Cerpen: Akhir Pertualangan Cinta Sang PlayBoy

Cerpen PlayboyBicara tentang cinta, ya Boy dah biangnya. Si petualang cinta alias sang play boy ini akan mati-matian dan bila perlu sampe bersujud untuk merayu dan mendapatkan seorang cewek cantik. Sang play boy ini tidak akan pernah tahan bila sudah melihat cewek cantik melintas di depan matanya, seakan matanya tidak akan pernah berkedip untuk terus mengikuti langkah kaki sang cewek. Ya bila perlu sampe membuntuti dari belakang (emangnya mau nyopet, Boy?).
Singkat cerita Boy bakalan jungkir balik dah untuk mendapatkan sang cewek bila sudah naksir banget. Boy kagak perduli apakah nantinya itu cewek bakalan mau apa nggak? Apakah hubungannya nanti akan berlangsung lama atau nggak? Bagi Boy kudu mandapatkannya dulu, apapun caranya.
Lantaran cap play boy nya itu, si petualang cinta ini suka gonta ganti cewek (kayak baju aja Boy, digonta ganti). Tapi sayang dimata cewek-cewek di sekolahnya kartunya udah mati kagak bisa diperpanjang (kayak KTP aja ah). Sehingga sang play boy harus berpetuang di tempat lain, kecuali ada anak baru di sekolah ini yang kagak tahu dengan belangnya Boy.
Awal cerita neh. Pada suatu hari, Boy lagi ngebet banget sama Lila, adik kelasnya yang baru aja menjadi siswi di sekolahnya. Padahal saat itu, Boy sudah memiliki gandengan (kayak truk aja pake gandengan segala), si Ivon anak SMU 2.
”Jek, gua naksir banget nih ame anak baru,” kata Boy curhat dengan sobatnya Jaka yang biasa dipanggil Jek.
”Ah! Elo kagak boleh melihat barang baru apalagi yang cantik-cantik dan mulus-mulus,” jawab Jek. ”Tuh! Ada yang mulus, kenapa kagak lo embat aja sekalian?” lanjut Jek sambil tertawa menunjuk ke arah Pak Didin, guru Fisika yang jidatnya emang rada botak licin.
”Bercanda lu ah! Gua serius nih,” gerutu Boy.
Untuk cewek-cewek baru angkatan Lila, memang Lila bidadarinya. Orangnya cantik, putih dan tinggi lagi, perfect dah pokoknya. Tapi sepertinya bila dilihat, kayaknya Lila terlalu tangguh, lincah dan pinter untuk ditaklukan oleh sang play boy. Hati-hati Boy! Ini bakalan jadi batu sandungan buat lo. Lila juga terbilang cukup menonjol dan heboh diantara temen-temennya. Apalagi kalau sudah ngumpul maka suaranya akan lebih menonjol dan kedengeran kemana-mana.
Tapi dasar udah bergelar master play boy, akhirnya sang petualang berhasil juga dengan perjuangannya yang mati-matian dan bisa dibilang jungkir balik, rada susah banget memang untuk mendapatkan Lila. Akhirnya Sang play Boy berhasil meruntuhkan tembok hati Lila, runtuh oleh rayuan maut sang play boy yang memang sudah terkenal itu.
Ups! Tapi tunggu dulu sobat. Tadinya memang Lila belum tahu dengan Boy, tapi karena ia sudah lama temenan dengan Ivon, sehingga ia akhirnya tahu juga siapa Boy. Boy nggak tahu dengan situasi itu, ya karena asal seruduk aja kagak diselidiki dulu, siapa cewek yang bakal diseruduk (yah, itu tadi kelemahan si Boy maen seruduk aja. Kambing kali ya?) sorry Boy!.
Rupanya Sob, sang play boy sudah terperangkap dalam jeratan permainan cintanya sendiri. Boy terperangkap ke dalam skenario sandiwara cinta yang sudah dibuat oleh Lila. Lila memang menerima cintanya Boy, tapi ada maksud dan tujuannya. Itu bukan berarti ia mau berkhianat dengan temennya sendiri, Ivon. Karena skenario itu sudah ia beritahu sebelumnya kepada Ivon.
Lila yang cantik, lincah dan pintar ini, rupanya hanya ingin memberi pelajaran ekstra kurikuler kepada sang play boy. Dia tidak ingin kecantikannya dimanfaatkan hanya untuk dipermainkan, termasuk Ivon yang telah menjadi korbannya.
Walau terbilang anak baru, Lila termasuk cepat menyesuaikan keadaan dan peka dengan situasi perkembangan yang ada di sekolahnya, demikian juga dengan watak dan perilaku Boy yang sebaliknya akan menjadi korbannya. Ya, lantaran karena dia cukup gaul, sehingga sangat cepat mendapat kabar baru atau gosip-gosip dari teman-temannya.
Tapi secara naluriah wanita, mata hatinya tak bisa memungkiri, jika Boy terbilang cakep sehingga layak menjadi play boy. Wajar kalau Ivon pun jatuh cinta kepada Boy waktu itu. Cuma sayang kegantengan yang dimilkinya hanya untuk merayu dan berpetualang guna mendapatkan cewek-cewek cantik yang ia sukai. Boy lupa diri sehingga ia tidak tahu bahwa kaum cewek juga harus dan wajib dihargai dan disayangi, bukan untuk dipermainkan.
”La, elo kok mau aja menerima cintanya Boy. Nekat lu!” kata Mery merasa khawatir dan prihatin sama Lila. Wajar Mery khawatir, karena ia takut temannya yang cantik ini hanya akan menjadi boneka mainan, korban keserakahan cinta sang play boy.
”Terima kasih ya, Mer kamu telah mengingatkan dan menasehati aku. Aku tahu kamu khawatir kalau aku akan menjadi korban cintanya Boy. Tapi kamu tidak usah takut dan khawatir, aku sudah tahu kok siapa Boy sebenarnya. Aku menerima dia, bukan lantaran kegantengannya atau rayuan gombal murahannya. Lantas aku dengan begitu murahannya jatuh ke dalam pelukan Boy. Caranya dan rayuannya udah kuno terlalu konvensional, mudah ditebak, sayang,” kata Lila meyakinkan sobatnya Mery.
”Syukurlah kalau kamu sudah tahu siapa dia. Aku berdo’a moga kamu tidak terjebak dalam permainan cintanya Boy,” kata Mery lagi.
”Iya aku mengerti Sob. Tapi percayalah, sebenarnya skenario ini aku jalani ada maksud dan tujuannya, Mer. Tapi bukan berarti aku juga mau mempermainkan orang atau mau balas dendam sama cowok yang seperti ini, seperti yang pernah aku alami sebelumnya (ooo …pernah mengalami bro). Gua hanya ingin dia bisa membuka mata dan hatinya, agar dia juga bisa menghargai kita sebagai kaum wanita yang secara fisik lemah dan butuh perlindungan. Kita bukan boneka yang hanya bisa dipermainkan untuk menjadi eksperimen cintanya kaum laki-laki.” Lanjut Lila.
”Baguslah kalau kamu punya pemikiran dan prinsip yang begitu luar biasa untuk memperjuangkan dan mempertahankan harga diri wanita,” kata Mery senang.
”Gua yakin, dia tidak akan bisa berbuat banyak dan macam-macam sama gua. Justru dia akan terperangkap sendiri dalam permainnan ini. Biar kelak dia tahu rasa, bagaimana rasanya kalau dipermainkan. Kuharap satu saat kelak dia nyadar telah menyakiti hati cewek-cewek yang telah menjadi korbannya.”
Bener. Dalam tiga bulan hubungan Lila dengan Boy, apa yang dikhawatirkan oleh Mery, benar-benar terjadi. Rupanya diam-diam Boy sedang menjalin hubungan dengan Kania, tetangga barunya Jek. Tapi bagi Lila itu bukanlah sebuah berita menakutkan, ibarat kesambar petir disiang bolong. Baginya itu bukan sebuah kejutan atau petaka baginya yang harus disesali dan yang ditakutkan oleh semua cewek. Apa yang akan terjadi kedepan semua sudah jauh ada dalam pikirannya. Itu pasti akan terjadi cuma menunggu waktu. Dalam pikirannya justru itu adalah awal petaka bagi Boy dan tentunya akan menambah serunya rencana permainan yang akan dibuat oleh Lila.
Ingat Boy! Ada pepatah mengatakan sepintar-pintar tupai melompat pasti akan jatuh juga, dan sepandai-pandai orang menyimpan kebusukan pasti akan tercium juga. Hukum karma pasti akan ada, Boy.
Elo bukan play boy, Boy. Elo lebih tepat dibilang bajing yang bajingan. Tunggu tanggal mainnya, lo. Semua akan berakhir, Boy. Gua akan beraksi, yang akan bikin lo bertekuk lutut di kaki gua, bisik Lila dalam hati.
Boy yang piawai dengan rayuannya dan ditambah dengan akting sempurna, bolehlah dibilang jagonya. Kata-katanya begitu manis dan santun dengan rayuannya akan membuat siapapun terkena tipu dayanya. Ditambah lagi dengan kepandaiannya mengatur strategi jitu dalam mengatur jadwal ngapel ke rumah pacar-pacarnya. Biar nggak dicurigai, ia selalu bilang kepada cewek-ceweknya, kalau ia ngapel nggak tergantung hanya pada malam minggu (kalau ngapelnya malam Jum’at, yasinan aja sekalian, Boy. He…he..he). Tetapi strategi seperti itu sudah duluan terbaca oleh Lila. (lagi-lagi terlalu konvensional, coy). Basi tau nggak! Sehingga Lila pun kagak terlalu mikirin banget tu anak mau ngapel atau kagak, termasuk pada malam minggu.
Melihat pertualangan sang play boy sudah over pede dan semakin menggila, karena denger-denger lagi, dia baru aja mau mendekati seorang cewek. Gila nggak tuh! Padahal ia belum lama menggaet si Lila (Gila bro! Lo doyan cewek apa lagi nuntut ilmu, Boy. Harus sampe berapa sih, cewek yang harus lo dapet, biar ilmu lo sempurna?).
Akhirnya Lila pun mulai mengatur rencana dan strategi pula buat ngerjain Boy. Seminggu sebelum menjalankan rencananya, Lila segera menghubungi Ivon. Sementara karena si Kania belum ia kenal, kemudian ia dan Ivon pun berusaha mencari dan menemui Kania. Setelah Lila dan Ivon menceritakan semua rencanya kepada Kania, mereka pun sepakat dan menjadi akrab sehingga mereka pun bersatu untuk menumpas kejahatan (kayak di sinetron silat aja).
Beberapa hari menjelang hari eksekusi terhadap Boy, ketiga bidadari itu pun sering berkumpul di rumah Lila dan berbagi cerita termasuk strategi nantinya. Merekapun akhirnya mempunyai tujuan yang sama yaitu membikin kapok dan mempermalukan si Boy, yang emang nggak punya rasa malu.
Sabtu, sehari sebelum rencana Lila dan temen-temennya dilaksanakan, mereka bertiga sengaja ngumpul di rumah Lila, karena hari itu rencananya Boy akan datang ke rumah Lila.
”Sebentar lagi Boy akan datang. Ntar kalian berdua ngumpet aja dulu di kamarku sambil nguping,” kata Lila mengatur strategi awal.
”Siplah!” jawab Kania.
”Terus langkah selanjutnya gimanah nih?” tanya Ivon pula.
”Nanti biarkan kita berdua seolah-olah enjoy dulu, ntar tugas kamu Von teleponin si Boy. Biar dia gelisah kita kerjain. Tapi ingat ini baru sebahagian dari rencana kita yang sebenarnya, karena rencana besar itu besok baru kita tumpahkan,” kata Lila ngejelasin.
”Oke kalau begitu,” kata Ivon sambil mengangguk dan bersemangat.
Tak beberapa lama setelah mereka bertiga ngerumpi, akhirnya Boy pun datang walaupun agak terlambat dari waktu yang telah dijanjikannya kepada Lila. Tapi itu semua tidak berarti bagi Lila, dan masa bodoh ah! baginya.
”Dasar jam karet,” bentak Lila pura-pura menggerutu seolah perhatian.
”Sorry deh telat dikit,” jawab Boy seolah tanpa dosa dan pede banget. ”Oya, gimana kalau kita keluar aja?” ajak Boy guna mengalihkah agar Lila nggak marah.
”Emangnya mau kemana?” tanya Lila asal.
”Terserah kemana, yang penting kita keluar aja,” kata Boy.
”Gua lagi males nih. Gua pingin di rumah aja,” jawab Lila penuh sandiwara. Sementara apa yang berputar dalam otak Lila, mampus ntar lo, nayawamu tinggal sedikit lagi, Boy.
Ketika Boy mau bicara lagi, tiba-tiba aja Hpnya berdering. Sementara dari raut wajahnya terlihat salah tingkah dan gugup banget, karena ternyata yang menghubunginya adalah Ivon. Gawat! Mati gue! pikirnya. Lila yang sudah tahu sebelumnya ambil gaya berpura-pura cuek dan nggak peduli banget, karena ia sudah tahu kalau itu dari Ivon.
”Bentar La,” kata Boy sambil meninggalkan Lila dari ruang tamu dengan penuh gundah menuju teras rumah, karena ia takut pembicaraannya didengar Lila. Padahal bagi Lila itu nggak penting banget.
”Halo Boy! Elo lagi dimana? Kok nggak jadi ke rumah kemaren?” tanya Ivon iseng seolah-olah ia berharap banget. Padahal ia hanya ingin menguji kejujuran Boy aja, walaupun sebenarnya dia sudah tahu apa jawabannya.
Ya nggak mungkin akan jujur orang seperti ini, abis emang sudah dari sononya nggak pernah jujur. Janjian mau ketemu dengan Ivon aja bisa batal. Ntah keduluan janjian dengan siapa saat itu sehingga nggak jadi ke rumah Ivon.
”Sorry ya, kemaren gua lupa. Gua sekarang lagi di rumah Jek,” jawabnya berbohong. Sementara matanya terus mengamati Lila di dalam rumah, karena khawatir kalau Lila nanti bisa mendengar pembicaraanya dengan Ivon. Bisa kiamat pikirnya.
Lo nggak perlu khawatir Boy, walau Lila nggak dengar, Lila nggak bakalan percaya sama elo. Jujur aja orang sudah kagak percaya sama elo, apalagi kalau elo berbohong.
Tapi sayang, rupanya suara Boy terdengar juga dengan Lila. ”Busyet! Sialan! Emang dasar buaya darat kampungan,” kata Lila ngomel sendiri dari dalam rumah. ”Elo lebih mentingin si Jek daripada kita-kita,” lanjut Lila lagi yang emang udah geram banget sama Boy.
”Elo lebih mentingin Jek daripada gua,” jawab Ivon pula dengan asal.
”Bukan begitu, sayang. Kemaren gua lupa ngasih tahu ke elo, kalau kemaren di rumah Jek lagi ada selamatan,” jawab Boy dengan penuh gombal kampungan. Sorry Jek, elo jadi tempat berlindung gua, bisik hati Boy.
Sayang kentut lo! bisik hati Ivon.
”Ya udah kalau begitu, sampe ketemu,” kata Ivon menutup pembicaraan.
Tak beberapa lama kemudian, dengan penuh salah tingkah si Boy pun kembali masuk ke dalam menemui Lila.
”Dari siapa sih?” kata Lila iseng pura-pura bertanya.
Kontan aja, mendengar pertanyaan Lila itu Boy terlihat serba salah dan salah tingkah, ia galau dan gelisah dengan wajah penuh dusta. Mampus dah!
”Dari Jek,” jawabnya santai.
Elo gak tahu kalau gua sudah tahu semua kebohonganmu. Dasar bajingan kampung, kata Lila ngedumel dalam hati. Lila pun kemudian diam seolah-olah percaya aja dengan jawaban Boy barusan. Baginya yang penting tujuan untuk mengerjain Boy harus lebih penting.
Boy yang emang sudah galau dan gelisah merasakan suasana sudah tidak nyaman, padahal nuansa di rumah Lila lagi nyaman dan adem. Akhirnya Boy pun terasa nggak betah dan pulang lebih cepat diluar dugaan Lila.
Keesokan harinya, yang merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh Lila, Ivon dan Kania untuk menghabisi dan menghentikan pertualangan sang play boy, Boy. Cukup sampe disini Boy, kata mereka bertiga.
Hari ini merupakan giliran Kania janjian ketemu dengan Boy. Mereka berdua sepakat ketemuan di kafe tempat pertama kali mereka bertemu, tempat pertama kali Kania menjadi korban rayuan gombalannya Boy. Boy benar-benar nggak nyadar kalau semuanya ini sudah diatur. Boy pun nggak nyadar kalau ia sudah masuk dalam sebuah perangkap skenario besar dari korban-korbannya sendiri.
Lila dan Ivon terlihat sedikit gelisah dan sudah tidak sabar menunggu kehadiran Boy. Mereka memang sudah pada duluan hadir di tempat itu dan berada di tempat yang tidak bisa dilihat oleh Boy.
Tepat pukul 20.00 wib, akhirnya Boy yang ditunggu-tunggu pun tiba langsung menghampiri Kania. Kania pun lantas berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Boy.
”Sudah lama nunggunya?’” tanya Boy kepada Kania.
Basa basi doang lo! Bisik Kania dalam hati. ”Nggak, barusan aja aku disini,” balas kania juga dengan basa basi.
Lebih kurang tiga puluh menit sudah, Boy dan Kania berada di kafe ini sambil menikmati makanan yang mereka pesan, namun tiba-tiba aja Hp Boy berbunyi lantaran dihubungi oleh Ivon.
”Halo, met malam, Von,” kata Boy kalem membuka pembicaraan sambil menjauh dari Kania.
”Ya, malem,” jawab Ivon. ”Elo lagi dimana sih?” lanjut Ivon iseng bertanya.
”Gua lagi di rumah,” jawab Boy spontan.
Benar-benar bangsat, lo! Udah basi, telat lo ngelesnya! Bisik Ivon dalam hati. ”Kesini dong, gua lagi bete nih,” rayu Ivon sambil mencuil lengan Lila.
”Gua lagi capek banget, lagi males mau keluar. Sorry ya!” kata Boy pede dengan kebohongannya.
”Ya udah kalau begitu, nggak papa,” balas Ivon.
Setelah kontaknya diputus, Ivon dan Lila pun nggak bisa menahan tawanya sambil menutup mulutnya dengan tangan agar tidak didengar oleh Boy.
”Rasain lo, sebentar lagi dengan pembalasan kita. Waktu untuk pembinasaan lo tinggal menghitung detik doang, Boy,” kata Ivon bicara pelan dengan Lila.
Lila dan Ivon sudah benar-benar nggak sabaran untuk menghabisi Boy. Nasib baik lagi nggak berpihak, hukum karma sepertinya segera berlaku buat Boy. Sementara Kania sudah gelisah menunggu kehadiran kedua temennya untuk beraksi menjalankan skenarionya. Mereka bertiga memang sudah nggak sabaran mengacak-acak mukanya Boy dan menyiramkan jus mengkudu busuk kesekujur tubuh Boy, yang memang sudah mereka persiapkan dari rumah.
Malam itu merupakan malam yang naas dan apes bagi Boy. Dia harus mempertanggujawabkan atas semua perbuatannya terhadap ketiga cewek ini. Skenario yang diatur oleh Lila berjalan mulus. Boy yang lagi asik, tiba-tiba aja menjadi kaget nggak karuan melihat kehadiran korban-korbannya, Lila dan Ivon tiba-tiba datang secara bersamaan. Boy hanya terpaku diam menunggu eksekusi. Tapi dasar play boy tengik, dia berusaha terlihat santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal dalam hatinya berkecamuk nggak karuan dan jantungnya berdebar kencang. Mampus dah gua! Pikirnya.
”Dasar bajingan! Buaye lu! Jadi ini kerja lo selama ini?” kata Ivon berang banget.
Lila yang nggak bicara, nggak tinggal diam. Lila lalu dengan semangatnya menyiramkan jus mengkudu tadi ke tubuh Boy. Pyuuuuur basah. Duh! Bau banget. Mampus deh lo, Boy!
Kania dan Ivon pun terus mencaci maki Boy habis-habisan. Lila yang sudah geram banget, akhirnya nggak tahan juga menahan emosinya, lalu dengan spontan menggampar muka Boy. Plaaaaaak, Boy tidak mengelak dan hanya diam.
Boy yang seperti maling ketangkap basah nggak bisa berkutik dan hanya diam dan pasrah tanpa perlawanan apa-apa dengan perlakuan ketiga cewek tadi. Mau bicara pun sudah nggak sanggup lagi. Mau ngeles pun sudah nggak bisa lagi. Ia seperti orang yang sudah kehilangan akal. Ia malu banget karena belangnya selama ini sudah ketahuan.
Dengan peristiwa itu membuat semua tamu di kafe pun tertuju kepada mereka berempat dan membuat membuat pengunjung heboh dan tertawa sambil bertepuk tangan melihat seorang cowok yang sudah basah kuyup menjadi bulan-bulanan tiga orang cewek. Rasain deh, Boy!
”Cukup sudah pertualangan cinta lo sama kita, Boy,” kata Lila sambil berlalu meninggalkan Boy berdiri sendirian.
Lila, Ivon dan Kania akhirnya pergi meninggalkan Boy sendiri. Boy pun akhirnya dengan perasaan malu banget pulang meninggalkan kafe yang menjadi neraka buatnya malam itu. Mimpi apa gua semalam, bisik hatinya seperti nggak percaya dengan apa yang telah terjadi.
Selama diperjalanan, mereka bertiga melepas tawa sejadi-jadinya di dalam mobil sedan yang dikendarai oleh Lila. Mereka pun merasa puas setelah sukses mengerjai Boy.
Makanya Boy, jadi orang jangan sombong banget dengan kegantenganmu, sehingga membuatmu lupa akan daratan. Kalau elo masih nggak nyadar juga, maka tunggu aja sebuah hukum karma yang mungkin lebih besar dari malam ini akan menghampirimu lagi. Percaya deh! Tuhan Maha Pengampun, kembalilah ke jalan yang benar, Boy. Insyaallah.
TAMAT
Penulis : Ardhian, S.Sos.
FB : Ardhian Dhian
Tweeter : @ardhian_dhian

Random Posts

  • Cerpen Remaja: Diantara Dua Hari

    Kenalin aku Ari Indiastuti. Aku dilahirkan di kota Semarang pada Januari 19 tahun lalu. Aku biasanya dipanggil Ari atau Indi oleh orang tua dan teman-temanku. Jika kalian semua pengen lebih kenal aku bisa cari aja di fecabook di alamat ariindi2501@yahoo.com(Ari Indiastuti Weck Weck),bisa juga twitter di mania.crazy@live.com(@indi_weck),atau bisa kirim email di ariindiastuti@rocketmail.com yang pasti aku baca,mungkin juga bisa tukar-tukar sesuatu di blog ku di ariindiastuti.blogspot.com. aku sudah hobby nulis,beberapa ceritaku dan puisi juga beberapa dimuat di majalah Semarang,Magelang. Salam kenal ya buat semua,,kali ini aku ingin berbagi cerita tentang 2 hari yang pasti dilewatin sama kalian semua…Selamat membaca!Diantara 2 Harioleh: Ari IndiastutiAda 2 hari yang kubenci setiap tahun. Aku berharap tidak pernah ada hari itu setiap tahunnya. Sehingga aku tak perlu mengingat masa laluku. Masa lalu yang membuatku terpuruk. Ya… sangat terpuruk.Dua hari itu adalah hari ulang tahunku dan hari dimana tahun baru datang. Aku benci dua hari itu. Ya… sangat membencinya.Hari ulang tahun. Dimana setiap anak akan bahagia ketika hari ulang tahunnya tiba. Tapi tidak bagiku. Aku selalu merasa takut ketika hari itu tiba. Karena di hari itu, aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Tanpa setitikpun kasih sayang. Tanpa setitikpun pengertian.Aku ingat saat itu. Saat aku masih kecil. Aku tak bisa ingat saat itu berapa umurku. Pagi-pagi sekali ibu sudah berkutat di dapurnya.“Ibu, ibu sedang apa?”, tanyaku. Saat itu aku baru saja bangun tidur. Dan mendengar suara-suara di dapur.“Hai… Sayang, kau lupa? Hari ini hari ulang tahunmu!”, kata wanita yang kupanggil ibu itu. “Selamat ulang tahun sayang.”,tambahnya.“Eh..oh… iya aku lupa!”, kataku disertai cengiran khas milikku.Ibuku hanya mengacak-acak rambutku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Hatiku benar-benar bahagia.“Sekarang, mandi dan pergi sekolah ya!”, kata ibuku lembut sekali.“Tapi bu…”,aku mulai merajuk agar tidak berangkat sekolah hari ini.“Tidak bisa Indi, kau harus tetap berangkat sekolah hari ini.”,itu suara kakakku. Terkadang dia membuatku menangis. Tapi menurutku itu bentuk kasih sayangnya. Daripada tak disapa sama sekali. Oh iya kakakku itu sudah anak kuliah semester 4 lho.“Kaaaakkk…”“…”,kakakku hanya menggeleng tanpa mengucapkan 1 katapun.“Uh! Baik.. baik..”, kataku dan langsung ngeloyor ke kamar mandi.Disekolah memang tak ada yang tau ulang tahunku. Dan aku tak berharap ucapan dari mereka. Yang ada dalam pikiranku hanya makan bersama keluargaku. Ayah, ibu, kakak dan aku. Memang hanya sepotong nasi kuning. Tapi yang lebih berarti bagiku adalah kebersamaan kami. Dan dengan itu artinya mereka mengakuiku karena mengingat ulang tahunku.Malampun tiba. Tibalah ritual makan malam kami dengan satu hal yang special. Ulang tahunku. Kami tertawa bersama. Dan aku masih ingat saking bahagianya aku sampai salah makan cabe. Tapi karena kebahagian itu cabepun rasa gula.hhehehe,,,Oh iya aku ingat itu hari ulang tahunku yang ke-10. Dan seingatku itulah hari terakhir ibuku ingat ulang tahunku. Bahkan ayah tak mau mengingatnya. Dan aku masih ingat hari itu hari terakhirku tersenyum dengan hati.Ya… setelah itu semua berubah. Ibu sibuk dengan dirinya. Ayah sibuk dengan pekerjaannya. Sementara kakak harus fokus pada studynya.Setiap tahun barupun begitu. Aku tak pernah mengenal tahun baru. Karna bagiku mengingat tahun baru sama saja membuka luka lama yang belum kering di hatiku.Bahkan tahun ini. Tahun ini adalah ulang tahun ke 17. Yang kudapatkan tahun ini hanya kosong. Detik-detik menuju denting jam di 00.00 hanya kuisi dengan tangis. Aku menangis dalam diam. Karena kakakku satu-satunya sedang tidur disampingku. Aku hanya meniup lilin sendirian. Berharap semua berubah. Tak ada canda tawa. Tak ada pula salah makan cabe.Yang ada hanya pilu. Ya… aku terus menangis dalam diam. Aku tak mau topengku retak. Aku tak mau orang tau seperti apa aku jika tanpa topeng ini. Meski itu didepan kakakku sendiri. Aku tak mau terlihat rapuh.Ya… selama 11 tahun aku terus menggunakan topeng kokohku. Aku tersenyum pada semua orang. Aku berakting seolah-olah aku bahagia. Seolah-olah tak memiliki masalah. Aku tau aku munafik. Tapi biarlah. Rasa sakit ini, rasa kesepian ini terlalu sulit kubagi. Indi yang mereka kenal bukanlah Indi. Indi adalah sosok yang tak mereka tau.Aku lebih nyaman menangis sendirian. Aku lebih menyukai menangis tanpa suara. Mungkin memang lebih menyayat. Tapi lebih melegakan.“Air matamu bisa habis jika kau menangis terus, Indi!”, itu kata kakakku. Tapi itu dulu. Indi yang sekarang bukanlah orang yang akan tertipu dengan kata-kata penghibur seperti itu.Memang sempat terlintas dibenakku. Ingin rasanya ketika aku menangis ada yang memelukku. Ada yang merelakan pundaknya untuk tempat ku bersandar. Ada yang menyediakan tangannya untuk merengkuhku dalam pelukannya dan membiarkanku menangis disana.Tapi mana mungkin. Aku terlalu tertutup. Tak mudah bagiku membagi ceritaku pada orang lain. Aku menutupi itu semua dengan sok peduli pada orang lain. Padahal aku tak pernah memperdulikan diriku sendiri.Hari tahun barupun terkena imbasnya. Seingatku saat itu aku kelas 1 SMP ketika aku mulai mengenal apa itu malam tahun baru. Ketika teman-temanku bercerita apa yang akan mereka lakukan bersama keluarga mereka. Aku hanya bisa diam.“Indi.. Indi kau tahu nggak?”, tanya Rinda padaku.“Nggak”, jawabku dengan nada ketus karena saat itu masih pelajaran dan gurunya mengerikan.Kulihat temanku kecewa atas jawabanku. Aku sungguh merasa bersalah. Bagiku cukup aku saja yang terus merasakan rasa sakit dan kecewa. Aku tak mau temanku juga kecewa.“Nanti saja ceritanya. Kamu mau kena marah?”, kataku dengan nada santai berharap kata-kata itu bisa mengobati kekecewaannya.Bingo! Itu berhasil. Rinda tersenyum padaku. Sepertinya dia mengerti maksudku. Rinda itu sahabatku. Aku memang baru mengenalnya. Tapi aku merasa nyaman dengannya. Dan dia tahu aku paling tidak suka membuat masalah dengan guru. Karena orangtua itu merepotkan.Bel istirahat tiba. Saatnya aku mendengarkan ocehan panjang dari cerita Rinda.“Indi … kamu mau kemana malam tahun baru nanti?”, tanyanya.Glek!!!! Aku menghentikan acara menulisku dan menatapnya. Lalu menelan ludah dengan terpaksa. Aku hanya menggeleng tanpa memasang ekspresi apa-apa. Lalu meneruskan acara mencatatku. Karena yang kutahu malam tahun baru hanya tidur selama 1 tahun.“Tidak kemana-mana ya.”, seolah dia sedih mengetahui jawabanku. “Bagaimana kalau kerumahku”, tambahnya.“Aku mendengarkan.”, kataku lalu berhenti menulis.“Begini. Setiap tahun jika malam tahun baru aku dan keluargaku selalu bakar jagung atau apapun. Kadang bakar daging ayam, sapi. Apapun yang kami beli. Oh iya jangan lupakan kembang apinya. Jadi sambil bakar-bakar kami menyalakan kembang api.”, jelasnya panjang lebar.“Ooooo”, hanya itulah yang keluar dari mulutku.“Tadi katamu kan kau tidak kemana-mana jadi menginap di rumahku saja. Kita menghabiskan malam tahun baru bersama.”, ajaknya padaku.Aku tersenyum mendengar ajakannya. Kemudian aku berpikir. Rasanya pasti senang sekali bisa menghabiskan malam tahun baru dengan keluarga Rinda. Keluarga Rinda juga baik padaku. Tapi jika aku membicarakannya pada ibu. Pasti yang kudapat hanya kata tidak dari mulut ibu. Dan ceramah panjang yang sangat tidak penting dari ayah. Kak Upi’ tidak pulang minggu ini, karena ada tugas yang harus diselesaikan. Seandainya ada kak Upi’. Sayangnya dia harus kuliah di luar kota.“Sepertinya tidak bisa.”, jawabku . “Sebenarnya aku ingin. Tapi… itu akan membuat masalah baru kurasa.”, jawabku seadanya. Rinda sudah tau bagaimana keluargaku. Meskipun dia tidak tau apa yang kurasakan. Tapi dia tau bagaimana aku dan bagaimana keluargaku. Walau yang dia tau adalah topengku. Tapi aku tak pernah menceritakan padanya. Baru sekali aku mengajaknya maen kerumah. Dan dia langsung tau bagaimana keluargaku. Rinda memang luar biasa.“Baiklah, tak apa-apa.”, katanya sambil merangkulku. Tak terlihat raut kekecewaan diwajahnya.Ya… dan malam tahun baru hanya yang kesekian kalinya hanya kulewatkan dengan tidur. Karena jika aku membuka mataku. Aku akan mengingat semua luka yang tergores di hatiku. Aku akan menyadari bahwa aku kesepian. Aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Itu membuatku marah. Biasanya saat seperti itu kulampiaskan pada tembok atau apalah.Aku tau itu menyebabkan luka di tubuhku. Tapi siapa peduli. Luka-luka ditubuhku lebih nyata dan akan sembuh lalu menghilang bekasnya setelah beberapa hari. Tapi luka dihatiku entah akan sembuh atau tidak aku tak tau.Seandainya 2 hari itu tak pernah ada. Tapi mana mungkin. Hari itu akan tetap ada dan tetap menciptakan luka.Harapanku sekarang hanyalah semoga ada orang yang mau menyembuhkan dan menghapuskan luka ini. Sehingga aku tak perlu lagi bertopeng seperti ini.Hari ulang tahunku yang tak jauh dengan tahun baru telah terlewatkan. Biasa saja ditagun ini,yang katanya umur 17 itu “sweet seventeen” tapi apalah, itu hanya untuk orang yang bahagia, sedang aku, gadis pendiam, lugu, tak atahu apa-apa. Pikiran itu selalu ada.“Dorrrrrr…”, suara Rinda mengagetkanku yang sedang meratapinasib gadis malang ini, ”nglamun aja non, ntar kalau ada setan lewat gimana?” Rinda itu teman baik yang lucu sekali, dia hibur kalau aku diam.“ya kalau setannya cewek aku jadikan saudaraku, kalau cowok aku jadikan,,,,, pacar,, hahhaah”, aku mencoba buat banyolan lucu.“Emang sayembara, sama setan kok mau. Udah, kantin yuk, laper,,”, aku pikir sejenak, karena malas sekali untuk jalan kekantin ujung. ”Udah, aku traktir deh,”.Sepanjang jalan kekantin Rinda hanya berceloteh dengan rencana tahun baru yang buat aku iri, tapi aku tetap dengarkan cerita itu sih.“Ndi, ayolah ikut. Ntar aku ngomong sama orangruamu,sekali-kali kan boleh. Udah besar kita itu”, sambil ngrengek-ngrengek dia.“Ya, ayo kerumah, kamu yang ngomong ya,”, sambil aku tersentum,dan berdoa semoga dapat ijin lah.“Siap bos.”, Rinda girang banget.Aku dan Rinda coba bilang ke ibuku agar dapat ijin untuk merrayakan tahun baru bersama.“Ibu, aku diajak Rinda untuk tahun baru dirumahnya, boleh ya,” sedikit melas agar dibolehin sama ibu.“Iya tante, boleh ya. Mumpung tahun baru tante, setaun sekali lho tante,” coba meyakinkan ibuku. Raut muka ibu yang gak pasti buat ku deg-degan ni. Tapi, mulut ibu mulai membuka.“baiklah, ibu ijinkan, asal satu syarat,”, belum selesai ibu ngomong aku udah nyambung.“apa aja syaratnya, Indi lakukkan ibu”.“Dengan syarat kamu gak boleh merepotkan di sana, jangan bikin malu ibu,” denagan jawaban itu aku loncat kegirangan.“Ok ibu ku manis, janji gak macem-macem,” sambil aku hormat sama ketawa.“Iya tante, Indi itu baik kok, jadi gak merepotkan,” Rinda menimpali kalimat yang buat ibu tersenyum.Aku tiap malam udah mimpiin dan gak sabar dengan tahun baru yang akan ku alami ini. Dan yang aku tunggu datang. Aku menginap ditempat Rinda, aku sangat dekat dengan keluarga dia, begitupun sebaliknya. Aku udah tidak sabar dengan waktu yang berputar serasa lambat sekali untuk mencapai 00.00. Kami menikmati diatas sebuah gasebo yang nyaman ini.Waktu tinggal beberapa detik lagi, aku dan keluarga Rinda hitung mundur.“Kita hitung mundur yuk,” kata dari ayah Rinda yang tidak sabar dengan tahun baru ini juga.“10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1,” kitaa ucapkan bersama-sama.dan tahun baru saat puku l 00.00. Suara terompet kita bersaut-sautan.“Selamat tahu baru”, semua berteriak.“Selamat tahun baru, Rin”, sambil memeluk aku.“Selamat thaun baru juga ya, Ndi. Semoga ditahun baru ini kita tambah baik”, aku hampir saja meneteskan air mata, baru kali ini aku merasakan tahun baru waalupun tidak dengan keluarga. Rinda dan keluarganya juga saling memeluk dan ucapkan selamat tahun baru. Aku juga ikut dipeluknya, jadi iri dengan keluarga Rinda.Tiba-tiba dari belakang,“Dor,,,”, suara kakaku yang katanya lagi sibuk studynya kok tiba-tiba ada didepanku.“Selmat ulang tahun sayangku”, ucapan manis dari seorang wanita yang membawa kue ulang tahun yang jelas karena namaku ada disana yang ditemani oleh seorang lelaki paruh baya. Ya, dia orang tuaku yang merawatku dari lahir hingga sebesar ini.Mereka bernyanyi selamat ulang tahun untukku, ternyata keluargaku dan keluarga Rinda yang merecanakan ini semua. Aku merasakan senang sekali. Ibu meminta meniup lilin 17 ini, dan diminta aku memohon doa.Aku menutup mata ini sambil berdoa. Ya ALLAH aku minta agar dapat seperti keluarga lain yang damai, seneng. Aku juga makasih sudah diberi teman yang baik seperti Rinda, semoga umurku ini aku makin baik. Aminnnnn..“buffff,,,bufff” aku tiup lilin itu dan mereka memberi selamt untukku dan menciumiku.“Indi, semoga kamu jadi anak yang lebih baik diumurmu yang semakin dewasa”, kata dari ibuku sambil aku dipeluknya. ”maaf, ibu baru merayakannya”.“iya bu, tak apa.” sambil mencoba mengusap air mata ibu yang jatuh.“Ndi, jadilah anak yang membanggakan untuk orangtuamu ini ya”, ayah yang tak pernah berucap begitu, aku begitu terharu. Tak lupa kakakku.“Adikku paling manis, udah gede kudu pinter-pinter mana yang bener ama tidak ya, mmmmmuuuuaaaaccchh”, aku merasa terharu dengan kakak ku ini.“Indi, selamat ulang tahun, sweetseventeen moga dapat pacar, hhehheh”, dia mencoba bercanda. Aku dan semua hanya tartawa dengan kalimat Rinda.”Kami akhirnya menikmati malam tahun baru dan ulang tahunku yang ke 17 dengan manis. Tak pernah aku bayangkan akan seindah ini yang jauh dari pikiranku. Aku bersyukur diberikan keluarga yang sayang denganku, teman yang selalu temani aku disaat sedih dan menghibur.Ku melamun sendiri memandang mereka yang asyik menikmati malam di gasebo dekat kolam renang. Aku tersenyum sendiri, betapa beruntungnya aku ini dilahirkan, dibesarkan. Aku tak perlu menuntun apa-apa, semua ada, hanya kasih sayang kurang untukku tapi aku merasa senang. Aku tahu kedua orangtuaku bekerja untukku. Kebahagiaan memang tak pernah dapat dinilai, hanya dapat dirasakan. Karena makna kebahagiaan akan datang dengan sendirinya seperti kita memaknai hidup ini.Aku sadar 2 hari yang tak pernah aku senangi ini berbuah manis di tahun baru dan ulang tahunku ini. Aku tak akan melupakan hari ini.Karena asyik melamun aku tak tahu kalau didekatku ada Rinda yang tiba-tiba mengagetkannku. Dan aku didorong ke kolam renang. Huft,, sial,,, aku hanya tertawa dan yang lain ikut tertawa.hahahah,,

  • Cerpen Benci jadi cinta Vanessa Vs Ferly End

    Hufh… Akhirnya bisa sampe ending juga. Tapi full no edit. Ya mau kek mana lagi. Udah capek woi. Oke deh, happy reading ae lah“vanes… gimana sama ferly??” tanya sebuah suara dari samping reflex Vanes menoleh.“radit… ferly masih didalam lagi ditangani sama dokter…” balas vanes sambil mengusap air mata yang menetes dipipi, radit dan yang lain pun duduk di ruang tunggu rumah sakit.“loe yang sabar ya…” kata radit.“ini semua salah gue… gara-gara gue, ferly jadi kayak gini…” .sebagian

  • Cerpen Remaja Terbaru “Tentang Rasa” 01 {Update}

    Ehem, masih pada inget kan cerpen remaja tentang aku dan dia. Atau cerpen cinta rasa yang tertinggal?. Kalau lupa silahkan di flashback ke belakang. Soalnya kali ini Penulis datang membawa cerpen terbaru yang 'katanya' masih berhubungan sama kedua cerpen tersebut. Tiga sih sebenernya. Cuma yang satunya hanya bisa di cek langsung disini.Nah, cerpen terbaru kali ini Penulis ambil dari pengabungan kedua judul cerpen tersebut. Soal jalan cerita liat ntar aja deh. Yang jelas nie cerpen tercipta karena merasa rasa yg tertingal bukan gaya star night banget. Tau kenapa?. Karena penulis beneran benci SAD ENDING. Alasannya Dunia nyata sudah cukup menyedihkan so kenapa harus pake di bawa ke dunia cerpen segala?. *Lebay*.Okelah, Penulis udah terlalu banyak bacod kayaknya, mending langsung ke lokasi yuk.Credit Gambar : Ana Merya"Antara maaf dan terima kasih, bukankah kata terima kasih itu lebih baik?.*adaptasi dari my girlfriend is gumiho*."dibalik sikapnya yang terlihat dingin dan begitu cuek, tersimpan begitu banyak rasa dan cerita yang membuat aku semakin tertarik untuk mengenalnya".Cerpen Remaja Terbaru"gila, tu mahasiswa baru keren banget si. Sayang anaknya cuek gitu" kata anya sambil mengaduk – aduk mi ayamnya.sebagian

  • Cerpen Cinta Rasa Yang Tertinggal ~ 01 / 05

    Iseng lambai ke kamera sembari tebar senyuman. Ketemu lagi bareng admin. Kali ini muncul dengan cerpen cinta Rasa yang tertinggal. Cerpen kali ini terinspirasi dari salah satu lagu milik band indo yang emang admin suka lagu lagunya. Tepatnya Kangen band. Judul lagunya yang mana, yang mana aja boleh XD. So, biar nggak kebanyakan obrolan, kita langsung skip ke cerita aja ya. Happy reading.Credit Gambar : Ana Merya"Fan, loe mau kemana? langsung pulang kan?" tanya Alan masih dengan napas ngos – ngosan sehabis berlari. Begitu Pak budi meninggalkan kelas, ia memang langsung meluncur ke kelas Tifani. Sedikit kecewa begitu mendapati kelas sahabatnya itu telah kosong. Karena itu tanpa basa – basi ia langsung meluncur menuju keparkiran. Sesuai dugaan, temannya ada disana."Rencananya si gue pengen ngadain jumpa pers dulu. Ya maklum lah, gue kan artis yang lagi naik pohon," Tifani ngebanyol lengkap dengan gaya narsisnya. Lagian, hari gini orang emang kebanyakan suka gitu ya. Suka melemparkan pertanyaan padahal jawabannya sudah jelas."Lebay," cibir Alan sewot sambil menoyor kepala Tifani yang malah ngakak."Lagian loe, udah tau kalau gue biasanya juga langsung pulang ngapain si pake nanyain lagi?"Alan hanya nyegir mendengarnya. Sementara tangannya sibuk merogoh kedalam tas ransel, sibuk mencari -cari sesuatu. Seulas senyum terukir manis di sudut bibirnya ketika ia menemukan apa yang ia cari. Sebatang coklat yang langsung ia sodorkan tepat kewajah Tifany yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak geriknya."Buat gue?" tanya Tifany polos."Sembarangan," semprot Alan cepat. "Kayak nggak tau aja. Biasa. Ini tu titipan dari gue buat pujaan hati. Sekalian sampaikan padanya salam rindu penuh cinta Yang terbungkus dalam sebatang coklat," sambung Alan sok puitis. Tifany justru pasang pose mau muntah."Cinta kok cuma ngasi coklat. Bunga kek," cibirnya. Namun tak urung, coklat tersebut ia ambil juga."Memangnya Septia suka bunga?" tanya Alan yang tak sengaja mendengar cibirannya. Kalau di pikir Tifany bener juga. Cewek kan biasanya suka bunga. Tapi setelah searching di google, banyak juga yang suka coklat. Bahkan, gadis yang kini berdiri tepat di hadapannya adalah salah satunya."Yupz…." angguk Tifany mempertegas pendapatnya. "Apalagi bunga bank. Ah, Gue juga mau kalau gitu," sambungnya yang langsung di hadiahi jitakan di kepala."Sorry ya. Septia bukan loe, dia nggak matre," gerut Alan. "Dan asal loe tau aja dalam setiap batang coklat yang gue kirimkan selama ini terselipkan sejuta cinta yang gue punya," sambung pria itu dengan gaya nya yang khas. Khas lebay maksutnya.Mendengar itu Tifany. Sekaligus ia juga kesel karena kepalanya di jitak dengan semena – mena. Sambil mengusap – usap kepalanya mulutnya mengerutu "Tu coklat kan gue yang makan, pantesan aja gue makin cinta sama loe.""Apa?" tanya Alan karena Gumaman Tifany terlalu kecil untuk bisa ditangkap indra pendengaranya."Kereta Api yang udah lewat nggak bisa balik lagi," Tifany angkat bahu. Sementara Alan masih menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat."Lagian kalau loe emang naksir berat plus cinta hidup sama dia kenapa nggak ngomong langsung aja si?" tanya Tifany berusaha mengalihkan pembicaraan. Lagipula ia tidak berharap Alan mendengar gumamannya barusan. Toh, tidak ada gunanya. Tidak ada yang akan berubah.Kali ini Alan tersenyum. Matanya menatap kearah Tifany yang masih menantikan jawabannya. "Soalnya kalau kayak gini kan lebih romantis."Jawaban itu tak urung membuat Tifany kembali mencibir. "Wuek…. Loe bener – bener bikin gue mau muntah.""Ih, loe kok gitu si? Loe kan sahabat gue. Harus nya loe ngedukung gue donk buat dapatin dia. Secara gue udah bosen ngejomblo. Dan lagi…""Iya bawel. Udah deh, udah siang ini. Iya, ntar gue sampein. Sekarang gue cabut dulu," potong Tifani. Tanpa menunggu balasan ia segera mengayuh sepedanya menjauh, meninggalkan Alan yang masih berdiri di tempat.Sambil terus mengayuh, Tifany menghela nafas. Sebelah tangannya terangkat menyentuh dada kirinya yang terasa sesak. Sahabat?. Selalu begitu. Andaikan Alan tau rasa sakit yang selama ini Tifany rasakan ketika mendengar satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Karena sesungguhnya tifany menyukai Alan yang telah bersama dari semenjak 6 tahun yang lalu dan harus terpaksa menerima kenyataan kalau orang yang disukainya ternyata menyukai sahabatnya sendiri sejak dua bulan yang lalu. Septia. Seorang yang tidak sengaja ia kenalkan pada Alan saat Alan berkunjung ke kostannya.Dan ini lah rutinitasnya setiap hari. Kurir cokelat. Tapi Untunglah sampai saat ini rasa sakit itu masih bisa dan mampu ia tahan. Apalagi melihat rekasi cuek bin dingin Septia selama ini yang tidak pernah sekali pun menerima cokelat pemberian Alan sehingga selama ini selalu berakhir masuk kedalam perutnya.Setelah memarkir sepedanya, Tifany melangkah masuk kedalam rumah. Sepi, sepertinya penghuni kostan juga sedang pada keluar. Tangannya terulur memutar knop pintu nomor 7, tidak terkunci. Itu artinya, Septia, rekan sekamarnya ada di sana."Gue kan udah berulang – ulang – ulang – ulang kali bilang ke elo. Gue nggak mau coklat dari dia. Kenapa masih loe terima aja si?" gerut Septia penuh penekanan saat Tifani menyodorkan kiriman Alan tepat di depan wajahnya."Dan berulang – ulang kali juga gue bilang kalau Alan itu type orang yang sama sekali tidak menerima penolakan," balas Tifany tak kalah cuek.Septia memutar mata. Matanya masih menatap lurus kearah Tifany yang masih mengulurkan tangannya. "Ya udah, kalau gitu loe buang aja," saran Septia baru kemudian mengalihkan perhatiannya kearah novel yang sedari tadi ia baca sebelum kemuculan Tifany menganggu konsentrasinya."Jangan!!! Sayang donk," potong Tifany cepat."Hu…. Bilang aja kalau loe yang mau cokelatnya makanya loe nggak mau nolak pemberian Alan," cibir Septia. Diam diam gadis itu melirik kearah sahabatnya. "Bukan gitu. Gue cuma sayang aja kali. Makanan enak gini maen buang aja," Tifany membela diri."Sayang sama cokelatnya atau orangnya?" balas Septia sembari bergumam."Apa?" Tifany mengurungkan gerakan tangannya yang sedang meletakan mengantungkan tas ke dinding. Kepalanya menoleh kearah Septia. Tapi yang di tatap sama sekali tidak menoleh. Gadis itu malah terlihat tengelam dengan bacaannya. "Loe barusan ngomong apa Sep?" ulang Tifany lagi."No Ada bebek pake helm," Septia menjawab acuh tak acuh. Tatapan Tifany menyipit. Ia yakin tadi bukan itu kalimat yang Septia ucapkan."Oh ya, tadi gue ketemu kak Nara. Dia titip pesan sama gue, katanya kalau loe udah pulang loe di suruh kerumahnya," tambah Septia beberapa saat kemudian."Gue? Ada apa?" tanya Tifany sambil menunjuk wajahnya sendiri."Tau…" Septia angkat bahu. Ditutupnya buku yang ia baca. Matanya melirik kearah jam yang melingkar di tangan baru kemudian bangkit berdiri. Berjalan kearah meja rias di sudut kamar. Tangannya sibuk merapikan poni rambutnya yang sedikit berantakan. Tifany baru menyadari kalau penampilan gadis itu terlihat rapi. Siap mau keluar."Loe mau kemana?" Tanya Tifany heran."Ada deh. Mau tau aja. Udah gue cabut dulu ya. Da…" tanpa menunggu balasan dari Tifany, Septia sudah keburu menghilang di balik pintu. Meninggalkan sahabatnya yang masih heran dan penasaran akan rutinitanya setiap sore sejak dua minggu yang lalu."Hati – hati," teriak Tifany walau pun sosok sahabatnya sudah tidak terlihat. Tapi ia yakin suara cemprengnya masih mampu untuk ditangkap oleh indra pendengar Septia."Ia. Loe juga. Inget, mang Danang itu sudah punya istri. Jangan di godain aja. Ha ha ha," balasan Septia masih terdengar. Bahkan walau wujudnya sudah tidak terlihat, ia masih mampu melemparkan ledekan."Rese loe," balas Tifany sengaja berteriak. Sebagai balasan hanya suara tawa yang sama terdengar baru kemudian hilang. Kalau saja Septia masih ada di hadapannya pasti saat ini sendal sudah melayang kekepala. Heran, tuh anak suka iseng banget. Padahal ia juga sudah tau dengan pasti kalau Tifany hanya menyapa mang Danang, tukang kebun tetangga sebelah setiap pagi hanya karena kebetulan ia lewat pas disampingnya yang sedang menyiram bunga ataupun membersihkan kebun. Tapi tetap saja Septia selalu mengodanya. Emang dasar Kurang kerjaan tuh anak.Next to Cerpen cinta rasa yang tertinggal part 2.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_meryaPart : 01 Of 05Jumlah kata : 1. 179 WordsGenre : Remaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*