Cerita SMA Diera Diary ~ 06 { Update }

Masih penasaran dengan kalanjutan dari Serial Diera Diary?. Kalau jawabannya emang iya mending lanjut baca postingan berikut ini deh. Soalnya admin emang sengaja muncul dengan Cerita SMA Diera Diary ~ 06. Ngomong – ngomong tinggal satu part lagi lho ketemu sama yang namanya ending. #Cihuiy…
Oh iya, selain cari tau soal kelanjutan ceritannya. Kali aja ada yang belum baca cerita sebelumnya. Mendingan baca dulu gih biar nggak bingung. And nomong – ngomong bisa langsung di baca disini.

Cerita SMA Diera Diary ~ 05

Cerita SMA Diera Diary ~ 06
Sudah hampir seminggu berlalu, sepertinya Diera benar-benar menghindar dari melakukan kontak dengan Rian. Bahkan kesehariannya juga lebih banyak diem yang membuat temennya cemas.
“Diera, loe kenapa sih? Akhir-akhir ini kita perhatiin loe kok kayaknya kebanyakan murung deh. Apa loe ada masalah?” Tanya Hera saat mereka ngumpul di kantin pas istirahat sekolah.
“Nggak kok, gue baik-baik aja” elak Diera.
“Kayaknya gue tau deh kenapa” ujar Lilly tiba-tiba sambil tersenyum.
“Kenapa emang?” Anggun penasaran. Diera juga ia takut kalau Lilly tau soal ancamannya Andreani.
“Loe pasti lagi bingung kan?” tebak Lilly lagi. Diera masih terdiam, tapi kemudian ia mengangguk pelan.
“Emang Diera bingung kenapa li?” Narnia nggak sabar.
“Biar gue tebak. Pasti saat ini loe bingung mau nerima Pasya jadi pacar loe atau nggak, ia kan?”
“What?!” ujar Diera dan Hera kaget bersamaan.
“Jadi Pasya udah nembak loe ra?” Anggun setengah nggak percaya.
“Loe ngomong apa sih?” dalih Diera kesel.
“Alah ngaku aja deh ma kita-kita. Gue tau kok kemaren sore loe jalan ma Pasya kan. Jujur aja deh?” kata Lilly lagi.
“Emang sih. Tapi gue Cuma….”
“Jadi kemaren loe jalan ama Pasya?” potong Narnia.
Diera mengangguk membenarkan. Karena kemaren sore ia memang jalan bareng sama Pasya. Abis nya tu anak minta tolongnnya sama dia, tapi kan Cuma jalan doank nggak pake nembak segala, lagian dia tau kok Pasya sukanya sama siapa, tapi yang bikin heran kok Lilly bisa tau bahkan bisa menyimpulkan hal yang ngawur gitu.
“Loe kok nggak cerita ma kita sih?” Hera terlihat kecewa.
Diera jadi merasa nggak enak. Sementara temen-temennya terus mendesak. Tapi ia hanya terdiam, perhatiannya terusik sama seseorang yang baru saja berjalan melewati mejannya meninggalkan kantin.
Yups. Ternyara dari tadi Rian duduk di meja yang nggak jauh darinya. Hanya saling membelakangi. Jadi Diera nggak nyadar kalau di kantin itu juga ada Rian dan pasti juga mendengar pembicaraan nya sama temen-temennya tadi.
“Ayo donk ra. Loe kok gitu sih sama kita-kita,” desak Anggun.
“Denger ya. Pasya tu nggak nembak gue, kemaren kita emang jalan bareng, tapi itu karena dia butuh bantuan gue, lagian Lilly kok bisa menyimpulkan hal konyol kayak gitu sih.”
“Bantuin apa?” tanya Hera lagi.
“Ya. Sayangnya gue nggak bisa cerita sama kalian sekarang,” balas Diera lagi.
“Alah alasan. Bilang aja Pasya beneran nembak elo?” ledek Lilly lagi.
“Nggak,” Diera ngotot.
“Yakin….??” Lilly masih nggak percaya.
“Ah tau deh.”
Diera pergi keluar kantin meninggalkan temen-temennya yang masih kebingunan.
Cerita SMA Diera Diary ~ 06
Diera melepas mukenannya, dan kembali melipatnya. Kemudian segera di masukkan nya kembali kedalam tas. Ia melirik jam tangannya. Masih tersisa hampir setengah jam lagi pukul dua. Hari ini kan dia memang sengaja memutuskan untuk tidak pulang, abisnya ia males bolak-balik cape… apa lagi rumahnya memang lumayan jauh dari sekolah, mendingan ia tetap di sekelah aja deh.
Begitu keluar dari mushola sekolah, Diera berniat untuk langsung ke perpus aja sendiRian. Sekalian mau cari resensi belajarnya, apalagi semua temen-temen deketnya pulang, memang sih tadi Narnia sempet menawari untuk ke rumahnya saja tapi ia tolak.
Pas di beranda Diera nggak sengaja berpapasan sama Rian yang kebetulan juga baru mau keluar. Untuk kali ini Diera sama sekali nggak bisa menghindar untuk sejenak mereka beradu pandang. Tapi Diera buru-buru menalikannya sambil berlalu, di luar dugaan, Rian malah menghampirinya.
“Mau kemana?” yanya Rian.
“Gue?” Diera menunjuk dirinya sendiri. Seolah nggak percaya Rian mau menyapannya duluan.
“Menurut loe?”
“Gak kemana-mana sih. Palingan mau balik ke kelas,” balas Diera kemudian.
“Loe udah makan siang? Kekantin yuk,” ajak Rian.
“HE?!….” Diera berhenti berjalan, pandangannya tertuju kearah Rian dengan Heran.
“Nggak deh, gue masih kenyang makan waktu istirahat tadi,” tolak Diera karena Rian masih menunggu jawabannya.
“Mendingan gue langsung balik ke kelas aja deh, sorry ya gue jalan duluan,” sambung Diera lagi.
“Kenapa? Loe nggak suka gue yang ngajak? Atau loe berharap kalau orang yang ngajak loe itu Pasya?” balas Rian ketus sambil berlalu meninggalkan Diera yang kaget dengan ucapannya.
“Hei Rian, tunggu-tunggu-tunggu,” tahan Diera sambil mengejar dan berhenti tepat di depan Rian.
“Maksud loe ngomong kayak gitu tadi apa sih?” Tanya Diera penasaran.
Rian terdiam menatapnya sejenak, tapi kemudian kembali berlalu dari hadapan Diera yang masih menghadangnya. Diera ingin kembali mengejar ketika tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
Secara bersamaan Rian dan Diera menolah. Pasya?… Rian kembali menatap tajam kearah Diera sebelum akhirnya bener-bener berlalu pergi.
“Hei, ke kantin yuk?” ajak Pasya yang kini ada di depannya mengantikan posisi Rian tadi.
“Nggak deh. Gue masih kenyang” tolak Diera.
“Udah tenang aja. Pokoknya loe harus ikut gue. Gue traktir deh, da yang masih ingin gue tanyain nih, masih masalah kemaren sih, lagian gue juga laper, tapi ogah makan sendiri,” tambah Pasya lagi.
“Tapi….”
0mongan Diera terputus karena Pasya terus memaksanya sambil menarik tangannya untuk ikut mengikutinya menuju kearah kantin. Diera nggak ada pilihan lain selain mengikutinya.
Begitu menginjakkan kakinya di kantin, perhatian Diera langsung tertuju ke meja no 13. Ia bener-bener merasa nggak enak sama Rian yang terus menatapnya. Tapi Pasya segera mengajak nya untuk duduk di meja yang tak jauh dari meja Rian.
“0h ya loe mau makan apa? Biar gue pesenin?” Tanya Pasya
“E..gue…” Diera bingung.
“Gimana kalau miso sama es rumput laut aja?” tawar Pasya.
“Terserah loe aja deh,”
“Kalau gitu loe tunggu di sini dulu ya. Biar gue pesenin,”
Begitu Pasya pergi, Diera terus menunduk karena ia tau kalau Rian sama sekali tidak melepas pandangan darinya. Sampai kemudian ia di kejutkan akan keprgian Rian yang lewat di sampingnya meninggalkan kantin. Bahkan mengabaikan teriakan ke dua temen-temennya yang tadi duduk bersamaanya.
“Kenapa tu orang. Tadi dia sendiri yang bilang laper banget. Lah sekarang mesen juga belom udah main ngacir aja,” guman temen-temennya Rian yang sempet di dengar Diera sehingga membuat nya makin merasa nggak enak.
“Hei kok bengong?” teguran Pasya mengagetkannya.
“Eh enggak kok,” Diera mencoba tersenyum.
“Loe kok sendiri aja sih tadi. Temen-temen loe pada kemana?” Tanya Pasya beberapa saat kemudian.
“Semuanya pulang.”
“Hera juga?” tanya Pasya lagi.
“Ye nia anak. Udah di bilang semuanya juga.”
“He he… lho loe sendiri kenapa nggak pulang juga?”
“Nggak ah. Males aja, lagian rumah gue kan jauh, capek aja kalau harus bolak-balik gitu.”
“0…”
“Bullet” balas Diera singkat.
“Hemm… apanya?” Pasya Heran.
“Katanya ‘0’ ya bullet.”
“ha, ha, bisa aja loe.”
Sejenak obrolan mereka terputus akan kedatangana pelayan kantin yang mengantarkan pesanannya. Sambil menikmati hidangan sekali-kali mereka masih keasyikan ngobrol ngalor ngidul.
Cerita SMA Diera Diary ~ 06
Keesokan harinya, Diera sengaja memisahkan diri dari temen-temennya. Ia segera melangkah kan kaki menuju taman belakang sekolah karena tadi ia nggak sengaja melihat bayangan Rian yang menuju kesana sambil menenteng buku.
“Pasti tu orang duduk di bawah pohon jambu lagi deh, kayak biasanya” batin Diera sendiri.
Dan bener saja. Rian tampak asyik duduk di sana sambil baca buku. Diera ragu untuk menghampirinya, memang sih ia masih merasa nggak enak soal kejadian kemaren. Tapi kan ia juga nggak tau ntar mau ngomong apa sama Rian.
“Apa hobby loe emang ngintipin gue diem-diem ya?”
Diera kaget nggak nyangka kalau Rian kini sudah ada di depannya.
“Eh anu. Nggak kok, gue tadi nggak sengaja lewat sini,” Diera jadi salting.
“0h ya? Kebetulan banget kayaknya,” ledek Rian.
“Y,a udah lah kalau loe nggak suka” Diera siap balik kanan tapi ia kaget karena justru Rian malah menahannya dengan cara menarik tangannya.
“Jangan datang dan pergi sesuka hati loe, itu nggak baik.”
Kata-kata Rian membuat Diera kaget. Maksudnya apa?
“Duduk dulu yuk” ajak Rian tanpa melepas pegangannya dan kembali berjalan ke bangku di bawah pohon jambu tempatnya tadu duduk. Diera terpaksa manut. Abis ia bingung nggak tau harus gimana lagi.
“Loe mau ngomong apa?” Tanya Rian setelah beberapa saat mereka terdiam.
“E gue…” Diera masih ragu.
“Kenapa?” desak Rian.
“Ah ya, gue kesini mau ngembaliin ini. Sorry kelamaan,” Diera mengeluarkan jaket dari dalam tas yang tadi di bawannya.
“0…” Rian mengambil jaketnya.
“Bullet” ujar Diera singkat.
“Maksudnya?” Rian Heran.
“ya 0 nya lah, kan bullet,” balas Diera lagi sambil tersenyum, tak urung Rian ikut tersenyum juga.
“Emm, makasaih ya,” kata Diera lagi. Rian hanya mengangguk, sejenak mereka kembali terdiam sampai kemudian Diera berdiri siap pamit pergi.
“Jadi loe kesini Cuma mau balikin ni jaket aja?”
Diera berbalik, nggak jadi pergi.
“Maksud loe?” Tanya Diera Heran, tapi Rian diem saja bahkan perhatiannya malah beralih kerah buku yang tadi di bacanya.
“Emang tadi nya loe piker gue kesini mau ngapain?” Tanya Diera yang masih penasaran sambil kembali duduk di samping Rian.
“Nggak… tadinya gue pikir ada yang mau loe sampein ama gue, tapi kalau emang nggak ada ya udah lah. Mendingan buruan pergi aja deh sana loe,” balas Rian tanpa menoleh.
“Sebenarnya emang ada sih,” guman Diera lirih sambil berbalik pergi.
“Kalau emang ada kok langsung ngacir?”
“HE?!” Diera kaget, nggak nyangka Rian mendengar gumannannya tadi.
“Atau loe takut ada yang ngeliat kita?” sindir Rian lagi.
Dan ia juga kaget karena Diera malah mengangguk membenarkan. Sementara Diera sendiri bingung dari mana Rian tau kalau ia takut smaa ancaman anderani.
Lama Rian menatap Diera yang masih berdiri mematung sampai akhirnya ia sendiri yang memutuskan pergi.
“Eh ya, loe mau kenama?” tahan Diera.
“Balik kekelas,” balas Rian cuek.
“Tapi gue kan belom ngomong.”
“Ya udah kalau mau ngomong- ngomong aja cepetan. Udah gerah gue.”
Diera kembali terdiam karena Rian terus menatapnya.
“Eh…” Diera makin salting “Gue…”
“Rian!!!”
Ucapan Diera terputus oleh teriakan seseorang yang berlari menuju kearah mereka.
“Ada apa ndre?” Tanya Rian begitu temennya yang tak lain adalah Andre mendekat.
“Ada yang pengen gue omongin nih ma loe.” balas Andre yang masih ngos-ngosan.
“Sekarang?” Tanya Rian lagi. Andre langsung mengangguk.
“Mau ngomong apa?”
“Loe bisa ikut gue bentar nggak?” Andre agak ragu-ragu ngomong karena melihat Diera masih ada disana.
“Ya udah yuks.”
“Sorry ya ra, kalau gue ngeganggu. Tapi Rian nya gue pinjem dulu, tenang. Gue Cuma bentar kok,” kata Andre sebelum pergi.
“Nggak papa kok nyantai aja lagi.” balas Diera sambil tersenyum.
Diera terus menatap kepergian keduannya sampai menghilang dari pandangannya. Ia juga bersiap untuk beranjak pegi ketika matanya mengangkap buku ‘ku tunggu kamu di pelaminan’ karyanya ‘jon hariyadi’ yang tergeletak di sampingnya. Sepertinya itu buku yang di baca sama Rian tadi deh. Dan ketinggalan karena Andre mengajaknya terburu-buru.
Diera membolak balik setiap halamannya. Kayaknya seru juga. Ia kembali duduk dan keasyikan membaca sehingga ia tidak menyadari kehadiran Andreani dan kelima temennya yang kini sudah ada di depannya yang telah memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.
“Ternyata loe sama sekali nggak ndenger omongan gue kamaren ya?”
Diera kaget, dan langsung menoleh Andreani.
“Ya ini gue. Kenapa? Kaget ha?!”
“Andreani gue Cuma…”
“Cuma apa ha?!” bentak Andreani sambil mendorong tubuh Diera sebelum gadis tersebut sempet menyelesaikan ucapannya. Tapi untunglah Diera nggak sempai jatuh karean ada yang menahan tubuhnya dari belakang. Semuannya kaget karena orang tersebut adalah Rian.
“Apa-apaan ne!” bentak Rian ke Andreani cs.
“Rian jangan salah paham dulu, gue Cuma mau kasi pelajaran buat cewek nggak tau diri ini” terang Andreani sambil menuding ke wajah Diera yang masih menunduk.
“Cewek nggak tau diri? Maksudnya?” Rian Heran.
Diera menatap Andreani dengan tatapan memohon agar tuh orang nggak ngomong macem-macem.
“Ia. Loe tau nggak sih kalau dia…”
“Andreani cukup!!” potong Diera.
“Kenapa? Biar gue ngomong. Kayaknya Rian juga harus tau deh,” balas Andreani lagi.
Rian semakin Heran jadinya.
“Sebenarnya ada apa sih?’
“Nggak ada apa-apa, yuk kita pergi.” ajak Diera sambil menarik Rian pergi.
Tapi Angela menghalangi.
“Ya udah. Gue juga pengen tau sebenarnya ada apa?” Rian akhirnya ngalah.
“Sekarang loe mau ngomong apa? Cepetan,” Tanya Rian ke Andreani sambil menatap tajam Diera yang udah lemes.
“Loe beneran mau tau?”
“Nggak usah muter-muter. To the point aja deh.” Rian nggak sabar.
“Diera suka sama loe” ujar Andreani enteng. Diera kaget. Andreani bener-bener mambocorkan rahasianya.
“Itu doang?” ekspresi Rian yang cukup cuek bener-bener di luar dugaan semuannya.
“Loe kok nyantai gitu sih?” angela nggak percaya.
“Lho emangnya kenapa kalau Diera suka sama gue? Gue juga udah tau kok, tapi… emmm, bukannya kalian semua juga suka kan sama gue?” balas Rian nyantai. Andreani cs kehabisan kata-kata.
“Loe udah tau tapi ngediemin aja dia deket deket ama elo?” Andreani masih nggak percaya.
“Jangan bilang kalau loe juga suka sama dia?” tambah angela.
“Kalau ia trus kenapa? Emang gue juga suka sama dia kok. Kalian keberatan?” sahut Rian nyantai.
“Rian loe?!” tunjuk Andreani yang akhirnya milih pergi di ikuti temen-temennya. Rian menoleh ke sampingnya menatap Diera yang sama sekali tidak melepas pandangan darinya. Kayaknya dia masih nggak percaya deh ma hal barusan yang di dengarnya.
“Maksud loe tadi ngomong kayak gitu apa sih?” Tanya Diera.
“Yang mana?” Rian pura-pura lupa.
Tapi Diera langsung melotot manatapnya.
“0 yang itu. Kalau gue bilang gue suka sama loe?”
Diera mengangguk.
“Lho emangnya ada yang salah?” Rian santai.
“Ya iya lah. Maksudnya apa? Loe nembak gue?”
“Emangnya loe nggak suka?” Rian balik masih dengan gayanya yang cuek.
“Jelas aja gue nggak suka,” teriak Diera sepontan.
Kali ini gentian Rian yang kaget plus syok.
“Maksudnya loe nolak gue?” Rian masih nggak yakin sama pendengarannya barusan. Diera mengangguk mantap.
“Sentu saja. Soalnya gue…”
“Kenapa?” potong Rian sebelum Diera menyelesaikan ucapannya. Rasa kecewa jelas terpancar dari wajahnya.
“Apa karena…” Rian tidak meneruskan ucapannya. Perhatiannya tertuju kearah Pasya yang berdiri tak jauh di belakang Diera. Sepertinya Pasya sudah lama berada di sana karena penasaran Diera berbalik.
“Pasya?!” Diera kaget.
“0 jadi kalian berdua udah jadian?” Tanya Pasya Heran tanpa memperdulukan ekspresi Diera yang masih kaget menyadari kehadirannya.
“Nggak!”” bantah Diera cepat. Rian hanya terdiam menanggapinya.
“Lho tadi bukannya Rian udah nembak loe ya. Emang loe tolak. Kenapa?” Tanya Pasya keDiera.
“Loe masih berani Tanya kenapa?” sindir Rian. Diera diem aja mendengarnya, sementara Pasya malah bingung. Nggak ngerti apa maksud Rian ngomong kayak gitu sampai akhirnya Rian memilih berbalik pergi.
“Eh ra. Bukan karena gue kan?” Tanya Pasya ke Diera.
“Ya bukan lah. Nggak da hubungannya ma loe. Lagian loe kan sukannya sama Hera. Tadi gue Cuma nggak terima aja. Abis masa dia nembak guenya kayak gitu. Nggak ada romantis nya dikit,” sahut Diera sambil tersenyum dan sengaja mengeraskan volume suaranya.
Sementara itu Rian langsung menghentikan langkahnya.
“0h kirain… ya udah, loe ikut gue yuk. Projek kita belom selesai ne. Gue kan belom jadian ma Hera. Lagian loe kan udah janji mak comblang buat gue,” balas Pasya tersenyum dan sepertinya ia juga sengaja mengeraaskan pembicaraannya karena ia tau saat ini Rian pasti masih menguping pembicaraan mereka berdua.
Rian berbalik. Tapi sayang Pasya udah duluan membawa Diera pergi sambil tersenyum puas karena berhasil ngerjain Rian.
Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 07
~ With Love ~ Ana Merya ~

Random Posts

  • Cerpen Cinta Romantis Take my heart ~ 17

    Yuhuuuuu… Ide buat ending udah ada di kepala si sebenernya. Cuma waktu ngetiknya aja yang rada males, Ekh….Seriusan, Lagi males banget buat nulis.Berharap aja semoga endingnya gak keburu berubah so beneran bisa end di part 20. Abis udah beneran molor kayaknya ni cerpen satu. Gkgkgkgk…Oke lah, dari pada banyak bacod, mending langsung aja yuks, Cekidot…Part sebelumnya Cerpen Cinta Romantis Take my heart ~ 16Setelah memastikan Ivan tidak menjemputnya ke kostan, Vio berangkat ke kampus menggunakan Bus yang biasa ia tumpangi. Kali ini Vio yakin sepertinya Ivan benar benar marah pada nya walau ia sendiri bingung kenapa. Tapi mengingat kejadian kemaren ditambah dengan sikap Ivan yang sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun saat mengantarnya, sepertinya hubungan mereka telah berakhir. Baguslah jika begitu, jadi ia tidak perlu lagi berurusan dengan playboy cap kadal itu lagi.sebagian

  • Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?

    Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?oleh: Diah Novianti“Fio, tunggu…!”, langkahku langsung terhenti kala Denis memanggilku. “Ada apa ?” ” Ini, buku latihanmu ketinggalan.”kata Denis. “Makasi” jawabku sambil tersenyum. Denis membalas senyumku, senyum manis yang memberikan arti bahwa ia adalah sosok anak muda yang ramah dan baik hati.Ya, dialah Denis. Siswa SMA 46 Jakarta yang cukup banyak punya penggemar. Aku pun sudah lama memendam rasa kepadanya. Aku dan dia memang sudah kenal sejak lama karena dari sekolah dasar aku sudah sekelas dengannya. Awalnya, tak ada kedekatan apapun di antara kami, hingga suatu hari Denis mengajakku pulang bersama. “Mau pulang sama aku nggak ?” tanyanya sambil tersenyum. Senyum yang dapat membuat siapa saja melayang karnanya. “Bole aja”, tanpa basa basi aku langsung mengiyakan ajakan itu. Dari sana, aku mulai dekat dengannya. Dan akhirnya, saat itu pun tiba. Denis memintaku untuk menjadi pacarnya. Tak perlu banyak waktu untuk menjawab semua itu karna memang itulah mimpiku sejak SMP.Kini, hari-hariku pun sudah ditemani oleh Denis. Semua terasa sangat menyenangkan. Dan ternyata, itu hanya awalnya saja. Ketika hubunganku dengannya memasuki usia ke-3 bulan, saat itulah mimpi burukku datang.“Fio, sini, aku mau ngomong sesuatu.”kata Denis. Aku langsung menelan ludah, tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. “Aku mau kita temenan aja.”lanjut Denis.Taaarr ! Seakan ada ribuan cambuk yang mengenai hatiku. Aku langsung menitikkan air mata, tetapi segera kuhapus tanpa sepengetahuan Denis. Aku tak ingin lemah di hadapannya. Aku hanya diam.“Fio, maafin aku…” Aku langsung berlari sejauh mungkin, tak peduli walau langit sedang menangis seakan tahu apa yang kini tengah aku rasakan. Aku berlari di tengah derasnya hujan, tak ada tanda-tanda kalau Denis akan mengejarku. Biarlah, kataku dalam hati.Keesokan harinya, tak sengaja aku bertemu Denis di sebuah pusat perbelanjaan. Ia bersama seorang perempuan cantik, berkulit putih, manis, tinggi pula. Ideal sekali untuk ukuran seorang wanita sempurna. Oh Tuhan, ironis. Satu kata yang dapat mewakilkan keadaanku saat ini setelah aku berusaha untuk mempertahankan semuanya. Kini, hancur sudah semuanya karena orang yang kusayangi.Aku ingin sematkan bintang di dahinya, agar ia tahu betapa besar rasa sayangku padanya. Tuhan, masih bisakah hari itu terulang ? Hari dimana aku dan Denis masih bersama .*****Facebook : Diah NoviantiTwitter : @novidiahnovi

  • Cerpen Cinta: DIRIMU ABADI

    Dirimu AbadiOleh : Asmi Tiovi Lasmatia Syariani“Diri ini tak pernah bisa mengerti mengapa harus begini jalannya. Saat waktu tak lagi jadi penghalang, saat restu bukanlah rintangan, tapi 1 hal yang tidak pernah terpikir akan terjadi. Tapi tenanglah, tak akan ada yang bisa menghapusmu…!!!”“Cheese!” *jepretAdinda Karenia & Indra Mahardika! Ku sisipkan nama kami berdua di foto itu beserta latar yang kupilih berwarna biru muda karena aku sangat menyukai warna itu. Sungguh lucu gaya yang kami tampilkan saat berfoto di photobox tadi. Setelah selesai, kami membayar dan melanjutkan perjalanan kami di salah satu mall ternama di kotaku. Kuamati foto itu sebentar lalu ku berikan satu untuknya dan satu untuk ku simpan di dalam dompetku.Setiap weekend aku dan Indra selalu menyempatkan jalan bersama untuk sekedar nonton atau cuma muter-muter gak jelas di dalam mall, karena kalo bukan weekend kami cuma ketemuan atau ngobrol di rumah aja. Yaa paling tidak untuk melepas stress dan mempererat hubungan kami. Aku dan Indra sudah dua tahun pacaran. Bisa dibilang jalan 3 tahun. Kami berpacaran sejak kelas 1 dan sekarang kami sudah kelas 3 SMA.“Bem, makan yuk!” ajaknya.“Yuk, aku juga udah lapar nih ko,” balasku.Indra selalu manggil aku Bem alias tembem dari awal kenal. Mungkin karena pipi aku yang memang chubby kayak bakpow, dan sampai sekarang itu jadi panggilan kesayangan dia buat aku. Aku juga punya pangilan kesayangan buat dia yaitu koko karena mata di yang hampir gak keliatan kalo lagi senyum alias sipit karena emang ada keturunan tionghoa dari papahnya.Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk pulang karena emang udah malam dan capek juga seharian muter-muter mulu. Sampai di depan rumah aku, Indra nganterin aku sampai ketemu kedua ortu aku. Katanya gak baik kalo cuma nganter cewek mpe depan pagar trus gak dibalikin lagi sama kedua orang tuanya. Kebetuan papah sama mamah aku lagi ngobrol di teras depan.“Om, Tante. Dindanya saya balikin dengan selamat Om, maaf lama pulangnya,” sapa Indra sambil sedikit bercanda gurau dengan kedua orang tuaku.“Haha, gak apa-apa. Asal anak Om masih tidak kurang suatu apapun, Om masih ijinkan kamu berhubungan dengan Dinda. Gak masuk dulu nak Indra?”“Oh, makasih Om. Kayaknya sudah malam dan Dinda juga perlu istirahat. Saya Cuma antar pulang aja. Kalau begitu saya pamit pulang Om, Tante.”“Iya, hati-hati Indra,”sahut mamaku.“Bem, aku pulang ya,” pamitnya padaku sebelum pulang dan mengelus kepalaku.“Iya, hati-hati ko!” sahutku.Setelah ku lihat mobil Indra menghilang di ujung jalan, akupun masuk ke dalam rumah. Kedua orang tuaku masih mengobrol di teras depan. Karena gak ada kerjaan lagi aku masuk ke dalam kamar. Menjadi anak tunggal membuatku sepi berada di rumah, apalagi saat kedua orang tuaku sedang dinas di luar kota. Hanya Indra dan beberapa temanku yang datang ke rumah dan menemaniku lewat SMS. Karena kecapean, akupun terlelap tidur.***Pagi ini hari begitu cerah, menambah semangatku untuk bertemu teman-temanku dan juga koko pastinya. Ku samberi kelasnya, tapi tidak ku temui Indra di sana.“Din, nyari Indra ya? Tuh lagi di lapangan.” Sahut salah satu teman sekelas Indra padaku.“Oh, makasih ya.”Akupun menyusuri koridor sekolah menuju lapangan basket. Indra memang salah satu pemain di tim basket sekolahku. Mungkin boleh di bilang bukan cuma jadi pemain, tapi dia juga kapten basket di timnya. Tidak heran ia jadi cukup terkenal di sekolah dan di gandrungi banyak fans cewek.Baru saja aku sampai di sekitar lapangan, riuh suara cewek-cewek sudah terdengar memanggil nama Indra.“Indra, Indra, Indraaa…”Aku sudah terbiasa mendengarnya. Bahkan selama dua tahun ini menjadi hal yang selalu ku dengar saat menonton Indra tanding basket. Kalo dibilang cemburu, awal-awalnya sih iya. Tapi ke sini-sini udah kebiasa. Yaah… udah jadi angin lalu lah istilahnya. Emang harus berani nerima resiko kayak gini kalo jadi pacar orang yang diidolain banyak cewek. Selama Indra gak macem-macem di belakang gue, all it’s fine!“Eh Din, udah dateng loe?” sapa Dela, sahabat ku yang paling ku sayangi.“Iya, baru aja. Udah lama ya Indra latihan?” tanyaku.“Hmm, lumayan sih. Bentar lagi juga paling selesai. Emang loe tadi berangkat gak bareng Indra?”“Emm, kebetulan enggak. Gue tadi nemenin nyokap dulu ngambil pesanan kue, besok kan ultah gue. Eh nanti temenin gue nyebarin undangan ya ke temen-temen yang lain!”“Sip deeh… eh, tu Indra udah selese latihan!” ujar Dela sambil menunjuk pemain-pemain basket yang duduk beristirahat di sisi lain lapangan.“Oh, gue ke sana dulu ya Del, mau nyamperin Indra.”“Oke! Gue tunggu di kelas ya!”Kusamperin Indra dan memberikannya sebotol air mineral dan handuk kecil.“Makasih Bem! Eh, udah belum nyebarin undangan buat besok?”“Belum Ko, ntar aja pas istirahat bareng Dela. Kamu mau ikut?” tanyaku.“Istirahat ya? Aduh maaf, aku ada ulangan susulan sama Pak Fandy ngambil jam istirahat. Maaf ya Bem gak bisa nemenin,” jawabnya dengan wajah beersalah.“Iya, gak apa-apa kok. Ganti baju dulu sana, udah basah gitu. Nanti gak konsen lagi belajarnya.”“Iya, iya Bem. Kamu ke kelas gih, nanti Pak Bagus keburu masuk, kamu gak dibolehin masuk kelas lagi.”“Oh iya! Duluan ya Ko. Sukses nanti ulangannya, oke! Dadaah..”Setelah melewati pelajaran Matematika Pak Bagus yang super killer itu, bel istirahat berbunyi. Aku dan Dela segera berkeliling mendatangi setiap kelas yang akan kubagikan undangan ulang tahunku.Jam sekolahpun selesai. Aku menunggu Indra mengambil mobilnya di gerbang sekolah. Aku berencana pulang bersama Indra. Di dalam mobil aku dan Indra berbincang-bincang masalah persiapan ulang tahunku besok.“Bem, kue udah di ambil?” tanyanya.“Udah Ko tadi sama mama. Tinggal dekor aja besok,”jawabku.“Oh, bagus deh. Jadi nanti gak gelabakan. Bem, mau minta hadiah apa dari aku?”“Iiih, gak so sweet banget sih, masa hadiah aku yang request. Gak surprise lagi kan jadinya,” balasku dengan wajah cemberut.“Hehee, iya Bem. Aku bercanda kok. Besok tunggu aja hadiah dari aku, oke! Jangan gitu dong mukanya, kaya bebek tau, hahaa..” “Gak lucu tau Ko!”“Yee, bisa juga ya ngambek ternyata. Entar kita cari ice cream deh. Ya, ya?”Yang namanya Adinda pasti luluh kalo udah ditawarin ice cream. Gak jadi deh adegan ngambeknya. Habis nyari ice cream, Indra ngantar aku pulang. Kebetulan papa sama mama masih di kantor jadi Indra nganter aku sampai depan pagar aja.Habis ganti baju, sholat trus makan, aku kembali ke kamarku dan menghidupkan laptopku. Aku menyelesaikan beberapa tugas sekolahku yang belum rampung sambil membalas pesan singkat dari Indra. Tiba-tiba pikiranku melayang membayangkan kado apa yang bakal Indra kasih buat aku. Dulu ulang tahun aku yang ke-15 dia kasih boneka loli and stich yang super gede. Ulang tahun yang ke-16 dia ngasih album yang isinya foto-foto aku semua yang dia potret tanpa sadar. Aku lagi makan di kantin lah, duduk di taman, lagi jogging, pokoknya dia foto aku tanpa aku sadari. Dan kali ini untuk sweet seventeen dia ngasih apa ya?Lamunanku buyar mendengar suara mama dari bawah yang menyuruhku mandi. Udah berapa jam ya aku ngelamun? Ku lihat jam menunjukkan jam 6 sore. Pasti mama dan papa baru pulang kantor. Setelah mandi dan berpakaian, akupun turun dan menuju meja makan. Ku lihat mama dan papa sudah siap di meja makan.“Din, undangan kamu buat besok udah dibagiin?” tanya mama padaku.“Udah Ma, tenang aja…” jawabku meyakinkan mama.“Oh, iya jangan lupa undang mama papanya Indra juga ya Din! Trus pulang sekolah besok kamu harus langsung pulang, bantuin Mama nyiapin semuanya,” tambah papa.“Oke Pa,” balasku.***Keesokan harinya, sepulang sekolah aku ke rumah Indra untuk mengundang kedua orang tuanya untuk turut hadir di pesta ulang tahunku. Aku pulang sendiri karena Indra ada jadwal latihan basket yang tidak bisa ia tinggalkan. Tapi dia berjanji akan datang di acaraku tepat waktu. Setelah ngobrol beberapa waktu dengan kedua orang tua Indra aku pamitan pulang karena masih harus membantu Mama menyiapkan segala keperluan di rumah.Waktu menunjukkan hampir jam 7 malam. Ku lirik keadaan diruang tengah dari pintu kamarku, banyak yang sudah datang. Lega hatiku ketika diantara tamu yang datang ada Indra bersama mama dan papanya. Lalu mama menggilku untuk turun. Akupun menuruni tangga. Serasa jadi putri semalam, apalagi aku memakai long dress berwarna putih.Acara tiup lilin Mama menyuruhku meniup lilin bersama Indra. Kamipun make a wish bersama lalu meniup lilin. Potongan kue pertama ku berikan kepada Mama dan Papaku. Yang kedua tentu kuberikan kepada Indra. Yang ketiga ku berikan kepada kedua orang tua Indra lalu kepada Dela.“Sweet seventeen ya Dindaa,” peluk Dela lalu memberikan kado padaku.“Makasih ya Del,” senyumku terharu.Ku lihat seluruh teman-temanku sedang mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Mama dan Papa Indra juga sedang asik berbincang dengan kedua orangtuaku. Lalu Indra menghampiriku.“Bem, selamat ulang tahun ya. Ucapannya semua udah aku ucapin panjang lebar kan di telpon malam tadi. Naah, sekarang giliran kadonya,” Indra mengulurkan tangannya yang memegang sebuah amplop. Kuambil amplop itu dengan perasaan bingung akan isinya.“Iya, makasih yaa Ko. Tapi ini apa? Aku buka ya?” tanyaku masih dengan perasaan bingung.“Eeh tunggu, tunggu! Bukanya nanti aja,” cegahnya.“Loh, kenapa? Masa masih harus nunggu lagi!” jawabku dengan nada kecewa.“Pokoknya bukanya nanti aja ya. Pas kita lulusan, oke!” bujuknya.“Hmm, iyadeh.”Malam sweet seventeenku berjalan dengan lancar. Aku mendapatkan banyak sekali kado dari teman-temanku. Tapi perasaan kecewa, bingung dan penasaran masih menyelimuti pikiranku. Apa sebenarnya isi amplop yang diberikan Indra? Ingin sekali rasanya ku buka. Tapi… lebih baik jangan! Aku sudah berjanji untuk membukanya saat lulusan. Hmm, gak apa-apalah, lagian cuma 3 bulan lagi.***Hari berganti hari. Gak kerasa masa-masaku dibangku SMA akan segera berakhir. Les tambahan setiap harinya untuk kelas 3 sedang kami alami. Soal-soal latihan untuk persiapan UN kami latih sesuai jurusan masing-masing. Kegiatan sekolahpun mulai dikurangi. Tapi masih ada 1 pertandingan basket antar pelajar yang harus Indra ikuti. Untuk itulah jadwalnya kurang bisa di atur. Sering kecapen pulang les langsung latihan dan malamnya langsung tidur. Komunikasi kami jadi jarang. Tapi tak apalah, aku mengerti kondisinya. Lagipula aku juga masih bertemu dengan Indra di sekolah dan mensupportnya setiap latihan.Sore itu aku menonton Indra tanding. Pertandingan persahabatan antar SMA yang akan bertanding di kejuaraan kabupaten. Aku duduk di kursi penonton, sama seperti yang lainnya. Pertandingan mendekati menit-menit akhir. Skor tim Indra ketinggalan 1 point, dan tembakan Indra inilah menjadi penentunya. Indra pun me-shoot dan ternyata bola itu tidak masuk ke ring. Bel akhir pertandingan berbunyi dan pertandingan dimenangkan oleh sekolah lain.Ku lihat semua teman-teman Indra kecewa. Ku hampiri mereka. Lalu terjadi adu mulut antara Indra dan Raka, salah satu pemain basket dan juga teman dekat Indra.“Dra, apa-apaan sih cara main loe? Yang serius dong. Kita udah mau kejuaraan nih. Masa bola gitu aja loe gak bisa masukin! Udah berapa lama loe main basket, hah? Kenapa jadi cupu gitu mainnya tadi? Gimana kejuaraan mau menang kalo shooting gitu aja loe gak bisa. Percuma loe jadi kapten!” sahut Raka dengan emosi.Indra hanya bisa terdiam. Akupun tak bisa berkata apa-apa. Aku juga tidak mau ikut campur terlalu dalam, karena jika ku angkat bicara sekarang pasti suasana akan lebih rumit. Ditambah lagi emosi mereka yang masih kurang stabil. Raka dan yang lainnya pun meninggalkan Indra yang masih terduduk lemas menyesali kesalahannya.“Ko, kamu gak apa-apa kan?” tanyaku.“Gak apa-apa kok. Yuk kita pulang,” Indra berdiri, tersenyum padaku dan menggenggam tanganku menuju mobilnya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Indrapun mengantarku pulang.“Ko, kamu beneran gaka apa-apa? Kamu ada masalah? Kalo ada cerita aja sama aku,” aku mengajaknya berbicara di dalam mobil.“Aku gak ada masalah apa-apa,” lagi-lagi ia tersenyum padaku.“Loh, kita mau kemana Ko?”“Ngantar kamu pulang lah, mau kemana lagi emangnya?”“Tapi jalan pulang ke rumahku kan belokan yang tadi Ko, kok kita lurus?”“Astaga! Maafin aku, mungkin aku ngelamun.”“Kamu beneran gak ada masalah apa-apa Ko? Tadi Pak Fandy ngomong sama aku kalau tugas kamu dan nilai-nilai ulangan kamu belakangan ini turun drastis. Kamu kan paling seneng sama pelajaran Bahasa Inggrisnya Pak Fandi, dan selalu topscore. Kalau ada masalah cerita deh sama aku,” bujukku lagi padanya.“Percaya deh sama aku, aku bener-bener gak ada masalah apa-apa Din,” jawabnya.Aku kaget. Untuk pertama kalinya ia memanggil namaku saat kami berbicara. Aku semakin bingung. Nilai-nilainya yang anjlok. Kemampuan basketnya yang menurun. Dan sekarang…. aku terdiam. Aku tidak bertanya apapun lagi kepada Indra. Aku berkecamuk dengan pikiranku sendiri. Saat sampai di depan rumahku, ia membukakan pintu mobilnya untukku lalu berpamitan pulang. Dia tidak mengantarku sampai bertemu orang tuaku?Setelah kuucapkan untuk segera pulang dan menyuruhnya beristirahat, ia melaju dengan mobilnya. Kumasuki rumahku dan membaringkan tubuhku. Beberapa saat terdiam, aku berpikir ingin menelpon Mama Indra untuk menanyakan apakah Indra mempunyai masalah yang tidak diceritakannya padaku. Kutekan nomor teleponnya dan sebuah suara di sana menyambut panggilanku.“Halo, ini Dinda ya? Ada apa Dinda?” tanya Mama Indra.“Begini Tante, maaf mengganggu malam-malam begini. Saya mau bertanya sesuatu tentang Indra. Apa Indra punya masalah Tante?”“Masalah? Setahu Tante gak ada Din. Kenapa kamu gak tanya sama Indranya sendiri? Kamu kan lagi sama Indra.”“Loh? Dinda udah dari tadi di antar Indra pulang Tante, memangnya Indra belum sampai rumah Te?” tanyaku cemas.“Masa? Belum Din, dia belum sampai rumah. Coba Tante hubungin dia dulu. Nanti Tante beritahu kamu kalau Indra udah pulang atau kalau memang Indra ada masalah.”“Baik Tante,” jawabku mengakhiri pembicaraan.Indra belum pulang? Kemana lagi dia? Bukannya tadi aku suruh dia langsung pulang. SMS ku juga gak dia balas. Ada apa sebenarnya dengan kamu Indra?***Keesokan harinya, aku mencari keberadaan Indra di sekolah. Ku cari di kelasnya, kata teman-temannya dia belum datang. Ku lihat di lapangan basket cuma ada Raka dan teman-teman se-timnya Indra yang sedang latihan. Ku telpon nomornya, gak aktif. Ku SMS juga gak di balas. Bahkan nomor Mamanya Indra juga ikut-ikutan gak aktif.Sepulang sekolah aku mengajak Dela menemaniku ke rumah Indra. Tapi sesampainya di rumah Indra, rumah itu kosong. Ku panggil beberapa kali tidak ada sahutan. Kemana mereka semua? Kenapa kayak ditelan bumi gini?“Din, kita pulang aja yuk. Pasti pikiran kamu lagi gak karuan sekarang.”“Tapi Del, Indra gak ada. Orang tuanya gak ada. Semuanya gak ada Del, gak ada!” tangisku tak tertahan lagi, dan Dela merangkulku, membawaku pulang kerumah.Seminggu sudah tak ada kabar tentang Indra begitu juga tentang kedua orangtuanya. Ku tanya Raka dan semua teman-teman yang mungkin mengetahui keberadaan Indra tapi hasilnya nihil. Mereka juga mencari keberadaan Indra untuk menghadapi kejuaraan. Kedua orangtuaku pun mulai menanyakan tentang Indra yang tidak pernah ke rumah lagi dan tidak pernah mengajakku jalan lagi. Aku hanya bisa menjawab kesibukan kami menjelang UN dan jadwal basket Indra yang padat membuat kami terpaksa jarang bersama. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak mungkin bilang kalau Indra dan keluarganya hilang entah kemana.Siang itu, saat aku sedang menangis memeluk boneka lilo and stich pemberian Indra, handphoneku berbunyi. Ku lihat nama yang tertera di Hp-ku, ‘Tante Dara’. Itu, itu Mama Indra!“Halo, halo Tante! Tante dimana? Indra dimana sekarang?” tanyaku langsung masih dengan isakan tangis.“Dinda, kamu bisa tenang dulu. Kamu bisa ke rumah Tante sekarang Din?”“Bisa, bisa Tante,” jawabku cepat.“Tapi kamu datang sendiri aja ya Din. Tante tunggu!”Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil kunci mobil dan bergegas ke rumah Indra. Setelah 1 minggu tidak ada kabar sama sekali tiba-tiba Tante Dara meneleponku tanpa penjelasan apapun. Dan setelah sampai di rumah Indra akupun sudah tidak dapat menahan rasa khawatirku.“Tante, Indra mana Tante? Tante dan Indra kemana aja selama ini?” tanyaku.“Ayo kita ke kamar Indra, Din. Nanti kamu akan tahu,” jawab Tante Dara.Sesampainya di pintu kamar Indra, Tante Dara menyuruhku masuk. Entah mengapa aku merasa tidak siap saat itu. Tapi Tante Dara menatapku, memberiku keberanian untuk masuk. Kubuka pintu kamar Indra, kulihat dia sedang duduk di sudut kamar sedang memegang sebuah kertas yang tidak terlihat olehku dari sini.“Ko, ini aku Dinda,” kataku pelan.“Dinda? Dinda, jangan ke sini, pergi! Jangan mendekat! Pergi! Pergi!,”“Tapi Ko, ini aku. Aku pengen ketemu kamu.”“Pergi!Pergi!” teriaknya.Aku tak dapat menahan air mata yang mulai membasahi pipiku. Apa yang terjadi dengan Indra? Segera aku keluar dari kamarnya. Di luar Tante Dara melihatku dan menghampiriku.“Dinda, apa kamu sudah bicara dengan Indra?”“Tante, sebenarnya apa yang terjadi dengan Indra? Kenapa dia jadi kayak gitu? Tante, tolong jelasin sama Dinda, selama ini Tante sama Indra kemana? Kenapa Indra jadi gitu?” tangisku melebur jadi satu dengan semua pertanyaanku.“Din, Indra menderita penyakit alzeimer. Penyakit yang lama kelamaan akan menghapus ingatan si penderita. Maafkan Tante Din, tidak memberi kabar padamu. Ini permintaan Indra. Malam itu setelah mengantar kamu pulang, Indra tersesat mencari jalan pulang. Untung handphonenya aktif dan dia bilang di ada di depan sekolah SD nya dulu, Tante dan Om pun menyusulnya ke sana. Dia bahkan tidak ingat telah mengantarmu pulang. Saat sampai di rumah, dia bahkan lupa di mana kamarnya. Penyakit itu memang akan menghapus ingatan-ingatan terbaru dahulu. Untuk sesaat ia bisa mengingat tapi perlahan-lahan ia lupa banyak hal. Ia lupa untuk berangkat sekolah besok harinya, ia lupa untuk makan. Tante memberitahunya satu-persatu agar dia ingat. Tapi itu bertahan sementara. Ia semakin frustasi mengetahui dirinya semakin bodoh akan banyak hal. Tapi yang dia minta saat itu sama Tante, “Ma, jangan bilang Dinda kalau Indra seperti ini. Sembuhin Indra Ma, Indra gak mau kelihatan kayak gini di depan Dinda!’. Yang masih dia ingat jelas cuma kamu Dinda, cuma kamu! Akhirnya Om dan Tante pergi untuk mengobatinya. ”Air mataku semakin tak terhenti.“Lalu bagaimana keadaan Indra sekarang Tante?”“Ia sulit untuk disembuhkan. Ia memang sangat ingin sembuh untuk kamu. Tapi ia selalu memberontak saat di terapi. Ia selalu tidak karuan. Tante tidak tahan melihatnya seperti itu, akhirnya Om dan Tante memutuskan untuk membawanya pulang saja. Dan lihat sekarang ia tenang seperti itu di kamar. Tapi entah mengapa dia berteriak saat bertemu kamu. Tante kira dia sangat ingin bertemu kamu.”Alzeimer? Kenapa penyakit itu harus datang kepada Indra? Kenapa harus Indra?Tante Dara menyuruhku pulang untuk menenangkan diri dulu. Melihat aku pulang dengan kedua mataku sembab dan tubuhku yang lemas, Papa dan Mama pun bertanya padaku. Aku menceritakan semuanya. Semua tentang hilangnya Indra dan keluarganya. Dan sekarang telah kembali dengan keadaan seperti ini. Kedua orang tuaku menenangkanku dan memberitahukanku bahwa semua akan baik-baik saja.***Aku, Papa dan Mama berlari menyusuri koridor Rumah Sakit. Setelah mendapat telepon dari Tante Dara kalau Indra sedang kritis di Rumah Sakit. Apa karena penyakit Alzeimernya itu?“Tante, Indra kenapa?”“Tadi pagi, Tante dan Om mencarinya di kamar tapi tidak ada. Saat Tante lihat di kamar mandinya, dia sudah tergeletak penuh darah di kepalanya Din. Dia membenturkan kepalanya ke cermin,” jelas Tante Dara sambil memelukku.“La.. lalu sekarang In.. Indra gimana Tante?”“Dia sedang di UGD Din, Tante gak tau dia gimana sekarang Din. Tapi tadi saat membawa Indra ke Rumah Sakit, ia menggenggam buku ini,” Tante Dara memberikan sebuah buku yang sedikit basah dan bernoda darah.“Tante tidak tau buku apa itu. Tapi tadi suster mengambil buku itu sesaat sebelum Indra dimasukkan UGDdan di berikan kepada Tante.”Aku duduk di kursi di depan ruang UGD. Ku buka halaman pertama buku itu. Tertempel fotoku yang sedang memakai pakaian MOS dengan banyak pita warna warni di kepalaku. Sejak saat itukah Indra memotretku diam-diam? Ada tulisan di bawahnya. ‘Gadis Lucu yang Pertama Kali Ku Potret’. Ku buka lagi halaman demi halaman. “8 Oktober 2009 ‘I Get Her Heart’. Itu tanggal kami jadian! Ku buka lagi halaman-halaman berikutnya. Ada fotonya dengan boneka stich yang diberikannya untuk hadiah ulang tahunku ke-16, “aku sempetin foto sama boneka yang bakal aku kasih ke Mbem, Happy Birthday sayaang.. 08.03.2010”.Air mataku menetes, namun kulanjutkan membaca buku itu. Ku buka halaman demi halaman.“08.03.2012, sweet seventeen Bem. Aku ngasih dia hadiah yang dia mau selama ini. Kami akan pergi ke Bangkok setelah lulusan. Aku udah beli’in 2 tiket buat kami. Oh iya, dia cantik banget malam ini!”.Jadi Indra telah menyiapkan hal istimewa itu buatku? Ku buka lagi lembaran-lembaran terakhir buku itu. Kubaca betul-betul apa yang tertulis di sana.“12.04.2012, Mama bilang itu tanggal hari ini. Mama juga bilang kalau kemaren aku lupa jalan pulang bahkan lupa mengantar Dinda. Itulah mengapa alasan kami ada disini. Kedua orang tuaku bilang, kami lagi di Singapura. Barusan mereka bilang kalau aku terkena penyakit Alzeimer. Entah penyakit apa itu. Tadi mereka telah menjelaskannya padaku, tapi aku tidak ingat apa yang mereka katakan. Aku sangat kangen dengan Dinda. Aku ingin pulang, entah dimana itu yang pasti disana ada Dinda. Aku bingung sedang apa aku di tempat ini”.“Kata kedua orang tuaku, kami sudah pulang ke rumah. Tadi Dinda datang, tapi aku takut melihatnya. Aku takut tak mengenalinya. Aku selalu menggenggam foto kami yang entah di ambil di mana saat itu”.“Aku tadi meminta Mama mengajariku cara membaca lagi, juga cara menulis lagi. Ku lihat tulisanku yang dulu dan sekarang sangat berbeda. Mengapa aku sampai lupa dengan segala hal itu?”“Tadi aku mendengar kedua orang tuaku membicarakan penyakitku. Ternyata aku lama-lama akan melupakan apa yang pernah terjadi di hidupku. Aku memutuskan untuk mengambil jalan ini. Maafkan aku Dinda karena sampai saat ini aku belum berani bertemu denganmu. Tapi kamu tidak perlu khawatir, hanya kamu yang masih bisa ku ingat jelas sampai saat ini. Aku terlalu lelah untuk belajar membaca dan menulis lagi. Tapi aku tidak perlu belajar untuk mmengingatmu. Aku hanya memikirkanmu. Aku hanya mengingatmu. Aku tidak ingin melupakanmu, dan pasti tidak! Aku berusaha keras untuk kembali seperti dulu untukmu. Aku takut ingatanku hilang lagi. Sebelum aku melupakannya, aku ingin mengatakan semuanya padamu. Aku mencintaimu. Sekali lagi maafkan aku. aku bersyukur kepada Tuhan karena aku tak harus bersusah payah mengingatmu, karena kau adalah bagian dari hidupku. Aku tidak ingin hidup jika harus melupakanmu. Aku berharap Tuhan mengambil nyawaku setelah aku melakukan hal ini. Aku ingin pergi di saat aku masih bisa mengingatmu. Dan kau akan menjadi yang abadi di ingatanku…”***“Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi nyawa Indra tidak bisa di selamatkan…” jawab dokter yang keluar dari ruang UGD tempat dimana Indra berada. Buku Indra terjatuh dari tanganku, dan tiba-tiba semua menjadi gelap di penglihatanku…………..

  • Cerpen Persahabatan: RINDUKU KENANGANKU

    RINDUKU KENANGANKUoleh: Rica Okta YunarwetiCahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat hidupku lebih berarti. Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran. “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.* * *Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat. Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.“Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?“Aku mencarimu! Kata Diana“Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”“Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.“Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal DianaDengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya dunia di laut lepas. * * * Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan beristirahat.* * * Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.“Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku kan? Kejut Lintang“Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan sikap mereka itu.“Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_“Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..“Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)“Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)“Aku sakit apa? Mana ayah?”“Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”“Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”“Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”“Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”“Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”“Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”“Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"* * * Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.“Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran“Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”“Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran“Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”“Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”“Thengs.. siapa namamu?”“Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.(Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun segera menghampirinya.“Diana, kenapa kamu?”“Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”“Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”“Ii..ia bu.”“Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’“Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya parah.”“Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari“Ibu mau menjenguknya? ““Iya,, nggak apa-apa kan?”“I..ya. nggak masalah.” Semangat DianaIbu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.“Hai, belum pulang?" Sapa Diana“Hmmn. Belum Diana’“Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari“Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana“Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”“Ohh, namamu Lizy ya?”“Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”“Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”“Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit nih..” ajak Lizy“Hhhhaha….” Sambung Diana* * * Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.“Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy“Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil menunduk.Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya“Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”“Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”“Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana“a..ku, sakit Leukimia..”Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan dasinya..“Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian kecewa”“Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva“Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah semuanya membeku.“Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”“Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.“Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari“walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”Suasana berubah menjadi hening kembali..“Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)“Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik mencari uang.“Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang“Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”“ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku stabil”“Cepat sembuh, ya”……* * *Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.Malam ku sepi..Tak sanggup ku mengungkapkanAir mata membendung di kelopak mataku..Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya tersenyum. Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…Kamu_sahabat_TerbaikkuIa simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….3 hari kemudian…Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil bernyanyi.Waktu terasa semakin berlaluTinggalkan cerita tentang kitaAkan tiada lagi kini tawamuTuk hapuskan semua sepi di hatiTeringat di saat kita tertawa bersamaCeritakan semua tentang kitaAda cerita tentang aku dan diaDan kita bersama saat duu kalaAda cerita tentang masa yang indahSaat kitaberduka saat kita tertawaKetika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.“Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”“Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang melukis.”“waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”“Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.“Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus LintangDiana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.“Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana“Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang“Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana“Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”“Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy“Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva“Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha“hhuuhh…”Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.* * * Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual. Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, akhirnya ikut membantu juga.Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak semata wayang orang tuanya. Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.* * * Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.“Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)“Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana“Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas LizyBunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone, suara di seberang membawa berita buruk.Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.* * *“Tak sempat ku berikan Tak sempat ku sampaikan”_LiDiZyVa_ Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.Waktu terasa semakin berlaluTinggalkan cerita tentang kitaAkan tiada lagi kini tawamuTuk hapuskan semua sepi di hatiBelum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan membacanya seperti sedang lomba baca puisi.Sahabatku impiankuCita-citaku imajinasikuBukan hal yang salah memiliki mimpiBukan hal yang salah mempunyai tujuanTujuan seperti sinarKesana lah kita berlariDan untuk itulsh kita hidupTapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukanMembuat kita sulit melihatSehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhentiUntuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri“Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya. “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.“Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai” “Waahh..keren.!”Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.SELESAIKarya : Rica Okta YunarwetiAlamat Fb : Richa Oktaae-mail : icaotana@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*