Cerpen Cinta: GOODBYE MY BOYFRIEND 50%

GOODBYE MY BOYFRIEND 50%Cerpen PerpisahanBy: Leriani Buton

Ketika senja menutup mata
Aku berharap malam menyapaku dengan senyuman
Namun,,, malampun hadir dengan wajah yang gundah…
Entah mengapa semuanya terasa sulit untuk dihadapi
Mungkinkah inilah jalan takdir yang telah tersurat untukku
Atau mungkin ini adalah cobaan dari-NYA?

RAPUH….
Ya seperti itulah aku di waktu kemarin. Entah mengapa aku begitu rapuh….???? Akupun tak tahu jawabannya. Hanya bisa menerima keadaan seperti ini tanpa berkata apapun. Kalaupun harus berkata, aku mesti berkata pada siapa? Rasanya aku ingin teriak sekeras – kerasnya. Tapi, aku tahu itu semua tak ada gunanya.
Semuanya telah berubah setelah kepindahanku disini, di makassar. Peristiwa yang pernah terjadi di beberapa bulan kemarin telah ku kubur dalam-dalam. Aku berharap semoga semuanya dapat berakhir dengan kebahagiaan.
Waktu semakin berlalu. Aku ingin mencoba memulai hidup yang lebih baik. Memori yang indah sekaligus terasa pahit beberapa bulan kemarin telah dikikis habis oleh waktu. Setelah beberapa bulan berada disini, semuanya terasa lebih baik. Arlen yang sempat hadir mengisi ruang hatiku, kini tak ada lagi tempat yang layak baginya di hatiku. Bahkan di sudut hatiku yang paling tekecil pun sudah tidak ada. Aku benar- benar telah melupakannya.
Semua aktivitas kuliahku berjalan dengan baik. Meskipun ada beberapa yang membuat pusing, tapi Alhamdulillah bisa teratasi. Banyak teman-teman baru yang hadir dalam mengisi hari-hariku. Kesibukanku membuatku semakin bersemangat. Pokoknya tak ada waktu kosong disetiap hari-hariku untuk mengingat arlen kembali.
Hingga sampai disuatu malam. Ketika itu aku sedang asyik menyelesaikan tugas-tugas kampus. Tiba –tiba terdengar nada yang tak asing lagi bagiku. Hm… nada itu adalah nada SMS dari Hpku. Dengan santai akupun membuka SMS itu. “Nomor baru” itulah kata pertama yang keluar dari bibirku. Karena penasaran akupun membalas SMS itu dengan menanyakan siapa dia sebenarnya. Kamu tahu apa jawaban dari SMS ku, ternyata dia adalah Arlen. Hah… sangat menyebalkan. Kenapa dia mesti mengirim SMS padaku lagi…???? Apa mungkin dia sudah lupa dengan apa yang dilakukannya padaku di beberapa bulan kemarin….???? Benar – benar ingin membuatku tertawa marah, benar–benar tak bisa terfikirkan olehku. Bagaimana bisa dia berani mengSMS ku dengan kata – kata basi seperti itu. Apa dia sudah lupa, untuk sekarang ini aku bukan wanita bodoh seperti apa yang dipikirkannya dulu…???? Aku seorang vian, tidak akan tergugah dengan kata-kata seperti itu lagi. Akupun tak membalas SMSnya lagi setelah aku tahu ternyata dia adalah arlen. Sebenarnya, bukan maksudku untuk ingin membalas dendam padanya, tapi aku hanya ingin melupakannya dengan caraku sendiri. Sudah cukup, kesedihan yang ku alami. Aku sudah tak percaya lagi padanya. Dan aku rasa tak ada yang perlu di maafkan, semuanya telah berakhir. Ya…. Berakhir.
Malam itu terasa menyebalkan. Kenapa aku mesti mandapatkan banyak nomor ponsel yang tak jelas. Sebenarnya sich aku tak memikirkannya. Tapi… aku takut nomor ponsel itu adalah nomor ponsel milik teman-temanku. Aku takut dibilang sombong oleh mereka setelah kepindahanku disini. Hah…. Ini semua disebabkan oleh rusaknya Hp pertamaku. Andai saja dia tidak rusak. Pasti semua ga’ bakalan seperti ini. Akhirnya mau tidak mau aku ladenin dech nomor-nomor itu.
Ada satu nomor, yang membuatku benar-benar naik darah. Aku nanyain baik- baik siapa dia, eh malah dia tidak mau beritahu jati dirinya. Menyebalkan tidak….???? Dan sampai sekarang pun dia masih tetep meghubungi ku tanpa identitas yang jelas. Hah… akupun tak memperdulikannya. Lagian siapapun yang mengenalku, entah secara langsung ataupaun tidak langsung. Bagiku mereka semua adalah sahabatku. So, semuanya bisa berjalan dengan baik.
Waktu pun semakin berlalu. Ada seseorang yang membuatku tertawa lepas kayak seperti dulu lagi. Meskipun saat ini aku masih menggantung cintanya, namun dia mau menunggu sampai akhirnya aku bisa menyayanginya. Meskipun pada kenyataanya, dia itu 3 tahun lebih muda dariku. Tapi,,, dia mampu mencintaiku apa adanya dan yang pastinya dia selalu membuatku tersenyum. Sampai sekarang pun… setiapa kali aku lagi boring sama tugas-tugasku, dia masih tetap menemaniku dengan suaranya yang lembut melalui komunikasi. Benar-benar menyenangkan. Terimakasih ya Allah… karena telah memberikan aku kebahagiaan melalui sosok dirinya.
Hm…. Semuanya masih tetap baik-baik saja. Dia masih tetap mengatakan cinta padaku dan masih tetap meyakinkanku bahwa dia akan tetap bertahan sampai akhir. Namun, waktulah yang akan menjawab semuanya. Aku sangat menyayanginya, meskipun pada kenyataannya kami belum berpacaran. Dia begitu berbeda dengan mantanku sebelumya. Memang aku masih menggantung cintanya. Aku hanya takut merasakan kekecawan yang sama seperti yang dilakukan arlen padaku. Aku percaya dia tak akan menyakitiku.
Entah apa yang terjadi, dia berubah tanpa ku tahu alasannya. Dia selalu diam ketika ku ajak bicara, tak pernah mengangkat telponku dan bahkan tak pernah memblas SMS-ke. Dan kini sekarang waktu telah menjawab semuanya. Dia tidak bisa menepati janjinya. Dia ingin hubungan kami berakhir. Aku sich fine ja, karena aku ngerasa aku tidak pacaran sama dia. Memang benar aku menganggapnya sebagai pacar 50%-ku. Dan akan mencapai 100% setelah aku udah menyandang gelar sarjana. Aku sadar 4 tahun itu adalah waktu yang lama. Sebenarnya aku hanya ingin meminta pembuktian dari dia, apakah dia bisa menepati janjinya atau tidak? Ternyata tidak.
Sebenarnya aku bingung, setelah dia mengatakan putus, malah dia bilang kalau itu semuanya hanyalah bercanda. Aku tak percaya, karena aku ngerasa dia mengatakannya dengan hatinya sendiri. Hah… sudahlah. Aku tak boleh terlalu larut dengan semua ini. Karena masih banyak hal yang mesti aku fikirkan selain masalah ini. Bukannya aku tak peduli, tapi apakah aku harus menangis dengan berakhirnya hubungan ini? Ataukah aku mesti memohon padanya untuk tidak mengakhiri hubungan kami? Itu semua tak akan ku lakukan. Aku mempunyai komitmen yang besar. Yang tentunya tidak boleh membuat aku lemah dan manja di depan laki-laki seperti dia.
Aku juga memahaminya. Mungkin dia tak sanggup menungguku selama itu. Tapi aku malah lebih kecewa karena ternyata dia mengingkari janji yang telah dia ucapkan padaku. Kalaupun pada akhirnya menjadi seperti ini, aku sudah mengikhlaskan semuanya. Aku juga mengerti setiap ada pertemuan pasti bakalan ada perpisahan. Biarlah dia menikmati masa remajanya dengan bahagia. Dan aku, aku juga akan menikamati aktivitas yang aku jalani saat ini. So, semuanya akan membaik. Aku harus bisa,,,,! Ada keluarga besarku di dunia ini yang membutuhkanku. Sebisa mungkin aku akan berjuang, agar kelak aku bisa membantu mereka keluar dari keterpurukan yang mereka alami saat ini. Tak ada yang membedakan mereka. Di mataku, mereka semua adalah keluarga besarku.
Good bye my boy friend 50 %. I hope you always happy.

Harapan Cintaku
Ketika mentari menyinari dunia…
Ku berharap ada secercah harapan cintaku tersinari juga
Namun ternyata sinar itu tak kunjung datang
Masa demi masa telah terurai….
Aku masih tetap seperti ini
Menjalani hidup yang ada di depan mata
Ketika mataku mulai meredup….
Hatiku tak berharap lagi…
Mentari itu malah datang memberikan sinarnya
Aku pun dengan tangan terbuka dan
Senyum yang bahagia menyambut kehadirannya
Harapan cinta itupun mulai ada….
Namun,,, disaat aku mulai berharap
Dia malah pergi meninggalkanku….
Kenapa mesti seperti ini?
Aku sangat menyayanginya…
Kini aku sadari,,,
Dia hanyalah bayangan sinar mentari
Yang tak sengaja singgah di hatiku
Dia hanya ingin menghancurkanku dengan serpihan cahayanya
Dia hanya ingin membuat hatiku meleleh dengan panasnya.
Aku tak menyesal bertemu dengannya
Yang aku sesali adalah dia telah membohongi dirinya sendiri
Dengan mengubar janji
Selamat tinggal mentariku……
Bawalah harapan cintaku dengan tenggelamya sinarmu dikala senja…

Random Posts

  • cerpen King Vs Queen ~ 04

    Ah lagi lagi saia telat, sama kayak tahun kemaren. Tapi gak papa deh, berhubung kemaren puasanya satu bulan, soo anggap aja lebarannya juga satu bulan (???),. Nah karena itu, saia sendiri Ana Merya selaku admin star night mengucapkan, Minal aidin wal fa izin, mohon maaf lahir dan batin…Oke, kalau begitu lanjut……..Sore itu Niken sedang menonton televisi di ruan tengah, tiba-tiba bel rumahnya terdengar, dengan sedikit lesu Niken malangkah mendekati pintu rumahnya. dan membuka pintunya, tampak di luar ada tiga orang cowok berada di depan rumahnya."Ada apa?" tanya Niken, dengan sedikit cuek tentunya, karena di depannya ada Gilang dan dua orang temannya yang nggax di kenal nya."Yaaaah cewek jadi-jadian yang muncul" kata Gilang pada temen-temennya sambil membuka topi yang tadi di kenakannya, tentu saja Niken kaget mendengarnya."Eh apa loe bilang… berani ea…" kata Niken dengan sebelnya."Siapa dia? cantik banget?" tanya temen Gilang.sebagian

  • Cerpen Teenlit “Dia {Nggak} Suka Aku?!! 2/2

    Sesuai yang di janjikan, Cerpen remaja "Dia {Nggak} suka aku" ending di bagain kedua aja. Karena emang cerpen yang satu ini cerpen selingan yang admin ketik pas lagi bingung nyari ide soal lanjutan dari cerpen cinta kenalkan aku pada cinta. Padahal ide ending udah ada, cuma ngerangkainya itu lho. Susaaaaah bangets. Ciuuuusssss..Nah, biar nggak cuap cuap nya nggak makin ngelantur mending langsung baca lanjutan di bawah aja deh. And untuk part sebelumnya bisa dicek disini.Cerpen Teenlit Dia {Nggak} Suka AkuCerpen remaja Cinta "Dia {Ngggak} suka aku?!!Tiada yang menduga, Fadlan yang sedari tadi melangkah tiba – tiba berhenti mendadak dan langsung berbalik. Rika yang tidak siap dengan kemungkinan itu langsung mengerem kakinya segera. Hingga kini hanya berjarak kurang dari dua centi, wajah Fadlan jelas berada tepat di hadapnnya. Membuat jantungnya terasa berhenti berdetak sebelum kemudian berdenyut dua kali lebih cepat dari biasanya. Akh, situasi ini….“Iya, tadi itu gue bantuin elo. Kenapa? Ada yang salah?” tanya Fadlan santai. Sama sekali tidak terpengaruh dengan dekatnya tubuh mereka. Rika segera mengambil inisiatif, menarik diri dengan cepat.“Ehem… Emang nggak ada yang salah,” sahut Rika cepat. “Cuma ada yang aneh. Kok tumben – tumbenan,” sambung Rika lagi.“Iya. Kok tumben ya?”Serius, tangan Rika gatel untuk menjitak kepala Fadlan saat itu juga. Apalagi dengan tampang polos dan sok nggak taunya itu. Huu….“Loe beneran pengen tau kenapa?” tanya Fadlan lagi. Kali ini sambil melangkah mendekat, dengan refleks Rika memundurkan langkahnya. Namun ternyata Fadlan tidak berhenti sampai disitu. Ketika Rika terus mundur, kakinya justru terus maju. Sampai sampai tubuh gadis itu mentok didinding dan tidak bisa mundur lagi.“Loe… loe mau apa?” tanya Rika gugup.Fadlan tersenyum misterius. Membuat Rika merinding melihatnya. “Tadi katanya loe pengen tau kenapa gue bantuin elo,” sahut Fadlan santai. Benar – benar berbanding balik dengan Rika yang kini kaget, deg – degan tak menentu. Bahkan Rika yakin kalau saat itu ia mengidap sakit jantung, pasti kini ia sudah terbaring pingsan.“Ya loe kalau mau jawab, jawab aja. Ngapain loe deket – deket?” Lagi lagi Fadlan tersenyum. Tak hanya itu, bahkan pria itu kini memajukan wajahnya, membuat Rika tanpa sadar menelan ludah karena keki. Tepat di samping telinganya pria itu berbisik lirih.“Karena gue pengen berdamai sama loe.”“Ya?!” teriak Rika kaget. Tangannya terulur mendorong tubuh Fadlan kuat – kuat yang ternyata tidak sekuat yang ia harapkan. Walau tetap ia berhasil menyingkirkan pria itu beberapa langkah di hadapannya.Masih shok, Rika mendadak merasa kesel . Apalagi saat melihat tawa lepas di wajah Fadlan sementara ia sendiri hampir terkena serangan jantung. Bahkan tanpa rasa bersalah sama sekali pria itu segera berlalu meninggalkan dirinya berdiri mematung sendiri. Sibuk menetralkan kembali detakan jantungnya.“Rika, loe kenapa?”Rika menoleh, tampak Andini, Icha dan Lauren berdiri disampingnya yang entah muncul dari mana. Seperti orang linglung, Rika menoleh kekiri dan kekanan. Ternyata sedari tadi ia masih berdiri sendirian.“Iya. Kayak orang kesambet aja. Mending kekantin yuk,” tambah Icha lagi. Tampa menunggu balasan dari Rika, dengan santai tangannya menyeret tubuh Rika untuk mengikuti langkahnya. Sementara Andini dan Lauren mengekor di belakang.“Loe kanapa si Rik? Kok diem aja dari tadi. Aneh banget,” komentar Lauren saat keemapatnya sudah duduk santai di salah satu meja kantin.“Gue lagi mimpi kali ya?”“Ha?” Andini, Lauren dan Icha saling pandang. Wah gaswat, jangan – jangan temannya beneran kesambet hantu penunggu sekolah. “Rika, ngucap donk. Ngucap. Sadar. Ini kita,” kata Lauren sambil menampar – nampar pipi Rika.“Ye.. enak aja. Emangnya gue ksambet,” kesel Rika sambil menepis tangan Lauren darinya. Walau tamparannya lirih, tetep aja perih. Kan pipinya halus. Xd“Ya elo si. Nakutin kita. Dari tadi diem aja. Giliran ngomong nggak nyambung blas. Ada apaan si?” tanya Icha kemudian.“Kalian pasti kaget kalau tau ini.”“Emang ada apaan?” Andini terlihat tidak sabar.“Fadlan bantuin gue bawa buku ke ruang guru.”“Biasa aja kali. Emang apa anehnya sih bantuin orang,” komentar Icha.“Ya nggak aneh kalau itu beneran orang. Ini Fadlan. And yang dia bantu itu gue,” kata Rika antusias. Bahkan tangannya sendiri ia tunjukan tepat kewajahnya. Membuat ketiga sahabatnya kembali saling pandang, beberapa saat kemudian barulah ketiganya mengangguk – angguk paham. Sepertinya apa yang di katakan Rika sedikit masuk akal. Secara sejak kapan Anjing dan kucing saling membantu. “Maksut loe? Cerita yang jelas donk,” kata Andini lagi.Untuk sejenak, Rika menghela nafas sebelum kemudian cerita itu meluncur dari bibirnya. Tanpa di kurangi sedikitpun walau memang ada yang ia tambahi disana sini.“Tuh kan. Apa gue bilang. Jangan – jangan bener lagi. Ntar hubungan kalian pasti jadi kayak yang di drama drama gitu. Benci jadi cinta. Yakin deh gue, nggak mungkin salah,” komentar Icha begitu begitu Rika menamatkan ceritanya.“Sekali lagi loe bawa – bawa drama, gue lempar loe pake sandal,” geram Rika. Icha hanya cengengesan.“Ha ha ha. Tapi denger ya Rika. Kalau sampai kedepannya doi lebih baik lagi. Loe harus percaya sama kita. Kalau dia ujung – ujung nya pasti suka sama loe?” “Oke!. Kita liat aja nanti!”⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Waktu terus berlalu. Apa yang teman – teman Rika katakan sepertinya benar – benar terjadi. Sikap Fadlan berubah 180 derajat dari sebelumnya. Kali ini pria itu benar – benar terlihat perhatian dan begitu baik. Bahkan tanpa di minta, setiap Rika dalam kesulitan ia selalu membantunya. Benar – benar modus yang layak untuk di curigai. Atas saran dari kedua sahabatnya, akhirnya Rika nekat mengajak Fadlan untuk ketemuan. Sengaja mencari tempat yang tidak terlalu mencolok, Rika menjadikan taman belakang sekolah menjadi tempat pilihannya. Sambil menunggu kemunculan Fadlan, Rika sibuk menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya. Aneh nggak ya kalau ia nanya duluan.Selang beberapa saat menunggu, akhirnya Fadlan muncul dihadapan. Melihat Fadlan yang kini duduk disampingnya, Rika mendadak merasa ragu. Sepertinya keyakinan yang sudah ia himpun tadi tiba – tiba menguap. Justru ia malah jadi salah tingkah sendiri."Oh ya, tadi katanya ada yang mau diomongin. Ada A̐ªP̤̈Αªª an?" tanya Fadlan setelah beberapa saat keduanya hanya terdiam.Rika tidak langsung menjawab, bahkan tanpa sadar ia mengigit bibirnya sendiri. Kebiasaan yang ia lakukan jika sedang berfikir."Loe kenapa si? Kok keliatan linglung gitu. Ada masalah? Ya udah, ngomong aja.""Aduh, gimana ya ngomongnya?" gumam Rika lirih. Fadlan masih menatapnya penasaran.Setelah terlebih dahulu menghela nafas untuk kesekian kalinya, Rika membalas tatapan Fadlan padanya sembari mulutnya berujar. "Jujur deh, sebenernya apa sih maksut koe?""Ya?" bukannya mengerti, kerutan bingung malah bertambah dikening Fadlan."Yah, gue tau kita udah kenal lama. Sejak SMP juga kita udah satu kelas. Tapi semua orang juga udah tau, kalau kita itu nggak pernah akur. Dimana pun kita berada, dulu pasti selalu ada masalah," terang Rika membuka kalimatnya, Fadlan masih terdiam. Hanya saja kepalanya mengangguk membenarkan walau ia masih belum sepenuhnya mengerti kemana arah pembicaraan ini akan dibawa."Nah, tapi anehnya. Sejak sebulan ini semua berubah. Loe tiba – tiba baik sama gue. Nggak pernah cari gara – gara lagi bahkan tak jarang loe malah bantuin gue. Sebenernya modus loe A̐ªP̤̈Αªª an si?" tembak Rika langsung.Fadlan terdiam. Benar – benar diam. Tidak menyangka akan langsung di tuding begitu. Saat matanya menatap mata bening Rika, jantungnya mendadak deg degan. Jelas terlihat salah tingkah."Oh itu. Sebenernya…. Gue….," Fadlan tampak ragu. Rika yang melihat perubahan sikapnya juga merasa was was. Jangan bilang kalau apa yang dikatakan teman temannya selama ini benar. Fadlan menyukainya. Oh TIDAK!!!."Gue…""Gue lupa kalau gue masih ada urusan. Kita ngobrolnya lain kali aja ya. Gue harus pergi sekarang," selesai berkata Rika langsung bangkit berdiri. Berlalu meninggalkan Fadlan tampa perlu menunggu tangapan pria itu sama sekali.⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ ⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ "Akh, bodoh – bodoh. Apa yang gue lakuin. Kenapa tadi gue malah kabur," rutuk Rika saat mengingat kejadian disekolah tadi."Tapi kalau gue nggak kabur, terus ternyata dugaan gue bener. Fadlan suka sama gue, terus gue harus gimana? Dia emang baik si, dan kalau diperhatiin dia juga keren. Tapi masa ia gue harus jadian sama dia. Emang gue suka sama dia?" pikir Rika lagi."Akh tau akkh. Gue bisa gila," gerutu Rika sambil merebahkan tubuhnya dikasur. Sepertinya lebih baik ia tidur siang. Siapa tau, setelah bangun nanti pikirannya bisa lebih jernih.Tidak tau berapa lama ia telah tertidur, yang jelas saat terbangun Rika merasa lebih plong. Sama haus juga. Sambil mengucek – ucek matanya yang masih terasa lengket ia bangkit berdiri. Berjalan dengan langkah ogah – ogahan untuk kedapur. Tengorokannya benar – benar terasa kering.Namun belum sempat kakinya menempati tempat yang dituju, Rika sudah dibuat berdiri mematung. Kini diruang tamu, selang beberapa langkah darinya tampak sosok yang sedang duduk santai yang juga sedang menatapnya tak bekedip."Fadlan?!" hanya satu kalimat itu yang berhasil melewati kerongkongan kering Rika. Bukan saja karena ia belum mendapatkan minum, tapi juga karena tak sengaja Rika mendapati bayangan dirinya dari balik kaca alemari yang ada di ruang tamu. Bayangan tentang betapa ancur penampilannya saat ini. Ya Tuhan. Ia kan baru bangun tidur. Bahkan belum cuci muka sama sekali.Fadlan tidak menjawab, hanya senyum kaku yang ia berikan. Sementara tangannya tampak mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya pria itu juga terlihat gugup."Nga…. Ngapain loe ada disini?" tanya Rika lagi. Sepertinya rasa penasaran yang ia rasakan lebih besar dari pada rasa malu yang ia punya."Gue…" Fadlan terlihat makin salah tingkah, membuat Rika makin curiga. Apalagi seumur – umur pria itu tidak pernah mampi ke rumahnya. Apakah itu karena…"Ya ampun kakak. Berantakan banget sih loe, malu – maluin banget. Kalau bangun tidur kan harusnya cuci muka dulu."Rika menoleh seiring dengan kalimat yang mampir ke gendang telinganya. Tampak wajah Chicy, adiknya yang baru muncul dari dapur dengan napan berisi minuman diatasnya."Sory ya kak, dia kakak gue," kata Chicy lagi. Tapi kalimatnya kali ini bukan ditujukan untuk Rika, melainkan untuk tamu yang masih mematung disana. Rika yang mendapati hal itu sedikit mengernyit. Memangnya adiknya kenal dengan Fadlan? Tapi sejak kapan? Perasaan pria itu tidak pernah muncul kerumahnya. Lagi pula ia kan tidak pernah satu sekolah dengan adiknya walau kini keduanya sama sama sudah di SMA. Hanya saja gadis itu masih kelas satu sementara ia sendiri sudah memasuki tahun akhir."Kak, Fadlan kenalin. Dia kakak gue," kata Chicy lagi sambil memberi isarat Rika agar mendekat. Saat kakaknya sudah ada disampingnya, gadis itu menambahkan. "Dan kak Rika, kenalin. Ini Fadlan. Pacar gue."Rika cengo. Matanya tampak berkedap – kedip dengan mulut yang terbuka tanpa suara. Ditatapnya wajah Chicy dan Fadlan bergantian, sementara dalam hati ia hanya mampu bergumam."Jadi Fadlan baik sama gue bukan karena dia naksir sama gue, tapi karena…" Jeda sesaat."Dia pacaran sama adik gue…."Ending….H̲̣̣̣̥α̩̩̩̩̥ά̲̣̥:Dн̣̣̣̝̤̥̇̇̇̈̊α̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊=Ḍ̥H̲̣̣̣̥̩̩̩̥ά̲̣̥α̩̩̩̥̇̇̇ά̲̣̥α̇̇̇=)) н̣̣̣̝̤̥̇̇̇̈̊α̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊=D . Endingnya ngegantung ya? Terkesan maksa. Atau malah Ъќ jelas. Ah bodoh amad deh. Adminya lagi galau. Lagian kayaknya cerpen oneshot ɑ̤̈̊Ƙυ̲̣̥ semuanya endingnya gitu. Yah namanya juga cerpen selingan ala ide dadakan yang bahkan ngetiknya aja pake ввм . Over all, °˚•✽• Ʈħάпƙ Ƴσц •✽•˚° 谢谢你({}) udah mampir.⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ With love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • Cerpen Cinta Romantis “Kenalkan Aku Pada Cinta” ~ 03

    Oke, Ide ceritannya dadakan, waktunya pengetikannya juga maksa. So kalau cerita nya rada maksa juga harap di maklumi aja yak?. Cerpen ini adalah lanjutan dari cerpen cinta romantis " Kenalkan aku pada cinta" part 2 kemaren. Abis, kalau di inget inget udah lama juga nggak di lanjutin ternyata. Soalnya gara gara pinguin V2 si. Jadi males di star night malah sok sok an bikin "cerpen remaja cinta 'Cinta ci penghujung harap'. Yang jelas apapun hasilnya, nikmatin aja lah. Mumpung masih mau nulis ini. ^_^Setelah merapikan poni rambutnya serta memastikan kucir kuda di rambutnya terikat kencang, tangan Astri terulur membuka laci meja riasnya. Dari kota persegi panjang itu ia temukan kaca mata yang selalu menemani kesehariannya di kampus. Setelah mengenakannya ia berbalik. Meraih tas, dan segera menuju ke kamar sebelah.sebagian

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 06 { Update }

    Masih penasaran dengan kalanjutan dari Serial Diera Diary?. Kalau jawabannya emang iya mending lanjut baca postingan berikut ini deh. Soalnya admin emang sengaja muncul dengan Cerita SMA Diera Diary ~ 06. Ngomong – ngomong tinggal satu part lagi lho ketemu sama yang namanya ending. #Cihuiy…Oh iya, selain cari tau soal kelanjutan ceritannya. Kali aja ada yang belum baca cerita sebelumnya. Mendingan baca dulu gih biar nggak bingung. And nomong – ngomong bisa langsung di baca disini. Cerita SMA Diera Diary ~ 05Cerita SMA Diera Diary ~ 06Sudah hampir seminggu berlalu, sepertinya Diera benar-benar menghindar dari melakukan kontak dengan Rian. Bahkan kesehariannya juga lebih banyak diem yang membuat temennya cemas.“Diera, loe kenapa sih? Akhir-akhir ini kita perhatiin loe kok kayaknya kebanyakan murung deh. Apa loe ada masalah?” Tanya Hera saat mereka ngumpul di kantin pas istirahat sekolah.“Nggak kok, gue baik-baik aja” elak Diera.“Kayaknya gue tau deh kenapa” ujar Lilly tiba-tiba sambil tersenyum.“Kenapa emang?” Anggun penasaran. Diera juga ia takut kalau Lilly tau soal ancamannya Andreani.“Loe pasti lagi bingung kan?” tebak Lilly lagi. Diera masih terdiam, tapi kemudian ia mengangguk pelan.“Emang Diera bingung kenapa li?” Narnia nggak sabar.“Biar gue tebak. Pasti saat ini loe bingung mau nerima Pasya jadi pacar loe atau nggak, ia kan?”“What?!” ujar Diera dan Hera kaget bersamaan.“Jadi Pasya udah nembak loe ra?” Anggun setengah nggak percaya.“Loe ngomong apa sih?” dalih Diera kesel.“Alah ngaku aja deh ma kita-kita. Gue tau kok kemaren sore loe jalan ma Pasya kan. Jujur aja deh?” kata Lilly lagi.“Emang sih. Tapi gue Cuma….”“Jadi kemaren loe jalan ama Pasya?” potong Narnia.Diera mengangguk membenarkan. Karena kemaren sore ia memang jalan bareng sama Pasya. Abis nya tu anak minta tolongnnya sama dia, tapi kan Cuma jalan doank nggak pake nembak segala, lagian dia tau kok Pasya sukanya sama siapa, tapi yang bikin heran kok Lilly bisa tau bahkan bisa menyimpulkan hal yang ngawur gitu.“Loe kok nggak cerita ma kita sih?” Hera terlihat kecewa.Diera jadi merasa nggak enak. Sementara temen-temennya terus mendesak. Tapi ia hanya terdiam, perhatiannya terusik sama seseorang yang baru saja berjalan melewati mejannya meninggalkan kantin.Yups. Ternyara dari tadi Rian duduk di meja yang nggak jauh darinya. Hanya saling membelakangi. Jadi Diera nggak nyadar kalau di kantin itu juga ada Rian dan pasti juga mendengar pembicaraan nya sama temen-temennya tadi.“Ayo donk ra. Loe kok gitu sih sama kita-kita,” desak Anggun.“Denger ya. Pasya tu nggak nembak gue, kemaren kita emang jalan bareng, tapi itu karena dia butuh bantuan gue, lagian Lilly kok bisa menyimpulkan hal konyol kayak gitu sih.”“Bantuin apa?” tanya Hera lagi.“Ya. Sayangnya gue nggak bisa cerita sama kalian sekarang,” balas Diera lagi.“Alah alasan. Bilang aja Pasya beneran nembak elo?” ledek Lilly lagi.“Nggak,” Diera ngotot.“Yakin….??” Lilly masih nggak percaya.“Ah tau deh.”Diera pergi keluar kantin meninggalkan temen-temennya yang masih kebingunan.Cerita SMA Diera Diary ~ 06Diera melepas mukenannya, dan kembali melipatnya. Kemudian segera di masukkan nya kembali kedalam tas. Ia melirik jam tangannya. Masih tersisa hampir setengah jam lagi pukul dua. Hari ini kan dia memang sengaja memutuskan untuk tidak pulang, abisnya ia males bolak-balik cape… apa lagi rumahnya memang lumayan jauh dari sekolah, mendingan ia tetap di sekelah aja deh.Begitu keluar dari mushola sekolah, Diera berniat untuk langsung ke perpus aja sendiRian. Sekalian mau cari resensi belajarnya, apalagi semua temen-temen deketnya pulang, memang sih tadi Narnia sempet menawari untuk ke rumahnya saja tapi ia tolak.Pas di beranda Diera nggak sengaja berpapasan sama Rian yang kebetulan juga baru mau keluar. Untuk kali ini Diera sama sekali nggak bisa menghindar untuk sejenak mereka beradu pandang. Tapi Diera buru-buru menalikannya sambil berlalu, di luar dugaan, Rian malah menghampirinya.“Mau kemana?” yanya Rian.“Gue?” Diera menunjuk dirinya sendiri. Seolah nggak percaya Rian mau menyapannya duluan.“Menurut loe?”“Gak kemana-mana sih. Palingan mau balik ke kelas,” balas Diera kemudian.“Loe udah makan siang? Kekantin yuk,” ajak Rian.“HE?!….” Diera berhenti berjalan, pandangannya tertuju kearah Rian dengan Heran.“Nggak deh, gue masih kenyang makan waktu istirahat tadi,” tolak Diera karena Rian masih menunggu jawabannya.“Mendingan gue langsung balik ke kelas aja deh, sorry ya gue jalan duluan,” sambung Diera lagi.“Kenapa? Loe nggak suka gue yang ngajak? Atau loe berharap kalau orang yang ngajak loe itu Pasya?” balas Rian ketus sambil berlalu meninggalkan Diera yang kaget dengan ucapannya.“Hei Rian, tunggu-tunggu-tunggu,” tahan Diera sambil mengejar dan berhenti tepat di depan Rian.“Maksud loe ngomong kayak gitu tadi apa sih?” Tanya Diera penasaran.Rian terdiam menatapnya sejenak, tapi kemudian kembali berlalu dari hadapan Diera yang masih menghadangnya. Diera ingin kembali mengejar ketika tiba-tiba ada yang memanggil namanya.Secara bersamaan Rian dan Diera menolah. Pasya?… Rian kembali menatap tajam kearah Diera sebelum akhirnya bener-bener berlalu pergi.“Hei, ke kantin yuk?” ajak Pasya yang kini ada di depannya mengantikan posisi Rian tadi.“Nggak deh. Gue masih kenyang” tolak Diera.“Udah tenang aja. Pokoknya loe harus ikut gue. Gue traktir deh, da yang masih ingin gue tanyain nih, masih masalah kemaren sih, lagian gue juga laper, tapi ogah makan sendiri,” tambah Pasya lagi.“Tapi….”0mongan Diera terputus karena Pasya terus memaksanya sambil menarik tangannya untuk ikut mengikutinya menuju kearah kantin. Diera nggak ada pilihan lain selain mengikutinya.Begitu menginjakkan kakinya di kantin, perhatian Diera langsung tertuju ke meja no 13. Ia bener-bener merasa nggak enak sama Rian yang terus menatapnya. Tapi Pasya segera mengajak nya untuk duduk di meja yang tak jauh dari meja Rian.“0h ya loe mau makan apa? Biar gue pesenin?” Tanya Pasya“E..gue…” Diera bingung.“Gimana kalau miso sama es rumput laut aja?” tawar Pasya.“Terserah loe aja deh,”“Kalau gitu loe tunggu di sini dulu ya. Biar gue pesenin,”Begitu Pasya pergi, Diera terus menunduk karena ia tau kalau Rian sama sekali tidak melepas pandangan darinya. Sampai kemudian ia di kejutkan akan keprgian Rian yang lewat di sampingnya meninggalkan kantin. Bahkan mengabaikan teriakan ke dua temen-temennya yang tadi duduk bersamaanya.“Kenapa tu orang. Tadi dia sendiri yang bilang laper banget. Lah sekarang mesen juga belom udah main ngacir aja,” guman temen-temennya Rian yang sempet di dengar Diera sehingga membuat nya makin merasa nggak enak.“Hei kok bengong?” teguran Pasya mengagetkannya.“Eh enggak kok,” Diera mencoba tersenyum.“Loe kok sendiri aja sih tadi. Temen-temen loe pada kemana?” Tanya Pasya beberapa saat kemudian.“Semuanya pulang.”“Hera juga?” tanya Pasya lagi.“Ye nia anak. Udah di bilang semuanya juga.”“He he… lho loe sendiri kenapa nggak pulang juga?”“Nggak ah. Males aja, lagian rumah gue kan jauh, capek aja kalau harus bolak-balik gitu.”“0…”“Bullet” balas Diera singkat.“Hemm… apanya?” Pasya Heran.“Katanya ‘0’ ya bullet.”“ha, ha, bisa aja loe.”Sejenak obrolan mereka terputus akan kedatangana pelayan kantin yang mengantarkan pesanannya. Sambil menikmati hidangan sekali-kali mereka masih keasyikan ngobrol ngalor ngidul.Cerita SMA Diera Diary ~ 06Keesokan harinya, Diera sengaja memisahkan diri dari temen-temennya. Ia segera melangkah kan kaki menuju taman belakang sekolah karena tadi ia nggak sengaja melihat bayangan Rian yang menuju kesana sambil menenteng buku.“Pasti tu orang duduk di bawah pohon jambu lagi deh, kayak biasanya” batin Diera sendiri.Dan bener saja. Rian tampak asyik duduk di sana sambil baca buku. Diera ragu untuk menghampirinya, memang sih ia masih merasa nggak enak soal kejadian kemaren. Tapi kan ia juga nggak tau ntar mau ngomong apa sama Rian.“Apa hobby loe emang ngintipin gue diem-diem ya?”Diera kaget nggak nyangka kalau Rian kini sudah ada di depannya.“Eh anu. Nggak kok, gue tadi nggak sengaja lewat sini,” Diera jadi salting.“0h ya? Kebetulan banget kayaknya,” ledek Rian.“Y,a udah lah kalau loe nggak suka” Diera siap balik kanan tapi ia kaget karena justru Rian malah menahannya dengan cara menarik tangannya.“Jangan datang dan pergi sesuka hati loe, itu nggak baik.”Kata-kata Rian membuat Diera kaget. Maksudnya apa?“Duduk dulu yuk” ajak Rian tanpa melepas pegangannya dan kembali berjalan ke bangku di bawah pohon jambu tempatnya tadu duduk. Diera terpaksa manut. Abis ia bingung nggak tau harus gimana lagi.“Loe mau ngomong apa?” Tanya Rian setelah beberapa saat mereka terdiam.“E gue…” Diera masih ragu.“Kenapa?” desak Rian.“Ah ya, gue kesini mau ngembaliin ini. Sorry kelamaan,” Diera mengeluarkan jaket dari dalam tas yang tadi di bawannya.“0…” Rian mengambil jaketnya.“Bullet” ujar Diera singkat.“Maksudnya?” Rian Heran.“ya 0 nya lah, kan bullet,” balas Diera lagi sambil tersenyum, tak urung Rian ikut tersenyum juga.“Emm, makasaih ya,” kata Diera lagi. Rian hanya mengangguk, sejenak mereka kembali terdiam sampai kemudian Diera berdiri siap pamit pergi.“Jadi loe kesini Cuma mau balikin ni jaket aja?”Diera berbalik, nggak jadi pergi.“Maksud loe?” Tanya Diera Heran, tapi Rian diem saja bahkan perhatiannya malah beralih kerah buku yang tadi di bacanya.“Emang tadi nya loe piker gue kesini mau ngapain?” Tanya Diera yang masih penasaran sambil kembali duduk di samping Rian.“Nggak… tadinya gue pikir ada yang mau loe sampein ama gue, tapi kalau emang nggak ada ya udah lah. Mendingan buruan pergi aja deh sana loe,” balas Rian tanpa menoleh.“Sebenarnya emang ada sih,” guman Diera lirih sambil berbalik pergi.“Kalau emang ada kok langsung ngacir?”“HE?!” Diera kaget, nggak nyangka Rian mendengar gumannannya tadi.“Atau loe takut ada yang ngeliat kita?” sindir Rian lagi. Dan ia juga kaget karena Diera malah mengangguk membenarkan. Sementara Diera sendiri bingung dari mana Rian tau kalau ia takut smaa ancaman anderani.Lama Rian menatap Diera yang masih berdiri mematung sampai akhirnya ia sendiri yang memutuskan pergi.“Eh ya, loe mau kenama?” tahan Diera.“Balik kekelas,” balas Rian cuek.“Tapi gue kan belom ngomong.”“Ya udah kalau mau ngomong- ngomong aja cepetan. Udah gerah gue.”Diera kembali terdiam karena Rian terus menatapnya.“Eh…” Diera makin salting “Gue…”“Rian!!!”Ucapan Diera terputus oleh teriakan seseorang yang berlari menuju kearah mereka.“Ada apa ndre?” Tanya Rian begitu temennya yang tak lain adalah Andre mendekat.“Ada yang pengen gue omongin nih ma loe.” balas Andre yang masih ngos-ngosan.“Sekarang?” Tanya Rian lagi. Andre langsung mengangguk.“Mau ngomong apa?”“Loe bisa ikut gue bentar nggak?” Andre agak ragu-ragu ngomong karena melihat Diera masih ada disana.“Ya udah yuks.”“Sorry ya ra, kalau gue ngeganggu. Tapi Rian nya gue pinjem dulu, tenang. Gue Cuma bentar kok,” kata Andre sebelum pergi.“Nggak papa kok nyantai aja lagi.” balas Diera sambil tersenyum.Diera terus menatap kepergian keduannya sampai menghilang dari pandangannya. Ia juga bersiap untuk beranjak pegi ketika matanya mengangkap buku ‘ku tunggu kamu di pelaminan’ karyanya ‘jon hariyadi’ yang tergeletak di sampingnya. Sepertinya itu buku yang di baca sama Rian tadi deh. Dan ketinggalan karena Andre mengajaknya terburu-buru.Diera membolak balik setiap halamannya. Kayaknya seru juga. Ia kembali duduk dan keasyikan membaca sehingga ia tidak menyadari kehadiran Andreani dan kelima temennya yang kini sudah ada di depannya yang telah memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.“Ternyata loe sama sekali nggak ndenger omongan gue kamaren ya?”Diera kaget, dan langsung menoleh Andreani.“Ya ini gue. Kenapa? Kaget ha?!”“Andreani gue Cuma…”“Cuma apa ha?!” bentak Andreani sambil mendorong tubuh Diera sebelum gadis tersebut sempet menyelesaikan ucapannya. Tapi untunglah Diera nggak sempai jatuh karean ada yang menahan tubuhnya dari belakang. Semuannya kaget karena orang tersebut adalah Rian.“Apa-apaan ne!” bentak Rian ke Andreani cs.“Rian jangan salah paham dulu, gue Cuma mau kasi pelajaran buat cewek nggak tau diri ini” terang Andreani sambil menuding ke wajah Diera yang masih menunduk.“Cewek nggak tau diri? Maksudnya?” Rian Heran.Diera menatap Andreani dengan tatapan memohon agar tuh orang nggak ngomong macem-macem.“Ia. Loe tau nggak sih kalau dia…”“Andreani cukup!!” potong Diera.“Kenapa? Biar gue ngomong. Kayaknya Rian juga harus tau deh,” balas Andreani lagi.Rian semakin Heran jadinya.“Sebenarnya ada apa sih?’“Nggak ada apa-apa, yuk kita pergi.” ajak Diera sambil menarik Rian pergi.Tapi Angela menghalangi.“Ya udah. Gue juga pengen tau sebenarnya ada apa?” Rian akhirnya ngalah.“Sekarang loe mau ngomong apa? Cepetan,” Tanya Rian ke Andreani sambil menatap tajam Diera yang udah lemes.“Loe beneran mau tau?”“Nggak usah muter-muter. To the point aja deh.” Rian nggak sabar.“Diera suka sama loe” ujar Andreani enteng. Diera kaget. Andreani bener-bener mambocorkan rahasianya.“Itu doang?” ekspresi Rian yang cukup cuek bener-bener di luar dugaan semuannya.“Loe kok nyantai gitu sih?” angela nggak percaya.“Lho emangnya kenapa kalau Diera suka sama gue? Gue juga udah tau kok, tapi… emmm, bukannya kalian semua juga suka kan sama gue?” balas Rian nyantai. Andreani cs kehabisan kata-kata.“Loe udah tau tapi ngediemin aja dia deket deket ama elo?” Andreani masih nggak percaya.“Jangan bilang kalau loe juga suka sama dia?” tambah angela.“Kalau ia trus kenapa? Emang gue juga suka sama dia kok. Kalian keberatan?” sahut Rian nyantai.“Rian loe?!” tunjuk Andreani yang akhirnya milih pergi di ikuti temen-temennya. Rian menoleh ke sampingnya menatap Diera yang sama sekali tidak melepas pandangan darinya. Kayaknya dia masih nggak percaya deh ma hal barusan yang di dengarnya.“Maksud loe tadi ngomong kayak gitu apa sih?” Tanya Diera.“Yang mana?” Rian pura-pura lupa.Tapi Diera langsung melotot manatapnya.“0 yang itu. Kalau gue bilang gue suka sama loe?”Diera mengangguk.“Lho emangnya ada yang salah?” Rian santai.“Ya iya lah. Maksudnya apa? Loe nembak gue?”“Emangnya loe nggak suka?” Rian balik masih dengan gayanya yang cuek.“Jelas aja gue nggak suka,” teriak Diera sepontan.Kali ini gentian Rian yang kaget plus syok.“Maksudnya loe nolak gue?” Rian masih nggak yakin sama pendengarannya barusan. Diera mengangguk mantap.“Sentu saja. Soalnya gue…”“Kenapa?” potong Rian sebelum Diera menyelesaikan ucapannya. Rasa kecewa jelas terpancar dari wajahnya.“Apa karena…” Rian tidak meneruskan ucapannya. Perhatiannya tertuju kearah Pasya yang berdiri tak jauh di belakang Diera. Sepertinya Pasya sudah lama berada di sana karena penasaran Diera berbalik.“Pasya?!” Diera kaget.“0 jadi kalian berdua udah jadian?” Tanya Pasya Heran tanpa memperdulukan ekspresi Diera yang masih kaget menyadari kehadirannya.“Nggak!”” bantah Diera cepat. Rian hanya terdiam menanggapinya.“Lho tadi bukannya Rian udah nembak loe ya. Emang loe tolak. Kenapa?” Tanya Pasya keDiera.“Loe masih berani Tanya kenapa?” sindir Rian. Diera diem aja mendengarnya, sementara Pasya malah bingung. Nggak ngerti apa maksud Rian ngomong kayak gitu sampai akhirnya Rian memilih berbalik pergi.“Eh ra. Bukan karena gue kan?” Tanya Pasya ke Diera.“Ya bukan lah. Nggak da hubungannya ma loe. Lagian loe kan sukannya sama Hera. Tadi gue Cuma nggak terima aja. Abis masa dia nembak guenya kayak gitu. Nggak ada romantis nya dikit,” sahut Diera sambil tersenyum dan sengaja mengeraskan volume suaranya.Sementara itu Rian langsung menghentikan langkahnya.“0h kirain… ya udah, loe ikut gue yuk. Projek kita belom selesai ne. Gue kan belom jadian ma Hera. Lagian loe kan udah janji mak comblang buat gue,” balas Pasya tersenyum dan sepertinya ia juga sengaja mengeraaskan pembicaraannya karena ia tau saat ini Rian pasti masih menguping pembicaraan mereka berdua.Rian berbalik. Tapi sayang Pasya udah duluan membawa Diera pergi sambil tersenyum puas karena berhasil ngerjain Rian.Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 07~ With Love ~ Ana Merya ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*