Cerpen Cinta: Bukan Cerita Biasa

Bukan Cerita Biasaoleh Fahrial Jauvan Tajwardhani
Cinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.
Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta.
***
Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.
Begini ceritanya,
Anatasha dan Reza, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.
Meski Reza tau Anatasha tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan airmatanya manakala Anatasha memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 1 bulan lamanya menikmati dunia.
Bukit berbunga, tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga, tempat yang penuh akan kenagan manis mereka.
Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang.
***
Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar Anastasha menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa.
Tak sedikit air mata Reza yang tertumpah untuk Anatasha, manakala melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan.
Tak kalah hebat cinta Anatasha untuk Reza, korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak terluka lagi dihatinya. Meski ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.
Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.
T ak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di pipi. ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya berderai.
“Kenapa Reza menangis.”
“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.
“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.
Reza hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Anastasha.
“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.
Airmata tulus mulai meleleh dari mata Anatasha. “Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.”
“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.”
“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?”
“Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”
Anatasha menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.
“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”
“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku menghilang.”
“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.
“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.”
“Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.
“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”
“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.”
“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Anatasha mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat.
Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.
SELESAI
Fahrial Jauvan TajwardhaniProfil penulis:
Nama Lengkap: Fahrial Jauvan Tajwardhani
Panggilan : Jauvan
Agama : Islam
Jejaring sosial
Facebook : Fahrial Jauvan Tajwardhani
Twitter : @FahrialJauvan
Cerpen lainnya: Izinkan Aku Hidup

Random Posts

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 05 { Update }

    Masih seputar Serial Diera Diary yang memang belum ketemu sama ending. Di cerita sebelumnya, kayaknya hubungan keduanya sudah mulai oke tuh, tapi tetep belom berdamai. Tapi nggak tau deh kalau pada Cerita SMA Diera Diary ~ 05 ini mereka akhirnya baikan. Untuk jelasnya, langsung simak aja yuk.Oh iya teman teman. Biar nggak bingung sekaligus jadi lebih mempermudah untuk yang membaca, part sebelumnya di baca dulu ya yang bisa langsung di cek disini. Cerita SMA Diera Diary ~ 04Cerita SMA Diera Diary ~ 05Diera sedang berjalan jalan di pasar bersama Cycie untuk membeli perlengakpan sekolah adiknya.“Kak Rian” teriak Cycie tiba-tiba yang membuat Diera kaget dan segera menoleh. Pada saat bersamaan Rian juga menoleh kearanya dan sepertinya dia juga kaget.“Cycie?” sapa Rian seolah masih nggak percaya.“Ia. Kakak ngapain di sini?” balas Cycie.“Lagi jualan bakso” balas Rian.“Ha?. Yang bener?” Cycie kaget. Diera apalagi.“Ha ha ha… ya nggak lah. Kakak jalan-jalan aja kok. Cycie sendiri lagi ngapain?” balas Rian.“Kirain” gumam Diera lirih. Rian sempet melirik mendegar gumamannya. Tapi Diera malah pura-pura milih-milih tas buat adiknya.“Cycie lagi mau nyariin tas buat sekul besok. Tapi Cycie pikir kak Rian beneran jualan bakso tadi.”“Emang kakak cocok jualan bakso?” Rian balik nanya.Cocok banget,” Diera yang bales. Rian mendelik mendengarnya.“Ya engak lah. Kakak kan keren masa jualan bakso. Ya pasti nggak cocok lah. Pantes nya tu kakak jadi model” balas Cycie. Rian tersenyum. Diera mencibirkan bibir mendengarnya.“Eh Cycie haus nggak. Kita minum es kelapa muda dulu yuk. Kakak yang trakrir deh,” ajak Rian kemudian.“Beneran? Mau banget,” Cycie seneng mendengarnya.“Yuk” ajak Rian sambil menarik tangan Cycie agar mengikutinya.“Eh tunggu. Gue nggak di ajak” Diera menunjuk mukanya sendiri.Rian sama sekali tidak menoleh malah asik ngobrol sama Cycie seolah-olah nggak denger apa-apa. Diera jelas sebel di cuekin begitu. Tapi tak urung di ikutinya kedua orang itu pergi.Selama mereka minum Diera juga tetap terus di cuekin. Rian sama Cycie malah keasikan ngobrol sambil ketawa-tawa. Huh bikin ngiri aja. Batin Diera. Padahalkan dia yang naksir sama Rian. Tapi tu orang malah deketnya sama adeknya. Mana baru mau masuk ke esde lagi. Masa ia kalah sama anak kecil.Diera berusaha ngajak Rian ngobrol. Tapi tu orang masih berlagak nggak denger. Akhirnya kesabaran Diera habis dan segera mengajak adiknya pulang. Rian tersenyum sendiri sambil memperhatikan pungung Diera yang pergi bersama adiknya meninggalkannya dengan wajah cemberut.Keesokan harinya Diera sedang merapikan penampilannya di kamar mandi ketika tiba-tiba Andreani and friend menghampirinya.“Gue minta mulai sekarang loe jauhin Rian,” Andreani langsung to the point.“Maksut loe?” Diera nggak ngerti.“Masih nggak ngerti juga ya. Gue mau loe jauhin Rian. Jangan deket-deket lagi sama dia. Apalagi sampai merayunya. Ngerti!” sambung Niken.“Eh gue nggak pernah ngerayu dia ya,” Diera berusaha membela diri. Tapi Bella malah terus menyudutkannya.“Oh ya. Terus kemaren apa maksutnya. Loe pake ngunain adek loe segala. Kita udah liat semuanya tau,” tambah Andreani lagi.“Ia. Loe suka kan sama Rian?” bentak Niken lagi.“Engak” Diera membantah.“Alah nggak usah bohong deh. Semua orang juga bisa ngebacanya dengan jelas kok,” ledek Angela.“Gue Cuma….” Diera lemes mendengarnya. Jangan-jangan buku diarinya….“Kita akan kasih tau semua orang kalau loe tu naksir sama Rian,” ancam Andreani lagi.“Please jangan. Gue akan turtin apa mau loe. Tapi tolong balikin buku gue,” pinta Diera.“Loe ngomong apa sih?” Tanya Bella Heran.“Udah lah. Pokok nya loe harus jauhin Rian. Atau loe akan tau akibatnya nanti,” selesai berkata Andreani mengajak teman-temannya pergi meninggalkan Diera yang duduk bersandar di dingding dengan lemas.“Diera kenapa? Loe sakit?” Tanya Hera saat Diera baru masuk ke kelasnya.“Nggak kok” balsa Diera.“Kok muka loe kusut gitu?”“Ia. Apa loe ada masalah?” tambah Lilly.“Nggak ada apa apa kok. Kalian tenang aja. Cuma kayaknya gue kecapean aja deh.”“Kecapean?” Narnia Heran.“Ia. Eh Gue pinjem buku catatan kalian ya. Soalnya gue ada yang ketiangalan pelajaran waktu nggak masuk kemaren,” Diera ngalihin topic pembicaran.“Kalau itu sih bisa aja.”“Stt…. Buk Helen udah masuk tuh” Anggun mengingatkan.Cerita SMA Diera Diary ~ 05Rian sedang asik tidur di dalam kamarnya sambil mendegarkan musik mp3 nya, ketika terdengar bel rumannya yang terus berbunyi. Dengan malas Rian berjalan menuju kepintu. Karena memang saat itu hanya dia sendiRian yang lagi di rumah ibu sama adik nya yang baru kelas 3 smd sedang keluar. Sementara ayahnya sendiri pasti saat ini masih di kantor.“Hera?” Rian kaget.“Ia. Ini gue. Nggak usah kaget gitu deh,” balas Hera santai.“Ada apa?” tanya Rian lagi.“Ada apa?” Hera balik nanya karena biasanya kan ia memang jalan kerumah Rian setiap kamis dan rabu sore untuk mengajarkan less bahasa ingris kepada septia. Adik perempuannya Rian.“Septia ada kan?” Tanya Hera lagi. Karena Rian sepertinya masih kaget.“Oh…..mau nyari in Septia. Kirain mau nemuin gue.”“Maksutnya?” gantian Hera yang Heran.“Bukan…. Maksut gue Septian nya lagi keluar tadi nemenin mama. Tapi katanya bentar kok. Palingan juga bentar lagi pulang. Masuk dulu yuk” ajak Rian kemudian.Hera sebenernya agak rikuh juga sih. Tapi tak urunng di ikutinya Rian yang lebih dulu masuk ke dalam.“Ya udah. Loe duduk dulu ya. Oh ya loe mau minum apa. Biar sekalian gue ambilin.”“Nggak usah deh. Ntar aja,” tolak Hera.Untuk beberapa saat suasana hening. Masing-masing terdiam. Ya walau pun selama ini Hera sering jalan ke rumah Rian, tapi ia kan nggak pernah ngobrol sama Rian. palingan juga sama ibunya selain septia yang ia ajari. Bahkan teman-teman Hera sendiri nggak tau kalau ia memberikan less pada adiknya Rian.“E.. emang septia sama tante kemana?” tanya Hera memulai pembicaraan.“Ke rumah tante gue. Udah dari tadi sih. Biasalah nemenin mama. Tapi dia tadi bilang mau pulang cepet kok. Dia kan juga udah tau kalau hari ini dia ada less. Atau kalau nggak biar gue telp aja. Dari pada loe ntar kelamaan nunggu.”“Nggak usah deh. Lagian kayaknya gue yang kecepetan datangnya. Biasanaykan mulainya jam 3. ini baru juga jam dua setengah lebih gue udah dating. Jadi biarin aja deh,” cegah Hera.Suasana kembali hening.“Oh ya,…… e……” Rian ragu mau ngomong.“Kenapa?” Tanya Hera.“Gue mau nanya, soal foto kemaren. Itu.”“Loe tenang aja. Gue nggak ember kok. Foto itu masih gue simpen and nggak gue kasih lihat siapa-siapa kok. Bahkan Diera juga nggak tau kalau loe punya foto nya di waktu dia lagi tidur di hutan. Kemaren gue cuma iseng aja waktu Septia nanyain siapa cewek yang jadi walpeper di hape loe. Karena gue juga heran kok loe bisa punya fotonya Diera makanya gue send ke handfond gue,” potong Hera sebelum Rian selesai ngomong.“Cuma yang gue pengen tau kok loe mau sih nyimpen fotonya Diera?” Tanya Hera. Rian terdiam. Dia bingung mau jawab apa.“Loe nggak ada niat buat ngerjain dia kan?” tambah Hera lagi.“Ya nggak lah,” bantah Rian cepat.“Terus buat apa donk?” Hera masih penasaran.“Jangan-jangan loe suka sama die ya?” tebak Hera. Rian kaget lagsung menatap tajam kearahnya.“Apa an sih. Ya nggak mungkinlah. Masa ia gue suka sama dia. Loe kalau ngomong ngasal aja.”“Kirain. Lagian Diera itu kan udah baik, cantik, pinter lagi. Wajar donk kalau loe suka sama dia.”“Promosi nih ceritanya….”“Ya nggak lah emang kenyataannya kok. Lagian kan kalian masih sama sama jomlo. Jadi sah sah aja kan.”“Apasih. Loe ngomongnya makin ngelantur aja. Lagian siapa bilang gue jomlo?” Rian keki di desak gitu.“Septia….” Balas Hera datar."Aah tu anak emang ember. Lagian Septia loe dengerin.”“O…. jadi loe udah punya pacar?” Tanya Hera lagi.“Ah tau ah…… Tuh kayaknya mama sama septia udah pulang deh. Jadi gue tinggal ya?”Tanpa menunggu balasan dari Hera, Rian beranjak menuju kekamarnya. Pada saat bersamaan Septia dan mamanya juga sudah muncul.“Eh kak Hera. Udah dari tadi ya kak?” Tanya septia begitu melihat Hera.“Nggak kok. Baru juga nyampe.”“Aduh maaf ya nak Hera. Tadi tante keasikan ngobrol sampai lupa waktu” tambah mamanya septia merasa bersalah.“Nggak papa kok tante. Lagian kayaknya emang aku yang kecepetan datangnya deh. Abisnya tadi aku juga baru nganterin mama kerumah temennya yang kebetulan searah. Jadi dari pada bolak-balik mending aku kesini aja,” balas Hera.“Gitu ya. Ya udah tante tinggal dulu ya.”“Ia tante” Hera mengangukan kepalanya.Cerita SMA Diera Diary ~ 05Diera buru-buru menarik dirinya keluar dari pintu perpustakaan sekolahnya ketika dilihatnya Rian yang lagi duduk disalah satu meja yang tak jauh dari pintu masuk. Ia segera membalikkan badan membatalkan niatnya untuk masuk dan malah kembali menuju kelasnya. Dan duduk disana sendirian sambil kembali mengulang-ulang pelajaran yang tadi diberikan gurunya.“Lho ra, kok loe disini?” tanya Lilly yang baru masuk kekelas. Kebetulan tadi uangnya ketinggalan didalam tas.“Eh Lilly?” Diera kaget“Bukannya tadi loe bilang mau keperpus ya?” tanya Lilly lagi“0h itu. Nggax jadi,” sahut Diera singkat.“Kenapa?”“Nggax kenapa-napa?”“Ya udah kalau gitu gabung ma kita yuk. Mau kekantin nih gue. Lagian ngapain sih loe dikelas sendiRian. Kesambet baru tau loe” ajak Lilly. Diera dengan senang hati mengikutinya.Dikantin semuanya asyik ngobrol ngalor ngidul. Tapi Diera lebih banyak diem. Ia masih terus kepikiran buku diarynya yang masih belum ketemu. Bahkan menurut dugaannya ada saat ini buku itu ada pada Andreani and temen-temennya.“Diera loe kenapa sih?”. Dari kemaren kita perhatiin kayaknya loe murung terus. Loe ada masalah ya?” tanya HeraDiera hanya terdiam.“Diera?” panggil Narnia Heran.“Eh kenapa?” tanya Diera kaget“Yah… ngelamun dia…loe kenapa sih? Kalau emang ada masalah cerita donk ama kita. Kali aja kita bisa bantu,” sambung Lilly yang juga bingung melihat tingkah laku sahabatnya akhir-akhir ini yang banyak ngelamun“Ya gue kan udah bilang gue nggax kenapa-kenapa,” elak Diera“Atau jangan-jangan masih masalah diary itu ya?” tebak anggun. Diera menoleh.“Udah lah nggax usah terlalu loe fikirin. Gue yakin kok buku itu nggax jatuh ketangan orang jahat. Soalnya kalau nggax pasti dia gunain ini buat meres loe. Ya… suka ngambil kesempatan dalam kesempitan gitu.”“Ia ra. Buktinya sampai sekarang nggax ada kan yang ngelakuin itu?” sambung Lilly. Diera hanya tersenyum kecut. Dia nggax mau bilang kalau kemungkinan besar buku tersebut saat ini ada pada Andreani dan temen-temennya dan memang saat ini di gunakan untuk memerasnya agar menjauhi Rian.Cerita SMA Diera Diary ~ 05Diera mempercepat langkahnya sambil terus melirik jam tangannya. Pukul tujuh lewat lima menit. Hatinya was-was takut terlambat. Ia terus berjalan meninggalkan kakaknya yang masih mengutak atik motor mereka yang tiba-tiba mogok sebelum sampai kesekolah Diera. Karena itu Diera memutuskan untuk jalan kaki saja dari pada kesiangan. Walau pun jarak sekolahnya tidak terlalu jauh lagi . palingan satu kali belok saja udah nyampe. Kalau saja motornya nggax mogok palingan juga lima menit nyampe. Hanya berhubung jalan kaki jadi terasa nya kaya jauh banget.Bunyi klakson mengagetkan Diera. Ia menoleh.“Elo?” Diera kaget“Iya. Ini gue Pasya. Masih inget kan?” kata pengendara motor tersebut.“Ya ingetlah. Kan loe yang bantuin gue kemaren.”“Lho kok jalan kaki?”“Ia nih. Soalnya tadi motor kakak gue mogok. Jadi dari pada kelamaan nunggu mendingan gue jalan aja deh. Mana udah siang lagi. Takut nya ntar terlambat.”“ 0 gitu ya. Ya udah bareng gue aja yuk. Lagian bentar lagi pasti bel.” ajak Pasya. Diera terdiam. Sejenak ragu, tapi Pasya menyakinkan. Akhirnya Diera pun setuju untuk duduk dibelakang Pasya.“Eh ma kasih ya. Untung aja ada loe. Kalau nggax gue pasti udah terlambat. Mana hari in ada ulangan lagi” kata Diera setelah meteka sampai di parkiran sekolah“Santai aja lagi,” balas Pasya sambil melepas helm nya yang dikenakannya“Ya udah kekelas yuk”Pasya mengangguk karena kelas mereka memang searah. Begitu berbalik Diera kaget, karna selang tiga motor dari tempatnya berdiri tampak Rian yang terus menatapnya dengan helm ditangannya. Sepertinya Rian juga baru tiba sebelumnya.Tapi Diera pura-pura nggax ngelihat dan dengan santai melewati Rian sambil mengajak Pasya untuk jalan disampingnya. Bahkan ia sempet basa-basi juga sama Pasya ang sudah membantunya.Diera baru saja keluar dari ruangan pak gunawan untuk menyerahkan tugas yang diberikan guru tersebut teman sekelasnya ketika didepanya tampak Rian yang berjalan munuju kearahnya sambil menenteng buku juga. Sepertinya ia juga mendapat tugas yang samaDan sebelum Rian sampai keaarah nya, Diera buru-buru memutar haluan. Balik kanan dan langsung ngacir meninggalkan Rian yang terus berjalan sambil tak henti menatapnya dengan Heran akan perubahan sikapnya.Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 06~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 04″

    Lanjut kisah dari cerpen Take My Heart yang kini udah sampe part 04. Secara ni cerita lumayan panjang, terdiri dari 20 part. So untuk yang udah kadung merasa penasaran tentang gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak kisahnya di bawah ini. Dan biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading guys….Cerpen Take My Heart"Dasar manusia gila, kurang kerjaan. Rese," gerut Vio.Sepanjang jalan menuju kekelasnya ia terus mengerutu tak jelas. Entah itu karena perlakuan Ivan padanya atau karena ia merasa nasip sial masih menyertainya. Mendadak ia merasa ragu kalau keputusannya pindah kampus untuk mengobati rasa patah hatinya atas penolakan Herry benar – benar merupakan hal yang benar. Secara kali ini ia menyadari kalau nasipnya di kampus baru ini juga tidak terlalu mujur.Entah karena keasikan mengerutu atau memang karena pikirannya sedang melayang – layang, yang jelas saat belokan koridor kampusnya tak sengaja ia malah menabrak seseorang. Membuat gadis itu _ yang ternyata sedang membawa banyak buku langsung berserakan di lantai."Sory sory sory, gue nggak sengaja," Vio segera berjongkok. Mengumpulkan kembali buku – buku itu. Hal yang sama juga di lakukan oleh gadis itu.Setelah buku – buku itu kembali tertata rapi barulah Vio berani mentap sosok yang di tabraknya yang kebetulan juga sedang menatapnya.Bulu matanya yang lentik serta kulit wajahnya yang halus tanpa jerawat langsung menjadi nilai plus dari Vio atas gadis itu. Apa lagi di tambah dengan bola matanya yang coklat serta bibir yang mungil. Benar – benar keindah paras tanpa cela."Eh sekali lagi maaf ya. Gue jalan nggak liat – liat," ulang Vio merasa bersalah."Nggak papa kok. Kayaknya tadi itu juga gue emang ceroboh," balas gadis itu sambil berdiri. Matanya masih memperhatikan Vio. Sepertinya gadis itu juga sedang memberikan penilaian atas dirinya."Vio," tampa di minta Vio langsung mengulurkan tangannya. Untuk sekian detik gadis itu terdiam. Mencoba mencerna maksut Vio. Baru lah pada detik berikutnya senyum mengembang di bibir sambil tangannya terulur menyambut uluran tangan Vio."Silvi."Kata pertama yang Vio dengar keluar dari mulut gadis mungil itu. Merdu. Membuat Vio kembali harus mengakui kelebihan barunya.Sejenak Vio kembali terdiam. Silvi? Kenapa ia merasa familiar dengan wajah itu ya? Sepertinya ia pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana ya?"E.. Mahasiswi baru ya?" pertanyaan Silvi sudah lebih dulu mendahuluinya."Kok tau?" akhirnya Vio lebih memilih untuk balik bertanya dari pada menjawab. Sebuah kebiasaan yang memang sering di lakukan oleh kebanyakan orang jika langsung benar dalam menebak sesuatu."Soalnya gue baru liat" Balas Silvi sambil tersenyum. Vio ikut tersenyum sambil mengangguk membenarkan."Oh ya, buru – buru memang mau kemana?" tanya Vio mengalihkan pembicaraan."Tadinya si pengen ke kantin, tapi karena waktu sepertinya sudah tidak memungkinkan mending gue langsung balik kekelas aja deh," salas Silvi setelah tadi sempat terdiam beberapa saat."Kalau boleh tau kelas mana emang?" tanya Vio lagi."Jurusan sastra, semester empat ruang 3C.""Kok sama?" tanya Vio kaget."Masa sih?" Silvi ikut – ikutan kaget."Tapi perasaan tadi gue nggak ada liat loe di kelas sebelumnya?" tanya Vio lagi."O… Gue baru datang.""Jam segini?" Vio tampak memelototi jam yang melingkar di tangannya."He he he," Silvi thanya nyengir polos. "Gue nggak harus masuk semua mata kuliah kan untuk bisa di akui sebagai mahasiswa di kampus ini?"Vio mengeleng tak percaya. Dengan tampang sepolos dan seimut dihadapannya ia tidak akan pernah menyangka kalau gadis itu mau membolos."Lagi pula gue selalu melakukan hal yang gue sukai kalau loe belom tau," tambah Silvi lagi. "Apapun!" sambungnya.Mendengar kalimat tegas di penghujung kata Silvi hanya mampu membuat Vio angkat bahu. Setiap orang bebas untuk berpendapat bukan, terlepas dari hal itu benar ataupun salah. Lagipula bukankah orang – orang selalu menganggap bahwa hidup ini pilihan?"Kalau gitu, bisa kita langsung kekelas bareng?" ajakan Silvi membuyarkan lamunan Vio. Tanpa kata ia kembali mengangguk. Berjalan beriringan menuju kekelasnya. Sivli, orang pertama yang ia kenal di kampus barunya itu.Baiklah, edisi ralat. Silvi, orang pertama yang bisa ia di jadikan sahabat di kampus baru itu walau bukan orang pertama yang ia kenal. Masih ada para dosen juga si Laura, musuh dadakannya. Ataupun si Ivan, cowok kurang ajar yang menjadikan ia sebagai sarana untuk mendapatkan sepuluh juta.Cerpen terbaru "Take My Heart""Oh ya Vi, ngomong – ngomong loe kenal Ivan nggak?" tanya Vio.Ini adalah hari keduanya di kampus Amik sebagai mahasiswi baru. Menghabiskan waktu pergantian mata kuliah di kantin sambil menikmati Mie Soo pesanannnya di temani Silvi yang duduk di hadapan sembari menikmati sepotong pisang goreng."Ivan? Maksut loe dia?" tanya Silvi sambil menunjuk ke luar melewati jendela kaca kantin itu.Gerak refleks mata Vio mengikuti arah yang di tunjuk Silvi. Beberapa detik kemudian kepalanya mengangguk membenarkan."Tentu saja. Siapa si yang nggak kenal sama playboy kelas kakap itu?" balas Silvi santai."Oh ya? Emang dia beneran playboy?" tanya Vio terlihat tertarik."Emm," Silvi mengangguk membenarkan. Mulutnya masih penuh dengan pisang goreng membuatnya agak sulit untuk berbicara. Vio hanya mangut – mangut membenarkan."Bahkan asal loe tau aja. Bukan cuma playboy tu orang juga kurang ajar banget. Dua hari yang lalu, di kantin ini, di hadapan semua orang dia mutusin si Laura. Cewek idola di kampus kita. Katanya dia jadian sama tu cewek cuma karena taruah. Astaga, Gue nggak akan percaya kalau saja waktu itu gue nggak ngeliat kejadiannya di depan mata kepala gue sendiri," tambah Silvi lagi.Vio kembali terdiam. Sekarang ia mengerti kenapa Laura begitu benci pada Ivan sampe – sampe harus menyewa preman segala. Sepertinya itu memang pembalasan yang pantas untuknya."Tapi dari mana loe bisa tau soal dia? Terus kenapa loe pake nanyain dia tiba – tiba?" tanya Silvi tiba – tiba membuat Vio kembali harus diingatkan akan nasip hidupnya."Dia jadiin gue target selanjutnya. Dia juga jadiin gue sebagai barang taruah sepuluh jutanya," balas Vio lirih berbanding balik dengan reaksi sosok di hadapannya."Apa?! Loe adalah target taruhan Ivan yang selanjutnya?!" Demi apapun Vio benar – benar menyesali apa yang ia katakan barusan. Teriakan yang di ucapkan Silvi beberapa saat yang lalu benar – benar telah berhasil menarik perhatian seisi kantin. Sama halnya seperti banjir yang melanda Jakarta namun mampu membuat heboh seluruh warga Indonesia. Membuat Vio hanya mampu mengangkat tangannya menutupi wajah karena malu walau ia tau itu percuma."Kenapa nggak sekalian aja loe minjem mic di kampus ataupun loe bikin iklan di koran tempo," gerut Vio kesel."Ups, sory gue kelapasan," bisik Silvi merasa bersalah."Loe barusan bilang apa? Loe target taruhan Ivan yang selanjutnya?" tanya seseorang yang duduk tak jauh dari meja mereka angkat bicara sambil bangkit menghampiri. Vio hanya mengernyit kesel. Kenal juga enggak kenapa langsung di tuding begitu. Benar – benar nggak sopan."Enggak, kalian salah denger," elak Vio yang ia juga tau itu hal percuma. Mereka bukan anak kecil yang bisa dengan gampang di bohongi."Kita nggak mungkin salah denger. Jadi bisa loe jalasin apa maksut ucapan loe tadi?".Telak, benarkan apa yang Vio pikirkan barusan. Membohongi mereka itu percuma."Baiklah, walaupun seandainya itu benar, gue nggak berkewajiban untuk memberitaukannya pada kalian kan?" balas Vio akhirnya."Loe salah. Apaun yang berurusan sama Ivan itu selalu menjadi urusan kita."Vio hanya mendengus mendengar kalimat barusan. Bukankah itu kalimat yang sama yang ia dengar dari mulut Laura beberapa saat yang lalu? Lagipula, astaga. Yang benar saja, ia baru dua hari di kampus ini. Kenapa begitu banyak masalah yang bermunculan? Kenapa nggak sekalian saja masalah patah hatinya di bawa kseini? geramnya."Jadi apa benar Ivan melakukan taruhan lagi?" tanya seorang lagi yang tak Vio ketahui siapa."Ya," akhirnya dengan berat hati Vio mengangguk membenarkan. Membuat bisikan sana sini samar-samar terdengar."Kok bisa? Gimana ceritanya?""Iya, loe juga nggak cantik – cantik amat tuh," sambung yang lain setengah menghina."Mana gue tau. Kalau kalian mau tau tanyain saja langsung sama si Ivan," gertak Vio.Kesabarannya habis. Dengan cepat ia bangkit berdiri. Berlalu melewati anak – anak yang jelas masih penasaran. Meninggalkan kantin dengan keselnya."Loe mau kemana?" tanya Silvi sambil mensejajarkan langkahnya bersama Vio. Tapi vio tetap terdiam."Maaf, tadi gue nggak sengaja," sambung Silvi lirih.Untuk sejenak Vio menghentikan langkahnya. Menatap kearah Silvi yang terlihat merasa bersalah. "Sudahlah, lupain aja. Gue tau kok tadi itu loe nggak sengaja," kata Vio akhirnya."Tapi…." Silvi tidak jadi melanjutkan ucapannya. Matanya lurus menatap kehadapan. Memuat Vio sejenak merasa heran, dan begitu menoleh."Halo Vio," sapaan lembut dari mulut Ivan sontak membuatnya mendadak merasa mual."Ya Tuhan…" gumam Vio frustasi sambil mengusap keningnya."Loe kenapa? Sakit?" tanya Ivan. Raut khawatir jelas tergambar di wajahnya."Diem loe," damprat Vio sewot. Kemudian tanpa kata segera berlalu."Kenapa tu anak? Lagi datang bulan ya?" tanya Ivan kearah Silvi yang masih berdiri di hadapannya."Jiah, pake nanya. Bukanya itu gara- gara loe ya?" cibir Silvi sinis."Gue?" tunjuk Ivan kearah wajahnya sendiri."Iya. Ngapain loe jadiin dia target taruhan loe selanjutnya. Emang nggak bisa mikir loe ya?""Kok loe tau?" tanya Ivan makin kaget."Bukan cuma gue. Tapi gue bisa jamin, sebentar lagi. Seluruh anak kampus juga bakal tau.""Ha?"Mulut Ivan hanya mampu melongo. Sementara Silvi sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan itu lebih lanjut. Ia lebih memilih mengejar Vio. Memastikan kondisi gadis itu sekarang. Astaga, ada ada saja.Next to Cerpen Take My Heart Part 05Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Cerpen “Say No To Galau”

    Galau lagi, galau lagi. Sebenernya obat galau tu apa si?. Udah keliling – keliling ngobrak abrik google masih juga belom nemu obatnya. -_______-Tapi okelah, seperti kata salah satu reader blog ana merya, mari coba ambil hikmahnya aja. Yah salah satunya dengan menuangkannya dalam bentuk cerpen misalnya. And than, jadilah cerpen say no to galau.Gimana sama cerpen hasil mengalaunya? Cekidot….Say no to galau"Hufh, akhirnya selesai juga," Tasya menghembuskan nafas lega, begitu juga Ardi, Dion, Yuli, Vano dan Lilian yang tampak sedang ikut mengumpulkan tumpukan buku yang berserakan di meja. Tak terasa sudah hampir 4 jam mereka dipaksa berkutat pada tumpuk – tumpukan buku sastra di perpustakaan kampus hanya untuk menyelesaikan tugas yang di berikan dosen 'Killer'."Iya nih, badan gue juga udah pegel semua," sahut Vano Sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku."Oh ya, Seila. Udah pukul berapa sekarang?" tanya Yuli kearah Seila sambil terus menumpuk buku – bukunya."Enam kurang lima menit," balas Seila sambil melirik jam yang melingkar di tangannya."Nggak terasa udah sesore ini. Untung aja semuanya beres. Ya udah mending kita pulang yuk," Kata Vano sambil beranjak dari duduknya yang langsung diikuti oleh yang lain."Seila, loe pulang bareng siapa?" tanya Dion sambil berusaha untuk mensejajarkan langkahnya."Biasalah, nunggu jemputan sama kakak gue. Nie gue lagi mo sms dia," balas Seila tanpa mengalihkan tatapannya dari handphone yang ada di tangan. Jari – jarinya dengan lancar mengetikan kata demi kata."Ya udah, kalo loe nggak keberatan mending pulangnya bareng gue aja. Biar gue yang nganterin," Dion menawarkan diri. Untuk sejenak langkah Seila terhenti. Menoleh kearah Dion yang juga sedang menatapnya."E… Nggak deh. Ntar ngerepotin lagi. Lagian rumah kita kan nggak searah," tolak Seila sopan."Udah Seila, nggak usah nolak. Apalagi ini juga kan udah sore. Lagian kalau cowok itu emang tugasnya buat di repotin kok," kata Vano sambil melirik Lilian, pacarnya. Yang di lirik hanya mencibir kesel karena merasa sedang di sindir terang – terangan.Sejenak Seila menunduk. Menimbang – nimbang tawaran itu. Sejujurnya ia merasa sangat senang. Secara selama ini sebenarnya dia diam – diam mengagumi makluk satu itu. Hanya saja tidak mungkin kan ia yang mengungkapkan duluan walau pun dalam kesehariannya hubungan mereka berdua terlihat akrab. Ehem, sangat akrab malah. Wajahnya kembali ia toleh kan kearah Dion yang menatapnya teduh sambil tersenyum tulus. Dengan perlahan tapi pasti akhirnya Seila mengangguk. Kembali melangkahkan kaki menuju parkiran."Ma kasih ya, karena udah nganterin gue," kata seila begitu tiba didepan rumahnya."Sama -sama. Ya udah gue pulang dulu ya," pamit Dion."Nggak mampir dulu?" tawar Seila berbasa basi."Makasih. Lain kali aja. Udah hampir malam solanya," tolak Dion sopan sambil pamit berlalu dengan diantar senyuman yang tak lepas dari bibir seila.Cerpen Say no to galauDengan kekuatan penuh, Seila berlari disepanjang koridor kampusnya. Tatapan heran dari penghuni kampus lainya sama sekali tidak ia indahkan. Saat ini yang ada di benaknya hanya satu. Jika dalam wakut kurang dari lima menit ia masih belum mencapai kelasnya, maka bisa di pastikan nasipnya akan berakhir di tiang gantungan akibah ulah dari dosen 'KILLER' nya. # Lebay…."Hufh… untung saja," gumam Seilla bernapas lega sambil duduk di bangkunya. Sejenak ia melirik kanan kiri. Tatapannya berhenti di ambang pintu dimana sang dosen telah menunjukan batang hidungnya. Dalam hati ia bergumam, 'neraka dimulai'.@Kantin"Seila, tadi pagi tumben banget loe telat?" tanya Lilian sambil menikmati es sirupnya."Bangun kesiangan," balas seila cuek. Vano geleng – geleng kepala melihatnya."Oh ya, hari ini Dion nggak masuk ya?" Ardi mulai membuka percakapan.Mendengar nama Dion di sebut Seila langsung mendongakkan wajahnya. Menatap lurus ke arah Ardi. Dengan cepat diputarnya ingatannya. Kepalanya mengangguk membenarkan. Karena telat tadi ia jadi tidak menyadarinya."Ia. Hari ini dia ada acara penting gitu katanya. Nggak tau deh acara apaan," balas Vano."Eh, bukannya hari ini dia ulang tahun ya?" kata Yuli tiba – tiba mengingtkan."HA? Masa sih?" tanya Seila kaget. Ah sepertinya otaknya benar – benar blank sampe – sampe melupakan hari ulang tahun orang yang di sukainya."Oh iya. Kok gue bisa lupa ya?" Ardi membenarkan."Eh gimana kalau kita bikin acara kejutan buat dia?" kata lilian sambil menjentikan jari."Kejutan?" ulang Vano. Lili langsung mengangguk. Yang lain juga ikutan setuju."Tapi apa?""Gimana kalau kita bilang sama dia bahwa Seila kecelakaan?""Ha? Kok gue?. Nggak bisa," bantah seila cepet sebelum yang lain sempat mengomentari usul Vano barusan."Bener juga tuh," Ardi langsung menyetujui tanpa memperdulikan penolakan Seila sama sekali."Gue juga," Yuli, Lilian dan Vano kompakan mengangguk."Tapi gue kan nggak setuju," bantah Seila cepat. "Lagian kenapa harus gue si?""Soalnya lili kan pacar gue. Jadi nggak ngaruh – ngaruh amat. Kalau yuli la dia kan pacarnya Ardi," terang Vano."Terus, apa hubungannya?" kejar Seila."Ehem, nggak ada si. Cuma mau bilang aja kan cuma loe yang nganggur."Dengan cepat sebuah jitakan mendarat di kepala Vano sebagai balasan atas mulutnya yang asal njeplak."Loe pikir gue apa. Ngganggur, sembarangan aja kalau ngomong," Seila terlihat sewot."Ya deh. Sorry," kata Vano terlihat tak iklas sambil mengusap – usap kepalanya yang terasa berdenyut – denyut secara jitakan yang Seila berikan lumayan keras."Baiklah, intinya loe setuju kan?" tanya lili mencari penegasan. Dengan berat hati mau tak mau Seila terpaksa mengangguk.Cerpen Say no to galauDengan napas yang masih ngos – ngosan Dion berlari memasuki ruangan rumah sakit. Raut khawatir terlihat jelas di wajahnya begitu membuka salah satu ruangannya. Darahnya terasa seperti berhenti mengalir saat mendapati ke empat teman nya yang berdiri di samping tubuh yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan terselubung kain. sama sekali tak terlihat wajahnya."Seila kenapa?" tanya Dion kearah Vano."Dia kecelakaan ion. Tadi ketabrak mobil waktu pulang dari kampus," terang Ardi. Sementara Lili dan Yuli malah sudah berlinangan air mata."Heh, kalian bercanda kan?" tanya Dion tak percaya, walau justru air mata malah jelas menetes dari mata beningnya."Kita nggak bercanda Dion. Ini beneran," terang Vano dengan mata merahnya.Dengan lemas Dion jatuh terduduk. Air mata yang sedari tadi di tahan tak mampu ia bendung."Ini mustahil. Kalian pasti bercanda. Bagaimana bisa, semalam saja dia masih baik – baik saja.""Tadinya kita memang mau bercanda. Kita mau bikin acara kejutan di hari ulang tahun loe dengan membuat Seila pura – pura kecelakaan. Tapi…." Lili tidak sangup melanjutkan ucapnya justru ia malah terisak."Tapi apa…" kata Dion tanpa tenaga."Tapi dia malah ketabrak beneran," Ardi yang menjawab.Dion terdiam. Begitu juga dengan yang lainya. Suasan untuk sejenak hening sebelum kemudian Dion bangkit berdiri mendekat kearah tubuh seila yang tertutup selimut."Ion" Ardi memegang pundak Dion seolah memberinya kekuatan saat tangan Dion terulur untuk membuka kain penutup. Setelah menarik napas untuk sejenak untuk sekedar memantapkan hati. Dion membuka nya.Dan….Suasana kembali hening sampai tiba – tiba."Huwahahahaha,…." tawa keempat temanya serentak meledak saat mendapati raut bingung Dion saat menemukan hanya tumpukan bantal guling yang ada di atas ranjang."Ini maksutnya apa? Seila mana?" tanya Dion terlihat linglung."Surprize…" kata Seila yang baru muncul dari pintu dengan Sebuah cake coklat di tangannya. Lengkap dengan lilin diatasnya. "Kalian….." Dion kehabisan kata-kata. Benar – benar merasa andilau. Antara dilema dan galau. Ingin marah karena di kerjain dengan hal yang nggak lucu sama sekali atau malah harus bersukur karena semuanya baik – baik saja. Entah lah…"He he he… Jangan marah donk.. kita kan sengaja bikin kejutan buat loe. ya ya ya…." pinta Seila dengan puppy eyes andalannya. Mau tak mau Dion tersenyum. Tapi sumpah ia juga benar – benar merasa lega."Gila, sumpah beneran. Ini tu nggak lucu.""Ia dan nyiksa banget. Mata gue aja sampe sekarang masih pedes gara – gara ngasi balsem kebanyakan," tambah lili disusul anggukan Yuli yang membenarkan ucapannya sehinggak mau tak mau membuat Dion ngakak mendengarnya."Tapi please, lain kali jangan di ulangi ya. Memberi kejutan itu boleh saja, tapi kalau terlalu mengejutkan juga nggak enak rasanya?" pinta Dion kemudian."Syip…."."Ha ha ha, tapi hebat loe sampe nangis beneran gak perlu 'alat tambahan" puji yuli yang merasa matanya masih kepedesan. "Tentu saja. Seila kan sahabat gue yang terbaik," terang Dion. Seila langsung menoleh. Sahabat? Hanya Sahabat?"Oke sekarang tiup lilinya," Ardi mengingatkan."Eh, tunggu dulu" tahan Dion."Kenapa?" tanya Seila."Kalau gue ngajak seorang lagi buat ikutan gabung boleh nggak?" tanya Dion."Boleh aja si. Tapi siapa?" tanya tanya Lili."Ada deh. Tunggu bentar."Tanpa menunggu jawaban lagi Dion segera berlalu keluar. Selang sepuluh menit kemudian ia kembali muncul dengan seorang cewek di sampingnya."Oh ya, gue pengen kenalkan pada kalian. Ini Prisillia. Tunangan gue."JEDER…Rasanya tu Seperti ada petir di siang bolong saat hari sedang cerah – cerahnya. Teramat sangat mengagetkan sekaligus menakutkan bagi Seila. Hei, yang rencananya ingin memberi kejutan kan dia, kenapa malah dia yang terkejut?"Tunangan?" ulang Ardi ragu. Dion mengangguk cepat sambil mengenggam tangan cewek di sampingnya."Ia. Cantik nggak?" tanya Dion yang langsung meringis kesakitan karena mendapat cubitan di pinggang dari gadis di sampingnya yang tampak tersenyum malu – malu."Cantik si. Tapi kan…" Lilian tidak melanjutkan ucapannya. Sekilas ekor matanya menatap kearah Seila yang masih berdiri terpaku tanpa suara."Tapi?" Kejar Dion dengan kening berkerut yang sumpah mati Yuli benar – benar berniat untuk menjitaknya."Ehem…. Tapi kenapa selama ini loe nggak cerita sama kita?" potong Seila terlihat ceria. Ralat, pura – pura ceria maksutnya. "Yah, rencananya gue kan pengen ngasih kejutan ke kalian.""Oh gitu ya? Kita terkejut kok. Terkejut banget malah. Tapi nggak papa deh. Selamat ya?" kata Seila lagi sambil mengulurkan tangan dengan senyum tak lepas dari bibirnya."Ma kasih," balas Prisilia juga tersenyum."Kalau gitu kita bisa mulai potong kue nya kan?" lili berusaha mengalihkan pembicaraan."Bener juga. Sebelum itu gue pengen mekuis dulu ya?""Loe mau minta apa emang?""Gue harap hubungan gua dan Prisilia berjalan langgeng. Dan sahabat gue yang satu ini," Kata Dion sambil menarik Seila mendekat " Dapat segera mendapatkan pasangan hidupnya juga."Seila hanya tersenyum miris mendengarnya. No comen.Tepat saat lilin selesai di tiup, tiba – tiba handphone Seila berdering. Tanpa melihat id caller nya Seila langsung mengangat. "Hallo, Oh iya ma…..e….. iya,….. Aku pulang sekarang," tidak sampai 5 menit Seila segera mematikan telfonnya. Segera di hampiri teman – temnanya yang kini menatapnya heran karena mendegar obrolannya di telfon barusan."Sorry ya guys. Gue nggak bisa ikutan bareng ngerayaain ulang tahun Dion. Nyokap gue barusan nelpon. Gua harus pulang sekarang. Ada urusan penting gitu.""Yah… tapi kan…""Lain kali gue traktir loe ya. Tapi gue harus pergi sekarang. Da," pamit Seila cepat – cepat memotong ucapan Dion Barusan. Segera berlalu keluar meninggalkan teman – temannya dengan wajah bingungnya. Begitu keluar dari pintu air mata yang sedari tadi ditahanya langsung menetes. Dengan kasar ia mencoba menghapusnya. Tak mau telihat konyol dengan menangis di sepanjang koridor rumah sakit.Begitu sampai di pelataran, ia mendongak menatap langit. Hujan? Hal yang paling ia benci tapi kali ini sangat ia syukuri kehadirannya. Dengan santai ia melangkah menerobosnya. Membiarkah rintikan hujan itu membasahi tubuhnya. Untuk sedikit menyamarkan air mata. Walau tidak dengan hatinya. Rasa sakit itu akan tetap terasa. Karena hujan tidak akan semudah itu untuk menghapusnya.END!!!!!.Detail Cerpen Judul Cerpen : Say No To GalauPenulis : Ana MeryaPanjang : 1.782 WordsStatus : Cerpen PendekGenre : Remaja

  • Slamet dan Kawannya

    Slamet dan KawannyaBy. Deny Fadjar SuryamanGedubrakkkkk.. “aduuuhhh, siaalllll” lagi – lagi Slamet jatuh dari kasur yang seakan – akan itu telah menjadi tanda alarm yang slalu membuatnya terbangun dari tidurnya. Aneh, yah memang aneh, dulu waktu dia pertama kali lahir dari lobang ibunya (ingat lobang yang di bawah bukan lobang hidung ibunya) bapaknya kasih dia nama ‘Slamet’ itu karena bapaknya berharap dia tumbuh jadi anak yang beruntung, tapi entah aura apa yang slalu menaunginya sampai dia untuk bangun dari tidur aja slalu sial ‘Hahahahaa’. Pagi itu setelah dia terjatuh dari tempat tidurnya, dia langsung beranjak ke kamar mandi. Di tempat yang kata anak muda zaman sekarang itu tempat bergalau karena di kamar mandi terdapat shower sebuah alat paten yang biasa digunakan anak muda untuk mengobati rasa galaunya itu Slamet hanya melakukan kebiasaannya setiap kali dia mandi, yaitu: hanya bergosok gigi dan membersihkan muka dengan pembersih muka saja. Dia slalu beranggapan bahwa mandinya seorang lelaki itu yah cuma gosok gigi dan membersihkan muka saja, jadi yah apa bedanya dengan kebiasaan yang slalu dia lakukan, menurut dia hanya yang membedakannya adalah dia tidak membasuh badannya dengan air. Menurut pendapatnya dia gak terbiasa membasuh badannya dengan air.“heeh Slamet” sentak bokapnya yang datang tiba – tiba.Slamet yang merasa kaget dengan reflex dia berkata “aduh jantung gue copot”“tumben kamu jam segini mandi? Biasanya kan kamu mandinya nunggu matahari ada di atas ubun – ubun (baca, siang)”“biasa pak hari minggu, mau main sama temen” balas Slamet.Hari ini Slamet dan empat kawan ingin pergi bermain ke kota Jakarta, sekedar ingin bermain ke tempat yang ramai di kunjungi orang (setau geu sih Jakarta emang udah rame?? =_=” ). Dia dan empat temannya yang bernama Sopyan, Haris, Dadang, dan Budi (ini bukan Budi yang biasa anak SD sebut kalau lagi belajar baca, yaah!!!) pergi dengan menggunakan jasa kereta api.“hei, sob kenapa kita gak pergi naik bus aja daripada naik kereta?” sahut Haris.“heeh ris, naik kereta itu banyak seninya. Didalam loe bisa ngobrol sama penumpang, loe bisa godain mbak – mbak yang jualan, dan kalau loe beruntung bisa cari cewek didalam kereta. Gak kaya naik bus, cuma bisa duduk rapih, yang ada gue malah tidur. Jadi, gak ada seninya sob” terang Slamet.“bener noh ris, udah lah naik kereta aja” sambung Dadang.Dan akhirnya mereka berlima pun pergi dengan menggunakan kereta yang menuju Jakarta.Didalam kereta sudah penuh sesak dengan penumpang yang ingin beraktivitas, baik yang ingin pergi beraktivitas ke kota Jakarta maupun hanya sekedar bermain sama seperti yang mereka lakukan. “sob mending berdiri di sambungan aja, percuma masuk kedalam gerbong gak akan dapet tempat duduk” ajak Slamet pada teman yang lainnya. Mereka berlima pun memenuhi sambungan kereta yang secara tidak langsung merupakan jalan lalu lintas para penumpang lain yang ingin berpindah gerbong ke gerbong yang lainnya.Sesaat setelah kereta melalui beberapa stasiun, Sopyan yang berdiri tepat berhadapan dengan Dadang merasa gelisah. “sumpah, gue udah kaya orag pacaran aja sama si Dadang. Liat posisi gue (berdiri berhadapan seperti pasangan yang sedang bersiap untuk ciuman) gak gue banget”.“najis loe yan, emang gue nafsu sama loe?” bantah Dadang.“udah – udah liat Slamet sama Budi, anteng bener dengan posisi mesra gtu” Haris menyelah.“kekes bud. Hahahahaaa” tambahnya.Budi yang merasa posisinya dengan Slamet keliat aneh langsung menghentakan tangan Slamet yang bertopang pada dinding kereta yang tepat di bahunya sambil berkata “anjiir loe met”.Slamet yang merasa kaget tanpa sengaja bibirnya menyentuh pipi mbak – mbak yang jualan nasi merah yang berdiri tepat di sebelah dia dan Budi. “astaghfirullah..” reflex Slamet, “maaf mbak gak sengaja”. “sengaja juga gak apa – apa kok” jawab mbak penjual.“pindah – pindah sob, jangan disini berdirinya. Sumpah, gak aman posisinya” tambah Slamet pada temannya.Mereka pun pindah mencari tempat yang lain.Dan akhirnya mereka memutuskan berpisah, Haris dan Sopyan memilih berdiri didekat pintu kereta, Budi dan Dadang memilih masuk agak kedalam gerbong, dan Slamet hanya berdiri didepan pintu kamar mandi. Dan akhirnya mereka sampai di stasiun Serpong, yang artinya cuma beberapa stasiun lagi mereka sampai pada tujuan.“ris liat tuh ada cewek di atas gedung, lagi liat kesini. Pasti dia lagi manggil bokapnya trus bilang ‘ayah – ayah ada orang ganteng tuh di kereta’ “. Terang Sopyan.“wew, paling juga bokapnya bilang ‘aah, salah liat kali’ ”. Jawab Haris.Tanpa disadari Haris, Dadang, Budi, dan Sopyan, ternyata Slamet yang sudah pindah berdiri di seberang pintu kamar mandi ternyata di hampiri seorang cewek cantik yang baru naik ketika di stasiun Serpong tadi.“khhmmm, hajar met” teriak Budi yang meliat posisi Slamet sangat menguntungkan, bagai dapat durian runtuh.Slamet yang lugu dan polos itu pun hanya terdiam dan bergetar karena posisinya yang berpulukkan dengan cewek itu, yang hanya dibatasi tas yang di gendongnya.Dan akhirnya cewek itu pun turun di stasiun berikutnya.“woy cah, awas kaki loe tuh, jangan keluar pintu” sahut polisi yang bertugas menjaga di dalam kereta pada Haris.“liat ris, awas wooyyy!!!” teriak Sopyan.‘Wwwusssshhhhtttttttttttttt’“selamet, selamet, hampir aja kaki gue putus nih yan”“itu kan namaaaa guee rissss” teriak Slamet.Akhirnya mereka pun tiba di stasiun kota di Jakarta. Dan bergegas turun dari kereta yang memberikan berbagai macam seni didalamnya.“sumpah, lain kali gue gak bakal naik kereta lagi. Hampir aja kaki gue putus” kata terakhir yang di lontarkan Haris yang kecewa dengan kejadian di kereta saat di stasiun.The EndFb : denyfajarsuryaman@rocketmail.comTwitter : @denyfadjarDenyfadjarsuryaman.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*