Cerpen: Akhir Pertualangan Cinta Sang PlayBoy

Cerpen PlayboyBicara tentang cinta, ya Boy dah biangnya. Si petualang cinta alias sang play boy ini akan mati-matian dan bila perlu sampe bersujud untuk merayu dan mendapatkan seorang cewek cantik. Sang play boy ini tidak akan pernah tahan bila sudah melihat cewek cantik melintas di depan matanya, seakan matanya tidak akan pernah berkedip untuk terus mengikuti langkah kaki sang cewek. Ya bila perlu sampe membuntuti dari belakang (emangnya mau nyopet, Boy?).
Singkat cerita Boy bakalan jungkir balik dah untuk mendapatkan sang cewek bila sudah naksir banget. Boy kagak perduli apakah nantinya itu cewek bakalan mau apa nggak? Apakah hubungannya nanti akan berlangsung lama atau nggak? Bagi Boy kudu mandapatkannya dulu, apapun caranya.
Lantaran cap play boy nya itu, si petualang cinta ini suka gonta ganti cewek (kayak baju aja Boy, digonta ganti). Tapi sayang dimata cewek-cewek di sekolahnya kartunya udah mati kagak bisa diperpanjang (kayak KTP aja ah). Sehingga sang play boy harus berpetuang di tempat lain, kecuali ada anak baru di sekolah ini yang kagak tahu dengan belangnya Boy.
Awal cerita neh. Pada suatu hari, Boy lagi ngebet banget sama Lila, adik kelasnya yang baru aja menjadi siswi di sekolahnya. Padahal saat itu, Boy sudah memiliki gandengan (kayak truk aja pake gandengan segala), si Ivon anak SMU 2.
”Jek, gua naksir banget nih ame anak baru,” kata Boy curhat dengan sobatnya Jaka yang biasa dipanggil Jek.
”Ah! Elo kagak boleh melihat barang baru apalagi yang cantik-cantik dan mulus-mulus,” jawab Jek. ”Tuh! Ada yang mulus, kenapa kagak lo embat aja sekalian?” lanjut Jek sambil tertawa menunjuk ke arah Pak Didin, guru Fisika yang jidatnya emang rada botak licin.
”Bercanda lu ah! Gua serius nih,” gerutu Boy.
Untuk cewek-cewek baru angkatan Lila, memang Lila bidadarinya. Orangnya cantik, putih dan tinggi lagi, perfect dah pokoknya. Tapi sepertinya bila dilihat, kayaknya Lila terlalu tangguh, lincah dan pinter untuk ditaklukan oleh sang play boy. Hati-hati Boy! Ini bakalan jadi batu sandungan buat lo. Lila juga terbilang cukup menonjol dan heboh diantara temen-temennya. Apalagi kalau sudah ngumpul maka suaranya akan lebih menonjol dan kedengeran kemana-mana.
Tapi dasar udah bergelar master play boy, akhirnya sang petualang berhasil juga dengan perjuangannya yang mati-matian dan bisa dibilang jungkir balik, rada susah banget memang untuk mendapatkan Lila. Akhirnya Sang play Boy berhasil meruntuhkan tembok hati Lila, runtuh oleh rayuan maut sang play boy yang memang sudah terkenal itu.
Ups! Tapi tunggu dulu sobat. Tadinya memang Lila belum tahu dengan Boy, tapi karena ia sudah lama temenan dengan Ivon, sehingga ia akhirnya tahu juga siapa Boy. Boy nggak tahu dengan situasi itu, ya karena asal seruduk aja kagak diselidiki dulu, siapa cewek yang bakal diseruduk (yah, itu tadi kelemahan si Boy maen seruduk aja. Kambing kali ya?) sorry Boy!.
Rupanya Sob, sang play boy sudah terperangkap dalam jeratan permainan cintanya sendiri. Boy terperangkap ke dalam skenario sandiwara cinta yang sudah dibuat oleh Lila. Lila memang menerima cintanya Boy, tapi ada maksud dan tujuannya. Itu bukan berarti ia mau berkhianat dengan temennya sendiri, Ivon. Karena skenario itu sudah ia beritahu sebelumnya kepada Ivon.
Lila yang cantik, lincah dan pintar ini, rupanya hanya ingin memberi pelajaran ekstra kurikuler kepada sang play boy. Dia tidak ingin kecantikannya dimanfaatkan hanya untuk dipermainkan, termasuk Ivon yang telah menjadi korbannya.
Walau terbilang anak baru, Lila termasuk cepat menyesuaikan keadaan dan peka dengan situasi perkembangan yang ada di sekolahnya, demikian juga dengan watak dan perilaku Boy yang sebaliknya akan menjadi korbannya. Ya, lantaran karena dia cukup gaul, sehingga sangat cepat mendapat kabar baru atau gosip-gosip dari teman-temannya.
Tapi secara naluriah wanita, mata hatinya tak bisa memungkiri, jika Boy terbilang cakep sehingga layak menjadi play boy. Wajar kalau Ivon pun jatuh cinta kepada Boy waktu itu. Cuma sayang kegantengan yang dimilkinya hanya untuk merayu dan berpetualang guna mendapatkan cewek-cewek cantik yang ia sukai. Boy lupa diri sehingga ia tidak tahu bahwa kaum cewek juga harus dan wajib dihargai dan disayangi, bukan untuk dipermainkan.
”La, elo kok mau aja menerima cintanya Boy. Nekat lu!” kata Mery merasa khawatir dan prihatin sama Lila. Wajar Mery khawatir, karena ia takut temannya yang cantik ini hanya akan menjadi boneka mainan, korban keserakahan cinta sang play boy.
”Terima kasih ya, Mer kamu telah mengingatkan dan menasehati aku. Aku tahu kamu khawatir kalau aku akan menjadi korban cintanya Boy. Tapi kamu tidak usah takut dan khawatir, aku sudah tahu kok siapa Boy sebenarnya. Aku menerima dia, bukan lantaran kegantengannya atau rayuan gombal murahannya. Lantas aku dengan begitu murahannya jatuh ke dalam pelukan Boy. Caranya dan rayuannya udah kuno terlalu konvensional, mudah ditebak, sayang,” kata Lila meyakinkan sobatnya Mery.
”Syukurlah kalau kamu sudah tahu siapa dia. Aku berdo’a moga kamu tidak terjebak dalam permainan cintanya Boy,” kata Mery lagi.
”Iya aku mengerti Sob. Tapi percayalah, sebenarnya skenario ini aku jalani ada maksud dan tujuannya, Mer. Tapi bukan berarti aku juga mau mempermainkan orang atau mau balas dendam sama cowok yang seperti ini, seperti yang pernah aku alami sebelumnya (ooo …pernah mengalami bro). Gua hanya ingin dia bisa membuka mata dan hatinya, agar dia juga bisa menghargai kita sebagai kaum wanita yang secara fisik lemah dan butuh perlindungan. Kita bukan boneka yang hanya bisa dipermainkan untuk menjadi eksperimen cintanya kaum laki-laki.” Lanjut Lila.
”Baguslah kalau kamu punya pemikiran dan prinsip yang begitu luar biasa untuk memperjuangkan dan mempertahankan harga diri wanita,” kata Mery senang.
”Gua yakin, dia tidak akan bisa berbuat banyak dan macam-macam sama gua. Justru dia akan terperangkap sendiri dalam permainnan ini. Biar kelak dia tahu rasa, bagaimana rasanya kalau dipermainkan. Kuharap satu saat kelak dia nyadar telah menyakiti hati cewek-cewek yang telah menjadi korbannya.”
Bener. Dalam tiga bulan hubungan Lila dengan Boy, apa yang dikhawatirkan oleh Mery, benar-benar terjadi. Rupanya diam-diam Boy sedang menjalin hubungan dengan Kania, tetangga barunya Jek. Tapi bagi Lila itu bukanlah sebuah berita menakutkan, ibarat kesambar petir disiang bolong. Baginya itu bukan sebuah kejutan atau petaka baginya yang harus disesali dan yang ditakutkan oleh semua cewek. Apa yang akan terjadi kedepan semua sudah jauh ada dalam pikirannya. Itu pasti akan terjadi cuma menunggu waktu. Dalam pikirannya justru itu adalah awal petaka bagi Boy dan tentunya akan menambah serunya rencana permainan yang akan dibuat oleh Lila.
Ingat Boy! Ada pepatah mengatakan sepintar-pintar tupai melompat pasti akan jatuh juga, dan sepandai-pandai orang menyimpan kebusukan pasti akan tercium juga. Hukum karma pasti akan ada, Boy.
Elo bukan play boy, Boy. Elo lebih tepat dibilang bajing yang bajingan. Tunggu tanggal mainnya, lo. Semua akan berakhir, Boy. Gua akan beraksi, yang akan bikin lo bertekuk lutut di kaki gua, bisik Lila dalam hati.
Boy yang piawai dengan rayuannya dan ditambah dengan akting sempurna, bolehlah dibilang jagonya. Kata-katanya begitu manis dan santun dengan rayuannya akan membuat siapapun terkena tipu dayanya. Ditambah lagi dengan kepandaiannya mengatur strategi jitu dalam mengatur jadwal ngapel ke rumah pacar-pacarnya. Biar nggak dicurigai, ia selalu bilang kepada cewek-ceweknya, kalau ia ngapel nggak tergantung hanya pada malam minggu (kalau ngapelnya malam Jum’at, yasinan aja sekalian, Boy. He…he..he). Tetapi strategi seperti itu sudah duluan terbaca oleh Lila. (lagi-lagi terlalu konvensional, coy). Basi tau nggak! Sehingga Lila pun kagak terlalu mikirin banget tu anak mau ngapel atau kagak, termasuk pada malam minggu.
Melihat pertualangan sang play boy sudah over pede dan semakin menggila, karena denger-denger lagi, dia baru aja mau mendekati seorang cewek. Gila nggak tuh! Padahal ia belum lama menggaet si Lila (Gila bro! Lo doyan cewek apa lagi nuntut ilmu, Boy. Harus sampe berapa sih, cewek yang harus lo dapet, biar ilmu lo sempurna?).
Akhirnya Lila pun mulai mengatur rencana dan strategi pula buat ngerjain Boy. Seminggu sebelum menjalankan rencananya, Lila segera menghubungi Ivon. Sementara karena si Kania belum ia kenal, kemudian ia dan Ivon pun berusaha mencari dan menemui Kania. Setelah Lila dan Ivon menceritakan semua rencanya kepada Kania, mereka pun sepakat dan menjadi akrab sehingga mereka pun bersatu untuk menumpas kejahatan (kayak di sinetron silat aja).
Beberapa hari menjelang hari eksekusi terhadap Boy, ketiga bidadari itu pun sering berkumpul di rumah Lila dan berbagi cerita termasuk strategi nantinya. Merekapun akhirnya mempunyai tujuan yang sama yaitu membikin kapok dan mempermalukan si Boy, yang emang nggak punya rasa malu.
Sabtu, sehari sebelum rencana Lila dan temen-temennya dilaksanakan, mereka bertiga sengaja ngumpul di rumah Lila, karena hari itu rencananya Boy akan datang ke rumah Lila.
”Sebentar lagi Boy akan datang. Ntar kalian berdua ngumpet aja dulu di kamarku sambil nguping,” kata Lila mengatur strategi awal.
”Siplah!” jawab Kania.
”Terus langkah selanjutnya gimanah nih?” tanya Ivon pula.
”Nanti biarkan kita berdua seolah-olah enjoy dulu, ntar tugas kamu Von teleponin si Boy. Biar dia gelisah kita kerjain. Tapi ingat ini baru sebahagian dari rencana kita yang sebenarnya, karena rencana besar itu besok baru kita tumpahkan,” kata Lila ngejelasin.
”Oke kalau begitu,” kata Ivon sambil mengangguk dan bersemangat.
Tak beberapa lama setelah mereka bertiga ngerumpi, akhirnya Boy pun datang walaupun agak terlambat dari waktu yang telah dijanjikannya kepada Lila. Tapi itu semua tidak berarti bagi Lila, dan masa bodoh ah! baginya.
”Dasar jam karet,” bentak Lila pura-pura menggerutu seolah perhatian.
”Sorry deh telat dikit,” jawab Boy seolah tanpa dosa dan pede banget. ”Oya, gimana kalau kita keluar aja?” ajak Boy guna mengalihkah agar Lila nggak marah.
”Emangnya mau kemana?” tanya Lila asal.
”Terserah kemana, yang penting kita keluar aja,” kata Boy.
”Gua lagi males nih. Gua pingin di rumah aja,” jawab Lila penuh sandiwara. Sementara apa yang berputar dalam otak Lila, mampus ntar lo, nayawamu tinggal sedikit lagi, Boy.
Ketika Boy mau bicara lagi, tiba-tiba aja Hpnya berdering. Sementara dari raut wajahnya terlihat salah tingkah dan gugup banget, karena ternyata yang menghubunginya adalah Ivon. Gawat! Mati gue! pikirnya. Lila yang sudah tahu sebelumnya ambil gaya berpura-pura cuek dan nggak peduli banget, karena ia sudah tahu kalau itu dari Ivon.
”Bentar La,” kata Boy sambil meninggalkan Lila dari ruang tamu dengan penuh gundah menuju teras rumah, karena ia takut pembicaraannya didengar Lila. Padahal bagi Lila itu nggak penting banget.
”Halo Boy! Elo lagi dimana? Kok nggak jadi ke rumah kemaren?” tanya Ivon iseng seolah-olah ia berharap banget. Padahal ia hanya ingin menguji kejujuran Boy aja, walaupun sebenarnya dia sudah tahu apa jawabannya.
Ya nggak mungkin akan jujur orang seperti ini, abis emang sudah dari sononya nggak pernah jujur. Janjian mau ketemu dengan Ivon aja bisa batal. Ntah keduluan janjian dengan siapa saat itu sehingga nggak jadi ke rumah Ivon.
”Sorry ya, kemaren gua lupa. Gua sekarang lagi di rumah Jek,” jawabnya berbohong. Sementara matanya terus mengamati Lila di dalam rumah, karena khawatir kalau Lila nanti bisa mendengar pembicaraanya dengan Ivon. Bisa kiamat pikirnya.
Lo nggak perlu khawatir Boy, walau Lila nggak dengar, Lila nggak bakalan percaya sama elo. Jujur aja orang sudah kagak percaya sama elo, apalagi kalau elo berbohong.
Tapi sayang, rupanya suara Boy terdengar juga dengan Lila. ”Busyet! Sialan! Emang dasar buaya darat kampungan,” kata Lila ngomel sendiri dari dalam rumah. ”Elo lebih mentingin si Jek daripada kita-kita,” lanjut Lila lagi yang emang udah geram banget sama Boy.
”Elo lebih mentingin Jek daripada gua,” jawab Ivon pula dengan asal.
”Bukan begitu, sayang. Kemaren gua lupa ngasih tahu ke elo, kalau kemaren di rumah Jek lagi ada selamatan,” jawab Boy dengan penuh gombal kampungan. Sorry Jek, elo jadi tempat berlindung gua, bisik hati Boy.
Sayang kentut lo! bisik hati Ivon.
”Ya udah kalau begitu, sampe ketemu,” kata Ivon menutup pembicaraan.
Tak beberapa lama kemudian, dengan penuh salah tingkah si Boy pun kembali masuk ke dalam menemui Lila.
”Dari siapa sih?” kata Lila iseng pura-pura bertanya.
Kontan aja, mendengar pertanyaan Lila itu Boy terlihat serba salah dan salah tingkah, ia galau dan gelisah dengan wajah penuh dusta. Mampus dah!
”Dari Jek,” jawabnya santai.
Elo gak tahu kalau gua sudah tahu semua kebohonganmu. Dasar bajingan kampung, kata Lila ngedumel dalam hati. Lila pun kemudian diam seolah-olah percaya aja dengan jawaban Boy barusan. Baginya yang penting tujuan untuk mengerjain Boy harus lebih penting.
Boy yang emang sudah galau dan gelisah merasakan suasana sudah tidak nyaman, padahal nuansa di rumah Lila lagi nyaman dan adem. Akhirnya Boy pun terasa nggak betah dan pulang lebih cepat diluar dugaan Lila.
Keesokan harinya, yang merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh Lila, Ivon dan Kania untuk menghabisi dan menghentikan pertualangan sang play boy, Boy. Cukup sampe disini Boy, kata mereka bertiga.
Hari ini merupakan giliran Kania janjian ketemu dengan Boy. Mereka berdua sepakat ketemuan di kafe tempat pertama kali mereka bertemu, tempat pertama kali Kania menjadi korban rayuan gombalannya Boy. Boy benar-benar nggak nyadar kalau semuanya ini sudah diatur. Boy pun nggak nyadar kalau ia sudah masuk dalam sebuah perangkap skenario besar dari korban-korbannya sendiri.
Lila dan Ivon terlihat sedikit gelisah dan sudah tidak sabar menunggu kehadiran Boy. Mereka memang sudah pada duluan hadir di tempat itu dan berada di tempat yang tidak bisa dilihat oleh Boy.
Tepat pukul 20.00 wib, akhirnya Boy yang ditunggu-tunggu pun tiba langsung menghampiri Kania. Kania pun lantas berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Boy.
”Sudah lama nunggunya?’” tanya Boy kepada Kania.
Basa basi doang lo! Bisik Kania dalam hati. ”Nggak, barusan aja aku disini,” balas kania juga dengan basa basi.
Lebih kurang tiga puluh menit sudah, Boy dan Kania berada di kafe ini sambil menikmati makanan yang mereka pesan, namun tiba-tiba aja Hp Boy berbunyi lantaran dihubungi oleh Ivon.
”Halo, met malam, Von,” kata Boy kalem membuka pembicaraan sambil menjauh dari Kania.
”Ya, malem,” jawab Ivon. ”Elo lagi dimana sih?” lanjut Ivon iseng bertanya.
”Gua lagi di rumah,” jawab Boy spontan.
Benar-benar bangsat, lo! Udah basi, telat lo ngelesnya! Bisik Ivon dalam hati. ”Kesini dong, gua lagi bete nih,” rayu Ivon sambil mencuil lengan Lila.
”Gua lagi capek banget, lagi males mau keluar. Sorry ya!” kata Boy pede dengan kebohongannya.
”Ya udah kalau begitu, nggak papa,” balas Ivon.
Setelah kontaknya diputus, Ivon dan Lila pun nggak bisa menahan tawanya sambil menutup mulutnya dengan tangan agar tidak didengar oleh Boy.
”Rasain lo, sebentar lagi dengan pembalasan kita. Waktu untuk pembinasaan lo tinggal menghitung detik doang, Boy,” kata Ivon bicara pelan dengan Lila.
Lila dan Ivon sudah benar-benar nggak sabaran untuk menghabisi Boy. Nasib baik lagi nggak berpihak, hukum karma sepertinya segera berlaku buat Boy. Sementara Kania sudah gelisah menunggu kehadiran kedua temennya untuk beraksi menjalankan skenarionya. Mereka bertiga memang sudah nggak sabaran mengacak-acak mukanya Boy dan menyiramkan jus mengkudu busuk kesekujur tubuh Boy, yang memang sudah mereka persiapkan dari rumah.
Malam itu merupakan malam yang naas dan apes bagi Boy. Dia harus mempertanggujawabkan atas semua perbuatannya terhadap ketiga cewek ini. Skenario yang diatur oleh Lila berjalan mulus. Boy yang lagi asik, tiba-tiba aja menjadi kaget nggak karuan melihat kehadiran korban-korbannya, Lila dan Ivon tiba-tiba datang secara bersamaan. Boy hanya terpaku diam menunggu eksekusi. Tapi dasar play boy tengik, dia berusaha terlihat santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal dalam hatinya berkecamuk nggak karuan dan jantungnya berdebar kencang. Mampus dah gua! Pikirnya.
”Dasar bajingan! Buaye lu! Jadi ini kerja lo selama ini?” kata Ivon berang banget.
Lila yang nggak bicara, nggak tinggal diam. Lila lalu dengan semangatnya menyiramkan jus mengkudu tadi ke tubuh Boy. Pyuuuuur basah. Duh! Bau banget. Mampus deh lo, Boy!
Kania dan Ivon pun terus mencaci maki Boy habis-habisan. Lila yang sudah geram banget, akhirnya nggak tahan juga menahan emosinya, lalu dengan spontan menggampar muka Boy. Plaaaaaak, Boy tidak mengelak dan hanya diam.
Boy yang seperti maling ketangkap basah nggak bisa berkutik dan hanya diam dan pasrah tanpa perlawanan apa-apa dengan perlakuan ketiga cewek tadi. Mau bicara pun sudah nggak sanggup lagi. Mau ngeles pun sudah nggak bisa lagi. Ia seperti orang yang sudah kehilangan akal. Ia malu banget karena belangnya selama ini sudah ketahuan.
Dengan peristiwa itu membuat semua tamu di kafe pun tertuju kepada mereka berempat dan membuat membuat pengunjung heboh dan tertawa sambil bertepuk tangan melihat seorang cowok yang sudah basah kuyup menjadi bulan-bulanan tiga orang cewek. Rasain deh, Boy!
”Cukup sudah pertualangan cinta lo sama kita, Boy,” kata Lila sambil berlalu meninggalkan Boy berdiri sendirian.
Lila, Ivon dan Kania akhirnya pergi meninggalkan Boy sendiri. Boy pun akhirnya dengan perasaan malu banget pulang meninggalkan kafe yang menjadi neraka buatnya malam itu. Mimpi apa gua semalam, bisik hatinya seperti nggak percaya dengan apa yang telah terjadi.
Selama diperjalanan, mereka bertiga melepas tawa sejadi-jadinya di dalam mobil sedan yang dikendarai oleh Lila. Mereka pun merasa puas setelah sukses mengerjai Boy.
Makanya Boy, jadi orang jangan sombong banget dengan kegantenganmu, sehingga membuatmu lupa akan daratan. Kalau elo masih nggak nyadar juga, maka tunggu aja sebuah hukum karma yang mungkin lebih besar dari malam ini akan menghampirimu lagi. Percaya deh! Tuhan Maha Pengampun, kembalilah ke jalan yang benar, Boy. Insyaallah.
TAMAT
Penulis : Ardhian, S.Sos.
FB : Ardhian Dhian
Tweeter : @ardhian_dhian

Random Posts

  • GARA-GARA SI BENDA BUNDAR

    GARA-GARA SI BENDA BUNDARoleh: Putria. Pebriana. Sitanggang Cuaca cerah dan sejuk menyelimuti Kota Tambun tepatnya di GOR Tambun. Nabila dan teman-teman seteamnya sedang menunggu waktu pertandingan mereka. Nabila atau biasa dipanggil Bela adalah seorang atlet basket disekolahnya. Dia dikenal sebagai gadis yang baik, ceria dan bertanggung jawab. Maka, tak heran dia diberi kepercayaan menjadi wakil kapten di klub kesayangannya yaitu “DWI WARNA”. Memang bukan pertama kalinya team tersebut mengikuti perlombaan Libala Cup. Sudah dua kali Nabila mengikuti pertandingan tersebut. Tahun lalu Bela dan teman-teman seteamnya mendapatkan juara ke-1 di Libala.Saat sedang bermain passing-passingan bola, tak sengaja temannya melempar jauh bola itu. Dan mau tidak mau Bela mengambilnya, ternyata bola tersebut terjatuh didepan seorang cowok berwajah tampan, berpostur tinggi. Ia adalah Reigy pemain basket dari klub “GALAXI”, Reigy seorang cowok jutek namun humoris. Ia pun memberikan bola tersebut kepada Bela.“Nih bolanya” sambil memberikan bola kearah Bela.“Terima kasih ya, udah ngambilkan bola ini.” Sambil mengambil bola tersebut.“Iya sama-sama, lo dari klub mana?” Tanya Reigy.“gw dari klub DWI WARNA, kalau lo?” tutur Bela.“Oh, gw sih dari klub GALAXI, lo udah tanding? Ucap Reigy.“Udah kok, tadi pertandingan pertama.” Sambil tersenyum.“oh, terus menang ya, hmm kalo gw sih nanti pertandingan terakhir.” Ungkap Reigy.“iya team gw menang, wah semangat ya moga menang. Hmm yaudah gw pergi ya thank loh atas semuannya.” sambil melambaikan tangan.“makasih loh sportnya, iya sama sama.”tersenyumlah Reigy seketika.Cowok itu seperti merasakan hal yang berbeda saat bertemu dengan Bela. Ternyata ia jatuh cinta terhadap Bela, begitu pun sebaliknya. Tanpa disadari mereka memikirkan satu sama lain, Reigy ingin sekali meminta nomor hp Bela namun dia tidak berani memintanya. Waktu pun menunjukkan pukul 16.33 sore, saat itulah team “GALAXI” akan bertanding melawan team “STAR”. Bela yang mendukung team “GALAXI” di tribun penonton, selalu tersenyum jika memandang Reigy. Cowok itu membuat Bela tak henti-hentinya memikirkan wajahnya. Sambil bersorak sorak, Bela mendukung Reigy. Akhirnya team “GALAXI” menuaikan kemenangan dengan skor 45-32. Team “GALAXI” dan “DWI WARNA” mendapatkan juara pertama di tournament LIBALA tersebut.Saat upacara penutupan dan pemberian hadiah bagi para pemenang, Reigy dan Bela pun menjadi perwakilan dari setiap klub. Hati Bela sangat senang saat bersampingan dengan cowok tersebut. Tak disangka, mereka berphoto bersama saat pemberian Piala penghargaan itu. Reigy pun merasa senang dapat berdekatan dan tersenyum bersama kala itu. Selesailah upacara penutupan tournament LIBALA. Para peserta tournament itu pun telah meninggalkan Gor itu. Reigy yang mencari Bela dikerumunan orang sangat khawatir bila tidak menemukan cewek itu. Namun, saat ia berdiri dan memandangi satu persatu orang orang didepannya tiba tiba ada seorang gadis menepuk punggungnya. Ternyata gadis itu adalah Bela.“Hai, ngapain lo disini oiya dari tadi kita belum kenalan gw Nabila panggil aja Bela.” Sambil mengulurkan tangannya.“hmm iya gw Reigy.”sambil berjabat tangan dengan Bela.“oh iya, lo mau pulang ya yah kita gak bisa ketemu lagi deh.”“iya, haha iya yah, hmm gw boleh minta nomor hp lo gak?" Tutur Reigy.“oh boleh kok nih number gw.”sambil mengucapkan nomor handphonenya.“terima kasih ya, oiya lo pulang kemana?” Tanya Reigy.“sama sama, gw pulang ke Cikarang Utara gy, kalo lo pulang kemana?” Ucap Bela.“hah? Cikarang Utara looh kita searah dong, emangnya lo tinggal dimana?” Tanya Reigy.“hah masa? Wah dunia sempit banget ya, haha gw tinggal di dekat Perum Kebon Kopi, kalau lo tinggal dimana?” ungkap Bela.“wah wah dekat dengan gw dong, gw tinggal di Perum Puri Cikarang Hijau.”Jawab Reigy.“haha,, kok bisa gitu ya, apakah takdir?”“jika ini suatu takdir, wah bersyukur banget gw, oh ya lo pulang sama siapa?”Tanya Reigy.“haha,, gw juga, sama…” omongan Bela pun terputus saat bunyi klakson mobil.“tinn.. tinn. Tiinnnn”“eh itu bokap gw, yaudah gw pergi ya, bye.” sambil melambaikan tangan.“bye juga , hati hati ya Bel.” Sambil tersenyum.Hari demi hari pun terlewati, Bela dan Reigy menjadi sangat dekat semenjak tournament LIBALA tersebut. Mereka sering smsan ataupun telfonan, bahkan sering pergi jalan bersama. Reigy yang merasa sangat menyayangi Bela pun mengatakan isi hatinya kepada Bela saat berjalan jalan di sebuah taman.“Bel,, gw boleh ngomong sesuatu tidak?” Tanya Reigy.“lo mau ngomong apa gy? Silahkan ngomong aja.” Jawab Bela.“Sebenarnya gw suka sama lo saat pertama kita ketemu, gw baru bisa jujur sekarang selama ini gw coba memberanikan diri tapi saat inilah gw baru berani mengatakannya.”“hah” Bela pun terdiam sejenak.“kenapa, lo gak suka ya sama gw? Yaudah gakpapa kok kita bisa berteman kaya dulu lagi kan ?”“bukan itu, tapi sebenarnya gw juga suka sama lo hanya saja gw belum percaya lo mengatakan itu sama gw.” Ucap Bela.“yang bener berarti lo mau jadi pacar gw Bel?” Tanya Reigy.“iya gw mau gy.” sambil tersenyum.Akhirnya Reigy dan Bela pun berpacaran menjalani kisah cinta di masa remajanya.——————-SELESAI——————–Pengarang : Putria. Pebriana. SitanggangTTL : Tangerang, 16 Februari 1997Tempat Tinggal : Kebon Kopi, rt 04 rw 06 kec cikarang utara kab bekasi prov jawa baratSekolah : SMP Negeri 3 Cikarang UtaraFacebook : Febriana Alineal Sichii ImotoosanTwitter : @Put_putstang

  • Cerpen Remaja Terbaru ” Take My Heart ~ 04″

    Lanjut kisah dari cerpen Take My Heart yang kini udah sampe part 04. Secara ni cerita lumayan panjang, terdiri dari 20 part. So untuk yang udah kadung merasa penasaran tentang gimana jalan ceritanya, bisa langsung simak kisahnya di bawah ini. Dan biar nyambung sama jalan ceritanya bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya disini. Happy reading guys….Cerpen Take My Heart"Dasar manusia gila, kurang kerjaan. Rese," gerut Vio.Sepanjang jalan menuju kekelasnya ia terus mengerutu tak jelas. Entah itu karena perlakuan Ivan padanya atau karena ia merasa nasip sial masih menyertainya. Mendadak ia merasa ragu kalau keputusannya pindah kampus untuk mengobati rasa patah hatinya atas penolakan Herry benar – benar merupakan hal yang benar. Secara kali ini ia menyadari kalau nasipnya di kampus baru ini juga tidak terlalu mujur.Entah karena keasikan mengerutu atau memang karena pikirannya sedang melayang – layang, yang jelas saat belokan koridor kampusnya tak sengaja ia malah menabrak seseorang. Membuat gadis itu _ yang ternyata sedang membawa banyak buku langsung berserakan di lantai."Sory sory sory, gue nggak sengaja," Vio segera berjongkok. Mengumpulkan kembali buku – buku itu. Hal yang sama juga di lakukan oleh gadis itu.Setelah buku – buku itu kembali tertata rapi barulah Vio berani mentap sosok yang di tabraknya yang kebetulan juga sedang menatapnya.Bulu matanya yang lentik serta kulit wajahnya yang halus tanpa jerawat langsung menjadi nilai plus dari Vio atas gadis itu. Apa lagi di tambah dengan bola matanya yang coklat serta bibir yang mungil. Benar – benar keindah paras tanpa cela."Eh sekali lagi maaf ya. Gue jalan nggak liat – liat," ulang Vio merasa bersalah."Nggak papa kok. Kayaknya tadi itu juga gue emang ceroboh," balas gadis itu sambil berdiri. Matanya masih memperhatikan Vio. Sepertinya gadis itu juga sedang memberikan penilaian atas dirinya."Vio," tampa di minta Vio langsung mengulurkan tangannya. Untuk sekian detik gadis itu terdiam. Mencoba mencerna maksut Vio. Baru lah pada detik berikutnya senyum mengembang di bibir sambil tangannya terulur menyambut uluran tangan Vio."Silvi."Kata pertama yang Vio dengar keluar dari mulut gadis mungil itu. Merdu. Membuat Vio kembali harus mengakui kelebihan barunya.Sejenak Vio kembali terdiam. Silvi? Kenapa ia merasa familiar dengan wajah itu ya? Sepertinya ia pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana ya?"E.. Mahasiswi baru ya?" pertanyaan Silvi sudah lebih dulu mendahuluinya."Kok tau?" akhirnya Vio lebih memilih untuk balik bertanya dari pada menjawab. Sebuah kebiasaan yang memang sering di lakukan oleh kebanyakan orang jika langsung benar dalam menebak sesuatu."Soalnya gue baru liat" Balas Silvi sambil tersenyum. Vio ikut tersenyum sambil mengangguk membenarkan."Oh ya, buru – buru memang mau kemana?" tanya Vio mengalihkan pembicaraan."Tadinya si pengen ke kantin, tapi karena waktu sepertinya sudah tidak memungkinkan mending gue langsung balik kekelas aja deh," salas Silvi setelah tadi sempat terdiam beberapa saat."Kalau boleh tau kelas mana emang?" tanya Vio lagi."Jurusan sastra, semester empat ruang 3C.""Kok sama?" tanya Vio kaget."Masa sih?" Silvi ikut – ikutan kaget."Tapi perasaan tadi gue nggak ada liat loe di kelas sebelumnya?" tanya Vio lagi."O… Gue baru datang.""Jam segini?" Vio tampak memelototi jam yang melingkar di tangannya."He he he," Silvi thanya nyengir polos. "Gue nggak harus masuk semua mata kuliah kan untuk bisa di akui sebagai mahasiswa di kampus ini?"Vio mengeleng tak percaya. Dengan tampang sepolos dan seimut dihadapannya ia tidak akan pernah menyangka kalau gadis itu mau membolos."Lagi pula gue selalu melakukan hal yang gue sukai kalau loe belom tau," tambah Silvi lagi. "Apapun!" sambungnya.Mendengar kalimat tegas di penghujung kata Silvi hanya mampu membuat Vio angkat bahu. Setiap orang bebas untuk berpendapat bukan, terlepas dari hal itu benar ataupun salah. Lagipula bukankah orang – orang selalu menganggap bahwa hidup ini pilihan?"Kalau gitu, bisa kita langsung kekelas bareng?" ajakan Silvi membuyarkan lamunan Vio. Tanpa kata ia kembali mengangguk. Berjalan beriringan menuju kekelasnya. Sivli, orang pertama yang ia kenal di kampus barunya itu.Baiklah, edisi ralat. Silvi, orang pertama yang bisa ia di jadikan sahabat di kampus baru itu walau bukan orang pertama yang ia kenal. Masih ada para dosen juga si Laura, musuh dadakannya. Ataupun si Ivan, cowok kurang ajar yang menjadikan ia sebagai sarana untuk mendapatkan sepuluh juta.Cerpen terbaru "Take My Heart""Oh ya Vi, ngomong – ngomong loe kenal Ivan nggak?" tanya Vio.Ini adalah hari keduanya di kampus Amik sebagai mahasiswi baru. Menghabiskan waktu pergantian mata kuliah di kantin sambil menikmati Mie Soo pesanannnya di temani Silvi yang duduk di hadapan sembari menikmati sepotong pisang goreng."Ivan? Maksut loe dia?" tanya Silvi sambil menunjuk ke luar melewati jendela kaca kantin itu.Gerak refleks mata Vio mengikuti arah yang di tunjuk Silvi. Beberapa detik kemudian kepalanya mengangguk membenarkan."Tentu saja. Siapa si yang nggak kenal sama playboy kelas kakap itu?" balas Silvi santai."Oh ya? Emang dia beneran playboy?" tanya Vio terlihat tertarik."Emm," Silvi mengangguk membenarkan. Mulutnya masih penuh dengan pisang goreng membuatnya agak sulit untuk berbicara. Vio hanya mangut – mangut membenarkan."Bahkan asal loe tau aja. Bukan cuma playboy tu orang juga kurang ajar banget. Dua hari yang lalu, di kantin ini, di hadapan semua orang dia mutusin si Laura. Cewek idola di kampus kita. Katanya dia jadian sama tu cewek cuma karena taruah. Astaga, Gue nggak akan percaya kalau saja waktu itu gue nggak ngeliat kejadiannya di depan mata kepala gue sendiri," tambah Silvi lagi.Vio kembali terdiam. Sekarang ia mengerti kenapa Laura begitu benci pada Ivan sampe – sampe harus menyewa preman segala. Sepertinya itu memang pembalasan yang pantas untuknya."Tapi dari mana loe bisa tau soal dia? Terus kenapa loe pake nanyain dia tiba – tiba?" tanya Silvi tiba – tiba membuat Vio kembali harus diingatkan akan nasip hidupnya."Dia jadiin gue target selanjutnya. Dia juga jadiin gue sebagai barang taruah sepuluh jutanya," balas Vio lirih berbanding balik dengan reaksi sosok di hadapannya."Apa?! Loe adalah target taruhan Ivan yang selanjutnya?!" Demi apapun Vio benar – benar menyesali apa yang ia katakan barusan. Teriakan yang di ucapkan Silvi beberapa saat yang lalu benar – benar telah berhasil menarik perhatian seisi kantin. Sama halnya seperti banjir yang melanda Jakarta namun mampu membuat heboh seluruh warga Indonesia. Membuat Vio hanya mampu mengangkat tangannya menutupi wajah karena malu walau ia tau itu percuma."Kenapa nggak sekalian aja loe minjem mic di kampus ataupun loe bikin iklan di koran tempo," gerut Vio kesel."Ups, sory gue kelapasan," bisik Silvi merasa bersalah."Loe barusan bilang apa? Loe target taruhan Ivan yang selanjutnya?" tanya seseorang yang duduk tak jauh dari meja mereka angkat bicara sambil bangkit menghampiri. Vio hanya mengernyit kesel. Kenal juga enggak kenapa langsung di tuding begitu. Benar – benar nggak sopan."Enggak, kalian salah denger," elak Vio yang ia juga tau itu hal percuma. Mereka bukan anak kecil yang bisa dengan gampang di bohongi."Kita nggak mungkin salah denger. Jadi bisa loe jalasin apa maksut ucapan loe tadi?".Telak, benarkan apa yang Vio pikirkan barusan. Membohongi mereka itu percuma."Baiklah, walaupun seandainya itu benar, gue nggak berkewajiban untuk memberitaukannya pada kalian kan?" balas Vio akhirnya."Loe salah. Apaun yang berurusan sama Ivan itu selalu menjadi urusan kita."Vio hanya mendengus mendengar kalimat barusan. Bukankah itu kalimat yang sama yang ia dengar dari mulut Laura beberapa saat yang lalu? Lagipula, astaga. Yang benar saja, ia baru dua hari di kampus ini. Kenapa begitu banyak masalah yang bermunculan? Kenapa nggak sekalian saja masalah patah hatinya di bawa kseini? geramnya."Jadi apa benar Ivan melakukan taruhan lagi?" tanya seorang lagi yang tak Vio ketahui siapa."Ya," akhirnya dengan berat hati Vio mengangguk membenarkan. Membuat bisikan sana sini samar-samar terdengar."Kok bisa? Gimana ceritanya?""Iya, loe juga nggak cantik – cantik amat tuh," sambung yang lain setengah menghina."Mana gue tau. Kalau kalian mau tau tanyain saja langsung sama si Ivan," gertak Vio.Kesabarannya habis. Dengan cepat ia bangkit berdiri. Berlalu melewati anak – anak yang jelas masih penasaran. Meninggalkan kantin dengan keselnya."Loe mau kemana?" tanya Silvi sambil mensejajarkan langkahnya bersama Vio. Tapi vio tetap terdiam."Maaf, tadi gue nggak sengaja," sambung Silvi lirih.Untuk sejenak Vio menghentikan langkahnya. Menatap kearah Silvi yang terlihat merasa bersalah. "Sudahlah, lupain aja. Gue tau kok tadi itu loe nggak sengaja," kata Vio akhirnya."Tapi…." Silvi tidak jadi melanjutkan ucapannya. Matanya lurus menatap kehadapan. Memuat Vio sejenak merasa heran, dan begitu menoleh."Halo Vio," sapaan lembut dari mulut Ivan sontak membuatnya mendadak merasa mual."Ya Tuhan…" gumam Vio frustasi sambil mengusap keningnya."Loe kenapa? Sakit?" tanya Ivan. Raut khawatir jelas tergambar di wajahnya."Diem loe," damprat Vio sewot. Kemudian tanpa kata segera berlalu."Kenapa tu anak? Lagi datang bulan ya?" tanya Ivan kearah Silvi yang masih berdiri di hadapannya."Jiah, pake nanya. Bukanya itu gara- gara loe ya?" cibir Silvi sinis."Gue?" tunjuk Ivan kearah wajahnya sendiri."Iya. Ngapain loe jadiin dia target taruhan loe selanjutnya. Emang nggak bisa mikir loe ya?""Kok loe tau?" tanya Ivan makin kaget."Bukan cuma gue. Tapi gue bisa jamin, sebentar lagi. Seluruh anak kampus juga bakal tau.""Ha?"Mulut Ivan hanya mampu melongo. Sementara Silvi sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan itu lebih lanjut. Ia lebih memilih mengejar Vio. Memastikan kondisi gadis itu sekarang. Astaga, ada ada saja.Next to Cerpen Take My Heart Part 05Detail Cerpen Judul Cerpen : Take My HeartPenulis : Ana MeryaTwitter : @Ana_MeryaGenre : Remaja, RomantisStatus : CompleteFanpage : Star NightNext : || ||

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 07 | Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih ~ part 7. Biar bacanya nyambung untuk part sebelumnya bisa langsung klik disini.Sambil bersiul dan sekali – kali terdengar bersenandung kecil Rangga memasuki halaman rumahnya. Begitu turun dari motor, perhatiannya beralih ke arah mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Dalam hati ia bertanya – tanya. Siapa kira – kira pemiliknya?. Karena ia berani bertaruh kalau itu pasti bukan mobil papanya.Ketika Cinta Harus MemilihTanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Rangga segera melongos masuk ke dalam rumah yang memang tidak di kunci. Setengah tak percaya pada penglihatannya saat mendapati sosok yang kini duduk santai di ruang tamu sambil membolak – balik halaman majalah remaja ditangan. sebagian

  • Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?

    Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?oleh: Diah Novianti“Fio, tunggu…!”, langkahku langsung terhenti kala Denis memanggilku. “Ada apa ?” ” Ini, buku latihanmu ketinggalan.”kata Denis. “Makasi” jawabku sambil tersenyum. Denis membalas senyumku, senyum manis yang memberikan arti bahwa ia adalah sosok anak muda yang ramah dan baik hati.Ya, dialah Denis. Siswa SMA 46 Jakarta yang cukup banyak punya penggemar. Aku pun sudah lama memendam rasa kepadanya. Aku dan dia memang sudah kenal sejak lama karena dari sekolah dasar aku sudah sekelas dengannya. Awalnya, tak ada kedekatan apapun di antara kami, hingga suatu hari Denis mengajakku pulang bersama. “Mau pulang sama aku nggak ?” tanyanya sambil tersenyum. Senyum yang dapat membuat siapa saja melayang karnanya. “Bole aja”, tanpa basa basi aku langsung mengiyakan ajakan itu. Dari sana, aku mulai dekat dengannya. Dan akhirnya, saat itu pun tiba. Denis memintaku untuk menjadi pacarnya. Tak perlu banyak waktu untuk menjawab semua itu karna memang itulah mimpiku sejak SMP.Kini, hari-hariku pun sudah ditemani oleh Denis. Semua terasa sangat menyenangkan. Dan ternyata, itu hanya awalnya saja. Ketika hubunganku dengannya memasuki usia ke-3 bulan, saat itulah mimpi burukku datang.“Fio, sini, aku mau ngomong sesuatu.”kata Denis. Aku langsung menelan ludah, tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. “Aku mau kita temenan aja.”lanjut Denis.Taaarr ! Seakan ada ribuan cambuk yang mengenai hatiku. Aku langsung menitikkan air mata, tetapi segera kuhapus tanpa sepengetahuan Denis. Aku tak ingin lemah di hadapannya. Aku hanya diam.“Fio, maafin aku…” Aku langsung berlari sejauh mungkin, tak peduli walau langit sedang menangis seakan tahu apa yang kini tengah aku rasakan. Aku berlari di tengah derasnya hujan, tak ada tanda-tanda kalau Denis akan mengejarku. Biarlah, kataku dalam hati.Keesokan harinya, tak sengaja aku bertemu Denis di sebuah pusat perbelanjaan. Ia bersama seorang perempuan cantik, berkulit putih, manis, tinggi pula. Ideal sekali untuk ukuran seorang wanita sempurna. Oh Tuhan, ironis. Satu kata yang dapat mewakilkan keadaanku saat ini setelah aku berusaha untuk mempertahankan semuanya. Kini, hancur sudah semuanya karena orang yang kusayangi.Aku ingin sematkan bintang di dahinya, agar ia tahu betapa besar rasa sayangku padanya. Tuhan, masih bisakah hari itu terulang ? Hari dimana aku dan Denis masih bersama .*****Facebook : Diah NoviantiTwitter : @novidiahnovi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*