemani Kevin diluar.”
“ah urusi saja pacarmu itu sendiri.”
Ketika Widy mencoba berlari lagi menuju kamar, langkahnya terhenti karna salah satu tangganya berhasil dipegang erat oleh Kevin.
“jangan pergi lagi Widy.”
Sontak Widypun kaget dan mencoba melepaskan pegangan itu, saat berhasil terlepas widypun berkata.
“apa si maunya kalian itu, aku hanya ingin tenang silahkan kalian bercinta sesuka kalian tapi jangan ganggu aku lagi.”
“Widy apa maksud kamu?”
“Nuna pacaran sama Kevinkan, dan Nuna tau dia itu orang yang sering Widy ceritakan kepada Nuna saat kita sedang curhat bersama melalui e-mail.”
Noumi hanya tersenyum lalu mengatkan “Happy Birthday Widy.”
Nuna sambil berteriak, aku bingung seperti konyol sekali, itukan kue untuk merayakan hari ulang tahun Kevin.
“Widy maafkan aku, ini semua rencana aku, aku ingin tau sekali lagi perasaan kamu, dan aku rasa ini satu-satunya cara agar aku tau perasaan kamu, kamu cemburukan wid aku bersama Noumi, dan itu artinya kamu juga suka kan sama aku?”
Widy seolah tak percaya akan hal itu, air matanya mengalir ke lekuk pipinya.
“aku cinta sama kamu widy, sekali lagi aku ungkapkan itu, dan aku mau kamu menjawabnya sekarang, apapun jawaban kamu aku siap, tak perlu menunggu lain waktu, maukah jadi pacar aku?”
Tanpa berkata Widy langsung memeluk Kevin.
“jangan lakukan ini lagi, aku juga cinta kamu dan kamu harus tau itu.”
Pelukan yang berlinang air mata, mengakhiri sebuah kebahagiaan.
“Nuna maafkan aku yang selama ini sudah membenci Nuna.”
“tidak apa-apa, memang harusnya begitu kalo memang Nuna melakukan itu.”
Malam itu malam yang indah, aku merayakan ulang tahunku bersama Kekasihku dan Nuna, orang yang sangat aku sayang.
-selesai-
Twitter: @ainigonil
Facebook: farhatul.aini@yahoo.com
Cerpen Farhatul Aini yang lainnya bisa dibaca dalam Hate The Rain, Aku Tanpa Dia dan Izinkan Aku Memilih.

Random Posts

  • Cerpen Remaja: Kebahagiaan Cinta

    Kebahagiaan Cintaoleh Natania Prima NastitiSekitar jam setengah satu pagi, aku tidak bisa tidur. Aku masih heran dengan ucapan Rangga tadi. Tiba-tiba Rangga datang ke rumahku dan menyatakan perasaannya. Rangga, cowok populer satu itu kenapa bisa menyatakan perasaannya padaku? Pada cewek yang terisolasi dari sekolahannya ini? pada cewek yang tidak pernah dianggap ada di sekolahannya ini?. Aku terus memikirkan itu.Besoknya tiba-tiba Rangga menhapiriku di kelas. Dia memang mengobrol dengan teman-temannya tapi, matanya itu… selalu tertuju padaku. Dan itu membuat aku.. gugup. Khanza, sahabatku pun, menenangkanku. Kemudian Rangga menghampiriku. “Jawabannya udah, Res?” tanya Rangga. Aku diam menatapnya. Kemudian aku menundukkan kepalaku, takut.“Mau ya, Res? Fares?” tanya Rangga lagi. Khanza menyenggol-nyenggolku. Aku bingung kemudian aku berdiri dan bilang pada Rangga, “tunggu nanti di taman sekolah. Udah sono lo pergi!”. Kemudian Rangga pergi sambil menyunggingkan senyuman dibibirnya.Pulang sekolah aku dan Khanza pergi ke taman menemui Rangga. Kulihat Rangga sudah duduk menungguku. Aku semakin gugup. Kemudian aku menghampiri Rangga.“Kenapa lo nembak gue?” tanyaku gugup,“Karna gue suka sama lo”, aku menatap kaget Rangga. Kaget dengan jawaban Rangga itu. Kulihat Rangga hanya tersenyum padaku.“Gue kan nggak populer, Ga. Masih banyak cewek-cewek cantik yang suka sama lo” ucapku lagi. Khanza mengiyakan.“Tapi gue sukanya sama lo dan gue mau lo jadi pacar gue!” sahut Rangga tegas. Entah mengapa aku begitu bodoh kala itu. Tiba-tiba saja aku bilang iya pada Rangga. Apa mungkin karena aku ketakutan sampai bertindak bodoh seperti ini? padahal aku tau, menjadi pacar Rangga, sama saja menjadi putri bagi pangeran. Pasti banyak cewek-cewek yang akan mencabik-cabikku.Benar saja dugaanku, ternyata berita aku pacaran dengan rangga sudah tersebar seantero sekolahan. Cewek-cewek memandang sinis kearahku. Aku pun tidak berani keluar kelas karena itu. Padahal, di dalam kelas pun aku sudah muak mendengar sindiran teman-temanku. Ingin rasanya aku keluar dari sekolah ini.Tiba-tiba geng Black Devil, geng yang anggotanya cewek-cewek cantik nan seksi itu menghampiriku. Bunga, ketua geng itu menggebuk mejaku. “Dasar cewek nggak tau diri! Udah jelek belagu lagi! Lo kan tau siapa yang berhak dapetin Rangga! Lo pasti mandi kembang empatbelas rupa buat nyihir Rangga kan! Lo pasti main dukun! Cuihh!” bentaknya sambil meludah. Aku tidak terima dengan bentakan itu. Kemudian tanpa kusadari, aku menggebuk meja juga. Daripada malu karena sudah menggebuk meja, akhirnya aku membentak Bunga ganti.“Gue nggak pernah ke dukun ya! Rangga yang nyatain perasaannya ke gue duluan! Gue juga nggak percaya dengan apa yang dilakuin tuh orang! Dan gue sebenernya nggak tertarik dengan ucapan Rangga karena gue tau cuma lo yang bisa dapetin Rangga! Tapi gue pikir, its time for chage! So, gue terima dia” bentakku ganti dan pergi meninggalkan kelas. Aku yakin pasti Khanza kaget dengan ucapanku.Saat akan keluar kelas, aku melihat Rangga menatapku dalam. Kubalas tatapan Rangga dengan tatapan sebal dan benci. Dasar cowok! Kenapa dia nggak ngebantu gue ngadepin Bunga?! Ucapku dalam hati.Keluar toilet, tiba-tiba Aldo, salah satu teman Rangga mendatangiku.“Gue surprise banget sama ucapan lo tadi waktu ngebentak bunga. Semoga nantinya lo kuat saat tau yang sebenernya ya” ucap Aldo tersenyum kemudian pergi meninggalkanku. Aku diam dengan tanda tanya besar dikepala. Apa maksud perkataan Aldo itu?Setelah tiga bulan berpacaran dengan Rangga, aku semakin terbiasa dengan keadaan. Cewek-cewek juga terlihat sudah cuek dengan hubunganku dengan Rangga. Walaupun masih ada yang suka menyindirku, tapi Rangga bilang cuek saja dengan hal itu. Black Devil juga sudah tidak pernah menyindirku lagi. Yah, walaupun mereka terutama Bunga masih suka deketin Rangga, tapi biarlah. Rangga memang cowok populer yang pantas dideketin sama cewek populer juga.Malam itu, Rangga datang ke rumahku. Aku yang sedang belajar, kaget saat Mama bilang ada Rangga. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan baju bergambar doraemon, buru-buru aku turun kebawah, ke ruang tamu. Kemudianku sapa Rangga yang sedang duduk. Rangga menatapku sejenak, kemudian disapanya aku balik. “Pergi yuk! Gue lagi suntuk nih” ucap Rangga. Aku menggeleng dengan alasan ingin belajar. “Udahlah, belajar kan bisa entar-entar. Gue tunggu empat puluh lima menit dari sekarang! Cepet!” ucap Rangga kemudian dan menyuruhku ganti baju. Aku pun akhirnya menuruti.Sesuai janji, empat puluh lima menit kemudian aku turun dari kamar dengan menggunakan dress berwarna krem ungu seatas dengkul tapi tetap dengan sepatu kets unguku. Sebenarnya bajuku ini ku sesuaikan dengan baju dalaman Rangga yang berwarna krem dan blazer coklatnya Rangga. Kemudian kuhampiri Rangga yang menatap padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia menatapku seperti itu. Ku goyang-goyangkan tanganku kekanan dan kekiri tepat didepan wajah Rangga. Kemudian Rangga sadar dan bilang, “lo cantik, Fares. Kenapa gue nggak dari dulu sadar ya? Hehe. Ayo!”. Kemudian aku dan Rangga pergi dinner malam itu.Setelah dinner Rangga mengajakku ke tempat seperti sebuah taman. Tapi kulihat jarang ada orang di taman itu. Kemudian Ranga menyuruhku duduk dibangku dekat lampu taman. Remang-remang aku melihat wajah Rangga yang terlihat gugup. Kenapa dia? Tanyaku dalam hati.Kemudian saat kami berdua sedang mengobrol, tiba-tiba Rangga menggenggam tanganku. Aku sudah pasti gugup. Jantungku berdetak cepat dari biasanya. Kami berdua saling pandang. Kemudian Rangga semakin mendekat denganku. Dipeluknya tubuhku ini. aku juga bisa merasakan detak jantung Rangga. Jantung itu sama sepertiku, berdetak dengan cepat. Setelah memelukku, kemudian Rangga mencium keningku. Seumur-umur aku belum pernah dilakukan seperti ini. rangga adalah cowok pertamaku. Cowok pertama yang menciumku. Kemudian didekatkannya wajah Rangga ke telingaku. Lalu dia berkata, “gue suka sama lo, Res. Lebih dari suka bahkan”, Rangga kemudian tersenyum dan memelukku lagi. Aku kaget tak percaya.Ucapan Rangga tadi malem benar-benar buat aku jadi senyum-senyum sendiri. Aku seperti orang gila! Apa mungkin aku mulai jatuh cinta? Sama Rangga? Cowok populer itu? Apa mungkin ucapannya tadi malam sungguhan? Tanyaku dalam hati. Khanza tiba-tiba bertanya, “lo kenapa sih, Res? Dari tadi gue perhatiin… senyum-senyum sendiri?”. “Gue lagi jatuh cinta, Za” jawabku sambil senyum-senyum. “Sama Rangga? Nggak mungkin! Dia Cuma mainin elo doang tau! Sadarrr!!!!!” teriak Khanza kemudian. Teman-teman yang lainnya lantas menatap kesal kearah aku dan Khanza.Kutarik Khanza keluar kelas. Kami pun ke kantin. Disana aku mulai menjelaskan semuanya. “Pertamanya gue juga mikir Rangga cuma main-main, Za. Tapi liat, udah tiga bulan lebih gue sama dia sekarang. Gue kira pasti cuma dua hari gitu. Kejadian tadi malem, bener-bener buat gue yakin kalo Rangga beneran sama gue, Za. Dia pasti serius sama gue” ucapku panjang-lebar. Khanza kemudian menarik nafas. “Terserah lo deh, Res. Mungkin menurut lo ini yang terbaik. Yah, semoga aja pemikiran lo itu bener. Rangga serius dengan lo! Eh tapi, kalo kenyataannya sebaliknya, lo nggak boleh down dan harus terima semuanya, oke?” sahut Khanza kemudian. Aku mengangguk menjawab sahutan Khanza. Kemudian aku memeluk senang sahabatku itu.Seminggu kemudian, aku dan Rangga semakin dekat dan semakin sering keluar. Sekedar ke toko buku atau jalan-jalan. Hingga pada pagi itu, sekitar jam 10 pagi, aku kebelet buang air kecil. Aku pun berlari secepat mungkin agar cepat sampai ke toilet. Terdengar suara Rangga di salah satu kelas. Aku pun berhenti berari dan melihat Rangga dan teman-temannya.“Ga, lo udah berhasil naklukin Fares selama tiga bulan! Lo juga udah dapet duit imbalan kan? Enak jadi lo, Ga! Tapi kenapa lo mau terus-terus deket sama dia? Sama cewek jelek kayak dia! Ini Cuma taruhan, Ga! Dan lo udah menangin taruhan itu. Masih banyak kan cewek cantik lainnya dari pada dia? Bunga contohnya, yang udah bener-bener ngejar lo gitu. Kenapa pake acara seminggu lo deket sama dia, Ga? Sedeng lo!” ucap salah satu temannya Rangga saat itu. Aku lihat ada Aldo juga disana. Aku benar-benar terkejut dengan ucapan itu. Taruhan?! Aku hanya dijadikan taruhan oleh Rangga dan teman-temannya?! Dasar! Semuanya biadap! Teriakku dalam hati.Kemudian aku berlari balik ke dalam kelas dan mengambil tasku. Tidak peduli ada guru saat itu juga. Air mata sudah mengalir dipipiku. Hatiku benar-benar sakit. Omongan Khanza benar, Rangga tidak akan pernah suka padaku. Kenapa aku bodoh begini?! Cinta benar-benar membuat orang gila! Ucapku dalam hati.Dua hari ini aku tidak berangkat kesekolah. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Mama, jadi Mama pun memaklumi. Kemarin Khanza juga sudah datang ke rumah. Menanyakan kenapa aku nekad mengambil tas lalu pulang padahal masih ada guru. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Khanza. Khanza hanya menyemangatiku. Aku tidak bisa memegang janjiku pada Khanza. Aku tidak bisa kalau tidak down begini. Hatiku benar-benar sakit mendengar dengan kuping sendiri kalau aku hanya dijadikan permainan orang-orang saja. Aku sedih dan terpuruk.Malamnya tiba-tiba saja Mama bilang ada yang mencariku. Tadinya aku tidak mau turun dan menumuin orang itu, tapi karna Mama memaksa, akhirnya aku turun dengan mata bengkak karena menangis. Lelaki itu membelakangiku. Saat kusapa, ternyata… Aldo?“Ngapain kesini?!” tanyaku ketus. “Gue kesini nggak disuruh Rangga kok. Gue kesini ya mau jelasin semuanya ke elo, Res. Gue tau kalo lo udah tau semuanya” jawab Aldo tenang. “Tau kalo gue cuma jadi bahan taruhan?” tanya gue kemudian. Aldo hanya mengangguk malu. Ingin sekali aku mencekik cowok di depanku ini. karena bagaimanapun juga, dia ikut andil dalam taruhan ini. karena kulihat saat itu, dia ada disana.“Kita emang jadiin lo bahan taruhan, Res. Kita semua minta maap karena itu. Kita jadiin lo bahan taruhan ya.. karna lo itu lugu. Jadi pasti gampang mengaruhinya, Res. Tiga bulan, Res. Cuma tiga bulan kita nyuruh Rangga deketin elo tapi.. lo tau sendiri kan? Tiga bulan lebih Rangga malah deketin lo terus. Ya, walau belum dapet penjelasan dari Rangga.. tapi gue yakin dia mulai suka sama lo, Res. Dia suka serius sama lo!” jelas Aldo menatapku. Aku terdiam. Memikirkan ucapan Aldo itu.“Nggak! Gue udah nggak yakin lagi! Gue nggak percaya ucapan lo, Do! Lo sama aja kayak cowok lainnya dan Rangga! Gue nggak bisa percaya elo!” teriakku kemudian berlari ke kamar dan meninggalkan Aldo.Besoknya pun aku kembali ke sekolah. Sebelum sampai kelas, tiba-tiba geng Black Devil menghampiriku. Mereka semua kemudian tertawa. “nggak mungkin Rangga beneran suka sama lo, kampung!” ucap Bunga kemudian pergi diikuti teman-temannya. Aku langsung berlari ke kelas. Aku terus menahan air mata yang mulai menetes, tapi usahaku gagal. Air mata itu menetes juga. Aku benar-benar bodoh!Pulang sekolah, entah kenapa langkah kakiku malah pergi ke taman dulu Rangga mengajakku. Aku hanya ingin sendiri. Dan kurasa, taman ini cocok untuk hatiku. Tempat yang tenang dan damai. Aku juga duduk di bangku yang sama seperti dulu saat aku berdua dengan Rangga. Tiba-tiba teringat hari itu lagi. Dimana saat Rangga mengucapkan kata itu. Sekarang semua sirna. Ternyata ucapan itu hanya pura-pura. Rangga, cowok itu… harusnya aku sadar…Sampai sore aku hanya duduk dibangku dekat lampu taman. Memandang kosong ke depan. “Bukan maksud gue begitu, Res”, tiba-tiba ucapan itu membuyarkan lamunanku. Aku pun menengok kesamping. Kulihat Rangga duduk disampingku sambil memandang kearah depan juga. Kemudian aku ikut memandang kearah depan juga. Air mataku mulai menetes. Ingat perkataan temannya Rangga waktu itu. Saat aku hanya dijadikan bahan taruhan.“Kenapa lo jahat banget sih, Ga! Gue tau, gue emang cewek lugu yang nggak ngerti apa-apa malah lo itu pacar pertama gue! Tapi.. seenggaknya lo mikir perasaan gue dong! Kata-kata sayang itu.. kata-kata itu.. ternyata hanyalah kiasan! Ternyata lo nggak bener suka apalagi sayang sama gue. Tapi thanks karna dengan itu.. gue belajar buat nggak cepet kemakan dengan ucapan bullshit cowok!” ucapku. Rangga kemudian menggenggam tanganku. Dihadapkannya aku pada dirinya.“Gue salah, Res. Malah karna taruhan itu.. emm.. gue.. gue.. beneran suka.. sama.. sama.. lo. Ini sungguhan, Res! Ini perasaan gue sama lo! Karena taruhan itu gue su.. gue suka sama lo! Maap karena kebodohan gue udah bohongin lo, Res. Gue bener-bener minta maap tentang taruhan itu, Res. Sekarang.. gue bener-bener jatuh cinta sama lo” jelas Rangga. Aku hanya melihat wajah cowok itu. Kali ini aku yakin, Rangga benar-benar mengucapkan dari hati. Aku melihat ketulusan di wajah tampan Rangga itu.“Fares, gue sayang sama lo” ucap Rangg lagi kemudian memelukku. Memeluk eratku seakan tidak mau melepaskannya. Entah kenapa, aku merasa nyaman dengan pelukan itu. Tiba-tiba aku membalas pelukan itu. Aku benar-benar yakin.. Rangga menyayangiku sebagai pacarnya. Aku juga sayang sama kamu, Ga. Ucapku dalam hati kemudian tersenyum.No matter how far the journey,No matter how dark the days,No matter how long the time,I know,I always know,You’ll love me till the end…Nama : Natania Prima NastitiAlamat facebook : athananonano@rocketmail.comNama facebook : Natania Prima NastitiAlamat twitter : athananonano@rocketmail.comNama facebook : @NataniaAPAlamat blog : athananonano@rocketmail.com

  • WAJAH BULEKU

    WAJAH BULEKUOleh: Sisca Viasari “He Bule! Ati-ati dong bawa motor!”Aku mendengus. Entah untuk yang berapa ratus kalinya, aku dipanggil “bule” oleh orang-orang sekitar. Tetangga, teman sekolah, orang yang baru kenal dan sekarang, orang tengil yang lagi nyetir ini. “Bu, kenapa sih wajahku kayak gini? Gak seperti A Yudi atau Dik Santi?” tanyaku menyebut kakak dan adik kandungku.“Sudahlah, Laras..harusnya kamu malah bersyukur punya wajah begini, yang lain aja kepingin tuh” jawab ibuku.“Ngomong-ngomong, siapa sih yang punya darah bule?”“Hmmm..” ibu berlagak mikir “Kayaknya ibunya eyangmu dari Ayah orang Belanda totok. Sudah cuma dia saja, kesini-sininya mah teu aya deui ”Oke, kembali ke jalan raya..“Siapa yang bule?? Lagian angkot lo tuh yang mepet aja ke gue!!” sentakku kesal. Baguuuus, pagi-pagi sudah berantem sama supir angkot. Mana jalanan di depan macet total karena demonstran dengan rajinnya jam setengah tujuh pagi begini sudah memenuhi ruas jalan Riau. Tahu tidak? Kini aku berada persis di depan gedung pengadilan, tempat Ariel Peterpan jam sepuluh nanti disidang. Perfect! Sempurna!“Lagian angkot butut begini aja, takut amat sih kegores. Kaga ngaruh tauuu!” kataku keras-keras, biar terdengar si supir.“Geuning tiasa bahasa Indonesia si bule ” komentar supir angkot. Seluruh penghuni angkotnya tertawa. Aku meringis.“Gue orang Garut, mau apa lo??”Se-angkot ketawa lagi. Sialan, emang percakapan antara aku dan supir angkot ini lucu apa?“Ya sudah, sesama orang Garut mah jangan saling mendahului atuuuh, apalagi saling menggores” komentar si supir lagi, membuat pertengkaran ini semakin tidak penting. Makanya, begitu ada celah karena mobil di depanku agak maju, aku langsung geber gas si Mio cantikku ini, meninggalkan sang supir dengan seluruh penghuni angkotnya yang tak berperasaaan itu.***“Ehh, ada Arumi Bachsin lewat” goda anak-anak kelas tiga IPA ketika aku melewati gerombolan mereka. Aku kesal. Salah sendiri, sudah tahu kalo pagi, koridor ini pasti penuh sama senior-senior itu. Apa boleh buat, kepalang tanggung.“Yang ini mah Arumi Bersin kaleeee. Hahaha!!” Pasti suara Tino, yang dua hari lalu cintanya aku tolak. Bukan si Tino aja disitu. Ada Doni, Yulis, Janu dan entah siapa lagi deh yang cintanya aku tolak-tolakin. Ya, mereka mengejekku karena kesal karena cinta gak kesampaian, mungkin? Kasian, deh!“Hehe, dia mah bulgar. Bule Garut. Palsu” komentar salah satu dari mereka yang tak sempat aku lihat wajahnya. Tawa mereka berderai-derai. So what?***“Laraaaasss…!!! Siniiii!!” Rita, cewek imut yang selama ini jadi teman satu bangku menyeretku menuju kerumunan cewek-cewek di kelas.“Apaan??”“Cepetan…!”“Naaah! Ini yang kita tunggu…”“Pokoknya dari sekolah kita harus ada yang jadi selebritis, dan….siapa lagi nih kandidatnya kalo bukan Larasati Dwi Kurnia Widiastuti….!!”“Maksudnyaa??” aku melongo. Weni menyuruhku duduk, lalu mulai menjamah rambut coklatku yang ikal gelombang sebahu. “Hm, tinggal di make over sedikit aja, trus kita kasih dia kaos kutung, rok Spartan dan sepatu boots hijau keren milik gue itu, sempurna deh!”“Gue punya bolero rajutan warna ijo pemberian tante gue dari Jepang. Matching, Wen” kata Gia. Aku semakin tidak mengerti.“Rambutnya, kita percayakan aja sama Mas Sunan, salon langganan gue. Dia biasa menangani Hair do-nya para selebriti Bandung” kata Kinanti. “STOP!!!” teriakku. Semua terdiam. “Kalian ini apa-apaan sih? Gue baru dateng udah pada nyembur semua! Udah, gue mau belajar Fisika dulu” “Ehh, duduk dulu Say, gini..gini..” Weni berdehem-dehem. “Besok, jam sepuluh, di Sabuga ITB, ada casting calon pemain film: ‘Begini-begini Aku Cinta Kamu, Lho! Pemain cowoknya, Irfan Bachdim”“Pemain bola itu !?” tanyaku. Semua membenarkan. “So?” “Sutradaranya keren,” lanjut Weni “PHnya bonafid, mereka lagi nyari talent baru buat pasangan si Irfan dan buat tokoh-tokoh lain. Nah, inilah kesempatan buat sekolah kita terkenal se-Indonesia, gara-gara ada salah seorang muridnya main di film itu!!”“Terus? Apa hubungannya sama gue??”“Iiih, cantik-cantik bego!” kata Kinan “Ya, elo harus ikutan casting ituuuuu!!”“Kenapa harus gue??”“Ya cuma lo yang memenuhi syarat. Wajah bule lagi laris, Ceu, apalagi buat disandingkan dengan Irfan Bachdim!”“NO WAYYYY”Aku teriak dan melarikan diri dari kerumunan teman-teman sekelas. Mereka gak peduli, terus mengejarku sampai di tikungan bertemu dengan pak Prana guru Fisika yang sedianya akan mengajar di kelas kami pagi ini. Aku gak peduli, aku terus lari menuju gerbang belakang sekolah, kabur, daripada jadi bulan-bulanan teman-temanku untuk ikutan casting konyol itu, mending aku bolos aja deh pelajaran Fisika pagi ini. Gak apalah sekali-kali..***Aku sudah di Sabuga ITB. Gedung megah milik Institut beken itu sudah ramai dengan orang-orang yang ingin mengadu peruntungan di blantika perfilman dan persinetronan Indonesia. Casting. Gak kebayang seperti apa sih suasana casting itu. Aku menyeret sepatu boots hijau yang kata Weni keren punya ini. Keren apaan? Bikin aku jadi seperti orang kebanjiran begini koq dibilang keren.“Ras, jangan diseret boots gue, ntar solnya habis. Mahal tuh beli di Belanda!”“Salah sendiri lo pinjemin ke gue!”“Laras, inget ya: Senyum. Kemarin gue udah ajarin tehnik akting sedikit kan? Optimis deh lo bakalan dapet peran utama ceweknya. Gue yakin banget!!” kata Gia, sambil memoleskan blush on lagi ke pipiku. Rita, Weni, Kinanti, dan Gia, menggiringku menuju pintu utama Sabuga. Aku risih. Diantara mereka aku memang yang paling jangkung sendiri, plus ditambah aku yang paling dandan sendiri. Aku rikuh ditengah tatapan puluhan orang-orang, ditambah perlakuan teman-teman yang berlebihan ini bikin aku seperti ondel-ondel yang mau manggung.“Nama?” tanya petugas pendaftaran.“Larasati Underwood” jawab Weni. Spontan aku menoleh heran. Melihat reaksiku, Weni senyum,“Sesuai wajah lo, gak pantes pake nama Larasati DK Widiastuti”“Hmm, jangan Mas, tulis namanya Larasati Fruitstone aja!” samber Gia, membuat si petugas mengerut alis. Aku menoleh ke Gia.“Kan sesuai tempat tinggal gue di Buah Batu. Fruit artinya buah, Stone artinya Batu. Ya kan??”“Underwood aja sesuai daerah rumah gue di Jatihandap. Jati itu kayu, handap itu bawah, jadi di Inggrisin Underwood!” Gia maradang.“Fruitstone aja biar sounding like Sharon Stone, Bego!!”“Pokoknya Underwood! Biar disangka turunan Clint Eastwood!!”“Fruitstone!”“Nona-nona, jadi saya musti tulis siapa nih namanya?” petugas pendaftaran mulai tidak sabar.“Larasati DK Widiastuti aja, Mas” jawabku. Teman-temanku mendelik tidak senang.“Kenapa? Irfan yang mukanya bule banget aja pake nama Indonesia, kan?” jawabku tenang.“Oke, silahkan masuk, Mbak. Pintu depan itu belok kiri” kata si Mas petugas.Aku bersorak ketika namaku tidak masuk dalam jajaran talent terpilih. Yang lebih membahagiakanku, calon pemeran wanita yang sedianya mendampingi Irfan Bachdim justru berwajah Indonesia banget. Setelah dapat bocoran sana sini, ternyata film ini akan berkisah tokoh utama pria yang seorang turis kesasar masuk ke hutan dan ditolong oleh wanita lokal. Haha! Aku puas memandangi wajah teman-temanku yang menyesal, kenapa bukan mereka sendiri saja yang ikutan casting. ***Sudah lama aku naksir dia. Ups, terlambat deh dibilang naksir. Mungkin diam-diam aku sudah jatuh cinta padanya. Namanya Nanda. Pekerjaannya, guru disc jockey di Gelanggang Generasi Muda Bandung. Aku mengenalnya setengah tahun lalu ketika aku mulai masuk kelas Wushu di GGM ini. Wajahnya sih ganteng standar, tapi kurasa seluruh tubuhnya terbuat dari magnet hingga begitu menarik perhatianku. Apalagi melihat gayanya kalau lagi nge-DJ. Aduuh gak kuat deh. Keren banget!!Matanya tidak bisa melihat. Menurut cerita sobatnya, itu bukan buta bawaan lahir. Dulu, Nanda sangat bandel, suka kebut-kebutan motor dan mobil. Ketika SMA dia kecelakaan mobil, dari situlah, perlahan fungsi indra penglihatannya berkurang dan kini tidak bisa melihat.“Kok gak operasi aja Mas?” tanyaku.“Mau. Tapi belum punya duit. Nanti ya ngumpulin dulu” jawabnya sambil tersenyum. Dadaku berdesir melihat senyumnya. Aku tidak tahu apakah dadanya juga berdesir jika berdekatan denganku seperti ini. Konon, fisik adalah hal pertama yang dilihat pria dari seorang wanita, yang kedua baru hatinya. Jika dia tidak bisa melihat fisikku, bisakah dia jatuh cinta padaku?***Suatu sore pulang dari latihan Wushu, aku sengaja menemui Nanda di studio DJ yang letaknya di lantai 2. Kelasnya baru saja selesai dan beberapa muridnya masih ngumpul untuk diskusi sesuatu. Ketika mulai sepi, aku mendekatinya. “Hm! Hm!”“Laras, ya?”“Iya, Mas. Udah beres?”Dia menyuruhku duduk di sebelahnya. Aku menyentuh tangannya.“Kalo udah beres, ke CCF yuk! Ada pianis dari Prancis manggung. Gratis lho!”“Ohya??”“He-eum!”“Oke, aku bersiap dulu ya!”Auditorium Centre Culturel de Français atau CCF Bandung sudah hampir penuh. Maklum pertunjukan gratis. Aku menuntun Nanda mencari tempat duduk dan aku bersyukur dapat tempat duduk yang strategis, bisa memandang langsung pianis muda berbakat dari negeri Eiffel itu. “Beethoven, Symphony Number Nine..” desisnya sambil memadang lurus ke depan. Aku kaget mendapati kalau ternyata dia tahu lagu yang sedang dibawakan si artis. Memang, dalam guide book yang sedang kupegang ini, lagu pertama yang dibawakan adalah lagu yang disebut Nanda tadi. Hebat!Aplaus panjang dari audiens membahana dan berhenti seiring lagu kedua mengalun.“Yang ini apa, Mas?” tanyaku mengetes, seperti pembawa acara kuis.“Bocherini, Minueto”Lagu ketiga,“Beethoven, Contredanses”“Kereeen..” desisku.***“Laras,” panggil Nanda ketika suatu sore kami berdua sengaja nongkrong ke Dago Pakar. Aku sih yang mengajak. Ya, sekedar menghirup udara segar dan jauh dari polusi kota Bandung yang makin menyesakkan.“Ya, Mas?”“Kenapa ya, lama-lama aku kok makin suka sama kamu?”“APA?” aku terhenyak“Kamu gak senang ya?”“Euuuh, bukan…bukan itu, aduuuhh” aku menggigit bibir. Ya Allah, tentu saja aku senang!“Tapi, Mas… sorry nih, Mas Nanda kan gak bisa lihat aku, masa sih, cowok bisa suka sama cewek tanpa melihat fisik dari si cewek itu?”Dia tergelak.“Ya ampun kamu naïf banget. Kamu SMA banget sih! Eh denger ya, buat orang seusia aku ini, fisik memang penting, tapi ya bukan yang utama. Apalagi, aku sadar aku juga punya kekurangan fisik..”“Ooh gitu ya?” aku garuk kepala.“Kalo kamu, suka juga gak, sama aku?”“APA? Eh ya, ya! Aku memang sayang kok sama Mas Nanda” Ups! Aku menutup mulutku. Kok jadi aku nih yang nyatain duluan? “Sayang? Kamu sayang sama aku, Laras?”“Yaaa, gitu deh..” pipiku memerah, “Gak apa-apa, kan Mas?”“Ya, gak apa-apa. Tapi Laras gak malu nih, jalan sama orang buta?”“Alhamdulillah enggak. Mas Nanda kali yang malu ya? Jalan sama orang yang mirip Mpok Ati kayak aku..”“Kamu kayak Mpok Ati? Asyik, berarti kamu cantik dong” Nanda tersenyum, dan meringis ketika aku meninju lengannya “Aku kan fansnya Mpok Ati, hehehe” lanjutnya dan kamipun tergelak bersama. “Laras, hatiku bilang kamu cantik sekali dan terlebih hatiku juga bilang kalau kamu sayang sama aku. Itu yang terpenting..”Aku tersenyum senang karena telah menemukan dia. Akhirnya, ada orang yang tidak melihat wajah buleku dengan matanya seperti cowok-cowok lain, tapi dengan hatinya. Seperti mas Nanda ini …***Sisca Viasari, lahir sebagai orang Jawa ditengah-tengah masyarakat multikultural Jakarta pada bulan Maret hari ke-22. Hobi yang juga jadi pekerjaannya sehari-hari adalah menulis dan mengelola toko fashion muslimnya di Bandung. Cerpen-cerpen dan novel-novelnya pernah dipublikasi di media lokal dan nasional dengan nama pena Chika Riki.Email/facebook : ecrivainchika@yahoo.co.idYM : ecrivainchika

  • Cerpen Remaja King Vs Queen~03

    Cerpen Terbaru King vs Quen Part 3"Seriuz loe?" tanya Olive saat di kantine keesokan harinya, Niken hanya mengangguk sambil menikmati es rumput lautnya. "Cowok yang udah nabrak loe, and bikin loe kesel itu… Temen deket kakak loe?" tanyanya lagi, Niken kembali mengangguk "dan dia datang kerumah loe?""Ia Olive" jawab Niken sambil menatap sahabatnya "Dia itu temen baik kakak gue… Namanya Gilang dan lebih parahnya lagi. Gue yang harus minta maaf sama dia, loe bisa bayangin nggax sih gimana perasaan gue".Credit Gambar : Star Night"Yaaa pasti berat banget buat loe. Loe yang sabar aja ea. Jadi, apa yang mau loe lakuin sekarang? loe mau minta maaf sama Gilang""What?! gue minta maaf? sorry ea, ini tu salahnya dia. Masa' gue yang harus minta maaf, ogah banget lah" kata Niken.sebagian

  • Cerpen Sahabat Be The Best Of A Rival ~ 05

    Untuk cerita sebelumnya bisa baca di cerpen sahabat terbaik be the best of a rival part 4.Credit Gambar : Ana Merya“ Chika, tau nggak si semua anak – anak tadi pada ngomongin elo tau” Clara langsung nyerocos begitu berada di hadapan sahabatnya yang duduk di salah satu bangku perpustakaan.“Oh ya?” sahut Chika tak berminat.“Ya ia lah. Abis loe gila abis si. Cepet banget ngisi nya. Padahalkan tadi soalnya njelimet banget. Gue aja tadi sampe meres otak”.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*