Cerpen Cinta: Kata Cinta Yang Kedua

Kata Cinta Yang Kedua
Oleh: Farhatul Aini
Awal aku masuk kuliah selama beberapa hari menjalani penyiksaan yang begitu pahit oleh senior yang kejam dan jahat. Dengan berkendaraan bus yang penuh sesak, ku masuki bus itu dengan sedikit hati hati, ku duduk di sebuah tempat dekat jalan, yang kurasa agar tidak terlalu sulit jika aku turun nanti, ku duduk dengan manisnya, sambil melihat orang di sekitarku. Rasanya ada yang aneh dengan gerombolan 6 orang yang duduk paling belakang itu. Rupanya aku kenal salah satu dari mereka tapi aku tidak tau namanya, ya.. teman satu jurusanku namun kita sama sekali tidak bertegur sapa, mungkin karna aku terlalu pendiam, mungkin juga dia tidak mengenaliku. Namun ada seseorang salah satu dari mereka yang agaknya terlalu memperhatikanku, dan saat aku melihatnya ke belakang untuk melihat keadaan, rupanya dia sedang melihatku , tatapan kami terhenti di salah satu sudut. Karena dia yang terlebih dulu melihatku, dia pula yang melempar senyum terlebih dulu kepadaku, tanpa canggung aku pun membalas senyumnya.
Cerpen Cinta: Kata Cinta Yang KeduaKu buka kembali Diary lamaku saat aku pertama kali bertemu dengan Kevin. Rasanya tak pernah terfikirkan olehku akan melewati masa sesulit ini ketika telah mengenalnya.
“hayooo ngelamunin Kevin ya?” tiba-tiba Adel datang ke kamar.
“apaan si lo, sok tau.”
“eh apaan tuh liat dong, lucu gitu bukunya, ada foto kamu sama Kevin lagi.” Sambil merebut buku yang di tangan Widy.
“eh jangan itu Diary gue” balik Widy merebutnya, tapi tak berhasil.
“ah biarin gue pengen tau.”
Akhirnya Widy menyerah membiarkan Adel membaca buku Diarynya itu. Setelah lama Adel membaca halaman pertama buku itu diapun berkata.
“jadi rupanya lo tuh suka pada pandangan pertama nih.”
“eh engga ya, dia dulu yang ngelempar senyum ke gue, terus minta nomer gue ke Raka, temen satu jurusan gue itu yang satu bus sama gue waktu itu. smsin gue, ngajak jalan, sampe deket kaya gini, dan tiba-tiba dia pacaran sama Nuna.” Menceritakannya dengan emosi, lalu Widy mengeluarkan air matanya.
“sabar ya wid, gue rasa Kevin tuh ga bermaksud nyakitin elo, dia kan ga tau kalo Noumi itu kakak lo.”
“dia tuh kakak tiri gue, dan kalo emang seorang kakak dia gak mungkin sejahat ngerebut orang yang gue suka.”
“tapi lo gak pernah bilangkan orang yang lo suka itu Kevin, mana dia tau kalo dia yang lo suka.”
“udahlah Del ga usah bahas dia lagi, mulai sekarang gue benci sama Kevin dan Noumi!”
Noumi, dialah yang sudah menghancurkan semuanya, aku terbiasa memanggilnya Nuna(sebutan kakak perempuan dalam bahasa Korea),dia adalah kakak tiri aku yang kuliah dan tinggal di Korea , dia tinggal disana bersama Paman Lian yang membuka usaha restaurant khas Korea, aku yang tidak suka dengan musim dingin hanya tinggal di Jakarta bersama Papah dan Mamah tiriku. Noumi ternyata teman sewaktu SMA Kevin, yang pernah disukai Kevin dulu tapi kenapa harus Noumi? dia orang yang terdekat denganku, dan kenapa aku harus tau sekarang, ketika aku sudah benar-benar menyayanginya.
Beberapa minggu lalu Kevin pernah menyatakan cinta padaku, tepatya saat aku pulang kuliah, tanpa ragu dia menyatakan kata-kata cinta itu dengan lancar, sampai aku seperti terhipnotis tak sadar melihat tingkah dan deretan kata-kata itu. Namun karna aku bingung dan ragu aku menjanjikannya akan menjawab pada saat malam minggu di Cafe tempat biasa kita makan bersama.
Memang waktu belum mengijinkan kita, pada saat itu banyaknya tugas yang datang mengahampiri membuat aku lupa akan hal itu. Berjam-jam ternyata dia menunggu di Cafe, dan aku memang benar-benar lupa. Seperti penyesalan yang amat mendalam, dia mengira aku tak datang menemuinya karna aku menolak cintanya, beberapa kali aku jelaskan aku lupa untuk datang ke Cafe itu, tapi Kevin hanya menjawab “lupakan saja Wid, anggap saja itu tak pernah terjadi.” dan aku sangat tau Kevin, sesekali ia dikecewakan, dia takan pernah memberikan kesempatan untuk orang yang pernah mengecewakannya. Dan aku menunggu dia menyatakan cinta itu lagi, karna aku takan menyia-nyiakannya untuk kedua kali, karna aku mencintainya. Tapi kemana dia, cinta itu tak pernah keluar dari mulutnya lagi sampai pada akhirnya dia menemukan Noumi, sahabatnya dulu yang pernah disukainya. Sampai pada akhirnya aku memutuskan, untuk merelakan semuanya. Bahwa Kevin kini telah menjadi milik Noumi.
Malam ini sengaja aku duduk ditaman rumah, malam inikan malam ulang tahunku tapi semuanya nampak sepi, Papah Mamah yang sedang berkunjung ke Korea menjenguk Paman Lian yang sedang sakit, tidak kunjung pulang sampai hari esok tiba. Headset yang tertempel ditelinga seperti melekat, aku menikmati alunan musik yang bertema galau, pas sekali dengan apa yang ku rasakan. Tiba-tiba Pemandangan yang tidak menyenangkan, oh Noumi dan Kevin, inikah kado terburuk yang pernah kudapatkan dihari ulangtahun ku besok, kemesraan yang tampaknya mereka pamerkan membuatku iri, harusnya aku yang sedang tertawa mesra bersama Kevin disana. Tak biasa mereka pulang semalam ini tepatnya jam 10 malam, pasti mereka habis makan di Cafe, nonton, semua hal yang mengasikan.
Saat mereka lewat didepanku, akupun sengaja menutup mata, agar tidak menambah beban pikiranku, dan diam-diam saat mataku terpejam, rasanya pipiku sudah basah terbanjiri air mata.
“kenapa malam-malam kamu masih diluar Wid?” tanya Kevin.
Rupanya alunan musik yang terdengar ditelinga Widy, membuatnya tidak mendengarkan ada suara apapun selain lagu lagu yang didengarnya.
“hei widy.” Sapa Kevin sambil menyentuh tangan Widy, agar Widy merasakan bahwa disana ada orang yang mengajaknya berbicara.
Mata Widypun terbuka dan dengan kagetnya, sampai gelas lemon tea didekatknya terjatuh.
“eh, eh Kevin.”
Entah apa yang harus aku lakukan pada saat itu, suara pecahan gelas membuatku makin panik dan aku memunguti pecahan-pecahan gelas itu. Sebenarnya jika situasi sedang normal aku tidak akan melakukan hal itu, aku akan mengusir Kevin jauh-jauh dan menyuruhnya pergi. Dengan tergesa-gesa membereskannya membuat beling pecahan gelas itu, melukai tanganku. Kevin hanya terdiam melihat tingkahku. Dan ketika ia tersadar iapun langsung membantuku, mengeluarkan sapu tangan, dan membalutkannya ke tanganku yang luka.
“kamu tuh kenapa si, ga biasanya banget?” tanya Kevin.
“habisnya kamu tuh dateng tiba-tiba, bukannya tadi kamu bersama Nuna masuk kedalam eh tiba-tiba kamu ada disini.”
“ya gapapa dong sekali-kali akukan pengen sama kamu.”
Kata-katanya membuat aku benar-benar kesal, kamipun duduk berdua diatas ayunan panjang itu. Diam sejenak tanpa ada yang berkata-kata.
“sebaiknya kamu panggil Nuna sanah, dan aku mau istirahat.”
Diam itu saat bersama Kevin itu, membuat kenyamananku terganggu, aku putuskan untuk kembali ke Kamar.
“eh Wid, disini aja. Noumi sedang mandi katanya dan kamu harus menemani aku.”
“kenapa begitu”
“karna akukan tamu, masa tamu dibiarkan sendiri, ayolah yah yah…” mintanya dengan manja.
“engga!” Widy lari menuju rumah, dan Kevinpun mengejarnya
“kenapa kamu jadi seperti ini si Wid? Kamu tidak seperti kamu yang dulu dan aku tidak suka.”
“dan kamu pikir aku suka kamu dekat dengan Nuna, lalu melupakan aku begitu saja?”
“apa wid, jadi kamu tidak suka aku dekat Noumi?”
“eh bukan itu maksud aku.” Widy berusaha mengelak.
“wid sekarang aku tau perasaan kamu, akhirnya kamu menjawab semua rasa penasaran yang aku rasakan selama ini.”
“maksudnya?”
“sebenarnya aku tidak pernah pacaran bersama Noumi, akupun tidak pernahkan bilang kalo aku pacaran sama Naomi bukan, tapi kamu sendiri yang menganggap semua itu.”jelas Kevin.
“ah sudahlah lepaskan, aku tidak mau lagi mendengar semua itu.”
Widypun lari ke dalam rumah, dan berhenti ketika melihat Noumi sedang membuat kue ulang tahun, ah pasti itu buat Kevin, hari ini kan dia juga ulang tahun. Pasti mereka bakalan ngerayain bareng diatas penderitaan gue.
Kevinpun ikut lari ke dalam rumah.
“Widy, kenapa kamu masuk ke dalam, harusnya kamukan menemani Kevin diluar.”
“ah urusi saja pacarmu itu sendiri.”
Ketika Widy mencoba berlari lagi menuju kamar, langkahnya terhenti karna salah satu tangganya berhasil dipegang erat oleh Kevin.
“jangan pergi lagi Widy.”
Sontak Widypun kaget dan mencoba melepaskan pegangan itu, saat berhasil terlepas widypun berkata.
“apa si maunya kalian itu, aku hanya ingin tenang silahkan kalian bercinta sesuka kalian tapi jangan ganggu aku lagi.”
“Widy apa maksud kamu?”
“Nuna pacaran sama Kevinkan, dan Nuna tau dia itu orang yang sering Widy ceritakan kepada Nuna saat kita sedang curhat bersama melalui e-mail.”
Noumi hanya tersenyum lalu mengatkan “Happy Birthday Widy.”
Nuna sambil berteriak, aku bingung seperti konyol sekali, itukan kue untuk merayakan hari ulang tahun Kevin.
“Widy maafkan aku, ini semua rencana aku, aku ingin tau sekali lagi perasaan kamu, dan aku rasa ini satu-satunya cara agar aku tau perasaan kamu, kamu cemburukan wid aku bersama Noumi, dan itu artinya kamu juga suka kan sama aku?”
Widy seolah tak percaya akan hal itu, air matanya mengalir ke lekuk pipinya.
“aku cinta sama kamu widy, sekali lagi aku ungkapkan itu, dan aku mau kamu menjawabnya sekarang, apapun jawaban kamu aku siap, tak perlu menunggu lain waktu, maukah jadi pacar aku?”
Tanpa berkata Widy langsung memeluk Kevin.
“jangan lakukan ini lagi, aku juga cinta kamu dan kamu harus tau itu.”
Pelukan yang berlinang air mata, mengakhiri sebuah kebahagiaan.
“Nuna maafkan aku yang selama ini sudah membenci Nuna.”
“tidak apa-apa, memang harusnya begitu kalo memang Nuna melakukan itu.”
Malam itu malam yang indah, aku merayakan ulang tahunku bersama Kekasihku dan Nuna, orang yang sangat aku sayang.
-selesai-
Twitter: @ainigonil
Facebook: farhatul.aini@yahoo.com
Cerpen Farhatul Aini yang lainnya bisa dibaca dalam Hate The Rain, Aku Tanpa Dia dan Izinkan Aku Memilih.

Random Posts

  • Cerpen Cinta: GOODBYE MY BOYFRIEND 50%

    GOODBYE MY BOYFRIEND 50%By: Leriani ButonKetika senja menutup mataAku berharap malam menyapaku dengan senyumanNamun,,, malampun hadir dengan wajah yang gundah…Entah mengapa semuanya terasa sulit untuk dihadapiMungkinkah inilah jalan takdir yang telah tersurat untukkuAtau mungkin ini adalah cobaan dari-NYA?RAPUH…. Ya seperti itulah aku di waktu kemarin. Entah mengapa aku begitu rapuh….???? Akupun tak tahu jawabannya. Hanya bisa menerima keadaan seperti ini tanpa berkata apapun. Kalaupun harus berkata, aku mesti berkata pada siapa? Rasanya aku ingin teriak sekeras – kerasnya. Tapi, aku tahu itu semua tak ada gunanya. Semuanya telah berubah setelah kepindahanku disini, di makassar. Peristiwa yang pernah terjadi di beberapa bulan kemarin telah ku kubur dalam-dalam. Aku berharap semoga semuanya dapat berakhir dengan kebahagiaan. Waktu semakin berlalu. Aku ingin mencoba memulai hidup yang lebih baik. Memori yang indah sekaligus terasa pahit beberapa bulan kemarin telah dikikis habis oleh waktu. Setelah beberapa bulan berada disini, semuanya terasa lebih baik. Arlen yang sempat hadir mengisi ruang hatiku, kini tak ada lagi tempat yang layak baginya di hatiku. Bahkan di sudut hatiku yang paling tekecil pun sudah tidak ada. Aku benar- benar telah melupakannya. Semua aktivitas kuliahku berjalan dengan baik. Meskipun ada beberapa yang membuat pusing, tapi Alhamdulillah bisa teratasi. Banyak teman-teman baru yang hadir dalam mengisi hari-hariku. Kesibukanku membuatku semakin bersemangat. Pokoknya tak ada waktu kosong disetiap hari-hariku untuk mengingat arlen kembali. Hingga sampai disuatu malam. Ketika itu aku sedang asyik menyelesaikan tugas-tugas kampus. Tiba –tiba terdengar nada yang tak asing lagi bagiku. Hm… nada itu adalah nada SMS dari Hpku. Dengan santai akupun membuka SMS itu. “Nomor baru” itulah kata pertama yang keluar dari bibirku. Karena penasaran akupun membalas SMS itu dengan menanyakan siapa dia sebenarnya. Kamu tahu apa jawaban dari SMS ku, ternyata dia adalah Arlen. Hah… sangat menyebalkan. Kenapa dia mesti mengirim SMS padaku lagi…???? Apa mungkin dia sudah lupa dengan apa yang dilakukannya padaku di beberapa bulan kemarin….???? Benar – benar ingin membuatku tertawa marah, benar–benar tak bisa terfikirkan olehku. Bagaimana bisa dia berani mengSMS ku dengan kata – kata basi seperti itu. Apa dia sudah lupa, untuk sekarang ini aku bukan wanita bodoh seperti apa yang dipikirkannya dulu…???? Aku seorang vian, tidak akan tergugah dengan kata-kata seperti itu lagi. Akupun tak membalas SMSnya lagi setelah aku tahu ternyata dia adalah arlen. Sebenarnya, bukan maksudku untuk ingin membalas dendam padanya, tapi aku hanya ingin melupakannya dengan caraku sendiri. Sudah cukup, kesedihan yang ku alami. Aku sudah tak percaya lagi padanya. Dan aku rasa tak ada yang perlu di maafkan, semuanya telah berakhir. Ya…. Berakhir.Malam itu terasa menyebalkan. Kenapa aku mesti mandapatkan banyak nomor ponsel yang tak jelas. Sebenarnya sich aku tak memikirkannya. Tapi… aku takut nomor ponsel itu adalah nomor ponsel milik teman-temanku. Aku takut dibilang sombong oleh mereka setelah kepindahanku disini. Hah…. Ini semua disebabkan oleh rusaknya Hp pertamaku. Andai saja dia tidak rusak. Pasti semua ga’ bakalan seperti ini. Akhirnya mau tidak mau aku ladenin dech nomor-nomor itu.Ada satu nomor, yang membuatku benar-benar naik darah. Aku nanyain baik- baik siapa dia, eh malah dia tidak mau beritahu jati dirinya. Menyebalkan tidak….???? Dan sampai sekarang pun dia masih tetep meghubungi ku tanpa identitas yang jelas. Hah… akupun tak memperdulikannya. Lagian siapapun yang mengenalku, entah secara langsung ataupaun tidak langsung. Bagiku mereka semua adalah sahabatku. So, semuanya bisa berjalan dengan baik. Waktu pun semakin berlalu. Ada seseorang yang membuatku tertawa lepas kayak seperti dulu lagi. Meskipun saat ini aku masih menggantung cintanya, namun dia mau menunggu sampai akhirnya aku bisa menyayanginya. Meskipun pada kenyataanya, dia itu 3 tahun lebih muda dariku. Tapi,,, dia mampu mencintaiku apa adanya dan yang pastinya dia selalu membuatku tersenyum. Sampai sekarang pun… setiapa kali aku lagi boring sama tugas-tugasku, dia masih tetap menemaniku dengan suaranya yang lembut melalui komunikasi. Benar-benar menyenangkan. Terimakasih ya Allah… karena telah memberikan aku kebahagiaan melalui sosok dirinya. Hm…. Semuanya masih tetap baik-baik saja. Dia masih tetap mengatakan cinta padaku dan masih tetap meyakinkanku bahwa dia akan tetap bertahan sampai akhir. Namun, waktulah yang akan menjawab semuanya. Aku sangat menyayanginya, meskipun pada kenyataannya kami belum berpacaran. Dia begitu berbeda dengan mantanku sebelumya. Memang aku masih menggantung cintanya. Aku hanya takut merasakan kekecawan yang sama seperti yang dilakukan arlen padaku. Aku percaya dia tak akan menyakitiku.Entah apa yang terjadi, dia berubah tanpa ku tahu alasannya. Dia selalu diam ketika ku ajak bicara, tak pernah mengangkat telponku dan bahkan tak pernah memblas SMS-ke. Dan kini sekarang waktu telah menjawab semuanya. Dia tidak bisa menepati janjinya. Dia ingin hubungan kami berakhir. Aku sich fine ja, karena aku ngerasa aku tidak pacaran sama dia. Memang benar aku menganggapnya sebagai pacar 50%-ku. Dan akan mencapai 100% setelah aku udah menyandang gelar sarjana. Aku sadar 4 tahun itu adalah waktu yang lama. Sebenarnya aku hanya ingin meminta pembuktian dari dia, apakah dia bisa menepati janjinya atau tidak? Ternyata tidak. Sebenarnya aku bingung, setelah dia mengatakan putus, malah dia bilang kalau itu semuanya hanyalah bercanda. Aku tak percaya, karena aku ngerasa dia mengatakannya dengan hatinya sendiri. Hah… sudahlah. Aku tak boleh terlalu larut dengan semua ini. Karena masih banyak hal yang mesti aku fikirkan selain masalah ini. Bukannya aku tak peduli, tapi apakah aku harus menangis dengan berakhirnya hubungan ini? Ataukah aku mesti memohon padanya untuk tidak mengakhiri hubungan kami? Itu semua tak akan ku lakukan. Aku mempunyai komitmen yang besar. Yang tentunya tidak boleh membuat aku lemah dan manja di depan laki-laki seperti dia. Aku juga memahaminya. Mungkin dia tak sanggup menungguku selama itu. Tapi aku malah lebih kecewa karena ternyata dia mengingkari janji yang telah dia ucapkan padaku. Kalaupun pada akhirnya menjadi seperti ini, aku sudah mengikhlaskan semuanya. Aku juga mengerti setiap ada pertemuan pasti bakalan ada perpisahan. Biarlah dia menikmati masa remajanya dengan bahagia. Dan aku, aku juga akan menikamati aktivitas yang aku jalani saat ini. So, semuanya akan membaik. Aku harus bisa,,,,! Ada keluarga besarku di dunia ini yang membutuhkanku. Sebisa mungkin aku akan berjuang, agar kelak aku bisa membantu mereka keluar dari keterpurukan yang mereka alami saat ini. Tak ada yang membedakan mereka. Di mataku, mereka semua adalah keluarga besarku. Good bye my boy friend 50 %. I hope you always happy. Harapan CintakuKetika mentari menyinari dunia…Ku berharap ada secercah harapan cintaku tersinari jugaNamun ternyata sinar itu tak kunjung datangMasa demi masa telah terurai….Aku masih tetap seperti iniMenjalani hidup yang ada di depan mataKetika mataku mulai meredup….Hatiku tak berharap lagi…Mentari itu malah datang memberikan sinarnyaAku pun dengan tangan terbuka danSenyum yang bahagia menyambut kehadirannyaHarapan cinta itupun mulai ada….Namun,,, disaat aku mulai berharapDia malah pergi meninggalkanku….Kenapa mesti seperti ini?Aku sangat menyayanginya…Kini aku sadari,,,Dia hanyalah bayangan sinar mentariYang tak sengaja singgah di hatikuDia hanya ingin menghancurkanku dengan serpihan cahayanyaDia hanya ingin membuat hatiku meleleh dengan panasnya.Aku tak menyesal bertemu dengannyaYang aku sesali adalah dia telah membohongi dirinya sendiriDengan mengubar janjiSelamat tinggal mentariku……Bawalah harapan cintaku dengan tenggelamya sinarmu dikala senja…

  • Cerpen Cinta: MENANTI DIRIMU

    MENANTI DIRIMU Oleh : Rahmawati DewiCinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi kau masih peduli kepadanya. Ketika dia meninggalkanmu kau masih setia menunggunya.Sudah 6 tahun kujalani hari-hariku bersama dia. Suka, duka, canda tawa dan tangis aku slalu bersamanya. Harris adalah sosok yang sangat berharga bagiku dan tak bisa tergantikan. Dia slalu menjaga, mencintai dan menyanyangiku sepenuh hati dan slalu menemaniku dengan senyuman manisnya itu. Dia slalu ada untukku, kapanpun dan dimanapun aku berada. Harris adalah sosok yang ulet, rajin dan cerdas. Tidak heran dia mendapatkan beasiswa di luar negeri. Harris memilih Amerika Serikat sebagai tempat untuk melanjutkan studinya. Mau tidak mau Harris akan meninggalkan aku sendiri dengan cinta kita berdua. Aku tidak bisa sesering lagi melihat senyumannya yang biasa menghiasi setiap waktuku.Hari ini adalah waktu keberangkatan Harris. Disinilah keutuhan dan kekuatan cinta kami di uji. Waktu dan jarak akan menjadi saksi. Di dalam taksi aku mengantarkan Harris ke bandara. Aku hanya terdiam membisu. Perasaan sedih dan takut menghantuiku. Selama ini aku tak pernah jauh sama dia namun aku harus di pisahkan oleh ruang dan waktu.Detik-detik perpisahan sudah semakin dekat. Aku tak dapat membendung air mataku dan perasaanku menjadi tidak menentu. Aku yakin Harris juga merasakan hal yang sama. Dengan kehangatannya dia menenangkan,menguatkanku agar dapat menerima semua kenyataan ini. Dan juga dia menyakinkanku bahwa jarak dan waktu bukanlah masalah, melainkan kesetian cinta diantara kami berdua yang harus tetap kokoh dan kuat.“Berjanjilah untukku bahwa kau akan setia menjaga cinta kita ini.”Ucap Harris sambil mengusap air mataku yang sejak perjalanan tadi tidak berhenti.“Aku janji, dan aku akan setia menunggumu.”Ucapku singkat sambil memeluknya. Dan tangisku pecah. Semua terasa berat, seakan ini tak adil bagi kami berdua. Di belainya rambutku seraya agar aku tetap tenang dan tegar.Ia pun menggenggam kedua tanganku dan menatapku dan berkata :“Aku janji akan menjaga semua ini, dan aku akan kembali seperti sekarang ini dan membawa kembali cinta kita berdua.”Kata Harris padaku.Sejenak kami berdua diam, membiarkan hati kami berbicara. Perlahan aku mulai melepaskan genggamannya dan dikecupnya keningku dengan penuh cinta olehnya.“I Love you”,” I love you too”. Kata singkat yang hanya dapat mewakili semua perasaan kami berdua. Dia pun melangkah dan mulai meninggalkanku.Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam membisu dan sesekali air mataku berlinang.********************<<<<<<>>>>>>***********************Waktu bergulir dengan cepatnya. Tak terasa sudah 1 tahun 5 bulan, hubungan kami berjalan dengan baik tanpa ada rintangan. Hanya saja perasaan rindu yang slalu menyiksa hati ini. Tapi tidak sama halnya dengan Harris tak tahu mengapa suatu hari ia menyuruhku untuk melupakannya dan mencari penggantinya.Sebenarnya tak ada masalah diantara kami berdua. Ia menyuruhku mencari penggantinya karena takut kalau aku kesepian dan ternyata ia telah membagi cintanya dengan teman kuliahnya di Negeri Paman Sam itu.“Ra, maafin aku telah membagi cintaku kepada orang lain dan tolong lupakan aku karena aku telah mengkhianatimu.”Ucap Harris di telfon.Aku tak dapat berkata, hati sakit teriris oleh luka yang ia beri padaku. Harris yang aku kenal dulu kini telah berubah. Harris dulu sangat sayang dan slalu menjagaku tidak pernah membuat hatiku sakit, kini ia telah berbeda. Sekarang aku berdiri tanpa pegangan dan aku bersandar tanpa sandaran.Waktu terus berlalu, tidak ada sama sekali kabar dari Harris. Semenjak pernyataan itu ia tidak mau lagi mendengarkan kata-kataku lagi dan tak pernah lagi ia menjawab sms, e-mail bahkan pesan di facebook. Aku merasa sangat sedih dan kecewa. Aku sama sekali tidak bisa melupakannya dari kehidupanku. Dan aku meninggalkan pesan terakhir di e-mailnya :“ Ris, cintaku padamu tidak akan pernah berubah dan aku akan setia menunggumu sampai saat ini dan jika nanti memang kau bukan milikku baru aku akan rela melepaskanmu untuk bahagiamu.Setelah itu kuputuskan untuk tidak mengganggunya dan menghubungi dia lagi walau ada rasa kerinduaan di hati ini. Aku sibukkan diriku agar dapat sejenak melupakan Harris. Banyak teman cowokku yang mendekatiku namun sosok Harris sulit digantikan oleh orang lain.Waktu terus berputar tanpa ku sadari sudah 3 tahun aku telah berpisah dengannya. Aku gelisah ingin sekali ku mendengar suaranya, melihat senyuman dan mengetahui kabar beritanya. Kapan dia akan kembali kepadaku dan apa ia masih berhubungan dengan gadis itu ? Entahlah aku tak dapat berbuat banyak, yang hanya dapat ku lakukan hanyalah setia menunggunya.Dan suatu hari tiba-tiba….“Drreettt…..drrreettt….”Hpku bordering tanda sms masuk.Kubuka perlahan membuka pesan itu dan ternyata itu sms dari Harris. Ingin rasanya ku menangis dan kubaca ulang pesan itu baik-baik untuk menyakinkan. Aku merasa seperti bermimpi.“Ra….. Apa kabar..”sms singkat Harris.Rasanya ku ingin berteriak pada dunia agar dunia tahu aku sangat bahagia. Dan cepat ku membalas sms itu.“Ris… aku baik-baik ajha. Kamu bagaimana ? Kapan pulang ? Aku kangen banget sama kamu. Aku akan tetap menunggumu sampai kamu pulang.Ku tunggu balasan darinya, namun ia tak membalas. Aku kian gelisah dan air mata selalu mengurai semua perasaan yang kurasakan.Hingga suatu hari ku memberanikan diri untuk menelfonnya. Aku sudah bertekad untuk mendapat semua penjelasan darinya.“Ris..” Hanya kata itu yang terucap dari bibirku.“Ra, maafin aku, karena aku sudah mengkhiatimu dan menghancurkan cinta kita berdua. Maafin aku.”Ucap Harris padaku.Kata-kata itu membuatku terharu dan meneteskan air mata. Hingga ku tidak bisa berkata-kata.“Dan satu hal lagi sayang… aku sudah tidak bersama gadis yang aku pilih itu. Dia malah balik mengkhianatiku dan pergi bersama laki-laki lain. Jadi, sekarang aku baru merasakan hal yang sama waktu aku memutuskanmu dulu. Maafin aku, mungkin ini sudah terlambat.” Ujarnya.“Ris.. aku masih seperti dulu yang masih setia menunggumu dan tidak ada yang bisa menggantikanmu.”Kataku.Sejak saat itu kuputuskan untuk menjalin lagi hubungan cinta bersamanya yang dulu pernah kandas di tengah jalan. Dan dia berjanji tidak akan meninggalkanku lagi. Aku sangat senang dan merasa bahagia. Tinggal 3 bulan lagi kedatangan Harris dan kami berdua akan melangsungkan pernikahan. Akhirnya penantianku berbuah manis. Pernikahan ? menikah dengan orang yang kucintai. Rasanya seperti mimpi.Hari ini adalah hari kepulangan Harris dari Amerika Serikat. Aku dan kedua orang tua serta adik Harris menuju bandara untuk menyambut kedatangan Harris. Sebelum berangkat Harris sempat smsan sama aku.“Yank… aku senang akhirnya aku bisa pulang dan bisa melihatmu lagi jika di beri kesempatan, aku cinta kamu.”Ucap Harris menutup hpnya karena pesawat akan lepas landas.Perasaan gembira menjadi duka dimana saat petugas bandara memberitahukan pesawat penerbangan AS-INA dinyatakan hilang. Teriak tangis memenuhi ruang tunggu.Aku sontak kaget karena itu adalah pesawat yang ditumpangi Harris. Aku tak dapat membendung air mataku, badanku lemas bagai di sambar petir dan aku tak sadarkan diri.Saat ku siuman ternyata aku sudah ada di rumah sakit. Aku hanya dapat meratapi kejadian ini“Ya Tuhan, mengapa kau buat aku begini ? Dan mengapa kau ambil dia dari sisiku ? Kenapa bukan aku saja ?”Ucapku sambil menangis.Ibu dan adik Harris memelukku agar aku bisa tenang dan tabah menerima semua ini.Sudah 1 minggu bangkai pesawat yang ditumpangi belum ditemukan sampai sekarang. Hal itu membuatku tidak mampu menghadapi semua ini serasa aku ingin mengakhiri hidup ini. Apa aku bias hidup tanpamu ? Tak pernah terfikir olehku kau akan pergi tinggalkan ku sendiri. Semua tinggal kenangan yang hanya bisa ku kenang.Aku berharap mudah-mudahan kau tenang di sana.“Selamat Jalan Kasihku Harris, aku yakin kau bahagia di sana.”TamatPenulis : Rahmawati DSekolah : SMP N 03ManokwariE-mail : dewy_1997@yahoo.comFB : Rahmawati DewiMotto : Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini.

  • Cerpen Lucu Mis. TULALIT part 1 {Update}

    Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulis berdasarkan dari pengalaman hidup keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Dan bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca Serial Mis Tulalit. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…Cerpen Lucu Mis TulalitCerpen Lucu Mis Tulalit ~ 01Cerpen lucu Mis Tulalit, cerpen yang admin tulid berdasarkan dari keseharian masa lalu. Waktu jamannya sekolah. Bahkan sengaja nyomot nama temen – temen. Soalnya kangen sama masa – masa dulu. Tapi admin yakin lho, di antara mereka nggak akan ada yang tau. Soalnya bisa di pastikan, nggak akan ada yang baca. Satu – satunya temen yang dulu pasti baca karya yang admin tulis di buku aja nggak pernah buka internet. #gubrag.Okelah, berikut Cerpen lucu Mis Tulalit dari admin dengan pengubahan dan pengeditan sana sini. Sengaja di revisi dari versi sebelumnya. Soalnya, admin kebetulan belum punya ide juga kemauan buat ngelanjutin ataupun bikin cerpen yang baru. Cekidots…Dengan tergesa-gesa April masuk kelasnya. Untung saja bel belum berbunyi, jadi ia masih bisa selamat dunia ahirat dari semprotan Bu Murtafiah, guru akuntansi yang kebetulan masuk jam pertama dikelasnya. Selang lima menit kemudian, tu guru beneran masuk.“ Huh, untung saja,” gumam April lega.Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama karena begitu ia membuka tas ternyata buku akuntansinya tidak ada. Padahalkan hari ini ada PR. Bisa di tebak, pasti tu buku ketinggalan lagi dimeja belajar dirumah.“Semuanya kumpulkan PR kalian, dan ibu tidak mau ada yang tidak membuatnya,” suara Bu Murtafiah terdengar tegas.Tanpa perlu mendengar perintah untuk kedua kalinya, semua teman-teman April maju ke depan sementara April sendiri justru hanya duduk diam dengan hati was – was dan cemas.“April tugas kamu mana?” tanya Bu Murtafiah santai namun syarat ancaman.“Anu bu, bukunya ketinggalan,” sahut April takut – takut. Kepalanya menunduk dalam.“Apa?” tanya bu Murtafiah. “Ketinggalan? Lagi?”“Ia bu tadi malam sehabis ngisi, April taruh dimeja. Lupa masukkin kedalam tas,” terang April lagi. Masih tidak berani mengangkat wajahnya. “Hidung kamu kalau nggak lengket, pasti juga lupa untuk di bawa,” kata Bu Murtafiah, yang membuat seisi kelas di penuhi tawa seketika.“Kok hidung si buk, yang ketinggalan kan buku,” gerut April sambil mengusap hidungnya berlahan.“April sekarang ibu tanya sama kamu, udah berapa kali kamu lupa bawa buku PR-nya?” tanya Bu Murtafiah dengan tampang sabar yang di buat-buat.“Berapa ya bu….!? Tiga kali ya …..? eh… bukan empat atau lima ya?” sahut April mencoba mengingat – ingat.“Bukan lima April, tapi sembilan kali. Kamu sudah sampai sembilan kali tidak mengumpulkan tugas kamu…. Tau….!”“Aduh sembilan ya bu. Maaf April lupa,” kata April sambil menggaruk-garuk kepalanya yang emang banyak ketombenya. Kontan hal itu membuat teman-temanya makin tertawa lepas. Sementara Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi makhluk ajaib yang berstatus sebagai siswinya.“April… kesabaran ibu sudah habis. Ibu sudah tidak bisa mentoleri sifat kamu lagi, jadi ibu terpaksa harus menghukum kamu, bersihkan kamar mandi sekolah sekarang.”“Apa bu?” tanya April refleks. Tak yakin dengan perintah yang baru saja di dengarnya.“Ia. Bersihin kamar mandi sekolah.”“Sekarang bu?” April pasang tampang memelas. Membersihkan kamar mandi? Ya salam, tempat yang satu itu kan amit – amit banget. Terlalu horror untuk gadis yang sangat menyukai kebersihan seperti dirinya. Ciuuss.“Nggak, tahun depan. “Bentak bu Murtafiah“Alhamndulilah,” puji syukur April sambil duduk kembali pada kursinya.“Kok kamu malah duduk?” tanya Bu Murtafiah terlihat heran.“Ya…. Ibu bilangkan tahun depan, padahal satu bulan lagi sudah ujian akhir. Jadi kalau tahun depan mah April udah nggak sekolah disini lagi. Artinya hukumannya hangus dong,” terang April panjang lebar dengan wajah sok pinternya yang sumpah sama sekali tidak cocok.Detik itu juga tanduk Plus taring bu Murtafiah keluar . "April. Bersihkan kamar mandinya SE-KA-RANG!!!" Suara mengelegar Bu Murtafiah segera melenyapkan nyali April yang sebelumnya memang sudah menciut. Akhirnya dengan berat hati juga berat tenaga dan pikiran secara berlahan April bangkit berdiri.“Dasar bloon loe Pril,” sekilas April masih bisa menangkap suara ledekan dari mulut Isul yang duduk tepat di belakangnya.“Baik bu,” pamit April menunduk sambil berjalan keluar. Dan karena ia jalannya terus menunduk kebawah tanpa sadar ia menabrak daun pintu, yang tentu saja membuat tawa teman-temannya semakin riuh. Bu Murtafiah hanya bisa geleng-geleng kepala.Dengan telaten April mengepel lantai setiap kamar satu persatu. Begitu selesai satu kamar, ia harus membersihkan kamar yang lainnya, dan ketika ia masuk kesalah satu kamr mandi ia langsung berteriak kaget karena mendapati seorang seorang siswa perempuan tergeletak pingsan.“Astahfirulloh hal azzi,” lonjak April kaget dan langsung menghampiri sang gadis yang pingsan untuk menolongnya.“Tolong…….tolong……tolong.” April sambil memapah sang gadis yang masih tak sadarkan diri.Tentu saja teriakan April membuat guru dan siswa-siswi yang mendengarkannya heran, dan kontan berlari kearahnya. Langsung kaget ketika mendapati seseorang pingsan dikamar mandi, kemudian segera dibawa keruang UKS.“April. Sebenarnya apa yang terjadi sama Tina. Kok dia bisa pingsan?” tanya pak Rasid, guru favoritnya di sekolah. Ternyata gadis yang pingsan itu bernama Tina, dan dia adalah satu – satunya anak kepala Desa (????).“Nggak tau pak. Ps April liat, dia udah pingsan. Ya udah deh, terus April langsung teriak minta tolong,” terang April jujur.Pada saat yang bersamaan Tina pun sadarkan diri dari pingsan dan kaget ketika mendapati dirinya dirubungi banyak orang. Barulah sejenak kemudian ia ingat dan menceritakan kejadian tadi pagi kenapa ia pingsan. Ternyata kondisi tubuhnya belum fit, setelah sembuh dari sakit, ditambah lagi ia tadi pagi tidak sarapan. Dan akibat kejadian itu April tidak perlu melanjutkan hukumannya dan diizinkan untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya.“April tadi da kejadian apa sih ditoilet?” tanya Nia, temen sebangkunya pas istirahat.“Tadi ada anak cewek pingsan.”“Oh ya…..? Siapa….?” tambah Ijah ikut penasaran“Tina, anak kepdes.”“O…. emangnya kenapa kok dia pingsan?” Guntur yang sedari tadi mendengarkan ikut buka mulut, tapi hanya dibalas angkat bahu oleh April. Gadis itu justru tampak sibuk merapikan buku – bukunya. “Eh kekantin yuk,” ajak Jumi tiba – tiba.“Loe mau ntraktir kita nih?” todong April langsung. Jumi menatap April dengan pandangan mencibir. Namun beberapa detik kemudian sebuah senyuman tergambar di wajahnya. Disusul anggukan kepala dan jawaban singkat. “Bisa.”“Serius?” Nia menoleh kaget. Tumben amat ni anak baik. Padahal doi kan udah kadung mendapat gelar pelit nggak ketulungan #DihajarJumi.“Suer deh,” Jumi meyakin kan dengan mengankat kedua jarinya membentuk huruf ‘V’. Detik itu juga sorakan kegirangan terdengar sebelum pada detik berikutnya kembali hening dalam sepinya suasana hanya karena lanjutan kata dari mulut Jumi."Tapi entar kalau bokap gue udah jadi Presiden, jadi kalau sekarang…. Yah terpaksa bayar masing-masing dulu ya.”Gumpalan sobekan kertaspun segera berhamburan dan mendarat di kepala Jumi yang masih tertawa lebar.“Hu….. sialan loe, kirain beneran,” gerut Hambali.“Sampai lebaran Monyet juga bokap loe nggak bakalan deh jadi Presiden,” tambah Idah yang membuat Jumi makin tergelak.“Loe kenapa Pril?” tanya Sugeng heran, karena sedari tadi April hanya terdiam.“Gue lagi mikir aja,” jawab April dengan raut serius.“Mikir apa an….? “Ana ikutan ngeksis.“Gue heran, apa hubungannya lebaran Monyet dengan jadi Presiden. Lagian sejak kapan Monyet lebaran,” jelas April dengan tampang lugu nya.“Hu. Dasar Mis. Tulalit!!” sorakan seisi kelas sembari mengalihkan sasaran tembakan gumpalan kertas kearah April yang hanya melongo. Tidak tau apa salah dan dosanya. Hanya saja ia merasa kalau dirinya hanyalah seseorang yang menjadi korban penganiayaan.Begitu bel berbunyi tanda pelajaran telah berakhir semua siswa dan siswi langsung mengemasi buku-bukunya dan bersiap-siap untuk pulang. Tak terkecuali April. Tapi belum juga ia keluar dari kelasnya Hakim dan Sofa' mencegahnya untuk mengingatkan April agar membersihkan kelas terlebih dahulu, kebetulan besok pagi giliran piket mereka.Sebenarnya yang mendapat giliran piket enam orang, tapi karena dua orang temannya tidak hadir. Dan Nia yang kebetulan juga giliran piket bersamanya sudah tak tampak batang hidungnya sejak masuk istirahat kedua tadi. Jadi terpaksa tinggal mereka bertiga, begitu Hakim dan Sofa' selesai mengangkat bangku untuk diletakkan diatas meja agar mudahkan saat menyapu lantainya, mereka bersiap-siap untuk pulang.“Lho…. Kalian mau kemana….? “April menghentikan aktivitasnya begitu melihat Hakim dan Sofa' sudah menjinjing tas masing-masing.“Mau pulang dong, lagain sesuai perjanjian yang cowok mengangkat bangku dan yang cewek menyapu lantai. Jadi sekarang tugas kami sudah selesai, soo kita duluan,” sahut Sofa tanpa rasa bersalah.“Yah.. jangan dong, entar April jadi sendirian lagi.”“IDL,” balas Hakim santai.“IDL….? Apa an tuh?” tanya April dengan kening sedikit bekerut.“Itu Derita Loe,” balas Hakim dan Sofa' serentak, sambil tertawa dan langsung beranjak pergi meninggalkan April sendirian.“Aduh… ! gimana nih…? April sendirian lagi, mana lantainya kotor, entar kalau ada hantu gimana?” gumam April sendiri.Tiba-tiba bulu kuduknya merinding ketingan ingatannya tertuju pada film horror yang sering ia tonton tentang sekolah-sekolah yang berhantu.Pada saat April menyapu salah satu kolong meja dengan posisi membungkuk dan membelakangi pintu, samar-samar ia mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat kearahnya. Jantungnya jadi dig dug nggak karuan, dengan sedikit keberanian yang masih tersisa ia menoleh kebelakangnya dan……“Dor!!!”“Uwa…..Tolong……!!! Tolong…..!!! tolong…!!!” teriak April sekencang-kencangnya disusul tawa cekikikan seorang hantu wanita.“Ha…. Ha….. ha……. Kaget ya loe? ” terdengar suara tepat dibelakang April.“Kurang ajar, setan alas, babon kue,” maki April begitu tau kalau sosok dibelakangnya adalah Nia.“Kenapa…..? Loe pikir gue hantu?” tanya Nia di sela tawanya.“Ia….. April kira tadi kuntilanak yang datang, e….. nggak taunya malah kuntilemak,” umpat April masih shok.“Sembarangan!” damprat Nia sewot.“Lagian bukanya loe udah pulang ya?” tanya April heran.“Nggak ah tadi gue ada ditaman belakang, sengaja nggak masuk. Males banget gue belajar bahasa Arab, bikin pusing,” sahut Nia yang dengan tidak sopannya duduk diatas meja.“Cek cek cek. Sumpah parah loe,” kepala April mengeleng geleng sambil menatap Nia sinis. “Seharusnya kan…..”“Harusnya apa…? Gue nggak boleh bolos….? Gitu?!” potong Nia.“Harusnya kan loe ngajak-ngajak , April juga mau ikutan bolos kayak loe kali kalau tau da temennya, mumet masuk bahasa arab. Bikin ngantuk.”“hu…..! kirain loe mau ngomong apaan….? Ternyata dua kali lima aja ma gue,” gumam Nia sebel.“Udah deh, sekarang bantuin. Loe kan juga piket, enak aja nongkrong disitu.”“Nggak ah… males gue, kotor,” tolak Nia langsung.“Kotor pale loe, mau bantui nggak?!” ancam April sambil menghunuskan pedang sapunya kearah Nia.“Iya…..iya . Gue nyapu nih, bawel banget sih loe. Jadi nyesel gue kesini, kalau tau begini mendingan langsung pulang aja gue tadi,” gumam Nia sewot. Namun tak urung diraihnya sapu yang ada pintu, dan mulai menyapu membantu April.Keesokan harinya, terdengar gaduh sekali dikelas April. Pasalanya Azimisar, orang yang sudah libur beberapa hari sudah masuk kelas lagi, katanya sih liburan, dan ceritanya pagi ini. Dia bagi-bagi oleh-oleh, sambal kripik singkong. Masing-masing anak dapat jatah satu, tapi yang datang duluan ada yang ngambil dua, sehingga yang datang terlambat nggak kebagian deh. Salah sendiri ngapain telat.“Gimana Azimisar, liburan loe seru nggak?” tanya Dewi sambil mengunyah keripiknya yang tinggal setengah.“Wah gila coy, seru banget deh pokoknya, coba kalian ikut. PASTI minta langsung pulang,” cerita Azimisar terlihat semangat.“Lho….?! Katanya seru…. Kok kita malah minta pulang?” tanya Sugeng heran.“Ia… soalnya kalau kalian nggak mau pulang langsung aja gue usir. Enak aja, gue yang liburan kalian main nebeng sembarangan, modal donk!” sambut Azimisar yang membuat temen-temennya cemberut.“Udah dong Azimisar, lanjutin cerita loe. Emang kemarin loe liburan kemana sih…? “Tanya Anis nggak sabar..“Gue liburan kerumah Eyang gue. Ke Bokor,” sahut Azimisar bangga.“Ha….. Bogor….? Ya ampun jauh banget, pantesan loe bilang seru, pasti asyik banget ya?” komentar Razimah takjub.“Eh… cungkil tu upil ditelinga loe. Gue bilang Bokor bukan Bogor, pakek K bukan G, “ralat Azimisar sewot.“Bokor……???!!! Dimana tuh?” tanya Sogiran yang kebetulan duduk di samping Azimisar mewakili yang lain yang juga ingin menanyakan hal yang sama.“Iya, perasaan kita nggak pernah denger deh kota yang namanya Bokor?” sambung April, Mis Tulalit.“Atau jangan-jangan luar Negri y?” tambah Nia makin salut.“Luar Negri dari hongkong, lagian siapa yang bilang gue liburan keluar kota. Orang Bokor itu nama kampung eyang gue kok. Tepatnya Bokor Selatpanjang Riau Indonesia,” jelas Azimisar yang membuat teman-temannya tertawa.“Ha….. ha…… ha……. Liburan kok keudik,” ledek Khairia tak mampu menahan tawa.“Iya gue kirain Negara mana…? Ternyata keudik juga. Kha kha kha,” Isul ikut ikutan ngakak dengan tampang meledek.“Kalian jangan ngehina dulu. Walau keudiak, tapi eyang gue itu juragan di kampung gue. Beliau punya kebun Duren, rambutan, duku, mangga, cempedak, pokoknya banyak deh.”“Yang bener Azimisar?” Hambali yang sedari tadi hanya mendengarkan cerita tampak menelan menelan air liurnya sendiri. Ia kan paling doyan makan duren sama rambutan. Nggak kebayang deh gimana rasanya makan sepuasnya.“Ya seriuslah ngapain juga gue bohong,” sahut Azimisar puas.“Kalau gitu loe dapat makan sepuasnya dong?” Mustawa pasang tampang iri. Bahkan Guntur yang duduk di hadapannya tampak sedang melomoti (???) jempol nya sendiri. Persis seperti orang ngidam yang nggak keturutan. Kesian….“Mending gue bisa makan, pas gue datang tu pohon nggak ada satu pun yang berbuah. Cuma daun aja yang banyak. Emangnya gue kambing apa makan daun.”“Hu…..!!!” sorakan seisi kelas kembali terdengar.“Kasian deh loe,” ledek Izal sambil menatap Azimisar dengan raut meledek.“Jadi pas loe datang emang lagi pas nggak musim buah?” Uun memastikan. Azimisar hanya mengangguk, sebelum kemudian mulutnya meralat cepat.“Eh… gue inget kalau nggak salah waktu itu musim buah para, bisa dibilang tiap pohon berbuah. Banyak banget.”“Oh ya? Buah para? Buah apaan tuh? Perasaan gue nggak pernah denger?” tanya Nia heran.“Jadi kalian belum pernah denger apa itu buah para? Kasian, jadul banget sih” gentian Azimisar yang mencibir. Sepertinya pria itu berusah untuk membalas ledekan padanya tadi “Padahal itukan makanan spesial.”“Spesial? Spesial untuk apa?” Nia makin tidak sabar sabar.“Spesial buat…….,”Izal sengaja menggantungkan jawabanya. Ia ingin melihat ekspresi temen-temennya yang sudah tidak sabar “MONYET. Ha ha ha,” sambungnya langsung tertawa, jelas saja membuat teman-temannya sebel.“Sialan loe.”“Ia, bikin penasaran nggak taunya makanan monyet,” sambung Sofa cemberut, Azimisar justru makin ngakak.“Jadi Zal, dirumah Eyang loe banyak monyetnya ya?” tanya Sanah tiba – tiba. “Kalau dirumah Eyang gue nggak ada, kalau dikebunnya banyak,” sahut Azimisar meralat.“Trus loe pernah lihat nggak….? Kayak apa si?” tanya Sanah lagi. Seumur-umur Sanah memang belum pernah melihat monyet secara langsung, kecuali dulu di tipi yang jadi model iklan XL.“Ya pernahlah, kalau dilihat-lihat sih beda tipislah ama loe.”“Sembarangan,” Sanah sewot sambil menjitak kepala Azimisar yang hanya tertawa, begitu juga dengan yang lain.Tiba-tida bel berbunyi tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Semua segera menuju kekursi mereka masing-masing karena bu Anggi sudah tampak diambang pintu. Dengan wajah ceria masing-masing mengeluarkan buku bahasa inggrisnya, karena kebetulan hari ini pelajaran pertama bahasa inggris. Secara siapa yang tidak ceria, masih pagi-pagi sudah dapat kripik gratis. Tapi sayangnya keceriaan itu hanya berlangsung beberapa detik setelah kemunculan Bu Anggi dan segera berubah cemberut, begitu mendengar pengumuman dari bu Anggi kalau hari ini diadakan ulangan harian.“Yah, Ibu…. Kok dadakan sih?” Isul protes.“Ulangan dadakan…? why not ! Dangdut dadakan juga boleh,” sahut Bu Anggi menanggapi protesan Isul.“Itukan dangdut bu. Masa bahasa inggris di samain ma dangdut, itu sih nggak nyambung,” Izal menimpali.“Kalau gitu kalian pilih mana? Mau konser dangdut dilapangan atau ulangan bahasa inggris dikelas?” tanya Bu Anggi nggak tanggung – tanggung. Detik itu juga semua murid di kelas langsung mejudge kalau gurunya adalah salah satu dari sekian orang yang menjadi korbang ajang audisi pecarian bakat yang memang sedang marak – maraknya di siarkan di salah satu stasiun swasta Indonesia.Walaupun soalan yang diberikan hanya 10 dan itu pun pilihan ganda semua tetap saja membuat semuanya pusing tujuh keliling. Sudah ngasih ulangannya dadakan, close book lagi. Gimana nggak sebel. Bahkan Dewi sang juara kelas juga dibuat pusing tuju belas keliling.Ketika Dewi sedang konsentrasi mengisi soal nomor 8, tiba-tiba ada yang nimpuk kepalanya dari belakang pakek kertas. Saat menoleh, Dewi mendapati kalau ternyata Sugeng pelakunya. Terbukti dengan tingkah pria itu yang memberikan isarat padanya untuk segere mengambil ketras yang telah ia lemparkan tadi.Walau kesel tak urung Dewi membungkuk guna mengambilnya. Matanya melotot sempurna saat membaca tulisan yang tertera. “Gue minta jawaban nomor 7, 8, 9 dan 4, sama 3, 1 terus 10 buruan nggak pake lama!!!!”.Jelas saja Dewi sebel, sudah minta tolong, maksa. Ia aja baru selesai tiga soal, eh sekali minta tolong tujuh. Kenapa nggak semua aja sekalian, tapi tak urung ia balas juga disebaliknya dan segera ia lemparkan kearah Sugeng. Selesai membacanya Sugeng langsung cemberut dan membuang kertas tersebut secara sembarangan. Alhasi mendarat tepat dikepala April. April kaget tapi tetap diambil nya kertas tersebut. Tampak sebuah senyum yang merekah di bibirnya begitu membaca.Sugeng kemudian kembali menyobek kertas dan menulis“Awas Loe!!!” dan kembali ia lempar ke Dewi. Acara korespondensi dadakan pun terjadi karena Dewi langsung membalasnya segera laksanan SMS yang muncul di hanphonnya. Dengan santai di tulisnya kata di kertas sebalum kemudian kembali ia lemparkan ke arah Sugeng.“Tenang, entar kalau gue kesandung gue nggak akan minta tolong loe deh.”Tentu Saja surat balasan dari Dewi membuat Sugeng makin sewot. Kali ini ia menggunakan selembar kertas, dan mengambil stabilo kuning dari dalam tasnya. Sengaja ia tulis kalimat besar-besar, kemudian ia lemparkan ke Dewi. Tapi sayang karena terlalu bernafsu, lemparan itu mendarat dua meja didepan Dewi, tepat mengenai kepala bu Anggi yang dari tadi mondar-mandir seperti strkika demi untuk mengawasi siswanya. Golll!!!!!.UppsssBu Anggi clingak clinguk sebelum kemudian sedikit membungkuk, memungut kertasnya. Membuka dan kemudian membacanya, seketika mukanya merah“Siapa yang melemparkan surat kaleng ini?!” suara bu Anggi terdengar menggelegar laksana petir di siang bolong membuat Sugeng langsung mengkeret kayak Udang. Siswa yang lain hanya saling bertatapan heran, tidak tau apa yang terjadi.“Siapa yang berani melempar surat kaleng ini?” ulang Bu Anggi mengulang pertanyaannya kali ini suaranya terdengar sangat tegas, tapi semua siswa tetap terdiam. Dewi melirik kearah Sugeng yang tampak semakin pucat.“Jadi nggak ada yang mau ngaku ni?” ancam bu Anggi.Tiba-tiba April mengangkat tangannya. Kontan saja semua mata tertuju kearahnya. Berani banget tu anak, sudah bosan hidup ya atau punya nyawa selusin?.“Jadi kamu yang nimpuk ibu pakek surat kaleng ini April?” suara Bu Anggi sedikit terdengar lebih santai namun syarat ancaman.“Ya bukan lah buk. Ada-ada aja, masa April berani menganggu sing… ehem maksudnya menggangu ibu,” kata April, hampir aja ia keceplosan menyebut gurunya singa betina.T_T.“Kalau begitu kenapa kamu tunjuk tangan?” bu Anggi heran. Yang lainnya juga ikut penasaran.“Ya April Cuma mau bilang kalau April udah nyelesaiin tugas yang ibu kasih. Nih,” April maju kedepan dan menyerahkan kertas ulangannya. Ini anak pura-pura blo’on atau memang super blo’on sih. Nggak tau apa orang lagi marah.“Ha?! Serius loe pril?” bisik Nia kaget sebelum April benar – benar bangkit maju kedepan. Tapi April hanya mengangguk mantap.“Ia nih, gue aja baru tiga masa loe,Mrs. Tulalit kok sudah selesai. Yang benar sajalah,” tambah Dewi nggak percaya.“Bomat. Yang penting gue udah selesai. Nih buk,” balas April makin pede.Bu Anggi langsung mengambilnya, kemudian mengamati sejenak. Tapi dipikir kayak apa juga tetep nggak masuk akal karena jawabannya bener semua. Lho kok?! Baru sekilas melihat bisa langsung tau kalau jawabannya bener semua?.“Ini bener kamu sendiri yang ngisi?” tanya bu Anggi.“Ya ia lah buk. Abis mau minta tolong sama siapa?” April balik nanya.“Kok bener semua?”“Masa sih buk?” gantian April yang keheranan plus double girang.“Ia nih buk, masa Mrs. Tulalit bisa bener semua?” kata Hakim nggak terima.“Lagian baru sekali liat kok bisa yakin kalau jawabannya bener semua?” tambah Dewi.“Ya ia lah langsung tau. Lah wong jawabannya dari nomor satu sampai sepuluh A semua,” jawab bu Anggi. Tapi dalam hati. Habis kalau dijawab keras-keras bisa batal tuh ulangan.“Ya sudah. Mending kamu keluar dulu sana. Awas jangan sampai temen kamu ada yang nyontek,” kata bu Anggi kemudian.“Beres bu,” April berjalan keluar menuju pintu sambil pasang tanpang TP. Tau kan…?. ‘tebar pesona’. Bangga banget lah dalam hati. Jelas saja teman-temannya makin jealous.“Jangan-jangan dibantuin jin tu orang?” batin Nia yang jadi merinding membayangkan ucapanya sendiri.Tepat saat kaki April menginjakan pintu keluar, tiba tiba ia berhenti karena teringat sesuatu. Langsung balik kanan menatap bu Anggi yang masih berdiri bengong menatap kertas ulangan di tangannya.“Oh ya buk, hampir aja lupa. Tadi April mau nanya surat kaleng nya isinya apa sih. Jadi penasaran,” tanya April yang mengingatkan semuanya akan accident yang hampir terlupakan.Deg! Jantung Sugeng seperti mau copot.“Kurang ajar loe. Ngapain diingetin lagi sih. Padahal kan tadi udah lupa, dasar Mrs. Tulalit,” maki Sugeng dalam hati“Untung kamu ngingetin. Hampir aja ibu tadi lupa, ayo sekarang semuanya ngaku siapa tadi yang sudah nimpuk ibu pake surat kaleng ini?” tanya bu Anggi lagi.“Tenang dulu bu. Jangan marah marah. Percaya deh sama April bentar lagi ibu pasti bakal dapat kabar bagus,” saran April sok ngeramal. Yang lain heran, abis apa hubungannya?.“Maksud kamu?”“Gini buk, April juga pernah dapat surat kaleng kayak gitu. Dan setelah itu April langsung dapat kabar gembira. Suwer deh.”Sedetik setelah April menyelesaikan ucapanya, tiba-tiba Hp bu Anggi berdering. Setelah berbicara sejenak ia langsung mematikan telponnya dan mendekati April.“Ya ampun April. Ternyata kamu bener. Barusan ibu dapat kabar kalau ternyata keponakan ibu baru saja melahirkan anak nya dengan selamat. Terus kembar lagi.”“Yang bener bu?” “Sudah sekarang kumpulkan semua tugas kalian.”“Tapi buk, kita belom selesai,” kata Minda.“Nggak papa. Hari ini ibu kasih bonus, selesai nggak selesai kalian dapat nilai lapan semua. Kalau April 10. Oke!”“Ha…?!” Semua melongo, cengo dengan sikap ajaib gurunya. Tapi tak urung juga merasa girang. Gimana nggak? Secara nggak perlu mikir susah susah tapi dapat nilai 8. Blo’on banget kalau nggak mau.Tapi heran deh ni guru sama murid kok sama aja ya. Sama-sama tulalit. He he he.“Kalau begitu ibu pergi dulu. Oh ya April, mending surat kalengnya buat kamu saja. Siapa tau kamu dapat kabar bagus lagi,” selesai berkata bu Anggi langsung pergi meninggal kan siswanya yang kebingunggan.Dengan agak terburu-buru April membuka bundelan kertasnya. Kemudian membaca keras-keras agar teman-temannya yang juga penasaran bisa ikut mengetahuinya.“DASAR BABON KOE!!!. JEMBELENGAN…!!!”Kontan tawa seisi kelas meledak bahkan kelas sebelah yang tidak tau apa – apa juga heran mendengarnya. Kira-kira ada apa ya?.“Gila. Bener-bener deh. Siapa sih yang berani bikin tu surat terus ngelemparnya kekepala bu Anggi. Punya nyawa selusin ya?” kata Guntur yang duduk tepat didepan meja guru.“He’eh. Berani banget,” tambah Minah.“Tapi siapa?” tanya April.“Pasti elo. Ia kan Sugeng?” tuduh Dewi langsung.“What?! Yang bener saja lah kou,” logat batak campuran Majeni langsung keluar.“Ia. Masa sih elo Geng?” Nia menatap kearah Sugeng yang cengengesan sambil mengangguk membenarkan ucapan Dewi. Sofa' hanya bisa geleng-geleng kepala nggak tau lagi mau ngomong apa atau memang ia sudah tidak kebagian dialog. Entahlah.“Nekat loe. Masa bu Anggi loe bilang babon. Jembelengan lagi. Udah kebal loe?” timpal Razimah yang diam diam naksir pria itu.“Ya nggak lah. Lagian tu surat bukan buat Bu Anggi. Tadi itu cuma kesalahan teknis aja. Gara gara Dewi sih. Rese”“Maksud nya?”“Kita jadi bingung nih?”“Ia tadi itu gue mau ngelemparnya ke Dewi. Tapi yang kena malah bu Anggi.”“Untung aja nasib loe bagus. April tadi bisa nanganin. Coba kalau nggak?” ujar Nia.“Tapi hari ini April keren ya. Udah ulangannya selesai duluan, bener semua pula tu. Terus juga bisa nanganin bu Anggi bahkan kita bisa dikasih bonus nilai lagi. Kok bisa ya?” gumam Izal curiga.“Ia nih, atau jangan-jangan….?” timpal Nia dan tiba-tiba bulu kuduknya merinding membayang kan April dibantu oleh jin.“Jangan-jangan apa?” tanya Ria penasaran.“Jangan-jangan loe dibantuin jin ya?” tebak Nia langsung. Tentu saja semuanya kaget tapi tak urung membenarkan ucapan Nia.“Jin gundul mu. Sembarangan aja kalau ngomong,” bentak April sewot.“Kalau nggak loe bisa ngisi bener semua dari mana donk?” kejar Jumi.“Nih. Liat aja sendiri,” April menyerah kan sobekan kertas yang ia ambil dari dalam saku bajunya.“Lho, itu kan kertas yang gue buang tadi. Kok bisa ada sama loe?” Sugeng heran.“Tau. Tadi gue liat dibawah kolong meja gue. Karena penasaran ya udah gue ambil aja. E nggak taunya jawaban soal B. Inggris tadi,” jelas April polos.“Tunggu dulu, jadi tadi loe nyontek ini?” tanya Sofa' menegaskan..April mengangguk.“Maksudnya dari nomor satu sampai sepuluh jawabannya A semua?” tanya Dewi dan Sugeng serentak.“Iya,” balas April. Ia heran kok Dewi juga bisa tau.“Apa???!” .“Bruk…!”.Dewi tergeletak di lantai. Shok langsung pinsan. Padahal ia sudah meres otak buat nyari jawabannya, bahkan tadi saat membalas ia cuma ngasal aja. Tapi kok…Teman-temannya panik. Dan langsung membawa Dewi ke ruang UKS.“Ternyata bu Anggi beneran nggak beres ya. Masa jawaban dari satu sampai sepuluh A semua,” komentar Ina kemudian.“Ah dasar kaliannya aja yang dodol. Pakek ngatain bu Anggi nggak beres segala. Kayak kaliannya beres aja” balas April sambil pergi meninggalkan kelas dengan gaya princes dadakannya.To Be continueKita bersambung dulu ya. Lanjut baca ke Cerpen Lucu Mis Tulalit ~ 02. Ngomong – ngomong untung aja ya, temen – temen admin nggak ada yang demen baca. Coba aja mereka tau kalau image mereka di bikin ancur gini disini. Xi xi xi~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerpen Pendek Mantanku Thank you

    Haloooo All, My Reader . Masih pada nungguin lanjutan Cerpen Cinta kala cinta menyapa sama cerpen remaja Take My Heart yak?… Sory ya, tu cerpen belom bisa di lanjutin. Penulis udah bilang kan kalau mendadak kehabisan ide buat nulis. ha ha hai, Ya wajarlah, namanya juga penulis amatir. ^_^Nah, sebagai gantinya penulis post cerpen kiriman ni. Dari Megawati yang ada di makasar sono. huuuu jauh kali. Salam kenal ya?. Sama ma kasih juga. Ceritanya bagus, dan penulis suka. Apalagi pas kalimat ini "Move on adalah caraku melampiaskan rasa sakit, tersenyum adalah caraku mengabaikan rasa benci, dan sukses adalah caraku membunuh rasa dendam". (y).Kutatap bulan yang tersenyum padaku malam itu. Hembusan angin membuat tubuhku terasa menciut. Di bawah pohon bambu yang begitu subur, terlihat kunang-kunang menari-nari memancarkan keindahan cahayanya, aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Malam itu sungguh indah, begitu indah. Menikmati keindahan malam bersama seorang yang kucinta membuatku sangat bahagia. Dialah, dialah Hedy, orang yang paling kucinta. Dia bagaikan kunang-kunang yang menyinari hatiku setiap saat. Dia menciptakan cinta dan ketulusan yang tak terhingga. Aku mencintai dan menyayanginya. Tepat jam 7 malam, kami meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju tempat makan. sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*