Cerpen Cinta: JARAK DAN KITA

Sebuah Cerpen Cita tentang hubungan jarak jauh. Dikirim oleh Lelie Liana dan merupakan cerpen keduaya. Cerpen pertamanya yang berjudul Damai Bersamamu, Flora pernah juga dimuat di Gen22 Blog.
JARAK DAN KITA
oleh: Lelie Liana

trangggg!! awwww
Jenny sukses mengacaukan suasana pagi di rumahnya.
“aw, ini gelas kok bisa jatuh sih Jen?” Bunda memandang pecahan gelas yang berserakan di lantai
“ maaf Bund, Jenny nggak sengaja” dengan tampang yang sedikit didramatisir Jenny meminta maaf
“ makanya, lain kali jangan minum sambil ngelamun!” Bang Tyo nimbrung tanpa diminta
“ih nyebelin banget sih,bukannya bantuin malah ngomporin” Jenny ngedumel dalam hati
“ sudah, abang jangan bikin suasana tambah kacau ah, Jenny, rapiin bekas gelasnya yah, habis itu langsung sarapan di ruang makan, ayah udah nungguin dari tadi tuh “ Bunda berkata sambil berlalu
“ Iya Bund” Jenny mengangguk sekaligus memeletkan lidah tanda kemenangan ke arah bang Tyo yang terlihat kesal karena komporannya hari ini nggak berhasil
“ wee, emang enak dikacangin! Hahaahaha” Jenny membersihkan pecahan gelas yang berantakan dan berlalu meninggalkan abangnya yang terlihat masih kesal karena usahanya sia – sia.
Begitulah yang terjadi setiap hari di keluarga Subagiyo, pengusaha yang kesehariannya terkenal sebagai seseorang yang low profile dan penuh dengan kedipsiplinan dan kerja kerasnya. Jenny, Putri kedua dari Pak Subagiyo dan Bu Ratna. Nama lengkapnya Jennyfer Ken, cantik, pintar, bersikap manja dan ramah, namun sedikit ceroboh. Baru duduk di kelas dua SMU, dan menjabat sebagai wakil ketua osis. Andre Johntyo adalah putra pertama. Lahir sabagai anak laki – laki dengan tampilan fisik nyaris sempurna dan selalu mampu membuat mata kaum hawa tak mampu berpaling. Jago basket, juara olimpiade komputer, ketua osis, dan selalu juara kelas. Alhasil kakak beradik tersebut menjadi populer di kalangan makhluk sekolah yang notabenenya adalah sekolah swasta favorit dengan lebih dari seribu siswa. Dan tak mudah untuk menjadi seseorang yang top di sekolah, itulah yang dirasakan oleh Jenny. Setiap hari ia harus tahan godaaan dan terpaan gosip yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tak pernah puas jika ngeliat Jenny bahagia. Seperti yang terjadi pagi itu.
“ ssttt, si nona perfect mau lewat, minggir, beri jalan” teriak Nita, ratu gosip sekolahan. sifatnya nggak jauh – jauh dari ratu gosip pada umumnya, suka sirik, panas kalau ngeliatin orang yang lebih “ wah “ darinya, dan yang pastinya bahan sekecil apapun bisa dijadikan gosip. Tapi meskipun udah dipermalukan berkali – kali, tetap aja Nita menjadi Ratu gosip, seperti pagi ini, udah jadi kebiasaan Nita setiap Jenny datang, selalu dikatan si nona perfect, jadi Jenny tetap tenang nanggepin Nita.
“ eh nona perfect, tadi lu dicariin tuh sama Bobby“
Ciii! Kontan mendengar nama Bobby, Jenny langsung noleh.
“ serius lu?”
“tapi BOHONG! Hahahaaaa” Nita tertawa puas sudah berhasil membohongi Jenny
“ sialan! Kalau bukan gara – gara masih pagi, udah gue jitak lu! “ guman Jenny kesal lalu masuk kelas . Di kelas , Jenny meletakkan tas volcomnya dengan kesal
“ wess, si nona perfect udah datang, napa tuh muka, pagi – pagi jelek banget “ tegur Igha, sahabatnya yang sekaligus ketua kelas
“ gue sebel sama Nita, pagi – pagi gue kena kibul sama dia “
“ ahahaha, nasib lu! Udah tau dia ratu gosip, masih aja lu percaya sama omongan dia” Igha tertawa geli
“ abisnya dia bilang Bobby nyariin gue, ya spontan aja gue noleh “
“ heh? Bobby ? lu masih ngarep sama dia, Jen? Bukannya dia udah pindah ke luar negeri? Lagian lu sih ga mikir, kalau dia nyariin lu, ga mungkin dia datangin si Nita, secara otomatis dia bakalan ngasih tau lu dulu kan sebelumnya “ Igha mencoba untuk menganalisis keadaan.
“ iya sih gue tau, tapi siapa tau aja dia mau datang tanpa pemberitahuan dan mau ngasih surprise ke gue “ lanjut Jenny membela diri.
“ yeee, ngarep lu Jen! “ Igha tersenyum geli.
“ huh, garing lu! “ jenny kesal . beberapa menit kemudian ia sudah asyik bersama i-pod nya. Igha memandang Jenny. Ia tau betul siapa Jenny dan bagaimana perasaannya sekarang. sudah tiga bulan lebih Jenny memendam sakit hatinya sama Bobby. Satu sekolah juga tau, kalau setahun yang lalu Jenny dan Bobby adalah pasangan paling serasi. Jenny adalah nona perfect, dan Bobby adalah tuan perfect.

Setahun yang lalu, Bobby bukan satu – satunya cowo perfect di mata Jenny. Masih banyak cowo – cowo nyaris perfect lainnya yang nyatain cinta ke Jenny dan ditolak. Tapi satu hal yang ngebedain Roy sama cowo – cowo lainnya. Dia cowo yang dewasa. Awalnya Jenny menganggap Bobby hanya sahabat, tapi kedekatannya dengan Bobby tanpa sadar membuat Jenny begitu merasakan bahwa diantara mereka bukan hanya sebagai sahabat , tapi lebih dari itu. Hubungan mereka berlanjut, seperti yang Jenny rasakan, akhirnya mereka jadian selama enam bulan. Bukan waktu yang singkat untuk menjalin sebuah hubungan, tapi Bobby lebih memilih untuk mengakhiri hubungan itu karena jarak. Bobby pindah ke luar negeri, itu cukup membuat Jenny down dan nggak mau pacaran lagi, sampai sekarang.

“ dueng! Ngelamun terus loe, Bobby Bobby Bobbyyyy, Jenny kangen nihh, hahahahhaa” igha ketawa ngakak
“ sadis loe, bete gw”
“ abisny muka loe jelek banget kalo lagi bengong gitu, udah ah, ntar ga ada yang naksir loh “
“ masa sih gha,perasaan muka gw ga gitu – gitu banget deh”
“ iya tau, tapi jangan gitu juga kalii, udah ah, jangan ngelamun lagi “
Begitulah kehidupan Jenny, nyaris PERFECT, mirip cerita di novel – novel dan cerpen, tapi sayang kehidupan cintanya tak begitu sempurna .
Tok tok tok
“masukk”
Tralaaaaa, Surpiseeee

“Jen? Are you ok?”

“hello”

“hey!”
“oh, sorry! Bobby? ini beneran loe?”
“Iyalah, masa arwah gue, gile lu, gue masih idup kalii”
Oh my God, Bobby cakep banget, Jenny sampe pangling
“Stress lu ya, kapan lu balik ke Indo? jahat, kenapa sih lu ga bilang ke gue?”
“idihh nona cantik ngambek, gue udah di Indo kemaren, sengaja aja bkin surprise buat lu”
“ihhh nyebelin, gue kangen banget sama lu”
“hmmm, beneran?”
“tapi BOHONG! hahaha”
Malamnya Jenny terlihat senang, bukan mimpi tapi ini nyata, sekarang Roy ada di hadapannya, bahkan have dinner bareng.
“hmmm, Bobby..”
“ya Jen, kenapa? ngomong aja”
“hmm… lu masih punya rasa ga sama gue?”
“rasa? rasa apaan? rasa jeruk, apel, atau mangga?”
“garing! gue serius!”
“ops, ok nona manis, sorry. hmmmmm, gimana ya Jen, gue masih sayang sama lu, tapi lu ngerti kan, gue ga mungkin balik lagi ke Indo, banyak hal yang ga mungkin dalam hubungan kita, lagian gue udah punya seseorang disana”
DEGGGGG!
Tiba – tiba Jenny merasakan periihhhhh yang sangat perih didadanya. Ternyata cinta tak mampu mengalahkan jarak dan waktu. Perlahan Jenny menjauh.
Here is no love anymore, It will be love if you and me together..
Twitter : @lelieliana
E-mail : Leelieliana@yahoo.co.id

Random Posts

  • BIKANG ENDANG

    BIKANG ENDANG oleh: Kharisma Hawa D.“Tante Rini, ini kue bikangnya, masih hangat lho, keluar dari oven langsung saya bawa kesini.” “Makasih Endang, ayo masuk dulu ke rumah.”“Lain kali saja tante saya mampir ke rumah, saya masih harus keliling komplek untuk berjualan, mumpung ini masih hangat”“Ya sudah, besok pagi kesini lagi ya..” Ucap Ibu sambil menutup pembicaraan.Aku memandang sebungkus kue bikang yang diletakkan di atas meja makan, pasti Ibu yang membeli kue bikang ini dari Endang, dan menyuruhku untuk membawanya ke sekolah, gumamku dalam hati. Benar saja, “Rena sayang, kamu bawa bikang ini ke sekolah ya, nanti di makan bareng temen-temen kamu.” Aku mengeluh dalam hati, kenapa sih Ibu ini? Hampir setiap hari selalu menyuruhku membawa sebungkus kue mekar dan mengembang ini, jujur aku merasa malu pada teman temanku, mereka pasti berfikir itu pasti jajanan kampung yang sering dijual di pasar, sekali waktu aku juga ingin membawa kue yang sedikit ‘elite’ di mata mereka, sebut saja brownies, sandwich, pancake, pie atau semacamnyalah. Tapi Ibu selalu membekaliku dengan bikang hangat yang di beli dari Endang. Ya sudahlah, lagipula bukan aku juga yang memakan bikang itu, ada Rani, teman sebangkuku yang menghabiskan kue itu. **** Seperti biasa, di Minggu pagi, keluargaku selalu menyempatkan untuk olahraga bersama. Aku memilih bersepeda keliling kompleks perumahan. Sedangkan, Ayah, Ibu, dan Rangga berjalan jalan di Pasar Minggu pagi yang berada di sekitar Stadion. Tumben, hari ini aku tak mendengar ‘kicauan’ si Endang yang menjajakan bikang hangatnya. Kemana dia? Bukannya aku rindu dengan jajanan pasarnya itu. Tetapi, mendengar suara Endang setiap pagi merupakan rutinitasku sebelum berangkat sekolah. Aku pun penasaran, kemana Endang pagi ini? Aku segera menuju ke Panti Asuhan Cahaya Hati, tempat tinggal Endang saat ini yang tak jauh dari komplek perumahan. Aku bertanya pada salah seorang penghuni Panti Asuhan. “Endang pulang ke Jombang, dia pulang kampung karena ingin melanjutkan pengobatan alternatif disana.” Ucapnya dan lantas kembali masuk ke halaman Panti, aku diam dan berusaha mencerna perkataan tadi. Pulang? Sakit? Pengobatan alternatif? Karena diburu rasa penasaran, aku segera pulang ke rumah dan bertanya pada Ibu.**** Aku memarkir sepedaku di garasi, tak sengaja aku mendengar Ayah dan Ibu sedang berbicara serius di Ruang Tamu. Aku tetap berada di garasi dan berusaha mendekatkan telingaku ke daun pintu ruang tamu. “Kasihan Endang itu, ia terpaksa kembali ke kampung untuk menjalani pengobatan alternatif. Ibu merasa bersalah pada Almarhumah Anik karena Ibu tak dapat merawat darah dagingnya dengan baik. Bahkan, Ibu tak dapat membujuk Endang untuk tinggal di sini dan bersekolah bersama Rena.“ Aku melihat Ibu mulai menitikkan air mata.“Ayah tahu dan Ayah juga merasakan hal yang sama dengan Ibu, kita juga tidak sempat menyembuhkan Tuberculosis Endang. Tapi setidaknya kita sudah membeli kue buatan Endang. Paling tidak, Endang sudah dapat penghasilan sendiri dan membiayai hidupnya sendiri sejak orang tuanya meninggal setahun lalu.” Ayah mencoba menenangkan Ibu. Perkataan kedua orang tuaku membuatku tercekat. Aku berusaha mencerna perkataan itu. Ternyata selama ini Endang adalah anak sahabat Ibu yang di titipkan pada Ibu sejak setahun yang lalu. Pantas saja, Ibu selalu membeli jajanan buatan Endang dan memaksaku membawanya ke sekolah. Sepengetahuanku, Ayah juga jarang memakan bikang itu ketika di rumah dan lebih sering membawa kue itu ke kantor. Jadi ini sebabnya. Aku hanya bisa mendoakan agar Endang cepat sembuh dan kembali kesini. Aku pun tak keberatan jika suatu saat nanti Endang tinggal bersama kami bahkan satu sekolah denganku. Cepat sembuh Endang Aku merindukan bikang hangatmu.. JAWA POS. Kamis, 7 Juli 2011 KHARISMA HAWA D.Facebook : Kharisma Hawa D.Twitter : @kharismahawaHeello : @kharismahawaEmail : kharismahawa@yahoo.co.id

  • PERSAHABATAN YANG HANCUR KARENA CINTA

    PERSAHABATAN YANG HANCUR KARENA CINTA – oleh: ARUM NADIA HAFIFICinta itu memang kadang membuat orang lupa akan segalanya. Karena cinta kita relakan apapun yang kita miliki. Bagi kaum wanita mencintai itu lebih baik daripada dicintai. Jangan terlalu mengharapkan sesorang yang belum tentu mencintai kita tapi terimalah orang yang sudah mencintai kita apa adanya. Mencintai tapi tak dicintai itu seperti olahraga lama-lama supaya kurus tapi hasilnya nggak kurus-kurus. Belajarlah mencintai diri sendiri sebelum anda mencintai orang lain.Gue Amel siswa kelas X. Dulu gue selalu menolak dan mengabaikan orang yang mencintai gue, tapi sekarang malah tebalik gue selalu diabaikan sama orang yang gue cintai.Gue suka sama teman sekelas gue dan plus dia itu teman dekat gue, udah lumayan lamalah. Cowok itu namanya Nino anak rohis. Gue suka sama dia berawal dari perkenalan terus berteman lama-lama dekat dan akhirnya gue jadi jatuh cinta gini.Oh iya gue punya temen namanya Arum, dia temen gue dari SMP. Arum gue dan Nino itu berteman dekat sejak masuk SMA.Suatu hari gue ngeliat Arum sama Nino itu bercanda bareng dan mereka akrab banget seperti orang pacaran. Jujur gue cemburu, tapi gue nyembunyiinn itu dari Arum.Lama-lama capek juga mendam rasa suka kayak gini. Akhirnya gue mutusin untuk cerita sama Arum.“Rummmm gue mau ngomong sesuatu, tapi jangan bilang siapa-siapa““Ngomong apa?“ tanya Arum“ Jujur gue suka sama Nino udah lama, dan gue cemburu kalo lo dekat sama Nino!“ Jawab Amel“ Lo suka Nino? Serius?“ Tanya Arum“ Iya, tapi lo jangan bilang Ninonya“ gertak Amel“ Iyaiya maaf ya kalo gue udah buat lo cemburu““ Okee “Amel makin lama makin dekat dan Amel susah untuk ngelupain Nino. Amel berfikir Nino nggak akan pernah jatuh cinta sama Amel. Walau Amel udah ngerasa seperti itu tapi dia tetap berjuang. Tanpa disadari Arum ternyata juga suka sama Nino.Amel mengetahui kalo Arum suka sama Nino. Nggak disengaja Amel membaca buku diary Arum. Disitu tertulis curhatan Arum tentang perasaannya kepada Nino.Setelah Amel membaca buku diary Arum, dia merasa kecewa karena temen sendiri juga suka sama cowok yang sama. Tapi Amel berfikir rasa suka itu datangnya tiba-tiba jadi siapa pun berhak untuk suka sama Nino. Amel tetap terus berjuang mengambil hati Nino, walau harapanya kecil.Di taman sekolah Amel melihat Arum dan Nino sedang berincang-bincang, tapi ini beda mereka terlihat serius. Amel penasaran dan akhirnya ia nguping dibalik pohon.“Ruummm gue suka sama lo, lo mau nggak jadi pacar gue?“ Tanya NinoArum kaget dia bingung harus jawab apa, tapi akhirnya Arum menerima Nino jadi pacarnya tanpa memikirkan perasaan Amel sahabatnya sendiri.“ Iya aku mau“ Jawab ArumAmel yang mendengar jawaban Arum dibalik pohon kaget, dia tak menyangka sahabatnya akan tega. Tanpa berfikir Amel keluar dari belakang pohon.“ Rumm lo pacaran sama Nino? Congrast ya lo udah bikin gue sakit hati“Arum dan Nino kaget tiba-tiba Amel muncul dari belakang pohon dan bilang sperti itu.“ Maafin gue Mell, tapi gue cinta sama Nino““ Yaudahlah “Amel langsung pergi meninggalkan Arum dan Nino. Perasaanya campur aduk nggak karuan, dia masih bingung kenapa temannya tega melakukan hal itu. Padahal Arum tau kalo Amel udah lama ngejar-ngejar Nino.Persahabatan bisa hancur begitu saja karena cinta. Utamakan sahabat mu daripada pacarmu karena orang yang bakal selalu ada disaat kamu senang dan susah itu sahabat. Persahabatn yang dijalin cukup lama bisa hancur seketika karena masalah cinta.KARYA: ARUM NADIA HAFIFI

  • Cerpen Terbaru Jahil Karena Suka

    Jahil Karena Suka _ cerpen terbaru kiriman dari salah satu reader disini, Nabila maharani. Jalan ceritanya lucu, lumayan menghibur juga. Yah masih cerita tentang anak sekolahan gitu deh. Yang jelas meremaja banget.Nah, Admin juga nggak mau kebanyakan bacod, mending kita simak aja langsung, gimana sih sama ceritanya? Yang jelas so sweet… ^_^Cerpen Terbaru Jahil Karena SukaHari ini adalah hari pertama Syabila belajar di sekolah barunya, SMA Bakti Jaya. Minggu kemarin dia sudah resmi menjadi salah satu siswa sekolah terfavorit di Jakarta.sebagian

  • Cerpen Spesial Valentine ‘Karena yang gue suka itu, Elo!!!’

    Halo sahabat Star Night, bentar lagi katanya valentine day ya?. Bukan berarti admin ikut merayakan makanya admin bikin posting beginian. Hanya saja, sayang aja kalau moment setahun sekali ini di lupakan gitu aja. So seperti beberapa tahun kebelakang, admin selalu bikin cerpen special valentinnya. Yang pertama “Sepotong choklat untuk Nanda” dan tahun kemaren ada “ Cinta ku berawal dari facebook”, Nah kali ini “Karena yang gue suka itu, elo”. Ide dadakan yang benar – benar di ketik secara mendadak. Penasaran? Check this out….cerpen spesial valentineWalau mata Kharisya menatap lurus kedepan, namun pikirannya kali ini jelas bercabang – cabang entah kemana. Sesekali tangannya terangkat memijit kepalanya yang tak jarang malah ia ketuk – ketuk (???) dengan menggunakan pena. Hal yang ia lakukan kalau pikirannya sedang kusut.Gumpalan kertas yang mengenai kepala sebelum kemudian mendarat diatas meja sontak membuat kepala Kharisya menoleh. Matanya terhenti pada mata Arvin yang duduk selang beberapa meja di belakang yang kini sedang menatap kearahnya. Menjadi petunjuk kalau ia adalah pelakunya. “Kenapa?” Tanya Kharisya dengan gerak bibir, namun Arvin tetap diam. Hanya memberi isyarat kepada gadis itu untuk mengambil kertas yang ia lemparkan.‘Gue tau loe itu emang udah Oon dari sononya, tapi kalo loe terus – terusan mukulin kepala loe, gue jamin, loe pasti makin Oon. Jadi selaku sahabat yang baik and pinter, mending loe cerita ada apaan. Kali aja gue bisa nambahin.’Kharisya tak mampu menahan diri untuk tidak memutar mata ketika menyelesaikan membaca kalimat yang tertera. Dengan kesal di remasnya kertas tersebut, dan langsung ia lemparkan kekepala Arvin tanpa perlu membalas kalimatnya."Loe kenapa si? Kusut banget tu muka kaya belon di strika?" tanya Arvin sambil berusaha mengejar Kharisya yang sudah duluan melangkah pulang tanpa memperdulikan dirinya."Ya ela, masih marah karena tulisan gue tadi. Sory deh, gue cuma bercanda. Loe kan tau gimana gue, masa gitu aja loe marah.""Ya ampun Arvin, beneran mati deh gue sekarang.""YA?" Arvin melotot kaget. Bukan kaget karena ucapan Kharisya barusan, tapi kaget karena Kharisya tiba tiba berhenti melangkah dan langsung berbalik padanya. Membuatnya hampir saja menubruk tubuh gadis itu jika tidak segera mengerem kakinya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Hanya mata yang saling bertatapan sampai kemudian Kharisya buka mulut."Dan kenapa muka loe bisa tepat didepan muka gue, loe mau nyium gue?"Dan jitakan pun mendarat dikepala Kharisya sebagai jawaban."Semabarangan," damprat Arvin sambil menarik diri. "Lagian kan loe yang salah, ngapain sih loe pake berhenti tiba tiba?""Oh iya ya, gue yang salah," gumam Kharisya sendiri sembari berbalik melanjutkan langkahnya. Sama sekali tidak menyadari reaksi sahabatnya atas tindakannya barusan."Ehem, tapi ngomong ngomong loe mati kenapa?" tanya Arvin.Lagi lagi Kharisya menghentikan langkahnya. Untunglah kali ini Arvin sudah berjalan disampingnya. Matanya menatap kearah Arvin dengan tampang memelas, dan kemudian muluncurlah cerita itu dari mulutnya. Tadi siang ia bertemu dengan Abel, anak kelas Ipa yang telah sekian lama menjadi saingannya. Kharisya sendiri tidak tau, kenapa selama ini gadis itu selalu mencari gara gara dengannya, sampai kemudian tadi siang ia menemukan jawabannya. Ternyata gadis itu menyukai Arvin, seseorang yang selama ini berstatus sahabat karibnya. Dan karena kedekatan mereka selama ini membuat Abel sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendekati orang yang disukainya.Demi untuk membantah tuduhan bahwa ia menyukai sahabatnya, Abel menantang Kharisya untuk membuktikan. Bahwa tepat pada hari Valentine besok, Kharisya harus sudah bisa menunjukan siapa kekasihnya. Dan sebagai taruhannya, jika Kharisya menang, maka Abel tidak boleh menganggu dirinya. Sebaliknya, bila Kharisya kalah, ia harus menjauhi Arvin. Memberi kesempatan pria itu untuk bisa dekat dengan gadis lainnya. Karena nyatanya, selama ini Arvin memang hanya dekat dengan dirinya. Sebagai tambahan, siapapun yang kalah harus lari mengelilingi lapangan bola kaki sekolahnya sebanyak 50 kali. Namun yang jadi masalahnya, Valentine hanya kurang dari semingu lagi. Pacar seperti apa yang bisa didapatkan dalam seminggu?"Ini konyol. Keterlaluan," desis Arvin lirih."Iya, gue tau. Ini konyol. Abel emang keterlaluan. Masa gue harus dapatin pacar selama seminggu, udah 17 tahun gue hidup aja gue masih jomblo. belom punya pacar. Ini kan lagi kalau…""Bukan Abel. Yang gue maksut itu loe," potong Arvin sebelum Kharisya menyelesaikan ucapannya."Ya?" tatap Kharisya heran. Dan saat melihat tatapan tajam Arvin, Kharisya baru menyadari kalau pria itu terlihat marah."Loe nyadar nggak sih? Loe baru aja jadiin persahabatan kita sebagai taruhannya?""O… Soal itu… Emp…. Maaf," gumam Kharisya sambil menundukan wajah. Merasa bersalah karenanya.Arvin tampak mengembuskan nafas lelah, lelah dengan tingkah gadis yang berdiri dihadapannya. Kemudian tampa kata, ia segera berbalik. Berjalan meninggalkan Kharisya sendirian."Please donk Arvin. Iya deh, gue ngaku gue salah. Tapi please, jangan marah sama gue ya?" pinta Kharisya sambil mengejar Arvin."Kalo gitu loe harus batalin taruhanya," kata Arvin tegas.Mata bulat Kharisya menatap Arvin lekat. Setelah lama terdiam, kepalanya menggeleng berlahan."Gue nggak bisa.""Kenapa?" tanya Arvin. Rasa kecewa jelas tergambar dari nada bicaranya."Loe tau sendirikan, setelah segede gini. Gue masih belom pernah punya pacar. Gue kan pengen sekali kali kayak cewek lainnya. Apalagi bentar lagi Valentine. Gue pengen ngerasain gimana sih dapat coklat dari orang yang kita suka. Ngabisin malam jalan jalan bareng, bukan cuma jalan sama loe doank.""Jadi selama ini loe nggak suka jalan sama gue?" lagi lagai Arvin berasumsi. "Bukan itu. Loe jangan salah paham," potong Kharisya cepat. "Hanya saja…""Udah deh Kharisya, terserah loe aja," potong Arvin. Kali ini pria itu benar – benar berlalu meninggalkan gadis itu sendirian."Hanya saja gue berfikir, Abel ada benarnya. Loe nggak akan bisa deket sama cewek lain kalau loe terus terusan deket sama gue," gumam Kharisya lirih. Selirih kalimat yang hanya bisa di dengar hanya oleh dirinya.Dua hari telah berlalu sejak taruhan yang Kharisya katakan, Arvin sama sekali tidak mau berbicara dengannya. Setiap didekati, pria itu selalu menghindar. Bahkan, siang itu. Yang biasanya Arvin selalu makan siang bersamanya, kali ini pria itu malah terlihat makan siang bersama Abel. Mebuat Kharisya benar – benar kesel karenanya. Ho ho ho, Bukan. Bukan karena cemburu. Tapi ia kesel karena jika Arvin tidak suka dengan taruhannya, harusnya Arvin juga menghindari Abel. Bukan hanya dirinya. Toh, yang bertaruh mereka berdua. Kenapa Arvin jadi pilih kasih begitu.Karena merasa cukup kesel, Kharisya membatalkan niatnya untuk makan. Memilih meninggalkan kantin diikuti lirikan Arvin diam – diam."Dasar Arvin rese. Emangnya temen cuma loe doank. Lagian kalo emang mau deket – deket sama Abel kenapa nggak nunggu seminggu lagi aja sih. Toh, gue belom tentu juga menang. Huh, bikin kesel aja," geritu Kharisya sepanjang perjalanan. Dan karena keasikan melamun, tak sadar ia malah menabrak seseorang yang berjalan dihadapannya yang kebetulan sedang membawa tumpukan buku ditangannya. Membuat buku – buku itu berserakan dilantai. Dengan cepat Kharisya berjongkok, membantu mengumpulkan buku bukunya. Tepat saat Kharisya ingin mengambil buku bersampul merah jambu, sebuah tangan juga secara bersamaan mengambilnya. Dan akibat kontak fisik itu, Kharisya menoleh. Kurang dari sejengkal, wajah pria tampan ada dihadapannya.Sesak napas, itu rasanya. Jantung berdebar keras, melanda dadanya. Kharisya sama sekali tak mampu mengalihkan tatapan darinya. Dan untuk pertama kalinya Kharisya percaya kalau 'Love At First Sight' benar ada.Cerpen Spesial Valentine“Arvin, tunggu,” Kharisya nekat merentangkan kedua tangannya. Berdiri tepat di hadapan Arvin yang sedang duduk di atas motornya.“Kali ini loe harus dengerin gue. Loe nggak boleh menghindar lagi. Karena gue punya kabar bagus buat loe.”“Apa?” tanya Arvin.“Soal taruhan itu…”“Loe membatalkannya?” potong Arvin cepat.Kepala Kharisya mengeleng berlahan sembari mulutnya menjawab. “Bukan. Tapi gue udah nemuin orang yang bisa gue jadiin pacar. Namanya Revan, malaikat penyelamat gue. Orangnya tinggi, baik, keren, cakep. Dan dia…”“Loe bilang itu berita bagus?” lagi – lagi Arvin memotong kalimat Kharisya sebelum gadis itu sempat menyelesaikan ucapannya.“Tentu saja,” angguk Kharisya cepat walau dengan raut bingung. Ia benarkan? Tentu saja itu kabar gembira. Bukankah Arvin marah karena persahabatan mereka akan terancam. Kalau sekiranya ia kalah taruhan, maka ia harus meninggalkan pria itu. Tapi tentu lain ceritanya jika ia berhasil menang.“Minggir,”“Eh,” bahkan Kharisya sama sekali tidak di beri kesempatan untuk menyadari apa yang terjadi. Yang jelas jika terlambat sedetik saja dia untuk menyingkir, sudah di pastikan motor Arvin akan langsung menabraknya. Dan saat Karisya menyadari apa yang terjadi, Arvin sudah jauh meningglakannya. Membuat Kharisya menatap melongo karenanya. Apa yang barusan itu bukan termasuk dalam kategori percobaan pembunuhan?Sehari sebelum Valentin tiba, Kharisya kembali menemui Arvin. Kali ini pria itu sedang duduk sendirian di taman belakang sekolah sambil membaca buku di tangannya. Membuat Kharisya sedikit heran. Ini untuk pertama kalinya Arvin sendirian. Biasanya kan ia selalu bersama Abel. Dan saat Kharisya menghampiri, Arvin hanya meliriknya sekilas.“Gue nggak tau kenapa sampe sekarang loe menghindari gue. Tapi gue tetep akan ngasih tau loe, kalau nanti malam. Gue akan nembak Revan.”Hening, sepi, Arvin tampak masih larut dalam bacaannya. Tidak memberikan reaksi yang berarti. Sementara Kharisya masih berdiri dengan keterpakuannya.“Okelah, gue cuma mau ngomong itu doank,” selesai berkata Kharisya berbalik. “Bruk,” terdengar suara buku yang di tutup dengan keras. Sebelum Kharisya menyadari apa yang telah terjadi, Arvin kini sudah berdiri tepat dihadapannya dengan tatapan tajam yang terjurus kearahnya.“Loe? Apa loe yakin mau melakukan ini?”Yakin? Kharisya mengeleng. “Enggak, tapi gue harus!”“Kenapa?”“Karena setidaknya harus ada yang berakhir bahagia bukan?”Arvin mengernyit bingung. Tidak mengerti akan maksut kalimat yang di dengarnya barusan. Tapi Kharisya hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tanpa ada niat untuk menjelaskannya lebih lanjut. Dan tanpa kata gadis itu segera berlalu meninggalkan Arvin dengan keterpakuannya.cerpen spesial valentine“Ma kasih ya Van, untuk malam ini. Dan ma kasih juga, karena loe udah ngantarin gue pulang,” kata Kharisya sambil melepaskan helm yang di kenakannya dan segera menyodorkannya pada Revan.“Sama sama, dan soal yang tadi…”“Santai aja. Nggak usah di fikirin,” potong Kharisya sambil tersenyum. “Mau masuk dulu?”“Nggak usah deh. Ini sudah malam,” tolak Revan sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir pukul sepuluh tiga puluh.“Ya sudah. Kalau gitu gue pulang dulu ya.”“Iya. Hati – hati,” balas Kharisya sambil mengantar kepergian Revan dengan tatapannya.“Astafirullah,” refleks Kharisya mundur selangkah ketika ia berbalik dan menyadari entah sejak kapan Arvin sudah berada di belakangnya.“Arvin, loe ngapain disini malam – malam?” tanya Kharisya langsung, tapi Arvin tidak segera menjawab. Pria itu diam saja, hanya tatapannya yang tidak pernah lepas dari wajah Kharisya.“Loe udah jadian sama dia?” “Ya?”“Jawab gue, apa loe udah jadian sama dia?” tanya Arvin mengulang pertanyaannya. Dan Kharisya sama sekali tidak menyadari raut kecewa yang begitu mendalam di wajah Arvin saat melihat sebuah senyum yang diiberikannya.“Atau loe bisa tidak menjawabnya,” sambung Arvin lagi. Mendadak ia merasa ragu. Ragu untuk mendengar jawaban itu. “Sory, ganggu loe. Gue pulang sekarang,” selesai berkata Arvin segera berbalik.“Gue pasti kelihatan konyol banget ya kan?”Langkah Arvin terhenti, tapi ia belum memutuskan untuk berbalik.“Tadinya gue menerima tawaran itu cuma buat seru seruan. Sekalian gue pengen nyari jawaban atas pertanyaan yang nggak pernah sanggup gue lontarkan,” untuk sejenak Kharisya berhenti. Setelah terlebih dahulu menghela nafas mulutnya kembali berujar. “Apa artinya gue buat loe. Dan kenapa sampe sekarang, loe nggak pernah deket sama cewek manapun. Dan seandainya gue nggak ada di sisi loe, apa yang akan loe lakukan?”“Maksut loe?” tanya Arvin. Kali ini ia telah berbalik dan menatap bingung kearah Kharisya.“Yang gue suka itu elo.”Arvin melongo. Tidak tau harus menajawab apa. Sejujurnya ia sendiri masih tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan.“Tapi loe tenang aja. Loe bisa tetep deket sama Abel kok. Kayak yang gue bilang tadi siang, setidaknya ada yang bahagia bukan? Gue nggak akan menghalangi loe kalau loe emang suka sama Abel. Lagian gue nggak jadian sama Revan, secara siapa juga yang mau langsung pacaran ketika baru kenal belum juga seminggu. Tapi tetep, itu artinya gue kalah taruhan, dan gue akan tetep penuhi peraturannya. Oke.”“Bodoh!”“Ya?”“Loe cewek paling bodoh yang pernah gue kenal!”“Ha?! Gue? ” kali ini Kharisya membentak sebal sambil menujuk wajahnya sendiri.Bodoh? Mengaku perasaannya pada orang yang di sukainya dan bahkan merelakan pria itu untuk bersama dengan cewek lain diangap bodoh? Sialan. Tapi tunggu dulu, itu beneran tindakan bodoh bukan si? Tapi kan yang di drama drama korea biasanya gitu? Baiklah, itu pendapat nggak penting. Lupakan.“Kalau emang yang gue suka itu Abel, kenapa sekarang gue disini?”“Ah iya. Bener. Tadi kan itu yang gue tanyain. Loe ngapain kesini?” tanya Kharisya seolah baru sadar.Bukannya menjawab, Arvin justru malah mengulurkan tangan yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Dan kini sebuah kotak berukuran sedang kini terulur di hadapan Kharisya.“Ini apa?”“Buka aja,” kata Arvin sambil tersenyum.“Choklat?” gumam Kharisya setelah membuka kotaknya. Matanya menatap Arvin, menuntut penjelasan darinya.“Loe bilang, loe pengen ngerayain valentin bareng orang yang loe suka. Loe juga bilang loe pengen dapatin choklat. Jadi….”“Terus Abel? Bukannya loe suka itu dia? Kenapa choklatnya malah loe kasih ke gue?”“Karena yang gue suka itu elo”Lebih dari sekedar sejak nafas, lebih dari sekedar jantung yang berdebar. Kali Kharisya malah merasa kalau ia telah terbang ke awang – awang. Melang tingi setinggi angannya selama ini. Orang yang ia suka ternyata juga menyukainya?“Jadi maksut loe…?” Kharisya masih terlihat tidak percaya.“Maksut gue, gue juga suka sama loe. Dan kita,…”“Gue menang taruahan,” potong Kharisya dengan raut wajah berbinar.Arvin terdiam. Matanya mengamati Kharisya dengan kening berkerut. Tunggu dulu jangan bilang kalau gadis itu….“Jadi loe seneng karena loe menang taruhan?”“Tentu saja. Untung gue nggak nurutin saran loe buat ngebatalin. Gue ngerasa sekarang itu kayak dapat durian runtuh tau nggak sih. Gue menang taruhan,loe tau itu artinya apa? Gue nggak harus ngejauhin loe, Abel nggak akan ngerecokin gue lagi. Dan besok dia harus ngelilingi lapangan bola kaki 50 kali. Ha ha ha, tepar – tepar deh tuh anak,” senyum Kharisya membayangkan apa yang kini ia dapatkan. Bahkan ekpresinya sama sekali tidak terpengaruh dengan pelototan kesel Arvin padanya.“Dan diatas semua itu. Sekarang gue udah punya kekasih baru,” mata Kharisya menatap lekat kearah Arvin sambil tersenyum, senyum yang menular. Karena Arvin kini juga tersenyum, saat itulah Kharisya menambahkan kalimatnnya“Kekasih ku, sahabatku. Sweet happy valentine day.”Ending……~ Admin Lovely Star Night ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*