Cerpen Cinta “Dalam Diam Mencintaimu” 02/04

#EditVersion. Oke guys, acara edit mengedit masih berlanjut. Masih seputar kisah cinta si Irma bareng si Rey yang di bungkus dalam cerpen dalam diam mencintaimu. Semoga aja kalian pada suka. Sekedar info, selain cerpen Requesan, cerpen ini juga kado ulang tahun untuk tu cewek. :D. Okelah, untuk yang penasaran sama kelanjutannya bisa langsung cek ke bawah. Untuk yang penasaran sama cerita sebelumnya bisa dicek disini.

Dalam Diam Mencintaimu
Dalam Diam Mencintaimu

Setelah hampir separuh jalan menuju kampus, Rey menghentikan motornya. Lagi – lagi ia menghembuskan nafas berat. Setelah berpikir untuk sejenak, ia kembali membalikan arah motornya. Tujuannya pasti. Halte bus yang tak jauh dari rumah. Walau kesel namun ia sadar, seumur – umur ia tidak pernah membiarkan Irma pergi kekampus sendirian.
Sampai di halte Rey merasa makin kesel sekaligus kecewa karena ternyata bis sudah berlalu. Memang belum jauh si, tapi mustahil ia mengejarnya hanya untuk meminta Irma agar pergi bersamanya. Memang alasan apa yang bisa ia pakai jika gadis itu menanyakannya. Akhirnya ia kembali melajukan motor kearah kampus, sengaja mengebut untuk mendahului bus itu. Perduli amat dengan Vhany, toh kemaren juga hanya basa – basi doank. Tadi juga ia hanya berniat untuk mengetes reaksi Irma saja.
Sesampainya di kampus, Rey segera melangkah kearah gerbang sambil terus berpikir. Kira – kira nanti ia harus menjawab apa jika Irma bertanya tentang Vhany. Dan belum sempat ia menemukan jawabannya, bus yang ditunggu muncul dihadapan.
Sampai bus kembali berjalan Rey masih tak menemukan sosok Irma diantara para penumpangnya. Tiba – tiba ia merasakan firasat buruk. Dengan cepat di keluarkannya hape dari saku. Menekan tombol nomor 1, panggilan cepat yang sengaja ia seting untuk gadis itu.
“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau…..”
Rey segera menekan tombol merah saat mendengar suara operator sebagai balasannya. Pikirannya makin kusut. Ya tuhan, kemana perginya anak itu?.
*** Dalam diam mencintaimu ***
Tak tau mau kemana, akhirnya Irma menghentikan langkahnya. Pikirannya kusut, sampai kemudian sebuah ide terlintas di kepala. Tanpa pikir panjang lagi segera di keluarkannya hanphond dari dalam saku. Begitu melihat id yang di cari, ia langsung menekan tombol calling. Semenit kemudian ia mematikan panggilan dan langsung menghentikan taksi yang lewat. Namun bukannya kekampus, taman kota menjadi pilihannya.
“Kenapa si gue harus berurusan lagi sama masalah ‘cinta’ yang bikin ribet?”
“Lagi? Maksut loe?” tanya Irma saat mendengar nada mengeluh dari mulut Fadly. Sepupu nya yang sengaja ia ‘paksa’ untuk menghibur hati yang galau.
Fady tidak langsung menjawab. Namun kepalanya mengangguk membenarkan. Tangan dengan santai memainkan ‘kembang sepatu’ yang ia petik sembarangan dari pohon yang tumbuh terawat di taman kota. Tempat yang kini di jadikan ajang curhat oleh Irma yang nekat bolos kuliah.
“Kemaren temen gue waktu masih SMA juga bingung soal kisah cintanya. Namanya Rangga, udah jelas – jelas dia cinta sama pacarnya. Eh malah kerena mantan cewek yang di suka muncul lagi dia jadi galau. Untung aja kisahnya happy ending. La sekarang loe juga sama. Udah jelas – jelas loe katanya suka sama sahabat sekaligus tetangga loe, eh malah di ‘jodohin’ sama temen loe sendiri. Kalau memang niat bunuh diri kenapa gak loncat dari tebing aja si?”
“Sialan loe,” gerut Irma kesel. “Yang bilang gue pengen bunuh diri siapa? Lagian nie ya, masa ia harus gue yang ngomong duluan kalau gue suka. Mending kalau dia juga suka ma gue, la kalau enggak? Yang ada nie ya, bukannya malah happy ending justru hubungan kita malah jadi berantakan. Hu. Ogah deh."
“Terus sekarang maunya apa?” tanya Fadly lagi.“Tau… hibur gue donk. Lagi galau nie. Kira – kira obat galau apa ya?” tanya Irma lagi.
“Baygon cair." #Ini Beneran Saran dari oma kan?. -,-'
“Pletak”
Sebuah jitakan mendarat telak di kepala Fadly atas balasan saran ngawurnya.
“Iya. Kalau minum baygon, galau memang menghilang, tapi nyawa juga melayang."
“Ha ha ha, itu pinter….” Fadly tergelak. “Lagian loe pake galau segala. Kayak manusia aja,” sambung Fadly terdengar mengerutu.
“Gue emang manusia,” geram Irma makin gondok.
Emosi bener deh ngadepin nie anak satu. Tiba – tiba ia jadi merasa menyesal minta di temani dia. Tau gini mendingan ia minta temenin Vieta aja kali ya. Walau tu anak polosnya udah kebangetan tapi paling nggak dia kalau ngomong gak nyelekit.
“Kalau loe emang manusia berlakulah layaknya manusia," nasehat Fadly lirih.
“ Maksudnya?”
“Dengar Irma. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, itu memang bener. Tapi paling nggak berusahalah untuk mendapatkannya. Jangan terlalu cepat mengalah, apa lagi terburu – buru menentukan akhirnya yang jelas – jelas belum kita ketahui,” terang Fadly, kali ini dengan tampang serius.
Irma terdiam. Mencoba mencerna maksud dari ucapan sepupunya barusan.
“Tumben loe pinter."
“Pletak”
“Membalas itu selalu lebih baik dari pada tidak ada balasannya,” kata Fadly cepat sebelum Irma sempat protes karena jitakan yang mendarat di kepalanya.
“Ya…. sekali-kali ngalah sama cewek kenapa si. Astaga, loe kan cowok."
“Gue emang cowok. Yang bilang gue banci kan cuma elo. So, kalo sama loe gue belaga jadi banci aja deh,” balas Fadly dengan santainya. Membuat Irma hanya mampu melongo tanpa bersuara. Ini orang beneran ajaib.
"Oh ya, loe katanya galau kan? Ya sudah, hari ini gue jadi sepupu yang baik deh. Kita jalan – jalan yuk. Suntuk juga disini mulu. Lagian gue juga udah lama nggak balik kesini. Kangen juga sama suasananya," ajak Fadly beberapa saat kemudian.
Sejenak Irma berpikir. Sepertinya itu ide bagus. Terlebih juga ia sudah kadung membolos. Akhirnya tanpa pikir panjang ia segera menyetujui saran Fadly barusan. Setelah puas jalan – jalan, tau – tau hari sudah sore. Saatnya Fadly untuk segera mengantarnya kerumah.
Begitu Fadly pergi, Irma berniat untuk segera melangkah masuk kerumah. Sedikit banyak pikirannya sudah mulai plong. Ternyata pada akhirnya Fadly memang bisa menghibur. Namun belum juga kakinya menginjakan beranda rumah, sebuah teriakan menghentikan langkahnya.
“Rey? Kenapa?” tanya Irma heran saat mendapati Rey yang berdiri di depan gerbang. Tangannya segera mengisaratkan pria itu untuk mendekat.
“Loe kemana aja? Kenapa hari ini bolos? Terus tadi yang nganterin loe siapa?” pertanyaan memberondong meluncur dari mulut Rey.
Untuk sejenak Irma terdiam. Kejadian tadi pagi kembali membayang di ingatannya. Apalagi saat ia tau kalau Rey dan Vhany… entah lah, tiba – tiba moodnya kembali down. Setelah terlebih dahulu menghela nafas ia berujar singkat.
“Bukan urusan loe kan?"
Selesai berkata Irma langsung berniat melangkah masuk, tapi tangan Rey sudah terlebih dahulu mencekalnya. Irma berusaha untuk melepaskan, tapi sepertinya tenaganya tidak sampai setengahnya dibandingkan tenaga Rey. Akhirnya Irma lebih memutuskan untuk menyerah.
“Loe kenapa si?” tanya Irma dengan nada lelah.
“Justru elo yang kenapa?” balas Rey balik.
“Oke, kayaknya gue kecapean setelah seharian ini abis jalan – jalan. Jadi sekarang gue pengen istirahat dulu. Jadi gue harap loe bisa ngerti kan?"
Mendengar ucapan dingin Irma barusan, gengaman Rey langsung terlepas. Memanfaatkan moment tersebut, Irma segera berlalu.
Setelah terdiam untuk sejenak Rey langsung berbalik ke rumahnya. Tiba – tiba saja ia merasa sangat ingin marah. Setelah seharian penuh ia mencemaskan gadis itu dengan pikiran – pikiran konyolnya ternyata dia justru saat itu sedang bersenang – senang. Astaga. Ternyata ia benar – benar bodoh.
Sementara Irma sendiri menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Menyesal dalam hati atas apa yang sudah ia lakukan barusan. Kenapa ia bisa bersikap dingin seperti itu? Setelah berpikir untuk sejenak ia segera melangkah keluar. Ia harus meminta maaf pada Rey. Ia benar – benar tidak ingin hubungan mereka semakin memburuk. Namun sayang, saat ia keluar ia sudah tidak mendapati sosok sahabatnya di situ. Akhirnya dengan lemas ia kembali melangkah masuk kerumah.Keesokan harinya, Irma segaja bersiap – siap lebih pagi dari biasanya. Setelah yakin kalau penampilannya oke, gadis itu duduk di bawah jambu depan rumah, tempat biasa dimana ia menunggu kemunculan Rey di depannya.
Sekali – kali Irma melirik jam yang melingkar di tangannya. Motor Rey masih terparkir di halaman. Itu artinya tu anak belom pergi. Tapi masalahnya, hari ini dia menjemput Vhany lagi nggak ya? Semoga saja tidak.
Saat ia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri pintu gerbang depan rumahnya terbuka. Tampaklah Rey dengan motornya yang melangkah keluar dan berhenti tepat di hadapannya.
“Rey, hari ini kita pergi bareng nggak? Atau loe mau menjemput….”
“Gue nggak bareng sama siapa – siapa. Kalau loe memang mau bareng sama gue, ya sudah ayo naik,” potong Rey cepat.
Walau merasa serba salah saat mendapati nada bicara Rey yang terasa aneh dalam pendengarannya namun tak urung Irma manut. Segera duduk di belakang Rey sebelum kemudian motor itu kembali melaju.
“Ehem, Van. Loe besok ada acara nggak?” tanya Irma mencoba membuka pembicaraan.
“Belum tau,” balas Rey singkat.
Irma kembali terdiam. Mulutnya terbuka untuk berkata namun kembali tertutup. Tiba – tiba ia merasa ragu.
“Kenapa?” tanya Rey beberapa saat kemudian.
“O…. Nggak kok. Gue Cuma nanya aja."
Rey juga diam. Sesekali ia melirik kearah Irma dari kaca spion. Dalam diam ia juga merasa bersalah. Ada apa dengan mereka , kenapa jadi terasa seperti orang asing begini?
“Oh ya, entar siang loe pulang bareng gue nggak?” tanya Rey begitu mereka sampai di halaman Kampus.
“Entar siang, kayaknya loe bisa pulang duluan deh. Soalnya gue ada urusan dikit sama si Vieta."
“Vieta?” tanya Rey dengan kening berkerut.
“Iya, temen gue. Yang pake kacamata itu. Masa loe nggak tau."
“O…. Dia, gue tau kok. Ya udah kalau gitu. Gue duluan,” pamit Rey sambil melangkah ke kelasnya.
“E… Van!”
Rey segera berbalik. Menatap heran kearah Irma.
“Besok loe masuk berapa mata kuliah?” tanya Irma lagi.
“Tiga, kenapa?”
“O…. Nggak papa kok. Cuma nanya aja. Ya sudah, loe duluan deh."
Rey hanya mampu angkat bahu. Walau sedikit heran tapi ia tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut. Moodnya belum seratus persen balik. Sementara Irma sendiri juga segera berbalik menunju kekelasnya. Saat melihat segerombolan (???) teman – temannya yang sedang mengosip ria, tiba – tiba saja sebuah ide jahil terlintas di kepalanya. Sembuah senyum samar terukir di bibirnya saat mengingat kejadian di ruang kesehatan kemaren. Kayaknya ini saat yang tepat untuk melakukan pembalasan. Dengan mantap di hampirinya anak-anak itu. Sepuluh menit kemudian barulah ia benar – benar berlalu pergi menunju kekelas dengan senyum puas. Erwin, MAMPUS LOE!!!.
Next To Cerpen Dalam Diam Mencintaimu Part 03
Detail Cerpen

  • Judul Cerpen : Dalam Diam Mencintaimu
  • Nama Penulis : Ana Merya
  • Part : 01 / 04
  • Status : Finish
  • Ide cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnya
  • Panjang cerita : 1.570 kata
  • Genre : Remaja

Next : || ||

Random Posts

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 02″

    All, udah baca cerpen pupus belom?. Kalau belom baca dulu gih di cerita pendek "Pupus" . Bukan apa cuma sebagai pengingat aja, Vionica disini adalah orang yang sama. So, buat yang penasaran gimana kelanjutan dari cerpen Take My heart bagian kedua ini, bisa langsung baca ke bawah. Sama satu lagi dink, kali aja ada yang belum baca, part satunya ada disini. Happy reading….Cerpen take my heart"Hufh…"Untuk kesekian kalinya Vio menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Menatap gedung yang menjulang di hadapannya dengan tatapan gamang. Merasa dirinya benar – benar pengecut. Demi menjauhi dan menghilangkan rasa pada Harry, ia nekat pindah kampus. Konyol!Tapi memangnya siapa yang bisa mendustai hati? Berpura – pura tegar atau sok tertawa padahal hati terluka? Dia tidak sekuat itu! Menurutnya menghindar bukan hal yang buruk untuk di lakukan. Setelah memantapkan hati ia segera melangkah masuk halaman kampus. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya ia sampai di ruangan dosen. Ya biasalah, harus menjalani prosedur sebagai formalitas mahasiswi baru. Begitu selesai ia segera melangkah keluar. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Ternyata semuanya tidak sesulit yang ia bayangkan. Mulai besok ia sudah bisa melakukan kegiatan belajar mengajar di fakultas itu.Begitu keluar Ruangan dosen, langkah Vio terhenti. Matanya terpaku pada keempat mahasiswa yang tak jauh darinya yang kini juga sedang menatapnya. Ayolah, memangnya penampilannya aneh ya? Atau terdapat jerawat di wajahnya? Kenapa mereka sampai menatapnya seintens itu?"Ehem." sedikit berdehem, Vio segera melangkah melewati mereka. Makin salting saat tau pria yang tidak ia ketahui namanya masih terus menatapnya tanpa berkedip. Astaga, keluhnya dalam hati."Hai..""He?" kening Vio berkerut, sama sekali tidak menyangka akan di sapa mereka."Kali ini loe benar – benar beruntung Van. Tapi kita liat aja ntar, apa keberuntungan itu akan terus berpihak sama loe."Walau lirih, samar Vio masih mampu menangkap suara bisikan oleh seseorang yang tidak ia ketahui namanya pada seseorang lagi yang juga masih tidak ia ketahui namanya."Boleh kenalan nggak? Gue Ivan," kata cowok yang katanya bernama Ivan itu sambil menyodorkan tangannya. Vio hanya melirik sekilas. Mendadak merasa takut. Ayolah, secara di tv – tv kan banyak tuh kabar heboh soal berandalan di kampus."Kalau Gue Renold.""Gue Andra.""Aldy."Vio hanya mengedipkan mata bingung. Sementara Ivan melirik kesel kearah teman – temannya. Uluran tangannya aja belum di sambut kenapa mereka ikut – ikutan. Lagi pula, yang mau taruhan siapa si? Gerutnya sebel."Loe mahasiswi baru ya?" tanya Ivan lagi sambil menarik kembali uluran tangannya karena vio hanya menatap tanpa terlihat tanda tanda akan menyambutnya."O.. Jadi loe mahasiswa lama?" balas Vio lirih."Bhuahaummm… .." Andre cepat – cepat menoleh kearah lain. Mencoba menahan diri untuk tidak langsung ngakak di tempat. Mahasiswa lama? Kenapa kedengarannya janggal sekali ya?"Ehem.." Ivan sedikit berdehem. Mendadak mati gaya. "Oh ya, Loe belom nyebutin nama loe," Ivan mengingatkan."Dan gue sama sekali tidak tertarik untuk menyebutkannya. Maaf, kalau gitu gue permisi dulu," balas Vio ringan sebelum kemudian berbalik pergi tanpa menoleh lagi.Untuk sejenak Ivan bengong. Seumur hidupnya ini untuk pertama kali ia di cuekin. Seumur – umur baru kali ini ada orang yang menolak untuk di ajak kenalan dengannya. Dan begitu menoleh."Kenapa kalian mandangin gue kayak gitu?" tanya Ivan heran saat mendapati tatapan aneh ketiga temannya."Gue mendadak ragu kalau loe beneran playboy," Kata Renold."Dan gue nggak yakin kalau loe bisa naklukin dia," tambah Aldy."Kali ini gue optimis kita bakal menang dan loe pasti kalah," Andre menimpali."Eits, tunggu dulu. Ini terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Kita liat saja nanti. Yang jelas belum ada sejarahnya seorang Ivan kalah taruhan," tandas Ivan penuh penekanan. Kali ini ketiga temannya hanya angkat bahu.Cerpen Remaja Terbaru " Take My Heart ~ 02""Dasar Ivan Brengsek."Langkah Vio mendadak terhenti mendengar teriakan yang baru saja hinggap di telinganya. Ivan? Kenapa nama itu seperti tidak asing ya. Tidak bermaksud menguping hanya saja merasa mendadak penasaran Vio menoleh. Berjalan kearah asal suara. Mengintip dari balik tembok yang menghadap ke pekarangan kampus dimana tampak tiga orang cewek yang tidak ia ketahui siapa sedang duduk disana."Sudahlah Laura. Lupakan saja makhluk tak bertanggung jawab itu."Cewek yang di panggil Laura menoleh. Sekilas Vio melihat raut sembab di wajahnya."Lupakan? Tidak akan semudah itu!""Terus loe mau ngapain?""Gue nggak akan membiarkan diri gue di permainkan seperti ini. Kalian bayangin. Gue, Idola di kampus kita di jadikan bahan taruhan oleh si playboy brengsek itu. Dipermalukan didepan semua anak – anak. Loe pikir gue akan diam aja? Nggak! Gue akan pastikan dia terima akibatnya," dendam Laura."Maksut loe?"Dan kalimat yang meluncur dari mulut gadis yang di pangil Laura selanjutnya benar – benar membuat Vio terlonjak kaget. Mendadak menyesal telah mencuri dengar pembicaraan yang bukan menjadi urusannya. Dengan hati – hati takut kehadirannya di ketahui oleh ketiga makhluk itu, selangkah demi selangkah Vio bergerak mundur.Begitu kelas berakhir, dengan angkuhnya Ivan melangkah keluar kelas diikuti ketiga sahabat karibnya. Tatapan dan decakan kagum serta tatapan penuh minat dari lawan jenis masih saja ia temui mengikuti jejak kakinya melangkah. Walau imagenya benar – benar buruk. Terkenal sebagai playboy kelas kakap namun tetap saja fansnya bejibun. Tak heran si, dengan ketampanan serta kekayaan diatas rata – rata yang di miliknya sepertinya sudah lebih dari cukup untuk menutupi sejuta kekurangannya.Sampai di pelataran parkir Ivan segera mengenakan helm di kepalanya. Tak lupa bertos ria bersama sahabatnya sebelum kemudian melesat pergi mengendarai motor kesayangannya. Melaju pulang kerumah.Tepat di tikungan yang kebetulan sepi, secara mendadak Ivan mengerem motornya. Tepat di hadapan tampak beberapa orang bertampang sangar yang sepertinya sengaja menghadangnya. Tanpa sempat memikirkan bahaya yang mengancam jiwanya Ivan sudah terlebih dahulu menyadari sebuah pukulan yang mendarat di kepalanya. Membuatnya jatuh terlempar sementara motornya juga langsung ambruk ditengah jalan."Mau apa kalian."Sebuah pukulan kembali mendarat secara bertubi – tubi kearah tubuh Ivan sebagai jawaban. Walau sebenarnya Ivan juga sedikit jago bela diri. Namun saat di haruskan berhadapan langsung dengan serangan mendadak dari lawan yang tidak sedikit jelas mampu membuat Ivan tak berdaya.Disaat yang benar – benar kritis itulah Ivan mendengar tepuk tangan disusul suara tawa seorang wanita yang berjalan kearahnya."Wow, kasian sekali loe."Para preman itu serentak berhenti melakukan aktifitasnya memukuli Ivan dan menoleh kesumber suara. Walau setengah sadar Ivan masih mampu mengenali sosok itu. Dia kan…. Gadis sepuluh jutanya? Apa yang di lakukan dia disini?."Hei, siapa Kau. Apa yang Kau lakukan disini?" tanya salah satu Preman itu terdengar sangar yang membuat Vio, sosok gadis yang baru muncul itu sedikit bergidik ngeri. Mendadak merasa ragu dengan apa yang telah ia rencanakan."Ehem," ditariknya napas dalam – dalam sebelum mulutnya menjawab. "Bukan siapa – siapa kok pak. Cuma orang yang kebetulan lewat disini terus melihat orang yang lagi berantem. Kayaknya seru nih buat dijadiin tontonan."Bukan hanya para preman itu yang heran, tapi mata Ivan juga melotot kaget. Sama sekali tak percaya saat menatap wajah polos dan santai Vio. Apa gadis itu sudah gila, pikirnya."Udah pak, silahkan di lanjutkan. Anggap aja saya nggak ada. Lagian saya disini cuma sebentar kok. Cuma nungguin orang, palingan juga bentar lagi dia datang," tambah Vio lagi."Menunggu seseorang?" tanya salah satu preman itu."Iya pak. Saya lagi nungguin Pak Polisi. Tadi si sudah saya telpon. Saya bilang disini ada orang yang lagi di pukulin preman. Terus Pak Polisinya bilang mau langsung kesini," terang Vio tang kontan membuat para preman itu terlonjak kaget."Yah paling juga bentar lagi nyampe," tambah Vio sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. "Em mungkin sekitar satu atau dua menit lagi lah paling lama. Soalnya…"Sepertinya para preman itu sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui kalimat lanjutan yang akan keluar dari mulut Vio. Terbukti dengan cepatnya mereka berlari tunggang langgang menuju kearah motor mereka yang memang di parkir tak jauh dari tempat kejadian. Sambil mengumpat tak jelas mereka segera berlalu meninggalkan Vio dan Ivan sendirian.Setelah mengetahui tiada lagi bayangan para preman itu barulah Vio bisa menghembuskan nafas lega. Tangannya sudah terasa panas dingin. Ia benar – benar tidak mempercayai kalau ia bisa beracting semeyakinkan ini."Mau apa loe?"Refleks Vio menoleh. Baru menyadari kalau saat ini ia tidak sedang sendirian. Dengan segera di hampirinya tubuh Ivan yang masih tergeletak di jalan. Berlahan di bantunya untuk bangkit berdiri dan duduk di pinggiran."Loe kenapa bisa ada di sini? Dan apa yang sudah loe lakuin?" tanya Ivan lagi.Sejenak Vio terdiam. Mulutnya sedikit maju kedepan tanda cemberut. Lagipula sudah di bantuin juga bukannya bilang terima kasih malah ngebawel."Masih nanya lagi, jelas – jelas gue disini bantuin loe. Bilang ma kasih dulu kek," balas Vio sewot."Bantuin gue?" kening Ivan berkerut bingung."Terus loe pikir tu para preman kabur tunggang langang karena keinginan suka rela?""Mereka kabur karena mereka takut sama polisi," balas Ivan sewot."Polisi mana memangnya yang mau nyasar kesini. La wong jelas – jelas sepi gini juga?" tanya Vio."Tunggu dulu, bukannya loe bilang loe sudah nelpon polisi untuk datang kesini ya?" tanya Ivan lagi. Kali ini raut bingung jelas tergambar di wajahnya.Bukannya langsung menjawab Vio justru malah tertawa lepas. Tanpa beban. Dan sungguh, sumpah demi apapun. Ini untuk pertama kalinya Ivan melihat tawa yang seindah itu. Sebuah tawa yang mampu membuat rasa sakit yang beberapa saat lalu menguasai hatinya mendadak menguap begitu saja. Ya Tuhan, ini benar – benar tidak masuk di akal baginya."Ke..ke… Kenapa loe menatap gue seperti itu?" tanya Vio mendadak horror saat mendapati raut perubahan di wajah Ivan yang seolah baru tersadar dari lamunannya segera mengalihkan tatapannya."Ehem, Terus polisinya mana?" tanya Ivan mengalihkan perhatian."Ha ha ha….. Sebenernya loe itu memang bego atau stupid si? Mau aja di kibulin kaya tu preman. Ya ela, emang gue bisa punya nomor telpon polisi dari mana?"."Maksutnya?" Ivan kembali bingung."Tentu saja yang tadi itu bo'ong. Nggak ada polisi yang akan kesini. Tadi itu cuma akal – akalan gue buat ngusir tu perman. Nggak nyangka tu orang – orang pada gampang banget di kibulin," terang Vio lagi.Untuk sejenak Ivan terdiam. Mencoba mencerna kembali apa yang telah terjadi. Tunggu dulu, jadi…."Jadi loe nekat boongin para preman itu tadi?" tanya Ivan langsung. Vio hanya membalas dengan anggukan."Terus kalau sampai preman itu tadi tidak percaya bagaimana?"Vio terdiam. Mendadak cemas sekaligus kaget. Benar juga, kalau sampai preman itu tadi tidak percaya bagaimana? Ah, kenapa tadi ia sampai lupa memikirkan resiko itu ya?."Inget, jangan pernah sekalipun loe mengulangi hal seperti ini nona manis. Tindakan ini benar – benar berbahaya loe tau," tandas Ivan penuh penekanan.Lagi – lagi Vio terdiam mendengarnya. Tapi beberapa detik kemudian."Nona manis? Siapa yang loe maksut nona manis. Enak aja, gue punya nama. Nama gue Vio tau," geram Vio sewot.Melihat raut cemberut Vio dengan mulut yang sedikit maju kedepan tak mampu membuat Ivan menahan senyumnya. Raut wajah gadis itu kali ini benar – benar terlihat imut menurutnya. Hal yang aneh untuk diakui."O, Jadi nama loe vio. Tapi Kalau gue nggak salah inget, Bukannya tadi siang ada yang bilang untuk tidak tertarik mengucapakan namanya ya?"Pertanyaan yang jelas – jelas menyindir itu kontan membuat Vio mengangkat tangannya secara refleks dan mendaratkannya di kepala Ivan. Bukannya marah karena di jitak secara mendadak, Ivan justru malah tertawa ngakak."Baiklah, karena sepertinya loe udah bisa ketawa , gue udah bisa pergi sekarang. Bye bye," Vio bangkit berdiri, bersiap untuk berlalu tapi cekalan di tangan menghentikan langkahnya."Tunggu dulu. Loe belom menjelaskan kenapa loe bisa berada disini pada saat dan waktu yang tepat?""Oh, itu karena gue sepertinya sedang sial. Kenapa juga gue harus ketemu sama orang yang berniat untuk bales dendam pada seorang playboy kelas kakap seperti loe yang emang pantesnya itu di buang kelaut," balas Vio cuek."Playboy? Balas dendam? Dibuang kelaut?" ulang Ivan mendadak pusing."Iya! Puas loe?" balas Vio. "Ah satu lagi, Keliatannya loe juga cuma lebam – lebam doank. Dan berhubung loe nggak pake rok alias cowok, so gue nggak perlu nganterin juga kali ya? Loe bisa pulang sendirikan? Oke, bye bye."Selesai berkata Vio segera belalu. Menyetop taxsi yang kebetulan lewat. Segera berlalu meninggalkan Ivan yang masih membisu di tempatnya.Next to Cerpen Take My Heart Part 03Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Cerpen cinta “Kala cinta menyapa” ~ 12

    Sebelum kecerpen penulis pengen cuap – cuap dolo ya. Tau nggak, hari ini tu sebenernya ngeselin banget. Saking ngeselinnya sampe – sampe penulis bikin status di pejbuk "Hari yang begitu menyebalkan". Nggak perlu di jelasin kenapa, karena intinya tetep sama. Me-Nye-Bal_Kan.Salah satunya, CPU Resto bermasalah. Alamat gak bisa online seharian. Terus minta tolong dah sama "kakak" gadungan, Pinjem Laptopnya dia. Alasannya si buat nyelesein laporan kantor, Tapi sambilannyanya tentu saja O-N-L-I-N-E. ^_^Giliran laptop di tangan, Nggak ada hal menyenangkan yang bisa penulis lakukan. Jaringan nggak bersahabat, so nggak bisa main ke youtube atupun goodrama. Kemudian, cek buka draf email deh. Sambil nungguin CPU yang katanya baru di antar jam 5 sore, jari ini menari di atas Keyboard. Nggak nyangka juga jadi lanjutan cerpen Kala Cinta Menyapa yang telah lama bertapa. Hei, Segala sesuatu di dunia ini tu emang ada hikmahnya kan?.Berhubung udah kebanyakan bacot, Cekidot…"Rani, loe baik baik aja kan?" tanya Irma prihatin saat melihat tampang kusut Rani yang selama beberapa hari ini tidak pernah hilang dari wajahnya."Kalau loe berharap gue jawab bohong. Iya gue baik baik aja. Tapi kalau gue harus menjawab jujur. Tentu saja tidak. Gue nggak lagi baik baik aja. Apa lagi melihat mereka" Terang Rani dengan telunjuk mengarah lurus kearah Erwin yang tampak sedang berbicara akrap dengan syintia.sebagian

  • Cerpen Cinta | Rasa Yang Tertinggal ~ 02 / 05

    Oke, masih bareng admin ya. Secara mau ketemu siapa lagi kalau nggak sama adminnya. Dan kemunculan kali ini sengaja membawa lanjutan dari cerpen Rasa Yang tertinggal yang kini memasuki bagian kedua. Nah, karena ini jelas bagian kedua, so biar nyambung sama jalan ceritanya pastinya harus baca bagian satunya donk. Biar gampang bisa langsung di baca lewat sini ==} cerpen cinta rasa yang tertinggal part 1.Sembari menunggu jam masuk kuliah, Tifany menghabiskan waktu sembari duduk santai di bawah pohon jambu yang tumbuh terawat di halaman kampus. Tangannya dengan telaten mengupas satu persatu biji kwaci yang sengaja ia beli untuk menemani. Sementara di sampingnya Alan tampak menikmati kripik singkongnya."oh ya Fan, hari minggu besok loe ada acara nggak?" tanya Alan beberapa saat kemudian."E…. Enggak kayaknya," balas gadis itu tanpa berpikir. "Emang kenapa?" sambungnya balik bertanya tanpa menoleh. Perhatiannya masih ia fokuskan pada biji kwachi. Kalau di pikir kerajinan benget ya dia jajan beginian. Udah kecil, di buka susah, giliran di kunyah langsung hilang."o, syukur deh. Kalau gitu besok jalan yuk."Ajakan Alan membuat pikian Tifany tentang kwaci langsung buyar. Kepalanya menoleh kearah sahabatnya dengan tatapan mengamati. Sepertinya ia masih tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan. Tapi melihat raut Alan yang terlihat sedang menanti jawaban darinya sepertinya itu bena."Jalan. Bareng ma loe?" merasa kalau Alan tidak mengerti arti tatapan kebingunan yang ia lemparkan, Tifany memilih menyuarakannya dalam bahasa verbal."yupz, di lapangan glora besokan pembukaan taman hiburan. Kita kesana yuk!""Ha ha ha."Bukannya menolak, apalagi mengiyakan, Tifany justru tertawa. Tangapannya tersebut tak urung membuat sebelah alis Alan terangkat. Emang lucunya dimana?"Loe ngajak gue jalan? Nggak salah?" sambung Tifany setelah tawanya reda. Alan masih belum mengubah raut wajahnya. "Lho kenapa? Gue kan cuma ngajak loe jalan, bukan nya kencan.""Justru itu," telunjuk Tifany terulur kearah Alan. "Kenapa loe malah ngajak gue jalan bukannya kencan sama pujaan hati loe itu?" jelas Tifany. Pertanyaan yang mungkin akan ia sesali nantinya."Pujaan hati?" Alan masih kebingungan. Tifany tampak memutar mata jengah. "Oh, maksut loe Septia?"Kali ini Tifany angkat bahu. Memangnya pujaan hati Alan ada berapa sih."Akh, loe bener juga. Kenapa tadi gue nggak kepikiran kesana ya?"Alan pasti adalah sosok yang benar benar bodoh sekiranya ia tidak mampu membaca raut kecewa di wajah Tifany. Atau mungkin bukan Alannya yang bodoh, tapi justru Tifany lah yang terlalu pintar menyembunyikan perasaannya. Namun begitu hasilnya tetap sama, tidak ada yang berubah."Jadi loe mau pergi bareng Septia?" tanya Tifany lirih. Ia tidak menoleh kearah Alan saat bertanya. Pura – pura kembali asik pada Kwaci di tangan."E…. Menurut loe?" bukannya menjawab. Alan balik bertanya. Tifany hanya angkat bahu.Untuk sejenak Alan terdiam. Namun sudut matanya mencoba untuk membaca reaksi Tifany yang masih asik dengan aktifitasnya. Terus terang, ia tidak mengerti dengan gadis itu. Cukup lama mengenal bukan berarti ia benar benar tau."Ya enggak lah. Secara gue kan udah terlanjur ngajak elo.""Terlanjur?" ulang Tifany. Kali ini gadis itu menoleh, menatap langsung kearah Alan yang kini tampak melemparkan senyum untuknya. "He he he. Nyantai aja lagi. Jangan tersingung gitu. Gue cuma bercanda. Maksut gue, gue kan ngajak elo, masa gue perginya sama Septia. Lagian…""Lagian….?" Tifany penasaran karena Alan sengaja mengantungkan ucapannya."Lagian muka loe udah mendung gitu. udah kayak mau turun hujan. Ntar kalau tetangga ada yang liat jadi salah sangka lagi. Dikira gue ngapa – ngapain anak gadis orang," ledek Alan sambil berlari menghindar jika tidak ingin sandal yang tiba – tiba melayang mendarat di kepalanya."Sialan loe," rutuk Tifany sewot namun tak urung dalam hati ia merasa senang. Mendadak, ia merasa tak sabar untuk menunggu hari minggu tiba.Dan seperti yang di janjikan, Alan benar benar mengajak dirinya. Tifany bahkan sempat merasa was was ketika pria itu menjemputnya di kostan. Bukannya apa, ia kan sekamar dengan Septia. Yang notabenenya bukan hanya bersahabat tapi juga adalah gadis yang ia tau sebagai seseorang yang di sukai oleh Alan. Jadi kalau sampai ia melihat mereka. Akh entahlah… Hanya untungnya pas Alan muncul, Septia sudah tidak ada. Tifany sendiri tidak tau sahabatnya itu kemana. Karena yang ia tau, pagi pagi sekali Septia sudah pamit pergi.Dari kostan, mereka segera menjuju ke taman Glora. Alan benar, taman hiburan hari ini baru di buka. Suasana benar benar ramai. Terlebih bertepatan dengan hari libur. Hanya sayangnya, pilihan Alan menjadi tidak bermutu ketika pria itu memilih wahana pertama yang akan mereka naiki."Sumpah, loe malu – maluin gue banget," gerut Tifany menutupi wajahnya dengan sebelah tangan sambil diam -diam sedikit melirik ke kanan dan kekiri. Dengan cepat gadis itu berjalan meninggalkan wahana yang baru saja mereka naiki. Sementara Alan tampak mengekor di belakang."Lho, emangnya gue ngapain?" tanya Alan dengan tampang watados yang membuat Tifany sumpah pengen menjejalkan sendal jeptinya."OMG Alan!!! Anak 5 tahun ajan nggak ada yang teriak – teriak kayak loe waktu naek begituan," tunjuk Tifany kearah wahana yang baru saja mereka naiki. Jangan tanya namanya, karena ia tidak sudi untuk menyebutkan. Tidak setelah melihat Alan yang berteriak teriak di ketinggian. Menurutnya hal itu teramat sangat memalukan. Seperti korban "Masa Kecil Kurang Bahagia" saja."Ha ha ha, ya ampun Fan. Nyantai aja lagi. Loe kok segitu banget sih?'Lagian yang pentingkan kita happy. Urusan pendapat orang mah, bodo amat.""Nyantai gimana? Loe nggak liat no, tu anak – anak pada ngetawaain kita?" semprot Tifany sewot. Dan ia benar, beberapa anak anak yang tadi naik bersamanya kini memang sedang menertawai mereka.Alan menghentikan langkahnya. Ditariknya kedua pundak Tifany sehingga kini tepat menghadap kearahnya."Kalau bukan kita yang peduli sama kebahagiaan kita sendiri, lantas siapa?"Untuk sejenak Tifany terpaku mendengarnya."Lagi pula apa yang kita lakukan tidak merugikan orang lain sama sekalikan?. Kita hanya berusaha untuk meraih kebahagiaan kita sendiri. Dan asal loe tau, ini hanya sebuah contoh sederhana yang pengen gue tunjukan sama loe. Tapi yang perlu loe ingat adalah 'Raih Kebahagiaan loe, jangan terlalu perdulikan pendapat orang lain selama itu tidak merugian'. Mengerti?""Tumben hari ini otak loe beres."Sebuah jitakan mendarat di kepala Tifany sebagai balasan atas respon konyolnya."Sialan loe, emangnya selama ini otak gue bermasalah apa?"Tifany tidak menjawab. Ia hanya meringis sambil mengusap – usap kepalanya."Udah, jalan lagi yuk," ajak Alan beberapa saat kemudian.Dan tanpa menunggu persetujuan dari Tifany, Alan sudah terlebih dahulu mengandeng tangannya. Langkah mereka terhenti di sebuah stand pernak pernik ( ??? ). Pertama sekali mereka berhenti di sana, perhatian Tifany langsung tertuju pada sebuah liontin bintang."Wow, keren," puji Alan sambil meraih liontin yang sedari tadi hanya di perhatikan Tifany."Loe juga suka?""Bentuknya yang sederhana, tapi nggak norak. Murah tapi bukan murahan. Gue mau beli ini deh.""Tapi inikan buat cewek?"."Gue juga tau kali. Lagian gue kan bilang cuma mau beli. Bukan berarti gue yang make. Udah sini, coba tes loe pake," kata Alan sambil memasangkannya di leher jenjang Tifany."Cantik," puji Alan yang secara sadar ataupun tidak membuat wajah Tifany sedikit merona."Loe suka?" tanya Alan lagi, refleks Tifany menganguk karena dari awal ia memang sudah tertarik pada liontin tersebut."Kalau gitu, kira – kira kalau gue beli buat Septia dia bakal suka nggak ya?""Septia?" gumam Tifany lirih."He'eh," balas Alan sambil mengangguk tanpa menyadari reaksi Tifany yang mati – matian menyembunyikan rasa kecewanya."Selama ini loe kan bilang kalau gue cuma bisanya ngasih dia coklat. Jadi kali ini gue pengen ngasih sesuatu yang special buat orang yang gue suka," tambah Alan lagi."Nggak perduli barang apapun yang loe kasi sama dia, kalau memang dia beneran suka sama loe, dia pasti akan menyukainya.""Gitu ya?" Alan tampak berpikir. "Cokelat yang selama ini gue kasi nggak pernah kembali. Apa itu artinya dia juga suka sama gue?" sambung pria itu beberapa saat kemudian."Mungkin. Tapi bisa aja kan tu cokelat nggak dia makan, misalnya di buang mungkin," ujar Tifany sekenanya."WHAT???!! Dibuang?" "Tidak. Bukan. Gue berani bersumpah demi apapun kalau cokelat itu dimakan, nggak di buang," ralat Tifany cepat. Ini obrolan mereka kenapa jadi rambang gitu sih."oh ya? Sukurlah kalau emang kayak gitu. Asal loe tau aja, dalam cokelat itu gue titipkan rasa cinta gue untuk – 'nya'. Itu ungkapan hati gue kalau gue benar – benar mencintai orang yang memakannya.""Gue tau," balas Tifany lirih. "Tapi maaf, maaf banget. Sayang nya selama ini tu cokelat gue yang makan," sambung nya lagi dalam hati. Mendadak ia merasa sangat bersalah."Gue nggak yakin loe beneran tau Fan," balas Alan tak kalah lirihnya.Next to Cerpen Cinta Rasa yang tertinggal part 3.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 02 Of 05Jumlah kata : 1. 326 WordsGenre : Remaja

  • Cerpen Romantis: HADIAH TERINDAH

    HADIAH TERINDAHoleh: Rizki NoviantiPerasan itu begitu kuat sampai aku tak sanggup untuk terlalu lama jauh dari dirinya, seseorang yang dingin yang menjadi tambatan hati saat aku melihat senyumnya begitu menggetarkan jiwa membuat hati selalu damai. Namun rasa ku hanya bertepuk sebelah tangan dia tak hiraukan aku, perasaan itu aku rasakan sejak kelas 2 SMP sampai saat ini kepada seseorang yang selalu aku puja, sebagai orang yang mencintainya dia hanya anggap aku sebagai teman baginya begitu perasaan ku teriris mati, awal yang baik sebagai teman, hanya teman.Rasa sakit itu harus terulang kembali Randy orang yang selama ini aku puja-puja ingin memulai cinta dengan sahabatku sendiri, Yasmin. tak mengerti apa yang ada dalam fikiran Randy? Dia tahu jelas bahwa aku sangat ingin memiliki seutuhnya tetapi mengapa dia seperti itu kepadaku? Hari-hari itu harus ku jalani juga dengan helaan nafas panjang tanpa semangat, tanpa canda dan keceriaan hidup terasa hampa.Randy yang kini berubah sikap kepadaku tak seperti dulu selalu memberikan senyumnya, membuat aku tertawa dan selalu membuat aku merasa nyaman saat berada di dekatnya sekarang berubah menjadi Randy yang cuek, dingin, selalu membuat aku kesal dan menangis. Setiap kali ku lihat dia selalu memalingkan wajah, menundukkan kepala, pura-pura tak melihat. Apakah sampai segitu nya dia bersikap kepada ku di depan Yasmin??. Tetapi perasaan cinta itu tak menghilang sedikit pun, sempat terlintas dalam benak ku ingin juga membuatnya patah hati seperti ku.Terlalu lama berfikir apa yang harus aku lakukan?? Ku coba untuk menerima keadaan ini dan bersabar tetapi kesabaran ku tak akan terus bertahan, kesabaran ku ada batasnya. Tak menunggu lama lagi aku memutuskan untuk menjalani hubungan yang sama sekali tak ingin aku jalani, dengan seseorang yang sama sekali tak bisa aku simpan rasa terhadapnya manusia tak berdosa itu harus menjadi pelampiasan hidupku.. “Ya Tuhan maafkan aku harus melakukan hal konyol seperti ini..”***“Rif, jangan bilang siapa-siapa yaa kalau kita pacaran aku gak mau ajja jadi bahan gosip sekolahan..” pesan ku pada Arif. Hari-hari ku lalui biasa saja dengan nya hanya sekedar SMS atau telepon tak pernah kita ngobrol berdua di sekolah. Namun akhirnya Randy tahu hubungan ku dengan Arif, Satu bulan ku jalani hubungan ku dengan Arif tanpa hati, awalnya aku mencoba untuk menyimpan sedikit rasa untuknya tetapi tetap saja aku tak sanggup.Menjalani hari-hari dengannya, dengan kisah cinta penuh kepalsuan dan mau tak mau aku harus melakukannya. Aku lihat ekspresi wajah Randy saat aku bersama Arif, dia hanya tersenyum kecil dan menundukan kepalanya.. “why? Mana Yasmin kenapa dia tidak bersamanya ?” Fikirku berkata tapi itu tak penting lagi untuk ku.Aku akui aku sudah merasa jenuh dengan hubungan ini aku ingin mengakhirinya tak peduli akan seberapa sakit ku lihat Randy mungkin aku akan lebih sakit jika aku terus menerus seperti ini. ku putuskan juga untuk akhiri semuanya aku tak ingin menyiksa batinku lebih dalam lagi sebelum semuanya terlambat. “Rif, mungkin ini memang bukan jalan kita untuk terus bersama maaf jika kali ini aku menyakiti perasaanmu kita harus benar-benar mengakhiri kisah ini. Maaf” Kata ku panjang lebar pada Arif.Arif mengerutkan keningnya dan seolah dirinya tak bisa terima dengan keputusan ini. “Tapi kenapa Ky? Kamu jahat Ky, kamu memutuskan sebelah pihak apa kamu tahu dengan perasaan ku saat ini sakit Ky, sakit! Kamu tahu itu ?”Aku pun menjawab “Aku tahu perasaanmu aku juga mengerti tapi apa kamu juga paham dengan perasaan ku kita akan lebih sakit jika terus seperti ini kamu paham itu? Aku akan berdoa dan akan selalu berdoa untuk mu agar kamu bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintai kamu setulus hati dari pada aku” dan sampai akhirnya aku pergi meninggalkannya itu keputusan ku.Tak lama Randy pun tahu aku tak menjalani hubungan dengan Arif, dia pun begitu tak lagi bersama yasmin. itu sedikit membuat hati ku lega namun perasaan bersalah selalu ada pada saat aku bertemu Arif tindakanku yang konyol membuatnya terluka. Randy yang saat itu sedang berada bersama ku bertanya kenapa aku putus dengan Arif aku menjawab dengan santai “tak mungkin lagi untuk aku dapat melanjutkan hubungan ini karena suatu saat kita juga akan putus”. Aku tak ingin membicarakan hal itu semakin dalam aku pun mengalihkan pembicaraanku.“Setelah lulus akan ku lanjutkan sekolah ke bandung mungkin ini saat-saat terakhir kita bersama..” kata ku pada Randy dengan menyunggingkan sedikit senyum.“Ke Bandung?” tanya Randy heran.“Kenapa kamu harus ke bandung bukan kah di sini juga banyak sekolah-sekolah yang bagus Ky?” sambung nya.“Aku hanya ingin melepaskan semua beban saat ini yang aku rasa dengan memulai sesuatu yang baru dan dunia yang baru, aku ingin semua menjadi lebih baik dan memperbaiki semua yang berantakan di hidup ku kini..” ucap ku dengan lirih. lalu Randy pergi meninggalkanku. Keputusan yang sangat sulit untuk ku jalani sendiri harus berpisah dengan nya.Hari itu datang juga, hari saat aku akan pergi “menyenangkan” kata ku dalam hati sambil tersenyum. Randy yang menatapku dari jauh datang menghampiri dengan langkah perlahan tapi pasti dia benar-benar datang untuk ku.“Ky, maafkan aku yang salah karena telah melewatkanmu selama ini, aku yang bodoh harus melewati hari-hari terakhir dengan kepalsuan ku jika aku bisa mengembalikan waktu itu aku ingin mengubah semuanya menjadi baik, aku ingin bersama mu tetapi semua sudah terlambat usai sudah semua kisah dengan kesedihan.. maafkan aku Ky” Randy berkata dengan genggaman erat padaku menyesali yang terjadi dengan air mata terurai di kedua matanya tak mampu ku berucap aku hanya mengatakan“Ucapkan satu kata untuk ku sebelum aku benar-benar pergi” lalu dengan suara lembutnya dan genggamannya dia berkata.“Aku sangat dan sangat mencintai mu, jangan pernah lupakan aku, jangan pernah hapus aku dari hati mu. Maafkan aku.”Aku tersenyum manis menghapus sedihnya dan penyesalannya. Kata-kata yang selama ini aku tunggu ahirnya terucap, namun semua terlambat sudah. Aku hanya dapat berkata dalam hati “ya Tuhan terima kasih ini hadiah terakhir yang ku dapat, hadiah termanis dalam hidupku aku takkan pernah melupakannya dan aku takkan pernah bisa karena aku mencintainya”.Tak kuat menahan diri, aku pun pergi meninggalkan dia sendiri..*****nama : rizki noviantialamat : bandung, kiara condongalamat fb: rizki_ccc@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*