Cerpen cinta “Dalam diam mencintaimu” 01 / 04

#EditVersion. Jadi gini guys. Admin sekarang kan jarang tuh update cerpen terbaru. Nggak sesering dulu. Mentok di ide, waktu juga kesempatan. Untuk itu, admin kadang suka iseng baca karya karya sebelumnya. Dan ngeh banget, kalau ternyata EYD dan typo bertebaran di mana – mana. Untuk itu, mau di rapiin. Kini cerpen dalam diam mencintaimu yang dapat gilirannya. Oh iya, tokohnya juga di ganti ya. Sekalian sih, biar blognya rapi juga. Secara ya kan, blognya emang acakadut banget. Maklum aja deh, blog Ana merya ini mah emang di mulai dari 'Nol'. Nol dalam belajar nulis, nol juga dalam mengenal blog.

Dalam Diam Mencintaimu
Dalam Diam Mencintaimu

*** Jangan pernah jatuh cinta pada sahabat, karena jika dia menemukan cintanya,
Kau akan kehilangan dua orang sekaligus. Sahabat mu dan orang yang kau cintai.***
“Dor!”
“Huwa!!!” Irma menjerit sekenceng – kencangnya saat tiba – tiba ada seseorang yang mengagetkannya di susul suara gelak tawa.
“Ha ha ha, kaget ya loe?"
“Rey, berhenti selalu ngagetin gue,” geram Irma sambil mengelus dada. Matanya menyipit menatap kearah sosok yang akrab di panggil Rey yang kini masih tampak berusaha menahan tawanya. "Kayaknya loe seneng banget ya, kalau sampai gue mati muda karena di kagetin mulu," sambung gadis itu lagi.
“Jangan lebay. Loe nggak ngidap lemah jantung jadi gimana ceritanya bisa mati muda,” Rey mencibir. Sebelum mulut Irma kembali terbuka ia sudah terlebih dahulu menambahkan. "Loe pasti sudah sedari tadi nungguin gue kan. Ya sudah kalau gitu, ayo kita berangkat," ajaknya lagi.
Walau masih kesel, tak urung Irma mengangguk. Memang sudah hampir 15 menit ia menunggu Rey sebelum kemudian dikagetkan dengan tiba – tiba saat ia sedang asik memperhatikan tanaman cabenya yang berdaun kriting (???). Biasanya mereka memang pulang-pergi kuliah bareng. Kebetulan selain sekampus mereka juga tetanggaan. #@irma, Jreng jreng jreng… Tetangga ku idolaku. (1)
Sepanjang perjalanan tak henti mereka bercanda tawa. Rey anaknya memang enak di ajak ngobrol. Ditambah lagi mereka sudah bersahabat sejak kecil. Tak heran jika keduanya terlihat begitu akrab.
“Oh ya, hari ini loe masuk berapa mata kuliah?” tanya Rey sambil melepaskan helmnya. Saat itu mereka memang sudah tiba dihalaman parkir kampus.
“Dua, loe?” sahut Irma sembari balik bertanya.
“Sama, ya udah kalau gitu entar habis kuliah kita jalan yuk. Hari ini ada pembukaan pasar hiburan di lapangan."
Irma terdiam. Pasang wajah sok mikir. Jalan bareng sama Rey? Asik juga, walau Rey notebenenya sahabat, tapi kan selama ini ia menyukainya diam – diam. Dan kali ini ia di ajak jalan, itu termasuk kencan bukan si?. Tanpa sadar bibirnya membentuk senyuman samar. #Naksir diam – diam (2)
“Nggak usah kelamaan mikir. Entar loe tunggu gue di sini. Kita jalan. Titik!” tandas Rey tegas. Kali ini tanpa pikir panjang Irma langsung mengangguk. Membuat Rey ikutan tersenyum sebelum benar – benar berlalu. Kebetulan kelas mereka memang berlawanan arah.
Begitu tiba di kelasnya, Irma segera mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Tanpa sadar senyum sama masih bertenger di bibirnya. Senyum bahagia mengingat ajakan Rey tadi padanya.
“Ehem, kayaknya ada yang lagi seneng nie?”
Irma menoleh, mendapati Vhany Iskandar yang kini duduk disampingnya. Menyadari sahabatnya itu sedang berkata padanya, Irma hanya mampu membalas dengan senyuman.
“Ada apa nie. Cerita donk," tanya Vhany lagi ketika melihat pertanyaan sebelumnya tidak di respon.
Kali ini Irma hanya mengeleng. Vhany sedikit mengernyit, tapi ia juga tidak berniat untuk mendesaknya lebih lanjut dan memilih mengalihkan pembicaraan.“Oh ya Ir, tadi loe pergi bareng siapa?”
“Rey,” kali ini Irma membalas. Sedikit heran ketika melihat raut Vhany yang tampak antusias.
“Ehem, sebenernya loe punya hubungan apa si sama tu orang?” Vhany kembali bertanya.
“He?” refleks Irma menoleh. Menatap lurus kearah Vhany yang kini juga sedang menatapnya lurus.
“Loe pacaran ya sama dia? Abis gue liat loe selalu bareng sama dia,” selidik Vhany dengan nada menuduh.
“Ha? Ya enggak lah. Apaan si loe. Loe kan tau gue itu cuma tetanggan ma dia," elak Irma cepat.
“Loe yakin loe cuma ngangep dia tetangga?"
Tanpa ragu Irma mengangguk cepat. Gantian ia yang merasa heran saat melihat senyum lega terukir di wajah Vhany.
“Kalau gitu loe bisa bantuin gue kan?” tanya gadis itu penuh harap.
“Bantuin? Bantuin apa?” tanya Irma sambil mengalihkan tatapannya dari Vhany. Tangannya mengeluarkan buku yang dirasa aneh dari dalam tas. Makin heran ketika melihat ada komik. Komik sinchan lagi. Otaknya segera berpikir, apa itu buku punya adeknya ya? Tapi kok bisa nyasar di dalam tasnya?.
“Gue suka sama Rey."
Komik sinchan yang sedari tadi di bolak balik Irma langsung jatuh di meja. Ia segera menatap kearah Vhany yang tampak menunduk malu, tak menyadari ekpresi shock di wajah sahabatnya akan pengakuan yang baru saja keluar dari mulutnya.
“Karena itu, gue mo minta bantuan sama loe. Loe kan temennya dia. Gue juga temennya elo kan? Jadi gimana kalau loe jadi mak comblang kita?”
Irma diam terpaku. Dia tidak salah dengar kan? Vhany memintanya menjadi mak comblang untuk hubungannya dengan Rey yang jelas – jelas sudah di taksir olehnya sejak lama. Tidak, tidak. Kata ‘naksir’ sepertinya kurang tepat. Ini bahkan lebih dari itu. Ia dengan jelas menyadari kalau ia jatuh cinta pada tetangga sebelah rumahnya.
“Loe mau kan bantuin gue?” tanya Vhany sambil mengangkat wajahnya. Tersenyum penuh harap pada Irma.
“Gue….”
“Stt… kita ngobrolnya entar aja. Pak Alvino masuk tuh,” potong Vhany sambil mengarahkan telunjuknya kearah pintu.
Irma terdiam. Bingung dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Bahkan telinganya sama sekali tak mampu menangkap apa yang diajarkan Pak Alvino, Dosen sastra idola kampusnya. Pikirannya terfokus pada permintaan Vhany. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan?
Dengan lemes Irma melangkah beriringan bersama Vhany yang kini tersenyum lebar. Sementara Vieta sepertinya menghilang entah kemana. Entah ia yang gila atau pun memang sedang setres. Tadi seusai pak Alvino keluar dari kelasnya Vhany kembali membujuknya. Bahkan ia sama sekali tidak sadar kalau kepalanya mengangguk menyetujui hingga membuatnya kini merasa penyesalan tiada henti. Ia juga bingung apa yang harus ia katakan pada Rey nantinya. Mana mereka rencananya hari ini mau jalan bareng lagi. Parahnya belum sempat ia menemukan jawabannya, kini sosok yang di maksud sudah tampak tak jauh dari hadapannya. Melambaikan tangan sambil berjalan menghampiri.
“Pas banget. Jadi loe juga udah mau pulang ni?” tanya Rey sambil tersenyum manis.
Irma membalas dengan anggukan. Ekor matanya melirik sekilas kearah Vhany yang terlihat sama sekali tak berkedip menatap kearah wajah Rey yang jelas – jelas sama sekali tidak menoleh. Karena saat ini Rey memang sedang menatapnya.
“Ehem, gini Rey. Sory ya. Tapi kayaknya gue nggak bisa jalan bareng loe deh. Gue lupa, gue ada janji sama sepupu gue yang baru pulang dari luar negeri. Sory ya,” kata Irma sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
“Jadi? Kita nggak jadi jalan ni. Yah, padahal kan pembukaannya hari ini,” kata Rey terlihat kecewa.
“Nah, kalau soal itu loe tenang aja. Kebetulan Vhany juga pengen benget pergi kesana. Loe pergi bareng dia aja."
“Ya?” Rey tampak tak percaya.
Sementara Irma sendiri terlihat serba salah. Perhatian Rey kemudian teralihkan kearah Vhany yang terlihat tersenyum manis.
“Loe nggak keberatan kan pergi bareng gue?” tanya Vhany kearah Rey.
Rey tidak segera menjawab. Sekilas ia melirik kearah Irma yang tampak menunduk. Dihelanya nafas untuk sejenak sebelum kemudian menjawab.
“Tentu saja tidak. Kalau gitu ayo kita pergi bareng."Mendengar kalimat barusan Irma langsung mendongak. Menatap tak percaya kearah Rey yang kini sedang menatap Vhany sambil tersenyum. Irma tiba – tiba Merasakan dadanya terasa begitu sesak. Ia merasa begitu sulit untuk bernafas. Jujur saja ia merasa sangat kecewa. Kenapa Rey begitu cepat menyetujuinya.
“Sory Ir, gue duluan,” balas Rey sambil mengajak Vhany berlalu pergi. Sama sekali tak menoleh kearah Irma, apalagi sekedar untuk mendengar balasannya.
“Da Irma,” pamit Vhany sambil melambaikan tangannya. Irma masih terpaku di tempat. Menatap Kepergian kedua orang ‘sahabatnya’ yang terus melangkah menjauh.
Dengan cepat tangannya terangkat mengusap wajah. Matanya terasa perih tapi sebisa mungkin di tahannya. Ia sama sekali tidak punya alasan untuk menangis bukan? Akhirnya dengan langkah gontai ia kembali ke rumah.
Sesekali Irma mengintip dari balik gorden jendela rumah. Ia pasang telinganya baik – baik. Bahkan ia sengaja menghilangkan volume TV yang di tontonnya. Walau dalam kenyataanya benda itu hanya terlihat sebagai objek pajangan agar ia tidak terlihat bengong seperti orang bodoh. Sejak sepulang kuliah tadi ia menunggu bahkan sudah hampir jam 18:00 sore ia masih belum melihat kemunculan Rey di halaman rumahnya. Apa mungkin seasik itu acara jalan – jalan mereka.
Bertepatan dengan suara Adzan maghrip dari Mushala yang tak jauh dari rumahnya, telinga Irma menangkap suara mesin motor yang sudah sangat familiar. Sepertinya Rey baru pulang. Irma segera bangkit berdiri. Tapi tentu saja bukan untuk menghampiri Rey melainkan beranjak ke kamar mandi, mengambil wudhu. Saat nya menyambut panggilan ilahi. Diatas apa pun, kewajiban pada yang maha kuasa harus lebih di utamakan.
Keesokan harinya, Irma sengaja bangun lebih pagi dari biasa. Setelah siap- siap untuk kuliah ia segera duduk – duduk di bangku bawah pohon jambu depan rumah . Menanti Rey menjemputnya. Tumpangan gratis ke kampus sejak jaman antah berantah.
Saat melihat Rey yang baru melewati pagar rumahnya, Irma segera berdiri, melangkah menghampiri dengan senyum di bibir. Namun senyum itu langsung lenyap mendengar kalimat yang keluar dari mulut Rey untuk pertama kalinya.
“Ir, sory ya. Hari ini gue nggak bisa bareng sama loe. Kemaren gue udah janji buat menjemput Vhany."
“O…” Irma menghentikan langkahnya. Jelas raut kecewa terpancar di wajahnya.
“Loe nggak papa kan? Soalnya kemaren gue sudah terlanjur janji. Membatalkan janji secara sepihak tanpa alasan yang jelas tentu akan terasa sangat menyebalkan bukan?” tanya Rey lagi.
Irma terdiam dengan wajah menunduk. Jujur ia sangat kaget mendengar ucapan Rey barusan. Jelas ia merasa sangat tersindir. Di helanya nafas untuk sejenak sebelum mulutnya terbuka untuk menjawab.
“Gue nggak papa kok. Gue bisa naik bus. Ya sudah loe pergi aja. Kasian Vhany nya kalau harus menunggu lama,” Irma berusaha tersenyum paksa. Mengubur dalam – dalam rasa kecewa yang jelas dirasakannya.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Sory gue duluan ya,” pamit Rey.
Irma hanya membalas dengan anggukan. Dengan cepat Rey melajukan motornya. Sesekali ia menatap kearah kaca spion motornya. Menatap Irma yang masih berdiri terpaku. Di helanya nafas untuk sejenak. Jelas merasa kecewa karena gadis itu sama sekali tidak mencegahnya. Dasar bodoh, apa yang telah ia lakukan?
Irma masih berdiri terpaku, menatap Rey yang semakin menjauh. Dengan langkah berat ia berbalik. Tiba – tiba ia merasa malas untuk ke kampus. Terserah mau kemana pun.
Next To Cerpen Dalam Diam Mencintaimu Part 02
Detail Cerpen

  • Judul Cerpen : Dalam Diam Mencintaimu
  • Nama Penulis : Ana Merya
  • Part : 01 / 04
  • Status : Finish
  • Ide cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnya
  • Panjang cerita : 1.570 kata
  • Genre : Remaja

Next : || ||

Random Posts

  • KAGUMKU SELANGIT oleh JAJ

    Oleh: Jovian Andreas (JAJ) – Suatu kertas puisi cinta yang disebut picisan itu akhirnya disimak lagi. Kenangan indah kalau diangkat lagi memang jadi mengharukan. Mengapa ada cinta yang disia-siakan? Mengapa dibiarkan pernyataan baik itu yang pernah dibalas dengan sikap arogan, yang akhirnya disesali. Dibenci sikap jahatnya itu pada laki-laki yang sebetulnya tampan namun karena dituding bukan levelnya, laki-laki itu jadi berkata tak akan bertemu dengannya lagi, pada detik itu. Laki-laki itu sudah menerima permintaan Omnya untuk tak akan ke rumah lagi hanya demi Meli… Oh, Meli, kau ini bodoh banget! Kau ini norak! Kau ini sombong! Kau sangat materialistis! Jadilah kamu perempuan sial! Ah.., begitulah yang dipikirkan Amelia Febrianti, yang melihat foto Heryadi, laki-laki yang pernah jatuh hati padanya sepuluh tahun yang lalu. Sekarang usia Amelia, 27 tahun, dan Heryadi, 30 tahun. Amelia sudah pernah menikah sebelum tahun 2000 dan ketika itu usainya 20 tahun. Yah, tepatnya dia kelahiran 1979. Dia sangat ingat perkenalannya dengan Heryadi yang suka berkarya di sanggar sebagai sutradara. Dia tahu juga semangat Heryadi walau organisasinya itu tak menguntungkan atau memberinya penghasilan. Dan ketika itu Amelia yang pernah jadi anggota teater di SMA memilih keluar dan mau jadi pemain sinetron, figuran. Sementara Heryadi tetap bergerak di teater dari festival drama remaja, lomba baca puisi, menulis skenario dan yang lain jadi pelatih futsal di sekolah yang dikelola orang tua temannya.Heryadi memang bukan anak orang berada, dia tinggal di jalan MHT di wilayah padat di Jakarta Barat. Heryadi menaruh hati pada Amelia, lewat bantuan teman sebaya Amelia ketika itu untuk jadi comblang baginya. Tetapi mengapa Heryadi tidak berani mengungkapkannya, hanya karena Heryadi mempunyai saingan dari temannya yang lebih dipahami Amelia. Temannya itu Ronny. Teman Heryadi ini membawa Azrul yang ternyata genit dan ingin mendapatkan hati Amelia. Akhirnya Heryadi jadi jaga jarak dengan Ronny dan memutuskan membangun sanggar baru di luar sekolah. Ronny tetap bertahan dan mengajak Azrul yang memang teman di kampusnya masuk poduction House dan Melly diajak jadi pemain sinetron sebagai figuran saja. Ronny bernasib baik menjadi asisten sutradara di production house mendampingi sutradara senior.Nah kenapa Heryadi merasa bersaing dengan Ronny, alasannya adalah Heryadi punya niat mengadakan pementasan kolosal : Ken Arok yang ternyata disudutkan Ronny bahwa ide itu tak akan terjadi. Heryadi jadi benci Ronny. Heryadi juga benci pada Amelia yang malah berani bilang: "Gue nggak suka sama elo!" Suatu pernyataan yang mengecewakan di masa itu, dan Amelia jadi sedih telah membuat hati Heryadi, jadi sakit hati.Heryadi dengan teater barunya malah berhasil meraih piala sebagai grup terbaik. Heryadi tetap punya pendirian hingga di era runtuhnyha orde baru terlibat pula dalam demonstrasi. Heryadi tetap bujangan. Dan masa mudanya itu tetap putih dan tidak seperti Azrul. Karena laki-laki yang menyukai Amelia itu, berani main api, selingkuh dengan perempuan yang mau jadi artis hingga hamil. Dan inilah yang membuat Amelia kagum pada Heryadi.Heryadi juga dipuji Amelia ketika dia datang ke rumah Amelia sambil mengabarkan kalau dia sudah lulus menjadi sarjana. Bayangkan, keputusan untuk tidak mendekati Amelia, dimohonkan maaf oleh Heryadi dengan pernyataan kepada Om Amelia, Safri, kalau dia kakak kelas Amelia yang ingin dilihat Amelia menjadi sarjana. Dan Amelia menjadi trenyuh. Dia saja tidak bisa menyelesaikan kuliah karena keputusannya sendiri. Begitu juga Om Safri yang pernah meminta Heryadi jauhi Amelia, sudah tidak bisa bekerja lagi akrena kecelakaan, hanya bilang kepada Amelia : "Coba kamu jadi sama laki-laki itu, Mel… Dia baik!"Amelia sangat sedih. Dan waktu terus bergerak, setiap kabar Heryadi malah membuat Amelia semakin kagum padanya. Heryadi bekerja di production house pula seperti Ronny yang mana perusahaaan itu membuat film layar lebar serta rekaman film asing. Wah, membuat Amelia jadi trenyuh. Amelia yang sudah punya anak hasil hubungan gelapnya dengan teman kuliahnya itu hingga diusir bapaknya, kini menjadi manusia yang merasa telah membunuh karakternya sendiri. Dia ingin berubah sebagai manuisa yang punya masa depan, punya rancangan atau prinsip hidup dan punya cinta pada laki-laki sebaik Heryadi.Namun sayangnya Heryadi yang pernah menulis puisi untuknya berjudul Kagumku Selangit, sudah semakin sulit menjadi miliknya. Heryadi sudah meminang seorang gadis yang sederhana, tetangganya yang memang pantas buat Heryadi. Amelia tinggal berkata," Oh Tuhan, andainya hati Heryadi masih ada untukku biarlah dia datang padaku, walau hanya sebentar mengucapkan salam padaku.."Tentunya Amelia tidak bisa bertemu Heryadi. Amelia hanya bisa memandangi foto masa SMAnya itu. Di mana Heryadi yang pernah jadi sutradara teater dan pernah dihina temannya itu, kini sudah menjadi laki-laki dewasa. Amelia hanya bisa menulis di buku hariannya : I Love You Heryadi.. God Bless You ..*****Jakarta, November 2011Penulis : Jovian AndreasEmail : Jovisca_2@yahoo.co.id

  • Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E ~ 03

    Lanjut nulis cerpen lagi ah. Abis liad arsip disamping, kemunduran nulisnya keliatan banget. Ck ck ck. Nah, kali ini yang muncul lanjutan Cerpen Terbaru Si Ai En Ti E aja ya. Kita masuk ke part 3 pula. Soalnya untuk cerpen kenalkan aku pada cinta lagi proses pengetikan. Yah, ide emang lagi mahal nih kayaknya. Susah banget di cari. Ciusss deh.So buat temen temen yang mau baca lanjutannya, monggo silahkan langsung aja. And biar nggak bingung bisa di baca part sebelumnya dalam cerpen terbaru Si Ai En Ti E part 2. Oke? Cekidot….Cerpen Terbaru Si Ai En Ti ETawa Malvin langsung lenyap. Digantikan tampang yang sulit untuk di gambarkan. Kaget juga, terkejut itu pasti. Namun tak urung ia juga merasa lega sekaligus senang saat mendapati kalau Grescy yang baru saja menyapannya. Emp, yang barusan bisa di sebut kalimat sapaan kan?“Eh, ada Grescy. Kok loe bisa ada disini?” Acha yang terlebih dahulu buka mulut. Sedikit merasa tak enak saat mendapati wajah marah pada gadis yang berdiri di hadapannya. Ya ampun, ada apa lagi ini?sebagian

  • Cerpen Cinta: GOODBYE MY BOYFRIEND 50%

    GOODBYE MY BOYFRIEND 50%By: Leriani ButonKetika senja menutup mataAku berharap malam menyapaku dengan senyumanNamun,,, malampun hadir dengan wajah yang gundah…Entah mengapa semuanya terasa sulit untuk dihadapiMungkinkah inilah jalan takdir yang telah tersurat untukkuAtau mungkin ini adalah cobaan dari-NYA?RAPUH…. Ya seperti itulah aku di waktu kemarin. Entah mengapa aku begitu rapuh….???? Akupun tak tahu jawabannya. Hanya bisa menerima keadaan seperti ini tanpa berkata apapun. Kalaupun harus berkata, aku mesti berkata pada siapa? Rasanya aku ingin teriak sekeras – kerasnya. Tapi, aku tahu itu semua tak ada gunanya. Semuanya telah berubah setelah kepindahanku disini, di makassar. Peristiwa yang pernah terjadi di beberapa bulan kemarin telah ku kubur dalam-dalam. Aku berharap semoga semuanya dapat berakhir dengan kebahagiaan. Waktu semakin berlalu. Aku ingin mencoba memulai hidup yang lebih baik. Memori yang indah sekaligus terasa pahit beberapa bulan kemarin telah dikikis habis oleh waktu. Setelah beberapa bulan berada disini, semuanya terasa lebih baik. Arlen yang sempat hadir mengisi ruang hatiku, kini tak ada lagi tempat yang layak baginya di hatiku. Bahkan di sudut hatiku yang paling tekecil pun sudah tidak ada. Aku benar- benar telah melupakannya. Semua aktivitas kuliahku berjalan dengan baik. Meskipun ada beberapa yang membuat pusing, tapi Alhamdulillah bisa teratasi. Banyak teman-teman baru yang hadir dalam mengisi hari-hariku. Kesibukanku membuatku semakin bersemangat. Pokoknya tak ada waktu kosong disetiap hari-hariku untuk mengingat arlen kembali. Hingga sampai disuatu malam. Ketika itu aku sedang asyik menyelesaikan tugas-tugas kampus. Tiba –tiba terdengar nada yang tak asing lagi bagiku. Hm… nada itu adalah nada SMS dari Hpku. Dengan santai akupun membuka SMS itu. “Nomor baru” itulah kata pertama yang keluar dari bibirku. Karena penasaran akupun membalas SMS itu dengan menanyakan siapa dia sebenarnya. Kamu tahu apa jawaban dari SMS ku, ternyata dia adalah Arlen. Hah… sangat menyebalkan. Kenapa dia mesti mengirim SMS padaku lagi…???? Apa mungkin dia sudah lupa dengan apa yang dilakukannya padaku di beberapa bulan kemarin….???? Benar – benar ingin membuatku tertawa marah, benar–benar tak bisa terfikirkan olehku. Bagaimana bisa dia berani mengSMS ku dengan kata – kata basi seperti itu. Apa dia sudah lupa, untuk sekarang ini aku bukan wanita bodoh seperti apa yang dipikirkannya dulu…???? Aku seorang vian, tidak akan tergugah dengan kata-kata seperti itu lagi. Akupun tak membalas SMSnya lagi setelah aku tahu ternyata dia adalah arlen. Sebenarnya, bukan maksudku untuk ingin membalas dendam padanya, tapi aku hanya ingin melupakannya dengan caraku sendiri. Sudah cukup, kesedihan yang ku alami. Aku sudah tak percaya lagi padanya. Dan aku rasa tak ada yang perlu di maafkan, semuanya telah berakhir. Ya…. Berakhir.Malam itu terasa menyebalkan. Kenapa aku mesti mandapatkan banyak nomor ponsel yang tak jelas. Sebenarnya sich aku tak memikirkannya. Tapi… aku takut nomor ponsel itu adalah nomor ponsel milik teman-temanku. Aku takut dibilang sombong oleh mereka setelah kepindahanku disini. Hah…. Ini semua disebabkan oleh rusaknya Hp pertamaku. Andai saja dia tidak rusak. Pasti semua ga’ bakalan seperti ini. Akhirnya mau tidak mau aku ladenin dech nomor-nomor itu.Ada satu nomor, yang membuatku benar-benar naik darah. Aku nanyain baik- baik siapa dia, eh malah dia tidak mau beritahu jati dirinya. Menyebalkan tidak….???? Dan sampai sekarang pun dia masih tetep meghubungi ku tanpa identitas yang jelas. Hah… akupun tak memperdulikannya. Lagian siapapun yang mengenalku, entah secara langsung ataupaun tidak langsung. Bagiku mereka semua adalah sahabatku. So, semuanya bisa berjalan dengan baik. Waktu pun semakin berlalu. Ada seseorang yang membuatku tertawa lepas kayak seperti dulu lagi. Meskipun saat ini aku masih menggantung cintanya, namun dia mau menunggu sampai akhirnya aku bisa menyayanginya. Meskipun pada kenyataanya, dia itu 3 tahun lebih muda dariku. Tapi,,, dia mampu mencintaiku apa adanya dan yang pastinya dia selalu membuatku tersenyum. Sampai sekarang pun… setiapa kali aku lagi boring sama tugas-tugasku, dia masih tetap menemaniku dengan suaranya yang lembut melalui komunikasi. Benar-benar menyenangkan. Terimakasih ya Allah… karena telah memberikan aku kebahagiaan melalui sosok dirinya. Hm…. Semuanya masih tetap baik-baik saja. Dia masih tetap mengatakan cinta padaku dan masih tetap meyakinkanku bahwa dia akan tetap bertahan sampai akhir. Namun, waktulah yang akan menjawab semuanya. Aku sangat menyayanginya, meskipun pada kenyataannya kami belum berpacaran. Dia begitu berbeda dengan mantanku sebelumya. Memang aku masih menggantung cintanya. Aku hanya takut merasakan kekecawan yang sama seperti yang dilakukan arlen padaku. Aku percaya dia tak akan menyakitiku.Entah apa yang terjadi, dia berubah tanpa ku tahu alasannya. Dia selalu diam ketika ku ajak bicara, tak pernah mengangkat telponku dan bahkan tak pernah memblas SMS-ke. Dan kini sekarang waktu telah menjawab semuanya. Dia tidak bisa menepati janjinya. Dia ingin hubungan kami berakhir. Aku sich fine ja, karena aku ngerasa aku tidak pacaran sama dia. Memang benar aku menganggapnya sebagai pacar 50%-ku. Dan akan mencapai 100% setelah aku udah menyandang gelar sarjana. Aku sadar 4 tahun itu adalah waktu yang lama. Sebenarnya aku hanya ingin meminta pembuktian dari dia, apakah dia bisa menepati janjinya atau tidak? Ternyata tidak. Sebenarnya aku bingung, setelah dia mengatakan putus, malah dia bilang kalau itu semuanya hanyalah bercanda. Aku tak percaya, karena aku ngerasa dia mengatakannya dengan hatinya sendiri. Hah… sudahlah. Aku tak boleh terlalu larut dengan semua ini. Karena masih banyak hal yang mesti aku fikirkan selain masalah ini. Bukannya aku tak peduli, tapi apakah aku harus menangis dengan berakhirnya hubungan ini? Ataukah aku mesti memohon padanya untuk tidak mengakhiri hubungan kami? Itu semua tak akan ku lakukan. Aku mempunyai komitmen yang besar. Yang tentunya tidak boleh membuat aku lemah dan manja di depan laki-laki seperti dia. Aku juga memahaminya. Mungkin dia tak sanggup menungguku selama itu. Tapi aku malah lebih kecewa karena ternyata dia mengingkari janji yang telah dia ucapkan padaku. Kalaupun pada akhirnya menjadi seperti ini, aku sudah mengikhlaskan semuanya. Aku juga mengerti setiap ada pertemuan pasti bakalan ada perpisahan. Biarlah dia menikmati masa remajanya dengan bahagia. Dan aku, aku juga akan menikamati aktivitas yang aku jalani saat ini. So, semuanya akan membaik. Aku harus bisa,,,,! Ada keluarga besarku di dunia ini yang membutuhkanku. Sebisa mungkin aku akan berjuang, agar kelak aku bisa membantu mereka keluar dari keterpurukan yang mereka alami saat ini. Tak ada yang membedakan mereka. Di mataku, mereka semua adalah keluarga besarku. Good bye my boy friend 50 %. I hope you always happy. Harapan CintakuKetika mentari menyinari dunia…Ku berharap ada secercah harapan cintaku tersinari jugaNamun ternyata sinar itu tak kunjung datangMasa demi masa telah terurai….Aku masih tetap seperti iniMenjalani hidup yang ada di depan mataKetika mataku mulai meredup….Hatiku tak berharap lagi…Mentari itu malah datang memberikan sinarnyaAku pun dengan tangan terbuka danSenyum yang bahagia menyambut kehadirannyaHarapan cinta itupun mulai ada….Namun,,, disaat aku mulai berharapDia malah pergi meninggalkanku….Kenapa mesti seperti ini?Aku sangat menyayanginya…Kini aku sadari,,,Dia hanyalah bayangan sinar mentariYang tak sengaja singgah di hatikuDia hanya ingin menghancurkanku dengan serpihan cahayanyaDia hanya ingin membuat hatiku meleleh dengan panasnya.Aku tak menyesal bertemu dengannyaYang aku sesali adalah dia telah membohongi dirinya sendiriDengan mengubar janjiSelamat tinggal mentariku……Bawalah harapan cintaku dengan tenggelamya sinarmu dikala senja…

  • Cerpen Cinta Romantis “Kenalkan Aku Pada Cinta” ~ 03

    Oke, Ide ceritannya dadakan, waktunya pengetikannya juga maksa. So kalau cerita nya rada maksa juga harap di maklumi aja yak?. Cerpen ini adalah lanjutan dari cerpen cinta romantis " Kenalkan aku pada cinta" part 2 kemaren. Abis, kalau di inget inget udah lama juga nggak di lanjutin ternyata. Soalnya gara gara pinguin V2 si. Jadi males di star night malah sok sok an bikin "cerpen remaja cinta 'Cinta ci penghujung harap'. Yang jelas apapun hasilnya, nikmatin aja lah. Mumpung masih mau nulis ini. ^_^Setelah merapikan poni rambutnya serta memastikan kucir kuda di rambutnya terikat kencang, tangan Astri terulur membuka laci meja riasnya. Dari kota persegi panjang itu ia temukan kaca mata yang selalu menemani kesehariannya di kampus. Setelah mengenakannya ia berbalik. Meraih tas, dan segera menuju ke kamar sebelah.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*